Kumpulan Cerita Silat

02/05/2008

Darah Ksatria: Bab 37. Rahasia Bu-cap-sah

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 10:50 pm

Darah Ksatria
Bab 37. Rahasia Bu-cap-sah
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Di bawah tanah tiada emas, tiada istana, kereta kuda itu pun tidak kelihatan bayangannya.

Mulut lorong itu memang dibangun secara bagus oleh tangan seorang ahli, tapi keadaan di bawah jauh lebih sempit dan buruk dibanding yang pernah mereka pikirkan.

Lorong yang berbentuk kerucut itu tembus ke sebuah kamar batu. Di kamar bawah tanah itu hanya ada sebuah ranjang, sebuah meja, satu kursi, semua terbuat dari tanah, bagian luar atau lapisan luarnya semua dilapisi batu-batu hitam bulat yang ditata sedemikian rupa bagusnya.

Di kamar bawah tanah inikah tempat tinggal Bu-cap-sah?

Bu-cap-sah adalah pendekar aneh, tokoh silat yang disegani kaum persilatan tanpa tandingan pada masa jayanya dulu, mungkinkah ia bertempat tinggal di kamar batu seperti ini?

Siapa saja yang masuk ke kamar ini pasti kaget, heran, kecewa dan tidak percaya. Tapi bila mau berpikir secara cermat, segera akan paham bahwa tempat ini memang sejak mula sudah begini keadaannya.

Kamar batu ini terletak di dalam lembah mati, lembah mati yang dikenal orang luar sebagai daerah tandus gersang, tiada kehidupan di lembah ini. Bu-cap-sah adalah manusia biasa, bukan malaikat bukan dewa. Walau ia punya otak cerdik, punya tekad, keteguhan iman, keprigelan tangan untuk membuat lorong rahasia sebuah kamar batu di bawah ini, namun secara gaib tak mungkin menciptakan sebuah ranjang batu begitu saja.

Karena Bu-cap-sah ingin tidur di atas ranjang, maka ia harus membikin sendiri dari tanah batu hitam, karena di sini hanya ada tanah batu hitam. Hal ini mudah dimengerti oleh slapa pun.

Hanya ada satu persoalan yang membuat mereka tidak habis pikir, yaitu anak buah yang berjumlah puluhan dengan tubuh kekar gagah, cekatan lagi, bagaimana Bu-cap-sah dapat melatih pemuda-pemuda sebanyak itu di tempat seperti ini? Dari mana ia menarik atau menggaruk pemuda-pemuda sebanyak itu? Lalu di mana pula pemuda-pemuda sebanyak itu tinggal?

Lebih aneh lagi, Bu-cap-sah ternyata tidak mampu membuat atau mendapatkan sebuah ranjang yang normal, ranjang sesungguhnya, entah terbuat dari besi atau kayu. Demikian pula meja kursi yang lumrah juga tidak mampu dibuatnya sendiri. Menarik perhatian pula bahwa di atas ranjang ada selimut, di atas meja juga ada lampu.

Selimut tebal berbulu warna merah di atas ranjang itu ternyata buatan toko terkenal di kotaraja, terbuat dari sutera dan kapas yang kering empuk. Bagian muka selimut tebal itu disulam dengan benang warna-warni menggambarkan burung bangau dihiasi kembang warna-warni.

Lampu di atas meja tanah itu tidak mudah ditemukan pada keluarga biasa, kecuali hartawan yang berkantong tebal, karena lampu kaca itu buatan Persia yang tinggi harganya, lampu kaca yang menggunakan minyak kayu.

Umpama betul di sini tidak ada apa-apa, tiada emas tiada perak, ranjang meja kursi pun terbuat dari tanah, lalu dari mana datangnya selimut apik dan lampu kaca itu?

Tiap kali keluar pintu Ji Liok selalu membawa batu ketikan untuk menyulut api, lekas sekali ia sudah menyulut lampu minyak di atas meja. Begitu lampu menyala cahayanya menerangi kamar batu yang lebarnya lima kali lima meter. Mendadak Cia Giok-lun menjerit kaget takut sambil mendekap mulut, langkahnya mundur mendekati Thiat Tin-thian, waktu Thiat Tin-thian menoleh ke arah ranjang, ia pun menyurut kaget. Ia berpengalaman luas, lama berkecimpung di Kangouw, julukannya saja tangan besi, nyali besi, maksudnya sebagai orang tabah pemberani, tak urung kali ini ia pun menjerit tertahan.

Di kamar batu itu mereka melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Mereka melihat seorang. Sesuai namanya, lembah mati ini memang tidak pernah dihuni manusia maupun hewan, memang sukar mempertahankan hidup di tempat yang tandus lagi gersang seperti ini, apalagi di kamar bawah tanah yang lembab ini. Tapi kenyataannya seseorang sedang tidur nyenyak di atas ranjang, tidur mungkur menghadap dinding, sekujur badannya tertutup selimut, hanya kelihatan kepalanya. Entah sengaja atau memang terlalu lelap orang ini tidur, kehadiran mereka yang banyak menimbulkan suara ternyata tidak membuatnya terjaga.

Karena orang itu tidur mungkur ke dalam, sulit bagi mereka melihat tampangnya, yang kelihatan hanya rambut kepalanya yang sudah setengah ubanan di luar selimut berserakan diatas bantal.

Dengan menebalkan keberaniannya, Thiat Tin-thian memburu maju mendahului Cia Giok-lun dan Ji Liok, dua tindak di depan ranjang ia berhenti dan bertanya dengan suara menggelegar, “Siapa kau?”

Kecuali orang tuli, umpama orang pikun yang lagi tidur nyenyak juga pasti terjaga bangun oleh suara Thiat Tin-thian yang menggeledek itu.

Tapi orang itu tetap tidur lelap, tidak bergerak sedikit pun. Maka dapat disimpulkan sekarang, kalau orang ini bukan tuli, mungkin sesosok mayat yang sudah kaku dingin, lalu siapakah orang yang sudah menjadi mayat ini?

Bagaimana mungkin di tempat yang tersembunyi ini ada manusia mati?

Thiat Tin-thian juga manusia biasa, bukan manusia hebat, tapi nyalinya memang besar. Mendadak ia melangkah maju sambil mengulurkan tangan menyingkap selimut tebal itu.

Dua orang kembali menjerit kaget dan ngeri. Cia Giok-lun segera melengos, Thiat Tin-thian juga menyurut mundur dengan terbelalak. Yang tidur nyenyak di bawah selimut bukan lagi manusia lumrah, juga tidak benar kalau dianggap mayat, tapi lebih tepat kalau disebut jerangkong. Kecuali rambut kepalanya yang masih kelihatan utuh, sekujur badan orang ini sudah tinggal kerangka tulangnya saja, pakaiannya juga sudah lapuk. Di atas kerangka, tepatnya di bagian dada, sebatang bambu sebesar ibu jari yang runcing ujung depannya, menancap dari punggung menembus jantung hingga muncul di depan dada.

Melihat keadaan posisi tidur kerangka tulang manusia ini, jelas orang ini dibokong dari belakang waktu sedang tidur, jelasnya dibunuh orang dengan maksud jahat, maka tidak tampak adanya tanda-tanda perlawanan atau dengan kata lain si korban mati seketika tanpa meronta, sekali tusuk jiwa melayang.

Pembunuh keji yang membokong itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, serangan telak yang lihai dan kejam. Jika gerak-geriknya tidak lincah cekatan, tentu pembunuh ini sudah apal seluk-beluk tempat ini, malah mungkin kehadirannya di tempat ini tidak pemah dicurigai oleh sang korban, maka sang korban tidak siaga dan pembunuh itu pun dapat turun tangan dengan leluasa.

Siapakah pembunuh itu? Kenapa Bu-cap-sah meninggalkan sesosok mayat di atas ranjangnya? Siapakah korban pembunuhan ini?

Akhirnya Cia Giok-lun berani mendekat. Selang beberapa kejap, baru Cia Giok-lun dapat berbicara, “Orang atau jerangkong ini adalah Bu-cap-sah.”

Thiat Tin-thian dan Ji Liok berjingkat kaget seperti disengat kala, dengan melenggong mereka mengawasi Cia Giok-lun. “Kau bilang orang yang sudah mati ini adalah Bu-cap-sah?” tanya Thiat Tin-thian.

“Ya, pasti benar,” sahut Cia Giok-lun penuh keyakinan.

“Dari mana kau tahu kalau orang ini Bu-cap-sah?” tanya Thiat Tin-thian.

“Bu-cap-sah pernah berkunjung ke Bik-giok-san-ceng,” sahut Cia Giok-lun.

“Waktu Bu-cap-sah berkunjung ke Bik-giok-san-ceng, kau sudah lahir?”

“Belum.”

Thiat Tin-thian menghela napas, katanya dengan senyum getir, “Waktu itu kau belum lahir, bagaimana kau yakin kalau jerangkong ini adalah Bu-cap-sah?”

Ji Liok menimbrung, “Umpama kata kau pernah melihatnya, tapi sekarang setelah dia mati begini, bagaimana kau dapat mengenali dirinya?”

Memang tak mudah untuk mengenali tulang kerangka manusia, sukar membuktikan siapa nama korban ini, berapa usianya dan bagaimana riwayat hidupnya.

Tapi Cia Giok-lun tenang-tenang saja, ia amat yakin bahwa pendapatnya pasti benar, mungkin ia punya alasan atau bukti kenapa berani berkata demikian.

“Sejak dilahirkan belum pernah aku melihat Bu-cap-sah, tapi aku bisa membuktikan bahwa orang yang sudah mati ini adalah Bu-cap-sah.”

“Bagaimana kau bisa membuktikannya?”

“Ibu sering bercerita tentang sepak terjang dan seluk-beluk kehidupannya,” demikian tutur Cia Giok-lun. “Berdasarkan satu di antara keterangan ibuku itu, aku dapat mengenal siapa korban pembunuhan keji ini. Maksudku, korban pembunuhan yang tinggal tulang kerangka ini betul adalah Bu-cap-sah.”

“Satu keterangan?” seru Ji Liok. “Satu keterangan apa?”

“Tentang giginya,” ujar Cia Giok-lun.

“Tentang giginya? Kenapa giginya?” tanya Ji Liok pula.

“Betul, tentang giginya,” ujar Cia Giok-lun. “Wajah seseorang bisa berubah, dimakan umur umpamanya, tapi giginya pasti takkan berubah. Apalagi pertumbuhan gigi setiap orang tidak sama satu dengan yang lain.”

Gigi juga pasti takkan bisa membusuk seperti tulang-tulang manusia lainnya.

Cia Giok-lun bercerita lebih lanjut, “Ibuku sering bilang, manusia yang giginya tumbuh paling aneh di dunia ini mungkin hanya Bu-cap-sah saja.”

Ji Liok dan Thiat Tin-thian maju lebih dekat, dengan seksama mereka perhatikan dan periksa gigi tulang kerangka itu, namun susah membedakan di mana letak perbedaan atau keanehan gigi kerangka orang ini di waktu masih hidup dulu.

Karena tidak mengerti, Thiat Tin-thian bertanya, “Apa yang aneh pada giginya?”

“Hitunglah giginya itu, jumlahnya empat lebih banyak dibanding gigi manusia umumnya,” demikian Cia Giok-lun memberi keterangan. “Dia memiliki tiga puluh delapan gigi, ditambah dua lagi gigi silang di bagian belakang, jumlah seluruhnya ada empat puluh, betul tidak?” Lalu ia bertanya pada Thiat Tin-thian, “Pernah kau melihat manusia yang punya empat puluh gigi?”

Sudah tentu tidak pernah, Thiat Tin-thian tahu umumnya manusia hanya memiliki tiga puluh dua buah gigi, demikian pula Ji Liok juga tahu tentang hal ini. Seperti setiap manusia memiliki dua mata, satu hidung, dua telinga, dua kaki, dua tangan dengan masing-masing sepuluh jari.

Kembali Ji Liok dan Thiat Tin-thian menghitung, memang benar gigi tulang kerangka ini berjumlah empat puluh.

“Aku sendiri sudah nlenghitung dua kali,” kata Cia Giok-lun. “Oleh karena itu, aku berani bertaruh bahwa tulang kerangka ini adalah Bu-cap-sah.”

Thiat Tin-thian menjublek, Ji Liok juga melongo, lama sekali mereka tidak buka suara.

“Kalau betul orang yang sudah mati ini adalah Bu-cap-sah,” hampir berbareng mereka bertanya. “Lalu siapakah Bu-cap-sah yang berlagak itu?”

“Bu-cap-sah yang palsu,” sahut Cia Giok-lun tenang.

“Palsu?” Ji Liok dan Thiat Tin-thian menjerit bersama.

“Bahwasanya di tempat ini tidak ada emas, tidak mungkin Bu-cap-sah mengundang orang sebanyak ini untuk menjadi kacungnya segala, maka berani kupastikan bahwa Bu-cap-sah yang satu ini adalah palsu,” ujar Cia Giok-lun, lalu ia menambahkan, “Apalagi tiada orang pernah mengenal atau melihat Bu-cap-sah, orang sukar membedakan tulen atau palsu, setiap orang mungkin saja memalsu dirinya.”

“Mengapa harus memalsu Bu-cap-sah?” desak Thiat Tin-thian.

Cia Giok-lun belum menjawab, mendadak mereka mendengar seorang lain berbicara.

Di dalam kamar batu di bawah tanah itu hanya ada tiga orang, suara yang mereka dengar pasti diucapkan oleh mulut seseorang, jelasnya oleh orang keempat. Suaranya perlahan, kedengarannya dari tempat yang amat jauh, tapi mereka mendengar dengan jelas. Terdengar orang keempat itu berkata, “Bukankah sudah saatnya sandiwara ini berakhir?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: