Kumpulan Cerita Silat

24/04/2008

Bakti Pendekar Binal (06)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:32 pm

Bakti Pendekar Binal (06)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Dengan ilmu silat Siau-hi-ji sekarang tingkatannya sudah sebanding dengan tokoh-tokoh Bu-lim terkemuka, dalam gusarnya, pukulan yang dilontarkan ini sekaligus mencakup ilmu pukulan sakti dari Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay. Dengan sendirinya ilmu pukulan ini berasal dari beberapa tokoh dunia persilatan yang diciptakan secara gabungan di istana bawah tanah itu. Kini Siau-hi-ji sudah dapat memainkannya dengan leluasa, bahkan mengerahkan segenap daya serangannya.

Siapa tahu, pukulan yang cukup membuat keder setiap tokoh Bu-lim ini bagi Tong-siansing tidak lebih hanya menggeliat, tubuhnya seakan-akan patah menjadi dua. Pada saat itu pukulan balasannya juga lantas dilontarkan, kalau tidak menyaksikan sendiri, siapa pun takkan percaya seorang dapat melancarkan serangan dalam posisi yang aneh begitu.

Seketika Siau-hi-ji merasa tubuhnya tergetar, kontan ia jatuh terguling pula, meski tidak terluka, tapi ia benar-benar takut dan terkesima oleh ilmu silat yang aneh dan lihai ini.

Sambil memandangi anak muda itu, Tong-siansing menjengek, “Ilmu silatmu ini paling-paling hanya mampu menahan lima jurus serangan Hoa Bu-koat. Tadinya kukira kau sanggup mengadu jiwa dengan dia, tak tahunya, kau sangat mengecewakan harapanku.”

“Aku mampu menahan berapa jurus serangannya, peduli apa denganmu?” damprat Siau-hi-ji gemas.

“Memangnya kau tidak ingin mengalahkan dia?” jengek Tong-siansing.

“Aku ingin mengalahkan dia atau tidak memangnya kau mau apa?” jawab Siau-hi-ji.

Tong-siansing tidak marah lagi, dia malah mengeluarkan satu lipatan kain kuning, katanya, “Di sini ada pelajaran tiga jurus serangan yang dapat mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong, bilamana kau dapat memahaminya di dalam tiga bulan ini, andaikan kau tidak dapat mengalahkan Hoa Bu-koat sedikitnya mampu tertahan lebih lama.”

Ternyata dia hendak mengajarkan ilmu silat kepada Siau-hi-ji, sungguh hal yang sukar dipercaya oleh siapa pun duga. Keruan Siau-hi-ji melenggong heran, tanyanya dengan tergagap, “Apa…apa maksudmu ini?”

Tong-siansing lantas melemparkan lipatan kain itu ke depan Siau-hi-ji sambil mendengus, lalu melangkah pergi.

“Sebenarnya kau ingin Hoa Bu-koat membunuh diriku atau ingin kubunuh Hoa Bu-koat?” teriak Siau-hi-ji. “Hm, sebenarnya kau ini dihinggapi penyakit apa?”

Sekonyong-konyong Tong-siansing membalik tujuh, jengeknya, “Hm, selama hidupmu ini sudah ditakdirkan akan berakhir dengan tragis. Tak peduli kau yang membunuh Hoa Bu-koat atau dia yang membunuhmu, semuanya sama saja.”

“Tapi jelas ini tidak sama. Mana bisa sama?” geram Siau-hi-ji “Kau…sebenarnya ….”

Namun Tong-siansing sudah melangkah keluar tanpa menoleh, “blang”, pintu digebrak hingga tertutup.

Siau-hi-ji termenung sejenak, waktu berpaling, dilihatnya anak dara yang masih berada di situ sedang mengucurkan air mata. Tapi sekarang ia tidak berani lagi mengajaknya bicara, sungguh ia tidak tega menyaksikan anak dara yang cantik itu mati pula akibat tingkah lakunya.

Anak dara itu berdiri termenung di situ dan membiarkan air matanya meleleh di pipi tanpa mengusapnya. Siau-hi-ji jadi terharu, ia menghela napas, kemudian ia coba membentang kain sutera pemberian Tong-siansing tadi.

Memang benar, kain tadi melukiskan tiga jurus ilmu silat yang mahahebat, sederhana, tapi tajam, benar-benar merupakan jurus serangan mematikan bagi ilmu silat Hoa Bu-koat yang ruwet itu.

Ketiga jurus itu selain dilukiskan dengan gambar secara jelas, bahkan diberi keterangan pula dengan tulisan. Kalau bukan orang yang sangat memahami ilmu silat Ih-hoa-kiong, rasanya tidak mungkin menciptakan ketiga jurus serangan yang hebat ini, sungguh aneh bin ajaib.

Namun Siau-hi-ji tidak memikirkan hal ini, pada hakikatnya sekarang ia tidak ingin memikirkan apa pun, ia hanya memandangi gambar itu dengan termangu-mangu.

Tidak lama kemudian datanglah orang mengantarkan santapan, ternyata terdiri dari masakan Sujwan kegemaran Siau-hi-ji, bahkan ada sebotol arak pilihan.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Siau-hi-ji terus makan sekenyang-kenyangnya, tapi ia sengaja menyisihkan sepotong bebek rebus dan satu porsi Ang-sio buntut, lalu seperti bicara pada dirinya sendiri ia bergumam, “Kedua macam makanan ini tidak pedas, makan atau tidak terserah padamu.”

Sejak tadi anak dara itu berdiri saja, satu ujung jari saja tidak bergerak. Tapi sekarang mendadak ia memutar tubuh dan mendekati meja, tanpa permisi lagi ia ambil sepotong bebek rebus itu terus dimakan dengan lahapnya.

Bila dia tidak mau makan, tentu Siau-hi-ji tidak perlu heran, kini dia justru makan dengan lahapnya, hal ini malah membuat Siau-hi-ji terbelalak heran.

Setelah menghabiskan sepotong bebek rebus, tampaknya nona ini sudah tidak sanggup makan lebih banyak lagi, tapi sedapatnya ia menghabiskan pula seporsi Ang-sio buntut. Sambil makan tanpa berkedip ia pun mengawasi sebuah saringan pasir pengukur waktu, setitik demi setitik butiran pasir menerobos saringan dan sang waktu pun ikut berlalu.

Yang keluar dari saringan sekarang rasanya bukan lagi butiran pasir melainkan jiwa manusia.

Siau-hi-ji tersenyum kecut, waktu, baginya kini terasa terlalu mahal, namun dia cuma dapat menyaksikan sang waktu berlalu begitu saja tanpa berdaya sedikit pun.

Tiba-tiba anak dara itu mendekatinya, lalu mendesis perlahan, “Apakah engkau cukup kenyang?

Bahwa anak perempuan itu mendadak mau bicara. Siau-hi-ji jadi kaget.

Segera nona itu berkata pula, “Tak menjadi soal bicara sekarang, tak ada orang lain yang akan datang.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas menjawab, “Perutku serasa mau pecah karena kenyangnya, mungkin seekor semut saja tak sanggup kutelan lagi.”

“Sebaiknya kau makan lebih banyak, selama dua hari nanti mungkin kita tak dapat makan apa-apa,” ucap si nona.

Siau-hi-ji terkejut, “Sebab apa?” tanyanya.

Terpancar sinar tajam dari biji mata si nona yang hitam itu, katanya dengan tegas, “Sebab sekarang juga kita akan mulai kabur, dalam pelarian ini pasti kita takkan makan apa pun juga, bahkan air minum pun sukar diperoleh.”

“Lari?” Siau-hi-ji menegas dengan melenggong. “Maksudmu melarikan diri?”

“Ya, sebabnya aku makan dengan lahap tadi ialah supaya aku mempunyai tenaga untuk melarikan diri?”

“Tapi…tapi Tong-siansing ….

“Saat ini dia sedang bersemadi, sedikitnya dalam dua jam dia takkan ke sini.”

“Kau yakin?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, kebiasaan ini sudah berlangsung selama berpuluh tahun dan tidak pernah berubah, konon belasan tahun yang lalu juga ada seorang anak perempuan yang berkedudukan seperti diriku melarikan diri dengan membawa kabur seorang pada saat dia sedang semadi seperti sekarang ini.”

“Ah, pantas dia begitu murka tadi, kiranya dia khawatir sejarah akan berulang pula,” ucap Siau-hi-ji, baru sekarang ia paham.

Tiba-tiba mata anak dara itu berkilau-kilau mengembang air mata, katanya, “Tahukah engkau siapa anak perempuan yang dibunuhnya tadi?”

Siau-hi-ji jadi tertarik, jawabnya, “Jangan-jangan…jangan-jangan dia ….”

“Adikku, adik kandungku,” tukas si nona dengan suara gemetar, akhirnya air mata pun bercucuran.

Siau-hi-ji melenggong sejenak, ucapnya kemudian dengan menyesal, “Maaf, tadi seharusnya aku tidak boleh memancing dia tertawa.”

“Sudah tujuh tahun adikku ikut dia, tapi cuma persoalan sekecil itu ia pun tega membunuhnya, sebaliknya engkau tak pernah kenal adikku, namun engkau malah membelanya, bahkan tidak sayang mengadu jiwa baginya ….”

“Lantaran inikah kau menolong aku dengan menyerempet bahaya?” tanya Siau-hi-ji.

“Hakikatnya dia bukan manusia, ia pun tidak menganggap kami sebagai manusia, hidupku di sini biarpun cukup sandang pangan, namun rasanya seperti hidup di dalam kuburan, sedikit pun tiada gairah hidup ….”

“Jika begitu mengapa ketika itu kau mau datang ke sini?”

“Kami kakak beradik sebenarnya yatim piatu dan sejak kecil sudah kenyang siksa derita, kami mengira setelah masuk perguruannya dapatlah kami menanjak ke atas dan hidup bahagia. Siapa tahu meski kami berhasil belajar ilmu silatnya, tapi kami pun dijadikan budak olehnya, terkadang sepanjang hari kami dilarang buka suara sama sekali.”

“Kesepian, ya, kesepian sedemikian lama memang lebih banyak menyiksa daripada penderitaan orang lain ….” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun. Tiba-tiba ia pegang tangan si nona yang dingin ini dan berkata pula dengan suara berat, “Tapi setelah peristiwa belasan tahun yang lampau itu, penjagaannya pasti bertambah ketat, apakah kita dapat kabur tanpa diketahuinya?”

“Jika berada di istananya memang sama sekali tiada harapan bagi kita untuk lari, tapi di sini, tempat ini hanya pondoknya untuk sementara saja.” Untuk pertama kalinya si nona menampilkan senyum getir, lalu menyambung pula, “Apalagi akulah yang menemukan tempat ini, bahkan aku yang mengatur tempat ini, walaupun kita belum pasti dapat lolos, tapi apa pun juga harus kita coba daripada menunggu ajal di sini.”

Siau-hi-ji memandang sekelilingnya, lalu bertanya, “Sebenarnya tempat apakah ini?”

“Sebuah biara,” tutur si nona.

“Biara?” Siau-hi-ji menegas dengan heran. Yang terlihat olehnya sekarang adalah perabotan yang mewah, yang terendus adalah bau harum semerbak, sungguh sukar dipercaya kalau tempat ini adalah sebuah biara.

“Tempat ini semula adalah sebuah biara tua. Setelah kami atur seharian barulah berubah bentuk begini,” tutur si nona.

“Kepandaian kalian sungguh luar biasa,” kata Siau-hi-ji dengan gegetun. Sambil tertawa tiba-tiba ia menyambung pula, “Waktu sangat berharga, kenapa kita tidak lekas berangkat. Jika ingin mengobrol, setelah lolos kukira masih mempunyai waktu banyak.”

“Tunggu sebentar, kita harus menunggu setelah peralatan makan ini di bersihkan orang barulah berangkat, kalau tidak kaburnya kita akan segera ketahuan.”

“Ya, dalam hal-hal kecil aku memang suka teledor, rasanya setiap anak perempuan sepertimu jauh lebih cermat daripadaku,” kata Siau-hi-ji tertawa.

Nona itu menatapnya sejenak, katanya kemudian, “Tentunya sangat banyak anak perempuan yang kau kenal?”

“Ah, sungguh kuharap jangan banyak-banyak anak perempuan yang kukenal…Dan kau? Anak lelaki yang kau kenal ….”

“Satu pun tidak ada,” jawab anak dara itu dengan dingin.

“Tapi sekarang sedikitnya kau sudah kenal diriku,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Aku she Kang bernama Siau-hi, dan kau?”

Nona itu terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Boleh kau panggil aku ini Thi Peng-koh”

Siau-hi-ji seperti melengak, ucapnya dengan menyengir, “Kau pun she Thi? Aneh, mengapa anak perempuan she Thi sedemikian banyak ….”

Belum habis ucapannya, mendadak Thi Peng-koh mendesis dan memberi tanda agar jangan bersuara.

Segera terdengar langkah perlahan di luar pintu, cepat Siau-hi-ji merebahkan diri di tempat tidur. Habis itu masuklah seorang anak perempuan berbaju ungu dan berwajah dingin bersama seorang perempuan setengah umur berbaju hijau.

Thi Peng-koh tetap berdiri di tempatnya tanpa menghiraukan kedua pendatang itu.

Nona baju ungu lantas mendekatinya, dengan dingin ia menegur, “Adikmu sudah meninggal.”

“Aku tahu,” jawab Peng-koh dengan sikap sama dinginnya.

“Kau berduka tidak?”

“Jika aku berduka apakah kau gembira?”

Cepat si baju ungu melengos dongkol, sorot matanya yang penuh rasa gusar itu kebetulan menghadapi Siau-hi-ji. Tapi anak muda itu malah mencibir padanya dengan menjulurkan lidah segala.

Sementara itu perempuan baju hijau tadi sudah selesai mengukuti mangkuk piring dan membawanya pergi.

Tiba-tiba si nona baju ungu berkata, “Kau pun boleh keluar sana!”

Siau-hi-ji melengak, ucapnya dengan menyengir, “Maksudmu aku sudah boleh keluar?”

Tapi di baju ungu lantas memutar balik ke sana dan menatap Thi Peng-koh jengeknya, “Tentunya kau tahu yang kumaksudkan ialah kau. Mengapa kau tidak lekas pergi?”

Siau-hi-ji terperanjat, denyut jantungnya hampir saja berhenti. Thi Peng-koh disuruh pergi, itu berarti rencana akan kabur mereka gagal total.

Tapi Thi Peng-koh lantas menjawab, “Siapa yang suruh aku pergi?”

“Sekarang sudah waktunya giliran jaga, kau dapat istirahat, memangnya kurang enak bagimu?” jengek si baju ungu.

Thi Peng-koh tidak bicara pula, segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

Dengan terbelalak Siau-hi-ji menyaksikan Thi Peng-koh melangkah keluar, meski gelisah, tapi tak berdaya.

Dalam pada itu si nona baju ungu sedang menatapnya pula dengan tajam dan bertanya, “Kau tidak ingin dia pergi?”

“Haha!” Siau-hi-ji sengaja latah, “Lebih baik kalau dia pergi. Mukanya yang senantiasa merengut itu membuat jemu saja. Meski kau belum tentu lebih enak dipandang daripada dia, tapi ganti yang baru tentu lebih baik daripada yang lama. Memangnya watakku juga suka pada yang baru dan bosan pada yang lama.”

“Hm, jika kau menatap diriku, segera kucolok biji matamu,” ancam si baju ungu.

Siau-hi-ji dapat melihat Thi Peng-koh yang telah keluar itu diam-diam telah menyelinap masuk kembali. Maka ia sengaja bergelak tertawa dan berolokolok. “Hahaha! Di mulut kau bilang tidak mau dipandang, tapi dalam hati tentu kau ingin sekali. Bisa jadi kau harap aku akan mendekapmu dan menciummu, kalau tidak mengapa kau segera menyuruh dia pergi dan kau sendiri malah tinggal di sini?”

Tampaknya si baju ungu menjadi gusar, dengan suara gemetar ia membentak, “Kau…kau berani bicara begini padaku?”

Siau-hi-ji melelet lidah, ucapnya dengan tertawa, “Kau kan bukan macan betina, mengapa aku tidak berani? Malahan kuingin menggigit bibirmu!”

Dilihatnya Thi Peng-koh sudah dekat di belakang si baju ungu, maka dia sengaja membuatnya marah-marah dan lupa daratan.

Benarlah, dengan murka si baju ungu membentak pula, “Jangan kau kira aku tak dapat membunuhmu, sedikitnya dapat kupatahkan ….”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu kepalanya telah menjulai ke bawah, menyusul tubuhnya lantas roboh terjungkal tanpa bersuara sedikit pun. Ternyata telapak tangan Thi Peng-koh dengan tepat telah menebas kuduk si baju ungu.

Cepat Siau-hi-ji melompat bangun dan berseru, “Kau tidak khawatir dilihat orang lain ….”

Dengan ketus Thi Peng-koh memotongnya, “Kesempatan sukar dicari lagi, terpaksa aku harus menyerempet bahaya. Apalagi penghuni-penghuni di sini kebanyakan tidak suka memperhatikan urusan orang lain. Seumpama tiga hari dia tidak muncul juga tiada orang yang menanyakan dia.”

Sembari bicara ia terus menggeser tempat tidur itu dan meraba-raba dinding, segera tertampaklah sebuah pintu sempit.

Cepat Thi Peng-koh menyelinap ke balik pintu sambil berseru tertahan, “Lekas ikut padaku!”

Di balik dinding itu ternyata ada sebuah jalan di bawah tanah yang berliku-liku entah menembus ke mana. Hanya terasa hawa dingin dan lembap dengan bau apek yang memuakkan.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, sambil mendekap hidung ia ikut berjalan sekian lamanya, akhirnya ia berkata dengan gegetun, “Sungguh tidak disangka di dalam kelenteng ini ada jalan rahasia begini, sejak kapan kau menemukannya?”

“Waktu akan mengatur dan memperbaiki tempat ini lantas kutemukan jalan rahasia ini,” tutur Peng-koh. “Menurut perkiraanku, biara ini mungkin dibangun pada jaman ‘Ngoh-oh-cok-loan’ (geger lima suku bangsa), waktu itu suasana kacau balau, kejahatan merajalela, jiwa manusia lebih rendah daripada binatang. Banyak orang-orang baik yang memotong rambut menjadi rahib untuk menghindari kerusuhan yang berkecamuk. Namun biara juga bukan tempat yang aman, maka para paderi di sini membangun jalan rahasia ini untuk menghindari bahaya.”

“Tampaknya kau memang agak berbeda daripada anak perempuan lain yang pernah kukenal.” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

“O, memangnya berbeda dalam hal apa?”

“Kau bisa memakai otak,” kata Siau-hi-ji. “Di dunia ini anak perempuan yang dapat menggunakan otaknya kini makin sedikit, malahan ada sementara perempuan yang punya otak sekalipun tapi justru malas menggunakannya. Mereka mengira cukup asalkan anak perempuan mempunyai wajah yang lumayan.”

Thi Peng-koh seperti tertawa, katanya, “Tapi itu pun salah kaum lelaki.”

“O, alasannya?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab pada umumnya kaum lelaki tidak menyukai anak perempuan yang berotak, mereka takut bilamana anak perempuan akan mengungguli mereka, sebab itulah anak perempuan yang semakin pintar juga semakin berlagak bodoh dan lemah. Pada dasarnya kaum lelaki memang suka menganggap dirinya lebih kuat daripada perempuan dan lebih suka menjadi si pelindung, jika demikian, mengapa pihak perempuan tidak membuat mereka memeras otak lebih banyak dan lebih banyak pula mengeluarkan tenaga?”

“Wah, jika begini jadinya yang bodoh adalah kaum lelaki?” kata Siau-hi-ji dengan bergelak tertawa. “Tapi katanya kau tidak pernah kenal seorang lelaki mana pun, mengapa kau sedemikian memahami kaum lelaki?”

“Secara kodrat perempuan memang dilahirkan agar memahami kaum lelaki.”

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, ucapnya, “Ya, memang benar juga perkataanmu, seorang lelaki kalau menganggap dirinya dapat memahami jalan pikiran perempuan, maka masa menderitanya pasti akan bertambah lama.”

Dalam hati mereka sekarang sebenarnya penuh rasa khawatir, sebab itulah mereka sengaja pasang omong sedapatnya dengan tujuan sekadar mengendurkan saraf yang tegang.

Maklumlah, di lorong bawah tanah yang pengap dan seram itu, sedangkan keselamatan jiwa mereka pun tidak diketahui apakah dapat dipertahankan, kalau mereka tidak bicara, tentu suasana akan bertambah mencekam.

Jalan di bawah tanah itu semakin lembap dan juga semakin gelap. Waktu Siau-hi-ji merabanya, terasa kedua sisi bukan lagi tembok yang licin melainkan dinding batu yang keras, kasap dan berlumut.

Sementara itu ia pun merasakan jalanan juga mulai tidak rata. Tanyanya kepada Thi Peng-koh. “Apakah dinding biara tua ini berhubungan dengan perut gunung?”

Thi Peng-koh tidak menjawabnya, tapi ia lantas menyalakan sebuah obor kecil. Tempat di mana mereka berada memang betul di dalam perut gunung dengan gua yang saling menyilang laksana jaringan labah-labah. Angin, ada tiupan angin entah berasal dari mana, angin yang dingin membuat orang merinding.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Di tempat begini, sekalipun Tong-siansing memiliki kesaktian setinggi langit juga tidak mudah menemukan kita.”

“Tapi kalau kita ingin keluar rasanya juga tidak mudah,” ujar Thi Peng-koh.

Siau-hi-ji kaget, serunya, “Masa kau tidak tahu jalan keluarnya?”

“Dari mana kutahu?” jawab Peng-koh.

“Jika…jika begitu mengapa kau bilang kita dapat lari keluar?”

“Asalkan ada jalan, dengan sendirinya kita ada harapan untuk lari keluar.”

“Tampaknya nona terlalu meremehkan persoalan ini,” ujar Siau-hi-ji dengan murung. “Tahukah bahwa gua-gua begini kebanyakan tidak ada jalan tembusnya.”

“Tapi juga ada sebagian yang dapat tembus keluar bukan?”

“Sekalipun ada jalan keluarnya, tapi gua-gua begini sungguh ruwet melebihi pat-kwa-tin yang pernah diciptakan Khong Beng di jaman Sam-kok itu. Bisa jadi setelah berputar dua-tiga bulan di dalamnya akhirnya baru diketahui masih tetap berada di tempat semula. Setahuku, dari dahulu kala hingga sekarang, setan penasaran yang terkurung mati di dalam perut gunung semacam ini bilamana dikumpulkan mungkin akan membuat penuh istana raja akhirat.”

Peng-koh berjalan di depan, tanpa menoleh ia menjengek, “Jika begitu, kalau sekarang bertambah lagi dua orang kan tidak banyak.”

“Ma…masa kau tidak cemas?” tanya Siau-hi-ji.

“Jika cemas, sekarang juga boleh kau kembali ke sana, kan belum terlambat.”

Siau-hi-ji melengak, ucapnya sambil menyengir, “Ai, kau jangan marah, aku tidak menyalahkanmu, hanya ….”

Mendadak Peng-koh berpaling dan berteriak, “Memangnya kau kira aku tidak tahu betapa bahayanya tempat begini? Tapi apa pun juga kita kan ada setitik harapan buat lari keluar daripada duduk menunggu ajal di sana?”

Siau-hi-ji melelet lidah, katanya dengan tertawa, “Wah, bila kutahu kau akan marah begini tentu aku tidak bicara seperti tadi.”

Dengan mendongkol Thi Peng-koh menatapnya sejenak, tiba-tiba ia menghela napas gegetun dan berucap, “Sungguh tak terpikirkan olehku bahwa engkau adalah orang seaneh ini.”

“Aku pun tidak pernah membayangkan bahwa kau akan marah-marah begini,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

Sembari bicara terus matanya juga tidak menganggur. Kini mendadak ditemukannya bahwa lumut yang melapisi dinding gua itu samar-samar ada ukiran ujung panah, sinar mata Peng-koh tampak gemerlap, agaknya dia juga sudah melihat tanda panah ini.

Segera nona itu mendahului menuju ke arah yang ditunjuk ujung panah. Belasan tombak kemudian, pada belokan sana kembali ada tanda panah lagi. Tapi Siau-hi-ji lantas berdiri di situ tanpa bergerak pula.

“Kini sudah ada petunjuk kita akan menuju keluar, mengapa engkau malah berdiri diam saja?” tanya Peng-koh sambil mengeryitkan kening.

Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Jika kita menuju arah menurut ujung panah ini, sebentar lagi kita akan berjumpa pula dengan Tong-siansing. Rasanya aku sudah bosan melihat wajah seperti setan itu.”

Thi Peng-koh terkejut, “Masa tanda panah ini bukan petunjuk jalan?”

“Tanda panah ini memang petunjuk jalan, tapi yang ditunjuk bukan jalan keluar.”

“Dari mana kau tahu?” tanya si nona.

“Tanda panah ini tentunya diukir oleh para Hwesio yang dahulu menghuni biara ini, betul tidak?”

“Ya,” kembali si nona mengangguk.

“Mereka sembunyi di sini untuk menghindari kerusuhan, setelah kawanan penjahat pergi, coba katakan, lalu para Hwesio itu akan ke mana lagi?”

“Dengan sendirinya kembali ke kelenteng mereka,” setelah berucap begitu baru Peng-koh sadar dan cepat menambahkan pula, “Aha, betul juga. Tanda panah ini pasti petunjuk jalan untuk kembali ke kelenteng sana. Tapi mereka hanya sembunyi sementara saja di sini, mengapa mesti meninggalkan penunjuk jalan segala?”

“Memang sudah kukatakan sejak tadi bahwa kau ini anak perempuan yang suka memakai otak,” ucap Siau-hi-ji sambil tertawa, “Akhirnya kau paham juga, mungkin tadi kau hanya pura-pura bodoh saja.”

Tanpa terasa Thi Peng-koh menunduk dengan muka merah. Tiba-tiba ia menyerahkan obornya kepada Siau-hi-ji dan berkata, “Kau…engkau saja yang mencari jalan.”

Dengan menghela napas Siau-hi-ji bergumam, “Makanya anak perempuan yang semakin pintar tentu juga semakin suka berlagak bodoh dan lemah, makanya lagi sekarang kau ingin aku memeras otak dan lebih banyak mengeluarkan tenaga ….”

Belum habis ucapannya, Thi Peng-koh membanting kaki dengan muka merah, serunya, “Baiklah, anggap engkau benar, kan tidak menjadi soal bukan?”

Dengan muka cengar-cengir Siau-hi-ji memandang si nona, sejenak kemudian baru berkata pula, “Justru kuingin melihat wajahmu merah dan marah-marah, dalam keadaan marah barulah kau mirip benar anak perempuan, sesungguhnya aku tidak tahan melihat wajahmu yang selalu dingin membeku ini.”

Selagi Thi Peng-koh hendak mengomel namun Siau-hi-ji telah membalik ke sana sambil tertawa. Tanpa terasa si nona ikut tersenyum, gumamnya, “Apakah betul mukaku menjadi merah? Sungguh aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk wajahku bilamana sedang marah, mungkin untuk pertama kalinya selama hidupku ini ….”

Begitulah mereka terus maju ke depan, setiap ada tanda panah, bila menuju ke depan, maka Siau-hi-ji berbalik menuju ke belakang, bilamana tanda panah mengarah ke kanan, maka dia justru belok ke kiri. Tanda-tanda panah yang dilaluinya juga segera dihapuskannya.?

Setelah berjalan sejenak pula mengikuti anak muda itu, tiba-tiba Peng-koh bertanya, “Caramu berjalan ini apakah akhirnya dapat keluar?”

“Aku pun tidak tahu, yang pasti cara kita berjalan ini, sedikitnya jarak kita dengan kelenteng itu sudah semakin jauh,” jawab Siau-hi-ji.

Namun sekarang gua itu sudah semakin sempit, terkadang Siau-hi-ji harus memiringkan tubuh baru dapat menyelinap lewat, sedangkan panah penunjuk jalan juga sudah tiada terlihat lagi.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, Agaknya sekarang kita harus main untung-untungan, biarlah kita pejamkam mata,” Sembari bicara segera ia pun memadamkan obor.

“Kenapa kita tidak mencari lagi kalau-kalau ada ….”

“Percuma,” potong Siau-hi-ji. “Para Hwesio dahulu itu mungkin tidak sembunyi sampai ke sini, maka mereka pun tidak perlu mengukir penunjuk jalan, biarpun kita mencari lagi juga cuma sia-sia belaka.”

Peng-koh tidak bicara lagi, tiba-tiba terasa tangannya dipegang Siau-hi-ji. Seketika jantungnya berdebar keras, dalam kegelapan detak jantungnya seakan-akan tambah keras. Muka si nona menjadi merah, kalau ada lubang di tanah rasanya ia ingin menyusup dan sembunyi di situ.

“Terpaksa, tak berdaya,” ucap Siau-hi-ji.

“Soal…soal apa tak berdaya?” tanya si nona.

“Jika jantung harus berdetak, siapa pun tak berdaya membuatnya berhenti,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Peng-koh mengikik tawa, segera ia hendak mencubit lengan anak muda itu, tapi mendadak tangannya berhenti di tengah jalan serta melenggong, tiba-tiba terasa olehnya selama bertahun-tahun ini baru sekarang untuk pertama kalinya ia merasa dirinya adalah perempuan, untuk pertama kalinya ia merasa dirinya berdarah dan berdaging. Perasaan ini membuat sekujur badannya panas membara, hampir-hampir berjalan saja tidak sanggup lagi.

Lorong gua ini semakin sempit, terkadang dilalui dengan merangkak. Berjalan di dalam kegelapan di tempat demikian rasanya sungguh tidak enak. Pakaian Peng-koh sudah robek, badan ada yang lecet dan berdarah, tapi sedikit pun dia tidak merasa sakit, dia terus mengikuti langkah Siau-hi-ji tanpa bicara.

Setiap satu jarak Siau-hi-ji lantas menyalakan obor untuk memeriksa keadaan sekitarnya, sampai akhirnya cahaya obornya sudah semakin guram. Ia tahu obornya sudah hampir terpakai habis, ia harus menghemat dan tidak berani menggunakan obor lagi, ia tahu di tempat demikian tanpa cahaya api akan berarti maut. Karena itu perjalanan mereka menjadi lebih sulit.

Entah sudah berapa lama mereka menyusur dalam kegelapan, rasanya sudah dua-tiga hari, tapi juga seperti sudah sebulan atau dua bulan. Langkah Peng-koh akhirnya mulai berat. Menyusul sekujur badan terasa linu, kepala pusing dan mata berkunang-kunang, lapar, dan dahaga.

Dengan sendirinya kondisi tubuhnya tidak sekuat Siau-hi-ji yang sudah kebal itu, mana dia sanggup tahan derita sehebat ini, kalau saja Siau-hi-ji tidak mengajaknya bicara dan bersenda-gurau, sungguh selangkah saja ia tidak kuat berjalan pula.

Padahal Siau-hi-ji sendiri juga payah.

Bila orang lain menghadapi keadaan buntu begini, andaikan tidak kelabakan hingga gila, paling tidak pasti juga akan berkeluh-kesah dan meratapi nasibnya yang celaka.

Tapi dasar watak Siau-hi-ji memang aneh, menghendaki kematiannya bisa jadi akan lebih mudah, kalau dia disuruh cemas, gelisah atau sedih atau jangan tertawa, inilah yang mahasulit.

Akhirnya Thi Peng-koh tak tahan, katanya, “Marilah kita mengaso sejenak.”

“Jangan, tidak boleh berhenti, sekali berhenti maka jangan harap akan sanggup berjalan pula,” ujar Siau-hi-ji.

“Tapi…tapi aku…tidak sanggup ….”

“Coba bayangkan, sejak dahulu kala sampai sekarang bilakah ada orang banyak yang masuk ke gua rahasia ini untuk berjalan-jalan dengan tangan bergandengan tangan seperti kita sekarang? Ai, betapa indah dan betapa romantisnya peristiwa ini. Orang lain tidak mungkin mendapatkan kesempatan bagus begini, kenapa sekarang kita tidak menikmatinya dan meresapinya.”

“Tapi…tapi sayang aku bukan…bukan kekasihmu,” ucap Peng-koh dengan perasaan hampa.

“Siapa bilang bukan?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, “Saat ini, detik ini, selain kau, siapa pula di dunia ini yang lebih berdekatan denganku?”

Kembali Peng-koh mengikik tawa, tanpa terasa seluruh badannya lantas jatuh ke dalam pelukan Siau-hi-ji, wajahnya panas seperti bara. Bara ini timbul dari lubuk hatinya yang dalam.

Sekalipun perempuan yang sudah kenyang asam garamnya penghidupan, kalau berada bersama pemuda seperti Siau-hi-ji di tempat gelap dan pada hakikatnya belum pernah menyentuh lelaki. Masa remajanya yang membakar itu memang sudah tertahan terlalu lama, apalagi seorang yang sedang menghadapi tepi batas antara hidup dan mati, pada saat-saat demikian pikiran sehat seseorang paling mudah runtuh.

Peng-koh sendiri pun tidak membayangkan dirinya bisa jatuh ke dalam pelukan Siau-hi-ji, dan sekarang dia sudah menjatuhkan diri, namun sedikit pun ia tidak menyesal. Ia merasa tangan anak muda itu mendekap pinggangnya dengan perlahan.

Keadaan gelap gulita. Kegelapan memang suka menyesatkan.

Dengan suara gemetar Peng-koh berkata, “Hidup manusia sungguh aneh dan menarik, baru sekarang kutahu hal ini. Dua-tiga hari yang lalu aku tidak kenal kau, tapi sekarang…sekarang aku ….”

“Apakah kau tahu apa yang kupikirkan sekarang?” tiba-tiba Siau-hi-ji bertanya.

“Tidak tahu,” jawab si nona.

“Yang paling kuinginkan sekarang adalah melihat wajahmu.”

“O, tidak…tidak…kumohon jangan ….” Namun obor sudah menyala pula. Cepat Peng-koh menutup mukanya dengan tangan.

Air mukanya kembali merah jengah. Serunya dengan suara gemetar, “Jang…jangan, padamkan…obornya sudah hampir habis ….”

“Biarpun obor ini sekarang sangat berharga bagi kita, tapi bisa kulihat wajahmu pada saat ini, betapa pun pengorbananku terasa setimpal juga,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Betul?” tanya Peng-koh sambil menurunkan tangannya perlahan-lahan.

“Cuma sayang saat ini tidak ada cermin, kalau ada ingin kuperlihatkan padamu bahwa wajahmu sekarang jauh lebih cantik daripada bentukmu dahulu yang dingin itu.”

Peng-koh menatap tajam anak muda itu, sampai lama sekali baru berkata dengan lirih, “Jika benar-benar kita tak dapat keluar, apakah engkau akan marah padaku?”

“Marah padamu? Mengapa kumarah padamu?”

“Sebenarnya engkau toh takkan meninggal biarpun terkurung di sana, tapi sekarang ….”

“Jika demikian halnya, sepantasnya kau yang harus marah padaku. Kalau bukan diriku, tentu kau takkan menderita begini.”

“Menderita?” tukas Peng-koh dengan tersenyum. “Tahukah engkau bahwa selama hidupku belum pernah segembira sekarang.”

Dia menatap ke arah yang jauh di sana, lalu katanya pula dengan perlahan, “Pada waktu aku hampir gila karena kesepian, entah berapa kali pernah kubermimpi, aku mendambakan ada seorang akan mengajak bicara padaku, bertengkar padaku, memancing aku tertawa dan membuat aku marah pula. Tadinya kukira impianku ini takkan terlaksana selamanya, kukira di dunia ini tidak ada orang yang mau menganggap diriku sebagai perempuan.”

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau aku sendiri tidak menganggap diriku sebagai perempuan, apalagi orang lain? Bisa jadi orang lain memandang diriku seperti bidadari, bahkan seperti iblis, tapi pasti tidak menganggap diriku sebagai perempuan.”

“Tapi tidak kurang tidak lebih engkau benar-benar seorang perempuan, aku dapat membuktikannya dengan seribu macam cara bila perlu.”

“Ya, hal ini dapat kurasakan kini, makanya seumpama sekarang aku harus mati juga aku merasa siap dan merasa gembira.”

“Siapa bilang kau akan mati?” seru Siau-hi-ji. “segera juga kita akan menemukan jalan keluarnya.”

Peng-koh menggeleng dengan tersenyum, katanya, “Kutahu…kutahu…engkau tak dapat mendustaiku.”

Sementara itu api obor sudah tersisa setitik saja, sambil memandangi api obor kelopak mata Peng-koh terasa semakin berat, dengan suara lirih ia menyambung, “Aku pun tahu, sikap baikmu padaku bukanlah lantaran benar-benar menyukai aku melainkan cuma ingin menghiburku saja, agar aku mendapatkan kegembiraan terakhir.”

“Ah, kau ber…berpikir terlalu banyak,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tersembul senyuman manis pada ujung mulut si nona, ucapnya perlahan, “Namun aku tetap berterima kasih padamu, aku benar-benar sangat…sangat lelah, kumohon biarkanlah kutidur, sekalipun tidurku ini takkan siuman untuk selamanya juga aku merasa puas ….”

Memandangi kelopak mata si nona yang berat dan perlahan-lahan terkatup itu, tanpa terasa Siau-hi-ji menghela napas.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara keresek serta suara mencicit, ada sebarisan tikus besar lagi gemuk beriring-iringan lari lewat di depan mereka.

Peng-koh terkejut dan membuka mata lebar-lebar, tubuhnya meringkuk ketakutan. Sebaliknya Siau-hi-ji berseru girang, teriaknya, “Aha, kau tidak perlu tidur lagi, kita pasti tertolong.”

“Tapi ini kan cuma kawanan tikus saja?” ujar Peng-koh.

“Lihatlah, kawanan tikus ini rata-rata berbadan gemuk, jelas tidak tinggal di perut gunung ini, di sini tiada terdapat satu butir beras atau makanan lain, pasti takkan membuat kawanan tikus itu sedemikian gemuk.”

Terbeliak juga mata Thi Peng-koh, katanya, “Jadi maksudmu kawanan tikus ini masuk dari luar gunung sana?”

“Betul, tempat ini pasti sudah dekat dengan pinggir perut gunung dan jalan keluarnya pasti juga berada di dekat sini,” sembari bicara Siau-hi-ji terus melangkah ke arah datangnya kawanan tikus tadi.

Untung obor belum lagi padam seluruhnya, tidak lama kemudian dapatlah ditemukan sebuah lubang yang tidak besar tapi juga tidak kecil, di luar lubang remang-remang ada cahaya yang redup.

Cahaya ini sangat aneh, bukan sinar matahari juga bukan lampu, tapi adalah semacam cahaya kemilau yang redup. Namun Siau-hi-ji tidak pedulikan lagi cahaya apakah itu. Segera ia tarik Thi Peng-koh dan menerobos ke balik lubang sana.

Di balik gua situ ternyata ada sebuah gua mestika, berpeti-peti harta karun tertimbun di situ, walaupun tidak terlalu banyak, tapi juga tidak sedikit jumlahnya.

Siau-hi-ji jadi melenggong, ucapnya dengan tertawa, “Aku sebenarnya bukan manusia rakus harta, tapi Thian justru selalu membuatku menemukan tempat-tempat rahasia penyimpanan harta pusaka, sungguh aku tidak paham mengapa di dunia ini terdapat harta karun sebanyak ini.”

Sambil memegangi sebuah peti, tiba-tiba Peng-koh berkata, “Di sini bukanlah tempat harta karun segala.”

“O, dari mana kau tahu?” tanya Siau-hi-ji.

“Peti-peti ini belum lama dibawa masuk ke sini, lihatlah, di atas peti ini tiada terdapat debu kotoran apa pun,” kata Peng-koh.

Melengak juga Siau-hi-ji setelah tangannya mengusap tutup peti dan memang benar tiada terdapat debu kotoran apa pun. Katanya sambil menyengir, “Dalam keadaan demikian kau ternyata lebih cermat daripadaku.”

Tiba-tiba dilihatnya di atas setiap tutup peti itu tertempel etiket yang tertulis, “Milik Toan Hap-pui”. Penemuan ini membuat Siau-hi-ji melonjak kaget.

Rupanya harta pusaka ini adalah milik Toan Hap-pui yang dirampas oleh Kang Piat-ho dan Kang Giok-long dengan berbagai tipu daya itu. Mungkin Giok-long menganggap gua ini adalah tempat sangat rahasia, maka partai harta karun rampasannya itu disembunyikannya di sini, tak tersangka secara kebetulan justru ditemukan oleh Siau-hi-ji.

Terkejut dan bergirang anak muda itu, hampir saja ia bersorak gembira. Tapi mendadak Thi Peng-koh mendesis, “Ssst, ada orang di sini.”

Waktu Siau-hi-ji mengintip ke sana, benar juga dilihatnya di samping sepotong batu besar di luar sana duduk dua orang berhadapan. Seorang yang duduk menghadap ke sini berwajah putih pucat, ternyata Kang Giok-long adanya. Sedang orang yang duduk di seberangnya bertubuh kekar dan wajahnya tidak jelas terlihat.

Di samping batu itu tertaruh banyak santapan dan arak, tapi kedua orang itu bukan lagi makan dan minum, mereka hanya memandangi batu besar di depan mereka dengan penuh perhatian.

Keadaan kedua orang kelihatan lesu dan lelah, rambut semrawut, muka berlepotan seperti sudah beberapa hari tidak pernah cuci muka. Tapi mata mereka masih terbuka lebar tanpa berkedip.

Peng-koh merasa heran, dengan suara tertahan ia tanya Siau-hi-ji, “Adakah sesuatu yang menarik pada batu itu, mengapa kedua orang memandangnya sedemikian rupa? Jangan-jangan mereka orang gila semua.”

Siau-hi-ji menjawab dengan gegetun, “Setahuku orang ini tidaklah gila, bahkan otaknya jauh lebih cerdas daripada orang lain.”

“Kau kenal dia?” tanya Peng-koh.

“Ehm,” Siau-hi-ji hanya mendengus saja sambil menatap santapan dan arak yang ditaruh di sana itu.

“Mengapa mereka melototi batu besar itu?”

“Mungkin mereka berharap batu itu akan berbunga,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Akhirnya pandangannya beralih dari makanan kepada batu besar yang dimaksudkan Peng-koh itu.

Batu itu rata persegi, tiada sesuatu yang aneh, hanya bagian tengah ada satu garis ukiran, pada kanan-kiri garisan itu masing-masing tertaruh sekerat daging Samcan, yaitu daging iga babi. Dan daging itulah yang dipelototi oleh kedua orang itu tanpa berkedip, seakan-akan daging yang berminyak itu adalah wajah perempuan yang paling cantik di dunia ini.

Siau-hi-ji merasa bingung juga melihat kelakuan mereka, gumamnya dengan tertawa, “Dahulu kukenal bocah ini tidak mempunyai penyakit apa-apa, tapi sekarang bisa jadi sudah berubah, memangnya dia sudah lupa bahwa daging harus di makan dengan mulut dan bukan untuk dipandang mata.”

Bicara soal makan, Thi Peng-koh juga menelan air liur, ucapnya dengan suara tertahan sambil tertawa, “Jika kau kenal dia, sebaiknya kau beri petunjuk padanya.”

“Tentu saja aku ingin mengajarkan dia cara memakan daging,” ujar Siau-hi-ji. “Cuma sayang bilamana sekarang aku muncul, yang dimakan bukan lagi daging Samcan di meja batu itu melainkan daging pahaku ini. Maklumlah, karena geregetannya padaku sudah lama dia ingin memakan dagingku.”

Peng-koh menghela napas kecewa, tanyanya kemudian, “Dan siapa lagi yang seorang?”

“Orang ini belum jelas kelihatan, rasanya seperti ….” belum habis ucapan Siau-hi-ji, sekonyong-konyong seekor tikus menerobos keluar dari tempat gelap dan melompat ke atas batu besar itu dan sekeratan daging di depan lelaki itu terus digondol lari.

Tiba-tiba muka Kang Giok-long berubah lebih pucat, katanya sambil menyengir, “Baik, sekali ini kau lagi yang menang.”

“Sampai sekarang utangmu padaku seluruhnya berjumlah seratus tiga puluh laksa tahil perak, harta simpananmu di dalam sana sudah hampir ludes,” ujar lelaki kekar itu dengan tertawa.

“Jangan khawatir, masih cukup banyak,” jawab Kang Giok-long dengan dingin.

“Hahaha, sebelum pertaruhan ini memuaskan seleraku, mana boleh begini cepat modalmu ludes, awas bila ingin kupencet perutmu hingga keluar telurmu,” demikian lelaki kekar itu bergelak tertawa, lalu ia iris sekerat kecil daging dan ditaruh pula di atas batu.

Baru sekarang Peng-koh paham duduk perkaranya, bisiknya dengan tertawa, “Kiranya mereka sedang berjudi, bilamana daging yang ditaruh di depannya itu digondol lari tikus, maka dia yang menang. Cara pertaruhan demikian sungguh sangat langka di dunia ini.”

“Tapi cara pertaruhan ini juga sangat adil, siapa pun tidak dapat main kayu,” kata Siau-hi-ji.

“Akan tetapi kalau tikusnya tidak datang, lalu bagaimana?”

“Jika tikusnya tidak datang, mereka lantas menunggu dan menunggu terus, dasar orang ini memang keranjingan judi, asalkan judi, biarpun menunggu sepuluh hari sepuluh malam juga bukan soal baginya.”

“Hihi, memang betul, tampaknya cara mereka berjudi seperti ini sudah lebih daripada sepuluh hari sepuluh malam.”

“Apakah kau ingin tahu siapa orang yang duduk membelakangi kita ini?”

“Eh, engkau sudah mengenalnya?”

“Meski belum melihat mukanya, tapi suaranya sudah dapat kukenali.”

“Siapa dia?” tanya Peng-koh.

“Han-wan Sam-kong atau lebih terkenal dengan julukan ‘Ok-tu-kui’, sebelum semuanya serba ludes tidak mungkin dia berhenti berjudi.”

“Ok-tu-kui?” Peng-koh menegas, “Apakah tokoh Cap-toa-ok-jin itu?”

“Betul, rupanya kau pun tahu di dunia ini ada Cap-toa-ok-jin.”

Peng-koh termenung sejenak, tiba-tiba ia tanya, “Apakah engkau tahu Cap-toa-ok-jin itu sebenarnya orang-orang macam apa?”

“Haha, pertanyaanmu ini boleh dikatakan tepat diajukan kepada orangnya,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa, “Mungkin di dunia ini tiada orang lain yang lebih mengenal Cap-toa-ok-jin daripada diriku ini.”

Lalu dia angkat tangannya dan memperlihatkan jarinya satu per satu, “Cap-toa-ok-jin itu terdiri dari pertama, si tangan berdarah Toh Sat, kedua, tertawa sambil menikam Ha-ha-ji, ketiga si Banci To Kiau-kiau, keempat, setengah manusia setengah setan Im Kiu-yu, kelima tidak makan kepala manusia Li Toa-jui, lalu ….”

Sampai di sini, tubuh Thi Peng-koh seperti agak gemetar, air mukanya juga berubah, tapi Siau-hi-ji tidak memperhatikan, ia menyambung lagi, “Lalu ada lagi si Singa Gila Thi Cian, si tukang pikat Siau Mi-mi, Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, Pek Khay-sim dan ditambah lagi Auyang Ting dan Auyang Tong bersaudara.”

“Jika begitu, bukankah jumlahnya ada sebelas orang?” tanya Peng-koh.

“Soalnya kedua Auyang bersaudara itu adalah saudara kembar yang tidak pernah berpisah satu sama lain, sebab itulah mereka berdua cuma dianggap satu.”

Perlahan Peng-koh menunduk, ucapnya dengan lirih, “Apakah orang-orang itu memang betul sangat jahat?”

“Sebenarnya orang yang lebih jahat daripada mereka masih sangat banyak, soalnya tindak tanduk mereka ini terlebih mencolok dan jauh berbeda daripada orang lain.”

“Maksudnya bagaimana?” tanya Peng-koh.

“Umpamanya Li Toa-jui yang tidak makan kepala manusia itu, sehari-hari tampaknya ramah tamah, bahkan boleh dikatakan orang serba pintar dalam bidang sastra dan ilmu silat, tapi bila penyakitnya mulai kambuh, jangankan orang lain, istri sendiri juga disembelih dan dimakannya. Padahal orang yang berjumpa dengan dia pasti takkan menyangka dia dapat melakukan kekejaman sejauh itu.”

Menyinggung nama Li Toa-jui, kembali tubuh Thi Peng-koh agak gemetar. Ia terkesima sejenak, kemudian bertanya dengan perlahan, “Apakah engkau kenal mereka?”

“Bukan cuma kenal saja, bicara terus terang, bahkan aku dibesarkan bersama mereka?”

Kembali si nona melengak, tanyanya, “Apakah kau tahu di…di mana mereka berada kini?”

“Bisa jadi mereka berada di sekitar Ku-san ….” tiba-tiba Siau-hi-ji menatap si nona dan bertanya dengan tersenyum, “Apa sebabnya kau tanya sejelas itu.”

Peng-koh tertawa, jawabnya, “Ah, aku cuma merasa tertarik oleh manusia-manusia yang serba aneh itu.”

Sudah tentu percakapan mereka itu dilakukan lirih, sedangkan Kang Giok-long dan Han-wan Sam-kong lagi asyik bertaruh hingga lupa daratan, dengan sendirinya mereka tidak mendengar suara mereka.

Tiba-tiba terlihat Kang Giok-long tertawa dan berkata, “Sudah sembilan hari kita bertaruh dan belum ada yang kalah ludes, apakah kau tidak merasa bosan dan kesal?”

“Tidak, biarpun taruhan ini berlangsung sembilan tahun juga aku takkan bosan,” jawab Ok-tu-kui.

“Tapi kalau pertaruhan ini diteruskan lagi, aku yang merasa kesal,” kata Kang Giok-long.

“Kesal atau tidak adalah urusanmu,” mendadak Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong melotot, “Pokoknya kau harus bertaruh denganku. Permainan harus jalan terus.”

“Maksudnya bukan menghentikan pertaruhan ini, aku justru ingin memperbesar jumlah taruhannya.”

“Hahaha, dalam hal berjudi, selamanya aku tidak kenal limit, makin besar taruhannya makin menyenangkan bagiku. Nah, katakan saja, kau ingin taruhan berapa banyak?”

Dengan tenang Kang Giok-long menjawab, “Modal yang Anda bawa tadi katanya bernilai tujuh puluh sampai delapan puluh laksa tahil perak, ditambah dengan jumlah kemenanganmu modalmu sekarang sudah ada dua juta tahil. Nah, boleh kita bertaruh dua juta tahil saja sekaligus.”

“Hahaha, bagus!” sorak Han-wan Sam-kong. “Satu kali taruhan menentukan kalah dan menang, ini benar-benar pertaruhan yang menyenangkan. Cuma ….” Mendadak ia berhenti tertawa dan membentak, “Sudah kuperiksa tadi, harta karun simpananmu itu paling-paling cuma bernilai dua sampai tiga juta tahil, kini sudah separo kau kalah padaku, dari mana lagi kau menyediakan modal dua juta tahil untuk bertaruh dengan aku?”

“Sisa harta simpananku itu sedikitnya masih ada satu juta tahil,” kata Kang Giok-long.

“Dan selisihnya lagi satu juta?” tanya Ok-tu-kui.

“Selisih satu juta tahil kupenuhi dengan manusianya.”

“Buset! Anak kura-kura macam kau ini masa bernilai satu juta tahil?” Ok-tu-kui terbahak-bahak.

Namun Kang Giok-long tetap tenang saja, jawabnya dengan tersenyum, “Biarpun Cayhe tidak berharga satu juta, tapi kan masih ada satu orang yang bernilai lebih dari satu juta.”

“Siapa? Di mana?” tanya Ok-tu-kui.

“Apakah Tuan perlu menimbang dulu barang dengan harganya?” tanya Giok-long dengan tertawa.

“Sudah tentu,” seru Ok-tu-kui dengan melotot, “Di meja judi yang dikenal cuma duit, biarpun ayah dan anak atau suami dan istri juga tidak peduli, satu sen pun harus dihitung dengan jelas.”

“Jika begitu, biarlah Cayhe membawanya kemari,” kata Giok-long.

Di belakang Han-wan Sam-kong adalah sebuah batu padas yang mencuat keluar, di atas batu itulah tertaruh sebuah lampu minyak. Kang Giok-long terus angkat lampu itu dan melangkah keluar, katanya pula dengan tersenyum, “Tuan jangan khawatir, segera Cahye akan kembali.”

“Sudah tentu Locu (bapak) tidak perlu khawatir,” ujar Ok-tu-kui dengan tertawa. “Semua kekayaanmu berada di sini, kau pun buru-buru ingin memenangkan kembali modalmu yang sudah habis sebagian ini, mustahil kalau kau tidak lekas kembali lagi ke sini.”

Habis berkata barulah dia mulai meraih sepotong paha ayam terus dilalapnya dan didorong dengan tenggakan arak.

Terkesima Thi Peng-koh menyaksikan tingkah laku kedua orang itu, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Sungguh luar biasa orang-orang ini, sekali taruhan bernilai jutaan tahil perak, harta mereka seakan-akan diperoleh dari mencuri.”

“Memangnya siapa bilang hartanya bukan berasal dari mencuri?” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Biarpun hasil mencuri juga perlu banyak membuang tenaga dan pikiran, kalau dihabiskan dalam pertaruhan begini, kan sayang?” tukas Peng-koh.

“Segala macam harta benda, kalau didapatkan dengan mudah, habisnya juga mudah,” ujar Siau-hi-ji. Apalagi seorang penjudi, sekalipun bininya dijadikan barang taruhan dan diambil lawannya juga takkan membuatnya menyesal. ” Ia tertawa, lalu menyambung, “Cuma tak terduga olehku bahwa Kang Giok-long ini juga setan judi, setelah kalah ludes masih belum rela dan ingin bertaruh pula dengan gadai orang.”

“Jangan-jangan istrinya yang akan digadaikan untuk taruhan?” kata Peng-koh dengan tertawa ngikik.

“Seumpama dia punya istri juga takkan laku satu juta,” kata Siau-hi-ji. “Permainan apa yang akan dilakonkan bocah ini sungguh aku pun tak dapat menerkanya. Maklum, orang yang berharga satu juta tahil perak kan langka?”

Dalam pada itu Kang Giok-long telah kembali dengan menggandeng satu orang yang bertubuh ramping, tampaknya seperti seorang perempuan, cuma mukanya memakai cadar sehingga wajahnya tidak kelihatan.

“Mengapa kau membawa perempuan kemari?” tegur Ok-tu-kui sambil berkerut kening.

“Dengan sendirinya harus perempuan, kalau lelaki kan tidak berharga,” jawab Giok-long dengan tersenyum.

“Tapi barang bekas pakai dari anak kura-kura macam kau ini mana bisa laku sepeser pun?” ujar Ok-tu-kui sambil terbahak-bahak.

Dengan sikap sungguh-sungguh Kang Giok-long menjawab, “Meski nona ini telah ikut aku beberapa hari, kujamin masih baru, masih tetap mulus, seujung rambut pun tak kuganggu. Garansi!”

“Ah, masa ada kucing yang tidak makan ikan asin? Locu tidak percaya.”

“Kalau Tuan tidak percaya, boleh diuji coba!” kata Giok-long dengan tertawa. Lalu ia menaruh lampu tadi di atas batu, cuma sekali ini tidak ditaruhnya di belakang Ok-tu-kui melainkan di belakangnya sendiri. Cahaya memancar dari atas pundaknya sehingga bagian depan Han-wan Sam-kong tersorot terang.

Sebuah lampu ditaruh di mana pun adalah soal kecil dan takkan diperhatikan oleh siapa pun. Namun hal ini justru menarik perhatian Siau-hi-ji, ia mengeryitkan kening dan bergumam, “Bocah ini sedang main gila apa lagi? Lampu itu dibawanya pergi datang, rasanya pasti mempunyai maksud tertentu.”

Isi perut Kang Giok-long yang penuh air busuk itu rasanya tiada orang yang tahu terlebih jelas daripada Siau-hi-ji.

Perempuan bercadar hitam tadi masih tetap berdiri mematung saja, Kang Giok-long lantas membukakan cadarnya dan dia masih tetap berdiri termangu-mangu tak bergerak.

Di bawah cahaya lampu yang cukup terang, terlihat wajah perempuan ini ternyata cantik sekali walaupun agak pucat.

Mata Thi Peng-koh terbeliak melihat wajah yang ayu itu. Sedangkan Siau-hi-ji hampir saja berteriak demi melihat wajah itu.

Buyung Kiu!

Perempuan ini ternyata Buyung Kiu adanya. Setelah diusir oleh Samkohnio, dia terus berlari-lari kian kemari sepanjang jalan tanpa arah tujuan, di tengah malam gelap dengan sendirinya tiada orang yang melihatnya.

Seperti orang tidur berjalan saja, dengan linglung ia terus lari keluar kota. Walaupun ada yang merasa heran, tapi melihat pakaiannya yang bagus, orangnya juga cantik, maka tiada orang yang berani mengganggunya.

Tingkah laku Buyung Kiu yang aneh itu telah didengar oleh Kang Giok-long, segera ia menduga perempuan aneh itu pasti Buyung Kiu adanya, maka dia lantas meninggalkan urusan lain dan putar balik, dan di tengah jalan kebetulan memergoki Buyung Kiu yang sedang kelaparan setengah mati.

Dengan sendirinya Kang Giok-long tidak khawatir rahasianya akan dibocorkan Buyung Kiu yang kurang waras itu, segera nona itu dibawanya serta ke tempat simpanan harta rampasanya ini. Tak tersangka, “serigala mengincar ayam, harimau justru mengintai di belakangnya”. Pada saat yang sama Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong juga menguntit di belakangnya, akhirnya mereka berhadapan dan terjadi pertaruhan besar-besaran.

Begitulah Ok-tu-kui jadi tercengang juga setelah melihat wajah Buyung Kiu, setelah terkesima sejenak, akhirnya ia berkata dengan gegetun, “Cantik memang, benar-benar perempuan cantik. Cuma sayang sudah dua puluh tahunan, setiap perempuan cantik sudah tidak menarik lagi bagiku, maka lebih baik kau membawanya pergi saja.”

“Meski nona ini sangat cantik, tapi harganya yang tinggi justru tidak terletak pada wajahnya ini,” ucap Kang Giok-long dengan tersenyum.

“Memangnya terletak di bagian mana?” tanya Ok-tu-kui, pikirannya lantas melayang-layang ke bagian tertentu.

“Terletak pada kedudukannya,” jawab Giok-long.

“Hahaha! Memangnya dia seorang putri raja?”

“Meski bukan putri raja, tapi juga terpaut tidak banyak dengan seorang putri.”

“Sesungguhnya siapa dia? Mengapa kau anak kura-kura ini sengaja jual mahal?” omel Ok-tu-kui dengan gusar.

Dengan tenang Giok-long menjawab, “Dia adalah Buyung Kiu, nona kesembilan dari Kiu-siu-san-ceng.”

Melengak juga Ok-tu-kui, tertarik hatinya, ia menegas, “Jadi putri kesembilan Buyung Yong? Mengapa bisa berada di tanganmu?”

“Akibat perbuatan orang jahat, pikirannya menjadi kurang waras dan berkeluyuran ke mana-mana, dengan segala daya upaya kedelapan kakak perempuan dan iparnya telah mencarinya dan tidak menemukannya. Rupanya nasibku lagi mujur, tanpa sengaja telah kutemukan dia,” setelah tertawa, lalu Giok-long melanjutkan, “Nah, coba pikir, bilamana dia diantar pulang kepada kakak-kakaknya, lalu cara bagaimana mereka akan berterima kasih padamu? Kuyakin hadiah besar pasti sudah disediakan di sana.”

Setelah berpikir, Ok-tu-kui bertepuk dan berseru, “Baik, jadi, kita langsungkan pertaruhan ini!”

“Jangan!” sekonyong-konyong seorang berteriak.

Teriakan Siau-hi-ji secara mendadak ini bukan saja membuat kaget Ok-tu-kui dan Kang Giok-long, bahkan Thi Peng-koh juga terperanjat.

Seketika Kang Giok-long melonjak bangun dan membentak, “Siapa itu?”

Siau-hi-ji tenang-tenang saja, lebih dulu ia membisiki Thi Peng-koh, “Mari ikut keluar, apa yang kau suka silakan ambil saja dan makan sekenyangnya, sekali-kali jangan sungkan. Kini aku sudah mempunyai akal untuk menghadapi bocah busuk ini.”

Habis memberi pesan kepada si nona barulah ia melangkah keluar dengan berlenggang, tegurnya sambil tertawa, “Wahai kawan yang suka sembunyi di liang jamban dan makan tahi itu, memangnya kau sudah lupa padaku?”

Melihat Siau-hi-ji, kaget Kang Giok-long melebihi melihat setan, ia tersurut mundur dan menjerit, “He, ken…kenapa engkau berada di sini?”

“Arwah bapakmu ini masih penasaran, maka akan senantiasa membayangi anak kura-kura macam kau ini,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa ala Ok-tu-kui.

Dasarnya memang cerdik dan pintar, apa yang ditirunya pasti persis, caranya menirukan lagu dan lagak Ok-tu-kui bahkan hampir sukar dibedakan mana yang asli dan mana yang tiruan.

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong menepuk pundak anak muda itu keras-keras, serunya sambil tertawa, “Hahaha! Jika orang lain yang muncul mendadak dari dalam sana mungkin akan membuatku kaget, tapi kau setan cilik ini, biarpun kau timbul dari bawah bumi juga takkan mengherankan aku.”

Setelah bergelak tertawa, lalu ia menyambung pula, “Di kolong langit itu tiada sesuatu yang tak dapat kau lakukan.”

“Siapa bilang?” tukas Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh. “Paling sedikit aku tak dapat bertelur?”

Ok-tu-kui tertawa terpingkal-pingkal. Tapi Siau-hi-ji lantas sibuk dengan tangan dan mulutnya, semua barang santapan yang tersedia di situ terus disikatnya. Buyung Kiu memandangnya dengan termangu, seperti kenal dan juga seperti tidak kenal.

Melihat di belakang Siau-hi-ji mengikut seorang nona cantik, malahan cara makannya juga serupa Siau-hi-ji, main sikat laksana orang yang sudah tiga tahun tidak makan. Giok-long tidak tahu bahwa Siau-hi-ji dan Thi Peng-koh memang sedang kelaparan dan sudah beberapa hari tidak pernah makan apa-apa.

Ok-tu-kui juga merasa geli menyaksikan cara makan Siau-hi-ji yang rakus itu, sejenak kemudian ia bertanya, “Adik cilik, kau tahu hobiku selama hidup ini adalah bertaruh, mengapa tadi kau berteriak mencegah pertaruhanku?”

“Sebab…sebab bilamana pertaruhan itu berlangsung, maka tertipulah engkau,” jawab Siau-hi-ji dengan kurang begitu jelas karena mulutnya penuh makanan.

“Lucu kan setan judi tua, anak kura-kura ini paling-paling juga cuma setan judi kecil saja, masa dia dapat menipuku,” kata Ok-tu-kui. “Apalagi cara pertaruhan ini juga sangat adil, tidak mungkin berbuat curang, kecuali dia memang siluman tikus.”

Bicara punya bicara, akhirnya ia terbahak-bahak lagi seakan-akan di dunia ini tiada orang lain yang sanggup bercerita lelucon yang lebih lucu daripadanya, makin tertawa makin gembira dia.

Menunggu setelah Ok-tu-kui selesai tertawa, dengan perlahan barulah Siau-hi-ji bersuara, “Kau bilang pertaruhan ini sangat adil, dan engkau sudah menang beberapa kali, betul tidak?”

“Betul,” jawab Ok-tu-kui.

“Apakah kau tahu mengapa engkau menang?”

“Sudah tentu lantaran aku mujur.”

“Bukan begitu,” kata Siau-hi-ji cepat.

Ok-tu-kui mengernyitkan kening dan berkata, “Memangnya masih ada sebab lain?”

“Ya, sebab ….” Siau-hi-ji sengaja memandang Kang Giok-long sekejap, lalu menggeleng-geleng kepala dan berkata pula, “Ah, tidak, tidak boleh kukatakan.”

“Mengapa tidak boleh kau katakan?” seru Ok-tu-kui sambil berjingkrak.

“Sudah dua-tiga hari kesehatanku kurang baik, kukhawatir anak kura-kura ini akan melabrak diriku.”

Ok-tu-kui menjadi gusar, teriaknya, “Bila anak kura-kura ini berani menyentuh seujung jarimu, mustahil kalau tulang belulangnya tidak kulepasi satu per satu.”

“Jadi engkau akan membantuku bilamana aku berkelahi dengan dia?” tanya Siau-hi-ji.

“Sudah tentu,” jawab Ok-tu-kui tegas.

“Bagus, jika demikian barulah aku merasa lega,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Lalu sambungnya, “Kau tahu bahwa tikus paling takut pada cahaya terang, perbuatannya selalu dilakukan secara gelap-gelapan, pada waktu malam tikus baru berani beroperasi, tapi bila ada cahaya lampu, mereka lantas mundur teratur pula.”

“Sungguh tidak disangka kau pun sangat memahami watak kaum tikus,” kata Ok-tu-kui dengan tertawa.

“Hi (ikan) dan tikus kan senasib, bila ketemu kucing lantas kepala pusing, kalau ikan tidak memahami tikus, lalu siapa yang memahami mereka?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kembali Ok-tu-kui tertawa terpingkal-pingkal hingga tak dapat bernapas, ucapnya dengan terengah-engah, “Tapi…tapi apa sangkut-pautnya dengan persoalan ini?”

“Tikus yang berkeliaran di sini mungkin sekali baru saja pindah dari luar sana, bisa jadi di luar sana kedatangan seekor kucing buas sehingga kawanan tikus ini terhalau masuk ke gua sini,” kata Siau-hi-ji pula. “Tak terduga bahwa di dalam gua ini tiada rumah makan kaum tikus, karena kelaparan, terpaksa mereka menyambar keratan daging di depan kalian ini ….”

“Tapi itu pun perlu Locu berdiam tanpa bergerak,” tukas Ok-tu-kui dengan tertawa. “Barang siapa tidak tahan dan bergerak sedikit saja, maka kawanan tikus ini pasti tidak berani menggondol lari daging di depannya.”

“Namun engkau tetap melupakan satu hal,” kata Siau-hi-ji. “Lampu ini tadi berada di belakangmu, tubuhmu menghalang-halangi cahaya lampu sehingga keratan daging itu berada di tempat yang gelap. Kawanan tikus takut pada cahaya, yang diincar hanya daging yang terletak di tempat yang gelap, makanya berturut-turut engkau dapat menang beberapa kali.”

“Aha, memang benar, kau memang setan cerdik, sampai-sampai hal yang rumit begini juga kau pikirkan,” seru Ok-tu-kui sambil bertepuk.

“Yang berpikir akan hal ini tidak cuma aku saja,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Masa anak kura-kura ini pun dapat berpikir hal ini? Mengapa dia tidak omong?”

“Dia tidak omong, karena dia dapat memainkan Swipoanya dengan cemerlang,” kata Siau-hi-ji.

“Ah, pahamlah aku,” kata Han-wan Sam-kong. “Setelah anak kura-kura ini tukar tempat lampu ini, kini cahaya lampu tepat menyorot bagian depanku, karena yakin sekali ini dia pasti akan menang, makanya dia mengajak bertaruh besar-besaran sekaligus.”

“Ya, beginilah,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kalau hal ini dilakukannya tadi kan tiada gunanya, tapi kini dia akan dapat meraih kembali kekalahannya, bahkan dapat menang lebih banyak darimu.”

“Hah, jika tiada kau, sekali ini Locu pasti akan ‘kapal terbalik di selokan’,” ujar Ok-tu-kui dengan geli dan dongkol.

Siau-hi-ji lantas berpaling kepada Kang Giok-long, tanyanya dengan tertawa, “Nah, bagaimana? Betul tidak ucapanku?”

Air muka Kang Giok-long sudah tambah pucat sejak tadi, tapi dia sengaja menjengek, “Hm, kalau kau suka mengukur orang lain dengan perutmu sendiri, apa yang dapat kukatakan lagi?”

“Haha, Kang Giok-long, isi perutmu yang penuh dengan air busuk itu mungkin sukar diraba orang, tapi bagiku masa tidak tahu? Di hadapanku kau tidak perlu berlagak dungu,” Siau-hi-ji bergelak tertawa.

“Mungkin nasibku sedang malang, makanya ketemu setan,” dengus Kang Giok-long.

“Betul, ketemu aku bagimu boleh dikatakan malang dan sial delapan turunan,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Kini barang dan orangnya telah kutangkap basah, ayolah kau ikut padaku menemui Toan Hap-pui, coba bicaralah nanti.”

Kang Giok-long memandang Siau-hi-ji, lalu memandang Ok-tu-kui pula, katanya sambil menunduk, “Urusan sudah telanjur begini, aku pun tak dapat berkata apa-apa, cuma ….” Mendadak ia menelikung tangan Buyung Kiu, ia sendiri lantas menyelinap ke belakang nona itu, lalu berkata pula sambil menyeringai, “Cuma jiwa nona ini apakah tidak kalian pikirkan?”

Diam-diam Siau-hi-ji terkejut, tapi dia sengaja bergelak tertawa, katanya, “Jika kau hendak menggunakan Buyung Kiu sebagai sandera, maka kelirulah kau. Barangkali kau tidak tahu bahwa dia selalu ingin membunuhku, apakah mungkin aku akan menolongnya malah?”

Ok-tu-kui juga tertawa, katanya, “Locu juga tidak tertarik pada kaum wanita, mati-hidupnya tiada sangkut-paut apa pun denganku.”

“Jika begitu, mengapa kalian tidak turun tangan padaku?” ujar Kang Giok-long dengan tenang dan tersenyum.

“Soalnya Locu tidak ingin membunuhmu,” kata Ok-tu-kui.

“Huh, tanganku bisa kotor bila kugunakan untuk membunuh orang yang suka makan tahi,” Siau-hi-ji juga tertawa.

“Kalau begitu, baiklah Cayhe mohon diri saja, dengan sendirinya nona Buyung ini pun akan kubawa serta,” kata Giok-long.

“Pergilah, silakan!” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Dengan membawa pergi Buyung Kiu, memangnya tiada orang yang akan mencari dan membuat perhitungan denganmu.”

“Kukira soal ini saudara tidak perlu ikut khawatir,” jengek Giok-long. “Bilamana aku ditanya orang, dapatlah kujawab bahwa kubawa lari nona Buyung justru untuk menyelamatkan dia dari kekejianmu. Bila tiada Kang Siau-hi-ji, saat ini Buyung Kiu tentu tidak jadi begini?”

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, katanya “Ai, ayah musang tak mungkin melahirkan anak ayam, kalian ayah dan anak mungkin tiada kepandaian lain, tapi dalam hal memfitnah dan pura-pura menjadi orang baik sungguh sukar ditandingi orang lain.”

“Hahahaha!” Kang Giok-long tertawa latah. “Entah apa itu orang baik? Apa itu orang jahat? Memangnya kau kira manusia di dunia ini dapat dibedakan antara yang baik dan jahat?”

“Tapi kau telah merampas harta milik Toan Hap-pui, bukti dan saksi sudah nyata, apakah kau dapat mungkir?”

“Harta apa?” jawab Giok-long. “Kedua tanganku kosong, mana ada harta bendaku? Harta benda yang ada sekarang ini milik siapa, maka dia itulah yang merampasnya. Logika ini kan sangat sederhana?”

“Kurang ajar!” teriak Ok-tu-kui gusar. “Kau anak kura-kura ini juga hendak memfitnahku?”

“Kau menuduh aku memfitnahmu, tapi aku justru bilang kau yang memfitnahku,” jengek Kang Giok-long. “Bolehlah kita beberkan persoalan ini kepada khalayak ramai, coba mereka lebih percaya kepada seorang ‘Ok-tu-kui’ atau lebih percaya pada cerita orang she Kang.”

Han-wan Sam-kong jadi melenggong karena gregetan, katanya kemudian sambil menyeringai, “Kau anak kura-kura ini kalau dilahirkan lebih dini beberapa tahun, jelas gelar Cap-toa-ok-jin harus mengikutsertakan kau.”

“Terima kasih atas pujianmu,” kata Giok-long dengan tertawa. “Cuma Cayhe ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri di luar sana. Jeritan ngeri ini kedengaran sangat menyeramkan, bahkan berkumandang hingga lama sekali, orang yang menjerit itu mungkin melihat sesuatu kejadian yang sangat kejam dan menakutkan, bahkan seperti sedang mengalami sesuatu siksaan yang sukar ditahan. Jeritan ngeri yang aneh ini cukup membekukan darah bagi siapa pun yang mendengarkannya.

Air muka Kang Giok-long tampak berubah paling cepat dan juga paling ketakutan.

“Apakah orang di luar itu adalah pengikutmu?” tanya Siau-hi-ji.

Kang Giok-long tidak menjawab lagi, ia tarik Buyung Kiu terus hendak lari keluar.

Cepat Siau-hi-ji membentak, “Pendatang itu dapat membuat anak buahmu menjerit ngeri begitu, tentu dia sangat lihai dan menakutkan, tidak soal bila kau ingin cari mampus dengan lari keluar, tapi Buyung Kiu harus ….” Sekonyong-konyong ucapannya berhenti, dalam kegelapan sana sudah muncul lima sosok bayangan orang.

Meski wajah mereka itu belum kelihatan, tapi hawa seram yang terbawa masuk oleh orang itu sudah cukup membuat setiap orang berkeringat dingin.

Dalam kegelapan terdengar suara “ciat-ciit” yang terus-menerus dan merindingkan bulu roma. Lima sosok bayangan itu melangkah masuk dengan perlahan.

Yang pertama dilihat Siau-hi-ji adalah berpasang mata mereka yang hijau aneh dengan sorot mata yang gemerlapan, menyusul lantas tertampak wajah mereka yang lain daripada yang lain, pucat kehijau-hijauan, seakan-akan darah yang mengalir di tubuh mereka memang berwarna hijau.

Kelima orang sama mengenakan jubah hitam panjang menyentuh tanah, tangan kanan masing-masing membawa cambuk, tangan kiri menenteng sangkar besi. Suara ciat-ciit yang seram dan memuakkan itu justru timbul dari kurungan besi itu.

“Hai, siapakah para sahabat? Untuk keperluan apa kalian datang kemari?” bentak Han-wan Sam-kong.

Suara bentaknya menggelegar laksana bunyi guntur sehingga menggema lembah pegunungan sekelilingnya, dengan Lwekang yang tinggi ini maksudnya hendak menggertak pihak lawan agar mundur teratur.

Tak tahunya kelima orang berbaju hitam itu sama sekali tidak ambil pusing, bahkan mata pun tidak berkedip. Sorot mata yang hijau seram itu mengerling kian kemari antara Siau-hi-ji, Kang Giok-long dengan kedua nona.

Sudah Sejak tadi Kang Giok-long mundur kembali, segera ia pun membentak, “Nona Kiu dari Kiu-siu-san-ceng serta Ok-tu-kui berada di sini, kalau terlambat jangan harap kalian dapat lolos lagi!”

Dia memang cerdik, melihat gelagat jelek, segera ia menonjolkan nama Han-wan Sam-kong dan Buyung Kiu untuk menggertak lawan. Ia pikir andaikan nama kedua orang itu tidak berhasil menggertak lawan juga tidak menjadi soal, umpamanya kelak pihak lawan hendak mencari balas tentu bukan dia yang menjadi sasarannya.

Namun kelima orang itu tetap tenang-tenang saja, bahkan tetap melangkah masuk tanpa berhenti.

Mendadak Thi Peng-koh menjerit kaget sambil menarik tangan Siau-hi-ji, ucapnya dengan terputus-putus, “Ti…tikus…alangkah banyaknya tikus di dalam sangkar itu!”

Memang betul, di dalam kurungan besi itu ada berpuluh-puluh ekor tikus yang sedang mengeluarkan suara ciat-ciit menyeramkan. Meski Siau-hi-ji tidak takut pada tikus, tapi berpuluh pasang mata yang jelilatan serta gumpalan badan tikus yang berbulu itu membuatnya jijik dan merinding juga.

Salah seorang baju hitam lantas berkata, “Hehe, betul tikus…Kami berlima memang datang ke sini untuk cari tikus dan tiada sangkut-paut dengan manusia. Asalkan kalian berdiri di tempat, pasti takkan kami ganggu sedikit pun.”

Meski dia bicara dengan ramah tamah, tapi nadanya terlebih memuakkan daripada bunyi tikus.

Han-wan Sam-kong melengak, tanyanya, “Masa kedatangan kalian hanya untuk menangkap tikus?”

“Ya,” jawab orang itu.

“Menangkap tikus untuk apa?” tanya Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong karena heran.

“Soalnya daging tikus adalah kegemaran majikan kami, maka kami diperintahkan menangkap tikus ke mana-mana,” tutur si baju hitam dengan terkekeh-kekeh. “Namun ratusan li seputar sini, kawanan tikus telah sama lari ke pegunungan sini, sebab itulah kami pun mencarinya kemari.”

“O, pantas di gua ini tikus begini banyak, kiranya kalian yang menggiringnya kemari, tadinya kusangka di luar sana kedatangan seekor kucing galak yang membuat kawanan tikus ketakutan,” ucap Siau-hi-ji.

Air muka Han-wan Sam-kong tampak agak berubah seperti ingat kepada seorang, dengan suara bengis ia lantas tanya, “Siapakah majikan kalian?”

Si bajuhitam tidak menjawabnya lagi, tapi lantas memberi tanda kepada kawan-kawannya. Berbareng kelima orang lantas mengeluarkan suara suitan seperti suara sempritan yang membuat orang merasa ngilu dan seram pula.

Thi Peng-koh menutup telinganya, Siau-hi-ji juga merasa tidak enak, tapi rasa ingin tahunya memang besar, maka peristiwa aneh ini betapa pun ingin diikutinya hingga jelas.

Kedua mata Han-wan Sam-kong tampak melotot, kelihatan ada tanda-tanda rasa jeri dan khawatir.

Dengan suara tertahan Siau-hi-ji tanya padanya, “Siapakah sahabat yang gemar makan tikus ini? Apakah kau tahu?”

Han-wan Sam-kong hanya bersuara “ehm” saja. Waktu Siau-hi-ji mengulangi pertanyaannya, tetap Ok-tu-kui hanya mengeluarkan dengusan begitu.

Tokoh Cap-toa-ok-jin yang tidak kenal apa artinya takut ini seakan-akan terkesima membayangkan sesuatu yang sangat menakutkan, pertanyaan Siau-hi-ji seolah-olah tak didengar olehnya.

Pada saat itulah sekonyong-konyong dari bawah lubang-lubang tanah dan celah-celah batu timbul suara riuh aneh laksana ada beribu-ribu ekor tikus sedang bercuat-cuit saling berebut jalan buat lari keluar.

Cepat para baju hitam itu menaruh sangkar besi mereka pada lima penjuru. Pada saat lain kawanan tikus tampak berbondong-bondong lari keluar dari celah-celah batu sana dan dari tempat kegelapan, seperti air bah saja membanjir keluar, jumlahnya sukar dihitung.

Tikus yang pernah dilihat Siau-hi-ji selama hidup ini kalau ditotal menjadi satu mungkin tiada sepersepuluh daripada jumlah tikus yang dilihatnya sekarang. Sungguh mimpi pun tak terbayang olehnya bahwa di dunia ini terdapat tikus sebanyak ini.

Bilamana kini yang muncul adalah segerombolan serigala lapar atau serombongan harimau atau singa mungkin takkan membuat takut Siau-hi-ji, tapi gerombolan tikus sebanyak ini malah membuat mukanya menjadi pucat dan badan merasa dingin, arak daging yang dimakannya tadi terasa bergolak di dalam perut seakan-akan hendak tertumpah keluar.

Peng-koh tidak tahan, kontan ia muntah-muntah.

Sementara itu kawanan tikus lari serabutan di sekitar kaki mereka, tokoh-tokoh ilmu silat kelas tinggi ini sama-sama kelabakan dan melompat ke atas batu serta berjubel di situ.

Peng-koh menutupi mukanya dan merasa ngeri. Mata Siau-hi-ji juga terbelalak lebar. Beribu tikus berlari kian kemari di bawah kakinya, pemandangan ini sukar dicari, betapa pun ia tidak mau sia-siakan adegan menarik ini. Terlihat orang-orang berbaju hitam itu masih terus menyemprit tiada berhenti, cambuk mereka pun menggeletar, kawanan tikus itu dihalau masuk ke sangkar besi mereka.

Meski sangkar besi itu tidak kecil tapi juga tidak terlalu besar, begitu kawanan tikus itu lari masuk sangkar, seketika berjubel seperti tukang sayur mengisi bakulnya dengan ubi, sampai akhirnya kurungan besi itu sudah padat, tapi masih ada tikus lain yang berdesakan ingin menyusup ke situ.

Setelah lima sangkar besi benar-benar sudah penuh dan sukar diisi lagi barulah kelima orang berbaju hitam menurunkan cambuknya dan berhenti menyemprit.

Sisa kawanan tikus yang lain seketika seperti mendapat “pengampunan umum”, serentak lari serabutan terpencar ke mana-mana, hanya sekejap saja seekor pun tidak nampak lagi. Suasana di dalam gua lantas tenang kembali.

Peng-koh mengintip dari balik sela-sela jarinya baru kemudian berani menurunkan tangannya, wajahnya kelihatan penuh keringat dingin seakan-akan seorang yang habis mengalami mimpi buruk.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, ucapnya dengan menyengir, “Baru sekarang kutahu tikus ternyata begini menakutkan.”

“Dirodok!” Ok-tu-kui mencaci-maki. “Beribu-ribu tikus begini memang belum pernah kulihat.”

“Cayhe sih tidak takut, hanya agak mual,” ujar Kang Giok-long dengan tertawa.

“Ucapan sahabat ini tidak salah, tikus tidak menakutkan, bahkan sangat lezat rasanya,” ujar si baju hitam yang menjadi kepalanya.

“Lezat?” Siau-hi-ji berkerut kening.

“Jika tidak percaya, sekali kau coba mungkin seterusnya kau akan ketagihan,” ujar si baju hitam dengan tertawa aneh. Berbareng ia terus mengambil keluar seekor tikus gemuk dari sangkarnya dan disodorkan kepada Siau-hi-ji.

Cepat Siau-hi-ji goyang-goyang kedua tangannya dan berkata, “Ah, seorang lelaki sejati tidak mungkin merampas kesukaan orang lain. Jika tikus memang lezat rasanya, silakan saudara pakai sendiri saja.”

“Sayang, sungguh sayang,” kata si baju hitam. “Tak tersangka, saudara yang kelihatan bernyali besar, tapi seekor tikus saja tidak berani makan, padahal bilamana sekali saudara sudah merasakan daging tikus, maka daging lainnya akan terasa hambar.”

Sembari bicara ia benar-benar menyodorkan tikus hidup yang dipegangnya itu ke dalam mulut terus dimakannya mentah-mentah, malahan darah segar lantas menetes dari ujung mulutnya.

Seketika Siau-hi-ji merinding, teriaknya, “Setelah sahabat berhasil menangkap tikus sebanyak ini, tentunya sekarang kalian boleh pergi.”

Tiba-tiba Kang Giok-long berolok-olok. “Biasanya kau paling suka mengurusi tetek bengek, mengapa kali ini kau tidak mau ikut campur?”

“Jika ada orang gemar makan tikus, itu kan urusannya sendiri, untuk apa aku ikut campur?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Misalnya kau suka makan kotoran manusia, kan aku pun tidak pernah mencegah?”

Berubah kecut muka Kang Giok-long, segera ia berpaling ke arah si baju hitam dan bertanya, “Apakah sahabat benar-benar hendak pergi sekarang?”

Orang itu menjawab, “Kan sudah kukatakan tadi, kedatangan kami ini hanya untuk menangkap tikus dan tiada sangkut-pautnya dengan orang lain.”

“Apakah sahabat tidak tahu bahwa di sini masih ada benda lain yang jauh lebih bagus daripada tikus?” ucap Giok-long dengan menyesal.

Si baju hitam mengerling ke arah Buyung Kiu dan Thi Peng-koh, katanya dengan tertawa aneh, “Anak murid perguruan kami sama berpendapat perempuan tidak lebih menarik daripada tikus ….”

Kang Giok-long menarik Buyung Kiu menjauhi Siau-hi-ji dan Han-wan Sam-kong, habis itu baru bicara dengan tertawa, “Tapi harta mestika apakah juga tidak lebih menarik daripada tikus?”

“Harta mestika? Di mana?” tanya si baju hitam, matanya mencorong menandakan kerakusannya.

Giok-long memberi tanda ke arah gua di belakang sana dengan lirikan mata, sedangkan mulutnya berkata dengan tertawa, “Ada kedua saudara ini, aku tidak berani menjelaskan.”

“Sungguh aku merasa heran pada diriku sendiri, mengapa tidak sejak dulu-dulu kusembelih kau,” ucap Siau-hi-ji sambil mengangkat pundak.

“Haha, kukira tidaklah mudah jika orang seperti engkau juga ingin membunuh diriku,” ejek Kang Giok-long.

Dalam pada itu kelima orang berbaju hitam telah saling memberi tanda kedipan mata, setelah menjinjing sangkar besi, segera mereka melangkah ke gua di belakang sana.

Cepat Siau-hi-ji menyelinap maju mengadang di depan mereka, katanya dengan tertawa, “Di belakang sana tiada tikus, lebih baik silakan kalian pulang saja.”

“Kau berani merintangi kami?” jengek si baju hitam tadi.

“Bukan aku merintangi kalian, tapi kalian yang salah jalan, untuk keluar kalian harus menuju ke depan sana,” kata Siau-hi-ji.

“Sebaiknya sahabat harus tahu bahwa meski kau tidak berani makan tikus, tapi tikus berani makan kau,” kata si baju hitam dengan terkekeh-kekeh.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Tapi sudah beberapa hari aku tidak mandi, dagingku sangat kotor, mungkin tikus juga tidak mau.”

“Hehe, bagus, kau ini memang lucu, nyalimu juga tidak kecil ….” Sampai di sini, sekonyong-konyong cambuknya yang hitam gelap entah terbuat dari apa dan cukup berbobot itu terus menyabat.

Tapi sekali meraih dapatlah Siau-hi-ji menangkap ujung cambuk, ucapnya dengan tertawa, “Mungkin sahabat belum tahu, meski aku agak pusing menghadapi kawanan tikus, tapi terhadap manusia, biasanya aku tidak takut.”

Air muka si baju hitam berubah karena cambuknya terbetot oleh Siau-hi-ji, sekuatnya ia menarik, tapi cambuk itu seperti sudah lengket di tangan Siau-hi-ji, biarpun dia kerahkan sepenuh tenaga juga tidak mampu merebutnya kembali.

“Jika tikus tidak kenal aku, maka aku pun tidak kenal tikus,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, “Seumpama kalian menangkap habis semua tikus di dunia ini juga tak kupeduli, tapi kalian hendak mengincar urusan lain, terpaksa aku harus bertindak.”

“Bila kau tidak mengganggu kami, tentu kami pun takkan mengganggumu, tapi kalau kau hendak merintangi kami, terpaksa kami pun tidak sungkan-sungkan lagi padamu,” jengek si baju hitam. Habis berkata, kembali mulutnya mengeluarkan suara menyemprit seperti tadi.

Dua orang temannya segera membuka pintu sangkar yang dipegangnya, tikus yang tadinya berjubel di dalam sangkar segera melompat keluar terus menerjang ke arah Siau-hi-ji.

Tentu saja anak muda itu terkejut, sementara itu berpuluh dan beratus ekor tikus telah melompat ke atas tubuhnya, ya gigit ya jerit, Siau-hi-ji menjadi kelabakan dan merasa muak pula. Sebisanya dia mengebas sini dan memukul sana, tapi kawanan tikus itu tetap sukar diusir. Terpaksa tangan yang memegang ujung cambuk itu dilepaskan.

Tapi serentak kelima cambuk lawan lantas menyabatnya tanpa kenal ampun. Padahal seluruh tubuh Siau-hi-ji sudah penuh tikus, gerak-geriknya menjadi tidak leluasa, terpaksa sembari berkelit ia pun melompat mundur sambil berteriak, “Han-wan Sam-kong, kenapa engkau tidak membantuku? Ayo, lekas!”

Dia tidak berteriak minta tolong kepada Thi Peng-koh, sebab sudah dilihatnya nona itu telah meringkuk di pojok sana dengan ketakutan.

Namun wajah Han-wan Sam-kong sendiri juga berubah pucat, perlahan-lahan ia melangkah maju dengan ragu.

Si baju hitam tadi membentak bengis, “Han-wan Sam-kong, setelah kau tahu kami ini anak murid siapa, masih juga kau berani ikut campur?”

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong melengak, akhirnya ia pun mundur teratur.

“Han-wan Sam-kong, memangnya kau pun seperti perempuan, takut pada tikus?” teriak Siau-hi-ji.

Namun Han-wan Sam-kong malahan terus berpaling ke sana dan tidak memandangnya lagi.

Tikus yang merambat ke tubuh Siau-hi-ji bukannya berkurang, bahkan bertambah banyak, ia merasa sakit, gatal dan pegal, entah sudah berapa tempat tubuhnya digigit tikus. Sedangkan kelima lawan masih terus menghujani sabatan padanya.

Baru sekarang Siau-hi-ji benar-benar agak gugup.

Biasanya menghadapi persoalan apa pun dia dapat berlaku tenang, tapi kawanan tikus yang berbulu menyeramkan ini benar-benar membuatnya kelabakan.

“Hahaha! Orang yang mengaku dirinya paling pintar di dunia ternyata kewalahan menghadapi tikus,” demikian Kang Giok-long berolok-olok dengan bergelak tertawa. “He, Kang Siau-hi-ji, bilakah pernah kau bayangkan akan mati dikerubut tikus?”

Dalam pada itu tubuh Siau-hi-ji sudah kena dicambuk beberapa kali, dalam keadaan tak berdaya ia berkata dengan menyesal, “Sungguh tak tersangka aku akan ….”

Pada saat itulah sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu salah seorang berbaju hitam telah kena dicengkeram dari belakang terus dilemparkan ke sana, cambuknya juga kena dirampas orang.

Tentu saja keempat orang berbaju hitam yang lain menjadi kaget dan murka, sambil menggeram cambuk mereka terus menyabat ke arah si penyatron itu. Tapi aneh, entah mengapa cambuk mereka tidak mau turut perintah lagi, tahu-tahu malah saling sabet sendiri.

Terdengar Siau-hi-ji berseru dengan tertawa, “Ah, Hoa Bu-koat, tak tersangka kau pun datang kemari!”

Pendatang ini memang betul Hoa Bu-koat adanya. Kecuali ilmu silat “Ih-hoa-ciap-giok” yang sakti ini siapa pula yang dapat membuat keempat orang itu saling serang di antara kawan sendiri.

Sudah tentu Siau-hi-ji merasa lega melihat kedatangan Hoa Bu-koat. Kang Giok-long juga gembira melihat kedatangannya, disangkanya tujuan Hoa Bu-koat menolong Siau-hi-ji hanya supaya anak muda itu tidak mati di tangan orang lain, sebab ia tahu Hoa Bu-koat bertekad akan membunuh Siau-hi-ji dengan tangannya sendiri.

Begitulah maka hanya sekejap saja setelah Hoa Bu-koat mengayun cambuknya, kawanan tikus yang menempel di tubuh Siau-hi-ji telah diusirnya semua.

Kelima orang berbaju hitam tadi sama melenggong ketakutan, mereka pandang Hoa Bu-koat dengan melongo, cambuk tidak berani lagi sembarangan menyerang.

Si baju hitam yang menjadi kepala itu bertanya dengan tergagap, “Sia…siapakah sahabat ini? Mengapa ikut campur urusan orang lain?”

“Seumpama kau tidak kenal diriku, seharusnya kau kenal Kungfu yang kumainkan?” jawab Hoa Bu-koat dengan acuh tak acuh.

Si baju hitam berpikir sejenak, serunya kemudian dengan muka pucat, “Ih…Ih-hoa-ciap-giok!”

“Betul,” kata Bu-koat.

Nyali si baju hitam menjadi ciut, katanya, “Baiklah, apabila orang Ih-hoa-kiong berada di sini, terpaksa kami mundur saja.”

“Setelah sekujur badanku dikencingi kawanan tikus kalian, lantas kalian mau pergi begini saja?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ucapan ini mungkin belum sesuai untuk dikemukakan olehmu,” jengek si baju hitam. “Kalau cuma saudara…Hm!”

“Kalian menghina dia?” tanya Hoa Bu-koat.

“Hm!” kembali si baju hitam mendengus.

Bu-koat tersenyum, katanya, “Jika begitu, jangan pakai bantuan tikus, boleh kalian coba bertempur lagi dengan dia, boleh kalian berlima maju sekaligus dan aku pasti takkan ikut campur.”

Dengan menyeringai si baju hitam berkata, “Asalkan saudara tidak ikut campur, bocah ini ….”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu bogem mentah Siau-hi-ji sudah menyambar tiba. Jelas dia melihat pukulan Siau-hi-ji itu, tapi dia justru tidak mampu mengelak, belum lagi cambuknya bekerja, tahu-tahu orangnya sudah kena ditonjok mencelat.

Serentak keempat orang lainnya juga menubruk maju, tapi Siau-hi-ji tonjok sana dan pukul sini, hanya sekejap saja kelima orang itu sudah dihajarnya hingga babak belur dan terkapar di sana sini.

“Nah, sekarang kalian sudah tahu kelihaiannya tidak?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

Kelima orang itu tiada satu pun yang sanggup bicara lagi, semuanya menggeletak di tanah, merangkak bangun saja tidak mau.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Haha, manusia ternyata lebih brengsek daripada tikus, tidak tahan sekali dua kali pukul.”

Kawanan baju hitam itu tidak berani menjawab dan juga tidak berani bergerak.

Sedangkan Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong berulang-ulang memberi tanda kedipan mata dan gerakan tangan kepada Siau-hi-ji, maksudnya supaya Siau-hi-ji melepaskan pergi orang-orang itu.

Dengan berkerut kening Siau-hi-ji berkata pula, “Kini tanganku tidak gatal lagi, kenapa kalian tidak lekas berdiri?”

Tapi kawanan baju hitam itu tetap tidak mau berdiri, bahkan tubuh mereka terus meringkuk seperti ebi.

“Hahaha! Sudah tua begini, pakai lagak manja seperti anak kecil, memangnya kalian minta dibangunkan mak guru kalian?” demikian Siau-hi-ji berolok-olok pula.

Kelima orang yang tadinya masih gemetaran, kini sama sekali tidak bergerak lagi.

Sekonyong-konyong Han-wan Sam-kong melompat maju, sekali cengkeram ia tarik salah seorang itu dan diperiksanya, seketika air mukanya berubah kaget, perlahan ia lepaskan kembali si baju hitam, lalu berkata dengan menyesal, “Mungkin mereka takkan berdiri untuk selamanya.”

Rupanya kelima orang itu sudah mati.

Sinar lampu bergoyang-goyang, agaknya lampu itu sudah kehabisan minyak.

Di bawah cahaya lampu yang guram, wajah si baju hitam, yang tadinya pucat menghijau itu kini bertambah hijau kelam seperti lumut di batu tepi kolam.

Setelah mayat si baju hitam dilepaskan Han-wan Sam-kong, dari mulut, hidung dan telinganya lantas merembes keluar darah, bahkan darahnya juga bersemu kehijau-hijauan.

Siau-hi-ji melengak, katanya, “Hanya kena tonjok satu dua kali saja, masakan mereka lantas membunuh diri?”

“Mungkin mereka mengira kau takkan mengampuni mereka,” kata Bu-koat.

“Biarpun sekujur badanku penuh kencing tikus juga tidak nanti kubunuh mereka,” ujar Siau-hi-ji. “Mungkin orang-orang ini sudah terlalu banyak mengganyang tikus sehingga pikiran mereka pun dangkal seperti tikus.”

“Ingin mati lantas bunuh diri, kematian para anak kura-kura ini cukup cepat juga,” kata Ok-tu-kui.

“Ya, apakah di dalam mulut mereka sudah mengulum sesuatu racun sehingga setiap saat mereka siap untuk mati,” ujar Siau-hi-ji.

Han-wan Sam-kong coba mementang mulut salah seorang berbaju hitam itu, segera mengalirlah air kental berwarna hijau dengan bau busuk yang memuakkan. Mulutnya ternyata sudah berubah menjadi sebuah lubang belaka, gigi satu biji saja tidak kelihatan.

“Lihai amat racun ini, hanya sebentar saja gigi manusia juga dihancurkan,” seru Siau-hi-ji.

“Kalau betul, racun para anak kura-kura ini ternyata disembunyikan di sela-sela gigi,” kata Ok-tu-kui.

“Tapi mengapa mereka harus membunuh diri?” ucap Siau-hi-ji sambil berkerut kening. “Aku kan tiada maksud membunuh mereka, juga tidak ingin memaksa pengakuan mereka. Barangkali mereka memang sudah bosan hidup.”

Han-wan Sam-kong coba menggeledah badan si baju hitam, tapi hanya sedikit uang perak yang ditemukan, selain itu tiada terdapat sesuatu benda lain.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Ok-tu-kui membuka baju mayat itu dan berseru, “Ini dia, di sinilah jawaban teka-teki yang ingin kau ketahui.”

Kiranya di dada orang itu jelas tertulis sepuluh huruf besar. Kesepuluh huruf itu pun bersemu hijau, tampaknya ditulis dengan dibakar sehingga mendekuk cukup dalam di dalam daging, jelas tak dapat dihilangkan selamanya.

Kesepuluh huruf itu berbunyi, “Anak murid Bu-geh, boleh dibunuh tidak boleh dihina”.

Siau-hi-ji bergumam mengulang-ulang tulisan itu, “Apa artinya kalimat tulisan ini?”

“Artinya mereka diharuskan membunuh diri apabila tidak mampu melawan orang agar majikan mereka tidak kehilangan pamor,” ujar Han-wan Sam-kong. “Kalau sekarang mereka tidak bunuh diri, setelah pulang nanti mungkin mereka akan mati dengan cara yang lebih seram.”

“Maksudmu mereka takut mendapatkan hukuman berat dari majikan bilamana mereka pulang, maka mereka lebih suka bunuh diri saja di sini,” begitu Siau-hi-ji menegas.

“Ya,” jawab Han-wan Sam-kong.

“Tapi majikan mereka kan tidak tahu-menahu bila anak buahnya dihajar orang di sini, asalkan mereka sendiri tidak omong, memangnya aku dapat menyiarkan kejadian ini?”

“Bisa jadi anak kura-kura ini suka mengukur orang lain dengan perut mereka sendiri dan mengira kau ….”

“Bukan, bukan ini alasannya,” tiba-tiba Bu-koat menyela.

“Habis apa alasannya?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan tenang Bu-koat menjawab, “Waktu kulihat mereka, jumlah mereka ada tujuh orang.”

“Betul jika begitu,” kata Ok-tu-kui. “Mereka berlima yang masuk, dua orang lagi sembunyi di tempat gelap, melihat gelagat tidak menguntungkan mungkin sejak tadi mereka sudah kabur. Kelima orang ini yakin kejadian ini pasti akan dilaporkan oleh kedua temannya itu, daripada nanti mengalami hukuman keji, mereka lebih suka mati sekarang dengan bebas.”

“Waktu kau masuk kemari apakah tidak melihat kedua orang itu?” tanya Siau-hi-ji pada Bu-koat.

“Begitu mendengar teriakanmu segera kuterjang kemari sehingga tidak memperlihatkan urusan lain,” jawab Bu-koat.

Mendadak Siau-hi-ji tepuk kepalanya sendiri dan berteriak, “Celaka, kita asyik bicara mengenai kawanan tikus ini sehingga sama sekali tidak tahu beberapa orang telah mengeluyur pergi sejak tadi.”

Han-wan Sam-kong celingukan sekelilingnya dan ikut berseru, “Betul, anak jadah she Kang itu pun ikut kabur!”

Dengan gemas Siau-hi-ji berkata kepada Bu-koat, “Waktu kau masuk tadi, kulihat wajahnya menampilkan rasa senang, sebab disangkanya kedatanganmu hendak membunuhku lagi, kemudian mungkin melihat gelagatnya tidak menguntungkan dia, maka cepat-cepat ia mengeluyur pergi, Ai, bocah ini memang setan alas yang cerdik, seharusnya sejak tadi kuawasi dia.”

Bu-koat terdiam sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum tawar. “Dia mau pergi sendiri juga ada baiknya.” ucapnya.

“Jadi sejak tadi kau pun sudah melihat dia?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, rasanya kulirik dia sekejap,” kata Bu-koat.

“Tapi tetap kau biarkan dia pergi?”

Bu-koat menghela napas, katanya, “Ya, jelek-jelek aku telah berkawan dengan dia sekian lama ….”

“Tapi mengapa kau biarkan dia membawa serta Buyung Kiu?” teriak Siau-hi-ji.

Melengak juga Bu-koat mendengar Buyung Kiu dibawa lari Kang Giok-long, cepat ia menegas, “Nona Buyung maksudmu? Nona Buyung berada bersama dia?”

“Memangnya kau tidak melihatnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku cuma melihat di sampingnya ada seorang perempuan, tak terduga kalau dia itu nona Buyung,” tutur Bu-koat dengan gegetun, “Waktu itu yang kuperhatikan hanya dirimu, ditambah lagi sinar lampu yang suram sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.”

“Tampaknya kau pun seperti aku, biji mata kita ini perlu dikorek keluar untuk dicuci,” ucap Siau-hi-ji sambil menyengir.

Mendadak Han-wan Sam-kong menepuk bahu Siau-hi-ji dan berseru, “He, kenapa nona yang datang bersamamu itu pun ikut kabur?”

“He, ya!” seru Siau-hi-ji sambil berkerut kening. “Kenapa ia pun kabur? Apakah dia takut bertemu dengan Hoa Bu-koat?”

“Siapa nona itu?” tanya Bu-koat.

“Namanya Thi Peng-koh, kenal tidak?”

“Namanya baru sekarang kudengar.”

Dengan jarinya Siau-hi-ji ketuk-ketuk dahi sendiri, ucapnya, “Jika kau tidak kenal dia, mengapa dia kabur? Sungguh sukar dimengerti ….” Tiba-tiba ia menyambung pula dengan tersenyum getir, “Ya, mengapa aku melupakan dia adalah seorang perempuan. Seorang perempuan bilamana dia merasa harus pergi, maka seketika juga dia akan pergi dan tidak perlu pakai alasan apa segala.”

“Tapi bila kau kira dia pergi tanpa alasan, dia justru dapat mengemukakan berpuluh-puluh alasan, sedangkan alasannya itu bagi kaum lelaki jangan harap akan dapat memahaminya selama hidup,” sambung Han-wan Sam-kong sambil bergelak.

Tentang perginya Thi Peng-koh memang ada alasannya, bahkan alasannya cukup kuat.

Soalnya Hoa Bu-koat memang kenal dia, bahwa Hoa Bu-koat tidak tahu nama “Thi Peng-koh” adalah karena waktu di sana si nona tidak memakai nama Thi Peng-koh. Dan dengan sendirinya Thi Peng-koh sendiri juga sangat kenal Hoa Bu-koat.

Maka begitu nampak munculnya Hoa Bu-koat, seketika air muka Thi Peng-koh berubah pucat, cepat ia berpaling ke arah lain. Ia tunggu setelah merasa dirinya tidak diperhatikan Hoa Bu-koat, dengan kecepatan luar biasa ia lantas mengeluyur keluar.

Dalam khawatir dan gugupnya ia pun tidak tahu bahwa masih ada orang lain yang ikut kabur di belakangnya.

Meski di mulut gua mayat bergelimpangan dan tampak menyeramkan, tapi pemandangan alam di luar ternyata indah permai.

Sementara itu sudah dekat dengan senja, angin meniup silir membawa harum bunga yang lembut. Thi Peng-koh menarik napas panjang-panjang, entah bagaimana perasaannya sekarang.

Selama belasan tahun, untuk pertama kali ini dia mendapatkan kebebasan, untuk pertama kalinya dia berdikari, apa yang dilakukannya dapat diperbuat sekehendaknya, ingin ke mana pun tidak ada yang melarang.

Tapi sekarang dia justru tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia hanya tahu dirinya sekali-kali tidak boleh tinggal di sini, sekali-kali tidak boleh dilihat Hoa Bu-koat. Maka dia harus lari dan lari terus ke tempat yang jauh.

Menyusul Kang Giok-long juga ikut mengeluyur keluar. Semula dia kegirangan melihat kedatangan Hoa Bu-koat, tapi segera dilihatnya pula sikap Hoa Bu-koat terhadap Siau-hi-ji sudah berubah, segera pula ia merasakan gelagat tidak menguntungkannya.

Kalau bicara melihat gelagat dan cepatnya berbalik haluan mengikuti arah angin, mungkin Siau-hi-ji bukan tandingan Kang Giok-long, anak Kang Piat-ho ini benar-benar licin, lebih licin daripada belut.

Bahwa diam-diam Thi Peng-koh mengeluyur keluar, hal ini pun membuat heran Kang Giok-long.

Dia tidak jelas hubungan antara si nona dengan Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, tapi dia yakin hubungan antara si nona dengan mereka pasti luar biasa. Dan begitu Thi Peng-koh mengeluarkan Ginkangnya, Kang Giok-long bertambah terkejut pula.

Betapa hebat Ginkang si nona sungguh menakjubkan, yang aneh ialah gayanya yang anggun dan khas itu tampaknya berbeda dengan Ginkang umumnya, gayanya malahan lebih mirip dengan Ginkang Hoa Bu-koat yang tiada taranya.

Seketika terbelalak mata Kang Giok-long, ia terkejut dan heran, tiba-tiba timbul suatu pikirannya, cepat ia tarik Buyung Kiu dan memburu ke arah Thi Peng-koh.

Setiap kesempatan apa pun memang tidak pernah disia-siakan oleh Kang Giok-long. Hanya saja ia pun tidak menyadari bahwa “walang hendak menangkap tonggerek, di belakangnya mengincar pula burung gereja”. Ternyata dua orang lagi secara diam-diam juga mengikut di belakangnya ….

Waktu Siau-hi-ji, Hoa Bu-koat dan Han-wan Sam-kong keluar, kecuali mayat yang bergelimpangan di luar gua, tiada bayangan seorang pun yang terlihat.

Siau-hi-ji berkata dengan menyesal sambil memandangi mayat-mayat itu, “Meski orang-orang ini datang bersama Kang Giok-long, tapi mayat mereka tak diurus sama sekali oleh bocah itu, rasanya kita harus ….”

“Urusan ini tak perlu kau risaukan, menanam orang mati adalah kepandaianku yang khas,” ucap Han-wan Sam-kong.

“Habis, apa yang harus kukerjakan?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Bilamana aku menjadi kau, secepatnya akan kugali sebuah lubang besar, tapi bukan liang untuk mengubur orang-orang mati ini melainkan untuk bersembunyi bagimu sendiri, dan paling baik lagi jika selamanya tidak muncul lagi ke muka bumi ini,” kata Ok-tu-kui dengan sungguh-sungguh.

“Jika aku tidak mau?” Siau-hi-ji tertawa.

“Jika kau tidak mau sembunyi, maka kau harus bersiap-siap menghadapi seorang lawan yang paling keji, paling ganas, paling memuakkan dan paling membuat kepala pusing.”

“Jangan-jangan yang kau maksudkan ialah si Bu-geh (tanpa gigi).”

“Betul, Gui Bu-geh.”

“Tapi kelima orang itu kan bukan aku yang membunuhnya,” kata Siau-hi-ji.

“Memangnya kau kira dia tahu aturan?” kata Han-wan Sam-kong. “Pokoknya asalkan kau menyentuh anak muridnya, maka takkan pernah habis urusanmu dengan dia.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Tapi dari mana pula dia mengetahui akan diriku?”

“Keparat itu selalu mengetahui dengan caranya sendiri,” kata Ok-tu-kui.

“Dapatkah dia menemukan aku?”

“Orang lain mungkin tidak, tapi dia mempunyai caranya sendiri untuk menemukan kau.”

Siau-hi-ji menarik napas dalam-dalam, tanyanya, “Sedemikian lihai caramu melukiskan manusia tanpa gigi itu, sesungguhnya siapakah dia?”

“Cap-ji-she-shio, pernah kau dengar sebutan ini? Nah, dia adalah si tikus dari keduabelas lambang kelahiran itu.”

“Haha, kukira siapa, tahunya Cap-ji-she-shio yang kau maksudkan,” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Tokoh-tokoh Cap-ji-she-shio itu sudah pernah kukenal, tampaknya juga tak dapat berbuat apa-apa atas diriku.”

“Siapa di antara mereka yang pernah kau kenal?” tanya Ok-tu-kui.

“Ada sapi, ada kambing, dan ada ular, bukankah semua ini lebih lihai daripada tikus?”

“Jika kau anggap Gui Bu-geh sama seperti si ular, maka celakalah kau,” ucap Ok-tu-kui dengan tersenyum kecut. “Di antara Cap-ji-she-shio, justru si Tikus Gui Bu-geh inilah yang paling lihai, biarpun kesebelas lainnya ditotal menjadi satu juga tak dapat melebihi dia lihainya.”

“O, ya?!” Siau-hi-ji terkesiap.

“Terkenalnya Cap-ji-she-shio justru dimulai oleh Gui Bu-geh,” tutur Han-wan Sam-kong. “Waktu mereka sedang jaya-jayanya, bilamana orang Kangouw mendengar sebutan Cap-ji-she-shio, mungkin malamnya tak bisa tidur nyenyak. Tatkala mana mungkin kau belum lagi lahir.”

“Menurut ceritamu ini, rasanya aku harus bersyukur tidak dilahirkan pada masa itu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tidak perlu orang lain, umpamanya Cap-toa-ok-jin kami saja kan juga tergolong manusia-manusia yang tidak gentar pada langit atau takut pada bumi, tapi bila mendengar nama Gui Bu-geh, sedikitnya kepala kami bisa pusing selama beberapa hari.”

Baru sekarang Siau-hi-ji merasakan gawatnya Gui Bu-geh itu, katanya, “Wah, tokoh yang dapat membuat kepala pusing Cap-toa-ok-jin, pasti tidak boleh dibuat main-main.”

“Aku pun pernah mendengar namanya,” tiba-tiba Hoa Bu-koat menimbrung.

“Hah, mungkinkah Ih-hoa-kiong juga kepala pusing terhadap si tikus?” Siau-hi-ji berseloroh.

“Waktu mau berangkat, guruku menyuruh aku khusus harus memperhatikan dua orang, satu di antaranya ialah Gui Bu-geh,” tutur Bu-koat.

“Dan seorang lagi?” tanya Siau-hi-ji.

“Seorang lagi ialah Yan Lam-thian, Yan-tayhiap,” jawab Bu-koat.

“Nah, tidak salah bukan ucapanku,” kata Ok-tu-kui. “Sampai-sampai tokoh macam Ih-hoa-kiongcu juga segan padanya dan menjajarkannya dengan Yan Lam-thian, maka dapat kau bayangkan betapa lihainya.”

“Di mana dia sekarang?” tanya Siau-hi-ji pula setelah terdiam sejenak.

“Sebabnya Cap-ji-she-shio agak terdesak selama beberapa tahun terakhir ini justru lantaran Gui Bu-geh mendadak menghilang pada belasan tahun yang lalu,” tutur Ok-tu-kui. “Ada orang bilang menghilangnya itu lantaran dia dilukai oleh Ih-hoa-kiongcu, maka sengaja menyembunyikan diri. Ada pula kabar bahwa dia hendak meyakinkan sejenis ilmu sakti, maka tidak ingin ditemui orang ….” Setelah menghela napas panjang, lalu ia menyambung, “Konon bilamana ilmu saktinya itu sudah berhasil diyakinkan, maka ilmu silat yang dimiliki Ih-hoa-kiongcu dan Yan Lam-thian akan berubah seperti permainan anak kecil.”

“Hm, ilmu silat Ih-hoa-kiongcu selamanya takkan seperti permainan anak kecil,” jengek Hoa Bu-koat.

“Sudah tentu mungkin sekali dia cuma membual saja,” ujar Ok-tu-kui. “Tapi apa pun juga kuharap ilmu sakti yang dia yakinkan itu mudah-mudahan akan gagal.”

“Coba menurut pendapatmu dia bersembunyi di mana?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau dia sudah sembunyi, biarpun setan juga tak dapat menemukan dia,” kata Ok-tu-kui.

Siau-hi-ji berkerut kening, gumamnya, “Jangan-jangan dia sembunyi di Ku-san…orang yang disebut kedua Auyang bersaudara sebelum ajal mereka itu jangan-jangan si Tikus ini?”

Mendadak ia tepuk pundak Han-wan Sam-kong dan berseru dengan tertawa, “Setelah menanam orang mati apa pula yang ingin kau lakukan?”

“Sebenarnya aku ingin mencari lawan berjudi lagi,” jawab Ok-tu-kui. “Tapi demi mengingat Gui Bu-geh sudah muncul, selera berjudiku lantas lenyap.”

“Jika begitu kuharap engkau suka mengantar harta benda di dalam gua ini untuk dikembalikan kepada Toan Hap-pui, berbareng itu supaya di beritahukan padanya siapa yang telah menyembunyikan harta bendanya ini,” kata Siau-hi-ji. Lalu dengan tertawa ia menyambung, “Asalkan sudah kau serahkan kembali padanya, bahwa kemudian harta benda ini akan kau sikat lagi dengan taruhan adalah soal lain. Sebab Toan Hap-pui juga gemar mengadu jangkrik, juga sangat suka makan Ang-sio-bak, bilamana kau taruhan dengan dia dalam hal makan daging pasti dia takkan menolak.”

Seumpama Han-wan Sam-kong hendak menolak permintaan Siau-hi-ji juga tidak keburu lagi, sebab sebelum habis ucapannya, secepat terbang Siau-hi-ji telah menarik Hoa Bu-koat dan berlari pergi.

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong geleng-geleng kepala dan menyengir, gumamnya, “Keparat! Kalau Kang Siau-hi-ji sudah minta sesuatu padamu, jangan harap kau dapat menolaknya.”

Di tengah jalan Siau-hi-ji lantas menceritakan pengalamannya kepada Hoa Bu-koat. Sudah tentu Bu-koat tercengang heran, ia pun tidak habis pikir sesungguhnya permainan apakah yang sedang dilakonkan oleh “Tong-siansing” yang misterius itu, mau tak mau ia pun mulai menaruh curiga terhadap asal-usul tokoh aneh itu.

Kemudian ia pun menceritakan pengalamannya. Dengan sendirinya Siau-hi-ji merasa heran, katanya, “Yan-tayhiap baru akan melepaskanmu bilamana aku sudah ditemukan, mengapa engkau bisa muncul sendirian? Ke manakah beliau sekarang?”

“Entah mengapa selama dua hari ini aku selalu merasa bimbang dan tidak tenteram, seakan-akan tertimpa sesuatu mara bahaya, rasanya selama hidupku ini belum pernah mengalami keadaan seperti ini.”

“Yang mengalami bahaya selama dua hari ini ialah diriku, mengapa engkau yang merasa tidak tenteram malah, ini benar-benar sangat aneh,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sudah tentu tidak pernah terpikir olehnya bahwa sesungguhnya mereka adalah saudara kembar dan dengan sendirinya ada semacam ikatan batin, semacam telepati antara perasaan mereka, mimpi pun Siau-hi-ji tidak pernah menduga bahwa Hoa Bu-koat sesungguhnya adalah saudaranya.

Dengan senyum getir Bu-koat juga berkata, “Ya, aku pun merasa heran, hati rasanya tidak tenteram dan senantiasa ingin keluar, seakan-akan ingin menemukan sesuatu kejadian yang aneh, tapi urusan apa, aku sendiri pun tidak tahu.”

“Kemudian bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Mungkin Yan-tayhiap melihat sikapku agak aneh, beliau bertanya padaku ada masalah apa, kuberitahukan perasaanku yang tidak tenteram dan ingin berjalan-jalan keluar…Semula kukira Yan-tayhiap pasti tidak mengizinkan, siapa tahu dia lantas meluluskan kehendakku.”

“Kau ingin keluar dan dia membiarkan kau pergi begitu saja?”

“Betul,” jawab Bu-koat.

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Betapa pun Yan Lam-thian memang berbeda daripada Tong-siansing. Bicara terus terang, kau dapat bertemu dengan tokoh seperti dia sungguh nasibmu sedang mujur.”

Bu-koat terdiam. Bilamana hatinya mengagumi seseorang, maka mulutnya tidak akan mengutarakannya, apalagi orang yang dikaguminya adalah musuh bebuyutan Ih-hoa-kiong.

Dengan tertawa tiba-tiba Siau-hi-ji berkata pula, “Tapi engkau juga tidak malu sebagai seorang Kuncu (ksatria sejati), makanya dia mau melepaskan kau pergi begitu saja. Bilamana diriku, mungkin dia takkan melepaskan aku.”

“Mengapa kau suka mengaku dirimu bukan seorang Kuncu?” kata Bu-koat dengan tertawa.

Siau-hi-ji merenung sejenak, ucapnya kemudian, “Mungkin disebabkan sejak kecil tak pernah kulihat seorang pun yang berjiwa luhur, pada hakikatnya aku tidak tahu Kuncu itu macam apa bentuknya. Bilamana pernah kulihat satu-dua orang ‘Kuncu’, mereka ternyata sering membuat kecewa padaku ….” Mendadak ia bergelak tertawa dan menambahkan, “Bisa jadi lantaran di dunia ini terlalu banyak Kuncu palsu, betul tidak?”

“Jika kau dapatkan sebuah anggur kecut di antara satu onggok anggur yang menarik, apakah lantas kau anggap semua anggur itu kecut?” tanya Bu-koat dengan tertawa.

“Jika kau sudah makan yang kecut, apakah kau masih punya selera buat makan yang lain?”

“Biarpun aku sudah makan lima buah yang kecut juga tetap kumakan yang keenam, sebab kutahu apabila kumakan terus, akhirnya pasti akan mendapatkan anggur yang manis. Bilamana kau tidak mencoba makan lagi, bukankah kesempatan itu akan hilang selamanya?”

“Apakah kau tahu, apabila seorang terlalu pintar, bisa jadi selama hidupnya takkan pernah merasakan pangan yang enak? ….”

Bu-koat tidak menjawab, ia tertawa. Katanya tiba-tiba, “Ah, Yan-tayhiap sedang menungguku, apakah kau ….”

“Bila bertemu dengan beliau, katakan tidak lagi berjumpa denganku, boleh?” sela Siau-hi-ji.

“Sebab apa? Memangnya kau tidak mau ikut menemuinya?” tanya Bu-koat heran.

“Aku…aku hendak pergi ke Ku-san, bilamana diketahuinya tentu beliau akan melarang kepergianku.”

“Kau hendak pergi ke Ku-san?” tanya Bu-koat terlebih heran, “Untuk apa?”

“Menolong orang.”

“Menolong siapa?”

“Orang jahat?”

“Orang jahat? Apakah tokoh Cap-toa-ok-jin?”

“Betul, mereka ditipu orang ke Ku-san sana, apabila Gui Bu-geh betul-betul berada di sana dan benar-benar sedemikian lihainya, maka kepergian mereka itu mungkin takkan pulang kembali.”

“Tapi mereka kan ….”

“Meski mereka bukan orang baik-baik, tapi aku dibesarkan oleh mereka. Bilamana aku tidak mengetahui urusan ini tentu tak menjadi soal, tapi kini aku mengetahuinya, terpaksa aku harus ikut campur. Apalagi…apalagi aku pun hendak mencari Thi Peng-koh sekalian. Meski ilmu silatnya tidak rendah, tapi dia belum berpengalaman, pada hakikatnya tidak kenal bahayanya pergaulan orang hidup ini dan setiap saat mungkin akan terperangkap. Lantaran dia sudah pernah menyelamatkan aku satu kali, betapa pun aku juga mesti menolongnya satu kali ….” dia mencibir, lalu menyambung pula dengan tertawa, “Kau tahu, tidaklah enak rasanya bilamana utangmu kepada seorang perempuan belum lagi dilunasi.”

Bu-koat menatapnya lekat-lekat sekian lama, katanya kemudian dengan gegetun, “Baru sekarang kutahu, hendak memahami orang semacam kau ini sungguh bukan pekerjaan yang mudah.”

*****

Ini cuma sebuah kota kecil, seperti kota kecil umumnya, biarpun tiada penjahit yang modern, tiada penyewaan kereta, tiada tontonan yang menarik, tapi ada seorang koki yang serba mahir. Penduduk kota ini rupanya juga serupa manusia umumnya, lebih mengutamakan perut, habis itu baru urusan lain.

Kini koki yang pandai itu sedang memperlihatkan kemahirannya, bau sedap yang teruar dari restoran kecil yang papan mereknya sudah dekil itu menimbulkan gairah makan khalayak ramai.

Entah karena tertarik oleh bau sedap ini atau bukan, yang jelas Thi Peng-koh telah masuk ke kota kecil ini, bahkan ia pun merasakan perutnya sangat kelaparan.

Meski di gua ia sudah makan sedikit, namun seorang yang sudah kelaparan selama dua-tiga hari rasanya tidaklah mudah memuaskan rasa laparnya hanya dengan makan sekadarnya.

Tiba-tiba ia menemukan satu kenyataan, rasa lapar sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah ditahan.

Dalam keadaan demikian, biarpun dia adalah seorang putra raja, kalau perut sudah lapar, maka rasanya tiada beda dengan seorang kusir dokar di tepi jalan.

Meja di rumah makan kecil itu tampak mengkilap di bawah cahaya lampu yang tidak begitu terang, belasan ekor lalat hijau tampak terbang mengerumuni piring yang penuh berisi santapan sebangsa Lo-se-bak.

Dalam keadaan biasa tempat begini tidak mungkin dikunjungi Thi Peng-koh biarpun dia dijemput dengan joli. Tapi sekarang, seumpama merangkak juga dia akan merangkak masuk ke situ.

Pelayan yang duduk di depan rumah makan dan sedang mengorek kuping tampak riyap-riyap oleh rasa geli-geli nikmat, melihat kedatangan Thi Peng-koh dengan ragu-ragu ia berbangkit, ia mengawasi si nona dari atas ke bawah dan kembali dari bawah ke atas, meski menyambut dengan mengulum senyum, namun senyuman yang nyengir dipaksakan atau lebih tepat dikatakan menyengir.

Maklum, keadaan Thi Peng-koh sekarang tidaklah mirip seorang tamu yang terhormat.

Biarpun umpamanya dia tergolong nona yang paling cantik serta berbaju paling mewah di dunia ini, tapi setelah mengalami kejadian selama dua hari itu, keadaannya benar-benar sudah mirip perempuan gelandangan di tepi jalan.

Muka Peng-koh kini tampak lesu, ya kotor, ya berkeringat, rambutnya morat-marit seperti sarang burung, pakaiannya robek dan dekil, tampaknya lebih mirip pelarian yang baru kabur dari penjara, atau juga mirip gundik orang yang baru minggat.

Cuma sayang, seperti juga kebanyakan orang di dunia ini, hanya melihat kekotoran di tubuh orang lain, tapi tidak melihat kekotoran di badan sendiri.

Di rumah makan ini hanya ada tiga orang tamu, semuanya terbelalak melihat tamu baru yang aneh ini. Thi Peng-koh sendiri tidak tahu sebab apakah orang-orang ini memandangnya dengan heran.

Dengan lagak seperti seorang permaisuri dia masuk ke rumah makan ini, ia mengira orang lain akan menghormatinya seperti biasanya. Tak tahunya bahwa seorang yang berpakaian compang-camping seperti pengemis bilamana dia berlagak seperti permaisuri pula, maka lagaknya pasti menimbulkan rasa curiga orang lain. Sebab setiap orang tahu hanya orang miskin saja yang sok berlagak kaya, semakin kosong semakin suka berlagak berisi.

Apalagi sekarang, begitu masuk rumah makan itu, seketika pandangan Thi Peng-koh tercurah kepada Lo-se-bak yang ada di piring itu, sikapnya itu mirip orang yang selama hidup ini tak pernah makan enak, jelas sangat berbeda dengan lagaknya yang sok permaisuri itu.

Akhirnya si pelayan mendekati Peng-koh dan bertanya sambil tersenyum, “Apakah nona ingin dahar?”

“Ehm,” Peng-koh hanya mendengus saja, soalnya dia baru saja menelan air liur, maka sukar mengucapkan sesuatu kata.

Dengan acuh si pelayan berkata pula, “Apakah nona ingin semangkuk bakmi? Mi bakso di sini cukup memuaskan, satu porsi sedikitnya ada setengah kati.”

Peng-koh menarik napas panjang-panjang, katanya, “Aku tidak suka bakmi, bawakan saja seekor ayam panggang, satu porsi Ang-sio-hi, satu porsi ham masak saus manis dan satu porsi sup jamur masak rebung…Dan, Lo-se-bak seperti di piring itu bawakan dulu satu porsi.”

Santapan yang dipesan ini baginya sebenarnya sangat jamak, boleh dikatakan sangat merendahkan derajatnya, dengan gairah makanya yang berkobar sekarang, seekor babi panggang saja mungkin bisa dihabiskannya.

Tiba-tiba ketiga tamu yang mengikuti gerak-gerik Peng-koh sejak datangnya tadi sama tertawa geli mendengar serentetan nama santapan yang dimintanya itu. Si pelayan juga terbelalak heran sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Kalau Peng-koh hanya minta satu porsi bakmi, paling-paling ditambah lagi satu porsi Lo-se-bak, maka bolehlah, seumpama dia tidak sanggup bayar, si pelayan mampu menggantinya. Tapi yang diminta sekarang adalah sebangsa daharan yang mahal, ada ayam panggang dan ham segala, jelas ini bukan main-main.

“Bagaimana, apakah rumah makan kalian tidak sanggup menyediakan santapan pesananku?” omel Peng-koh dengan melotot demi melihat sikap ragu si pelayan.

Dengan serba susah si pelayan menjawab, “Santapan yang nona minta tentu saja ada, cuma rumah makan kami ini ada suatu peraturan.”

“O, peraturan apa?” tanya Peng-koh.

“Karena modal kami kecil, tidak sanggup menerima bon, maka para tamu yang berkunjung kemari biasanya harus bayar kontan lebih dahulu.”

Peng-koh jadi terkesiap. Mana dia membawa uang segala, dia cuma tahu uang perak adalah benda kotor dan berat, pada hakikatnya dia tidak tahu sedemikian besar daya gunanya uang.

Dengan menyengir si pelayan berkata pula, “Makan harus bayar, masa nona tidak paham peraturan ini?”

Muka Peng-koh menjadi merah dan tidak sanggup bersuara.

Ketiga tamu di sebelah itu lantas terbahak-bahak geli. Memang begitulah sifat kebanyakan manusia di dunia ini, kalau melihat muka anak perempuan berubah merah, rata-rata mereka akan merasa senang.

Seorang di antaranya lantas berkata dengan tertawa, “Lebih baik nona makan bersama kami di sini saja. Meski di sini tiada ayam panggang dan ham segala, tapi congor babi masih ada sisa sebagian, rasanya masih cukup untuk teman minum arak.”

Peng-koh menjadi serba salah, dalam keadaan demikian ia berharap lebih baik tidak pernah terjadi adegan ini, sebaiknya kalau dia tidak pernah dilahirkan dan tidak pernah masuk ke rumah makan setan ini.

Bilamana Siau-sian-li yang menghadapi keadaan ini, tentu semua orang akan dihajar dan dihalaunya dengan cambuknya. Jika Siau Mi-mi, mungkin tiada seorang pun di antara mereka yang dapat pergi dengan hidup. Tapi Thi Peng-koh bukan Siau-sian-li atau Siau Mi-mi, meski sikapnya angkuh, tapi pada dasarnya dia bukan anak perempuan yang galak dan ganas.

Hakikatnya dia memang tidak tahu bagaimana caranya berbuat ganas dan bersikap galak, ia hanya merasakan duduk di rumah makan ini terasa tidak enak, kalau keluar juga memalukan, jadinya serba susah.

Dan pada saat demikianlah Kang Giok-long masuk ke rumah makan ini, waktunya sungguh sangat tepat. Dia mendekati Peng-koh dan memberi salam dengan sangat hormat, lalu menyodorkan beberapa potong uang emas, katanya sambil tertawa, “Paman mengetahui keberangkatan Piauci terlalu tergesa-gesa dan mungkin tidak sempat membawa sangu, maka Siaute disuruh mengantarkan sedikit uang receh ini sekadar biaya perjalanan.”

Si pelayan melenggong seketika, ketiga tamu tadi juga melengak.

Yang paling heran sudah tentu Thi Peng-koh sendiri. Dia mengenali Kang Giok-long adalah si busuk yang dicaci-maki oleh Siau-hi-ji itu, tapi tidak habis mengerti apa maksudnya.

Cuma apa pun juga kedatangan orang ini memang tepat pada waktunya, munculnya uang perak ini pun sangat pas pada saatnya, umpama ingin menolaknya juga tidak sanggup menolak lagi.

Terpaksa ia menyaksikan Kang Giok-long duduk di sebelahnya. Buyung Kiu tampak tertawa linglung dan ikut duduk seperti boneka. Anak perempuan yang cantik dan menyenangkan ini kini telah berubah sedemikian mengharukan.

Sebaliknya si pelayan tadi telah berubah lebih gesit, dengan munduk-munduk ia meladeni tetamunya, sebentar antar teh, lain saat membawakan santapan, hanya sekejap saja pesanan Peng-koh tadi sudah memenuhi meja.

Kang Giok-long menggunakan air teh untuk mencuci sumpit Thi Peng-koh, katanya dengan mengiring tertawa, “Lo-se-bak ini tampaknya cukup segar, silakan Piauci (kakak misan) dahar sekadarnya.”

Mendadak muncul seorang ‘Piaute’ (adik misan), Peng-koh sendiri merasa bingung. Apabila kedatangan Kang Giok-long hanya membayar rekening makan minumnya mungkin akan ditolaknya. Tapi Kang Giok-long memang benar-benar pemuda yang sangat paham jiwa dan jalan pikiran anak perempuan. Anak perempuan lebih suka menahan lapar daripada merasa malu. Dan Kang Giok-long justru muncul pada saat Thi Peng-koh menghadapi jalan buntu dan serba susah, dia telah menyelamatkan muka si nona, tentu saja Thi Peng-koh sangat berterima kasih.

Selesai dahar, dengan kontan Peng-koh membayar rekeningnya, hatinya menjadi senang, tapi sisa uang kembalinya ia merasa tidak enak untuk mengambilnya pula.

Sejak tadi dia tidak bicara sepatah pun dengan Kang Giok-long, sekarang ia pun tidak dipedulikan anak muda itu, ia terus melangkah keluar. Ia pikir kalau Siau-hi-ji benci pada orang ini, maka orang ini pasti bukan manusia baik-baik. Bilamana seorang anak perempuan sudah menarik kesimpulan lebih dulu atas nilai seseorang maka kesan ini tidak mudah berubah.

Namun Kang Giok-long juga seorang yang suka pegang teguh atas pendirian sendiri, sekali dia sudah ambil keputusan, sukar juga menyuruhnya berganti haluan.

Thi Peng-koh berjalan keluar, Giok-long lantas mengintil di belakangnya.

Dengan mendongkol akhirnya Peng-koh bertanya, “Kau ingin berbuat apa lagi?”

“Aku cuma ingin tanya nona hendak pergi ke mana?” jawab Giok-long dengan tertawa.

“Kau tidak perlu urus,” kata Peng-koh ketus.

“Kukhawatir nona kurang leluasa menempuh perjalanan sendirian, maka ingin kubantu nona,” ujar Giok-long.

“Urusanku, kau tidak perlu pikir,” walaupun demikian ucapannya, namun hati Peng-koh sudah mulai goyah.

Terlihat orang berlalu-lalang cukup ramai di jalanan, tiada seorang pun yang di kenalnya, lampu berkelip-kelip di kejauhan, makin lama makin banyak, cuaca sudah mulai gelap.

Peng-koh jadi bingung, ia tidak tahu harus menuju ke mana? Tiba-tiba ia merasakan apabila seorang ingin hidup bebas merdeka di dunia ini, sesungguhnya tidak semudah apa yang pernah dibayangkannya.

Memang, seekor burung kenari yang biasa hidup di dalam kurungan, apabila suatu saat dilepaskan dan terbang bebas ke alam pegunungan, maka tidak terlalu lama burung kenari ini pasti akan mati kelaparan, soalnya dia sudah kehilangan kesanggupan hidup dengan berdikari atau mandiri.

Sudah cukup lama tidak terdengar Kang Giok-long di belakangnya, jangan-jangan anak muda ini sudah pergi.

Sungguh aneh, tiba-tiba Thi Peng-koh merasa dirinya jadi khawatir ditinggal pergi anak muda itu.

Cepat ia menoleh, tapi Kang Giok-long masih tetap ikut di belakangnya dengan cengar-cengir.

Meski dalam hati merasa lega, tapi di mulut dia sengaja menghardik, “Untuk apa kau terus menguntit diriku?”

“Cuaca sudah gelap, masa nona tidak ingin istirahat?” kata Giok Long.

Peng-koh menggigit bibir, sesungguhnya ia sudah lelah, tapi harus istirahat di mana? Sungguh ia tidak tahu. Malahan ia tidak tahu bahwa di dunia ini terdapat tempat menginap yang disebut “hotel”.

Dengan ramah Giok-long berkata pula dengan mengiring tawa, “Seumpama nona tidak ingin dibuntuti Cayhe, paling tidak kan boleh kubantu mencarikan hotel bagi nona.”

Sekali ini Peng-koh tidak mengucapkan lagi kata-kata menolak.

Tapi setelah mendapat hotel dan berada di kamarnya, dengan hati-hati Peng-koh lantas menutup pintu sambil berteriak, “Sekarang kau boleh pergi, makin jauh makin baik.”

Rupanya sekali ini Kang Giok-long benar-benar sangat penurut, Peng-koh tidak lagi mendengar suaranya. Setelah menunggu sejenak dan tiada terdengar sesuatu. Peng-koh menghela napas panjang dan merebahkan diri di tempat tidur.

Pengalamannya selama beberapa hari ini sungguh terlalu banyak, teringat olehnya akan Kang Siau-hi, teringat juga pada Hoa Bu-koat, dengan sendirinya ia pun memikirkan Kang Giok-long…Sebab apakah Kang Siau-hi-ji memusuhinya?

Padahal pribadinya kan tidak terlalu busuk.

Namun Peng-koh benar-benar teramat lelah, ia tiada tenaga buat memikirnya lebih seksama, di tempat asing ini semula ia mengira dirinya pasti sukar pulas. Tapi tahu-tahu ia sudah tidur.

Esok paginya, begitu bangun, segera ia merasa lapar sekali.

Persoalan lapar memang sangat menggemaskan. Tatkala kau tidak ingin kehadirannya, dia justru muncul. Dan orang yang tiada mempunyai sesuatu barang makanan akan terasa lebih lapar. Orang yang selalu ada makanan malahan tidak mudah merasakan lapar.

Beberapa kali Peng-koh ingin memanggil makanan, tapi hasrat ingin makan ini sedapatnya ditahannya. Tapi semakin dia ingin menahan lapar, sang perut justru tidak mau turut perintah, bahkan rasanya seperti mau berontak.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar pelayan berseru di luar kamar, “Kang-kongcu menyuruh hamba mengantarkan sarapan pagi bagi nona, apakah nona akan makan sekarang?”

Sudah tentu Peng-koh ingin makan sekarang juga. Selesai makan, akhirnya Peng-koh mendapatkan bentuk dirinya yang menakutkan, dengan gemas ia ingin melemparkan cermin tembaga yang berada di atas meja, sekujur badannya tiba-tiba terasa gatal.

Namun dia tak punya baju lain untuk salin, ia pun tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan pakaian. Pada saat serba susah inilah kembali datang si pelayan.

Sekali ini dia membawa beberapa pasang pakaian baru dan halus, satu perangkat alat rias, lengkap dengan pupur kelas tinggi, ditambah lagi sepatu dan kaus kaki. Semua barang ini apakah dapat ditolak oleh Thi Peng-koh? Anak perempuan di dunia ini yang dapat menolak barang-barang antaran begini rasanya tidaklah banyak.

Dengan sendirinya barang-barang antaran ini berasal dari “Kang-kongcu”. Bilamana Thi Peng-koh sudah memakai baju serta perlengkapan yang lain dan selesai berdandan, pada saat itulah suara Kang Giok-long lantas muncul.

“Apakah Cayhe boleh masuk?” demikian tanya anak muda itu dengan sopan.

Kini, dalam perut Thi Peng-koh terisi santapan pemberian orang, yang dipakai di tubuhnya ialah perlengkapan kiriman orang. Dalam keadaan demikian dapatkah dia menolak anak muda itu masuk ke kamarnya?

Dan sampai hari sudah Iohor Kang Giok-long masih ngendon di kamar si nona, tampaknya Thi Peng-koh juga tiada pikiran hendak mengusir anak muda itu. Sekarang ia merasakan dirinya benar-benar tidak dapat kehilangan dia.

Kalau Kang Giok-long duduk di sampingnya, Peng-koh merasa hal ini adalah layak. Sekalipun dia tetap menahan perasaannya, sedapat mungkin tidak banyak bicara dengan anak muda itu.

Dengan sendirinya kamar ini pun berada di suatu hotel kecil, ruangan makan hotel kecil ini hanya terdapat mereka berdua. Menurut cerita Kang Giok-long, katanya nona Buyung tidak enak badan, maka tidak dapat ikut keluar.

Padahal, yang benar ialah Kang Giok-long telah menutuk Hiat-to tidurnya. Buyung Kiu dibungkus dengan selimut dan direbahkan di tempat tidurnya. Meski nona itu tidak lebih hanya seorang linglung saja, tapi Kang Giok-long tetap tidak ingin terganggu olehnya.

Di hotel kecil ini dengan sendirinya tiada santapan yang lezat, tapi Kang Giok-long sengaja memesan makanan satu meja penuh, malahan minta disediakan dua poci arak. Dengan tertawa ia berkat, “Apabila nona tidak menolak, Cayhe juga ingin mengiringi minum barang dua cawan, mengenai nona, akan lebih baik kalau tidak minum arak.”

Peng-koh tidak menanggapi, tapi ketika arak sudah diantarkan, segera ia pegang poci dan menuang satu cawan penuh, sekali tenggak lantas dihabiskannya. Ia merasakan cairan yang pedas dan panas membara itu mengalir masuk ke perutnya, saking panasnya hingga air mata hampir merembes keluar. Maklum, selama hidupnya baru pertama kali ini minum arak.

Diam-diam Giok-long merasa geli, tapi dia sengaja berkata, “Apabila nona tidak pernah minum arak, lebih baik janganlah minum, kalau mabuk…Ai”

Lagaknya seperti orang yang sangat menaruh perhatian dan berhati tulus, khawatir si nona menjadi mabuk. Padahal dia justru berharap selekasnya Peng-koh mabuk dan tak sadarkan diri.

Sudah tentu ia tahu sifat anak perempuan, semakin mencegahnya jangan minum, dia justru minum semakin banyak. Sebaiknya kalau kau menganjurkan dia minum, satu tetes pun dia malah tidak mau minum.

Benar juga, belum lagi habis ucapan Kang Giok-long, segera Peng-koh menuang arak dan menenggaknya habis pula.

Menyaksikan itu, Giok-long pura-pura menghela napas gegetun, tapi di dalam hati sebenarnya senang sekali.

Setelah minum tiga cawan, Peng-koh merasakan sekujur badan menjadi hangat dan enak, seolah-olah ingin “terbang”. Waktu isi cawan keempat sudah masuk perutnya, dia merasa arak adalah cairan yang paling sedap di dunia ini, tidak terasa pedas dan juga tidak terasa pahit.

Waktu isi cawan kelima sudah ditenggaknya, maka semua duka nestapa telah dilupakannya seluruhnya.

Kini Kang Giok-long tidak lagi mencegah si nona minum, bahkan dia mulai menuangkan isi cawannya. Katanya dengan tertawa, “Asalkan nona tidak sampai mabuk, sebenarnya Cayhe juga ingin menyuguh secawan padamu.”

“Mabuk?” Peng-koh mendelik. “Air gula begini bisa membuat mabuk?”

“Sungguh tak tersangka kekuatan minum nona sungguh luar biasa,” kata Giok-long. “Marilah, Cayhe menyuguh secawan lagi pada nona.”

Di dunia ini jarang ada orang yang tidak suka dipuji dan diumpak. Karena itu kembali Thi Peng-koh menghabiskan secawan pula. Mendadak ia melototi Kang Giok-long dan bertanya, “Sesungguhnya kau ini orang baik atau orang jahat?”

Giok-long tersenyum, jawabnya, “Apakah nona melihat Cayhe ini memper orang jahat?”

“Kau memang tidak menyerupai orang jahat, tapi…tapi mengapa Kang Siau-hi-ji bilang kau ini bukan manusia baik?”

“Cayhe juga tahu nona adalah teman Kang Siau-hi, sebab itulah aku tidak ingin berbincang tentang kejelekannya di luar tahunya. Ai, padahal dia seharusnya tidak perlu benci diriku.”

“Tapi mengapa dia benci padamu?”

“Apakah nona cukup akrab dengan dia?”

“Cukupan…cukupan, tidak terlalu akrab.”

“Kelak bila nona sudah kenal lebih mendalam kepribadiannya tentu akan paham…Ai, sebabnya nona Buyung itu menjadi kurang waras kan juga gara-gara perbuatannya.”

Thi Peng-koh melenggong sejenak, lalu ia menuang pula secawan arak dan diminum habis.

“Dalam keadaan sekarang ini sebenarnya tidak pantas Cayhe menyinggung urusan yang dapat membuat kesal,” kata Giok-long dengan tertawa.

Tiba-tiba Peng-koh juga nyekikik, katanya, “Benar, kita harus membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Eh, adakah kau punya kisah yang menyenangkan, lekaslah bercerita, setiap ceritamu akan kuiringi dengan minum secawan arak.”

Bercerita adalah bakat pembawaan Kang Giok-long, mungkin tiga hari tiga malam juga takkan habis bilamana dia mau bercerita hal-hal yang menyenangkan. Karena itulah terus-menerus ia bercerita.

Dengan sendirinya Thi Peng-koh juga minum arak secawan demi secawan, sambil tertawa sambil minum, kadang-kadang tersembur keluar, tapi segera minum pula dan tertumpah lagi sehingga tubuh Kang Giok-long juga tersembur basah oleh arak.

Sampai akhirnya Kang Giok-long sudah berhenti cerita, tapi si nona masih cekakak dan cekikik, kemudian ia tak dapat tertawa lagi, ia memberosot jatuh ke bawah kursi dan tak dapat bangun lagi.

Berkilat-kilat mata Kang Giok-long, ia coba memanggilnya, “Apakah nona masih tahu apa yang kukatakan?”

Tapi mendengus saja Peng-koh tidak dapat.

Giok-long menariknya bangun dari kolong meja, terasa seluruh tubuh si nona sudah lemas lunglai seperti tak bertulang. Ke mana Giok-long membawanya, ke situ pula dia menurut.

Tersembul senyum gembira pada ujung mulut Kang Giok-long, gumamnya perlahan, “Kau sendiri yang ingin minum, jangan kau salahkan aku ….”

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang bergelak tertawa dan berkata, “Pandai benar cara saudara ini, sungguh Cayhe kagum sekali.”

Giok-long terperanjat, cepat ia menurunkan Peng-koh dan membalik tubuh. Dilihatnya seorang jangkung dan seorang pendek telah melangkah masuk.

Sementara sudah magrib, di ruangan kecil ini belum lagi dinyalakan lampu, keadaan menjadi guram, berdiri di ruangan yang remang-remang ini kedua orang tinggi-pendek itu tampaknya rada-rada menyeramkan.

Meski dalam hati rada waswas, tapi lahirnya Giok-long tenang-tenang saja, dengan tersenyum ia menyapa, “Apakah yang kalian maksudkan adalah diriku?”

“Ya, betul,” jawab si jangkung.

Yang pendek terkekeh-kekeh dan berkata, “Banyak juga tukang pikat perempuan dan ahli merayu yang pernah kulihat, tapi rasanya tiada seorang pun yang lebih pandai daripada saudara.”

“Hahaha, kepandaian berkelakar kalian sungguh sangat bagus,” jawab Kang Giok-long dengan tergelak-gelak.

Tiba-tiba si jangkung menarik muka, katanya, “Selamanya Cayhe tidak suka berkelakar segala.”

“Habis kalian ….”

Dengan terkekeh seram si pendek memotong, “Nona ini sekarang sudah berada di tanganmu, tampaknya sebentar lagi saudara akan mengeloni si cantik, tapi apakah saudara tidak dapat membuat kami juga ikut-ikut senang sedikit.”

“Apa yang kalian maksudkan, sungguh aku tidak paham,” ucap Giok-long dengan suara lirih.

“Maksudku, jikalau saudara ingin mengeloni si cantik, maka kepada kami berdua perlu juga diberi bagian,” jengek si jangkung. “Kalau tidak ….”

“Untuk berusaha mungkin kami tidak mampu, untuk menggagalkan rasanya kami cukup sanggup,” sambung si pendek dengan tertawa.

Tiba-tiba Giok-long mendapatkan akal, dengan tersenyum ia berkata pula, “O, jadi kalian juga ingin icip-icip, begitu?”

“Hehe, ini sih kami tidak berani,” kata si pendek. “Cuma saudara kan sudah mendapatkan yang baru, kalau yang lama, yaitu nona yang berada di dalam selimut, tentunya dapat kau berikan kepada kami.”

“Wah, tampaknya banyak juga yang kalian ketahui,” ucap Giok-long dengan tertawa.

Yang jangkung menjengek, “Bicara terus terang, sejak saudara mulai mengincar nona ini, setiap gerak-gerikmu sudah kami lihat dengan jelas.”

Dengan terkekeh-kekeh si pendek menyambung, “Caramu mengantar uang, menyediakan sarapan, membawakan pakaian dan segala perlengkapan yang diperlukan, semuanya telah kami saksikan dengan seksama. Dalam hati kami sungguh kagum luar biasa atas kepandaian saudara, maka sejak mula kami sudah tahu bahwa nona ini pasti tak dapat lolos dari telapak tangan saudara.”

“Bagus, bagus,” Giok-long bergelak tertawa, “Sungguh tidak nyana kalian berminat besar terhadap diriku. Silakan duduk, marilah kita minum bersama barang tiga cawan.”

Si jangkung menjawab, “Arak, dapat kami minum, tapi barang pengiring arak kami sudah membawa sendiri.” Mendadak ia menarik keluar seekor tikus dari dalam lengan bajunya terus dijejalkan di dalam mulut dan mengganyangnya mentah-mentah.

Melengak juga Kang Giok-long, katanya kemudian dengan tertawa, “Ah, kiranya kalian adalah sekaum dengan kelima sahabat tadi, pantas kalian sedemikian jelas terhadap diriku.”

“Bukan saja jelas terhadapmu, bahkan juga sangat jelas terhadap nona di dalam selimut itu,” tukas si pendek dengan tertawa.

“Jadi kedatangan kalian ini ingin ….”

“Selain minta saudara suka memberikan nona Buyung kepada kami, ada lagi suatu hal yang perlu kami tanyakan padamu,” sela si jangkung dengan ketus.

“O, urusan apa?” tanya Giok-long.

Sorot mata si jangkung menjadi buas, katanya, “Siapa sebenarnya ketiga orang di dalam gua itu? Apa hubungannya pula dengan dirimu?”

“Nama ketiga orang itu ialah Han-wan Sam-kong, Kang Siau-hi dan Hoa Bu-koat, tadi kalian tentu sudah melihat sendiri bahwa mereka adalah musuhku.”

“Beratkah permusuhan kalian?” tanya si jangkung.

“Terserah penilaianmu, yang pasti mereka ingin membunuhku dan aku pun ingin membunuh mereka,” jawab Giok-long dengan tertawa.

“Ehm, bagus, bagus sekali,” si jangkung menyeringai.

Giok-long coba memancing pula, “Kelima sahabat tadi apakah telah ….”

“Ya, telah terbunuh oleh mereka,” kata si pendek.

Giok-long menghela napas lega, ucapnya, “Jika begitu, kalian dan Cayhe mempunyai musuh yang sama, sepantasnya Cayhe menyuguh kalian satu cawan.”

“Baik, setelah minum boleh saudara ikut kami berangkat,” kata si jangkung.

Si pendek lantas menyambung, “Mengenai nona ini, boleh saudara berbuat sesukamu dalam perjalanan…Haha, kami pasti akan menyiapkan tempat yang baik bagimu di dalam kereta yang longgar.”

Kang Giok-long melenggong, tanyanya, “Memangnya kalian hendak mengajak aku ke mana?”

Si jangkung menjawab dengan perlahan, “Jika saudara sudah bermusuhan dengan ketiga orang itu, bilamana mereka mengetahui jejakmu, bukankah mereka akan segera menyusul ke tempat sembunyimu?”

“Bi…bisa jadi,” sahut Giok-long.

“Makanya kami ingin mengajakmu ikut kami pulang untuk memancing kedatangan ketiga orang itu,” kata si jangkung dengan tertawa.

Si pendek menyambung pula, “Meski cara ini kurang baik dan membikin susah padamu, tapi selain ini kami benar-benar tidak punya upaya lain, sedangkan kami tidak boleh pulang dengan tangan hampa, maka terpaksa ….”

“Ya, maksud kalian kini sudah kupahami seluruhnya,” tiba-tiba Giok-long tertawa “Bila tujuan kalian cuma menggunakan diriku sebagai umpan untuk memancing kedatangan ketiga orang itu, hasilnya kan juga menguntungkan diriku, masa aku tidak mau?”

Si pendek bergelak tertawa, katanya, “Saudara benar-benar seorang bijaksana dan dapat memahami maksud baik orang, biarlah Cayhe juga menyuguhmu satu cawan.”

“Habis minum segera kita berangkat saja,” ucap Giok-long sambil angkat cawannya.

Kedua orang itu pun angkat cawan masing-masing dan sekali tenggak habislah isinya.

Tapi baru saja mereka mendongak, belum lagi arak masuk kerongkongan, sekonyong-konyong cawan di tangan Kang Giok-long menyambar ke depan, menyambit ke tenggorokan si jangkung.

Kontan orang itu mengerang, arak tersembur dari hidungnya, tubuh pun roboh terjengkang.

Baru saja yang pendek terkejut dan belum sempat berbuat apa-apa, arak juga masih berada di kerongkongan, betapa pun dia harus menelan dulu arak yang berada di tempat kepalang tanggung itu.

Tapi pada saat itu juga secepat kilat kedua tangan Kang Giok-long telah menghantam. Meski gerak serangannya tidak selihai Siau-hi-ji, tapi sudah cukup ganas. Terdengar suara “blak-bluk dua kali, si pendek juga lantas roboh terkapar.

Giok-long tepuk-tepuk tangannya sambil menjengek, “Hm, cuma kalian berdua saja ingin membawaku pergi? Masih selisih jauh kemampuan kalian.”

Kedua orang itu roboh telentang di lantai tanpa bergerak, tapi jiwa mereka belum melayang, Kang Giok-long hanya menutuk Hiat-to mereka.

Sebelum tahu jelas asal-usul kedua orang ini tidak mungkin Kang Giok-long membunuh mereka, dalam hal ini Kang Giok-long memang berbeda daripada Toh Sat. Ingin membunuh orang, tentu Kang Giok-long memilih tempat dan waktu yang tepat.

Sementara itu Thi Peng-koh telah memberosot pula dari kursinya, di tempat yang remang-remang ini wajahnya kelihatan kemerah-merahan dan sangat menggiurkan.

Kang Giok-long memandang kedua orang yang menggeletak di lantai itu, lalu memandang pula Thi Peng-koh. Dengan sendirinya ia dapat membedakan urusan mana yang lebih penting, ia pun sangat paham urusan apa yang harus dikerjakan lebih dulu dan urusan apa pula yang dapat ditunda.

Menghadapi suatu kesempatan baik selamanya tidak pernah disia-siakan olehnya. Dia cukup paham bilamana kesempatan tersia-sia, maka kesempatan itu takkan kembali untuk selamanya.

Dengan suara keras ia lantas memanggil pelayan. Sudah tentu sebelumnya pelayan sudah dipesan apabila tidak dipanggil dilarang masuk, dengan sendirinya pesan ini disertai uang sogokan

Pesan yang tanpa disertai uang tip takkan mendatangkan daya guna sebaik ini.

Kini dia memberi pesan pula agar pelayan membawa kedua temannya yang “mabuk” ini ke kamar di sebelah, agar dibaringkan bersama si nona yang sedang “sakit” itu.

Walaupun kedua orang ini tiada sesuatu tanda mabuk, tapi kebanyakan pelayan adalah orang cerdik, mereka tahu bilamana mata mereka harus dipejamkan dan bilamana harus dipentang.

Malam sudah gelap, hotel kecil itu tenggelam di tengah kekelaman dan ketenangan. Cahaya lampu yang guram di hotel kecil ini tak dapat menahan kegelapan yang pekat itu. Apalagi kebanyakan kamar di hotel ini tidak menyalakan lampu, atau kalau perlu diperinci selain ruangan “kantor”, pada hakikatnya keenam kamar yang dimiliki hotel ini sama sekali tiada menyalakan lampu.

Sudah tentu keempat kamar yang tiada penghuninya itu tidak perlu penerangan. Lalu bagaimana dengan kedua kamar yang ada tamunya?

Kamar yang sebelah timur, sudah sehari semalam si nona yang sakit itu tak pernah keluar, kini ditambah lagi dua lelaki yang “mabuk”. Pelayan yang cerdik itu dengan sendirinya tidak ingin mereka menghamburkan minyak yang tidak perlu.

Padahal, pelayan ini juga si pemilik hotel. Kalau hotel selalu kekurangan tamu, dengan sendirinya ia perlu berhemat dalam segala hal.

Sedangkan kamar yang di sebelah barat itu, mengapa juga tidak menyalakan lampu?

“Pelayan” telah meninggalkan kantornya yang berlampu dan berdiri di sudut halaman yang gelap. Dengan sendirinya bukan maksudnya ingin mengintip rahasia orang lain, tapi bilamana dari kamar ini terdengar sesuatu suara yang menarik, dengan sendirinya dia tidak perlu mendekap telinganya, dia memang tidak ingin menjadi seorang “Kuncu”.

Benar juga, dari kamar itu memang terdengar sesuatu suara yang menarik.

Semula adalah suara keluhan, lalu suara keluhan itu semakin keras. Bila kemudian suara keluhan itu berubah menjadi suara napas yang terengah-engah, maka tanpa terasa tangan si “pelayan” telah penuh berkeringat.

Kadang-kadang dia suka menyesali dirinya sendiri mengapa harus membuka hotel, perusahaan ini tidak banyak menguntungkan, malahan selalu menimbulkan semacam rasa penyesalan berdosa.

Biasanya dia cuma dapat menyaksikan berlangsungnya perbuatan berdosa itu tanpa berdaya sedikit pun, ini bukan saja membuatnya menyesal, tapi juga membuat dia merasa dirinya adalah seorang pengecut.

Kini, bilamana terdengar suara yang khas ini, perasaan yang menekan itu bertambah keras. Ai, betapa moleknya anak perempuan itu, sebaliknya lelaki itu ….

Sekonyong-konyong didengarnya jeritan melengking, ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, dengan hati kebat-kebit cepat ia lari kembali ke dunianya sendiri.

Tindakannya ini mirip seperti seekor kura-kura bilamana mengalami sesuatu kejadian, maka cepat kepalanya mengerut ke dalam batoknya, asalkan ia sendiri tidak melihat, maka aman tenteramlah rasanya.

Sementara itu Thi Peng-koh sudah siuman dari mabuknya. Dia merasa sekujur badan kesakitan, ruas tulang seakan-akan retak, kepala juga sakit. Lalu tiba-tiba ia merasa ada seseorang berbaring di sebelahnya, waktu ia berpaling, dilihatnya Kang Giok-long yang masih terengah-engah itu. Dia menjerit kaget sejadi-jadinya. Dia mendorong sekuatnya sehingga Kang Giok-long terperosok ke bawah tempat tidur.

Anak muda itu mendekam di lantai, dia tidak merangkak bangun, sebaliknya malah menangis sedih.

Sungguh luar biasa, yang menangis seharusnya orang lain, tapi dia malah mendahului.

Peng-koh membungkus tubuhnya dengan selimut, teriaknya dengan parau, “Kau…kau sungguh keji, tapi…kau malah menangis ….”

“Aku tahu telah berbuat salah padamu, kumohon engkau sudi memaafkan aku ….” demikian Giok-long meratap.

Sekujur badan Peng-koh gemetar saking geregetan, teriaknya, “Kubenci…ingin ku ….”

“Jika kau benci padaku, boleh bunuhlah diriku, tadi aku benar-benar tidak mampu mengendalikan diriku, sebab aku pun mabuk, kita memang tidak pantas minum sebanyak itu,” sampai di sini mendadak ia menubruk ke atas tempat tidur pula dan berseru dengan menangis, “Kumohon kau bunuh saja diriku, bila kau bunuh aku, bisa jadi hatiku akan lebih tenteram.”

Sebenarnya saking geregetan Thi Peng-koh memang ingin membunuh anak muda itu, tapi sekarang…sekarang tangannya ternyata lemas tak bertenaga sedikit pun. Semula dia sangat berduka dan penuh rasa benci, sangat murka. Tapi Kang Giok-long telah mendahului menangis, begitu sedih tangisnya sehingga membuat Peng-koh kehilangan pegangan.

Sungguh tak tersangka olehnya Kang Giok-long bisa menangis. Apakah dia benar-benar menyesal, jangan-jangan ia memang terdorong oleh hasrat yang berkobar dan seketika itu tak dapat mengekang diri, jangan-jangan dia bukan orang busuk?

Hati perempuan pada umumnya memang mudah lunak, lebih-lebih dalam keadaan…keadaan “nasi sudah jadi bubur”, apa yang sudah kehilangan jangan harap akan diperolehnya kembali untuk selamanya.

Miliknya kini telah menjadi miliknya pula, kini anak muda itu kan sudah berubah menjadi orang yang mempunyai hubungan paling erat dengan dia?

Dari celah-celah jarinya Giok-long coba mengintip perubahan sikap si nona, tapi ia sengaja menangis semakin sedih, ia tahu air mata lelaki terkadang jauh lebih efektif daripada tangisan perempuan.

Menangis, ini memang senjata utama perempuan, tapi sekali-kali bukan monopoli kaum perempuan. Bilamana kaum lelaki mau menggunakan senjata ini, kadang-kadang malah jauh lebih berdaya guna daripada perempuan.

Akhirnya Peng-koh mendekap di tempat tidur dan menangis tergerung-gerung.

Selain menangis memang tiada jalan lain baginya.

Sorot mata Kang Giok-long memancarkan rasa senang, tapi dia masih tetap menangis, ratapnya pula, “Kutahu telah berbuat salah, tapi aku…aku sejak pertama kali melihatmu, pada saat itu juga aku lantas tahu selama hidupku ini tak boleh kehilangan kau, hidup bagimu, mati pun bagimu.”

Perlahan ia menggeser lebih dekat si nona, lalu berkata pula, “Meski salah perbuatanku, tapi hatiku benar-benar tulus, asalkan kau percaya padaku, tentu akan kubuktikan ketulusan ini, selama hidupku ini takkan membuat kecewa padamu.”

Dia telah menyentuh tubuh Peng-koh pula dan si nona tidak menghindar. Kalau seorang perempuan tidak menghindar, apa itu artinya?

Sudah tentu Kang Giok-long sangat paham urusan beginian. Mendadak ia memeluk erat-erat si nona dan berseru, “Hanya ada dua kemungkinan, maafkan aku atau boleh bunuhlah diriku. Tapi biarpun aku kau bunuh, kau tak dapat menyuruh aku jangan menyukaimu, biarpun mati tetap kusuka padamu ….”

Peng-koh tetap tidak bergerak sama sekali. Kalau anak perempuan dipeluk oleh lelaki dan tidak melawan atau meronta, maka tiada suatu persoalan lagi yang tak dapat dimaafkan.

Giok-long tahu usahanya berhasil. Dia mendekap di tepi telinga Thi Peng-koh, dibisikkannya kata-kata yang halus dan paling manis di dunia ini, ia tahu inilah yang dibutuhkan si nona sekarang. Perempuan yang mampu melawan bujukan manis dan rayuan madu kaum lelaki sampai detik ini mungkin belum lahir.

Benarlah suara tangis Thi Peng-koh mulai lirih, memangnya dia sebatang kara, memangnya ia merasa bingung dan tiada punya sandaran apa-apa, kini tiba-tiba ia merasa tidak lagi terpencil sendirian.

Kang Giok-long tertawa senang, katanya dengan lembut, “Sekarang dapat kau maafkan daku?”

“Ehm,” terdengar suara si nona yang kepalanya terbenam di bawah bantal.

“Kau tidak benci lagi padaku?” tanya Giok-long pula sambil menyanggah telinga si nona di bawah bantal.

Dengan tabahkan hati mendadak Thi Peng-koh menongolkan kepalanya dan berkata sambil menggigit bibir, “Asalkan apa yang kau katakan adalah sungguh-sungguh dan setulusnya, asalkan engkau tidak melupakan ucapanmu sekarang ini, maka aku pun ….”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar jeritan ngeri berkumandang dari kamar sebelah, jeritan ngeri itu sangat singkat, tapi cukup membuat orang merinding.

Dalam keadaan demikian Kang Giok-long benar-benar mahagesit, dengan kecepatan yang maksimal dapat dicapai oleh seseorang dia meringkasi segala sesuatu, lalu secepat anak panah dia melesat keluar, tindakannya ini seakan-akan sudah lupa sama sekali terhadap Thi Peng-koh.

Pada saat menghadapi bahaya, jangankan cuma Thi Peng-koh, biarpun bapaknya juga takkan dipikirkan lagi, yang dipikirkan hanya dia sendiri. Sedangkan dari suara jeritan ngeri itu dia telah mengendus adanya bau mara bahaya.

Suara jeritan ngeri itu benar-benar dapat membuat orang banyak merasa mual dan tumpah-tumpah, jika bukan orang yang mahaganas dan sangat membahayakan, tidak mungkin membuat orang menjerit begitu ngeri.

Begitu melompat keluar, Kang Giok-long tidak menerobos ke kamar sebelah yang menyuarakan jeritan tadi, tapi lebih dulu ia dobrak daun jendela kamar itu hingga terpentang. Lalu ia menyalakan sebuah lampu terus dilemparkan ke dalam kamar.

Lampu minyak itu jatuh berantakan di lantai, api lantas berkobar. Di bawah cahaya api yang berkedip-kedip, kamar yang sempit dan lembap itu tampaknya jadi lebih suram.

Dilihatnya Buyung Kiu masih tetap berbaring terbungkus selimut, ia menghela napas lega. Tapi segera diketahuinya pula bahwa kedua orang, yaitu si jangkung dan si pendek, sudah lenyap semua, mereka telah berubah menjadi dua genangan air darah.

Pemandangan ini membuat Kang Giok-long mengkirik, tapi hatinya lantas tenteram pula.

Kalau kedatangan orang yang mahaganas dan berbahaya itu hanya bermaksud membunuh kedua orang ini, kenapa dia harus tidak setuju? Kenapa dia harus khawatir dan takut?

Dan pada saat itu juga, di tengah berkelipnya cahaya api seorang telah muncul.

Sekilas pandang orang ini tampak gagah, jubahnya yang berwarna putih mulus itu bersulam bunga merah, kebanyakan wanita pasti akan tergila-gila pada kegagahannya.

Tapi bila dipandang lagi lebih cermat, maka kebanyakan perempuan pasti akan kaget dan jatuh semaput.

Mukanya, itulah yang luar biasa, di bawah sinar api mukanya itu seakan-akan tembus cahaya, begitu putih bening sehingga kelihatan tulangnya yang berwarna kehijau-hijauan.

Matanya, sepasang matanya juga tidak menyerupai mata manusia, tapi lebih mirip mata binatang buas yang kelaparan.

Jubahnya yang putih mulus itu sebenarnya juga bukan bersulam bunga merah segala, bunga merah itu adalah percikan darah segar yang baru saja menempel di jubahnya.

Kang Giok-long bukanlah pemuda yang hijau dan mudah digertak, tapi demi nampak orang ini, jantungnya serasa hendak berhenti berdenyut.

Dengan dingin orang itu pun sedang menatap Kang Giok-long, dengan sekata demi sekata, ia tanya, “Kaukah yang menutuk Hiat-to kedua orang tadi?”

Sedapatnya Kang Giok-long memperlihatkan senyuman wajar, jawabnya, “Betul, memang Cayhe lagi bingung entah bagaimana harus memperlakukan mereka, kini saudara sudah membereskan mereka, sungguh Cayhe merasa sangat berterima kasih.”

Diam-diam ia telah merasakan pendatang ini jauh lebih berbahaya daripada apa yang diperkirakan, maka cepat-cepat ia menyuarakan persahabatan.

Namun orang itu telah melototnya dengan dingin, katanya pula, “Apakah kau tahu siapa diriku?”

“Itulah yang ingin kuketahui,” jawab Giok-long.

Tiba-tiba orang itu tertawa sehingga tertampak barisan giginya yang putih gilap, katanya dengan perlahan, “Aku adalah majikan mereka. Mereka adalah kaum budakku.”

“Tapi…tapi engkau yang membunuh mereka dan bukan aku,” ujar Giok-long dengan kebat-kebit.

“Kau sudah menghinakan mereka, terpaksa aku membunuh mereka agar tidak lagi membikin malu,” ucap orang itu.

“Alasanmu membunuh orang apa biasanya memang sederhana begini?” tanya Giok-long dengan menyengir.

“Terkadang malahan lebih sederhana lagi,” ujar orang itu.

“Kadang-kadang aku pun membunuh orang, tapi aku harus mempunyai suatu alasan yang tepat, misalnya ….”

Pada saat itulah api yang menyala di lantai tiba-tiba padam, keadaan menjadi gelap gulita.

Tapi mata orang ini tampak berkelip-kelip dalam kegelapan. Terdengar dia menjengek, “Misalkan apa?”

“Misalnya, bilamana kutahu seorang hendak membunuhku, biasanya akan kubunuh dia lebih dulu,” mata Kang Giok-long juga berkedip-kedip dan setiap detik siap turun tangan.

Meski dia yakin orang ini pasti bukan lawan empuk, tapi ia pun percaya pada kemampuan sendiri yang pasti juga tidak empuk. Sebabnya dia belum mau turun tangan adalah karena dia merasa berada di posisi yang menguntungkan, dia tidak ingin sia-siakan posisi yang menguntungkan ini, dia hendak menunggu orang itu menerjang keluar lebih dulu.

Tak terduga orang itu mendadak tertawa. Suara tertawanya itu mirip seekor tikus yang sedang menggerogoti peti kayu, membuat orang merinding.

“Memangnya kau kira sekarang juga akan kubunuh kau?” kata orang itu dengan tergelak-gelak.

“Kau kan sudah mempunyai cukup alasan untuk membunuhku!” ujar Giok-long.

“Bilamana kuingin membunuh orang, tentu aku takkan banyak bicara dengan dia,” ujar orang itu.

“O, jadi maksudmu tak berniat membunuhku? Mengapa?” tanya Giok-long heran.

Mendadak orang itu berhenti tertawa dan berkata, “Kau harus membawaku pergi mencari tiga orang.”

“Ya, tahulah aku. Sebelum mereka kau bunuh tentunya engkau sudah tanya jelas semua kejadiannya.”

“Jika di dalam tujuh hari kau dapat membawaku menemukan Han-wan Sam-kong, Kang Siau-hi dan Hoa Bu-koat, maka kau takkan mati dengan segera, bahkan hidupmu masih bisa diperpanjang cukup lama.”

“Mereka kan juga musuhku?” ucap Giok-long sambil berpikir, “Jika kau mampu membunuh mereka, dengan sendirinya aku suka membawamu pergi mencari mereka. Cuma sayang, untuk membunuh mereka bukan pekerjaan yang gampang Sebaliknya terbunuh oleh mereka kukira akan lebih mudah. Nah, bila engkau tidak berhasil membunuh mereka, bukankah aku pun ikut susah?”

“Hehehehe?” orang itu terkekeh-kekeh. “Kau ini orang yang tidak mau rugi, justru aku suka pada orang semacam kau ini.”

“Orang yang tidak mau dirugikan biasanya tidak perlu disukai orang,” kata Giok-long.

“Lalu dengan cara bagaimana baru kau percaya aku mampu membunuh mereka? Coba katakan!” bentak orang itu dengan bengis.

“Ini perlu kau perlihatkan dengan cara apa kau dapat menarik kepercayaanku,” jawab Giok-long.

“Hm, untuk membuatmu percaya kukira bisa lebih dari seribu cara,” jengek orang itu. “Jika kau ingin belajar kenal ilmu sakti perguruan Bu-geh, biarlah lebih dulu kuperlihatkan sesuatu padamu ….” mendadak tangannya seperti bergerak, segera semacam lelatu hijau menyambar ke depan dan nempel di dinding, lelatu api itu tidak keras, ketika nempel di dinding juga lantas padam, hakikatnya tidak berkobar.

Begitu lelatu api itu padam, segera pula orang itu melayang keluar halaman. Padahal jelas kelihatan dia tidak melayang keluar melalui jendela. Lalu dari manakah dia menerobos keluar?

Tentu saja Giok-long kaget, waktu dia mengamat-amati barulah diketahui di dinding sana telah bertambah sebuah lubang besar. Kiranya orang ini melayang keluar melalui lubang itu.

Padahal lelatu hijau tadi hanya seperti percikan api saja, tanpa suara dan tanpa berisik, tahu-tahu dinding yang tebal itu telah terbakar sebuah lubang besar.

Baru sekarang Kang Giok-long melongo terkejut, Ginkang orang memang cukup lihai dan tidak sampai mengejutkan dia, tapi api yang tidak berkobar itu dapat menghancurkan dinding, ini benar-benar belum pernah dilihatnya.

Sementara itu orang tadi sudah berada di sebelahnya, dengan sorot mata tajam ia tatap Kang Giok-long dan bertanya, “Apakah kau ingin belajar kenal ilmu sakti lainnya?”

“Aku…aku ….” Giok-long menjadi ragu-ragu.

“Hehehe!” orang itu terkekek-kekek. “Ilmu sakti perguruan Bu-geh ….”

“Ilmu sakti perguruan Bu-geh bagiku tampaknya tiada sesuatu yang istimewa!” demikian tiba-tiba seorang menukas dengan bergelak tertawa. Di tengah gelak tertawanya itu sesosok bayangan orang tahu-tahu melayang tiba.

Selama hidup Kang Giok-long tak pernah mendengar suara tertawa yang menggetar sukma seperti ini, melulu suara tertawa yang hebat ini sudah cukup membuat kuncup nyali musuh.

Menyusul lantas dilihatnya perawakan pendatang ini, meski perawakan orang ini tidak terhitung tinggi besar, tapi tampaknya sekukuh gunung dan sekuat baja.

Anak murid perguruan Bu-geh itu juga menyurut mundur oleh perbawa orang, bentaknya segera dengan bengis, “Siapa itu berani bersikap kasar terhadap anak murid Bu-geh?”

“Aku Yan Lam-thian adanya!”

Nama ini seperti cahaya bintang kemukus yang dapat menerangi jagat raya ini.

“Kau murid Bu-geh? Di mana dia sekarang?” terdengar Yan Lam-thian membentak pula.

Meski nyali orang itu sudah kuncup, tapi dia masih tergelak-gelak dan menjawab, “Kau tidak perlu mencari guruku, keempat murid utama perguruan Bu-geh sudah lama ingin mencari Yan Lam-thian untuk mengukur tenaga, tak terduga aku Gui Pek-ih (Gui si baju putih) ternyata lebih beruntung daripada ketiga saudaraku ….”

“Kau ini kutu macam apa, berani kurang ajar terhadap Yan Lam-thian?” mendadak Kang Giok-long membentak gusar sebelum habis ucapan orang. Di tengah bentakannya segera ia pun menubruk maju, dan melancarkan tiga kali pukulan secepat kilat. Pukulan tiga kali ini ternyata ilmu pukulan Bu-tong-pay tulen.

Maklumlah, dia dan Siau-hi-ji mempelajari bersama ilmu silat yang tercantum di kitab pusaka yang mereka temukan di istana bawah tanah itu, ilmu silat itu mencakup semua intisari silat berbagai perguruan dan aliran, dengan kecerdasannya tentulah sangat mudah pula untuk belajar ilmu pukulan dari perguruan lain.

Sedangkan ilmu pukulan Bu-tong-pay pada masa itu justru sangat digemari, yang belajar sangat banyak walaupun yang mahir terlalu sedikit. Diam-diam Kang Giok-long juga telah mencuri belajar ilmu pukulan Bu-tong-pay, sudah tentu dengan maksud tujuan yang tidak baik.

“Hm, kau juga berani bergebrak dengan aku?” jengek Gui Pek-ih.

Ia menyangka cukup dengan dua-tiga kali gebrak saja pasti dapat menjatuhkan lawannya. Tak terduga meskipun Kang Giok-long ini seorang pengecut, tapi bukan orang bodoh. Ia telah salah menilai kepandaian Kang Giok-long.

Karena itulah dia telah kena didahului oleh Kang Giok-long, sekaligus diberondong dengan beberapa kali serangan maut sehingga membuatnya rada kerepotan.

Giok-long tahu Yan Lam-thian pasti takkan membiarkan dia dikalahkan, kalau Yan Lam-thian jelas berada di pihaknya, lalu apa pula yang ditakutinya? Karena hatinya tabah, semangatnya lantas berkobar, serangannya tambah gencar.

Dalam keadaan demikian, sekalipun kepandaian Gui Pek-ih cukup tinggi dan keji juga tidak dapat mengapa-apakan Kang Giok-long.

Yan Lam-thian hanya menonton saja dengan penuh perhatian, lambat-laun terunjuk senyuman pada wajahnya, berulang-ulang ia mengangguk dan berkata, “Ya, bagus, jurus ini biarpun dimainkan sendiri oleh si tua Ci-si juga tak lebih hebat daripada ini.”

Nyata Yan Lam-thian menyangka Kang Giok-long adalah anak murid Bu-tong-pay, murid Ci-si Totiang, ketua Bu Tong-pay.

Tiba-tiba dilihatnya Gui Pek-ih mulai berputar-putar dengan cepat, sekonyong-konyong beberapa jalur api hijau terpencar keluar, kurang jelas terpancar dari mana. Di bawah cahaya api itu air muka Kang Giok-long juga berubah hebat.

Untunglah Yan Lam-thian membentak disertai serangkum angin pukulan yang dahsyat, tubuh Kang Giok-long didorong ke samping, angin pukulan itu masih terus menerjang ke tengah kobaran api hijau sehingga Gui Pek-ih tergetar mundur sempoyongan.

Menyusul suara bentakan Yan Lam-thian lantas berubah menjadi siulan panjang, bayangan tubuh laksana burung raksasa telah melayang maju dan berputar di atas.

Gui Pek-ih mendongak ke atas, nyalinya serasa pecah. Ia mau menghindar, namun sudah terlambat. Terpaksa ia sambut tubrukan lawan dengan kedua tangannya, segera terdengar suara “krak-krek”, empat tangan saling bentur, kedua tangan Gui Pek-ih kontan patah tulang pergelangannya. Menyusul darah segar lantas tersembur dari mulutnya dan roboh terjengkang.

Yan Lam-thian jambret leher baju Gui Pek-ih, bentaknya dengan bengis, “Coba katakan, di mana Gui Bu-geh?”

Gui Pek-ih membuka matanya, dipandangnya Yan Lam-thian sejenak, lalu menjawab dengan menyeringai, “Hm, apakah kau berani mencarinya? Dia berada di Ku-san.”

“Sekarang juga kau harus membawaku ke sana!” bentak Yan Lam-thian dengan gusar.

“Silakan mengantar kematianmu ke sana, aku takkan mengiringimu,” seru Gui Pek-ih dengan tertawa. Mendadak ia menggereget dan berteriak dengan parau, “Anak murid Bu-geh, boleh dibunuh tidak boleh dihina ….”

Menyusul dari mulutnya lantas merembes keluar cairan hijau yang berbau busuk, lalu tidak bergerak lagi untuk selamanya.

Yan Lam-thian melepaskan tubuh yang sudah tak bernyawa itu, katanya dengan gegetun, “Tak tersangka anak murid Gui Bu-geh terdapat orang gila sebanyak ini ….” mendadak ia berpaling ke arah Kang Giok-long, tanyanya dengan tertawa, “Apakah kau anak murid Bu-tong?”

Baru sekarang Giok-long sempat menenangkan diri, cepat ia memberi hormat dan menjawab, “Anak murid Bu-tong, Kang Giok-long menyampaikan sembah hormat kepada Yan-locianpwe.”

“Sudahlah,” kata Yan Lam-thian dengan tertawa. “Jika dari golongan Cing-pay (aliran baik) banyak terdapat anak murid pilihan seperti dirimu, biarpun golongan Gui Bu-geh lebih banyak menerima murid gila juga tak perlu kukhawatirkan lagi.”

Dengan sikap penuh hormat Giok-long berkata pula, “Jika Locianpwe tidak kebetulan datang, tentu jiwa Tecu sudah melayang sejak tadi.”

“Kebetulan”, kata-kata ini diucapkannya dengan penuh arti. Bayangkan, bilamana Yan Lam-thian datang lebih dini sedikit dan sempat mendengar beberapa patah ucapannya, saat ini mungkin dia sudah menggeletak sejajar dengan Gui Pek-ih.

“Ya, sungguh sangat kebetulan,” ucap Yan Lam-thian. “Bilamana aku tidak berjanji akan bertemu dengan seorang kawan kecil di sini, tentu juga aku takkan datang ke sini.” Dia tepuk-tepuk pundak Kang Giok-long, dengan tertawa ia menambahkan pula, “Kau dan kawan kecilku itu sama-sama jago muda yang berbakat dan sukar dicari di dunia Kangouw, bolehlah kau berdiam di sini untuk menunggunya bersamaku. Jika kalian bertemu, bukan mustahil kalian akan menjadi sahabat baik dalam waktu singkat.”

“Pesan Locianpwe sudah tentu kuturut saja, apalagi orang yang bisa mendapatkan pujian Locianpwe pastilah pemuda gagah pilihan, Wanpwe jadi ingin pula berkenalan.”

“Dia bernama Hoa Bu-koat, bila akhir-akhir ini kau sering berkelana di dunia Kangouw tentu pernah mendengar namanya ini.”

Giok-long tenang-tenang saja, jawabnya dengan tersenyum, “Wanpwe belum lama turun gunung sehingga masih asing terhadap urusan dunia Kangouw.”

Sejak tadi dia memperhatikan keadaan di dalam kamar, tapi selama itu tiada terlihat sesuatu gerak-gerik Thi Peng-koh, hal ini membuatnya merasa lega. Segera ia berkata pula, “Tadi waktu Tecu sampai di sini, Gui Pek-ih sedang berbuat tidak senonoh terhadap nona Buyung, kini nona ini masih berbaring di dalam, apakah Cianpwe mau melihatnya?”

“Nona Buyung?” Yan Lam-thian menegas, “Apakah anggota keluarga Buyung Yong?”

Sambil bicara ia terus melayang masuk ke dalam kamar.

Sudah tentu Buyung Kiu masih meringkuk di dalam kemul.

Di dalam kamar gelap gulita, Yan Lam-thian hanya memandang sekejap saja, lalu berkata, “Anak ini telah tertutuk Hiat-to bisunya, meski Hiat-to ini tidak begitu penting, tapi lantaran tutukannya terlalu berat dan sedikitnya juga sudah berlangsung hampir setengah hari.”

“Masa sudah setengah hari lamanya dia tertutuk?” Kang Giok-long pura-pura kaget. “Wah, jika begitu, tentu kesehatan nona ini akan banyak terganggu.”

“Betul,” kata Yan Lam-thian, “Kalau sekarang kubuka Hiat-tonya yang tertutuk, mungkin diperlukan tiga bulan baru kesehatannya dapat pulih.”

“Wah, lantas bagaimana baiknya?”

“Sebab itu, sebelum kubuka Hiat-tonya, paling baik kalau kubantu melancarkan darahnya dengan tenaga dalamku,” dengan tertawa Yan Lam-thian menuding si nona dan melanjutkan, “Untung juga dia, selain ketemu kau juga ketemu aku pula. Bilamana tiada kau, bisa jadi dia harus menderita sedikit.”

“Sesungguhnya Wanpwe tidak paham apa maksud Locianpwe,” tanya Giok-long

“Begini soalnya, mana kala aku sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menolong dia, tentunya pantang diganggu orang, bilamana terganggu, selain dia akan celaka, aku sendiri pun bisa cedera. Tapi bila kau mau berjaga di samping, tentu aku tidak perlu khawatir lagi.”

Giok-long menjawab dengan mengiring tawa, “Cianpwe tidak perlu khawatir, biarpun Tecu tidak becus, urusan kecil begini rasanya masih sanggup kulakukan.”

“Bilamana aku khawatir, masa aku mau menyerempet bahaya ini?” ujar Yan Lam-thian tertawa. “Kalau murid si tua Ci-si tak dapat kupercayai, lalu kepada siapa lagi harus kupercayai?”

Begitulah ia lantas duduk bersila di atas ranjang, kedua tangannya menahan punggung Buyung Kiu. Meski dalam kamar gelap gulita, tapi dapat dibayangkan pula betapa prihatinnya pendekar besar ini.

Kang Giok-long berdiri di belakangnya, tanpa terasa tersembul senyuman licik pada ujung mulutnya.

Dan mengapa sebegitu jauh tidak tampak sesuatu gerak-gerik Thi Peng-koh?

Rupanya sejak tadi nona itu sudah pergi, sukar untuk dibayangkan ketika perginya itu betapa rasa derita pertentangan batinnya.

Bujuk rayu Kang Giok-long yang manis itu meski telah meredakan kekalapannya, tapi telah membuatnya merasa lebih malu dan terhina pula. Setelah sadar kembali, dia merasa seakan-akan dirinya telah menjual dirinya sendiri.

Dia benci pada dirinya sendiri, mengapa tadi tidak membunuh anak muda bergajul itu? Ia menyesal mengapa dirinya tidak tega turun tangan membunuhnya? Ia tahu kalau tadi tidak turun tangan, maka untuk seterusnya juga tak mungkin dilakukannya pula.

Ia benci pada dirinya sendiri, mengapa mestika yang paling berharga selama hidupnya ini begitu mudah dirampas orang? Lebih celaka lagi dirinya seakan-akan telah menyukai bandit yang jahat ini.

Ia pun takut, takut dipandang rendah Kang Giok-long. Karena itulah dia ya benci, ya takut, ya suka, hatinya seperti sudah tersayat-sayat menjadi beribu-ribu keping.

Lantaran pergolakan perasaannya yang kusut dan bertentangan itu, sekaligus ia terus menerjang keluar. Sudah tentu ke arah yang tidak dilihat oleh Kang Giok-long.

Ia terombang-ambing dalam kegelapan, ia merasa dunia ini sedemikian asing dan menakutkan, tiba-tiba ia menyesal pula mengapa meninggalkan anak muda itu?

Akan tetapi sekarang ia merasa malu untuk kembali ke sana.

Hotel kecil itu memang terletak di ujung kota kecil itu, maka sekeluarnya dia lantas terbenam dalam kegelapan yang sukar membedakan arah.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan ke mana harus pergi. Ia merasa pepohonan yang tak bernyawa itu pun punya teman dan punya sandaran, tapi bagaimana dengan dia? Ia benar-benar sebatang kara.

Mendadak ia menjatuhkan diri di bawah pohon, lengan bajunya sudah basah oleh air mata.

Entah berselang berapa lama lagi, mungkin air matanya sudah kering, ia hanya membentang matanya lebar-lebar, memandang jauh ke sana dengan rasa hampa.

Tiba-tiba dalam kegelapan itu tamak muncul dua sosok bayangan orang. Bayangan kedua orang ini hampir sama besar dan sama tingginya, sungguh mirip barang dari satu cetakan.

Kedua bayangan itu berhenti di kejauhan, dengan sendirinya Thi Peng-koh tidak dapat melihat jelas wajah dan perawakan mereka, tapi di tengah malam sunyi demikian, biarpun bisikan yang paling lirih juga dapat terdengar dengan jelas.

Didengarnya seorang di antaranya sedang berkata, “Kang Siau-hi, apakah kau benar-benar tidak mau menemuinya?”

“Kang Siau-hi”, nama ini berkumandang ke telinga si nona dan hampir saja membuatnya melonjak bangun, dan berlari-lari ke sana serta menjatuhkan diri ke dalam rangkulannya.

Akan tetapi ia tahu dirinya sekarang tidak memenuhi syarat lagi untuk menjatuhkan diri ke dalam pelukan orang. Ia hanya menggigit bibirnya kencang-kencang dan menahan perasaan sebisanya.

Benar juga, angin yang meniup sayup-sayup itu telah membawa suara Kang Siau-hi.

Terdengar anak muda itu sedang menjawab dengan tertawa, “Kau telah salah omong, bukanlah aku tidak mau menemui beliau, yang benar aku tidak ingin menemuinya sekarang.”

“Dari mana kau tahu bahwa dia akan merintangi kepergianmu? Bisa jadi ….”

“Ya, bisa jadi beliau akan mengizinkan kepergianku ke Ku-san, tapi aku tidak mau menerima risiko ini. Bilamana suatu urusan sudah kuputuskan begini, maka betapa pun harus kulaksanakan.”

“Tapi kau kan sudah menemani aku sampai di sini ….” pembicara ini jelas Hoa Bu-koat adanya.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya. “Ya, sebenarnya aku harus menemanimu.”

Bu-koat mendongak memandang langit dan termenung-menung sekian lama, katanya kemudian dengan perlahan, “Kembali satu hari telah lalu, sang waktu sungguh lewat dengan sangat cepat, tiga bulan dengan cepat akan lalu pula. Sampai kini hanya bersisa ….”

“Tinggal tujuh puluh enam hari saja,” sambung Siau-hi-ji.

“Ya, antara kita hanya dapat bersahabat selama tujuh puluh enam hari lagi,” kata Bu-koat.

Siau-hi-ji termangu-mangu sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum, “Ada setengah orang yang meski bersahabat selama hidup, tapi selama itu pula selalu bertentangan dan perang dingin, persahabatan kita meski tidak panjang waktunya, tapi kan jauh lebih baik daripada mereka.”

“Tapi setelah tujuh puluh enam hari lagi ….”

Siau-hi-ji seperti tidak ingin melanjutkan persoalan yang menyedihkan ini, mendadak ia memotong ucapan Hoa Bu-koat, “Yan-tayhiap akan menunggumu di mana?”

“Di hotel, di kota kecil sana, di situ cuma ada sebuah hotel, pasti akan kudapatkan dia,” jawab Bu-koat.

Mendengar ini, jantung Thi Peng-koh kembali berdebar lagi. Saat ini Kang Giok-long masih berada di hotel itu, sedangkan Hoa Bu-koat dan Siau-hi-ji segera akan menuju ke sana.

Meski si nona sangat membenci Kang Giok-long, tapi demi mengetahui anak muda itu akan terancam bahaya, seketika ia melupakan segalanya dan secara aneh menaruh perhatian terhadap keselamatan anak muda itu.

Walaupun terkadang dia geregetan dan ingin bisa membunuh Kang Giok-long, tapi bilamana ada orang lain hendak membunuh anak muda itu, tiba-tiba ia menjadi khawatir dan berduka baginya.

Inilah hati anak perempuan.

Dalam hati anak perempuan umumnya selalu timbul semacam pertentangan batin yang sukar dipahami orang lain. Ya suka ya benci. Padahal dia benar-benar menyukainya atau membencinya, mungkin dia sendiri pun tidak dapat membedakannya dengan jelas.

Terdengar Siau-hi-ji lagi berkata dengan perlahan, “Sebenarnya kuharap engkau suka menemani aku ke Ku-san, tapi bila engkau sudah ada janji dengan orang lain, tentunya kau tidak boleh ingkar janji.”

“Ya, apalagi janji bertemu dengan Yan-tayhiap,” tukas Bu-koat.

“Jika demikan, silakan berangkatlah.”

“Dan kau?” tanya Bu-koat.

“Aku pun hendak pergi menyelesaikan urusanku.”

Bu-koat termenung-menung sejenak, katanya, “Setelah berpisah sekarang, entah kita akan ….” mendadak ia tidak meneruskan.

Siau-hi-ji meremas keras-keras bahu Bu-koat sambil membuang muka ke arah lain, ucapnya dengan suara rendah, “Betapa pun juga, ada waktunya berkumpul dan ada waktunya kita akan berjumpa pula ….” sambil berucap demikian segera ia pun melangkah pergi.

Advertisements

1 Comment »

  1. SERU BANGET

    Comment by Firman — 23/02/2013 @ 8:09 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: