Kumpulan Cerita Silat

05/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (05)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:08 pm

Bahagia Pendekar Binal (05)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Selang sekian lama baru terdengar suara Siau-hi-ji berkumandang dari lubang di atas sana, “Keluarkan kau? Haha, supaya aku dapat kau bunuh?”

Dengan menggereget Kiau-goat menjawab, “Aku…aku berjanji takkan membunuhmu.”

Selama hidupnya bilakah pernah mengucapkan kata-kata yang bersifat kompromis begini? Tapi kini toh dia harus merendah diri dan berucap demikian, keruan serasa hancur hatinya. Namun apa daya, mau tak mau dia harus berucap demikian. Sebab ia pun tahu setelah pintu keluar tertutup, ruangan ini tiada ubahnya seperti sebuah guci yang tersumbat dan tiada jalan keluar lagi.

Meski tahu dirinya tetap tak terhindar dari kematian, tapi betapa pun ia tidak sudi mati di sini, tidak sudi mati di samping Gui Bu-geh, lebih-lebih tidak sudi kematiannya diintip oleh Siau-hi-ji.

Dalam pada itu terdengar Siau-hi-ji berkata pula di atas, “Sekalipun kau tidak membunuhku juga tak dapat kukeluarkan kau, sebab, biarpun kau tidak membunuhku, sebaliknya aku yang akan membunuhmu. Jangan lupa, permusuhan antara kita bukan urusan kecil.”

Tergetar hati Kiau-goat Kiongcu, ia tidak dapat bicara lagi.

“Supaya kau tahu, mestinya tadi jangan kau beri kesempatan padaku untuk bicara dengan So Ing,” terdengar Siau-hi-ji berkata pula.

Kiau-goat tidak mau gubris padanya, tapi timbul juga rasa ingin tahunya, segera ia tanya, “Sebab apa?”

“Tahukah apa yang kukatakan pada So Ing tadi?” tanya Siau-hi-ji, ia terbahak-bahak, lalu menyambung, “Waktu itu kukatakan padanya agar dia mengorek botol arak dari atas sini, lalu kusuruh berjaga di samping pesawat rahasia, begitu aku keluar segera dia menutup pintunya. Kalau tidak, selagi aku bertempur mengadu jiwa denganmu masa dia rela menyingkir pergi?”

Tubuh Kiau-goat agak gemetar, katanya “Tapi dia…dia…”

“Jangan kau lupa, dia dibesarkan di sini, semua pesawat rahasia di sini, kecuali Gui Bu-geh, tentu saja dia yang paling jelas.”

Kiau-goat melenggong sekian lamanya, sekujur badan serasa lemas lunglai, ia bergumam, “Ya, aku terlalu gegabah, sungguh aku terlalu gegabah…”

“Apa gunanya baru sekarang kau menyesal? Apakah ada orang yang akan menolongmu sekarang?” Setelah terbahak-bahak Siau-hi-ji melanjutkan, “Maka sebaiknya kau menunggu kematian saja dengan tenang. Meski tempat ini agak bau, paling tidak kan cukup tenteram, tiada lalat tiada nyamuk, apalagi, kau pun tidak sendirian, kan ada Gui Bu-geh yang menemanimu?!”

“Tu…tutup mulut!” teriak Kiau-goat dengan suara seram.

Tapi Siau-hi-ji bahkan berseru pula dengan tertawa, “Gui Bu-geh, wahai Gui Bu-geh! Sewaktu hidupmu tidak dapat tidur seranjang dan sebantal dengan orang yang kau cintai, setelah mati kau malah dapat bersatu liang kubur dengan dia, betapa pun kau masih mujur. Tapi kau pun jangan lupa, akulah yang membantumu, jadi setan juga kau mesti membalas budi kebaikanku ini.”

Kiau-goat murka, dengan kalap ia menubruk ke depan mayat Gui Bu-geh, tangan terangkat dan segera hendak menghantamnya.

“He, apa yang hendak kau lakukan?” seru Siau-hi-ji tiba-tiba. “Haha, Ih-hoa-kiongcu yang gilang-gemilang masa menganiaya mayat yang sudah tak bisa berkutik?”

Seketika tangan Kiau-goat terhenti di atas dan berdiri mematung.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas dan berucap, “Padahal aku pun dapat memahami perasaanmu. Memang tiada seorang pun rela mati di tempat yang kotor dan menjijikkan seperti ini, apalagi di samping mayat yang sangat menjijikkan pula, lebih-lebih dirimu. Meski engkau berjiwa sempit dan juga bersikap dingin kepada siapa pun, namun, bicara sejujurnya, engkau bukankah orang yang kotor dan menjijikkan.”

Perlahan Kiau-goat menurunkan tangannya.

Maka Siau-hi-ji berkata pula, “Terkadang, engkau memang terasa menakutkan, tapi terkadang aku pun merasa kasihan padamu. Selama hidupmu sedemikian hampa, sedemikian kesepian, hakikatnya tiada mempunyai seorang kawan pun. Jika perempuan lain mungkin akan berubah terlebih nyentrik dan lebih keji daripadamu. Sebab aku pun tahu tiada sesuatu di dunia ini yang lebih menakutkan daripada kesepian.”

Mendengar sampai di sini, kepala Kiau-goat Kiongcu hampir tertunduk seluruhnya.

“Sebab itulah aku pun tidak sungguh-sungguh menghendaki kematianmu secara mengenaskan begini, asalkan kau mau berjanji sesuatu hal padaku, segera juga kulepaskanmu dari sini.”

“Urusan apa?” tanya Kiau-goat tanpa pikir. Tapi setelah diucapkan segera ia tahu urusan apa yang dimaksudkan Siau-hi-ji.

Benar juga, Siau-hi-ji lantas berkata, “Asalkan kau beberkan rahasia itu, segera kulepaskan kau.”

“Kau…kau jangan harap…” jawab Kiau-goat dengan menyesal.

“Masa kau lebih suka mati bersama Gui Bu-geh di sini? Bila kelak, ada orang berkunjung kemari dan melihat kalian mati di dalam suatu liang lahat, lalu bagaimanakah mereka akan berpikir?” Setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Ya, tentu orang lain akan bilang, ‘Meski tampaknya Ih-hoa-kiongcu selalu bersikap dingin dan anggun, tapi nyatanya dia juga mempunyai kekasih gelap, buktinya mereka mengadakan pertemuan rahasia di sini dan akhirnya’…” Dia tertawa dan mendadak menghentikan ucapannya, ia sengaja tidak mau melanjutkan.

Maka gemetarlah tubuh Kiau-goat karena emosinya.

“Coba kau pertimbangkan lagi, kapan kau mau bicara, kapan pula akan kubebaskan kau. Toh setelah mendengar rahasia ini aku pun takkan hidup lebih lama lagi,” kata Siau-hi-ji.

Kiau-goat tidak menanggapinya. Ya, paling tidak sekarang dia tetap menolaknya dengan tegas.

So Ing yang selalu mendampingi Siau-hi-ji itu menghela napas gegetun, katanya, “Sudah telanjur begitu, mengapa kau berkeras memaksa dia menceritakan rahasia itu? Jika sudah dia ceritakan kan juga tiada faedahnya bagimu, bahkan akan menambah kemasygulan saja.”

Siau-hi-ji tidak menjawabnya, sebaliknya bahkan tanya kembali, “Tentunya kau tahu, antara aku dan Hoa Bu-koat harus mati salah satu, kalau dia tidak membunuhku tentu akulah yang membunuh dia.”

“Tapi aku pun tahu dia tidak sungguh-sungguh ingin membunuhmu dan kau pun lebih-lebih tidak ingin membunuh dia.”

“Namun nasib kami berdua tampaknya sudah ditakdirkan demikian dan sukar berubah lagi, meski aku sudah berdaya dan sedapatnya mengulur waktu, tapi pada suatu hari kelak toh peristiwa ini harus terjadi.”

So Ing mengangguk dengan pedih.

Siau-hi-ji menyambung pula, “Tapi aku pun tidak percaya bahwa di dunia ini ada urusan yang ditakdirkan, aku pasti berusaha mengubahnya, sebab itulah terpaksa harus kudesak dia agar menceritakan rahasia ini, jika sudah kuketahui apa sebabnya dia menghendaki kami mengadu jiwa, maka urusan ini pasti dapat kuselesaikan dengan baik.”

“Namun…namun nasib kalian bukankah sudah berubah?” ujar So Ing.

“Siapa bilang sudah berubah?” kata Siau-hi-ji.

Dengan muram So Ing menjawab, “Sekarang jelas engkau tidak…tidak mampu membunuhnya, dan dia lebih-lebih tidak dapat membunuhmu, sebab…sebab engkau toh pasti akan mati di sini.”

“Siapa bilang aku pasti akan mati di sini?” tanya Siau-hi-ji.

Seketika So Ing tersentak kaget dan bergirang pula, serunya, “He, jadi engkau mempunyai akal untuk keluar dari sini?”

Dengan santai Siau-hi-ji menjawab, “Rasanya aku ini mempunyai Hok-khi yang besar, bahwa apa pun yang kuhadapi pada saatnya selalu berubah menjadi selamat. Maka sekarang aku pun berani bertaruh denganmu, pasti ada orang akan datang kemari untuk menolongku.”

“Kau kira…siapa yang akan menolongmu?” tanya So Ing.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, sahutnya kemudian, “Coba kau terka.”

So Ing berpikir sejenak, katanya, “Sebenarnya Hoa Bu-koat pasti akan berdaya untuk menolongmu, tapi sekarang, entah peristiwa apa yang telah dialaminya, kalau tidak, tentu dia takkan berhenti menggali dan masuk ke sini.”

“Memangnya peristiwa tak terduga apa yang dialaminya?”

So Ing berpikir pula agak lama, tiba-tiba ia berkata, “Menurut pendapatku, bisa jadi usaha Hoa Bu-koat telah dirintangi oleh Cap-toa-ok-jin?”

“Haha, betul!” ujar Siau-hi-ji dengan berkeplok tertawa, “Besar kemungkinan, orang yang ditemuinya adalah Li Toa-jui serta kawan-kawannya, sebab mereka memang ada janji bertemu di sini, dalam dua hari ini mereka pasti datang kemari.”

“Tentunya mereka tahu tujuan Hoa Bu-koat menggali terowongan adalah untuk menolong kita. Makanya mereka merintanginya, betul tidak?”

“Ehm,” jawab Siau-hi-ji.

“Jika demikian, kau kira mereka pun akan berusaha masuk ke sini untuk menolong kau?”

“Tentu tidak, sebab sekarang aku pun tahu mereka mengira aku akan bersekongkol dengan orang lain untuk menghadapi mereka, maka mereka pun berharap akan kematianku.”

“Jika begitu, mungkinkah mereka akan kemari untuk menolong Ih-hoa-kiongcu?” tanya So Ing.

“Lebih-lebih tidak mungkin,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa, “Kalau Ih-hoa-kiongcu mati di sini, inilah yang diharapkan mereka.”

“Jika sekarang mereka menghalangi Hoa Bu-koat masuk ke sini, apakah nanti mereka sendiri juga akan berusaha masuk kemari.”

“Ya, mereka akan masuk kemari.”

“Untuk apa?” Tanya So Ing.

“Sebab mereka pun ingin tahu keadaan di sini.”

“Dari mana kau tahu?”

“Mereka mengira ada satu partai harta karun disembunyikan Gui Bu-geh di sini, kalau tempat ini tidak diperiksanya mereka tidak rela.”

“Seumpama mereka akan masuk ke sini, tentu juga akan menunggu setelah kita mati semuanya.”

“Betul, tapi cara bagaimana mereka mengetahui bahwa Gui Bu-geh ternyata tidak terburu-buru menghendaki kematian kita?”

Terbeliak mata So Ing, serunya, “Betul juga, setelah dihitung dan ditimbang, tentu mereka pun tak menyangka bahwa kita masih belum mati, mereka pasti mengira kita sudah mati sesak napas atau mati kelaparan.”

“Ya, makanya kuyakin tidak sampai lebih dari satu-dua hari mereka pasti akan masuk kemari.”

“Dapatkah mereka masuk kemari?”

“Dengan kepandaian mereka beramai-ramai, sekalipun tempat ini adalah gunung baja dan tembok besi juga mereka mampu masuk ke sini.”

Akhirnya So Ing berseri tertawa, katanya, “Kuharap dugaanmu sekali ini tidak meleset.”

Belum habis ucapannya, benar saja, tiba-tiba terdengar lagi suara “trang-tring” di luar, suara orang menggali.

“Betul tidak?” seru Siau-hi-ji sambil bertepuk tertawa. “Sekarang kau percaya akan kehebatanku bukan.”

“Ya, seumpama Khong Beng belum meninggal, paling-paling dia juga cuma begini saja,” ujar So Ing.

Tapi setelah mengikuti sejenak suara ‘trang-tring’ itu, kedengaran tidak sekeras permulaan tadi, daya getarnya juga tidak sekuat tadi, mau tak mau So Ing berkerut kening, katanya, “Apakah orang-orang yang menggali ini belum makan nasi? Mengapa tiada tenaga sedikit pun.”

“Ini bukan tanda mereka tak bertenaga, tapi justru menandakan alat penggali mereka teramat tajam,” ujar Siau-hi-ji. “Karena alat penggalinya tajam, maka suara sentuhan menjadi kecil. Coba bayangkan, bilamana kau memotong tahu, bukankah tiada menimbulkan suara apa pun?”

So Ing tertawa riang, ucapnya, “Berada bersamamu hakikatnya aku telah berubah menjadi tolol.”

“Tidak, aku justru merasakan kau semakin pintar,” kata Siau-hi-ji.

“O, ya?” ucap So Ing sambil berkedip-kedip.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Kan sudah kukatakan sejak dulu, semakin pintar seorang perempuan semakin bisa berlagak bodoh di depan lelaki. Sekarang pun kau sudah pintar berlagak bodoh di depanku, tampaknya lambat atau cepat aku pasti akan kena dikail olehmu.”

So Ing menggigit bibir dan tertawa, ucapnya, “Jangan khawatir, pasti takkan kukail dirimu.”

“Oo!” Siau-hi-ji melenggong.

So Ing memandangnya dengan mesra, ucapnya dengan lembut, “Masa tidak dapat kau lihat, kan sudah lama aku yang terkail?”

Perasaan Kiau-goat Kiongcu yang bergolak hebat sudah mulai tenang kembali, dia sedang duduk bersemadi, lambat-laun telah memasuki keadaan yang hampa segalanya.

So Ing menghela napas, katanya, “Tampaknya ia sudah bertekad takkan menceritakan rahasia itu.”

“Tadinya kukira pikiran perempuan setiap saat pasti bisa berubah, tak tersangka dia ternyata harus dikecualikan.”

“Kuharap orang yang menggali di luar itu takkan terlalu cepat masuk ke sini, dengan demikian kita dapat menyumbat seluruhnya tempat ini lebih dahulu agar dia mati sesak napas di dalam situ. Sedangkan Lian-sing Kiongcu saat ini memang tiada ubahnya seperti orang mati…”

“Tapi sebelum mereka membeberkan rahasia itu, takkan kubiarkan mereka mati,” sela Siau-hi-ji.

“Namun kalau tidak kau bunuh mereka sekarang juga, apabila Hoa Bu-koat sempat masuk ke sini, tentu dia akan menyuruh kalian mengadu jiwa pula.”

“Tapi kau pun jangan lupa, mereka masih harus mencarikan dulu obat penawar racun bagiku, untuk ini sedikitnya diperlukan waktu satu-dua tahun dan di dalam satu-dua tahun ini pasti kudapatkan akal bagus.”

Kembali So Ing menghela napas, ucapnya, “Hakikatnya engkau tidak keracunan, untuk apa mereka harus mencarikan dulu obat penawar bagimu?”

Siau-hi-ji melengak, katanya sambil melotot, “Siapa bilang aku tidak keracunan, sedikitnya ada tiga orang saksi hidup yang melihat kutelan jamur beracun jitu.”

“Apa sukarnya bagimu, asalkan kau sedikit main, jangankan tiga orang, biarpun tiga puluh orang juga dapat kau kelabui. Kutahu caramu main pasti jauh lebih cepat daripada penglihatan mereka.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Masa kau anggap aku main sulap?”

“Main sulap atau tidak, yang pasti kau sengaja membikin orang mengira benar telah kau makan jamur beracun itu, lalu sengaja terjerumus pula ke gua sumur itu, tujuanmu adalah supaya mereka tidak dapat memaksa kau mengadu jiwa dengan Hoa Bu-koat. Caramu ini sebenarnya sangat bagus, cuma sayang pada saat tegang kau lupa melanjutkan sandiwara ini.”

“Apa yang kulupakan?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau bilang tidak dapat bertempur dengan Hoa Bu-koat lantaran keracunan, tapi mengapa kau dapat bergebrak dengan Kiau-goat Kiongcu?”

“Bekerjanya racun Li-ji-hong memang tidak menentu, kalau tidak bekerja, rasanya tiada ubahnya seperti tiada keracunan apa-apa.”

“Tapi kau lupa, orang yang keracunan Li-ji-hong pasti akan kambuh apabila minum arak.”

Kembali Siau-hi-ji melengak, sejenak kemudian baru dia berkata pula sambil menyengir, “Meski aku berlagak bodoh toh tetap tidak persis.”

So Ing tertawa, katanya, “Asalkan kau selamat, biarpun engkau tidak suka padaku juga bukan soal bagiku.”

Mendadak Siau-hi-ji menarik si nona dan memeluknya, katanya dengan lembut, “Apakah kau kira aku bisa menyukai orang bodoh?”

So Ing merangkul erat-erat pinggang Siau-hi-ji dan membenamkan kepalanya di pangkuan anak muda itu, selang agak lama barulah ia berkata pula dengan gegetun, “Aku pun tahu tiada maksudmu hendak membunuh mereka, tapi sekarang hanya jalan ini saja yang dapat kau tempuh.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian, “Meski kau dapat mengetahui aku tidak keracunan, mereka belum pasti tahu.”

“Jangan kau nilai rendah mereka,” ujar So Ing. “Mungkin mereka tidak banyak mengetahui seluk beluk kehidupan bermasyarakat, sebab selama ini mereka selalu tinggi di atas, terlalu sedikit kontak dengan khalayak ramai, tapi selain ini, terhadap urusan lain mereka tidak kurang lihainya, kecerdasan mereka tidak di bawah kita, kalau tidak masakah mereka mampu meyakinkan ilmu silat setinggi ini.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, lalu bergumam, “Tampaknya sekarang harus kukatakan padanya bahwa Hoa Bu-koat selekasnya akan masuk kemari.”

So Ing berkerut kening, ucapnya, “Jika dia tahu bakal ada orang akan menolongnya, bukankah rahasia itu lebih-lebih takkan diceritakan padamu?”

“Ini pun belum tentu, justru lantaran dia sudah putus asa, maka dia lebih suka mati daripada membeberkan rahasia itu. Tapi kalau dia mengetahui ada harapan untuk hidup, bisa jadi pikirannya akan berubah.”

Terbeliak mata So Ing, katanya, “Betul, lebih dulu kita beritahukan padanya bahwa Hoa Bu-koat sudah hampir masuk ke sini. Lalu kita katakan bilamana dia tak mau menceritakan rahasia itu, maka tempat ini akan kita bikin buntu. Aku yakin sekalipun dia sangat memandang penting rahasia itu pasti juga takkan lebih penting daripada jiwanya sendiri.”

Belum lenyap suaranya, mendadak di belakangnya bergema suara seorang, terdengarlah Lian-sing Kiongcu sedang berkata, “Kau salah, dia justru memandang rahasia itu jauh lebih penting daripada jiwanya sendiri.”

Meski suara Lian-sing ini sangat perlahan dan halus, tapi bagi pendengaran Siau-hi-ji dan So Ing serasa seperti bunyi guntur di tepi telinga.

Di bawah sinar lampu kelihatan wajah Lian-sing Kiongcu yang pucat pasi.

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya sambil menyengir, “Rupanya Gui Bu-geh adalah makhluk paling pelit, ingin membuat mabuk orang tapi tidak rela menggunakan arak yang paling baik.”

Pandangan Lian-sing tampak sayu, biji matanya seolah-olah telah menjadi kelabu, seperti tidak tahu siapa yang berdiri di depannya dan seakan-akan tidak mendengar perkataannya.

Terpaksa Siau-hi-ji melanjutkan, “Arak yang berkualitas tinggi biasanya menimbulkan rangsangan kemudian. Kalau arak yang diberikan Gui Bu-geh tadi benar-benar arak bagus, sedikitnya orang akan mabuk setengah hari dan tidak mungkin sadar secepat ini.”

Lian-sing juga menyambung, “Mungkin akan lebih baik apabila aku tidak sadar untuk selamanya.” Dia bicara seperti orang linglung, seolah-olah tidak menyadari apa yang diucapkannya.

Siau-hi-ji tertawa, katanya pula, “Tampaknya kau seperti sangat menderita, padahal, mabuk arak juga bukan sesuatu yang memalukan. Di dunia ini setiap hari sedikitnya berjuta-juta orang jatuh mabuk, kenapa engkau mesti merasa susah?”

Lian-sing menggeleng, katanya, “Tadi aku…aku…”

“Meski engkau tak pernah minum arak, tapi adatmu minum arak jauh lebih baik daripada orang lain,” ujar Siau-hi-ji. “Kebanyakan orang, apabila sudah mabuk tentu akan mengoceh tak keruan, tapi engkau ternyata sangat tenang dan prihatin.”

“Masa aku tidak…tidak melakukan sesuatu?” tanya Lian-sing.

“Memangnya kau kira dirimu telah berbuat sesuatu?” jawab Siau-hi-ji. “Setelah mabuk tadi engkau lantas terpulas, engkau cuma mengigau beberapa kata saja seperti sedang mimpi.”

Lian-sing Kiongcu menghela napas lega, perlahan-lahan matanya mulai bercahaya, wajahnya yang pucat juga mulai bersemu merah, gumamnya, “Benar, aku memang bermimpi, impian yang sangat aneh.”

“Orang hidup kalau terkadang bisa bermimpi yang aneh-aneh kukira kehidupan demikian pasti akan sangat menyenangkan,” ujar Siau-hi-ji.

So Ing memandang anak muda itu, sorot matanya penuh rasa mesra, rasa kagum dan memuji seperti sangat bangga baginya. Maklum, setiap anak perempuan tentu berharap kekasihnya berjiwa luhur, simpatik dan welas asih.

Siau-hi-ji, jika dalam keadaan kepepet, pada detik menentukan antara hidup dan mati, pada saat yang oleh seorang pujangga diistilahkan “to be or not to be”, berbuat atau tidak, dibunuh atau terbunuh. Dalam keadaan begitu, terkadang ia pun bisa bertindak tanpa mengenal cara, tujuan menghalalkan perbuatan, kata orang. Akan tetapi pada dasarnya Siau-hi-ji mempunyai sebuah hati yang baik, hati yang welas asih, hati yang cinta kepada sesamanya.

Begitulah, selang sejenak dengan perlahan Lian-sing berkata pula, “Sekarang dia tak dapat lagi membunuh kau, boleh kau bebaskan dia saja.”

Nada bicaranya ini sangat aneh, rasanya sedikit pun tidak memaksa, bahkan seperti seorang di luar garis yang membujuknya.

Siau-hi-ji memandangnya dua kejap, tanpa bicara apa pun ia lantas menarik So Ing dan diajak menuju ke tempat yang ada tombol pengendali pesawat rahasia itu. Lian-sing Kiongcu ternyata tidak ikut ke situ.

Kecuali alat buka-tutup ruangan di bawah itu, alat-alat lain ternyata sudah dihancurkan seluruhnya. Sambil memandangi tangkai putaran pintu yang mengkilat karena seringnya sentuhan tangan, tiba-tiba Siau-hi-ji berkata dengan tertawa, “Aneh, Lian-sing Kiongcu seolah-olah berubah percaya penuh padaku, masa dia tidak khawatir kalau alat pesawat ini pun kurusak?”

So Ing tersenyum, katanya, “Ya, sebab lambat laun dia merasa kau ini sesungguhnya seorang yang baik.”

“Mengapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kebanyakan perempuan memang mempunyai jalan pikiran yang aneh, biarpun kau telah beribu kali berbuat busuk padanya, asalkan kau berbuat baik padanya satu kali, maka dia akan merasakan kau sungguh orang baik dan akan sangat berterima kasih padamu.”

“Mengapa dia berterima kasih padaku?”

“Memangnya kau kira dia sama sekali tidak mengetahui perbuatanmu setelah mabuk? Soalnya karena kau telah menjaga martabatnya, telah menutupi tindakannya yang memalukan itu, kalau dia dapat mengelakkan kenyataan ini, maka ia pun boleh sekadar membohongi dirinya sendiri dan pura-pura tidak tahu.”

Membohongi dirinya sendiri, inilah kepandaian khas umat manusia. Misalnya seseorang tidak berhasil makan anggur, padahal kepingin setengah mati hingga keluar air liur, untuk menghibur dirinya yang gagal makan anggur itu ia lantas bilang: “Ah, anggur rasanya kecut, tidak enak.” Dengan demikian hatinya akan terhibur.

Manusia kalau tidak pintar membohongi dirinya sendiri, mungkin banyak yang tidak sanggup hidup lagi, sebab membohongi dirinya sendiri pada hakikatnya adalah semacam ‘obat penawar’ bagi manusia yang merasa kecewa, yang merasa gagal memperoleh sesuatu.

Sebab itu pula, bilamana seorang patah hati lantaran kehilangan pacar, paling baik kalau dia menghibur dirinya sendiri dengan cara demikian: “Ah, hakikatnya aku toh tidak menyukai dia. Apalagi di dunia kan masih banyak anak perempuan yang jauh lebih baik daripada dia”.

Jika dia tidak membohongi dirinya sendiri secara demikian, mungkin dia akan runtuh benar-benar dan bisa jadi bunuh diri.

Begitulah Siau-hi-ji menggeleng-geleng kepala sambil menatap So Ing, gumamnya kemudian, “Tampaknya pikiran perempuan hanya bisa dipahami oleh kaum perempuan sendiri.”

Sembari bicara ia terus memegang putaran pesawat rahasia itu.

“He, kau benar-benar akan membebaskan Kiau-goat Kiongcu?” seru So Ing heran.

“Sudah tentu, masa tidak benar,” kata Siau-hi-ji.

“Akan…akan tetapi, apabila pesawat rahasia itu kau rusak saja, kan urusannya menjadi lebih sederhana?” ujar So Ing.

“Betul, jika Kiau-goat kukurung di sini, menghadapi Lian-sing seorang tentu saja urusannya jadi lebih mudah, tapi aku tak dapat bertindak demikian.”

“Sebab apa?” tanya So Ing.

“Kan dia sudah percaya padaku, maka tidak boleh lagi kutipu dia,” tutur Siau-hi-ji. “Jika orang lain sama sekali tidak percaya padaku, maka bukan soal bagiku untuk menipu dan membohongi dia, biarpun seribu kali juga aku tidak sungkan,” Dia tertawa, lalu menyambung, “Mungkin di sinilah letak perbedaan lelaki dan perempuan. Perempuan selalu akan membohongi orang yang percaya padanya, jika kau tidak mempercayai dia, dia berbalik tak berdaya apa-apa padamu.”

“Hah, dari nadamu ini, tampaknya seakan-akan engkau sudah pernah tertipu beratus kali oleh perempuan,” ucap So Ing dengan tertawa.

“Keliru,” kata Siau-hi-ji. “Justru orang yang tidak pernah ditipu perempuan, makin jelas baginya mengenai seluk beluk perempuan, kalau benar aku pernah tertipu beratus kali oleh perempuan, aku bahkan tidak berani mengaku sangat memahami perempuan.”

So Ing menghela napas gegetun, ucapnya, “Tampaknya jalan pikiran lelaki juga cuma dipahami oleh kaum lelaki sendiri.”

Sementara itu pintu ruangan di bawah tanah sana sudah terbuka, seharusnya Kiau-goat Kiongcu sudah keluar sejak tadi-tadi, tapi sampai sekian lamanya masih belum nampak bayangannya.

“Aneh, mengapa Kiau-goat Kiongcu belum datang mencarimu?” ucap So Ing dengan ragu-ragu.

“Sekarang dia sudah tahu bakal datang penolong dari luar, dengan sendirinya dia tidak perlu membunuhku lagi,” ujar Siau-hi-ji.

“Menurut wataknya, seumpama dia tidak ingin lagi membunuhmu, sedikitnya ia kan mencari perkara padamu.”

“Bisa jadi mendadak ia merasa sangat enak di sana dan tidak ingin keluar lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Akhirnya mereka ingin tahu juga apa yang terjadi, tapi sama sekali tak terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa Kiau-goat Kiongcu benar-benar masih berada di kamar batu sana, bahkan sekarang Ih-hoa-kiongcu mahaagung itu telah duduk bersandar dinding.

Terlihat Lian-sing Kiongcu juga berdiri di samping sana dan sedang memandangi sang kakak dengan terkesima, air mukanya tampak mengunjuk rasa kejut dan heran, juga merasa kagum serta iri.

Tentu saja Siau-hi-ji heran, sikap Lian-sing Kiongcu itu tampak aneh, air muka Kiau-goat Kiongcu juga tidak kurang anehnya. Air mukanya kelihatan tidak putih, juga tidak merah, akan tetapi di antara putih kemerah-merahan itu tampaknya seakan-akan bening tembus cahaya.

Di bawah cahaya lampu kelihatan jelas setiap urat dan setiap tulang di bawah kulit daging raut wajahnya yang mahacantik itu kini telah berubah menjadi aneh dan misterius.

“Apa-apaan ini?” ucap So Ing dengan bingung. “Barangkali dia mengalami Cau-hwe-jip-mo (salah latihan hingga mengalami kelumpuhan)?”

Siau-hi-ji menggeleng, belum lagi bicara, Lian-sing Kiongcu telah muncul keluar dengan perlahan tapi tetap berdiri melenggong di situ, entah apa yang sedang direnungkan. Padahal Siau-hi-ji dan So Ing berdiri tepat di depannya, tapi Lian-sing seperti tidak melihat mereka.

Karena ingin tahu terpaksa Siau-hi-ji membuka suara, “Sungguh jarang terlihat wajah seorang bisa berubah menjadi bening tembus cahaya begini, apakah ini termasuk Kungfu yang kalian latih?”

Melihat Lian-sing dalam keadaan seperti orang linglung, sebenarnya Siau-hi-ji mengira orang pasti takkan menjawab pertanyaannya. Tak terduga meski Lian-sing tidak memandangnya barang sekejap, tapi toh berkata dengan perlahan, “Ya, betul memang beginilah gejalanya jika ‘Beng-giok-kang’ sudah terlatih sampai tingkatan terakhir.”

“Beng-giok-kang (ilmu kemala bening)? Ilmu apakah ini? Belum pernah kudengar selama ini?” kata Siau-hi-ji.

“Sedikitnya sudah ratusan tahun Kungfu ini menghilang di dunia persilatan dengan sendirinya tak pernah kau dengar,” ucap Lian-sing.

“Wah, jika begitu, Kungfu ini pasti sangat lihai?” Siau-hi-ji coba memancing pula.

“Kungfu ini terbagi sembilan tingkat,” tutur Lian-sing. “Tapi asalkan berhasil melatihnya hingga tingkat keenam, maka Kungfunya sudah dapat disejajarkan dengan tokoh utama persilatan jaman ini. Bila berlatih sampai tingkat kedelapan, maka dapatlah menjagoi dunia tanpa tandingan.”

“Jika demikian, kalian kakak beradik sudah berlatih hingga tingkat ke berapa?” tanya Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Kedelapan,” jawab Lian-sing sambil menghela napas perlahan, tanpa menunggu komentar Siau-hi-ji segera ia menyambung pula, “Pada dua puluh tahun yang lalu kami sudah berhasil melatihnya hingga tingkat kedelapan, sebenarnya untuk mencapai tingkat kedelapan ini sedikitnya diperlukan ketekunan latihan selama tiga puluh dua tahun, tapi kami hanya berlatih selama dua puluh empat tahun saja, kemajuan kami ini boleh dikatakan telah melampaui kebiasaan dan merupakan rekor yang belum pernah dicapai orang lain. Tadinya kami mengira empat atau lima tahun lagi kami pasti dapat mencapai puncaknya yang tertinggi.”

Siau-hi-ji tahu selera bicara Lian-sing sudah terpancing keluar, maka ia tidak bersuara lagi melainkan menunggu cerita lebih lanjut.

Selang sejenak, benar juga Lian-sing Kiongcu lantas menyambung setelah menghela napas gegetun, “Siapa tahu, selama dua puluh tahun terakhir ini latihan kami tiada kemajuan sama sekali, seolah-olah cuma sampai di sini saja dan tidak mungkin naik lebih tinggi lagi.”

Tanpa tertahan So Ing bertanya, “Apakah sebelum ini tiada yang pernah mencapai tingkatan kesembilan?”

“Beng-giok-kang adalah ilmu sakti rahasia yang tak diajarkan, boleh dikatakan Kungfu yang diimpi-impikan oleh setiap orang persilatan,” tutur Lian-sing Kiongcu. “Sebab, tak peduli siapa dia, asalkan bisa memperoleh kunci dasar melatih ilmu ini, maka pasti akan berhasil meyakinkannya. Dan asalkan berhasil melatihnya, maka tiada tandingannya lagi di dunia ini. Biarpun orang yang tak berbakat, asalkan melatihnya dengan tekun dan tekad penuh, lambat atau cepat akhirnya pasti akan berhasil!”

“Jika demikian seorang bodoh juga dapat meyakinkan ilmu silat ini?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, hanya makan waktu lebih lama saja,” kata Lian-sing.

“Kira-kira memerlukan waktu berapa lama,” tanya Siau-hi-ji.

“Untuk ini perlu diketahui dulu dia orang tolol macam apa, tololnya setengah-setengah atau sudah kelewatan,” jawab Lian-sing.

“Jika setolol Gui Bu-geh, umpamanya?”

“Gui Bu-geh bukan orang tolol, tapi kalau dia ingin meyakinkan Kungfu sakti ini hingga berhasil, sedikitnya juga perlu waktu 80-90 tahun,” tutur Lian-sing.

“Hah, begitu lama?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa dan geli. “Wah, andaikan dia mulai berlatih pada usia sepuluh tahun, sampai berhasil dilatihnya mungkin dia sudah dipanggil menghadap Giam-lo-ong (raja akhirat) lebih dulu.”

“Memang,” ujar Lian-sing. “Makanya untuk meyakinkan ilmu silat ini harus dimulai selagi kanak-kanak, bahkan taraf kemajuannya harus cepat, dengan demikian baru berguna hasil latihannya, kalau tidak…”

“Kalau tidak orang itu harus berumur panjang seperti kita, begitu bukan?” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa.

Lian-sing Kiongcu menarik muka, tapi tetap menjawab, “Betul, cuma orang yang dapat meyakinkan ilmu sakti ini hingga puncaknya juga harus orang yang berbakat, selama ini, dari dulu hingga kini, paling-paling juga cuma enam orang saja yang berhasil dengan baik.”

“Hanya enam orang? Wah, siapa saja mereka itu?” tanya So Ing.

“Selain kami kakak beradik, ada juga Jit-hou (permaisuri sang Surya) yang tinggal di Kong-beng-to di lautan selatan, lalu Siau-ong-sun di lembah Te-ong-kok, putra mahkota Jit-sik-cun (kapal tujuh warna) yang selalu malang-melintang di samudera serta tokoh ajaib dunia persilatan Sim Long.

Mendengar nama-nama itu, mau tak mau Siau-hi-ji menarik napas dingin juga. Maklum, tokoh-tokoh yang disebut itu sudah lama wafat, tapi nama kebesaran mereka tidak pernah pudar dari dunia persilatan, tapi cemerlang dan terukir dengan abadi.

Dengan menyesal kemudian Lian-sing menyambung pula, “Kecuali kami berdua, keempat orang yang lain itu sudah berhasil meyakinkan Kungfu ini dengan sempurna.”

“Ya, begitu kudengar nama mereka, segera kutahu mereka pasti berhasil meyakinkannya,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Dan kalian, mengapa, mengapa kalian tidak berhasil mencapai puncaknya?” tanya So Ing.

“Orang Kangouw umumnya tahu Sim-long, Sim-locianpwe adalah tokoh ajaib berbakat dunia persilatan, tapi setahuku ia pun memerlukan 24 tahun baru berhasil mencapai tingkatan kedelapan, enam tahun lagi barulah mencapai puncaknya. tapi nyatanya usaha kami selalu gagal, kami pun tidak tahu apa sebabnya tak dapat mencapai tingkatan terakhir itu.”

“Apakah kemudian kalian berhasil menyelami sebab-sebabnya?” tanya So Ing.

“Ya,” jawab Lian-sing.

“Bagaimana?” tertarik juga Siau-hi-ji.

Lian-sing menatapnya lekat-lekat hingga lama seperti lagi menimbang apakah harus menjawab pertanyaannya atau tidak. Terpaksa Siau-hi-ji juga berdiam menunggu.

Selang agak lama, akhirnya Lian-sing menghela napas panjang dan bertutur dengan perlahan, “Maklumlah, pada dua puluh empat tahun permulaan, cara berlatih kami sangat tekun tanpa terusik oleh pikiran lain, tapi dua puluh tahun berikutnya, kami juga seperti khalayak umumnya, kami pun mempunyai suka duka, tidak lagi khusuk seperti sebelumnya dan berlatih dengan sepenuh hati.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, gumamnya kemudian, “Dua puluh tahun…dua puluh tahun yang lalu…”

Ia tidak melanjutkan, sedangkan wajah Lian-sing Kiongcu perlahan-lahan berubah pucat pula, sebab ia merasa anak muda itu pasti sudah dapat menerka apa yang menyebabkan suka-duka Ih-hoa-kiongcu pada dua puluh tahun yang lalu. Ya, dua puluh tahun yang lalu, bukankah itulah waktu untuk pertama kalinya mereka bertemu dengan Kang Hong, ayah Siau-hi-ji?

“Dan sekarang…sekarang apakah Kiau-goat Kiongcu sudah berhasil meyakinkannya hingga tingkat kesembilan, tingkat tertinggi?” tanya So Ing.

“Ya, betul,” jawab Lian-sing, kembali sorot matanya menampilkan rasa kagum dan iri, ucapnya pula dengan rawan, “Sungguh tak terduga olehku setelah selama dua puluh tahun, dalam keadaan demikian dan tempat begini dia justru berhasil mencapainya, sungguh aku…aku ikut bergirang baginya.”

Siau-hi-ji menggigit bibir, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Mungkin disebabkan akulah yang telah membantunya.”

“Ya, mungkin begitu,” ucap Lian-sing gegetun. “Sebab dia terkurung olehmu di tempat begini, ia benar-benar putus harapan untuk hidup, dalam keadaan demikian pikiran manusia sering kali mengalami perubahan yang tak tersangka, bisa jadi dalam sekejap itu pikirannya menjadi ‘plong’, mungkin ia sendiri pun tidak menyangka akan mencapai hasil yang tak terduga ini.”

“Padahal setelah berlatih sampai tingkat kedelapan kan sudah tiada tandingannya, andaikan tidak mencapai tingkat kesembilan juga tidak soal lagi, bisa berhasil mencapainya memang lebih bagus, kalau tidak berhasil juga tidak perlu sedih,” ujar Siau-hi-ji.

Ucapan ini sebenarnya bermaksud menghiburnya, siapa tahu air muka Lian-sing Kiongcu bahkan berubah lebih murung, setelah termenung-menang sejenak dengan perlahan ia berkata, “Kalau bisa mencapai tingkat kedelapan memang sukar lagi ditandingi orang, tapi bila ketemu tokoh mahalihai seperti Yan Lam-thian, rasanya belum pasti menang.”

“Kalau ilmu silat kalian sudah mencapai tingkatan tiada tandingannya, mengapa dikatakan belum pasti menang?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sebabnya, meski kekuatan kami lebih tinggi sedikit daripada Yan Lam-thian, namun selisihnya tidak jauh,” tutur Lian-sing. “Pula pertarungan antara jago kelas top, selain kuat dan lemahnya ilmu silat, keadaan fisik masing-masing pada waktu itu, tempat dan waktu serta cuaca, unsur ini pun ikut menentukan kalah-menangnya.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Setelah dia berhasil mencapai tingkatan kesembilan, apakah Yan Lam-thian lantas tak dapat mengalahkan dia?”

“Ya, setitik harapan pun tidak ada,” jawab Lian-sing tegas.

Siau-hi-ji tidak bicara lagi, sebab ia tahu bilamana Lian-sing Kiongcu berani omong begini, maka pasti bukan bualan belaka, lalu apa yang perlu dikomentarinya?

Tiba-tiba Lian-sing berkata pula, “Menurut cerita kuno, bilamana Beng-giok-kang sudah terlatih sampai tingkat kesembilan, selain ilmu sakti ini tiada tandingannya di kolong langit, orang yang berhasil meyakinkannya juga akan awet muda dan panjang umur, konon ‘Permaisuri Surya’ mencapai umur seratus lima puluh tahun, ketika meninggal wajahnya tetap cantik dan segar seperti perawan likuran tahun.”

Selagi Siau-hi-ji asyik mendengarkan cerita Lian-sing Kiongcu itu, terdengar suara galian di luar sana masih terus berlangsung.

Sambil mengikuti suara “trang-tring” galian itu perasaan Siau-hi-ji sendiri sukar untuk dilukiskan. Ia pikir kalau benar ilmu silat Kiau-goat Kiongcu sudah tiada tandingannya di kolong langit ini, setelah bebas dari sini, maka entah apa pula yang akan terjadi atas dirinya.

Pada saat lain, mendadak suara galian di atas sana berhenti pula secara mendadak.

Tentu saja So Ing dan Lian-sing Kiongcu menjadi cemas, mereka coba menunggu lagi dengan sabar dengan harapan suara galian itu akan timbul lagi.

Tapi mereka benar-benar kecewa. Sampai seharian suasana tetap sunyi, tiada apa pun yang terdengar di luar. Satu hari ini bagi mereka rasanya seperti seribu tahun lamanya.

So Ing coba tanya Siau-hi-ji, “Sekali ini mendadak mereka berhenti menggali? Apakah mereka dirintangi lagi oleh seseorang? Dan siapakah gerangannya yang mampu menghentikan pekerjaan mereka?”

Siau-hi-ji hanya menggeleng saja, sekali ini ia tidak sanggup menerkanya. Maklumlah, memang tidak banyak orang yang sanggup menundukkan Cap-toa-ok-jin dan menghentikan pekerjaan mereka.

“Mungkinkah perbuatan Kang Piat-ho?” So Ing coba bertanya pula.

“Kang Piat-ho sudah jatuh di tangan Yan-tayhiap, sekalipun kepandaiannya setinggi langit, juga jangan harap bisa lolos,” kata Siau-hi-ji.

“Habis siapa, mungkinkah Yan-tayhiap sendiri?” tanya pula So Ing.

“Tidak mungkin,” jawab Siau-hi-ji. “Jika beliau mengetahui ada orang terkurung di sini, sekalipun orang ini musuhnya pasti juga dia akan menyelamatkan dulu orang ini dan urusan lain adalah soal belakang.”

“Mungkinkah -.” tapi So Ing tak dapat melanjutkan lagi, sebab meski sudah dipikirkan toh sukar teringat siapa di dunia ini yang mampu mencegah pekerjaan Cap-toa-ok-jin.

Semakin tak dapat memecahkannya, semakin diketahuinya urusan pasti tidak sederhana. Apalagi, seumpama sekarang ada orang hendak menolong mereka tentu juga sudah terlambat.

Hanya Kiau-goat Kiongcu saja, air mukanya sekarang tidak kelihatan bening tembus cahaya yang aneh, jelas ilmu saktinya telah berhasil dengan sempurna.

So Ing memandang Kiau-goat lekat-lekat, tiba-tiba ia mengikik tawa.

Siau-hi-ji bergumam, “Jika kau teringat kepada sesuatu lelucon yang menggelikan, kenapa tidak kau ceritakan mumpung sekarang aku masih bisa ikut tertawa.”

Dengan tenang So Ing berkata, “Baru sekarang kutahu bahwa di dunia ini memang ada banyak hal-hal yang menarik.”

“O, hal-hal menarik?” Siau-hi-ji menegas.

“Ya, umpamanya mati, biasanya yang paling kutakuti ialah mati, dan cita-citaku yang paling besar adalah hidup bersamamu. Tapi sekarang, meski Gui Bu-geh hampir berhasil membunuhku, tapi kalau dia tidak mengurung kita di sini cara bagaimana aku dapat selalu mendampingimu seperti ini? Nah, coba katakan, sesungguhnya aku harus berterima kasih atau benci padanya?”

“Baik kau akan berterima kasih atau akan benci padanya, yang pasti sekarang semua itu tiada sangkut-pautnya dengan dia,” kata Siau-hi-ji.

“Mati, memang kejadian yang paling menyedihkan,” ujar So Ing pula. “Meski sekarang aku akan mati, tapi kurasakan pula selama hidupku tidak pernah segembira sekarang ini.”

Siau-hi-ji menggerutu, “Ya, menarik, sungguh menarik hal ini, sebenarnya aku pun ingin tertawa, cuma sayang aku tidak sanggup tertawa lagi.”

Dengan rawan So Ing berkata pula, “Aku pun tidak benar-benar merasa hal ini sangat menarik dan lucu, hanya kurasakan banyak kejadian di dunia ini satu sama lain saling bertentangan, penuh sindiran, antara suka dan duka juga tiada pembatasan yang nyata, apalagi duka terkadang juga mendatangkan suka, sebaliknya suka juga sering mendatangkan duka.”

Siau-hi-ji hanya mendengar saja tanpa bersuara.

Yang dirasakannya sekarang hanya keletihan, maka apa pun tak ingin diucapkannya dan apa pun tak mau dipikirkannya, bahkan rasa takut pun tak dirasakannya lagi. Ia seakan-akan sudah berubah pati rasa.

Padahal orang keras tekadnya seperti Siau-hi-ji, sekalipun pada saat sudah putus asa juga tidak mungkin tinggal diam dan pasrah nasib. Namun kalau sudah ada setitik sinar harapan untuk kemudian terjadi lagi putus harapan untuk kedua kalinya, maka biarpun manusia paling teguh imannya juga tidak tahan pukulan-pukulan begini.

Saraf manusia memang bersifat elastis, bisa mulur dan mengkeret, bisa kencang dan kendur, apabila sudah mengencang terus mengendur, habis mengendur terus ditarik kencang lagi, maka akhirnya daya elastis akan lenyap. Dan begitu pula keadaan Siau-hi-ji, setelah mengalami berbagai kejadian, kini pada hakikatnya dia sudah putus asa.

Meski luar biasa pintar dan cerdasnya Siau-hi-ji, betapa pun ia bukan superman yang memiliki mata telinga ajaib, ia pun tidak dapat menujum apa yang belum terjadi, apa yang diterkanya juga tidak selalu tepat.

Kejadian di dunia ini dengan perubahan-perubahan yang aneh terkadang ajaib daripada yang pernah dibayangkan orang. Perkembangan sesuatu urusan terkadang juga bisa melampaui apa yang diperkirakan orang.

Begitu pula apa yang terjadi dengan Hoa Bu-koat, dia tidak berhasil menemukan Thi Sim-lan ketika dia meninggalkan gua tempat tinggal Gui Bu-geh itu. Secara misterius Thi-Sim-lan telah menghilang.

Padahal dengan Ginkang Hoa Bu-koat, ke mana pun perginya Thi Sim-lan pasti dapat disusulnya. Namun seluruh pelosok Ku-san itu sudah dijelajahinya dan bayangan Thi Sim-lan tetap tak terlihat.

Setelah putus asa dan ingin kembali ke gua sana, namun gua tikus Gui Bu-geh itu sudah tertutup rapat.

Perubahan ini membuat Hoa Bu-koat terkejut dan kebingungan, dia menjerit dan berteriak-teriak, namun tiada suara jawaban. Jelas Ih-hoa-kiongcu dan Siau-hi-ji telah terkurung di dalam gua itu, kalau tidak masakan mereka tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Ketika kemudian dia dapat meminjam cangkul dari seorang petani di lereng bukit, sementara itu hari sudah mendekati senja, lereng bukit sudah mulai berkabut.

Dengan segenap tenaganya dia mulai menggali. Waktu permulaan ia merasa tanah pegunungan itu dengan mudah dapat dicangkulnya, tapi makin lama terasa semakin keras dan makin berat, akhirnya terasa keras seperti besi.

Ia tahu tenaga sendiri sudah tidak tahan namun dia pantang berhenti, ia pun tidak tahu apa yang terjadi di dalam gua, sungguh hampir gila dia memikirkannya.

Sementara itu remang-remang malam sudah tiba. Di tengah suasana yang remang-remang itulah tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang, dari garis tubuhnya jelas itulah bayangan orang perempuan. Tanpa bicara bayangan itu cuma berdiri di situ, memandang Hoa Bu-koat dengan terkesima.

Meski Bu-koat tidak mendengar suaranya, tapi nalurinya sudah merasakan sesuatu, perlahan ia berhenti mencangkul dan cepat berpaling. Lalu, seperti bayangan orang itu, ia pun melenggong tak bergerak.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang yang berdiri di depannya sekarang adalah orang yang telah dicarinya dengan susah payah dan tidak bertemu, yaitu Thi Sim-lan.

Waktu dia mencari nona itu di segenap pelosok lereng bukit, pikirannya bergolak seperti langkahnya yang tidak pernah berhenti. Teringat banyak persoalan yang hendak dibicarakannya dengan Thi Sim-lan. Akan tetapi sekarang, setelah dia berhadapan dengan si nona, berbalik ia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Thi Sim-lan juga tidak bicara apa-apa, bahkan tidak berani beradu pandang dengan Bu-koat, tapi perlahan-lahan ia menunduk dan memainkan ujung baju yang tersingkap tertiup angin.

Dia berdiri seperti patung, meski tampaknya begitu tenang, namun hatinya jauh lebih kusut daripada rambutnya yang semrawut.

Dengan sendirinya perasaan Bu-koat juga tidak tenang seperti lahirnya, selang agak lama barulah dia menghela napas panjang dan berucap, “Ta…tadi ke manakah kau?”

“Aku…aku tidak pergi ke mana-mana, sejak tadi aku berada di sini,” jawab Sim-lan sambil menunduk.

Ujung mulut Bu-koat bergerak seperti ingin tertawa tapi urung. Akhirnya ia pun menunduk, katanya, “Kiranya kau tidak pergi ke mana-mana, pantas tak dapat kutemukan kau.”

“Engkau mencari aku?” tanya Sim-lan.

“Ya, sudah kucari ke mana-mana, cuma tak tersangka engkau masih di sini?”

“Aku pun melihat engkau keluar dari situ, tak tersangka engkau akan mencariku.”

Bu-koat angkat kepala memandangnya sekejap, lalu menunduk pula.

“Jika engkau tidak menyangka aku masih berada di sini, mengapa engkau kembali lagi ke sini?”

“Aku…aku bukan…”

“Kembalimu ke sini bukan untuk mencari aku? Habis untuk apa kau kembali lagi ke sini? Mereka kan sudah pergi semua, mengapa engkau tidak ikut pergi bersama mereka?”

Cepat Bu-koat mengangkat kepalanya dan berseru, “Sia…siapa yang kau maksudkan sudah pergi semua?”

“Yang kumaksudkan sudah tentu gurumu dan…dan So Ing mereka.”

Hampir saja Bu-koat melonjak maju dan memegang tangan si nona, dengan suara terputus-putus ia tanya pula, “Kau…kau benar-benar melihat mereka sudah pergi semua?”

Kepala Thi Sim-lan menunduk hampir terbenam sampai di dada sendiri, jawabnya lirih, “Ya, benar, masa engkau tidak melihat mereka?”

Terkejut dan bergirang pula Bu-koat, ia tertawa dan berseru, “O, langit, O, bumi, tadinya kukira mereka terkurung di dalam situ.”

“Kau kira siapa yang dapat mengurung mereka di dalam situ?” tanya Sim-lan.

“Dengan sendirinya kusangka Gui Bu-geh.”

“Tadi engkau bertemu dengan Gui Bu-geh?” tanya Sim-lan sambil berkedip-kedip.

“Tidak,” jawab Bu-koat. “Di dalam situ tiada terdapat seorang pun, tadi kukira Gui Bu-geh pasti bersembunyi, pada waktu mereka tidak berjaga-jaga lalu menutup pintu dan membuat buntu jalan keluarnya.”

Sim-lan tertawa menunduk, ucapnya, “Tampaknya rasa curigamu juga tidak kecil.”

Tanpa terasa Bu-koat juga menunduk dan tertawa, baru sekarang ia tahu tangan si nona telah digenggamnya, jantungnya berdebar keras dan segera hendak melepas tangannya.

Siapa tahu, seperti sengaja dan tidak sengaja, tahu-tahu Thi Sim-lan juga memegang tangannya dan berkata, “Gua ini di buntu oleh gurumu, agaknya dia tidak ingin orang lain masuk lagi ke situ, aku menjadi menyesal mengapa…mengapa tadi aku tidak masuk ke sana.”

Jantung Bu-koat berdetak keras, ia menarik napas panjang-panjang, ucapnya dengan tertawa, “Sebenarnya di dalam sana juga tiada sesuatu yang baik untuk dilihat.”

“Konon selama hidup Gui Bu-geh sangat suka mengumpulkan benda mestika, banyak barang koleksinya adalah benda yang sukar dicari di dunia ini, masa engkau tidak melihatnya?”

“Tidak, aku tidak melihat apa-apa, bisa jadi ia pergi dengan membawa semua barangnya.”

“Mungkin engkau tidak menaruh perhatian.”

“Ya, bisa jadi,” Bu-koat mengangguk. “Tapi tahukah mereka menuju ke arah mana?”

Seenaknya Thi Sim-lan menuding ke arah rembulan dan menjawab, “Ke sana.”

“Aneh, mengapa aku tidak menemukan mereka?” ucap Bu-koat sambil berkerut kening, “Mengapa mereka tidak menunggu aku?”

“Mereka berangkat dengan tergesa-gesa, seperti mendadak menemukan sesuatu,” kata Thi Sim-lan.

“Sudah berapa lama mereka pergi?” tanya Bu-koat.

“Baru saja mereka berangkat, lalu engkau datang kembali”

“Jika demikian, lekas kita menyusulnya, mungkin masih keburu.”

“Tidak, aku tidak mau ikut,” kata Thi Sim-lan.

“Kau harus ikut,” bujuk Bu-koat dengan suara lembut. “Sebab…”

“Tidak, aku tidak mau, kau pun jangan pergi,” sela Thi Sim-lan.

“Sebab apa?” melengak juga Bu-koat.

Thi Sim-lan menengadah dan memandang anak muda itu, katanya perlahan, “Sebab aku tidak mungkin menemui mereka dan juga tidak ingin engkau bertemu lagi dengan mereka.”

Mestinya Bu-koat hendak bicara pula, tapi mendadak dilihatnya sorot mata si nona berubah sangat aneh.

Mata Thi Sim-lan sebenarnya bersih dan bening, cuma akhir-akhir ini dia banyak duka merana sehingga matanya sayu dan mengharukan. Tapi sekarang sorot matanya berubah sedemikian tajam, bahkan kerlingannya tampak licik dan membawa rasa seram.

Dipandang dalam kegelapan, perawakan dan potongan tubuhnya, wajahnya dan gerak-geriknya memang sama seperti Thi Sim-lan, hanya sepasang matanya saja… Ya, betapa pun juga matanya ini jelas bukan milik Thi Sim-lan.

Begitu merasa gelagat tidak baik, segera Bu-koat bermaksud mundur.

Akan tetapi sudah terlambat, tiba-tiba Bu-koat merasa tangannya kesemutan, menyusul seluruh anggota badannya lantas kaku.

Dengan tenaga yang masih dapat dikerahkan, sekuatnya ia menabas dengan sebelah tangan, akan tetapi “Thi Sim-lan” sempat melompat mundur dengan cepat. Waktu Bu-koat ingin mengejar, namun kaki tangan sudah tak bisa bergerak lagi.

Terdengar “Thi Sim-lan” tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya, “Wahai Hoa Bu-koat, tampaknya kau terlalu jauh dibandingkan Siau-hi-ji. Apabila Siau-hi-ji, hahaha, tidak sampai tiga kalimat kubicara tentu sudah dikenali olehnya.”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Bu-koat dengan gemas.

“Masa gurumu tidak pernah memberitahukan padamu, siapa di dunia ini yang paling mahir menyamar?” kata nona yang mengaku sebagai Thi Sim-lan itu.

Dengan gegetun Bu-koat berteriak, “Manusia rendah dan tidak tahu malu seperti kalian ini tidak mungkin disebut-sebut oleh guruku.”

“Hahaha, jika begitu sekarang juga dapat kukatakan padamu, di kolong langit ini hanya nenekmu she To inilah yang paling ahli dalam hal menyamar dan tiada bandingannya.”

Tergerak pikiran Hoa Bu-koat, segera teringat olehnya nama To Kiau-kiau, salah satu dari Cap-toa-ok-jin yang terkenal dengan julukan ‘tidak lelaki tidak perempuan’ itu. Namun sekarang ia merasa lemas dan tidak sanggup berdiri tegak, belum lagi ia bersuara pula, tahu-tahu lantas roboh terjungkal.

Segera terdengar seorang lagi menjengek, “Hm, kau pun tak perlu terlalu gembira, menurut pandanganku, sedikit kepandaianmu menyamar ini juga bukan sesuatu yang luar biasa, bukankah akhirnya penyamaranmu juga diketahui olehnya?”

“Betul, akhirnya memang dapat dilihat olehnya,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa. “Tapi ini pun disebabkan aku tidak cukup waktu untuk mempelajari gerak-gerik Thi Sim-lan, total jenderal aku hanya mendapat waktu setengah jam untuk menirunya. Coba, bila aku diberi tempo setengah hari, sekalipun di siang hari juga bocah ini dapat kukelabui.”

Orang tadi menjengek pula, katanya, “Huh, selama beberapa tahun ini, kepandaianmu yang lain jelas tiada kemajuan apa-apa, hanya kepandaiamu membual memang maju pesat, mungkin ini hasil pelajaranmu dari serigala mulut lebar itu (maksudnya Li Toa-jui).”

Yang mengejek sejak tadi jelas ialah Pek Khay-sim, si ‘tukang buat rugi orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’.

Dengan sendirinya Toh Sat, Ha-ha-ji dan Li Toa-jui juga ikut muncul seluruhnya. Hanya Im Kiu-yu saja si setengah manusia setengah setan itu seolah-olah tidak berani memperlihatkan diri di depan umum dan selalu main sembunyi-sembunyi, tapi rasanya setiap waktu ia pun bisa menongol.

Diam-diam Bu-koat sudah dapat menerka siapa gerangan orang-orang ini. Ia menyadari bagaimana nasibnya sendiri setelah jatuh di tangan orang ini, hakikatnya seperti kambing berada di rumah pemotongan.

Namun dia tidak khawatir bagi keadaan sendiri, sebab ia tahu keadaan Ih-hoa-kiongcu dan Thi Sim-lan sekarang pasti jauh lebih berbahagia daripadanya.

Terlihat Ha-ha-ji mendekatinya dengan berlenggang, lebih dulu ia memberi hormat, lalu tertawa ngakak dan berkata, “Haha, Hoa-kongcu, maaf seribu maaf. Sebenarnya Cayhe dan kawan-kawan tidak berani berlaku tidak sopan padamu, namun ilmu silat Kongcu sesungguhnya teramat tinggi, terpaksa kami menggunakan cara demikian.”

“Hehe, mulut si gendut ini berlumur madu, padahal hatinya lebih busuk daripada siapa pun juga,” demikian Pek Khay-sim berolok-olok. “Maka apa pun yang dikatanya paling baik kau anggap saja seperti kentut, kalau tidak kau sendiri bisa celaka.”

“Hahaha, kalau kentutnya sih kentut manusia, sebaliknya kentutmu justru kentut anjing,” sambung Li Toa-jui dengan terbahak.

Sembari tertawa ia pun mendekati Hoa Bu-koat, ia pandang anak muda itu dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas, mungkin bapak mertua yang lagi meneliti calon menantu juga tidak secermat dia. Setelah mengamat-amati sekian lama, mulutnya berkecak-kecak memuji dan bergumam, “Ehmm, bagus, bagus sekali. Daging sebagus ini sungguh sukar dicari, di antara seribu orang sukar ditemukan satu. Hanya kurusan sedikit, jika dimasak Ang-sio kurang berminyak.”

Sambil bicara air liurnya seakan-akan menetes, jakunnya naik turun, malahan sebelah tangannya terus mencolek perut Bu-koat, mirip seorang nenek lagi memilih ayam sembelihan di pasar.

Cemas dan gemas pula Bu-koat, tapi apa daya, hendak melawan juga tidak mampu.

Syukur pada saat itu Toh Sat lantas membentak, “Berhenti!”

Segera Li Toa-jui menarik kembali tangannya katanya dengan tertawa, “Aku kan tidak hendak menyembelih dia sekarang, hanya mencoleknya sekali kan boleh?”

“Betapa pun orang ini adalah seorang pilihan,” jengek Toh Sat. “Meski aku tak dapat mengalahkan dia dengan ilmu silat, sedikitnya harus kuhormati dia secara sopan. Kau boleh membunuh dia, tapi tidak boleh menghinanya.”

Baru sekarang Hoa Bu-koat mendengar ucapan manusia sejati, tanpa terasa ia menghela napas lega, katanya, “Terima kasih!”

“Kau tahu yang kuhormati bukanlah pribadimu, bukan kedudukanmu, yang kuhormati adalah ilmu silatmu saja, kau patut dihormati.”

Bu-koat terdiam sejenak, ucapnya kemudian, “Cayhe sudah jatuh di tangan kalian, mati hidup tak terpikir lagi olehku, lebih-lebih tak pernah kuharapkan akan kau hormati segala, hanya saja Thi Sim-lan…” dia tatap Toh Sat dengan tajam lalu menyambung dengan sekata demi sekata, “Apakah Thi Sim-lan juga jatuh di tangan kalian?”

Dia tidak tanya orang lain, tapi tanya kepada Toh Sat, sebab ia tahu di antara kelima orang ini hanya orang berwajah dingin inilah yang tidak suka omong kosong.

Benar juga, Toh Sat lantas menjawab, “Ya, betul.”

Dengan mendongkol Bu-koat berkata, “Lelaki gagah seperti Saudara, tentunya takkan membikin susah seorang gadis lemah.”

“Gadis lemah? Hahahaha, kau kira dia gadis lemah?” To Kiau-kiau bergelak tertawa. “Kulihat dia jauh lebih kuat daripada sementara lelaki di dunia ini. Tapi kau pun jangan khawatir, kami pasti takkan membikin susah dia.”

Bu-koat tidak pedulikan orang lain dan tetap menatap Toh Sat, katanya pula, “Jika Saudara sudi membebaskan dia, mati pun Cayhe takkan menyesal.”

“Membebaskan dia tidak boleh, tapi kami pasti takkan mengganggu seujung rambutnya.”

“Betul?” Bu-koat menegas.

“Ya, terus terang, ayahnya adalah saudara angkat kami, mana bisa kubuat susah dia,” kata Toh Sat.

“Hah, ayahnya…” Bu-koat melenggong.

“Hahahaha, memangnya kau kira dia berasal dari keluarga terpelajar atau bangsawan? Bicara terus terang, ayahnya juga serupa kami, bukan manusia baik-baik,” seru Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Sia…siapakah ayahnya?” tanya Bu-koat dengan suara parau.

“Ayahnya bernama Thi Cian dan terkenal dengan julukan ‘Ong Say’ (si singa gila), ia pun tergolong manusia rendah yang tidak pernah disebut oleh gurumu, tentu saja kau tidak pernah dengar namanya,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Meski Thi Cian termasuk Cap-toa-ok-jin, tapi selain wataknya yang keras dan angkuh, jika bicara tentang tindak tanduknya serta jiwanya yang teguh, rasa-rasanya dia pasti tidak di bawah orang yang sok mengaku sebagai golongan pendekar berbudi segala,” ucap Toh Sat dengan suara bengis.

Bu-koat menghela napas panjang, katanya, “Jika demikian, legalah hatiku, sekarang aku cuma ingin minta petunjuk sesuatu padamu.”

“Bicara!” ucap Toh Sat singkat.

“Guruku…”

Belum lanjut ucapan Bu-koat, dengan tertawa To Kiau-kiau telah memotong, “Soal ini kau pun tidak perlu khawatir. Mereka memang terkurung di dalam gua ini oleh Gui Bu-geh, kecuali bisa memperoleh peralatan besar untuk menggali bukit ini, kalau tidak, selama hidup mereka jangan harap akan bisa keluar lagi.”

“Apa…apa betul?” Bu-koat menegas, sekujur badan serasa lemas.

“Sebegitu jauh tidak kulihat mereka keluar lagi,” ujar Toh Sat.

Bu-koat memejamkan mata dan tidak bicara pula.

Li Toa-jui tertawa sambil memandang Bu-koat, ucapnya, “Paling sedikit bocah ini ada satu segi baiknya.”

“Baik dalam hal apa?” tanya To Kiau-kiau.

“Sedikitnya dia tahu bilakah dia harus tutup mulut,” kata Li Toa-jui.

“Haha, betul!” timbrung Ha-ha-ji sambil berkeplok. “Meski ia dibesarkan di tengah kerumunan perempuan, tapi dia tahu kapan harus tutup mulut, hal ini sungguh harus dipuji.”

“Dalam hal ini jelas kalian tidak paham,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa “Orang yang hidup di lingkungan yang cuma orang perempuan melulu justru tidak suka banyak omong.”

“Sebab apa?” tanya Li Toa-jui.

“Coba pikir,” tutur To Kiau-kiau dengan sungguh-sungguh. “Dia hidup di tengah-tengah perempuan sebanyak itu, mana dia ada kesempatan untuk bicara?”

“Haha, betul,” seru Li Toa-jui sambil bertepuk tertawa. “Selama hidupmu ini mungkin ucapanmu inilah yang paling bagus dan paling tepat.”

Lalu To Kiau-kiau mendekati Hoa Bu-koat, katanya dengan perlahan, “Kini satu-satunya ahli waris Ih-hoa-kiongcu sudah meringkuk di sini, kedua kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga tak dapat keluar lagi, Ih-hoa-kiongcu yang gilang gemilang selama ini selanjutnya akan pudar dan sirna. Nah, semua ini jasa siapakah? Apakah kalian sudah tahu jelas?”

“Haha, dengan sendirinya adalah jasamu,” kata Ha-ha-ji.

“Asal tahu saja,” ucap To Kiau-kiau. “Dan kalau sudah tahu, cara bagaimana kalian harus berterima kasih padaku.”

Cepat Pek Khay-sim mendahului menjawab, “Baiklah, kita hadiahkan serigala mulut besar ini sebagai jodohmu, bilamana kau menjadi perempuan suruh dia menjadi lakimu, kalau kau ingin menjadi laki-laki, tinggal suruh dia ganti tempat saja.”

Ia merasa ucapannya sendiri sangat lucu, maka sebelum orang lain tertawa ia sendiri sudah mendahului tertawa.

Li Toa-jui berjingkrak murka, ia meraung, “Kentut makmu busuk, kau sendiri anak jadah.”

Namun To Kiau-kiau hanya terkikik-kikik, katanya, “Jangan khawatir, orang-orang macam kalian ini biarpun dihadiahkan secara gratis juga aku tidak sudi.”

“Omitohud! Hahaha, habis apa yang kau harapkan?” tanya Ha-ha-ji.

To Kiau-kiau mengerling genit, katanya kemudian. “Aku cuma minta kalian membagi sebuah lebih banyak daripada beberapa buah peti itu.”

“Tidak menjadi soal, akan kubagi kau lebih banyak,” segera Ha-ha-ji menyatakan setuju.

Tapi Pek Khay-sim menyanggah, jengeknya, “Hm, karena kau tahu tiada seorang pun di antara kita akan mendapatkan peti-peti itu, maka kau lantas berlagak murah hati.”

“Dari mana kau tahu takkan mendapatkan peti-peti itu?” tanya Kiau-kiau.

“Hakikatnya sampai detik ini kau pun tak tahu peti-peti itu berada di mana?” jawab Pek Khay-sim.

“Bisa jadi kutahu, lalu bagaimana?” ujar Kiau-kiau.

“Hah, kau tahu?” melonjak juga Pek Khay-sim.

To Kiau-kiau tidak menggubrisnya, tapi ia berkata kepada Toh Sat, “Toh-lotoa, maukah kau membagi satu peti lebih banyak padaku?”

“Baik,” jawab Toh Sat setelah menatapnya sejenak.

“Nah, asalkan Toh-lotoa sudah menyanggupi, maka legalah aku,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

“Coba katakan sekarang, di mana peti-peti itu?” tanya Li Toa-jui pula.

“Kupikir peti-peti itu pasti berada di dalam gua ini,” tutur Kiau-kiau, “Betapa pun tidak mungkin Gui Bu-geh memindahkan peti-peti yang besar dan berat itu.”

“Tapi Hoa Bu-koat bilang tidak melihat apa-apa,” kata Li Toa-jui.

“Dengan sendirinya mereka tidak memperhatikan beberapa peti itu,” kata Kiau-kiau. “Kuyakin waktu itu kedua Auyang bersaudara juga pasti tidak berani menipu Gui Bu-geh, maka besar kemungkinan peti-peti itu masih tersimpan di dalam gua ini.”

“Hah, bagus, bagus, silakan kau masuk ke sana, peti pasti masih tersimpan di situ, tapi aku ingin mohon diri untuk pergi saja,” seru Pek Khay-sim sambil tertawa. Benar juga, segera ia angkat kaki dan pergi.

“Keparat ini benar-benar pergi, apakah kau tahu sebab apa dia pergi?” tanya Li Toa-jui.

To Kiau-kiau tertawa, jawabnya, “Dia mengira kita takkan mampu masuk ke dalam gua, andaikan dapat masuk juga sama seperti kambing disodorkan ke mulut harimau dan tidak mungkin bisa keluar lagi.”

“Apakah kau ingin masuk ke sana?” tanya Li Toa-jui. “Kalau kita masuk ke situ, yang pasti akan keluar lagi ialah Ih-hoa-kiongcu, sebab meski Gui Bu-geh mampu mengurung mereka di dalam, tapi pasti tidak mampu mencelakai mereka. Mereka pun takkan berterima kasih karena kita telah menolong mereka.”

“Wah, jika begitu, rasanya aku juga mau pergi saja bersama Pek Khay-sim,” kata Ha-ha-ji.

“Kalau kita masuk sekarang memang akan seperti babi panggang disuguhkan ke mulut mereka,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Tapi kan tiada peraturan yang mengharuskan kita harus masuk sekarang juga?”

“Hahaha, memang betul juga, memang tiada peraturan begitu,” seru Ha-ha-ji dengan mata berkilau.

“Jika Gui Bu-geh dapat mengurung mereka di dalam situ, tentu sebelumnya sudah dirancang dengan cermat,” tutur Kiau-kiau. “Di dalam gua pasti tak terdapat bahan makanan dan minuman.”

“Betul, Gui Bu-geh pasti sudah memperhitungkan mereka akan mati kelaparan di situ,” tukas Li Toa-jui.

“Coba jawab, badanmu biasanya sangat sehat bukan?” tiba-tiba To Kiau-kiau tanya kepada Li Toa-jui.

“Sudah tentu,” jawab Li Toa-jui dengan tertawa. “Kan sering kukatakan kepada kalian bahwa daging manusia jauh lebih baik dari pada daging lain, lebih bergizi dan lebih banyak menambah tenaga, orang biasa makan daging manusia pasti akan selalu sehat walafiat, kuat dan tangkas.”

“Dan berapa lama kau tahan lapar?” tanya Kiau-kiau pula.

Terbeliak mata Li Toa-jui, jawabnya, “Wah, jika tidak makan apa-apa sedikitnya kutahan sepuluh hari sampai setengah bulan, tapi kalau tiada air minum, dua hari saja tidak tahan.”

“Itulah dia,” seru To Kiau-kiau dengan bergelak tawa. “Betapa pun kuatnya seseorang, tanpa minum air dua hari saja pasti akan roboh juga. Seandainya Ih-hoa-kiongcu memang jauh lebih kuat ketahanannya daripada orang lain juga takkan tahan lebih dari tiga hari.”

“Haha, betul, jika begitu, kenapa kita tidak menunggu saja selama tiga atau lima hari baru kemudian masuk ke situ?” tukas Ha-ha-ji.

Belum lenyap suaranya, mendadak Pek Khay-sim melompat keluar dari balik pohon sana dan berseru dengan tertawa, “Betul, kita tunggu lagi tiga hari baru nanti kita masuk ke situ. Hahaha, wahai To Kiau-kiau, kau memang jauh lebih cerdik daripada apa yang pernah kubayangkan.”

Meski sejak tadi Hoa Bu-koat memejamkan mata, tapi telinganya tetap terbuka, dengan sendirinya percakapan mereka dapat didengarnya. Seketika perasaannya tertekan, cemas dan gelisah.

Didengarnya Ha-ha-ji berkata pula dengan tertawa, “Haha, memangnya apa susahnya kita tunggu di sini, kita dapat makan minum enak di sini, biarpun menunggu tiga bulan juga tidak menjadi soal.”

“Masa kita lantas menunggu di sini melulu?” kata Pek Khay-sim.

“Dengan sendirinya cuma menunggu saja di sini,” ujar Kiau-kiau. “Sebab kita juga tidak ingin orang lain masuk lebih dulu, siapa pun yang muncul di sini, kita harus berdaya mengenyahkannya.”

Sejak tadi Toh Sat diam saja, kini mendadak ia berucap dengan kaku, “Dan bagaimana kalau Gui Bu-geh yang muncul kembali ke sini?”

Seketika berubah air muka Pek Khay-sim, serunya, “Betul juga, Gui Bu-geh berhasil mengurung mereka, bisa jadi dia akan datang lagi ke sini untuk melihat mereka.” Ia kebas-kebas bajunya dan menyambung pula, “Nah, silakan kalian menunggu saja di sini, maaf, tak dapat kutemani kalian.”

“Pergilah kau, pergilah lekas, sekali ini jangan kau kembali lagi ke sini,” kata Kiau-kiau.

“Sekali ini kalau dia berani kembali ke sini akan kutabas buntung kedua kakinya,” ancam Toh Sat.

Rupanya Pek Khay-sim memang jeri terhadap Toh Sat, dengan menyengir ia berkata, “Toh-lotoa, kau sendiri yang bilang Gui Bu-geh akan datang lagi, tentunya kau pun tahu betapa hebat ilmu silatnya, untuk apa kita meski menunggu kedatangannya dan mengadu jiwa dengan dia?”

Toh Sat tidak menanggapinya lagi, ia hanya memandang kaitan baja mengkilat yang terpasang pada lengannya yang buntung itu, sorot matanya menampilkan nafsu membunuh.

Seketika Pek Khay-sim merinding dan tidak berani bersuara pula.

To Kiau-kiau lagi berucap, “Coba, menurut penilaianmu bagaimana ilmu silat Gui Bu-geh dibandingkan Yan Lam-thian?”

“Sudah tentu Gui Bu-geh bukan tandingan Yan Lam-thian,” jawab Pek Khay-sim.

“Nah, sedangkan orang selihai Yan Lam-thian saja Toh-lotoa berani melabraknya, apalagi seekor tikus yang sudah ompong?” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.

Pek Khay-sim menarik napas dingin, jengeknya, “Tapi apakah kau pun ingin melabrak Gui Bu-geh? Bilakah kau berubah menjadi pemberani?”

“Untuk apa aku melabrak dia?” jawab Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika muncul, aku hanya ingin bersahabat saja dengan dia.”

Pek Khay-sim memandangnya sejenak, mendadak ia tertawa terpingkal-pingkal, ucapnya sambil memegangi perut, “Hahaha! Kau ingin bersahabat dengan dia? Kukira Gui Bu-geh yang akan bersahabat denganmu! Jika Gui Bu-geh bersahabat denganmu, maka musang pun dapat bersaudara dengan ayam.”

“Jika terjadi setengah hari yang lalu tentu dia takkan mau bersahabat denganku, tapi kini keadaan sudah lain,” ujar Kiau-kiau.

“O, lain? Lain bagaimana?” tanya Pek Khay-sim.

“Sebab sekarang aku sudah ada modal untuk bersahabat dengan dia,” jawab Kiau-kiau.

“Haha, bersahabat juga perlu modal segala?” seru Pek Khay-sim dengan tergelak.

“Sudah tentu,” kata Kiau-kiau. “Berdagang mungkin tidak memerlukan modal, tapi bersahabat justru perlu modal. Umurmu sudah mendekati masuk kubur, masa peraturan ini saja tidak paham?”

“Ya, aku memang tidak paham,” kata Pek Khay-sim.

“Begini,” tutur Kiau-kiau. “Misalnya kau ingin bersahabat dengan seorang jutawan, maka sedikitnya kau harus punya kekayaan delapan ratus ribu. Jika kau ingin bersahabat dengan putra perdana menteri, paling tidak bapakmu sendiri harus seorang direktur jenderal. Kalau tidak, biarpun kau membelah perutmu dan perlihatkan kesungguhanmu padanya juga dia takkan bersahabat denganmu.”

“Ya, ya, betul juga, justru lantaran aku ini seorang brengsek, makanya mempunyai teman-teman konyol seperti kalian ini. Begitu bukan?” kata Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Betul, pintar juga kau, akhirnya kau paham,” kata Kiau-kiau.

“Tapi…tapi kau punya modal apa untuk bersahabat dengan Gui Bu-geh?” tanya Pek Khay-sim pula.

“Ini,” jawab Kiau-kiau sambil menuding Hoa Bu-koat. “Bocah inilah modalku.”

“Aha, pahamlah aku,” seru Pek Khay-sim sambil bertepuk tertawa. “Baru sekarang kutahu kau ini sepuluh kali lebih konyol daripada dugaanku.”

“Dan sekarang kau tidak ingin pergi lagi?” tanya Kiau-kiau.

Pek Khay-sim mendelik, jawabnya, “Bilakah pernah kukatakan mau pergi? Kita sudah berkawan selama berpuluh tahun, masa boleh kutinggal pergi begitu saka tanpa pedulikan kalian? Seumpama Gui Bu-geh tidak mau bersahabat denganmu juga akan kulabraknya.”

Hoa Bu-koat sampai melongo mengikuti percakapan mereka itu.

Sungguh, kalau tidak mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri pasti tiada yang percaya bahwa di dunia ini ada manusia yang berkulit muka setebal dan berhati sekeji ini, sekarang dia jatuh di tangan orang-orang demikian, ingin menangis pun tak keluar air mata lagi.

Terdengar To Kiau-kiau berkata pula, “Sekarang kalau kita sudah bertekad akan menunggu di sini, maka ada beberapa urusan yang harus kita kerjakan.”

“Betul,” tukas Pek Khay-sim, “Jika kita sudah pasti tinggal di sini, harus pula kita bawa ke sini kedua anak dara itu. Meski makhluk setengah setan dan setengah manusia itu berjanji akan menjaga mereka, namun aku tetap khawatir.”

“Memang, bisa jadi kedua nona itu masih perlu kita gunakan nanti,” kata To Kiau-kiau. “Untuk itu, hai, Ha-ha-ji, sukalah kau bawa mereka ke sini.”

Seketika Pek Khay-sim berjingkrak gusar, omelnya, “Mengapa kau menyuruh Hwesio sontoloyo yang tak beres ini dan tidak menyuruh aku?”

“Sebabnya, sekarang aku tidak menghendaki anak perempuan si Thi gila dicaplok oleh setan kundai licin seperti kau ini dan juga tidak ingin dia ditelan oleh Li Toa-jui, makanya kusuruh Ha-ha-ji,” jawab Kiau-kiau dengan tertawa.

“Hahaha! Nah, orang she Pek,” kata Ha-ha-ji, “kau pun tidak perlu khawatir. Akhir-akhir ini aku sudah tambah malas gerak badan, khawatir keluar keringat, biarpun kau sodorkan bidadari ke depanku juga malas kuraba dia.”

“Hm,” Pek Khay-sim mendengus. “Dan bagaimana dengan diriku, pekerjaan apa yang harus kulakukan?”

“Boleh kau pergi mencari barang makanan dan minuman, sedikitnya harus cukup untuk kita makan tiga hari,” kata To Kiau-kiau.

Seketika Li Toa-jui juga melonjak gusar, omelnya, “Mengapa kau menyuruh dia? Keparat itu sama sekali tidak paham soal makan, sepotong ikan saja dimakannya selama tiga hari, apa yang dibawanya nanti mungkin anjing saja tidak mau mengendusnya.”

“Memang betul juga, kebanyakan setan kundai licin (maksudnya tukang main perempuan) tidak mengutamakan soal makan,” kata To Kiau-kiau. “Tapi apa pun juga toh lebih baik daripada kau yang pergi, jika nanti kau bawa pulang sepotong paha manusia yang gemuk, bukankah kami yang harus kelaparan?”

“Hm,” jengek Li Toa-jui. “Baiklah, jika kau tidak menyuruhku, kebetulan, aku boleh menganggur dan berjalan jalan saja.”

“Kau pun ada tugas,” kata Kiau-kiau tiba-tiba.

Li Toa-jui melotot, tanyanya, “Tugas apa?”

“Di bawah bukit sana ada sebuah kota kecil, agaknya ada sebuah bengkel juga, boleh kau ke sana dan usahakan beberapa alat penggali. Kukira untuk menjebol gua ini bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah.”

“Hahaha, jika mudah, kan sejak tadi-tadi Ih-hoa-kiongcu sudah keluar?” seru Ha-ha-ji.

Begitulah ketiga orang itu lantas berangkat menunaikan tugas masing-masing.

Yang kembali dulu adalah Ha-ha-ji.

Dia menyeret seekor keledai. Keledai itu menarik sepotong batu besar. Batu besar yang penuh lumut, batu itu setinggi setombak lebih dan selebar tujuh-delapan kaki, dengan mantap batu tertaruh di atas papan yang diberi empat roda.

Batu sebesar itu sedikitnya mempunyai bobot ribuan kati. Padahal keledai itu kurus kecil, mukanya jelek, tiada sesuatu yang menarik.

Tapi aneh, keledai yang jelek itu justru mampu menarik sepotong batu yang beratnya beribu kali, bahkan sedikit pun tidak kelihatan payah. Masa keledai ini “keledai ajaib”.

Padahal Hoa Bu-koat lagi menantikan kedatangan Thi Sim-lan dengan gelisah, tapi kini Ha-ha-ji pulang dengan cuma membawa seekor keledai. Keruan Bu-koat sangat kecewa dan juga melenggong.

Pada saat itulah, peristiwa yang lebih aneh telah terjadi pula. Tiba-tiba terdengar di dalam batu raksasa itu ada suara rintihan yang aneh, bahkan terseling pula suara tertawa cekikikan.

Sungguh aneh, apakah di dalam batu raksasa itu ada siluman!?

Bu-koat hampir tidak percaya pada matanya sendiri, lebih-lebih tidak percaya pada telinganya sendiri.

To Kiau-kiau meliriknya sekejap, tiba-tiba ia berkata, “Sudahkah kau lihat jelas batu itu? Inilah batu ajaib, batu ini bisa makan manusia, maka bisa juga disebut batu pemakan manusia. Nona Thi yang kau rindukan itu justru termakan ke dalam perut batu itu.”

Hoa Bu-koat cuma menggereget saja, sedapatnya ia tahan perasaannya dan tidak bersuara.

“Kau tidak percaya?” kata Kiau-kiau pula. “Baiklah, akan kuperlihatkan padamu.”

Dengan berlenggak-lenggok ia lantas mendekati batu itu dan mengitarinya satu kali, mulut lantas berkomat-kamit seperti membaca mantera, habis itu mendadak ia membentak, “Batu pemakan manusia, lekas buka pintu, cepat!”

Sekalipun Hoa Bu-koat seribu kali tidak percaya, tidak urung pandangannya tertuju juga ke sana. Walaupun matanya memandang, tapi dalam hati tetap seribu kali tidak percaya.

Tak terduga, sekali To Kiau-kiau mengayun tangannya, tahu-tahu batu terbuka, benar juga di dalam batu ternyata ada dua manusia. Manusia hidup.

Mereka ternyata Thi Sim-lan dan Pek-hujin, istri Pek San-kun.

Di malam gelap di tengah pegunungan yang sunyi, dalam keadaan demikian dan pada saat ini, Hoa Bu-koat benar-benar dibuat terkejut.

Akan tetapi Ha-ha-ji dan To Kiau-kiau lantas bertepuk tertawa.

Akhirnya Bu-koat juga mengetahui bahwa batu raksasa itu ternyata buatan dari kain layar yang dibentuk seperti batu, lalu bagian luar ditempeli dengan lumut hijau.

Batu buatan ini memang mirip sekali batu asli, apalagi di tengah malam gelap, sekalipun tajam mata Hoa Bu-koat juga tak dapat membedakannya.

Setelah kain layar tersingkap baru kelihatan kerangka batu itu terbuat dari kawat baja sehingga bentuknya mirip sebuah sangkar. Pek-hujin dan Thi Sim-lan justru terkurung di dalam sangkar besi ini.

Thi Sim-lan tampak meringkuk di pojok, kedua tangan mendekap muka, seperti tidak ingin terlihat orang dan juga tidak ingin melihat orang.

Sedangkan tubuh Pek-hujin hampir telanjang bulat, bahkan kelihatan lagi bergeliat-geliat sambil tertawa terus-menerus serta merintih-rintih.

Bu-koat memandangnya sekejap lantas memejamkan mata, ia tidak tega memandang lebih lama. Ia tidak tega memandang keadaan Thi Sim-lan, juga tidak tega membuatnya berduka, sedangkan Pek-hujin membuatnya agak mual.

Terdengar To Kiau-kiau mengikik tawa dan berkata, “Kukatakan batu ini adalah batu ajaib, kan tidak seluruhnya berdusta padamu bukan? Di waktu siang, jika harus menempuh perjalanan, cukup di atas sangkar ini ditutup dengan tenda, maka jadilah dia kereta bertenda, ke mana pun takkan menimbulkan perhatian orang.”

“Dan kalau istirahat di waktu malam,” demikian Ha-ha-ji menyambung, “Kami lantas menaruhnya di semak-semak pohon yang lebat, boleh kau memandangnya dari jauh atau melihatnya dari dekat, diperiksa dari kanan atau diteliti dari kiri, dia tetap sepotong batu belaka. Haha, memangnya siapa yang menduga bahwa di dalam batu ada orangnya?”

“Bilamana kami sendiri yang tinggal di dalam batu, maka jadilah kamar yang aman dan enak,” sambung To Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika kami mendapat tawanan dan disembunyikan di dalam batu, maka siapa pun takkan menemukannya.”

“Haha, makanya sekalipun bukit ini telah kau bongkar seluruhnya juga bayangan nona Thi ini takkan kau temukan,” tukas Ha-ha-ji.

Diam-diam Bu-koat menghela napas gegetun, baru sekarang ia mengaku beberapa “Ok-jin” ini memang mempunyai kemampuan yang tak dapat di kerjakan orang lain. Permainan yang aneh begini, kecuali mereka mungkin tidak banyak yang dapat melakukannya.

Dengan tertawa To Kiau-kiau lantas berseru, “Eh, Thi Sim-lan, nona Thi, tahukah kau kami ini sedang bicara dengan siapa?”

Namun Thi Sim-lan tetap mendekap mukanya dengan kedua tangan dan tidak mau mengangkat kepalanya.

“Mengapa kau tidak pentang mata dan memandangnya, kutanggung kau akan berjingkat bila kau pandang sekejap saja,” sambung Ha-ha-ji.

Namun Bu-koat justru berharap agar Thi Sim-lan jangan mau membuka mata, jangan memandang keadaannya sekarang. Maklum, selamanya ia tidak ingin membuat si nona berduka baginya.

Akan tetapi tangan Thi Sim-lan toh diturunkan juga dan menengadah. Seketika tubuh si nona lantas gemetar.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan menerjang maju, tangan memegang jeruji sangkar, sorot matanya penuh rasa duka dan putus asa, tapi dia tidak menjerit dan menangis, kerlingan matanya sungguh membuat hati orang remuk redam.

Bu-koat memejamkan mata, ia tidak tega memandang si nona, ia berharap bumi raya ini mendadak merekah dan menelannya bulat-bulat selamanya.

Tiba-tiba Kiau-kiau berucap dengan tertawa, “Hoa-kongcu, Kionghi, baru sekarang kutahu dia menyukaimu dengan setulus hati. Sungguh tidak mudah kau dapat merebutnya dari tangan Siau-hi-ji.”

“Haha, pantas Siau-hi-ji merasa cemburu, kiranya dia…”

“Tutup mulut!” bentak Hoa Bu-koat sekuatnya sebelum lanjut ucapan Ha-ha-ji. Dengan melotot ia pandang Toh Sat dan berteriak, “Kau sudah berjanji takkan menganggunya?”

“Betul,” jawab Toh Sat.

“Jika begitu, mengapa sekarang kalian memperlakukan begini padanya?” teriak Bu-koat.

“Sekarang tiada yang melukai dia, tiada yang mengganggu satu jarinya pun,” jawab Toh Sat.

“Tapi mengapa kalian melukai hatinya?”

“Melukai hatinya? Selama hidup aku tidak kenal istilah ini,” jengek Toh Sat.

“Kau…kau sendiri selamanya tidak pernah terluka hatimu?”

Sedingin sembilu sorot mata Toh Sat ucapnya, “Hakikatnya aku tidak punya hati untuk dilukai.”

Bu-koat tidak tahu apa yang harus diucapkannya pula. Ia merasa dirinya sebenarnya semakin tidak memahami orang lain, ia pun tidak tahu orang ini harus dibenci atau harus dikasihani?

Ia sendiri betapa pun juga masih mempunyai hati yang dapat dilukai, kalau seorang sudah tiada mempunyai hati untuk dilukai, itulah benar-benar menyedihkan.

Pada saat itu tertampak Pek Khay-sim juga telah kembali. Dia membawa dua bungkusan besar dan tiada hentinya mengomel, “Aku dapat mencarikan makanan bagi kalian, sungguh aku sendiri pun tidak percaya.”

“Haha, barangkali inilah untuk pertama kalinya kau berbuat sesuatu yang menguntungkan orang lain tanpa merugikan diri sendiri,” kata Ha-ha-ji dengan tertawa.

“Ya, dan juga penghabisan kalinya,” tukas Pek Khay-sim.

“Dan mana Li Toa-jui, mengapa belum lagi pulang?” tanya Toh Sat.

“Dia mungkin kepergok setan,” tutur Pek Khay-sim.

“Kau tidak ke kota kecil itu bersama dia?” tanya Toh Sat pula.

“Masa aku mau jalan bersama serigala mulut besar itu,” teriak Pek Khay-sim. “Kalau dia mau menuju surga, aku lebih baik pergi ke neraka.”

“Jika demikian, makanan ini kau dapat dari mana?” tanya To Kiau-kiau.

“Dari biara di kaki bukit sana,” jawab Pek Khay-sim.

“Wah, biara!” teriak Kiau-kiau. “Masa kau suruh kami Ciacay selama tiga hari?”

Pek Khay-sim tertawa, jawabnya, “Memangnya kau kira Hwesio penghuni biara sana itu Ciacay semua? Supaya kau tahu, nasibmu lagi mujur, biara yang kutemukan itu kebetulan dihuni oleh Hwesio sontoloyo. Juragan dan pelayannya saja merasa sayang makan daging barang satu tahil pun, tapi mereka justru makan tanpa batas, daging sekati demi sekati disikat terus.”

“Hah, biara masa kau anggap seperti rumah makan, mana boleh kau anggap Hwesio membuka rumah makan?” kata Kiau-kiau dengan geli.

“Kau kira ada bedanya antara biara kaum Hwesio dengan rumah makan?” tanya Pek Khay-sim dengan melotot.

“Dengan sendirinya berbeda,” jawab Kiau-kiau.

“Umpamanya saja, rumah makan pasti akan menghidangkan makanan yang paling lezat bagi tamunya, sebaliknya biara kaum Hwesio hanya memberi makan orang lain dengan sebangsa tahu dan sayuran, mereka sendiri bersembunyi di dapur untuk makan daging. Malahan orang yang makan tahu dan sayur di biara kaum Hwesio itu akan jauh lebih mahal dibandingkan bila mereka makan besar di restoran.”

“Tapi di dunia ini kan tidak seluruh Hwesio sontoloyo suka makan daging dan minum arak, Hwesio yang prihatin dan suci juga banyak,” ujar To Kiau-kiau.

“Kalau tidak makan daging dan minum arak lantas kenapa? Apakah itu menandakan mereka orang baik-baik?” tanya Pek Khay-sim. “Huh, mereka tidak bekerja apa pun, tapi justru ada orang yang rela mengantarkan harta bagi mereka sekalipun harta benda mereka itu diperoleh dari kerja mati-matian.”

Lalu dia mendengus dan mengacungkan tiga jari, katanya pula, “Kau tahu, di dunia ini hanya ada tiga macam pekerjaan yang tidak perlu modal. Pertama menjadi lonte, kedua menjadi rampok, ketiga ialah menjadi Hwesio.”

“Omitohud, dosa, dosa, kalau kau mati mustahil tidak digusur ke neraka untuk dipotong lidahmu,” ucap Ha-ha-ji.

“Memangnya kalau sudah menjadi Hwesio lantas naik surga?” jengek Pek Khay-sim. “Hehe, jika orang di dunia ini sama ingin naik surga dan menjadi Hwesio, mungkin patung pemujaan di biara itu bisa mati kelaparan.”

“Makilah, silakan maki sepuasmu, toh tiada Hwesio yang mendengar makianmu kecuali Hwesio munafik seperti Ha-ha-ji,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Haha, biarpun kudengar juga kuanggap dia lagi kentut,” kata Ha-ha-ji. Dari bungkusnya segera dikeluarkannya sepotong daging terus dilalap, gumamnya dengan tertawa. “Mulut orang gunanya makan dan bukan untuk memaki orang, jika salah pakai, yang sial pasti dia sendiri.”

Sekonyong-konyong Pek-hujin melompat bangun dan mengincar kedua kantong makanan yang dibawa pulang Pek Khay-sim tadi.

Sekujur badanya penuh luka-luka, ada yang bekas cambuk, ada yang dicakarnya sendiri, sesungguhnya dia telah tersiksa sedemikian rupa sehingga tiada mirip orang, dia sudah mempunyai lagi martabat sebagai seorang manusia. Malahan sorot mata Pek-hujin sekarang lebih mirip seekor binatang buas.

“Apakah kau pun ingin makan?” tanya To Kiau-kiau sambil mengeluarkan sepotong bakpau.

Dengan suara serak Pek-hujin menjawab, “Di dunia ini hanya ada pesakitan yang harus dihukum dan tiada pesakitan yang tak diberi makan.”

“Maaf, kami justru ingin membikin kalian kelaparan,” kata Kiau-kiau.

Pek-hujin tidak bicara lagi, sebab rasa gatal aneh ditubuhnya kembali kumat.

“Mengapa kau sengaja membuat mereka kelaparan?” tanya Toh Sat.

“Ya, akan kugunakan mereka sebagai kelinci percobaan,” jawab To Kiau-kiau dengan tersenyum. “Ingin kutahu sampai berapa lama mereka akan kehabisan tenaga jika tidak diberi makan. Sesudah begitu baru kita mulai menggali gua ini.”

Pek Khay-sim menggeleng dan berucap dengan gegetun, “Orang hanya tahu di dunia ini ada perempuan yang berhati keji, tak tahunya bahwa ada sementara orang yang bukan lelaki dan tidak perempuan justru berhati lebih menakutkan.”

“Hehe, tak tersangka tuan Pek kita sekarang juga paham cara bagaimana berkasih sayang,” kata Kiau-kiau. “Cuma tampaknya kau pun tidak paham perasaannya, jika kau sangka ia menderita dan kesakitan, maka kelirulah kau.”

“Dia tidak menderita, tidak sakit? Memangnya dia sangat senang, sangat riang?” tanya Pek Khay-sim.

“Ya, memang begitulah,” jawab Kiau-kiau. “Sebab di dunia ini memang ada sementara orang yang suka disiksa dan dianiaya. Coba dengarkan suara keluh-kesahnya, suara rintihannya sekarang dapatkah kau bedakan apakah itu keluhan menderita atau rintihan kepuasan?”

Orang yang pulang terakhir ialah Li Toa-jui.

Waktu kembali hari pun sudah hampir terang tanah. Dia berlari-lari bekerja keras semalam suntuk, tapi sedikitnya dia tidak nampak letih dan mengantuk, sebaliknya sangat gembira dan tetap bersemangat.

Pek Khay-sim mencibir, jengeknya, “Coba kalian lihat betapa riang gembiranya seperti orang putus lotre satu miliar.”

Tapi To Kiau-kiau lantas menyela, “Jangan kau pedulikan dia yang sedang kentut, lekas ceritakan saja kejadian aneh apa yang kau lihat.”

“Dari mana kau tahu aku melihat kejadian aneh?” tanya Li Toa-jui.

“Jika kau berkaca sekarang, tentu kau tahu apa sebabnya?” jawab Kiau-kiau.

“Ya, ya, kelemahanku yang terbesar adalah aku tak dapat menyimpan perasaan,” ucap Li Toa-jui sambil meraba dagunya. “Entah sampai kapan baru dapat kulatih sehingga setaraf Toh-lotoa yang girang dan marah tidak kelihatan sama sekali!”

“Toh-lotoa juga bukan benar-benar tidak kenal rasa senang dan marah, jika hatinya lagi gembira tentu juga tertampak dari air mukanya, hanya saja hati Toh-lotoa selama ini memang tidak pernah gembira,” demikian ujar To Kiau-kiau.

Li Toa-jui melirik Toh Sat sekejap, mau tak mau ia pun merinding melihat wajahnya yang seram itu. Cepat ia berkata dengan tertawa, “Dugaan kalian memang tidak salah, kejadian yang dipergoki bukan saja sangat aneh, bahkan sangat menarik.”

“Kejadian apa sesungguhnya?” tanya Toh Sat dengan dingin.

“Waktu kuberangkat, sementara itu sudah menjelang tengah malam,” demikian tutur Li Toa-jui. “Semula kukira penduduk di kota kecil itu pasti sudah tidur semua, siapa tahu, setiba di sana seluruh kota kecil itu masih terang benderang orang masih berlalu lalang dengan ramainya, tampaknya jauh lebih ramai daripada pasar malam di kota raja.”

“Sekalipun kota raja juga tidak ada pasar malam pada musim ini,” ujar Kiau-kiau.

“Ya, aku pun heran,” tutur Li Toa-jui lebih lanjut. “Maka aku lantas mencari tahu pada seseorang dan baru diketahui apa yang terjadi. Kiranya di sana kedatangan dua orang yang sengaja membuka tempat judi, bukan saja penduduk setempat siang malam ikut berjudi, bahkan penduduk sekitar kota sana juga sama berbondong-bondong membanjir tiba. Sebab itulah kota kecil yang biasanya sepi itu menjadi jauh lebih ramai daripada-kota dagang yang besar.”

“Hanya tempat judi kecil begitu, mengapa punya daya tarik sebesar itu? Memangnya selama hidup orang-orang itu tidak pernah berjudi?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Haha, jadi bandar judi adalah usaha yang menguntungkan, boleh dikatakan tidak ada perusahaan lain di dunia ini yang lebih menguntungkan daripada usaha judi,” seru Ha-ha-ji. “Hahaha, bagaimana kalau kita juga ramai-ramai jadi bandar untuk menyaingi kedua bocah itu?”

“Tempat judi seperti mereka itu mungkin kita tidak sanggup membukanya,” kata Li Toa-jui dengan tertawa.

“Sebab apa?” tanya Kiau-kiau.

“Sebab mereka membuka tempat judi bukan untuk mencari keuntungan melainkan untuk mencari senang saja, untuk memuaskan selera judi mereka,” tutur Li Toa-jui. “Orang-orang yang berjudi ke sana, jika menang, mereka akan mendapatkan kemenangannya sesuai taruhannya. Bila kalah mereka tidak perlu keluar uang, cukup bertekuk lutut dan menyembah satu kali, lalu boleh angkat kaki. Konon tidak sampai tiga hari kedua bandar itu sudah tombok belasan laksa tahil perak.”

Seketika mata Pek Khay-sim terbeliak, ucapnya, “Biasanya tidak ada yang mau bekerja rugi, jangan-jangan otak kedua orang itu sudah miring!”

“Otak mereka sih tidak miring, hanya selera judi mereka yang luar biasa, boleh dikatakan sudah mencandu,” tutur Li Toa-jui. “Siapa saja yang mengajak mereka bertaruh, mereka akan terima dengan senang hati, kalah atau menang bukan soal bagi mereka.”

To Kiau-kiau tertawa, katanya, “Hah, masa di dunia ini ada orang yang kecanduan judi seperti itu kecuali…” mendadak ia merandek dan melototi Li Toa-jui, lalu menegas, “Apakah dia?”

“Hahaha, kalau bukan dia, memangnya siapa lagi?” jawab Li Toa-jui dengan bergelak tertawa.

Mendadak Ha-ha-ji juga bertepuk, serunya, “Haha, sekarang aku pun tahu siapa setan judi begitu, di dunia ini memang tidak ada orang kedua selain dia.”

“Masa benar-benar Han-wan Sam-kong?” Toh Sat menegas dengan berkerut kening.

“Dengan sendirinya dia, siapa lagi?” jawab Li Toa-jui.

“Kau telah melihat dia?” tanya Toh Sat pula.

“Ya, tapi dia sendiri tidak melihatku,” tutur Li Toa-jui. “Saat itu dia lagi asyik bertaruh, matanya hanya tertuju kepada biji dadu dan kartu pay-kiu, sekalipun bapaknya sendiri berdiri di depannya juga tak dikenalnya lagi.”

To Kiau-kiau mengikik geli, ucapnya, “Memang, bilamana seorang pecandu judi lagi asyik bertaruh, biarpun sanak famili juga tidak dipedulikan. Cuma, apakah kau menyaksikan dia kalah dan membayar kepada lawannya?”

“Cara pertaruhannya sangat aneh juga,” tutur Li Toa-jui pula. “Satu kali menyembah dihargai satu tahil perak, satu kali pukul pantat dinilai dua tahil, maka kalau taruhannya dimenangkan dia, seketika tempat judi itu ramai dengan suara pantat orang digebuk dan kepala membentur lantai, ditambah lagi suara gelak tertawanya yang gembira, maka suasana menjadi riuh ramai.”

“Dan kalau dia kalah, kontan dia bayar, dikeluarkannya perak sepotong demi sepotong dan bayar kontan, satu peser pun tidak menunggak,” kata Li Toa-jui.

“Sungguh aneh, aku menjadi bingung,” ucap To Kiau-kiau. “Padahal Ok-tu-kui terkena suka bertaruh secara keras, tidak suka utang, tidak main curang. Malahan lebih bersifat ngotot, kalau hari terang, orang belum bubar dan uang belum ludes, tidak mungkin berhenti berjudi. Nah, jika menuruti cara berjudinya ini, biarpun malaikat juga akhirnya pasti kalah. Apalagi dia baru setan dan belum malaikat.”

“Haha, makanya dia selalu rudin, sampai sepatu yang layak saja tidak mampu beli, sepanjang tahun yang dipakainya adalah sepatu buntut yang depannya menganga dan belakangnya mengap,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa.

“Memang betul, selama ini Ok-tu-kui terkenal miskin, entah mengapa bisa berubah menjadi royal dan kaya mendadak, dari manakah dia mendapatkan perak sebanyak itu untuk membayar dia,” ujar Li Toa-jui.

“Aku pun tidak tahu sebab tidak kutanyai dia,” ujar Li Toa-jui.

“Sahabat lama bertemu, masa kau tidak menyapanya?” tanya To Kiau-kiau.

“Sejak dua puluh tahun yang lalu aku dipaksa bertaruh dengan dia, sejak itu pula kepalaku lantas pusing bila bertemu dengan dia,” tutur Li Toa-jui dengan tertawa. “Tentunya kalian tahu, aku ini selain suka makan daging manusia, biasanya tidak mempunyai hobi lain lagi.”

“Huh, melulu kesukaanmu itu saja sudah cukup alasan untuk memasukkan kau ke neraka, jika kau bertambah lagi hobi lain mungkin Giam-lo-ong akan bingung ke mana kau harus dikirim?” jengek Pek Khay-sim.

Li Toa-jui tertawa, tukasnya, “Kirim saja ke tempat tidur makmu!”

Keruan Pek Khay-sim berjingkrak murka, tapi sebelum dia bertindak lebih dahulu Toh Sat telah bersuara, ia paling jeri pada Toh Sat, terpaksa ia menahan gusarnya dan tidak berani bersuara pula.

“Lalu siapa lagi orang yang berkongsi dengar Han-wan Sam-kong itu”

“Sebelumnya malahan aku tidak pernah melihatnya,” jawab Li Toa-jui.

“O, macam apakah orang itu?” tanya Kiau-kiau,

“Kurus kecil, mukanya tidak menarik, kau pasti tidak suka padanya,” ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

“Belum tentu,” kata To Kiau-kiau dengan acuh. “Bisa jadi orang begitu akan sangat menarik bagiku.”

“Aku pun sangat tertarik terhadap orang begini,” tukas Pek Khay-sim, “Aku menjadi ingin tahu cara bagaimana dia bisa bersahabat dengan Ok-tu-kui, bisa jadi dia yang merogoh saku apabila Ok-tu-kui kalah bertaruh.”

To Kiau-kiau mengerling, ucapnya dengan tertawa, “Jika kita berdua sama-sama menaruh minat padanya, maka nanti kita boleh ke sana untuk menjenguk mereka.”

“Tapi alat penggali yang kita perlukan sudah kubawa kemari, sudah dua hari juga mereka terkurung di sini, malam nanti juga kita harus mulai bekerja,” kata Li Toa-jui.

“Hoa-kongcu ini saja tidak gelisah, mengapa kau malah terburu-buru?” omel Kiau-kiau.

*****

Meski sudah jauh malam, tapi kota kecil itu benar-benar masih terang benderang, orang pun masih ramai berlalu lalang, kebanyakan orang juga riang gembira, namun sembilan di antara sepuluh orang itu tampaknya bukan orang baik-baik, kalau bukan pencoleng tentulah kaum gelandangan.

Tapi dandanan To Kiau-kiau sekarang justru sangat apik dan terhormat, ia menyamar sebagai seorang Siucay (gelar terendah kaum sastrawan ujian negara) miskin. Dan dengan sendirinya Pek Khay-sim menyaru sebagai pengiring atau jongosnya.

Di tepi jalan kota kecil itu banyak penjaja makanan, ada pangsit mi, mi babat, nasi campur, bubur ayam, yan-cian-ngo-hiang (sosis) dan macam-macam lagi, ingin daging anjing juga ada.

To Kiau-kiau memilih pangsit-mi, ia duduk di bangku dan pesan semangkuk pangsit serta satu porsi daging rebus, sudah tentu tidak ketinggalan sepoci arak.

Pek Khay-sim sangat mendongkol, hati pingin makan, tapi apa daya, terpaksa ia harus menyaksikan To Kiau-kiau makan minum doang. Maklum dia menyamar sebagai jongos, mana boleh seorang jongos duduk makan bersama sang cukong?

Si tukang pangsit adalah seorang tua, sambil membuatkan pangsit yang diminta sembari mengajak ngobrol, ia bertanya, “Apakah Tuan juga datang untuk berjudi?”

“Bukan,” jawab Kiau-kiau acuh tak acuh.

“Ya, tampaknya tuan bukan orang yang kemaruk pada beberapa tahil perak lalu rela pantat dipukul orang atau menyembah segala,” kata si tukang pangsit. “Coba Tuan lihat, yang datang kemari ini hampir seluruhnya kaum pencoleng di sekitar kota ini, orang terhormat sebagai Tuan tentu tidak sudi.”

“Jika kau benci pada orang-orang ini, mengapa kau berjualan di sini dan menarik keuntungan dari mereka?” tanya Kiau-kiau.

Si tukang pangsit menyengir, jawabnya, “Manusia ada bedanya antara yang baik dan jahat, tapi perak kan sama putihnya? Tuan tahu?!”

To Kiau-kiau tertawa, tanyanya pula. “Apakah pernah kau lihat orang yang menjadi bandar judi itu?”

“Kedua orang itu mungkin sudah gila semua,” tutur si tukang pangsit dengan gegetun. “Tuan tahu, terutama yang kurus kecil itu, bila dia tidak ikut bertaruhan, maka ia cuma duduk termenung saja seperti habis kematian ayah-ibunya. Tapi sekali dia sudah pegang kartu, wah, lantas penuh semangat seperti habis makan obat kuat. Konon sampai sekarang dia sudah main tiga hari tiga malam dan belum ganti tangan. Tuan tahu?!”

“Apakah mereka mampu bayar jika kalah banyak?” tanya Kiau-kiau pula.

“Konon mereka membawa modal dua kereta penuh,” tutur si tukang pangsit. “Coba pikir, bukankah mereka itu orang sinting, mungkin leluhur mereka berdosa, maka melahirkan anak cucu yang membikin bangkrut.”

Rasa pangsit-mi itu tidak cukup enak, hanya beberapa kali menyumpit saja To Kiau-kiau lantas taruh mangkuknya. Lalu suruh tukang pangsit menghitung harganya.

Setelah putar kayun ke sana-sini, tetap To Kiau-kiau tidak memperoleh sesuatu berita istimewa, hanya diketahui selera judi sekutu Han-wan Sam-kong bahkan lebih besar daripada Ok-tu-kui itu, bilamana kebetulan tidak berminat, maka dia hanya duduk termenung seperti orang mampus.

“Tampaknya sekali ini Ok-tu-kui telah menemukan sahabat yang sepaham,” ujar Pek Khay-sim dengan tertawa.

To Kiau-kiau berpikir sejenak, katanya kemudian, “Kukira sekutunya itu bisa jadi sedang stress, maka menggunakan judi sebagai hiburan. Bukankah orang suka bilang bilamana orang berjudi maka urusan lain akan terlupakan seluruhnya.”

“Cara bagaimana kau bisa berpikir demikian?” tanya Pek Khay-sim.

“Sebab aku tidak mengerti dunia ini masih ada orang yang punya hobi judi lebih besar daripada Han-wan Sam-kong.”

Sambil bicara mereka ikut berjubel bersama orang banyak dan masuk ke suatu hotel. Hotel ini tidak besar dan merupakan hotel satu-satunya di kota kecil ini, kini hotel kecil ini hampir meledak karena berjubelnya pengunjung. Sebab kasino (rumah judi) yang dibuka Han-wan Sam-kong justru berada di dalam hotel itu.

Hotel kecil ini sebenarnya cuma ada empat kamar yang lumayan, sekarang keempat kamar ini telah ditembus, dinding yang menghadap halaman juga telah dijebol sehingga berwujud menjadi bangsal yang panjang.

Waktu To Kiau-kiau berdua masuk ke situ, tertampak di mana-mana hanya pengunjung yang berdesakan. Perawakan To Kiau-kiau memang tidak tinggi, dengan sendirinya ia tidak dapat melihat di mana beradanya Han-wan Sam-kong. Terdengar suara seorang lagi memaki sambil bergelak tertawa, “Hahaha, anak kura-kura, kenapa kalian main berjubel begini, antrilah secara teratur, bila berdesakan begini, sebentar kuning telur kalian mungkin tergencet keluar…”

Meski sudah dua puluh tahun To Kiau-kiau tidak mendengar suaranya, tapi begitu mendengar istilah ‘anak kura-kura’ segera ia tahu itu pasti Ok-tu-kui adanya.

“Marilah kita pun berdesakan ke depan, bila melihat kita mustahil Ok-tu-kui tidak berjingkrak kaget,” ujar Pek Khay-sim.

“Nanti dulu, jangan terburu-buru,” kata Kiau-kiau.

“Kita lihat dulu sesungguhnya orang macam apakah sekutu Ok-tu-kui itu.”

“Tapi kalau terus berdiri di sini, selain pantat orang-orang ini apa yang dapat kau lihat lagi?”

Tiba-tiba Kiau-kiau mendapat akal, ia tutuk Hiat-to dua orang di depannya, kontan kedua orang itu roboh tanpa bersuara, bahkan tiada seorang pun yang perhatikan mereka. Dengan leluasa To Kiau-kiau lantas menggunakan tubuh kedua orang itu sebagai panggung, ia berdiri di atas tubuh mereka.

Dari situ akhirnya To Kiau-kiau dapat melihat Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong.

Agaknya yang sedang terjadi pertaruhan ialah main dadu, cara bertaruhnya juga sederhana, hanya menebak: “besar” atau “kecil”.

Dadu terdiri dari tiga biji, setiap biji dadu yang berbentuk persegi itu mempunyai enam sisi, tiap-tiap sisi diberi titik. Dari satu titik sampai enam titik.

Dadu dimasukkan dalam mangkuk bertutup lalu dikocok, bila mangkuk dibuka dan titik ketiga dadu berjumlah sepuluh atau lebih berarti “besar”, jika berjumlah sembilan atau kurang daripada itu adalah “kecil”.

Saat itu Han-wan Sam-kong menggunakan sebuah meja panjang dengan taplak putih, di tengah taplak bergaris hitam, di sebelah sana tertulis sebuah huruf “besar” dan di sebelah sini huruf “kecil”.

Penjudi tinggal menjatuhkan pilihannya saja, bila pasang “besar” dan tepat, kontan mereka mendapat bayaran. Jika pasang “besar” dan dadu keluar “kecil”, artinya mereka kalah, lalu ramailah orang bertekuk lutut menyembah serta suara pantat digebuk. Cara pertaruhan ini sungguh sangat sederhana, cepat dan menyenangkan, juga unik.

Waktu itu Han-wan Sam-kong sedang mengocok dadu. Tampak bajunya hampir seluruhnya tak terkancing sehingga kelihatan simbar dadanya. Rambutnya juga semrawut, tapi diikat dengan sebuah handuk yang sudah kotor dan tentu saja berbau. Mukanya juga kotor berminyak, matanya merah, tampangnya itu lebih mirip seorang jagal babi.

Di depan Han-wan Sam-kong tertaruh beberapa potong bakpau yang cuma digerogot satu-dua kali saja, lalu ditaruh sehingga kelihatan daging yang terselip di tengah bakpau itu.

Jelas kelihatan Han-wan Sam-kong tidak cuma kurang tidur, bahkan juga tidak sempat makan, hal ini terbukti setiap bakpau itu hanya digigit satu kali lalu ditaruh begitu saja.

Walaupun keadaannya kelihatan serba konyol, namun “semangat tempurnya” tetap berkobar-kobar, dia masih berteriak-teriak dengan gembiranya, meski suaranya sudah serak tapi masih terus berkoar.

Hanya memandangnya sekejap saja Pek Khay-sim lantas tertawa geli, katanya, “Apa artinya cara berjudi begini? Hakikatnya seperti tersiksa hidup-hidup.”

“Kau anggap dia tersiksa, tapi dia sendiri justru merasa puas,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Setan judi, asalkan ada uang untuk bertaruh, sekalipun kau suruh dia berjudi di dalam kakus juga takkan dirasakan baunya.”

Sambil bicara, yang diperhatikan To Kiau-kiau adalah orang yang duduk di samping Han-wan Sam-kong. Akhirnya Pek Khay-sim juga ikut memandang ke sana.

Orang ini memang kurus kecil dan hitam, mukanya tidak menarik, namun matanya yang merah karena kurang tidur itu tetap mencorong terang.

“Apakah pernah kau lihat bocah ini?” tanya Kiau-kiau.

Pek Khay-sim termenung sejenak, jawabnya kemudian, “Rasanya seperti pernah melihatnya -.”

“Siapa dia?” tanya Kiau-kiau pula.

Kembali Pek Khay-sim berpikir sejenak, lalu menjawab dengan tertawa, “Sudah tidak teringat lagi sekarang.”

To Kiau-kiau melotot dengan dongkol.

Dalam pada itu terdengar Han-wan Sam-kong lagi berteriak, “Ayo anak kura-kura, lekas pasang! Ayo pasang lekas!”

Maka ramailah pasangan jatuh dilemparkan ke meja, ada yang pilih besar, ada yang pasang kecil. Macam-macam juga benda yang dibuat tanda pasangan, ada beberapa keping mata uang tembaga, ada yang cuma taruh dua potong batu kecil, malahan ada yang menggunakan secarik kertas dan diberi angka jumlah pasangannya.

Di samping meja sana tampak dua orang sedang menyembah tiada henti-hentinya, mungkin mereka kalah terlalu banyak sehingga mereka pun harus bayar banyak dengan menyembah!

Sambil mengocok dadu dalam mangkuk butut, Han-wan Sam-kong juga terus berteriak-teriak, “Ayo pasang, lekas, segera akan kubuka!”

Terdengar suara dadu yang terkocok dan menggelinding di dalam mangkuk, lelaki hitam kurus kecil di samping Han-wan Sam-kong hanya melotot saja dengan butiran keringat memenuhi dahinya.

Mendadak Han-wan Sam-kong berteriak, “Stop pasangan…Buka!” lalu dibukalah tutup mangkuk.

Serentak terdengar suara gemuruh orang banyak, ada yang menggerutu, ada yang bersorak gembira, seorang berteriak, “Aha, tujuh! Kecil, tepat pasanganku!”

Han-wan Sam-kong juga berseru, “Satu-dua-empat, tujuh, kecil! Yang kena boleh terima uang, yang kalah lekas menyembah, anak kura-kura!”

Lalu ia comot suatu pasangan di bagian besar yang berarti kalah, dia menghitung-hitung jumlah mata uangnya sembari berkata, “Sialan, lima puluh, kamu anak kura-kura juga berani mengincar lima puluh tahil perak dariku dan sekarang baru kau tahu rasa… Ayo siapa yang pasang, lekas maju dan menyembah lima puluh kali.”

Berulang-ulang ia tanya, tapi tiada seorang pun yang mengaku.

Diam-diam Khay-sim tertawa dan membisiki To Kiau-kiau, “Sekali ini Ok-tu-kui telah tertipu, orang bertaruh dengan cek kosong, kalau menang terima bayaran, jika kalah tidak mengaku, memangnya siapa yang tahu?”

Belum habis ucapannya sekonyong-konyong lelaki kurus kecil itu melompat ke atas, ia mengapung seperti seekor burung raksasa terbang di udara, sekali mengitar segera rambut seseorang dijambaknya.

Keruan orang itu menjerit kaget dan takut, “Bukan…bukan pasanganku…bukan aku…”

Tapi sekali lelaki kurus kecil itu menutul kakinya di pundak salah seorang penjudi, dengan enteng sekali ia mengapung lebih tinggi lagi, berbareng orang yang dijambaknya itu pun terangkat dan “serr”, ia terus melayang kembali ke tempatnya semula.

Terkesiap juga To Kiau-kiau, katanya, “Bagus amat Ginkangnya.”

Mau tak mau Pek Khay-sim juga memuji, “Ya, memang boleh juga.”

“Bukan saja Ginkangnya hebat, bahkan gerakannya sangat aneh, sungguh tak pernah kulihat,” ucap To Kiau-kiau sambil berpikir.

Pek Khay-sim menjawab, “Rasanya kita pernah melihatnya, cuma…”

“Cuma sekarang tidak ingat lagi, begitu bukan?” jengek Kiau-kiau.

“Hehe, memang betul,” kata Pek Khay-sim sambil menyengir.

Sementara itu si kurus kecil telah membanting orang yang dijambaknya tadi ke meja, orang itu berbaju hijau dan bertampang kriminal, kedua pelipisnya ditempeli koyok, mungkin kepala selalu pusing melulu. Namun begitu dia tetap berteriak menyangkal, “Bukan…bukan aku, Tuan keliru -.”

Mendadak Han-wan Sam-kong meraihnya, bentaknya dengan gusar, “Keparat, kau anak kura-kura ini mengira mata bapakmu ini sudah lamur? Mengapa tidak kau cari tahu pada orang-orang yang hadir di sini bilakah Locu (aku bapakmu) pernah salah lihat?” Sembari bicara ia bertambah marah, kontan ia menampar dan memaki pula, “Bangsat, orang judi boleh main licik cara apa pun juga, tapi tidak boleh main curang, masa peraturan begini saja tidak paham dan berani berjudi kemari… Pergilah kau, enyah ke tempat makmu sana!”

Sekali ayun tangan, kontan Han-wan Sam-kong melemparkan orang itu jauh melampaui kepala orang banyak.

Dengan contoh ini, maka tiada seorang pun yang berani main curang lagi, yang kalah juga segera berlutut dan menyembah sehingga ramai lagi, bunyi kepala dibentur-benturkan ke lantai. Ditambah lagi gelak tertawa Han-wan Sam-kong, maka suasana tambah riuh.

To Kiau-kiau menggeleng-geleng, ucapnya dengan tertawa, “Kukira julukan ‘Ok-tu-kui’ sekarang perlu diganti.”

“Ganti apa?” tanya Pek Khay-sim.

“Menurut cara berjudi ini, julukannya lebih tepat diganti menjadi ‘Hong-tu-kui’ (setan judi gila),” kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Sesungguhnya seorang kalau sudah keranjingan judi, lambat atau cepat akhirnya juga pasti akan menjadi gila,” kata Kiau-kiau pula. “Maka bila kelak Han-wan Sam-kong berubah menjadi gila sungguh-sungguh, tentu aku takkan heran.”

“Memang, sejak dulu-dulu seharusnya dia sudah gila,” tukas Pek Khay-sim.

“Yang aneh ialah si hitam kecil ini mengapa juga ikut gila-gilaan dengan dia?” kata Kiau-kiau pula. “Apakah harta mereka ini jatuh dari langit secara mendadak?” Setelah merandek sejenak dan tertawa, lalu ia menyambung, “Bisa juga lantaran bocah ini masih muda dan belum berpengalaman, belum tahu apa artinya uang. Bilamana dia sudah berusia seperti diriku barulah dia akan paham bahwa di dunia ini tiada benda lain lagi yang lebih menyenangkan daripada uang.”

“Memang betul, selalu pegang uang jauh lebih baik daripada anak kandung,” ucap Pek Khay-sim dengan tertawa. “Orang yang belum berumur 50 memang tidak paham arti pemeo ini.”

To Kiau-kiau mendelik, katanya, “Jadi kau anggap aku sudah berumur 50, padahal tahun ini aku baru 38.”

“Haha, tahun yang lalu kau mengaku 39, kenapa tahun ini malah berubah menjadi 38?” tanya Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Lelaki yang pintar harus tahu bahwa perempuan yang sudah berumur tiga puluh tahun, paling sedikit usianya akan berhenti lima tahun,” jawab To Kiau-kiau dengan sungguh-sungguh. “Apabila umurnya mencapai empat puluh tahun, maka usianya harus dihitung mundur ke belakang.”

Belum lagi Pek Khay-sim menanggapi, terdengar Han-wan Sam-kong sedang berteriak-teriak pula, “Ayo, anak kura-kura, lekas pasang, sudah taruh seluruhnya? Ayo, segera buka lagi!”

“Brek”, dia taruh mangkuknya di meja dan segera hendak mengangkat tutupnya. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berseru, “Nanti dulu, tunggu!”

Suara itu sangat nyaring dan merdu, jelas suara seorang perempuan. Kedengarannya pembicaraan itu berada di luar pintu, tapi sekata demi sekata berkumandang ke dalam sehingga suara ribut orang banyak teratasi.

Han-wan Sam-kong tertawa lebar dan berseru, “Menurut peraturan kasino, kau datang terlambat, silakan pasang saja pada pembukaan berikutnya. Tapi aku menjadi tertarik oleh suaramu yang enak didengar, maka bolehlah kutunggu sebentar padamu!”

“Terima kasih!” jawab suara merdu tadi dengan tertawa.

Suara tertawanya jauh lebih enak didengar daripada suara ucapannya, semua orang jadi ingin tahu bagaimana macamnya si pendatang ini.

Selagi semua orang berpaling ke sana, terdengar suara orang lelaki membentak, “Minggir! Beri jalan!”

Menyusul lantas terlihat lima-enam orang lelaki kekar berbaju mentereng menerjang masuk dengan memegang cambuk.

Penjudi yang datang ke sini rata-rata adalah, kaum pencoleng yang suka cari perkara, mana mereka mau memberi jalan pada pendatang belakangan, tentu saja sebagian besar di antara mereka lantas menggerutu dan melotot, tapi demi melihat perawakan beberapa lelaki kekar itu dan perbawanya, seketika mereka mengkeret dan beramai-ramai menyingkir memberi jalan.

Dengan bertolak pinggang beberapa lelaki berbaju indah itu lantas berdiri di kedua sisi jalan yang diluangkan itu sehingga orang ramai semakin terdesak ke pojok, tidak terkecuali To Kiau-kiau dan Pek Khay-sim juga terdorong ke belakang.

Tentu saja Pek Khay-sim sangat mendongkol, omelnya, “Keparat, biar kuhajar adat kepada mereka.”

Sorot mata To Kiau-kiau tampak gemerdap, katanya dengan tertawa, “Nanti dulu, jika kau ingin menonton permainan yang menarik, paling baik berdiri saja di situ dan jangan banyak tingkah.”

Tengah bicara, dari luar muncul pula empat lelaki kekar berseragam sama seperti yang duluan, dua di antaranya menggotong sebuah peti besar, bobot peti tampaknya sangat berat.

Peti besar itu digotong ke depan meja judi dan ditaruh, lalu orang-orang itu menyurut mundur dan berdiri di samping dengan “pentang kelek”.

Biji mata Han-wan Sam-kong mengerling kian kemari, katanya kemudian sambil terbahak, “Hahaha! Sungguh tidak nyana kelenteng kecilku ini mendapat kunjungan malaikat besar.” Lalu dia tepuk keras-keras pundak si hitam kecil dan berseru, “Saudaraku, bukankah kau selalu menggerundel bahwa perjudian ini tak dapat memuaskan seleramu? Nah, sekarang tampaknya kau pasti akan puas, kau akan ketemu tandingan setimpal.”

Namun si hitam tidak menampilkan perasaan apa-apa dan juga tidak bersuara, jika matanya tidak terbuka, orang lain tentu akan mengira dia sedang tidur.

Pada saat itulah tiga nyonya muda cantik tampak muncul dengan gayanya yang menarik.

Suasana dalam ruangan kasino biasanya sangat berisik, tapi begitu ketiga nyonya cantik itu muncul, seketika keadaan berubah menjadi hening, suara sedikit saja tidak ada, setiap orang sama melongo dengan pandangan melenggong, sampai bernapas pun seperti terhenti.

Maklumlah, ketiga nyonya muda itu sesungguhnya memang teramat cantik, terutama senyuman mereka, bisa bikin orang mati lemas.

Ketiga nyonya itu berwajah hampir serupa, sama-sama beraut muka daun sirih, mulut kecil, alis lentik, berpupur tipis, tampaknya mereka adalah bersaudara.

Sanggul mereka digelung dengan model yang digemari pada jaman itu, sanggul yang hitam ikal itu hanya dihiasi tusuk kundai mutiara kembang goyang.

Baju mereka pun tidak terlalu mencolok, tapi ukurannya pas dan serasi, mereka tidak memakai hiasan kepala, juga tidak pakai perhiasan tangan. Namun setiap orang yang melihatnya segera akan tahu bahwa mereka pasti bukan sembarang orang, sebab kecantikan mereka sudah cukup menjelaskan derajat mereka.

Jangankan di kota kecil ini, sekalipun di kota raja juga jarang ada nyonya secantik ini. Keruan semua orang sama melongo kesima memandangi mereka.

Lebih-lebih manusia bejat sebagai Pek Khay-sim, ia pun melotot dengan mulut ternganga sehingga air liur hampir menetes ke luar, napas pun terengah-engah dengan lidah setengah terjulur, macamnya itu mengingatkan orang kepada seekor anjing herder jantan yang lagi berahi di musim kawin.

“Awas, jangan timbul pikiranmu yang tidak senonoh,” demikian To Kiau-kiau memperingatkannya dengan tertawa, “Kukira kau harus prihatin, jika kau bermaksud menggerayangi ketiga orang ini, maka celakalah kau.”

“Memangnya kenapa?” tanya Pek Khay-sim.

“Apakah kau kira mereka itu boleh direcoki?”

“Memangnya siapa mereka? Kenapa mesti takut?”

“Walaupun belum diketahui asal-usul mereka, tapi dapat kupastikan mereka pasti bukan makanan empuk,” ujar Kiau-kiau. “Jika kau tidak percaya, tunggu dan lihat sebentar lagi, bukan mustahil hari ini Ok-tu-kui juga akan terjungkal habis-habisan.”

Kecuali warna pakaian mereka yang berbeda, hakikatnya bentuk ketiga nyonya muda itu seolah-olah dilahirkan dari suatu cetakan yang sama, bukan saja wajah mereka mirip satu sama lain, bahkan sama jalannya, gayanya, lenggang-lenggoknya, semuanya serupa.

Sementara itu mereka sudah tiba di depan Han-wan Sam-kong dan sama tertawa manis.

Si baju ungu yang berdiri di tengah lantas berkata, “Maaf jika Tuan telah menunggu cukup lama,”

“O, tidak apa-apa, sudah lama sekali aku tidak pernah bertaruhan dengan perempuan cantik, biarpun menunggu lagi lebih lama juga bukan soal,” jawab Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

Ucapannya sekali ini tidak diselingi lagi dengan “anak kura-kura” dan sebagainya, sungguh boleh dikatakan luar biasa.

Diam-diam Pek Khay-sim merasa geli, katanya “Kiranya setan judi suka perempuan cantik.”

“Ah, ini kan belum mulai,” ujar To Kiau-kiau dengan tersenyum. “Sebentar bila pertaruhan sudah dimulai, yang terlihat olehnya hanya biji dadu yang lagi menggelinding, mana dia kenal perempuan cantik apa segala.”

“Betul, serigala bermulut besar itu hanya mengincar dagingnya yang empuk bila melihat wanita cantik, sedangkan Ok-tu-kui hanya mengincar hartanya, cuma aku saja yang tahu cara bagaimana harus bercumbu rayu dengan perempuan cantik.”

Dalam pada itu beberapa lelaki kekar tadi sudah membawakan tiga kursi dan menyilakan ketiga nyonya cantik itu duduk.

Han-wan Sam-kong bertepuk tangan, katanya, “Baik, sekarang silakan nona-nona mulai pasang!”

Si baju ungu mengangguk kepada seorang lelaki kekar yang berdiri di sampingnya, cepat orang itu membuka peti. Seketika pandangan semua orang menjadi silau. Isi peti ternyata lantakan perak melulu.

Seketika mata Han-wan Sam-kong juga terbeliak, serunya dengan tertawa, “Ah, rupanya nona-nona sengaja hendak bertaruh sungguh-sungguh, sekarang kalian benar-benar mendapatkan lawan yang setimpal berhadapan denganku.”

Si baju ungu lantas bertanya, “Pasangan pakai limit tidak di sini?”

“Tidak, jangan khawatir, silakan pasang sesukamu, bandar pasti bayar tanpa kurang sepeser pun,” seru Han-wan Sam-kong dengan bergelak.

“Bagus,” ucap si nyonya baju ungu. Segera ia memberi tanda dan berseru, “Goban, besar!”

Begitu terdengar “goban” atau lima laksa alias lima puluh ribu tahil perak, seketika semua orang mengira telinga sendiri yang tidak beres, akan tetapi bukti nyata terpampang di depan mereka, lelaki kekar tadi benar-benar mengeluarkan lima laksa tahil dari peti dan didorong ke atas meja.

Dengan heran Pek Khay-sim tanya To Kiau-kiau, “Kau kira ketiga nyonya cantik ini benar-benar datang untuk berjudi?”

Kiau-kiau menggeleng, katanya, “Orang macam mereka ini, seandainya kecanduan judi juga takkan datang ke sini.”

“Habis, apakah kedatangan mereka ini sengaja hendak mencari perkara pada Ok-tu-kui?” tanya Pek Khay-sim pula.

“Sekarang aku pun belum dapat menerka maksud tujuan kedatangan mereka,” kata Kiau-kiau. “Lihat saja sebentar lagi, yang jelas hari ini Ok-tu-kui pasti tak bisa gembira lagi.”

Dalam pada itu si hitam kecil tadi seakan-akan terjaga bangun dari lamunannya, wajahnya yang hitam itu pun bercahaya kemerah-merahan. Lebih-lebih Han-wan Sam-kong, ia malah terus menggosok-gosok kepalan dan berteriak-teriak, “Bagus, bagus! Semakin banyak taruhannya, semakin marem!”

Habis itu ia lantas angkat mangkuk dadu dan diguncang keras-keras sambil berkata, “Stop pasangan… Buka!”

Waktu tutup mangkuk tersingkap, biji dadu mengunjuk satu-dua-dua.

Seketika bergemuruhlah suara orang banyak, “Lima, kecil, bandar menang!”

Tapi nyonya cantik baju ungu sama sekali tidak berkedip, kekalahan lima laksa tahil perak itu baginya seperti lima ketip saja. Kembali ia memberi tanda dan berucap dengan hambar, “Goban lagi, tetap besar!”

“Betul,” seru Han-wan Sam-kong dengan bergelak tertawa. “Baru satu kali, uber terus! Guncang lagi!”

Segera ia angkat mangkuk dan dikocok lagi, setelah berteriak ‘stop pasangan’, lalu tutup mangkuk dibuka.

Sekali ini dadunya agak jail, dua biji sudah memperlihatkan titik tiga dan lima, ini berarti berjumlah delapan. Tinggal dadu ketiga masih menggelinding perlahan, asalkan jatuh pada titik dua dan selebihnya, maka jumlahnya pasti di atas sepuluh dan ini berarti besar dan berarti pula kemenangan bagi si nyonya jelita.

Tapi dadu itu seakan-akan kesetanan, sudah jelas akan jatuh pada tiga titik, mendadak bergulir pula sehingga jatuh pada satu titik. Dengan demikian jumlahnya menjadi sembilan dan ini berarti kecil dan tetap dimenangkan oleh bandar.

Keruan suasana menjadi gempar, banyak penonton yang menggerutu dan penasaran bagi nyonya cantik berbaju ungu itu.

Namun nyonya jelita itu tetap tenang-tenang saja. Kembali ia beri tanda pasangan. Berturut-turut enam kali ia pasang “besar” tapi berturut-turut enam kali pula dadu yang keluar adalah “kecil”.

Isi kedua petinya sudah terkuras separo, penonton ikut berkeringat bagi yang kalah.

Tapi nyonya baju ungu itu tetap tenang saja, kedua nyonya jelita yang lain juga sama tenangnya, mereka tetap mengulum senyum tanpa bicara dan juga tidak berkerut kening, bahkan gaya duduk mereka tidak berubah.

Sudah tentu yang paling senang adalah Han-wan Sam-kong, wajahnya bercahaya gembira, ia tertawa dan berseru, “Ayo, uber lagi, masih ada ketujuh kalinya?”

“Masih sisa berapa?” tanya si nyonya baju ungu kepada pengiringnya.

“Masih dua puluh laksa,” jawab lelaki kekar tadi.

“Baik, pasangkan seluruhnya!” ucap si nyonya dengan acuh tak acuh.

Lelaki kekar itu mengiakan dan mengeluarkan seluruh isi peti, tanyanya kemudian, “Pasang besar atau kecil?” jelas suaranya agak gemetar, keringat pun memenuhi dahinya.

Dari bibir si nyonya yang merah tipis itu hanya tercetus suara lirih, “Besar!”

Dia tetap pasang “besar” tanpa gentar.

Keruan penonton lantas gempar di tengah suara guncangan dadu yang dikocok Han-wan Sam-kong. Ketika mangkuk dadu sudah ditaruh di atas meja, suasana lantas sunyi senyap seketika, semua orang ikut menahan napas.

Sekali ini agaknya Han-wan Sam-kong juga agak tegang, ia sampai lupa berteriak “stop pasangan”. Kedua tangannya mendekap mangkuk, matanya terbelalak memandang si nyonya baju ungu. Kemudian ia tanya, “Kau benar-benar tetap pasang besar?”

“Ya, besar,” jawab si nyonya dengan tak acuh.

Si kurus hitam di samping Han-wan Sam-kong juga ikut terbelalak, tanpa berkedip ia memandangi tangan sekutunya.

“Baik, sungguh hebat kau!” kata Han-wan Sam-kong kemudian terus menambahkan, “Buka!”

Berpuluh pasang mata sama melotot ke arah tangan Han-wan Sam-kong, penonton di belakang yang tak dapat melihat jelas berdesakan ke depan.

Mendadak Han-wan Sam-kong angkat tutup mangkuk, sekali ini mangkuk itu seperti benda yang mahaberat dan Ok-tu-kui seperti mengerahkan sepenuh tenaganya.

Tapi jumlah titik ketiga biji dadu tetap jatuh pada “kecil”.

Sekali ini Han-wan Sam-kong sendiri juga melenggong dan hampir tidak percaya pada matanya sendiri, sungguh ia heran sekali, mengapa begini besar rezeki sendiri sehingga berturut-turut titik dadu seri kecil tujuh kali.

Serentak penonton menjadi gempar pula dan banyak ikut gegetun.

Namun ketiga nyonya itu tetap tidak memperlihatkan rasa kesal, bahkan kembang goyang tusuk kundai mereka juga tidak bergerak sedikit pun.

Ketiganya hanya melirik sekejap saja pada dadu, lalu berbangkit, tanpa bicara apa-apa mereka terus membalik tubuh dan berangkat pergi.

“Ah, jangan terburu-buru pergi, para nona,” seru Han-wan Sam-kong tiba-tiba.

“Tuan ingin memberi petunjuk apa lagi?” tanya si baju ungu sambil menoleh.

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong berkata, “Sudah berpuluh tahun aku berjudi dan menjelajah seluruh dunia, kecuali si tua raja boleh dikatakan pernah kuhadapi lawan macam apapun. Tapi cara bertaruh sedemikian menyenangkan, sungguh tak pernah kulihat meski setan judi seperti diriku ini.”

“Terima kasih,” kata si nyonya baju ungu dengan tersenyum.

“Penjudi seperti nona sungguh jarang ada di dunia ini kalau tidak boleh dikatakan sukar dicari,” kata Han-wan Sam-kong pula. “Seorang setan judi kalau ketemu lawan seperti nona dan dilepaskan begitu saja, maka berdosalah setan judi itu dan dia pasti akan masuk neraka.”

“Memangnya kau masih ingin bertaruh dengan kami?” tanya si nyonya baju ungu.

“Masa nona-nona tidak ingin memulihkan modal?” tanya Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

Si nyonya baju ungu tertawa, ucapnya, “Cuma sayang modal kami sudah ludes, biarlah lain hari kita taruhan lagi.”

Tiba-tiba Han-wan Sam-kong berkata pula, “Menurut peraturan kasino, pertaruhan harus dilakukan dengan kontan dan tiada utang-piutang. Tapi terhadap langganan sebagai nona tentu dapat dikecualikan.”

Mendadak ia menggebrak meja dan menambahkan, “Silakan pasang saja, betapa banyak nona ingin bertaruh, sebutkan saja jumlahnya dan jadilah.”

Si nyonya baju ungu melirik sekejap kepada kedua saudaranya, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Masa engkau mempercayai kami?”

“Asalkan nona masih mau bertaruh, apa yang mesti kukhawatirkan lagi, mustahil kalian akan anglap uangku?” ujar Han-wan Sam-kong tertawa.

Nyonya baju ungu itu berpikir sejenak, lalu ketiga orang saling mengedip, akhirnya mereka putar balik dan mendekati meja judi pula.

Diam-diam To Kiau-kiau membisik Pek Khay-sim, “Sejak tadi sudah kuduga Ok-tu-kui pasti takkan melepaskan mereka.”

“Tampaknya ketiga nyonya cantik ini masih hijau, mereka tidak tahu cara setan judi meneruskan orang,” kata Pek-Khay-sim. “Memulihkan modal? Hah, jika ini yang mereka harapkan, kukira sebentar celana mereka pun harus dilepas.”

“Memangnya kau kira mereka benar-benar ingin memulihkan modal mereka yang sudah ludes itu?” tanya To Kiau-kiau.

“Bukan untuk memulihkan kekalahan tadi, habis untuk apa?” jawab Pek Khay-sim. “Tadi kau malah mengira mereka hendak mencari perkara kepada Ok-tu-kui, nyatanya sehabis kalah ludes segera mereka hendak pergi, mana ada tanda-tanda hendak mencari perkara?”

To Kiau-kiau hanya tertawa saja dan tidak menanggapi lagi.

Dalam pada itu nampak Han-wan Sam-kong sedang garuk-garuk kepala dengan tertawa gembira, katanya “Sekali ini nona hendak pasang berapa?”

Dengan tertawa si nona baju ungu menjawab, “Meski kau percaya penuh pada kami, tapi kami tidak ingin melanggar peraturan judi, apalagi, kalau cuma omong kosong belaka, kurang semangat rasanya.”

“Hahaha, bagus, bagus, memang betul, para nona benar-benar penjudi sejati,” seru Han-wan Sam-kong dengan terbahak-bahak. Mendadak ia berhenti tertawa dan bertanya dengan mata terbelalak, “Tapi modal yang nona bawa kan sudah kalah ludes tadi?”

“Meski harta kami sudah kalah ludes, tapi orangnya kan belum sampai ikut ludes,” ucap si nyonya baju ungu dengan hambar.

“Orangnya?” melengak juga Han-wan Sam-kong, ia tidak tahu apa arti ucapannya si nyonya.

Dengan tersenyum lantas nyonya baju ungu itu menjelaskan, “Orang, terkadang kan boleh dijadikan barang taruhan. Apabila setan judi sudah memegang kartu bagus, maka segala apa pun tidak sayang untuk dipertaruhkan. Tuan sudah berjudi selama berpuluh tahun, masa tidak tahu kebiasaan itu?”

Han-wan Sam-kong bergelak tertawa, katanya “Benar, memang benar, sungguh tak tersangka cara bertaruh para nona lebih berpengalaman daripadaku ”

“Nah, tentunya kau tahu, bilamana lelaki sudah kalah habis-habisan, sering kali istrinya sekaligus ikut dipertaruhkan,” kata si nyonya baju ungu. “Bagi kami orang perempuan dengan sendirinya tak dapat mempertaruhkan dirinya sendiri.”

“Haha, bagus, bagus!” seru Han-wan Sam-kong dengan bertepuk tertawa. “Sudah rata kujelajahi dunia ini, baru sekarang aku benar-benar ketemu tandingan.” Lalu ia gosok-gosok tangannya dan bertanya, “Nah, cara bagaimana nona ingin bertaruh, silakan bicara saja, pasti akan kulayani.”

“Cara bertaruh kami pun sangat sederhana,” jawab si nyonya baju ungu. “Seperti aturan umum, juga pasang satu mendapat satu.”

“Pasang satu apa?” tanya Han-wan Sam-kong sambil berkedip-kedip heran.

“Pasang satu orang?!” kata si nyonya.

Han-wan Sam-kong mengerling sekejap atas diri ketiga nyonya jelita itu lalu bergelak tertawa dan berkata, “Tapi kalau kami diharuskan membayar orang seperti nyonya-nyonya, betapa pun kami tidak sanggup.”

“Yang kita pertaruhkan sudah tentu terbatas pada orang yang berhadapan di sini,” kata si nyonya berbaju ungu, “Bila kami menang, cukup salah satu di antara kalian ikut pergi bersama kami.”

Seketika Han-wan Sam-kong melotot bingung, tanyanya kemudian, “Dan kalau nona kalah, lalu bagaimana?”

Nyonya baju ungu tersenyum, jawabnya, “Jika kami kalah, dengan sendirinya salah satu di antara kami juga akan ikut bersama kalian.”

Penjelasan itu seketika membuat geger pula, para penonton sama merasa cara pertaruhan demikian hakikatnya terlalu menguntungkan pihak Han-wan Sam-kong, kalah atau menang pada hakikatnya boleh dikatakan tiada ruginya.

Coba bayangkan, jika menang, secara otomatis mereka akan mendapatkan istri cantik, sebaliknya kalau kalah, siapa yang akan dipilih ikut pergi bersama ketiga nyonya cantik itu kan juga berarti akan menuju ke surga impian.

Pek Khay-sim jadi melotot mendengar cara pertaruhan ganjil itu, omelnya, “Masa ketiga nyonya cantik ini telah penujui Ok-tu-kui? Kalau tidak mengapa mereka menghendaki pertaruhan cara begini?”

“Ya, sekarang aku pun makin bingung dan tidak tahu apa maksud tujuan kedatangan mereka ini.” ujar To Kiau-kiau.

Terdengar Han-wan Sam-kong lagi tertawa dan berteriak, “Bagus, cocok, sungguh bagus?”

“Jadi kau setuju cara pertaruhan kami?” tanya si nyonya baju ungu.

“Tentu saja, masa tidak setuju?” jawab Han-wan Sam-kong.

“Tanya dulu kongsimu itu, apakah dia juga setuju?” si nyonya menegas.

Pertanyaan ini ditujukan kepada Han-wan Sam-kong, tapi pandangannya beralih ke arah si hitam kurus yang sejak tadi tetap bungkam saja.

Kecuali pada waktu mangkuk dadu dibuka, sedikit banyak akan kelihatan air mukanya yang ikut prihatin dan juga menyorotkan sinar mata yang bersemangat, lebih dari itu ia tetap duduk termangu saja tanpa mengunjuk sesuatu perasaan, seakan-akan apa yang terjadi di rumah judi yang ramai ini sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan dia.

Begitulah Han-wan Sam-kong lantas menjawab dengan tertawa, “Saudaraku ini serupa denganku, ia pun tidak punya hobi lain kecuali bertaruh. Asalkan bertaruh, bagaimana pun caranya pasti disetujuinya.”

Si nyonya jelita mengerling sekejap, katanya pula, “Tapi aku tetap ingin mendengar sendiri persetujuannya.”

Han-wan Sam-kong menepuk pundak si hitam kurus itu dan berkata, “Baiklah, boleh kau menyatakan sendiri persetujuanmu.”

Si hitam kurus seperti baru terjaga dari impian, dengan bingung ia memandang sekitarnya dan berkata, “Setuju apa?”

“Jika kita kalah, maukah kau ikut pergi bersama mereka?” tanya Han-wan Sam-kong.

Tanpa pikir sama sekali si hitam kurus lantas menjawab, “Setuju!”

Tapi si nyonya baju ungu lantas menambahkan, “Ke mana pun kau harus ikut, kau setuju?

“Ke mana pun tidak menjadi soal bagiku,” kata si hitam kurus sambil menghela napas panjang. “Bagiku tempat mana pun sama saja.”

Segera Han-wan Sam-kong berkata, “Jangan kalian kira saudaraku ini ketolol-tololan, yang benar dia adalah lelaki sejati, apa yang sudah diucapkannya tidak akan dijilatnya kembali.”

“Aku pun percaya penuh,” kata si nyonya baju ungu dengan tersenyum.

“Jika demikian, ayolah kalian pasang!” seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa, segera ia angkat mangkuk dadu itu dan mulai dikocok, tanyanya kemudian sambil melototi si nyonya baju ungu, “Sekali ini kau pegang besar atau kecil?”

“Besar!” jawab si nyonya baju ungu tanpa ragu. Dia tetap pasang ‘besar’, padahal tadi dia sudah kalah tujuh kali.

Seketika terjadi kegemparan di antara para penonton, semua seakan-akan sudah membayangkan nyonya cantik ini pasti akan kalah lagi.

Segera Han-wan Sam-kong angkat mangkuk dan mengguncang dadu. ‘Brek’, mendadak ia taruh kembali mangkuk dadu, tangan memegang tutup mangkuk dan tidak segera dibukanya.

Pada waktu mengocok dadu sama sekali Han-wan Sam-kong tidak tegang. Tapi setelah berhenti mengocok, mau tak mau ia menjadi agak tegang, betapa pun cara taruhan ini memang luar biasa.

Sebaliknya ketiga nyonya itu tetap tenang saja sambil tersenyum seolah-olah meremehkan pertaruhan ini.

Semua orang juga ikut menahan napas, suasana dalam kasino menjadi hening, begitu sunyi sehingga bunyi jarum jatuh ke lantai saja akan terdengar.

Sekonyong-konyong Han-wan Sam-kong berteriak, “Buka!”

Waktu tutup mangkuk diangkat, titik ketiga dadu menunjukkan lima-enam-enam atau sama dengan tujuh belas.

“Besar!” Akhirnya tepat juga pasangan para nyonya jelita itu.

Serentak ada sebagian penonton bersorak gembira tanpa terasa. Maklum, betapa pun penjudi-penjudi juga manusia, manusia pada umumnya tentu bersimpatik kepada kaum lemah, konon perempuan itu kaum lemah. Selain itu, biasanya kaum penjudi juga bersimpatik kepada pihak yang kalah, asalkan saja pihak yang menang bukan mereka sendiri.

Setelah jelas kalah, Han-wan Sam-kong bahkan tidak tegang lagi, ia bergelak tertawa, serunya, “Bagus, bagus! Rupanya kalian sudah resmi diterima menjadi murid oleh malaikat judi, maka sekali-sekali kalian pun diberi menang. Jika kalian hanya kalah melulu tentu selanjutnya kalian akan kapok.”

Si nyonya baju ungu tersenyum, katanya, “Jika demikian, jadi sekali ini kami yang menang?”

“Dengan sendirinya kalian yang menang, masa kami menyangkal?” ujar Han-wan Sam-kong.

“Kalau begitu, bandar kan harus bayar!” kata si nyonya baju ungu.

Tertegun juga Han-wan Sam-kong, ia mengusap keringat di mukanya, lalu berkata, “Masa nona benar-benar menghendaki aku ikut pergi bersama kalian?”

“Yang kami kehendaki bukanlah dirimu,” jawab si nyonya baju ungu sambil menggeleng.

Han-wan Sam-kong menjadi heran, tanyanya dengan tertawa, “Bukan diriku? Habis siapa?”

“Dia!” kata si nyonya baju ungu sambil menunjuk si hitam kurus di samping Han-wan Sam-kong, lalu melanjutkan dengan tersenyum, “Silakan saudara ini ikut pergi bersama kami.”

Untuk sejenak si hitam kurus kecil itu melenggong, tapi, mendadak ia pun berdiri dan melangkah keluar.

Cepat Han-wan Sam-kong mencegahnya sambil berseru, “He, kau…kau benar-benar hendak pergi?”

“Ehm,” jawab si hitam kurus.

Han-wan Sam-kong berkerut kening, katanya pula, “Tapi modal judi ini ada setengahnya milikmu.”

“Untukmu seluruhnya,” jawab si hitam kurus. Maklumlah, sedangkan jiwa raga sendiri saja tak sayang lagi, apalagi harta benda segala.

Si nyonya baju ungu tersenyum, katanya, “Jangan khawatir, ikutlah bersama kami, pasti takkan merugikan kau.”

Tapi si hitam mirip orang linglung dan tiada menghiraukan perkataan mereka, ia tetap berdiri kaku seperti patung.

Para nyonya itu tersenyum kepada Han-wan Sam-kong, lalu membalik ke sana dan melangkah pergi.

Sejak tadi Han-wan Sam-kong hanya memandangi mereka dengan terbelalak, mendadak ia membentak, “Nanti dulu!” Berbareng itu tubuhnya yang besar itu terus mengapung ke atas, seperti seekor burung raksasa ia melayang ke ambang pintu dan tepat mengadang di depan ketiga nyonya jelita.

Melihat Ginkangnya yang hebat itu, tanpa terasa para penonton sama berteriak, ada yang berteriak karena kagum, ada yang berseru karena kejut.

Namun ketiga nyonya cantik itu tetap tenang-tenang saja, sampai mata pun tidak berkedip, si baju ungu membuka suara dengan tersenyum, “Kami tidak ingin berjudi lagi dan ingin pulang saja, harap Tuan memberikan jalan.”

“Hah, baru sekarang kutahu tujuan kalian adalah Oh-lauteku ini,” jengek Han-wan Sam-kong, “Sesungguhnya kalian hendak mengapakan dia? Akan bawa dia ke mana?”

“Semua ini tidak perlu kau urus,” jawab nyonya baju ungu dengan ketus, “Kau sendiri sudah bilang, boleh main nakal, boleh main licik tapi tidak boleh curang dan tidak membayar. Sekarang kau sudah kalah, masa akan ingkar janji?”

Muka Ok-tu-kui menjadi agak merah, namun dia masih penasaran, tanyanya pula, “Jika kalian kalah apakah benar-benar kau mau ikut padaku?”

“Jika kami kalah, dengan sendirinya ada di antara kami yang ikut pergi bersamamu,” jawab si nyonya baju ungu dengan hambar. “Mana jumlah saudara sekeluarga kami kan sangat banyak…”

Tiba-tiba mata Han-wan Sam-kong terpicing hingga cuma tinggal sejalur sempit saja, ia pandang ketiga nyonya jelita ini dari atas ke bawah dan dari bawah kembali ke atas, lalu menegas, “Kau bilang kalian bersaudara banyak?”

“Ya, sangat banyak,” jawab si nyonya baju ungu.

“Adakah sembilan orang?” tanya Han-wan Sam-kong.

Sejenak si nyonya baju ungu terdiam, tapi akhirnya menjawab, “Ya, tidak kurang dan tidak lebih memang persis sembilan.”

Mendengar ini, mata Han-wan Sam-kong yang terpicing itu kembali terpentang lebar, bahkan melotot hingga sebesar gundu. Si hitam kurus kecil yang sejak tadi diam-diam saja mendadak juga tergetar, mukanya seketika berubah merah, serasa tersirap darah di sekujur badannya, dengan melotot ia bertanya, “Apakah engkau…Buyung…”

Si nyonya baju ungu tertawa, jawabnya, “Aku Jit-nio (ketujuh), ini Lak-ci (kakak keenam), dan itu Pat-moay (adik kedelapan).”

Kedua nyonya muda di sampingnya juga tersenyum manis, kata salah satu yang disebut Lak-ci itu, “Meski kau tidak pernah melihat kami, tapi sudah lama kami tahu akan dirimu.”

Air muka si hitam tiba-tiba berubah pucat sambil menyurut mundur.

Si nyonya baju ungu atau Buyung Jit-nio lantas berkata, “Kami pun tahu ucapanmu adalah seperti emas yang tak pernah berubah karatnya.”

“Hahahaha! Menurut berita di dunia Kangouw, katanya sembilan kakak beradik Buyung kebanyakan sudah mendapatkan suami pilihan, bahkan kakak beradik Buyung itu rata-rata memiliki dua-tiga jurus,” seru Han-wan Sam-kong.

“Perempuan yang tidak punya dua-tiga jurus, mana bisa mendapatkan suami baik?” Buyung Jit-nio menanggapi dengan tak acuh.

“Betul, tepat!” seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa. Lalu dia menyambung pula, “Hampir semua orang Kangouw juga tahu, ilmu silat paling tinggi di antara kakak beradik Buyung itu adalah Ji-ci (kakak kedua) Buyung Siang, sedang yang paling pintar bekerja ialah Buyung Kiu, si bungsu.”

Mendengar nama “Buyung Kiu” disebut, tiba-tiba muka si hitam kurus menjadi merah.

Tapi Han-wan Sam-kong lantas menyambung, “Padahal kalau menurut penilaianku, kalian bertiga toh tidak lebih jelek daripada Buyung Kiu, hanya saja dalam pandangan kaum lelaki, perempuan yang masih perawan memang lebih cantik daripada perempuan yang sudah bersuami.”

“Ehm, boleh juga cara bicaramu,” ujar Buyung Jit-nio dengan tertawa. “Nah, apa pula yang kau ketahui, boleh kau beberkan saja seluruhnya.”

“Kutahu bahwa nasib Buyung Kiu tidak sebaik kakak-kakaknya,” kata Han-wan Sam-kong. “Belum lama ini mendadak ia menghilang entah ke mana. Padahal kedelapan Cihunya (kakak iparnya) adalah berasal dari keluarga termasyhur di dunia ini, pergaulan mereka boleh dikatakan luas sampai tiap pelosok, namun sudah tiga tahun mereka mencari adik mereka itu dan tetap tak bisa menemukannya.”

“Hm, banyak juga yang kau ketahui,” jengek Buyung Jit-nio.

“Dunia selebar ini, untuk mencari seorang memang tidaklah mudah,” tukas Buyung Lak-nio dengan tertawa.

“Ya, tapi Oh-lauteku ini telah berhasil menemukannya,” sambung Han-wan Sam-kong “Bahkan dia sendiri menjadi seperti orang linglung dan mengantar si nona pulang ke rumah. Siapa duga, orang lain ternyata tidak mau terima kebaikannya itu, sebaliknya malah mengira dia yang menculik Buyung Kiu, dia diperlakukan seperti penculik dan ditanyai sampai dua-tiga hari lamanya, untung dia tidak sampai digebuk pantatnya dan tidak disiksa.”

“Ji-ci dan Sam-ci tidak bermaksud jahat padanya, mereka hanya menanyai dia mengenai pengalaman Kiu-moay selama ini,” ujar Buyung Jit.

“Ya, lantaran terlalu memperhatikan diri Kiu-moay, maka pada waktu menanyai dia Ji-ci dan Sam-ci menjadi agak kurang sabar,” tukas Buyung Lak. “Tapi apa pun juga kami tetap sangat berterima kasih padanya.”

“Sebab itulah waktu dia mohon diri untuk pergi, kami berkeras ingin memberi hadiah besar padanya,” demikian Buyung Pat menambahkan.

“Betul, waktu dia akan pergi, kalian bermaksud memberikan hadiah lima ribu tahil emas padanya,” kata Han-wan Sam-kong. “Jumlah ini memang tidak sedikit, jika dibagikan kepada barisan pengemis yang antre, sedikitnya cukup untuk seratus ribu orang atau lebih.”

Makin omong makin dongkol Han-wan Sam-kong, sampai di sini mendadak ia berjingkrak murka dan meraung, “Tapi Oh-lauteku ini bukanlah pengemis, dia tidak sudi diberi sedekah. Dia bekerja menurut hati nurani sendiri, demi membela Kiu-moay kalian itu, beberapa kali jiwanya hampir menjadi korban, entah berapa banyak pahit-getir yang telah dirasakannya. Memangnya tujuannya hanya untuk mengincar beberapa tahil logam rongsokan kalian itu? Hm, kalian kakak beradik terkenal pintar dan cerdik, masa kalian tidak paham jalan pikirannya?”

Buyung Jit-nio menghela napas, ucapnya sambil tersenyum getir, “Bukan kami tidak paham, soalnya…”

“Soalnya semua menantu keluarga Buyung adalah orang terkemuka, sedangkan Oh-lauteku ini orang miskin juga tidak punya pangkat, lebih-lebih bukan berasal dari keluarga bangsawan segala, dengan sendirinya kalian keberatan menjodohkan Buyung Kiu kepadanya,” demikian jengek Han-wan Sam-kong, lalu dengan gusar ia berteriak pula, “Padahal Oh-lauteku ini kurang apa? Masa dia tidak setimpal berjodohkan adik perempuan kalian? Meski dia bukan orang kaya, tapi dia adalah seorang lelaki sejati yang gilang-gemilang, bilamana adikmu mendapatkan suami seperti dia, boleh dikatakan leluhur kalian yang telah banyak berbuat amal.”

Begitu karena nafsunya cara bicara, Han-wan Sam-kong sampai mencak-mencak sehingga jarinya hampir menunjuk ke batang hidung Buyung Jit.

Namun Buyung Jit tidak marah, ia bahkan menghela napas gegetun dan berkata, “Ya, kami pun tahu ia adalah orang yang baik dan tidak merendahkan Kiu-moay…”

“Masa baru sekarang kau tahu?” jengek Han-wan Sam-kong.

“Menurut cerita Toaci, ketika ia menyodorkan lima ribu tahil emas padanya, sekejap saja dia tidak memandang, lalu angkat kaki tinggal pergi tanpa berkata apa pun,” kata Buyung Jit.

“Dengan pergi begitu saja, kan kebetulan bagi kalian?” jengek Han-wan Sam-kong pula. “Kalian dapat menghemat lima ribu tahil emas dan adik kesayangan sudah pulang di rumah. Tapi untuk apa sekarang kalian mencari Oh-laute lagi dan akan kalian bawa ke mana?”

Kembali Buyung Jit menghela napas panjang, lalu berkata dengan sedih, “Karena kau sudah tahu segalanya, maka supaya maklum juga bahwa selama ini Kiu-moay jatuh sakit dan makin lama semakin berat sakitnya.”

“Hm, setahuku waktu Oh-laute mengantar Buyung Kiu pulang, penyakit linglungnya sudah tampak mulai baik. Justru lantaran kalian mengira penyakit adikmu pasti akan sembuh, makanya kalian tidak sudi menjodohkan dia kepada Oh-laute.”

“Ya, waktu itu kami mengira penyakitnya akan sembuh,” ujar Buyung Jit dengan gegetun. “Sebab waktu itu dia sudah seperti kenal Toaci dan mulai mau bicara. Siapa tahu begitu Oh…Oh-laute ini pergi, segera penyakitnya memburuk pula, bukan saja Toaci tak dikenalnya lagi, bahkan sepanjang hari tidak mau bicara sepatah kata pun.”

Buyung Lak menghela napas, katanya, “Jika bicara yang diucapkan hanya pertanyaan, ‘Sudah pergikah engkau?’ Dan akhirnya pertanyaan ini pun tidak diucapkannya lagi, sepanjang hari dia hanya duduk termenung sambil mencucurkan air mata.”

Si Hitam kurus kecil ini dengan sendirinya ialah Oh-ti-tu, si labah-labah hitam yang nyentrik dan angkuh itu.

Dia berdiri kaku seperti patung, tapi demi mendengar cerita kakak beradik Buyung itu, wajahnya yang kaku itu tiba-tiba berkerut-kerut pedih seakan-akan hatinya tertusuk jarum.

Dengan tertawa Han-wan Sam-kong lantas berkata pula, “Haha, kiranya nona Kiu itu pun seorang nona yang berperasaan halus, tidak percumalah Oh-laute begitu baik padanya.”

“Sampai sekarang kami baru tahulah isi hati Kiu-moay,” kata Buyung Lak. “Dengan sendirinya kami pun tahu segala di dunia ini dapat dipaksakan, hanya urusan ‘cinta’ saja yang tidak mungkin dipaksakan.”

“Ehm, betapa pun kalian masih cukup bijaksana,” ujar Han-wan Sam-kong.

“Penyakit Kiu-moay sudah seberat itu, tapi dia masih dapat merasakan kebaikannya, ini suatu tanda ia juga pasti sangat mencintai Kiu-moay,” kata Buyung Lak. “Setiap manusia kan terdiri dari darah daging, kalau urusannya sudah sejauh ini, siapa pun dia pasti juga takkan kami tolak lagi.”

“Sebab itulah kami lantas keluar mencarinya,” sambung Buyung Pat.

“Tapi kami pun tahu jejaknya sukar dicari,” tutur Buyung Pat. “Selagi kami merasa bingung ke mana mencarinya, untung waktu itu Gocihu (kakak ipar kelima) lewat kota Buhan dan sempat menyaksikan pertaruhan besar-besaran antara dia dengan engkau.”

“Siapa Go-cihu kalian? Cara bagaimana dapat mengenali kami?” tanya Han-wan Sam-kong.

Dengan tertawa Buyung Jit menjawab, “Gocihu kami ialah ‘Sin-gan-susing’ (si pelajar bermata sakti) Loh Beng-to. Beberapa tahun yang lalu dia pernah melihatmu satu kali. Setiap orang yang pernah dilihatnya satu kali, selama hidup pasti takkan dilupakan olehnya.”

“Seumpama dia dapat mengenali aku, tapi dia kan tidak kenal Oh-lauteku ini,” kata Han-wan Sam-kong. “Apalagi Oh-laute selalu pergi datang tanpa meninggalkan jejak. Orang yang pernah melihat tampang aslinya duga tidak banyak.”

“Semula Gocihu juga tidak kenal dia,” tutur Buyung Jit. “Tapi demi mencari dia, sebelumnya Sam-ci sudah banyak melukis gambarnya. Maka begitu pulang dan melihat gambarnya, segera Gocihu ingat di mana dia telah melihatnya.”

“Lukisan Sam-ci kami sangat bagus dan hidup,” kata Buyung Lak dengan tersenyum. “Pernah satu kali dia bergurau dengan Jicihu (kakak ipar kedua), Sam-ci sengaja melukis gambar Ji-ci dan digantung di dinding, Jicihu ternyata tidak dapat membedakan asli dan palsunya, ia mengajak bicara gambar Ji-ci sampai sekian lamanya.”

Buyung Pat menambahkan dengan tertawa, “Maklumlah Jicihu terlalu banyak membaca di malam hari sehingga matanya kurang tajam.”

“Hehe, keluarga kalian memang banyak orang-orang berbakat, pantas orang Kangouw sama segan kepada kalian,” kata Han-wan Sam-kong dengan gegetun.

“Setelah mendapat keterangan dari Gocihu, segera kami menyusul ke Buhan sini,” sambung Buyung Jit pula. “Untunglah cara bertaruh kalian di wilayah ini sudah terkenal, maka dengan cepat dapat kami menemukan kalian.”

“Tapi kalian jangan salah sangka, Oh-lauteku ini tidak sama dengan aku, dia bukan setan judi, dia berjudi karena pikirannya sedang kacau,” kata Han-wan Sam-kong.

“Memang, pada umumnya orang yang patah hati di medan asmara, kebanyakan lalu melarikan diri ke meja judi sebagai pelampiasan, makanya ada semboyan yang mengatakan ‘gagal di medan cinta menang di medan judi’. Padahal semboyan ini adalah ciptaan kawanan setan judi yang sengaja hendak menjerumuskan orang.”

Buyung Jit tertawa, katanya pula, “Jalan pikirannya cukup kami pahami, kami pun tahu dia seorang yang tinggi hati dan angkuh, jika kami datang mencarinya dengan begini saja tentu dia takkan ikut pergi bersama kami.”

“Makanya kami lantas menggunakan cara pertaruhan begini,” tukas Buyung Lak dengan tersenyum.

“Tapi kalau kalian yang kalah, lalu bagaimana?” tanya Han-wan Sam-kong.

“Jika kami kalah memangnya apa kesukarannya, cukup asalkan salah satu di antara kami ikut pergi bersama kalian, kan beres?” jawab Buyung Jit.

“Ah, betul juga,” kata Han-wan Sam-kong.

“Makanya, bila kami kalah, tentu kami akan menyuruh Kiu-moay ikut pergi bersama kalian, kami yakin kalian pasti takkan membuat susah Kiu-moay, asalkan dia gembira, siapa yang ikut siapa kan tiada bedanya?”

“Hebat, kalian memang hebat…” seru Han-wan Sam-kong dengan terbahak-bahak.

“Tapi kami telah membikin susah padamu, engkau jadi kehilangan seorang sekutu yang baik,” ujar Buyung Jit pula. “Sebab bila dia sudah menikah dengan Kiu-moay, mungkin dia takkan mengajak bertaruh lagi denganmu.”

“Hahaha! Asalkan aku dapat menyaksikan Oh-lauteku ini melangsungkan pernikahan dengan nona Kiu dan ikut minum arak bahagia mereka, sekalipun aku harus berhenti berjudi tiga bulan juga bukan soal bagiku,” seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa gembira. Tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menambahkan sambil menggeleng, “Tidak, tidak, mungkin aku tak dapat minum arak bahagia mereka.”

“Sebab apa?” tanya Buyung Jit.

“Habis, bilamana keluarga Buyung mengadakan pesta nikah, yang hadir pastilah tamu-tamu terhormat dan orang-orang ternama, jika Ok-tu-kui macamku ini mendadak ikut hadir, bukankah suasana bisa berubah runyam?” kata Han-wan Sam-kong.

“Jangan khawatir, arak pernikahan ini pasti ada bagianmu,” kata Buyung Jit. “Seumpama kami tidak mengundang siapa-siapa tentu juga akan mengundang engkau.”

“Hahaha, kalau aku tidak hadir, maka aku inilah anak kura-kura,” seru Han-wan Sam-kong sambil bertepuk tertawa. Mendadak ia memberi tanda dan berseru, “Angkat, angkat semua perakmu itu, satu tahil pun jangan tertinggal.”

“Ken…kenapa?” tanya Buyung Jit.

“Jika ingin minum arak nikah, tentunya harus mengirim kado, kalau kalian tak menerimanya berarti memandang rendah padaku, berarti pula tidak menginginkan kehadiranku.”

“Sekalipun begitu, kan perlu disisakan sedikit bagi modal judimu?” ujar Buyung Jit dengan tertawa.

“Tidak, jangan disisakan,” seru Han-wan Sam-kong. “Kalian tahu watakku, bila belum kalah habis-habisan belum mau berhenti. Maka sejak aku mendapat rezeki, sejak itu hakikatnya aku tidak pernah tidur dengan nyenyak, siang malam hanya berjudi melulu, semakin ingin kukalahkan hingga ludes semakin tidak mau ludes, sebaliknya malah bertambah. Sekarang mumpung ada kesempatan kubikin habis, mengapa kalian malah tak mau menerima? Jika tidak kalian terima kan berarti membuat susah padaku lagi.”

Buyung Jit termenung sebentar, katanya kemudian dengan tersenyum, “Karena kau telah bertindak segoblok ini, kalau kami tidak menerimanya akan kelihatan kami sendiri berjiwa sempit…”

“Hahaha, tak tersangka para nona keluarga Buyung adalah orang sedemikian menyenangkan, tampaknya Oh-lauteku ini memang tajam pandangannya,” seru Han-wan Sam-kong dengan tertawa. Lalu ia tepuk pundak Oh-ti-tu dan berkata, “Oh-laute, kenapa tidak lekas berangkat? Kutahu hatimu tentu sudah tidak sabar lagi, mengapa pura-pura lagi? Nona Kiu tentu juga sedang menantikan kedatanganmu.”

Oh-ti-tu termangu-mangu sejenak, entah suka entah duka, katanya kemudian dengan tergagap, “Mana…mana boleh kupergi lagi ke sana…”

“Mengapa tidak boleh?” seru Han-wan Sam-kong sambil melotot. “Tindak-tanduk seorang lelaki sejati harus dilakukan dengan cepat dan tepat, harus jujur dan blak-blakan. Apalagi orang judi hanya boleh main licik dan main palsu, tapi tidak boleh main curang, kau sudah kalah, apa pun juga kau harus pegang janji.”

Akhirnya Oh-ti-tu tertawa juga, tiba-tiba ia membisiki Han-wan Sam-kong, “Eh, Siau-hi-ji pasti masih berada di atas gunung sana, bila melihat dia jangan lupa beritahukan padanya…”

“Jangan khawatir,” jawab Han-wan Sam-kong dengan tertawa. “Bila bertemu dia tentu akan kuajak dia hadir minum arak nikahmu.”

Rupanya persahabatan mereka tidak seluruhnya lantaran berjudi, tapi sebagian besar adalah karena Siau-hi-ji. Sebab sejak awal mereka selalu menganggap Siau-hi-ji adalah seorang sahabat yang baik.

Han-wan Sam-kong mengantar mereka keluar, tiba-tiba ia memberi pesan pula, “Nona Jit, selanjutnya bila tanganmu gatal, jangan lupa mencari diriku. Petaruh seperti dirimu sungguh jarang kutemukan selama hidupku ini.”

Akhirnya berangkatlah Oh-ti-tu, hidupnya yang terlunta-lunta sebatang kara akhirnya telah menemukan kebahagiaan, ini memang ganjaran yang pantas diperolehnya dan pasti tiada yang keberatan.

Buyung Kiu juga mendapatkan jodohnya yang setimpal. Meski dia kehilangan ingatan dan kecerdasan, tapi ia pun mendapatkan kebahagiaan. Cukup berharga bahagia yang diperoleh dengan pengorbanan apa pun juga. Bahagia terbesar bagi seorang perempuan adalah bisa memperoleh orang yang mencintainya dengan sungguh hati, kebahagiaan demikian tak mungkin diganti dengan urusan apa pun juga.

Dan setelah harta diangkut pergi, para pengunjung kasino pun bubar.

Han-wan Sam-kong memandangi cahaya gemilang yang mulai menongol di ufuk timur, dia menggeliat kemalas-malasan, gumamnya, “Persetan, kini benar-benar semuanya ludes, memangnya kalau belum ludes semuanya aku pun tak dapat tidur.”

Tapi mendadak ia lihat para pengunjung kasino itu tidak pergi seluruhnya, di situ masih tersisa empat orang, ada dua orang yang sedang tidur di lantai. Sedangkan dua orang lagi sedang memandangnya dengan tertawa.

Han-wan Sam-kong melotot dan mengomel, “Kalian berdua anak kura-kura mengapa tidak enyah? Apakah kalian ingin bertaruh pula denganku?”

Satu di antara kedua yang lebih tinggi menanggapi dengan tertawa, “Di sini cuma ada seorang anak kura-kura, yang lain cuma setengahnya anak kura-kura.”

Han-wan Sam-kong tambah melotot, ia tatap seorang lagi yang lebih pendek.

Orang itu ialah To Kiau-kiau, dengan tertawa ia pun berkata, “Memang di sini cuma ada seorang anak kura-kura, tapi aku adalah nenekmu!”

Ia tidak tahu sekarang Han-wan Sam-kong dapat mengenalinya atau belum, yang jelas mendadak Ok-tu-kui melompat ke sana terus kabur secepat terbang.

Pek Khay-sim berkerut kening, katanya, “Setiap kali bila bertemu, yang pasti lari adalah diriku, mengapa sekali ini dia yang lari dulu malah?”

“Mungkin sekali setan judi ini telah berbuat sesuatu dosa apa-apa, maka tidak berani bertemu dengan orang,” kata To Kiau-kiau, habis berkata, segera ia memburu keluar.

“Tapi kita sudah belasan tahun tidak bertemu dengan dia, masa dia berbuat sesuatu kesalahan apa padamu?” ujar Pek Khay-sim.

“Ya, makanya aku pun heran dan ingin menanyai dia,” kata Kiau-kiau.

Waktu itu fajar baru menyingsing, namun orang berlalu lalang di jalanan sudah cukup banyak. Maklum, para pengunjung baru saja bubar dan sebagian besar di antara mereka sedang sarapan di tepi jalan.

Ketika To Kiau-kiau memburu keluar, ternyata bayangan Han-wan Sam-kong sudah tidak nampak lagi. Hanya kelihatan orang-orang yang lagi nongkrong makan di tepi jalan itu sama memandang ke kiri, jelas Han-wan Sam-kong berlari menuju ke sebelah sana.

Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata kepada Pek Khay-sim, “Jangan khawatir, Ginkang setan judi itu tidak terlalu tinggi, kita pasti dapat menyusulnya.”

Belum lenyap suaranya, mendadak tertampak Han-wan Sam-kong mundur kembali dari belokan jalan sebelah kiri sana, cara mundurnya ternyata jauh lebih cepat daripada kaburnya tadi. Dan begitu sampai di tikungan cepat Ok-tu-kui memutar dan berlari ke sini dengan air muka penuh rasa terkejut dan gugup, langsung ia menerjang ke dalam rumah judi tadi.

Dengan sendirinya To Kiau-kiau dan Pek Khay-sim ikut masuk lagi ke dalam.

“He, apa-apaan kau, memangnya setan judi juga ketemu setan?” demikian Pek Khay-sim berolok-olok.

To Kiau-kiau sedang mengintip keluar melalui celah-celah pintu, katanya, “Tampaknya dia memang kepergok setan, setan kepala besar?”

“Hahahaha, masakan setan judi juga takut kepada setan kepala besar?” kembali Pek Khay-sim berseloroh.

“Ssstt,” desis Kiau-kiau dengan tegang, air mukanya juga rada pucat.

Pek Khay-sim menjadi heran, cepat ia pun ikut mengintip keluar. Tertampaklah dari tikungan sebelah kiri sana telah muncul dua orang.

Orang yang jalan di depan berperawakan tinggi berbahu lebar, tapi tubuhnya kurus kering, baju panjang berwarna biru yang dipakainya itu tampaknya menjadi komprang dan kedodoran.

Tidak cuma tubuhnya saja yang aneh, mukanya juga aneh, banyak juga kerutan di mukanya tapi tiada seutas jenggot dan tiada bulu alis, semuanya tercukur bersih. Padahal biasanya yang cukur hingga kelimis begitu hanya kaum “Thaykam”, kaum dayang istana yang kebiri, orang kasim, namun jelas orang ini bukanlah Thaykam.

Betapa pun orang yang berwajah demikian tampaknya menjadi sangat lucu, dengan sendirinya orang-orang di tepi jalan sana memandangnya dengan tertawa geli, namun tiada seorang pun yang berani tertawa keras, maklum meski orang itu kelihatan lucu, tapi kedua matanya tidaklah lucu, bahkan kelihatan menakutkan.

Matanya tampak cekung karena kurusnya, sebab itulah biji matanya tampaknya menjadi lebih bulat besar. Meski mukanya pucat kurus seperti orang sakit paru-paru, tapi ketambahan matanya yang besar itu, timbul juga perbawanya sehingga membuat orang tidak berani memandangnya lama-lama.

“Agak aneh juga bocah ini,” desis Pek Khay-sim. “Bahwa dunia Kangouw muncul seorang aneh begini, mengapa tak pernah kudengar dan juga tak pernah melihatnya. Ini menandakan selama beberapa tahun ini kita benar-benar terasing.”

Kiau-kiau juga berkerut kening, tanyanya kemudian, “Ok-tu-kui, apakah kau kenal orang aneh ini?”

“Tidak kenal,” jawab Han-wan Sam-kong. Tapi yang ditatapnya adalah seorang lagi yang berada di belakang orang aneh ini.

Orang yang ikut di belakang itu bentuknya tidak aneh bahkan sangat apik, usianya juga sudah lima puluhan, namun jelas hidupnya serba kecukupan, ini terlihat dari wajahnya yang bersih dan bercahaya.

Baju yang dipakainya juga berwarna sangat serasi, cuma wajahnya yang kelihatan sengaja di buat-buat tersenyum itu jelas rada-rada kurang wajar, malahan boleh dikatakan rada lesu dan sedih.

Orang ini ternyata bukan lain daripada Kang Piat-ho adanya.

Tentu saja yang paling terkejut adalah To Kiau-kiau, ucapnya sambil berkerut kening, “Aneh, mengapa Kang Piat-ho tidak ikut Gui Bu-geh, sebaliknya ikut ke sini bersama orang aneh ini?”

Pek Khay-sim lantas menepuk pundak Han-wan Sam-kong dan berkata, “Kiranya kau tidak berani bertemu dengan Kang Piat-ho, memangnya kau berbuat salah apa padanya?”

Han-wan Sam-kong mendengus, jawabnya, “Masa kutakut padanya, aku cuma bosan melihat cecongornya.”

Dengan tertawa Pek Khay-sim berkata pula, “Ah, kukira pasti ada apa-apanya, jika tidak kau katakan, biar kutanya sendiri pada Kang Piat-ho.” Tiba-tiba ia mendapat akal dan mendadak berteriak, “Ke sinilah kalian, lihatlah di sini ada Ok-tu -.”

Rupanya kumat lagi penyakitnya ‘merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’, syukur sebelumnya Han-wan Sam-kong sudah menduga akan tindakannya ini, belum habis teriakannya, segera ia menubruk maju dan mendekap mulutnya, katanya dengan suara tertahan, “Tutup bacotmu, jika kau anak kura-kura ini berani bersuara lagi, segera kupecahkan batok kepalamu.”

Pek Khay-sim hanya menyengir saja dan tidak berucap lagi. Akan tetapi seharusnya orang di luar sana dapat mendengar teriakannya tadi.

Siapa tahu orang di luar tidak menggubris teriakkannya itu, sebab pada saat itu juga dari belokan kanan sana tiba-tiba muncul seekor kuda.

Kuda merah membara, secepat terbang kuda itu menerjang ke jalanan ini dan tampaklah akan menumbuk seorang penjual bakmi di tepi jalan. Tentu saja orang yang sedang jajan bakmi sama menjerit kaget dan berlari menyingkir. Rupanya suara derapan kuda dan jerit kaget orang itulah yang telah menenggelamkan suara teriakan Pek Khay-sim tadi.

Si penunggang kuda merah itu ternyata sangat cekatan, pada detik yang gawat itu mendadak ia menahan kudanya sehingga kuda itu meringkik sambil berdiri dengan kaki belakang, namun tiada satu mangkuk pun yang tertumbuk.

Habis itu semua orang dapat melihat jelas si penunggang kuda itu ternyata sama dengan kudanya, juga memakai baju merah, malahan cambuk yang dipegangnya juga berwarna merah.

Di tengah ringkik kuda yang melengking itu, si penunggang kuda pun turun, yakni seorang nona cantik.

Baru sekarang semua orang melihat jelas si penunggang kuda, sepasang matanya yang besar dan jeli itu sungguh sangat memesona.

Setiap mata orang sama memandangnya, tapi si nona anggap orang lain seperti patung saja, hakikatnya dia tidak memperhatikan mereka, sambil bertolak pinggang ia berteriak ke arah sana, “Ayolah kemari, lekas! Apakah kuda tungganganmu cuma berkaki tiga? Kenapa begitu lambat?”

Pada saat itu juga dari ujung jalan sana baru muncul lagi seekor kuda, penunggangnya menjawab, “Bukan kudaku yang lambat, tapi kau yang terlampau cepat membedal kudamu.”

Sambil bicara pun orang itu melompat turun dari kudanya dengan gerakan gesit, orang ini adalah pemuda yang cakap dan lembut, pakaiannya juga perlente.

Si nona baju merah tadi agak kurang senang, dengan melotot ia mengomel, “Siapa bilang bedal kudaku terlalu cepat, memangnya pernah kutabrak orang?”

Si pemuda menjadi kikuk karena dipandang orang banyak, mukanya menjadi merah, cepat ia menjawab, “Ya, engkau ti…tidak cepat.”

“Kalau aku tidak cepat jelas kau yang lambat,” kata si nona baju merah.

“Ya, ya, aku yang lambat,” sahut si pemuda.

“Nah, harus menurut begini, nanti Cici menjamu kau,” kata si nona, baru sekarang ia tertawa puas.

Tentu saja muka si pemuda tambah merah sehingga kepala pun tertunduk.

Semua orang merasa tertarik oleh kedua muda-mudi itu dan merasa geli melihat sikap si pemuda yang lebih mirip anak perempuan itu, sebaliknya si nona tampak begitu garang.

Cuma sekarang semua orang sudah tahu juga bahwa kedua muda-mudi itu pasti bukan orang biasa, maka tiada seorang pun berani tertawa.

Pandangan orang banyak memang betul, si nona baju merah memang tidak boleh sembarangan direcoki, asalkan ada orang berani tertawa, mungkin kepalanya akan segera berkenalan dengan cambuknya.

Malahan si orang aneh tadi juga sedang memperhatikan gerak-gerik muda-mudi ini, hanya Kang Piat-ho saja yang segera menunduk demi melihat mereka. Sebab hanya Kang Piat-ho saja yang kenal siapa mereka.

Kiranya si nona baju merah tadi bukan lain daripada Siau-sian-li Thio Cing dan pemuda yang pemalu ini adalah Koh Jin-giok.

Siau-sian-li telah memegang tangan Koh Jin-giok, katanya dengan tertawa, “Sudah kukatakan di sini banyak penjual makanan dan kau tidak percaya, sekarang kau lihat sendiri, aku tidak berdusta bukan?”

Dia bicara dengan bebas tanpa menghiraukan orang banyak yang sedang memandang padanya. Tapi Koh Jin-giok menjadi malu, dengan muka merah ia menjawab, “Lihatlah, begini banyak orang -.”

“Banyak orang apa sangkut-pautnya dengan kita, mereka juga sedang jajan, kenapa kau takut?” kata Siau-sian-li.

Koh Jin-giok tidak berani bersuara pula, tampaknya ia sangat takut pada si nona.

Dengan tertawa Siau-sian-li lantas berucap pula, “Hari ini boleh dikatakan hari bahagia si budak Kiu, aku pun sangat gembira, maka aku harus makan-minum sepuas-puasnya, bahkan harus minum arak barang dua cawan.”

Koh Jin-giok seperti merasa serba susah, ia menghela napas.

Kembali Siau-sian-li melotot dan mengomel, “Apa yang menyebabkan kau menghela napas? Budak kita sudah mendapatkan pasangan, kau menyesal bukan?”

“Masa aku menyesal,” cepat Koh Jin-giok menjawab dengan tersenyum, “Aku ma…malahan…”

Siau-sian-li tertawa melihat sikap Koh Jin-giok yang serba susah itu, katanya pula, “Baiklah jika kau tidak menyesal. Nah, lihatlah, di sini ada penjual bakmi, ada bakso, dan macam-macam lagi, sudah lama aku tidak makan bakso, kukira jajanan di sini pasti sangat enak.”

Dia terus mencerocos sambil tertawa, dan baru saja Koh Jin-giok diajaknya duduk di depan angkringan si penjual bakso, mendadak ia berdiri pula sambil melotot ke seberang sana dan berseru, “He, lihat, siapa itu?”

Yang dimaksud ternyata bukan lain daripada Kang Piat-ho.

Waktu Koh Jin-giok ikut memandang ke arah sana, seketika air mukanya juga berubah, katanya dengan suara tertahan, “Mengapa dia juga berada di sini?”

“Memang, Kang-lam-tayhiap yang termasyhur itu mengapa bersembunyi di tempat kecil begini, apa barangkali sudah tidak berani bertemu dengan orang lain? Pantas di dunia Kangouw tersiar berita Kang-lam-tayhiap telah menghilang,” demikian Siau-sian-li sengaja berkata dengan suara keras sehingga setiap orang dapat mendengarnya.

Dengan sendirinya banyak orang yang kenal nama kebesaran Kang-lam-tayhiap, seketika banyak orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Kang Piat-ho.

Hanya sekali lompat saja Siau-sian-li lantas berada di depan Kang Piat-ho, jengeknya, “Kang Piat-ho, Kang-tayhiap, mengapa kau tutup mulut? Biasanya kau kan pintar omong, bahkan kuingat betul wibawamu tidak kecil.”

Tapi Kang Piat-ho tetap bungkam, dan bahkan menunduk kepala.

Dengan gusar Siau-sian-li membentak pula, “Kang Piat-ho, kau tidak perlu berlagak dungu, tiada gunanya meski pura-pura bodoh. Tentunya kau tahu tidak sedikit orang yang sedang mencarimu untuk membuat perhitungan lama. Nah, sekarang juga kau pergi bersamaku.”

Namun Kang Piat-ho hanya berdiri mematung di tempatnya tanpa bergerak, air mukanya juga tidak mengunjuk sesuatu perasaan. Kang-lam-tayhiap yang biasanya gagah perwira itu kini telah berubah seperti pengecut.

Tiba-tiba orang aneh yang berada di sebelah Kang Piat-ho membuka suara, “Dia tidak dapat ikut pergi bersamamu.”

Suara orang ini rendah lagi serak, kerongkongannya seperti pecah sehingga suaranya bocor. Setiap katanya seolah-olah terdesak keluar dari sela-sela kerongkongan yang pecah itu.

Melengak juga Siau-sian-li melihat orang aneh dengan suara yang juga aneh ini. Tanpa pikir ia tanya, “Sebab apa dia tidak dapat ikut pergi bersamaku?”

“Sebab dia harus ikut bersamaku,” jawab si orang aneh.

“Ikut kau?” Siau-sian-li menjadi gusar. “Memangnya kau ini apa?”

Berbareng itu cambuknya langsung bekerja, “tarr”, kontan ia menyabet. Cambuk adalah benda mati, tapi di tangan Siau-sian-li telah berubah seperti ular hidup dan seolah-olah sejalur api terus menggulung ke muka orang aneh itu.

Reaksi orang aneh itu sangat lamban, hakikatnya seperti tidak tahu rasanya sakit bila tercambuk, dia hanya memandangi cambuk lawan dengan terkesima.

Tampaknya cambuk Siau-sian-li segera akan meninggalkan jalur berdarah di muka orang aneh itu. Tak terduga, tahu-tahu ujung cambuk yang panjang itu lantas putus menjadi belasan potong dan jatuh ke tanah. Siau-sian-li juga tak dapat berdiri tegak lagi, ia terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya jatuh di pangkuan Koh Jin-giok.

Orang lain hanya tahu putusnya cambuk menjadi berkeping-keping dan jatuhnya Siau-sian-li, tapi tidak seorang pun yang tahu jelas cara bagaimana si orang aneh turun tangan. Malahan Siau-sian-li juga tidak jelas apa yang terjadi, ia cuma merasakan suatu arus tenaga mahadahsyat tersalur tiba melalui cambuknya, lalu tubuhnya tergetar seperti kena aliran listrik.

Jika orang lain, setelah kesandung secara mengejutkan begini, andaikan tidak ketakutan setengah mati tentu juga sudah kapok dan tak berani turun tangan lagi.

Tapi dasar Siau-sian-li, si bidadari cilik, hanya namanya saja indah dan orangnya memang cantik juga, namun wataknya ternyata sangat berangasan. Apalagi sejak berkelana di dunia Kangouw belum pernah dia kecundang sehebat ini.

Belum lagi Koh Jin-giok sempat membujuknya karena sempat melihat Kungfu si orang aneh sesungguhnya teramat lihai, tahu-tahu si nona sudah melompat bangun, sekali bergerak, mendadak ia lolos keluar dua bilah pedang pandak.

Sementara itu orang-orang yang sedang makan di tepi jalan sudah sama menyingkir, meja dan bangku penjual bakso dan bakmi juga sudah sama disingkirkan, selain khawatir ikut menjadi korban, mereka pun ingin menonton pertarungan yang pasti menarik ini.

Maka tertampaklah sinar pedang berkelebat secepat kilat, hanya sekejap saja Siau-sian-li sudah melancarkan tujuh kali serangan, karena gemasnya dia menyerang tanpa kenal ampun, kalau bisa sekaligus ia hendak menembus dada orang aneh itu.

Ada penonton yang berkhawatir bagi si orang aneh sebab gerak-geriknya kelihatan lamban, seolah-olah tidak tahu bahwa setiap tikaman Siau-sian-li itu dapat merenggut jiwanya.

Sebaliknya juga ada orang yang menganggap si nona cilik baju merah itu terlalu ganas, masa menyerang orang sekejam itu. Sudah tentu lebih banyak lagi orang-orang yang suka keramaian, mereka justru berharap pertarungan berlangsung lebih sengit.

Hanya Koh Jin-giok saja yang benar-benar berkhawatir, dengan sendirinya ia khawatir bagi Siau-sian-li, tapi ia pun tahu bila si nona sudah umbar wataknya yang keras itu, maka siapa pun tak dapat melerainya, apalagi, seumpama dia dapat melerainya sekarang juga sudah terlambat.

Benar saja, terdengar si orang aneh membentak perlahan, tidak jelas cara bagaimana bergeraknya, tahu-tahu kedua pedang di tangan Siau-sian-li sudah terlepas dan mencelat ke udara, lenyap entah jatuh di mana. Waktu orang memandang Siau-sian-li nona itu kembali jatuh lagi ke dalam pelukan Koh Jin-giok, malahan sekali ini dia tidak sanggup berdiri lagi.

“Kau ini anak murid siapa? Mengapa tanpa sebab menyerang orang sekeji ini?” demikian ucap si orang aneh dengan kurang senang. “Ai, anak jaman sekarang mengapa makin lama makin tidak tahu aturan?”

“Kau sendiri tidak tahu aturan,” damprat Siau-sian-li. “Tahukah kau…”

Mendadak ucapannya terputus, sebab Koh Jin-giok telah mendekap mulutnya.

Tentu saja Siau-sian-li mendongkol, sekuatnya ia menyikut, meski Koh Jin-giok lantas melepaskan pegangannya karena kesakitan, tapi tubuh Siau-sian-li juga memberosot ke tanah dan jatuh terduduk.

Si nona terus saja duduk di tanah, omelnya sambil menunjuk hidung Koh Jin-giok, “Aku dihina orang cara begini, kau tidak membantu, sebaliknya malah melarangku bicara. Hm, apakah kau terhitung lelaki lagi? Pantas orang suka menyebut Koh-siumoay padamu.”

Muka Koh Jin-giok menjadi merah seperti kepiting rebus, ia tergagap-gagap, “Aku…aku tidak -.”

“Hah, rupanya aku salah menilai dirimu,” kata Siau-sian-li. “Tadinya kukira kau lelaki sejati, siapa tahu…siapa tahu kau lebih empuk daripada tahu, sungguh kau sangat mengecewakan aku.”

Sampai di sini ia menjadi sangat berduka dan air mata pun bercucuran.

Mendadak Koh Jin-giok mengertak gigi, dengan langkah lebar ia mendekati si orang aneh, katanya, “Sungguh lihai kungfumu, tapi Cayhe tetap ingin belajar kenal.”

Orang aneh itu hanya menarik muka saja dan tidak menanggapi.

“Awas, akan kuserang kau!” bentak Koh Jin-giok.

Walaupun pribadinya lemah-lembut seperti anak perempuan, tapi pukulannya ternyata sangat kuat, mantap, ganas, jitu dan cepat.

“Blang”, pukulan keras ini dengan tepat mengenai tubuh orang aneh. Entah mengapa, sama sekali orang itu tidak menghindar.

Siau-sian-li tidak menangis lagi, bahkan mencorong terang matanya, sebab ia kenal betapa lihai pukulan Koh Jin-giok. Meski gaya pukulan Koh Jin-giok tidak sedap dipandang, tapi sangat kuat, bila terkena pukulannya dengan telak, biarpun seekor kerbau juga akan gepeng.

Hampir saja Siau-sian-li bertepuk gembira apabila tidak segera dilihatnya si orang aneh ternyata tidak terpukul gepeng bahkan bergerak saja tidak. Pukulan sakti Koh Jin-giok yang mengenai tubuhnya seakan-akan memijatnya saja, sebaliknya Koh Jin-giok sendiri malah tergetar mundur dan terhuyung-huyung.

Baru sekarang Siau-sian-li melongo kaget.

Didengarnya si orang aneh lagi menegur Koh Jin-giok dengan melotot, “Kau ini pernah apanya Koh-losi?”

Advertisements

1 Comment »

  1. Mantap uy critanya

    Comment by Firman — 25/02/2013 @ 8:27 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: