Kumpulan Cerita Silat

27/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (26)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:46 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (26)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

“Agaknya kedua orang itu sudah seia-sekata, bersekongkol menciptakan jurus ilmu silat, sungguh heran bahwa dalam keadaan serba sulit dalam tahanan itu mereka berhasil menciptakan jurus ilmu silat yang lihai, agaknya mereka sudah lama membuat rencana untuk menghadapimu bersama.”

“Kalau benar kedua orang ini bergabung dan kerja sama serta berhasil membuka lembaran baru dalam bidang ilmu silat, maka jerih-payah mereka patut dihargai, hasilnya merupakan sumbangan yang besar artinya bagi kaum Bu-lim.”

“Sumbangan apa,” jengek Hi-Hiong, “yang benar mereka berkomplot untuk mencelakai orang lain …Pui-heng, mungkin engkau tidak takut namun harus hati-hati.”

“Terima kasih atas perhatianmu,”

“O, ya; hampir aku lupa memberi tahu salah satu kedua keparat itu, dia …”

Po-giok tertawa, “Siapa kedua orang itu, tanpa Hi-heng jelaskan juga kutahu.”

“O? …Coba katakan.”

“Mereka adalah Sun Giok-liong dari Ma-shin dan Tam Ih-seng dari Kiu-kang.”

Hi-Hiong berkeplok sekali, “Betul, memang kedua keparat itu.”

Lalu dengan suara tertahan dia menambahkan “Kedua orang ini memang memiliki satu-dua jurus ilmu silat khas yang amat lihai, lawan sukar berjaga dan melawan kelicikannya, kalau tidak sejak lama kedua orang ini tentu sudah dipenggal kepalanya oleh para musuhnya.”

Po-giok tertawa, “Ya, jurus khas mereka yang lihai memang sudah kurasakan, Bicara tentang keganasan jurus serangannya, Go-kang-gan-kui yang diyakinkan Sun-Giok-liong rasanya sukar dicari keduanya di kalangan kang-ouw.”

“Benar dengan modal jurus Go-kang-gan-kui itulah, entah berapa banyak kaki para eng-hiong telah dibabatnya putus …Dalam kalangan kang-ouw ada dua pameo yang mengutuk orang, apa Pui-heng pernah mendengar?”

“Pameo apa tidak pernah aku dengar?”

“Punya sebuah mulut yang kotor, di dalam air kehilangan kaki, mencuri masuk ke loteng si nona, dalam kabut kepala dipukul bocor.”

Po-giok tertawa geli, “Dua kalimat di depan kukira menyindir Hi-Thoan-ka dan Sun-Giok-liong, walau sumber dan aliran kungfu kedua orang ini berbeda, namun tiga jurus serangan bagian bawah yang mereka lancarkan memang bagus sekali, masing-masing punya keunggulannya sendiri.”

“Betul, dua kalimat yang terakhir menyinggung Thian-siang-hwi-hwa Ling-Peng-hi dan Poan-thian-hun Tam-Ih-seng. Walau lahirnya Ling-Peng-hi galak, tapi jurus Hun-tiong-kik-tian (dalam mega menggempur kilat) yang diyakinkan Tam-Ih-seng juga tidak boleh dipandang enteng.”

“Bicara tentang keganasan permainan pedang, Hun-tiong-kik-tian yang diyakinkan Tam-Ih-tiong mungkin lebih unggul di atas Thian-siang-hwi-hoa, tapi kelemahan jurus ini justru terletak pada keganasannya yang kelewat batas, maka permainannya kurang lincah dan tidak mantap.”

“Go-kang-gan-kui dari Hun-tiong-kik-tian masing-masing jelas masih ada kekurangannya, kalau tidak tak mungkin kedua orang ini dikalahkan oleh Pui-heng.”

“Kebalikannya Go-kang-gan-kui justru bergerak secara lincah dan mantap, hanya sayang kurang keji. Faktor utama dari kekurangan ini terletak pada perawakan Sun Giok-liong yang kurus kecil, namun kebalikannya kalau seorang bertubuh tinggi besar justru takkan bisa melancarkan jurus itu secara lincah dan mantap.”

“Tapi kalau kedua orang ini bergabung, yang satu menyerang dari atas, yang lain menyergap dari bawah lalu bagaimana menghadapinya?”

Bertaut alis Po-giok, katanya kemudian setelah tepekur sejenak, “Kalau kedua orang ini bergabung dan serempak melancarkan kedua jurus itu, memang sukar dihadapi.”

“Nah, di situlah persoalannya, maka aku merasa perlu memberi peringatan padamu,” demikian ucap Hi Hiong, “Nah, itu dia mereka datang.”

Dari jauh Tam-Ih-seng sudah berteriak dengan suaranya yang keras seperti tambur, “Hi-lo-toa, sudah habis belum pembicaraanmu dengan Pui-tai-hiap, kini giliran kita mengobrol dengannya bukan?”

“Pui-heng, apa perlu aku …” lirih suara Hi-Hiong.

“tidak usah, dan tidak perlu kuatir, silakan Hi-heng masuk ke dalam,” demikian tugas Po-giok.

Setelah bimbang sesaat lamanya, akhirnya Hi-Hiong balik ke dalam rumah, sekilas ia melirik ke arah Tam-Ih-hiong dan Sun-Giok-liong, tak urung mulutnya masih mengomel, “Hati-hati, jangan karena memindah batu, batu jatuh menindih kaki sendiri, lebih baik jangan cari penyakit sendiri.”

Ucapan itu jelas ditujukan kepada Tam-Ih-seng dan Sun-Giok-liong, tapi kedua orang yang tinggi pendek buntak ini seperti tidak mendengar.

Su-Giok-liong, tertawa lebar katanya, “Beberapa bulan tidak bertemu nama Pui-tai-hiap lebih terkenal lagi, aku dengar Pui-tai-hiap menindas banyak orang gagah di Thai-san, sungguh tak terkira rasa senangku.”

Tam-Ih-seng juga tertawa, “Sayang sekali kita yang tidak becus ini dikurung orang sehingga tidak dapat menonton keramaian di Thai-san, tak sempat menyaksikan betapa gagah perkasa Pui-siau-hiap waktu menggasak lawan-lawannya.”

“Meski kita tidak menyaksikan, dapatlah kau bayangkan sendiri.”

“Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita ingin menyampaikan selamat kepada Pui-siau-hiap atas kemenangannya.”

Po-giok pura-pura tidak tahu rencana jahat mereka, dengan tersenyum ramah dia berkata, “Apa kalian sengaja menemuiku untuk menyanjung puji diriku?”

“Ah, kenapa bilang begitu …” Sun-Giok-liong tampak rikuh.

“Kalau terlalu tinggi kalian menyanjung puji diriku, celakalah kalau sampai jatuh, terus terang saja aku tidak berani menerimanya.”

Tam-Ih-seng terloroh-loroh, “Pui-tai-hiap juga senang bergurau.”

“Bergurau juga termasuk olah raga sehat bukan.”

“Betul, betul,” Sun Giok-liong dan Tam-Ih-seng bergelak tawa, “memang betul apa yang Pui-siau-hiap ucapkan ….”

Tiga orang ini tertawa bersama, seperti tiga kawan yang sudah lama tidak bertemu dan gembira dalam percakapan. Tapi kalau ada orang keempat mendengar gelak tertawa mereka pasti berdiri bulu romanya, karena dari gelak tawa itu terasa adanya hawa membunuh yang makin meruncing.

Di tengah gelak tawa itu, diam-diam Tam-Ih-seng dan Sun-Giok-liong saling memberi tanda untuk mencari posisi yang menguntungkan. Padahal gerak-gerik kedua orang ini sejak kedatangannya tadi tidak lepas dari pengawasan Pui-Po-giok.

Gaman Sun-Giok-liong yang terkenal tercantum dalam urutan 13 dalam daftar senjata aneh di Bu-lim. Di kalangan kang-ouw dijuluki Liu-sing-kan-gwat-hwi-liong-tiap.

Sesuai namanya Hwi-liong-tiap (kapak terbang) dan Liu-sing-tui (bandulan meteor), satu dengan yang lain ada kemiripannya. Dua kapak perak yang terukir dua gambar naga itu terikat oleh rantai perak sepanjang tiga meter panjangnya.

Hwi-liong-tiap itu kini tergantung di kedua sisi pinggangnya.

Gaman Tam Ih-seng justru hanya sebatang Kim-jiau-tui.

Kim-jiau-tui yang satu ini ternyata berbeda dengan senjata sejenis umumnya, bandulannya besar seperti semangka, kemilau memancarkan cahaya, gagangnya panjang lima kaki tujuh dim, sekali hantam kekuatannya seberat tiga ratus kati.

Kim-jiu-tui itu kini sudah siap di samping tangannya.

Walau senjata kedua orang ini belum terpegang di tangan mereka, namun dua tokoh silat kosen seperti mereka, untuk menghunus senjata kecepatannya hanya sekejapan saja.

Gelak tawa itu masih terus berlangsung.

Bintang dan rembulan sudah tidak bersinar, bunga-bunga yang mekar itu pun seperti pudar di tengah gelak tawa itu.

Sun Giok-liong berdiri di kiri depan Po-giok dalam jarak tiga kaki tiga dim, Pui-Po-giok bertangan kosong, kalau mau menyerang dan melukai lawan, tubuhnya harus menggeser maju ke kiri depan paling sedikit satu kaki.

Padahal lawan hanya sedikit membungkuk di mana kapak pendeknya terayun, sehingga kaki Po-giok dapat dibabatnya buntung.

Kalau benar tubuh Po-giok berkisar ke kiri, maka Tam Ih-seng yang berdiri di kanan depannya akan menyerang dengan jurus Hun-tiong-kik-tian, dalam posisi seperti itu, jelas Po-giok tidak akan mudah menghadapi dua serangan sekaligus.

Posisi mereka memang amat menguntungkan. Dua orang ini memang tidak malu dijuluki jago kosen, belum lagi turun tangan mereka sudah di posisi dan menempatkan diri pada kedudukan yang unggul.

Po-giok yang berdiri dengan posisinya itu, betapapun sukar turun tangan menyerang kedua lawan sekaligus, tak mungkin mengalahkan apalagi membekuk kedua lawannya dalam waktu yang sama.

Oleh karena itu Po-giok harus mencari akal cara bagaimana dalam satu gebrak menyelamatkan diri dari serangan Hun-tiong-kik-tian yang dilancarkan Tam Ih-seng dan Go-kang-gan-kui yang dilancarkan Sun Giok-liong.

Tampak To-pit-hiong Hi-Hiong berlari keluar dan membawa masuk empat lima orang, selain Lu-Hun ternyata Siau-kong-cu juga berada di antara mereka.

Mendengar gelak tawa yang ganjil dan keadaan yang aneh ini, maka di kejauhan mereka sudah menghentikan langkah. Sekilas Hi-Hiong melirik ke kanan kiri, mendadak berubah air mukanya, keluhnya kuatir, “Celaka!”

“Ada apa?” tanya Lu-Hun.

“Gaya yang diperlihatkan Po-giok saat ini, kini bawahnya kosong, jelas sukar menahan serangan Go-kang-gan-kui yang dilancarkan Sun Giok-liong demikian pula bagian kanan atas terbuka lebar, lebih sulit pula melawan serangan Hun-tiong-kik-tian yang dilancarkan Tam-Ih-seng, dia … kenapa dia berbuat sebodoh ini.”

Mendadak Siau-kong-cu menjengek, “Sampai detik ini, belum pernah aku lihat Pui-Po-giok melakukan sesuatu yang bodoh.”

“Tapi …tapi sekarang …” Hi-Hiong gelagapan.

Belum habis bicara, sinar emas dan cahaya perak mendadak berkembang dan menyerang bersama.

Di luar dugaan orang banyak Hwi-hong-tiap yang memancarkan cahaya perak itu bukan melancarkan jurus Go-kang-gan-kui, tapi menyerang dengan jurus Hun-tiong-kik-tian.

Demikian pula Kim-jiau-tui yang berkilauan itu tidak menyerang dengan Hun-tiong-kik-tian, tapi dengan jurus Go-kang-gan-kui. Kedua orang itu bertukar jurus andalan mereka untuk menyerang.

Di tengah jeritan kaget Hi-Hiong tampak Tam-Ih-seng setengah berjongkok dan setengah doyong ke depan, Kim-jiau-tui membawa cahaya emas dengan deru angin yang kencang menyerang miring lutut kanan Po-giok.

Tubuhnya tinggi kakinya panjang, selayaknya tidak cocok melancarkan jurus itu untuk menyerang bagian bawah lawan, tapi jurus yang dia lancarkan sekarang ternyata sangat dahsyat, kebetulan cukup menambal kekurangan ganas dari jurus itu sendiri.

Sementara Sun-Giok-liong melompat ke atas, pada saat tubuh terapung di udara, Hwi-liong-tiap pun terbang membawa rantai perak, sungguh mirip kilat perak menyambar yang diincar adalah batok kepala Po-giok.

Dengan tubuh yang kecil pendek, sebetulnya tidak sesuai melancarkan jurus semacam itu. Tapi pada saat tubuh terapung di udara itu, Hwi-liong-tiap yang dilepas dari tangannya ternyata bergerak dengan lincah dan gencar di bawah kendali rantai perak yang panjang, secara langsung menambal kelincahan dan ketangkasan jurus itu.

Apalagi panjang Hwi-liong-tiap hanya tiga kaki, pada waktu melancarkan jurus Go-kang-gan-kui, tubuh harus menyelinap maju mendekati musuh, risikonya menyerempet bahaya dan awak sendiri dijadikan taruhan.

Namun kini serangan ini dilancarkan dengan Kim-jiau-tui yang panjangnya lima kaki, maka wibawa serangan itu sendiri cukup luas ruang lingkupnya, faktor keunggulan ini justru terletak pada kelebihan panjang yang dua kaki itu, padahal pertarungan jago kosen sering ditentukan oleh panjang pendek senjata yang digunakan, satu langkah kesalahan fatal bisa mengakibatkan kekalahan fatal, kalau satu dim saja bisa menentukan kalah menang, apa lagi sekarang beda senjata dua kaki panjangnya.

Demikian pula Hwi-liong-tiap yang panjangnya tiga kaki ditambah lima kaki rantai perak, jadi lebih panjang dua kaki daripada Kim-jiau-tui, adalah logis kalau daya serang jurus Hun-tiong-kik-tian bertambah dahsyat.

Dengan mengganti jurus serangan andalan masing-masing, memang permainan kedua orang ini tidak semahir menggunakan jurus serangan sendiri, apalagi jurus kampak diganti bandulan dan jurus bandulan diganti kampak, sedikit banyak gerakan mereka agak kaku dan kurang leluasa.

Akan tetapi, setelah mereka bertukar jurus serangan, bukan saja tambah lincah ganas dan dahsyat, juga terasa aneh ganjil dan gaib, gabungan kedua jurus serangan ini sungguh amat tepat, hebat dan tiada taranya.

Gema tawa belum sirna, suara jeritan juga belum lenyap.

Sementara itu sinar emas berkembang, cahaya perak gemerdep. Kedua jenis sinar dan cahaya yang berbeda itu sudah membungkus sekujur badan Pui-Po-giok.

Badan Po-giok mendadak mendoyong, telapak tangan yang semula mengelus dagu, tahu-tahu terayun, tidak kelihatan bagaimana dia menggerakkan jari tangannya, tapi jari tangan ternyata menangkap gagang, Hwi-liong-tiap, tidak kelihatan dia mengerahkan tenaga, tapi tubuh Sun-Giok-liong yang terapung di udara itu terseret turun olehnya.

Secara enteng Po-giok memindahkan Hwi-liong-tiap yang ditangkapnya itu ke tangan kanan, sekali tangan kanan itu bergerak, “trang”, Hwi-liong-tiap menangkis Kim-jiau-tui yang menyergap tiba.

Bandulan memukul kampak, suara memekak telinga disertai kembang api berpijar.

Sun-Giok-liong yang terapung di udara tahu-tahu sudah diseret turun oleh Pui-Po-giok maklum karena ujung rantai peraknya teringat di pergelangan tangannya sehingga dia tidak bisa membuang senjata.

Mengikuti tenaga yang digerakan telapak tangan Pui-Po-giok, tubuhnya melorot turun seperti bintang meteor meluncur. “Blang” secara telak menumbuk Tam-Ih-seng, kepala adu kepala, tanpa mengeluarkan suara, keduanya roboh semaput.

Sementara itu, Po-giok berdiri di tempat semula, wajahnya masih mengulum senyum.

Gerakannya kelihatan ringan, sedikitpun tidak menggunakan tenaga, tapi nyata berhasil melumpuhkan gabungan dua jurus serangan jahat lawan.

Gerak gerik Po-giok begitu lamban, namun dalam waktu sekejap kedua jago kosen itu sekaligus dibuatnya roboh tak berkutik. Hakikatnya kedua orang itu tidak tahu cara bagaimana Po-giok mengalahkan mereka.

Hi-Hiong berdiri terlongong, mulut bergumam, “Aneh, aneh ….”

Siau-kong-cu tertawa, “Sekarang kamu percaya bukan, Pui-Po-giok tidak pernah melakukan perbuatan bodoh.”

Tanpa menjawab Hi-Hiong memburu ke arah Po-giok, sekali raih ia pegang pundak Po-giok, “Pui-heng, Pui-siau-hiap, baru sekarang kutahu kungfumu ternyata sepuluh kali lebih tinggi daripada yang aku bayangkan sebelumnya, walau kutahu kau pasti dapat merobohkan kedua keparat itu, namun tidak terbayangkan akan kau jatuhkan, mereka sedemikian mudah.”

“Ya, kelihatannya mudah, padahal dalam keadaan seperti tadi, kalau aku terlambat setengah detik atau meleset satu mili saja, yang menggeletak di tanah sekarang adalah aku,” lalu dengan tertawa ia menambahkan, “Untuk ini sebetulnya aku harus mengucap terima kasih kepada Hi-heng.”

Hi-Hiong garuk-garuk kepala, “Terima kasih padaku …”

“Kalau Hi-heng tidak memberi tahu bahwa kedua orang ini sudah sejak lama bertukar pikiran dan menyelami jurus khas mereka, tentu aku tidak akan bergaya seperti tadi untuk menghadapi mereka.”

Hi-Hiong tertawa getir, “Pui-heng, di mana letak kelihaian gaya yang kau perlihatkan tadi. Sungguh aku tidak habis mengerti, terus terang tadi aku menguatirkan keselamatan Pui-heng.

“Kalau telapak tangan kiriku tadi udak di atas pundak, bila kampak terbang itu menyerang tiba jelas aku tidak akan sempat merebut gagang kampak karena itu aku dipaksa menghindar dengan melompat ke kiri, kalau aku lompat ke kiri atau mundur ke belakang, walau dapat menghindarkan serangan Kim-jiau-tui, tapi pundak kananku pasti terluka oleh bacokan kampak, kalau aku mundur lututku yang terketuk remuk oleh Kim-jiau-tui.”

Setelah menghela napas Po-giok meneruskan “Maka waktu yang setengah detik itu amat penting artinya, secara langsung menentukan kalah dan menang,”

Hi-Hiong terbelalak mendengar penjelasan Po-giok, katanya sesaat kemudian, “Kalau demikian apakah sudah kau duga bahwa Sun-Giok-liong pasti akan menyerang dengan jurus Go-kang-gan-kui dan bukan Hun-tiong-kik-tian?”

“Tadi setelah mendengar penjelasanmu, lantas terpikir olehku kalau mereka sudah lama berunding dalam penjara, maka tidak mungkin mereka hanya melancarkan jurus ganas yang mematikan secara bersama. Aku tahu kedua orang ini adalah manusia munafik yang biasa main licik dengan akal busuk lagi, kalau mereka membuat rencana sekian lama, hasil dari perundingan mereka tentu tidak semudah itu untuk dipecahkan,”

“Betul …” Hi-Hiong menghela napas, “kenapa hal ini tidak aku pikirkan tadi.”

“Bahwa kedua orang ini berani menantang aku berduel, serangannya tentu teramat keji, oleh karena itu terpikir olehku kemungkinan besar kedua orang ini saling tukar jurus serangan. Betul juga, begitu kedua orang ini berdiri pada posisi mereka, segera kuyakin dugaanku memang benar.”

“Wah, aku tetap tidak mengerti.”

“Waktu itu mereka sedang bergelak tertawa, waktu tertawa pundak Tam-Ih-seng aku lihat tidak bergeming sedikit pun, sebaliknya Sun-Giok-Hong tampak bergontai karena gelak tertawanya itu …”

Hi-Hiong keheranan, “Apa hubungannya dengan serangan mereka?”

“Waktu tertawa badan bagian atas bergerak jelas kuda-kudanya tidak kukuh, itu menandakan bahwa hawa murninya terangkat ke atas, kalau dia bertujuan menyerang bagian bawahku, kenapa hawa murninya terangkat ke atas?”

Hi-Hiong menghela napas, “Betul, untuk melancarkan Go-kang-gan-kui, kuda-kudanya harus kuat, kalau kuda-kuda tidak kukuh, jelas daya serang jurus Go-kang-gan-kui takkan dapat dikembangkan.”

“Dua orang bergabung menyerangku, kalau Sun-Giok-liong tidak bertujuan menyerang bagian bawahku, tentu Tam-Ih-seng yang akan menyerang bagian bawahku, maka aku lantas memastikan kedua orang ini tentu bertukar jurus serangan andalan mereka untuk menyerangku.”

Dengan tersenyum Po-giok menambahkan, “Pengertian ini sebetulnya amat sederhana.”

Hi-Hiong menghela napas panjang, “Pengertiannya memang sederhana, tapi kalau tidak kau jelaskan, seumur hidupku takkan paham, apalagi dalam saat genting menghadapi bahaya dari berbagai penjuru.”

Kiang Sin-sing Tio Kiam-bing dan lain-lain sama tunduk lahir batin atas uraian itu.

Kini mereka maklum umpama dirinya dapat meyakinkan kungfu paling top, tapi pada saat menghadapi bahaya dan harus bertindak menurut keadaan, mengambil keputusan dan bertindak secara tepat, jelas seumur hidup takkan mampu.

Terdengar suara Ong-toa-nio berkumandang dari dalam rumah, “Silakan tuan-tuan masuk saja, sudah aku siapkan meja perjamuan untuk memberi selamat kepada Pui-tai-hiap.”

Di hadapan Po-giok, keenam orang gagah itu memang merasa sungkan, tapi setelah arak masuk perut, dirayu oleh gadis cantik lagi, maka satu per satu mereka meninggalkan meja perjamuan ditarik gadis pilihannya.

Yang mengundurkan diri lebih dulu adalah Ong-toa-nio yang diantar tiga gadis masuk ke kamarnya.

Tak lama kemudian satu di antara ketiga gadis itu keluar, lalu menarik lengan baju Ko Kwan-ing dan berbisik di telinganya, maka Ko Kwan-ing pun menarik Kiang Sin-sing masuk ke kamar belakang.

Setengah jam kemudian, seorang gadis keluar lagi, kali ini yang diajak masuk adalah Tio-Kiam-bing dan Lu-Hun. Semula Lu-Hun masih tampak malu-malu, namun akhirnya dia patuh saja ditarik oleh Tio-Kiam-bing.

Lalu terdengar pula deru angin kencang berputarnya senjata disertai tepuk tangan dan pujian yang meriah di tengah tawa riang orang banyak.

Kira-kira setengah jam lagi, dari ruang belakang terdengar suara percakapan Sun-Giok-liong dan Tam-Ih-seng, setelah siuman dari pingsannya, agaknya kedua orang ini belum pergi, secara diam-diam mereka juga digotong ke belakang.

Suara yang sama terus berlangsung hampir setengah jam lamanya.

Kini sudah tiada suara orang di belakang, orang-orang yang masuk ke dalam juga tidak kelihatan keluar, agaknya mereka sedang dibuai surga dunia.

Di ruang bagian depan itu kini tinggal Pui-Po-giok yang masih tersenyum-senyum dan Siau-kong-cu yang mengunjuk rasa jijik, disertai Li-Bin-sing yang selalu unjuk tawa ewa, selain itu masih ada lima-enam gadis yang keluar masuk bergantian meladeni mereka.

Dan jangan dilupakan, ada juga To-pit-hiong Hi-hiong.

Mulutnya asyik berbincang-bincang dengan Pui-po-giok, namun matanya selalu melirik ke pintu yang tembus ke ruang belakang itu. Pintu masuk ke surga dunia.

Jelas sekali laki-laki gede yang satu ini juga sudah tidak tentram duduk di tempatnya.

Dengan dingin Siau-kong-cu menatapnya sekian lama tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Hi-tai-hiap.”

Hi-Hiong melengong, “Ada apa?”

“Kukira Hi-tai-hiap sering datang ke tempat seperti ini.”

“Sering datang sih tidak … paling hanya empat kali saja,” sahut Hi-Hiong dengan muka merah.

“Empat kali, ehm … ya memang tidak banyak, tapi seluruh bekal kungfu yang pernah Hi-tai-hiap pelajari sudah habis untuk membayar kesenangan. Pantas Ong-toa-nio tidak menawarkan simpanannya lagi …”

Hi-Hiong berdehem dengan muka merah, “Arak ini enak rasanya.”

Siau-kong-cu tertawa, “Jangan pura-pura pikun seluruh bekal kungfumu sudah dipelajari orang, maka hari ini kamu hanya disuruh menunggu di luar. Melihat teman-temanmu menjadi tamu Ong-toa-nio, bagaimana perasaanmu?”

Lebih jengah muka Hi-Hiong, “Aku … ini … ”

Terdengar suara Ong-toa-nio berkumandang dari dalam, “Tidak demikian kenyataannya. Ong-toa-nio memang bukan tuan rumah yang ramah, tapi terhadap Hi-tai-hiap yang sudah lama kukenal, memang aku berlaku kikir kepadanya.”

Di tengah kumandang suaranya kursi pikulnya digotong keluar, lalu ia mencubit pipi seorang gadis di sampingnya sambil tertawa, “Budak bodoh, Hi-tai-hiap tidak asing lagi bagimu, kenapa tidak lekas melayaninya …”

Gadis itu tertawa manis, “Aku kuatir Hi-tai-hiap tidak mau aku layani lagi.”

Seperti kepiting rebus muka Hi-Hiong, “Aku … aku …”

Gadis itu menghampiri dan menarik lengan bajunya, “Ayo masuk!”

Po-giok tidak kuat menahan geli, “Hi-heng silakan saja …”

“Ya, silakan saja, buat apa malu-malu segala. Biar aku yang menemani Pui-siau-hiap mengobrol di sini.”

Sudah tentu Hi-Hiong juga masuk ke belakang, memang sejak tadi ia tidak sabar lagi.

Sambil mengawasi Pui-Po-giok, Ong-toa-nio tertawa lebar, “Semula kukira Pui-siau-hiap akan gusar setelah tahu profesiku sekarang, bukan mustahil gubukku yang reyot ini dibakar habis, sungguh di luar dugaan bahwa Pui-siau-hiap bersikap acuh-tak-acuh.”

Po-giok tersenyum, “Aku bukan manusia rendah, tapi juga bukan orang munafik yang menonjolkan ajaran kuno. Kalau laki perempuan sama-sama mau mencari kesenangan, kenapa aku harus melarang mereka?”

“Betul,” seru Ong-toa-nio sambil berkeplok, “begitulah pantasnya pandangan seorang ksatria. Kalau Pui-siau-hiap bukan seorang ksatria (Eng-hiong), tentu tidak memberi ampun kepada Sun Giok-liong dan Tam Ih-seng.”

“Apakah kedua orang itu terluka?” tanya Po-giok.

“Luka sih tidak, hanya kepalanya saja yang benjut.”

Mendadak Siau-kong-cu menyeletuk, “Masih ada muka mereka tinggal di sini.”

“Jangan salah sangka, akulah yang menahan mereka,” demikian ucap Ong-toa-nio, “mereka memang sungkan menemui Pui-tai-hiap, demikian juga yang lain, kini mungkin mereka sudah pergi secara diam-diam.”

“Memangnya kamu hanya ingin mencuri kepandaian orang lain, kalau mereka sudah?” sindir Siau-kong-cu Ong-toa-nio tertawa riang, “kau pandai menerka isi hatiku, aku … ”

Mendadak Po-giok menukas, “Selama beberapa tahun ini, hasil yang kau peroleh tentu tidak sedikit entah apa maksud tujuan Toa-nio menghimpun berbagai kungfu dari berbagai aliran itu?”

Ong-toa-nio tertawa lebar, “Wah, teramat jauh ucapan Pui-siau-hiap, mana aku punya maksud tujuan segala, sejak kejadian di Wi-ho-lau dulu memangnya aku masih berani membuat ribut di dunia kang-ouw?”

“Oo …” Po-giok bersuara ragu.

“Yang terang aku hanya ingin supaya gadis-gadis asuhanku ini dapat belajar lebih banyak. Mereka adalah anak yatim piatu, semula hidup sengsara dan harus dikasihani, kalau mereka sudah belajar banyak, kelak tentu tidak mudah dihina orang, tentang diriku ….”

Setelah menghela napas lain menyambung, “Aku sudah tua, cacat lagi, serupa orang yang sudah setengah mampus. Aku tidak punya maksud tujuan hidup lagi, syukurlah kalau hari ini bisa hidup sehat hingga besok, tinggal tunggu saatnya masuk peti saja.”

“Em … ” Po-giok bersuara dalam mulut.

“Aku bicara sejujurnya, apa Pui-siau-hiap tidak percaya?”

“Semoga demikian hendaknya, kalau tidak … ”

“Pui-siau-hiap tidak usah kuatir,” sela Ong-toa-nio, “ada tokoh besar seperti Pui-siau-hiap di dunia kang-ouw, memangnya aku berani bertingkah lagi, mungkin kalau mataku buta.”

“Soal ini tidak perlu dibicarakan lagi. Harap Ong-toa-nio sudi mengundang Ban-lo-hu-jin keluar … ”

Saat ini dia sedang tidur nyenyak, kasihanilah orang tua yang gemuk lagi lanjut usianya, biarlah dia tidur lebih lama lagi. Padahal Pui-siau-hiap sendiri juga perlu istirahat.”

Siau-kong-cu menguap ngantuk, “Peduli apa kehendaknya, aku sendiri ingin istirahat. Ong-toa-nio ranjangmu berikan padaku, ranjang lain …ranjang lain terlalu kotor.”

Waktu mengucap kotor, tanpa terasa mukanya sudah merah, demikian pula gadis-gadis yang hadir sama menunduk malu, Pui-Po-giok sendiri juga jengah dibuatnya.

“Baiklah, anak-anak,” seru Ong-toa-nio, “layanilah Kong-cu kita tidur di ranjangku … Pui-siau-hiap bagaimana dengan engkau ?”

“Seorang adik angkatku masih …”

“Pui-siau-hiap, engkau terlalu meremehkan diriku. Memangnya soal sekecil ini tidak kau pikirkan? Coba lihat, bukankah sejak tadi Li-Bin-sing tidak kelihatan?”

“O, ya!”

“Aku tahu adik angkatmu itu orang jujur, aku kuatir gadisku menggodanya maka kusuruh Li-Bin-sing membawa arak daging ke sana dan mengajaknya ngobrol.”

“Terima kasih, Toa-nio telah banyak membantu diriku.”

“Silakan Pui-siau-hiap masuk istirahat, bila hari sudah terang tanah tentu akan aku bangunkan umpama Pui-siau-hiap ada urusan juga harus ditunda setengah hari lagi.”

Dua orang gadis mengantar Po-giok masuk ke sebuah kamar. Begitu berada di kamar itu Po-giok lalu mengunci pintu dari dalam. Hatinya betul-betul agak takut.

Bukan takut apa-apa, tapi takut menghadapi rayuan gadis-gadis yang cantik molek itu. Takut gadis-gadis itu tinggal di kamarnya dan tidak mau pergi.

Begitu Po-giok mengunci pintu, senyum yang semula menghias wajah kedua gadis itu seketika sirna. Di mana tangan menekan, selapis papan baja perlahan melorot turun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kejap lain kedua gadis ini sudah lari ke ruang depan tadi.

Saat itu wajah Ong-toa-nio tampak membesi kaku, katanya dengan nada berat, “Apakah lapis baja sudah kau turunkan? Mengejutkan dia tidak?”

“Sebelumnya sudah kami beri minyak, waktu aku turunkan, lapis baja itu tidak mengeluarkan suara,” demikian lapor salah seorang gadis.

“Bagus, sekarang kamu bersama Siau-jit mengangkut empat belas peti hitam itu ke atas kereta, sementara Siau-sam dan Siau-kiu menyiapkan kuda, lalu kalian berempat segera menyiapkan bahan api.”

“Ya, tapi … tapi … ” gadis itu tampak bimbang.

“Tapi apa lagi?” tanya Ong-toa-nio mengerutkan kening.

“Kalau kita musnahkan begitu saja tempat ini apakah tidak sayang. Apalagi orang she Pui itu tidak berdosa terhadap kita, kenapa harus … ”

“kau tahu apa?” jengek Ong-toa-nio, “kalau sayang mengorbankan seekor domba, mana mungkin menangkap seekor serigala. Kalau ingin mengerjakan urusan besar, beberapa petak rumah ini terhitung apa? … Hm, begitu bocah she Pui itu datang lantas kutahu kita takkan bisa lama menetap di sini, kau dengar apa yang dia ucapkan, ada pisau di balik tawanya, betapa lihai bocah itu?”

Gadis itu mengumpak, “Ya, betapapun lihai, engkau orang tua lebih lihai lagi, engkau orang tua paling kehilangan beberapa petak rumah ini sebaliknya dia harus mengorbankan jiwa di tengah kobaran api.”

“Syukur kalau kau tahu. Setelah bocah she Pui itu mampus, dalam Bu-lim siapa lagi yang mampu menandingi kaum hawa seperti kita … Lekas kerjakan petunjukku tadi.”

Gadis itu mengiakan.

Yang keluar ada empat, di samping Ong-toa-nio masih ada tiga gadis yang lain.

Seringai gadis menghias ujung bibir Ong-toa-nio, “Nah, sekarang kita mulai dari siapa?”

Seorang gadis berkata, “Aku paling benci melihat tampang suara tambur itu, kita mulai dari dia dulu.”

“Baiklah, dia dulu …di mana dia?” tanya Ong-toa-nio.

“Dia di kamar Ji-ci,” sahut gadis yang lain.

“Ayo kita pergi bersama. Boleh kalian saksikan tindakanku, beberapa tahun ini kita sudah kenyang dibuat permainan laki-laki busuk, kini saatnya melampiaskan dendam!”

Gubuk-gubuk itu tersebar di tepi sungai jarak satu gubuk dengan gubuk yang lain kira-kira setombak lebih di sekeliling gubuk ditanami berbagai jenis bunga yang lagi mekar.”

Orang yang memasuki gubuk-gubuk mungil itu seolah-olah memasuki surga dunia, siapa yang masuk tentu merasa berat meninggalkan dekapan tubuh yang mulus dan hangat itu.

Saat itu Tam-Ih-seng berada di gubuk kedua agaknya sudah melupakan kekalahan yang memalukan tadi ia pun tidak peduli bahwa fajar telah menyingsing.

Mendadak terdengar suara “blang” yang gaduh pintu kamarnya mendadak didobrak jebol.

Saking kejutnya Tam-Ih-seng melompat dari ranjang, dalam keadaan telanjang bulat mendadak ia berdiri dapat dibayangkan betapa runyam keadaannya. Tapi setelah melihat yang datang Ong-toa-nio meski malu agak lega juga hatinya, katanya dengan menggeleng kepala, “Toa-nio kenapa …”

Belum habis bicara, selarik sinar pedang mendadak menyambar tiba.

Saking kaget Tam-Ih-seng melompat minggir, “kau …”

Walau cepat berkelit, namun Ong-toa-nio sudah menguasai kepandaiannya, ke mana dia akan berkelit, sinar pedang itu sudah menunggunya di sana.

Baru satu patah kata terlontar dari mulutnya, ujung pedang sudah menembus tenggorokannya.

Darah muncrat di dinding dan ranjang yang putih Tam-Ih-seng terbunuh di bawah kaki gadis yang tadi ia nikmati tubuhnya.

Gadis-gadis itu terbelalak kaget, senang dan terpesona, “Begitu cepat, sekali tusuk jiwa melayang.”

Mengawasi mayat Tam-Ih-seng, Ong-toa-nio menyeringai, “Orang-orang ini mengira dalam waktu singkat aku tidak mungkin mempelajari rahasia intisari ilmu silat mereka maka dengan terus terang mereka memeragakan seluruh kungfu simpanan mereka. Di luar tahu mereka pada hakikatnya aku tidak mempelajari kungfu mereka melainkan cuma menyelami seluk-beluk permainan silatnya. Dia tidak mengenal kungfuku kalau sekali tusuk aku tidak mampu menamatkan jiwanya kan sia-sia aku hidup sekian tahun.”

Gadis-gadis itu tertawa riang, “Dari sekian banyak jago kosen Bu-lim sekarang, bukankah setengah di antara mereka telah tergenggam rahasianya, lalu apakah engkau orang tua akan ….”

“Betul, agaknya sudah ditakdirkan orang-orang ini bakal mampus di tanganku, tapi aku tidak perlu tergesa-gesa … Sekarang kita cari siapa?”

Gadis yang melayani Tam-Ih-seng sudah berpakaian. Bahwa laki-laki yang baru saja dilayani kini menggeletak mati di bawah kakinya, betapapun sikap gadis ini agak terharu. Tapi dia masih bisa tertawa, “Bukankah Sun-Giok-liong berada di kamar Lak-moi … ”

“Baiklah, kini gilirannya.”

Fajar telah menyingsing, tapi lampu masih menyala di kamar Lak-moi, suasana hening, hanya terdengar dengkur yang keras, agaknya mereka masih tidur lelap.

Seorang gadis berbisik sambil mendekap mulut, “Tidur orang she Sun itu seperti babi.”

Gadis yang memikul kursi Ong-toa-nio berkata, “Tendang saja pintu kamarnya.”

Gadis itu tertawa, “Ya, aku ingin mencoba Yam-yan-ou-tiap-tui yang baru saja aku pelajari dari Kiang-Sin-sing!”

Sembari bicara mendadak ia melompat ke depan. Di bawah cahaya mentari yang cemerlang, pakaiannya berkibar mirip seekor kupu-kupu terbang.

Tapi sebelum kakinya yang mengenakan sepatu kain berhias mutiara itu menendang daun pintu, mendadak daun pintu terbuka sendiri, berbareng selarik sinar perak berkelebat dari balik pintu.

Mimpi pun gadis itu tidak menyangka akan terjadi perubahan yang tidak terduga ini, ingin berkelit pun tidak mungkin lagi, sekali sinar perak itu berkelebat wajah yang ayu mengulum senyum itu tahu-tahu berlumuran darah.

Gadis-gadis yang lain terbelalak kaget, muka berubah, semua menggigit bibir tanpa menjerit. Demikian pula gadis yang terluka parah itu pun tidak menjerit meski berguling-guling di tanah saking kesakitan. Betapa besar daya tahannya, jelas tak mungkin terlatih dalam waktu satu-dua hari dari sini dapat disimpulkan betapa besar harapan Ong-toa-nio, terhadap anak didiknya.

Dengan memegang Hwi-liong-tiap Sun-Giok-liong menyeringai di ambang pintu, “Ong-toa-nio, kurasa kau keliru menilai orang she Sun, walau aku kemaruk paras ayu, tapi kedua mataku tidak buta sejak mula sudah aku duga akan muslihatmu ini.”

Ong-toa-nio tersenyum ramah, sikapnya wajar suaranya pun kalem, “Sudah lama aku dengar Sun-Giok-liong adalah jantung hati Jit-jiau-ling-liong, selama hidup belum pernah rugi atau kena tipu, kini setelah berhadapan baru aku percaya, engkau memang tidak bernama kosong.”

Jelalatan mata Sun-Giok-liong, “Kalau sudah tahu orang she Sun bukan orang yang mudah dibuat permainan, kini minggir dan beri jalan, tapi kau pun jangan kuatir, orang she Sun segera pergi, sedetik pun tidak akan tinggal di sini lagi.”

“Lalu bagaimana dengan yang lain?” tanya Ong-toa-nio.

Sun-Giok-liong tertawa, “Mati hidup orang lain tiada sangkut paut dengan aku. Kalau mereka rela mati di tengah bunga biarlah mereka mampus, aku tidak peduli.”

“Agaknya kamu memang pintar,” Ong-toa-nio terloroh-loroh.

“Orang yang berkecimpung di kang-ouw, kalau ingin hidup senang harus berlaku pintar dan pandai melihat gelagat. Kalau orang she Sun tidak pintar, memangnya bisa tahan hidup sampai sekarang?”

“Kalau demikian … ayo anak-anak minggir semua, beri jalan kepada Sun-tai-hiap.”

Sun-Giok-liong terbahak-bahak, dengan langkah gontai dia berjalan keluar, langkahnya perlahan, tapi ketika berada di samping Ong-toa-nio, pundaknya tampak terangkat, pesat sekali tubuhnya melejit ke depan.

Dia mengira Ong-toa-nio pasti tidak membiarkan dia pergi begitu saja, tak nyana begitu dia melejit ke depan, Ong-toa-nio tetap duduk tidak bergerak.

Lega hati Sun-Giok-liong, cepat ia melompat ke depan, sekali lompat lagi akan selamat dan pergi dengan bebas.

Tak terduga pada saat tubuh mengapung mendadak Ong-toa-nio mengayun sebelah tangannya, pedang secepat kilat menyamber, mengincar punggung Sun-Giok-liong.

Walau punggung Sun-Giok-liong tidak tumbuh mata, namun ia dengar kesiur angin datangnya serangan, saking kejut cepat ia mengegos, tak urung tubuhnya kehilangan keseimbangan, tanpa ampun ia jatuh terbanting terasa angin tajam menyerempet lewat di pinggir telinga.

Di luar tahunya pedang kedua timpukan Ong-toa-nio menyusul tiba pula tanpa mengeluarkan suara, tahu-tahu sudah berada di belakangnya dan mendadak pula berputar arah.

Terdengar Sun Giok-liong menjerit ngeri darah muncrat di punggungnya, pedang menembus punggung ke dada dan memanteknya di tanah.

Seorang gadis geleng kepala, katanya sambil menghela napas, “Kukira kungfu keparat ini amat lihai, kiranya hanya begitu saja … ”

Ong-toa-nio tertawa puas, “kau kira dua pedang timpukan itu mudah dihindari?”

Gadis itu menunduk, “Anak tidak tahu ”

“Biar aku jelaskan, Cu-bo-tui-him-tui-jiu-kiam yang kugunakan Kelihatannya sederhana, padahal penggunaan waktunya harus tepat, yang paling sukar adalah lemparan pedang kedua harus tiba lebih dulu dari lemparan pertama, bukan saja harus membuat musuh salah duga, juga harus memperhitungkan ke arah mana mungkin dia akan berkelit.

“Kalau demikian, bukankah gaya lemparannya mirip dengan Cu-bo-kim-so?”

“Betul, gaya yang kugunakan itu memang cangkokan dari Cu-bo-kim-so, tapi panjang pedang ada tiga kaki, Kim-so hanya empat dim, perbedaan antara mudah dan sukar penggunaannya jelas berpuluh kali lipat.”

“Sekarang baru aku mengerti,” sahut gadis itu.

Ong-toa-nio berkata, “Kalau tidak berlebihan, aku berani bilang di kolong langit ini hanya beberapa orang saja yang mampu lolos dari Cu-bo-tui-hun-tui-jiu-kiam, namun kalau tidak yakin akan berhasil, aku pun tidak berani sembarang menggunakannya. Bila timpukan pedangku ini tidak mengenai sasaran, jiwaku sendiri pun sukar diselamatkan.”

Seorang gadis lain bertanya, “Bagaimana kalau Pui-Po-giok? Apakah dia mampu menyelamatkan diri?”

Berubah air muka Ong-toa-nio seperti digampar orang, wajah yang semula senang dan bangga mendadak berubah kelam, cukup lama ia tepekur, akhirnya senyum sadis terkulum di ujung bibirnya, katanya, “Aku tidak tahu …syukur untuk selanjutnya aku tidak perlu tahu lagi.”

******

Keadaan di kamar itu terasa berat hening sepi, tapi ganjil. Perabot yang ada di kamar juga serba beda dengan perabot umumnya, semua serba mini, dipan yang sempit, meja kursi juga kecil, vas kembang juga mini, selain serba mini tiada keanehan lain di kamar ini kecuali keheningan.

Setiap sudut kamar itu sudah diperiksa oleh Po-giok, termasuk kasur, kemul, bantal guling yang serba baru, poci berisi teh wangi dengan cangkir porselin, setiap benda yang ada di kamar ini wajar dan tulen, tiada racun dan jebakan.

Tapi Po-giok belum lega, hati masih tidak tenang.

Dinding diketuk, daun pintu juga diketuk, semua terbuat dari papan dan tembok bata, bukan baja, tapi kamar ini seperti kamar umumnya, namun seolah-olah kamar penjara. Kalau mau pergi, Po-giok yakin setiap saat dia mampu keluar dari sini.

Akhirnya lega juga hati Po-giok, diam-diam ia tertawakan diri sendiri yang terlalu curiga. Dia yakin di sini tiada perangkap, keadaan pasti aman dan tentram.

Bahwa Ong-toa-nio tidak bermaksud mencelakai dirinya, hal ini sungguh di luar dugaannya. Po-giok pikir mungkinkah Ong-toa-nio tidak mau mencelakai orang lagi?

Kalau benar Ong-toa-nio sudah insaf, sudah tobat dan sadar akan kesalahan dan dosanya, adalah jamak kalau dirinya memaafkan dan melupakannya segala kesalahan yang pernah dilakukan Ong-toa-nio dahulu.

Pengampunan adalah perbuatan baik, memberi maaf adalah sikap yang terpuji Po-giok senang dan mau melakukannya, selama hidup dia ingin memberi ampun dan maaf kepada orang lain, walaupun belum tentu dia dapat memberi maaf kepada dirinya sendiri.

Maka kewaspadaannya mengendur. Maka rasa mengantuk pun merangsang tubuhnya. Selama dua hari ini dia memang terlalu tegang dan lelah.

Entah berapa lama ia terlena di atas ranjang mendadak ia terjaga dari pulasnya.

Terasa jantungnya berdegup keras firasat jelek menegangkan urat syarafnya lagi.

Secara refleks dia melompat bangun. Tapi kamar ini masih tenang dan tentram, tiada perubahan apa pun. Lalu kenapa firasat jelek mendadak mengetuk sanubarinya, firasat jelek datang secara aneh dan mengejutkan.

Po-giok berusaha menentramkan perasaannya ia menelusuri lagi pengalamannya sejak mula, namun tak terpikir olehnya di mana dan cara bagaimana Ong-toa-nio bermaksud mencelakainya.

Walau badan amat letih, mata masih ngantuk namun pikirannya cukup jernih, kaki tangan masih bergerak lincah tenaga dalam yang dikerahkan juga lancar dan normal, jelas dirinya tidak keracunan.

Tapi kenapa dia mendapat firasat jelek?

Pada saat tepekur itulah sayup-sayup terdengar suara yang ganjil.

Suara itu tidak keras, tapi kedengarannya aneh, seperti ulat makan daun, laksana angin mengembus rontok daun kering, sukar bagi Po-giok membedakan suara apakah itu.

Dalam waktu yang sama terasakan juga hawa dalam kamar itu semakin gerah, makin membara, seolah-olah dirinya berada di dalam tungku.

Begitu merasa ada perubahan, Po-giok melompat ke depan sambil mendorong pintu.

Walau sudah mengerahkan tenaga, tapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun. Ternyata pintu terkunci dari luar.

Daun pintu yang terbuat dari kayu mana bisa mengurung Po-giok.

Sambil tertawa dingin Po-giok angkat tangan menepuk sekali, daun pintu pecah berkeping-keping, tapi pintunya tetap tidak terbuka.

Ternyata pintu itu memang terbuat dari papan kayu, tapi di tengah papan kayu itu terdapat terali besi, terali besi disembunyikan di tengah papan kayu yang berlapis, umpama diketuk juga tidak akan menimbulkan gema suara.

Berubah air muka Po-giok, namun ia tidak menjadi gugup, baru saja timbul niatnya mencoba apakah terali besi ini dapat diputus, segulung asap hitam mendadak menyembur masuk dari celah papan yang pecah itu.

Api membara amat besar dan berkobar dengan cepat.

Sekalipun Po-giok memiliki kungfu setinggi langit, betapapun dia manusia biasa, bukan manusia baja, tanpa kuasa dia menyurut mundur karena semburan hawa panas.

Suara aneh tadi kini terdengar jelas. Kini Po-giok tahu suara itu datang dari kobaran api membakar kayu yang disiram minyak.

Kobaran api sudah menyumbat pintu keluar.

Tapi Po-giok belum putus asa, sekuat tenaga dia menerjang ke arah dinding samping.

Dinding batu pun tidak tahan terjangan tenaga raksasa Po-giok. Batu pasir pun berguguran.

Tapi di tengah dinding ternyata juga terdapat terali baja.

Kobaran api kontan menggulung masuk. Dinding itu pun terjilat api, ternyata dinding itu terbuat dari jerami kering yang mudah terbakar.

Tapi terali baja itu tidak akan cair meski dibakar, didorong pun takkan roboh.

Api dan asap yang tebal dapat menggulung masuk lewat terali baja, tapi orang justru sukar bolos keluar, tiada seorang pun bisa lari lewat terali baja itu.

Perangkap yang keji.

Perangkap ini agaknya sudah direncanakan secara sempurna, hasil pemikiran seorang yang ahli di bidang kejahatan. Sebelum terjadi tiada orang bisa membongkar rahasia keji ini, setelah terjadi tiada orang bisa lolos dengan selamat.

Kobaran api yang makin besar, menjadikan rumah yang kecil itu seperti neraka yang membara.

Tapi yang bercucuran di tubuh Pui-Po-giok justru keringat dingin, walau dia banyak akal dan pandai berpikir, meski entah sudah berapa kali lolos dari mara bahaya yang hampir merengut jiwanya. Tapi sekarang dalam keadaan seperti itu, betapapun sulit menyelamatkan diri. Jelas sebentar lagi dia akan mati ditelan api, mati terbakar hidup-hidup.

Tapi Pui-po-giok hanya berdiri terlongong tanpa bergerak.

Mendadak didengarnya jeritan takut dan ngeri. Jeritan datang dari balik dinding sebelah kiri itulah jeritan Siau-kong-cu.

Pada saat yang sama Siau-kong-cu juga terancam bahaya seperti keadaan Pui-Po-giok. Tanpa pikir sekuat tenaga Po-giok menerjang ke arah dinding kiri.

Sudah tentu dinding itu ambruk dan rontok, namun yang tampak juga terali baja.

Terali baja yang tak mungkin patah dipukul atau luluh dibakar. Kini dia melihat Siau-kong-cu. Wajah yang cantik, wajah yang diliputi rasa takut panik dan ngeri.

Siau-kong-cu juga melihat dia. Seperti di tempat gelap melihat setitik sinar terang, laksana di tengah badai samudra melihat daratan, langsung ia memburu maju. Dalam sekejap itu, dibatasi terali besi tubuh mereka berpelukan dengan erat, tangan mereka terulur lewat celah terali, memeluk tubuh masing-masing.

Tubuh yang basah oleh keringat, tubuh yang gemetar saking takut dan tegang.

Kelambu kasur dan meja kursi dalam kamar itu sudah mulai terbakar, terali baja di bagian depan itu juga mulai merah.

Tapi Po-giok dan Siau-kong-cu seperti tidak merasakan sama sekali, seolah-olah mereka takut berpisah, biar berada di neraka, keadaan seperti ini akan mereka rasakan sebagai surga saat mereka dapat melimpahkan rasa cinta murni sejati.

Bergetar keras sekujur tubuh Siau-kong-cu, bibir yang gemetar menempel di pipi Po-giok, sekali dua kali puluhan kali dan ratusan kali ia menciumnya …”

“Po-giok …Po-giok …”

Tak kuasa ia mengucap kata lain kecuali jeritan nama yang dapat menentramkan rasa takut dan panik, nama yang dapat menghibur hatinya.

“kau …tidak apa-apa bukan?” tanya Po-giok, suaranya pun gemetar.

“Aku …kau …bagaimana? Dapatkah melarikan diri?”

“Dan kau ?”

“Aku …apakah kau pun seperti aku?”

“Aku ingin bersamamu …aku rela bersamamu.”

Suara mereka pendek, disertai dengan napas yang memburu, suara yang serak dan sesengukan.

Air mata bercucuran di wajah Siau-kong-cu, “kau rela bersamaku?”

“Kalau aku harus mati cara mati yang paling baik adalah mati bersamamu.”

“Kalau kau dapat lari, apakah akan kau tinggalkan aku?”

“Bagaimana pendapatmu?”

“Tidak, tidak mungkin …kau takkan meninggalkan aku, betul tidak?”

Makin erat pelukan Po-giok,”Mana mungkin aku meninggalkanmu, mana boleh aku tinggalkan dikau .”

Terbetik secercah senyum sedih di wajah Siau-kong-cu yang basah air mata, “Baiklah, biar kita mati bersama hari ini, aku dapat mendengar suara hatimu mati pun aku rela.”

“Memangnya sebelum ini kau belum tahu maksud hatiku?”

“Aku …aku dulu ….”

Mendadak ia mengguncang tubuh Po-giok sekeras-kerasnya, tangisnya tergerung-gerung, “Dahulu aku berbuat salah …salah terhadapmu.”

“Hari ini aku dapat mendengar pengakuanmu, sungguh merupakan hiburan terbesar bagiku.”

“Aku tahu selama ini aku selalu membuatmu sedih, membuatmu menderita, tapi …tapi tahukah kamu, aku berbuat jahat karena amat mencintaimu ….”

“Aku …”

“Hati orang perempuan memang sukar dimengerti terutama perempuan seperti diriku …”

Dengan sesenggukan ia menambahkan, “Aku ini gadis yang egois, suka menang, banyak curiga dan cemburu …walau aku mencintaimu, tapi aku tidak suka orang bilang kau lebih unggul dariku, mendengar pujian orang terhadapmu, hatiku seperti dipagut ular beracun, aku …aku bertekad menghancurkanmu.”

“Sudahlah, sudah!” lembut suara Po-giok, “sekarang semua itu tidak perlu dibicarakan lagi, tidak jadi soal bagiku.”

“Tapi dapatkah kau maafkan aku?”

“Memaafkanmu? …Aku tidak pernah menyalahkan engkau .”

“Aku menjadi jahat, engkau tetap baik terhadapku?”

“Hatiku takkan berubah selamanya.”

Api menyala makin besar, Tapi cinta asmara muda-mudi ini lebih membara lagi.

Kini mereka berpelukan dengan tenang, berpelukan lebih erat.

Kini sekeliling mereka sudah menjadi lautan api.

“Dahulu,” Siau-kong-cu bergumam, “aku paling takut mati, namun aneh sekali, kematian di depan mata kenapa tidak aku takuti lagi, sedikit pun tidak takut.”

“Ya, kematian memang tidak perlu dibuat takut,” Po-giok juga mengigau.

“Bukan saja tidak takut mati, aku malah suka mati.”

“Suka mati?”

“Ehm, bila tidak menghadapi kematian, mungkin selama hidupku takkan melimpahkan isi hatiku terhadapmu … takkan pernah aku dengar isi hatimu terhadapku.”

“Ya, mati … mati memang sesuatu yang aneh.”

“Biarlah api membakar kita … sekarang inilah saat yang paling gembira, hatiku senang, kurasa aku sudah bisa menahan segala siksa derita badanku, biarlah satu senti demi satu senti api membakar tubuhku, aku ingin mati perlahan bersama orang yang kukasihi. Po-giok, aku sungguh senang … apa kau pun senang … ”

“Senang?”

“Ya, Thian Maha Pengasih, sebelum ajal kita diberi kenikmatan yang mesra, tapi juga memberi derita yang tiada taranya.”

Mendadak seorang berteriak keras, “He, anak keparat, terkutuklah kalian kalau ingin mampus begini, ingat orang tua kalian melahirkanmu bukan untuk mampus penasaran, berusahalah untuk berbakti kepada orang tua kalian.”

Po-giok dan Siau-kong-cu sama-sama kaget, “He, apa Ban-lo-hu-jin?”

Suara orang itu terasa getir, “Ya, memang aku si nenek tua, kalian merasa senang mati di sini, aku orang tua justru penasaran. Dalam perjalanan ke neraka kalian ada teman, sebaliknya aku orang tua setelah mampus hanya menjadi setan gentayangan.”

“He, kamu di mana?” teriak Po-giok.

Di tengah kobaran api yang makin besar Po-giok melihat bayangan Ban-lo-hu-jin, ternyata dinding di sebelah kanan juga sudah ambruk dijilat api, tampak Ban-lo-hu-jin berada dalam kurungan terali besi juga.

Ternyata kamar yang bentuknya sama jumlahnya ada empat buah.

Siau-kong-cu masih memeluk Po-giok dengan kencang, suaranya lirih, “Sebentar lagi akan mati, kenapa tidak mati dengan senang dan tentram?…Ban-lo-hu-jin, biasanya engkau bisa pikir jauh, kenapa sekarang justru berpikir cepat?”

“Siapa bilang kita akan mati di sini? Siapa yang bilang?” kalap suara Ban-lo-hu-jin.

Padahal rambut, lengan bajunya sudah terjilat api, keadaannya mirip binatang yang sekarat di dalam sangkar dan sedang meronta dan mengamuk.

“Kalau orang lain, dalam keadaan seperti ini mungkin sudah mampus sejak tadi. Tapi Pui-Po-giok, jangan kau lupa, kamu bukan orang biasa, aku percaya otakmu yang cerdik dapat memikirkan akal dan melakukan apa yang tidak dapat dilakukan orang lain.”

“Tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga,” sahut Po-giok.

“Kamu sudah berusaha … usaha apa yang sudah kau lakukan? Yang benar kamu hanya pikirkan mampus saja, kau kira hidup ini amat menderita, terlalu lelah, kamu … memang malas….”

“Aku …sudah mencoba ….”

“Betul …aku juga tahu tadi kamu sudah mencoba, tapi sekarang kenapa tidak kau coba lagi? Apa tidak tahu meski baja sekalipun setelah terbakar akan menjadi lunak.”

“Wah, ini ….” tergerak hati Po-giok.

“Po-giok, tak usah mencobanya,” Siau-kong-cu berkata lembut, “ucapannya memang tidak salah, hidup di dunia ini memang terlalu menderita dan melelahkan, kalau orang akhirnya akan mati, kenapa tidak sekarang saja kita mati dengan gembira.”

“Ya, benar,” Po-giok mengangguk, “apalagi…api sebesar ini …aku ….”

Ban-lo-hu-jin berjingkrak gusar, dampratnya, “Keparat yang tidak tahu diri, kalian memang manusia tidak berguna, masih begini muda, yang dipikir hanya mati saja. Aku nenek setua ini justru ingin hidup seribu tahun lagi …”

Po-giok menoleh ke arahnya dan mengawasi Siau-kong-cu, akhirnya ia menunduk, “Aku sudah berusaha, aku tidak mampu berbuat apa-apa.”

“Kentut busuk … yang terang kamu tidak punya niat untuk hidup …kau hanya ingin lari dari kenyataan ….”

Siau-kong-cu memejamkan mata, suaranya mengigau, “Mati …betapa jauhnya, betapa gelapnya, namun juga begitu nikmat …dalam kegelapan yang tiada ujung pangkalnya itu, setiap orang akan dapat istirahat dengan tenang.”

Po-giok menarik napas panjang mulutnya juga bergumam, “Sudah lelah …aku amat lelah.”

Api sudah menjilat beberapa tempat di tubuh Ban-lo-hu-jin, saking gusar giginya sampai gemeretukan. Mendadak ia mendongak serta terloroh-loroh.

“He, apa sudah kau temukan kegembiraan dalam kematian, begitu riang tertawamu?” tanya Siau-kong-cu.

“Aku tertawa ….” serak suara Ban-lo-hu-jin, “karena aku ini orang buta, selama ini kuanggap Pui-Po-giok adalah ksatria, seorang laki-laki sejati, sekarang baru kutahu sebetulnya dia adalah binatang rendah!”

Berdiri alis Po-giok, namun amarah masih tertekan dalam hatinya, “Silakan memaki, sanjung puji sesama manusia hanya embel-embel hidup belaka, biar mati … mati adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.”

“Pui-Po-giok!” bentak Ban-lo-hu-jin beringas, “Binatang keparat, tahukah kenapa aku memakimu?”

“Persetan, aku tidak perlu tahu.”

“Setiap orang punya ayah bunda. Apa kau punya orang tua?”

“Tentu ada ….”

“Setiap orang tahu dan pernah melihat ayah bundanya, tapi pernah kau lihat orang tuamu?”

Mendadak bergetar sekujur badan Po-giok, suaranya pun gagap, “Aku …aku ….”

Sejak dilahirkan dirinya diserahkan kepada Pek-Sam-khong yang dia ketahui sebagai kakek luarnya, tapi bagaimana tampang ayah bundanya, hakikatnya dia tidak pernah lihat.

“Binatang cilik,” Ban-lo-hu-jin mencak-mencak “Ingin kutanya, di mana sekarang kedua orang tuamu?”

Bergetar pula tubuh Po-giok, mendadak ia berteriak, “Di mana mereka, apa kau tahu?”

“Kalau aku tidak tahu, buat apa aku ngobrol denganmu?”

Sekuat tenaga Po-giok membebaskan diri dari pelukan Siau-kong-cu, pekiknya beringas, “Di mana? Mereka di mana?”

“Binatang! Dasar malas dan ingin mampus … Nah, mampuslah, kenapa tanya segala?”

Tubuh Po-giok sudah hampir ditelan api, rambut dan pakaiannya sudah menyala, namun ia hanya mengertak gigi dan melotot, berdiri di tengah kobaran api tanpa gentar,

Bentaknya beringas, “Katakan …katakan tidak?”

“Agaknya kau ingin tahu, baiklah aku jelaskan. Sekarang ayah-bundamu sedang menderita dalam kesengsaraan yang paling tersiksa, ingin mati tidak bisa ingin hidup juga tidak dapat.”

Po-giok tergetar seperti disamber kilat, kaki tangan pun mengejang.

“Apa benar?” teriaknya kalap sambil menerjang ke tengah lautan api, “apa betul ucapanmu?”

Ban-lo-hu-jin menyeringai, “Buat apa aku menipumu? Kenapa aku dustai orang yang hampir mampus ….Yang pasti sudah lama ayah-bundamu menderita, tersiksa lahir dan batin, apa salahnya menderita lebih lama lagi ….”

Mendadak Po-giok menghardik, suaranya sekeras guntur, terus menerjang ke sana.

Seperti sengaja juga seperti tidak sengaja Ban-lo-hu-jin mengulurkan tongkat panjangnya dari celah-celah terali baja.

Sekali raih Po-giok rebut tongkat panjang itu. Saat itu tubuhnya sudah dijilat api, begitu tongkat terebut sekuat tenaga ia mengayunkannya.

Terali yang sudah terbakar menganga itu disapunya melengkung dan ada yang patah oleh hantaman yang dahsyat.

Po-giok melongo oleh hasil yang tidak terduga entah kaget, girang atau gusar?

Sigap sekali Ban-lo-hu-jin meronta maju dan menyelinap lewat lubang terali yang terpukul melengkung itu! teriaknya, “Kalau ingin menolong ayah-bundamu jangan mampus di sini.”

Po-giok kertak gigi, kembali tongkat di tangannya terayun, kali ini menyapu terali yang mengurung Siau-kong-cu! Kejap lain dengan raung gusar tongkat di tangannya berputar pergi datang terali bagian luar juga disapunya rontok seluruhnya….”

Api masih terus berkobar makin besar.

Tapi Pui-Po-giok Siau-kong-cu dan Ban-lo-hu-jin sudah berada di luar kobaran api.

Ban-lo-hu-jin langsung terjun ke dalam sungai sambil tepuk tangan ia tertawa riang, “Menyenangkan! Sungguh menyenangkan!”

Siau-kong-cu berdiri kaku di tempatnya. Api masih menyala di sekelilingnya tapi seperti tidak dirasakan, terhadap keadaan sekelilingnya agaknya dia sudah kehilangan perasaan.

Demikian pula Po-giok dan Ban-lo-hu-jin, sekejap itu mereka pun melupakan keadaan sekelilingnya.

Kini walau mereka sudah lolos dari kobaran api, namun mereka masih terkepung di tengah lautan api. Hutan bunga dalam lembah permai itu kini sudah berubah menjadi lautan api.

Po-giok tersadar lebih dulu, teriaknya dengan muka pucat, “Apa yang terjadi?”

Ban-lo-hu-jin juga sudah melihat keadaan yang sebenarnya, “Wah, celaka, ayo lekas lari!”

“Nanti dulu, aku ingin tanya, apa yang kau ucapkan tadi ….”

“Apa pun yang ingin kau tanya, kita harus keluar dari sini dulu.”

Po-giok bimbang, akhirnya ia tarik Siau-kong-cu lompat ke dalam air, “Empat penjuru sudah di-jilat api terpaksa kita harus lari lewat sungai.”

“Memang pintar …ayo lekas!” Ban-lo-hu-jin mengikut di belakangnya.

Perasaan Siau-kong-cu seperti beku dia menurut saja ditarik dan dituntun Po-giok, mereka berjalan di tengah air sebatas pinggang,

Pohon di sepanjang tepi sungai juga mulai dijilat api, dengan tongkat panjang Po-giok membuka jalan.

Mendadak dari tepi sungai terdengar rintihan orang. Menyusul tubuh seseorang melompat keluar dari kobaran api dan jatuh ke dalam sungai.

Po-giok memburu maju serta memapah tubuh orang ini, tampak pakaian dan rambutnya sudah terbakar hangus, kulit badannya juga hangus hanya bagian mukanya saja yang masih kelihatan utuh.

Orang ini ternyata Po-ma-sin-jio Lu-Hun.

“Lu-heng …” teriak Po-giok tertahan, “bangkitkan semangatmu …sadarlah!”

Lui-Hun yang sudah sekarat mendadak menjadi jernih pikirannya, perlahan ia buka mata, matanya yang pudar memandang sesaat lamanya, mulut pun merintih, “Pui-heng …Pui-siau-hiap, kiranya engkau …benarkah engkau ?”

“Ya, aku Pui-Po-giok, Lu-heng …kenapa kau jadi begini? Apa yang terjadi?” tanya Po-giok.

“Tamat …semuanya sudah tamat. Menyesal sekali aku tidak turut nasihat Pui-heng, rahasia kungfu andalanku aku ajarkan kepada perempuan laknat itu, kalau tidak mana semudah ini aku teraniaya ….”

“Ong-toa-nio maksudmu? Semua ini perbuatan Ong-toa-nio?” pekik Po-giok dengan kaget dan gusar.

“Ya, betul perempuan laknat itulah yang melakukan,” lemah suara Lu-Hun.

“Lalu …bagaimana keadaan Hi-tai-hiap dan lain-lain?”

“Juga … juga sudah tamat riwayatnya, mereka mampus lebih dulu, tinggal aku … masih bertahan sampai sekarang, aku berjuang hingga di sini, tapi … sia-sia usahaku.”

“Lu-heng, kuatkan dirimu, engkau takkan mati.”

“Ya, aku belum mau mati, tapi … tapi … ” di tengah senyum getir yang memilukan suaranya makin lemah, lalu kedua matanya terkatup.

“Lu-heng,” pekik Po-giok sambil mengguncang tubuh orang, “Sadarlah, engkau tidak akan mati dan harus menuntut balas.”

Lu-Hun mengigau, “Menuntut balas … api … jurus Koan-jit-hong yang bagus, dadaku … Aduh, dadaku … Ong-toa-nio! Sungguh kejam kau !”

Seiring dengan suaranya yang terakhir, kaki pun mengejang kaku lalu tidak bergerak lagi.

Po-giok berdiri kaku di tengah air, percikan api berjatuhan di tubuh Lu-Hun, berjatuhan di atas kepala, tapi ia tidak merasakan sama sekali amarah membakar dadanya.

Ban-lo-hu-jin juga terlongong, “Sungguh tak nyana Lu-Hun mati di bawah jurus Koan-jit-hong. Sungguh tak nyana Ong-toa-nio berhasil mempelajari jurus andalan Go-bi-pai yang tidak sembarangan diajarkan kepada orang luar. Sungguh kejam, memangnya dia ingin menjaring orang-orang Bu-lim … ”

“Apa pun alasannya, aku tidak akan memberi ampun lagi kepadanya,” demikian desis Po-giok geram.

“Bukan Ong-toa-nio saja orang yang seharusnya tidak kau beri ampun. Memangnya kamu dapat mengalahkan Pek-ih-jin? Lalu bagaimana dengan Hwe-mo-sin dan Pek-Cui-nio? Tapi kalau sekarang kamu mampus, apa pula yang mampu kau lakukan …”

Po-giok menggembor keras dengan mendongak “Aku bersumpah, apa pun yang akan terjadi Pui-Po-giok akan bertahan hidup, Pui-Po-giok tidak mau mati!”

Suaranya bergema di tengah lembah, dengan langkah lebar dia menuju ke depan.

Betapapun besar nyala api, air sungai tidak mungkin di bakarnya mendidih, arus sungai juga tidak akan berubah arah atau menjadi kering. Akhirnya Po-giok bertiga keluar dari lautan api mengikuti aliran sungai kecil itu.

Si jago merah masih mengamuk, tapi sudah berada di belakang bukit sana.

Ban-lo-hu-jin menjatuhkan diri di tanah berumput, rebah telentang dengan napas ngos-ngosan kecuali dadanya turun naik, sekujur badan tidak bergerak sedikitpun, nenek tambun ini memang sudah tidak mampu bergerak lagi.

Diam-diam Siau-kong-cu menyobek ujung pakaian dalam untuk membersihkan wajahnya. Dalam keadaan apa pun dia tidak ingin memperlihatkan keadaan yang runyam di hadapan Pui-Po-giok.

Padahal keadaan Po-giok sendiri juga tidak kalah runyam, tapi semangatnya masih menyala, belum Ban-lo-hu-jin menentramkan napas dia sudah berkata keras, “Ayo berdiri, berangkat!”

“Berdiri? …Umpama kau cabut nyawaku sekarang juga aku tidak mampu berdiri lagi, aku ingin tidur, tidur tiga hari tiga malam.”

“Saat ini kamu tidak boleh tidur.”

“Kenapa tidak boleh tidur? Kalian mau ke mana silakan saja, aku …”

“Kalau aku pergi, kamu harus ikut bersamaku.”

“Lho, kenapa? Anak kandungku sendiri tidak mau ikut aku, kenapa kamu sengaja mengintil diriku? Orang-orang kang-ouw sama tahu nenek tua seperti aku ini suka bergelandangan seorang diri, kau …”

“Setelah membawaku menemui ayah-bundaku, aku tidak akan menahanmu lagi.”

“Ayah-bundamu?” Ban-lo-hu-jin berkedip-kedip, “sebagai putranya kau sendiri tidak tahu di mana mereka kini berada, apalagi aku orang tua, dari mana kutahu!”

Mendadak Po-giok meraih lengan bajunya dan menariknya berdiri, bentaknya gusar, “Kamu tidak tahu? Lalu apa yang tadi kau ucapkan?”

Ban-lo-hu-jin memekik kaget dan jeri, “Tadi aku bilang apa? Tadi aku hanya bilang ayah-bundamu sekarang sedang menderita, aku tidak pernah bilang di tempat mana mereka tersiksa.”

Saking murka merah padam selebar muka Po-giok.

Hal seperti ini belum pernah terjadi pada dirinya dalam keadaan apa pun air mukanya jarang berubah sehebat itu, namun sekarang tubuh pun bergetar saking menahan murka.

“kau … berani mempermainkan aku? kau … kau berani mempermainkan aku.”

“Aku … aku ” Ban-lo-hu-jin gelagapan.

Walau biasanya dia licin dan licik, pandai putar lidah dan berdiplomasi, namun melihat Po-giok merah betul-betul, sepatah kata pun ia tidak bisa bicara lagi.

“Kalau dalam urusan lain kamu menipuku masih bisa kuampunimu, tapi soal ini … soal ini … ”

Mendadak sebuah tangan yang halus dan lunak menepuk perlahan pundaknya, suara yang lembut lagi mesra berkata lirih di samping telinganya “Lepaskan dia.”

“Melepasnya?” teriak Po-giok gusar.

“Umpama benar dia menipumu, maksudnya juga baik bagimu … ” kata Siau-kong-cu.

“Ya, betul, maksudku untuk menyelamatkan jiwa kalian, maka aku bicara tanpa pikir.”

Makin kendur cengkeraman jari Po-giok.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: