Kumpulan Cerita Silat

24/04/2008

Darah Ksatria: Bab 30. Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:56 pm

Darah Ksatria
Bab 30. Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Ma Ji-liong akhirnya sadar. Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan yang membeku. Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di rumah itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.

Cia Giok-lun duduk di samping mengawasinya dengan rasa kuatir dan penuh perhatian. Di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua saja. Ma Ji-liong berusaha tersenyum, tapi senyumnya getir dan nyengir, segera ia bertanya, “Mana orangnya?”

“Orang siapa?” Cia Giok-lun balas bertanya.

“Orang-orang yang kutolong itu?”

Cia Giok-lun tidak menjawab, ia malah balas bertanya, “Tahukah kau siapa saja yang kau tolong?”

“Aku tahu,” sahut Ma Ji-liong. “Thiat Tin-thian kembali bersama aku.”

“Kecuali dia, masih ada siapa lagi?”

“Masih ada Coat-taysu,” sikap Ma Ji-liong kelihatan tenang dan wajar. “Coat-taysu kembali bersama kami.”

Cia Giok-lun malah emosi, serunya, “Sadarkah kau bahwa orang yang kau tolong adalah Coat-taysu?”

“Bagaimana aku tidak sadar?” Ma Ji-liong tertawa lebar. Kenapa ada sementara orang yang bisa tertawa di saat tidak pantas tertawa?

“Kau sadar?” Cia Giok-lun memekik sambil terisak. Ia tak dapat mengekang perasaannya lagi, suaranya melengking, “Kau sadar bahwa dialah yang menguber dirimu, orang yang hendak membunuhmu sehingga kau menjadi buronan yang kepepet dan menghadapi jalan buntu? Tapi kau masih mau menolongnya?”

“Yang kutolong adalah manusia,” sahut Ma Ji-liong tegas. “Asal dia manusia, perduli siapa dia, tak boleh aku berpangku tangan melihat dia mati di tangan si gila itu. Perduli dia temanku atau musuh yang hendak menuntut jiwaku, sikapku takkan berubah, aku tetap menolongnya tanpa kecuali.”

Cia Giok-lun menatapnya dengan pandangan aneh. Lama sekali baru ia bertanya, “Kau bicara jujur? Atau sengaja bermuka-muka di hadapanku?”

Ma Ji-liong tak menjawab, ia menolak memberikan jawaban.

“Kau betul-betul baik hati, kau tidak berpura-pura,” desis Cia Giok-lun. “Tadi kau betul-betul mempertaruhkan jiwa untuk menolong mereka.” Mendadak ia menghela napas, lalu lanjutnya, “Sebetulnya aku tidak percaya bahwa kau orang baik, tapi sekarang aku percaya.”

—————————————-ooo00ooo——————————————–

Sejak tadi Coat-taysu berdiri mematung di pinggir rak toko di pojok sana. Sejak ia masuk ke dalam toko serba ada ini, ia berdiri di sana, tidak pernah pindah atau bergerak, juga tidak bersuara, melirik pun tidak kepada orang lain. Tapi badannya penuh berlepotan darah, pakaian sobek, badan pun terluka. Tapi ia tetap bersikap tenang dan wajar, luka-luka juga tidak diobati, darah dibiarkan mengalir.

Masih ada dua kerabatnya yang tertolong bersama Coat-taysu. Kecuali Thiat Tin-thian, ada dua orang yang ikut mengeroyok di rumah To Po-gi itu, tapi kedua orang ini menganggap tidak pernah melihat Coat-taysu berada di dalam rumah itu. Sikap mereka seperti jijik, seakan-akan bila didekati Hwesio yang satu ini, maka mereka akan ketularan penyakit jahat yang bisa merenggut jiwa mereka. Sudah tentu mereka tahu orang-orang yang ada di toko ini adalah musuh besar Coat-taysu, jelas kedua orang ini takut tersangkut oleh permusuhan kedua pihak.

Coat-taysu tidak memperdulikan orang lain. Pandangannya kosong, ia berdiri menjublek mirip orang linglung.

Setelah hening sekian lama, tiba-tiba Toa-hoan bersuara lebih dulu, “Aku tahu, setelah kejadian ini hatimu pasti mendelu. Asal kau mau berada di sini, kami pasti takkan mengusirmu.”

Coat-taysu tetap bungkam, tidak memberi reaksi.

Toa-hoan berkata pula, “Apakah kau ingin berbicara?”

“Ya,” tiba-tiba Coat-taysu berkata. “Tapi aku hanya ingin bicara dengan seorang saja.”

“Bicara dengan siapa?”

“Aku akan bicara dengan Ma Ji-liong saja.”

Rumah kecil di tengah pekarangan itu dalam keadaan kalang kabut, kotor dan tidak pernah dibersihkan. Di dalam rumah yang jorok itulah Toa-hoan sebagai Thio-lausit menetap empat bulan lamanya. Sungguh heran bahwa gadis yang biasanya suka kebersihan ini tahan tinggal di tempat yang kotor seperti kandang hewan itu. Kini ada dua orang yang sedang bicara di rumah kecil itu. Akhirnya Coat-taysu bertatap muka dengan Ma Ji-liong.

“Tadi kau telah menolongku,” demikian Coat-taysu membuka kata. “Jikalau bukan karena pertolonganmu, saat ini aku takkan berada di sini. Kalau aku tidak berada di sini, seperti juga orang-orang itu, pasti sudah mampus di luar sana.” Suaranya kalem, lalu ia melanjutkan, “Tapi urusanmu dengan aku belum selesai, persoalan itu tetap harus dibereskan. Sehari aku belum mati dan kau belum mampus, aku tetap akan membuat perhitungan dengan kau.”

Ma Ji-liong tertawa, katanya tawar, “Aku menolong kau bukan menuntut imbalan, bukan lantaran kau adalah Coat-taysu yang menuntut jiwaku. Aku tak akan memaksa kau untuk membatalkan urusanmu dengan aku, menuntut imbalan kepadamu. Kalau aku punya maksud demikian, buat apa aku menolongmu?”

“Akan tetapi, persoalan itu belum boleh dianggap beres.”

“Betul. Aku tidak perduli bagaimana sikapmu terhadapku sebelum ini, karena kita belum tentu dapat mempertahankan hidup sampai besok.”

“Tetapi sekarang kita belum mati,” Coat-taysu berkata. “Penjahit belum datang, pupur dan gincu juga belum diantar, si gila takkan menerjang ke mari dalam waktu dekat ini.”

“Ya, semoga demikian.”

“Tapi memang demikian,” ucap Coat-taysu. “Aku paham sepak terjang si gila itu. Ia anggap kita sebagai ikan dalam jaring, maka tidak perlu ia merenggut jiwa kita secara tergesa-gesa.” Demikian katanya pula, “Oleh karena itu, bukan mustahil kita masih punya kesempatan untuk meloloskan diri, maka aku ingin bicara dengan kau. Entah selanjutnya kita menjadi kawan atau lawan, dalam jangka waktu dekat ini, aku Sin Coat-cu akan tunduk pada perintah seorang yang bernama Ma Ji-liong saja. Selama hidupku, belum pernah tunduk apalagi diperintah orang, namun kali ini terkecuali.”

Ma Ji-liong menatapnya lekat. Lama sekali baru ia bertanya, “Untuk hal itukah kau ingin bicara dengan aku?”

“Ya,” pendek jawaban Coat-taysu.

Kecuali Thiat Tin-thian dan Coat-taysu, yang ditolong Ma Ji-liong masih ada dua orang lagi. Seorang adalah Ong Ban-bu. Meski sebelah lengannya dipelintir putus oleh Toa-hoan yang menyaru sebagai Thio-lausit, untung dia tidak mampus oleh sambaran golok sabit yang tidak mampu dikelit orang lain itu.

Di saat Coat-taysu berbicara dengan Ma Ji-liong, Toa-hoan bertanya kepada Thiat Tin-thian, “Aku tahu saudara angkatmu jatuh ke tangan Coat-taysu, apa kau tidak ingin tahu bagaimana nasib saudaramu itu?”

“Sudah tentu aku ingin tahu,” sahut Thiat Tin-thian.

“Kenapa tidak kau tanyakan kepadanya?” kata Toa-hoan.

“Aku tidak mau tanya, juga tidak ingin tanya,” tertekan suara Thiat Tin-thian. “Aku takut dia sudah mati di tangan Hwesio gundul itu.”

Jika benar Thiat Coan-gi sudah ajal ditangan Coat-taysu, Thiat Tin-thian harus menuntut balas, pasti takkan membiarkan Coat-taysu berdiri di rumah itu.

“Tapi aku tak boleh membunuhnya,” demikian kata Thiat Tin-thian lebih jauh. “Dengan mempertaruhkan jiwa, Ma Ji-liong menolongnya, maka aku tidak boleh melukainya, meski hanya seujung rambutnya saja.”

Saat mana Ma Ji-liong sudah kelihatan keluar dari rumah kecil itu, Ong Ban-bu mendadak berkata kepada Toa-hoan, “Aku juga ingin bicara empat mata dengan dia.”

“Dengan siapa?” tanya Toa-hoan. “Bicara dengan Ma Ji-liong?”

“Betul,” sahut Ong Ban-bu.

“Kau juga ingin omong?” Toa-hoan bertanya. “Apa yang ingin kau katakan apakah hanya boleh diketahui dia saja?”

Ong Ban-bu menganggukkan kepala. Di waktu mengangguk, matanya mengawasi Thiat Tin-thian, karena ia tahu Thiat Tin-thian pasti ingin bicara dengannya.

Thiat Tin-thian memang bertanya, “Tahukah kau kenapa kau belum mati?”

Ong Ban-bu menyahut, “Aku belum mati, karena kau melindungi aku. Dahulu kita memang kawan juga musuh, sekarang kau anggap aku sebagai teman baik lagi.”

“Tapi apa yang ingin kau katakan hanya boleh didengar Ma Ji-liong saja, kenapa kau tidak bicara dengan aku? Jelas kau tidak percaya kepadaku?”

“Aku percaya kepadamu, tapi aku lebih percaya kepada Ma Ji-liong.”

“Kenapa kau lebih percaya kepadanya?” desak Thiat Tin-thian.

“Karena Coat-taysu percaya kepadanya. Apakah Coat-taysu kawan baiknya?”

“Bukan.”

“Musuh besar dan kawan-kawan pun percaya kepada Ma Ji-liong, kenapa orang lain tidak boleh percaya kepadanya?”

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Bagus,” serunya memuji. “Bagus sekali ucapanmu itu.” Dengan keras ia menepuk pundak Ong Ban-bu, “Baiklah, kau boleh bicara empat mata dengan dia.”

Ma Ji-liong tidak mengira bahwa Ong Ban-bu ingin bicara dengan dia, lebih tak diduganya lagi kalau persoalan yang dibicarakan Ong Ban-bu adalah rahasia yang sebetulnya tidak boleh diketahui orang lain.

“Aku belum mati bukan karena Thiat Tin-thian melindungi aku,” Ong Ban-bu berkata. “Aku belum mati karena Bu-cap-sah tidak ingin membunuh aku.” Lebih jauh ia membeberkan rahasia Bu-cap-sah. “Kepandaian Tan-ci-sin-thong atau Jentikan Batu Menutuk Hiat-to yang diyakinkan Bu-cap-sah memang sudah sempurna. Betapa cepat sambaran golok pengawal Persia itu juga lebih unggul dibanding orang lain, akan tetapi orang-orang yang mati oleh tebasan golok sabit itu bukan seluruhnya gugur oleh timpukan batu dan terbacok golok pengawal Persia itu.”

“O, tidak seluruhnya?”

“Orang-orang yang mati itu, sebagian besar adalah mereka yang mau diperbudak dan disogok oleh harta dan kedudukan,” demikian Ong Ban-bu menjelaskan lebih lanjut. “Thio-sam adalah kawan baik Li-si, mereka datang bersama. Thio-sam mau diperbudak setelah disiksa dan diancam jiwanya oleh Bu-cap-sah, hal ini di luar tahu Li-si. Begitu golok melengkung di tangan pengawal Persia menyabet, batok kepala Li-si terpenggal dan mati. Bukankah orang lain beranggapan bahwa kematian Li-si lantaran tidak mampu menyelamatkan jiwanya dari sambaran golok musuh?”

“Ya, pasti demikian anggapan orang,” ujar Ma Ji-liong.

“Apalagi orang lain melihat Bu-cap-sah menjentik jari dan batu pun terbang, apakah tidak beranggapan bahwa kematian Li-si lantaran tersambit Hiat-tonya oleh jentikan batu Bu-cap-sah?”

“Ya, betul.”

“Tapi kenyataannya bukan demikian,” tutur Ong Ban-bu. “Sebenarnya Hiat-to mereka bukan tertutuk oleh sambitan batu Bu-cap-sah, namun Hiat-to mereka tertutuk oleh kawan sendiri di saat keadaan sedang ribut. Li-si mati karena sebelumnya Hiat-tonya sudah ditutuk oleh Thio-sam, sudah tentu dia tidak mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok melengkung itu.” Sampai di sini Ong Ban-bu menghela napas, “Aku membocorkan rahasia ini kepadamu karena aku tidak ingin kau menilai ilmu silat Bu-cap-sah terlalu tinggi. Kuharap kau tidak memandangnya sebagai malaikat yang digdaya.”

Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana kau tahu tentang rahasia ini?”

“Karena aku juga diperbudak oleh Bu-cap-sah,” Ong Ban-bu mengaku terus terang. “Sebagai salah satu alatnya yang terpercaya, maka aku tidak mati di arena pertempuran tadi.”

“Lalu kenapa kau membongkar rahasia ini kepadaku?” tanya Ma Ji-liong.

“Karena aku mempercayaimu,” kata Ong Ban-bu. “Sekarang aku sudah yakin, engkau pasti takkan mengkhianati orang lain.”

Kecuali Coat-taysu, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu, masih ada seorang lagi yang ditolong oleh Ma Ji-liong.

Usia orang keempat ini belum terlalu tua kalau tidak mau dibilang masih setengah baya, tapi juga tidak muda lagi. Dilihat tampangnya, wajahnya tidak tampan, tapi juga tidak jelek, pakaiannya tidak mewah, namun pasti tidak sembarangan. Setiap hari di mana saja kau bisa bertemu banyak orang seperti laki-laki setengah baya ini. Mungkin karena kelihatannya dia biasa saja, tiada tanda-tanda yang menyolok pada dirinya.

Menjadi orang ‘biasa’ kadang kala juga merupakan suatu cara yang baik untuk mengelabui orang, suatu cara untuk menyelamatkan diri.

Jelas dan gamblang Toa-hoan adalah salah satu jenis orang seperti itu. Sejak tadi dia memperhatikan orang biasa ini, mendadak ia bertanya, “She apakah engkau?”

Orang ‘biasa’ ini hanya tertawa lebar, manggut-manggut lalu menggelengkan kepala pula, tingkah dan sikapnya seperti orang pikun dan linglung.

Toa-hoan bertanya pula, “Kau tidak mendengar pertanyaanku? Atau tidak bisa bicara?”

Orang ‘biasa’ ini tetap tidak bersuara. Kembali ia manggut-manggut lalu menggelengkan kepala pula, namun mimik mukanya selalu tersenyum ramah.

Tiada orang yang tahu apa arti kelakuannya yang jenaka ini, demikian pula Toa-hoan juga tidak habis mengerti. Mungkin orang ‘biasa’ ini sengaja bertingkah dengan lucu dan penuh teka-teki supaya orang lain tidak tahu.

Mendadak Toa-hoan tertawa juga meniru sikap dan tingkah orang, “Kau jelas bukan orang tuli dan bisu, namun kau tidak mau memperkenalkan diri,” suaranya tawar. “Memang kau boleh tidak menjawab setiap pertanyaanku, tapi kalau orang lain yang bertanya kepadamu, kalau kau tidak memberi keterangan, kan berabe jadinya.”

Mendadak orang itu bersuara, ia balas bertanya, “Bukankah kalian sedang menunggu seseorang?”

“Menunggu seseorang? Ah, tidak,” ujar Toa-hoan menggelengkan kepala.

“Lho, sudah lupa? Kalian kan menunggu tukang jahit,” demikian kata orang itu. “Tukang jahit utusan Bu-cap-sah untuk mengukur dan menjahit pakaian pengantin she Cia di sini.”

Toa-hoan menatap tajam, “Dari mana kau tahu kalau Bu-cap-sah mengutus seorang tukang jahit ke mari? Dari mana pula kau tahu kalau kami sedang menunggu dia?”

“Kenapa aku tidak tahu,” ucap orang itu. “Aku malah tahu bahwa penjahit itu sekarang sudah datang. Bukan saja kain, gincu dan pupur sudah dibawa, ia pun membawa sebuah tandu berhias kembang untuk menjemput mempelai perempuan.”

“Di mana penjahit itu sekarang?” tanya Toa-hoan.

“Berada di sini,” orang biasa itu mendadak mengunjuk tawa yang tidak biasa. “Aku adalah penjahit utusan Bu-cap-sah.”

Kalau dipandang dengan seksama, orang ini memang mirip penjahit. Tapi bila kau perhatikan lebih lanjut, kau akan merasa dia tidak mirip apa pun. Terserah kau mau bilang dia tukang apa atau ahli apa, orang lain pasti tak curiga.

Dalam setiap usaha yang ada di dunia ini, pasti ada orang sejenis dia, biasa dan awam. Tampang biasa, sikap dan tingkah laku biasa, sederhana dan ramah tamah serta murah senyum.

“Aku adalah penjahit yang baik. Seratus li di daerah ini, aku yakin tiada penjahit lain yang lebih baik dari aku,” demikian kata orang ‘biasa’ itu dengan senyum simpul. “Hasil karyaku cocok dan memenuhi selera, model mutakhir dan potongan pun memenuhi selera.”

Penjahit yang baik memang selalu disenangi dan banyak langganannya. Kecuali penjahit yang satu ini, dalam keadaan dan situasi begini, di tempat ini lagi, pasti tak ada orang yang senang kepadanya, tiada orang yang mau menerima kehadirannya.

Tawa Toa-hoan kelihatan dipaksakan, katanya, “Aku juga bisa melihat kau memang seorang penjahit yang baik. Tapi betapapun baik seorang penjahit, tanpa ada bahan untuk bekerja, dia tetap takkan bisa membuat pakaian.”

Bila pakaian selesai dijahit, Bu-cap-sah takkan memberi kesempatan kepada mereka untuk duduk dan mengobrol secara santai begitu. Maka mereka mengharap penjahit ini tak bisa menunaikan tugasnya, pakaian tidak rampung dijahit, karena jelas orang ini tidak membawa kain dan benang, jarum atau gunting.

Tukang jahit itu berkata, “Tadi aku sudah bilang, kain sudah kubawa, kutanggung mutunya juga yang terbagus, warnanya baik, coraknya juga indah, mutunya tinggi. Kutanggung takkan luntur meski dicuci seratus kali.”

“Di manakah bahan pakaian yang kau bawa itu?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: