Kumpulan Cerita Silat

03/05/2008

Darah Ksatria: Bab 38. Bu-cap-sah Palsu Ternyata…

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 10:50 pm

Darah Ksatria
Bab 38. Bu-cap-sah Palsu Ternyata…
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Setiap orang harus bernapas, kamar di bawah tanah ini pun perlu udara segar, maka dibuat sebuah lubang angin di langit-langit kamar. Karena adanya lubang angin yang tembus ke kamar bawah tanah ini, maka mayat Bu-cap-sah yang meninggal entah kapan sudah membusuk sejak lama, kini tinggal kerangkanya saja.

Sebatang bambu besar dipotong sepanjang yang dikehendaki, setiap ruas bambu itu dibikin lubang, bambu besar yang sudah berlubang itu pun dijadikan lubang angin yang menyerap hawa segar di luar ke dalam kamar batu di bawah tanah ini. Suara pembicaraan yang mereka dengar datang dari lubang angin di langit-langit kamar itu.

Pertama kali mendengar suara itu, mereka sukar membedakan orangnya, tapi menyusul terdengar pula suara orang bertanya dengan nada kaget dan heran, “Sandiwara? Siapa yang main sandiwara? Main sandiwara apa?”

Suara orang ini cukup lantang, mereka cukup kenal suara itu, karena yang bicara adalah Ma Ji-liong. Dengan siapa Ma Ji-liong berbicara?

“Sudah tentu kau dan aku yang bermain sandiwara.”

“Jadi kau bukan Bu-cap-sah?” tanya Ma Ji-liong.

“Siapa bilang aku Bu-cap-sah,” orang itu tertawa. “Kau membayar lima ribu tahil perak supaya aku berperan sebagai Bu-cap-sah, kenapa kau pura-pura pikun malah?”

“Aku menyuruh kau berperan sebagai Bu-cap-sah dengan bayaran lima ribu tahil perak?” melengking suara Ma Ji-liong, heran dan gusar.

“Siapa lagi kalau bukan kau.”

“Kenapa aku harus bersandiwara segala?”

“Supaya orang banyak beranggapan kau sebagai manusia terbaik yang tiada bandingan di kolong langit, sebaliknya aku adalah tokoh jahat yang tiada bandingan di jagad. Sengaja permainan sandiwara ini dibuat ribut dan ruwet, rencanca telah kau atur sedemikian rupa sehingga di tengah kekacauan, mereka saling gontok dan bunuh. Setelah mencapai babak akhir, kau memberi kesempatan kepada pengawal Persia itu untuk membabat kepala mereka dengan golok melengkungnya, dalam permainan ini aku kan hanya boneka belaka.”

“Ke mana orang-orang yang membongkar rumah-rumah penduduk itu?”

“Lho, mereka kan orang-orangmu, siapa yang tidak tahu Thian-ma-tong punya duit, besar pengaruhnya, pekerjaan apa yang tidak bisa dilakukan orang-orang Thian-ma-tong?” dengan tertawa orang itu berkata lebih lanjut. “Sungguh aku amat kagum padamu, entah bagaimana kau dapat merangkai cerita khayal itu, tapi mereka memang percaya bahwa di lembah mati ini ada emas, kau memang seorang cerdik.”

Ma Ji-liong bungkam.

Dengan tertawa orang itu berkata pula, “Lebih lucu lagi, aku ini orang biasa, orang lemah, memikul air segantang juga tidak kuat, maka kau buatkan alat jepretan untuk menyambitkan batu hitam, kau suruh aku menyimpan alat jepretan itu dalam lengan baju, supaya orang beranggapan aku memiliki tenaga luar biasa, memiliki kepandaian menimpuk yang tepat dan telak.”

Lama sekali baru terdengar Ma Ji-liong bertanya, “Apa betul kau tidak pandai main silat?”

“Main silat sih bisa sedikit, gerakan cakar kucing saja, tapi kalau dibanding kau, Pendekar Besar Ma Ji-liong, jelas bedanya seperti langit dan bumi.”

Ma Ji-liong manggut-manggut, “Cara bagaimana kau dapat mendengarkan percakapan kami di dalam toko?”

“Mendengar percakapan apa?” orang itu balas bertanya. “Sepatah kata pun aku tidak mendengar percakapan kalian.”

“Jadi bukan kau yang berbicara di luar waktu itu?”

“Sudah tentu bukan.”

“Memangnya siapa kalau bukan kau?”

“Mana aku tahu, yang benar tidak ada orang bicara di luar waktu itu.” Orang itu membela diri, “Aku jadi heran. Kecuali pemain watak yang ulung, kau juga sebagai pengatur laku dalam permainan sandiwara ini, seluk-beluk organisasinya juga hanya kau yang tahu. Aku hanya pemain kecil, apa yang kutahu tidak sebanyak yang kau kuasai.” Setelah menghela napas, orang itu menyambung, “Apa pun yang telah terjadi, sandiwara ini harus segera diakhiri, nona Toa-hoan dan Hwesio gundul itu berada di dalam gua, lekas kau ajak mereka keluar saja. Kali ini kau berhasil berperan sebagai orang gagah, pendekar besar yang membela dan menolong gadis cantik, Hwesio gundul musuhmu itu pasti akan takluk dan kagum serta tunduk lahir batin kepadamu. Aku hanya pemain bayaran, sebab dan akibat permainan sandiwara ini tiada sangkut pautnya dengan aku, namun lima ribu tahil adalah imbalan yang kurang setimpal untuk perananku. Kalau kau berhati baik, tolong tambah bayaranku……”

Belum habis ia bicara, suaranya mendadak terhenti, tepat di saat suaranya terputus, terdengarlah suara lain yang kedengarannya aneh, “Cres”, hanya sekali dan pendek.

Lalu keadaan menjadi hening, pembicaraan terhenti, keadaan sepi lengang.

Suasana di kamar bawah tanah juga sepi, tidak ada orang bicara, sepatah kata pun tiada yang bersuara.

Ma Ji-liong adalah kawan mereka, sekarang terjadi peristiwa seperti ini. Dari pembicaraan di atas, mereka dapat mengambil kesimpulan, duduk persoalan peristiwa ini sudah gamblang, setelah kasus ini terbongkar, apa yang bisa mereka lakukan? Apa yang bisa mereka katakan?

Entah berapa lama kemudian, Ji Liok menarik napas panjang, katanya dengan suara rawan, “Sungguh tak nyana, Ma Ji-liong ternyata orang demikian.”

Siapa pun sukar menduga dan meraba. Kalau mereka tidak menemukan kamar bawah tanah ini, mendengar percakapan itu dengan jelas, mereka pasti terus dikelabui seumur hidup. Untunglah Thian Maha Kuasa, Maha Adil, memberi ganjaran setimpal kepada setiap umatnya yang melakukan kejahatan.

Mendadak Thiat Tin-thian berkata, “Masih ada persoalan yang belum kupahami.”

“Persoalan apa yang tak kau pahami?” tanya Cia Giok-lun.

“Bu-cap-sah palsu tadi bilang dia tidak bicara atau mendengar percakapan kita di dalam rumah, padahal kami mendengar jelas apa yang dikatakan Bu-cap-sah, lalu siapa yang bicara?”

“Kalau dugaanku tidak meleset,” demikian kata Ji Liok. “Pasti yang bicara seorang yang berada di dalam toko juga.”

“Tapi adakah orang di dalam toko yang bicara waktu itu?” Thiat Tin-thian balas bertanya.

“Memang tidak ada yang membuka mulut, tapi ada sementara orang tanpa buka mulut juga bisa berbicara,” Ji Liok coba meyakinkan mereka.

“Orang macam apa yang dapat bicara tanpa pakai mulut?” tanya Cia Giok-lun.

“Orang yang pandai ilmu Hok-gi-sut (Ilmu bicara dengan perut),” ucap Ji Liok. “Aku pernah menyaksikan orang yang dapat bicara dengan perut.” (Sampai sekarang masih ada orang yang mahir ilmu bicara dengan perut, terutama dalang ‘boneka bicara’, ilmu bicara dengan perut dinamakan ventriloquisme.)

“Betul,” sahut Tin-thian. “Aku pun pernah melihat orang yang pandai bicara dengan perut. Jelas kau dengar suaranya berkumandang dari tempat lain, padahal orang yang bicara ada di depanmu.” Sejenak ia berhenti, lalu menghela napas, “Tak heran, waktu itu aku sudah merasakan nada suara orang itu aneh dan agak sumbang, apalagi yang bicara seperti dekat di pinggir telingaku.”

“Umpama benar orang itu bicara di dalam rumah dengan ilmu bicara dalam perut, coba kau terka siapa kira-kira orang yang pandai bicara dengan perut di antara kita?”

“Siapa lagi kalau bukan Ong Ban-bu,” ujar Thiat Tin-thian. “Aku yakin tentu dia.”

“Berdasar apa kau yakin kalau yang bicara dengan perut adalah Ong Ban-bu?” tanya Ji Liok.

“Sebetulnya dia tidak perlu menyerahkan diri, maksudku masuk ke dalam toko,” demikian Thiat Tin-thian menjelaskan. “Kehadirannya dalam toko serba ada itu memang disengaja sesuai rencana, tujuannya untuk membuat kita panik, supaya kita berpendapat bahwa Bu-cap-sah memang memiliki sesuatu yang luar biasa dan tak mampu ditandingi orang lain, supaya kita percaya Bu-cap-sah yang itu betul adalah Bu-cap-sah tulen.”

“Maka di saat tenaganya tidak diperlukan lagi, ia pun harus dilenyapkan dari muka bumi, sudah tentu maksudnya supaya rahasianya tidak terbongkar,” demikian Ji Liok menerangkan.

Thiat Tin-thian menyeringai, katanya, “Manusia khianat seperti Ong Ban-bu memang pantas memperoleh ganjaran yang setimpal.”

Lalu ganjaran apa yang harus diterima oleh Ma Ji-liong?

“Mari kita tunggu Ji-liong di atas,” kata Thiat Tin-thian menggenggam kedua tangan sendiri. “Mari kita saksikan apa pula yang bisa ia katakan kepada kita.” Sembari bicara ia mengulurkan tangan hendak menggandeng Ji Liok keluar.

“Tunggu sebentar,” Cia Giok-lun yang sejak tadi diam saja mendadak bersuara.

“Tunggu apa lagi?” tanya Ji Liok.

“Barangku ada yang jatuh di sini,” ucap Cia Giok-lun. “Aku harus menemukan dulu baru boleh keluar dari sini.”

Cia Giok-lun datang bersama mereka, sejak masuk tak pernah bilang bahwa barangnya ada yang hilang dan jatuh di tempat ini, kenapa sekarang mendadak mencari barangnya yang jatuh? Kapan barangnya jatuh? Barang apa yang jatuh?

Tapi Cia Giok-lun memang menemukan barang yang jatuh di kamar ini, yang ia temukan adalah tiga butir mutiara sebesar buah kelengkeng di pojok dinding yang gelap di dekat pintu.

Thiat Tin-thian dan Ji Liok terbeliak heran. Sejenak mereka saling beradu pandang, lalu berbareng mereka bertanya, “Mutiara itu milikmu?”

“Kalau bukan milikku, memangnya aku serakah mengambil milik orang lain?”

“Mengapa mutiaramu jatuh di sini? Kapan?” Thiat Tin-thian bertanya.

Jawaban Cia Giok-lun amat mengejutkan, “Dulu waktu aku datang ke sini, kalung mutiaraku putus, tiga di antaranya ketinggalan di sini.”

Keruan Thiat Tin-thian dan Ji Liok menjublek sekian lama, tanpa berjanji mereka bertanya pula bersama, “Bagaimana kau bisa datang ke tempat ini? Untuk apa kau datang ke sini?”

“Aku ke mari hendak menengok Khu-khu (adik ibu),” sahut Cia Giok-lun.

“Kau punya Khu-khu?” seru Thiat Tin-thian. “Apakah Bu-cap-sah adalah Khu-khumu?”

“Ya, beliau adalah adik kandung ibu, kenapa bukan Khu-khuku?” Cia Giok-lun balas bertanya sambil menghela napas.

“Tapi belum pernah aku melihat dia, karena laki-laki tidak boleh tinggal di Bik-giok-san-ceng. Umpama saudara kandungku sendiri juga tidak terkecuali. Sejak dilahirkan, kalau dia laki-laki harus segera dibawa keluar perkampungan, disingkirkan ke tempat yang jauh.”

Baru sekarang Thiat Tin-thian maklum kenapa Bu-cap-sah menamakan dirinya Bu-cap-sah.

Agaknya setelah dia tahu riwayat hidupnya, karena gusar dan penasaran serta sedih, timbullah tekad dan putusan tegas, dia bersumpah untuk menganggap dirinya yatim piatu, tidak berayah bunda, tidak punya saudara laki maupun perempuan, dengan rajin dan tekun dia belajar ilmu. Setelah malang melintang dan yakin bahwa ilmu silatnya cukup tinggi, maka dia meluruk ke Bik-giok-san-ceng untuk melampiaskan rasa dongkol dan penasaran hatinya, hendak mendobrak aturan keluarga yang dianggapnya usang, ingin membalas dendam.

Sayang sekali usahanya gagal, dia dikalahkan oleh Bik-giok Hujin, kakak kandungnya sendiri yang mewarisi ilmu silat keluarga yang digdaya.

Sekarang Thiat Tin-thian maklum kenapa Bik-giok Hujin melanggar kebiasaan dan mengampuni Bu-cap-sah. Padahal setiap musuh yang berani menyatroni Bik-giok-san-ceng tidak ada seorang pun yang diberi ampun, semua dibunuh, habis perkara.

Meski Bik-giok Hujin berkuasa penuh di Bik-giok-san-ceng, tetapi dia tidak pernah mengabaikan nasib saudara laki-lakinya yang terpaksa harus disingkirkan dari perkampungan itu. Leluhurnya sudah menentukan laki-laki tidak boleh tinggal di perkampungan itu, maka sejak dia memegang kekuasaan di sana, peraturan ini pun tidak pernah dilanggarnya. Meski sejak lahir Bu-cap-sah disingkirkan dari perkampungan, jarak usia mereka pun terpaut belasan tahun, tapi biasanya hidup Bu-cap-sah sejak kecil ditanggung oleh Bik-giok-san-ceng, seluk-beluk kehidupannya juga selalu dilaporkan anak buahnya yang bertugas di luar. Tidak perlu dibuat heran kalau Bik-giok Hujin tahu persis pertumbuhan gigi Bu-cap-sah yang lain daripada yang lain.

Cia Giok-lun berkata, “Walau ibuku menyingkirkan dan mengurungnya di lembah mati, tapi beliau tidak pernah melupakan saudaranya ini. Di hadapan kami sering kali menceritakan sepak terjangnya. Oleh karena itu, setelah dewasa aku berkeputusan untuk menemui beliau di lembah mati ini.”

“Jadi kau sudah lama tahu kalau Bu-cap-sah telah mati, kau pun tahu kalau Bu-cap-sah yang bersandiwara itu pun palsu,” demikian tanya Thiat Tin-thian.

“Betul, aku sudah tahu sebelumnya,” ujar Cia Giok-lun.

“Kenapa tidak kau bongkar muslihatnya?”

“Sejak kedatanganku yang pertama dan menemukan Khu-khu mati dibunuh orang secara keji, timbul niatku untuk menuntut balas dan membongkar kasus pembunuhan ini secara tuntas. Kebetulan ada peristiwa yang menimpa Ma Ji-liong, diriku pun terlibat, mumpung ada kesempatan baik ini, maka tidak kuabaikan peluang baik ini, aku tahu inilah satu-satunya kesempatan bagiku untuk membongkar beberapa kasus pembunuhan sekaligus.”

Hanya pembunuh kejam yang membokong Bu-cap-sah yang tahu bahwa Bu-cap-sah sudah mati, maka pembunuh itu pun berani menyaru sebagai Bu-cap-sah.

“Aku yakin bila berhasil membongkar kasus yang melibatkan Ma Ji-liong ini, menangkap biang keladinya, karena kedua kasus ini merupakan mata rantai yang tak terpisahkan, maka pembunuh laknat itu pasti dapat kutemukan.”

Tak urung Ji Liok menarik napas panjang, katanya gegetun, “Tentu kau tidak mengira kalau pembunuh durjana itu adalah Ma Ji-liong.”

Mendadak Cia Giok-lun berputar menghadapi Ji Liok, sorot matanya menampilkan rona ganjil saat menatap tajam ke muka Ji Liok. Agak lama kemudian baru dia berkata sepatah demi sepatah, “Kau keliru.”

“Aku keliru? Dalam hal apa aku keliru?” tanya Ji Liok membelalakkan mata.

“Pembunuh durjana itu bukan Ma Ji-liong,” tegas suara Cia Giok-lun. “Pasti bukan Ji-liong.”

“Kalau bukan Ma Ji-liong, memangnya aku?”

Cia Giok-lun menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya mulai berubah gusar dan benci serta dendam, perlahan mulutnya mendesis, “Ya, kaulah pembunuhnya.” Jarinya menuding hidung Ji Liok, “Kaulah biang keladi kasus ini, kau pembunuh Bu-cap-sah. Kau pula yang membunuh Toh Ceng-lian, Sim Ang-yap dan lain-lain.”

Ternyata Ji Liok tenang-tenang saja, malah tertawa lucu dan geli, “Kau pasti sedang bergurau, sayang banyolanmu ini takkan mengundang gelak tawa orang banyak.”

“Betul, orang banyak tidak akan tertawa oleh perbuatanmu, kejadian ini memang bukan senda gurau.”

“Jadi kau menuduh aku sebagai pembunuhnya.”

“Semula memang tidak pernah aku mengira akan dirimu,” kata Cia Giok-lun kalem. “Untung secara kebetulan aku tahu suatu rahasia yang tidak diketahui orang lain.”

“Kau tahu rahasia apa?” tanya Ji Liok, sikapnya tetap tenang dan wajar.

“Aku tahu Ji Ngo tidak punya adik, Ji Ngo adalah saudara termuda di antara lima bersaudara,” tandas suara Cia Giok-lun. “Maka Ji Ngo pasti tidak punya adik.” Tekanan suaranya lebih keras lagi, dilanjutkan dengan kata-kata yang lebih tegas, “Aku tahu jelas silsilah keluarganya karena kebetulan Ji Ngo juga adik kandung ibuku.”

Thiat Tin-thian berdiri menjublek.

Ternyata Ji Liok masih meremehkan tuduhan Cia Giok-lun, sikapnya masih tenang dan tertawa malah, santai saja, “Hanya berdasarkan pengakuanmu itu, kau lantas menuduhku sebagai pembunuh? Besar amat nyalimu, bisa kau membuktikan bahwa aku adalah pembunuh?”

“Ya, bukti itu memang belum cukup,” sahut Giok-lun. “Untung secara kebetulan Toa-hoan melihat dan memergoki kejadian yang sebetulnya tidak pantas dia saksikan.”

“Kejadian apa?” tanya Ji Liok melotot.

“Dia melihat kau memukul dada Ong Ban-bu, kau membunuhnya. Toa-hoan melihat dengan mata kepalanya sendiri.”

Wajah Ji Liok membesi, tawanya tadi juga berubah kaku.

Cia Giok-lun berkata pula, “Waktu itu aku tidak memberi kesempatan kepadanya untuk membongkar muslihatmu, karena saat itu kami belum tahu siapa kau sebetulnya.”

Ji Liok bertanya, “Sekarang kau sudah tahu siapa diriku?”

“Sekarang aku sudah tahu. Kau merencanakan muslihat keji ini dengan tujuan menjerumuskan Ma Ji-liong, memfitnah dia. Ma Ji-liong kau jadikan kambing hitam, tapi karena perkembangan selanjutnya tidak menguntungkan, kau tahu orang banyak sudah melihat wajah aslinya, sudah tahu orang macam apa dia sebenarnya, semua orang mulai goyah curiganya. Dari berbagai kenyataan orang mulai percaya bahwa dia tidak mungkin melakukan perbuatan jahat, maka kau lantas berdaya upaya dengan cara yang kotor memfitnah dia sebagai pembunuh.” Sampai di sini Cia Giok-lun menoleh, lalu bertanya kepada Thiat Tin-thian, “Tahukah kau, siapa yang paling besar hasratnya mencelakai jiwa Ma Ji-liong?”

Thiat Tin-thian tahu, dia sudah mengikuti perkembangan peristiwa ini dengan seksama, maka tanpa pikir ia menjawab, “Sudah tentu Khu Hong-seng.”

“Betul,” seru Cia Giok-lun, “Memang Khu Hong-seng.” Lalu ia menuding Ji Liok sambil berkata sepatah demi sepatah, “Dia inilah Khu Hong-seng.”

Ji Liok dituduh sebagai pembunuh, dituduh sebagai Khu Hong-seng, tertawa lebar malah. “Agaknya kau sudah tahu seluruh persoalannya, kurasa aku pun tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi,” dengan kelam Ji Liok mengaku terus terang. “Betul, aku memang Khu Hong-seng.”

Cia Giok-lun menghela napas lega, katanya, “Syukurlah kalau kau berani mengaku. Tak kuduga kau berani berterus terang.”

“Masih ada satu hal, aku yakin tidak pernah kau duga.”

“Hal apa?”

“Aku adalah murid tunggal Bu-cap-sah.”

Khu Hong-seng memang betul adalah murid tunggal Bu-cap-sah.

Sejak kecil Khu Hong-seng sudah punya ambisi untuk menjadi orang besar, tokoh silat yang tiada tandingan, menjagoi dan menguasai dunia. Tapi Hong-seng sadar, hanya dengan bekal sepasang tombak perak warisan keluarganya, dirinya tidak akan mampu mengangkat diri sebagai gembong silat yang ditakuti, apalagi bersimaharaja di dunia persilatan.

Suatu ketika tanpa sengaja dia mendengar kisah kepahlawanan Bu-cap-sah.

“Bu-cap-sah memang seorang aneh, seorang pintar,” Khu Hong-seng bertutur. “Riwayat hidupnya terselubung, pengalaman hidupnya juga penuh lika-liku, aku betul-betul kagum dan tertarik padanya. Setelah berdaya upaya sekian tahun, akhirnya aku berhasil menemukan lembah mati. Kebetulan pada waktu itu Bu-cap-sah sedang merana. Supaya kepandaiannya tidak ikut terbenam bersama kematiannya kelak, dia berkeinginan mengambil murid. Kedatanganku ke sana seakan pucuk dicinta ulam tiba, maka aku pun digembleng dengan caranya yang luar biasa, aku dituntut untuk belajar dan mencapai taraf yang dia kehendaki supaya kelak aku melampiaskan dendam penasaran hatinya.”

Kenyataan memang demikian, Bu-cap-sah mengambilnya sebagai murid, seluruh ilmu silat yang dia kuasai diajarkan kepada murid tunggalnya ini. Bu-cap-sah memang orang cerdik dalam ilmu silat, ia punya cara tersendiri untuk menggembleng muridnya menjadi tokoh besar yang mengemban tugas berat dengan bekal ilmu yang beraneka-ragam. Sayang sekali muridnya ini bukan manusia baik-baik.

“Cara yang paling baik untuk menggali tanah juga dia ajarkan padaku,” demikian tutur Khu Hong-seng lebih lanjut. “Tentang ilmu falak, ilmu bumi, teknik membuat perkakas rahasia, membuat barisan yang menyesatkan, ilmu tata rias dan menguasai racun juga dipahami seluruhnya.”

“Guru sebaik itu, tidak sedikit kepandaian yang kau peroleh dari gurumu, kenapa kau membunuhnya malah?”

“Untuk latihan aku banyak menderita, gerak-gerikku selalu diawasi, aku dikekang, aku tidak bisa bebas, aku tak kuat menahan sabar. Tapi seluruh ilmu yang dia kuasai, semua berhasil kupelajari dengan baik,” demikian tutur Khu Hong-seng tertawa lebar. “Kalau aku tidak membunuhnya, mungkin sampai sekarang aku belum bebas, sampai sekarang aku masih tinggal di lembah yang menyebalkan ini.”

“Ya, Bu-cap-sah telah kau bunuh. Untuk mengejar ambisimu, Toh Ceng-lian dan Sim Ang-yap juga kau bunuh, Ma Ji-liong kau fitnah, kau jerumuskan ke dalam perangkapmu sehingga dia menemukan jalan buntu, seharusnya kau sudah puas dan berhenti sampai di situ,” sampai di sini Cia Giok-lun berganti nada, ia bertanya, “Kenapa kau masih juga melanjutkan muslihat jahatmu?”

“Apa yang kau katakan tadi memang betul. Belakangan aku baru tahu, dari berbagai kenyataan kalian mulai sadar dan percaya kepadanya,” Khu Hong-seng menghela napas gregeten. “Ma Ji-liong memang seorang yang tidak mudah dilayani.”

“Setelah mencapai bagian tertentu dari rencana jahatmu, sebetulnya tidak perlu kau lanjutkan dengan aksimu yang berkepanjangan. Bahwasanya kami tidak menemukan bukti tentang kejahatanmu, kami tak bisa menuduhmu semena-mena,” Cia Giok-lun juga menghela napas. “Sayang sekali kau terlalu pintar.”

“Terlalu pintar juga bukan tidak baik. Kalian tidak menemukan bukti, aku tetap bebas, kan sama saja.”

“Lho kok sama? Bagaimana bisa sama?”

“Karena cepat atau lambat kalian akhirnya akan mampus.” Mendadak Khu Hong-seng bertanya, “Tahukah kalian suara apa yang berbunyi ‘Cres’ di atas tadi?”

“Kalau tidak salah suara golok yang menggorok leher,” jawab Cia Giok-lun.

“Ya, tapi leher siapa yang digorok? Pakai golok siapa?” tanya Khu Hong-seng, segera ia menjawab sendiri, “Jikalau kalian mengira leher yang tergorok golok itu adalah leher Bu-cap-sah palsu itu, maka kalian pasti keliru.”

“0, kenapa keliru?”

“Yang terpenggal adalah leher Ma Ji-liong, golok itu adalah milik Peng Thian-ko, dia adalah pengawal Persia itu, pengawalku yang setia,” Khu Hong-seng menjelaskan lebih lanjut. “Peng Thian-ko adalah adik Peng Thian-pa, ilmu goloknya jauh lebih lihai dan ganas dibanding Peng Thian-pa. Sayang dia anak pungut, ibunya adalah budak bangsa Persia. Oleh karena itu, selama hidup dia takkan mendapat warisan apa pun termasuk Ngo-hou-toan-bun-to.”

“Kau menghasut dia dan mengangkatnya sebagai antekmu, atas petunjukmu pula dia membunuh Peng Thian-pa,” demikian jengek Thiat Tin-thian.

Dengan tersenyum Khu Hong-seng mengangguk sebagai jawaban, mendadak ia mengalihkan pembicaraan, “Waktu Bu-cap-sah masih hidup, pernah aku bertanya padanya, barang apa yang paling dia inginkan? Sungguh tak terduga olehku, barang yang dia idamkan selama ini hanyalah sebuah selimut dan sebuah lampu minyak.”

“Maka kau segera memenuhi permintaannya,” Thiat Tin-thian menjengek pula.

“Ya, kubelikan selimut yang termahal dan lampu minyak yang paling antik, sumbu lampu juga kupilih yang nomor satu, demikian pula minyak juga kupilih yang paling balk. Hanya terkecuali yang kubeli terakhir kali.”

“Terakhir kali apa yang kau belikan untuk dia?” tanya Cia Giok-lun.

“Yaitu sumbu dan minyak lampu yang sudah kucampur dengan obat bius,” Khu Hong-seng tertawa lebar. “Obat bius yang kugunakan sudah tentu juga mutu yang paling balk, yaitu obat bius yang tanpa kalian sadari juga telah membius kalian sejak sumbu lampu di atas meja ini menyala.” Habis bicara Khu Hong-seng tertawa latah, sayang tidak lama dia bergelak tawa.

“Ting” mendadak lampu minyak itu pecah dan api pun padam, keadaan kamar menjadi gelap gulita, tapi kejap lain cahaya api tampak menyala di atas lorong. Di bawah obor yang menyala benderang, muncul bayangan seseorang, seseorang yang dianggap takkan pernah muncul lagi, seseorang yang sudah mati terpenggal lehernya.

Yang menuruni undakan lorong sambil mengangkat tinggi obor itu ternyata adalah Ma Ji-liong. Khu Hong-seng mengawasi Ma Ii-liong dengan terbelalak.

Kecuali Ma Ji-liong, ternyata Toa-hoan dan Coat-taysu juga muncul di belakangnya. Ternyata mereka belum mati. Mereka selamat disebabkan tipu daya yang telah direncanakan oleh Cia Giok-lun, tipu menjebak Khu Hong-seng. Toa-hoan diculik juga adalah salah satu rencananya untuk memancing kesalahan Khu Hong-seng.

Kini giliran Cia Giok-lun memberi penjelasan kepada Khu Hong-seng, “Setelah aku menutuk Hiat-to Toa-hoan, sengaja aku bicara dengan suara keras, maksudku agar kau mendengar pembicaraan kami, percaya bahwa aku memang ingin menuntut balas pada Toa-hoan. Lalu aku keluar mengundang Ma Ji-liong, padahal aku sengaja memberi peluang kepadamu. Di luar tahumu, sebelum keluar aku sudah membebaskan tutukan Hiat-to di tubuh Toa-hoan.”

Dengan suara tawar Toa-hoan menimbrung, “Karena tak tertutuk Hiat-toku, maka suara ‘Cres’ dari golok yang menggorok leher yang kalian dengar, bukanlah leher Ma Ji-liong yang terpenggal. Golok itu memang milik Peng Thian-ko, tapi yang terpenggal adalah lehernya sendiri, berarti senjata makan tuan.”

Advertisements

1 Comment »

  1. kok banyak yg gak tamat c??

    Comment by rojer — 20/07/2008 @ 10:02 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: