Kumpulan Cerita Silat

04/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (04)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:05 pm

Bahagia Pendekar Binal (04)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

“Konon sejak dahulu kala hingga kini, setiap senjata yang ditempa diperlukan sesajen darah orang hidup, dengan demikian barulah senjata itu akan berhasil digembleng. Malahan ada sementara orang yang rela mengorbankan jiwanya demi berhasilnya pedang yang ditempa. Sebab itulah sejarah setiap pedang pusaka yang berhasil diciptakan pasti membawa kisah yang memilukan.”

“Saat ini bukan waktunya bercerita segala,” kata Kiau-goat Kiongcu.

Tapi Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia menyambung pula, “Hanya Pik-hiat-kiam ini konon tetap tak berhasil ditempa meski sudah diberi sajen darah orang hidup. Menyusul istri dan putra-putri empu penggembleng pedang itu pun dikorbankan, tapi tetap tak berhasil. Saking gemas dan berdukanya, tukang gembleng pedang itu juga ikut terjun ke dalam tungku. Di luar dugaan setelah ia terjun ke dalam tungku, seketika api tungku berubah menjadi hijau murni, setelah tergembleng lagi dua hari, kebetulan seorang Tojin lewat di situ dan melanjutkan gemblengan pedang itu sehingga berhasil. Konon ketika pedang itu dikeluarkan dari tungku, cuaca berubah menjadi gelap seketika, terdengar guntur berbunyi, Tojin itu terkejut dan roboh terjungkal, kebetulan jatuhnya tepat di atas pedang ini sehingga dia menjadi korban pertama bagi pedang pusaka yang baru lahir ini.”

Sampai di sini Siau-hi-ji berhenti sejenak sambil tertawa, lalu melanjutkan lagi, “Dengan sendirinya cerita ini hanya dongeng belaka dan tidak dapat dipercaya. Pikir saja, jika orang-orang itu benar-benar telah mati semua, lalu siapakah yang dapat menceritakan kisah ini?”

“Betul hal ini memang tidak dapat dipercaya, tapi ada sesuatu yang tidak boleh tidak harus membuat kau percaya,” kata Kiau-goat.

“Urusan apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Waktu tukang gembleng pedang itu terjun ke dalam tungkunya, saking gemas dan murkanya dia telah bersumpah, dia mengutuk pedang ini bila berhasil tergembleng, maka selanjutnya barang siapa yang melihat pedang ini pasti juga akan mati di bawah pedang ini,” Kiau-goat menatap Siau-hi-ji dengan tajam dingin, lalu menegaskan sekata demi sekata, “Hanya hal inilah, tidak boleh tidak harus kau percayai.”

So Ing merinding mendengarkan cerita aneh itu, tanpa terasa ia berpaling ke sana dan tidak berani lagi memandang senjata beralamat buruk itu.

Siau-hi-ji lantas bergelak tertawa, katanya, “Manusia hidup, akhirnya setiap orang juga mesti mati. Kalau bisa mati di bawah senjata ajaib begini, rasanya beruntung juga hidupku ini, apalagi, orang yang melihat pedang ini kan tidak cuma diriku seorang saja?”

“Creng”, Bu-koat mendadak menarik kembali pedang hijau itu dan dipersembahkan kembali ke hadapan Kiau-goat Kiongcu.

Gemerdep sinar mata Kiau-goat, ucapnya dengan hambar, “Boleh kau simpan saja pedang ini.”

Berubahlah air muka Bu-koat, ia menunduk dan berkata, “Tecu ….”

Belum lanjut ucapan Bu-koat, dengan tertawa Siau-hi-ji berseru, “Hahaha, kau berikan pedang ini padanya, apakah engkau menghendaki dia membunuh aku dengan pedang ini? Tapi jangan kau lupakan, apabila kutukan tukang gembleng pedang itu manjur, tentunya sudah sejak dulu-dulu kau sendiri mati di bawah pedang ini.”

Tiba-tiba air muka Kiau-goat Kiongcu juga berubah pucat, sorot matanya setajam sembilu beralih ke muka Hoa Bu-koat.

Tapi Lian-sing Kiongcu keburu menyeletuk, “Bu-koat, pergilah kau mencari kembali Thi Sim-lan.”

Bu-koat seperti terkejut, serunya, “Dia ….” mendadak ia bungkam pula setelah memandang Siau-hi-ji sejenak.

“Dia sudah pergi,” kata Kiau-goat. “Kukira belum jauh dia pergi, kau pasti dapat menyusulnya.”

Dengan menunduk Bu-koat berkata, “Tapi Tecu … Tecu ….”

“Memangnya kenapa? Kau tidak tunduk lagi pada ucapanku?” bentak Lian-sing Kiongcu dengan bengis.

Kembali Bu-koat memandang sekejap pada Siau-hi-ji dengan air muka yang penuh rasa serba susah, namun dia tidak berani bicara lagi, akhirnya dia terus lari keluar.

Siau-hi-ji seperti tidak memperhatikan kepergian Hoa Bu-koat, katanya kemudian, “Waktu kalian masuk ke sini, apakah di liang tikus ini sudah tiada seorang pun?”

Sampai saat ini perasaan Kiau-goat Kiongcu masih tertekan setiap mendengar kata Siau-hi-ji. Maka Lian-sing Kiongcu lantas menjawab, “Ya, tiada seorang pun.”

“Orang mati pun tidak ada?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, tidak ada,” tutur Lian-sing.

Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, katanya, “Lalu Gui Bu-geh bagaimana? Masakan dia sudah kabur?”

Meski tidak bicara, tapi tanpa terasa terunjuk rasa kejut dan girang pada air muka So Ing.

Siau-hi-ji mengerling sekitarnya, ucapnya kemudian kepada So Ing, “Dapatkah kau memayang aku memeriksa keadaan sekeliling sini?”

Sudah tentu So Ing lakukan apa yang dikehendaki anak muda itu.

Sekalipun Gui Bu-geh adalah manusia yang paling rendah, paling kotor dan paling pengecut di dunia ini, tapi cara bekerjanya ternyata tidak tanggung-tanggung, hampir seluruh perut bukit ini diterobos dan digalinya hingga geronggang.

Kecuali gua induk yang menyerupai istana ini, sekelilingnya dibangun pula kamar-kamar gua yang lebih kecil dan tak terhitung jumlahnya, kamar demi kamar berderet-deret memenuhi perut bukit ini hingga mirip sarang tawon. Setiap kamar gua itu ada pintu tembus, tapi pintunya tak dapat digembok, jelas tujuannya agar anak muridnya yang tinggal di kamar-kamar gua ini bisa saling mengawasi satu sama lain.

So Ing memayang Siau-hi-ji memeriksa kamar-kamar itu satu per satu, terlihat setiap kamar itu ternyata sangat resik dan rajin, boleh dikatakan sangat mentereng, bahkan setiap kamar ada sebuah ranjang yang sangat lunak, ranjang berkasur karet busa barangkali kalau menurut jaman kini.

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, ucapnya, “Barangkali sudah dua-tiga tahun aku tidak tidur di ranjang senikmat ini, sungguh tak tersangka kawanan tikus kecil ini dapat menikmati kehidupan seenak ini.”

“Meski Gui … Gui Bu-geh sangat kejam terhadap anak muridnya, tapi kalau anak muridnya patuh dan tidak melanggar peraturan, kehidupan sehari-harinya memang sangat baik,” tutur So Ing.

“Hm tentu saja,” jengek Siau-hi-ji. “Jika mereka tidak diberi makan kenyang dan tidur nyenyak, cara bagaimana datangnya tenaga mereka untuk bekerja keras baginya.”

So Ing menunduk dan tidak bersuara lagi.

Selang sejenak, Siau-hi-ji berkata pula, “Sungguh aneh, penghuni di sini benar-benar telah kabur semua tanpa tersisa satu pun, memangnya sebelumnya mereka sudah tahu akan kedatangan si penyatron itu, lalu kabur lebih dulu?”

So Ing tak tahan, ia berkata pula, “Apakah kau kira yang datang ini benar-benar Yan Lam-thian?”

“Kukira begitu,” ujar Siau-hi-ji.

Tiba-tiba So-Ing tertawa, katanya, “Tidak, kukira bukan.”

“O, apa dasarnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau sendiri yang bilang begitu,” jawab So Ing.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian dengan tertawa, “Bilakah pernah kukatakan?”

“Meski di mulut kau tidak omong, tapi gerak-gerikmu seolah-olah sudah memberitahukan hal ini kepada orang lain,” ujar So Ing dengan tersenyum, “Kau tahu Yan-tayhiap tidak mungkin datang ke sini. Sayang Ih-hoa-kiongcu yang berilmu silat maha tinggi itu ternyata tidak paham seluk-beluk kehidupan insani, sebab itulah meski gerak-gerikmu sudah jelas kelihatan, namun mereka tidak dapat melihatnya sedikit pun.”

Siau-hi-ji terbelalak memandangi si nona dan tak dapat bersuara pula.

“Bukan saja kau tahu Yan-tayhiap tidak nanti datang ke sini, bahkan Hoa-kongcu juga pasti tahu, tapi dia telah merahasiakan hal ini bagimu. Nah, betul tidak uraianku?”

Siau-hi-ji menghela napas panjang-panjang, katanya “Orang lain sama bilang aku ini setan cilik mahacerdik, kukira poyokan ini harus kupersembahkan kepadamu.”

So Ing tersenyum, katanya, “Tapi aku pun ingin tahu, jika penyatron ini bukan Yan-tayhiap, lalu siapa gerangannya? Setahuku, kecuali Yan-tayhiap, di dunia Kangouw ini tiada orang lain yang memiliki tenaga sehebat ini.”

“Aku pun ingin tahu, tapi betapa pun hal ini bukan persoalan yang paling pelik dan paling sukar kupecahkan.”

“Urusan apa yang paling pelik dan tak dapat kau pecahkan?”

“Coba jawab, tak peduli siapa penyatron ini, jika sudah jelas kedatangannya ini hendak mencari perkara pada Gui Bu-geh, tentu sebelumnya takkan diberitahukannya kepada Gui Bu-geh, betul tidak?”

“Betul, kedatangan orang ini tentunya dilakukan secara mendadak, makanya orang-orang di hutan sana bisa mati di tangannya.”

“Akan tetapi kalau melihat keadaan di sini tampaknya sebelumnya Gui Bu-geh sudah bersiap-siap untuk mengundurkan diri, malahan cara mundur mereka sedemikian lancar dan tidak terburu-buru, buktinya satu barang berharga saja tidak ada yang tertinggal di sini.”

“Kawanan tikus berboyongan, sudah tentu apa pun dibawanya,” ujar So Ing.

“Tapi mengapa tikus harus boyongan? Memangnya mereka sudah tahu pasti akan kedatangan kucing? Seumpama kepandaian Gui Bu-geh memang sakti, kan dia juga tidak mampu meramal apa yang belum terjadi?”

So Ing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Betul juga. Jika orang ini datang mendadak, tentu Gui Bu-geh tak tahu sebelumnya, bila dia kabur dalam keadaan tergesa-gesa, pasti juga mereka takkan lari sebersih ini.”

“Apalagi dia sudah tekun berlatih selama dua puluh tahun di sini serta telah dibangunnya pesawat rahasia sebanyak ini, maksud tujuannya jelas ditujukan untuk menghadapi Yan-tayhiap dan Ih-hoa-kiongcu.”

So Ing mengangguk, katanya, “Betul, dia memang berniat demikian.”

“Sebab itulah sekalipun dia tahu Yan-tayhiap dan Ih-hoa-kiongcu bakal datang kemari, tentu juga dia takkan lari, kesempatan ini kan sudah ditunggunya selama dua puluh tahun?”

“Ya, betul, dia memang bertekad akan menempur mereka untuk menentukan unggul dan asor. Dia juga sering berkata padaku bahwa dia khawatir kalau Ih-hoa-kiongcu dan Yan-tayhiap tidak mau datang kemari. Bilamana mereka datang, maka mereka pasti akan dikuburnya di sini.”

“Dan sekarang Gui Bu-geh sendiri justru kabur lebih dulu, apakah sebabnya? Dapatkah kau pecahkan soal ini?”

“Aku tak dapat memecahkannya,” jawab So Ing dengan tersenyum getir.

“Selain ini, masih ada sesuatu yang tak dapat kupecahkan,” kata Siau-hi-ji.

“Oo, apa?” tanya So Ing.

“Tempo hari, waktu aku terluka parah, tiba-tiba Gui Bu-geh keluar dengan tergesa-gesa untuk menyambut kedatangan seorang tamu agung, sekarang baru kutahu bahwa tamu agung itu ialah Kang Piat-ho.”

“Ya, memang betul Kang Piat-ho adanya.”

“Meski Kang Piat-ho berjuluk Kang-lam-tayhiap, tapi gelar ‘Kang-lam-tayhiap’ ini mungkin tidak berharga sepeser pun bagi Gui Bu-geh.”

“Kulihat Kang-lam-tayhiap ini memang cuma bernama kosong belaka,” ujar So Ing dengan tertawa.

“Tapi Gui Bu-geh bergegas-gegas menyambut kedatangannya begitu menerima laporan, lalu apa sebabnya? Masakah dia dan Kang Piat-ho memang sudah lama kenal baik?”

“Tampaknya memang sudah lama kenal, kalau tidak mustahil Kang Piat-ho menemukan tempat kediamannya.”

“Makanya aku bertambah bingung. Kang Piat-ho baru beberapa tahun terakhir menonjol di kalangan Kangouw, tapi Gui Bu-geh sudah dua puluhan tahun tirakat di sini, lalu cara bagaimana mereka bisa saling kenal?” Setelah menghela napas gegetun, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Kalau kedua orang ini telah berkomplot, maka Gui Bu-geh akan mirip harimau bersayap, seharusnya dia lebih-lebih tidak perlu pergi dari sini, tapi sekarang dia justru angkat kaki. Maka menurut perkiraanku, di balik kejadian ini pasti ada tipu muslihat tertentu, intrik apa memang masih tanda tanya, tapi bisa jadi keadaan ini adalah perangkap yang sengaja mereka atur. Begitu masuk di sini segera kurasakan gelagat tidak beres.”

“Apa yang tidak beres?” mendadak seorang menukas.

Suara ini timbul dari belakang mereka, tapi So Ing dan Siau-hi-ji tidak terkejut, bahkan menoleh saja tidak. Sebab mereka tahu Ih-hoa-kiongcu pasti mengintil di belakang mereka, mereka pun tahu dengan Ginkang Ih-hoa-kiongcu yang mahatinggi itu tak mungkin mereka dapat mengawasinya.

Maka Siau-hi-ji menjawab, “Meski tiada bayangan seorang pun di tempat ini, namun aku merasakan adanya maut di mana-mana, rasanya kita sudah masuk ke dalam kuburan dan sukar keluar lagi.”

“Hm, ini kan cuma pikiranmu sendiri yang sok curiga,” jengek Lian-sing Kiongcu.

“Ya, mungkin aku sendiri yang besar curiga, tapi apa pun juga aku tidak ingin tinggal lebih lama lagi di sini,” kata Siau-hi-ji. “Jika kalian tidak mau pergi terpaksa aku harus mendahului pergi ….”

Belum habis ucapannya, mendadak seorang tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Hehehe, baru sekarang kau mau pergi mungkin sudah rada kasip.”

Meski hidup Siau-hi-ji ini belum lebih dua puluh tahun, tapi berbagai macam suara tertawa sudah banyak didengarnya, di antaranya ada suara tertawa nyaring seperti bunyi genta dan menggetar sukma, ada suara tertawa yang mengerus bagai kayu diparut serta ada suara tertawa yang mengilukan seperti logam digosok.

Tapi betapa pun tak enaknya suara tertawa yang pernah didengarnya jika dibandingkan suara tertawa sekarang ini pada hakikatnya suara tertawa yang pernah didengarnya itu adalah seperti suara musik yang merdu. Hakikatnya tak pernah terpikir olehnya bahwa dari tenggorokan seseorang bisa keluar suara seburuk ini. Dan ia pun tahu di seluruh kolong langit ini hanya ada seorang yang bersuara seburuk ini.

Ih-hoa-kiongcu dan So Ing juga sama terkesiap mendengar suara tertawa aneh itu.

Tanpa tertahan Siau-hi-ji lantas berteriak, “He, Gui Bu-geh masih berada di sini!”

Aneh juga, tampaknya semua penghuni gua ini sudah pergi seluruhnya, mengapa Gui Bu-geh masih tinggal di sini?

Terdengar orang itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Betul, aku memang masih berada di sini, sudah cukup lama kutunggu kedatangan kalian.”

Secepat kilat Ih-hoa-kiongcu melayang ke arah datangnya suara tertawa itu. Suara itu jelas berkumandang keluar dari kamar batu di sebelah.

Kamar ini pun ada sebuah ranjang yang bagus dengan alat perabot keperluan sehari-hari, jelas tiada ubahnya seperti kamar yang lain, hanya sebuah kamar tempat tinggal salah seorang murid Gui Bu-geh. Namun di tengah suara tertawa yang menusuk telinga itu, tahu-tahu dinding di kamar ini dapat terbuka secara ajaib, menyusul sebuah kereta kecil mungil beroda dua meluncur keluar dari balik dinding sana.

Kereta atau kursi beroda dua ini terbuat dari sejenis logam yang mengkilat, tampaknya sangat ringan dan gesit, di atas kereta duduk seorang kerdil yang menyerupai anak kecil.

Kalau dipandang sepintas lalu takkan merasakan sesuatu yang menakutkan atas diri si kerdil ini, ia serupa dengan orang kerdil umumnya, suka pamer, pakaiannya sangat mewah, warnanya sangat mencolok mirip baju pengantin anak perempuan yang akan menghadiri upacara nikah.

Tapi jika dipandang lebih lama sejenak, seketika orang akan merasa merinding dan menggigil serta berharap semoga selanjutnya jangan lagi-lagi melihat orang macam begini.

Dia duduk bersila di atas keretanya sehingga kedua kakinya sama sekali tidak kelihatan.

Matanya tampak jelilatan, suatu tanda orang ini pasti sangat licik dan licin dan juga kejam, warna matanya rada buram seperti orang yang putus asa, tapi terkadang justru memancarkan sinar mata yang nakal dan kekanak-kanakan seperti bocah yang bengal.

Mukanya rada peyot, bengis dan beringas, tampaknya mirip seekor serigala kelaparan yang sedang menunggu mangsanya yang hendak disergapnya. Namun ujung mulutnya terkadang juga bersembul secercah senyum yang manis.

Apa yang dikatakan Siau-hi-ji memang tidak salah, orang ini sesungguhnya adalah adukan dari racun dengan madu, sudah jelas diketahui dia akan membunuhmu, tapi mau tak mau akan timbul juga rasa kasihanmu kepadanya.

Begitu melihat dia, serentak Ih-hoa-kongcu menahan gerak melayangnya tadi, mereka tidak berani mendekat lagi, mirip seorang yang mendadak melihat seekor ular berbisa mengadang di tengah jalan.

Gui Bu-geh tersenyum kepada mereka, ucapnya, “Sudah belasan tahun tidak berjumpa, tak tersangka kalian masih tetap cantik molek seperti dulu. Seorang perempuan kalau paham ilmu bersolek sungguh jauh lebih beruntung daripada memiliki harta benda yang berlimpah-limpah.”

“Hm, tak terduga kau masih berani menemui aku,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Mengapa aku tidak berani? ” jawab Gui Bu-geh dengan tertawa. “Rasanya kalian toh takkan membunuhku?”

Siau-hi-ji baru saja masuk, segera ia menanggapi dengan suara kasar, “Berdasarkan apa kau anggap mereka takkan membunuh kau?”

“Sebab kutahu peraturan Ih-hoa-kiong,” jawab Gui Bu-geh dengan tenang. “Aku sudah pernah lolos satu kali dari tangan mereka, asalkan aku tidak bersalah lagi pada mereka, maka mereka pasti takkan turun tangan lagi padaku.”

“Masa Ih-hoa-kiong ada peraturan berengsek begini?” tanya Siau-hi-ji sambil berpaling kepada Kiau-goat Kiongcu.

“Ya, memang ada,” jawab Kiau-goat.

Siau-hi-ji menghela napas, mendadak ia berseru pula, “Tapi kau kan senantiasa ingin mencari mereka untuk menuntut balas? Seumpama mereka tidak turun tangan padamu kan seharusnya kau yang turun tangan pada mereka, betul tidak?”

“Tidak,” jawab Gui Bu-geh.

Siau-hi-ji melengak, katanya, “Masa kau tidak ingin menuntut balas lagi?”

“Sakit hati, dengan sendirinya akan kutuntut balas,” ucap Gui Bu-geh dengan tertawa. “Tapi biarpun aku ingin menuntut balas kan juga tidak perlu mencari perkara pada mereka.”

“Hahaha, omongan apa ini? Hakikatnya seperti kentut belaka!” seru Siau-hi-ji dengan tergelak.

Gui Bu-geh tidak marah, dengan tenang ia berucap pula, “Apa yang kau katakan tadi memang tidak salah, di sini memang betul sebuah kuburan, maka kalian jangan harap lagi akan dapat keluar dari sini.”

“Apa katamu?” Kiau-goat Kiongcu menegas dengan air muka berubah pucat.

“Di sinilah pusat daripada pengemudi seluruh pesawat rahasia yang tersebar di istana bawah tanah ini, sekarang semua jalan keluarnya sudah kututup, jangankan manusia, lalat juga tidak mampu terbang keluar lagi.”

Tentu saja Siau-hi-ji terkejut, segera ia hendak memburu keluar untuk memeriksanya, tapi mendadak ia berhenti pula, sebab ia tahu apabila Gui Bu-geh sudah berkata demikian, maka pasti tidak berdusta.

Berputar biji matanya, dengan tertawa ia menukas, “Jadi semua jalan keluarnya telah kau bikin buntu?”

“Ya,” jawab Gui Bu-geh.

“Lalu, masakan kau sendiri juga tidak ingin keluar lagi?”

“Memang, aku memang tidak ingin keluar lagi.”

“Hahaha, siapa yang mau percaya pada ucapanmu ini” ujar Siau-hi-ji dengan bergelak tertawa. “Seumpama kau berniat mengubur hidup-hidup mereka di sini, kan dapat kau suruh anak buahmu menggerakkan perangkapnya, mengapa kau sendiri mesti ikut terkubur di sini?”

“Soalnya aku ingin menyaksikan sendiri kematian mereka,” kata Gui Bu-geh dengan hambar. “Aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri penderitaan mereka pada detik-detik terakhir menjelang ajal. Ingin kutahu keadaan mereka pada saat mereka sudah kelaparan dan ketakutan, ingin kulihat apakah mereka masih tahan pada sikap mereka yang sok gadis suci ini.”

“Gila, betul-betul orang gila, orang gila tulen,” desis Siau-hi-ji setelah melenggong sejenak.

Gui Bu-geh terkekeh-kekeh, katanya dengan tcrtawa, “Cuma sayang, kalian orang waras ini bakal mati di tangan orang gila macamku ini.”

Siau-hi-ji memandang Ih-hoa-kiongcu sekejap, dilihatnya kedua kakak beradik itu seperti mendadak berubah menjadi patung, sama sekali tidak bergerak. Mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Haha, kukira kau takkan sempat menyaksikan kematian kami, sebab kau pasti akan mati lebih dulu daripada kami.”

“Aku pasti tidak akan mati lebih dulu, sebab tubuhku jauh lebih kecil daripada kalian, segala kebutuhanku untuk hidup jelas jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan kalian, pada saat kalian mati kelaparan dan kehausan tentu aku masih dalam keadaan hidup segar bugar.”

“Caramu bertindak begini, tentu disebabkan kau menyadari dirimu bukan tandingan mereka, kalau tidak kan dapat kau bunuh mereka dengan senjata tajam, dengan kepandaian sejati, kau sendiri kan tidak perlu ikut terkubur di sini, betul tidak?”

“Ya, betul juga,” jawab Gui Bu-geh dengan menghela napas menyesal. “Selama dua puluh tahun kukira ilmu silatku sudah maju pesat dan cukup kuat untuk membinasakan mereka. Tapi setelah aku bertemu dengan Kang Piat-ho baru kutahu perhitunganku telah meleset.”

Siau-hi-ji melenggong, tanyanya kemudian, “Mengapa baru kau sadari akan kekeliruan perhitunganmu setelah kau bertemu dengan Kang Piat-ho?”

“Dua puluh tahun yang lalu, ilmu silat Kang Piat-ho pada hakikatnya tidak termasuk hitungan,” demikian tutur Gui Bu-geh. “Tapi sekarang Kang Piat-ho sudah tergolong tokoh kelas satu di dunia Kangouw. Selama dua puluh tahun ini ilmu silat Kang Piat-ho saja sudah maju sebanyak ini, apalagi Ih-hoa-kiongcu. Jika ilmu silatku dan Ih-hoa-kiongcu mengalami kemajuan yang sama, maka sekalipun kubelajar lagi dua puluh tahun Juga tetap tak dapat mengalahkan mereka, apa pula mereka kakak beradik, sedangkan aku cuma sebatang kara.”

Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Sebab itulah, setelah kupikir pergi datang, terpaksa kulaksanakan caraku sekarang ini.”

“Jika demikian, kalau sekarang mereka mau membunuhmu kan juga tetap sangat sederhana dan kau ….”

“Kan sudah kukatakan tadi,” sela Gui Bu-geh, “Mereka pasti tidak akan membunuhku, sebab aku tidak berbuat salah kepada mereka.”

“Kau berniat mengubur mereka di sini, masa bukan kesalahan?” ujar Siau-hi-ji tertawa.

“Tempat ini rumahku bukan?”

“Ehm, betul,” jawab Siau-hi-ji.

“Nah, aku kan tidak mengundang mereka ke sini dan juga tidak memaksa mereka kemari. Sekarang aku hanya menutup rapat seluruh pintu rumahku sendiri, masa hal ini kau anggap aku berbuat salah pada mereka?”

“Tapi kalau mereka menghendaki kau buka pintu dan kau menolak berarti kau menyalahi mereka.”

“Hm, pintu-pintu yang terdapat di sini terdiri dari batu-batu raksasa, kini semuanya sudah kusumbat, bahkan aku sendiri pun tidak sanggup membukanya lagi.”

Seketika Siau-hi-ji juga melenggong seperti patung dan tidak sanggup bicara lagi.

Gui Bu-geh lantas berkata pula, “Apalagi, biarpun kalian mengetahui semua pintu di sini sudah buntu, kalian toh menaruh secercah harapan dan diriku inilah satu-satunya sasaran curahan harapan kalian. Sebab itulah kuyakin kalian pasti tidak berani membunuh diriku.” Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung, “Anak Ing, mengapa kau sembunyi di luar dan tidak berani masuk kemari?”

Dengan menunduk So Ing terpaksa melangkah masuk, mukanya pucat pasi.

Gui Bu-geh menatapnya lekat-lekat, lalu ia pandang pula Ih-hoa-kiongcu, katanya kemudian terhadap So Ing, “Anak Ing, selama ini aku sangat baik padamu, tahukah apa sebabnya?”

“Ti … tidak tahu,” jawab So Ing menunduk.

“Coba kau pandang kedua Kiongcu ini, lalu kau bercermin akan wajahmu sendiri dan segera kau akan tahu apa sebabnya,” kata Gui Bu-geh dengan tertawa.

Tergerak hati Siau-hi-ji, baru sekarang diperhatikannya bahwa wajah So Ing memang rada mirip dengan Ih-hoa-kiongcu. Mereka sama-sama perempuan cantik yang tiada taranya, maka mereka pun sama pucatnya, sikapnya juga sama dinginnya, tampaknya seperti ibu dan anak atau saudara sekandung.

Entah kejut entah girang hati So Ing, tiba-tiba ia bertanya, “Jadi engkau berbaik padaku lantaran wajahku sangat menyerupai mereka?”

“Betul,” jawab Bu-geh. “Kalau tidak, di dunia ini tidak sedikit anak perempuan yatim piatu yang lain, mengapa aku cuma penujui dirimu dan membawamu pulang ke sini? Selama ini aku sangat sayang dan memanjakan dirimu justru lantaran kuingin memupuk keangkuhanmu, supaya kau bersikap dingin terhadap siapa pun, kubiarkan kau tinggal sendirian di sana justru lantaran kuingin kau terbiasa dengan watak yang menyendiri ….”

“Jadi engkau telah berdaya upaya dengan segenap tenaga hanya ingin aku berubah menjadi angkuh dan dingin seperti mereka?” tanya So Ing.

“Betul,” jawab Bu-geh.

So Ing melenggong sejenak, ia pandang Gui Bu-geh, lalu pandang pula Ih-hoa-kiongcu, katanya tiba-tiba, “Apakah engkau orang tua juga ….”

“Tutup mulutmu!” bentak Lian-sing Kiongcu mendadak.

Meski So Ing tidak berani melanjutkan lagi ucapannya, tapi dalam hati sudah paham duduknya perkara.

Dengan berkeplok tertawa-Siau-hi-ji lantas berseru, “Hahaha, baru sekarang kutahu, kiranya permata hatimu ialah Ih-hoa-kiongcu, tapi lantaran kau tidak berhasil mempersunting mereka, dari cinta berubah menjadi benci, makanya kau dendam kesumat terhadap mereka.”

Bahwasanya Gui Bu-geh adalah orang kontet yang paling cerdik di dunia ini dan jatuh cinta terhadap perempuan yang paling cantik paling anggun di dunia ini. Peristiwa ini sungguh sukar dibayangkan siapa pun juga dan terasa sangat lucu.

Makin dipikir makin geli Siau-hi-ji, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga perut terasa mules.

Tapi dengan serius Gui Bu-geh lantas berkata pula dengan tenang, “Dua puluh tahun yang lalu aku menempuh perjalanan khusus ke Ih-hoa-kiong untuk meminang mereka ….”

“Kau … kau melamar mereka?” Siau-hi-ji menegas dengan tertawa terengah-engah.

Dengan sungguh-sungguh Gui Bu-geh menjawab, “Ya, inilah perpaduan antara kecerdasan dan kecantikan, perjodohan yang paling cocok dan paling hikmat, memangnya apa yang kau tertawakan?”

“Ya, ya, memang perjodohan yang sangat sesuai, dan paling serasi,” kata Siau-hi-ji. “Tapi mereka tidak menerima lamaranmu, sebaliknya malah hendak membunuhmu, mulai dari sinilah terjadinya permusuhan kalian, begitu bukan?”

Gui Bu-geh menghela napas, meski tidak bicara, tapi diam berarti membenarkannya.

Waktu Siau-hi-ji memandang Ih-hoa-kiongcu, kedua kakak beradik itu tampak rada gemetar saking gusarnya. Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula, “Kalian dilamar oleh seorang pahlawan besar, seorang ksatria sejati, seharusnya kalian merasa bangga dan bahagia, mengapa kalian tidak menerimanya? Sungguh aku ikut merasa sayang.”

Dengan tergelak Gui Bu-geh berkata, “Tidak perlu kau memancing kemarahan mereka agar turun tangan padaku, sekalipun mereka membunuhku juga tiada faedahnya baginya. Kalau kau ini orang pintar, mestinya kau bujuk mereka supaya jangan membunuhku, nanti kalau aku sudah kelaparan dan tidak tahan, bisa jadi akan kupikirkan suatu akal baik untuk membuka pintu keluar yang sekarang sudah buntu ini.”

Siau-hi-ji menatapnya sejenak, katanya kemudian, “Betul juga, kau memang tidak boleh mati sekarang, masih banyak persoalan yang hendak kutanya padamu.”

“Pertanyaan yang pertama tentu mengenai siapakah gerangan yang datang kemari, siapa dia yang mampu membelah kursi kemala hijau itu dengan sekali bacokan, betul tidak?”

“Tidak,” jawab Siau-hi-ji. “Soal ini tidak perlu lagi kutanya padamu, sebab sekarang aku sudah paham duduk perkaranya.”

“O, kau sudah paham?” Gui Bu-geh merasa heran. “Memangnya siapa gerangannya yang datang ini?”

“Tidak ada siapa-siapa yang datang ke sini,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Siapa pun tiada yang datang? Hahahaha! Memangnya aku sendiri, yang meninggalkan bekas kaki di lorong sana?”

“Bekas kaki di lantai lorong itu adalah ukiranmu sendiri, makanya bisa begitu rajin dan rata.”

Sinar mata Gui Bu-geh gemerdep, katanya, “Lantas siapa pula yang membunuh orang-orang di hutan sana?”

“Dengan sendirinya juga kau sendiri,” jawab Siau-hi-ji. “Kau menampar mereka, tentu saja mereka tidak berani menangkis dan berkelit, kau suruh mereka gantung diri, mana mereka berani terjun ke sungai.”

“Tapi jangan lupa, mereka itu adalah muridku,” kata Gui Bu-geh.

“Memangnya kenapa kalau mereka itu muridmu? Hakikatnya kau tidak pernah menganggap anak muridmu sebagai manusia.”

“Jika demikian, jadi kursi batu kemala hijau itu pun aku sendiri yang membelahnya?”

“Ya, dengan sendirinya kau pula yang membelahnya.”

“Masa aku mempunyai kepandaian setinggi itu?”

“Karena batu kemala hijau itu sangat keras melebihi baja, untuk bisa mengukirnya menjadi sebuah kursi tentu diperlukan pedang pusaka yang dapat memotong besi seperti mengiris tahu.”

“Betul,” kata Gui Bu-geh.

“Dan kalau batu hijau itu dapat kau jadikan kursi, tentu padamu terdapat sebilah pedang pusaka yang mahatajam.”

“Ehm,” Gui Bu-geh bersuara singkat.

“Dan kalau pedangmu dapat membuat batu kemala hijau itu menjadi kursi tentu pula kau dapat membelahnya menjadi dua … kan cukup sederhana teori ini?”

Gui Bu-geh menghela napas gegetun, ucapnya, “Ya, benar, memang cukup jelas teori ini.”

“Setelah kau bunuh anak muridmu di hutan sana, lalu kau mengukir bekas telapak kaki di lantai lorong untuk memancing kami masuk ke sini.”

“Ya, ini pun beralasan,” kata Gui Bu-geh.

“Tapi kau pun khawatir bilamana kami sudah masuk kemari dan tiada melihat seorang pun di sini, bisa jadi kami akan terus keluar lagi. Maka kau lantas membelah kursi batu itu menjadi dua agar kami menjadi sangsi, pula ….” dia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Karena pintu-pintu di sini semuanya terbuat dari batu-batu raksasa, untuk menutupnya hingga buntu seluruhnya tentu juga memakan waktu dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat -.”

“Maka aku harus memancing perhatian kalian kepada kursi kemala itu, dengan demikian barulah ada waktu bagiku untuk menyumbat semua jalan keluarnya, betul tidak?” demikian sambung Gui Bu-geh.

“Ya, memang begitulah,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Mendadak Gui Bu-geh tertawa terpingkal-pingkal hingga hampir saja terguling dari keretanya.

Siau-hi-ji jadi mendelik, katanya, “Apa yang kau tertawakan? Memangnya tidak betul tebakanku?”

“Betul, betul sekali, sesungguhnya kau ini orang pintar nomor satu di dunia,” seru Gui Bu-geh sambil tertawa.

“Untuk predikat ini memang tak pernah aku menolaknya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Cuma aku pun ingin tanya beberapa hal padamu,” kata Gui Bu-geh pula.

“O, apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau sudah pernah datang ke tempatku ini, tentunya kau tahu di sini banyak terdapat benda-benda berharga, tapi mengapa sekarang satu biji saja tidak ada lagi?”

Melengak juga Siau-hi-ji, jawabnya kemudian, “Sudah tentu barang-barang itu telah … telah kau singkirkan bersama anak muridmu.”

“Mengapa harus kusuruh mereka menyingkirkan harta benda itu? Kalau aku sudah bertekad akan mati di sini, mengapa harta pusaka itu tidak ikut terkubur saja bersamaku, tapi malah kuberikan pada orang lain. Jika selamanya aku tidak pandang anak muridku sebagai manusia, untuk apa aku memberikan rezeki nomplok kepada mereka …. Nah, dapatkah kau memahami sebab musabab persoalan ini?”

Sekonyong-konyong berbinar mata Siau-hi-ji, ucapnya, “Tentu disebabkan kau ingin keluar lagi setelah menyaksikan kematian kami.”

“Jika begitu tujuanku, tentu lebih-lebih tidak mungkin kusingkirkan harta bendaku, sebab kalau kalian toh pasti akan mati seluruhnya di sini, kenapa aku mesti khawatir harta pusakaku itu akan direbut oleh kalian.”

Siau-hi-ji jadi melenggong benar-benar.

“Katanya kau ini orang pintar nomor satu di dunia, kenapa teori ini tidak dapat kau pecahkan?”

“Sebab kau ini orang gila, jalan pikiran orang gila selamanya menyimpang daripada pikiran orang sehat.”

“Jika benar aku ini orang gila, tentu seluruh anak muridku telah kubunuh agar terkubur berkamaku di sini, masa hal ini tak pernah kau pikirkan?”

Kembali Siau-hi-ji melenggong, ucapnya kemudian, “Jika demikian, jadi tempatmu ini benar-benar telah kedatangan seorang tokoh Bu-lim mahatinggi?”

“Lantaran kau tidak percaya, aku menjadi malas untuk menjelaskan,” ucap Gui Bu-geh dengan tertawa.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Dan kalau aku percaya?”

“Maka dapat kuberitahukan padamu bahwa tempat ini memang telah kedatangan seorang tokoh besar, hal ini terjadi sebelum magrib kemarin.”

“Siapakah gerangannya?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau kenal orang ini.”

“Dari mana kau tahu kukenal dia?”

“Sebab dia pernah menanyakan dirimu.”

Berubah air muka Siau-hi-ji, tapi mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, apakah kau ingin memberitahukan padaku bahwa pendatang ini ialah Yan Lam-thian?”

Dengan pandangan tajam Gui Bu-geh menjawab sekata demi sekata, “Memang betul, pendatang ini ialah Yan Lam-thian!”

Siau-hi-ji tercengang hingga lama, tiba-tiba ia tertawa pula dan berkata, “Hahaha, jika kau bilang orang lain mungkin aku akan percaya, tapi Yan Lam-thian ….”

“Masa kau tidak percaya jika kubilang dia memang benar Yan Lam-thian adanya?”

“Ya, sebab kalau benar Yan Lam-thian telah datang kemari, mustahil kau masih bisa hidup sampai sekarang untuk mencelakai orang lain.”

“Hm, memangnya kau kira ilmu silatnya lebih tinggi daripadaku?” jengek Gui Bu-geh.

“Jika ilmu silatnya tidak melebihimu, bukankah sudah dulu-dulu dia telah kau bunuh?”

“Hm, dari mana kau tahu aku tidak pernah membunuhnya?” jengek Gui Bu-geh.

Kembali air muka Siau-hi-ji berubah, tapi segera ia tenang lagi dan berkata, “Bila benar dia pernah datang kemari, tentu bekas kaki di lorong sana adalah tinggalannya, kursi batu kemala ini pun terbelah oleh pedang saktinya. Melulu daya bacokannya yang mahasakti ini sudah cukup mengguncang bumi dan menggetar langit, kalau cuma kepandaianmu saja kukira sukar mengganggu seujung rambutnya …. Betapa pun aku cukup kenal kepandaianmu.”

Gui Bu-geh termenung sejenak, ia menghela napas panjang, lalu berkata, “Memang betul juga, melulu daya bacokan pedangnya itu sudah cukup membinasakan setiap tokoh persilatan di dunia ini, sesungguhnya aku memang bukan tandingannya.”

“Asal kau tahu saja,” ujar Siau-hi-ji. “Jika dia benar-benar pernah datang kemari, mustahil kau tidak dibunuhnya?”

“Dengan sendirinya karena ada pertukaran syarat antara kami,” tutur Gui Bu-geh perlahan.

“Syarat apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kujanji akan menyerahkan seorang padanya dan dia berjanji takkan mengganggu jiwaku.”

“Kau berjanji akan menyerahkan siapa padanya?” desak Siau-hi-ji.

“Kang Piat-ho,” jawab Bu-geh.

Siau-hi-ji terkejut, serunya, “Apa katamu? Kang Piat-ho? Masa Yan-tayhiap mau mengampuni jiwa kau demi Kang Piat-ho.”

“Memang betul begitu,” kata Bu-geh.

“Untuk apa dia menolong Kang Piat-ho?”

“Dia bukan menolong Kang Piat-ho melainkan ingin membunuhnya.”

Siau-hi-ji terkesiap pula, ucapnya, “Ada permusuhan apa antara dia dengan Kang Piat-ho?”

Gui Bu-geh terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan tenang, “Tahukah kau siapa sebenarnya Kang Piat-ho?”

“Memangnya siapa?”

“Dia tak lain dan tak bukan ialah kacung ayahmu yang bernama Kang Khim, sejak kecil ia dibesarkan di rumah ayahmu, resminya dia adalah kacung dan majikan dengan ayahmu, tapi sebenarnya tiada ubahnya seperti saudara.”

Siau-hi-ji melongo terkejut dan tidak sanggup bersuara.

Maka Gui Bu-geh bertutur pula, “Waktu itu ayahmu Kang Hong terkenal sebagai lelaki paling cakap di dunia dan bersaudara sehidup-semati dengan Yan Lam-thian yang berjuluk pendekar pedang nomor satu di dunia.”

“Jika Kang Khim tidak ubahnya seperti saudara dengan ayahku, mengapa Yan-tayhiap ingin membunuhnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab orang ini telah membalas kebaikan dengan kejahatan, akhirnya ayahmu malah dijualnya.”

“Cara … cara bagaimana dia menjual ayah?” seru Siau-hi-ji.

“Kang Hong tidak saja lelaki cakap yang jarang ada di dunia ini, bahkan juga hartawan yang sukar ada bandingnya,” tutur Gui Bu-geh. “Sudah lama kawanan bandit mengincarnya, soalnya cuma mereka segan terhadap Yan Lam-thian, maka sebegitu jauh belum ada yang berani turun tangan. Siapa tahu, suatu ketika Kang Hong telah keblinger, dia tergila-gila kepada seorang murid Ih-hoa-kiong atau lebih tepat dikatakan babu Ih-hoa-kiongcu, diam-diam mereka minggat bersama. Nah, babu itulah ibu kandungmu.”

Siau-hi-ji menjadi gusar, dampratnya, “Kata-kata yang kau gunakan hendaknya tahu sopan sedikit.”

Gui Bu-geh menyeringai, dengan tenang ia menyambung pula, “Meski kedua orang itu saling mencintai hingga lupa daratan, tapi mereka pun tahu Ih-hoa-kiongcu pasti tidak akan melepaskan mereka, maka begitu mereka kabur, segera Kang Hong membereskan harta bendanya, ada yang disumbangkan dan ada yang dijual. Ia sendiri hanya membawa ringkasan seperlunya saja dan siap untuk kabur dan mengasingkan diri.”

“Tak tersangka ayahku rela berkorban segalanya bagi ibuku, sungguh aku sangat kagum padanya,” seru Siau-hi-ji.

“Jika dia cuma mau berkorban segalanya tentu takkan ada persoalan lagi,” jengek Gui Bu-geh. “Cuma sayang, dia sudah biasa hidup enak dan mewah, dia masih takut hidup miskin di kemudian hari, maka barang-barang yang dibawanya lari tetap bernilai cukup lumayan.”

“Makanya kawanan bangsat seperti kalian ini lantas merah matanya,” damprat Siau-hi-ji dengan gusar.

“Sebenarnya kejadian ini sangat dirahasiakan dan tak diketahui siapa pun juga, sayang seribu sayang, dia justru memberitahukan rahasianya kepada si Kang Khim ini.”

“Masa bangsat itu mengkhianati ayahku hanya karena mengincar harta benda ayahku?” tanya Siau-hi-ji dengan parau.

“Betul,” jawab Bu-geh. “Menurut rencana Kang Hong, lebih dulu Kang Khim disuruh memapak Yan Lam-thian, dia sendiri lalu membawa ibumu menyusuri suatu jalan lama yang tak pernah diinjak manusia lagi untuk bergabung dengan Yan Lam-thian. Rencana ini sebenarnya juga sangat rahasia, cuma sayang, sebelum Kang Khim mencari Yan Lam-thian, lebih dulu ia mendatangi Cap-ji-she-shio kami.”

“Pantas kau kenal Kang Piat-ho, kiranya sudah lama kalian main kongkalikong dan sekomplotan,” damprat Siau-hi-ji dengan gemas.

“Meski aku mengetahui peristiwa ini, tapi aku sendiri tidak ikut turun tangan, sebab biarpun begitu toh mereka pasti akan memberi bagian padaku, apalagi waktu itu aku sendiri mempunyai urusan lain.”

“Habis siapa yang turun tangan?” tanya Siau-hi-ji.

“Kukira kau pun tidak perlu tanya sejelas ini, pokoknya yang ikut turun tangan itu sudah lama mati semua.”

“Apakah Yan-tayhiap yang membunuh mereka?”

“Kukira begitu,” jawab Bu-geh sambil menghela napas.

“Hm, mereka sudah kenal kelihaian Yan-tayhiap, mengapa berani juga turun tangan?” jengek Siau-hi-ji.

“Mestinya mereka hendak mengalihkan perbuatan mereka itu bagi Ih-hoa-kiongcu agar Yan Lam-thian menyangka Ih-hoa-kiongcu yang membunuh saudara angkatnya, ditambah lagi daftar inventaris ayahmu yang dibawa Kang Khim itu cukup menarik, betapa pun Cap-ji-she-shio tidak mau sia-siakan bisnis besar ini.”

“Tapi Kang Khim kan juga tahu bagaimana kualitas orang-orang macam Cap-ji-she-shio kalian, kalau barang sudah jatuh di tangan kalian, mana dia bisa menarik keuntungan lagi?”

“Dia ternyata tidak terlalu tamak, dia cuma menghendaki dua bagian saja. Ia pun tahu Cap-ji-she-shio paling adil dalam hal membagi rezeki, bilamana kami sudah berjanji akan memberikan bagiannya, maka pasti akan kami tepati.”

Dengan gusar Siau-hi-ji berteriak, “Hanya dua bagian dari harta sekian ini dia melakukan perbuatan terkutuk ini? Jika rahasia pribadi ayahku tanpa ragu diberitahukan padanya, tentu ayah telah memandang dia seperti saudara sekandung, masa beliau takkan membagi dua bagian kekayaannya kepadanya?”

“Meski ayahmu memandangnya seperti saudara sendiri, tapi di mata orang lain dia tetap seorang kacung, seorang budak keluarga Kang. Jika ayahmu tidak mati, selama hidupnya jangan harap bisa menonjol ke atas,” Bu-geh tersenyum, lalu melanjutkan, “Meski orang ini tidak terlalu tamak, tapi ambisinya cukup besar, cita-citanya setinggi langit dan ingin menjadi tokoh terkemuka di dunia Kangouw, untuk ini mau tak mau dia harus membunuh dulu ayahmu.”

Terasa dingin kaki dan tangan Siau-hi-ji, ia termenung sejenak, katanya kemudian, “Tapi ayahku kemudian kan meninggal di tangan orang Cap-ji-she-shio?”

“Apa yang terjadi kemudian aku pun tidak jelas, aku hanya tahu waktu Yan Lam-thian menyusul ke sana, sementara itu ayah-ibumu sudah mati, hanya kau saja yang masih hidup.”

“Jadi aku ….”

“Waktu itu kau mungkin baru lahir, maka orang lain tidak tega membunuhmu, walaupun demikian toh lukamu juga cukup parah, bekas luka di mukamu mungkin bermula pada waktu itu.”

Sedapatnya Siau-hi-ji menahan rasa sedihnya, katanya, “Tak peduli ayah-ibuku dibunuh oleh siapa, yang pasti hal ini adalah akibat perbuatan Kang Khim, jika dia tidak mengkhianati ayahku, tentu orang-orang jahat itu takkan menyatroni ayah, betul tidak?”

“Ya, memang begitu,” jawab Bu-geh.

“Jika demikian, mengapa Yan-tayhiap tidak membunuhnya?”

“Mungkin waktu itu Yan Lam-thian tidak tahu bahwa biang keladinya adalah Kang Khim. Tatkala dia mengetahui hal ini, sementara itu Kang Khim sudah mengeluyur pergi. Sejak itu di dunia Kangouw lantas tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya Kang Khim dan juga tiada terdengar cerita tentang Yan Lam-thian, kemudian baru kudengar bahwa Yan Lam-thian sudah mati di Ok-jin-kok,” setelah menghela napas, lalu Bu-geh melanjutnya dengan gegetun, “Tak tahunya semua kabar itu ternyata cuma kentut belaka, bukan saja Yan Lam-thian tidak mampus sebaliknya ilmu silatnya malah jauh tambah maju. Sedangkan si Kang Khim juga lantas malih menjadi Kang-lam-tayhiap.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Bisa jadi lantaran ingin mencari Kang Khim, maka Yan-tayhiap pergi ke Ok-jin-kok.”

“Sangat mungkin begitu,” kata Bu-geh. “Setelah dia mencari Kang Khim kian kemari dan tidak ditemukan, dengan sendirinya ia menduga Kang Khim telah kabur ke Ok-jin-kok.” Dia merandek sejenak sambil berkerut kening, lalu berkata pula, “Tapi setiba Yan Lam-thian di Ok-jin-kok, sesungguhnya apa yang telah terjadi? Mengapa selama dua puluh tahun tiada kabar beritanya di dunia Kangouw?”

Siau-hi-ji mengerling, tiba-tiba ia berseru, “Seluma dua puluh tahun ini, lantaran Yan-tayhiap ingin meyakinkan semacam ilmu yang tiada tandingnya di kolong langit ini, maka beliau telah mengasingkan diri dan bersumpah takkan keluar dari Ok-jin-kok sebelum ilmu saktinya berhasil dicapainya.”

“Jika demikian, sekarang dia telah muncul, tentu ilmu saktinya telah berhasil dilatihnya?”

“Sudah tentu,” ujar Siau-hi-ji. “Setahuku, bila ilmu saktinya sudah jadi, hm, jangankan cuma Gui Bu-geh macammu, biarpun sepuluh Gui Bu-geh duga tiada artinya lagi. Apabila ilmu Ih-hoa-ciap-giok dibandingkan dengan ilmu sakti beliau ini pada hakikatnya mirip permainan anak kecil saja.”

Dia membual setinggi langit, padahal tiada satu pun yang benar.

Sungguh ia tidak habis mengerti mengapa mendadak Yan Lam-thian bisa muncul? Apakah penyakitnya sudah sembuh? Mungkin telah terjadi keajaiban yang mempercepat kesembuhannya atau ada seorang lagi mirip Loh Tiong-tat yang telah meminjam nama kebesaran Yan Lam-thian? Siapakah dia sebenarnya?

Meski dalam hati Siau-hi-ji merasa bimbang, tapi Gui Bu-geh jadi melenggong oleh bualan Siau-hi-ji tadi, nyata dia percaya penuh terhadap apa yang diuraikan anak muda itu.

Tapi sejenak kemudian, tiba-tiba Gui Bu-geh mengekek tawa.

“Apa yang kau tertawakan?” omel Siau-hi-ji dengan mendelik.

Gui Bu-geh terkekeh-kekeh, katanya, “Yang kutertawai ialah Yan Lam-thian. Sungguh konyol dia, dengan susah payah dia berlatih selama dua puluh tahun hingga jadilah ilmu saktinya ini, tapi akhirnya tiada gunanya sama sekali.”

“Mengapa tiada gunanya sama sekali?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab sekarang dia tiada mempunyai lawan lagi. Ih-hoa-kiongcu dan diriku sudah jelas akan mati di sini, lalu apa gunanya ilmu sakti yang dilatih Yan Lam-thian itu?”

“Lantas bagaimana dirimu sendiri?” jengek Siau-hi-ji. “Kau pun bersusah payah selama dua puluh tahun dan ingin meyakinkan sejurus ilmu sakti, lalu bagaimana hasilnya? …. Huh, kau bergebrak dengan lawan saja tidak berani, bukankah ini lebih memalukan?”

“Hehe, memang betul, memang memalukan,” jawab Gui Bu-geh dengan tertawa. “Tapi aku toh akan mati, sedangkan Yan Lam-thian masih akan hidup terus, ilmu sakti yang telah dilatihnya dengan susah payah itu akhirnya tidak menemukan lawan seorang pun, inilah yang akan membuatnya konyol.”

Tiba-tiba So Ing bertanya, “Apakah Yan-tayhiap telah membunuh Kang Piat-ho?”

“Belum,” jawab Bu-geh.

“Mengapa Yan-tayhiap belum lagi membunuhnya?” tanya So Ing pula.

“Sebab dia hendak menahan Kang Piat-ho untuk Siau-hi-ji, ia ingin Siau-hi-ji yang membalas sakit hatinya dengan tangan sendiri.”

“Tapi kalau dia tidak dapat menemukan Siau-hi-ji, lalu bagaimana?” tanya So Ing.

“Sehari Siau-hi-ji tidak ditemukan olehnya, sehari pula nyawa Kang Piat-ho akan tertunda, bila sepuluh tahun dia tidak menemukan Siau-hi-ji, maka sepuluh tahun pula Kang Piat-ho akan hidup lebih lama.”

“Jika demikian, bukankah Kang Piat-ho akan – akan ….” Meski tidak dilanjutkan ucapan So Ing Ini, tapi maksudnya sudah cukup jelas.

“Memang betul, selamanya Kang Piat-ho akan hidup terus, sebab selamanya Yan Lam-thian takkan menemukan lagi Siau-hi-ji,” tukas Gui Bu-geh dengan tertawa. “Meski ilmu silat Yan Lam-thian sepuluh kali lebih tinggi daripada Kang Piat-ho, tapi dalam hal tipu muslihat dia tak dapat melawan Kang Piat-ho, ia selalu membawa Kang Piat-ho ke mana pun pergi, itu sama halnya seorang menuntun seekor harimau berkeliaran kian kemari, lambat atau cepat pada suatu hari jiwanya pasti akan melayang di tangan Kang Piat-ho.”

Siau-hi-ji menjadi gusar, dampratnya, “Dia telah mengampuni jiwamu, mengapa kau berbuat demikian padanya, apakah kau bisa dianggap sebagai manusia lagi?”

Bu-geh menengadah dan tergelak-gelak, ucapnya kemudian dengan gemas, “Meski dia tidak membunuhku, tapi dia telah mengusir seluruh anak muridku, bahkan mereka membawa serta semua harta bendaku, tindakannya ini tiada bedanya seperti membunuh aku.”

Baru sekarang Siau-hi-ji paham duduknya perkara, ia tertawa geli, katanya, “O, mungkin dia tidak cuma mengusir anak muridmu, mungkin juga kawanan tikus kesayanganmu itu pun dihalau lari semua, betul tidak?”

“Hm!” dengus Gui Bu-geh dengan menggereget.

“Kiranya kau merasa hidup ini tiada artinya makanya kau mengatur langkah terakhir ini. Coba kalau sehari-hari kau bersikap lebih baik terhadap anak muridmu itu, niscaya mereka takkan meninggalkanmu tatkala menghadapi kesulitan.”

Mendadak Gui Bu-geh menyeringai, ucapnya, “Tapi sekarang kalian akan mengiringi kematianku aku sangat gembira dan puas.”

“Kang Siau-hi-ji, kemari kau!” tiba-tiba Ih-hoa-kiongcu memanggilnya di sebelah sana. Sebenarnya Siau-hi-ji seperti ogah ke sana, tapi setelah berpikir, akhirnya ia melangkah ke sana, baru dua-tiga tindak, ia menoleh memandang So Ing.

Tampaknya So Ing ingin tahu bagaimana reaksi Gui Bu-geh, tapi tiba-tiba ia pun berubah pendirian, ia tersenyum manis terhadap Siau-hi-ji dan ikut melangkah ke sana.

Sinar mata Gui Bu-geh memancarkan perasaan benci dan dendam mengikuti bayangan muda-mudi itu, mendadak ia mendorong roda keretanya, sekarang keretanya meluncur masuk ke balik dinding sana. Segera dinding itu merapat kembali, halus dan rata tanpa meninggalkan suatu bekas apa pun.

Kedua Ih-hoa-kiongcu berdiri tegak di tengah-tengah ruangan itu, meski sikap mereka tetap dingin dan angkuh, tapi tampaknya telah berubah sedemikian kecilnya, menyendiri dan sangat memelas. Orang-orang yang pernah gemetar bila mendengar nama mereka, bila sekarang melihat keadaan mereka tentu takkan ketakutan lagi terhadap mereka.

Namun kedua Ih-hoa-kiongcu itu masih tetap berdiri tegak dan tidak mau duduk. Mereka selamanya seolah-olah tidak pernah duduk.

Ketika Siau-hi-ji mendekati mereka, tiba-tiba ia pandang mereka dengan tertawa, katanya, “Kalian masih berdiri saja di sini, sungguh terkadang timbul pikiranku ingin tahu bagaimana bentuk kaki kalian.”

Terkesiap dan gusar pula Ih-hoa-kiongcu, wajah mereka yang pucat menjadi rada merah.

Tapi Siau-hi-ji anggap tidak melihat, dengan tertawa ia menyambung lagi, “Sering kupikir kaki kalian tentunya tidak dapat membengkok, aku jadi ingin tahu jangan-tangan kaki kalian ini tanpa dengkul?”

Mendadak Kiau-goat Kiongcu berpaling ke sana, mungkin saking dongkolnya menjadi khawatir kalau-kalau hatinya tidak tahan dan sekali hantam bisa membinasakan anak muda itu.

Lian-sing juga memejamkan matanya, sejenak kemudian baru ia membuka mata dan berkata dengan tenang, “Tadi kami sudah memeriksa sekeliling ruangan gua ini.”

“O, apa yang kalian temukan?” tanya Siau-hi-ji.

“Segenap pintu keluar di sini memang betul sudah buntu,” tutur Lian-sing Kiongcu.

“Tanpa memeriksa juga kutahu apa yang dikatakan Gui Bu-geh pasti bukan gertakan belaka,” ujar Siau-hi-ji.

“Maka dari itu bila dalam sehari dua hari tak dapat keluar, andaikan tidak mati kelaparan juga pasti akan mati sesak napas di sini,” ucap Lian-sing pula.

“Adakah kalian mendapatkan akal baik untuk keluar?” tanya Siau-hi-ji.

“Pintu keluarnya semua terbuat dari batu raksasa dan tidak mungkin dibuka dengan tenaga manusia,” kata Lian-sing setelah berpikir sejenak. “Tapi kuyakin Gui Bu-geh pasti tidak sudi membunuh diri di sini.”

“Maka kau anggap dia pasti mempunyai jalan lari yang terakhir, begitu?” tukas Siau-hi-ji.

“Betul,” kata Lian-sing.

“Memangnya engkau menghendaki aku mencari jalan lolos ini?”

Lian-sing tidak menjawab, ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Kupikir, mungkin kau mempunyai akal dan dapat memancing sesuatu pengakuan dari mulut Gui Bu-geh.”

“Kau kira aku mempunyai kemampuan sebesar itu?”

“Kukira kau mampu, jika dia tidak mau mengaku, boleh kau bunuh dia.”

“Mengapa kalian tidak turun tangan sendiri saja?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebabnya kan sudah dijelaskan oleh Gui Bu-geh.”

“Dalam keadaan begini masa kalian masih bicara tentang peraturan busuk begitu?”

“Sekali peraturan, tetap peraturan, mati pun tidak boleh berubah,” kata Lian-sing Kiongcu dengan tegas.

“Ai, jarang juga ada orang berkukuh pendirian seperti kalian ini, padahal seumpama kau ingin membunuh dia juga tidak dapat lagi, sekarang dia pasti sudah bersembunyi di tempat aman.”

“Tapi kalau aku menyatakan tidak ikut campur, bila kau menantang dia pasti dia akan keluar menghadapi kau,” Lian-sing pandang So Ing sekejap, lalu menyambung pula, “Kutahu dia sangat benci padamu, setiap kesempatan dapat membunuhmu pasti takkan disia-siakan olehnya.”

“Betul penglihatanmu,” ucap Siau-hi-ji. “Cuma sayang bilamana aku bergebrak dengan dia, yang bakal mati bukanlah dia melainkan diriku.”

“Aku pun tahu ilmu silatmu saat ini memang bukan tandingannya, tapi asalkan kuajari selama tiga jam maka dia pasti bukan lagi tandinganmu.”

“Oo, apa benar? Kau yakin? Rasanya aku tidak percaya!”

“Memangnya betapa hebat ilmu silat Ih-hoa-kiong dapat kau bayangkan?” ujar Lian-sing dengan mendongkol.

Siau-hi-ji termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa.

Lian-sing menjadi gusar, dampratnya, “Memangnya aku bergurau denganmu?”

“Sudah tentu kutahu engkau tidak bergurau, tapi bicara kian kemari, nyatanya engkau melupakan sesuatu.”

“Sesuatu apa?” tanya Lian-sing.

“Untuk apa aku mesti membuang tenaga dan bersusah payah untuk menggempur Gui Bu-geh?”

Melengak juga Lian-sing Kiongcu, ucapnya kemudian, “Masa kau tidak ingin membunuh dia?”

“Tidak,” jawab Siau-hi-ji.

Kembali Lian-sing melengak, katanya, “Tapi kalau kau dapat merobohkan dia, lalu mengancam akan membunuhnya, mungkin dia akan mengatakan jalan keluar yang dirahasiakannya.”

“Tapi untuk apa pula harus kupaksa dia mengatakan jalan keluar?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Memangnya kau tidak … tidak ingin keluar?”

“Untuk apa keluar? Bukankah di sini sangat menyenangkan?”

Tidak kepalang dongkol Lian-sing Kiongcu, ia menahan rasa gusarnya hingga muka pucat dan tidak sanggup bersuara pula.

“Aku kan sudah keracunan, cepat atau lambat pasti akan mati,” demikian ucap Siau-hi-ji dengan tenang. “Sekalipun kalian dapat menawarkan racunku akhirnya aku harus mati juga di tangan Hoa Bu-koat. Jika ke sana mati dan di sini juga mati, kan lebih baik kumati saja di sini, kulihat bakal kuburanku disini cukup mentereng.” Dengan terkikih-kikih lalu ia menyambung pula, “Apabila aku tidak mati di sini, kelak umpama kalian menaruh belas kasihan kepadaku dan mau membuatkan makam bagiku, kukira kuburan yang kalian bangun juga takkan semewah ini.”

Sejak tadi Lian-sing melotot pada Siau-hi-ji, setelah anak muda itu bicara, ia masih mendelik sekian lamanya, tiba-tiba ia berkata, “Jika kujamin kau pasti tidak akan mati di tangan Hoa Bu-koat, lalu bagaimana?”

Sorot mata Siau-hi-ji memancarkan cahaya gembira, jawabnya perlahan, “Bergantung pada apa yang akan kau katakan, bila kau jamin selanjutnya takkan memaksa aku mengadu jiwa dengan Hoa Bu-koat, maka aku ….”

Sekonyong-konyong Lian-sing menukas dengan suara bengis, “Pertarunganmu dengan Bu-koat sudahlah pasti dan tidak mungkin berubah -.”

“O, jika begitu, apa boleh buat biarlah kita menunggu kematian saja di sini.”

“Tapi jangan kau lupa, bila dapat kubuat ilmu silatmu melebihi Gui Bu-geh, tentu pula dapat mengalahkan Bu-koat. Kalau kau dapat membunuh Gui Bu-geh, tentu pula dapat membunuh Bu-koat.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Betul juga ucapanmu. Cuma sayang aku tidak percaya.”

“Mengapa kau tidak percaya?” tanya Lian-sing.

“Hoa Bu-koat dibesarkan oleh kalian, dari kecil hingga besar tinggal di Ih-hoa-kiong, dia bukan saja murid kalian, pada hakikatnya seperti anak kalian. Sebaliknya aku adalah putra musuhmu, kalau saja aku tidak menyadari ilmu silatku jauh di bawah kalian, bukan mustahil setiap saat aku akan membunuh kalian. Sekarang kalian malah hendak mengajarkan ilmu silat padaku dan menyuruh aku membunuh murid kalian. Siapakah di dunia ini yang mau percaya pada ucapanmu ini?”

Lian-sing melirik sekejap pada sang kakak. Maka Kiau-goat lantas berkata, “Sudah barang tentu di balik persoalan ini ada ….”

Berkilau sinar mata Siau-hi-ji menantikan uraian Ih-hoa-kiongcu itu. Siapa tahu, baru sekian saja ucapannya, lalu berhenti dan tidak menyambung lagi.

Segera Siau-hi-ji bertanya, “Maksudmu di balik persoalan ini ada soal lain lagi, begitu?”

“Hmk!” Kiau-goat hanya mendengus saja.

“Jika kalian ingin kupercaya padamu, urusannya cukup sederhana, asalkan kalian mau menjelaskan seluk-beluk persoalan ini, maka apa pun yang kalian kehendaki pasti akan kulakukan.”

Air muka Kiau-goat Kiongcu yang selalu kaku dingin itu tiba-tiba timbul perubahan yang mengejutkan laksana gunung es yang mendadak longsor, bumi raya ini seakan-akan kiamat.

Siau-hi-ji menatapnya dengan tajam, katanya dengan tenang, “Apakah kalian lebih suka Gui Bu-geh menyaksikan kekonyolan kalian menjelang ajal daripada menceritakan rahasia ini kepadaku? Supaya kalian maklum bahwa seseorang kalau mendekati ajalnya, wah, macamnya itu sungguh konyol dan juga lucu, pasti akan menjadi tontonan yang menarik bagi Gui Bu-geh.”

Kiau-goat menggereget. Mendadak ia berpaling ke sana. Perlahan Lian-sing juga ikut membalik tubuh ke sebelah sana, mereka tidak ingin memandang Siau-hi-ji lagi dan juga tidak ingin mendengar sepatah katanya.

Dengan suara keras Siau-hi-ji berucap pula, “Kini jelas hanya ada jalan kematian bagi kita, mengapa kalian tetap tidak mau membeberkan rahasia ini, sesungguhnya kalian ingin menunggu sampai kapan?”

Seketika terdengar gema suara Siau-hi-ji yang berkumandang dari dinding istana di bawah tanah ini, “… kalian ingin menunggu sampai kapan ….” dan kakak beradik Ih-hoa-kiongcu entah sudah pergi ke mana lagi.

Siau-hi-ji termangu-mangu seperti patung hingga lama, tiba-tiba ia menoleh dan berkata kepada So Ing, “Sudah cukup banyak juga kau mengikuti persoalan ini, bukan?”

“Ya,” sahut So Ing dengan gegetun. “Sekarang kutahu Kang-pekbo (bibi Kang, maksudnya ibu Siau-hi-ji) semula adalah murid Ih-hoa-kiong, kemudian … kemudian ….”

“Tidak perlu diragukan lagi ayah-bundaku pasti meninggal terbunuh oleh mereka,” ucap Siau-hi-ji dengan menggereget. “Waktu itu mereka tidak membabat rumput hingga akar-akarnya, baru sekarang mereka hendak membunuhku agar tidak menimbulkan bibit bencana di kemudian hari.”

“Ya,” kata So Ing.

“Tapi mengapa mereka bertekad ingin Hoa Bu-koat yang membunuh diriku? Jika mereka mau turun tangan sendiri, sampai kini entah sudah berapa kali aku dibunuh oleh mereka.”

“Tadinya mereka mengira kau pasti akan benci kepada Hoa Bu-koat, andaikan kau tak dapat menuntut balas pada mereka pasti juga akan mencari Hoa Bu-koat sebagai ganti mereka. Tapi kenyataannya tidak demikian, engkau cukup berlapang dada dan berpikiran terbuka, kau anggap permusuhan orang tua tiada sangkut-pautnya dengan angkatan yang lebih muda, maka mereka terpaksa memaksa Hoa Bu-koat membunuhmu.”

“Betul, memang begitu maksud tujuan mereka. Tapi mengapa mereka berkeras membikin aku saling bermusuhan dengan Hoa Bu-koat? Yang paling aneh adalah mereka tidak melulu menghendaki aku dibunuh oleh Hoa Bu-koat, sebaliknya kalau aku membunuh Bu-koat mereka juga akan sama puasnya. Apakah kau dapat menyelami sebab musababnya?”

So Ing berpikir cukup lama, katanya kemudian, “Menurut pendapatku, antara kau dan Hoa Bu-koat pasti ada hubungan yang sangat rumit.”

Terbeliak mata Siau-hi-ji, katanya pula sambil berkerut kening, “Tapi antara diriku dan Hoa Bu-koat jelas tiada sangkut-paut apa-apa. Begitu aku dilahirkan segera paman Yan membawaku ke Ok-jin-kok, pada hakikatnya aku tidak mempunyai sanak keluarga di dunia ini.” Dia pegang tangan So Ing dan berkata dengan suara parau, “Kutahu engkau adalah orang mahapintar, sebagai penonton akan lebih jelas memecahkan persoalannya, dapatkah engkau memikirkan apa hubunganku dengan Hoa Bu-koat.”

So Ing menghela napas, ucapnya dengan suara lembut, “Segala apa, pada suatu hari akhirnya pasti akan menjadi jelas, mengapa engkau mesti gelisah sekarang.”

“Gelisah sekarang saja rasanya sudah terlamhat,” ujar Siau-hi-ji sambil menyengir. Dia lepaskan tangan So Ing dan berbaring di lantai, kembali ia termenung-menung memikirkan soal rumit itu.

Sunyi senyap, tiada bedanya antara ruangan gua ini dengan kuburan. Cahaya lampu yang menyorot lembut dari celah-celah dinding sana menyinari wajah Siau-hi-ji.

Sebenarnya ini adalah sebuah wajah yang cerah, angkuh, keras dan penuh gairah, tapi tampaknya kini wajah ini sangat letih, lesu dan guram.

Termangu-mangu So Ing memandangi muka Siau-hi-ji, terpantul sedikit demi sedikit kilau air mata di kelopak matanya.

Entahlah sudah selang berapa lama, tiba-tiba terdengar Siau-hi-ji bergumam, “So Ing, kau tahu aku tidak takut mati, tapi bila aku diharuskan mati konyol begini tanpa tahu sebab musababnya betapa pun aku tidak rela … tidak rela ….”

So Ing mengusap matanya dan berkata pula dengan suara lembut, “Kau takkan mati, asalkan kau ….”

Mendadak Siau-hi-ji melonjak bangun dan berseru, “He, apakah masih ada jalan keluar?”

“Kutahu sudah lama Gui Bu-geh bermaksud menjadikan tempat ini sebagai makamnya bilamana ia meninggal, sebab itulah pada setiap pintu telah ditambahi sepotong balok batu raksasa, asalkan dia sentuh pesawat rahasianya, pasir lantas mengalir keluar, balok batu lantas anjlok, maka siapa pun tidak lagi mampu membukanya. Cara membangun tempat ini mirip cara membangun makam para maharaja di jaman purbakala, namun -.”

Sebenarnya Siau-hi-ji sudah berbaring pula, demi mendengar “namun” ini, seketika semangatnnya terbangkit pula, kembali ia melonjak bangun dan memegang tangan si nona serta bertanya, “Namun bagaimana?”

“Bilamana pintu tempat ini benar-benar sudah buntu, seharusnya seluruh gua ini akan sama seperti kuburan yang tidak tembus hawa lagi, namun sekarang … sekarang sama sekali tiada terasa sumpeknya hawa, makanya kupikir ….”

“Makanya kau pikir Gui Bu-geh pasti merahasiakan suatu jalan keluar, begitu bukan?” tukas Siau-hi-ji.

“Ya, sebab kalau seluruh jalan keluarnya sudah buntu, tentu sinar lampu ini pun akan padam. Setahuku, tempat yang tidak tembus hawa tak mungkin dapat menyalakan api.”

Siau-hi-ji memukul telapak tangan sendiri dengan sebelah tinjunya, katanya, “Betul, asalkan dia masih mempunyai jalan keluar, tentu aku ada akal akan menyuruhnya mengaku.”

Tiba-tiba So Ing berkata dengan tertawa, “Bukankah kau tidak mau keluar lagi dari sini?”

Siau-hi-ji mencibir, ucapnya, “Aku sengaja menggoda kedua Kiongcu yang angkuh itu, sebelum rahasia pribadiku kupecahkan dengan jelas, bukan saja aku tidak rela mati, bahkan aku pun tidak rela mereka mati.”

Di tengah putus asa tiba-tiba timbul secercah sinar harapan, seketika semangat mereka terbangkit. Segera Siau-hi-ji pegang tangan So Ing dan berkata, “Sekarang langkah kita yang pertama ialah menemukan Gui Bu-geh.”

“Untuk ini tidak sulit, semua pesawat rahasia di sini cukup kupahami,” kata So Ing.

Baru saja mereka hendak melangkah ke depan, tiba-tiba terdengar suara orang menghela napas panjang di belakang mereka, seorang berkata dengan gegetun, “Kalian tidak perlu cari lagi, aku sudah berada di sini!”

Altar batu yang semula tertaruh kursi kemala hijau itu kini mendadak bergeser dan terbukalah sebuah lubang, sambil mendorong keretanya perlahan-lahan Gui Bu-geh meluncur keluar.

Sambil menghela napas gegetun Gui Bu-geh juga bergumam, “Sudah belasan tahun kupelihara dia, akhirnya aku tak dapat menandingi seorang anak muda yang baru dikenalnya, pantas orang suka bilang, anak perempuan condong keluar, lebih baik punya piaraan anjing daripada piara anak perempuan.”

Tanpa terasa So Ing menunduk, ucapnya dengan suara lirih, “Aku ….”

Mendadak Gui Bu-geh tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kau tidak perlu menjelaskan lagi, sekalipun kau bantu dia membunuhku juga aku tidak menyalahkan kau. Anak muda seperti dia ini, jika aku menjadi anak perempuan juga pasti akan minggat bersama dia.”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Haha, meski kau ini jahat, paling tidak pandanganmu cukup tajam dan dapat membedakan antara yang baik dan busuk.”

Gui Bu-geh terkekeh-kekeh, ucapnya, “Tidak perlu kau menjilat pantatku, biarpun kau putar lidah bagaimana pun juga aku tidak mampu mengeluarkan kau dari sini. Meski di tempat ini ada tiga lapis pintu, namun ketiga lapis ini sama-sama dikendalikan oleh suatu alat pesawat, bahkan cuma dapat digunakan satu kali saja, begitu balok batu sudah anjlok, pada saat itu pula aku sendiri pun sudah siap untuk mati di sini.” Dia pandang So Ing dan berkata pula dengan tertawa, “Jika kau tahu waktu kubangun tempat ini sudah siap mengubur diriku sendiri di sini, caraku membangun tempat ini serupa bangunan makam maharaja di jaman kuno, mengapa pula kau masih mengira di tempat ini ada jalan keluar lagi?”

So Ing melenggong sejenak, akhirnya ia menunduk dengan muram.

“Tapi di sini masih ada tempat yang tembus hawa, bukan?” seru Siau-hi-ji.

“Betul, apakah kau kira tempat ini memerlukan pintu yang tembus hawa?” Gui Bu-geh mengebaskan tangannya, lalu menyambung. “Tempat seluas ini dengan penghuni sebanyak ini, jika cuma mengandalkan tiga lapis pintu sebagai lubang hawa, bukankah sudah lama kami mati sesak di sini? Hehe, tampaknya kau sangat pintar, tapi yang kau pahami ternyata tidak terlalu banyak.”

Siau-hi-ji menjengek, “Aku kan bukan tikus dan tak pernah bertempat tinggal di liang tikus, dari mana kutahu kawanan tikus menggunakan apa sebagai lubang hawa?”

Padahal sekali-kali bukan Siau-hi-ji tidak paham, hanya saja dalam keadaan kepepet, asalkan ada setitik harapan, tentu takkan disia-siakan olehnya, makanya ia pura-pura tidak tahu.

Dengan tertawa terkekeh-kekeh Gui Bu-geh berkata pula, “Kutahu dalam hatimu sekarang tentu lagi berdaya upaya agar aku mau mengatakan di mana letak lubang hawa itu. Untuk ini dapat kukatakan padamu, tidak perlu lagi kau peras otak, sebab tiada gunanya.”

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji sambil melotot.

“Sebab waktu kubikin lubang-lubang hawa itu justru sudah kupikirkan kemungkinan kawanan tikus akan lari keluar melalui lubang hawa ini,” setelah bergelak tertawa, lalu Gui Bu-geh menyambung, “Kalau saja tikus tidak mampu menyusup keluar, lalu manusia sebesar kau masa dapat menerobos keluar?”

Siau-hi-ji tidak menanggapi, ia termenung sejenak, tiba-tiba bertanya pula, “Mengapa kau tidak menyumbat sekalian lubang hawa itu?”

“Untuk apa kusumbat?”

“Memangnya kau khawatir kita mati terlalu cepat?”

“Tepat,” seru Gui Bu-geh sambil terkekeh-kekeh. “Dengan susah payah baru berhasil kupancing kalian ke sini, mana boleh kalian mati begitu saja di sini? Dengan sendirinya kalian tidak boleh mati terlalu cepat. Kalian harus mati secara perlahan-lahan, dengan demikian barulah dapat kusaksikan perbuatan konyol kalian pada waktu mendekati ajal, kutanggung di dunia ini pasti tiada tontonan yang lebih menarik daripada ini.”

Agaknya semakin dipikir semakin geli sehingga Gui Bu-geh tertawa terpingkal-pingkal.

Siau-hi-ji tertawa juga, katanya, “Ingin kutanya padamu, perbuatan konyol apa yang akan kami lakukan menurut perkiraanmu?”

Gemerdep sinar mata Gui Bu-geh, tuturnya dengan tertawa, “Tentunya kau tahu, selamanya kakak beradik Ih-hoa-kiongcu itu tidak mau duduk, tempat apa pun bagi mereka terasa kotor, tapi aku berani garansi, tidak lebih daripada tiga hari mereka pasti akan rebah di ranjang yang pernah ditiduri lelaki busuk bagi pandangan mereka, biasanya mereka tidak suka makan barang sembarangan, tapi beberapa hari lagi, biarpun seekor tikus mati juga akan mereka ganyang mentah-mentah, bisa jadi kalian berdua juga akan disembelih oleh mereka untuk dimakan. Nah, kau percaya tidak?”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Jika aku benar-benar dimakan mereka, wah, bagus juga, aku lebih suka terkubur di dalam perut mereka. Hahaha!”

Meski dia bergelak tertawa, tapi diam-diam ia merinding juga, sebab ia tahu apa yang dikatakan Gui Bu-geh memang bukan tidak mungkin sama sekali.

Betapa pun bajik dan anggunnya seseorang, apabila dia sudah kelaparan, maka perbuatan kotor dan rendah apa pun dapat dilakukannya, dalam keadaan begitu antara manusia dan hewan mungkin sudah tiada bedanya.

Maka terdengar Gui Bu-geh berkata pula dengan tertawa, “Ada lagi, kutahu kalian berempat sama-sama masih suci bersih, masih perawan dari jejaka tulen, belum ada yang pernah menikmati benar-benar kebahagiaan orang hidup. Nanti kalau kalian sudah dekat ajal, bisa jadi kalian akan berubah pikiran dan menganggap kematian kalian ini sia-sia belaka, bukan mustahil lantas timbul pikiran ingin mencicipi rasanya orang berbuat begituan.”

Sorot matanya penuh memancarkan rasa porno, otaknya seolah-olah sedang membayangkan kejadian begituan, badannya sampai bergeliat-geliat, sambil tertawa ia menyambung pula, “Nah, tiba saatnya begitu, mungkin kau anak muda ini akan menjadi barang perebutan mereka.”

Meski muka So Ing menjadi merah, tapi keringat dingin pun mengucur keluar mengingat apa yang dikatakan Gui Bu-geh itu memang bisa terjadi.

Tapi Siau-hi-ji lantas mengejek, “Hm, kau sendiri mengapa tidak suka menikmati rasa begituan? Memangnya kau sudah tidak sanggup lagi?”

Seketika lenyap suara tertawa Gui Bu-geh, sekujur badannya lantas menggigil.

Sambil menatap kedua kaki orang yang melingkar itu, Siau-hi-ji menjengek pula, “Hm, kiranya kau memang tidak mampu lagi, makanya kau berubah menjadi gila begini. Tadinya aku sangat benci padamu, tapi sekarang aku menjadi rada kasihan padamu.”

Mendadak Gui Bu-geh meraung murka terus menubruk ke arah Siau-hi-ji.

Laksana segumpal daging saja mendadak dia melejit ke atas seakan-akan hendak menumbuk Siau-hi-ji dengan tubuhnya. Tapi ketika Siau-hi-ji berkelit sambil menangkis, tahu-tahu gumpalan daging ini tumbuh keluar dua belati, kedua tangannya secepat kilat menusuk tenggorokan dan kedua mata anak muda itu.

Cepat Siau-hi-ji berputar, kedua telapak tangannya balas memotong.

Tak terduga tubuh Gui Bu-geh mendadak bertambah pula sebilah pedang pandak terus menyayat pergelangan tangan Siau-hi-ji.

Kiranya setiap jari Gui Bu-geh tumbuh kuku yang panjangnya belasan senti, biasanya kuku panjang melingkar di telapak tangan, bilamana bertempur, dengan tenaga dalam yang kuat, kuku panjang itu lantas dijulurkan dan digunakan sebagai senjata.

Di bawah sinar lampu kelihatan kesepuluh kukunya gemerlap kehitam-hitaman, jelas kuku beracun, asalkan kulit daging Siau-hi-ji tergores lecet saja pasti sukar tertolong lagi.

Sekali tubrukan Gui Bu-geh itu ternyata mengandung tenaga gerakan ikutan, setiap gerak perubahan juga di luar dugaan lawan, sungguh serangan aneh dan keji, sungguh sukar dicari bandingannya.

Saking terkejut hampir saja So Ing menjerit.

Dilihatnya Siau-hi-ji sempat menjatuhkan diri ke lantai dan menggelinding jauh ke sana, caranya mematahkan serangan Gui Bu-geh ini pun bukan gerakan ilmu silat sejati, hanya ikhtiar Siau-hi-ji sendiri bilamana menghadapi bahaya.

“Ikhtiar cepat menurut keadaan”, inilah letak ciri khas Siau-hi-ji yang mahalihai.

Dilihatnya Gui Bu-geh telah mengerahkan segenap tenaga murninya, sekalipun kepandaiannya berlipat lebih tinggi lagi juga tidak mungkin ganti napas di udara seperti burung terbang saja. Sebab itulah begitu dia hinggap di atas tanah, Siau-hi-ji segera dapat mendahuluinya, soalnya anak muda itu sekarang sudah tahu di mana letak kelemahan lawan, yaitu pada kedua kakinya yang cacat.

Siapa duga, sekali putar tubuh di atas, tahu-tahu Gui Bu-geh jatuh kembali di atas kursinya yang beroda itu. Baru saja Siau-hi-ji hendak menubruk maju, sekonyong-konyong kereta itu berputar cepat mengitarinya.

Dalam sekejap Siau-hi-ji merasa di muka, di belakang, kanan dan kiri, seluruhnya cuma bayangan Gui Bu-geh melulu, betapa cepatnya Gui Bu-geh mengemudikan kursinya sungguh jauh lebih lihai daripada Pat-kwa-yu-sin-ciang (pukulan menurut peta Pat-kwa) yang termasyhur itu.

Kereta beroda itu memang dibuat dengan sangat bagus, sepanjang tahun Gui Bu-geh duduk di atas kursinya ini sehingga kereta dan orangnya seakan-akan sudah terlebur menjadi satu, dia dapat mengemudikannya dengan sesuka hati.

Seketika Siau-hi-ji merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, hampir saja ia roboh sendiri tanpa diserang oleh Gui Bu-geh.

Terdengar suara tertawa Gui Bu-geh yang terkekeh-kekeh itu berkumandang dari berbagai penjuru membuat merinding orang yang mendengarnya, sehingga sukar bagi Siau-hi-ji untuk membedakan di mana letak pihak musuh.

Mendadak Siau-hi-ji bersiul panjang terus meloncat tinggi ke atas. Gerakan ini adalah ilmu sakti Kun-lun-pay, namanya “Hwi-liong-pat-sik” atau delapan gerakan naga terbang.

Supaya maklum, meski ilmu silat Siau-hi-ji belum dapat disejajarkan dengan tokoh ilmu silat kelas top, tapi betapa banyak ragam ilmu silat yang dipelajarinya dan betapa luas pengalamannya kini sukar lagi ditandingi oleh siapa pun juga.

Serangan Gui Bu-geh yang luar biasa ini memang cuma Hwi-liong-pat-sik saja yang dapat mematahkannya, selain itu, sekalipun tokoh utama Siau-lim-pay sekarang juga sukar lolos dari ilmu sakti “roda terbang” Gui Bu-geh ini. Akan tetapi Siau-hi-ji justru sudah berhasil meyakinkan Hwi-liong-pat-sik dan tepat dapat mematahkan ilmu sakti kebanggaan Gui Bu-geh ini.

Sudah tentu Gui Bu-geh tidak tinggal diam, begitu Siau-hi-ji meloncat ke atas, segera ia pun mengapung ke atas dan memapaknya, kesepuluh kuku beracun yang gemerlap itu kembali menusuk tenggorokan anak muda itu.

Gui Bu-geh seperti telah berubah menjadi bayangan Siau-hi-ji, ke mana pun perginya Siau-hi-ji selalu dibayanginya, ingin ganti jurus serangan juga tidak sempat lagi bagi anak muda itu. Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia menggunakan ilmu Siau-lim-pay yang terkenal, yaitu Jian-kin-tui, ilmu membikin tubuh menjadi seberat ribuan kati.

Padahal sewaktu tubuh sedang meloncat ke atas secara mendadak, hendak menahan dan menurunkannya pula jelas bukan pekerjaan yang mudah. Tapi pada detik yang sukar dibayangkan itulah Siau-hi-ji justru dapat anjlok ke bawah.

Tak tahunya baru saja tubuhnya menyentuh tanah, terdengar suara mendesing kencang tiga kali, tiga larik sinar hitam tahu-tahu menyambar dari tiga arah yang berbeda.

Gui Bu-geh jelas-jelas masih mengapung di atas, siapakah yang menyambitkan senjata rahasia ini?

Kiranya meski tubuh Gui Bu-geh terbang ke atas, namun keretanya masih terus berputar dan ketiga larik sinar hitam itu justru terpancar keluar dari kursi beroda itu.

Gui Bu-geh satu telah berubah menjadi dua.

Serangan ini sungguh di luar dugaan Siau-hi-ji, kalau tokoh silat lain, sekalipun jago kelas satu aliran mana pun, di bawah serangan aneh ini mustahil kalau jiwanya tidak melayang di bawah ketiga panah hitam ini.

Namun Siau-hi-ji justru telah mahir “Bu-kut-yu-kang”, ilmu lemaskan badan tak bertulang, ilmu yang berasal dari negeri Thian-tiok (India) yang dibawa masuk ke Tiongkok oleh kaum Lama, ilmu itu lebih terkenal dengan nama Yoga.

Tertampak tubuh Siau-hi-ji mendadak menekuk dan menggeliat, ruas tulang seluruh tubuhnya seolah-olah terpisah-pisah, tiga larik sinar hitam itu pun menyerempet lewat bajunya pada detik menentukan itu.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini Siau-hi-ji telah berhasil menyelami ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka yang diperolehnya di istana bawah tanah ketika dia dan Kang Giok-long dikurung oleh Siau Mi-mi dahulu, intisari ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu meliputi hasil ciptaan berbagai tokoh ilmu silat dari berbagai penjuru dunia ini. Dengan sendirinya ilmu silat yang terdapat di dalam kitab itu pun beraneka ragamnya.

Cuma sayang, lawan yang dihadapi Siau-hi-ji ialah Gui Bu-geh, ilmu silat Gui Bu-geh sungguh luar biasa anehnya dan sukar dibayangkan orang, sampai kursi beroda yang ditumpanginya pun berubah menjadi lawan yang mahalihai. Maka tidak sampai tiga puluh jurus mulailah Siau-hi-ji kewalahan.

So Ing menjadi khawatir dan berteriak, “Apa pun juga dia toh akan mati di sini, mengapa kau menyerangnya cara begini?”

Gui Bu-geh menjengek, “Hm, aku tidak ingin mencabut nyawanya, aku cuma ingin memotong lidahnya agar selanjutnya dia tidak dapat mengoceh pula. Lalu akan kupatahkan kedua kakinya agar dia berjalan dengan merangkak.”

“Sekalipun merangkak dengan tangan juga ada sesuatu kemampuanku yang jauh lebih kuat daripadamu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tentu saja Gui Bu-geh bertambah murka, dampratnya, “Anak jadah, aku akan membikin ….” belum habis ucapnya, mendadak Siau-hi-ji melangkah miring ke samping, dengan enteng kedua telapak tangannya lantas menghantam.

Pukulan ini tampaknya tiada sesuatu yang istimewa, tapi aneh, entah mengapa, hampir saja Gui Bu-geh tidak dapat menghindar, sama sekali tak terpikir olehnya dari mana Siau-hi-ji dapat mempelajari jurus serangan lihai ini. Yang lebih sukar dimengerti ialah gaya serangan Siau-hi-ji serentak berubah, setiap jurus serangan terasa enteng tak menentu, seakan-akan tidak bertenaga sedikit pun. Namun setiap serangan selalu mengarah titik kelemahan Gui Bu-geh.

Sebenarnya So Ing lagi khawatir setengah mati, sekarang wajahnya dapat menampilkan gembira.

Kiranya pada saat berbahaya tadi, tiba-tiba Siau-hi-ji melihat kedua Ih-hoa-kiongcu sedang bergebrak sendiri di tempat kejauhan. Gerak serangan yang mereka lancarkan itu yang satu menyerang dan lain bertahan, yang satu positif, yang lain negatif, setiap gerakan mereka dilakukan dengan sangat lambat seakan-akan khawatir orang lain tidak dapat mengikutinya dengan jelas.

Melihat itu, biarpun Siau-hi-ji lebih goblok lagi juga tahu kedua Ih-hoa-kiongcu sedang mengajarkan ilmu silat padanya. Dalam keadaan demikian umpama dia ingin menolak juga tidak dapat lagi. Segera ia menirukan gaya serangan Kiau-goat tadi dan dihantamkan ke arah Gui Bu-geh. Benar saja, Gui Bu-geh terkejut. Waktu Gui Bu-geh balas menyerang, Siau-hi-ji lantas gunakan gerakan Lian-sing Kiongcu untuk mematahkannya.

Meski gerak serangan ini tampaknya sederhana dan tidak punya daya serang yang keras, tapi entah mengapa, sesudah belasan jurus, dengan mudah Siau-hi-ji berubah di atas angin.

Baru sekarang Siau-hi-ji merasakan betapa mukjizatnya ilmu silat Ih-hoa-kiong, gerak serangan yang tampaknya sederhana ini ternyata setiap jurusnya merupakan gerak serangan mematikan bagi Gui Bu-geh.

Meski Ih-hoa-kiongcu tidak bergebrak langsung dengan Gui Bu-geh, tapi setiap kelemahan silat Gui Bu-geh seakan-akan sudah diketahuinya jauh lebih jelas daripada Gui Bu-geh sendiri.

Padahal sama sekali Ih-hoa-kiongcu tidak memandang Gui Bu-geh, namun setiap kali sebelum Gui Bu-geh melancarkan serangan, tipu serangan apa yang akan digunakan seakan-akan sudah diketahui lebih dulu oleh mereka.

Ketika Gui Bu-geh mengetahui duduk perkaranya, sementara itu ia sudah terdesak oleh Siau-hi-ji hingga kelabakan, ingin berganti napas pun sulit. Sungguh ia tidak habis mengerti mengapa jurus serangannya sendiri yang mahalihai ini bisa dipatahkan oleh gerakan yang hambar dan begitu sederhana.

Ia tidak tahu bahwa tipu serangan Ih-hoa-kiongcu itu sesungguhnya telah menghimpun intisari berbagai tipu ilmu silat yang paling ruwet dan telah dileburnya menjadi satu. Maka setelah 30 jurus pula, kini Gui Bu-geh berbalik terdesak di bawah angin.

Dengan tertawa Siau-hi-ji mengejek, “Haha, aku sih tidak ingin memotong lidahmu dan juga tidak hendak mematahkan kedua kakimu yang sudah tak berguna ini, aku cuma ingin mencukil kedua biji matamu agar selanjutnya kau tidak dapat melihat apa pun.”

Pada saat itulah mendadak terdengar suara “tring” yang keras dan nyaring. Suara ini seperti berkumandang dari luar gua, tapi gema suaranya menggetar seluruh gua ini.

Siau-hi-ji terkejut dan bergirang. Sedangkan kursi beroda Gui Bu-geh lantas meluncur pergi sejauh dua-tiga tombak. Tampaknya dia hendak kabur melalui jalan rahasia itu, namun sial baginya, sekali ini Ih-hoa-kiongcu sempat mencegat jalan larinya.

“Kang Siau-hi, ayo lekas turun tangan!” bentak Lian-sing Kiongcu.

Tapi Gui Bu-geh lantas berseru, “Nanti dulu, ada yang hendak kukatakan.”

“Apa pula yang hendak kau katakan?” tanya Lian-sing Kiongcu.

“Suara yang terdengar barusan, jangan-jangan ada orang yang mengetahui kalian terkurung di sini?” kata Gui Bu-geh.

Dalam pada itu suara “tang-ting” di luar masih terus berkumandang masuk, tertampak sinar mata Lian-sing Kiongcu mengunjuk kegirangan, namun di mulut ia menjawab dengan acuk tak acuh, “Ya, kukira begitu.”

“Makanya kalian mengira bakal tertolong, bukan?” tanya Gui Bu-geh pula.

“Memangnya kau kira kami benar-benar akan mati di tanganmu?” jengek Lian-sing Kiongcu.

“Kau kira dari dalam sini sulit membobol pintu batu, sedangkan dari luar tentu cukup banyak alat penggali dan kalian pasti dapat tertolong keluar, makanya kalau sekarang kalian membunuh diriku juga bukan soal lagi, begitu bukan?”

“Jika kau dapat menggali gua di bawah ini, mengapa orang lain tidak dapat?”

“Haha, memang betul,” jawab Bu-geh. “Tempat Ini memang digali dengan tenaga manusia, tapi apakah kau tahu berapa banyak tenaga dan betapa lama waktu yang kukorbankan?” Setelah terbahak-bahak pula ia menyambung lagi, “Memangnya kalian mengira aku tidak tahu ada seorang kawanmu yang telah masuk ke sini lalu keluar pula?”

Lian-sing Kiongcu berkerut kening, ucapnya kemudian, “Mau apa seumpama kau tahu?”

“Kalau dia tahu kalian terkurung di dalam perut gunung ini dan melihat jalan keluarnya tersumbat buntu, dengan sendirinya dia akan berusaha menolong kalian. Jika kutahu hal ini, seharusnya kututup sekalian lubang hawa agar kalian mati lebih cepat, akan tetapi sedikit pun aku tidak terburu-buru. Nah, apakah kalian tidak paham sebab musababnya?”

“Memangnya kau kira anak murid Ih-hoa-kiong tidak mampu membobol pintu batu segala?” jengek Lian-sing Kiongcu.

“Sudah tentu mampu, tetapi untuk itu sedikitnya diperlukan waktu dua-tiga hari,” ujar Gui Bu-geh.

“Kalau dua-tiga hari lantas bagaimana, masa kami tak dapat menunggu?”

“Tentu saja kalian dapat menunggu, namun dari luar sampai ke sini, seluruhnya ada 13 pintu batu, sekalipun seratus tenaga dikerahkan juga memerlukan waktu paling sedikit sebulan baru sampai di sini.”

“Sebulan?” Lian-sing menegas dengan rada cemas.

“Kubilang paling sedikit satu bulan, bisa jadi lebih,” kata Bu-geh dengan tenang.

Lian-sing Kiongcu memandang sekejap sang kakak, air muka kedua orang sama berubah.

Gui Bu-geh berkata pula, “Di sini tiada makanan dan juga tiada air minum, biarpun kalian mempunyai kepandaian setinggi langit paling-paling cuma juga dapat bertahan selama sepuluh hari, bilamana orang-orang di luar dapat menggali hingga sampai di sini, tatkala mana mungkin kalian sudah berwujud seonggokan jerangkong.”

Mendadak Siau-hi-ji berteriak, “Jika begitu, lebih-lebih kami harus membunuh kau saja.”

“Betul, setelah membunuhku, tentu kekonyolan kalian tidak akan terlihat olehku, namun ….”

“Namun apa?” tanya Siau-hi-ji.

Gui Bu-geh tersenyum hambar, jawabnya, “Bila kalian membunuhku sekarang, apakah kalian tidak merasa sayang.”

“Sayang?” Siau-hi-ji menegas. “Bagiku, sekalipun kucacah kau dan kuberikan makan kepada anjing juga tidak perlu merasa sayang.”

Sama sekali Gui Bu-geh tidak marah, ia tetap tenang, katanya dengan tertawa, “Coba kalian ikut pergi bersamaku untuk melihat beberapa macam barang.”

“Melihat apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Jika sudah tiba di sana tentu kalian akan tahu sendiri,” kata Bu-geh.

Siau-hi-ji memandang sekejap pada Ih-hoa-kiongcu, lalu berkata, “Baik, aku ikut pergi, rasanya aku pun tidak takut bila kau ingin main gila.”

“Hehe, di depan Ih-hoa-kiongcu serta orang pintar nomor satu di dunia, permainan gila apa yang dapat kulakonkan?” ejek Gui Bu-geh.

Segera ia mendorong kursinya dan meluncur masuk ke lorong bawah tanah sana. Kakak beradik Ih-hoa-kiongcu lantas membayanginya dengan ketat.

Siau-hi-ji memandang So Ing sekejap, tanyanya, “Apakah di bawah gua ini masih ada ruangan lain lagi?”

So Ing mengangguk.

“Memangnya di bawah sana ada apa?” tanya Siau-hi-ji pula.

So Ing menghela napas perlahan, katanya, “Aku pun tidak tahu, sebab selama ini tak pernah kuturun ke bawah sana.”

Siau-hi-ji menjadi rada heran dan waswas, katanya, “Kau pun tidak pernah turun ke bawah sana?”

“Ya, tampaknya dia sangat merahasiakan ruang di bawah tanah ini serta merupakan tempat yang sangat penting, kecuali dia sendiri, siapa pun dilarang masuk. Pernah dua anak muridnya ingin mengintip apa yang dilakukannya di bawah sana, akibatnya mereka dijatuhi hukuman mati dicincang.”

“Perbuatan rahasia apa yang dilakukan di bawah sana, mengapa tidak boleh dilihat orang lain?” ucap Siau-hi-ji sambil berkerut kening.

“Siapa pun tidak tahu apa yang diperbuatnya di bawah, hanya pernah terdengar semacam suara yang aneh,” tutur So Ing.

“O, suara aneh? Suara apa itu?”

“Asalkan dia sudah turun ke bawah, segera terdengar suara nyaring ‘trang-tring’ berturut-turut, terkadang suara itu berlangsung beberapa hari dan beberapa malam tanpa berhenti.”

Terbeliak mata Siau-hi-ji, katanya, “Suara trang-ting-trang-ting, apakah suara batu tergores oleh benda keras?”

“Ya, seperti begitulah,” jawab So Ing.

“Hah, jangan-jangan dia sedang menggali terowongan di bawah sana,” kata Siau-hi-ji dengan girang.

Sementara itu Gui Bu-geh sudah meluncur masuk ke balik sebuah pintu batu yang sempit, Siau-hi-ji menjadi sangsi jangan-jangan pintu inilah jalan keluar rahasia yang masih ditinggalkan oleh Gui Bu-geh. Cepat ia memburu ke sana dan ikut masuk.

Tapi ia menjadi kecewa setelah berada di dalam, di balik pintu sempit ini hanya sebuah ruangan batu segi enam dan tiada terdapat pintu lagi. Ruangan ini lebih guram daripada tempat lain, samar-samar Siau-hi-ji melihat di tengah ruangan ada peti mati yang sangat besar, ada pula patung batu yang tak terhitung banyaknya.

Terdengar Gui Bu-geh berkata, “Sekarang kalian tentunya mau percaya bahwa aku memang sudah siap untuk mati di sini. Nah, peti mati batu hijau ini adalah liang kuburku yang telah kusediakan.”

“Lalu patung-patung ini apa artinya?” tanya Siau-hi-ji.

Gui Bu-geh tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Inilah hasil karyaku yang cermat, hasil kerja seorang seniman sejati. Biar kunyalakan lampu agar kalian dapat melihat lebih jelas.”

Dalam tertawanya ternyata mengandung rasa kegaiban yang sukar diterangkan. Demi mendengar suara tertawanya, Siau-hi-ji lantas tahu pasti ada sesuatu yang aneh pada patung-patung ini.

Sementara itu Gui Bu-geh telah meluncur ke pojok sana, ia mengeluarkan geretan api dan menyala belasan lampu minyak yang terselip di sekeliling dinding.

Waktu lampu keempat baru menyala, terkesimalah Siau-hi-ji.

Dilihatnya patung-patung itu semuanya terukir menyerupai kakak beradik Ih-hoa-kiongcu serta Gui Bu-geh sendiri, malahan besarnya hampir sama dengan manusia asli, setiap kelompok terdiri dari tiga patung dengan gaya yang berbeda-beda.

Kelompok pertama menggambarkan kakak beradik Ih-hoa-kiongcu bertekuk lutut di tanah sambil menarik ujung baju Gui Bu-geh, yakni seperti layaknya kalau orang sedang memohon ampun dengan sangat.

Kelompok kedua menggambarkan Gui Bu-geh sedang melecuti Ih-hoa-kiongcu dengan cambuk, bukan saja air muka Ih-hoa-kiongcu kelihatan sangat menderita seakan-akan orang hidup, bahkan cambuknya juga seperti cambuk asli.

Kelompok ketiga menggambarkan Ih-hoa-kiongcu kakak beradik merangkak di tanah dan kaki Gui Bu-geh menginjak punggung mereka, sebelah tangannya memegang cawan dengan gaya sedang menenggak arak. Begitulah makin lanjut makin tidak senonoh ukiran patung-patung itu, namun ukirannya justru sedemikian indah dan hidup. Di bawah cahaya lampu yang cukup terang tampaknya seperti sejumlah Ih-hoa-kiongcu sedang dilecuti dan disiksa oleh Gui Bu-geh dan lagi menjerit, meronta, meminta ampun.

Baru sekarang Siau-hi-ji tahu sebabnya Gui Bu-geh sembunyi di ruang bawah tanah ini, kiranya untuk mengukir patung ini, pantas terkadang selama beberapa hari dan beberapa malam ia bekerja tanpa berhenti, rupanya dia sedang mencari pelampiasan, hanya dengan cara demikian barulah nafsu berahinya mencapai kepuasan.

Akan tetapi patung-patung ini sungguh terukir sangat indah, benar-benar karya seni pahat yang bernilai tinggi.

Mau tak mau Siau-hi-ji menghela napas gegetun, gumamnya, “Tak tersangka si gila ini memiliki bakat seni sebesar ini.”

Sebaliknya kakak beradik Ih-hoa-kiongcu sampai gemetar saking gemasnya, mendadak mereka menubruk maju, sebuah patung diangkat terus dibanting hingga hancur lebur.

“Sayang, sungguh sayang,” kembali Siau-hi-ji menghela napas menyesal, “Jika patung-patung ini disimpan dengan baik, kelak pasti sukar dinilai harganya dan menjadi barang seni antik yang abadi.”

Patung-patung batu yang keras itu berada di tangan Ih-hoa-kiongcu ternyata tidak lebih daripada orang-orangan buatan kertas. Maka dalam sekejap saja hasil karya yang tiada ternilai itu berubah menjadi bubuk batu.

Sebaliknya Gui Bu-geh hanya duduk tenang-tenang saja di kursinya tanpa bergerak sedikit pun.

Akhirnya Lian-sing Kiongcu menubruk ke depan Gui Bu-geh, bentaknya dengan murka, “Binatang kau, sekali ini jangan kau harap akan lolos dari tanganku.”

Di tengah bentakannya leher baju Gui Bu-geh dijambretnya dan diangkat dari kursi beroda, terus dibanting ke dinding sana.

Maka terdengarlah suara “pyar”, Gui Bu-geh terbanting hingga hancur.

Sungguh aneh, mengapa tubuh manusia yang terdiri dari darah daging bisa terbanting “hancur”?

Keruan Lian-sing Kiongcu melengak, akhirnya baru diketahui bahwa “Gui Bu-geh” ini pun ukiran batu, hanya pakaiannya saja yang tulen. Gui Bu-geh sendiri entah sudah kabur ke mana sejak tadi.

Mendadak Siau-hi-ji melonjak sambil berseru, “Celaka, sekali ini mungkin kita benar-benar bisa konyol.”

Ternyata satu-satunya pintu batu ini pun sudah tersumbat rapat, dinding sekelilingnya adalah dinding batu gunung belaka, dinding itu tidak bergerak sama sekali ketika kena bantingan patung yang dilemparkan Ih-hoa-kiongcu tadi, maka kerasnya dapatlah dibayangkan.

Namun mereka tidak rela, dengan berbagai macam cara tetap tak dapat membobol dinding batu itu dan juga tidak mampu membuka pintu batu meski cuma satu lubang saja.

Siau-hi-ji yang pertama-tama mengakhiri usahanya. Meski dia sudah hampir putus asa, tapi ia pikir akan lebih baik bila tenaganya tidak dihabiskan. Maka bersama So Ing mereka lantas duduk di lantai bersandar dinding.

“Baru sekarang aku benar-benar kagum pada Gui Bu-geh, orang ini memang benar hebat,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

So Ing termenung sejenak, katanya kemudian, “Kalau dia sudah mengurung kita, mengapa dia memancing kita ke sini pula?”

“Cukup banyak alasannya,” ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. “Pertama, setelah kita terkurung di sini, maka dia sendiri dapat bebas bergerak sesukanya, bahkan dapat makan minum sepuasnya, nanti kalau kita sudah mati kelaparan, lalu dia sendiri dapat pergi.”

“Kau kira dia tidak bertekad mati di sini?”

“Memangnya kau kira dia benar-benar akan mengiringi kematian kita di sini? Semua ini hanya tipu muslihatnya, tujuannya cuma memancing kita ke sini, apa yang diucapkan dan diperbuatnya di luar tadi hanya sandiwara belaka.”

So Ing menunduk dan menghela napas perlahan.

Sambil menyengir Siau-hi-ji berkata pula, “Sekarang kita mirip sekawanan kera yang berada di kurungan, terpaksa kita harus main baginya.”

“Kau … kau kira dia akan mengintip?” tanya So Ing terputus-putus.

“Dia sengaja memancing kita ke kurungan ini, tujuannya justru ingin melihat bagaimana perubahan tingkah laku kita ketika mendekati ajal, sudah tentu yang diharapkannya adalah perbuatan-perbuatan tidak senonoh yang dibayangkannya.”

So Ing tidak bersuara lagi. Selang sejenak, mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa dan bergumam, “Hahaha, sebelum ajalku nanti entah bagaimana bentukku, sungguh aku sendiri pun tidak dapat membayangkannya. Ini benar-benar hal yang menarik.”

So Ing menggeser lebih dekat dengan anak muda itu, ucapnya dengan tertawa, “Kau akan berubah menjadi bentuk apa pun pasti akan tetap menyenangkan.”

Perlahan Siau-hi-ji menggigit pipi si nona, ucapnya, “Bisa jadi kau akan kucaplok, kau takut tidak?”

“Jika demikian kita berdua akan berubah menjadi satu untuk selamanya, apa yang kutakuti?” jawab So Ing dengan suara lembut.

Dengan tajam Siau-hi-ji menatap si nona, sampai lama barulah ia berkata pula dengan gegetun, “Cuma sayang engkau terlalu pintar, kalau tidak, mungkin aku bisa menyukai kau benar-benar.”

Muka So Ing menjadi merah, katanya sambil menggigit bibir, “Konon kalau perempuan sudah melahirkan anak bisa berubah menjadi rada bodoh.”

Jika dalam keadaan biasa, mendengar ucapan So Ing ini pasti Siau-hi-ji akan tertawa terbahak-bahak. Tapi sekarang ia merasakan hangat dan manisnya ucapan si nona serta mengandung semacam rasa kecut, sesungguhnya ia pun tidak jelas bagaimana rasanya, yang pasti rasa yang demikian sebelum ini tak dikenalnya.

Dalam pada itu kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga sudah berhenti beraksi, kedua orang itu berdiri mematung di sana, meski tampaknya masih tetap dingin dan angkuh, tapi tak dapat menutupi sorot matanya yang letih dan sedih.

Entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba Siau-hi-ji berdiri, ia mendekati peti mati batu hijau itu, ia angkat tutup peti mati itu dan dialingkan di bagian depan, lalu ia mengumpulkan batu patung yang hancur berserakan itu dan ditumpuk di kedua samping peti mati.

Ih-hoa-kiongcu tidak tahu maksud perbuatan anak muda itu, makin dipandang makin heran mereka. Meski mereka ingin tahu, tapi mereka harus menjaga gengsi dan berharap So Ing yang bertanya.

Namun sorot mata So Ing tampak penuh rasa mesra, dengan tersenyum ia mengikuti tingkah polah Siau-hi-ji tanpa bersuara, agaknya dia sangat jelas apa yang dikehendaki anak muda itu.

Selang sejenak pula, akhirnya Lian-sing Kiongcu tidak tahan, sementara itu dilihatnya kepingan batu telah ditumpuk oleh Siau-hi-ji hingga setinggi manusia, ia lantas tanya, “Kerja apa kau ini?”

Siau-hi-ji mengikik tawa, jawabnya, “Makan, minum, berak, kencing dan tidur adalah lima tugas rutin yang harus dilakukan oleh manusia. Meski sekarang kita tidak makan dan minum, tapi sebelum ini kita kan sudah banyak makan minum, barang-barang yang sudah masuk perut itu akhirnya toh mesti keluar. Jika kita tidak sanggup menahannya di dalam perut, dengan sendirinya juga tak dapat membiarkannya lolos keluar di celana, maka kita harus menggunakan cara ini.”

“Kau … kau berani tidak sopan?” damprat Kiau-goat dengan gusar.

“Tidak sopan?” tukas Siau-hi-ji. “Ini adalah urusan paling sopan di dunia ini, mengapa kau bilang tidak sopan? Kalau kuberak di celana, nah, ini baru dikatakan tidak sopan.”

Saking dongkolnya hingga muka Ih-hoa-kiongcu sama merah padam dan juga tidak sanggup buka suara pula.

Dalam pada itu Siau-hi-ji telah menumpuk kepingin batu di kedua sisi peti mati itu hingga berwujud dua dinding, lalu ditambahkan tutup peti mati itu di atasnya, maka jadinya sebuah kakus yang praktis.

Sambil memandangi kakus darurat itu, Siau-hi-ji bergumam dengan tertawa, “Tempat sebagus ini, digunakan untuk raja kiranya juga memenuhi syarat. Yang hebat, selain tempatnya bagus, ukurannya juga pas, sekalipun digunakan 40 orang sekaligus juga takkan meluap.”

Dia tepuk-tepuk tangan yang kotor, lalu menyambung pula dengan tertawa, “Biasanya Cayhe suka menghormati orang tua dan menghargai orang pandai, jika kalian berdua mau pakai, boleh silakan dulu.”

Dengan muka merah kedua Ih-hoa-kiongcu membanting kaki terus berpaling ke sana.

Siau-hi-ji pandang So Ing pula, tanyanya dengan tertawa, “Dan kau bagaimana?”

“Aku … aku sekarang be … belum ingin,” jawab So Ing dengan jengah.

“Jika demikian, maaf aku tidak sungkan lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, ia terus menyusup ke dalam sana.

Selang sejenak barulah anak muda itu keluar sambil meraba perutnya, ucapnya dengan gegetun, “Wah, lega rasanya. Mungkin tiada urusan lain di dunia ini yang rasanya lebih lega daripada habis kerja begini.”

Lalu ia kembali duduk ke tempatnya semula, ia memejamkan mata seperti ingin tidur.

Akhirnya So Ing juga tidak tahan, perlahan-lahan ia merangkak, dan melangkah ke sana.

Tak tahunya, baru saja ia berbangkit, mendadak sebelah mata Siau-hi-ji terpentang, katanya dengan menyengir, “Sekarang kau ingin?”

“Kau … kau telur busuk,” omel So Ing dengan muka merah.

Memang aneh, bilamana tiada orang membicarakan hal-hal demikian, maka terkadang orang menjadi lupa. Tapi bila ada orang menyinggungnya, rasanya lantas tak tahan, makin dipikir makin kebelet.

Entah sudah lewat beberapa lama pula, lambat laun wajah Lian-sing Kiongcu menjadi merah juga. Selang tak lama lagi, kedua kakinya seperti mulai gemetar.

Terdengar suara napas Siau-hi-ji yang setengah mengorok, agaknya anak muda itu sudah pulas.

Sekonyong-konyong Lian-sing Kiongcu melayang ke sana secepat angin, mungkin belum pernah dia bergerak secepat ini biarpun dia sedang bertanding dengan lawan yang paling lihai.

Mendadak Siau-hi-ji mengikik tawa, katanya, “Nah, sekarang mungkin kau takkan bilang aku tidak sopan lagi, bahkan kau akan berterima kasih padaku.”

Memang banyak urusan di dunia ini yang tidak dapat dilawan oleh manusia. Betapa pun agungnya, betapa pun angkuhnya, betapa pun keras kepalanya, terkadang juga bisa berubah sama seperti orang yang paling hina dan paling rendah, sebab urusan-urusan yang dihadapinya ini tidak pandang kepada siapa pun juga, adil dan merata.

Seperti halnya orang paling cantik dan paling buruk, sama-sama akan mengalami masa tua dan lapuk. Orang yang paling pintar dan paling bodoh juga sama-sama bisa merasakan lapar, kedinginan dan keletihan.

Mungkin semua inilah kedukaan paling besar bagi umat manusia.

Ketika Siau-hi-ji tidak sanggup tertawa lagi, akhirnya kakak beradik Ih-hoa-kiongcu duduk juga di lantai, apa yang terjadi hanya dalam dua-tiga hari saja, tapi bagi mereka rasanya sama seperti sepuluh tahun.

Melihat Ih-hoa-kiongcu akhirnya duduk juga, So Ing jadi teringat apa yang dikatakan Gui Bu-geh, tiba-tiba timbul rasa takutnya, “Jangan-jangan kami akan berubah menjadi buas sebagaimana dilukiskan oleh Gui Bu-geh itu?”

Tapi dia tidak melihat sesuatu perubahan pada diri Siau-hi-ji, entah apa pula yang dipikirkan anak muda itu. Tampaknya dia tidak pernah kenal apa itu takut.

Pada saat itulah, tiba-tiba atap ruangan itu merekah sebuah lubang sebesar mangkuk, malahan semacam benda dijatuhkan melalui lubang itu. Setelah mereka awasi, yang dijatuhkan itu adalah sebuah jeruk.

Dalam keadaan demikian, jeruk ini benar-benar lebih berharga daripada emas di seluruh dunia ini. Barang siapa asalkan bisa lebih banyak makan sesisir jeruk itu, bisa jadi akan hidup lebih lama hingga datangnya Hoa Bu-koat.

Dalam suasana begini, dapatkah mereka membagi jeruk secara adil?

Sudah barang tentu tiada seorang pun berani mendahului meraih jeruk itu. So Ing memandangi jeruk itu hingga kesima. Selamanya tak pernah terpikir olehnya bahwa sebuah jeruk bisa sedemikian menarik baginya. Dilihatnya sorot mata kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga terbeliak memandangi jeruk itu.

Bila makanan lain mungkin takkan begitu menarik bagi mereka, tapi sebuah jeruk yang berisi dan banyak cairannya, bisa melenyapkan dahaga dan dapat dibuat tangsel perut, ini benar-benar sangat mereka butuhkan sekarang.

Sambil menatap tajam jeruk itu, perlahan-lahan Lian-sing Kongcu mulai berbangkit.

Sekonyong-konyong terdengar Siau-hi-ji bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, tak terduga Ih-hoa-kiongcu yang mahaagung sekarang juga sudi makan barang yang dimakan orang di lantai. Hahaha, sungguh lucu, sungguh menggelikan!”

Seketika tubuh Lian-sing Kiongcu mematung di tempatnya, hanya jarinya saja yang rada gemetar. Namun matanya masih terus menatap jeruk itu tanpa berkedip.

Dengan acuh tak acuh Siau-hi-ji berkata pula, “Jangan kau lupa, sepasang mata Gui Bu-geh yang mirip mata maling itu sedang mengintip, jika kau jumput dan makan jeruk ini, bisa jadi dia akan bergelak tertawa hingga copot giginya.”

Kulit maka Lian-sing Kiongcu tampak berkerut-kerut, jelas dia sedang mengalami pertentangan batin yang hebat. Sesungguhnya umpan ini sukar ditolak. Tapi akhirnya ia memejamkan mata dan duduk kembali.

Rupanya dia lebih suka mati daripada ditertawakan orang. Nyata, Ih-hoa-kiongcu memang punya iman teguh. Di antara seratus ribu orang mungkin cuma ada satu-dua orang yang dapat berbuat seperti dia.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berucap pula, “Tapi kalau aku yang menjumput barang makanan yang telah dibuang orang, tentu tiada orang yang akan menertawakan diriku, sebab pada dasarnya kulit mukaku memang setebal tembok.” Sambil bicara ia terus melompat bangun dan mengambil jeruk itu.

Terbelalak So Ing memandangi kelakuan anak muda itu, ia tidak tahu apakah jeruk itu akan dimakan sendiri oleh Siau-hi-ji. Betapa pun ia memang belum mutlak memahami jiwa anak muda itu.

Maklum di antara seratus ribu orang mungkin tiada satu pun yang dapat memahami jalan pikiran Siau-hi-ji.

Dilihatnya Siau-hi-ji telah mengupas kulit jeruk dan dibelah menjadi dua, air jeruk lantas muncrat membasahi mukanya, ia menjulurkan lidah untuk menjilat air jeruk itu, katanya sambil terkecek-kecek, “Ehm, alangkah manis dan sedapnya, tampaknya tidak buruk juga kulit muka seorang dibuat tebal sedikit,” Mendadak ia berpaling pada So Ing, katanya dengan tertawa, “Kulit mukamu biasanya juga tidak tipis, rasanya pantas juga kalau kubagi separo jeruk ini padamu.”

Dalam keadaan demikian, orang yang dapat membagi separo jeruk itu kepada orang lain, sekalipun orang itu adalah ayah-ibu atau sanak keluarganya betapa pun tindakan ini tidaklah mudah dilakukan. Untuk ini diperlukan sebuah hati yang bajik dan welas asih, diperlukan semangat berkorban.

Jika orang lain, pada waktu berbuat demikian, tentu takkan terhindar dari sikap sok orang dermawan, seorang penolong, seorang penyelamat, dengan demikian supaya orang merasa kagum, berterima kasih dan merasa utang budi padanya.

Tapi pada waktu berbuat demikian, Siau-hi-ji justru berolok-olok lebih dulu pada orang lain.

So Ing jadi geli, ucapnya dengan suara lembut, “Sungguh, terkadang aku sangat heran, mengapa seorang yang mempunyai mulut bandit justru mempunyai hati yang bajik.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Memang ada setengah orang pada hakikatnya tidak banyak bedanya dengan bandit.”

“Oo? ….” So Ing melenggong bingung.

“Setahuku,” tutur Siau-hi-ji, “Ada seorang yang pintar dagang, tapi lebih banyak spekulasi dan manipulasi, di mana-mana dia main tanah, tujuannya menghalalkan cara, dengan jalan menipu dan merampas dia telah mengeruk kekayaan berjuta-juta tahil perak. Dari kekayaan sekian itu dia mendermakan seribu tahil perak untuk rumah yatim piatu, dengan demikian berubahlah dia menjadi seorang sosial dan dermawan.”

Sambil menerima pemberian jeruk separo itu So Ing berkata dengan tertawa, “Tapi kan lebih baik daripada manusia yang kikir, yang tak mau keluar sepeser pun.”

Siau-hi-ji mencium separo jeruk yang tersisa itu, tiba-tiba ia berbangkit dan mendekati Ih-hoa-kiongcu, katanya dengan tertawa, “Biarpun kalian tidak memandang padaku kan juga dapat membau sedap jeruk ini, bukan?”

Kedua Ih-hoa-kiongcu sengaja melengos dan tidak mau memandangnya.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menyodorkan separo jeruk itu ke depan mereka dan berkata, “Sekarang boleh kalian lihat, separo jeruk ini adalah milik kalian.”

“Ambil!” teriak Kiau-goat dengan suara serak, “Aku tidak … tidak sudi ….”

Dengan tertawa Siau-hi-ji memotong, “Kutahu kalian pasti tidak sudi makan barang buangan orang lain, tapi separo jeruk ini adalah persembahanku dengan hormat, kukira boleh kalian makan dengan senang hati.”

Seketika kedua Ih-hoa-kiongcu saling pandang dengan bingung. Selang sejenak, barulah Lian-sing Kiongcu berkata, “Meng … mengapa kau berbuat demikian?”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Seorang kalau sudah hampir mati, tapi masih dapat menjaga martabat sendiri dan tidak sudi bikin malu pamornya, maka orang demikian sungguh sangat kukagumi.” Ia tertawa, lalu menyambung, “Nah, anggaplah jeruk ini adalah penghormatanku kepada kalian. Sumbangan dengan hormat ini tentunya takkan kalian tolak bukan?”

So Ing menjadi bingung juga menyaksikan kelakuan anak muda itu, mungkin sejak mula ia sudah menduga Siau-hi-ji akan membagi setengah jeruk itu padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sisa separonya lagi juga akan diberikan Siau-hi-ji kepada orang lain.

Dilihatnya Siau-hi-ji kembali ke tempatnya semula dengan tertawa, sama sekali tiada kelihatan berseri pada wajahnya dan tiada perasaan masygul, seperti halnya dia habis makan seratus biji jeruk dan sisanya setengah biji baru diberikannya kepada orang lain.

“Sungguh aku tidak … tidak paham mengapa kau berbuat demikian,” kata So Ing dengan heran.

“Sebabnya kan sudah kukatakan tadi,” ujar Siau-hi-ji. “Apalagi, coba kau pikir, jika mereka tidak merasa malu, mana kita dapat makan jeruk ini? Tentu sudah diambil mereka dan dapatkah kita merampasnya?”

“Jika sisa separo itu kau berikan kepada mereka, mengapa yang separo ini kau berikan padaku?” tanya So Ing.

“Kalau jeruk ini dapat kutipu berarti jeruk ini punyaku, kalau punyaku dengan sendirinya akan kuberikan separo padamu. Mengenai sisa separo yang lain kuberikan kepada siapa kan urusanku sendiri dan tiada sangkut-pautnya denganmu.”

So Ing terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan rawan, “Engkau sungguh orang yang aneh, aku benar-benar tidak memahami dirimu.”

“Jika seorang lelaki dapat dipahami perempuan sejelas-jelasnya, mana dia bisa hidup lagi?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

So Ing lantas membagi pula separo jeruk itu menjadi dua bagian, katanya dengan lembut, “Setelah kau berikan separo jeruk ini padaku, maka jeruk ini pun sudah menjadi punyaku, kalau aku mempunyai jeruk, dengan sendirinya harus kubagi setengahnya padamu. Nah, anggaplah ini pun tan … tanda penghormatanku padamu.”

“Tidak, aku tidak mau,” kata Siau-hi-ji.

“Mengapa?” tanya So Ing.

“Sebab bagianmu itu lebih besar, aku menghendaki yang itu,” ucap Siau-hi-ji.

So Ing melenggong, tapi lantas mengikik tawa, katanya, “Jika kulahirkan anak mirip kau, mustahil aku tidak mati kaku dibuat jengkel setiap hari.”

“Jika begitu lebih baik kau mati sekarang saja,” ujar Siau-hi-ji.

“Sebab apa?” tanya So Ing dengan melengak.

“Sebab anak yang kau lahirkan pasti mirip aku, jika mirip orang lain, akulah yang akan mati kaku saking gemas.”

Kembali muka So Ing merah jengah, sambil menggigit bibir ia mengomel, “Kau ini memang telur busuk kecil.”

“Salah, telur busuk besar. Telur busuk kecil kan belum kau lahirkan.”

Mendengar ucapan Siau-hi-ji yang mengandung makna ganda itu, tanpa terasa So Ing mencubit si anak muda terus menjatuhkan diri ke pangkuannya, ia menjadi lupa bahwa di samping mereka masih ada Ih-hoa-kiongcu, segalanya sudah dilupakan ….

Pada saat itulah Lian-sing Kiongcu memejamkan mata perlahan-lahan, ujung matanya tampak basah, entah apa yang terkenang olehnya.

Terdengar Siau-hi-ji bergumam, “Selanjutnya jika ada orang berani bilang padaku bahwa pada dasarnya manusia berwatak jahat, mustahil kalau tidak kutempeleng dia dua kali.”

Bahwa sebuah jeruk terbagi menjadi empat, yang dapat dimakan oleh mereka masing-masing tidak lebih hanya dua tiga sayap saja, ini sama halnya tetesan embun di tengah gurun, pada hakikatnya tiada gunanya.

Tapi semangat mereka lantas berbangkit, mungkin disebabkan penemuan mereka bahwa watak manusia pada dasarnya adalah bajik, harkat manusia juga tidak semudah itu runtuh sebagaimana dibayangkan oleh Gui Bu-geh.

Akan tetapi mereka pun menemukan suatu kenyataan, jarak mereka dengan kematian sudah semakin mendekat, jelas ini kejadian yang tak dapat dihindarkan, siapa pun tak dapat mengubahnya.

Ih-hoa-kiongcu yang selamanya tinggi di atas, lambat-laun, berubah juga tiada bedanya seperti orang biasa.

Sampai di sini baru Siau-hi-ji merasa mereka ternyata juga manusia-manusia yang membutuhkan macam-macam keperluan dan memiliki berbagai perasaan, bahkan juga bisa mencucurkan air mata.

Sekarang, maukah mereka membeberkan rahasia pribadinya?

Terbeliak mata Siau-hi-ji memandangi Ih-hoa-kiongcu, tiba-tiba ia berkata, “Rasanya aku mempunyai akal yang dapat membuat kita hidup terus.”

Benar saja, Lian-sing Kiongcu lantas bertanya, “Akal apa?”

“Meski akalku ini rada memalukan, tapi pasti berguna,” ucap Siau-hi-ji. Ia merasa setiap orang sama mendengarkan uraiannya dengan penuh perhatian, maka perlahan ia melanjutkan, “Walaupun Gui Bu-geh orang hina dan kotor, tapi dia adalah seorang pecinta yang khusyuk, buktinya sampai sekarang ia masih merindukan kalian dan tak pernah jatuh hati kepada perempuan lain. Sebab itulah kalau sekarang kalian menyanggupi diperistri olehnya, maka dia pasti akan membebaskan kita seluruhnya.”

So Ing berjingkat kaget, sungguh tak terduga olehnya anak muda itu berani bicara demikian, dia mengira Ih-hoa-kiongcu pasti akan berjingkrak murka, bukan mustahil akan membunuhnya.

Siapa tahu Ih-hoa-kiongcu tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun, bahkan memperlihatkan rasa gusar pun tidak.

Gemerdep sinar mata Siau-hi-ji, dengan perlahan ia menyambung pula, “Apa pun juga Gui Bu-geh pernah jatuh cinta pada kalian, tentunya kalian pun tahu bahwa lelaki yang dapat mencintai setulus hati seperti dia tidaklah banyak di dunia ini.”

Sembari bicara ia pun memperhatikan perubahan air muka Ih-hoa-kiongcu, berbareng ia melanjutkan pula, “Jika kalian menjadi istrinya, paling tidak kan jauh lebih baik daripada diperistri oleh manusia-manusia yang tak berbudi, betul tidak?”

Kiau-goat Kiongcu hanya menggigit bibir dan tak bersuara, sedangkan Lian-sing Kiongcu mendadak berpaling ke sana, sekilas kelihatan matanya mengembeng air mata.

Selang sejenak barulah Siau-hi-ji mulai bertanya lagi, “Nah, apakah kalian sudah sadar sekarang?”

Tiba-tiba Lian-sing Kiongcu menatapnya tajam-tajam dan berucap sekata demi sekata, “Jika ucapanmu ini dikatakan beberapa jam sebelum ini, maka bagaimana akibatnya tentu kau tahu sendiri.”

“Sudah tentu kutahu,” jawab Siau-hi-ji. “Sebab itulah kusimpan kata-kata ini dan baru kukatakan sekarang. Sebab aku pun tahu, seseorang yang mendekati ajalnya, cara berpikirnya pasti akan berubah banyak.”

“Jika begitu, kalau sekarang kukatakan So Ing saja diberikan kepada Gui Bu-geh, apakah kau setuju?” tanya Lian-sing.

Sampai lama sekali Siau-hi-ji tidak dapat menjawab. Tanpa berkedip So Ing memandangi anak muda itu. Selang agak lama barulah Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya, “Ah, apa yang kukatakan cuma omong iseng saja, kan tidak kupaksa kalian harus menjadi istrinya. Boleh kalian anggap kata-kataku tadi sebagai kentut belaka.”

So Ing menghela napas, ucapnya dengan suara lembut, “Asalkan aku sudah tahu dengan pasti pikiranmu, mati pun aku rela.”

“Mati, sebenarnya bukan sesuatu yang sulit, terkadang jauh lebih mudah daripada makan nasi,” ujar Siau-hi-ji. “Misalnya seorang berjalan di jalan raya, sekonyong-konyong dari udara jatuh sepotong batu dan mematikan dia, coba bayangkan, betapa mudah dan betapa ringan cara matinya, boleh dikatakan itu tidak mengalami penderitaan apa pun juga.” Setelah menghela napas, lalu ia menyambung, “Tapi menunggu ajal, ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang patriot waktu tertawan musuh bilamana dia terus membunuh diri, tindakan ini jelas tiada sesuatu yang luar biasa, tapi kalau dia sanggup bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, menolak segala pancingan dan bujukan, tapi tekadnya sudah bulat untuk mati. Patriot demikianlah yang selalu dikenang, namanya akan terukir dalam sejarah secara abadi.”

Bahwa Siau-hi-ji mendadak bicara hal-hal yang berbobot begitu, tanpa terasa hati So Ing menjadi rawan juga. Ia maklum, hanya orang yang menunggu kematian saja yang tahu betapa menderitanva orang yang menanti ajal.

So Ing kucek-kucek matanya dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah kita sekarang benar-benar tiada harapan hidup sama sekali?”

Siau-hi-ji termenung sejenak, jawabnya dengan suara tertahan juga, “Jika kita dapat bersabar, menanti kematian dengan tenang, mungkin akan timbul setitik sinar harapan.”

“Bila harus menanti kematian dengan tenang, masa ada harapan untuk hidup segala?” ujar So Ing.

“Gui Bu-geh menghendaki kita mati perlahan-lahan, tujuannya supaya kita tersiksa lahir batin, menjadi gila, bahkan saling membunuh, sebab hanya beginilah baru dia mendapatkan pelampiasan, hanya orang gila yang cacat seperti dia mempunyai jalan pikiran abnormal begini.”

“Ya, memang betul,” kata So Ing.

“Tapi kita sekarang dapat bersabar dan bersikap tenang, jika kita mati dengan tenang begini, dia pasti tidak rela, pasti akan bertindak dengan cara lain pula. Kalau sudah begitu, maka tibalah kesempatan baik bagi kita.”

“Betul juga,” So Ing manggut-manggut. “Bila dia tidak menggubris kita, tentu kita mati kutu. Tapi sekali dia bertindak sesuatu berarti pula kita telah diberi kesempatan baik. Hanya ….”

“Hanya saja kalau dia terlebih sabar daripada kita, maka celakalah kita,” tukas Siau-hi-ji.

So Ing berkedip-kedip, katanya, “Makanya sekarang kita harus mencari sesuatu akal untuk memancing keluar dia.”

“Betul, memang begitulah maksudku,” kata Siau-hi-ji.

“Lalu akal apa?” tanya So Ing.

“Masa tak dapat kau pikirkan akal ini?”

So Ing menggigit bibir dan tak bersuara pula.

Ih-hoa-kiongcu tidak mendengar apa yang sedang diperbincangkan mereka, sejenak kemudian mereka melihat Siau-hi-ji berjangkit, lalu memberi hormat kepada mereka kakak beradik, kemudian menghela napas panjang dan berkata, “Aku Kang Siau-hi dapat mati dan terkubur bersama Ih-hoa-kiongcu, sungguh terasa sangat beruntung dan rupanya ada jodoh. Sekarang kita sama-sama menghadapi kematian, biarlah permusuhan kita yang sudah-sudah kuhapus sejak kini, sebab apa kalian menyuruh Hoa Bu-koat membunuhku dan apa rahasianya, aku pun tidak mau tanya lagi.”

Ih-hoa-kiongcu menjadi bingung mengapa anak muda ini mendadak bicara demikian, mereka hanya terbelalak dan ingin tahu apa yang akan disambung pula.

Siau-hi-ji lantas berkata lagi, “Karena sekarang Hoa Bu-koat tidak berada di sini, tampaknya kita pun tiada harapan bisa lari keluar, terpaksa kumohon bantuan kalian agar aku diberi mati secara menyenangkan dan cepat.”

“Kau … kau ingin bunuh diri?” tanya Lian-sing Kiongcu.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, ucapnya, “Betul, kan sudah kukatakan, aku tidak takut mati, tapi menunggu ajal, inilah yang membuatku tidak tahan.”

Seketika perasaan Ih-hoa-kiongcu kakak beradik merasa tertekan. Mendadak Kiau-goat berseru dengan parau, “Tidak boleh!”

“Mengapa aku tidak boleh membunuh diri? Keadaan sudah begini, memangnya kau ingin menunggu kedatangan Hoa Bu-koat untuk membunuhku?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. Sembari bicara diam-diam ia pun mengedipi Ih-hoa-kiongcu, jelas mengandung maksud tertentu.

Kiau-goat jadi melengak, sedangkan Lian-sing Kiongcu lantas menarik ujung baju sang kakak. Lalu berkata, “Baiklah, silakan kau bunuh diri jika kau ingin mati.”

“Terima kasih, setiba di depan raja akhirat pasti akan kupuji kebaikan kalian,” kata Siau-hi-ji.

Tiba-tiba So Ing menambahkan, “Aku punya dua biji obat racun, mestinya disediakan Gui Bu-geh untuk muridnya.”

“Kutahu betapa lihainya racun ini, satu biji saja sudah cukup,” ujar Siau-hi-ji.

So Ing tersenyum pedih, katanya pula, “Bila kau mati, satu detik saja aku tak dapat hidup sendirian, masa kau tidak tahu?”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, ingin mati marilah kita mati bersama agar tidak kesepian di tengah perjalanan menuju akhirat.”

Sekonyong-konyong seorang berseru, “Jangan, kalian tidak boleh mati. Kalian muda-mudi yang sedang dimabuk cinta, lebih lama hidup sehari berarti sehari lebih bahagia, Jika kalian mati sekarang juga, bukankah sia-sia belaka hidup kalian ini?”

Jelas itulah suara Gui Bu-geh.

Siau-hi-ji dan So Ing saling pandang sekejap, diam-diam mereka membatin, “Tampaknya dia tak dapat menahan perasaannya.”

Maka terdengarlah Gui Bu-geh berkata pula, “Kalau kalian merasa kesal boleh minumlah beberapa cawan arak. Hahaha, anggaplah arak suguhanku bagi malam pengantin kalian.”

Di tengah suara tertawa itu, dari lubang di atas lantas jatuh sebotol arak. Baru saja Siau-hi-ji menangkapnya, menyusul sebotol lain jatuh pula. Hanya sebentar saja di pangkuan Siau-hi-ji sudah ada dua belas botol arak, bahkan tidak kecil botolnya.

So Ing berkerut kening, bisiknya lirih, “Apa maksud tujuannya ini? Arak kan juga bisa menambah tenaga, bila kedua belas botol arak ini diminum secara perlahan, tentu kita dapat bertahan hidup beberapa hari lebih lama ….”

“Arak bisa menambah tenaga, tapi juga bisa mengacaukan pikiran,” kata Siau-hi-ji. “Seorang yang sudah dekat ajalnya, bila minum arak lagi, maka segala apa pun dapat diperbuatnya. Langkah Gui Bu-geh ini benar-benar sangat lihai dan keji.”

“Jika demikian mengapa kau menangkap semua botol arak ini?” tanya So Ing.

“Masa kau tidak paham maksudku?” jawab Siau-hi-ji sambil tertawa.

So Ing menggigit bibir lagi dan tidak bersuara.

Siau-hi-ji lantas menaruh enam botol arak di depan Ih-hoa-kiongcu, katanya, “Tetap aturan lama, kita bagi separo-separo.”

“Ambil kembali saja, selamanya kami tidak pernah minum barang setetes arak,” Kata Kiau-goat Kiongcu.

“Hah, jika benar kalian tidak pernah minum arak, maka sekarang kalian lebih-lebih harus mencicipinya barang dua cawan,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Seorang kalau mati tidak pernah tahu rasanya arak, maka hidupnya boleh dikatakan sia-sia belaka.”

Hanya sekejap saja ia sendiri sudah menghabiskan isi setengah botol.

Jika arak itu sangat keras mungkin Ih-hoa-kiongcu dapat bertahan dan tidak meminumnya, tapi arak itu justru adalah arak Tiok-yap-jing (hijau daun bambu), baunya harum, warnanya menarik, memandangnya saja menyenangkan, apalagi kalau mencicipi rasanya.

Ada peribahasa yang mengatakan “Minum racun untuk menghilangkan dahaga”, seorang kalau sudah kehausan, dalam keadaan kepepet, racun juga akan diminumnya, apalagi arak berbau sedap begini?

Lian-sing Kiongcu dan Kiau-goat Kiongcu saling pandang sekejap, akhirnya mereka tidak tahan, sumbat botol mereka buka dan masing-masing mencicipi seteguk.

Mendingan kalau mereka tidak mencicipinya, sekali sudah tahu rasanya, seketika mata mereka terbeliak, terasa hawa hangat mengalir masuk ke perut, menyusul darah sekujur badan lantas menghangat.

Setelah minum seteguk, segera ada dua teguk, ada dua ceguk tentu ada tiga ceguk dan begitu seterusnya.

Siau-hi-ji mengetuk-ngetuk botol arak sambil bersenandung, karena sekolahnya terbatas, dengan sendirinya senandung Siau-hi-ji senandung kampungan. Namun Lian-sing dan Kiau-goat tidak ambil pusing, setelah minum beberapa ceguk arak enak itu, bahkan mereka mulai merasakan senandung anak muda itu sangat merdu dan menggairahkan.

Tanpa terasa arak terus mengalir masuk ke perut kedua Ih-hoa-kiongcu, hanya sebentar saja isi botol sudah tinggal setengah. Bahkan cara minum mereka bertambah semangat, dan menyesal mengapa tidak sejak dulu-dulu mereka minum arak yang ternyata seenak ini.

Ketika senandung Siau-hi-ji berakhir, sementara itu satu botol arak sudah dihabiskan Lian-sing, dengan wajah merah ia mulai mengigau mengulangi senandung Siau-hi-ji tadi sambil bergelak tertawa.

“Kang … Kang Siau-hi-ji, marilah hab … habiskan secawan ini, marilah kita bersama-sama melupakan ….” Demikian Lian-sing tampak mulai mabuk.

So Ing jadi melenggong, sama sekali tak tersangka olehnya Lian-sing bisa berubah menjadi demikian setelah minum arak.

Hakikatnya Lian-sing bukan lagi Ih-hoa-kiongcu yang agung itu, tapi sudah berubah menjadi orang lain.

Ia tidak tahu bahwa perut kalau dalam keadaan kosong akan sangat mudah menjadi mabuk, ketika setengah botol arak masuk perut Lian-sing, sedikitnya dia sudah tujuh bagian mabuk, maka arak yang diminumnya lagi biarpun pahit akan terasa manis.

Seorang yang biasanya tidak suka minum arak memang tidak mudah untuk disuruh minum arak. Tapi sekali dia sudah minum, apalagi sudah tujuh bagian mabuk, bila ingin mencegahnya supaya jangan minum lagi, maka sukarnya jangan ditanya pula.

Siau-hi-ji tertawa kepada So Ing, katanya, “Nah, sekarang tentunya kau tahu bahwa segala apa boleh diminum secara perlahan-lahan, hanya arak saja yang tidak dapat.”

“Masa kau … kau benar-benar menghendaki dia mabuk?” tanya So Ing.

Siau-hi-ji tidak menjawab, tapi perlahan bersenandung pula, “Tengok pintu longok jendela sepi tiada orang, cepat mendekap buru-buru dicium. Sialan, omel si cantik, pura-pura menolak, belum diminta sudah mau ….”

Pantun kampungan yang tidak keruan ini memang tidak menarik, tapi cukup melukiskan khusuk-masyuk muda-mudi yang sedang tenggelam berpacaran.

Tentu saja selama hidup Lian-sing Kiongcu tidak pernah mencicipi rasanya berpacaran, tanpa terasa ia menjadi kesima, pipinya bertambah merah dan panas.

Kiau-goat juga sudah minum beberapa ceguk arak, tapi ketika melihat adiknya menghabiskan lagi sebagian isi botol kedua, ia berkerut kening dan hendak merampas botol arak itu sambil mengomel, “Kau sudah mabuk, taruh saja botolnya, jangan minum lagi.”

Tapi Lian-sing mengipatkan tangan sang kakak dan berkata, “Siapa bilang aku mabuk? Selamanya aku tak pernah berpikir sejernih seperti sekarang ini.”

“Kubilang kau sudah mabuk!” seru Kiau-goat dengan bengis.

Lian-sing Kiongcu tergelak-gelak, jawabnya, “Kau bilang aku mabuk, lantas benar aku mabuk? Kukira kau sendiri yang mabuk.”

“Mabuk atau tidak, tidak boleh minum lagi,” kata Kiau-goat.

Mendadak Lian-sing berteriak, “Kau tidak perlu urus, aku justru ingin minum lagi.” Dia memelototi Kiau-goat dan berkata pula, “Sudah cukup hampir mati, masa kau hendak memerintah aku pula?”

Kejut dan gusar Kiau-goat, tapi demi mendengar dua-tiga kalimat yang terakhir itu, tanpa terasa ia pun menghela napas panjang dan minum arak seceguk, ucapnya dengan rawan, “Ya, memang benar, aku sendiri toh tidak jauh lagi dari ajal, untuk apa kucampur urusanmu.”

Lian-sing Kiongcu lantas berpaling dan tertawa kepada Siau-hi-ji, katanya, “Marilah, kusuguh kau secawan pula, kau memang anak yang menyenangkan.”

Siau-hi-ji seperti tidak mengacuhkan orang, seenaknya ia tanya, “Jika begitu, mengapa kau hendak membunuhku?”

Mendadak berubah air muka Kiau-goat, sedangkan Lian-sing cuma terkekeh-kekeh saja. Ucapnya, “Setelah dekat ajalmu, tentu rahasia ini akan kuberitahukan kepadamu.” Dalam keadaan demikian dia masih dapat menyimpan rahasia dan tidak mau membeberkannya.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa gegetun, tapi dia sengaja tertawa dan berkata pula, “Baiklah, sekalipun aku sudah mati pasti juga akan kutunggu ceritamu ini, habis itu baru kupergi menghadap Giam-lo-ong (raja akhirat).”

“Baik, kita tetapkan begitu,” kata Lian-sing sambil tertawa.

“Bagus, akan … akan tetapi bagaimana bila engkau mati lebih dulu daripadaku?”

“Jika begitu boleh kau ikut mati bersamaku saja, di tengah jalan tentu akan kuceritakan padamu.”

“Ai, bisa mati bersamamu, tidak percumalah hidupku ini,” kata Siau-hi-ji dengan gegetun.

Lian-sing mengerling mesra, ucapnya, “Apa betul? Kau benar-benar mau ikut bersamaku?”

“Memangnya kau kira cuma Gui Bu-geh saja yang tergila-gila padamu? Wanita menyenangkan seperti dirimu, sungguh aku … aku ingin ….”

“Apa benar aku sangat menyenangkan?” tanya Lian-sing dengan tertawa. “Mengapa kebanyakan orang bilang aku menakutkan?”

“Yang menakutkan adalah ilmu silatmu dan bukan dirimu,” Kata Siau-hi-ji. “Jika dirimu menakutkan, maka semua perempuan di dunia ini mungkin akan berubah menjadi kuntilanak seluruhnya.”

Lian-sing Kiongcu mengerling genit, tiba-tiba ia tuding So Ing dan berkata, “Apakah aku lebih menyenangkan daripada dia?”

“Dia mana bisa dibandingkan denganmu?” jawab Siau-hi-ji. “Jika kau mau menjadi istriku, sekarang juga akan kukawini kau.”

Lian-sing terkikik-kikik dengan muka merah, ucapnya, “Setan cilik, meski orangnya kecil, tapi hatimu tidak kecil.”

Makin omong makin tidak keruan seakan-akan mereka sedang bercumbu rayu berduaan, orang lain dianggapnya sudah mati semua, sama sekali mereka tidak mau tahu bahwa wajah So Ing saat itu telah berubah menjadi pucat dan Kiau-goat juga gemetar karena gusarnya.

Omong punya omong sambil tertawa cekikik dan cekakak, akhirnya tubuh Lian-sing lantas jatuh ke pangkuan Siau-hi-ji, katanya pula dengan tertawa genit, “Selama hidupku belum pernah segembira sekarang, aku ingin ….”

“Apa kau sudah gila!” bentak Kiau-goat mendadak dengan gusar.

Dengan suara keras Lian-sing menjawab, “He, apakah kau merasa cemburu lagi, dan kau hendak membuat susah diriku. Sekarang aku tidak mau tunduk lagi padamu, mati pun aku harus mati dengan gembira.”

Karena murkanya Kiau-goat terus menubruk maju. Tapi mendadak didengarnya Siau-hi-ji membisikinya dengan suara tertahan, “Kau ingin keluar dengan hidup tidak? Kau ingin membunuh Gui Bu-geh tidak?”

Seketika Kiau-goat melengak, katanya, “Kau – kau ….”

Dengan suara lebih lirih lagi Siau-hi-ji berucap, “Jika kau ingin, kau harus bertindak menurut anjuranku. Padamkan dulu semua lampu di sini.”

Ternyata Gui Bu-geh senantiasa mengintip di luar, waktu dilihatnya Lian-sing menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Siau-hi-ji, biji matanya lantas melotot seakan-akan melompat keluar, sekujur badannya terasa tegang dan gemetar, telapak tangan pun terasa berkeringat. Ia membayangkan adegan apa yang bakal terjadi.

Di luar dugaan, pada saat yang mendebarkan jantung itu, sekonyong-konyong lampu padam semuanya. Ruangan di bawah seketika gelap-gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan.

Karena gelisah dan dongkolnya hampir saja Gui Bu-geh berjingkrak. Didengarnya macam-macam suara di dalam kegelapan, mula-mula adalah suara tawa genit Lian-sing Kiongcu, lalu bentakan Kiau-goat, menyusul lantas sambaran angin pukulan yang dahsyat. Agaknya kedua kakak beradik Ih-hoa-kiongcu telah saling labrak sendiri.

Kemudian terdengar Kiau-goat menjerit kaget, seperti telah dirobohkan.

Gui Bu-geh tambah kelabakan, tiba-tiba ia bergumam, “Ah, tidak mungkin, Lian-sing pasti bukan tandingan Kiau-goat, mana bisa Lian-sing merobohkan kakaknya, tentu mereka sengaja main sandiwara ….” Tapi lantas terpikir lagi olehnya, “Namun juga bisa terjadi, sebab Lian-sing sudah banyak menenggak arak, tenaga banyak bertambah, sebaliknya Kiau-goat sudah lemas, ilmu silat mereka memang juga tidak banyak berselisih, dengan demikian Kiau-goat tentu juga bisa dirobohkan oleh adiknya.”

Dan kalau benar Kiau-goat telah dirobohkan, lalu apalagi yang bakal terjadi?

Dalam kegelapan mendadak setitik suara saja tidak terdengar lagi, keadaan sunyi senyap begini semakin merangsang orang untuk mengetahui apa yang terjadi, tentu saja Gui Bu-geh kelabakan setengah mati karena ingin tahu.

Dengan susah payah dia telah mengatur segalanya, maksud tujuannya hanya ingin melihat adegan yang merangsang ini. Untuk ini entah betapa banyak dia telah memeras morel dan materiel, bahkan telah mengorbankan segalanya.

Tapi sekarang dia justru tidak dapat melihat apa-apa.

Seperti orang gila dia mendorong kursi-rodanya pergi mengambil sebuah lentera, ia bermaksud menyinari keadaan di dalam ruangan dengan cahaya lampu itu. Siapa tahu, begitu dia dekatkan lentera itu ke lubang, segera angin pukulan menyambar keluar dan lentera itu pun padam.

“Tidak boleh mengintip,” terdengar suara Siau-hi-ji bergelak dengan napas tersengal-sengal.

Hati Gui Bu-geh merasa panas sekali seperti terbakar dan juga seperti dikili-kili karena ingin tahu. Akhirnya dia menggereget, ia menjadi nekat, gumamnya sambil menyeringai, “Hm, kau melarang aku mengintip, aku justru sengaja mau melihat, mati pun aku harus melihatnya.”

Menurut perhitungannya, setelah Kiau-goat dirobohkan, tentu sekarang Siau-hi-ji dan Lian-sing Kiongcu sedang asyik main cinta dan tidak sempat mengurus orang lain. Tertinggal So Ing saja tentu tidak terpikir olehnya.

Sudah berpuluh tahun dia menunggu dengan susah payah, baru sekarang dia mendapat sajian adegan merangsang ini, mana boleh kesempatan bagus ini disia-siakan. Segera ia menyalakan lentera dan membuka kunci pintu, pintu batu itu terpentang tanpa suara, lalu ia meluncur ke dalam dengan kursinya, sudah tentu dia menahan napas, karena tegangnya hingga tangannya gemetar, lentera yang dipegangnya juga ikut gemetar.

Terbayang adegan yang akan dilihatnya itu, jantungnya serasa mau melompat keluar dari rongga dadanya, sungguh tak terpikir olehnya adegan apa pula di dunia ini yang bisa lebih merangsang dan lebih menegangkan daripada apa yang akan dilihatnya ini.

Tak terduga, pada saat itulah dalam kegelapan mendadak meledak suara gelak tertawa orang banyak.

“Hahaha, Gui Bu-geh,” terdengar Siau-hi-ji berseru sambil terbahak, Akhirnya kau tertipu juga olehku!”

Karena kagetnya, serasa pecah nyali Gui Bu-geh.

Di mana cahaya lenteranya menyorot, tiba-tiba dilihatnya Siau-hi-ji berdiri tegak di depannya, pakaiannya rapi, rambutnya teratur, tiada sesuatu apa pun yang dilakukannya sebagaimana dibayangkan Gui Bu-geh semula.

Segera Bu-geh hendak mundur kembali, namun Kiau-goat Kiongcu tahu-tahu sudah mengadang di pintu.

“Hahaha, memang sudah kuperhitungkan kau pasti tidak tahan dan ingin masuk ke sini untuk melihatnya dan semuanya ternyata tepat menurut dugaanku,” seru Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa.

Gui Bu-geh menghela napas panjang, ucapnya dengan menyesal, “Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Meski kalian sudah kukurung di sini, akhirnya semua rencanaku menjadi berantakan. Sungguh tak tersangka aku Gui Bu-geh yang selama hidup ini malang melintang akhirnya harus terjungkal di tangan anak ingusan seperti kau ini.”

“Hahaha, kau terjungkal di tangan orang pintar nomor satu di dunia ini, kenapa mesti penasaran?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jika ada orang mau mendirikan tugu peringatan bagiku, tentu kau juga akan ikut tercatat dalam sejarah dan namamu juga akan terukir abadi.”

Gui Bu-geh menelan ludah, ucapnya dengan parau. “Sekarang apa … apa kehendakmu?”

“Aku pun tidak menghendaki apa-apa, cuma minta kau mengeluarkan kami dari liang tikus ini,” kata Siau-hi-ji.

“Kan sudah kukatakan sejak tadi ….”

Mendadak Siau-hi-ji menarik muka sebelum lanjut ucapan Gui Bu-geh, jengeknya, “Masa sekarang kau tetap menghendaki kami percaya pada ocehanmu tentang jalan keluar yang telah kau bikin buntu seluruhnya?” Sambil berkata ia terus melangkah maju mendekati orang.

Di sebelah sana Kiau-goat juga tampak beringas, ia pandang Gui Bu-geh dengan tajam dan penuh rasa benci.

Sinar mata Gui Bu-geh tampak gemerdep, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan berkata, “Hahahaha, jadi kau ingin kubawa kalian keluar dari sini? Haha, apa susahnya untuk itu?”

Mencorong terang sinar mata Siau-hi-ji, cepat ia tanya, “Di mana jalan keluarnya?”

“Di sini,” jawab Gui Bu-geh.

“Di sini?” Siau-hi-ji menegas dengan melenggong. “Mana, di mana?”

“Sekarang juga aku sedang menuju keluar, masa kau tidak melihatnya?” kata Gui Bu-geh sambil terkekeh-kekeh.

“Kau sekarang ….” mendadak suara Siau-hi-ji terhenti seperti tiba-tiba melihat setan, wajahnya penuh rasa kejut dan takut, tenggorokannya bersuara seperti mengorok, tapi tak dapat bicara.

Terkejut juga Kiau-goat melihat perubahan air muka anak muda itu. “Ada apa?” tanyanya bingung.

Siau-hi-ji menuding Gui Bu-geh tanpa menjawab, jarinya tampak gemetar.

Karena berdiri di belakang Gui Bu-geh, seketika Kiau-goat Kiongcu melenggong. Dilihatnya lentera masih terpegang di tangan Gui Bu-geh dengan cahaya yang cukup terang, selebar wajah Gui Bu-geh telah berubah menjadi warna hitam, mata dan mulutnya terkatup rapat, darah segar merembes keluar dari ujung mulutnya.

Muka Gui Bu-geh memangnya menakutkan, kini tampaknya menjadi lebih mengerikan. Tanpa terasa Kiau-goat menyurut mundur dua-tiga tindak, katanya dengan terkesima, “Jadi dia telah membunuh diri?”

“Betul,” ujar Siau-hi-ji, “Dia lebih suka mati daripada mengeluarkan kita dari sini. Buset, nekat juga dia, sungguh keji, aku menjadi agak kagum padanya.”

Mulut Gui Bu-geh yang berdarah itu seperti tersenyum mengejek, seakan-akan hendak menyindir Ih-hoa-kiongcu, “Meski aku tidak dapat menyaksikan kematian kalian, tapi kalian pun tidak mungkin bisa keluar lagi.”

Kiau-goat berdiri terkesima di tempatnya. Waktu hidup Gui Bu-geh tidak dapat menandingi dia, tapi sesudah mati toh dapat memberikan suatu pukulan maut padanya sehingga dia tidak tahu cara bagaimana harus menangkisnya.

Dengan muka pucat So Ing lantas mendekati jenazah Gui Bu-geh, dengan khidmat ia memberi sembah hormat beberapa kali, air mata pun menetes.

Entah apakah dia berduka bagi Gui Bu-geh atau berduka bagi dirinya sendiri?

Pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji menjerit kaget, “Wah, celaka!” Berbareng ia terus lari keluar.

Kiau-goat dan So Ing saling pandang sekejap, mereka tidak tahu apa yang ditemukan lagi oleh anak muda itu. Tapi sekarang yang menjadi pedoman mereka ialah Siau-hi-ji, bahwa anak muda itu berteriak khawatir dan lari keluar, tentu saja mereka menjadi pucat.

Sementara itu Lian-sing Kiongcu seperti tidur pulas. Rupanya dalam kegelapan tadi Kiau-goat telah menutuk Hiat-to tidurnya.

Selagi Kiau-goat bermaksud menyusul keluar, sekilas dipandangnya Gui Bu-geh sekejap, mendadak ia pandang Lian-sing dan dibawa lari keluar. Meski Gui Bu-geh sudah mati, namun dia tidak rela adiknya ditinggalkan bersama manusia kerdil yang rendah itu dalam suatu ruangan.

Setelah melayang keluar lorong itu, ruangan gua yang luas di atas sana masih tetap sunyi senyap tiada sesuatu perubahan apa pun, bahkan lentera di sekeliling ruangan juga masih menyala. Namun Siau-hi-ji berdiri di situ dengan muka pucat pasi.

“Terjadi apalagi?” tanya So Ing setelah menyusul tiba.

“Adakah kau dengar sesuatu suara?” tanya Siau-hi-ji dengan muram.

“Tidak, tidak terdengar suara apa pun,” jawab So Ing.

Memang suasana sekeliling terasa sunyi laksana di kuburan.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya, “Lantaran kau tidak mendengar sesuatu apa pun, makanya terasa menakutkan.”

Belum habis ucapannya, seketika pucat juga muka So Ing.

Ia tahu, apabila Hoa Bu-koat masih terus menggali di luar sana, maka suara ‘trang-ting’, suara beradunya alat penggali dengan batu gunung pasti akan berkumandang ke dalam gua ini, namun sekarang keadaan sunyi senyap, itu berarti Hoa Bu-koat telah menghentikan usahanya.

Jadi sekarang setitik sinar harapan yang mereka bayangkan tadi juga telah lenyap.

“Kenapa dia tidak menggali lagi? Masa dia mengira kita sudah tak bisa tertolong lagi?” kata So Ing dengan cemas.

Siau-hi-ji memandang Kiau-goat Kiongcu sekejap, katanya, “Seumpama dia tahu kita tak bisa tertolong lagi, sepantasnya dia harus tetap berusaha menemukan mayat kita.”

Kiau-goat melenggong sekian lama dengan muka pucat, gumamnya kemudian, “Kukenal watak Bu-koat, pekerjaan apa pun, kalau dia sudah melakukannya, tidak mungkin dia tinggalkan setengah jalan. Sekarang mendadak dia berhenti menggali, pasti terjadi sesuatu yang tak terduga.”

“Sesuatu yang tak terduga?” So Ing menegas. “Memangnya bisa terjadi sesuatu apa yang tak terduga?”

“Jika dapat diterka namanya bukan lagi sesuatu yang tak terduga,” ujar Siau-hi-ji dengan menyengir.

Tiba-tiba Kiau-goat berkata pula, “Tapi kau pun tidak perlu khawatir baginya, apa pun yang dihadapinya pasti bisa diselesaikan olehnya.”

“Untuk apa harus khawatirkan dia, mengkhawatirkan diri sendiri saja sekarang tidak bisa lagi,” ucap Siau-hi-ji dengan masygul.

Dalam pada itu So Ing sedang duduk di samping sana sambil mendekap kepala, agaknya memeras otak. Siau-hi-ji berdiri di depannya dan memandangi si nona dengan tenang.

Suasana di dalam ruangan gua ini sangat seram, cahaya lampu juga terasa meremang, namun cahaya yang meremang ini terasa lembut ketika menyinari tubuh So Ing.

Meski rambut si nona sudah semrawut, namun masih tetap lembut memantulkan sinar yang halus, tangannya yang putih mulus itu tampak lebih gemilang.

Siau-hi-ji memandang dengan terkesima, sejenak kemudian baru dia mendekatinya, katanya sambil tepuk bahu si nona, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Perlahan So Ing merangkul kaki Siau-hi-ji, jawabnya, “Kupikir, Gui Bu-geh pasti meninggalkan suatu jalan keluar terakhir baginya sendiri, hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Hanya saja mengapa kita tak dapat menemukan jalan keluar itu?” Dia menggigit bibir lalu menyambung pula, “Sudah kuperiksa sekeliling sini dengan sangat cermat, jelas setiap jalan keluarnya memang telah disumbat buntu olehnya. Jika di dinding gunung ini masih ada pintu rahasianya pasti juga akan kuketahui.”

“Ya, bila ada pintu rahasianya pasti kau dapat melihatnya,” kata Siau-hi-ji.

“Jika demikian, lalu di manakah letak jalan keluar yang terakhir ini?” tanya So Ing.

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Jalan keluar ini sudah kuketahui.”

Hampir melonjak kegirangan Kiau-goat dan So Ing demi mendengar ucapan Siau-hi-ji. Secepat angin Kiau-goat lantas melompat ke depan anak muda itu dan bertanya, “Mana, di mana?”

“Tempat ini sebenarnya kalian pun sudah melihatnya tadi, cuma kalian tidak memperhatikannya,” ujar Siau-hi-ji.

Kiau-goat melengak, ucapnya, “Apakah betul kami sudah melihatnya tadi?”

“Ya,” kata Siau-hi-ji sambil menunjuk ke sana. “Di pojok sana ada sepotong batu yang menonjol, tentunya kalian melihatnya.”

“Masa di situlah letak pesawat rahasianya?” seru Kiau-goat.

“Batu itu tiada pesawat rahasia apa-apa, tapi di bawah batu itu ada sebuah lubang hawa yang cukup besar, tentunya kalian melihatnya,” tutur Siau-hi-ji.

“Betul, meski lubang hawa itu lebih besaran, tapi garis tengahnya tidak sampai satu kaki, mana bisa orang menerobos dari situ?” ujar Kiau-goat.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya, “Kita hanya yakin Gui Bu-geh pasti meninggalkan jalan keluar terakhir bagi dirinya sendiri, tapi kita melupakan sesuatu.”

Seketika berubah juga air muka So Ing, katanya, “Betul, kita memang melupakan sesuatu yang paling penting.”

Kiau-goat jadi heran, tanyanya cepat, “Hal apa?”

“Kita sama lupa bahwa Gui Bu-geh adalah seorang cacat, tubuhnya kerdil, meski kita tak dapat keluar masuk melalui lubang hawa kecil itu, tapi Gui Bu-geh sendiri dapat menerobos keluar. Jadi jalan keluar terakhir ini bagi kita sama sekali tidak ada artinya.”

Tergetar tubuh Kiau-goat Kiongcu, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak lagi. Setitik sinar harapan mereka sekarang pun lenyap, kecuali mati sudah tiada jalan lain pula.

Dengan meringis Siau-hi-ji memandang So Ing dan berkata, “Dahulu kau suka bilang dapat mengatasi dia. Tapi sekarang aku baru tahu bahwa Gui Bu-geh memang lihai, rencananya rapi, cara kerjanya cermat, sedikit pun tidak ada lubang-lubang kelemahan. Kalau dia menghendaki kematian kita di sini, maka kita pun tak dapat keluar dengan hidup.”

Mendadak Kiau-goat berteriak, “Tapi Bu-koat pasti berusaha masuk kemari, dia pasti dapat, biarpun dia mendapat hambatan apa-apa, namun lambat atau cepat dia pasti ….”

“Betul, lambat atau cepat dia pasti akan masuk kemari untuk menolong kita,” sela Siau-hi-ji. “Cuma sayang, kita tidak dapat menunggunya lagi.”

“Sebab apa?” tanya Kiau-goat. “Kalau Gui Bu-geh bisa memberi arak dan jeruk pada kita, tentu dia masih menyimpan bahan makanan, asalkan kita dapat menemukannya, tentu kita dapat bertahan hingga datangnya Bu-koat.”

“Sudah tentu kita dapat menemukannya,” kata Siau-hi-ji, “Cuma sayang, umpama kita bisa menemukannya, paling banyak hanya dapat memandangnya saja dan tidak sanggup memakannya.”

“Sebab apa?” tanya Kiau-goat.

“Sebab makanannya berbeda dengan makanan kita, barang yang dapat dimakan dia tak berani kita makan, kecuali kau pun doyan makan tikus, tikus hidup.”

Kiau-goat merasa mual mendengar keterangan ini.

Siau-hi-ji benar-benar dapat menemukan tempat penimbunan makanan Gui Bu-geh, di situ selain ada beberapa guci arak, selebihnya hanya satu kurungan tikus, tikus hidup.

Jangankan makan tikus, memandangnya saja Kiau-goat merasa mual dan mau muntah. Baru sekarang ia tahu rencana Gui Bu-geh memang sangat rapi dan tiada lubang kelemahan, yang paling hebat dalam rencana ini adalah jalan keluar yang dia tinggalkan ini. Orang lain jelas tidak mampu keluar, sedangkan makanan yang dia sediakan juga tidak mungkin dapat dimakan oleh orang lain.

Kiau-goat merasa kakinya menjadi lemas, rasanya mau ambruk. Akhirnya dia menuang secawan arak dan diminumnya seceguk.

Siau-hi-ji ambil satu guci arak, ia tarik So Ing dan mengajaknya ke ruang lain. Meski hati So Ing penuh rasa duka dan putus asa, tapi juga penuh rasa mesra dan bahagia. Ia berbisik di telinga Siau-hi-ji,

“Apakah telah kau lupakan apa yang diucapkan Gui Bu-geh?”

“Ucapan apa?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan muka merah So Ing menjawab, “Katanya arak itu arak bahagia malam pengantin kita.”

Memandangi muka So Ing yang kemerah-merahan dan mesra itu, sekalipun Siau-hi-ji adalah patung juga tergerak hatinya. Perlahan dia memeluk si nona, ucapnya dengan tertawa, “Pengantin perempuanku, marilah kita … kau ingin tidak ….”

So Ing menggigit bibirnya yang mungil dan menunduk, ia tidak menjawab melainkan tertawa malu.

“Cuma sayang, kamar pengantin kita berada di liang tikus ini, rasanya terlalu merendahkan dirimu,” ujar Siau-hi-ji.

“Asalkan … asalkan engkau baik padaku, sekalipun benar-benar tinggal di liang tikus juga aku puas,” kata So Ing.

Perlahan Siau-hi-ji memandang si nona, sekujur badan So Ing serasa lemas lunglai tak bertulang.

Di luar dugaan, baru Siau-hi-ji melangkah dua-tiga tindak, tiba-tiba ia berseru, “Wah, celaka!”

“Ada … ada apa?” tanya So Ing.

“Kamar pengantin kita ini mungkin akan segera kedatangan tamu jahat,” kata Siau-hi-ji.

“Maksudmu Kiau-goat Kiongcu?”

“Siapa lagi kalau bukan dia?”

“Kukira dia takkan bertindak kejam lagi pada kita, rasanya dia sekarang sudah banyak berubah. Sudah jauh lebih mengerti arti orang hidup ini,” kata So Ing “Malahan boleh dikatakan dia sudah mau menurut pada perkataanmu, mana bisa dia mencari perkara lagi padamu dalam keadaan demikian.

“Kalau tadi kita masih ada harapan untuk keluar, maka terpaksa kita harus bersatu untuk berdaya upaya mencari jalan keluarnya. Tapi sekarang segala harapan telah pupus sama sekali, maka ia pun tidak dapat melepaskan diriku lagi.”

“Akan … akan tetapi kita toh harus mati juga, untuk … untuk apa dia bertindak kejam pula padamu?”

“Sebab dia tidak ingin mati di depanku, ia pun tidak ingin aku mati di tangan orang lain. Kalau sekarang dia tidak mampu menyuruh Hoa Bu-koat membunuhku, terpaksa dia sendiri yang akan turun tangan.”

Baru saja habis ucapannya, mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Kiau-goat Kiongcu sudah berada di depan mereka.

Siau-hi-ji pandang So Ing dengan tersenyum getir, katanya, “Tidak salah bukan perhitunganku? Sungguh terkadang aku pun berharap apa yang kuduga bisa meleset.”

Terdengar Kiau-goat Kiongcu menjengek, “Habis belum percakapan kalian?”

So Ing berkedip-kedip, jawabnya dengan tertawa, “Belum!”

“Baik, kuberi tempo sebentar lagi, lekas kalian bicarakan,” kata Kiau-goat.

“Kan kita masih bisa hidup dua-tiga hari lagi, mengapa engkau terburu-buru?” tanya So Ing sambil tersenyum.

“Waktu hidup kalian sudah tidak banyak lagi,” kata Kiau-goat.

“Meng … mengapa?” mau tak mau suara So Ing menjadi agak gemetar.

“Sebab akan kubunuh kalian,” jengek Kiau-goat. “Aku harus membuat kalian mati lebih dahulu daripadaku, aku harus menyaksikan kalian mati di tanganku.”

So Ing memandang Siau-hi-ji, katanya sambil tersenyum getir, “Dugaanmu benar-benar tepat …. Ya, mengapa kau tidak salah duga sekali-sekali.”

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Baik, lambat atau cepat toh kita harus mengadu jiwa, tapi engkau telah berjanji akan memberi waktu sebentar lagi, tentunya engkau tidak akan mengintip di samping seperti Gui Bu-geh.”

Lalu dia tarik So Ing dan mengajaknya ke pojok sana, mereka bicara baik-baik, sambil omong, tampaknya So Ing mengangguk-angguk sampai akhirnya terdengar Siau-hi-ji berkata, “Nah, sekarang kau sudah paham?

“Ya, aku sudah paham,” terdengar So Ing menjawab dengan rawan. “Tapi … tapi hendaknya kau pun hati-hati.”

“Betapa dia berhati-hati juga tiada gunanya,” jengek Kiau-goat. “Nah, kemarilah!”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Kau ingin membunuhku, mengapa bukan kau sendiri yang kemari?”

Kiau-goat menjadi gusar. Di luar dugaan, belum lagi dia bertindak, mendadak Siau-hi-ji mendahului beraksi, tahu-tahu dia mengapung ke atas terus menubruknya, secepat kilat ia melancarkan tiga kali pukulan.

Akan tetapi bagi pandangan Kiau-goat Kiongcu tiga kali pukulan maut Siau-hi-ji ini tidak lebih hanya seperti permainan anak kecil saja. Sama sekali dia tidak bergerak, namun serangan Siau-hi-ji itu menyenggol ujung bajunya saja tidak dapat.

So Ing hanya memandang sekejap saja lantas tahu Siau-hi-ji pasti bukan tandingan Kiau-goat. Ia tidak tega menyaksikannya, ia menunduk dan keluar.

Didengarnya Siau-hi-ji sedang berkata dengan tertawa, “Nah, sudah kau lihat bukan? Ilmu pukulan ini adalah ajaranmu, sekarang kugunakan untuk menghadapimu.”

“Hm, kau gunakan kepandaian ajaranku untuk bergebrak denganku bukankah kau cari mampus sendiri?” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Kau kira aku pasti tidak dapat melawanmu?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Hehe, kukira belum tentu!”

Cara bertempur Siau-hi-ji ternyata semakin bersemangat, sedikit pun tidak gentar, setiap pukulannya selalu menderu dahsyat, dia telah menggunakan tenaga sepenuhnya.

Tapi betapa pun lihai tipu serangannya, Kiau-goat Kiongcu cukup mengebaskan tangannya perlahan saja dan daya serangan Siau-hi-ji lantas dipatahkan tanpa kesulitan apa pun. Dia bergerak dengan ringan, gayanya indah menakjubkan. Sebegitu jauh dia belum lagi mengeluarkan ilmu Ih-hoa-ciap-giok dan juga tidak melancarkan serangan maut balasan.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Sesungguhnya kau ingin membunuhku atau cuma bergurau saja.”

“Hm, ikan sudah berada dalam jaring, untuk apa aku tergesa-gesa,” jengek Kiau-goat.

“Daripada menderita lama lebih baik mati dengan cepat, kau tidak tergesa-gesa, aku yang merasa tidak sabar,” ujar Siau-hi-ji.

“Kapan aku menghendaki kematianmu, pada saat itu juga kau harus mati, biarpun kau ingin mati lebih lambat atau lebih cepat sedikit juga tidak boleh.”

“Wah, jika begitu bilakah kau menghendaki kematianku?” tanya Siau-hi-ji. Tanpa menunggu jawaban Kiau-goat, segera ia menyambung pula dengan tertawa, “Apakah kau sengaja menunggu setelah memahami cara kugunakan tenaga barulah kau hendak mematikan aku?”

Agak berubah juga air muka Kiau-goat, katanya sambil berkerut kening, “Untuk apa harus kutunggu sampai memahami kau menggunakan tenagamu?”

“Sebab kalau kau belum jelas benar-benar arah tenaga pukulanku, maka ilmu andalanmu Ih-hoa-ciap-giok sukar dikeluarkan, betul tidak?”

Sambil terus bicara, tangan Siau-hi-ji juga terus melancarkan serangan, tapi matanya tanpa berkedip tetap menatap Kiau-goat Kiongcu.

Benar juga, air muka Kiau-goat berubah pula, namun dia tetap menjengek, “Hm, bilamana aku mau menggunakan Ih-hoa-ciap-giok tentu dapat kukeluarkan dengan segera, buat apa terburu-buru.”

“Haha, tidak perlu lagi kau menipuku. Sudah kuketahui rahasia Kungfu Ih-hoa-ciap-giok andalanmu itu, apakah kau ingin kubeberkan bagimu?”

“Hanya dirimu ini kukira belum setimpal untuk bicara tentang Kungfu Ih-hoa-ciap-giok,” jengek Kiau-goat pula.

“Mengapa aku tidak setimpal?” jawab Siau-hi-ji. “Huh, biarpun Ih-hoa-ciap-giok juga tiada sesuatu yang istimewa bagiku, kan serupa dengan Kungfu ‘meminjam tenaga untuk menggunakan tenaga’ itu saja, tiada bedanya seperti ilmu empat tahil menyampuk seribu kati dari Bu-tong-pay atau ‘Cian-ih-cap-pek-tiat’ (menempel baju delapan belas kali terjatuh) dari Siau-lim-pay, hanya saja cara bergerakmu teramat cepat, dapat pula mendahului pihak lawan sebelum dia sepenuhnya mengeluarkan tenaga, maka dalam pandangan orang lain tampaknya menjadi sangat ajaib, ditambah lagi caramu beraksi sedemikian rupa gaibnya sehingga sesuatu yang mestinya sangat sederhana disangka sedemikian hebatnya. Maka orang lain pun menganggap Kungfumu mahasakti.”

Uraian Siau-hi-ji membuat Kiau-goat menampilkan rasa kejut dan heran, mendadak ia membentak bengis, “Apalagi yang kau ketahui?”

“Di dunia ini memang banyak urusan yang tampaknya sangat hebat, tapi kalau sudah dibeberkan sesungguhnya tidak bernilai sepersen pun,” setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Umpamanya ketika diketahui tenaga pukulan lawan timbul dari Hu-sik-hiat dan Tong-tian-hiat dari bagian perut terus mengalir ke Hiat-to berikutnya yang menjurus ke bagian tangan sehingga akhirnya tenaga pukulannya pasti terhimpun pada tepi telapak tangan, begitu bukan?”

Kiau-goat Kiongcu seperti terkesima mendengar uraian anak muda itu sehingga gerakannya menjadi lambat, tanpa terasa ia pun mengangguk dan menjawab, “Betul.”

“Nah, jika sudah begitu, sebelum tenaga lawan itu terhimpun pada tempat yang terakhir, pada saat itu juga kau lantas menyampuknya balik,” kata Siau-hi-ji.

Tanpa terasa Kiau-goat mengangguk dan membenarkan.

“Dan karena tenaga pukulan lawan disampuk balik ketika sampai di tengah jalan, lantaran pergolakan tenaga murni dalam tubuh, otot daging pada lengannya menjadi tegang dan tertarik pula ketika tenaganya yang bergolak itu menerjang kembali ke arah semula, maka pukulannya bukan lagi mengenai sasarannya melainkan menghantam tubuh sendiri.”

“Hm, kalau tenaganya sudah tersampuk balik, mana bisa menerjang kembali ke tempat semula?” jengek Kiau-goat.

“Dengan sendirinya disebabkan tenaga yang kau gunakan tepat pada sasarannya, ini pun tidak mengherankan, asalkan aku berlatih beberapa tahun pasti juga kusanggup bermain sama bagusnya seperti dirimu,” ujar Siau-hi-ji.

Kiau-goat mendengus. Ia seperti mau bilang apa-apa, tapi hanya mendengus sekali saja lalu urung bicara. Maklum tiba-tiba ia merasa dirinya telah bicara terlalu banyak.

Siau-hi-ji lantas menyambung pula, “Meski aku belum lagi tahu cara bagaimana kau menyampuk balik tenaga murni lawanmu, tapi ini pun tidak penting. Soalnya aku sudah tahu kunci utama Kungfumu ini, yakni terletak pada mengetahui sejelasnya lebih dulu dari tempat mana dan arah mana tenaga pukulan lawan itu hendak dilancarkan.”

“Hm,” Kiau-goat mendengus pula.

“Maklumlah, tenaga manusia pada umumnya timbul dari beberapa Hiat-to di sekitar perut, maka tanpa kesulitan apa pun dapat kau raba kekuatan lawan, tapi diriku ….” Siau-hi-ji bergelak tertawa, lalu melanjutkan, “Lantaran ilmu silatku berbeda daripada siapa pun juga, guruku sedikitnya berjumlah belasan orang, bahkan berpuluh-puluh orang, bahkan kau pun termasuk satu di antara guruku. Nah, justru lantaran Kungfu yang kupelajari terlalu banyak dan ruwet, makanya dasar Lwekangku juga kurang baik, hakikatnya inilah kelemahanku yang terbesar, tapi untuk digunakan bergebrak denganmu, kelemahanku ini berbalik telah banyak membantu diriku.”

“Huh, memangnya kau kira ….” mendadak Kiau-goat tidak melanjutkan.

“Justru lantaran Lwekangku kurang kuat, cara permainanku juga tidak menurut aturan, makanya seketika kau tidak dapat meraba arah tenaga seranganku dan pada hakikatnya kau pun tidak sempat menggunakan ilmu sakti Ih-hoa-ciap-giok.”

“Hm, kau bilang aku tidak dapat menggunakannya?” jengek Kiau-goat, mendadak kesepuluh jarinya terpentang, segera Kiok-ti-hiat dan Thian-coan-hiat bagian lengan Siau-hi-ji hendak ditutuknya.

Siau-hi-ji sedang melancarkan serangan dua kali dan tenaganya justru tersalur melalui kedua Hiat-to tersebut, nyata Kiau-goat Kiongcu sudah berhasil meraba tempat penyaluran tenaga Siau-hi-ji, maka dia telah mendahului mengerjai Hiat-to bagian yang bersangkutan, tenaga kebasan tangannya menyambar dengan kuat.

Sekalipun Siau-hi-ji dapat menghindarkan tutukan jarinya, tapi sukar mengelak akan guncangan tenaga kebasan tangan Kiau-goat Kiongcu itu. Padahal saat ini dia sedang menyerang dengan penuh tenaga, ini berarti tenaga pukulan akan menghantam tubuh sendiri, mengingat betapa kuat serangannya ini bisa jadi dia akan roboh seketika terpukul sendiri.

Siapa tahu, pada detik berbahaya itu, sekonyong-konyong tubuh Siau-hi-ji berputar dengan cepat dan menggeser ke samping sehingga tidak cedera apa-apa.

Ilmu Ih-hoa-ciap-giok yang tidak pernah gagal itu kini ternyata tidak mempan terhadap Siau-hi-ji. Keruan Kiau-goat Kiongcu benar-benar terkejut, padahal sudah diincarnya dengan baik tempat penyaluran tenaga Siau-hi-ji, mengapa bisa salah?

Didengarnya Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Tentunya kau tidak menyangka, bukan? Supaya kau tahu, meski telah kau gunakan tenaga yang keras terhadapku, namun aku sendiri sebenarnya sama sekali tidak menggunakan tenaga, karena tujuanmu hendak meminjam tenagaku untuk memukul aku sendiri, namun hasilnya nihil karena tiada setitik tenaga pun. Cara demikianlah kugunakan untuk menghadapi Ih-hoa-ciap-giok kebanggaanmu. Nah, coba katakan, bagus tidak caraku ini”

Tentu saja air muka Kiau-goat sebentar berubah pucat dan lain saat berubah beringas, jengeknya kemudian, “Hm, memang bagus, syukur kau dapat memikirkan cara sebodoh ini.”

“Kau anggap caraku ini sangat bodoh?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kalau bukan cara bodoh, lalu apa pula namanya?” ujar Kiau-goat. “Coba pikir, kau menyerang tanpa menggunakan tenaga, lalu dapatkah kau melukai lawan? Jadi kau sendiri sudah berada di tempat yang tidak mungkin menang, kalau ada orang bertempur, bila kau tidak mengharapkan kemenangan, lalu apa namanya jika bukan cara yang bodoh?”

Siau-hi-ji mengangguk, jawabnya dengan tertawa, “Betul juga, aku sendiri pun merasa caraku ini sangat bodoh. Tapi menghadapi orang semacam kau, cara yang bodoh terkadang malah terlebih berguna. Apalagi, jelas kau bertekad membunuhku, sebaliknya aku tiada maksud membunuhmu, cukup bagiku asal dapat mencegah keganasanmu padaku dan aku pun akan merasa puas.”

“Memangnya kau kira tanpa menggunakan Ih-hoa-ciap-giok tak dapat kubunuh kau?” bentak Kiau-goat dengan bengis.

“Baik, justru ingin kulihat masih mempunyai kepandaian apa yang dapat kau gunakan untuk membunuh diriku?”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, serentak angin pukulan Kiau-goat Kiongcu telah menyambar tiba, menyusul kedua tangan Kiau-goat seolah-olah berubah menjadi belasan tangan. Siau-hi-ji merasa seputarnya cuma bayangan pukulan lawan belaka. Sukar dibedakan yang mana tangan betul dan mana pula bayangan tangan, lebih-lebih tidak tahu cara bagaimana harus menghindar. Sungguh tak terpikir olehnya tangan seorang mengapa bisa bergerak secepat ini.

Meski Siau-hi-ji sudah berusaha menghindar beberapa kali pukulan musuh, tapi ia tidak tahu apakah serangan berikutnya dapat dielakkan atau tidak.

Kalau jiwa seseorang sudah tergenggam di tangan orang lain dan setiap saat, setiap detik bisa direnggut orang, maka bagaimanapun perasaannya dapatlah dibayangkan.

Akan tetapi bagaimana pula perasaan Kiau-goat Kiongcu? Perasaan orang yang hendak membunuh seharusnya lebih gembira daripada orang yang akan terbunuh. Namun aneh, meski Kiau-goat bertekad harus membunuh Siau-hi-ji, bahkan setiap saat dapat membunuhnya, tapi perasaannya sekarang ternyata lebih menderita daripada Siau-hi-ji.

Dia sudah bersabar menunggu selama dua puluh tahun, dengan mata kepala sendiri akan kelihatan hasilnya sesuai rencananya, tapi sekarang ternyata akan berubah, ia sendiri yang harus menghancurkan hasil yang telah dipupuknya dengan susah payah selama ini.

Ini dapat diibaratkan seorang pelukis, dengan jerih payah selama dua puluh tahun baru berhasil diselesaikan sebuah lukisan yang indah, ketika hasil karyanya ini sudah mendekati goresan terakhir, dia justru harus memusnahkan lukisan itu, bahkan ia sendiri yang harus menghancurkannya, dalam keadaan demikian betapa perasaannya mungkin sukar dibayangkan orang.

Seorang kalau tidak terpaksa pasti tidak mungkin berbuat demikian, sekarang Kiau-goat merasa pasti mereka telah berada di ambang maut. Mereka sudah ditakdirkan mati di sini dan pasti tidak bakal tertolong. Dengan lain perkataan Siau-hi-ji juga pasti akan mati di tangannya, di dunia tiada seorang pun yang dapat menyelamatkan anak muda itu.

Yang masih belum terjadi hanya dia belum melancarkan serangan mematikan yang terakhir saja.

Pada saat itulah Siau-hi-ji berteriak, “Nanti dulu, aku ingin mengucapkan kata-kata terakhir.”

Namun Kiau-goat tidak pedulikan, secepat kilat ia menghantam. Tapi begitu tangan bergerak, sekonyong-konyong berhenti di tengah jalan, hanya beberapa senti saja tangannya berada di atas kepala Siau-hi-ji.

“Hm, dalam keadaan demikian kau ingin main gila apalagi?” jengek Kiau-goat sambil menatap tajam.

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya sambil menyengir, “Dalam tiga jurus saja jiwaku dapat kau renggut, untuk apa aku harus main gila lagi?”

“Habis apa yang hendak kau katakan?”

“Tentunya kutahu sekarang bahwa apa pun juga toh tak dapat kabur dan tiada orang yang dapat menolongku lagi, mau tak mau aku pasti akan mati di tanganmu.”

“Memang,” kata Kiau-goat Kiongcu.

“Jika demikian, dalam keadaan begini kan pantas jika engkau memberitahukan rahasia itu padaku?”

Air mukanya penuh rasa berharap dengan sangat sehingga tampaknya sangat memelas. Sungguh tak tersangka bahwa Siau-hi-ji dapat mengunjuk air muka yang minta dikasihani seperti ini.

Kiau-goat memandangnya hingga lama sekali dan tidak bersuara. Biasanya bilamana soal ini ditanyakan Siau-hi-ji, seketika juga dia akan menolaknya dengan tegas. Tapi sekarang ia menjadi ragu-ragu seakan-akan ada maksud untuk memenuhi permintaan Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji tampak bersemangat dan juga bergirang, jantungnya berdebar seakan-akan melompat keluar dari dadanya, ia pikir sebentar Ih-hoa-kiongcu pasti akan membeberkan rahasia pribadinya. Namun begitu air mukanya tetap mengunjuk rasa minta dikasihani.

“Kutahu sebelum ajal setiap orang boleh mengajukan sesuatu permintaan terakhir, bahkan seorang perampok yang paling ganas juga boleh mengajukan permintaan terakhirnya ketika menghadapi hukuman mati. Apalagi engkau sendiri pun akan mati, apabila rahasia ini tetap tersimpan dalam hatimu, apa perasaanmu tidak tertekan?”

“Setelah kau mati, tentu rahasia ini akan kuberitahukan pada So Ing,” kata Kiau-goat.

“Meng … mengapa tidak kau ceritakan padaku saja?” teriak Siau-hi-ji dengan parau.

“Tidak,” ucap Kiau-goat, jawaban yang singkat dan tegas tanpa kompromi lagi.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya kemudian, “Engkau sungguh jauh lebih ganas daripada perampok, sampai permintaanku yang terakhir menjelang ajal juga kau tolak.” Biji matanya berputar, tiba-tiba ia menyambung pula, “Kalau permintaanku yang lain, dapatkah kau kabulkan?”

Kiau-goat tampak sangat sangsi, akhirnya ia menjawab perlahan, “Bergantung pada apa permintaanmu itu.”

“Aku … aku mau kencing, boleh tidak?” kata Siau-hi-ji.

Buset, dalam keadaan demikian dia mengajukan permintaan semacam ini, sungguh membuat orang serba konyol. Muka Kiau-goat menjadi merah padam menahan gusar.

“Kencing, hanya kencing saja agar perut terasa lega, ini kan permintaan yang paling sederhana dan paling sepele di dunia ini, masa tidak kau izinkan?” ucap Siau-hi-ji pula dengan santai.

“Kau … kau sesungguhnya mau apa ….” suara Kiau-goat menjadi parau karena gemasnya.

“Tadi aku terlalu banyak menenggak arak, sekarang perutku tidak tahan lagi,” tutur Siau-hi-ji. “Jika permintaanku kau tolak, terpaksa kukerjakan di sini saja.”

“Sekarang juga kubinasakan kau,” teriak Kiau-goat gusar.

Siau-hi-ji menjengek, “Kalau perut seorang lagi kembung, tentu kepandaiannya akan banyak terganggu, jika kau bunuh diriku sekarang juga apa tindakan ini dapat dianggap berjaya? Sungguh tak tersangka bahwa Ih-hoa-kiongcu yang disegani tak berani membiarkan orang pergi kencing lebih dulu.”

Dengan geregetan Kiau-goat melototi anak muda itu, tiba-tiba ia pun menjengek, “Baik, pergilah kau, aku tidak percaya kau berani main gila padaku.”

“Jelas tempat ini sudah buntu, memangnya aku berubah bentuk atau dapat menghilang!” Sambil bicara Siau-hi-ji terus melangkah ke depan, di mulut ia bergumam pula, “Tempat ini sepantasnya ada sebuah kakus, aku lupa tanya pada Gui Bu-geh di mana letak kakusnya, entah dapat kutemukan tidak sekarang.”

Kiau-goat Kiongcu terus membayangi Siau-hi-ji, tanpa terasa ia menanggapi grundelan anak muda itu, “Mengapa kau tidak pergi ke tempat tadi.”

“Aha, betul, tidak kau sebut, aku jadi lupa,” kata Siau-hi-ji dengan bergelak tertawa. “Tadi sudah kubuat kakus darurat, kakus yang longgar dan tembus hawa.”

Maka sejenak kemudian mereka sudah sampai di ruangan bawah tanah tadi, terlihat mayat Gui Bu-geh sudah mulai mengering dan mengerut menjadi kecil. Bentuknya tampak seram dan memualkan.

Baru saja Kiau-goat melangkah masuk ke situ, seketika ia mundur keluar lagi dan membentak, “Ayo, lekas!”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Kau tidak ikut masuk? Masa kau tidak khawatir aku akan kabur?”

Kiau-goat tidak menggubrisnya. Ruangan ini hanya ada sebuah pintu, dengan sendirinya ia yakin betapa pun tinggi kepandaian Siau-hi-ji juga tidak mungkin bisa lari.

Sambil menghela napas gegetun Siau-hi-ji bergumam pula, “Padahal apa alangannya jika kau masuk kemari? Meski tempat ini rada berbau sedikit, tapi waktu kencing pasti takkan dilihat oleh siapa pun juga. Kau sendiri kan dapat menguras perutmu.”

Kiau-goat pura-pura tidak mendengar saja, kalau tidak, mungkin dadanya bisa meledak saking gusarnya.

Selang tak lama, terdengar di dalam ada suara gemerciknya air atau tepatnya suara air yang dipancurkan.

Selama hidup Kiau-goat mana pernah dengar suara yang menakutkan begini. Tanpa terasa mukanya menjadi merah, kalau bisa ia ingin mendekap telinganya. Untunglah orang buang air tentu takkan lama, kalau bersabar menunggu tentu juga cuma sebentar saja.

Tak tahunya, tunggu punya tunggu, sampai lama sekali suara gemercik itu masih terus berlangsung. Di tunggu pula sekian lama, suara itu masih terus berbunyi tanpa berhenti.

Tentu saja Kiau-goat menjadi tidak sabar dan mulai heran dan curiga.

Meski tak banyak pengetahuannya hal orang lelaki, tapi ia tahu, baik lelaki maupun perempuan, tidak mungkin membuang air sebanyak itu. Air kencing sepuluh orang dikumpulkan juga tidak sebanyak ini. Akhirnya Kiau-goat berteriak dengan mendongkol, “Kang Siau-hi, lekas keluar. Apa-apaan kau mengeram di dalam?”

Tapi di dalam hanya ada suara ‘air mancur’, sama sekali tiada jawaban orang.

Walaupun yakin di situ tiada jalan lolos bagi Siau-hi-ji, tapi tidak urung Kiau-goat menjadi agak khawatir juga. Ia coba memanggilnya lagi dua kali dan tetap tiada jawaban. Diam-diam ia membatin, “Kurang ajar! Jangan-jangan setan cilik ini benar-benar telah menemukan jalan lolos? Mungkin dia tahu di situlah letak jalan keluarnya, maka sengaja menipuku agar dia sendiri dapat kabur dan kami tetap terkurung di sini.”

Berpikir demikian, kaki tangannya menjadi dingin dan lemas, tanpa menghiraukan urusan lain lagi segera ia menerjang ke dalam.

Tapi aneh, di dalam tetap tenang-tenang saja tiada sesuatu perubahan, hanya suara gemercik tadi masih terus terdengar. Lantaran teraling oleh sebuah “dinding”, maka tidak diketahui apa yang dilakukan Siau-hi-ji dalam kakus darurat itu.

Karena gemasnya, begitu menerjang ke dalam, segera Kiau-goat ayun tangannya dengan tenaga murni. Terdengar gemuruh, dinding yang terbuat dari tumpukan batu dan tutup peti itu lantas runtuh. Benar saja, di dalam ternyata tiada lagi bayangan Siau-hi-ji. Hanya ada beberapa botol yang terikat tali dan menjulur turun dari lubang di atas sana, jadi botol-botol itu tergantung di udara, pantat botol diberi berlubang dan arak dalam botol lantas mengucur masuk ke peti mati itu. Rupanya dari sinilah datangnya suara gemercik air pancur tadi. Lalu ke manakah Siau-hi-ji?

Selagi Kiau-goat melenggong bingung, sekilas dilihatnya sesosok bayangan orang menyelinap ke luar.

Kiranya sejak tadi Siau-hi-ji bersembunyi di balik pintu, karena seluruh perhatian Kiau-goat tertarik ke arah sana, kesempatan mana telah digunakan Siau-hi-ji untuk lolos keluar. Waktu Kiau-goat mengetahui apa yang terjadi, sementara itu anak muda itu sudah berada di luar ruangan.

Segera Kiau-goat hendak memburu keluar, namun apa lacur, tahu-tahu pintu batu itu menutup kembali, bahkan suara tertawa Siau-hi-ji di luar juga terputus.

Baru sekarang Kiau-goat Kiongcu benar-benar cemas.

Biasanya, menghadapi urusan betapa pun gawatnya, belum pernah Kiau-goat berteriak atau menjerit, lebih-lebih tidak pernah memohon sesuatu pada orang lain.

Tapi sekarang ia sudah lupa segalanya, mendadak ia berteriak, “Kang Siau-hi, buka pintu, keluarkan aku!”

Advertisements

1 Comment »

  1. GA ADA GAMBARNYA YA?
    COBA KALAU ADA

    Comment by Firman — 25/02/2013 @ 2:16 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: