Kumpulan Cerita Silat

23/04/2008

Bakti Pendekar Binal (05)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:29 pm

Bakti Pendekar Binal (05)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Maka jago tua “Kim-to-bu-tek” Peng Thian-siu yang pertama-tama tidak tahan, segera ia menjengek, “Hm, cara bicara sahabat cilik ini sungguh sukar dipahami.”

“Kau tidak paham bicaraku?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, tidak paham,” jawab Peng Thian-siu.

“Maksudku, jika kau anggap kawan Hoa Bu-koat juga kawanku, maka aku benar-benar sebal dan sialan habis-habisan. Meski pribadi Hoa Bu-koat masih boleh juga, tapi kawannya…he, hehehe!”

“Memangnya bagaimana kawannya?” Peng Thian-siu menegas pula.

“Kawannya itu sungguh manusia berhati binatang, bukan saja melihat bahaya menimpa teman sendiri tidak memberi bantuan, bahkan ….”

“Siapa yang kau maksudkan?” damprat Peng Thian-siu gusar.

“Siapa yang mengaku kawan Hoa Bu-koat, dialah yang kumaksud,” jawab Siau-hi-ji.

“Kang-tayhiap juga kawan karib Hoa-kongcu, memangnya kau maksudkan ….”

“Yang jelas orang yang kumaksudkan pasti bukan kau,” jengek Siau-hi-ji. “Sebab nilaimu untuk menjadi kawan Hoa Bu-koat masih belum cukup, paling-paling kau hanya mahir menjilat pantat Kang Piat-ho saja.”

“Brak”, dengan keras Peng Thian-siu menggebrak meja dan membentak dengan bengis, “Kurang ajar! Apakah kau tahu siapa diriku?”

“Oya, memang aku tidak tahu,” jawab Siau-hi-ji.

Belum lagi Peng Thian-siu membuka suara, di samping sudah ada yang menukas, “Huh, nama ‘golok emas tanpa tandingan’ Peng-loenghiong saja tidak tahu, berdasar apa kau berani berkecimpung di dunia Kangouw?”

“O, kiranya Peng-loenghiong,” kata Siau-hi-ji.

Peng Thian-siu mengira anak muda itu telah kena gertak oleh nama besarnya, dengan tertawa yang dibuat-buat ia menatap Siau-hi-ji.

Tak terduga anak muda itu lantas menyambung pula, “Tapi julukan Peng-loenghiong kukira harus diganti yang lebih mentereng dan tepat.”

“Ganti apa?” tanya Peng Thian-siu.

“Jika julukanmu diganti menjadi ‘penjilat pantat tanpa tandingan’, wah, jadinya tepat dan kena pada sasarannya,” ucap Siau-hi-ji.

Di tengah perjamuan Kang Piat-ho sebenarnya Peng Thian-siu merasa rikuh untuk beraksi, tapi sebegitu jauh tuan rumah itu ternyata tidak mencegah, bahkan seakan-akan tidak mau tahu ada ribut-ribut ini.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Kang Piat-ho justru berharap Siau-hi-ji akan mengikat permusuhan sebanyak-banyaknya dan ini berarti akan menguntungkan posisinya, Peng Thian-siu mengira berdiamnya Kang Piat-ho memang sengaja memberi kesempatan padanya untuk menghajar anak muda penyatron itu. Apalagi setelah mendengar istilah “penjilat pantat tanpa tandingan”, tentu saja ia tidak tahan, sambil meraung, dari balik meja sana segera ia menubruk ke arah Siau-hi-ji.

Kedatangan Siau-hi-ji ini memang sengaja hendak mencari perkara, sengaja mengacau, ia hanya tertawa saja menghadapi tubrukan Peng Thian-siu itu, mendadak ia angkat sumpit di depannya dan menutuk perlahan.

Seketika Peng Thian-siu merasa tubuhnya kaku kesemutan dan tak dapat mengeluarkan tenaga. “Blang”, kontan ia jatuh terguling di atas meja, mangkuk piring menjadi berantakan.

Dengan mengikik tawa Siau-hi-ji berseru, “Kang Piat-ho, kenapa kau begini kikir, santapan lezat tidak suruh menghidangkan, memangnya kau gunakan si penjilat pantat ini sebagai hidangan?”

Sudah tentu di antara hadirin itu banyak terdapat kawan Peng Thian-siu, yang duduk berdekatan sudah sama berdiri dan siap turun tangan.

Tenang-tenang saja Hoa Bu-koat memandang Kang Piat-ho, tapi Kang Piat-ho tetap diam saja, sama sekali tiada maksud melerai seakan-akan tiada sangkut-pautnya dengan dia.

Maklumlah, Kang Piat-ho justru berharap agar suasana ini bertambah kacau. Maka terdengarlah suara gemuruh, Peng Thian-siu telah terguling ke bawah dan meja juga terbalik, beberapa orang lantas menerjang maju, tapi semuanya kena dicengkeram kuduknya oleh Siau-hi-ji dan dilempar keluar.

Pelayan restoran itu seketika kelabakan, ia menjerit-jerit sambil mengukuti perabot di meja lain. Loteng restoran itu seketika menjadi kacau balau.

Setelah menyaksikan kelihaian ilmu silat Siau-hi-ji, tampaknya tetamu yang lain menjadi kapok dan tidak berani maju lagi.

Baru sekarang Kang Piat-ho membuka suara dengan berkerut kening, “Hoa-heng, persoalan ini cara bagaimana menyelesaikannya menurut pendapatmu?”

“Entah, aku pun tidak tahu,” jawab Hoa Bu-koat dengan tersenyum hambar.

Sama sekali tak terduga oleh Kang Piat-ho bahwa “kawan karib” yang diandalkan ini bisa mengucapkan kata-kata demikian, ia jadi melengong.

Dalam pada itu terdengar deru angin menyambar tiba, kepalan Siau-hi-ji menonjok ke arahnya sambil membentak, “Kang Piat-ho, tatkala kau tahu Hoa Bu-koat sedang menghadapi bahaya, diam-diam kau mengeluyur pergi malah, bahkan kau khawatir kusir kereta itu membocorkan kepengecutanmu, maka telah kau bunuh kusir itu untuk melenyapkan saksi hidup. Tujuanku sekarang tiada lain kecuali ingin menghajar adat padamu. Nah, sambutlah pukulanku ini!” Sambil bicara sekaligus dia melancarkan belasan kali pukulan.

Kang Piat-ho tetap berkelit saja tanpa balas menyerang. Setelah Siau-hi-ji berhenti bicara barulah dia mengejek, “Hm, saudara jangan suka memfitnah, betapa pun tiada seorang pun yang mau percaya pada ocehanmu!”

“Hah, barangkali kau sangka sekali ini pun tidak mungkin ada bukti dan saksi lagi?” jengek Siau-hi-ji.

“Mana buktimu?” bentak Kang Piat-ho.

“Supaya kau tahu bahwa kusir kereta itu meski kau tikam, tapi dia belum lagi mati,” teriak Siau-hi-ji.

Tanpa terasa air muka Kang Piat-ho berubah juga.

Mendadak Siau-hi-ji melangkah mundur sembari berseru dan menuding ke belakang Kang Piat-ho, “Lihatlah, dia muncul dari sebelah sana!”

Serentak para tamu menoleh ke arah yang ditunjuk itu. Tapi Kang Piat-ho justru cuma mendengus saja, “Hm, jangan kau tipu aku, dia sudah ….” mendadak ia berhenti berucap lebih lanjut, mukanya menjadi pucat.

“Benar, aku memang tak dapat menipumu,” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa, “Bahwasanya semua orang sama menoleh ke sana, hanya kau saja yang tidak percaya, soalnya kau tahu kusir itu tidak mungkin hidup kembali, begitu bukan?” Tadi dia sengaja mengacau dan membikin suasana menjadi berantakan, pertama dia sengaja hendak menggertak orang lain, berbareng itu supaya hati Kang Piat-ho tidak tenteram, dengan demikian manusia yang licik lagi licin ini dapatlah ditipu.

Kang Piat-ho menyapu pandang hadirin, dilihatnya para tamu itu sama mengunjuk rasa heran dan sangsi padanya, diam-diam ia merasa gelisah, cepat ia melompat ke depan Hoa Bu-koat dan bertanya, “Hoa-heng, kau percaya padanya atau lebih percaya padaku?”

Bu-koat menghela napas, katanya, “Sudahlah, urusan ini tak perlu diungkit lagi ….”

“Diungkit atau tidak urusan ini yang pasti aku ingin berkelahi dengan dia,” seru Siau-hi-ji. “Nah, coba katakan, engkau akan bantu dia atau membantu diriku?”

“Jika kalian memang harus saling gebrak, maka siapa pun tidak boleh ikut campur,” ucap Bu-koat.

Justru ucapan Hoa Bu-koat inilah yang ditunggu-tunggu Siau-hi-ji, segera ia berseru, “Bagus, bilamana ada orang lain berani ikut campur, maka kau yang bertanggung jawab.”

Begitu habis kata-katanya, kontan dia menghantam Kang Piat-ho pula.

Tadi Kang Piat-ho telah dicecar belasan kali pukulan oleh Siau-hi-ji tanpa menyenggol sedikit pun ujung bajunya, maka dia pikir kepandaian anak muda itu paling-paling juga cuma sekian saja, kenapa mesti takut, segera ia menjengek, “Jika saudara berkeras ingin turun tangan, ya, jangan menyalahkan lagi orang she Kang!”

Baru habis ucapannya kembali Siau-hi-ji memberondong empat-lima kali jotosan pula.

Setelah diobrak-abrik tadi, loteng restoran itu sekarang sudah terluang cukup luas, meja kursi sudah sama tersingkir, maka kebetulan dapat digunakan sebagai arena pertarungan mereka.

Begitulah Kang Piat-ho lantas mulai melancarkan pukulan balasan, pukulan yang dahsyat, gerakannya sukar diraba, sama sekali berbeda daripada cara menghantam Siau-hi-ji yang telah berlangsung berpuluh kali tadi.

Setiap menghadapi pukulan Kang Piat-ho tampaknya Siau-hi-ji rada kerepotan dan harus berusaha sebisanya barulah dapat menghindar.

Melihat itu, hadirin lantas bersorak-sorai bagi Kang Piat-ho.

Kang Piat-ho tahu pada umumnya orang-orang Kangouw hanya memandang pihak yang kuat, yang menanglah yang berkuasa, asalkan dirinya dapat menjatuhkan Siau-hi-ji dan membinasakannya kalau bisa, maka urusan membunuh si kusir tadi tentu tiada orang berani mengusut pula.

Berpikir demikian semangatnya lantas terbangkit, segera ia mengejek, “Para kawan Kangouw yang hadir di sini dapat menjadi saksi bahwa kau sendiri yang cari perkara dan bukan aku orang tua menghajar anak kecil.”

Siau-hi-ji masih tekun berkelahi dan menghindar kian kemari dengan kerepotan seakan-akan adu mulut saja tidak sanggup lagi, setelah berlangsung belasan jurus, berulang-ulang ia telah menghadapi serangan berbahaya.

Semula Kang Piat-ho menyangsikan Siau-hi-ji adalah orang yang selalu main gila padanya secara diam-diam itu, maka senantiasa dia berwaspada, tapi kini melihat ilmu silat Siau-hi-ji hanya biasa saja dan tiada sesuatu yang istimewa, rasa curiganya lantas lenyap, daya serangnya menjadi rada kendur pula, dengan tersenyum ia berkata, “Meski kau tidak tahu aturan dan sengaja cari setori, tapi mengingat kau masih muda belia, betapa pun aku tidak tega membikin susah dirimu, asalkan mau mengaku salah dan minta maaf, mengingat kau juga kenal Hoa-heng, bolehlah nanti kuampunimu.”

Cara bicaranya ini sungguh berbudi luhur dan murah hati, bahkan juga menghargai Hoa Bu-koat, benar-benar perilaku seorang “Kang-lam-tayhiap” yang bijaksana.

Siau-hi-ji tidak menjawab, napasnya kelihatan tersengal-sengal seolah-olah bicara saja sukar.

Padahal dia sudah mempunyai perhitungan, di depan orang banyak ia yakin Kang Piat-ho pasti akan berlagak sebagai “pendekar besar”. Ia tahu semakin dirinya pura-pura lemah, Kang Piat-ho semakin tidak mengeluarkan serangan maut, sebabnya mudah dimengerti, dia harus menjaga harga diri sebagai seorang “pendekar besar” dan tidak mungkin menyerang seorang anak muda yang bukan tandingannya.

Benar juga perhitungan Siau-hi-ji, serangan Kang Piat-ho telah mulai kendur.

Segera ada sementara hadirin yang berteriak, “Terhadap pengacau begini, buat apa Kang-tayhiap sungkan padanya?”

“Benar,” segera ada lagi yang menyokong. “Jika Kang-tayhiap tidak menghajar adat padanya, kelak dia akan tambah kurang ajar dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi.”

Sudah barang tentu, orang-orang yang tadi kena dihajar oleh Siau-hi-ji segera pula ikut menghasut.

Kang Piat-ho berlagak, “Usiamu masih muda, sesungguhnya aku tidak tega melukaimu, tapi kalau kau tidak dihajar adat, tampaknya orang lain pun ikut penasaran ….” Tengah bicara kembali Siau-hi-ji dipaksa mundur lagi beberapa tindak.

Tampaknya Siau-hi-ji telah didesak mundur ke pojok yang buntu dan sama sekali tidak sanggup balas menyerang. Dengan tersenyum Kang Piat-ho lantas berkata pula, “Awas, jurus seranganku ini akan menghantam dadamu, paling baik janganlah kau berbelit atau menangkis, sebab bila pukulanku bertambah berat, bisa jadi kau akan celaka.”

“Terima kasih atas peringatanmu,” ucap Siau-hi-ji.

Dilihatnya Kang Piat-ho mengayun tangan kiri ke depan, tapi mendadak tangan kanan menghantam dari samping langsung menuju ke dada Siau-hi-ji. Pukulan ini sebenarnya tiada sesuatu yang aneh, cuma gerak perubahannya sangat cepat, sekalipun sebelumnya dia telah memberitahukan tempat yang akan diserangnya, tapi arah datangnya pukulan itu sama sekali tak tersangka oleh hadirin.

Tampaknya Siau-hi-ji tak mampu menghindarkan lagi pukulan ini, maka hadirin serentak bersorak memuji.

Di tengah sorak-sorai itu mendadak terdengar suara “blang” yang keras, dua tangan telah beradu, sekonyong-konyong Siau-hi-ji mengulur tangan menyambut mentah-mentah pukulan Kang Piat-ho itu.

Seketika Kang Piat-ho merasa suatu arus tenaga mahadahsyat membanjir tiba, segera ia bermaksud mengerahkan tenaga untuk melawan, tapi sudah terlambat, “bluk”, tubuhnya tergetar mencelat ke belakang.

Dendam Siau-hi-ji yang tertahan sekian lamanya akhirnya terlampias pada pukulan ini.

Terlihat tubuh Kang Piat-ho menumbuk kerumunan para penonton, beberapa orang yang berdiri paling depan sama tertumbuk oleh tubuh Kang Piat-ho dan jatuh terjungkal semuanya.

Seketika suara sorak-sorai tadi ‘cep-klakep’, semuanya terdiam dengan melongo. Tertampak Siau-hi-ji bertepuk tangan dan bergelak tertawa, lalu menerobos keluar jendela dan tinggal pergi.

Biarpun belum dapat menghajar Kang Piat-ho dengan sepuas-puasnya, tapi Siau-hi-ji sudah membuatnya kehilangan muka di depan orang banyak, rasa dendamnya kini sudah terlampias, hatinya senang tak terkatakan.

Ia tahu bila perkelahian itu diteruskan, betapa pun dirinya belum tentu dapat mengalahkan Kang Piat-ho, apalagi keadaan sudah begini, rasanya Hoa Bu-koat tidak boleh tinggal diam lagi.

“Tahu batas”, inilah falsafat hidup Siau-hi-ji. Umpama para hadirin itu belum percaya penuh Kang Piat-ho benar-benar manusia munafik, paling sedikit di dalam hati mereka sekarang sudah mulai timbul rasa curiga. Dan asalkan semua orang sudah merasa curiga, itu berarti maksud tujuan Siau-hi-ji sudah tercapai. Ia pun tahu nama baik Kang Piat-ho yang dipupuknya selama ini tidak mungkin dihancurkan olehnya hanya dalam sekejap saja, tapi harus dipapas dari sedikit demi sedikit.

Setelah berkeliling di jalan kota, kemudian dia kembali ke hotelnya, ia istirahat sebentar di kamarnya, ketika di halaman tiada orang, diam-diam ia mengeluyur keluar lagi.

Dilihatnya kamar yang berpenghuni penuh rahasia itu masih tertutup rapat, ada cahaya lampu di dalam kamar, tapi tidak kelihatan bayangan orang.

Setelah melongok kian kemari, kemudian Siau-hi-ji melompat ke atas rumah, diam-diam ia merayap ke emper kamar itu dan mendekam di situ.

Di dalam tiada terdengar sesuatu suara, mungkin tokoh rahasia itu sudah tidur atau telah berangkat pergi. Tapi Kang Piat-ho sudah berjanji akan menemuinya lagi, mana mungkin dia pergi begitu saja? Apalagi di dalam kamar jelas ada cahaya lampu.

Dengan sabar Siau-hi-ji menunggu, ia yakin Kang Piat-ho tidak mungkin tidak datang.

Di langit bintang bertaburan, malam kelam dan hening, tunggu punya tunggu, hampir saja Siau-hi-ji tertidur di situ.

Semula di kamar hotel bagian belakang sana sayup-sayup ada suara alat gesek dan orang bernyanyi, agaknya ada tetamu sedang menanggap tukang nyanyi kelilingan, akhirnya suara nyanyi juga lenyap dan tiada terdengar sesuatu suara pula.

Tiba-tiba seorang pelayan dengan membawa tenglong (lampu berkurudung kertas) serta sebuah poci teh besar memasuki halaman tengah, dilihatnya di kamar ini masih ada cahaya lampu, pelayan itu mendekati dan mengetuk pintu perlahan, katanya, “Apakah tuan tamu perlu air minum?”

Tapi tiada suara jawaban di dalam kamar. Meski pelayan mengulangi lagi pertanyaan dan tetap tiada suara jawaban, akhirnya pelayan itu melangkah pergi sambil menggerundel, “Tuan tamu ini sungguh pelit, tidak makan dan tidak minum, sepanjang hari menutup diri saja di dalam kamar, agaknya sedang puasa atau ingin hemat?”

Siau-hi-ji merasa heran. Tindak tanduk orang itu mengapa sedemikian aneh dan penuh rahasia, apakah khawatir dilihat orang lain? Apa pula yang dirundingkannya dengan Kang Piat-ho.

Tiba-tiba terdengar suara mendesir perlahan, sesosok bayangan orang melayang tiba seenteng asap, betapa tinggi Ginkangnya sungguh tak pernah dilihat oleh Siau-hi-ji, hakikatnya dia tidak jelas bagaimana bentuk tubuh orang itu.

Baru saja ia terkejut, terdengar suara pintu kamar di bawah menguak perlahan, orang itu sudah melangkah masuk. Habis itu di dalam kamar tiada sesuatu suara pula.

Diam-diam Siau-hi-ji berkerut kening. Bayangan yang gesit dan enteng ini, kiranya adalah tokoh penuh rahasia yang tinggal di kamar ini, rupanya ia keluar sejak tadi dan baru sekarang pulang.

Ginkang orang ini ternyata sedemikian tingginya, jangankan Siau-hi-ji sendiri merasa bukan tandingannya, bahkan Hoa Bu-koat juga kalah setingkat dibandingkan dia. Sungguh luar biasa bahwa di dunia persilatan masih ada tokoh selihai ini.

Tokoh selihai ini berkomplotan dengan Kang Piat-ho, sungguh sangat menakutkan akibatnya.

Selagi Siau-hi-ji berpikir, tiba-tiba dilihatnya seorang menyelinap masuk ke halaman pula, orang ini mengenakan pakaian hitam, kepala memakai topi anyaman yang besar dan lebar sehingga wajahnya setengah tertutup.

Orang ini celingukan kian kemari dan mendekati kamar di bawah ini, setiba di depan pintu, dia berdehem perlahan, lalu mengetuk pintu.

“Siapa?” segera ada orang bertanya dari dalam dengan suara tertahan.

“Wanpwe,” jawab si baju hitam dengan suara perlahan.

Dari suaranya barulah Siau-hi-ji tahu Kang Piat-ho telah datang. Seketika semangatnya terbangkit.

Sementara itu pintu kamar telah dibuka, Kang Piat-ho terus menyelinap masuk ke dalam, kedua orang bicara beberapa patah kata, tapi tak terdengar jelas oleh Siau-hi-ji.

Tiba-tiba terdengar Kang Piat-ho berkata, “Hari ini Wanpwe melihat sesuatu yang mengejutkan.”

“Hal apa?” tanya orang itu.

“Yan Lam-thian belum mati, malahan sudah muncul kembali!” tutur Kang Piat-ho.

Bagi orang Kangouw, tak peduli siapa pun juga bila mendengar berita ini betapa pun pasti akan terkejut, tapi orang itu ternyata anggap sepi saja, bahkan nada ucapannya acuh tak acuh, “Memangnya kenapa kalau Yan Lam-thian muncul kembali?”

Kang Piat-ho melengak, katanya kemudian dengan mengiring tawa, “Dengan ilmu silat Cianpwe, dengan sendirinya Yan Lam-thian sama sekali tiada artinya.”

“Hm, lebih bagus kalau Yan Lam-thian tidak mati, kalau mati bagiku menjadi kurang menarik malah,” kata orang itu.

Makin heran Siau-hi-ji mendengar kata-kata ini, tampaknya orang ini sedikit pun tidak gentar terhadap Yan Lam-thian, bahkan nadanya seperti ada hasrat ingin perang tanding dengan Yan Lam-thian.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Tapi masih ada kejadian lain yang juga tidak kurang mengejutkan, ilmu silat Kang Siau-hi ternyata juga telah maju pesat.”

Orang tadi seperti tersenyum dan menjawab, “Malahan kukhawatir ilmu silatnya terlalu rendah, jika tambah maju barulah aku senang.”

Tentu saja Siau-hi-ji semakin heran, sama sekali tak terpikir olehnya mengapa orang ini begini memperhatikan dirinya, mungkin tokoh rahasia ini mengenalnya?

Didengarnya orang itu berkata pula, “Pokoknya betapa pun tinggi ilmu silat Kang Siau-hi itu pasti akan dilayani oleh Hoa Bu-koat, kau sendiri tak perlu khawatir.”

“Tapi…tapi sekarang Hoa Bu-koat seakan-akan bersahabat karib dengan Kang Siau-hi ….”

“Kedua anak muda itu justru dilahirkan untuk menjadi musuh, sebelum salah satu mati belum akan tamat. Umpama bisa menjadi sahabat juga takkan langgeng, untuk ini kau pun tidak perlu khawatir.”

Siau-hi-ji terkejut pula, ia heran mengapa orang ini bisa sedemikian jelas mengetahui seluk-beluk Hoa Bu-koat dengan dirinya? Padahal orang yang tahu urusan ini sesungguhnya tidaklah banyak.

Agaknya Kang Piat-ho tertawa puas, katanya, “Jika demikian, entah Cianpwe ada pesan apa pula kepada Tecu?”

“Aku cuma minta kau ….” tiba-tiba suaranya ditekan rendah sehingga Siau-hi-ji tidak dapat mendengar sama sekali. Hanya terdengar orang itu mengucapkan satu kalimat dan segera Kang Piat-ho mengiakan.

Setelah orang itu bicara lagi barulah terdengar Kang Piat-ho menjawab dengan tertawa, “Beberapa urusan ini pasti akan Wanpwe kerjakan dengan baik.”

“Beberapa urusan ini pun menyangkut kepentinganmu, dengan sendirinya kau harus menurut dan mengerjakannya,” jengek orang itu.

Kang Piat-ho seperti termenung sejenak, lalu berkata pula, “Setiap kali Cianpwe hendak memberi pesan apa-apa segera juga Wanpwe datang kemari, tapi sampai saat ini nama Cianpwe yang mulia belum juga kuketahui.”

“Namaku tidak perlu kau tahu, cukup asal kau tahu bahwa di dunia ini selain aku tiada orang lain yang dapat membantumu, tanpa aku, bukan saja kau tidak berhasil menjadi ‘tayhiap’, bahkan hidup saja menjadi tanda tanya bagimu.”

Kang Piat-ho tertegun sejenak, jawabnya kemudian, “Ya.”

“Nah, sekarang boleh kau pergi, tiba waktunya nanti tentu akan kucari kau.”

Kembali Kang Piat-ho mengiakan.

Lalu orang itu menambahkan, “Beberapa urusan yang kutugaskan padamu itu bila mengalami kegagalan, tatkala mana tidak perlu Yan Lam-thian atau Kang Siau-hi, aku sendiri juga akan membinasakan kau. Nah, tahu tidak?”

Kang Piat-ho mengiakan pula.

Sampai di sini barulah Siau-hi-ji tahu bahwa Kang Piat-ho sendiri pun tidak kenal asal-usul tokoh maharahasia ini, hanya lantaran terpengaruh oleh ilmu silatnya yang mahalihai, maka “pendekar besar” itu terpaksa tunduk kepada segala perintahnya.

Dilihatnya Kang Piat-ho keluar dari kamar dengan tunduk kepala, ia celingukan sejenak dan tiada sesuatu bayangan, segera ia menyelinap cepat keluar halaman sana.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat ilham, diam-diam ia pun mengeluyur pergi. Kini telah diketahui ilmu silat orang di dalam kamar itu mahatinggi, maka sedikit pun ia tidak berani gegabah, syukur gerak-geriknya tidak sampai diketahui orang.

Setelah melintas beberapa deret rumah barulah Siau-hi-ji berani melompat turun, dari pintu ujung dia masuk kembali ke halaman dan menuju dapur, dilihatnya api tungku masih belum padam, di atas tungku masih ada cerek dengan airnya yang mendidih.

Ia bawa cerek itu dan balik menuju ke tempat tadi, cahaya lampu kamar itu masih menyala, Siau-hi-ji mendekatinya dan mengetuk pintu, serunya, “Tuan tamu, apakah perlu tambah air minum?”

Yang dituju Siau-hi-ji hanya ingin melihat wajah asli tokoh penuh rahasia ini, maka tanpa menghiraukan bahaya ia berlagak sebagai pelayan, juga tidak terpikir olehnya apakah dirinya takkan dikenali orang?

Tapi ternyata tiada suara jawaban di dalam kamar. Setelah Siau-hi-ji mengulangi lagi dengan suara lebih keras dan tetap tiada reaksi apa-apa. Diam-diam ia berkerut kening, apakah mungkin orang itu sudah pergi lagi?

Ia tabahkan hati dan mendorong daun pintu dengan perlahan. Pintu ternyata tidak dipalang, begitu ditolak segera terbuka.

Dilihatnya di atas meja ada sebuah lampu dan di samping ada sebuah nampan dengan sebuah poci teh serta empat buah cangkir, tapi poci dan cangkir teh itu sama sekali belum terpakai.

Waktu dia mengawasi tempat tidur, bantal selimut komplet, tapi masih terlipat rapi, sedikit pun belum disentuh orang.

Nyata, meski tinggal di kamar ini, tapi orang yang penuh rahasia itu sama sekali tidak menyentuh sesuatu benda di dalam kamar, jelas dia hanya menggunakan kamar ini sebagai tempat bicara dengan Kang Piat-ho. Bilamana Kang Piat-ho harus datang barulah ia sendiri datang ke sini, kalau Kang Piat-ho pergi segera ia pun berangkat, sampai air teh juga tidak diminumnya barang seceguk pun.

Siau-hi-ji sengaja bergumam, “Mungkin poci ini kosong, biarlah kutambahi agar tuan tamu nanti tidak kehabisan air minum.” Sembari bersuara ia terus melangkah masuk kamar.

Begitu berada di dalam, segera ia mengendus semacam bau harum yang aneh, seperti bau harum anggrek dan seperti mawar pula, rasanya seperti berada di kebun bunga saja yang harum semerbak.

Selama hidup Siau-hi-ji tidak pernah mencium bau wangi semacam ini, seketika ia merasa nikmat sekali dan hampir-hampir mabuk.

Selain bau harum aneh ini tiada terdapat sesuatu tanda yang mencurigakan di dalam kamar ini, kecuali bau harum ini pada hakikatnya kamar ini seperti tidak pernah dihuni orang.

Siau-hi-ji tahu hotel ini cukup besar, tapi kurang perawatan, pelayan juga kurang rajin, hampir di setiap sudut terdapat sawang dan debu kotoran.

Tapi kamar ini tenyata lain daripada yang lain, tersapu bersih, bahkan lantai di kolong tempat tidur juga resik sekali, apalagi meja kursi dan lemari, semuanya seperti habis dicuci dan digosok hingga mengkilap.

Sungguh aneh, padahal orang yang penuh rahasia itu hanya menggunakan kamar ini sebagai tempat bicara dengan Kang Piat-ho dan bukan tempat tinggal, apalagi semua barang di dalam kamar sama sekali tidak disentuhnya, lalu untuk apa dia membersihkan kamar ini sedemikian resiknya, bahkan tersebar pula bau harum seenak ini.

Ia menjadi sangsi jangan-jangan orang aneh itu mempunyai kelainan jiwa, suka kepada sesuatu yang khas.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mengernyitkan dahi dan bergumam, “Orang yang suka pada kebersihan begini sungguh jarang ada ….”

“Siapa kau!? Untuk apa masuk ke sini?” tiba-tiba seorang menegurnya dengan nada dingin. Suara ini jelas datang dari belakang Siau-hi-ji.

Keruan kejut Siau-hi-ji tak terperikan, namun dengan mengulum senyum ia menjawab, “O, hamba datang ke sini untuk mengetahui apakah tuan tamu perlu tambah air minum atau tidak.”

“Kau pelayan hotel?” tanya orang itu.

Siau-hi-ji mengiakan.

“Yang datang siang tadi seperti bukan kau.”

“Oya, Ci-lotoa dinas siang dan hamba Ong Sam dinas malam,” jawab Siau-hi-ji.

“Huh, Kang Siau-hi-ji ternyata pintar mengibul dan pandai melihat gelagat, mahir tanya jawab pula,” jengek orang itu mendadak. “Cuma sayang, sejak kau brojol dari rahim ibumu aku sudah kenal kau, maka tiada gunanya kau main sandiwara di depanku.”

Siau-hi-ji terperanjat, “Siapa engkau?”

Tapi orang itu tidak menjawabnya.

Cepat sekali Siau-hi-ji membalik tubuh, tapi kosong, tiada seorang pun terlihat, daun pintu itu masih terpentang dan bergerak tertiup angin. Suasana di luar tetap kelam, mana ada bayangan seorang pun?

Apakah orang itu sudah pergi? Kejut dan heran pula Siau-hi-ji, baru saja ia merasa lega, tahu-tahu di belakangnya ada orang mendengus lagi, “Hm, kau takkan dapat melihat diriku!” Ternyata orang itu sudah berada pula di belakangnya.

Berturut-turut Siau-hi-ji membalik badan beberapa kali, cepatnya sukar dilukiskan lagi, tapi aneh, orang itu selalu bersuara di belakangnya seakan-akan bayangan yang melekat di tubuhnya.

Betapa pun besar nyali Siau-hi-ji, dalam keadaan demikian ia menjadi ngeri juga dan berkeringat dingin. Kalau Ginkang orang ini sedemikian hebatnya, maka ilmu silatnya tidak perlu lagi diceritakan. Siau-hi-ji menyadari dirinya pasti bukan tandingan orang, bahkan ingin kabur pun jangan harap.

Tiba-tiba ia mendapat pikiran, ia sengaja berdiri tegak tanpa bergerak, lalu katanya dengan tertawa, “Jika engkau tidak suka dilihat olehku, baiklah aku takkan melihatmu.”

“Hm, kau memang pintar,” jengek orang itu.

“Tapi bila engkau tidak sudi dilihat olehku, mengapa engkau datang pula kemari?”

“Kau tak dapat mengerti bukan?” tanya orang itu.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, ucapnya, “Kupikir, apa pun juga engkau pasti takkan membunuh diriku.”

“Dari mana kau tahu aku takkan membunuhmu?”

“Seorang yang akan mati segera, seumpama dapat melihat wajah aslimu kan tidak menjadi soal. Sebab itulah jika engkau berniat membunuhku tentu engkau takkan keberatan memperlihatkan dirimu padaku, betul tidak?”

Orang itu terdiam sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Dapat juga kau menerka jalan pikiranku.”

“Dahulu aku selalu menganggap diriku sebagai orang pintar nomor satu di dunia, walaupun sekarang aku sudah lebih rendah hati, tapi aku pun tidak berani terlalu meremehkan diriku sendiri dan mengaku bodoh.”

Diam-diam Siau-hi-ji sudah merasakan orang aneh ini memang tiada bermaksud membunuhnya, maka nyalinya menjadi besar, mulutnya bicara, sekonyong-konyong ia melompat ke depan lemari pakaian.

Lemari itu memangnya masih baru, peliturnya masih mengkilap, apalagi habis digosok sehingga berkilau seperti kaca, waktu Siau-hi-ji berjongkok, segera sesosok bayangan putih muncul dengan jelas di lemari itu.

Terlihat orang itu berambut panjang, berbaju putih mulus laksana salju, gayanya seperti badan halus dari alam lain, cuma mukanya memakai topeng perunggu yang kelihatan beringas menakutkan.

Kembali Siau-hi-ji terkejut, tanpa terasa ia berseru, “He, kiranya engkau ini Tong-siansing!”

Mendadak orang itu tidak bersuara lagi.

Siau-hi-ji merasa sorot mata orang sedang menatapnya dengan gemas, sinar mata orang yang memancar ke lemari lalu memantul kembali, tapi masih kelihatan dingin dan menyeramkan.

Sorot mata orang-orang seperti Toh Sat, Im Kiu-yu, Oh-ti-tu dan sebagainya juga dingin menakutkan, tapi di antara sinar mata mereka itu sedikit banyak masih mengandung perasaan. Namun sorot mata “Tong-siansing” atau si tuan bertopeng perunggu ini justru sedingin es, andai kata orang ini pun punya hati maka hatinya pasti sudah lama membeku.

Selang agak lama baru terdengar “Tong-siansing” itu membuka suara, “Ya, dengan sendirinya kau kenal aku, tentunya Oh-ti-tu itu telah bercerita padamu.”

Siau-hi-ji menyengir, katanya, “Tempo hari Oh-ti-tu bercerita, katanya ilmu silatmu sangat tinggi dan macam-macam lagi, aku merasa sangsi, tapi setelah bertemu sekarang barulah kutahu dia tidak membual.”

“Kau tidak perlu menyanjung diriku,” jengek Tong-siansing. “Kalau aku tidak mau membunuhmu, maka untuk selamanya tetap takkan kubunuh kau.”

“Selamanya?” Siau-hi-ji menegas.

“Ehm!” jawab Tong-siansing.

Siau-hi-ji menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Setelah melihat kamarmu sebersih ini serta mengeluarkan bau harum, tadinya kukira engkau adalah perempuan. Untunglah engkau ternyata bukan perempuan, kalau tidak, biarpun engkau sudah menyatakan tidak akan membunuhku juga tak dapat kupercaya.”

“Kau tidak percaya pada perempuan?”

“Kata-kata perempuan sama sekali tidak dapat dipercaya. Barang siapa percaya kepada perempuan, maka celakalah dia!”

“Sebab apa?” tanya Tong-siansing pula.

“Meski di kalangan lelaki juga ada orang jahat, tapi pasti tidak seculas dan sekeji perempuan, lelaki yang paling busuk juga pasti lebih baik daripada perempuan yang busuk.”

Mendadak Tong-siansing menjadi gusar, dampratnya, “Apakah ibumu sendiri bukan perempuan?! Mengapa kau menista kaum perempuan umumnya?”

“Perempuan di seluruh jagat ini mana ada yang dapat dibandingkan ibuku?” jawab Siau-hi-ji. “Beliau sedemikian halus budinya, cantik lagi dan ….” Walaupun dia belum pernah melihat wajah ibundanya, tapi di mata setiap anak di kolong langit ini ibunda sendiri pasti dianggapnya sebagai perempuan yang paling cantik dan paling baik di dunia ini. Apalagi anak yang tidak pernah mengenal wajah sang ibu, dalam khayalannya tentu terbayang ibu yang cantik dan hal-hal lain yang muluk-muluk, dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak terkecuali.

Begitulah omong punya omong tentang ibunya, tanpa terasa Siau-hi-ji lantas memejamkan mata dan berucap menurut khayalannya. Dasar mulutnya memang pintar bicara, maka apa yang dilukiskan menurut bayangannya menjadi lebih muluk-muluk, ibunya dikatakan seolah-olah secantik bidadari dan jarang ada bandingannya di dunia.

Sorot mata Tong-siansing yang dingin itu mendadak seakan-akan membara. Tapi Siau-hi-ji seperti mengigau, “Perempuan lain di dunia ini kalau dibandingkan ibuku, hakikatnya seperti sampah dibanding mutiara, sedikit pun tidak berharga, aku ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong lehernya terasa kesakitan, tubuhnya menjadi kaku, tahu-tahu ia telah diangkat ke atas oleh Tong-siansing.

Dengan ilmu silat Siau-hi-ji sekarang ternyata sama sekali tidak mampu mengadakan perlawanan.

Dilihatnya sorot mata orang berapi-api, tangannya yang dingin mencengkeram semakin kencang, leher Siau-hi-ji seakan-akan diremasnya hingga remuk.

Keruan anak muda itu ketakutan dan berteriak, “He, engkau sudah bilang selamanya takkan membunuhku, apa yang sudah kau katakan mengapa tidak kau pegang?”

“Sebenarnya aku tidak mau membunuhmu, tapi sekarang pikiranku telah berubah,” teriak Tong-siansing dengan suara parau.

“Se…sebab apa?”

“Sebab kau mengoceh tak keruan, aku menjadi geregetan.”

“Bilakah pernah kusembarangan omong?”

“Ibumu itu cantik atau jelek, baik atau busuk, pada hakikatnya kau tidak pernah melihatnya, tapi kau sengaja membual setinggi langit baginya, ini bukan sembarangan mengoceh, lalu apa namanya?”

“Dari…dari mana kau tahu aku tidak pernah melihat ibuku?”

“Hm, kalau aku tidak tahu, siapa lagi yang tahu?” jengek Tong-siansing alias si topeng perunggu.

“Jika begitu, jadi engkau…engkau pernah melihat ibuku?”

Tong-siansing hanya mendengus saja tanpa menjawab.

“Bagaimana bentuk wajah ibuku?” tanya Siau-hi-ji, betapa pun ia sangat ingin tahu.

“Ibumu adalah perempuan paling jelek di dunia ini, ya bungkuk, ya pincang, ya burik, ia botak, pendek kata, segala cacat manusia di dunia ini terkumpul seluruhnya pada ibumu, setiap perempuan mana pun di dunia ini pasti jauh lebih cantik daripadanya.”

“Kentut, kentut busuk!” damprat Siau-hi-ji dengan gusar. “Kau sendiri yang sembarangan mengoceh, ngaco-belo!”

Belum lenyap ucapannya, “plak-plok”, kontan ia kena gampar dua kali.

Meski dua kali tempelengan ini tidak mengeluarkan seluruh tenaga Tong-siansing, tapi sudah cukup membuat kedua pipi Siau-hi-ji bengkak seperti kue apem, darah lantas mengucur pula dari ujung mulutnya. Namun begitu Siau-hi-ji masih terus mencaci-maki.

Meski dia tidak pernah melihat sang ibu, tapi bilamana dia terkenang kepada ibundanya, dalam hati lantas timbul rasa yang sukar dikatakan, ya sedih dan juga kasih sayang.

Biasanya Siau-hi-ji tidak berani sering-sering mengenangkan sang ibu, sebab kalau sudah mulai terkenang, maka akan berlarut-larut dan tidak berhenti, makanya tadi begitu dia menyebut ibu, dia terus menyinggungnya tanpa berhenti pula.

Biasanya meski ia pun suka mengikuti arah angin dan bisa melihat gelagat, kalau Tong-siansing ini mencaci maki dia dan ia merasa bukan tandingannya, maka pasti dia takkan melawan dan balas memaki. Tapi sekarang yang dicaci maki orang itu adalah ibundanya, maka dia tidak bisa menerimanya.

Begitulah Tong-siansing masih terus menempeleng dan Siau-hi-ji juga tetap mencaci maki tanpa berhenti. Memang beginilah watak Siau-hi-ji, kepala batu, bandel, berani mati, kalau sudah nekat, mati hidup tak dipedulikan lagi.

“Ayo! Maki lagi, bisa kubunuh kau sekalian!” damprat Tong-siansing dengan menggereget.

Mulut Siau-hi-ji sudah penuh darah, dengan suara serak ia berteriak, “Asalkan kau mengakui ibuku adalah perempuan paling cantik, berbudi paling halus, aku lantas tidak memakimu lagi.”

“Asalkan kau mengakui ibumu adalah siluman paling jelek dan busuk di dunia ini dan segera kuampuni kau,” jawab Tong-siansing.

Kembali Siau-hi-ji meraung kalap, makinya pula, “Ibumu sendiri ya bungkuk, ya pincang, ya burik, ya gundul, ya ….”

Tapi mendadak kedua jari Tong-siansing menjepit janggutnya sehingga dagunya terkilir, “Kau benar-benar ingin mampus?” bentaknya.

Siau-hi-ji tak dapat bersuara pula karena engsel dagunya terlepas dari tempatnya, mulutnya menjeplak, tapi tak sanggup bicara, hanya kedua matanya saja tetap melotot murka.

“Boleh kau mengaku dengan mengangguk, lalu akan kuampuni kau, jika menggeleng, segera kubinasakan kau ….”

Belum habis ucapan Tong-siansing, seketika Siau-hi-ji menggeleng kepala seperti orang sakit ayan.

“Mati pun kau tidak mau mengakui ibunya adalah perempuan paling jelek?” tanya Tong-siansing.

Seketika Siau-hi-ji mengangguk-angguk seperti anak ayam menotol nasi.

“Kau…kau rela mati baginya?” tanya Tong-siansing dengan sorot mata penuh dendam dan benci, tapi suaranya kedengaran rada gemetar.

Siau-hi-ji menyangka orang akan segera turun tangan membunuhnya, tak terduga tangan si topeng perunggu mendadak jadi lemas sehingga Siau-hi-ji terbanting ke lantai, cepat dia geser dagu sendiri sehingga kembali pada kedudukannya yang tepat.

Dilihatnya Tong-siansing berdiri mematung di situ dengan tubuh gemetar, napas Siau-hi-ji terengah-engah, ia coba melirik orang, ia merasa tidak terluka apa-apa, tapi rasanya sudah setengah kapok dan tidak berani sembarangan bertindak pula. Selang sejenak, saking tak tahan ia membuka suara, “Sesungguhnya ada permusuhan apa antara ibuku dengan engkau, mengapa engkau menistanya sedemikian rupa?”

Tong-siansing seolah-olah tidak mendengar sama sekali pertanyaannya.

Tanpa ayal lagi Siau-hi-ji lantas melompat keluar kamar itu, ia coba melirik ke belakang, rupanya Tong-siansing tidak mengejarnya. Meski di dalam hati penuh diliputi tanda tanya, namun tidak sempat terpikir lagi olehnya, cepat ia mengeluarkan gerak tubuhnya yang gesit, ia melayang secepat terbang ke depan, hanya sekejap saja ia sudah berada jauh di luar hotel.

Tiba-tiba di belakang ada orang menjengek, “Kau tetap tidak mengaku?”

Tubuh Siau-hi-ji sedang mengapung, mendengar suara itu, seketika ia jatuh ke bawah. Ia tahu bilamana orang sudah mengejarnya, maka tiada ubahnya seperti bayangan yang selalu lengket pada tubuhnya, lari juga tiada gunanya.

“Jika mampu, ayo bunuhlah aku!” bentak Siau-hi-ji mendadak sambil memutar balik, kedua tangan sekaligus menghantam beberapa kali. Akan tetapi bayangan orang saja tidak kelihatan, tahu-tahu punggungnya kesemutan, “bluk”, kembali ia jatuh tersungkur.

*****

Sementara itu Hoa Bu-koat sedang minum arak di kamarnya. Biasanya anak muda ini tidak suka minum, tapi entah mengapa, malam ini dia minum sendirian di kamarnya, bahkan setiap cawan selalu dihabiskannya, akhirnya ia menjadi mabuk dan menjatuhkan diri di ranjang dan tertidur.

Dalam mimpinya ia merasa ada seorang memotong tangannya dengan sebilah pisau, ia ingin berteriak, tapi dada terasa tertindih benda yang berat sehingga napas pun sesak.

Pada saat itulah di jendela ada orang berseru padanya, “Hoa Bu-koat, bangun!” Meski lirih suara itu, namun setiap katanya dengan tajam dan terang tersiar ke telinga Hoa Bu-koat.

Bu-koat terjaga bangun, ia pandang tangan sendiri, masih baik-baik, tapi keringat dingin sudah membasahi bajunya. Ia merasa mimpi buruk tadi seakan-akan kejadian sesungguhnya.

Kembali di luar jendela berkumandang suara memanggil, “Bu-koat, keluar sini!”

Setelah tenangkan diri, tanpa memakai sepatu lagi Bu-koat lantas membuka jendela, suasana di luar remang-remang, sesosok bayangan putih seperti hantu saja berdiri jauh di sana.

Di bawah cahaya bintang yang redup samar-samar kelihatan wajah orang itu seperti hijau kemilau, setelah diawasi baru diketahui muka orang memakai sebuah topeng perunggu yang menakutkan.

Bu-koat tersiap, serunya, “Apakah Tong…Tong-siansing?”

Orang itu mengangguk, katanya, “Keluar sini!”

Sekali lompat Bu-koat lantas melayang keluar, ia hanya pakai kaus kaki tanpa sepatu.

Sementara itu Tong-siansing telah melayang ke atas wuwungan rumah sana. Cepat Bu-koat menyusul, ia pun melayang lewat deretan rumah dan melintasi jalanan yang sepi.

Tanpa menoleh tiba-tiba Tong-siansing itu mendengus, “Hm, anak murid Ih-hoa-kiong mengapa jadi suka mabuk dan tidur begitu?”

Bu-koat menyengir, jawabnya, “Karena kesal, Wanpwe jadi ….”

“Anak murid Ih-hoa-kiong, kenapa pula kesal?” jengek Tong-siansing.

Bu-koat melengak, ia tertunduk dan tidak berani menanggapi.

Terlihat dari kepala sampai kaki Tong-siansing itu tidak bergerak sama sekali, tapi cara melayangnya secepat terbang, orang seperti meluncur terbawa angin belaka.

Melihat Ginkang mahatinggi ini, mau tak mau Hoa Bu-koat terkejut.

Didengarnya Tong-siansing berkata pula, “Tentunya kau sudah tahu siapa aku ini?”

“Ketika Wanpwe akan meninggalkan Ih-hoa-kiong, guruku telah memberi pesan, bilamana bertemu dengan Siansing berarti sama saja bertemu dengan guru. Apa pun yang dikatakan Siansing harus Wanpwe turut,” jawab Bu-koat.

“Selain itu Kiongcu pernah memberi pesan apalagi?”

Bu-koat termenung, jawabnya, Ini ….”

“Memangnya tiada pesan lain?” Tong-siansing menegas dengan suara bengis.

Akhirnya Hoa Bu-koat menjawab dengan suara berat, “Guruku mengharuskan Wanpwe membunuh seorang bernama Kang Siau-hi-ji dengan tanganku sendiri.”

“Ehm, bagus!” ucap Tong-siansing, agaknya jawaban ini cukup memuaskannya.

Ia tidak bicara lagi dan selama itu pun tidak pernah berpaling, Bu-koat memandangi bayangan punggung orang dengan sangsi, ia tidak dapat menerka sesungguhnya untuk apakah dirinya disuruh ikut keluar.

Jalan yang dilalui semakin sepi, akhirnya mereka sampai di suatu lereng bukit, di sini ada pohon besar dengan daunnya yang rindang, sekonyong-konyong Tong-siansing melayang ke atas pohon, tapi mulutnya berseru kepada Hoa Bu-koat, “Kau berdiri saja di bawah pohon!”

Habis ucapannya, tahu-tahu dia sudah berdiri di puncak pohon, di bawah cakrawala yang penuh bertaburan bintang, seorang berbaju putih mulus berdiri di pucuk pohon dengan gayanya yang khas, tampaknya menjadi aneh dan juga menarik.

Bu-koat tidak paham apa kehendak orang, terpaksa ia bersabar dan menunggu.

Tiba-tiba terlihat Tong-siansing menarik keluar satu orang dari dahan pohon yang rindang sana, serunya, “Awas, pegang ini!”

Baru lenyap suaranya sesosok tubuh telah anjlok turun dari pucuk pohon.

Tinggi pohon ini berpuluh tombak, bobot seorang meski cuma seratusan kati saja, tapi terlempar dari atas pohon, bobotmya sedikitnya bertambah tiga kali. Hoa Bu-koat sendiri tidak tahu siapa orang yang dijatuhkan dari atas itu, ia pun tidak yakin apakah dirinya sanggup menangkap tubuh orang ini, seketika itu ia tidak sempat berpikir, segera ia melompat ke atas memapak tubuh yang jatuh ke bawah itu.

Dua sosok bayangan, satu dari atas dan yang lain dari bawah, tampaknya segera akan saling lintas. Pada saat berpapasan itulah sekonyong-konyong Hoa Bu-koat turun tangan, ia sempat meraih pakaian orang itu, “bret”, baju orang itu terobek, Bu-koat sendiri pun ikut terseret ke bawah oleh daya anjlok itu.

Tapi ketika hampir sampai di atas tanah, sementara daya anjlok itu sudah jauh berkurang, sambil membentak, Bu-koat berjumpalitan selagi masih terapung sehingga tubuh orang ini kena dilempar lagi ke atas.

Tapi waktu untuk kedua kalinya orang itu anjlok ke bawah, Bu-koat lantas dapat menangkap tubuhnya dengan enteng. Di bawah cahaya bintang yang remang-remang tertampak wajah orang yang pucat dengan mata terpejam.

Orang ini ternyata Siau-hi-ji adanya.

Walaupun biasanya Bu-koat sangat tenang dan sabar, tanpa terasa sekarang ia pun menjerit kaget.

Tong-siansing itu masih berdiri di pucuk pohon, jengeknya tiba-tiba, “Siapa dia? Apakah kau mengenalnya?”

“Ken…kenal,” jawab Bu-koat.

“Apakah dia ini Kang Siau-hi?”

“Betul.”

“Bagus, boleh kau bunuh dia!”

Tergetar hati Bu-koat, ia pandang Siau-hi-ji yang tak sadarkan diri itu, seketika ia sendiri jadi terkesima.

Perlahan-lahan Tong-siansing berkata pula, “Jika kau tidak ingin membunuh seorang yang tidak sanggup melawan, boleh juga kau buka Hiat-tonya.”

Dengan limbung Bu-koat menjulurkan tangannya dan membuka Hiat-to Siau-hi-ji yang tertutuk. Tertampak tubuh Siau-hi-ji mengejang lalu jatuh ke bawah terlepas dari pegangan Hoa Bu-koat.

Waktu membuka mata dan melihat Hoa Bu-koat berdiri di depannya, dengan berseri Siau-hi-ji bertanya, “Apakah engkau yang menyelamatkan aku?”

Bu-koat cuma melenggong saja tanpa bersuara.

“Memang sudah kuduga engkau pasti akan datang menolong aku, kita kan bersahabat?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Entah mengapa, perasaan Bu-koat menjadi pedih, tiba-tiba ia melengos ke sana.

Siau-hi-ji merasa aneh, tanyanya, “He, kenapa kau ….”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menjengek, “Hoa Bu-koat, kenapa kau tidak turun tangan?”

Baru sekarang Siau-hi-ji melihat Tong-siansing yang berdiri di puncak pohon itu, ia menarik napas dingin, ia pandang Hoa Bu-koat dengan terbelalak, katanya, “Kiranya dia menghendaki kau membunuh diriku, begitukah?”

Bu-koat menghela napas panjang.

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian dengan menyengir, “Kutahu engkau tak berani membangkang atas perintahnya…Baiklah silakan kau turun tangan saja!”

Bu-koat juga termenung sejenak, tiba-tiba ia berucap dengan sekata demi sekata, “Sekarang aku tidak boleh membunuhmu!”

Siau-hi-ji melengak dan bergirang pula. Tong-siansing menjadi gusar, bentaknya, “Apa katamu?”

“Kini, betapa pun aku tak dapat membunuh dia?” seru Bu-koat.

“Apakah kau telah melupakan pesan gurumu?” teriak Tong-siansing gusar.

“Tecu tidak berani melupakannya,” jawab Bu-koat dengan menunduk.

“Jika tidak berani melupakannya, kenapa tidak membunuhnya?”

Kembali Hoa Bu-koat menghela napas panjang, katanya, “Aku sudah mengadakan janji tiga bulan dengan dia, sebelum tiba waktunya aku tak dapat membunuhnya.”

“Bila gurumu mengetahui hal ini, lalu bagaimana jadinya?” bentak Tong-siansing.

Mendadak Hoa Bu-koat mendongak, serunya, “Meski perintah guru tidak boleh dibantah, tapi janji juga harus dipegang teguh. Saat ini sekalipun guruku berada di sini juga pasti takkan menyuruh Wanpwe menjadi manusia ingkar janji.”

Dengan suara keras Siau-hi-ji lantas menyambung, “Apalagi dia kan pasti akan membunuhku, yang menjadi soal hanya waktu saja, ini kan juga bukan membangkang terhadap perintah gurunya.”

“Hoa Bu-koat,” bentak Tong-siansing dengan gusar, “Jangan lupa, melihat aku sama saja seperti melihat gurumu, kau berani membangkang atas perintahku.”

“Apa pun kehendak Siansing pasti akan kulaksanakan, hanya urusan ini saja betapa pun Tecu tidak dapat menurut,” ucap Bu-koat dengan gegetun.

“Demi melaksanakan perintah gurumu, biarpun kau tidak pegang janji juga takkan disalahkan oleh siapa pun,” kata Tong-siansing.

“Maaf Siansing, Tecu ….”

Mendadak Tong-siansing membentak pula, “Kau tidak mau membunuh dia, mungkin bukan lantaran ada janji melainkan ada sebab lainnya, betul tidak?”

Tergetar hati Hoa Bu-koat, sesungguhnya ia pun tidak tahu sebab apa ia pegang teguh takkan membunuh Siau-hi-ji sekarang apakah karena ingin menepati janji atau ada sebab lain.

Tadi ketika tanpa sadar Siau-hi-ji berada dalam pelukannya, tiba-tiba dalam hatinya seolah-olah timbul semacam perasaan yang sukar dilukiskan, ia telah pandang wajah Siau-hi-ji, ia merasa anak muda ini bukanlah musuhnya, tapi seperti seorang sahabat lama yang sangat akrab, meskipun sejak pertemuan pertama dengan Siau-hi-ji hingga kini juga baru dua tahun lamanya.

Ia merasakan pernapasan Siau-hi-ji yang lemah tadi, ia merasakan pula anak muda ini bukanlah orang yang harus dibunuhnya, tapi justru harus dilindunginya. Sampai Siau-hi-ji terlepas dari pondongannya dan jatuh ke tanah, perasaan ajaib masih tetap membekas di dalam sanubarinya.

Kini dilihatnya pula senyuman Siau-hi-ji yang penuh keyakinan dan percaya padanya, mana dia sanggup turun tangan lagi membunuhnya.

Terdengar Tong-siansing sedang berteriak dengan bengis, “Hoa Bu-koat, jangan lupa bahwa dia inilah musuhmu yang paling besar, jika kau bersahabat dengan dia, bukan saja gurumu takkan mengampunimu, kelak bila kau teringat akan kejadian ini juga kau takkan memaafkan dirimu sendiri.”

Bu-koat menghela napas panjang. Meski setiap orang mengatakan dia dan Siau-hi-ji adalah musuh bebuyutan, baru tamat bila salah satu mati, meski kenyataan juga membuktikan Siau-hi-ji memang betul musuhnya. Tapi aneh, dalam hati sedikit pun ia tidak merasakan ada sesuatu permusuhan dengan Siau-hi-ji, ia sendiri pun tidak dapat menjelaskan bilakah perasaan aneh ini mulai timbul.

Perasaan aneh ini seolah-olah sudah lama tersimpan dalam lubuk hatinya dan baru berkobar setelah kulit daging Siau-hi-ji menyentuh kulit dagingnya.

Dia pandang Siau-hi-ji, gumamnya di dalam hati, “O, Kang Siau-hi-ji, apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Yang kau pikirkan apakah sama dengan pikiranku?”

Siau-hi-ji memang sedang menatapnya, hatinya memang sedang berpikir.

Tong-siansing memandang dari pucuk pohon. Dilihatnya kedua anak muda yang berdiri berhadapan itu, sorot matanya yang dingin seketika berkobar-kobar pula, bentaknya dengan bengis, “Hoa Bu-koat, tidak perlu kau tunggu lagi tiga bulan, turun tangan sekarang saja!”

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendongak dan bergelak tertawa, teriaknya, “Hahaha, mengapa tidak boleh menunggu lagi tiga bulan? Memangnya kau khawatir tiga bulan kemudian dia takkan membunuhku lagi?”

“Apa yang kukhawatirkan?” teriak Tong-siansing dengan parau. “Kalian memang dilahirkan menjadi musuh, nasib kalian sudah ditakdirkan salah seorang harus mati di tangan yang lain.”

“Jika begitu, sekarang mengapa kau paksa dia?” seru Siau-hi-ji. “Jika kau menginginkan kematianku sekarang juga, boleh kau turun tangan sendiri saja, mengapa kau sendiri tidak berani membunuhku?”

Tong-siansing merasa hulu hatinya seakan-akan ditikam orang, ia bersuit nyaring terus melayang turun.

Air muka Hoa Bu-koat menjadi pucat, disangkanya Tong-siansing alias si topeng perunggu itu hendak membunuh Siau-hi-ji, tak tersangka orang lantas menerjang ke hutan sana, sekali angkat tangan, kontan sebatang pohon kena ditonjoknya hingga patah dan ambruk.

Tubuh Tong-siansing masih terus berputar kian kemari, kedua tangannya bekerja susul menyusul, batang pohon sebesar paha hanya sekali dihantamnya lantas patah dan tumbang. Hanya sekejap saja belasan pohon di bukit itu telah ditebang olehnya dengan pukulan yang dahsyat dan menimbulkan suara gemuruh memekak telinga.

Melihat tenaga pukulan luar biasa itu, tanpa terasa Siau-hi-ji berkecak-kecak kagum.

Ia tahu ilmu silat Tong-siansing yang mahasakti ini, kalau dirinya mau dibunuhnya boleh dikatakan semudah menyembelih seekor ayam. Ia pun tahu si Topeng Perunggu ini sudah teramat benci padanya, kalau bisa mungkin tubuhnya akan dicincangnya hingga luluh, namun orang aneh ini justru tidak mau melakukannya dengan tangan sendiri dan lebih suka melampiaskan rasa geregetan itu atas pepohonan. Apakah sebabnya dia berbuat begini? Sungguh sukar dimengerti?

Dalam pada itu tahu-tahu Tong-siansing telah melayang ke depan Hoa Bu-koat dan membentak pula dengan bengis, “Jadi kau sudah pasti akan menunggu tiga bulan lagi baru mau membunuhnya?”

Bu-koat menarik napas dalam-dalam, jawabnya kemudian, “Ya!”

“Kalau sekarang kubunuh dia, lalu bagaimana kau?”

Dengan muka pucat Bu-koat memandang Siau-hi-ji sekejap, lalu menjawab dengan tergagap, “Jika…jika Siansing membunuhnya sekarang juga, mungkin…mungkin Tecu ….”

“Memangnya kau berani merintangi aku?” bentak Tong-siansing.

Bu-koat tampak serba sulit, ia menghela napas dan menjawab, “Tecu…Tecu ….”

Tiba-tiba Tong-siansing bergelak tertawa histeris, serunya, “Jika kau memang sedemikian mengutamakan janji setia, sebagai kaum Cianpwe masakah aku harus membikin susah padamu. Kau ingin menunggu lagi tiga bulan, baiklah, apa alangannya kalau kuberi waktu selama tiga bulan?”

Perubahan sikap ini kembali di luar dugaan kedua anak muda itu.

Dengan girang dan kejut Bu-koat berseru, “Terima kasih atas kebaikan Siansing ….”

“Dan sekarang bolehlah kau pergi saja,” kata Tong-siansing dan berhenti tertawa mendadak.

Kembali Bu-koat memandang Siau-hi-ji sekejap, tanyanya, “Dan dia ….”

“Dia tinggal di sini!” bentak Tong-siansing.

Bu-koat kembali terkejut, katanya, “Apakah Siansing hendak ….”

“Bila kuingin membunuhnya sendiri, memangnya perlu kutunggu sampai sekarang?” jengek Tong-siansing.

Bu-koat berpikir sejenak lalu menunduk dan berkata, “Kalau Siansing tidak akan membunuh dia, kenapa tidak lepaskan dia pergi saja. Janji tiga bulan ini kukira takkan diingkarnya.”

“Apakah dia akan ingkar atau tidak yang pasti selama tiga bulan ini aku pun akan melindungi dia agar seujung rambutnya takkan terganggu oleh siapa pun,” ucap Tong-siansing. “Tiga bulan kemudian, dengan utuh dan bulat akan kuserahkan dia padamu.”

“Agar aku dibunuhnya dengan utuh dan bulat-bulat, begitu bukan?” tiba-tiba Siau-hi-ji menambahkan dengan tertawa.

“Ya, betul!” jengek Tong-siansing.

“Wah, jika begitu engkau harus mengorbankan pikiran dan tenaga untuk melindungi aku, rasanya aku menjadi tidak enak hati,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Hanya melindungi seorang macammu ini masakah perlu banyak makan pikiran dan tenagaku?” dengus Tong-siansing.

“Ah, engkau tentunya mengira diriku ini mudah diawasi?” kata Siau-hi-ji pula dengan mimik wajah jenaka. “Sungguh salah besar jika begitu anggapanmu. Ketahuilah, aku ini tiada punya penyakit lain kecuali suka mencari gara-gara pada orang lain. Lantaran itu, orang Kangouw yang ingin membunuhku sungguh tidak sedikit.”

“Kecuali Hoa Bu-koat, siapa pun tidak boleh membunuhmu!” kata Tong-siansing.

“Betul?” Siau-hi-ji menegas.

“Setiap ucapanku adalah kata-kata emas dan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat!” jengek Tong-siansing.

“Jika ucapanmu sudah begini bulat, bilamana dalam tiga bulan ini aku mengalami sesuatu gangguan, wah, entah engkau masih punya muka untuk tampil di depan umum atau tidak?”

“Pokoknya selama tiga bulan ini jika kau mengalami sesuatu gangguan, akulah yang bertanggung jawab,” bentak Tong-siansing.

“Nah, Hoa-heng, engkau juga mendengar dengan jelas ucapannya bukan?” tanya Siau-hi-ji kepada Hoa Bu-koat.

“Ya, jelas,” jawab Bu-koat dengan mengangguk sambil mengulum senyum.

“Engkau juga harus ingat baik-baik janjinya,” kata Siau-hi-ji.

“Sudah tentu kuingat,” kata Hoa Bu-koat.

“Kalau begitu legalah hatiku,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Dalam waktu tiga bulan ini dapatlah aku berbuat sesuatu sekehendak hatiku, toh tiada seorang pun yang berani mengganggu aku.”

“Ya, jangan khawatir, dalam tiga bulan ini, perbuatan apa pun takkan dapat kau lakukan,” jengek Tong-siansing pula.

“Ah, kukira belum tentu ….” Siau-hi-ji berkedip-kedip dengan senyuman penuh teka-teki.

Teringat kepada kebinalan Siau-hi-ji dengan tingkah lakunya yang aneh-aneh dan licin, Bu-koat pikir biarpun ilmu silat Tong-siansing mahatinggi, rasanya juga akan kena dikibuli anak muda itu.

Karena pikiran ini, tanpa terasa Bu-koat tersenyum geli.

Tong-siansing menjadi gusar, bentaknya, “Tidak lekas pergi, untuk apa kau tinggal di sini?”

Seketika lenyaplah senyuman Hoa Bu-koat, katanya kemudian, “Tiga bulan kemudian ….”

“Pergilah, jangan khawatir,” sela Siau-hi-ji, “Tiga bulan kemudian akan kutunggu kau di tempat itu!” Lalu ia berpaling kepada Tong-siansing dan berkata pula dengan tertawa, “Sekarang aku ingin bicara berduaan dengan dia, apakah engkau tidak khawatir?”

“Tiada sesuatu urusan di dunia ini yang dapat membuat aku khawatir,” jengek Tong-siansing.

Siau-hi-ji berkerut-kerut hidung, ucapnya dengan tertawa, “Kepandaianmu memang tinggi, tapi rasanya engkau pun suka membual.”

“Kau berani kurang ajar?” bentak Tong-siansing.

“Mengapa tidak berani? Kan di dalam tiga bulan ini tiada seorang pun yang berani menggangguku?” jawab Siau-hi-ji dengan terbahak-bahak.

Saking dongkolnya Tong-siansing jadi melenggong, ia benar-benar mati kutu menghadapi anak binal ini.

Siau-hi-ji mendekati Hoa Bu-koat, dengan suara lirih ia berkata, “Sayang dia memakai topeng setan begitu, kalau tidak air mukanya sekarang tentu sangat lucu untuk ditonton.”

Meski dia bicara dengan suara tertahan, tapi dia justru sengaja membikin suaranya sedemikian lirih hingga tiba cukup didengar juga oleh Tong-siansing.

Tentu saja Bu-koat merasa geli dan hampir-hampir mengakak, lekas ia pura-pura berdehem, lalu berkata, “Apa yang hendak kau bicarakan padaku?”

“Petang besok, Yan Lam-thian, Yan-tayhiap akan menunggu aku di hutan bunga sana, dapatlah engkau mewakilkan diriku ke sana, beritahukan kepada beliau bahwa aku tidak sempat memenuhi janji menemuianya,” kata Siau-hi-ji. Sekali ini ia benar-benar menahan suaranya sehingga tidak terdengar oleh orang lain.

“Yan Lam-thian? ….” Bu-koat berkerut dahi.

“Kutahu engkau bersengketa dengan dia, karena itu bilamana permintaanku kau tolak juga aku takkan menyalahkanmu,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

Tiba-tiba Bu-koat tertawa, katanya, “Dalam tiga bulan ini kita adalah sahabat karib bukan?”

“Sudah tentu,” jawab Siau-hi-ji.

“Dan permintaan sahabat dapatkah kutolak?”

Siau-hi-ji tertegun, ia pandang Bu-koat sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Ehm, engkau sangat baik, sungguh tidak penasaran aku mempunyai sahabat seperti engkau ini.”

Bu-koat terdiam sekian lama, lalu berkata secara tak acuh, “Cuma sayang, hanya selama tiga bulan saja.” Dia sengaja anggap tak acuh, tapi ternyata kurang mahir berlagak.

Siau-hi-ji merasa pedih, jawabnya dengan tersenyum, “Tiga bulan sama dengan sembilan puluh hari, ini bukan waktu yang singkat.”

“Namun selama kita bersahabat ini kukira takkan berjumpa, apalagi berkumpul. Bilamana kita berjumpa pula nanti, maka kita bukan lagi sahabat melainkan musuh!”

“Banyak kejadian di dunia ini sering kali di luar dugaan, kejadian-kejadian ini setiap hari selalu timbul, bukan mustahil selang dua-tiga hari lagi kita juga akan berjumpa, siapa tahu?”

“Aku tidak percaya akan keajaiban,” kata Bu-koat dengan gegetun.

“Seorang yang malang dan sedang bernasib sial, kalau tidak senantiasa mengharapkan timbulnya keajaiban, pada hakikatnya ia tak mungkin bertahan hidup lama, betul tidak?”

“Kau percaya keajaiban?” Bu-koat balas tanya.

“Jika aku tidak percaya akan keajaiban, memangnya sekarang aku dapat tertawa?”

“Tapi keajaiban pasti takkan terjadi!” tiba-tiba Tong-siansing mendengus di belakang mereka. “Nah, Hoa Bu-koat, pergilah kau!”

*****

Melihat Bu-koat sudah pergi jauh barulah Siau-hi-ji menghela napas dan bergumam, “Sungguh seorang yang menyenangkan, cuma sayang dia dilahirkan di tempat yang keliru.”

“Yang terlahir di tempat yang keliru ialah kau!” jengek Tong-siansing. “Sebab kau pasti akan mati di tangannya.”

Siau-hi-ji termenung, mendadak ia tertawa dan berkata pula, “Seorang kalau harus mati, tentu akan jauh lebih baik mati di tangannya daripada mati di tangan orang lain.”

“Kau tidak dendam padanya?” bentak Tong-siansing.

“Mengapa aku harus dendam padanya?”

“Gurunya yang membunuh ayah-bundamu?”

“Tapi waktu ayah-ibuku meninggal, mungkin dia sendiri belum lagi dilahirkan. Apa yang diperbuat gurunya ada sangkut-paut apa dengan dia, memangnya gurunya yang makan nasi dan Hoa Bu-koat yang harus berak bagi gurunya?”

Bilamana ucapan Siau-hi-ji ini diutarakan di jaman kini tentu seketika akan mendapat sorak puji orang. Akan tetapi pada jaman itu, jalan pikiran manusia tatkala itu tidaklah terbuka seperti sekarang, lebih-lebih soal permusuhan dan bunuh-membunuh di dunia Kangouw, hampir selalu berlangsung turun-temurun dan sukar dilerai.

Sebab itulah ucapan Siau-hi-ji itu membuat Tong-siansing melengak juga. Selang sejenak barulah ia membentak pula dengan bengis, “Tapi dia juga telah berebut gadis yang kau cintai, masa kau tidak dendam padanya?”

“Hati perempuan kalau sudah mau berubah, tenaga apa pun tidak mungkin dapat menahannya, dalam hal ini mana dapat kusalahkan Hoa Bu-koat. Apalagi seorang perempuan kalau hatinya harus berubah dan berubah hatinya itu disebabkan Hoa Bu-koat, maka kukira akan jauh lebih baik daripada perubahan hatinya itu disebabkan orang lain.”

Kembali Tong-siansing tercengang sejenak, kemudian ia membentak pula dengan gusar, “Dendam membunuh orang tua dan sakit hati merebut pacar, hal-hal ini bagi orang lain pasti akan dituntut dengan taruhan nyawa, tapi kau malahan menganggap sepi saja, apakah kau ini bisa dianggap sebagai manusia lagi?”

Siau-hi-ji menatap orang dengan terbelalak, tiba-tiba ia tertawa dan berucap “Ingin kutanyakan padamu, sebab apakah engkau menghendaki aku dendam dan benci padanya?”

“Kau dendam atau tidak padanya memangnya ada sangkut-paut ada dengan diriku?” jawab Tong-siansing gusar.

“Itulah dia, kalau tiada sangkut-pautnya dengan engkau, mengapa dengan susah payah engkau menaruh perhatian sebesar ini?” kata Siau-hi-ji.

Tong-siansing menjadi bungkam.

“Kutahu maksud tujuanmu hanya satu, yakni ingin aku mengadu jiwa dengan dia, engkau terus mengawasi diriku lantaran kau khawatir dalam tiga bulan ini persahabatan kami terpupuk semakin erat, kau khawatir dia tidak mau lagi membunuhku, betul tidak?”

“Masa bodoh jika kau sok pintar dengan macam-macam rekaanmu,” bentak Ton-siansing.

“Bahwa dia harus membunuhku dengan tangannya sendiri dan dia tidak tahu apa sebabnya, semula aku sudah merasa heran, sekarang aku jadi tambah heran,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Meski kau tidak benci padanya, tapi dia benci padamu, makanya ingin membunuhmu, apanya yang perlu diherankan?”

“Kau kira dia benar-benar benci padaku?”

Tubuh Tong-siansing seperti tergetar, hardiknya dengan bengis, “Mau tak mau dia harus benci padamu!”

“Inilah yang kuherankan,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun. “Engkau dan gurunya bisa membunuhku dengan sangat mudah, tapi kalian tidak mau turun tangan sendiri, sebab itulah aku merasa kalian sebenarnya tidak benar-benar menghendaki kematianku, melainkan cuma ingin kumati di tangan Hoa Bu-koat saja, rasanya kalian merasa puas bilamana menyaksikan dia membunuhku dengan tangan sendiri.”

“Menghendaki dia membunuhmu berarti menghendaki kematianmu, kan tidak ada bedanya?”

“Ada, ada bedanya, bahkan sangat menarik. Kutahu di dalam hal ini tentu ada sesuatu sebab yang aneh, cuma sayang saat ini belum dapat kupecahkan.”

Tong-siansing berdiam sejenak pula, jengeknya kemudian, “Seumpama di dalam hal ini ada sebabnya juga takkan kau ketahui selamanya.”

“Oya? Apa betul?” Siau-hi-ji tersenyum.

“Di dunia ini hanya ada dua orang yang tahu rahasia ini dan mereka tidak mungkin memberitahukannya padamu.”

Gemerdep mata Siau-hi-ji, ia merenung dan berkata, “Dengan sendirinya Ih-hoa-kiongcu mengetahui ….”

“Ya, sudah tentu,” ucap Tong-siansing.

“Padahal Ih-hoa-kiongcu terdiri dari kakak beradik berdua,” teriak Siau-hi-ji, “Jika engkau mengatakan di dunia ini hanya dua orang saja yang mengetahui rahasia ini, lalu dari mana pula engkau mengetahuinya?”

Tubuh Tong-siansing seperti bergetar, bentaknya gusar, “Kau sudah terlalu banyak bicara, sekarang tutup saja mulutmu!”

Mendadak ia tutuk Hiat-to anak muda itu. Siau-hi-ji hanya merasakan bayangan putih berkelebat, sampai bentuk tangan orang saja tak terlihat jelas dan tahu-tahu dirinya sudah tak bisa berkutik dan bersuara.

Nyata “Tong-siansing” yang penuh rahasia ini bukan saja wajah aslinya disembunyikan, bahkan tangannya juga tak suka diperlihatkan kepada orang.

*****

Sementara Hoa Bu-koat telah berada di kamarnya, dalam benaknya juga penuh diliputi berbagai tanda tanya, cuma isi hatinya tidak dapat dibeberkan kepada orang lain, ia sendiri pun tidak suka berbincang dengan siapa pun.

Esok paginya, dalam keadaan layap-layap karena semalam banyak minum arak, tiba-tiba ia terjaga bangun oleh berisik di halaman luar. Ia mengenakan baju dan membuka pintu kamar, baru saja ia melongok keluar lantas dilihatnya Kang Piat-ho berdiri di bawah pohon sana, begitu melihat Hoa Bu-koat sudah bangun, dengan tersenyum ia lantas mendekatinya dan menyapa, “Semalam kakak ada janji dengan orang, terpaksa pergi keluar, pulangnya baru tahu adik sendirian telah banyak minum arak sehingga mabuk.”

Sama sekali dia tidak mengungkap kejadian di restoran itu semalam, bahkan sebutannya juga telah berubah menjadi ‘kakak’ dan ‘adik’ seakan-akan semua kejadian timbul karena hasutan adu domba orang lain sehingga tiada harganya untuk disebut-sebut lagi.

Bu-koat juga lantas tertawa dan berkata, “Baru sekarang Siaute mengetahui penyakit mabuk sesungguhnya jauh lebih tersiksa daripada penyakit apa pun di dunia ini.”

Ia memandang sekitar sana, tertampak kaum budak keluarga Toan lebih sibuk daripada biasanya, keluar masuk bergantian tanpa berhenti dan air muka setiap orang tampak cemas dan berduka.

Ia menjadi heran apakah keluarga hartawan ini mengalami sesuatu kejadian apa-apa. Maka ia lantas bertanya, “Ada urusan apakah ini?”

Dengan perlahan Kang Piat-ho menghela napas, ucapnya, “Putri Toan Hap-pui telah bunuh diri.”

“Hah, orang yang berpikiran terbuka begitu juga bisa bunuh diri?!” seru Bu-koat terkejut.

“Hiante jangan lupa, betapa pun dia adalah perempuan” ujar Kang Piat-ho dengan menyengir, “Kebanyakan perempuan memang anggap bunuh diri adalah jalan paling baik untuk memecahkan sesuatu kesulitan.”

“Sebab apakah dia membunuh diri?” tanya Bu-koat.

“Tiada seorang pun yang tahu sebab-sebabnya,” tutur Kang Piat-ho, “Hanya terdengar dia mengigau dalam keadaan tidak sadar, katanya, ‘Aku bersalah padanya, dia tidak mengubris diriku lagi’ ….”

“Dia? Siapa maksudnya?” tanya Bu-koat.

“Rahasia hati kaum gadis, siapa yang tahu?”

“Jika nona Toan masih dapat bicara, tentunya dia tidak sampai meninggal.”

“Membunuh orang sulit, membunuh diri juga tidak gampang. Setahuku, perempuan yang benar-benar berhasil membunuh diri jumlahnya sangat sedikit.”

Tersenyum juga Hoa Bu-koat, katanya, “Lelaki yang berhasil membunuh diri memangnya berjumlah banyak?”

“Hahaha!” Kang Piat-ho tergelak-gelak, “Hiante benar-benar pelindung kaum wanita di dunia ini, di mana dan kapan pun engkau selalu bicara membela mereka.”

Tiba-tiba Bu-koat bertanya, “Eh, tampaknya hari sudah siang.”

“Sudah lewat lohor,” ucap Kang Piat-ho.

“Ai, rupanya aku bangun terlalu lambat ….” seru Bu-koat, cepat-cepat ia masuk kamar untuk cuci muka.

Kang Piat-ho juga ikut masuk dan berusaha memancing sesuatu keterangan, “Tidur akibat mabuk minum memang rada sukar mendusin, jalan paling baik harus disadarkan dengan arak pula, apakah adik suka kalau kakak mengiringi minum barang dua cawan?”

Selesai membersihkan mukanya, Bu-koat berkata dengan tertawa, “Jangankan minum arak, mendengar kata-kata ‘arak’ saja kepalaku lantas pusing sekarang.”

“Wah, jika begitu bagaimana kalau…kalau kakak mengiringi adik pesiar keluar?”

“Siaute sudah tinggal sekian lama di kota ini, memangnya Kang-heng masih khawatir diriku akan kesasar?”

Setelah berdiri tertegun sejenak di dekat pintu, akhirnya Kang Piat-ho berkata, “Baiklah, jika demikian biar kutengok nona Toan di depan sana.”

Dia seperti sudah tahu Hoa Bu-koat merahasiakan sesuatu padanya, walaupun mulut tidak menyinggungnya, tapi di dalam hati sudah waswas. Maka setiba di pekarangan sana ia lantas bisik-bisik memberi pesan kepada dua anak buahnya.

Kedua lelaki itu mengiakan dengan hormat kalau berlari keluar.

Sesudah anak buahnya pergi, tersembul senyuman sinis pada ujung mulut Kang Piat-ho, gumamnya, “Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, meski dengan sesungguh hati ingin bersahabat denganmu, tapi kalau kau berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, maka janganlah kau menyalahkan aku jika aku pun melakukan sesuatu tindakan padamu.”

Dia seakan-akan tidak mau tahu bahwa setiap orang tentu mempunyai sesuatu yang tak dapat diceritakan kepada orang lain, dia menghendaki setiap orang harus berterus terang padanya tanpa menyembunyikan sesuatu, kalau tidak lantas dianggapnya berdosa padanya.

Memang begitulah sejak dulu kala hingga kini, setiap tokoh penguasa yang lalim memang suka memiliki penyakit ‘rasa curiga’ yang jauh melebihi orang biasa, dan ciri ini terkadang juga merupakan penyakit fatal baginya.

*****

Pada setiap ujung kota ini sudah terpasang jaring pengintai yang ketat, orang-orang ini ada yang pura-pura sedang minum, ada yang belanja dan ada pula yang sedang jalan-jalan iseng.

Hoa Bu-koat sendiri juga sedang iseng saja. Dia berhenti di depan sebuah toko penjual burung, di situ dia berhenti cukup lama untuk mendengarkan kicauan bermacam jenis burung yang menarik. Kemudian dia masuk ke sebuah warung makan, dia minum dua cangkir teh dan satu potong kue.

Segera ada pengintai berlari pulang memberi lapor kepada Kang Piat-ho.

“Minum teh? ….” Kang Piat-ho merasa heran. “Untuk apa dia minum di sana? Apakah dia menemui seseorang di situ?”

Tapi pengintai itu menjawab, “Hoa-kongcu duduk cukup lama di warung minum itu dan tiada nampak bicara dengan siapa pun juga.”

“Oo? ….” Kang Piat-ho tetap tidak mengerti.

Selang tak lama, kembali seorang pulang melapor, “Hoa-kongcu sudah meninggalkan warung minum itu.” Menyusul datang lagi laporan, “Hoa-kongcu kini sedang menonton akrobat Ong Thi-pi di pojok jalan sana.”

“Buset!” Kang Piat-ho mengernyitkan dahi, “Permainan anak kecil begitu masa juga ditonton…Apakah kalian tidak melihat di antara kerumunan orang ramai itu ada yang bicara dengan dia?”

“Tidak,” jawab pelapor.

“Siapa yang mengawasi dia sekarang?” tanya Kang Piat-ho.

“Jalan itu adalah bagian Song Sam dan Li Acu ….” belum habis si pelapor menutur, tiba-tiba Song Sam yang disebut itu tampak muncul dengan gelisah, dia menyembah di depan Kang Piat-ho dan melapor, “Hoa-kongcu mendadak menghilang!”

Kang Piat-ho menjadi murka, bentaknya dengan menggebrak meja, “Keparat! Memangnya kalian ini orang buta semua? Siang bolong dan terang benderang begitu, di tengah jalanan yang ramai tidak mungkin dia kabur dengan menggunakan Ginkangnya, mengapa mendadak bisa menghilang?”

“Waktu itu giliran anak gadis Ong Thi-pi bermain Liu-sing-tui (senjata dengan kedua ujung berbola besi dan diberi bertali), mendadak rantai Liu-sing-tui putus, bola besi sebesar semangka kecil itu mencelat ke udara, tentu saja para penonton menjadi khawatir kepalanya ketiban bola besi itu dan sama berlari simpang-siur, arena pertunjukan seketika menjadi kacau ….”

“Kau sendiri pun lari bukan?” tanya Kang Piat-ho.

“Hamba…hamba sebenarnya berdiri di kejauhan, begitu keadaan kacau, hamba lantas mengawasi dengan lebih teliti,” tutur si Song Sam dengan takut-takut. “Tapi ketika bola besi itu jatuh kembali ke bawah dan Ong Thi-pi menabuh tambur dan mengulang pertunjukan lagi, namun Hoa-kongcu sudah tidak kelihatan.”

“Mengapa rantai Liu-sing-tui bisa putus mendadak?” tanya Kang Piat-ho.

“Hamba tidak tahu,” jawab Song Sam.

“Hm, kukira matamu menjadi kabur dan lupa daratan menyaksikan permainan anak gadis Ong Thi-pi itu,” jengek Kang Piat-ho.

“Ham…hamba tidak berani,” berulang-ulang Song Sam menyembah.

“Jika kedua matamu toh tiada gunanya, lalu untuk apa dibiarkan begini?” bentak Kang Piat-ho dengan bengis.

Baru habis ucapannya, serentak dua lelaki kekar melangkah maju dan menyeret keluar Song Sam. Wajah Song Sam tampak pucat, saking ketakutan sehingga tidak sanggup minta ampun sama sekali.

Selang tak lama, dari belakang berkumandang suara jeritan ngeri.

Tapi Kang Piat-ho seakan-akan tidak mendengarnya, ia bergumam sendiri, “Ke mana perginya Hoa Bu-koat? Mengapa dia menghindari aku? Jangan-jangan mereka ada janji dengan Kang Siau-hi untuk merancang sesuatu terhadap diriku? Apabila kedua anak muda itu berserikat, lalu apa yang harus kulakukan?”

Dia bergumam dengan sangat lirih, sorot matanya tampak beringas, kemudian ia mendengus, “Hm, lebih baik aku mengingkari semua orang dan jagat ini dari pada ada seorang di dunia ini mengkhianati aku…O, Kang Piat-ho, hendaklah camkan benar-benar kata-kata ini!”

*****

Sementara itu Hoa Bu-koat sudah berada di luar kota dengan tersenyum puas. Kalau sekarang ada orang bertanya padanya apa sebabnya Liu-sing-tui mendadak putus rantainya tentu dia akan tertawa terbahak-bahak. Rantai Liu-sing-tui itu dapat ditimpuk putus dengan sebutir batu kecil, betapa pun ia merasa bangga pada tenaga jarinya sendiri.

Dan kalau sekarang ada orang bertanya, padanya, “Mengapa kau berbuat begitu?” Maka pasti dia akan menjawabnya dengan tertawa, “Selama ini aku pun berhasil belajar cara bagaimana menggunakan otak dan memakai akal serta mengenal sedikit kelicikan orang hidup. Akhirnya aku pun mulai merasakan bahwa setiap orang di dunia tidak selalu dapat dipercaya sebagaimana kubayangkan dahulu.”

Setiba di hutan bunga sana, terlihat pemandangan yang indah itu sudah hampir seluruhnya rusak oleh pertarungan pedang kemarin. Sinar matahari teraling awan tebal, terasa tiupan angin rada dingin.

Teringat harus berhadapan pula dengan Yan Lam-thian, senyuman yang selalu menghiasi bibirnya seketika tak tertampak lagi. Tapi meski tahu perjalanan ini cukup berbahaya baginya, namun mau tak mau ia harus datang sesuai janjinya kepada Siau-hi-ji.

Bu-koat masuk ke hutan itu dengan menyusur daun bunga yang rontok. Yan Lam-thian tidak ada di situ, hanya terlihat seorang perempuan berbaju putih mulus dengan kepala tertunduk bersandar di pohon sana.

Karena orang berdiri membelakangi Bu-koat, maka anak muda ini hanya dapat melihat potongan tubuhnya yang ramping serta rambutnya hitam panjang terurai di pundak.

Meski tidak nampak wajahnya, tapi sekali pandang saja Bu-koat tahu siapa dia, yaitu Thi Sim-lan. sungguh aneh, mengapa Thi Sim-lan berada di sini?

Di bawah bunga yang bertaburan, Bu-koat berdiri melenggong di situ. Sama sekali tak terduga olehnya akan bertemu dengan Thi Sim-lan di sini. Ia pun tidak tahu apakah dirinya harus menegurnya? Yang jelas hatinya terasa pedih dan getir.

Thi Sim-lan juga tidak menoleh dan tidak bergerak! Pikiran si nona seperti sedang melayang sehingga sama sekali tidak tahu datangnya Hoa Bu-koat. Angin meniup sejuk mengusap rambutnya yang halus itu.

Lama dan lama sekali baru terdengar nona itu menghela napas panjang dan bergumam, “Bunga mekar bunga rontok, kemudian menjadi tanah dalam waktu singkat, bukanlah kehidupan manusia juga demikian?”

Suara yang hampa itu penuh rasa kesal dan mencela dirinya sendiri, gadis yang biasa berhati riang itu mengapa bisa berubah gundah-gulana?

Sebenarnya Bu-koat tidak ingin mengejutkan si nona, mestinya ia ingin mengeluyur pergi secara diam-diam, tapi kini tanpa terasa ia pun menghela napas perlahan.

Seperti terkejut dan seperti girang, sekonyong-konyong Thi Sim-lan menoleh dan berseru “Kau ….” tapi cuma satu kata ini saja, dilihatnya yang berada di depannya ialah Hoa Bu-koat, seketika ia melengak.

Biarpun pikirannya diliputi berbagai persoalan, tapi air muka Hoa Bu-koat tetap tenang-tenang saja, katanya dengan tertawa, “Baik-baikkah engkau?”

Sekejap itu sesungguhnya ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Begitu pula Thi Sim-lan seakan-akan juga tidak tahu cara bagaimana harus menjawabnya. Ia hanya mengangguk perlahan.

Selang sejenak baru Bu-koat berkata pula dengan tersenyum, “Tentunya kau tidak menyangka kedatanganku, bukan?”

Sim-lan menunduk, katanya dengan lirih, “Kau tidak terluka apa-apa, aku sangat senang.”

Suara si nona hampir tak terdengar sendiri, tapi Hoa Bu-koat dapat mendengar dengan jelas, hatinya terasa sakit, tanpa terasa ia menunduk dan berkata, “Terima kasih.”

“Kemarin…kemarin kulari pergi begitu saja, engkau tidak marah padaku?” tanya Thi Sim-lan dengan menggigit bibir.

“Kenapa kumarah padamu?” ujar Bu-koat dengan tertawa. Sedapatnya ia ingin memperlihatkan tertawa yang wajar, tapi jelas dia telah gagal. Untung Thi Sim-lan tidak memperhatikan wajah tertawanya.

Thi Sim-lan seperti tidak berani memandangnya.

Selang sejenak pula, sambil menghela napas perlahan baru si nona berkata, “Sebenarnya banyak omongan ingin kukatakan padamu, tapi tak tahu cara bagaimana harus kuucapkan.”

“Tanpa kau ucapkan juga aku sudah tahu?”

“Kau…kau tahu?”

Tambah sepat dan getir senyuman Bu-koat, katanya dengan suara halus, “Ada sementara orang sangat sulit dilupakan orang, terkadang meski engkau sendiri mengira sudah melupakan dia, tapi bila melihatnya, maka setiap senyumannya, setiap suaranya, semuanya seakan-akan bersarang pula di lubuk hatimu ….”

“Dapatkah engkau memaafkan aku?” tanya Thi Sim-lan. Mendadak ia tatap Bu-koat, air matanya ternyata berlinang-linang.

Bu-koat tidak berani memandangnya, ia menunduk dan berkata dengan tertawa, “Hakikatnya tiada persoalan yang perlu kau mintakan maaf, jika aku menjadi dirimu mungkin juga akan bertindak demikian.”

“Tapi…tapi sungguh aku bersalah padamu, mengapa…mengapa engkau tidak marah padaku, tidak mencaci diriku? Dengan begitu hatiku akan merasa lega malah, tapi rasa simpatimu, kebesaran jiwamu, hanya akan menambah penderitanku.” Makin bicara makin terangsang perasaannya sehingga akhirnya ia pun menangis.

Bu-koat diam saja, tiba-tiba ia menengadah dan menghela napas, katanya, “Sama sekali aku tidak marah padamu, takkan dendam padamu, selamanya takkan dendam padamu, sekalipun aku tidak dapat…tidak dapat berada bersamamu, tapi selama hidupku ini akan kuanggap kau sebagai adikku.”

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan berhenti menangis, ia mendongak dan menegas, “Sungguh?”

“Bilakah pernah kudustaimu?” jawab Bu-koat. Ia tertawa, lalu menyambung pula, “Selain itu, ingin kukatakan padamu bahwa bukan saja aku tidak dendam padamu, tapi ia pun sahabatku yang sejati selama hidupku ini. Engkau dapat…dapat berada bersama dia, sungguh aku pun sangat gembira…sangat bahagia.”

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan menjerit, “O, Toako…Betapa terima kasihku padamu, sungguh aku sangat berterima kasih,” Dia bicara dengan tertawa dan juga mengalirkan air mata, entah suka entah duka.

Bu-koat sendiri juga tidak tahu apakah suka atau duka. Katanya, “Banyak persoalan di dunia ini terjadi secara terpaksa, maka kau tak dapat disalahkan dan juga tak dapat menyalahkan siapa pun juga, untuk apa pula engkau mesti menyiksa dirinya sendiri?”

“Tapi…tapi engkau…masa engkau tidak ….” kata Thi Sim-lan dengan tersendat-sendat.

“Di dunia ini tiada penderitaan yang tak dapat disembuhkan, lama-lama, apa pun juga, tentu akan terlupakan dengan perlahan-lahan, maka kau tidak perlu khawatir bagiku.”

“O, mengapa engkau begini…begini baik hati? Mengapa engkau tidak…tidak seperti orang lain dan berubah sedikit kejam?” ratap Thi Sim-lan, ia menangis, tiba-tiba ia berkata pula, “Tapi kutahu meski di mulut kau bilang begitu, tapi di dalam hati engkau tetap benci padaku, ini…inilah yang tak dapat kutahan.”

Bu-koat tahu setelah Thi Sim-lan memanggil ‘Toako’ padanya, maka lenyaplah harapannya yang dipupuk selama dua tahun ini. Walaupun panggilan ‘Toako’ ini masih terasa sangat hangat dan dekat, tapi juga terasa sedemikian jauh.

Sambil menengadah Bu-koat menghela napas panjang, akhirnya ia berkata, “Semoga dia tidak mengingkari kau ….”

Itu hanya semacam doa dan harapan saja, tapi juga semacam sumpah setia, semacam pengimpasan perasaan sendiri. Sudah tentu betapa ruwet perasaan yang terkandung dalam ucapannya itu sukar dipahami oleh orang lain.

Namun apa pun juga perasaan mereka sekarang sudah jauh lebih lapang, sebutan ‘Toako’ itu merupakan suatu penghalang sehingga membuat perasaan mereka tidak sampai meluap.

Akhirnya Thi Sim-lan tersenyum dan berkata, “Toako, mengapa engkau datang pula ke sini?”

“Atas permintaan orang kudatang ke sini untuk mencari orang lain,” jawab Bu-koat setelah berpikir sejenak. Ia ragu-ragu apakah mesti memberitahukan jejak Siau-hi-ji kepada Thi Sim-lan atau tidak, dengan sendirinya karena tidak ingin si nona berkhawatir bagi anak muda itu.

Segera Thi Sim-lan bertanya pula, “Jangan-jangan engkau hendak mencari Yan-tayhiap?”

Terpaksa Bu-koat mengiakan dan mengangguk.

Terbelik mata Thi Sim-lan, ucapnya, “Jangan-jangan dia yang minta kau datang ke sini?”

Kembali Bu-koat mengiakan.

“Mengapa dia tidak datang sendiri saja?”

Bu-koat tidak menjawab, sebaliknya ia balas tanya, “Mengapa Yan-tayhiap tidak kelihatan dan kau malah berada di sini?”

Sim-lan tertunduk, katanya, “Semalam Yan-tayhiap telah bertemu denganku dan telah banyak bicara padaku, aku disuruh menunggunya di sini. Kau tahu, apa yang dikatakan Yan-tayhiap tidak mungkin ditolak oleh siapa pun juga.”

“Apa yang dia bicarakan denganmu?”

Muka Sim-lan menjadi merah, ia menggigit bibir, lalu menjawab, “Kata Yan-tayhiap, aku disuruh meng…mengobrol dulu dengan beliau, kemudian ….”

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berseru dengan tertawa di luar hutan sana, “Haha, kalian berdua bocah ini bicara dengan asyik benar, kedatanganku ini mungkin terlalu dini!”

Cepat Bu-koat berpaling, dilihatnya Yan Lam-thian sedang mendatang dengan langkah lebar.

Melihat Bu-koat, seketika suara tertawa Yan Lam-thian berhenti, sambil menarik muka ia membentak bengis, “Mengapa kau berada di sini? Untuk apa kau datang kemari?”

Belum lagi Hoa Bu-koat menjawab, sorot matanya yang tajam melirik ke arah Thi Sim-lan dan bertanya pula, “Mana Siau-hi-ji?”

Kembali si nona menunduk dan menjawab, “Entahlah, katanya ….”

Segera Bu-koat menyambung, “Siau-hi-ji minta kusampaikan kepada Yan-tayhiap, katanya mungkin dia tidak dapat datang menepati janji.”

“Mengapa dia tidak dapat datang?” bentak Yan Lam-thian gusar.

Bu-koat menghela napas, katanya “Dia telah ditahan seseorang, melangkah saja mungkin sulit ….” Ia tahu keterangannya ini pasti akan menimbulkan akibat yang sukar dibayangkan.

Benar juga, belum habis ucapannya, tertampak Thi Sim-lan menjadi pucat, Yan Lam-thian juga lantas membentak, “Siapa yang berani menahan dia?”

Bu-koat ragu-ragu, akhirnya ia menjawab, “Seorang Bu-lim-cianpwe (angkatan tua dunia persilatan) yang disebut Tong-siansing!”

“Tong-siansing?” Yan Lam-thian menegas dengan murka, “Selama berpuluh tahun aku malang melintang di dunia Kangouw dan tidak pernah mendengar di dunia Kangouw ada seorang Tong-siansing, jangan-jangan kau sendiri yang membuat-buat nama palsu ini.” Ia melompat ke depan Hoa Bu-koat dan membentak pula, “Bisa jadi kau telah mencelakai Siau-hi-ji dan sekarang pura-pura menjadi orang baik untuk mengelabui aku?!”

“Cayhe diminta menyampaikan berita ini, aku harus melakukan tugasku dengan baik, sebab itu setiap pertanyaan Yan-tayhiap akan kujawab dengan jelas, tapi kalah Yan-tayhiap mencurigai kepribadianku, betapa pun aku ….”

“Memangnya kau berani apa?”

“Biarpun Cayhe bukan tandingan Yan-tayhiap, betapa pun aku hendak mengukur kepandaian pula denganmu,” jawab Bu-koat tegas.

Yan Lam-thian tergelak-gelak, katanya, “Kau masih berani berkata demikian? Sungguh besar nyalimu.”

“Biarpun nyaliku tidak besar, tapi aku pun bukannya pengecut yang tamak hidup dan takut mati.”

“Jika tidak takut mati baiklah sekarang juga kupenuhi kehendakmu!” bentak Yan Lam-thian.

Mendadak Thi Sim-lan menerjang maju, serunya, “Yan-tayhiap, aku cukup kenal dia, betapa pun dia bukanlah orang yang suka berdusta.”

“Siau-hi-ji sudah jatuh di tangan orang, kau masih bicara baginya?” bentak Yan Lam-thian bengis. “Pantas Siau-hi-ji tidak mau gubris padamu lagi, kiranya kau ini perempuan yang cepat berubah pikiran.”

Air mata Thi Sim-lan bercucuran, ucapnya dengan setengah meratap, “Bilamana Kang Siau-hi mengalami bahaya, biarpun mengadu jiwa juga Wanpwe akan menyelamatkan dia. Tapi Yan-tayhiap menuduh Hoa…Hoa-kongcu berdusta, mati pun Wanpwe tidak percaya.”

“Hm, sungguh aneh,” jengek Yan Lam-thian, “Kau berani mengadu jiwa demi Siau-hi-ji dan juga bersedia mati baginya, memangnya jiwamu rangkap berapa biji?”

“Cara bagaimana Yan-tayhiap akan memaki diriku boleh terserahlah,” ucap Thi Sim-lan dengan menangis. “Sekalipun Yan-tayhiap menganggap diriku ini perempuan yang bejat juga takkan kubantah ….” mendadak ia menubruk ke bawah kaki Yan Lam-thian dan meratap pula, “Wanpwe cuma memohon Yan-tayhiap suka melepaskan Hoa Bu-koat, bilamana kelak Yan-tayhiap membuktikan dia memang berdusta, maka tubuh Wanpwe rela dihancurleburkan.”

“Bagus, kau ternyata berani menjamin dia dengan jiwamu,” teriak Yan Lam-thian. “Namun perempuan yang tak beriman seperti kau ini, memangnya jiwamu berharga berapa duit?”

Watak pendekar besar ini memang sangat keras, kini karena mengkhawatirkan keselamatan Siau-hi-ji, saking gusarnya cara bicaranya menjadi sukar ditahan.

Bu-koat menjadi penasaran, serunya, “Yan Lam-thian, kuhormati dirimu sebagai seorang Enghiong (ksatria) sejati dan selama ini aku suka mengalah padamu, sungguh tidak nyana kau sampai hati bicara sekasar ini terhadap seorang anak perempuan yang tak berdaya. Hehe, Enghiong macam begini bernilai berapa duit pula satu kati?”

“Engkau pun jangan bicara seperti ini,” seru Thi Sim-lan. “Yan-tayhiap pasti tiada maksud menghina diriku, dia cuma tidak memahami aku, pula dia merasa cemas bagi keselamatan Siau-hi-ji ….”

Meski dia berteriak dengan suara serak, namun tiada yang mendengarkan lagi seruannya, dengan murka Yan Lam-thian melontarkan satu pukulan dahsyat, tanpa pikir Hoa Bu-koat juga menyambut serangan itu.

Thi Sim-lan tahu bilamana kedua orang itu sudah mulai bergebrak, mungkin di dunia ini tiada orang yang mampu melerai mereka.

Teringat tiada seorang pun yang dapat memahami pengorbanannya bagi Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, teringat jerih payahnya itu akhirnya malah dicaci-maki orang sebagai perempuan yang tak beriman…Saking pedih dan tak tahan, akhirnya Thi Sim-lan menangis tergerung-gerung.

Apakah Hoa Bu-koat tidak mendengar suara tangis Thi Sim-lan?

Angin pukulan yang dahsyat membuat bunga layu rontok bertebaran.

Inilah duel antara dua jago tertinggi dari angkatan tua dan angkatan muda dunia Kangouw, benar-benar pertarungan yang paling mendebarkan hati yang hampir tidak pernah terjadi di dunia persilatan.

Kalau pertempuran sebelumnya mereka menggunakan pedang, sekali ini mereka mengadu pukulan, namun dahsyatnya dan tegangnya boleh dikatakan melebihi yang dahulu.

Seperti juga ilmu pedangnya, pukulan Yan Lam-thian juga kuat dan dahsyat dan jarang ada bandingannya.

Ilmu silat Ih-hoa-kiong sebenarnya mengutamakan ‘kelunakan mengatasi kekerasan’, watak Hoa Bu-koat yang pendiam dan sabar itu memang juga ada sangkut-pautnya dengan dasar ilmu silat yang dilatihnya sejak kecil. Tapi kini gaya permainan silatnya ternyata sudah berubah sama sekali. Dia juga telah mengeluarkan permainan yang keras dan berebut menyerang lebih dulu. Rasanya kalau tidak menggunakan permainan keras demikian tidak cukup untuk melampiaskan perasaan pedih dan gusarnya.

Pertempuran maut ini bukan lagi demi jiwanya sendiri melainkan demi membela kehormatan orang yang paling dikasihinya.

Meski dia sebenarnya adalah anak muda yang berbudi halus dan tenang, tapi suara tangis Thi Sim-lan yang penuh duka merana itu telah menimbulkan semangat jantan yang mengalir di darahnya.

Sebenarnya dia sangat menyayangi jiwanya sendiri, tapi kini pergolakan darahnya telah membuatnya lupa daratan, ia merasa jiwanya tidak perlu disayangkan lagi, mati pun tidak perlu ditakuti.

Jiwanya yang nekat diperoleh dari keturunan ibunya. Ibunda yang dihormatinya itu pernah menghadapi maut dengan mengulum senyum tanpa gentar sedikit pun demi cinta.

Tanpa cadangan sang ibunda telah menurunkan jiwanya yang nekat dan darah panas serta demi cinta itu kepada kedua putranya. Meski pendidikan Ih-hoa-kiong yang serba dingin dan kaku itu telah membuat darah Hoa Bu-koat lambat-laun membeku, tapi kini api asmara telah membuatnya mendidih kembali. Tiba-tiba ia merasakan soal mati dan hidup tidak begitu penting lagi baginya. Yang penting, dia harus bertempur mati-matian dengan Yan Lam-thian, dengan darahnya ia ingin mencuci bersih fitnah terhadap dirinya.

Begitulah angin pukulan yang dahsyatnya seakan-akan mengguncang langit dan bumi. Cuaca tambah gelap dan seakan-akan turun hujan.

Hoa Bu-koat tidak manda diserang, ia justru berebut menyerang mati-matian, namun angin pukulan Yan Lam-thian justru menyerupai dinding besi, sejauh ini pukulan Hoa Bu-koat sama sekali tak dapat menembus pertahanan lawan.

Rambut Bu-koat sudah kusut dan sebagian melambai pada jidatnya yang pucat itu, namun pipinya justru bersemu merah oleh rangsangan jiwanya yang bergolak itu.

Bu-koat telah merasakan Yan Lam-thian memang mahasakti, barang siapa ingin melawan pendekar besar itu dengan serangan keras lawan keras berarti orang itu sudah bosan hidup dan mencari mampus sendiri.

Ia yakin setiap pukulan sendiri sangat dahsyat dan tajam seperti paku, tapi daya pukulan Yan Lam-thian justru keras seperti palu yang tidak kenal ampun, palu yang tidak kenal kasihan dan terus menghantam ke arahnya.

Lambat laun ia merasa paku itu hampir terpalu masuk ke tanah. Napasnya mulai sesak, tapi pukulan godam Yan Lam-thian masih terus mendesak, makin lama makin dahsyat ….

Ia menyadari keadaan yang gawat, ia tahu sekali ini Yan Lam-thian pasti tidak kenal ampun lagi padanya, tapi ia pun tidak putus asa, ia tidak kenal menyerah, asalkan dia masih tetap bernapas, betapa pun ia harus bertempur sampai detik penghabisan, sebelum ajal dia pantang mundur.

Di luar dugaan, pada detik yang menentukan mati-hidupnya itulah, sekonyong-konyong Yan Lam-thian malah melompat mundur sambil membentak, “Berhenti!”

Padahal dengan sekali dua kali pukulan lagi Hoa Bu-koat dapat dibinasakan, tapi Yan Lam-thian mendadak malah berhenti menyerang. Tentu saja Bu-koat melengak.

“Mengapa kau minta berhenti?” tanyanya dengan napas terengah-engah.

Dengan sorot mata yang tajam Yan Lam-thian menatapnya dan menjawab dengan sekata demi sekata, “Meski selama ini belum pernah kudengar nama ‘Tong-siansing’ dan juga tidak percaya di dunia ini terdapat orang demikian, tapi kini kupercaya apa yang kau katakan memang tidak berdusta.”

“Oo? ….” Bu-koat bersuara perlahan.

“Tentunya kau heran mengapa mendadak aku percaya kau tidak berdusta?”

“Ya, memang rada heran.”

“Sebab kalau kau berdusta tentu hatimu gelisah. Seorang yang berhati gelisah tidak mungkin sanggup melancarkan daya serangan sedahsyat ini.”

Bu-koat terdiam sejenak, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa, katanya, “Baru sekarang kau bilang percaya padaku, apakah tidak merasa terlambat?”

“Jika kau merasa ucapanku tadi merupakan penghinaan padamu, baiklah di sini kunyatakan penyesalanku,” ucap Yan Lam-thian dengan suara berat.

Kembali Bu-koat terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Kalau salah berani mengaku salah tanpa sangsi, Yan Lam-thian benar-benar seorang ksatria sejati, benar-benar sukar disamai orang lain. Sekalipun Cayhe ada hasrat mengadu jiwa denganmu kini mau tak mau harus kubatalkan.”

“Tapi ini tidak berarti kuberhenti sampai di sini saja!” bentak Yan Lam-thian.

Bu-koat melengak, tanyanya, “Mengapa?”

“Biarpun kau tidak berdusta, namun tetap tak dapat kulepaskan pergi, aku tetap hendak menahan kau!”

“Sebab apa?” tanya Bu-koat.

“Peduli siapa dia ‘Tong-siansing’ yang kau sebut itu, yang pasti dia ada hubungannya denganmu bukan?”

“Ya,” jawab Bu-koat setelah berpikir.

“Dia menahan Kang Siau-hi, bukankah demi kau?”

“Aku tidak pernah minta dia bertindak begitu, tapi memang begitulah maksud tujuannya!”

“Itu dia!” bentak Yan- Lam-thian. “Lantaran dia menahan Kang Siau-hi, maka aku pun hendak menahan kau. Setiap saat ia membebaskan Kang Siau-hi, pada saat itu juga akan kubebaskan kau.” Ia melangkah maju dan berteriak dengan beringas, “Dan bila Kang Siau-hi dibunuhnya, segera pula kau kubunuh!”

Air muka Bu-koat tampak berubah, tapi ia menghela napas pula dan berkata, “Ya, ucapanmu ini memang juga adil.”

“Tindak tanduk orang she Yan selamanya adil,” seru Yan Lam-thian.

“Tapi ucapanmu terhadap nona Thi teramat tidak adil,” jengek Bu-koat. “Dia…dia kan ….” sampai di sini mendadak diketahuinya si nona sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, nona yang hatinya telah remuk redam itu entah sejak kapan sudah pergi.

“Kau mau tinggal di sini dengan sukarela atau harus kupaksa?” bentak Yan Lam-thian.

Air muka Bu-koat tampak pucat menghijau, ucapnya tegas, “Sekalipun sekarang kau suruh aku pergi juga aku takkan pergi.”

Yan Lam-thian jadi melengak malah, tanyanya, “Sebab apa?”

“Sebab kalau terjadi apa-apa atas diri Thi Sim-lan, maka meski kau dapat membiarkan diriku juga aku takkan melepaskanmu?”

“Hahaha, bagus, bagus!” Yan Lam-thian bergelak tertawa, “Jadi sebelum kutemukan Thi Sim-lan dan Kang Siau-hi, agaknya kita berdua tidak boleh berpisah, begitu?”

“Ya,” jawab Bu-koat.

*****

Di tempat lain saat itu Tong-siansing telah membawa Siau-hi-ji melayang pula ke atas pohon.

Pohon itu rada lebat dengan dedaunan, pucuk ternyata cukup ulet dan memegas sehingga kuat untuk menahan bobot satu-dua orang.

Tong-siansing menaruh Siau-hi-ji di pucuk pohon situ, dedaunan pohon yang lebat hanya tertekan dan ambles sedikit ke bawah, tubuh anak muda itu lantas seperti terbungkus oleh selimut daun, kecuali burung yang terbang di udara rasanya sukar ditemukan orang meskipun dipandang dari sudut mana pun juga.

Meski badan tak dapat bergerak, tapi wajah Siau-hi-ji masih tersenyum-senyum, katanya, “Sungguh suatu tempat sembunyi yang sangat baik. Memangnya sudah beberapa hari aku kurang tidur, tampaknya sebentar aku dapat tidur dengan enak dan nyaman.”

“Paling baik kalau kau tidur dengan jujur,” jengek Tong-siansing.

“Apakah engkau akan pergi?” tanya Siau-hi-ji.

Tong-siansing hanya mendengus saja.

“Engkau ini sungguh nyentrik dan juga gemar kebersihan, kutahu engkau tak mungkin selalu menjaga diriku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi kau pun jangan harap kabur,” jengek Tong-siansing. “Setiap hari akan kutengok kau ke sini, bila urusan di sini sudah kubereskan, akan kubawa kau ke suatu tempat yang lebih aman.”

“Satu jari saja tak dapat bergerak, sekalipun kau taruh diriku di tengah jalan juga aku tak dapat kabur,” ujar Siau-hi-ji.

“Hm, asal tahu saja,” jengek Tong-siansing.

Bola mata Siau-hi-ji berputar, katanya pula, “Tapi kalau mendadak hujan, wah, lalu bagaimana? Sedangkan badanku biasanya kurang sehat, bila kena air hujan akan segera jatuh sakit. Sakit saja tidak jadi soal, celakalah jika kesehatanku jadi rusak, tentu hal ini akan merusak nama baikmu pula. Padahal kau sudah berjanji takkan membiarkan aku terganggu seujung rambut pun, ingat tidak?”

“Sakit apa pun yang menghinggapi dirimu pasti akan kusembuhkan,” ucap Tong-siansing.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Tapi bobot tubuhku lebih berat daripada kerbau, bila dahan pohon ini tidak kuat dan mendadak patah, tentu aku akan terbanting ke bawah. Kalau lenganku patah atau pahaku retak umpamanya, apakah kau pun sanggup menyambung dan menyembuhkannya?”

“Sekalipun dahan pohon ini patah satu-dua batang juga kau takkan terjatuh ke bawah,” ujar Tong-siansing.

Mata Siau-hi-ji terbelalak lebar, katanya, “Tapi kalau ada burung besar sebangsa elang dan sebagainya kebetulan terbang di atas kepalaku atau hinggap di pohon ini, lalu biji mataku disangkanya sebagai telur burung terus dipatuknya, nah, apakah kau sanggup mengganti mataku?”

“Persetan! Mengapa kau begini cerewet dan suka membikin sebal?”

“Hihi, aku memang tidak punya kepandaian lain kecuali membikin sebal orang. Jika merasa sebal, kenapa tidak kau bunuh saja diriku, orang mati tentu tak bisa cerewet dan bikin sebal padamu.”

Selama hidup Tong-siansing memang tidak pernah ketemu orang yang begini menjemukan, bila orang lain tentu sejak tadi sudah disembelihnya. Tapi Siau-hi-ji justru adalah orang yang tidak mungkin dibunuhnya, bisa jadi satu-satunya orang yang tidak boleh dibunuh olehnya.

Maka tantangan Siau-hi-ji tadi membuat Tong-siansing bertambah gemas, saking kekinya sampai tubuhnya gemetar, terpaksa ia keluarkan sepotong sapu tangan dan ditutupkan pada muka Siau-hi-ji, katanya dengan bengis, “Nah, begini saja bagaimana.”

Siau-hi-ji mengisap napas kenyang-kenyang, katanya dengan tertawa, “Ehmm, alangkah harumnya sapu tanganmu ini, jangan-jangan benda tanda mata pemberian seseorang nona cantik?”

“Kenapa tidak tutup mulutmu?” bentak Tong-siansing dengan gusar.

“Jika kau tutuk Hiat-to bisuku, kan segera aku tak bisa bicara lagi? Tapi tentunya kau pun tahu bahwa Hiat-to bisu tidak boleh ditutup hingga lebih tiga jam, kalau tidak orangnya bisa mati kaku. Andaikan kau tutuk aku hingga bisu, maka setiap tiga jam engkau harus datang ke sini untuk menyegarkan diriku, dan ini rasanya akan membuatmu bertambah sebal.”

“Tidak sedikit juga kau ketahui,” ucap Tong-siansing dengan gemas.

“Selain itu, ada pula suatu cara yang tidak begitu menyebalkan,” Siau-hi-ji sengaja merandek sejenak, lalu menyambung, “Yaitu, jalan paling baik adalah pergi. Begitu engkau tinggal pergi, maka apa pun yang kukatakan tentu tak terdengar lagi, kan cara ini paling baik bagimu?”

Tanpa menunggu lagi segera Tong-siansing melayang turun ke bawah.

Siau-hi-ji sengaja menghela napas dan bergumam pula, “Akhirnya pergi juga dia, mudah-mudahan saudara baik hati itu tidak cepat-cepat datang agar aku dapat tidur sebentar di sini.”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu Tong-siansing sudah melompat lagi ke atas dan menarik sapu tangan yang menutupi muka Siau-hi-ji itu, bentaknya dengan bengis, “Siapa saudara baik hati yang kau maksudkan itu?”

“Wah, apa yang kukatakan telah kau dengar?” Siau-hi-ji berlagak kaget.

“Dalam jarak ratusan tombak biarpun suara daun jatuh juga tak dapat mengelabui mata telingaku,” jengek Tong-siansing.

“Kau sembunyikan diriku di tempat selebat ini, siapa pun tak dapat melihat aku, mana ada orang yang mampu menolongku? Tadi aku cuma omong iseng saja.”

Tong-siansing juga tidak percaya ada orang akan menolongnya, tapi jawaban Siau-hi-ji ini membuatnya curiga pula, segera ia menghardik, “Ayo, mau bicara tidak?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip jawabnya, “Kau ingin aku bicara apa?”

“Kau bilang siapa akan datang menolongmu?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Masa engkau sendiri tidak tahu?”

Tong-siansing termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul, bisa jadi Hoa Bu-koat akan datang ke sini.”

Tanpa bicara lagi segera ia angkat Siau-hi-ji terus melayang turun. Ia mengira dirinya cukup cerdik, tak tahunya diam-diam Siau-hi-ji sedang tersenyum geli.

Hakikatnya Siau-hi-ji tidak pernah berharap akan datang orang untuk menolongnya, dia hanya tidak suka ditinggalkan di atas pohon, sebab ia tahu bilamana tertinggal di situ, maka kesempatan buat kabur boleh dikatakan nihil, terpaksa ia berusaha menggoda Tong-siansing hingga merasa kesal dan meleng, maka kesempatan kabur baginya tentu akan terbuka.

Bicara tentang ilmu silat jelas Siau-hi-ji bukan tandingan Tong-siansing, tapi kalau soal mengadu akal, biarpun dua orang Tong-siansing juga bukan lawan Siau-hi-ji.

Maklumlah, Tong-siansing ini sudah biasa memerintah dan dipuja, pada hakikatnya tiada seorang pun yang berani cari perkara padanya, maka dalam urusan tipu akal begitu sama sekali tak pernah dipelajarinya.

Maka ia menjadi ragu-ragu pula setelah membawa Siau-hi-ji ke bawah.

“Aku hendak kau bawa ke mana?” tanya Siau-hi-ji.

“Hm!” Tong-siansing hanya mendengus saja.

“Betapa pun engkau kan tidak dapat berdiri saja di sini dengan memondong diriku?”

“Hm!” kembali Tong-siansing mendengus.

“Sudah beberapa hari aku tidak mandi, apakah bau badanku tidak kecut?”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak Tong-siansing mengendurkan tangannya. “Bluk”, kontan Siau-hi-ji terbanting ke tanah.

“Aduhhh! Wah, celaka, tulangku patah!” jerit Siau-hi-ji sengaja.

Mendadak sebelah kaki Tong-siansing menendang tulang paha anak muda itu sehingga setengah badan bagian bawah dapat bergebrak, bentaknya segera, “Ayo berdiri, berjalan ikut aku!”

Siau-hi-ji merasa kedua kakinya sudah dapat bergerak, tapi ia sengaja merintih, “Aduh, sakitnya! Tulangku patah, mana bisa berdiri lagi? Wah, tampaknya engkau harus memondong aku lagi.”

“Memangnya tulangmu terbuat dari apa? Sekali jatuh lantas patah?” damprat Tong-siansing dengan gusar.

“Seumpama tidak patah lantaran jatuh, kena tendanganmu tadi pasti patah…Aduhhh, sakit sekali!” begitulah Siau-hi-ji sengaja menjerit jerit.

Sinar mata Tong-siansing tampak gemerdep, akhirnya ia bertanya, “Apakah benar-benar patah?”

“Jika tidak percaya boleh engkau merabanya sendiri, aduhhh!” rintih Siau-hi-ji.

Tong-siansing jadi ragu-ragu, tapi akhirnya ia berjongkok hendak memeriksa tulang betis anak muda itu.

“Salah, bukan di situ,” ucap Siau-hi-ji.

“Habis mana?”

“Sini, bagian atas!”

Tong-siansing lantas meraba bagian pahanya.

Tapi Siau-hi-ji berucap pula. “Bukan, bukan situ, naik lagi ke atas sedikit!”

Sekonyong-konyong tangan Tong-siansing ditarik kembali seakan-akan kena dipagut ular. Tertampak dia berdiri mematung di situ dengan dada berombak.

“Hihi, mengapa meraba saja tidak berani, memangnya engkau ini perempuan?” Siau-hi-ji nyap-nyap dengan tertawa.

“Tutup mulutmu!” bentak Tong-siansing.

Siau-hi-ji melelet lidah, ucapnya dengan tertawa, “Engkau menghendaki aku tutup mulut, umpama engkau tidak suka menutuk Hiat-to bisuku, kan dapat kau sumbat mulutku dengan kain.”

Tong-siansing jadi melengak, ia pikir memang betul juga ucapan anak muda itu. Tapi lantaran hal itu lebih dulu dikatakan sendiri oleh Siau-hi-ji, jika dia turut melakukannya, kan malu?

Terpaksa Tong-siansing hanya mendengus saja, katanya, “Hm, untuk apa kusumbat mulutmu? Aku justru ingin mendengar ocehanmu.”

Siau-hi-ji mengikik tawa, katanya, “Hihi, tak tersangka ocehanku sedemikian merdu sehingga menarik perhatianmu. Jika kau suka mendengarkan, kenapa tidak duduk saja agar kita dapat mengobrol lebih asyik.”

Tong-siansing menatap anak muda itu dengan mendelik, ia benar-benar mati kutu. Biasanya ia merasa tiada sesuatu urusan di dunia ini yang tak dapat dibereskan olehnya, tapi kini dia justru menghadapi suatu urusan pelik.

Tadinya ia merasa tiada seorang pun di dunia ini yang tak dapat dilayani olehnya, siapa tahu justru ada seorang Kang Siau-hi yang membuatnya kepala pusing. Untuk pertama kali selama hidupnya dia merasa sakit kepala.

*****

Sementara itu Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat telah meninggalkan hutan bunga itu. Dia tidak menutuk Hiat-to anak muda itu, dia tidak perlu sangsi, ia tahu sekali Bu-koat menyatakan tidak akan pergi, maka pasti juga takkan pergi.

“Ke manakah perginya Thi Sim-lan?” tiba-tiba Bu-koat bertanya. “Apakah engkau tidak melihatnya?”

“Tidak,” jawab Yan Lam-thian.

Bu-koat mendongak dan menghela napas perlahan, katanya, “Saat ini Kang Siau-hi entah berada di mana?

“Bilakah dia terjatuh di tangan ‘Tong-siansing’ itu?”

“Semalam.”

“Jadi sudah seharian dia berada dalam cengkeramannya ….”

“Yan-tayhiap jangan khawatir, Tong-siansing pasti takkan melukai dia.”

“Dari mana kau tahu?”

“Ada ucapan sementara orang, tidak perlu pakai alasan apa pun, tapi cukup dapat dipercaya.”

Yan Lam-thian termenung sejenak dan mengangguk perlahan, katanya kemudian, “Tapi di dunia Kangouw ini mana ada seorang ‘Tong-siansing’ segala? Orang yang berkepandaian setinggi itu, mengapa selama ini tak pernah kudengar? Apakah…apakah kau tahu asal-usulnya?”

“Cayhe cuma tahu ilmu silatnya sangat tinggi, tapi juga tidak tahu asal-usulnya.”

“Hm, jika tidak keliru dugaanku, dia pasti penyamaran orang lain.”

“Tapi siapakah gerangan di dunia ini yang memiliki ilmu silat setinggi itu?”

“Umpamanya Ih-hoa-kiongcu ….”

Bu-koat tersenyum tak acuh, ucapnya, “Untuk apa guruku menyamar sebagai orang lain? Untuk apa pula guruku mengelabui diriku? Apa manfaatnya bagi beliau? Memangnya Yan-tayhiap dapat mengemukakan sesuatu alasannya?”

“Ya, memang tidak ….” Yan Lam-thian menghela napas panjang, sejenak kemudian ia menyambung pula, “Eh, dapatkah kau perkirakan ke mana ‘Tong-siansing’ itu akan membawa Siau-hi-ji?”

Bu-koat juga menghela napas panjang, kemudian menjawab, “Cayhe juga tidak dapat memperkirakannya.”

*****

Saat itu Siau-hi-ji sudah tertidur.

Tong-siansing telah membawa Siau-hi-ji ke kamarnya di hotel itu. Selain tempat ini ke mana lagi dia harus membawa anak muda itu?

Berbaring di tempat tidur yang nikmat, Siau-hi-ji sedang ngorok dengan nyenyaknya, Tong-siansing terpaksa menunggunya dengan duduk di kursi dan berdiam seperti patung. Selain ini sesungguhnya dia memang tidak tahu apakah ada cara yang lebih baik.

Dilihatnya pernapasan anak muda itu sangat teratur, tampaknya tidur dengan sangat tenang dan amat nyenyak laksana seorang anak kecil yang tidur di sisi sang ibu, ujung mulutnya tampak mengulum senyum pula.

Di waktu sadar wajahnya penuh daya pikat dan penuh sifat yang cerdik dan binal. Kini dalam keadaan tidur, mukanya telah berubah menjadi polos dan suci seperti anak bayi.

Memandangi wajah yang cakap dan polos itu, memandangi bekas luka yang selamanya tak dapat dihapuskan di mukanya itu, mendadak sekujur badan Tong-siansing jadi gemetar.

Begitu kencang tangannya mencengkeram sandaran kursinya, sorot matanya yang dingin tadi mendadak berubah membara, seperti penuh rasa derita dan juga seperti penuh rasa dendam dan benci.

“Prak”, mendadak sandaran kursi yang terbuat dari kayu jati itu kena diremasnya hingga hancur.

Siau-hi-ji terjaga bangun, ia membuka mata perlahan-lahan, sambil mengucek matanya ia tertawa kepada Tong-siansing, tanyanya, “Lamakah tidurku?”

Tong-siansing menarik napas dalam-dalam, jawabnya kemudian, “Ya, cukup…cukup lama?” Sedapatnya dia membuat suara sendiri sewajarnya, tapi terasa rada gemetar.

“Apakah engkau duduk menjaga diriku sejak tadi?”

“Hm!” Tong -siansing mendengus.

Meski tubuh Siau-hi-ji tak dapat bergerak, tapi kaki bisa bebas berjalan, sekali melejit ia lantas melompat turun tempat tidur, katanya dengan tertawa, “Wah, kukangkangi tempat tidurmu, sehingga engkau tidak dapat tidur, sungguh aku sangat menyesal.”

Tong-siansing menatap kaki anak muda itu dan bertanya dengan bengis, “Kakimu tidak cedera?”

Siau-hi-ji hanya angkat pundak tanpa menjawab, lalu hendak melangkah keluar.

“Hendak ke mana kau?” bentak Tong-siansing.

Siau-hi-ji menyengir, jawabnya, “Ada suatu kebiasaanku, begitu bangun tidur harus…harus ke kakus.”

“Tidak boleh pergi!” bentak Tong-siansing.

“Wah, payah!” keluh Siau-hi-ji. “Kalau telanjur keluar di celana, kan bau?”

“Kau…kau berani?” teriak Tong-siansing, hampir-hampir saja ia berjingkrak.

Dengan tenang Siau-hi-ji menjawab, “Betapa pun lihai dan betapa pun buasnya seseorang, sekalipun dia sanggup membunuh orang dan membakar rumah, tapi apa mampu membuat orang agar tidak berak?”

Mendelik mata Tong-siansing seakan-akan berapi, saking dongkolnya.

Tapi Siau-hi-ji tetap acuh tak acuh, katanya dengan tertawa, “Jika engkau melarang aku berak, kukira cuma ada satu jalan, yaitu segera bunuh diriku. Kalau tidak…wah, aku tidak tahan lagi perut ini ….” sambil bicara sembari memegangi perut dan segera hendak berjongkok di situ.

Keruan Tong-siansing serba salah, cepat ia berteriak, “Tidak…tidak boleh di situ!”

“Jadi aku boleh keluar?” tanya Siau-hi-ji.

Tong-siansing membanting kaki dan berteriak, “Ya, gelinding keluar sana!”

Tanpa disuruh lagi Siau-hi-ji terus berlari-lari kecil keluar dengan setengah berjongkok. Serunya dengan tertawa, “Jika engkau tetap sangsi, silakan menunggui aku di luar kakus.”

Tong-siansing memang benar tidak percaya, padanya, ia benar-benar berjaga di luar kakus.

Sebenarnya ‘Tong-siansing’ ini mempunyai sifat istimewa, sifat nyentrik, yaitu suka pada kebersihan. Benda yang pernah disentuh orang lain pasti tidak sudi dijamahnya dengan jari sekalipun. Selama hidupnya juga belum pernah bersantap satu meja dengan orang lain. Di rumahnya, siapa pun yang melihat dia pasti munduk-munduk penuh hormat, bahkan bernapas pun tidak berani keras-keras.

Sungguh mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa hidupnya ini ternyata bisa juga berdiri di luar kakus, menunggui orang berak.

Tunggu punya tunggu, sampai agak lama barulah Siau-hi-ji keluar sambil menggosok-gosok perutnya.

Manusia mana pun juga, bilamana habis menunaikan tugas dari kakus, tentu rasanya menjadi enteng dan lega. Begitu pula Siau-hi-ji, ia tersenyum-senyum puas.

Namun Tong-siansing hampir gila saking kekinya, bentaknya murka, “Apa kau mampus di dalam?”

“Jangan marah-marah dulu, dengarkan penjelasanku,” jawab Siau-hi-ji dengan cengar-cengir. “Maklumlah, simpanan selama beberapa hari, kalau dikuras sekaligus kan perlu waktu cukup lama?”

Saking gusarnya sehingga Tong-siansing hanya geleng-geleng kepala dan tidak sanggup bicara lagi, terpaksa ia melengos ke arah lain.

“Dan setelah perutku dikuras, simpanan lama sudah bersih, kini perlu diberi persediaan baru lagi, ayolah kita pergi makan!” ajak Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ap…apa katamu?” teriak Tong-siansing dengan gusar.

“Makan dan berak kan urusan yang jamak, kenapa mesti heran?” ucap Siau-hi-ji tertawa. “Memangnya engkau tidak pernah mendengar bahwa setiap orang harus makan nasi?”

Setelah terdiam sejenak, mendadak Tong-siansing mendengus, “Tidak, meski aku tak dapat melarang kau masuk…masuk kakus, tapi dapat kularang kau makan.”

“Aku tidak boleh makan?” tanya Siau-hi-ji.

“Bila kuberi makan baru boleh kau makan, kalau tidak kau harus tutup mulut, paham tidak?” bentak Tong-siansing dengan bengis.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Tapi mulut tumbuh di mukaku sini, bukan?”

“Hm!” dengus Tong-siansing.

“Sebab itulah, bilamana aku ingin makan dan engkau harus memberi makan, kalau tidak, selamanya juga aku takkan makan. Apabila kumati kelaparan, maka rencanamu jadi berantakan. Nah, engkau paham tidak?”

Mendadak Tong-siansing melompat maju, ia cengkeram leher baju Siau-hi-ji dan berteriak, “Kau…kau berani bicara cara begini padaku?”

Siau-hi-ji nyekikik, ucapnya, “Meski aku bukan tandinganmu bila berkelahi, tapi untuk membikin diri sendiri mati kelaparan memangnya kau dapat melarangku?”

Untuk sejenak Tong-siansing melenggong, akhirnya ia menggentakkan tubuh anak muda itu sambil membanting kaki sendiri, katanya, “Ikut sini!”

“Bukan aku yang ikut padamu, tapi engkau yang ikut padaku,” ucap Siau-hi-ji tertawa. “Apa pun yang ingin kumakan terpaksa harus kau bayar, kalau tidak, aku akan mogok makan saja.”

Saking dongkolnya sampai badan Tong-siansing terasa gemetar, terpaksa ia pura-pura tidak mendengar ocehan anak muda itu.

*****

Di tempat lain, dengan sendirinya Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat tidak dapat menemukan Thi Sim-lan dan lebih-lebih tidak dapat menemukan Siau-hi-ji.

Setelah berkeliling kian kemari tanpa tujuan, mendadak Yan Lam-thian berkata, “Kau minum arak tidak?”

“Boleh juga,” jawab Bu-koat tersenyum.

“Marilah kita minum beberapa cawan!” ajak Yan Lam-thian.

Mereka lantas masuk ke kota.

“Banyak juga restoran di kota ini,” ucap Yan Lam-thian. “Masakan daerah Kangsoh dan Ciatkang mengutamakan manis, masakan utara hambar, lebih baik masakan Sujwan yang beraneka ragam cita-rasanya, ya asin, ya gurih, ya pedas, itu baru cocok bagi selera seorang lelaki sejati. Bagaimana pikiranmu?”

“Untuk itu, di sebelah sana ada sebuah restoran Yangcukang, konon ada koki ternama dengan berbagai masakan yang terkenal,” kata Bu-koat.

Sementara itu pasar malam belum lagi bubar, orang berlalu lalang masih cukup ramai, restoran Yangcukang itu juga penuh dengan tetamu.

Kang Piat-ho sedang minum arak sendirian di situ.

Kejadian yang membuatnya kesal selama dua hari ini sesungguhnya terlalu banyak, urusan Siau-hi-ji, persoalan Hoa Bu-koat dan…tentang anaknya, yaitu Kang Giok-long, sampai saat ini ternyata belum pulang.

Tiba-tiba seorang lelaki berlari ke atas loteng restoran itu, begitu tergesa-gesa sehingga dua kursi ditumbuknya hingga terguling, tampaknya dia begitu cemas, setiba di depan Kang Piat-ho lelaki itu lantas berbisik, “Hoa-kongcu datang!”

“Di mana?” tanya Kang Piat-ho.

“Di bawah, tampaknya juga akan naik ke sini,” lapor orang itu.

“Sendirian?”

“Bersama seorang lelaki rada jangkung dengan pakaian yang rombeng, tampaknya seperti ….”

Belum habis penuturan orang itu, air muka Kang Piat-ho tampak berubah pucat. Mendadak ia berbangkit, katanya dengan suara gemetar, “Lekas…lekas berusaha mengalangi mereka sejenak.”

Namun pada saat itu Hoa Bu-koat dan Yan Lam-thian sudah muncul di atas loteng, bahkan sudah dapat melihatnya. Dengan tersenyum Hoa Bu-koat lantas mendekati Kang Piat-ho.

Sambil memegangi meja, hampir saja Kang Piat-ho tidak sanggup berdiri tegak saking kejutnya.

“Tak tersangka Kang-heng juga berada di sini,” terdengar Bu-koat menyapa.

“Ya…iya ….” jawab Kang Piat-ho tergagap. Matanya menatap lurus ke arah Yan Lam-thian, kerongkongan terasa kering dan kaki terasa lemas, saking takutnya nyalinya seakan-akan pecah.

Yan Lam-thian juga memandangnya beberapa kejap, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa, “Barangkali inilah ‘Kang-lam-tayhiap’ Kang Piat-ho yang termasyhur di dunia Kangouw akhir-akhir ini?”

“Ah, ti…tidak berani,” jawab Kang Piat-ho.

“Baiklah, kita duduk bersama dan minum beberapa cawan,” ucap Yan Lam-thian. Segera ia menarik sebuah kursi dan duduk. Tapi terasa mangkuk dan cangkir di atas meja sama bergetar tiada berhenti, kiranya sekujur badan Kang Piat-ho masih terus gemetar.

“Mengapa Kang-heng tidak duduk?” tanya Yan Lam-thian.

Segera Kang Piat-ho duduk dengan tegak kaku.

“Meski orang she Yan sudah lama tidak menjelajah Kangouw, tapi sudah lama pula kudengar nama harum Kang-heng, sekarang harus kita habiskan tiga cawan bersama,” kata Yan Lam-thian dengan tertawa.

Cepat Kang Piat-ho menuang tiga cawan dan berkata, “Biarlah Wanpwe menyuguh satu cawan kepada Yan-tayhiap.”

Kang Piat-ho sengaja mengalingi mukanya dengan cawan, dalam hati ia bertambah waswas. Pikirnya, “Agaknya Kang Siau-hi belum memberitahukan padanya mengenai diriku, tapi mengapa dia tidak…tidak kenal aku lagi? Padahal selama dua puluh tahun wajahku kan tidak berubah banyak?” Dari balik cawan dia mencoba mengintip muka Yan Lam-thian, lalu membatin pula, “Tapi wajahnya ternyata sudah banyak berubah, sungguh aneh, jangan-jangan…jangan-jangan ….”

“Mengapa Kang-heng tidak habiskan isi cawanmu?” tiba-tiba terdengar Yan Lam-thian menegur.

Lekas-lekas Kang Piat-ho menenggaknya hingga habis, lalu berkata dengan terbahak-bahak, “Wanpwe juga sudah lama mengagumi nama kebesaran Yan-tayhiap, tidak nyana sekarang dapat bertemu, sungguh sangat beruntung.”

“Betul, kita baru bertemu pertama kali dan harus minum sepuas-sepuasnya,” ucap Yan Lam-thian dengan tertawa.

Kata ‘baru pertama kali’, membuat Kang Piat-ho bertambah heran, diam-diam ia pun menghela napas lega. Serunya dengan terbahak-bahak, “Haha, memang harus minum sepuas-puasnya, sebelum mabuk takkan berhenti.”

“Bagus, sebelum mabuk takkan berhenti!” tukas Yan Lam-thian sambil tertawa. “Hai, pelayan bawakan arak tiga puluh kati lagi!”

*****

Sementara itu Tong-siansing terpaksa harus mengiringi Siau-hi-ji keluar hotel lagi untuk makan. Malam sudah larut, jalanan sudah sepi, toko-toko di kedua sisi jalan hampir seluruhnya sudah tutup.

Seperti pelancongan saja Siau-hi-ji berjalan kian kemari dengan gembira. Ucapnya dengan tertawa, “Jangan khawatir, biarpun rumah makan tutup semua, asalkan kau berani membuang uang, setan saja dapat disogok, apalagi rumah makan, mustahil takkan membuka pintu.”

“Di sini juga ada rumah makan. Nah, gedorlah pintunya,” kata Tong-siansing dengan menahan rasa dongkolnya.

“Rumah makan ini pakai merek ‘Sam-ho-lau’, khusus menjual masakan Kangsoh dan Ciatkang, tidak cocok bagiku…Eh, ada lagi sebuah rumah makan di situ, pakai merek Cia-pak-peng, (Peking asli) yang dijual pasti masakan Peking, aku pun tidak cocok.”

“Mengapa tidak cocok?” omel Tong-siansing dengan gusar.

“Soalnya masakan Kangsoh dan Ciatkang mengutamakan hidangan laut, masakan sebangsa udang dan kepiting tentunya tidak segar lagi kalau sudah larut malam begini,” tutur Siau-hi-ji. “Sedangkan masakan utara banyak memakai bawang brambang, aku pun tidak suka.”

“Habis apa…apa yang hendak kau makan?” tanya Tong-siansing dengan geregetan.

“Kukira masakan Sujwan paling cocok bagiku, ya asin, ya pedas, jika makan sampai mandi keringat, nah, itulah baru namanya makan enak.”

“Apakah kau tidak dapat makan seadanya?” bentak Tong-siansing gemas.

“Tidak, tidak bisa,” ucap Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh. “Seorang boleh disebut kurang baik terhadap teman, tapi jangan sekali-kali membikin susah perut sendiri. Sebab, di waktu engkau sedang sial, maka teman-teman itu akan lari semua dan menjauhimu, sedangkan perut pasti takkan berbuat demikian, selamanya dia akan ikut bersamamu.”

Dengan gemas Tong-siansing melototi anak muda itu, selang sejenak baru berkata dengan perlahan, “Setiap orang di dunia ini sama takut, padaku, mengapa…mengapa kau tidak takut?”

“Orang lain takut padamu lantaran mereka takut dibunuh olehmu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi aku bukanlah mereka, kutahu dengan pasti engkau takkan membunuhku dengan tanganmu sendiri, lalu mengapa aku harus takut padamu?”

Sekonyong-konyong Tong-siansing membalik tubuh terus melangkah ke sana.

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Sebenarnya kau pun tidak perlu marah, engkau cukup maklum, semakin marah engkau hanya membikin susah dirinya sendiri.”

Pada saat itulah tiba-tiba terlihat di depan ada sebuah restoran besar dan cahaya lampu yang masih menyala, beberapa huruf merek yang besar terbaca dengan terang, bunyinya, “Restoran Yangcukang, masakan Sujwan asli”.

Sementara itu restoran Yangcukang sudah kosong, tetamu yang makan minum tadi sudah pergi semua, beberapa pegawai sedang berbenah dan mengungkuti alat perabot sambil mengomel, “Persetan! Ketiga anak kura-kura tadi sungguh bukan manusia, tapi lebih tepat disebut gentong arak. Minum sampai lewat tengah malam baru pergi, memangnya mereka mengira kita ini tidak perlu tidur?”

Ketika pegawai-pegawai itu mendongak, seketika mereka melongo kaget. Tahu-tahu seorang yang memakai topeng setan perunggu entah sejak kapan sudah berada di atas loteng dan sedang menatap mereka dengan dingin.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata. “Mengapa kalian melenggong? Meski tuan besar ini memaki topeng perunggu, tapi sakunya penuh emas. Rezeki datang, mengapa kalian tidak lekas-lekas menyambutnya?”

“O, ma…maaf,” salah seorang pelayan menjawab dengan tergagap, “Restoran kami sudah tutup.”

Mendadak Tong-siansing menjambak rambut pelayan itu terus dilemparkan, kontan pelayan itu terbang ke atas, waktu dia dapat menenangkan dirinya tahu-tahu sudah duduk di atas belandar. Meski tubuh tidak terluka, tapi nyali pecah saking ketakutan, kepala menjadi pusing dan segera terjungkal ke bawah. Untung Siau-hi-ji sempat menangkapnya, kalau tidak pasti kepalanya pecah menumbuk lantai.

Dengan galak Tong-siansing membentak, “Aku tidak peduli kalian sudah tutup atau belum, pokoknya dia ingin makan apa harus kalian sediakan, kurang satu macam saja kalian berempat jangan harap bisa hidup sampai besok.”

Tentu saja para pelayan itu ketakutan setengah mati, mana ada yang berani membangkang lagi.

“Haha, sungguh-sungguh menyenangkan, makan di restoran bersama seorang seperti engkau sungguh sangat menggembirakan,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Segera ia duduk dengan lagak tuan besar, lalu berteriak, “Ayo, bawakan dulu empat porsi Lingpan (makanan pengantar), lalu ayam kari, kaki goreng cabai, daging masak ala Sujwan, menyusul kemudian itik rebus, ang-sio buntut, ikan gurami dan ….”

Setiap kali dia menyebut satu macam makanan, setiap kali pula pelayan mengangguk, sampai pegal keempat pelayan itu mengangguk, akhirnya Siau-hi-ji baru merasa puas, katanya dengan tertawa, “Sudahlah, tengah malam begini tidak perlu masak terlalu banyak, sekadarnya sekian saja, cuma arak harus yang nomor satu, paling tidak harus Tik-yap-jing dan sebagainya. Nah, araknya bawakan dulu dua puluh atau tiga puluh kati.”

Pelayan-pelayan itu sama melongo tak bisa bersuara, belasan masakan itu cukup untuk dimakan dua puluh orang, tapi bocah ini bilang, “sekadarnya”, sungguh terlalu. Namun begitu terpaksa mereka munduk-munduk dan menjawab, “O, ma…maaf, persediaan arak kami sudah tipis, hampir dihabiskan oleh ketiga tamu tadi.”

“Bila habis, memangnya kalian tidak dapat membelikan di tempat lain,” jengek Tong-siansing. “Pendek kata, tiga puluh kati, kurang satu kati, awas kepala kalian!”

Terpaksa pelayan-pelayan itu menganggap diri mereka sial, baru saja pergi tiga tamu pemberang, kini datang pula dua tamu seperti bandit. Menghadapi tetamu begini mereka benar-benar tak berdaya.

Tidak sampai setengah jam baik santapan maupun arak yang dipesan telah dihidangkan, ternyata tidak kurang satu macam pun.

Siau-hi-ji lantas mulai makan minum dengan lahapnya, sedangkan Tong-siansing tidak turut makan, bahkan dia tetap berdiri saja.

“He, mengapa engkau tidak duduk,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jika engkau berdiri begitu, cara makanku mana bisa enak.”

Namun Tong-siansing tidak menggubrisnya.

Siau-hi-ji menenggak habis satu cawan arak, hampir semua makanan telah dicicipinya, sambil mengunyah dan pegang cawan arak, katanya dengan tertawa, “Boleh juga makanan ini, mengapa engkau tidak mau makan sedikit. Kalau kurang makan dan kurang tidur, kan bisa mengganggu kesehatan, jika terjadi apa-apa atas dirimu, rasaku kan tidak enak.”

“Brak”, mendadak Tong-siansing menggebrak meja sehingga ujung meja sempal, rupanya saking gemasnya tanpa terlampiaskan, maka meja telah dijadikan sasaran.

“Ai, meja kan tidak salah padamu, mengapa pula engkau memusuhinya ….” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Menurut pendapatku, ada lebih baik engkau melepaskan diriku saja daripada engkau merasa tersiksa.”

“Lepaskan kau? Hm, jangan harap!” bentak Tong-siansing gusar.

Siau-hi-ji menenggak pula araknya, lalu bergelak tertawa dan berkata, “Bicara terus terang, biarpun sekarang kau lepaskan aku juga aku tak mau pergi. Coba pikir, tidur dijaga, makan dibayarkan, hari bahagia begini siapa yang tidak suka dan ke mana lagi dapat dicari?”

Sampai sekian lama Tong-siansing melotot pada anak muda itu, katanya kemudian, “Justru sengaja kubikin hidupmu senang, dengan begitu matimu nanti akan lebih menderita.”

Siau-hi-ji menaruh sumpitnya dan memandangi si topeng perunggu dengan terbelalak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Coba jelaskan, selamanya kita tidak saling mengenal, mengapa engkau sedemikian benci padaku? Jika engkau begini benci padaku, mengapa pula tidak turun tangan membunuhku?”

Tong-siansing menengadah dan menjengek, “Hm, rahasia ini selamanya takkan kau ketahui.”

“Selamanya takkan kuketahui?” Siau-hi-ji menegas.

“Ya, selamanya, selama-lamanya!” Tong-siansing mengulang dengan bengis.

“Seseorang kalau selamanya tidak mengetahui rahasia yang berhubungan paling erat dengan dirinya sendiri, sungguh kejadian yang paling tragis dan paling kejam di dunia ini.”

“Hahaha, memang benar, inilah kejadian yang paling tragis dan paling kejam di dunia. Aku berani menjamin bahwa di dunia ini tiada kejadian lain yang lebih tragis dan lebih kejam daripada persoalanmu ini. Aku pun berani menjamin kau takkan lolos dari nasibmu yang tragis ini, sebab di dunia ini tidak mungkin ada seorang pun yang mampu membongkar rahasia ini,” kata Tong-siansing sambil tertawa terbahak-bahak, lalu menyambung, “Nah, sekarang silakan kau gembira sepuas-puasnya, asal kau dapat gembira, gembiralah mumpung masih ada waktu.”

*****

Sebelum itu Yan Lam-thian, Hoa Bu-koat, dan Kang Piat-ho telah meninggalkan restoran Yangcukang itu, ketiganya seperti sama mabuk, jalan mereka sempoyongan dan putar kayun di bawah cahaya bintang yang bertaburan di langit.

Selama hidup Kang Piat-ho tidak pernah minum arak sebanyak ini. Maklumlah, bilamana seorang terlalu banyak menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain, maka sedapat-dapatnya ia pasti tidak mau membuat mabuk dirinya sendiri.

Tapi Yan Lam-thian ingin minum, terpaksa Kang Piat-ho mengiringi, sampai akhirnya setiap Yan Lam-thian menghabiskan satu cawan, maka sedikitnya Kang Piat-ho juga menghabiskan setengah cawan.

Begitulah mereka bertiga terus bergentayangan kian-kemari sambil bersenandung, terutama Yan Lam-thian, dia menengadah dan mendeklamasikan sajak kuno yang mengharukan seakan-akan melampiaskan rasa kesal yang tertimbun di dalam sanubarinya.

Selagi Kang Piat-ho bertepuk mengikuti irama sajak orang, sekonyong-konyong Yan Lam-thian memegang tangannya dan membentak bengis, “He, jadi kau pun she Kang?”

Kang Piat-ho terkejut, jawabnya sambil meringis, “Wanpwe Kang Piat-ho, masa Yan-tayhiap sudah lupa?”

Yan Lam-thian menengadah dan menghela napas panjang, katanya, “Mengapa manusia paling baik dan paling busuk di dunia ini sama-sama she Kang?”

“Ap…apa artinya ini?” tanya Kang Piat-ho dengan tergagap-gagap.

Dengan gegetun Yan Lam-thian menjawab, “Bahwa Kang-jiteku adalah manusia yang berbudi luhur dan berhati bajik, dia tergolong manusia paling baik di dunia ini, tapi ada pula Kang Khim …”

Mendengar nama “Kang Khim”, tiba-tiba Kang Piat-ho menggigil seperti orang kedinginan.

Sedangkan Yan Lam-thian menjadi beringas dan berteriak dengan bengis, “Kang-jiteku itu memandang Kang Khim serupa saudara sekandung sendiri, tapi manusia berhati binatang itu memang busuk, diam-diam dia bersekongkol dengan orang dan menjual Kang-jiteku.”

Keringat dingin memenuhi jidat Kang Piat-ho, tapi dia berlagak tertawa dan berkata, “Ya, mengapa Kang…Kang Khim itu begitu busuk?”

“Sayang, keparat jahanam itu entah sembunyi ke mana,” teriak Yan Lam-thian sambil mengepal, “Sudah kucari kian kemari dan sukar menemukannya. Bilamana kutemui dia, mustahil kalau tidak kuhancurleburkan dia.”

Kembali Kang Piat-ho menggigil, rasa mabuknya menjadi lenyap separo, tangannya yang dipegang Yan Lam-thian itu serasa terjepit oleh tanggam, makin lama makin terasa seakan-akan remuk tulangnya.

Terpaksa Kang Piat-ho menyengir dan memohon, “Yan…Yan-tayhiap, Wanpwe bukanlah Kang…Kang Khim, janganlah Yan-tayhiap meremas remuk tanganku.”

Yan Lam-thian tertawa dan mengendurkan tangannya.

Diam-diam Kang Piat-ho menarik ujung baju Hoa Bu-koat dan berbisik, “Sudah waktunya kita mohon diri pada Yan-tayhiap.”

“Mungkin aku pun harus mohon diri padamu,” ucap Bu-koat dengan tersenyum.

“He, apakah…apakah Hiante hendak mengiringi Yan-tayhiap?” tanya Kang Piat-ho heran.

Bu-koat mengiakan.

“Kalau…kalau hal ini diketahui gurumu, kan kurang baik?”

“Biarpun guruku tahu juga aku mesti pergi bersama dia.”

Kang Piat-ho melenggong sejenak, tanyanya kemudian, “Ka…kalian hendak ke mana?”

“Mencari Siau-hi-ji,” jawab Bu-koat.

Kembali hati Kang Piat-ho tergetar, ia membatin, “Seumpama sekarang Yan Lam-thian belum mengenali diriku dan masih memandang diriku sebagai kawan, tapi bila Kang Siau-hi-ji sudah ditemukannya, maka tamatlah aku.”

Setelah berputar lagi kian kemari, akhirnya sampailah mereka di hotel tempat tinggal Tong-siansing.

Tiba-tiba Kang Piat-ho mendapat akal, katanya dengan tertawa, “Hotel ini terkenal ada arak simpanan lama, apakah Yan-tayhiap ingin pula minum barang dua cawan?”

“Kau benar-benar memahami perasaan orang,” ucap Yan Lam-thian dengan tertawa, “Ayolah, kita masuk ke situ.”

Segera mereka menggedor pintu, meski dengan uring-uringan, terpaksa pelayan membukakan pintu, apalagi dilihatnya yang datang adalah tamu undangan Toan Hap-pui, yaitu Kang-lam-tayhiap yang terhormat, tentu saja pelayan tidak berani teledor memberi pelayanan yang baik.

Setiba di dalam, Yan Lam-thian lantas dibawakan arak, sedang Kang Piat-ho dengan alasan mau ke belakang, diam-diam ia mengeluyur ke kamar pondokan Tong-siansing itu.

Sudah tentu maksudnya ingin mencari Tong-siansing untuk menghadapi Yan Lam-thian. Tapi sayang, Tong-siansing justru tidak di tempatnya, meski di dalam kamar masih tercium bau harum, namun orangnya mungkin sudah meninggalkan tempat ini.

Dengan agak kecewa terpaksa Kang Piat-ho kembali ke ruangan depan. Sementara itu Yan Lam-thian sudah habiskan beberapa kati arak. Betapa pun kuatnya minum arak, mau tak mau sekarang pun agak mabuk. Bahkan Hoa Bu-koat juga kelihatan akan mabuk.

Tergerak pikiran Kang Piat-ho, ia mengeluyur keluar pula, dengan jari ia korek-korek tenggorokan sendiri sehingga isi perutnya tertumpah keluar semua. Habis itu ia masuk lagi untuk mengajak minum kedua temannya sebanyak-banyaknya.

Sama sekali Yan Lam-thian tidak menolak setiap ajakan menghabiskan isi cawan, sampai akhirnya Yan Lam-thian tergeletak tak sadarkan diri.

Hoa Bu-koat juga tampak kurang sadar, ia bergumam, “Minum arak bersama sahabat, sebelum mabuk janganlah pulang. Marilah minum lagi satu cawan ….” Belum habis ucapannya ia pun mendekam di atas meja dan tertidur.

Kang Piat-ho duduk sendirian sambil memandangi Yan Lam-thian dengan mata terbelalak. Tampak butiran keringat sebesar kedelai menghiasi, jidat dan samping hidungnya. Jelas dia sedang dirangsang rasa tegang.

Selang sejenak, dengan suara gemetar ia coba memanggil, “Yan-tayhiap, marilah kita minum lagi secawan?”

Tapi yang terdengar hanya suara dengkuran Yan Lam-thian tanpa memberi jawaban apa pun.

“Hoa-hiante, ayolah kita minum?” kata pula Kang Piat-ho.

Tapi Hoa Bu-koat juga tetap mendekam di atas meja tanpa bergerak.

Kang Piat-ho merasa jantungnya berdetak keras seakan-akan melompat keluar, inilah kesempatan yang paling bagus bilamana dia ingin merajai dunia Kangouw. Tapi ia pun agak sangsi, rasanya kesempatan ini datangnya terlalu mudah, betapa pun ia harus hati-hati.

Diam-diam ia membatin, “Wahai Kang Piat-ho, jangan coba-coba menyerempet bahaya. Memangnya Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat ini tokoh macam apa sehingga dapat kau bunuh semudah ini?”

Ia mengepal dengan kencang sehingga tangan pun berkeringat dingin. Pikirnya pula, “Tapi, wahai Kang Piat-ho, bilamana kesempatan baik ini kau sia-siakan, selanjutnya tentu takkan dapat lagi kesempatan begini. Jika sekarang kau tidak membunuh mereka, kelak kau sendiri yang akan mati di tangan mereka, apa yang mesti kau takuti lagi? Apa pula yang kau ragukan? Mereka sudah mabuk, mengapa kau tidak turun tangan?”

Berpikir sampai di sini, sekonyong-konyong Kang Piat-ho berbangkit, tapi “bluk”, mendadak ia duduk lagi.

“Tidak, tidak! tidak boleh main untung-untungan, di dunia ini tidak mungkin terjadi hal semudah ini!” demikian ia menjadi ragu-ragu pula. Ia segera merasa tangannya menjadi gemetar, terpaksa ia pegang erat-erat kursinya.

“Tapi kejadian ini hanya kebetulan, aku sendiri tidak percaya akan jadi begini, dengan sendirinya mereka lebih-lebih tidak percaya, justru lantaran mereka tidak percaya akan terjadi begini, makanya tiada berjaga terhadap sesuatu kemungkinan.”

Berpikir demikian, seketika matanya bercahaya pula.

“Ya, betul Hoa Bu-koat dan Yan Lam-thian pasti tidak menyangka aku akan membunuh mereka, kesempatan bagus ini sukar dicari…Wahai Kang Piat-ho, biasanya kau bukan penakut, mengapa sekarang tidak berani bertindak tegas? Asalkan kau turun tangan sekarang, maka dunia ini akan menjadi milikmu ….”

Tanpa sangsi lagi Kang Piat-ho terus melompat maju, telapak tangannya terus menghantam.

Tampaknya buah kepala Yan Lam-thian segera akan hancur oleh pukulan Kang Piat-ho itu.

Sungguh kematian yang tidak berharga, pendekar besar yang pernah malang melintang di dunia ini kini harus tewas di tangan orang kotor dan rendah begitu.

Syukur pada saat itu juga Hoa Bu-koat mendadak melompat bangun sambil membentak, “Kang Piat-ho, akhirnya dapat juga kukenal wajah aslimu. Kang Siau-hi-ji memang tidak memfitnah kau!” Di tengah suara bentakannya itu segera ia menubruk maju.

Tak terduga Yan Lam-thian ternyata terlebih cepat bertindak daripada Hoa Bu-koat, begitu pukulan Kang Piat-ho itu dilontarkan, berbareng telapak tangan saktinya juga menangkis ke atas.

“Plak”, terdengar suara benturan tangan, kontan tubuh Kang Piat-ho itu mencelat dan menumbuk dinding, seketika terasa ruas tulang sekujur badan seolah-olah retak semua, ingin bangun berdiri saja susah.

Bu-koat melengak, segera ia pun tertawa dan berucap, “Kiranya engkau juga pura-pura mabuk saja.”

“Hahahaha!” Yan Lam-thian bergelak tertawa. “Hanya beberapa cawan arak ini masakah dapat membuatku mabuk? Aku justru ingin tahu sandiwara apa yang sedang dimainkan keparat ini.”

Mendadak ia hentikan suara tertawanya dan membentak, “Kang Piat-ho, apalagi yang akan kau katakan sekarang?”

“Sudahlah ….” Kang Piat-ho meringis, “Kepandaian yang kulatih selama dua puluh tahun ternyata tidak mampu menahan sekali pukulan Yan Lam-thian, apa lagi yang dapat kukatakan?”

“Selamanya kita tiada permusuhan dan dendam apa pun, mengapa kau memperdayai diriku?” tanya Yan Lam-thian dengan bengis.

“Masa kau tidak tahu sebabnya?” sahut Kang Piat-ho jeri.

“Justru ingin kutanya padamu.”

Kang Piat-ho sengaja menghela napas panjang, ucapnya, “Dua jago tidak mungkin berdiri sama tegaknya. Bilamana pendekar besar seperti engkau tetap hidup di dunia ini, mana bisa ada tempat berpijak bagi pendekar besar macamku ini?” Ia menggereget, lalu menyambung pula dengan suara keras, “Karena itulah aku bertekad harus melenyapkan dirimu. Jika toh kepandaianku tak dapat menandingimu, ya, apa yang hendak kukatakan lagi?”

“Hm, sekalipun ilmu silatmu tiada tandingan di dunia ini, kalau jiwamu sekotor ini juga tidak pantas mendapat predikat ‘Pendekar Besar’ segala,” bentak Yan Lam-thian dengan gusar. Dengan tangan mengepal segera ia mendekati Kang Piat-ho.

“Kau…kau mau apa?” Kang Piat-ho gemetar ketakutan.

“Percuma kau mendapatkan sebutan pendekar, hatimu ternyata begini keji, caramu ternyata begini kotor, kalau sekarang orang she Yan tidak membabat habis bibit bencana bagi dunia Kangouw, kelak entah berapa banyak orang yang akan menjadi korban kekejamanmu?”

“Jadi…jadi engkau hendak membunuhku?”

“Ya!” bentak Yan Lam-thian, berbareng ia menghantam secepat kilat.

Tapi Kang Piat-ho sempat berguling ke sana, serangan dahsyat itu terhindar, mendadak ia tertawa dan berseru, “Kau tidak boleh membunuh aku!”

“Mengapa aku tidak boleh membunuhmu?” bentak Yan Lam-thian gusar.

“Jika kau bunuh diriku maka di seluruh dunia ini tiada seorang pun yang tahu di mana beradanya Kang Khim…Jika kau bunuh diriku, selama hidupmu ini jangan harap akan menemukan dia.”

Tergetar hati Yan Lam-thian, cepat ia menegas, “Jadi kau tahu jejak…jejak Kang Khim?”

Perlahan-tahan Kang Piat-ho berdiri, “Ya,” jawabnya dengan tenang.

Yan Lam-thian memburu maju dan menjambret leher bajunya sambil berteriak, “Di mana dia sekarang?”

Kang Piat-ho berdiri tegak tanpa menghindar, ucapnya dengan tenang, “Boleh kau bunuh diriku, tapi tidak dapat kau paksa aku menyebutkan di mana dia berada.”

Yan Lam-thian menggentakkan cengkeramannya dan membentak gusar, “Apa kau ingin coba?”

“Sebagai seorang ksatria termasyhur, memangnya engkau tidak menjaga kehormatan dirimu lagi, engkau hendak memaksaku dengan kekerasan?”

Melengak juga Yan Lam-thian, tanpa terasa ia kendurkan cengkeramannya.

Dengan tersenyum Kang Piat-ho berkata pula, “Jika engkau benar-benar menginginkan keteranganku, maka harus kau sanggupi dua syaratku.”

“Baik, asalkan kau mengaku terus terang, hari ini dapat kubebaskanmu,” bentak Yan Lam-thian.

“Ah, tampaknya Yan-tayhiap memandang syaratku teramat sederhana,” ucap Kang Piat-ho tertawa.

“Memang apa kehendakmu?” bentak Yan Lam-thian.

“Engkau harus berjanji bukan cuma sekarang saja membebaskan diriku dengan baik-baik, bahkan di kemudian hari juga takkan mengganggu seujung rambutku.”

Yan Lam-thian terdiam sejenak, mendadak ia berteriak, “Baik, kuterima syaratmu. Aku tidak percaya di dunia ini selain aku tiada orang lain lagi yang mampu membinasakanmu.”

Kang Piat-ho tersenyum senang, katanya pula, “Selain itu, setelah kukatakan di mana jejak Kang Khim, engkau harus jaga rapat rahasia ini, kecuali kita bertiga sama sekali tidak boleh diketahui pula orang keempat.”

“Soal ini memang urusanku sendiri dan aku ingin membunuh jahanam itu dengan tanganku sendiri, untuk apa mesti kuberitahukan kepada orang lain?” teriak Yan Lam-thian.

“Baik, kata-kata seorang ksatria sejati harus dapat dipercaya,” demikian Kang Piat-ho menambahkan.

“Persetan! Apa yang kuucapkan tidak nanti kujilat kembali,” teriak Yan Lam-thian.

“Dan kau bagaimana, Hoa-kongcu?” Kang Piat-ho berpaling kepada Hoa Bu-koat.

Bu-koat menghela napas panjang, katanya, “Sebenarnya ini adalah urusan Yan-tayhiap, kalau beliau sudah setuju, dengan sendirinya aku pun akur.”

“Bagus, hahaha, bagus sekali!” Kang Piat-ho bergelak tertawa.

“Nah, katakan sekarang, berada di mana Kang Khim?” desak Yan Lam-thian.

Perlahan Kang Piat-ho menghentikan tertawanya, dengan tajam ia tatap Yan Lam-thian, lalu berucap dengan kata demi kata, “Aku inilah Kang Khim. Tapi engkau sudah berjanji pasti takkan mengganggu seujung rambutku.”

Seketika Yan Lam-thian seperti kena dicambuk orang satu kali, ia terhuyung-huyung mundur sambil mengepal kencang, sekujur badan seakan-akan gemetar.

Hoa Bu-koat juga melengak oleh keterangan di luar dugaan ini, walaupun ia sendiri tidak tahu seluk-beluk tentang Kang Khim dan lelakonnya.

Kang Piat-ho terbahak-bahak pula, katanya, “Dengan sudah payah engkau ingin tahu di mana beradanya Kang Khim, makanya engkau berjanji akan membebaskan diriku. Sekarang meski engkau sudah tahu jejak Kang Khim, tapi untuk selamanya engkau tak dapat lagi membunuhnya.”

Ia terus tertawa hingga terpingkal-pingkal, seakan-akan di dunia ini tiada yang lebih menggelikan daripada kejadian ini.

Sorot mata Yan Lam-thian seakan-akan membara, mendadak ia mengerang terus menubruk maju sambil membentak, “Kau bangsat keparat, mana dapat kuampuni jiwamu!”

Mendadak Kang Piat-ho melotot dan balas membentak dengan bengis, “Yan Lam-thian, sebagai pendekar yang termasyhur, apakah kau ingin menjadi manusia yang ingkar janji dan tidak dapat dipercaya?”

Tergetar tubuh Yan Lam-thian, seketika ia melenggong dan tak bisa bicara. Tertampak wajahnya beringas, tangannya meremas-remas hingga mengeluarkan suara keriutan, akhirnya ia terhuyung-huyung mundur dan jatuh terduduk di tempat tidur, ucapnya dengan sedih, “Bagus, ba…bagus, aku memang sudah berjanji padamu, boleh…bolehlah kau pergi saja.”

“Memang kutahu pasti akan kau biarkan aku pergi,” ujar Kang Piat-ho dengan tertawa.

Sekonyong-konyong Yan Lam-thian melonjak bangun, bentaknya dengan suara parau, “Keparat, lekas enyah, awas bila mendadak pikiranku berubah!”

Lekas-lekas Kang Piat-ho memberi hormat, katanya dengan tertawa, “Jika demikian, baiklah Cayhe memohon diri saja, terima kasih banyak-banyak dan sampai berjumpa pula.”

Dengan bergelak tertawa dia terus melangkah pergi, keadaan di dalam rumah seketika menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara napas Yan Lam-thian yang berat, suasana terasa mencekam.

Sampai agak lama, tiba-tiba Hoa Bu-koat menghela napas dan berkata, “Yan-tayhiap, sekarang aku benar-benar takluk padamu.”

Yan Lam-thian tersenyum pedih, katanya, “Dengan ilmu pedang dan ilmu pukulan telah kukalahkan kau dua kali, selama itu kau tidak mau mengaku kalah, sekarang dengan mata terpentang lebar, kusaksikan musuh pergi dengan bebas tanpa berdaya, tapi kau malah takluk padaku?”

Dengan sungguh-sungguh Bu-koat menjawab, “Justru lantaran menyaksikan engkau membiarkan Kang Piat-ho pergi saja, baru sekarang kutahu Yan Lam-thian memang tidak malu disebut sebagai Tayhiap sejati. Jika engkau mau membunuhnya kan bukan urusan yang sulit, tapi engkau melepaskan dia pergi, inilah yang tak dapat diperbuat orang lain. Di dunia ini tidak sedikit orang yang mampu membunuh Kang Piat-ho, tapi yang dapat membebaskan dia cara begini mungkin hanya ada seorang saja, yakni Yan Lam-thian!” Ia menghela napas gegetun, lalu menyambung pula, “Sebab itulah sekalipun di dunia ini ada orang yang lebih terkenal dan lebih menakutkan daripadamu, biarpun ada orang berilmu silat lebih tinggi daripadamu, tapi hanya engkau saja seorang yang sesuai mendapatkan predikat Tayhiap.”

“Tapi apakah kau tahu untuk bisa mempertahankan predikat ‘Tayhiap’ betapa dia harus menahan siksa derita dan kesepian ….”

“Ya, sekarang baru kutahu bahwa untuk menjadi ‘Tayhiap’ memang bukan sesuatu yang mudah, dia harus sanggup melakukan sesuatu yang tak sanggup dilakukan orang lain dan juga harus sanggup menahan perasaannya yang tidak mungkin ditahan oleh orang lain ….” Dia pandang Yan Lam-thian, lalu sambungnya pula dengan tertawa, “Tapi apa pun juga kan berharga orang hidup demikian, betul tidak?”

Sementara itu Kang Piat-ho sudah berada di luar halaman, ia tidak sanggup tertawa pula, ia tahu meski hari ini Yan Lam-thian dapat ditipunya tapi kesulitan di kemudian hari pasti masih banyak.

Di pojok halaman sana ada serumpun pohon bambu, suara daun bambu bergesekan di tiup angin. Cepat Kang Piat-ho menyelinap ke balik semak-semak sana, ia ingin mengawasi gerak-gerik Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat. Ia pikir kedua orang itu kini pasti sangat gemas dan murka, sungguh ia ingin menyaksikan Yan Lam-thian mati kaku karena gusarnya, dengan demikian barulah hatinya bisa lega.

Tapi selang tak lama, tiba-tiba dari dalam rumah berkumandang suara tertawa nyaring Yan Lam-thian. Rupanya kekalahan yang dialaminya tadi sama sekali tidak menjadikan ganjalan hati Yan Lam-thian.

Di tengah suara tertawa itu kelihatan Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat melangkah keluar dengan bergandengan tangan. Sekali meloncat dan berkelebat, menghilangkan kedua orang itu dalam kegelapan.

Ke manakah mereka? Mencari Siau-hi-ji?

Ketiga orang itu sebenarnya adalah musuh besar, mengapa sekarang seperti berdiri di satu garis perjuangan yang sama?

Meski tidak dapat memahami seluk-beluknya, tapi rasa curiga ini membuat hati Kang Piat-ho tidak tenteram dan tersiksa, diam-diam ia menggigit bibir dan memeras otak, namun tetap tak dapat dimengerti dan sukar menarik kesimpulan.

Pada saat itulah tiba-tiba bayangan orang berkelebat, tertampak pula kemilauan sebuah wajah perunggu yang beringas.

Ternyata Tong-siansing sudah datang kembali.

Dengan girang Kang Piat-ho hendak memburu ke sana, tapi pada saat itu pula dilihatnya di samping Tong-siansing ada lagi seorang lain yang membuatnya terkejut, ternyata orang ini ialah Siau-hi-ji.

Muka Siau-hi-ji tampak merah dan berseri-seri, agaknya sangat gembira. Tong-siansing ternyata bersama Siau-hi-ji, bahkan keduanya seperti baru pulang dari minum arak. Hal ini membuat Kang Piat-ho melenggong heran pula.

Sandaran satu-satunya yang diharapkan dapat menghadapi Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat adalah Tong-siansing yang misterius ini, hanya modal inilah satu-satunya harapan baginya untuk mencapai kemenangan.

Tapi sama sekali tak tersangka olehnya bahwa Tong-siansing juga bisa berada bersama Siau-hi-ji. Sejak kapankah kedua makhluk aneh tua dan muda ini mulai bersahabat?

Padahal jelas Tong-siansing ingin membinasakan Siau-hi-ji, mengapa sekarang bisa berubah pendiriannya? Jangan-jangan tokoh aneh ini telah kena dipengaruhi oleh Siau-hi-ji yang manis dan muluk-muluk itu?

Kang Piat-ho merasa heran, kejut, gusar dan juga khawatir. Sampai Tong-siansing dan Siau-hi-ji sudah masuk rumah dia masih berdiri terkesima di situ. Tiba-tiba ia merasa dirinya terpencil sendirian, di mana-mana hanya musuh melulu dan tiada seorang kawan pun yang dapat dipercaya dan dibuat sandaran.

Diam-diam ia mengepal kencang-kencang, pikirnya, “Melulu seorang Kang Siau-hi-ji saja sudah cukup membuat pusing kepala, sekarang ditambah lagi Yan Lam-thian dan Hoa Bu-koat serta Topeng Perunggu yang aneh ini, agaknya bagiku cuma ada suatu jalan kematian. Kalau keempat orang ini bersatu, siapa pula di dunia ini yang mampu melayani mereka? Wahai Kang Piat-ho, betapa pun kau tak dapat berpeluk tangan dan menyerah begitu saja, kau harus berusaha, kau harus berdaya.”

Dasar rasa curiganya memang besar, kini menyaksikan dengan mata sendiri, ia tambah yakin Yan Lam-thian, Kang Siau-hi-ji, Hoa Bu-koat dan Tong-siansing telah berserikat untuk menghadapi dia.

Malam bertambah kelam, butiran embun di daun bambu menetes-netes di tubuh Kang Piat-ho, bahkan ada air embun yang menetes pada muka dan kuduknya. Namun dia seakan-akan tidak merasakan apa-apa, ia bergumam sendiri, “Dengan cara bagaimanakah untuk bisa mengalahkan keempat orang ini? Tenagaku sendiri jelas tidak cukup, aku harus mencari bala bantuan. Tapi siapakah yang harus kucari?”

Dari daun bambu tiba-tiba jatuh seekor ulat kecil dan tepat menjatuhi kepalanya, seenaknya Kang Piat-ho menangkap ulat itu, tertampak ulat itu bergerak-gerak di telapak tangannya mirip ular kecil.

Tiba-tiba wajahnya menampilkan senyuman girang, serunya tanpa terasa, “Aha, benar! Mengapa aku melupakan dia? Meski dia sendiri juga belum cukup kuat, tapi kalau ditambah lagi si Harimau suami istri serta diriku sendiri, jadinya empat lawan empat, bukankah kekuatannya menjadi sama.”

Dengan girang ia terus melayang keluar dari pepohonan bambu sana, tapi tiba-tiba teringat olehnya bahwa Tong-siansing dan Kang Siau-hi-ji masih berada di dalam rumah situ, ia terkejut dan cepat menghentikan langkahnya. Syukurlah tiada sesuatu reaksi apa-apa dari rumah di depan sana. Meski di dalam rumah ada cahaya lampu, namun tiada kelihatan bayangan orang. Rupanya Tong-siansing dan Siau-hi-ji sudah pergi.

Agaknya Kang Piat-ho terlalu asyik memikirkan kesulitan yang dihadapinya sehingga tidak mengetahui bilakah perginya kedua orang itu.

Ketika Siau-hi-ji masuk ke rumah itu, ia pun tidak menduga bahwa di luar sana Kang Piat-ho sedang pasang mata.

Lampu di dalam rumah telah padam, keadaan gelap gulita, meski tidak dapat melihat sesuatu, namun Siau-hi-ji merasakan di dalam rumah ada bau harum yang lebih semerbak daripada waktu mereka keluar tadi.

Ia menjadi heran apakah ada orang masuk ke rumah ini?

Tiba-tiba terdengar Tong-siansing mendengus, “Kenapa baru sekarang kau datang?”

Dalam kegelapan terdengar suara seorang perempuan menjawab, “Untuk mencari suatu tempat yang dapat memuaskan dirimu bukanlah pekerjaan yang mudah, makanya kudatang terlambat.”

Suaranya sudah tentu jauh lebih halus daripada suara Tong-siansing yang kasar dan kaku, tapi nadanya sama dinginnya.

Heran Siau-hi-ji bahwa Tong-siansing juga punya kawan perempuan dengan nada ucapan yang sama anehnya, keduanya benar-benar pasangan yang setimpal. Cepat ia meraba ketikan api dan menyalakan lampu.

Setelah lampu menyala barulah terlihat dengan jelas seorang perempuan berjubah hitam dengan rambut panjang terurai berdiri di situ, dandanan dan wajahnya seperti badan halus yang baru timbul dari alam lain.

Muka perempuan ini juga memakai topeng setan, cuma terbuat dari kayu cendana. Meski di bawah cahaya lampu cukup terang, tidak urung kaget juga Siau-hi-ji melihat orang bertopeng aneh ini.

Perempuan jubah hitam ini juga sedang menatap Siau-hi-ji, tiba-tiba ia bertanya, “Kau inikah Kang Siau-hi-ji?”

Siau-hi-ji meraba hidung dan menjawab dengan tertawa, “Betul, aku inilah Kang Siau-hi-ji, mengapa engkau kenal diriku?”

“Sudah lama kukenal kau,” jengek perempuan itu.

Mata Siau-hi-ji jadi terbelalak, ucapnya, “Sudah lama kau kenal aku, mengapa…mengapa aku tidak kenal engkau?”

“Jika kau tahu di dunia ini ada Tong-siansing, mengapa tidak tahu akan Bok-hujin?”

“Bok-hujin?” Siau-hi-ji menegas, “Ah, benar, rasanya nama ini pernah kudengar.”

Teringat olehnya waktu Oh-ti-tu bercerita tentang Tong-siansing, pernah juga nama Bok-hujin atau nyonya topeng kayu disinggung, katanya kedua orang ini adalah makhluk yang sama anehnya.

Bok-hujin memandang Siau-hi-ji lalu memandang Tong-siansing, katanya kemudian,” Sejak tadi aku sudah datang kemari, tapi kalian berdua ….”

“Kami pergi minum arak sehingga membuat Hujin lama menunggu, harap dimaafkan,” ucap Siau-hi-ji.

“Kalian pergi minum arak?” Bok-hujin menegas dengan terheran-heran.

“Tong-siansing teramat baik padaku,” tutur Siau-hi-ji dengan tertawa, “Beliau khawatir aku kelaparan, maka membawaku pergi minum arak dan makan enak, bahkan memilih restoran yang menghidangkan makanan yang paling cocok dengan seleraku. Orang baik seperti beliau sungguh belum pernah kulihat.”

Bok-hujin kelihatan heran, kejut dan juga agak geli, semua ini tertampak jelas dari sorot matanya di balik topeng kayu itu.

Baru sekarang Siau-hi-ji melihat sepasang mata Bok-hujin itu ternyata jauh lebih lincah dan simpati daripada Tong-siansing, walaupun nada bicara mereka sama kaku dan dinginnya.

Tergerak hatinya, segera ia menghela napas dan berkata pula, “Cuma Tong-siansing juga teramat memperhatikan diriku, selalu mengawasi diriku sehingga beliau sendiri lupa makan dan lupa tidur. Aku menjadi khawatir membuat lelah dia. Makanya, bila Hujin sahabat baik Tong-siansing, harap engkau menggantikan beliau menjaga diriku agar dia dapat istirahat.”

“Oo, jika Toa…Toako lelah, bolehlah serahkan pada diriku,” ucap Bok-hujin. Meski kelihatan senyum girangnya dari sinar matanya, tapi nadanya tetap dingin.

Mendadak Tong-siansing melompat maju, ‘plak’, dengan tepat muka Siau-hi-ji kena ditamparnya. Pukulannya tidak keras tapi tempat yang dihantamnya sangat jitu. Sedikit pun Siau-hi-ji tidak merasa sakit, hanya kepala menjadi pusing dan tidak sanggup berdiri lagi, ia terhuyung-huyung mundur dan akhirnya roboh.

Dalam keadaan samar-samar terdengar suara dingin Tong-siansing lagi berkata, “Sekali ini siapa pun jangan harap akan membawanya pergi dari tanganku. Pada waktu hidupnya akan kujaga dia, sekali pun dia sudah mati juga tetap akan kuawasi dia, sampai mayatnya membusuk sekalipun.”

“Tapi aku kan ….”

“Kau juga,” jengek Tong-siansing sebelum lanjut ucapan Bok-hujin. “Kau pun belum tentu lebih setia padaku daripada orang lain.”

“Jadi…jadi aku pun tidak kau percaya?”

“Sejak Goat-loh membawa lari Kang Hong, mulai saat itulah aku tidak lagi percaya kepada siapa pun juga,” kata Tong-siansing dengan tegas.

Bok-hujin terdiam sejenak dan menunduk perlahan, katanya kemudian, “Ya, kutahu engkau tidak pernah melupakan kejadian itu, engkau selalu menganggap aku hendak berebut Kang Hong denganmu .…”

“Kau pun mencintai dia, kau sendiri yang bilang demikian, betul tidak?” seru Tong-siansing bengis.

“Betul, aku memang mencintai dia,” jawab Bok-hujin dengan suara keras sambil mendongak. “Tapi aku tidak ingin mendapatkan dia, lebih-lebih tiada niatku berebut dia denganmu, selama hidupku ini aku tidak pernah berebut barang apa pun denganmu, betul tidak?”

Suara Bok-hujin yang dingin itu tiba-tiba agak gemetar, sambungnya dengan suara serak, “Sejak kecil setiap ada barang baik, senantiasa aku mengalah padamu. Sejak kita berebut memetik sebuah Tho dan engkau mendorongku dari atas pohon hingga jatuh dan sebelah kakiku patah, mulai saat itu pula aku tidak berani berebut barang apa pun denganmu, engkau ingat tidak?”

Sorot mata Tong-siansing setajam pisau menatap Bok-hujin sampai lama dan lama sekali, akhirnya ia menghela napas panjang dan perlahan-lahan menunduk, katanya dengan pedih, “Ya, lupakanlah hal ini, apa pun juga, akhirnya kita kan tidak mendapatkan dia?”

Bok-hujin juga terdiam sejenak dan menghela napas, ucapnya dengan rawan. “Maaf, Toaci, tidak seharusnya aku mengungkit kejadian-kejadian itu, padahal sudah lama kita melupakan hal-hal itu.”

Memang tidak seharusnya ia membicarakan kejadian dahulu itu, sebab itu rahasia hidup mereka. Cuma sayang Siau-hi-ji sudah pingsan, hakikatnya dia tidak mendengar apa yang dibicarakan mereka.

Sebelum Siau-hi-ji sadar seluruhnya, sayup-sayup ia sudah mengendus bau harum yang memabukkan itu, ia mengira dirinya masih berada di kamar hotel itu, tapi waktu dia membuka mata segera diketahui dugaannya itu sama sekali keliru.

Di dunia ini tidak mungkin ada hotel yang memiliki kamar semewah ini, juga tiada hotel yang menyediakan tempat tidur selunak ini dengan bau harum semerbak begini.

Menyusul lantas dilihatnya dua anak perempuan yang berdiri di ujung tempat tidurnya. Keduanya memakai baju sutera yang halus dan memakai kopiah dengan kembang goyang yang indah. Wajah mereka pun cantik, cuma di antara wajah cantik itu sama sekali tidak kelihatan sesuatu perasaan dan juga tiada warna darah sedikit pun, putih mulus laksana ukiran es.

Siau-hi-ji kucek-kucek matanya sambil bergumam, “Apakah aku ini sudah meninggal, jangan-jangan aku sudah berada di surga?”

Kedua anak perempuan ini tetap berdiri tanpa bergerak, sorot mata mereka menerawang jauh ke sana, seakan-akan tidak mendengar ucapan Siau-hi-ji, bahkan seperti sama sekali tidak melihat anak muda itu.

Biji mata Siau-hi-ji mengerling, katanya pula dengan menyengir, “Ya, sudah tentu aku tidak meninggal, sebab kalau aku meninggal pasti tidak terdapat anak dara secantik bidadari seperti kalian ini.”

Ia mengira kedua anak perempuan itu pasti akan tertawa, tak tahunya memandang sekejap padanya saja tidak.

Siau-hi-ji raba-raba hidung sendiri, katanya pula, “O, barangkali kalian meremehkan diriku? Atau…Ah, bisa jadi mendadak aku mahir ilmu menghilang sehingga kalian tidak melihat diriku?”

Tapi biarpun anak muda itu mengoceh sampai mulutnya capai, kedua anak perempuan itu tetap tidak menggubrisnya.

Akhirnya Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Sesungguhnya aku ingin kalian tertawa, sebab waktu tertawa tentu kalian bertambah cantik. Tapi sekarang terpaksa aku mengaku gagal, harap kalian panggilkan Tong-siansing yang konyol itu.”

Namun kedua anak dara itu tetap tidak peduli.

Siau-hi-ji melonjak bangun dan berteriak, “Ayo bicaralah! Mengapa kalian diam saja. Apakah kalian bisu, tuli atau buta?”

Ia melompat turun ke lantai, dengan kaki telanjang ia mendekati kedua anak dara itu dan mengamat-amati mereka sejenak, lalu mengitari mereka satu putaran, ia mengernyitkan kening dan bergumam, “Ah, mungkin mereka bukan manusia melainkan patung ukiran dari batu es.”

Sebelah tangannya segera bermaksud mencolek hidung salah seorang anak dara itu. Tapi mendadak tangan anak perempuan itu mengipas perlahan, jari-jemarinya yang lentik dengan cat kuku yang merah itu laksana pisau kecil terus menusuk tenggorokan Siau-hi-ji.

Keruan Siau-hi-ji kaget dan cepat menjatuhkan diri ke tempat tidur, serunya dengan tertawa, “Aha, meski kalian tidak dapat bicara, tapi ternyata bisa bergerak.”

Namun cepat anak dara itu berdiri mematung pula.

“Seumpama kalian tidak suka bicara denganku, seharusnya kalian bisa tertawa kan” kata Siau-hi-ji. “Kalau senantiasa merengut begitu, kalian akan lekas tua.”

Lalu dia melompat turun pula, didapatinya sepasang sandal kain yang halus, segera dipakainya, katanya pula dengan perlahan, “Dahulu ada seorang, cara bekerjanya selalu acuh tak acuh, pada suatu hari ia keluar rumah, jalannya serasa kurang leluasa, ia tidak menyadari sepatunya salah pakai, setiba di rumah kawannya barulah diberitahu sang kawan tentang kekeliruannya itu, cepat ia suruh jongos pulang ke rumah untuk mengambilkan sepatu yang salah pakai itu. Sampai setengah harian si jongos baru kembali dengan tangan kosong. Coba terka, apa sebabnya?”

Sampai di sini Siau-hi-ji hampir tertawa sendiri, dengan menahan tawa ia menyambung pula, “Orang itu pun aneh, ia marah dan menegur jongosnya mengapa tidak jadi mengambil sepatu penggatinya. Tapi jongosnya memandangnya dan menjawab, “Juragan tidak perlu ganti sepatu lagi, sepasang sepatu di rumah itu juga terdiri dari satu sisi saja, yaitu sisi kanan.”

Belum habis ceritanya ia sendiri tertawa terpingkal-pingkal.

Akan tetapi kedua anak dara itu tetap tidak menggubrisnya, bahkan tidak berkedip sedikit pun.

Siau-hi-ji kikuk sendiri, ia menghela napas, katanya, “Baiklah, aku mengaku tak berdaya membuat kalian tertawa, tapi ada seorang kawanku bernama Thio Sam, dia paling pandai memancing orang tertawa. Suatu hari, dia bersama dua temannya pergi tamasya, setiba di pojok jalan, dilihatnya seorang nona cantik berdiri di bawah pohon dengan kaku dan dingin, persis seperti kalian sekarang. Thio Sam mengatakan dia sanggup memancing tertawa si nona, dengan sendirinya kedua temannya tidak percaya. Kata Thio Sam, dia mampu memancing tertawa si nona itu hanya dengan satu kata saja, kemudian dengan satu kata pula dia sanggup membuat nona itu marah. Untuk itu dia berani bertaruh makan gratis di restoran. Tentu saja kedua temannya menyetujui pertaruhan itu.”

Dasar Siau-hi-ji memang pintar bicara, ocehannya sekarang bahkan sangat hidup dan menarik. Meski kedua anak dara itu tetap tidak memandang ke arahnya, namun dalam hati sudah timbul rasa ingin tahu cara bagaimana si Thio Sam dapat memancing tertawa orang banyak hanya dengan satu kata saja dan dengan satu kata pula dapat membuat orang marah.

Maka didengarnya Siau-hi-ji telah menyambung, “Lalu Thio Sam mendekati nona itu, tiba-tiba ia bertekuk lutut pada seekor anjing yang mendekam di samping si nona sambil memanggil, ‘Ayah!’

“Melihat si Thio Sam menganggap seekor anjing sebagai bapaknya, tentu saja si nona merasa geli dan mengikik tawa. Tak tahunya si Thio Sam lantas berlutut pula kepada si nona dan memanggilnya: ‘Ibu’.

“Keruan wajah si nona seketika merah padam, dengan menggereget ia terus melenggang dan melangkah pergi. Dan karena itu Thio Sam telah memenangkan taruhannya ….”

Belum habis cerita Siau-hi-ji, anak dara yang bermuka bulat telur di sebelah kiri mendadak mengikik geli.

Maka bersoraklah Siau-hi-ji, “Aha, tertawa, akhirnya kau tertawa!”

Dilihatnya baru saja anak dara itu berseri tawa, mendadak air mukanya berubah pucat pula.

Kiranya entah sejak kapan Tong-siansing telah muncul di situ dan sedang menatap anak dara itu dengan dingin, “Apakah kau merasa dia sangat lucu?” jengeknya.

Sekujur badan anak dara itu gemetar, segera ia berlutut dan meratap, “Hamba…hamba tidak mengajak bi…bicara padanya ….”

“Tapi kau telah tertawa baginya bukan?” bentak Tong-siansing bengis.

“Hamba…hamba ….” Karena ketakutan sehingga gadis kecil itu tidak sanggup bicara, mendadak ia mendekap mukanya dan menangis.

“Kau boleh keluar saja,” ucap Tong-siansing.

“Mo…mohon…sudilah engkau mengampuni jiwa hamba,” ratap anak dara itu dengan suara parau, “Hamba berjanji takkan berbuat lagi.”

“Mengampuni jiwanya?” Siau-hi-ji mengulang dengan terkejut. “He, apakah engkau akan…akan membunuhnya?”

“Membunuhnya?” jengek Tong-siansing. “Kukira tidak perlu, cukup potong lidahnya saja agar selanjutnya dia tidak mampu tertawa lagi.”

“Potong lidahnya? Hanya lantaran tertawa begitu saja hendak kau potong lidahnya?” tanya Siau-hi-ji dengan kejut tak terperikan.

“Ini pun salahmu, mestinya jangan kau pancing dia tertawa,” kata Tong-siansing.

“Aku cuma mendongeng suatu lelucon baginya, mengapa…mengapa engkau cemburu!” teriak Siau-hi-ji.

“Plak”, mendadak Tong-siansing menamparnya, sama sekali Siau-hi-ji tidak dapat berbelit sehingga tergampar dengan tepat, kontan ia jatuh terlentang. Tapi mulutnya tetap berteriak gusar, “Boleh kau pukul diriku, tapi tidak boleh sekali-kali menghukum dia.”

Sorot mata Tong-siansing seakan-akan memancarkan bara, bentaknya, “Kau malah…malah membela dia?”

Rupanya karena gemasnya hingga tubuhnya tampak agak gemetar.

Dengan suara keras Siau-hi-ji menjawab, “Persoalan ini tak dapat menyalahkan dia, kalau ada yang salah, salahkan saja diriku.”

“Bagus…bagus! Jadi kau lebih suka dipukul olehku daripada kuhukum dia, kau…kau ternyata serupa dengan ayahmu, sama-sama petualang cinta.”

Begitu habis ucapannya, sekonyong-konyong ia menggeram, sebelah tangannya membalik ke sana, kontan anak dara bermuka bulat telur tadi terhantam hingga terpelanting keluar pintu, lalu jatuh terkulai tak dapat bergerak lagi untuk selamanya.

Keruan kaget Siau-hi-ji, ia melompat bangun dan berteriak, “Kau…kau membunuh dia?”

Gemetar badan Tong-siansing, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, katanya, “Betul, aku telah membunuh dia, supaya dia tak bisa pergi bersamamu!”

Kejut dan gusar Siau-hi-ji, tanyanya, “Apakah kau sudah gila? Bilakah dia ingin pergi bersamaku?”

“Hm, bilamana kalian sudah pergi baru kubunuh dia, tentu akan terlambat segalanya!” jengek Tong-siansing.

Siau-hi-ji terbelalak, serunya parau, “Gila, kau benar-benar sudah gila…Tadinya kukira hanya watakmu saja dingin dan bukan orang yang berhati kejam, siapa tahu engkau tega bertindak sekeji ini terhadap seorang anak perempuan.”

Makin bicara makin gusar, tanpa pikir mendadak ia menubruk maju, kedua tangannya memukul dengan cepat.

1 Comment »

  1. BAGUS BANGET NI CERITA
    NGIKUTIN TeRUS MAKIN LAMA MAKIN SERU

    Comment by Firman — 23/02/2013 @ 6:01 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: