Kumpulan Cerita Silat

25/04/2008

Bakti Pendekar Binal (07)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:36 pm

Bakti Pendekar Binal (07)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Bu-koat melenggong sejenak, tiba-tiba ia memburu ke sana dan berseru, “Waktu masih cukup luang, biarlah aku pun mengantarmu sebentar.”

Thi Peng-koh mengikuti bayangan kedua orang itu hingga menghilang di kejauhan, tubuhnya rada gemetar, dengan mengertak gigi mendadak ia melompat bangun terus berlari kembali ke arah hotel kecil itu.

Sebuah kamar di hotel itu kini sudah menyalakan lampu.

Waktu Peng-koh tiba di situ, dilihatnya jendela kamar itu terbuka lebar, di luar dan di dalam tergeletak tiga sosok mayat, seorang lelaki kekar yang tak dikenalnya sedang mengurut punggung seorang nona di atas ranjang. Dan Kang Giok-long berdiri di belakang lelaki itu.

Sorot mata Kang Giok-long tampak gemerdep aneh, ujung mulutnya menampilkan senyum kejam, dia sedang menatap punggung lelaki itu, dan perlahan-lahan mengangkat tangannya.

Begitu sampai di depan jendela, belum lagi tahu apa yang terjadi sesungguhnya, demi nampak tindakan Kang Giok-long itu, tanpa pikir ia terus berseru, “Kang Giok-long, kau ….”

Mendengar suaranya, dengan cepat Yan Lam-thian menoleh, air mukanya berubah seketika, nyata dia telah merasakan gelagat jelek.

Namun sudah terlambat, tangan Kang Giok-long dengan keras telah menghantam punggungnya.

Yan Lam-thian meraung keras-keras, darah segar lantas tersembur keluar menyirami sekujur badan Buyung Kiu yang ramping itu.

Bilamana dia tidak lagi mengerahkan Lwekang untuk menolong orang, mana dapat Kang Giok-long melukainya…Tapi Kang Giok-long sendiri juga tergentak kaget oleh suara raungan keras itu, ia terhuyung-huyung mundur mepet dinding.

Terlihat wajah beringas Yan Lam-thian, matanya melotot, bentaknya parau, “Kaum tikus, sudah kutolong jiwamu, tapi malah berani memperdayai diriku?” Seluruh ruas tulangnya seakan-akan berbunyi berkeriutan, perbawanya sedikit pun tidak berkurang daripada biasanya.

Saking ketakutan hingga kaki Kang Giok-long terasa lemas, “bluk”, ia jatuh duduk di pojok dinding, tenaga untuk merangkak bangun saja rasanya tidak ada.

Dengan tangan menggapai Yan Lam-thian mendekati Kang Giok-long setindak demi setindak, bentaknya, “Sesungguhnya siapa kau? Mengapa kau memperdayai aku? Bicara lekas!”

Mana berani Kang Giok-long memandangnya, diam-diam ia melirik ke arah Thi Peng-koh yang berada di luar jendela, sorot matanya tidak segarang seperti tadi, tapi kini penuh rasa mohon belas kasihan.

Di samping terkejut Peng-koh juga gusar melihat perbuatan licik dan keji Kang Giok-long itu, tapi demi melihat sorot matanya yang memelas itu hati si nona menjadi lemas lagi.

Entah mengapa, di luar sadarnya ia terus melompat masuk dan melontarkan suatu pukulan keras.

Tapi lantas terdengar raungan mengguntur, robohlah Yan Lam-thian akhirnya.

Dengan girang Kang Giok-long melompat bangun, bentaknya dengan tertawa terhadap Yan Lam-thian, “Haha, apakah kau ingin tahu siapa aku ini? Baik, kukatakan padamu, aku adalah putra kesayangan Kang-lam-tayhiap, Kang Giok-long adanya. Anak murid Bu-tong-pay apa segala, bagiku tidak laku sepeser pun.”

Yan Lam-thian terkejut dan melenggong, akhirnya memejamkan matanya dengan perlahan, mendadak ia bergelak tertawa pula dan berseru, “Bagus, bagus! Selama hidupku malang melintang di seluruh jagat ini, tak tersangka sekarang aku harus mati di tangan kaum tikus celurut macam kau ini.”

Kang Giok-long menyeringai, katanya, “Karena ucapanmu tidak sopan, sebelum ajalmu harus kutambahi sedikit hukuman bagimu.”

Setelah melancarkan pukulan tadi, Thi Peng-koh lalu berdiri melenggong sambil memandangi tangan sendiri. Sekarang mendadak ia gunakan tangannya itu untuk menarik Kang Giok-long sambil bertanya, “Siapa orang ini? Meng…mengapa hendak kau bunuh dia?”

Sambil menuding mayat yang tergeletak di lantai, Giok-long berkata, “Jika orang ini tidak kelewat jahat, masa aku tega membunuhnya?”

Peng-koh menghela napas gegetun, ucapnya, “Biarpun begitu, sekarang ia sudah hampir meninggal, mengapa engkau memukulnya pula?”

Kini ia pun tahu ucapan pemuda bergajul itu tidak dapat dipercaya, tapi mau tak mau ia harus percaya padanya. Maklum ia telah menyerahkan kesuciannya pada anak muda itu.

Seorang anak perempuan bilamana telah menyerahkan kehormatannya pada seorang lelaki, maka itu sama dengan menyerahkan segalanya. Memangnya apa yang dapat diperbuatnya pula?

Dengan tertawa Giok-long mencolek pipi si nona, katanya, “Baiklah, kau suruh dia minta ampun padaku dan segera kuampuni dia ….”

Peng-koh mengipatkan tangan anak muda itu, katanya, “Sebentar lagi Hoa Bu-koat akan datang!”

Seketika lenyap senyuman yang menghiasi wajah Kang Giok-long, tanyanya cepat, “Kau lihat dia?”

“Ya,” jawab Peng-koh sambil menggigit bibir. “Ada pula Kang Siau-hi.”

Giok-long tidak bicara lagi, ia tarik Peng-koh terus melangkah pergi. Baru saja keluar pintu, tiba-tiba ia putar balik, dipanggulnya Buyung Kiu yang meringkuk di tempat tidur itu. Maklum, setiap barang yang menguntungkan dia selamanya takkan ditinggalkannya begitu saja.

Dengan mudah saja mereka sudah keluar kota kecil itu, dengan sendirinya lantaran Thi Peng-koh mengetahui dari arah mana lagi mereka akan datang dan ke arah mana lagi mereka harus menghindarinya.

Setelah merasa aman, tiba-tiba Giok-long tanya Peng-koh, “Kau bilang bertemu dengan Hoa Bu-koat, memangnya kau kenal dia?”

“Ehm,” Peng-koh bersuara singkat.

Giok-long memandangnya dengan rasa heran dan sangsi, tanyanya pula, “Cara bagaimana kau kenal dia?”

Peng-koh memandang jauh ke sana, ia diam agak lama, akhirnya menjawab dengan sekata demi sekata, “Sebab aku pun anak murid Ih-hoa-kiong ….”

*****

Di jurusan lain Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang berjalan dengan perlahan. Malam sunyi dan gelap.

Sekonyong-konyong, dari kejauhan berkumandang suara gerungan yang keras. Meski karena jauhnya tibanya suara gerungan itu kedengaran sudah sangat lirih, tapi seramnya, pedih dan penasaran yang terkandung dalam suara itu masih cukup membuat beku pembuluh darah dan membuat merinding siapa pun yang mendengarnya.

Serentak Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat berhenti melangkah. Keduanya tertegun sejenak, tanpa bicara apa pun mendadak keduanya lari ke arah datangnya suara itu.

Kota kecil itu terbenam dalam keheningan malam seperti tiada terjadi sesuatu. Hanya di depan pintu hotel kecil itu ada seorang sedang tumpah-tumpah sambil memegangi daun pintu.

Itulah “pelayan” merangkap pemilik hotel, ia mendengar dan melihat semua kejadian di hotelnya, serentetan pembunuhan telah berlangsung dengan kejam, tapi dia tak berdaya, hanya tumpah-tumpah belaka, rasanya ingin menumpahkan semua penderitaan dan rasa malunya.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat tetap tidak bicara, keduanya cuma saling memberi tanda, berbareng terus menerjang ke dalam hotel dan menemukan kamar yang ada penerangannya itu.

Maka dapatlah mereka menemukan Yan Lam-thian yang menggeletak di tengah genangan darah.

Yan Lam-thian telah ambruk. Ini seperti gunung mendadak longsor di depan mereka, laksana bumi tiba-tiba merekah di depan mereka. Seketika mereka terkesima seperti patung.

Tapi Yan Lam-thian masih dapat bergerak, ia meronta-ronta dan membuka mata, mukanya yang sudah mulai kaku itu menampilkan secercah senyuman getir, katanya dengan lemah, “Ka…kalian sudah…sudah datang, ba…bagus…bagus sekali ….”

Akhirnya Hoa Bu-koat menubruk maju, ia berjongkok dan berseru dengan suara parau, “Wanpwe datang terlambat.”

“Tidak, kau…kau tidak terlambat,” ucap Yan Lam-thian dengan tersenyum pedih. “Sebelum ajalku dapat kulihat kalian, mati pun aku tidak menyesal.”

Segera Siau-hi-ji mengangkat tubuh pendekar besar itu dari pelimbahan darah sambil berteriak, “Tidak, engkau takkan mati, tiada seorang pun yang dapat membunuh engkau.”

“Keadaan lukaku cukup kuketahui sendiri,” ujar Yan Lam-thian dengan tersenyum.

Mendadak Hoa Bu-koat juga berteriak, “Siapa yang turun tangan sekeji ini padamu? Siapa?”

“Kang Giok-long!” jawab Yan Lam-thian.

Bu-koat menarik napas panjang-panjang, ucapnya dengan sekata demi sekat, “Kuberjanji padamu, aku pasti akan membunuh dia untuk membalas sakit hatimu.”

Kembali Yan Lam-thian bergelak tertawa, ia berpaling ke arah Siau-hi-ji.

Selama ini anak muda itu pun memandangnya dengan tajam, mendadak ia berteriak, “Tidak perlu dia membunuh Kang Giok-long. Kang Giok-long adalah bagianku, tak peduli siapa pun juga Locianpwe ini, pasti akan kubalas sakit hati Locianpwe.”

Kembali Hoa Bu-koat melengak, serunya, “Tak peduli siapa pun juga Locianpwe ini? Maksudmu…Locianpwe ini bukan Yan-tayhiap?”

Siau-hi-ji diam saja, tapi “Yan Lam-thian” lantas bergelak tertawa, meski tertawa yang menderita, dahi sudah penuh butiran keringat, tapi dia masih terus tertawa. Katanya kemudian sambil menatap Siau-hi-ji, “Kukira dapat mengelabui siapa pun juga, tak tahunya akhirnya toh tak dapat mengelabuimu.”

Bu-koat berteriak pula, “Jadi Locianpwe memang bukan Yan Lam-thian, Yan-tayhiap?”

“Yan Lam-thian hanya salah seorang sahabat karibku ….”

Cepat Bu-koat bertanya pula, “Lantas Cianpwe sendiri ….?”

“Aku she Loh,” jawab ‘Yan Lam-thian’.

“Loh Tiong-wan? Jangan-jangan Cianpwe inilah “Lam-thian-tayhiap” Loh Tiong-wan tukas Siau-hi-ji.

“Jadi kau pun tahu namaku?” ucap Loh Tiong-wan dengan tersenyum.

“Sejak umur lima Tecu sudah mendengar nama Locianpwe,” jawab Siau-hi-ji dengan gegetun. “Si tangan berdarah Toh Sat, meski dia hampir mati di tangan Locianpwe, tapi selamanya dia sangat kagum padamu.”

“Tapi…tapi mengapa Loh-tayhiap memalsukan nama Yan-tayhiap?” tanya Bu-koat.

“Sebab…sebab Yan ….” lantaran tertawa keras tadi, napasnya jadi semakin memburu, tenaganya sudah lemah, untuk bicara saja kini tampaknya sangat payah.

“Urusan ini sudah dapat kuterka sebagian, biarlah aku yang bicara bagi Loh-tayhiap saja,” kata Siau-hi-ji. “Bilamana uraianku betul, boleh Loh-tayhiap mengangguk, dan bila keliru nanti Cianpwe sendiri bercerita lagi.”

Sorot mata Loh Tiong-wan menampilkan rasa memuji dan setuju, dengan tersenyum getir ia mengangguk.

Setelah merenung sejenak, lalu Siau-hi-ji berkata, “Sesudah Yan-tayhiap lolos dari Ok-jin-kok, meski pikirannya sudah mulai jernih, tapi ilmu silatnya seketika tak dapat pulih seluruhnya, betul tidak?”

Loh Tiong-wan mengiakan sambil mengangguk.

“Setelah meninggalkan Ok-jin-kok, beliau lantas dapat menemukan Loh-tayhiap, begitu bukan?”

“Betul,” jawab Loh Tiong-wan.

“Sepanjang jalan, menurut pengamatannya, Yan-tayhiap merasa bakal terjadi kekacauan besar di dunia Kangouw, cuma sayang beliau sendiri tidak sanggup mencegahnya, maka beliau lantas minta Loh-tayhiap suka memberi bantuan. Demikian bukan?”

Loh Tiong-wan mengiakan pula.

“Beliau juga khawatir ilmu silatnya tiada mendapat keturunan, sebab itulah begitu bertemu dengan Loh-tayhiap segera beliau menghadiahkan kunci ilmu silatnya padamu.”

Tapi belum habis uraian Siau-hi-ji ini, Loh Tiong-wan telah menggoyang-goyang kepala dan berkata, “Salah!”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Mungkinkah Loh-tayhiap mengetahui kekuatan Yan-tayhiap tak dapat pulih dalam waktu singkat, sebab itulah Loh-tayhiap menghendaki beliau mengajarkan kunci ilmu silatnya ….”

Loh Tiong-wan menghela napas, ucapnya dengan megap-megap, “Soalnya pada belasan tahun yang lalu aku pernah kecundang di tangan Gui Bu-geh. Sesudah itu baru kusadari kepandaianku masih jauh daripada cukup, sebab itu pula aku lantas mengasingkan diri ….” sampai di sini wajahnya menampilkan rasa menderita pula.

Siau-hi-ji lantas menyambungnya, “Sebab itulah ketika Yan-tayhiap minta Locianpwe muncul kembali, Cianpwe khawatir ilmu silat sendiri tidak cukup kuat, maka engkau telah mohon Yan-tayhiap mengajarkan kunci ilmu silatnya padamu, demikian bukan?”

Loh Tiong-wan tersenyum dan mengangguk.

“Dan lantaran inilah, pula Loh-tayhiap tidak bertindak untuk keuntungan sendiri, maka kemunculanmu di dunia Kangouw sekali ini Loh-tayhiap sengaja menggunakan namanya Yan-tayhiap,” Siau-hi-ji merandek sejenak, kemudian menyambung lagi dengan tertawa. “Dengan kedudukan Loh-tayhiap dengan sendirinya tidak suka menggunakan ilmu silat Yan Lam-thian untuk menambah keharuman nama ‘Lam-thian-tayhiap’. Entah betul tidak tebakan Tecu ini?”

“Selain itu masih ada pula satu hal,” ucap Loh Tiong-wan dengan tersenyum.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Jangan-jangan Yan-tayhiap telah memperhitungkan kawanan Ok-jin penghuni Ok-jin-kok itu akan berbondong-bondong keluar setelah beliau meninggalkan Ok-jin-kok, beliau khawatir kawanan Ok-jin itu akan mengacau Kangouw pula dengan macam-macam kejahatan mereka, beliau tahu hanya nama ‘Yan Lam-thian’ saja yang masih dapat mempengaruhi mereka, sebab itulah Loh-locianpwe telah diminta menggunakan nama beliau untuk sementara.”

“Kau benar-benar anak pintar,” ujar Loh Tiong-wan dengan gegetun. “Tapi…tapi aku yakin setelah belajar ilmu silat Yan Lam-thian, bahkan telah kumohon Ban Jun-liu merias mukaku sedemikian rupa sehingga gaya dan suara Yan Lam-thian telah banyak kutiru dengan baik, sungguh aku tidak paham mengapa tetap tak dapat mengelabui kau.”

Mungkin soal inilah yang paling membingungkan dia, sebelum jelas mendapatkan jawabannya mungkin mati pun dia tetap penasaran, sebab itulah dengan sekuatnya dia mengajukan pertanyaan ini walaupun keadaannya sudah sangat payah.

Dengan gegetun Siau-hi-ji menjawab, “Waktu Cianpwe melihat diriku, sepantasnya engkau membicarakan Ban Jun-liu, tapi Cianpwe seakan-akan lupa sama sekali akan paman Ban, sebab itulah tatkala mana aku sudah mulai curiga.”

“Dan ke…kemudian?” tanya Loh Tiong-wan.

“Kupikir pula, setelah mengalami siksa derita selama belasan tahun, baik jasmani maupun rohani, Yan-tayhiap sudah banyak mengalami perubahan, tapi sikap Loh-cianpwe ternyata tetap serupa Yan-tayhiap pada belasan tahun yang lampau sebagaimana menurut cerita orang, ini jelas tidak wajar dan pada hakikatnya tidak mungkin. Sebab kutahu dari dekat siksa derita selama belasan tahun yang dialami Yan-tayhiap, rasanya tidak mungkin seorang sanggup bertahan seperti sedia kala setelah mengalami penderitaan sehebat itu.”

“Betul,” kata Loh Tiong-wan dengan pedih, “Yan Lam-thian memang…memang sudah banyak berubah.”

Suaranya sangat lemah sehingga hampir-hampir tak terdengar oleh Siau-hi-ji.

Masih ada sesuatu yang belum terpapar dan ini kunci daripada segala persoalannya. Umpama dia benar-benar Yan Lam-thian adanya, mustahil dia tidak kenal Kang Piat-ho sekarang sebenarnya adalah Kang Khim di masa lalu.

Tapi dia sudah berjanji pada Kang Piat-ho terpaksa dia harus menyimpan rahasia ini. Ksatria besar begini, bilamana dia sudah berjanji sesuatu, maka sampai mati pun dia tetap akan pegang janji.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya pula, “Sekarang kumohon sukalah Cianpwe memberitahukan padaku di manakah Yan-tayhiap, paman Yan?”

Loh Tiong-wan tidak menjawab, kembali dia memejamkan matanya, bahkan memejamkan mata untuk selamanya.

Kini Lam-thian-tayhiap Loh Tiong-wan telah istirahat selamanya di liang lahatnya. Di kota kecil sunyi begini, upacara penguburan tentu saja berlangsung dengan sangat sederhana, tapi juga sangat khidmat.

Sementara itu senja sudah tiba pula.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang berdiri tegak dengan perasaan berat di depan makam Loh Tiong-wan, mengheningkan cipta dan berdoa bagi arwah pendekar besar itu.

Cuaca remang-remang, suasana senja sunyi senyap, musim rontok terasa sudah hampir lalu. Sampai tabir malam sudah menyelimuti bumi dan sinar bintang-bintang berkelip di langit barulah mereka meninggalkan tempat ini.

Bu-koat menengadah dan mendesis, ucapnya dengan gegetun, “Kawanan durjana merajalela, dunia Kangouw belum lagi aman, meninggalnya Loh-tayhiap teramat dini…Bahkan di mana beradanya Yan-tayhiap tidak sempat dia katakan lantas mengembuskan napasnya yang penghabisan, sungguh membuat yang hidup ini merasa serba susah.”

“Kuyakin Loh-tayhiap tahu di mana beradanya Yan-tayhiap,” ujar Siau-hi-ji dengan gegetun, “Sebelumnya beliau tidak mengatakan hal ini, mungkin beliau memang tidak mau memberitahukan pada kita.”

“Tidak mau memberitahukan pada kita, sebab apa?” tanya Bu-koat.

“Sebabnya sukar kukatakan,” ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. “Bisa jadi dia tidak ingin Yan-tayhiap diganggu orang lain, mungkin pula Yan-tayhiap sudah…sudah meninggal, maka dia tidak mau membuatku berduka.”

“Mudah-mudahan seumur hidupku ini dapat bertemu dengan Yan-tayhiap, kalau tidak …” ucap Bu-koat dengan murung.

Mendadak Siau-hi-ji membusungkan dada, serunya, “Sudah tentu kau akan bertemu dengan dia, sudah pasti dia takkan meninggal. Sebelum beliau menyaksikan aku terkenal di dunia ini mana dia mau mati begitu saja.”

Bu-koat menatapnya dengan tajam, ucapnya kemudian dengan tertawa, “Ya, betul, bilamana Yan-tayhiap tidak mau meninggal, siapa pun tak dapat membuatnya meninggal, bahkan Giam-lo-ong (raja akhirat) juga tidak terkecuali. Dan pada suatu hari pastilah dapat kulihat dia.”

“Bagus, tepat sekali ucapanmu, nada perkataanmu sekarang hakikatnya serupa dengan aku,” seru Siau-hi-ji sambil tertawa. “Selang tujuh puluh lima hari lagi, seumpama aku jadi mati, tentunya kau dapat hidup terus bagiku.”

Perasaan Bu-koat kembali tertekan, ia termangu agak lama, tiba-tiba ia tanya, “Dan sekarang juga kau hendak pergi ke Ku-san?”

“Marilah kita pergi bersama, kujamin pasti akan menyaksikan permainan yang menarik dan tegang,” kata Siau-hi-ji.

Bu-koat menunduk, jawabnya dengan perlahan, “Tapi aku tak dapat menemanimu pergi ke sana.”

“Tidak dapat? Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Tiba-tiba kuingat suatu urusan yang harus kukerjakan, sesuatu urusan…urusan penting.”

Siau-hi-ji tercengang sejenak, serunya kemudian, “Tapi waktu berkumpul kita hanya tinggal tujuh puluh lima hari lagi, masa engkau tidak sudi menemani aku?”

Bu-koat memandang jauh ke remang sinar bintang di langit, jawabnya dengan perlahan, “Bilamana urusan ini berhasil kuselesaikan dengan baik, maka persahabatan kita pasti takkan terbatas cuma tujuh puluh lima hari saja.”

Siau-hi-ji menatapnya dengan tajam, serunya pula, “Apakah engkau pulang ke Ih-hoa-kiong?”

“Kenapa kau paksa jawabanku?” ucap Bu-koat dengan tersenyum getir.

“Jangan-jangan engkau ingin memohon Ih-hoa-kiongcu agar mereka jangan membunuh diriku?”

“Aku cuma ingin pulang untuk bertanya kepada mereka apa sebabnya mereka menyuruh aku membunuhmu.”

“Kau kira mereka akan memberitahukan padamu?”

“Sedikitnya, aku harus minta penjelasan mereka.”

“Kutahu, kau pun serupa diriku, kalau sudah bertekad berbuat sesuatu, maka tiada seorang pun yang dapat mengalang-alangimu. Tapi ingin tetap kukatakan padamu bahwa ada sementara orang yang hidupnya ditakdirkan akan berakhir dengan tragis, banyak terjadi hal begini di antara lelaki dan perempuan, di antara persahabatan juga demikian,” ia tersenyum pahit, lalu menyambung, “Ada sementara lelaki dan perempuan, walaupun sudah jelas saling mencintai dengan sangat mendalam, tapi akhirnya justru tidak keruan jadinya, dan inilah kehidupan manusia. Mengenai nasib kita, tampaknya kita memang sudah ditakdirkan tak dapat bersabahat, seumpama kelak kau dibolehkan tak jadi membunuh diriku tapi bukan mustahil aku yang akan membunuhmu malah.”

Bu-koat termangu-mangu agak lama, ia tersenyum hambar, katanya, “Kang Siau-hi, memangnya kau sudah bertekuk lutut menyerah kepada nasib?”

Siau-hi-ji terkejut, serunya sambil tertawa, “Baiklah, silakan berangkatlah, betapa pun juga kita toh pasti akan bertemu lagi dan ini pun sudah cukup menggembirakan bilamana terkenang.”

*****

Musim rontok, pepohonan layu dan bunga berguguran

Tapi di tempat ini justru bunga sedang mekar dengan suburnya, ada bunga seruni, peoni, mawar, anggrek, sedap-malam dan macam-macam lagi.

Bunga yang seharusnya tidak mekar pada suatu tempat, tidak layak mekar sekaligus pada waktu yang sama, kini justru mekar di sini.

Tempat ini terletak di pegunungan yang terpencil, di puncak yang curam sepantasnya diliputi kabut yang tebal dan lembap dengan angin yang semilir dingin, tapi di sini cahaya mentari justru benderang laksana kemilau emas, suhu di sini menjadi terasa hangat seperti di musim semi.

Tempat ini pada hakikatnya telah meniadakan segala macam hukum alam, di sinilah suatu dunia lain. Siapa pun kalau berada di sini pasti akan dimabukkan oleh lautan bunga yang semerbak itu dan melupakan segala macam duka derita alam sana, lebih-lebih akan melupakan bahaya, melupakan segalanya.

Tapi di sini pula adalah tempat yang paling misterius, tempat yang paling berbahaya di dunia.

Inilah Ih-hoa-kiong!! Istana Aneka Bunga.

Inilah tempat yang dipuja, dikagumi dan juga ditakuti oleh kebanyakan orang Kangouw.

Di tengah lautan bunga itu ada sebuah istana yang mentereng, di bawah cahaya mentari yang benderang itu kemegahan istana ini semakin indah laksana dibangun dengan kemala putih dan emas murni, mencorong menyilaukan pandangan mata.

Di semak-semak bunga sana tampak empat gadis sedang menyiram air, menyapu daun rontok dan memotong tangkai-tangkai pohon, selain itu tiada bayangan orang lagi dan tiada sesuatu suara apa pun.

Gadis-gadis itu adalah anak dara cantik yang jarang ditemukan, tapi pada wajah mereka yang molek itu tampak mengandung perasaan lesu, dingin, hampa.

Gadis yang sedang menyiram itu sebenarnya sudah kehabisan air, tapi ia tidak menyadari hal ini, dia termangu-mangu memandangi awan di langit.

Yang sedang memotong ranting bunga itu juga berdiri mematung dengan memegang gunting, terkesima entah apa yang sedang dipikirkan.

Yang menyapu juga berdiri tertegun memegangi sapunya sambil memandang daun rontok di sekitar kakinya seperti orang linglung tanpa menghiraukan sinar matahari yang panas.

Dunia yang hidup dan semarak ini setiba di sini rasanya telah berubah seluruhnya, berubah menjadi sunyi dan hambar. Walaupun hari di musim rontok lebih singkat daripada musim lainnya, tapi di sini hari terasa seperti sangat panjang.

Pemandangan indah di tempat yang laksana surga ini ternyata sedemikian hampa dan sunyi menakutkan.

Akan tetapi, meski tubuh gadis-gadis cilik itu tak bergerak, namun hati mereka sedang bergolak dan memberontak laksana api di dalam sekam yang membakar secara diam-diam.

Mereka masih muda belia, masa tiada gairah dan semangat remaja? Memangnya di tempat yang indah permai ini gairah remaja juga telah berubah sama sekali?

Di tempat ini gairah apa pun memang tak dapat hidup, mereka sedang termenung, hati mereka sudah terbang jauh ke sana, ke samping sang pangeran menurut khayalan mereka.

Terkadang mereka benar-benar ingin meninggalkan tempat ini tanpa menghiraukan segala akibatnya.

Akan tetapi pada saat demikian itu justru ada seorang gadis sedang merangkak ke situ tanpa menghiraukan apa pun.

Pakaian gadis itu mestinya putih mulus, tapi kini telah kotor dan berlepotan darah, wajahnya yang cantik itu kini tampak kurus dan pucat.

Siapa pun pasti dapat melihatnya bahwa si gadis pasti telah banyak berkorban dan menahan siksa derita untuk datang ke tempat yang misterius ini. Setiba di sini, sekujur badannya terasa sudah lunglai, bibir kering dan pecah, perut terasa kecut, untuk berdiri saja tidak kuat, terpaksa ia merangkak dan merangkak, dengan merangkak pun ia ingin mencapai puncak itu.

Tangannya yang halus dan indah itu kini juga berlumuran darah, hampir saja ia jatuh pingsan, tapi bau harum bunga telah membangkitkan semangatnya.

Gadis yang memegang sapu tadi mendadak berseru, “He, ada orang datang!” Sorot matanya yang dingin itu tiba-tiba memancarkan cahaya yang hangat.

Mata ketiga gadis yang lain juga memancarkan cahaya, cahaya yang terpencar dari mata mereka ini dapat dilukiskan seperti pancaran sinar mata seekor kucing yang mengantuk di samping tungku dan mendadak melihat tikus.

Kalau nafsu dan hasrat seorang terlalu lama dikekang, untuk melampiaskan hanya ada dua jalan, memperlakukan orang lain secara sadis dan membuat orang lain menderita adalah salah satu jalan tersebut.

Nona yang merangkak dari bawah gunung itu bukan lain daripada Thi Sim-lan!

Sudah tentu ia tahu misteriusnya Ih-hoa-kiong dan bahayanya, tapi ia tidak pedulikan semua itu. Apa pun juga ia harus datang ke sini, tujuannya hanya satu, yaitu ingin tanya kepada Ih-hoa-kiongcu, “Mengapa Hoa Bu-koat diharuskan membunuh Kang Siau-hi-ji?”

Kini suasana semarak dengan bunga mekar semerbak itu sudah dilihatnya, tanpa terasa ia menghela napas lega, segala penderitaan sudah dilaluinya.

Ia tidak menyadari bahwa penderitaan yang sesungguhnya belum lagi memulai.

Dilihatnya dari semak-semak bunga sana melayang keluar empat gadis cilik, wajah mereka cantik molek, gaya mereka begitu indah, tertawa mereka begitu riang dan menggiurkan.

Thi Sim-lan meronta-ronta berusaha merangkak bangun, sedapatnya ia tertawa dan berkata, “Namaku Thi Sim-lan, mohon para Cici suka…Belum habis ucapnya, belum lagi tegak ia merangkak bangun, tahu-tahu salah seorang gadis cilik itu telah melompat maju, sekali tendang Thi Sim-lan didepak hingga jatuh terguling.

Kejut dan gusar tidak Thi Sim-lan, serunya dengan suara parau, “Masa nona tidak … tidak mengizinkan orang bicara?”

Gadis cilik itu memandangnya dengan tertawa tanpa menjawabnya, tapi malah berkata, “Kami tidak peduli apa yang hendak kau katakan, yang jelas kami harus berterima kasih padamu.”

“Berterima kasih padaku?” Thi Sim-lan mengulang ucapan ini dengan melenggong.

“Ya, tahukah kau bahwa selama di sini kami tak pernah bergembira, waktu bergembira satu-satunya ialah bilamana ada orang menerobos masuk ke sini,” kata gadis cilik tadi.

“Tapi…tapi kedatanganku hanya ingin menemui Kiongcu untuk bicara satu kalimat saja,” seru Sim-lan.

“Apakah kau tahu cara bagaimana Kiongcu telah memberi pesan pada kami?” tanya gadis tadi dengan tertawa.

Sim-lan menggeleng kepala.

“Pesan Kiongcu pada kami, barang siapa berani menerobos ke Ih-hoa-kiong sini, tak peduli siapa dia kami diperbolehkan membunuhnya, bahkan terserah kepada kami cara bagaimana akan membunuhnya.”

Sekujur badan Thi Sim-lan serasa merinding. Sudah tentu ia paham apa artinya ucapan “diperbolehkan membunuhnya dengan cara bagaimana pun”.

Ia juga perempuan, dengan sendirinya juga lebih paham bila seorang perempuan hendak memperlakukan sesuatu pada sesama perempuan, caranya bisa jauh lebih keji dan mengerikan daripada cara lelaki memperlakukan perempuan.

Sementara itu keempat gadis cilik tadi telah merubung maju dan makin maju sehingga Thi Sim-lan terkepung di tengah. Dengan sorot mata yang liar mereka mengincar tubuh Thi Sim-lan, napas mereka mulai memburu, ujung hidung mereka pun mulai merembeskan butiran keringat.

Sim-lan gemetar, teriaknya parau, “Seumpama kalian harus membunuhku, berilah kesempatan padaku untuk menemui Kiongcu.”

Si gadis tadi tertawa nyekikik, katanya, “Selama hidupmu ini jangan harap akan dapat menemui beliau.”

Wajah si gadis makin mendekat, Thi Sim-lan sudah dapat melihat biji mata orang yang berkembang besar laksana mata kucing di waktu malam, hidungnya tampak berkembang-kempis, sambil menjilat-jilat bibir terkadang juga menyeringai, sehingga kelihatan barisan giginya yang putih.

Mendadak gadis itu mengulurkan tangannya untuk menarik baju Thi Sim-lan.

Dengan mati-matian Thi Sim-lan meronta dan membela diri, seumpama menghadapi seorang pemuda bangor di tengah malam rasanya juga tidak setakut seperti sekarang ini.

Beberapa gadis ini seakan-akan sudah berubah menjadi serigala betina yang sedang berahi, mereka seolah-olah lupa bahwa Thi Sim-lan juga anak perempuan seperti mereka sendiri.

Yang mereka inginkan hanya pelampiasan…tanpa peduli siapa sasarannya. Empat pasang tangan mereka yang halus itu seakan-akan sudah berubah menjadi delapan buah cakar yang tajam. Sekujur badan Thi Sim-lan terasa digerayangi, terutama bagian dada, pinggul, bahkan bawah perut.

Dengan segenap tenaganya Thi Sim-lan berusaha mempertahankan diri, tapi sukar untuk melawan, terasa cakar yang tajam telah menggores kulit badannya, hanya terasa darah sedang mengalir keluar dari tubuhnya. Ia pun dapat merasakan suara tertawa mereka yang semakin menggila.

Ini benar-benar pemandangan yang gila, busuk dan memalukan, pemandangan yang sukar dibayangkan. Bilamana nafsu seseorang terkekang terlalu lama, sungguh bisa meledak menjadi sesuatu yang lebih menakutkan daripada apa pun.

Lambat-laun Thi Sim-lan kehabisan tenaga dan tidak sanggup melawan lagi. Perlahan ia tidak merasakan apa-apa pula.

Dalam keadaan putus asa dan antara sadar tak sadar, samar-samar seperti didengarnya seorang membentak, “Lepaskan dia…lepaskan dia! ….”

Habis itu ia benar-benar tidak ingat sesuatu lagi, ia mengira dirinya takkan siuman untuk selamanya.

Tapi akhirnya dia toh siuman.

Setelah sadar, ia merasa dirinya berbaring di suatu ranjang yang lunak dan berbau harum, cahaya mentari sudah tidak kelihatan, tapi sinar lampu seakan-akan lebih cemerlang dari pada sinar matahari.

Benderang sinar lampu membuatnya silau dan sukar membentangkan matanya, ia pejamkan mata pula, waktu dia membuka lagi matanya, segera dilihatnya Hoa Bu-koat.

Anak muda itu pun sedang memandangnya dengan lembut, di bawah cahaya yang benderang ini tampaknya dia lebih menyerupai seorang pangeran dalam dongeng, begitu gagah, begitu cakap dan begitu agung.

Thi Sim-lan berkeluh perlahan, ucapnya, “Hoa Bu-koat, benarkah engkau Hoa Bu-koat.”

Dengan lembut Bu-koat tertawa, jawabnya dengan suara halus, “Betul, memang akulah, jangan takut, aku berada di sampingmu.”

Thi Sim-lan memejamkan pula matanya, ucapnya dengan lirih dan gegetun, “Hoa Bu-koat, bilamana aku menghadapi bahaya, mengapa engkau selalu muncul menolong diriku!”

Dalam hati Bu-koat juga merasa gegetun, tapi di mulut dia berkata dengan tertawa, “Jangan lupa, inilah Ih-hoa-kiong, di sinilah rumahku. Kau mengalami cedera di sini, sungguh aku sangat menyesal!”

Mendadak Thi Sim-lan meronta ingin bangun serunya dengan parau, “Kumohon dengan sangat bawalah diriku menemui Kiongcu? Tanpa menghiraukan bahaya apa pun juga kudatang ke sini hanya ingin menemui beliau.”

“Kepulanganku ini juga ingin menemui beliau,” ujar Bu-koat dengan tersenyum pahit. “Cuma sayang, beliau sudah lama keluar.”

Thi Sim-lan menjatuhkan diri pula di ranjang serunya, “Mereka keluar semuanya?”

“Ya, kedua Kiongcu sama keluar istana, hal ini memang jarang terjadi,” kata Bu-koat.

“O, mengapa nasibku selalu begitu buruk,” keluh Sim-lan dengan sedih. “Aku…aku ….” ia tidak sanggup melanjutkan pula karena tenggorokannya serasa tersumbat, ia menutupi kepalanya dengan selimut dan tersedu-sedan.

Bu-koat melenggong sejenak, katanya kemudian, “Kukira…kutahu maksud kedatanganmu justru untuk urusan yang sama kupulang untuk menanyai beliau, tak tersangka kedua beliau sudah cukup lama meninggalkan istana.”

Thi Sim-lan menangis terguguk-guguk di dalam selimut, tiba-tiba ia bertanya pula, “Selama ini, apakah engkau pernah melihat dia?”

Tanpa menyebut namanya, orang lain juga tahu siapa si “dia” yang dimaksudnya.

Dengan suara lembut Bu-koat menjawab dengan tertawa, “Dia sangat baik sekarang, kau tidak perlu khawatir baginya.” Walaupun sedapatnya dia berlagak acuh, tapi di antara tertawanya terkandung juga rasa getir.

Akhirnya Thi Sim-lan menongolkan kepalanya dari dalam selimut, tanyanya pula dengan bimbang, “Apakah kau tahu, sekarang dia berada di mana?”

Sebisanya Bu-koat tertawa riang, jawabnya lembut, “Kutahu, asalkan kau sehat kembali segera dapat kubawamu pergi mencarinya.”

Si nona menatapnya dengan tajam, tanpa terasa air matanya bercucuran, ucapnya dengan gemetar, “Mengapa…mengapa engkau senantiasa begini baik padaku, engkau…engkau ….”

Cepat Bu-koat mengalihkan pokok pembicaraan, katanya, “Sungguh aku sangat menyesal kejadian tadi, cuma mereka…mereka sesungguhnya juga anak-anak perempuan yang harus dikasihani, lantaran kesepian, makanya mereka berubah menjadi begini. Kuharap engkau dapat memaafkan mereka.”

Thi Sim-lan menutupi mukanya dengan tangan, jawabnya sambil mengangguk, “Ya, kutahu, bilamana seorang anak perempuan berubah seperti mereka, di balik ini pasti ada sebab musababnya yang pahit getir, hidup mereka mungkin sekali jauh lebih malang daripadaku.”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar berkumandang semacam suara yang aneh, suara itu tidak tajam dan juga tidak seram, tapi membuat orang merinding tanpa terasa.

Suara itu kalau didengarkan dengan cermat rasanya mirip suara gergaji, jika didengarkan lebih lanjut rasanya juga mirip suara pergesekan logam yang membuat orang ngilu dan risi.

Menyusul lantas terdengar jerit kaget para anak perempuan.

Kejut dan heran Thi Sim-lan, tanyanya, “Suara apakah itu? Mengapa begitu aneh?”

Air muka Hoa Bu-koat juga berubah, jawabnya cepat, “Biar kuperiksa keluar.”

Dia tahu, meskipun anak murid Ih-hoa-kiong hampir seluruhnya adalah anak gadis, tapi sama sekali tiada seorang pun yang mudah ketakutan. Jika ada sesuatu yang dapat membuat mereka menjerit kaget, maka persoalannya pasti tidak sederhana.

Thi Sim-lan melihat pakaian sendiri sudah berganti dengan cukup rapi, cepat ia pun melompat turun dari tempat tidur dan berseru, “Aku pun ikut keluar.”

“Tapi lukamu belum ….”

“Berada di sampingmu, apa yang perlu kutakuti?” belum habis ucapannya muka si nona lantas merah.

Diam-diam Bu-koat gegetun pula di dalam hati, tapi sementara itu suara yang berisik aneh tadi makin ramai sehingga membuatnya tidak sempat memikirkan urusan lain.

Cepat kedua orang memburu keluar, tertampak para gadis sama sembunyi di serambi depan, semuanya pucat ketakutan, bahkan ada yang gemetar.

Waktu mereka memandang ke sana, terlihat di tengah lautan bunga sana banyak sekali makhluk hidup yang sedang berloncatan.

“He, tikus!” seru Sim-lan. “Dari mana datangnya tikus sebanyak ini?”

Betul, gerombolan makhluk hidup itu memang betul tikus. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu ekor tikus wirok sebesar kucing sedang berlari kian kemari di tengah kebun bunga, sebagian besar sedang menggerogoti tangkai pohon dan ada pula yang sedang makan daun bunga yang bernilai tinggi itu.

Meski anak murid Ih-hoa-kiong rata-rata memiliki kepandaian tinggi, namun sayang, mereka hampir semuanya adalah wanita. Harimau mungkin tak membuat mereka takut, tapi tikus, apalagi tikus sebanyak ini, tentu saja mengerikan mereka, sampai-sampai kaki pun terasa lemas.

Cepat Bu-koat melompat ke sana sambil membentak, “Apakah yang datang adalah anak murid Gui Bu-geh?!”

Suasana sunyi senyap dan tiada bayangan seorang pun. Yang ada cuma beribu-beribu ekor tikus yang sedang berpesta-pora di kebun bunga itu, kebun bunga yang indah itu dalam sekejap saja telah rusak porak-poranda.

Kejut dan gusar pula Hoa Bu-koat, tapi menghadapi kawanan tikus sebanyak ini, betapa ia pun tidak berdaya.

Di Ih-hoa-kiong, sudah tentu ia tak dapat membakar kawanan tikus itu dengan api dan juga tak dapat membenamnya dengan air, bila diusir, hakikatnya kawanan tikus itu tidak takut manusia. Jika dibunuh satu per satu, tikus sebanyak ini akan habis terbunuh sampai kapan? Apalagi makhluk yang berbulu dengan mata yang melotot itu berlarian kian kemari, siapa yang tidak ngeri?

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa Ih-hoa-kiong yang disegani oleh siapa pun juga ternyata tak berdaya menghadapi kawanan tikus yang kotor dan menjijikkan itu.

Sementara itu kebun bunga telah morat-marit, keadaannya tak lagi berwujud kebun bunga yang indah.

Pada saat itulah dari tempat gelap barulah berkumandang suara tertawa keras. Seorang dengan suara tajam melengking berseru, “Manusia di seluruh dunia ini kebanyakan memandang rendah tikus, sekarang mereka seharusnya tahu bahwa makhluk yang paling menakutkan di dunia ini adalah tikus.”

Seorang lagi menyambung dengan tertawa, “Cuma sayang Ih-hoa-kiongcu tidak berada di rumah, kalau tidak, menyaksikan bunga kesayangan mereka telah menjadi isi perut tikus kita, bisa jadi mereka akan ganas dan tumpah darah.”

Perasaan Bu-koat sekarang malah tenang saja, ia tidak gugup dan cemas lagi dan juga tidak marah seakan-akan seekor tikus pun tidak dilihatnya. Dengan tersenyum simpul ia berseru, “Jika anak murid Bu-geh sudah datang, mengapa tidak tampil untuk bertemu?”

Terdengar orang pertama tadi bergelak tertawa dan berkata kepada kawannya, “Sabar juga bocah ini, apakah kau tahu siapa dia?”

Kawannya menjawab, “Konon penghuni Ih-hoa-kiong adalah kaum betina seluruhnya, mengapa bisa muncul seekor jantan?”

Bu-koat tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan hambar, “Cayhe Hoa Bu-koat, anak murid Ih-hoa-kiong tulen!”

“Hoa Bu-koat!” ulang orang itu. “Nama ini seperti pernah kudengar.”

“Jika begitu marilah kita keluar menemuinya,” ajak kawannya.

Belum habis ucapannya, dari tempat gelap di sudut sana mendadak kelihatan bintik-bintik hijau kemilau menyusul dua sosok bayangan orang lantas muncul.

Kedua orang ini sama-sama tinggi dan kurus kering laksana sebatang bambu. Yang satu memakai baju hijau dan yang lain berjubah kuning. Wajah mereka sama-sama gilap kehijau-hijauan seperti memakai topeng.

Usia kedua orang ini belum tua, bentuk mereka juga tidak terlalu jelek, tapi entah mengapa, setiap orang yang melihatnya tentu akan merinding dan mual.

Kawanan tikus tadi agaknya juga sudah melihat bintik-bintik hijau kemilau itu, semuanya lantas berkerumun ke sana, berlapis-lapis dan berjubel-jubel mengelilingi kaki kedua orang itu.

Dengan sorot matanya yang kehijau-hijauan si baju hijau memandang Hoa Bu-koat beberapa kejap, lalu berkata dengan terkekeh-kekeh, “Kau tahu kami ini anak murid perguruan Bu-geh, agaknya luas juga pengalamanmu. Kami jadi merasa sayang bilamana usia semuda kau ini sekarang harus mati.”

Si jubah kuning lantas menyambung dengan tertawa, “Dia bernama Gui Jing-ih (Gui si baju hijau) dan aku Gui Wi-ih (Gui si baju kuning). Sebenarnya kami tidak bermaksud membunuhmu, tapi lantaran kemunculan guru kami sekali ini tujuannya yang pertama ialah menghancurkan Ih-hoa-kiong, maka kami pun terpaksa bertindak menurut perintah.”

Meski lagaknya dia tertawa, tapi sorot matanya sama sekali tiada tanda-tanda tertawa, sebabnya mereka sengaja berlagak tertawa begini hanya ingin orang lain merasa risi sehingga kehilangan semangat tempur.

Maksud tujuan mereka memang benar tercapai. Demi mendengar suara tertawa mereka yang buruk dan seram itu serta menyaksikan mereka dikerumuni kawanan tikus sebanyak itu, ternyata tiada seorang pun di antara gadis-gadis cantik murid Ih-hoa-kiong berani bertindak terhadap mereka.

Hanya Hoa Bu-koat, biarpun menghadapi bahaya dia tetap tenang saja, walaupun mulutnya tidak bersuara, tapi matanya tidak pernah meninggalkan gerak-gerik kedua orang itu. Begitu dilihatnya bahu Gui Jing-ih sedikit bergerak, serentak Bu-koat mendahului menjulang ke atas laksana terbang, hampir berbareng dengan itu dari tangan Gui Jing-ih lantas menyambar keluar selarik sinar hijau.

Akan tetapi pada saat itu juga Bu-koat sudah menubruk ke depan, sinar hijau menyambar lewat di bawah kaki Bu-koat dan seorang gadis cantik lantas menjerit serta terkapar.

Bu-koat tidak menoleh lagi, kedua telapak tangan terus menghantam kepala Gui Jing-ih.

Gui Jing-ih tak menduga bahwa serangan lawan bisa datang begitu cepat, segera ia menggeser ke samping, sebelah tangan menangkis. Berbareng itu Gui Wi-ih juga menghantam dari samping.

Tak tahunya serangan mengapung Hoa Bu-koat ini hanya pancingan belaka, baru setengah jalan mendadak ia tarik tangannya sehingga tidak sampai beradu tangan dengan Gui Jing-ih, sebaliknya terus memutar suatu lingkaran. Seketika tangan Gui Jing-ih terasa seperti dibetot.

Selagi Gui Jing-ih terkejut dan tidak tahu apa yang terjadi, tenaga betotan itu telah menarik tangannya ke samping dan entah cara bagaimana tahu-tahu serangan Gui Wi-ih dari samping itu tertangkis olehnya.

“Prak”, begitulah kedua tangan beradu, menyusul lantas “krek” satu kali, tangan Gui Jing-ih yang terlepas dari kendali itu tergetar patah oleh pukulan Gui Wi-ih yang dahsyat.

Hoa Bu-koat telah menggunakan ilmu sakti “Ih-hoa-ciap-giok” yang tiada taranya itu, dengan cepat luar biasa ia berbalik mengadu pukulan antara kedua lawan dan sekaligus berada di atas angin.

Tentu saja Gui Jing-ih dan Gui Wi-ih terperanjat. Meski Wi-ih tidak terluka, tapi ia menjadi kelabakan ketika diketahui pukulannya melukai kawannya sendiri. Saking gugupnya langkahnya menjadi kacau dan beberapa ekor tikus terinjak mampus, keruan kawanan tikus menjadi ketakutan dan lari serabutan.

Gui Jing-ih sendiri menjadi kesakitan hingga berkeringat dingin, tapi tubuhnya tidak sampai ambruk, bahkan juga pantang mundur, dengan menahan sakit ia menyisipkan lengan baju tangan yang patah tulang itu pada ikat pinggangnya, lalu hendak menerjang maju lagi.

Setelah serangannya berhasil memuaskan, Bu-koat tidak menyusuli serangan lain lagi, ia hanya berdiri saja di sana dengan mengulum senyum. Maklumlah, hanya satu kali gebrak saja ia sudah dapat menjajal kekuatan kedua lawan yang sesungguhnya tidak boleh dibuat main-main, ia tahu serangannya beruntung berhasil, namun ia tidak terburu-buru untuk menyerang lagi, ia ingin menunggu kedua seterunya masuk jaring sendiri.

Di sinilah letak perbedaan Kungfu sakti Ih-hoa-kiong dengan ilmu silat aliran lain.

Pada umumnya orang tentu mengutamakan menyerang lebih dulu dan menduduki posisi yang menguntungkan. Tapi Ih-hoa-kiong justru mengutamakan “tembak belakang kena duluan”, dengan ketenangan mengatasi kecepatan, kelihaian Kungfu Ih-hoa-kiong ialah menggunakan kepandaian lawan untuk menghantam lawan sendiri.

Sementara itu kawanan tikus sudah tersebar dan lari serabutan tanpa terkendali lagi.

Mendadak Thi Sim-lan tabahkan hati, dia patahkan sepotong kayu ruji jendela, meski badan masih terasa sakit, tapi pentung darurat itu segera berputar, kontan seekor tikus dihantamnya hingga hancur.

Sebenarnya untuk memukul tikus memang tidak memerlukan Kungfu yang tinggi, yang diperlukan cuma keberanian.

Namun kawanan tikus ini seakan-akan sudah terlatih, tidak takut manusia dan juga tidak takut mati. Kawanan tikus yang tadinya lari serabutan itu kini berbalik merubung ke arah Thi Sim-lan. Keruan si nona menjadi ngeri, tangan terasa lemas, tapi sekuatnya dia tetap ayun pentungannya pantang mundur.

Para gadis yang sembunyi di serambi sana akhirnya menjadi berani juga, salah satu di antaranya mendadak melompat maju dan ikut membunuh tikus.

Asalkan ada satu orang yang mulai dulu, segera yang lain-lain akan ikut maju. Dan asalkan seekor tikus terpukul mati, maka nyali mereka pun tambah besar.

Kawanan tikus itu pun sangat ganas, yang di depan mati, yang di belakang segera menerjang maju lagi tanpa mengenal takut. Pentung di tangan para gadis itu pun bekerja terus-menerus dan dengan sendirinya banyak pula bangkai tikus yang berserakan. Ada sementara gadis itu mulai muntah-muntah, tapi sambil muntah pentungnya tetap menghantam dan menyabet terlebih keras. Ada yang tangannya linu pegal, segera kaki digunakan untuk mendepak dan menginjak.

Sungguh suatu adegan pertempuran yang lucu dan aneh, suatu pertarungan yang memualkan pula. Belasan gadis cantik molek dengan mandi berkeringat dan napas terengah-engah sedang bertempur sengit melawan segerombolan tikus.

Rasanya jarang ada orang di dunia ini yang sempat menyaksikan pemandangan aneh ini.

Kini para gadis itu sudah lupa takut dan juga lupa akan ilmu silatnya, mereka bunuh kawanan tikus itu menurut kemampuan mereka yang asli. Singkatnya, pertempuran aneh dan memualkan itu kemudian berakhir, kawanan tikus kalah habis-habisan, sebagian besar mati terbunuh, sebagian kecil kabur.

Sambil memandangi bangkai tikus yang berserakan, para gadis memandangi pula tangan sendiri, mereka hampir-hampir tidak percaya kawanan tikus itu mati dibunuh mereka. Benar-benar seperti impian buruk.

Kemudian, pentung mereka buang, banyak yang mulai muntah-muntah pulas, ada lagi yang berteriak dan tertawa, ada juga yang saling rangkul dan menangis.

Suasana ini biasanya tidak mungkin terjadi di Ih-hoa-kiong, tapi kini semua itu telah terjadi, sebabnya setelah terjadi pertarungan sengit tadi, para gadis itu merasa lega dan impas.

Hanya Thi Sim-lan saja, begitu pertempuran berhenti, segera dia pergi mencari Hoa Bu-koat.

Hoa Bu-koat ternyata tidak kelihatan lagi. Gui Jing-ih dan Gui Wi-ih juga menghilang.

Dengan langkah tergopoh-gopoh Thi Sim-lan mencari kian kemari, hatinya cemas, khawatir dan takut pula. Tadi karena perhatiannya dicurahkan untuk menghadapi kawanan tikus sehingga dia lupa mengikuti pertarungan di sebelah sini.

Meski ilmu silat Hoa Bu-koat sangat tinggi, tapi kedua penyatron yang berani menerobos ke Ih-hoa-kiong masakah kaum lemah? Dengan satu lawan dua rasanya Hoa Bu-koat sukar menghadapi mereka. Apalagi sekujur badan kedua orang itu seakan-akan membawa perbawa yang seram, bukan mustahil mereka memiliki ilmu gaib dan dapatkah Bu-koat melawan mereka?

Hampir gila Thi Sim-lan saking cemasnya karena sebegitu jauh belum lagi Bu-koat ditemukan.

Sekonyong-konyong dilihatnya sesosok mayat membujur di semak-semak bunga sana.

Syukurlah orang ini bukan Hoa Bu-koat melainkan Gui Jing-ih adanya. Lengan kanannya tampak kutung sebatas siku, dada berlubang dan berlumur darah, wajahnya yang hijau seram itu pun sudah bengkak sehingga tampak sangat menakutkan.

Lekas Thi Sim-lan mengalihkan pandangannya, dilihatnya lagi tangan kiri Gui Jing-ih, tangan yang mirip cakar setan ini juga berlepotan darah, antara jari tengah dan jari telunjuknya itu masih lengket dua biji bola mata berdarah. Jelas biji mata orang yang kena dicolok mentah-mentah olehnya.

Thi Sim-lan menjerit dan roboh terkulai.

Jelas Bu-koat telah mengalami malapetaka, sepasang mata anak muda itu kini sudah…Ia tidak berani berpikir lagi, dengan gemetar ia cukit kedua bola mata itu dari jari Gui Jing-ih, dipandangnya bola mata yang berlumur darah itu. Tanpa terasa air matanya bercucuran.

Tiba-tiba didengarnya suara orang bernapas berat dan memburu, seperti pernapasan binatang buas yang terluka parah, suara ini datang dari bawah tebing sana.

Sekuatnya ia memburu ke sana dengan setengah merangkak. Terlihatlah seorang dengan muka berlumuran darah dan kedua tangan terpentang sedang berjongkok di bawah pohon sana dengan napas terengah-engah, kedua lekuk matanya tampak bolong berujud lubang berdarah.

Tapi orang ini bukan Hoa Bu-koat melainkan Gui Wi-ih adanya.

Jelas di bawah kesaktian Kungfu Ih-hoa-kiong yang khas, yaitu “Ih-hoa-ciap-giok”, yang dimainkan oleh Hoa Bu-koat, maka biji matanya tercolok oleh kawannya sendiri.

Namun begitu murid perguruan “Tanpa Gigi” itu belum lagi roboh.

Thi Sim-lan merasa lega setelah melihat yang mukanya berlumuran darah itu bukan Hoa Bu-koat, tapi demi melihat muka berlumuran darah itu, tanpa terasa ia menggigil ketakutan. Syukur segera dilihatnya pula Hoa Bu-koat.

Saat itu Bu-koat berdiri di bawah pohon di depan Gui Wi-ih. Rambutnya yang biasanya teratur rapi itu tampak kusut, pakaiannya yang rajin telah terkoyak-koyak, wajahnya yang senantiasa tenang pun penuh berkeringat.

Jelas kelihatan ketegangan pemuda itu, dengan mata tanpa berkedip dia menatap sepasang tangan Gui Wi-ih.

Meski kedua orang sama-sama berdiri tidak bergerak, tapi suasana terasa sangat tegang, sampai-sampai Thi Sim-lan yang berdiri jauh di atas tebing juga menahan napas.

Sekonyong-konyong Gui Wi-ih menggerung keras-keras terus menubruk ke arah Bu-koat, walaupun matanya sudah buta, tapi ia masih dapat mendengarkan dengan jelas. Tubrukan ini sangat dahsyat, bahkan sangat jitu arahnya.

Sekarang Gui Wi-ih bukan lagi manusia, tapi lebih mirip seekor binatang buas yang gila, tubrukannya ini menyerupai singa lapar, pada hakikatnya sukar ditahan oleh tenaga manusia.

Saking tak tahan Thi Sim-lan menjerit.

Tapi pada detik itu juga, kedua tangan Hoa Bu-koat bergerak, dua biji batu kecil terselentik ke depan, ia sendiri terus menerobos lewat di bawah ketiak Gui Wi-ih dengan gerakan secepat kilat.

Gerakan yang berbahaya ini sungguh sukar untuk dilukiskan. Maka terdengarlah suara “krak-krek”, pohon sebesar paha di belakang Hoa Bu-koat, itu telah di tumbuk patah oleh tubuh Gui Wi-ih.

Gu Win-ih sendiri bahkan tidak roboh, sekali loncat, segera ia membalik tubuh, kepalanya menoleh kian kemari, teriaknya dengan menyeringai, “Hoa Bu-koat, kutahu kau berada di mana, kau takkan dapat kabur. Pendek kata hari ini kau dan aku tiada satu pun yang dapat lolos, aku harus mati bersamamu di sini.”

Padahal dia tidak tahu Hoa Bu-koat berada di mana, Bu-koat sudah berada pula di depannya, sedangkan kepala Gui Wi-ih masih terus berpaling ke sana dan ke sini. Maklumlah, indera pendengarannya telah dikacaukan oleh dengingan kedua biji batu yang diselentikkan oleh Hoa Bu-koat tadi.

Melihat keadaan Gui Wi-ih yang mengerikan itu, Thi Sim-lan merasa takut dan juga kasihan, bilamana Hoa Bu-koat tidak dalam keadaan bahaya. Sungguh ia tidak tega melihatnya lagi.

Jelas Bu-koat juga tidak sampai hati, tanpa terasa ia menghela napas menyesal, ucapnya dengan terharu, “Kuhormati kau sebagai lelaki perkasa, di sinilah aku berada, jika kau ingin mengadu jiwa, silakan maju saja!”

Sekujur badan Gui Wi-ih tampak mengejang, mukanya yang berlumuran darah itu berkedut-kedut, teriaknya dengan parau dan tertawa latah, “Orang she Hoa, kau tahu aku tidak dapat membinasakanmu, makanya kau berlagak kasihan padaku bukan?”

Dengan menyesal Bu-koat menjawab, “Sesungguhnya aku tidak tega bergebrak lagi denganmu, kukira lebih baik kau ….”

Sekonyong-konyong Gui Wi-ih berjingkrak murka, teriaknya, “Aku tidak memerlukan belas kasihanmu…seumpama aku tidak dapat menemukanmu juga tidak perlu kau ….”

Suaranya kedengaran serak dan juga semakin lemah, tapi masih terus merintih, meski bukan menangis, namun jauh lebih memilukan dari pada menangis.

Saking tak tahan Thi Sim-lan ikut mencucurkan air mata, biarpun Gui Wi-ih adalah manusia yang paling kejam di dunia ini juga tidak tega menyaksikan penderitaannya itu. Ia tahu penderitaan lahiriah Gui Wi-ih benar-benar sukar bertahan pula, tapi penderitaan batinnya jelas terlebih hebat daripada siksaan lahiriahnya.

Tanpa terasa ia berseru, “Lekas kau pergi saja, kutahu Hoa-kongcu pasti takkan…takkan merintangimu.”

“Pergi?” teriak Gui Wi-ih dengan parau. “Hahaha, masa kau tidak tahu bahwa anak murid Bu-geh boleh dibunuh tapi tidak boleh dihina ….”

Di tengah gelak tertawa latahnya itu, sekonyong-konyong ia gunakan sepenuh tenaganya yang masih tersisa untuk meloncat tinggi ke atas tebing, menubruk ke arah Thi Sim-lan sambil menyeringai, “Tidak seharusnya kau ikut bicara, walaupun aku tidak dapat membunuh Hoa Bu-koat tapi dapat membunuh kau!”

Thi Sim-lan jadi terkesima kaget melihat bentuk Gui Wi-ih yang kalap itu sehingga lupa menghindar. Tahu-tahu Gui-Wi-ih sudah menubruk tiba, kedua lengannya sekuat belenggu lantas mengempit Thi Sim-lan dengan keras, berbareng ia berteriak sambil tertawa, “Haha, andaikan harus mati juga ingin kucari seorang teman seperjalanan. Hahahaha!”

Seketika Thi Sim-lan merasa sekujur badannya mengencang dan seakan-akan retak, wajah orang yang berlumuran darah dengan dua lubang berdarah itu tepat berada di depan hidungnya, keruan takutnya tidak kepalang sehingga tidak dapat bersuara pula.

Syukur segera terdengar “bluk” satu kali, suara tertawa latah Gui Wi-ih itu mendadak putus, kedua lengannya yang memeluk erat-erat itu pun mendadak kendur, lalu menyurut mundur dua-tiga tindak terus terjungkal ke bawah tebing.

Dalam pada itu Hoa Bu-koat sudah berdiri di depan Thi Sim-lan. Tanpa terasa si nona menubruk ke dalam rangkulan Hoa Bu-koat dan menangis keras-keras.

Perlahan Bu-koat membelai rambut si nona, ucapnya dengan terharu, “Sebenarnya aku tidak tega membunuh dia, tapi ….”

“Aku yang salah,” ucap Sim-lan sambil menangis, “tidak seharusnya aku ikut bicara, kalau tidak, tentu engkau takkan terpaksa membunuh seorang yang sudah buta. O, aku…mengapa aku selalu membikin kacau urusan.”

“Kau kira kau yang salah? Kau cuma berhati lemah, tapi tidak salah. Maksudmu ingin membikin baik setiap persoalan dan telah berusaha sekuat tenagamu.”

“O, engkau selalu begini baik padaku, sebaliknya aku…aku ….” dengan terguguk-guguk mendadak Thi Sim-lan mendorong pergi Hoa Bu-koat dan menunduk, “… aku selalu bersalah padamu.”

Bu-koat tidak berani memandang si nona lagi, ia berpaling ke sana dan menatap mayat Gui Wi-ih yang menggeletak kaku itu, gumamnya sambil menghela napas panjang, “Anak murid perguruan Bu-geh, betapa lihainya murid Gui Bu-geh. Wahai Kang Siau-hi, dapatkah kau menghadapi mereka?”

Hanya sepatah kata saja persoalannya lantas dialihkannya pada diri Kang Siau-hi.

Benar juga, tubuh Thi Sim-lan tergetar, rasa terima kasih dan cintanya kepada Hoa Bu-koat ternyata segera berubah menjadi perhatiannya terhadap Siau-hi-ji.

Dengan gegetun Bu-koat berucap pula, “Anak murid Gui Bu-geh saja sudah begitu lihai, apalagi Gui Bu-geh sendiri? Wahai Kang Siau-hi, betapa pun aku ikut berkhawatir bagimu.”

Thi Sim-lan tidak tahan lagi, segera ia bertanya, “Kang Siau-hi, apakah dia telah ….”

Baru sekarang Bu-koat menoleh dan menjawab dengan suara berat, “Saat ini mungkin dia sudah sampai di Ku-san dan mungkin sudah hampir berhadapan dengan Gui Bu-geh.”

*****

Esoknya Bu-koat dan Thi Sim-lan lantas berangkat langsung ke Ku-san.

Seperti sengaja dan juga seperti tidak sengaja Bu-koat selalu mempertahankan jarak tertentu dengan Thi Sim-lan, pada waktu berjalan ia selalu mengintil di belakang si nona, waktu makan ia sengaja berkutak-kutek pekerjaan lain, setelah Sim-lan hampir selesai makan barulah dia mulai makan. Bila bermalam juga dia tidak minta kamar sebelah-menyebelah melainkan mencari kamar yang agak berjauhan.

Perasaan mereka seakan-akan sangat berat, sepanjang hari jarang beromong apalagi tertawa.

Orang-orang di sepanjang jalan diam-diam sama kagum melihat muda-mudi yang cakap dan cantik itu. Tapi tiada yang tahu bahwa hati mereka sebenarnya kacau seperti benang kusut dan pedih tak terkatakan.

Yang mereka perhatikan adalah keselamatan Siau-hi-ji. Kini “Yan Lam-thian” sudah mati, di dunia ini hampir tiada seorang pun yang benar-benar mau menolong Siau-hi-ji dengan setulus hati.

Sebaliknya musuh Siau-hi-ji bukan saja teramat banyak, bahkan setiap musuhnya adalah tokoh paling lihai jaman kini. Sekarang dia pergi ke Ku-san sendirian, memangnya dia dapat kembali dengan hidup?

Kini, hampir setiap tokoh yang berbahaya di Kangouw seakan-akan sudah berkumpul di Ku-san, makanya di tempat lain tampaknya aman tenteram.

Sudah dua hari mereka dalam perjalanan, waktu bermalam lagi hari ini, dini sekali Hoa Bu-koat masuk kamarnya, tapi mana dia dapat tidur. Dia hanya duduk termenung.

Angin meniup dari celah-celah jendela, api lilin di atas meja terkadang tertiup memanjang, habis itu lantas menyurut pendek lagi, lilin terus lumer dan menetes ke bawah dan makin pendeklah batang lilin itu sehingga tatakan lilin pun hampir penuh oleh cairannya.

Bu-koat memandangi api lilin itu dengan termangu-mangu, hatinya berpikir mengenai Siau-hi-ji, mengenai Thi Sim-lan dan juga teringat kepada Ih-hoa-kiong. Lalu teringat pula kepada “Tong-siansing” yang misterius itu.

Setiap orang itu seakan-akan telah membuat sesuatu persoalan yang sukar diselesaikan olehnya. Sungguh ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba terdengar orang mengetuk pintu perlahan.

Bu-koat menyangka pelayan yang datang buat menambah air teh, maka tanpa pikir ia berseru, “Pintu tak terkunci, masuklah!”

Tak tersangka olehnya bahwa yang melangkah masuk kemudian ternyata Thi Sim-lan adanya.

Di bawah sinar lampu terlihat si nona memakai baju putih bersih, rambutnya yang hitam gompiok semampir di atas pundak, kelopak matanya kelihatan rada bengkak dan karena itu kerlingan matanya menjadi lebih samar.

Begitu masuk kamar, Sim-lan lantas menunduk.

Hati Bu-koat seperti dibetot mendadak. Dia berdiri dan menyambutnya dengan tersenyum, “Sudah larut malam, kau belum tidur?”

“Aku…tak dapat tidur,” jawab Sim-lan sambil menunduk. “Ada beberapa patah kata ingin kubicarakan denganmu.”

Bu-koat melenggong sejenak, ucapnya kemudian, “Silakan duduk.”

Sesungguhnya ia tidak tahu apa yang harus diucapkan, terpaksa “silakan duduk” digunakan untuk menutupi kecanggungannya, tapi kata-katanya itu terasa hambar dan kaku.

Sim-lan mendekati meja, tapi tidak lantas duduk, ia ragu-ragu agak lama, seperti mengerahkan segenap keberaniannya baru kemudian berkata dengan lirih, “Kutahu, selama beberapa hari ini kau sengaja bersikap dingin padaku dan menjauhi diriku.”

Kembali Hoa Bu-koat melenggong, jawabnya dengan tersenyum ewa, “Ah, kau…kau terlalu banyak berpikir.”

“Biasanya engkau tidak pernah berdusta, mengapa sekarang bohong padaku?” kata Sim-lan pula.

Bu-koat termangu-mangu sejenak, dengan rasa berat ia duduk, lalu berkata sambil menghela napas, “Jadi kau ingin kubicara dengan sejujurnya?

Sim-lan mengangguk perlahan, ucapnya, “Ya, lambat atau cepat toh harus kau katakan, mengapa tidak kau bicarakan sekarang saja.”

Bu-koat mengelupas secuil cairan lilin dan dipencet-pencet dengan keras seakan-akan hati sendiri yang sedang teremas-remas.

Dengan rasa berat akhirnya ia bicara dengan perlahan, “Kau tahu, antara manusia dan manusia, bilamana sudah lama saling berdekatan, sukarlah dihindarkan timbulnya perasaan suka sama suka, lebih-lebih dalam keadaan susah dan menderita.” Sekata demi sekata ia berucap, nadanya begitu sedih.

Terkesima Thi Sim-lan mengikuti cairan lilin yang diremas-remas Bu-koat itu.

Dengan pedih lalu Bu-koat menyambung, “Dan Kang Siau-hi…bukan saja dia pernah menyelamatkan jiwaku, bahkan dia telah menjadi sahabat satu-satunya selama hidupku ini, biarpun aku terpaksa harus membunuhnya, tapi apa pun juga aku tak dapat bertindak sesuatu yang tidak baik padanya.”

Sorot mata Thi Sim-lan tiba-tiba menatap lurus ke muka Bu-koat, ucapnya dengan suara rada gemetar, “Memangnya kau kira aku orang macam apa? Kau kira aku akan berbuat sesuatu yang mengkhianati dia?”

Bu-koat menunduk, ucapnya dengan menghela napas, “Aku tidak khawatir engkau akan berbuat salah padanya, tapi aku sendiri, kukhawatir atas diriku sendiri ….” ia menggereget, lalu menyambung pula, “Aku tidak tega menyeret perasaanmu ke dalam lingkaran pertentangan ini, bilamana kita terlalu berdekatan, bukan saja aku akan menderita, kau pun akan susah.”

Kepala Thi Sim-lan kembali tertunduk.

“Sebab itulah,” sambung Bu-koat, “Antara kita akan lebih baik bila berjauhan agar kita tidak terjeblos ke tengah-tengah penderitaan, kutahu dengan demikian kau akan sedih, tapi apa boleh buat, aku tidak punya jalan lain yang lebih baik.”

Tubuh Thi Sim-lan rada gemetar, air matanya tampak meleleh. Tiba-tiba ia angkat kepalanya dan menatap Bu-koat, serunya, “Tapi aku…aku ini anak perempuan yang sebatang kara, aku kan ingin menganggap kau sebagai kakak, kuharap engkau percaya padaku ….”

Bu-koat tidak bicara, maka si nona menyambung pula, “Kedatanganku sekarang cuma ingin memberitahukan agar kau tidak perlu menjauhi dan juga tidak perlu waswas padaku, asalkan hati kita suci bersih, tentu kita tidak perlu khawatir berbuat salah kepada siapa pun juga dan juga tidak takut apa yang disangka orang.”

Akhirnya Bu-koat tersenyum, ucapnya, “Baru sekarang kutahu engkau adalah anak perempuan yang tabah dan berani, keberanian ini biasanya sukar terlihat, tapi bilamana perlu, engkau ternyata jauh lebih berani daripada siapa pun duga.”

Thi Sim-lan menarik napas panjang, ia pun tersenyum dan berkata, “Setelah kukeluarkan seluruh isi hatiku rasanya menjadi lega dan riang, sungguh ingin kuminum secawan arak untuk merayakannya.”

“Baik, hatiku juga sangat riang, aku pun ingin minum arak untuk merayakannya,” tukas Bu-koat sambil berdiri.

Setelah keduanya menumpahkan segenap isi hatinya, seketika mereka merasa seperti terbebas dari belenggu yang berat. Cuma sayang, di hotel ini tiada tersedia daharan dan arak, maka mereka lantas keluar.

Di jalan sudah mulai sepi, kebanyakan toko sudah tutup pintu, pada tikungan jalan sana ada seorang penjual mi babat. Bau sedap dapat tercium dari jauh.

“Apakah kau sudi makan nongkrong di tepi jalan?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

Sim-lan tertawa, segera mereka mendekati penjual mi babat itu, belum lagi duduk ia sudah berseru, “Dua mangkuk mi babat, tambahi pula setengah kati daging rebus dan satu kati arak!”

Penjual mi babat di tepi jalan itu hanya terdiri dari dua meja kecil reyot, semuanya kosong, tiada pembeli, hanya seorang kurus berbaju hitam sedang nongkrong di atas bangku di depan tangkringan dan sedang minum arak.

Asap panas tampak mengepul dari kuali, lampu minyak yang bersinar guram itu membuat suasana bertambah suram.

Di bawah asap panas yang mengepul dan cahaya lampu remang-remang wajah si orang kurus berpakaian hitam itu tampaknya seperti sayur asin di kolong dapur. Tapi sepasang matanya, yang mencorong lebih terang daripada kelip bintang di langit.

Dia menongkrong di atas bangku sembari menggerogoti sepotong daging sambil minum arak, pikirannya mungkin sedang melayang-layang jauh ke sana. Bilamana ditanya bagaimana rasanya daging rebus dan bagaimana rasanya arak? Pasti ia tidak tahu.

Misalnya ketika kedatangan kedua orang semacam Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat, orang itu ternyata tidak memandangnya barang sekejap.

Seorang yang bernasib jelek dan duduk minum arak di tempat yang sederhana begini untuk mengenangkan kegembiraan dan kebahagiaan di masa lampau adalah keadaan yang jamak. Sebab itulah Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat tidak memperhatikan dia.

Apabila mereka mau memandangnya sekejap dan melihat sorot matanya yang bening tajam itu maka cara bicara mereka mungkin akan lebih hati-hati.

Tapi kini, setelah arak masuk perut, daging rebus terasa lezat, kelip bintang di langit dan semilir angin malam, semua ini telah menambah selera makan sehingga tiada sesuatu yang pantang diutarakan mereka.

Mereka terus mengobrol ke timur dan ke barat, tapi kemudian mereka mengetahui, apa pun yang mereka bicarakan seakan-akan selalu bersangkut-paut dengan Siau-hi-ji.

“Haha,” Bu-koat tertawa. “Sebenarnya terasa gembira cara makan minum begini, tapi aneh, selalu kurasakan masih kekurangan sesuatu. Sekarang baru kutahu apa kekurangan ini.”

Thi Sim-lan menunduk, katanya lirih, “Maksudmu…maksudmu kekurangan satu orang.”

“Betul, tanpa kehadirannya, memangnya kita berdua bisa bersuka ria sepuasnya?”

“Kau pikir, dapatkah tiba waktunya kita bertiga makan minum bersama?”

“Mengapa tidak?” kata Bu-koat.

Thi Sim-lan memandangnya lekat-lekat, ucapnya dengan rawan, “Kau kira, betapa banyak kesempatan kita bertiga berkumpul dan minum arak?”

Mendadak wajah Hoa Bu-koat berubah murung, ia pun termenung-menung agak lama, katanya kemudian, “Orang hidup paling-paling seabad, bilamana dapat berkumpul dengan sahabat dan minum bersama dengan gembira, satu kali pun sudah cukup, kenapa mesti berkali-kali ….” dia angkat cawan arak dan berkata pula dengan tertawa, “Marilah, biar kita minum satu cawan demi Kang Siau-hi!”

“Kang Siau-hi”, begitu nama ini disebut serentak si baju hitam tadi membuang sisa daging yang belum lagi habis dimakannya serta menaruh cawan arak, sorot matanya menyapu tajam ke arah Bu-koat berdua.

Dalam pada itu Thi Sim-lan telah menghabiskan isi cawannya bersama Hoa Bu-koat, matanya menjadi berkaca-kaca, ucapnya dengan sayu, “Ya, apabila aku pun lelaki, alangkah baik akan jadinya ….”

Waktu dia berpaling, tiba-tiba dilihatnya si baju hitam yang kurus itu telah berada di depannya sambil memegang guci dan cawan arak, sorot matanya yang tajam terus mengerling di antara muka mereka berdua.

Seketika Bu-koat dan Sim-lan melengak.

Sekian lamanya si baju hitam mengamat-amati mereka, tiba-tiba ia bertanya kepada Bu-koat, “Apakah kau ini Hoa Bu-koat?!”

Tentu saja Bu-koat terkesiap, jawabnya, “Betul, saudara ini ….”

Hakikatnya si baju hitam tidak mendengarkan ucapan Bu-koat, dia berpaling dan bertanya kepada Thi Sim-lan, “Dan kau ini Thi Sim-lan?!”

Thi Sim-lan mengangguk, saking heran ia tak dapat bersuara.

Siapakah gerangan si baju hitam ini? Dari mana mengetahui nama mereka?

Mata si baju hitam tampak terbelalak lebar, ucapnya pula, “Apakah barusan kalian minum bagi Kang Siau-hi?”

Diam-diam Thi Sim-lan jadi mendongkol juga, ia menarik napas panjang-panjang, mendadak berseru, “Kalau betul kau mau apa?”

Ia tahu musuh Siau-hi-ji tidak sedikit, ia sangka si baju hitam juga akan mencari perkara kepada mereka.

Tak tersangka si baju hitam lantas menyeret bangku ke dekat mereka, setelah duduk, lalu ia berkata pula, “Baik! Kalian telah minum satu cawan bagi Kang Siau-hi, sedikitnya aku harus menghormati kalian tiga cawan!”

Habis itu ia angkat gucinya. untuk menuangi cawan Bu-koat dan Sim-lan. Tentu saja kedua muda-mudi itu memandang cawan masing-masing dengan bingung karena tidak tahu mereka harus minum atau tidak.

Si baju hitam mendahului menenggak isi cawannya sendiri hingga kering, habis itu ia melotot ketika dilihatnya Bu-koat berdua masih diam saja. Serunya, “Ayo minumlah! Memangnya kalian takut arak ini beracun?”

Selagi Hoa Bu-koat masih sangsi, dengan suara keras Thi Sim-lan menjawab, “Maaf, kami tidak bisa minum arak bersama orang yang tidak kami kenal. Jika kau ingin menghormat arak kepada kami, paling tidak harus kau beritahukan lebih dulu siapa dirimu?!”

Si baju hitam mendelik, mendadak ia bergelak tertawa, katanya, “Tadinya kukira kau ini ramah tamah, siapa tahu mulutmu ternyata tidak banyak berbeda daripada Siau-hi-ji.”

“Ramah tamahku bergantung kepada siapa yang kuhadapi,” jengek Thi Sim-lan, “Bilamana ada orang yang tidak keruan ingin cari gara-gara padaku…Hmk!” Sekali angkat tangannya, kontan sepasang sumpit yang dipegangnya melayang dan menancap di emper rumah sana.

Tapi sedikit pun si baju hitam tidak mengunjuk rasa kaget atau kagum, dia tetap memandang si nona dengan tertawa, ucapnya, “Kalau perempuan judas ramah tamah terhadap orang lain barulah benar-benar ramah tamah, sebaliknya…Haha wahai Kang Siau-hi, tampaknya rezekimu memang boleh juga.”

Thi Sim-lan menjadi gusar, bentaknya, “Sebenarnya siapa kau? Apa kehendakmu?”

“Kau pun jangan urus siapa diriku, yang penting kau ketahui bahwa aku ini sahabat baik Kang Siau-hi,” ucap si baju hitam.

Terbelalak juga mata Thi Sim-lan memandanginya sekian lama, katanya kemudian, “Baik, jika engkau sahabat Kang Siau-hi, aku mau minum arakmu ini.”

Si baju hitam berpaling kepada Hoa Bu-koat, katanya, “Dan kau?”

“Aku harus tiga cawan paling sedikit,” jawab Bu-koat sambil tersenyum.

“Bagus, bagus sekali! Hahaha, kau benar-benar seorang sahabat sejati,” si baju hitam bergelak tertawa.

Setelah saling bentur cawan tiga kali bersama Bu-koat, si baju hitam berkata pula, “Kau minum arak bersama nona cantik di bawah sinar bintang seindah ini, namun kau tetap tidak melupakan Kang-Siau-hi. Bagus, bagus sekali, biar kuhormatimu lagi tiga cawan!”

Padahal gucinya sudah hampir kosong, namun sinar mata si baju hitam mencorong, hanya di antara gerak-geriknya nampak sudah agak mabuk, ia tidak urus orang lain minum lagi atau tidak, dan juga tidak lagi mengajak bicara orang lain, ia terus minum sendiri secawan demi secawan, terkadang ia pun menengadah memandang cuaca seakan-akan sedang menantikan datangnya seseorang.

Siapakah gerangan yang dinantikannya?

Dengan heran Thi Sim-lan menatapnya lekat-lekat, tanyanya kemudian, “Apakah engkau benar-benar sahabat baik Kang Siau-hi?”

“Kang Siau-hi kan bukan tokoh mahabesar, untuk apa aku mesti memalsukan diri sebagai sahabatnya?” jawab si baju hitam dengan mendelik.

Thi Sim-lan berkedip-kedip, katanya pula dengan tertawa, “Apakah akhir-akhir ini engkau bertemu dengan dia?”

Si baju hitam tidak lantas menjawab, ia termangu-mangu sejenak, lalu menaruh cawannya dengan keras, katanya kemudian, “Terus terang, aku sendiri tidak tahu akhir-akhir ini dia kabur ke mana?”

Setelah merandek, tiba-tiba ia menambahkan pula, “Bilamana kalian bertemu dengan dia, bolehlah sampaikan salamku kepadanya.”

“Memangnya kau sendiri takkan bertemu lagi dengan dia?” tanya Sim-lan.

Si baju hitam termangu-mangu sejenak, jawabnya kemudian, “Mungkin takkan bertemu lagi.”

“Sebab apa?” tanya Thi Sim-lan

Si baju hitam tidak menjawab, hanya menenggak arak terus-menerus.

Thi Sim-lan coba memancing pula, “Bilamana kami bertemu dengan Siau-hi-ji, harus kami katakan siapakah engkau?”

“Katakan saja Toakonya,” jawab si baju hitam dengan berpikir sejenak.

Mendadak Thi Sim-lan berbangkit dan membentak dengan aseran, “Sesungguhnya kau ini siapa?”

“Bukankah baru saja kukatakan padamu ….”

“Kentut!” bentak Thi Sim-lan. “Tidak mungkin Siau-hi-ji mengaku orang lain sebagai Toakonya, jangan mendustai aku.”

“Hahaha! Bagus, bagus!” tiba-tiba si baju hitam bergelak tawa. “Kalian memang tidak malu sebagai sahabat karib Siau-hi-ji. Memang betul, dengan setulus hati kusuruh dia memanggil Toako (kakak) padaku, tapi dia justru selalu menyebut aku adik.”

Thi Sim-lan tertawa, ia duduk kembali, ucapnya, “Jika demikian, akan kuberitahukan bahwa adiknya yang menyampaikan salam padanya.”

Air muka si baju hitam rada berubah, tampaknya ia rada gondok, ia melototi Thi Sim-lan tapi tidak jadi marah, akhirnya ia menenggak arak lagi, katanya gegetun, “Kang Siau-hi mempunyai sahabat seperti kalian ini, andaikan mati juga tidak menyesal lagi. Sedangkan aku? ….” di bawah sinar lampu yang redup, air mukanya tampak sangat berduka.

“Eh, tampaknya engkau sedang menanggung sesuatu pikiran apa, betul tidak?” tanya Thi Sim-lan.

“Pikiran? Memangnya aku memikirkan apa?” kembali si baju hitam mendelik.

“Jika engkau benar-benar menganggap kami ini sahabat Kang Siau-hi, mengapa tidak kau beberkan isi hatimu, bisa jadi…bisa jadi kami dapat memberi sesuatu bantuan padamu.”

Mendadak si baju hitam menengadah dan terbahak-bahak, ucapnya, “Bantuan? Hahahaa, masakah aku perlu bantuan orang?”

Di tengah suara tertawa yang keras itu seakan-akan juga penuh rasa duka dan murka. Thi Sim-lan ingin bertanya pula, tapi dicegah oleh Hoa Bu-koat dengan kedipan mata.

Dari jauh terdengar suara kentongan, malam ternyata sudah larut sekali.

Sekonyong-konyong si baju hitam berhenti tertawa, dipandangnya Bu-koat dan Thi Sam-lan lekat-lekat, lalu berkata, “Kalian benar-benar hendak membantu aku?”

“Sudah tentu benar,” jawab Thi Sim-lan.

“Bagus, silakan kalian masing-masing menyuguh tiga cawan arak padaku, ini pun sudah terhitung membantu padaku,” ucap si baju hitam.

Setelah menghabiskan enam cawan arak, si baju hitam menengadah dan bergelak tawa pula, katanya, “Tadi aku mengira malam ini akan kulewati sendirian, siapa tahu dapat berjumpa dengan kalian dan telah minum bersama dengan puas, sungguh suatu kejadian yang menggembirakan selama hidupku ini ….”

“Malam ini, apakah sangat istimewa bagimu? tanya Thi Sim-lan.

Mendadak si baju hitam berbangkit dan memandang si nona lekat-lekat, seperti mau bicara apa-apa, namun urung, tiba-tiba ia berpaling terus melangkah ke sana.

Sim-lan berseru, “He, jika engkau ingin minum arak pula, bagaimana kalau esok kita berkumpul lagi di sini?”

Sama sekali si baju hitam tidak menoleh, ia bergumam sendiri, “Esok? ….”

Dia mendekati si penjual mi babat, dikeluarkannya seluruh isi sakunya, ternyata ada beberapa potong uang emas, belasan biji mutiara, semuanya dia lemparkan ke meja penjual mi babat dan berkata, “Inilah uang makan-minumku, buat kau semuanya.”

Tentu saja penjual mi itu melongo kaget, belum lagi dia sempat mengucapkan terima kasih, tahu-tahu si baju hitam sudah berada di kejauhan, cahaya lampu yang remang-remang menyinari bayangan tubuhnya yang semakin memanjang, tampaknya dia begitu kesepian, sedemikian hampa.

Rawan juga perasaan Thi Sim-lan, ucapnya dengan terharu, “Betapa kesepian hidupnya, hanya dua orang mengiringi dia minum arak sudah terhitung kejadian menggembirakan baginya. Entah betapa sunyi dan hampa hidupnya ini?”

“Pada malam sebelum kematiannya dia mengira akan dilewatkannya dengan sendirian, dia ternyata tidak dapat menemukan seorang kawan untuk menemani malamnya yang terakhir,” ucap Hoa Bu-koat dengan perlahan.

“Apa katamu? Malam sebelum kematiannya? Malamnya yang terakhir?” seru Thi Sim-lan.

“Masa kau tidak dapat melihatnya? ….” mendadak Bu-koat berhenti berucap, Thi Sim-lan ditariknya terus melayang cepat ke sana.

Langkah si baju hitam tadi rada sempoyongan, jalannya seperti sangat lamban, tapi sekali berkelebat tahu-tahu sudah menghilang ditelan kegelapan malam.

Setelah melintas beberapa deretan rumah Hoa Bu-koat lantas menurunkan Thi Sim-lan, ucapnya, “Biar kususul dia, kau tunggu saja di sini.”

Ginkang Thi Sim-lan sebenarnya tidak lemah, tapi kalau dibandingkan Hoa Bu-koat dan si baju hitam tadi jelas selisih sangat jauh.

Cahaya bintang menyinari wuwungan rumah yang remang-remang kelabu, di kejauhan terkadang ada berkelipnya sinar lampu, hampir semua insan sudah tenggelam di alam impian mereka, bumi raya juga sudah tidur.

Thi Sim-lan berdiri sendirian di situ, angin semilir mengusap tubuh si nona laksana sentuhan kelopak mata kekasih, seperti usapan tangan ibunda. Akan tetapi perasaan si nona tidak dapat ditenteramkan.

Siapakah gerangan si baju hitam tadi? Mengapa dia harus mati? Dia dan Siau-hi-ji ….

Sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Bu-koat sudah berada di depannya.

“Dapatkah menyusulnya?” tanya Sim-lan segera.

Bu-koat menggangguk, jawabnya dengan gegetun, “Alangkah hebat Ginkang orang ini!”

“Ke manakah dia?” tanya Sim-lan pula.

Bu-koat tidak menjawabnya, tapi berkata, “Marilah ikut padaku!”

Kedua orang lantas melayang cepat pula ke sana melintasi beberapa deretan rumah.

Saking ingin tahu, Thi Sim-lan bertanya pula, “Cara bagaimana kau tahu dia akan mati?”

“Senantiasa dia memperhatikan waktu, jelas kelihatan malam ini dia hendak melakukan sesuatu urusan penting,” tutur Bu-koat dengan gegetun.

“Ya, hal ini pun sudah kuketahui tadi.”

“Tampaknya perasaannya sangat tertekan, ia pun mengatakan selanjutnya mungkin tak dapat melihat Siau-hi-ji lagi, sebelum berangkat dia memberikan seluruh isi sakunya kepada si penjual mi babat, ini semua menandakan apa yang akan dilakukannya pasti sesuatu urusan yang sangat berbahaya, rupanya dia sudah bertekad melakukannya sekalipun harus mati.”

“Benar ….” seru Sim-lan. “Watak orang ini mengapa sedemikian aneh dan angkuh, sudah jelas dia berniat mati, tapi tidak mau memberitahukan pada orang lain dan juga tidak menginginkan bantuan.”

“Tapi dia adalah sahabat Siau-hi-ji, mana boleh kita tinggal diam menyaksikan kematiannya?” ujar Bu-koat.

Sim-lan menggigit bibir, katanya, “Ginkangnya tergolong kelas wahid, andaikan tak dapat menandingi musuhnya pasti juga dapat melarikan diri, tapi dia sama sekali tidak berharap akan dapat lari, maka dapat dibayangkan lawannya pasti sangat lihai dan menakutkan.”

“Sebab itu pula kau harus hati-hati, sebelum ada sesuatu tanda dariku kau jangan sembarangan turun tangan,” pesan Bu-koat.

Sampai di sini, perumahan sudah mulai jarang-jarang.

Tiba-tiba Thi Sim-lan melihat tidak jauh di depan sana ada sebuah biara yang cukup besar, tampaknya seperti gedung kaum hartawan. Dalam keadaan larut malam demikian, di bagian belakang biara ini masih ada sinar lampu.

“Tempat apakah ini?” tanya Sim-lan.

“Sebuah Tokoan (kelenteng agama To).”

“Apakah dia masuk ke Tokoan ini?”

“Ehm,” jawab Bu-koat singkat.

“Kau lihat dia masuk di situ, maka engkau lantas ….”

“Waktu dia masuk ke sana, gerak-geriknya sangat hati-hati,” tutur Bu-koat. “Dengan Ginkangnya yang tinggi itu untuk sementara waktu pasti sukar diketahui orang, maka aku lantas memutar balik ke sana untuk mengajakmu ke sini.”

Thi Sim-lan coba mengawasi suasana sekitar kelenteng itu, meski ada cahaya lampu, tapi sedikit pun tiada suara apa pun, lebih-lebih tiada sesuatu tanda akan terjadi mara bahaya.

“Sudah sekian lamanya dia masuk ke situ, mengapa Tokoan ini masih tetap sunyi senyap?” tanya Sim-lan pula. “Memangnya penghuni kelenteng ini tiada mengetahui kedatangannya?” Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Tapi kalau dia sudah bertekad akan mati, biarpun kedatangannya tidak diketahui orang lain, seharusnya dia bertindak sesuatu, mengapa dia masih diam saja dan main sembunyi-sembunyi?”

“Kau tunggu di sini, biar kumasuk ke sana,” kata Bu-koat.

Tapi Sim-lan memegang tangannya dan berucap dengan suara tertahan, “Kukira di balik urusan ini ada sesuatu yang ganjil, bisa jadi dia sengaja bersekongkol dengan orang lain dan memancing kedatangan kita ke sini.”

“Bilamana dia bersekongkol dengan orang hendak menjebak kita, maka aku justru ingin tahu apa yang bakal terjadi,” ujar Bu-koat tersenyum.

Perlahan dia lepaskan tangan si nona, sekali berkelebat dia telah menghilang dalam kegelapan.

Sambil memandang bayangan Bu-koat yang lenyap itu, Sim-lan bergumam sambil tersenyum getir, “Sungguh tak terduga perangai orang ini terkadang serupa benar dengan Siau-hi-ji.”

Kelenteng ini cukup luas, bagian belakang masih ada penerangan, tapi halaman depan dan ruang pendopo gelap gulita, maka tidak kelihatan malaikat apa yang dipuja.

Bu-koat menyusul serambi yang gelap itu dan memutar ke halaman belakang, kemudian diketahui bahwa halaman yang ada penerangannya itu bukan lagi rumah kelenteng tapi berbentuk rumah penduduk biasa, begitu pula alat perabot di dalam rumah.

Bagian depan adalah kelenteng, bagian belakang adalah perumahan biasa, keadaan ini sangat aneh, yang lebih mengherankan adalah seluruh halaman belakang itu tiada terdengar sesuatu suara atau bayangan seorang, tapi di ruangan yang terpajang mewah dengan permadani mentereng itu berbaring seekor harimau loreng yang besar.

Ruangan duduk itu tampaknya tidak cuma sebesar ini saja, sebab di bagian tengah ada selapis tirai kain kuning yang panjang menyentuh lantai, jelas di balik sana masih cukup luas. Dan di depan tirai kuning itulah harimau loreng itu mendekam.

Rumah yang aneh dengan gayanya yang khas, ruangan duduk yang tiada tamunya, tapi ada seekor harimau. Semua ini membuat Hoa Bu-koat heran dan bingung. Yang lebih sukar dimengerti adalah suasana ruangan tamu itu, sebab apa dibatasi menjadi dua bagian dengan tirai?

Rahasia apa pula yang tersembunyi di balik tirai kuning itu?

Dengan hati-hati Bu-koat merunduk maju, ia yakin akan Ginkangnya sendiri, dengan sendirinya gerak geriknya tiada menerbitkan suara sedikit pun.

Siapa tahu pada saat itu juga, harimau yang tampaknya sedang tidur itu mendadak melompat bangun sambil meraung keras sehingga bumi seakan-akan bergetar dan daun kering sama rontok di halaman.

Nyata, walaupun Ginkang Bu-koat tiada taranya, namun harimau itu tidak perlu memandang dengan mata dan tidak perlu mendengar dengan telinga melainkan cukup mengendus dengan hidung saja.

Memang di sinilah letak kehebatan binatang itu, tak peduli siapa pun yang masuk ke ruangan belakang ini, asalkan baunya terendus, maka jangan harap dapat mengelabuinya.

Jika si baju hitam tadi sudah masuk ke ruangan belakang sini, mungkin sekarang sudah lebih banyak celaka daripada selamatnya.

Sementara itu cahaya lampu bergoyang-goyang, harimau tadi sudah hampir menubruk maju. Keganasan harimau sangat menakutkan, sampai-sampai Bu-koat juga kebat-kebit.

Pada saat itulah dari balik tirai tiba-tiba berkumandang suara halus berkata, “Siau Hoa (si loreng), duduklah, jangan galak seperti anjing penjaga saja, bisa bikin takut tamu!”

Suara itu begitu menggiurkan dan menggetar sukma.

Harimau itu pun seakan-akan dapat merasakan betapa menggiurkan suara merdu itu, benar-benar saja dia lantas membalik ke sana dan duduk kembali seperti mendadak berubah menjadi seekor kucing kecil yang jinak.

Bu-koat melenggong menyaksikan semua ini. Dilihatnya dari balik tirai kuning terjulur sebuah tangan putih mulus, halus lemas seolah-olah tak bertulang, dengan perlahan tangan putih itu membelai harimau, dengan suara merdu ia berkata pula dengan tertawa, “Jika Tuan sudah datang, kenapa tidak masuk saja dan duduklah.”

Diam-diam Bu-koat membatin apakah pengalaman si baju hitam tadi sama seperti sekarang ini? Apakah betul dia masuk ke sini? Setelah masuk kemari lalu apa pula yang dialaminya?

Menurut keyakinan Bu-koat, jika si baju hitam datang ke sini dengan tekad harus mati, maka dia pasti pantang mundur. Biarpun ruangan tamu ini adalah sarang harimau juga pasti akan diterjangnya.

Teringat pada tekad si baju hitam, tanpa ragu lagi Bu-koat lantas melangkah masuk.

Dengan tersenyum simpul ia melangkah masuk setindak demi setindak sebagaimana seorang tamu yang sopan santun hendak berkunjung kepada sahabat lama.

Dari balik tirai lantas terdengar suara tertawa nyaring merdu dan berkata, “Sungguh seorang Kongcu yang cakap, bolehkah kumohon tanya nama Kongcu yang terhormat?”

“Cayhe Hoa Bu-koat,” jawab Bu-koat sambil memberi soja.

“O, kiranya Hoa-kongcu,” kata suara itu.

“Terima kasih, bolehkah kutahu nama harum nona?”

Suara di balik tirai itu tertawa ngikik, jawabnya, “Hihi, aku sudah menikah, mana berani mengaku sebagai nona lagi…aku she Pek.”

“O, kiranya Pek-hujin (nyonya Pek),” kata Bu-koat.

“Terima kasih, silakan duduk Hoa-kongcu,” ucap Pek-hujin atau nyonya Pek.

Sambil mengucapkan terima kasih, benar-benar Bu-koat duduk tanpa sungkan.

Sebegitu jauh tanya jawab antara nyonya rumah dan tamunya dilakukan dengan sopan santun, cuma sayang nyonya rumah belum memperlihatkan wajahnya, di samping tamu mendekam pula seekor harimau yang besar dan setiap saat siap menerkam mangsanya. Kalau tidak, siapa pun pasti akan mengira antara Hoa Bu-koat dan Pek-hujin adalah sahabat karib yang telah ada hubungan turun-temurun.

Sesungguhnya itu pun sifat Hoa Bu-koat yang sukar berubah, asalkan orang lain bersikap sopan padanya, biarpun diketahuinya orang ingin membunuhnya juga dia akan membalasnya dengan sopan dan hormat.

Terdengar Pek-hujin berkata pula dengan tertawa, “Kongcu datang dari jauh, tapi aku tak dapat sekadar memenuhi kewajiban sebagai nyonya rumah, harap Kongcu sudi memberi maaf.”

“Dapat bicara dengan Hujin dari balik tirai, betapa pun Cayhe merasa beruntung,” jawab Bu-koat.

Tiba-tiba Pek-hujin bergelak tertawa, katanya, “Sikapku sudah terhitung sangat ramah tamah, tak tersangka engkau ternyata lebih ramah pula. Bilamana kita terus ramah tamah begini aku menjadi tidak enak untuk bicara urusan kita, engkau juga tidak leluasa untuk bertanya. Maka lebih baik kita tidak perlu main sungkan-sungkan lagi.”

“Bersopan santun dahulu baru kemudian perang tanding, ini adalah cara paling terhormat dalam perselisihan kaum ksatria sejati. Maka menurut pendapatku, adalah lebih baik bila bersikap sungkan saja.”

“Engkau ini sungguh orang yang menarik,” ujar Pek-hujin dengan tertawa.

“Terima kasih,” jawab Bu-koat.

“Kita tiada permusuhan dan dendam apa pun, bahkan wajahku saja belum pernah kau lihat, dari mana kau tahu aku menghendaki sopan dahulu padamu baru kemudian perang tanding? Aku kan tiada maksud ‘perang’ denganmu?!”

“Bilamana tidak perlu main senjata melainkan beramah tamah saja, tentu saja itulah yang kuharapkan,” ucap Bu-koat.

“Berdasarkan apa kau kira aku hendak main senjata denganmu?” tanya Pek-hujin dengan tertawa.

“Orang asing berkunjung kemari di tengah malam buta, andaikan Hujin menghadapinya dengan senjata juga pantas,” jawab Bu-koat.

Pek-hujin tertawa genit, katanya, “Meski aku tidak tahu maksud kedatanganmu, tapi melihat sikapmu yang sopan dan perawakanmu yang gagah serta terpelajar pula, betapa pun engkau tidak mirip seorang jahat. Apalagi kau datang dengan sikapmu tadi, walaupun aku takkan membikin susah, tapi ada orang lain yang tak dapat melepaskanmu.”

Bu-koat menghela napas, katanya, “Terima kasih atas perhatian Hujin, cuma sayang kedatanganku justru disebabkan oleh orang tadi.”

“Ai, memangnya kau ini sahabat si setan hitam yang suka main sembunyi-sembunyi itu?” tanya Pek-hujin.

“Betul,” jawab Bu-koat.

“Jadi kedatanganmu ini hendak mencari dia?”

“Bila Hujin sudi memberitahukan jejaknya padaku, sungguh Cayhe akan sangat berterima kasih.”

“Umpama kukatakan di mana jejaknya, apakah kau mampu menolongnya keluar?”

“Apakah Hujin melihat Cayhe ini mirip orang yang gegabah tanpa memikirkan mati dan hidup?”

“Dari nadamu ini, agaknya kepandaianmu tidaklah rendah bukan?”

“Di hadapan Hujin sesungguhnya Cayhe tidak berani merendahkan diri sendiri.”

“Bagus, kau memang anak muda yang suka berterus terang,” ujar Pek-hujin dengan tertawa. “Jika begitu, boleh kau coba dulu memperlihatkan sejurus dua padaku, ingin kutahu apakah kau memang mempunyai kemampuan untuk menolong dia?”

Bu-koat tersenyum, ucapnya, “Kalau demikian kehendak Hujin, terpaksa Cayhe pamer sedikit.”

Dia duduk tanpa bergerak, tapi mendadak orangnya berikut kursinya meloncat ke atas, kursi buatan dari kayu cendana yang kuat dan berat itu seolah-olah lengket di pantat Hoa Bu-koat.

“Hebat, sungguh luar biasa?” sorak Pek-hujin. “Padahal usiamu masih muda belia, memangnya sejak lahir kau sudah mulai belajar silat.”

Dengan perlahan Bu-koat melayang turun, jawabnya dengan tertawa, “Sungguh memalukan jika kukatakan, setelah dilahirkan Cayhe hidup sia-sia selama tiga-empat bulan, setelah seratus hari barulah mulai belajar silat?”

“Bagus, dengan kepandaianmu ini pantas kau berani menyatakan tidak mau merendahkan diri sendiri. Cuma ….”

“Cuma apa?” tanya Bu-koat.

“Kan sudah kukatakan tadi, setan hitam itu pun tiada permusuhan atau dendam apa-apa denganku, malahan selamanya belum pernah kenal, meski bentuknya rada menjemukan dan tindak tanduknya suka sembunyi-sembunyi, tapi aku pun tidak membikin susah dia.”

Dengan menahan perasaan Bu-koat tidak menanggapi, ia tahu cerita orang pasti bersambung.

Benar juga, segera Pek-hujin melanjutkan, “Tapi di tempat kami ini ada dua orang tamu, mereka justru merasa risi, entah mengapa, bicara punya bicara, akhirnya mereka baku hantam dengan serunya. Ai, meski temanmu itu bentuknya kelihatan galak, tapi ia justru bukan tandingan kedua kawanku itu.”

“Jangan-jangan dia telah terbunuh?” seru Bu-koat.

Pek-hujin tertawa ngikik, ucapnya, “Agaknya kau terlalu meremehkan aku. Di tempatku ini memangnya siapa yang berani sembarangan membunuh orang?”

“Habis kawanku ….”

“Kawanmu seperti telah di bawa pergi oleh kawanku, dibawa ke mana, aku sendiri pun tidak tahu.”

Bu-koat melenggong, seketika ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia pun tidak dapat meraba asal-usul Pek-hujin ini, lebih-lebih tak tahu apakah uraian itu betul atau palsu, apalagi, sekalipun cerita orang itu cuma bualan saja, tentunya ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Bilamana Bu-koat diharuskan menerjang ke balik tirai dan membekuk Pek-hujin untuk dipaksa memberi keterangan sejujurnya, tindakan ini betapa pun takkan dilakukannya sekalipun diancam akan membunuhnya.

Karena itulah ia menjadi serba salah, tinggal pergi rasanya keliru, tinggal di situ juga tidak betul.

Selagi dia tercengang, tiba-tiba Pek-hujin tertawa dan berkata pula, “Tapi kau pun tidak perlu sedih, jika benar-benar kau ingin mencari dia, aku akan membawamu ke sana.”

Bu-koat bergirang dan mengucap terima kasih.

Tapi Pek-hujin lantas menghela napas dan berkata pula, “Cuma aku sendiri disekap di sini, bergerak saja tidak bisa, cara bagaimana pula dapat kubawa kau pergi mencarinya?”

Baru sekarang Bu-koat terkejut, cepat ia bertanya, “Masa Hujin disekap orang di sini?”

“Siapa bilang bukan?” kata Pek-hujin menyesal. “Bilamana kau ingin kubawa mencari temanmu, maka lebih dulu harus kau tolong diriku.”

“Masa Hujin bukan nyonya rumah di sini?”

“Siapa bilang aku bukan nyonya rumah di sini?” jawab Pek-hujin.

Bu-koat memandang harimau yang besar dan jinak seperti kucing dibelai oleh tangan yang putih halus itu, katanya dengan ragu-ragu, “Jika nyonya adalah majikan di sini, harimau ini pun piaraan nyonya, lantas siapakah yang mengurung nyonya di sini, sungguh Cayhe tidak habis pikir?”

Pek-hujin menghela napas, ucapnya, “Kisah ini terlalu panjang untuk diceritakan, boleh kau singkap dulu tirai ini, nanti akan kuceritakan.”

“Jangan-jangan ini sebuah perangkap?” ujar Bu-koat dengan ragu-ragu.

“Kau mengaku berkepandaian tinggi, tapi menyingkap tirai ini saja tidak berani?”

Seketika keberanian Bu-koat berbangkit, sekali raih tirai tersingkap. Serentak ia melongo kaget setelah melihat apa yang terdapat di balik tirai.

Ternyata antara belahan ruangan bagian depan dan bagian belakang yang tertutup tirai ini bedanya seperti langit dan bumi.

Bagian depan yang dijaga harimau ini terpajang mewah, sedangkan bagian belakang yang dialingi tirai itu ternyata tiada sesuatu alat perabot apa pun, malahan jerami memenuhi lantai, dipojok sana ada sebuah tong air yang biasa dibuat tempat makan minum hewan. Pada hakikatnya tempat ini bukan tempat tinggal manusia, tapi lebih mirip kandang babi atau istal kuda.

Sungguh mimpi pun Bu-koat tidak menduga bahwa di balik ruangan yang mentereng ini adalah sebuah tempat sekotor ini, malahan di sinilah duduk seorang perempuan setengah tua dengan dandanan istimewa, rambutnya penuh hiasan mutiara goyang dan ratna mutu manikam, wajah tidak ketinggalan pupur dan gincu. Meski sudah setengah baya, namun masih jelas kelihatan bekas-bekas kecantikannya di masa muda.

Ini pun belum mengejutkan, yang paling luar biasa adalah leher wanita cantik berdandan mewah ini justru terbelenggu oleh seutas rantai, ujung rantai terpaku kuat di dinding sana.

Seketika Bu-koat juga seperti terpaku di tempatnya dan tidak dapat bergerak lagi.

Pek-hujin memandang sekejap, katanya dengan tersenyum pedih, “Nah, sekarang tentunya kau tahu apa sebabnya aku tak dapat membawamu pergi mencari temanmu.”

Diam-diam Bu-koat menghela napas, ucapnya, “Per…perbuatan siapakah ini? Siapa…siapa yang ….”

“Suamiku!” jawab Pek-hujin sambil menunduk.

“Suamimu?” Bu-koat menegas, hampir saja ia melonjak kaget.

“Betul,” kata Pek-hujin dengan sedih. “Suamiku adalah lelaki yang paling cemburu dan paling tidak aturan di dunia ini. Dia sangka bila aku ditinggalkan pergi, pasti aku akan main gila dengan lelaki lain.”

“Sebab itu dia…dia memb ….”

“Ya, begitu dia pergi, segera aku dirantai olehnya, pada hakikatnya dia tidak…tidak menganggap diriku sebagai manusia, malahan memandang diriku ini lebih rendah daripada hewan.”

Termangu-mangu Bu-koat memandangi nyonya yang malang ini sehingga tidak sanggup bicara lagi.

“Tapi bila kau lihat dandananku yang baik ini, tentunya kau pun merasa heran bukan?” tanya Pek-hujin.

“Ini…ini ….”

“Ini pun kehendaknya,” tutur Pek-hujin dengan gegetun. “Meski dia memperlakukan diriku dengan macam-macam siksaan, tapi dia juga menyuruh aku berdandan dan bersolek secantiknya, tujuannya melulu untuk dipertontonkan kepadanya saja.”

Setelah menghela napas panjang, lalu ia menyambung pula, “Ya, hanya untuk ditonton dia sendiri, bila orang lain memandangku sekejap saja maka orang itu pasti akan dibunuh olehnya. Sekarang kau telah memandang diriku pula, seumpama kamu tak mau menolongku keluar juga dia akan mencari dan membikin perhitungan denganmu.”

“Selama hidupku paling benci pada manusia yang suka menghina dan menganiaya wanita,” ucap Bu-koat dengan tersenyum pahit. “Jangankan Cayhe memang mengharapkan bantuan, sekalipun tiada urusan ini juga Cayhe akan berusaha menolong nyonya keluar dari sini.”

“Engkau benar-benar orang yang baik hati” ucap Pek-hujin dengan suara lembut dan memandangnya dengan rawan. “Ya, sejak mula aku pun sudah tahu engkau pasti orang baik. Tapi bilamana engkau hendak menolongku, maka lekaslah kerjakan, kalau tidak, bila suamiku pulang, walaupun tinggi ilmu silatmu juga sukar menandingi dia.”

*****

Di luar sana Thi Sim-lan sudah menunggu sekian lama dalam kegelapan.

Sekonyong-konyong ia dengar auman harimau yang menggetar bumi, kemudian suasana kembali sunyi senyap dan tiada sesuatu gerak gerik lagi, tapi justru suasana tiada sesuatu gerak-gerik ini semakin membuat cemasnya.

Dia menunggu lagi sejenak, makin lama makin gelisah, sampai akhirnya ia benar-benar tidak tahan lagi, tanpa pikir ia melompat keluar dari tempat sembunyinya. Apa pun juga ia ingin melihat apa yang terjadi sesungguhnya.

Kelenteng yang terbenam dalam kegelapan itu tampaknya tiada sesuatu tanda yang membahayakan. Segera Thi Sim-lan melompat ke atas pagar tembok.

Baru saja ia bertengger di atas tembok, mendadak sinar lampu berkelebat, itulah cahaya sebuah Khong-beng-teng (lampu ciptaan Khong Beng di jaman Sam-kok) yang khas, sinarnya berkelebat di mukanya seperti sinar kilat. Menyusul di ruangan pendopo seorang lantas berucap dengan tertawa, “O, kukira siapa, rupanya nona Thi Sim-lan adanya.”

Keruan Sim-lan terkejut, hampir saja ia terjatuh di atas tembok, serunya dengan suara serak, “Sia…siapa kau?”

“Silakan nona masuk saja, sebentar tentu kau akan mengenali aku,” kata orang itu.

Kejut dan sangsi pula Thi Sim-lan, mana dia berani menyerempet bahaya memasuki ruangan pendopo yang gelap gulita itu.

Orang itu tertawa seram, katanya pula, “Jika nona sudah datang ke sini, silakan masuk saja kemari untuk melihat sendiri, kalau tidak, kedua teman nona itu saja tidak dapat lolos, apalagi nona Thi sendiri, dengan kepandaianmu apakah engkau mampu kabur?”

Sekujur badan Thi Sim-lan serasa gemetar, masa Hoa Bu-koat juga telah jatuh ke dalam perangkap orang dan mengalami sesuatu?

Akhirnya ia menjadi nekat, tanpa pikir lagi ia terus melompat ke bawah.

Dalam kegelapan orang itu berkata pula dengan tertawa, “Di samping pilar dekat undak-undakan sana ada sebuah lampu dan ada pula geretan, paling baik nona menyalakan lampu dulu barulah masuk kemari. Kebanyakan orang bilang aku ini lelaki yang sangat cakap bila dipandang di bawah cahaya lampu yang terang.”

“Tapi adakah tipu apalagi?” kembali Thi Sim-lan curiga.

Apa pun juga, sinar lampu biasanya memang bisa menambah keberanian orang, dalam kegelapan risikonya juga lebih besar. Maka ia lantas mendekati tempat yang ditunjuk tadi, ia menemukan lampu dan menyalakannya.

Di tempat yang luas dan gelap itu, cahaya lampu ini jauh lebih terang daripada biasanya dan juga menghangatkan, Thi Sim-lan pegang erat-erat lampu itu dan melangkah ke ruangan pendopo itu. Ia lihat keadaan kosong melompong, mana ada bayangan orang? Yang ada cuma Hiolo (tempat abu) yang besar, tirai kuning meja pemujaan yang rada luntur warnanya serta wajah beringas patung yang dipuja.

Tiba-tiba cahaya lampu seolah-olah rada guram.

Tanpa terasa Thi-Sim-lan merinding, serunya, “Sesungguhnya siapa kau? Mengapa main sembunyi?”

Tapi tiada jawaban orang dan juga tidak nampak bayangan seorang pun.

Ia menjadi ragu, jangan-jangan patung kayu itu yang sedang menggoda seorang gadis biasa.

Thi Sim-lan tidak berani menengadah, tapi tanpa terasa mendongak, maka tertampaklah malaikat gunung raksasa bertengger di punggung harimau seakan-akan sedang menyeringai padanya.

Angin tiba-tiba meniup, sumbu lampu bergoyang-goyang, pakaian patung malaikat gunung juga bergerak-gerak laksana hidup dan seakan-akan hendak melangkah turun dari meja sembahyang.

Hampir saja Thi Sim-lan tidak tahan dan akan membuang lampu itu terus melarikan diri. Lampu yang hangat itu rasanya berubah menjadi dingin, tangannya mulai gemetar pula.

Tiba-tiba dari balik tirai meja pemujaan sana berkumandang suara orang bergelak tertawa.

“Hahahaha, Thi Sim-lan, nyalimu ternyata tidak kecil!” seru orang itu. Suaranya seperti timbul dari patung malaikat ukiran kayu itu.

Namun Thi Sim-lan malahan dapat tenangkan hatimya, segera ia pun menjengek, “Jika kau berani mengundang aku masuk ke sini, mengapa kau sembunyi di belakang patung dan tidak berani muncul menemui aku?”

Orang itu tertawa, katanya, “Nyali perempuan terkadang memang lebih besar daripada lelaki, mestinya hendak kubikin kaget padamu, siapa tahu tempat sembunyiku dapat kau bongkar.”

Menyusul suara tertawa itu, seorang perlahan-lahan muncul dari balik patung sana, cahaya lampu yang bergoyang-goyang menyinari wajahnya yang pucat dan sorot matanya yang tajam.

Memang betul, dia memang lelaki yang sangat cakap.

Tapi demi nampak lelaki ini, kejut Thi Sim-lan melebihi lihat setan iblis. Tanpa terasa ia berseru, “Hah, Kang Giok-long!”

“Betul, memang aku,” jawab Kang Giok-long dengan tertawa. “Tadi aku bergurau denganmu, apa kau terkejut?”

Dengan senyuman yang ramah selangkah demi selangkah ia mendekati Thi Sim-lan. Tapi si nona mundur selangkah demi selangkah.

“Kau…kau mau apa? tanya Sim-lan.

“Kita kan sahabat lama, mengapa kau takut padaku?” ucap Giok-long dengan tersenyum.

Sampai jari kaki Sim-lan pun terasa dingin, tapi dia sengaja menampilkan senyum mengejek, katanya, “Siapa bilang aku takut? Aku justru sangat gembira.”

Sambil bicara, kakinya masih terus melangkah mundur. Sudah tentu dia tahu lelaki yang sangat cakap dan manis bicaranya ini jauh lebih menakutkan daripada ular yang paling berbisa.

Mendadak ia melemparkan lampu yang dipegangnya ke muka Kang Giok-long, habis itu ia terus lari keluar secepat terbang.

Dalam keadaan demikian, rasanya segala apa sudah terlupakan olehnya, yang dipikirkan hanya meninggalkan Kang Giok-long.

Tapi mendadak ia menubruk ke dalam pelukan seseorang.

Tanpa memandang juga Thi Sim-lan tahu siapa orang ini. Pakaian orang ini terasa halus dan licin, begitu licin sehingga melebihi licinnya ular berbisa.

Tangan orang ini pun lemas dan licin, dengan perlahan dia rangkul Thi Sim-lan dan berucap dengan suara lembut, “Kenapa lari? Masa kau takut padaku.”

Sekujur badan Thi Sim-lan terasa lemas lunglai dan menggigil. Sama sekali ia tiada tenaga lagi untuk mendorong.

Dengan perlahan Giok-long meraba pundak Thi Sim-lan, katanya dengan perlahan, “Katakan, sesungguhnya apa yang kau takutkan?”

Sebisanya Thi Sim-lan menenangkan hatinya yang berdebar. Diam-diam ia memperingatkan dirinya sendiri agar bersabar, jika Kang Giok-long pura-pura bersikap ramah tamah, maka jangan sekali-kali boroknya dibongkar, kalau tidak, dari malu ia bisa menjadi marah dan itu berarti berbahaya baginya.

Maka ia pura-pura membanting-banting kaki dan mengomel, “Aku tak peduli, tadi kau telah menakuti aku setengah mati, untuk apa kupedulikan kau.”

Ia menyadari bukan tandingan Kang Giok-long, ia tahu dalam keadaan demikian senjata satu-satunya yang baik ialah omelan manja anak gadis.

Benar juga, Kang Giok-long lantas tertawa, katanya, “Kau memang gadis yang menyenangkan, pantas Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat tergila-gila padamu.”

“Dan kau?” tanya Thi Sim-lan sambil menggigit bibir.

“Aku pun lelaki, melihat gadis menarik seperti kau masakah tidak terpikat? Cuma sayang, mereka berdua sudah ….”

“Kukira kau sendiri tak dapat membandingi mereka?”

“Menurut kau, bagaimana aku dibandingkan mereka?” tanya Giok-long sambil memicingkan mata.

“Mereka masih anak-anak, sedangkan kau…kau sudah dewasa.”

“Hah, pandanganmu ternyata tajam, sayang tidak kau katakan sejak dulu-dulu.”

Berbareng ia rangkul si nona terlebih erat sehingga Thi Sim-lan merasa mual. Namun ia berlagak tertawa genit dan menjawab, “Memangnya kau ini orang tolol sehingga perlu menunggu keterangan dariku?”

“Haha, betul, ucapanmu memang tepat,” seru Giok-long sambil bergelak. “Bila lelaki ingin menunggu pengungkapan isi hati si perempuan, maka dia benar-benar teramat bodoh.”

Di tengah embusan angin malam yang semilir, di tengah kegelapan yang sunyi, dalam pelukannya terdapat nona selembut dan secantik ini…betapa pun lihainya Kang Giok-long tentu juga lunak hatinya.

Maka suara Thi Sim-lan jadi semakin halus, katanya perlahan, “Sekarang, biarlah kukatakan padamu, sesungguhnya sudah lama aku ….”

Sudah sekian lama ia bersiap-siap, kedua tangannya sudah penuh tenaga, sekuatnya ia terus memukul ke pinggang Kang Giok-long.

Akan tetapi baru tangannya bergerak, tahu-tahu Kong-cing-hiat di atas pundak kanan kiri telah kena dicengkeram oleh Kang Giok-long sehingga tenaga tak dapat dikerahkan sama sekali. Tangan Thi Sim-lan menjadi lemas, hati pun dingin.

Kang Giok-long, setan iblis ini, ternyata sudah sejak tadi mengetahui jalan pikiran si nona.

Dia merasa tangan Kang Giok-long terus merosot ke bawah melalui punggungnya dan sekaligus menutuk pula beberapa Hiat-to penting di bagian situ. Seketika satu jari pun Thi Sim-lan tak dapat bergerak lagi.

Sementara itu tangan Kang Giok-long masih terus bekerja, tiada hentinya tangannya “main” kian kemari di bagian tubuh Thi Sim-lan sambil tertawa terkekeh-kekeh. Ucapnya, “Kutahu sudah lama kau suka padaku, maka malam ini betapa pun takkan kukecewakan keinginanmu.”

“Kau…kau setan iblis, kau berani ….” teriak Thi Sim-lan dengan suara parau.

Giok-long tertawa ngikik, katanya, “Apakah kau menyesal sekarang? Cuma sayang, andaikan menyesal juga sudah terlambat.”

Thi Sim-lan menggigit bibir kencang dan tidak bersuara, ia tahu dalam keadaan demikian, berteriak atau meronta juga tiada gunanya, bahkan akan lebih merangsang nafsu binatang Kang Giok-long.

Sejak kecil Thi Sim-lan hidup merana, sudah terlalu banyak mengalami penderitaan lahir dan batin, ia paham bilamana seorang dalam keadaan tak berdaya dan tak dapat melawan, maka terpaksa harus terima nasib. Dan sekarang ia pun siap menerima yang akan menimpanya.

Ia memejamkan mata, air mata bercucuran dengan derasnya. Bibirnya sudah berdarah, hatinya sedang menjerit, “O, Siau-hi-ji…Hoa Bu-koat, maafkanlah aku!”

Tak terduga, pada saat berbahaya itulah, tiba-tiba tangan Kang Giok-long tidak bergerak lagi.

Belum lagi Thi Sim-lan mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu Kang Giok-long mendorongnya pergi. Karena tak terduga-duga, Sim-lan jatuh terpelosot ke lantai.

Tapi segera ia lihat seorang perempuan.

Perempuan ini berbaju putih mulus, bermuka pucat, dengan mata tanpa berkedip sedang melototi Kang Giok-long. Sorot matanya yang dingin itu tiada tanda-tanda marah dan juga tiada tanda-tanda duka. Tapi siapa pun juga bilamana dipandang sekejap oleh sorot matanya ini, mungkin selama hidup takkan lupa.

Kang Giok-long bertepuk tangan, katanya dengan menyengir, “Budak ini menganggap aku orang tolol dan hendak menipu aku, tentu saja harus kuhajar adat padanya.”

Perempuan itu masih melototi dia dan tidak bersuara.

“Kau cemburu?” dengan cengar-cengir Giok-long berkata pula sambil mendekati perempuan itu dan mencolek pipinya, katanya pula, “Kau tidak perlu marah dan juga tidak perlu cemburu, kau tahu yang benar-benar kusukai dan kudambakan hanya dikau seorang.”

Perempuan itu tidak bergerak sama sekali dan membiarkan pipinya diraba Kang Giok-long, ia berdiri seperti patung.

“Kau masih marah dan tidak percaya ucapanku?” tanya Giok-long pula.

Akhirnya perempuan itu membuka suara, katanya sambil melotot, “Aku tidak peduli kau dusta padaku atau tidak, pokoknya, sejak kini bilamana kulihat kau menyentuh satu jari saja anak perempuan lain, maka seketika kau kubunuh, habis itu aku pun akan mati di sampingmu.”

Adalah jamak kata-kata demikian diucapkan kaum perempuan yang sedang marah, tapi sekarang perempuan yang mengucapkan kata-kata pedas ini ternyata tetap hambar dan dingin-dingin saja sikapnya.

Tidak perlu diterangkan lagi, perempuan ini tentu saja Thi Peng-koh adanya.

Kang Giok-long melelet lidah, katanya dengan tertawa. “Wah kau ini terlalu banyak berpikir. Punya istri secantik kau masa aku mau mengincar perempuan lain lagi?” Sembari bicara ia terus merangkul Peng-koh serta mencium pipinya beberapa kali.

Sorot mata Thi Peng-koh yang dingin itu akhirnya cair juga. Dia menghela napas, katanya, “Asalkan kau senantiasa baik padaku, tak peduli perbuatan jahat apa yang kau lakukan aku pun tak peduli, yang penting dalam urusan kita ini kau tidak dusta padaku, maka urusan lain biarpun kau bohong padaku juga tidak menjadi soal bagiku.” Dia menunduk, matanya sudah rada basah, dengan perlahan dia menyambung pula, “Kau tahu, bukan saja engkau ini lelaki pertama selama hidupku ini, bahkan kaulah orang pertama yang begini mesra padaku. Aku tidak peduli apakah tingkahmu ini setulus hati atau pura-pura belaka. Yang penting asalkan kau selalu begini padaku, maka puaslah hatiku, biarpun kau berbuat kejahatan lain juga aku…aku ….” dia menggigit bibir dan tidak dapat bersuara pula.

Thi Sim-lan memandangi dia dan mengikuti apa yang diucapkan Thi Peng-koh, diam-diam ia merasa gegetun, pikirnya, “Sungguh perempuan yang harus dikasihani, ia pasti perempuan yang sangat kesepian, sampai-sampai dia sudah tahu bahwa Kang Giok-long cuma pura-pura mencintai dia, tapi ia rela menerimanya. Apakah selama hidupnya ini sudah dilewatkan dengan hampa dan sunyi sehingga dia sangat takut ditinggal pergi, tidak berani lagi hidup terpencil ….”

Hati Thi Sim-lan ikut pedih dan juga solider. Ia merasa anak perempuan ini juga lebih malang daripada dirinya.

Bilamana seorang perempuan melihat perempuan lain yang lebih susah daripada dirinya, maka sering-sering dia akan melupakan keadaan dan penderitaannya sendiri. Hal ini tak mungkin terjadi pada kaum lelaki.

Yang bisa terjadi pada kaum lelaki adalah bilamana waktu berjudi dilihatnya orang lain mengalami kekalahan lebih mengenaskan daripadanya, maka hatinya akan merasa senang.

*****

Di bawah patung pemujaan di rumah pendopo itu ada sebuah jalan rahasia. Jalan rahasia ini dapat menembus ke beberapa kamar di bawah tanah. Namun kamar di bawah tanah ini tidak lembap dan gelap seperti tempat lain, hakikatnya kamar ini malahan jauh lebih indah dan mewah daripada tempat tinggal kebanyakan orang.

Dan Thi Sim-lan lantas diantar Thi Peng-koh ke suatu kamar di bawah tanah yang bagus itu.

Segera ia mendapatkan bahwa “si baju hitam” yang dicarinya itu sudah berada lebih dulu di rumah itu. Tubuhnya meringkuk di suatu kursi, agaknya Hiat-tonya telah ditutuk orang. Tapi ini belum membuat Sim-lan terkejut, malahan hal ini boleh dikatakan sudah dalam dugaannya, yang membuatnya terkesiap adalah gadis jelita yang duduk di depan si baju hitam.

Gadis ini mempunyai mata besar dan jeli, cuma sayang sorot mata yang seharusnya sangat bening ini kini penuh diliputi sinar buram seperti orang linglung.

Dengan termangu-mangu ia memandangi si baju hitam, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Sebaliknya si baju hitam juga sedang memandangnya dengan terkesima.

Buyung Kiu. Ya, gadis linglung ini memang Buyung Kiu adanya. Mengapa ia pun berada di sini?

Tanpa terasa Thi Sim-lan berseru kaget.

Kang Giok-long tertawa terkekeh-kekeh, ucapnya, “Di sini juga ada seorang sahabatmu bukan?”

Sim-lan menggigit bibir sekencangnya, syukur makian tidak sampai tercetus pula dari mulutnya.

Dengan tertawa Giok-long berkata pula, “Cuma sayang dia tidak kenal kau lagi. Seumpama kau hendak menegurnya juga dia takkan menggubris padamu. Tentunya kau pun tahu akibat perbuatan siapa sehingga dia berubah jadi begini.” la mendekati si baju hitam alias Oh-ti-tu, serunya sambil tertawa, “He, saudara Ti-tu, kembali seorang kawan datang menjengukmu, kenapa kau tidak menggubris orang?”

Baru sekarang Oh-ti-tu seperti terjaga dari impiannya, ia terkejut melihat Thi Sim-lan, “He, kau? Meng…mengapa kau pun datang ke sini?”

Sim-lan tersenyum pahit, jawabnya, “Sebenarnya kami…kami ingin memberi bantuan padamu.”

“Haha, bagus, bagus!” Kang Giok-long bergelak tertawa. “Kiranya kedatanganmu ini ingin menolong Oh-ti-tu, sedangkan Oh-ti-tu datang buat menolong Buyung Kiu, sekarang orang yang hendak menolong orang justru perlu menunggu pertolongan orang.” Dia menengadah dan tertawa latah, lalu menyambung pula, “Cuma sayang di seluruh dunia ini mungkin tiada seorang pun yang mampu menolongmu.”

Dengan geregetan Thi Sim-lan mendamprat, “Tapi jangan lupa, kan masih ada Hoa-kongcu ….”

“Maksudmu Hoa Bu-koat?” Kang Giok-long menegas dengan tertawa terpingkal-pingkal. “Padahal saat ini Hoa Bu-koat sendiri juga sedang menunggu pertolongan orang.”

“Hm, kau ingin menipu aku?” jengek Sim-lan.

“Menipu kau? Memangnya kau sangka di dunia ini tiada orang yang sanggup mengatasi Hoa Bu-koat?”

“Paling sedikit kau sendiri belum mampu.”

“Aku tidak mampu, memangnya tiada lagi orang lain?” jawab Giok-long dengan tenang-tenang saja.

Meski lahirnya Thi-Sim-lan cukup yakin akan kemampuan Hoa Bu-koat, tapi diam-diam ia pun tegang, tanyanya, “Siapa?”

“Kau tidak perlu tahu namanya, cukup kuberitahukan padamu, apabila Hoa Bu-koat ketemu dia maka dapat diumpamakan Kau-ce-thian (si kera sakti) kebentur Ji-lay-hud (sang Budha), betapa pun dia takkan mampu lolos dari telapak tangannya,” tutur Giok-long sambil memicingkan mata.

*****

Di tempat lain, akhirnya Hoa Bu-koat telah melepaskan belenggu yang merantai leher Pek-hujin itu.

Sebenarnya sudah sejak tadi-tadi belenggu itu dapat dibukanya, tapi dari badan Pek-hujin teruar bau harum yang khas membuat jantung Hoa Bu-koat berdebar keras sehingga tangan menjadi rada lemas. Ditambah lagi leher Pek-hujin terasa hangat, halus dan licin, begitu tangan Bu-koat menyentuhnya, seketika Pek-hujin mengkirik-kirik sambil nyekikik.

“Hihihi, jangan mengkilik-kilik badanku, aku aku tidak tahan…aku geli,” demikian keluh Pek-hujin sambil tertawa genit.

Sudah tentu Bu-koat bermaksud membela diri dengan menyatakan dia tidak pernah menggelitik nyonya itu, tapi mukanya menjadi merah dan tidak sanggup bersuara.

Semakin dia berlaku hati-hati, tangannya justru menyentuh leher orang dan suara tertawa Pek-hujin pun bertambah keras sehingga sekujur badan seakan-akan ikut berguncang.

Diam-diam Bu-koat gegetun, batinnya, “Mengapa perempuan tidak tahan geli?”

Entah mengapa, bilamana melihat Pek-hujin gemetar saking gelinya, tanpa terasa hatinya juga rada-rada guncang.

Pemuda seusia Bu-koat ini dengan sendirinya belum tahu bahwa “takut geli” juga merupakan semacam senjata merayu kaum wanita. Hanya perempuan yang bermaksud memikat seorang lelaki barulah bisa merasa geli. Bila perempuan itu tiada maksud memikat si lelaki, biar dikerjai bagaimana pun oleh lelaki juga dia takkan geli. “Pengetahuan umum” ini cukup dipahami oleh kaum lelaki yang sudah cukup berpengalaman.

Setelah berkutak-kutek sekian lamanya, akhirnya gembok rantai itu dapatlah dibuka, Hoa Bu-koat sudah mandi keringat seolah-olah habis perang tanding mati-matian.

“Sekarang Hujin dapat berdiri bukan?” kata Bu-koat sambil menghela napas lega.

Tapi Pek-hujin masih terkulai lemas di atas onggokan jerami, ucapnya dengan terengah-engah, “Mana aku sanggup berdiri sekarang?”

Keruan Bu-koat melengak bingung, tanyanya, “Ken…kenapa tidak sanggup berdiri?”

“Masa…masa kau tidak tahu?” ucap Pek-hujin dengan lirikan genit.

“Tidak, aku tidak paham,” jawab Bu-koat.

“Tolol, masa tak dapat kau lihat? Saat ini pada hakikatnya aku tidak bertenaga sedikit pun,” ujar Pek-hujin sambil menghela napas gegetun. Sebutannya kepada Bu-koat dari “Kongcu” kini telah berubah menjadi “tolol”.

Bu-koat berdehem kikuk, katanya sambil menyengir, “Tadi…tadi Hujin bilang waktunya sudah mendesak, mengapa sekarang malah tidak terburu-buru lagi.”

“Aku kan tidak sengaja,” ucap Pek-hujin. “Jika kau yang terburu-buru, bolehlah memayang bangun aku.”

Terpaksa Bu-koat menjulurkan tangannya untuk menyanggah bahu si nyonya.

Tapi Pek-hujin seperti orang lumpuh saja, mana dia sanggup menariknya bangun. Malahan kalau dia tidak berdiri kuat-kuat, mungkin dia sendiri yang terseret jatuh ngusruk ke onggokan jerami.

Terpaksa Bu-koat memegang pinggang Pek-hujin.

Tapi sekujur badan Pek-hujin lantas menggeliat sambil tertawa nyekikik dan berseru, “O, ge…geli! Ai, rupanya kau pun tidak beres, sudah tahu aku takut geli, tapi kau sengaja menggelitik aku.”

“Aku…aku tidak sengaja,” kembali muka Bu-koat merah jengah.

Pek-hujin mengerling genit dan mengomel, “Siapa tahu kau sengaja atau tidak.”

Bu-koat tidak berani memandangnya, ia berpaling ke arah lain dan berkata, “Jika Hujin tidak lekas bangun, Cayhe akan ….”

“Kau akan apa? Memangnya kau cuma menolong orang setengah-setengah lantas hendak pergi begitu saja?” ucap Pek-hujin dengan tertawa genit.

“Tapi aku…aku ….” Bu-koat benar-benar tak berdaya sehingga tidak tahu apa yang harus diucapkan.

“Tolol,” omel Pek-hujin pula, “lelaki segagah kau masakah bingung menghadapi urusan sekecil ini?”

“Habis bagaimana harus kulakukan menurut Hujin?” tanya Bu-koat.

“Jika tidak kuat memayang diriku, kenapa tidak kau pondong saja?” kata Pek-hujin dengan wajah bersemu merah dan dada yang montok itu berombak.

Jika Kang Giok-long yang menghadapi adegan seperti sekarang ini, mustahil kalau Pek-hujin tidak ditubruknya dan dirangkul. Apabila Siau-hi-ji bisa jadi kontan Pek-hujin akan dipersen suatu tamparan, lalu ditanya apa maksudnya.

Akan tetapi Hoa Bu-koat bukanlah Kang Giok-long dan juga bukan Siau-hi-ji, pada hakikatnya dia anti seluruh perempuan di dunia ini, tapi ia pun tidak bersikap kasar terhadap perempuan, juga tidak mungkin marah kepada mereka. Bahkan sampai detik ini dia belum merasakan bahwa perempuan yang genit dan lunglai ini sesungguhnya berpuluh kali lebih berbahaya daripada macan loreng yang mendekam di samping itu.

Dia cuma mengganggap sikap Pek-hujin itu hanya karena bergeloranya nafsu berahi seorang perempuan saja. Ia merasa dirinya sekalipun tidak boleh menerima godaannya itu, tapi juga tidak boleh terlalu kejam padanya, sebab ia selalu merasa perempuan begini harus dikasihani.

Di Ih-hoa-kiong sendiri juga banyak terdapat perempuan yang begini. Sebegitu jauh ia bersimpatik kepada mereka, apalagi ia pun merasakan, betapa pun orang kan juga “bermaksud baik” padanya?

Bilamana Siau-hi-ji mengetahui jalan pikiran Hoa Bu-koat, mustahil kalau gigi Siau-hi-ji tidak rontok karena tertawa terpingkal-pingkal. Akan tetapi, apabila Siau-hi-ji juga dibesarkan di lingkungan seperti Hoa Bu-koat, jalan pikirannya tentu juga akan sama.

Begitulah Bu-koat terdiam sejenak dengan ragu-ragu, ia menghela napas, katanya kemudian dengan suara halus, “Jika Hujin belum sanggup berdiri, biarlah Cayhe menunggu saja sebentar lagi.”

Pek-hujin memandangi anak muda yang aneh ini dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas pula, diam-diam ia sangat heran. akhirnya ia tanya, “Apakah benar kau tak bisa apa-apa dan cuma bisa menunggu saja?”

“Ya,” jawab Bu-koat.

“Jika sehari suntuk aku tak dapat berdiri?” tanya Pek-hujin sambil mengerling genit.

“Akan kutunggu juga satu hari.”

“Kau dapat menunggu sekian lama?”

“Biasanya Cayhe cukup sabar.”

Pek-hujin mengikik tawa, katanya, “Bilamana tiga hari tiga malam aku tak dapat berdiri, apakah kau pun akan menunggu sekian lama?”

Hoa Bu-koat tetap tenang saja dan menjawab dengan tersenyum, “Kuyakin Hujin pasti takkan membiarkan kutunggu sebegitu lama.”

Pek-hujin menatapnya lekat-lekat, ucapnya sambil menggeleng, “Sungguh tak kusangka bahwa kau ternyata orang seaneh ini ….” sampai di sini, mendadak ia menjerit tertahan terus menubruk ke pangkuan Hoa Bu-koat.

Keruan Bu-koat kaget, serunya, “Hujin ….”

“Wah celaka!” seru Pek-hujin gemetar. “Sua…suamiku pulang.”

Mau tak mau berubah pucat juga Bu-koat, serunya khawatir, “Di…di mana?”

“Itu…itu ….” suara Pek-hujin tergagap dan badan gemetar.

Maka terdengarlah suara seorang meraung di luar, “Di sini!”

“Blang”, daun jendela sebelah kiri mendadak tergetar pecah berkeping-keping, seorang lelaki kekar tahu-tahu menerobos masuk melalui jendela yang sudah jebol itu. Perawakan lelaki ini tidak terlalu tinggi, tapi pundak lebar dan punggung tebal, gagah perkasa tampaknya, otot dagingnya kencang dan kekar sehingga memberi kesan orang yang memandangnya bahwa perawakannya jauh lebih tinggi besar.

Dia memakai baju loreng pancawarna, muka hitam penuh cambang yang kaku, sorot matanya mencorong tajam.

Sejak tadi Hoa Bu-koat berniat mendorong pergi Pek-hujin, tapi celakanya, nyonya itu justru merangkul lehernya dengan lebih erat, mati pun tidak mau lepas, tampaknya ketakutan setengah mati. Dalam keadaan demikian, mana Bu-koat tega mendorongnya pergi?

Dengan sendirinya lelaki kekar itu mendelik menyaksikan adegan yang memanaskan hati itu. Bentaknya murka, “Sundel, bagus sekali perbuatanmu!”

Ketika orang itu sudah berada di dalam, harimau loreng tadi lantas mendekatinya dengan menggoyang-goyang ekor seperti anjing piaraan.

Akan tetapi dengan sekali jotos lelaki itu telah membuat harimau yang bobotnya beratus kali itu hampir mencelat keluar, paling sedikit terpental dua-tiga meter jauhnya. Berbareng ia berjingkrak dan memaki binatang itu, “Keparat yang tak berguna, kusuruh kau awasi perempuan busuk ini, tapi kau hanya tidur melulu.”

Harimau itu sedikit pun tidak punya kegarangan sebagai raja hutan lagi, setelah menggeliat bangun, dengan munduk-munduk dia mendekam di sana. Melihat keadaannya yang lesu dan takut-takut itu, sungguh tidak lebih menarik daripada seekor anjing.

Terkesima Hoa Bu-koat menyaksikan kejadian itu, ia berkata, “Harap Tuan jangan gusar dulu, dengarkanlah keteranganku ….”

Mendingan kalau dia diam saja, lantaran bicara lelaki itu jadi semakin murka, teriaknya, “Keterangan apa? Keterangan kentut anjing! Baru saja kakiku melangkah keluar, kalian berdua anjing laki perempuan ini lantas main pat-gulipat. Memang sudah lama kutahu sundel ini adalah perempuan hina-dina, cuma tidak kusangka dia bisa penujui muka putih macam kau ini.”

Bu-koat tidak tahan lagi, dengan mendongkol dia menjawab, “Cara bicaramu hendaklah kira-kira sedikit ….”

“Kira-kira sedikit apa? Istriku berada dalam pelukanmu, apakah kau tahu kira-kira segala?” damprat lelaki itu.

Melenggong juga Bu-koat, memang betul Pek-hujin masih didekap olehnya, terpaksa ia tidak dapat umbar rasa amarahnya, ucapnya dengan menyengir, “Ah, ini…ini salah paham belaka ….”

“Salah paham kentut anjing!” bentak lelaki itu. “Dengan mata sendiri kulihat perbuatan kalian, bukti nyata tertangkap basah, kau masih berani mungkir?”

“Menyaksikan sendiri belum tentu terjadi sungguh-sungguh,” ucap Bu-koat dengan menyesal. “Sesungguhnya Cayhe bukanlah…bukanlah manusia sebagaimana kau sangka. Jika Tuan tidak percaya, mengapa tidak tanya langsung kepada istrimu?”

Sebenarnya hati Bu-koat juga sangat gusar, tapi sebelum persoalannya dibikin jelas terpaksa ia harus bersabar dan tak dapat bertindak.

Segera lelaki itu membentak, “Baik! Nah, katakan, sundel, siapa bocah ini? Apa yang telah kalian lakukan tadi?”

Pek-hujin menghela napas panjang, jawabnya perlahan, “Urusan sudah kadung begini, kukira juga tidak perlu membohongimu lagi. Dia…dia ialah gen…gendakku.”

Sekali ini Bu-koat benar-benar melonjak kaget, sekuatnya dia mendorong nyonya itu, teriaknya, “Apa katamu, Hujin?”

Jawab Pek-hujin dengan menunduk, “Urusan kita cepat atau lambat toh harus diberitahukan padanya, ditutup lagi juga tiada gunanya.”

Tidak kepalang terperanjat Hoa Bu-koat, teriaknya, “Hujin, mengapa kau…kau ….”

“Nah, masih berani mungkir lagi?” si lelaki tadi meraung murka. “Anak jadah, apa abamu sekarang?”

Bu-koat jadi pucat, jawabnya, “Tapi aku dan istrimu sesungguhnya belum…belum kenal ….”

“Belum kenal?! Kentut makmu busuk! Belum kenal mana bisa saling peluk segala? …” lelaki itu meraung murka pula. “Ayo, mengakulah terus terang. Semenjak kapan kau bergendakan dengan biniku?”

“Bahkan baru malam ini ….”

Belum lanjut ucapan Bu-koat, dengan suara lantang Pek-hujin lantas menyela, “Mengaku ya mengaku, kita takut apa? ….” lalu ia melotot ke arah suaminya sambil menjengek, “Terus terang kuberitahukan padamu, gendakan kami sudah berlangsung dua tahun lebih, bahkan sudah hampir tiga tahun. Nah, kau mau apa?”

Kembali lelaki itu meraung-raung kalap sambil memukul dada sendiri, teriaknya murka, “O, mati aku!”

Akan tetapi Bu-koat sedikitnya sepuluh kali lebih murka daripada dia, dengan terputus-putus ia berteriak, “Pek-hujin, selamanya kita…kita tiada permusuhan apa-apa, mengapa…mengapa kau bicara begini? ….”

“O, permata hatiku, apa yang kita takuti?” jawab Pek-hujin dengan suara lembut, “Urusan toh sudah kadung begini, akan lebih baik kalau kita membuka kartu dan bicara blak-blakan saja dengan dia.”

Saking dongkol dan gusarnya hingga tangan Bu-koat terasa gemetar, “Kau…kau ….” ia tidak sanggup bicara lagi.

“Bicara terus terang juga tiada gunanya,” teriak lelaki itu dengan bengis. “Bila kalian sepasang anjing buduk ini menghendaki mataku merem dan melek, huh, jangan kalian harapkan.”

Sambil meraung, mendadak ia menerjang maju terus menghantamnya. Pukulan yang dahsyat sehingga sumbu lampu tergoncang dan sinar bergoyang-goyang. Kain baju Hoa Bu-koat sampai berkibar tersampuk oleh angin pukulannya.

Tak terduga oleh Bu-koat bahwa orang yang dogol dan tidak tahu aturan ini juga memiliki tenaga pukulan sedahsyat ini. Sesungguhnya ia tidak ingin berkelahi untuk persoalan yang membuatnya penasaran ini, cepat ia mengegos, dengan mudah pukulan orang dapat dihindarkannya.

Lelaki itu tambah marah, bentaknya, “Keparat, pantas kau berani mengerjai bini orang, kiranya kau memang punya sejurus dua!” Di tengah bentakannya dua-tiga kali pukulannya dilontarkan pula.

Dengan gesit Bu-koat berkelit ke sana kemari, kalau bisa sungguh dia tidak ingin balas menyerang.

Akan tetapi pukulan lelaki ini sudah lihai lagi dahsyat, bahkan gayanya sangat ganas, betapa tinggi Kungfunya ternyata jauh di luar dugaan Bu-koat.

“Ayolah, balas serang dia!” demikian Pek-hujin berteriak-teriak di samping. “Untuk apa mengalah padanya? Jika kau tidak membunuh dia, sebentar kau yang akan dibunuhnya.”

Sesungguhnya Hoa Bu-koat juga sudah kepepet sehingga terpaksa harus balas menyerang. Segera telapak tangan kiri menepuk ke depan, dengan gaya indah tangan kanan lantas memutar setengah lingkaran ke samping.

Inilah ilmu sakti “Ih-hoa-ciap-giok” yang termasyhur. Tak peduli siapa pun juga bila kena ditarik oleh tenaga putaran yang aneh ini, maka serangan yang dilancarkan akan seluruhnya berbalik menghantam pada tubuh sendiri.

Tak terduga, mendadak lelaki itu meraung keras-keras seperti auman harimau, tubuhnya mendoyong mentah-mentah ke belakang, daya pukulannya yang dilontarkan tadi dihentikannya di tengah jalan.

Padahal tenaga pukulannya telah dilontarkan sedemikian dahsyat, tentu pertahanan bagian belakang sudah kosong. Kalau tenaga pukulannya sampai menghantam balik, maka pasti tidak tahan. Namun lelaki ini benar-benar sangat lihai, dia mampu mengelakkan dengan gaya yang sukar dibayangkan.

Sama sekali Bu-koat tidak menyangka orang ini mampu mematahkan ilmu sakti Ih-hoa-ciap-giok yang hebat itu. Kecuali “Yan Lam-thian”, lelaki inilah orang kedua yang mampu melawannya. Tentu saja ia terkejut.

Lelaki itu menatapnya dengan menyeringai, katanya, “Kiranya kau berasal dari Ih-hoa-kiong, pantas kau begini aneh…Tapi melulu sedikit kemampuan ini masa kau dapat melawan aku Pek San-kun. Jika ibu gurumu disuruh menghadapi aku masih boleh juga.”

Pukulannya lantas dilancarkannya pula, tenaganya lebih kuat dan tambah buas seakan-akan ilmu silat Ih-hoa-kiong yang mahasakti itu sama sekali tidak dihiraukan olehnya.

Setelah serangan pertama tak dapat menundukkan lawan, Bu-koat juga tidak berani sembarangan mengeluarkan lagi ilmu sakti Ih-hoa-ciap-giok, sebab ilmu ini tampaknya ringan saja permainannya, tapi sebenarnya sangat makan tenaga.

Akan tetapi kini mau tak mau dia harus balas menyerang. Ilmu silat Pek San-kun yang lihai ini telah merangsang hasrat pertarungannya, mendadak bisa ketemu lawan tangguh, timbul juga keinginannya untuk menentukan kalah menang dengan lawan.

Pek-hujin lantas bersorak di samping, “Betul, jangan takut padanya, demi membela diriku, pantas juga kau labrak dia!”

Seruan ini meski terasa tidak enak di telinga Hoa Bu-koat, tapi ibarat sudah berada di atas punggung macan, ingin turun juga tidak bisa lagi, sungguh dia tidak paham sebenarnya apa maksud tujuan Pek-hujin itu?

Sementara itu serangan Pek San-kun semakin dahsyat. Lwekangnya cukup kuat, gaya serangannya berbahaya, semua ini belum menakutkan, yang paling hebat adalah perbawanya yang galak dan buas itu benar-benar seperti harimau hendak menerkam mangsanya dan membuat orang ngeri.

Akan tetapi Bu-koat juga melayani dengan tidak kurang lihainya, gerakannya gesit, gayanya indah, dia terus berputar kian kemari di seluruh ruangan, betapa pun dahsyat pukulan Pek San-kun tetap tak dapat menyenggolnya.

“Kekasihku, baru sekarang kutahu kau memiliki kepandaian sebagus ini,” seru Pek-hujin dengan tertawa genit. “Punya pacar seperti kau ini, apalagi yang kutakuti? Lekas kau binasakan tua bangka ini dan kita akan menjadi suami-istri abadi dan hidup dengan aman tenteram.”

Makin omong makin menusuk telinga, tapi Hoa Bu-koat tidak dapat menutup kuping, mau tidak mau ia harus mendengarkannya. Meski ia cukup tenang, tidak urung juga rada terganggu konsentrasi pikirannya. Sedangkan pukulan Pek San-kun yang mahadahsyat itu justru tidak mengizinkan dia lengah sedikit pun.

Mendadak Pek-hujin menjerit khawatir, “He, awas, serangan berikutnya dengan cakar harimaunya akan mencengkeram hulu hatimu!”

Benar juga, di tengah raungannya yang keras, tangan Pek San-kun yang mirip cakar harimau itu betul-betul mencengkeram ke dada Hoa Bu-koat.

Serangan ini tidak kelihatan lihai, Bu-koat hanya menyurut mundur selangkah saja dan serangan itu pun terhindar. Diam-diam ia merasa heran, ia tidak tahu mengapa Pek-hujin mesti menjerit mendadak. Ia tahu di balik semua ini pasti tersembunyi suatu permainan.

Namun keadaan tidak memberi kesempatan baginya untuk merenungkan hal itu, baru saja kakinya melangkah mundur, antara belakang dengkul kanan-kiri masing-masing telah terkena satu titik Am-gi atau senjata rahasia. Rasanya seperti digigit nyamuk, tapi orangnya lantas roboh terjungkal.

Senjata gelap itu ternyata sudah memperhitungkan dengan jitu ke mana dia akan mundur dan seakan-akan sudah menantikannya di situ. Suara sambaran senjata rahasia itu sangat lirih, ditambah lagi jeritan ngeri Pek-hujin dan raungan Pek San-kun, tentu saja Hoa Bu-koat tidak tahu.

Bahkan setelah roboh dia masih tidak tahu bahwa yang menyambitkan senjata rahasia itu ialah Pek-hujin sendiri.

Sementara itu Pek-hujin telah menubruk maju dan merangkul leher Pek San-kun sambil berseru dengan terengah-engah, “Tadinya kusangka telah jatuh cinta pada orang lain, tapi setelah kalian berkelahi baru kuyakin yang benar-benar kucintai tetaplah engkau. Aku dapat membunuh seluruh lelaki di dunia ini, tapi tidak dapat menyaksikan orang lain mengusik sebuah jarimu.”

Bu-koat menghela napas, ia memejamkan mata dan diam-diam mengeluh, “O, perempuan ….”

Baru sekarang ia mengerti sebab apa Siau-hi-ji merasa sakit kepala terhadap perempuan.

Didengarnya suara “plok” yang keras, suara muka digampar, terdengar Pek-hujin menjerit perlahan. Jelas dia kena ditempeleng dengan keras oleh Pek San-kun.

Menyusul terdengar Pek San-kun mengumpat dengan gusar, “Kau perempuan hina-dina, perempuan busuk! Memangnya baru sekarang kau sadar yang kau cintai adalah diriku?!” Setiap bicara satu kalimat, berbareng ditampar lagi satu kali dan Pek-hujin pun lantas menjerit ngeri.

Diam-diam Bu-koat mengeleng kepala. Ia merasa makian Pek San-kun itu memang tidak salah, betapa pun “Pek-hujin” itu memang perempuan murahan. Meski dia tidak setuju lelaki memukul perempuan, tapi ia pun merasa nyonya ini memang perlu dihajar secara setimpal, cuma ia sendiri tidak sudi memandangnya lagi.

Padahal kalau sekarang dia mau membuka mata dan memandang ke sana, maka pasti dia akan terheran-heran.

Suara napas Pek-hujin seperti sangat menderita, tubuhnya meringkuk menjadi satu, namun air mukanya tiada sedikit pun mengunjuk rasa sakit, malahan sorot matanya memancarkan cahaya aneh, cahaya kepuasan. Setiap digampar oleh tangan Pek San-kun, sama sekali dia tidak menghindar, bahkan seakan-akan sengaja memapak pukulan itu.

Semakin ganas cara menghajar Pek San-kun, semakin terang pula sinar mata Pek-hujin. Tubuhnya yang meringkuk itu mulai menggeliat-liat.

Sambil memukul Pek San-kun masih terus mencaci-maki, “Kau perempuan sundel, perempuan pecomberan, selanjutnya kau berani lagi mengkhianati aku atau tidak?!”

“Tidak, tidak berani lagi!” teriak Pek-hujin dengan gemetar. “Sungguh tidak berani lagi. Selain engkau, aku tidak menghendaki lelaki lain pula.”

“Apakah kau sudah puas dihajar?” damprat Pek San kun.

“O, kekasih, tega…tega amat engkau! Biarlah kau pukul mati aku saja!” demikian keluh Pek-hujin. Mendadak ia menubruk maju, kaki Pek San-kun dipeluknya erat-erat.

Tapi sekali Pek San-kun mendepak, kontan tubuh Pek-hujin mencelat ke sana dan menubruk dinding, setelah terguling pula, akhirnya terkapar tak bergerak lagi. Hanya mulutnya saja masih mengeluarkan rintihan lirih.

Diam-diam Hoa Bu-koat menghela napas gegetun. Didengarnya Pek San-kun tertawa keras pula, makin lama makin dekat dan akhirnya berada di sebelahnya. Tapi mata Bu-koat terpejam lebih rapat, ia tidak ingin bicara, tidak ingin mendengar dan juga tidak ingin melihat.

Dengan tertawa latah Pek San-kun berkata, “Nah, sekarang tentunya kau tahu betapa lihainya biniku, barang siapa menyentuh dia pasti celaka, usiamu masih muda belia dan tidak mirip orang tolol, mengapa kau sampai berbuat tidak senonoh begini?”

Bu-koat hanya menggereget dan tidak memberi bantahan apa pun. Dalam keadaan demikian, ia tahu biarpun membantah dan berdebat cara bagaimana pun juga tiada gunanya.

Pek San-kun lantas menjambret bajunya terus diseret pergi.

Maka bicaralah Bu-koat, “Pek San-kun, jika kau seorang lelaki sejati, bila sekali bacok kau bunuh diriku, tentu aku malah berterima kasih padamu, tapi kalau kau bermaksud menghina aku, cara demikian bukanlah perbuatan seorang ksatria tulen.”

“Hah, kau ingin mati?” tanya Pek San-kun dengan tertawa.

“Urusan sudah begini, paling-paling juga cuma mati saja,” jawab Bu-koat.

“Lalu bagaimana bila aku tidak mematikan kau?” kata Pek San-kun.

Bu-koat menghela napas, ia memejamkan mata dan tidak mau berucap pula.

Ia merasa tubuhnya ditaruh di atas sebuah dipan oleh Pek San-kun, lalu dibalik sehingga bertiarap, menyusul celananya lantas dipelorotkan.

Keruan Bu-koat kaget dan berteriak, “He, apa…apa kehendakmu?” Sebisanya ia berusaha mendongak dan membuka matanya.

Tertampak Pek San-kun berdiri di samping dipan sambil cengar-cengir, air mukanya tidak menampilkan maksud jahat, tangannya memegang sepotong besi tapal kuda, katanya, “Racun senjata rahasia biniku ini sangat keji, sampai-sampai Yan Lam-thian dulu juga pusing kepala menghadapinya. Sekarang kedua kakimu masing-masing terkena sebuah senjata rahasianya, jika tidak kusedot keluar dengan besi sembrani ini, maka selama hidupmu ini jangan harap akan dapat berjalan pula.”

Kejut dan sangsi Bu-koat, tanyanya, “Meng…mengapa kau menolong aku?”

Pek San-kun mendelik, ia balas bertanya, “Mengapa aku tidak boleh menolongmu?”

“Tapi…tapi ….” Bu-koat tergegap.

“Hahaha! Memangnya kau kira aku mau percaya kepada ocehan biniku?” tiba-tiba Pek San-kun bergelak tertawa pula.

Dalam pada itu dua buah jarum kecil selembut bulu kerbau telah disedotnya keluar dengan besi sembraninya dari belakang dengkul Hoa Bu-koat, meski lembut sekali jarum itu, namun ketika menancap di siku dengkul Bu-koat telah membuat tenaganya hilang sama sekali, bahkan satu jari pun tak dapat bergerak. Kini setelah jarum itu dikeluarkan, secara ajaib tenaga Bu-koat lantas pulih seketika, segera ia melompat bangun.

“Jika kau tidak percaya ucapan istrimu, mengapa…mengapa kau tadi marah-marah dan memukuli dia?” tanya Bu-koat dengan terbelalak.

Pek San-kun angkat pundak, jawabnya dengan tertawa, “Aku sengaja berbuat begitu baginya.”

“Kau sengaja?” seru Bu-koat terheran-heran.

“Ya, masa kau heran?”

Bu-koat menghela napas, ucapnya, “Terus terang, selama hidupku belum pernah kulihat kejadian yang lebih aneh daripada kejadian tadi.”

Bahwa Pek-hujin dirantai oleh suaminya sendiri seperti hewan sehingga perlu minta pertolongannya, hal ini sudah luar biasa. Setelah Pek-hujin dibebaskan dari belenggu, nyonya ini malahan memfitnah dan menyerangnya dengan jarum berbisa, ini pun sama sekali tak terduga. Dan sekarang Pek San-kun berbalik menolongnya dengan mengeluarkan jarum beracun itu serta memberitahukan apa yang terjadi sesungguhnya. Semua ini membuatnya tidak habis mengerti dan bingung.

Pek San-kun lantas tepuk-tepuk pundaknya dan berkata, “Anak muda, aku pun tahu kau telah dibuat bingung, duduk dan biarlah kuceritakan lebih jelas.”

“Ya, Cayhe memang ingin mohon penjelasan,” Bu-koat tersenyum pahit.

Pek San-kun lantas menghela napas gegetun dan juga tersenyum getir, tuturnya, “Kau tahu, di dunia ini ada setengah orang yang berwatak aneh, bilamana orang menghormat dan mencintai dia, maka dia akan menderita malah. Sebaliknya kalau dia diperlakukan secara kasar, secara sadis, dia justru malah merasa senang dan nikmat.”

Tentu saja Bu-koat heran juga geli, katanya, “Masa di dunia ini ada orang macam begini?”

“Sudah tentu ada,” Pek San-kun menyengir. “Istriku itulah salah satu di antaranya.”

“Oo!” baru sekarang Bu-koat paham.

“Sungguh sukar dipercaya bila kuceritakan,” tutur Pek San-kun pula, “Hidup istriku ini tiada mempunyai kesukaan lain, hobinya cuma minta dipukuli. Bila kupukul dia, makin keras makin senang dia. Bahkan esoknya semangatnya akan berkobar-kobar dan wajah berseri-seri. Sebaliknya kalau beberapa hari tidak dipukul, maka dia akan, lesu, malas, makan minum rasanya tidak enak, bahkan bicara pun sungkan.”

Bu-koat melongo kesima mendengarkan cerita yang aneh ini. “Masa…masa dia bisa begitu?” tanyanya kemudian.

“Konon sejak kecil dia sudah begitu. Sejak kecil dia suka orang lain memperlakukan dia dengan sadis, bahkan ia sendiri pun berbuat kasar atas dirinya sendiri. Sampai usia sudah lanjut sifatnya ini tidak berubah, bahkan bertambah menjadi-jadi, sampai-sampai tempat tinggal bisa juga tidak betah dan sengaja mengatur tempat tinggalnya serupa kandang kuda, malahan minta aku membelenggu dia dengan rantai.”

“O, kiranya ia sendiri yang minta diperlakukan begitu, tadinya Cayhe mengira ….”

“Memangnya kau kira aku ini orang yang tak berperikemanusiaan?”

“Soalnya Cayhe tidak pernah membayangkan di dunia ini ada orang yang sukarela diperlakukan sebagai hewan,” ujar Bu-koat dengan gegetun.

“Nah, meski kutahu penyakitnya itu, terkadang aku toh tidak tega turun tangan menyiksanya, maka dia lantas sengaja membuat marah padaku, tujuannya agar aku memukul dia.”

“Apa yang terjadi tadi tentunya juga lantaran kebiasaannya itulah,” ujar Bu-koat dengan gegetun.

“Dalam hal ini masih ada suatu sebab lainnya,” kata Pek San-kun.

“O? Ada sebab lain?” Bu-koat heran.

“Lantaran usianya makin menanjak, dia selalu khawatir aku akan semakin bosan padanya dan menyukai perempuan lain, maka sering kali dia sengaja membuat aku cemburu ….”

“Padahal perbuatan Pek-hujin ini hanya berlebihan belaka,” tiba-tiba Bu-koat menyela dengan tertawa, “Cintamu kepada istri, dari awal hingga akhir, tentunya tidak pernah berubah, betul tidak?”

“Dia sendiri tidak tahu, dari mana kau malah tahu?” tanya Pek San-kun.

“Sebab kalau engkau tidak mencintai dia hingga merasuk tulang sumsum, tentu takkan timbul kejadian seperti tadi.”

“Hahahaha!” Pek San-kun menengadah dan bergelak tertawa. “Memang betul, demi kepuasannya ternyata sahabat yang harus kena getahnya. Kejadian ini betapa pun adalah kesalahan kami suami istri, hukuman apa yang kiranya setimpal boleh silakan sahabat menyebutkannya.”

Bu-koat membetulkan pakaiannya, ucapnya dengan tersenyum, “Bicara terus terang, terhadap kejadian tadi Cayhe memang rada mendongkol, tapi setelah mendengar penjelasanmu barusan, betapa pun aku menaruh simpatik atas keadaanmu dan sangat kuhormati pula kesetiaanmu dalam hubungan antara suami dan istri. Apalagi sekarang aku sudah menjadi tawanan kalian, yang harus pasrah nasib adalah diriku ini.”

“Ah, ucapan sahabat teramat gawat,” ujar Pek San-kun dengan tertawa.

Bu-koat memberi hormat, lalu berkata pula, “Apa pun juga, kejadian tadi pasti takkan kuungkap lagi, kuharap semoga kalian suami istri hidup bahagia hingga tua ….” mendadak dia tidak melanjutkan ucapannya, sebab baru dua-tiga tindak dia melangkah, tiba-tiba dirasakan langkah kakinya ada sesuatu pula yang tidak beres. Walaupun kaki dapat bergerak, namun tenaga terasa sukar dikerahkan, hanya sebatas pinggang, lalu macet.

Tapi Pek San-kun masih memandangnya dengan tertawa, ia membalas hormat dan menjawab, “Apakah sahabat hendak berangkat sekarang?”

Bu-koat menarik napas panjang-panjang, jawabnya kemudian, “Barangkali engkau ada pesan lain pula?”

“Apa pun juga aku merasa tidak enak terhadapmu, mana berani kubikin repot padamu lagi?” jawab Pek San-kun.

“Jika begitu, mengapa diam-diam kau mengerjakan sesuatu di bagian pinggangku?” tanya Bu-koat.

Pek San-kun seperti terkejut dan berseru, “He, apa betul? Ah, mungkin tadi waktu kusedot jarum itu, karena kurang hati-hati sehingga jarum itu kembali menancap di sesuatu Hiat-tomu lagi.”

“Ya, rasanya seperti di bagian Jiau-yau-hiat,” kata Bu-koat dengan tenang.

Pek San-kun tampak merasa khawatir, ucapnya sambil menggosok-gosok tangan, “Wah, repot jika berada di dekat Jiau-yau-hiat, sungguh aku menjadi takut untuk mencabut pula jarum itu, bila kurang hati-hati, bisa jadi jarum itu tambah menyusup lebih dalam ke tubuhmu, maka malaikat dewata sekalipun tidak sanggup menolongmu, terpaksa engkau harus tersiksa tertawa latah selama tiga hari dan akhirnya akan binasa.”

Bu-koat terdiam sejenak, katanya kemudian, “Jika demikian, terpaksa kumohon diri untuk mencari jalan lain saja.”

“Tapi kalau kau terus bergerak, jarum lembut itu pun akan bergerak mengikuti jalan darahmu dan langsung masuk Jiau-yau-hiatmu, biarpun kau akan bertindak dengan hati-hati juga takkan melangkah lebih jauh daripada lima puluh tindak.”

Bu-koat berhenti dan balik tubuh perlahan, dengan tenang ia tatap orang, sampai lama sekali barulah ia menghela napas panjang, ucapnya dengan tersenyum getir sambil menggeleng kepala, “Tindak tanduk kalian suami istri sungguh sukar dimengerti. Bahwa istrimu tidak suka jadi kuda, sedangkan engkau ….”

“Bilamana sahabat merasakan ada sesuatu yang sukar dimengerti atas diriku, silakan bicara terus terang, pasti akan kujelaskan,” ucap Pek San-kun dengan tertawa.

“Tadinya kukira engkau pasti turun tangan membunuh diriku, tak tahunya engkau malah menolongku, bahkan tanpa tedeng aling-aling engkau membeberkan rahasia pribadi istrimu padaku. Kini, setelah kupandang engkau sebagai sahabat, engkau malah turun tangan keji mengerjai diriku. Kejadian demikian, bila tidak kualami sendiri, sungguh sukar untuk dipercaya.”

Akhirnya Pek San-kun tertawa terpingkal-pingkal, katanya kemudian dengan napas memburu, “Karena sahabat ingin tahu, terpaksa harus kukatakan terus terang. Apa yang kulakukan ini hanya ada suatu sebab.”

“Mohon memberi penjelasan,” pinta Bu-koat.

“Bilamana sahabat adalah orang lain, bukan saja engkau takkan kubikin susah, bahkan pasti akan kuantar pergi dengan hormat. Tapi setelah diketahui sahabat adalah anak murid Ih-hoa-kiong, maka persoalannya menjadi lain.”

“Mengapa menjadi lain?” tanya Bu-koat.

Pek San-kun menatapnya lekat-lekat sejenak, kemudian baru berkata pula, “Apakah betul sampai saat ini kau belum mengetahui siapa diriku ini?”

“Memang pengalamanku terlalu dangkal,” jawab Bu-koat.

“O, maklum juga, anak murid Ih-hoa-kiong dengan sendirinya takkan memperhatikan gerak-gerik orang Kangouw,” ujar Pek San-kun dengan tertawa. “Tapi nama ‘Cap ji-she-shio’ masakah tak pernah kau dengar?”

“Aha, memang betul,” seru Bu-koat, baru sekarang ia menyadari duduk perkaranya, “Hou (harimau) alias San-kun, pantas engkau menamakan dirinya sendiri harimau serta memelihara harimau sebagai penjaga. Be (kuda) adalah istri harimau, pantas pula istrimu tidak mau menjadi manusia dan lebih suka menjadi kuda.”

“Hah, meski pengalamanmu tidak luas, tapi pengetahuanmu cukup banyak juga,” ujar Pek San-kun dengan tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung pula dengan menarik muka, “Sekarang setelah kau tahu siapa diriku, tentunya kau tahu pula aku ini salah seorang dari Cap-ji-she-shio dan merupakan musuh bebuyutan Ih-hoa-kiong. Kini kau jatuh dalam cengkeramanku, masa kau tidak takut?”

Namun Bu-koat tetap tenang saja, jawabnya acuh, “Bilamana engkau mau membunuh diriku, tentu engkau tadi takkan menolong aku, jika tadi engkau menolong aku, kuyakin engkau pasti mengharapkan sesuatu dariku. Kalau engkau mengharapkan sesuatu dariku, lalu apa yang perlu kutakuti pula?”

Kembali Pek San-kun bergelak tertawa, katanya, “Sungguh tak tersangka mendadak kau menjadi begini pintar.” Habis tertawa, mendadak ia menarik muka dan berkata pula, “Memang betul juga, aku memang mengharapkan sesuatu darimu, yakni asalkan kau menerangkan rahasia ilmu Ih-hoa-ciap-giok, maka segera akan kubebaskanmu, bahkan apa yang kau pinta pasti akan kupenuhi.”

Mendadak Hoa Bu-koat juga bergelak tertawa, ucapnya, “Apabila engkau mengira rahasia Ih-hoa-ciap-giok dapat diperoleh dengan semudah ini, maka jelas engkau pasti akan kecewa.”

Pek San-kun jadi kurang senang, katanya, “Memangnya kau berani menolak?”

“Untuk membuat orang membuka mulut memang banyak caranya di dunia ini,” ujar Bu-koat dengan tenang-tenang saja. “Ada yang mengancamnya dengan kematian, ada yang memaksa pengakuannya dengan penyiksaan, ada pula memancingnya dengan harta atau perempuan. Nah, boleh engkau mencobanya saja, lihat nanti apakah Cayhe akan buka mulut atau tidak.”

Pek San-kun terdiam sejenak. Tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Kutahu cara-cara ini tak dapat membuka mulutmu, apabila mengenai rahasia lain, bisa jadi dapat kubikin kau mengaku, tapi Ih-hoa-ciap-giok adalah ilmu perguruanmu yang khas, umpama kau membeberkannya dan kulepaskan kau, mungkin juga kau sendiri takkan hidup lama lagi, betul tidak?”

Ucapan yang sama sekali berbeda daripada maksudnya semula ini membuat Hoa Bu-koat menjadi heran. “Jika demikian, lalu bagaimana kehendakmu?” tanyanya.

“Karena aku tak berdaya, maka aku pun tidak ingin membuang tenaga percuma,” ujar Pek San-kun dengan tertawa. “Tampaknya terpaksa aku harus pergi saja dan habis perkara. Jika kau ingin tetap tinggal di sini, ya silakan tinggal saja. Bila ingin pergi, boleh juga, takkan kularang. Bila kau memerlukan aku, cukup kau berteriak saja dan segera aku akan datang.”

Habis berkata, dia benar-benar melangkah pergi begitu saja.

Tentu hal ini di luar dugaan Bu-koat, seketika ia menjadi bingung malah.

Dilihatnya ketika sampai di ambang pintu, tiba-tiba Pek San-kun menoleh dan berkata pula dengan tertawa, “Tapi kau pun jangan lupa, jangan sekali-kali kau melangkah lebih dari 50 tindak, kalau tidak, mati dengan tertawa kukira tidak enak rasanya, bahkan jauh lebih tersiksa daripada mati dengan cara lain.”

Rumah yang tidak besar dan juga tidak kecil ini hanya ada sebuah pintu. Bu-koat menyaksikan Pek San-kun keluar melalui pintu satu-satunya ini. Mestinya dia dapat ikut keluar, tapi dia hanya melenggong di situ saja tanpa bergerak.

Ia tahu apa yang diucapkan Pek San-kun bukan gertakan belaka, meski dia dapat keluar, tapi ia pun tidak berani bertaruh dengan jiwanya sendiri, yakni bertaruh apakah dirinya mampu melangkah lebih jauh daripada 50 tindak.

Bukannya takut mati, dia cuma merasa hidupnya jauh lebih berguna daripada mati konyol, kalau keadaan belum perlu mengorbankan kematiannya, untuk apa dia harus bertaruh dengan jiwanya sendiri.

Dalam keadaan begini, kalau bisa berusaha hidup terus barulah orang yang benar-benar punya keberanian, sebaliknya jika ingin mati dan habis perkara, maka orang demikian adalah bodoh, pengecut.

Maklum, hidup terkadang memang jauh lebih sulit daripada mati, orang hidup harus berjuang, harus mempunyai tekad dan kepercayaan pada diri sendiri, untuk itu diperlukan keberanian penuh.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara auman harimau yang keras dan berjangkitnya angin berbau amis, sinar lampu bergoyang-goyang seakan padam. Saat lain tertampaklah harimau loreng itu telah muncul di ruangan situ. Harimau itu kini sudah kembali pada kegarangannya semula. Langkahnya kelihatan lambat-lambat, tapi membawa perbawa sebagai raja hutan yang menakutkan.

Dengan ilmu silat Hoa Bu-koat tentunya harimau bukan soal baginya, andaikan tidak dapat sekali hantam membinasakan raja hutan itu, tapi biarpun sepuluh ekor harimau muncul sekaligus juga belum tentu dapat menyenggol ujung bajunya.

Namun sekarang dia tidak mampu mengerahkan tenaga dalam, ia dalam keadaan lemas lunglai, tenaga untuk menyembelih ayam saja tidak ada apalagi tenaga untuk membunuh macan.

Kini harimau sudah muncul dan makin mendekat, terpaksa setindak demi setindak ia melangkah mundur. Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya belasan tindak saja sudah mundur sampai di pojok.

Harimau sudah berada di depannya, ekor harimau menegak seperti tiang bendera, menyusul raja hutan ini pasti akan menerkam, jika sudah demikian mana Hoa Bu-koat mampu melawannya?

Keringat dingin telah berketes-ketes di jidat Bu-koat. Dalam keadaan demikian, tampaknya kalau dia tak berteriak minta tolong kepada Pek San-kun, jelas badannya akan segera terkoyak-koyak di bawah cakar harimau.

Meski dia tidak rela mati dan menilai tinggi jiwanya, tapi orang seperti dia masa sudi berteriak memohon pertolongan orang?

Terdengar harimau meraung pula. Pot bunga di meja sana tergetar jatuh dan “trang”, pecah berantakan ….

*****

Di tempat lain Kang Giok-long sedang melangkah ke luar sambil tertawa latah. Kaki dan tangan Thi Sim-lan serasa beku demi mendengar suara tertawanya yang gembira itu.

Sim-lan tahu, meski keji amat hati Kang Giok-long, tapi nyalinya kecil, bilamana dia tidak yakin benar akan dapat mengatasi Hoa Bu-koat, saat ini dia takkan segembira itu.

Sedangkan Hoa Bu-koat, di manakah dia?

Hampir saja Thi Sim-lan menjerit, hati seperti hancur berkeping-keping. Dia tidak khawatir bagi dirinya sendiri, tapi Hoa Bu-koat…Ya, Hoa Bu-koat…Maka bercucuranlah air matanya.

Mendadak terdengar Oh-ti-tu menjengek, “Hm, perempuan, dasar perempuan. Hm, paling-paling mati saja, kenapa mesti menangis seduka itu.”

“Kau…kau kira aku berduka bagi diriku sendiri?” jawab Thi Sim-lan sambil menggigit bibir.

“Bukan untuk dirimu, memangnya untuk siapa?”

“Kau tidak tahu…kau tak mungkin tahu,” Sim-lan menggeleng sambil menangis.

Mendadak Oh-ti-tu melotot, tanyanya, “Memangnya tangismu ini demi bocah she Hoa itu?”

Thi Sim-lan menunduk, sahutnya perlahan, “Ehm.”

“Jika Siau-hi-ji yang mati, apakah kau pun seduka ini?” teriak Oh-ti-tu.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan mengangkat kepalanya dan menatap si hitam ini sekian lamanya, tiba-tiba ia tersenyum pedih, katnya, “Jika dia mati, kau kira aku dapat hidup terus?”

“Jika begitu, mengapa kau berduka pula bagi orang lain?” teriak Oh-ti-tu dengan gusar. “Seorang perempuan hanya boleh berduka bagi seorang lelaki. Tentang lelaki lain akan mati atau hidup tidak seharusnya dipikirkan lagi.”

Sim-lan menghela napas panjang, jawabnya dengan sedih, “Isi hatiku tidak mungkin dipahami olehmu, selamanya, ya, selamanya takkan kau pahami, siapa pun takkan paham.”

Dengan melotot Oh-ti-tu memandangi si nona sekian lama, tiba-tiba ia pun menghela napas dan berkata, “Ya, betul juga, mungkin hati perempuan memang lebih lemah daripada lelaki, apabila aku ….”

Tiba-tiba Thi Sim-lan menyela, “Jangankan Hoa Bu-koat, sekalipun kau yang mati juga aku akan berduka.”

“Sebab apa?” tanya Oh-ti-tu.

“Sudah tentu lantaran kau adalah sahabat Siau-hi-ji.”

Tiba-tiba Oh-ti-tu mendelik dan berseru, “Apakah betul kedatanganmu ini adalah untuk menolong diriku?”

“Sudah tentu betul,” jawab Sim-lan.

Oh-ti-tu terbelalak pula sekian lama, katanya kemudian sekata demi sekata, “Apabila tanganku ini dapat bergerak, sungguh ingin kubeset kau secuil demi secuil.”

Thi Sim-lan juga terbelalak heran, tanyanya, “Sebab apa? Kudatang menolongmu, masa kau malah dendam padaku?”

“Orang she Oh ini selama hidupnya tidak pernah menerima budi orang setitik pun,” ucap Oh-ti-tu dengan gemas. “Kini aku hampir mati, bilamana kuterima budi kebaikanmu ini, menjadi setan pun rasanya tidak tenteram.”

Thi Sim-lan melengak, ucapnya kemudian, “Ya, aku sangat memahami perasaanmu, engkau adalah seorang lelaki sejati.”

“Hmk!” Oh-ti-tu hanya mendengus saja.

Thi Sim-lan berpaling memandang Buyung Kiu. Nona itu tampak berdiri mematung di sana, satu jari saja tidak bergerak seakan-akan memang tak dapat bergerak lagi selamanya.

“Tapi kau pun jangan lupa, kedatanganmu ini bukankah juga hendak menolong orang?” kata Thi Sim-lan dengan tersenyum pedih.

“Betul, kedatanganku memang untuk menolong dia!” teriak Oh-ti-tu. “Tapi aku memang sukarela mati baginya. Selain dia, perempuan lain biarpun mati di depanku juga belum tentu sudi kujulurkan sebelah tanganku.”

Ucapan ini benar-benar membuat Thi Sim-lan melenggong. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa manusia aneh yang berwatak angkuh dan dingin ini pun mempunyai perasaan tulus ikhlas, lebih-lebih tak tersangka bahwa dia bisa jatuh cinta kepada seorang nona yang linglung.

Oh-ti-tu berteriak pula dengan gusar, “Hm, kau merasa heran bukan? Kau kira dia tiada harganya untuk dicintai lelaki bukan?…Ketahuilah bahwa meski dia telah berubah begini, dia tetap berpuluh kali lebih berharga dan lebih menyenangkan daripada perempuan mana pun juga.”

Thi Sim-lan menatapnya tajam-tajam dan berkata dengan rawan, “Tapi betapa pun juga cintamu padanya, dia kan tidak tahu.”

Oh-ti-tu hanya mendengus saja.

Maka Thi Sim-lan menyambung pula, “Sudah tahu begitu, kau tetap sangat baik padanya dan tetap mencintai dia?”

Dengan melotot gusar Oh-ti-tu menjawab tegas, “Ketahuilah bahwa perasaanku terhadap dia tidak perlu diketahui olehnya, juga dia tidak perlu membalas dengan sikap yang sama. Aku hanya cinta kepadanya, cinta padanya tanpa syarat.”

“Sekalipun kelak dia tidak suka padamu, bahkan pada hakikatnya tidak gubris dirimu, apakah kau tetap mencintai dia?” tanya Sim-lan.

“Betul,” teriak Oh-ti-tu. “Kucinta dia bukan karena dia harus menjadi istriku, asalkan dia dapat hidup dengan baik, andaikan aku mati juga tidak menjadi soal.”

Thi Sim-lan terdiam sejenak, kembali ia mencucurkan air mata, ucapnya dengan terharu, “Selama hidup seorang perempuan apabila bisa mendapatkan limpahan perasaan setulus ini, andaikan mati pun bukan soal apa-apa lagi, dalam hal ini bolehlah dia merasa bahagia ….” waktu dia menoleh, tiba-tiba dilihatnya Buyung Kiu juga sedang mencucurkan air mata.

Kejut dan girang Thi Sim-lan, serunya, “He, engkau sudah dapat mengikuti percakapan kami? Kau dapat memahami maksudnya?”

Meski air mata masih terus menetes, namun sorot mata Buyung Kiu tetap buram. Air muka Oh-ti-tu mestinya sudah bercahaya saking senangnya, kini cahaya itu kembali pudar.

Dengan suara halus Thi Sim-lan menghiburnya, “Engkau jangan sedih, meski pikirannya belum lagi jernih, tapi cintamu yang suci murni telah dapat dirasakannya. Asalkan cintamu tidak pernah berubah pada suatu hari kelak pasti akan diterima sepenuhnya olehnya.”

“Suatu hari kelak?…Hahaha!” tiba-tiba seorang menukas dengan terkekeh-kekeh. “Mungkin hari yang begitu takkan tiba untuk selamanya.”

Ternyata Kang Giok-long telah muncul pula. Tapi dia cuma sendirian, Thi Peng-koh tidak nampak ikut di belakangnya.

“Kau? Untuk apalagi kau datang kemari?” tanya Sim-lan khawatir.

“Dengan sendirinya karena ingin menjengukmu,” jawab Giok-long cengar-cengir sambil mendekati, si nona, dicolek pipinya, lalu menyambung pula, “Kata orang, sehari tak bertemu laksana berpisah tiga tahun. Bagiku hanya sebentar tidak melihatmu, rinduku sudah seperti beberapa tahun.”

Tentu saja Thi Sim-lan ketakutan, teriaknya, “Kau…kau jangan lupa pada nona…nona berbaju putih itu ….”

“Sudah tentu aku tidak melupakan dia,” jawab Giok-long dengan bergelak tertawa. “Makanya sudah kuberi minum obat penenang, sekarang dia sedang tidur dengan nyenyaknya, sekalipun kau berteriak-teriak di sampingnya hingga tenggorokanmu pecah juga takkan terdengar olehnya.”

Seketika tubuh Thi Sim-lan menjadi gemetar, serunya, “Jika kau berani menyentuh satu jariku, pasti akan…akan kukatakan padanya.”

“Tidak, kau takkan memberitahukan dia, kujamin setelah dia mendusin kau pasti tak dapat bicara lagi,” kata Giok-long dengan terkekeh-kekeh. Tangannya mulai main lagi, dari pundak terus menggerayangi dada si nona.

Darah Thi Sim-lan serasa membeku, dengan suara gemetar ia memohon, “O, jang…jangan…kumohon jangan…jangan berbuat begini…kumohon engkau membunuh saja diriku.”

“Membunuh kau?” Giok-long terkekeh-kekeh. “Untuk apa kubunuh kau sekarang? Kekasih Kang Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat memang lain daripada yang lain, jika tidak kunikmati sepuas-puasnya kan berarti aku tidak menghormati mereka?”

Sambil terbahak-bahak ia terus mengangkat Thi Sim-lan, dengan menyeringai ia berkata pula, “Bicara terus terang, dengan segala daya upaya aku ingin mendapatkan kau, maksudku sesungguhnya tidak penujui dirimu, aku hanya ingin membuat Hoa Bu-koat dan Kang Siau-hi ….”

Namun Thi Sim-lan tidak dapat mendengar ucapannya lagi, ia telah pingsan.

Gigi Oh-ti-tu sampai berkeriutan saking geregetannya tapi apa daya, terpaksa begitu saja ia saksikan Thi Sim-lan dibawa keluar oleh Kang Giok-long untuk dinodai ….

Kini di seluruh dunia, siapa yang dapat menolongnya?

*****

Di ruang sana Hoa Bu-koat sedang didekati harimau loreng, raja hutan itu tampaknya akan segera menerkamnya.

Pada saat itulah tiba-tiba Bu-koat melihat sebuah lukisan yang bergantung di dinding itu menempel rapat di dinding, bingkai lukisan bagian bawah juga terbenam erat di dalam dinding. Tanpa pikir lagi Bu-koat menarik bingkai lukisan itu, pikirnya hendak digunakan sebagai senjata.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong seluruh lukisan itu terus bergeser ke belakang sehingga terlihat ada sebuah pintu, seketika Bu-koat menyelinap ke sana. Harimau itu meraung dan menubruk maju, namun Bu-koat sempat merapatkan lebih dulu pintu rahasia itu.

Bu-koat menghela napas panjang, lama sekali barulah dia bisa tenang kembali. Dilihatnya di bawah sana ada undak-undakan batu dengan sebuah jalan lorong, belasan tindak lagi ada pula sebuah pintu, di balik pintu sana ada cahaya lampu.

Meski dia ingin tahu keadaan di balik pintu sana, tapi sesungguhnya ia pun tidak berani sembarangan berjalan lagi. Maklum, setiap dia melangkah satu tindak, bukan mustahil langkah selanjutnya adalah langkah kematian baginya.

Akan tetapi pada saat itu juga dari balik pintu sana ada suara jeritan orang ketakutan, “O, jangan…kumohon jangan…jangan begini…kumohon engkau membunuh saja diriku.”

Jelas itulah suara Thi Sim-lan, seketika darah Bu-koat tersirap, tanpa pikirkan risiko apa pun segera ia menerjang ke sana.

Saat itu dengan tertawa senang Kang Giok-long hendak membawa keluar Thi Sim-lan, tapi tiba-tiba dilihatnya seorang berdiri di ambang pintu merintangi jalan keluarnya.

Di bawah cahaya lampu terlihat air muka pengadang ini pucat pasi dengan penuh rasa gusar, namun begitu tidak mengurangi wajahnya yang cakap. Ternyata Hoa Bu-koat adanya. Hoa Bu-koat benar-benar telah muncul di situ. Sedangkan Pek San-kun dan Pek-hujin tidak tertampak bayangannya.

Keruan kaget Kang Giok-long tak terlukiskan, ia seperti kena dicambuk satu kali, cepat ia melangkah mundur dengan tergopoh-gopoh.

Dengan melotot Bu-koat memandangi Kang Giok-long. Saat ini apabila dia dapat mengerahkan tenaga, pasti dia takkan mengampuni manusia kotor dan rendah itu.

Untung saja Kang Giok-long tidak tahu keadaan Hoa Bu-koat, umpama dia mempunyai nyali dobel juga tidak berani sembarangan melabrak Hoa Bu-koat.

Diam-diam Hoa Bu-koat menghela napas panjang, katanya kemudian dengan tenang, “Tidak lekas kau lepaskan dia?!”

Dengan meringis takut Kang Giok-long mengiakan, berbareng ia menaruh Thi Sim-lan di atas kursi dengan sangat hati-hati.

“Aku tidak sudi membunuhmu, lekas…lekas enyah saja kau!” kata Bu-koat.

Keruan Kang Giok-long seperti orang hukuman yang mendapat pengampunan umum, tanpa pikir lagi ia terus lari pergi sambil berucap, “Siaute men…menurut!”

Oh-ti-tu menggerung murka, teriaknya, “Orang she Hoa, apa artinya tindakanmu ini? Manusia rendah begitu kenapa tidak kau bunuh?”

“Membunuhnya cuma membikin kotor tangan, biarlah lepaskan dia saja,” ujar Bu-koat dengan tersenyum getir. Ia khawatir jangan-jangan Kang Giok-long mengintip di sana, dengan sendirinya ia tidak mau menjelaskan sebab musababnya.

Dengan gusar Oh-ti-tu berteriak pula, “Kau khawatir membikin kotor tanganmu yang berharga itu, tapi aku tidak takut tanganku menjadi kotor, lekas kau buka Hiat-toku, akan kubekuk bocah keparat itu.”

Bu-koat melenggong, mana dia ada tenaga sedikit pun untuk membuka hiat-to orang? Terpaksa ia berlagak tidak mendengar saja.

Kembali Oh-ti-tu berteriak pula dengan gusar, “Memangnya tanganmu juga akan kotor bila menyentuh tubuhku? Kau tidak sudi membuka Hiat-toku?”

“Ah, kenapa saudara mesti terburu-buru? Sabarlah sebentar,” ujar Bu-koat dengan menyengir.

“Dalam keadaan begini kau suruh aku bersabar?” teriak Oh-ti-tu pula.

Tapi Hoa Bu-koat malah menunduk dan melangkah ke arah Thi Sim-lan. Belasan tindak barulah dia berada di sebelah si nona, ia merasa jarak sedekat ini terasa teramat jauh baginya dan sangat menakutkan.

“Hm, bagus, bagus sekali, kiranya kau adalah manusia begini, sungguh aku salah menilai kau,” jengek Oh-ti-tu. “Tapi, hm, tangan manusia seperti kau ini bila menyentuh diriku malah akan membuat muak padaku.”

Diam-diam Bu-koat hanya menghela napas dan tidak menanggapi.

Selama hidupnya belum pernah dicaci maki dan dinista orang secara begini, tapi sekarang terpaksa ia menerimanya, sebab kalau saat ini dia menjelaskan duduk perkaranya, apabila sampai didengar oleh Kang Giok-long, maka tiada seorang pun di antara mereka yang bisa hidup lagi. Padahal sekarang yang paling ditakuti Kang Giok-long adalah dia, sedangkan dia juga waswas terhadap segala kemungkinan yang datang dari Kang Giok-long.

Sementara itu perlahan-lahan Thi Sim-lan telah siuman, begitu melihat Hoa Bu-koat, seketika matanya bercahaya, serunya kegirangan, “Ah, engkau telah datang! Engkau benar-benar telah datang, memang kuyakin tiada seorang pun yang mampu mencelakaimu. Sudah sejak semula kuyakin engkau pasti akan datang menolong kami.”

“Hm, daripada ditolong orang macam begini, akan lebih baik mati saja,” jengek Oh-ti-tu.

Thi Sim-lan jadi heran, tanyanya, “Meng…mengapa kau berkata demikian padanya?”

“Mengapa tidak kau tanya dia?” jawab Oh-ti-tu.

Dengan terbelalak heran Thi Sim-lan memandang Hoa Bu-koat, ucapnya, “Sesungguhnya apa pula yang terjadi di sini?”

Bu-koat menengadah dan menghela napas panjang, katanya kemudian dengan tersenyum getir, “Ah, tidak ada apa-apa.”

“Apa pun juga, asalkan kau berada di sini, maka bereslah segalanya,” ujar Thi Sim-lan dengan berseri-seri. “Lekaslah engkau menolong kami keluar dari sarang iblis ini…He, mengapa engkau berdiri diam saja?”

“Aku…aku…” Bu-koat tidak sanggup melanjutkan pula, dahinya penuh berkeringat dingin.

Advertisements

1 Comment »

  1. SERU BANGET

    Comment by Firman — 23/02/2013 @ 10:47 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: