Kumpulan Cerita Silat

22/04/2008

Darah Ksatria: Bab 28. Rahasia Lembah Kematian

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:51 pm

Darah Ksatria
Bab 28. Rahasia Lembah Kematian
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Apa yang menakutkan dari batu-batu hitam itu?

Asal orang tidak memaksa kau menelan batu itu, juga tiada orang yang menimpukkan batu itu di atas kepalamu, perduli apa bila batu itu putih, hitam, biru atau kuning? Batu hitam itu meski bentuknya bulat aneh tapi kan tidak perlu dibuat takut?

Anehnya Toa-hoan justru memperlihatkan rasa takut dan ngeri, demikian pula Cia Giok-lun setelah mendengar adanya batu-batu hitam bulat itu menunjukkan rasa takut dan panik.

Mendadak Cia Giok-lun bertanya, “Batu-batu bulat yang kau lihat itu, apakah hitam legam? Bundar lagi mengkilap?”

“Ya.”

“Di mana kau lihat batu-batu itu?” tanya Cia Giok-lun.

“Dibawa pemuda-pemuda berseragam hitam itu,” sahut Ji-liong. “Setiap pemuda membawa sekeranjang batu hitam.”

“Lalu?”

“Satu persatu batu bulat hitam yang sama besar kecilnya itu ditata di atas tanah dengan rapi.”

Cia Giok-lun tidak bertanya lagi. Mulutnya terkancing, sorot matanya seperti membayangkan peristiwa yang mengerikan. Sikap dan mimiknya seperti Toa-hoan, bak bocah yang mendadak melihat atau berhadapan dengan setan-iblis yang pernah disaksikannya dalam mimpi buruk.

Kenapa kedua nona ini begitu takut terhadap batu-batu hitam itu?

Thiat Tin-thian menjadi tertarik, maka ia bertanya, “Di daerah ini apakah ada batu-batu seperti itu?”

“Tidak ada, pasti tidak ada,” sahut Ji-liong. “Umpama ada batu bulat di sini juga tidak sebesar itu, hitam lagi warnanya.”

Ong Ban-bu mendadak menambahkan, “Waktu aku datang, sebelumnya sudah kuperiksa beberapa li di sekitar kampung ini. Batu macam apa saja ada, tapi yang bundar hitam dan mengkilap, jelas tak pernah kulihat meski hanya sebutir saja.”

“Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa batu-batu hitam itu jelas diangkut ke mari dari daerah yang jauh dari sini.”

“Ya, pasti dari jauh.”

Thiat Tin-thian heran, “Kenapa bersusah-payah mengangkut batu-batu sebanyak itu dari jauh ke mari serta menatanya rapi di depan pintu?”

Sebetulnya tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini, tetapi Toa-hoan segera menjelaskan, “Karena dia seorang gila. Orang gila kan bisa melakukan apa saja yang tidak mungkin dilakukan orang lumrah.”

Apa betul orang gila harus ditakuti?

Banyak orang gila di dunia ini, berbagai macam orang gila. Asal kau tidak mengusik atau mengganggu dia, dia tidak usah ditakuti. Banyak orang yang tidak gila, orang waras di dunia ini, justru lebih menakutkan dibanding orang gila.

Toa-hoan menerangkan, “Orang yang betul-betul gila tidak perlu ditakuti. Yang menakutkan adalah orang yang kelihatan waras, lebih normal dibanding orang biasa, padahal dia seorang yang betul-betul gila.”

Lebih jauh Toa-hoan menjelaskan, “Biasanya kau lihat dia bekerja secara sopan, teratur dan rapi. Sikapnya juga ramah tamah, tutur katanya lembut, tapi bila penyakit gilanya kumat, perbuatan apa pun berani dilakukan. Perbuatan yang tidak mungkin dilakukan orang gila juga bisa dia lakukan.”

Lebih menakutkan lagi karena siapa pun tidak tahu kapan dia akan gila. Tidak bisa ditebak kapan sakit gilanya itu kumat, maka orang takkan siaga, tidak menduga. Di saat kau kira dia waras dan normal, mungkin saat itulah dia akan memotong hidungmu untuk umpan anjing. Setelah hidungmu hilang, kau masih juga tak percaya bahwa dia benar-benar telah gila, dia yang telah melukai dirimu.

“Begitulah gambaran orang gila yang kumaksud, orang gila yang menakutkan,” Toa-hoan mengakhiri ceritanya.

“Kau pernah melihatnya?” Thiat Tin-thian bertanya.

“Aku tidak pernah melihatnya. Semula kukira selama hidup aku tak akan melihatnya,” setelah menghela napas, Toa-hoan menambahkan, “Sayang sekali, tak lama lagi aku akan melihatnya, bahkan berhadapan langsung dengan dia.”

Mendadak Cia Giok-lun mengulurkan tangan menarik lengannya, “Apa betul dia ke mari?”

“Dia pasti datang,” ujar Toa-hoan. “Jui-ham-yan telah mengundangnya ke mari.”

“Setelah kau melihat batu hitam itu, kau tahu bahwa dia sudah datang?” tanya Ma Ji-liong.

“Betul,” sahut Toa-hoan. “Di kolong langit ini, batu-batu hitam bulat seperti itu hanya ada di tempat tinggalnya sana.”

“Dia tinggal di mana?” tanya Ji-liong.

“Di lembah mati,” sahut Toa-hoan. “Lembah mati yang tak ada apa-apanya, yang ada hanya batu-batu bulat hitam mengkilap.”

Dengan suara tertekan ia bercerita lebih jauh, “Lembah itu tak pernah diinjak manusia, lembah yang kering kerontang, burung juga susah hidup di sana, apalagi manusia. Tetapi berbeda dengan manusia yang satu itu, ternyata dia bisa bertahan hidup, malah hidup panjang hingga sekarang.”

“Kenapa dia tinggal di lembah seperti itu?”

“Manusia adalah manusia. Meski dia gila, sebetulnya tidak mau dan tak rela tinggal di lembah mati itu, tapi ada orang yang memaksanya.”

“Siapa yang memaksa dia?”

“Di dunia ini hanya seorang yang bisa dan mampu memaksa dia,” demikian tutur Toa-hoan. “Hanya orang itu yang bisa memaksa dia melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan,” tuturnya. Mendadak Toa-hoan bertanya, “Tahukah kalian, tiga puluh tahun yang lalu, di kalangan Kangouw pernah muncul seorang tokoh besar bernama Bu-cap-sah?”

“Bu-cap-sah?” Ma Ji-liong mengulang nama itu.

“Ya, Bu-cap-sah, artinya Tiga Belas Tidak Punya.”

“Kenapa dia bernama Bu-cap-sah?”

“Katanya dia tidak punya she, tidak punya nama, tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya abang, tidak punya adik laki, tidak punya kakak, tidak punya adik perempuan, tidak punya bini, tidak punya putra, tidak punya putri dan tidak punya kawan.”

“Kan hanya dua belas ‘tidak punya’?” tanya Ma Ji-liong. “Satu lagi tidak punya apa?”

“Tidak punya tandingan.”

“Tidak punya tandingan?” Ma Ji-liong tidak percaya. “Betulkah dia tidak punya tandingan?”

“Tiga puluh tahun yang lalu, dalam usia dua puluh tiga tahun, dia sudah menyapu jagat tanpa menemukan tandingan, kepandaian silatnya tiada bandingan di seluruh dunia.”

Ma Ji-liong masih tidak percaya, “Peristiwa yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu sebetulnya masih belum terlalu lama, kenapa sampai sekarang belum ada orang yang tahu?”

Mendadak Thiat Tin-thian menimbrung, “Ada orang yang tahu, banyak yang tahu, aku juga tahu.” Thiat Tin-thian berkata penuh keyakinan. “Tahun itu kebetulan aku berusia 19 tahun, tepatnya hari raya Ciong-yang, aku mendengar orang membicarakan tentang dirinya.”

“Kau masih ingat dengan jelas?” tanya Ma Ji-liong.

“Sudah tentu jelas, karena hari itu kebetulan hari kelahiranku,” Thiat Tin-thian bercerita. “Pada hari ulang tahunku itu, kebetulan dia berhasil mengalahkan Lian San-hun.”

Lian San-hun adalah jago silat paling top di masa itu. Dengan Heng-hun-jik-jit dan Si-cap-kau-kiam, dia malang melintang di Kangouw, terutama 49 Jurus Ilmu Pedang Penyapu Mega Menutup Matahari itu teramat lihai, jelas tidak asor dibanding Wi-hong-bu-liu Si-cap-kau-kiam ciptaan Ko-tojin dari Pa-san.

“Setelah berhadapan, belum sempat dia melancarkan ilmu pedangnya yang 49 jurus itu, Lian San-hun sudah roboh binasa secara mengenaskan. Dikalahkan oleh pemuda yang baru terjun di dunia persilatan.”

“Lian San-hun dikalahkan oleh Bu-cap-sah?” tanya Ma Ji-liong.

“Waktu itu aku tidak tahu siapa dia, aku hanya pernah mendengar ada seorang jago pedang tersohor di seluruh jagat bernama Yan Cap-sah. Tapi tiga bulan kemudian, aku selalu mendengar orang bercerita tentang Bu-cap-sah seorang,” tutur Thiat Tin-thian, lalu ia menekankan, “Tiga bulan tepat, sembilan puluh hari.”

Tak tahan Ma Ji-liong bertanya lagi, “Bagaimana kau ingat bahwa tepat sembilan puluh hari dia menggegerkan dunia persilatan?”

“Karena dari hari raya Ciong-yang hingga tanggal 8 bulan 11 tepat 90 hari. Dalam jangka waktu 90 hari itu dia berhasil mengalahkan 43 jago-jago silat kosen yang paling terkenal pada masa itu,” demikian tutur Thiat Tin-thian. “Yang terakhir dia kalahkan adalah Ciangbunjin Thiat-kiam-bun. Saat itu dia sedang berkumpul dengan anak muridnya, akan berpesta makan bubur ayam campur tiram. Belum ada satu gebrakan, Ciangbunjin Thiat-kiam-bun ini dikalahkan lalu dijungkir-balikkan ke dalam wajan di mana bubur ayam sedang dimasak.”

“Selanjutnya bagaimana?”

“Selanjutnya tidak ada.”

“Tidak ada? Apa maksudnya tidak ada?”

“Tidak ada, maksudnya sejak hari itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi,” Thiat Tin-thian bercerita. “Selanjutnya, tiada orang persilatan yang mendengar kabar beritanya, tiada orang yang pernah melihat jejaknya.”

“Apa betul tiada orang yang tahu ke mana dia pergi?”

“Ya, tidak ada.”

“Ada,” tiba-tiba Toa-thoan menyeletuk. “Ada orang yang tahu di mana dia berada, akulah orangnya.”

Apa yang aku tahu, orang lain pasti tidak tahu.

Suatu hari, entah dengan cara apa Bu-cap-sah berhasil menemukan Bik-giok-san-ceng dan meluruk ke sana. Sehari menjelang tutup tahun, jadi pada saat orang-orang mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya tahun baru, Bu-cap-sah menantang bertanding dengan Bik-giok Hujin di Pui-kui-poh di luar Bik-giok-san-ceng.

Bik-giok Hujin memiliki kepandaian silat yang tiada taranya, tiada kaum persilatan yang tahu sampai di mana taraf kepandaiannya. Yang pasti, belum pernah ada tokoh lihai mana pun yang mampu mengalahkan dia. Maka dalam duel seru di luar Bik-giok-san-ceng itu, Bu-cap-sah akhirnya kalah setelah bertempur ratusan jurus. Kemampuan Bu-cap-sah sudah memecahkan rekor dari para lawan yang pernah berhadapan dengan Bik-giok Hujin. Tidak ada orang yang bisa mengalahkan dirinya, sejak dulu hingga saat ini, belum ada yang mampu mengalahkan dia.

Anehnya, di luar kebiasaan, Bik-giok Hujin tidak membunuh lawannya yang kurang ajar ini, tapi hanya mengurung atau tepatnya menghukumnya di dalam lembah mati. Bu-cap-sah diharuskan bersumpah selama hidup takkan keluar dari lembah itu dan membuat onar lagi di luar.

Rumput atau pohon tidak tumbuh, burung pun tidak bisa hidup di lembah itu. Seperti juga Sing-siok-hay yang terletak di kutub utara, dingin lagi belukar, belum pernah ada manusia yang hidup di tempat itu.

Sejak saat itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi. Riwayatnya menjadi legenda kaum persilatan, namun lekas sekali keperkasaannya sudah dilupakan orang.

Toa-hoan berkata, “Tapi aku tidak pernah melupakan dia, karena Hujin sering bilang kepada kami, di dunia ini hanya ada seorang yang bisa hidup di lembah mati, orang itu pasti hanya Bu-cap-sah saja. Kalau dia mampu bertahan hidup di sana, bila dia merasa dirinya sudah mampu menuntut balas, akan datang suatu hari dia pasti akan melanggar sumpah, keluar dari lembah dan merajalela di dunia Kangouw.”

Ma Ji-liong berkata, “Apakah lembah mati itu hanya dihuni dia seorang saja?”

“Ya, hanya dia seorang,” sahut Toa-hoan.

“Tapi kenyataannya ia punya delapan puluh empat orang anak buah yang cekatan.”

Toa-hoan menghela napas, katanya, “Mungkin Hujin sendiri tidak menduga, entah bagaimana dia bertahan hidup di lembah itu, juga takkan menyangka orang-orang itu juga bisa hidup di tempat gersang itu. Tapi Hujin juga pernah bilang, suatu yang tidak bisa dilakukan orang lain, Bu-cap-sah pasti bisa dan mampu melakukannya.”

Keadaan di luar semula amat tenang dan sepi. Mendadak berkumandang tawa seseorang yang lantang. Dengan nada riang dan bangga, seseorang berkata di luar, “Banyak terima kasih atas pujian Toa-siocia dan Toa-kohnio. Sebetulnya aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya saja nasibku memang jauh lebih mujur dibanding orang lain, itu saja.”

Dari suaranya, dapat diperkirakan jarak pembicaraan dengan rumah ini masih cukup jauh, tapi setiap patah kata yang diucapkannya dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada di dalam rumah.

Setiap patah kata pembicaraan Ma Ji-liong dengan Toa-hoan di dalam rumah juga ternyata dapat didengarnya dengan jelas.

Sambil mendongak, Toa-hoan bertanya, “Kaukah Bu-cap-sah?” Sengaja ia bicara dengan nada rendah, suaranya tidak keras.

“Ya, aku di sini,” sahut orang di luar itu.

Sengaja Toa-hoan menghela napas, katanya, “Kupingmu sungguh tajam, lebih tajam dibanding telinga kelinci.”

Toa-hoan sengaja memancing amarah orang di luar itu, supaya orang menerjang masuk ke dalam dan mudah disergap atau dijebak. Ternyata orang di luar juga cerdik, dia hanya bergelak tawa, tawa yang riang malah, “Telingaku memang amat tajam, hasil latihanku selama beberapa tahun di lembah yang sepi itu. Aku hidup sebatang kara dua puluh tahun di lembah mati, suara apa pun tidak kudengar. Saking sebal dan pengap hampir gila rasanya, maka aku berdaya upaya untuk mendengarkan suara yang tidak mungkin didengar orang lain.”

“Suara apa?” tanya Toa-hoan.

“Umpamanya suara sepasang ular yang lagi bermain cinta di lubang istananya, kutu cilik yang merayap di tanah, ular menelan katak, rayap menggerogoti akar pohon, suara kura-kura yang sedang bertelur,” sambil tertawa Bu-cap-sah berkata dengan bangga, “Pernahkah kalian mendengar suara-suara itu? Sungguh mengasyikkan.”

“Tidak ada, pasti tidak ada orang yang dapat mendengar ular bermain cinta dan kura-kura bertelur.”

Terdengar Bu-cap-sah berkata pula, “Tapi sekarang aku bisa mendengar semua, malah mendengar dengan jelas sekali.”

Bila manusia bisa mendengar suara-suara yang mendekati gaib itu secara jelas, suara apa pula yang tidak bisa dia dengar?

Lebih jauh Bu-cap-sah berkata, “Untung sekarang aku tak perlu mendengarkan suara-suara itu.”

“Lho, kenapa? Kau tidak suka lagi?” tanya Toa-hoan.

“Ya, aku tidak perlu mendengarnya lagi. Sejak lima tahun yang lalu, aku sudah punya banyak teman untuk kuajak bicara,” demikian kata Bu-cap-sah. “Lembah mati yang semula tidak pernah dihuni manusia dan hewan, sekarang ada delapan ratus dua puluh empat orang yang bisa kuajak bicara di sana. Kusuruh mereka bilang apa, mereka mengatakan apa. Aku ingin bilang apa, mereka segera mengutarakan isi hatiku.”

“Bagaimana kau bisa mencari orang sebanyak itu untuk menemani kau bicara?” tanya Toa-hoan.

“Karena nasibku amat mujur,” Bu-cap-sah tertawa riang. “Kecuali batu hitam, di dalam lembah itu masih ada benda lain yang lebih berharga.”

“Benda apa?” Toa-hoan ingin tahu.

“Emas, emas murni,” amat riang suara Bu-cap-sah. “Kutanggung, seumur hidup kalian belum pernah melihat logam mulia sebanyak itu.”

Kalau seseorang memiliki sebongkah logam mulia bagaikan gunung, kerja apa saja yang tidak dapat dia lakukan?

Bu-cap-sah berkata lagi, “Setelah memiliki harta sebanyak itu, dari hari ke hari hidupku makin gembira, senang dan tenteram. Ilmu silatku juga setingkat lebih maju, maka timbul keinginanku keluar melihat keramaian dunia. Tujuanku yang utama sudah tentu untuk menengok Cia-hujin dan Toa-siocia. Jika bukan lantaran dia, bagaimana aku bisa kaya-raya seperti sekarang?”

Tidak tahan Toa-hoan bertanya pula, “Dari mana kau tahu Toa-siocia berada di sini?”

“Sudah tentu aku tahu,” ujar Bu-cap-sah tertawa. “Seorang yang sudah memiliki emas banyak, jarang ada persoalan di dunia ini yang tidak diketahuinya.”

“Kenapa kau tak masuk ke mari menengoknya?” Toa-hoan memancing.

“Buat apa tergesa-gesa. Sudah dua puluh tahun aku menunggu, apa salahnya aku menunggu beberapa hari lagi?”

“Apa yang kau tunggu?”

“Aku sudah menyuruh orang membeli sutera dan kain halus lainnya. Sudah kupanggil tukang jahit pakaian yang paling ahli untuk mengukur dan menjahit pakaian baru untuk Toa-siocia. Sengaja kusuruh orang ke kotaraja untuk membeli bahan-bahan rias yang termahal buatan Pek-sek-cay,” demikian ujar Bu-cap-sah dengan tawa lebar. “Setelah Toa-siocia berganti pakaian, berdandan dan dirias, aku pasti akan masuk dan bertemu dengannya. Sekarang aku tidak perlu buru-buru, aku tidak suka perempuan yang kotor.”

Riang gembira nada suaranya, tutur katanya juga sopan lagi halus. Tapi perasaan Toa-hoan seperti batu yang kecemplung air dingin. Ia tahu makna menakutkan dari perkataan Bu-cap-sah.

Bu-cap-sah menyenangi gadis yang didandani, gadis yang sudah bersolek, molek jelita. Bila Cia Giok-lun sudah kelihatan ayu, ia siap mempersuntingnya. Biasanya kaum lelaki hanya memakai satu cara untuk menyenangkan perempuan. Demikian pula bila lelaki akan memberi hajaran, menuntut balas kepada perempuan, juga menggunakan cara yang satu ini.

Sudah tentu Thiat Tin-thian maklum cara apa yang akan digunakan orang gila itu. Mendadak ia bertanya pada Toa-hoan, “Apakah dia manusia?”

“Kelihatannya mirip,” sahut Toa-hoan.

“Bagus sekali,” seru Thiat Tin-thian. “Kalau dia manusia, aku juga manusia, kenapa aku tidak keluar menemuinya?”

Bu-cap-sah yang ada di luar segera berkata, “Silakan keluar, lekas keluar, di sini aku sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan. Kutunggu kehadiran kalian di luar.”

Thiat Tin-thian tertawa besar, katanya, “Memang aku ingin makan minum dengan lahap dan sepuasnya.” Mendadak ia bertanya pada Ong Ban-bu, “Kau ikut tidak?”

Ong Ban-bu segera berdiri, katanya, “Aku juga ingin makan.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: