Kumpulan Cerita Silat

27/04/2008

Darah Ksatria: Bab 33. Malam Tragis Di Gedung Besar

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:58 pm

Darah Ksatria
Bab 33. Malam Tragis Di Gedung Besar
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Kanglam Ji Ngo adalah pendekar besar yang terkenal, seorang cerdik, pelajar ternama, ilmu sastra maupun ilmu silatnya jarang ketemukan tandingan, pokoknya serba bisa.

Tapi berbeda dengan Ji Liok yang satu ini. Seperti apa yang ia katakan sendiri, kelihatannya mirip orang kasar, orang desa atau kampung yang bersahaja, kaki besar tangan kasar, hidup tenteram dan sederhana. Menilai wajahnya yang persegi, kelihatannya tak cukup pintar, namun bila tersenyum maka orang baru membayangkan wajah Ji Ngo melekat pada wajahnya juga.

Kini setiap orang mulai tertarik kepadanya. Semua merasa pribadinya tidak seperti lahiriahnya yang sederhana dan biasa. Banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepadanya, karena siapa pun ingin tahu lebih jauh siapakah dia sebenarnya.

“Kau belum pernah berkecimpung di Kangouw? Lalu apa kerjamu sehari-hari?” Ma Ji-liong bertanya lebih jauh.

“Kerja apa saja kulakukan,” sahut Ji Liok. “Namun belakangan ini aku sering memborong bangunan, jelasnya sebagai pemborong bangunan.”

“Kau ini tukang batu atau tukang kayu?” sela Toa-hoan.

“Tukang batu aku dapat bekerja, tukang kayu juga kulakukan, pokoknya kerja kasar yang halal dan dapat uang. Tapi dalam kerja besar ini aku hanya menggambar pola bangunannya saja.”

Untuk membangun rumah harus dibuat pola gambarnya lebih dulu. Setelah pola gambarnya dilukis dan diperinci secara cermat, baru kerja dimulai. Berapa tinggi bentuk rumah itu, berapa dalam pondasi yang harus ditanam? Berapa pula sudut miring wuwungan yang akan dibentuk? Berapa berat kekuatan yang ditopang? Setiap sudut ruang pun harus diperhitungkan dan direncanakan lebih dulu. Setelah seluruhnya diperinci secara jelas, bangunan yang sudah dirancang dengan baik itu pasti terbangun dengan hasil yang memuaskan. Karena sedikit salah perhitungan, bukan mustahil rumah itu akan ambruk dan akibatnya tentu fatal.

Demikian pula untuk menggali lubang di bawah tanah, juga harus diperhitungkan arah, jarak dan letaknya. Sedikit melenceng, jalan keluarnya pasti meleset jauh dari titik yang sudah ditentukan. Demikian halnya dengan lorong bawah tanah yang digalinya itu. Bila melenceng sedikit dan keluarnya di luar toko serba ada, atau malah muncul di depan Bu-cap-sah, bukankah berarti ia menggali liang kuburnya sendiri. Celakanya adalah ketujuh orang di dalam toko juga ikut menjadi korban sia-sia.

Toa-hoan menghela napas, katanya, “Sekarang baru aku tahu, kenapa engkohmu sengaja mengutus engkau untuk menggali lubang itu. Untuk menggali lubang panjang di bawah tanah seperti itu, jelas lebih sukar dibanding membangun sebuah gedung.”

“Seorang diri aku takkan mampu menggali lorong sepanjang itu. Orang-orang yang duduk di dalam kereta yang tiga itu adalah pembantuku yang boleh diandalkan.”

Jelas rencana kerja ini pun sudah diperhitungkan secara matang dan tepat. Saat datang orang-orang itu membantunya menggali lubang, waktu mau pergi dapat memancing Bu-cap-sah ke arah yang sesat, jelas setiap orang sudah mengembangkan daya kemampuannya.

“Tentunya mereka adalah orang-orang engkohmu yang diutus untuk membantu kau bekerja, betulkah mereka murid-murid Kaypang?” tanya Toa-hoan.

Siapa pun sependapat dengan pertanyaan ini. Ji Liok tertawa, katanya, “Mereka juga bukan murid Kaypang. Mereka adalah pembantuku yang biasa bekerja di bangunan. Sebagai pekerja bangunan, sudah layak bila mereka pun pandai menggali lubang.”

Ji-liong melengak. Toa-hoan melenggong, demikian pula Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian bungkam, heran dan takjub.

“Kau sendiri yang membuat rencana kerja ini?” tanya Ma Ji-liong.

Ji Liok tertawa pula, katanya, “Kalau engkohku menyuruh aku bekerja, maka aku akan bekerja lebih baik dan nilainya tentu jauh lebih memuaskan.”

Rencana serapi itu, kerja besar yang memerlukan banyak tenaga, ternyata hanya dipimpin oleh seorang kasar saja. Kelihatannya ia memang serba kasar, kaki tangan dan mukanya kotor berlumpur, kuku jarinya juga hitam-hitam, tapi sekarang tiada orang yang berani menganggapnya kasar dan kotor.

“Di mana engkohmu sekarang?” tanya Toa-hoan.

Ji Liok menghela napas, sahutnya, “Setelah menyerahkan tugas ini, dia lantas pergi entah ke mana, tidak mau turut campur lagi.”

Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas, katanya, “Jika aku punya saudara seperti kau, aku pun akan bersikap seperti Ji Ngo, persoalan apa pun tidak perlu kukerjakan sendiri.”

Waktu menghela napas, kedua matanya mengawasi Coat-taysu, siapa pun tahu bahwa dia sedang terkenang pada saudara angkatnya Thiat Coan-gi.

Memang Thiat Coan-gi, saudara angkatnya itu mungkin tidak sembabat dibanding adik Ji Ngo, tapi saudaranya itu juga mampu mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin bisa dikerjakan orang lain. Kini saudaraya itu sudah gugur demi mempertahankan jiwa raga saudaranya.

Coat-taysu tidak memberikan reaksi, Apa pun yang diucapkan orang lain, kritik apa pun yang ditujukan kepada dirinya, ia anggap tidak dengar saja.

Malam makin larut.

Waktu mereka naik ke kereta dan berangkat tadi, hari baru saja gelap. Kini mereka sudah tiga jam menempuh perjalanan. Mereka berpendapat Ji Liok akan menempuh perjalanan semalam suntuk, tapi dugaan orang banyak ternyata meleset.

Waktu itu kereta sedang memasuki sebuah kota besar. Entah apa nama kota ini, yang pasti ada jalan raya yang cukup besar dengan gedung-gedung besar berderet di kedua pinggir jalan. Bila kereta membelok ke arah kanan, keadaan di sini jauh lebih sepi kalau tidak mau dikata lengang. Rumah-rumah penduduk di sini sudah tutup semua. Dari bentuk bangunan dan jalan raya yang beralas batu gunung yang tebal dan kuat, dapat diduga bahwa kota ini cukup besar dan makmur.

Diam-diam Toa-hoan dan Cia Giok-lun mengintip keluar lewat jendela. Di saat kereta membelok lagi ke kanan memasuki sebuah gang yang tidak begitu lebar, setelah maju lagi beberapa saat, tampak gang ini ternyata buntu. Meski cuaca sudah gelap, tapi dapat diketahui bahwa gang ini tiada jalan tembus. Di sini hanya ada rumah gedung yang terletak di depan, tampaknya milik hartawan kaya raya.

Pintu gerbang pelindung rumah ini bercat merah. Di kanan kiri luar pintu berjongkok dua batu singa besar, di tengah adalah jalan rata yang dapat dilewati kereta untuk keluar masuk.

Semula pintu gerbang bercat merah itu tertutup rapat, tapi kereta kuda itu terus maju ke depan, langsung mencongklang ke arah pintu gerbang yang tembus ke dalam gedung. Meski pintu gerbang masih tertutup, jarak juga makin dekat, tapi laju kereta tetap dalam kecepatan sedang. Kalau tidak segera dihentikan, sebentar lagi kereta kuda pasti akan menumbuk pintu gerbang yang tertutup rapat itu.

Belasan langkah sebelum kereta kuda itu tiba di ambang pintu, mendadak daun pintu gerbang yang besar dan berat itu terpentang ke kanan kiri, maka kereta terus menerjang masuk dan berhenti di pekarangan yang besar dan luas.

Begitu kereta kuda itu masuk ke pekarangan, pintu gerbang lantas tertutup lagi. Pintu kereta lantas dibuka oleh Ji Liok.

“Silakan kalian turun,” kata Ji Liok.

“Turun? Untuk apa turun?” tanya Toa-hoan.

“Malam ini kita menginap di sini,” demikian Ji Liok menjelaskan.

“Lho, kenapa harus menginap di sini?” Toa-hoan bertanya pula dengan nada keki.

Ji Liok tertawa, katanya, “Kurasa Bu-cap-sah akan mengira kita menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa di tengah malam.”

Padahal Ma Ji-liong dan lain-lain juga beranggapan demikian. Kereta kuda dikira akan terus menempuh perjalanan hingga fajar, maka Ji Liok mengambil keputusan secara tegas, kereta berhenti dan menginap di gedung ini.

“Akalmu memang bagus,” demikian puji Thiat Tin-thian sambil tertawa.

Pekarangan besar dan luas, gedung itu pun besar dan megah bentuknya. Dindingnya berkembang, sakanya terukir, jendela juga ditempel kertas putih bak salju, di tengah malam buta rata begini kelihatan mengkilap.

Tetapi gedung besar ini masih kosong melompong, tiada apa-apanya, tidak ada meja kursi atau perabot rumah tangga lainnya, juga tidak ada penerangan lampu. Walau gedung ini dalam keadaan gelap gulita, tetapi di luar sinar bintang berkerlap-kerlip, bulan sabit juga mengintip di balik mega, sehingga keadaan terasa sunyi dan sepi.

Ji Liok menjelaskan, “Inilah salah satu gedung yang kuborong untuk dibangun. Bangunan ini belum selesai, baru sembilan bagian rampung dikerjakan. Pemiliknya adalah seorang pembesar tinggi yang sudah pensiun, menurut rencana pertengahan bulan depan baru akan pindah ke sini.”

Saat itu masih tanggal muda, jadi masih ada satu setengah bulan lagi. Gedung ini belum dihuni orang, tak heran kalau keadaannya masih kosong dan sepi.

“Siapakah yang membuka pintu tadi?” Toa-hoan yang suka rewel lalu bertanya.

“Salah seorang pembantuku yang kusuruh menjaga gedung ini,” sahut Ji Liok. “Aku tanggung dia tidak akan membocorkan jejak kita.”

Orang tua renta itu memang takkan bisa membocorkan rahasia siapa pun, karena dia seorang bisu tuli. Seorang tua renta yang setengah pikun dan bungkuk, timpang lagi, usianya sudah tua, badannya cacat lagi, jelas tidak punya gairah atau harapan hidup di masa depan, sudah tiada urusan apa pun di dunia ini yang menarik perhatiannya.

Sebuah gedung megah yang kosong melompong, seorang tua cacat yang setengah pikun, dengan hanya memiliki sebuah lampion kotor yang sudah buram cahayanya, di malam dingin yang gelap di musim semi, tujuh orang buronan.

Lampion yang sudah butut itu tampak bergoyang-gontai ditiup angin malam. Si kakek timpang tertatih-tatih berjalan di depan menunjukkan jalan. Orang takkan suka melihat wajahnya, terutama anak perempuan, agaknya orang tua ini juga segan memperlihatkan tampangnya yang buruk di depan umum, maka lampion ia gantung rendah dan ia pun berjalan sambil menunduk.

Tujuh orang dibagi empat kamar yang berbeda dan tersebar letaknya.

Ma Ji-liong sekamar dengan Ji Liok, Toa-hoan sudah tentu sekamar dengan Cia Giok-lun. Thiat Tin-thian sekamar dengan Ong Ban-bu, Coat-taysu seorang diri di satu kamar yang terpisah di tempat yang agak jauh.

Tidak ada orang yang mau bercampur dan sekamar dengan dia, ia pun segan bergaul dengan orang lain.

Di tengah malam yang dingin di musim semi ini, seorang beribadah seperti Coat-taysu, seorang diri tinggal di kamar kosong melompong, kenangan lama dan kejadian di depan mata, dendam lama dan sakit hati baru terbayang di benaknya. Entah bagaimana ia harus menenteramkan gejolak perasaannya?

Setelah menempuh perjalanan jauh, apalagi mereka harus merangkak dan merunduk jalan di dalam lorong bawah tanah tadi, badan terasa amat penat, tapi dalam keadaan seperti itu, jarang ada orang yang bisa tidur.

Cia Giok-lun tidak tidur. Di atas lantai ia lembari rumput kering, bagian atas dilapisi tikar, mereka tidur di lantai dengan hanya beralaskan tikar. Deru angin malam di luar jendela dirasakan seperti isak tangis perempuan yang ditinggal pergi oleh suami dan menyesali nasibnya sendiri.

“Kau sudah tidur belum?” tanya Cia Giok-lun.

“Belum.”

Toa-hoan juga tidak bisa tidur, maka Cia Giok-lun bertanya kepadanya, “Kenapa kau tidak bisa tidur? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Apa pun tidak mungkin kupikirkan, aku hanya tidak ingin lekas tidur.”

Mendadak Cia Giok-lun tertawa, katanya, “Tidak usah kau membohongi, aku tahu apa yang terkandung di dalam benakmu.”

“Oh?”

“Kau sedang merindukan Ma Ji-liong,” demikian ucap Cia Giok-lun berseloroh. “Aku tahu kau amat menyukainya.”

Toa-hoan tidak menyangkal juga tidak membenarkan, ia malah balas bertanya, “Kenapa tidak bisa tidur? Apa pula yang sedang kau pikirkan?”

Jawaban Cia Giok-lun ternyata cukup mengejutkan siapa saja bila mendengar perkataannya, “Seperti juga kau, aku juga sedang memikirkan Ma Ji-liong.” Setelah menghela napas, ia melanjutkan, “Beberap a bulan aku hidup serumah dengannya, tidur dalam satu kamar meski tidak satu ranjang, setiap malam aku mendengar deru napasnya, kenapa sekarang aku tidak merindukan dia? Sekarang aku berpisah dengan dia, bagaimana aku bisa tidur?”

Toa-hoan terdiam. Tanpa bicara, mendadak ia bangkit lalu melangkah membuka daun jendela.

Di tengah malam nan dingin seperti ini, seorang gadis seperti dirinya, jika isi hatinya dikorek orang, apa pula yang bisa ia katakan? Agaknya Toa-hoan punya banyak persoalan yang ingin dibicarakan dengan Cia Giok-lun. “Aku tidak punya kakak, tidak punya adik, sejak kecil sebatang kara, aku ini anak yatim piatu,” demikian kata Toa-hoan.

“Betul, aku juga anak tunggal, tidak punya saudara besar maupun kecil, sejak kecil orang yang terdekat dengan aku hanya engkau,” demikian kata Cia Giok-lun. “Selama hidup hingga kini tidak pernah aku membayangkan bahwa kau akan membuatku celaka begini. Aku sudah menganggap kau sebagai saudaraku sendiri, maka aku tidak pernah menaruh curiga sedikit pun terhadapmu. Oleh karena itu, waktu kau menutuk Hiat-toku hari itu, sungguh aku terkejut setengah mati.” Setelah menghela napas, Cia Giok-lun meneruskan, “Sekarang aku sudah mengerti, sudah maklum bahwa kau memang pantas menjadi saudaraku yang sejati. Apa yang kau lakukan memang bertujuan baik, demi masa depanku. Tetapi waktu itu, kecuali kaget, aku juga dendam dan membencimu.”

Toa-hoan berdiri diam saja menghadap keluar jendela, tidak menoleh juga tidak menanggapi perkataannya.

Cia Giok-lun melanjutkan, “Jika waktu itu aku pingsan oleh tutukanmu, mungkin agak mending. Sayang sekali, meski badan tidak bisa bergerak, tapi aku masih dalam keadaan sadar. Apa yang kau lakukan atas diriku bisa kurasakan dengan jelas, aku tahu apa yang kau lakukan atas diriku.” Suara Cia Giok-lun amat kalem, “Kejadian itu takkan kulupakan selama hidupku.” Setelah menghela napas, ia menyambung, “Kau membawa aku ke balaikota, kau mengurungku dalam sebuah kamar remang-remang, membelejeti pakaianku hingga aku telanjang bulat, lalu merebahkan aku di atas ranjang yang keras dan dingin. Tak lama kemudian kau membawa laki-laki untuk melihat badanku yang bugil, setiap perbuatanmu kuketahui dengan jelas.”

Mendadak Toa-hoan menghela napas, katanya, “Waktu itu aku kira kau sudah pingsan dan tidak sadarkan diri, maka…….”

Cia Giok-lun tidak memberi kesempatan, ia bertanya, “Tahukah kau, bagaimana perasaan hatiku waktu itu? Tahukah kau, bila gadis perawan dalam keadaan polos dilihat seorang lelaki, betapa remuk hatinya, saking malu rasanya ingin mati saja.”

“Aku tidak tahu,” sahut Toa-hoan. Ya, tidak tahu karena tidak mengalami dan merasakan sendiri.

“Sudah tentu kau tidak tahu,” ujar Cia Giok-lun. “Karena kau belum pernah dibelejeti pakaianmu, belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhmu dalam keadaan telanjang bulat.” Dengan tertawa Cia Giok-lun menyambung, “Tapi kutanggung kau akan segera merasakan sendiri.”

Muka Toa-hoan berubah, mendadak tubuhnya melompat ke atas menerobos jendela menerjang keluar. Sayang gerakannya masih terlambat setindak. Di saat tubuhnya melompat keluar, Cia Giok-lun sudah turun tangan dari belakang, sekali gerak beberapa Hiat-to di belakang tubuhnya telah tertutuk hingga tubuhnya tak berkutik lagi.

Cia Giok-lun hendak membalas. Toa-hoan sadar dan waspada, maka ia berusaha melarikan diri.

Siapa pun pasti berpikir demikian, dugaan demikian memang masuk akal. Tapi kalau berpendapat demikian, maka adalah salah besar, meleset.

Rona muka Toa-hoan berubah lalu melompat keluar jendela, itu benar, tapi Toa-hoan melompat keluar dan berubah kaget air mukanya bukan karena ia takut atas pembalasan Cia Giok-lun, bukan karena ia takut Cia Giok-lun menyerang dirinya. Hakikatnya ia tidak mendengar apa yang dibicarakan Cia Giok-lun tadi terhadap dirinya.

Mukanya berubah lalu melompat keluar karena Toa-hoan melihat suatu kejadian yang mengerikan, peristiwa yang menakutkan. Siapa saja pasti kaget melihat kejadian itu, kejadian yang tak pernah diduga akan disaksikan oleh dirinya sendiri.

Jika saat itu ia sempat membeberkan kejadian yang ia saksikan, kejadian yang lebih menakutkan tentu takkan berkepanjangan. Sayang Hiat-tonya tertutuk, ia tak bisa bicara. Cia Giok-lun sudah menutuk beberapa jalan darah di punggungnya, termasuk jalan darah di leher yang membuatnya bisu. Jangan kata bicara, menjerit pun tidak sempat lagi.

Jika Cia Giok-lun tahu Toa-hoan telah menyaksikan suatu peristiwa yang mengerikan, pasti ia juga terkejut. Sayang Cia Giok-lun tidak melihat, juga tidak tahu, maka ia masih tertawa-tawa, tawa yang riang malah.

“Sekarang kau akan tahu bagaimana perasaan hatiku waktu itu,” kata Cia Giok-lun sambil cekikikan. “Karena akan kugunakan cara yang kau gunakan terhadapku tempo hari untuk membalas perbuatanmu sendiri. Biar Ma Ji-liong juga melihat tubuhmu yang bugil. Hihihi……..”

Ma Ji-liong juga tidak bisa tidur. Ia ingin mengajak Ji Liok mengobrol. Sayang, begitu merebahkan diri, Ji Liok lantas mendengkur, tidur lelap.

Ji Liok bukan kaum persilatan, bukan pendekar Bulim yang kenamaan, juga bukan anak hartawan besar yang suka royal dan pelesir, anak orang berada yang suka kelayapan malam.

Ji Liok tidak punya sesuatu yang harus dibuat bangga seperti orang ternama yang harus jaga gengsi dan mempertahankan kedudukannya. Ia tak punya persoalan yang merisaukan benaknya seperti orang-orang gede yang banyak terlibat kegiatan.

Diam-diam Ma Ji-liong menghela napas, dalam hatinya timbul keinginan untuk menjadi manusia awam seperti Ji Liok saja, hidup bersahaja, setiap malam tidur menggeros dan lelap setiap rebah di ranjang, tanpa memikirkan tetek-bengek, merisaukan persoalan apa pun.

Sayang Ma Ji-liong ditakdirkan lahir dalam keluarga besar. Sayang dia adalah Ma Ji-liong, pendekar kita yang tidak boleh ditawar. Tapi perasaan Ma Ji-liong itu hanya sekedar pelampiasan kekesalan hatinya saja. Tidak pernah terbetik dalam benaknya rasa sesal karena dirinya terfitnah dan mengalami peristiwa yang membuatnya sengsara. Harkat seorang pendekar sudah melekat dalam sanubarinya. Seorang pendekar mutlak harus mengabdikan diri untuk kepentingan orang banyak, mempertahankan kepribadian, membela keadilan dan kebenaran. Harkat pendekar sudah berjiwa raga pada darah daging Ma Ji-liong.

Daun jendela setengah tertutup, deru angin malam merintih-rintih di luar. Mendadak Ji-liong melihat bayangan seseorang yang sedang melambaikan tangan kepadanya di luar jendela.

Ma Ji-liong melihat Cia Giok-lun sedang melambaikan tangan dengan isyarat supaya ia keluar.

Begitu Ma Ji-liong berada di luar, Cia Giok-lun lantas berbisik, “Akan kubawa kau melihat sesuatu.” Bersinar bola mata Cia Giok-lun, “Kutanggung kau pasti senang melihatnya.” Tawanya penuh arti, tawa yang riang, sudah tentu Ma Ji-liong tertarik. Ia ingin tahu, maka tanpa bicara ia ikut saja waktu diseret Cia Giok-lun.

Mereka kembali ke kamar di mana Cia Giok-lun dan Toa-hoan tinggal. Lewat jendela mereka melompat masuk. Di atas lantai ada dua gulung tikar. Tadi Cia Giok-lun merebahkan Toa-hoan di salah satu gulungan tikar, lalu menutupnya pula dengan gulungan tikar yang lain.

“Coba kau singkap tikar penutup itu,” demikian pinta Cia Giok-lun. “Lihat dulu ujung yang sini, lalu lihat lagi ujung yang sana.” Pertama ia ingin Ma Ji-liong melihat kaki Toa-hoan, lalu melihat wajah, dada dan tubuhnya.

Tanpa bicara lagi Ma Ji-liong melakukan permintaan Cia Giok-lun. Ia menyingkap dahulu tikar di sebelah sini dan melongok ke bawah, seketika roman mukanya berubah. Bila ia melongok pula ujung yang sebelah sana, roman mukanya berubah jelek dan ngeri.

Cia Giok-lun masih tertawa cekikikan, katanya, “Semula aku tidak mengira kau akan terkejut sedemikian rupa, karena kau pasti bisa menduga bahwa aku harus dan berhak menuntut balas padanya.”

Makin menakutkan perubahan rona Ma Ji-liong. Cukup lama ia berdiri menjublek, lalu balas bertanya, “Kepada siapa sebenarnya kau hendak menuntut balas?”

“Sudah tentu kepada Toa-hoan,” ucap Cia Giok-lun sambil tertawa. “Dulu bagaimana dia memperlakukan aku, sekarang begitu pula aku balas mempermainkan dia.”

“Dulu bagaimana dia mempermainkan kau, sekarang dengan cara itu pula kau balas mempermainkan dia,” Ma Ji-liong mengulang perkataan Cia Giok-lun, suaranya seperti rintihan orang yang kesakitan setelah punggungnya dibacok dengan golok.

“Apakah kau juga menutuk Hiat-tonya? Apakah kau menutupnya di bawah tikar ini?” tanya Ma Ji-liong dengan suara gemetar.

Cia Giok-lun memanggut, menggigit bibir sambil tertawa senang.

Tanpa bicara lagi, mendadak Ma Ji-liong berjongkok terus menyingkap tikar penutup itu dengan sendalan keras ke pinggir.

Semula Cia Giok-lun masih tertawa riang, tapi mendadak kulit mukanya menjadi kaku, tawanya pun membeku menjadi seringai getir, mimik mukanya seperti orang yang ditusuk pisau pantatnya.

Masih segar dalam ingatannya, sekarang dirinya pun masih segar, jelas tadi ia merebahkan Toa-hoan di atas tikar lalu menutupnya dengan tikar yang lain. Tapi begitu Ji-liong menyingkap tikar ke pinggir, yang berada di bawah tikar ternyata bukan lagi Toa-hoan, tetapi si kakek timpang yang bungkuk lagi bisu tuli penjaga gedung ini.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: