Kumpulan Cerita Silat

06/05/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna -28-

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 11:25 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna -28-
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Lenghocong)

Mendadak didengarnya suara kesiur angin dua kali lalu terdengar “tok-tok” dua kali lagi, dua batang sumpit memaku kedua butir bakso itu di geladak kapal.

Itu sepasang sumpit bambu yang terdapat di depan Bwe-Kiam.

Tapi Bwe-Kiam tetap tidak bergerak, mengedip pun tidak namun mulutnya mendesis dingin, “Keluarlah!”

Jari-jari Ban-lo-hu-jin gemetar, tubuh pun lemas.

“Tidak lekas keluar?” desak Bwe-Kiam.

Mendadak Ban-lo-hu-jin membentak berang, “Aku bisa mati pengap di sini.”

Mendadak papan peti dan tambang beterbangan ke empat penjuru. Mendadak tubuhnya ikut menggelinding maju, dua tangannya meraup lantai, empat-lima butir bakso kakap diraihnya langsung dijejalkan ke mulut.

Tanpa dikunyah lagi, lima butir bakso yang disambernya itu langsung ditelannya bulat-bulat, Tanpa takut dan sungkan ia memburu ke sana dan meraih bakul nasi, untung masih ada sisa setengah bakul tanpa pakai sumpit atau mangkuk, dengan jari tangan yang kotor ia jejalkan nasi ke dalam mulut dan dikunyah dengan lahap.

Maklum, Ban-lo-hu-jin memang sudah beberapa hari tidak makan. Maka ia tidak peduli apakah Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam akan membunuhnya yang penting perut diisi lebih dulu.

Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam mengawasinya dengan dingin.

Sambil menelan nasi Ban-lo-hu-jin berkata dengan suara sengau, “Jejakku sudah konangan, makan kenyang lebih penting, kalau ada urusan nanti saja dibicarakan.”

Dia tahu kapal itu sudah jauh di tengah lautan, maka ia berani bicara seperti biasa.

“Apakah nasi putih seenak yang kau makan?” tanya Bwe-Kiam.

“Bila kamu kelaparan tiga hari, tentu kau tahu enak tidak nasi putih yang harum ini,” Ban-lo-hu-jin balas berolok.

Berubah air muka Bwe-Kiam, “Kamu mengenalku?”

Butir-butir nasi menghias selebar muka Ban-lo-hu-jin, karena sibuk mengunyah dan menelan nasi, mulutnya mengiakan samar-samar.

Sekilas tampak oleh Kong-sun Ang di atas meja masih ada sisa separo ayam bakar. Ayam bakar ini tadi jatuh dari mangkuk dan menggeletak di meja, tidak ikut jatuh ke lantai.

Dengan tertawa Kong-sun Ang ambil ayam bakar itu dan disodorkan, “Makanlah ini yang tidak kotor.”

Menerima ayam bakar itu, Ban-lo-hu-jin tertawa lebar, ” Agaknya Kong-sun Ang memang lebih baik, lebih bijaksana.”

Kong-sun Ang melengong, “kau pun mengenalku?” tanyanya heran.

“Em … ” Ban-lo-hu-jin mengangguk.

“Bagaimana bisa kau kenal diriku?” tanya Kong-sun Ang.

“Mulutku hanya satu, pada saat sibuk mengunyah, mana bisa bicara, tunggulah setelah aku orang tua selesai makan, boleh kalian tanya apa saja.”

Tanpa berkedip Bwe-Kiam mengawasinya. Sesaat kemudian mendadak ia membentak, “O, kiranya engkau .”

Akhirnya Ban-lo-hu-jin selesai makan, mengelus perut sendiri dan tertawa, “kau pun kenal aku orang tua ini?”

“kau Ban … Ban-lo-hu-jin.”

Ban-lo-hu-jin tertawa lebar, “Anggaplah matamu yang tajam.”

Kong-sun Ang terkesiap kaget, “He, kau ibu Ban-tai-hiap?”

“Sungguh aneh, setiap orang yang melihatku kenapa selalu menyinggung anakku yang durhaka itu. Memangnya kebesaran namaku di kang-ouw lebih rendah dibanding anak binatang itu?”

Dingin suara Bwe-Kiam, “Walau aku tidak mengenalmu, namun sudah lama aku dengar nama besarmu. Akan tetapi Ban-lo-hu-jin yang terkenal dan disegani orang, kenapa hari ini main sembunyi dan meringkuk di pojokan seperti anjing buduk?”

“Main sembunyi apa ….” jengek Ban-lo-hu-jin dengan tertawa, “selama ini sepak terjangku ibarat malaikat muncul setan sembunyi, memangnya baru hari ini kau tahu?”

“O? …Hm, hm!” meski mendongkol, tapi apa yang dapat dilakukan oleh Bwe-Kiam.

Dengan gaya nyonya besar Ban-lo-hu-jin duduk di samping Kong-sun Ang, setelah menggeliat dua kali ia mengoceh, “Nyaman, sungguh segar …”

Mendadak ia tutup mata, lalu duduk mendengkur.

Kong-sun Ang mengawasi Bwe-Kiam, mendadak ia berkata dengan tertawa, “Ketambahan satu orang lagi, apakah kapal ini tidak penuh sesak?”

“Ya, memang demikian,” jengek Bwe-Kiam.

Mendadak mata Ban-lo-hu-jin terbuka, katanya, “Jadi kau ingin mengusir kami berdua?”

“Hm,” Bwe-Kiam bersuara geram.

Ban-lo-hu-jin terloroh-loroh, “Dengan tenagamu seorang, apa kau mampu mengusir dua orang?”

“Aku yakin Kong-sun-tai-hiap tidak akan sekongkol denganmu,” jengek Bwe-Kiam.

“Hehe, tadi kamu menuntut jiwa orang, kini kau panggil dia Kong-sun-tai-hiap lagi, memangnya kamu gentar terhadapnya? Atau hanya ingin menjilat pantat?”

Nenek yang licik ini memang mirip rase tua yang banyak akal bulusnya, sekilas pandang ia pandai menilai situasi, ia tahu kalau dirinya tidak bisa merangkul Bwe-Kiam, maka dirinya harus menarik Kong-sun Ang ke pihaknya, dengan demikian ia yakin dirinya takkan mudah dirugikan.

Beringas wajah Bwe-Kiam, bentaknya, “Aku berlayar keluar lautan bukan untuk bertamasya, aku tidak suka orang lain menyertaiku, malah tidak segan aku berduel dengan Kong-sun-tai-hiap. Tapi dalam sanubariku aku tetap menghargainya sebagai eng-hiong sejati.”

Berputar bola mata Ban-lo-hu-jin, “Bukan bertamasya? Memangnya kamu sedang mengemban sesuatu tugas?”

“Ya, memang demikian,” sahut Bwe-Kiam.

Serius sikap Kong-sun Ang, tanyanya, “Mengemban tugas apa?”

“Tugas …maaf tidak boleh aku jelaskan padamu.”

Merandek sejenak mendadak suaranya berubah beringas pula, “Pendek kata, siapa pun tidak boleh seperjalanan dengan aku. Di antara aku dan kalian berdua kalau bukan aku yang gugur di sini biarlah kalian yang harus terjun ke laut. Bagaimana persoalan ini harus diselesaikan mohon Kong-sun tai-hiap memikirkannya.”

“Soal ini …aku tidak punya tujuan tertentu. Kalau benar Bwe-tai-hiap sedang mengemban tugas yang amat penting artinya, tidak jadi soal kalau aku pindah ke kapal lain.”

“Banyak terima kasih,” kata Bwe-Kiam.

Kong-sun Ang berkata serius, “Tapi itu bergantung tugas apa yang diemban Bwe-tai-hiap.”

Berubah air muka Bwe-Kiam, “Kalau demikian Kong-sun-tai-hiap memilih duel untuk menyelesaikan urusan ini.”

“Kalau demikian Bwe-tai-hiap lebih suka berduel daripada menjelaskan tugas apa yang sedang kau emban?”

“Ya, demikian.”

Keadaan mendadak berubah tegang lagi, seperti panah di ujung busur yang siap dibidikkan.

Mendadak Ban-lo-hu-jin tertawa, katanya, “Bwe-tai-hiap mengemban tugas apa, meski tidak dijelaskan juga kutahu.”

“kau tahu?” jengek Bwe-Kiam, lalu tertawa dingin.

Kalem suara Ban-lo-hu-jin, “Dalam pertemuan besar di Thai-san tempo hari, waktu kamu bergebrak dengan lawan sudah kurasakan adanya sesuatu yang ganjil pada dirimu, aku duga pasti ada sesuatu rencana jahat.”

“Dalam hal apa dia patut dicurigai?” tanya Kong-sun Ang.

“Dalam pertemuan besar di puncak Thai-san, para pendekar berhasrat mengalahkan lawan-lawannya dan pamer kepandaian sendiri, namanya saja pertemuan besar di Thai-san itu sebagai bertanding kungfu, yang benar satu sama lain mereka sedang adu jiwa.”

“Ya, memang demikian.” ucap Kong-sun Ang.

“Tapi waktu keparat ini bergebrak dengan lawannya, pasti tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Paling banter hanya mengerahkan seluruh tenaganya. Paling banter hanya mengerahkan tujuh puluh persen dari kemampuan semestinya.”

“O,” Kong-sun Ang melongo.

“Dari sini dapat disimpulkan, adalah kalau bukan mengatur rencana jahat?”

Bwe-Kiam tertawa dingin, “Aku justru berbeda pendapat, hanya untuk merebut nama kosong buat apa harus adu jiwa dengan orang. Bagi pandangan mereka yang kemaruk harta, gila pangkat dan hormat, sudah tentu sepak terjangku waktu itu dirasakan ganjil.”

“Enak juga uraianmu didengarkan, padahal …”

“Padahal bagaimana?” tanya Kong-sun Ang.”

“Baru tahun ini keparat ini pulang ke Tiong-toh dari Tang-ing, lain dengan berbagai cara yang dihalalkan dia ribut kedudukan dan meninggikan nama dan gengsi, tapi tatkala memperoleh kesempatan baik untuk pamer kepandaian dan unjuk diri dia justru tidak menggunakan sekuat tenaganya. Tak lama lagi Pek-ih-jin akan datang, kaum persilatan siapa yang tidak ingin menyaksikan duel ini, malah kaum persilatan di Tang-ing juga ikut ke sini untuk menonton dari dekat, tapi orang ini justru ingin pergi ke Tang-ing pada saat seperti ini …”

Dengan tertawa dingin Ban-lo-hu-jin bertanya, “Apakah semua ini tidak mengherankan?”

“Ya, memang mengherankan,” sahut Kong-sun Ang.

“Apa belum dapat kau tebak apa rencananya?”

Agak lama Kong-sun Ang tepekur, lalu berkata, “Mungkinkah dia …ada hubungan dengan Pek-ih-jin ….”

“Betul,” seru Ban-lo-hu-jin sambil berkeplok, “Orang ini pasti mata-mata yang diutus Pek-ih-jin ke Tiong-toh, entah memperoleh berita penting apa yang perlu dilaporkan sendiri kepada Pek-ih-jin….”

Mendadak Bwe-Kiam bergelak tertawa sambil mendongak, “Lucu dan sungguh menyenangkan.”

“Maksudmu tuduhanku benar dan tepat?” tanya Ban-lo-hu-jin.

Beringas muka Bwe-Kiam, “Kalau sekarang kamu enyah dan terjun ke laut, mengingat Ban-tai-hiap, sekali ini kuberi ampun kepadamu, kalau tidak ….”

Mendadak kedua tangannya terangkat ke atas, golok lengkung yang kemilau itu tahu-tahu sudah dipegangnya.

Ban-lo-hu-jin menyeringai, “kau kira aku takut menghadapi golok lengkungmu ini? Hehe, sebetulnya aku orang tua ingin memperlihatkan kelihaianku, hanya sayang ….”

“Kalau berani omong, kenapa harus sayang?” jengkel Bwe-Kiam.

Sayang di sini ada Kong-sun-tai-hiap, mana mungkin dia membiarkan nenek turun tangan.”

“Kong-sun Ang,” seru Bwe-Kiam naik pitam “bagaimana pendapatmu?”

“Apa yang dia katakan tadi, betul atau tidak?” tanya Kong-sun Ang.

“kau percaya dan terhasut olehnya, buat apa aku menjelaskan,” jengek Bwe-Kiam.

“Soal ini …” Kong-sun Ang masih ragu.

Mendadak Ban-lo-hu-jin menarik mantel merah yang menutup badannya, “Apa yang aku ucapkan tadi semuanya ada bukti nyata. Bicara dengan orang seperti ini kenapa bimbang. Ayo, rengut saja nyawanya, pasti tidak salah.”

“Tapi …” Kong-sun Ang masih bingung.

Berputar bola mata Ban-lo-hu-jin, “Mungkin lukamu teramat berat seperti yang dia katakan, dan kamu takkan mampu mengalahkan dia, kalau begitu biar aku si nenek tua….”

Kong-sun Ang bergelak tertawa, “Luka seringan ini, tidak menjadi soal.”

Di tengah gelak tawanya, Thian-liong-gun yang terselip miring di pinggangnya tahu-tahu sudah berada di tangannya.

Kapal dimainkan ombak, oleng sana miring sini bergetar lagi dengan hebat, meja yang semula ada di depan kedua orang ini kini sudah bergeser ke pojok sana.

Cuaca di luar juga terasa guram, senja telah datang.

Dalam kabin kapal itu diliputi hawa membunuh dari golok melengkung dan Thian-liong-gun, hawa membunuh kedua gaman ampuh ini berbeda lagi dengan hawa membunuh pertarungan sumpit tadi.

Golok melengkung milik Bwe-Kiam bisa dimainkan secara keras atau lunak, dalam jarak tiga tombak masih mampu mencabut nyawa musuh, dalam jarak dekat dapat bertarung secara sengit. Gaman yang satu ini termasuk senjata yang mempunyai gaya dan perubahan paling rumit.

Sementara Thian-liong-gun mantap dan sederhana, serba guna untuk menghadapi berbagai perubahan serangan musuh, mengutamakan keselarasan gerak dan kelincahan. Boleh dikata senjata ini merupakan gaman yang paling sedikit gerak perubahannya, dimainkan secara mudah dan sederhana.

Kedua senjata ini memiliki sifat, watak dan nilai yang berbeda, malah berlawanan.

Akan tetapi dalam menghadapi saat genting pertarungan yang menentukan mati hidup, cara yang digunakan kedua gaman berbeda jenis ini, ternyata keduanya sama diam mengatasi aksi, bergerak belakang tapi menundukkan lawan.

Mereka sama tahu lawan yang dihadapi ini mungkin adalah lawan terkosen yang pernah dihadapi selama hidup, maka kedua jago kosen yang berhadapan siap bertarung ini tidak berani gegabah.

Saking kencang tangan Kong-sun Ang memegang Thian-liong-gun, jari-jarinya sampai memutih.

Bwe-Kiam menggenggam gagang golok dengan dua tangan, tampak sekali betapa tegang dan seriusnya. Antara golok dan pentung hanya berjarak lima kaki, saling berhadapan dan saling tuding.

perlahan tapi pasti kedua gaman itu bergerak-gerak, kedua orang ini hampir bersamaan waktunya. Entah golok bergerak mengikuti pentung atau pentung bergerak mengikuti golok. Ke mana pun bergerak, yang terang golok dan pentung sudah berhadapan dan siap tempur.

Bola mata kedua orang juga seperti memancarkan bara cahaya yang aneh, bukan ingin menemukan lubang kelemahan dari gaya dan gerak lawan lebih tepat dikatakan ingin menyelami makna dari intisari kungfu lawan yang dihadapinya.

Kapal masih terus berlayar entah ke mana tujuannya, yang terang kapal ini terombang-ambing dibawa gelombang pasang, terasa getarannya makin keras.

Tapi telapak kaki kedua orang seperti terpaku di papan geladak, betapapun oleng dan keras getarannya, badan kedua orang tetap berdiri tegak tidak bergerak.

Tapi “tidak bergerak” justru sedang bergerak. ‘Tidak bergerak’ ini justru lebih hebat dari bergerak.

Ban-lo-hu-jin tidak sabar menunggu.

“Kenapa Kong-sun Ang tidak segera turun tangan?”

Diam-diam ia memperhatikan gaya pentung yang dipegang Bwe-Kiam, selintas pentung terasa biasa saja, tapi setelah dia perhatikan dengan seksama, lama kelamaan badannya berkeringat dingin malah.

Terasa oleh Ban-lo-hu-jin, Bwe-Kiam yang berdiri di sana, antara orang dan goloknya seperti sudah manunggal. Terpikir seratus jurus serangan dalam benaknya, tapi tiada satu pun yang berguna untuk memecahkan pertahanannya.

Walau cukup jauh ia berdiri, namun hawa membunuh dari golok melengkung itu seperti mengancam dirinya. Lebih lama ia memperhatikan, makin terasa sekujur badannya terbungkus dalam hawa membunuh yang makin tebal.

Diam-diam hati Ban-lo-hu-jin terkesiap.

“Kalau aku menjadi Kong-sun Ang, mungkin saat ini sudah menggeletak mandi darah.”

Ingin dia menoleh melihat gaya dan posisi Kong-sun Ang. Tapi entah mengapa pandangannya seperti sudah tersedot oleh hawa membunuh dari golok melengkung itu.

Ternyata ia tidak mampu mengalihkan pandangannya. Maka Ban-lo-hu-jin berpikir pula, “Kalau Pui-Po-giok ada di sini, entah dapatkah dia menemukan titik kelemahannya.”

Ban-lo-hu-jin berpikir lagi, “Kukira Pui-Po-giok dapat menemukan …tapi sama-sama sepasang mata manusia, kenapa justru ada perbedaan begini menyolok? Kalau dia bisa menemukan kelemahan lawan, kenapa aku tidak bisa?”

Akhirnya Ban-lo-hu-jin merasakan otaknya tidak dapat berpikir lagi. Ternyata pikirannya juga tersedot oleh hawa membunuh dari cahaya kemilau golok itu.

Sebatang golok mana mungkin memiliki kekuatan gaib sehebat itu?

Golok melengkung ini walau dibuat dari bahan baja murni, dibuat secara khusus oleh seorang empu yang sakti, namun bagaimana juga golok itu adalah benda mati tidak bernyawa. Benda mati mana mungkin memiliki kekuatan gaib?

Walau terasa pengertian ini amat ruwet, padahal justru amat sederhana, mudah dimengerti.

Ratu dunia mungkin dapat membuat orang tergila-gila, menjadi linglung, membuat lupa makan dan tidak nyenyak tidur. Demikian pula lukisan atau kaligrafi para ahli juga dapat membuat orang kesengsem.

Demikian juga dengan golok.

Golok itu sendiri memang benda mati, tapi setelah berada di tangan seorang ahli, golok itu menjadi bernyawa. Bernyawa dari dukungan semangat dan kekuatan pemegang golok.

Ilmu golok Bwe-Kiam mungkin belum mencapai taraf yang tiada taranya, tapi bagi Ban-lo-hu-jin, tingkat kemampuannya sudah jauh melampauinya. Demikian pula daya penglihatan Ban-lo-hu-jin jelas takkan bisa menyelami makna yang mendalam dari arti sebenarnya.

Dalam pandangan Ban-lo-hu-jin, ilmu golok Bwe-Kiam sudah sempurna. Benda apa pun yang sempurna di dunia ini pasti mempunyai daya gaib yang menyedot perhatian orang.

Tanpa sadar tiba-tiba Ban-lo-hu-jin beranjak ke depan menghampiri golok itu.

Sorot mata Kong-sun Ang sudah mulai menampilkan perubahan ganjil.

Walau semangat dan pandangannya masih terpusatkan di ujung pentungnya, sedikit pun tidak lena atau mengendur, tapi tidak lagi terpusat di ujung pentungnya, lambat laun semangat dan kekuatannya seperti merembes keluar dan terbaur di golok lawan malah.

Semangat dan wibawanya ternyata juga mulai tersedot oleh lawan.

Hal ini mungkin terjadi lantaran luka di pundak Kong-sun Ang belum sembuh, demikian pula kondisi Ban-lo-hu-jin, fisiknya masih lemah, kurang makan dan tidur, selama beberapa hari ini dikejar rasa ketakutan, tidak berani bicara, boleh dikata semangat dan ketahanannya amat lemah.

Hakikatnya duel ini tidak perlu berlangsung juga sudah menentukan kalah dan menang. Bwe-Kiam memang belum memainkan ilmu goloknya, tapi hawa membunuh goloknya ternyata mampu menghancur-leburkan ketahanan Kong-sun Ang dan Ban-lo-hu-jin.

Pancaran cahaya golok melengkung kelihatan bertambah benderang, di tengah cahaya benderang itu seperti terlihat adanya sinar merah darah yang menyolok.

Sekonyong-konyong kapal dan seluruh isi yang ada di dalamnya seperti dilemparkan ke udara.

Betapapun tinggi lwe-kang Bwe-Kiam dan Kong-sun Ang juga tidak tahan melawan kekuatan alam yang dahsyat ini, badan mereka juga terlempar sungsang sumbel.

Dengan sendirinya, hawa membunuh itu seketika sirna tanpa bekas.

Semangat dan perhatian kedua orang ini sebetulnya sudah dikonsentrasikan ke badan lawannya, namun dalam keadaan seperti itu, keadaan berubah secara drastis, secara langsung keduanya sama-sama menerima serangan hebat yang tak mungkin dilawan.

Dengan sendirinya, perhatian mereka pun beralih. Mendadak mereka mendengar amukan ombak yang bergulung-gulung dengan suaranya yang ribut, sayup-sayup terdengar pula suara pemilik kapal yang menjerit kaget dan bentakan memberi perintah kepada anak buahnya.

Sebetulnya suara ribut di luar sudah berlangsung cukup lama, namun tadi mereka tidak mendengar, karena konsentrasi ditujukan kepada lawan kini setelah konsentrasi buyar, baru mereka mendengar, secara nyata apa yang terjadi di sekitarnya.

Badai mengamuk, gelombang pasang mempermainkan ombak. Angin ribut menjerit-jerit.

Di tengah badai yang mengamuk itu, kapal kecil itu mirip seekor semut yang berada di telapak tangan raksasa, jiwa raga sewaktu-waktu bisa hancur lebur dalam sekejap. Sementara Bwe-Kiam dan Kong-sun Ang yang berada dalam kabin semula masih merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, namun sekarang, menghadapi kekuatan alam, baru mereka sadar tidak lebih hanya si kecil yang tidak berarti sama sekali.

“Turunkan layar …” pekik pemilik kapal yang memerintahkan anak buahnya, “pegang kencang kendali …”

Kong-sun Ang, Bwe-Kiam dan Ban-lo-hu-jin yang berada dalam kabin sibuk memeluk tiang, jendela atau apa saja yang dapat dipegang supaya badan tidak terlempar. Air muka mereka jelas berubah.

Ombak besar menggulung masuk, laksana gugur gunung menindih turun.

Badan mereka bertiga sudah basah kuyup.

Bwe-Kiam berpegangan jendela, teriaknya, “Kong-sun Ang, kamu harus berterima kasih pada badai ini, dia yang menolongmu.

“Jangan temberang,” Kong-sun Ang juga memekik, “kukira tidak demikian.”

“Tidak demikian? …Hm!” jengek Bwe-Kiam sengit, “Tadi setiap saat aku bisa merengut jiwamu. Bila badai ini berhenti, lekas kalian terjun saja ke laut, kalau tidak, terpaksa orang she Bwe ….”

“Bwe-Kiam,” teriak Ban-lo-hu-jin dengan suara parau, “Kalau benar lihai, suruhlah badai itu berhenti! Mampukah kau suruh badai berhenti? Mampukah? …Haha, kamu tidak lebih seperti juga aku dan Kong-sun Ang, manusia kecil yang tidak mampu berbuat apa-apa di tengah amukan badai ini.”

Kelihatannya Bwe-Kiam juga melengong tapi mendadak ia membentak” “walau aku tidak mampu menghentikan angin, tapi dapat membungkam mulutmu.”

Ban-lo-hu-jin tertawa lebar, “kau ….”

“To …long …” mendadak pekik serak berkumandang di tengah angin ribut, waktu pertama suara itu terdengar masih berada di luar kapal akhirnya seperti melayang makin jauh hingga puluhan tombak. Jelas orang itu sudah ditelan gelombang dan tak tertolong lagi.

Menyusul terdengar lagi beberapa kali jeritan ngeri, lalu lenyap dan berhenti …

Tiga orang yang ada dalam kabin mendadak berdiam diri, tiada yang bersuara karena perasaan tertekan menghadapi keadaan yang serba tegang dan bahaya begitu berat tekanan perasaan itu hingga mereka hampir susah bernapas.

Meja kursi dan perabot apa saja yang ada dalam kabin, satu per satu hancur diterjang ombak, satu per satu pula hanyut terbawa arus.

Mendadak Kong-sun Ang berteriak, “Bwe-Kiam, hati-hati kau , jendela peganganmu hampir copot.”

Gelombang besar menerpa tiba, seluruhnya ditelan bulat-bulat.

Masih terdengar suara Bwe-Kiam yang juga berteriak, “Terima kasih!”

Mendadak badan Ban-lo-hu-jin seperti terlempar ke udara. Untung pada saat genting itu seutas rantai menyamber dan membelit kakinya dan menariknya kembali, rantai itu terikat di ujung gagang golok melengkung Bwe-Kiam.

“Pegang erat rantai itu, jangan dilepaskan!” demikian teriak Bwe-Kiam.

“Ken …kenapa kau menolongku?” tanya Ban-lo-hu-jin dengan serak.

“Kalau badai ini berhenti dan belum juga kau terjun ke laut, segera akan aku tamatkan jiwamu, tapi sekarang aku masih mau menolongmu … karena Kong-sun Ang tadi menolongku.”

“kau …terima kasih!” terharu suara Ban-lo-hu-jin.

Terasa oleh Kong-sun Ang matanya basah berkaca-kaca, entah basah oleh air mata, atau karena air laut?

Itulah manusia, begitulah watak sejati manusia.

Dendam antara manusia dengan manusia lenyap dan sinar di bawah tekanan, kekuatan alam yang tak mungkin dibendung manusia, di bawah ancaman kekuatan alam yang bakal merengut jiwa raga mereka tanpa peduli kawan atau musuh, semua sama.

Gelombang demi gelombang badai yang besar silih berganti menindih dan menerpa.

Dalam keadaan terombang-ambing itu, lama kelamaan kesadaran ketiga orang ini makin pudar tergantung ketahanan fisik mereka saja masih bertahan hidup sampai sekarang, Tapi manusia mempunyai akal budi untuk berjuang mempertahankan hidup maka benda apa pun yang terpegang di tangan mereka sampai mati juga tidak akan dilepaskan.

Dalam keadaan setengah sadar, mendadak Kong-sun Ang berteriak pula, “Bwe-Kiam, ingin aku mengajukan pertanyaan terakhir,”

“Kamu boleh tanya!” seru Bwe-Kiam.

“Sebetulnya pernah hubungan apa dirimu dengan Pek-ih-jin?” tanya Kong-sun Ang.

Diam sebentar, akhirnya Bwe-Kiam menjawab dengan teriakannya, “Pek-ih-jin adalah …”

Entah badai menelan suaranya atau karena Kong-sun Ang yang mendadak jatuh kelenger, yang terang apa yang dikatakan Bwe-Kiam selanjutnya tidak terdengar lagi oleh Kong-sun Ang.

******

Bila hujan badai itu berhenti, cuaca sudah gelap, tabir malam menyelimuti jagat.

Bwe-Kiam lebih dulu terjaga dan sadar, sinar bintang berkelap-kelip di angkasa, sejenak ia celingukan, lalu kucek-kucek mata, mendadak ia berteriak, “Kong-sun Ang …Kong-sun Ang …”

Sinar bintang amat guram, namun keadaan dalam kabin dapat dilihatnya dengan jelas.

Di luar ada deru angin, debur ombak, tapi mayapada seakan-akan beku, dicekam keheningan.

Sesaat kemudian baru Bwe-Kiam mendengar penyahutan, “Aku ada di sini … ”

“Bagus ….Kong-sun Ang, agaknya kamu belum mampus!” seru Bwe-Kiam,

Suaranya ternyata agak sumbang dan gemetar entah apa sebabnya.

Bayangan tampak bergerak-gerak, seorang merangkak berdiri, terpeleset jatuh lalu merayap bangun lagi, akhirnya menghampiri dengan sempoyongan, namun hanya beberapa langkah ambruk lagi.

“Kong-sun Ang?” tanya Bwe-Kiam.

“Ya, aku …mana Ban-lo-hu-jin?” tanya Kong-sun Ang.

“Dia di …hah!” suara Bwe-Kiam berubah menjadi pekik kaget. Waktu ia angkat ujung rantainya ternyata kosong.

“Dia …dia …apakah dia sudah …” Kong-sun Ang tergegap kuatir.

“Kusuruh dia pegang rantai erat-erat,” demikian kata Bwe-Kiam, “Siapa tahu ….ai!”

“Sungguh kasihan …siapa kira dia bakal …” Kong-sun Ang menghela napas rawan.

Bwe-Kiam juga amat menyesal, “Perempuan itu memang bukan orang baik, tapi dengan usia setua itu dia berkecimpung di kang-ouw, hidupnya sebatang kara, dalam masalah tertentu, orang harus memberi maaf kepadanya.
“Lahirnya dia kelihatan jahat dan keji, namun batinnya tentu juga amat menderita sehingga sepak terjangnya tidak normal, hal ini memang harus dimaafkan,” demikian ucap Kong-sun-Ang.

Setelah lolos dari rengutan maut, kedua orang yang tadi bermusuhan dan ingin saling bunuh menjadi lunak dan insaf. Terbayang kehidupan manusia memang serba-serbi, mati hidup berada di tangan Tuhan. Mereka terlongong sekian lama.

Mendadak seorang berkata, “Terima kasih atas pujian kalian kepadaku.”

“He, Ban-lo-hu-jin?” tanpa janji Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam berteriak girang.

“Ya, memang aku si nenek tua,” itulah suara Ban-lo-hu-jin, “aku belum mampus.”

Tampak bayangan seorang merangkak masuk dari pintu kabin, sambil tertawa ia berkata pula, “Sungguh tak nyana kematian nenek tua seperti diriku juga mengundang rasa sedih orang lain. Kalau tahu begini, lebih baik aku mati saja di perut ikan.”

Walau ia bicara dengan tertawa, tawanya kelihatan tidak wajar, suaranya gemetar, entah senang atau duka lara?

Kapal itu terus berlayar di tengah samudra.

Tiga orang dalam kabin itu merasa banyak omong malah berlebihan. Maka mereka berbareng dengan gayanya masing-masing, melepas lelah menghilangkan dahaga, tiada orang mengajak bicara lagi.

Pada saat rasa hening mencekam perasaan itulah, mendadak terdengar suara “klotak” yang keras. Kejap lain kapal yang laju dihempas angin laut itu mendadak bergerak keras oleh tarikan suatu tenaga besar, lurus dan melaju dengan pesat, tapi arahnya terbalik, jadi bukan maju ke depan melainkan mundur ke belakang malah.

Tengah malam di tengah laut lagi, mana mungkin terjadi perubahan yang tidak terduga?

Rasa was-was dan kuatir Ban-lo-hu-jin, Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam masih mencekam hati mereka, ketahanan fisik mereka yang masih lemah mana kuat menghadapi perubahan yang luar biasa ini.

Walau ketiga orang ini lemas lunglai setelah kehabisan tenaga, secara serempak mendadak mereka berdiri lalu menerjang keluar. Tapi setelah sekilas pandang ke arah sana, ketiga orang ini berdiri terlongong saking kaget, berdiri kaku tak bergerak lagi.

Hujan badai baru saja berhenti, tabir malam juga akan berakhir dalam waktu pendek, secercah cahaya remang sudah mulai tampak di ufuk timur.

Di tengah amukan gelombang samudra yang tidak kenal kasihan, tabir malam masih cukup gelap dan menciutkan nyali orang, tapi dengan ketajaman pandangan mereka bertiga dalam jarak tertentu, lama-lama mereka sudah melihat bentuk sesuatu benda di sekitarnya.

Kini mereka melihat daratan, bayangan bukit karang yang tidak begitu tinggi.

Di bawah bukit karang itu bayangan orang yang samar- samar kelihatan sedang bergerak-gerak bekerja keras sekuat tenaga sehingga kapal layar yang mereka naiki mundur ke belakang.

Ternyata seutas tambang panjang membelit ujung kapal sehingga kapal ini tertarik mundur ke arah daratan.

Dengan tenaga seorang diri ternyata mampu menarik sebuah kapal yang sedang terombang-ambing di tengah amukan gelombang.

Dengan tenaga sebelah tangan, dia mampu melempar tambang panjang itu melawan deru angin kencang, apalagi dalam malam yang gelap gulita, ujung tambang dengan tepat membelit buritan kapal dan menariknya sekuat tenaga.

Mungkinkah kejadian seperti ini dilakukan manusia? Mungkinkah manusia menciptakan keadaan yang aneh dan menakjubkan ini?

Lalu apa bukan setan iblis atau dedemit yang berkuasa di lautan?

Ban-lo-hu-jin, Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam mengawasi dengan terbelalak, memandang dengan napas tertahan, Ban-lo-hu-jin malah menggigil dan “bluk”, lutut lemas tubuh pun ambruk di geladak.

Gelombang besar lautan tidak kenal kasihan kekuatan alam memang sukar diukur, dalam keadaan seperti itu, manusia mana yang tidak mudah berubah pikiran dan gampang berubah pendirian, nyali menjadi kecil penakut dan berpikir cupet. Apalagi Ban-lo-hu-jin adalah perempuan tua, perempuan yang juga percaya adanya setan dan iblis.

“Blang”, di tengah suara benturan keras, kapal itu akhirnya berhenti setelah ujung buritan membentur batu karang. Kapal sudah merapat ke pantai.

Bayangan orang di daratan itu mendadak tertawa terloroh-loroh. Suara tawanya juga tidak mirip suara manusia biasa. Suara tertawanya mirip kokok beluk yang kelaparan di malam hari, mirip pekik orang hutan yang sedih karena kematian pendampingnya, seperti lolong serigala yang memburu mangsanya … Pendek kata loroh tawa makhluk ini jelas lebih jelek dan paduan berbagai macam jenis suara yang paling jelek, paling tidak enak didengar di dunia ini, suara yang mengejutkan, suara yang menjijikkan dan menyeramkan.

Di tengah loroh tawa yang mengiriskan itu. Bwe-Kiam bertanya, “Bagaimana?”

Kong-sun Ang mengertak gigi, “Peduli dia manusia atau setan, bila perlu kita adu jiwa.”

“Betul!” Bwe-Kiam mendukung usul Kong-sun Ang, “Turun tangan dulu lebih menguntungkan.”

Kedua orang ini memang tidak malu diagulkan sebagai gembong silat ternama dan sudah puluhan tahun malang melintang di kang-ouw, namun kejadian yang dihadapinya sekarang merupakan peristiwa yang serba misteri dan menakutkan.

Walau kondisi fisik mereka dalam keadaan payah, semangat dan pikiran sedang kacau, tapi nyali mereka tidak menjadi ciut, mereka tidak pernah kenal artinya takut. Mereka tahu umpama menghadapi makhluk macam apa pun, mereka berani dan harus adu jiwa serta menumpasnya.

Gugur di medan laga jauh lebih berarti daripada mampus konyol tanpa memberi perlawanan.

Begitu Bwe-Kiam mengakhiri kata-katanya, dua bayangan orang mendadak menerjang ke atas, dua orang menyergap dari kiri-kanan ke arah makhluk aneh yang sedang terloroh-loroh itu.

Hujan badai masih deras dan kencang, ombak mengamuk menerpa pantai, ditambah deru angin sergapan kedua jago kosen yang tiada taranya, betapa hebat kedahsyatan pukulan mereka, sungguh sukar dilukiskan.

Jantung Ban-lo-hu-jin berdegup keras, sukar dia percaya sergapan kedua orang ini dapat berhasil, namun hati kecilnya berharap sergapan itu berhasil dengan baik.

Makhluk di daratan itu masih terus terloroh-loroh. Angin pukulan Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam sudah mengurung sekujur badannya. Tapi makhluk di tepi laut ini masih terus tertawa besar.

Deru angin pukulan, badai dan ombak bergulung menjadi satu menimbulkan bukit ombak yang membumbung tinggi ke angkasa.

Bunga ombak yang berbuih putih menggulung ke arah makhluk itu terbawa oleh kekuatan pukulan Bwe-Kiam dan Kong-sun Ang, sekaligus menambah kedahsyatan serangan mereka.

Ban-lo-hu-jin berjingkrak kegirangan, dalam hati ia bersorak bahwa sergapan kedua orang itu berhasil dengan memuaskan.

Gelombang ombak sekaligus menerpa dan menggulung ketiga orang. Pada detik yang menentukan itu, mendadak tubuh Bwe-Kiam dan Kong-sun Ang kelihatan mencelat keluar dari gulungan ombak dahsyat itu, daya luncurnya malah lebih cepat dan kencang dari sergapan semula.

Sebelum teriakan girang Ban-lo-hu-jin terlontar dari mulutnya, “blang, bluk”, tubuh Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam terbanting keras di geladak.

Cepat sekali ombak menyurut. Bayangan orang itu muncul dari tengah ombak. Dia tetap berdiri di sana, hakikatnya tidak bergerak atau bergeser sedikit pun, tapi dua jago silat kosen dari Tiong-goan dikalahkan dengan mudah, menggeletak tanpa mampu bergerak lagi.

Bagaimana makhluk ini bertindak? Dengan cara dan serangan apa dia menyerang?

Nyali Ban-lo-hu-jin benar-benar pecah, rasa takut seperti elmaut akan merengut sukmanya, tubuhnya meringkal dan gigi gemeretuk.

Makhluk itu menghampiri dengan langkah mantap dan tegap.

Sebetulnya Ban-lo-hu-jin tidak berani melihat wajahnya, namun tak tahan ingin mengintipnya. Maka dari celah-celah jari ia lihat jelas tampang makhluk aneh ini.

Kalau dia tidak mengintip, mungkin hatinya masih menganggap makhluk aneh ini adalah manusia, namun sekilas lihat segera ia yakin bahwa makhluk aneh ini sembilan puluh persen bukan manusia.

Dari kepala sampai ujung kaki makhluk ini tidak mengenakan penutup apa pun, hanya di bagian pinggang saja mengenakan penutup pendek yang mirip gaun perempuan jadi sebagian besar tubuhnya yang hitam legam lagi mengkilap kelihatan seluruhnya.

Kepalanya memang tumbuh mata dan hidung namun raut wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang awut-awutan mirip rumput liar. Angin mengembus rambutnya, bola matanya tampak berkilauan.

Tatapan mata yang bersinar itu lebih terang dari mata kokok beluk, lebih tajam dari ujung pisau. Terasa oleh Ban-lo-hu-jin tatapan mata orang ini mirip serigala kelaparan, seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat.

Dedemit? Atau siluman laut? Mungkin juga sukma gentayangan yang cari mangsa di malam hari?

Semula makhluk ini berjalan dengan santai tapi setelah dekat gerakannya mirip angin lesus menggulung, melirik pun tidak ke arah Ban-lo-hu-jin langsung ia masuk ke dalam kabin.

Kejap lain terdengarlah suara gaduh disertai pecahan papan yang berhamburan, kapal yang sudah tidak keruan dihajar gelombang ombak ini, keadaannya menjadi lebih rusak dan payah, untung tidak sampai berantakan.

Ban-lo-hu-jin tetap mengkeret di tempatnya, ada niat melarikan diri, apa daya kedua kaki tidak mau diperintah, tenaga untuk meronta bangun dan berdiri pun tidak ada.

Terpaksa dengan cemas ia mengawasi makhluk aneh itu menggeledah dan membongkar semua isi kapal. Mendadak ia memukul selembar papan geladak lalu menariknya sekali, kejap lain ia terloroh-loroh.

Di tengah gelak tawa itulah makhluk aneh itu melangkah turun ke bawah, menyusul kantung demi kantung barang dilempar keluar dari bawah, isi kantung-kantung itu ternyata sejenis ikan asin, dendeng sapi, sayur asin, beras dan kacang ….

Ternyata pemilik kapal menyimpan persediaan rangsumnya di bawah geladak yang dirahasiakan.

Setelah membongkar keluar seluruh rangsum yang ada baru makhluk aneh itu melompat keluar pula, sambil tertawa ia berjongkok, longok kanan intip kiri sambil meraba raba penuh rasa iri dan rakus.

Mendadak ia comot sekerat daging dendeng yang masih mentah dan digigitnya sekali.

Melihat betapa rakus orang menggigit dendeng, lebih rakus dibanding serigala kelaparan makin makan makin lahap, ikan asin juga dicomotnya terus dijejalkan ke dalam mulut, tulang dan duri juga dikunyahnya dengan enak, kecap, mulutnya seperti babi menyemput komboran.

“Agaknya makhluk ini menjadi gila karena kelaparan, untung masih banyak tersimpan rangsum dalam kapal ini, kalau tidak mungkin nenek kurus kering seperti aku ini bakal dimakannya dengan lahap tanpa sisa sedikitpun,”

Di luar dugaan, setelah dua kali menelan dendeng, dan ikan asin, mendadak ia menghela napas panjang dan menaruh sisa dendeng dari ikan asin ke tempatnya, padahal sorot matanya kelihatan masih ingin makan lagi, namun kejap lain sikapnya seperti takut-takut mirip tikus yang takut konangan waktu mencuri makanan.

Timbul rasa heran dalam benak Ban-lo-hu-jin “Kenapa dia seperti tidak berani memakannya lagi. Apa yang dia takuti?”

Mendadak makhluk aneh itu berjingkrak berdiri lalu mencak-mencak, memukul dada, menggentak kaki seperti gegetun juga jengkel, karena ingin makan tapi tidak berani makan, mendadak pikirannya tidak normal dan mencak-mencak gila.

Ban-lo-hu-jin mengawasinya dengan heran, rasa heran dan ingin tahunya ternyata menyingkirkan rasa takut, tak tertahan ia coba tanya, “Ken ….kenapa engkau tidak berani makan lagi?”

Dengan bertolak pinggang makhluk itu menjawab dengan suara serak, “Kenapa aku tidak berani makan? Karena semua makanan ini harus kuberikan pada keparat itu …keparat yang hampir mampus itu.”

Meski suaranya sumbang lagi ganjil, tapi jelas dia bicara seperti manusia biasa.

Ban-lo-hu-jin terdiam lagi, ia tidak menyangka dirinya bakal dilayani dan dijawab. Sungguh mimpi pun tidak terbayang dalam benaknya bahwa makhluk ini dapat bicara seperti manusia umumnya.

Tidak terduga pula olehnya bahwa makhluk aneh ini ternyata jeri terhadap orang lain. Padahal makhluk ini sangat menakutkan, lalu makhluk apa pula yang dapat membuat makhluk yang satu ini takut padanya. Dapat dibayangkan betapa hebat kepandaiannya.

Di pulau terpencil dan tidak dihuni manusia ini ternyata ada dua makhluk aneh, mungkinkah dirinya bisa hidup di tengah mereka? Air asam dalam perut Ban-lo-hu-jin rasanya ingin tumpah keluar.

Bwe-Kiam dan Kong-sun Ang tetap rebah tidak bergerak, entah mati atau masih hidup? Umpama masih bernapas juga takkan bertahan lama.

Mendadak makhluk itu memburu ke luar dengan menjinjing dua orang ini, tapi mereka dibantingnya di geladak, lalu memburu ke depan Ban-lo-hu-jin, bentaknya bengis, “Berdiri!”

Berkeretukan gigi Ban-lo-hu-jin, “Apa …apa yang …kau inginkan …”

“Kubilang berdiri!” bentak makhluk itu.

Sambil meronta terpaksa Ban-lo-hu-jin merangkak berdiri, suaranya masih gemetar, “Dagingku sudah tua dan kasar, kan masih ada dua yang lebih muda, kalau mau …makan daging, seharusnya makan mereka saja.”

Makhluk itu menyeringai lebar hingga dua baris giginya yang putih kelihatan, katanya dengan tertawa seram, “Walau usiamu sudah tua, tapi kondisimu masih segar, masih sehat.”

Melihat giginya yang putih mengkilat, suara tawanya memekak telinga, rasa takut Ban-lo-hu-jin membuat tulang-belulangnya menjadi lemas, dengan mewek ia berkata, “Apa …apa benar tidak tidak dapat ….”

Mendadak makhluk itu berkata, “Kusuruh kau bawa semua rangsum yang ada itu, antarkan kepada siluman keparat itu. Kalau nasibmu baik, bila ada sisa sedikit, mungkin kau bisa mendapat bagian.”

Walau tampang dan bentuknya amat menakutkan, untung makhluk ini tidak doyan daging manusia.

Kondisi Ban-lo-hu-jin sebetulnya masih lemah namun rasa takutnya ternyata dapat membangkitkan tenaga yang luar biasa juga, meski punggungnya hampir patah karena tubuhnya ditindih kantung-kantung dendeng, beras, ikan asin, sayur asin dan lain-lain. Biar keberatan harus membawa rangsum kering sebanyak itu, namun hatinya merasa lega dan rasa was-was pun hilang.

Tapi rasa lega itu juga hanya sementara saja. Sebab kalau makhluk ini jelas tidak makan manusia, lalu bagaimana dengan siluman keparat itu?.

Bahwa siluman keparat itu dapat menundukkan makhluk aneh ini dan takluk lahir batin, memangnya kemampuan apa yang dimilikinya? Bagaimana bentuk dan tampangnya? Dapat dibayangkan rupanya tentu lebih menakutkan.

Meski takut, namun juga heran dan ingin tahu. Terasa oleh Ban-lo-hu-jin pengalaman bahaya aneh dan misteri yang dialaminya ini jauh lebih besar dari setengah hidupnya berkecimpung di kang-ouw.

Pulau kosong ini rasanya jauh lebih hangat dibanding daratan.

Sepanjang pantai tumbuh pohon kelapa yang tinggi lurus tegak mirip tombak yang ditancapkan di bumi.

Lebih maju lagi ke pedalaman, Ban-lo-hu-jin mendapatkan sebidang hutan yang cukup rimbun.

Mengikuti langkah makhluk aneh yang beranjak di pasir yang berkilauan ditimpa cahaya matahari, saking lelah kedua kakinya seperti kebal tapi juga kesemutan melangkah di pasir yang halus seperti menginjak tumpukan kapas yang empuk.

Pepohonan di sekelilingnya dengan panorama indah mengandung bau pantai yang basah dan asin bagi Ban-lo-hu-jin, hal ini terasa serba baru dan aneh, asing juga menakjubkan.

Namun pada saat dirinya dijadikan kuli dengan muatan seberat ini di punggung, mana sempat ia menikmati panorama nan mempesona itu.

Kalau bisa ia harap samberan kilat dan gelegar guntur menamatkan jiwa makhluk kurang-ajar yang membekuk dirinya sebagai budak, atau mendadak bumi merekah dan menelan makhluk keparat ini ke perut bumi.

Tanpa sesuatu kejadian gaib, dirinya jelas akan menjadi tawanan dan diperbudak selama hidup oleh makhluk aneh ini.

Kalau menunduk Ban-lo-hu-jin dapat mengawasi sepasang kaki hitam yang kurus panjang, kaki yang kotor dan dekil dengan kuku jari kaki yang panjang-panjang melengkung mirip kuku kera.

Tapi sepasang kaki yang buruk, kotor dan menjijikan ini, langkahnya ternyata begitu enteng lembut, gemulai, beranjak di pasir yang empuk ternyata tidak meninggalkan bekas telapak kaki sedikit pun.

Selama hidup Ban-lo-hu-jin belum pernah melihat atau membayangkan ada manusia memiliki gin-kang setinggi mengejutkan ini.

Diam-diam ia membatin dalam hati, umpama Pui-Po-giok atau Pek-cui-kiong-cu termasuk juga Jik-ih-hou masa jayanya dulu, gin-kang nya juga belum tentu dapat menandingi orang ini.

Adalah logis kalau Ban-lo-hu-jin harus membuang jauh keinginan untuk melarikan diri. Dengan gin-kang setinggi ini, orang akan mudah membekuknya ke mana pun ia lari.

Makhluk itu mulai memasuki hutan. Sambil berjalan ia pun menggerutu dan mencaci-maki “Siluman keparat …akan datang suatu hari akan aku iris kulit dagingmu yang putih halus itu.”

Agak lama setelah berjalan lagi, mendadak makhluk itu berhenti dan berkata, “Sudah sampai di sini saja.”

Ban-lo-hu-jin kucek-kucek mata, lalu kucek kucek mata lagi, kalau tidak sepuluh kali mungkin dua puluh kali ia mengucek-ngucek matanya, karena ia mengira pandangannya kabur, karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Di tengah pulau kosong ini, di tengah hutan lebat yang rimbun, ia lihat sebuah kapal. Walau kapal ini kelihatan bobrok, kropos, namun secara nyata memang sebuah kapal, kapal yang biasanya berlayar di tengah samudra.

Dibilang sebuah kapal juga kurang tepat, karena kapal yang satu ini kini tinggal separo saja namun besar, luas dan bobot separo kapal yang tersisa ini jauh lebih besar dibanding kapal yang dinaiki Ban-lo-hu-jin itu.

Kapal yang bobrok dan pecah ini berada di sebuah tanah kosong di tengah hutan, membelakangi dinding gunung sebuah air terjun kecil menumpahkan airnya di sebelah sana.

Sepuluh kaki dari kapal, di pinggir sungai di bawah kaki bukit, didirikan sebuah gubuk kecil, gubuk yang dibangun dengan kayu dan atap daun kepala, walau dibangun secara sederhana, namun jelas hasil dari buah tangan seorang yang ahli.

Sementara itu, sang surya baru saja memancarkan cahayanya, air embun di atas daun dan rumput belum kering, sorot sinar surya menimbulkan beraneka warna kemilau laksana mutiara.

Di tengah panorama nan indah menakjubkan, di atas pulau belukar yang kosong ini, mendadak mendapatkan sebuah kapal sebesar ini, meski hanya tinggal separo, dan gubuk kecil yang artistik, sesaat lamanya Ban-lo-hu-jin berdiri melengong heran, kagum dan tidak habis mengerti.

Mendadak dari belakang kapal besar yang bobrok itu berkumandang nyanyian orang yang merdu.

Lagu daerah yang lembut, riang dan menggambarkan suasana damai, merdu dan mengasyikan sekali.

Walau tidak tahu makna lagu itu, tapi Ban-lo-hu-jin, merasakan lagu itu melambangkan kehangatan hidup, riang dan bahagia serta harapan mendatang.

Siluman keparat? Mungkinkah siluman keparat mendendangkan lagu semerdu ini?

Di tengah alunan lagu yang merdu itu, mendadak sehelai layar, dari bawah tiang layar kapal yang masih tersisa, terkerek naik perlahan.

Sang surya seperti riang menyambut berkembangnya layar itu sehingga menimbulkan pancaran warna yang semarak.

Kembali Ban-lo-hu-jin terbelalak dan melongo.

Layar itu jelas berwarna-warni, terbuat dari sutera halus, meski sudah agak dekil dan luntur warnanya, tapi Ban-lo-hu-jin masih mengenalnya, itulah layar pancawarna …

******

Sementara itu dengan langkah lebar Pui-Po-giok mendaki tangga batu.

Satu langkah maju satu langkah makin naik ke atas, berarti selangkah lebar dekat dengan Pek-cui-kiong, mungkin jaraknya lebih dekat dari kematian, namun sekarang tak mungkin bertolak balik, tidak mungkin kembali atau berhenti di sini. Puncak terjal, kabut makin tebal dan menyesatkan.

Di tengah kabut tebal yang menyesatkan itulah, tersembunyi berbagai dongeng yang serba misteri.

Dan kini Pui-Po-giok sudah melangkah masuk ke tengah kabut yang menyesatkan itu.

******

Bahwa kapal layar pancawarna yang dahulu malang melintang dan disegani kaum Bu-lim, kini muncul di pulau belukar yang kosong ini, hampir saja Ban-lo-hu-jin menjerit kaget.

Dalam pandangan dan perasaannya, dirinya seperti berada di alam khayal.

Kini layar pancawarna sudah berkembang penuh ditiup angin.

Layar pancawarna yang dahulu melambangkan kekuasaan dan kejayaan yang tiada taranya, kapal besar yang mengalami musibah dan penuh kepedihan, tapi di bawah pancaran sinar surya di pagi nan cerah ini, sedikitpun tidak luntur, wibawa maupun kekuatannya.

Dalam sekejap ini Ban-lo-hu-jin lupa takut, kaget dan lupa segalanya, terpatung mengawasi kapal layar yang tinggal separo itu, tanpa sadar selangkah demi selangkah ia maju menghampiri.

Nyanyian itu mendadak berhenti, di bawah layar pancawarna mendadak muncul bayangan orang yang cantik rupawan.

Tampak rambut orang ini terurai, berserakan di pundak, dada dan punggungnya, sepasang bola matanya bening bagai kaca, cemerlang laksana mutiara. Betapa cemerlang kebesaran kapal layar pancawarna, ternyata tidak lebih unggul dibanding perempuan cantik ini.

Akhirnya tercetus jeritan perlahan dari mulut Ban-lo-hu-jin, “Cui-Thian-ki!”

Sungguh mimpi pun tidak pernah terbayang olehnya, bahwa siluman keparat yang dimaksud oleh makhluk aneh itu bukan lain adalah Cui-Thian-ki.

Melihat kehadiran Ban-lo-hu-jin, Cui-Thian-ki juga mengawasinya dengan pandangan aneh, takjub dan hambar, namun bibirnya yang mungil mengunjuk secercah senyum yang menawan hati.

Setelah tujuh tahun hidup dalam pengasingan penderitaan dan kesengsaraan telah diresapnya, namun kemontokan dan kecantikan tubuhnya ternyata tidak pernah berkurang, senyum tawanya masih mempesona, masih menggiurkan, senyum yang merontokkan sukma setiap laki-laki mata keranjang.

Cui-Thian-ki mengenakan jubah pendek yang terbuat dari anyaman bulu burung dengan dedaunan yang lembut, meski sederhana model dan coraknya, tapi berwarna warni dan tampak semarak.

Dengan mengenakan jubah bulu burung yang pendek dan semarak ini, lebih tampak betapa jelita nona ayu ini, sepasang kakinya yang jenjang putih tampak mulus, halus tanpa cacat sedikit pun.

Di dunia ini mungkin tiada potongan tubuh seindah dan semulus seperti yang dimiliki perempuan ini, tiada sesuatu benda di dunia ini yang dapat menggairahkan berahi laki-laki daripada sepasang paha yang jenjang mulus itu.

Ban-lo-hu-jin juga seorang perempuan, berhadapan dengan gadis cantik bak bidadari, menghadapi senyumnya yang menawan hati, paha yang dapat membuat mata laki-laki berkunang-kunang, ia pun melengong seperti kehilangan sukma.

Dengan tawa paksa suara Cui-Thian-ki tetap terdengar merdu bak keliningan, “Sungguh tak nyana …sungguh tak nyana, di pulau kosong belukar ini masih dapat bertemu dengan teman lama …Ban-lo-hu-jin, kukira belakangan ini engkau banyak mendapat rejeki nomplok, selama beberapa tahun ini tentu hidup senang.”

“Aku …aku …” Ban-lo-hu-jin gelagapan.

“Mungkin tidak kau kira hari ini bakal bertemu dengan aku di sini,” ucap Cui-Thian-ki tertawa.

“Aku …aku …” ” Ban-lo-hu-jin tetap tidak kuasa bicara.

Dengan langkah gemulai Cui-Thian-ki turun dari kapal, katanya dengan tertawa genit, “Berapa tahun tidak ketemu, kecuali ‘aku’ memangnya engkau tidak dapat bicara lagi?”

Ban-lo-hu-jin menghela napas panjang, “Apakah aku sedang bermimpi?”

Seiring dengan menghela napas panjang, kantung-kantung makanan yang ia gendong satu persatu jatuh ke tanah.

Kerlingan mata Cui-Thian-ki beralih dari wajah Ban-lo-hu-jin ke arah kantung-kantung makanan itu, dari kantung makanan itu beralih pula ke arah makhluk aneh itu, katanya perlahan, “Bagus sekali, ternyata engkau memang patuh dan dengar nasihatku, tidak lagi rakus makan …”

“Hm,” makhluk aneh itu menggerung geram.

Cui-Thian-ki tertawa riang, “Mencuri makan banyak memang tidak, tapi menggeragot dua kali tentu benar.”

Lalu dengan senyum lebar ia berpaling ke arah Ban-lo-hu-jin, “Tentu kamu tidak tahu, betapa sengsara hidup di pulau kosong ini, syukur kalau ada sejenis unggas terbang lewat di sini, atau bila dapat mengail udang, ikan atau kepiting juga mending, berarti hidangan sehari tidak sampai kapiran maka ….”

Sekilas ia melirik pula ke arah makhluk itu, lalu melanjutkan dengan tertawa, “Sampai pun padri agung Ka-sing Tai-su yang terkenal dan di segani, kalau melihat makanan enak juga tidak tahan untuk mencicipinya secara diam-diam.”

Ban-lo-hu-jin berjingkrak kaget, “Ka-sing Tai-su! Jadi dia ini Ka-sing Tai-su?” teriaknya dengan terbelalak.

“Betul sesuai aslinya, tulen dan tanggung tidak palsu,” demikian ucap Cui-Thian-ki tertawa.

Ban-lo-hu-jin menoleh, dengan melotot ia mengawasi makhluk aneh itu.

Padri agung yang sakit dan aneh, padri yang pernah menggetarkan dunia persilatan dulu sekarang berubah sedemikian rupa.

Dahulu dia kelihatan agung, alim, berwibawa tapi juga tampak keji dan culas. Namun semua sifat dan tanda-tanda itu kini sudah tidak kentara lagi, tiada satu pun yang ketinggalan.

Segala miliknya telah sirna dan lenyap tak berbekas dibawa masa yang tidak kenal kasihan kelaparan itu sendiri juga secara kejam menyiksa badannya, merusak kondisi tubuhnya, padri agung yang luar biasa dulu, kini,berubah menjadi tamak rakus dan liar seperti binatang buas.

Perubahan ini teramat nyata dan besar bedanya, orang yang melihat perubahan ini tentu akan akan merasa sangsi, heran dan kaget, demikian perasaan yang menggelitik sanubari Ban-lo-hu-jin, namun kecuali itu ia pun merasa iba, kasihan dan simpati.

Ka-sing Tai-su tetap berdiri di tempatnya, wajahnya tetap kaku tidak berubah, kecuali beberapa reaksi secara refleks yang ditimbulkan oleh kejutan di sekelilingnya, seolah-olah manusia ini sudah menjadi beku, beku perasaan juga beku badaniah. Sambil mendongak Ban-lo-hu-jin bergumam, “Oo, Tuhan, benarkah yang aku lihat?”

Cui-Thian-ki menghela napas perlahan, “Aku juga selalu berdoa semoga hal ini bukan kenyataan.”

“Ka-sing Tai-su …benarkah dia Ka-sing Tai-su ….” Ban-lo-hu-jin masih bergumam.

“Syukur ada Ka-sing Tai-su di sini …” demikian ujar Cui-Thian-ki, “selama beberapa tahun ini, kalau bukan dia yang berusaha dengan susah payah mencari makanan, kami bertiga mungkin sudah lama mampus kelaparan.”

“Hah, bertiga?!” pekik Ban-lo-hu-jin kaget.

“Benar, kami bertiga orang di sini,” sahut Cui-Thian-ki tertawa.
Ban-lo-hu-jin celingukan, layar berkembang, dahan pohon menari-nari di tiup angin, kecuali Cui-Thian-ki dan Ka-sing Tai-su tidak terlihat bayangan orang lain kecuali dirinya yang baru datang.

“Lalu siapakah orang ketiga?” tanyanya kemudian.

“Bila kau lihat dia pasti mengenalnya,” sahut Cui-Thian-ki.

“Dia …ada di mana?”

“Ya, di sini …sayang tidak dapat melihatnya,” ujar Cui-Thian-ki, mendadak ia menghela napas, “Aku pun tidak bisa melihatnya.”

Ban-lo-hu-jin melengong, “kau …kau pun tidak dapat melihatnya.”

“Ehm,” Cui-Thian-ki mengangguk.

“Mungkinkah dia …dia adalah …” Ban-lo-hu-jin terbelalak takut.

“Yang pasti dia bukan makhluk aneh, juga tidak bisa menghilang,” Cui-Thian-ki menjelaskan dengan tertawa geli.

“Lalu….lalu kenapa …” tanya Ban-lo-hu-jin gagap.

“Dia ada di dalam sini, apa kau bisa melihatnya?” ucap Cui-Thian-ki.

Ban-lo-hu-jin menoleh ke arah yang ditunjuk Cui-Thian-ki, baru sekarang ia dapatkan kapal bobrok yang sudah kropos ini ternyata masih ada sebagian kabin yang terhitung utuh, rapi dan terawat baik.

Namun jelas bahwa kabin kapal layar pancawarna ini ternyata terbuat dari besi.

“Kalau bukan karena dia ada di dalam sana, buat apa kami bersusah payah mengeluarkan banyak tenaga menggusur kapal ini ke sini ….Tahukah berapa lama untuk menggusur separo kapal bobrok ini ke tempat ini?”

“Sepuluh hari? …Dua puluh hari? ….” Ban-lo-hu-jin menerka-nerka.

Cui-Thian-ki cekikikan, “Setahun!”

Walau tawanya tetap kelihatan menawan, namun terasakan mengandung perasaan hambar dan kecut.

Mendadak Cui-Thian-ki mengulap tangan, “kau boleh pergi, tiba saatnya makan boleh datang ke sini.”

Ka-sing Tai-su mengertak gigi sekilas ia pandang kantung-kantung makanan ini, lalu bergerak perlahan, mendadak melangkah lebar ke sana tanpa menoleh lagi.

Dengan terlongong Ban-lo-hu-jin mengawasi Cui-Thian-ki, mengawasi gadis cantik yang diliputi misteri, akhirnya ia menghela napas panjang, katanya “Sampai hari ini aku baru benar-benar kagum padamu.”

“O? Apa benar?” tanya Cui-Thian-ki.

“Tak habis kupikir, dengan cara apa kau dapat mengendalikan Ka-sing Tai-su, tokoh yang garang dan lihai itu, kenyataan ia patuh dan tunduk padamu.”

Cui-Thian-ki tertawa, “Belum pernah ada laki-laki di dunia ini yang tidak dapat aku tundukkan.”

Mendadak ia membalik tubuh lalu melompat ke atas kapal, ia menghampiri sebuah lubang bundar dan berkata, “Aku sampaikan sebuah berita baik, berita menggembirakan, hari ini kamu bakal makan enak.”

Dari lubang bundar itu terdengar jawaban orang, Apakah ada ….”

“Sekarang tidak perlu tanya,” demikian tukas Cui-Thian-ki dengan lembut, “Setelah selesai latihan pagi, nanti akan aku jelaskan seluruhnya padamu tahu tidak?”

“Baiklah, aku dengar saranmu,” suara dalam lubang itu menjawab.

“Nah, begitu, sekarang akan aku siapkan makanan enak untukmu,” demikian ucap Cui-Thian-ki sebelum menutup lubang bundar itu.

******

Apa yang terdapat di pulau kosong yang liar dan belum pernah dihuni manusia ini, ternyata serba aneh, serba baru dan menakjubkan, dari berbagai macam dan bentuk kerang, dibuatlah cangkir, poci dan segala perabot yang dibutuhkan untuk sebuah keluarga. Sebuah meja besar yang dibuat dari batok kura-kura, kursi dari kayu dan bambu. Di dunia peradaban justru takkan pernah dijumpai hal-hal lucu dan menyenangkan seperti ini.

Di pojok gubuk mungil yang artistik itu terdapat sebuah ranjang gantung yang dibuat dari sisa layar pancawarna.

Begitu berada dalam gubuk mungil itu, tak urung Ban-lo-hu-jin geleng-geleng kepala sambil menghela napas, “Sungguh tak nyana, di pulau kosong dan liar ini kamu masih hidup senang dan nyaman.”

“Nyaman? …” Cui-Thian-ki menegas.

Senyuman sirna, dengan serius ia berkata perlahan, “Umpama benar di sini terdapat segala macam benda yang terbaik di dunia, tapi juga ada benda yang paling menyebalkan, paling menjengkelkan. Segala benda paling baik di dunia ini takkan dapat mengatasi, menyingkirkan sesuatu yang paling buruk ini. Tahukah apa yang paling jelek di sini?”

“Apakah …lapar?” tebak Ban-lo-hu-jin.

“Lebih buruk dari lapar,” sahut Cui-Thian-ki.

Berkerut alis Ban-lo-hu-jin, “Kalau begitu mungkin penyakit? Kedinginan? Atau ketakutan? ….”

“Semua itu kurasa bukan yang terburuk di dunia,” bantah Cui-Thian-ki.

“Kalau benar masih ada sesuatu yang lebih buruk di dunia ini, sulit aku pikirkan sesuatu lain yang paling buruk dibandingkan semua itu.”

Rawan suara Cui-Thian-ki, “Biarlah aku jelaskan, yang paling buruk di dunia ini adalah kesepian!”

Lama Ban-lo-hu-jin tepekur, mulutnya bergumam, “Kesepian …ya benar!”

Nenek ini menelaah kata “kesepian” ini dengan perasaan masgul, pahit dan getir.

Betul memang hanya kesepian di dunia ini yang dapat membuat orang rapuh, apalagi kesepian yang berkepanjangan, terutama bagi manusia yang meningkat ke dewasa, kesepian itu sendiri akan bermakna secara keseluruhan dalam hidupnya.

Tujuh tahun, bagi siapa pun, tua maupun muda, adalah masa yang bukan pendek, apalagi perempuan cantik seperti Cui-Thian-ki, perempuan genit yang butuh belaian kasih sayang dan cinta, tujuh tahun adalah masa yang menyiksa, kesepian adalah momok dalam lembaran hidupnya di pulau kosong itu selama tujuh tahun.

Sorot mata Cui-Thian-ki memandang keluar pintu.

Layar sutera pancawarna sedang berkibar dengan semarak di bawah cahaya matahari.

“Selama beberapa tahun ini, setiap pagi aku mengerek layar pancawarna itu, bila mentari terbenam aku menurunkannya pula. Tujuannya jelas untuk mencari kesibukan di tengah kesepian hidup ini, tapi …tapi ….”

“Tapi tanpa terasa, sehari demi sehari, timbul kenangan abadi perasaan dekat terhadap layar pancawarna itu.”

“Betul, dari mana kau dapat tahu …” tanya Cui-Thian-ki.

“Jangan lupa, meski nenek macamku ini barang tua yang tidak berguna, tapi setelah hidup setua ini, terhadap kejadian dan serba-serbi dunia, sedikit banyak lebih berpengalaman dibandingkan orang lain.”

Cui-Thian-ki tertawa riang, “Di tengah kesepian ini dapat berbincang-bincang dan mengobrol tentang seluk-beluk kehidupan manusia dengan sahabat lama, sungguh merupakan hadiah yang tak ternilai bagiku.”

Ban-lo-hu-jin melanjutkan komentarnya, “Karena merasa dekat dan timbul perasaan mendalam terhadap layar pancawarna itu, maka kau pertahankan, melindunginya secara rapi dan sempurna seperti keadaannya semula. Lembaran sejarah masa lalu waktu kapal layar pancawarna ini disegani dulu, secara langsung memang tidak pernah ada sangkut-pautnya denganmu, tapi kau harapkan datangnya suatu hari kapal layar pancawarna ini akan berkembang dan berlayar di tengah samudra lagi ….betul tidak?”

perlahan Cui-Thian-ki memejamkan mata, diam sejenak, mendadak berkata dengan nada rendah, “kau keliru!”

“Keliru?” Ban-lo-hu-jin menegas.

“Aku hanya berharap datang suatu hari aku akan berlayar dan pulang dengan kapal layar pancawarna ini, kecuali pulang ke rumah, apa pun tidak pernah kupikir, tiada sesuatu yang aku perhatikan.”

“Ah, apa benar?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Sudah tentu benar,” sahut Cui-Thian-ki.

“Kalau sekarang juga kau bisa pulang, kau …”

“Segera aku berangkat pulang!”

“Apa tega kau tinggalkan orang dalam kabin kapal itu?”

Terbelalak mata Cui-Thian-ki, “Aku …kenapa aku tidak tega meninggalkan dia? Pada hakikatnya aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Apalagi, orang seperti diriku, memangnya kamu tidak tahu?”

“Dahulu Cui-Thian-ki memang manusia yang tidak kenal kasihan, tidak berperikemanusiaan, perasaannya lebih kaku dan dingin daripada besi. Tapi setelah tujuh tahun hidup kesepian di tempat ini sekarang sudah banyak perubahan.”

“Sudah berubah? Aku tidak akan berubah,” jengek Cui-Thian-ki.

“Ya, engkau sudah berubah, bahwa terhadap kapal layar pancawarna yang tak bernyawa itu pun timbul perasaanmu yang mendalam, apalagi terhadap manusia yang hidup segar bugar,”

“Aku …” badan Cui-Thian-ki seperti gemetar.

“Tak usah kau bohongi aku, dan jangan menipu diri sendiri, kalau dalam hatimu tidak mendambakan harapan nan indah, kuatkah kau hidup kesepian selama tujuh tahun?”

“Aku …harapanku …..”

“Harapanmu berada pada orang yang berada dalam kabin kapal itu,” perlahan suara Ban-lo-hu-jin, dengan tajam ia menatap Cui-Thian-ki, seperti ingin menyelidiki sanubarinya.

Badan Cui-Thian-ki, seperti gemetar pula, .”Aku …aku ….”

Mendadak ia menubruk dan memeluk Ban-lo-hu-jin, lalu pecahlah tangisnya.

Setelah mengalami kesepian tujuh tahun, kesepian yang tak kenal kasihan, namun secara nyata dapat membuat jiwa raga manusia menjadi rapuh, mendadak seorang mengetuk sanubarinya, mengorek isi hatinya, gejolak perasaan yang terpendam selama ini, yakin siapa pun takkan kuasa menahannya, dan gejolak itu biasanya hanya terlampias dengan tangis yang memilukan.

Seperti seorang ibu yang kasih sayang terhadap putrinya, Ban-lo-hu-jin mengelus pundaknya, menghibur dengan kata-kata manis. Tapi ujung mulutnya mengulum senyum penuh arti, sorot matanya mengandung senyum licik dan licin.

Hatinya lega, terhibur dan yakin bahwa selanjutnya dirinya akan hidup aman di sini.

Soalnya ia sudah berhasil menaklukkan hati Cui-Thian-ki. Ban-lo-hu-jin yakin tiada orang di dunia ini tega mencelakai seorang yang mendalami perasaannya.

Angin mengembus sepoi-sepoi, perlahan namun hangat.

“Anak baik, apa isi hatimu, boleh kau bicarakan denganku,” demikian bujuk Ban-lo-hu-jin sambil mengelus kepala orang.

“Aku …tak tahu dari mana harus mulai,” kata Cui-Thian-ki sambil terisak.

“Jelaskan dulu padaku, siapa yang berada dalam kabin itu?”

“Siapa lagi, yaitu …si kepala besar itu …”

“Oh, Put-jiu?” teriak Ban-lo-hu-jin.

“Ehm,” Cui-Thian-ki mengangguk.

Agak heran Ban-lo-hu-jin, tapi juga merasa geli, “Perempuan secantik ini, bagaimana mungkin mencintai laki-laki berkepala besar itu?”

Namun mulutnya berkata, “O, kiranya dia…Ehm, orang ini cerdas, terbuka dan tabah, tutur katanya juga menyenangkan, laki-laki ideal yang patut dicintai setiap gadis ”

“Aku juga tidak tahu kenapa,” malu Cui-Thian-ki menjelaskan.

Ban-lo-hu-jin tertawa, “Sudah tentu kau takkan tahu kenapa bersikap baik terhadapnya, perasaan setiap orang akan tumbuh dan menjadi subur di luar tahunya, dan kalau perasaan itu sudah tumbuh, siapa pun takkan bisa mencegah atau mengendalikannya.”

“Apakah aku salah?” tanya Cui-Thian-ki.

“kau tidak salah, bila cintamu murni selamanya tidak akan salah ….Tapi aku tidak habis mengerti, kenapa dia menyekap diri dalam kabin itu, tidak mau keluar ”

“Kalau dia keluar jiwanya takkan selamat.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: