Kumpulan Cerita Silat

29/04/2008

Darah Ksatria: Bab 35. Setelah Kentongan Ketiga

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:00 am

Darah Ksatria
Bab 35. Setelah Kentongan Ketiga
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Mayat Ong Ban-bu juga tidak terluka, tiada noda darah pula, jantungnya tergetar hancur oleh pukulan lunak yang amat dahsyat, itulah penyebab kematiannya.

“Kenapa ia pun dibunuh?” yang bertanya adalah Cia Giok-lun.

Yang menjawab Thian Tin-thian, “Dia memang pantas dibunuh. Orang yang menjadi mata-mata, mengkhianati sahabat, memang beginilah nasibnya.”

“Kau kira Bu-cap-sah sengaja membunuhnya supaya rahasia dirinya tidak terbongkar?” tanya Ji Liok.

Ya, memang demikian. Secara langsung pertanyaan itu sudab terjawab, satu-satunya kemungkinan, juga satu-satunya jawaban.

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab orang yaitu Bu-cap-sah di mana? Toa-hoan di mana? Dengan cara keji apa Bu-cap-sah akan menyiksa atau mempermainkan Toa-hoan?

Mereka tidak berani memikirkan persoalan ini, menduga pun mereka tidak berani.

Kentongan berbunyi tiga kali, kentongan ketiga adalah saat yang membuat orang putus jiwa dan melayang sukma.

Mendadak Thiat Tin-thian teringat pada Coat-taysu. Waktu mendengar jeritan kaget Cia Giok-lun tadi, Thiat Tin-thian langsung memburu ke sana, tapi Coat-taysu tetap berada di pinggir kolam di taman belakang.

Padahal ia pun mendengar jeritan itu, pantasnya ia menduga di sini telah terjadi sesuatu yang menakutkan, seharusnya ia pun memburu ke mari. Tapi ia tidak datang, bayangannya tidak kelihatan, entah apa yang sedang dilakukan di sana.

Apa Coat-taysu juga dibunuh seperti Ong Ban-bu? Setelah jiwa melayang, mayatnya disembunyikan di suatu tempat gelap dalam gedung kosong dan menakutkan ini?

Di tangannya juga menggenggam sebutir batu hitam?

Tempat ini mulai dilingkupi suasana seram, bayangan gelap yang sewaktu-waktu siap untuk merenggut jiwa manusia. Setiap orang di antara mereka mungkin menjadi korban berikutnya, disergap dan dibunuh secara keji.

Kakek timpang yang cacat tubuh itu sudah menjadi korban yang pertama, kedua adalah Ong Ban-bu dan ketiga mungkin sekali adalah Coat-taysu, lalu giliran siapa pula selanjutnya?

Kentongan ketiga baru saja lewat, tabir malam makin kelam. Mungkin sekali korban berikutnya yang akan jatuh menjelang fajar lebih banyak. Pembunuh kejam itu laksana setan gentayangan, siap mengintai jiwa mereka, sedikit lena jiwa bisa melayang. Mungkin sekali dari tempat pcrsembunyiannya pembunuh itu sudah mengincar salah satu korban di antara mereka.

Ma Ji-liong insyaf sekarang sudah tiba saatnya untuk mengambil keputusan tegas. “Kalian lekas pergi saja,” demikian katanya.

“Pergi?” teriak Cia Giok-lun. “Pergi ke mana?”

“Terserah kalian mau pergi ke mana, asal lekas meninggalkan tempat ini.”

“Kau suruh kami pergi, lalu apa yang akan kau lakukan di sini?” tanya Cia Giok-lun sengit.

“Aku….” tersendat suara Ma Ji-liong.

Mendadak Cia Giok-lun berkata keras, “Aku tahu apa yang akan kau lakukan, kau akan tinggal di sini mencari Toa-hoan. Jika kau tidak menemukan dia, kau pasti tak mau pergi.”

Ji-liong memanggut. Katanya, “Apa aku tidak pantas mencarinya?”

“Ya, memang kau pantas mencari dia,” jengek Cia Giok-lun. “Tapi kenapa tak kau pikirkan? Apa kau bisa menemukan dia? Kalau ketemu memangnya kenapa? Memangnya kau mampu merebut dia dari tangan Bu-cap-sah? Apa kau kira Bu-cap-sah tak berani membunuhmu?” Makin bicara makin emosi, “Tujuanmu hanya mencari dia. Kecuali Toa-hoan, memangnya kami bukan manusia? Kenapa kau tak memikirkan kepentingan orang lain? Kenapa tak memikirkan keselamatanmu sendiri?” Pada kalimat yang terakhir, air matanya sudah tidak terbendung lagi, ia menangis terisak.

Mereka yang hadir sama-sama tahu kenapa Cia Giok-lun meneteskan air mata. Sudah tentu Ma Ji-liong juga maklum, tapi sepatah kata pun ia tidak bicara lagi. Tidak bicara maksudnya ia tidak perlu bicara lagi. Apa yang perlu dibicarakan sudah dibicarakan, apa pun anggapan orang lain, ia tetap akan tinggal di sini.

Cia Giok-lun menggigit bibir lalu membanting kaki, serunya, “Baiklah, kalau kau ingin mampus biar kau mampus sendiri, mari kita pergi.” Jelas ia sudah bertekad pergi, tapi kakinya tidak melangkah meski hanya setengah tindak.

Mungkin karena ia membanting kaki sekuat tenaga hingga kakinya tertanam dan berakar di lantai. Mirip pohon besar yang sudah berakar dalam bumi, begitu berat untuk beringsut selangkah sekalipun.

Akhirnya Ma Ji-liong menghela napas, katanya halus, “Sebetulnya kau juga harus maklum. Jikalau yang hilang bukan Toa-hoan, umpama kau yang diculik musuh, aku juga akan tinggal di sini mencarimu.”

Sebelum Ma Ji-liong habis bicara, Cia Giok-lun sudah menangis terisak-isak, air matanya bercucuran dengan deras.

Mendadak Thiat Tin-thian mendongak sambil bergelak tawa, katanya, “Sekarang aku sudah mengerti.”

“Kau mengerti apa?” sentak Cia Giok-lun.

“Semula aku berpendapat, orang yang tidak takut mati adalah orang yang tidak punya perasaan, tidak kenal cinta kasih. Sekarang barulah aku sadar, aku salah,” demikian kata Thiat Tin-thian. “Ternyata orang yang punya perasaan, punya rasa cinta terhadap sesamanya lebih tidak takut mati. Karena benih cinta bersemi dalam sanubari mereka, segala persoalan sudah dibuang jauh, sudah dilupakan seluruhnya.” Dengan keras ia menepuk pundak Ma Ji-liong, “Kalau kau tidak pergi, kami pun takkan pergi. Sebelum Toa-hoan ditemukan, entah mati atau masih hidup, siapa pun takkan pergi atau berpisah dengan engkau.”

Baru saja habis bicara, mendadak tubuh Thiat Tin-thian melompat jauh keluar jendela terus berlari secepat anak panah.

Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun juga ikut memburu keluar.

Ternyata di saat mereka bicara, tepat waktu Thiat Tin-thian habis bicara, di luar terdengar ringkik kuda, ringkik kuda yang terkejut lalu dibedal kencang. Agaknya ada orang melarikan kereta kuda itu keluar dari pekarangan gedung.

Ternyata pintu gerbang besar dan berat itu juga sudah terbuka lebar. Ringkik kuda masih berkumandang di kejauhan, suara roda kereta yang menggelinding di jalan raya berlapis papan batu hijau itu pun menimbulkan gema yang ramai di tengah malam yang sunyi.

Kusir kereta yang memegang kendali waktu kereta datang tampak menggeletak di undakan. Kaki tangannya sudah dingin, di tangannya juga menggenggam sebutir batu hitam mengkilap.

Siapakah yang mengendalikan kereta? Siapa pula yang dibawa lari?

Kereta itu dilarikan dengan kencang sekali, hanya sekejap sudah pergi jauh. Tapi di tengah malam nan hening, derap lari kuda dengan roda kereta yang gemuruh sayup-sayup masih terdengar di kejauhan, maka untuk mengejarnya tidak perlu kuatir kehilangan jejak.

“Kejar!” teriak Thiat Tin-thian memberi tanda sambil mementang kedua lengan, segera ia kembangkan Ginkang Pat-pou-kan-sian (Delapan Langkah Mengejar Tonggeret), bagai anak panah tubuhnya meluncur tangkas mengejar ke arah larinya kereta.

Setiap insan persilatan sudah tahu adanya Ginkang lihai ini, siapa pun pernah mendengar nama Pat-pou-kan-sian. Tapi orang yang betul-betul mampu meyakinkan Ginkang yang satu ini, jelas tidak sebanyak yang diduga orang.

Untung Ma Ji-liong mewarisi Thian-ma-hing-khong dari leluhur keluarganya. Thian-ma-hing-khong juga salah satu ilmu meringankan tubuh yang sudah terkenal sejak puluhan tahun di Kangouw.

Lekas sekali Ma Ji-liong sudah menyusul Thiat Tin-thian. Dapat berlari kencang beradu pundak dengan Thiat Tin-thian yang sudah tersohor puluhan tahun di dunia persilatan, jelas merupakan kejadian yang patut dibuat bangga.

Thiat Tin-thian ikut merasa bangga mendapat sahabat selihai ini Ginkangnya, maka ia menepuk pundak Ma Ji-liong tanda memuji. Tapi lekas sekali mereka merasakan kemahiran Ginkang masing-masing yang dibanggakan sebetulnya tldak pantas terlalu diagulkan, ternyata Ginkiang mereka tidak sehebat yang pernah mereka bayangkan sendiri.

Cepat sekali Cia Giok-lun ternyata juga sudah menyandak mereka. Dengan berlari seringan kapas melayang, Cia Giok-lun sudah berada di belakang mereka. Tanpa terasa mereka sudah berlari beberapa li jauhnya, namun mereka tetap berjajar tiga. Kelihatannya Cia Giok-lun berlari tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun, masih tersenyum-senyum lagi.

Sejak munculnya tukang jahit samaran Giok-jiu-ling-long, Cia Giok-lun sudah dipulihkan keadaannya. Kesehatan maupun wajahnya sudah sembuh dan normal kembali. Ilmu silat serta lwekangnya sudah pulih seperti sedia kala.

Dengan kekuatan gabungan mereka bertiga, apakah cukup menghadapi Bu-cap-sah yang dibantu golok kilat pengawal Persia itu?

Manfaat Ginkang yang paling utama bukan untuk menyerang musuh, tapi untuk mundur dan bertahan. Peduli dalam pertarungan macam apa pun, kegunaan mundur dan bertahan pasti tidak kalah besar artinya dibanding menyerang, karena kekuatan untuk berputar dan berkelit kadang kala jauh lebih besar daripada tenaga menyerang.

Demikian pula di saat pengembangan Ginkang. Karena tenaga, napas dan kondisi tubuh merupakan syarat penting yang menentukan, pasti tidak kalah besar artinya dibanding kalau seseorang sedang melancarkan jurus silat macam apa pun.

Sembari berlari Cia Giok-lun masih dapat membuka suara dengan sikap wajar, “Kita pasti tak dapat mengejarnya. Kuda penarik kereta itu kuda pilihan, bukan saja terlatih baik, daya tahannya juga cukup kuat dan lama. Waktu duduk di dalam kereta tadi, diam-diam sudah kuperhitungkan betapa pesat kecepatan lari keempat ekor kuda itu.”

Sudah tentu untuk bicara Cia Giok-lun juga harus berganti napas, “Sejak di mulai, kita memang berlari lebih cepat dari keempat ekor kuda itu, maka dalam waktu singkat kelihatannya jarak makin dekat, kita seolah bisa mengejarnya. Namun dalam jarak yang jauh, kita akan makin lambat dan lemah, mereka justru berlari lebih kencang, mantap dan semangat.”

Manusia adalah makhluk unggul di antara segala makhluk yang hidup di dunia, makhluk yang punya daya pikir. Manusia memperalat, menunggang, memecut dan menendang kuda, sementara orang malah ada yang makan daging kuda, tulang kuda juga dimanfaatkan, demikian pula kulit kuda untuk sepatu, tas dan lain sebagainya, tapi dalam hal adu lari temyata kuda lebih unggul dibanding manusia.

Di situkah letak kekurangan manusia? Ataukah berarti untuk menyindir? Tiada orang yang bisa memberi jawaban tentang pertanyaan ini.

Ma Ji-liong tahu perhitungan Cia Giok-lun tidak keliru, tapi ia tetap mengejar, tidak mengejar juga harus dikejar. Itulah jawaban. Karena manusia punya akal sehat, tekad yang bulat dan teguh, mempunyai keyakinan besar meski tahu dirinya tak unggul, tapi tetap akan mengejarnya. Itulah senjata manusia, karena senjata yang ampuh ini maka manusia bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya turun-temurun.

Mereka memang tidak mampu menyusul kereta kuda itu. Kereta itu makin jauh dan tak kelihatan lagi. Namun begitu derap kaki kuda dan suara roda kereta di depan itu lenyap dari pendengaran, dari belakang justru menyusul derap kaki kuda dan roda kereta yang berlari kencang bagai mengejar setan, makin lama makin dekat. Ternyata Ji Liok menyusul atau tepatnya mengejar dengan sebuah kereta lain. Ji Liok memang berangkat lebih lambat. Setelah memperoleh kereta, entah dari mana, segera ia memburu dengan kencang. Kereta yang dibawa Ji Liok ternyata lebih panjang dengan enam roda ditarik empat ekor kuda juga.

Lekas sekali ia sudah menyusul tiba serta suruh Ma Ji-liong, Thiat Tin-thian dan Cia Giok-lun naik ke atas kereta, kejap lain kereta besar itu sudah mencongklang ke depan pula.

“Kita pasti dapat menyusul kereta itu ke tempat tujuannya,” demikian kata Ji Liok penuh keyakinan. “Jalan ini lurus dan tidak bercabang, hanya satu jalan ini yang bisa mereka tempuh.”

“Jalan ini menuju ke mana?” tanya Cia Giok-lun.

“Ke lembah mati,” sahut Ji Liok.

Memangnya kenapa dan mau apa setelah mereka mengejar ke lembah mati? Kalau mereka bukan tandingan Bu-cap-sah, setiba di tempat tujuan bukankah hanya akan menyerahkan jiwa belaka? Tapi mereka tidak peduli, mereka tidak mau berpikir soal mati atau hidup.

Sekarang Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian seperti dihinggapi atau tepatnya ketularan tabiat Ma Ji -liong, bekerja menurut prinsip, tidak peduli akibatnya.

Sikap Ma Ji-liong bisa dijelaskan dengan apa yang diucapkan oleh Cia Giok-lun, “Apa pun yang akan terjadi, karena bukan setiap orang dapat pergi ke lembah mati, kalau kita bisa pergi ke sana, mati pun tidak perlu dibuat kecewa.”

Siapa pun tidak pernah ke lembah mati, lembah yang tidak pernah dihuni manusia maupun binatang, maka tiada orang tahu di mana letak sesungguhnya lembah mati, seperti apa pula lembah mati itu?

Kini tiap orang bisa membayangkan, menduga-duga, tempat itu bukan lagi daerah belukar, gersang dan liar, daerah yang tak pernah dijelajah manusia. Dan di sana ada gunung emas, gudang emas yang belum pernah dibayangkan manusia meski dalam mimpi.

Emas murni akan merubah segala bentuk daerah itu dari wajahnya yang semula. Sudah banyak pemuda gagah sehat dan kemaruk harta ditarik ke tempat itu, ikut membangun istana megah yang serba antik dan kaya. Itulah bayangan yang terjangkau oleh akal sehat mereka, setiap orang pasti berpikir demikian.

Sayang sekali dugaan mereka keliru, mereka termakan tipu Bu-cap-sah, kenyataan tidaklah demikian.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: