Kumpulan Cerita Silat

26/04/2008

Bakti Pendekar Binal (08)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:37 pm

Bakti Pendekar Binal (08)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menukas dengan terkekeh-kekeh, “Hehehe, saat ini Hoa-kongcu ingin membela diri saja sukar, mana dia ada tenaga buat menolong kalian, masa kalian tidak dapat melihat keadaannya ini, mengapa kalian memaksanya?”

Di tengah gelak tertawa kembali Kang Giok-long muncul dengan lagak tuan besar. Dan Hoa Bu-koat ternyata menyaksikan kedatangannya begitu saja tanpa berdaya dan tak menanggapi.

Keruan Thi Sim-lan melenggong kaget, serunya parau, “Ap…apakah betul demikian?”

Bu-koat menghela napas panjang, katanya perlahan, “Kang Giok-long, aku tidak ingin membunuhmu, apakah kau sengaja mencari mampus sendiri?”

“Betul, aku memang sengaja mencari mampus,” jawab Kang Giok-long dengan terbahak-bahak. “Sekarang juga akan kubawa pergi nona Thi dan sebentar aku akan mati di atas tubuhnya.”

Meski latah ucapannya, tapi sedikit banyak dia tetap jeri terhadap Hoa Bu-koat, ia mengitarinya dari jauh dan mendekati Thi Sim-lan terus memondong nona itu.

Thi Sim-lan menjerit khawatir, “Kau…kau berani ….”

Melihat Hoa Bu-koat tetap diam saja, Kang Giok-long tambah berani, katanya sambil terkekeh-kekeh, “Kenapa aku tidak berani? Memangnya Hoa-kongcu itu bisa berbuat apa terhadap diriku?!”

Sambil memondong Thi Sim-lan, setindak demi setindak ia lantas mundur keluar, cuma matanya tetap menatap Bu-koat.

Thi Sim-lan juga memandang Bu-koat, meski mulut bicara, tapi matanya memancarkan rasa putus asa, seakan-akan seruan tak bersuara terhadap Hoa Bu-koat, “Apakah kau tega menyaksikan aku dibawa lari orang?!”

Bu-koat sudah mandi keringat. Dia sudah berjalan cukup jauh, entah sudah berapa puluh tindak, bukan mustahil cukup satu langkah lagi akan mengantarnya menuju akhirat.

Sekarang, biarpun siapa juga dapat melihat ksatria yang disanjung puji oleh dunia persilatan, pemuda kebanggaan para pahlawan di dunia ini, sama sekali tak berdaya apa pun.

Kang Giok-long bergelak tertawa, teriaknya, “Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat! Kenapa kau tidak maju kemari? Ilmu silatmu yang kau banggakan itu berada di mana? Masa kau benar-benar manda menyaksikan jantung hatimu dibawa ke tempat tidur oleh pemuda lain?”

Sebenarnya dia sudah mundur sampai di ambang pintu, tapi dia tidak terus menghilang sebaliknya ia sengaja berhenti di situ.

Sekujur badan Hoa Bu-koat gemetar seluruhnya. Mati memang menakutkan tapi yang lebih menakutkan ialah bilamana dia sudah mati, maka nasib malang yang akan menimpa Thi Sim-lan tetap sukar berubah.

Tangan Kang Giok-long tampak sengaja menggerayangi dada Thi Sim-lan, katanya sambil terkekeh-kekeh, “Hehehe, lihatlah, dada yang montok sedemikian kenyalnya, kulit badan yang putih ini sedemikian halusnya, tubuh halus ini sebenarnya adalah milikmu, tapi sekarang, semua ini telah menjadi milikku. Cara bagaimana akan kunikmatinya dapat kulakukan sesukaku.”

Di luar dugaan, sekonyong-konyong Hoa Bu-koat melangkah maju setindak demi setindak.

Meski sudah tahu pasti akan mati, sekalipun tahu takkan mampu menyelamatkan Thi Sim-lan, tapi apa pun juga dia tidak boleh menyaksikan nona itu dihina dan dinodai orang. Setiap langkahnya itu entah membutuhkan berapa besar tekad dan keberaniannya.

Sekonyong-konyong suara tertawa Kang Giok-long terhenti. Mau tak mau ia ngeri juga menyaksikan wajah Hoa Bu-koat yang pucat menghijau itu. Teriaknya takut, “Kau…kau berani maju lagi?!”

Bu-koat menarik napas panjang-panjang, bentaknya mendadak, “Lepaskan dia!”

Sinar mata Kang Giok-long tampak gemerlap. Tiba-tiba ia lihat meski wajah Hoa Bu-koat sangat beringas, tapi langkahnya tetap enteng tak bertenaga, seperti cara berjalan seorang yang sama sekali tidak mahir ilmu silat.

Segera ia bergelak tertawa latah pula, teriaknya, “Hahaha, Hoa Bu-koat, kau tidak dapat menggertak aku! Sejak tadi sudah kulihat kau terluka parah oleh Pek San-kun dan istrinya, kepandainmu sama sekali tak dapat dikeluarkan, betul tidak?”

Dengan mengertak gigi Bu-koat tidak bersuara melainkan setindak demi setindak melangkah ke depan.

Sudah tentu ia tahu apa yang dikatakan Kang Giok-long itu memang betul, ia pun tahu dirinya sedang melangkah menuju kematian, tapi baginya sekarang memang cuma ada jalan kematian belaka dan tiada pilihan lain.

Karena lawan sudah semakin dekat, dengan bengis Kang Giok-long membentak, “Keparat, bandel juga kau! Jika kau berani melangkah maju lagi setindak, segera kubinasakan kau!”

Diam-diam Bu-koat menghela napas dan kembali melangkah pula setindak.

“Kematian! Datanglah bilamana kau mau!” demikian pikirnya. Tiba-tiba ia merasa kematian toh tidak begitu menakutkan sebagaimana dibayangkannya semula.

Mendadak terdengar Thi Sim-lan menjerit, “Hoa Bu-koat, kumohon dengan sangat, janganlah engkau maju lagi, aku…tidak menjadi soal, aku kan tidak mendatangkan kebaikan apa pun bagimu, untuk apa kau pikirkan diriku.”

Bu-koat tersenyum hambar, katanya, “Selamanya aku tak pernah menghendaki kebaikan apa pun darimu, bukan? Yang penting asalkan aku ….”

“Tapi apa pun juga yang kau lakukan terhadapku tetap aku tidak menyukaimu,” seru Thi Sim-lan dengan suara gemetar. “Sekalipun kau mati bagiku, yang kucintai tetap Siau-hi-ji. Untuk apa kau mesti mati dengan sia-sia belaka?”

“Nah, Hoa Bu-koat, kau dengar tidak ucapannya?” seru Kang Giok-long sambil terbahak.

“Dengar, sudah kudengar dengan jelas” jawab Bu-koat dengan tersenyum rawan.

“Dan kau masih tetap ingin mengantarkan kematian?” tanya Giok-long pula.

“Kau kira mati sangat menakutkan?” tanya Bu-koat.

“Tapi jangan lupa, setiap orang hanya punya satu nyawa,” kata Giok-long sambil menyeringai.

“Betul, nyawa memang berharga dan tidak mungkin ditukar dengan benda apa pun juga ….” ucap Bu-koat dengan tersenyum. “Sebab itulah apabila aku ingin mati bagi seseorang, maka kematianku juga tidak perlu syarat penukaran apa pun darimu. Apakah dia baik padaku dan mencintai aku atau tidak bukan soal bagiku.”

Thi Sim-lan menangis tersedu-sedan dan tidak sanggup bicara lagi.

Akhirnya Oh-ti-tu tidak tahan, mendadak ia membentak, “Sungguh seorang lelaki sejati! Selama hidupku tidak pernah tunduk kepada siapa pun juga, tapi terhadapmu…Ai, tadi aku benar-benar telah salah paham padamu, sekarang dengan setulus hati kuminta maaf padamu. Engkau…engkau boleh pergi saja.”

Bu-koat menjawab dengan tersenyum hampa, “Terima kasih!” Berbareng ia melangkah maju lagi setindak.

Kang Giok-long seperti terkesima oleh keberanian Hoa Bu-koat yang tidak kenal akibat itu. Tak tersangka olehnya bahwa Hoa Bu-koat juga berwatak sama dengan Siau-hi-ji, bilamana perlu juga nekat dan berani mengadu jiwa. Nyawa yang dipandang paling berharga oleh siapa pun juga bagi mereka berdua itu seakan-akan tiada artinya sama sekali.

Dalam pada itu Bu-koat sudah mulai merasakan kesakitan di pinggangnya seperti ditusuk jarum. Ia tahu kematian sudah menanti dan tidak jauh lagi.

Melihat Bu-koat melangkah maju pula perlahan-lahan, akhirnya Kang Giok-long menyeringai dan berkata, “Baik, jika kau memilih mati, biarlah kupenuhi kehendakmu. Dengan membunuh seorang rasanya juga takkan mengurangi hasrat kenikmatanku nanti.” Diam-diam telapak tangannya sudah menggenggam senjata rahasia dan siap untuk dihamburkan.

Siapa duga pada saat itu juga, mendadak terlihat tubuh Hoa Bu-koat gemetar dengan keras seperti tertusuk jarum, menyusul lantas bergelak tertawa keras seperti orang gila.

Sama sekali tak tersangka oleh Kang Giok-long bahwa pemuda yang ramah tamah seperti Hoa Bu-koat ini bisa mengeluarkan suara tertawa latah sekeras ini. Tanpa terasa dia menegur, “He, apakah kau sudah gila?”

“Hahaaah! Kau…kau heran…heran bukan?” seru Bu-koat sambil tertawa lebih keras.

Setiap kali dia melangkah, segera ia merasa seperti sebatang jarum menusuk pada bagian tubuhnya yang paling lunak dan paling lemah, segera timbul semacam perasaan aneh, ya sakit ya geli, langsung menggelitik hulu hati. Karena itu ia terus-menerus bergelak tertawa, ia tidak mampu mengatasi hasrat tertawa itu. Sebaliknya tenaga dalam yang tadinya macet itu sekonyong-konyong lancar kembali.

Dalam keadaan heran dan khawatir, mendadak Kang Giok-long menghamburkan segenggam jarum yang telah disiapkannya.

“Kau…hahaha, kau berani!” bentak Bu-koat sambil tertawa latah. Berbareng sebelah tangannya terus menggores suatu lingkaran di udara, hujan senjata rahasia itu seketika lenyap seperti nyemplung ke laut, tanpa menimbulkan suara dan tanpa bekas.

“Sungguh Ih-hoa-ciap-giok yang hebat!” teriak Oh-ti-tu saking kagumnya.

Sedangkan Kang Giok-long menjadi pucat ketakutan, teriaknya, “Jadi…jadi tadi kau cuma…cuma pura-pura saja?”

“Betul, haha…hahahaha…Nah, tidak lekas kau lepaskan dia?” bentak Bu-koat disertai tertawa keras.

“Setelah kulepaskan dia kau…kau juga akan melepaskan aku?” tanya Giok-long dengan suara keder.

“Ya, akan ku…hahaha, akan kulepaskan ….” dengan tertawa Bu-koat menjawab.

Kang Giok-long yakin apa yang sudah diucapkan Hoa Bu-koat pasti dapat dipercaya, maka ia tidak berani banyak cincong lagi, begitu Thi Sim-lan diturunkan segera ia angkat langkah seribu, hanya sekejap saja lantas menghilang.

Bu-koat masih terus tertawa seperti orang gila, namun dalam hati dia sudah terang bagaimana jadinya sebentar. Terngiang ucapan Pek San-kun di telinganya, “Asalkan kau melangkah lebih 50 tindak, segera jarum berbisa itu akan menyusup ke Jiau-yau-hiatmu dan tak dapat dikeluarkan lagi untuk selamanya. Kau akan tertawa terus sampai seharian dan akhirnya binasa.”

Apa yang diucapkan Pek San-kun itu tampaknya bukan cuma gertakan belaka. Sebisanya Bu-koat menutup mulutnya, namun tak dapat menahan hasrat tertawanya.

Terpaksa untuk sementara ia tidak memikirkan persoalan ini, ia membuka dulu hiat-to Thi Sim-lan yang tertutuk.

Nona itu terbelalak heran melihat kelakuan Hoa Bu-koat yang tidak normal itu, tanyanya, “Apa yang kau tertawakan?”

“Hahaha, aku…hahaha…aku ….” tetap Bu-koat tak dapat menahan hasrat tertawanya.

Thi Sim-lan menggigit bibir, ucapnya, “Apa kau merasa geli lantaran berhasil mengelabui kami sehingga tadi kami kelabakan setengah mati berkhawatir bagimu, begitu?”

“Aku…hahahaha…aku…Bu-koat tahu si nona salah paham pula, tapi sukar untuk memberi penjelasan. Malahan ia pun khawatir bilamana Thi Sim-lan mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, tentu si nona akan berduka baginya. Terpaksa ia berpaling ke sana dan membuka hiat-to Oh-ti-tu.

Dengan gusar Oh-ti-tu juga lantas membentak, “Apakah kau merasa kelakar ini sangat menggelikan, begitu?”

Diam-diam Bu-koat menghela napas gegetun, akan tetapi siapakah yang dapat menyelami penderitaan batinnya? Orang lain hanya dapat melihat lahiriahnya sedang tertawa gembira.

Mendadak Bu-koat tarik Thi Sim-lan terus diajak lari keluar seperti dikejar setan.

Betapa pun pengalaman Kangouw Oh-ti-tu alias si labah-labah hitam lebih luas, akhirnya ia pun merasakan sikap Hoa Bu-koat itu rada-rada tidak beres, ia mengerut kening dan berpikir. Tiba-tiba dilihatnya pula Buyung Kiu sedang memandangnya dengan terkesima.

Segera ia pun menyampingkan segala urusan, Buyung Kiu diseretnya terus dibawa lari keluar.

*****

Thi Sim-lan masuk dari lorong ini, dengan sendirinya ia tahu rahasia jalan ke luar ini.

Setelah berlari-lari, akhirnya mereka sampai di ruang pendopo semula, ruangan ini masih tetap seram dan sunyi tiada bayangan seorang pun. Agaknya Pek San-kun suami-istri yakin Hoa Bu-koat pasti mati, maka mereka tidak perlu pusing lagi sehingga sepanjang jalan tiada sesuatu rintangan, mereka terus lari keluar menjelajah ladang belukar.

Bintang-bintang yang bertaburan di langit makin menipis dan lenyap, suasana di kaki gunung berhutan sunyi senyap, tapi Hoa Bu-koat masih terus tertawa keras dan kedengaran sangat menusuk telinga menjelang fajar menyingsing ini.

“Dapatkah kau tidak tertawa?” ucap Thi Sim-lan tak tahan.

Langkah Bu-koat sudah makin lambat, tapi suara tertawanya semakin keras, jawabnya, “Aku…aku tidak ….”

“Apakah kau kira caramu membohongi orang sedemikian menggelikan sehingga perlu tertawa terus-menerus?” omel Thi Sim-lan dengan mendelik dongkol.

Remuk redam hati Hoa Bu-koat, hampir saja ia menceritakan duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi tiba-tiba terpikir daripada Thi Sim-lan menyaksikan kematiannya dengan mengenaskan, akan lebih baik biarkan si nona tetap salah sangka saja. Toh dia sudah hampir mati, buat apa mesti membuat orang lain ikut berduka.

Thi Sim-lan membanting kaki dan berkata pula, “Jika kau masih terus tertawa, aku akan segera pergi.”

Diam-diam Bu-koat menyesal, tapi dia tetap tertawa dan menjawab, “Baiklah, silakan kau pergi saja! Hahaha, toh sudah kuketahui kau tidak suka padaku…hahaha, boleh pergi saja kau!”

Tergetar tubuh Thi Sim-lan, tanyanya dengan suara gemetar, “Kau benar-benar menghendaki aku pergi?”

“Ya, hahaha, ya .…” jawab Bu-koat sambil ngakak.

Thi Sim-lan menatapnya dengan melenggong sambil melangkah mundur setindak demi setindak. Sebaliknya Hoa Bu-koat lantas menengadah dan terbahak-bahak pula tanpa memandang sekejap pada si nona.

Akhirnya Thi Sim-lan jadi geregetan, teriaknya, “Baik, pergi ya pergi, baru…baru sekarang kutahu kau adalah orang macam begini.” Segera ia membalik tubuh dan berlari pergi, air mata pun bercucuran.

Tapi Hoa Bu-koat masih terus tertawa latah tanpa berhenti. Dia tahu pasti akan mati, ia menyaksikan orang yang paling dicintainya telah meninggalkannya, bahkan orang yang diselamatkannya dengan mati-matian juga tidak dapat memahami dia, namun dia sendiri…dia masih terus tertawa dan tertawa tanpa berhenti ….

Di pegunungan sunyi itu hanya penuh bergema suara tertawanya yang keras menyeramkan itu, bintang semakin jarang, cuaca tampak buram. Langit dan bumi ini seakan-akan juga tidak kenal kasihan lagi kepada pemuda yang malang ini.

Air mata Hoa Bu-koat akhirnya juga bercucuran.

Sejak kecil ia dibesarkan di dunianya sendiri di suatu lingkungan yang dingin dan tidak kenal citarasa, selama ini belum dikenalnya bagaimana rasanya mencucurkan air mata. Tapi sekarang…di tengah gelak tertawa latahnya sekarang ia meneteskan air mata.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan muncul pula di depannya dan memandangnya dengan termangu-mangu.

Cepat Bu-koat mengusap air mata di pipinya, sambil ngakak ia berkata, “Untuk…hahaha, untuk apa kau kembali lagi ke sini?”

Air muka Thi Sim-lan menampilkan perasaan heran dan khawatir, jawabnya dengan gemetar, “Katakan padaku, sesungguhnya apa yang terjadi pada dirimu?”

“Apa yang terjadi? Hahaha…aku merasa kau sangat lucu, hahaha…masa diusir saja kau tidak mau pergi?”

“Tidak, aku takkan pergi,” jawab Thi Sim-lan. “Kutahu, kau bukanlah orang berhati demikian.”

“Kau tidak mau pergi? Hahahaha, baik, aku saja yang pergi,” teriak Bu-koat.

Tapi sebelum dia membalik tubuh, mendadak Thi Sim-lan merangkulnya sambil menjerit dengan suara parau, “O, katakan padaku, katakan…apakah…apakah engkau menderita sesuatu luka yang sangat aneh?”

“Aku…hahaha…mana aku dapat terluka?” jawab Hoa Bu-koat dengan tertawa.

“Jika tidak, maka kumohon janganlah engkau tertawa lagi.”

“Hahaha! Kenapa…kenapa aku tidak boleh tertawa? Haha, untuk apa kau memelukku? Lepas…hahaha, lepaskan! Hahaha…pergilah mencari Kang Siau-hi-ji saja.”

Lambat-laun ucapan Bu-koat juga mulai tidak jelas. Thi Sim-lan merasakan tangan Bu-koat sedingin es, ia menjadi khawatir dan berseru pula, “Kenapa engkau tidak mau bicara terus terang padaku?”

Tapi Bu-koat tetap tertawa, katanya, “Lepaskan…hahaha…lepaskan ….”

Thi Sim-lan jadi geregetan, tiba-tiba ia berteriak, “Baik, akan kulepaskan, mungkin kau merasa aku tidak pantas memelukmu, tapi asalkan kau bicara terus terang bahwa aku adalah perempuan hina dan kejam, habis itu segera akan kulepaskan.”

“Kau…hahaha…kau ….”

Thi Sim-lan menatapnya lekat-lekat, katanya kemudian dengan pedih, “Ya, tahulah aku, engkau tak dapat mendustai aku. Kutahu dalam keadaan apa pun engkau tidak tega mengucapkan sepatah kata yang dapat menyinggung perasaanku.”

Hati Bu-koat seperti disayat-sayat, tapi dia hanya bisa tertawa saja, tertawa terus-menerus.

Kembali Thi Sim-lan mencucurkan air mata, ucapnya, “Kutahu, lantaran diriku, maka kau berubah menjadi begini. Kau…kau ….”

“Lantaran dirimu? Hahaha…lekaslah kau pergi mencari Kang Siau-hi-ji saja! Le…lekas, lekas!”

“Tidak, aku tidak mau pergi!” teriak Thi Sim-lan dengan suara parau. “Aku takkan mencari siapa-siapa, aku akan tetap mendampingimu, siapa pun tak dapat menyuruh aku pergi.”

“Dan Kang Siau-hi?” tanya Bu-koat.

“Siau-hi-ji?…Sudah lama aku melupakan dia!” teriak Sim-lan dengan suara gemetar dan menangis.

“Kau sudah melupakan dia?…Hahaha, kau benar-benar dapat melupakan dia? Haha ….”

“Mengapa tidak? Kebaikan apa yang pernah dia lakukan terhadap diriku? Bilamana aku menghadapi bahaya, dapatkah dia menolongku dengan mati-matian seperti kau? Huh, bisa jadi tanpa berpaling akan ditinggal pergi olehnya.”

“Tapi kau tetap tak dapat melupakan dia. Hahaha…cinta…cinta tidak mungkin dijadikan barang tukar-menukar…haha…bilamana kau mencintai seseorang, betapa pun dia berbuat atas dirimu tetap kau mencintai dia.”

“Tapi aku…aku ….” mendadak Thi Sim-lan terkulai di tanah dan menangis tergerung-gerung.

Hoa Bu-koat…Kang Siau-hi…sungguh kalau bisa Thi Sim-lan ingin dibelah menjadi dua.

Dengan tertawa Bu-koat berkata pula, “Pergilah kau mencari dia saja, jagalah dia…hahaha, semoga…semoga kalian hidup senang dan bahagia ….” suara tertawanya semakin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Waktu Thi Sim-lan mengangkat kepalanya, namun Hoa Bu-koat tidak nampak pula. Ia tahu selamanya takkan dapat menyusulnya lagi. Ia hanya menangis sedih dan berteriak dengan suara parau, “Hoa Bu-koat…O, Hoa Bu-koat, jika kau mati cara begini, dapatkah aku menikahi Siau-hi-ji? Bilamana kau mati cara begini, apakah hidup kami selanjutnya akan bahagia?” Sekuatnya ia berteriak pula, “Hoa Bu-koat, kem…kembalilah!”

Aku tetapi tiada suatu jawaban apa pun. Yang ada cuma angin meniup dingin menimbulkan suara seperti keluhan yang menyayat hati.

Sementara itu fajar sudah menyingsing.

Apabila fajar tiba, maka hidup Hoa Bu-koat juga akan tamat. Ia tahu jiwa sendiri pada hakikatnya lebih pendek daripada umur laron di malam hujan.

Tapi apakah dia harus menanti ajal begini saja?

Semula Hoa Bu-koat telah duduk putus asa, mendadak ia melompat bangun, ia menengadah dan tertawa keras, teriaknya, “Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, paling tidak saat ini kau kan masih hidup. Paling sedikit kau masih dapat berbuat sesuatu sebelum ajalmu tiba. Seumpama harus mati, tidak boleh kau mati tanpa suara dan tanpa pergulatan!”

Bumi ini seakan-akan bergetar mengumandangkan suara tertawanya yang nyaring. Segera ia membalik tubuh dan lari ke kelenteng sana.

Ruangan pendopo kelenteng itu masih gelap dan seram. Tanpa pikir Hoa Bu-koat melayang ke dalam, sekali depak ia jungkalkan patung malaikat gunung yang dipuja itu. Teriaknya sambil tertawa latah, “Ayo, Pek San-kun, keluarlah kau!”

Suara tertawanya yang keras lantang itu berkumandang jauh, tapi Pek San-kun belum lagi menampakkan batang hidungnya. Mustahil dia tidak mendengar, jika mendengar mengapa dia tidak keluar?

Dengan tertawa ngakak Bu-koat lantas angkat meja sembahyang dan dibanting sekerasnya di halaman sana. Teriaknya sambil tertawa, “Pek San-kun…hahaha…dengarkan…Meski aku akan mati, sedikitnya aku juga akan membinasakan manusia-manusia keji macam kalian ini untuk…hahaha…untuk keselamatan umum.”

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar auman, tahu-tahu harimau loreng itu menerobos tiba.

Dengan tertawa Bu-koat memapak binatang buas itu, sekali mengegos ia hindarkan terkaman yang sukar ditahan itu, berbareng sebelah tangannya terus memotong ke belakang dan tepat mengenai kuduk harimau.

Raja hutan yang ganas itu jatuh mendekam kena tebasan telapak tangannya itu. Mendadak harimau itu meraung kalap dan kembali menerkam.

Hoa Bu-koat bergelak tertawa, suara tertawanya berpadu dengan raungan harimau sehingga ruangan pendopo seakan-akan bergetar roboh. Tapi Pek San-kun suami istri seperti orang tuli, sampai saat ini tetap belum muncul.

Dengan gesit Hoa Bu-koat terus berputar kian kemari, mana bisa harimau itu menyentuhnya, setelah menubruk tiga kali, kegarangan raja hutan itu pun mulai surut. Ketika Hoa Bu-koat menabas pula satu kali, kontan harimau itu terkapar dan tak bisa bergerak lagi.

Di tengah ruangan kini tinggal suara latah Hoa Bu-koat, suara tertawa yang pedih mengharukan. Sambil terbahak-bahak Bu-koat mendepak daun jendela hingga terpentang, ia terus menerobos ke halaman belakang, tapi di situ juga sepi tiada bayangan seorang pun.

Dada Hoa Bu-koat diliputi rasa pedih dan dendam yang tak terlampiaskan, sekali tendang ia bikin daun pintu terpentang, sebuah meja diangkatnya dan dilemparkan keluar hingga berantakan.

Tapi apa gunanya biarpun seluruh isi rumah ini dihancurkan olehnya, sebab Pek San-kun suami istri tetap tidak memperlihatkan batang hidungnya.

“Pek San-kun, ayo, Pek San-kun!” Bu-koat berteriak-teriak dengan tertawa latah. “Di mana kau, Pek San-kun! Mengapa kau tidak keluar untuk perang tanding?”

Yang diharapkannya sekarang hanya suatu pertarungan saja, sekalipun tidak mampu melawan dan mati juga rela baginya.

Namun sia-sia belaka dia berteriak, suara tertawanya yang berkumandang balik itu seakan-akan sedang mencemoohkan dia sendiri. Sekeliling tetap tiada bayangan seorang pun, yang ada cuma gambar malaikat gunung yang sedang memandang padanya dengan dingin seakan-akan lagi berkata, “Hoa Bu-koat, lebih baik kau mati dengan tenang-tenang saja, untuk apa kau umbar gila di sini, biarpun tenggorokanmu sampai bejat berteriak juga tidak digubris orang. Kalau orang sudah jelas tahu kau pasti akan mati, untuk apa dia bertempur mengadu jiwa lagi denganmu?”

Sambil berteriak mendadak Hoa Bu-koat menubruk maju, sekali tarik ia robek lukisan itu hingga berkeping-keping, terasa darah bergolak dan muncrat keluar bersama tertawanya, bintik-bintik darah menghiasi bajunya laksana ceplok bunga sulaman. Ia merasa tenaganya sudah hampir ludes, tubuh pun mulai sempoyongan.

Subuh telah tiba, hari sudah mulai terang, bumi penuh diliputi rasa dingin memilukan.

Mati sebenarnya tidaklah menakutkan dan juga tidak perlu dirisaukan, yang dirisaukan adalah mati dengan murka tanpa terlampiaskan, yang ditakutkan adalah menjelang ajal terasa sesunyi ini.

Tiba-tiba Bu-koat merasakan bilamana sekarang ada seorang berada di sampingnya, siapa pun boleh, betapa pun ia tidak ingin mati kesepian.

Selama hidupnya ini meski penuh sanjung puji, tapi selama itu sebenarnya hidup terpencil dan kesepian, dia dilahirkan di tempat terpencil, sungguh ia tidak ingin mati kesepian pula.

Dia berharap mati dalam pertempuran, tapi tiada seorang pun mau menggubrisnya. Dia berharap mati di tengah-tengah kerumunan orang, tapi rasanya dia tidak dapat berjalan keluar lagi.

Dengan sempoyongan akhirnya Bu-koat jatuh terduduk di kursi, dengan sorot mata guram ia memandangi tibanya cahaya subuh, ia berharap ajal akan datang menyusul tibanya subuh.

Sesungguhnya ia sudah putus asa, ia sedang menantikan ajalnya.

Tapi apa pun juga dia tetap tertawa tanpa henti, tertawa latah, tertawa yang mengantarkan ajalnya, tertawa yang tak dapat mengeluarkan rasa duka dan dendamnya.

Suara tertawanya ini pada hakikatnya hampir membuatnya menjadi gila.

Kini dia malah tidak sayang mengorbankan segalanya, yang diharap hanya berhentinya suara tertawa sialan ini. Ia coba mendekap telinganya, tapi mana bisa membendung suara tertawanya sendiri.

Ia tahu, untuk bisa menghentikan suara tertawanya hanya ada satu jalan, yakni mati!

Supaya tertawanya bisa berhenti, Bu-koat sudah siap menamatkan hidupnya sendiri.

Pada saat remang-remang tibanya subuh itulah, tahu-tahu muncul sesosok bayangan orang. Jubah orang ini memanjang menyentuh tanah, rambut panjang semampir di pundak, langkahnya halus dan enteng sehingga tampaknya seperti bayangan kematian yang menyongsong keberangkatan Hoa Bu-koat.

Akhirnya Bu-koat dapat melihat jelas wajah orang, wajah yang cantik itu seolah-olah menampilkan rasa putus asa.

Pek-hujin! Orang ini ternyata Pek-hujin adanya. Akhirnya muncul juga dia!

Bu-koat mengira dirinya pasti akan menerjang maju dan melabraknya apabila melihat Pek San-kun atau istrinya, siapa tahu sekarang dia hanya duduk terpukau saja dan memandangnya dengan kesima.

Maklumlah, tenaga untuk hidup saja sudah lenyap, apalagi tenaga untuk melabrak orang?

Seperti badan halus saja Pek-hujin melangkah maju dengan enteng. Bu-koat mengira kedatangan orang pasti untuk membunuhnya, tak terduga Pek-hujin hanya berdiri diam di depannya dan memandangnya dengan tenang.

“Tepat sekali kedatanganmu ini. Hahaha, mengapa kau tidak lekas turun tangan?” mendadak Bu-koat berseru sambil tertawa.

Pek-hujin tetap memandangnya dengan lekat tanpa bicara.

“Kiranya kau cuma ingin menyaksikan kematianku saja?” kata Bu-koat pula, dan Pek-hujin masih tetap tidak bersuara.

“Bagus,” teriak Bu-koat sambil tertawa. “Tidak peduli apa maksud kadatanganmu tetap aku berterima kasih padamu. Aku memang lagi kesepian di sini.”

Mendadak Pek-hujin menghela napas panjang, ucapnya dengan terharu, “O, orang yang harus dikasihani, masa setitik keberanianmu mencari hidup saja sudah tiada lagi.”

Hati Bu-koat seperti dipuntir-puntir, teriaknya dengan tertawa parau, “Hahahaha! Bukankah kalian menghendaki kematianku secepatnya, mengapa sekarang malah menyuruh aku berusaha mencari hidup? Memangnya kau anggap penderitaanku ini belum cukup?”

Pek-hujin menjawab dengan sedih, “Ya, aku telah melukaimu, kutahu kau pasti sangat benci padaku, tapi kuharap engkau juga dapat memaklumi kesukaranku.”

“Kesukaranmu? Hahaha, kau juga mempunyai kesukaran?”

“Seorang perempuan, demi suaminya terkadang bisa juga melakukan sesuatu yang bodoh dan kejam,” jawab Pek-hujin dengan perlahan. “Pek San-kun adalah suamiku, mana…mana boleh kusaksikan dia dibunuh olehmu?”

Bicara sampai di sini, tiba-tiba air matanya berlinang-linang, sambungnya pula dengan pedih, “Tapi aku pun tahu aku berdosa padamu, kumohon engkau suka memaafkan diriku.”

“Hahaha! Aku tidak tahu untuk apa kau mesti menipu seorang yang sudah dekat ajalnya. Hahaha, tapi apa pun juga sekarang ini aku tak dapat kau tipu lagi.”

Pek-hujin menunduk sedih, ucapnya, “Ya, aku pun sudah menduga kau pasti tak percaya lagi padaku. Tapi…tapi sudikah kau ikut pergi melihat sesuatu?”

Bu-koat duduk saja tanpa bergerak, suara tertawanya sudah tambah lemah dan berubah menjadi parau.

Pek-hujin menatapnya lekat-lekat, katanya pula dengan nada gemetar, “Hanya satu kali ini saja kumohon, apa pun juga ini takkan membikin susah padamu lagi, betul tidak?”

“Betul, hahaha, sudah hampir mati, memangnya siapa yang hendak mencelakai aku pula?” teriak Bu-koat dengan serak. Akhirnya ia ikut keluar juga bersama Pek-hujin.

Setelah menyusuri beberapa rumah, sekonyong-konyong Bu-koat melihat seorang tergantung jungkir pada suatu belandar, seluruh badan berlumuran darah, sebilah belati menembus dadanya.

Belum lagi Bu-koat melihat jelas siapa orang itu, Pek-hujin telah berhenti di situ dan berkata, “Yang hendak kuperlihatkan padamu, ialah dia!”

“Sia…siapa dia?” tanya Bu-koat.

“Masa kau tak kenal?” kata Pek-hujin. Segera ia merobek sepotong ujung bajunya untuk mengusap muka orang berlumuran darah yang mengalir dari dada itu sehingga tertampak jelas wajah aslinya.

Ternyata orang yang mati tergantung menjungkir ini bukan lain ialah suaminya.

Keruan Bu-koat terkejut, teriaknya, “He, Pek San-kun sudah mati?!”

Tapi suara tertawa latahnya lantas melenyapkan nada kejut ucapannya. Malahan nadanya rada-rada kecewa dan sama sekali tiada rasa gembira.

Meski ia ingin bertarung melawan Pek San-kun dan bertekad akan membunuhnya, tapi mendadak melihat orang mati cara begini, mau tak mau timbul juga rasa simpatinya.

Dengan perlahan Pek-hujin lantas berkata, “Aku ingin kau lihat jenazahnya, sebab aku merasa bersalah padamu ….”

“Kau yang membunuhnya?” tanya Bu-koat.

Pek-hujin menghela napas panjang dan menjawab dengan sedih, “Ya, betul, aku yang membunuhnya.”

Bu-koat tersurut mundur dengan melongo, satu patah kata pun tidak sanggup bersuara.

“Tentunya kau sangat heran aku yang telah membunuh dia, begitu bukan?” tanya Pek-hujin.

Padahal mana Hoa Bu-koat cuma “heran” saja, pada hakikatnya ia tidak percaya.

“Tapi kau pun perlu tahu, sebab apakah kubunuh dia?!” kata Pek-hujin pula. “Sungguh aku mempunyai seribu alasan untuk membunuhnya, memang sudah lama seharusnya kubunuh dia.”

Bu-koat tertawa latah, teriaknya dengan gusar, “Setiap orang di dunia ini memang boleh membunuhnya, hanya kau adalah istrinya, kau tidak dapat membunuhnya. Memangnya dalam hal apa dia berbuat tidak baik padamu?”

“Kutahu dia pasti telah banyak omong bohong padamu,” ucap Pek-hujin dengan rawan. “Tentu dia bercerita mengenai kebusukanku, diriku pasti dilukiskannya sebagai iblis atau siluman, tapi…tapi apakah kau pun percaya pada obrolannya?”

“Mengapa aku tidak percaya?” teriak Bu-koat. Meski demikian, namun hatinya sudah mulai goyah.

“Bilamana aku benar-benar perempuan semacam perkataannya, cara bagaimana dia dapat berkumpul denganku selama berpuluh tahun? Orang bertabiat seperti dia pasti sudah sejak dulu-dulu tidak tahan, tentu aku sudah dibunuh olehnya,” Pek-hujin melirik Bu-koat sejenak, lalu menyambung pula, “Apa yang kulakukan terhadap dirimu adalah karena sebisanya aku ingin merebut kembali hatinya, demi dia aku tidak sayang berbuat apa pun, tidak sayang untuk mencelakai siapa pun juga ….”

Air matanya lantas bercucuran pula, ia menangis dengan terguguk-guguk.

Bicaranya sedemikian sungguh-sungguh, menangisnya sedemikian sedih, sebaliknya apa yang pernah diceritakan Pek San-kun rasanya teramat janggal dan sukar dipercaya. Apabila ada orang yang lebih percaya pada cerita Pek San-kun itu dan tidak percaya pada keterangan Pek-hujin, maka orang itu benar-benar mahaaneh.

Maka Bu-koat lantas berkata, “Tapi mengapa kau membunuhnya jika betul segala tindak tandukmu itu demi sang suami?”

Pek-hujin menangis tersedu-sedu, jawabnya, “Aku adalah perempuan, betapa jelek nasibku sebenarnya harus kuterima, namun meski aku sudah berusaha sepenuh tenaga agar dia sudi kembali ke sampingku, siapa tahu…siapa tahu ….” mendadak ia jatuhkan diri ke pangkuan Hoa Bu-koat dan menangis tergerung-gerung, lalu menyambung dengan terputus-putus, “Siapa tahu dia tidak…tidak memikirkan sama sekali cinta kasih suami istri, dia bahkan hendak…hendak membunuh diriku.”

Bu-koat ternyata tidak mendorongnya pergi. Dalam keadaan demikian ia merasa tidak tega mendorong pergi perempuan yang menangis sedih dalam pelukannya.

Seorang perempuan menangis sedih dalam pelukan seorang lelaki yang sedang tertawa latah, di sebelah mereka bergantung mayat yang berlumuran darah, suasana ini benar-benar aneh dan lucu, rasanya siapa pun sukar melukiskan adegan ganjil ini.

“Makanya…makanya kau lantas membunuhnya?” tukas Bu-koat kemudian.

“Sebenarnya aku tidak sayang mati baginya, tapi ketika dia benar-benar hendak membunuhku, betapa pun aku tidak tahan lagi, siksa derita selama lebih 20 tahun seketika meledak dalam sekejap, tanpa pikir kucabut belati dan menikamnya,” sampai di sini Pek-hujin terguguk-guguk sedih, lalu menyambung, “Tadinya kuharap tikamanku ini takkan mencelakai dia, di luar dugaan, dia sama sekali tidak pernah membayangkan perlawananku sehingga sama sekali dia tidak berjaga-jaga, tikamanku itu benar…benar-benar telah menewaskan dia.”

Bukti memang nyata begitu, apa yang dapat diucapkan Hoa Bu-koat?

Sambil menarik leher baju Bu-koat, Pek-hujin menengadah memandangnya dan berkata dengan mengalirkan air mata, “Coba katakan, apakah tidak pantas kubunuh dia? Masa aku salah membunuhnya?”

“Kau tidak salah, bagimu hanya ada satu jalan, yaitu membunuhnya, dalam keadaan begitu, siapa pun pasti akan membunuhnya dan tiada pilihan lain,” kata-kata demikian ini tidak sampai diucapkan Hoa Bu-koat, tapi kentara sekali terpancar dari sorot matanya, suara tertawanya sudah makin lemah dan parau, kaki pun lambat-laun menjadi lemas.

Pek-hujin memandangnya sejenak, kemudian menunduk dengan sedih, katanya, “Kutahu engkau pasti menaruh simpati padaku, sebab itulah aku berbicara sebanyak ini padamu. Sekalipun di dunia ini tiada orang lain yang bersimpati padaku, hanya engkau yang bersimpati padaku, sebab…sebab ….” dia tersenyum pedih, lalu melanjutkan, “Walaupun tidak sedikit lelaki yang pernah kujumpai, tapi cuma kau saja paling lemah lembut, hanya engkau saja paling memahami perasaan perempuan. Bilamana lelaki di seluruh dunia ini serupa dirimu, maka bahagialah kaum perempuan.”

Justru lantaran sifat Hoa Bu-koat inilah, makanya dia mudah ditipu oleh perempuan. Sebenarnya dia bukan orang bodoh, hanya hatinya yang terlalu lemah. Bilamana semua lelaki di dunia ini seperti dia, maka dunia ini mungkin akan menjadi dunianya kaum perempuan. Sembilan di antara sepuluh lelaki mungkin harus bunuh diri.

Begitulah tiba-tiba Hoa Bu-koat berkata, “Urusan yang sudah lalu tidak perlu disebut pula, sekali-kali aku tidak…tidak dendam padamu.”

“Jadi kau memaafkan aku?” tanya Pek-hujin.

Bu-koat mengangguk. Lalu berkata, “Apakah bicaramu sudah habis?”

“Yang perlu kukatakan sudah habis kukatakan, apakah…apakah kau sendiri tiada sesuatu yang ingin dikatakan padaku?”

“Ak…aku cuma ber…berharap kau ….” dengan sendirinya Bu-koat berharap Pek-hujin dapat menghentikan suara tertawanya yang sialan itu, tapi sampai detik gawat demikian dia tetap tidak sanggup mengucapkan sesuatu permohonan kepada seorang perempuan.

Biarpun dia tertipu seribu kali oleh perempuan, meski dia akan mati karena tipuan perempuan, betapa pun dia tidak sudi minta balas kasihan di depan seorang perempuan.

Di dunia justru ada orang macam begini, lebih suka ditipu perempuan daripada dibenci perempuan.

Pek-hujin memandangnya dengan termenung, sejenak kemudian baru berkata pula, “Sebenarnya tanpa kau minta juga seharusnya kukeluarkan jarum yang menyusup di Jiau-yau-hiatmu ini, tapi tadi kau terlalu banyak mengeluarkan tenaga, jarum itu sudah masuk sangat dalam, kini aku pun tidak mampu mengeluarkannya.”

Bu-koat kesakitan seperti diiris-iris, mendadak ia mendorong Pek-hujin terus melangkah pergi. Ia tahu nasibnya sudah ditakdirkan begini, mati tertawa. Tapi ia pun tidak ingin mati di depan perempuan, ia harus menyingkir pergi jauh-jauh, biarpun mati juga tidak boleh meninggalkan kesan menggelikan dan harus dikasihani oleh orang lain.

Siapa tahu Pek-hujin justru mengadangnya pula dan berkata, “Sekarang kau belum boleh pergi.”

Bu-koat tak dapat lagi menahan rasa gusarnya, tapi sedapatnya ia menekan perasaannya, katanya, “Urusan sudah begini, mengapa kau masih menahanku di sini?”

“Meski aku tak dapat menolongmu, tapi kutahu di dunia ini masih ada seorang yang dapat menyelamatkan kau,” jawab Pek-hujin.

Bu-koat menengadah dan terbahak-bahak, katanya, “Keadaanku sudah begini masa aku masih perlu pula memohon pertolongan orang?”

Pek-hujin menatapnya dengan tajam dan berkata tegas, “Semula kukira engkau ini seorang pemberani, tapi sekarang keberanianmu untuk hidup saja ternyata tidak ada.”

Bu-koat menunduk dengan sedih.

“Walaupun aku tidak mampu menolongmu, tapi aku dapat berusaha memperpanjang umurmu selama tiga hari, dalam tiga hari ini dapat kubawa kau pergi mencari orang itu. Jika kau mempunyai keberanian untuk hidup, maka kau pun harus mempunyai keberanian untuk memohon pertolongannya. Usiamu masih muda, minta bantuan orang bukan sesuatu yang memalukan, yang memalukan ialah apabila tidak berani hidup.”

Bu-koat tertawa dengan suara serak, katanya, “Sekalipun kuminta pertolongannya juga belum tentu dia sudi menolong aku, lalu untuk apa .…”

“Aku cukup kenal watak orang itu,” sela Pek-hujin. “Asalkan kau mau pergi ke sana, dia pasti akan menolongmu. Apalagi, kepergianmu ke sana juga bukan untuk mohon pertolongan melainkan untuk berobat, orang sakit tidak mau berobat pada tabib kan aneh.”

Setelah dibujuk berulang-ulang akhirnya goyah pula hati Bu-koat. Betapa pun seseorang tidak takut mati, bila masih ada setitik harapan untuk hidup tentu juga akan berusaha agar tidak mati.

Dengan suara lembut Pek-hujin berkata pula, “Kumohon dengan sangat, terimalah usulku. Demi aku kau pun harus hidup, jika kau mati, kepada siapa aku harus…Pokoknya, asalkan engkau mengangguk dan aku akan sangat berterima kasih padamu.”

Akhirnya Bu-koat mengangguk juga. Terhadap sesuatu permohonan yang merengek-rengek begini betapa pun dia tidak dapat menolaknya.

Bu-koat dan Pek-hujin telah pergi, ruangan pendopo menjadi hening dan lebih seram. Cahaya matahari menyinari mayat yang berlumuran darah itu, darah segar itu seakan-akan bersemu kehijau-hijauan.

Pada saat demikianlah tiba-tiba Kang Giok-long muncul pula di situ, serunya sambil berkeplok tertawa, “Tipu daya Cianpwe benar-benar hebat, sungguh Tecu kagum dan tunduk sepenuhnya.”

“Mayat” yang tergantung di belandar itu mendadak tertawa ngekek, katanya, “Meski bagus juga akal ini, tapi hanya manusia macam orang she Hoa saja yang dapat tertipu. Bilamana kau atau aku mungkin tidak begitu mudah percaya kepada ocehan perempuan.”

“Ya, jika Cianpwe, tentunya si perempuan yang akan ditipu,” seru Giok-long sambil tertawa.

“Di dunia ini ada lelaki macam Hoa Bu-koat, tentunya juga ada lelaki seperti kau dan aku,” ucap si ‘mayat hidup’ alias Pek San-kun dengan terkekeh-kekeh, “Lelaki seperti kita ini memang dilahirkan untuk membela kaum lelaki.”

“Jika demikian, dilahirkannya Pek-hujin bukankah juga untuk membela kaum perempuan?” ujar Kang Giok-long dengan tertawa.

“Betul juga,” jawab Pek San-kun. “Apabila lelaki di dunia ini semuanya seperti kau dan aku kan kasihan kaum perempuan.”

“Mayat” itu sekarang sudah melompat turun, gagang belati di dadanya dicabut, tangan lain menarik ujung belati yang menembus punggung. Kiranya belati ini terdiri dari dua potong dan ditempelkan di tubuh Pek San-kun.

Karena ia tergantung menjungkir dengan berlumuran darah, ditambah lagi waktu itu masih remang-remang, Hoa Bu-koat sendiri sedang dirundung kesedihan dan penderitaan yang sangat sehingga tanpa sadar tertipu oleh Pek-hujin.

Padahal kalau Hoa Bu-koat pasti akan mati, lalu apa pula Pek-hujin menipunya? Kini dia membawa Bu-koat pergi mencari seorang penolong, siapa pula gerangan penolong yang dimaksudkan itu?

Dalam keadaan sadar tak sadar Bu-koat duduk di dalam kereta, Pek-hujin telah memberinya minum semacam obat penenang yang sangat keras dan membuatnya mengantuk. Tapi dia tidak dapat tidur pulas, begitu tidur lantas terjaga bangun oleh hasrat tertawanya sendiri. Kini dia sudah lemas lunglai karena terlalu banyak tertawa.

Baru sekarang Bu-koat tahu, tertawa tidak cuma mendatangkan kegembiraan terkadang juga semacam alat siksa yang sangat keji.

Untung kabin kereta kuda ini cukup relaks, entah dari mana Pek-hujin mendatangkan kereta kuda yang mewah ini, ia pun tidak tahu siapa saisnya, lebih-lebih tidak tahu kereta ini dilarikan ke mana?

Seorang sudah dekat ajalnya, kenapa mesti tidak percaya lagi kepada orang lain?

Begitulah selama tiga hari mereka dalam perjalanan. Selama tiga hari Pek-hujin menjaga dan merawat Bu-koat dengan penuh perhatian. Meski tidak berucap, tapi dalam hati Bu-koat merasa berterima kasih.

Menjelang senja hari ketiga, kereta menanjak ke suatu perbukitan, lalu berhenti. Di luar sana pemandangan indah permai laksana lukisan. Sejauh mata memandang, sungai memanjang seperti pita, bola matahari membara hampir terbenam di balik bukit sana, di bawah pancaran cahaya senja tertampak air sungai bertambah kemilauan.

Diam-diam Bu-koat membatin, “Sekalipun aku harus mati tanpa sebab, tapi dapat mati di tempat begini, rasanya juga tidak sia-sia perjalanan ini.”

Terdengar Pek-hujin menghela napas panjang, katanya dengan rawan, “Di sinilah orang itu bertempat tinggal, di sini juga kita harus berpisah.”

“Kau akan pergi?” tanya Bu-koat.

“Setiba di sini, mau tak mau aku harus pergi?”

“Sebab apa?”

“Watak orang itu sangat aneh, aku…aku tidak ingin bertemu dengan dia,” kata Pek-hujin sambil membuka pintu kereta dan memayang Bu-koat turun. Ia menuding jauh ke sana dan berkata pula, “Dapatkah kau lihat gardu di sana?”

Tertampak di antara pepohonan yang menghijau dan bunga mekar beraneka warna. Di sana ada sebuah gardu, sejalur air terjun menuangkan airnya ke bawah dari tebing di sebelah gardu, air muncrat memantulkan sinar berwarna-warni tersorot oleh cahaya matahari senja.

Bu-koat terpesona menghadapi keindahan alam ini, hampir-hampir ia mengira dirinya sudah berada di surga. Angin meniup sejuk membawa harum bunga semerbak, ia termangu-mangu sejenak, kemudian baru menjawab, “Ya, hahaha…kulihat.”

Suasana pegunungan sunyi senyap, hanya terkadang terdengar kicau burung dan bau harum bunga, suara tertawa Bu-koat yang sudah serak itu memecahkan keheningan.

“Setelah melintasi gardu kecil itu, kau akan melihat sebuah pintu batu bersembunyi di balik akar-akaran tetumbuhan di lereng tebing sana, pintu batu itu selalu terbuka sepanjang tahun, kau boleh langsung masuk ke sana,” demikian pesan Pek-hujin.

Diam-diam Bu-koat membatin dengan gegetun, “Orang yang tinggal di tempat luar biasa ini tentu bukanlah sembarang orang, sungguh menyenangkan aku dapat berjumpa dengan orang kosen, cuma sayang beginilah keadaanku sekarang.”

Terdengar Pek-hujin berucap pula, “Setelah kau masuk pintu batu itu, dengan sendirinya kau akan bertemu dengan orang itu. Asalkan sudah bertemu dengan dia, kalian pasti akan segera menjadi sahabat baik, sebab kalian berdua sama-sama orang yang luar biasa.”

“Hahaha, beginilah keadaanku, mana dapat aku disejajarkan dengan orang, hahaha …” kata Bu-koat sambil bergelak parau.

“Kau pun tidak perlu meremehkan dan menyiksa diri sendiri, biarpun orang itu sangat pintar, bahkan mahir segala macam ilmu pengetahuan, tapi dia juga belum tentu lebih unggul daripadamu.”

“Siapa namanya?”

“Namanya So Ing,” jawab Pek-hujin.

Bu-koat menghela napas menyesal, pikirnya, “Wahai So Ing, selamanya kita belum kenal, tapi aku akan minta engkau menolong jiwaku, apakah engkau tidak merasa geli?”

Didengarnya Pek-hujin berkata pula, “Setelah bertemu dengan dia, tentu akan dia tanya siapa yang membawamu ke sini, maka boleh kau sebut namaku saja…Oya, aslinya aku bernama Be Ek-hua.”

“Baiklah, kuingat,” kata Bu-koat.

Setelah termenung sejenak, kemudian Pek-hujin berkata pula, “Sekarang bolehlah kau masuk ke sana. Aku memang perempuan yang bernasib jelek dan bodoh, betapa pun tidak berani kuharapkan engkau akan mengenangkan diriku, asalkan engkau tidak takut lagi padaku, mati pun aku tidak penasaran.”

Bu-koat melengak, tanyanya, “Mati?…Masa…kau akan ….”

Pek-hujin tersenyum sedih, ucapnya, “Selanjutnya hidupku tiada ubahnya sudah mati, engkau pun tidak perlu memperhatikan aku lagi, seterusnya di dunia ini tiada lagi perempuan bernasib malang seperti diriku ….” tiba-tiba ia berhenti berucap lebih lanjut, ia membalik tubuh terus berlari ke keretanya dan dilarikan cepat ke sana.

Bu-koat melenggong sejenak, entak bagaimana perasaannya sukarlah dilukiskan.

Perempuan itu telah membikin susah dia sedemikian rupa, tapi sekarang dia malah berterima kasih, percaya penuh padanya, sedikit pun tidak merasa sangsi apalagi dendam.

Setelah kereta kuda itu melintasi beberapa belokan bukit, mendadak kereta berhenti di kaki tebing sana, dari balik pepohonan muncul tiga orang. Mereka ialah Thi Peng-koh, Kang Giok-long dan Pek San-kun.

“Apakah bocah itu sudah kau antar ke sana?” tanya Pek San-kun dengan tertawa.

“Apa yang telah kukerjakan masa perlu diragukan?” jawab Pek-hujin dengan tertawa genit.

“Hujin benar-benar jantannya kaum perempuan, Tecu dapat mendampingi engkau selalu, sungguh beruntung sekali,” segera Kang Giok-long ikut mengumpak.

“Buset, setan cilik, manis juga mulutmu,” ucap Pek-hujin sambil nyekikik.

Pek San-kun menengadah dan bergelak tertawa, katanya, “Setelah Hoa Bu-koat bertemu dengan dia, tidak sampai tiga hari pasti dia akan menguraikan seluruh rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok padanya. Maka kedua perempuan siluman Ih-hoa-kiong itu pun tidak panjang lagi umurnya.”

Kang Giok-long tampak berkedip-kedip, katanya kemudian, “Apakah orang itu benar-benar memiliki kepandaian sehebat itu?”

“Setan cilik,” omel Pek-hujin sambil tertawa, “jangan kau kira banyak sekali corak permainanmu, bilamana kau kebentur dia, biarpun kau mengeluarkan segenap kemahiranmu juga jangan harap akan mampu lolos dari tangannya.”

“Wah, masa ilmu silat orang ini begitu tinggi?” Giok-long menegas.

“Dia justru sama sekali tidak mahir ilmu silat,” tutur Pek-hujin.

“Hah, tidak mahir ilmu silat?” Giok-long mengulang ucapan itu dengan melengak, lalu ia tertawa, “Haha, masa orang tidak mahir ilmu silat bisa begini lihai?”

“Memangnya kau kira orang yang tinggi ilmu silatnya pasti lebih unggul daripada orang lain?” kata Pek-hujin. “Supaya kau tahu, jika adu kekuatan, jelas dia kalah, tapi kalau adu akal, sepuluh Kang Giok-long juga tak dapat menandingi dia.”

“Ooo,” Giok-long tertawa. Dia sengaja menarik panjang suara “O” ini, suatu tanda dia tidak setuju.

“Kau tidak percaya?” tanya Pek-hujin. “Baik, coba jawab, aku ini bagaimana menurut pandanganmu?”

“Hujin mahahebat dan tiada taranya, mana ada bandingannya di dunia ini,” ucap Giok-long dengan khidmat.

“Hah, jangan menjilat pantat,” kata Pek-hujin dengan tertawa. “Kau bilang aku tiada bandingannya di dunia ini, tapi kalau dibandingkan dia aku ini belum masuk hitungan.”

“Nah, kau dengar tidak? Hahaha!” Pek San-kun bergelak tawa. “Biniku juga mengaku kalah pada orang lain, sungguh bukan urusan mudah.”

“Aku memang tidak tunduk pada siapa-siapa, hanya tunduk padanya,” kata Pek-hujin.

Kang Giok-long juga tertawa, katanya, “Dengan kepandaian Hujin saja Hoa Bu-koat telah dibikin kelabakan setengah mati, bilamana bocah she Hoa itu ketemu dia, bukankah setitik sinar harapan untuk hidup saja tidak ada lagi?”

“Memang,” kata Pek-hujin, “lelaki mana pun juga hanya ada jalan kematian saja bilamana berhadapan dengan dia, apalagi Hoa Bu-koat yang masih hijau pelonco itu.”

“Sampai saat ini Tecu belum lagi mengetahui siapa namanya?” tanya Giok-long sambil menyengir.

“Setan cilik, apakah kau akan mengincarnya juga? Awas, gentong cuka di sebelahmu bisa berontak lagi,” kata Pek-hujin dengan tertawa sambil melirik Thi Peng-koh.

Thi Peng-koh tersenyum hambar, ucapnya, “Sesungguhnya Tecu juga ingin tahu siapa nama orang itu?”

“Dia bernama So Ing,” jawab Pek-hujin. “Ing dari Ing-toh, belimbing, tapi ingat, meski belimbing ini cantik dan manis, namun berbisa.”

*****

Sementara itu Hoa Bu-koat sudah memasuki pintu batu yang berwarna hijau gelap karena penuh lumut itu. Di balik pintu adalah gua sangat luas dan sunyi senyap, Bu-koat sendiri bingung entah dirinya berada di mana sekarang?

Dia masih tertawa dan tertawa terus, ia benci pada suara tertawanya sendiri yang mengganggu ketenangan tempat yang indah ini. Sedapatnya ia menutup mulut, tapi suara tertawa tetap tidak terbendung.

Berjalan sebentar lagi, gua ini semakin dalam diapit dinding batu di kanan kiri, makin jauh makin menyempit. Tapi tak jauh kemudian mendadak membentang lebar lagi, bahkan lantas terang benderang.

Kiranya di depan sana ada sebuah lembah sunyi, awan berarak di langit, bunga mekar di mana-mana, terdengar gemerciknya mata air, batu aneh berserakan di sana-sini, tertampak gedung berloteng yang megah di balik pepohonan sana.

Di kejauhan ada beberapa ekor bangau putih dan beberapa ekor menjangan sedang berkeliaran kian kemari, sama sekali binatang-binatang itu tidak takut pada manusia, bahkan mendekat seperti menyambut kedatangan tamu.

Selagi pikiran Bu-koat melayang-layang kesima, seekor bangau putih menggigit bajunya serta membawanya ke suatu jalan berbatu menuju semak-semak sana. Tampaklah kemudian di tepi sebuah sungai kecil berduduk sesosok bayangan perempuan.

Perempuan itu duduk menunduk seolah-olah sedang ngelamun, seakan-akan lagi bercengkerama dengan ikan yang berenang di sungai mengenang masa mudanya yang cepat berlalu dan tentang hidupnya yang kesepian.

Rambut _yang panjang gompiok terurai di atas pundak, bajunya yang tipis putih sebersih salju. Tanpa kuasa Bu-koat ikut bangau penyambut tamu tadi ke tepi sungai ini, ia menjadi kesima pula melihat bayangan di tepi sungai bersaing dengan bayangan orang di dalam air sungai.

Si gadis baju putih mendadak menoleh dan memandang Bu-koat sekejap.

Mendingan kalau gadis itu tidak menoleh, sekali menoleh, seketika bunga di lembah ini seakan-akan layu seluruhnya. Mata alis si gadis seperti lukisan, pipi dekik memesona, bibirnya yang merah itu agak besaran dan dahinya terasa agak lebar, namun sepasang matanya yang jeli dan terang cukup mengatasi semua kekurangan itu.

Mungkin gadis ini tidak secerah Thi Sim-lan, tidak selembut Buyung Kiu, tidak segenit Siau-sian-li, mungkin dia tidak tergolong sangat cantik. Akan tetapi keanggunannya yang tiada taranya membuat setiap orang merasa rendah diri dan tidak berani memandangnya lama-lama.

Kini sorot matanya mengunjuk rasa heran dan kurang senang seakan-akan sedang bertanya tamu yang tak diundang ini mengapa tertawa ngakak seaneh ini.

Muka Bu-koat menjadi merah, katanya kemudian dengan tergagap, “Cayhe Hoa…Hoa Bu-koat, ingin bertemu dengan So Ing, So-losiansing.”

Si gadis baju putih memandangnya sejenak, tiba-tiba ia tertawa, jawabnya “Di sini memang ada seorang So Ing, tapi bukan Losiansing (tuan tua).”

“Oo!” Bu-koat jadi melengak.

Dengan perlahan si gadis baju putih berkata pula, “Aku inilah So Ing.”

Bu-koat jadi benar-benar melenggong. Tadinya ia mengira “So Ing” yang dikatakan dapat menyembuhkan penyakit tertawanya itu tentu seorang tokoh tua Kangouw atau tabib ternama di dunia persilatan yang mengasingkan diri. Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa So Ing yang dimaksud adalah seorang gadis cantik belum genap 20 tahun.

Si gadis So Ing bertanya pula dengan tersenyum, “Tempat terpencil di pegunungan sunyi ini, entah siapa gerangan yang mengantar Tuan ke sini?”

“Ini…ini ….” Bu-koat menjadi gelagapan. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa Pek-hujin menyuruhnya memohon pertolongan jiwa kepada seorang gadis jelita. Kini menghadapi senyuman yang hambar dan pandangan yang dingin ini, ia menjadi lebih tidak enak mengucapkan kata-kata memohon.

“Jauh-jauh Tuan telah datang kemari, masa sepatah kata saja tak dapat berucap?” kata So Ing pula. Meski cukup ramah ucapannya, namun sudah timbul rasa hina terhadap tamu asing yang terus tertawa keras ini. Sambil bicara pandangannya beralih pula ke arah sungai.

Tiba-tiba Bu-koat berkata, “Cayhe salah masuk ke sini sehingga mengganggu ketenangan nona, harap dimaafkan ….” Setelah sedikit membungkuk badan, lalu ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

So Ing juga tidak berpaling lagi, ketika bayangan Bu-koat hampir menghilang di balik semak-semak bunga sana, mendadak ia berseru, “Kongcu itu hendaklah berhenti dulu!”

Terpaksa Bu-koat berhenti dan menjawab, “Nona ada petunjuk apa?”

“Coba kembali sini!” seru So Ing.

Meski kata-kata ini kedengaran kurang sopan, namun nadanya telah berubah sangat lembut, rasanya tiada seorang lelaki di dunia ini yang tidak terpengaruh oleh suara ini.

Tanpa kuasa Bu-koat lantas melangkah balik.

So Ing tetap tidak menoleh, katanya dengan acuh tak acuh. “Kukira kau tidak salah masuk ke sini, tapi memang khusus datang kemari. Cuma setelah engkau melihat So Ing yang kau cari hanya seorang gadis belia, hatimu menjadi kecewa, begitu bukan?”

Tentu saja Bu-koat tercengang, jawabnya, “Cayhe…Cayhe ….”

“Apa yang kukatakan tidak memerlukan jawabanmu,” kata So Ing pula, “sebab pertanyaanku ini jelas kikuk untuk kau jawab, sedangkan kau justru orang yang tidak dapat berdusta, apalagi dusta pada seorang perempuan.”

Bu-koat benar-benar tidak dapat berkata apa-apa.

Maka So Ing menyambung pula, “Lantaran kau adalah orang demikian, merasa malu apabila mengucapkan sesuatu permohonan kepada seorang gadis, maka meski kau khusus sengaja datang ke sini, namun dengan suatu dan lain alasan segera kau pergi lagi. Begitu bukan?”

Kembali Bu-koat melenggong, padahal gadis itu hanya memandangnya sekejap saja, tapi pandangan sekejap itu seakan-akan telah menembus dalam-dalam ke lubuk hatinya, apa pun yang terpikir dalam benaknya seakan-akan tak dapat mengelabui pandangan mata yang jeli itu.

Dengan perlahan So Ing menghela napas dan berkata pula, “Jika kau hendak pergi, tentunya aku tak dapat merintangimu. Tapi ingin kuberitahukan padamu bahwa kau sekali-kali tidak mungkin melangkah keluar pintu batu itu.”

Tergetar tubuh Bu-koat, belum sampai ia buka suara So Ing sudah menyambung pula, “Saat ini urat nadimu sudah hampir tergetar putus oleh tertawamu, air mukamu sudah menampilkan warna kematian, di dunia ini hanya ada tiga orang yang mampu menolongmu, apabila sama sekali kau tidak sayang pada jiwanya sendiri, sungguh hal ini membuat orang kecewa.”

*****

Rumah ini sangat besar dan luas dengan daun jendela di sekelilingnya. Hari sudah mulai gelap, api lilin belum lagi dinyalakan, bau harum bunga yang memenuhi lembah di luar sana terbawa angin memenuhi ruangan ini, kelihatan juga bintang berkelip-kelip bertaburan di langit.

So Ing merapatkan daun jendela yang terakhir, sepasang tangannya yang putih halus itu seakan akan tembus cahaya.

Di bagian yang tak berdaun jendela penuh rak kitab, jarak antara rak tidak tertentu, semuanya penuh kitab beraneka ragam diseling pot-pot dan benda antik lainnya, ada yang terbuat dari jade, ada pula ukiran dari batu dan kayu serta macam-macam lagi.

Namun di dalam ramah ini ada sesuatu yang aneh, yaitu ruangan seluas ini hanya ada sebuah kursi melulu, lain tidak ada.

Kursi ini pun sangat aneh, tampaknya tidak mirip kursi malas umumnya dan juga tidak seperti kursi yang sering terdapat di kamar anak perempuan.

Kursi ini tampaknya lebih mirip sebuah peti yang besar, cuma di bagian tengah mendekuk sehingga orang yang duduk di situ seakan-akan terjepit saja tampaknya.

Di ruangan inilah Hoa Bu-koat disilakan masuk. Ia merasa cara bicara si nona meski kedengaran ramah tamah tapi terasa sukar dibantah. Walaupun kedengaran dingin kaku ucapannya, tapi terasa pula sukar ditolak.

Aneh juga tuan rumah ini, tanpa menyilakan duduk tamunya, sebaliknya So Ing lantas duduk sendiri pada satu-satunya kursi di ruangan ini.

Terpaksa Bu-koat berdiri saja di dekat pintu dengan perasaan serba salah.

Dengan tersenyum hambar kemudian So Ing berkata, “Tempatku ini jarang sekali kedatangan tamu, andaikan ada tamu juga kebanyakan tamu yang sudah sakit parah sehingga duduk saja tidak bisa, maka aku pun tidak perlu menyediakan kursi lagi.”

Bu-koat masih terus tertawa latah, cuma dalam hati ia berpikir, “Apabila orang yang datang kemari tidak dapat duduk lagi, memangnya hanya disuruh berdiri saja begini?”

Segera terdengar So Ing berkata pula, “Tentunya kau akan berpikir apabila orang yang datang ke sini tidak dapat duduk lagi, dengan sendirinya juga tidak dapat disuruh berdiri, lalu apakah mereka dibaringkan di lantai? Begitu bukan?”

Diam-diam Bu-koat terkejut. Ia merasa anak perempuan ini sungguh menakutkan. Apa pun yang kupikirkan, segera dapat diterkanya. Sebaliknya apa yang telah dipikirkan olehnya justru tiada seorang pun yang tahu.

Terdengar So Ing berkata pula dengan tertawa, “Kenapa khawatir, bukan maksudku selalu ingin menerka isi hati orang, aku pun tidak akan menyuruh orang berbaring di lantai ….”

Kursi mirip peti yang diduduki So Ing itu mempunyai sandaran tangan yang lebar sehingga mirip juga sebuah peti kecil dan dapat dibuka. Sambil bicara ia lantas membuka tutup bagian sandaran tangan, perlahan jarinya menyontek sesuatu di dalamnya, terdengar “klik” perlahan satu kali.

Mendadak lantai di depan Bu-koat berdiri itu merekah dan terlihatlah sebuah lubang menyusul sebuah ranjang lantas timbul perlahan dari bawah.

“Sekarang tersedia tempat tidur, silakan berbaring di situ,” ucap So Ing dengan acuh. “Apalagi yang kau inginkan?”

“Aku…aku ingin minum teh,” jawab Bu-koat.

Permintaan ini sebenarnya tidak sengaja diucapkannya, tapi tanpa terasa tercetus dari mulut. Sesungguhnya ia cuma ingin mencoba sampai di mana kelihaian anak perempuan ini.

Didengarnya So Ing menjawab, “Oya, aku lupa, ada tamu, andaikan tiada arak, satu cangkir teh adalah pantas disuguhkan.” Sambil bicara kembali tangannya menyontek sekali lagi di dalam peti.

Terdengar dinding di balik rak buku sana ada suara gemerciknya air, menyusul rak buku itu menggeser perlahan secara otomatis, seorang boneka kayu kecil meluncur keluar dari balik rak itu.

Kacung robot ini benar-benar membawa sebuah nampan dengan dua cangkir kemala berisi air minum berwarna susu.

Dengan tersenyum So Ing berkata, “Maaf, di sini tidak ada teh, harap sudi minum sekadarnya air bening ini.”

“Haha, tampaknya robot kerbau dan kuda ciptaan Kong Beng di jaman Sam-kok juga tidak lebih daripada ini,” seru Bu-koat dengan tertawa.

“Untuk digunakan di medan perang memang robot kerbau dan kuda Cukat Liang itu sangat bagus, tapi kalau dipakai di rumah tangga untuk melayani tamu, rasanya kan kurang pantas,” kata So Ing dengan dingin. Di balik ucapannya ini seakan-akan kepandaian Cukat Liang dengan robotnya itu pun dipandang enteng olehnya.

Sementara itu malam gelap, sinar bintang berkedip-kedip, pada rak buku sana ada sebuah lampu minyak, tapi tidak dinyalakan.

Segera Bu-koat berkata pula, “Apakah tanpa bergerak nona juga dapat menyalakan lampu?”

“Aku ini pemalas, karena itu sering kali kuciptakan macam-macam akal malas ….” Kembali tangannya menyontek perlahan, rak buku di sebelah lampu minyak sana segera timbul batu api dan pisau ketikan. “Crik”, lelatu api lantas muncrat dan lampu itu pun benar menyala.

So Ing tersenyum, katanya, “Lihatlah, biarpun aku cuma duduk saja di sini kan juga dapat melakukan banyak pekerjaan.”

Bu-koat bergelak tertawa, bergelak sungguh-sungguh, serunya, “Menurut pandanganku, sekalipun menyalakan lampu dan menuang minuman sendiri juga jauh lebih mudah dari pada membuat peralatan rahasia, mengapa pemalas seperti engkau ini sengaja menciptakan cara-cara yang merepotkan ini?”

Entah mengapa, selalu dia berusaha hendak mematahkan keangkuhan So Ing, padahal mestinya dia bukan orang macam demikian, mungkin karena tertawa latahnya telah membuatnya kehilangan akal.

Segera terdengar So Ing mengejek, “Hm, orang seperti diriku ini apakah juga sudi menuangkan teh bagimu?”

“Mengapa kau tidak memakai budak atau pelayan, cara demikian kan jauh lebih mudah?”

“Aku justru takut ketularan tingkah laku orang-orang begitu,” jawab So Ing memandangnya dengan lekat-lekat, sambungnya kemudian, “Kau bicara begini, sebab kau merasa aku terlalu unggul dan kau ingin menjatuhkan aku, betul tidak? Biar kukatakan terus terang, di dunia ini tiada yang dapat menjatuhkan aku dan aku akan selalu paling atas, tidak perlu kau berusaha secara sia-sia.”

“Hahaha, padahal kau cuma seorang anak perempuan yang lemah tak tahan tiupan angin, sekali dorong saja setiap orang dapat merobohkan kau,” seru Bu-koat sambil tertawa.

“Tajam juga pandanganmu, kau ternyata dapat melihat aku ini tidak bisa ilmu silat.”

“Terima kasih,” jawab Bu-koat.

“Ilmu silatmu sangat hebat, bukan?”

“Ya, lumayan!”

“Tapi sekarang yang minta tolong padaku adalah kau, dari sini jelas kelihatan bahwa urusan di dunia ini tidak dapat diselesaikan dengan ilmu silat. Sebabnya manusia disebut makhluk paling cerdas di jagat ini adalah karena otaknya dan bukan tenaganya, kalau cuma bicara tenaga, maka keledai kan jauh lebih kuat daripada manusia.”

Seketika Bu-koat menjadi gusar pula, segera ia bermaksud tinggal pergi lagi. Tapi pada saat inilah tiba-tiba So Ing melangkah maju dengan tersenyum manis, katanya dengan suara lembut, “Sekarang silakan kau berbaring saja dengan baik, akan kuberi minum sebotol obat, habis itu suara tertawamu yang menyebalkan ini akan berhenti.”

Menghadapi senyuman yang menarik, suara selembut ini, lelaki mana di dunia ini yang dapat naik pitam pula? Apalagi ucapan si nona juga mengenai kepentingan Hoa Bu-koat.

Bu-koat tidaklah takut mati, namun tertawanya…tertawanya yang sialan ini…baginya sekarang rasanya tiada sesuatu di dunia yang lebih menakutkan daripada “tertawa”.

Suara tertawanya akhirnya berhenti juga. Setelah minum obat, Bu-koat lantas tertidur pulas.

Sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa genit dan berseru, “Adik yang baik, sungguh hebat kau. Lelaki yang liar bagaimana pun juga, setelah berhadapan denganmu pasti akan berubah menjadi jinak seperti seekor anjing kecil ….” yang masuk menyusul suara tertawa itu adalah Pek-hujin.

So Ing tidak berpaling sama sekali, dengan hambar dia menjawab, “Mengapa kau datang sekarang? Memangnya kau sangsi padaku?”

“Dengan kepintaran dan kecerdikan adik, mana aku perlu sangsi lagi,” cepat Pek-hujin menjawab dengan tertawa. “Aku cuma ….”

“Cuma apa?” tanya So Ing.

“Cuma kita tahu watak adik yang angkuh dan tinggi hati, maka kudatang kemari untuk memohon agar adik suka bersabar sedikit, asalkan bocah ini sudah menceritakan rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok, habis itu segera kita membunuh bocah ini untuk melampiaskan rasa dongkol adik.”

Sampai di sini barulah So Ing meliriknya dengan dingin, tanyanya, “Apa kau rasa caraku ini tidak baik?”

“Bukan tidak baik, cuma…tujuan kita sekarang hendak memancing dia menguraikan rahasia Ih-hoa-kiong, maka ….”

“Maka kau anggap sikapku terlalu garang, terlalu kaku begitu?”

“Adik adalah orang pintar, tentunya tahu kebanyakan lelaki ….”

“Kau kira aku harus bersikap lebih lembut padanya, harus menjilat dan mengumpak dia, harus merayu dan bilamana perlu harus membuka baju dan menjatuhkan diri ke pangkuannya. Begitu?”

“Bocah ini toh pasti akan mati, diberi sedikit kemurahan kan tidak menjadi soal?”

“Untuk cara-cara demikian kau lebih mahir daripadaku, mengapa kau sendiri tidak mampu memancing rahasianya?” jengek So Ing.

Pek-hujin melengak sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Tacimu ini kan sudah keriput, tubuh pun tinggal kulit membungkus tulang, kalau bugil masa menarik?”

“Hm, sekalipun kau lebih muda dua puluh tahun juga tiada gunanya,” jengek So Ing.

Sekali ini Pek-hujin benar-benar rada kikuk dan tidak dapat tertawa lagi.

Dengan dingin So Ing lantas menyambung pula, “Terus terang, apabila aku menggunakan caramu ini terhadap dia, jelas dia pasti tidak mau membuka mulut. Bilamana caramu ini digunakan terhadap suamimu kukira masih boleh juga.”

“Tapi…tapi ….”

“Pokoknya, terhadap orang macam dia harus menggunakan caraku barulah dapat menundukkan dia,” sela So Ing. “Dengan caraku ini, tentu dia takkan menyangka aku mengharapkan sesuatu dari dia dan dia juga pasti tidak curiga padaku, kalau tidak, masa aku sengaja membiarkan dia mengetahui aku ini tidak mahir ilmu silat? Tentunya kau tahu, meski aku tidak sudi belajar permainan yang menjemukan seperti kalian ini, tapi bilamana aku mau berlagak seorang jagoan tentunya setiap orang juga akan percaya.”

“Ya, ya, baru sekarang kupaham,” ucap Pek-hujin dengan berseri. “Cara adik memang hebat dan sukar ditandingi orang lain.”

So Ing tersenyum kemalas-malasan, ucapnya, “Asal kau tahu saja. Nah, sekarang lekas kalian menyingkir agak jauh, besok pada waktu yang sama seperti sekarang ini kutanggung sudah dapat membuat dia membeberkan rahasia Ih-hoa-kiong secara lengkap.”

Esoknya waktu Bu-koat siuman, benar juga suara tertawanya telah berhenti sama sekali, cuma sekujur badan terasa lemas lunglai tanpa tenaga sedikit pun, berbaring di tempat tidur itu rasanya hendak berbangkit duduk saja sukar.

Di dalam rumah tiada seorang pun, seputar sunyi senyap, hanya terdengar burung berkicau dan bau harum bunga semerbak.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seorang bertindak aneh di belakang rumah sana, “Keluar, keluar sana! Sudah kukatakan aku tidak mau makan akar rumput dan kulit pohon beginian, mengapa kau selalu memaksa aku menelannya?”

Lalu terdengar suara So Ing berkata dengan lembut, “Ini bukan akar rumput dan kulit pohon segala, tapi Jinsom (ginseng).”

“Peduli Jinsom atau Kuisom (som setan), sekali kubilang tidak mau makan tetap tidak mau,” orang itu meraung pula.

Tapi So Ing malah tertawa dan berkata, “Ai, belum pernah kulihat orang seperti kau ini. Baik, baik, kau tidak mau makan, biar kubawa keluar.”

Bahwa gadis seperti So Ing manda menghadapi sikap kasar orang, hal ini benar-benar membuat Hoa Bu-koat keheranan. Diam-diam ia menerka siapa gerangan orang yang berani bersikap keras kepada So Ing itu, sesungguhnya tokoh macam apa dia?

Selang sejenak, tertampak So Ing muncul dengan tertunduk lesu.

Begitu masuk ke ruangan ini, segera si nona pulih lagi sikapnya yang angkuh dengan tidak tanduknya yang anggun. Cuma sekarang dia membawa semangkuk Jinsomtheng (kuah Jinsom atau Kolesom).

Diam-diam Bu-koat membatin, “Orang itu tidak mau minum air Jinsom ini, apakah sekarang hendak diberikannya padaku?”

Keadaan Bu-koat sekarang memang sangat memerlukan obat kuat seperti Jinsom dan sebagainya, tapi dalam hati ia sudah ambil keputusan, apabila si nona hendak menyuruhnya minum Jinsomtheng itu, maka dia juga pasti akan menolak.

Di luar dugaan So Ing langsung mendekati jendela, Jinsomtheng itu dibuang keluar, barang yang dibuatnya untuk “saudara” itu ternyata lebih suka dibuang daripada diberikan pada orang lain.

Diam-diam Hoa Bu-koat menyengir sendiri.

Sementara itu So Ing telah mendekati tempat tidurnya, tanyanya dengan hambar, “Sekarang kau sudah merasa lebih baik bukan?”

Baru sekarang juga Bu-koat ingat pada penderitaannya waktu tertawa latah kemarin, kini benar-benar dirasakan bedanya seperti langit dan bumi. Mau tak mau ia menghela napas lega dan berucap, “Terima kasih nona!”

“Sekarang belum lagi waktunya kau berterima kasih padaku,” kata So Ing.

“Se…sebab apa?” tanya Bu-koat.

“Meski sekarang suara tertawamu sudah berhenti, tapi jarum itu masih ngendon di dalam Hiat-tomu, jarum itu terdesak oleh obatku hingga miring sedikit ke samping, tapi bila kau terlalu keras menggunakan tenaga, bukan mustahil penyakitmu akan kambuh lagi.”

“Lalu…lalu bagaimana baiknya?” tanya Bu-koat terkejut. Ia lebih suka mengorbankan segalanya daripada menderita penyakit tertawa latah begitu.

“Bergantung pada dirimu sendiri, kau ingin mengeluarkan jarum itu tidak,” kata So Ing.

“Bergantung pada diriku sendiri?” Bu-koat menegas dengan melengak.

“Jarum ini sudah terlalu dalam menyusup ke Hiat-to, sekalipun disedot dengan benda sebangsa batu hitam (maksudnya, besi sembrani) juga sukar mengeluarkannya, jalan satu-satunya hanyalah menggunakan tanganmu sendiri, dengan tenaga dalam yang kuat mungkin kau dapat mendesaknya keluar.”

“Tapi…tapi saat ini sama sekali aku tak dapat mengerahkan tenaga sedikit pun,” kata Bu-koat.

“Dengan sendirinya saat ini kau tak bertenaga, kalau bertenaga tentunya kau tidak perlu mencari aku ke sini,” jengek So Ing.

“Apakah nona ada akal lain yang dapat membuat hawa murni di tubuhku berjalan lancar?”

“Sudah tentu ada, asalkan saja kau beritahukan padaku kunci Lwekang yang kau latih, nanti aku dapat membantu dari luar untuk melancarkan tenagamu dan mendesak keluar jarum berbisa itu.”

Cara bicara si nona sedemikian tenang dan hambar, seakan-akan hal ini adalah urusan biasa, seakan-akan Hoa Bu-koat pasti akan menuturkan rahasia Lwekangnya setelah mendengar ucapannya.

Dia sengaja bersikap demikian, sebab ia tahu hanya sikap dan cara bicara ketus beginilah baru tidak menimbulkan curiga Hoa Bu-koat, supaya pemuda itu tidak menyangka semua ini adalah perangkap yang sengaja diaturnya.

Hoa Bu-koat memang betul tidak berprasangka buruk. Namun Ih-hoa-ciap-giok adalah ilmu gaib yang paling hebat, rahasia paling besar dalam ilmu silat di dunia ini, jika dia disuruh menjelaskan begitu saja, mau tak mau ia menjadi ragu-ragu juga.

Setelah memandangnya sejenak, kemudian So Ing berkata pula dengan perlahan, “Barangkali kau khawatir aku mencuri belajar Lwekangmu?”

“O, Cayhe tiada maksud begitu, cuma .…”

“Orang macam diriku ini, apabila mempunyai setitik pikiran suka pada ilmu silat, maka saat ini sekalipun belum terhitung jago nomor satu di dunia rasanya pasti juga sudah mendekati,” So Ing menghela napas, lalu menyambung pula dengan dingin, “Orang yang meyakinkan ilmu silat seperti kalian ini selalu anggap ilmu silat seperti benda mestika, padahal bagi pandanganku pada hakikatnya tidak laku sepeser pun.”

Habis berkata segera ia melangkah pergi.

“He, nanti dulu, nona,” seru Bu-koat.

So Ing menjengek tanpa menoleh, “Bicara atau tidak terserah padamu, aku mau mendengarkan atau tidak juga belum pasti.”

Bu-koat menghela napas, katanya, “Lwekang yang kulatih itu disebut ‘Ih-hoa-ciap-giok’, pada dasarnya ialah ….”

*****

Waktu senja sudah tiba pula, Pek San-kun suami istri bersama Kang Giok-long dan Thi Peng-koh telah menunggu cukup lama di gardu kecil di mulut lembah sana. Dari air muka mereka jelas terlihat rasa gelisah dan tidak sabar menunggu lagi.

Kang Giok-long tidak tahan, ia berkata dengan tertawa, “Sungguh tak dapat kubayangkan orang macam apakah nona So itu? Mengapa kedua Cianpwe sedemikian kagum padanya.”

“Setan cilik,” jawab Pek-hujin dengan tertawa, “Supaya kau tahu, apabila kau bertemu dengan dia, mungkin bicara saja kau tidak sanggup.”

“Ah, tidakkah ucapan Cianpwe ini berlebihan? Masakan Cayhe begitu ….” sampai di sini mendadak ia tak sanggup melanjutkan lagi dengan mulut ternganga.

Rupanya dilihatnya ada seorang bidadari bermantel bulu sedang melangkah tiba di bawah cahaya mentari senja, seekor bangau putih dengan jengger merah berjalan menegak di depannya, seekor menjangan jinak mengikut di belakangnya, angin meniup lembut mengusap rambutnya yang rada kusut, sebelah tangannya membelai perlahan…Hanya gaya belaian ini saja sudah cukup membuat setiap lelaki di dunia ini menahan napas, apabila adegan ini hendak dilukis, rasanya sukar dibayangkan oleh pelukis mana pun juga.

Mungkin dia tidak terlalu cantik, tapi keanggunannya, keluwesannya, sungguh tiada bandingannya.

Kang Giok-long melotot kesima seperti orang mabuk, mana dia sanggup bicara lagi.

Pek-hujin melirik sekejap, lalu memapak ke sana, sapanya sambil tertawa, “Adikku yang baik, kau benar-benar datang.”

“Apa yang sudah kukatakan bilakah pernah kuingkari?” jawab sang “bidadari” alias So Ing dengan acuh.

Pek San-kun juga maju menyambutnya, katanya dengan tertawa, “Sudah tentu, masa perlu disangsikan lagi. Tentang rahasia Ih-hoa-ciap-giok itu pasti adik sudah berhasil mengoreknya.”

“Betul, sudah berhasil kutanyai dia,” kata So Ing.

“Terima kasih, terima kasih,” seru Pek San-kun.

“Sekarang kau belum terburu-buru berterima kasih padaku,” jengek So Ing.

Cepat Pek-hujin menyambung pula, “Memangnya, kenapa kau tidak sabaran begitu. Kan lebih dulu kita harus menyilakan duduk adik baru nanti ….”

“Aku takkan duduk dan segera akan pulang saja,” tukas So Ing ketus.

“Lantas…lantas…Ih-hoa-ciap-giok itu, apakah adik sudah mencatat dengan baik?” tanya Pek-hujin.

“Untuk apa dicatat, masakan aku tidak dapat mengingatnya di luar kepala?”

“Betul, betul,” seru Pek San-kun dengan tertawa. “Siapa pun tahu daya ingat adik luar biasa, cuma ….”

“Cuma kami tidak mempunyai kemampuan seperti adik,” sambung Pek-hujin dengan tertawa. “Maka bagaimana pun juga engkau ….”

“Kalian juga tidak memerlukan kepandaian demikian,” ujar So Ing.

“Ya, ya dengan sendirinya adik akan menulisnya untuk kita, kenapa kau mesti terburu-buru,” omel Pek San-kun pada bininya.

“Sekarang aku pun tidak mau menulisnya untuk kalian,” ucap So Ing tak acuh.

Pek San-kun melengak, tanyanya, “Jika begitu, jadi…maksudmu ….”

“Umpama kalian sendiri, apabila kalian mendapatkan sesuatu permainan menarik, apakah kalian rela segera diberikan lagi kepada orang lain?”

“Tapi ini…ini ….” Pek San-kun jadi gelagapan.

“Habis kapan baru adik akan memberitahukannya kepada kami?” tanya Pek-hujin dengan mengiring tawa.

“Bisa jadi tiga hari lagi atau lima hari lagi, mungkin juga setengah tahun atau setahun lagi, nanti kalau aku sudah bosan, dengan sendirinya akan kukatakan pada kalian.”

Pek San-kun suami istri hanya saling pandang dengan tercengang. Kata Pek-hujin kemudian, “O, adikku yang baik, jangan engkau bergurau, masa pakai tahunan segala, bisa bikin orang kelabakan setengah mati.”

“Kelabakan sampai mati pun urusan kalian sendiri, peduli apa dengan aku?”

“Tapi…tapi adik kan sudah berjanji ….”

“Aku cuma berjanji padamu akan mengorek keterangan Ih-hoa-ciap-giok dari Hoa Bu-koat, kan tak berjanji akan kuberitahukan rahasia itu padamu?”

Seketika Pek San-kun suami istri melenggong dan tidak dapat bersuara lagi.

Perlahan So Ing membalik tubuh sambil berkata, “Di pegunungan sunyi ini tiada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tetamu, aku pun tidak menahan kalian, silakan kalian pulang saja.”

Pek-hujin menjadi gelisah, cepat ia berseru, “Tunggu dulu, adik!”

“Kalian tentunya tahu apa yang sudah kukatakan selamanya takkan berubah, mengapa kalian mesti banyak urusan pula?” seru So Ing.

“Aku…aku ingin tahu bagaimana keadaan bocah she Hoa itu sekarang?” ucap Pek-hujin dengan menyesal.

“Dia sudah masuk tempatku ini, mati atau hidupnya adalah urusanku, kalian tidak perlu memikirkannya lagi.”

“Tapi apakah dia takkan ….”

“Huh, bilakah pernah kulakukan hal yang memalukan? Malah aku takut membikin kotor tanganku,” setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula, “Tapi kalian pun jangan khawatir, pasti tidak akan kulepaskan dia. Selama hidupnya mungkin takkan bertemu dengan siapa-siapa lagi.”

Habis berkata, tanpa menoleh ia terus melangkah pergi.

Terpaksa Pek San-kun suami-istri menyaksikan kepergian nona jelita itu dengan melongo, tiada satu pun berani merintanginya.

Selang sejenak, Kang Giok-long menghela napas gegetun dan berkata, “Orang kasar begitu, sungguh jarang terlihat.”

Thi Peng-koh melototnya sekejap dan menjengek, “Setelah orangnya pergi kau baru bisa bersuara bukan?”

Giok-long anggap tidak mendengar, katanya, “Jika budak itu tidak tahu ilmu silat sama sekali, kenapa Cianpwe tidak membekuknya saja tadi?”

Pek San-kun menghela napas, jawabnya, “Lothaucu (si kakek) memandangnya seperti mestika, barang siapa berani menyentuh sebuah jarinya, mustahil kalau tidak dilabrak habis-habisan oleh Lothaucu. Karena kami suami istri sekarang tidak ingin merecoki Lothaucu itu, terpaksa memberi kelonggaran juga pada nona angkuh itu.”

“Apalagi,” sambung Pek-hujin dengan menyengir, “jangan kau kira dia lemah ibarat tenaga menyembelih ayam saja tidak ada, namun tipu akalnya sungguh tidak terhitung banyaknya. Hanya kita beberapa orang ini belum pasti mampu mengatasi dia.”

Giok-long tersenyum dan tidak menanggapi.

Pek San-kun memandangnya sejenak, tiba-tiba matanya bercahaya, ucapnya, “Kau penasaran bukan?”

“Ya, memang agak penasaran,” jawab Giok-long dengan tertawa.

“Apakah kau ingin mencobanya?” tanya Pek San-kun.

Sambil melirik Thi Peng-koh, Kang Giok-long cuma tersenyum saja tanpa menjawab.

Mendadak Pek San-kun menggablok pundak Giok-long, katanya sambil ngakak, “Hahaha, sudah lama kutahu kau mempunyai kepandaian khas terhadap perempuan, memang tepat jika kau mau mencobanya. Tampaknya budak itu pun sedang berahi, bisa jadi dia akan terpelet olehmu dan menceritakan semuanya padamu.”

“Ah, kepandaian khas apa yang kumiliki, janganlah Cianpwe berkelakar,” ucap Giok-long dengan tertawa sambil melirik Thi Peng-koh.

Pek-hujin lantas merangkul Thi Peng-koh, katanya dengan tertawa genit, “Adik yang baik, biarkan saja dia pergi, kujamin dia pasti tidak berani mengkhianatimu, jika dia berani menyeleweng, kepalanya pasti akan kupenggal bagimu.”

Begitulah dengan berlenggang Kang Giok-long memasuki lembah pegunungan yang indah itu, angin senja meniup sejuk, bunga harum semerbak, badan terasa enteng seakan-akan tulangnya tiada setengah kati beratnya.

Terhadap perempuan, Kang Giok-long yakin dirinya adalah seorang ahli, sudah berpengalaman, apalagi menghadapi nona kecil muda belia begini, asalkan dia maju, mustahil takkan menundukkannya dengan mudah.

Yang paling melegakan hatinya ialah nona kecil ini tidak mahir ilmu silat sedikit pun, seumpama usahanya nanti gagal, paling-paling cuma mundur teratur saja dan takkan rugi apa-apa.

Apalagi dalam keadaan perlu, malahan dia dapat memakai kekerasan, diperkosa saja nona itu, kalau beras sudah menjadi nasi, mau apalagi nona itu, selain tunduk dan menurut belaka?

Sembilan di antara sepuluh perempuan kebanyakan memang seperti kuda binal, tapi kalau sudah mau kau tunggangi, tentu dia akan jinak dan membiarkan kau memasangi pelana dan membedalnya, segi ini cukup dipahami Kang Giok-long dengan jelas.

Contohnya Thi Peng-koh, dahulu nona itu suci bersih, keras dan kereng. Tapi sekarang, bukankah nona itu sudah ditundukkan?

Apalagi seumpama nona So itu berwatak keras, mati pun tidak mau menceritakan rahasia apa-apa, bila perlu juga dapat ditinggal pergi lagi, kalau dia sudah menarik keuntungan dari si nona, yang rugi kan orang lain dan pasti bukan Kang Giok-long.

Setelah membikin neraca dan menghitung untung ruginya, makin dipikir makin gembira Kang Giok-long sehingga hampir lupa daratan.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar seorang membentaknya, “Siapa kau? Mengapa berani sembarangan menerobos ke tempat orang?”

Rupanya Kang Giok-long terlalu gembira sehingga tidak mengetahui So Ing sudah sejak tadi melototinya dari jauh.

Melihat yang menegurnya adalah nona So yang hendak dicarinya, segera Giok-long bersikap memelas seperti pengemis minta sedekah. Ia tahu perempuan selalu bersimpati pada kaum yang lemah.

“Sesungguhnya untuk apa kau datang kemari?” tegur So Ing pula sambil berkerut kening.

Giok-long menunduk, dengan sikap minta dikasihani dia menjawab, “Cayhe masuk ke sini secara sembrono, sungguh tidak sopan ….”

“Jika tahu tidak sopan, sekarang juga seharusnya lekas kau keluar saja,” kata So Ing.

Tadinya Kang Giok-long sudah menyiapkan macam-macam ocehan manis dan muluk-muluk, ia mengira cukup akan menembus hati setiap gadis. Siapa tahu nona So ini ternyata mirip sebuah dinding yang kukuh, satu lubang saja tidak ada.

Kata-kata yang sudah terkumpul memenuhi perutnya kini sepatah saja belum sempat dikeluarkan, tiba-tiba So Ing lantas membalik tubuh dan berjalan kembali ke sana. Tentu saja Kang Giok-long rada bingung. Tapi dia memang cukup cekatan menggunakan otaknya, segera ia mendapat akal. Mendadak ia berseru, “Tunggu dulu, nona! Betapa pun juga mohon nona sudi menyelamatkan jiwaku.”

“Menolong jiwamu?” tanya So Ing sambil menoleh dan berkerut kening.

“Cayhe mengidap penyakit berat, kedatanganku ini hanya ingin mohon nona menolong ….”

“Jika sakit, carilah tabib, di sini bukan rumah obat dan juga bukan tempat praktik tabib, untuk apa kau datang kemari?” sela si nona.

“Apabila orang lain dapat menyembuhkan penyakit Cayhe, tentu Cayhe tak berani mengganggu nona,” ucap Giok-long dengan rawan. “Cuma sayang, di dunia ini meski banyak tabib, tapi kebanyakan adalah kaum penipu dan pembual saja, bilamana mereka mempunyai kepintaran setitik sebagai nona saja, tentu…ai, tentu Cayhe tidak perlu lagi jauh-jauh datang ke sini untuk mengganggu ketenangan nona.”

Di dunia ini, salah satu akal tak berwujud yang paling ampuh ialah menjilat pantat, untuk ini Kang Giok-long jauh lebih paham daripada siapa pun juga. Bukti memang nyata, air muka So Ing segera berubah lebih ramah walaupun mulutnya berucap dengan dingin, “Dari mana pula kau tahu aku dapat menyembuhkan penyakitmu? Siapa yang bilang padamu?”

“O, dari…dari seorang sahabat orang tua yang tidak sampai hati menyaksikan penderitaanku, beliau yang memberi petunjuk dan menyuruhku datang ke sini,” jawab Giok-long dengan menunduk. Lalu ia menyambung dengan menyengir, “Cianpwe itu sebenarnya melarangku menyebut namanya, tapi di depan nona mana berani kudusta. Beliau yang memberi alamat nona di sini ialah Pek San-kun, Pek-locianpwe dan istrinya.”

Kang Giok-long benar-benar menguasai tekniknya berdusta, maka dia harus menyelinginya dengan beberapa patah kata yang tidak penting tapi benar. Kata-kata benar ini bila sebelumnya sudah diketahui lawannya, maka hasilnya akan lebih cespleng.

Maklum, apabila kata-kata bohong seseorang diucapkan terlalu banyak, tentu tiada seorang pun yang mau percaya. Tapi jika di antara kata-kata bohong itu ada sebagian adalah kata-kata benar serta ditambah lagi kalimat-kalimat sanjung puji pada sasarannya, maka usahanya pasti akan lancar dan hasilnya pasti memuaskan.

Benar juga, air muka So Ing bertambah ramah tamah lagi, katanya sambil menggeleng, “Kedua orang itu hanya suka membikin repot padaku saja.”

Dari sikap dan ucapan orang, Kang Giok-long merasakan urusan telah banyak memberi harapan. Dia memang pintar melihat gelagat, menyusul segera ia berlutut di depan si nona dan berkata, “Penyakitku ini jelas tak dapat ditolong orang lain, apabila sekarang nona tidak…tidak kasihan padaku, maka biarlah lebih baik kumati di depan nona saja.”

Sepasang mata nona yang bening itu memandangnya lekat-lekat, sejenak barulah ia menghela napas dan berkata, “Ai, kau ini juga suka merepotkan orang ….” Sambil berkata, kembali ia membalik tubuh dan melangkah pergi pula.

“He, jangan pergi nona, apa pun juga hendaklah nona menyelamatkan jiwaku!” seru Giok-long gugup.

Tiba-tiba So Ing mengikik tawa, ucapnya, “Tolol, aku pergi, memangnya kau tak dapat ikut kemari?”

Suara tertawa si nona benar-benar membuat tulang Kang Giok-long menjadi lemas seluruhnya, sebutan ‘tolol’ itu bahkan menggelitik hulu hatinya sehingga kalau bisa si nona hendak ditubruknya sekarang juga.

Begitulah akhirnya So Ing membawa Giok-long ke ruangan yang luas itu, api lilin sudah menyala, tempat tidur pun masih di situ, namun Hoa Bu-koat yang tadinya berbaring di ranjang itu entah berada di mana sekarang?

Melihat pinggang si nona yang ramping dengan gayanya yang menggiurkan itu, sungguh kalau bisa Kang Giok-long ingin merangkulnya sekarang juga. Tapi ia pun tahu, kalau ingin memelet seorang perempuan, maka cara yang paling baik harus bersabar dan tidak boleh bertindak secara kasar.

“Nah, sekarang boleh kau katakan dulu apa penyakit yang kau derita? Bagian mana yang merasa tidak enak?” demikian So Ing mulai bertanya.

“Yang sakit…yang sakit bagian…bagian perut,” jawab Giok-long agak gelagapan. Maklum, pada hakikatnya dia tidak sakit apa-apa, terpaksa ia omong sekenanya.

“Sakit perut masa kau anggap penyakit?” ujar So Ing dengan tertawa.

Melihat si nona cuma tertawa saja, hati Giok-long tambah mantap, segera ia menambahkan, “Bukan saja perut Cayhe sakit, sekujur badan juga terasa sakit ….”

“Hebatkah sakitnya?”

“Wah setengah mati rasanya!”

Tapi mendadak So Ing menarik muka dan berkata dengan ketus, “Tapi keadaanmu tidak mirip orang kesakitan.”

Giok-long jadi melengak. Apabila orang lain, saat itu mungkin mukanya sudah merah padam. Tapi Kang Giok-long tidak malu sebagai ahli pendusta, bukan saja mukanya tidak merah, bahkan lantas menjawab dengan tenang, “Di depan nona mana Cayhe berani sembarangan. Apalagi, siapa pun juga bila melihat orang cantik bak bidadari seperti nona, betapa pun pasti akan melupakan rasa sakitnya.”

Ucapan ini tampaknya mengenai sasarannya. Terlihat So Ing tertawa manis, katanya, “Jika sakitmu lantas hilang setelah melihat diriku, lalu apa yang perlu disembuhkan lagi?”

“Apabila aku dapat senantiasa berada di sisi nona, biarpun mati kesakitan juga mau,” ujar Giok-long dengan cengar-cengir. “Cuma…cuma ….”

Karena Lwekangnya sudah cukup tinggi, kini diam-diam ia mengerahkan tenaga dan didesak, segera dahinya timbul butiran keringat sehingga mirip orang yang menahan sakit.

Tampaknya So Ing menjadi khawatir juga, katanya, “Wah, kau kesakitan begini, ayolah lekas berbaring.”

Diam-diam Giok-long bergirang dalam hati, tapi di mulut ia sengaja berkata dengan suara gemetar, “Cayhe…cayhe tidak ….”

“Masa tenaga untuk berbaring di ranjang saja tidak ada lagi?” kata So Ing.

Berulang-ulang Giok-long mengangguk dan menjawab lemah, “Ehmm…ehmmm ….”

So Ing menghela napas, ucapnya dengan tertawa, “Jika pasienku semua seperti kau bisa berabe.”

Perlahan dia tarik bahu Kang Giok-long. Tentu saja Kang Giok-long berlagak seperti lemas lunglai, dia terus menggelendot ke tubuh si nona dan berbisik di pinggir telinganya, “Terima kasih nona.”

So Ing juga tidak marah sehingga Giok-long tambah berani, segera ia hendak merangkul. Tapi sekali menggeliat So Ing memberosot ke sana, omelnya dengan kurang senang, “Jika kau tidak berbaring dengan baik-baik, aku takkan gubris kau lagi.”

Cepat Giok-long mengiakan, katanya, “Baiklah, aku menurut.”

“Anak baik harus menurut, nanti Taci memberi permen padamu,” ucap So Ing dengan tertawa.

Melihat si nona setengah mengomel dan juga tertawa, gayanya yang menggiurkan membuat hati Kang Giok-long seperti dikili-kili. Sambil memegang perutnya ia pura-pura merintih, “O, sakit…sakit sekali, lekas…lekas nona memeriksanya.”

“Mana yang sakit?” tanya So Ing sambil mendekat.

Giok-long pegang tangan si nona dan digosok-gosoknya pada perutnya, katanya, “Di sini…di sini!”

Tangan si nona yang putih halus mulus seperti tak bertulang itu lantas meraba-raba perlahan di perut Kang Giok-long, sejenak kemudian ia bertanya dengan suara lembut, “Apakah sekarang sudah baikan?”

Giok-long memejamkan mata dan menjawab, “Ya, ya, sudah rada baikan…tapi engkau jangan berhenti, sekali berhenti segera sakit lagi.”

Tangan So Ing benar-benar memijatnya terus-menerus tanpa berhenti.

Tentu saja hati Kang Giok-long sangat senang juga merasa geli, diam-diam ia membatin, “Orang lain sama bilang nona So Ing ini betapa pintar dan betapa lihai, tapi menurut pandanganku dia tidak lebih hanya seorang gadis hijau pelonco saja yang baru mulai berahi, asalkan kugunakan sedikit akal, mustahil takkan menjadi makananku yang empuk?”

Tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum, sebelah tangan So Ing yang putih mulus itu mendekati mulutnya, tangannya memegang satu biji obat yang berbau harum. Dengan suara lembut si nona berkata, “Inilah pil mujarab pelenyap sakit yang kubuat sendiri, selain bisa menghilangkan rasa sakit juga merupakan obat kuat. Setelah telan pil ini segera sakitmu akan lenyap.”

“Tidak, aku tidak mau,” Giok-long menggeleng.

“Mengapa tidak mau?” So Ing berkerut kening.

“Setelah kuminum pil ini, perutku lantas tidak sakit lagi, apabila perutku tidak sakit, bukankah nona lantas…lantas takkan memijatku pula?”

“Kau memang brengsek ….” omel So Ing. “Baiklah, setelah minum obat pil ini, tetap akan kupijat kau.”

Omelan dengan tersenyum manis itu membuat sukma Kang Giok-long hampir terbang meninggalkan raganya. Dia tambah aleman, ucapnya, “Pil ini pahit tidak?”

“Pil ini tidak pahit, bahkan sangat manis, seperti permen,” kata So Ing dengan tersenyum. “Ayolah buka mulutmu, akan kusuap kau.”

Kang Giok-long lantas memejamkan mata dan membuka mulut, hatinya senang sekali.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berteriak di tempat kejauhan, “Mana araknya? Arak sudah habis lagi! Hai, budak cilik she So, lekas bawakan arak!”

So Ing berkerut kening dan berhenti memijat, katanya, “Berbaringlah baik-baik di sini, kupergi dan segera kembali.”

Dia seperti rada gelisah, belum habis ucapannya dia terus melangkah pergi dengan terburu-buru, tapi dia sempat menoleh dan memberi pesan, “Jangan bangun dan sembarangan berkeliaran, kalau tidak menurut tentu takkan kugubris kau lagi.”

Dalam pada itu orang tadi sedang meraung pula di kejauhan, “Budak she So, apakah kau tuli? Mengapa tidak lekas kemari?!”

“Ini dia, aku segera datang, segera kubawakan araknya,” seru So Ing dengan tertawa.

Diam-diam Giok-long sangat heran, pikirnya, “Nona So ini sungguh aneh. Orang lain bersikap hormat padanya, dia justru membalas dengan kaku dan ketus. Sebaliknya orang itu berteriak-teriak menyebut dia budak dan seakan-akan menganggap dia sebagai babu, namun dia justru benar-benar menuruti segala kehendaknya. Entah saudara itu mempunyai kepandaian apa yang dapat membuat si nona tunduk begitu?”

Sungguh dia ingin merangkak bangun untuk mengintip, tapi segera terpikir bahwa usahanya sudah kelihatan ada harapan, akan lebih baik kalau tidak sembarang bergerak supaya tidak menggagalkan urusan.

Karena itu ia lantas memejamkan mata pula dan membayangkan sebentar lagi si cantik akan berada dalam pelukannya serta dikeloninya, tidak ketinggalan pula rahasia ilmu silat yang diidam-idamkan setiap orang Bu-lim itu pun akan dapat diperolehnya.

Saking senangnya hampir-hampir ia tertawa, ia bergumam sendiri, “Wahai Pek San-kun, memangnya kau kira setelah kuperoleh rahasia ini akan kuberitahukan pula padamu? Hah, jika kau sangka aku akan memberitahukan rahasia yang kuperoleh ini, maka kaulah orang goblok nomor satu di dunia ini.”

“Siapa yang kau maksudkan paling goblok nomor satu?” tiba-tiba seorang bertanya dengan tertawa.

Diam-diam Giok-long terkejut, tapi segera ia menjawab dengan tertawa, “O, kumaksudkan barang siapa yang menyebut nona adalah budak, maka dia itulah orang goblok nomor satu di dunia.”

“Ah, itu kan ucapan si linglung, dan si setan arak tua itu, kita jangan gubris dia,” ujar So Ing dengan tertawa.

Legalah hati Kang Giok-long setelah mengetahui orang yang berteriak-teriak itu disebut “tua”, apalagi si nona memakai istilah “kita” pula, sungguh mesra sekali kata-kata ini, saking senangnya sampai Kang Giok-long tertawa gembira, katanya, “Ya, ya, kita tidak perlu gubris dia.”

“Sedemikian gembira tertawamu, apakah perutmu tidak sakit lagi?” tanya So Ing.

“O, sakit, masih sakit ….” cepat Giok-long berlagak meringis lagi. “Tolonglah nona memijat pula perutku.”

So Ing tertawa, kembali ia mengurut perut anak muda itu. Sekujur badan Kang Giok-long merasa enteng seakan-akan hendak terbang ke langit.

Setelah memijat sekian lama, dengan perlahan So Ing berkata pula, “Kukira yang benar dalam hatimu menganggap aku ini orang goblok nomor satu di dunia, betul tidak?”

Giok-long melengak, cepat ia jawab dengan tertawa, “Ah, mana berani kupikir begitu, memangnya aku ini sudah keblinger?”

“Kau anggap aku ini muda belia, masih hijau pelonco, tidak pernah bergaul, apa lagi menghadapi lelaki, tentu akan sangat mudah tertipu oleh lelaki. Sebaliknya kau merasa mempunyai kemampuan untuk memikat perempuan, cukup dengan rayuan gombalmu akan dapat membuat aku jatuh dalam pelukanmu. Bahkan rahasia Ih-hoa-ciap-giok itu akan kuberitahukan padamu tanpa kau minta, begitu bukan?”

Baru sekarang Kang Giok-long benar-benar terperanjat, tapi sedapatnya dia bersikap tenang, jawabnya dengan menyengir, “Ah, mana…mana bisa begitu? Nona…nona sendiri yang terlalu ….”

Dengan dingin So Ing memotong, “Lagi pula kau pun tahu aku tidak mahir ilmu silat, sekalipun kuketahui maksud tujuanmu yang busuk juga tak tak dapat bertindak apa-apa padamu, sebab itulah kau jadi tambah berani, betul tidak?”

Saking kejutnya segera Kang Giok-long bermaksud melompat bangun. Tapi apa lacur, entah mengapa, sekujur badan terasa lemah lunglai tiada tenaga sedikit pun. Keruan ia menjadi takut dan berseru, “Jangan…janganlah nona salah sangka pada orang baik, sama sekali Cayhe tidak bermaksud begitu.”

“Huh, bukan saja kau bermaksud demikian, bahkan kalau perlu kau akan memakai kekerasan, makan dulu urusan belakang, kau pikir aku toh tidak mampu melawan, apabila beras sudah menjadi nasi, apalagi kalau sampai menjadi bubur, lalu bisa berbuat apa aku ini? Aku hanya tunduk dan menurut saja padamu.”

Sungguh celaka, berapa ekor cacing pita di dalam perut Kang Giok-long sekonyong-konyong dapat dihitung dengan jelas oleh si nona. Keruan sambil mendengarkan keringat dingin pun membasahi tubuh Kang Giok-long. Dengan suara gemetar ia berkata, “O, tidak, tiada maksudku begitu. Nona jangan menuduhku tanpa berdasar. Apabila aku mempunyai maksud jahat begitu, biarlah aku mati disambar geledek.”

So Ing tersenyum manis, ucapnya, “Dalam keadaan begini memangnya kau bisa mati dengan enak?”

Giok-long tambah ketakutan, serunya, “Nona…nona…aku…aduuh!”

Sekonyong-konyong ia menjerit ketika tangan So Ing yang masih terus memijat perutnya itu mendadak meremasnya. Saking kesakitan sehingga keringat dingin membasahi seluruh badan pula. Ia sendiri heran mengapa sekarang dirinya berubah menjadi sedemikian takut sakit.

“Kau minta kupijat perutmu, dan aku lantas pijat bagimu, apakah kau tahu mengapa aku menuruti keinginanmu?” tanya So Ing dengan tertawa.

Dengan gemetar Giok-long menjawab, “Cayhe tidak…tidak tahu, mohon…mohon nona jangan mengurut lagi.”

“Sekarang terasa sakit, lantas kau minta jangan dipijat lagi,” ucap So Ing dengan tertawa. “Tapi setelah kutahu perutmu kesakitan, penyakitku tambah berat, masa hatiku tega tidak mengurutmu lagi.”

“Tapi…tapi aku tidak…tidak sakit, sama…sama sekali tidak ada penyakit apa-apa,” teriak Giok-long.

“O, jadi kau tidak sakit?” mendadak So Ing menarik muka, “Jika begitu sebab apa kau dusta padaku?”

Habis berkata, tangan si nona lantas memegang perut Giok-long lagi. Cepat anak muda itu berteriak, “Oya, sakit…aku memang sakit ….”

“Betul, bukan saja sakit, bahkan sangat berat penyakitmu, makin lama makin parah sampai akhirnya nanti biarpun cuma disentuh oleh sehelai kertas jatuh saja kau akan kesakitan seperti disayat pisau.”

Keruan Kang Giok-long tambah ketakutan, serunya, “O, jangan…mohon…mohon nona menolong…menolong diriku ….”

Tangan So Ing masih mengurutnya perlahan, namun sedikit pun Kang Giok-long tidak lagi merasakan enaknya, sebaliknya ruas tulang sekujur badan terasa terurut lepas seakan-akan mereteli.

Didengarnya So Ing berkata pula dengan menyesal, “Saat ini aku pun tak dapat menolongmu lagi, sebab tadi aku salah ambil obat, yang kuberi minum padamu itu bukan obat pelenyap sakit sebaliknya adalah pil ‘Pek-tong-jui-sing-wan’ (pil membuat sakit dan pengurang hidup).”

“Wah, Pek-tong-jui-sing-wan? Obat macam apa itu?” tanya Giok-long ketakutan setengah mati. Sungguh, selama hidupnya tak pernah mendengar nama obat demikian.

“Obat ini kalau dimakan orang yang memang sakit akan bertambah parah sepuluh kali lipat, kalau tidak sakit dan minum obat ini, segera timbul juga macam-macam penyakit padanya, bahkan seluruh badan kesakitan setengah mati.”

“O, nona…selamanya Cayhe tiada permusuhan apa-apa dengan nona, mengapa nona membikin celaka diriku?” ratap Giok-long dengan suara parau.

“Kan kau sendiri yang mengaku sakit berat?!” jawab So Ing dengan tertawa. “Karena aku tidak mau menganggap kau ini pendusta yang tidak tahu malu, maka dengan maksud baik kuberi minum obat ini, kalau sekarang kau sakit benar-benar kan berarti kau tidak berdusta…Apalagi, lantaran khawatir sakitmu kurang cepat timbulnya, maka dengan maksud baik kupijat pula perutmu untuk membantu daya kerja obat itu.” Setelah menghela napas gegetun, ia menyambung pula, “Nah, sedemikian baik kulayanimu, masa kau tidak berterima kasih padaku?”

Ya kejut, ya takut, ya sakit, butiran keringat bertetes-tetes dari dahi Kang Giok-long seperti air hujan. Dengan suara gemetar ia berkata, “O, nona So, So-cianpwe, aku…baru sekarang hamba tahu kelihaianmu, kumohon…Mengingat Pek San-kun suami istri, sudilah engkau mengampuni diriku.”

“Ai, aku kok lupa bahwa kau adalah sahabat Pek San-kun suami-istri,” kata So Ing.

“Ya, ya, jangan sampai nona lupa.”

“Betul juga, lantaran kau adalah sahabat mereka, tidak boleh kusaksikan kau mati sakit di sini, betapa pun harus kutolong kau…Cuma sayang obat ini bukan racun, maka tiada obat penawarnya. Padahal obat sudah kau minum, wah, bagaimana baiknya ini?”

“To…tolong nona, eng…engkau pasti bisa.”

“Aha, kuingat satu jalan,” seru So Ing tiba-tiba sambil berkeplok.

“Bagaimana caranya?” tanya Giok-long girang.

“Dengan cara operasi,” jawab So Ing. “Perutmu dibedah untuk mengeluarkan pil itu.”

“Perut dibedah?” Giok-long menegas dengan ternganga takut.

“Ya,” jawab So Ing. “Tapi kau tidak perlu khawatir, aku pasti memotongnya dengan perlahan dan mengeluarkan obat itu dengan hati-hati, kau pasti takkan merasakan apa-apa.”

“Jika perut dibedah, orangnya mati, tentu saja tidak merasakan apa-apa lagi,” ucap Giok-long dengan meringis.

“Hah, kau memang pintar,” kata So Ing dengan tertawa. “Beginilah resep menghilangkan rasa sakit dari keluarga kami. Tangan sakit potong tangan, kaki sakit potong kaki, kepala sakit potong kepala, perut sakit perut dibedah. Tanggung mujarab, tanggung ces-pleng!”

Sambil bicara ia terus menyingkir ke sana sembari bergumam, “Mana pisaunya…di mana kutaruh pisauku? ….”

Keruan Kang Giok-long ketakutan, cepat ia berteriak, “Nona…jangan nona ….”

“O, kau tidak memerlukan penyembuhanku lagi?” tanya So Ing.

“Ya, tidak…tidak perlu lagi,” seru Giok-long dengan suara serak.

So Ing menghela napas gegetun, katanya, “Jika kau tidak mau disembuhkan, ya apa boleh buat, ini keputusanmu sendiri, jangan kau salahkan aku, betul tidak?”

“Ya, be…betul, betul, betul sekali.”

“Dan sekarang tentunya kau tahu siapa orang goblok nomor satu di dunia, bukan?” tanya So Ing.

“Ya, ya, tahu, ialah aku ini…aku inilah orang paling goblok di dunia, orang paling brengsek, paling busuk, dan ….” akhirnya Kang Giok-long menangis tergerung-gerung tanpa kenal malu lagi.

“Buset! Sudah gede begini juga suka menangis, sungguh menyebalkan ….” ucap So Ing dengan tertawa, kembali tangannya menekan perlahan pada sandaran tangan kursi tadi, mendadak tempat tidur itu menjeplak sehingga tubuh Giok-long terpental.

Tapi pada saat itu juga di belakang tempat tidur muncul sebuah lubang, di tengah jerit kaget Kang Giok-long terus terperosot ke dalam lubang itu dan merosot ke bawah seperti naik tangga luncur.

So Ing tersenyum dan bergumam, “Yang satu menangis, yang lain tertawa, kedua orang ini benar-benar satu pasangan, maka biar kalian menjadi teman saja di situ ….”

Sementara itu ranjang tadi telah anjlok lagi ke bawah, lubang gua itu pun merapat kembali.

Terdengar di kejauhan sana orang itu berteriak-teriak pula, “Minum arak sendirian tiada artinya, he, budak she So, kenapa kau tidak kemari mengiringi aku minum?!”

So Ing menghela napas, gumamnya dengan tersenyum getir, “Hanya dia, dia benar-benar bintang penggoda dalam hidupku ini. Sungguh aneh, aku pun tidak habis mengerti, apabila melihat dia, maka aku lantas kehilangan akal ….”

*****

Di belakang rumah ini ternyata masih ada dunia lain, di mana-mana bunga mekar menyelimuti bumi, pepohonan menghijau permai mengelilingi bukit kecil, di bawah bukit ini ada sebuah gua. Cahaya lampu tampak terang benderang di dalam gua yang luas dan terpajang mewah melebihi kamar anak perawan keluarga hartawan.

Cuma aneh, kamar gua sebagus itu justru pintu guanya ditutup oleh sebuah pagar besi, terali besinya besar-besar, lebih besar daripada lengan anak kecil.

Di dalam gua mewah itulah kini seorang duduk menyanding meja dan sedang asyik minum arak.

Tampaknya sudah tidak terhitung banyaknya arak yang telah diminumnya, air arak berceceran di atas meja, secawan demi secawan orang itu masih terus menenggak tanpa berhenti.

Rambutnya tampak kusut masai, berkaki telanjang, pakaiannya juga aneh, sebuah jubah putih yang longgar dan besar sehingga kelihatannya sangat lucu.

Orang itu duduk menghadap ke dalam sehingga wajahnya tidak jelas kelihatan. Terdengar dia sedang berteriak-teriak, “Budak she So, kenapa kau tidak lekas datang? Jika kau tidak segera datang, aku akan ….”

Pada saat itulah So Ing baru muncul, jawabnya dengan suara lembut, “Ini dia, sudah datang. Ai, jarang ada orang tidak sabaran seperti engkau ini.”

“Persetan!” orang itu meraung gusar sambil mengebrak meja. “Kau anggap aku tidak sabar? Memang beginilah watak pembawaanku, peduli apa denganmu? Jika tidak suka tidak perlu kau memandangku.”

So Ing menunduk sedih, air mata hampir saja menetes.

Tapi orang itu mendadak tertawa dan berkata pula, “Tapi aneh juga, bilamana aku terkenang padamu, mengapa buru-buru kuteriaki kau supaya lekas kemari. Orang lain suka bilang sehari tidak bertemu seolah-olah berpisah selama tiga tahun. Bagiku, pada hakikatnya sebentar saja sudah terasa rindu jika ditinggal pergi olehmu.”

Karena ucapan ini, dari menangis So Ing lantas tertawa, dengan menggigit bibir ia berucap, “Kutahu jiwaku ini cepat atau lambat pasti akan amblas dibikin gemas olehmu.”

“Eeh, jangan, sekali-kali kau jangan mati,” teriak orang itu dengan tertawa. “Jika kau mati, lalu siapa lagi yang akan mengiringi aku minum arak?”

Sembari bergelak tertawa ia lantas berpaling, cahaya lampu menyinari mukanya dengan terang.

Tertampak mukanya corang-coreng penuh garis-garis bekas luka, kalau dipandang sepintas lalu terasa sangat jelek dan menakutkan. Tapi kalau dipandang lagi lebih cermat, rasanya wajahnya cerah dan halus tiada sesuatu codet apa pun, matanya yang besar dan mencorong terang, hidungnya mancung, bibirnya yang tipis dengan senyumnya yang kemalas-malasan ….

Sungguh di dunia sukar dicari orang lain yang mempunyai daya tarik lebih kuat daripada orang ini.

Inilah dia yang senantiasa dirindukan orang siang dan malam, anak muda yang tak dapat terlupakan, ya dicinta, ya dibenci, ya menggeregetkan.

Siapa lagi dia kalau bukan Kang Siau-hi alias Siau-hi-ji.

Wahai Siau-hi-ji!!

Ke manakah kau selama ini, mengapa kau bisa muncul di sini?

Mengapa pula kau terkurung di gua ini dan apa pula hubunganmu dengan si nona jelita cendikia So Ing?

Perbuatan aneh dan kegemparan apalagi yang telah kau lakukan?

Melihat Siau-hi-ji mau berpaling ke arahnya, mata So Ing bercahaya, ucapnya dengan tersenyum lembut, “Sejak tadi kau berteriak-teriak meminta aku mengiringimu minum, sekarang aku sudah datang, mengapa tidak kau berikan cawan araknya?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Jika betul kau hendak mengiringi aku minum, mengapa kau tidak masuk kemari?”

Tapi So Ing lantas menggeleng, jawabnya, “Biar kuminum di luar sini, kan sama saja?”

“Mana bisa sama?” kata Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh. “Jika mau, kau harus duduk di sampingku, mengajak bicara padaku, dengan demikian barulah aku dapat minum dengan baik. Bukankah tadi sudah kukatakan, betapa kurindukan dikau?”

Sinar mata So Ing tampak berkilau-kilau, wajahnya bersemu merah, jawabnya dengan tertawa dan menunduk, “Meski aku berada di luar sini, kau tetap dapat melihat aku.”

“Tapi akan lebih baik jika kau masuk ke sini.”

“Tidak, lebih baik aku tidak masuk ke situ.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melonjak bangun dan mendamprat, “Kau budak busuk, budak mampus! Siapa yang ingin kau mengiringi kuminum? Lekas kau enyah dari sini!”

Namun So Ing tidak marah sama sekali, sebaliknya ia menjawab dengan tertawa, “Pokoknya aku tidak ambil pusing, biar kau rayu juga aku takkan masuk ke situ, kau mencaci maki tetap juga aku tidak mau masuk ke situ.”

“Mengapa kau tidak mau masuk kemari!” Siau-hi-ji meraung murka. “Memangnya kau takut kumakan kau? Aku kan bukan Li Toa-jui?”

“Kutahu engkau tidak makan manusia,” ucap So Ing dengan tertawa. “Tapi aku pun tahu, apabila kubuka pintu dan masuk ke situ, kesempatan mana akan kau gunakan untuk kabur, betul tidak?”

Siau-hi-ji mencibir, jengeknya, “Hm, kau bukan cacing pita di dalam perutku, dari mana kau tahu isi hatiku?”

So Ing hanya tersenyum saja dan tidak menanggapi.

Siau-hi-ji berputar-putar beberapa kali di dalam, tiba-tiba ia berhenti pula di depan si nona, katanya dengan tertawa, “Kutahu kau ini orang bajik, bahkan sangat baik padaku, kumaki kau, sama sekali kau tidak marah. Tapi mengapa kau sengaja mengurung aku di sini? Untuk apa?”

So Ing menghela napas, jawabnya, “Masa kau tidak tahu maksudku?”

“Aku justru ingin mendengarnya darimu?” kata Siau-hi-ji.

“Kutahu engkau ini orang suka bergerak, watakmu juga pemberang, jika tidak kukurung di sini, sejak kemarin-kemarin engkau sudah pergi. Padahal sampai saat ini lukamu belum lagi sembuh, bilamana engkau bergerak, tentu bisa tambah parah.”

“O, jadi kau ini bermaksud baik?” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa.

So Ing hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Siapa tahu mendadak Siau-hi-ji berjingkrak gusar pula, teriaknya, “Tapi aku tidak sudi menerima kebaikanmu ini. Aku akan mati atau tetap hidup adalah urusanku dan tiada sangkut-pautnya denganmu. Jangan kau sangka setelah menyelamatkan aku, lalu aku harus menuruti segala kehendakmu dan berterima kasih padamu dan ….”

“Aku…aku kan tidak minta engkau berterima kasih padaku, bukan?” ucap So Ing sambil menunduk.

Siau-hi-ji berputar kayun beberapa kali pula di dalam ruangan, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa, “Bicara terus terang, untuk apakah kau menolong aku, sungguh aku tidak mengerti.”

So Ing terdiam sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan, “Hari itu kebetulan kudatang ke Thian-gua-thian (surga di langit) ….”

Baru satu dua kalimat ia bicara, mendadak Siau-hi-ji melonjak murka pula dan meraung, “Huh, Thian-gua-thian apa? Di sana tiada lain cuma sebuah liang tikus belaka.”

So Ing tertawa dan berkata, “Baiklah, anggap saja liang tikus, engkau kan tidak perlu marah toh?”

“Kenapa aku tidak marah,” teriak Siau-hi-ji. “Bila mendengar kata-kata ‘tikus’ langsung kepalaku sakit.”

“Tapi kata-kata ini kan kau sendiri yang mengucapkannya dan bukan aku,” ujar So Ing.

“Kepalaku sakit bila mendengar ucapan orang, apalagi aku sendiri yang mengatakannya, kepalaku jadi tambah sakit,” omel Siau-hi-ji.

“Jika begitu kan tidak perlu kau katakan, toh tiada orang yang memaksa kau bicara,” ujar So Ing dengan tertawa.

“Tapi mulutku terasa gatal bila tidak bicara, apalagi aku ….” sampai di sini Siau-hi-ji geli sendiri, ia pun merasa dirinya terlalu kepala batu dan ingin menang sendiri. Ia berpaling ke sana sambil menahan tawa, katanya, “Kenapa tidak teruskan ceritamu?”

“Oya, hari itu kebetulan kudatangi Thian …. O, liang ti ….” mendadak So Ing serba salah, sebab Siau-hi-ji melarang dia bilang “Thian-gua-thian” dan juga tidak boleh berkata tentang “tikus”. Diam-diam ia merasa geli, terpaksa ia menggigit bibir dan berganti kalimat, “Hari itu kudatang ke sana, maksudku hendak mengambil bahan obat-obatan yang mereka kumpulkan bagiku itu. Tak tersangka di sanalah kulihat engkau kebetulan juga berada di sana.”

“Akulah yang sial bisa datang ke tempat setan sana, kau pun sial karena bertemu dengan aku,” kata Siau-hi-ji.

“Tapi waktu berjumpa denganmu tempo hari, sedikit tanda sial saja tak kulihat pada dirimu. Meski baju yang kau pakai waktu itu compang-camping, namun sikapmu dan lagakmu seperti pangeran yang memakai baju yang paling indah dan paling mewah di dunia ini.”

Siau-hi-ji duduk sambil melipat kakinya, katanya, “Lalu? Bukan saja lagakku menarik, memang potonganku kan juga tidak jelek.”

“Betul,” tukas So Ing sambil tersenyum, “engkau memang tidak jelek, lebih-lebih sepasang matamu ….”

“Dan alisku, hidungku, mulutku, apakah semua ini kurang baik?” seru Siau-hi-ji.

“Ya, ya, dari kepala sampai kakimu, tiada satu pun yang jelek, semuanya bagus…nah, cukup?” So Ing tertawa nyekikik.

Siau-hi-ji menenggak araknya seceguk, jawabnya dengan tertawa, “Ehm, boleh juga ….”

So Ing tertawa terpingkal-pingkal, dengan napas terengah-engah, ia berkata pula, “Sungguh aneh kau ini, sengaja memaksa orang lain bilang kau ini bagus, cakap, ganteng. Orang seperti engkau ini sungguh belum pernah kulihat.”

“Orang seperti diriku ini memang tidak bisa sering-sering terlihat,” ucap Siau-hi-ji sambil mencibir.

“Sebenarnya aku bukan orang yang mudah terkejut, tapi ketika kulihat kau, aku menjadi ….”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menukas, “Waktu melihat diriku, matamu terbelalak terkesima, mulutmu ternganga seakan-akan melihat hantu, sungguh ketika itu ingin kujejal mulutmu dengan sebutir telur.”

So Ing mengikik tawa, katanya, “Soalnya aku memang merasa heran.”

“Apa yang kau herankan?” tanya Siau-hi-ji.

“Yang kuherankan pertama adalah mengapa … mengapa engkau bisa berada di sana.”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian sambil berkerut kening, “Sudah tentu ada sebabnya, cuma…cuma kau pun tidak perlu tahu, karena untuk apa dan cara bagaimana kudatang ke tempat setan itu, semuanya tiada sangkut-pautnya dengan kau.”

“Ada lagi yang membuatku heran, yakni, sama sekali tiada tanda-tanda merasa takut pada dirimu meski berada di tempat begitu,” ucap So Ing dengan gegetun.

“Apa yang perlu kutakuti?” jengek Siau-hi-ji. “Tempat yang lebih seram dan lebih mengerikan juga sudah banyak kulihat.”

“Tapi pernahkah kau lihat orang yang…yang lebih menakutkan daripada Gui Bu-geh?” tanya So Ing.

Seketika Siau-hi-ji tak dapat menjawab lagi, tangannya yang memegang cawan arak seperti rada gemetar sehingga arak di dalamnya hampir tercecer keluar.

Dengan menghela napas So Ing menyambung lagi, “Semenjak berumur tujuh atau delapan tahun hampir setiap dua-tiga hari satu kali pasti aku menemui dia, tapi sampai saat ini, apabila kulihat wajahnya, rasanya aku tetap menggigil ketakutan padanya.”

Mendadak Siau-hi-ji gabrukkan cawannya di atas meja dan berteriak, “Tapi aku tidak takut padanya, aku cuma merasa mual, ingin muntah bila melihat cecongornya itu. Wajahnya, tampangnya itu pada hakikatnya bukan manusia, dia…dia hakikatnya adalah hantu yang diciptakan secara gado-gado dari seekor tikus, seekor rase, seekor serigala dan dibumbui dengan sebotol racun dan sebotol karbol ….”

Hampir So Ing tertawa geli pula, ucapnya, “Apa pun juga, berhadapan dengan Gui Bu-geh, engkau tetap gagah dan angkuh. Padahal orang lain pasti ketakutan setengah mati bila bertemu dengan dia.”

Siau-hi-ji mendengus, tapi tiba-tiba ia pun tertawa dan berkata, “Bicara terus terang, waktu kulihat kalian, dalam hatiku juga merasa geli. Bilamana kalian duduk bersanding, mirip benar satu porsi Ang-sio-bak berjajar dengan satu porsi tahi kerbau. Sungguh di dunia ini sukar dicari keadaan yang tidak serasi seperti kalian.”

So Ing menunduk dan terdiam sejenak, katanya kemudian dengan rawan, “Meski dia bukan orang baik, tapi terhadapku…terhadap diriku dia selalu sangat baik, selama sepuluh tahun ini, boleh dikatakan tidak pernah mengecewakan aku, apa pun yang kuinginkan selalu dipenuhi olehnya.”

“Hm, siluman ingin menjilat si cantik, adalah pantas kalau dia bersikap baik padamu.”

Kembali So Ing terdiam sejenak, lalu berkata dengan tertawa, “Waktu engkau mendadak menerobos masuk ke tempatnya dan berani pula melotot dan meraung padanya, mau tak mau ia pun kaget. Selama ini belum pernah kulihat seseorang dapat membuat air mukanya berubah, tapi ketika dia melihatmu, sorot matanya seakan-akan menghijau.”

“Semula mungkin mereka mengira besi tua yang dia pasang di mulut gua itu dapat merintangi aku, tak tahunya benda-benda itu bagiku tidak lebih hanya seperti permainan anak kecil saka,” kata Siau-hi-ji sambil tergelak-gelak.

“Kau anggap benda-benda itu besi tua dan permainan anak kecil, tapi tahukah alat-alat perangkap itu telah banyak mengambil korban?”

“Brak”, mendadak Siau-hi-ji menggebrak meja, teriaknya, “Hah, tahu begitu, permainan itu tentu sudah kubakar ludes.”

“Justru lantaran kau mampu menerobos melalui kedelapan belas pesawat rahasia yang dia pasang itu maka dia rada jeri padamu,” tutur So Ing. “Makanya meski engkau bersikap garang dan meraung padanya, dia tetap diam saja ….”

“Jika dia sudah tahu kelihaianku, mengapa dia menyuruh beberapa orang tolol itu mengantarkan kematiannya?” tukas Siau-hi-ji.

“Dia sendiri tidak turun tangan melainkan menyuruh anak muridnya saja, tujuannya ingin menjajal sampai di mana dan asal usul ilmu silatmu. Sudah tentu ia pun tahu anak buahnya itu pasti bukan tandinganmu.”

“Haha, memangnya kau kira aku tidak tahu jalan pikirannya? Makanya aku justru menyembunyikan gaya asal usul ilmu silatku.”

“Ya, aku pun heran ketika melihat gaya permainanmu,” ujar So Ing dengan tertawa.

“Kau heran? Memangnya kau mengerti apa?”

“Meski aku malas belajar silat, tapi sedikit banyak aku pun tahu banyak gaya dan gerakan ilmu silat dari berbagai aliran dan golongan di dunia ini. Hihi, ilmu silatmu ternyata ….” So Ing tertawa dan menyambung pula. “Ilmu silatmu ternyata lebih aneh daripada dirimu, sekali tempo jurus yang kau mainkan tampaknya seperti gaya silat Bu-tong-pay, tapi kalau dilihat lebih teliti, ternyata bukan. Terkadang ….”

“Terkadang kau sangka itu satu porsi pecal lele, setelah didekati ternyata satu porsi gado-gado, begitu bukan?” tukas Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Betul, seakan-akan seluruh ilmu silat di dunia ini semuanya kau pelajari walaupun cuma sedikit-sedikit, tapi gaya yang kau mainkan justru berlainan.”

“Ilmu silatku memang terdiri dari satu porsi cap-cay, campur-aduk seperti gado-gado,” seru Siau-hi-ji sambil tertawa. “Tapi lantaran cap-cay ini hasil buatan dari belasan koki termasyhur, meski tampaknya tak keruan, tapi rasanya lumayan juga.”

Seperti diketahui, guru yang mengajarnya mula-mula memang tidak cuma seorang saja, apalagi ilmu silat Ha-ha-ji, To Kiau-kiau, Im Kiu-yu, Li Toa-jui, Toh Sat dan lain-lain memang juga campur aduk. Sebab itulah sebelum meninggalkan Ok-jin-kok, sudah berpuluh macam ilmu silat yang dipelajarinya.

Setelah dia meninggalkan sarang penjahat itu, setiap jago silat yang pernah dijumpainya, sedikit banyak ia pun berhasil mencuri beberapa jurus dari mereka. Akhirnya ditambah lagi kitab pusaka ilmu silat yang diketemukannya di istana bawah tanah itu, bahkan ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu adalah intisari ilmu silat hasil karya tokoh-tokoh terkemuka dari berbagai aliran dan golongan.

Jika Siau-hi-ji dibandingkan dengan Hoa Bu-koat, maka ilmu silat Hoa Bu-koat boleh diibaratkan satu porsi nasi rawon yang dibuat oleh seorang koki pandai dari bahan-bahan pilihan. Sedangkan ilmu silat Siau-hi-ji benar-benar satu porsi gado-gado yang masih segar. Nasi rawon memang enak, tapi gado-gado juga tidak kurang lezatnya.

Begitulah dengan tertawa So Ing lantas berkata pula, “Sesungguhnya Cui Bu-geh juga tidak menyangka bahwa dia sendiri pun tidak dapat mengenali gaya ilmu silatmu.”

“Sebab itulah sejak mula dia hanya duduk saja tanpa turun tangan, begitu bukan?”

“Ehm,” So Ing tersenyum.

“Memangnya dia dapat menyaksikan anak buahnya kubinasakan begitu saja?”

“Walaupun orang-orang itu adalah muridnya, tapi semuanya belum termasuk hitungan dan bukan murid kesayangannya, apalagi mati hidup orang lain pada hakikatnya tidak pernah dipusingkan olehnya, asalkan menguntungkan dia, sekalipun kepala anaknya sendiri harus dipenggal juga dia tidak keberatan.”

“Hm, memang sejak mula kutahu dia bukan manusia!” teriak Siau-hi-ji dengan gusar. “Nyatanya dia bahkan lebih rendah daripada binatang.”

“Dan demikian setelah kau bereskan beberapa orang itu, lalu dia menyilakan kau duduk dan kau pun benar-benar duduk…Ai, kau kan orang pintar, masa tidak tahu tindakannya itu pasti tidak bermaksud baik?”

“Justru lantaran kau anggap diriku ini mahapintar, kuyakin apa pun permainan yang akan dia keluarkan pasti takkan mampu terlepas dari genggamanku.”

“Tapi akhirnya kau toh tertangkap juga,” ucap So Ing dengan gegetun.

Siau-hi-ji melotot, jengeknya, “Hm, kau tahu apa? Jika adu akal, masih jauh dia ketinggalan.”

“Tapi…tapi kau tetap ….”

“Adu akal dia tak dapat melawanku, tapi mengadu tenaga aku pun tak dapat melawannya,” kata Siau-hi-ji menyesal. “Terus terang, sesungguhnya aku pun tidak menyangka ilmu silat binatang itu ternyata begitu lihai.”

“Konon pada dua puluh tahun yang lalu ilmu silatnya sudah tergolong top di antara beberapa tokoh terkemuka yang dapat dihitung dengan jari,” tutur So Ing. “Sebabnya Cap-ji-she-shio bisa malang melintang di dunia Kangouw boleh dikatakan adalah berkat pengaruhnya melulu.”

“Hal ini memang betul dan bukan bualan,” tukas Siau-hi-ji. “Tokoh-tokoh Cap-ji-she-shio yang lain juga sudah pernah kujumpai, kalau dibandingkan dia, ilmu silat mereka boleh dikatakan tidak ada artinya.”

“Pada dua puluh tahun yang lalu,” tutur So Ing pula, “Dia mengira ilmu silatnya sudah tiada tandingannya di kolong langit ini. Tapi kemudian dia kebentrok dengan Ih-hoa-kiongcu dan mungkin kecundang, maka dia lantas cuci tangan dan mengasingkan diri ke sini. Selama dua puluh tahun ini siang dan malam dia tekun meyakinkan ilmu. Menurut ceritanya, sekarang biarpun Ih-hoa-kiongcu kakak beradik maju sekaligus juga bukan tandingannya.”

“Hahaha!” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Ini jelas membual belaka. Tidak perlu Ih-hoa-kiongcu sendiri, cukup muridnya saja pasti akan membuatnya keok dan minta ampun.”

Berkilau sorot mata So Ing, tanyanya, “Ada berapa orang murid Ih-hoa-kiongcu?”

“Yang perempuan entahlah, yang lelaki hanya ada satu.”

“Dan kau…kau sahabat muridnya itu?” tanya So Ing dengan pandangan lekat-lekat.

Siau-hi-ji menghela napas menyesal, jawabnya, “Mestinya kami dapat bersahabat, tapi sekarang…sekarang seakan-akan harus menjadi musuh.”

“O, bagus, bagus sekali!” kata So Ing dengan tersenyum.

“Apa? Bagus?” Siau-hi-ji melotot.

So Ing menunduk dengan mengulum senyum dan tidak menjawabnya.

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak paham maksud ucapan si nona, lebih-lebih tidak tahu bahwa pada saat itu Hoa Bu-koat sudah mendekati ajalnya. Dia memandang si nona dengan terbelalak, sejenak kemudian baru berkata pula, “Waktu dia menyilakan aku duduk, sudah tentu aku pun menyadari dia pasti akan menjebak aku dengan tipu muslihatnya, tapi yang kutakutkan cuma mengadu kekuatan dengan dia dan tidak gentar untuk mengadu akal, makanya aku lantas duduk tanpa sungkan.”

“Sebenarnya kursi itu terpasang pesawat rahasia,” tutur So Ing dengan tertawa. “Asalkan jarinya menekan sedikit, segera orang yang duduk di kursi itu akan terjerumus ke dalam liang bergolok, betapa pun tinggi ilmu silatnya juga pasti akan binasa.”

“Betulkah begitu lihai?” tanya Siau-hi-ji.

“Bukan cuma ilmu silatnya saja yang tinggi, dia juga mahir macam-macam ilmu pengetahuan yang lain,” tutur So Ing, “Ia yakin asalkan menggerakkan alat rahasianya, maka kau pasti akan binasa, makanya dia tidak ingin membuang tenaga untuk bergebrak dengan kau.”

“Mungkin dia tidak menyangka bahwa setelah dia menggerakkan alat rahasianya dan aku masih tetap duduk saja dengan bergeming,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, bukan saja dia terheran-heran, bahkan aku pun sangat heran,” kata si nona.

“Hahaha!” Siau-hi-ji terbahak-bahak. “Terus terang, sebelumnya sudah kulihat kursi itu tidak beres. Sebab itulah tampaknya aku duduk, tapi sebenarnya pantatku tidak pernah menyentuh kursi.”

“Hihi, kau benar-benar setan cerdik,” So Ing mengikik.

“Kemudian aku memaki dia, tak tersangka binatang tua itu terlebih keras daripadaku, dia terus melabrak diriku. Melihat dia mulai pakai kekerasan, segera aku menyadari urusan bisa runyam.”

“Tapi kau tetap sempat bergebrak cukup lama dengan dia. Pertarungan sengit itu sungguh tak pernah kulihat sebelumnya.”

“Binatang tua itu memang lihai, ilmu silatnya tinggi, jurus serangannya keji, caranya juga licin, seumpama ilmu silatku lebih tinggi daripada dia juga sukar mengalahkan dia.”

“Dia sendiri juga bilang begitu, sekalipun ilmu silat orang lain lebih tinggi juga belum tentu bisa mengalahkan dia, sebab setiap jurus serangan yang dimainkannya selalu diperhitungkan dan dia lebih dulu menduduki tempat yang tak terkalahkan.”

“Justru lantaran dia selalu menyisihkan sebagian tenaganya sebagai cadangan, makanya aku sanggup berkutek sekian lama dengan dia. Tapi aku pun tahu, apabila aku meleng sedikit saja pasti akan binasa di tangannya.”

“Ya, di bawah tangannya memang tidak pernah ada lawan yang lolos dengan hidup,” ucap So Ing dengan gegetun.

“Tapi aku lantas berpikir, andaikan aku harus mati juga tidak sudi mati di tangan orang macam begitu,” ujar Siau-hi-ji.

“Maka…maka kau lantas…lantas ….”

“Lantas mundur setindak demi setindak, mundur ke pojok sana.”

“Di pojok ruangan itu pun ada pesawat rahasianya, bila kau menginjak bagian sana, segera akan menyambar pisau terbang.”

“Memangnya kau kira aku tidak tahu?”

“Kau tahu? Jika tahu mengapa mundur ke sana?”

“Justru lantaran kutahu di pojok sana ada alat rahasia dan kutahu dia hendak memancing diriku ke sana, makanya aku sengaja pura-pura terdesak dan menginjak alat rahasianya, begitu pisau menyambar keluar, aku pun pura-pura tak sempat menghindar dan membiarkan diriku terkena pisau.”

So Ing jadi melenggong, serunya, “He, mengapa begitu? Untuk apa kau sengaja pura-pura terjebak?”

“Sebab aku tidak sudi mati di tangannya,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi tahukah bahwa pisau terbang itu pun beracun?”

“Sekalipun pisau itu beracun juga lebih baik daripada kena cakar oleh kukunya yang mirip cakar setan itu. Bilamana aku kena dicakar oleh kukunya, jelas pasti akan mati, maka aku lebih suka kena pisau,” setelah terbahak-bahak lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Sudah kuperhitungkan, apabila aku terkena pisau, tentu dia takkan turun tangan lagi. Nah, tentunya kau tahu sekarang bahwa sama sekali tidak betul aku masuk perangkapnya.”

So Ing memandangnya sejenak, setelah menghela napas panjang lalu berkata, “Kalau bicara tentang kecerdikan dan kegesitan bertindak serta akal yang aneh-aneh, di dunia ini memang jarang ada yang bisa menandingimu.”

“Masa kau tidak tahu aku ini orang pintar nomor satu di dunia?” tukas Siau-hi-ji dengan membusungkan dada.

So Ing mengikik tawa, selang sejenak baru berkata pula, “Tapi kalau kau tidak bertemu dengan aku, orang pintar nomor satu di dunia seperti engkau ini tentu tidak bisa hidup lebih lama lagi. Cara…cara bagaimana engkau mesti berterima kasih padaku.”

Tak terduga Siau-hi-ji lantas mendengus, “Hm, sekalipun kau tidak menyelamatkan aku, pasti juga ada orang lain yang akan menolong aku.”

So Ing melengak, “Siapa?” tanyanya.

“Mungkin Thio Sam, bisa jadi Tan Si atau Ong Ngi, mungkin A Li atau Bu Ki, sekarang belum diketahui secara pasti, tapi bila waktunya pasti ada orang akan menolong diriku. Memangnya kau lihat aku ini mirip orang yang pendek umur?”

Perlahan So Ing menggigit bibir, katanya, “Jika demikian, jadi mestinya aku tidak perlu menolong kau.”

“Ehm,” dengus Siau-hi-ji.

“Ya, seharusnya aku menunggu dan melihat saja, entah si tolol mana yang akan menolongmu.”

“Haha, betul, yang menolong aku adalah orang tolol, ucapanmu memang tepat.”

So Ing menyadari ucapannya yang keseleo lidah, ia membanting kaki dan mengomel, “Kau…kau ….”

Siau-hi-ji tertawa geli, ucapnya, “Apalagi, seumpama tiada orang tolol yang mau menolongku tetap aku takkan mati. Orang baik tidak panjang umur, orang busuk hidup seribu tahun. Pemeo ini tentunya pernah kau dengar bukan?”

Akhirnya So Ing juga tertawa geli, katanya, “Ai, kau ini memang…memang telur busuk cilik, setiap orang pasti mati kutu terhadapmu.”

“Bicara kian kemari sesungguhnya kau memang tidak perlu menolong aku, sekarang mungkin kau merasa menyesal.”

“Menyesal?” So Ing menegas. “Apa yang telah kulakukan selamanya aku tidak pernah menyesal.” Setelah berhenti sejenak, lalu ia menyambung pula, “Sesudah engkau terkena pisau beracun itu, tidak lama engkau lantas tak sadarkan diri, Gui Bu-geh yakin engkau pasti mati, segera dia hendak menyuruh orang menyeretmu keluar untuk dijadikan makanan tikus.”

“Dijadikan makanan tikus?” seru Siau-hi-ji sambil melelet lidah.

“Ya,” jawab So Ing singkat.

Seketika Siau-hi-ji merinding. Tapi dia tetap tertawa dan berkata, “Wah, jika begitu, untunglah aku ….”

“Sekarang kau pun tahu nasibmu tidak jelek ya?” tanya So Ing dengan tertawa.

“Bukan nasibku yang baik, tapi nasib kawanan tikus itu yang baik,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Apa? Nasib kawanan tikus yang baik?” So Ing merasa bingung.

“Habis, coba kau pikir. Seluruh tubuhku dari atas sampai bawah, dari dalam sampai luar, dari otot sampai tulang, semuanya sudah busuk habis-habisan, jika tikus berani makan aku, mustahil tidak akan tumpah-tumpah atau mencret.”

Belum lagi habis ucapannya So Ing sudah terpingkal-pingkal hingga menungging.

“Kau sangat gembira bukan?” kata Siau-hi-ji.

So Ing masih terus tertawa dan tertawa, tiba-tiba ia berhenti tertawa dan memandang termangu-mangu sejenak, lalu berkata dengan rawan, “Tahukah engkau, sejak dilahirkan hingga sekarang, belum pernah aku tertawa gembira seperti sekarang ini.”

“Apakah kehidupanmu kurang baik?”

“Aku…aku ….” tiba-tiba mata So Ing berkaca-kaca, ia menunduk dan tidak sanggup meneruskan.

Siau-hi-ji memandangnya sekian lama, katanya kemudian dengan tertawa, “Kau jangan sedih, biarpun begini mulutku berucap, tapi dalam hatiku tetap berterima kasih padamu.”

So Ing menunduk, katanya, “Kutahu meski kau bicara yang buruk-buruk, sesungguhnya hatimu…hatimu bajik, tapi ada sementara orang yang bicara muluk-muluk, hatinya justru jahat.”

Siau-hi-ji menengadah dan tertawa, katanya, “Haha, kau kira kau sangat pintar karena kau dapat menyelami jalan pikiran orang lain?”

So Ing menggeleng tanpa menjawab, lewat sejenak baru berkata, “Tempo hari sebenarnya aku pun tiada kesempatan baik untuk menolongmu, syukur pada waktu itu secara kebetulan Gui Bu-geh kedatangan seorang tamu penting, dia menyambut tamunya ke ruangan dalam, sebab biasanya ia tidak suka orang lain melihat diriku.”

“Soalnya setiap orang lain pasti jauh lebih cakap daripada dia, dengan sendirinya dia khawatir orang lain akan membawa lari kau,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Ucapan ini seakan-akan mengenai lubuk hati So Ing. Kembali ia menunduk, selang sejenak barulah ia menyambung lagi, “Setelah dia pergi barulah kusuruh kedua muridnya itu membawamu ke sini. Kukatakan pada mereka bahwa ada sejenis bunga yang kutanam memerlukan orang mati sebagai rabuk, hanya dengan begitu barulah bunganya dapat mekar dengan indahnya.”

“Mungkin kedua muridnya yang bodoh itu mau percaya padamu, tapi Gui Bu-geh apa juga mau percaya?”

“Dia takkan tahu,” jawab So Ing.

“O, mengapa?” Siau-hi-ji merasa tidak paham.

“Anak muridnya sama takut padanya, di depannya satu patah kata saja tidak berani bersuara.”

“Apakah kau merasa sayang bila orang pintar seperti diriku ini mati konyol begitu, makanya kau menolong aku?” tanya Siau-hi-ji sambil menggeliat.

So Ing tertawa, jawabnya, “Entah, aku pun tidak tahu sebab apakah aku menolong engkau. Mungkin…mungkin karena aku tertarik oleh sikapmu yang kereng waktu berhadapan dengan Gui Bu-geh, bisa jadi juga lantaran sekilas engkau telah tersenyum padaku waktu engkau terkena pisau berbisa itu. Orang mau tertawa padaku sebelum ajalnya, mana boleh kubiarkan dia mati sungguh-sungguh.”

“Haha, jika begitu, jadi senyumanku itu ternyata membawa keberuntungan bagiku,” seru Siau-hi-ji sambil berkeplok tertawa.

“Apakah…apakah tertawamu padaku itu adalah karena menghendaki aku menolongmu?”

“Apalagi jika bukan begitu maksudku? Kalau tidak, sudah dekat ajal untuk apa mesti tertawa?”

“Ken…kenapa engkau tidak membohongi aku, lantaran kesengsem padaku, maka tanpa terasa kau tertawa ….”

“Sekarang kau telah menolong aku, untuk apa aku membohongimu lagi? Apa pula…apa pula waktu kau marah ternyata jauh lebih menarik daripada waktu tertawa.”

Kembali So Ing mengikik tawa, ucapnya, “Kiranya kau telur busuk kecil ini tidak berdusta.” Lalu ia menyambung pula, “Cuma masih ada sesuatu yang belum jelas bagiku.”

“Mengingat kau telah memaki aku sebagai telur busuk kecil, urusan apa yang belum jelas bagimu, coba katakan, pasti akan kuberitahu.”

“Sebab apa engkau mencari Gui Bu-geh?”

“Bukankah sudah kukatakan tempo hari? Karena ingin menolong kawan-kawanku, maka aku mencari dia.”

“Dari mana kau tahu kawan-kawanmu berada di sana?”

“Sepanjang jalan kawan-kawanku meninggalkan tanda rahasia dan menunjukkan bahwa mereka telah pergi ke liang tikus itu.”

“Bisa jadi mereka cuma putar kayun saja di luar dan pada hakikatnya tidak pernah masuk ke situ.”

“Tidak, tidak bisa. Jika mereka tidak masuk ke sana, atau sudah masuk dan keluar lagi, tentu juga mereka akan meninggalkan tanda bagiku. Tanda rahasia mereka sudah kupelajari sejak masih kecil.”

So Ing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Tapi dapat kuberitahukan padamu bahwa selama tiga bulan terakhir ini sama sekali tiada orang berkunjung ke tempatnya itu, hanya kau…kaulah orang pertama yang menerobos ke sana.”

Siau-hi-ji melonjak bangun dan berseru, “Tidak, tidak mungkin.”

So Ing menatapnya tajam-tajam, katanya dengan tegas, “Harap kau percaya padaku, sama sekali aku tidak dusta.”

“Tapi jelas kulihat tanda rahasia mereka ….”

“Memangnya tanda itu tidak mungkin palsu?”

“Tidak, kecuali mereka sendiri, tidak mungkin ada orang lain yang dapat membuatnya.”

So Ing menghela napas, katanya, “Jika begitu pasti kawan-kawanmu itu bohong padamu.”

“Mereka membohongi aku? Untuk apa mereka menipu aku?” kembali Siau-hi-ji berjingkrak.

“Mungkin mereka sendiri tidak berani menerobos ke sana, maka mereka sengaja menyuruhmu menjadi pelopor pencari jalan bagi mereka, bisa jadi mereka sirik padamu, maka sengaja mengorbankan kau.”

Siau-hi-ji duduk selonjor di kursinya, matanya memandang jauh ke depan sana, gumamnya, “Tidak, tidak mungkin…Sejak kecil aku dibesarkan mereka. Untuk apa sekarang mereka malah membikin celaka diriku?”

Mendadak ia melompat bangun pula dan menerjang ke depan terali besi, teriaknya, “Lepaskan aku, keluarkan aku dari sini, akan kucari dan menanyai mereka.”

So Ing menghela napas, katanya sekata demi sekata, “Jika kau keluar sekarang, maka selamanya jangan harap akan kau dapatkan keterangan tentang persoalan ini.”

“Itu urusanku sendiri, tidak perlu kau pusingkan,” teriak Siau-hi-ji gusar.

“Lukamu sekarang belum lagi sembuh, racunnya juga belum bersih dikeluarkan, mana boleh kau keluar ….” ucap So Ing dengan suara lembut, “Kau kan orang pintar nomor satu di dunia, mengapa tidak dapat bersabar.”

“Wah, alangkah mesranya, alangkah asyiknya!” tiba-tiba seorang berseru mengejek dengan suara dingin.

Siau-hi-ji terkejut, “Siapa itu?” bentaknya dengan suara serak.

Namun So Ing sama sekali tidak terpengaruh, perlahan-lahan dia membalik tubuh dan berkata dengan tenang, “Jarang ada tetamu agung di sini, maka siapa saja yang berkunjung kemari pasti kusambut dengan gembira.”

“Cuma sayang, kedatanganku ini tidak tepat pada waktunya, bukan?” kata seorang di balik semak-semak bunga sana sambil terkekeh-kekeh.

“Semak-semak bunga bukan tempat untuk melayani tetamu,” ujar So Ing dengan tersenyum hambar. “Jika Tuan sudah datang, mengapa tidak sudi keluar untuk bertemu?”

Orang itu tergelak-gelak, katanya, “Jika kau ingin melihat diriku, mengapa kau sendiri tidak kemari saja.”

“Apa boleh buat jika Tuan tidak sudi keluar,” ucap So Ing dengan tertawa. “Cuma harus kuingatkan, semak bunga itu banyak durinya, malahan duri beracun, jika terjadi apa-apa atas diri Tuan, janganlah engkau menyalahkan aku kurang adat terhadap tetamu.”

Belum habis ucapannya, kontan seorang melompat dari semak-semak bunga sana seperti orang yang mendadak ditendang pantatnya.

Orang ini bermuka tirus, hidung betet, mata tikus, bentuknya itu membuat orang merasa muak bila melihatnya. Tapi pakaiannya justru sangat mentereng. Melihat So Ing, segera ia memberi hormat sambil terkekeh-kekeh, “Cayhe hanya bergurau sedikit saja, tak tersangka nona So menjadi sedikit terkejut, harap nona sudi memberi maaf sedikit.”

Hati Siau-hi-ji merasa lega setelah mengetahui orang ini dikenal oleh So Ing, rupanya dia cuma sengaja berkelakar saja.

Tapi bentuk orang ini jelas menjemukan, cara bicaranya juga menyebalkan, sungguh Siau-hi-ji ingin menempelengnya ‘sedikit’, lalu ditendangnya pula ‘sedikit’.

So Ing juga lantas menarik muka dan mendamprat, “Untuk apa kau datang ke sini? Apakah gurumu tidak pernah memberitahukan padamu bahwa tempat ini tidak boleh sembarangan didatangi kalian?”

“Ah, sedikit nyali Cayhe mana berani terobosan ke tempat kediaman nona,” jawab orang itu dengan tertawa ngikik. “Tapi sekali ini Suhu sendiri yang menyuruh Cayhe kemari.”

“Dia menyuruhmu ke sini? Untuk apa?” tanya So Ing.

Mata orang itu terpicing dan menjawab sambil cengar-cengir, “Beliau menyuruh Cayhe menjenguk kemari untuk mengetahui bunga yang harus diberi rabuk dengan orang mati itu apakah sudah mekar atau belum? Sebab beliau kedatangan seorang tamu yang juga ingin lihat bunga ini.”

Ucapan ini membuat So Ing dan Siau-hi-ji sama terkejut.

Sikap dingin So Ing tadi segera berubah agak ramah, tanyanya dengan tersenyum, “Siapakah tamu itu?”

“Hehehe, sedikit nyali Cayhe ini mana berani kutanya nama tamu Suhu?” jawab orang itu.

“Jika demikian, baiklah kubawa kau melihat bunga itu,” kata So Ing.

“Tapi sekarang tidak perlu kulihat lagi,” kata orang itu.

“Sebab apa?” tanya So Ing.

“Kalau rabuknya masih bisa minum arak di sini, dengan sendirinya bunga itu belum lagi mekar, betul tidak?” kata orang itu sambil tertawa dan mengerling Siau-hi-ji dengan mata tikusnya.

“Habis apa…apa kehendakmu?” tanya So Ing dengan gaya merayu.

“Nona sendiri ingin bagaimana?” jawab orang itu dengan menyesal.

“Asalkan kau kembali ke sana dan bilang bunga itu sudah mekar, kebaikanmu tentu takkan kulupakan.”

“Sedikit nyali Cayhe ini mana…mana berani berdusta pada Suhu, kecuali ….”

“Kecuali apa?” tanya So Ing.

“Kecuali nona dapat membuat besar nyaliku.”

“Cara bagaimana membuat besar nyalimu?”

“Hehehe, masa…masa nona tidak tahu ….” kata orang itu sambil memicingkan mata dan cengar-cengir.

Air muka So Ing rada berubah, tapi tetap mengulum senyum, katanya, “Kau tidak takut dicemburui Suhumu?”

“Hehe, Suhu memang suka cemburu,” kata orang itu dengan terkekeh-kekeh. “Apabila beliau mengetahui nona sedang minum arak dengan si rabuk…Wah, kukira beliau tidak sungkan-sungkan lagi padamu.”

So Ing menggigit bibir, katanya kemudian, “Sebenarnya untuk apa kau menakut-nakuti aku, sebenarnya aku memang ingin kau ….” sambil bicara, seperti tidak sengaja sebelah tangannya lantas hendak memegang terali besi.

Mendadak orang itu tertawa dan berseru, “Apakah nona bermaksud melepaskan si rabuk itu untuk membunuh diriku dan menghilangkan saksi?…Hehehe, sekali tangan nona menjamah terali besi, segera kuangkat kaki dan dalam waktu singkat Suhu pasti akan datang.”

Tangan So Ing lantas ditarik kembali, ucapnya dengan tertawa, “Ai, kau ini memang suka curiga.”

“Sedikit-sedikit Cayhe cukup tahu diri, kutahu nona tidak mungkin penujui diriku. Kalau kesempatan baik ini tidak kugunakan sekarang, mana bisa ‘si katak buduk dapat makan si angsa’.”

“Tapi…tapi di sini bukan tempat yang baik, marilah kita masuk ke dalam rumah,” ujar So Ing.

“Wah, tidak, tidak perlu,” cepat orang itu menggeleng, “Sudah lama kudengar di dalam rumah nona itu banyak terpasang pesawat rahasia yang lihai, bilamana kumasuk ke situ, bisa jadi jiwaku akan amblas seketika.”

“Habis bagaimana…masa…masa kau ingin di sini ….” dengan suara lembut dan senyuman menggiurkan So Ing lantas mendekati orang itu.

Tapi mendadak orang itu surut mundur malah, katanya, “Jangan mendekat ke sini.”

So Ing terkikik-kikik, katanya, “Kan kau menghendaki diriku…mengapa aku tidak boleh mendekat ke situ?”

“Dengan sendirinya Cayhe ingin nona mendekat ke sini, cuma…cuma harus membuka pakaian dulu, harus buka semuanya, telanjang bulat,” ucap orang itu sambil menyeringai.

“Meng…mengapa harus membuka pakaian?” meski So Ing tetap tersenyum, namun suaranya mulai gemetar.

“Soalnya Cayhe cukup tahu kelihaian nona,” orang itu bergelak tertawa.

“Aku kan tidak bisa ilmu silat, masa kau tidak tahu?” ujar So Ing.

“Meski nona tidak mahir ilmu silat, tapi banyak tipu akalmu, mana Cayhe tahan, namun bila ….” dengan menyengir kemudian orang itu menyambung pula, “Bila nona sudah telanjang, maka Cayhe tidak perlu lagi khawatir, sebab seorang perempuan jika dalam keadaan bugil, maka tiada sesuatu yang dapat lagi dimainkannya.”

Sungguh hampir meledak perut Siau-hi-ji menyaksikan lagak orang itu. Sungguh licik dan licin orang ini. Sungguh celaka tiga belas orang yang bertemu dengan manusia begini.

Dilihatnya So Ing hanya tersenyum saja, sepasang tangannya yang putih mulus itu benar-benar mulai membuka kancing bajunya.

Saking tak tahan Siau-hi-ji lantas berteriak, “Kenapa kau takut padanya, biarkan dia kembali dan lapor gurunya…jika saat ini dia berani mendekat ke sini segera kubinasakan dia.”

So Ing berpaling dengan tertawa manis, katanya, “Engkau ternyata sangat memperhatikan diriku, mana boleh aku tidak memperhatikan dirimu?”

“Aku tidak takut,” teriak Siau-hi-ji dengan gusar. “Seumpama aku tak dapat melawan Gui Bu-geh, memangnya aku tidak bisa lari?…Jika keparat ini sudah kembali ke sana, segera kubawa lari kau.”

So Ing menghela napas, ucapnya, “Kita tak dapat kabur.”

“Hehehe, betapa pun memang nona So lebih cerdik,” seru orang itu sambil terkekeh-kekeh. “Pokoknya, asalkan nona menurut, sekembaliku ke sana kujamin takkan melapor apa pun ….” saking senangnya, dia tertawa gembira sehingga matanya terpicing rapat, air liur pun hampir-hampir menetes.

So Ing masih terus membuka kancing baju, setiap kali dia membuka satu kancing, setiap kali pula orang itu menelan air liur.

Tidak kepalang dongkol Siau-hi-ji, ia membanting kaki keras-keras dan berteriak, “O, mati aku!”

“Wah, kau jangan mati,” ucap So Ing dengan suara lembut. “Aku pun pasti tidak ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara mendesing, sejalur angin tajam dan kuat menyambar lewat.

Orang itu terkejut, cepat ia membalik tubuh, namun tiada sesuatu yang terlihat. Ia melenggong, perlahan-lahan ia memutar balik pula sambil bergumam, “Apakah…apakah ada setan ….”

Belum lenyap suaranya, mendadak ia menjerit dan roboh terjungkal. Menyusul sebatang bambu hijau melayang tiba dan memanteknya di lantai, darah muncrat bertebaran. Orang itu kelejetan sejenak, lalu tidak bergerak lagi.

Sekalipun orang berpandangan tajam seperti Siau-hi-ji juga tidak tahu mengapa orang ini mendadak bisa roboh, betapa cepat cara orang membunuhnya sungguh sukar dibayangkan.

Waktu bambu hijau itu dipandangnya, selain dada orang itu tertembus, bahkan ambles lebih satu kaki ke dalam tanah, maka dapat diperkirakan betapa lihai tenaga dalam penyambit bambu runcing itu.

Wajah So Ing tampak pucat, ia berseru, “Cianpwe siapakah yang telah sudi menolong, mohon keluar untuk terima kasihku.”

Terdengar angin meniup perlahan dan suara daun pohon berkeresekan, namun keadaan sunyi senyap tiada jawaban.

“Apakah Cianpwe tidak sudi menemui diriku?” So Ing bersuara pula. Tapi keadaan tetap hening, tiada jawaban seorang pun.

“Dalam keadaan begini kau tetap tidak mau melepaskan aku agar kuperiksa kejadian ini?” seru Siau-hi-ji.

So Ing menghela napas, katanya, “Jika sekarang juga kulepaskanmu, ini sama dengan membikin celaka engkau. Selama hidupku ini belum pernah kuperhitungkan mati hidup orang lain, hanya terhadapmu ….” lalu dia menyambung dengan sekata demi sekata, “Makanya, apa pun juga, tak dapat kubiarkan engkau mati.”

“Aku justru ingin mati, kau bisa apa?” teriak Siau-hi-ji gusar.

“Bilamana aku sudah bertekad demikian, maka selamanya pendirianku ini takkan berubah,” kata So Ing dengan tersenyum. “Sekarang seumpama engkau benar-benar membunuh diri, dengan segala daya upaya juga akan kutolong engkau.”

“Kau…kau hakikatnya bukan manusia tapi siluman,” omel Siau-hi-ji.

So Ing tertawa, jawabnya, “Siluman berjodohkan telur busuk kecil, kan pasangan yang setimpal?” Habis bicara ia menjadi jengah sendiri, dengan muka merah cepat ia lari pergi.

Siau-hi-ji terkesima memandangi bayangan si nona, gumamnya sambil menyengir, “Sungguh jarang kulihat perempuan begini, tampaknya dia benar-benar hendak ikut padaku, wah, bisa repot aku.”

Terdengar So Ing berseru dari kejauhan, “Kau tunggu saja di situ, akan kulihat Cianpwe itu sesungguhnya berada di mana, segera aku akan kembali.”

“Kepandaian orang itu mahatinggi, kau…kau harus hati-hati,” tanpa terasa Siau-hi-ji memberi pesan.

“Jangan khawatir,” jawab So Ing dengan tertawa dari kejauhan, “Kau belum lagi mati, aku pun tidak mau mati. Apalagi Cianpwe ini kan telah menyelamatkan diriku, masa dia bermaksud jahat pula padaku?”

Makin jauh suaranya dan akhirnya bayangannya lenyap di balik semak-semak sana.

Siau-hi-ji menggeleng dan bergumam dengan gegetun, “Tampaknya dia lebih lemah daripada siapa pun juga, siapa pula yang menduga nyalinya sedemikian besar dan demikian keras pula tekadnya.”

So Ing memang gadis yang aneh. Jika dia tidak suka padamu, maka biarpun kau bertekuk lutut di depannya atau golok mengancam di kuduknya, semuanya tiada gunanya.

Sebaliknya kalau dia penujui dirimu, maka di dunia tiada seorang pun atau kejadian apa pun yang dapat mengubah pendiriannya. Dia tidak seperti Thi Sim-lan yang dapat menyimpan perasaan. Jika dia penujui dirimu, segera dia ambil keputusan suka padamu. Jika sudah demikian, maka jangan harap kau akan dapat kabur, bahkan ingin mati pun tidak dapat.

Malam sudah larut, meski bintang berkelip-kelip memenuhi cakrawala, namun lembah yang berselimutkan semak-semak bunga ini tampaknya tetap seram. Bangau putih dan menjangan jinak yang pintar itu menjadi tiada gunanya jika keadaan menjadi bahaya.

Tapi seorang gadis yang lemah ibarat tenaga untuk menyembelih ayam saja tidak ada justru berani berkeluyuran sendirian di tempat demikian, maka keberaniannya dapatlah dibayangkan.

Begitulah So Ing terus menyusuri semak-semak bunga itu dan maju ke depan, gumamnya sambil tertawa, “Meski tempat ini tampaknya indah, tapi di mana-mana terpasang perangkap maut. Cianpwe telah menolong diriku, apabila engkau terjebak dan terluka, kan hatiku bisa tidak enak.”

Menghadapi seorang tokoh kosen yang sukar dijajaki kepandaiannya. So Ing tetap tidak menghiraukan bahaya yang mungkin menimpanya, sebaliknya malah bersuara mengkhawatirkan kecelakaan orang lain. Namun sayang, seumpama orang itu dapat mendengar ucapannya, nyatanya tetap tidak menggubrisnya.

So Ing menghela napas dan bergumam pula, “Orang ini benar-benar sangat aneh, sudah menolong aku, tapi juga tidak berani menjumpai diriku. Apakah sebabnya?”

Di ruangan gedung sana cahaya lampu masih terang benderang dan tiada nampak bayangan orang, kursi itu pun masih terletak di tempatnya, tiada tanda-tanda pernah diutik orang.

Setelah berputar sekeliling, kemudian So Ing kembali lagi ke gua sana. Tapi ia menjadi kaget, terali besi penutup gua itu telah dibuka orang. Siau-hi-ji yang terkurung di situ sudah lenyap.

Apakah benar-benar anak muda itu telah melarikan diri tanpa pikir segala akibatnya.

Seluruh tubuh So Ing serasa lemas lunglai. Tapi segera ia menghibur dirinya sendiri, “Tidak, tidak mungkin dia melarikan diri. Terali besi ini tidak mungkin dibuka olehnya. Yang dapat membukanya hanya Gui Bu-geh dan murid pertamanya, Gui Moa-ih. Apakah mungkin mereka pun datang ke sini dan menggondol pergi Siau-hi-ji?”

Jika orang lain tentu sudah kelabakan dan bingung setengah mati, tapi So Ing dapat menenangkan diri.

Maklumlah, bilamana seorang sudah terlalu pintar, setiap tindak tanduknya tentu rada-rada gegabah, sebab pada hakikatnya dia meremehkan orang lain. Tapi bila menghadapi sesuatu bahaya atau menghadapi kesulitan, orang begini bisa berubah jauh lebih tenang daripada orang biasa, bila bertindak juga lebih hati-hati daripada siapa pun juga.

Demikian pula dengan So Ing sekarang, ia tahu cemas dan gelisah juga tiada gunanya, jalan paling baik adalah tenang.

Ia pikir apabila benar Siau-hi-ji telah diculik oleh Gui Bu-geh, lalu tokoh kosen yang menolongnya tadi pergi ke mana lagi? Apakah setelah menolongnya lantas pergi pula segera?

Dan jika benar Gui Bu-geh telah datang, mengapa sama sekali Siau-hi-ji tidak bersuara dan mau dibawa pergi begitu saja?

Dari semua ini, bukan mustahil orang kosen itu pula yang telah membawa kabur Siau-hi-ji.

Lantas siapakah sesungguhnya orang kosen itu? Untuk apa dia menolong Siau-hi-ji dan mengapa pula tidak mau menemuinya?

Diam-diam So Ing menghela napas.

Pada saat itulah dari kejauhan tiba-tiba berkumandang suara teriakan kaget dan dampratan orang gusar. Jelas itulah suara Siau-hi-ji.

Kiranya tadi setelah Siau-hi-ji menyaksikan kepergian So Ing, segera ia angkat cawan hendak menenggak araknya lagi. Tapi baru saja cawan menempel bibir, sekonyong-konyong satu biji batu membentur terali besi dan mencipratkan lelatu api. Menyusul terali besi itu lantas naik ke atas perlahan-lahan.

Terkejut dan bergirang Siau-hi-ji, seketika ia jadi terkesima.

Dalam kegelapan lantas muncul sesosok bayangan laksana badan halus, bayangan ini sangat tinggi, memakai jubah panjang, berkopiah besar, sorot matanya dingin seram, dan menatap Siau-hi-ji dengan tajam. Tapi tidak bersuara.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, tegurnya kemudian, “Kau datang untuk menolong diriku?”

“Ehm,” orang itu menjawab singkat.

“Yang membunuh murid Gui Bu-geh tadi juga engkau?” tanya Siau-hi-ji pula.

Kembali orang itu hanya mendengus saja.

“Jika begitu, mengapa tadi kau tidak keluar untuk bertemu?”

“Kalau sekarang kukeluar tentu sekarang tak dapat kutolong kau.” jawab orang itu dengan ketus.

“Siapakah engkau sebenarnya? Mengapa engkau menolong aku?”

“Jika kau tidak mau keluar, boleh juga kututup kembali terali besi ini,” jengek orang itu.

Siau-hi-ji mengerling orang itu sekejap, katanya kemudian dengan tertawa, “Kau harus tahu, tak peduli apa maksudmu menolong aku, yang jelas aku tidak merasa utang budi padamu dan juga takkan kubalas kebaikanmu segala.”

“Jika kau bisa membalas budi kebaikan orang tentu aku takkan datang menolongmu.”

“Baiklah, karena persyaratanku sudah jelas, bolehlah kubiarkan engkau menolong diriku satu kali,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sungguh janggal. Orang mau menolongnya, bukannya dia menerima kebaikan itu dan berterima kasih, sebaliknya seakan-akan orang lain yang harus berterima kasih padanya.

Tapi orang itu pun tidak banyak cincong, ia membalik tubuh, lalu berkata, “Ayo ikut aku.”

Siau-hi-ji melompat keluar gua itu, gumamnya dengan tertawa, “Maaf, nona So, kelak bila sempat, bisa jadi aku datang menjengukmu lagi. Maksud baikmu padaku juga kuterima di dalam hati saja.”

Terlihat gerakan orang itu sangat enteng, jalannya cepat laksana tidak menyentuh tanah.

Sambil mengintil di belakang orang, Siau-hi-ji berkata dengan tertawa, “Ginkang Anda boleh juga.”

“Ya, lumayan,” sahut orang itu ketus.

“Aku hendak kau bawa ke manakah?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau sudah sampai tentu kau tahu sendiri,” jawab orang itu.

Mendadak Siau-hi-ji berhenti dan berkata, “Jangan kau kira karena aku telah kau tolong, lalu aku pasti ikut pergi denganmu. Kan sudah kukatakan sebelumnya bahwa sama sekali aku tidak merasa utang budi padamu, jika sekarang tidak kau katakan terus terang, maka maaf, silakan kau menuju ke sana dan aku akan pergi ke jurusanku sendiri.”

Orang itu menoleh dan tertawa, katanya, “Pantas orang bilang kau ini orang yang sukar didekati, tampaknya memang tidak salah ….” sampai di sini mendadak ia mendesis, “Ssst, awas, ada orang datang, bisa jadi dia ini Gui Bu-geh.”

Siau-hi-ji terkejut benar-benar, cepat ia tanya dengan suara tertahan. “Di mana dia?”

Orang itu menarik tangannya dan mendadak menjengek, “Di sini!”

Kembali Siau-hi-ji terkejut, tahu-tahu setengah badannya kaku kesemutan. Rupanya urat nadinya telah kena di pencet oleh orang itu, jari orang mencengkeram seperti tanggam, mana Siau-hi-ji bisa berkutik lagi?

“He, apa-apaan ini?” seru Siau-hi-ji.

Orang itu tidak menjawabnya, secepat kilat ia tutuk pula beberapa Hiat-to penting di tubuh anak itu.

Siau-hi-ji menjadi gusar, dampratnya, “Gila kau! Setelah menolong aku, mengapa kau kerjai diriku pula sekarang?”

“Tak tersangka, bukan?” tanya orang itu.

“Persetan! Jika sudah tersangka olehku masa kau mampu mengerjai aku?”

“Hm, justru lantaran tak tersangka olehmu makanya aku berhasil mengerjaimu,” sambil menjengek, orang itu lantas meringkus tubuh Siau-hi-ji dengan tali terus digantung di atas pohon.

Kejut dan gusar Siau-hi-ji, dampratnya gemas, “Kau orang gila, binatang kau, sesungguhnya apa kehendakmu?”

Orang itu tidak memandangnya lagi, setelah tepuk-tepuk tangannya yang kotor, lalu tinggal pergi.

Sungguh sukar dimengerti maksud tujuan orang itu.

Jika dia bermaksud baik, setelah menolong Siau-hi-ji dari kurungan gua itu, tentunya anak muda itu akan dibawa pergi, tapi mengapa malah menggantungnya di pohon ini?

Sebaliknya kalau dia ingin membikin susah Siau-hi-ji, mengapa sekarang dia tidak membunuhnya?

Karena tergantung di pohon dan tak bisa berbuat apa-apa, Siau-hi-ji hanya dapat mencaci maki dengan gusar, “Gila, orang gila kau…sungguh sial, selalu orang gila saja yang kujumpai.”

Begitulah tadi So Ing terkejut dan bergirang ketika mendengar suara raungan Siau-hi-ji itu, apa pun juga yang terjadi, nyata anak muda itu masih berada di lembah pegunungan ini.

Baru saja ia hendak memburu ke sana, sekonyong-konyong di tempat gelap ada seseorang menjengek, “Kau tidak perlu cari lagi, di sinilah aku berada!”

Menyusul suara itu seorang muncul perlahan dari kegelapan sana, tubuhnya kurus kering, memakai kopiah tinggi dan berbaju belacu, tulang pelipisnya menonjol, hidungnya besar seperti paruh elang, sorot matanya tajam, sikapnya angkuh dan garang.

Melengak juga So Ing, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Kiranya engkau!”

“Hmk,” dengus si baju belacu.

“Tadi…tadi engkau yang membunuh Gui Pek-ih?” tanya So Ing.

Kembali orang itu mendengus.

So Ing tersenyum, ucapnya, “Memang sejak tadi kurasakan cara membunuh orang itu mirip benar caramu, tapi aku tidak menyangka ….”

“Tidak menyangka akan kedatanganku, begitu?” tukas si baju belacu.

“Ya, memang tak kusangka,” jawab So Ing sambil menghela napas gegetun. “Sejak engkau cekcok dan meninggalkan si tua, sampai kini sudah empat tahun lebih…lebih tiga bulan, selama ini tiada terdengar kabarmu.”

Si baju belacu menengadah, dengusnya, “Hm, masih ingat juga kau padaku.”

So Ing menunduk, katanya, “Mana bisa kulupakan engkau, sejauh ini engkau cukup baik padaku.”

“Siapa bilang aku baik padamu?” teriak si baju belacu dengan gusar. “Selama ini tidak pernah aku membaiki siapa pun juga.”

“Tak peduli apa ucapanmu, yang pasti kucukup paham isi hatimu,” kata So Ing dengan rawan. “Jika bukan lantaran diriku, mana bisa kau bertengkar dengan si tua terus tinggal pergi.”

“Memangnya kau sangka aku mencemburui si tua sehingga aku bertengkar dengan dia?” jengek si baju belacu.

“Masa bukan begitu?” ujar So Ing.

“Aku cuma tidak tahan melihat lagaknya,” kata si baju belacu dengan gusar. “Sudah berapa banyak pekerjaan yang telah kulaksanakan baginya, tapi selama ini dia tetap menganggap aku sebagai kuda atau kerbau, dianggap sebagai budak belaka.”

“Selain itu masa tiada alasan lain pula?” ucap So Ing dengan perlahan.

Si baju belacu menarik napas panjang-panjang, teriaknya, “Betul, juga lantaran dirimu. Aku merasa sirik melihat tua bangka seperti itu, sebelah kakinya sudah menginjak liang kubur, tapi masih hendak meng…mengangkangi dirimu, asal orang lain memandang sekejap, lantas dia marah, seperti orang gila.”

So Ing terdiam sejenak, katanya kemudian, “Dan sekarang kau toh kembali lagi ke sini.”

“Kapan pun aku ingin datang bisa lantas datang, mau pergi bisa terus pergi, siapa yang dapat menghalangi aku?” jengek si baju belacu.

“Memang betul juga, sampai si tua juga rada-rada menyesal,” ujar So Ing. “Setelah kau pergi, dia sering menyatakan bahwa anak muridnya memang banyak, tapi yang mendapat ajarannya sungguh-sungguh cuma seorang.”

“Hm, kau kira Kungfuku ini kubelajar dari dia?” jengek si baju belacu. “Huh, Gui Bu-geh terkenal mementingkan diri sendiri dan mahapelit, siapa tidak tahu dirinya ini. Dia menerima murid sebanyak itu, tujuannya cuma memperbudak mereka, budak tanpa gaji, ilmu silatnya juga cuma diajarkan bagian yang tidak penting, dengan sedikit kepandaian yang tak berarti ini anak muridnya lantas disuruh bekerja dan berjuang mati-matian.”

“Jika begitu kepandaianmu ….”

“Kepandaianku adalah hasil curian, dari sedikit-sedikit kukumpulkan, yaitu waktu dia sendiri berlatih, diam-diam aku mengintip dan mempelajarinya secara seksama.”

“Ya, dia memang kurang baik terhadap muridnya, makanya meski engkau cekcok dengan dia kebanyakan orang juga bersimpati padamu. Tapi…tapi mengapa sekarang kau kembali lagi ke sini?”

“Aku…aku cuma ingin tahu keadaan di sini,” jawab si baju belacu.

“Keadaan yang ingin kau lihat tentunya bukan dia, betul tidak?”

“Hmk,” si baju belacu hanya mendengus.

So Ing mengerling genit, katanya pula dengan tersenyum, “Kau kembali lagi ke sini lantaran ingin menjenguk aku bukan?”

Dengan gemas si baju belacu melototinya sejenak, katanya kemudian dengan tandas, “Betul, dahulu aku memang suka padamu, tapi sekarang ….”

“Sekarang tidak suka lagi?” tukas So Ing dengan suara lembut.

“Sekarang sudah kuketahui, kau ini pada hakikatnya tidak tahu budi, tidak kenal kebaikan orang, betapa pun orang berbaik padamu juga takkan kau rasakan dan tak tahu berterima kasih.”

So Ing bersikap sedih seperti difitnah orang, jawabnya dengan menunduk, “Ma…masa orang demikian diriku ini?”

“Sudah tentu kau memang orang demikian. Tua bangka itu meski berjiwa kecil dan kikir, tapi terhadapmu…Hm, bagaimana terhadapmu tentunya kau sendiri cukup jelas.”

“Dia baik padaku, memangnya aku tidak berterima kasih padanya?” ujar So Ing. “Jika aku tidak tahu kebaikannya, mengapa aku tidak pergi saja.”

“Kau adalah orang pintar, dengan sendirinya kau tahu dirimu tak mungkin bisa pergi begitu saja,” jengek si baju belacu.

So Ing tertawa, ucapnya, “O, kau kira aku tak dapat melindungi diriku sendiri?”

“Memangnya kau kira dapat melindungi dirimu sendiri? Kau kira orang lain benar-benar jeri padamu?”

Mendadak So Ing menarik muka dan berkata, “Tapi selama ini tiada yang berani menyatroni tempat tinggalku.”

“Itu lantaran orang lain mengetahui kau ini kesayangan si tua bangka, makanya mereka tidak berani merecokimu,” ujar si baju belacu. “Jika tiada si tua bangka yang menjadi tulang punggungmu, hm, tempatmu ini mungkin sudah sejak dulu-dulu rata menjadi puing dan kau pun entah sudah mati berapa kali.”

So Ing termenung sejenak, dengan tersenyum hambar kemudian ia berkata, “Kiranya engkau tetap membela si tua.”

“Jangan khawatir, urusanmu pasti takkan kukatakan padanya,” ujar orang itu.

“Sudah tentu kau tidak serendah Gui Cap-pek, kalau tidak, masakah kau mau membunuh dia, betul tidak?”

“Hmk,” si baju belacu hanya mendengus saja.

“Tapi sebabnya kau bunuh dia kan juga lantaran diriku. Kau tidak suka melihat aku digoda dia, dari sini pun kelihatan bahwa engkau tetap sangat baik padaku.”

Si baju belacu lantas bergelak tertawa.

So Ing berkedip-kedip bingung, tanyanya kemudian, “Apa yang kau tertawakan?”

Mendadak orang itu berhenti tertawa dan menjawab, “Terus terang kukatakan padamu bahwa sudah lama tak kupikirkan dirimu lagi. Walaupun aku tidak sudi berbuat hal-hal yang rendah seperti membongkar urusan pribadi orang lain atau memberi laporan gelap segala, siapa pun yang kau sukai aku pun tidak ambil pusing.”

So Ing memandangnya lekat-lekat sejenak, katanya kemudian, “Jika begitu, mengapa engkau menculik orang yang kusukai?”

“Alasannya selekasnya pasti akan kau ketahui,” jengek orang itu. “Sekarang apakah kau ingin menjenguk dia?”

“Mengapa tidak?” jawab So Ing.

“Baik, ikutlah padaku,” kata si baju belacu.

Ketika melihat So Ing datang bersama si baju belacu, bahkan tampaknya kedua orang ini sudah kenal lama, tentu saja Siau-hi-ji terkejut dan heran. Dengan gusar ia berteriak, “Sesungguhnya siapakah orang gila ini? Kau kenal dia? Kalian kawan lama?”

Melihat Siau-hi-ji digantung orang di pohon, So Ing menghela napas gegetun, ucapnya sambil menyengir, “He, orang pintar nomor satu di dunia, mengapa kau berubah jadi begini?”

Dengan gusar Siau-hi-ji menjawab, “Lantaran aku tidak menyangka orang ini adalah orang gila, tindak tanduknya membuat orang bingung.”

“Soalnya kau tidak tahu siapa dia,” ujar So Ing.

“Jika kutahu perlukah kutanya kau?” tukas Siau-hi-ji.

“Dia juga murid Gui Bu-geh, murid yang paling tinggi ilmu silatnya,” tutur So Ing. “Bilamana nama ‘Busiang-so-beng’ (setan Bu-siang menagih nyawa) Gui Moa-ih disebut, orang Kangouw mana yang tidak ketakutan. Maka tidaklah heran jika kau pun tertipu olehnya.”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, ia menghela napas panjang, lalu berkata, “Jadi dia pun murid Gui Bu-geh? Wah, tampaknya aku benar-benar ketemu setan.”

“Jika benar sudah ketemu setan, lalu apa yang hendak kau katakan lagi?” jengek Gui Moa-ih atau Gui si baju belacu.

Siau-hi-ji mencibir, jawabnya, “Kata-kata sih tidak ada, yang ada cuma kentut, kau mau membaunya tidak?”

Seorang kalau digantung terjungkir dengan kaki di atas dan kepala di bawah, maka wajahnya saja sudah tampak lucu, kini dia mencibir pula, tentunya tambah menggelikan kelihatannya.

So Ing tidak tahan, ia mengikik geli.

Sekali pun Gui Moa-ih juga sedang mendongkol, demi melihat lagak Siau-hi-ji yang kocak itu, hampir saja ia pun tertawa. Segera ia berpaling dan melototi So Ing, tanyanya, “Inikah orang yang kau sukai?”

Jika perempuan lain, biarpun dalam hati sangat suka juga pasti tidak enak untuk mengaku terus terang. Tapi So Ing tidak kikuk dan tidak menunduk, ia menjawab dengan tegas, “Betul.”

“Kusangka penilaianmu tentu sangat tinggi, siapa tahu yang kau sukai adalah si tolol yang sinting ini,” ejek Gui Moa-ih.

“Kau anggap dia ini si tolol sinting, aku justru bilang dia ini ksatria sejati, seorang pahlawan gagah berani,” kata So Ing dengan tertawa.

“Pahlawan? Ksatria?…Hehe!” jengek Gui Moa-ih.

“Coba jawab, jika seorang digantung terjungkir di pohon, adakah yang tahan dan bahkan masih sanggup tertawa dan berseloroh seperti dia?” tanya So Ing.

Advertisements

1 Comment »

  1. MANTAP, SERU RANGAT

    Comment by Firman — 23/02/2013 @ 6:53 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: