Kumpulan Cerita Silat

25/04/2008

Darah Ksatria: Bab 31. Penjahit Luar Biasa

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:58 pm

Darah Ksatria
Bab 31. Penjahit Luar Biasa
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”

Toa-hoan, Cia Giok-lun, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu menyaksikan penjahit ini tidak membawa apa-apa, bertangan kosong, tetapi sambil bicara ia berputar satu lingkaran. Waktu ia menghadap pula ke arah mereka, tangannya sudah memegang dua blok kain. Satu blok kain sutera di tangan kanannya berdasar merah, malah tersulam kembang mawar kuning emas.

Sudah tentu Toa-hoan berempat berdiri melongo. Tak ada di antara mereka yang melihat jelas dengan cara apa penjahit ini menyembunyikan dan mengeluarkan dua blok kain sutera itu. Seperti main sulap saja, tahu-tahu bahan pakaian sudah tersedia. Beruntun penjahit itu mengeluarkan lagi sebungkus pupur wangi, gincu dan minyak wangi. Sukar orang membayangkan dan rasanya tidak masuk akal, barang sebanyak itu entah di mana ia sembunyikan.

Thiat Tin-thian berkata setelah menghela napas, “Sungguh tak dinyana, kami gembong-gembong silat yang sudah kawakan berkecimpung di Kangouw juga dapat kau kelabui dengan cara yang begini sepele. Aku rasa saudara tentu seorang kosen juga.”

Dengan senyum manis penjahit itu menggelengkan kepala, katanya, “Aku bukan orang kosen, sedikit pun aku tidak kosen. Yang pasti kau berperawakan lebih tinggi gede dibanding aku. Orang yang bertubuh gede akan makin gagah dan enak dipandang bila mengenakan pakaian karyaku.” Dari atas sampai bawah ia memperhatikan tubuh Thiat Tin-thian, “Hanya sayang pakaian yang melekat di tubuhmu sekarang jelek jahitannya, tidak cocok dengan potongan tubuhmu. Lain kali kalau ada waktu, akan kubuatkan beberapa perangkat pakaian untukmu.”

“Kalau tidak salah tadi aku mendengar kau bilang membawa juga tandu pengantin?” tanya Thiat Tin-thian.

“Kalau sudah tiba saatnya, tandu pengantin pasti akan ke mari,” demikian ujar penjahit itu. “Mempelai laki dan perempuan saja tidak gugup, tidak ingin lekas kawin, kenapa justru kalian yang terburu nafsu.”

Mendengar penjahit ini bicara tentang ‘mempelai laki dan perempuan’, roman muka semua orang pun berubah hebat. Terutama Cia Giok-lun, tubuhnya bergoncang dan berkeringat dingin.

Dugaan mereka tidak keliru. Ambisi Bu-cap-sah tidak kecil. Jika ia mempersunting puteri tunggal Bik-giok-san-ceng, Bik-giok Hujin pasti bisa mati saking marahnya. Toa-hoan juga harus bunuh diri dengan menumbukkan kepala ke dinding karena gagal menunaikan tugasnya.

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya kepada Toa-hoan, “Apakah kita biarkan saja orang ini membuat pakaian untuk nona Cia?”

“Tidak boleh, jangan beri peluang dia bekerja di sini,” sahut Toa-hoan.

“Adakah penjahit di dunia ini yang tidak bisa membikin pakaian orang?”

“Kurasa ada, hanya dengan satu macam cara untuk membuat penjahit tidak bisa bekerja.”

“Dengan satu cara? Lalu penjahit macam apa yang takkan bisa bekerja itu?”

“Penjahit yang sudah putus jiwanya.”

Ternyata penjahit itu bersikap tenang dan wajar. Dengan asyik ia mendengarkan percakapan mereka dengan tersenyum ramah, seperti orang linglung yang tidak mengerti apa arti percakapan mereka. Akhirnya dia berkata, “Aku bukan penjahit mampus. Sekarang aku masih segar bugar, penjahit bagus yang selalu bekerja penuh gairah.”

“Sayang sekali, betapapun penjahit bagus akhirnya akan mampus juga,” demikian jengek Thiat Tin-thian. Perlahan ia mengulurkan tangannya ke depan. Luka-lukanya sudah hampir sembuh. Di mana telapak tangan besinya terangkat, ruas tulang tubuhnya mendadak berkeratakan seperti petasan.

Umpama penjahit itu orang pikun, manusia goblok, pasti juga paham apa maksud perkataan Thiat Tin-thian. Mendadak ia berseru sambil mengangkat sebelah tangan, “Tunggu dulu, aku masih ingin bicara.”

“Katakan, lekas.”

“Persoalan yang ingin kubicarakan, hanya akan kubicarakan empat mata saja dengan Ma Ji-liong,” demikian kata penjahit itu.

“Dia tidak akan mendengarkan obrolanmu,” jengek Thiat Tin-thian sambil mendesak dua langkah. “Aku tahu dia tidak akan mau mendengar.”

Mendadak Ji-liong menepuk bahu penjahit itu lalu menggandengnya keluar, ke belakang. Tidak ada yang mencegah, tidak ada orang yang berani menentang. Suatu yang diputuskan Ma Ji-liong, tidak ada orang yang berani menentang.

Rahasia apa yang dibicarakan penjahit itu dengan Ma Ji-liong? Kenapa hanya boleh dibicarakan dengan Ma Ji-liong seorang saja?

Tidak ada orang yang tahu, tiada orang yang ingin tahu. Semua orang percaya kepada Ma Ji-liong, seperti mereka percaya kepada diri sendiri. Siapa pun tidak tahu jelas, sejak kapan keadaan seperti ini terjadi dan seperti menjadi ketentuan di sini, yang jelas keadaan sekarang memang sudah demikian.

Cukup lama kemudian baru kelihatan Ma Ji-liong memasuki rumah besar pula. Toa-hoan berlari menyongsong sambil bertanya, “Mana penjahit itu?”

“Di belakang sedang mengukur badan Cia Giok-lun dan membikin pakaian.”

“Kenapa kau memberi izin dia bekerja?”

“Dia seorang penjahit, kehadirannya di sini untuk membuat pakaian. Lebih dulu mengukur badan, memotong kain lalu menjahit,” demikian ucap Ma Ji-liong kalem. “Kan bukan hanya dia seorang tukang jahit yang ada di dunia ini, kalau aku tidak memberi izin kepadanya, penjahit lain juga bisa diutus ke mari.”

Penjelasan Ma Ji-liong tidak memuaskan, hati orang tidak lega dan puas. Sekarang mereka perlu mengejar waktu, semenit lebih cepat, semenit lebih banyak peluang mereka.

Pantasnya Ma Ji-liong tahu akan hal ini, sayang ia justru berbuat bodoh, pura-pura tidak mengerti?

Di saat orang-orang di dalam toko serba ada itu menghela napas gegetun, Bu-cap-sah yang ada di luar toko malah bergelak tawa, “Sudah lama aku tidak pernah merasa kagum dan memuji orang lain,” demikian serunya. “Sekarang aku harus memuji kau.”

“Kau kagum padaku?” tanya Ma Ji-liong. “Kenapa kau memuji aku?”

“Karena kau adalah Ma Ji-liong. Laki-laki gundul itu adalah musuh besarmu, sejak lama dia ingin membekuk dan menguburmu hidup-hidup,” demikian ucap Bu-cap-sah lantang. “Tapi sekarang mereka tunduk kepadamu, rahasia apa pun hanya dibicarakan denganmu seorang saja. Umpama tahu apa yang kau lakukan adalah perbuatan seorang goblok, namun tiada orang yang menentang. Orang macam dirimu sebetulnya tidak setimpal mampus bersama mereka.”

“Memangnya aku harus bagaimana?” tanya Ma Ji-liong.

“Kau harus keluar, berhadapan dengan aku dan menjadi sahabatku. Hanya kau yang setimpal menjadi sahabatku.”

Ma Ji-liong segera menjawab dengan tegas, “Baik, aku segera keluar.”

Habis bicara Ma Ji-liong melangkah keluar. Siapa pun tak menduga bahwa Ma Ji-liong berani keluar dan betul-betul keluar, Bu-cap-sah sendiri juga tidak mengira.

Tapi Ma Ji-liong betul-betul melakukan perbuatan yang tidak mampu dilakukan orang lain meski di alam mimpi sekalipun. Apa betul ia ingin bersahabat dengan si gila itu? Apakah ia tidak tahu, begitu keluar jiwanya mungkin akan melayang di tangan si gila?

Apakah Ma Ji-liong juga seorang gila, gila seperti Bu-cap-sah? Biasanya ia kelihatan waras, padahal ia juga gila, orang edan?

Setelah Ma Ji-liong membuka pintu kecil di samping pojok sana, baru orang banyak terbelalak kaget. Toa-hoan memburu maju hendak menariknya, tapi batal. Thiat Tin-thian mengawasi Toa-hoan, Toa-hoan juga mengawasinya. Kedua orang ini seperti tak percaya bahwa Ma Ji-liong mendadak berubah menjadi manusia gila.

“Apakah dia juga sudah gila?”

“Kelihatannya tidak.”

Sebetulnya hanya Toa-hoan seorang di antara mereka yang paling paham tentang pribadi Ma Ji-liong, menyelami watak dan jiwanya, tapi sekarang Toa-hoan pun bimbang, ia tidak yakin apakah yang dirasakan selama ini pada pemuda yang satu ini adalah benar dan sehat.

“Kelihatannya dia bukan orang bodoh.”

“Otaknya memang amat cerdas.”

“Lalu kenapa dia keluar?”

“Hanya Thian yang tahu.”

Kejadian yang susah dimengerti, susah diterima nalar begini memang hanya bisa diketahui oleh Thian saja, kenapa hal ini harus terjadi?

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya, “Menurut pendapatmu, apakah penjahit itu tidak mencurigakan?”

“Ya, aneh dan patut dicurigai, harus diawasi.”

Terhadap siapa saja, kalau seseorang dalam sekejap dapat menyulap dua blok kain hanya dengan sekali putar badan, mengeluarkan dua blok kain sutera sebesar itu dari dalam pakaiannya, maka dia pasti bukan orang biasa.

“Aku tahu di kalangan Kangouw ada sejenis ilmu yang dinamakan Sip-sim-sut (ilmu sihir), penonton dikelabui oleh kekuatan gaibnya sehingga pandangan kabur dan pikiran ngelantur.”

“Ya, memang ada ilmu seperti itu.”

“Menurut pendapatmu, apakah Ma Ji-liong bukan terpengaruh oleh ilmu sihir itu? Maka ia mendadak berubah gila?”

Dugaan itu mungkin tepat, mungkin juga keliru. Tapi masih ada kemungkinan lain, yaitu penjahit itu tengah menyandera Cia Giok-lun, lalu Ma Ji-liong diancam dan dipaksa melakukan permintaannya.

Agaknya jalan pikiran Thiat Tin-thian dan Toa-hoan sama. Tanpa berjanji kedua orang ini serempak menerjang ke dalam lewat pintu kecil bertirai itu. Tapi begitu berada di dalam, seketika mereka tertegun kaget, jauh lebih kaget dibanding waktu melihat Ma Ji-liong membuka pintu dan beranjak keluar tadi, lebih kaget dibanding bila mereka melihat setan yang mengerikan.

Sudah puluhan tahun Thiat Tin-thian malang melintang di Kangouw, kejadian apa saja pernah ia hadapi, tapi belum pernah ia menghadapi kejadian yang mengejutkan seperti kali ini. Mereka hampir tidak percaya oleh pandangan matanya sendiri, tidak percaya menghadapi kenyataan.

Mereka melihat apa?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: