Kumpulan Cerita Silat

03/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (03)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:03 pm

Bahagia Pendekar Binal (03)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Sungguh teka-teki ini sukar dipecahkan olehnya. Ia coba mengingat-ingat kembali semua kejadian dari awal hingga akhir, sampai kepala pusing tetap sukar dimengerti, malah semakin ruwet.

Teringat olehnya Ih-hoa-kiongcu yang ditakuti orang itu kena diperdayainya hingga kelabakan, bahkan rela menunggui dia berak, saking geli ia jadi tertawa sendiri.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Oh Yok-su berkata dengan tertawa, “Bagus sekali, baru saja Ih-hoa-kiongcu pergi, kini datang pula beberapa gembong anggota Cap-toa-ok-jin, tampaknya keparat Kang Giok-long itu pun tak bisa hidup tenteram lagi selanjutnya.”

Karena itu barulah Siau-hi-ji sadar dari lamunannya, ia pasang kuping sejenak, lalu berkata, “Yang datang itu memang Put-lam-put-li (bukan lelaki tidak perempuan) To Kiau-kiau, Put-sip-jin-thau (tidak makan kepala manusia) Li Toa-jui, Siau-li-cong-to (di balik tertawanya tersembunyi belati) Ha-ha-ji dan Sun-jin-put-li-ki (merugikan orang lain tidak menguntungkan diri sendiri) Pek Khay-sim.”

“Tampaknya kau kenal baik mereka?”

“Memang, mungkin di dunia ini tiada orang lain yang lebih akrab dengan mereka kecuali aku.”

Semangat Oh Yok-su terbangkit seketika, katanya, “Jika demikian mengapa tidak lekas kau minta pertolongan mereka?”

“Tunggu dulu,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Aku ingin mendengarkan permainan apa yang akan mereka lakukan.”

Kemudian Siau-hi-ji kembali terkejut demi mendengar mereka menyebut Kang Piat-ho sebagai tamu agung Gui Bu-geh. Baru diketahuinya sekarang tamu yang berkunjung ke tempat Gui Bu-geh tatkala dia terluka di sana itu ialah Kang Piat-ho. Andai kata Kang Piat-ho tidak datang, mungkin So Ing belum dapat membantunya melarikan diri. Teringat hal ini, tanpa terasa Siau-hi-ji tertawa pula.

Didengarnya Oh Yok-su lagi berkata, “Sungguh aneh, untuk apakah mereka sedemikian mementingkan beberapa peti itu?”

“Tidak perlu heran, orang muda pantang berkelahi, orang tua pantang tamak, soalnya seorang kalau sudah berusia lanjut, sering-sering terlalu memandang berat soal harta benda, seakan-akan sudah lupa bahwa orang mati toh tidak dapat membawa uang sepeser pun.”

“Tapi yang mereka persoalkan adalah peti kosong,” kata Oh Yok-su.

Siau-hi-ji hanya tertawa dan tidak berkata pula, namun sorot matanya mencorong terang. Selang tak lama lantas terdengar To Kiau-kiau dan lain-lain membicarakan dia.

Baru diketahuinya bahwa tanda-tanda petunjuk jalan yang ditinggalkan mereka itu memang betul-betul adalah perangkap yang sengaja dipasang untuk menjerumuskan dia, mau tak mau air muka Siau-hi-ji berubah juga.

Setelah termenung sejenak, kemudian ia berkata sambil menggeleng, “Tak tersangka dugaan So Ing ternyata tepat, sampai-sampai kalian juga menghendaki jiwaku. Tapi apakah kalian tahu bahwa sudah lama kutahu rahasianya Yan-tayhiap dan aku pun tidak berniat mencelakai kalian.” Dia menghela napas, tiba-tiba ia bergembira pula, ucapnya, “Seorang kalau meninggal dan bisa membikin To Kiau-kiau meneteskan air mata, maka tidak percumalah kematiannya.”

Kepandaian Siau-hi-ji yang terbesar adalah dalam keadaan betapa buruknya dia tetap dapat membuat dirinya bergembira.

Sudah tentu Oh Yok-su tidak mempunyai kepandaian begitu, sekarang ia pun sudah tahu Siau-hi-ji tidak nanti mau berseru minta tolong kepada To Kiau-kiau dan lain-lain.

Maklum, apabila gembong-gembong Cap-toa-ok-jin itu tahu Siau-hi-ji berada di dalam sumur ini, bukannya mereka menolongnya, bisa jadi malah akan menimpakan beberapa potong batu besar. Dengan sendirinya Siau-hi-ji tidak mau mengambil risiko ini.

Oh Yok-su jadi melengak muram dan tidak bersemangat lagi. Sebaliknya Siau-hi-ji lantas tepuk-tepuk bahunya, katanya sambil tertawa, “Jangan khawatir, biarpun mereka tidak menolong kita, nanti juga ada orang lain yang akan menolongku.”

“Siapa?” tanya Oh Yok-su.

“Rahasia alam tidak boleh dibocorkan, kalau sudah tiba waktunya tentu kau akan tahu sendiri,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa dan berfilsafat.

Oh Yok-su ingin tanya pula, tapi pada waktu itu juga di luar sana telah berkumandang suara So Ing.

Setelah mengikuti percakapan antara So Ing dengan Thi Peng-koh, mau tak mau Oh Yok-su menghela napas gegetun, katanya, “Nona So benar-benar sangat mendalam cintanya kepada Hi-heng, sungguh amat besar rezeki Hi-heng mendapatkan pacar secantik itu.”

Siau-hi-ji juga menghela napas, jawabnya, “Jika kau merasakan hal ini adalah rezeki, maka bolehlah kuoperkan dia padamu saja.”

Oh Yok-su hanya tertawa, selang sejenak baru ia berkata pula, “Kau kira nona So dapat memanjat ke atas tidak?”

“Jika dia bilang ada akal, tentu dia sanggup memanjat ke atas,” kata Siau-hi-ji.

“Tapi Cayhe tidak dapat membayangkan akal apa yang dipunyai olehnya,” ujar Oh Yok-su.

“Jika kau bisa membayangkan akalnya, tentu kau takkan tertimpa malang seperti sekarang ini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thi Peng-koh sedang berteriak, “He, nona So, dinding tebing itu sangat licin, engkau takkan sanggup merambat ke atas sana.”

Benar juga menyusul lantas terdengar jeritan kaget So Ing, mungkin dia baru saja merambat ke atas dan segera terperosot ke bawah lagi.

Selang sejenak, terdengar Thi Peng-koh berkata pula, “Nona So, buat apa engkau nekat begitu? Batu di atas sana setajam pisau, bila engkau telanjang kaki tentu akan lebih mudah terluka lagi.”

Dari nadanya tampaknya dia sangat khawatir bagi So Ing, suatu tanda pula bahwa cara merambat So Ing tentu sangat payah.

Tanpa terasa Siau-hi-ji juga gegetun, ucapnya, “Ya, kakinya pasti putih dan halus, jika sampai terluka kan sayang.”

Oh Yok-su juga gegetun, katanya, “Melihat bentuknya sih lemah lembut, tak tersangka dia mempunyai tekad sebesar itu.”

“Tapi nona pintar seperti dia ternyata memakai cara sebodoh ini, sungguh sangat mengecewakan aku,” kata Siau-hi-ji

“Semakin bodoh cara yang dipakainya, semakin jelas pula cintanya padamu,” ujar Oh Yok-su. “Hi-heng, mestinya engkau berseru memanggilnya untuk memberi semangat padanya.”

“Untuk apa mesti kuberi semangat padanya? Kan dia sendiri yang susah,” kata Siau-hi-ji dengan melotot. “Anak perempuan yang nekat seperti dia ini hanya membikin pusing kepalaku saja. Apalagi, seumpama dia dapat merambat ke atas kan juga tidak mampu menolong kita.”

Oh Yok-su terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Jadi Hi-heng sengaja bersikap demikian lantaran tidak ingin membikin susah nona So?”

“Hehe, rasanya kau terlalu tinggi menilai hati nuraniku,” ucap Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Ah, meski kasar cara bicara Hi-heng, yang benar kutahu hatimu sangat baik,” ujar Oh Yok-su.

Dalam pada itu sama sekali tidak terdengar lagi suara So Ing di luar sana, hanya Thi Peng-koh yang terkadang mengeluarkan jeritan khawatir, suatu tanda So Ing berulang-ulang mengalami rintangan dan mungkin setiap saat terperosot ke bawah.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya, “Dia dan aku kan juga tiada hubungan yang erat, pula tidak pernah ada sumpah setia apa segala, mengapa dia harus bersusah payah ingin mencariku?”

Oh Yok-su tersenyum, ucapnya, “Seorang perempuan bila sudah mencintai seorang lelaki, hakikatnya dia tidak memerlukan alasan. Pula, alasan perempuan pada hakikatnya juga takkan dipahami lelaki.”

“Betul, asalkan kebentur perempuan, terpaksa kuanggap diriku lagi sial,” kata Siau-hi-ji dengan menyesal.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara sorak gembira Thi Peng-koh.

Lalu terdengar seruan So Ing, “Siau-hi-ji, inilah aku datang mencarimu, apakah kau dengar suaraku?”

Suara itu tersiar dari mulut gua di atas, karena kumandang suara di gua yang geronggang itu, bukan saja Siau-hi-ji dapat mendengarnya dengan jelas, bahkan anak telinganya hampir pekak karena getaran suara yang mendengung itu.

Nyata, So Ing benar-benar telah berhasil memanjat ke atas.

Karena Siau-hi-ji hanya diam saja, segera Oh Yok-su bermaksud bersuara, tapi cepat Siau-hi-ji mendekap mulutnya sambil berbisik, “Jangan sekali-kali menjawabnya, kalau tidak, bisa jadi dia akan terjun kemari.”

Rupanya Siau-hi-ji telah kenal watak So Ing yang keras, apabila nona itu sudah bertekad akan berbuat sesuatu, biarpun dia harus terjun ke lautan api juga dia pantang mundur.

Terlihat wajah So Ing sudah menongol di mulut gua, cuma gua sumur terlalu dalam, cahaya remang-remang di bagian atas tidak cukup menerangi bagian bawah, sebab itulah Siau-hi-ji dapat melihat So Ing dengan cukup jelas, sebaliknya So Ing tidak dapat melihat anak muda itu.

Samar-samar malahan Siau-hi-ji sudah dapat melihat wajah So Ing yang basah dan lecet, entah air keringat entah air mata.

“Siau-hi-ji,” terdengar suara So Ing yang setengah meratap, “Mengapa engkau tidak menjawab? Apakah engkau benar-benar telah meninggal? Masa kau…sedemikian tak becus, sampai-sampai binatang kecil semacam Kang Giok-long juga bisa membunuhmu? Sungguh memalukan dan membikin penasaran.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji membisiki Oh Yok-su, “Dia sengaja memancing agar aku bersuara, tapi aku justru tidak mau tertipu olehnya.”

Terdengar So Ing lagi berseru pula, “Siau-hi-ji, dengan susah payah telah kuselamatkan kau, tapi kau justru mati konyol di sini, kau sungguh mengecewakan harapanku.”

Namun Siau-hi-ji tetap diam saja.

Sekali ini So Ing tidak bicara lagi, tapi mendadak menangis keras-keras.

Sungguh tak tersangka oleh Oh Yok-su bahwa nona yang biasanya lemah lembut dan anggun, menghadapi persoalan apa pun selalu tenang, kini mendadak bisa menangis tergerung-gerung seperti anak kecil begitu.

Terdengar Thi Peng-koh lagi berseru, “Nona So, orang mati kan tidak dapat hidup kembali, untuk apa nona menangis sedemikian sedihnya?”

Dia seakan-akan lupa bahwa dia sendiri tadi juga menangis. Selang sejenak kembali ia berkata, “Tadi kau sendiri bilang padaku bahwa di dunia ini masih banyak orang yang bernasib jauh lebih malang daripada kita, sekarang aku tidak menangis lagi, mengapa kau malah menangis sendiri?”

“Jangan khawatir, aku cuma menangis satu kali saja dan selanjutnya takkan menangis lagi,” jawab So Ing sambil tersedu-sedu. “Sebab itulah sekali ini aku harus menangis sepuas-puasnya dan hendaklah jangan kau cegah tangisku ini.”

“Hm, kau dengar tidak, dia cuma mau menangis satu kali saja…hehe, hanya menangis satu kali saja,” demikian jengek Siau-hi-ji dengan suara tertahan.

“Tapi kalau ada seorang nona cilik begitu mau menangis satu kali bagiku, maka puaslah hidupku ini,” ujar Oh Yok-su dengan gegetun.

Entah selang berapa lama, tangis So Ing bukan saja tidak berhenti, bahkan semakin berduka cara menangisnya seakan-akan air matanya hendak dikuras keluar semua.

Dengan suara serak Thi Peng-koh berseru pula, “Kumohon dengan sangat, janganlah menangis lagi. Jika…jika kau menangis terus, aku…aku pun -.” Belum habis ucapannya, benar juga, ia sendiri lantas ikut menangis.

Tapi mendadak So Ing berhenti menangis, ucapnya, “Aku pun ingin memohon sesuatu padamu.”

“Urusan…urusan apa?” tanya Peng-koh.

“Kita berkenalan secara kebetulan, tapi ternyata cukup cocok, maka kuharap engkau suka berdaya menyumbat gua ini dengan batu agar kami tidak diganggu orang lain lagi.”

“Mengganggu kalian? Memangnya kau pun akan…akan…” Peng-koh bersuara khawatir dan tergegap.

“Ya,” sahut So Ing singkat.

“Mana…mana boleh kau mati? Setahuku, kau dan Siau-hi-ji kan tiada sumpah setia segala, mengapa kau mau mati baginya?”

“Aku tidak merasakan mati baginya, aku cuma merasa hidup ini tiada artinya lagi.”

“Nah, kau dengar tidak, Hi-heng?” demikian bisik Oh Yok-su di dasar sumur. “Sampai begini, masa engkau tidak mau bersuara?”

“Apakah kau kira dia benar-benar akan mati? Dia cuma menakut-nakuti orang saja,” ujar Siau-hi-ji. “Masa kau tidak tahu senjata rahasia simpanan kaum perempuan, yakni menangis, mogok makan dan bunuh diri?”

“Tapi dia…dia…”

“Dia kenapa? Jika dia benar-benar membunuh diri biar aku…”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak terdengar jeritan Thi Peng-koh. Waktu mereka mendongak, So Ing benar-benar terjun ke bawah.

Baru sekarang Siau-hi-ji benar-benar terkejut. Cepat ia bertindak, sekuat tenaga ia lompat ke atas, selagi masih terapung di udara sempat ia rangkul tubuh So Ing.

Namun daya anjlok So Ing teramat keras, sekalipun ilmu silat Siau-hi-ji sekarang sudah lain daripada dulu, namun tetap tidak mampu menahannya, terdengarlah suara “plung” yang keras, kedua orang sama-sama tercebur ke dalam kolam.

Air kolam bergolak, selang sejenak barulah terlihat Siau-hi-ji menongol ke permukaan air dengan basah kuyup sambil merangkul So Ing, lalu dibawa melompat ke atas batu.

“Dia tidak cuma menakut-nakuti orang saja, bukan?” demikian Oh Yok-su berolok-olok dengan tersenyum.

Siau-hi-ji menyengir, ucapnya, “Budak ini ternyata berbeda daripada perempuan lain. Wah, aku menjadi mulai sangsi apakah dia ini perempuan tulen atau bukan?”

Dia mengira So Ing pasti sudah pingsan karena terjun dari ketinggian begitu dan kecebur pula ke kolam.

Tak terduga “budak” yang bertubuh lemah itu ternyata mempunyai saraf yang lebih kuat daripada baja. Bukan saja dia tidak pingsan, sebaliknya malah kelihatan sangat enak, sangat senang atas kejadian ini. Matanya terbelalak memandangi Siau-hi-ji tanpa berkedip.

Siau-hi-ji melengak, tiba-tiba ia kendurkan pegangannya sehingga tubuh So Ing terlempar ke atas batu, dengan penasaran ia berteriak, “Ingin kutanya padamu, apa artinya semua ini? Hakikatnya kau dan aku tiada hubungan kentut sekalipun, untuk apa kau mati bagiku? Memangnya kau sengaja hendak membikin aku berterima kasih padamu dan selama hidupku ini akan diperbudak olehmu?”

“Aku tidak ingin memperbudak dirimu, aku cuma berharap kau akan menjadi suamiku,” jawab So Ing dengan perlahan.

Kembali Siau-hi-ji melengak, katanya kepada Oh Yok-su sambil menuding So Ing, “Kau dengar tidak? Apa yang diucapkan budak ini kau dengar tidak?”

“Dengar, kudengar dengan jelas,” jawab Oh Yok-su sambil mengulum senyum.

“Perempuan yang bermuka tebal begini tentunya tak pernah kau lihat bukan?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Tapi apa pun juga kan sudah dilihatnya sekarang,” ujar So Ing dengan tertawa.

Terbelalak mata Siau-hi-ji memandangi So Ing sekian lamanya, tiba-tiba ia menghela napas, ucapnya sambil menggeleng, “Aneh, sungguh aneh!”

“Aneh apa?” tanya So Ing sambil membetulkan rambutnya dengan jarinya yang lentik.

“Ingin kutanya padamu,” kata Siau-hi-ji. “Demi seorang lelaki kau rela membunuh diri, tapi sang lelaki merasa kepala pusing apabila melihatmu, masa hal ini sama sekali tak merisaukan kau?”

“Mengapa aku harus risau?” jawab So Ing. “Kutahu, meski di mulut kau bilang kepala pusing, tapi di dalam hati senang tidak kepalang. Jika sedikit pun kau tidak menaruh perhatian padaku, mengapa tadi kau loncat ke atas untuk menyelamatkan diriku?”

“Biarpun seekor anjing yang jatuh dari atas juga akan kuselamatkan,” ucap Siau-hi-ji dengan ketus.

“Kutahu kau sengaja mengucapkan kata-kata keji dan menusuk perasaan ini, kau sengaja berlagak dingin dan kejam, soalnya hatimu takut, makanya aku pun takkan marah padamu,” kata So Ing dengan tertawa.

“Apa, aku takut?” teriak Siau-hi-ji dengan mendelik. “Apa yang kutakuti?”

“Kau takut selanjutnya akan kalah pengaruh daripadaku, juga takut kelak kau akan keranjingan mencintai aku, makanya kau sengaja bersikap demikian untuk membela diri,” tutur So Ing dengan kalem. Ia tersenyum, lalu menyambung pula, “Jika orang macam Kang Giok-long itu, tentu dia takkan bersikap seperti dirimu. Betul tidak?”

Siau-hi-ji tertawa, ucapnya sambil memiringkan kepala, “Jika begitu, ingin kutanya pula padamu, mengapa aku mesti bersikap demikian, apakah sikap demikian cukup membanggakan?”

“Soalnya terlalu besar emosimu, seorang yang besar emosinya sering kali akan merugikan dirinya sendiri, makanya kau berdaya upaya sedapatnya untuk melindungi kelemahannya sendiri.”

“Hahaha, logika yang janggal begini, selama hidup ini belum pernah kudengar,” seru Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Seorang kalau mendengar orang lain membongkar isi hatinya dengan tepat, biasanya memang tidak mau mengaku dengan terus terang.”

Seketika Siau-hi-ji berjingkrak sambil berteriak, “Kentut, kentut busuk!”

“Kalau isi hati seseorang kena dibongkar orang, biasanya dia pasti akan marah,” ucap So Ing dengan tertawa. “Meski kau mencaci maki juga aku tidak menyalahkanmu.”

Untuk sekian lamanya Siau-hi-ji terbelalak memandangi si nona, gumamnya kemudian, “Oh Thian, mengapa engkau mempertemukan aku dengan perempuan begini?!”

Mendadak ia lompat ke dalam kolam, teriaknya sambil mengetuk kepala sendiri, “Celaka, tamatlah riwayatku! Seorang lelaki kalau bertemu dengan perempuan yang sok pintar begini terpaksa ia harus potong rambut dan jadi Hwesio saja.”

“Wah, jika demikian, di dunia bakal bertambah lagi seorang Hwesio sontoloyo dan seorang Nikoh (biksuni), tentu juga Nikoh sontoloyo,” ucap So Ing dengan tertawa.

Siau-hi-ji jadi melengak, tanyanya, “Nikoh sontoloyo apa maksudmu?”

“Habis, kalau kau menjadi Hwesio, terpaksa aku akan menjadi Nikoh, tentulah Nikoh sontoloyo, memangnya cuma ada Hwesio sontoloyo dan tidak ada Nikoh sontoloyo, kan tidak adil?”

Sungguh dongkol Siau-hi-ji tak terkatakan, saking gemasnya ia terus menyelam ke dalam air.

Hampir meledak perut Oh Yok-su saking gelinya menyaksikan perang mulut kedua muda-mudi itu, pikirnya, “Biasanya ucapan Siau-hi-ji selalu membikin gemas orang lain, tak tersangka hari dia ketemu batunya. Tampaknya nona So Ing ini memang pintar dan cerdik, rupanya sudah dalam perhitungannya apabila seorang perempuan ingin menaklukkan lelaki macam Siau-hi-ji, dia harus berani menggunakan cara ‘dengan racun menyerang racun’.”

Terlihat Siau-hi-ji masih membenamkan kepalanya di dalam air, rupanya dia lebih suka mati tenggelam daripada mati mendongkol oleh kata-kata So Ing.

Tapi So Ing tidak ambil pusing, ia malah tanya kepada Oh Yok-su, “Nah, sekarang tentunya kau tahu, dia menyukai aku bukan?”

Terpaksa Oh Yok-su mengiakan dengan samar-samar.

“Coba pikir, jika dia tidak suka padaku, mengapa dia membenamkan kepalanya di dalam air pencuci kakiku tanpa peduli bau busuk?” kata So Ing dengan tertawa.

Belum habis ucapannya, secepat kodok tahu-tahu Siau-hi-ji melompat keluar dari kolam.

Dalam pada itu pasang naik air kolam bertambah tinggi, kini hanya permukaan batu karang itu saja yang masih menongol dan So Ing justru duduk di tengah-tengah batu itu, kalau Siau-hi-ji tidak mau duduk di sampingnya terpaksa dia harus terjun lagi ke dalam kolam.

Dengan mengikik tawa So Ing berkata, “Duduklah baik-baik di sebelahku sini, masih ada urusan lain ingin kutanya padamu.”

Terpaksa Siau-hi-ji duduk, ucapnya dengan melotot, “Kau ingin tanya apalagi?”

“Katanya kau ini orang pintar nomor satu di dunia, mengapa sampai tertipu oleh Kang Giok-long?” tanya So Ing dengan tertawa.

“Aku senang, aku suka tertipu olehnya, peduli apa denganmu?” jawab Siau-hi-ji mengada-ada.

“Kutahu kau pasti tak dapat ditipu olehnya, kau hanya ingin menggodanya saja, betul tidak?”

So Ing cukup cerdik, ia tahu Siau-hi-ji sudah cukup dibuatnya keki, kalau tidak tahu batas, dari malu anak muda itu bisa jadi gusar, jika sudah begini, maka urusan bisa runyam. Sebab itulah cepat ia ganti haluan, ucapan yang terakhir itu berubah menjadi lembut.

Lelaki memang tidak terlalu suka kepada anak perempuan yang terlampau lembut dan terlalu penurut, terkadang lelaki juga memerlukan selingan, suka dibikin keki oleh anak perempuan. Cuma sayang, kebanyakan anak perempuan di dunia ini tidak tahu membedakan waktu yang tepat, tidak tahu bilamana dapat menggoda dan membuat keki lelaki dan bilamana harus berhenti, jika setiap anak perempuan di dunia ini sama pintarnya seperti So Ing, maka tidak perlu diragukan lagi pasti sudah lama kaum lelaki menjadi budak kaum perempuan.

Maka Siau-hi-ji balas menjengek, “Hm, kau tidak perlu menjilat pantatku. Sekali ini aku memang tertipu olehnya. Ya, kan bukan apa-apa bila seorang terkadang juga tertipu sekali dua kali.”

So Ing tahu rasa keki anak muda itu sudah buyar, tapi akan lebih baik kalau sekarang jangan lagi diganggu. Dengan suara lembut ia lantas berkata, “Ya, sudah tentu bukan apa-apa. Aku cuma rada heran, orang macam Kang Giok-long itu mengapa bisa membikin Siau-hi-ji kita tertipu?” Tanpa menunggu jawaban si anak muda segera ia berpaling kepada Oh Yok-su dan bertanya, “Kejadiannya tentu kau lihat juga, coba kau saja bercerita.”

Oh Yok-su berdehem satu-dua kali, lalu bertutur, “Peristiwa ini harus dimulai dari Hoa Bu-koat, dia…”

Ketika bercerita sampai urusan “Li-ji-hong”, yaitu jamur racun yang dimakan Siau-hi-ji, seketika So Ing menyelutuk, “He, apakah benar-benar dia telah makan Li-ji-hong itu?”

“Benar-benar telah dimakannya,” tutur Oh Yok-su. “Justru lantaran jamur beracun yang dimakannya itulah maka dia mengira Kang Giok-long pasti takkan mencelakai dia lagi sehingga dia lena dan kena didorong masuk ke sumur ini.”

“Kiranya lantaran ingin menolong Hoa Bu-koat, maka dia menjadi begini. Demi menolong kawan dia rela mengorbankan dirinya sendiri, keluhuran budi ini sungguh hebat…” sekonyong-konyong tubuh So Ing menggigil, ucapnya pula dengan parau, “Tapi apakah tak terpikir olehmu bahwa mungkin Hoa Bu-koat sudah pergi dan Kang Giok-long sengaja berdusta untuk memeras kau?”

“Dengan sendirinya sudah kupikirkan,” jawab Siau-hi-ji.

“Kalau sudah kau pikir mengapa…mengapa kau makan Li-ji-hong itu? Apa tidak dapat kau tunggu lagi?” So Ing menjadi cemas sendiri sehingga kehilangan akal.

Siau-hi-ji menjadi senang melihat kegelisahan si nona, dengan tertawa ia malah berkata, “Li-ji-hong itu kelihatan sangat enak, sebab itulah aku menjadi kepingin mencicipinya. Kan tidak setiap orang mampu makan barang demikian, betul tidak? Kesempatan baik begitu mana boleh kulewatkan?”

“Tapi apakah kau tahu bilamana racun Li-ji-hong itu sudah bekerja, maka kau akan lebih suka mati daripada tersiksa?” kata So Ing dengan serak.

“Selama ini hidupku selalu menyenangkan, kalau ada orang yang bisa membikin aku menderita, kan boleh juga?” ucap Siau-hi-ji dengan tenang.

Mata So Ing melotot, teriaknya, “Kau sendiri tidak cemas sama sekali?”

“Kalau kau sudah cemas begitu, untuk apa pula aku sendiri harus cemas?”

So Ing melenggong sejenak, ucapnya kemudian dengan gegetun, “Apabila orang mengira kau akan tertipu, kau justru tidak tertipu. Bilamana orang yakin kau takkan tertipu, tapi kau malah tertipu. Sungguh terkadang aku pun bingung, sukar untuk menerka bagaimana jalan pikiranmu yang sebenarnya.”

“Jalan pikiranku ialah supaya orang lain tak dapat menebaknya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jika apa yang hendak kukerjakan sudah dapat kau duga, lalu apa artinya lagi? Kan hidup ini tiada bedanya seperti mati?”

“Betul, bila kau mati, pasti banyak orang akan terkejut. Cuma sayang, waktu itu kau sendiri pun tidak mengetahuinya,” So Ing berseloroh.

“Belum tentu,” ujar Siau-hi-ji sambil menyengir, “Bisa jadi waktu itu aku akan mengintip dari dalam peti mati.”

*****

Waktu So Ing terjun ke dalam sumur, saat itu juga Thi Peng-koh jatuh pingsan. Selama beberapa hari terakhir ini dia benar-benar sangat menderita, jiwa raganya benar-benar tersiksa dan tidak tahan lagi mengalami pukulan apa pun.

Dalam keadaan sadar tak sadar ia seperti mendengar suara percakapan orang di dalam gua itu, tapi ia tak berani memastikannya, kini ia telah kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.

Semakin dingin angin pegunungan meniup tiada hentinya, sampai akhirnya angin yang mengusap tubuhnya itu serasa sayatan pisau, kulitnya yang halus itu seolah-olah merekah tertiup angin.

Tiba-tiba teringat olehnya dongeng yang pernah didengarnya waktu kecil, konon ada seorang gadis suci, lantaran tidak sudi dinodai atau diperkosa orang jahat, maka dengan nekat membunuh diri dengan cara menggigit putus pangkal lidahnya sendiri.

Sudah lama juga Thi Peng-koh ingin mati, cuma dalam keadaan demikian ingin mati pun tidak bisa. Kini tiba-tiba teringat ada cara mati semudah itu, seketika dia bersemangat dan ingin mencobanya.

Mati adalah jalan terakhir bagi orang yang putus asa, namun betapa pun juga jiwa seseorang tidaklah mudah dibuang begitu saja. Pada waktu keinginan matinya tidak terkabul, tekadnya lantas goyah. Maklum, seseorang yang mendekati ajalnya tentu akan teringat pada kejadian-kejadian di masa lampau yang biasanya tidak berani dipikirkannya.

Teringat olehnya waktu berada di Ih-hoa-kiong, pada masa hidupnya yang hampa dan kesepian itu, akan tetapi kini… Meski ia berharap melewatkan sehari saja kehidupan seperti itu pun sukar terkabul lagi.

Terkenang pula olehnya ketika bersembunyi dua hari di dalam gua bersama Siau-hi-ji.

Kedua hari itu boleh dikatakan paling susah selama hidupnya, di dalam gua yang gelap gulita, tidak makan dan tidak minum, bahkan tiada harapan lagi untuk bisa keluar. Setiap saat, setiap detik selalu diintip maut.

Tapi meski jasmaninya mengalami siksa derita yang tak terperikan waktu itu, namun jiwanya terasa segar dan gembira, asalkan Siau-hi-ji memegang tangannya, maka segala penderitaan lantas berubah menjadi manisnya madu.

Sudah barang tentu, ia pun terkenang kepada Kang Giok-long.

Biarpun jahat dan menggemaskan, tapi Kang Giok-long juga ada saat-saat yang menyenangkan. Yang lebih-lebih sukar dilupakan adalah kemahirannya merayu, kata-katanya yang memikat, belaian dan rabaannya yang menggetarkan sukma…

Adanya suka dan duka sebanyak itu menggeluti relung hatinya, tentulah tidak mudah baginya untuk mati.

Wajah Thi Peng-koh penuh bekas air mata dan tak dapat kering meski ditiup angin pegunungan sekian lama.

Dari jauh ia memandangi gua yang diterjuni So Ing itu, gumamnya dengan perasaan sedih, “Mengapa dia dapat mati dengan begitu mudah dan aku tidak? Mengapa aku tidak mempunyai tekad sekeras itu? Bukankah dia jauh lebih beralasan untuk hidup terus daripadaku?”

Perlahan-lahan Thi Peng-koh menjulurkan lidahnya, sekuatnya ia menggigit.

Namun antara mati dan hidup sesungguhnya tidak begitu sederhana sebagaimana yang dibayangkannya.

Ada setengah orang yang tidak ingin mati, tapi mendadak mati dengan mudah. Tapi ada sementara orang yang benar-benar ingin mati, terkadang malah tetap hidup secara aneh.

Meski di dunia ini setiap hari tidak sedikit orang yang mati, tapi yang mati itu sendiri kebanyakan justru tidak ingin mati, orang lain pun tidak menghendaki kematiannya. Sebaliknya orang yang ingin mati dan pantas mati justru tidak mati malah.

Ini benar-benar sesuatu yang ajaib, sesuatu yang sukar dijelaskan dan juga sesuatu yang menyedihkan.

Thi Peng-koh juga tidak mati meski dia ingin mati. Dia cuma pingsan saja. Waktu dia siuman kembali, pandangan pertama lantas dilihatnya topeng perunggu hijau yang menakutkan itu.

Tong-siansing alias Kiau-goat Kiongcu juga sedang menatapnya dengan tajam, sorot matanya yang dingin itu sungguh lebih menakutkan daripada topengnya yang beringas itu. Tapi yang lebih menakutkan lagi adalah ucapannya.

“Lakimu itu sudah pergi?” demikian Kiau-goat Kiongcu bertanya.

Peng-koh mengiakan sambil menunduk.

“Tadi dia tidak menolong kau?” kata Kiau-goat Kiongcu pula.

Ucapan ini sungguh seperti anak panah yang menembus jantung hati Thi Peng-koh. Meski selamanya ia tidak ingin mengungkit lagi kejadian ini, tapi ia pun tidak berani menjawabnya. Terpaksa ia menjawab dengan menahan air mata, “Dia…dia tidak berani menolong aku.”

“Hm, kalau dia berani melarikan diri, mengapa dia tidak berani menolongmu?”

Akhirnya air mata Thi Peng-koh bercucuran.

“Tidak perlu kau menangis,” kata Kiau-goat Kiongcu, “Ini adalah hasil perbuatanmu sendiri. Sejak dulu-dulu seharusnya kau tahu tiada seorang lelaki pun berhati baik, mengapa kau mau tertipu olehnya?”

Mendadak Thi Peng-koh menjawab dengan suara keras, “Tidak semua lelaki berhati busuk, ada di antaranya meski aneh tindak tanduknya, tapi hatinya sebenarnya sangat baik dan bijaksana.”

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Kiau-goat.

“Kang Siau-hi,” jawab Peng-koh.

Sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang dingin itu mendadak merah membara, bentaknya dengan bengis, “Memangnya yang kau sukai bukan Kang Giok-long melainkan Kang Siau-hi?”

“Kalau aku tidak menyukai dia, masa aku selamatkan dia dari sana tanpa menghiraukan akibatnya?”

“Plak”, kontan Kiau-goat Kiongcu menampar muka Thi Peng-koh, bentaknya dengan parau, “Kau tahu orang she Kang tiada satu pun yang baik, lebih-lebih Kang Siau-hi, dia sama seperti ayah-bundanya yang sudah mampus itu.”

“Aku cuma tahu dia baik hati, bajik menyenangkan…”

“Berani kau singgung dia lagi satu kata, segera kubinasakan kau!” bentak Kiau-goat dengan gusar.

“Engkau boleh menyumbat mulutku agar tidak bisa bicara, tapi engkau tak dapat melarang aku memikirkan dia. Kini dia sudah mati, jika kau bunuh aku malah kebetulan bagiku, aku dapat menemuinya dengan segera di alam baka, hal ini pun tidak dapat kau cegah.”

Mendadak tubuh Kiau-goat Kiongcu bergetar. Rupanya dia teringat pada kejadian 20 tahun yang lalu, waktu Kang Hong dan Hoa Goat-loh menghadapi ajalnya. Apa yang diucapkan Hoa Goat-loh sebelum mati itu pun persis seperti apa yang dikatakan Thi Peng-koh sekarang.

Sudah tentu ia tidak tahu apa yang diucapkan Thi Peng-koh tidak lebih cuma ingin membikin marah padanya. Dengan sendirinya Thi Peng-koh tahu akan apa hukuman Ih-hoa-kiong bagi muridnya yang khianat, sejak larinya Hoa Goat-loh, yaitu ibu kandung Siau-hi-ji, hati Kiau-goat Kiongcu sudah berubah jauh lebih kejam dan ganas daripada siapa pun juga.

Yang diharapkan Thi Peng-koh hanyalah lekas mati saja, ia tidak gentar menerima akibatnya.

Yang lebih membuat murka Kiau-goat Kiongcu adalah Siau-hi-ji, anak muda itu ternyata sudah mati di tangan orang lain, jadi jerih payahnya selama belasan tahun ini hanya sia-sia belaka.

Meski sudah hampir 20 tahun, namun dendamnya tidak menjadi tawar terhanyut oleh lalunya waktu, sebaliknya dendamnya bertambah keras, semakin merasuk.

Maklumlah, selama 20 tahun ini apa yang pernah diucapkan Hoa Goat-loh serta sikap Kang Hong sebelum ajal masih tetap terang benderang laksana kobaran api yang senantiasa membakar sanubarinya.

Tekanan batin ini sungguh hampir membuatnya gila, tapi sedapatnya ia bertahan, ia tahu pada suatu hari kelak, kedua putra kembar Kang Hong itu pasti akan mengalami nasib tragis yang telah direkayasanya.

Entah sudah berapa kali dia mengkhayalkan adegan Hoa Bu-koat akan membunuh Siau-hi-ji, hanya bila dia membayangkan kejadian ini barulah jiwanya yang menderita itu rada berkurang.

Akan tetapi sekarang Siau-hi-ji telah mati di tangan orang lain, impian dan khayalan selama 20 tahun ini telah buyar dalam sekejap saja, pukulan ini sungguh berat dan tidak dapat ditahan oleh siapa pun juga. Seketika Kiau-goat Kiongcu merasa lemas lunglai dan hampir-hampir ambruk.

Meski Thi Peng-koh tidak dapat melihat perubahan perasaan Kiau-goat Kiongcu, tapi selama ini tak pernah dilihatnya sorot mata sang junjungan ini bisa berubah begini menakutkan.

Dilihatnya Kiau-goat Kiongcu bersandar di pohon dengan lemas, selang sejenak, matanya tampak berkaca-kaca, itulah air mata putus asa. Sungguh sukar dipercaya, Ih-hoa-kiongcu yang tiada bandingannya di dunia ini bisa mencucurkan air mata. Apakah sebabnya? Mimpi pun Thi Peng-koh tak pernah membayangkannya.

Lewat sejenak pula, dengan perlahan Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Apakah benar Siau-hi-ji sudah mati?”

Thi Peng-koh mengangguk dan berkata, “Dia sudah mati, sungguh tak terduga engkau pun berduka baginya.”

“Ya, aku sangat berduka,” kata Kiau-goat Kiongcu. “Padahal, sekalipun semua orang di dunia ini mampus seluruhnya juga aku takkan berduka. Sekarang apa pun juga aku pasti akan menuntut batas baginya.”

Sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang tajam itu tiba-tiba menatap Thi Peng-koh, tanpa terasa Peng-koh merinding, katanya, “Tapi…tapi orang yang membunuhnya itu bukanlah aku.”

“Betul, bukan kau yang membunuhnya. Tapi kalau kau tidak membawanya lari, mana bisa dia terbunuh di tangan orang lain?”

“Ya, aku mengaku salah, boleh kau bunuh saja diriku,” ucap Peng-koh dengan parau.

“Bunuh kau? Bisa kubunuh kau begini saja?”

“Memangnya apa…apa pula kehendakmu!” tanya Peng-koh dengan gemetar.

Dengan sekata demi sekata Kiau-goat berucap, “Aku menghendaki kau pun menderita selama 20 tahun. Selanjutnya, setiap hari kusayat dagingmu sepotong demi sepotong, sekarang juga akan kucungkil dulu biji matamu agar kau tidak dapat melihat apa pun, lalu kupotong lidahmu, supaya kau tak dapat bicara lagi.”

Thi Peng-koh tahu apa yang dikatakan Kiau-goat Kiongcu ini bukan cuma gertakan belaka, jika Ih-hoa-kiongcu sudah menyatakan akan membikin seseorang menderita 20 tahun, maka satu hari pun tak dapat ditawar.

Mendadak pada saat itu juga, seluruh lembah pegunungan ini berkumandang suara gelak tertawa orang. Lalu seorang berseru, “Hahahaha! Tak tersangka sedemikian hebat kepandaian Siau-hi-ji. Sesudah mati dia masih membuat Ih-hoa-kiongcu berduka cita baginya.”

Suara tertawa itu menggema dari berbagai penjuru, sampai-sampai Kiau-goat Kiongcu tidak dapat membedakan dari arah mana datangnya suara itu. Tapi dia lantas menenangkan diri, bentaknya, “Siapa itu berani sembarangan mengoceh di sini?” Meski tidak keras suaranya, tapi Lwekangnya sangat tinggi, ucapannya itu seketika berkumandang jauh dan terdengar dengan jelas.

Tapi orang itu masih tergelak-gelak, katanya, “Hahaha, masa suaraku tidak kau kenal lagi? Apakah kau sudah lupa waktu aku berak kan pernah kau tunggu di luar kakus, masa kau telah melupakan bau sedap itu?”

Bergetar tubuh Kiau-goat Kiongcu, serunya, “Siau-hi-ji? Jadi kau Siau-hi-ji? Kau tidak mati?”

“Orang macan diriku ini masa bisa mati begitu saja?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kata-kata ini membuat Thi Peng-koh terkejut dan juga kegirangan, walaupun begitu toh kejutnya tidak sehebat Kiau-goat Kiongcu, saking terharunya sampai dia tidak bersuara. Sesudah menarik napas panjang-panjang beberapa kali, akhirnya ia tanya dengan suara parau, “Kau berada di mana?”

“Tepat berada di depanmu, apakah kau tidak melihatku?”

Sorot mata Kiau-goat mengerling, serunya pula, “Apakah kau berada di perut bukit ini?”

“Betul,” jawab Siau-hi-ji, setelah terbahak-bahak ia menyambung pula, “Baru sekarang kutahu Tong-siansing yang serba misterius itu kiranya ialah Ih-hoa-kiongcu, di seluruh dunia ini mungkin tiada orang lain yang lebih beruntung daripadaku.”

Kembali Kiau-goat dibuat gemas tak terkatakan sehingga tubuhnya gemetar pula.

“Sekarang janjiku dengan Hoa Bu-koat sudah tiba waktunya,” demikian Siau-hi-ji berseru pula. “Nah, tentunya kau tidak menghendaki aku mati begini saja bukan?”

“Ya, apa kehendakmu, coba katakan?” tanya Kiau-goat Kiongcu.

“Yang jelas, nona Thi itu…”

“Baik, akan kulepaskan dia, takkan kuganggu seujung rambutnya pun,” kata Kiau-goat dengan mendongkol.

“Tapi meski telah kau bebaskan dia, setiap waktu kau masih dapat mencabut nyawanya?”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Kiau-goat.

“Bila kau membunuhnya setelah aku mati, tentunya aku pun tak berdaya, tapi selama aku masih hidup, aku masih ingin melihat dia hidup senang dan bahagia.”

“Sesungguhnya apa keinginanmu?”

“Gua ini meski sangat dalam, tapi di bawah sini penuh air, siapa pun kalau terjun ke sini pasti takkan mati terbanting.”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, segera Kiau-goat mengangkat Thi Peng-koh terus dilemparkan ke sana.

Dia hanya melempar seenaknya, seketika tubuh Peng-koh terus terlempar belasan tombak jauhnya. Anehnya, dengan tepat dan persis terlempar masuk ke lubang gua itu, tampaknya seperti anak kecil main lempar keranjang saja.

Selang sejenak, terdengar suara “plung” yang keras, suara benda berat tercebur ke dalam air.

Lalu Siau-hi-ji bergelak dan berseru pula, “Bagus, bagus, tak tersangka Ih-hoa-kiongcu yang malang melintang ditakuti orang ternyata juga seorang tolol. Setelah kau serahkan dia padaku, bukankah aku tidak perlu lagi tunduk pada kehendakmu?”

Gemas dan gusar Kiau-goat Kiongcu, saking geregetan jadi tak dapat bersuara.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menyambung pula, “Tapi kau pun jangan khawatir, hidupku ini terasa sangat senang, aku tidak ingin mati, pasti akan kuberi kesempatan padamu untuk menolong aku keluar dari sini.”

Sungguh dunia terbalik, sungguh lagaknya seperti memberi pahala kepada orang lain. Di dunia ini mungkin tiada kedua lagi yang serupa dia dan mungkin juga takkan terjadi peristiwa kedua seperti ini.

Dengan menahan rasa gusar terpaksa Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Apakah sekarang kau belum mau keluar?”

“Sekarang Hoa Bu-koat juga tidak berada di sini, andaikan aku keluar, lalu apa gunanya? Bila melihat aku kau lantas marah, aku pun kikuk jika melihatmu. Nah, kan lebih baik tetap kutinggal di sini saja.”

“Tapi janji tiga bulan kini sudah tiba waktunya,” kata Kiau-goat.

“Benar waktunya sudah tiba menurut perjanjian, maka lekas kau pergi mencari Hoa Bu-koat dan mengajaknya ke sini, akan kutunggu di sini?”

“Kau…kau benar-benar menunggu di sini?”

“Gua ini mirip sebuah guci arak raksasa, sekalipun kau yang jatuh ke sini juga jangan harap bisa keluar lagi. Masa kau khawatir aku melarikan diri?” Siau-hi-ji bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Apalagi, biarpun kau sangsi juga tak berdaya. Saat ini akulah yang kuasa dan menentukan persoalannya, jika aku tak mau keluar, sekali pun muncul sepuluh orang Ih-hoa-kiongcu juga tak mampu mengusik diriku?”

Secara akal sehat, seorang kalau sudah terjatuh ke gua sumur yang dalamnya tak terkira dan tak dapat lari keluar, maka nasibnya boleh dikatakan konyol, sial habis-habisan.

Siapa tahu hal apa pun yang konyol bila sudah berada di tangan Siau-hi-ji, maka kekonyolan itu akan segera berubah, bukan saja dia tidak merasa konyol, sebaliknya kejadian ini malah dapat diperalatnya untuk memeras Ih-hoa-kiongcu.

Dalam keadaan demikian, Ih-hoa-kiongcu benar-benar tak berdaya, mati kutu. Selang sejenak barulah dia bertanya, “Apakah Hoa Bu-koat juga berada di sekitar sini?”

“Betul, dia juga berada di sekitar sini,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa, “Cuma di pegunungan ini banyak sekali liang tikusnya, dalam waktu singkat kukira kau tak dapat menemukan dia. Jika waktu pencarianmu terlalu lama, bisa jadi aku akan mati kelaparan di sini. Sebab itulah, paling baik kalau kau berusaha dulu membawakan makanan bagiku. Selera perutku kan sudah kau kenal, bukan?”

“Ya, kutahu,” kata Kiau-goat Kiongcu. Saking geregetan, “krak”, mendadak tangannya menabas ke samping, kontan sebatang pohon menjadi sasaran pelampiasan dongkolnya.

Sementara itu pasang naik air dalam gua semakin tinggi, permukaan batu karang yang menongol di atas air tinggal sebesar meja bundar saja. Siau-hi-ji, Oh Yok-su, So Ing dan Thi Peng-koh sama berjubel di atas batu.

Thi Peng-koh basah kuyup dan menggigil kedinginan. Sedapatnya dia ingin membungkus tubuhnya yang bugil itu dengan baju panjang yang basah itu, tapi baju bekas milik Oh Yok-su yang tipis itu kini telah basah dan lengket di kulit, jadinya seperti tembus pandang saja.

Meski dia tidak ingin duduk di sebelah Oh Yok-su, tapi So Ing seperti tidak sengaja memisahkan dia dari Siau-hi-ji, terpaksa dia mengkeretkan tubuhnya seringkas-ringkasnya.

Untung sejauh itu Oh Yok-su tetap duduk bersimpuh dengan sopan tanpa sembarangan bergerak. Akan tetapi, tidak lama kemudian, terdengarlah jantung Oh Yok-su mulai berdetak-detak keras.

Jika jantung seseorang tidak berdetak keras mana kala di sebelahnya duduk seorang gadis cantik lagi menggiurkan, maka dia pasti bukan lelaki atau orang yang mempunyai penyakit tertentu.

Setelah pohon di luar sana ditebas roboh oleh pukulan Kiau-goat Kiongcu, tawa Siau-hi-ji bertambah riang. Tapi kecuali dia, orang lain sama tertekan perasaannya dan tiada yang dapat tertawa.

Jantung Oh Yok-su berdebar semakin keras, Thi Peng-koh semakin menunduk dengan menggigit bibir. Tiba-tiba ia melihat paha sendiri menongol di luar baju yang basah itu. Kulitnya yang putih mulus itu masih ada butiran air serupa embun di atas bunga teratai putih.

Biji mata Oh Yok-su tampak melotot seakan-akan melompat keluar dari rongga matanya. Tentu saja Thi Peng-koh tambah risi, tidak cuma mukanya saja merah, sampai telinganya pun terasa panas. Sungguh ia ingin menceburkan Oh Yok-su ke kolam saking dongkolnya. Ia berusaha menarik ujung baju untuk menutupi paha yang kelihatan itu. Tapi ditarik sini, di sana menongol lagi.

So Ing mengikik geli, katanya kemudian, “Bagaimana kalau lelaki berdiri saja?”

Tanpa tawar Oh Yok-su terus berbangkit. Tapi entah sebab apa, dia tidak berani berdiri tegak, dengan setengah berjongkok ia berlagak garuk-garuk kakinya.

So Ing meraba tangan Thi Peng-koh, katanya dengan tersenyum, “Semua lelaki bermata keranjang. Asalkan kau anggap mereka orang mampus saja kan beres.”

Peng-koh menunduk, jawabnya, “Terima kasih…” tiba-tiba ia angkat kepala dan berkata pula, “Apa yang kukatakan di luar tadi seluruhnya cuma karangan belaka, jangan…jangan engkau pikirkan.”

“Apa sih yang kau katakan tadi?” tanya So Ing.

Setelah melirik Siau-hi-ji sekejap baru Peng-koh menjawab dengan tergegap, “Kubilang kepada Kiongcu bahwa aku…aku menyukai dia, padahal maksudnya hanya untuk membikin marah Kiongcu saja, yang benar…”

“Sudahlah, tidak perlu lagi penjelasanmu,” ujar So Ing dengan tertawa. “Aku kan bukan botol cuka. Apalagi, orang yang menyukai Siau-hi-ji juga tidak cuma kau saja, seumpama kau memang menyukai dia juga bukan soal, malahan aku merasa bangga.”

Meski di mulut ia bilang “bukan soal”, tapi rasa kecut ucapannya itu dapat tercium oleh siapa pun juga.

Siau-hi-ji berkedip-kedip dan tertawa, katanya, “Kau suka padaku, kan aku juga tidak buruk padamu. Coba, kalau bukan lantaran dirimu, sedikit banyak sekarang aku pasti dapat mengorek rahasianya Ih-hoa-kiongcu.”

Muka Thi Peng-koh menjadi merah, ia menunduk lagi.

So Ing merasa tidak tega, ia coba menyimpangkan pembicaraan, “Ih-hoa-kiongcu ada rahasia apa?”

“Kuingin tahu sesungguhnya ada dendam apa antara dia dengan keluarga kami,” tutur Siau-hi-ji. “Bahwa dia sedemikian benci pada orang she Kang, tapi mengapa dia tidak mau turun tangan sendiri, malahan ia sengaja menyamar sebagai Tong-siansing segala dan menyuruh Hoa Bu-koat membunuh diriku. Bukan saja dia sengaja mengelabui aku, bahkan juga main sembunyi-sembunyi terhadap muridnya sendiri. Sampai saat ini mungkin sama sekali Hoa Bu-koat belum lagi mengetahui Tong-siansing adalah samaran gurunya.”

So Ing berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Ya, persoalan ini memang sangat aneh, bahkan tidak masuk akal.”

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya, “Sebab musabab persoalan ini hanya diketahui Ih-hoa-kiongcu kakak beradik saja. Tampaknya, selama aku masih hidup, mereka tidak mau menjelaskannya.”

“Sebab itulah, bila tadi kau tidak bersuara sehingga dia mengira kau benar-benar sudah mati, maka bukan mustahil dia akan memecahkan rahasia ini, begitu maksudmu?”

“Betul, tapi bagaimana aku sampai hati membiarkan dia mencolok biji mata nona Thi?” ucap Siau-hi-ji.

“Nona Thi,” kata So Ing dengan tertawa, “Jangan kau percaya pada ocehannya, ucapannya ini hanya sengaja membikin marah Ih-hoa-kiongcu. Padahal kutahu dalam hatimu cuma ada Kang Giok-long dan dalam hatinya juga…”

Dia sengaja melirik Siau-hi-ji sekejap, habis itu lantas berhenti berucap.

“Hahaha, memangnya di dalam hatiku cuma ada kau? Wah aku bisa mati dongkol oleh ucapanmu ini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika kau sangat marah, mengapa tertawamu begini riang. Semula kukira kau benar-benar tertipu oleh Kang Giok-long, baru sekarang kutahu kau sengaja ditipu olehnya.”

“Aku sengaja ditipu olehnya?” Siau-hi-ji menegas dengan berkedip-kedip. “Memangnya kenapa aku sengaja membiarkan diriku ditipu orang?”

“Bisa jadi, kau ingin Ih-hoa-kiongcu mengira kau telah mati, maka sengaja membiarkan dirimu didorong masuk ke sini oleh Kang Giok-long. Mungkin pula sebelumnya kau tahu di dalam gua ini ada airnya dan takkan mati terbanting.”

“Dari mana kutahu di dalam gua ini ada airnya?”

“Waktu itu matahari belum terbenam, bisa jadi cahaya matahari telah menyorot masuk ke sini dan memantulkan bayangan air kolam.”

“Seumpama betul demikian kan aku harus tahu berapa dalamnya sumur ini, sekali jatuh ke sini tak bisa keluar lagi.”

“Dengan sendirinya kau punya akal, malahan cukup banyak jalannya, tidak cuma satu saja.”

“Haha, tidakkah teramat tinggi kau menilai kepintaranku?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau memang tidak bodoh,” kata So Ing.

Mendengar sampai di sini, agaknya Oh Yok-su jadi lupa pada si cantik yang berada di sampingnya, ia tanya Siau-hi-ji, “Hi-heng, apakah betul engkau sengaja membiarkan dirimu didorong ke sini oleh Kang Giok-long dan benar-benar ada akal untuk keluar?”

“Bisa jadi benar, mungkin pula tidak benar,” jawab Siau-hi-ji seakan-akan main teka-teki. “Tampaknya nona So ini seperti cacing pita di dalam perutku, kenapa tidak kau tanya dia saja. Mungkin dia lebih tahu isi hatiku daripada diriku sendiri.”

So Ing tertawa, katanya, “Di dalam gua sini dapat mendengar dengan jelas suara di luar, maka siapa-siapa yang lalu di luar sana tentu akan diketahui olehnya. Nah, dia kan tidak bisu, tentunya dia dapat berteriak minta tolong.”

Oh Yok-su melenggong sejenak, katanya kemudian, “Tapi…tapi waktu itu dia juga belum tahu kalau gua ini bisa mengumandangkan suara.”

“Mungkin kau tidak tahu bahwa dia dibesarkan di lembah pegunungan, tentu situasi pegunungan dipahaminya dengan baik,” tutur So Ing.

“O, jika demikian, rupanya pengetahuan Cayhe yang terlalu cetek,” kata Oh Yok-su gegetun.

“Namun cara ini pun ada kelemahannya,” kata So Ing pula.

“Kelemahannya apa?” tanya Oh Yok-su.

“Lembah pegunungan ini sangat terpencil, apabila tiada orang lalu di sini, bukankah dia akan mati terkurung di sini? Apalagi kalau kebetulan ada orang lewat di sini, tapi bukan kawannya melainkan musuhnya, lalu apakah dia berani berteriak minta tolong?” setelah tertawa, lalu So Ing menyambung pula, “Kau tahu, musuhnya kan jauh lebih banyak daripada kawannya?”

“Betul juga, bila orang yang lalu di sini semuanya ialah musuhnya, lalu bagaimana?” Oh Yok-su mengulang pertanyaan ini sambil garuk-garuk kepala.

“Makanya dia masih ada jalan kedua,” tukas So Ing.

“Jalan kedua?” Oh Yok-su menegas dengan terbelalak. “Jalan pertama saja sukar dipecahkan, jika ada jalan kedua yang dapat ditempuhnya, sungguh Cayhe tak percaya.”

“Coba jawab dulu, mengapa di perut gunung ini ada air?” tanya So Ing.

Oh Yok-su terdiam dan berpikir sambil berkerut kening, jawabnya kemudian dengan ragu-ragu, “Bisa jadi…bisa jadi lantaran air hujan merembes masuk ke sini.”

“Gua ini geronggang sebesar ini, sedangkan lubang gua di atas begitu kecil, andaikan air dapat masuk ke sini juga takkan tertimbun sebanyak ini, betul tidak?”

Oh Yok-su membenarkan sambil mengangguk.

“Apalagi, air di sini jelas pasang naik terus, setelah bertahun-tahun bukankah gua ini akan tergenang seluruhnya?”

“Betul, jika air pasang naik begini terus-menerus, tidak sampai sebulan juga gua ini akan terbenam,” seru Oh Yok-su, “Tapi sekarang…”

“Sekarang air pasang ini belum ada sepesepuluhnya tinggi gua ini, apa sebabnya?” sela So Ing.

“Mungkin…mungkin sebelumnya di sini tidak ada air, baru dua-tiga hari ini keluar airnya.”

“Jika semula di sini tidak ada air, mengapa batu kuning ini sedemikian bersih, masa tanpa kena air bisa berlumut?”

“Betul juga,” ucap Oh Yok-su dengan tertawa. “Jika di atas ada lubang gua, dengan sendirinya ada debu pasir yang tertiup masuk ke sini, setelah bertahun-tahun, seharusnya di sini penuh tertimbun debu kotoran.”

“Nah, kan sederhana jadinya persoalan ini,” ujar So Ing. “Sebenarnya air di sini masih terus pasang naik, tapi tidak lama kemudian akan surut pula, jadi air pasang kadang naik dan kadang surut, dengan sendirinya debu kotoran yang tertimbun di sini akan tercuci bersih.”

“Tapi…tapi air di dalam gua ini mengapa bisa pasang naik dan surut? Dari mana datangnya pula air ini” ucap Oh Yok-su.

“Jangan kau lupa, pegunungan ini terletak di muara Tiangkang (sungai Panjang atau Yangzekiang), air di gua ini tentunya juga air sungai. Lantaran air Tiangkang setiap hari pasang naik turun pada waktu tertentu, maka waktu pasang naik air di sini juga ikut naik, waktu pasang turun, air di sini juga lantas surut.”

Oh Yok-su termenung dengan mata melotot, ucapnya kemudian sambil menyengir, “Memang betul, teori ini sekarang pun dapat kupahami.”

“Jika kau dapat memahami persoalan ini, tentunya kau pun dapat memahami persoalan kedua,” kata So Ing.

“Wah, Cayhe…mana…” Oh Yok-su jadi ragu-ragu.

“Kalau air sungai dapat mengalir ke sini, maka di tempat ini pasti ada jalan keluar yang menembus ke Tiangkang, asalkan nanti air menyurut, tentu jalan keluar itu akan dapat ditemukan…” So Ing tersenyum, lalu menyambung pula, “Teori ini pun sangat sederhana, seharusnya kau pun dapat memikirkannya, betul tidak?”

Oh Yok-su termangu-mangu sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya Cayhe bukan orang bodoh, tapi kalau dibandingkan kalian berdua, Cayhe menjadi tolol mendadak.”

So Ing tersenyum, lalu ia berpaling ke arah Siau-hi ji dan bertanya, “Nah, betul tidak apa yang kukatakan?”

“Hm, jangan sok pintar,” jengek Siau-hi-ji, “Perempuan yang benar-benar pintar tentu tahu bahwa apa yang diketahuinya betapa pun tetap kalah sedikit daripada lelaki. Nah, penyakitmu justru terlalu banyak pengetahuan, terhadap perempuan yang terlalu pintar begini, kebanyakan lelaki tidak berani mendekatinya.”

“Tapi kau pun bukan lelaki kebanyakan, orang seperti kau ini hanya ada satu di dunia…” jawab So Ing. “Apalagi, jelas kau pun paham benar apa yang kukatakan tadi, bahkan apa yang kupahami tidak lebih banyak daripadamu.”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, setelah tertawa, ia menghela napas, katanya, “Wah, naga-naganya, lambat atau cepat, pada suatu hari pasti aku akan terpikat oleh budak ini.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari atas jatuh pula sesuatu barang. Oh Yok-su dan Thi Peng-koh sama terkejut, tapi Siau-hi-ji lantas berseru dengan tertawa, “Haha, Ih-hoa-kiongcu ternyata sangat penurut, dia telah mengantarkan makan malam bagi kita.”

Memang betul, barang yang jatuh dari atas itu adalah makanan yang diminta Siau-hi-ji tadi.

Antaran Ih-hoa-kiongcu ini tidak sedikit, satu pak besar. Tanpa sungkan-sungkan lagi mereka lantas makan sekenyangnya.

Sambil makan Siau-hi-ji juga memperhatikan air kolam yang mulai menyurut. Belum lagi air itu habis menyurut, segera Oh Yok-su melompat ke bawah untuk mencari jalan keluarnya. Sebaliknya Siau-hi-ji terus merebahkan diri di atas batu, ia benar-benar tidur dengan nyenyaknya.

Oh Yok-su telah menyalakan geretan api, cahaya yang berkelip-kelip menyinari wajah Siau-hi-ji, anak muda ini pulas seperti anak kecil.

Perlahan So Ing membelai rambut Siau-hi-ji yang hitam gilap itu, ucapnya dengan rawan, “Dia benar-benar teramat lelah, selama beberapa hari ini memang banyak sekali pengalaman pahit yang dirasakannya.” Dia berpaling dan tersenyum kepada Thi Peng-koh, katanya, “Jika orang lain yang mengalami pukulan berat ini, andaikan tidak patah semangat dan putus asa, sedikitnya juga akan berkeluh-kesah, tapi coba kau lihat, dia sama sekali tidak peduli dan dapat tidur dengan nyenyaknya. Lelaki demikian, apakah salah kalau aku menyukainya?”

Peng-koh tersenyum, air matanya hampir menetes saking terharunya. So Ing berbangga demi lelaki yang dicintainya, akan tetapi bagaimana dengan dirinya? Apa yang diterimanya dari Kang Giok-long hanya hina dan dusta serta kemalangan belaka.

Apakah ini salahnya? Mengapa harus terjadi demikian? Dunia ini mengapa tidak adil?

Peng-koh berpaling ke sana, ia tidak ingin orang lain melihat air matanya, ia berusaha tertawa dan menjawab, “Ya, dia sangat baik, engkau juga baik, kalian adalah pasangan yang setimpal.”

“Terima kasih…” ucap So Ing dengan senang. Selang sejenak, tiba-tiba ia tanya pula, “Kau kenal Thi Sim-lan tidak?”

“Kutahu dia juga sangat baik terhadap Siau-hi-ji, namun…”

“Namun selain Siau-hi-ji dia juga masih menyukai orang lain,” sela So Ing. “Sebaliknya bagiku, selain Siau-hi-ji aku tak dapat menyukai lagi siapa pun juga, sebab itulah tak dapat kubiarkan dia merampas Siau-hi-ji dariku, dengan cara apa pun pasti akan ku…” dia tertawa dan tidak meneruskan, tapi berganti ucapan, “Kalau dia dapat menyukai lagi lelaki lain, sepantasnya dia tidak boleh berebut Siau-hi-ji denganku, demikian barulah adil, betul tidak katamu?”

Thi Peng-koh tidak menjawabnya, tapi membatin dalam hati, “Untuk apa kau berkata demikian padaku? Memangnya kau masih khawatir Siau-hi-ji akan kurebut darimu? Seumpama aku memang menyukai dia, kini juga sudah terlambat.”

Pada saat itulah mendadak terdengar Oh Yok-su berteriak girang di bawah, “Aha, di sini, inilah jalannya, sudah kutemukan!”

Memang benar, di perut gunung ini ada sebuah lubang tembus ke sungai Tiangkang, tampaknya terowongan di bawah tanah ini berliku-liku tapi cukup untuk dilalui tubuh seorang yang tidak terlalu gemuk.

Cepat So Ing membangunkan Siau-hi-ji, serunya dengan tertawa, “Lekas bangun. Jalan keluarnya sudah ditemukan.”

Tapi Siau-hi-ji hanya menggeliat kemalas-malasan dan membalik tubuh, lalu pulas pula.

“He, he, bangunlah, kalau sudah keluar nanti boleh kau tidur sepuasmu, sekarang kita harus pergi dari sini!” So Ing menggoyang-goyang pula tubuh Siau-hi-ji.

Anak muda itu kucek-kucek matanya, katanya, “Kalian mau pergi boleh silakan, aku ingin tidur lagi di sini.”

“Kau tidak pergi?” So Ing menegas dengan melengak.

“Untuk apa pergi? Tidakkah kau dengar bahwa aku akan menunggu Hoa Bu-koat di sini?”

“Kau…benar-benar menunggu dia?”

“Sudah tentu benar. Mana boleh aku mengingkari janji? Janji ini sudah kami tetapkan tiga bulan yang lalu.”

“Tapi…tapi kalau dia datang, tentu Ih-hoa-kiongcu akan memaksa dia berkelahi denganmu.”

“Istilah berkelahi tidak tepat, pertarungan tokoh kelas tinggi seperti kami ini harus disebut ‘pi-bu’ (bertanding silat).”

“Tapi kalian kan bukan ‘pi-bu’ melainkan hendak mengadu jiwa,” ucap So Ing dengan khawatir.

Siau-hi-ji membalik tubuh pula dan menutupi matanya dengan tangan, katanya, “Terserah, jika kau berkeras mau bilang mengadu jiwa juga masa bodoh. Selamanya aku tidak suka ribut mulut dengan perempuan.”

So Ing menarik balik lagi tubuh anak muda itu dan berseru dengan mendongkol, “Tapi kau…kau bukan tandingannya, kutahu betapa saktinya Ih-hoa-ciap-giok itu…”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, ucapnya dengan tak acuh, “Tapi tahukah kau bahwa di kolong langit ini hanya aku saja seorang yang tahu cara bagaimana mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong?”

“Kau…kau benar tahu?”

“Dengan sendirinya ada orang yang mengajarkan padaku,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Rahasia ilmu silat Ih-hoa-kiong memang tiada orang lain yang tahu terlebih jelas daripada dia.”

“Siapa dia?” tanya So Ing.

“Tong-siansing?” jawab Siau-hi-ji.

“Tong-siansing? Bukankah Tong-siansing sama dengan Ih-hoa-kiongcu?”

“Ehm,” sahut Siau-hi-ji.

“Mengapa Ih-hoa-kiongcu mau mengajarkan cara mematahkan ilmu silat kebanggaannya sendiri padamu? Memangnya dia sudah gila?”

Siau-hi-ji menguap ngantuk, ucapnya dengan kemalas-malasan, “Mungkin dia sudah gila, bisa jadi pula ada alasan lain. Jalan pikiran perempuan memang sukar dipahami, maka aku pun malas untuk menerkanya.”

So Ing tercengang sejenak, katanya kemudian, “Tapi seumpama kau dapat mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong tetap kau tak dapat membunuh Hoa Bu-koat, begitu bukan?”

“Dapat kubunuh dia atau tidak, apa sangkut-pautnya dengan kau?” ujar Siau-hi-ji.

“Sudah tentu ada sangkut-pautnya,” jawab So Ing. “Kau tidak membunuh dia berarti dia akan membunuhmu, jika kau tinggal di sini berarti…”

“Sudahlah, siapa di antara kalian mau pergi boleh silakan pergi, yang jelas aku tetap menunggu di sini,” Siau-hi-ji meraung sambil melompat bangun.

Sejak tadi Oh Yok-su sudah siap berdiri di tepi lorong yang menembus keluar sana, yang diharap-harapkannya adalah sekeluarnya dari gua ini akan diperoleh pula obat penawar dari Siau-hi-ji. Kini mendengar anak muda itu tidak mau keluar, bahkan marah-marah dan mengusir mereka, tentu saja ia ikut lemas dan cemas. Sambil memegangi dinding kolam dia memandang Siau-hi-ji dengan napas terengah-engah, tiba-tiba ia berseru dengan suara serak, “Wah, Cayhe…rasanya tidak…tidak tahan lagi.”

“Apamu yang tidak tahan?” tanya So Ing.

Oh Yok-su memegangi tenggorokan sendiri, katanya, “Mungkin…mungkin racun sudah mulai bekerja.”

“Kau pun keracunan?” So Ing menegas, “Racun apa yang kau minum?”

Sambil melirik Siau-hi-ji sekejap, Oh Yok-su menjawab, “Cayhe sendiri tidak tahu.”

“O, dia yang meracuni kau?” tanya So Ing.

Berulang-ulang Oh Yok-su mengangguk.

“Bagaimana rasanya racun itu?” tanya So Ing pula.

“Rada asin, lunak dan…dan rada-rada bau,” tutur Oh Yok-su dengan menyengir.

Tiba-tiba So Ing mengikik tawa, ucapnya, “Baiklah, jika kau ingin pergi, silakan pergi saja, jangan khawatir.”

“Tapi…tapi obat penawar…”

“Tidak perlu obat penawar segala, dia cuma menakut-nakuti kau saja,” kata So Ing, “Yang kau rasakan itu pasti bukan racun, barusan kau rasakan racun sudah mulai bekerja, itu hanya sugesti, kukira pikiranmu sendiri saja yang mengacau.”

“Habis apa kalau bukan racun?” tanya Oh Yok-su.

“Aku pun tidak tahu apa, bisa jadi cuma segelintir upil yang dia korek dari hidungnya,” kata So Ing dengan tertawa.

Muka Oh Yok-su menjadi merah, ia pandang Siau-hi-ji dan bertanya, “Ap…apakah betul begitu?”

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, jawabnya, “Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa budak ini adalah cacing pita dalam perutku, masa kau lupa?”

Muka Oh Yok-su sebentar merah sebentar pucat, mendadak ia membalik tubuh, seperti anjing geladak yang mendadak digebuk orang, tanpa omong lagi terus ngacir menerobos terowongan yang ditemukannya itu.

Selama hidup ini dia berharap jangan lagi bertemu dengan Siau-hi-ji, dia lebih suka kepergok seratus setan iblis daripada bertemu dengan anak muda itu.

Pandangan So Ing lantas beralih pada diri Thi Peng-koh, tanyanya, “Apa kau tidak ingin pergi?”

Peng-koh menunduk bingung karena tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Dia maklum, apabila dirinya tetap tinggal di sini, tentu So Ing akan sangsi dan mengira dia merasa berat meninggalkan Siau-hi-ji. Akan tetapi kalau pergi, lalu mesti pergi ke mana? Dunia seluas ini seolah-olah tiada tempat bernaung baginya.

“Apakah kau tidak ingin menemui Kang Giok-long?” tanya So Ing.

“Aku…aku…” sukar bagi Peng-koh untuk menjawabnya. Sebenarnya dia mengira dirinya pasti akan menjawab dengan tegas tidak mau bertemu lagi dengan pemuda tak berbudi itu, tapi entah mengapa, kata-kata itu sukar diucapkannya.

Bila teringat kepada macam-macam tindak tanduk Kang Giok-long yang menggemaskan tapi juga menyenangkan, mana bisa dia dapat putus dengan anak muda itu?

So Ing dapat meraba hatinya, dengan tersenyum ia berkata pula, “Kutahu kau pasti ingin menemuinya, sebab, seumpama kau tidak lagi menyukai dia, masa kau tidak ingin menuntut balas padanya?”

“Tapi…tapi aku tidak tahu cara bagaimana harus menuntut balas,” kata Peng-koh dengan menghela napas. Kata-kata ini mestinya tidak ingin diucapkannya, tapi entah mengapa, akhirnya tercetus juga dari mulutnya.

“Aku mempunyai akal,” kata So Ing.

“Akal apa?” tanya Peng-koh.

“Tahukah sebab apa sekarang kau merasa susah? Soalnya kau merasa dia telah meninggalkanmu, kau merasa dirimu sama sekali tidak diperhatikan olehnya, makanya hatimu remuk redam, betul tidak?”

Peng-koh menunduk sedih dan tidak menjawab, sebab apa yang dikatakan So Ing itu memang kena benar di lubuk hatinya.

“Nah, jika ingin menuntut balas,” demikian kata So Ing pula, “Maka kau harus membikin dia merasa kau sama sekali tidak memikirkan dia, jika sudah begini, kujamin dia pasti akan mengesot di bawah kakimu dan goyang-goyang ekor untuk memohon belas kasihan.”

Sampai lama sekali Peng-koh menunduk, setelah berpikir sekian lama, lambat laun matanya mulai bersinar.

“Nah, sekarang kau paham maksudku tidak?” tanya So Ing.

“Ya, aku paham,” jawab Peng-koh.

“Bagus, asalkan kau bertindak menurut petunjukku, kujamin dia pasti akan mencarimu, apalagi dia sudah datang, maka tibalah waktunya bagimu melampiaskan dendammu.”

Thi Peng-koh tertawa, tapi lantas berkata pula dengan gegetun, “Tapi aku…aku sekarang…”

“Apakah kau merasa dirimu sekarang sebatang kara, tidak punya harta benda dan juga tiada sandaran sehingga hati rada takut, begitu?”

Peng-koh mengangguk dengan sedih.

“Tapi jangan kau lupa, kau ini anak perempuan yang cantik dan menggiurkan, usiamu masih muda dan inilah modal perempuan yang terbesar, berdasarkan ini sudah cukup untuk mempermainkan lelaki di atas telapak tanganmu. Dengan modalmu ini, ke mana pun kau pergi sudah cukup untuk berdikari.”

Akhirnya Thi Peng-koh mengangkat kepalanya, ucapnya dengan tersenyum, “Terima kasih!” Ia pandang Siau-hi-ji sekejap, seperti ingin omong apa-apa, tapi urung. Lalu ia menerobos pergi tanpa menoleh lagi melalui terowongan yang ditemukan Oh Yok-su tadi.

Mendadak Siau-hi-ji bertepuk tangan dan berseru, “Bagus, sungguh bagus sekali. Tak tersangka cara nona So kita menghadapi kaum lelaki ternyata sehebat ini. Kukira kau sudah boleh mulai cari tempat untuk membuka kursus, kuyakin dalam waktu singkat muridmu akan datang berbondong-bondong dan sekejap saja akan kaya mendadak.”

So Ing tertawa, katanya, “Jangan khawatir, pasti takkan kugunakan cara ini untuk menghadapimu.”

“Sekalipun kau pakai caramu ini juga tak mempan bagiku,” jengek Siau-hi-ji. “Biarpun kau berpelukan dengan seratus lelaki dan berjumpalitan di depanku juga takkan kupeduli, apalagi marah?”

“Kalau begitu, sekarang belum lagi aku berpelukan dengan seorang lelaki pun, apa pula yang kau marahi?”

Siau-hi-ji melengak, segera ia meraung pula, “Kau telah mengenyahkan orang lain, kau sendiri mengapa tidak pergi?”

“Pergi, mengapa aku harus pergi? Bukankah tempat ini sangat menyenangkan untuk istirahat?”

“O, nonaku, kumohon dengan sangat, sudilah kau pergi saja. Jika tidak, sebentar mungkin aku bisa gila lantaran tingkah-polahmu.”

“Jika kau tidak senang melihat diriku, kenapa tidak kau sendiri saja yang pergi?”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, akhirnya ia tergelak-gelak, katanya, “Haha, bagus, bagus, budak cilik, aku benar-benar takluk padamu. Sejak dilahirkan hingga kini belum pernah ada seorang pun yang membikin marah padaku seperti ini, akhirnya aku ketemu batunya juga.”

So Ing tidak pedulikan dia lagi, ia membungkus sisa makanan tadi dan bergumam, “Tempat ini sangat lembap, barang makanan yang tak tersimpan dengan baik mungkin akan bulukan dan membusuk.”

“Umpama membusuk, memangnya kenapa, masa akan kau bawa keluar lagi?” kata Siau-hi-ji.

So Ing seperti tidak mendengar ucapan anak muda itu, ia bergumam pula, “Barang-barang ini masih bisa dimakan untuk beberapa hari lagi, harus disimpan supaya tidak membusuk.”

Siau-hi-ji tidak tahan, tanyanya, “Dimakan lagi beberapa hari? Memangnya kau ingin mengeram beberapa lagi di sini?”

Baru sekarang So Ing menoleh, ucapnya dengan tertawa, “Apakah kau kira Ih-hoa-kiongcu akan segera menemukan Hoa Bu-koat?”

Siau-hi-ji terbelalak, mendadak ia mendekatkan wajahnya ke muka So Ing dan menegas, “Jangan-jangan kau yang menyembunyikan Hoa Bu-koat?”

“Dia kan bukan anakku, masa bisa kusimpan dia dengan begitu saja?”

“Tapi kau tahu dia berada di mana, bukan?”

“Dari mana kutahu?”

“Bahwa kau tahu Kang Giok-long telah menipu aku, maka tentu kau pernah melihat Hoa Bu-koat, betul tidak?”

So Ing tidak menjawab, ia duduk berlipat kaki di atas batu, ia pandang Siau-hi-ji sejenak, kemudian baru berkata dengan perlahan, “Betul, aku memang pernah melihat dia, aku pun tahu dia berada di mana sekarang. Akan tetapi tak dapat kukatakan padamu.”

Siau-hi-ji, meraung gusar, “Mengapa tak dapat kau katakan padaku?”

“Sebab khawatir kau akan marah.”

“Marah? Mengapa aku harus marah?”

“Kalau kukatakan, kau benar-benar takkan marah?”

“Ya, takkan marah!”

“Kalau marah?”

“Kalau marah, anggaplah aku ini setan belang,” teriak Siau-hi-ji.

“Tidak, tidak setuju?” So Ing menggeleng.

“Mengapa tidak setuju?” teriak Siau-hi-ji.

“Sebab kau takkan berubah menjadi setan cara mendadak bukan?”

Sungguh dongkol Siau-hi-ji tak terkatakan, ucapnya kemudian, “Baiklah, kalau kumarah, apa pun yang kau perintahkan pasti akan kulakukan.”

“Ucapanmu dapat dipercaya tidak?”

“Seorang ksatria sejati, seorang lelaki tulen, masa ingkar janji terhadap budak cilik macam kau ini.”

“Baik, kuberitahu, saat ini Hoa Bu-koat lagi pergi mencari Thi Sim-lan.”

“Hah, mencari Thi Sim-lan?” seru Siau-hi-ji. “Dari mana dia mengetahui tempat beradanya Thi Sim-lan?”

“Aku yang bilang padanya,” jawab So Ing.

Baru sekarang Siau-hi-ji benar-benar terkejut, ucapnya, “Kau yang bilang padanya? Dari mana kau tahu tempat beradanya Thi Sim-lan? Kau kenal dia?”

“Aku dan dia sudah mengangkat saudara, masa kau tidak tahu?” tutur So Ing dengan tertawa.

Siau-hi-ji jadi melongo dan tidak dapat bersuara pula.

“Bukankah sudah lama sekali kau tidak berjumpa dengan Thi Sim-lan?” tanya So Ing kemudian.

“Ehm,” Siau-hi-ji mengangguk.

“Apakah kau tahu selama dua bulan ini Thi Sim-lan selalu berada bersama Hoa-Bu-koat?”

Kembali Siau-hi-ji berteriak, “Mereka berada bersama selama dua bulan? Huh, aku tidak percaya.”

“Tidak percaya, ya sudahlah, anggap saja aku berdusta padamu,” ujar So Ing dengan tak acuh. Lalu ia membalik tubuh, membelakangi Siau-hi-ji dan tidak menggubrisnya lagi.

Cepat Siau-hi-ji memutar ke depan si nona, ucapnya dengan tertawa, “Sekarang aku percaya, sudah tentu kejadian demikian kau takkan berdusta, aku cuma merasa rada heran saja.”

“Masih banyak sekali kejadian aneh di dunia,” kata So Ing.

“Kalau mereka berada bersama juga lebih baik, tadinya aku berkhawatir baginya, sekarang aku boleh merasa lega, kutahu Hoa Bu-koat pasti akan memperlakukan dia dengan baik.”

So Ing berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Kau tidak marah?”

“Marah? Mengapa aku harus marah?”

Berkilau sinar mata So Ing, tapi ia lantas menunduk dan berkata, “Kenapa kau tidak tanya saat ini Thi Sim-lan berada di mana?”

“Toh takkan kau antar dia ke liang tikus sana?” ujar Siau-hi-ji tertawa.

“Dia justru berada di sana,” tutur So Ing.

Seketika lenyap tertawa Siau-hi-ji tadi, bahkan ia melonjak kaget dan meraung, “Kau budak mampus, mengapa kau antar dia ke sana?”

“Dia kan kakak angkatku, justru kuantar dia ke tempat yang aman, di sana siapa pun tak berani mengganggu dia,” ujar So Ing.

Siau-hi-ji berteriak gusar, “Tapi Hoa Bu-koat mencarinya ke sana, mana tikus raksasa itu mau melepaskan Bu-koat? Buk…bukankah kau ini sengaja ingin membikin celaka dia? Aku…” Saking gusarnya ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya, ia pegang tangan So Ing dan meraung pula, “Kalau tidak kuhajar adat padamu, sungguh penasaran mereka.”

“Masa kau sudah lupa, memangnya seorang lelaki sejati meski ingkar janji pada seorang budak kecil begini?”

Kembali Siau-hi-ji melengak, akhirnya ia lepaskan tangan So Ing dan cuma banting-banting kaki an mendongkol.

“Sebenarnya kau pun tidak perlu cemas, Hoa Bu-koat takkan mati. Pula, dia kan berkeras hendak membunuhmu, jelas dia bukan kawanmu. Jika dia tidak dapat datang, kan tidak perlu kau sedih baginya?”

Siau-hi-ji mengetok kepalanya sendiri dan berteriak, “Apakah kau kira tidakanmu telah membantuku? Kau kira aku akan gembira bila dia mati? Terus terang kukatakan, apabila dia benar-benar terbunuh oleh Gui Bu-geh, maka aku…aku akan -.”

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang berteriak di luar sana, “Siau-hi-ji, kau berada di dalam situ? Dapatlah kau dengar suaraku?”

Jelas itulah suara Hoa Bu-koat. Keruan Siau-hi-ji dan So Ing sama melengak. Hoa Bu-koat mengapa sudah datang, bahkan sedemikian cepat datangnya.

So Ing pegang tangan Siau-hi-ji dengan erat, ucapnya dengan suara gemetar, “Kumohon dengan sangat janganlah menjawabnya, supaya dia mengira kau sudah pergi dari sini…”

Belum habis ucapannya Siau-hi-ji telah mengibaskan tangannya sambil berteriak, “Hoa Bu-koat, aku berada di sini!”

“Kau tidak apa-apa bukan?” tanya Bu-koat.

“Aku baik-baik saja,” jawab Siau-hi-ji. “Julurkan seutas tambang, segera aku dapat naik.”

Selang tak lama terlihat kepala Bu-koat menongol di mulut gua dengan wajahnya yang gembira dan simpatik.

Tertawa Siau-hi-ji juga tidak kurang riangnya, serunya, “Buset, selama dua bulan tak berjumpa, kita berdua tak berubah sama sekali.”

Bu-koat telah mengulurkan seutas tambang panjang, katanya, “Naiklah, tak dapat kulihat keadaanmu di bawah.”

Melihat kelakuan kedua anak muda itu, sungguh hati So Ing heran tak terkatakan. Betapa pun juga sikap dan ucapan kedua orang ini tiada tanda-tanda bahwa mereka adalah musuh yang sebentar lagi akan duel mati-matian, sungguh sukar dipahami apa yang terjadi sebenarnya antara kedua anak muda itu.

Setelah ujung tambang dapat diraih dengan tangan, segera Siau-hi-ji melompat ke atas, tapi segera ia lompat turun pula dan berkata dengan menarik muka, “Budak she So, sekarang apakah tidak mau pergi?”

“Pergilah, silakan pergilah sendiri, aku tidak ingin menyaksikan keadaanmu setelah dibunuh orang,” jawab So Ing sambil menunduk.

“Kau tidak ingin melihat, sengaja ingin kuperlihatkan padamu, kau tidak mau pergi, justru kuingin kau pergi, coba apa dayamu bisa melawanku” Siau-hi ji meraung sambil mendekati si nona.

“Kau…kau berani…” ucap So Ing sambil menyurut mundur.

Meski air mukanya berlagak sangat gusar, tapi dalam hati sebenarnya senang tidak kepalang. Sebab ia tahu, kini tangannya sudah mulai dapat meraba hati Siau-hi-ji, bahkan, cepat atau lambat, akhirnya hati anak muda itu pasti dapat diraihnya.

Dengan sebelah tangan mengempit So Ing, Siau-hi-ji terus merambat ke atas dengan bantuan tambang panjang itu, hanya sekejap saja ia sudah berada di luar gua.

Sementara itu Bu-koat tak lagi berada di mulut gua, dia tampak berdiri lurus di samping Kiau-goat Kiongcu, air mukanya tampak rada pucat dan kaku tanpa emosi.

Bagi Bu-koat, Kiau-goat Kiongcu bukan cuma gurunya yang kereng, bahkan juga orang tuanya. Sejak kecil belum pernah dilihatnya wajah sang guru menampilkan secercah senyuman. Selama itu pun ia tidak berani sembrono di depan Kiau-goat Kiongcu, sebab hatinya tidak cuma hormat dan terima kasih padanya, bahkan juga rada-rada takut.

Sekarang, akhirnya Siau-hi-ji dapat melihat wajah asli Kiau-goat Kiongcu.

Topeng yang menakutkan itu sudah dibukanya, namun air mukanya terlebih dingin daripada topengnya. Siapa pun tak mampu menemukan setitik tanda-tanda perasaan senang, marah, suka atau duka pada wajahnya. Tampaknya biarpun dunia ini kiamat juga tak dipedulikannya.

Namun dia juga cantik luar biasa, kecantikan yang sukar dibayangkan, begitu cantiknya sehingga membuat orang yang memandangnya merasa risi sendiri. Kecantikannya ini pada hakikatnya bukan cantiknya manusia melainkan kecantikan malaikat dewata.

Sama sekali tak terduga oleh Siau-hi-ji bahwa perempuan yang pernah mengguncangkan dunia persilatan selama dua-tiga puluh tahun ini tampaknya masih semuda ini. Lebih-lebih tak pernah terbayangkan perempuan yang cantik ini mempunyai wibawa sebesar ini, dapat membuat siapa yang memandangnya akan merasa segan sendiri. Sampai-sampai Siau-hi-ji sendiri, meski cuma memandangnya sekejap saja, tapi terasa seram laksana orang mendadak melihat badan halus yang cantik di tengah malam senyap.

Betapa kesima Siau-hi-ji sehingga tidak diperhatikannya bahwa di samping Kiau-goat Kiongcu terdapat pula Thi Sim-lan.

Sampai gemetar tubuh Thi Sim-lan saking senangnya ketika dilihatnya Siau-hi-ji melompat turun dari gua sana, tanpa terasa segera ia lari menyongsong. Tapi baru dua-tiga tindak, sekonyong-konyong ia berdiri mematung pula.

Hal ini terjadi bukan lantaran dilihatnya So Ing berada dalam rangkulan Siau-hi-ji, tapi disebabkan mendadak ia teringat pada Hoa Bu-koat. Mana boleh terjadi begitu melihat Siau-hi-ji lantas Hoa Bu-koat ditinggalkannya?

Maka sekarang ia berdiri di tengah-tengah antara Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, ia menjadi bingung apakah harus ke sana atau ke sini, sungguh runyam, dalam keadaan demikian ia berharap lebih baik dirinya tidak dilahirkan di dunia ini.

Dalam pada itu Siau-hi-ji juga telah melihatnya dan lagi menyapanya dengan tertawa, “Sudah lama tak berjumpa, baik-baikkah kau?”

Thi Sim-lan sama sekali tidak mendengarnya, tiba-tiba ia berpaling dan lari ke bawah pohon di sebelah sana, kebetulan pohon itu pun terletak di tengah-tengah antara Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat.

Sejak tadi So Ing selalu memperhatikan sikap Siau-hi-ji, dilihatnya anak muda itu masih tertawa-tawa, atau lebih tepat dikatakan menyengir. Waktu ia pandang Hoa Bu-koat, anak muda itu tetap menunduk tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sekelilingnya.

Diam-diam So Ing menghela napas panjang.

Memang, melihat hubungan ketiga muda-mudi yang ruwet dan ajaib itu, apa yang dapat diperbuatnya selain menghela napas belaka?

Malahan sekarang ia sendiri pun terlibat ke dalam pusaran asmara ini. Ia merasa kekuatan pusaran ini sungguh teramat dahsyat dan menakutkan seolah-olah dikemudikan oleh sebuah tangan iblis yang misterius.

Mereka berempat, kalau kurang bijaksana, bukan mustahil akan tenggelam semuanya terseret ke dalam pusaran air itu.

Dalam pada itu sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang dingin dan setajam sembilu itu lagi menatap Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji menarik napas panjang-panjang, ia pun balas menatap Ih-hoa-kiongcu. Katanya dengan tersenyum, “Lumayan juga makanan yang kau antar tadi, cuma sayang tidak ada cabainya. Lain kali bila engkau menjamu makan diriku, jangan kau lupa bahwa aku suka makan pedas.”

Air muka Kiau-goat Kiongcu tidak mengunjuk perasaan apa-apa. Hoa Bu-koat terkejut dan angkat kepalanya, sungguh ia tak percaya bahwa di dunia ini ada orang berani bicara sedemikian terhadap Kiau-goat Kiongcu.

Didengarnya Kiau-goat lagi berkata, “Bagus, sekali ini kalian telah pegang janji dengan tepat.”

“Biarpun aku suka kentut terhadap orang lain, tapi terhadap Hoa Bu-koat harus dikecualikan,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sekarang akan kuberi tempo lagi tiga jam, dalam tiga jam ini boleh kau mengatur napas dan menghimpun tenaga, tapi dilarang meninggalkan tempat ini,” kata Kiau-goat dengan dingin.

Siau-hi-ji berkeplok tertawa, ucapnya, “Haha, Ih-hoa-kiongcu tetap Ih-hoa-kiongcu, sedikit pun tidak sudi menarik keuntungan dari orang lain. Kau tahu aku lelah, maka sengaja memberi waktu istirahat bagiku.”

Kiau-goat Kiongcu tidak menghiraukannya lagi, ia berpaling ke sana dan berkata, “Kau ikut padaku, Bu-koat.”

“Aku ingin bicara sejenak dengan Hoa Bu-koat, boleh tidak?” seru Siau-hi-ji.

“Tidak boleh,” jawab Kiau-goat ketus tanpa menoleh.

“Mengapa tidak boleh” teriak Siau-hi-ji. “Memangnya kau khawatir kukatakan padanya bahwa Tong-siansing sama dengan engkau sendiri?”

Saat itu Hoa Bu-koat juga sudah berpaling ke sana tanpa menoleh, tapi Siau-hi-ji dapat melihat tubuhnya bergetar ketika mendengar ucapannya ini.

Tertawalah Siau-hi-ji, ia puas karena maksudnya telah tercapai.

Dilihatnya Kiau-goat Kiongcu mengajak Bu-koat ke bawah pohon di kejauhan sana, lalu berpaling dan seperti bicara apa-apa dengan Bu-koat. Namun Bu-koat berdiri mungkur ke sini.

Karena itulah sebegitu jauh Siau-hi-ji tidak dapat melihat bagaimana reaksinya, dengan sendirinya ia pun tidak dapat mendengar apa yang dipercakapkan mereka. Terpaksa ia menghela napas menyesal, gumamnya, “Seorang perempuan yang tidak bersuami hingga berumur 50-an tahun, andaikan sehat badaniahnya juga pasti akan sakit rohaniahnya. Adalah aneh jika dia bisa normal seperti orang lain.”

“Waktu tiga jam tidaklah lama, hendaklah kau mengaso sebaik-baiknya,” kata So Ing.

Saat itu sang surya baru saja menongol, hari masih pagi.

So Ing mengumpulkan daun-daun kering dan ditimbun di bawah pohon untuk tempat duduk Siau-hi-ji, caranya seperti seorang istri tercinta sedang mengatur tempat tidur bagi sang suami.

Thi Sim-lan berdiri di bawah pohon sana, air matanya berlinang-linang di kelopak matanya. Tiba-tiba ia merasa hidupnya di dunia ini hanya berlebihan belaka.

Kalau tadi ia tidak jadi mendekati Siau-hi-ji, tentu saja sekarang ia lebih-lebih tidak dapat mendekati anak muda itu. Tadi dia tidak kembali ke tempat Hoa Bu-koat sana, kini jadi lebih-lebih tak dapat kembali lagi ke sana.

Ia pun tahu, dalam keadaan demikian, baik Siau-hi-ji maupun Hoa Bu-koat pasti takkan mendekati dia. Ih-hoa-kiongcu telah merobek persahabatan antara kedua anak muda itu, jika tiada persahabatan antara mereka, maka nasib Thi Sim-lan jelas akan bertambah buruk dan mengenaskan.

Ia tahu paling baik baginya sekarang ialah menyingkir sejauhnya, makin jauh makin baik, maka segala apa yang terjadi tak bisa lagi dilihatnya.

Namun antara kedua orang yang dicintainya segera akan terjadi duel maut, masa dia tega tinggal pergi?

Thi Sim-lan adalah gadis yang keras hati, dalam keadaan begini, betapa pun ia tidak ingin mencucurkan air mata. Tapi apa yang dilihatnya, apa yang dialaminya sekarang mana bisa tidak membuatnya meneteskan air mata?

Angin meniup sepoi-sepoi, daun rontok berhamburan.

Ia berjongkok menjemput sehelai daun rontok itu, rasanya ia tidak ingin berbangkit lagi, dengan termangu-mangu dipandangnya butiran air mata sendiri yang menetes di atas daun kering yang kuping itu.

Dalam pada itu Siau-hi-ji telah merebahkan dirinya di atas “kasur” daun kering yang dibuat So Ing tadi.

Jika ada orang lain lagi merasa tegang dan ada pula yang menderita batin, hanya Siau-hi-ji saja yang tenang-tenang seperti tiada terjadi apa-apa, ia memejamkan matanya sambil menumpangkan sebelah kakinya di atas kaki yang lain, malahan mulutnya berdengung-dengung bernyanyi kecil lagi.

So Ing berdiri di samping sambil memandanginya, sejenak kemudian, ia menghela napas perlahan, lalu berkata, “Apakah sudah kau lihat Thi Sim-lan?”

“Tidakkah kau lihat tadi aku telah menyapanya?” jawab Siau-hi-ji.

“Hanya cukup menyapa begitu saja?”

“Mengapa tidak? Memangnya kau suruh aku menyembah padanya, begitu?”

“Tapi…tapi dia sungguh harus dikasihani, mestinya kau mendekati dia dan menghiburnya.”

Mendadak Siau-hi-ji membuka matanya dan mendelik, “Mengapa aku harus mendekat dan menghiburnya? Mengapa dia tidak kemari?”

“Dalam keadaan demikian dia memang…memang serba susah…”

“Serba susah? Apakah kau tidak serba susah? Apalagi serba susahnya juga lantaran tindakannya sendiri. Siapa suruh dia diam saja di sana dan tidak mau ke sini? Kan kakinya tidak terpantek di sana?”

So Ing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Apakah kau lagi cemburu?”

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Mengapa kau selalu mengira aku cemburu? Jika aku suka cemburu seperti kalian ini, mungkin sekarang aku sudah berubah menjadi ikan masak saus asam.”

So Ing menghela napas pula, katanya, “Jika kau tidak mau mendekatinya, biarlah aku saja yang ke sana.”

“Nanti dulu,” seru Siau-hi-ji tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya So Ing.

“Tahukah kau ada semacam kepandaian, yakni melihat gerakan bibir seseorang lantas diketahui apa yang sedang diucapkannya?”

“Ya, itu namanya ‘membaca kata-kata bibir’. Ada orang yang tidak paham seluk beluk ilmu ini lantas mengira kepandaian ini adalah apa yang disebut ‘ilmu mengirim gelombang suara’ dalam dongeng itu.”

“Apakah kau mahir membaca kata-kata bibir?”

“Tidak,” jawab So Ing.

“Ai, alangkah baiknya jika saat ini aku dapat membaca bibir Ih-hoa-kiongcu, entah apa yang sedang dikatakannya kepada Hoa Bu-koat?”

“Sekalipun tak dapat mendengarnya, tentunya dapat kau bayangkan juga. Apalagi yang dibicarakannya kalau bukan memberi petunjuk kepada Hoa Bu-koat dengan cara bagaimana harus membunuhmu.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, ucapnya kemudian, “Ai, sungguh aneh. Waktu aku berada di dalam gua, Hoa Bu-koat berteriak memanggilku dan berbicara padaku dengan akrab. Tapi setelah kukeluar, dia lantas tidak gubris padaku, bahkan memandang sekejap saja tidak.”

“Dengan sendirinya karena dia dilarang bicara denganmu oleh Ih-hoa-kiongcu, mungkin dia khawatir kalau kalian bicara punya bicara dan akhirnya dari lawan akan berubah menjadi kawan.”

“Masa Hoa Bu-koat sendiri sama sekali tidak mempunyai pendirian?”

“Bila kau dibesarkan di Ih-hoa-kiong, dan selalu berhadapan dengan Ih-hoa-kiongcu, pasti juga kau akan kehilangan akal dan tiada pendirian.”

“Jika demikian, jadi Ok-jin-kok malah jauh lebih baik daripada Ih-hoa-kiong, yang berada di Ok-jin-kok paling tidak masih juga manusia, tapi yang hidup di Ih-hoa-kiong pada hakikatnya cuma setan, sekawanan mayat hidup.”

“Silakan kau mengaso saja, kupergi ke sana, segera kukembali,” kata So Ing dengan lembut.

“Mengapa kau berkeras hendak ke sana?” tanya Siau-hi-ji dengan mendelik, “Aku sendiri juga susah, mengapa tidak kau temani aku di sini?”

“Masa engkau tidak ingin tahu cara bagaimana dia dan Bu-koat dapat lolos dari liang tikus sana?” ujar So Ing dengan tersenyum.

*****

Butiran air mata di atas daun rontok itu sudah kering, namun air mata Thi Sim-lan sendiri belum lagi kering. Dilihatnya So Ing melangkah ke arahnya, sedapatnya ia bertahan agar air mata tidak menetes lagi.

Perlahan-lahan So Ing mendekatinya, tapi Thi Sim-lan sama sekali tidak angkat kepalanya. Rambutnya terurai tertiup angin, sehelai daun rontok tepat jatuh di atas kepalanya.

Dengan perlahan So Ing pungut daun kering itu, ucapnya dengan halus, “Apakah kau marah padaku?” pertanyaan ini sesungguhnya tidak cerdik, soalnya dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Thi Sim-lan juga tidak menjawab pertanyaan ini, sebab ia pun tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya.

Bayangan mereka membujur panjang tersorot sinar sang surya, bayangan mereka seolah-olah tertumpuk menjadi satu, namun hati mereka entah berjarak betapa jauhnya.

Selang sekian lama barulah Thi Sim-lan berdiri dengan perlahan, katanya kemudian, “Kutahu engkau pasti mengira aku dendam padamu lantaran kamu adalah sahabat Siau-hi-ji, tapi kau sengaja tidak mau berterus terang padaku, kau tahu di mana Siau-hi-ji berada, tapi kau suruh aku menunggumu di tempat yang lain.”

“Apakah betul kau tidak dendam padaku?” tanya So Ing menunduk.

Sim-lan tersenyum sedih, ucapnya, “Bila terjadi pada dua-tiga tahun lalu, mungkin sekali aku akan benci dan dendam padamu, tapi sekarang…sekarang aku sudah tahu, apa yang diperbuat seseorang belum pasti timbul dari kehendaknya sendiri, ada kalanya seorang memang tak dapat mengekang keinginan diri sendiri, lebih-lebih dalam hal cinta, sering kali timbul secara di luar kehendaknya sendiri.”

“Tapi aku…” mata So Ing menjadi basah juga.

“Kau tidak perlu menyesal. Apabila kutahu kau adalah sainganku, tentu aku pun takkan bicara secara terus terang padamu.”

So Ing menghela napas panjang, ia pegang tangan Thi Sim-lan, ucapnya dengan tersenyum haru, “Sungguh tak tersangka engkau adalah anak perempuan sebaik ini, yang kuharapkan sekarang sebenarnya adalah engkau bisa lebih kejam, lebih garang padaku, dengan demikian hatiku akan lebih terhibur.”

Thi Sim-lan memandangnya lekat-lekat, katanya tiba-tiba, “Tapi apa pun juga engkau takkan melepaskan Siau-hi-ji bagiku, bukan?”

Pertanyaan ini boleh dikatakan sangat bodoh, entah mengapa dia bisa mengajukan pertanyaan sedemikian?

So Ing juga menatapnya tajam-tajam, jawabnya, “Betul, takkan kulepaskan dia bagimu, sebab kalau kulepaskan dia, bisa jadi akan membuatmu terlebih serba susah, betul tidak?”

Kembali Thi Sim-lan menunduk, ucapan So Ing ini laksana jarum yang runcing tepat menusuk hatinya sehingga dia tidak tahu apa pula yang harus diucapkannya. Setelah daun rontok tadi diremasnya hingga hancur barulah dia berkata, “Sebenarnya tidak pantas kutanyakan hal ini padamu. Bisa jadi diriku sama sekali tidak terpikir oleh Siau-hi-ji, mungkin hanya engkau saja yang sesuai baginya.”

“Kau salah!” ucap So Ing.

“Salah?” Thi Sim-lan menegas heran.

“Ya, sebab Siau-hi-ji tidak melupakan dirimu, jika dia benar-benar tidak pernah memperhatikan dirimu, tentu dia sudah mendekat ke sini.”

Thi Sim-lan melengak, katanya, “Meng…mengapa engkau mengatakan hal ini padaku? Mengapa tidak kau biarkan persoalan ini lenyap dari hatiku?”

“Mungkin disebabkan aku teramat ingin memiliki Siau-hi-ji, makanya aku tidak ingin dia dendam padaku, kelak, aku ingin dia memilih sendiri, jika orang yang disukai dia adalah dirimu, sekalipun kubunuh kau juga tiada gunanya bagiku.”

Makin tertunduk kepala Thi Sim-lan, dia coba meresapi suara So Ing, terasa penuh pahit getir hatinya. Maklum, semakin bertentanganlah perasaannya sekarang dan juga semakin ruwet, diam-diam ia bertanya pada dirinya sendiri, “Andaikan yang dipilih Siau-hi-ji adalah diriku, apakah aku benar-benar akan bergembira?”

Siapa pun tak tahu jawaban soal ini, bahkan dia sendiri pun tak tahu.

Tiba-tiba So Ing tertawa, katanya pula, “Apakah kamu telah bertemu dengan ayah angkatku? Bukankah tampangnya sangat menakutkan?”

“Aku tidak bertemu dengan dia,” jawab Sim-lan.

Tentu saja So Ing melengak heran, “Sebab apa? Memangnya kau tidak pergi ke tempat yang kusebutkan?”

“Sudah kupergi ke sana, tapi siapa pun tak kujumpai di sana.”

“Setiba di hutan sana masa tiada orang memapakmu? Jangan-jangan engkau kesasar ke tempat lain?”

“Aku tidak kesasar, setibanya di sana, kulihat di mana-mana hanya tikus belaka, aku menjadi ketakutan dan manjat ke atas pohon. Siapa tahu di atas pohon tergantung sesosok mayat, malahan kulihat di kejauhan ada beberapa lagi mayat bergelantungan di pohon. Selagi merasa bingung, waktu itulah Hoa…Hoa-kongcu lantas muncul.”

So Ing melenggong dan berkhawatir.

“Menurut pandanganku, tentu telah terjadi perubahan besar di sana, akan lebih baik kalau engkau lekas memeriksanya ke sana.”

Tanpa menunggu habis ucapan Thi Sim-lan, segera So Ing lari pergi, tapi baru beberapa langkah ia lantas berhenti, apa pun juga Gui Bu-geh adalah orang yang pernah menolongnya, jika terjadi sesuatu atas diri Gui Bu-geh, betapa pun ia tak dapat berpeluk tangan. Namun sekarang…sekarang Siau-hi-ji sedang memandangnya, mana boleh dia tinggal pergi begitu saja?

Seketika So Ing menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Pertentangan batin. Setiap orang tentu mengalami pertentangan batin dan berharap sang waktu akan berhenti pada detik demikian. Akan tetapi sejak dahulu hingga kini, sang waktu memang tidak pernah kenal kasihan. Semakin hendak kau tahan dia, semakin cepat dia akan berlalu.

Angin meniup kencang, pada saat itu juga sinar sang surya menjadi suram karena teraling oleh gumpalan awan tebal sehingga suasana jagat raya ini berubah menjadi lebih suram dan memilukan.

Melihat air muka si nona yang cemas itu, dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Tampaknya kau menjadi bingung kerena Ih-hoa-kiongcu mungkin telah membunuh Gui Bu-geh, begitu bukan?”

Belum lagi So Ing menjawab, tiba-tiba sesosok bayangan orang melayang tiba terbawa oleh angin.

Pendatang ini pun sama dingin dan sama cantiknya dengan Kiau-goat Kiongcu, hanya sepasang matanya yang jeli dan berkilau itu sedikit banyak mengandung perasaan kelembutan. Seperti daun yang jatuh, dengan enteng dia hinggap di samping Hoa Bu-koat.

Serentak Bu-koat berlutut dan menyembahnya.

Mata Siau-hi-ji terbelalak, ucapnya, “Mungkin engkau inilah Lian-sing Kiongcu? Engkau benar-benar berasal dari satu cetakan dengan kakakmu, seperti mayat hidup yang bisa bernapas saja.”

“Tapi mereka kakak beradik dapat membuat setiap orang Kangouw merasa segan, sampai menyebut nama mereka pun tak berani,” kata So Ing dengan tertawa. “Jika mereka hanya kau anggap sebagai mayat hidup yang bisa bernapas, maka di dunia Kangouw pasti penuh orang mati.”

“Salah kau,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Orang hidup harus bisa menangis, bisa tertawa, bisa gembira, bisa berduka dan juga bisa takut. Kalau hidup seperti mereka ini kan tiada artinya.”

Dia sengaja mengeraskan suaranya supaya didengar oleh Ih-hoa-kiongcu. Tapi kedua Ih-hoa-kiongcu ternyata tidak pedulikan dia, bahkan melirik saja tidak.

Berputar biji mata Siau-hi-ji, dengan tertawa ia berteriak pula, “Hah, orang lain mungkin sangat mengagumi mereka, tapi bagiku mereka sesungguhnya harus dikasihani. Seorang kalau tertawa saja tidak dapat, lalu apa bedanya dengan orang mati.”

Ih-hoa-kiongcu tetap tidak menggubrisnya dan entah sedang bicara apa dengan Hoa Bu-koat.

Kembali Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Hahahaha, kau anggap mereka sebagai orang mati, bisa jadi mereka pun menganggap diriku ini orang mati, makanya apa pun yang kukatakan tak dipedulikan mereka dan juga tidak membuat mereka marah.”

Meski kata-kata ini diucapkan dengan tertawa, tapi bagi pendengaran So Ing dirasakan sangat mengharukan dan menusuk perasaan, hampir saja ia menitikkan air mata.

“Hahaha, tampaknya kau pun anggap aku ini orang mati, bukan?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kau mengira aku pasti tiada harapan hidup lagi, bukan? Tapi paling tidak aku masih dapat hidup dua-tiga jam lagi, masih belum terlambat kiranya bagimu untuk menangis bila aku sudah mati nanti.”

Ingin tertawa juga So Ing, paling sedikit supaya bisa membesarkan hati Siau-hi-ji, tapi dalam keadaan demikian mana bisa lagi dia tertawa?

Sesungguhnya dia tidak tahu apakah Siau-hi-ji masih ada harapan untuk hidup seumpama dia mampu mengalahkan Hoa Bu-koat, sekalipun Hoa Bu-koat dibunuhnya, tapi apakah dia mampu melawan Ih-hoa-kiongcu, mustahil kalau dia takkan dibunuh oleh mereka? Jelas di dunia ini tiada seorang pun sanggup menyelamatkan Siau-hi-ji.

Maka Siau-hi-ji berkata pula, “Maukah kau tertawa? Asalkan kau tertawa sekejap saja, mati pun aku puas.”

So Ing benar-benar tertawa, tapi kalau dia tidak tertawa air matanya masih dapat dibendungnya, sekali tertawa, seketika air mata pun ikut bercucuran.

Tiba-tiba angin berkesiur, tahu-tahu Lian-sing Kiongcu telah berada di depan Siau-hi-ji, jengeknya, “Sudah hampir tiba waktunya, tahu tidak kau?”

“Kuharap waktunya akan tiba selekasnya, kalau tidak mungkin aku bisa mati tenggelam oleh lautan air mata,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sorot mata Lian-sing Kiongcu seperti memancarkan rasa senang, tapi air mukanya tetap dingin seperti es, katanya, “Adakah pesan yang hendak kau tinggalkan?”

“Tidak ada,” jawab Siau-hi-ji. “Waktu hidupku sudah terlalu banyak yang kuucapkan, setelah mati buat apa harus bikin repot orang lagi?”

“Apakah betul tiada sesuatu pula yang ingin kau katakan?” tanya Lian-sing Kiongcu. Berputar bola mata Siau-hi-ji, dengan tertawa dia berkata, “Ya, memang ada sesuatu ingin kutanyakan padamu?”

“Pertanyaan apa?”

“Perempuan seperti kau ini mengapa hingga kini belum kawin? Masa selama ini tiada seorang lelaki pun yang menyukaimu?”

Sekonyong-konyong Lian-sing Kiongcu membalik tubuh, namun sekilas Siau-hi-ji dapat melihat tubuhnya rada gemetar, rambutnya yang hitam panjang juga bertebaran tertiup angin.

Selang sejenak barulah terdengar Lian-sing berkata dengan tegas, “Berdiri kau!”

Sekali ini Siau-hi-ji sangat penurut, segera ia melompat bangun, tanyanya, “Apakah sekarang juga akan mulai?”

“Memangnya kau mau menunggu beberapa jam lagi?” jengek Lian-sing.

“Ya, memang tidak perlu menunggu lagi,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Betapa pun aku tidak gentar bertarung mati-matian dengan siapa pun juga. Waktu menunggu, itulah yang membuatku tersiksa, kalau segera dapat membedakan kalah dan menang serta mati dan hidup, cara demikian paling baik.”

Dilihatnya Hoa Bu-koat yang berdiri di bawah pohon sana juga mulai membalik tubuh perlahan-lahan.

Mendadak So Ing memegang tangan Siau-hi-ji dan berkata, “Apakah…apakah kepadaku pun tiada sesuatu yang hendak kau katakan?”

“Tidak ada,” jawab Siau-hi-ji.

Perlahan-lahan jari So Ing satu per satu mengendur dan akhirnya melepaskan tangan Siau-hi-ji, ia menyurut mundur dua langkah, air mata pun tak terbendung lagi.

“Nah, Hoa Bu-koat dan Kang Siau-hi, sekarang dengarkanlah kalian!” seru Lian-sing Kiongcu. “Pertama, mulai sekarang kalian masing-masing melangkah maju lima belas tindak ke depan, begitu langkah lima belas tercapai, segera kalian boleh mulai bergebrak. Pertarungan ini hanya boleh dilakukan oleh kalian berdua, orang ketiga dilarang membantu. Barang siapa berani ikut campur, seketika jiwanya akan kubinasakan tanpa ampun.”

“Kau sendiri pun tidak boleh membantu bukan?” seru So Ing mendadak.

Belum lagi Lian-sing menjawab, dengan dingin Kiau-goat menyela, “Dia berani ikut campur, seketika aku pun akan membinasakan dia.”

“Sebaliknya kalau kau sendiri yang ikut turun tangan, lalu bagaimana?” tanya So Ing pula.

“Aku pun akan membinasakan diriku sendiri!” ucap Kiau-goat dengan tegas.

So Ing mengusap air matanya dan berteriak, “Nah, Siau-hi-ji, sudah kau dengar bukan? Apa yang telah dikatakan Ih-hoa-kiongcu, kuyakin pasti akan ditepatinya. Maka kumohon engkau harus terus berjuang sekuat tenaga dan jangan sampai dikalahkan olehnya.”

Ia tidak tahu bahwa pertarungan ini adalah pertarungan maut, yang kalah tiada jalan lain kecuali mati, sebaliknya nasib yang menang juga lebih tragis daripada yang kalah. Jika Siau-hi-ji terbunuh oleh Hoa Bu-koat, maka dia boleh dikatakan jauh beruntung daripada nasib Hoa Bu-koat nanti.

Cuaca terasa suram, awan berarak, di ujung ranting pohon masih ada beberapa helai daun kering yang tetap bertahan dari embusan angin yang kencang, tapi itu pun cuma rontakan sebelum ajal saja.

Siau-hi-ji sudah mulai melangkah ke depan. Hoa Bu-koat juga mulai menggeser langkahnya dengan perlahan.

Suasana yang mendung sudah mulai mencekam, hanya deru angin barat yang meniup kencang, tiada terdengar suara lain lagi di dunia ini.

Kiau-goat, Lian-sing, So Ing, Thi Sim-lan, empat pasang mata tanpa berkedip mengikuti setiap langkah Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat.

Meski apa yang terpikir oleh hati keempat orang itu berlainan, tapi ketegangan mereka sekarang jelas sama.

Thi Sim-lan tahu dalam sekejap lagi satu di antara kedua anak muda itu pasti akan roboh. Sesungguhnya ia tidak tahu siapa yang diharapkan roboh. Dalam lubuk hatinya ia pun tahu bilamana salah satu di antara kedua anak muda itu sudah roboh, maka pertentangan batinnya juga akan berakhir dan tidak perlu memilih lagi, dengan demikian persoalannya juga akan berubah jauh lebih sederhana.

Akan tetapi jalan pikiran demikian pada hakikatnya tak berani dibayangkannya, sebab kalau terpikir hal ini, ia menjadi marah pada dirinya sendiri, kalau bisa hati sendiri akan dikorek keluar dan dicincang hancur lebur.

Bahkan ia pun menolak adanya jalan pikiran demikian dalam benaknya, sebab jalan pikiran demikian sesungguhnya memang terlalu kotor, terlalu mementingkan diri sendiri, terlalu keji dan tak berbudi.

Betapa pun ia tidak tahu bahwa seorang yang biasanya sangat luhur budinya, seorang yang tidak egois, seorang yang baik hati, terkadang juga bisa timbul pikiran-pikiran yang kotor dan mementingkan diri sendiri.

Memang begitulah tragisnya watak manusia dan tak dapat dibantah oleh siapa pun juga. Sebab Malah Thi Sim-lan berharap dalam sekejap ini sebaiknya dunia ini kiamat saja, biarlah seluruh umat manusia dilebur menjadi abu.

Sedangkan hati So Ing hanya kesedihan belaka tanpa pertentangan batin apa pun, sebab dia sudah bertekad takkan hidup sendirian apabila Siau-hi-ji terbunuh oleh Hoa Bu-koat.

Dia tahu kesempatan menang bagi Siau-hi-ji tidak banyak, tapi dia berharap akan timbulnya keajaiban dan berharap Siau-hi-ji dapat merobohkan Hoa Bu-koat.

Justru lantaran harapannya itu sangat sederhana dan bersahaja, maka derita batinnya juga paling ringan.

Lantas bagaimana dengan Lian-sing Kiongcu dan Kiau-goat Kiongcu?

Kini rencana dan rekayasa mereka sudah hampir menjadi kenyataan. Kesabaran mereka selama berpuluh tahun kini pun sudah mendatangkan hasil, dendam kesumat mereka dalam waktu singkat juga akan terlampiaskan.

Tapi apakah semua ini telah membuat mereka merasa gembira?

Tidak!

Dendam kesumat yang terpendam selama dua puluh tahun ini dalam sekejap ini malah tambah berkobar.

Sorot mata Kang Hong yang menatap Hoa Goat-loh sebelum ajalnya dalam sekejap ini seakan-akan timbul pula di depan mata mereka.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, tidakkah mereka ini jelmaan Kang Hong?

Mereka hanya mengkhayalkan bilamana satu di antara kedua anak muda itu sudah roboh barulah dapat meringankan derita batin mereka, sebab hanya pada saat itu mereka akan menceritakan rahasia yang mengejutkan ini, rahasia ini mirip seutas rantai yang kukuh dan berat telah membelenggu jiwa mereka selama dua puluh tahun ini, hanya kalau mereka sudah menceritakan rahasia ini barulah mereka merasa bebas, bebas dari tekanan batin. Kalau tidak, maka untuk selamanya mereka akan tetap menjadi budak rahasia itu.

Dan sekarang mereka tetap harus menanti.

Diam-diam mereka menghitung setiap langkah Siau-hi-ji, “Satu…dua…tiga…”

Siapa tahu, baru tiga tindak, tahu-tahu Siau-hi-ji berhenti, tiba-tiba ia menoleh dan tersenyum kepada So Ing, katanya, “Oya, baru saja teringat olehku ada sesuatu ingin kukatakan kepadamu.”

Bergetar hebat hati So Ing, air matanya berlinang-linang dan hampir menetes lagi. Apa pun juga nyata Siau-hi-ji toh bersikap padanya lain daripada yang lain.

“Bi…bicaralah, akan kudengarkan,” ucap So Ing dengan menahan air mata.

“Begini, kunasehatkan kau lekaslah kawin mumpung masih muda, kalau tidak, makin tua tentu akan semakin tidak laku. Apabila kau sudah telanjur berusia lima puluh atau enam puluh, maka kau akan berubah seperti siluman tua macam mereka.”

Sungguh konyol. Ternyata beginilah pesan terakhir sebelum ajal Siau-hi-ji kepada So Ing. Dalam keadaan demikian dia masih dapat mengutarakan kata-kata seperti ini.

Seketika hati So Ing seperti dipuntir-puntir. Selang sejenak dengan menggereget barulah dia berkata, “Baiklah, jangan khawatir, pasti takkan kutunggu terlalu lama.”

Tapi Siau-hi-ji seperti tidak mendengar jawaban So Ing ini, dia mulai lagi melangkah maju ke depan.

Hanya ucapan yang acuh tak acuh begitu Siau-hi-ji telah meremukredamkan hati So Ing. Bahkan juga membikin marah Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu sehingga tubuh mereka gemetar dan muka pucat.

Akan tetapi Siau-hi-ji sendiri seakan-akan tidak merasa pernah mengucapkan kata-kata begitu.

Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji, sesungguhnya orang macam apakah kau ini?

Sesungguhnya apa yang sedang kau pikirkan dan apa yang akan kau lakukan?

Yang aneh dan lucu adalah dalam keadaan demikian, dalam hati setiap orang justru berharap Siau-hi-ji menang, Thi Sim-lan juga tidak sampai hati menyaksikan keadaan Siau-hi-ji setelah dirobohkan oleh Hoa Bu-koat.

Entah mengapa, Thi Sim-lan selalu menganggap Hoa Bu-koat terlebih kuat daripada Siau-hi-ji, maka tiada alangan baginya untuk menderita lebih banyak, sebab itulah dia lebih suka Hoa Bu-koat yang roboh daripada Siau-hi-ji yang kalah.

Hoa Bu-koat sekali-kali tidak boleh kalah berbuat apa pun dan juga tidak boleh salah bicara apa pun. Sebaliknya apa pun yang diperbuat Siau-hi-ji dan apa pun yang diucapkannya selalu menusuk perasaan orang, namun orang tetap sudi memaafkan dia.

Yang lebih aneh dan ajaib adalah Kiau-goat serta Lian-sing Kiongcu juga berharap akan kemenangan Siau-hi-ji. Mungkin mereka tidak mau mengakui pikiran mereka ini, namun hal ini memang kenyataan.

Sebabnya, bila Hoa Bu-koat merobohkan Siau-hi-ji, maka mereka harus membeberkan rahasia ini di depan Hoa Bu-koat. Bahwa mereka mendidik dan membesarkan Hoa Bu-koat adalah bertujuan menuntut balas, selama belasan tahun ini berkumpul, sedikit banyak tentu timbul perasaan kasih sayang terhadap anak yang dibesarkan oleh mereka ini.

Betapa pun mereka kan manusia? Manusia yang berdarah daging dan berperasaan.

Karena itulah mereka juga berharap Siau-hi-ji yang akan merobohkan Hoa Bu-koat, sebab mereka dapat menggunakan rahasia di balik peristiwa ini untuk menyiksa batin anak muda itu, lalu menyaksikan dia mati di depan hidung mereka sendiri.

Diam-diam mereka tetap menghitung setiap langkah Siau-hi-ji, “… sepuluh, sebelas, dua belas…tiga belas…”

Tampaknya dalam sekejap lagi kedua saudara kembar itu akan saling bunuh tanpa kenal ampun. Sampai saat ini, di dunia ini tiada lagi seorang pun yang dapat mengubah nasib tragis mereka.

Tanpa terasa tersembul secercah senyum kepuasan di ujung mulut Kiau-goat Kiongcu.

Dalam pada itu Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sama-sama sudah mengayunkan langkah keempat belas.

Mata Siau-hi-ji senantiasa menatap Hoa Bu-koat, air muka Hoa Bu-koat tidak mengunjuk sesuatu perasaan apa pun, tapi sorot matanya selalu menghindarkan tatapan Siau-hi-ji.

Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, apa pula yang sedang kau pikirkan sekarang?

Betapa pun lambat langkah mereka, namun langkah kelima belas akhirnya toh harus diayunkan. Tanpa terasa Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu ikut tegang, tangan mereka mengepal erat-erat.

Tapi tangan Thi Sim-lan dan So Ing bergerak saja terasa berat, tangan mereka gemetar sedemikian keras seperti orang yang menggigil kedinginan.

Di luar dugaan, pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji roboh terkapar.

Dalam keadaan tegang, pada detik semua orang menahan napas, secara tak terduga-duga dan mengherankan Siau-hi-ji roboh tanpa sebab.

Seketika juga Hoa Bu-koat melenggong, Thi Sim-lan juga melengak. Tentu saja So Ing terlebih-lebih tercengang. Kalau tadi tubuh mereka seakan-akan penuh terisi oleh darah hangat saking tegangnya, kini darah yang memenuhi tubuh mereka itu seolah-olah mendadak tersedot habis seketika, benak mereka pun serasa hampa, semuanya bingung, tiada yang tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi perubahan yang timbul mendadak ini.

Bahkan Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu juga sama melenggong, air muka mereka pun berubah hebat.

Terlihat Siau-hi-ji yang terkapar di tanah itu terus menggigil seperti orang sakit malaria, bahkan makin lama makin hebat menggigilnya, sampai akhirnya tubuhnya meringkuk menjadi satu seperti ebi atau udang kering.

“Apa-apaan kau ini?” omel Lian-sing Kiongcu.

“Dia cuma pura-pura mampus,” kata Kiau-goat dengan gusar.

“Tapi…tapi dia…dia tidak…” Bu-koat tergagap-gagap dan tidak dapat meneruskan.

“Bunuh dia, lekas bunuh dia!” bentak Kiau-goat dengan bengis.

Namun Bu-koat cuma menunduk saja, katanya, “Dia tidak sanggup melawan sama sekali, mana Tecu boleh turun tangan?”

“Kalau dia tidak berani bergebrak denganmu berarti dia mengaku kalah, mengapa kau tidak boleh membunuh dia?” kata Kiau-goat pula.

Bu-koat menunduk, tidak menjawab dan juga tidak turun tangan.

“Apa yang kukatakan padamu tadi apakah sudah kau lupakan?” tanya Kiau-goat dengan gusar.

Dengan suara parau So Ing lantas menyela, “Mana boleh kalian membunuh orang yang tak dapat melawan sama sekali?!” Seperti orang gila ia terus lari maju hendak menubruk tubuh Siau-hi-ji, tapi mendadak terasa suatu arus tenaga mahadahsyat mendampar tiba, tanpa terasa ia terdorong terjungkal ke belakang.

Terdengar Kiau-goat Kiongcu membentak dengan bengis, “Kenapa diam saja dan tidak lekas turun tangan, masa setiap kali dia berlagak mau mampus lantas kau tidak tega membunuhnya? Masa sudah kau lupakan peraturan perguruan kita? Kau berani membangkang pada perintahku?”

Butiran keringat tampak memenuhi dahi Hoa Bu-koat, dengan menunduk ia pandang Siau-hi-ji, ucapnya kemudian, “Kenapa kau tidak berdiri saja untuk bertempur? Masa kau memaksa aku membunuh dalam keadaan begini?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa lebar, katanya, “Baiklah, lekas kau bunuh aku saja, betapa pun takkan kusalahkan kau, sebab ini tak dapat dianggap kau yang membunuhku, orang yang membunuhku sesungguhnya ialah Kang Giok-long.”

Kiau-goat Kiongcu melengak, tanyanya, “Apa artinya ucapanmu ini?”

Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya, “Sebab kalau aku tidak keracunan, tentu kini aku takkan lemas begini sehingga tak dapat bertempur, dan tentunya juga takkan mati konyol begini. Karena itulah, seumpama sekarang kau bunuh diriku juga bukan salahmu dan kau pun tidak perlu menyesal sebab pada hakikatnya bukan kau yang membunuh aku.”

Mendadak ia menatap Kiau-goat dan berkata pula, “Yang membunuhku sesungguhnya ialah Kang Giok-long.”

Kiau-goat dan Lian-sing saling pandang sekejap, tanpa terasa kedua Ih-hoa-kiongcu ini jadi tertegun.

Selang sejenak barulah Kiau-goat bertanya pula dengan suara bengis, “Mengapa kau bisa diracun oleh Kang Giok-long?”

“Betapa pun pintarnya seorang terkadang juga bisa tertipu,” jawab Siau-hi-ji dengan menyengir.

“Kau terkena racun apa?” tanya Lian-sing.

“Li-ji-hong,” tutur Siau-hi-ji.

Lian-sing menghela napas panjang-panjang, ucapnya sambil menatap Kiau-goat, “Melihat keadaan ini, tampaknya memang mirip bekerjanya racun Li ji-hong.”

Air muka Kiau-goat yang pucat itu tampak semakin dingin, selang sejenak, tiba-tiba ia mendengus, “Orang ini banyak tipu akalnya, mana boleh kau percaya pada ocehannya.”

“Percaya atau tidak terserah padamu,” ujar Siau-hi-ji. “Yang jelas waktu aku keracunan cukup banyak-orang yang menyaksikannya.”

“Siapa yang menyaksikan?” tanya Kiau-goat cepat.

“Ada Thi Peng-koh, ada pula seorang yang bernama Oh Yok-su, dengan sendirinya juga ada Kang Giok-long yang meracuniku,” kata Siau-hi-ji.

Lian-sing dan Kiau-goat saling pandang pula sekejap, mendadak mereka melayang berbareng ke sana seperti tertiup angin, hanya sekejap saja mereka sudah berada di bawah pohon sana.

Orang keracunan, hal ini sungguh harus disesalkan, juga menyedihkan. Tapi dalam hati So Ing, Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat sekarang diam-diam justru bergirang, merasa keracunannya Siau-hi-ji sekarang benar-benar kejadian yang beruntung dan menggembirakan.

Dalam pada itu setelah bersama melayang ke bawah pohon sana. Lian-sing Kiongcu lantas bertanya kepada sang kakak, “Sekarang bagaimana pendapatmu?”

Bibir Kiau-goat Kiongcu tampak terkancing rapat dan tidak menjawab.

Maka Lian-sing berkata pula. “Jika Kang Siau-hi betul-betul terkena racun Kang Giok-long, maka kematiannya tidak dapat dianggap terbunuh oleh Hoa Bu-koat. Dengan demikian usaha kita selama ini menjadi tiada artinya sama sekali.”

Sorot mata Kiau-goat setajam pisau mendadak menatap sang adik, ucapnya dengan suara tertahan, “Inilah hasil dari akalmu yang bagus, akalmu ini yang telah membikin susah aku menunggu selama 20 tahun, katamu setelah mereka dewasa tentu akan saling bermusuhan dan saling bunuh, tapi sekarang Hoa Bu-koat harus kupaksa barulah mau turun tangan.”

“Ya, tapi 20 tahun yang lalu mana bisa terpikir olehku bahwa setelah dewasa Siau-hi-ji bisa berubah menjadi begini?” ujar Lian-sing. “Kalau saja ia bukan orang macam begini, bukankah sudah lama Bu-koat telah membunuhnya?” ia menghela napas, lalu menyambung, “Memang banyak kejadian di dunia ini yang tak dapat diduga oleh siapa pun juga, masa engkau menyalahkan aku?”

“Habis siapa kalau bukan kau yang harus kusalahkan?” omel Kiau-goat. “Jika tidak yakin akan akalmu itu, mestinya tidak…tidak perlu kau laksanakan.”

Mendadak Lian-sing menjengek, “Walaupun aku yang mengusulkan akal ini, tapi waktu itu engkau tidak menyanggahnya. Apalagi, bila engkau merasa akalku ini tidak baik, sekarang pun belum terlambat bagimu untuk membunuh mereka berdua.”

Mendadak tangan Kiau-goat terangkat, seperti hendak menampar muka adiknya. Tapi sorot mata Lian-sing tampak mencorong tajam seakan-akan hendak mengatakan, “Aku bukan anak kecil lagi sekarang dan tidak boleh kau pukul sesuka hatimu.”

Akhirnya tangan Kiau-goat diturunkan kembali, ucapnya kemudian dengan suara gemetar, “Aku…aku sudah menderita selama 20 tahun dan baru sekarang kau suruh aku membunuh mereka?”

“Kau menderita selama 20 tahun, memangnya selama 20 tahun ini aku hidup gembira?” ujar Lian-sing dengan nada haru. Selang sejenak, ia menyambung pula, “Tapi penderitaan kita selama 20 tahun ini juga tidak sia-sia, sebab di kolong langit ini hanya kita berdua saja yang tahu kedua anak muda ini sebenarnya adalah saudara kembar. Jika rahasia ini tidak kita siarkan, maka sampai mati pun mereka takkan tahu.”

Air muka Kiau-goat mulai tenang kembali, katanya, “Ya, betul, sampai mati pun mereka tidak tahu.”

“Sebab itulah, lambat atau cepat, pada suatu hari akhirnya mereka pasti juga akan saling membunuh, nasib mereka sudah ditakdirkan begitu, kecuali kita berdua, siapa pun tak dapat mengubah nasib mereka,” Lian-sing merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Dan kita berdua jelas pasti takkan mengubah nasib mereka itu, betul tidak?”

“Ya,” jawab Kiau-goat.

“Nah, jika begitu, hakikatnya sekarang pun kita tidak perlu cemas,” ujar Lian-sing. “Meski rasanya tersiksa kalau kita harus menunggu dan menunggu lagi, tapi mereka kan juga menderita? Kita justru akan menyaksikan mereka bergelut dengan nasibnya sendiri, mirip seperti seekor kucing yang memandangi tikus yang meronta di bawah cakarnya. Apalagi kita sudah menunggu selama 20 tahun, apa alangannya jika sekarang kita menunggu lagi dua tiga bulan?”

“Lantas maksudmu…” mendadak Kiau-goat tidak meneruskan, sebab tiba-tiba dilihatnya sang adik lagi tertawa. Selama hidupnya untuk pertama kali inilah dia meminta pendapat sang adik. Betapa pun ia merasakan wibawa sendiri telah mengalami gangguan, maka tanpa menunggu jawaban Lian-sing ia lantas melanjutkan, “Kutahu maksudmu, kau hendak menawarkan dulu racun Kang Siau-hi-ji itu, kemudian Bu-koat kau suruh membunuhnya, kau ingin dia benar-benar mati di tangan Hoa Bu-koat, begitu bukan?”

Terpancar rasa senang dalam sorot mata Lian-sing Kiongcu, ucapnya dengan suara lembut, “Betul, sebab hanya dengan cara begini barulah dapat membuat Bu-koat merasa menyesal dan tersiksa sehingga merasa mati lebih baik daripada hidup.”

“Sedangkan kalau sekarang kita suruh dia membunuh Kang Siau-hi tentu dia akan memaafkan dirinya sendiri, bahkan bisa jadi dia akan membunuh Kang Giok-long untuk membalaskan sakit hati Kang Siau-hi, jika terjadi demikian, maka rencana kita menjadi tiada artinya sama sekali.”

Kiau-goat terdiam sejenak, katanya kemudian, “Tapi apakah kau tahu Kang Siau-hi ini benar-benar keracunan atau tidak?”

“Untuk ini segera dapat kita ketahui,” ujar Lian-sing.

Di sebelah sana Siau-hi-ji masih rebah menggigil, tapi So Ing, Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat tidak lagi memperhatikannya, pandangan mereka justru tertuju ke arah kedua Ih-hoa-kiongcu di bawah pohon sana.

Tapi ini tidak berarti mereka tidak ambil pusing lagi terhadap Siau-hi-ji, justru lantaran mereka terlalu memikirkan keadaan Siau-hi-ji itulah, maka mereka ingin tahu bagaimana sikap Ih-hoa-kiongcu. Dari sorot mata yang tiga pasang itu mereka ingin tahu sedikit kabar berita dari gerak-gerik Ih-hoa-kiongcu.

Cuma sayang, apa pun tak terlihat oleh mereka, bahkan satu kata saja tak terdengar. Mereka hanya melihat wajah Kiau-goat yang dingin penuh diliputi rasa dendam dan benci, penuh nafsu membunuh. Makin dipandang makin cemas mereka, sehingga bertambah khawatir bagi keselamatan Siau-hi-ji.

Waktu berbicara kedua Ih-hoa-kiongcu itu tidak lama, tapi bagi mereka bertiga rasanya telah menunggu beberapa jam lamanya, semakin gelisah dan cemas rasa mereka, semakin lambat pula lalunya sang waktu.

Hanya Siau-hi-ji saja, meski tubuhnya masih terus menggigil, tapi sikapnya sama sekali tidak khawatir. Dia seperti yakin Ih-hoa-kiongcu pasti takkan membunuhnya sekarang.

Entah sudah lewat beberapa lama pula, akhirnya kelihatan kedua kakak beradik Ih-hoa-kiongcu melangkah kemari dengan perlahan. Segera Bu-koat hendak menyongsong mereka, tapi baru bergerak kakinya segera berhenti lagi.

Setiba di depan Siau-hi-ji, dengan suara bengis Kiau-goat lantas bertanya, “Waktu kau keracunan antara lain disaksikan juga oleh Peng-koh, begitu?”

Siau-hi-ji mengiakan sambil merintih.

“Baik, boleh kau suruh dia keluar, akan kutanyai dia,” kata Kiau-goat.

“Ke mana harus kupanggil dia? Pada hakikatnya aku tidak tahu dia berada di mana sekarang?” jawab Siau-hi-ji.

“Kan jelas dia kulemparkan ke dalam gua itu?” bentak Kiau-goat dengan gusar.

“Hah, apakah kau kira gua ini cuma ada sebuah jalan keluar-masuk di sini?”

“Memangnya masih ada jalan keluar lain? Jika ada, masa kau tidak kabur sejak tadi-tadi,” jengek Kiau-goat.

Siau-hi-ji balas menjengek, “Untuk apa kukabur? Betapa pun kan aku tidak boleh ingkar janjiku kepada Hoa Bu-koat. Tapi Thi Peng-koh memang sudah pergi sejak tadi, jika tidak percaya, kenapa tidak kau periksa sendiri ke dalam sana.”

Belum habis ucapannya secepat terbang Kiau-goat Kiongcu telah melayang ke tebing sana. Tali yang dilemparkan ke bawah oleh Hoa Bu-koat tadi masih bergelantungan di situ. Dengan gesit Kiau-goat lantas melorot ke dalam gua. Tidak lama kemudian, secepat angin ia keluar lagi. Dari air mukanya dapat terlihat dia pun merasa heran dan tak terduga-duga.

“Nah, sekarang kau percaya tidak?” jengek Siau-hi-ji.

Kiau-goat hanya mendengus saja.

“Dan sekarang tentunya kau tahu, apabila aku tidak mau bergebrak dengan Hoa Bu-koat tentu sejak tadi-tadi aku sudah kabur bersama Thi Peng-koh dan tidak perlu kutunggu di sini, lalu pura-pura keracunan segala.”

Kiau-goat berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Jika demikian, apakah kau tahu Kang Giok-long berada di mana sekarang?”

“Sudah tentu kutahu,” jawab Siau-hi-ji. “Cuma kukhawatir setelah kusebut tempat itu, belum tentu kalian berani pergi mencarinya.”

Sekali ini Kiau-goat tidak marah lagi, ia malah merasa geli, ucapnya dengan tak acuh, “Tiada suatu tempat apa pun di kolong langit ini yang tak berani kudatangi.”

Namun Siau-hi-ji sengaja membakarnya lagi, jengeknya, “Mungkin cuma tempat ini saja yang tak berani kau datangi, sebab belum pernah kulihat ada perempuan yang tidak takut pada tikus.”

Sorot mata Kiau-goat mencorong terang, tanyanya, “Yang kau maksud jangan-jangan Gui Bu-geh? Apakah ia berada di bukit ini?”

“Sudah tentu ia berada di bukit ini, engkau benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?” jengek Siau-hi-ji.

Padahal ia pun tahu sebabnya Gui Bu-geh bersembunyi di sini adalah karena ingin meyakinkan semacam ilmu sakti untuk menghadapi Ih-hoa-kiongcu, dengan sendirinya tempat tinggalnya ini sangat dirahasiakan dan tidak mungkin diketahui Ih-hoa-kiongcu, tapi ia pun tidak habis mengerti mengapa Hoa Bu-koat tidak memberitahukan padanya.

Hanya So Ing saja yang tahu apa sebabnya Bu-koat tidak melaporkan tempat sembunyi Gui Bu-geh ini kepada Ih-hoa-kiongcu, soalnya Bu-koat hakikatnya tidak bertemu dengan Gui Bu-geh. Mestinya So Ing ingin memberitahukan Siau-hi-ji bahwa di tempat Gui Bu-geh itu telah terjadi perubahan yang mengejutkan, bukan saja Kang Giok-long tidak mungkin berada di sana, bahkan Gui Bu-geh sendiri juga menghilang entah ke mana.

Tapi dia tidak jadi bilang kepada Siau-hi-ji, sebab ia justru ingin pergi ke sana agar dapat melihat sendiri apa yang terjadi di sana, untuk itulah dia khawatir Siau-hi-ji tidak mau mengiringi dia pergi ke sana.

Terlihat sikap Kiau-goat tidak banyak berubah meski Siau-hi-ji sengaja hendak memancing kemarahannya, dia seperti tidak ambil pusing.

Dari sikap Ih-hoa-kiongcu ini dapat dinilai bahwa Gui Bu-geh pada hakikatnya sama sekali tak terpandang atau sangat diremehkan olehnya. Malahan dalam hati Ih-hoa-kiongcu bobot Siau-hi-ji terlebih berat dari pada Gui Bu-geh.

Sampai di sini, mau tak mau So Ing menjadi terheran-heran, pikirnya, “Apa pun juga Gui Bu-geh adalah tokoh terkemuka dunia Kangouw yang dapat dihitung dengan jari, pula dia tidak sayang mengasingkan diri selama dua puluhan tahun untuk meyakinkan semacam ilmu sakti buat menghadapi ilmu silat Ih-hoa-kiong, ini suatu tanda bahwa antara Gui Bu-geh dan Ih-hoa-kiongcu pasti ada permusuhan yang sangat mendalam. Tapi tampaknya Ih-hoa-kiongcu sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap Gui Bu-geh, sebaliknya Siau-hi-ji malah tidak pernah berjumpa dengan Ih-hoa-kiongcu sebelum ini, namun dalam hal-hal paling kecil yang menyangkut anak muda itu justru mendapat perhatian sang Kiongcu, bahkan malah mengalah dan bicara halus, tujuannya hanya ingin Hoa Bu-koat membunuh Siau-hi-ji dengan tangan sendiri, sesungguhnya apakah sebabnya?”

Begitulah makin dipikir semakin terasa oleh So Ing akan ruwetnya persoalan ini, sungguh misterius dan kompleks.

Dalam pada itu Ih-hoa-kiongcu sudah bicara dua-tiga kalimat, tapi So Ing tidak mendengar apa yang diucapkannya. Hanya didengarnya Siau-hi-ji berkata, “Baiklah, akan kubawa kau ke sana, tapi sekarang aku tak dapat bergerak, siapa yang memayang diriku?”

Bu-koat dan Thi Sim-lan seperti ingin memberi bantuan, tapi Bu-koat lantas melihat sorot mata Ih-hoa-kiongcu yang tajam itu sedang menatapnya, cepat ia berpaling ke arah Thi Sim-lan seakan-akan menyuruh nona itu suka memayang Siau-hi-ji. Tapi demi melihat Hoa Bu-koat sedang memandangnya, seketika Thi Sim-lan juga urungkan niatnya, tangannya yang sudah terjulur segera diturunkan kembali.

So Ing tersenyum, ucapnya dengan lembut, “Jika kau tidak mengomel jalanku terlalu lambat, biarlah aku saja yang memayangmu.”

Sudah cukup jauh So Ing memayang Siau-hi-ji ke sana, tapi Bu-koat masih tetap berdiri melenggong di tempatnya, kepala Thi Sim-lan juga menunduk semakin rendah, air mata pun mulai menetes.

Lian-sing Kiongcu memandang Bu-koat, lalu memandang pula Thi Sim-lan, tiba-tiba ia pegang tangan Thi Sim-lan dan berkata dengan halus, “Marilah kau ikut berangkat bersamaku!”

Sungguh mimpi pun tak terduga oleh Thi Sim-lan bahwa Ih-hoa-kiongcu bisa memperhatikan dirinya, seketika ia menjadi bingung, entah kejut entah girang. Hanya terasa olehnya suatu arus tenaga yang lunak tapi kuat tersalur dari tangan orang, tanpa kuasa tubuhnya lantas ikut melayang ke sana bersama Lian-sing Kiongcu.

Bu-koat juga terkesiap dan bergirang melihat Lian-sing Kiongcu sudi menggandeng tangan Thi Sim-lan, tapi mendadak entah apa pula yang terpikir olehnya, tiba-tiba timbul juga rasa pilunya.

Terdengar Kiau-goat berkata padanya, “Sekarang tentunya kau pun dapat berangkat.”

Meski cuma satu kalimat yang jamak, tapi bagi pendengaran Bu-koat terasa lain, sebab ia merasa Ih-hoa-kiongcu telah dapat menerka isi hatinya. Padahal isi hatinya justru tidak dapat diketahui oleh orang lain.

Cukup lama sudah So Ing memayang Siau-hi-ji berjalan ke sana dan belum lagi mendengar ada orang menyusulnya. Ia menoleh beberapa kali, lalu berkata dengan tertawa, “Selama setengah hari ini telah banyak yang terjadi, setiap kejadian tampaknya sangat di luar dugaan dan mengejutkan, padahal setiap peristiwa memang sudah diatur olehmu, betul tidak?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya, “Apa yang kau maksud, sungguh aku tidak paham.”

“Kau tidak perlu berlagak pilon,” ujar So Ing dengan tertawa. “Sekarang aku sudah tahu, bukan saja kau sengaja membiarkan dirimu dijerumuskan ke dalam gua oleh Kang Giok-long, bahkan hal keracunan juga kau sengaja, hakikatnya kau tidak pernah tertipu oleh siapa pun juga.”

“Memangnya untuk apa aku sengaja diracuni orang? Masa aku suka mati keracunan?”

“Soalnya kau tahu hanya dengan cara demikian baru dapat mencegah Hoa Bu-koat turun tangan padamu, sedangkan kau memang tiada maksud turun tangan terhadap Hoa Bu-koat. Kau pun sudah menghitung dengan tepat Ih-hoa-kiongcu pasti akan berdaya untuk menawarkan racunmu, sebab itulah meski orang lain khawatir dan kelabakan setengah mati bagimu, tapi kau sendiri malah adem ayem saja, sedikit pun tidak cemas dan gelisah.”

“Aku tidak cemas dan gelisah karena pada dasarnya aku memang orang yang tidak dapat gelisah, bagiku biarpun langit akan ambruk juga kupercaya pasti ada seorang yang berperawakan lebih tinggi daripadaku yang sanggup menahannya.”

“Hihi, semakin kau tidak mau mengaku, semakin terbukti bahwa kau memang sengaja berlagak pilon,” ujar So Ing dengan tertawa.

“Haha! Ini logika macam apa?” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Kalau menuruti jalan pikiranmu ini, kan berarti bahwa jika kau semakin tidak mau makan tahi anjing, maka semakin terbukti kau ini gemar makan tahi anjing?”

So Ing tidak pedulikan cemoohan anak muda itu, ia menyambung pula, “Sudah di dalam perhitunganmu bahwa Ih-hoa-kiongcu pasti akan mengusut benar tidaknya kau keracunan, maka lebih dulu kau mengenyahkan Thi Peng-koh dan Oh Yok-su, dengan demikian terpaksa Ih-hoa-kiongcu harus langsung mencari Kang Giok-long, sedangkan kau sudah tahu saat ini Kang Giok-long bersembunyi di liang tikus, bila ke sana Ih-hoa-kiongcu mencari Kang Giok-long pasti akan kepergok Gui Bu-geh. Kalau Ih-hoa-kiongcu bertemu dengan Gui Bu-geh pasti pula akan terjadi pertarungan sengit. Apabila Gui Bu-geh dapat membunuh Ih-hoa-kiongcu tentu saja sangat baik, sebaliknya jika Gui Bu-geh yang terbunuh oleh Ih-hoa-kiongcu, maka dendammu kepada tikus besar itu pun dapat terlampiaskan.”

Sampai di sini, So Ing berganti napas dulu, lalu menyambung pula, “Sebab itulah, peduli siapa di antara mereka yang akan menang, yang pasti toh berfaedah bagimu. Jika kedua pihak mereka sama-sama terluka, malahan ini lebih-lebih menyenangkan bagimu. Ini namanya tipu sekali tepuk dua-tiga lalat.”

“Wah, tipu bagus yang ruwet ini sungguh tak dapat kupikirkan, bahkan mendengarkan saja aku menjadi bingung sendiri,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

So Ing tersenyum, katanya, “Bukan soal, sekalipun kau tidak mau mengaku, yang penting aku menjadi paham duduk perkaranya. Sekarang aku tidak mengkhawatirkan urusan lain, yang kukhawatirkan adalah kepalamu bisa cepat botak lantaran terlalu banyak memeras otak dengan macam-macam tipu akalmu yang sukar diraba itu.”

“Memangnya kenapa kalau kepalaku menjadi botak?” tukas Siau-hi-ji. “Kan banyak perempuan yang anggap lelaki botak justru mahakuat?” tanpa menunggu jawaban So Ing segera dia melanjutkan pula,” Nah, kau telah tanya macam-macam padaku, sekarang menjadi giliranku untuk tanya padamu?”

“Kau ingin tanya apa?”

“Apa pun juga, Gui Bu-geh cukup baik padamu. Kau sendiri pun mengakui dia adalah ayah angkatmu. Sekarang Ih-hoa-kiongcu merecoki dia, tapi kau tidak gelisah, sebaliknya malah menjadi petunjuk jalannya, mengapa kau bertindak demikian?”

So Ing tidak menjawab, selang sejenak barulah la menghela napas perlahan.

“Kutahu tentu ada sesuatu yang kau simpan di dalam hatimu dan tidak kau katakan padaku, jangan-jangan tadi Thi Sim-lan…”

Siau-hi-ji tidak meneruskan ucapannya, sebab saat itu Lian-sing Kiongcu telah menyusul tiba dengan menggandeng Thi Sim-lan.

Siau-hi-ji mengerling, tiba-tiba ia berkata kepada Thi Sim-lan dengan tertawa, “Kita kan sudah cukup lama tidak berjumpa? Mungkin sudah lebih dua bulan bukan?”

Agaknya Thi Sim-lan tidak menduga Siau-hi-ji akan bicara padanya, seketika ia menjadi kelabakan dan tidak tahu cara menjawabnya, mukanya menjadi merah.

Lalu Siau-hi-ji berpaling dan berkata kepada So Ing, “Coba lihat, baru dua bulan tidak berjumpa, aku menjadi seperti orang asing baginya. Baru kutanya satu-dua kalimat padanya, segera mukanya merah.”

So Ing menghela napas gegetun, ucapnya dengan suara tertahan, “Dia sudah cukup menderita, mengapa kau menyiksanya pula?”

Tapi Siau-hi-ji lantas menoleh lagi kepada Thi Sim-lan, katanya, “Coba, kau dengar tidak? Dia anggap aku sedang menyiksamu, padahal aku kan cuma menyampaikan salamku padamu, masa aku dianggap menyiksamu?”

Thi Sim-lan hanya menggeleng saja tanpa bicara, matanya menjadi merah dan basah lagi.

“Kita memang sudah lebih dua bulan tidak berjumpa bukan?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Ehm,” Thi Sim-lan bersuara lirih sambil menunduk.

“Kukira, selama dua bulan ini tentu banyak yang terjadi,” ujar Siau-hi-ji dengan menghela napas. “Sebab kulihat, meski cuma dua bulan kita tidak bertemu, tapi engkau sudah banyak berubah.”

Hati Thi Sim-lan serasa tertusuk, tanpa terasa air mata bercucuran pula. Sebab dia merasa dirinya memang benar sudah banyak berubah.

Dahulu bila ia lihat Siau-hi-ji, maka segala apa pun terlupakan dan dia akan lari kepadanya.

Tapi kini? Mengapa kini dia tidak seperti dahulu lagi? Apakah dalam penilaiannya bobot Hoa Bu-koat telah mulai bertambah berat setitik demi setitik?

Ya, memang betul, bobot Hoa Bu-koat memang sudah bertambah berat dalam hati Thi Sim-lan, sebab selama dua bulan ini memang telah banyak yang terjadi. Seumpama dia dapat melupakan budi kebaikan Hoa Bu-koat yang berulang-ulang menyelamatkan jiwanya, tapi mana bisa dia melupakan betapa tekun dan prihatin waktu Hoa Bu-koat merawatnya ketika dia terluka?

Selama beberapa hari itu boleh dikatakan Bu-koat lupa makan dan lupa tidur, yang dipikir hanya keselamatan Thi Sim-lan saja.

Apalagi, seumpama dia dapat melupakan kejadian ini, tapi mana dia dapat melupakan waktu perjalanan jauh itu dengan macam-macam peristiwa yang mengesankan itu?

Bilamana dia memejamkan mata, seketika seakan-akan terbayang lagi malam yang sunyi dan rawan itu, mereka bergadang sepanjang jalan untuk mencari arak. Apabila ia memejamkan mata, segera terkenang waktu dia menyaksikan Hoa Bu-koat tertawa latah, tertawa yang menderita dan menyuruh Sim-lan jangan menghiraukannya lagi, tujuan Bu-koat hanya supaya si nona tidak ikut berduka baginya.

Seorang yang sudah tahu dirinya pasti akan mati toh masih memikirkan suka-duka orang lain dan menyampingkan keselamatannya sendiri, betapa luhurnya perasaan demikian, siapa pula yang dapat melupakan perasaan yang mengesankan itu?

Begitulah sejak tadi Lian-sing Kiongcu memandangi Thi Sim-lan dengan dingin, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kau pun merasa dirimu telah banyak berubah?”

“Aku…aku…” Sim-lan tidak sanggup melanjutkan lagi karena pecahlah tangisnya.

Lian-sing Kiongcu lantas beralih kepada Siau-hi-ji, jengeknya, “Tentunya kau tidak perlu tanya dia lagi, sebab kau kan sudah tahu apa jawabannya.” Tanpa menunggu ucapan Siau-hi-ji segera ia menambahkan pula dengan tertawa, “Tapi kau juga lebih suka tidak mengetahui jawabannya, betul tidak?”

Siau-hi-ji mencibirnya, katanya, “Jika kau kira aku menjadi sedih, huh, persetan!”

“Ya, aku pun berharap janganlah kau bersedih,” ucap Lian-sing dengan tak acuh.

Apakah benar Siau-hi-ji tidak sedih? Jawabannya hanya dia sendiri yang tahu.

Sungguh lambat sekali jalan So Ing, sudah sekian lamanya barulah kelihatan hutan lebat di kejauhan sana.

“Itu dia liang tikus tempat tinggal Gui Bu-geh…” belum habis ucapan Siau-hi-ji, sekonyong-konyong dilihatnya seekor tikus besar lagi gemuk menerobos keluar dari semak-semak sana, terus menyusup ke semak-semak di tepi jalan sini.

Selang sejenak, kembali terdengar suara “cuat-cuit”, suara tikus yang ramai mirip segerombolan tikus yang sedang berkejar-kejaran.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya, “Aneh, biasanya kawanan tikus ini dipandang seperti mestika oleh Gui Bu-geh, mengapa sekarang lari serabutan ke mana-mana”

Meski tidak menanggapi ucapan Siau-hi-ji itu, tapi diam-diam So Ing bertambah khawatir. Kini dia dapat memastikan di liang kediaman Gui Bu-geh itu tentu telah terjadi sesuatu perubahan besar, kalau tidak kawanan tikus ini pasti takkan berkeliaran di luar sini.

Angin meniup semakin keras, tanpa terasa langkah So Ing bertambah cepat. Di tengah cuaca yang suram tiba-tiba tertampak sesosok tubuh tergantung di pohon sana dan terkontal-kantil tertiup angin.

“Aneh, di depan pintu rumah Gui Bu-geh mengapa ada orang menggantung diri?” kata Siau-hi-ji sambil berkerut kening.

Orang ini memang benar mati gantung diri. Tidak terdapat luka apa pun di tubuhnya, tapi pipinya tampak merah bengkak, jelas sebelum mati dia telah ditampar orang dengan keras.

“Apakah orang ini anak murid Gui Bu-geh?” tanya Lian-sing Kiongcu sambil mengernyit kening.

“Kecuali murid Gui Bu-geh, siapa yang sudi gantung diri setelah ditempeleng orang?” ucap Siau-hi-ji sambil menyengir.

“Baru saja kau bilang dia mati gantung diri?” kata Lian-sing pula.

Siau-hi-ji tidak menanggapi pula, tapi dia mendekati mayat itu dan menarik dada bajunya. Maka tertampaklah di dadanya ada dua baris huruf yang ditulis dengan warna hijau mengkilap, bunyinya, “Anak murid Gui Bu-geh, boleh dibunuh, tidak boleh dihina.”

“Nah sekarang tentunya kau tahu,” kata Siau-hi-ji. “Mungkin ada orang hendak menerjang ke dalam liang tikus Gui Bu-geh, tapi muridnya ini tidak mampu merintangi, sebaliknya malah kena digampar orang. Dia menjadi khawatir akan dibunuh sendiri oleh Gui Bu-geh, saking ketakutan dia lantas bunuh diri lebih dulu dengan menggantung, rupanya yang gantung diri malah tidak cuma seorang.”

Yang gantung diri memang betul tidak cuma seorang saja, di hutan sana ada belasan mayat yang bergelantungan dengan tanda luka yang serupa, malahan ada yang tulang pipinya tertampar remuk.

“Keras amat tenaga tamparan orang ini, hanya sekali tampar saja dapat meremukkan tulang pipi, entah siapakah gerangannya?” gumam Siau-hi-ji, “Besar juga nyalinya berani dia mencari perkara kepada Gui Bu-geh.”

Waktu dia menunduk, baru diketahuinya di mana-mana berserakan rontokan gigi yang masih berdarah, jelas karena tamparan orang ini, bukan saja pipi lantas bengkak dan tulang pipi remuk, bahkan semua gigi sasarannya juga rompal seluruhnya. Belasan orang yang tewas ini tampaknya sama sekali tidak mampu melawan.

Diam-diam Siau-hi-ji terkesiap, sebab ia tahu anak murid Gui Bu-geh tidak ada yang lemah, tapi semuanya telah binasa cara begini. Setelah termenung sejenak, kemudian ia bergumam, “Tampaknya orang yang membunuh mereka ini memiliki kepandaian beberapa kali lipat daripadaku.”

“Dari mana kau tahu?” tanya So Ing. Makin pikir semakin khawatir dia. Soalnya ia tahu ilmu silat Gui Bu-geh tidak terlalu jauh di atas Siau-hi-ji, jika kepandaian penyatron ini berlipat ganda daripada Siau-hi-ji, maka jelas Gui Bu-geh juga sukar terhindar daripada kematian.

Siau-hi-ji berkata, “Mungkin aku pun sanggup membunuh orang-orang ini, tapi bila aku diharuskan menampar mereka masing-masing satu kali, jelas aku tidak mampu.”

“Sebab apa? Memangnya membunuh orang jauh lebih mudah daripada menamparnya?” tanya So Ing.

“Sebabnya, apabila aku hendak membunuh mereka, tentu dapat kulakukan dengan berbagai cara dan dengan macam-macam jurus serangan yang tidak sama, dengan demikian mereka pun pasti sukar melawan.”

“Ehm,” So Ing mengangguk setuju.

“Tapi orang ini jelas belum mengeluarkan kepandaiannya yang sejati, dia cuma menampar sekenanya dan sasarannya ternyata tiada yang mampu bertahan, bahkan berkelit juga tidak sempat. Dari sini dapat diketahui betapa cepatnya serangan orang itu, jelas lebih cepat daripadaku, apalagi sekali tampar saja ia sanggup membikin remuk tulang kepala sasarannya, ini pun menandakan tenaga dalamnya jauh lebih kuat daripadaku.”

So Ing menoleh, dilihatnya Ih-hoa-kiongcu juga merasa prihatin dan mendengarkan dengan cermat, nyata mereka pun menganggap komentar Siau-hi-ji ini memang tepat.

Selang sejenak, tiba-tiba Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Menurut kau sudah berapa lama mereka binasa?”

Pertanyaan ini ternyata ditujukan kepada Siau-hi-ji, nyata Ih-hoa-kiongcu yang biasanya angkuh dan meremehkan segalanya, kini juga mulai menghargai pandangan Siau-hi-ji.

Maka Siau-hi-ji menjawab, “Seorang kalau sudah mati satu setengah jam baru mayatnya akan dingin dan kaku.”

“Jika demikian, jadi peristiwa ini terjadi pada satu setengah jam yang lalu?” tanya Kiau-goat pula.

“Yang kumaksudkan adalah mayat mereka baru akan dingin bilamana kematian mereka sudah berselang satu setengah jam, aku tidak bilang peristiwa ini terjadi pada satu setengah jam yang lalu.”

“Lalu, menurut kau, bilakah peristiwa ini terjadi?” tanya Lian-sing Kiongcu.

“Sebelum magrib kemarin,” jawab Siau-hi-ji.

“Dari mana kau tahu?” tanya Lian-sing pula.

“Sebab kutahu, kira-kira dua setengah jam yang lalu nona Thi pernah datang ke sini, jika orang-orang ini belum mati, tentu mereka sudah menyambutnya ke dalam liang tikus sana, tatkala mana kalau Hoa Bu-koat mencarinya ke sini, tentu dia akan bergebrak dengan Gui Bu-geh, dan waktu kalian datang kemari mencari Hoa Bu-koat tentu juga tak terhindar dari bentrokan dengan Gui Bu-geh.”

Lian-sing Kiongcu memandang Bu-koat sekejap, katanya kemudian, “Ya, betul juga.”

“Tapi jelas Hoa Bu-koat tidak kalian temukan di sini, dari ini dapat diketahui waktu itu Hoa Bu-koat dan nona Thi ini telah meninggalkan tempat ini atas kemauan mereka sendiri, betul tidak?”

“Betul,” ucap Lian-sing.

“Jika demikian, tatkala mana orang-orang ini pun pasti sudah mati,” kata Siau-hi-ji pula.

“Lalu, mengapa tidak mungkin mereka ini mati sebelum dua setengah jam yang lalu, mengapa kau bilang mereka mati pada waktu magrib kemarin?”

“Saat ini masih pagi, dua setengah jam yang lalu tentu belum lagi terang tanah,” ujar Siau-hi-ji. Tiba-tiba ia tertawa, lalu menyambung, “Umpama kau ingin mencari perkara kepada Gui Bu-geh, apakah engkau akan datang pada waktu hari sudah gelap?”

Lian-sing Kiongcu berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Tentu tidak.”

“Betul, tentu takkan kau lakukan, sebab kalau kau datang mencari orang di tengah malam buta, tentu akan menurunkan derajat dirimu, apalagi semakin gelap semakin berfaedah bagi orang macam Gui Bu-geh. Bila bertempur dengan Gui Bu-geh, di tempat kediamannya, bagimu sudah kalah tempat, kalau kau datang di tengah malam, berarti salah waktu pula.”

Siau-hi-ji merandek sejenak dan tertawa, lalu menambahkan, “Engkau kan orang pintar, masakan engkau mau bertindak sebodoh ini?”

Lian-sing memandang sekejap kepada Kiau-goat Kiongcu, meski tidak berucap apa-apa, tapi dari sorot matanya jelas mengunjuk perasaan memuji akan kecerdasan Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji lantas menyambung pula, “Dilihat dari cara turun tangan orang ini, jelas tindak tanduknya selalu blak-blakan, sebab itulah dapat kupastikan kedatangannya ke sini pasti tidak dilakukan pada waktu malam, dan kalau tidak datang waktu malam, tentunya dia datang sebelum petang kemarin.” Dia tepuk-tepuk tangannya dengan tertawa, lalu menambahkan. “Nah, bagaimana pendapat kalian atas pandanganku ini?”

“Hm, kan sudah jelas dan sederhana kejadian ini, siapa pun dapat menerkanya,” jengek Kiau-goat.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, jika kau dapat menduganya, untuk apa kalian tanya lagi padaku?”

Kiau-goat Kiongcu menarik muka dan tidak menggubrisnya lagi, sekali bergerak, secepat angin dia lantas melayang ke tengah hutan sana.

Siau-hi-ji mencibirnya dari belakang, ucapnya dengan tertawa, “Kau pun tidak perlu marah. Padahal kutahu, biarpun di mulut kau tidak omong, tapi di dalam hati kau sangat mengagumi aku.”

Setelah melintasi hutan, di depan mengadang dinding tebing yang tinggi dan luas mirip sebuah pintu angin alam. Dinding tebing penuh tetumbuhan akar-akaran mengalingi warna batu tebing yang sebenarnya.

Kiau-goat Kiongcu tidak melihat sesuatu gua dan sebagainya, ia terpaksa menoleh dan bertanya, “Di mana tempat tinggal Gui Bu-geh?”

Meski bicaranya menghadap Lian-sing Kiongcu, padahal ia pun tahu sang adik juga tak dapat memberi keterangan, dengan sendirinya pertanyaan itu ditujukan kepada Siau-hi-ji.

Tapi anak muda itu pura-pura tidak tahu, dia malah menengadah memandang langit dan bergumam, “Tadi kukira mau hujan, siapa tahu cuaca berubah cerah lagi.”

Kiau-goat Kiongcu sangat mendongkol, dengan mendelik ia membentak, “Di mana liang kediaman Gui Bu-geh?”

Siau-hi-ji seperti tercengang dan berpaling, tanyanya, “Apakah kau tanya padaku?”

“Ya, kutanya kau!” bentak Kiau-goat gusar.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Persoalan sederhana begini, mengapa engkau perlu tanya padaku?”

Muka Kiau-goat menjadi pucat saking menahan gemasnya, tapi juga tidak dapat bicara lagi.

Ia lihat Siau-hi-ji berimpitan dengan So Ing melangkah terus ke depan, akar-akaran yang memenuhi dinding tebing di situ lantas dibetot dan disingkap. Tumbuh-tumbuhan itu sangat lebat, tapi sebagian sudah kering. Setelah akar-akaran itu disingkirkan, tertampaklah sebuah gua yang gelap gulita, tiada setitik sinar pun tertampak di dalam.

“Inilah tempatnya, silakan masuk,” kata Siau-hi-ji.

Selain gelap gulita, gua ini pun sangat kecil, seumpama seorang kerdil juga perlu menunduk dan membungkuk baru dapat menyusup ke dalam.

Padahal nama Gui Bu-geh sangat berpengaruh, anak muridnya juga tak terhitung banyaknya, siapa pun tidak menduga bahwa dia bisa berdiam di suatu gua yang lebih kecil daripada liang anjing.

Tentu saja semua orang merasa heran dan sangsi, lebih-lebih Hoa Bu-koat. Ia pernah melihat tempat tinggal So Ing yang indah dan resik itu, maka ia menyangka tempat tinggal Gui Bu-geh pasti juga sangat mentereng, siapa tahu hanya sebuah gua kecil begini saja. Dengan ragu-ragu ia lantas tanya, “Apakah ini tempat tinggal Gui Bu-geh?”

“Ya, masa kau heran?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Bu-koat masih ingin omong sesuatu, tapi setelah memandang Kiau-goat sekejap, segera kepalanya tertunduk pula.

Diam-diam Siau-hi-ji gegetun melihat sikap Bu-koat itu, tapi dia masih tetap tertawa dan berkata, “Meski gua ini bukan liang tikus yang baik, tapi sangat cocok bagi tempat tinggal Gui Bu-geh, masakan kalian merasa heran?”

Sambil bicara ia terus mendahului menyusup ke dalam gua. Tertampak tubuhnya sempoyongan, melangkah saja tidak kuat, seperti tiada tenaga sama sekali.

Kiau-goat Kiongcu mengernyitkan kening, bentaknya tiba-tiba, “Berhenti!”

Siau-hi-ji menoleh dan bertanya, “Untuk apa berhenti? Entah apa yang telah terjadi di liang tikus ini, bisa jadi begitu masuk segera jiwa akan melayang. Masa kurang baik bila aku menjadi pelopor bagi kalian?”

“Justru lantaran yang jalan di depan lebih besar bahayanya, makanya kau harus berhenti,” ucap Lian-sing Kiongcu.

“Tak tersangka kalian sedemikian memperhatikan diriku, sungguh aku sangat berterima kasih,” kota Siau-hi-ji dengan tertawa. “Cuma aku telah keracunan, hidup juga tiada artinya lagi, biar mati saja lebih baik.”

“Kau tidak boleh mati,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

Mendadak Siau-hi-ji merasa angin berkesiur, tahu-tahu Kiau-goat telah melayang lewat di sampingnya melalui peluang yang cuma satu kaki luasnya, bahkan ujung bajunya saja tidak tersentuh.

Melihat betapa hebat Ginkang Ih-hoa-kiongcu, mau tak mau Siau-hi-ji menghela napas gegetun, gumamnya, “Jika saat ini Gui Bu-geh sudah mati, maka lebih untung baginya. Kalau tidak, bila dia jatuh di tangan orang ini, tentu nasibnya tiada ubahnya seperti diriku, ingin mati pun sulit.”

Begitulah berturut-turut mereka lantas masuk gua itu mengikuti jejak Kiau-goat Kiongcu. Belasan tindak kemudian jalan itu lantas membelok ke kiri, gua yang sempit dan gelap itu mendadak terbeliak dan terbentang sebuah jalan yang cukup lebar.

Kedua tepi jalan adalah batu-batu putih laksana kemala yang licin gilap, di bagian atas samar-samar seperti ada cahaya lampu, tapi tak terlihat lampunya terselip di mana.

Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat dan juga Ih-hoa-kiongcu sama sekali tidak menduga di dalam gua ini masih ada dunia lain, mau tak mau wajah mereka sama menampilkan rasa kejut dan heran.

“Sekarang kalian jadi heran bukan?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi nanti kalau kalian sudah melihat bagian dalamnya, bisa jadi kalian akan tambah melongo heran. Meski aku belum pernah melihat istana raja, tapi kuyakin istana raja juga takkan lebih mentereng daripada liang tikus Gui Bu-geh ini.”

Tiada seorang pun yang menanggapi ucapannya, maka Siau-hi-ji menyambung pula, “Padahal juga tidak perlu diherankan, sekalipun seekor anjing kan juga ingin membuat sarangnya seelok mungkin. Hanya saja Gui Bu-geh tinggal di sini lantaran sengaja mengasingkan diri untuk meyakinkan ilmu sakti, dengan sendirinya dia tidak dapat memajang pintu rumahnya seperti reklame restoran besar.”

Sambil bicara dengan tertawa, malah seperti khawatir kalau-kalau orang lain tidak mendengarnya, maka ia sengaja bersuara keras. Maka bergemalah kumandang suaranya dari lorong-lorong bagian dalam sana, di mana-mana hanya mendengung suara Siau-hi-ji.

“Kenapa mulutmu tak bisa bungkam, tanpa bicara juga orang takkan anggap kau bisu,” omel Lian-sing dengan mendongkol.

“Memangnya kau takut didengar oleh Gui Bu-geh?” tanpa menunggu jawaban Ih-hoa-kiongcu itu, segera Siau-hi-ji menyambung pula dengan tertawa. “Apabila aku yang mau cari perkara pada seseorang, maka pasti aku akan masuk ke sini secara blak-blakan, jika datang dengan main sembunyi-sembunyi, lalu terhitung orang gagah macam apa?”

Lian-sing Kiongcu tidak menanggapinya, dengan perlahan ia lantas berkata, “Gui Bu-geh, dengarkanlah, orang Ih-hoa-kiong berkunjung kemari, silakan kau keluar sini!”

Suaranya tidak keras, tapi aneh, suara tertawa Siau-hi-ji yang bergema itu seolah-olah tenggelam dan tak terdengar lagi, sebagai gantinya adalah ucapan Lian-sing Kiongcu yang berkumandang jauh ke sana. Akan tetapi selain kumandang suaranya itu tiada terdengar lagi suara lain.

Yang paling cemas tampaknya ialah So Ing. Ia menduga saat ini keadaan Gui Bu-geh lebih banyak celaka daripada selamatnya. Sebab kalau Gui Bu-geh tidak mati, tidak perlu menunggu Siau-hi-ji bergembar-gembor dan tidak perlu Ih-hoa-kiongcu berseru menantang, tentu sejak tadi pesawat rahasia yang banyak terpasang di lorong bawah tanah ini telah bekerja.

Mendadak Kiau-goat Kiongcu hentikan langkahnya dan berkata, “Lihatlah apa ini?”

Waktu semua orang memandang ke sana, tertampak di jalan lorong ini ada bekas telapak kaki, bekas ini berjarak tertentu secara teratur, sekalipun pakai ukuran lalu diukir juga takkan begini rajin.

Padahal jalan lorong ini terbuat dari batu, seperti juga dindingnya, batunya keras dan licin, seumpama diukir dengan pisau juga tidak mudah. Tapi bekas kaki orang ini ternyata jauh lebih jelas daripada ukiran.

“Hebat juga tenaga dalam orang ini,” ucap Lian-sing kemudian setelah berpikir, “Cuma caranya ini terlalu bodoh.”

“Bodoh? Apa maksudmu?” tanya Siau-hi-ji.

“Kedatangan orang ini jelas hendak mencari Gui Bu-geh, lalu buat apa dia membuang-buang tenaga atas batu ini?” ujar Lian-sing Kiongcu.

Siau-hi-ji menggeleng tidak sependapat, katanya dengan tertawa, “Menurut pandanganku, yang bicara inilah orang tolol.”

Keruan Lian-sing menjadi gusar, dampratnya, “Apa katamu?”

“Coba pikirkan. Tidak perlu kita bicara tentang ilmu silat Gui Bu-geh, yang pasti, dalam hal menciptakan pesawat rahasia yang khusus untuk menjebak atau membunuh orang, kuyakin si tikus ini harus diakui sebagai ahli nomor satu di dunia.”

“Hm, pengetahuan Gui Bu-geh dalam hal tetek bengek begitu memang sangat luas,” dengus Kiau-goat Kiongcu.

“Setahuku,” demikian tutur Siau-hi-ji, “Sepanjang jalan lorong ini saja sedikitnya ada belasan macam perangkap yang terpasang di sini dan setiap macam cukup untuk merenggut nyawamu.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Lian-sing.

“Sudah tentu kutahu, sebab paling sedikit aku sudah pernah merasakan betapa lihainya tiga belas macam perangkap di sini,” Siau-hi-ji tersenyum, lalu menyambung, “Jika pendatang ini hendak mencari perkara kepada Gui Bu-geh, tentu dia sangat hati-hati, setindak demi setindak dilakukannya dengan waspada dan siap siaga. Coba kau lihat, jarak langkahnya sedemikian rajin dan teratur, maka dapat dibayangkan bagaimana tegangnya waktu itu.”

“Betul, ilmu silat seseorang kalau terlatih sampai puncaknya, maka tatkala dia menghimpun tenaga dan pikiran, setiap gerak-geriknya pasti juga beraturan,” kata Lian-sing.

“Tapi pendatang itu tidak tahu di mana dan kapan pesawat rahasia itu akan menjebaknya, sebab telah dia harus menghimpun tenaga dan pikiran agar dapat menghadapinya setiap saat, lantaran itu pula tanpa terasa ia telah meninggalkan bekas kaki di lantai batu ini,” Siau-hi-ji pandang kedua Ih-hoa-kiongcu, lalu sambungnya dengan tertawa. “Dari ini dapat diketahui bahwa orang ini tidaklah bodoh, hanya tenaga dalamnya saja yang terlalu kuat.”

Lian-sing Kiongcu bersungut dan tidak bersuara. Tapi Kiau-goat lantas berkata, “Tapi pesawat rahasia di lorong sini sebegitu jauh belum pernah menjeplak, bukan?”

“Betul,” jawab Siau-hi-ji. “Sebab kalau sesuatu pesawat rahasia telah menjeplak, baik berhasil melukai orang atau tidak tentu akan meninggalkan bekas-bekas dan perlu dibenahi pula baru dapat pulih kembali seperti semula. Tapi setiba penyatron itu di sini, agaknya gua ini sudah kosong, penghuninya seakan-akan sudah mampus seluruhnya. Kalau tidak, setiba kita di sini sedikitnya akan mengalami belasan macam perangkap.”

“Tapi waktu orang itu datang, di gua ini pasti masih ada penghuninya, lalu sebegitu jauh mengapa perangkapnya tidak bekerja?” ujar Kiau-goat.

Berputar biji mata Siau-hi-ji, lalu menjawab, “Meski aku tidak menyaksikan bagaimana keadaan waktu orang itu masuk ke sini, tapi dapat kubayangkan, seperti kita sekarang, tentunya dia juga berjalan sambil berteriak-teriak menyebut nama Gui Bu-geh dan menantangnya keluar. Sebab perangkap di sini sama sekali tidak bergerak, bisa jadi lantaran Gui Bu-geh menjadi terkejut dan ketakutan setelah mendengar nama penyatron itu, ia tahu sekalipun pesawat rahasianya digerakkan juga tiada gunanya, pula dia khawatir akan semakin memancing kemurkaan pendatang ini, maka dia lantas tidak jadi bertindak sama sekali.”

Kiau-goat Kiongcu manggut-manggut, nyata ia mengakui analisa Siau-hi-ji itu memang masuk akal.

“Habis, di kolong langit ini siapakah gerangannya yang dapat membikin Gui Bu-geh begini ketakutan?” ucap Lian-sing Kiongcu.

Kedua Ih-hoa-kiongcu saling pandang sekejap, dalam hati mereka sama-sama teringat kepada seseorang. Tapi cuma Siau-hi-ji saja yang tahu kelirulah dugaan mereka.

Tiba-tiba So Ing berkata, “Melihat bekas kaki orang ini, jelas jauh lebih besar daripada orang biasa, maka dapat dibayangkan perawakannya pasti tinggi besar, setiap langkahnya sejauh tiga kaki, dapat diperkirakan kedua kakinya pasti sangat panjang.”

Melihat pandangan semua orang sama terpusat ke arahnya seakan-akan menantikan lanjutan ceritanya, maka ia lantas menyambung, “Setahuku, di kolong langit ini hanya ada seorang yang mirip seperti orang ini.”

Kembali kakak beradik Ih-hoa-kiongcu itu saling pandang sekejap, dengan menarik muka Lian-sing Kiongcu berkata, “Siapa yang kau maksudkan?”

“Yan-tayhiap, Yan Lam-thian!” jawab So Ing.

Dengan sendirinya sejak tadi Ih-hoa-kiongcu juga menduga orang itu ialah Yan Lam-thian, tapi demi mendengar nama “Yan Lam-thian” disebut, air muka kedua kakak beradik yang selalu dingin itu mendadak berubah juga, tanpa terasa mereka memandang sekejap pada Siau-hi-ji, lalu cepat berpaling pula ke arah semula.

Sejak tadi Siau-hi-ji senantiasa memperhatikan perubahan sikap kedua Ih-hoa-kiongcu. Hanya Siau-hi-ji saja yang tahu dengan pasti bahwa orang yang dimaksud pasti bukan Yan Lam-thian, sebab, sekalipun Yan Lam-thian masih hidup, tidak mungkin kekuatannya bisa pulih secepat ini.

Tapi lantas timbul suatu pikiran dalam benaknya, cepat ia bertepuk tangan dan berkata, “Betul, orang ini pasti Yan Lam-thian, Yan-tayhiap adanya. Selain Yan-tayhiap, siapa pula yang memiliki ilmu silat setinggi ini dan mempunyai tenaga sebesar ini?”

Mendadak Kiau-goat Kiongcu berkata, “Orang ini pasti bukan Yan Lam-thian.”

Segera Lian-sing menyambung, “Betul, setahuku sudah lama Yan Lam-thian telah mati.”

Waktu bicara, sorot mata mereka tanpa terasa beralih pula ke arah Siau-hi-ji, jelas mereka ingin memancing sesuatu berita mengenai Yan Lam-thian dari anak muda itu.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Meski di mulut kalian bicara sedemikian, tapi di dalam hati kalian pasti tahu bahwa Yan-tayhiap tidak mungkin mati, betul tidak?”

“Hm, biarpun dia belum mati, tentu juga tiada ubahnya seperti orang mati,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Betul,” tukas Lian-sing Kiongcu. “Orang ini paling suka menonjolkan diri agar namanya terkenal, dahulu setiap satu-dua bulan sekali tentu dia berbuat sesuatu yang menggemparkan supaya namanya selalu diingat orang. Jika dia belum mati, mengapa selama dua puluh tahun ini sama sekali tiada kabar beritanya.”

“Haha, cara demikian kalian bicara, maksud kalian cuma ingin mencari tahu beritanya, aku justru tidak mau memberitahukan kepada kalian,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Mata So Ing mengerling, ucapannya perlahan, “Mengapa kalian tidak coba memeriksa ke dalam sana, bisa jadi penyatron ini masih berada di sini dan belum lagi pergi.”

Belum habis ucapannya, serentak kakak beradik Ih-hoa-kiongcu melayang lewat ke ujung lorong sana. Sampai Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan juga mereka tinggalkan.

Kebetulan Thi Sim-lan berdiri pula di tengah antara Hoa Bu-koat dan Siau-hi-ji, dia menunduk, tampaknya sangat sedih dan memelas. Kalau bisa, sungguh ia ingin punya sayap dan terbang pergi atau segera menyusup ke dalam tanah, namun dia justru hanya berdiri saja di situ, maju terasa salah, mundur juga terasa keliru.

Sorot mata Bu-koat juga penuh rasa derita oleh pertentangan batin yang hebat, ia menengadah seperti mau bicara apa-apa, tapi urung, lalu menunduk dan cepat melangkah ke depan.

Di luar dugaan, mendadak Siau-hi-ji mencegat di depan Bu-koat, ucapan dengan tertawa, “Sangat berterima kasih padamu.”

Bu-koat diam sejenak, ia coba memperlihatkan senyumnya, jawabnya, “Kukira tiada sesuatu yang perlu kau berterima kasih padaku.”

“Janji tiga bulan kita sudah lalu kini, kutahu engkau sudah tidak pandang diriku sebagai kawan lagi, tapi engkau toh tetap menyimpan rahasiaku yang kau ketahui itu, dengan sendirinya aku harus berterima kasih padamu.”

Kembali Bu-koat terdiam, kini ia merasakan sangat sukar baginya untuk mengucapkan sesuatu kata. Selang agak lama barulah dia buka suara, “Engkau tidak perlu berterima kasih padaku, aku tidak bicara apa-apa tentang dirimu, soalnya pembawaanku memang bukan orang yang usil mulut.”

“Tapi persoalan ini kan pantas jika kau laporkan kepada gurumu, tapi engkau justru tidak bicara satu kata pun, dengan sendirinya lantaran diriku, hanya sahabat sejati yang dapat saling menyimpan rahasia masing-masing, musuh tidak mungkin…”

“Betul, hanya sahabat sejati saja yang tahu rahasia pihak lawan,” tukas Bu-koat. “Tapi bilamana mereka sudah mulai bertengkar dan menjadi musuh, maka dia pasti akan membongkar rahasia lawan yang diketahuinya itu.”

“Ya, memang begitulah,” ucap Siau-hi-ji.

Kulit muka Hoa Bu-koat tampak berkerut-kerut, mendadak ia berkata dengan bengis, “Tapi aku bukanlah Siaujin (orang kecil, orang rendah, pengecut) demikian!” Habis berkata ia terus menyelinap lewat di samping Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Justru lantaran engkau terlalu Kuncu (ksatria, gentleman), makanya engkau tidak mempunyai keberanian untuk melawan. Mengapa engkau tidak dapat meniru diriku, jadilah seorang pemberontak -.”

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan mendekap mukanya terus lari keluar.

Cepat So Ing berseru memanggilnya, tapi Thi Sim-lan tidak menggubrisnya, yang terpikir olehnya hanya satu, yaitu meninggalkan tempat ini sejauhnya, meninggalkan orang-orang ini sejauh-jauhnya, walaupun ia tahu sekalipun ia dapat melarikan diri, tapi hatinya takkan mampu lari untuk selamanya, ke mana pun dia lari, hatinya akan tetap menyangkut di tubuh Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, bahkan terobek dan berlumuran darah.

Tapi ini adalah urusan di kemudian hari, ia tidak pedulikan lagi.

“Ai, mengapa…mengapa tidak kau tahan dia?!” omel So Ing.

“Seorang kalau sudah berkeras mau pergi, maka siapa pun tak dapat menahan dia,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Meski tertawa, tapi siapa pun takkan menyangka tertawa Siau-hi-ji bisa begitu pedih.

“Tapi engkau pasti dapat menahannya,” ujar So Ing.

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melonjak dan berteriak, “Memangnya kau ingin aku berbuat apa? Kau ingin aku mengikatnya dengan rantai? Atau ingin aku berlutut di depannya serta merangkul kakinya dengan ratap tangis?”

So Ing tidak menjawab, ia pandang anak muda itu dengan terkesima, sorot matanya lambat-laun menjadi buram, dua titik air mata meleleh melalui pipinya yang pucat itu dan jatuh di bajunya.

Siau-hi-ji menoleh ke sana dan mengejek, “Dia pergi seharusnya kau bergembira, mengapa malah menangis?”

Dengan sedih So Ing menjawab, “Engkau tidak perlu mengucapkan kata-kata sekeji ini dan menyinggung perasaan begini, kini…”

“Kini kenapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kini aku pun berharap bisa seperti dia, meninggalkan tempat ini sejauhnya agar tidak dapat melihat engkau marah baginya dan berduka baginya,” ujar So Ing.

“Aku berduka katamu? Mengapa aku harus berduka?”

“Sebab, sekali ini dia yang meninggalkanmu dan bukan engkau yang meninggalkan dia.”

Kalimat yang sederhana ini ternyata mengandung makna yang sangat ruwet dan dalam, sama halnya sebatang jarum yang tepat menusuk lubuk hati Siau-hi-ji.

Seorang lelaki, seumpama dia tidak sungguh menyukai seorang perempuan, tapi kalau si perempuan yang meninggalkan dia lebih dahulu, betapa pun si lelaki ini tak bisa menerimanya.

Maka Siau-hi-ji berjingkrak pula, katanya, “Jika demikian kenapa kau sendiri tidak pergi saja?”

So Ing tidak mampu bicara lagi, hanya derai air mata saja sebagai jawabannya.

“Ya, kutahu sebab kau merasa berat untuk meninggalkan aku, betul tidak? Betul tidak?…”

So Ing menggigit bibir dan menjawab, “Meng…mengapa engkau sengaja menyiksaku cara begini, mengapa…”

Mendadak Siau-hi-ji menubruk maju dan merangkul So Ing, dengan keras bibirnya mengancing bibir si nona, begitu erat pelukannya sehingga tubuh So Ing serasa mau retak.

So Ing seakan-akan runtuh seluruhnya. Tapi mendadak ia memukul tubuh Siau-hi-ji sekuatnya, ia mendorong dada Siau-hi-ji sambil berteriak dengan parau, “Lepaskan, lepaskan aku!”

“Masa…masa kau tidak suka…” tapi cepat ia lepaskan rangkulan dan mendekap mulut sendiri, bibirnya ternyata berdarah, seketika air mukanya berubah, entah gusar, entah kejut.

So Ing mundur dengan sempoyongan ke tepi dinding, napasnya terengah-engah.

Akhirnya Siau-hi-ji menghela napas panjang, ucapnya dengan menyengir, “Baru sekarang kutahu aku berbuat salah.”

Kembali So Ing mencucurkan air mata, ucapnya dengan gemetar, “Tidak, kau tidak salah. Bukanlah aku tidak…tidak suka dipeluk olehmu, jika tidak sedalam ini cintaku padamu, tentu takkan kubiarkan diriku dipeluk olehmu, namun sekarang aku tidak ingin engkau memeluk diriku, dan pada saat yang sama hatimu justru memikirkan orang lain.”

Siau-hi-ji tercengang sejenak, baru saja ia hendak buka suara, dilihatnya Lian-sing Kiongcu entah sejak kapan sudah berdiri pula di ujung lorong sana dan sedang memandangnya dengan sorot mata yang dingin.

*****

Dengan istilah apa pun sukar melukiskan kemegahan tempat kediaman Gui Bu-geh ini. Sebab tempat ini adalah hasil karya seorang gila dengan harta kekayaan yang tak terperikan ditambah kekuasaan dan daya khayal yang tiada bandingnya.

Tempat fantastis demikian pada hakikatnya sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Di tengah-tengah tempat yang megah ini tertaruh sebuah kursi batu yang sangat besar, sebuah kursi batu yang terukir dari sepotong batu raksasa. Meski cuma sepotong batu, namun putih jernih seperti kemala asli, setitik warna lain saja sukar ditemukan. Hanya di dalam istana di bawah tanah ini terasa dingin membeku, tapi asalkan duduk di kursi ini, seketika akan terasa badan menjadi hangat.

Kursi raksasa begini di seluruh dunia ini mungkin sukar dicari yang kedua, tapi kursi istimewa ini sekarang telah terbelah menjadi dua.

Kiau-goat Kiongcu dan Hoa Bu-koat berdiri tepat di depan kursi batu ini dan sedang mengawasi bagian kursi yang terbelah dengan air muka yang sangat prihatin. Bagian kursi batu yang terbelah itu kelihatan halus, licin dan rajin laksana sepotong tahu yang disayat oleh pisau yang sangat tajam.

Cukup lama Bu-koat memandangnya, akhirnya ia berkata, “Yang digunakan orang ini mungkin Po-kiam (pedang pusaka) yang amat tajam.”

Kiau-goat diam saja, mukanya tambah merengut. Selang sejenak, dari jubah putihnya yang longgar itu mendadak ia keluarkan sebatang pedang pendek berwarna hijau kehitam-hitaman.

Panjang pedang kira-kira cuma setengah meter, sekilas pandang seperti tiada sesuatu yang menarik, tapi kalau diperhatikan lebih lanjut akan terasa hawa pedang yang dingin dan menyilaukan.

Tampaknya Kiau-goat sangat sayang terhadap padang pendeknya ini, dia mengusap batang pedang dengan ujung jarinya yang lentik, setelah termenung sejenak baru dia serahkan pedang itu kepada Bu-koat, katanya, “Coba gunakan pedang ini untuk membacok kursi batu itu dengan sembilan bagian tenagamu.”

Bu-koat mengiakan dan menerima pedang pendek, setelah memegang pedang itu baru dia merasakan bobotnya jauh lebih berat daripada dugaannya, bahkan begitu mengangkat pedang itu seketika hawa dingin merasuk jantung.

Hampir saja Bu-koat berseru memuji pedang bagus, tapi urung, sebab, di depan Kiau-goat Kiongcu, satu kata saja dia tidak berani sembarangan omong.

Tiba-tiba Kiau-goat berkata pula, “Selama hidupmu kau tinggal di Ih-hoa-kiong, pernahkah kau lihat pedang ini?”

“Tecu tidak tahu,” jawab Bu-koat.

“Soalnya pedang ini membawa alamat tidak baik, selama beberapa ratus tahun ini, barang siapa melihat pedang ini pasti akan mati di bawah pedang ini, selain diriku, tiada satu pun yang terkecuali,” tutur Kiau-goat.

Dia bicara dengan acuh tak acuh, tapi merinding bagi orang yang mendengarkan.

Bu-koat tidak berani bertanya pula, dengan tangan kanan memegang pedang segera ia melangkah maju, dengan gaya “Yu-hong-lay-gi” (burung Hong datang menyembah), sinar kilat berkelebat, kursi batu itu terus dibacoknya.

Hampir seluruh tenaganya telah dikumpulkan pada pergelangan tangannya, jangankan pedang pandak ini adalah senjata pusaka yang dapat memotong besi seperti merajang sayur, sekalipun pedang ini cuma pedang bambu, dengan bacokannya yang hebat ini sudah cukup menghancurkan batu menjadi bubuk.

Maka terdengarlah suara “trang” sekali disertai muncratnya lelatu api, pedang ini hanya mampu membelah kursi batu itu sedalam satu kaki lebih, lalu batang pedang terjepit di tengah batu.

Bu-koat melenggong sejenak sambil tetap memegangi gagang pedang, keringat dingin lantas merembes memenuhi jidatnya.

Orang yang mampu membelah kursi batu ini, seumpama yang digunakan adalah pedang pusaka yang sama tajamnya, jelas tenaganya paling sedikit harus lipat tiga-empat kali daripadanya. Di dunia ini ternyata ada tokoh sehebat ini, sungguh sukar untuk dibayangkan.

Kiau-goat menghela napas perlahan, katanya kemudian, “Sudah lama kudengar kadar keras batu kemala hijau ini tiada bandingannya, sekarang terbukti memang tidak salah. Orang ini dapat sekali bacok membelah kursi batu ini menjadi dua, ilmu pedangnya memang hebat juga.”

“Tidak cuma ilmu pedangnya hebat, mungkin tenaga dalam orang ini juga lebih…” Bu-koat tidak melanjutkan ucapnya karena Kiau-goat telah memotongnya, “Tinggi sandaran kursi ini hampir lima kaki, hanya sekali bacok saja orang ini dapat membelahnya menjadi dua, tapi bacokanmu hanya mencapai satu kaki lebih, lalu kau menganggap kekuatan orang ini sedikitnya tiga kali lipat daripadamu, begitu bukan?”

“Ya, sungguh Tecu merasa malu,” ucap Bu-koat. “Padahal waktu pedang Tecu membelah kursi batu, Tecu merasa sisa tenaga masih cukup kuat, sedikitnya dapat membelah tiga kaki lagi ke bawah, siapa tahu baru mencapai lebih satu kaki segera terasa tenaga susulan sudah habis. Dari ini dapatlah diketahui bahwa bacokan lebih mendalam juga semakin sukar.”

“Betul juga,” ucap Kiau-goat.

“Waktu Tecu membelah kursi batu ini hingga mencapai satu kaki lebih dalamnya, tenaga yang Tecu gunakan cuma tiga bagian saja, tapi waktu masuk lagi beberapa inci, tenaga yang kugunakan mencapai tujuh bagian, sedangkan sekali bacok saja orang ini dapat membelah kursi batu setinggi lima kaki ini, maka dapat diperkirakan tenaganya tidak terbatas cuma tiga kali lipat daripada tenaga Tecu.”

Tiba-tiba Kiau-goat tersenyum, ucapnya, “Salah kau.”

Bu-koat melengak, tanyanya, “Tapi Tecu sesungguhnya telah…”

“Kau tidak perlu menilai rendah dirimu, di kolong langit ini tiada seorang pun yang memiliki tenaga tiga kali lipat daripadamu. Soalnya adalah karena kau tidak tahu sebab musababnya saja.”

“Ya, Tecu memang bodoh,” ucap Bu-koat dengan menunduk.

“Coba pikir, jagal lembu atau pembantai babi yang sehari-hari kerjanya cuma memotong lembu dan babi itu, cukup dengan sekali tusuk saja, seketika beres. Tapi kalau kau disuruh memotong babi atau menjagal lembu, pasti kau takkan mampu bekerja segesit dan seterampil mereka. Lalu apakah ini berarti tenagamu kalah kuat daripada kaum jagal itu?”

Bu-koat terdiam dan tidak berani menjawab.

Kiau-goat lantas melanjutkan, “Kunci daripada soal ini terletak pada kebiasaan saja, lantaran sudah ‘kulino’ (biasa, hafal) menjadikan kerjanya lebih cekatan. Teori ini berlaku bagi kaum jagal juga berlaku dalam hal ilmu pedang. Kalau orang ini dapat sekali bacok membelah kursi batu setinggi ini dan kau tidak mampu, ini bukan disebabkan tenaganya berlipat ganda daripadamu, soalnya cuma cara menggunakan pedangnya jauh lebih cekatan dan lebih ‘kulino’ daripadamu.”

Meski teori ini tampaknya sederhana, tapi sesungguhnya mengandung pengetahuan yang amat mendalam. Hoa Bu-koat merasa kuliah praktik Ih-hoa-kiongcu ini banyak memberi manfaat, diam-diam ia terkesiap dan juga bergirang.

Didengarnya Kiau-goat Kiongcu berkata pula, “Bukan saja gerak tangan orang ini sangat cekatan dan kulino, bahkan juga sangat cepat. Kecepatan sama dengan tenaga. Makanya dia dapat melakukan apa yang kau tidak sanggup lakukan. Jika kau bergebrak dengan dia, dalam lima puluh jurus dia pasti dapat mengurung pedangmu, dalam seratus jurus mungkin kepalamu akan dipenggal olehnya.”

Kembali keringat dingin merembes keluar di dahi Bu-koat.

“Kecuali itu,” Kiau-goat menyambung pula, “Waktu ia membacok dengan pedangnya tentu dia diliputi rasa murka yang tak terkatakan, yang dipikirnya hanya membunuh orang sehingga tidak memikirkan apakah bacokannya ini akan membelah kursi batu itu atau tidak. Jadi semisal jagal babi atau pembantai lembu yang sedang melakukan tugasnya tanpa memikirkan urusan lain, maka cara turun tangannya menjadi lain daripada yang lain. Sedangkan caramu turun tangan tadi justru selalu berpikir berapa jauh kursi batu ini dapat kubelah, dengan sendirinya perbawamu menjadi jauh lebih lemah dibandingkan orang, dan jika jalan pikiranmu juga demikian, bilamana kau bergebrak dengan orang, maka pasti akan sangat berbahaya bagimu.”

Kuliah Ih-hoa-kiongcu ini membuat Bu-koat tunduk benar-benar dan tidak berani menengadah, keringat dingin pun membasahi bajunya.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang berkeplok tertawa dan berseru, “Haha, Ih-hoa-kiongcu memberi kuliah tentang ilmu silat, sungguh hebat dan membuka mata setiap pendengarnya. Sampai aku pun mau tak mau harus rada kagum padamu.”

Dengan tertawa-tawa Siau-hi-ji telah melangkah masuk. Jika orang lain, setelah bibirnya tergigit lecet karena mencium So Ing tadi, tentu akan berusaha menutupi cirinya ini. Tapi Siau-hi-ji tidak ambil pusing kejadian ini, tiba-tiba ia tertarik oleh pedang hijau gilap yang dipegang Hoa Bu-koat itu, dengan tercengang ia bertanya, “Apakah ini pedang ‘Pik-hiat-ciau-tan jin’, senjata maut jaman kuno dalam dongeng itu?”

“Hm, tajam juga penglihatanmu,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

Advertisements

1 Comment »

  1. SERU

    Comment by Firman — 24/02/2013 @ 7:24 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: