Kumpulan Cerita Silat

04/05/2008

Darah Ksatria: Akhir Kata

Filed under: +Darah Ksatria — ceritasilat @ 12:41 am

Darah Ksatria
Akhir Kata
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Setiap perkara pasti ada saatnya berakhir, lalu bagaimana akhir dari kasus panjang ini?

Untuk perbuatan jahatnya, Khu Hong-seng mendapat ganjaran setimpal.

Coat-taysu mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan dan mengasingkan diri jauh ke puncak Kun-lun-san, menghukum diri dan menyesali kesalahannya dengan semedi menghadap tembok hingga akhir hayatnya.

Thiat Tin-thian dan Ma Ji-liong duduk berhadapan di atas loteng sebuah restoran besar di kota Kayhong, tiga hari tiga malam mereka minum arak, tapi pada malam keempat yang gelap dan dingin lagi mendung, kedua orang ini menghilang tidak keruan parannya.

Kanglam Ji Ngo tetap merajai dunia persilatan di daerah Kanglam.

Demikian pula jejak Giok-toasiocia susah diikuti, pergi datang seperti malaikat.

Lalu bagaimana dengan Toa-hoan dan Cia Giok-lun? Bagaimana akhir hubungan Ma Ji-liong? Tidak ada orang yang tahu bagaimana akhir hubungan ketiga orang ini. Entah berpisah atau sudah menikah? Tapi di kalangan Kangouw tersiar berita yang beraneka macam ragamnya.

Ada orang bilang, Toa-hoan sebetulnya cantik jelita, wajahnya kelihatan buruk karena dia mengenakan topeng tipis, sengaja menyamar demi menunaikan tugas. Setelah kasus pembunuhan itu terbongkar, topengnya sudah tidak dipakai lagi, ternyata Toa-hoan adalah gadis rupawan yang tidak kalah ayu dibanding Cia Giok-lun, akhimya dia menikah juga dengan Ma Ji-liong.

Ada juga orang yang bilang, Toa-hoan memang gadis yang jelek wajahnya tapi Ma Ji-liong sudah telanjur jatuh cinta kepadanya, Ji-liong tidak mencampakkan dia, akhimya mereka pun menikah secara sederhana. Ma Ji-liong yakin, wajah manusia setiap saat bisa berubah, tapi cinta takkan pudar untuk selamanya.

Sementara ada juga pihak yang bilang, karena tubuh Cia Giok-lun yang bugil sudah disaksikan oleh Ma Ji-liong, apalagi sudah hidup serumah empat bulan dengan Ma Ji-liong, gadis aleman dari Bik-giok-san-ceng ini juga jatuh cinta kepadanya, maka atas prakarsa Bik-giok Hujin, mereka telah melangsungkan pernikahan secara kekeluargaan saja, tidak dirayakan dengan pesta besar menurut lazimnya.

Pada jaman mereka dahulu, sering terjadi salah tafsir dengan ajaran kuno bahwa laki-laki harus mempunyai keturunan untuk mempertahankan marga keluarga, maka tak jarang keluarga yang kaya raya sekaligus mempunyai tiga empat bini atau gundik. Kesalahan tafsir ini lama kelamaan menjadi tradisi bagi kaum kolot hingga sekarang.

Demikian halnya dengan Ma Ji-liong, karena mereka suka sama suka, rela dan senang, maka sekaligus ia mempersunting dua gadis jelita. Sebaliknya kedua gadis jelita itu sudah pasrah, cinta membuat mereka lemah, lalu apa salahnya mereka menjadi bini Ma Ji-liong?

Dalam kalangan rakyat jelata hal seperti itu sudah merupakan kebiasaan umum, demikian pula dalam kalangan bangsawan, keluarga istana. Kalau ratu dan putri raja dan para selirnya boleh punya seorang suami, kenapa Toa-hoan dan Cia Giok-lun tidak boleh kawin dengan Ma Ji-liong?

Banyak ragam cerita yang tersiar luas di kalangan Kangouw, malah ada pula berita yang mengatakan, Ma Ji-liong emoh kawin, dia minggat dan menyembunyikan diri di suatu gunung, mengasingkan diri bersama Thiat Tin-thian. Apa betul cerita terakhir ini, tiada yang tahu pasti, yang jelas cerita satu dengan yang lain simpang siur, hanya cerita angin belaka, akhirnya orang susah membedakan berita mana yang benar dan cerita mana yang salah.

Pada suatu malam, setahun sejak Khu Hong-seng dijatuhi hukuman setimpal dengan perbuatannya, ada orang yang bertemu dengan Ma Ji-liong di sebuah toko. Malam itu menjelang tahun baru, kelihatannya Ma Ji-liong banyak memborong barang-barang untuk keperluan perayaan hari raya Sin-cia. Ada kain, benang, jarum, pupur, gincu, makanan dan arak, ada lilin dan dupa. Pada kesempatan yang ada, orang itu bertanya kepada Ma Ji-liong tentang cerita burung yang tersiar luas di kalangan Kangouw itu. Ma Ji-liong tidak mau memberi tanggapan, dia hanya tertawa ramah kepada orang itu, katanya, “Sin Cun Kiong Hi, selamat tahun baru, semoga kau mendapat rejeki lebih besar di tahun yang akan datang.” Habis bicara dia membawa belanjaannya terus tinggal pergi.

TAMAT

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: