Kumpulan Cerita Silat

22/04/2008

Bakti Pendekar Binal (04)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:27 pm

Bakti Pendekar Binal (04)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

“Meski Ok-jin-kok dipandang sebagai daerah maut bagi orang Kangouw, tapi kalau Yan Lam-thian mau menerjang ke sana, memangnya siapa yang mampu merintangi dia? Dulu dia sudah terjebak satu kali, sekarang dia pasti akan bertindak lebih hati-hati,” sinar matanya yang biasanya penuh tipu akal itu kini menampilkan rasa khawatir dan jeri, ia menghela napas panjang, lalu menyambung pula, “Sekali ini kalau dia datang lagi, maka kawanan Ok-jin kami ini mungkin akan berubah menjadi Ok-kui (setan jahat) semuanya ….”

“Apakah engkau yakin ilmu silatnya telah … telah pulih seluruhnya?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan gemas To Kiau-kiau menjawab, “Biarpun ilmu silatnya kini belum pulih, tapi Ban Jun-liu itu tentu sudah berhasil menemukan obat baru yang dapat menyembuhkan lukanya, kalau tidak masakah dia berani membawanya kabur dari Ok-jin-kok?!”

“Betul!” ucap Siau-hi-ji setelah berpikir sejenak. “Sementara ini ilmu silatnya tentu belum pulih, kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah mencari kalian untuk membikin perhitungan lama. Dan kalau Ban Jun-liu berani membawanya lari, kukira dia pasti yakin dapat menyembuhkan lukanya.”

“Cuma sukar diketahui bilakah lukanya akan dapat sembuh seluruhnya, bisa jadi tiga tahun atau lima tahun lagi atau mungkin delapan atau sembilan tahun pula, yang kuharap hanya semoga jangka waktu itu akan semakin lama.”

“Akan tetapi bukan mustahil saat ini juga kesehatannya sudah pulih, bukan?” Siau-hi-ji menambahkan dengan perlahan.

Tergetar To Kiau-kiau, ia tatap Siau-hi-ji dengan tajam, katanya, “Kau berharap dia sudah sembuh saat ini juga?”

Siau-hi-ji tenang-tenang saja, jawabnya dengan perlahan, “Meski bukan begitu harapanku, tapi apa pun juga kita harus berpikir dulu ke arah yang buruk.”

To Kiau-kiau terdiam sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul juga, bisa jadi saat ini ilmu silatnya sudah pulih dan mungkin pula dia sedang mencari kami ….” pandangannya tiba-tiba menerawang keluar kereta dan tiada minat buat bicara pula.

Kereta kuda itu semakin kencang larinya, cambuk si kusir terdengar menggelegar seakan-akan ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuan untuk ikut menonton pertarungan yang sengit dan menarik itu.

Siau-hi-ji juga memandang keluar kereta, gumamnya, “Saat ini Yan Lam-thian entah berada di mana? Sungguh aku sangat ingin tahu ….”

—–

Sebuah lembah kecil dikelilingi lereng dari tiga jurusan, sementara itu di lereng bukit itu sudah penuh berdiri beratus-ratus orang, bahkan di atas pohon juga sudah penuh bertengger penonton tanpa bayar.

Kereta kuda mereka berhenti di luar lembah sehingga Siau-hi-ji tidak dapat melihat suasana di tengah lembah. Hanya terdengar suara ramai orang berbincang, “Suseng (pelajar) yang kelihatan lemah lembut itu apakah betul ahli waris dari Ih-hoa-kiong? Sama sekali tak tertampak dia memiliki ilmu silat yang tinggi.”

“Tapi kabarnya di dunia Kangouw saat ini tiada orang yang lebih lihai daripada ilmu silatnya, bahkan Kang-tayhiap juga sangat kagum padanya, entah kabar ini dapat dipercaya atau tidak?” demikian yang lain menanggapi.

Segera seorang lagi menukas dengan tertawa, “Jika tidak percaya, kenapa kau sendiri tidak mencobanya?”

Orang tadi melelet lidah dan menjawab, “Buset, aku masih ingin hidup lebih lama dengan istriku yang masih muda itu.”

Lalu seorang lagi berkata dengan gegetun, “Usianya masih muda belia, tapi ilmu silatnya sudah nomor satu di dunia, orangnya cakap pula, di dunia ini rasanya tiada orang lain yang dapat melebihi dia.”

Yang lain juga menanggapi dengan kagum, “Ya, ‘Putra kebanggaan Thian’, istilah ini sungguh cocok sekali baginya. Bilamana aku dapat hidup satu hari saja seperti dia, maka puaslah aku.”

Begitulah terdengar puji sanjung di sana sini dan yang dimaksud tentulah Hoa Bu-koat adanya. Keruan kesal hati Siau-hi-ji mendengar semua itu.

“Hatimu tidak enak bukan setelah mendengar percakapan mereka itu?” tanya To Kiau-kiau dengan tersenyum.

“Siapa bilang hatiku tidak enak? Hm, aku justru sangat gembira,” jawab Siau-hi-ji mendelik.

“Ai, dia memang benar-benar ‘Putra kebanggaan Thian’, seakan-akan Thian telah memberkahi dia dengan segala hal yang membuat kagum orang, betul tidak?” kata To Kiau-kiau dengan gegetun.

“Betul tidak?” Siau-hi-ji menirukan logat orang sambil mencibir.

“Hahaha!” To Kiau-kiau tertawa. “Meski dia adalah ‘Putra kebanggaan Thian’, tapi Siau-hi-ji kita juga tidak di bawahnya, dunia Kangouw yang akan datang mungkin adalah dunianya kalian berdua.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji membuka pintu kereta dan berkata, “Aku akan pergi menonton, dan engkau?”

“Pergilah kau,” jawab To Kiau-kiau. “Akan kutunggu di sini, cuma … kau harus bekerja sesuatu bagiku.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Berusahalah membawa kedua Auyang … kedua Lo bersaudara itu ke dalam kereta ini, sanggupkah kau?”

“Asalkan keretamu muat, biarpun seluruh penonton yang hadir di sini harus kuangkat ke dalam kereta ini juga bukan soal bagiku,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Habis itu ia lantas melompat turun dan melangkah pergi, tiba-tiba ia menoleh memandang si kusir. Dilihatnya kusir itu sedang mengelus-elus berewoknya dan lagi memandangnya dengan tertawa.

Tanpa susah payah dapatlah Siau-hi-ji menyusup ke tengah-tengah orang yang berjubel terus naik ke lereng sana. Ia lihat tempat yang paling baik adalah duduk di atas pohon, dari situ dapat memandang sekelilingnya dengan jelas. Cuma sayang waktu itu semua pohon sudah penuh orang.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, ia menggeleng-geleng kepala dan bergumam, “Wah, di dunia ini ternyata banyak juga manusia yang tidak takut mati sehingga berani duduk di atas liang ular berbisa, kalau saja pantatnya kena digigit, wah ….”

Belum habis ucapannya, sebagian besar orang-orang yang nongkrong di atas pohon itu sama melompat turun dengan ketakutan. Setelah kacau balau sejenak, akhirnya diketahui bahwa orang yang bicara tadi kini sudah nongkrong sendiri di atas pohon dengan tenangnya.

Dengan sendirinya orang-orang itu penasaran dan menegur, “He, sahabat itu, kau bilang pohon ini ada liang ular, mengapa kau sendiri bertengger di situ?”

“O, apakah tadi kubilang begitu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jelas kau yang bicara begitu,” teriak orang-orang itu.

“Tapi aku kan cuma bilang banyak orang yang tidak takut mati dan berani duduk di atas liang ular, aku tidak pernah mengatakan pohon ini ada liang ularnya, mungkin kalian salah dengar,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tentu saja orang-orang itu melenggong dan juga gusar, tapi terdengar Siau-hi-ji lagi bergumam pula, “Kalau Kang-lam-tayhiap dan para nona keluarga Buyung sedang bereskan perkara di sini, bilamana ada orang berani mengacau, maka dia pasti sudah bosan hidup.”

Seketika orang-orang itu saling pandang belaka dan terpaksa menahan perasaan murka belaka, ada sebagian merambat lagi ke atas pohon, sebagian lain tidak dapat tempat di atas, terpaksa mereka anggap sial.

Dengan enak Siau-hi-ji bertengger di atas pohon sehingga segala sesuatu yang terjadi di lembah itu seluruhnya tertangkap oleh pandangannya, ia merasa tempat ini sungguh kelas utama, diam-diam ia merasa geli, pikirnya, “Seorang kalau ingin menduduki tempat yang baik memang perlu main-main sedikit.”

Dilihatnya di tanah lapang di tengah lembah sana terparkir sebuah kereta kuda, Hoa Bu-koat tampak bersandar pada pintu kereta dan seperti lagi mengobrol iseng dengan menumpang di dalam kereta.

Kang Piat-ho tampak duduk di atas batu di sebelah Hoa Bu-koat serta berulang-ulang tegur sapa dengan penonton yang mengelilingi mereka, sedikit pun tidak berlagak sebagai “pendekar besar”.

Siau-hi-ji juga melihat Lo Kiu dan Lo Sam, kedua orang itu tinggi dan gemuk sehingga sangat mencolok berada di tengah-tengah kerumunan orang.

Namun anggota keluarga Buyung belum nampak seorang pun yang datang, diam-diam para kawan Kangouw yang hadir itu sama menggrundel dan menganggap mereka terlalu sombong.

Hoa Bu-koat sendiri tidak nampak gelisah, senyum di wajahnya tetap riang gembira, setiap kali dia memandang ke dalam kereta, sorot matanya yang tajam itu berubah menjadi sangat halus.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mengepal, hatinya panas, pikirnya, “Siapa yang berada di dalam kereta? Masa Thi Sim-lan juga dibawanya kemari dan mereka sejengkal pun tak dapat berpisah?”

Sekonyong-konyong terjadi kegaduhan di sebelah sana, dua belas lelaki berbaju hitam dan pakai ikat pinggang berwarna-warni menggotong tiga buah tandu besar berbeludru hijau berlari datang. Pada tiap-tiap tandu besar itu mengikut pula sebuah tandu kecil dengan dua orang pemikul, penumpang ketiga tandu kecil ini adalah tiga pelayan molek.

Setelah tandu berhenti dan diturunkan, segera ketiga pelayan molek itu turun lebih dulu untuk menyingkap tirai pintu tandu besar, kemudian keluarlah tiga wanita cantik yang memesona setiap pengunjung.

Ketiga perempuan cantik ini adalah Buyung Siang, Buyung San dan Siau-sian-li Thio Cing. Ketiganya kini berdandan secara putri keraton, semuanya berpakaian anggun, tampaknya mereka lebih mirip nyonya keluarga bangsawan yang sedang keluar bertamu daripada jago Kangouw yang datang hendak bertempur dengan orang.

Kebanyakan pengunjung itu hanya pernah mendengar nama kesembilan kakak beradik Buyung dan jarang yang kenal wajah asli mereka, sekarang pandangan mereka jadi terbeliak, hampir semuanya melenggong kesima. Bahkan Siau-hi-ji sendiri juga hampir tidak percaya bahwa nona yang berjalan dengan lemah gemulai di bagian belakang itu adalah Siau-sian-li yang pernah malang melintang dan membunuh orang di padang rumput dahulu.

Dandanan Siau-sian-li sekarang juga sangat menarik, dia sudah menanggalkan sepatu botnya dan memakai sandal bertatahkan mutiara, celana yang sempit sudah berganti dengan gaun yang panjang sehingga gaya berjalannya tampak meliak-liuk, tidak lagi terjang sana sini seperti dahulu. Malahan mukanya kini sudah ditambah dengan pupur yang tipis.

“Memang seharusnya begini baru memper seorang perempuan!” diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli. Aneh juga, sehari-hari biasanya ia berpakaian seperti orang yang senantiasa hendak berkelahi, tapi ketika benar-benar hendak bertarung sekarang dia malah berdandan serapi ini, apakah maksud tujuannya? Jangan-jangan dia sengaja hendak membuat Hoa Bu-koat terpesona sehingga lupa daratan dan tidak sanggup berkelahi lagi.”

Pandangan Hoa Bu-koat telah beralih dari dalam kereta ke arah para nona keluarga Buyung ini. Tapi sorot matanya itu daripada dikatakan terpesona akan lebih tepat bila dikatakan terkejut dan tercengang.

Dengan berlenggang Buyung San berjalan paling depan, ia memberi hormat, lalu berkata dengan tertawa, “Maaf bila kedatangan kami ini rada terlambat sehingga Kongcu telah lama menunggu.”

Dia bicara dengan lemah lembut, mana Hoa Bu-koat mau kurang sopan di depan kaum wanita, cepat ia menjura dan menjawab dengan tersenyum, “Ah, kukira bukan nyonya yang datang terlambat, tapi Cayhe yang datang terlalu dini.”

“Kongcu benar-benar ramah, rendah hati dan halus budi, entah putri keluarga siapa yang kelak beruntung mendampingi Kongcu,” ucap Buyung San dengan tertawa.

Kedua orang bicara dengan ramah tamah seperti dua orang kenalan lama yang kebetulan bertemu di tempat pesiar, mana ada tanda-tanda bahwa maksud kedatangan mereka ini sebenarnya hendak berkelahi.

Tentu saja semua orang melongo heran, kalau melihat gelagat begini, apakah mungkin bisa terjadi pertarungan sengit? Demikian mereka sama bertanya-tanya di dalam batin.

Terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata, “Lamkiong-kongcu dan Cin-kongcu mungkin sebentar juga akan tiba?”

“Tidak, karena di rumah ada urusan, mereka sudah pulang dulu,” jawab Buyung San.

Hoa Bu-koat melengak, katanya, “Jika mereka tidak datang, lalu cara bagaimana menyelesaikan urusan ini?”

“Urusan ini kan persoalan antara kami kakak beradik dengan Kongcu,” kata Buyung San.

Segera Buyung Siang menyambung, “Urusan keluarga Buyung selamanya tidak memperbolehkan orang luar ikut campur.”

Bu-koat jadi melengak pula, katanya, “Tapi … tapi mereka kan ….”

“Betul, mereka adalah suami kami, tapi urusan istri sebagian juga tiada sangkut-pautnya dengan suami,” ucap Buyung Siang dengan tertawa, “Kami kakak beradik dari keluarga Buyung masakah mau mendapatkan suami yang suka ikut campur urusan istrinya?”

“Ya, mungkin Kongcu sendiri juga tidak suka mendapatkan istri yang suka ikut campur urusan suami,” sambung Buyung San dengan tertawa.

Begitulah kakak beradik itu bicara sambung menyambung sehingga Hoa Bu-koat berdiri terkesima tak dapat bersuara.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya, “Lelaki yang memperistrikan nona dari keluarga Buyung sungguh beruntung. Sudah jelas Lamkiong Liu dan Cin Kiam sendiri tidak berani bertarung melawan Hoa Bu-koat, tapi oleh istri mereka telah diputar balik seakan-akan suami mereka itu tidak boleh mencampuri urusan sang istri, dengan demikian nama baik mereka tidak rusak sedikit pun, bahkan orang luar akan memuji mereka memang sayang istri.”

Supaya maklum bahwa dengan kedudukan Lamkiong Liu dan Cin Kiam betapa pun mereka tidak boleh kalah bila bertarung dengan orang, tapi menghadapi Hoa Bu-koat mereka menyadari pasti kalah. Oleh sebab itulah mereka sengaja tidak hadir, cara ini benar-benar sangat cerdik.

Tapi kalau mereka mau membiarkan sang istri menghadapi Hoa Bu-koat, tentu mereka pun yakin sang istri akan menang. Hal ini pun membuat Siau-hi-ji heran, diam-diam ia meraba-raba pula tipu daya apa yang tersembunyi di balik persoalan ini.

Kang Piat-ho itu benar-benar bisa menahan perasaan, baru sekarang dia menyela dengan tersenyum. “Jika Lamkiong-kongcu dan Cin-kongcu tidak hadir, bukankah urusan ini menjadi sulit diselesaikan.”

Pandangan Buyung Siang beralih ke arah Kang Piat-ho, senyumnya mendadak lenyap, jawabnya dengan mendelik, “Siapa bilang sulit diselesaikan?”

Hoa Bu-koat berdehem, katanya dengan tersenyum, “Tapi Cayhe masakah boleh bergebrak dengan para nyonya?”

“Kenapa kau tidak boleh bergebrak dengan kami? Memangnya kami ini bukan manusia?” teriak Siau-sian-li.

Dengan tertawa Buyung San juga berkata, “Apabila Kongcu tidak sudi bergebrak dengan kami, maka diharap Kongcu jangan ikut campur urusan kami dengan Kang Piat-ho. Betapa pun Kang Piat-ho juga bukan anak kecil, masa tidak bisa membereskan urusannya sendiri?”

Dia tertawa dengan lembut, tapi ucapannya setajam sembilu. Para pengunjung sama melengak, mereka menduga Kang Piat-ho pasti tidak dapat menerima olok-olok begitu.

Siapa tahu Kang Piat-ho tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum, “Setiap kawan Kangouw tahu bahwa selama hidupku tidak suka melukai orang lain, apalagi terhadap para nyonya? Lebih-lebih hanya karena sedikit salah paham saja?”

“Kang Piat-ho,” teriak Buyung Siang, “Coba dengarkan! Pertama, ini sama sekali bukan salah paham segala, kedua, kau pun belum pasti melukai kami, boleh silakan maju saja.”

Kang Piat-ho tersenyum jawabnya, “Salah paham ini sementara ini sukar dibereskan, tapi lama-lama tentu akan jelas duduk perkaranya. Kini Cayhe mana boleh berlaku kasar kepada nyonya, sekalipun nyonya akan membunuh Cayhe juga tetap takkan kubalas menyerang.”

Ucapan ini bertambah gemilang sehingga banyak di antara pengunjung itu sama bersorak memuji, bahkan Siau-hi-ji diam-diam juga gegetun, “Di seluruh dunia ini, mengenai kepandaian menghadapi orang mungkin tiada seorang pun yang mampu menandingi kelicinan Kang Piat-ho, bahkan di lapangan begini terlebih menonjol pula kepandaiannya.”

Dengan gusar Buyung Siang lantas membentak, “Huh, sudah jelas kau tahu Hoa-kongcu takkan tinggal diam membiarkan kami membinasakan kau, makanya kau bicara seenak mulutmu!”

“Jika Cayhe sendiri tidak berani bertanggung jawab, tentu sekarang takkan hadir di sini,” jawab Kang Piat-ho acuh.

Mendadak Siau-sian-li menjengek, “Hm, kalau orang lain, bilamana dia minta perlindungan seseorang tentu dia sendiri akan merasa malu, tapi kau masih mampu bicara terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, huh, mukamu yang tebal ini sungguh jarang ada tandingannya.”

“Hahahaha!” Kang Piat-ho bergelak tertawa. “Untunglah para kawan Kangouw tiada yang mau percaya bahwa orang she Kang ini adalah orang yang suka minta perlindungan ….”

“Ya, paling sedikit Kang-tayhiap pasti takkan mengeluyur pulang dan menonjolkan istrinya untuk bertengkar dengan orang!” demikian tiba-tiba seorang berteriak.

Dari tempat nongkrongnya Siau-hi-ji dapat melihat dengan jelas yang berteriak itu ialah Auyang Ting yang berganti nama menjadi Lo Kiu itu, dengan sendirinya Buyung Siang dan lain-lain tak dapat melihat dan juga tak tahu siapa yang berteriak itu.

Terpaksa mereka pura-pura tidak tahu, tapi dalam hati mereka menyadari tidak boleh bicara lebih lama lagi dengan Kang Piat-ho, kalau kekuatan kedua pihak selisih tidak banyak, ada lebih baik mundur teratur saja.

Sebaliknya Hoa Bu-koat tetap tersenyum simpul, teriakan tadi entah didengarnya atau tidak, bila tak perlu bicara dia memang tidak suka buka suara.

Tiba-tiba Siau-sian-li berseru, “Bicara kian kemari sekian lama tetap sukar menentukan salah dan benar, kukira lebih baik turun tangan saja, biarlah aku belajar kenal dulu dengan kepandaian Hoa-kongcu.”

Bu-koat memandang Siau-sian-li dari atas ke bawah, lalu menjawab dengan tersenyum, “Kau pikir aku dapat bergebrak denganmu?”

“Mengapa tidak?” teriak Siau-sian-li dengan mendelik. “Meski dahulu kita pernah bersahabat, tapi sekarang adalah musuh.”

Hoa Bu-koat hanya tersenyum tanpa menjawab.

Segera Buyung San berseru dan tertawa, “Rasanya Hoa-kongcu pasti tidak sudi bergebrak dengan kaum wanita.”

“Bila kurang hati-hati hingga Cayhe membikin kusut dandanan para nyonya, ini saja berdosa, apalagi bergebrak dengan kalian?” ucap Hoa Bu-koat dengan tertawa.

“Habis kalau menurut pendapat Kongcu, cara bagaimana urusan ini akan diselesaikan?” tanya Buyung San.

“Menurut pikiranku,” jawab Bu-koat setelah diam sejenak, “pada hakikatnya urusan ini tidak perlu diselesaikan mengingat pribadi Kang-heng, baik namanya maupun kesanggupannya sudah cukup diketahui orang Kangouw, maka nyonya ….”

“Tidak, urusan ini harus diselesaikan,” teriak Buyung Siang, “Jika Hoa-kongcu tidak punya jalan keluarnya, aku malah punya suatu cara yang baik.”

“Mohon penjelasan,” ucap Hoa Bu-koat.

“Begini, kami akan mengemukakan tiga soal, apabila Kongcu dapat melaksanakannya maka selanjutnya kami takkan mencari setori lagi kepada Kang Piat-ho,” tutur Buyung Siang. “Tapi kalau Kongcu tidak sanggup melakukan tiga soal ini, maka hendaklah Kongcu jangan lagi ikut campur urusan kami dengan Kang Piat-ho.”

Sampai di sini barulah Siau-hi-ji memahami duduknya perkara, rupanya Lamkiong dan Cin Kiam sengaja tidak ikut hadir dan kakak beradik Buyung serta Siau-sian-li sengaja berdandan begitu anggun, tujuan mereka sengaja hendak memojokkan Hoa Bu-koat agar tidak dapat bertarung benar-benar dengan mereka, dengan demikian barulah mereka ada alasan untuk mengemukakan tiga soal itu untuk mempersulit Hoa Bu-koat. Jika Hoa Bu-koat terpancing, maka pertarungan ini baginya berarti sudah kalah.

Namun Hoa Bu-koat juga bukan orang dungu, setelah berpikir sejenak, kemudian ia menjawab dengan tertawa, “Tapi ketiga soal yang akan nyonya sebut nanti bila pada hakikatnya tak dapat dilaksanakan, lalu bagaimana?”

“Masakah kami mempersulit dengan soal yang tidak mungkin dilaksanakan olehmu?” kata Buyung San dengan tertawa.

Mendadak Siau-sian-li menyambung, “Setelah ketiga soal itu dijelaskan dan ternyata tak dapat kau laksanakan, maka kami akan melakukannya sebagai bukti, dengan demikian tentu adil bukan?”

“Tapi kalau nyonya menyuruh kami menyulam, jelas Cayhe tidak sanggup,” kata Bu-koat tertawa.

“Ketiga soal ini dengan sendiri dapat dilakukan oleh siapa pun juga, baik lelaki maupun perempuan, tidak lain kami cuma ingin menguji kemahiran ilmu silat serta kecerdasan Kongcu saja,” ujar Buyung San.

“Dan kalau Hoa-kongcu tidak dapat melakukan ketiga soal itu dan sebaliknya bila kami dapat melaksanakannya, maka terbuktilah ilmu silat dan kecerdasan Kongcu memang lebih rendah daripada kami, dengan demikian Kongcu tentu tidak akan ikut campur lagi dengan urusan kami, begitu bukan?” sambung Buyung Siang.

“Jika betul begitu, maka selanjutnya Cayhe akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw dan takkan ikut campur urusan apa pun,” jawab Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji sudah menduga ketiga soal yang akan dikemukakan kakak beradik Buyung itu pasti sangat aneh dan sulit dilaksanakan, maka diam-diam ia menertawakan Hoa Bu-koat, “Wahai Hoa Bu-koat, bilamana kau terima usul mereka, maka terjebaklah kau. Soal yang telah mereka rencanakan dengan matang, bahkan aku pun mungkin sulit melakukannya, apalagi kau!”

Di sebelah lain para pengunjung juga lagi bisik-bisik membicarakan persoalan ini, kata seorang, “Dalam hal Pi-bu (bertanding silat) sejak dulu hingga kini hanya dikenal dua cara, yaitu Bun-pi atau Bu-pi (bertanding cara halus atau bertanding cara kasar). Apa yang diusulkannya sekarang termasuk bertanding cara halus, hanya kakak beradik Buyung itu menggunakan nama baru saja.”

Lalu seorang lagi menanggapi, “Apabila nona Buyung itu menyuruh Hoa-kongcu berjumpalitan beberapa kali, lalu menyuruhnya pula merangkak beberapa lingkaran seperti anjing, apakah mungkin Hoa Bu-koat mau melakukannya mengingat harga dirinya, dan dengan demikian bukankah berarti dia akan kalah?”

Tapi segera ada yang mendebatnya, “Ah, bila begitu, caranya kan seperti bajingan tengik. Padahal keluarga Buyung sangat termasyhur dan terhormat, rasanya mereka takkan berbuat demikian.”

Maklumlah biarpun ucapan Hoa Bu-koat tadi seperti menyepelekan urusannya, tapi janji akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw cukup berbobot, sebab namanya sekarang laksana sang surya yang gilang gemilang di tengah cakrawala dan kehidupannya di dunia Kangouw selanjutnya pasti banyak ragam dan gayanya, tapi kalau nanti dia kalah, maka berarti tamatlah riwayatnya.

Sebab itulah, meski Hoa Bu-koat cukup percaya pada dirinya sendiri, tapi bagi para penonton terasa tegang dan berkhawatir baginya.

Dalam pada itu kakak beradik Buyung sedang bisik-bisik berunding sendiri. Lalu Buyung Siang membuka suara dengan tertawa, “Nah, kita mulai dengan soal pertama, yakni Kongcu berdiri dengan gaya ‘Kim-keh-tok-lip’ (ayam emas berdiri dengan kaki satu), lalu orang disuruh mendorong, apabila engkau tidak roboh terdorong, maka anggap Kongcu telah menang.”

“Tapi beberapa orang yang diharuskan mendorong?” tanya Bu-koat tertawa.

“Beberapa orang boleh sesukanya, umpamanya dua ratus orang begitu?” tanya Buyung Siang.

Setelah merenung sejenak, akhirnya Hoa Bu-koat menjawab dengan tersenyum, “Baiklah kuterima.”

Ucapan ini kembali menggemparkan para pengunjung. Betapa besarnya tenaga gabungan dua ratus orang, sekalipun tenaga dua ratus lelaki biasa saja sukar ditahan oleh seorang Hoa Bu-koat, apalagi dia harus berdiri dengan kaki satu dalam gaya ‘Kim-keh-tok-lip’ segala.

Bila ada orang mengira dengan tenaga satu kaki dapat menahan daya dorongan dua ratus orang, maka otak orang itu pasti kurang waras. Padahal Hoa Bu-koat jelas kelihatan bukan orang sinting, mengapa dia justru menerima syarat aneh itu dengan begitu saja.

Begitulah semua orang merasa kejut dan heran pula, diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli melihat sikap orang-orang itu, hampir saja dia berteriak, “Huh, cuma soal begini saja kenapa meski diherankan? Asalkan sedikit saja memeras otak, maka setiap orang pun dapat melakukannya. Asalkan kau berdiri dengan punggung bersandar pada dinding tebing, jangankan dua ratus orang, biarpun didorong dua ribu orang juga takkan terdorong roboh.”

Ia tidak tahu bila soal ini sudah dipecahkan, jadinya memang begitu mudah dan sangat sederhana, tapi dalam keadaan genting begini, otak siapa yang sempat berpikir jelimet sejauh itu?

Ini sama mudahnya dengan telur ayam harus didirikan tegak di atas meja, asalkan telur diketuk salah satu ujungnya dan berdiri tegaklah telur itu, tapi sebelum rahasia ini dibeberkan, mungkin tiada satu orang pun di antara sejuta orang mampu melakukannya.

Siau-hi-ji mengira Hoa Bu-koat juga sudah mempunyai pikiran yang sama dengan dia, di luar dugaan Hoa Bu-koat ternyata tidak berjalan menuju tebing sana, tapi di tanah lapang itu juga dia lantas berdiri dengan kaki satu, lalu berkata dengan tersenyum, “Bila Cayhe berhitung sampai ‘tiga’, maka bolehlah nyonya menyuruh orang mulai mendorongku.”

Buyung Siang dan Buyung San saling mengedip, sorot mata menampilkan rasa girang, serentak mereka menyatakan baik.

Tatkala mana di lembah gunung ini hadir beberapa ratus orang, semuanya termasuk Siau-hi-ji menganggap Hoa Bu-koat pasti akan kalah. Malahan ada sementara orang yang telah menghela napas menyesal. Habis apa mau dikatakan, Hoa Bu-koat berdiri dengan kaki satu tanpa sandaran apa pun, tidak perlu dua ratus orang, cukup dua orang saja sudah dapat menolaknya roboh.

Bicara tentang ilmu silat memang dua ratus orang juga bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi cara dia mengadu tenaga luar begitu sama sekali tak dapat melawan dengan akal, bila didorong dengan tenaga seribu kati, maka kau juga harus melawannya dengan tenaga yang sama kuatnya. Kalau tidak, maka berarti kau pasti akan roboh.

Dalam hati Siau-hi-ji sungguh merasa heran, orang macam Hoa Bu-koat mengapa tidak memahami urusan yang sederhana ini?

Terdengar Hoa Bu-koat mulai menghitung, “Satu … dua … tiga ….” dan begitu kata ‘tiga’ terucapkan, sebelah kakinya yang berdiri di tanah itu mendadak ambles setengah dim ke bawah, tanah berbatu yang keras itu di bawah kakinya telah berubah menjadi lunak laksana lumpur.

Keruan Buyung San dan lain-lain terkejut, cepat ia memberi tanda, “Itu dia Hoa-kongcu sudah siap, tunggu apalagi kalian?”

Serentak kedelapan belas penggotong tandu yang kekar itu berlari maju, agaknya mereka sudah terlatih dengan baik, di tengah berlari itu tangan orang kedua segera memegang pundak orang pertama, orang ketiga juga lantas pegang pundak orang kedua dan begitu seterusnya, langkah kedelapan belas orang itu semakin cepat dan mendadak menerjang Hoa Bu-koat terus mendorongnya.

Tenaga dorongan ini tidak cuma himpunan tenaga kedelapan belas orang melulu, bahkan ditambah lagi tenaga terjangan mereka dari tempat jauh, maka betapa dahsyatnya dapatlah dibayangkan.

Seorang jago silat sejati yang mahir tentu tidak gentar pada tenaga kekerasan begini, akan tetapi kini Hoa Bu-koat justru menyambut tenaga tolakan dahsyat itu dengan keras lawan keras. Jangankan dia cuma berdiri dengan satu kaki, sekalipun berdiri dengan dua kaki juga tak mampu menahan dorongan hebat itu. Maka semua orang yakin Hoa Bu-koat pasti kalah.

Di luar dugaan, sekali kedelapan belas orang itu mendorong, Hoa Bu-koat tidak roboh, tergentak mundur pun tidak, malahan tubuhnya seperti ambles beberapa dim lagi ke bawah tanah.

Semakin keras tenaga dorongan kedelapan belas orang itu, semakin cepat pula tubuh Hoa Bu-koat ambles ke bawah, kedelapan belas lelaki itu tampak sudah berkeringat dan telah mengerahkan segenap tenaga mereka.

Akhirnya kaki Hoa Bu-koat itu sudah terpendam sebatas dengkul, biarpun kakinya terbuat dari besi rasanya juga tidak mudah hendak ditancapkan ke dalam tanah berbatu itu, namun wajahnya tetap tersenyum simpul seakan-akan tidak mengeluarkan tenaga sama sekali dan seperti orang yang berdiri di atas pasir belaka.

Para pengunjung seperti menonton permainan sulap saja, semuanya melongo dan mengira pandangan sendiri yang kabur. Tidak terkecuali Siau-hi-ji, ia pun melenggong menyaksikan itu.

Cara yang digunakan Hoa Bu-koat ini meski jauh lebih bodoh daripada cara yang dipikirnya, malahan jauh lebih sulit, tapi cara ini juga jauh lebih mengejutkan dan membuat orang kagum.

Bilamana Hoa Bu-koat berbuat seperti jalan pikiran Siau-hi-ji, yakni dengan berdiri bersandar dinding tebing, sekalipun kakak beradik Buyung itu tiada alasan untuk mencelanya, namun para penonton yang berkerumun itu pasti akan berkurang. Pertandingan yang khidmat dan menarik ini tentu juga akan berubah seperti permainan anak kecil yang dicemoohkan.

Siau-hi-ji berpikir pula, tapi ia menjadi bingung apakah cara yang dipergunakan Hoa Bu-koat terlebih cerdik atau jalan pikirannya sendiri itu yang lebih pintar?

Dilihatnya kaki Hoa Bu-koat yang semakin ambles ke bawah itu mulai lambat, jelas karena tenaga dorongan kedelapan belas lelaki itu pun semakin lemah. Sampai akhirnya kaki Hoa Bu-koat tidak ambles ke bawah lagi, mendadak kedelapan belas lelaki itu terkapar, semuanya lemas kehabisan tenaga dan tidak sanggup bangun kembali.

Nyata Hoa Bu-koat telah menggunakan ilmu “Ih-hoa-ciap-giok”, untuk mengalihkan arah tenaga dorongan mereka, mestinya menuju ke depan, tapi oleh Hoa Bu-koat telah dialihkan ke bawah, sebab itulah kelihatannya mereka sedang mendorong Hoa Bu-koat, tapi sesungguhnya tiada ubahnya mereka lagi menolak permukaan bumi.

Dengan tenaga kedelapan belas lelaki itu untuk menolak bumi, maka sama halnya seperti campung hinggap di pilar, tentu saja mereka kehabisan tenaga dan roboh dengan loyo.

Sudah tentu para penonton tidak tahu letak kehebatan ilmu Hoa Bu-koat itu, yang pasti mereka tambah kagum terhadap kelihaian anak muda itu, maka terdengarlah sorak memuji mereka. Sedangkan kakak beradik Buyung juga melenggong.

“Apakah nyonya perlu menyuruh orang lain mendorong pula?” demikian Hoa Bu-koat bertanya dengan tersenyum. .

“Kepandaian Hoa-kongcu sungguh sukar dibayangkan, kami merasa sangat kagum,” jawab Buyung San dengan tersenyum.

Siau-sian-li merasa penasaran, teriaknya, “Ini baru permulaan, biarpun dapat kau laksanakan dengan baik, boleh coba lagi yang kedua.”

Hoa Bu-koat tersenyum sambil mengangkat sebelah kakinya, kebetulan angin meniup sehingga sebagian kaki celananya bertebaran terbang seperti kupu-kupu. Sorak-sorai penonton masih terus berlangsung, waktu suara sorakan berhenti, terdengar di dalam kereta sana masih bergema suara orang berkeplok tangan. Seketika hati Siau-hi-ji seperti diremas-remas.

Meski dia tak dapat tidak harus mengakui kehebatan ilmu silat Hoa Bu-koat dan memang pantas mendapatkan tepuk tangan si “dia”, tapi bila teringat pada hal ini saja mau tak mau ia bertambah keki.

Dalam pada itu terdengar Hoa Bu-koat sedang menanggapi ucapan Siau-sian-li tadi, “Apakah soal yang kedua itu, mohon petunjuk nyonya?”

Dengan tersenyum Buyung San menjawab, “Di dalam kota Ankhing ada sebuah toko kue yang khusus menjual kudapan, toko itu pakai merek ‘Siau-soh-siu’, entah Kongcu tahu tidak?”

“Ya, beberapa kali Kang-heng pernah mengajak Cayhe jajan ke sana,” jawab Bu-koat.

“Nah, Siau-soh-siu itu memang terkenal menjual kudapan yang enak-enak, antara lain yang paling kugemari adalah Pat-po-pui (nasi berkat), Jian-ceng-ko (kue bolu susun seribu, sejenis roti tar), setahuku panganan ini boleh dikatakan sangat lezat dan tiada bandingannya.”

Dalam keadaan demikian dia masih dapat bicara tentang makanan enak segala, karena tidak tahu apa maksudnya, para penonton menjadi terheran-heran.

Tapi Hoa Bu-koat lantas menjawab, “Meski aku kurang berminat terhadap penganan manis-manis begitu, tapi ada seorang sahabatku memang juga sangat memuji kedua macam makanan yang disebut nyonya tadi.”

Sudah tentu Siau-hi-ji paham siapa “sahabat” yang dimaksud Hoa Bu-koat itu, bila membayangkan betapa kasih mesra ketika Thi Sim-lan makan nasi berkat bersama Hoa Bu-koat, sungguh akan meledak dada Siau-hi-ji dan hampir saja ia terjungkal ke bawah pohon saking gemasnya.

Terdengar Buyung San lagi berkata dengan tertawa gembira, “Bagiku kedua macam makanan itu bukan saja harus dipuji, bahkan selalu terkenang-kenang dan sukar dilupakan. Nah, untuk itulah apakah Kongcu sudi pergi ke Ankhing agar rasa pingin makanku dapatlah terpenuhi.”

Makin bicara makin aneh, malahan sekarang Hoa Bu-koat disuruh membelikan kudapan segala. Apakah mungkin inilah soal kedua yang harus dilaksanakan oleh Hoa Bu-koat. Memangnya nyonya muda ini sedang idam dan mendadak pingin makan makanan kecil khas tadi.

Hal ini rasanya terlalu tidak pantas, tapi juga terlalu mudah apabila harus dilakukan. Dengan sendirinya Hoa Bu-koat juga merasa heran. Tapi terhadap setiap permohonan perempuan selamanya dia tidak suka menolak, maka setelah melengak sekejap, akhirnya ia menjawab dengan tertawa.

“Bila Cayhe dapat bekerja sedikit bagi Nyonya, sungguh suatu kehormatan bagiku.”

“Tapi kedua macam makanan itu harus dimakan selagi masih hangat-hangat, kalau tidak rasanya tidak enak,” kata Buyung San pula.

Setelah berpikir sejenak, lalu Hoa Bu-koat menjawab, “Setelah kubeli dan bawa ke sini, mungkin masih hangat-hangat.”

“Namun kepergian Kongcu ini kaki tidak boleh menempel tanah, entah hal ini dapat dilakukan Kongcu atau tidak?” Buyung San menambahkan dengan tersenyum yang lebih manis.

Setelah mendengar ucapan ini barulah para pengunjung tahu di sinilah letak soal sulit yang dikemukakan pihak Buyung. Bahwa kedua kaki tidak boleh menempel tanah, lalu cara bagaimana orang dapat pergi pulang ke Ankhing untuk membelikan makanan? Padahal jarak Ankhing tidaklah dekat walaupun juga tidak jauh, sekalipun Ginkang Hoa Bu-koat mahatinggi juga dia tidak dapat terbang seperti burung. Akan tetapi tanpa pikir segera Hoa Bu-koat menyanggupi pula.

Tentu saja semua orang melengak heran, soal yang tidak mungkin dilakukan ini apakah betul dia sanggup melaksanakannya?

Namun Siau-hi-ji jadi geli dan ingin tertawa, katanya dalam hati, “Soal yang dikemukakan para nona Buyung ini semakin ngawur tidak keruan, bahwasanya kedua kaki tidak boleh menempel tanah, memangnya dia tidak dapat pergi dengan menumpang kereta atau naik kuda?”

Soal ini juga tipu muslihat yang licik, kalau Hoa Bu-koat tidak sanggup melakukannya dan Buyung San menjelaskan cara bagaimana pelaksanaannya, maka berarti kalahlah Hoa Bu-koat.

Dilihatnya Hoa Bu-koat telah menanggalkan sepatunya sehingga kelihatan kaus kakinya yang putih bersih.

“Apakah kaki Cayhe menempel tanah atau tidak dapat dibuktikan dengan kaus kakiku ini,” katanya kemudian dengan tertawa. Belum lenyap suaranya segera ia melayang ke depan dengan enteng.

Nyata dia tidak numpang kereta dan juga tidak naik kuda, tapi dia melayang ke atas sebatang pohon besar, di situ ia memotes dua potong ranting kayu, begitu ranting kayu itu menutul tanah, secepat terbang ia melayang sejauh tiga-empat tombak ke sana, waktu ranting kayu yang lain menutul tanah pula, tahu-tahu bayangan orang sudah berada belasan tombak jauhnya, terdengar suaranya berkumandang dari jauh, “Silakan Nyonya menunggu sebentar, segera Cayhe akan kembali ke sini.”

Hoa Bu-koat telah perlihatkan Ginkangnya yang sempurna, andaikan orang lain juga dapat menggunakan cara yang sama, tapi mustahil dapat pulang-pergi dalam waktu singkat dalam jarak puluhan li jauhnya.

Semua orang menjadi gempar juga dan ramai membicarakan cara “terbang” Hoa Bu-koat itu, mereka sangsi apakah anak muda itu dapat bertahan dengan cara begitu dalam jarak sedemikian jauhnya. Kakak beradik Buyung juga merasa tegang sehingga senyuman yang senantiasa menghias wajah mereka kini pun lenyap.

Sang waktu berlalu dengan cepat, selagi semua orang masih asyik membicarakan kepandaian Hoa Bu-koat, tertampak berkelebatnya bayangan orang di kejauhan, tahu-tahu Hoa Bu-koat sudah muncul, pada mulutnya terlihat menggigit sesuatu benda.

Sesudah dekat, begitu kedua ranting kayunya menutul tanah, seketika tubuhnya menegak terbalik, kakinya menghadap ke atas, sepasang kaus kakinya ternyata masih putih bersih tanpa berdebu setitik pun.

Serentak semua orang memuji, “Sungguh hebat. Hoa-kongcu benar-benar kaki tanpa menyentuh tanah dan telah pergi-pulang ke Ankhing satu kali.”

Di tengah sorak-sorai orang banyak, Hoa Bu-koat berjumpalitan lagi, kedua kakinya dengan tepat menyusup masuk sepatu yang ditinggalkannya tadi, ranting kayu dibuangnya lalu bungkusan yang digigitnya tadi disodorkan ke hadapan Buyung San, katanya dengan tertawa, “Syukur Cayhe tidak sampai mengecewakan kehendak nyonya, silakan dahar mumpung masih hangat.”

Tersembul senyuman ewa di bibir Buyung San, ia mengucapkan terima kasih dan menerima bungkusan itu. Setelah bungkusan itu dibuka, isinya memang betul nasi berkat dan kue bolu yang masih mengepul, terpaksa ia comot sepotong kue itu dan dimakan.

Meski bolu itu sangat legit dan harum, tapi di mulut Buyung San terasa rada-rada getir.

Ya, Hoa Bu-koat telah menggunakan cara bodoh pula, tapi Siau-hi-ji tidak dapat lagi mencemoohkan dia bodoh, malahan diam-diam ia pun merasa kagum.

Dengan cara “bodoh” yang pertama Hoa Bu-koat telah memperlihatkan tenaga dalam yang mengejutkan, kini dia menggunakan “cara bodoh” yang kedua untuk membuktikan Ginkangnya yang tiada bandingannya. Kalau saja dia tidak menggunakan cara bodoh begini, bisa jadi kini para penonton telah menimpuknya dengan kulit jeruk atau telur busuk disertai caci-maki.

Diam-diam Siau-hi-ji tersenyum kecut, pikirnya, “Agaknya seseorang terkadang lebih baik menjadi orang bodoh saja, kakak beradik Buyung ini justu terlalu pintar sehingga akhirnya mereka sendiri yang kecundang.”

Meski dia bicara tentang kakak beradik Buyung, padahal ia sendiri pun demikian, kalau saja terkadang dia bisa berubah bodoh sedikit tentu hidupnya akan berlangsung lebih gembira.

Dalam pada itu Buyung San sudah menghabiskan sepotong kue bolu, pada hakikatnya tak terbayang olehnya bahwa bolu yang legit dan lezat itu bisa berubah begini rasanya.

Hoa Bu-koat hanya saja, setelah Buyung San menghabiskan sepotong kue itu barulah dengan tertawa, “Dan apalagi soal ketiga itu?”

Siau-sian-li tidak sabar pula, teriaknya, “Ada sebuah pintu tertutup rapat, sekujur badanmu dilarang menyentuh daun pintu dan juga tidak boleh ditumbuk dengan suatu alat atau benda, nah, dapatkah kau masuk ke rumah itu?”

Ini benar-benar suatu soal yang mahasulit pula, para penonton tidak perlu khawatir lagi bagi Hoa Bu-koat, mereka tahu betapa sulitnya sesuatu persoalan pasti dapat dilaksanakan anak muda itu.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli pula, pikirnya, “Soal ketiga ini lebih-lebih ngawur lagi, dia dilarang menyentuh daun pintu, memangnya dia tidak dapat masuk ke rumah melalui jendela?” Tapi kini ia pun tahu Hoa Bu-koat pasti takkan menggunakan cara demikian.

Dilihatnya Hoa Bu-koat berpikir sejenak, katanya kemudian, “Di sini tiada rumah, entah kereta ini ….”

“Kereta juga boleh,” kata Buyung Siang. “Asal saja kau tidak menyentuh pintu kereta dan dapat masuk ke situ, maka anggaplah kau menang.”

“Apakah betul demikan?” tanya Bu-koat sambil berpaling ke arah Buyung San.

Setelah berpikir, dengan tertawa Buyung San menjawab, “Ya, kereta dan rumah juga sama saja.”

“Bilamana Cayhe sudah melaksanakan soal ini, apakah nyonya akan punya soal lain lagi?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

Buyung Siang saling pandang sekejap dengan Buyung San, akhirnya yang tersebut belakangan ini berkata, “Apabila Kongcu dapat melaksanakan soal ketiga ini, segera juga kami akan angkat kaki dari sini.”

Hakikatnya dia tidak tahu lagi cara bagaimana harus mempersulit Hoa Bu-koat, untuk bertempur jelas-jelas juga bukan tandingannya, lalu mau apa lagi jika tidak angkat kaki?

“Jika demikian, silakan nyonya perhatikan ….” sembari berkata Bu-koat lantas melangkah ke arah keretanya.

Diam-diam Siau-hi-ji ragu-ragu, pikirnya, “Apakah dia mahir pukulan jarak jauh sehingga pintu kereta akan pecah tergetar oleh tenaga pukulannya? Ini kan terhitung juga tangannya tidak menyentuh pintu kereta?”

Di luar dugaan, setelah berada di depan keretanya, mendadak Bu-koat berkata, “Silakan buka pintu, nona Thi!”

Terdengar suara tertawa nyaring merdu menjawab di dalam kereta, “Baiklah!”

Semula para penonton tercengang heran, tapi kemudian meledaklah tertawa mereka, sampai-sampai Siau-hi-ji hampir ikut tertawa, tapi demi mendengar suara merdu itu, betapa pun ia tidak sanggup tertawa.

Kedua kakak beradik Buyung juga melenggong demi menyaksikan Hoa Bu-koat melangkah masuk ke keretanya dengan begitu saja.

Terdengar Hoa Bu-koat berkata di dalam kereta, “Sesuai syarat yang ditentukan Nyonya, sekarang Cayhe sudah masuk ke dalam kereta tanpa menyentuh pintu, apakah nyonya setuju bila aku dianggap menang.”

Kakak beradik Buyung sama melongo dan tak dapat menjawab, sedangkan para penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Cara yang digunakan Hoa Bu-koat ini ternyata jauh lebih pintar dari pada jalan pikiran kakak beradik Buyung dan Siau-hi-ji, bahkan sukar untuk dibayangkan, tentu saja para penonton bersorak dan menyatakan kemenangan itu pantas diperoleh Hoa Bu-koat.

Wajah kakak beradik Buyung tampak pucat, kembali. Buyung Siang saling pandang dengan Buyung San. Betapa pun Buyung San hendak tersenyum juga terasa sukar lagi. Mendadak ia menggentakkan kaki, lalu membalik ke sana dan naik ke tandunya, segera Buyung San juga menyusul. Siau-sian-li melotot sekejap ke arah Kang Piat-ho, ucapnya dengan benci, “Jangan keburu gembira dulu, kau takkan hidup tenteram seterusnya.”

Kang Piat-ho hanya tersenyum tanpa menjawab. Kedelapan belas lelaki tadi lantas menggotong ketiga joli besar serta tiga joli kecil terus dilarikan keluar lembah.

“Kecerdikan dan ilmu silat Hoa-heng sungguh tiada bandingannya di dunia ini, sungguh Siaute sangat kagum,” ujar Kang Piat-ho dengan tertawa.

Serentak para pengunjung bersorak memuji pula, Hoa Bu-koat membalas hormat dari dalam kereta, lalu kereta dihela pergi di bawah sorak-sorai orang ramai.

Menyaksikan kepergian kereta itu, teringat pada Thi Sim-lan yang berada di dalam kereta, Siau-hi-ji jadi kesima, hatinya serasa dipuntir-puntir. Selang sejenak, mendadak ia berteriak sendiri, “Bilakah kupernah bersikap begini baik padanya? Mengapa aku harus menderita lantaran dia? Huh, persetan!”

Pada waktu Thi Sim-lan berada di sisinya sedikit pun Siau-hi-ji tidak merasakan sesuatu, tapi ketika nona itu berada di sisi orang lain, mendadak ia merasakan Thi Sim-lan jauh lebih penting daripada apa pun juga.

Ia sendiri tidak paham mengapa Thi Sim-lan bisa berubah sedemikian penting baginya, sebelum ini mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa dia akan merana lantaran si nona.

Ia merasa dirinya benar-benar tolol, pada hakikatnya sudah gila. Tapi tak diketahuinya bahwa orang gila dan orang tolol seperti dia ini masih banyak di dunia ini.

Manusia memang aneh, jika ada sesuatu yang tidak dapat diperolehnya akan dirasakannya baik, tapi bila sesuatu itu sudah diperolehnya justru tidak tahu cara menyayangi dan menghargainya. Bilamana kehilangan, ia menjadi menyesal pula.

Mungkin sebab itulah manusia selalu lebih banyak menderita daripada bahagia.

Begitulah sampai sekian lamanya Siau-hi-ji termangu-mangu ketika mendadak dilihatnya di tengah-tengah orang banyak itu lewat dua orang tinggi besar dan gemuk, barulah dia ingat janjinya kepada To Kiau-kiau.

Cepat ia lompat turun dari pohon dan menyusup ke sana, perlahan ia tepuk pundak “Lo Kiu” alias Auyang Ting, dengan cepat Auyang Ting menoleh, air mukanya tampak berubah.

Nyata orang gemuk ini senantiasa berjaga jaga terhadap seseorang. Itulah kalau orang berdosa, seperti maling yang khawatir tertangkap, betapa pun hidupnya tidak pernah aman dan tenteram.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menegurnya, “Kenapa kau selalu tegang begini, tapi kau tetap gemuk saja dan tidak pernah kurus, sungguh aneh.”

Setelah mengenali Siau-hi-ji barulah Auyang Ting menampilkan senyuman, jawabnya, “Paling sulit mendapatkan kasih sayang si cantik, dan lantaran tidak pernah mendapatkan perhatian si cantik, terpaksa Cayhe mengalihkan perhatian dalam hal makanan, karena makan terus-menerus, dengan sendirinya badanku semakin gemuk.”

“Rupanya kalian sudah tahu bahwa nona itu telah kubawa pergi?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Selain saudara, memangnya dia mau pergi dengan siapa?” ujar Auyang Ting.

“Cuma tak pernah kuduga bahwa saudara ternyata juga menaruh minat terhadap pelayan dungu itu sehingga membawanya serta,” dengan tertawa Auyang Tong menambahkan.

Kedua Auyang bersaudara ini bernama Ting dan Tong lantaran dalam segala hal mereka selalu main Swipoa sehingga berbunyi “ting-tong-ting-tong”, makanya mereka memakai nama yang berbunyi lantang begitu. Tapi sekali ini Swipoa mereka telah salah hitung, tidak terpikir oleh mereka bahwa si pelayan dungu itu sesungguhnya adalah samaran To Kiau-kiau, mereka mengira hilangnya pelayan itu pun digondol lari oleh Siau-hi-ji.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji tidak mau menjelaskan duduk perkaranya, dengan tertawa ia menjawab, “Lebih baik ada dari pada tidak ada, dua tentunya juga lebih baik daripada cuma satu, betul tidak?”

“Betul, betul,” seru Auyang Ting sambil berkeplok tertawa, “Ucapan saudara ini sungguh tepat dan cengli, setiap orang perlu ingat baik-baik jalan pikiranmu ini.”

Bahwasanya Auyang Ting berjuluk “Mengadu jiwa juga ingin untung”, tentu saja ucapan Siau-hi-ji sangat cocok dengan seleranya.

Begitulah sambil bersenda-gurau mereka terus keluar lembah dan mendekati tempat parkir kereta kuda To Kiau-kiau.

Mendadak Siau-hi-ji berhenti dan berkata, “Silakan kalian melanjutkan perjalanan, sampai berjumpa pula malam nanti.”

“Eh, jangan-jangan saudara hendak menemui si cantik lagi?” dengan tertawa Auyang Ting berseloroh.

Siau-hi-ji tersenyum misterius sambil menjawab, “Mungkin begitu ….” dan seperti tidak sengaja dia melirik sekejap ke arah kereta, lalu menambahkan, “Kenapa kalian tidak meneruskan perjalanan.”

Auyang Ting tertawa, jawabnya “Kami iseng dan menganggur, maka ingin mengobrol dengan saudara.”

Siau-hi-ji pura-pura gelisah, katanya, “Ah, aku masih harus pergi ke tempat lain, kalian ….”

“Haha, kukira saudara hendak pergi ke situ,” seru Auyang Tong. Pada saat itu juga Auyang Ting sudah lari ke arah kereta dan pintu kereta terus ditariknya, serunya sambil tertawa, “Ini dia, dugaanku ternyata tidak meleset, si cantik memang betul berada di sini.”

Dengan tertawa Auyang Tong lantas menambahkan, “Kata peribahasa, ‘Diberi buah Tho, balaslah dengan buah Le, paling tidak saudara kan sudah merasakan Tho manis pemberian kami, kalau sekarang engkau balas memberikan Le yang kecut kepada kami kan juga pantas.”

Bahwa kedua Auyang bersaudara ini yang satu berjuluk “Mengadu jiwa juga ingin cari untung” dan yang lain “Mati-matian juga tidak mau rugi”, sesuai julukan mereka, dengan sendirinya mereka merasa dirugikan ketika si cantik yang mereka temukan dengan susah payah itu dibawa lari orang, maka sedapatnya mereka ingin menarik kembali sedikit keuntungan, kalau tidak rasanya mereka tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Karena itulah tanpa permisi lagi kedua Auyang bersaudara lantas menerobos ke dalam kereta. Malahan Auyang Ting sempat berkata kepada Siau-hi-ji, “Ayolah, silakan saudara pun naik ke sini.”

“Ya, biarpun engkau mengusir juga kami takkan pergi,” kata Auyang Tong dengan tertawa.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, pikirnya, “Kalian yang mati pun tidak mau rugi, tampaknya sebentar lagi pasti akan rugi habis-habisan.”

Tapi dengan lagak dongkol dan serba susah ia pun naik ke atas kereta, katanya dengan menyesal, “Tahu begini, tentu sejak tadi kuhindari kalian. Ya, apa mau dikatakan lagi, salahku sendiri menegur kalian, jadinya …. Ai, aku jadi keblinger sendiri.”

Begitulah kereta kuda itu lantas dilarikan ke depan dengan cepat. Semakin riang tertawa kedua orang gemuk itu, mereka duduk dengan “santai” di atas sok yang empuk, mereka tidak tahu bahwa orang yang duduk berhadapan itu adalah elmaut yang hendak merenggut jiwa mereka.

To Kiau-kiau sengaja duduk dengan menunduk seperti perempuan yang malu-malu kucing, padahal sebenarnya tidak ingin wajah aslinya dikenali kedua saudara kembar gendut itu.

Dengan tertawa Auyang Ting lantas berucap, “Wah, sehari tidak bertemu, tampaknya nona menjadi semakin cantik.”

Auyang Tong lantas menambahkan, “Seperti tanaman yang disiram air, dengan sendirinya kuntum bunga menjadi mekar dan tambah cantik, masakah teori begini saja kau tidak paham?!”

Biasanya kedua orang ini selalu berjaga jaga kalau disergap orang lain, tapi kini mereka duduk di dalam kereta, di belakang mereka adalah dinding kereta, tentunya mereka tidak perlu khawatir.

Walaupun Siau-hi-ji sudah tahu maksud tujuan To Kiau-kiau memancing kedua Auyang bersaudara ke dalam keretanya ini adalah untuk membikin perhitungan dengan mereka, cuma ia tidak tahu cara bagaimana sang “bibi” akan mengerjai mereka. Untuk bisa membekuk mereka harus sekali turun tangan dapat mengatasi mereka, kalau tidak mereka akan lolos, sedangkan kalau To Kiau-kiau hendak membekuk kedua orang itu sekaligus rasanya bukan pekerjaan yang mudah.

Dilihatnya To Kiau-kiau masih duduk dengan malu-malu kucing, tampaknya ia tidak terburu-buru turun tangan dan juga tiada maksud ingin minta bantuan Siau-hi-ji, sikapnya itu lebih mirip dia sudah mengatur sesuatu perangkap yang pasti akan berhasil dengan baik.

Siau-hi-ji merasa apa yang akan ditontonnya sekarang jauh lebih menarik daripada tadi, sungguh ia ingin menyaksikan dengan cara bagaimana To Kiau-kiau akan turun tangan dan cara bagaimana pula kedua Auyang bersaudara akan melawannya.

Kini kereta itu dihela lebih cepat dan sudah jauh meninggalkan khalayak ramai, akhirnya membelok ke tempat sepi.

“He, sarang simpananmu mengapa begini jauh?” tanya Auyang Ting tiba-tiba.

“Jika kau ingin makan buah Le, maka kau harus sabar sedikit,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Betul, betul!” seru Auyang Tong dengan tertawa “Cuma ….”

Mendadak To Kiau-kiau angkat kepalanya dan berkata dengan genit, “Cuma buah Le ini rasanya terlalu kecut, kukira kalian tidak doyan.”

Serentak kedua Auyang Ting bersaudara melengak, samar-samar mereka sudah merasakan gelagat jelek.

Dengan terkekeh Auyang Ting menanggapi, “He, sejak kapan nona berubah menjadi pintar bicara?”

“O, sudah lama, kira-kira sejak dua puluh tahun yang lalu,” sahut To Kiau-kiau.

Air muka kedua Auyang bersaudara berubah seketika, segera mereka bermaksud melompat keluar kereta.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Ai, mengapa bibi To berlaku ceroboh begini, dengan ucapannya ini, kan sama saja seperti menyikap rumput mengejutkan ular?”

Tapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara “bek”, dari bawah jok kereta yang longgar dan empuk itu mendadak terjulur keluar empat buah tangan.

Mimpi pun kedua Auyang bersaudara tidak mengira akan terjadi begini, kejadian yang tiba-tiba sukar dihadapi, apalagi perubahan ini datangnya dari bawah pantat mereka.

Seketika kedua orang merasa ketiak mereka kesemutan, tahu-tahu lengan mereka sudah dicengkeram oleh keempat tangan itu, begitu kuat cengkeraman itu laksana belenggu sehingga sakitnya merasuk tulang, maka tak dapat berkutiklah mereka.

Sungguh kejut Auyang Ting tidak kepalang, bahkan ia menjadi ketakutan setengah mati, teriaknya dengan gemetar, “He, sau … saudara mengapa … mengapa begini ….”

Siau-hi-ji sendiri berkesiap dan geli pula, jawabnya dengan tertawa, “Ini bukan urusanku, jangan kalian tanya padaku.”

Auyang Ting menoleh ke arah To Kiau-kiau, tanyanya, “Apakah ini ke … kehendak nona!”

“Habis siapa jika bukan aku?” jawab Kiau-kiau dengan tertawa. Bila ditanya orang, selamanya dia tidak menjawab “ya” atau “tidak”, tapi selalu balas bertanya, ini memang ciri pengenalnya.

Tentu saja air muka Auyang bersaudara menjadi pucat demi mendengar nada ucapan itu.

“Se … sesungguhnya engkau ini siapa?” tanya Auyang Tong.

“Tadi kau tidak kenal padaku, betul, tapi kalau sekarang masih juga tidak kenal aku, ini namanya pura-pura bodoh,” ucap Kiau-kiau dengan tertawa.

“Mana … mana kami kenal nona?” ujar Auyang Ting.

“Tidak kenal aku, mengapa menjadi ketakutan?” tanya Kiau-kiau.

“Takut?” Auyang Ting berlagak heran. “Memangnya takut siapa ….”

Dengan terkekeh-kekeh Auyang Tong lantas menambahkan, “Sudah tentu kami tahu nona cuma berkelekar saja dengan kami.”

“Ai, Auyang Ting dan Auyang Tong, apa gunanya biarpun kalian berlagak pilon?” ucap To Kiau-kiau.

“Auyang Ting itu siapa?” tanya Auyang Ting.

“Oya, kabarnya Auyang Ting itu kurus seperti cacing, haha … haha ….” Auyang Tong menukas.

Begitulah dia hendak tertawa pula, tapi kulit mukanya serasa kaku. Dengan dingin To Kiau-kiau menatap mereka tanpa bicara.

Setelah terkekeh beberapa kali pula, mendadak Auyang Tong menatap saudaranya dan berseru, “He, bukankah kau ini Auyang Ting?”

“Sudah tentu aku Auyang Ting dan dengan sendirinya kau ini Auyang Tong,” jawab Auyang Ting. “Haha, lucu, sungguh lucu,” sambung Auyang Tong.

“Haha, kiranya kita ini adalah si Ting dan Tong Auyang bersaudara ….”

“Eh, To-toaci, apakah engkau juga merasa lucu? Si kurus ternyata bisa berubah menjadi si gendut,” tanya Auyang Ting.

“Kukira kalian terlalu banyak minum anggur kolesom,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Betul, betul, rasanya kami memang terlalu banyak minum anggur kolesom, haha !” sahut Auyang Ting.

Mendadak To Kiau-kiau mendelik, katanya dengan ketus, “Sekarang sudah waktunya kalian menumpahkan anggur kolesom yang kalian minum itu, bukan?”

“Ini … haha … haha ….”

“Itu … hehe … hehe ….”

Begitulah kedua orang terus “haha” dan “hehe” serta ini dan itu, tapi tidak mengucap apa-apa. Diam-diam Siau-hi-ji tahu pasti di dalam hati kedua orang ini sedang merancang akal busuk.

Pada saat itu juga tiba-tiba di bawah jok ada orang berkata dengan tertawa, “Wah, selama dua puluh tahun ini kedua Auyang bersaudara ini selain membesarkan tubuh mereka menjadi putih gemuk, agaknya mereka pun berhasil belajar caramu berhaha-hihi, kukira akan lebih tepat jika kau menerima mereka sebagai murid sekalian.”

Dari suaranya segera Siau-hi-ji dapat mengenalnya sebagai suara Pek Khay-sim.

Segera seorang menanggapi dengan tertawa ngakak, “Haha, jika benar kuterima mereka sebagai murid, wah, bisa jadi celanaku juga akan ditipu mereka dan nasibku bisa telanjang bulat. Haha … hehe ….”

Dari suara “haha” yang lantang dan keras ini, jelas ialah si Budha tertawa Ha-ha-ji alias si “tertawa sambil menikam”.

Semula si Ting masih memeras otak mencari jalan buat meloloskan diri, tapi demi mendengar yang bicara di bawah jok itu ternyata kedua teman lama mereka maka putuslah harapan mereka untuk kabur. Kedua orang saling pandang sekejap dan segera hendak bangkit.

“Sungguh tak tersangka kami menduduki kedua kakak di bawah pantat, benar-benar berdosa besar,” ucap Auyang Ting sambil menyengir.

“Ah, tidak apa,” kata Pek Khay-sim di bawah jok. “To-toaci telah mengatur segalanya dengan baik, di bawah sini rasanya lebih menyenangkan daripada tidur di ranjang rumah sendiri, bahkan di sini tersedia pula arak dan daging segala ….”

“Tapi bila teringat pantat kalian justru berada di atas, sungguh aku menjadi muak dan tidak doyan makan, haha!” sambung Ha-ha-ji.

“Bila kalian tidak lepas tangan, tentu kami tidak mampu berdiri,” kata Auyang Tong. “Dan bila kami tidak berdiri, terpaksa kalian juga harus berjongkok terus di situ …. Eh, bagaimana baiknya, To-toaci?”

“Kenapa bingung?” jawab To Kiau-kiau tertawa. “Tumpahkan saja kolesom yang kalian makan dan segera mereka akan lepas tangan.”

“Kalau tidak biarlah kami sembelih kalian saja,” sambung Pek Khay-sim.

“Haha, boleh juga gagasan ini!” seru Ha-ha ji dengan tertawa.

Auyang Ting menghela napas, katanya, “Barang titipan To-toaci itu sebenarnya sudah lama akan kami antarkan ke Ok-jin-kok, cuma mendadak ….”

“Hilang, begitu bukan?” jengek To Kiau-kiau.

“Dugaan To-toaci memang tidak keliru,” ucap Auyang Ting dengan wajah seperti mau menangis. “Tahun berikutnya setelah kalian masuk Ok-jin-kok, barang titipan itu dirampas orang seluruhnya, karena khawatir dimarahi To-toaci, terpaksa … terpaksa ….”

“Terpaksa kami sembunyi,” sambung Auyang Tong dengan menyesal.

Namun To Kiau-kiau sama sekali tidak terpengaruh oleh penuturan yang memelas itu, bahkan berkedip mata pun tidak, katanya dengan tenang, “Alasan ini memang masuk akal, tapi siapakah yang rebut barang itu?”

“Loh Tiong-tat,” jawab Auyang Ting dengan gegetun.

“Yaitu orang yang berjuluk Lam-thian-tayhiap, ialah yang hampir mengutungi kedua tangan Toh-lotoa ketika baru saja Toh-lotoa muncul di Kangouw dulu,” sambung Auyang Tong.

Mendadak To Kiau-kiau terkikih-kikih genit, katanya, “Ha-heng, menurut pendapatmu kebohongan mereka ini bagus atau tidak?”

“Haha, boleh juga,” ujar Ha-ha-ji. “Sudah jelas mereka tahu kita tidak mungkin pergi bertanya kepada Loh Tiong-tat.”

“Ini namanya mati tanpa saksi,” tukas Pek Khay-sim dengan tertawa.

“Tapi … tapi apa yang kukatakan itu semuanya benar,” seru Auyang Ting.

“Ya, bila bohong sepatah kata saja, biarlah kami dikutuk oleh langit dan bumi, biar mati tidak enak, pada jelmaan hidup berikutnya akan menitis menjadi babi gemuk dan dijadikan Ang-sio-bak untuk dahar Ha-heng,” sambung Auyang Tong.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli melihat cara bersumpah Auyang Tong yang gesit itu, jelas mereka anggap sumpah sebagai pidato dan sehari entah bersumpah berapa kali, kalau tidak masakah dapat bersumpah selancar itu.

Dilihatnya Kiau-kiau sedang menengadah tanpa menggubris ocehan kedua Auyang bersaudara, Ha-ha-ji dan Pek Khay-sim juga tidak bicara lagi di bawah jok, malahan terdengar suara keriat-keriut, agaknya mereka lagi asyik makan minum.

Auyang Ting dan Auyang Tong masih terus omong, tapi meski mulut mereka serasa kering dan butir keringat sebesar kedelai memenuhi dahi mereka tetap To Kiau-kiau tidak menggubris dan anggap tidak mendengar.

Makin menonton makin tertarik Siau-hi-ji, mestinya dia hendak tinggal pergi, tapi sekarang ia urungkan niatnya.

Pada saat itulah mendadak kereta berhenti, menyusul di luar jendela kereta lantas muncul seraut wajah yang putih pucat, begitu pucat sehingga hampir-hampir tembus cahaya.

Melihat muka itu, seketika kedua Auyang bersaudara seperti kena dicambuk sekali, sekujur badan mereka serasa kejang. Dengan suara terputus-putus Auyang Ting berkata, “Kiranya … kiranya Toh-lotoa juga datang!”

Kalau tadi mereka masih mengoceh macam-macam, sekarang setelah melihat Toh Sat, seketika seperti tikus melihat kucing, bicara saja tidak terang, malahan Auyang Tong tidak sanggup bersuara lagi.

Melihat wajah dingin si tangan berdarah Toh Sat, entah mengapa timbul semacam rasa akrab di dalam hati Siau-hi-ji, segera ia menyapa, “He, paman Toh, baik-baikkah engkau?”

“Baik?” jawab Toh Sat singkat. Dia hanya memandang Siau-hi-ji sekejap, sorot matanya yang dingin seakan-akan rada cair, tapi ketika ia menatap pula ke arah kedua Auyang bersaudara, hawa dingin tatapannya seketika bertambah tajam. “Cret”, mendadak sebuah kaitan baja menancap di jendela kereta.

Kaitan baja ini adalah “tangan” Toh Sat. Dia tarik pintu kereta tanpa bicara, tangan yang lain terus menggampar beruntun belasan kali di muka Auyang Tong, habis itu barulah berkata dengan ketus, “Hm, kau masih kenal padaku tidak?”

Kontan muka Auyang Tong merah bengkak seperti hati babi yang baru dirogoh keluar dari perut babi, tapi menjengek sedikit saja tidak berani, sebaliknya ia menjawab dengan menyengir, “Mana … mana Siaute tidak … tidak kenal lagi pada Toh-lotoa?”

“Hm, bagus juga kau!” jengek Toh Sat. Mendadak telapak tangannya memotong Hiat-to di dengkul Auyang Tong, menyusul dengan cara yang sama ia pun kerjai Auyang Ting, lalu ia membalik tubuh dan membentak dengan suaran begis, “Turun!”

“Tapi … tapi kaki Siaute tidak dapat bergerak lagi, cara bagaimana bisa turun?” ratap Auyang Tong.

“Kaki tidak bisa bergerak, merangkak turun dengan tangan!” jengek Toh Sat.

Kedua Auyang saling pandang sekejap, benar juga, akhirnya mereka merangkak turun dengan munduk-munduk.

“Hihi, apa pun juga Toh-lotoa memang lebih hebat,” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa. “Sampai-sampai kedua saudara Ting-tong kita juga takut padanya seperti tikus melihat kucing.”

“Ya, manusia yang semakin licin dan semakin buas, semakin mahir juga cara Toh-lotoa mengerjainya,” tukas Ha-ha-ji sambil menerobos keluar dari bawah jok kereta.

Kereta kuda itu ternyata berhenti di depan sebuah rumah yang sepi dan tak berpenghuni, kusir kereta tadi tidak kelihatan lagi.

Ha-ha-ji lantas memegangi tangan Siau-hi-ji, tanyanya dengan tertawa, “Hah, selama beberapa tahun berpisah, entah berapa banyak anak perempuan yang terpikat olehmu?”

“Kurang lebih cuma 300,” jawab Siau-hi-ji sambil main mata.

Ha-ha-ji menggablok pundak anak muda itu, serunya sambil terbahak-bahak, “Hahahaha! Belum cukup jumlah sekian, kau harus lebih giat lagi.”

“Tapi kalau kumain pikat terus, bisa jadi aku akan pendek umur,” kata Siau-hi-ji.

Mendadak ia menjulurkan sebelah kakinya sehingga Pek Khay-sim yang datang dari belakang itu kena dijegalnya hingga jatuh tersungkur.

Cepat Pek Khay-sim merangkak bangun, sama sekali ia tidak marah, bahkan berkata dengan tertawa, “Hah, agaknya kau tidak mau rugi dan tetap ingat padaku.”

“Bukan aku yang menjegalmu barusan ini, tapi Kang Piat-ho,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sudahlah, kukerjai kau satu kali, kau pun pernah mengerjai aku satu kali, ditambah lagi sengkelitan barusan, maka bolehlah kita anggap seri saja?!” kata Pek Khay-sim.

“Hm, memangnya begitu enak? Masih ada lagi rentenya, tunggu saja nanti,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

Pek Khay-sim garuk-garuk kepala, ucapnya dengan menyengir, “Begini saja payah bagiku, bila ada lagi, jiwaku bisa melayang?!”

“Haha, kau sendiri yang cari penyakit, orang lain tidak kau kerjai, tapi malah mengerjai dia, akhirnya baru kau tahu rasa,” Ha-ha-ji bergelak tertawa.

Beramai-ramai mereka lantas masuk ke rumah itu, tertampak ruangan tengah yang bobrok itu ada api unggun dan ada sebuah kuali di atas api, entah apa isinya. Selain itu ada pula beberapa mangkuk rusak yang tertaruh serabutan di lantai, seperti berisi rempah-rempah bila orang masak sayur. Seorang berjongkok di tepi api unggun, ternyata ialah si kusir tadi. Hawa sepanas ini, dia berjongkok lagi di dekat api unggun, tapi dahinya tidak tampak bekeringat sedikit pun. Masuknya orang banyak seakan-akan tidak diambil pusing olehnya.

Dengan tertawa To Kiau-kiau lantas berkata, “Siau-hi-ji, lekas menemui paman Li, selama beberapa tahun ini dia senantiasa mengenangkan dirimu, cuma yang dirindukan dia mungkin adalah dagingmu yang empuk untuk dimakannya.”

Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Tampaknya paman Li sedang marah!”

“Tapi dia bukan marah padamu,” ucap Ha-ha-ji. “Soalnya To-toaci menyuruh dia menjadi kusir, sebaliknya membiarkan Pek Khay-sim enak-enak tidur di dalam kereta, saking dongkolnya hampir saja perutnya meledak. Hahaha!”

Siau-hi-ji lantas mendekati Li Toa-jui dan menyapa, “Li-toasiok, janganlah engkau marah benar-benar, kalau marah, dagingnya akan berubah menjadi kecut.”

Li Toa-jui bergelak tawa, tangan Siau-hi-ji dipegangnya dan berkata, “Sungguh tak tersangka kau setan cilik ini masih ingat pada kalimat ini.”

“Kata-kata mutiara begini mana boleh kulupakan?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sementara kedua Auyang bersaudara telah merangkak masuk sambil merintih, tubuh mereka sudah berlepotan debu sehingga persis dua ekor babi gemuk yang habis mandi di kolam lumpur.

“Hahaha, selama dua puluh tahun ini untuk pertama kalinya kita berkumpul sebanyak ini,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa “Sungguh suatu pertemuan yang jarang terjadi, maka kita harus merayakannya dengan baik.”

“Tapi kalau orang-orang Kangouw mengetahui gerombolan kita ini berkumpul lagi di sini, entah bagaimana mereka akan berpikir?” ujar To Kiau-kiau.

“Haha, bisa jadi nyali mereka akan pecah semuanya,” tukas Ha-ha-ji.

“Wah, ingat, nyali (empedu) sekali-kali tidak boleh sampai pecah, kalau pecah dagingnya akan jadi pahit,” ujar Li Toa-jui dengan sungguh-sungguh. Dasar pemakan daging manusia, setiap bicara tidak pernah melupakan hobinya.

Biji mata Siau-hi-ji tampak mengerling kian kemari memandangi tokoh-tokoh Ok-jin-kok ini, terbayang kembali masa kanak-kanaknya dahulu, bagaimana perasaan sekarang sukarlah untuk dijelaskan.

Meski orang-orang ini tergolong Ok-jin atau orang jahat, tapi menurut pandangannya setiap orang ini sedikit banyak juga ada segi yang baik dan menyenangkan, sungguh jauh lebih baik dan menyenangkan daripada Kang Piat-ho yang munafik itu.

Kini, di antara Cap-toa-ok-jin atau sepuluh top penjahat ternyata ada tujuh orang berkumpul di sini, rasanya jarang ada kejadian lain yang lebih asyik dan menarik daripada adegan ini.

Sungguh Siau-hi-ji merasa sangat gembira, tapi bila melihat setiap tokoh ini serupa malaikat elmaut, setelah muncul kembali di dunia Kangouw, entah betapa banyak orang yang akan menjadi korban. Berpikir demikian, diam-diam ia jadi khawatir juga.

Selama beberapa tahun ini jalan pikirannya sudah berubah dibandingkan waktu dia baru meninggalkan Ok-jin-kok, ia merasa kalau orang baik diganggu orang jahat sungguh tidak adil. Betapa pun ia tidak dapat menyaksikan kejadian demikian, ia harus mencari akal untuk mencegahnya.

Terdengar To Kiau-kiau lagi berkata, “Kini kita hanya menunggu Im-lokiu saja, entah ada kejadian apa sehingga sampai saat ini belum muncul?”

“Tindak tanduk orang ini memang suka main sembunyi-sembunyi,” ujar Li Toa-jui. “Bisa jadi dia sudah datang, tapi sengaja sembunyi di sekitar sini dan menonton belaka.”

Auyang Ting merangkak di lantai dan menimbrung, “Dapat berkumpul kembali dengan para saudara, sungguh Siaute merasa sangat gembira.”

Cepat Auyang Tong menambahkan, “Ya, kita harus merayakannya dengan pesta besar.”

“Tapi milik kita sudah habis digelapkan oleh kalian, dari mana ada uang untuk bikin pesta segala?” kata To Kiau-kiau.

“Asalkan To-toaci melepaskan kami, pasti kami akan mencari orang she Loh itu, biarpun mati juga akan kami rampas kembali barang-barang itu,” kata Auyang Ting.

Belum habis ucapannya, mendadak kaitan baja Toh Sat telah menancap di pundaknya terus di angkat ke atas, keruan Auyang Ting menjerit seperti babi hendak disembelih, teriaknya, “Ampun! Toh-lotoa! Siaute bicara jujur, engkau mengampuni kami.”

“Di mana barang-barang itu? Katakan?” jengek Toh Sat.

“Be … benar-benar telah dirampas Loh Tiong-tat ….”

“Plok”, belum lanjut ucapannya, kontan mulutnya ditonjok oleh kepalan Toh Sat sehingga darah tersembur dari mulutnya, bahkan berikut beberapa biji giginya.

To Kiau-kiau menjepit sepotong arang dengan capitan besi dan perlahan-lahan ditaruh di kuduk Auyang Tong, lalu katanya dengan tertawa genit, “Aku tidak setega Toh-lotoa dan tidak sampai hati memukul kau, tapi kalau kau tetap tidak mengaku, di sini masih banyak arang yang membara.”

Tentu saja Auyang Tong menggelepar di lantai kereta keselomot arang panas itu, dia berguling-guling ke dekat kaki Li Toa-jui dan berseru dengan suara serak, “Apa yang kukatakan adalah sesungguhnya, Li-toako, sukalah mengingat per … persaudaraan kita di masa lalu, tolonglah engkau mintakan ampun bagiku.”

“O, apakah To-toaci telah menyakitkan kau?” ucap Li Toa-jui menyesal.

“Ya, sakit … sakit sekali,” ratap Auyang Tong.

“Mana yang sakit?” tanya Li Toa-jui.

“Sekujur badan sakit semua,” jawab Auyang Tong, “lebih … lebih-lebih bagian kuduk sini ….”

“O, apakah daging ini?” tanya Li Toa-jui sambil meraba kuduknya.

“Iy … iya, di situ!” keluh Auyang Tong.

“Baiklah, akan kupotong dagingmu ini, habis itu tentu tidak sakit lagi,” kata Li Toa-jui.

“He, Li-toako … Li ….” teriak Auyang Tong ketakutan.

Tapi Li Toa-jui lantas mengeluarkan sebilah belati dari celah-celah sepatunya, “sret”, kontan ia iris daging di kuduk Auyang Tong, lalu daging itu dipanggangnya di atas api unggun sambil bergumam, “Meski daging panggang tidak selezat daging Ang-sio, tapi kalau diberi sedikit merica dan garam rasanya boleh juga.”

Sembari bicara ia pun mencomot bumbu masak yang disebut itu dari kaleng-kaleng yang tersedia di samping dan ditaburnya di atas daging, lalu dipanggang lagi sejenak, kemudian daging itu benar-benar dimakannya dengan lahap.

Suara mencicit waktu daging itu dipanggang sudah cukup membuat Siau-hi-ji merinding, apa lagi didengar suara mengunyah Li Toa-jui laksana orang makan bistik, sungguh hampir saja ia tumpah. Bahkan Pek Khay-sim, To Kiau-kiau dan lain-lain juga melengos ke arah lain, tak berani melihat cara Li Toa-jui makan daging manusia itu.

“Uwaaak,” mendadak Auyang tong menumpahkan seluruh isi perutnya yang baru saja dimakannya semalam. Bahkan daging sendiri jelas disaksikannya lagi dimakan orang dengan lezatnya, betapa pun perasaannya sungguh sukar dilukiskan.

Sambil mengunyah Li Toa-jui sembari bergumam, “Selama ini tampaknya kungfumu tidak pernah kendur, buktinya dagingmu ini cukup keras dan gurih, jauh lebih enak daripada daging orang gemuk umumnya.”

Wajah Auyang Tong berlepotan debu campur darah, mulutnya melelehkan air kecut yang ditumpahkannya, mukanya sungguh memelas, sambil merangkak di lantai, akhirnya ia menangis tergerung-gerung.

Seorang besar begitu menangis sambil merangkak di lantai, bentuknya sungguh mengharukan bagi yang melihatnya. Tapi Li Toa-jui sama sekali tidak ambil pusing, mendadak ia mendekati Auyang Ting, katanya dengan tertawa, “Apakah badanmu juga kesakitan?”

“O, ti … tidak, sedikit … sedikit pun tidak sakit,” jawab Auyang Ting dengan gemetar.

“Kasihan, kau telah diajar Toh-lotoa sedemikian rupa, masa tidak kesakitan?” tanya Li Toa-jui sambil meraba-raba pipi orang.

Mendadak Auyang Ting menjerit ketakutan “Sung … sungguh tidak sakit ….” tapi mendadak Li Toa-jui menjotosnya satu kali.

“Sekarang sakit tidak?” tanya Li Toa-jui dengan tertawa.

Mulut Auyang Ting jadi penuh darah dan tidak sanggup bersuara pula.

“Kini tentu sangat kesakitan bukan? Biarlah kusembuhkan kau,” kata Li Toa-jui dengan tertawa. “Sreet”, tiba-tiba ia iris juga sepotong daging dari pipi Auyang Ting, lalu dipanggang pula dan dimakan sambil mengomel, “He, aneh, dagingnya tampaknya memang seperti Ti-koa (hati babi), tapi mengapa tiada sedikit pun rasa Ti-koa? Ah, agaknya daging yang bengkak terpukul rasanya menjadi tidak enak. Eh, Siau-hi-ji, hal ini perlu kau ketahui juga.”

Biarpun sudah tahu kedua Auyang bersaudara itu jauh lebih busuk dari pada orang lain, tapi melihat keadaan mereka yang mengenaskan, mau tak mau Siau-hi-ji merasa tidak tega.

Selagi ia bermaksud menolong sekadarnya, tiba-tiba Auyang Ting berteriak, “Baiklah, akan kukatakan, barang itu masih tersimpan dengan baik, pada hakikatnya Loh Tiong-tat tidak pernah menjamahnya, tadi aku sengaja berdusta, harap kalian mengampuni diriku.”

Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Jelas kalian tahu akhirnya toh harus mengaku, kenapa tidak sejak tadi kalian katakan saja, tapi kalian lebih suka tersiksa dulu?”

“Memangnya mereka adalah manusia hina, kalau tidak dipaksa dan disiksa tak mau mengaku,” jengek To Kiau-kiau.

“Jika barangnya masih ada, di mana?” bentak Toh Sat.

“Bila … bila kukatakan, apakah kalian tetap hendak membunuh kami?” tanya Auyang Ting dengan gemetar.

“Haha, kita kan seperti saudara sendiri, masa kami ingin membunuh kalian?” jawab Ha-ha ji.

“Kata-kata ini harus diucapkan Toh-lotoa barulah kami mau percaya,” pinta Auyang Tong.,

Biarpun terkenal kejam dan keji, namun Toh Sat terkenal suka pegang janji, tidak pernah dusta. Hal ini diketahui setiap orang Kangouw.

Maka terdengar Toh Sat menjengek, “Hm, bila kau katakan dengan baik, tentu kami takkan mencelakai jiwa kalian.”

Auyang Ting menghela napas lega, ucapnya, “Barang itu kami sembunyikan di suatu gua yang terletak di puncak Ku-san (bukit kura-kura) ….”

“Untuk itu Siaute bersedia membuatkan sebuah peta,” sambung Auyang Tong.

“Jika sejak tadi kalian menurut begini, tentu aku pun tidak perlu makan daging kalian yang busuk,” kata Li Toa-jui dengan gegetun.

Setelah peta selesai dibuat, semua orang sama bergirang, empat pasang tangan terjulur hendak menerima peta itu, tapi serentetan suara “plak-plok” lantas terdengar, yang ini menampar tangan sana dan yang sana memukul tangan yang ini, segera keempat pasang tangan itu tersurut mundur.

Hanya empat pasang tangan saja yang terjulur sebab tangan Toh Sat selain digunakan untuk membunuh orang tidak mau sembarangan dijulurkan.

Akhirnya Li Toa-jui berteriak, “Peta ini biarlah dipegang Toh-lotoa saja, selain dia tiada orang lain yang dapat kupercayai.”

“Benar, kecuali Toh-lotoa aku pun tidak percaya!” sambung seorang tiba-tiba dengan suaranya yang mengambang dari jauh dan tahu-tahu di luar jendela sudah bertambah sesosok bayangan orang.

“Haha, Im-lokiu memang cerdik, setelah kita berusaha susah payah setengah hari barulah dia muncul untuk ikut ambil bagian,” seru Ha-ha-ji.

“Hm, kalian bersusah payah, memangnya aku tidak?” jengek Im Kiu-yu, si setengah setan setengah manusia.

“Kau susah payah apa? Memangnya kau tergoda oleh setan dan tak dapat melepaskan diri?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Aku memang ketemu setan,” jawab Im Kiu-yu sekata demi sekata.

“Setan apa? Setan kepala besar atau setan gantung?” tanya Ha-ha-ji.

Sinar mata Im Kiu-yu mengerling ke arah Siau-hi-ji, mendadak ia tertawa seram, katanya, “Eh, Siau-hi-ji, coba terka, setan apa?”

“Setan yang dapat membuatmu ketakutan kukira tidak banyak, tapi manusia yang kau takuti kurasa memang ada satu ….” ucap Siau-hi-ji.

Mendadak To Kiau-kiau melonjak dan berteriak, “He, jangan-jangan kau kepergok Yan Lam-thian?!”

Im Kiu-yu menyeringai seram, jawabnya, “Jika aku kepergok, memangnya aku dapat datang ke sini? Aku memang melihat dia menunggang kuda gagah perkasa, tampaknya jauh lebih bersemangat daripada dahulu.”

Girang dan kejut Siau-hi-ji mendengar keterangan ini. Air muka To Kiau-kiau, Ha-ha-ji, Pek Khay-sim dan Li Toa-jui juga berubah semua.

“Sekarang … sekarang dia menuju ke mana?” teriak To Kiau-kiau sambil memburu maju.

“Dari mana kutahu dia hendak pergi ke mana?” jawab Im Kiu-yu. “Bisa jadi sedang menuju ke sini.”

Kata-kata- ini membuat tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin yang termasyhur di seluruh dunia ini menjadi tidak tenteram. Li Toa-jui yang pertama berdiri, ucapnya, “Di sini memang bukan tempat tinggal yang baik, marilah kita pergi saja.”

“Sudah tentu kita harus pergi, kukagum kepada siapa yang tidak mau pergi,” kata Ha-ha-ji.

“Harap … harap kalian membawa serta kami,” mohon Auyang Ting dengan suara gemetar. “Kami … kami juga tidak ingin melihat Yan Lam-thian.”

“Yan Lam-thian, hanya setan yang ingin menemui dia,” tukas Pek Khay-sim.

Nama “Yan Lam-thian” seakan-akan membawa daya pengaruh yang maha besar sehingga tokoh-tokoh yang biasanya tidak kenal apa artinya takut ini juga ngeri mendengar namanya.

Diam-diam Siau-hi-ji bergirang dan terkejut serta kagum pula, pikirnya, “Seorang kalau dapat hidup seperti Yan Lam-thian barulah ada artinya …. Biasanya aku menganggap diriku ini luar biasa, lain daripada yang lain, tapi kalau dibandingkan beliau diriku ini menjadi bukan apa-apa lagi.”

Akan tetapi Yan Lam-thian kan juga manusia, apa yang dapat diperbuat Yan Lam-thian mengapa tak dapat dilakukan Siau-hi-ji? Dalam hal apakah Siau-hi-ji tidak dapat menyamai orang?

Seketika pikiran Siau-hi-ji jadi bergolak dan berontak, tiba-tiba ia merasa putus asa dan patah semangat, tapi mendadak pula darah bergelora dan timbul semangat ksatrianya ….

Mendadak didengarnya jeritan Auyang Ting disertai mengucurnya darah segar, sebelah lengannya dan sebuah pahanya telah ditebas mentah-mentah oleh To Kiau-kiau.

Dengan suara serak Auyang Tong berteriak, “Toh-lotoa, engkau sudah … sudah berjanji takkan … takkan ….”

“Toh-lotoa hanya berjanji takkan mencabut nyawa kalian, tapi kan tidak pernah berjanji lain-lainnya?” kata Kiau-kiau dengan tertawa, sambil bicara kembali sebelah lengan dan sebuah kaki Auyang Tong ditabasnya pula, habis itu satu kaleng penuh gula pasir terus dituang ke tubuh mereka.

Kedua Auyang bersaudara itu tahu sebentar lagi berjuta-juta semut pasti akan terpancing tiba oleh gula pasir itu, tatkala mana mereka akan beratus kali lebih tersiksa daripada sekarang ini.

Segera Auyang Tong berteriak, “Lebih baik kau bu … bunuh saja kami!”

Tapi To Kiau-kiau menjawab dengan tertawa “Toh-lotoa sudah berjanji takkan mencabut nyawa kalian, mana boleh kubunuh kalian.”

“Keji benar kau, ke … kejam amat kau!” teriak Auyang Ting dengan menggereget.

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Begini caramu bicara, tapi bila aku yang jatuh di tangan kalian, bukan mustahil kalian akan berlaku sepuluh kali lebih kejam daripadaku.” Habis berkata ia terus melangkah pergi tanpa menoleh pula.

Teriakan ngeri kedua Auyang bersaudara itu seakan-seakan tidak didengar oleh siapa pun juga.

Sementara itu sang surya sudah hampir terbenam, Siau-hi-ji berdiri di bawah cahaya senja menyaksikan kepergian rombongan To Kiau-kiau, sebelum berpisah para tokoh Cap-toa-ok-jin itu sama berbicara dengan anak muda itu, tapi apa yang dikatakan mereka tidak diperhatikan sungguh-sungguh oleh Siau-hi-ji, yang diketahui adalah mereka hendak pergi ke Ku-san, Siau-hi-ji tidak di suruh ikut, Siau-hi-ji sendiri juga tidak ingin ikut. Ia cuma ingat pesan mereka, “Awas terhadap Yan Lam-thian, usahakan menumbangkan pengaruh Kang Piat-ho. Terasa kurang leluasa jika kau ikut pergi bersama kami, biarlah kelak kami akan datang mencari kau.”

Siau-hi-ji tidak menaruh perhatian pada pesan mereka itu, soalnya hatinya sedang bimbang, entah sejak kapan pikirannya mendadak penuh diisi oleh nama “Yan Lam-thian”.

“Yan Lam-thian, mengapa aku tidak dapat belajar seperti Yan Lam-thian? tapi malah belajar seperti To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan sebangsanya? Tatkala kubenci pada seseorang, mengapa aku tak dapat meniru Yan Lam-thian, carilah orang itu dan bertempur secara terang-terangan dengan dia, tapi malah meniru caranya To Kiau-kiau dan lain-lain, hanya mengganggu secara diam-diam?!”

Hidup seorang lelaki sejati, seharusnya kalau benci ya benci, suka ya suka, apa yang ingin dilakukan segera lakukan saja, siapa pun tak dapat merintanginya.

Sayup-sayup masih terdengar jeritan ngeri Auyang bersaudara yang terbawa angin lalu.

Mendadak Siau-hi-ji memutar balik menuju ke rumah bobrok yang sepi itu.

Kedua orang gemuk itu masih menggeletak di tengah genangan darah, beribu-ribu dan berjuta-juta semut tampak merubung tiba dari segenap penjuru, penderitaan kedua orang itu sungguh sukar untuk dilukiskan.

Ketika melihat Siau-hi-ji, dengan suara terputus-putus mereka berteriak, “To … tolong, sudilah engkau mem … membantuku, bacoklah kami masing-masing satu kali, mati pun kami … merasa berterima kasih padamu!”

Siau-hi-ji menghela napas, tiba-tiba ia angkat kedua orang itu keluar, ia mendapatkan sebuah sumur, di situlah ia cuci badan mereka dari kerumunan semut.

Sungguh mimpi pun kedua Auyang bersaudara tidak pernah menyangka anak muda itu akan menolong mereka, mereka pandang Siau-hi-ji dengan melenggong, penuh rasa kejut, bingung dan juga terima kasih.

“Kalian tentu heran mengapa mendadak aku berubah welas asih bukan?” gumam Siau-hi-ji. “Meski kutahu kalian ini bukan manusia baik-baik, tapi melihat cara kalian mati tersiksa begini sungguh hatiku tidak tega.”

Auyang Ting menatapnya dengan tajam, katanya kemudian, “Jika engkau suka menyelamatkan kami, tentu … tentu kami akan membalas budi kebaikanmu ini secara setimpal.”

“Asalkan kalian dapat hidup, tentu akan kutolong tanpa mengharapkan balas jasa apa pun,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Auyang Ting memandangnya dengan sorot mata heran seolah-olah tidak pernah kenal anak muda ini. Mendadak ia berkata, “Harta karun itu sebenarnya tidak tersimpan di Ku-san.”

Ucapan yang tiba-tiba ini membuat Siau-hi-ji tercengang, ia menegas, “Tidak tersimpan di Ku-san katamu?”

Wajah Auyang Ting yang tadinya membuat setiap orang merasa kasihan bila melihatnya itu kini mendadak menggereget. “Ya, ketika kukatakan hal ini tadi tentu tiada seorang pun yang menyangka keteranganku adalah palsu. Nah, justru kuharap mereka akan berpikir demikian, kalau tidak masakah kawanan setan iblis itu dapat tertipu olehku?”

“Paling-paling mereka cuma kembali dengan tangan hampa saja, bukan sesuatu tipuan yang luar biasa?” ujar Siau-hi-ji.

Walaupun Auyang Tong tadi berkelejetan di lantai saking kesakitan, tapi sekarang dia masih dapat bergelak tawa dan berkata, “Hahaha, tipu kami masa cuma membuat mereka pulang-pergi dengan tangan hampa belaka?”

“Hm, sekali ini biarpun mereka dapat pulang dengan hidup, sedikitnya setengah nyawa mereka pun akan kecantol di Ku-san,” tukas Auyang Ting dengan menyeringai.

“Sebab apa?” Siau-hi-ji mengernyit kening.

Auyang Tong terkekeh-kekeh, katanya, “Sebab tempat yang kami katakan itu sebenarnya tiada tersimpan harta karun segala, yang ada cuma seorang iblis jahat, sudah lama sekali iblis itu tidak tampil di muka umum, mimpi pun mereka takkan menyangka iblis itu justru sembunyi di Ku-san sana.”

“Mereka cuma tahu betapa menakutkannya Yan Lam-thian, tapi tidak tahu iblis itu sesungguhnya berpuluh kali lebih menakutkan daripada Yan Lam-thian,” demikian tutur Auyang Ting. “Cap-toa-ok-jin kalau dibandingkan iblis itu boleh diibaratkan anak kecil berbanding orang tua.”

“Mengapa aku tidak tahu di dunia masih ada manusia begitu?” tanya Siau-hi-ji.

“Hal-hal yang tidak kau ketahui masih cukup banyak,” ujar Auyang Tong.

“Umpama kami harus mati, tapi mereka pun tak bisa tenang,” kata Auyang Ting. “Bila ketemu iblis itu, penderitaan mereka mungkin berpuluh kali lebih hebat daripada kami.”

“Kalau kalian sudah akan mati, untuk apa mesti membikin susah orang lain?” Siau-hi-ji menggeleng seraya tersenyum.

“Soalnya kutahu mereka toh takkan melepaskan kami, biarlah menderita dan bertambah tersiksa juga akan kami seret mereka ke dalam lumpur, aku Auyang Ting biarpun mengadu jiwa juga ingin mendapatkan untung,” kata Auyang Ting dengan tertawa.

“Ya, jiwa kami berdua mendapatkan imbalan lima jiwa mereka, jual beli ini cukup menguntungkan, aku Auyang Tong memang mati pun tidak mau rugi,” tukas Auyang Tong dengan terbahak.

Dalam keadaan menderita dan kesakitan, tapi suara tertawa kedua orang ini entah betapa gembiranya, tidak saja melupakan semua siksaan, bahkan mati dan hidup juga terlupakan seluruhnya.

Siau-hi-ji merinding sendiri melihat cara mereka bergelimpangan menahan sakit di samping tertawa gembira pula, ia menggeleng kepala dan tersenyum getir, katanya, “Manusia macam kalian ini sungguh jarang ada, pada hakikatnya kalian ini bukan lantaran akan mati maka ingin membikin susah orang lain, tapi lebih suka mati demi membikin susah orang lain.”

Dilihatnya kedua bersaudara yang lebih suka membikin susah orang ini mulai lemah suara tertawanya, Auyang Ting menggelinding ke samping Auyang Tong dan bertanya, “Lotoa, apakah kita benar-benar hendak beritahu bocah ini tempat penyimpanan harta karun itu?”

“Pembawaan bocah ini bukanlah orang baik-baik, setelah mendapat harta karun kita itu pasti tidak sedikit orang yang akan dicelakainya. Biar kita sudah mati, tapi harta yang kita tinggalkan masih dapat dimanfaatkan oleh bocah ini, bukanlah ini pun suatu hasil karya kita yang gemilang?” ujar Auyang Ting.

“Betul, betul,” seru Auyang Tong tertawa. “Betapa pun Lotoa memang … memang lebih pintar daripadaku ….” dia tertawa terus dengan tubuh mengejang, suara bicaranya juga terputus-putus.

“Kata orang, manusia yang akan mati ucapnya tentu juga bajik, tapi ajal kalian sudah dekat, nyatanya tetap tidak mau mengucapkan beberapa patah kata yang baik,” kata Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Hidup jadi orang … jahat, setelah mati juga … juga akan menjadi setan jahat ….” kata Auyang Tong dengan menyeringai.

“Biarpun kuberitahu, tempat penyimpanan harta karun yang sesungguhnya ialah berada di … di kota Hankau, di gang Pat-po pada rumah nomor tiga di ujung sebelah kanan yang berpintu warna kuning,” tutur Auyang Tong.

Dengan terkekeh-kekeh Auyang Ting menyambung, “Mereka sama mengira tempat penyembunyian harta karun itu pasti di suatu gua sepi dan jarang didatangi manusia, tapi tak tersangka bahwa kami justru menyimpan harta itu di suatu tempat yang ramai, di tengah kota yang penuh penduduk sehingga mimpi pun tak terduga oleh mereka.”

Suara mereka makin lama makin lemah sehingga hampir tak jelas lagi, luka mereka pun mulai mengering dan tidak mengalirkan darah pula.

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Baiklah, sekarang boleh kalian menjadi setan jahat saja, cuma jangan lupa, jadi setan jahat harus masuk neraka, di sana pun kalian akan disiksa, mungkin terlebih menderita daripada sekarang.”

Suara kedua Auyang bersaudara serentak berhenti, seketika terbayang oleh mereka adegan di neraka yang menyeramkan itu, ada bukit bergolok dan wajan minyak mendidih yang sedang menantikan kedatangan mereka.

Sekonyong-konyong tubuh Auyang Tong meringkal jadi satu, teriaknya dengan histeris, “Tidak, aku bukan orang jahat … aku pun tidak ingin menjadi setan jahat … aku tidak … tidak mau masuk neraka.”

Baru saja Auyang Ting masih bergelak tertawa, kini air mata sudah bercucuran, ratapnya, “Ampun, kumohon pertolonganmu, ampunilah kami.”

“Aku pun ingin mengampuni kalian, cuma sayang aku bukan Giam-lo-ong (raja akhirat),” ucap Siau-hi-ji.

“Tolong bantulah kami, gunakanlah harta karun kami itu untuk melakukan sesuatu yang mulia bagi kami,” seru Auyang Tong.

“Betul, sudah terlalu banyak perbuatan busuk yang kami lakukan, sudilah engkau berbuat sesuatu sekadar menebus dosa kami,” sambung Auyang Ting.

“Sungguh aneh, ada sementara orang mengira dengan uangnya yang busuk akan dapat digunakan menebus dosanya, jalan pikiran ini bukankah teramat naif? Sebab kalau benar demikian adanya, bukankah surga akan menjadi milik orang yang beruang dan si miskin harus masuk neraka seluruhnya?”

Mendadak kedua Auyang bersaudara meratap, “Tolonglah, sudikah engkau membantu kami!”

“Kalian sudah takut,” tanya Siau-hi-ji.

Sekujur badan mereka sama gemetar dan tidak sanggup bersuara pula, mereka hanya mengangguk saja sekuatnya.

Siau-hi-ji menggeleng-geleng, katanya, “Bilamana seluruh orang jahat di dunia ini menyaksikan keadaan kalian sekarang ini, mungkin selanjutnya akan banyak berkurang manusia yang berani berbuat jahat.” Setelah menghela napas gegetun, lalu ia menyambung, “Tapi apa pun juga pasti akan kucoba, biarpun kalian menyesal sesudah terlambat, namun toh lebih baik daripada sama sekali tidak mau menyesal. Nah, kalian boleh mangkat dengan hati lega.”

Dalam hidup ini setiap orang kebanyakan mempunyai satu hari yang khusus pantas untuk dikenangkan. Siau-hi-ji juga mempunyai hari kenang-kenangan demikian.

Selama seharian ini mendadak Siau-hi-ji menemukan banyak persoalan yang sebelum ini tidak pernah dipikirkan dengan mendalam walaupun juga tidak asing lagi baginya.

Sehari ini pun berharga untuk dikenang sekalipun bagi Siau-hi-ji yang banyak ragam dan gayanya itu, dalam sehari ini ia telah mengalami rasa duka dan kecewa yang takkan terjadi di kemudian hari, jika sebelum ini dia masih tergolong anak-anak, maka sehari ini telah membuatnya dewasa.

Apa pun juga akhirnya hari ini telah lalu pula, kini Siau-hi-ji telah mencuci bersih mukanya, ia membeli seperangkat pakaian warna biru langit, setelah berdandan dan bercermin, ia merasa cukup puas akan diri sendiri.

Walaupun sudah sehari semalam tidak tidur, tapi selama ini semangat tak pernah sebaik sekarang, hanya perutnya saja yang berkeruyukan minta diisi. Maka ia mencari sebuah rumah makan yang terkenal enak dan dahar sekenyangnya.

Rumah makan yang besar ini ada berpuluh buah meja, semuanya sudah penuh tamu, kebanyakan adalah tokoh-tokoh dunia persilatan, rupanya orang-orang Kangouw yang datang kemari itu belum banyak yang meninggalkan Ankhing.

Orang-orang Kangouw ini paling gemar makan, suka makan enak, berani bayar, cara mereka membuang uang sama seperti uang didapatkan dari mencuri atau merampok. Dan juragan restoran mana pun paling suka pada tetamu yang demikian ini.

Dengan perasaan menikmati tontonan, Siau-hi-ji menyaksikan cara orang-orang Kangouw itu makan dan minum, ia merasa orang-orang yang kelihatan kasar-kasar itu juga ada segi-segi yang menyenangkan.

Didengarnya seorang di meja sebelah sana sedang berkata dengan tertawa, “Wah, malam nanti tentunya Au-heng juga akan hadir di Cong-goan-lau itu.”

Orang yang dipanggil “Au-heng” (saudara Au) itu bergelak tawa dan menjawab, “Ya, syukur Kang-tayhiap menghargai diriku dan juga mengirim sehelai undangan padaku, dengan sendirinya malam nanti Cayhe akan hadir di restoran ini untuk meramaikan suasana.”

Orang she Au ini sengaja bicara dengan suara keras, benar saja sorot mata dari berbagai arah seketika tertumpah kepadanya dengan rasa kagum dan juga iri.

Menyusul ada beberapa orang lain juga mengeluarkan kartu undangan masing-masing untuk pamer, orang yang tidak dapat memperlihatkan kartu undangan menjadi merah mukanya dan juga ada yang pucat. Bahwasanya Kang-lam-tayhiap menjamu tamu dan mereka tidak diundang, tentu saja mereka merasa malu.

Geli dan dongkol juga Siau-hi-ji menyaksikan semua itu. Bahwa Kang Piat-ho masih punya muka untuk pesta pora dan tamu yang diundang justru merasa bangga, ini benar-benar membuat dada Siau-hi-ji hampir meledak.

Tiba-tiba seorang yang duduk dekat jendela sana berkata dengan heran, “He, katanya malam ini Kang-tayhiap menjamu tamu untuk merayakan kemenangan Hoa-kongcu, tapi sekarang mengapa Hoa-kongcu akan pergi? Memangnya dia tidak mau beri muka kepada Kang-tayhiap?”

“Hoa-kongcu dan Kang-tayhiap adalah sahabat sehidup semati, Hoa-kongcu tidak segan berkorban bagi Kang-tayhiap sekalipun harus menghadapi bahaya, masa beliau malah tidak mau memberi muka kepada Kang-tayhiap?” demikian seorang lagi menanggapi.

“Ah, hari ini cuaca cerah dan hawa sejuk, Hoa-kongcu hanya membawa pacarnya melancong keluar kota, masa beliau benar-benar akan pergi begitu saja?” ujar orang ketiga.

Siau-hi-ji juga duduk dekat jendela, tanpa terasa ia pun melongok keluar. Dilihatnya sebuah kereta kuda sedang datang dari timur sana, tirai jendela tersingkap, samar-samar kelihatan bayangan si cantik berambut panjang gombyok.

Tertampak pula Hoa Bu-koat dengan gagahnya naik kuda dengan pelana mengkilat mengiring di samping kereta dan kadang-kadang bersenda gurau dengan penumpang di dalam kereta.

Siau-hi-ji jadi terkesima menyaksikan itu.

Sementara itu tetamu restoran itu sudah sama merubung di depan jendela, maka terdengar pula suara kagum dan takjub di sana-sini, bahkan ada lagi yang menyapa, “Selamat, Hoa-kongcu!”

Hoa Bu-koat mendongak dan membalas dengan senyuman tawar. Setiap orang si atas loteng restoran itu khawatir dirinya tidak terlihat tokoh muda itu, maka semuanya berusaha menjulurkan kepalanya masing-masing. Tapi Siau-hi-ji justru sebaliknya, kepalanya mengkeret ke dalam malah, khawatir dilihat oleh Hoa Bu-koat.

Setelah kereta Hoa Bu-koat itu lewat ke sana dan semua orang kembali ke tempat duduk masing-masing, tapi Siau-hi-ji masih temangu-mangu di tempatnya, tiba-tiba ia bergumam, “Caraku main sembunyi-sembunyi begini menghindari dia entah harus berlangsung sampai kapan? Memangnya selamanya aku harus menghindari dia?” berpikir sampai di sini, mendadak ia berbangkit terus lari ke bawah.

Apabila Siau-hi-ji sudah berpikir harus mengerjakan sesuatu, maka bagaimana akibatnya sama sekali tak terpikir lagi olehnya. Rupanya ini memang sifat keturunan ayah-ibunya.

Maklumlah, bilamana Kang Hong dan Hoa Goat-loh (ayah dan ibu Siau-hi-ji) tidak mempunyai sifat begitu, tentunya dahulu mereka takkan melarikan diri dari Ih-hoa-kiong tanpa memikirkan segala akibatnya! Orang she Kang kalau sudah ingin mengerjakan sesuatu, mati pun pasti akan dilaksanakannya, bila dia sudah mencintai seseorang, mati pun dia tetap mencintainya. Kang Hong itu tampaknya halus dan lemah, tapi wataknya lebih keras daripada baja.

Dalam hal ini Siau-hi-ji ternyata serupa dengan sang ayah. Begitulah dia terus memburu ke arah kereta Hoa Bu-koat.

Hakikatnya Siau-hi-ji tidak peduli bahwa dirinya sedang menjadi sasaran pandangan orang yang berlalu-lalang dengan terheran-heran karena melihat dia berlari-lari sepanjang jalan. Maka hanya sebentar saja dia sudah dapat menyusul kereta kuda Hoa Bu-koat tadi.

Tatkala mana kereta itu sudah hampir ke luar kota, terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata dengan tertawa, “Sudah beberapa hari engkau merasa masygul, maka perlu kita melancong keluar kota untuk menghirup hawa segar ….”

Pada saat itulah tiba-tiba seorang berteriak dari belakang, “Berhenti dulu, Hoa Bu-koat!”

Tentu saja Hoa Bu-koat mengernyit kening dan menahan kudanya, baru saja kepala Thi Sim-lan sedikit menongol keluar, dengan cepat Siau-hi-ji sudah melayang tiba.

Munculnya Siau-hi-ji secara mendadak sudah tentu membuat Thi Sim-lan melongo terkejut, bahkan Hoa Bu-koat juga melengak dan hampir-hampir tidak percaya pada mata sendiri.

Sedapatnya Siau-hi-ji menahan perasaannya dan sama sekali tidak memandang sekejap pun ke arah Thi Sim-lan, ia cuma menatap Hoa Bu-koat tanpa berkedip, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, tentunya kau tidak menyangka aku akan mencarimu bukan?”

“Ya, memang tak tersangka,” jawab Bu-koat. Ia seperti mau tertawa, tapi entah mengapa, ternyata tidak dapat tertawa.

“Kau kira kedatanganku ini untuk mengantarkan kematian bukan?” tanya pula Siau-hi-ji.

“Betul,” jawab Bu-koat sambil menghela napas.

“Kau memang orang jujur dan suka terus terang, tapi semua ini lantaran kau menganggap dirimu jagoan dan tidak gentar terhadap siapa pun juga, makanya kau tidak perlu pura-pura, begitu bukan?”

Tampak sinar mata Hoa Bu-koat berkelebat, tapi dia tetap menjawab dengan hambar, “Ya, betul!”

Menghadapi orang demikian, betapa pun Siau-hi-ji tidak sanggup tertawa lagi, teriaknya pula, “Jika kau bertekad akan membunuhku, mengapa kau tidak mencari diriku, tapi malah menunggu aku mencarimu?”

“Aku sendiri sebenarnya tidak ingin membunuhmu,” jawab Hoa Bu-koat dengan tenang, “sebab itulah aku tidak terburu-buru mencarimu. Tapi sekarang setelah kulihat dirimu, mau tak mau aku harus membunuhmu.”

Pada saat ini juga Thi Sim-lan baru tersadar dari kagetnya tadi, mendadak ia membuka pintu kereta dan menerobos keluar serta mengadang di depan Siau-hi-ji sambil berseru, “Sekali ini dia sendiri yang datang mencarimu, adalah tidak layak bila engkau membunuhnya.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji mendorong dengan kuat sehingga Thi Sim-lan tertolak ke sana dan hampir menumbuk pada pintu kereta.

Air muka Hoa Bu-koat tampak berubah, tapi ia tetap bisa menahan diri dan tidak mau membuka suara.

Sambil menatap Siau-hi-ji, Thi Sim-lan berseru dengan suara gemetar, “Meng … mengapa engkau bersikap demikian padaku?”

Tapi sama sekali Siau-hi-ji tidak memandang nona itu, ia melototi Hoa Bu-koat dan mendengus, “Hm, kabarnya nona Thi ini adalah bakal istrimu, mengapa dia sengaja ikut campur urusanku? Padahal sama sekali aku tidak kenal siapa dia?”

Thi Sim-lan menggigit bibir dengan kuat, meski bibirnya sampai berdarah, meski air mata sudah meleleh, tapi dia tetap berdiri di situ.

Bagaimanapun Siau-hi-ji berbuat kasar terhadapnya, asal dia melihat anak muda itu, mau tak mau ia ingin mendekatinya, biarpun Siau-hi-ji menghalaunya dengan cambuk juga sukar mengusirnya.

Pedih hati Hoa Bu-koat, sedapatnya ia tidak memandang Thi Sim-lan, katanya dengan hambar kepada Siau-hi-ji, “Apakah sekali ini kau tidak perlu bantuan orang lain lagi?”

Siau-hi-ji menengadah dan bergelak tertawa, jawabnya, “Jika kuperlu bantuan orang mengapa kudatang mencarimu?” mendadak ia berhenti tertawa dan berteriak, “Kau sendiri juga tahu, orang macam diriku ini tidaklah mungkin datang untuk mengantar kematian belaka, lantas untuk apakah kudatang kemari? Soal ini tentu membuatmu heran bukan?”

“Ya, aku memang heran,” ucap Bu-koat.

“Bahwa kau bertekad ingin membunuhku, tapi selalu gagal, sampai-sampai aku pun merasa cemas bagimu. Apalagi yang kau pikir hanya ingin membunuhku saja, mungkin kau tidak tahu bahwa aku pun ingin membinasakan kau.”

“Kau takkan mampu membunuhku,” kata Bu-koat.

“Kau anggap aku tidak mampu membunuhmu, tapi aku pun yakin kau tidak dapat membunuhku, jika keadaan begitu terus berlarut-larut, setelah dua ratus tahun lagi entah akhirnya kau yang benar atau aku yang tepat. Bahwa hatiku gelisah, mungkin kau terlebih gelisah daripadaku. Sebab itulah sekarang kudatang ke sini, tujuanku adalah untuk mengadakan pemberesan denganmu.”

“Kau ingin membereskannya dengan cara bagaimana?” tanya Bu-koat dengan tersenyum.

“Asalkan kau menentukan suatu tempat, tiga bulan kemudian kupasti menemui kau di sana untuk mengadakan pertarungan menentukan, sebelum salah satu pihak kalah atau mati, siapa pun tidak boleh lari.”

“Tentunya kau tahu tidak mungkin aku lari,” ucap Bu-koat dengan tersenyum tawar.

“Jadi kau setuju?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, setuju,” jawab Bu-koat.

Siau-hi-ji menghela napas lega, katanya pula, “Tapi sebelum janji waktu tiga bulan tiba, biarpun bertemu dengan aku juga kau harus pura-pura tidak tahu, lebih-lebih tidak boleh menyatroni aku lebih dulu.”

Bu-koat termenung tanpa menjawab.

Dengan suara keras Siau-hi-ji lantas menyambung, “Jika aku tidak datang mencari kau, selama tiga bulan ini jelas kau pun tak dapat menemukan diriku. Jadi syarat yang kukemukakan ini tidak merugikanmu, mengapa kau tidak berani menerimanya?”

“Di balik syaratmu ini kupikir pasti ada tipu muslihat lain,” kata Hoa Bu-koat perlahan.

“Jadi kau tidak … tidak setuju?” Siau-hi-ji menegas dengan melotot.

Mendadak Hoa Bu-koat memutar kudanya dan berkata, “Baik, tiga bulan kemudian aku akan berada di Bu-han, di sana kau pasti dapat menjumpaiku.”

“Bagus, sedemikian kupercaya padaku, aku pasti takkan mengecewakanmu” seru Siau-hi-ji, habis berkata segera ia pun membalik tubuh dan bertindak pergi dengan langkah lebar.

Thi Sim-lan berharap anak muda itu akan menoleh dan memandangnya sekejap, tapi Siau-hi-ji tetap tidak berpaling sama sekali, sampai bayangan anak muda itu sudah lenyap di kejauhan, Thi Sim-lan masih berdiri termangu-mangu di situ.

Dengan tenang Hoa Bu-koat menunggu di atas kudanya tanpa mengusiknya. Di samping mereka orang berlalu lalang, setiap orang sama memandang mereka dengan heran karena penunggang kuda dan penumpang kereta berhenti di situ. Sudah tentu tiada yang tahu bahwa meski mereka berhenti di situ, namun hati mereka telah melayang jauh ke sana.

Entah berselang berapa lama lagi, kemudian perlahan-lahan Thi Sim-lan naik ke atas keretanya, pintu kereta ditariknya, dilihatnya Bu-koat masih tetap bertengger di atas kudanya, bagaimana perasaannya sungguh sukar dilukiskan.

Si kusir kereta tidak tahu kedua muda-mudi itu sedang bertengkar urusan apa, setelah menunggu sekian lama dan akhirnya si nona masuk lagi ke dalam kereta, segera ia bersuit dan menghela keretanya keluar kota.

Maksud tujuan Hoa Bu-koat mengajak Thi Sim-lan pesiar keluar kota adalah untuk menghibur si nona, tapi kini setelah keluar kota perasaan kedua orang menjadi kusut dan sukar dipecahkan.

Berulang-ulang Thi Sim-lan menggulung tirai kereta, lalu diturunkan lagi, meski pemandangan alam di luar kota seindah lukisan, namun tiada minatnya lagi buat menikmatinya.

Sais kereta itu merasa serba susah oleh suasana dingin itu, ia bertanya mengiring senyum, “Nona dan Kongcu hendak ke mana?”

Hoa Bu-koat tidak bersuara, sekenanya ia angkat cambuk menuding ke depan.

Di depan sana tampak semak-semak bunga beraneka warna sedang mekar semerbak, sebuah sungai kecil mengalir di samping pepohonan berbunga, air sungai tampak berkilauan di bawah cahaya sang surya menjelang musim rontok.

Di kejauhan sana ada seorang lelaki rudin sedang berjemur sambil berbaring di tepi sungai, kicau burung dengan harum bunga, rumput hijau menyelimuti bumi laksana permadani.

Bu-koat lompat turun dari kudanya dan berdiri termangu-mangu di bawah pohon yang berbunga, angin sepoi-sepoi mengusap wajahnya yang cakap itu, pakaiannya yang serba putih melambai perlahan tertiup angin, mengapa dia tidak melanjutkan perjalanan?

Perlahan-lahan Thi Sim-lan membuka pintu kereta dan turun, ia berjalan di atas tanah berumput halus dan memandangi bayangan punggung Hoa Bu-koat, ia pun termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia berucap, “Sudah jelas tahu di balik usulnya itu pasti ada tipu muslihatnya, tapi mengapa engkau menerimanya?”

Hoa Bu-koat seperti menghela napas, tapi tidak menoleh dan juga tidak mau menjawab.

“Apakah karena aku?” tanya Sim-lan dengan lirih.

Hoa Bu-koat menggeleng, seperti mau bicara sesuatu tapi urung.

Thi Sim-lan melangkah lewat samping Hoa Bu-koat, ia petik setangkai bunga dari ranting pohon yang melambai rendah, bunga yang tak diketahui apa namanya itu diremasnya hingga hancur, mendadak ia berpaling menghadapi anak muda itu dan berkata, “Mengapa engkau tidak bicara?”

“Bungkam bukankah terkadang lebih baik daripada bicara?” akhirnya Bu-koat berucap dengan tersenyum hambar.

Thi Sim-lan menunduk, katanya, “Tapi kutahu dalam hatimu banyak yang hendak kau katakan, bila kau katakan rasanya hatiku akan lega malah.”

“Apa yang hendak kukatakan bukankah sudah kau ketahui seluruhnya?” kata Bu-koat.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lan memutar tubuh ke samping, katanya, “Selama dua tahun ini engkau senantiasa menjaga diriku, jika tiada engkau tentu sejak dulu aku telah mati, selama hidupku tiada orang sebaik ini terhadap diriku seperti engkau.”

Bu-koat memandangi rambut di belakang leher si nona yang bergerak-gerak terusap angin itu tanpa menjawab.

Si nona menghela napas perlahan, lalu berkata pula, “Selama hidupku ini juga tiada orang sebusuk padaku seperti dia itu, tapi … tapi entah mengapa, bila melihat dia pikiranku menjadi kusut dan tak berdaya.”

Bu-koat memejamkan mata, katanya, “Kata-kata ini sebenarnya tidak perlu kau katakan padaku.”

Bahu Thi Sim-lan rada gemetar, ucapnya, “Aku pun tidak tahu apakah kata-kata ini pantas kukatakan atau tidak, tapi bila tidak kukatakan terus terang, hatiku terasa susah dan merasa berdosa padamu.”

“Mana dapat aku menyalahkan engkau? Mana pula engkau berdosa padaku?” ucap Bu-koat dengan suara halus.

“Mengapa … mengapa engkau tidak marah padaku? Mengapa engkau tetap begini baik padaku? Kau … kau ….” mendadak Thi Sim-lan mendekap batang pohon dan menangis terisak-isak.

Akhirnya Hoa Bu-koat mementang matanya dan mendekati si nona, seperti ingin membelai rambutnya, tapi tangan baru terjulur segera ditarik kembali, ia menengadah melihat cuaca, setelah menghela napas perlahan, lalu berkata, “Hari sudah petang, marilah kita pulang saja.”

Di kejauhan sana si lelaki rudin tadi tampak menggeliat kemalas-malasan, tiba-tiba ia menggerundel, “Masih muda belia, hanya sedikit soal kecil lantas susah dan merasa tersiksa, bila kalian sudah dewasa, tentu akan tahu di dunia ini masih banyak urusan lain yang jauh lebih menderita.”

Sebenarnya Hoa Bu-koat tidak menaruh perhatian padanya, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa percakapannya dengan suara lirih di sini dapat didengar orang itu dari jarak sejauh itu.

Malahan Thi Sim-lan juga melengak, ia berhenti menangis dan berpaling ke sana.

Tampak lelaki rudin itu menguap dan mendadak melompat bangun.

Mendingan kalau dia tetap berbaring di situ, begitu dia berdiri, seketika Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan terkejut.

Sungguh tak tersangka orang yang berbaring seperti kelaparan itu setelah berbangkit ternyata begini gagah dan tangkas, biji matanya memancarkan sinar tajam, kedipannya seakan-akan kilat berkelebat.

Jelas kelihatan mukanya yang halus, alis tebal dan wajah kotor mengkilap kehijau-hijauan, sekilas pandang sukar juga untuk diketahui berapa usianya.

Sejak tampil di Kangouw, ksatria mana pun di dunia ini hampir tiada yang terpandang oleh Hoa Bu-koat, tapi entah mengapa, lelaki rudin yang kelamas-malasan ini seakan-akan memiliki daya tarik yang sukar dilukiskan, meski perawakannya tidak terlalu tinggi besar, tapi siapa pun yang berhadapan dengan dia tentu akan merasa dirinya sendiri teramat kecil. Sinar matanya yang gemerdep juga membuat orang tak berani menatapnya.

Ketika melihat Hoa Bu-koat, agaknya lelaki itu pun terkesiap, ia bergumam perlahan, “Jangan-jangan dia inilah? Kalau tidak masa begini mirip? Urusan orang lain boleh kubiarkan, tapi dia … mana boleh kutinggal diam dan tidak membantu melaksanakan keinginannya.”

Bu-koat dan Sim-lan tidak mendengar apa yang digumamkannya, dalam pada itu lelaki itu pun melangkah ke sini dengan lamban, jalannya juga kemalas-malasan dan sangat lambat. Tapi aneh, hanya kelihatan dia melangkah beberapa tindak saja tahu-tahu ia sudah berada di depan Hoa Bu-koat.

Baru sekarang Bu-koat dapat melihatnya dengan jelas. Ternyata pakaian yang dipakainya semula berwarna hitam tapi sudah luntur sehingga lebih tepat dikatakan berwarna kelabu. Kaki memakai kasut rumput buntut, tangannya besar-besar dengan otot yang tampak merongkol, sedemikian panjang tangannya, sehingga hampir melampaui dengkul. Pinggang terikat seutas tali rumput, tapi pada tali pinggang itu terselip sebatang pedang yang sudah karatan.

Lelaki itu pun mengawasi Hoa Bu-koat dengan teliti, dari kepala ke kaki, lalu dari bawah ke atas, tiba-tiba ia tertawa dan bertanya, “Apakah hatimu sangat menyukai nona ini?”

Sudah tentu Hoa Bu-koat tidak pernah menyangka akan ditanya demikian, ia jadi melengak dan tergegap, “Aku … aku ….”

“Kalau suka ya bilang suka, tidak suka katakan tidak suka, seorang lelaki sejati kenapa kata-kata demikian saja tidak berani diucapkan?” bentak lelaki itu dengan berkerut kening.

Sejak kecil hingga sebesar ini belum pernah ada orang bicara sekasar ini kepada Hoa Bu-koat, maka ia jadi melengak pula dan tidak menjawab. Dahi orang itu terkerut lebih kencang, katanya, “Hm, kau bilang diam lebih baik daripada bicara segala, semuanya itu kentut belaka. Coba jawab, bilamana kau tidak bicara, dari mana orang akan tahu kau menyukai dia?”

Mau tak mau muka Hoa Bu-koat menjadi merah dan lebih-lebih tidak sanggup bersuara. Bila orang lain bicara demikian padanya tentu akan dianggapnya sebagai kurang sopan, tapi entah mengapa, kata-kata yang diucapkan lelaki ini baginya terasa membawa semangat jantan dan menyentuh kalbunya.

Muka Thi Sim-lan juga merah mendengar kata-kata lelaki itu, tiba-tiba ia menimbrung, “Ada sementara kata-kata yang tidak perlu diucapkannya, tapi kutahu isi hatinya.”

Orang itu terbahak-bahak sambil menatap Thi Sim-lan dengan sorot matanya yang tajam, katanya, “Bagus, bagus sekali, tak tersangka kau lebih terus terang daripada dia, anak perempuan macam begini, jangankan dia, bahkan aku pun rada-rada suka.”

Jika orang lain berkata demikian di hadapannya, bukan mustahil akan dipersen beberapa kali gamparan kontan oleh Thi Sim-lan. Tapi kini si nona hanya menunduk saja, sedikit pun tidak marah.

Dengan tertawa lelaki itu berkata pula, “Jika demikian, jadi kau memang tahu dia menyukaimu?”

“Ya, kutahu,” jawab Sim-lan dengan tabahkan hati.

“Dan kau sendiri menyukai dia atau tidak?”

“Aku bukan ….” Sim-lan merandek dan memandang Hoa Bu-koat sekejap, lalu menunduk dan melanjutkan, “… bukannya aku tidak suka, cuma ….”

Tanpa menunggu habis ucapan si nona, kembali orang itu bergelak tertawa dan berkata, “Jika bukannya tidak suka, itu artinya suka. Dan kalau kalian sama-sama suka maka biarlah aku yang ‘Coem-lang’ (perantara) dan sekarang juga kalian boleh menikah di sini.”

Sudah tentu ucapan ini membuat Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan terkejut.

“He, apakah tuan ini berkelakar?” seru Hoa Bu-koat dengan muka merah.

Tapi orang itu jadi mendelik, teriaknya, “Masa urusan begini boleh dibuat berkelakar? Lihatlah tempat seindah ini, burung berkicau merdu dan bunga mekar semerbak, angin meniup sejuk dan cuaca cerah, jika kalian kawin sekarang juga di sini bukankah jauh lebih baik daripada di tempat lain?”

Makin omong makin gembira orang itu, kembali ia terbahak-bahak, lalu menyambung pula, “Cahaya lilin mana bisa menandingi gemilangnya sinar sang surya, permadani apa pun di dunia ini masa dapat melebihi rumput halus menghijau begini, kalian boleh segera menyembah kepada langit dan bumi di bawah cahaya matahari dan di atas tanah berumput ini, sungguh merupakan peristiwa bahagia bagi orang hidup, bahkan aku pun ikut merasa sangat gembira.”

Bu-koat hanya mendengarkan ocehan orang itu, ia sendiri menjadi bimbang dan entah harus girang atau mesti marah. Thi Sim-lan juga berdiri melenggong dan serba kikuk. Meski dia hendak menolak, tapi merasa tidak tega melukai hati Hoa Bu-koat.

Melihat sikap si nona, tiba-tiba Bu-koat berkata, “Walaupun Tuan bermaksud baik, namun sayang kami tidak dapat menurut.”

Mendadak orang itu berhenti tertawa, katanya dengan melotot, “Kau tidak mau menurut?”

“Ya,” jawab Bu-koat sambil menarik napas panjang.

Orang itu menjadi marah, dampratnya, “Jika kau suka padanya, mengapa kau tidak mau menikahi dia?”

“Soalnya … Cayhe ….”

“Aha, tahulah aku,” mendadak orang itu bergelak tertawa pula, “Yang benar bukan tidak mau, soalnya kau khawatir dia yang tidak mau. Tapi dia kan tidak berkata apa-apa, mengapa kau khawatir?”

Hoa Bu-koat berpikir sejenak, katanya kemudian dengan perlahan, “Ada juga kata-kata yang tidak perlu kuutarakan.”

Orang itu menghela napas, katanya, “Sudah jelas kau sangat suka padanya, tapi demi dia, kau lebih suka keraskan hatimu dan tidak mau menurut usulku. Lelaki yang berperasaan begini sungguh tiada malu sebagai putranya ayahmu.”

Bu-koat tidak paham apa arti ucapannya ini, sedangkan orang itu lantas melototi Thi Sim-lan dan berkata pula, “Lelaki seperti dia tidak kau nikahi memangnya kau pilih lelaki mana?”

Sim-lan menunduk, jawabnya, “Aku … bukan … cuma ….”

“Kalian masih muda belia, mengapa cara kerja kalian sekonyol ini dan membuat kumarah saja,” bentak orang itu dengan gusar. “Pokoknya kau harus menurut, aku tak peduli bagaimana pikiran kalian, yang pasti lekas kalian berlutut dan menikah di hadapanku, jika ada yang berani ‘tidak mau’ segera kubunuh kalian berdua agar kelak kalian tidak perlu hidup tersiksa.”

Walaupun tahu sikap kasar orang itu timbul dari maksud baiknya, tapi Hoa Bu-koat menjadi gusar juga, jengeknya, “Hm, sudah banyak orang aneh yang kujumpai, tapi belum pernah ada yang memaksa orang menikah cara begini.”

“Kau berkata demikian, mungkin kau kira aku tidak mampu membunuhmu bukan?” tanya orang itu.

Baru saja habis ucapannya, sekonyong-konyong ia lolos pedang di pinggang terus membabat ke batang pohon di sebelahnya. Pedangnya kelihatan karatan dan lebih mirip besi rongsokan, jangankan buat menabas pohon, buat memotong sayur saja rasanya kurang tajam.

Siapa tahu, begitu pedangnya menyambar lewat, “cret”, tahu-tahu batang pohon sepelukan manusia itu putus menjadi dua dan roboh bergemuruh.

Meski sudah tahu ilmu silat orang ini pasti sangat tinggi, tapi sama sekali tak terpikir oleh Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat bahwa kekuatan pedang orang itu bisa sedahsyat ini.

“Nah, kalian sudah lihat,” jengek orang itu sambil melirik hina. “Pedang ini meski berkarat, tapi untuk membunuh dua bocah yang tidak menurut kata kiranya tidaklah sukar. Nah, sekarang kalian mau menurut tidak?”

Thi Sim-lan menjadi khawatir kalau-kalau Hoa Bu-koat mengucapkan kata yang menyinggung perasaan orang pula, maklumlah ilmu silat orang aneh ini sukar diukur, betapa pun Hoa Bu-koat pasti juga bukan tandingannya.

Pada dasarnya hati Thi Sim-lan memang bajik dan mulia, meski dia tidak ingin Siau-hi-ji dilukai Hoa Bu-koat, tapi ia pun tidak suka melihat orang lain melukai Hoa Bu-koat. Maka sebelum Bu-koat buka suara, cepat ia mendahului berkata, “Baiklah, aku menurut.”

Orang aneh itu terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, memang seharusnya demikian. Kalian yang satu cakap dan yang lain ayu, memang satu pasangan yang setimpal. Biarpun sekarang kalian habis bertengkar, tapi setelah kawin tentu kalian akan saling cinta-mencintai, tatkala mana kalian pasti akan berterima kasih padaku.”

“Tapi aku tidak mau,” tiba-tiba Bu-koat berucap.

“Aneh, dia sendiri sudah menurut, kenapa kau malah tidak mau?” tanya orang itu heran.

Bu-koat tahu kemauan Thi Sim-lan tidak sukarela, karena itu semakin merasuk cintanya terhadap Thi Sim-lan, dia tidak mau memaksa kehendak si nona.

Tapi selamanya dia tidak suka mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan, makin berpikir di dalam hati, makin dingin pula lahirnya, padahal di dalam darahnya tersembunyi cinta yang membara, tapi setitik pun tak diperlihatkannya.

Maklumlah, soalnya dia adalah keturunan orang yang berperasaan paling hangat di dunia ini, tapi dibesarkan di samping manusia yang berperasaan paling dingin di dunia ini.

Begitulah Hoa Bu-koat lantas menjawab pula dengan dingin, “Kalau aku tidak mau ya tetap tidak mau, jika engkau ingin membunuhku boleh silakan turun tangan saja.”

“Apakah … apakah kau tidak suka padaku?” tiba-tiba Thi Sim-lan berseru.

Hoa Bu-koat tidak mau memandang lagi pada si nona biarpun sekejap saja. Tampaknya dia tiada persamaan sedikit pun dengan Siau-hi-ji, tapi kalau sudah gondok, nyatanya kedua anak muda itu serupa benar.

Dengan melotot orang itu bertanya pula, “Jadi kau lebih suka menderita selama hidup dan tetap tidak mau menurut.”

“Ya, pasti tidak,” jawab Hoa Bu-koat tegas.

“Baik!” bentak orang itu. “Daripada hidupmu kelak merana, lebih baik sekarang juga kubunuh kau.” Begitu pedang berkelebat, kontan dia tusuk dada Hoa Bu-koat.

Dengan sendirinya serangannya tidak menggunakan seluruh tenaganya, tapi betapa cepat dan kuatnya, rasanya tiada seorang pun di dunia persilatan ini sanggup memadainya.

Thi Sim-lan berdiri jauh di sebelah sana, tapi merasakan napas sesak oleh getaran hawa pedang yang kuat itu, apalagi Hoa Bu-koat yang harus menghadapi serangannya.

Terdengarlah suara “cret” sekali, meski Bu-koat sempat mengelakkan serangan itu, namun kopiah yang mengikat rambutnya itu telah putus tergetar oleh hawa pedang, seketika rambutnya terurai serabutan.

Betapa hebat daya tusukan pedang itu, sungguh tak terperikan. Keruan Thi Sim-lan menjerit kaget, “He, berhenti dulu, Cianpwe. Sebabnya dia tidak mau menurut adalah demi diriku karena dalam batin sesungguhnya aku memang tidak mau. Jika Cianpwe hendak membunuh, harap aku saja yang kau bunuh!”

Dalam kaget dan khawatirnya tanpa terasa Thi Sim-lan telah membeberkan isi hatinya yang sesungguhnya. Seketika hati Hoa Bu-koat terasa sakit, sekonyong-konyong ia melancarkan tiga kali serangan, tanpa pikir akibatnya dia terus menerjang ke tengah sinar pedang lawan.

Tak terduga orang itu berbalik menarik kembali pedangnya, katanya dengan tertawa, “Orang she Kang memang rata-rata berwatak seperti kerbau, cuma kau terlebih bodoh daripada ayahmu. Coba pikir, bilamana dia tidak mau menurut dan memang tidak suka padamu, masa dia sudi mati bagimu?”

Hoa Bu-koat melengak dan menegas, “Siapa yang she Kang?”

“Kau tidak she Kang?” orang itu pun melenggong.

Thi Sim-lan juga tercengang, katanya, “Dengan sendirinya dia tidak she Kang, dia bernama Hoa Bu-koat.”

Orang itu garuk-garuk kepala dengan penuh rasa heran, gumamnya, “Jadi kau tidak she Kang? Ini benar-benar sangat aneh, pada hakikatnya dari kepala sampai kaki kau mirip benar seorang she Kang, sungguh kau dan dia seperti pinang dibelah menjadi dua.”

Hoa Bu-koat jadi lupa menyerang lagi, ia merasa orang aneh ini barangkali berpenyakit syaraf.

Tiba-tiba orang itu menghela napas, katanya sambil menyengir, “Karena kau tidak she Kang, maka kalian mau menikah atau tidak bukan urusanku lagi, bila kalian mau pergi juga bolehlah silakan.”

Habis berkata ia benar-benar tidak ikut campur apa-apa lagi terus membalik ke sana sambil menggerutu.

Bu-koat saling pandang dengan Thi Sim-lan, mereka menjadi bingung.

Terdengar orang aneh itu sedang mengomel sendirian, “Anak muda itu ternyata bukan Kang Siau-hi, sungguh aneh bin heran ….”

Kejut dan girang Thi Sim-lan, tanpa terasa ia berseru, “He, apakah Cianpwe mengira dia ini Kang Siau-hi, maka engkau memaksa kami menikah?”

Orang itu menjawab dengan acuh tak acuh, “Walaupun aku tidak tega melihat kalian tersiksa karena urusan cinta, tapi kalau bukan lantaran kusangka dia ini Siau-hi-ji, sesungguhnya aku pun tidak mau ikut campur urusan orang lain.”

Thi Sim-lan jadi tertawa geli, sebenarnya ia ingin berkata, “Tahukah bahwa justru lantaran Kang Siau-hi, makanya aku tidak mau menikah dengan dia.” Tapi dia pandang Hoa Bu-koat sekejap, dan kata-kata itu tidak jadi diucapkannya.

Hoa Bu-koat berdiri mematung dan entah bagaimana perasaannya.

Tiba-tiba orang tadi menoleh, ia pandang Thi Sim-lan, lalu pandang Hoa Bu-koat pula, mendadak ia tertawa dan berkata, “Haha, tahulah aku, ya tahulah aku sekarang. Kiranya orang paling busuk yang kusebut itu ialah Kang Siau-hi. Sebenarnya kalian berdua bisa jadi suami istri, tapi lantaran Kang Siau-hi, urusan jadinya begini.”

Thi Sim-lan menghela napas perlahan dan menunduk.

Orang itu ketuk-ketuk kepala sendiri dengan perlahan, ucapnya dengan tertawa, “Sebenarnya maksudku hanya ingin membantu, siapa tahu berbalik membikin urusan ini tambah runyam ….”

Maklumlah, selama hidupnya cuma tekun meyakinkan ilmu pedang, ditambah lagi sepanjang tahun terus-menerus berkecimpung kian kemari di dunia Kangouw, selamanya tak pernah memahami bagaimana rasanya cinta kasih antar muda-mudi.

Dia pernah malang melintang di dunia ini, betapa hebat dan tinggi ilmu silat apa pun bila berada di depannya akan berubah menjadi sangat sederhana, sekali pandang saja segera ia sanggup memecahkannya. Tapi ia tidak tahu tentang “cinta” yang jauh lebih ruwet daripada ilmu pedang yang paling tinggi di dunia ini dan tidak mungkin dipecahkannya dengan sekali pandang saja.

Hoa Bu-koat menjadi gusar dan pedih demi mendengar suara tertawa orang aneh itu, mendadak ia berteriak, “Memangnya kau ingin pergi begitu saja?”

“Kalau tidak pergi, lalu aku bisa berbuat apa?” kata orang itu gegetun.

“Aku masih ingin belajar kenal silatmu,” kata Bu-koat ketus.

“Ya, kutahu perasaanmu tidak enak, biarlah kau pukul dua kali diriku supaya rasa marahmu terlampias,” ujar orang itu dengan tertawa.

“Sekalipun ilmu silatmu tiada tandingannya di kolong langit ini juga tidak mungkin dapat menahan pukulanku, jika engkau tidak menangkis, itu berarti engkau mencari mati sendiri!” jengek Bu-koat sambil melontarkan pukulannya.

Meski pukulannya ini tampaknya halus, tapi tempat yang diarah ternyata sangat keji, mending tenaga pukulannya tidak dikerahkan, tapi sekali dikerahkan terasa sukar ditahan lagi.

Tajam juga pandangan orang itu, serunya tertarik, “Hebat, benar-benar pukulan lihai!”

Pembawaan orang aneh itu memang gemar ilmu silat, kini mendadak ketemu jago muda sehebat ini, mau tak mau timbul hasratnya untuk menjajal kekuatan pihak lawan, maka tangan kirinya lantas memapak ke depan.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong gaya pukulan Hoa Bu-koat berubah, pukulan yang lurus ke depan tadi mendadak berputar ke kanan dengan cara yang sangat menakjubkan dan sukar dibayangkan.

Gerakan pukulan itu adalah ‘Ih-hoa-ciap-giok’, ilmu pukulan khas dari Ih-hoa-kiong yang termasyhur. Dengan gerakan ini Hoa Bu-koat yakin tangan lawan pasti akan memukul pada badan sendiri.

Tak terduga orang itu mendadak berputar dengan cepat sehingga ilmu pukulan Ih-hoa-ciap-giok yang tidak pernah ditandingi orang itu kini dapat dipatahkannya dengan enteng.

Baru sekarang Hoa Bu-koat benar-benar terkejut, serunya, “Siapa engkau sebenarnya?”

Untuk sekali lagi orang itu berhadapan dengan Hoa Bu-koat, air mukanya juga berubah, bentaknya, “Jadi kau ini anak murid Ih-hoa-kiong?”

“Betul!” jawab Bu-koat.

Sekonyong-konyong orang itu menengadah dan terbahak-bahak, katanya, “Selama hidupku terasa menyesal karena belum sempat menjajal ilmu silat dari Ih-hoa-kiong, tak tersangka sekarang dapat bertemu dengan murid Ih-hoa-kiong di sini ….” suara tertawanya yang nyaring itu menggema di angkasa sehingga daun pohon dan kelopak bunga sama rontok tergetar.

“Jangan-jangan Cianpwe ada sengketa apa-apa dengan Ih-hoa-kiong?” tanya Thi Sim-lan dengan khawatir.

Mendadak orang tadi berhenti tertawa dan membentak, “Permusuhanku dengan Ih-hoa-kiong memang sedalam lautan, berpuluh tahun kuyakinkan ilmu pedang justru bertujuan hendak membunuh habis setiap orang Ih-hoa-kiong.”

Tanpa terasa Thi Sim-lan merinding oleh nada ucapan orang.

Tiba-tiba Bu-koat berseru, “Yan Lam-thian! He, engkau Yan Lam-thian!”

Musuh Ih-hoa-kiong yang paling besar ialah Yan Lam-thian, di kolong langit ini kecuali Yan Lam-thian memang tiada orang lain yang berani bermusuhan dengan Ih-hoa-kiong. Hal ini teringat oleh Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan juga lantas ingat.

Selagi kedua muda-mudi itu melenggong bingung, terlihat sinar mata orang itu mencorong terang dan berkata, “Betul, aku memang Yan Lam-thian!”

Telinga Thi Sim-lan serasa mendenging, darah sekujur badan serasa membanjir ke kepalanya, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa nama seseorang ternyata mempunyai pengaruh sebesar ini.

Sejenak Hoa Bu-koat terdiam, tiba-tiba ia menanggalkan pakaian luar dengan perlahan, dengan cermat ia melipatnya, lalu mendekati Thi Sim-lan dan menyodorkan bajunya kepada si nona.

Caranya membuka pakaian dan melipatnya, setiap gerakannya sedemikian hati-hati dan lambat seakan-akan baju itu adalah benda mestika yang sangat berharga. Padahal dengan gerakan lambat itu dia sengaja hendak menenangkan perasannya yang bergolak itu. Maklumlah, menghadapi pedang sakti Yan Lam-thian jarang ada orang yang mampu bersikap tenang dan wajar.

Dengan sendirinya Thi Sim-lan juga paham meski yang diserahkan Hoa Bu-koat kepadanya itu cuma sepotong baju, tapi di dalamnya entah mengandung arti betapa berat dan ruwetnya persoalan.

Terdengar Bu-koat berkata, “Kumohon engkau suka menjaga baik-baik pakaian ini, atau kalau bisa tolong antarkan ke Ih-hoa-kiong!”

Dari ucapan ini Thi Sim-lan tahu Hoa Bu-koat telah bertekad bila perlu akan korbankan jiwanya. Tanpa terasa air matanya terus meleleh, katanya, “Apakah engkau ben … benar-benar hendak menempurnya?”

“Dapat bertempur melawan Yan Lam-thian adalah cita-cita setiap insan yang belajar ilmu silat, sekalipun anak murid Ih-hoa-kiong juga merasa bangga dapat perang tanding dengan Yan Lam-thian,” kata Bu-koat. Walaupun dia bicara dengan tenang, namun mukanya yang pucat tampak menampilkan semu merah karena bersemangat, napasnya juga kelihatan rada memburu.

Dengan suara tertahan Thi Sim-lan berkata, “Apakah … apakah engkau tak dapat pergi saja? Biar kutahan dia, kuyakin dia pasti takkan membunuhku.”

Bu-koat tersenyum, ucapnya, “Pertarungan ini bukanlah demi diriku, tapi demi Ih-hoa-kiong ….” mendadak ia berhenti berucap sehingga terasa betapa berat kata-kata yang belum lagi diutarakannya itu.

Perlahan ia berputar ke sana, tiba-tiba ia menoleh dan menambahkan, “Perlu kau ketahui pula, sebabnya aku ingin membunuh Kang Siau-hi juga bukan demi diriku, tapi demi Ih-hoa-kiong. Tiga bulan lagi bila berjumpa dengan dia bolehlah kau beritahukan padanya bahwa meski aku berniat hendak membunuhnya, tapi terhadap pribadinya sejak awal hingga akhir tak pernah aku merasa dendam dan benci, maka kuharap ia pun jangan … jangan dendam padaku.”

Air mata Thi Sim-lan bercucuran, jawabnya dengan parau, “Mengapa engkau selalu berbuat bagi orang lain? Memangnya hidupmu ini melulu demi orang lain saja? Apakah engkau tak dapat berbuat … berbuat sesuatu bagi dirimu sendiri?”

Hoa Bu-koat telah membalik ke sana lagi, ia mendongak dan mendadak tertawa, katanya, “Demi diriku? … Tapi siapakah diriku ini? ….”

Untuk pertama kalinya inilah dia memperlihatkan rasa sedihnya di depan umum, meski ucapannya itu cuma dua kalimat yang sederhana, tapi kepedihan di dalam kata itu tak terperikan beratnya.

Thi Sim-lan memandang dan berkata dengan meneteskan air mata, “Orang lain sama bilang engkau adalah pemuda yang paling sempurna, paling beruntung dan paling mengagumkan, tapi siapa yang tahu akan rasa dukamu? Orang lain sama mengatakan engkau sangat tenang, sangat pendiam, tapi siapa yang tahu bahwa engkau ternyata kehilangan dirinya sendiri. Orang lain sama ingin hidup bahagia seperti dirimu, tapi siapa pula yang tahu engkau hanya hidup bagi orang lain?”

Yan Lam-thian berdiri diam memandangi kedua muda-mudi itu, tiba-tiba dia bergelak tertawa dan berkata, “Hoa Bu-koat, kau memang tidak malu sebagai murid Ih-hoa-kiong. Tak peduli pertarungan ini akan berakhir dengan menang atau kalah bagimu, yang pasti nama Ih-hoa-kiong akan tetap terjunjung tinggi abadi.”

“Terima kasih,” jawab Bu-koat.

“Tapi aku pun ingin kau tahu bahwa selain kau, di dunia ini juga masih banyak orang yang berbuat sesuatu juga tidak untuk dirinya sendiri. Manusia yang cuma hidup bagi dirinya sendiri itu belum tentu hidup bahagia, bahkan bisa jadi hidupnya jauh lebih sedih dan merana daripadamu.”

Bu-koat menatap tajam orang itu, tanyanya kemudian dengan perlahan, “Sebabnya engkau hendak membunuhku apakah juga demi orang lain?”

Yan Lam-thian terdiam sejenak, mendadak ia menengadah dan bersiul panjang, suara siulan melengking tajam seakan-akan penuh mengandung rasa pedih dan penasaran yang tak terlampiaskan dan sukar dibeberkan kepada orang lain.

Bu-koat menghela napas, tiba-tiba ia keluarkan sebatang pedang perak, katanya, “Umpama sebentar berhasil kubunuh engkau juga bukan untuk kepentinganku sendiri.”

Thi Sim-lan sudah beberapa kali melihat Hoa Bu-koat bergebrak dengan orang, tetapi tak pernah melihat dia menggunakan senjata sehingga dia hampir berkesimpulan anak murid Ih-hoa-kiong memang tiada yang memakai senjata.

Dilihatnya pedang perak yang dipegang Hoa Bu-koat itu berbadan sempit, tampaknya cuma selebar jari kelingking, tapi panjangnya lebih satu meter, dari ujung sampai pangkal tampak mengkilat seakan-akan setiap saat bisa terbang terlepas dari cekalan.

Senjata ini meski namanya pedang, tapi bisa keras dan bisa lemas, tampaknya keras seperti lembing, tapi juga lemas seperti ruyung, nyata semacam senjata dapat digunakan dan dimainkan berbagai gerakan senjata. Yang menakutkan justru senjata ini dapat mengeluarkan beberapa macam jurus serangan aneh? Inilah yang tidak diketahui siapa pun juga dan di dunia ini memang tiada yang tahu, bahkan tiada seorang pun yang pernah melihatnya.

Sinar mata Yan Lam-thian tampak gemerlap, secara acuh dia cuma pandang sekejap senjata dia tangan Hoa Bu-koat itu, lalu membentak, “Setelah mengeluarkan senjata mengapa kau tidak lekas turun tangan?”

Perlahan Hoa Bu-koat menjentik batang pedangnya dengan jari kiri sehingga menerbitkan suara mendering nyaring. Belum lenyap suara mendering itu, segera pedangnya juga menyerang.

Mata Thi Sim-lan hampir tak dapat terpentang karena silau oleh sinar pedang yang kemilau, baginya mungkin akan kalah sebelum bertempur bila bertemu senjata seaneh ini. Sebab dia sama sekali tidak jelas dari mana datangnya serangan dan cara bagaimana pula harus menghindar atau menangkis.

Akan tetapi Yan Lam-thian ternyata tenang-tenang saja, ia berdiri tegak kuat dengan pedang terhunus, ketika pedang Hoa Bu-koat menyambar tiba, dia tetap tidak bergerak sama sekali, hanya kelihatan sinar pedang berputar dan serangan pedang Hoa Bu-koat mendadak berganti arah.

Kiranya serangan Bu-koat itu hanya pancingan belaka, di luar dugaannya lawan tenyata dapat menghadapinya dengan tenang dan tak mau terpancing.

Meski Thi Sim-lan tidak dapat melihat jelas perubahan serangan itu, tapi dari suaranya dapatlah ia mendengar tujuh kali serangan Hoa Bu-koat telah dilontarkan, namun Yan Lam-thian masih tetap tanpa menggeser sedikit pun.

Berturut-turut Hoa Bu-koat melontarkan tujuh kali serangan pancingan, asalkan lawan bergerak sedikit saja segera daya serangannya akan terpencar dengan dahsyat sehingga segenap jalan mundur lawan akan tertutup.

Dengan gerakan pancingan untuk mengatasi lawan, inilah intisari ilmu silat Ih-hoa-kiong, sama sekali berbeda dengan ilmu pedang dari aliran-aliran ternama lainnya. Namun Yan Lam-thian ternyata tidak terpengaruh sedikit pun oleh sinar pedang yang kemilau, kemukjizatan ketujuh kali serangan pancingan Hoa Bu-koat itu ternyata tiada berguna sama sekali di hadapan Yan Lam-thian.

Dan begitu serangan ketujuh kalinya baru dilontarkan Hoa Bu-koat, segera pula pedang karatan Yan Lam-thian menusuk lurus ke depan menembus cahaya pedang lawan dan mengincar dada Hoa Bu-koat.

Serangan yang lugu dan biasa, tanpa sesuatu variasi apa-apa, namun gerakannya cepat dan tenaganya dahsyat, inilah kegaiban dan kenaifan, kehebatan dan kekuatan asli.

Betapa pun banyak gerak perubahan ilmu pedang Hoa Bu-koat mau tak mau ia harus juga mengelakkan dulu serangan Yan Lam-thian ini, terdengar suara pedang menyambar, sekaligus orang sudah menusuk tiga kali.

Setiap serangan Yan Lam-thian adalah serangan sungguh-sungguh dan bukan pura-pura atau pancingan, ilmu pedang ini sebenarnya tidak luar biasa, tapi di tangan Yan Lam-thian telah berubah menjadi serangan maut.

Cepat Hoa Bu-koat berkelit, beruntun dia harus menghindar tiga kali baru sempat balas menyerang satu kali.

Ilmu pedang kedua orang sebenarnya saling berlawanan, yang satu halus dan yang lain keras, yang satu enteng dan banyak variasinya, yang lain kuat dan mantap.

Seyogianya ilmu pedang Ih-hoa-kiong ini adalah lawan mati bagi ilmu pedang Yan Lam-thian, sebab itulah meski Yan Lam-thian termasyhur sebagai jago pedang nomor satu di dunia, tapi bagi pandangan orang-orang Bu-lim tetap tidak mengungguli Ih-hoa-kiong.

Akan tetapi latihan Yan Lam-thian lebih matang, lebih ulet, pengalaman lebih banyak, semua ini tak dapat ditandingi oleh Hoa Bu-koat.

Tampaknya Hoa Bu-koat berada di pihak penggerak, tapi sebenarnya berada di pihak tergerak dan terdesak di bawah angin.

Thi Sim-lan sampai bingung mengikuti pertarungan dahsyat itu dan lupa dirinya entah berada di mana.

Di luar hutan sana pepohonan dengan bunga mekar semerbak, hawa sejuk dan pemandangan indah, tempat yang sunyi senyap jarang didatangi manusia ini seakan-akan tiada yang mengetahui bahwa di sini kini sedang berlangsung suatu pertarungan maut yang jarang terjadi ….

—–

Sementara itu Siau-hi-ji telah mendapatkan sebuah hotel, niatnya ingin tidur sekenyangnya. Tapi meski sudah gulang-guling tetap tak dapat pulas akhirnya terbangun dan pesiar keluar.

Hotel itu semula adalah tempat menginap Cin Kiam dan Lamkiong Liu, rombongan mereka menyewa hampir sebagian besar hotel itu, kini setelah rombongan besar itu berangkat, hotel ini menjadi terasa sepi dan luang. Halaman seluas itu hanya sebuah kamar saja ada penghuninya kecuali kamar yang disewa Siau-hi-ji, tampaknya tamu itu pun baru datang, dari dalam kamar terdengar suara orang berbicara, tapi pintu dan jendela tertutup rapat.

Hawa sepanas ini orang-orang itu ternyata betah bicara di dalam kamar dengan pintu dan jendela tertutup, yang dibicarakan rasanya pasti bukan urusan baik-baik. Maka Siau-hi-ji jadi tertarik dan ingin mengintip.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang lelaki berbaju hijau menerobos masuk ke halaman dalam, tangan memegang cambuk, agaknya seorang sais kereta. Begitu masuk halaman orang itu lantas berteriak-teriak, “Kang Piat-ho, Kang-tayhiap apakah tinggal di sini?”

Siau-hi-ji terkejut, “Masa Kang Piat-ho juga berada di sini? Untuk apakah dia datang kemari?”

Karena tidak sempat berpikir banyak, cepat Siau-hi-ji sembunyi di balik pilar sana.

Maka tertampaklah pintu kamar yang tertutup tadi dibuka separo, seorang bertanya dari dalam, “Siapa itu?”

Sais itu menjawab, “Hamba Toan Kui, yang tadi mengantarkan Hoa-kongcu pesiar keluar kota itu ….”

Belum habis ucapannya tertampaklah Kang Piat-ho melangkah keluar dan daun pintu segera dirapatkan pula.

“Apakah Hoa-kongcu sudah pulang?” tanya Kang Piat-ho.

Sais yang bernama Toan Kui itu menjawab, “Belum ….”

“Dan mengapa kau pulang dan mencari ke sini?” tanya Kang Piat-ho sambil mengerut kening.

“Hoa-kongcu seperti mengalami kesukaran di luar kota sana,” tutur Toan Kui. “Maka hamba buru-buru pulang kemari untuk melapor, di tengah jalan kebetulan ketemu dengan Toan Hui yang mengantar Kang-tayhiap ke sini, dari itu hamba mengetahui Kang-tayhiap lagi menyambangi tamu di sini.”

“Meski Hoa-kongcu mengalami sesuatu kesulitan, tentu dia sendiri dapat membereskannya, masa kau ikut cemas?” ujar Kang Piat-ho dengan tersenyum.

“Tapi orang itu tampaknya rada … rada ganjil, nona Thi Sim-lan tampaknya juga gelisah, maka hamba pikir bila nona Thi yang cukup kenal kepandaian Hoa-kongcu juga merasa khawatir, maka kesulitan yang dihadapi Hoa-kongcu pasti bukan main-main.”

Kang Piat-ho termenung sejenak, katanya kemudian, “Jika demikian, baiklah kupergi melihatnya.”

Pada saat itulah mendadak seorang berseru di dalam kamar dengan suara tertahan, “Biarlah Siaute menunggu di sini, silakan pergi saja.”

“Paling lambat malam nanti tentu Siaute akan datang lagi,” kata Kang Piat-ho sambil ikut keluar bersama Toan Kui.

Sebenarnya Siau-hi-ji ingin tahu siapakah yang berada di dalam kamar itu, mengapa jejaknya begitu dirahasiakan? Tapi mengingat orang ini toh akan tetap tinggal di sini untuk menunggu datangnya Kang Piat-ho, kiranya tidak perlu terburu-buru menyelidiki dia. Maklumlah, sesungguhnya ia pun ingin tahu siapakah gerangan yang dapat mendatangkan kesukaran sebesar ini bagi Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat tiada hubungan baik apa-apa, bahkan boleh dikatakan musuh, tapi entah mengapa, setiap persoalan yang menyangkut Hoa Bu-koat pasti menarik perhatian Siau-hi-ji.

Terdengar sebuah kereta kuda baru saja berangkat di luar hotel, tentunya Kang Piat-ho telah berangkat dengan menumpang kereta itu.

Segera Siau-hi-ji membuntuti kereta itu, cuma di dalam kota, tidak leluasa untuk menggunakan Ginkang, betapa pun dua kaki tidak secepat empat kaki, maka setiba di luar kota kereta kuda tadi sudah tidak kelihatan lagi.

Setelah kereta kuda itu berada di luar kota, dari dalam kereta Kang Piat-ho bertanya dengan suara keras, “Apakah Hoa-kongcu telah bergebrak dengan orang itu?”

“Ya, seperti sudah bergebrak satu kali,” jawab Toan Kui.

“Hanya satu kali saja! Lalu bagaimana, siapa yang lebih unggul?”

“Tampaknya belum jelas siapa yang lebih unggul atau asor,” jawab Toan Kui.

“Orang itu mampu menyambut satu kali pukulan Hoa-kongcu, agaknya juga rada berisi. Entah bagaimana bentuk orang itu?” tanya Kang Piat-ho.

“Tinggi besar perawakan orang itu, bajunya lebih jelek daripada pakaian hamba, tapi sikapnya gagah dan angkuh.”

Dahi Kang Piat-ho terkerut lebih kencang, tanyanya pula, “Berapa umur orang itu?”

“Tampaknya baru empat puluhan tapi juga seperti lebih lima puluhan, namun kalau diperhatikan rasanya juga baru tiga puluhan, pendek kata, berapa usianya menurut penglihatan seseorang, maka setua itu pula usianya. Sungguh hamba tidak pernah melihat manusia seaneh dia.”

Kang Piat-ho termenung-menung sambil berkerut kening, air mukanya tampak semakin kelam.

Tiba-tiba Toan Kui menambahkan pula, “Oya, pada pinggang orang itu terselip sebatang pedang yang kelihatan sudah karatan ….”

Belum habis ucapannya muka Kang Piat-ho menjadi pucat, setelah terkesima sejenak, akhirnya ia berkata dengan suara berat, “Keretamu jangan dekat-dekat ke sana, berhentilah agak jauh, tahu tidak?”

Walaupun heran kereta diharuskan berhenti di kejauhan saja, namun perintah Kang-tayhiap, betapa pun ia harus menurut. Maka ketika masih cukup jauh dari hutan bunga sana kereta itu lantas dihentikan Toan Kui.

“Wah, Hoa-kongcu sudah bergebrak dengan orang itu!” seru Toan Kui.

Tanpa diberitahu juga Kang Piat-ho sudah melihat hawa pedang yang sambar menyambar di dalam hutan. Di tengah sinar pedang itu tampak bayangan seorang mengitar dengan cepatnya, sebaliknya seorang lagi tenang seperti gunung tanpa bergerak.

Gerak tubuh Hoa Bu-koat masih tetap sangat enteng dan gesit, sinar pedangnya juga sangat gencar, sama sekali belum ada tanda-tanda akan kalah. Tapi Kang Piat-ho memang bukan tokoh sembarangan, sekali pandang saja ia lantas tahu pada hakikatnya serangan Hoa Bu-koat itu sama sekali tak dapat menembus sinar pedang lawan, deru angin pedang keduanya bahkan terdengar jelas satu kuat dan yang lain lemah, bedanya sangat mencolok.

Seketika air muka Kang Piat-ho berubah hebat, gumamnya, “Yan Lam-thian, ya, pasti Yan Lam-thian adanya!”

Meski belum lagi melihat jelas siapa lawan Hoa Bu-koat itu, tapi dari deru angin dan hawa pedang yang hebat itu ia yakin pasti bukan lain daripada Yan Lam-thian.

Sudah tentu Toan Kui tidak dapat membedakan di mana letak kehebatan ilmu pedang itu, sebab itulah maka ia merasa khawatir.

Maklum, biasanya Hoa Bu-koat sopan santun dan ramah tamah terhadap siapa pun juga, biarpun terhadap kaum budak keluarga Toan juga menghormati seperti sikapnya terhadap Toan Hap-pui. Karena itulah setiap anggota keluarga Toan tiada satu pun yang tidak memuji kebaikan Hoa-kongcu dan dengan sendirinya pula Toan Kui menjadi khawatir demi melihat Hoa-kongcu lagi bertempur sesengit itu.

“Apakah Kang-tayhiap tidak ingin membantu Hoa-kongcu?” tanya Toan Kui.

“Sudah tentu akan kubantu,” jawab Kang Piat-ho.

“Ya, kutahu Kang-tayhiap pasti akan membantu Hoa-kongcu, bagaimana kalau sekarang juga kuhela kereta ini ke sana?” tanya Toan Kui.

Tapi mendadak Kang Piat-ho berseru, “He, mengapa pintu kereta ini tidak dapat dibuka, apakah rusak?”

Cepat Toan Kui melompat turun dan mendekati pintu kereta, hanya sekali tarik saja pintu terpentang lebar. Dengan tertawa ia berkata, “Ah, barangkali Kang-tayhiap terburu-buru, maka pintu kereta ini menjadi macet.”

Belum habis ucapannya tiba-tiba dilihatnya wajah Kang Piat-ho berubah menjadi kelam, matanya melotot dengan buas. Tentu saja Toan Kui menjadi takut, serunya dengan gemetar, “Kang-tayhiap, engkau … engkau ….”

Kang Piat-ho menyeringai, ucapnya perlahan, “Seorang paling baik tidak ikut campur urusan tetek bengek, kalau tidak pastilah hidupmu takkan awet.”

Kaki Toan Kui menjadi lemas karena ketakutan, segera ia bermaksud lari, tapi baru saja ia membalik badan, tahu-tahu kuduknya sudah dicengkeram dan diseret bulat-bulat ke dalam kereta.

“Kang … Kang-tayhiap, hamba merasa tidak … tidak pernah bersalah pada … padamu ….” demikian Toan Kui meratap dengan gigi gemertuk.

“Kutahu hidupmu sangat sengsara, maka ingin mengantarmu ke Surgaloka yang enak bagimu,” kata Kang Piat-ho perlahan.

“Hamba ti … tidak ingin ….” belum habis ucapan Toan Kui, tahu-tahu sebilah belati telah menancap di bawah iganya hingga sebatas gagang belati.

Anak muda yang berhati polos ini sama sekali tidak sempat menjerit dan tahu-tahu jiwanya sudah melayang, hanya matanya tampak mendelik dengan beringas seakan-akan ingin bertanya kepada Kang Piat-ho apa sebabnya ia dibunuh?

Perlahan-lahan Kang Piat-ho mencabut belatinya, yaitu sebuah pedang pandak, begitu perlahan sehingga darah setitik pun tak menciprat bajunya. Setelah pedang pandak itu dicabut, batang pedang tetap mengkilat bersih, benar-benar membunuh orang tanpa berdarah.

Nyata itulah pedang pusaka yang dulu pernah digunakan memotong “belenggu cinta” yang membelenggu tangan Siau-hi-ji bersama Kang Giok-long.

Selesai kerja, Kang Piat-ho menghela napas lega dan bergumam, “Sekarang tiada seorang pun yang tahu aku pernah datang ke sini dan juga tiada yang tahu bahwa aku tidak memberi bantuan ketika Hoa Bu-koat lagi menghadapi bahaya. Nama baikku sebagai seorang pendekar budiman tidak boleh rusak demi bocah tolol ini. Sebaliknya kalau jiwa bocah ini dikorbankan demi nama baik ‘Kang-lam-tayhiap’ kiranya juga tidak perlu penasaran.”

Sambil bergumam ia terus memberosot keluar kereta. Karena pertarungan di sebelah sana sedang berlangsung dengan sengitnya, dengan sendirinya tiada seorang pun yang melihat jejak Kang Piat-ho itu.

Setelah menyelinap lagi agak jauh ke sana barulah Kang Piat-ho berpaling untuk melihat gerak tubuh Hoa Bu-koat yang sudah mulai lamban itu, ucapnya dengan gegetun, “Hoa Bu-koat, kita bersahabat juga sekian lamanya, bukan tiada hasratku hendak membantu, soalnya aku memang tidak berani merecoki Yan Lam-thian. Tapi kau pun jangan khawatir, pada setiap hari Cengbeng kelak pasti aku akan berziarah ke kuburmu.”

—–

Sementara itu Siau-hi-ji yang kehilangan jejak kereta yang ditumpangi Kang Piat-ho juga telah menyusul tiba. Lebih dulu ia tertarik oleh hawa pedang yang sambar menyambar di hutan sana, menyusul barulah ia melihat kereta kuda itu. Tapi dia tidak melihat Kang Piat-ho. Jangan-jangan Kang Piat-ho masih berada di dalam kereta? Untuk apakah kereta dihentikan di sini?

Sebenarnya Siau-hi-ji tiada maksud hendak mengusut urusan ini, dia lebih tertarik untuk menonton pertarungan seru di hutan sana, dia ingin tahu betapa hebat ilmu pedang Hoa Bu-koat yang lain daripada yang lain itu agar kelak dapat digunakan sebagai modal untuk menghadapinya. Dengan sendirinya ia pun ingin tahu siapakah gerangan yang dapat menandingi Hoa Bu-koat itu?

Tapi mendadak dilihatnya dari celah-celah pintu kereta yang tertutup rapat itu merembes keluar darah segar. Ia jadi heran, apakah Kang Piat-ho telah mati, kalau tidak, darah siapakah ini?

Karena heran, ia jadi ingin tahu apa yang terjadi di dalam kereta itu. Ketika pintu kereta itu ditariknya, segera dilihatnya wajah Toan Kui yang beringas, menyusul lantas dilihatnya sepasang mata yang melotot takut dan penuh rasa penasaran itu. Namun Kang Piat-ho sudah tidak kelihatan lagi.

Semula Siau-hi-ji melengak kaget, tapi segera ia pun paham duduknya perkara. Betapa keji hati Kang Piat-ho rasanya tiada orang lain yang lebih paham daripada Siau-hi-ji.

Tapi segera ia pun melihat keadaan Hoa Bu-koat sedang gawat serta tertampak sikap Thi Sim-lan yang cemas bagi keselamatan Hoa Bu-koat itu, hal ini membuat hatinya tertusuk sakit pula.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara siulan panjang menggema angkasa. Selarik sinar pedang melayang tinggi ke udara, Hoa Bu-koat tergetar mundur sempoyongan dan akhirnya roboh.

Menurut teori, pedang besi Yan Lam-thian keras dan tumpul, bahkan karatan, sedangkan pedang perak Hoa Bu-koat tajam lemas, tajam mengalahkan tumpul dan lemas mengatasi keras, ini adalah hukum alam yang tidak dapat berubah.

Siapa tahu hukum alam di dunia ini ternyata tidak berlaku bagi Yan Lam-thian, jago pedang tiada tandingannya ini benar-benar menghinakan segala dan menolak semua hukum pasti ilmu silat. Dengan pedangnya yang keras dan tumpul justru menggetar pedang Hoa Bu-koat yang tajam dan lemas itu hingga mencelat ke udara. Seketika Hoa Bu-koat merasa darah bergolak di rongga dadanya, dia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh tersungkur.

Sudah jelas Hoa Bu-koat bertekad hendak membunuh Siau-hi-ji, bahkan juga lawan cintanya, kalau Hoa Bu-koat mati, inilah kejadian yang diharapkan dan paling menggembirakan Siau-hi-ji.

Namun aneh, sesaat itu, entah mengapa, darah Siau-hi-ji serasa bergolak, dia lupa permusuhannya dengan Hoa Bu-koat, tanpa pikir mendadak ia menerjang ke sana secepat terbang.

Saat itu Yan Lam-thian lagi bersiul panjang, pedangnya masih bekerja, Thi Sim-lan menjerit khawatir, syukurlah pada detik itu juga sesosok bayangan orang melayang tiba dan mengadang di depan Hoa Bu-koat sambil berteriak, “Siapa pun tidak boleh mencelakai dia!”

Ketika melihat orang yang datang ini ternyata Siau-hi-ji adanya, Thi Sim-lan jadi melongo heran.

Sinar mata Yan Lam-thian laksana kilat mengerling Siau-hi-ji, bentaknya dengan bengis, “Siapa kau? Berani kau merintangi ujung pedang orang she Yan?”

Sementara itu Thi Sim-lan telah tenang kembali, teriaknya, “Dia inilah Kang Siau-hi!”

“Kang Siau-hi?” Yan Lam-thian menegas, “Jadi kau ini Kang Siau-hi?”

Matanya yang tajam menatap Siau-hi-ji, begitu pula Siau-hi-ji juga balas menatap orang, katanya kemudian dengan ragu-ragu, “Apakah … apakah engkau ini Yan Lam-thian, Yan-pepek?”

“Dia memang Yan-locianpwe adanya,” tukas Thi Sim-lan.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, mendadak ia menubruk maju dan merangkul erat Yan Lam-thian sambil berseru, “O, paman Yan, betapa rinduku padamu ….”

Air mata berlinang di. kelopak mata Yan Lam-thian, dia bergumam, “Kang Siau-hi … Kang Siau-hi, memangnya kau kira Yan-pepek tidak merindukan dirimu?”

Melihat Siau-hi-ji yang sebatang kara itu tiba-tiba menemukan sanak keluarganya, bahkan inilah Yan Lam-thian yang termasyhur, sungguh hati Thi Sim-lan menjadi girang dan kejut pula, tanpa terasa air matanya juga hampir menetes.

Dilihatnya mendadak Yan Lam-thian mendorong pergi Siau-hi-ji dan berkata dengan suara berat, “Tahukah kau Hoa Bu-koat ini adalah murid Ih-hoa-kiong?”

“Aku tahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Dan tahukah orang yang membunuh ayah-bundamu itu ialah Ih-hoa-kiongcu?” tanya Yan Lam-thian pula dengan bengis.

Tubuh Siau-hi-ji bergetar, serunya, “Apakah betul?”

Waktu kecilnya memang betul pernah ada seorang misterius membawanya keluar Ok-jin-kok dan diam-diam memberitahukan hal itu padanya, tapi dia merasa tindak tanduk orang itu penuh rahasia dan apa yang dikatakan belum tentu dapat dipercaya, sebab itulah selama ini dia tidak pernah menganggap Ih-hoa-kiongcu benar-benar musuh besarnya yang tak terampunkan.

Tapi kini hal ini terucap dari mulut Yan Lam-thian, mau tak mau ia harus percaya.

Thi Sim-lan juga terkejut, serunya, “O, pantas Ih-hoa-kiong mengharuskan Hoa Bu-koat membunuhmu bilamana melihat engkau. Selama ini aku pun tidak habis mengerti sebab musababnya, tapi sekarang … pahamlah aku.”

“Dan mengapa kau menolong dia?” tanya pula Yan Lam-thian sambil melototi Siau-hi-ji.

“Aku … aku ….” Siau-hi-ji gelagapan, sesungguhnya ia tidak tahu mengapa dia harus menyelamatkan Hoa Bu-koat, biarpun Ih-hoa-kiong tiada permusuhan dengan dia umpamanya, sebenarnya ia pun tidak perlu menolong Hoa Bu-koat.

Sekonyong-konyong Yan Lam-thian melemparkan pedang besinya ke tanah dan membentak, “Nah, bunuhlah dia dengan tanganmu sendiri!”

Tubuh Siau-hi-ji kembali bergetar, tanpa terasa ia berpaling memandang Hoa Bu-koat. Dilihatnya Hoa Bu-koat telah jatuh pingsan oleh getaran pedang Yan Lam-thian tadi, setangkai bunga yang sudah layu jatuh di atas mukanya, bunga yang merah membuat wajahnya yang pucat itu tambah mencolok.

Melihat muka yang pucat itu, entah mengapa timbul semacam perasaan aneh dalam hati Siau-hi-ji, entah apa sebabnya, mendadak ia berteriak, “Tidak, aku tak boleh membunuh dia?”

“Mengapa kau tidak boleh membunuh dia?” kata Yan Lam-thian dengan gusar. “Bukankah kau tahu dia adalah murid musuhmu? Apalagi ia pun bertekad ingin membunuhmu?”

“Tapi aku … aku ….” sukar bagi Siau-hi-ji untuk menjelaskan. Tiba-tiba ia menghela napas dan berteriak pula, “Aku sudah ada perjanjian dengan dia akan duel tiga bulan kemudian. Sebab itulah Yan-pepek tidak boleh membunuhnya, lebih-lebih tidak boleh membunuhnya ketika dia sudah terluka.”

Yan Lam-thian melengak, tapi segera ia terbahak-bahak dan berkata, “Bagus, bagus, kau memang tidak malu sebagai Kang Siau-hi, tidak memalukan sebagai putra Kang-jiteku …. O, Kang-jite, engkau mempunyai putra demikian, di alam baka dapatlah engkau istirahat dengan tenang.” Suara tertawanya kemudian mendadak berubah menjadi pilu sekali.

Darah di dada Siau-hi-ji seolah-olah bergelora, mendadak ia berlutut dan berseru dengan parau, “Yan-pepek, aku bersumpah selanjutnya pasti takkan berbuat sesuatu yang memalukan ayah!”

Yan Lam-thian membelai-belai bahunya, katanya dengan terharu, “Apakah kau merasa tindak tandukmu di masa lalu ada sesuatu yang memalukan ayahmu?”

Siau-hi-ji menunduk, jawabnya dengan tersendat, “Aku … aku ….”

“Kau tidak perlu sedih, juga tidak perlu mencela dirimu sendiri,” kata Yan Lam-thian. “Siapa pun yang tumbuh di lingkungan seperti kau itu juga akan berubah menjadi jauh lebih busuk daripadamu. Apalagi setahuku, mungkin caramu bertindak ada sesuatu yang kurang tepat, tapi pada hakikatnya kau tidak berbuat sesuatu kebusukan.”

“Yan-pepek ….”

“Sudahlah, dapat melihat putra Kang Hong semacam kau, sungguh menggembirakan!” kembali Yan Lam-thian terbahak-bahak, dia tertawa dengan air mata meleleh, jelas hatinya sangat gembira tapi juga pedih dan terharu.

Melihat pertemuan mereka yang mengharukan itu, tanpa terasa Thi Sim-lan juga menunduk dan meneteskan air mata. Hati si nona juga berkecamuk oleh rasa suka dan duka. Kalau kedukaan Siau-hi-ji masih dapat dipahami dan dihibur oleh Yan Lam-thian, tapi rasa duka dan sedihnya siapa yang tahu?

Mati-matian dia membela Siau-hi-ji agar tidak terbunuh oleh Hoa Bu-koat, sebaliknya kalau Siau-hi-ji membunuh Hoa Bu-koat ia pun akan susah, karena itulah dia berharap kedua anak muda dapat hidup berdampingan dengan damai.

Alangkah senangnya ketika menyaksikan Siau-hi-ji menyelamatkan Hoa Bu-koat, ia berharap permusuhan mereka akan dapat diakhiri setelah kejadian ini, siapa tahu mereka justru adalah musuh yang tidak mungkin saling mengampuni, permusuhan mereka tidak mungkin dilerai oleh siapa pun juga, tampaknya salah seorang di antara mereka harus mati di tangan yang lain, kalau tidak permusuhan mereka pasti takkan berakhir selamanya.

Akhir daripada drama permusuhan mereka itu kini rasanya sudah dapat dibayangkan oleh Thi Sim-lan, yang lebih membuatnya sedih ialah, demi Siau-hi-ji ia tidak sayang mengorbankan segalanya, akan tetapi Siau-hi-ji justru tidak sudi memandangnya barang sekejap saja.

Sementara itu Yan Lam-thian telah menarik Siau-hi-ji duduk di bawah pohon sana, tiba-tiba ia berkata, “Apakah kau tahu To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan gerombolannya telah meninggalkan Ok-jin-kok?”

“Kutahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Jadi kau bertemu dengan mereka?”

Siau-hi-ji mengangguk, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Yan-pepek, maukah engkau mengampuni mereka?”

“Mana bisa kuampuni mereka?” teriak Yan Lam-thian gusar.

“Meski mereka berniat mencelakai Yan-pepek, tapi akhirnya gagal, apalagi, betapa pun juga mereka telah membesarkan aku, lebih-lebih lagi mereka juga sudah memperbaiki diri.”

Yan Lam-thian termenung-menung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Tak nyana meski kau ini tampaknya keras, nyatanya hatimu sangat lunak.”

“Yan-pepek sendiri bukankah demikian juga?” ujar Siau-hi-ji.

Setelah berpikir lagi, akhirnya Yan Lam-thian menghela napas, katanya, “Demi kau, asalkan selanjutnya mereka benar-benar tidak berbuat jahat lagi, bolehlah kuampuni mereka.”

“Hahaha!” Siau-hi-ji tertawa girang. “Bila mereka mendengar kabar ini, entah betapa gembiranya mereka dan selanjutnya masa mereka berani mengganggu orang lain.”

Yan Lam-thian memandang Thi Sim-lan sekejap, lalu katanya dengan tersenyum, “Sekarang sepantasnya kau bicara dengan nona itu, aku kan tidak boleh mengangkangi dirimu terus-menerus.”

Tiba-tiba Siau-hi-ji menarik muka, jawabnya, “Aku tidak kenal nona itu.”

“Kau tidak kenal dia?” Yan Lam-thian menegas dengan melengak.

“Hakikatnya aku belum pernah melihatnya sebelum ini,” ucap Siau-hi-ji.

Remuk redam hati Thi Sim-lan, ia tidak tahan lagi, mendadak ia menangis sambil memburu ke arah Siau-hi-ji, tapi baru beberapa langkah mendadak ia membalik badan terus berlari pergi sambil menutupi mukanya.

Sekuatnya Siau-hi-ji menggigit bibir dan tidak berusaha menahan si nona.

Melihat Thi Sim-lan sudah pergi, Yan Lam-thian menatap Siau-hi-ji dengan tajam, tanyanya kemudian, “Bagaimana urusannya ini?”

Siau-hi-ji kuatkan hatinya, ucapnya dengan dingin, “Mungkin nona itu berpenyakit syaraf.”

Yan Lam-thian menghela napas, katanya sambil menyengir, “Urusan orang muda seperti kalian ini sungguh membingungkan aku.”

Meski dengan sebatang pedang dia sanggup memenggal kepala sang panglima di tengah pasukan yang berjuta prajurit, tapi menghadapi masalah cinta remaja yang ruwet begini dia benar-benar tidak paham dan tak berdaya.

Siau-hi-ji juga termangu-mangu setelah Thi Sim-lan berlari pergi, sampai lama sekali dia tidak sanggup bicara.

Setelah mengamat-amati pula anak muda itu, tiba-tiba Yan Lam-thian berbangkit, katanya dengan tertawa, “Kau masih tetap ingin berjuang sendiri atau hendak ikut aku?”

Barulah Siau-hi-ji terjaga dari lamunannya, dengan tertawa ia jawab, “Ikut Yan-pepek sudah tentu sangat baik, tapi kebanyakan orang akan lari terbirit-birit bila melihat Yan-pepek, maka aku jadi tiada pekerjaan dan lebih sering menganggur, jadi tiada artinya dan tidak menarik.”

“Hahaha, kau memang anak yang bercita-cita tinggi!” kata Yan Lam-thian.

“Tapi aku pun ingin omong-omong lebih banyak dengan Yan-pepek ….”

“Besok saja pada saat yang sama akan kutunggu di sini, sekarang tiba-tiba aku teringat sesuatu urusan yang harus kukerjakan dan perlu berangkat segera!” ia tepuk-tepuk pundak Siau-hi-ji sambil tersenyum, pedangnya dijemput kembali, sekali melayang lantas lenyap dalam waktu singkat.

Sama sekali tak terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa sang paman sekali bilang mau pergi segera pergi begitu saja, gumamnya dengan tertawa, “Watak Yan-pepek sungguh keras seperti api, entah urusan apa yang perlu dikerjakannya secara terburu-buru begini?”

Ternyata tidak diperhatikannya bahwa arah yang ditempuh Yan Lam-thian itu adalah satu jurusan dengan Thi Sim-lan.

Perlahan-lahan Siau-hi-ji ambil bunga layu yang menjatuhi muka Hoa Bu-koat, ia pegang tangan anak muda itu dan diam-diam menyalurkan hawa murni ke tubuh orang.

Selang tak lama, sekali lompat Hoa Bu-koat telah bangun, sinar matanya jelilatan memandang sekitarnya, ketika melihat Siau-hi-ji, ia terkejut dan bertanya, “He, mengapa kau berada di sini?”

Siau-hi-ji memandangnya dengan tersenyum tanpa menjawab, dari suaranya ia tahu Hoa Bu-koat tadi cuma semaput lantaran pergolakan hawa murni sendiri, tapi karena tenaga dalamnya cukup kuat, sama sekali tiada tanda-tanda terluka dalam.

Setelah mengingat-ingat kembali, kemudian Bu-koat bertanya pula, “Kau yang menyelamatkan aku?”

Siau-hi-ji tetap tidak menjawab.

Bu-koat terdiam dan memandangi Siau-hi-ji sekian lamanya, perlahan ia membalik tubuh ke sana seperti tidak ingin perubahan air mukanya dilihat oleh Siau-hi-ji.

Selang sejenak pula barulah ia bertanya dengan perlahan, “Di manakah nona Thi?”

“Nona Thi siapa?” jawab Siau-hi-ji tawar.

Bu-koat menghela napas panjang, ucapnya, “Kau tidak memahami dia ….”

“Hakikatnya aku tidak kenal dia, dengan sendirinya tidak memahami dia,” jengek Siau-hi-ji.

Mendadak Hoa Bu-koat memutar balik lagi tubuhnya dan berteriak, “Mengapa kau menyelamatkan aku?”

“Waktu orang lain hendak membunuhku kau pun pernah menyelamatkan aku?” jawab Siau-hi-ji tenang.

“Itu disebabkan aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri,” kata Bu-koat.

Sinar mata Siau-hi-ji gemerdep, katanya, “Lalu tahukah bahwa aku pun ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri? Jangan lupa, setelah tiga bulan berlalu kita masih ada suatu janji pertemuan maut.”

Hoa Bu-koat termangu-mangu sejenak, kembali ia menghela napas dan bergumam, “Pertemuan maut, tiga bulan lagi ….”

“Meski kita berdua adalah musuh taruhan mati tapi selama tiga bulan ini betapa pun kau tak dapat membiarkan aku dibunuh orang lain, begitu pula aku tak dapat membiarkan orang lain membunuhmu, betul tidak?”

“Betul,” jawab Bu-koat.

“Itu dia!” seru Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa, “Makanya dalam waktu tiga bulan ini kita bukan lagi musuh, pada hakikatnya boleh dikatakan adalah sahabat karib.”

Dia tertawa dengan suara keras tapi dalam suara tertawanya penuh rasa haru dan rawan, ia menyambung pula, “Meski kau dan aku dilahirkan untuk menjadi lawan, tapi sedikitnya kita masih dapat berkawan selama tiga bulan, apakah kau sudi berkawan denganku selama tiga bulan ini?”

Hoa Bu-koat menatapnya dengan tajam, sampai lama sekali tidak menjawab dan juga tidak bergerak, tiba-tiba ujung mulutnya menampilkan senyuman, nyata apa yang hendak dikatakannya sudah tersembul seluruhnya dalam senyumannya ini.

Kedua anak muda itu berjalan keluar hutan bersama, terlihat sebagian besar bunga telah rontok tergetar oleh hawa pedang, di tanah rontokan bunga ada yang sedang menari-nari tertiup angin.

Tanpa terasa Hoa Bu-koat menghela napas panjang, siapa tahu saat yang sama Siau-hi-ji juga menghela napas, kedua orang saling pandang dengan tersenyum.

Padahal sebelum ini bilamana bertemu tentu kedua orang akan saling labrak dan saling bunuh, tapi kini kedua anak muda ini jalan berendeng, baru sekarang tiba-tiba mereka mengetahui ada persamaan jalan pikiran mereka.

Bu-koat membatin, “Dapat berkawan selama tiga bulan dengan dia, rasanya memang bahagia.” Biasanya dia memang pendiam, karena itu dia cuma membatin saja dan tidak diutarakan dengan mulut.

Tak tersangka Siau-hi-ji lantas berkata dengan tertawa, “Dapat berkawan denganmu selama tiga bulan, sungguh terasa suatu kebahagiaan ….”

Tentu saja Hoa Bu-koat melengak, tapi akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Selama hidupnya hampir belum pernah tertawa begini.

Pada saat itulah mereka melihat sebuah kereta berhenti jauh di sana. Agaknya kuda penarik kereta itu sudah terlatih, sebab itulah biarpun tiada saisnya, tapi masih tetap berhenti di situ.

Siau-hi-ji membuka pintu kereta, ia menunjukkan mayat di dalamnya dan berkata, “Apakah kau tahu kusir kereta ini di bunuh oleh siapa?”

“Siapa?” terbelalak mata Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Umpama kukatakan sekarang tentu kau pun takkan percaya, tapi selanjutnya kau akan tahu dengan sendirinya.”

—–

Sementara itu hari sudah gelap, sinar lampu sudah menyala, di restoran besar itu tampak tamu ramai berkunjung.

Kang Piat-ho dengan baju hijau tampak berseliweran kian kemari di antara tetamu undangannya, meski wajahnya tersenyum simpul, namun di antara mata-alisnya kelihatan rasa cemas seperti sedang menghadapi sesuatu persoalan pelik.

Seorang jago tua bernama Peng Thian-siu berjuluk “Kim-to-bu-tek” atau golok emas tanpa tanding, karena usianya paling tua, telah diminta duduk pada tempat utama.

Kini jago tua itu sedang mengelus jenggotnya yang sudah putih dan berkata dengan tertawa, “Apakah Kang-tayhiap sedang mengkhawatirkan Hoa-kongcu yang belum pulang?”

Benar juga Kang Piat-ho lantas menghela napas, katanya, “Ya, sudah malam begini dia masih belum pulang, Wanpwe memang rada khawatir.”

“Dengan ilmu silat Hoa-kongcu, pula dia adalah satu-satunya ahli warisan Ih-hoa-kiong, siapakah di dunia Kangouw ini yang berani sembarangan main-main kumis harimau, bila Kang-tayhiap berkhawatir baginya, kukira rada-rada berlebihan,” kata Thian-siu.

“Aku pun yakin takkan terjadi apa-apa atas dirinya,” jawab Kang Piat-ho dengan tersenyum kecut. “Tapi entah mengapa, hatiku merasakan sesuatu alamat tidak enak …. Ya, semoga tidak terjadi alangan apa pun, bila dia benar-benar mengalami sesuatu bahaya, sebaliknya kita makan minum dan senang-senang di sini, lalu kelak cara bagaimana harus kuhadapi kawan-kawan Kangouw.”

Serentak terdengarlah suara gegetun dan memuji atas budi luhur “Kang-lam-tayhiap”.

“Keluhuran Kang-tayhiap terhadap teman sungguh sukar dibandingi siapa pun, sungguh beruntunglah bagi mereka yang dapat mengikat persahabatan dengan Kang-tayhiap,” ucap Peng Thian-siu dengan suara lantang.

Tak terduga seorang mendadak menukas dengan tertawa, “Haha, memang betul, siapa yang dapat bersahabat dengan Kang Piat-ho, benar-benar leluhurnya telah banyak mengumpulkan pahala.”

Di tengah suara tawa lantang itu muncul seorang muda dengan perawakan kekar gagah, meski mukanya ada sejalur codet panjang, namun tidak mengurangi daya pengaruhnya yang sukar dilukiskan.

Meski usianya belum banyak, tapi lagaknya tidaklah kecil, senyumnya meski kelihatan ramah dan menarik, tapi sorot matanya yang mengerling kian kemari seakan-akan tiada seorang pun yang terpandang olehnya.

Di antara hadirin itu ternyata tiada seorang pun yang kenal siapakah gerangan anak muda ini, dalam hati masing-masing sama membatin mungkin pemuda ini juga anak keluarga ternama atau ahli waris sesuatu aliran termasyhur. Kalau tidak mustahil sikapnya begini angkuh tapi berwibawa.

Air muka Kang Piat-ho berubah seketika demi melihat anak muda ini, serunya dengan tergegap, “He, kenapa kau pun datang … datang ke sini?”

“Memangnya aku tidak boleh datang kemari?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Belum lagi Kang Piat-ho bersuara, terlihat orang yang datang bersama Siau-hi-ji, yaitu Hoa Bu-koat, juga telah muncul di atas loteng dan berdiri di sisi Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Bahwa Siau-hi-ji mendadak bisa muncul di sini, ini sudah membuat Kang Piat-ho terkejut.

Bahwa Hoa Bu-koat ternyata masih hidup dan tidak berkurang suatu apa pun, untuk kedua kalinya Kang Piat-ho terkejut.

Bahwa Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat ternyata datang bersama, bahkan seakan-akan dari lawan telah menjadi kawan, untuk ketiga kalinya Kang Piat-ho terkejut. Bahkan kejut yang ketiga ini sungguh luar biasa dan membuatnya mendelik.

Para tamu sama berdiri menyambut kedatangan Hoa Bu-koat, ada juga yang menyapa sehingga hampir tiada yang tahu sikap Kang Piat-ho yang terkesiap dan berdiri melenggong itu.

Sama sekali sukar dibayangkannya cara bagaimana Hoa Bu-koat bisa lolos di bawah pedang sakti Yan Lam-thian, ia pun tak dapat membayangkan ke mana perginya Yan Lam-thian sekarang, lebih-lebih tak terbayangkan olehnya bahwa Hoa Bu-koat bisa berada bersama Siau-hi-ji, bahwa tampaknya kedua anak muda ini seakan-akan kawan karib saja.

Dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya itu sebenarnya ia ingin minta penjelasan kepada Hoa Bu-koat, namun ada sementara pertanyaan yang tidak leluasa ditanyakan, ada sebagian pula pertanyaan yang tidak dapat diajukan secara terbuka, karena itulah ia terkesima agak lama, habis itu baru ingat seyogianya dirinya harus memperlihatkan rasa khawatir dan perhatiannya terhadap Hoa Bu-koat.

Akan tetapi sayang, sikap perhatian apa pun yang hendak dikemukakannya semuanya sudah terlambat kini.

Pada beberapa tempat duduk utama masih luang, sejak tadi yang satu menyilakan yang lain dan yang lain mengalah pula kepada yang lain lagi, jadinya tetap kosong. Sekarang Siau-hi-ji tanpa sungkan-sungkan lagi terus mendekatinya dan duduk di situ dengan lagak seperti tuan besar, seakan-akan dia memang dilahirkan untuk duduk di tempat utama demikian, meski orang lain melotot padanya juga tidak peduli, malahan ia lantas angkat cawan di atas meja yang masih kosong, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “He, Kang-tayhiap menjamu tamu, masa arak saja tidak ada?!”

Dengan kikuk, Kang Piat-ho berdehem, lalu berseru, “Bawakan arak!”

Siau-hi-ji tertawa dan berkata pula, “Melihat sikap Kang-tayhiap, tampaknya tidak begitu suka kepada tamu tak diundang seperti diriku ini? Tapi perlu diketahui bahwa kedatanganku ini bukan kehendakku sendiri melainkan atas undangan Hoa-kongcu.”

Air muka Kang Piat-ho berubah pula, tapi ia sengaja berlagak tertawa dan berkata, “Tamu Hoa-heng kan juga tamuku!”

“Jika demikian, jadi kawan Hoa Bu-koat berarti juga kawanmu?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, begitulah,” jawab Piat-ho.

Mendadak Siau-hi-ji menarik muka dan menjengek, “Tapi kawan Hoa Bu-koat sekali-kali bukanlah kawanku!”

Sejak Siau-hi-ji menduduki tempat utama dengan lagak tuan besar, sejak itu para tamu merasa sirik, cuma orang tidak tahu apa hubungannya dengan Kang Piat-ho, maka tiada seorang pun berani buka mulut. Kini setelah mengikuti tanya jawab antara Siau-hi-ji dan Kang Piat-ho tadi, tahulah mereka bahwa anak muda itu tiada hubungan apa-apa dengan Kang-tayhiap yang mereka hormati itu.

Advertisements

6 Comments »

  1. Mohon maaf, bhakti pendekar binal 4 ternyata adalah bahagia pendekar binal, dimana bhakti Pendekar binal 4 bisa dibaca?

    Comment by senta — 04/11/2008 @ 5:18 am

  2. Mas Senta, tunggu aja ya. Sy cek dulu. Nanti kalau benar, berarti tetap seperti di atas. Tidak ada perubahan.

    Tapi kalau salah, sy akan upload lg. Trims atas kunjungannya.

    Comment by ceritasilat — 07/11/2008 @ 3:02 am

  3. Maaf kok enggak nyambung ya kayaknya bakti pendekar 4 enggak ada. dimana ya saya bisa membacanya?

    Comment by Dedy — 02/01/2009 @ 9:46 am

  4. halo pak ceritasilat,
    sorry katanya mau ngecek, tapi sepertinya memang ini bahagia pendekar binal 4, isinya sama persis.

    tolong diupload yang bakti 4..

    thanks.

    Comment by agus — 14/03/2009 @ 1:17 am

  5. Terima kasih, Mas Agus. Sudah diperbaiki.

    Maaf saya kepada penggemar cerita silat karena kesibukan sehingga melalaikan koreksi Anda.

    Comment by ceritasilat — 14/03/2009 @ 1:27 am

  6. YA SEHARUSNYA BAHAGIA, ANEH YA??

    Comment by Firman — 23/02/2013 @ 3:59 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: