Kumpulan Cerita Silat

22/04/2008

Darah Ksatria: Bab 27. Batu Hitam

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 11:49 pm

Darah Ksatria
Bab 27. Batu Hitam
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Mega putih, langit membiru. Di kejauhan masih ada bangunan rumah, ada toko, suara orang dan keributan yang lazim terjadi dalam perkampungan. Langit tetap membiru, kehidupan dalam toko itu pun masih berlangsung, tapi kehidupan dalam toko serba ada ini bukan lagi milik Ma Ji-liong sendiri, seolah kehidupan sejati makin jauh meninggalkan Ma Ji-liong.

Selepas mata Ma Ji-liong memandang, yang terlihat hanya tanah kosong belaka. Sekian lama ia menjumblek, kaget dan tidak mengerti, bagaimana perubahan ini berlangsung. Waktu ia menoleh, dilihat Thio-lausit sedang menggeliat dan menguap, seperti baru sadar dari pulasnya, entah sadar karena mabuk, atau karena sedih dan mendelu? Atau dari tidur pulas sungguhan? Ada kalanya orang sadar lebih celaka daripada tidur, lebih enak mabuk saja, karena begitu ia membuka mata, seketika ia membelalak, kecuali kaget, heran dan juga ngeri.

Ma Ji-liong bertanya kepada Thio-lausit, “Apa yang kau saksikan?”

“Tidak ada yang kusaksikan,” sahut Thio-lausit. “Apa pun tidak menyaksikan.” Tidak menyaksikan apa pun adalah amat menakutkan dibanding kau melihat sesuatu yang mengerikan, tidak tahu seolah-olah ditakdirkan menjadi ketakutan yang terbesar dan mendalam dalam kehidupan manusia.

Ma Ji-liong berkata pula, “Umpama mereka mengurung kita hingga mati kelaparan di sini, sebetulnya tak perlu membongkar rumah-rumah penduduk itu, mereka kan bisa bersembunyi di rumah-rumah itu untuk menyelidik keadaan kita di sini dari dekat.” Ma Ji-liong tak habis mengerti, kenapa rumah-rumah penduduk dibongkar hingga rata dengan tanah dan daerah perkampungan itu menjadi tanah kosong. Dengan mengajukan pertanyaan, Ji-liong berharap Thio-lausit bisa memberi keterangan kepadanya, ikut memecahkan teka-teki ini.

Belum Thio-lausit menjawab, dari arah barat muncul barisan 28 pemuda berpakaian hitam ketat, mereka muncul dengan berbaris rajin dan rapi, langsung menuju ke depan tokonya. Ma Ji-liong dapat membedakan ke-28 pemuda yang ini bukan barisan yang tadi, namun mereka terdiri pemuda-pemuda kekar dan kuat juga, sama-sama berseragam hitam, hanya pakaian mereka masih kering, belum basah oleh keringat, karena mereka belum bekerja berat. Yang mereka bawa juga bukan kantong kain hitam, tapi keranjang bambu hitam.

Keranjang bambu ini kelihatan lebih berat karena isinya batu-batu hitam berbentuk bulat seperti bola hitam mengkilap hingga kelihatan seperti mutiara hitam. Sudah dua puluh tahun lebih Ji-liong hidup di dunia ini, tak pemah ia melihat batu seperti itu, susah ia mengenali anak buah siapakah pemuda-pemuda gagah tegap dan cekatan ini. Batu hitam bulat dan mengkilap seperti itu jelas susah ditemukan meski hanya satu atau dua butir saja. Gembong-gembong silat Kangouw yang mampu memelihara atau mendidik pemuda-pemuda berseragam hitam seperti mereka juga hanya beberapa gelintir saja.

Yang lebih aneh lagi, pemuda-pemuda itu menata batu-batu dalam keranjang bambu itu di atas tanah secara teratur, rapi dan rapat baris demi baris, mirip petani yang sedang menanam padi di sawah. Gerakan mereka rapi dan rajin serta seirama lagi cepat, tanah kosong yang berlumpur itu seketika tertutup oleh taburan batu hitam itu.

Lekas sekali keranjang bambu para pemuda Itu sudah kosong, kejap lain mereka sudah berlari pergi dengan derap yang tetap rapi. Belum lenyap bayangan ke-28 pemuda yang ini, dari arah Timur muncul lagi 28 pemuda lain dalam bentuk barisan yang sama, berseragam hitam juga membawa keranjang bambu hitam berisi batu-batu bulat warna hitam mengkilap pula, derap langkah mereka mirip pasukan kerajaan yang sedang mengadakan upacara di halaman istana.

Ma Ji-liong ingin bertanya pada Thio-lausit, apakah ia tahu anak buah siapa gerangan para pemuda ini? Atau menerka dari mana asal mereka? Entah apa yang sedang dilakukan oleh para pemuda itu?

Ma Ji-liong belum sempat bertanya karena mendadak dilihatnya perubahan yang ganjil pada wajah Thio-lausit. Sejak tadi Thio-lausit bersikap acuh tak acuh, malas dan mengantuk, namun sorot mata yang tadi guram kini mencorong terang dengan menampilkan rasa takut dan ngeri. Tanpa diperintah atau diminta oleh Ma Ji-liong, mendadak ia memburu keluar. Dengan kecepatan yang luar biasa, satu persatu ia pasang daun pintu toko serba ada dan menutupnya rapat. Padahal tadi ia bersikap bandel untuk tetap membuka toko ini seperti biasa supaya tidak menarik kecurigaan musuh, mengapa sekarang tanpa diminta ia malah menutup toko?

Ma Ji-liong melenggong, diam saja mengawasi kelakuan pegawainya yang aneh. Tiba-tiba Thio-lausit menarik lengannya terus diseret masuk ke dalam rumah. Hanya sinar pelita yang menerangi keadaan rumah itu, remang-remang saja di dalam. Tiga orang yang ada di dalam rumah kelihatan amat lesu dan kuyu. Tanpa bicara, begitu masuk Thio-lausit merogoh kantong di balik bajunya mengeluarkan sebuah botol hitam dari kayu, langsung ia angsurkan kepada Thiat Tin-thian. “Ini untukmu,” suaranya gugup gelisah. “Makan dulu separuh, sisanya makan lagi setengah jam kemudian, kunyah dulu baru ditelan.”

Sudah tentu Thiat Tin-thian bertanya, “Ini apa?”

“Itulah Bik-giok-cu,” ujar Thio-lausit. “Dalam jangka setengah jam setelah kau makan obat itu, luka dalammu yang parah akan sembuh setengah bagian. Menjelang magrib nanti kau telan lagi sisanya yang separuh, tengah malam nanti kekuatanmu akan pulih delapan bagian dari keadaan semula.” Mendadak ia menghela napas, lalu katanya pula, “Semoga kau kuat bertahan hingga saatnya nanti.”

Mendengar ‘Bik-giok-cu’, bola mata Thiat Tin-thian seketika bercahaya. Tubuhnya bergetar keras, ia tahu obat dalam botol kayu hitam yang ia pegang sekarang adalah obat mujarab, satu-satunya obat penyembuh yang dapat menolong dirinya di kolong langit ini, obat mujizat yang tak ternilai harganya. Tetapi Thiat Tin-thian tidak segera menelannya, ada beberapa persoalan yang ingin ia ketahui lebih dulu, maka ia bertanya, “Siapa kau?” Pertanyaan itu ditujukan kepada Thio-lausit, lalu sambungnya, “Dari mana kau bisa memiliki Bik-giok-cu ini?”

“Semua itu tiada sangkut-pautnya dengan kau. Pokoknya lekas kau makan obat itu dan sembuh, titik.”

“Siapa bilang tiada sangkut pautnya,” tegas jawaban Thiat Tin-thian. “Selama hidup belum pernah Thiat Tin-thian menerima kebaikan atau bantuan orang lain. Kalau aku tidak tahu kau siapa, mana boleh aku menerima obatmu?” Laki-laki yang tegas membedakan budi dan dendam, lebih rela mati daripada hutang budi kepada orang lain, mati pun tidak mau berhutang budi kepada orang yang tidak dikenalnya.

Mendadak Ma Ji-liong menyeletuk, “Kau boleh menerima obatnya, juga harus menerima budi pertolongannya, malah tidak perlu kau membalas kebaikannya.”

“Kenapa?” tanya Thiat Tin-thian.

“Karena dia adalah temanku, demikian pula kau,” tandas ucapan Ma Ji-liong.” Antara kawan, peduli siapa untuk siapa, tidak perlu menyinggung soal balas membalas kebaikan.”

Tanpa bicara lagi, Thiat Tin-thian membuka tutup botol, lain menuang separuh isi obat di dalamnya ke mulut serta ditelan begitu saja.

Mendadak Ong Ban-bu menghela napas lega, katanya pula, “Thiat Tin-thian, sekarang boleh kau bunuh aku saja, sekarang mati pun aku tidak menyesal.” Sekarang ia sudah tahu, orang yang mengalahkan dirinya jelas bukan tokoh sembarangan, karena hanya murid Bik-giok Hujin yang mempunyai Bik-giok-cu. Kalah di tangan anak murid Bik-giok Hujin jelas bukan peristiwa yang memalukan. Kenyataan dirinya sudah kalah, kecundang, mati pun tak perlu menyesal.

Walau Ong Ban-bu tidak menjelaskan, namun Thiat Tin-thian cukup maklum perasaan hatinya. Kini siapa pun berani memastikan bahwa Thio-lausit adalah anak murid Bik-giok Hujin. Selama seratus tahun terakhir ini, belum pernah ada berita yang menyatakan Bik-giok Hujin menerima murid laki-laki, maka dapat dipastikan bahwa Thio-lausit yang satu ini adalah penyamaran seorang perempuan, seorang gadis.

Ma Ji-liong menatapnya lekat, sepatah demi sepatah ia berkata, “Sekarang apakah belum tiba saatnya kau berterus terang?”

“Berterus terang tentang apa?” tanya Thio-lausit.

“Berterus terang bahwa kau adalah Toa-hoan.”

Akhirnya Thio-lausit menghela napas panjang, ujarnya kemudian, “Betul, aku memang Toa-hoan.”

Pegawai jujur yang tidak jujur ini memang betul adalah Toa-hoan. Bukan Toa-hoan yang berarti mangkuk besar, mangkuk besar yang sering dipakai nyonya rumah di dapur, tapi Toa-hoan yang satu ini adalah nama seorang gadis, gadis yang berdarah daging, manusia tulen, gadis yang berani berbuat berani bertanggung jawab, Toa-hoan yang selama ini membuat Ma Ji-liong rindu, gadis jelek yang membuat Ma Ji-liong kasmaran.

Apa selama ini Toa-hoan juga merindukan Ma Ji-liong? Jika muda-mudi ini sama-sama merindukan lawan jenisnya, kenapa selama tiga bulan lebih ia tega merahasiakan dirinya, tidak memberitahu kepada Ma Ji-liong-liong bahwa dirinya menyaru menjadi Thio-lausit, pegawainya yang jujur dan setia?

Ma Ji-liong tidak habis mengerti, hati perempuan memang sukar dijajaki, tak mudah diselami.

Toa-hoan sudah mengulur tangannya. Begitu ujung jarinya menyentuh tangan Ma Ji-liong, lekas ia menyurut mundur lagi. Tidak ada orang yang lebih kuasa mengendalikan perasaan hatinya seperti dia. “Tenaga Thiat Tin-thian akan segera pulih, Ong Ban-bu tidak perlu mati, demikian pula engkau,” suara Toa-hoan dingin. “Asal ada kesempatan, kalian harus menerjang keluar.”

Ma Ji-liong juga berusaha menahan gejolak hatinya, tapi tak tahan ia bertanya, “Dan kau bagaimana?”

“Aku……” Toa-hoan tergagap.

Mendadak Cia Giok-lun berteriak, “He, kenapa kalian tak bertanya pada diriku? Bagaimana nasibku nanti?”

Pelahan Toa-hoan membalik badan menghadapi Cia Giok-lun. Cia Giok-lun melotot gusar penuh emosi, wajahnya dilembari dendam dan kebencian. “Kenapa kau membuatku celaka begini rupa?” pekiknya dengan suara tersendat.

“Aku memang bersalah, berdosa terhadapmu,” kata Toa-hoan. “Tapi kau harus percaya kepadaku, maksudku baik, aku tidak akan membuatmu celaka.”

“Tapi kenapa kau lakukan semua ini?”

“Supaya tugas yang kuemban tidak sia-sia, dapat menunaikan tugas dengan baik, aku harus mencegah kau menikah dengan Khu Hong-seng,” demikian jawab Toa-hoan. “Sejak kecil kita dibesarkan bersama, maka aku tidak boleh berpeluk tangan melihat kau menikah dengan orang yang keji, licik dan munafik itu.”

Ma Ji-liong memekik kaget, “Jadi dia ini putri kesayangan Bik-giok Hujin?”

“Betul,” sahut Toa-hoan. “Cia-hujin mengundang kalian berempat berkumpul di Han bwe-kok, maksudnya untuk memilih seorang di antara kalian sebagai calon menantunya.”

“Jadi hari itu kau juga berada di Han-bwe-kok?” tanya Ma Ji-liong.

Toa-hoan manggut, “Ya, aku ada di sana waktu kejadian itu berlangsung, aku mengikuti seluruh peristiwa itu.”

Siapa saja bila menyaksikan peristiwa itu serta mengikuti perkembangan selanjutnya, pasti berkesimpulan dan menuduh Ma Ji-liong sebagai pembunuhnya, biang keladi dari rentetan kasus yang berbuntut panjang itu.

Toa-hoan berkata, “Tapi aku berpendapat, dari pengamatanku di belakang tabir, di balik peristiwa ini tentu ada muslihat keji yang terselubung.”

“Kenapa kau berkesimpulan demikian?” tanya Ma Ji-liong.

“Karena kejadian yang berlangsung secara ‘kebetulan’ dalam peristiwa itu terlalu banyak,” Toa-hoan menjelaskan. “Aku tidak percaya kejadian yang selalu kebetulan.” Liang lahat di tanah bersalju, batu jade milik Siau-hoan, tusukan tombak Kim Tin-lin yang tepat mengenai mainan kalung, Coat-taysu dan Peng Tio-hoan muncul pada saat yang tepat dan lain-lain, semua itu terjadi secara kebetulan. Peristiwa yang terjadi secara kebetulan, umumnya sudah diatur secara rapi, sudah direncanakan dengan sempurna.

Lebih lanjut Toa-hoan berkata, “Cia-hujin mengutus aku sebagai juri dengan tugas memilih calon menantunya. Aku mendapat kepercayaan penuh, tugas dan kewajibanku tidak ringan, apalagi peristiwa ini menyangkut masa depan Toa-siocia, maka aku hrus bekerja secara hati-hati dan teliti. Setelah menghadapi persoalan rumit itu, aku tak berani mengambil keputusan.” Toa-hoan mengawasi Ji-liong, “Oleh karena itu, sengaja kubiarkan kau melarikan diri, aku belum yakin bahwa kaulah biang keladi kasus ini, aku masih ingin memancing dan mencoba dirimu, aku ingin tahu dari dekat, orang macam apa sebetulnya kau ini?”

Terpendam di bawah salju, sengaja memperlihatkan rambut kepala sambil merintih lemah, itulah percobaan pertama. “Kalau kau tidak berhenti dan menolong aku dari timbunan salju itu, hari itu juga aku sudah membunuhmu.”

Pembunuh yang lagi buron pasti tak mau menolong gadis jelek yang tidak pernah dikenalnya, menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, apalagi Ji-liong menyerahkan jaket berbulu dan kudanya kepada orang yang telah ditolongnya.

Tapi percobaan pertama belum memuaskan, belum meyakinkan bahwa Ji-liong bukan pembunuhnya, maka perlu dilanjutkan dengan percobaan demi percobaan.

“Setelah beberapa kali kucoba, akhirnya aku percaya kau bukan orang jahat, kau orang baik, hanya sifatmu saja yang terlalu angkuh. Aku menjadi curiga terhadap Khu Hong-seng,” demikian tutur Toa-hoan lebih lanjut. “Rencananya memang amat rapi dan sempurna, susah aku melihat titik kelemahan muslihatnya. Walau aku tahu kau terfitnah dalam kasus ini, namun aku tak berdaya menolong kau membersihkan diri.” Setelah menghela napas panjang Toa-hoan melanjutkan, ” Aku tak punya bukti. Untuk membuat Cia-hiujin percaya bahwa kau tidak berdosa dalam kasus ini, aku harus punya bukti.”

Ma Ji-liong menyengir tawa, tawa yang getir, “Umpama Cia-hujin percaya, Coat-taysu dan lain-lain pasti tidak mau percaya. Aku tetap menjadi kambing hitam di tangan mereka.”

Seorang yang sudah dianggap atau dituduh pembunuh kejam oleh orang-orang gagah dan pendekar, apalagi tokoh seperti Coat-taysu yang disegani dalam Bu-lim, mana mungkin menjadi calon menantu Bik-giok Hujin.

“Belakangan baru aku tahu,” tutur Toa-hoan lebih lanjut. “Di saat aku menguntit dirimu, sebelum tugas selesai, penyelidikanku juga belum mencapai hasil, kudengar Cia-hujin sudah mengambil keputusan untuk memilih Khu Hong-seng sebagai calon menantu, malah hari pernikahan juga sudah ditetapkan.”

Mendadak Ong Ban-bu menyeletuk, “Aku juga mendengar berita itu.”

“Putusan yang sudah ditentukan Cia-hujin, jarang diubah, meski nasi sudah menjadi bubur juga tidak menyesal,” demikian ucap Toa-hoan sinis. “Kecuali aku dapat mencari bukti bahwa peristiwa ini adalah rencana busuk Khu Hong-seng, Khu Hong-seng adalah biang keladi atau pembunuh utamanya.”

Toa-hoan sudah bekerja keras, dibantu Ji Ngo lagi, namun sukar baginya menemukan bukti yang diharapkan.

Khu Hong-seng memang cerdik pandai, ia bekerja secara rapi dan penuh perhitungan, orang sukar menemukan kesalahannya. Lebih hebat lagi secara gamblang ía sudah memaparkan kunci persoalai peristiwa ini, secara blak-blakan bicara dengan Ma Ji-liong, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Umpama Ji- liong ganti memaparkan persoalan ini seperti apa yang diakui Khu Hong-seng kepada orang lain, penegak hukum pun takkan mau percaya. Memang sulit bagi Ji-liong untuk mengetengahkan alasannya. Bukan saja tak percaya, orang lain justru beranggapan Ji-liong sengaja memfitnah Khu Hong-seng, bahkan akan lebih meyakinkan lagi bahwa dialah pembunuh atau biang keladi dalam kasus ini.

Khu Hong-seng memang cerdas, sengaja ia meletakkan dirinya pada posisi yang paling celaka, pada kedudukan yang tidak menguntungkan, lalu secara licin meloloskan diri tanpa meninggalkan jejak, karena ia tahu dan mahfum titik kelemahan sifat manusia umumnya.

Toa-hoan menghela napas pula, “Rencana itu bukan saja rapi dan sempurna, juga telak, untuk itu harus diacungi jempol. Meski gagal menemukan bukti, gagal membongkar kejahatan Khu Hong-seng, aku tidak rela dan tidak boleh berpeluk tangan menyaksikan Toa-siocia dipersunting oleh keparat itu.”

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas, “Waktu ibu mengumumkan pilihannya, aku sudah berangkat dari Bik-giok-san ceng. Bukan mencari Khu Hong-seng, tapi mencari kau.”

“Aku mengerti,” lembut suara Toa-hoan. “Meski perkataanmu kasar, sikapmu garang, namun aku tahu di dalam hatimu kau masih menganggap aku sebagai saudara kandungmu sendiri.”

Cia Giok-lun menyengir kecut, katanva, “Tapi mimpi pun aku tidak menduga, mendadak kau menutuk Hiat-toku.”

“Untuk menjernihkan suasana, untuk menunda perkembangan lebih lanjut, terpaksa aku harus mengamankan kau lebih dulu,” demikian Toa-hoan menjelaskan.

Toa-hoan perlu waktu untuk mencari bukti, ia bekerja sepenuh tenaga untuk membongkar kasus ini, maka jalan pendek yang perlu segera dilakukan adalah mengamankan Cia Giok-lun, memaksa Cia-hujin mengulur waktu atau menunda pernikahan putrinya. Jika mempelai perempuan mendadak lenyap tak keruan parannya, upacara nikah tentu tak bisa dilangsungkan.

“Setelah kupikir-pikir, cara yang terbaik adalah kalian harus disembunyikan bersama. Kecuali orang banyak sukar menemukan kalian, sekaligus kalian bisa bertatap muka, berkumpul dan hidup dalam satu rumah. Aku yakin dengan cara yang kugunakan ini, kau akan memperoleh kesempatan menyelami dan memahami orang macam apa sebetulnya Ma Ji-liong,” ujar Toa-hoan lebih lanjut. “Sengaja pula kuberi kesempatan padanya supaya tahu kau adalah gadis jelita, perempuan sempurna, maksudku untuk mencoba dia pula dalam kamar gelap itu, apakah dia kuat menguasai dirinya.”

“Untuk menjaga segala sesuatu, maka kau ikut menyamar dan tinggal di sini juga,” ujar Cia Giok-lun. “Agaknya kau belum lega, kau masih kuatir, maka kau masih harus mengawasi dari dekat.”

Toa-hoan mengangguk, katanya, “Kalau dia berani berbuat tidak senonoh terhadap kau, aku tidak akan membiarkan dia hidup sampai sekarang.”

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas. “Kau tidak salah menilai dia,” suaranya mendadak berubah menjadi halus. “Dia memang bukan orang jahat.”

Ma Ji-liong pasang kuping, mendengarkan saja, kunci persoalan berlika-liku, sekarang ia baru mengerti duduknya persoalan.

Thiat Tin-thian mendadak menghela napas, katanya, “Dia memang orang baik, kejadian ini sebetulnya kejadian baik, sayang sekali dia berkenalan dengan orang jahat.”

“Kawan adalah kawan,” Ma Ji-liong memberi komentar. “Kawan tidak perlu diperdebatkan baik atau buruk, karena kawan hanya ada satu macam. Jika ia bersalah terhadapku, mengkhianati aku, maka ia tak setimpal menjadi kawanku, tidak patut ia disebut kawan.” Sikapnya serius lagi keren, lanjutnya, “Aku tidak percaya adanya setan atau malaikat, aku hanya percaya kepada kawan.”

Ji-liong percaya kepada kawan, karena dia tidak pernah keliru mengartikan makna dari kebesaran dan keluhuran ‘kawan’ itu. Kawan memang hanya sebuah kata, satu pengertian yang agung, suci dan serius. Kawan tak boleh diartikan secara bengkok, juga tidak boleh dianggap remeh.

“Aku tahu maksudmu,” kata Thiat Tin-thian. “Tapi kalau kau tidak punya kawan seperti aku, penyamaranmu takkan terbongkar, sekarang kau masih aman sebagai pemilik toko ini. Apa yang telah terjadi, akulah yang membuatmu celaka.”

“Apakah kau menyesal berkawan dengan aku?” tanya Ma Ji-liong. “Atau kau akan memaksa aku menyesal telah berkawan denganmu?”

“Aku tidak menyesal,” ujar Thiat Tin-thian. ” Aku tahu kau pun pasti tidak menyesal.”

Didorong oleh ‘persahabatan’ yang kekal, mereka memang tidak kenal apa artinya ‘menyesal’.

Tiba-tiba Ong Ban-bu menghela napas, “Melihat persahabatan dua kawan seperti kalian, aku baru sadar, selama aku hidup hingga sekarang belum pernah aku punya kawan sejati.”

Rahasia penyamaran Ma Ji-liong memang terbongkar lantaran Thiat Tin-thian, lalu bagaimana dengan Toa-hoan? Kalau bukan karena Ma Ii-liong, siapa yang tahu Thio-lausit adalah samaran Toa-hoan? Siapa pula yang tahu kalau dia adalah murid Bik-giok-san-ceng? Kalau bukan karena Ma Ji-liong, mana mungkin rencananya terbengkalai dan gagal di tengah jalan? Tapi ia tidak marah, tidak mengomel, juga tidak menyesal. Kalau bukan karena Ma Ji-liong, bahwasanya ia tidak akan melakukan semua ini.

Ma Ji-liong bertanya, “Waktu kami terkepung, kaukah yang menolong kami dengan kabut hijau itu?”

“Ya,” Toa-hoan menerangkan. “Kabut hijau itu dinamakan Jiu-han-yam buatan Bik-giok-san-ceng, lebih tebal dari kabut, juga lebih cepat buyar dibanding kabut. Bila asap dingin itu berkembang, apa pun tidak kelihatan meski jarimu sendiri.”

“Karena kau menggunakan Jiu-han-yam, maka mereka tahu di sini ada orang Bik-giok-san-ceng,” Ma Ji-liong mencari tahu.

“Betul, setelah mereka tahu ada orang Bik-giok-san-ceng di sini, mereka tidak berani bertindak secara gegabah,” Toa-hoan berkata. “Selama mereka tidak beraksi, asal bisa mengulur waktu, mungkin kita punya kesempatan meloloskan diri. Sayang sekali keadaan sudah jauh berbeda, kita sudah tidak punya peluang untuk mengundurkan diri dari sini.”

“Kenapa?” tanya Ma Ji-liong.

“Apa yang kau lihat di luar?” Toa-hoan balas bertanya.

“Kulihat puluhan pemuda berseragam hitam,” sahut Ma Ji-liong.

“Apa kerja mereka di luar?” tanya Toa-hoan.

“Mereka menata batu-batu hitam bulat di atas tanah.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: