Kumpulan Cerita Silat

29/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (27)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:56 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (27)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

“Satu hal harus kau ingat, kalau kita ingin lekas tiba di Pek-cui-kiong, tenaganya kita butuhkan untuk penunjuk jalan.”

Akhirnya Po-giok menghela napas dan melepaskan pegangannya.

Berubah air muka Ban-lo-hu-jin, teriaknya keras “Aku harus menunjukkan jalan … Aku tidak tahu di mana letak Pek-cui-kiong”

“Kalau benar kamu tidak tahu letak Pek-cui-kiong, maka kamu ini manusia yang tidak berguna.”

“Tepat, nenek tua seperti diriku memang tidak berguna, sampai anak juga tidak mengakui diriku sebagai ibu kandungnya.”

“Orang yang tidak berguna hanya menghabiskan rangsum saja di dunia ini … kalau kamu orang pintar, coba kau pikir, bila benar kamu tidak berguna bagi kami, apa akan aku biarkan kamu hidup di dunia?”

Ban-lo-hu-jin sudah berdiri, mendadak ia jatuh lemas dan duduk di tanah, wajahnya pucat, “Aku … ”

“Di mana letak Pek-cui-kiong,” ucap Siau-kong-cu tertawa, “Sudah teringat olehmu?”

Mendadak Ban-lo-hu-jin membalik tubuh lalu berlutut dan menyembah, “Siau-kong-cu yang baik, ampunilah orang tua yang tidak berguna ini, kalau aku membawa orang ke Pek-cui-kiong, coba kau pikir, apakah aku bisa hidup?”

“Kalau tidak membawa kami ke sana, sekarang juga jiwamu melayang.”

“Ampun, ampun nona, aku tahu engkau orang baik, tidak akan memaksa orang tua … aku sudah tua, janda lagi, putra tunggal pun meninggalkan aku … ”

Sungguh luar biasa bahwa nenek tua yang gemuk ini ternyata mencucurkan air mata, menangis sedih.

Namun betapapun dia menangis sedih, betapa kasihan keadaannya, Siau-kong-cu hanya menatapnya dengan senyum dingin.

Ban-lo-hu-jin bicara sambil menangis, menangis sambil meratap. Tapi senyum yang menghias wajah Siau-kong-cu tidak pernah berubah.

Mendadak Ban-lo-hu-jin menyeka air mata, desisnya geram, “Budak busuk, apa benar aku tidak bisa membujukmu?”

Siau-kong-cu tertawa, “Boleh kau coba lagi.”

Air mata tidak bercucuran lagi, mendadak Ban-lo-hu-jin berdiri, “Baiklah, budak busuk, anggaplah aku yang kalah, boleh mengikuti aku saja.”

“Memangnya sejak mula kamu harus menyerah kalah.”

“Tapi perjalanan ini amat jauh dan lama, sepanjang jalan kalau ada kesempatan aku orang tua pasti melarikan diri. Nah, jangan harap kamu dapat membekukku lagi…”

“Jangan kuatir,” ucap Siau-kong-cu tertawa, “bila kau dapat lolos dari tanganku anggaplah kau yang lihai, aku tidak akan mencarimu lagi.”

“Baiklah, Aku percaya kamu tidak akan menjilat ludahmu sendiri.”

Dengan menegakkan kepala Ban-lo-hu-jin berjalan di depan dengan langkah lebar.

Diam-diam Po-giok mengangguk kepala, sekilas ia melirik lalu menghampiri Siau-kong-cu, “Terima kasih,” katanya lirih.

Siau-kong-cu melotot sekali, sikapnya seketika berubah, tawanya yang menghias bibir tadi seketika sirna tak berbekas suaranya juga dingin, “Buat apa terima kasih padaku? Apa yang kulakukan ini bukan untukmu.”

Po-giok melengong, “Tapi … tapi engkau … ”

“Mengantarmu ke Pek-cui-kiong adalah kewajibanku, kecuali itu antara kita sudah tiada sangkut-paut lagi. kau tidak usah berterima kasih padaku, aku pun tidak akan berterirna kasih kepadamu.”

“Tapi … tadi kau bilang …”

“Tadi? Hm, apa yang terjadi tadi sudah lalu, bukan saja kamu tidak mampus, aku juga tidak mati. Maka lupakan saja obrolan tadi.”

Mendadak ia putar tubuh mengejar Ban-lo-hu-jin yang sudah melangkah agak jauh.

Po-giok melengong di tempatnya, menyengir lucu, akhirnya ia geleng-geleng kepala.

Ban-lo-hu-jin terkenal licin dan licik, nenek buntak ini selalu membanggakan diri sendiri, tapi kali ini tergenggam di tangan Siau-kong-cu, dia benar-benar mati kutu. Padahal dia sudah gunakan segala kemampuannya tetap tidak mampu lolos dan tangan Siau-kong-cu.

Tengah malam, jelas ia lihat Siau-kong-cu sudah tidur pulas, tapi begitu dia membalik tubuh dan berdiri, kedua mata Siau-kong-cu segera terbuka dan mengawasinya.

Seolah-olah tali tambang yang tidak kelihatan membelenggu tubuhnya, sedikit dirinya bergerak, Siau-kong-cu lantas merasakan dan waspada.

Pagi harinya, Ban-lo-hu-jin ingin buang air besar.

“Silakan,” Siau-kong-cu berkata dengan tertawa.

Melihat Siau-kong-cu tidak mengikuti dia, diam-diam Ban-lo-hu-jin bergirang, begitu pintu kakus ditutup, bergegas ia lolos keluar lewat jendela belakang.

Siapa tahu Siau-kong-cu sudah menghadang di depannya, katanya tersenyum dengan menggendong tangan, “Wah, cepat amat!”

Kecuali tidur dan masuk kakus, Siau-kong-cu yang bermata bundar bening dan bercahaya itu seolah-olah selalu mengawasi dan mengikuti setiap gerak-geriknya.

Pernah Ban-lo-hu-jin sengaja putar kayun lewat perjalanan pegunungan yang jauh dan sukar.

Seperti sengaja dan tidak sengaja Siau-kong-cu bergumam sendiri, “Jalan pendek enak ditempuh hanya orang goblok yang cari jalan sukar dan putar kayun. Mau lari tidak bisa lari, kenapa membuang waktu dan tenaga, kan lebih enak langsung ke tempat tujuan, setiba di sana, siapa lagi yang akan merintangi dia pergi.”

Dua-tiga hari perjalanan lagi, akhirnya Ban-lo-hu-jin baru menyerah, tunduk lahir batin. Dengan tawa getir ia berkata, “Siau-kong-cu, lebih tepat kau jadi Siau-co-kong (kakek moyang kecil), selama hidup nenek belum pernah mengalah kepada orang lain, kali ini aku betul-betul menyerah kalah!”

“Ah, jangan terlalu memuji … Berapa lama lagi kita akan sampai di Pek-cui-kiong?”

“Kira-kira dua hari … ya paling lama dua hari lagi.”

Po-giok menimbrung, “Apakah Pek-cui-kiong di wilayah Tiong-goan?”

Dahulu engkau pun berada di sana,” sahut Ban-lo-hu-jin.

Po-giok menghela napas, “Berita yang tersiar di kang-ouw menggambarkan tempat itu amat misterius sehingga orang berkesimpulan bahwa Ngo-hing-mo-kiong berada di atas puncak suatu gunung malaikat di luar lautan … ”

“Lalu bagaimana kesanmu sekarang?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Sekarang … menurut hematku Ngo-hing-mo-kiong tidak lebih hanya merupakan bangunan yang mirip kelenteng yang tersembunyi di suatu pegunungan yang sukar ditemukan … mungkin juga bentuk bangunannya lebih megah dan mentereng di banding kelenteng umumnya.”

Lalu dengan tersenyum ia balas tanya, “Apa betul tebakanku?”

“Ada sementara benda atau bangunan di dunia ini yang biasa dan awam,” demikian ucap Ban-lo-hu-jin perlahan, “tapi setelah bentuk aslinya tersiar luas dari mulut ke mulut, lama kelamaan bertambah bumbu, lalu berubah menjadi misterius. Ditambah khayalan orang yang mendengarnya, maka persoalannya menjadi lebih menarik dan bukan mustahil akhirnya menjadi suatu legenda.

“Bukankah tadi aku sudah bicara demikan.” ujar Po-giok tertawa.

Akan tetapi sesuatu yang dikira hanya tumbuh dan ada dalam legenda itu juga secara nyata ada di dalam dunia fana ini. Kalau tidak kau saksikan sendiri semua kenyataan itu, betapapun sukar mempercayainya.

Tergetar hati Po-giok, “Apakah demikian halnya dengan Ngo-hing-mo-kiong?”

Ban-lo-hu-jin menjawab ogah-ogahan, “Kapan aku orang tua pernah bilang demikian?”

“Lalu … Ngo-hing-mo-kiong itu sebetulnya …”

“Kalau tiba saatnya akan kau hadapinya sendiri, buat apa sekarang buru-buru ingin tahu?”

“Aku hanya ingin …”

Senyum misterius menghias ujung bibir Ban-lo-hu-jin, “Sekarang lebih baik tiada sesuatu keinginan dalam benakmu, jangan pula kau pikirkan, apa pun yang akan terjadi, setelah kau lihat Ngo-hing-mo-kiong kau pasti akan terkejut.”

“Apa betul?” gumam Po-giok “benarkah terkejut …”

Seperti linglung Po-giok beranjak ke jendela, sesaat ia termenung lalu bergumam pula. “Sekarang … pihak Hwe-mo-sin pasti menyangka aku ingkar janji atau hilang, mereka pasti sibuk mencariku ke mana-mana … Sementara Thi-jan To-tiang dan lain-lalu setiba di Tai-bing-hu pasti ubek-ubekan mencari jejak anak buah Hwe-mo-sin. Mereka juga pasti tidak menduga bahwa diam-diam aku berangkat tanpa meninggalkan jejak.”

“Coba kau tebak apakah mereka mampu dan berhasil pergi ke Pek-cui-kiong?” demikian tanya Ban-lo-hu-jin.

“Wah, sukar dikatakan,” demikian ujar Po-giok sambil menghela napas panjang, “tapi kuharap mereka gagal ke tempat itu.”

Mendadak seorang berkata dengan tertawa sinis, “Kurasa kamu akan kecewa kalau menduga demikian.”

Waktu itu, mereka berada di sebuah hotel kecil di suatu desa yang terletak di kaki gunung. Malam sudah larut, jendela di kamar mereka masih terbuka, tak jauh di luar jendela adalah sebidang hutan bambu.

Suara tawa itu berkumandang dari dalam hutan bambu, tawa yang mengiriskan mereka yang bernyali kecil.

Bergegas Ban-lo-hu-jin lompat ke tepi jendela serunya, “Si … siapa di luar?”

Bukan hanya air mukanya berubah, suaranya juga gemetar.

Po-giok justru tersenyum, “Siapa dia, memangnya tidak bisa kau tebak?”

“Siapa? …. Siapa dia?” tanya Ban-lo-hu-jin.

Dengan menahan suara Po-giok membentak, “Hwe-mo-sin, tidak lekas keluar?”

Gelak tawa nyaring bergema dalam hutan bambu, “Pendengaran yang tajam … sungguh tajam telingamu.”

Di tengah gelak tawa yang menusuk pendengaran, seorang muncul dengan langkah santai di bawah penerangan bintang, sekujur tubuhnya ibarat gumpalan bara iblis yang menganga.

“Kebetulan sekali kau datang, aku … ”

“Apa yang kau ucapkan tadi semua salah,” demikian tukas Hwe-mo-sin dengan tertawa, “Sejak mula aku yakin kamu tidak akan ingkar janji dan tidak mungkin hilang, jadi aku tidak perlu susah payah mencari jejakmu.”

“Lalu .. dari mana kau tahu aku berada di sini?” tanya Po-giok heran.

“Ada Siau-kong-cu yang selalu mendampingimu, mana mungkin aku kehilangan jejakmu?” demikian kata Hwe-mo-sin, “memang kamu tak bisa menemukan aku, tapi setiap saat aku bisa menemukan kalian.”

Mendadak berubah air muka Po-giok matanya melirik ke arah Siau-kong-cu, “Ternyata … ternyata sepanjang jalan ini kau tinggalkan tanda rahasia.”

“Betul,” dingin suara Siau-kong-cu, “kenapa terkejut?”

“Aku … aku kira kau beri tahu padaku.”

“Beri tahu padamu? Kenapa aku harus memberi tahu padamu? Bukankah aku sudah bilang, ini kewajiban dan tanggung jawabku, kecuali itu antara kita tiada sangkut-paut urusan lain lagi.”

Agak lama Po-giok termenung, akhirnya ia menarik napas panjang, “Betul … akulah yang salah,”

“Hwe-mo-sin,” mendadak Po-giok menghardik “dalam hal apa kau bilang aku akan kecewa?” “Kamu berdoa semoga Thi-jan dan kawan-kawan gagal pergi ke Pek-cui-kiong, padahal mereka sejak lama sudah berangkat … malah sekarang mungkin …. ”

“Mereka sudah berangkat? Siapa yang memberi petunjuk kepada mereka?”

“Siapa lagi kalau bukan aku.”

“Kan … engkau ? Bukankah semula engkau tidak ingin mereka ke sana? Kenapa sekarang…”

Hwe-mo-sin menyeringai, “Kalau mereka bertekad mengantar kematian, apa susahnya aku bantu menyempurnakan harapan mereka … Hehe, sembilan anak buahku telah mereka bunuh secara kejam, walau aku tidak mampu menuntut balas, tapi tipu meminjam tenaga atau senjata orang lain untuk membunuhnya … hahaha … hahaha … ”

Po-giok berdiri diam di tengah gelak tawa orang seperti linglung.

Lama kemudian baru menggumam, “Apa salahnya kalau sudah ke sana?. Dengan bekal kungfu mereka … tempat mana di dunia ini yang bisa merintangi mereka? … Ke mana pun mereka pergi, pasti tidak mudah kecundang … apalagi dirugikan.”

Mendadak Ban-lo-hu-jin juga tertawa, “Sungguh menggelikan, sungguh menggelikan!”

“Apa yang menggelikan?” tanya Po-giok dengan muka masam.

“Orang lain tidak aku tertawakan, aku hanya tertawai dirimu,” jawab Ban-lo-hu-jin.

“Dalam hal apa aku mentertawakan?”

“Aku yakin kau tahu nasib mereka tentu amat jelek, umpama belum mati juga akan luka parah, tapi kamu pura-pura pikun, menipu diri sendiri untuk menghibur hati nan sedih.”

“Tapi aku bicara secara nyata,” bentak Po-giok.

“Nyata?” jengek Ban-lo-hu-jin, “Hehe, coba jawab pertanyaanku, bagaimana kemampuan Hwe-mo-sin, Bok-long-kun dan lain-lain dibandIng-Thi-jan dan kawan-kawannya? Kalau Hwe-mo-sin dan lain-lain terusir keluar seluruhnya, apalagi Thi-jan … ”

Belum habis Ban-lo-hu-jin bicara, mendadak Po-giok menerobos keluar lewat jendela, lompat ke hadapan Hwe-mo-sin, sekali raih dia rengut lengan orang, teriaknya, “Sudah berapa lama mereka berangkat ke sana?”

Hwe-mo-sin menyeringai, “Sudah berapa lama … sudah cukup lama. Umpama sekarang kau susul ke sana juga tidak keburu lagi.”

Bergetar tubuh Po-giok setelah terlongong sesaat lamanya, dia membentak, “Di mana sebetulnya letak Pek-cui-kiong? Sekarang boleh kau jelaskan bukan?”

Kalem suara Hwe-mo-sin, “Sekarang angkatlah kepalamu.”

perlahan Po-giok angkat kepalanya, tampak bintang bertaburan di angkasa dan bayangan puncak gunung di kejauhan sana, tanyanya, “Memangnya kenapa kalau aku angkat kepala?”

“Apa yang kau lihat?” tanya Hwe-mo-sin.

“Langit! Bintang … ”

“Masih ada yang lain?”

“Masih ada … gunung, mega … ” mendadak tergerak hatinya, “Apakah Pek-cui-kiong terletak di atas Thai-hang-san?”

“Ya, tidak salah,” Hwe-mo-sin mengangguk.

Po-giok berputar seperti hendak melayang ke atas gunung.

Tapi Hwe-mo-sin lantas berkata, “Bila seorang diri ke sana, umpama kau cari tiga-lima bulan juga tak bisa menemukannya.”

“Kenapa?” tanya Po-giok tidak mengerti.

Serius suara Hwe-mo-sin, “Meski di atas gunung dan di tengah mega yang tidak diketahui letaknya … namun Thai-hang-san merupakan lereng pegunungan yang panjangnya ratusan li, seorang diri menjelajah setiap puncak gunung, mungkin tiga-lima bulan pun tidak akan berhasil.”

Lalu dengan suara dingin ia menyambung, “Umpama sudah kau jelajah setiap puncak gunung itu juga belum tentu dapat menemukannya.”

Po-giok membanting kaki, “Kalau demikian kenapa tidak lekas kau bawa aku … ”

“Hai, berhenti!” mendadak Siau-kong-cu menghardik.

Diam-diam Ban-lo-hu-jin menggeremet mundur dan menyelinap keluar hendak melarikan diri. Katanya dengan menyengir, “Sudah ada Hwe … Hwe-kiong-cu yang menunjukkan tempatnya, nenek tua sudah selesai tugas.”

“Siapa bilang kamu boleh pergi,” bentak Siau-kong-cu.

“Lho, kan sudah ada penunjuk jalan, memangnya tenagaku masih diperlukan?”

“Pandanglah muka Ban-tai-hiap, biarlah dia pergi,” kata Pui-Po-giok.

“Betul, nona baik, bebaskanlah aku ini,” pinta Ban-lo-hu-jin dengan nada kasihan.

“Membebaskan engkau?” perlahan suara Siau-kong-cu, “supaya kau punya kesempatan lari ke Pek-cui-kiong untuk memberi kabar? … Supaya kau dapat menjebak kami di sepanjang jalan ini?”

Lalu dengan tertawa dingin ia menyambung “Kalau orang lain memang harus aku bebaskan, tapi terhadapmu … tidak bisa. Tingkah polamu terlalu banyak, ada-ada saja yang bisa kau lakukan, terpaksa harus selalu aku dampingi baru lega hatiku.”

Ban-lo-hu-jin mundur beberapa langkah dan duduk lemas di kursi, gumamnya, “Kenapa kau ingin mencelakaiku? … Kenapa ingin mencelakaiku?”

“Ini yang dinamakan karma, salahmu sendiri kenapa dulu sering mencelakai orang lain?”” demikian jengek Siau-kong-cu.

Ban-lo-hu-jin menghela napas mendadak ia meraup segenggam kacang lalu dijejalkan ke mulut. Sepanjang jalan setiap saku di badannya sudah terisi penuh berbagai makanan kesukaannya.

“Apa pula yang ingin kau katakan?” tanya Siau-kong-cu.

Sambil mengunyah kacang Ban-lo-hu-jin bergumam “Apa pula yang harus aku katakan? Anggaplah aku yang sebal berhadapan denganmu …. Aneh juga orang lain bila jengkel atau murung tentu tiada nafsu makan sebaliknya tatkala sedang murung atau gugup dan kuatir, aku justru ingin makan.”

******

Kabut tebal.

Di tengah kabut tebal itu Po-giok naik ke atas gunung pagi-pagi sekali, sejak di bawah gunung dia seperti sudah dibungkus oleh kabut tebal yang putih dan lembab.

Kini mereka sudah tinggi di puncak gunung, seperti di awang-awang, susah lagi membedakan mega atau kabut yang membungkus tubuh mereka?

Akhirnya Hwe-mo-sin mengundurkan diri, sebelum pergi ia berkata, “Aku tidak perlu ikut naik ke atas gunung, lebih tepat aku menunggu kabar gembira saja di bawah gunung.”

Walau ada Siau-kong-cu dan Ban-lo-hu-jin di sampingnya, tapi berada di puncak gunung yang tinggi dan diliputi mega yang tebal ini, perasaan Pui-Po-giok menjadi sepi dan hambar.

Namun di samping sepi dan hambar hatinya juga terharu dan berkobar pula semangatnya bila melepas pandang menghadapi gunung gemunung yang megah.

Mendadak ia berpaling dan bertanya, “Menuju ke mana lagi?”

Ban-lo-hu-jin juga seperti mabuk oleh keindahan alam semesta, sekenanya ia menuding ke atas

Po-giok mendongak memandang ke arah yang ditunjuk.

Hanya mega melulu. Ban-lo-hu-jin menuding gumpalan mega tebal di atas, mega yang putih.

Po-giok berkerut alis, “Apa tidak salah arah?”

“Tidak salah,” sahut Ban-lo-hu-jin.

“Tapi di sana tiada jalan, hanya mega melulu.”

Ban-lo-hu-jin mengunjuk senyum misterius, suaranya kalem, “Istana raja dalam dongeng, sepantasnya kan berada di puncak gunung yang dibungkus mega.”

“Puncak gunung di tengah mega? … ” seru Po-giok terbelalak.

“Betul, puncak gunung di tengah mega, seperti bergantung di awang-awang.”

Berubah air muka Po-giok, “Maksudmu Ngo-hing-kiong itu hanya ada dalam legenda seperti di tengah awang-awang?”

“Kosong adalah isi, tulen adalah palsu …”

“Nenek ini adalah gila, jangan percaya obrolannya,” demikian bentak Siau-kong-cu.

“Betul,” Ban-lo-hu-jin terloroh-loroh, “aku sudah gila … aku gila.”

“Tapi dalam keadaan dan situasi seperti ini, kamu tidak boleh gila, lekas … ”

“Jam berapa sekarang?” mendadak Ban-lo-hu-jin bertanya.

“Mungkin sudah lewat tengah hari,” sahut Po-giok.

“Hampir tiba … saatnya hampir tiba …. segera kau akan melihatnya.”

“Kapan?”

“Kalau belum tiba saatnya, gelisah juga tidak berguna.”

Habis bicara Ban-lo-hu-jin lantas duduk di tanah. Meski amat gelisah tapi Po-giok tidak bisa berbuat apa-apa. Waktu ia angkat kepala terasa gumpalan mega makin tebal.

Tapi dari tengah gumpalan mega putih itu, meski lambat tapi pasti muncul segumpal cahaya tujuh warna. Gumpalan warna itu makin besar dan benderang, berbagai jenis pemandangan indah dari puncak gunung yang mempesona, permai lagi semarak.

Tapi arah yang dituding Ban-lo-hu-jin tadi masih gelap diliputi gumpalan mega putih tebal.

Mendadak selarik sinar kuning emas yang terang menyobek ketebalan mega yang bergulung-gulung itu menembus dan menghancurkan pancaran cahaya tujuh warna itu.

Waktu Po-giok mengawasi tempat cahaya kuning emas itu seketika ia berjingkrak kaget. Sebuah jalan beranak tangga batu yang tidak terhitung banyaknya, secara ajaib muncul di tengah mega di bawah penerangan cahaya kuning emas itu tampak berkilauan menyilaukan mata.

Po-giok terlongong menghadapi pemandangan yang luar biasa ini, ia berdiri bagai linglung dan menahan napas.

“Haya … memang benar di sana,” Siau-kong-cu berteriak kaget.

“Itulah puncak di tengah mega … itulah keajaiban mega, sepanjang tahun puncak itu tersembunyi di tengah mega, setiap hari hanya muncul sekali dalam waktu sekejap saja.”

“Aneh sungguh ajaib … sungguh menakjubkan,” Po-giok menarik napas panjang.

Ban-lo-hu-jin bergumam, “Sekarang kau percaya bukan, di dunia ini ada sesuatu yang mendekati dongeng, betapa besar kekuatan yang Maha Kuasa menciptakan alam semesta ini, orang-orang pintar seperti kalian juga tidak dapat membayangkannya.”

Mengawasi puncak di tengah mega, anak tangga yang berkilauan ditimpa cahaya kuning, tanpa sadar Po-giok berdiri diam hingga sekian lama tanpa bergerak.

Sementara itu, cahaya kuning yang semula benderang itu sudah mulai redup dan guram.

Mendadak Ban-lo-hu-jin melompat bangun, teriaknya keras, “Kalau ingin naik lekas ke atas, dalam sekejap saja anak tangga itu tidak kelihatan lagi dan tertutup awan.”

Tempat Po~giok berdiri sebetulnya sudah di pucuk gunung.

Tapi puncak di tengah mega itu ternyata lebih tinggi lagi. Mengikuti Ban-lo-hu-jin Po-giok dan Siau-kong-cu sudah berjalan hampir satu jam, melewati hutan yang menyesatkan, memasuki lembah dan melampaui puncak terjal. Lalu anak tangga yang mirip lukisan itu mendadak muncul di depan mata.

Anak tangga batu yang tidak terhitung jumlahnya.

Po-giok kerahkan segala kemampuannya, namun sukar melihat jelas puncak di atas. Puncak gunung yang dibungkus mega itu seperti mencakar langit.

Di depan anak tangga batu terdapat sebuah pintu yang terbuat dari batu hijau, pada daun pintu berukir huruf merah yang berbunyi “Tangga langit ke puncak sesat.”

Setiba di sini kelakuan dan sikap Ban-lo-hu-jin tampak berubah secara drastis, berubah seperti seorang lain. Dengan menunduk kepala ia mulai menaiki anak tangga, setiap langkahnya amat berat seperti diganduli beban ribuan kati.

Anak tangga itu licin, kedua sisinya dipagari tetumbuhan aneka ragam dan belum pernah dilihat oleh Po-giok maupun Siau-kong-cu.

Puluhan undakan kemudian, di antara semak rumput tampak berserakan kutungan pedang, golok, tulang manusia dan senjata lain.

Anehnya tetumbuhan di sini tumbuh subur dengan warna yang ragam, hitam kelam, sebaliknya nama tulang-tulang manusia itu putih menyolok.

Dengan suara gemetar Ban-lo-hu-jin bergumam, “Sudah kau lihat? Mereka adalah orang-orang yang berangan-angan masuk ke Pek-cui-kiong. Ketahuilah nama besar dan kedudukan para korban itu pada masa hidupnya pasti tidak kalah dibanding Pui-Po-giok sekarang.”

Po-giok mengerut kening, “Apakah di sini tidak dapat mengebumikan … ”

“Kenapa harus dikebumikan, biar berserakan untuk tontonan orang-orang yang tidak tahu diri supaya mereka mundur teratur … padahal umpama kau tahu diri dan mau mundur dari sini juga jangan harap dapat turun dengan selamat.”

“Kurasa belum tentu, kalau sekarang aku putar balik, siapa yang tahu?” ucap Po-giok.

“kau kira orang macam apa Pek-cui-nio itu? Beliau adalah tokoh yang serba bisa, tiada sesuatu yang tidak bisa dilakukannya, tiada sesuatu yang tidak diketahuinya. kau kira setelah ada di sini tiada orang tahu kedatanganmu, padahal sejak timbul niatmu datang kemari beliau sudah mengikuti gerak-gerikmu,”

Mendadak Po-giok terbahak-bahak, “Agaknya omonganmu itu bukan ditujukan kepadaku saja. kau tahu membawa orang kemari adalah suatu dosa, maka kamu berusaha menjilat pantat, dengan harapan dia mendengar omonganmu, adalah … ”

“kau kira beliau tidak mendengar?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Dia bukan malaikat dewata, mana mungkin mendengarnya kukira usahamu akan sia-sia belaka … ”

Belum habis Po-giok bicara, mendadak didengarnya seorang berkata, “Dalam hal ini kau lah yang keliru.”

Suaranya lirih, lembut lagi merdu namun jelas dan tajam. Padahal di sekeliling tiada orang lain kecuali mereka bertiga, namun suara itu seperti mengiang di samping telinga.

Kini Po-giok betul-betul terperanjat, cepat ia berhenti.

Suara itu berkata pula perlahan, “Kamu sudah takut bukan? Tidak berani naik ke atas?”

Kalau Po-giok berdiri diam di tempatnya, sebaliknya Ban-lo-hu-jin sudah berlutut dan menyembah.

Maklum, di atas tangga langit yang dibungkus mega, suara lembut itu seperti memiliki daya gaib yang membuat orang lupa daratan.

Tapi bukan rasa takut atau hormat yang menghias wajah Po-giok, ia justru bersikap haru, bergairah dan maklum, seperti sudah tahu duduk persoalannya.

Terdengar suara itu berkata pula, “Ban-Ui-eng, angkat kepalamu.”

Ui-eng adalah nama Ban-lo-hu-jin waktu masih perawan.

Ban-lo-hu-jin tidak ingin angkat kepala, tapi dia tidak berani tidak angkat kepala.

“kau tahu apa dosamu?” bentak suara itu pula.

Gemetar suara Ban-lo-hu-jin, “Kutahu dosaku … aku tidak boleh membawa orang kemari .. mohon engkau orang tua mengampuniku … ampuni diriku.”

“Mengampunimu?” desis suara orang itu geram.

Ban-lo-hu-jin mengangguk hingga jidatnya membentur tangga batu, suaranya gemetar lagi serak, “Ampunilah aku … aku sudah tua, tidak berguna, aku hanya seekor anjing tua yang tidak berguna lagi, tiada artinya engkau orang tua membunuhku.”

Ratapan Ban-lo-hu-jin bergema cukup lama tanpa memperoleh reaksi.

Agak lama kemudian baru suara itu berkumandang pula, “Ya, enyahlah kau ! Orang macammu memang tidak setimpal kubunuh.”

Ban-lo-hu-jin kegirangan, “Terima … terima kasih atas kemurahan hatimu.”

Suara itu berkumandang lagi, “Tapi setelah turun gunung kamu harus terus berjalan dan tidak boleh berhenti! Tidak boleh menoleh, menyingkir jauh keluar lautan, sebelum berlayar dilarang bicara meski hanya sepatah kata saja.”

Ban-lo-hu-jin menyembah berulang-ulang sambil mengiakan.

Kini suara itu, lebih kalem, “Sepatah kata saja berani kau bicara pasti kutahu, bila masih berani tinggal di Tiong-toh, aku pun akan tahu waktu itu ingin mati pun jangan harap lagi.”

Tenggorokan Ban-lo-hu-jin terasa kering lidah pun kelu, sekuat tenaga ia berusaha menjawab, tapi sepatah kata pun tidak mampu bicara, yang terdengar hanya suara mirip rintihan binatang buas yang kesakitan.

“Baiklah, enyah kau !”

Ban-lo-hu-jin lompat berdiri, tanpa menoleh bergegas ia lari turun ke bawah, melirik pun tidak berani ke arah Po-giok atau Siau-kong-cu, entah senang atau karena ketakutan, langkahnya yang gugup itu menjadi lemas, jadi turunnya itu bukan lagi lari tapi menggelinding ke bawah.

Mendadak suara itu memanggil dengan suara lebih perlahan, “Pui … Po … giok!”

Baru sekarang Po-giok tersentak kaget, sahutnya “kau … kau kenal diriku?”

Suara itu tertawa, “Sudah tentu aku mengenalmu meski masih jauh ribuan li, aku sudah tahu kau pasti datang, segala persoalan tak mungkin bisa mengelabui aku apa kamu kejut?”

Suara yang misterius itu untuk pertama kali tertawa riang dan bangga.

Siau-kong-cu yang juga perempuan sampai kesengsem mendengar tawa yang merdu itu.

Po-giok menghela napas, “Agaknya engkau memang orang luar biasa.”

“Kalau sekarang kau putar balik masih kuberi kesempatan,” demikian kata suara itu.

“Apa benar? Kukira sudah tidak keburu lagi,” sahut Po-giok tertawa.

“Coba angkat kepalamu.”

Waktu Po-giok angkat kepala, dilihatnya tak jauh di depan ada sebuah pintu besar yang menggantung tinggi di atas, langit-langit yang berbentuk bundar itu tampak megah dan cemerlang, indah mempesona.

Di atas pintu itu berukir beberapa huruf yang berbunyi, “Sekali masuk pintu ini akan menjadi manusia pada penitisan yang akan datang.”

“Sudah kau lihat jelas?” tanya suara itu.

“Huruf-huruf segede itu, masa tidak aku lihat jelas?” sahut Po-giok tertawa.

“kau masih berani masuk?”

“Kalau tidak berani, aku tidak akan naik kemari.”

Suara itu menghela napas, “Kuharap kamu tidak menyesal nanti.”

Lalu suara itu pun sirna secara aneh, tidak terdengar lagi.

Po-giok menoleh ke arah Siau-kong-cu, lalu melangkah lebar ke sana.

Po-giok maklum sekali dirinya memasuki pintu gerbang itu, umpama dapat pulang dengan hidup, nasib dirinya selama ini juga pasti akan berubah, atau mungkin akan menitis kembali jadi manusia pada penjelmaan lain.

Tapi dia melangkah lebar sambil membusungkan dada, tidak ragu, tanpa curiga.

*****

Rasa takut Ban-lo-hu-jin terhadap majikan Pek-cui-kiong boleh dikatakan sudah meresap tulang sumsum.

Nenek buntak ini memang tidak berani berhenti meski hanya selangkah juga tidak berani menoleh, dia terus berjalan, sampai tidur dan istirahat juga tidak berani, rasa takut bagai pecut yang selalu menghajar tubuhnya.

Kekuatan rasa takut itu terkadang memang dapat mengalahkan segala rintangan.

Setiba di kota Ki-ho, keadaannya boleh dikata sudah tidak keruan.

Ki-ho adalah satu kota di tepi sungai Kuning, di sana ada dermaga yang cukup besar, dari sini berlayar ke lautan hanya memerlukan waktu beberapa hari, maka kapal-kapal yang berlabuh di sini cukup banyak dan ramai.

Tongkat panjang Ban-lo-hu-jin sudah hilang entah di mana.

Kini tongkatnya berganti sebatang dahan pohon, dengan langkah limbung ia menuju ke dermaga. Sinar matanya pudar, wajah kuyu dan kurus pakaian dekil rombeng.

Mungkin jarang orang mengenal lagi siapa nenek yang kurus pendek dan kotor ini, padahal di kalangan Bu-lim ia terkenal sebagai Ban-lo-hu-jin yang banyak akal bulusnya.

Memang Ban-lo-hu-jin juga tidak ingin ada orang mengenalnya.

Seorang laki-laki kekar dengan telanjang dada sedang berkaok-kaok di dermaga, “Makan harus makan nasi putih, naik perahu harus pilih yang aman … ayolah tuan-tuan yang ingin pergi ke ibu kota provinsi, Ki-yang atau Ceng-seng, lekas naik perahu ‘damai’ ini.”

Di sampingnya seorang anak muda juga ikut berkaok-kaok, “Inilah perahu yang mendapat giliran terakhir, siapa terlambat harus tunggu tiga hari lagi.”

Dengan langkah sempoyongan Ban-lo-hu-jin menghampiri. Dia tidak mau jalan kaki, sebab dia tidak kuat berjalan lagi.

Laki-laki kekar itu angkat sebelah tangan dan menahannya, “He, nenek tua, mau apa kau ?” Ban-lo-hu-jin geleng-geleng kepala, ia tidak berani bicara, selalu merasa dirinya di awasi sepasang mata yang tajam di belakangnya.

Lelaki si empunya perahu menjengek, “Orang seperti dirimu juga ingin naik perahu? Ketahuilah ongkos perjalanan ini tidak akan mampu kau bayar, aku yang dikenal sebagai ‘bunga dalam ombak’ ini tidak pernah beramal terhadap siapa pun.”

Ban-lo-hu-jin geleng-geleng lalu mengangguk.

Tukang perahu itu menjadi gusar, “Nenek busuk, dengar tidak omonganku? Ayo menyingkir!” tangan kirinya yang kekar dan kasar itu terulur mendorong Ban-lo-hu-jin.

Dengan tatapan dingin Ban-lo-hu-jin mengawasi tangan orang, bila tangan ini menyentuh bajunya mungkin tangan ini takkan bisa bergerak lagi selamanya.

Pada saat itulah, naluri Ban-lo-hu-jin bicara mendadak seorang sudah berada di belakangnya.

Padahal banyak orang berkerumun di dermaga, tapi orang yang berada di belakangnya ini jelas berbeda dengan orang awam yang berada di dermaga ini.

Secara refleks Ban-lo-hu-jin pura-pura kaget dan terpeleset sehingga tubuhnya doyong ke samping. Sudah tentu tukang perahu mendorong tempat kosong, dengan kaget ia mengawasi nenek kumal ini.

Pada saat tubuh sempoyongan itulah sekilas sempat Ban-lo-hu-jin melirik ke belakang.

Tampak orang di belakangnya ini bertubuh tinggi besar, gagah lagi kereng, memakai topi rumput yang lebar dan tertekan rendah menyentuh alis, pakaiannya berwarna merah gelap dan panjang hampir menyentuh tanah.

Walau berdiri tidak bergerak, namun wibawanya membuai ciut nyali orang banyak di sekitarnya semua menunduk atau melengos ke arah lain.

Sekilas pandang Ban-lo-hu-jin lantas kenal orang ini.

Kong-sun Ang. Laki-laki gede ini adalah Thian-liong-gun Kong-sun Ang.

Walau caping bambu menutup muka, berpakaian merah gelap yang berbeda dengan dandanannya waktu pertemuan Thai-san namun wibawa dan keperkasaannya tetap tidak berubah, gerak-geriknya juga tidak bisa mengelabui orang.

Ban-lo-hu-jin juga menunduk kepala.

Kong-sun Ang hanya memandangnya sekejap, agaknya ia pun tertarik oleh gerakan Ban-lo-hu-jin yang pura-pura terpeleset tadi, sebagai seorang ahli dia lihat gerak-gerak nenek kumal ini tidak sembarangan.

Tapi Kong-sun Ang agaknya sedang dirunding persoalan, hati kesal dan pikiran pepat, maka ia tidak memedulikan urusan lain, dia hanya melirik dengan pandangan heran lalu tidak peduli lagi.

Tukang perahu menyambut maju, “Tuan ini apa mau naik perahu?”

“Ya,” sahut Kong-sun Ang.

Mendadak seperti teringat sesuatu, kembali ia berkata, “Jangan bikin susah nenek ini, ongkos perahunya akulah yang bayar.”

Perahu ini belum terlalu tua, namun dibangun secara kukuh, keadaan dalam kabin amat sederhana, kedua sisi mepet dinding dipasang dua bangku panjang untuk tempat duduk.

Bangku panjang ini hampir tidak berfungsi, penumpang lain lebih suka menggelar tikar dan tiduran di lantai. Hanya Kong-sun-Ang sendiri duduk di bangku panjang itu, tubuhnya yang besar duduk laksana menara besi.

Ban-lo-hu-jin tertatih-tatih naik ke atas perahu waktu lewat di depan Kong-sun Ang, dengan takut-takut ia membungkuk hormat kepadanya, sampai sekarang ia masih belum bicara sepatah kata pun.”

Kong-sun Ang memandangnya sekali lagi, ia hanya mengangguk.

Ban-lo-hu-jin duduk dipojok dengan tubuh meringkel.

Beberapa penumpang naik lagi, tapi tukang perahu belum puas, berusaha menarik penumpang sebanyak mungkin.

Agaknya Kong-sun Ang tidak sabar lagi, mendadak ia berkata lantang, “Lekas berangkat saja, nanti aku bayar kekurangannya.”

Setelah didesak akhirnya perahu itu pun berlayar.

Penumpang sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi Kong-sun Ang tetap duduk dengan gaya semula, tidak ada orang berani menegur sapa padanya, agaknya dia pun ogah bicara, yang terang alisnya bertaut, pandangannya hampa, melamun.

Ban-lo-hu-jin selalu memperhatikan gerak-geriknya, dalam hati ia heran, “Ke manakah dia ingin pergi? Ada persoalan apa yang membuatnya risau?”

Perahu itu bergerak secara lambat karena berlayar melawan arus, dari pagi hingga sore, baru belasan li ditempuhnya, tukang perahu bekerja keras untuk mengendalikan perahunya.

Ibarat gerobak yang sarat muatan berjalan tersayat-sayat, demikian pula keadaan perahu ini kadang-kadang oleng ke kanan, tiba-tiba miring ke kiri.

Waktu perahu oleng ke kiri jarak dengan darat kira-kira ada tiga tombak lebih.

Dari atas darat mendadak meluncur seutas tambang panjang, seperti bermata saja ujung tambang itu membelit tonggak di depan perahu.

Tukang perahu kaget, teriaknya dengan tegang, “Siapa? Mau apa?”

Tidak ada suara dari daratan, namun perahu itu tertarik minggir.

Kalau tidak bertenaga besar mana mampu menarik perahu itu ke pinggir.

Bukan hanya tukang perahu yang gugup, para penumpang juga ikut ribut. Tapi apa yang bakal terjadi, tiada seorang pun tahu.

Diam-diam Ban-lo-hu-jin melirik pula ke arah Kong-sun Ang, dilihatnya orang masih duduk tak bergerak, tapi air mukanya mulai berubah.

Perahu akhirnya mepet daratan.

Mentari hampir terbenam, kini orang banyak dapat melihat jelas yang menarik perahu adalah belasan laki-laki bertubuh kuat. Di tengah kawanan laki-laki yang garang dan buas itu muncul dua gadis cantik laksana bunga mekar, berpakaian merah dan hijau pupus, lesung pipit menghias pipi mereka.

Anehnya kedua gadis ayu ini masing-masing membawa nampan. Kalau nampan yang satu bertaruh sebuah poci arak, sementara nampan yang lain berisi satu cangkir porselin.

Walau tukang perahu dan penumpang lain merasa gusar dan kaget, tapi rasa takut membuat mereka tidak berani banyak omong.

Perhatian semua orang tertuju kepada kedua gadis cantik itu, dengan langkah lembut mereka maju ke depan, entah cara bagaimana bergeraknya tahu-tahu sudah melompat ke atas perahu.

Gadis baju merah tertawa manis, “Tidak apa-apa, kalian tidak perlu gugup dan takut.”

Gadis baju hijau juga tertawa, “Kedatangan kami hanya untuk menghaturkan secangkir arak kepada seorang tamu.”

“Setelah menghaturkan arak, kalian boleh melanjutkan perjalanan,” demikian gadis baju merah menambahkan.

Suara mereka begitu lembut dan merdu, senyum tawanya juga mempesona. kalau orang banyak tadi kaget dan gusar, kini mereka hanya berdiri melongo.

Ban-lo-hu-jin yang meringkuk di pojok menjadi gemetar begitu melihat kedua gadis ini, kepala segera dia benamkan ke tengah kedua lututnya.

Dia kenal kedua gadis ini bukan lain adalah murid Ong-toa-nio. Yang berbaju merah itu dulu melayani To-pit-hiong Hi-Hiong, sementara si baju hijau itu teman tidur Lu-Hun.

Agaknya kedua gadis itu tidak memperhatikan seorang nenek kumal yang meringkuk di pojokan. Kerlingan mata mereka yang genit tertuju kepada Kong-sun Ang.

Gadis baju merah berkata, “Bagus sekali Kong-sun-tai-hiap memang berada di sini.”

Wajah Kong-sun-Ang kaku dan tenang, perlahan ia berdiri.

perlahan kedua gadis itu maju menghampiri.

Tamu-tamu yang ada dalam kabin bergerak menyingkir dengan gugup.

Suara Kong-sun Ang berat, “Apakah nona berdua … ”

Gadis baju merah tidak memberi kesempatan Kong-sun Ang bicara, dengan tertawa ia menukas, “Kong-sun-tai-hiap tidak usah curiga, kedatangan kami sedikit pun tidak bermaksud jahat.”

Gadis baju hijau juga berkata, “Guruku berpendapat kata-kata Kong-sun-tai-hiap memang dapat dipercaya, tidak malu diagulkan sebagai ksatria sejati kaum persilatan, oleh karena itu …. ”

Gadis baju merah menimbrung. “Maka kami berdua diutus kemari untuk menyampaikan secangkir arak sebagai pengantar, semoga Kong-sun-tai-hiap selamat dalam perjalanan.”

Lalu ia angkat poci dan mengisi secangkir arak penuh.

Dengan tajam Kong-sun Ang mengawasi arak wangi berwarna ungu dalam cangkir, sorot matanya menampilkan rasa duka nestapa, agaknya hatinya mandek dan perasaan pun beku.

“Inilah cangkir yang pertama,” ucap gadis baju merah, “aku haturkan dengan ucapan semoga Kong-sun-tai-hiap selamat dalam pelajaran, juga sebagai penghargaan kepada Kong-sun-tai-hiap yang dapat dipercaya kata-katanya, engkau memang laki-laki sejati!”

Dengan dua tangan gadis baju hijau menghaturkan arak, “Silakan minum Kong-sun-tai-hiap.”

Sesaat Kong-sun Ang tampak bimbang, namun akhirnya ia raih cangkir itu dan ditenggaknya habis.

“Sungguh menyenangkan,” puji gadis baju hijau “Kong-sun-tai-hiap agaknya juga jago minum.”

Gadis baju merah mengisi pula secangkir penuh, “Cangkir kedua ini untuk menghibur Kong-sun-tai-hiap supaya tidak berduka atau merana, dengan bekal dengan bekal kungfu yang hebat, kuyakin di luar lautan Kong-sun-tai-hiap dapat bekerja secara gilang gemilang.”

Lalu dengan tawa genit menambahkan, “Meski dikalahkan oleh guruku, tapi aku percaya kekalahan ini tidak akan membuat Kong-sun-tai-hiap patah semangat. Betapa banyak orang gagah ternama yang pernah dikalahkan oleh guruku, kekalahan mereka malah jauh lebih mengenaskan dibanding Kong-sun-tai-hiap.”

“Ya, memang begitu … silakan Kong-sun-tai-hiap.”

Berkeretukan gigi Kong-sun Ang saking menahan geram, namun terpaksa ia minum juga , cangkir kedua.

“Cangkir ketiga aku haturkan untuk memuji kecerdikan dan kepandaian Kong-sun-tai-hiap. Kalau Kong-sun-tai-hiap tidak memenuhi janji dan menjilat ludahnya sendiri, tetap tinggal dan berkecimpung dalam Bu-lim di wilayah Tiong-toh, maka … ”

Dengan cekikik geli mendadak ia menghentikan kata-katanya. Gadis ini bicara dengan senyum dikulum, senyum yang dapat merontokan hati laki-laki, namun sindirannya juga cukup menusuk perasaan orang.

“Kurasa Kong-sun-tai-hiap amat beruntung, “demikian ujar gadis baju hijau, terus terang orang yang pernah dikalahkan guruku dan dapat
hidup tidak banyak jumlahnya, maka adalah pantas kalau aku suguh lagi secangkir.”

Dengan lenggak-lenggok ia menghaturkan lagi secangkir arak.

Sejak gadis ini bicara, air muka Kong-sun Ang sudah berubah. Sorot matanya yang melotot seperti hendak menyemburkan bara, jari-jari tangan pun terkepal erat.

Tapi kedua gadis itu sedikit pun tidak takut atau gentar, dengan mengulum senyum manis, mereka mengawasinya seperti tidak tahu kalau Kong-sun Ang sedang gusar.

Akhirnya Kong-sun Ang menarik napas panjang lalu mengendurkan urat syarafnya dan menghabiskan lagi secangkir arak.

“Bagus,” puji gadis baju merah, “masih ada cangkir keempat … ”

Wajah yang semula berseri mendadak sirna dan berubah menjadi kelam dan masam, lirikan matanya juga setajam pisau perlahan ia berkata dengan nada tinggi, “Cangkir keempat aku haturkan kepada Kong-sun-tai-hiap, dengan harapan semoga tidak kembali lagi be Tiong-toh.”

“Sebetulnya kebaikan apa sih dalam Bu-lim-di Tiong-toh,” demikian timbrung gadis baju hijau, “tapi kalau ada orang berani pulang dengan mempertaruhkan jiwa, kukira hanya sia-sia pengorbanannya, betul tidak?”

Dada Kong-sun Ang naik turun menahan gejolak perasaannya, suaranya gemetar, “Baik … baik, tolong kalian sampaikan kepada gurumu, katakan bahwa Kong-sun Ang malu kembali lagi ke Tiong-toh. Kalau Kong-sun Ang menjilat ludah dan ingkar janji …. ”

Mendadak ia raih cangkir di atas nampan sekali tenggak habis isinya lalu membanting cangkir ke lantai hingga hancur, ia mengawasi cangkir yang hancur itu dan berkata dengan nada bergetar, “Kalau kembali lagi, diriku akan seperti cangkir ini.”

Gadis baju merah tertawa lebar, serunya dengan berkeplok, “Bagus, memang laki-laki sejati!”

Mendadak ia memeluk leher Kong-sun Ang, lalu mencipuk pipinya dua kali, katanya dengan tawa genit, “Inilah persembahanku pribadi untuk Kong-sun-tai-hiap, bukankah persembahanku ini lebih memabukkan dibanding arak?”

Gadis baju hijau berdiri lalu memberi hormat, “Baiklah, kami mohon diri.”

Dengan menggoyang pinggul kedua gadis jelita melangkah keluar tanpa menoleh lagi.

Seluruh orang yang ada di dalam kabin terpesona melihat pinggul kedua gadis yang megal-megol itu.

******

Kapal itu akhirnya berlayar melanjutkan perjalanan.

Dari sana sini sayup-sayup berkumandang tawa dan senandung gadis-gadis cantik itu.

Kong-sun Ang dengan perawakannya yang gede kekar tetap duduk di tempatnya, namun mendengar senandung itu, tubuhnya tampak gemetar.

Ternyata Ban-lo-hu-jin juga bergetar tubuhnya. Baru kini ia tahu bahwa Kong-sun Ang sudah dikalahkan oleh Ong-toa-nio, dapat diduga sebelum mereka berduel tentu sama bersumpah, “Yang kalah harus meninggalkan Tiong-toh, selamanya tidak kembali.”

“Tamatlah sudah,” demikian batin Ban-lo-hu-jin “betapa lihai kepandaian Kong-sun Ang ternyata juga dikalahkan Ong-toa-nio, terpaksa ia harus berlayar keluar lautan …”

“Kungfu iblis perempuan itu ternyata makin tinggi, rase cantik anak buahnya juga tidak boleh diremehkan peranannya … Ai, selanjutnya kaum Bu-lim tidak akan dapat hidup damai lagi.”

Suasana dalam kabin yang semula ramai menjadi hening dan dingin. Tanpa banyak keributan kapal itu tiba di ibu kota provinsi Ki-lam dan langsung menuju ke Ki-yang, setiap kali berlabuh sudah tentu tidak sedikit penumpang yang naik turun.

Tapi Kong-sun Ang tetap duduk kaku, seperti petang tidak pernah bergerak.

Tengah malam, kapal itu berlabuh di Ceng-shia.

perlahan Kong-sun Ang menghela napas, sementara itu penumpang kapal yang lain sudah meringkuk di tempat masing-masing. Kong-sun Ang membuka mantel yang menutup pundaknya. Tampak oleh Ban-lo-hu-jin, ternyata Kong-sun Ang terluka di bagian pundaknya lukanya dibalut kain putih yang berlepotan darah.

Wajah Kong-sun Ang tampak kuyu dan tersiksa, perlahan ia membuka balut kain putih, mengeluarkan bubuk obat dan membubuhi lukanya. Yang sakit bukan luka-lukanya, tapi hatinya.

Malam makin larut, suasana tenang dan sepi hanya terdengar dengkur orang dan gemercik air sungai. Halimun membungkus jagat raya kapal bergoyang dihembus angin lalu.

Di tengah penerangan lampu yang guram, mendadak dalam kabin bertambah sesosok bayangan orang.

Orang ini mengenakan caping lebar dengan mantel ijuk menutup tubuh, lagaknya mirip nelayan umumnya.

Tapi dari badan nelayan yang satu ini terasa membawa hawa keangkuhan dan wibawa. Ban-lo-hu-jin dan Kong-sun Ang sama tergetar.

Cepat sekali Kong-sun Ang menutup luka-lukanya dengan mantel kulit.

Tampak caping rumput orang ini ditekan lebih rendah dari topi Kong-sun Ang, cahaya lampu yang guram itu bergoyang wajah yang terbenam di bawah caping itu tidak begitu jelas.

Hanya sepasang bola matanya yang memantulkan sinar mirip mutiara. Bola mata yang bersinar itu berputar, akhirnya menatap tubuh Kong-sun Ang.

Sengaja Kong-sun Ang melengos ke arah lain tidak mau memandangnya. Bila pandangan Kong-sun Ang kembali ke arah orang, maka orang ini sudah duduk di hadapannya.

Cahaya lampu yang guram menyorot miring dan kebetulan menerangi separo wajahnya.

Jantung Ban-lo-hu-jin kembali berdegup keras.

Bwe-Kiam! Orang ini ternyata Thian-to Bwe-Kiam.

Sudah tentu Ban-lo-hu-jin kaget lagi heran, tidak habis mengerti. Kenapa Bwe-Kiam juga berada di kapal ini? Apa dia juga terusir keluar lautan?

Bwe-Kiam memandang tajam muka Kong-sun-Ang.

Kong-sun Ang justru menekan topinya lebih rendah hampir menutupi selebar mukanya.

Di antara sekian penumpang kapal yang tidur lelap hanya dia orang yang tetap duduk tegak hanya mereka yang memperlihatkan gaya dan wibawa yang berbeda dengan kebanyakan orang yang ada dalam kabin kapal itu.

Walau kedua orang yang berhadapan ini tidak bergerak namun secara langsung wibawa mereka seperti bentrok secara langsung.

Mengawasi kedua orang ini, diam-diam Ban-lo-hu-jin membatin, “Nah, aku akan menonton keramaian gratis, semoga keramaian ini tidak melibatkan aku si nenek tua ini.”

Halimun makin tebal, cahaya lampu tambah guram.

“Kong-sun-tai-hiap.” mendadak Bwe-Kiam menyapa sambil memberi hormat.

Kong-sun Ang diam saja, kepala juga tidak terangkat, sesaat kemudian baru ia angkat kedua tangannya membalas hormat sambil menyapa juga, “Bwe-tai-hiap.”

“Syukurlah Kong-sun-tai-hiap masih mengenalku,” demikian ucap Bwe-Kiam.

Kira-kira sepeminum teh kemudian baru Kong-sun Ang berkata dingin, “Ternyata Bwe-tai-hiap juga mengenalku.”

“Thian-liong-gun tiada bandingannya di jagat raya, siapa tidak mengenalnya,” demikian puji Bwe-Kiam.

Sampai lama Kong-sun Ang tetap diam, tidak memberi reaksi.

Meski cukup sabar, Bwe-Kiam tidak tahan lagi, setelah batuk-batuk tiga kali ia berkata lagi, “Sejak berpisah di Thai-san, hingga kini sudah satu bulan.”

Kong-sun Ang menarik napas dalam, suaranya perlahan, “Ya, benar.”

“Setelah pertemuan di Thian-san usai, para pendekar pun bubar. Waktu itu aku menduga untuk bertemu dan menyaksikan keperwiraan Kong-sun-tai-hiap tentu sangat sulit, siapa tahu kita bertemu lagi di sini.”

“Ehm,” Kong-sun Ang bersuara dalam kerongkongan.

Mendadak Bwe-Kiam tertawa, “Kalau untuk bertemu saja sukar, mau-tidak-mau aku merasa amat sayang.”

Setelah diam cukup lama, akhirnya Kong-sun Ang bertanya, “Apanya yang dibuat sayang?”

Kali ini Bwe-Kiam justru tutup mulut, tidak mau menjawab.

Kong-sun Ang duduk mematung, tidak tanya lagi.

Kelihatannya kedua orang ini tidak gugup, tidak buru-buru, justru Ban-lo-hu-jin yang menonton di samping merasa tidak sabar menunggu, ingin rasanya ia rengut rambut kedua orang ini dan menyuruh mereka lekas bicara.

Makin larut malam, halimun makin tebal, hawa dingin juga merasuk tubuh, mereka yang tidur mendengkur dalam kabin juga saling merapat dan meringkal di bawah kemulnya.

Tapi Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam tetap duduk tegak dan gagah duduk berhadapan tanpa merasa dingin.

Cukup lama kemudian baru Bwe-Kiam buka suara lebih dulu, “Thian-liong-gun menggetarkan dunia persilatan, sejak lama sebetulnya aku ingin menjajalnya, sayang sekali pertemuan Thai-san tempo hari tergesa-gesa … dan sekarang, aku lihat Kong-sun-tai-hiap sudah terluka.”

Walau bicara dengan kalem, namun arti perkataannya cukup jelas dan menusuk perasaan.

“Walau besar hasratku berduel denganmu, tapi engkau sudah terluka, aku tidak mau mengambil keuntungan.”

“O ….” kalem juga suara Kong-sun Ang, “sayang bukan …. ”

Mendadak ia mendongak sambil bergelak tawa. Gelak tawanya membuat gantungan lampu minyak yang kontal-kantil itu bergetar keras dan bergoyang lebih cepat.

Penumpang lain yang tidur nyenyak dalam kabin juga terjaga dengan kaget dan gelagapan, ada yang duduk bingung, ada juga yang berpelukan ketakutan,”

Pemilik kapal berlari keluar dari kamar sambil mengikat kolor celananya, “Ada apa …”

Dengan gusar ia ingin memaki, tapi begitu sinar tajam mata Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam melirik ke arahnya, nyalinya seketika kuncup, hawa memang dingin, tapi tatapan tajam kedua orang ini membikin badannya menggigil, tanpa berani bersuara lagi segera ia balik ke kamarnya.

Tapi Kong-sun Ang memanggilnya, lalu bertanya,”Sebentar lagi akan terang tanah bukan?”

Berkeretukan gigi pemilik kapal, sambil munduk-munduk ia mengiakan, “Ya, ya, hampir terang tanah.”

“Kapal akan segera berlayar lagi bukan?” desak Kong-sun Ang.

“Ya, ya, segera berangkat, segera berangkat.” Di bawah tatapan mata setajam itu, mana pemilik kapal berani bilang “tidak”.

Tidak lama kemudian kapal itu memang melanjutkan perjalanan.

Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam tetap tidak bergerak, hingga kapal tiba di Le-li. Waktu kapal berlabuh, sementara itu fajar baru menyingsing.

Pemilik kapal berdiri di pintu kabin seraya berseru, “Perhatian para penumpang, kapal sudah berlabuh di Le-li, silakan tuan-tuan lekas turun … tapi jangan lupa, yang belum bayar harap lekas melunasi ongkos perjalanan.”

Sambil menerima uang pembayaran, dalam hati pemilik kapal menggerutu. Memangnya para penumpang juga ingin lekas turun sejak mereka terjaga oleh gelak tawa Kong-sun Ang yang menakutkan, mereka tidak bisa tidur lagi dan ingin lekas turun setiba di tempat tujuan. Hanya sekejap penumpang sudah turun seluruhnya.

Kini tinggal Kong-sun Ang, Bwe-Kiam dan Ban-lo-hu-jin yang masih meringkuk di pojokan, namun dalam keadaan dan waktu seperti itu, tiada orang memperhatikan dirinya.

“Berdiri di luar kabin, pemilik kapal memandang Kong-sun Ang, lalu memandang Bwe-Kiam akhirnya ia memberanikan diri maju beberapa langkah, dengan munduk dan unjuk tawa yang kaku ia berkata, “Tuan, tujuan terakhir sudah sampai, kalian … ”

“Kapalmu tidak berlayar lebih jauh?” tanya Kong-sun Ang dengan nada berat.

“Kapal ini … memang akan berlayar … berlayar lagi ke Ki-lam, apakah … kalian ingin kembali ke … ke Ki-lam?”

“Kembali ke Ki-lam?” bentak Bwe-Kiam, “memangnya kamu sudah gila … ”

Gemetar lutut pemilik kapal, “Kalau demikian … silakan tuan … turun …. ”

“Apakah kapalmu tidak bisa meneruskan perjalanan?” tanya Kong-sun Ang.

Berubah pucat air muka pemilik kapal, “Meneruskan perjalanan … wah, kan berlayar keluar lautan.”

“Benar, berlayar keluar lautan,” kata Bwe-Kiam tegas.

Lutut pemilik kapal menjadi lemas, “bluk,” ia jatuh berlutut, “Kapalku yang kecil ini tidak pernah berlayar keluar lautan.”

Kong-sun Ang melirik sekejap ke arah Bwe-Kiam, mendadak Bwe-Kiam bergerak secepat kilat, tangannya mencabut golok pendek yang terselip di pinggang pemilik kapal, perlahan jari tengahnya menjentik ke ujung golok. Golok tajam yang terbuat dari baja itu seketika patah.

“Kalau begitu apakah dapat berubah hatimu?” sinis suara Bwe-Kiam.

Pucat dan gemetar saking ketakutan, pemilik kapal meratap, “Hamba … mohon …. ”

Mendadak Kong-sun Ang merogoh kantung, lain melempar sekeping barang di depan pemilik kapal yang berlutut di lantai, “klotak”, seketika pemilik kapal yang pucat dan gemetar itu terbelalak kaget, yang dilempar Kong-sun Ang dan jatuh di depannya ternyata sekeping emas sebesar kapal bayi.

“Dengan itu apakah dapat mengubah keputusanmu?” tanya Kong-sun Ang.

Wajah pemilik kapal bersemu merah, namun mulutnya masih gemetar, “Hamba punya keluarga …. mohon …. ”

Kini giliran Bwe-Kiam melirik ke arah Kong-sun Ang, lain ia pun melempar sesuatu di hadapan pemilik kapal kiranya sebuah kantung kulit, isi kantung kulit ternyata dua puluh keping uang perak.

Terbelalak bola mata pemilik kapal, setelah melengong sekian lama, mendadak ia lompat berdiri, serunya keras, “Baiklah demi semua ini, biar aku jual nyawa untuk kalian.”

Satu jam kemudian, kapal itu berlayar menuju ke lautan teduh.

Dalam jangka satu jam, pemilik kapal menyediakan air minum, membeli rangsum dan berbagai keperluan hidup. Tidak lupa ia mampir ke rumah seorang kenalan, minta tolong supaya kirim kabar ke rumah untuk anak istrinya, tak lupa ia kirim juga uang emas dan perak yang ia bungkus dengan rapi.

Dalam jangka satu jam itu, secara diam-diam Ban-lo-hu-jin yang meringkuk di pojokan itu sudah menumpuk tali-tali tambang, layar, papan dan peti, lalu menyembunyikan diri di sana.

Sementara Bwe-Kiam dan Kong-sun Ang masih duduk berhadapan dan adu pandang, sorot mata mereka begitu menakutkan.

Tengah hari, kapal itu laju mengikuti angin buritan, beberapa kejap lagi kapal sudah akan berada di lepas pantai dan berlayar di lautan. Pemilik kapal sudah menyiapkan makanan dan ditaruh di tengah mereka berdua.

Pemilik kapal ini bukan kaum persilatan, tidak pernah belajar silat, namun ia merasakan adanya hawa membunuh yang tebal membuatnya gemetar dan ciut nyalinya, sekejap pun ia tidak berani tinggal dalam kabin.

Mengendus bau nasi yang wangi, air liur Ban-lo-hu-jin bertetesan, perutnya keroncongan. Bila kapal sudah di tengah lautan baru ia akan bertindak menurut gelagat.

“Silakan,” Bwe-Kiam mendahului meraih sumpit.

Kong-sun Ang juga mengambil sumpit, “Silakan.”

Seperti serigala kelaparan melahap korbannya, dengan cepat kedua orang ini menghabiskan lima mangkuk nasi. Kalau Bwe-Kiam hanya lalap daging, sebaliknya Kong-sun Ang menyikat ikan laut, kedua orang ini tidak pernah menyentuh sayur-mayur yang telah disentuh sumpit lawannya.

Ketika mangkuk-mangkuk itu sudah kosong seluruhnya, Kong-sun Ang siap menaruh sumpit, tapi waktu ia pandang tangan Bwe-Kiam, sudut matanya mendadak kedutan, sumpit batal diletakkan.

Tangan Bwe-Kiam masih memegang sumpit, dengan ujung ibu jari dan jari telunjuk menjepit sumpit pertama sedang jari manis dan jari tengah menindih sumpit kedua.

Sepasang sumpit terbuat dari bambu itu tiada keistimewaannya, tapi berada di tangan Bwe-Kiam seolah-olah berubah bagai pedang yang mengeluarkan hawa pedang.

Sumpit itu mengkilat oleh minyak dan ujungnya masih ada sisa nasi, namun ujung sumpit itu mirip ujung pedang yang tepat mengincar Thian-to-hiat di bawah tenggorokan dan Coat-bin-hiat di pinggir leher, dua hiat-to besar sekaligus terancam oleh kedua ujung sumpit bambu di tangan Bwe-Kiam.

Seperti sengaja atau tidak sengaja, tangan Kong-sun Ang yang memegang sumpit mendadak membalik keluar dengan telapak tangan ke atas, ujung sumpit menuding hiat-to Khi-sek dan To-pang yang terletak di urat nadi besar kanan kiri tangan Bwe-Kiam. Sedang ujung sumpit yang lain siap mematuk dan menjepit gerakan lawan.

Ujung mulut Bwe-Kiam bergetar, seperti tidak tertawa, ia berkata perlahan, “Nasi sudah habis dimakan, kalau Kong-sun-tai-hiap sekarang ingin turun kapal, kurasa masih keburu.”

Dingin suara Kong-sun Ang, “Maksud Bwe-tai-hiap sekarang juga ingin turun kapal?”

“Aku tidak akan turun dari kapal ini,” tegas suara Bwe-Kiam.

“Maksudmu kapal ini tidak boleh ditumpangi kau dan aku?”

“Ya, hanya satu di antara kita boleh naik kapal ini.”

Bercahaya mata Kong-sun Ang, “Ke mana Bwe-tai-hiap akan pergi, agaknya pantang diketahui orang lain? Kalau tidak, kita kan sama-sama ingin berlayar, kenapa tidak boleh naik kapal yang sama?

“Ada dirimu di kapal ini, aku merasa kenal dan tidak betah.”

“Kukira Bwe-tai-hiap harus bersabar dan tidak cari gara-gara.”

“Maksudmu tidak mau turun dari kapal ini?”

“Betul!” lantang jawaban Kong-sun Ang.

“Kalau begitu …. ”

Secepat kilat sumpit di tangan Bwe-Kiam menutuk lurus ke depan.

Telapak tangan Kong-sun Ang justru mengkeret mundur, ujung sepasang sumpit di tangannya, secara tepat menahan ujung sumpit Bwe-Kiam.

Ketika Bwe-Kiam membalik tangan, sepasang sumpitnya juga ikut terbalik dan tahu-tahu mencelat dari telapak tangannya sehingga pangkal sumpitnya menerjang ke depan dengan desing angin tajam, mengincar hiat-to besar yang terletak di bawah kedua mata Kong-sun Ang.

Bukan menyerang kedua biji mata Bwe-Kiam, tapi menyerang hiat-to di bawah mata, soalnya kalau Kong-sun Ang harus berkelit dengan menunduk kepala, sepasang sumpit yang bergerak secepat kilat dari bawah ke atas itu dengan sendirinya akan menusuk kedua mata lawan.

Tak nyana meski cepat laksana kilat serangan sumpit, reaksi Kong-sun Ang lebih cepat lagi, bukan menunduk kepala, Kong-sun Ang mendadak putar tubuh hingga sumpit lawan menyerempet lewat di pinggir pipinya.

Dalam waktu sekejap itu, telapak tangan Kong-sun Ang juga membalik, sumpit pun meluncur ke depan dan balas menyerang hiat-to besar di tangan Bwe-Kiam.

Gerak lihai Kong-sun Ang ternyata lebih keji dibanding permainan Bwe-Kiam.

Padahal Bwe-Kiam tetap bercokol di tempatnya, maka sepasang sumpit itu langsung menyerang dan jelas ia tidak mungkin mengegos, juga tidak sempat lompat ke atas.

Tapi reaksi yang dia perlihatkan justru amat menakjubkan, orang lain sukar menandinginya.

Dalam detik-detik yang gawat itu, mendadak tangan kirinya yang menganggur menarik meja ke atas, permukaan meja yang licin laksana perisai menahan dan melindunginya dari serangan maut lawan.

“Crat, crat”, dua kali suara itu memecah kesunyian.

Sepasang sumpit Bwe-Kiam menusuk ambles di dinding papan belakang Kong-sun Ang.

Sementara sepasang sumpit Kong-sun Ang menusuk tembus permukaan meja di depan Bwe-Kiam.

Sumpit bambu itu ambles tiga dim ke dalam dinding dan permukaan meja.

Dua orang ini masing-masing menyerang satu jurus tapi juga dengan satu jurus mematahkan serangan lawan.

Serangan mereka dilancarkan secepat kilat, serangan mengejar sukma dan mencabut nyawa, namun cara dan gaya mereka berkelit atau mengegos juga begitu elok dan menakjubkan, padahal betapa genting detik-detik tadi berlangsung, sedikit lena saja sungguh berbahaya.

Serang menyerang sejurus telah berlangsung tapi kedua orang ini tetap duduk di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun. Ban-lo-hu-jin yang mencuri lihat dari tempat sembunyinya malah kaget dan berkeringat dingin, saking tegang mata pun terbelalak.

Kapal bergetar lebih keras, terombang-ambing terbawa gelombang, jelas kapal sudah berada di tengah lautan yang berombak besar.

Mangkok cangkir yang ada di atas meja malah menari-nari, melorot ke sana meluncur balik ke sini.

Tapi Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam masih tetap duduk kaku, sorot mata mereka setajam sembilu, sepatah kata pun tidak bicara.

Mendadak mangkuk piring, cangkir dan poci di atas meja seperti di sapu angin, semuanya jatuh dan pecah berantakan dengan suara yang gaduh, namun mata kedua orang berkedip pun tidak.

Entah sedang sibuk mengendalikan kemudi atau takut berhadapan dengan kedua orang ini, meski mendengar barang pecah belah miliknya jatuh berantakan, pemilik kapal ternyata tidak kelihatan muncul membereskan perabot yang sudah hancur itu.

Sebelah mata Ban-lo-hu-jin diam-diam mengintip keluar dari celah-celah lubang di antara tumpukan tambang di depannya, mengikuti beberapa biji bakso yang bergelindingan kian kemari di lantai.

Rasa lapar tidak tertahankan lagi oleh Ban-lo-hu-jin, mulutnya hampir kering karena selalu menelan air liur. Mengawasi butiran bakso yang bergelindingan di lantai itu, bola matanya juga seperti ikut bergelindingan kian kemari.

Sekonyong-konyong kapal itu oleng secara hebat, dua butir bakso menggelinding ke pojok sana.

Berdebar jantung Ban-lo-hu-jin, diam-diam ia melirik ke atas, Kong-sun Ang dan Bwe-Kiam masih tetap berhadapan dengan kaku tanpa bergerak.

Ban-lo-hu-jin benar-benar tidak tahan lagi perlahan ia ulur tangan sementara tenggorokannya dibasahi oleh air liurnya yang hampir kering jari tangannya merayap senti demi senti meraih kedua butir bakso kakap yang menggeletak di depannya.

Jelas jari tangan yang terulur sudah hampir menyentuh bakso itu. Ujung jarinya malah sudah merasakan bakso kakap itu masih panas dan licin karena minyak, rasa hangat pun merangsang sanubarinya.

Advertisements

3 Comments »

  1. thanks, ini ceritanya masih berapa seri lagi ya?

    Comment by wawan — 05/05/2008 @ 1:18 am

  2. Sy nggak tahu, mas. Meskipun begitu, semoga Anda tetap bisa menunggu.

    Comment by ceritasilat — 07/05/2008 @ 11:21 pm

  3. Saya sangat menyenangi cersil, thanks saya ga nyangka ada blog yang khusus tentang cersil…
    susah lho nyari cersil dijaman sekarang ini..tolong info dimana ada persewaan cersil didaerah cengkareng
    Thanks…

    Comment by hina kelana414 — 10/01/2009 @ 12:43 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: