Kumpulan Cerita Silat

02/05/2008

Bahagia Pendekar Binal (02)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:19 pm

Bahagia Pendekar Binal (02)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Dengan tertawa Giok-long menjawab, “Untuk ini kiranya Hi-heng tidak perlu ikut risau, beberapa hari terakhir ini saku Siaute sedang seret, bilamana ada arwah gentayangan berani merecoki diriku, kebetulan akan dapat kujual dia untuk membeli arak… Apalagi, sebenarnya tadi Siaute juga tidak sendirian.”

Kalimatnya yang terakhir ini barulah mulai memasuki pokok persoalannya. Tapi Siau-hi-ji sengaja berlagak tidak paham dan bertanya, “O, memangnya siapakah yang menemanimu di sini?

Dengan terkekeh Giok-long menjawab, “Seorang di antaranya seperti she Hoa, rasanya Hi-heng kenal dia.”

“O, Hoa Bu-koat maksudmu?”

“Ya, betul dia,” seru Giok-long tertawa.

“Kebetulan memang hendak kucari dia untuk suatu urusan, entah berada di mana dia sekarang?”

“Kutahu, dia dan kakak Hi ada sedikit persoalan, khawatir dia akan mencari perkara lagi padamu, maka ada niatku hendak membantu Hi-heng untuk membinasakan dia.”

“Haha, bilamana Kang-heng benar-benar membunuh dia, Siaute jadi hemat tenaga juga…” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Betapa pun membunuhnya kan lebih mudah daripada menanyai keterangannya, betul tidak?”

Giok-long juga tertawa, katanya, “Tapi kemudian Siaute berpikir pula, jangan jangan Hi-heng ingin membunuhnya dengan tangan sendiri, lalu bantuanku bukankah salah alamat? Sebab itulah hanya kuberinya minum sedikit obat bius saja.”

“Apakah…apakah Pek San-kun juga terkena obat biusmu?” saking ingin tahu Oh Yok-su menimbrung.

Giok-long tidak langsung menjawab, hanya bergumam dengan tertawa, “Yang diminumnya juga tidak terlalu banyak, kira-kira tiga atau lima hari lagi tentu akan siuman.”

Seorang kalau benar-benar terbius selama tiga sampai lima hari, andai kata siuman nanti mungkin juga akan berubah menjadi linglung.

Mata Siau-hi-ji mengerling, tiba-tiba ia bergelak tertawa, segera Kang Giok-long ikut tertawa, keduanya sama-sama tertawa keras, terpingkal-pingkal sehingga air mata pun meleleh.

Thi Peng-koh dan Oh Yok-su saling pandang dengan bingung karena tidak tahu apa yang ditertawakan kedua orang itu.

“Lucu, sungguh lucu, hampir pecah perutku saking gelinya!” kata Siau-hi-ji sambil memegangi perutnya yang mulas dan masih terbahak-bahak.

Dengan bergelak tertawa Kang Giok-long juga berkata, “Hahaha, Pek San-kun yang gagah perkasa dan Hoa-kongcu yang lihai itu dapat kubius dengan sedikit bubuk warna putih, kejadian ini sungguh amat menggelikan.”

“Yang kutertawakan bukan hal ini,” ujar Siau-hi-ji sambil menggeleng.

“Habis apa yang menggelikan Hi-heng?” tanya Giok-long.

Mendadak Siau-hi-ji tidak tertawa lagi, ia melototi Kang Giok-long dan berkata, “Keadaan Kang-heng tampaknya sangat payah, andaikan belum mati sekarang, rasanya juga tak tahan lama lagi, tapi kau mampu memanggul seorang lelaki kekar dan menyembunyikannya, bukankah ini lelucon yang paling mustahil di dunia ini?”

Tergerak hati Oh Yok-su, pikirnya, “Ya, betul juga, tentu di balik ini pasti ada muslihat tertentu. Agaknya bukan urusan mudah apabila orang ingin menipu ‘ikan kecil’ ini.”

Namun sikap Kang Giok-long tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan perlahan, “Apabila mereka tidak terbius olehku, lalu ke mana perginya mereka? Memangnya Pek San-kun akan mengajak Hoa-kongcu pergi pesiar? Apakah ini bukan lelucon yang lebih besar?”

“Betul, seumpama mereka hendak pesiar juga pasti akan membawa serta kau,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Orang yang menyenangkan seperti dirimu ini mana tega ditinggal pergi begini saja.”

“Ya, memang begitulah,” kata Giok-long dengan tertawa tanpa kikuk sedikit pun.

Kembali Siau-hi-ji melototi Kang Giok-long dan berkata, “Tapi kalau mendadak Hoa-kongcu tinggal pergi, bukankah orang she Pek itu akan mengejarnya?”

“Sudah tentu akan mengejarnya,” jawab Giok-long.

“Nah, umpama dia merasa berat meninggalkan kau, tapi demi mengejar Hoa Bu-koat terpaksa juga ia kesampingkan dirimu,” kata Siau-hi-ji.

“Hahahaha!” tiba-tiba Kang Giok-long tertawa. “Daya khayal Hi-heng sungguh sangat hebat, cuma sayang Hoa-kongcu itu…”

“Hoa-kongcu kenapa?” sela Siau-hi-ji, ia benar benar rada cemas.

“Kenapa Hi-heng tidak tanya saja pada Oh-siansing ini,” ujar Giok-long dengan acuh. “Coba tanyakan apakah Hoa-kongcu masih dapat berjalan atau tidak?”

Segera sorot mata Siau-hi-ji menatap ke arah Oh Yok-su, katanya, “Baik, coba katakan.”

Oh Yok-su menghela napas, tuturnya, “Ya, bukan saja Hiat-to Hoa-kongcu tertutuk, bahkan dia seperti mengalami guncangan jiwa sehingga kehilangan ingatan, mungkin…mungkin dia tidak sanggup jalan sendiri.”

Siau-hi-ji termenung, dengan jari ia ketuk-ketuk dahi sendiri, setelah berpuluh kali mengetuk dahi, kemudian tersembul pula senyumannya dan berkata, “Wah, jika demikian, jadi mereka benar-benar terbius olehmu?”

“Mungkin memang betul,” kata Giok-long dengan terkekeh-kekeh.

“Dan setelah mereka roboh, lalu kau memanggul mereka keluar?” tanya Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Penyakitku ini terkadang sembuh dan terkadang kumat lagi, bilamana kumat, jangankan memanggul orang, dipanggul orang pun rasanya tidak tahan. Tapi kalau tidak kumat, untuk memanggul seorang saja bukan soal bagiku.”

Siau-hi-ji lantas melirik ke arah Oh Yok-su, dilihatnya Oh Yok-su mengangguk-angguk.

“Nah, apa yang kukatakan tidak dusta bukan?” ucap Kang Giok-long.

“Ya, tidak dusta, memang tidak dusta,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi setelah kau memanggul pergi kedua orang itu, mengapa kau kembali lagi ke sini? Apakah badanmu terasa gatal sehingga perlu menunggu di sini agar dipukuli orang?”

Kang Giok-long tetap tenang-tenang saja dan juga tidak marah, katanya dengan tertawa, “Peng-ji kan masih berada di tangan mereka, mana boleh kutinggal pergi? Seumpama kutahu Hi-heng akan datang dan bakal mencincang tubuhku juga tetap akan kutunggu di sini untuk bertemu sekali lagi dengan Peng-ji.”

Siau-hi-ji mencibir, ucapnya dengan tertawa, “Wah, sejak kapan Kang Giok-long telah berubah menjadi orang yang penuh kasih sayang, lucu sungguh lucu…”

Thi Peng-koh menjadi terharu dan tidak tahan lagi, ia menubruk ke bawah kaki Kang Giok-long dan menangis tersedu-sedan.

Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Budak bodoh, apabila bocah ini bilang kentutnya harum, apakah kau pun percaya padanya?”

Betapa pun Siau-hi-ji adalah lelaki yang tidak memahami perasaan seorang perempuan, apalagi gadis remaja seperti Thi Peng-koh. Apabila seorang gadis sudah terpikat oleh lelaki, sekalipun dia tahu lelaki itu telah menipunya juga tetap akan percaya padanya.

Terdengar Thi Peng-koh berkata dan menangis, “Apakah parah penyakitmu? Sakit tidak?”

Perlahan Giok-long membelai rambut Peng-koh, ucapnya dengan suara lembut, “Sekalipun sakit, apabila melihatmu lantas tidak terasa sakit lagi.”

“Akan tetapi aku…aku -.”

“Kutahu kau pasti tidak sengaja menyaksikan aku dipukuli orang, kau tentu mempunyai kesulitannya sendiri, sama sekali aku tidak menyalahkanmu, maka kau tidak perlu sedih.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji berteriak, “Sudah, sudahlah, aku jadi merinding mendengarkan rayuanmu yang berbau gombal ini, sudah tamat belum sandiwara permainanmu ini?”

“Memangnya Hi-heng ada pesan apa?” ucap Giok-long.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya sambil menyengir, “Sekarang kau yang pegang barangnya, kau juragannya, maka silakan kau yang buka harga.”

Dengan kalem Giok-long berkata, “Apakah Hi-heng tahu penyakitku ini berasal dari mana?”

Berputar mata bola Siau-hi-ji, katanya, “Jangan-jangan So Ing…”

“Betul,” tukas Giok-long. “Penyakitku ini memang berkat hadiah nona So… Bukankah Hi-heng mempunyai hubungan baik dengan nona So Ing itu?”

“Jika aku tidak kenal dia, mana bisa timbul kesulitan sebanyak ini,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Ini pun bukan kesulitan,” kata Giok-long. “Asalkan Hi-heng mencari nona So agar menyembuhkan penyakitku ini, maka Siaute akan segera juga mengundang Hoa-kongcu kemari untuk mengobati penyakitnya.”

“Tapi kalau So Ing tidak mau, lalu bagaimana?”

“Perempuan mana di dunia ini yang sanggup menolak permintaan Hi-heng?”

Siau-hi-ji menghela napas panjang, gumamnya, “Perempuan, o, perempuan… Apabila tiada seorang perempuan yang kukenal, maka hidupku pasti bahagia seperti di surga.”

“Jadi Hi-heng sudah terima?” tanya Giok-long dengan tersenyum.

“Baik, ayolah berangkat,” jawab Siau-hi-ji.

“Siaute juga mesti ikut pergi?” tanya Giok-long.

“Ya, soalnya aku pun merasa berat meninggalkanmu sendirian di sini.”

“Kukira kepergian ini tidak diperlukan lagi,” tiba-tiba Oh Yok-su menyela.

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab nona So itu segera akan datang kemari,” tutur Oh Yok-su perlahan.

Giok-long juga melengak, tanyanya, “Dari mana kau tahu dia akan datang ke sini?”

“Seperti halnya nona Thi ini denganmu, nona So juga…juga sangat mendalam cintanya kepada Hi…Hi-kongcu,” tutur Oh Yok-su dengan tertawa. “Ketika Siau-hi-kongcu meninggalkan tempatnya, segera pula dia ikut keluar.”

“Haha, daya tarik Hi-heng sungguh luar biasa,” seru Giok-long sambil berkeplok tertawa. Lalu dia berkerut kening pula dan berkata, “Tapi sekalipun nona So ikut keluar mencari Hi-heng, belum tentu dia akan mencari ke sini.”

“Untuk ini kau tidak perlu khawatir, dia pasti akan mencari kemari,” kata Oh Yok-su dengan tersenyum.

Giok-long berpikir sejenak, katanya kemudian, “Betul juga, karena kalian berniat menggunakan Hi-heng untuk memerasnya, maka sepanjang jalan kalian sengaja meninggalkan jejak agar dia dapat menyusul ke sini.”

“Jika begitu, bolehlah kita menunggunya di sini,” ucap Siau-hi-ji dengan menghela napas.

Giok-long memandang cuaca di luar, katanya kemudian, “Semoga di tengah jalan dia tidak kepergok siapa-siapa…”

*****

Dalam pada itu Pek-hujin yang ditinggalkan berendam di sungai itu sedang berusaha melepaskan Hiat-to yang tertutuk, sedikit demi sedikit ia bergeser ke bawah air terjun, setelah berusaha sekian lamanya, berkat daya gerujuk air terjun yang tepat mengenai Hiat-to di telapak kaki, akhirnya terbukalah Yong-coan-hiat yang tertutuk itu.

Namun sekarang dia sudah hampir kehabisan tenaga, untuk melompat dari batu sini ke batu yang lain pun terasa susah.

Apabila memberosot lagi ke dalam air dan berenang ke sana, jangan-jangan akan terhanyut oleh arus air yang cukup deras dan akibatnya pasti akan mati kelelap.

Sekuatnya ia menegakkan badannya dengan bingung, selagi celingukan kian kemari mencari akal, tiba-tiba diketahuinya di balik semak-semak sana sepasang mata sedang mengintip bagian dadanya.

Muka orang itu penuh lumpur, entah sudah berapa lama tidak pernah cuci muka, namun sepasang matanya tampak besar lagi terang, seperti sangat tertarik oleh tubuh Pek-hujin yang bugil ini.

Mendadak Pek-hujin sengaja bergaya malah dan membusungkan dadanya sehingga semakin menonjol. Ucapnya dengan tertawa genit, “Anak muda, memangnya kau tak pernah melihat perempuan mandi?”

Orang ini seperti terkesima, dengan bingung ia menggeleng.

Dengan tertawa Pek-hujin lantas mengomel, “Asalkan kau tidak takut matamu bakal timbilan silakan keluar saja dan menonton dengan blak-blakan. Ai, kasihan, sudah sebesar ini, masa perempuan mandi saja tidak pernah lihat, kan sia-sia saja hidupmu ini.”

Sekonyong-konyong orang itu tertawa, “Tidak perlu takut engkau, aku…aku pun perempuan.” Sembari bicara orangnya lantas berdiri dari balik semak-semak.

Terlihat pakaiannya sangat kotor lagi koyak-koyak, akan tetapi tidak mengurangi garis tubuhnya yang memesona.

Pek-hujin jadi melengak malah, bahkan dia seperti rada-rada kecewa.

“Aku benar-benar seorang perempuan, masa kau tak dapat membedakannya?” kata pula orang itu.

Pek-hujin menghela napas, ia tatap pinggang orang yang ramping dengan dadanya yang montok serta kedua kakinya yang jenjang. Ucapnya dengan gegetun, “Ya, dengan sendirinya kau adalah perempuan…sekalipun orang buta juga pasti tahu.”

Muka gadis itu menjadi merah malah, merah yang menggiurkan. Nyata gadis ini sekali-kali tidak jelek, bahkan tampaknya sangat cantik.

Pek-hujin masih terus menatapnya lekat-lekat, dengan tersenyum ia coba memancingnya, “Melihat keadaan nona, jangan-jangan baru saja menempuh perjalanan jauh?”

“Ehm,” gadis itu bersuara singkat sambil menunduk.

“Pegunungan ini tiada sesuatu pun yang menarik, untuk apakah jauh-jauh nona datang ke sini?”

Tiba-tiba wajah si gadis menampilkan perasaan sedih, setelah termangu-mangu, lalu menjawab dengan muram, “Aku…aku mencari orang.”

Tergerak hati Pek-hujin, tanyanya, “Penduduk di lereng sini hampir seluruhnya kukenal, entah siapakah yang dicari nona?”

Gadis itu menunduk, katanya dengan menghela napas, “Kau pasti tidak kenal dia, ia pun tidak pasti berada di sini.”

Apa pun juga, seorang gadis berani mencari orang ke pegunungan yang terpencil dan sunyi begini jelas bukan kejadian yang biasa, di balik urusan ini tentu ada sesuatu yang menarik.

Bila dalam keadaan biasa pasti Pek-hujin akan bertanya sejelasnya, tapi sekarang ia harus memikirkan keadaannya sendiri, mana dia sempat menanyai rahasia orang lain. Sedangkan gadis itu tampaknya sudah mau pergi. Cepat Pek-hujin berkata pula dengan tertawa, “Eh, siapakah nama nona? Bolehkah diberitahukan padaku?”

Gadis itu ragu-ragu dan tidak bersuara.

Pek-hujin lantas menyambung, “Kaum lelaki yang biasa berkelana di rantau memang mudah mengikat persahabatan dengan orang yang dikenalnya, mengapa kaum wanita seperti kita tidak boleh bersahabat juga. Ya, mungkin kaum wanita seperti kita memang harus lebih hati-hati menghadapi sesuatu.”

Dengan muka merah gadis itu berucap dengan tersenyum, “Namaku Thi Sim-lan.”

Akhirnya Thi Sim-lan duduk di tepi sungai. Ia merasa perempuan ini agak terlalu berani karena berani mandi telanjang bulat di sungai, namun perempuan ini sedemikian cantik, sedemikian simpati.

Selama beberapa hari dia selalu berada dalam keadaan berduka dan tersiksa lahir batin, datangnya ke sini dengan sendirinya ingin mencari Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat. Tapi bilamana benar-benar mereka sudah diketemukan, lalu mau apa dia sungguh ia sendiri pun sukar menjawabnya.

Kini cahaya sang surya yang baru menyingsing menyinari bumi raya ini, segala sesuatu di jagat raya ini terasa sedemikian menyenangkan, senyuman wanita ini pun terasa sangat simpati. Untuk pertama kalinya perasaan Thi Sim-lan terasa longgar, tanpa terasa dilepaskannya sepatunya yang sudah butut, kakinya yang putih halus direndamkan di air sungai.

Kaki yang sudah pegal dan rada kencang itu mendadak berendam dalam air sungai yang segar, rasanya yang nikmat membuat pikirannya melayang-layang dan tanpa terasa mengeluh perlahan lalu memejamkan mata.

Sejak awal Pek-hujin terus-menerus mengawasi gerak-gerik Thi Sim-lan, dengan suara halus ia berkata, “Kenapa kau tidak meniru aku, mandilah sepuas-puasnya di sini.”

“Mandi di sini?” Sim-lan menegas dengan muka merah.

Pek-hujin menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian, “Masa kau tidak berani?”

Tertarik juga hati Thi Sim-lan memandangi air sungai yang jernih dan nyaman itu, ucapnya dengan terkikik-kikik, “Tapi…tapi di sini…”

“Jangan khawatir,” ujar Pek-hujin. “Setiap hari aku selalu mandi satu kali di sini, selain dirimu, belum pernah kepergok orang lain.”

“Apa…apakah benar jarang orang datang ke sini?”

“Jika sering didatangi orang, masa aku berani mandi di sini?”

Tambah tertarik hati Thi Sim-lan, ia melirik Pek-hujin sekejap, dengan muka merah ia berkata pula, “Tapi…tapi biarlah aku cuci kaki saja.”

“Masa kau khawatir aku mengintipmu?” ucap Pek-hujin dengan tertawa genit. “Bukankah aku pun seorang perempuan?”

“Ya, masa aku tak tahu,” jawab Sim-lan tertawa.

“Nah, apa pula yang kau khawatirkan?” bujuk Pek-hujin pula. “Jika kau khawatir terlihat olehku, biarlah aku memejamkan mata, setelah kau buka pakaian cepat menyusup ke dalam air dan aku pun takkan melihatmu lagi.”

Namun Thi Sim-lan masih tetap ragu.

Pek-hujin lantas memejamkan matanya dan berkata dengan tertawa, “Nah, lekas, takut apalagi? Setelah mandi tentu akan kau rasakan enaknya.”

Thi Sim-lan memandangnya sekejap, dipandangnya pula air yang bening kehijau-hijauan itu, sesungguhnya tubuhnya memang sangat kotor dan terasa gatal, betapa pun ia tak tahan akan pancingan mandi bebas itu.

“Nah, sudah belum?” dengan tertawa Pek-hujin bertanya.

Lekas Sim-lan menjawab, “Be…belum, jangan…jangan membuka mata sekarang, se…sebentar lagi.”

Cepat ia menyelinap ke balik semak-semak dan membuka baju secara kilat, meski tiada orang yang mengintip, namun cahaya sang surya sudah menyinari dadanya yang montok itu.

Sekujur badan serasa merinding semua, jantung juga berdebar seakan-akan melompat dari rongga dadanya, secepat terbang ia terjun ke dalam air, air yang segar dan rada hangat itu segera melingkupi seluruh tubuhnya. Baru sekarang dia menghela napas lega dan berseru, “Baiklah, sudah!”

Pek-hujin membuka mata dan memandangnya, katanya dengan tertawa, “Segar bukan?”

“Ehm,” Thi Sim-lan mengangguk.

“Baiklah, sekarang aku pun akan turun, harap bantu memegangi aku,” kata Pek-hujin, baru sekarang ia benar-benar merasa lega, perlahan ia merosot ke dalam air.

Arus sungai memang cukup deras, kedua kaki Pek-hujin terasa lemas, untung Thi Sim-lan bantu memayangnya, kalau tidak pasti sukar untuk berenang ke tepi sungai, andaikan tidak mati tenggelam juga pasti akan hanyut terbawa arus.

Melihat Pek-hujin hampir tidak kuat berdiri di dalam air, cepat Thi Sim-lan memegangnya dan bertanya, “Ken…kenapa kau hendak pergi?”

“Aku cuma naik ke tepi sana untuk pasang mata bagimu kalau-kalau ada orang datang, supaya kau dapat mandi dengan tenteram,” ujar Pek-hujin dengan tertawa.

Sim-lan merasa lega, jawabnya, “Tapi jangan sekali-kali kau pergi terlalu jauh.”

Pek-hujin terkikik-kikik, katanya, “Ada si cantik sedang mandi di kali, masa aku tega pergi terlalu jauh.”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, sampai tangan pun tak berani dijulurkan keluar air. Tiba-tiba ia merasakan mata kaum wanita terkadang juga sama ngerinya seperti mata lelaki.

Sementara itu Pek-hujin telah dapat menepi berkat bantuan Thi Sim-lan tadi, katanya, “Baiklah, aku akan berpakaian, kau juga tidak boleh mengintip lho!”

Padahal Thi Sim-lan sudah mendahului memejamkan mata, sekejap saja dia tidak berani memandangnya. Bila melihat tubuh yang putih mulus itu, hati Thi Sim-lan lantas berdebar-debar keras. Kembali dia menemukan suatu hal, yakni perempuan yang telanjang bulat tidak saja penuh daya tarik bagi lelaki, terkadang juga sama besar daya tariknya bagi sesama perempuan.

Dalam pada itu Pek-hujin sudah selesai memakai baju yang ditinggalkan Thi Sim-lan. Meski pakaian itu sangat kotor lagi rombeng, tapi jauh lebih baik daripada sama sekali tidak berbaju. Biarpun kulit muka Pek-hujin setebal kulit badak juga tak berani keluyuran kian-kemari dalam keadaan bugil.

Thi Sim-lan masih memejamkan mata, setelah menunggu sejenak, didengarnya Pek-hujin lagi berkata, “Bahan pakaian ini ternyata lumayan juga, cuma sayang agak kotor.”

Tanpa tertahan Thi Sim-lan membuka matanya, mukanya menjadi pucat karena terkejut, cepat ia berseru, “He, mengapa kau pakai bajuku?”

“Tidak pakai bajumu, habis pakai baju siapa lagi?” jawab Pek-hujin dengan terkikik-kikik.

Jawaban Pek-hujin ini sungguh lucu dan tepat pula, seolah-olah dia memakai baju orang lain adalah sesuatu yang adil dan pantas.

Thi Sim-lan jadi melengak malah, tanyanya dengan tergagap, “Dan baju…bajumu sendiri?”

“Justru lantaran aku tidak punya baju, maka dengan segenap daya upayaku memancingmu mandi, kalau tidak, sekalipun tubuhmu berbau seperti kakus juga aku tidak pusing.”

“Jika bajuku kau pakai, lalu aku bagaimana?” seru Sim-lan dengan suara rada gemetar.

“Silakan mandi lebih lama sedikit di sini,” kata Pek-hujin dengan tertawa. “Orang yang berlalu lalang di sini kan tidak sedikit, meski hampir semuanya lelaki, tetapi lelaki juga ada yang baik hati, bisa jadi salah seorang di antaranya mau menolongmu dengan membuka celananya untukmu…”

Uraian Pek-hujin ini membikin Thi Sim-lan bertambah cemas, hampir-hampir saja ia menangis. Sebaliknya Pek-hujin tertawa terpingkal-pingkal, lalu berkata pula, “Kukira kau belum pernah memakai celana kaum lelaki bukan? Ya, meski agak lebih besaran, tapi rasanya longgar dan tembus angin, jauh lebih enak daripada celana belah selangkang yang pernah kau pakai waktu kecil.”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, bentaknya dengan suara parau, “Kau orang gila, kau perempuan jahat, lekas kembalikan pakaianku!”

Saking geregetan, Thi Sim-lan hampir-hampir menerjang keluar dari sungai.

Tapi Pek-hujin lantas bertepuk tangan dan berteriak-teriak, “Haha, ada tontonan menarik! Ayo kemarilah, lihat di sini ada perempuan telanjang bulat!”

Baru saja setengah badan Thi Sim-lan menongol di permukaan air, saking takutnya cepat dia membenamkan diri pula sebatas leher, teriaknya dengan suara gemetar, “Paling…paling tidak kau tinggalkan sepotong bagiku…”

Namun Pek-hujin tidak menggubrisnya lagi, dengan tertawa ngikik ia terus tinggal pergi.

Saking gusarnya Thi Sim-lan lantas mencaci maki, “Kau…kau bukan manusia, kau binatang, kau anjing betina…”

Tanpa menoleh Pek-hujin menyahut dari kejauhan, “Makilah sesukamu! Cukup sebentar lagi tentu setiap lelaki yang tinggal di sekitar sini akan terpancing kemari!”

Thi Sim-lan menjadi takut dan tidak berani bersuara pula.

Sambil meringkuk di dalam air, tanpa terasa air mata lantas bercucuran. Sebenarnya ia tidak percaya bahwa seorang dewasa dapat menangis kehabisan akal seperti anak kecil, baru sekarang ia tahu bahwa segala apa pun mungkin terjadi di dunia ini. Berpikir demikian, segera timbul harapannya bukan tidak mungkin ada seorang lelaki yang kebetulan lewat dan mau meminjamkan celana baginya.

Di sebelah kiri sungai sana adalah sebuah hutan, setelah menyusuri hutan itu, Pek-hujin melanjutkan perjalanan dengan cepat. Diam-diam ia pun kebat-kebit entah Siau-hi-ji yang sialan itu telah mengapakan suami dan gendaknya?

Tiba-tiba ia lihat ada beberapa potong pakaian semampir di ranting pohon di depan sana, bajunya berwarna dasar merah bersulam bunga mawar yang indah memesona.

Sekalipun emas intan, ratna mutu manikam, dengan keadaan Pek-hujin sekarang mungkin takkan dipandangnya barang sekejap, tapi seperangkat pakaian perempuan yang indah, daya tariknya benar-benar teramat besar bagi Pek-hujin, betapa pun ia tidak ingin memakai baju yang rombeng dan kotor begini untuk menemui sang suami.

Dia terus mengincar pakaian itu, langkahnya mulai diperlambat, cuma hati masih ragu-ragu, dan tidak berani meraih pakaian itu.

Pakaian seindah ini tidak mungkin tumbuh dari pohon itu. Jika demikian, dari mana datangnya pakaian ini? Mengapa bisa semampir di pohon?

Diam-diam ia waswas, ia coba memperingatkan dirinya sendiri, “Awas, bisa jadi ini cuma suatu perangkap, jangan mencari gara-gara lagi.” Berpikir demikian, hakikatnya ia tidak mau memandang lagi ke sana.

Akan tetapi pakaian itu sesungguhnya teramat indah. Lebih-lebih bunga sulamannya, bahannya juga dari sutera yang halus, warnanya yang serasi, semua ini sangat memikat.

Kalau menyuruh perempuan jangan memandang pakaian yang indah, rasanya terlebih sulit daripada menyuruh lelaki jangan memandang perempuan cantik.

Akhirnya Pek-hujin mengambil keputusan, “Paling-paling hanya sepotong pakaian saja, memangnya pakaian bisa bergigi dan menggigit orang?”

Memang betul, hanya sepotong pakaian saja yang menggapai-gapai, tiada cacat dan tiada tanda-tanda mencurigakan, setiap orang dapat mengambilnya tanpa mendatangkan kesulitan apa-apa.

Tampaknya Pek-hujin terlalu banyak curiga, semula ia mengira di bawah pohon ada lubang jebakan sehingga siapa yang hendak meraih pakaian itu akan kejeblos. Atau mungkin juga di atas pohon terpasang sesuatu perangkap. Sebab itulah waktu dia menjulurkan tangan untuk mengambil baju itu, ia benar-benar siap tempur seperti menghadapi musuh tangguh.

Akan tetapi nyatanya dengan sangat mudah baju itu sudah dapat diambilnya, pakaian ini seperti mendadak jatuh dari langit atau tumbuh dari pohon itu dan sedang menanti di sini untuk dipakai olehnya.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Pek-hujin lantas membuang pakaiannya yang kotor dan rombeng itu, dengan gerakan yang paling cepat ia ganti pakaian baru, sutera yang halus itu menyentuh tubuh mulus yang habis tercuci bersih laksana belaian tangan sang kekasih.

Tapi tangan sang kekasih ini rasanya tidak beres, mula-mula seperti membelai punggung, tapi dengan cepat menjalar ke bagian dada, terus ke pantat, ke paha dan sekujur badan rasanya menjadi gatal-gatal geli. Semula seperti seekor ulat kecil yang merambat dari kuduknya menurun ke bawah sampai akhirnya ulat ini seakan-akan berubah menjadi beratus dan beribu banyaknya dan merambat kian kemari di setiap pelosok tubuhnya.

Sungguh luar biasa gatalnya, hampir-hampir gila rasa gatalnya, sampai-sampai berjalan saja tidak sanggup lagi, kedua tangan Pek-hujin terus menggaruk-garuk dan mencakar-cakar kian kemari, tapi semakin menggaruk semakin gatal rasanya, bukan cuma tubuh merasa gatal, hati pun ikut gatal.

Rasanya sungguh sukar dilukiskan, ya enak, ya geli, ya sakit, ingin menangis, ya ingin tertawa…sampai akhirnya ia terus mengesot di tanah sambil terkikik-kikik seperti orang gila.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berkata dengan suara nyaring merdu, “Enak bukan baju yang kau pakai itu?”

Rupanya pada baju itulah timbulnya penyakit. Keruan Pek-hujin terkejut dan membentak, “Siapa itu?”

“Masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap orang itu dengan tertawa. Lalu muncul seorang dari kejauhan dengan langkahnya yang gemulai, pakaiannya berwarna kuning gading, orangnya cantik, gayanya memesona. Orang ini ternyata So Ing adanya.

Terkesiap Pek-hujin, serunya, “Kau? Baju ini kepunyaanmu?”

“Baju itu baru kubikin, belum pernah kupakai, indah bukan?” ucap So Ing dengan tersenyum.

Saking gatalnya Pek-hujin hampir tidak dapat bicara lagi, tubuhnya digosok-gosokkan pada sebatang pohon, dengan suara gemetar ia tanya, “Bajumu ini ditaruhi apa?”

“Ah, tidak ada apa-apanya, hanya kuberi sedikit obat gatal,” tutur So Ing. “Selang beberapa hari obat itu akan hilang dengan sendirinya.”

Pek-hujin masih kelabakan menggosok tubuhnya di batang pohon, hampir gila dia karena tidak tahan rasa gatalnya, kalau bisa ingin dia dicambuki orang sekuatnya, sedetik saja tidak dapat menunggu, apalagi selang beberapa hari lagi, sungguh ia rela mati saja.

Dengan tertawa So Ing berkata pula, “Baju baru ini akan kupakai untuk bertemu dengan kekasihku, jika kau rusak harus kau ganti nanti.”

Seperti orang kalap Pek-hujin lantas tarik baju itu hingga robek, teriaknya parau, “Aku tidak memusuhimu, mengapa kau mencelakai aku?”

“Coba renungkan dulu, pernahkah kau berbuat sesuatu terhadapku?” jengek So Ing.

Meski sekarang Pek-hujin menanggalkan pakaian itu, tapi rasa gatalnya tetap tidak kepalang, ia merangkak di tanah dan tergeliat-geliat, dengan air mata meleleh ia memohon, “O, nona yang baik, adik terhormat, aku mengaku salah, ampunilah diriku.”

“Apakah begitu hebat rasa gatalnya?” tanya So Ing dengan tenang.

“Ya, baru sekarang kutahu di dunia ini tiada sesuatu yang lebih menderita daripada rasa gatal,” kata Pek-hujin.

“Jika begitu, coba jawab, kau yang menculik Hoa Bu-koat bukan?” tanya So Ing.

Dalam keadaan demikian mana Pek-hujin berani menyangkal, cepat ia mengangguk dan berkata, “Ya, ya, aku yang menculiknya, sungguh pantas mampus aku.”

“Di mana kau sembunyikan dia?” tanya So Ing dengan gusar.

“Di belakang bukit sana, di lembah sana ada sebuah rumah kecil…”

“Apakah rumah batu itu?

“Ya, ya, engkau pun sudah tahu.”

“Apakah benar-benar kau sembunyikan dia di sana?” So Ing menegas setelah berpikir sejenak.

“Betul, masa aku berani mendustai nona?” jawab Pek-hujin sambil meringis.

Air muka So Ing seperti berubah sedikit, ucapnya sambil menggeleng, “Di pegunungan sunyi begini bisa terdapat rumah batu sekukuh itu, apakah kalian tidak merasa heran?”

Setelah berpikir, tiba-tiba Pek-hujin juga merasa heran, tanyanya kemudian, “Ya, apakah rumah batu itu ada sesuatu yang aneh?”

So Ing menggeleng dan tidak menjawab.

Sudah tentu Pek-hujin tidak sempat bertanya lebih lanjut urusan ini, betapa pun dia sedang kelabakan oleh rasa gatalnya yang tak tertahan, dengan cepat ia memohon, “Sudah kukatakan semuanya, kumohon engkau mengampuni diriku sekarang.”

So Ing tertawa, tanyanya, “Barusan kau datang dari mana?”

Setelah melenggong sejenak, akhirnya Pek-hujin menjawab, “Dari sungai sana.”

“Jika begitu boleh kau kembali lagi ke sana!” ucap So Ing.

*****

Dalam pada itu Thi Sim-lan sedang kedinginan karena berendam sekian lamanya dalam sungai, kaki dan tangan serasa hampir beku. Namun dia harus memandang kian kemari, ia khawatir kalau-kalau mendadak ada lelaki nakal muncul di situ. Untung juga keadaan tetap sunyi senyap tiada bayangan seorang pun.

Sebenarnya ia pun pernah berpikir hendak meninggalkan sungai ini, tapi seorang nona yang telanjang bulat bisa berbuat apa dan mau ke mana? Apabila mendadak kepergok lelaki kan bisa… Begitulah, pada hakikatnya ia tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya.

Tengah bingung, sekonyong-konyong dilihatnya dari depan sana kembali ada seorang perempuan bugil sedang berlari-lari mendatangi, “plung”, langsung perempuan telanjang itu terjun ke dalam air dengan napas terengah-engah.

Thi Sim-lan terkejut di samping merasa heran dan geli pula, mestinya dia tidak ingin memandangnya, tapi sekilas melirik, diketahuinya perempuan ini bukan lain daripada perempuan sialan yang kabur dengan menipu pakaiannya tadi. Sungguh aneh, mengapa dia lari kembali ke sini lagi dalam keadaan telanjang bogel?

Dengan terbelalak heran, Thi Sim-lan jadi tidak sanggup bersuara.

Setelah terjun ke dalam air, rasa gatal Pek-hujin lantas berhenti seketika. Melihat Thi Sim-lan sedang memandangnya, ia balas menyengir dan berkata, “Hihi, aku kembali lagi, kau heran bukan?”

“Ehm,” Sim-lan mendengus.

“Hihihi, soalnya aku tiada hobi lain kecuali mandi,” ujar Pek-hujin dengan tertawa.

Mendadak Thi Sim-lan menubruk ke sana dan menjambak rambut Pek-hujin sambil membentak, “Mana bajuku? Kembalikan!

“Inilah bajumu!” tiba-tiba seorang menukas dengan tersenyum.

Waktu Thi Sim-lan menoleh segera dilihatnya So Ing berdiri di tepi sungai laksana sekuntum bunga teratai yang baru mekar. Ia merasa selama hidup ini belum pernah melihat nona secantik ini, meski dia sendiri juga perempuan, tidak urung ia memandangnya dengan terkesima.

So Ing tertawa dan bertanya pula, “Betulkah ini bajumu?”

Sim-lan menunduk dengan muka merah, jawabnya lirih, “Ya, bajuku.”

“Jika kau tidak ingin mandi lagi, silakan naik dan pakai bajumu,” kata So Ing.

Meski malu, mau tak mau Thi Sim-lan keluar dari sungai, secepat terbang ia terima baju itu terus lari ke balik semak-semak sana.

“Aku pun ingin keluar,” kata Pek-hujin dengan menyengir.

“Mau keluar boleh keluar, kan tiada yang merintangimu” ujar So Ing acuh.

Segera Pek-hujin memanjat ke atas batu, tak terduga, seketika rasa gatal itu kambuh lagi, gatalnya sungguh tidak kepalang. Cepat ia memberosot ke dalam air pula.

“Kenapa kau tidak jadi naik?” tanya So Ing dengan tertawa.

Pek-hujin hanya meringis saja. Katanya kemudian, “Tapi…tapi aku kan tak dapat berendam terus-menerus begini?”

“Asalkan tidak merasa gatal lagi, setiap saat kau boleh naik,” kata So Ing.

“Harus…harus menunggu sampai kapan?”

“Bisa jadi setengah hari, dua hari atau empat hari… Katanya hobimu adalah mandi, nah, silakan mandi sepuas-puasmu!”

Pek-hujin melenggong dan tak dapat bersuara pula, hampir ia jatuh pingsan saking gemasnya.

Sementara Thi Sim-lan sudah selesai berpakaian, ia mendekati So Ing dan memberi hormat, katanya, “Terima kasih atas pertolongan nona.”

Baju yang dipakainya itu kotor lagi rombeng, namun betapa pun tidak dapat menutupi gadis cantik yang habis mandi dengan wajahnya yang kemerah-merahan seperti buah apel.

Tanpa terasa So Ing menarik tangan Thi Sim-lan, katanya dengan tertawa, “Nona secantik ini, sungguh aku pun kesengsem, kaum lelaki seharusnya antri dan berlutut memohon di depanmu, mengapa malah kau yang bersusah payah mencari mereka?”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, jawabnya dengan tergagap, “Aku…aku…”

“Memangnya yang hendak kau cari bukan lelaki?”

Sim-lan menunduk dan terpaksa mengiakan.

“Lelaki manakah yang punya rezeki sebesar itu?” kata So Ing dengan tertawa.

“Dia…dia…”

“Tidak perlu kau katakan, toh aku tidak kenal dia,” ujar So Ing sambil berjalan.

Thi Sim-lan ikut berjalan sejenak, ucapnya kemudian sambil menghela napas perlahan, “Memang paling baik apabila engkau tidak pernah kenal dia.”

“Kenapa?” tanya So Ing dengan tertawa geli, “Masa orang yang kenal dia akan tertimpa sial?”

Di luar dugaan Thi Sim-lan lantas manggut-manggut dan menjawab, “Ehm.”

So Ing berpaling dan memandangnya dengan terbelalak, “Siapa namanya?” tanyanya.

Thi Sim-lan tidak memperhatikan perubahan sikap So Ing itu, dengan gegetun ia menjawab, “Dia she Kang, orang memanggilnya Siau-hi-ji.”

Siau-hi-ji, nama ini membuat hati So Ing berdetak keras, akhirnya diketahui juga bahwa gadis yang berada di sebelahnya ini ternyata adalah saingannya, saingan cinta.

Dipandangnya wajah Thi Sim-lan secantik bunga, kecut rasa hatinya, pikirnya, “Wahai Siau-hi-ji, tampaknya tidak keliru pilihanmu ini.”

Dilihatnya mendadak Thi Sim-lan tertawa dan berucap, “Siau-hi-ji, masa namanya disebut Siau-hi-ji, engkau merasa lucu tidak?”

So Ing tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa, “Ya, sangat lucu.”

“Tapi tingkah lakunya justru sangat menjengkelkan, terkadang kau bisa dibikin mati gemas olehnya,” ucap Sim-lan dengan rawan.

So Ing berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Apakah kau benci padanya?”

Sim-lan menunduk, jawabnya, “Terkadang aku memang gemas dan benci padanya, tapi terkadang -.”

“Terkadang kau suka juga padanya,” tukas So Ing dengan tertawa. “Memangnya kau sangat suka padanya, begitu bukan?”

Thi Sim-lan hanya menggigit bibir sambil mengikik.

Melenggong sejenak So Ing, mendadak ia berseru, “Tapi dia kan juga belum pasti suka padamu, betul tidak?”

Thi Sim-lan termangu-mangu sejenak, sorot matanya berubah menjadi halus, tersembul juga senyuman manis pada ujung mulutnya, dengan menunduk ia menjawab perlahan, “Meski kadang-kadang ia tidak baik padaku, tapi lebih sering dia…dia sangat baik padaku.”

Melihat kerlingan mata dan senyuman manis Thi Sim-lan yang penuh arti itu, So Ing tahu orang lagi mengenangkan Siau-hi-ji, seketika hati So Ing seperti ditusuk-tusuk jarum, sungguh kalau bisa ia pun ingin merogoh keluar hati Thi Sim-lan dan ditusuk-tusuknya berpuluh kali agar selanjutnya nona itu tidak berani memikirkan Siau-hi-ji lagi.

Sama sekali Thi Sim-lan tidak melihat perubahan sikap So Ing itu, dengan termangu-mangu ia memandang gumpalan awan di atas langit, gumpalan awan itu seakan-akan telah berubah menjadi wajah Siau-hi-ji yang selalu berseri-seri itu.

Dengan suara lembut kemudian ia menyambung pula, “Sudah beberapa tahun kukenal dia, selama ini meski banyak membawa penderitaan hagiku, tapi juga lebih banyak memberikan kebahagiaan padaku. Sesungguhnya aku…aku harus merasa puas.”

So Ing berpaling ke sana dan sengaja berteriak, “Seumpama dia terkadang sangat baik padamu, ini pun bukan bukti bahwa dia benar-benar suka padamu. Bisa jadi, memang begitulah sikapnya terhadap setiap anak perempuan, atau mungkin juga dia jauh lebih baik kepada orang lain daripadamu.”

“Asalkan dia baik padaku, bagaimana dia perlakukan pada orang lain tak kupusingkan,” ujar Sim-lan dengan lirih.

“Kau tidak cemburu?” tanya So Ing.

“Ada sementara lelaki yang pada dasarnya tidak dapat dimiliki hanya oleh seorang perempuan,” ujar Sim-lan dengan tertawa, “Justru orang demikianlah Siau-hi-ji, jika aku cukup memahami pribadinya, maka aku pun tidak perlu cemburu padanya.”

So Ing tercengang sejenak, jengeknya kemudian, “Hm, tak tersangka kau dapat berlapang dada.”

Sebenarnya ia ingin menusuk perasaan Thi Sim-lan, tak tersangka sang seteru justru tidak marah sedikit pun, malahan ia sendiri berbalik kheki setengah mati.

Selang sejenak ia berkata pula, “Bisa jadi lelaki yang kau kenal cuma dia seorang saja, makanya kau setia mati-matian padanya. Apabila lelaki yang kau kenal tambah banyak, tentu akan kau temukan masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik daripadanya.”

Tiba-tiba berubah juga air muka Thi Sim-lan, makin menunduk kepalanya.

“Kau setuju tidak dengan perkataanku?” tanya So Ing.

“Aku…aku…” Sim-lan tergagap, suaranya terasa gemetar.

Baru sekarang So Ing mengetahui perubahan sikap Thi Sim-lan itu, seketika terbeliak matanya katanya pula, “O, kukira lelaki yang kau kenal memang tidak cuma dia saja, betul tidak?”

“Ehm,” Thi Sim-lan bersuara singkat dan menunduk pula.

So Ing menatapnya lekat-lekat, katanya pula “Selain dia, dalam hatimu masa ada lagi seorang?”

Muka Sim-lan menjadi merah dan tidak menjawab.

So Ing tertawa, katanya, “Dugaanku pasti tidak keliru, pantaslah kau tidak cemburu padanya.” Dia berkedip-kedip, lalu menarik tangan Sim-lan pula, katanya dengan tertawa, “Siapakah yang seorang lagi itu? Apakah jauh lebih baik daripadanya?”

Wajah Sim-lan bertambah merah dan sama sekali tidak mau menjawab.

So Ing tertawa nyaring dan tidak tanya pula, hanya dikatakannya, “Seorang perempuan bilamana hatinya sudah terisi dua lelaki, walaupun sangat memusingkan, tapi juga sangat menarik…”

Thi Sim-lan memainkan ujung bajunya, selang sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Sekarang kau pasti menganggap aku ini perempuan busuk, bukan?”

“Mana bisa kuberpikir begitu,” jawab So Ing tertawa. “Apabila kau perempuan busuk begitu, tentu akan kau anggap main cinta sama seperti makan kacang goreng, tapi sekarang kau mencintai dua lelaki sekaligus, makanya kau serba susah.”

“Sebenarnya hidupku ini sudah kuputuskan akan kuserahkan kepada Siau-hi-ji, tak peduli dia baik atau busuk padaku tetap takkan mengubah pendirianku, siapa tahu…”

Mata So Ing mengerling, ucapnya dengan tertawa, “Siapa tahu ada lagi seorang yang benar-benar teramat baik padamu dan membikin kau sukar menolaknya, begitu bukan?”

Tiba-tiba Sim-lan mencucurkan air mata, jawabnya dengan terguguk, “Ya, tapi kebaikannya padaku bukan lantaran ingin memiliki diriku…”

“Semakin dia bersikap begitu, semakin tak enak hatimu padanya, begitu bukan?” tukas So Ing.

“Ehm,” Sim-lan mengangguk.

“Hah, tingkah lelaki demikian ini sudah lama kuketahui dengan jelas,” kata So Ing dengan tertawa.

“Kau…kau anggap dia sengaja bersikap demikian padaku?”

“Ya, aku mengakui caranya ini memang sangat pintar, terhadap perempuan harus memakai jinak-jinak merpati, seperti didekati, tapi lantas menjauhi, seperti hendak menangkapnya, tapi sengaja dilepaskan, bilamana terlalu kencang kamu mengubernya, dia berbalik akan kabur malah.” Lalu dengan tertawa So Ing menambahkan, “Aku juga perempuan, jiwa kaum perempuan masa aku tidak paham?”

“Ini lantaran – lantaran kamu tidak tahu sebenarnya lelaki macam apakah dia itu?” ujar Thi Sim-lan.

“Kutahu, dia pasti serupa Siau-hi-ji, ya pintar, ya ganteng, ya menyenangkan, tapi terkadang pun rada menjengkelkan, hanya rada-rada menjengkelkan saja.”

“Salah kau,” ucap Sim-lan.

“O?” So Ing melongo heran.

“Dia justru adalah lelaki yang berbeda sama sekali daripada Siau-hi-ji, pada hakikatnya tiada setitik pun yang sama, terhadap anak perempuan dia selalu sopan santun dan simpati, bergurau sepatah kata saja tidak pernah.”

“Wah, lelaki model anjing penjaga rumah begitu sama sekali takkan kusukai,” kata So Ing.

“Tapi – tapi -.”

“Tapi ada juga yang sangat menyukainya, begitu bukan?” tukas So Ing tertawa.

Muka Thi Sim-lan kembali merah, ucapnya, “Aku bukannya men – menyukai dia, soalnya dia pernah menyelamatkan jiwaku, bahkan sangat – sangat -.” suaranya lirih seperti bunyi nyamuk, pula tergagap-gagap dan terputus-putus seperti orang keselak.

Dengan tertawa So Ing menukasnya, “- bahkan dia juga sangat baik padamu, dia sangat memperhatikan dirimu dalam segala hal, andaikan kau tidak suka padanya, mau tak mau juga mesti berterima kasih padanya, begitu bukan?”

“Ehm,” Sim-lan mengangguk.

“Tapi kau harus tahu, antara terima kasih dan suka terkadang sukar dipisah-pisahkan,” kata So Ing.

Sim-lan menggigit bibir dan termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Seumpama aku menyukai dia juga dia takkan menyukai aku.”

“Jika dia tidak suka padamu, untuk apa dia berbuat sebaik itu padamu? Dia kan tidak sinting?”

“Dia memperhatikan diriku, bisa jadi demi Siau-hi-ji,” ucap Thi Sim-lan dengan menunduk.

Sekali ini So Ing benar-benar seperti terkejut, serunya, “Dia baik padamu demi Siau-hi-ji? Ini sungguh aku tidak paham.”

“Dia bilang semoga aku dan Siau-hi-ji bisa – bisa berada bersama,” tutur Sim-lan dengan rawan.

“Memangnya dia juga sahabat Siau-hi-ji,” tanya So Ing.

Thi Sim-lan berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Terkadang mereka memang dapat dianggap sebagai sahabat karib, bilamana salah seorang menghadapi bahaya, yang lain pasti akan membantunya tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Tapi sering pula mereka bertengkar dan saling labrak mati-matian.”

Tiba-tiba So Ing tahu siapakah gerangan orang yang dimaksudkan Thi Sim-lan ini, dia melenggong sejenak, gumamnya kemudian, “Peristiwa ini sungguh sangat aneh dan sangat bagus, sungguh sangat menarik.”

“Setelah kuceritakan isi hatiku sebanyak ini, apakah engkau akan menertawakan diriku?” tanya Sim-lan dengan kikuk.

Dengan suara lembut So Ing menjawab, “Masa kutertawaimu? Apabila seorang mempunyai isi hati, adalah biasa bila perasaan yang tertekan itu dikemukakan kepada seorang teman, kalau tidak kan bisa mati kesal.”

“Tapi…tapi kita baru saja kenal…”

“Meski kita baru saja kenal, tapi selanjutnya lambat laun kita bisa menjadi sahabat karib.”

Sim-lan tersenyum pedih, ucapnya, “Selanjutnya?… Siapa pula yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Berkilau sorot mata So Ing, tiba-tiba ia menarik tangan Thi Sim-lan pula dan berkata dengan lembut, “Begitu melihat dirimu, seketika aku merasa cocok. Jika kau tidak jemu padaku, maukah kau mengakui aku sebagai adikmu?”

Permohonan yang diajukan dengan kata-kata halus dan terucap dari mulut anak perempuan secantik ini, siapa pula yang sanggup menolaknya?

Dengan begitu Thi Sim-lan lantas menjadi kakak angkat So Ing.

Gemilang cahaya sang surya menyinari pegunungan yang hijau permai, kicau burung mengiringi arus sungai yang mengalir selalu, di tengah semilir angin lalu sayup-sayup membawa harum bunga yang memabukkan.

Selamanya Thi Sim-lan tidak pernah membayangkan akan hidup segembira sekarang. Selama ini hidupnya selalu merana, perasaannya tertekan, hampir saja ia putus asa. Sungguh tak terduga akan dijumpainya So Ing.

“Sekarang kau sudah menjadi Ciciku, maka takkan kubiarkan kau pergi lagi mencari Siau-hi-ji,” ucap So Ing dengan tertawa sambil menarik tangan Thi Sim-lan.

“Sebab apa?” tanya Sim-lan.

“Kebanyakan lelaki memang sok jual mahal walaupun sebenarnya bernilai rendah,” kata So Ing. Semakin kau ingin mencarinya, semakin dia merasa bangga. Tapi kalau kau tidak menggubris dia, luka dia yang akan mencari kau walaupun dengan mengesot.”

Thi Sim-lan tertawa, katanya, “Habis apa…apa yang harus kulakukan?”

“Kau tidak perlu berbuat apa-apa, tunggu saja tenang-tenang, dengan sendirinya ada akalku akan membuat dia datang mencari kau,” tutur So Ing.

Sim-lan menunduk, ucapnya, “Tapi engkau kenal saja tidak…”

So Ing menggeleng, katanya pula dengan tertawa, “Meski aku tidak kenal dia, tapi pernah kulihat dia.”

“Oo?” Sim-lan rada heran.

“Ya, sekarang aku jadi ingat. Bukankah dia seorang anak muda yang bermata besar, mukanya banyak codet, tapi tampaknya tidak menjemukan, sepanjang hari hanya tertawa melulu, bila berjalan lenggangnya seakan dunia ini dia punya.”

“Mungkin kau tidak tahu, dia malah mengaku sebagai orang paling pintar nomor satu di dunia ini,” tukas Thi Sim-lan geli.

Teringat kepada Siau-hi-ji, hati So Ing terasa manis juga, ucapnya dengan tertawa, “Jika dia mengaku sebagai orang yang paling tebal kulit mukanya kukira lebih dapat dipercaya.”

“Bilakah kau lihat dia?” tanya Sim-lan.

“Belum lama, baru satu dua hari yang lalu.”

Thi Sim-lan menghela napas gegetun, ucapnya, “Orang ini sedetik saja tidak dapat berdiam, baru satu dua hari kau lihat dia, tapi sekarang dia entah sudah berada di mana lagi?”

“Jangan khawatir, asalkan dia berada di pegunungan ini, pasti ada akalku untuk menemui dia.”

“Kau punya akal apa?” tanya Sim-lan.

“Kau tahu, di pegunungan inilah aku dibesarkan, hampir setiap orang penduduk di sini pasti kukenal, kalau aku ingin mencari seseorang yang istimewa begitu, bukankah sangat mudah?”

“Jika…jika begitu, apakah aku mesti menunggu di sini?”

“Wah, kukira kurang aman bila kau menunggu di sini, apabila pakaianmu ditipu orang lagi, lalu bagaimana?” ucap So Ing dengan tertawa. Sebelum Thi Sim-lan menjawab, segera ia menyambung pula, “Demi keselamatanmu, sekarang juga akan kubawa kau ke suatu tempat.”

“Tempat apa?” tanya Sim-lan.

“Pemilik tempat ini adalah ayah angkatku, meski tampangnya kelihatan bengis, tapi hatinya sangat baik, lebih-lebih terhadap diriku, sungguh tidak kepalang baiknya.”

“Aku percaya,” ucap Thi Sim-lan dengan tertawa, “Kakak angkat seperti aku saja bisa-bisa akan kukorek hatiku untukmu, apalagi sang ayah angkat.”

So Ing mencibir, katanya, “Hatimu hendak kau korek untukku? Bukankah hatimu sudah kau berikan kepada Siau-hi-ji?” Melihat muka Thi Sim-lan berubah merah, cepat ia menyambung pula dengan tertawa, “Ayah angkatku itu she Gui, jika dia mengetahui engkau adalah kakak angkatku, beliau pasti akan membelamu dengan baik. Cuma kau jangan lupa, bentuknya memang kelihatan menakutkan.”

“Jika kelihatannya menakutkan tentu takkan sering kupandang dia,” kata Sim-lan.

“Bagus, cara ini memang sangat bagus,” seru So Ing sambil berkeplok.

Segera dia menarik Thi Sim-lan menyusuri hutan, pegunungan sunyi senyap, dunia ini seakan-akan penuh rasa aman dan damai sehingga membuat orang merasa hidup ini bahagia. Tiba-tiba Thi Sim-lan juga penuh harapan terhadap masa yang akan datang.

Setelah berjalan sejenak, mendadak So Ing berhenti dan berkata, “Ai, hampir saja kulupa, aku masih harus memenuhi suatu janji pertemuan.”

“Janji pertemuan?” Sim-lan menegas.

“Ya, aku sudah berjanji akan bertemu dengan seorang di belakang gunung sana, sekarang waktunya sudah hampir tiba. Wah, bagaimana baiknya?”

“Melihat kegelisahanmu ini, jangan-jangan hendak bertemu dengan jantung hatimu?”

Muka So Ing ternyata tidak merah, jawabnya sambil menggeleng, “Bukan.”

“Jika kau tidak mau terus terang, biarlah aku ikut mengacau ke sana.”

“Memangnya kenapa kalau jantung hatiku? Masa kau saja yang boleh punya kekasih dan aku tidak boleh?”

“Jangan cemas, aku takkan ikut ke sana.”

So Ing mengerling, katanya, “Dari sini langsung menuju ke atas bukit sana, tidak lama kemudian akan kau lihat sebidang pepohonan, di sanalah tempat tinggal ayah angkatku.”

“Masa…masa aku disuruh ke sana sendirian?”

“Sendirian juga tidak apa-apa, asalkan setiba di sana tentu ada orang akan memapak kau?”

“Tapi mereka kan tidak kenal diriku?”

So Ing berpikir sejenak, diambilnya tusuk kundainya dan diberikan kepada Thi Sim-lan, katanya, “Perlihatkan saja tusuk kundai ini, katakan aku yang menyuruhmu ke sana, tentu mereka akan menyambut kedatanganmu dengan hormat dan mengatur segala keperluan.”

Walaupun merasa enggan, tapi mau tak mau Thi Sim-lan harus pergi ke sana. Sekarang ia mirip segumpal awan yang mengambang di udara tanpa arah tujuan, ia pun tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

So Ing memandangi kepergian Thi Sim-lan itu, baru saja ia menghela napas lega, sekonyong-konyong terdengar seorang berkata dengan gegetun, “Kasihan budak itu, sudah dijual oleh orang masih belum tahu.”

“Haha, nona So ini tidak menjualnya padamu, makanya kau berlagak kasihan padanya?” demikian terdengar seorang lagi menanggapi dengan tertawa.

“Semula kuanggap budak she Thi itu tidaklah jelek, tapi kalau dibandingkan nona So ini, hakikatnya budak Thi mirip sepotong kayu belaka,” demikian orang ketiga berkata dengan terkekeh-kekeh.

“Ya, makanya Siau-hi-ji kita tidak boleh punya bini seperti bonggol kayu,” ujar orang keempat dengan tertawa.

Di tengah suara gelak tertawa itu, dari balik batu sana mendadak muncul empat orang. Bentuk keempat orang ini yang satu lebih aneh daripada yang lain. Heran, entah cara bagaimana keempat orang aneh ini bisa berkumpul menjadi satu.

Terlihat orang pertama berwajah kotor dengan rambut semrawut, pakaiannya sudah dekil lagi compang-camping sehingga mirip pengemis. Tapi tangannya justru memegang sebuah pipa tembakau bertatah jamrud yang tak ternilai harganya.

Orang kedua bermuka bundar, perutnya buncit, usianya jelas tidak muda lagi, tapi lagaknya seperti anak kecil, tiada hentinya bergelak tertawa sehingga mirip Mi-lik-hud, itu Budha tertawa yang terkenal.

Orang ketiga berkundai licin dengan hiasan batu permata, pupur di mukanya setebal hampir setengah senti sehingga mirip orang bertopeng, maka sukar diketahui sebenarnya wajahnya bagus atau jelek, sudah tua atau masih muda? Yang jelas cara bersoleknya adalah perempuan, tapi yang dipakainya adalah baju lelaki, sedangkan kakinya memakai sepatu perempuan yang bersulam sutera merah dan bermutiara.

Orang keempat adalah lelaki kekar tegap, sorot matanya tajam, cuma mulutnya sangat lebar, seperti mulut singa, kepalan tangan mungkin bisa masuk.

Meski So Ing tidak tahu keempat orang ini adalah tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin yang termasyhur, yaitu Pek Khay-sim, Ha-ha-ji, To Kiau-kiau dan Li Toa-jui, tapi dia sudah pernah melihat mereka, telah disaksikannya cara bagaimana keempat orang itu mengerjai Gui Moa-ih. Sekarang keempat orang ini muncul pula dan mengepungnya di tengah. Biasanya dia tidak mudah memperlihatkan perasaannya, kini tidak urung air mukanya rada pucat juga.

“Jangan takut, nona So,” kata Li Toa-jui dengan tertawa. “Sudah dua hari ini aku kurang nafsu makan, umpama akan kumakan kau, sedikitnya perlu menunggu lagi beberapa hari.”

“Hihihi, anak perempuan secantik manis ini, sekalipun kau tega memakannya juga takkan kululuskan,” ucapTo Kiau-kiau dengan terkikik-kikik.

“Tapi, menurut pendapatku, lebih baik biarkan dia dimakan oleh Li Toa-jui,” ujar Pek Khay-sim.

“Hahaha, kau benar-benar cocok dengan julukanmu yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri,” seru Ha-ha-ji dengan terbahak. “Umpama Li Toa-jui memakannya, apa pula faedahnya bagimu?”

“Sedikitnya aku tidak perlu khawatir kalau-kalau dijual olehnya,” kata Pek Khay-sim.

“Haha, memangnya berapa harganya satu kati tulangmu yang bau busuk ini, untuk apa dia menjual dirimu?” kata Ha-ha-ji.

“Hm, kakaknya saja sudah dijualnya, apalagi diriku?” jengek Pek Khay-sim.

So Ing mengerling, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Apakah kedatangan kalian ini hendak membela keadilan bagi Thi Sim-lan?”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya, “Kalau dibicarakan, budak Thi Sim-lan ini sesungguhnya memang harus dikasihani.”

“Jika kalian merasa aku telah menipu dia, mengapa tadi kalian tidak mencegah kepergiannya?” ujar So Ing dengan tertawa.

“Dia bukan anakku juga bukan biniku, dia tertipu atau tidak, apa sangkut-pautnya denganku? Untuk apa aku meski ikut campur?” demikian ucap Pek Khay-sim dengan menarik muka.

“Apalagi,” sambung Ha-ha-ji, “Kan tiada salahnya biarkan dia pergi ke tempat Gui Bu-geh, nah, barulah nanti akan banyak tontonan yang menarik.”

“Demi berebut seorang lelaki, memangnya apa pun dapat dilakukan oleh seorang perempuan,” sambung To Kiau-kiau dengan tertawa. “Apalagi demi mendapatkan pemuda seperti Siau-hi-ji, sekalipun kau membunuh orang juga takkan kusalahkan kau.”

“Jika demikian, untuk keperluan apakah kalian datang kemari?” tanya So Ing.

“Kami sengaja mencari kau untuk merundingkan suatu perdagangan,” jawab Li Toa-jui.

“Perdagangan? Perdagangan apa?” tanya So Ing.

“Haha, sudah tentu perdagangan yang saling menguntungkan,” tukas Ha-ha-jai, “Cuma kami tidak tahu apakah kau setuju atau tidak?”

“Jika ada bisnis yang saling menguntungkan, masa aku tidak setuju?” jawab So Ing tertawa.

“Baik, sekarang kutanya padamu, kau ingin menjadi istri Siau-hi-ji bukan?” tanya To Kiau-kiau.

So Ing tertawa, jawabnya tanpa pikir, “Tidak cuma begitu saja, malahan aku sudah bertekad menjadi istrinya.”

“Haha, tampaknya tekadmu sangat besar,” tukas Ha-ha-ji. “Tapi kau harus tahu, bukan urusan mudah jika ingin diperistri oleh Siau-hi-ji.”

“Bilamana urusannya sedemikian mudah, bisa jadi aku malah tidak ingin menjadi istrinya,” jawab So Ing dengan tertawa.

“Tapi apakah kau yakin dan mempunyai pegangan akan dapat menjadi istrinya?” tanya To Kiau-kiau.

“Urusan yang tiada pegangannya dan semakin sulit, tentunya akan semakin menarik untuk dilaksanakan bukan?” jawab So Ing.

“Tapi kalau gagal, kan jadi tidak menarik, bukan?” kata To Kiau-kiau.

So Ing menghela napas, katanya, “Ya, jika begitu memang sangat tidak menarik.”

“Nah, untuk itu, kami dapat membantu terlaksananya cita-citamu, tapi kau juga harus berjanji melakukan sesuatu bagi kami,” kata To Kiau-kiau.

So Ing mengerling manis, katanya dengan tertawa, “Kalian benar-benar yakin dia sudi menikahiku?”

“Sudah tentu kami yakin,” jawab To Kiau-kiau. “Jangan lupa, kami inilah yang membesarkan Siau-hi-ji, masa kami tidak kenal tabiatnya?”

“Jika begitu urusan apa yang harus kukerjakan bagi kalian?” tanya So Ing.

“Kau harus membawanya hidup-hidup ke liang Gui Bu-geh itu, kemudian membawanya keluar pula hidup-hidup,” tutur To Kiau-kiau.

“Sebab apa kalian menghendaki demikian” tanya So Ing.

“Sebab kami ingin menyuruhnya mengambil sesuatu barang,” jawab Kiau-kiau.

So Ing berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Tapi kalau dia tidak mau ke sana, lalu bagaimana?”

“Semula mungkin dia tidak mau, tapi sekarang mau tak mau dia harus pergi ke sana,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Sebab barusan kau telah membantu mengerjakan sesuatu bagi kami, yaitu, kau telah mengirim Thi Sim-lan ke tempat Gui Bu-geh.”

“Dan kalau aku tidak setuju permintaan kalian?” tanya So Ing dengan tenang-tenang.

“Jika kau tidak mau, nafsu makanku akan segera timbul,” ucap Li Toa-jui dengan terkekeh-kekeh.

“Mungkin kalian tidak tahu bahwa pada waktu kecil aku pernah jatuh dari atas pohon sehingga tubuhku banyak bekas lukanya, maka sulit dagingku menjadi rada kasap,” tutur So Ing dengan tenang. Ia tersenyum, lalu menyambung pula, “Walaupun begitu, kupercaya, diolah dengan cara apa pun juga dagingku tetap sangat lezat. Cuma perlu kuberi nasihat, jangan sekali-kali kau masak dengan direbus, daging yang empuk begini harus digoreng, dengan demikian dagingnya akan terasa tetap segar dan gurih.”

Cara bicaranya ramah tamah seperti halnya sedang bertukar pikiran dengan kawan kursus mengenai resep makanan.

Tentu saja Li Toa-jui dan lain-lain jadi saling pandang dengan melongo.

Setelah berdehem Li Toa-jui berkata pula, “Ah, kau telah mengingatkan aku kelezatan daging manusia goreng kering, rasanya memang benar tiada bandingannya. Ehm, sudah lama juga aku tidak merasakannya.”

“Tapi apakah kau tahu cara makan daging manusia goreng itu pun ada rahasianya,” kata So Ing.

“Oya? Bagaimana?” tanya Li Toa-jui.

“Yakni, sebaiknya kau mengiris dagingku selagi aku masih hidup, pula bumbunya jangan diberi cuka, sebab daging manusia umumnya memang rada masam,” kata So Ing.

“Hehe, terima kasih atas petunjukmu, sudah banyak manusia yang kumakan, tak tersangka kau lebih ahli daripadaku,” kata Li Toa-jui.

Dengan tenang So Ing lantas duduk dan berkata Kula, “Nah, santapan enak sudah tersedia, apalagi yang kau tunggu?”

“Ya, aku memang tidak sabar lagi,” kata Li Toa-jui.

“Jika tidak sabar lagi, mengapa engkau tidak lekas turun tangan?”

“Dengan sendirinya aku akan turun tangan,” kata Li Toa-jui. Dia melangkah dua tiga tindak, dilihatnya So Ing masih tetap duduk tenang-tenang saja, sedikit pun tidak mengunjuk rasa khawatir akan dijadikan santapan orang, malahan lebih mirip orang sedang menunggu antaran makanan.

“Li Toa-jui,” tiba-tiba To Kiau-kiau berseru, “Coba kemari, ingin kubicara denganmu.”

Lalu ia menarik Li Toa-jui ke samping sana dan membisikinya, “Apakah benar-benar kau hendak memakannya?”

“Urusan sudah kadung begini, memangnya dapat kulepaskan dia?” jawab Li Toa-jui dengan terbelalak. “Setelah dia menjadi isi perutku, toh selamanya takkan diketahui Siau-hi-ji.”

“Tapi apakah pernah kau makan orang semacam dia” tanya Kiau-kiau.

Li Toa-jui melirik sekejap So Ing yang masih duduk tenang-tenang di sana, lalu dia mengomel dengan suara tertahan, “Keparat, tampaknya budak ini seakan-akan senang menjadi isi perutku, entah muslihat apa yang telah diaturnya?”

“Coba pikir, jika dia tidak mempunyai sesuatu pegangan, mana dia dapat bersikap setenang ini, ia bahkan khawatir matinya terlalu enak dan menyarankan kau menyayat dagingnya hidup-hidup. Coba pikirkan, masa di dunia ini ada manusia demikian?”

“Betul, budak ini banyak tipu akalnya, jangan-jangan sudah diaturnya perangkap untuk menjebak diriku,” kata Li Toa-jui sambil berkerut kening.

“Asal kau tahu saja,” kata To Kiau-kiau.

Semakin rapat terkerut kening Li Toa-jui, ucapnya, “Tapi cara bagaimana dia akan menjebak diriku? Apakah tubuhnya dilumuri racun agar aku keracunan bilamana kumakan dia, tapi apa pun juga jadinya nanti kan dia sudah menjadi isi perutku?”

“Kau pikir dia akan menggunakan cara segoblok itu?” tanya Kiau-kiau.

“Selain itu, anak perempuan selemah dia masa punya akal lain?” ujar Li Toa-jui.

“Jika akal muslihatnya dapat kau terka semudah itu, tentu orang lain tidak perlu takut padanya,” ujar To Kiau-kiau. “Apalagi, dari mana kau tahu dia lemah? Jelek-jelek dia kesayangan Gui Bu-geh, mustahil tidak diajarkan sejurus dua kepadanya.”

Li Toa-jui termenung sejenak, katanya kemudian, “Apakah maksudmu…”

“Menurut pendapatku, sudahlah, batalkan niatmu saja,” kata To Kiau-kiau, “Kita dapat hidup sampai sekarang bukanlah hal yang mudah, jangan sampai kapal terbalik di selokan, kalau terjungkal di tangan budak cilik begini kan penasaran?”

“Ya, betul juga…” Li Toa-jui jadi ragu-ragu.

“He, kenapa tidak lekas kenari,” demikian So Ing sedang menggapai dengan tertawa. “Jika menunggu lebih lama lagi, sebentar dagingku bisa basi.”

“Sudahlah, dagingmu terlampau kecut, aku tidak doyan,” kata Li Toa-jui dengan tertawa.

“Belum lagi kau makan, dari mana kau tahu dagingku kecut?” ucap So Ing.

“Pengalamanku cukup luas, tanpa makan, sekali pandang pun kutahu,” kata Li Toa-jui dengan tertawa.

“Wah, tak tersangka dagingku bisa kecut, jangan-jangan karena sehari-hari aku terlalu banyak minum cuka,” ujar So Ing dengan menghela napas gegetun. Perlahan dia berdiri, lalu memberi hormat dan berkata, “Jika Tuan tidak sudi lagi kepadaku, terpaksa kumohon diri saja.”

“Nanti dulu!” mendadak Pek Khay-sim membentak.

“Eh, apa nafsu makan Tuan ini jauh lebih besar daripada Li-siansing ini sehingga tidak takut rasa kecut segala?” tanya So Ing.

Pek Khay-sim tertawa, katanya, “Aku tidak sama dengan dia. Dia gemar makan enak, aku gemar main perempuan. Umumnya orang yang cuma gemar makan bernyali lebih kecil, sebaliknya nyali orang yang gemar main perempuan jauh berbeda…” sambil bicara, selangkah demi selangkah ia mendekati So Ing, dan menyambung pula dengan tertawa, “Kata orang, besar nyali penggemar perempuan meliputi jagat. Nah, apakah pernah kau dengar peribahasa demikian ini?”

Tanpa terasa So Ing menyurut mundur selangkah, tapi tetap tersenyum simpul, katanya, “Jika Tuan merasa bosan hidup membujang, sekarang juga aku dapat menjadi perantara bagimu.”

“Kau mau menjadi perantara bagiku?” Pek Khay-sim menegas.

“Ya, di sungai sana ada perempuan cantik yang sedang mandi, bukan saja molek menggiurkan dan jauh lebih cantik daripadaku, bahkan genit memesona.”

“Hehe, aku cuma penujui dirimu, orang lain aku tidak mau,” kata Pek Khay-sim sambil terkekeh-kekeh, berbareng ia terus menubruk maju dan menarik So Ing.

Dalam keadaan demikian, biarpun dalam perut So Ing penuh berisi tipu akal juga tak dapat digunakannya, perempuan ketemu gerayak, sungguh mati kutu dan tak berdaya.

Li Toa-jui melotot pada To Kiau-kiau, katanya dengan menyesal, “Wah, mestinya aku tidak perlu menuruti kau, sepotong daging jadinya jatuh ke mulut anjing.”

“Barang yang dia sudah pakai kan masih dapat dimakan?” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Hm, barang yang sudah dipakai bocah busuk ini, anjing saja tidak mau mengendusnya lagi, siapa yang mau memakannya?” jengek Li Toa-jui.

“Bret”, sementara itu baju SoIng sudah terobek sebagian oleh jambretan Pek Khay-sim tadi.

Syukurlah pada saat itu juga mendadak terdengar seorang berucap dengan tenang, “Seorang lelaki besar mana boleh menganiaya perempuan lemah?”

Suara orang ini terdengar lemah dan perlahan, tapi datangnya orang ini sungguh secepat kilat, tahu-tahu Pek Khay-sim melihat sesosok bayangan melayang tiba dari udara, ia terkejut, tanpa pikir sebelah datangnya terus menghantam.

Sudah jelas pukulannya itu tepat menuju ke bagian hulu hati pendatang, boleh dikatakan pukulan maut yang cukup lihai. Siapa tahu, baru sampai di tengah jalan pukulannya tahu-tahu berputar balik untuk menampar muka sendiri, menyusul mana rambutnya lantas terasa mengencang, tahu-tahu telah dijambak orang terus dilemparkan ke atas.

Li Toa-jui dan lain-lain hanya melihat berkelebatnya bayangan serta mendengar suara “plak” satu kali, tahu-tahu Pek Khay-sim mencelat ke atas dan tepat tercantol di ranting pohon.

Waktu memandang lagi ke arah So Ing, di sisi nona itu sudah bertambah seorang pemuda cakap, seorang pemuda gagah dan ganteng, meski pakaiannya rada kumal, namun tidak dapat menutupi sikapnya yang agung.

Meski pemuda ini telah berhasil menyelamatkan So Ing, tapi So Ing sendiri lantas pucat demi mengenalnya, serunya terkejut, “He, Hoa Bu-koat!”

Pemuda ini memang betul Hoa Bu-koat adanya. Ia tersenyum hambar, sorot matanya lantas menyapu Li, Toa-jui berempat, katanya perlahan, “Adakah di antara kalian yang ingin turun tangan pula?”

Li Toa-jui dan lain-lain sama melongo kaget. Meski Hoa Bu-koat tidak kenal mereka, tapi mereka kenal Hoa Bu-koat. Mereka pernah menyaksikan Hoa Bu-koat membawa nona Buyung Kiu melayang pergi dengan Ginkangnya yang mahatinggi, kini sekali gebrak saja Pek Khay-sim telah terlempar dan menyangkut di atas pohon. Mereka cukup cerdik, sudah tentu mereka tidak ingin cari penyakit.

Dengan tertawa Li Toa-jui lantas berkata, “Memangnya kami mendongkol terhadap setan ini, kini Kongcu telah memberi hajaran padanya, sungguh kami merasa berterima kasih.”

“Ya, cuma sayang hajaran Kongcu tadi masih terlalu enteng,” dengan tertawa To Kiau-kiau lantas menyambung.

“Haha, apabila Kongcu melemparnya lebih jauh, tentu kami akan lebih bergembira lagi,” seru Ha-ha-ji.

Dalam pada itu Pek Khay-sim lagi meronta-ronta bermaksud melompat turun sambil berteriak-teriak, “Padahal aku cuma merabanya perlahan saja, sebaliknya si mulut besar she Li itu tadi hampir makan dagingnya.”

Muka Li Toa-jui menjadi pucat, cepat ia menyangkal, “Ah, dia lagi kentut, jangan Kongcu percaya padanya.”

“Kau sendiri yang kentut busuk!” teriak Pek Khay-sim. “Bukan saja kau hendak makan dagingnya, bahkan tadi kau merencanakan hendak menggoreng dagingnya, akan mengiris dagingnya selagi si nona masih hidup. Ayo, coba menyangkal lagi!”

Muka Li Toa-jui jadi merah, jawabnya, “Itu…itu kan diucapkan sendiri oleh si nona ini.”

“Coba dengarkan Kongcu, siapa kiranya yang ngaco-belo?” kata Pek Khay-sim dengan tertawa. “Memangnya nona ini sudah gila, masa menyuruh orang lain mengiris hidup-hidup dagingnya sendiri?”

“Keparat, kau yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri!” teriak Li Toa-jui dengan murka.

Pek Khay-sim juga balas mendamprat, “Kau serigala mulut besar yang makan orang tanpa menumpahkan tulang!”

Mereka tidak bersatu menghadapi musuh dari luar, tapi malah cakar-cakaran sendiri, sungguh Hoa Bu-koat tidak pernah melihat manusia demikian, tanpa terasa ia menghela napas dan berkata, “Ai, mengapa kalian jadi bertengkar antarkawan sendiri…”

Belum habis ucapannya Li Toa-jui telah meraung sambil menubruk ke arah Pek Khay-sim, tampaknya Pek Khay-sim tidak sempat mengelak sehingga kena digenjot oleh Li Toa-jui hingga mencelat beberapa tombak jauhnya sambil mencaci maki, “Kau bangsat keparat, serigala mulut besar, kau berani memukul orang?!”

“Sudah 20 tahun ingin kupukul mampus kau jahanam ini!” Li Toa-jui meraung pula sambil mengejar ke sana.

Tak terduga sebelah kaki Pek Khay-sim mendadak menjegal sehingga Li Toa-jui jatuh tersungkur, kedua orang terus saling gumul dan menggelinding ke sana, terdengar suara “blak-bluk” beberapa kali, suara saling tonjok disertai caci-maki yang kotor, cara berkelahi mereka pun tiada harganya untuk ditonton.

Semula Hoa Bu-koat mengira mereka ini adalah jago silat kelas tinggi, kini ia menilai cara berkelahi itu tidak lebih seperti kaum gelandangan yang saling jotos berebut sisa makanan di tepi jalan.

Dalam pada itu Ha-ha-ji malah bersorak dan berteriak, “Bagus, perkelahian ramai. Haha, jamak rambutnya, lekas! Nah, begitu! Pukul lagi, tonjok hidungnya! Nah, bagus!”

To Kiau-kiau juga berseru, “Wah, jangan dibiarkan mereka berkelahi lagi, jika terus berlangsung, salah satu mungkin bisa mati dan kita yang harus membelikan peti mati baginya, kan rugi kita? Lekas kita melerai mereka saja.”

Sementara itu Li Toa-jui dan Pek Khay-sim yang bergumul itu sudah menggelinding ke balik pohon sana, keduanya tampak sudah terengah-engah dan babak belur, tapi masih saling jotos.

Cepat To Kiau-kiau dan Ha-ha-ji memburu ke sana sambil berteriak, “He, sudahlah berhenti, jangan berkelahi lagi… Nanti bisa mati salah satu, kan runyam!” Maka kedua orang itu pun menghilang ke balik pohon seperti hendak memisah perkelahian kawan mereka itu.

Hoa Bu-koat cuma menggeleng kepala sambil tersenyum getir, terhadap orang tak kenal malu begitu dia benar-benar tak berdaya kecuali geleng-geleng kepala belaka.

Tiba-tiba So Ing berkata dengan tersenyum, “Hoa-kongcu, engkau telah tertipu oleh mereka.”

“Tertipu bagaimana?” tanya Bu-koat.

“Apakah kau kira mereka berkelahi benar-benar?”

Bu-koat melengak, katanya, “Memangnya mereka cuma…”

“Mereka hanya cari alasan untuk kabur,” kata So Ing dengan tertawa. “Meski ilmu silat kedua orang itu tidak tinggi, tapi kalau benar-benar mau berkelahi mati-matian dalam 300 jurus juga sukar menentukan kalah atau menang.”

Cepat Hoa Bu-koat memburu ke sana, betul juga, di balik pohon sana sudah tidak nampak bayangan seorang pun.

Setelah melenggong sejenak, Bu-koat menyengir sendiri dan berucap, “Benar juga aku tertipu, sungguh memalukan.”

“Tipu daya keempat orang ini sungguh jarang terlihat,” kata So Ing dengan tertawa, “Adalah aneh kalau orang jujur seperti Hoa-kongcu tidak tertipu oleh mereka.”

“Orang jujur?” Bu-koat mengulang kata-kata itu dengan tertawa, “Kukira belum tentu…sebab baru saja ada beberapa orang telah tertipu olehku.”

“Oya? Siapa?” tanya So Ing. Tapi segera ia pun tahu siapa yang dimaksud, ucapnya dengan tertawa. “Ya, betul, yang tertipu olehmu pasti Pek San-kun dan istrinya, betul tidak?”

Bu-koat mengangguk dengan tertawa, jawabnya, “Betul, memang mereka.”

So Ing mengerling, ucapnya, “Meski telah kukuasai dirimu dengan kekuatan obat, tapi obat itu tidak berbahaya bagi manusia, asalkan tertiup angin, dalam waktu tidak lama kekuatan obat itu akan lenyap. Cuma waktu itu mereka telah menutuk pula Hiat-tomu sehingga engkau tidak mampu lolos.” Dia tersenyum, lalu menyambung pula, “Tentunya engkau pura-pura sangat payah keracunan agar mereka tidak berjaga-jaga terhadapmu, tapi diam-diam menggunakan tenaga dalam Ih-hoa-ciap-giok untuk menjebol Hiat-to yang tertutuk dan dapatlah meloloskan diri.”

“Kepintaran dan kecerdasan nona sungguh jarang ada bandingannya,” ucap Bu-koat dengan tertawa.

Berkilat sorot mata So Ing, katanya dengan perlahan, “Menurut pendapatmu aku ini terhitung orang pintar nomor satu di dunia bukan?”

Mendadak lenyap senyum Hoa Bu-koat yang selalu menghiasi wajahnya itu, jawabnya dengan gegetun, “Meski nona memang sangat cerdas dan pintar, tapi masih ada pula seorang kenalanku…apabila nona bertemu dengan dia, mungkin nona pun akan diakali olehnya.”

So Ing menunduk, ia pun menghela napas, ucapnya dengan rawan, “Perkataanmu memang betul, kutahu siapa yang kau maksudkan, malahan aku sudah pernah diakali olehnya.”

Tanpa terasa wajah Hoa Bu-koat menampilkan rasa heran dan tidak percaya, selagi dia hendak tanya lebih jelas, tiba-tiba So Ing berkata pula dengan tertawa, “Sungguh tidak nyana Hoa-kongcu yang ramah tamah sekarang juga dapat menipu orang dengan akal licik, mungkin caramu ini pun dapat belajar dari orang itu, betul tidak?”

Bu-koat tertawa, katanya, “Ya, rasanya aku memang telah ketularan.”

“Tapi Kuncu kan tetap Kuncu, makanya meski kuperlakukan cara begitu, engkau tidak membalas dendam padaku, sebaliknya malah menyelamatkan aku.”

Mendadak Hoa Bu-koat menarik muka, katanya, “Tapi apakah kau tahu sebab apa kutolong kau?”

Terkejut So Ing melihat perubahan air muka Hoa Bu-koat itu, jawabnya dengan tertawa, “Sudah kukatakan, justru karena engkau adalah seorang Kuncu.”

“Kuncu terkadang juga bisa membunuh orang,” kata Bu-koat.

“Jika engkau bermaksud membunuh tentu tidak perlu menolongku, betul tidak?”

“Tapi harus kuberitahukan tiga hal padamu,” ucap Bu-koat dengan menarik muka, “Pertama, rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok sekali-kali tidak boleh diketahui orang luar, siapa yang mendapat tahu hanya ada satu jalan baginya, yaitu kematian. Inilah hukum Ih-hoa-kiong, siapa pun tiada terkecuali.”

Meski So Ing masih tetap tertawa, namun suara tertawanya sudah tidak senyaring tadi lagi.

“Kedua,” sambung Bu-koat, “Apa pun yang akan dilakukan anak murid Ih-hoa-kiong harus dikerjakan sendiri, orang lain tidak boleh ikut campur dan juga tidak boleh diwakilkan pada orang lain.”

“Dan yang ke…ketiga?

“Ketiga, aku pun anak murid Ih-hoa-kiong, betapa pun juga aku tidak boleh melanggar peraturan Ih-hoa-kiong.”

So Ing menghela napas, katanya, “Jika demikian, sebabnya engkau menolong aku hanya lantaran kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri, begitu?”

Bu-koat berpaling ke sana dan menjawab dengan tegas, “Meski terpaksa, mau tak mau harus kulaksanakan.”

“Jika demikian aku pun ingin…ingin memberitahukan tiga hal padamu,” kata So Ing. Tanpa menunggu Bu-koat bertanya segera ia menyambung pula, “Pertama, jangan kau lupa bahwa sebenarnya banyak kesempatanku dapat membunuhmu, tapi hal itu tidak kulakukan, jika sekarang kau membunuhku bukankah itu berarti tidak tahu budi?”

Meski tidak menanggapi, tapi Bu-koat menghela napas juga.

So Ing lantas melanjutkan, “Kedua, meski kutahu rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok, tapi aku pasti takkan meyakinkan ilmu ini, juga takkan kukatakan kepada siapa pun juga, jika engkau tetap membunuhku, itu berarti tidak bijaksana.”

Mulai terketuk hati nurani Hoa Bu-koat, namun dia tetap tidak bersuara.

“Ketiga, kau pun jangan lupa bahwa aku adalah perempuan yang lemah, seorang lelaki besar menganiaya seorang perempuan lemah, ini namanya tidak sopan, kurang ajar, bahkan boleh dikatakan tidak tahu malu.”

Tanpa terasa Hoa Bu-koat menunduk.

Melihat perubahan sikap orang, berkilat mata So Ing, namun mulutnya tetap menjengek, “Hm, jika kau tetap ingin melaksanakan tindakan-tindakan yang tidak berbudi, tidak bijaksana dan tidak sopan serta tidak tahu malu, ya, apa boleh buat. Cuma kalau hal ini diketahui Thi Sim-lan, kuyakin dia pasti akan sangat kecewa terhadapmu.”

“Apa katamu? Thi Sim-lan?” mendadak Bu-koat menengadah dan menegas.

Dengan perlahan So Ing menjawab, “Betul, Thi Sim-lan… Dia senantiasa bilang padaku bahwa engkau adalah lelaki yang paling lemah lembut, paling sopan. Tadinya aku percaya penuh, tapi sekarang…” dia sengaja menghela napas dan tidak melanjutkan.

Jari Hoa Bu-koat rada gemetar, ia menegas pula, “Kau…kau kenal Thi Sim-lan?”

“Hubungan kami juga tidak terlalu karib, hanya baru saja kami mengikat sebagai kakak beradik,” jawab So Ing dengan acuh tak acuh.

Mendadak Bu-koat seperti kena dicambuk satu kali, ia melenggong sejenak, lalu berkata sambil menggeleng, “Tidak mungkin…sekali-kali tidak mungkin.”

“Jika tidak percaya, mengapa kau tidak langsung menanyai dia?” jengek So Ing.

Mendadak Bu-koat mengepal tangannya dan bertanya, “Di mana dia?”

“Seumpama kukatakan sekarang dia berada di mana, kukira kau pun tidak berani mencarinya ke sana.”

Sinar mata Bu-koat berkilat tajam, bentaknya, “Gui Bu-geh, maksudmu telah kau jerumuskan dia ke tempat Gui Bu-geh?”

“Hah, kiranya kau pun seorang pintar,” ucap So Ing dengan tertawa.

“Mengapa kau mencelakai dia?” bentak Bu-koat dengan gusar.

“Mencelakai dia? Dia adalah kakak angkatku, masa kucelakai dia?”

“Tapi…tapi Gui Bu-geh…”

“Meski Gui Bu-geh terkenal ganas terhadap orang lain, tapi terhadap kami kakak beradik cukup baik.”

Bu-koat membanting-banting kaki, sekonyong-konyong ia membalik tubuh dan berkata dengan parau, “Rahasia Ih-hoa-ciap-giok sekali-kali tidak boleh kau katakan kepada orang lain.”

“Jika diketahui oleh orang kedua, tatkala mana belum terlambat bila aku kau bunuh.”

“Walaupun tatkala mana sudah terlambat, tapi – tapi aku tetap percaya padamu,” mendadak Bu-koat melayang pergi secepat terbang.

“He, nanti dulu, ingin kutanya sesuatu pula padamu,” cepat So Ing berseru. Ketika dilihatnya Bu-koat menghentikan langkah, segera ia menyambung pula, “Orang yang disekap bersamamu itu bernama Kang Giok-long, kau kenal dia atau tidak?”

Tanpa terasa Bu-koat menghela napas menyesal, ucapnya, “Kuharap lebih baik aku tidak kenal dia.”

“Kau pun muak padanya?” tanya So Ing, sorot matanya berkilau.

“Hm, tidak cuma muak saja,” jawab Bu-koat gemas.

“Telah kau bunuh dia?” tanya So Ing pula.

“Tidak,” jawab Bu-koat.

“Mengapa tidak kau bunuh dia?” ujar So Ing gegetun. “Orang ini dibiarkan hidup di dunia ini, hanya akan banyak mendatangkan bencana melulu.”

“Saat ini dia sedang sakit dan terluka, mana bisa kukerjai dia?” kata Bu-koat.

“Ya, memang inilah penyakit kaum Kuncu,” kata So Ing. “Tapi jika kau tidak punya ciri ini, mungkin juga…” dilihatnya tubuh Bu-koat telah mulai bergerak pula, segera ia berseru, “Tunggu dulu, masih ingin kukatakan sesuatu padamu.”

Untuk kedua kalinya terpaksa Bu-koat berhenti, tanyanya, “Kata-kata apa?”

So Ing tertawa, ucapnya, “Thi Sim-lan tidak salah menilai dirimu, memang benar engkau lelaki yang lembut dan menyenangkan, kau pun benar sangat baik padanya.”

*****

Di rumah batu sana Siau-hi-ji sudah tidak sabar menunggu lagi. Semua tahu, watak Siau-hi-ji tidak sabaran, maka dia terus mondar-mandir seperti semut di dalam wajan panas, berulang-ulang ia tanya Oh Yok-su, “Apakah kau tahu So Ing pasti akan datang kemari?”

Semula Oh Yok-su merasa pasti dan mengiakan. Tapi lama-lama ia sendiri menjadi cemas, sebab So Ing sebegitu jauh belum nampak bayangannya. Apalagi ia sendiri pun gelisah karena racun yang mengeram di tubuhnya, ia coba bertanya, “Racun yang kuderita ini mungkin…mungkin sudah hampir bekerja bukan?”

Siau-hi-ji melotot dan menjawab, “Apa kau minta kupunahkan racunmu sekarang juga?”

“Setiap perintah Kongcu pasti kuturuti, asalkan Kongcu…”

Mendadak Siau-hi-ji berjingkrak gusar, bentaknya, “Persetan kau! Dengarkan yang jelas, apabila So Ing tidak datang kemari, selama itu pula takkan kutawarkan racunmu, tahu?”

“Tapi…tapi nona So akan datang atau tidak kan tidak ada sangkut-pautnya denganku, apabila – apabila racun mulai bekerja…”

“Jika racun sudah mulai bekerja, anggap saja kau yang sial,” teriak Siau-hi-ji. “Kau mati pun pantas, habis siapa suruh kau bilang So Ing pasti akan datang kemari?”

Siau-hi-ji benar-benar tidak mau bicara tentang aturan lagi, sebab saking gelisahnya dia sudah hampir-hampir gila.

Sudah tentu Oh Yok-su jauh lebih kelabakan daripada Siau-hi-ji, baju yang baru saja kering kini kembali basah kuyup oleh air keringat.

Hanya Kang Giok-long saja tampaknya tidak gelisah sedikit pun, dengan cengar-cengir dia duduk tenang di sana, So Ing akan datang tidak seolah-olah tiada sangkut-pautnya dengan dia. Maklum, sebab dia merasakan obat yang membuatnya sakit dan lemas kini sudah mulai buyar, badannya kini sudah mulai terasa sehat, perlahan-lahan sudah bertenaga.

Sungguh tidak kepalang gelisah Siau-hi-ji dan bayangan So Ing tetap tidak tertampak, akhirnya dia tidak tahan, serunya, “Berangkat, ayo berangkat. Peduli dia datang atau tidak, biarlah kita pergi mencarinya saja.”

Kang Giok-long menghela napas panjang, katanya, “Kini baru mau pergi mencarinya, kukira sudah agak terlambat.”

Mata Siau-hi-ji melotot sebesar telur ayam, bentaknya bengis, “Terlambat? Terlambat apa maksudmu?”

“Jika sekarang pergi mencari nona So lebih dulu baru kemudian balik lagi menolong Hoa-kongcu, kukira Hoa-kongcu mungkin sudah…” Giok-long sengaja menghentikan ucapannya.

Benar juga, Siau-hi-ji lantas berjingkrak gusar dan membentak, “Mungkin sudah apa? Katakan lekas!”

Kang Giok-long sengaja berlagak tergegap-gegap, jawabnya, “Ter…terus terang, tempat yang kugunakan menyimpan Hoa Bu-koat itu tidak…tidak terlalu enak, malahan kurang tembus hawa, jika…jika terlalu lama, bukan mustahil dia akan mati sesak napas di sana.”

Segera Siau-hi-ji hendak menubruk maju untuk menghajarnya, tapi baru satu langkah mendadak ia berhenti, air mukanya yang marah lantas berubah tertawa, katanya, “Haha, Kang-heng adalah orang antar, tentunya kau tahu apabila Hoa Bu-koat mati kan juga tiada faedahnya bagimu.”

Kang Giok-long menghela napas, ucapnya, “Tentang ini dengan sendirinya Siaute cukup maklum, cuma…” dia tatap Siau-hi-ji, lalu menyambung dengan perlahan, “… jika sekarang Siaute menolongnya keluar, lalu apa pula faedahnya bagiku?

Cepat Siau-hi-ji menjawab, “Jika kau menolong dia keluar, kujamin akan minta obat penawar dari So Ing untukmu.”

“Siaute sekarang sudah sadar, kurasa kehidupan ini hanya khayalan belaka, mati atau hidup hanya impian saja, apakah nanti Siaute akan mendapatkan obat penawar atau tidak sudah tak terpikir lagi olehku.”

Bahwa Kang Giok-long mendadak mengucapkan kata-kata yang berbau filsafat orang hidup, ini benar-benar lebih mengejutkan seperti mendadak mendengar Hwesio bicara tentang bacaan porno. Keruan Siau-hi-ji melenggong dan memandangnya dengan terbelalak.

“Kau…kau ini Kang Giok-long tulen atau bukan?” tanya Siau-hi-ji kemudian.

“Tulen atau palsu, betul atau tidak, satu sama lain tiada bedanya,” ucap Giok-long pula seperti seorang pendeta.

“Hahaha, bagus, bagus!” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Kiranya Kang-heng ini reinkarnasi seorang Hwesio tua,” mendadak ia berhenti tertawa dan berkata pula dengan serius, “Baiklah, jika Kang-heng sudah dapat menyadari artinya orang hidup, maka sekarang kita boleh pergi menolong Hoa Bu-koat.”

Kembali Giok-long menghela napas, ucapnya, “Meski Siaute sudah tidak memikirkan lagi tubuh yang busuk ini, akan tetapi…” dia berpaling dan memandang Thi Peng-koh sekejap, lalu menyambung dengan muram, “Akan tetapi dia…cintanya padaku membuat aku tak dapat meninggalkan dia.”

Termangu-mangu Thi Peng-koh memandangi Kang Giok-tong dengan air mata berlinang-linang, entah gembira, entah terkejut, entah percaya atau tidak?

Siau-hi-ji lantas menukas, “Memang betul, persoalan cinta, biarpun nabi atau dewa sekalipun juga sukar menghindarinya, tapi entah maksud Kang-heng apakah…”

“Setelah mengalami peristiwa ini, Siaute tiada hasrat buat berlomba lagi di dunia Kangouw dengan para saudara, yang kuharap budi dan dendam dapat dibereskan sekaligus, bersama dia, kami akan mengasingkan diri ke tempat yang terpencil, kami akan hidup tenteram dan sejahtera untuk selanjutnya, namun…” dia menyengir dan menyambung pula, “… namun sesungguhnya sudah terlalu banyak kesalahan yang pernah kulakukan, kutahu Hi-heng pasti juga takkan membiarkan kupergi begini saja, betul tidak?”

Dengan sungguh-sungguh Siau-hi-ji menjawab, “Peribahasa berbunyi ‘taruh golok jagal, seketika menjadi Budha’. Tindakan Kang-heng ini sungguh sangat kukagumi, mana bisa kucari perkara lagi padamu?”

“Tapi…bukanlah Siaute tidak mempercayai Hi-heng, soalnya…”

“Soalnya setiap orang tahu Kang Siau-hi bukanlah seorang Kuncu,” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa, “Makanya seumpama kau tidak percaya padaku juga takkan kusalahkan kau. Tapi dengan cara bagaimana kiranya barulah kau dapat percaya padaku?”

Giok-long termenung sejenak, katanya kemudian, “Hi-heng berpengalaman banyak dan berpengetahuan luas, tentunya tahu dalam tetumbuhan jamur ada sejenis yang disebut Li-ji-hong (merah anak perempuan).”

Berubah juga air muka Siau-hi-ji mendengar nama tumbuhan ini, tapi cepat ia menjawab dengan tertawa, “Ah, mana berani kuterima sebutan pengalaman banyak dan pengetahuan luas segala, cuma aku memang dibesarkan di pegunungan, maka secara kebetulan pernah juga mendengar nama Li-ji-hong begitu.”

“Barang apakah Li-ji-hong itu?” tiba-tiba Thi Peng-koh ikut menimbrung.

“Li-ji-hong ini adalah sejenis jamur yang tumbuh di tempat yang lembap,” tutur Siau-hi-ji. “Konon barang siapa memakannya tidak sampai lima hari pasti akan menderita semacam penyakit aneh.”

“O, penyakit aneh apa?” tanya Peng-koh pula.

“Konon penyakit ini pada awalnya tidak memperlihatkan tanda apa-apa, hanya si penderita merasa pening kepala dan ingin tidur melulu. Semangat lesu dan seperti orang sakit rindu,” demikian tutur Siau-hi-ji. “Untuk menyembuhkan penyakit aneh ini, setiap beberapa bulan sekali si penderita harus makan sejenis rumput yang disebut Ok-po-cau, (rumput nenek jahat), dimakan bersama akarnya, kalau tidak, penyakit rindu itu akan bertambah berat dan tidak lebih dari setahun akan tamatlah riwayatnya.”

Siau-hi-ji tertawa, lalu menambahkan pula, “Hanya dengan Ok-po-cau saja dapat mengatasi Li-ji-hong, menarik bukan nama-nama ini? Anehnya, dalam keadaan sekarang tiba-tiba Kang-heng menyinggung jamur Li-ji-hong, apa barangkali Kang-heng ingin membikin diriku sakit rindu?”

Sekali ini Kang Giok-long ternyata tidak berbelit-belit lagi, tapi langsung menjawab dengan terus terang, “Ya, betul.”

Hampir saja Oh Yok-su menyangka Kang Giok-long menjadi gila mendadak sehingga mengemukakan permintaan yang mustahil itu, apabila Siau-hi-ji setuju dan benar-benar makan jamur Li-ji-hong itu, bukankah dia juga sudah sinting?

Namun Siau-hi-ji lantas tertawa, katanya, “Tapi benda yang sukar dicari itu, dalam waktu singkat begini ke mana akan kau dapatkan untukku?”

“Jika kucari ke tempat lain, mungkin setengah tahun juga takkan menemukannya,” ujar Giok-long. “Tapi sungguh kebetulan, di sekitar sini justru ada sebuah Li-ji-hong, asalkan Hi-heng sudah setuju, segera akan kupergi memetiknya untukmu.”

Thi Peng-koh juga tidak tahan akhirnya, serunya, “Apakah kau sudah gila? Masa kau bicara begitu, mana…mana dia mau terima permintaan ini?”

Tapi Giok-long tidak menggubrisnya, dengan perlahan ia berkata pula, “Tentunya Hi-heng tahu, seperti juga Li-ji-hong, Ok-po-cau pun sangat sukar dicari, akan tetapi rumput ini dapat ditanam dan dirawat oleh tenaga manusia, kebetulan Siaute juga tahu cara menanamnya.”

Bola mata Siau-hi-ji tampak berputar-putar, tapi tidak bicara.

Maka Kang Giok-long lantas menyambung lagi, “Apabila urusan di sini sudah selesai, segera akan kucari sesuatu tempat terpencil untuk mengasingkan diri dan mencurahkan perhatian penuh untuk menanam Ok-po-cau bagi Hi-heng. Jika Hi-heng ingin badan tetap sehat, dengan sendirinya engkau akan melindungi keselamatanmu.”

Baru sekarang Oh Yok-su tahu maksud tujuan Kang Giok-long, rupanya dia telah memakai perhitungan yang rapi dan persoalan ini hendak digunakan sebagai alat pemeras terhadap Siau-hi-ji agar selanjutnya Siau-hi-ji tidak berani lagi mencari perkara padanya.

Tapi jalan pikiran ini bukankah terlalu kekanak-kanakan, memangnya Siau-hi-ji mau terima begitu saja? Sungguh lucu, hampir-hampir saja Oh Yok-su bergelak tertawa.

Dilihatnya Siau-hi-ji berpikir sejenak, kemudian berkata dengan tertawa, “Bahwa kau tidak percaya padaku, sebaliknya cara bagaimana aku dapat percaya padamu? Dari mana pula kutahu kau benar-benar akan menanamkan Ok-po-cau bagiku? Pula cara bagaimana kutahu Ok-po-cau itu pasti dapat kumakan kelak?”

“Jika Hi-heng benar-benar mau mencariku, biarpun Siaute mabur ke langit atau ambles ke bumi juga sukar menyembunyikan diri.”

Orang pintar seperti Siau-hi-ji ternyata dapat mengajukan pertanyaan sebodoh itu, jawaban Kang Giok-long juga lucu, tanya jawab mereka sama saja seperti nol besar.

Tapi sekarang Siau-hi-ji justru seperti mau percaya, ia malah tanya lagi, “Setelah kumakan Li jihong segera akan kau tolong Hoa Bu-koat?”

“Ya, apabila Siaute ingkar janji, setiap saat Hi-heng boleh mencabut nyawaku,” jawab Giok-long.

Siau-hi-ji menghela napas, akhirnya dia berkata, “Baik, aku setuju!”

*****

Benar-benar Siau-hi-ji telah menerima syarat Kang Giok-long itu, urusan yang tidak mungkin diterima oleh siapa pun juga, dia justru setuju dan menerimanya. Urusan yang menurut perhitungan orang lain pasti akan dilakukannya justru tidak dilakukannya, tapi urusan yang menurut perhitungan orang lain pasti tidak mungkin dilakukannya justru disetujui dan akan dilakukannya.

Sungguh aneh, sungguh lucu, sungguh tidak masuk akal. Kecuali Siau-hi-ji mungkin di dunia ini tiada orang kedua yang dapat melakukan hal-hal yang mustahil ini.

Oh Yok-su memandang Siau-hi-ji dengan terkesima, pikirnya, “Gila, benar-benar orang gila. Kiranya orang ini tidak waras, konon orang yang kelewat pintar terkadang bisa berubah menjadi gila, tampaknya cerita ini memang tidak salah.”

Thi Peng-koh juga melongo heran dan terkejut sehingga tidak sanggup bersuara.

Kemudian Kang Giok-long benar-benar berhasil menggali Li-ji-hong yang tampaknya sangat menarik dan Siau-hi-ji juga benar-benar memakannya dengan tertawa.

Setelah mengusap mulut, Siau-hi-ji berkata, “Hebat, sungguh hebat. Tak tersangka Li-ji-hong ini adalah makanan selezat ini, selama hidupku ini belum pernah menikmati barang seenak ini.”

Sampai di sini girang Kang Giok-long benar-benar sukar dilukiskan, dia berlagak menyesal, katanya, “Wanita cantik kebanyakan bibit bencana bagi keruntuhan seorang penguasa atau suatu negara, racun yang mematikan sering kali adalah makanan yang terasa paling enak, hanya obat mujarab saja rasanya pasti pahit.”

“Dan kata-kata yang muluk-muluk kebanyakan hanya dusta belaka,” sambung Siau-hi-ji sambil menarik tangan Kang Giok-long, “Nah, ayolah Kang-heng lekas pergi menolong Hoa Bu-koat!”

*****

Letak rumah batu itu memang sangat terpencil, sekarang Kang Giok-long membawa Siau-hi-ji lebih maju lagi ke tempat yang semakin sepi, jalanan juga semakin menanjak dan curam.

Celakanya penyakit Kang Giok-long seperti kumat lagi, belum berapa jauh dia sudah megap-megap, berapa langkah pula dia lantas jatuh, kedua kakinya gemetar seperti orang sakit malaria.

Siau-hi-ji sangat gelisah dan tidak sabar lagi, segera dia pondong Kang Giok-long, katanya, “Di mana tempat yang kau maksudkan, coba katakan, akan kubawa kau ke sana.”

“Wah, bikin capai Hi-heng, rasanya tidak enak,” ujar Giok-long.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Tidak jadi soal, tulangmu sangat enteng seperti anak kecil, tidak memerlukan tenaga untuk membopong kau.”

“Apakah tulang Hi-heng sangat besar? Wah, kelak Siaute kan tidak sanggup memondong engkau?” jawab Giok-long dengan tertawa.

Dengan mendongkol Thi Peng-koh lantas menyela, “Sudahlah, maukah kalian berhenti bertengkar mulut?”

“Ah, mana kuberani bertengkar mulut dengan Hi-heng,” ucap Giok-long. “Soalnya…” sampai di sini mendadak ia menuding ke atas sana dan berseru, “Itu dia, apakah Hi-heng melihat gua di atas sana.”

Siau-hi-ji mengikuti arah aneh yang ditunjuk itu, dilihatnya dinding tebing yang curam dan penuh berlumut itu memang betul ada sebuah lubang gua yang gelap gulita. Di mulut gua menonjol sepotong batu sehingga mirip balkon pada gedung bersusun.

“Apakah kau sembunyikan Hoa Bu-koat di gua itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Lumayan bukan tempat ini?” ucap Giok-long.

“Mengapa tidak kau sumbat lubang gua itu dengan batu?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Selangkah saja Hoa-kongcu tidak mampu berjalan, masa aku khawatir dia akan melarikan diri?” jawab Giok-long.

Mendadak Siau-hi-ji mendelik, bentaknya, “Jika gua itu tidak tertutup, mengapa kau bilang dia bisa mati sesak napas.”

Kang Giok-long tenang-tenang saja, jawabnya acuh, “Mungkin dia takkan mati sesak napas, tapi gua yang terletak di pegunungan begini bukan mustahil ada binatang buas atau ular berbisa…” Belum habis ucapannya, Siau-hi-ji sudah meloncat ke atas.

“Lebih baik Hi-heng menurunkan diriku agar lebih jelas keadaan tempat ini,” kata Giok-long.

Batu yang mirip balkon itu pun penuh berlumut dan sangat licin, setelah Siau-hi-ji menurunkan Kang Giok-long, tampaknya berdiri saja dia tidak berani, khawatir terpeleset. Dia merangkak ke mulut gua dan melongok ke dalam, mendadak ia berteriak, “Hoa-kongcu, kami datang menolongmu, apakah kau dengar?”

Suara yang berkumandang balik terdengar mendengung-dengung, tapi tiada terdengar jawaban Hoa Bu-koat.

Giok-long berkerut kening, serunya pula, “Hoa-kongcu, bag…bagaimana engkau? Meng…mengapa…”

Siau-hi-ji menjadi tidak sabar, ia tarik mundur Kang Giok-long, ia sendiri lantas mendekam di mulut gua dan melongok ke dalam, tapi keadaan di dalam gua gelap gulita, apa pun tidak kelihatan.

“Adakah kau lihat Hoa-kongcu, Hi-heng?” tanya Giok-long.

Dengan gusar Siau-hi-ji menjawab, “Keparat, sebenarnya kau main gila apa…” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong tungkak kakinya didorong oleh tenaga mahakuat, belum sempat Siau-hi-ji menjerit kaget, tahu-tahu tubuhnya sudah terjerumus ke dalam gua.

Kang Giok-long yang tadinya tidak sanggup berjalan itu kini mendadak berubah menjadi gagah perkasa, cepat ia melompat bangun dan berseru ke dalam gua, “Hi-heng…Siau-hi-ji…”

Namun tiada jawaban Siau-hi-ji, selang sejenak baru terdengar suara “plung”, nyata gua itu sangat dalam.

Sambil menengadah Kang Giok-long tertawa ngakak, katanya, “Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji, baru sekarang kau tahu kelihaian Kang Giok-long, akhirnya kau tertipu dan kena kukerjai juga.”

Thi Peng-koh memandang dari bawah ke atas, apa yang terjadi di atas itu tak jelas baginya. Kini mendengar suara tertawa senang Kang Giok-long itulah baru dia terkejut, cepat ia bertanya, “He, engkau telah apakan Siau-hi-ji?”

“Kau lebih memperhatikan dia atau cuma memperhatikan aku?” tanya Giok-long dengan tertawa.

“Tapi…tapi engkau kan tidak boleh -.”

“Tidak boleh apa?” tanya Giok-long dengan tertawa.

“Kau membunuhnya?” seru Peng-koh parau.

“Tidak kubunuh dia, memangnya harus kutunggu dibunuh olehnya?” kata Giok-long dengan terbahak.

Kejut dan gusar Thi Peng-koh, teriaknya dengan parau, “Bukankah kau ingin hidup tenteram bersamaku, mengapa sekarang engkau…”

Sambil bicara segera ia bermaksud meloncat ke atas, tapi baru saja dia hendak bergerak, mendadak teringat olehnya bahwa baju yang dipakai olehnya sekarang adalah baju panjang milik Oh Yok-su, bagian dalam kosong melompong tiada memakai apa pun, jika lompat ke atas, yang pasti untung adalah Oh Yok-su yang berdiri di bawah dan akan menikmati tontonan menarik dan gratis. Karena itulah dia urungkan niatnya sambil mengepit bajunya lebih rapat.

Oh Yok-su juga terkejut dan melenggong, sejenak kemudian barulah dia bersuara, “Jika benar Siau-hi-ji telah kena racun Li-ji-hong, selanjutnya kan dapat kau peralat dia agar tunduk kepada segala perintahmu, kalau sekarang juga kau celakai jiwanya, kan sayang?”

“Tak tersangka olehmu bukan?” tanya Giok-long.

“Ya, aku memang rada-rada tidak mengerti?” ujar Oh Yok-su.

“Apa yang tidak dimengerti olehmu juga tak dimengerti oleh Siau-hi-ji, makanya dia tertipu olehku,” ucap Giok-long dengan tertawa. “Li-ji-hong tadi tidak lebih hanya sebagai kail saja. Nah, sekarang kau paham tidak?”

Kembali Oh Yok-su melengak, ia merasa betapa licin tipu akal Kang Giok-long ini dan kejinya sungguh sukar dibayangkan orang.

Lalu Giok-long berkata pula, “Dia selalu sok pintar, selalu menganggap orang lain tidak dapat menipu dia, justru di sinilah letak kelemahannya. Apabila seseorang menganggap dirinya sendiri teramat pintar, terkadang dia akan tertipu juga secara amat bodoh,” ia terbahak-bahak, lalu menyambung, “Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji, kau senantiasa menganggap dirimu adalah orang pintar nomor satu di dunia, sekarang tentunya kau tahu, orang pintar nomor satu di dunia ini sesungguhnya siapa?”

“Dan Hoa Bu-koat bagaimana? Apakah dia juga sudah dicelakai olehmu?” tiba-tiba Oh Yok-su bertanya.

“Sudah sejak tadi Hoa Bu-koat kabur,” jawab Giok Long.

“Kabur? Dia sudah kabur?” Oh Yok-su menegas dengan terkesiap.

“Memangnya kau kira Hoa Bu-koat orang tolol dan linglung?” tutur Giok-long dengan tertawa. “Supaya kau tahu, dia juga bisa menipu orang. Dia sengaja berlagak linglung agar kalian tidak berjaga-jaga padanya, kesempatan baik itu lantas digunakan untuk kabur.”

Oh Yok-su tertegun sejenak, katanya kemudian sambil menyengir, “Lalu di mana Pek San-kun?”

“Waktu itu penyakitku lagi kumat, dalam keadaan samar-samar aku pun tidak memperhatikannya, rasanya dia seperti pergi mengejar Hoa Bu-koat,” kata Giok-long.

Oh Yok-su menatapnya lekat-lekat dan bertanya, “Dan sekarang penyakitmu…”

“Ada sementara obat yang sangat lihai, tapi punahnya juga sangat cepat…”

Mendadak Oh Yok-su melompat ke atas dan berteriak khawatir, “Wah, celaka, racun yang kuminum belum lagi punah, aku masih harus minta obat penawar padanya.”

“Bagus, silakan mencarinya ke bawah!” jengek Giok-long tiba-tiba. Mendadak sebelah tangannya menghantam.

Padahal Oh Yok-su baru saja melayang ke atas dan belum lagi berdiri tegak, kalau melompat balik ke bawah memang dapat menghindarkan serangan itu, tapi ganti napas saja belum sempat, bila melompat turun ke bawah, andaikan tidak jatuh terluka juga pasti tak dapat berdiri tegak. Bukan mustahil kesempatan itu akan digunakan Kang Giok-long untuk menubruk ke bawah dan menyerangnya lagi, maka pasti sukar untuk mengelak.

Hendaklah diketahui bahwa setiap tokoh “Cap-ji-she-shio” adalah jagoan yang sudah berpengalaman, Oh Yok-su bahkan tergolong salah satu di antaranya paling menonjol, sebab itulah bilamana bergebrak dengan orang selalu digunakan perhitungan yang matang, baik sebelum maupun sesudahnya.

Batu di mulut gua itu sangat licin, menurut perhitungan Oh Yok-su, bagian kaki Kang Giok-long pasti tidak cukup kukuh berdirinya, kalau bagian kaki kurang kuat, daya pukulannya juga pasti tidak keras.

Karena itu pukulan Giok-long itu tidak dihindarkan lagi oleh Oh Yok-su, ia sengaja menerima pukulan itu, tapi kakinya mendadak juga menyapu ke bagian bawah Kang Giok-long.

Serangan ini memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu, benar-benar satu tipu serangan yang bagus, kalau bukan jago kawakan yang berpengalaman pasti tidak dapat melancarkan serangan berbahaya dan jitu ini.

Tapi Kang Giok-long hanya tertawa terkekeh kekeh saja, katanya, “Boleh juga juragan kelinci kita ini!” Mendadak ia melompat ke atas, berbareng kedua kakinya menendang secara berantai dalam keadaan tubuh terapung.

Sama sekali tak terduga oleh Oh Yok-su bahwa di tempat begini Kang Giok-long berani menggunakan serangan demikian, keruan ia terkejut, hendak berkelit pun tidak keburu lagi. Maklum, ia sendiri baru saja menendangkan sebelah kakinya dan belum sempat ditarik kembali, tentu saja bagian bawah menjadi goyah, sedangkan ujung kaki Kang Giok-long sudah menendang ke tenggorokannya.

Dalam keadaan kepepet terpaksa dia menyambut tendangan Giok-long itu dengan tangan. Sudah tentu tenaga tangan tidak sekuat tenaga kaki, seumpama tendangan itu dapat ditangkis oleh tangannya juga orangnya pasti akan terdepak ke bawah. Sebaliknya kalau kaki Kang Giok-long sampai terpegang olehnya, tentu pula akan ikut terseret jatuh ke bawah, meski cara demikian lebih mirip perkelahian antara kaum gelandangan, tapi dalam keadaan kepepet, hal-hal demikian tak terpikir lagi olehnya.

Di luar dugaan, dalam keadaan tubuh terapung Kang Giok-long masih ada sisa tenaga untuk mengubah gerak serangannya. Mendadak kedua kakinya menendang beberapa kali dalam waktu sekejap saja, jangankan hendak menangkap kakinya, bahkan arah datangnya kaki saja tak jelas bagi Oh Yok-su.

Baru sekarang Oh Yok-su tahu bahwa Kang Giok-long ini bukan cuma licin, keji dan kejam, bahkan tinggi ilmu silatnya juga jauh di luar dugaannya. Ia tahu dirinya tidak mampu melawannya, ia menghela napas dan mendadak menjatuhkan diri ke atas batu yang berlumut itu, menyusul terus menggelinding dan terjun ke dalam gua yang gelap gulita itu.

Tinggal Thi Peng-koh saja yang masih berdiri termangu-mangu di bawah tanpa bergerak, Kang Giok-long sengaja pamer, ia berjumpalitan satu kali di udara lalu dengan enteng seperti seekor kupu-kupu raksasa turun di samping Peng-koh. Namun si nona masih tetap anggap tidak melihatnya.

“Beberapa kali tendangan tadi sudah kau lihat bukan?” dengan cengar-cengir Giok-long bertanya.

Tanpa memandangnya Peng-koh menjawab dengan hambar, “Ya.”

“Itulah kombinasi tendangan dari Bu-tong-pay, Kun-lun-pay, Siau-lim-pay, dan Go-bi-pay yang telah kugabungkan dan diubah di sana sini sehingga jadilah ilmu tendangan seperti tadi, untuk itu kuberi nama ‘tendang mati orang tidak ganti nyawa’. Coba, bagus tidak nama ini?”

“Bagus,” jawab Peng-koh dengan dingin.

“Nah, kau mempunyai suami yang berkepandaian setinggi ini, masa tidak gembira?” tanya Giok-long dengan tertawa.

Mendadak Thi Peng-koh melengos terus lari ke sana.

Cepat Giok-long memburu maju dan mengadang di depannya, ucapnya dengan tertawa, “Eh, apa-apaan kau ini? Kan sudah lama kita tidak berkumpul, sekarang penyakitku sudah sembuh, inilah kesempatan pertama bagi kita untuk bermesraan, kenapa kau malah tidak gubris padaku?”

“Silakan kau cari dan bermesraan dengan orang lain saja,” jengek Peng-koh, “Orang pintar seperti kamu, ksatria yang berkepandaian tinggi pula, mana kuberani menaksir dirimu.”

“Mencari orang lain? Mencari siapa? Yang kusukai hanya dikau!” rayu Giok-long, berbareng Peng-koh terus dirangkul dan diciumnya.

Karena tak dapat melepaskan diri, Peng-koh hanya meronta-ronta saja sambil berseru, “Kau…kau…lepaskan!”

“Tidak, tidak akan kulepaskan, biarpun kau bunuh aku juga takkan kulepaskan,” kata Giok-long dengan memicingkan sebelah mata, tangannya juga mulai menggerayang ke dalam baju Peng-koh yang longgar itu.

Peng-koh masih meronta-ronta, akhirnya ia pun kehabisan tenaga, tanpa terasa ia mencucurkan air mata, ucapnya dengan suara gemetar, “Lepaskan dulu diriku, ingin…ingin kutanya sesuatu padamu.”

“Tanyalah, kan mulutmu tidak kusumbat?!” jawab Giok-long dengan cengar-cengir, sudah tentu tangannya tidak pernah berhenti “main”.

“Coba jawab, setelah kau celakai Siau-hi-ji, memangnya kau belum puas dan mengapa masih membinasakan Oh Yok-su pula?”

“Masa kau tidak tahu apa sebabnya?”

“Tidak,” jawab Peng-koh.

“Sudah sejak mula kulihat kelinci keparat itu memandangmu dengan matanya yang serupa mata maling, rasa gemasku sudah tak terlukiskan, kalau bisa seketika itu pun akan kubunuh dia, masa perlu kau tanya lagi?”

“Kau…kau bunuh dia, masa…masa demi diriku?”

“Bukan demi dirimu, memangnya demi siapa lagi?” ujar Giok-long dengan tertawa. “Entah mengapa, asalkan orang lain memandang sekejap padamu, rasa hatiku lantas panas. Apalagi kelinci keparat itu berniat jahat kepadamu. Hm, kecuali aku sendiri, barang siapa berani menyentuh satu jarimu, mustahil tidak kubinasakan dia.”

Sambil bicara, kerja tangannya juga bertambah aktif sehingga Thi Peng-koh sampai geliang-geliut.

“Sungguh tak tersangka sebesar ini cemburumu,” ucap Peng-koh dengan gegetun.

“Jika aku tidak suka padamu, mana bisa cemburu?” kata Giok-long.

Rasa marah Peng-koh sudah lenyap sejak tadi, kini pipinya malah bersemu merah, bukan saja suaranya rada gemetar, bahkan tubuhnya juga mulai gemetar.

Giok-long menempelkan mulutnya ke tepi telinga si nona dan membisiki dua-tiga kata.

Seketika muka Thi Peng-koh menjadi merah dan meronta, serunya, “Tidak, tidak boleh di sini -.”

“Mengapa tidak boleh?” ucap Giok-long tertawa.

“Bila…bila dilihat orang…”

“Setan saja tidak kelihatan di sini, mana ada orang segala?” kata Giok-long. “Ayolah…”

Belum lanjut ucapnya, entah mengapa, tahu-tahu Thi Peng-koh memberosot lepas dari rangkulannya, terus “terbang” ke atas sambil menjerit kaget.

Tentu saja Kang Giok-long juga berjingkat, tanpa terasa ia memandang ke arah Peng-koh, dilihatnya kedua paha si nona yang putih mulus itu sedang terayun-ayun di udara, tubuhnya mengapung lurus ke atas seperti roket yang baru lepas landas, sekaligus mengapung setinggi beberapa tombak dan anehnya dengan tepat hinggap di atas pohon.

Pohon itu tumbuh mencuat keluar dari celah tebing, baju Thi Peng-koh yang longgar itu persis menyangkut pada ranting pohon, seketika badannya telanjang bulat bergelantungan di udara, persis Swike atau kodok hijau yang habis dibelejeti kulitnya oleh si penjual di pasar.

Sungguh tak terbayangkan oleh Kang Giok-long cara bagaimana Thi Peng-koh bisa bergelantungan begitu di udara, tanpa pikir ia berteriak-teriak, “Lekas lompat turun, lekas! Akan kupegang kau!”

Thi Peng-koh seperti melenggong kaget, bergerak saja tidak bisa lagi, mukanya juga pucat lesi, rasa takutnya yang tak terhingga tertampak dari sorot matanya yang guram itu. Tapi sorot matanya itu tidak memandang ke arah Kang Giok-long.

Dengan sendirinya Giok-long lantas berpaling mengikuti arah pandang si nona, baru sekarang dilihatnya seorang berbaju putih dengan rambut panjang terurai di pundak entah sejak kapan telah berdiri di depannya.

Baju putih orang ini berkibar tertiup angin, tubuhnya kaku seperti patung tanpa bergerak, mukanya juga memakai sebuah topeng ukiran kayu, kelihatannya seperti badan halus yang baru muncul dari bawah tanah.

Jelas sekarang bagi Kang Giok-long, mengapungnya Thi Peng-koh ke atas itu adalah karena dilemparkan oleh orang ini. Hanya sekali lempar saja Thi Peng-koh telah mencelat setinggi beberapa tombak dan menyangkut di ranting pohon, kepandaian ini sungguh sukar untuk dibayangkan.

Sebenarnya Kang Giok-long sangat licik dan licin, pintar melihat gelagat, mahir membedakan arah angin. Kalau kebentur orang yang berkepandaian jauh di atasnya, andaikan dia disuruh makan tahi seketika juga dia tak berani membantah.

Tapi bayangkan, seorang lelaki yang hasratnya sedang menyala-nyala, mendadak kehendaknya itu digagalkan orang, maka betapa rasa murkanya itu sungguh tak terkatakan.

Tentu saja Kang Giok-long menjadi gusar dan lupa segalanya, segera ia membentak, “Apakah kau ini gila? Tanpa hujan tiada angin, mengapa kau cari perkara padaku?”

Si baju putih bertopeng kayu itu tetap berdiri tegak, tidak bergerak juga tidak bersuara.

Kang Giok-long tambah murka, segera ia menubruk maju terus menghantam.

Si baju putih tetap diam saja, hanya lengan bajunya mengebas perlahan, kontan pukulan Kang Giok-long itu entah cara bagaimana mendadak berputar balik dan “plak”, dengan tepat muka sendiri yang terpukul.

Seketika muka Kang Giok-long merah bengap karena pukulan itu, tapi otaknya juga lantas sadar oleh pukulan itu, seketika kakinya terasa lemas, dengan suara gemetar ia tanya, “Apakah…apakah engkau ini Ih-hoa-kiongcu?”

“Orang macam kau juga berani sembarangan menyebut Ih-hoa-kiongcu?” jengek si baju putih.

Seketika Kang Giok-long menjatuhkan diri dan menyembah, ucapnya dengan suara parau, “Ya, ya, hamba memang tidak sesuai untuk menyebut nama yang keramat itu, hamba pantas dipukul.”

Dia memang pintar, tanpa menunggu si baju putih memukulnya segera ia memukul dirinya sendiri, bahkan cukup keras caranya memukul.

Si baju putih hanya memandangnya dengan dingin tanpa bersuara.

Karena orang tidak bersuara, tangan Kang Giok-long juga tidak berani berhenti, ia terus memukul muka sendiri, mukanya yang putih cakap itu seketika merah bengap seperti ginjal babi yang baru disembelih, darah pun meleleh dari ujung mulutnya.

Remuk redam perasaan Thi Peng-koh menyaksikan cara Kang Giok-long menghajar mukanya sendiri, tanpa terasa ia memohon, “Kiongcu, sudilah engkau mengampuni dia.”

Baru sekarang si Baju putih menengadah, katanya, “Kau mintakan ampun baginya, lalu siapa pula yang akan mintakan ampun bagimu?”

Dengan suara gemetar Peng-koh menjawab, “Hamba tahu dosa hamba teramat besar, sesungguhnya memang tidak berani meminta ampun kepada Kiongcu.”

“Bagus, jika begitu coba jawab ke mana kau bawa Siau-hi-ji?”

“Siau-hi-ji .-” tiba-tiba Peng-koh tidak berani meneruskan, teringat apabila dia bicara terus terang bahwa Siau-hi-ji telah dicelakai Kang Giok-long, bukan mustahil seketika Kang Giok-long akan dicincang hingga hancur lebur oleh Ih-hoa-kiongcu.

“Siau-hi-ji bagaimana? Mengapa tidak kau lanjutkan?” tanya si baju putih.

“Dia…dia juga berada di sini,” jawab Peng-koh dengan tergagap-gagap, “Mungkin dia berada di – di sebelah sana.”

“Baik,” kata si baju putih, “Sekarang juga akan kucari ke sana, asal saja keteranganmu ini benar.”

Dalam pada itu Kang Giok-long berkelesetan di tanah karena dihajar oleh dirinya sendiri, namun begitu dia belum lagi berani berhenti.

“Sudah, cukup!” bentak si baju putih mendadak.

Seperti baru bebas dari neraka, Kang Giok-long merangkak bangun sambil menyembah, katanya, “Te…terima kasih Kiongcu.”

“Sekarang kau harus menjaganya di sini, jika dia dicelakai orang lain, segera kucabut nyawamu, bila dia dilarikan orang, jiwamu juga akan kubetot. Nah, tahu tidak?” kata si baju putih.

“Hamba tahu,” jawab Giok-long takut-takut.

“Sedikitnya kau harus tahu, apabila jiwa seseorang sudah kuincar, biarpun dia lari ke ujung langit juga pasti dapat kutemukan dia,” jengek pula si baju putih.

Kembali Giok-long mengiakan sambil munduk-munduk. Waktu dia angkat kepalanya, tahu-tahu si baju putih sudah menghilang seperti badan halus.

Ia menghela napas dan berucap dengan meringis, “Inilah Ih-hoa-kiongcu, kiranya beginilah Ih-hoa-kiongcu, tak tersangka hari ini aku dapat melihatnya, mungkin nasibku lagi mujur.”

“Masa kau anggap mujur?” seru Peng-koh dengan parau.

“Berapa orang Kangouw yang dapat melihat Ih-hoa-kiongcu, apa namanya jika bukan mujur.”

“Untung yang datang ini Kiongcu muda, jika Kiongcu besar yang datang, saat ini jiwa kita mungkin sudah amblas.”

Namun Kang Giok-long sedang memandang jauh ke sana dengan termangu-mangu, entah apa yang lagi dipikirkan.

Dengan kesal Thi Peng-koh berkata pula, “Nanti kalau dia sudah datang lagi, kita tetap tak dapat hidup lebih lama. Kau telah mencelakai Siau-hi-ji, tidak mungkin dia mengampunimu.”

“Sebab apa? Bukankah dia mengharuskan Hoa Bu-koat membunuh Siau-hi-ji?”

“Betul, tapi dia cuma menginginkan Hoa Bu-koat membunuh Siau-hi-ji dengan tangan sendiri, orang lain dilarang mengganggu satu jari pun Siau-hi-ji, bahkan dia sendiri juga pasti tidak akan mencelakai Siau-hi-ji.”

“Aneh, apa sebabnya?” ucap Giok-long dengan heran, “Sungguh aneh, benar-benar aneh?!”

“Aku pun tidak tahu apa sebabnya,” tutur Peng-koh. “Mereka kakak beradik memang manusia aneh. Betapa pun juga sekarang lekas kau tolong aku turun, badanku terasa kesemutan, Hiat-toku tertutuk olehnya.”

“Mana bisa kutolong kau?” kata Giok-long dengan menyengir.

“Habis siapa…siapa yang akan menolongku jika bukan engkau?” seru Thi Peng-koh.

“Sekalipun kutolong kau juga kita tetap tak dapat lolos dari cengkeramannya,” ucap Giok-long dengan kesal.

“Tapi apa pun kan harus kita coba,” ujar Peng-koh. “Paling-paling hanya mati saja. Jika sekarang juga kita kabur dan bersembunyi, sedikitnya kita masih dapat hidup beberapa hari lagi dengan bahagia.”

Setelah berhenti sejenak, dengan tersenyum pedih kemudian Peng-koh menyambung, “Ya, asalkan aku dapat hidup bersamamu dengan tenteram dan bahagia, biarpun mati juga kurela.”

Kang Giok-long menunduk, tiba-tiba ia menengadah dan berkata, “Tapi kalau tidak kau beritahu bahwa aku yang membunuh Siau-hi-ji, tentu dia takkan membunuhku, betul tidak?”

Thi Peng-koh melengak, jawabnya dengan ragu-ragu, “Ya, mung…mungkin…”

“Jika tadi telah kau dustai dia, kenapa tidak berdusta lagi,” ujar Giok-long.

“Tapi…tapi aku…aku…”

“Jika akhirnya kau toh akan mati, untuk apa mesti menghendaki aku mati bersamamu? Bila kau benar-benar cinta padaku, kau harus berani mengorbankan dirimu untuk menolong aku, untuk itu pasti selamanya takkan kulupakan.”

Thi Peng-koh benar-benar melenggong, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Kang Giok-long bisa bicara demikian?

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menanggapi dengan tertawa terkekeh-kekeh, “Bagus, bagus sekali! Sudah lama tak kudengar kata-kata mutiara begini.”

Seorang lagi menambahkan dengan tertawa, “Jika saudara ini perempuan, Siau Mi-mi pasti akan mengaku kalah bila menyaksikan kejadian ini.”

“Hahaha, dua Siau Mi-mi mungkin juga tak dapat menandingi dia seorang,” sambung lagi orang ketiga.

Segera suara orang keempat bergelak tertawa, katanya, “Sejak kedua Auyang bersaudara itu mati, kalian selalu khawatir sukar mencari gantinya, sekarang sudah tersedia seorang calon di sini.”

Di tengah gelak tertawa ramai itulah dari balik lereng sana muncul empat orang. Bentuk keempat orang ini sangat istimewa, yang satu bermulut lebar luar biasa, seorang lagi lelaki bukan perempuan tidak, orang ketiga selalu tersenyum simpul dan orang keempat mirip pengemis dengan memanggul sebuah karung goni.

Karung yang dipanggulnya itu kelihatan bergerak-gerak, malahan terdengar suara keluhan dari dalam karung, suara keluhan itu pun sangat aneh, seperti orang sakit, tapi juga mirip keluhan orang kepuasan dan mengkilik-kilik perasaan orang lain yang mendengarnya.

Sebelah tangan orang yang mirip pengemis itu memegang sepotong kayu dan sebentar-bentar disabetkan ke atas karung goni. Setiap kali dia menyabet, setiap kali pula suara keluhan itu bertambah kenikmatan, malahan terdengar ucapannya yang samar-samar seperti lagi memohon, “Sabetlah yang keras…kumohon, sabetlah lebih keras lagi -.”

Tapi orang yang mirip pengemis itu justru menurunkan karungnya dan tidak memukul lagi, ia malah berkata pada Kang Giok-long dengan tertawa, “Coba, di dunia ini ada orang yang suka dipukuli, pernah kau lihat atau tidak?”

Kang Giok-long memang benar-benar tak pernah melihat orang sinting demikian, pada hakikatnya mendengar saja tidak pernah. Walaupun biasanya dia pintar putar lidah, kini dia jadi kesima juga.

Dalam pada itu Thi Peng-koh yang masih terkatung-katung di atas pohon itu ya malu ya cemas, akhirnya ia pingsan sendiri.

Keempat pendatang ini jelas bukan lain daripada Li Toa-jui, To Kiau-kiau, Pek Khay-sim dan Ha-ha-ji. Namun siapakah pula yang berada di dalam karung goni dan gemar dipukul itu?

Li Toa-ju mendekati Kang Giok-long, dengan tertawa lebar ia menegur, “Sahabat cilik, siapakah namamu?”

Meski tidak tahu asal usul orang aneh ini, tapi melihat bentuk mereka yang luar biasa, betapa pun Kang Giok-long tidak berani cari gara-gara, lalu menjawab, “Cayhe Ciang Peng, entah tuan-tuan ini siapa pula?”

“Usia saudara masih muda belia, tapi nama Cap-toa-ok-jin kiranya juga pernah kau dengar bukan?” jawab Li Toa-jui dengan tertawa.

Seketika berubah air muka Kang Giok-long, ucapnya, “Cap-toa-ok-jin? Jangan-jangan…jangan-jangan Tuan ini…”

“Haha, melihat mulutnya tentunya kau pun tahu siapa dia” seru Ha-ha-ji.

Giok-long mengerling mereka sekejap, tanpa terasa tangannya berkeringat dingin.

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Jangan khawatir, saudara cilik, kedatangan kami ini tidak bermaksud jahat padamu.”

Tiba-tiba Giok-long tertawa, jawabnya, “Kalian adalah kaum Cianpwe dunia persilatan, sudah tentu takkan mencari perkara kepada Wanpwe yang tiada terkenal ini, hati Cayhe sungguh sangat lega, bahkan merasa gembira karena dapat melihat wajah asli para Cianpwe.”

“Hihihi, coba lihat, betapa pintar cara bicara anak ini, seperti bermadu saja mulutnya,” ucap To Kiau-kiau dengan mengikik.

“Haha, orang begini, Hwesio seperti diriku juga suka padanya,” tukas Ha-ha ji, “Pantaslah nona di atas pohon itu pun tidak sayang berbuat apa pun baginya.”

Tiba-tiba Giok-long berkata serius, “Nona di atas pohon ini meski kenalan Cayhe, tapi hubungan kami hanya berdasarkan persahabatan saja tanpa ada persoalan asmara, janganlah Cianpwe salah mengerti.”

“Jika benar ada persahabatan, kini orang tergantung di atas pohon dalam keadaan bugil, kenapa kau tidak menolongnya?” tanya To Kiau-kiau.

Giok-long menghela napas, jawabnya, “Meski ada maksudku untuk menolongnya, tapi…tapi ada pembatasan antara lelaki dan perempuan, sekarang dia dihina dan dianiaya orang cara begitu, rasanya tidak bebas bagiku untuk menolongnya.”

“Wah, jika demikian, kau ini seorang lelaki sejati, seorang ksatria tulen,” To Kiau-kiau berseloroh.

“Meski Cayhe sudah menjelajah Kangouw, tapi tidak berani melupakan kesopanan dan keluhuran budi,” kata Giok-long.

Mendadak To Kiau-kiau tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya sambil menuding hidung Kang Giok-long, “Coba lihat kalian, bukankah dia ini memang punya sejurus dua simpanan. Jangankan Siau Mi-mi, sekalipun kedua Auyang bersaudara juga mesti mengangkat guru padanya.”

“Haha, memang benar,” sambung Ha-ha-ji, “Cara bicara kedua Auyang bersaudara yang dapat dipercaya kira-kira hanya satu kalimat di antara tiga kalimat, tapi bocah ini seluruhnya cuma bicara empat kalimat dan ternyata tiada satu pun yang dapat dipercaya.”

“Ah, kembali Cianpwe berkelakar, di depan para Cianpwe masa Wanpwe berani berdusta?” ucap Giok-long.

“Kau tidak berani berdusta? Haha, kembali kau berdusta lagi!” seru Ha-ha ji sambil ngakak.

Giok-long menghela napas, katanya, “Yang kukatakan semuanya adalah sejujurnya, kalau Cianpwe toh tidak percaya, sungguh Cayhe…”

“Kau bicara sejujurnya?” potong To Kiau-kiau dengan tertawa genit. “Jika begitu ingin kutanya padamu. Kau mengaku bernama Ciang Peng, lalu si telur busuk kecil yang bernama Kang Giok-long itu siapa pula dia?”

Di dunia ini memang banyak pendusta, tapi di antara sepuluh ribu pendusta mungkin cuma satu-dua orang saja yang air mukanya tidak berubah bilamana kebohongannya terbongkar di depan umum. Dan Kang Giok-long inilah benar-benar pilihan di antara satu-dua orang pendusta itu. Mukanya tidak merah, sikapnya tidak kikuk, sebaliknya malah tertawa.

To Kiau-kiau memandangnya lekat-lekat seakan-akan makin lama makin tertarik, dengan tertawa ia tanya, “Apa yang kau tertawakan?”

“Sebab mendadak Cayhe merasa geli terhadap diriku sendiri,” jawab Kang Giok-long.

“Oo,” To Kiau-kiau jadi melongo.

“Soalnya Wanpwe menyadari kalau berdusta di depan para Cianpwe, hakikatnya seperti main kapak di depan tukang kayu, sungguh tidak tahu diri, kan lucu?”

“Haha, bagus, tepat!” Ha-ha ji berkeplok tertawa. “Caramu menjilat pantat sungguh menyenangkan dan kena, aku menjadi suka padamu.”

“Sebelum para Cianpwe bicara denganku, bisa jadi seluk-beluk mengenai diriku sudah kalian selidiki dengan jelas,” kata Giok-long.

“Betul, kami tahu kau ini bernama Kang Giok-long, putra kesayangan Kang-lam-tayhiap segala, kami juga tahu nona cilik ini adalah anak murid Ih-hoa-kiong,” tutur Kiau-kiau.

“Sungguh tidak nyana Cayhe bisa mendapatkan perhatian para Cianpwe, terima kasih.”

“Apakah kau tahu sebab apa kami menaruh perhatian padamu?” tanya To Kiau-kiau.

Giok-long tersenyum, tanyanya, “Barangkali Cianpwe hendak menjadi comblang bagiku?”

“Buset!” Kiau-kiau tertawa. “Andaikan aku punya anak perempuan, lebih baik kuberikan pada Li Toa-jui daripada diberikan padamu. Sedikitnya Li Toa jui takkan makan kepalanya, tapi kau, haha, mungkin akan kau lalap seluruhnya bersama tulang-tulangnya.”

“Ah, Cianpwe terlalu memuji, masa Cayhe dapat dibandingkan dengan Li-locianpwe,” ujar Giok-long dengan tertawa.

“Ah, tidak perlu rendah hati kau,” ucap Li Toa jui. “Caraku makan orang paling-paling cuma satu-satu, tapi caramu makan justru main lalap sebaris demi sebaris. Bukankah orang-orang dari Siang-say-piaukiok itu telah kau telan seluruhnya hanya dalam semalam saja?”

Kang Giok-long tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa, “Sebenarnya apa sebabnya para Cianpwe menyelidiki diriku sejelas ini?”

“Mungkin kau tidak tahu bahwa setelah kedua saudara Auyang bersaudara mati, kini Cap-toa-ok-jin hanya tersisa sembilan orang saja,” ucap To Kiau-kiau.

“Aneh, sepuluh dikurangi dua kan seharusnya tersisa delapan?” tanya Giok-long.

“Haha, caramu berhitung sungguh cermat,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa, “Jika aku membuka pabrik, pasti kupakai tenagamu sebagai pemegang buku.”

“Tapi kau tidak tahu bahwa kedua Auyang Ting Tong itu terlalu suka cari untung kecil, orang yang cuma suka cari untung kecil tidak dapat dianggap Toa-ok-jin (penjahat besar) melainkan cuma telur busuk kecil saja. Sebab itulah gabungan mereka berdua baru sekadarnya dapat dianggap seorang Ok-jin.”

“Jika demikian, untuk menjadi Toa-ok-jin harus mengesampingkan soal keuntungan kecil…ya, kata-kata emas ini pasti akan kuingat selalu,” ucap Giok-long dengan tertawa.

“Selain kedua Auyang bersaudara sudah mati, akhir-akhir ini, Ok-tu-kui kayak-kayaknya juga mau kembali ke jalan yang baik, sedangkan penyakit Ong-say Thi Cian juga semakin pasrah, bilamana tiada orang yang bisa diajak berkelahi, terkadang dia suka menghajar dirinya sendiri. Sedangkan Siau Mi-mi si ahli pikat itu entah sembunyi di gua mana, maka munculnya kami sekali ini tiba-tiba terasakan nama Cap-toa-ok-jin sudah tidak begitu tenar lagi di dunia Kangouw.”

Dengan sendirinya Kang Giok-long tahu di mana beradanya Siau Mi-mi.

Sebagaimana diketahui Siau Mi-mi telah terkurung di istana bawah tanah oleh Kang Giok-long dan Siau-hi-ji dahulu, mungkin selama hidupnya takkan muncul lagi.

Namun Giok-long hanya tersenyum tak acuh, katanya, “Jangan-jangan maksud para Cianpwe ingin mencari seorang pengganti Auyang bersaudara.”

“Betul, jika kami ingin membangkitkan nama kebesaran Cap-toa-ok-jin, maka kami harus mencari tenaga baru,” kata To Kiau-kiau.

Berkilau sinar mata Kang Giok-long, katanya dengan tertawa, “Tapi orang demikian memang sangat sukar dicari, setahuku, tokoh Kangouw yang dapat disejajarkan dengan para Cianpwe mungkin dapat dihitung dengan jari.”

“Jauh di ujung langit, dekat di depan mata, sekarang juga sudah tersedia satu orang di sini,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa sambil menatap Kang Giok-long.

“Ah, mana Cayhe sanggup,” cepat Giok-long menjawab.

“Hahaha, kau tidak perlu sungkan,” ujar Ha-ha-ji, “Usiamu memang muda belia, tapi hasil karyamu sukar dinilai. Lewat dua tahun lagi mungkin kami pun tidak dapat menandingimu.”

“Tidak perlu dua tahun lagi, sekarang pun kita sudah tak dapat melebihi dia,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa.

Kang Giok-long seperti rada-rada kikuk, katanya, “Ah, mana kuberani, sedemikian tinggi para Cianpwe menghargai diriku, sungguh Cayhe tidak tahu cara bagaimana harus membalas kebaikan ini.”

“Hah, menarik, caramu bicara ini sungguh menarik, tidak percuma aku memujimu, “seru Li Toa-jui dengan tertawa.

Mendadak Pek Khay-sim menyela, “Tapi, anak muda, jangan kau tertipu oleh mereka. Bahwa mereka menarik kau masuk komplotan, tujuan mereka cuma ingin menyuruhmu bekerja sesuatu bagi mereka.”

Dasar “merugikan orang lain tidak perlu menguntungkan diri sendiri”, sejak tadi Pek Khay-sim diam saja, sekali buka mulut dia lantas mengacau.

Dengan tertawa Ti Kiau-kiau mengomel, “Anjing memang tidak lupa makan najis, mana bisa mulut anjing tumbuh gading. Jangan kau percaya pada ocehannya.”

“Justru yang kukatakan adalah sejujurnya,” seru Pek Khay-sim dengan mendelik, “Jika kau tidak turut nasihatku, maka kau sendiri pasti bakal celaka.”

“Maksud baik Cianpwe sudah tentu kuterima,” ujar Giok-long dengan tersenyum. “Tapi jika Cayhe ada kesempatan bekerja bagi para Cianpwe, ini kan suatu penghargaan bagiku. Nah, ada petunjuk apakah, silakan para Cianpwe katakan saja.”

Dengan tersenyum To Kiau-kiau lantas berkata, “Ada seorang tokoh persilatan yang maha lihai, namanya Gui Bu-geh, di pegunungan inilah tempat tinggalnya, kukira kau pun tahu hal ini. Tapi apakah kau tahu di liang tikusnya itu sekarang telah kedatangan seorang tamu agung?”

Seketika lenyap air muka Kang Giok-long yang tersenyum-senyum tadi demi mendengar yang dipersoalkan adalah Gui Bu-geh. Ia berdehem-dehem beberapa kali, lalu menjawab, “Jika di dunia ini ada orang yang tidak ingin kukenal, maka orang itu ialah Gui Bu-geh. Biarpun manusia di dunia sudah mampus seluruhnya juga Cayhe tidak mau bergaul dengan dia. Apakah liangnya sekarang kedatangan tamu agung atau tidak, sama sekali aku tidak mau tahu dan juga tidak ingin tahu.”

“Cuma sayang, tamu agungnya itu justru kau kenal,” tukas Kiau-kiau.

Melengak juga Kang Giok-long, ia menegas, “Kukenal? Mana bisa kukenal dia?”

“Selama hidup Gui Bu-geh tidak mempunyai kawan, sekalipun sesama anggota Cap-ji-she-shio mereka juga sama takut padanya, asal melihat dia tentu lekas-lekas menghindarinya,” tutur Kiau-kiau.

“Ya, kan ada pemeo yang mengatakan, ‘tikus lalu di jalan, setiap orang ingin memukulnya’. Pernah juga Cayhe melihat orang yang suka bergaul dengan kawanan ular atau binatang buas, tapi orang yang suka berkawan dengan tikus mungkin tiada seorang pun,” kata Giok-long dengan tertawa.

“Kau salah,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa, “Orang yang berkawan dengan tikus juga ada satu.”

“Oya?!” Giok-long melenggong.

“Sebenarnya tidak mengherankan kalau orang itu suka berkawan dengan Gui Bu-geh, yang aneh adalah dia dapat membikin Gui Bu-geh berkawan dengan dia.”

“Ya, malahan dia berhasil membujuk Gui Bu-geh sehingga mau menuruti segala kehendaknya, padahal selama hidup Gui Bu-geh tidak pernah sebaik ini terhadap orang lain,” sambung Li Toa-jui.

“Wah, jika demikian, kepandaian saudara ini sungguh luar biasa,” ujar Giok-long dengan tertawa.

“Apakah kau tahu siapa gerangan orang itu?” tanya To Kiau-kiau.

Berputar biji mata Kang Giok-long, jawabnya, “Memangnya orang itu ada sangkut-pautnya dengan diriku?”

“Bukan saja ada sangkut-pautnya, bahkan sangat erat hubunganmu dengan dia,” tukas Kiau-kiau.

Akhirnya tertampil juga rasa kejut dan heran pada wajah Kang Giok-long, katanya, “Sungguh Cayhe tidak ingat bilakah punya sahabat yang berkepandaian sehebat itu.”

“Hihi, siapa bilang dia itu sahabatmu?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Kau memang tidak mempunyai sahabat yang berkepandaian tinggi, tapi kau mempunyai bapak yang berkepandaian mahasakti, masa kau lupa?”

Baru sekarang Kang Giok-long benar-benar melengak, ia menegas, “Jadi kau maksudkan ayahku?”

“Betul,” jawab Kiau-kiau, “Tamu agung Gui Bu-geh itu ialah Kang-lam-tayhiap Kang Piat-ho.”

Giok-long melenggong sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Sungguh tak tersangka ayahku bisa bersahabat dengan Gui Bu-geh.” Meski dia berucap dengan rasa menyesal tapi sorot matanya jelas menampilkan rasa senang.

“Memangnya apa jeleknya kalau bersahabat dengan Gui Bu-geh?” kata To Kiau-kiau, “Mempunyai sandaran sekuat Gui Bu-geh, sekali pun Ih-hoa-kiongcu hendak mencari perkara padanya juga tidak perlu takut lagi.”

Saking senangnya hampir saja Giok-long tertawa, ia coba bertanya pula, “Jika demikian, lalu para Cianpwe bermaksud menyuruh Cayhe mengerjakan apa?”

“Karena ayahmu adalah tamu agung Gui Bu-geh, jika kau pun hadir ke sana, dengan sendirinya kau pun akan dilayani sebagai tamu terhormat,” tutur Kiau-kiau. “Sebab itulah, kami ingin kepergianmu ke liang tikus itu untuk melakukan sesuatu bagi kami.”

“Asalkan tenaga Cayhe sanggup menyelesaikannya, silakan saja Cianpwe memberi petunjuk,” kata Giok-long tanpa pikir.

“Begini,” ucap Li Toa-jui setelah saling pandang sekejap dengan To Kiau-kiau, “Jika kau telah menjadi tamu terhormat di tempat Gui Bu-geh, dengan sendirinya kau boleh bebas bergerak di liangnya sana…”

“O, apakah Cianpwe menghendaki kucari tahu sesuatu urusan?” sela Giok-long.

“Betul,” kata Li Toa-jui sambil berkeplok tertawa. “Bicara dengan orang-orang yang berotak encer seperti kau ini sungguh sangat menyenangkan.”

“Lantas urusan apakah itu?” tanya Giok-long.

Kembali Li Toa-jui saling pandang sekejap dengan To Kiau-kiau, lalu To Kiau-kiau menyambung, “Sebenarnya juga bukan sesuatu urusan yang penting, soalnya kami mempunyai beberapa buah peti yang konon jatuh di tangan Gui Bu-geh, maka kami ingin kau memeriksa tempatnya itu apakah peti kami betul berada di sana atau tidak? Jika memang betul di sana, disimpan di mana? Kemudian kami akan berusaha mengeluarkan peti-peti itu.”

Sinar mata Kang Giok-long tampak berkilat-kilat, nyata dia sangat tertarik oleh urusan ini, namun wajahnya berlagak tidak begitu mengacuhkan persoalan ini, katanya dengan hambar, “Bagaimanakah bentuk beberapa buah peti itu? Apa isinya?”

“Haha, hanya beberapa buah peti rongsokan saja,” tukas Ha-ha-ji, “Warnanya hitam, tampaknya besar dan berat, namun peti yang besar dan berat begitu pasti tidak dimiliki orang lain. Sebab itulah sekali pandang segera kau akan mengenalnya.”

“Apakah kosong peti-peti itu?” tanya Giok-long.

“Semula peti-peti itu berisi benda berharga. Tapi bisa jadi isinya sudah lama diambil oleh Gui Bu-geh,” tutur Kiau-kiau.

“Jika peti sudah kosong, untuk apa para Cianpwe mencarinya lagi dengan susah payah?”

Kiau-kiau menghela napas menyesal, ucapnya, “Bagi orang lain mungkin cuma beberapa buah peti rongsokan saja, tapi bagi kami peti-peti itu adalah mestika yang sukar dinilai.”

Semakin mencorong sinar mata Kang Giok-long, ia menegas, “Mestika yang sukar dinilai?”

“Haha, namun mestika yang sukar dinilai ini justru sukar dijual biarpun diobral,” sambung Ha-ha-ji dengan tertawa. “Soalnya semua peti itu ada kelainan pada catnya, makanya bagi penilaian kami menjadi mestika yang sukar dicari.”

“Catnya ada kelainan? Memangnya di mana letak keistimewaannya yang sukar dinilai harganya?” tanya Giok-long.

“Apakah kau tahu cat peti-peti itu dibuat dari apa?” tanya Kiau-kiau, sebelum Giok-long menjawab segera ia menyambung pula, “Yaitu campuran dari darah manusia, cat peti-peti itu dicampur dengan darah musuh kami. Cap-toa-ok-jin kini sudah cukup tua sehingga semangat jantan di masa lampau sudah mulai luntur, hanya beberapa buah peti itu saja masih dapat mengingatkan kami kepada masa jaya di waktu yang lalu. Sebab itulah, apa pun juga peti-peti itu tidak boleh jatuh di tangan orang lain.”

“Ya, bilamana kami ingin menegakkan kembali nama Cap-toa-ok-jin, maka beberapa peti itu harus kami temukan kembali,” seru Li Toa-jui dengan kereng.

Kang Giok-long seperti terkesima dan tidak bersuara.

“Apabila cuma benda mestika biasa, betapa pun banyaknya tentu takkan kami pikirkan, apalagi sudah jatuh di tangan Gui Bu-geh,” ujar To Kiau-kiau. “Untuk apa kami mesti mengganggu si tikus, umpama perlu uang, apa susahnya jika kami mau merampok?”

“Namun bila peti-peti itu hilang, maka tamat pula riwayat Cap-toa-ok-jin,” seru Li Toa-jui dengan bersemangat. “Makanya, saudara cilik, apa pun juga kau harus membantu kami, jasamu pasti takkan kami lupakan.”

Giok-long menunduk tanpa bicara, ia memandang tangan sendiri seakan-akan selama hidup tak pernah melihat tangannya ini.

“Adik cilik, masa kau tidak percaya keterangan kami ini?” tanya Li Toa jui.

Baru sekarang Kang Giok-long tertawa, jawabnya, “Ucapan Cianpwe sedemikian sungguh-sungguh, Cayhe sangat terharu, masa tidak percaya, hanya saja…”

“Hanya apa?” tanya Li Toa-jui.

“Jika beberapa peti itu toh tidak bernilai bagi orang lain, tentu juga Gui Bu-geh tidak menghiraukannya, kalau harta bendanya sudah diambilnya, bisa jadi peti-peti itu sudah dibuang olehnya.”

“Kami pun pernah memikirkan hal ini,” ucap To Kiau-kiau. “Makanya, apabila betul Gui Bu-geh telah membuang peti-peti itu maka hendaklah adik cilik menyelidikinya ke mana peti-peti itu telah dibuangnya.” Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Sekarang kita sudah orang sendiri, tentunya kami takkan membikin adik cilik berjerih payah percuma, asalkan usahamu berhasil, kami pasti akan memberi hadiah berlaksa tahil emas serta beberapa perempuan cantik bagimu, bahkan kami tanggung akan menjaga rahasia bagimu.”

Air muka Giok-long tampak sangat senang, katanya, “Apakah Cianpwe menghendaki sekarang juga kupergi?”

“Sudah tentu, makin cepat makin baik,” kata Kiau-kiau dengan tertawa.

“Lalu dia…” Kang Giok-long melirik ke atas pohon.

“Apakah kau sangat cinta padanya?” tanya Kiau-kiau dengan tertawa.

“Tentunya Cianpwe tahu, Cayhe bukanlah seorang yang mudah jatuh cinta, soalnya dia…”

“Dia murid Ih-hoa-kiong, makanya kau merasa bangga karena dapat berpacaran dengan dia, bisa jadi kelak kau akan dapat memperalat dia untuk mengadakan hubungan baik dengan Ih-hoa-kiong, begitu bukan?” setelah tertawa genit, lalu To Kiau-kiau menyambung lagi, “Lantaran inilah, maka kau merasa berat untuk meninggalkan dia?”

“Kalau Cianpwe sudah berkata demikian, tiada gunanya lagi sekalipun Cayhe menyangkalnya,” kata Giok-long dengan tertawa.

“Tapi sekarang tentunya kau tahu berada bersama dia hanya akan mendatangkan kesukaran saja dan tiada faedahnya.”

Giok-long menghela napas, katanya, “Seumpama ada faedahnya juga tidak sebanyak kesukarannya.”

“Ya, asal tahu saja,” ucap Kiau-kiau tertawa. “Apalagi, biarpun dia cukup cantik dan menggiurkan, tapi setelah usahamu berhasil, kujamin akan mencarikan bagimu sepuluh gadis yang jauh lebih memikat daripada dia.”

Lalu dia berbisik-bisik di tepi telinga Kang Giok-long dengan tertawa ngikik, “Malahan sebelumnya akan kuajari mereka beberapa resep cara bagaimana akan membikin senang padamu di tempat tidur.”

Tak terkatakan gembira Kang Giok-long, katanya dengan tertawa, “Jika demikian, baiklah sekarang juga Cayhe lantas berangkat. Cuma, setelah urusan berhasil, cara bagaimana akan kuadakan kontak dengan para Cianpwe?”

“Pokoknya, berhasil atau tidak usahamu, tiga hari lagi boleh kau perlihatkan dirimu di mulut gua, dengan sendirinya kami akan mencari akal untuk bicara denganmu,” kata Kiau-kiau.

“Baiklah, kita putuskan demikian, sampai berjumpa,” habis berkata, secepat terbang Kang Giok-long lantas lari pergi tanpa memandang lagi kepada Thi Peng-koh.

Setelah anak muda itu pergi jauh, dengan berkerut kening Li Toa-jui berkata, “Begitu cepat cara pergi bocah itu, kukira rada-rada tidak beres.”

“Haha, dia kan takut kalau Ih-hoa-kiongcu datang lagi membikin perhitungan dengan dia, makanya cepat-cepat hendak bersembunyi ke liang tikus sana,” kata Ha-ha-ji.

“Hm, mimpilah kalian jika kalian mengira dia percaya penuh pada apa yang kita katakan dan dia benar-benar mau berusaha menemukan peti-peti kosong itu,” jengek Pek Khay-sim.

“Apa yang kukatakan kan masuk di akal dan beralasan, masa dia tidak percaya,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa. Apalagi bocah itu selain tamak harta juga kemaruk perempuan, berlaksa tahil emas dan sepuluh gadis cantik masa tidak dapat menggoyahkan pikirannya?”

“Seumpama dia berhasil menemukan peti itu juga belum tentu mau menyerahkannya kepada kalian,” ucap Khay-sim.

“Tidak diserahkan pada kita, apa gunanya peti-peti kosong itu baginya?” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

“Betul, haha,” sambung Ha-ha-ji, “Bocah ini cukup pintar, peti kosong ditukar dengan emas dan gadis cantik, masa dia tidak mau?”

Tertawa juga akhirnya Pek Khay-sim, katanya, “Tapi setelah tukar-menukar, pasti akan kukatakan padanya apa gunanya peti-peti kosong itu, akan kulihat bagaimana air mukanya waktu itu.”

“Hahaha, waktu itu air mukanya pasti akan lebih buruk daripada pantatmu,” tukas Ha-ha-ji.

Menyinggung pantat, segera pandangan Pek Khay-sim beralih ke atas pohon, katanya sambil tertawa, “Hei, nona cilik, angin di atas sana cukup kencang, apakah kau tidak takut masuk angin?”

Namun Thi Peng-koh belum lagi siuman, maka dia tidak menjawab.

Li Toa-jui berkerut kening dan berkata, “Di punggungmu sekarang terpanggul satu, memangnya kau mengincar lagi yang lain?”

“Nona cilik ini sebatang kara, sial lagi ketemu kekasih yang berbudi rendah, sungguh kasihan, siapa lagi yang akan menghiburnya jika bukan aku?” kata Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Bagus, boleh lekas kau menghiburnya,” tukas To Kiau-kiau. “Tapi bila Ih-hoa-kiongcu datang jangan kau salahkan kami tidak mau membantumu.”

Pek Khay-sim berdehem, ucapnya kemudian, “Bicara terus terang, gadis menderita seperti dia sukar juga bagiku untuk menghiburnya. Apalagi di karung goni yang kupanggul ini sudah ada satu, meski usianya agak lanjut, tapi jahe kan selalu lebih pedas yang tua dan juga lebih keras.”

“Hihi, rupanya baru sekarang kau paham seluk-beluk lelaki dan perempuan,” kata Kiau-kiau dengan tertawa genit, “Cuma sayang, lelaki justru harus lebih baik yang muda dan kuat, kalau tidak -.”

“Untung usiaku sudah agak lanjut, kalau tidak bila sampai dipenujui kau, wah, bisa repot,” tukas Pek Khay-sim dengan tergelak.

“Repot apa?” To Kiau-kiau menegas dengan mendelik.

“Kerepotan lain sih tidak ada, cuma sukar membedakan dalam hari-hari apa kau adalah lelaki dan hari apa kau jadi perempuan, jika salah waktu kan berbahaya,” jawab Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Bagus, bagus, tak tersangka orang bodoh macam kau juga dapat mengutarakan pikiran sebagus ini,” seru Li Toa-jui sambil berkeplok tertawa. “Apa mungkin akhir-akhir ini kau telah terpengaruh oleh ajaranku?”

“Ya, mungkin akhir-akhir ini Siaute selalu berkumpul bersama Li-heng, kata peribahasa, dekat dengan gincu bisa ketularan merah. Mungkin karena itulah cara berpikirku lantas meniru gaya Li-heng,” kata Pek Khay-sim dengan tertawa.

Padahal antara Pek Khay-sim dan Li Toa-jui adalah musuh bebuyutan, meski keduanya sama-sama terhitung anggota Cap-toa-ok-jin, tapi jarang mereka bertemu, jika bertemu kalau tidak ribut mulut tentu juga berkelahi.

Musuh Pek Khay-sim di dunia Kangouw juga cukup banyak, lantaran Li Toa-jui, dia lebih suka kian kemari seperti anjing geladak daripada menyingkir ke Ok-jin-kok. Kini dia bicara demikian, Li Toa-jui jadi melengak malah.

Dengan tertawa Pek Khay-sim berkata pula, “Akhir-akhir ini, bukan saja cara bicaraku telah kena terpengaruhnya Li-heng, bahkan nafsu makanku juga mulai berubah, ikan daging bagiku terasa tidak dapat memuaskan, Hi-sit (sirip ikan) dan Yan-oh (sarang burung) juga terasa hambar, sedikit pun tidak dapat memuaskan seleraku. Sebab itulah Siaute jadi kepingin mencicipi daging manusia.”

“Tampaknya kau tidak cuma paham seluk beluk antara lelaki dan perempuan, malahan soal makan juga sudah mulai paham, ujar Li Toa-jui.

“Tapi Siaute juga tahu cara makan daging manusia tidak sederhana seperti makan daging babi, banyak cara dan ragamnya, kalau tidak, lebih baik tidak memakannya, betul tidak?”

Menyinggung urusan makan daging manusia, seketika semangat Li Toa-jui terbangkit, serunya, “Betul, memang banyak ragamnya cara makan daging manusia. Pertama orang yang akan kau makan juga harus orang yang gemar makan enak, dengan demikian baru dagingnya terasa lezat. Kedua, lebih baik lagi kalau dia juga berlatih ilmu silat, sebab orang yang berlatih silat dagingnya lebih keras dan gurih, ketiga…” Tiba-tiba ia menghela napas, lalu menyambung dengan menggeleng, “Sebenarnya tidak perlu lagi kuuraikan yang ketiga, perubahan jaman sekarang sudah semakin jauh, untuk mencari orang yang dapat memenuhi kedua, syarat tadi rasanya sudah tidak banyak lagi.”

“Tapi di atas kan tersedia satu, bagaimana pendapat Li-heng?” ucap Pek Khay-sim dengan tertawa.

Li Toa-jui memandang ke atas dua-tiga kejap, tanpa terasa ia menelan air liur, katanya dengan tertawa, “Tidak perlu lain, melulu kedua pahanya saja, sedikitnya sudah beberapa tahun tak pernah kurasakan paha sebagus ini.”

“Maukah kita berdua membawanya ke suatu tempat yang baik, kita iris daging pahanya yang padat ini dan digoreng, jika dia sudah kita makan ke dalam perut, biarpun Ih-hoa-kiongcu mempunyai ilmu kepandaian setinggi langit juga tak dapat menemukannya lagi, betul tidak?” kata Pek Khay-sim.

“Ya, pikiran baik, usul bagus!” jawab Li Toa jui dengan tertawa. Di tengah bergelaknya itu mendadak “plok”, Pek Khay-sim kena ditempelengnya.

Keruan Pek Khay-sim berjingkrak kaget, teriaknya murka, “Keparat, bicara baik-baik, mengapa kau memukul orang?”

“Kau ini bicara dengan baik-baik?” ujar Li Toa-jui dengan tertawa. “Sudah kuketahui, bila caramu bicara enak didengar, hatimu tentu timbul pikiran busuk. Kau ingin menipu aku, tak begitu mudah.”

“Kau keparat, siapa yang ingin menipumu?” Pek Khay-sim meraung pula.

“Bukankah kau hendak menipuku?” kata Li Toa-jui. “Coba, setelah kumakan anak murid Ih-hoa-kiong, selanjutnya apakah aku bisa hidup tenteram? Sekalipun air liurku mengalir memenuhi tanah juga takkan kuganggu dia biarpun cuma satu jari saja.”

“Setelah kau makan ke dalam perut, lenyaplah segala buktinya, dari mana Ih-hoa-kiongcu bisa tahu?” kata Pek Khay-sim.

“Ada sebuah mulut busuk yang suka merugikan orang lain macam kau ini mustahil dia takkan tahu?” jengek Li Toa-jui.

Pek Khay-sim melengak sejenak, ia menghela napas dan berkata dengan menyengir, “Ah, tampaknya aku tak dapat menipumu, kau memang jauh lebih kuat daripada aku.” Sambil bicara mendadak sebelah tangannya lantas membalik, “plak” ia pun menampar Li Toa-jui satu kali.

Saat itu Li Toa-jui sedang tertawa senang, tentu saja ia tidak sempat berkelit, dengan gusar ia berteriak, “Keparat, kau berani memukul aku, nanti kucabut nyawamu!”

Tapi kedua orang lantas saling melotot saja, tiada seorang pun yang mulai menyerang lagi.

Maklum, mereka sudah cukup berpengalaman, entah sudah berapa kali mereka berkelahi dan masing-masing maklum tak bisa mengalahkan lawan, kecuali salah satu pihak tidak berjaga-jaga, kalau tidak jelas tidak mampu memukulnya dengan telak.

To Kiau-kiau tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kalian berdua bangsat ini sudah cukup ribut belum? Kalau sudah cukup, ayolah lekas kembali ke sana.”

“Betul, Toh-lotoa mungkin sudah tak sabar menunggu lagi,” sambung Ha-ha-ji. “Haha, kalian tentunya tahu, tidak boleh dibuat mainan apabila Toh-lotoa marah.”

Lekas-lekas Pek Khay-sim menuruti arah angin, cepat ia menjawab, “Baiklah, mengingat Toh-lotoa, biarlah kuampuni kau serigala bermulut besar ini.”

“Hm, jika tidak khawatir Toh-lotoa menunggu terlalu lama, mustahil kalau tidak kubunuh kau keparat ini,” sambut Li Toa-jui dengan gusar.

Meski keduanya masih saling mencaci maki, tapi kesempatan ini lantas digunakan mereka untuk “gencatan senjata”.

Tiba-tiba To Kiau-kiau berkata pula, “Padahal kalian masih boleh juga berkelahi lagi, yang ditunggu Toh-lotoa kan bukan kalian.”

Pek Khay-sim anggap tidak paham ucapan adu domba To Kiau-kiau itu, ia menghela napas dan berkata, “Sungguh tak tersangka Toh-lotoa yang selalu bersikap dingin itu bisa sebaik ini terhadap Siau-hi-ji, dia khawatir tak dapat menemukan Siau-hi-ji, maka dia berkeras tinggal di sana untuk menunggunya. Jika ia tahu Siau-hi-ji takkan datang lagi untuk selamanya, dia pasti akan sangat berduka. Marilah kita lekas kembali ke sana untuk menghiburnya.”

“Kau kira Siau-hi-ji benar-benar telah mati dikerjai Kang Giok-long itu?” kata Li Toa-jui dengan tertawa.

“Memangnya kau tidak mendengar tadi?” jawab Pek Khay-sim dengan mendelik.

“Jangan khawatir, jika Kang Giok-long benar-benar bisa membunuh Siau-hi-ji, maka dia bukan lagi telur busuk kecil melainkan malaikat dewata hidup,” ujar Li Toa-jui.

“Haha, mungkin malaikat dewata juga tidak mampu mencelakai Siau-hi-ji. Hahaha, aku orang pertama yang percaya penuh kepada kemampuan anak muda itu,” kata Ha-ha-ji.

“Bila betul Siau-hi-ji sudah mati, sedikitnya aku pun akan meneteskan beberapa titik air mata, masa aku segembira ini? ujar To Kiau-kiau.

“Kau akan meneteskan air mata baginya?” Pek Khay-sim menegas.

“Mengapa tidak, anak yang menyenangkan begitu kalau mati, siapa yang tidak berduka?” jawab Kiau-kiau. “Apalagi, sejak kecil kita inilah yang membesarkan dia, waktu kecilnya dia sering mengompol dalam pangkuan kita.”

“Jika demikian, mengapa kalian juga hendak mencelakai dia?” tanya Pek Khay-sim.” Kalian sengaja meninggalkan tanda-tanda penunjuk jalan dan menipunya ke liang tikus itu, bukankah kalian berniat menjadikan dia mangsa si tikus besar itu?”

“Soalnya menurut perhitungan kami, sekalipun tikus besar itu pun tak mampu mematikan dia,” jawab Kiau-kiau dengan tertawa.

“Huh, kukira hatimu tidak sebaik ini,” jengek Pek Khay-sim. “Kau cuma khawatir dia akan bersekongkol dengan Yan Lam-thian dan membikin susah kalian, makanya kalian sengaja menjerumuskan dia ke liang tikus sana, meminjam golok untuk membunuh orang.”

“Mulut anjingmu ini kenapa tidak dapat mengucapkan kata-kata manusia?” damprat Li Toa-jui gusar.

“Memangnya kau berani menyangkal apa yang kukatakan?” jawab Pek Khay-sim dengan murka.

“Sudahlah, sekalipun kita mengakui kebenaran ucapanmu juga bukan soal,” ujar To Kiau-kiau dengan mengikik. “Tapi ingin kukatakan padamu, seumpama kita yang mengakibatkan kematiannya, aku tetap akan mencucurkan air mata baginya…”

Pada saat itu juga benar-benar ada air mata menetes dari atas pohon, syukurlah gembong-gembong Cap-toa-ok-jin sudah pergi meninggalkan hutan sehingga tiada yang memperhatikan.

Thi Peng-koh tidak pingsan sungguh, maklumlah, dalam keadaan pedih seperti dia sekarang ini, kecuali pura-pura pingsan saja kiranya tiada cara lain yang lebih baik.

Jadi semua percakapan gembong-gembong Cap-toa-ok-jin itu telah dapat didengarnya. Tak tersangka olehnya bahwa cinta Kang Giok-long padanya ternyata pura-pura belaka, lebih-lebih tak terduga Kang Giok-long akan meninggalkannya dengan begitu saja.

Remuk redam hati Thi Peng-koh setelah semua orang sudah pergi, saking tak tahan lagi ia menangis tergerung-gerung, sungguh kalau bisa ia ingin mati sekarang juga. Namun apa dayanya, dalam keadaan sekarang, ingin mati pun tidak dapat.

Tiada seorang anak perempuan di dunia ini yang dapat menahan malu seperti keadaannya sekarang, tergantung telanjang bulat di atas pohon. Sungguh ia benci pada mata lelaki, butalah mata semua lelaki di dunia ini.

Waktu di Ih-hoa-kiong ia mendambakan kebebasan, ia ingin melarikan diri dan berharap akan menemukan lelaki idamannya. Memang inilah angan-angan setiap anak gadis umumnya, tapi pengalamannya benar-benar malang, lelaki yang ditemukannya ini ternyata bukan manusia, bahkan lebih kejam daripada binatang, lebih keji daripada ular berbisa.

Ia sendiri pun tidak tahu mengapa dirinya bisa mencintai binatang kecil demikian? Mungkin dia sudah terlalu lama terkekang di Ih-hoa-kiong, sudah terlalu lama kesepian, perasaan yang tertekan terlalu lama apabila sekali tempo meledak tentu sukar dikendalikan lagi.

Tadinya ia tak tahu bagaimana rasanya orang menangis, tapi sekarang air matanya terus bercucuran tiada hentinya.

Entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba ia mengetahui ada sepasang mata sedang memandangnya tanpa berkedip, tapi sorot mata ini tidak rakus dan membencikan seperti mata gembong-gembong Cap-toa-ok-jin tadi.

Sepasang mata ini bahkan sangat elok dan terang seperti gemilapnya bintang di langit dan membuat setiap orang yang melihatnya merasa tunduk dan ingin menyembah padanya. Selamanya Thi Peng-koh tidak pernah melihat mata yang menggiurkan demikian.

Sekarang pemilik mata yang elok itu sedang tertawa. Meski kini bukan musim semi, tapi tertawanya itu seperti angin sejuk mengembus bumi di musim semi.

“Siapakah namamu, nona?” demikian si cantik menyapa.

“Aku she Thi,” jawab Peng-koh.

“She Thi?” nona itu tertawa. “Sungguh sangat kebetulan, ada seorang kakakku juga she Thi, tampaknya memang aku ada jodoh dengan orang she Thi, entah engkau sudi berkawan denganku atau tidak.”

Melihat gaya si nona yang lain daripada yang lain, melihat dandanannya yang indah dan anggun, Peng-koh lantas teringat kepada keadaannya sendiri yang mengenaskan, tanpa terasa ia memejamkan mata dan meneteskan air mata pula.

“Kutahu, engkau pasti tidak ingin menemuiku dalam keadaan begini,” ucap pula si nona cantik dengan lembut, “Tapi kau pun jangan berduka, orang jahat di dunia ini memang teramat banyak, anak perempuan seperti kita ini tak terhindar akan dianiaya oleh mereka. Asalkan kau tahu bahwa orang yang bernasib malang di dunia ini masih sangat banyak, bahkan jauh lebih menderita daripadamu, maka engkau pasti akan terhibur dan tidak terlalu berduka lagi.”

“Masa – masa di dunia ini masih ada orang yang lebih malang daripadaku?” Peng-koh menegas.

“Mengapa tidak ada, bahkan banyak sekali,” jawab si nona. “Di mana-mana, di setiap pelosok dunia ini, tentu ada anak perempuan yang perlu dikasihani, mereka sedang tersiksa dan dirusak oleh orang yang tak mereka kenal, bahkan orang-orang yang mereka benci, namun mereka tidak dapat menangis seperti engkau, sebaliknya mereka harus memperlihatkan senyuman untuk minta belas kasihan orang-orang yang menyiksa mereka itu.”

Betapa pun malangnya seseorang, apabila diketahuinya ada orang lain yang lebih malang lagi daripadanya, maka akan terasa lebih ringan perasaannya yang tertekan. Hal ini sama saja seperti seorang penjudi, betapa pun banyak kekalahannya, apabila ia lihat ada orang lain yang lebih banyak kalahnya daripada dia, maka terhiburlah hatinya.

Lebih-lebih anak perempuan, jika kau ingin menghibur seorang anak perempuan, paling baik ialah ceritakan bahwa di dunia ini masih ada orang lain yang jauh lebih menderita daripadanya, dengan demikian dia akan melupakan penderitaan sendiri dan malahan akan menghibur orang lain.

Thi Peng-koh tidak menangis lagi, selang sejenak, berkatalah dia, “Dapatkah engkau menolong aku turun dari sini? Aku…aku pasti sangat berterima kasih padamu.”

Nona itu menghela napas, jawabnya, “Kau tidak perlu berterima kasih padaku, aku sendiri sangat ingin menolongmu, cuma sayang, naik tangga ke atas saja aku tidak sanggup, pohon setinggi ini, pada hakikatnya membuat kepalaku pusing.”

“Masa…masa engkau tidak mahir ilmu silat?” tanya Peng-koh.

“Kau sangat heran, bukan?” ucap si nona dengan tertawa. “Padahal orang yang tidak paham ilmu silat di dunia ini jauh lebih banyak daripada orang mahir ilmu silat, kebanyakan orang yang normal tidak belajar ilmu silat.”

Thi Peng-koh menghela napas menyesal, katanya dengan muram, “Jika…jika demikian, lekas pergi saja kau.”

“Tapi paling tidak kan dapat kukerjakan sesuatu bagimu? Kau dingin tidak, maukah kubuatkan api unggun di bawah sini?”

Karena merasa malu, berduka dan juga takut, maka Peng-koh melupakan rasa dingin, baru sekarang ia merasa sekujur badannya menggigil kedinginan, angin pegunungan yang mengusap tubuhnya terasa seperti sayatan pisau saja.

Dilihatnya si nona tadi benar-benar mengumpulkan seonggok kayu kering terus mengeluarkan sebuah ketikan api yang indah, onggokan kayu kering itu lantas dibakarnya.

“Engkau sungguh orang yang berhati mulia,” ucap Peng-koh dengan tersenyum pedih.

“Meski kau memuji hatiku mulia, tapi lebih banyak orang yang bilang hatiku sekeji ular,” ucap nona itu dengan tertawa.

“Sia…siapakah namamu? Sudikah engkau memberitahukan padaku agar dapat kuingat padamu selalu,” kata Peng-koh.

Si nona tertawa, jawabnya, “Namaku So Ing.”

“So Ing? Jadi kau inilah So Ing?” Peng-koh terkejut dan berseru tanpa terasa.

“Kau pun tahu namaku?” ucap So Ing tertawa.

Peng-koh terdiam sejenak, katanya pula dengan parau, “Kedatanganmu ini apakah ingin…ingin mencari seseorang?”

Tampaknya So Ing juga terkejut, jawabnya, “Dari mana kau tahu? Masa…masa kau pun kenal orang yang kucari itu?”

“Betul, kukenal dia,” jawab Peng-koh rawan.

So Ing menghela napas, katanya sambil tersenyum getir, “Setiap anak perempuan cantik di dunia ini seolah-olah semuanya kenal dia, aneh! Agaknya sainganku kini tambah satu orang lagi.”

“Aku takkan bersaing denganmu, bahkan selanjutnya mungkin tiada orang akan bersaing lagi denganmu,” ucap Thi Peng-koh, baru habis bicara kembali air matanya berderai pula.

Berubah pucat air muka So Ing, serunya, “Apa…apa artinya ucapanmu ini?”

“Dia…dia sudah mati dicelakai orang!” jawab Peng-koh dengan tergagap.

Seketika aliran darah di seluruh tubuh So Ing serasa membeku. Ia melenggong sejenak, katanya kemudian, “Yang kau maksudkan itu mungkin…mungkin bukan Siau-hi-ji, kuyakin pasti bukan dia.”

“Tapi yang kumaksudkan memang Siau-hi-ji adanya,” kata Peng-koh.

Tiba-tiba So Ing tertawa pula, tertawa keras, katanya, “Hahaha, kau pasti salah lihat. Mana bisa Siau-hi-ji mati dikerjai orang? Siapakah di dunia ini yang mampu membunuhnya? Kalau dia tidak mengerjai orang lain sudah untung.”

“Semula aku pun yakin di dunia ini tiada orang lain yang sanggup mengerjai dia, tapi sekali ini mau tak mau aku harus percaya, sebab dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan kejadian ini,” tutur Peng-koh dengan sedih.

Gemetar seluruh tubuh So Ing, tanyanya dengan suara terputus “Kau…kau menyaksikan sendiri? Siapa…siapa yang membunuhnya?”

“Orang itu bernama Kang Giok-long, dia telah mendorong Siau-hi-ji ke dalam dinding tebing itu, gua itu dalamnya tak terkira, apa lagi Siau-hi-ji dalam keadaan keracunan…”

Belum habis ucapan Thi Peng-koh, tahu-tahu So Ing berlari ke tebing sana.

Dinding tebing itu berdiri tegak beratus kaki tingginya dan sangat curam, gua itu pun berada belasan tombak tingginya, di antaranya memang ada tempat yang dapat digunakan memanjat, tapi orang yang memiliki Ginkang rendah saja jangan harap akan dapat naik ke atas sana, apalagi So Ing yang sama sekali tidak paham ilmu silat.

Air mata So Ing bercucuran, ucapnya sambil membanting kaki gegetun, “Kenapa tidak sejak dulu-dulu kubelajar silat? Nyatanya ilmu silat juga banyak gunanya…”

“Nona So,” terdengar Thi Peng-koh berseru di sana, “Kau jangan berduka, seumpama kau dapat naik ke sana juga tiada gunanya, Siau-hi-ji pasti…pasti takkan hidup sampai saat ini.” Dia seperti sudah melupakan penderitaan dan kemalangan sendiri, sekarang dia malah menghibur So Ing.

“Seumpama dia sudah mati juga aku harus melihatnya sekali lagi, apalagi, bukan mustahil dia masih hidup dengan segar bugar!” sahut So Ing dengan suara serak.

“Tapi apakah kau sanggup naik ke atas?”

“Betapa pun juga akan kucari akal untuk naik ke sana, aku pasti ada akal!” nada So Ing penuh rasa yakin, habis berkata ia lantas mengusap air mata dan tidak menangis lagi.

Andaikan dia masih mau menangis juga akan menunggu lagi kelak, sebab ia tahu air mata tidak dapat membantunya menyelesaikan persoalan.

Thi Peng-koh dapat melihat perubahan sikap So Ing itu dan dapat pula melihat tekadnya yang bulat itu, diam-diam ia menghela napas gegetun. Pikirnya, “Tak tersangka anak perempuan yang lemah lembut ini mempunyai tekad sebesar ini dan penuh kepercayaan pada diri sendiri. Sedangkan aku?…” Mendadak ia menyadari apabila seseorang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, maka nilainya jauh lebih berharga daripada ilmu silatnya yang tiada tandingannya atau kekayaan benda mestika yang sukar ditakar.

Ada cendikia yang bilang, “Hidup perempuan bukan untuk dipahami, tapi untuk dicintai!” Ucapan ini memang sangat bagus, tapi juga tidak terlalu tepat.

Hakikatnya tidak cuma perempuan saja yang demikian, ada sementara lelaki juga begitu. Mereka dilahirkan bukan untuk dipahami orang melainkan untuk dibenci dan disukai orang.

Dan tidak perlu disangsikan lagi, Siau-hi-ji adalah salah satu lelaki begitu.

Tidaklah sedikit manusia di dunia ini yang suka pada Siau-hi-ji, tapi yang membencinya bahkan lebih banyak. Namun orang yang mutlak benar-benar memahami Siau-hi-ji justru satu pun tidak ada.

Cuma saja ada beberapa orang yang taraf memahami Siau-hi-ji jauh lebih banyak daripada yang lain, beberapa orang ini jelas ialah To Kiau-kiau, Li Toa-jui, Ha-ha-ji dan Toh Sat. Sedikitnya merek tahu Siau-hi-ji bukanlah orang yang mudah dicelakai orang. Anak muda ini sering kali dapat lolos dari lubang jarum pada detik yang paling berbahaya.

Barang tentu, semua ini bukan seluruhnya karena kecerdasan Siau-hi-ji, terkadang juga memerlukan kemujuran atau nasib baik, atau istilah yang populer, hok-khi. Barang siapa kalau meremehkan “hok-khi”, sering kali dia sendiri akan mengalami nasib sial.

Contohnya, dua orang hampir bersamaan waktunya jatuh dari suatu tempat yang sangat tinggi, yang seorang jatuh di tanah dan mengakibatkan patah tulang leher, tapi yang seorang lagi jatuh ke dalam air dan tidak cedera apa pun.

Nah, apa namanya kejadian demikian kalau bukan kemujuran atau nasib baik atau hok-khi?

Yang mengalami nasib baik di antaranya adalah Oh Yok-su.

Dia didorong terjerumus ke dalam gua oleh Kang Giok-long, gua itu sangat dalam melebihi apa yang pernah dibayangkannya. Di bagian luar tinggi gua itu paling-paling cuma belasan tombak, tapi di bagian dalam ternyata tidak kurang lima kali lipat lebih dalam.

Bayangkan, kalau seorang terjatuh dari ketinggian lima puluhan tombak, sekalipun Ginkang orang ini tiada bandingnya di dunia juga sukar terhindar dari nasib hancur lebur terbanting.

Oh Yok-su sendiri pun mengira dirinya pasti akan mampus. Belum lagi sempat dia berpikir lain, tahu-tahu terdengar suara “blung” yang keras, tubuhnya jatuh ke dalam air, dasar gua yang dalam itu kiranya adalah sebuah kolam berair.

Kalau orang biasa terjatuh dari tempat setinggi itu, sekali pun jatuh ke dalam air, sukar juga terhindar dari jatuh pingsan. Tapi Ginkang Oh Yok-su memang tidak rendah, ia cuma merasakan badannya bergetar keras, seperti kena hantaman keras, mata pun terasa berkunang-kunang, habis itu lantas didengarnya suara tertawa ngikik seseorang.

Semula Oh Yok-su terkejut, tapi rasa kejut itu segera berubah menjadi girang. Kalau dia tidak terbanting mati, dengan sendirinya Siau-hi-ji lebih-lebih tidak bisa mati.

Ia ingin melompat keluar dari dalam air, tapi kolam itu ternyata tidak cetek, karena daya jatuhnya itu sangat keras, dia terus terjungkal ke dalam air dan sempat minum dua ceguk air yang asin lagi bau busuk, ia menjadi gelagapan dan hampir-hampir semaput. Syukur segera ia dapat mengapungkan diri ke permukaan kolam.

Terdengar Siau-hi-ji lagi berkata dengan tertawa, “Memangnya aku lagi kesepian, sekarang ada teman jatuh dari langit, sungguh sangat menggembirakan. Cuma sayang di sini tidak ada arak, terpaksa kusuguh kau dua ceguk air busuk.”

Walaupun sangat gelap di dasar gua ini, tapi ada sedikit cahaya remang-remang yang tembus dari atas sana.

Setelah kucek-kucek matanya, akhirnya Oh Yok-su dapat melihat Siau-hi-ji. Terlihat anak muda itu nongkrong di atas batu padas sana, meski perutnya sudah terisi Li-ji-hong yang tiada obat penawarnya serta didorong orang ke dalam gua yang jelas tiada jalan keluarnya, namun air muka anak muda itu tetap berseri-seri, sedikit pun tidak sedih, bahkan tampaknya sangat gembira malah.

Oh Yok-su lantas merangkak naik ke atas batu itu, ia coba bertanya, “Apakah engkau menemukan jalan keluarnya?”

“Kau lihat, gua ini mirip sebuah guci raksasa, perutnya sangat besar, bagian mulut sangat sempit, sekali pun cecak juga sukar merambat ke atas, dari mana ada jalan keluar?”

Oh Yok-su melengak, katanya pula, “Jika demikian, mengapa engkau bergembira?”

“Memangnya aku harus bersedih?”

“Kau…kau tidak sedih?”

“Apakah sedih dapat membantuku keluar dari sini? Jika dapat tentu sejak tadi-tadi aku bersedih.”

Oh Yok-su terdiam sejenak, tanyanya kemudian dengan ragu-ragu, “Obat penawar itu tentu sudah terendam basah, apa masih dapat digunakan?”

“Jangan khawatir, obat penawar kusimpan dengan baik, air tak dapat menembusnya,” jawab Siau-hi-ji.

Oh Yok-su berdehem dua kali, katanya pula dengan menyengir, “Kini Cayhe dan Hi-heng adalah senasib, kita sama-sama dirundung malang, mestinya sekarang Hi-heng dapat memberikan obat penawar itu.”

“Tidak boleh,” jawab Siau-hi-ji.

“Se…sebab apa?” tanya Oh Yok-su.

“Selama obat penawarnya belum kuberikan padamu, tentu kau akan tunduk kepada perintahku, andaikan anakku sendiri mungkin takkan penurut seperti kau sekarang. Nah, kan menyenangkan bila selalu didampingi seorang yang penurut, untuk apa kuberikan obat penawarnya padamu?”

“Tapi…tapi Cayhe…”

“Jangan khawatir, untuk sementara ini racun yang mengeram di tubuhmu takkan bekerja.”

Sudah barang tentu suara percakapan mereka sangat lirih, sebab suara di dalam gua yang geronggang begini mudah berkumandang keluar, apa lagi di dalam gua itu ada airnya, suara yang agak keras akan segera didengar orang yang berada di luar sana.

Tapi mereka pun tidak menyangka bahwa suara percakapan orang yang berada di luar sana dapat didengar dengan jelas di dalam gua. Gua ini memang mirip sebuah kotak kosong, setitik suara yang menyalur ke sini segera akan menimbulkan kumandang suara yang keras. Sudah tentu teori demikian belum dipahami orang di jaman dahulu.

Orang yang berada di atas sana karena mengira sekelilingnya tiada bayangan seorang pun, dengan sendirinya cara bicara mereka pun tidak pantang didengar orang, sama sekali tak terduga bahwa di balik dinding masih ada telinga.

Maka ketika mendengar Kang Giok-long membujuk rayu Thi Peng-koh dengan kata-kata manis, Siau-hi-ji hanya menggeleng kepala saja sambil menghela napas. Beberapa kali Oh Yok-su ingin bicara selalu distop olehnya.

“Ada sesuatu yang meragukan diriku dan tidak kupahami, ingin kuminta petunjuk padamu,” demikian Oh Yok-su berbisik.

Tapi Siau-hi-ji lantas mencegahnya bicara lebih lanjut, “Ssst, masih banyak waktu bagi kita untuk bicara, ada urusan apa boleh dirundingkan nanti saja. Sekarang coba kau dengarkan, betapa busuk keparat Kang Giok-long itu, nona Thi benar-benar sial sebel punya pacar begitu.”

Lalu mendadak terdengar suara jerit kaget Thi Peng-koh, selagi Siau-hi-ji heran apa yang terjadi atas nona itu, menyusul lantas terdengar pula seruan terkejut Kang Giok-long. Habis itu didengarnya percakapan antara Ih-hoa-kiongcu dan Kang Giok-long.

Oh Yok-su tidak tahu apa yang menyebabkan Siau-hi-ji melenggong, tapi ia pun tidak berani bertanya.

Selang sejenak, Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Kiranya Thi Peng-koh adalah murid Ih-hoa-kiong, pantas tempo hari ketika bertemu dengan Hoa Bu-koat diam-diam ia lantas mengeluyur pergi. Kalau ia murid Ih-hoa-kiong, maka ‘Tong-siansing’ dan ‘Bok-hujin’ itu pastilah samaran Ih-hoa-kiongcu, pantas juga Ih-hoa-kiongcu menyuruh Hoa Bu-koat harus tunduk kepada apa yang dikehendaki Tong-siansing dan Bok-hujin. Tapi Ih-hoa-kiongcu yang cukup disegani itu mengapa perlu menyamar sebagai orang lain?”

Advertisements

1 Comment »

  1. Makin seru aja ne cerita

    Comment by Firman — 24/02/2013 @ 12:47 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: