Kumpulan Cerita Silat

06/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (06)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:11 pm

Bahagia Pendekar Binal (06)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Dahi Koh Jin-giok tampak berkeringat, jawabnya, “Ap…apakah Cianpwe kenal ayahku.”

“Hmk,” jengek orang itu. “Konon Koh-losi mempunyai peraturan keluarga yang keras, mana boleh anak muridnya sembarangan bertindak di luaran? Hendaklah diketahui, seorang yang semakin tinggi kungfunya juga harus semakin prihatin, apabila sedikit-sedikit lantas main pukul, itu kan sama dengan perbuatan kaum pencoleng di tepi jalan, masa ajaran ini tak pernah diberikan oleh ayahmu?”

Seketika Koh Jin-giok tertunduk oleh dampratan orang aneh itu, mana berani lagi dia bersuara.

Siau-sian-li yang tidak tahan, ia berteriak, “Siapa kau sebenarnya? Berdasarkan apa kau beri kuliah segala?”

Sejak tadi Kang Piat-ho berdiri mematung di samping, sama sekali ia tidak terkejut terhadap apa yang terjadi di depannya, seolah-olah ia sudah tahu bilamana si orang aneh turun tangan, maka Koh Jin-giok dan Siau-sian-li pasti akan kecundang.

Sekarang mendadak Kang Piat-ho tertawa dan berkata, “Masa kalian sama sekali tidak tahu siapa gerangan beliau?”

“Siapa dia?” Siau-sian-li menegas dengan melotot.

Lebih dulu Kang Piat-ho menghela napas, lalu menjawab sekata demi sekata, “Beliau inilah Yan-tayhiap, Yan Lam-thian!”

Yan Lam-thian! Begitu mendengar nama ini, seketika kuncup nyali Siau-sian-li dan tidak berani bertingkah lagi, matanya terbeliak dan mulut pun tertutup.

Koh Jin-giok bahkan terus menyembah, sampai kawanan buaya darat yang tadi baru bubar dari rumah judi pun sama menahan napas demi mendengar nama Yan Lam-thian.

“Selanjutnya Kang Piat-ho takkan memalsukan nama dan berbuat jahat lagi, maka kalian pun tidak perlu mencari dia lagi untuk membuat perhitungan,” kata Yan Lam-thian kemudian. “Sebab sudah ada orang lain akan membuat perhitungan lebih dulu dengan dia untuk menyelesaikan utang-piutang yang sudah tertunggak dua puluh tahun lamanya.”

Berulang-ulang Koh Jin-giok mengiakan dengan hormat.

Lalu terdengar Yan Lam-thian menambahkan, “Dan selanjutnya hendaklah kalian pun jangan bertindak sembrono dan sembarangan membunuh orang.”

Dengan tertunduk kembali Koh Jin-giok mengiakan.

Yan Lam-thian lantas memberi tanda, katanya, “Baiklah, sekarang kalian boleh pergi.”

Kaki Pek Khay-sim dan To Kiau-kiau yang mengintip di balik pintu sana terasa seperti lemas dan baju mereka pun basah kuyup oleh keringat dingin.

Han-wan Sam-kong juga jeri terhadap Yan Lam-thian, tapi dia tidak ketakutan seperti kedua rekannya itu. Ia merasa geli melihat keadaan kedua kawannya itu, katanya dengan tertawa, “Ayo kalian anak kura-kura ini kenapa tidak berteriak lagi sekarang? Kabarnya kalian telah mengurung Yan Lam-thian di Ok-jin-kok selama dua puluh tahun, tadinya Locu merasa sangsi dan tidak percaya, tapi sekarang tampaknya hal itu memang bukan berita kosong belaka.”

“Ti…tidak…” mestinya To Kiau-kiau hendak menyangkal, tapi lidahnya terasa kaku dan sukar berucap pula.

“Itulah perbuatan si banci dengan serigala mulut besar mereka itu, tiada sangkut pautnya dengan aku,” cepat Pek Khay-sim mendahului bicara.

“Jika tiada sangkut pautnya dengan kalian anak kura-kura ini, kenapa kau anak kura-kura mesti ketakutan setengah mati?” tanya Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

“Memangnya kau sendiri tidak takut?” ujar Pek Khay-sim.

“Kejahatan yang kulakukan kan tidak sebanyak perbuatan kalian, Locu tidak perlu takut seperti kau anak kura-kura ini,” kata Ok-tu-kui.

Mendadak Pek Khay-sim tertawa lebar, katanya, “Kata orang, yang ada biasanya cuma berzina paksa dan tidak ada judi paksa, ini tandanya memaksa orang berjudi jauh lebih jahat daripada pemerkosaan. Nah, kejahatanku paling-paling juga cuma memerkosa saja. Tapi kau…hehehe, boleh kau lihat nanti, apabila Yan Lam-thian tahu kau inilah Ok-tu-kui, mustahil kalau kepalamu tidak dipukulnya hingga pecah.”

Han-wan Sam-kong mengusap keringatnya, ia pun tidak sanggup bicara pula.

Sudah tentu ketiga orang sama berharap selekasnya Yan Lam-thian akan pergi sejauh-jauhnya bersama Kang Piat-ho. Siapa tahu, Yan Lam-thian justru lantas duduk di tempat penjual bakmi, ia minta satu botol arak, lalu menuang sendiri dan minum sendiri.

Kang Piat-ho hanya berdiri saja di samping, tidak berani pergi juga tidak berani ikut duduk. Agaknya orang-orang lain juga sama jeri sehingga satu per satu pembeli bakmi sama angkat kaki, sampai-sampai si penjual bakmi sendiri juga agak gemetar.

Namun Yan Lam-thian tetap tenang-tenang saja, ia minum sendirian secawan demi secawan tanpa berhenti. Setiap kali habis menenggak arak, setiap kali pula menghela napas panjang seperti orang menanggung tekanan batin.

Han-wan Sam-kong bergumam sambil berkerut kening, “Aneh, si anak kura-kura Kang Piat-ho itu mengapa bisa berada bersama Yan Lam-thian, sungguh kejadian mahaaneh.”

Dia mengira pertanyaan ini pasti tiada orang yang mampu menjawabnya, tak terduga To Kiau-kiau lantas menghela napas dan berucap, “Baru sekarang aku ingat asal-usul Kang Piat-ho ini.”

“Memangnya bagaimana asal-usulnya?” tanya Ok-tu-kui.

“Dia pasti Kang Khim adanya,” kata Kiau-kiau.

“Kang Khim? Siapa itu Kang Khim?” tanya Ok-tu-kui pula.

“Kang Khim adalah kacungnya Kang Hong, saudara angkat Yan Lam-thian,” tutur Kiau-kiau. “Tujuan Yan Lam-thian ke Ok-jin-kok dulu adalah untuk mencari Kang Khim, sebab Kang Khim telah mengkhianati Kang Hong.”

“Kang Hong? Nama ini seperti pernah kudengar,” ujar Ok-tu-kui.

“Sudah tentu pernah kau dengar dulu, cuma sudah terlalu lama,” kata Kiau-kiau. “Kang Hong bukan lain ialah ayah Kang Siau-hi-ji.”

Han-wan Sam-kong melengak, katanya kemudian, “Jika betul dia hendak menuntut balas pada Kang Khim alias Kang Piat-ho sekarang, mengapa dia tidak membinasakannya saja, tapi malah membawanya kian kemari untuk apa?”

“Sebab dia ingin menemukan dulu Siau-hi-ji agar anak muda itu dapat membalas dendam dengan tangannya sendiri,” tutur Kiau-kiau.

“Ya, betul, pasti inilah alasannya,” tukas Ok-tu-kui. “Akan tetapi bagaimana kalau tidak berhasil menemukan Siau-hi-ji?”

Tiba-tiba Pek Khay-sim tertawa lebar, katanya, “Selama hidupnya ini kukira dia takkan menemukan lagi si telur busuk kecil itu.”

“Memangnya kenapa?” tanya Ok-tu-kui.

Pek Khay-sim hanya tertawa saja dan tidak menjawab, sebab diam-diam To Kiau-kiau telah mencubitnya agar jangan banyak omong.

Pada saat itu juga, tiba-tiba ada seorang dengan membawa botol arak mendekati penjual bakmi tempat Yan Lam-thian duduk itu, lalu ia pun duduk di samping sang pendekar.

Lampu penjual bakmi itu tergantung di bagian atas sehingga dapat menyinari wajah orang yang baru datang ini, terlihat usianya masih muda, juga cukup tampan, hanya mukanya sangat pucat.

Han-wan Sam-kong terkejut, katanya, “Berengsek! Anak-kura-kura ini bukankah putra lelaki Kang Piat-ho yang bernama Kang Giok-long itu?”

“Memang betul,” tukas Pek Khay-sim.

Terlihat Kang Giok-long duduk di tempat penjual bakmi itu dan seakan-akan tidak melihat sang ayah, sebaliknya Kang Piat-ho juga berlagak seperti tidak kenal dia. Ayah beranak itu tidak saling pandang sama sekali.

“Kedua ayah beranak ini lagi main gila apa?” omel Han-wan Sam-kong sambil mengernyitkan dahi.

“Tampaknya ia bermaksud menolong bapaknya?” kata Kiau-kiau.

“Hm, hanya anak jadah ini, apakah dia mampu?” jengek Ok-tu-kui.

Kiau-kiau tertawa, katanya, “Meski dia tidak memiliki kemampuan besar, tapi cukup banyak tipu akalnya, sampai Siau-hi-ji terkadang juga tertipu olehnya.”

Han-wan Sam-kong melotot, jengeknya, “Hm, Locu juga tahu banyak tipu muslihatnya, tapi kalau dibandingkan Siau-hi-ji sedikitnya masih berselisih tiga pal jauhnya.”

Berputar biji mata To Kiau-kiau dan tidak bersuara pula. Jelas diketahuinya sekarang bahwa hubungan Ok-tu-kui dengan Siau-hi-ji ternyata cukup erat, kalau tidak, mana mungkin Ok-tu-kui bernada membela Siau-hi-ji.

Dalam pada itu tampak Kang Giok-long sedang menghormat arak kepada Yan Lam-thian, bahkan mengajaknya bicara dengan tertawa. Jelas Yan Lam-thian tidak tahu bahwa Kang Giok-long adalah putra Kang Piat-ho, ia pun tidak menolak ajakan bicara Kang Giok-long itu.

Tidak lama kemudian, mendadak Yan Lam-thian berbangkit dan berseru, “Apa betul kau kenal Kang Siau-hi?”

Kang Giok-long juga berdiri, jawabnya dengan mengiring tawa, “Bukan cuma kenal saja, bahkan boleh dikatakan sahabat sehidup-semati.”

Yan Lam-thian lantas memegang pundak Kang Giok-long dan bertanya, “Apakah akhir-akhir ini kau pernah melihatnya?”

“Dua hari yang lalu Wanpwe baru saja minum arak bersama dia,” jawab Giok-long.

“Dan ke mana dia sekarang?” tukas Yan Lam-thian cepat.

“Jejaknya memang tidak menentu,” tutur Giok-long. “Tapi rasanya Wanpwe masih sanggup menemukannya.”

“Betul?” Yan Lam-thian menegas.

“Masa Wanpwe berani berdusta kepada Cianpwe?” kata Giok-long.

“Bagus, bagus, bagus…” karena senangnya Yan Lam-thian mengucapkan “bagus” hingga beberapa kali, tangannya yang mencengkeram pundak Kang Giok-long juga lupa dilepaskan, keruan anak muda itu meringis kesakitan, tulang pundak serasa retak, tapi sedapatnya ia unjuk senyuman.

Sinar mata Kang Piat-ho tampak gemerdep, tiba-tiba ia menimbrung, “Asal-usul bocah ini tidak jelas, mana boleh Yan-tayhiap percaya kepada ocehannya?”

“Tutup mulutmu!” bentak Yan Lam-thian gusar. “Di depanku tiada bagianmu buat ikut bicara.”

Segera ia lemparkan sepotong uang perak kepada penjual bakmi, ia tarik Kang Giok-long terus diajak berangkat. Terpaksa Kang Piat-ho mengikut di belakang dengan lesu, tapi kalau diperhatikan jelas tersembul senyuman girang pada ujung mulutnya.

Melihat Yan Lam-thian kena diakali Kang Giok-long, To Kiau-kiau tertawa, gumamnya, “Memang sudah kuduga Yan Lam-thian pasti akan tertipu olehnya dan dugaanku ternyata tidak meleset.”

“Setan cilik ini boleh juga!” kata Pek Khay-sim dengan tertawa geli. “Hihihi! Caranya berpura-pura sungguh mirip benar, keparat! Dan Yan Lam-thian ternyata mau juga ikut pergi bersama dia, mungkin dia sudah keblinger.”

“Sekali ini bukan saja selamanya Yan Lam-thian takkan bertemu lagi dengan Siau-hi-ji, bahkan jiwanya mungkin juga akan melayang di tangan kedua ayah beranak itu,” ujar To Kiau-kiau.

Han-wan Sam-kong tampak termangu-mangu, mendadak ia menolak pintu terus hendak menerobos keluar. Tak terduga tangan To Kiau-kiau sudah menunggu di belakangnya, baru saja ia mendorong pintu, secepat kilat Kiau-kiau menutuk beberapa hiat-tonya, habis itu terus dipanggulnya dan dibawa keluar melalui jendela belakang.

Cepat Pek Khay-sim menyusulnya, sambil bertepuk tangan ia berolok-olok, “Haha, tak tersangka To Kiau-kiau bisa terpikat oleh Ok-tu-kui, rupanya kau hendak membawanya pulang untuk dijadikan suami. Tapi menjadi istri setan judi tidak terlalu enak, kau harus hati-hati kalau ikut terjual bila dia kalah judi.”

Kejut dan gusar sekali Han-wan Sam-kong, tapi apa daya, sama sekali ia tak dapat berkutik, bicara pun tidak bisa.

To Kiau-kiau mengitari belakang rumah dan keluar dari kota kecil itu, sementara itu hari sudah terang, jalan pegunungan dengan sendirinya masih sepi.

Sekuatnya To Kiau-kiau terus lari ke atas gunung, dengan sendirinya ia agak kepayahan karena harus memanggul Ok-tu-kui yang bertubuh tidak kecil itu.

Entah sudah berapa lama lagi, tiba-tiba terdengar suara gemerantang nyaring di depan sana, rupanya Li Toa-jui, Ha-ha-ji, dan Toh Sat sedang menggali gunung. Mendadak mereka melihat To Kiau-kiau dan Pek Khay-sim berlari datang seperti dikejar setan.

Yang paling aneh ialah punggung To Kiau-kiau memanggul seseorang.

Segera Li Toa-jui bertiga berhenti menggali dan menyongsong maju.

Sekilas pandang saja Ha-ha-ji lantas mengenali siapa yang dipanggul Kiau-kiau itu, serunya dengan tertawa, “Haha, kukira siapa, rupanya Ok-tu-kui adanya. Haha, selamat bertemu, sahabat lama!”

“Ya, kita sudah berpisah cukup lama, Ok-tu-kui,” Li Toa-jui juga menyapa. “Eh, baru saja bertemu mengapa engkau lantas merangkak ke atas tubuh To Kiau-kiau? Apakah kau setan judi ini telah berubah menjadi setan kundai licin?”

Toh Sat juga berkerut kening, tanyanya, “Apa-apaan ini?”

Kiau-kiau tidak lantas menjawab, ia banting Ok-tu-kui ke tanah, karena bantingan ini, hiat-to yang tertutuk seketika terbuka semua, belum lagi Ok-tu-kui melompat bangun sudah bergelak tertawa lebih dulu, “Hahahaha, kiranya kalian kawanan anak kura-kura ini sudah berada di sini semuanya. Bukit Kura-kura ini kedatangan anak kura-kura sebanyak ini, haha, benar-benar keadaan cocok dengan namanya.”

Pek Khay-sim tertawa, katanya, “Tanpa sebab musabab hiat-tomu ditutuk To Kiau-kiau, lalu seperti membanting seekor anjing kau dibanting ke tanah, tapi kau tidak melabraknya, sebaliknya terus bergurau. Hehe, tampaknya kau ini memang empuk dikerjai orang.”

Pada dasarnya Han-wan Sam-kong berwatak jujur dan terbuka, ketika mendadak melihat sahabat lama sama berkumpul, maka segala urusan telah dikesampingkan olehnya. Sekarang Pek Khay-sim membakarnya dengan mengingatkannya kejadian tadi, seketika ia naik pitam, ia melompat bangun dan menuding hidung To Kiau-kiau sambil berkata, “Ya, coba jawab, kau anak kura-kura bukan jantan bukan betina ini mengapa menutuk sesukamu?”

“Coba jawab dulu pertanyaanku,” kata Kiau-kiau. “Untuk apa tadi kau hendak lari keluar?”

“Apa yang kulakukan, peduli apa denganmu?” Ok-tu-kui meraung murka.

“Maksudmu hendak memberitahukan kepada Yan Lam-thian agar jangan tertipu oleh Kang Giok-long, begitu bukan?” tanya Kiau-kiau.

Mendengar nama “Yan Lam-thian”, tidak kepalang kejut Li Toa-jui, Ha-ha-ji, dan Toh Sat, kaki pun terasa lemas semua.

“Yan Lam-thian?” Toh Sat menegas.

“Kau…kau lihat Yan Lam-thian?” Ha-ha-ji bertanya.

“Apa…apakah dia sudah waras kembali?”

“Bukan saja sudah waras dan segar bugar, bahkan kungfunya kelihatan terlebih hebat daripada dulu,” tutur To Kiau-kiau. “Waktu melihat orangnya tidak seketika kukenali dia, tapi setelah dia memperlihatkan satu jurus saja segera kuyakin dia itulah Yan Lam-thian, sebab selain dia di dunia ini tiada orang kedua yang memiliki ilmu silat setinggi itu.”

Ha-ha-ji menggigil ketakutan, bukan saja tidak sanggup tertawa lagi, bahkan bicara pun tidak sanggup.

“Dia…dia di mana sekarang?” tanya Li Toa-jui.

“Dia telah ditipu pergi oleh Kang Giok-long dan ayahnya, tapi Ok-tu-kui ingin mencarinya malah,” tutur Kiau-kiau.

Belum habis penuturan To Kiau-kiau ini, serentak Toh Sat, Li Toa-jui, dan Ha-ha-ji mengelilingi Han-wan Sam-kong dengan murka.

“Apa maksud tujuanmu itu?” tanya Toh Sat dengan melotot.

Ok-tu-kui tidak takut kepada orang lain, tapi jeri terhadap Toh Sat. Apalagi sekarang sikap Toh Sat kelihatan beringas dan penuh nafsu membunuh, diam-diam ia pun merinding, maka cepat ia menjawab, “Ah, hanya kuingin minta Yan Lam-thian membunuh Kang Piat-ho dan anaknya, masa ada maksud lain.”

“Jangan percaya, Toh-lotoa,” seru Pek Khay-sim.

“Habis, apakah mungkin kuminta Yan Lam-thian mencari perkara kepada kalian?” ujar Han-wan Sam-kong.

“Bisa jadi, bukan mustahil,” ujar Pek Khay-sim. “Sudah dua puluh tahun tidak berjumpa, siapa tahu apa pekerjaanmu sekarang? Mungkin sekali kau sudah menanjak ke atas dan ada hubungan baik dengan Yan Lam-thian, dengan sendirinya kau pun pandang sebelah mata lagi kepada kawan-kawan lama.”

“Ucapan anak kura-kura ini lebih busuk daripada kentut, jangan kau percaya padanya, Toh-lotoa,” kata Ok-tu-kui.

“Coba jawab, jika kau tidak berbuat kesalahan apa-apa, mengapa lantas lari ketika melihat kami?” tanya Pek Khay-sim dengan tertawa.

Agak berubah juga air muka Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, jawabnya gelagapan, “Ini…ini…”

“Ayolah katakan, mengapa tak dapat kau jelaskan?” desak Pek Khay-sim. “Nah, bukankah lantaran berdosa dan takut tertangkap tangan?”

Han-wan Sam-kong berjingkrak gusar dan meraung, “Locu kan tidak menggali kuburan nenek moyangmu, kenapa kau anak kura-kura ini sengaja mencari gara-gara padaku?”

Pek Khay-sim merasa maksud tujuannya tercapai, maka tidak bersuara meski dicaci maki oleh Han-wan Sam-kong.

Li Toa-jui dan Ha-ha-ji menjadi lebih murka, Toh Sat juga tambah beringas, dengan bengis ia tanya pula, “Jadi tadi begitu melihat kami kau lantas lari?”

“Aku…aku…sialan, memang betul, aku lari,” jawab Ok-tu-kui.

“Mengapa lari?” tanya Toh Sat pula.

Mendadak Han-wan Sam-kong membusungkan dada dan menjawab tegas, “Sebab Locu telah meludeskan harta benda kalian.”

Keterangan ini membuat mereka terkejut.

“Harta benda kami, katamu?” tanya Ha-ha-ji cepat. “Harta benda apa?”

“Kalian hanya tahu Locu ini Ok-tu-kui,” tutur Han-wan Sam-kong, “tapi kalian tidak tahu watakku selain ingin menang, juga tak gentar kalah. Asalkan masih ada modal dan bisa kalah, maka rasanya terlebih menyenangkan daripada menang. Lebih-lebih bila kukalah pada setan judi yang miskin dan melihat betapa senangnya mereka setelah menang, wah, kenikmatan itu jelas tak dapat dibayangkan oleh kalian kawanan anak kura-kura ini.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Bulan lalu aku diminta seorang kawan untuk mengantar suatu partai harta milik hartawan besar Toan Hap-pui di daerah Kanglam, meski lantaran urusan itu aku menjadi bermusuhan dengan Kang Piat-ho dan anaknya, tapi aku pun lantas kenal Toan Hap-pui, selama lebih setengah bulan kami mengadu jangkrik di rumahnya, dasar nasibku lagi mujur, aku telah menang beberapa puluh laksa tahil perak dari dia. Karena sudah punya modal, tanganku menjadi gatal dan ingin membuang sebagian harta karun itu.”

“Hm, tak tersangka setan judi macam kau juga punya hati bijak, apakah kau ingin menjadi pendekar yang merampas orang kaya untuk membantu orang miskin?” jengek Li Toa-jui.

Han-wan Sam-kong tidak menanggapi, ia meneruskan ceritanya, “Tapi semakin Locu ingin kalah, harta itu seakan-akan sengaja memusuhi aku, bukannya berkurang, malahan terus bertambah, bukannya kalah, malah selalu menang.”

“Orang judi tentu mengharapkan menang, tapi kau malah ingin kalah,” ujar Li Toa-jui. “Padahal apa sulitnya jika ingin kalah?”

“Judi yang menyenangkan harus berlangsung secara jujur dan pakai teknik sejati, kalah atau menang tidak boleh menggunakan cara curang, kalau tidak kan sama seperti makan nasi putih tanpa sayur, sedikit pun tiada rasanya,” kata Ok-tu-kui. “Nah, pada suatu hari, ketika aku lagi minum di suatu rumah makan, mendadak di sebelah ada orang main dadu. Tentu saja aku tertarik, maka aku pun ikut bermain dengan kawanan anak kura-kura itu.”

“Dan kau menang lagi?” tanya Li Toa-jui.

“Mungkin kawanan anak kura-kura itu yang lagi mujur, kebetulan juga kemujuranku itu harus ganti tempat, maka setiap kali lempar dadu selalu bijiku ketinggalan daripada lemparan orang lain, selama beberapa hari dan beberapa malam berturut-turut Locu kalah terus-menerus.”

“Itu kan cocok dengan kehendakmu?” sela Pek Khay-sim.

Han-wan Sam-kong tidak menggubris, ia menyambung pula ceritanya, “Rumah makan itu terletak di suatu gang, karena Locu kalah terus-menerus selama tiga hari, tentu saja setiap orang di gang itu, tua maupun muda, hampir rata-rata memenangkan uangku. Hanya ada seorang kakek konyol, meski setiap hari dia juga datang minum ke rumah makan itu dan setiap hari menyaksikan kelemahanku, tapi dia sendiri tidak tertarik, satu kali pun tidak pernah ikut taruhan.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan tertawa, “Hahaha, semakin dia tidak main judi, makin besar keinginanku untuk mengajak dia berjudi. Orang lain sama bilang kakek itu sangat alim, bukan saja tidak suka berjudi, bahkan juga tidak merokok, tidak minum arak, tidak main perempuan, jadi benar-benar seorang bersih, maka kebanyakan orang memberi julukan Li-lausit atau Li si Jujur padanya. Malahan ada orang yang menantang, katanya kalau aku mampu memancing Li-lausit ikut berjudi, maka mereka akan menyembah padaku.”

“Sungguh tidak tersangka keluarga Li bisa terdapat seorang tua sebaik itu,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa sambil melirik Li Toa-jui.

“Di gang itu bertempat tinggal pula seorang janda she To, konon dia akan mendapat piagam dari maharaja karena si janda dapat mempertahankan kesuciannya tanpa kawin selama berpuluh tahun,” demikian tutur Ok-tu-kui pula. “Janda To itu berjualan serabi di depan rumahnya, akan tetapi selama berpuluh tahun orang yang berlalu-lalang di situ belum pernah melihat tertawa si janda. Anehnya di rumah janda itu tiada orang lain lagi kecuali seekor anjing yang membantunya menjaga rumah.”

“Hahaha, tak menyangka keluarga To ada perempuan yang rela menjanda sampai tua, sungguh harus dipuji,” demikian Li Toa-jui balas berolok-olok pada To Kiau-kiau. “Cuma sayang, dia toh melahirkan seekor anjing…Hahaha, kita tahu kebaikan anjing yang paling utama ialah tak bisa bicara.”

Han-wan Sam-kong tersenyum, ia melanjutkan ceritanya lagi, “Tidak sampai empat hari, modalku hanya sisa empat laksa tahil saja, selebihnya sudah berpindah ke saku kawanan anak kura-kura itu. Maka sisa modalku itu sekaligus kusodorkan ke depan Li-lausit, kutantang dia bertaruh. Kataku, cukup kusebut satu kata saja pasti dapat membuat si janda To itu tertawa, kemudian kusebut satu kata lagi akan kubuat si janda memukulku, kutanya Li-lausit dia percaya atau tidak dan berani tidak bertaruh denganku?”

“Dan dia tidak percaya?” Ha-ha-ji ikut bertanya.

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong menjawab, “Bahwa janda itu tidak pernah tertawa, antara lelaki dan perempuan juga ada batas-batasnya, lebih-lebih janda tidak mungkin memukul lelaki, semua ini dengan sendirinya membuat Li-lausit tidak percaya. Maka aku lantas bertaruh dengan dia, bilamana aku kalah, seluruh sisa perak milikku itu akan kuserahkan padanya, sebaliknya kalau aku menang, syaratnya ialah dia mesti bermain dadu sepuluh kali lemparan denganku.”

“Dan dia terima tantanganmu?” tanya Ha-ha-ji.

“Dia tidak lantas menjawab, ia pandang perak yang kusodorkan di depannya itu, paling tidak ada setengah jam ia memandang, akhirnya ia setuju bertaruh denganku,” tutur Ok-tu-kui pula. “Haha, biarpun orang jujur, kalau melihat tumpukan perak yang putih gilap itu disodorkan ke depan hidungnya pasti juga ingin memilikinya, sebab setiap orang mengira taruhan ini pasti akan dimenangkan oleh Li-lausit.”

“Akan tetapi akhirnya kau yang menang,” tutur Ha-ha-ji.

“Ya, agar dia mau berjudi lagi denganku, sudah tentu aku harus memenangkan pertaruhan itu,” kata Ok-tu-kui dengan tertawa.

Sampai di sini, akhirnya Toh Sat juga tertarik dan bertanya, “Cara bagaimana kau akan mengalahkan dia?”

To Kiau-kiau juga berseru, “Ya, bahwa kau dapat membuat tertawa si janda dengan satu kata, lalu satu kata lagi dapat kau buat dia marah dan memukul kau, sungguh aku sendiri pun bingung membayangkannya,” kata Kiau-kiau.

Seketika Li Toa-jui, Ha-ha-ji, Toh Sat, dan To Kiau-kiau hanya saling pandang, betapa pun mereka tidak tahu kata apa yang dimaksud Han-wan Sam-kong, masa mempunyai kekuatan gaib sebesar itu dapat membuat tertawa dan membuat marah seorang janda hanya dengan satu kata saja.

Dengan tenang dan perlahan Han-wan Sam-kong lantas bercerita pula, “Petangnya, waktu si janda mulai berjualan serabi lagi, anjing piaraannya yang setia itu sudah tentu selalu mendampinginya. Maka aku lantas mendekatinya, dengan hormat aku menyembah kepada anjing itu sambil memanggil: ‘ayah’. Si janda tampak melengak, maksudnya hendak marah, tapi toh akhirnya dia tertawa juga.”

Bahwa Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong menyembah dan memanggil seekor anjing sebagai ayah, sudah tentu hal ini sangat lucu. Maka Li Toa-jui dan lain-lain juga bergelak tertawa geli.

Dengan tersenyum Ok-tu-kui menyambung pula, “Bahwa terbukti si janda benar-benar tertawa setelah mendengar satu kata ucapanku, tentu saja semua orang merasa kagum dan geli, tapi mereka tetap sangsi dengan satu kata lagi.”

“Terus terang, sampai saat ini pun aku tidak percaya kau mampu membuatnya marah hanya dengan satu kata saja,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

“Untuk itu pun tidak sulit,” tutur Han-wan Sam-kong. “Segera kuberlutut di depan si janda dan memanggilnya ‘ibu’. Seketika mukanya berubah merah padam, dengan gemas ia tampar mukaku satu kali lalu lari masuk rumah.”

Belum habis uraiannya, karena gelinya Li Toa-jui dan lain-lain sama mendekap perut dan tertawa terpingkal-pingkal.

“Maka Li-lausit terpaksa main dadu denganku sesuai perjanjian,” sambung Ok-tu-kui pula. “Siapa tahu kemujuranku bertambah memuncak, berturut-turut kumenang belasan kali lemparan dadu. Semula Li yang mengaku lausit (jujur, polos) itu hanya bertaruh kecil-kecilan saja. Tapi setelah kalah, lama-lama ia menjadi bernafsu dan kalap, taruhannya bertambah besar dan kalahnya juga tambah banyak, akhirnya sampai kasur selimut dan pispot di rumahnya juga dijual untuk taruhan. Hanya dalam sehari saja dia telah kalah ludes, bangkrut habis-habisan.”

“Memang betul,” ujar Toa-jui dengan tertawa, “orang yang tidak pernah berjudi, sekali mulai berjudi dan kalah, makin bernafsu untuk berjudi terus, sebelum ludes takkan berhenti.”

“Pada umumnya, kalau sudah kalah, tentu ingin menang untuk mengembalikan modalnya, tapi akibatnya tambah ludes,” kata Ok-tu-kui. “Dalam hal ini Li-lausit pun tidak terkecuali. Sudah ludes, dia masih ngotot mengajak bertaruh lagi. Kutanya dia dengan apa dia akan bertaruh. Sesudah berpikir, rupanya ia menjadi nekat, ia mengajak aku ke rumahnya, isi rumahnya sudah bersih, tapi di suatu ruangan masih ada beberapa buah peti besar.”

“Peti besar? Bagaimana bentuk peti itu?” tanya Kiau-kiau cepat.

“Hitam warna peti-peti itu, penuh debu, jelas sudah lama tersimpan di situ,” tutur Ok-tu-kui. “Menurut cerita Li-lausit, katanya peti-peti itu sebenarnya adalah barang titipan orang, selama ini belum pernah disentuhnya. Tapi sekarang ia tidak peduli lagi.”

Setelah tertawa, lalu Ok-tu-kui menyambung pula, “Kalian tahu, bila seorang sudah kepepet karena kalah habis-habisan, jangankan barang titipan orang lain, biarpun istri dan anaknya juga tega dijadikan barang jaminan, bahkan dijual sekaligus.”

“Apakah…apakah peti-peti itu pun dikalahkan seluruhnya kepadamu?” tanya Kiau-kiau.

“Ya, cuma tak kusangka isi peti-peti itu adalah emas dan perak, lebih tak terpikir olehku peti itu adalah milik kalian, apabila di dalam peti tiada tanda pengenal kalian, tidak nanti terpikir olehku bahwa kalian dapat menitipkan peti-peti berharga itu kepada seorang kakek. Haha, cara kalian itu sesungguhnya sangat bagus.”

Setelah berhenti sejenak lalu Ok-tu-kui menyambung lagi, “Tentu saja aku kejatuhan rezeki nomplok, beberapa juta tahil perak kudapatkan tanpa susah payah, maka aku dapat bertaruh dengan sepuas-puasnya, sampai sekarang kekalahanku sudah cukup lumayan, sisanya juga sudah kusumbangkan kepada orang sebagai kado perkawinan, sekarang kantong sudah kosong, aku sudah jatuh rudin lagi, bila kalian menagih utang padaku, jelas satu peser pun aku tidak punya lagi, kalau jiwa sih masih ada satu.”

Seketika melenggong Pek Khay-sim, Ha-ha-ji, Toh Sat, Li Toa-jui, dan To Kiau-kiau, muka mereka menjadi pucat, lesu, dan sedih seperti kematian ibunda.

“Haha, kiranya…kiranya Auyang Ting dan Auyang Tong tidak menyimpan harta benda itu di Ku-san, tapi dititipkan pada Li-lausit, akhirnya kita toh tetap tertipu olehnya,” seru Ha-ha-ji.

Dengan gemas Li Toa-jui menambahkan, “Siapa pun juga, bila sudah mendekati ajalnya seperti Auyang Ting dan Tong pasti tidak berani berdusta lagi, tak tersangka kedua Auyang bersaudara itu ternyata bukan manusia!”

Mendadak Ha-ha-ji membuang pacul dan sekop yang berserakan itu, lalu teriaknya dengan tertawa, “Sesungguhnya kita harus berterima kasih juga kepada setan judi ini.”

“Terima kasih? Mengapa?” tanya Pek Khay-sim.

“Coba bayangkan. Apabila dia tidak menceritakan pengalamannya itu, tentu kita akan tetap menjadi kuli galian dan bekerja mati-matian di sini. Tapi sekarang kita tidak perlu menggali lagi dan dapat istirahat dengan baik.”

“Pantas kau gemuk seperti babi, nyatanya kau memang malas,” omel Pek Khay-sim.

“Ucapannya memang tidak salah,” tukas Toh Sat. “Jika tiada Han-wan Sam-kong, selamanya kita takkan tahu di mana beradanya peti-peti kita itu. Bahkan kita akan tambah banyak urusan dan kelabakan percuma.”

Mendadak Pek Khay-sim berseru, “Habis, kita harus minta ganti rugi tidak kepadanya?”

Li Toa-jui tertawa, katanya, “Dia sudah bilang tadi, satu peser saja dia tidak punya lagi, yang ada cuma jiwanya…”

“Kulihat kulit dagingnya kan juga lumayan, apakah kau tidak ingin mencicipinya?” tanya Pek Khay-sim.

“Jika setan judi begini kumakan, wah, bisa runyam,” kata Li Toa-jui dengan tertawa. “Jangan-jangan dia akan mempertaruhkan usus dan ginjalnya, kan celaka?”

Mendadak ia berhenti tertawa dan melototi Han-wan Sam-kong, tanyanya, “Kau telah menghabiskan harta karun itu, apakah beberapa buah peti itu pun kau habiskan pula di meja judi?”

“Tidak,” jawab Han-wan Sam-kong.

Bercahaya mata Li Toa-jui, cepat ia tanya pula, “Di mana peti-peti itu?”

“Di mana? Sudah kubuang,” jawab Ok-tu-kui. “Peti-peti itu sangat besar lagi berat, untuk apa kubawa kian kemari? Maka seluruhnya telah kubuang ke sungai.”

Kembali Li Toa-jui dan To Kiau-kiau saling pandang dengan melongo dan tidak sanggup bicara lagi.

Han-wan Sam-kong berludah keras-keras, lalu mengomel, “Keparat, biasanya kau anak kura-kura ini cuma gemar daging manusia, padahal daging manusia kan tidak dapat dibeli dengan uang, sekarang kau cuma kehilangan beberapa tahil perak, apa yang kau sedihkan?”

Li Toa-jui menghela napas, katanya, “Dalam hal ini kau masih hijau. Usia seorang kalau sudah mulai lanjut, maka pasti juga mulai kemaruk harta. Meski kutahu benda-benda emas perak begituan tak dapat dimakan dan tak dapat dipakai, pula tak mungkin dibawa masuk peti mati, tapi semakin tua usiaku semakin kusuka pula padanya.”

“Haha, memang betul,” tukas Ha-ha-ji. “Bagiku, setiap hari boleh tidak bekerja apa-apa, cukup asalkan tutup pintu di dalam kamar dan menghitung uang, maka puaslah hidupku ini.”

“Kukira kalian anak kura-kura ini mungkin sudah hampir masuk peti semua,” gerutu Han-wan Sam-kong. “Seorang kalau tidak suka apa-apa melainkan cuma suka uang, maka sebelah kaki mereka boleh dikatakan sudah melangkah ke dalam kubur.”

Setelah meludah, lalu ia menyambung, “Jika kalian masih kemaruk harta, mengapa kalian tidak merampok dan membegal lagi, harta yang kuhabiskan itu kan juga berasal dari rampokan?”

“Kau tidak paham lagi mengenai urusan ini,” kata Li Toa-jui. “Ok-jin kan juga harus menjaga gengsi, ok-jin yang berkedudukan seperti kita ini, kalau sekarang harus main bunuh lagi dan merampok, kan bisa ditertawakan orang?”

Han-wan Sam-kong tercengang sejenak, tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata, “Hahaha, tak tersangka kalian anak kura-kura ini tidak berani lagi menjadi perampok, lalu apa gunanya kalian ini? Lebih baik bunuh diri saja atau cebur ke dalam sungai.”

“Kentut makmu, siapa bilang Cap-toa-ok-jin tiada gunanya lagi?” damprat To Kiau-kiau.

“Dua puluh tahun yang lalu mungkin kalian bisa tergolong Cap-toa-ok-jin, tapi setelah sembunyi sekian lamanya di lembah kura-kura itu, paling-paling kalian berlima ini cuma dapat di anggap sebagai Go-toa-ok-ku (lima ekor kura-kura jahat),” demikian Han-wan Sam-kong mengejeknya.

To Kiau-kiau menjadi gusar, dampratnya, “Hm, kau ini kutu macam apa, biarpun dua puluh tahun yang lalu kau juga tidak memenuhi syarat sebagai anggota Cap-toa-ok-jin, bahwa kau pun dianggap satu di antara kesepuluh top penjahat, soalnya orang ingin membuat genap bilangan sepuluh saja.”

“Baik, jika kita sesungguhnya belum tergolong ok-jin sejati, kenapa kita tak coba-coba menjadi ho-jin (orang baik) saja?” ucap Han-wan Sam-kong. “Dan untuk menjadi ho-jin kita juga perlu coba-coba berbuat baik.”

“Berbuat baik bagaimana?” tanya Li Toa-jui.

Han-wan Sam-kong menunjuk Hoa Bu-koat yang menggeletak di tanah dan Thi Sim-lan yang terkurung di dalam sangkar itu, katanya, “Kenapa kita tidak membebaskan mereka agar mereka selalu merasa berterima kasih kepada kita.”

Li Toa-jui termenung sejenak, katanya kemudian, “Betul juga, sudah sekian lama kita dibenci orang, kalau sekali tempo kita pun membikin orang berterima kasih kepada kita, kan menarik juga.”

“Bagaimana pendapatmu, Toh-lotoa?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Tampaknya ketiga orang ini sudah sekarat, aku pun malas membunuh mereka,” jawab Toh Sat.

Pek Khay-sim juga sedang putar otak, mendadak ia berkata, “Jika kalian ingin menjadi orang baik, kenapa tidak menjadi baik-baik benar?”

“Haha, masakah orang yang selalu membuat rugi orang lain juga ingin berbuat sesuatu yang baik?” seru Ha-ha-ji dengan tertawa.

“Aku sudah berbuat jahat selama ini, sekarang aku pun ingin tahu bagaimana rasanya berbuat baik,” kata Pek Khay-sim. “Kalau tidak, kan sukar kupertanggung jawabkan perbuatanku di depan Giam-lo-ong bilamana kumati kelak.”

“Memangnya kau anak kura-kura ini ingin permainan apa?” tanya Ok-tu-kui.

Pek Khay-sim berdiri membelakangi Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan, ia menunjuk kedua anak muda itu di luar tahu mereka, katanya dengan tertawa, “Kedua bocah ini sudah sekian lama suka sama suka, cuma sayang di antara mereka terhalang oleh seorang Siau-hi-ji, sekarang Siau-hi-ji jelas sudah ‘bebas tugas’, kenapa kita tidak kawinkan mereka ini. Hahaha, biarkan semua kekasih di dunia ini terikat menjadi suami-istri abadi. Bukankah ini perbuatan yang menyenangkan dan mulia?”

“Haha, betul,” tukas Ha-ha-ji sambil bertepuk. “Kita sudah mengasingkan diri sekian tahun, kalau sekarang kita bisa pesta pora dengan gembira, kan menyenangkan sekali?”

“Benar,” sambung Li Toa-jui. “Sudah dua puluh tahun lebih tak pernah kuminum arak pesta perkawinan, kukira pasti sangat menyenangkan.”

Tapi mendadak To Kiau-kiau menunjuk hidung Pek Khay-sim dan mengomel, “Kutahu bocah ini tidak mungkin punya maksud baik, nyatanya memang urusan yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan dia sendiri.”

“Menjadi comblang bagi orang lain adalah pekerjaan mulia, bila diketahui Giam-lo-ong tentu juga umurku akan diberi ekstra tiga tahun lebih panjang, mengapa kau bilang tindakanku ini merugikan orang lain?” teriak Khay-sim.

“Sudah jelas kau tahu kedua bocah ini sedang berduka, tapi kau menghendaki mereka kawin sekarang juga, ini kan lebih berdosa daripada kau bunuh mereka?” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

Pek Khay-sim memicingkan mata dan berkata dengan tertawa, “Misalnya mereka sedang berduka, tapi nanti setelah kawin dan tahu rasanya, tanggung mereka tidak sempat berduka lagi.”

“Buset, dasar mulut anjing, mana mungkin keluar gadingnya,” gerutu Li Toa-jui.

“Sudahlah,” sela Ha-ha-ji. “Aku tidak peduli bagaimana pendapat kalian, yang pasti kedua bocah ini harus dikawinkan. Hahaha, dengan tanganku sendiri akan kuganti pakaian pengantin mereka, dengan tanganku sendiri akan kutuang arak bahagia mereka.”

Li Toa-jui melirik sekejap ke arah Pek Khay-sim dan mendadak ia tertawa dan berkata, “He, di sini kan masih ada seekor macan betina baginya?”

Ha-ha-ji memandang Pek-hujin, terus memandang pula Pek Khay-sim, lalu bergelak tertawa dan berseru, “Ya, betul, mereka memang pasangan yang cocok.”

Dengan terkikik-kikik To Kiau-kiau menambahkan, “Tampaknya Nyonya Pek kita memang besar rezekinya, ke sana dan ke sini dia memang berjodoh dengan orang she Pek, ganti suami juga tetap dengan orang yang punya she sama.”

Pek Khay-sim lantas berteriak, “Tapi kalian…” sembari bicara segera ia hendak mengeluyur pergi.

Namun To Kiau-kiau dan Li Toa-jui sempat bertindak, sekaligus mereka bekuk Pek Khay-sim dan diseret balik.

“Ini kan peristiwa bahagia, mengapa kau hendak kabur?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Ya, jangan harap kau dapat kabur sesukamu,” sambung Li Toa-jui.

Sejak mendengar Siau-hi-ji sudah “bebas tugas” sebagaimana diucapkan Pek Khay-sim tadi, sejak itu Han-wan Sam-kong lantas tidak bersuara pula, sekarang mendadak ia pun nimbrung, “O, ya, kutahu di sana sudah ada sepasang pengantin, jika mau pesta, biarlah kita gabungkan saja dengan mereka, kan hemat biaya dan juga tambah ramai.”

“Apakah kau maksudkan Buyung Kiu dengan sahabatmu si hitam kecil itu?” tanya Kiau-kiau.

“Betul,” jawab Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong.

“Tapi keluarga Buyung mana mau pesta pora bersama kita,” kata Li Toa-jui dengan tertawa. “Haha, kukira setan judi ini telah kambuh penyakit gilanya.”

“Kita tidak perlu berunding dengan mereka, bila tiba waktunya, beramai-ramai kita masuk saja ke ruangan pesta mereka, kita jajarkan dua pasang pengantin baru dan bersama merayakannya, dalam suasana gembira ria dan bahagia begitu masakah mereka sampai hati bertengkar dengan kita?”

“Haha, saran bagus, akal baik!” seru Ha-ha-ji sambil bertepuk tertawa.

“Kuharap di antara santapan yang mereka sajikan terdapat daging manusia, dengan demikian aku pun dapat menikmati kegemaranku dan semuanya benar-benar menjadi riang gembira,” kata Li Toa-jui.

“Dan kuharap pada waktu itu Yan Lam-thian juga hadir,” tukas Pek Khay-sim tiba-tiba.

Ucapan ini membuat semua orang tertegun dan tidak dapat tertawa lagi.

“Yan Lam-thian tidak akan ikut hadir ke sana,” kata Han-wan Sam-kong.

“Dari mana kau tahu? Kau kan bukan cacing pita dalam perutnya?” jengek Pek Khay-sim.

Ok-tu-kui tak menggubrisnya, ia berkata pula, “Yang jelas sementara ini Yan Lam-thian lagi sibuk mencari Siau-hi-ji, mana dia sempat hadir ke sana?”

“Tapi jangan lupa, untuk mencari orang harus mencarinya di tempat yang banyak orangnya, dan tempat berpesta pora adalah tempat yang banyak orangnya, apabila aku menjadi Yan Lam-thian pasti akan hadir ke sana.”

“Tapi kau anak kura-kura ini pun jangan lupa, siapa orang yang menjadi penunjuk jalan Yan Lam-thian sekarang?” kata Han-wan Sam-kong.

Pek Khay-sim melengak dan tidak bersuara lagi.

Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata, “Yang menjadi penunjuk jalan Yan Lam-thian sekarang ialah Kang Giok-long dan bocah she Kang itu juga tak mungkin membawa Yan Lam-thian ke rumah keluarga Buyung, bahkan juga tak mungkin membawanya ke tempat yang banyak orangnya, sebab ia khawatir orang lain akan membongkar akal kejinya.”

“Jika demikian, jadi tempat yang ramai justru adalah tempat yang lebih aman?” kata Pek Khay-sim.

“Memang, tempat yang paling aman sekarang adalah tempat pesta pernikahan keluarga Buyung sana,” sambung Han-wan Sam-kong.

“Betul juga,” tukas Kiau-kiau dengan tertawa. “Tak tersangka si setan judi akhir-akhir ini berubah menjadi cerdik.”

“Kalau betul, apa yang kita tunggu lagi?” seru Ha-ha-ji sambil berjingkrak girang. “Ayolah lekas berangkat! Haha, dasar watakku memang suka keramaian, makin banyak orang yang hadir di sana makin baik.”

Dalam keadaan demikian, Hoa Bu-koat menjadi sangat sedih dan menyesal mengapa dirinya masih bisa hidup di dunia ini, apalagi bila teringat apa yang akan dilakukan orang-orang ini terhadap dirinya dan Thi Sim-lan, sungguh remuk redam hatinya.

Yang paling menyedihkan dia adalah sekarang tiada seorang pun yang mau menggali lagi gua ini, maka Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu pasti akan terkubur untuk selamanya di dalam gua.

Ia pun tahu saat ini Thi Sim-lan pasti jauh lebih berduka daripadanya, maka ia tidak berani memandang si nona.

Padahal sama sekali Thi Sim-lan tidak mencucurkan air mata, maklumlah, sejak tadi air matanya sudah kering.

Sekarang adalah hari keenam terkurungnya Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu di dalam gua itu, harapan hidup mereka jelas sudah terputus sama sekali.

Berbondong-bondong para anggota Cap-toa-ok-jin ini lantas membawa Bu-koat, Thi Sim-lan, dan Pek-hujin ke bawah bukit.

Di kaki bukit memang ada sebuah kelenteng. Kawanan hwesio penghuni kelenteng itu benar-benar lagi sial, tanpa hujan tiada angin tahu-tahu kedatangan penyatron tak diundang itu, terpaksa mereka hanya menggerutu saja dan mengira malaikat tak mengizinkan mereka makan daging dan minum arak.

Di luar dugaan, tidak lama kemudian penyatron itu datang lagi, bahkan suatu rombongan besar. Anehnya orang-orang yang tampaknya bengis dan jahat ini, semuanya tertawa gembira seperti habis mendapat rezeki nomplok.

Di antara mereka ada lagi tiga orang pesakitan, namun ketiga orang ini sangat menarik, yang lelaki cakap dan yang perempuan cantik.

Berdebar juga jantung kawanan hwesio melihat perempuan yang menggiurkan ini. Malahan hati si hwesio ketua juga berdetak keras.

Yang paling aneh adalah rombongan orang ini membawa satu bungkus besar berisi pakaian yang beraneka warna serta memaksa ketiga orang pesakitan itu berganti pakaian. Tentu saja kawanan hwesio itu serbasusah dan lekas baca kitab suci, mereka bersumpah selanjutnya tak berani lagi melanggar pantangan makan daging.

Padahal rombongan Li Toa-jui dan To Kiau-kiau tidak mirip kaum perusuh, mereka lebih mirip anak nakal yang lepas sekolah, mereka tertawa cekakak dan cekikik melulu, bungkusan pakaian yang beraneka warna itu mereka keluarkan dan dilempar kian kemari, akhirnya mereka dapat memilih satu potong baju berwarna merah.

Baju merah itu lantas dikenakan pada Pek-hujin. Nyonya Pek ini pun tidak menolak, walaupun rasa gatalnya sudah lenyap, tapi tetap pura-pura genit, bergeliat, dan pasang aksi.

Dengan kuat Ha-ha-ji tepuk pundak Pek Khay-sim sambil berseru, “Haha, tampaknya perempuan ini benar-benar ingin menjadi istrimu.”

“Ya, kukira dia sudah bosan dengan suaminya yang dulu, maka ingin ganti suami baru,” sambung Li Toa-jui.

Dengan tertawa To Kiau-kiau juga berkata, “Mungkin dia merasa puas dipecuti oleh Pek Khay-sim untuk mencari kepuasan setiap hari, tentu saja ia pilih Pek Khay-sim.”

Ha-ha-ji lantas memilih pula sepotong baju hijau dan memaksa Pek Khay-sim ganti pakaian.

“Tukar yang lain saja, baju ini agak panjangan sedikit,” tawar Pek Khay-sim.

“Jika terlalu panjang, potonglah sedikit untuk dibuat topi,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

“Haha, betul, setelah kau menikahi perempuan ini, selekasnya kau pun perlu pakai topi hijau,” sambung Ha-ha-ji. (Pakai topi hijau = kata olok-olok bagi lelaki yang masa bodoh terhadap istrinya yang menyeleweng).

Melihat tingkah laku orang-orang gila ini, hati Hoa Bu-koat menjadi tenang. Ia sudah ambil keputusan akan tinggal diam saja dan takkan memperlihatkan rasa derita meski diperlakukan bagaimanapun oleh kawanan orang gila ini. Ia tahu, bila dirinya mengunjuk rasa sedih dan tersiksa, maka orang-orang gila itu akan bertambah gembira dan akan lebih hebat mengerjainya.

Satu hal yang membuat lega hati ialah Thi Sim-lan telah jatuh pingsan, paling tidak si nona tidak perlu ikut merasa terhina dan tersiksa.

Dahulu Bu-koat lebih suka dirinya mati seribu kali daripada Thi Sim-lan yang harus mati, tapi sekarang ia justru berharap semoga Thi Sim-lan takkan siuman untuk selamanya. Sebab orang kalau sudah mati, maka tiada sesuatu kejadian di dunia ini yang akan membuatnya sedih dan susah.

Dalam pada itu Ha-ha-ji juga telah memilih sepotong baju dan dikenakan di tubuh Bu-koat, katanya sambil berucap, “Hahaha, hari bahagiamu sudah tiba, untuk apa wajahmu selalu murung saja?”

“Kau pun tidak perlu merasa bersalah kepada Siau-hi-ji,” sambung To Kiau-kiau. “Bisa jadi Siau-hi-ji dan budak she So itu sudah menjadi pengantin di dalam gua sana.”

“Hahaha, memang betul,” tambah Ha-ha-ji, “bilamana kutahu diriku akan mati, takkan kupeduli lagi siapa yang berada bersamaku, baik si Nem maupun si Yem, asalkan perempuan, pasti akan kukawini dia.”

Hoa Bu-koat bungkam saja, ia sudah bertekad takkan bicara apa pun.

“He, kita telah melupakan sesuatu!” seru Li Toa-jui mendadak sambil bertepuk.

“Sesuatu apa?” tanya Kiau-kiau.

“Keluarga Buyung sangat mengutamakan kehormatan, mana bisa mereka mengadakan pesta nikah di tempat sepi begini?” ujar Li Toa-jui.

“Peduli di mana mereka akan pesta, yang penting kita pun ikut pergi ke sana, apa bedanya?” kata Kiau-kiau.

“Jika begitu kita harus mencari keterangan dulu apakah mereka sudah pergi dan di mana mereka akan berpesta?” kata Li Toa-jui.

“Boleh suruh si setan judi saja ke sana, dia mempunyai hubungan baik dengan mereka,” ujar Kiau-kiau.

Pada saat itulah mendadak ada seorang menanggapi dengan suara serak, “Setan hidup sudah pergi ke sana, setan judi tidak diperlukan lagi.”

“Keparat,” damprat Han-wan Sam-kong dengan tertawa. “Kau anak kura-kura setengah manusia setengah setan ini rupanya belum lagi dijebloskan ke neraka.”

Yang bicara itu memang si Poan-jin-poan-kui atau Setengah Manusia Setengah Setan Im Kiu-yu. Mukanya yang seram itu menongol di luar jendela sambil tertawa.

“Jadi kabar tentang keluarga Buyung sudah kau ketahui?” tanya Toh Sat.

“Ya, semula mereka hendak pesta di rumah, tapi kemudian ganti acara,” tutur Im Kiu-yu.

“Sebab apa mereka berganti acara mendadak?” tanya Toh Sat.

Im Kiu-yu menggeleng, jawabnya, “Mereka tidak menjelaskan, juga tidak ada yang berani tanya mereka.”

“Kalau perempuan sudah ambil keputusan sesuatu hal dan tidak berubah pikiran, inilah baru aneh,” ujar Li Toa-jui.

“Sebab apa mereka ganti haluan, bisa jadi To Kiau-kiau mengetahuinya, sedikitnya dia kan setengah perempuan?” kata Ha-ha-ji.

“Betul, aku memang tahu,” ujar Kiau-kiau.

Ha-ha-ji melengak malah, tanyanya, “Kau benar-benar tahu? Dari mana kau tahu?”

“Jika kau mau peras otak sedikit, tentu kau dapat menerkanya,” kata Kiau-kiau. “Cuma pikiranmu rupanya sudah bebal dan perlu direparasi.”

Han-wan Sam-kong mengernyit kening, omelnya, “Keparat, kalian kawanan anak kura-kura ini apakah bisa mampus jika tidak saling memaki dan bertengkar.”

Li Toa-jui tertawa, katanya, “Selama dua puluh tahun ini kami hidup di tempat seperti neraka, selain bercanda, saling maki, dan bertengkar, bisa kerja apa lagi?”

Memang, bila serombongan orang hidup terasing, lalu apa yang dapat mereka lakukan selain mencari pelampiasan menurut keadaan. Dan bagi ok-jin seperti mereka itu, saling mencaci maki adalah seperti makanan sehari-hari bagi mereka.

“Coba katakan, apa yang menyebabkan mereka ganti acara?” tanya Toh Sat kepada Kiau-kiau.

Dengan tertawa Kiau-kiau menjawab, “Coba pikir, jika mereka hendak berpesta sungguh-sungguh menurut tradisi, tentu setiap orang kangouw yang terkenal pasti hadir, semua orang tentu ingin tahu tokoh macam apakah pasangan Nona Buyung Kiu yang terkenal pintar dan cantik itu.”

“Tapi sayang, Nona Kiu kita sekarang telah berubah menjadi linglung, bakal suaminya juga tidak menonjol tampangnya, bahkan agak angin-anginan. Bilamana pasangan suami-istri begini dilihat oleh sanak kadang yang hadir, apakah keluarga Buyung takkan kehilangan muka?”

“Benar, sanak famili mereka tentu terdiri dari keluarga terhormat, kalau bukan hartawan tentu juga bangsawan,” sambung Li Toa-jui dengan tertawa. “Orang-orang golongan atas begitu biasanya makan kenyang tanpa pekerjaan, saking isengnya, yang ditunggu hanya tontonan yang menarik saja dari orang lain, kalau ada bahan bicara, maka gemparlah seketika. Karena itulah keluarga Buyung tidak ingin dijadikan buah tutur dan bahkan tertawaan orang, dengan sendirinya mereka melangsungkan pernikahan Buyung Kiu secara sederhana.”

“Ya, makanya mereka lantas menikahkan pasangan pengantin yang memalukan itu di tempat terpencil ini saja,” kata Kiau-kiau. “Habis itu pengantin baru lantas dikirim ke suatu tempat agar dapat hidup dengan aman tenteram. Kelak bila ditanyakan orang tentu mereka cukup banyak alasan untuk memberi keterangan bahwa segala sesuatu itu sengaja dilangsungkan dengan sederhana, sebab pengantin baru tidak suka ramai-ramai dan sebagainya, tentang perjamuan boleh disediakan lagi dan macam-macam pula…”

“Benar, dengan demikian, seumpama orang lain merasa sangsi juga tak dapat mendesak lagi,” ujar Li Toa-jui.

“Walaupun demikian, tapi keluarga terkemuka begitu biasanya mati pun ingin menjaga muka, mereka pasti takkan menghemat dan tentu akan memperlihatkan kemampuan mereka dengan perjamuan yang meriah sebagai tanda bukan maksud mereka hendak menghemat uang. Cuma tamu yang mereka undang pastilah orang-orang yang tiada sangkut paut dengan keluarga mereka, dengan demikian tentu tiada seorang pun yang berani menertawakan mereka.”

“Haha, To Kiau-kiau memang tidak malu sebagai Khong Beng perempuan, apa yang diuraikan memang tidak salah,” kata Im Kiu-yu dengan tertawa.

“Di manakah mereka akan berpesta?” tanya Toh Sat.

“Di tepi sungai,” tutur Im Kiu-yu. “Di sana sudah mereka bangun sebuah bangsal panjang sekali, sudah tersedia pula santapan dengan acara bebas, siapa pun boleh hadir dan makan minum sesukanya, sampai pengemis juga diberi bagian setiap orang dua kati daging dan satu botol arak.”

“Bilakah pesta akan berlangsung?” tanya Toh Sat pula.

“Hari ini juga,” jawab Im Kiu-yu.

“Sudah tentu mereka berharap lebih cepat lebih baik,” kata Kiau-kiau. “Kalau tidak, bisa jadi sobat andai di tempat lain pun akan ikut datang bila mendengar kabar.”

“Haha, jika begitu, santapannya pasti tidak enak,” seru Ha-ha-ji.

“Pesta umum begitu, santapannya pasti tidak enak, arak yang disuguhkan pasti arak murahan,” ujar Li Toa-jui.

Sejak tadi Pek Khay-sim tidak bicara, mendadak sekarang ia menimbrung, “Kukira kau harus tahu diri sedikit, boleh makan minum gratis, masih berolok-olok lagi, sebenarnya kau ini memang pantas makan tahi saja.”

To Kiau-kiau terkikik-kikik geli, katanya, “Kenapa kau pakai istilah ‘tahi’ segala, jika kau ganti dengan istilah kotoran manusia kan jauh lebih sopan.”

*****

Di tepi sungai memang benar telah dibangun sebuah bangsal yang sangat panjang, meski hari belum lagi gelap tapi di luar bangsal itu sudah terpasang tanglung merah besar, malahan ditempeli kertas merah dengan macam-macam tulisan puja-puji selamat bahagia, suasana memang meriah.

Di dalam bangsal sudah penuh tetamu, hampir semuanya adalah penduduk setempat, orang kampung. Diundang melihat pengantin saja orang kampung akan kegirangan, apalagi disediakan pula daging dan arak dan boleh makan minum gratis sepuas-puasnya, keruan yang hadir berjubel-jubel.

Akan tetapi ada juga yang merasa rikuh bila cuma datang makan minum gratis, ada sementara orang yang membawa kado sekadarnya, ada juga yang menyumbang hilian, yakni kain merah bertuliskan kata-kata pujian kepada pengantin baru dan keluarga yang bahagia.

Di tepi sungai berlabuh tiga kapal layar besar, terlihat kaum pelayan keluar-masuk di kabin kapal dalam suasana yang semarak.

Orang-orang yang hadir dalam perjamuan di bangsal panjang ini berulang-ulang sama melongok ke arah ketiga kapal itu. Ada seorang di antaranya berkata, “Keluarga yang punya kerja ini juga sangat aneh, tanpa sebab kita diundang menghadiri pesta perkawinan, tapi yang punya kerja malah sembunyi saja di dalam kapal, kedua mempelai juga tidak mau keluar mengajak minum para tamu.”

“Ai, hendaklah kau tahu diri,” demikian kawannya menanggapi. “Tahukah kau yang punya kerja ini keluarga macam apa, mana orang sudi minum arak bersama kita.”

“Ya, melihat caranya mengadakan pesta besar ini sungguh sukar diduga mereka itu orang macam apa?” kata seorang lagi.

Segera yang lain menanggapi, “Konon mereka adalah hartawan nomor satu di daerah Kanglam, bahkan juga tokoh terkemuka di dunia kangouw. Bahwa kita ini diundang ke sini, paling-paling hanya untuk meramaikan saja. Maka lebih baik kita banyak makan dan sedikit bicara agar tidak menimbulkan gara-gara, bisa celaka sendiri nanti.”

Begitulah selagi ramai membicarakan pesta meriah ini, mendadak mereka bungkam seketika, sebab ketika mereka berpaling, tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang luar biasa.

Kiranya sebuah kereta telah berhenti di luar bangsal, bentuk kereta kuda ini sangat aneh, orang yang turun dari kereta terlebih aneh. Yang menjadi kusir adalah seorang lelaki kekar, meski baju yang dipakainya tergolong baru dan dari kain pilihan, tapi tiada satu pun kancing yang dirapatkan, jadi bajunya terbuka sehingga kelihatan simbar dadanya, yaitu bulu dada yang hitam lebat.

Bila tertawa, lebar mulut orang ini hampir mencapai tepi telinga, tampaknya sepotong bakpao besar dapat ditelannya bulat-bulat dengan sekali mengap.

Menyusul dari atas kereta turun pula beberapa orang, ada yang gemuk dan pendek, ada yang berlenggak-lenggok, ada yang bertangan kaitan baja, mukanya yang pucat itu sangat menyeramkan.

Bahwa bentuk orang ini sudah aneh, siapa tahu mereka menyeret turun lagi tiga orang. Ketiga orang tampak lemas lunglai dan muka pucat dalam keadaan sudah kempas-kempis, tapi pakaiannya justru berwarna-warni dan serbabaru seperti dandanan pengantin baru.

Sudah tentu kedatangan orang-orang ini sangat menarik perhatian, beratus pasang mata sama memandang mereka, tapi mereka anggap tidak tahu saja, beramai-ramai mereka terus masuk ke bangsal.

Seorang di antaranya yang bertubuh tegap dan bewokan segera berteriak, “Keparat, kalian anak kura-kura ini tahu tidak di mana beradanya tuan rumah? Katakan tuan-tuan besar ini mencari mereka.”

Kebanyakan hadirin sama kenal pembicara ini adalah orang aneh yang membuka rumah judi itu dan cukup kenal kelihaiannya, meski dicaci maki, tapi tiada seorang pun berani balas mencaci.

Hanya ada dua orang yang baru datang dari kota, mereka bekerja di perusahaan pengawalan, dengan sendirinya berkepandaian lumayan, tentu saja mereka tidak terima dicaci maki, apalagi mereka sudah banyak menenggak arak, segera mereka berjingkrak sambil menggebrak meja, teriak mereka dengan geram, “Persetan, kau telur busuk ini memaki siapa?”

Baru saja kata-kata “telur busuk” terucapkan, tahu-tahu tengkuk mereka kena dicengkeram orang terus diangkat. Biasanya mereka menganggap kungfu mereka cukup hebat, tak tahunya mereka kena dicengkeram orang begitu saja seperti anak ayam tercengkeram oleh cakar elang.

Keruan semua orang terkesiap, terdengar seorang aneh berbaju hijau berkata dengan tertawa, “Haha, kedua bocah ini berani memaki Han-wan-heng sebagai telur busuk, sungguh besar juga nyali mereka, kalau Han-wan-heng tidak memberi hajaran setimpal kepada mereka, kelak setiap orang tentu dapat memakimu sebagai telur busuk.”

Si bewok atau Han-wan Sam-kong memang berwatak berangasan, kini dikipas-kipas lagi oleh orang itu, tentu saja hatinya tambah panas, sekali angkat segera kepala kedua itu hendak diadu.

Untunglah pada saat itu seorang gemuk telah menarik tangan Han-wan Sam-kong sambil berkata, “Hahaha, saat ini orang sedang berpesta pora, tapi datang-datang kau lantas hendak membunuh orang, tidakkah tuan rumahnya akan tersinggung nanti?”

Si mulut besar lantas tertawa juga dan berkata, “Ya, andaikan kau hendak membunuh orang juga tidak perlu menghancurkan kepala mereka, meski aku pantang makan kepala manusia, tapi seorang kalau kepalanya sudah pecah, tampaknya menjadi memualkan dan dagingnya tidak enak lagi.”

Si bewok tadi mendengus, mendadak ia melemparkan kedua orang itu dan tepat jatuh di atas meja, kepala masing-masing masuk ke dalam baki kuah panas, keruan mereka menjerit kesakitan, mangkuk piring di atas meja lantas hancur berantakan.

Suasana di dalam bangsal menjadi kacau-balau, orang perempuan dan anak kecil sama menjerit ketakutan dan lari serabutan.

Pada saat itulah tiba-tiba seseorang membentak, “Kawan dari manakah yang bikin onar ini, apakah sengaja hendak mencari gara-gara kepada kami?”

Suara orang ini tidak terlalu keras, tapi setiap kata-katanya terdengar dengan jelas oleh siapa pun, suaranya juga berwibawa sehingga membuat orang menurut.

Terlihatlah seorang pemuda berdiri di haluan kapal layar sana, kedua tangan tergendong di punggung, tampaknya lemah lembut seperti pelajar yang baru mau masuk sekolah, tapi sikapnya kereng, berdirinya sekukuh gunung. Bagi orang yang berpengalaman, sekali pandang saja pasti tahu orang ini adalah tokoh silat kelas wahid.

Rombongan orang aneh ini lantas berduyun ke sana, para tamu cepat menyingkir memberi jalan.

Si gendut lantas buka suara, “Haha, orang udik memang tidak tahu aturan, untuk itu hendaklah Sobat kecil ini suka memberi maaf.”

Tampaknya dia minta maaf, tapi menyebut orang sebagai “sobat kecil”, tentu saja orang itu kurang senang dan menarik muka. Tapi sebelum mengumbar marahnya, tiba-tiba seperti teringat sesuatu, air mukanya mengunjuk rasa kejut dan heran, sorot matanya menyapu sekejap orang-orang aneh ini, lalu ia lihat pula Hoa Bu-koat yang didandani secara tak keruan itu, ia tambah terkejut dan bertanya, “Apakah kalian…”

Si gendut lantas menukas, “Sobat kecil, nama kami sebaiknya jangan kau sebut agar tidak membikin kotor mulutmu.”

Orang itu berpikir sejenak, kemudian ia memberi hormat dan berkata, “Cayhe Cin Kiam…”

Baru saja ia menyebut namanya sendiri, dari kabin kapal telah muncul pula beberapa orang, ada lelaki ada juga perempuan, yang perempuan cantik dan molek, yang lelaki cakap dan ganteng. Jelas mereka pun tahu siapa-siapa rombongan orang aneh itu, namun wajah mereka sama menampilkan senyuman gembira.

Jika mereka tidak tahu asal-usul rombongan orang aneh ini dan menyambut kedatangan mereka dengan hormat, hal ini tidak perlu diherankan. Tapi setelah tahu seluk-beluk orang-orang ini dan mereka tetap menyambutnya dengan tersenyum, inilah yang aneh dan luar biasa.

Padahal orang kangouw umumnya bila bertemu dengan Cap-toa-ok-jin kebanyakan pasti akan marah dan benci, kalau tidak kontan melabrak mereka tentu juga lari terbirit-birit. Namun orang-orang di kapal ini ternyata lain daripada yang lain.

Segera Ha-ha-ji membuka suara pula, “Hahaha, coba kalian lihat, betapa hormat dan terpelajarnya para tuan menantu keluarga Buyung, terhadap beberapa potong kotoran macam kita ini toh tetap menyambut dengan segala hormat.”

Dengan terkekeh-kekeh To Kiau-kiau menyambung, “Ini namanya di bawah orang ternama tidak ada anak buah yang jelek, kalau tidak mana para Nona Buyung yang ayu ini mau diperistri oleh mereka?”

Li Toa-jui lantas tampil ke muka dan menjura, ucapnya, “Kami mendengar para Kongcu sedang melangsungkan pesta nikah, maka kami sengaja datang buat mengucapkan selamat, entah para Kongcu apakah sudi menerima orang gunung yang kasar semacam kami ini?”

Han-wan Sam-kong mengernyitkan dahi, katanya, “Keparat, biasanya Li Toa-jui makan manusia tanpa buang tulang, cara bicaranya sekarang juga bisa sopan santun begini…”

“Memang,” tukas Pek Khay-sim dengan tertawa, “meski mulut orang-orang itu suka omong manis, yang benar ibarat musang memberi selamat kepada ayam, tidak nanti bermaksud baik. Jika kalian tahu gelagat, paling tepat lekas kalian mengusir mereka.”

Yang berdiri di haluan kapal itu selain samkohya (anak menantu ketiga) Cin Kiam terdapat pula toakohya (menantu pertama) Tan Hong-ciau, jikohya (menantu kedua) Lamkiong Liu, sikohya (menantu keempat) Bwe Tiong-liong, gokohya (menantu kelima) Loh Beng-to, semuanya bersama istri. Boleh dikatakan kesatria muda persilatan daerah Kanglam telah terwakili dan hadir seluruhnya di sini.

Mereka merasa heran melihat Hoa Bu-koat hanya diam saja dalam keadaan aneh dandanannya, namun begitu mereka menyambut dengan berseri tertawa dan penuh hormat.

Setelah Ha-ha-ji dan kawan-kawannya habis mengoceh barulah Tan Hong-ciau membuka suara sambil memberi hormat, “Bahwa kalian sudi berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi kami dan kalian adalah tamu agung di sini.”

“Apalagi Han-wan-siansing adalah sahabat karib kohya (menantu) baru kami?” tukas Buyung Siang dengan tertawa. “Ayolah silakan kalian naik ke atas kapal.”

Li Toa-jui membalas hormat orang dan menjawab, “Jika demikian, mau tak mau kami harus menerima undangan dengan hormat.”

Di antara anak menantu keluarga Buyung itu hanya Cin Kiam dan Bwe Tiong-liong saja tampak waswas menghadapi kawanan tamu yang tak diundang ini.

Ketika lewat di depan mereka, dengan tertawa To Kiau-kiau berkata, “Jangan khawatir, kedatangan kami ini khusus untuk pesta pora dan makan enak, bukan bermaksud mencari setori, juga takkan mencuri segala, tidak perlu kalian mengawasi kami seperti pencoleng.”

Dengan suara keras Han-wan Sam-kong juga berteriak, “Betul, hari ini adalah hari bahagia Oh-laute kita, jika ada anak kura-kura yang berani mengoceh tidak keruan, aku Ok-tu-kui yang pertama-tama takkan tinggal diam.”

“Hm, hanya sedikit kemampuanmu kukira masih selisih jauh,” jengek Pek Khay-sim. “Apabila penyakit makan orang Li Toa-jui sudah kumat, memangnya kau mampu menyumbat mulutnya dengan sebuah kepala manusia?”

Sembari bicara dan bergurau mereka lantas naik ke atas kapal, para tamu yang duduk di dalam bangsal sama melongo karena tidak tahu orang macam apakah rombongan orang aneh itu dan mengapa tuan-tuan muda itu pun sedemikian hormat pada mereka.

Di dalam kabin kapal ternyata sudah siap beberapa meja perjamuan, di situ masih ada lakkohya (menantu keenam), jitkohya (menantu ketujuh), dan patkohya (menantu kedelapan), juga hadir di situ Koh Jin-giok serta Siau-sian-li Thio Cing.

Melihat kedatangan rombongan Li Toa-jui, seketika Siau-sian-li melototi mereka. Tapi sorot mata kebanyakan orang justru sama tertuju ke arah Hoa Bu-koat. Mereka benar-benar tak habis mengerti mengapa ahli waris Ih-hoa-kiong bisa berubah menjadi runyam begitu.

Namun putra-putri keluarga terpelajar biasanya tidak suka bertanya urusan pribadi orang lain bilamana orang tidak bercerita, sekalipun dalam hati mereka ingin tahu setengah mati juga terpaksa pura-pura tidak tahu dan tidak berani bertanya.

Begitulah para tamu lantas dipersilakan duduk, rombongan Li Toa-jui tepat mengerumuni sebuah meja, Toh Sat duduk di tempat utama, yang duduk mengiring sebagai tuan rumah adalah Tan Hong-ciau dan Lamkiong Liu.

Kedua orang ini lemah lembut, sopan santun, duduk di tengah-tengah rombongan orang-orang yang berbentuk aneh, tentu saja lebih mencolok. Jika dalam keadaan biasa, tentu mereka dan Hoa Bu-koat akan saling menghormat dan bersahabat, tapi sekarang mereka sama sekali tidak memandangnya.

Bu-koat sendiri juga diam saja seperti patung, ia duduk termenung tanpa menghiraukan orang lain, tak dipusingkannya orang lain merasa kasihan kepadanya atau lagi menertawakan dia, sama sekali tak dipedulikan olehnya.

Setelah arak disuguhkan berulang tiga kali ternyata kedua mempelai belum lagi muncul.

“Ada pesta, kenapa tidak ada musiknya?” kata Li Toa-jui tiba-tiba.

“Ah, dalam keadaan terburu-buru, semuanya serbasederhana, mohon kalian sudi memberi maaf,” kata Tan Hong-ciau.

“Jika demikian, adat istiadat juga harus dilaksanakan,” kata Li Toa-jui pula. “Apalagi…”

“Apalagi di sini masih ada dua pasang mempelai lagi yang ingin membonceng pesta kalian serta melangsungkan pesta pernikahan bersama Nona Kiu serta kiukohya kalian,” sambung To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Oo, ada dua pasang mempelai pula?” Tan Hong-ciau melenggong.

“Entah mempelai siapa?” tanya Lamkiong Liu.

Meski dia sangat sopan dan prihatin, tidak urung sekarang ia memandang ke arah Hoa Bu-koat, terlihat wajah Bu-koat yang pucat pasi itu tiada rasa gembira dan tiada rasa berduka.

Di sebelah Bu-koat duduk seorang nona cantik, air mukanya jelas kelihatan menanggung sedih, bahkan sukar untuk diterka bagaimana jalan pikirannya.

“Hahaha, jika sekarang tiga pasang mempelai melangsungkan pernikahan sekaligus, kelak ketiga pasang suami istri ini akan mendapat berkah ‘tiga banyak’, yakni banyak rezeki, banyak umur, dan banyak anak cucu,” kata Ha-ha-ji dengan tertawa.

Tan Hong-ciau tersenyum, katanya, “Doa restumu sungguh kami terima dengan hormat, cuma sayang…”

“Sayang apa?” tanya Li Toa-jui.

“Sayang upacara nikah Adik Kiu kami telah berlangsung dan sekarang sudah berangkat pergi dengan kapal lain,” jawab Tan Hong-ciau.

“Tentunya kalian tahu bahwa suami-istri Adik Kiu telah kenyang suka-duka,” sambung Lamkiong Liu. “Sebab itulah mereka ingin menikmati hari bahagia mereka dengan tenang, untuk itu tentunya kami pun setuju sepenuhnya.”

To Kiau-kiau dan Li Toa-jui saling pandang sekejap tanpa komentar.

Ha-ha-ji lantas berkata, “Haha, jika orang lain yang bicara demikian, tentu kami akan menganggap dia terlalu menghina kami, tapi kata-kata ini diucapkan oleh kalian, tentu saja bobotnya berbeda.”

“Terima kasih,” kata Tan Hong-ciau.

“Bila dalam keadaan biasa, bukan mustahil kalian akan bertindak demi keadilan apabila bertemu dengan kami, sebab kalian adalah orang baik semua, sedangkan kami adalah orang jahat, tentunya kedua pihak tidak akan saling memberi kelonggaran.”

Tan Hong-ciau hanya tersenyum saja tanpa menanggapi ucapan To Kiau-kiau itu.

Maka Kiau-kiau lantas menyambung pula, “Makanya, jika dalam keadaan biasa, tentu kami pun tidak berani berkunjung kemari, sebab pengaruh keluarga Buyung teramat menakutkan, kami pun tidak berani mencari perkara padanya.”

“Ah, mana berani,” ucap Tan Hong-ciau sambil membungkukkan tubuh.

“Tapi suasana hari ini jelas tidak sama, justru kami sudah memperhitungkan kalian pasti tidak akan bertindak apa-apa kepada kami, makanya kami berani datang ke sini…”

“Hahaha, karena kami sudah datang betapa pun kami harus mengendon di sini. Syukur kalian adalah kesatria yang sopan, pula sedang ada kerja, seumpama kami bersikap kurang sopan, tentunya kalian pun takkan mengusir kami,” demikian Ha-ha-ji menambahkan.

“Ya, hanya manusia rendah saja yang suka mengusir kami, betul tidak?” tukas To Kiau-kiau dengan tertawa.

Mendadak Cin Kiam berdiri, tanyanya dengan kereng, “Sebenarnya Tuan-tuan ada keperluan apa, silakan…”

“Keperluan sih tidak ada,” tukas Li Toa-jui dengan tertawa. “Kami cuma ingin meminjam tempat ini sebagai ruangan pesta untuk melangsungkan pernikahan kedua pasang mempelai ini.”

Cin Kiam hendak bicara lagi, tapi telah dicegah Tan Hong-ciau, katanya sambil tersenyum, “Bahwa Tuan-tuan sudi berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi kami. Cuma…cuma di sini tiada musik tabuh pengiring upacara.”

“Kalau cuma musik tabuh saja apa sukarnya?” seru Li Toa-jui sambil tertawa, mendadak ia jemput dua batang sumpit terus mulai memukul tepian mangkuk sehingga menimbulkan suara “trang-tring” yang nyaring, Ha-ha-ji juga lantas mendekap mulutnya dengan tangan dan meniupkan suara “tralala”.

To Kiau-kiau tertawa terpingkal-pingkal, katanya, “Dengan musik paling merdu ini, masa upacara tak dapat berlangsung?”

Segera ia tarik Pek-hujin dan Thi Sim-lan. Pek Khay-sim mendelik, tapi lantas tertawa, segera ia pun menarik Hoa Bu-koat ke depan.

Sambil menabuh mangkuk Li Toa-jui terus berkaok-kaok sebagai protokol atau pembawa acara, “Silakan kedua pasang mempelai maju ke depan! Silakan saling menghormat dengan menyembah kepada langit dan bumi! Pengantin baru menyuguh arak…”

Meski para kakak beradik Buyung itu tergolong perempuan terpelajar, kedelapan suami mereka juga kesatria ternama, tapi selama hidup ini belum pernah melihat kejadian aneh dan sukar dimengerti ini, seketika mereka hanya melenggong saja dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara Im Kiu-yu yang seram itu sedang membentak, “Siapa orang itu?”

Lalu terdengar lagi terdengar seorang tertawa terkekeh-kekeh dan menjawab, “Aku bukan orang!”

Tanya-jawab itu membuat semua orang terkejut. Agaknya Im Kiu-yu yang berjaga di sana juga melengak, terdengar ia bertanya lagi, “Kau bukan orang? Memangnya setan!”

“Betul, sedikit pun tidak salah, aku memang setan!” jawab orang itu.

Tiba-tiba Im Kiu-yu tertawa seram, katanya pula, “Kau setan? Tahukah kau aku ini siapa?”

“Kau cuma setengah setan setengah manusia, sebaliknya aku ini setan penuh,” kata orang itu.

Pek Khay-sim menjadi geli, ia berkeplok tertawa, katanya, “Haha, bagus, bagus! Tak tersangka Im Kiu-yu hari ini benar-benar ketemu setan di siang hari bolong.”

Semua orang pun terheran-heran dan juga merasa geli.

Terdengar orang tadi bergelak tawa dan berkata, “Memang betul, kalian telah melihat setan di siang bolong, aku inilah setan siang hari.” Di tengah gelak tertawanya, sesosok bayangan tampak melayang tiba di luar kabin sana.

Padahal yang berada di dalam kabin kapal hampir seluruhnya jago kelas satu, ginkang To Kiau-kiau, Pek Khay-sim, Loh Beng-to, dan lain-lain lagi juga sangat terkenal, tapi mereka pun terkejut demi melihat ginkang orang ini.

Li Toa-jui dan kawan-kawan juga sama tahu kemampuan Im Kiu-yu, bilamana dia sudah membayangi seseorang, maka jangan harap orang itu akan dapat meloloskan diri. Tapi sekarang dengan ringan saja orang itu dapat melayang masuk kabin tanpa rintangan apa pun, maka dapatlah diduga ginkangnya pasti jauh lebih tinggi daripada Im Kiu-yu.

Sungguh mereka tidak berani membayangkan siapakah gerangan pendatang ini? Sebab selain Ih-hoa-kiongcu dan Yan Lam-thian di dunia ini tidaklah banyak orang yang memiliki ginkang setinggi ini.

Namun orang ini jelas bukan Yan Lam-thian, lebih-lebih bukan Ih-hoa-kiongcu.

Di bawah cahaya lampu tertampak perawakannya yang pendek, tidak sampai tiga kaki atau kurang dari satu meter. Nyata seorang kerdil.

Kebanyakan orang kerdil tentu akan buruk rupa dan cacat badan, namun si cebol ini ternyata lain daripada yang lain, baik kepalanya, tangannya, kakinya, dan tubuhnya, semuanya tumbuh normal dan berimbang, malahan wajahnya juga kelihatan putih halus, boleh dikatakan cakap, juga berjenggot cabang lima dengan indah, tampaknya seorang yang berilmu dan saleh.

Cuma dandanannya yang agak ganjil, tidak preman dan tidak beragama, dia memakai jubah pendek berwarna kelabu, di punggung menyandang pedang pula. Cuma pedang ini sangat pendek, lebih pendek daripada belati umumnya, jadi seperti barang mainan kanak-kanak.

Jika anak kecil ketemu si kerdil ini pasti akan diseretnya untuk diajak bermain, pemain akrobat yang suka berkeliling ketemu dia pasti akan dianggapnya menemukan pemain yang akan menarik penonton, kalau dia ketemu pembesar, bisa jadi dia akan dimasukkan ke istana raja dan dijadikan badut penghibur raja.

Tapi melihat orang kerdil atau manusia mini ini, To Kiau-kiau tak dapat tertawa lagi. Melihat air muka kawannya berubah, Toh Sat, Li Toa-jui, dan lain-lain lantas melenggong juga, tiba-tiba mereka teringat pada seseorang.

Sementara itu Im Kiu-yu juga sudah ikut melayang masuk kabin dan seperti hendak melabrak si manusia mini, namun To Kiau-kiau cepat mencegahnya, Li Toa-jui lantas membisikinya beberapa kata. Seketika Im Kiu-yu berubah pucat dan mengeluyur keluar lagi.

Dalam pada itu si kerdil telah menjura kepada segenap hadirin, ucapnya dengan tertawa, “Maaf, bilamana tamu yang tak diundang ini telah mengganggu kalian, maaf.”

Sudah tentu Tan Hong-ciau, Lamkiong Liu, dan lain-lain juga terkejut, tapi mereka tetap membalas hormat orang itu dengan sopan. Hanya Samkohnio Buyung San saja tiba-tiba ingat sesuatu, katanya, “Sewaktu kecil Wanpwe pernah mendengar bahwa di dunia kangouw ada seorang pendekar aneh yang jejaknya sukar diraba, sungguh sudah lama aku ingin berkenalan dengan beliau.”

Seketika terbeliak juga Buyung Siang, cepat ia menanggapi, “He, apakah maksud Sam-moay ialah pendekar aneh yang…yang bernama…”

“Hahaha, Nona tidak perlu pantang omong,” seru si kerdil dengan tertawa. “Katakan saja ‘Kui-tong-cu’ (Anak Setan), nama ini sudah biasa bagiku, tidak nanti kumarah dengan nama ini.”

Mendengar nama “Kui-tong-cu” seketika Tan Hong-ciau, Lamkiong Liu, dan lain-lain sama terkesiap. Sejak kecil mereka sudah pernah mendengar cerita tentang “anak setan”, konon ginkangnya tinggi luar biasa, adalah ahli waris “yim-sut”, semacam ilmu gelut di kepulauan lautan timur (kepulauan Okinawa Jepang).

Konon Kui-tong-cu ini seakan-akan mahir ilmu menghilang, jika dia hendak mencari rahasiamu, sekalipun dia sembunyi di bawah kursimu juga takkan kau ketahui.

Cuma tokoh aneh ini sudah terkenal pada lima puluh tahun yang lalu, selama tiga puluh tahun terakhir ini hampir tidak pernah lagi terdengar kabar beritanya, konon dia telah pergi lagi jauh ke lautan timur sana untuk menikmati kehidupan bebas di pulau yang mengasyikkan itu.

Ada pula cerita, katanya di kepulauan timur sana kebanyakan penghuninya adalah orang pendek (bangsa Ainu, penduduk asli kepulauan Jepang memang rata-rata bertubuh pendek), sebab itulah ia merasa cocok berdiam di sana. Sekarang tokoh ini mendadak muncul lagi di daerah Tionggoan, hal ini sungguh aneh dan entah apa maksud tujuannya.

Dengan hormat Tan Hong-ciau lantas buka suara, “Sudah lama Wanpwe sekalian mendengar nama kebesaran Cianpwe, kini dapat berjumpa, sungguh sangat menggembirakan.”

“Haha, mulutmu omong manis begini, dalam hati mungkin kalian waswas dan ingin tanya untuk apa makhluk tua aneh ini datang kemari, betul tidak?” kata Kui-tong-cu dengan tertawa.

“Ah, mana berani,” jawab Tan Hong-ciau.

“Padahal tanpa kau tanya juga akan kukatakan,” ujar Kui-tong-cu.

Tan Hong-ciau hanya mengiakan tanpa memberi komentar lagi.

Maka si kerdil lantas berkata pula, “Kedatanganku ini adalah untuk urusan: pertama, kudengar Nona Thi ini hendak menikah, maka sengaja kupanggilkan satu rombongan pemain musik, kujamin rombongan musik ini adalah pemain kelas satu. Tapi saat ini rombongan pemusik itu belum tiba dan upacara pernikahan Nona Thi telah berlangsung, ini kan membikin malu padaku, sebab itulah sedapatnya kuharap Nona Thi menunda sebentar upacara nikah ini.”

Diam-diam Tan Hong-ciau dan lain-lain menghela napas lega setelah mengetahui kedatangan orang aneh ini bukan hendak mencari perkara kepada mereka.

Sedangkan Li Toa-jui dan kawan-kawannya diam-diam terkejut, mereka heran ada hubungan apakah antara si kerdil aneh dengan Thi Sim-lan? Mengapa dia ikut sibuk bagi urusan nona ini?

Kui-tong-cu tertawa dan berkata pula, “Sebenarnya aku ini tidak pernah kenal Nona Thi ini, cuma pembawaanku saja yang suka ikut campur urusan tetek bengek.”

Meski di dalam hati Li Toa-jui dan kawan-kawannya sama sangsi dan penuh tanda tanya, tapi tiada seorang pun berani bertanya.

Bahwa mereka sudah berdiam selama dua puluh tahun di Ok-jin-kok dengan batin tersiksa, kini mereka muncul lagi di dunia kangouw, meski tindak tanduk mereka agak mendekati main gila dan mengacau, tapi apa pun juga mereka adalah “Cap-toa-ok-jin”, nama Cap-toa-ok-jin itu tidak diperoleh dengan begitu saja. Maka bila benar-benar menghadapi urusan gawat, pada umumnya mereka dapat menahan perasaan dan berpikir panjang.

Terdengar Kui-tong-cu berkata pula, “Dan urusan kedua, jika kuceritakan tentu akan sangat menarik.”

“Wanpwe siap mendengarkan,” ujar Tan Hong-ciau dengan tersenyum.

“Soalnya tanpa sengaja aku telah menyelamatkan satu orang, kabarnya orang ini manusia berengsek. Tapi dasar watakku memang juga aneh dan paling suka berkawan dengan orang berengsek. Sebab pada umumnya orang tidak suka berkawan dengan orang berengsek, jika aku pun serupa orang lain, kan kasihan orang berengsek itu. Dan kalau seorang perlu dikasihani kan tidak dapat dikatakan berengsek lagi?”

Diam-diam para Buyung bersaudara itu sama geli mendengar ocehan si kerdil yang lucu itu.

Tiba-tiba Pek Khay-sim menyela, “Wah, jika begitu, mungkin kawan berengsek Cianpwe ada satu barisan bila dikumpulkan.”

Dasar mulut usil dan suka pada kata-kata yang menyakitkan hati, bilamana Pek Khay-sim bungkam saja mungkin tenggorokannya akan terasa gatal, maka pada setiap kesempatan dia pasti ikut menimbrung, hal ini serupa seekor anjing yang melihat najis, sulit untuk melarangnya agar jangan makan kotoran.

Kui-tong-cu memandangnya dengan tertawa, “Tampaknya kau inilah yang bernama Pek Khay-sim yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri itu. Hehe, kau memang tidak bernama kosong. Kedatanganku ini antara lain juga ingin mencarimu.”

Keruan Pek Khay-sim terkesiap, cepat ia berkata, “Men…mencari aku? Untuk…untuk apa? Aku kan tidak makan manusia juga tidak…berjudi, betapa pun aku kan lebih bersih daripada mereka?”

“Sebenarnya bukan aku yang ingin mencarimu, hanya kawanku yang berengsek itulah merasa ada urusan yang belum dibereskan bersamamu, maka dia ingin berunding lebih lanjut dengan kau,” sampai di sini mendadak si kerdil berseru, “Ayolah, lekas kemari, kau harimau ompong, apakah kau tak berani menemui orang lagi?”

Mendengar kata-kata terakhir ini segera Pek Khay-sim hendak mengeluyur pergi, sebab ia sudah tahu orang yang dimaksud itu. Pek-hujin yang sejak tadi tampak berlagak kemalu-maluan itu, demi mendengar ucapan si kerdil ini, seketika mukanya juga berubah pucat.

Namun sudah terlambat bagi Pek Khay-sim untuk mengeluyur pergi, baru saja ia lompat ke sana, tahu-tahu Kui-tong-cu sudah mengadang di depannya dengan tertawa.

Pada saat itu pula terdengar berdetaknya geladak kapal, seorang muncul dengan langkah lebar. Siapa lagi dia kalau bukan orang yang istrinya hendak direbut Pek Khay-sim, yaitu Pek San-kun.

Pek Khay-sim menghela napas gegetun, gumamnya, “Ai, persoalan yang rumit ini cara bagaimana harus diselesaikan?”

“Kalau sukar diselesaikan, boleh dihitung saja secara perlahan-lahan,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa. “Kalian kan sudah menjadi sekutu dalam perusahaan, apa pula yang sulit dirundingkan?”

Dengan geregetan Pek Khay-sim melototi Li Toa-jui, kalau bisa ia hendak melabraknya dengan mati-matian. Cuma saat itu Pek San-kun sudah berada di depannya, cepat ia menyapa dengan tertawa, “Kita sama-sama she Pek dan berasal dari satu kandang, janganlah kita percaya kepada mulut usil orang lain yang hendak mengadu domba sehingga keluarga Pek kita bertengkar sendiri.”

“Hm, berasal dari satu kandang, tentu juga berkongsi dalam kamar,” ujar Li Toa-jui.

Kembali Pek Khay-sim menjadi murka, segera ia hendak menubruk maju, tapi Pek San-kun malah mencegahnya dan berkata dengan tertawa, “Sebenarnya ucapan Saudara ini juga betul, aku…”

“Ucapannya betul? Hm, hakikatnya dia lagi kentut,” teriak Pek Khay-sim. “Aku dan binimu tiada…tiada sesuatu hubungan apa pun, aku pun tidak…tidak ingin menikahi dia, kedatanganmu ini sungguh sangat kebetulan bagiku.”

“Ah, mana boleh jadi begitu?” ujar Pek San-kun. “Jika biniku itu sudah menikah denganmu, selanjutnya dia adalah istrimu, jelek-jelek aku pun tahu istri kawan sendiri jangan diganggu, mana boleh kuganggu istrimu sekarang.”

Bahwa Pek San-kun dapat bicara demikian, ini benar-benar membuat semua orang tercengang dan tidak terkecuali Pek Khay-sim, dengan tergagap-gagap ia berkata, “Ap…apa artinya ucapanmu ini? Masa…masa kau tidak mengambil kembali binimu?”

“Sama sekali tiada maksudku untuk bertindak begini,” jawab Pek San-kun dengan tertawa. “Kedatanganku justru akan mengadakan penyelesaian prosedur denganmu, yakni mengadakan timbang terima resmi, habis itu siapa pun tidak boleh mengganggu gugat lagi.”

“Aku merebut binimu, masa…masa kau tidak mengadu jiwa denganku?” teriak Pek Khay-sim dengan tergagap.

“Tidak, sama sekali tiada maksudku hendak bertengkar denganmu, bahkan aku harus berterima kasih padamu,” kata Pek San-kun.

Keruan Pek Khay-sim melongo tidak habis mengerti, ucapnya kemudian, “Masa…masa kau…kau berterima kasih?…”

“Hahaha!” Pek San-kun bergelak tertawa dan berkata pula, “Cayhe sudah menikmati dia selama dua puluh tahun, sekarang sudah waktunya kau pun boleh mencicipi dia. Meski perangainya memang kurang baik, cemburunya juga gede, tidak dapat menanak nasi, juga tidak mahir mengurus rumah tangga, tapi terkadang ia pun bisa goreng telur, cuma sayang lebih sering kebanyakan garam sehingga asinnya minta ampun…”

Sungguh sukar dibayangkan Pek San-kun bisa bicara seperti ini, keruan Pek Khay-sim melenggong dan menyengir.

Sedangkan Pek-hujin lantas berjingkrak girang, teriaknya parau, “Kau…kau tua bangka mau mampus, kau berani…berani membusuk-busukkan nyonya besar…”

“Eh, jangan Toaso (kakak ipar) salah sasaran,” kata Pek San-kun sambil tertawa. “Sekarang Cayhe bukan lagi suami Toaso, untuk ini hendaklah Toaso selalu mengingatnya dengan baik.”

Seketika Pek-hujin juga melenggong dan tidak dapat bersuara lagi.

Pek San-kun memberi hormat dan berkata pula, “Terimalah ucapan selamat dariku, semoga kalian hidup rukun bahagia hingga hari tua, atas kebaikan kalian berdua yang telah sudi membebaskan tanggung jawabku, sungguh Cayhe takkan lupa dan kelak pasti akan membalas budi kebaikan kalian ini.”

Dia menghela napas lega dan terbahak-bahak, lalu membalik dan melangkah pergi.

Semua orang saling pandang dengan bingung, siapa pun tidak menyangka di dunia ini ada manusia macam begini dan kejadian demikian.

Selang sejenak barulah Pek-hujin bergumam, “O, dia tidak menghendaki diriku lagi, dia telah meninggalkan diriku, apakah benar ini…”

“Akan lebih baik jika tidak benar,” ujar Pek Khay-sim. “Cuma sayang, tampaknya dia memang tidak pura-pura.”

“Tidak, ini pasti tidak benar,” teriak Pek-hujin. “Kutahu…kutahu saat ini dia pasti sangat sedih, tak dapat kubiarkan dia pergi begitu saja.”

Sambil berteriak ia terus lari keluar. Padahal dia sudah kelaparan selama tiga-empat hari, selama itu Pek Khay-sim hanya memberi makan sepotong bakpao dan secangkir air, sekarang setitik tenaga itu telah dikeluarkan semua untuk berlari sekuatnya seperti khawatir kalau kedua kakinya akan ditarik orang dari belakang. Padahal tiada seorang pun yang akan punya pikiran untuk menariknya, lebih-lebih Pek Khay-sim.

Sebenarnya Pek Khay-sim juga merasakan perempuan ini agak menarik, yang paling menarik adalah karena dia istri orang lain. Kaum lelaki pada umumnya memang cenderung mempunyai suatu pendapat yang sama, yaitu bahwa istri orang selalu jauh lebih menarik. Apalagi Pek Khay-sim yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri. Sebab itulah ketika orang menghendaki dia menikah dengan Pek-hujin tentu saja dia tidak menolak.

Mestinya dia berharap bilamana Pek San-kun mengetahui kejadian ini tentu akan keki setengah mati dan akan melabraknya habis-habisan, siapa tahu Pek San-kun sama sekali tidak bertindak demikian, sebaliknya malah menyerahterimakan istrinya itu kepadanya dengan hormat seakan-akan istrinya itu cuma seonggok sampah belaka dan malahan seperti berkhawatir kalau Pek Khay-sim tidak mau menerimanya.

Sekali ini Pek Khay-sim benar-benar kecewa karena semua itu di luar dugaannya. Tiba-tiba ia pun merasakan Pek-hujin ini sesungguhnya memang tidak lebih menarik daripada seonggok sampah.

Rupanya ini pun merupakan penyakit kebanyakan lelaki di dunia ini, kalau ada dua lelaki bersaing memperebutkan seorang perempuan, sekalipun perempuan itu mirip seekor babi betina, namun bagi pandangan kedua lelaki itu tentu cantik luar biasa, setiap bagian tubuhnya mungkin akan dipandang indah seperti bidadari. Akan tetapi bila salah seorang lelaki itu mendadak melepaskan haknya, maka lelaki yang lain tentu akan segera sadar, “Ah, kiranya dia cuma seekor babi betina dan tidak lebih daripada itu.”

Begitu pula keadaan Pek Khay-sim sekarang. Sekarang ia merasa Pek-hujin lebih memuakkan daripada seekor babi betina, ia berharap perempuan itu bisa lekas-lekas lari pergi dan menghilang, kalau bisa terjerumus ke sungai tentu akan lebih baik lagi.

Tak tahunya, baru saja Pek-hujin berlari sampai di depan Kui-tong-cu, mendadak sebelah tangan kakek mini itu meraih, kontan kuduk Pek-hujin kena dicengkeramnya.

Padahal tubuh Kui-tong-cu jauh lebih pendek daripada Pek-hujin, tapi entah bagaimana, tahu-tahu perempuan itu dapat diangkatnya begitu saja, bahkan tampaknya tidak makan tenaga.

Kui-tong-cu menyeretnya ke depan Pek Khay-sim, lalu dilepaskan. Pek-hujin tampak melenggong, agaknya ia ketakutan melihat kesaktian si kakek kerdil, ia sendiri bingung mengapa dirinya bisa diangkat dan diseret begitu saja tanpa berdaya oleh seorang kecil begini.

“Tapi…aku ingin mencari suamiku, masa tidak boleh?” kata Pek-hujin dengan tergagap-gagap.

“Suamimu berada di sini, kau hendak mencarinya ke mana?” kata Kui-tong-cu dengan menarik muka.

“Tapi…tapi aku tidak ingin menjadi istrinya, orang…orang lain yang memaksakan perkawinan ini,” kata Pek-hujin.

“Jika kau benar tidak ingin menjadi istrinya, mengapa tadi kau berlagak seperti malu-malu kucing dan jinak-jinak merpati serupa pengantin baru?” tanya Kui-tong-cu.

Pek-hujin mengucek matanya agar keluar air mata, tapi sayang air matanya tidak banyak, pula tidak mau menurut, sengaja dikucek malah tidak mau keluar.

“Hendaklah kau bicara secara jujur saja,” kata Kui-tong-cu pula. “Jika kau banyak tingkah lagi dan kalau Kakek menjadi marah, bisa jadi akan kujodohkan kau pada anjing jantan.”

Benar juga, Pek-hujin tak berani bersuara pula, ia tahu si kakek kerdil ini tidak boleh dibuat main-main, apa yang sudah diucapkan bisa terus dilaksanakan. Betapa pun ia tidak ingin menjadi istri anjing jantan, paling tidak Pek Khay-sim kan lebih baik daripada anjing jantan.

Kui-tong-cu tertawa, mendadak ia tepuk-tepuk pundak Hoa Bu-koat, untuk itu ia harus berdiri dengan ujung kaki barulah tangannya dapat mencapai pundak anak muda itu.

“Anak muda,” kata Kui-tong-cu dengan tertawa, “kau benar-benar mujur dapat memperistri keponakan she Thi kami ini.”

Saat itu Hoa Bu-koat berdiri diam di situ, selain berdiri saja ia memang tiada tenaga untuk berbuat urusan lain, mungkin ia pun masih dapat bicara, tapi dalam keadaan demikian apa yang dapat dikatakannya?

Kui-tong-cu memandangnya pula, ia mengerut kening demi melihat sikap Bu-koat yang acuh-tak acuh itu, katanya, “Apa pun juga, kau akan mendapatkan istri baik seperti ini, apa pula yang membuat kau kurang gembira?”

Mendadak Thi Sim-lan berkata, “Cianpwe, aku…aku…”

To Kiau-kiau dan kawan-kawannya memang tidak menutuk hiat-to bisu anak dara itu, sebab mereka tidak khawatir dia bicara, andai kata dia bicara hal-hal yang tidak pantas dikemukakannya juga mereka dapat mencegahnya setiap saat.

Tapi sekarang, di hadapan Kui-tong-cu, terpaksa mereka tak berani mencegahnya bicara, sebab tiada seorang pun ingin dicengkeram batang lehernya dan diseret serupa seekor anjing seperti tindakan Kui-tong-cu terhadap Pek-hujin tadi.

Seumpama Kui-tong-cu tidak mempunyai kepandaian lain, cukup melulu caranya membekuk orang itu sudah membuat ciut nyali mereka. Sebab mereka tahu bilamana ingin menghindarkan cengkeraman Kui-tong-cu itu mereka memang belum mampu.

Tapi untunglah Thi Sim-lan hanya bicara dua-tiga patah saja dan tidak melanjutkan lagi.

Dengan tertawa Kui-tong-cu lantas berkata, “Kutahu ada banyak urusan akan kau tanyakan padaku, tapi jangan terburu-buru sekarang, sebentar lagi tentu segala urusan akan menjadi jelas baginya.”

Dalam pada itu para kakak beradik Buyung sudah saling memberi isyarat dan sedang memikirkan cara bagaimana harus melayani tamu aneh ini. Maklum, selamanya anggota keluarga Buyung tidak ingin kurang adat terhadap tamunya.

Tapi sebelum mereka buka suara, Kui-tong-cu sudah berkata lebih dulu dengan tertawa, “Kalian tidak perlu menyuguh arak padaku, selamanya aku tidak suka minum arak, sebab perawakanku kecil, bila minum arak tentu tak dapat melebihi orang lain, maka lebih baik aku tidak mau minum.”

Dengan tertawa Tan Hong-ciau bertanya, “Jika demikian, entah Cianpwe…”

“Apakah kau hendak tanya apa kesukaanku, begitu bukan?” tukas Kui-tong-cu. “Baiklah, akan kukatakan padamu, kegemaranku adalah melihat perempuan menari dengan bugil. Nah, jika kalian ingin memuaskan aku sebagai tamu kalian, lekas kalian membuka baju dan menari.”

Keruan permintaan tidak senonoh ini membuat kakak beradik Buyung kurang senang, serentak Tan Hong-ciau, Lamkiong Liu, dan lain-lain berbangkit.

Sorot mata To Kiau-kiau bercahaya, diam-diam ia bergembira dan berharap kedua pihak itu lekas saling labrak.

Tak terduga, pada saat itu juga, dari hilir sungai sana tiba-tiba berkumandang tiba suara musik yang merdu terbawa sayup-sayup oleh angin. Betapa pun tegangnya suasana bila mendengar suara musik yang merdu ini pasti tak jadi berkelahi lagi.

Seketika suasana menjadi hening, setiap orang pasang telinga mengikuti irama musik yang mengasyikkan itu. Sampai-sampai orang macam Toh Sat juga tergetar perasaannya, sorot matanya mulai berubah menjadi tenang dan hangat. Suara musik ini ternyata dapat menghanyutkan orang kepada kenangan masa lalu, mengenangkan kejadian yang paling menggembirakan.

Tanpa terasa beberapa pasang suami-istri keluarga Buyung itu saling berdekapan, sorot mata masing-masing penuh rasa bahagia.

Sorot mata Hoa Bu-koat tanpa terasa juga memandang ke arah Thi Sim-lan.

Ternyata Thi Sim-lan juga sedang menatapnya. Dalam hati masing-masing sama terkenang kepada pengalaman masa lampau. Pada waktu itu meski mereka pun banyak mengalami suka-duka dan siksa derita, tapi yang terkenang sekarang hanya saat-saat yang menyenangkan, hanya kejadian-kejadian yang menggembirakan saja.

Kui-tong-cu tersenyum memandangi semua orang, gumamnya kemudian, “Nah, sekarang tentunya kalian mau percaya bahwa rombongan pemusik yang kudatangkan ini bukan saja nomor satu di dunia, bahkan belum pernah ada sejak dahulu dan juga masa mendatang. Sekalipun kaisar di zaman dulu juga tidak mampu mendengar musik semerdu ini.”

Suara musik ini semakin mendekat, tertampaklah sebuah perahu meluncur tiba, di atas perahu terang benderang dengan belasan lampu hias, cahaya lampu yang terbayang di air sungai menambah indah perahu itu sehingga tampaknya seperti sebuah rumah mewah berjalan.

Di atas perahu ada tujuh atau delapan orang yang meniup seruling, ada yang membunyikan harpa dan sebagainya, malahan satu di antaranya sedang memukul tambur. Meski suara tambur itu kedengarannya berat, monoton, berulang-ulang tetap begitu saja bunyinya, namun setiap pukulannya seakan-akan mengetuk lubuk hati pendengarnya dan membuat orang mabuk dan lupa daratan.

Di bawah cahaya lampu terlihat jelas orang-orang itu ada lelaki dan ada juga perempuan, tapi semuanya orang tua yang sudah beruban, bahkan ada yang bertubuh bungkuk reyot, malahan sebagian besar pasti sudah ompong.

Ketika mereka sudah berada di atas kapal barulah semua orang melihat jelas mereka ternyata beberapa kali lebih tua daripada dipandang dari jauh. Bagi orang yang belum melihat mereka tentu sukar membayangkan. Pikir saja, beberapa kakek dan nenek membunyikan musik semerdu ini, benar-benar sukar untuk dibayangkan.

Malahan yang benar-benar tak terbayangkan oleh siapa pun juga adalah suara musik yang penuh gairah hidup, penuh rasa gembira dan bahagia justru dibawakan oleh serombongan orang tua yang boleh dikatakan pasti sudah pikun. Hal ini kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentu takkan percaya.

Akan tetapi sekarang semua orang telah menyaksikan sendiri, cuma siapa pun tidak tahu cara bagaimana rombongan orang tua ini naik di atas kapal, soalnya kedatangan perahu kecil ini terlalu cepat. Baru saja kakak beradik Buyung Siang hendak menyambut, tahu-tahu rombongan orang tua ini sudah berada di haluan kapal, bahkan bunyi musik mereka tidak pernah berhenti sejenak pun.

Kini terlihat lebih jelas kakek penabuh tambur itu rambutnya sudah putih seperti salju, tapi kulit badannya hitam seperti arang, tubuhnya kurus tinggal kulit membungkus tulang, tapi bajunya justru tidak terkancing sehingga kelihatan deretan tulang iganya yang mirip pagar bambu.

Tamburnya cukup besar dan tampaknya jauh lebih tua daripada si penabuhnya serta jauh lebih berat bobotnya. Akan tetapi kakek itu tidak memanggul tamburnya melainkan menjepitnya dengan kedua kakinya dibawa serta melayang ke atas kapal dengan enteng.

Cepat Tan Hong-ciau mendahului memapak maju dan memberi hormat, ucapnya, “Para Cianpwe sudi berkunjung, sungguh kami sangat…”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba salah seorang kakek itu berseru, “He, apakah ada di antara kalian ini orang she Ciong?”

Kakek ini tinggi kurus, dia inilah pemetik kecapinya.

Pek Khay-sim mengira si kakek ada sengketa apa-apa dengan orang she Ciong yang ditanyakannya. Maka ia cepat menunjuk Li Toa-jui dan berkata, “Ini dia orang she Ciong!”

Dia menyangka sekali ini Li Toa-jui pasti akan runyam dan dilabrak habis-habisan oleh si kakek. Ia tahu para nona keluarga Buyung pasti juga takkan membela Li Toa-jui dan apa yang akan terjadi nanti pasti sangat menarik.

Tak tahunya si kakek pemetik kecapi itu lantas menjura malah kepada Li Toa-jui dan berkata, “Aku Ji Cu-geh, dahulu kakek-moyangmu Ciong Cu-ki Siansing adalah satu-satunya pengagum leluhurku yang terkenal ahli pemetik kecapi. Sekarang anak cucunya saling bertemu pula di sini, apabila Saudara tidak menolak, bagaimana kalau kupetik satu lagu bagimu?”

Pada waktu mudanya Li Toa-jui memang juga terpelajar, kalau tidak masakan Thi Bu-siang mau memungutnya sebagai menantu? Sudah tentu ia paham ceritanya tentang persahabatan Cu-geh Siansing dengan Ciong Cu-ki di zaman Ciancok, makanya waktu Pek Khay-sim bilang dia she Ciong, dia hanya diam saja dan tidak membantah.

Segera ia menanggapi ucapan si kakek tadi, “Apabila Cianpwe berminat tentu saja Cayhe siap mendengarkan.”

Tanpa bicara lagi Ji Cu-geh lantas duduk memangku kecapi. “Creng”, mulailah dia memetik kecapinya, begitu kecapi mulai berbunyi, terasa segarlah setiap orang seperti berada di tempat kediaman dewata.

Li Toa-jui juga berlagak seperti seorang peminat musik sejati, ia pejamkan mata dan mengikuti irama kecapi sambil manggut-manggut dan berulang-ulang menyatakan perasaan kagum dan pujiannya.

Selesai membawakan satu lagu, Ji Cu-geh lantas berbangkit, katanya dengan gegetun, “Sungguh tidak nyana setelah beratus tahun kemudian keluarga Ciong masih ada peminat kecapi sebagaimana leluhurnya, lagu yang kubawakan barusan ini biasanya memang tidak sembarangan kuperdengarkan kepada orang lain.”

Diam-diam To Kiau-kiau menggeleng. Sudah diketahuinya para kakek dan nenek ini pasti memiliki kepandaian yang mahatinggi, tapi tak disangkanya bahwa mereka dapat dibohongi semudah ini, agaknya orang makin tua akan semakin pikun ternyata juga ada benarnya, buktinya orang-orang tua ini kan cukup nyata.

Ji Cu-geh memegang tangan Li Toa-jui dan memperkenalkan kawan-kawannya itu. Ternyata kawanan kakek dan nenek itu mempunyai nama dan she yang aneh, kebanyakan menirukan she seniman di zaman kuno, yang meniup siau atau seruling juga she Siau, yang memetik harpa mengaku she Han, katanya masih keturunan Han Siang-cu, itu anggota Pat-sian atau delapan dewa dalam dongeng.

Geli para nona keluarga Buyung mendengar nama kakek-kakek yang lucu ini, mereka merasa orang-orang tua ini tidak saja pikun, bahkan juga sinting.

Padahal siapa pun dapat menduga bahwa she mereka itu cuma samaran belaka, terutama kakek yang mengaku she Han itu jelas bukan keturunan Han Siang-cu, sebab umum mengetahui Han Siang-cu tidak pernah beristri, lalu dari mana datangnya anak, kalau tidak punya anak, tentu saja tidak mungkin mempunyai keturunan lebih lanjut.

Tapi para kakek dan nenek itu tetap mengaku bernama dan she begitu mau tak mau semua orang percaya saja. Meski semua orang juga tahu orang-orang tua ini pasti kaum pendekar ternama pada beberapa puluh tahun yang lalu, namun tiada yang tahu asal-usul dan nama asli mereka.

Lebih-lebih Thi Sim-lan, ia merasa bingung untuk apakah beberapa orang tua ini sengaja datang membawa musik baginya. Padahal usia setiap orang cukup untuk menjadi nenek moyangnya, mana mungkin ada sangkut paut kekeluargaan dengannya?

Nona besar Buyung adalah istri bijaksana dan berwibawa, pembawaannya juga pendiam, sejak tadi ia hanya duduk diam saja dengan mengulum senyum, kini mendadak ia menarik ujung baju sang suami dan membisikinya, “Waktu sudah larut, semua orang tentu juga lelah, lebih baik kita…”

Tan Hong-ciau menepuk perlahan tangan sang istri, katanya dengan tersenyum, “Kutahu maksudmu, sabarlah sebentar.”

Padahal ia takut keadaan akan bertambah ruwet, ia pun tidak ingin terlibat dalam urusan dengan orang-orang aneh yang tak jelas asal-usulnya ini, segera ia menjura dan berseru, “Kini pemain musik sudah siap, bolehlah silakan kedua pasang mempelai menjalankan upacara agar selanjutnya kita dapat minum beberapa cawan arak bahagia.”

“Tepat, setuju!” To Kiau-kiau mendahului bertepuk tangan.

“Haha, kata peribahasa, waktu adalah uang, kita hanya bersendau gurau saja sejak tadi sehingga melupakan para pengantin baru yang ingin lekas-lekas masuk kamar,” sambung Ha-ha-ji dengan tertawa.

Sudah tentu mereka pun tahu orang-orang tua ini tak boleh dibuat main-main, maka sedapatnya mereka ingin lekas-lekas pergi.

Siapa tahu Kui-tong-cu lantas berseru, “Tidak, tidak boleh sekarang, harus tunggu lagi sebentar.”

“Tunggu apa?” tanya To Kiau-kiau.

“Tunggu satu orang,” jawab Kui-tong-cu.

“Memangnya Cianpwe juga telah mengundang tamu untuk menghadiri pesta ini?” tanya Kiau-kiau.

“Bukan tamu, tapi tuan rumah,” kata Kui-tong-cu.

Tentu saja To Kiau-kiau dan lain-lain sama melengak, “Tuan rumah? Bukankah tuan rumahnya sudah berada di sini?”

Tapi Kui-tong-cu tidak menjawabnya, sebaliknya dia berpaling pada seorang tamu yang bernama Ni Cap-pek dan bertanya, “Di mana bocah itu, tidakkah dia datang bersama kalian?”

Ni Cap-pek melotot, jawabnya, “Memangnya dia datang bersama siapa jika tidak bersama kami?”

“Lalu di mana dia?” tanya Kui-tong-cu.

“Di mana dia, kenapa tidak kau tanya langsung padanya?” jawab Ni Cap-pek.

“Jika kutahu di mana dia, untuk apa kutanya, monyong!” omel Kui-tong-cu.

“Kau tidak tahu, dari mana pula kutahu? Aku kan bukan bapaknya?” jawab Ni Cap-pek dengan melotot.

Diam-diam Li Toa-jui merasa geli, beberapa tua bangka ini ternyata juga seperti anak kecil, kalau sudah bertengkar tampaknya tidak kurang lucunya daripada dirinya.

Untunglah sebelum urusan menjadi lebih bertele-tele, seorang kakek bernama Lamkwe Siansing menukas, “Bocah itu sebenarnya datang bersama satu perahu dengan kami, tapi dia mengomel katanya laju perahu terlampau lambat, maka dia lantas melompat ke daratan dan ingin memburu ke sini lebih dahulu.”

“Ini namanya ingin cepat jadi lambat,” tambah Ji Cu-geh.

“Ai, wataknya yang tidak sabaran itu mungkin sampai mati pun sukar berubah,” kata Kui-tong-cu dengan tertawa.

Si nenek peniup seruling she Siau menimbrung, “Tapi kalau menurut kecepatan larinya, sekalipun harus mengitar tentu saat ini pun sudah berada di sini. Bisa jadi penyakitnya telah kumat lagi dan berkelahi dengan orang di tengah jalan.”

“Ya, bilamana dia sudah berkelahi, mungkin tiga hari tiga malam juga takkan selesai,” sambung si kakek she Han.

Tergerak hati Kiau-kiau, tanyanya cepat, “Apakah sahabat para Cianpwe itu suka berkelahi dan bila sudah berkelahi sukar lagi dilerai?”

“Ai, memang begitulah sifatnya, bila lawannya belum jera dan minta ampun, maka pasti akan dilabraknya terus,” jawab Kui-tong-cu.

To Kiau-kiau juga ingat pada seseorang, tanyanya segera, “Apakah sahabat para Cianpwe itu ialah…”

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar seorang meraung di daratan sana, “Hai, Li Toa-jui, Ok-tu-kui, kalian para cucu keparat ini lekas menggelinding keluar semua.”

“Memang tidak salah, betul si tua gila ini,” kata To Kiau-kiau.

Han-wan Sam-kong bertepuk gembira, serunya, “Haha, dengan datangnya anak kura-kura ini, tentu akan bertambah ramailah.”

Ketika mendengar suara orang yang mirip raungan singa itu, seketika tubuh Thi Sim-lan bergetar, entah terlalu kejut atau karena girangnya.

Sedangkan para nona Buyung diam-diam merasa heran, sungguh sukar dimengerti sahabat para kakek dan nenek aneh ini ternyata juga sahabat Cap-toa-ok-jin ini.

Dalam pada itu Li Toa-jui dan Han-wan Sam-kong sudah memburu ke haluan kapal dan berseru, “Hai, kau si tua gila kiranya belum lagi mampus?”

“Sebelum kalian cucu keparat ini mampus mana aku sampai hati mati lebih dulu?” demikian seru seorang di daratan sana. Di tengah tertawanya segera ia pun melompat ke haluan kapal.

Sedemikian besar kapal layar ini juga sedikit oleng ketika orang itu hinggap di geladak kapal, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaga orang ini.

Tanpa melihat juga setiap orang dapat menduga pendatang ini pasti juga seorang aneh. Dan setelah melihat jelas, tanpa terasa semua orang menarik napas dingin.

Perawakan orang ini tidak terlalu tinggi, boleh dikatakan lumrah, paling-paling hanya enam atau tujuh kaki, tapi diukur ke samping lebarnya ternyata ada empat-lima kaki, jadi bentuknya seperti sepotong batu persegi.

Yang lebih hebat adalah kepalanya, besarnya luar biasa, bila dipenggal dan ditimbang, sedikitnya ada lima puluh kati atau tiga puluh kilogram. Lebih-lebih karena rambutnya yang semrawut tak terpelihara itu mirip sarang ayam, cambangnya yang lebat itu bergandengan dengan rambutnya sehingga sukar dibedakan yang mana rambut dan yang mana cambangnya. Tentu saja hidung dan mulutnya menjadi tertutup sehingga sukar ditemukan.

Kalau dipandang dari jauh, orang ini mirip sepotong batu besar yang di atasnya mendekam seekor landak atau kalau dipandang dari samping mirip juga seekor singa yang telah berubah bentuk.

Begitu melompat ke atas kapal, segera orang ini berangkulan dengan Li Toa-jui dan Han-wan Sam-kong sambil tertawa terbahak-bahak. Umur ketiga orang kalau ditotal jenderal mungkin lebih dua ratus tahun, tapi kelakuan mereka masih seperti anak kecil saja.

Seketika Tan Hong-ciau menjadi ragu-ragu apakah harus menyambut kedatangan orang aneh ini atau tidak.

Mendadak orang aneh ini mendorong minggir Li Toa-jui, lalu meraung pula, “He, aku menjadi lupa memeriksa calon menantuku yang ditemukan kalian para cucu keparat ini. Apabila tidak cocok dengan seleraku, lihat nanti kalau tidak kuhajar kalian.”

To Kiau-kiau lantas memapak ke sana, katanya dengan tertawa, “Calon menantumu yang kami carikan ini kutanggung kau si orang gila ini pasti akan cocok dan puas, jika kau sendiri yang cari, biarpun keliling dunia sambil menabuh bende juga takkan menemukan menantu sebagus ini.”

Ketika melihat orang aneh itu, air mata Thi Sim-lan sudah lantas berlinang-linang, sekuatnya ia memburu maju dan mendekap orang itu sambil berseru, “Ayah…” karena sedih dan terharu tenggorokannya serasa tersumbat, hanya satu kali saja dia berucap, lalu tidak sanggup bersuara pula.

Baru sekarang Bu-koat tahu pendatang baru ini ialah “Ong Say”, si Singa Gila yang disegani itu. Bila melihat anak perempuannya secantik Thi Sim-lan, sungguh siapa pun tak berani membayangkan ayahnya berbentuk seaneh ini.

Dengan perlahan Thi Cian membelai kepala Thi Sim-lan, ucapnya dengan tertawa, “O, putriku yang baik, janganlah menangis, ayah belum lagi mampus, seharusnya kau bergembira, apa yang kau tangiskan?”

Belum habis ucapannya, mendadak ia lompat ke depan Hoa Bu-koat, anak muda itu dipandangnya dari kepala ke kaki dan dari kaki kembali ke kepala. Sedikitnya tujuh kali dia mengamati Hoa Bu-koat.

Hoa Bu-koat sendiri tampak lesu, maklum, dia kelaparan selama beberapa hari, dengan sendirinya fisiknya sangat lemah.

Thi Cian manggut-manggut, agaknya dia merasa puas terhadap bakal menantunya ini, ucapnya kemudian, “Ehm, bocah ini masih memper manusia juga, hanya…mengapa mukanya begini pucat dan berdiri saja tidak kuat, jangan-jangan calon menantu yang kalian temukan ini sakit TBC.”

“Dia tidak sakit TBC, tapi semacam penyakit aneh, asalkan diberi sepotong bakpao saja segera akan kuat berdiri,” kata Kui-tong-cu dengan tertawa.

Thi Cian melengak, tanyanya kemudian, “Apakah dia menderita sakit lapar?”

“Betul,” jawab Kui-tong-cu dengan tertawa.

Seketika Thi Cian berjingkrak murka, kembali ia meraung, “Keparat, siapa yang membuat calon menantuku ini kelaparan begini?

“Siapa lagi kalau bukan kawan-kawanmu yang lama itu?” kata Kui-tong-cu.

Sekonyong-konyong Thi Cian membalik tubuh, sekali pentang kedua tangannya, kontan leher baju Ha-ha-ji dan To Kiau-kiau kena dicengkeramnya terus diangkat mentah-mentah.

Padahal ilmu silat Thi Cian tidak tergolong kelas top di antara Cap-toa-ok-jin, hanya cara berkelahinya saja yang nekat dan tidak kenal takut, jika bicara kungfu sejati To Kiau-kiau saja lebih tinggi daripada dia.

Tapi sekarang dia cuma mencengkeram sekenanya dan To Kiau-kiau serta Ha-ha-ji lantas kena dibekuknya tanpa bisa berkutik, bahkan ingin berkelit saja tidak mampu.

Keruan Li Toa-jui dan lain-lain berjingkrak kaget, sama sekali mereka tidak menyangka si Singa Gila ini kini menjadi begini lihai, nyata kungfunya telah maju pesat. Sekilas pandang Li Toa-jui melihat Ni Cap-pek, Ji Cu-geh, dan lain-lain sama mengunjuk rasa senang dan puas, maka tidak perlu ditanya lagi, jelas ilmu silat Thi Cian ini adalah ajaran para kakek aneh ini.

Karena leher bajunya dicengkeram sedemikian kencang, leher Ha-ha-ji serasa hendak patah, ingin ber-haha saja tidak dapat, malahan napas pun serasa mau putus, cepat ia berteriak dengan serak, “Antara…antara sahabat sendiri, ada urusan apa boleh…boleh dibicarakan secara baik-baik, kenapa main tangan segala?”

“Bicara baik-baik apa?” teriak Thi Cian dengan gusar. “Kau sendiri makan kenyang hingga gemuk melebihi babi, tapi calon menantuku kau buat lapar hingga kurus menyerupai orang sakit paru-paru.”

“Ai, hendaklah Thi-heng maklum,” cepat To Kiau-kiau ikut bicara dengan tertawa. “Apabila kami tidak membuatnya kelaparan, mungkin sudah sejak dulu dia kabur.”

“Kabur? Mengapa harus kabur?” teriak Thi Cian.

“Kenapa Thi-heng tidak tanya sendiri padanya?” ujar Kiau-kiau.

Benar juga rasa gusar Thi Cian lantas mereda, ia lepaskan cengkeramannya, lalu menjambret leher baju Hoa Bu-koat dan meraung pula, “Ya, ingin kutanya padamu, mengapa kau bermaksud kabur? Memangnya kau kira anak perempuanku tidak setimpal mendapatkan kau si TBC ini?”

Cepat Thi Sim-lan memegang tangan sang ayah dan berseru, “Lepaskan dia, Ayah, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dia.”

Dengan gusar Thi Cian berkata, “Dia bakal lakimu, kalau tiada sangkut pautnya dengan dia, lalu menyangkut siapa?”

“Ayah …” air mata Thi Sim-lan bercucuran, “urusan ini sangat panjang untuk diceritakan, harap Ayah…” pertentangan batin dan duka deritanya mana dapat diuraikannya di hadapan orang sebanyak ini.

“Sesungguhnya apa yang terjadi?” teriak Thi Cian pula. “Tapi aku tak peduli urusan lain, aku cuma ingin tanya padamu, kau suka tidak kawin dengan bocah ini?”

Thi Sim-lan menunduk dan menjawab, “Aku…aku…”

“Mengapa sekarang kau pun berubah kikuk-kikuk begini,” teriak Thi Cian. “Kalau suka bilang suka, jika tidak mau katakan tidak mau, kenapa tak dapat kau katakan terus terang? Asalkan kau mengangguk, sekarang juga bocah ini akan menjadi hakmu. Bila kau menggeleng, segera pula kulempar pergi bocah ini.”

Akan tetapi kepala Thi Sim-lan sama sekali tidak bergerak, ia tidak dapat mengangguk dan juga tidak dapat menggeleng. Bila teringat betapa mendalam cinta Bu-koat, mana dia dapat menggeleng kepala? Ia tahu, asalkan ia menggeleng kepala satu kali saja, maka selanjutnya mungkin takkan bertemu lagi dengan Bu-koat. Akan tetapi bila teringat kepada Siau-hi-ji yang menggemaskan dan juga menyenangkan itu… Ai, cara bagaimana pula dia dapat mengangguk?

Pertentangan batinnya sekarang biarpun malaikat dewata juga mungkin tak dapat memahaminya, apalagi lelaki yang selamanya tidak paham seluk-beluk cinta kasih antarremaja seperti si Singa Gila Thi Cian itu.

Keruan orang tua ini menjadi kelabakan sendiri, ia membanting kaki dan meraung pula, “Kau tidak perlu membuka mulut, masa kepalamu juga tidak dapat bergerak sama sekali?”

Namun kepala Thi Sim-lan tetap tidak bergerak sedikit pun.

Semua orang pun saling pandang dengan bingung, semuanya terkesima. Biarpun para nona Buyung itu rata-rata adalah nona yang pintar dan cerdas, kini mereka pun tidak dapat meraba jalan pikiran Thi Sim-lan dan sesungguhnya apa kehendaknya.

Di dalam hal ini, satu-satunya orang yang memahami perasaan Thi Sim-lan sekarang mungkin cuma Hoa Bu-koat saja.

Namun ia sendiri pun penuh rasa sedih, ia tahu sebabnya Thi Sim-lan tidak menggeleng adalah karena nona itu tidak tega melukai hatinya. Tapi seumpama Thi Sim-lan mengangguk, apakah Bu-koat sendiri takkan berduka?

Dengan sedih ia lantas berkata, “Aku…”

Di luar dugaan, baru satu kata ia berucap, seketika Thi Cian berjingkrak murka dan meraung pula, “Tutup mulutmu! Siapa suruh kau bicara? Pokoknya asalkan putriku mau, maka kau harus menikahi dia, jika putriku tidak suka, maka segera kau enyah dari sini.”

Tindakan Thi Cian ini benar-benar membuat para nona Buyung serbasusah, bakal mertua yang tidak kenal aturan begini sungguh jarang ada di dunia ini.

Sudah tentu mereka tidak tahu apabila Thi Cian kenal aturan, tentu namanya takkan ikut tercantum di dalam deretan “Cap-toa-ok-jin”.

“Kau bodoh,” tiba-tiba si nenek peniup seruling she Siau ikut bicara. “Setiap anak perempuan bila ditanya soal kawin tentu saja tak berani menjawab. Kalau anak perempuan tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng, itu tandanya dia sudah mau.”

Meski rambut nenek she Siau itu sudah putih semua, mukanya juga keriputan dan giginya sudah ompong seluruhnya, namun di antara senyum dan lirikan matanya masih jelas kelihatan dahulu dia pasti juga seorang wanita cantik yang berpengalaman.

Thi Cian menepuk paha keras-keras dan berseru, “Aha, betul, betapa pun Siau-toaci memang lebih paham perasaan anak perempuan…”

Di luar dugaan, mendadak Thi Sim-lan berkata, “Tidak, bu…bukan maksudku…”

“Jadi maksudmu kau tidak mau menjadi istrinya?” tanya Thi Cian.

Dengan air mata bercucuran Sim-lan menjawab, “Juga bu…bukan begitu…”

Thi Cian menjadi bingung dan kelabakan, ia jambak rambut sendiri dan berteriak, “Habis apa maksudmu?… Hai, kalian tahu tidak apa maksudnya? Ayolah katakan!”

Thi Sim-lan menunduk, kembali ia membisu.

Dalam keadaan demikian, jangankan Thi Cian kelabakan setengah mati, sekalipun orang lain juga ikut gelisah.

“Ayolah katakan, masa di antara kalian ini tiada seorang pun yang tahu maksudnya?” teriak Thi Cian sambil berjingkrak.

“Kutahu di sini ada seorang yang tahu maksudnya,” tiba-tiba Han-wan Sam-kong berkata dengan tertawa.

“Siapa dia?” tanya Thi Cian.

“To Kiau-kiau,” jawab si Ok-tu-kui.

Baru saja kata “kiau” terakhir itu terucapkan tahu-tahu Thi Cian sudah mencengkeram leher baju To Kiau-kiau sambil meraung, “Kau keparat, jika kau tahu, mengapa tidak sejak tadi-tadi kau katakan dan membuat Locu kelabakan seharian?!”

Cepat Kiau-kiau menjawab dengan mengiring tawa, “Jika kau sebagai bapak tidak paham isi hati anaknya, dari mana pula aku bisa tahu? Semuanya ini lantaran Ok-tu-kui dendam padaku karena kejadian tadi, makanya dia sengaja membalas sakit hatinya atas diriku.”

“Kentut busuk!” teriak Thi Cian. “Selamanya Ok-tu-kui tidak suka berdusta. Pendeknya, akan kuhitung sampai tiga, jika tetap tidak kau katakan segera juga kubinasakan kau.”

Tapi kata-kata “satu” saja belum dihitung Thi Cian, kontan To Kiau-kiau mendahului bicara, “Baiklah, akan kukatakan, cuma setelah kukatakan tentu kau akan semakin tak berdaya.”

Rupanya To Kiau-kiau cukup kenal sifat si Singa Gila yang berani bicara berani berbuat, dalam keadaan jiwa sendiri menjadi taruhan, terpaksa segala apa pun dibeberkannya.

“Aku tidak peduli,” demikian kata Thi Cian. “Pokoknya asal kau jelaskan, aku tentu punya akal.”

“Andaikan ia tak berdaya juga kami dapat membantunya mencari akal,” tukas Kui-tong-cu.

“Begini duduk perkaranya,” tutur Kiau-kiau kemudian. “Anak perempuan ini sebenarnya ingin menjadi istri Hoa-kongcu ini, akan tetapi dia…dia juga mempunyai seorang kekasih lagi, jadinya, dia ingin menjadi istri Hoa-kongcu, tapi juga ingin diperistri oleh orang itu.”

“Siapa lebih unggul di antara kedua orang ini?” tanya si nenek she Siau tiba-tiba.

To Kiau-kiau tertawa, jawabnya, “Keduanya boleh dikatakan sekati enam belas tahil, setali tiga uang. Masing-masing mempunyai segi baiknya sendiri-sendiri. Jika aku menjadi dia, sesungguhnya aku pun tidak tahu harus pilih yang mana.”

Mendengarkan sampai di sini, hati Thi Sim-lan menjadi malu dan juga sedih, kalau bisa sungguh ia ingin segera mati saja. Tapi bila teringat mereka telah menyinggung Siau-hi-ji, bukankah anak muda itu ada harapan masih hidup, dia menggereget dan bertahan sedapatnya.

“Memang, betapa pun kau tanya seorang perempuan, bilamana menghadapi soal rumit begini juga takkan berdaya,” kata si nenek she Siau. “Maka pantaslah kalau Nona Thi sedemikian sedih, jika aku menjadi dia, aku pun tidak…”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba Pek Khay-sim menyela, “Kalian tidak berdaya, kami ada akal.”

“Akal apa?” tanya Nenek Siau.

“Kalau sekaligus dia menyukai dua lelaki, maka suruhlah dia menjadi istri dua orang berbareng, sana-sini dapat, kan untung besar?” kata Pek Khay-sim dengan tertawa.

Dasar “mulut anjing tak mungkin keluar gading”, tidak nanti Pek Khay-sim mengucapkan kata-kata yang menguntungkan orang lain. Maka semua orang mengira sekali ini Thi Cian pasti akan melabrak Pek Khay-sim, andaikan kepalanya tidak dipecahkan tentu juga akan dihajarnya hingga babak belur.

Di luar dugaan, Thi Cian terus melonjak, tapi bukan melonjak murka sebaliknya malah bertepuk gembira dan berseru, “Aha, saran bagus, usul tepat…”

“Kau anggap bagus usulnya?” tanya si Nenek Siau dengan tercengang.

“Mengapa tidak?” jawab Thi Cian. “Seorang lelaki boleh ambil dua istri sekaligus, mengapa seorang perempuan tidak boleh mempunyai dua suami.”

Bagi si Singa Gila yang berpikir sederhana dan polos sudah tentu tak terpikir olehnya bahwa makhluk hidup di dunia ini segala sesuatunya sudah kodrat alam. Menurut jalan pikirannya, demi keadilan, bila lelaki boleh poligami, mengapa perempuan tidak boleh poliandri.

Maka si Nenek Siau lantas berkata, “Tapi…tapi soal ini tidaklah sama.”

“Tidak sama bagaimana?” Thi Cian melotot. “Memangnya perempuan bukan manusia dan harus dibeda-bedakan haknya? Jangan lupa, kau sendiri pun orang perempuan.”

Nenek Siau menghela napas gegetun, gumamnya, “Aku memang orang perempuan, tapi kau orang gila.”

Thi Cian terbahak-bahak, katanya, “Gila atau tidak, demi anak perempuanku, menjadi gila juga tidak menjadi soal.”

Lalu dia pegang tangan Thi Sim-lan dan berkata pula, “Katanya kau masih mempunyai seorang kekasih lagi, siapa dia? Katakan saja, biar Ayah bertindak bagimu.”

Wajah Thi Sim-lan dari merah berubah menjadi pucat, ia benci mengapa dirinya tidak mati saja tiga tahun yang lalu. Sudah tentu sekarang ia tak sanggup bicara apa pun juga.

Sampai para nona Buyung juga menyesalkan nasib Thi Sim-lan, diam-diam mereka merasa anak dara ini sangat kasihan, anak perempuan selembut ini mengapa mempunyai ayah sekonyol ini?

Han-wan Sam-kong mengerling dan berseru tiba-tiba, “Buset, untuk persoalan begini masa anak perempuan berani berterus terang.”

“Dari mana kau tahu?” omel Thi Cian.

“Biar aku saja yang beri tahukan padamu, bocah yang dimaksudkan itu she Kang, orang memanggilnya Siau-hi-ji.”

Nama “Siau-hi-ji” benar-benar membuat semua orang terkesiap, lebih-lebih Siau-sian-li, mukanya menjadi merah karena gemas. Sedangkan To Kiau-kiau dan lain-lain cuma berkerut kening. Hanya Hoa Bu-koat saja, mendadak sorot matanya mencorong terang, sebab akhirnya ia pun tahu maksud tujuan Han-wan Sam-kong.

“Siau-hi-ji…Siau-hi-ji…” Thi Cian mengulangi nama ini hingga beberapa kali sambil mengernyitkan dahi. “Sungguh lucu, mengapa bocah itu memakai nama seaneh ini?”

“Soalnya dia memang juga seorang yang aneh bin ajaib, siapa pun kalau kebentur dia pasti akan sial tiga tahun lamanya,” kata Pek Khay-sim sambil tertawa.

“Kau keparat ini tidak perlu mengacau,” ujar Thi Cian sambil menyengir. “Asalkan putriku suka, biarpun dia itu seorang pengemis juga tidak menjadi soal bagiku.”

Cepat Han-wan Sam-kong menyambung dengan menghela napas, “Tapi sayang, sekarang siapa pun tak tahu Siau-hi-ji berada di mana?”

“Itu tidak menjadi soal,” seru Thi Cian. “Asalkan memang ada seorang yang demikian itu, tentu dapat kutemukan dia.” Mendadak ia tepuk pundak Kui-tong-cu keras-keras, katanya sambil tertawa, “Misalnya aku tak dapat menemukan dia, tentunya kau dapat menemukannya, betul tidak?”

“Tidak betul,” tukas Han-wan Sam-kong.

“Ah, persetan kau, soalnya kau belum kenal kemampuan Kui-toako kita ini,” kata Thi Cian dengan tertawa.

“Untuk mencari orang lain mungkin sangat mudah, tapi untuk mencari Siau-hi-ji, jelas sangat sukar,” kata Han-wan Sam-kong.

Seketika Thi Cian melotot lagi, teriaknya, “Sebab apa?”

Han-wan Sam-kong memandang sekejap ke arah To Kiau-kiau dan lain-lain, katanya, “Sebab Siau-hi-ji telah disembunyikan oleh mereka.”

Kontan Thi Cian melonjak murka, tanyanya sambil melototi To Kiau-kiau, “Mengapa kau menyembunyikan dia? Memangnya kau pun penujui dia untuk dijadikan lakimu?”

Tampaknya dia hendak menubruk maju dan melabrak orang, cepat To Kiau-kiau menjawab dengan mengiring tawa, “Sabar dulu, Thi-heng, jangan kau percaya ocehan setan judi ini, belakangan ini dia memang ketularan penyakit Pek Khay-sim yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri.”

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong berkata, “Seumpama kau tidak menyembunyikan dia, paling tidak kau tahu di mana dia berada, betul tidak?”

To Kiau-kiau menghela napas, ucapnya, “Jika kalian berkeras ingin mencari dia, baiklah, akan kubawa kalian ke sana. Cuma sayang, saat ini mungkin sudah terlambat.”

Hakikatnya Thi Cian tidak mendengar kedua kalimatnya yang terakhir, terus saja ia melompat maju dan berseru, “Ayolah, mau pergi, sekarang juga berangkat, makin cepat makin baik.”

Mendadak Tan Hong-ciau juga berbangkit dan berseru, “Betul, pesta ini dapat kita tunda sementara dan kita lanjutkan lagi nanti.”

“Kau pun ingin ikut?” tanya Thi Cian.

“Sudah lama kami mendengar nama besar ‘Siau-hi-ji’ dan sangat ingin berjumpa dengan dia,” jawab Tan Hong-ciau dengan tertawa.

Thi Cian bertepuk gembira, katanya, “Wah, tampaknya calon menantuku ini kekasih orang banyak.”

“Hm, kekasih orang banyak apa? Lebih tepat kalau disebut kebencian orang banyak,” tukas Siau-sian-li dengan mendongkol. “Setahuku paling sedikit ada delapan ratus orang yang benci dan ingin menelannya bulat-bulat.”

Untung orang banyak sedang berbondong-bondong ikut keluar ke sana sehingga tiada seorang pun yang memerhatikan apa yang diucapkan Siau-sian-li itu. Hanya Koh Jin-giok saja memandangi si nona dengan terkesima. Setelah semua orang sudah pergi, Koh Jin-giok menghela napas perlahan dan berucap, “Lekas engkau pun berangkatlah.”

“Kau sendiri tidak ikut?” tanya Siau-sian-li.

Koh Jin-giok menunduk, jawabnya, “Kukira…kukira lebih baik kupulang saja.”

Siau-sian-li melototinya sejenak, jengeknya tiba-tiba, “Hm, dia telah mengacaukan perjodohanmu dengan budak Kiu, makanya kau benci padanya?”

“Seumpama tiada dia, Kiu-moay juga takkan suka padaku,” ucap Koh Jin-giok dengan muram. “Bukan begitulah maksudku.”

“Habis apa maksudmu?” omel Siau-sian-li.

Makin rendah Koh Jin-giok menunduk, jawabnya dengan tergagap, “Aku cuma…cuma merasa engkau juga…” mukanya menjadi merah dan tidak sanggup menyambung pula.

Sekian lama Siau-sian-li melotot padanya, mendadak ia tertawa, katanya, “Tolol kau, memangnya kau kira aku menyukai dia?”

Dengan tergagap-gagap Koh Jin-giok berkata, “Pernah kudengar cerita Sam-moay, katanya apabila seorang perempuan suka pada seorang lelaki barulah bisa timbul rasa bencinya. Sedemikian bencimu kepada Siau-hi-ji, bukankah…bukankah kau pun…”

Mendadak Siau-sian-li mendekap mulut anak muda itu, ucapnya dengan suara lembut, “Tolol, masa sejauh ini kau tidak tahu perasaanku?”

Terkejut dan bergirang Koh Jin-giok, seketika ia jadi terkesima.

“Jika kau kira aku menyukai dia, biarlah sekarang juga kujadi istrimu, dengan demikian tentu kau tidak perlu khawatir lagi,” kata Siau-sian-li. Mendadak ia bertepuk dan tertawa, katanya pula, “Betul juga, jika kita menikah sekarang, kita tidak perlu repot mengundang pemain musik dan juga tidak memerlukan comblang, bilamana mereka sudah kembali dan mendengar kabar ini, tentu air muka mereka akan kelihatan sangat lucu.”

Makin bicara makin gembira, “brek”, mendadak Koh Jin-giok jatuh terguling bersama kursinya.

“He, ken…kenapa kau?” tanya Siau-sian-li terkejut.

Segera ia bermaksud membangunkan Koh Jin-giok. Siapa tahu mendadak anak muda itu lantas melompat bangun sambil berteriak, “Aku sangat gembira…aku teramat gembira… Aku orang paling bahagia di dunia ini!”

Siau-sian-li terkejut, tapi segera ia pun tertawa dan berkata, “Sungguh tak tersangka Koh-siaumoay bisa berubah menjadi gila.”

“Hahaha, baru sekarang kutahu Siau-hi-ji adalah orang paling baik nomor satu di dunia,” seru Koh Jin-giok dengan tertawa.

“Kau bilang dia orang baik? Ai, kau benar-benar sudah gila,” ujar Siau-sian-li.

“Mengapa tidak baik?” jawab Koh Jin-giok. “Coba kau pikir, jika bukan lantaran dia, dari mana munculnya kedua pasang suami istri bahagia seperti Kiu-moay dan kita ini?”

Siau-sian-li tertawa dengan muka merah, tapi ia lantas pura-pura menarik muka dan mengomel, “Siapa bilang kita akan bahagia? Bisa jadi kelak aku akan lebih buas daripada macan betina, setiap hari akan kupukul kau, memakimu, bahkan takkan kuberi makan nasi padamu.”

Koh Jin-giok membesarkan nyalinya, tangan si nona dipegangnya, lalu berkata dengan suara halus, “Asalkan senantiasa berdampingan denganmu, tidak makan nasi juga tidak menjadi soal, cukup kita selalu berdekatan saja.”

“Idih, kukira kau ini orang sopan dan pemalu, tak tahunya juga bengal begini,” omel Siau-sian-li.

Sorot mata kedua muda-mudi itu beradu pandang, dalam hati penuh manis madu. Angin meniup sepoi-sepoi membawakan suasana yang penuh bahagia. Tanpa terasa Siau-sian-li menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Koh Jin-giok…

Pada saat itu dua genduk cilik lagi mengintip di balik kabin sana. Bisik salah seorang pelayan kecil itu dengan tertawa, “Coba dengarkan, mereka juga sedang membicarakan Siau-hi-ji. Entah bagaimanakah dan siapakah Siau-hi-ji itu? Apakah dia seorang tua yang suka mencarikan jodoh bagi muda-mudi yang memerlukannya?”

“Apakah kau juga ingin menemui dia untuk minta dicarikan jodoh?” ujar genduk yang lain. “Ya, kutahu kau si genduk cilik ini memang sudah mulai berahi.”

“Kalau ya memangnya kenapa?” jawab si genduk cilik pertama. “Masa kau sendiri tidak ingin bertemu dengan Siau-hi-ji?”

“Tidak, aku tidak ingin menemui dia?” jawab si genduk kedua yang bermuka bulat telur. “Pernah kudengar cerita Sam-naynay (nyonya ketiga), katanya orang ini sangat nakal dan suka mengacau, gemar menggoda orang pula, bukan orang baik-baik.”

“Huh, di mulut kau omong begini, padahal dalam hati kepingin setengah mati untuk menemani dia,” kata genduk pertama yang berbaju merah. “Kalau dia bukan orang baik-baik, mengapa Koh-siauya memuji dia adalah orang paling baik nomor satu di dunia.”

Si muka bundar tampak termenung-menung, sejenak kemudian baru berkata pula, “Memang akhir-akhir ini kudengar juga cerita Sam-naynay, dari nadanya kukira Siau-hi-ji sudah banyak berubah dan seperti tidak terlalu busuk…”

“Tidak peduli dia orang baik atau orang busuk, paling tidak dia pasti seorang yang menarik dan menyenangkan,” kata si genduk baju merah. “Aku menjadi iri terhadap Siau Jui dan Siau Hong, beruntung mereka disuruh ikut pergi bersama Sam-naynay, saat ini mungkin mereka sudah bertemu dengan dia.”

Kedua anak dara ini lantas memandang jauh ke luar sana dengan termangu-mangu, di bawah cahaya bintang yang bertaburan di langit itu seakan-akan seorang pemuda yang menyenangkan dan juga menggemaskan sedang tersenyum kepada mereka…

Siau-hi-ji, nama ini memang selalu hidup di dalam hati setiap orang. Akan tetapi siapakah yang tidak beruntung itu?

Saat itu yang paling senang adalah Han-wan Sam-kong, dia memandang barisan orang yang berjalan di depannya, diam-diam ia bersyukur, apa pun juga dia sudah berbuat sesuatu bagi Siau-hi-ji.

Li Toa-jui menoleh dan memandangnya sekejap, lalu ia mengendurkan langkahnya dan jalan mendampingi Han-wan Sam-kong, katanya, “Kiranya kau pun sahabat baik Siau-hi-ji.”

“Memangnya kau kira Locu cocok untuk berkawan dengan anak kura-kura macam kalian ini?” jawab Han-wan Sam-kong.

Li Toa-jui tertawa, katanya pula, “Waktu kau dengar dari kami bahwa Siau-hi-ji terkurung di perut bukit itu, lantas timbul pikiranmu hendak menolongnya. Tapi lantaran tidak tahu bagaimana caranya menolong, makanya kau sengaja mengajak kami ke tempat keluarga Buyung.”

“Ya, anggaplah benar terkaanmu si anak kura-kura ini,” kata Han-wan Sam-kong. “Sebenarnya maksudku hendak minta bantuan para Nona Buyung itu, tapi belum sempat bicara, tahu-tahu muncul sekawanan tua bangka itu, jadinya aku malah hemat tenaga.”

“Hah, tak terduga kau pun bisa menggunakan akal. Sampai-sampai kami pun tertipu olehmu,” kata Li Toa-jui dengan tertawa.

“Kalian sekawanan anak kura-kura ini pada hakikatnya bukan manusia,” damprat Han-wan Sam-kong tiba-tiba. “Siau-hi-ji dibesarkan di antara kalian dan kalian justru berharap dia terkurung mati di sana.”

Li Toa-jui terdiam sejenak, ia menghela napas panjang, kemudian menjawab, “Bicara terus terang, sebenarnya aku pun ingin menolong dia, tapi…tapi demi mendengar Yan Lam-thian muncul di sekitar sini, seketika aku menjadi bingung.”

“Apakah kau kira Siau-hi-ji akan membantu Yan Lam-thian menyikat kalian?”

“Seumpama betul dia bertindak demikian juga kita tak dapat menyalahkan dia,” ujar Li Toa-jui dengan gegetun. “Meski Kang Hong dan istrinya bukan mati di tangan kita, tapi Yan Lam-thian… Ai!”

“Hmk!” jengek Han-wan Sam-kong. “Supaya kau tahu, kalian telah salah menilai Siau-hi-ji, dia sama sekali bukan manusia yang tidak kenal budi. Apabila dia masih hidup, dia pasti akan membujuk Yan Lam-thian dan memintakan ampun bagi kalian. Tapi kalau dia mati, kalian para anak kura-kura inilah yang akan celaka.”

Seketika Li Toa-jui melenggong dan tak dapat bicara. Sampai lama, akhirnya ia menghela napas menyesal dan berkata, “Semoga dia masih hidup sekarang.”

Mendadak Han-wan Sam-kong menjambret leher baju Li Toa-jui dan membentak, “Memangnya sekarang dia sudah mati?!”

“Aku pun tidak tahu saat ini ia sudah mati atau masih hidup,” jawab Li Toa-jui sambil menyengir. “Yang jelas dia terkurung di perut gunung itu selama tujuh atau delapan hari, tiada makanan di sana juga tiada air minum…”

“Tanpa air minum selama tujuh atau delapan hari, biarpun baja juga tidak tahan,” teriak Han-wan Sam-kong khawatir.

“Kalau orang lain mungkin sudah mati,” kata Li Toa-jui. “Tapi Siau-hi-ji…bukan mustahil dia akan punya akal, selamanya kau takkan tahu betapa kepandaiannya yang sesungguhnya.”

Dia khawatir Han-wan Sam-kong melabraknya lagi, maka cepat ia menambahkan. “Kepandaian Kui-tong-cu itu sungguh tidak kecil, entah cara bagaimana dia dapat mengetahui gerak-gerik kita dan dapat menyeret si Thi gila ke sini pada saat yang tepat.”

Baru habis ucapannya sekonyong-konyong seorang menanggapi dengan tertawa, “Jika kau dapat menerkanya, maka namaku bukan lagi Kui-tong-cu.”

Di tengah gelak tawanya, sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Kui-tong-cu, si Anak Setan, sudah berada di depan mereka.

Keruan Li Toa-jui terkejut, cepat ia berkata pula dengan tertawa, “Wah, Cianpwe benar-benar datang tanpa bayangan dan pergi tanpa meninggalkan jejak. Sungguh Cayhe kagum tak terperikan.”

“Hehe, pantatku terasa enak, kau memang pintar menjilat,” kata Kui-tong-cu. “Maka akan kuceritakan padamu urusan ini dari awal hingga akhir. Waktu itu orang kangouw sama menyangka Thi Cian menemukan sebuah peta pusaka harta karun, padahal dia sama sekali tidak berminat terhadap harta karun segala, minatnya yang terbesar hanya tertuju pada Bu-beng-to (Pulau Tak Bernama).”

“Bu-beng-to?” Li Toa-jui menegas. “Tempat apakah itu? Mengapa selama ini belum pernah kudengar?”

“Jika kau pernah dengar, maka pulau itu takkan disebut lagi sebagai Bu-beng-to, tapi akan disebut Yu-beng-to (Pulau Bernama),” ujar Kui-tong-cu dengan tertawa.

“Jika pulau tak bernama, lalu dari mana pula Thi Cian mendapat tahu?” tanya Li Toa-jui.

“Hal ini terjadi karena disiarkan oleh seorang yang iseng, dia telah mencatat arah dan letak pulau itu, bahkan disiarkan bahwa barang siapa dapat menemukan Bu-beng-to, maka dapatlah belajar silat dengan penghuni pulau itu, sepulangnya di Tionggoan tentu tiada tandingan lagi,” setelah tertawa, Kui-tong-cu menyambung pula, “Dasar watak Thi Cian memang suka berkelahi, demi mendengar berita itu tentu saja ia sangat tertarik, maka ia sengaja menyuruh anak perempuannya membawa sebuah peta dan memancing orang banyak ke jurusan lain, ia sendiri diam-diam mendatangi pulau tak bernama itu.”

Gemerlap sinar mata Li Toa-jui, ia coba memancing pula, “Siapa saja penghuni pulau itu?”

“Sudah tentu kebanyakan penghuninya adalah kaum kakek-kakek yang sudah bosan pada kehidupan ramai,” tutur Kui-tong-cu. “Setiba di pulau itu, mereka merasa nama sendiri sudah tidak diperlukan lagi dan dibuang semuanya, maka pulau itu lantas disebut Bu-beng-to.”

“Jika demikian, tentunya Cianpwe juga bu-beng-enghiong (kesatria tak bernama) dari pulau itu?” tanya Li Toa-jui dengan mengiring tawa.

“Bu-beng-enghiong apa? Lebih tepat dikatakan para tua bangka saja,” ujar Kui-tong-cu. “Apalagi, seumpama ingin kulupakan namaku sendiri, bilamana melihat diriku, segera juga orang akan mengenalku. Tidak seperti tua bangka yang lain itu, mereka memakai nama apa saja dan orang lain pun tetap tidak tahu.”

Padahal Li Toa-jui juga sudah menduga nama-nama Lamkwe Siansing, Ni Cap-pek, dan lain-lain itu cuma nama samaran belaka, kini hal ini terbukti benar. Tapi ia pun tidak mau membongkarnya, ia cuma menghela napas gegetun dan berkata pula, “Wah, nasib Thi Cian sungguh mujur…”

“Sudah tiga-empat tahun dia berdiam di pulau sana dan memang tidak sedikit ilmu silat yang telah dipelajarinya,” tutur Kui-tong-cu. “Jika yang pergi ke sana adalah dirimu, mungkin kau sudah kami lemparkan ke laut untuk umpan ikan hiu.”

Li Toa-jui menyengir, katanya, “Meski Cayhe bukan orang baik-baik, tapi Thi Cian juga tidak lebih baik daripadaku, mengapa para Cianpwe justru menyukai dia?”

Kui-tong-cu menarik muka, tanyanya, “Coba jawab, jika berkelahi, dapatkah kau nekat seperti dia?”

“Ini…ini memang betul kacek sedikit,” jawab Li Toa-jui dengan tergagap.

“Nah, justru kami menyukai sifatnya yang nekat dan berani itu, makanya kami anggap dia pantas dididik,” kata Kui-tong-cu.

Terpaksa Li Toa-jui tidak berani bicara lagi, tapi di dalam hati ia mengumpat, “Kalian sama-sama orang gila, tentu saja sekali pandang lantas cocok.”

Sejak tadi yang menjadi pikiran Han-wan Sam-kong hanyalah keselamatan Siau-hi-ji, demi mendengar cerita Kui-tong-cu itu, tiba-tiba timbul rasa ingin tahunya, segera ia pun bertanya, “Jika para Cianpwe sudah hidup tirakat di dunia luar sana, mengapa sekarang kembali lagi ke dunia ramai sini?”

“Hal ini disebabkan ulah si gila Thi Cian itu,” tutur Kui-tong-cu. “Sudah tiga tahun dia belajar silat dengan kami, pada suatu hari mendadak dia tidak mau belajar lagi. Kami tanya dia apa sebabnya? Dia berani menjawab bahwa ilmu silat kami ini total jenderal juga tak dapat menandingi Yan Lam-thian dan Ih-hoa-kiongcu, andaikan semua ilmu silat kami telah dipahami seluruhnya juga tiada gunanya, maka ia lebih suka menghemat tenaga saja.”

Terbelalak mata Li Toa-jui, katanya, “Jika demikian, jadi kedatangan para Cianpwe ini adalah untuk mengukur tenaga dengan Yan Lam-thian dan Ih-hoa-kiongcu?”

Kui-tong-cu menghela napas, katanya, “Ini namanya tua orangnya tidak tua batinnya, karena terlalu iseng lantas ingin bergerak.”

Sungguh girang Li Toa-jui tidak kepalang, tapi dia tidak memperlihatkan perasaannya itu, ia malah sengaja menghela napas gegetun dan berkata, “Tapi menurut pendapatku, akan lebih baik jika para Cianpwe lekas pulang saja.”

Seketika Kui-tong-cu mendelik, tanyanya, “Sebab apa?”

“Sebabnya, kutahu ilmu silat Yan Lam-thian memang luar biasa dan tiada bandingannya dari dulu hingga sekarang, mungkin para Cianpwe juga bukan…”

Belum habis ucapannya Li Toa-jui, seketika Kui-tong-cu berjingkrak gusar, katanya, “Aku justru tidak percaya dia mempunyai tiga kepala atau enam tangan, kecuali kalau sudah berhadapan dan bertanding.”

Li Toa-jui tahu akalnya sudah mencapai sasarannya, cepat ia ganti haluan dan berkata pula, “Entah cara bagaimana Cianpwe mendapat tahu urusan pernikahan Thi Sim-lan?”

Setelah muring-muring barulah Kui-tong-cu menjawab, “Setiba kami di daratan sini, kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai. Betapa tua bangka kawanku itu justru tergila-gila pada seorang nona kecil di kota Bu-jing, katanya dia seniwati sejati, kepandaiannya memetik harpa tiada bandingannya di dunia ini, mereka kecantol di sana dan tidak mau berangkat lagi. Tentu saja aku sangat mendongkol, tapi apa dayaku? Terpaksa aku berkeluyuran sendirian kian kemari, sampai di sini belum bertemu dengan orang lain, tapi dapat menyelamatkan si harimau she Pek itu.”

“Wah, mujur juga dia,” kata Li Toa-jui.

“Waktu kutemukan dia, keadaannya sudah kempas-kempis dan hampir mampus,” tutur Kui-tong-cu. “Kuantar dia ke kelenteng hwesio di kaki bukit sana, belum lagi lukanya sembuh kalian lantas datang.”

“Eh, kiranya Cianpwe juga berada di kelenteng sana, mengapa Cayhe tidak melihat Cianpwe?” tanya Li Toa-jui sambil menyengir.

“Hm, tadi aku pun berada di belakangmu dan dapatkah kau lihat diriku?” jengek Kui-tong-cu.

Li Toa-jui menghela napas, katanya kemudian, “Rupanya diam-diam Cianpwe telah mendengar rencana kami, engkau lantas beri tahukan Thi Cian dan menyuruh mereka lekas kemari sehingga mereka mau tak mau harus meninggalkan pemetik harpa yang memikat mereka itu.”

“Ehm, tampaknya kau tidak terlalu bodoh, akhirnya kau paham duduknya perkara,” ucap Kui-tong-cu dengan tertawa.

Pada saat itulah mendadak terdengar Thi Cian berteriak di depan sana, “Kau bilang Siau-hi-ji berada di bawah bukit ini? Memangnya dia juga serupa Sun Go-kong, itu siluman kera yang ditindih dengan gunung oleh sang Buddha?”

Kiranya rombongan mereka sudah sampai di Ku-san atau Bukit Kura-kura. Tanpa menghiraukan urusan lain, segera Han-wan Sam-kong memburu ke depan, dilihatnya Thi Cian sedang menjambret leher baju To Kiau-kiau dan meraung gusar, “Kau yang memasukkan dia ke sana, maka kau harus mengeluarkannya pula.”

“Mana aku memiliki kesaktian setinggi itu?” jawab To Kiau-kiau sambil meringis.

“Habis siapa kalau bukan kau?” tanya Thi Cian.

“Sialan, untuk apa tanya lagi tetek bengek begitu?” teriak Han-wan Sam-kong tak sabar. “Ketahuilah, sudah tujuh-delapan hari Siau-hi-ji kelaparan di dalam sana.”

“Sudah tujuh-delapan hari?” teriak Thi Cian. “Padahal bocah she Hoa hanya kelaparan dua-tiga hari dan sudah kurus kering seperti ini, jika Siau-hi-ji sudah kelaparan tujuh-delapan hari, apakah jiwanya tak amblas?”

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong sangat memerhatikan keselamatan Siau-hi-ji, ia khawatir banyak bicara hanya membuang-buang waktu belaka dan lupa menggali gunung, maka cepat ia berseru kepada si Singa Gila Thi Cian, “Ayolah kita lekas bekerja, mumpung kumpul orang sebanyak ini, mungkin kita masih keburu menyelamatkannya.”

“Betul, di sini sudah tersedia alatnya, ada pacul, ada sekop, barang siapa ingin menolong Siau-hi-ji, ayolah lekas bekerja!” demikian Li Toa-jui berteriak-teriak. Memang ia sendiri yang menyembunyikan alat-alat penggali itu, maka dengan cepat dikeluarkannya pula.

“Hm, baru sekarang kau mencari muka, mungkin sudah terlambat,” jengek To Kiau-kiau sambil melototi Li Toa-jui.

Dalam pada itu beramai-ramai orang sama berebut mengambil alat-alat penggali itu dan mulailah mendongkel dan mencangkul, bahkan para nyonya muda yang biasanya cuci pakaian saja tidak pernah, sekarang juga ikut kerja bakti. Karena kehabisan cangkul, sekop, dan linggis, mereka lantas menggunakan pedang dan senjata masing-masing untuk menggali. Seketika terdengarlah suara gemerantang menggema angkasa.

To Kiau-kiau menghela napas, ucapnya, “Tadinya kukira semua orang sama menginginkan Siau-hi-ji lekas mati, tak tersangka semua orang justru mengharapkan dia tetap hidup. Wahai Siau-hi-ji, jika demikian, biar mati pun cukup berharga bagimu.”

“Memang benar,” Pek Khay-sim pun gegetun. “Jika aku terkurung di perut gunung ini, mungkin anjing hutan pun takkan menolong diriku.”

“Hm, tak tersangka kau pun tahu diri,” jengek Li Toa-jui. “Kau memang tidak lebih berharga daripada anjing hutan.”

“Huh, apa yang kau girangkan?” jawab Pek Khay-sim. “Seumpama orang-orang ini bekerja keras tanpa berhenti, sedikitnya juga memerlukan waktu setengah hari baru dapat mencapai perut gunung, tatkala mana Siau-hi-ji mungkin sudah menjadi gereh (ikan kering asin).”

Sementara itu Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan sama mencucurkan air mata, meski bersemangat juga menyaksikan usaha orang banyak yang berhasrat menolong Siau-hi-ji, tapi mereka pun tahu harapan sangat tipis.

Mendadak Pek-hujin mendekati Thi Sim-lan, tangannya membawa sebuah bungkusan yang berlepotan minyak, katanya dengan menunduk, “Dalam bungkusan ini ada sepotong ayam goreng dan beberapa potong wajik, sengaja kubungkus tadi di luar tahu mereka, perut kenyang baru ada tenaga untuk menolong Siau-hi-ji.”

Thi Sim-lan sangat terharu, dengan suara tersendat-sendat ia berkata, “Engkau juga…juga ingin menolongnya?”

Pek-hujin mengucek mata, katanya dengan tersenyum, “Meski aku tidak tahu jelas sesungguhnya dia orang macam apa, tapi kupikir bila dia dapat…dapat hidup di dunia ini, tentu semua orang akan sangat bergembira.”

Bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mungkin tiada seorang pun di dunia persilatan ini mau percaya apa yang terjadi sekarang.

Bahwa ada beberapa kongcu keluarga terkemuka di dunia kangouw mau bekerja bakti bercampur-baur dan bersama-sama menyingsing lengan baju dengan Cap-toa-ok-jin yang terkenal jahat. Malahan para nona keluarga Buyung yang selamanya tidak pernah cuci piring, tangan yang selalu halus terpelihara sekarang juga mau mengorek-ngorek tanah.

Dan semua ini hanya demi menolong seorang anak muda dua puluhan tahun, bahkan anak muda ini berasal dari Ok-jin-kok.

Siapakah yang mau percaya peristiwa ini?

Mendadak terdengar suara tambur bergema, kawanan kakek dari Bu-beng-to telah membunyikan alat musik mereka untuk mendorong semangat kerja orang banyak, seketika batu pasir berhamburan, setiap orang bekerja tanpa kenal lelah.

Dan mereka telah benar-benar menciptakan keajaiban, tidak sampai setengah hari sudah belasan rintangan dinding dijebol, mereka berhasil menyerbu ke dalam perut gunung.

Segera Hoa Bu-koat dan Han-wan Sam-kong mendahului menerjang ke dalam, meski penuh semangat, tapi diam-diam mereka pun khawatir…khawatir menemukan mayat Siau-hi-ji.

Mestinya Hoa Bu-koat ingin berteriak memanggil, tapi jantungnya berdebar keras sehingga suara pun sukar keluar.

Dilihatnya di atas kursi batu yang terbelah menjadi dua itu tertaruh sebotol arak, di lantai berserakan potongan gombal. Bu-koat mengenali robekan kain itu berasal dari baju yang dipakai Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu.

Seketika pucat muka Hoa Bu-koat, tangan terasa gemetar, sehingga untuk memungut potongan kain itu pun tidak sanggup.

“Ap…apakah kain baju mereka?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Ehm,” Bu-koat mengangguk dengan cemas. Hati Han-wan Sam-kong juga gelisah, orang semacam Siau-hi-ji, kalau tidak mengalami kejadian luar biasa mana bisa kain bajunya terobek begini? Diam-diam dia membayangkan sesuatu yang sukar untuk dijelaskan. Hakikatnya mereka tidak berani mencari lagi, mereka tidak mempunyai keberanian lagi untuk menghadapi kenyataan yang kejam itu.

Lantas apa yang telah terjadi sesungguhnya atas diri Siau-hi-ji, Ih-hoa-kiongcu dan So Ing? Mengapa baju mereka robek-robek, dirobek siapa?

“Apakah arak isi botol ini?” tiba-tiba Buyung San bertanya.

“Ya,” jawab Han-wan Sam-kong setelah mengendus isi botol.

Seketika terbeliak mata Buyung San, ucapnya dengan girang, “Jika botol berisi arak, maka besarlah harapannya!”

“Ap…apa sebabnya?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Arak juga dapat menahan lapar, dengan minum arak ini, mereka dapat bertahan beberapa hari lebih lama,” tutur Buyung San.

Serentak Han-wan Sam-kong berjingkrak girang, teriaknya, “Siau-hi-ji, Siau-hi-ji, di mana kau? Kawan-kawanmu datang semua untuk menolong engkau!”

Tanpa pikir panjang ia terus menerjang ke dalam. Namun gua yang luas itu tiada terlihat bayangan seorang pun, hanya kumandang suaranya yang mendengung memekak telinga. Di manakah Siau-hi-ji? Apakah karena kelaparan sehingga bersuara saja tidak sanggup lagi.

Jalan masuk lorong di bawah tanah itu tidak tertutup, mereka dapat menemukan jenazah Gui Bu-geh dan menemukan “kakus darurat” yang aneh dan berbau ciptaan Siau-hi-ji itu. Namun tidak seorang pun ditemukan meski mereka sudah menggeledah seluruh pelosok gua di bawah tanah itu.

Lalu ke manakah Siau-hi-ji dan lain-lain, memangnya mereka dapat menghilang? Jika sudah mati, ke manakah tulang belulang mereka? Masa lenyap begitu saja?

Semua orang saling pandang dengan bingung dan berdiri terkesima.

Selang agak lama barulah Han-wan Sam-kong buka suara dengan tertawa, “Keparat, kuyakin di dunia ini tiada suatu tempat yang dapat mengurung Siau-hi-ji, bahwa kita berkhawatir baginya di sini, tapi tahu-tahu dia malah sudah pergi dari sini.”

“Dia sudah pergi?” tanya Li Toa-jui.

Han-wan Sam-kong menjadi gusar, dampratnya, “Kau anak kura-kura ini memang berharap Siau-hi-ji mati terkurung di sini bukan?”

Li Toa-jui menghela napas, katanya, “Aku pun berharap dia dapat lolos dari sini, akan tetapi barusan sudah kuperiksa setiap tempat ini dengan teliti, pada hakikatnya tiada jalan keluar sama sekali.”

“Aku pun tahu di sini tiada jalan keluarnya, tapi Siau-hi-ji pasti mempunyai akal untuk keluar,” kata Han-wan Sam-kong.

“Akal apa yang dia punyai? Seumpama dia dapat keluar dengan menghancurkan dinding, sedikitnya pasti akan meninggalkan bekas-bekas, kecuali dia bisa menirukan Kau-ce-thian (si Kera Sakti) yang mahir berubah bentuk lalu berubah menjadi seekor lalat dan terbang keluar.”

Padahal Han-wan Sam-kong juga tahu apa yang dikatakan Li Toa-jui memang tidak salah, kalau sekeliling ini hanya dinding batu yang licin tanpa sesuatu bekas apa pun, jelas Siau-hi-ji tidak pernah membobol dinding dan dengan sendirinya pula tidak bisa keluar.

Akan tetapi, kalau mereka tidak keluar, tentunya mereka masih berada di dalam gua ini. Lantas ke mana perginya mereka?

Han-wan Sam-kong lantas mengomel, “Keparat, kau anak kura-kura ini bilang mereka keluar, lantas di mana mereka kini? Sehelai rambut saja tidak kita temukan?”

Li Toa-jui hanya termenung tanpa menjawab, mendadak Pek Khay-sim berseru, “Aha, kutahu sekarang, tentu karena Hoa-kut-san (obat pencair tulang).”

Istilah “Hoa-kut-san” membuat Han-wan Sam-kong dan Hoa Bu-koat merasa ngeri, lebih-lebih Thi Sim-lan, hampir gila dia karena cemasnya.

Li Toa-jui melototi Pek Khay-sim, katanya, “Apakah maksudmu mereka telah dibunuh oleh Gui Bu-geh, lalu Gui Bu-geh menghancurkan mayat mereka dengan Hoa-kut-san?”

“Aku tidak pernah bicara demikian, kau sendiri yang berkata begitu?” ucap Pek Khay-sim dengan menyengir.

Mendadak Thi Sim-lan berkeluh perlahan, lalu jatuh pingsan.

Dalam keadaan demikian memang tiada jawaban lain kecuali satu, yakni, kalau Siau-hi-ji dan lain-lain tidak keluar dan juga tidak ditemukan di sini maka sudah barang tentu karena mayat mereka telah dihancurkan, inilah yang dapat diterima dengan akal sehat.

Sampai-sampai Thi Cian juga menggeleng-geleng sambil menghela napas menyesal, gumamnya, “Sebenarnya aku sangat ingin tahu bagaimana macamnya anak muda itu, sebab apa anak perempuanku sampai terpikat olehnya? Siapa tahu bocah ini tidak mempunyai rezeki untuk bertemu dengan calon mertuanya, sekarang sekerat tulang saja tidak tertinggal di sini.” Lalu ia tepuk pundak Thi Sim-lan, yang siuman, katanya, “Jangan khawatir anakku, jika bocah itu tiada rezeki memperistrikan dirimu, biarlah sedikit hari lagi kucarikan gantinya bagimu.”

Mendingan jika dia tidak berkata begitu, mendengar ucapannya ini, remuk redamlah hati Thi Sim-lan, menangis saja tak sempat dan kembali dia jatuh pingsan pula.

“Apakah mereka terkurung di sini oleh Gui Bu-geh,” tiba-tiba Kui-tong-cu bertanya.

“Ya, mungkin begitu,” kata Li Toa-jui.

“Jika demikian, mengapa Gui Bu-geh sendiri bisa mati di sini?” ujar Kui-tong-cu.

“Bisa jadi lantaran Gui Bu-geh tidak puas kalau tidak menyaksikan sendiri kematian mereka,” kata To Kiau-kiau.

“Betul, alasan ini masuk di akal,” kata Kui-tong-cu. “Tapi kalau Gui Bu-geh dapat membunuh mereka serta menghancurkan mayat mereka, maka Gui Bu-geh sendiri mestinya tidak perlu mati. Memangnya arwah korbannya itu telah menuntut balas dan membunuh pula Gui Bu-geh.”

“Kematian Gui Bu-geh adalah karena minum racun sendiri, masa Cianpwe tidak dapat melihatnya?” kata Kiau-kiau.

“Jika dia sudah membunuh habis orang lain. Mengapa ia sendiri minum racun?” kata Kui-tong-cu.

“Ya, ini memang…” Kiau-kiau melengak dan tak dapat menanggapi.

“Jelas Gui Bu-geh merasa yakin orang lain tidak berani membunuhnya, makanya ia sendiri berani tinggal di sini untuk menyaksikan tontonan menarik.”

“Betul,” tukas Li Toa-jui. “Jika Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu ingin keluar, maka mereka tidak dapat membunuh Gui Bu-geh, sebab dia satu-satunya orang yang tahu seluk-beluk ruangan di bawah ini. Tapi apakah dia tidak khawatir bila orang menyaksikan dan memaksa dia mengaku segala rahasia tempat ini.”

“Dia sendiri mengira tempat sembunyinya sangat rahasia dan pasti tak dapat ditemukan orang lain,” kata Kui-tong-cu. “Tak diduganya bahwa Siau-hi-ji dan lain-lain jauh lebih lihai daripada perkiraannya dan tetap berhasil menemukan dia, lantaran tidak tahan siksaan waktu disuruh mengaku, akhirnya dia membunuh diri dengan minum racun, ia tahu bilamana dia sudah mati, maka orang lain pasti juga akan mati terkurung di sini dan ini pun sama dengan sakit hatinya telah terbalas.”

Rekaan Kui-tong-cu ternyata selisih tak jauh daripada apa yang terjadi sesungguhnya. Maklumlah, Han-wan Sam-kong, Hoa Bu-koat, Li Toa-jui, dan lain-lain, sedikit-banyak mereka berkhawatir bagi keselamatan Siau-hi-ji sehingga benak mereka tak dapat bekerja dengan tenang, sebaliknya Kui-tong-cu tidak kenal Siau-hi-ji, sebagai penonton di luar garis dengan sendirinya dia dapat melihat lebih jelas persoalannya daripada orang yang ikut bermain.

Han-wan Sam-kong menjadi girang mendengar uraian Kui-tong-cu tadi, katanya, “Jika demikian, tentunya Gui Bu-geh mati terlebih dulu daripada Siau-hi-ji.”

Kui-tong-cu tertawa pula, katanya, “Betapa pun tinggi kepandaian Gui Bu-geh, masakah ia mampu membunuh Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu sekaligus?”

“Betul,” seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa. “Jangankan cuma seorang Gui Bu-geh, sepuluh orang Gui Bu-geh juga tidak mampu.”

“Kalau ilmu silatnya tidak cukup untuk membunuh Siau-hi-ji dan Ih-hoa-kiongcu, apakah Gui Bu-geh tak dapat membunuh mereka dengan racun?” tiba-tiba Pek Khay-sim menyela.

Seketika dingin pula kaki dan tangan Han-wan Sam-kong, ia tidak dapat tertawa lagi.

Pek Khay-sim lantas menyambung, “Kata peribahasa minum racun untuk menghilangkan dahaga. Seorang kalau sudah tak tahan lagi karena hausnya, sekalipun tahu di dalam arak ada racunnya tetap juga akan diminumnya, betul tidak?”

“Tidak betul!” jawab To Kiau-kiau tiba-tiba.

“Kau tahu apa? Kau tahu kentut?” jengek Pek Khay-sim.

Kiau-kiau tidak menggubrisnya, dengan perlahan ia berkata, “Dalam arak sama sekali tidak beracun, setiap botolnya sudah kuperiksa dan kucium tadi.”

Han-wan Sam-kong bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, kita sudah berkenalan puluhan tahun lamanya, baru sekarang kudengar kau bicara sebagai manusia dan juga berbuat sesuatu kebaikan secara manusia.”

Pek Khay-sim berkedip-kedip, ucapnya pula, “Jika demikian jadi Siau-hi-ji mereka tidak mungkin mati di sini.”

“Ya, pasti tidak,” seru Han-wan Sam-kong, Kui-tong-cu, dan Li Toa-jui berbareng.

Dengan perlahan Pek Khay-sim berkata, “Kalau sudah terang mereka tidak dapat keluar, kini mereka pun tidak terlihat mati di sini, lalu ingin kutanya pada kalian, ke manakah Siau-hi-ji?”

Pertanyaan ini membuat semua orang melengak, memang urusan ini benar-benar sukar untuk dibayangkan, siapa pun tidak dapat meraba dan menerkanya.

Sesungguhnya memang demikian, siapakah gerangannya di dunia ini yang tahu di manakah beradanya Siau-hi-ji sekarang? Siapa pula yang tahu saat ini dia sudah mati atau masih hidup?

Dalam hati setiap orang penuh diliputi tanda tanya, semuanya ingin bertanya dengan jelas, tapi siapa pun tidak tahu kepada siapa mereka harus bertanya? Terpaksa mereka cuma berdiri melenggong saja.

Ji Cu-geh, Ni Cap-pek, Nenek Siau, dan lain-lain tergolong jago tua yang berpengalaman, mereka pun tidak mudah terpengaruh oleh persoalan duniawi, kini mau tak mau mereka pun ikut memeras otak memikirkan persoalan ini.

Maklumlah, urusan ini sesungguhnya memang teramat aneh, teramat ajaib, mau tak mau mereka menjadi tertarik dan ingin tahu.

Yang paling cemas jelas ialah Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong. Thi Sim-lan paling sedih, sedangkan Pek Khay-sim terus-menerus mengejek, Ha-ha-ji juga tidak sanggup berkata lagi. Cuma Toh Sat saja tetap dingin dan kaku wajahnya, entah apa pula yang lagi dipikirnya.

Sekonyong-konyong terdengar Hoa Bu-koat berseru, “He, bukankah bagian bawah sepatu kalian sama basah, betul tidak?”

Karena sedang dirundung pikiran berat, tentu saja tiada seorang pun yang memerhatikan sepatu masing-masing. Apakah sol sepatu mereka basah atau kering kan tiada sedikit pun sangkut pautnya dengan urusan mereka. Namun suara Hoa Bu-koat itu jelas penuh rasa gembira dan bersemangat, seakan-akan anak muda itu mendadak menemukan sesuatu hal yang sangat penting, karena itulah, tanpa disuruh mereka sama angkat kaki untuk memeriksa telapak sepatu masing-masing.

Dan sedikitnya ada separuh dari sepatu mereka memang benar basah. Malahan kasut rumput yang dipakai Han-wan Sam-kong hampir basah seluruhnya.

“Keparat, memangnya ada apa kalau sol sepatu basah segala?” omel Ok-tu-kui.

Segera Pek Khay-sim berolok-olok, “Hehe, dalam keadaan begini ternyata ada orang yang merasa urusan sepatu jauh lebih penting daripada mati hidup kawan sendiri, sungguh hebat dan luar biasa.”

Tapi Hoa Bu-koat tak menggubris ocehannya, ia tetap bersemangat dan berkata pula, “Padahal di tempat ini tiada terdapat air, mengapa sepatu kita bisa basah? Jika Gui Bu-geh ingin membuat mereka mati kelaparan dan kehausan, kenapa di sini bisa ada air?”

Setelah mendengar ucapan ini barulah semua orang merasakan hal ini memang benar sesuatu yang aneh dan menarik.

Segera Han-wan Sam-kong bersuara, “Tapi urusan ini ada sangkut paut apa dengan menghilangnya Siau-hi-ji?”

“Sudah tentu erat sangkut pautnya,” kata Bu-koat. “Jika tidak meleset dugaanku, kini dapat kuketahui di mana beradanya Siau-hi-ji.”

“He, lekas katakan, di mana dia sekarang?” seru Han-wan Sam-kong girang.

Belum sempat Bu-koat menjawab, terus saja ia lari ke lorong di bawah tanah sana.

Di dalam gua yang lembap ini bau “kakus darurat” itu benar-benar sangat menusuk hidung. Lebih-lebih bau busuk jenazah Gui Bu-geh hampir-hampir membuat mereka muntah.

Bila dalam keadaan biasa, tentu para kakak beradik Buyung tak mau turun ke lorong sana, tapi sekarang Hoa Bu-koat telah mendahului masuk ke sana, segera beramai-ramai mereka pun ikut masuk ke situ.

Bagi mereka, asalkan mendapat tahu jejak Siau-hi-ji sekarang, asalkan bisa mengetahui duduk persoalannya, sekalipun di lorong bawah tanah ini adalah sebuah jamban juga tak dipedulikan lagi dan semuanya pasti juga akan ikut turun ke sana.

Segera Pek Khay-sim menjengek, “Hm, kukira kalian pun jangan keburu bergirang, bisa jadi yang membuat basah telapak sepatu adalah arak.”

“Bukan arak, sudah kuperiksa,” kata Kiau-kiau. “Sudah kuendus tadi.”

“Aneh,” ucap Pek Khay-sim sambil berkerut kening. “Mengapa ada sementara orang suka main endus-endus seperti hidung anjing.”

To Kiau-kiau tidak marah, ia malah tertawa dan berkata, “Jika aku berhidung anjing, maka kau bermulut anjing.”

Di lorong bawah tanah itu ternyata ada air, bahkan makin ke bawah makin dalam air yang menggenang di situ sehingga hampir mencapai pergelangan kaki, jelas pada suatu tempat tertentu ada aliran air yang terus-menerus, meski tidak keras aliran air itu tapi juga cukup deras.

“Buset, sungguh aneh, di dalam gua ada air mengalir, memangnya di perut gunung ini ada sungainya?” demikian kata Han-wan Sam-kong.

Siapa pun tak paham dari manakah air ini mengalir masuk. Terlihat Hoa Bu-koat lagi berjongkok dan memeriksa keadaan air dengan teliti, perlahan-lahan ia memasuki kamar rahasia Gui Bu-geh tadi.

Di dalam kamar itu berbau busuk sekali. Tadi karena di situ tidak ditemukan orang hidup, maka semua orang cepat keluar lagi. Tapi sekarang setelah mereka merasa kunci daripada rahasianya bisa jadi terdapat di kamar ini, mereka tidak pikirkan bau busuk pula, berbondong-bondong mereka lantas ikut masuk lagi ke situ.

Terdengar Bu-koat lagi berseru, “Betul juga, di sinilah tempatnya.”

Dia berdiri di depan “kakus” yang dibangun Siau-hi-ji dari peti mati batu itu dengan air muka berseri girang. Namun di situ tetap tidak tampak seorang hidup lainnya.

“Kau bilang Siau-hi-ji berada di sini?” Pek Khay-sim lantas menegas. “Tapi di manakah dia? Memangnya dia telah mampus tenggelam oleh air kencingnya sendiri?”

Belum habis ucapannya, mendadak Toh Sat meraung gusar, “Persetan, omong melulu!” Di tengah bentakannya itu, kontan Pek Khay-sim terpukul mencelat hingga melintas kepala orang banyak dan terbanting jauh di lorong sana, mungkin kesakitan, segera terdengar Pek Khay-sim merintih.

Pek-hujin berlagak tidak terjadi apa-apa, tapi sejenak kemudian ia pun tidak tahan, diam-diam ia mundur ke sana. Terdengar ia mengomel, “Sudah kusuruh tutup mulut, tapi kau selalu nyap-nyap melulu dan mencari penyakit sendiri.”

“Peduli kentutmu!” jawab Pek Khay-sim sambil merintih.

“Memangnya memedulikan siapa jika bukan memedulikan dirimu?” ujar Pek-hujin. “Zaman ini mencari suami bukanlah pekerjaan yang mudah, memangnya kau ingin membuat aku menjadi janda lagi?”

“Waduh galaknya perempuan ini,” seru Pek Khay-sim. “Pantas si Harimau she Pek itu lari terbirit-birit meninggalkanmu, tampaknya nasibku juga akan…” belum habis ucapannya mendadak ia menjerit kesakitan lagi, kiranya Pek-hujin telah menjewer telinganya.

Diam-diam To Kiau-kiau merasa geli, gumamnya, “Makanya seorang janganlah terlalu banyak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, sebab dia pasti akan mendapatkan hukuman setimpal dari Yang Mahakuasa. Umpamanya menghukum dia beristri galak seperti macan betina sehingga tersiksa selama hidupnya.”

Memang, seorang kalau salah mengambil istri, maka hidupnya boleh dikatakan akan merana dan sial, mungkin di dunia ini tiada urusan lain yang lebih sial daripada punya istri berengsek.

Namun semua orang tidak lagi memerhatikan persoalan ini, sebab mereka sekarang telah menemukan air itu bersumber pada suatu lubang yang terletak di samping peti mati, dari situlah air mancur keluar.

Lantai kamar itu sebenarnya beralaskan batu, tapi lantai batu itu sekarang sudah didongkel, lantaran di ruangan ini memang berserakan reruntuhan batu maka tadi tiada orang memerhatikannya.

Dengan terheran-heran Han-wan Sam-kong lantas bertanya, “Apakah maksudmu Siau-hi-ji telah lolos keluar melalui terowongan ini?”

“Betul,” jawab Bu-koat dengan wajah cerah. “Sejak tadi kita cuma memerhatikan dinding sekeliling gua ini, makanya tidak mengira mereka justru bisa lari keluar melalui terowongan di bawah tanah.”

“Ya, betul, dinding batu sekeliling gua ini terlalu keras dan tidak bisa dibobol, tapi bagian bawah adalah tanah yang lunak, dengan sendirinya mudah ditembus,” seru Han-wan Sam-kong. Tapi segera ia berkerut kening dan menambahkan, “Namun untuk membuat terowongan dari sini sehingga menembus keluar kan juga bukan pekerjaan mudah?”

“Sudah tentu tidak mudah,” kata Bu-koat. “Namun terowongan ini bukan digali oleh mereka sendiri.”

“Habis siapa yang menggalinya jika bukan mereka sendiri?” tanya Ok-tu-kui.

“Setahuku, kebanyakan aliran sungai terletak di permukaan bumi,” tutur Bu-koat. “Akan tetapi di bawah tanah juga ada sungai lantaran perubahan geografis, misalnya gempa bumi dan sebagainya, maka aliran sungai ini terpendam di bawah tanah. Jika mereka dapat menemukan sungai di bawah tanah ini, berdasarkan ilmu silat mereka kuyakin tidak sukar bagi mereka untuk menerobos keluar.”

Semua orang sama bergirang mendengar keterangan yang belum pernah mereka dengar ini. Seketika Han-wan Sam-kong melonjak senang, teriaknya, “Aha, pengetahuanmu ternyata banyak dan luas juga!”

Dengan tertawa Bu-koat berkata pula, “Malahan sekarang aku pun dapat menerka apa sebabnya pakaian mereka sobek.”

“Lekas ceritakan, lekas, bagaimana jadinya?” cepat Han-wan Sam-kong mendesak sambil menepuk pundak Bu-koat.

“Begini,” tutur Bu-koat. “Siau-hi-ji juga tidak tahu bahwa di sini ada aliran sungai di bawah tanah. Lebih-lebih tidak mengetahui arah letaknya yang tepat, sebab manusia meski makhluk hidup yang paling pintar dan cerdik, tapi tidak memiliki kemahiran khas sebagaimana dimiliki oleh makhluk hidup lainnya, umpamanya daya cium, seekor anjing dapat melacak sasarannya yang berjarak ribuan li jauhnya berdasarkan daya ciumnya, hal ini jelas tak dapat dilakukan oleh manusia. Mungkin dahulu manusia juga memiliki kesanggupan ini, cuma setelah mengalami evolusi atau perkembangan berangsur-angsur, lama-lama manusia tidak memerlukan kemahiran ini untuk mempertahankan hidupnya.”

“Aha, benar, masuk di akal!” seru Han-wan Sam-kong.

Sekarang dia benar-benar takluk lahir batin kepada Hoa Bu-koat, apa pun yang dikatakannya pasti diterimanya dengan baik, padahal teori uraian Bu-koat itu belum tentu seluruhnya dipahaminya.

Didengarnya Bu-koat lagi menyambung, “Naluri setiap makhluk hidup juga tidak sama, misalnya anjing, hidungnya sangat tajam, kelelawar mempunyai daya reaksi yang peka (seperti alat radar). Burung musiman sangat hafal terhadap setiap perubahan cuaca, bagi binatang-binatang yang tidak mempunyai daya pertahanan terhadap ancaman bahaya dari luar sering-sering memiliki daya rasa yang sangat peka dan aneh.”

Teori sebagaimana diuraikan Hoa Bu-koat ini sudah tentu banyak diketahui oleh orang zaman kini, tapi di zaman dahulu hal ini pada hakikatnya terlebih ajaib daripada pelajaran lwekang segala yang paling tinggi sekalipun, karena itu semua orang menjadi sangat tertarik.

Tiba-tiba Bu-koat bertanya dengan tertawa, “Dan apakah kalian mengetahui binatang apa di dunia ini yang paling mahir membuat terowongan?”

“Tikus!” dengan tertawa Buyung San mendahului berseru.

“Tepat, memang tikus,” kata Bu-koat. “Di manakah kau kurung tikus itu, pasti dia mampu membuat lubang untuk keluar.”

“Si anak kura-kura Gui Bu-geh sendiri adalah seekor tikus besar, di tempat ini pasti juga banyak tikusnya,” seru Han-wan Sam-kong.

“Ya, kuyakin Siau-hi-ji pasti menemukan beberapa ekor tikus hidup,” tutur Bu-koat pula, “dia ingin tikus menjadi penunjuk jalan baginya, tapi ia pun khawatir tikus itu lari, maka ia lantas menggunakan kain bajunya untuk dijadikan tali, ekor tikus diikat dengan tali, lalu tikus dilepaskan keluar.”

“Aha, benar,” seru Han-wan Sam-kong sambil bertepuk.

“Maka aliran sungai di bawah tanah ini tentu juga ditemukan oleh tikus itu,” kata Bu-koat pula. “Tatkala mana Siau-hi-ji mungkin tidak tahu apa sebabnya tikus itu menerobos ke bawah tanah. Tapi lantaran waktu itu mereka sudah kehabisan akal, maka segala jalan dicobanya.”

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong berkata pula, “Kutahu Siau-hi-ji adalah orang pintar nomor satu di dunia ini, siapa menduga kau pun tidak lebih asor daripada dia, tampaknya kalian berdua mesti mengangkat menjadi saudara.”

Air muka Bu-koat menampilkan kepedihan, sebab kata-kata Ok-tu-kui itu telah menyentuh perasaannya. Sekarang kalau Siau-hi-ji sudah berhasil lolos keluar, bahkan masih berada dalam cengkeraman Ih-hoa-kiongcu, maka itu berarti dia masih harus berduel dengan Siau-hi-ji sebagaimana sudah diputuskan oleh mereka.

Nyata, nasib mereka yang tragis seakan-akan tak dapat berubah untuk selamanya.

Han-wan Sam-kong tidak bicara apa-apa lagi, segera ia pun hendak menerobos terowongan itu.

“He, apa yang hendak kau lakukan?” seru Li Toa-jui.

“Melakukan apa? Sudah tentu mencari Siau-hi-ji!” jawab Ok-tu-kui dengan melotot.

Li-Toa-jui tertawa, katanya, “Mereka menerobosi terowongan itu karena terpaksa, sebab tiada jalan lain. Tapi sekarang kan tidak perlu kau ikut menerobos terowongan ini?”

“Kalau tidak menerobos terowongan ini, dari mana bisa diketahui Siau-hi-ji berada di mana?” ujar Han-wan Sam-kong.

Advertisements

1 Comment »

  1. MUDAH2AN OK tu jui bsa jd baik

    Comment by Firman — 25/02/2013 @ 7:28 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: