Kumpulan Cerita Silat

21/04/2008

Darah Ksatria: Bab 26. Daerah Mati

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:47 pm

Darah Ksatria
Bab 26. Daerah Mati
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Berbeda dengan lazimnya, toko serba ada yang satu ini tidak mirip dengan toko yang lain. Di toko lain ada meja dan lemari kasir. Di sini hanya ada sejilid buku yang sudah lusuh dan luntur warna sampulnya dan sebuah meja kecil yang berlaci satu untuk menyimpan uang–itulah meja kasir.

Ma Ji-liong menarik kursi lalu duduk di meja kasir. Dari tempat duduknya ia memperhatikan Thio-lausit.

Seperti biasanya Thio-lausit tetap lugu, reaksinya lamban, wajahnya jarang menampilkan mimik perasaan hatinya. Sekarang dia tetap dalam keadaan demikian. Kalau ada orang bilang dalam sekejap tadi dia mampu mengalahkan Ong Ban-bu yang tersohor sebagai jago nomor satu dari Hoay-lam, orang pasti tidak percaya.

Apakah wajahnya juga pernah divermak dengan tata rias Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-longnya?

Siapakah dia sebenarnya?

Ada beberapa tokoh besar dalam Bu-lim ini yang mampu mengalahkan Ong Ban-bu dalam segebrak saja?

Lama Ma Ji-liong terpekur sambil memperhatikan orang ini. Mendadak ia membuka mulut memanggil nama orang, “Toa-hoan.”

“Toa-hoan?” Thio-lausit tampak gelagapan, gerak-geriknya seperti orang linglung, “Kau minta Toa-hoan (mangkuk besar)? Mangkuk besar ada di dapur, apa perlu aku mengambilnya?”

“Tidak,” sahut Ji-liong. “Toa-hoan yang kumaksud adalah nama seseorang.”

“O, nama orang?”

“Kau tidak pernah melihatnya?”

“Toa-hoan yang pernah kulihat adalah mangkuk besar–bukan manusia.”

Ma Ji-liong menghela napas, perlahan ia berdiri lalu menghampiri sampai di depan orang. Mendadak ia turun tangan, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah ia mencolok kedua mata Thio-lausit.

Mata Thio-lausit segera terpejam. Hanya itu reaksinya. Kecuali kedua matanya, sekujur badannya tak memberi reaksi apa-apa.

Sudah tentu Ji-liong tidak menyerang sungguhan. Mendadak ia sadar bahwa dirinya adalah orang bodoh. Umpama Thio-lausit betul adalah orang jujur, betapapun tentu sudah tahu bahwa juragannya takkan turun tangan keji terhadap dirinya yang setia dan rajin bekerja, tiada alasan membuat dirinya cidera, sudah tentu ia takkan berhasil memancingnya mengeluarkan ilmu silat.

Ditanya tidak menjawab, dicoba juga gagal, lalu dengan akal apa baiknya? Di kala Ma Ji-liong sedang bingung, tidak tahu bagaimana ia harus bertindak lebih jauh, dilihatnya ada dua orang mendatangi dari ujung jalan kampung sebelah timur.

————————-ooo00ooo————————

Tok, tok, tok itulah suara sentuhan tongkat kayu yang beradu dengan tanah, dari kejauhan sudah terdengar jelas.

Yang datang ada dua orang, dua-duanya timpang, maka kedua orang ini memakai tongkat. Kalau dipandang dari jauh, badan bagian atasnya saja, kelihatan seperti terdiri satu orang.

Maklum wajah, pakaian, sikap dan bentuk tubuh mereka mirip satu dengan yang lain, seperti pinang dibelah dua, keduanya sama-sama memiliki kaki yang cacat, buntung dan tergantung di udara, betapa jijik dan jelek tampaknya.

Tapi rona muka dan sikap kedua orang cacat ini amat serius, sinar mata mereka dilembari keyakinan. Hanya ada satu perbedaan dari kedua orang ini, cacat kaki mereka yang satu di sebelah kiri, yang lain di sebelah kanan.

Melihat keadaan kedua orang ini, Ma Ji-liong lantas teringat kisah lama, kisah yang sudah lama tersiar luas di kalangan Bu-lim, yaitu dua tokoh besar yang sudah punya nama gemilang di masa silam. Di ujung utara Sing-siok-hay di puncak Kun-lun san, ada sepasang saudara kembar yang cacat badannya, mereka bernama Thian-jan dan Te-coat.

Karena cacat, mereka berjiwa aneh, sepak terjangnya menyeleweng dari kebiasaan umum, demikian pula ilmu silat mereka juga serong, murid-murid yang mereka terima juga harus saudara kembar yang cacat pula, anak-anak kembar dan cacat sejak dilahirkan.

Kaum persilatan angkatan tua banyak yang tahu tentang mereka, namun jarang ada yang pernah melihat atau berhadapan langsung dengan mereka. Murid-murid Sing-siok-hay juga jarang berkecimpung di Kangouw. Sudah beberapa tahun belakangan ini, tidak ada murid mereka yang datang ke Kanglam.

Berita yang tersiar luas di luar itu simpang siur, berbeda satu dengan yang lain. Ada sementara pihak yang bilang, pakaian murid-murid Sing-siok-hay mewah lagi mahal. Namun potongan atau modelnya lucu dan tidak lazim dipandang mata. Malah katanya ada murid Sing-siok-hay yang mengenakan jubah mutiara, maksudnya jubah yang dibuat dari rangkaian mutiara besar kecil. Maklum cacat badan membuat mereka rendah diri, aneh dan suka melakukan sesuatu yang menonjol, mereka senang menonjolkan diri dengan cara-cara yang tidak lumrah bagi pandangan manusia normal.

Berbeda dengan kedua pemuda cacat ini, pakaian mereka biasa saja, tiada sesuatu yang luar biasa pada kedua pemuda ini, tak berbeda banyak dibandingkan manusia umumnya.

Konon murid-murid Sing-siok-hay hanya boleh berkecimpung di Kangouw setelah mereka lulus ujian. Bila guru mereka beranggapan mereka cukup tangguh dan takkan kalah melawan jago-jago silat aliran lain, baru mereka diizinkan turun gunung, mengembara di Bu-lim mencari pengalaman.

Sebagai orang cacat, dalam meyakinkan ilmu silat sudah tentu jauh lebih sukar, makan tenaga dan memeras otak, jauh lebih menderita. Bila mereka lulus ujian dan mulai berkecimpung di Kangouw, tentu usianya sudah cukup tua.

Tapi kedua pemuda cacat kembar ini masih muda, gagah dan tampan, paling banyak berusia 24 tahun. Mungkinkah dalam usia semuda itu mereka mampu meyakinkan ilmu tunggal Sing-siok-hay? Sudah yakin bahwa mereka tak terkalahkan?

Semua yang diuraikan di atas adalah berita yang tersebar luas di kalangan Kangouw, namun berita itu sudah meresap, sudah berakar di sanubari orang-orang yang pernah mendengar tentang kisah mereka, kejadian sering kali lebih nyata dari sesungguhnya, jauh lebih mudah diterima oleh orang lain.

Ketika suara tongkat berhenti, kedua orang itu pun sudah berada di depan mata. Ma Ji -liong bangkit perlahan, lalu berputar menghadapi mereka. Dalam hati ia menduga, bahwa kedua pemuda cacat ini memang benar adalah murid Sing-siok-hay, tapi ia bertanya dengan suara lantang, “Kalian mau membeli apa?”

“Kami tidak akan berbelanja,” yang cacat kaki kirinya berbicara lebih dulu, lalu yang kaki kanannya cacat menimbrung,”Kami hanya ingin melihat-lihat dan membuktikan sebetulnya kau ini orang macam apa, dengan cara apa kau mampu menawan Ong Ban-bu?” Mereka bicara blak-blakan, terus terang menyatakan maksud kedatangannya, tidak bermuka-muka juga tidak pasang aksi.

“Aku she Sun bernama Ca,” yang cacat kaki kirinya bicara. “Dia adalah saudara kembarku, bernama Sun Jia.”

“Soalnya aku dilahirkan sedikit lambat,” yang cacat kaki kanannya menambahkan.

Nama mereka sangat sederhana, nama yang umum dan sering terdengar di kalangan rakyat jelata, tidak seperti murid-murid Sing-siok-hay yang sering berbuat aneh, mengada-ada dan tindak-tanduknya misterius.

Sun Ca berkata, “Kami terlihat seperti murid-murid Sing-siok-hay.”

Sun Jia meneruskan pula, “Oleh karena itu, kau pasti juga beranggapan bahwa kami adalah murid Sing-siok-hay.”

“Tapi kalau kau beranggapan demikian, kau keliru,” ucap Sun Ca. “Dengan Sing-siok-hay, hakikatnya kami tidak punya hubungan.”

“Sepuluh tahun yang lalu, pernah kami meluruk ke Sing-siok-hay,” Sun Jia berkata. “Kami juga ingin mencari orang aneh yang diagulkan dalam berita itu, kami mengharap beliau suka mengajar ilmu silat yang lihai kepada kami, supaya kami memiliki kepandaian yang tiada taranya dan malang melintang di dunia Kangouw.”

“Tapi kami amat kecewa, kami gagal menemui mereka.”

“Puncak gunung itu hanya tanah belukar yang tidak pernah dijelajahi manusia. Musim panas mentari amat terik laksana bara, musim dingin hawa membuat beku tulang sumsum, orang biasa jelas takkan hidup di tempat itu.”

“Kami menjelaskan tentang kenyataan ini, hanya supaya kau tahu ilmu silat yang kami yakinkan sekarang adalah berkat latihan kami sendiri, latihan yang rajin dan tekun.”

“Oleh karena itu, kau tak usah kuatir dan jangan menganggap kami orang cacat, maka kau sungkan turun tangan.”

Ma Ji-liong mendengarkan mereka bicara sampai habis, dalam hati ia meresapi sesuatu. Mereka adalah anak-anak muda, mereka tidak pura-pura, tidak bermuka-muka, tidak bertingkah, bersikap tegas tidak aleman dan sungguh-sunguh. Mereka ingin memperjuangkan hidup sendiri, mengangkat nama tanpa mendapat bantuan pihak lain. Walau mereka cacat badan, ternyata tak rendah diri, juga tidak uring-uringan dan gampang mengumbar adat.

Ma Ji-liong tidak ingin bermusuhan dengan kedua pemuda cacat ini. ” Aku tidak ada maksud menahan kalian,” katanya dengan suara tawar. “Setiap waktu kalian boleh datang ke mari, juga boleh pergi sesuka hati kalian.”

Mereka tidak pergi. Sepasang kembar yang cacat ini menatap Ji-liong dengan pandangan yang sama, tajam dan mengancam, sorot mata mereka tampak ganjil.

Sun Ca pula yang membuka suara lebih dulu, “Kami tahu dan merasakan, kau tidak menganggap kami sebagai musuh. Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong. Kalau orang lain, kami ingin bersahabat denganmu.”

“Ternyata kau bukan manusia rendah budi, bukan orang jahat yang berhati kejam seperti yang mereka gambarkan,” demikian ucap Sun Jia. “Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong yang harus dibekuk dan dihukum.”

Dua saudara kembar ini sama-sama menghela napas, sama-sama membalik badan, “tok, tok, tok”, tongkat mereka berbunyi serempak, agaknya mereka siap meninggalkan tempat itu, seakan-seakan mereka segan atau tidak akan bermusuhan lagi dengan Ma Ji-liong. Tapi mereka tidak keluar, karena di saat tongkat mereka bergerak ketiga kalinya, baru saja ujung tongkat menyentuh lantai, tangan Thio-lausit mendadak bergerak.

Ma Ji-liong hanya mendengar desir angin tajam memecah udara, dua batang tongkat yang dipegang dua saudara kembar itu mendadak patah persis di bagian tengah, menyusul dua benda kecil menggelundung jatuh bersama tongkat yang patah itu. Waktu Ji-liong melirik ke sana, ternyata dua butir kacang tanah yang mematahkan tongkat kayu sebesar lengan bayi itu.

Thio-lausit gemar minum arak, kacang tanah adalah kawan intim bagi seorang yang suka minum arak, makan kacang supaya tidak lekas mabuk.

Di atas meja Thio-lausit selalu bertumpuk kacang tanah. Thio-lausit mampu menimpuk patah tongkat kayu sebesar lengan bayi yang montok, padahal dibacok golok pun tongkat itu takkan putus seketika.

Sun Ca dan Sun Jia tidak menduga. Walau mereka tidak jatuh karenanya, mereka masih berdiri dengan sebelah kakinya yang utuh, bendiri tegak seperti terpukau atau berakar di bumi. Tapi roman muka mereka tampak berubah hebat, demikian pula rona muka Ma Ji-liong juga berubah. “Apa yang kau lakukan?” serunya spontan.

“Terpaksa aku harus menahan mereka,” sahut Thio-lausit, wajahnya tidak menunjukkan perubahan apa-apa. “Kau tak mau bertindak, biar aku yang menahan mereka.”

Ma Ji-liong tidak sempat bertanya ‘kenapa’ lagi, karena dalam sekejap mata, ia merasakan datangnya perubahan pada ujung jari tangan dan kaki, mulut serta ujung mata dan setiap tempat yang peka. Begitu cepat perubahan terjadi, kejap lain ia merasakan juga badannya mulai kejang dan pati rasa.

Hanya sekejap setelah tongkat mereka patah, Sun Ca dan Sun Jia tiba-tiba melambung tinggi ke udara. Meski hanya menjejak dengan sebelah kaki, tapi tubuh mereka meluncur kencang bagai panah ke arah luar pintu.

Walau cacat badan, tapi di kala tubuh mereka melesat di udara, bukan saja gayanya indah, kecepatannya pun bagai elang mengejar burung dara. Meski kedua pemuda ini tuna raga, dari gerakan itu dapat dinilai betapa tinggi Ginkang mereka, jarang ada jago silat semuda mereka dapat menandingi kemampuannya.

Menurut cerita, dalam jangka tiga ratus tahun mendatang, orang yang mempunyai telinga paling tajam di seluruh dunia persilatan adalah seorang tuli. Seorang tuli benar-benar, tuli tulen, namun dalam jarak tiga puluh tombak, dia bisa mendengar bisikan orang (baca Pukulan Si Kuda Binal).

Maklum dia bukan mendengar dengan telinga, tapi mendengar dengan mata. Cukup dia melihat gerak bibir seseorang, bentuk mulut waktu orang bicara, maka dia dapat mendengar apa yang diucapkan orang itu. ltulah ilmu tunggal orang tuli itu, kepandaian khusus yang tidak mungkin dimiliki atau diyakinkan orang lain, ilmu hasil latihan dan gemblengan berat. Karena dia tuli, maka dia berhasil meyakinkan ilmu tunggal yang tiada bandingannya.

Seseorang bila tubuhnya mempunyai ciri, entah ciri apa pun, jika dia bisa memanfaatkan kekurangannya sendiri, sering terjadi usaha yang tak kenal lelah, jerih payahnya akan mendatangkan sukses yang gemilang.

Bahwa Sun Ca dan Sun Jia yang tuna raga mampu meyakinkan Ginkang setinggi itu juga lantaran mereka tapa daksa. Karena tahu dirinya tuna raga, maka mereka mau menggembleng diri, latihan yang mereka lakukan jelas lebih sukar, lebih berat dan lebih menyiksa.

Secara mendadak tubuh mereka melambung tinggi begitu saja, seperti kaki mereka dipasang pegas, gerakan keduanya pun serasi, cepat, indah lagi mempesona.

Gerak tujuan mereka ke arah luar pintu. Namun di saat tubuh mereka melorot turun, ternyata kakinya tetap menginjak lantai di dalam toko. Begitu kaki anjlok ke bawah dan menginjak tanah, lalu tak mampu melompat lagi. Bukan hanya tidak mampu melompat, mereka pun tidak bisa bergerak, berdiri kaku seperti patung, ada empat Hiat-to di tubuh mereka tertutuk. Delapan butir kacang tanah menggelinding di lantai.

Tokoh silat kosen yang memiliki kepandaian sejati, meski hanya menggunakan kelopak kembang juga dapat melukai musuh, maka tidak perlu beran bila dengan kacang tanah seseorang yang memiliki ilmu silat tinggi dapat menutuk Hiat-to di tubuh orang.

Namun belum ada orang tahu bahwa Thio-lausit yang pegawai toko ini adalah seorang jago kosen yang memiliki kepandaian tinggi.

Kapan dan bagaimana Thio-lausit menyambitkan kacang tanah, bagaimana pula Sun Ca dan saudara kembarnya kecundang? Ma Ji-liong tidak tahu, juga tidak sempat menyaksikan karena keadaan dirinya juga sudah gawat, pandangannya mulai kabur, sekujur badan sudah mengejang kaku.

Ma Ji-liong tak merasakan, Thio-lausit segera berdiri dan menghampiri dirinya, dari dalam kantung Sun Ca dia merogoh keluar sebotol obat. Dari botol kecil itu ia menuang dua butir pil lalu dijejalkan ke mulut Ma Ji-liong, selang beberapa saat kemudian baru Ma Ji-liong mulai pulih kesadarannya.

Sikap Thio-lausit biasa saja, tidak menunjukkan rasa tegang, senang atau kaget, namun ia bertanya dengan suara tawar, “Sekarang tentu kau sudah tahu kenapa aku menahan mereka.”

Ma Ji-liong sudah tahu. Ada beberapa adegan tidak sempat ia saksikan tadi, tapi ia maklum banyak peristiwa yang terjadi di dunia ini, tak usah kau saksikan sendiri pun kau bisa maklum sendiri.

Ia maklum kenapa dirinya mendadak kejang dan pati rasa, karena terkena racun jahat yang ditaburkan Sun Ca dan Sun Jia. Jenis racun yang tidak kelihatan, tidak bisa dirasakan dan tidak berwarna, ternyata lihai juga saudara kembar cacat ini menggunakan racun. Apa yang mereka ucapkan tadi mungkin setulus hati, hanya omongan jujur untuk menarik perhatian orang, hanya dengan bersikap jujur maka lawan dapat dibuat lena.

Di kala mereka bersikap tidak bermusuhan, saat itulah mereka menyerang dengan cara mereka yang khas dengan racun jahat. Tanpa bayangan, juga tidak menunjukkan gerakan yang mencurigakan. Umpama orang menganggap orang lain sebagai teman baiknya, tanpa hubungan yang baik, takkan ada kesempatan dia mengkhianati temannya itu.

Bukan berarti Ma Ji-liong tahu jelas duduknya persoalan, tapi setelah ia bisa buka suara, ia lantas berkata, “Bebaskan mereka, sekarang juga biarkan mereka pergi.”

“Kenapa kau melepaskan mereka?” tanya Thio-lausit heran.

“Karena aku adalah Ma Ji-liong. Karena melaksanakan tugas, mereka pantas berbuat demikian.”

Mereka juga masih muda, sepak terjang anak muda umumnya memang demikian, mereka ingin terkenal, mendapat kedudukan dan disegani, ingin menjadi orang yang sukses, orang besar, maka mereka tidak salah. Seorang pemuda harus punya cita-cita, mengejar nama, maka usahanya itu pasti tidak salah.

Setelah Hiat-to yang ditutuk di tubuhnya dibebaskan, Sun Ca dan Sun Jia segera beranjak keluar, Waktu berjalan pergi, Sun Ca dan Sun Jia tidak berpaling, melirik pun tidak ke arah Ma Ji-liong, mereka juga tidak menghaturkan terima kasih.

Ma Ji-liong juga sengaja melengos ke jurusan lain, ia tidak ingin menambah beban batin dan rasa malu mereka. la bertanya pada Thio-lausit, “Apa betul kau tidak pernah melihat Toa-hoan? Juga tidak tahu siapa dia? Apa betul kau sudah menjadi pegawai toko serba ada ini selama delapan belas tahun?”

Thio-lausit tidak menjawab, ia membungkuk badan memungut kacang tanah yang berserakan di lantai, satu persatu diambil, dikuliti dan langsung dijejalkan ke dalam mulut. Sambil mengunyah kacang tanah di dalam mulutnya, ia menghela napas, lalu bergumam, “Persoalan yang harus dia ketahui tidak ditanyakan, kepada siapa dia harus bertanya juga tidak diperhatikan, malah bertanya persoalan yang tak berguna kepadaku.”

“Aku tahu aku harus bertanya kepada Ong Ban-bu,” demikian ucap Ma Ji-liong. “Berapa banyak orang mereka yang meluruk ke tempat ini? Siapa pemimpinnya dan tokoh-tokoh silat siapa saja yang ikut datang? Begitu?”

“Kalau sudah tahu, kenapa tidak kau tanya kepadanya?”

“Karena pertanyaanku yang kuajukan kepadamu kurasa lebih penting.”

“Penting, apanya yang penting?” Thio-lausit menghela napas pula. “Memangnya kenapa kalau aku pernah melihat Toa-hoan? Bagaimana pula kalau tidak pernah melihatnya? Kenapa kau justru bertanya hal ini?”

“Karena aku ingin tahu sekarang dia di mana,” tegas jawaban Ma Ji-liong. “Aku benar-benar ingin tahu.”

“Dia ada di mana, apa sangkut-pautnya denganmu?”

“Sudah tentu ada sangkut-pautnya,” Ma Ji-liong menatap Thio-lausit. “Jika kau juga pernah merindukan seseorang, kau pasti tahu dan maklum perasaanku sekarang.”

Wajah Thio-lausit tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa, tapi sisa kacang tanah yang masih digenggam di telapak tangannya mendadak berjatuhan di atas lantai. Bergegas ia berjongkok memungutinya lagi, seperti sengaja menghindari tatapan mata Ma Ji-liong yang tajam dan hangat bagaikan bara.

Di saat Ma Ji-liong berdiri menjublek, dari dalam rumah berkumandang teriakan Cia Giok-lun, “Kalau kau ingin tahu tentang Toa-hoan, kenapa tidak kau tanya kepadaku.”

Bergegas Ji-liong melangkah ke dalam. Di saat ia membalik badan menutup kain tirai, mendadak dilihatnya sebaris orang dengan derap langkah lembut masuk ke jalan kampung dari arah utara.

Barisan ini terdiri dari 28 orang, muda, kekar, gerak- geriknya lincah dan tangkas, gerak kaki dan tangan mereka amat rapi dan rata. Ke-28 pemuda itu seluruhnya berpakaian hitam ketat dengan potongan dan model yang sama, dengan gerak kaki setinggi lutut berderap maju dengan rajin, tangan kiri mereka menjinjing kantong kain hitam yang bentuk dan besarnya sama.

Apa isi kantong kain hitam itu? Apa kerja ke-28 pemuda berpakaian hitam itu di tempat ini? Setiap orang pasti tertarik dan ingin tahu bila melihat barisan serapi itu. Yang sedang ber jalan menoleh, yang sedang bekerja berhenti, semua memperhatikan barisan yang menyolok pandangan, entah apa maksud kedatangan mereka.

Ternyata Ma Ji-liong tidak peduli, dia tetap melangkah ke dalam. Hanya sekilas ia menoleh dan menatap keluar, lalu menyingkap tirai menyelinap masuk. Kecuali Toa-hoan, orang lain, urusan lain, seperti tidak menarik perhatiannya.

Cia Giok-lun meronta berduduk, mimik mukanya kelihatan aneh, entah marah, derita atau penasaran? Mungkin juga sedih? Berbagai perasaan campur aduk dalam relung hatinya. Dengan melotot ia mengawasi Ji-liong. “Kau kenal Toa-hoan? Bukankah kalian bersekongkol, mengatur rencana busuk ini untuk mencelakai aku?”

Ma Ji-liong diam, tidak menyangkal, juga tidak membantah. Ia tidak ingin berdebat. Dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa menyangkal, juga tidak perlu menyangkal.

Jari-jari Cia Giok-lun yang kurus kering itu mencengkeram ujung selimut kapas yang tebal itu, kelihatan tubuhnya gemetar.

“Selama beberapa bulan ini, kau selalu merindukan dia?” suara Cia Giok-lun berubah serak terisak. “Tiga bulan lebih kau mendampingi aku, tapi setiap hari kau malah merindukan dia?”

Ma Ji-liong tidak mungkir, hal ini memang tidak perlu dibantah.

Tubuh Cia Giok-lun berguncang lebih keras. “Kenapa kau merindukan dia? Apa kau mencintai wanita jelek itu?”

Pertanyaan ini setiap hari mengganjal dalam benak Ma Ji-liong. Kenapa aku selalu merindukan dia? Apa betul aku sudah kasmaran kepadanya? Kalau lagi kasmaran, maka perasaannya bukan lagi suka, tapi dirinya sudah jatuh cinta. Karena cinta maka ia kuat bertahan sekian lama menyembunyikan diri sebagai pemilik toko serba ada, karena cinta pula sehingga amat keras dan begitu besar rasa rindunya. Tapi hal ini tak pernah Ji-liong pikirkan, Ji-liong memang tak habis mengerti, kenapa dirinya punya pikiran demikian.

Mendadak Cia Giok-lun menghentikan isak tangisnya, badan juga tidak gemetar lagi, jengeknya sambil menyeringai dingin, “Ingin tidak kau tahu siapa dia?”

“Ingin sekali,” jawab Ma Ji-liong dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling.

“Jika kau tahu siapa dia sebenarnya, aku yakin kau akan kecewa;”

“Tidak, pasti tidak,” tegas dan jelas jawaban Ma Ji-liong. “Peduli siapa dia, sikapku terhadapnya takkan pernah berubah.”

“Baiklah, biar kujelaskan,” suara Cia Giok-lun seperti memekik. “Dia adalah babu di rumahku.”

Ma Ji-liong tetap bersikap tenang dan wajar, “Kau adalah Toa-siocia, nona besar, dia adalah babumu. Engkau seorang gadis cantik, sebaliknya dia buruk rupa. Tapi peduli kau siapa dan dia siapa, aku tetap merindukan dia.” Habis bicara ia beranjak keluar pula.

“Kembali kau!” pekik Cia Giok-lun. “Masih ada yang akan kuberitahukan kepadamu.”

Ma Ji-liong tidak berbalik, juga tidak berpaling. Apa pun yang akan dikatakan Cia Giok-lun, ia tidak mau mendengar lagi.

Dengan gemas Cia Giok-lun menjatuhkan diri, menyusupkan kepala ke bawah bantal, lalu menangis gerung-gerung, menangis dengan sedih. Sebagai Toa-Siocia, atau nona besar, ia memang amat binal, lebih brengsek dibandingkan putri raja, lebih agung dibanding bidadari. Belum pernah ada orang yang melihat ia mencucurkan air mata. Apa pun yang ia minta, apa pun yang ia inginkan di rumah maupun di luar, belum pernah tidak terkabul. Tapi kenapa kali ini ia menangis? Karena apa ia mencucurkan air mata?

Thio Eng-hoat duplikat Ma Ji-liong ini hanya juragan toko serba ada di kampung di mana sebagian besar penduduknya adalah kalangan rendah. Ma Ji-liong tidak lebih hanya keparat yang berani melakukan kejahatan, seorang buronan yang akan dijatuhi hukuman mati oleh kaum pendekar. Peduli untuk siapa dan kepada siapa, tidak pantas Cia Giok-lun mencucurkan air mata.

Sejak tadi Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu hanya menonton saja dari samping, diam, bersikap dingin. Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas, “Aku ini laki-laki bergajul, laki-laki yang suka pelesir, selama hidup entah berapa ratus perempuan yang pernah tidur denganku.”

“Aku pun kira-kira demikian,” ucap Ong Ban-bu.

“Tapi sejak mula hingga yang terakhir, belum pernah aku memahami jiwa mereka, menyelami hati perempuan, seumur hidupku mungkin tak bisa memahami hati wanita.”

Ong Ban-bu juga menghela napas, katanya gegetun, “Aku pun demikian.”

Ma Ji-liong berada di luar, tidak mendengar percakapan mereka. Begitu berada di luar, ia kaget dan menjublek oleh perubahan yang terjadi di jalanan. Belum pernah ia membayangkan di lorong yang jorok dan kotor serta becek itu, bisa menyaksikan perubahan yang benar-benar mengejutkan.

Hanya Thio-lausit saja yang tidak berubah. Gelagatnya pegawai ini sudah terpengaruh oleh arak yang masuk ke perutnya. Poci arak sudah kosong dan menggeletak miring di atas meja yang sudah reyot. Thio-lausit mendekam di meja, entah masih sadar atau sudah tertidur? Sudah mabuk atau lagi sedih?

Keadaan biasa memang demikian, kejadian hari ini bukan untuk yang pertama kali. Perubahan yang mengejutkan telah terjadi dalam kampung yang berpenduduk serba kekurangan ini. Bayangan manusia dan hewan sudah tidak kelihatan lagi, penduduk yang tinggal di gubuk-gubuk reyot sepanjang kampung itu entah sudah lari ke mana. Rumah mereka yang terbuat dari papan beratap rumbia itu pun sudah tidak kelihatan, entah kapan dibongkar atau dipindah ke mana. Tanah kampung itu kini telah kosong.

Hanya sekejap mata, dalam waktu singkat, rumah-rumah penduduk di sekeliling toko serba ada ini telah dibongkar bersih. Dibongkar oleh ke-28 pemuda baju hitam yang berperawakan tegap, kekar dan kuat. Isi kantong hitam yang mereka bawa ternyata alat pertukangan, digunakan untuk menjebol dan membongkar rumah-rumah itu.

Gerak mereka rapi, hati-hati, kuat lagi cekatan. Genteng satu persatu dilempar ke bawah, demikian pula papan dinding satu persatu dipreteli, paku satu persatu dicabut. Lekas sekali bangunan rumah yang sudah dibongkar dipindahkan ke lain tempat.

Demikian pula perabot rumah tangga. Dari meja, kursi, almari, mainan anak-anak, harta benda besar maupun kecil, seluruhnya diangkut dan habis. Penduduk kampung ini dari keluarga miskin, namun dalam pandangan mereka, betapapun reyot dan miskin keadaan rumah mereka, setelah sekian tahun tinggal di tempat itu, berteduh dari teriknya matahari dan hujan lebat, berat dan sayang untuk meninggalkan tempat ini. Tidak sedikit malah penduduk kampung yang dilahirkan di sini, kampung halaman di mana mereka tumbuh dewasa dan tua. Tapi sekarang rumah mereka dibongkar, lenyap begitu saja, seluruh rumah di daerah ini sudah dirobohkan. Perkampungan ini sudah bukan lagi kampung. Jalan sempit itu juga bukan jalan kampung lagi. Segala apa yang ada di sini sudah berubah, semuanya sudah dipindahkan.

Dalam sekejap mata, perkampungan telah berubah menjadi tanah lapang yang kosong, tanah lapang yang sebagian berlumpur. Tanah kosong, tanah mati, daerah mati, tiada kehidupan lagi di tempat ini.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: