Kumpulan Cerita Silat

26/04/2008

Darah Ksatria: Bab 32. Tangan Yang Mengejutkan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:02 am

Darah Ksatria
Bab 32. Tangan Yang Mengejutkan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Keadaan di dalam rumah sudah berbeda dibanding waktu mereka meninggalkan tempat ini. Ranjang besar yang terletak di tengah ruang sudah dibongkar dan disingkirkan ke pinggir. Cia Giok-lun yang semula harus meronta-ronta untuk berganti pakaian dan membersihkan badan itu sekarang sudah berdiri tegak, berjalan atau bergerak dengan leluasa seperti orang sehat.

Tapi ini bukan sebab utama kenapa Thiat Tin-thian dan Toa-hoan kaget setengah mati. Mereka kaget karena di dalam rumah melihat Ma Ji-liong lagi. Yang berdiri jajar di pinggir Cia Giok-lun ternyata bukan penjahit tadi, tetapi adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong masih dalam penyamarannya sebagai Thio Eng-hoat.

Padahal mata mereka belum lamur, melihat dengan nyata, dengan gamblang bahwa Ma Ji-liong lewat di depan mereka, tapi sekarang mereka melihat dengan jelas pula seorang Thio Eng-hoat alias Ma Ji-liong berdiri segar bugar di hadapan mereka.

Ternyata Thio Eng-hoat alias Ma Ji-liong yang mereka lihat beranjak keluar tadi bukan Ma Ji-liong yang asli. Jadi dua kali mereka melihat Thio Eng-hoat, padahal dalam kesan mereka Thio Eng-hoat adalah samaran Ma Ji-liong, dwi tunggal, dua orang yang menjadi satu. Kini di dalam rumah mereka saksikan lagi seorang Thio Eng-hoat, padahal laki-laki ini tadi sudah keluar rumah. Lalu dari mana dia masuk dan tahu-tahu sudah berada di dalam rumah pula. Lalu di mana tukang jahit tadi?

Karena ranjang besar itu dibongkar dan disingkirkan, kamar itu menjadi luang dan lebar. Bukan duduk atau mondar-mandir, ternyata Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun berdiri diam penuh perhatian di tempat itu, di mana tadi ranjang itu berada. Mata mereka tertuju ke lantai, penuh perhatian mereka mengawasi lantai kosong itu. Begitu Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menerobos masuk, Ma Ji-liong segera mengangkat jari telunjuk mendekap mulut, memberi isyarat dengan maksud supaya mereka tidak bersuara.

Syukur Toa-hoan dan Thiat Tin-thian adalah orang-orang yang tabah. Meski menghadapi kejadian yang mengejutkan, mereka tidak berteriak kaget. Agaknya mereka tidak lupa bahwa si gila mampu mendengar ular yang lagi bermain cinta dan kura-kura bertelur.

Sigap sekali Toa-hoan berlari keluar. Waktu masuk lagi dia membawa kertas dan alat tulis. Dengan tulisan ia bertanya pada Ma Ji-liong, “Siapa kau?”

Agaknya susah baginya membedakan apakah Thio Eng-hoat yang satu ini betul adalah samaran Ma Ji-liong tulen.

Orang ini betul adalah Ma Ji-liong. Cia Giok-lun memberikan kesaksian.

“Siapakah orang yang keluar tadi?” tanya pula Toa-hoan dengan tulisan.

“Tukang jahit itu,” kembali Cia Giok-lun yang menjawab, sudah tentu dengan tulisan pula.

Walau sudah menduga hal itu, tetapi Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tak mau percaya begitu saja, “Bagaimana tukang jahit itu bisa berubah menjadi Thio Eng-hoat?”

Kali ini Ma Ji-liong tertawa. Dengan alat tulis ia menjawab pertanyaan itu, tulisannya bergaya indah, “Kalau dia mampu mengubah aku menjadi Thio Eng-hoat, kenapa dia sendiri tidak mampu merubah dirinya menjadi Thio Eng-hoat?”

Toa-hoan melongo. Ia betul-betul kaget dan heran, juga amat senang. Sungguh tak pernah terbayang dalam benaknya kalau orang ini bisa datang ke mari. Sekarang ia paham apa yang telah terjadi.

Tapi Thiat Tin-thian masih belum mengerti. “Siapakah orang yang kalian bicarakan itu?” tanyanya dengan tulisan juga.

Toa-hoan segera menulis ‘Giok-jiu-ling-long Giok Ling-long, tokoh besar yang misterius, namanya sudah menggetarkan dunia persilatan sejak enam puluh tahun yang lalu.

Persoalan yang kelihatannya ruwet dan mengejutkan, kalau sudah terbongkar, jawabannya ternyata amat mudah, sederhana dan sepele.

Sekarang Thiat Tin-thian juga sudah mengerti. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long, nama yang cukup memberi jaminan, memberi penjelasan tuntas.

Dengan tata rias yang tiada banding di dunia ini, menyamar menjadi seorang tukang jahit yang kelihatannya biasa dan tidak menarik perhatian orang, sebagai tukang jahit undangan Bu-cap-sah ia menyelundup ke mari. Tiada orang yang menduga bahwa ia akan dan sudah berada di sini, oleh karena itu tiada orang yang melihat gejala-gejala yang mencurigakan pada dirinya.

Kesempatan waktu ia berhadapan empat mata dengan Ma Ji-liong tadi, ia merubah dirinya menjadi seorang Thio Eng-hoat yang lain dengan bahan-bahan make-up yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Baru sekarang Toa-hoan membayangkan, wajah tukang jahit tadi lapat-lapat memang ada sedikit mirip dengan Thio Eng-hoat, beberapa segi malah ada titik persamaannya. Dengan kemampuannya yang luar biasa, hanya sekedar memproses sini dan memperbaiki sana, dengan keahlian kedua tangannya, lekas sekali wajahnya sudah berubah menjadi Thio Eng-hoat. Jelas hal ini juga sudah ia rencanakan lebih dulu.

Kenapa Giok Ling-long berbuat demikian? Kenapa ia menampilkan diri pula dalam percaturan Kangouw sebagai Ma Ji-liong, berani keluar untuk menemui dan berhadapan langsung dengan Bu-cap-sah? Toa-hoan tidak habis mengerti, Thiat Tin-thian juga bingung.

Lantai kosong di mana ranjang besar tadi berada, kecuali debu kotoran yang tidak pernah disapu, tidak ada barang apa pun di lantai itu. Lalu apa yang dilihat dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun?

Kenapa ranjang besar itu mereka bongkar? Toa-hoan dan Thiat Tin-thian juga merasa bingung. Mereka bertanya dengan tulisan pada Ma Ji-liong, tapi yang ditanya hanya tertawa-tawa saja, tawa yang penuh mengandung arti. Terpaksa mereka hanya ikut berdiri melongo seperti orang bodoh mengawasi lantai kosong yang tidak ada apa-apanya yang bisa ditonton itu.

Di saat Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menghela napas, merasa dirinya seperti orang bodoh, mendadak mereka berjingkat mundur. Kembali mereka menyaksikan kejadian luar biasa yang mengejutkan.

Mereka berjingkat karena melihat sebuah tangan, tangan manusia. Lantai kosong yang semula tiada apa-apanya itu, mendadak tanahnya kelihatan bergerak-gerak lalu mencuat minggir seperti digali oleh seekor tikus dari dalam tanah, lalu muncul sebuah tangan manusia dari bawah tanah.

Tangan manusia yang kelihatan kasar, kekar lagi penuh tenaga, mirip benih pohon yang mulai bersih mencuat keluar dari dalam tanah. Jari tengah, jari manis dan jari kelingking tegak berdiri, sementara jari telunjuk berpadu dengan ibu jari membuat lingkaran. Gaya tangan seperti itu umumnya memberi tanda bahwa segala urusan sudah beres, berarti dia sudah menunaikan tugas dengan baik, segala persoalan tidak perlu dikuatirkan.

Tangan siapakah yang muncul dari dalam tanah ini? Bagaimana mungkin tangan manusia muncul dari bawah tanah? Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tidak ragu dan bimbang bahwa tangan itu benar milik manusia hidup. Tangan orang mati tak mungkin bisa bergerak dan memberi tanda dengan gerakan.

Sudah berapa lama Toa-hoan tinggal di rumah ini, tak pernah tahu ada sesuatu gejala yang mencurigakan bahwa di bawah tanah ini ada dihuni orang. Dengan kemampuan Toa-hoan, tidak mungkin diketahui bila ada manusia hidup dan tinggal di bawah tanah di mana mereka bertempat tinggal.

Toa-hoan dan Thiat Tin-thian amat kaget begitu melihat tangan itu muncul dari dalam tanah, tetapi Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun ternyata bersikap adem-ayem, tidak kaget sama sekali, Cia Giok-lun malah tersenyum lega.

Ma Ji-liong maju selangkah lalu membungkuk badan, tangannya diulur, dengan jari telunjuk ia menutul tiga kali di ujung jari tengah tangan itu. Selang beberapa saat ia menutul tiga kali, beruntun ia menutul tiga kali tiga sama dengan sembilan kali.

Tangan yang mengejutkan itu mendadak mengkeret masuk ke dalam tanah. Tanah kosong yang tiada apa-apanya itu kini betul-betul menjadi kosong, hanya bertambah sebuah lubang. Lubang yang cukup besar untuk tangan orang diulur keluar atau tangan yang merogoh masuk ke dalam lubang. Tangan itu sudah lenyap, tiada kelihatan, tapi lubang itu masih menganga meski lubangnya tidak lebar.

Tangan keluar dari dalam lubang, lalu dari mana datangnya lubang itu? Tanah di bawah rumah ini jelas bersatu dengan bumi, tanah di bawah rumah ini jelas tidak berbeda dengan tanah di lain tempat. Di sini mungkin kau bisa menanam pohon atau rumput, pohon juga bisa tumbuh berkembang dan berbuah, tapi tak mungkin tanpa sebab mendadak bolong atau berlubang. Lubang yang sembarang waktu bisa dilalui tangan yang keluar dan masuk.

Toa-hoan mengawasi Thiat Tin-thian, Thiat Tin-thian juga mengawasi Toa-hoan, lalu mereka menoleh bersama ke arah Ma Ji-liong. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, namun mereka yakin Ma Ji-liong bisa memberi penjelasan.

Ma Ji-liong masih asyik memperhatikan lubang itu, tidak memandang mereka, melihat pun tidak, seluruh perhatian ditujukan ke arah lubang itu.

Lubang itu semula selebar mulut gelas, mendadak tampak berubah makin besar, tanah di sekitar lubang mendadak bergerak seperti beriak. Makin lama riak gelombang makin besar, tanah juga berguguran ke bawah hingga bergolak seperti air mendidih di dalam kuali.

Mendadak tanah yang bergolak itu seluruhnya amblas ke bawah, lubang kecil itu mendadak berubah menjadi lubang gede, lubang sebesar permukaan meja bundar. Begitu lubang menjadi besar, dari bawah tanah muncullah seseorang, seorang berwajah persegi yang berlepotan tanah, namun cahaya matanya bersinar terang. Pertama dia mengawasi Ma Ji-liong sambil tertawa, lalu berganti menatap Cia Giok-lun, Toa-hoan dan Thiat Tin-thian.

Tetapi keempat orang ini tiada yang mengenalnya, sudah tentu laki-laki ini juga tidak mengenal mereka. Kedua pihak sama-sama belum pernah kenal, belum pernah bertemu apalagi kenal.

Orang itu melompat keluar dari dalam lubang, lalu membersihkan tanah di atas badannya, berdiri di pinggir lubang yang dibuatnya. Sambil tersenyum puas ia mengawasi lubang besar itu, sorot matanya tampak riang, puas dan bangga, seperti seniman yang sedang menikmati buah karyanya yang paling diagulkan.

Lama ia menikmati buah karyanya itu baru membalikkan badan. Alat tulis dan kertas masih ada di atas meja, ia mengambil pena lalu menulis, “Silakan tuan-tuan masuk.”

Lubang itu tidak begitu dalam, membelok lurus ke arah timur, mirip lubang gua yang amat dalam dan panjang. Sebetulnya lubang ini tidak mirip gua, lebih tepat kalau dikatakan gorong-gorong, lorong di bawah tanah yang sempit dan lembab.

Dapat diduga bahwa lorong ini digali dari tempat yang cukup jauh, mulut lorong pasti jauh terletak di luar perkampungan yang sudah dibongkar dan dikuasai oleh orang-orang Bu-cap-sah dengan pengepungan yang ketat.

Sekarang baru Toa-hoan paham, semua orang juga paham, lorong bawah tanah ini adalah jalan satu-satunya untuk mereka melarikan diri.

Sudah tentu tanpa diminta kedua kalinya, satu persatu mereka menyelinap masuk ke dalam lorong. Ternyata lorong ini lebih panjang dari yang mereka bayangkan semula. Mereka harus banyak memeras keringat dan tenaga, kadang kala mereka harus merangkak cukup jauh baru berjalan lagi sambil membungkukkan badan. Maklum lorong itu dibuat secara darurat, jadi tidak memenuhi syarat sebagai jalan rahasia di bawah tanah yang biasa dipersiapkan untuk melarikan diri. Mulut lorong memang berada jauh di luar perkampungan yang sudah kosong dan luas, malah melampaui beberapa jalan raya lalu membelok ke selatan.

Beberapa jam diperlukan untuk menerobos lorong yang pengap lagi lembab itu. Begitu melompat keluar dari dalam lubang, mereka menghirup napas segar dan rasa lega. Tak jauh dari mulut lorong berhenti sebuah kereta besar yang hanya dimiliki hartawan besar atau kaum bangsawan. Kereta bercat hitam itu mengkilap bersih. Kereta ditarik empat ekor kuda yang gagah dan kekar, jelas merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah terlatih baik dan mampu berlari kencang.

Ada pula tiga buah kereta lain dalam bentuk dan ukuran sama berjajar di pinggir hutan sana. Tiga kereta itu masing-masing menuju ke tiga arah, kusir kereta sudah duduk di tempatnya siap menghalau kereta dengan cemeti di tangan.

Laki-laki kekar baju hitam yang menggali lubang itu melompat keluar lebih dulu. Setelah orang banyak melemaskan otot dan menenteramkan napas dan perasaan, segera ia memberikan penjelasan, “Untuk menghindari pengejaran Bu-cap-sah, maka kita sediakan tiga kereta lain yang sama bentuk dan ukurannya. Di atas kereta juga ditumpangi enam pria satu wanita, tujuh orang, bekas roda kereta yang ditinggalkan di jalan raya juga pasti sama, tidak banyak berbeda.”

Laki-laki ini bilang enam pria satu perempuan karena Toa-hoan masih berpakaian laki-laki, sementara ia juga akan mengiringi Ma Ji-liong dan lain-lain naik kereta yang terdekat.

“Kita tidak usah menunggu Giok-toasiocia, ia punya cara dan akal untuk menghadapi Bu-cap-sah, yakinlah bahwa dia dapat meloloskan diri tanpa kurang suatu apa,” sembari bicara laki-laki ini mengawasi Ma Ji-liong yang belum juga mau naik kereta. “Beliau sudah memberi pesan kepadaku supaya tidak usah menunggu dia, karena dia tahu kau ini paling bandel, maka beliau merasa perlu memberi pesan kepadaku.”

Untung kali ini Ma Ji-liong tidak membandel. Begitu ia duduk di atas kereta, sais kereta segera mengayunkan cemeti, “Tar!”, enam belas ekor kuda serempak menggerakkan kaki, tiga puluh dua roda kereta serempak menggelinding ke depan. Empat kereta empat arah yang ditempuh, keempat kereta itu meninggalkan bekas roda dan tapak kuda yang sama.

Laki-laki penggali tanah itu berkata, “Dari empat jalan raya yang kita tempuh ini, satu menuju ke Thian-ma-tong, satu lagi langsung menuju ke Siong-san, yang ketiga pergi ke Bik-giok-san-ceng.”

“Yang satu lagi menuju ke mana?” tanya Toa-hoan.

“Yang keempat ini adalah jalan yang dilalui Bu-cap-sah waktu datang ke sini,” penggali lubang menjelaskan. “Jalan ini menuju ke lembah mati.”

“Jalan mana yang kita tempuh?” tanya Cia Giok-lun penuh harap. “Apakah kita langsung pulang ke Bik-giok-san-ceng?”

“Bukan,” sahut Toa-hoan. “Pasti bukan.”

“Kenapa bukan?” tanya Cia Giok-lun.

Penggali lubang menjelaskan, “Karena Bu-cap-sah pasti juga sudah menduga bahwa kita mungkin akan menempuh jalan itu.”

Cia Giok-lun menghela napas. Toa-hoan berkata, “Ke mana kau akan membawa kami?”

“Lembah mati,” sahut penggali lubang. “Karena siapa pun pasti tidak menduga kalau kita justru pergi ke lembah mati, ke sarang Bu-cap-sah malah.” Lalu ia menambahkan setelah menarik napas, “Giok-toasiocia juga menganjurkan supaya kita menempuh jalan ini, ia bilang akan menyusul kita di sana.”

Tidak ada yang bertanya ‘Kenapa dia juga akan ke sana?’, karena setiap orang percaya, apa yang dilakukan Giok-toasiocia ada alasannya sendiri.

Kereta berjalan cepat dan tenang. Kabin kereta memang lebar dan panjang, mereka dapat duduk santai dan takkan merasa penat atau gerah. Sejak kereta berangkat, Toa-hoan selalu memperhatikan penggali lubang itu. Mendadak ia bertanya, “Tuan, apakah kau murid Kaypang?”

Melihat tindak-tanduk, dandanan dan tutur bicaranya, siapa pun akan beranggapan bahwa penggali lubang ini adalah murid Kaypang, karena hanya murid Kaypang saja yang mampu menunaikan tugas yang berat dan sukar ini. Hanya pihak Kaypang saja di bawah pimpinan Kanglam Ji Ngo yang berani mengambil-alih tugas dan mencampuri urusan ini.

Tapi penggali lubang itu menggelengkan kepala, “Aku bukan murid Kaypang.” Ia menjawab sambil tersenyum, “Bahwasanya aku tidak pernah berkecimpung di Kangouw.”

Jawabannya di luar dugaan orang banyak. Toa-hoan bertanya pula, “Kau she apa dan siapa nama tuan?”

Penggali lubang itu tampak bimbang sejenak. Agaknya ia segan memperkenalkan diri, seakan-akan bila ia memperkenalkan diri maka namanya akan mengundang ejekan orang, dirinya akan malu berhadapan dengan orang. Tapi setelah ditunggu dan diawasi sekian saat, akhirnya ia menjawab dengan terpaksa, “Aku bernama Ji Liok.”

“Ji Liok?” Toa-hoan berteriak. Orang banyak juga melengak heran. Toa-hoan bertanya pula, “Pernah apa kau dengan Kanglam Ji Ngo?”

“Ji Ngo adalah engkohku yang kelima,” sahut penggali lubang itu.

Kanglam Ji Ngo terkenal di seluruh jagat, ia mengepalai Pang terbesar di dunia, anggotanya tersebar luas di seluruh pelosok Kangouw. Adalah pantas kalau adik Ji Ngo juga seorang yang terkenal, anehnya siapa pun tidak pernah mendengar seorang yang bernama Ji Liok, apalagi sebagai adik Ji Ngo.

“Kalian tentu tidak tahu kalau Ji Ngo masih punya adik seperti diriku,” demikian ucap penggali lubang yang mengaku bernama Ji Liok itu. “Kalian pasti heran, adik Kanglam Ji Ngo, kenapa tidak pernah muncul dalam percaturan dunia persilatan?”

“Ya, kau tidak pernah muncul, kami pun tak pernah mengenalmu.”

Ji Liok tertawa getir, katanya, “Kalau aku sudah punya engkoh seperti Kanglam Ji Ngo yang tersohor, memangnya apa yang bisa kuperoleh kalau berkecimpung di Kangouw? Umpama aku berjuang seratus tahun juga akan tetap sebagai adik Ji Ngo.” Ia mengawasi jari-jari tangannya yang kasar, lalu ia melanjutkan dengan perlahan, “Apalagi aku tidak punya kemampuan apa-apa, aku hanya pandai menggali lubang.”

Ma Ji-liong mengawasinya, sorot matanya berubah hormat dan kagum. Biasanya ia memang menghargai orang yang punya pambek, laki-laki yang tegas berpijak pada pendirian sendiri, menghormati harga diri orang yang berani berdikari.

“Kau bilang tak punya kemampuan apa-apa kecuali menggali lubang,” demikian timbrung Ma Ji-liong. “Padahal untuk menggali lubang bawah tanah dalam jarak sejauh itu, melampaui empat jalan raya sepanjang tujuh-delapan puluh tombak, bukanlah pekerjaan yang ringan, apalagi arah yang dituju sudah diperhitungkan dengan tepat, jalan keluarnya tepat menuju sasaran yang sudah ditentukan di tengah rumah toko serba ada itu.” Setelah menghela napas, Ji-liong menyambung pula, “Kau bilang tidak mampu berbuat apa-apa, tapi lorong tanah sepreti itu, kecuali kau siapa pula yang mampu menggalinya?”

Ji Liok tertawa lebar, “Mendengar pujianmu, aku baru merasa bahwa ternyata aku memiliki keahlian khusus juga.” Dengan senyum dikulum, ia melirik ke arah Ma Ji-liong, “Sekarang aku baru paham kenapa Ngo-ko berkata demikian kepadaku.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Ji-liong.

“Ngo-ko bilang kau ini baik hati. Dalam keadaan apa pun kau tidak pernah melupakan kepentingan orang lain,” demikian ucap Ji Liok. “Dia juga bilang, orang seperti dirimu, dalam masa hidupnya hanya pernah melihat dua orang saja.”

“Dua orang yang mana?” tanya Ji-liong pula.

“Yang seorang sudah tentu dirinya sendiri,” kata Ji Liok tertawa. “Seorang lagi adalah engkau.” Sorot matanya tampak hangat dan bersahabat, “Maka dia menyuruh aku bertanya kepadamu, kau mau tidak bersahabat dengan orang yang hanya pandai menggali lubang?”

Ma Ji-liong segera mengulurkan tangan menjabat tangan Ji Liok

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: