Kumpulan Cerita Silat

21/04/2008

Bakti Pendekar Binal (03)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:26 pm

Bakti Pendekar Binal (03)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Sementara itu Siau-hi-ji sudah berdandan kembali sebagai pegawai toko obat itu dan tidur di kamarnya di bagian belakang toko.

Kemudian Samkohnio pun tiba, sekali ini nona gede ini tidak berkaok-kaok lagi dari balik jendela melainkan terus menerobos masuk ke kamar dan setengah mendongkol ia mengomeli anak muda itu, “He, selama dua hari ini kau ke mana, tahukah betapa gelisah orang mencarimu?”

Siau-hi-ji kucek-kucek matanya yang masih mengantuk, jawabnya dengan tertawa, “Jika kau benar gelisah lantaran aku, maka kau harus membantu sesuatu padaku.”

“Bilakah pernah kutolak permintaanmu?” omel Samkohnio dengan suara perlahan.

“Tapi urusan ini sama sekali tidak boleh kau katakan kepada orang ketiga.”

“Memangnya kau tidak percaya padaku?” ucap Samkohnio sambil menunduk.

“Baiklah, ingin kutanya lebih dulu, selama dua hari ini apakah kau lihat Kang Giok-long?”

“Tidak,” jawab si nona gede.

Siau-hi-ji memandangnya dengan terbelalak, katanya pula, “Coba ingat-ingat lagi, adakah salah seorang yang berada di sekitar Kang Piat-ho itu mungkin adalah samaran Kang Giok-long?”

Samkohnio lantas mengingat-ingat kembali, lalu menjawab tegas, “Tidak ada, pasti tidak ada, selama dua hari ini Kang Giok-long jelas tidak berada di sini.”

Siau-hi-ji merasa lega, katanya, “Itu dia, perasaan perempuan walau rada membingungkan, tapi terkadang juga jitu. Jika kau sudah yakin demikian halnya, rasanya Kang Giok-long memang betul tidak sedang di sini.”

“Kau memanggilku ke sini hanya ingin menanyakan dia?” tanya Samkohnio dengan rasa hampa.

“Soalnya dia ada sangkut-paut yang sangat erat dengan dirimu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jangan ngaco, memangnya ada sangkut-paut apa antara aku dengan dia?” omel si nona.

“Tahukah bahwa uang kiriman ayahmu itu justru dirampok olehnya?”

“Apa katamu? Masa begitu?” seru Samkohnio.

“Selama dua hari ini mendadak dia menghilang, pertama karena dia ingin menghindarkan diriku, kedua, kepergiannya ini justru hendak menyembunyikan harta rampokan itu pada suatu tempat yang baik, soalnya dia mengetahui, rahasia yang kuketahui jauh lebih banyak daripada sangkaannya.”

Samkohnio berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Sesungguhnya kau ini siapa? Mengapa dia begitu takut padamu?”

“Bicara sungguh-sungguh, sampai saat ini dia memang belum mengetahui siapa diriku ini.”

Samkohnio terdiam sejenak, lalu berkata pula dengan perlahan, “Tapi aku tak peduli kau ini siapa, aku ….”

Mendadak Siau-hi-ji menyela, “Asalkan dugaanku tidak meleset, asalkan dia tidak berada di sini, maka rencanaku pasti akan berhasil. Untuk ini kau harus bantu mengawasi dia bagiku, begitu dia pulang hendaklah cepat kau beritahukan padaku.”

“Sesungguhnya apa rencanamu? Mengapa rencanamu baru akan berhasil bilamana Kang Giok-long tidak berada di sini?”

Siau-hi-ji menarik tangan si nona, katanya dengan suara lembut, “Urusan ini pasti akan kau ketahui nanti, sekarang kumohon engkau jangan bertanya.”

Di dunia ini kalau ada sesuatu yang dapat membuat perempuan tutup mulut, maka itu adalah ucapan mesra sang kekasih.

Benar saja, Samkohnio lantas tutup mulut dan tidak tanya lebih lanjut. Dia menunduk, lalu berucap dengan perlahan, “Tia…tiada ucapan lain lagi yang ingin kau katakan padaku?”

“Malam nanti, lewat tengah malam, harap engkau menunggu di luar pintu belakang taman rumahmu…”

Seketika mata Samkohnio memancarkan cahaya kegirangan, tukasnya dengan suara rada gemetar, “Malam…malam nanti…di…di taman ….”

“Betul, jangan lupa, hendaklah menunggu tepat pada waktunya.”

“Tidak mungkin kulupakan, biarpun langit akan ambruk juga akan kutunggu di sana tepat pada waktunya.”

Dengan tertawa genit ia lantas melangkah pergi dengan bayangan pertemuan mesra tengah malam yang indah nanti.

Maklumlah, janji pertemuan rahasia bagi gadis yang sedang kasmaran memang gaib dan penuh rasa bahagia, tiada urusan lain di dunia ini yang dapat menggetarkan hati mereka kecuali janji pertemuan dengan sang kekasih.

Siangnya Siau-hi-ji terus putar kayun kian kemari ke segenap pelosok kota, banyak restoran dan rumah minum yang dilaluinya, tapi ia tidak masuk ke situ, sebaliknya dia mendatangi sebuah warung bakmi yang kecil dan kotor di ujung timur kota. Jelek-jelek warung bakmi ini pun punya nama yang indah, yakni “Su-hiang-koan” atau “rindu kampung halaman”.

Siau-hi-ji menghabiskan semangkuk besar pangsit mi serta beberapa biji siomoy, lalu menyuruh si pemilik restoran orang Santung yang tampaknya sudah lebih dari tiga tahun tidak pernah mandi itu memberikan alat tulis dan beberapa puluh helai kertas.

Ia memulai menulis dengan huruf sebesar kepalan, semua kertas itu ditulisnya dengan huruf yang sama, rupanya ia menulis selebaran yang berbunyi, “Sahabat yang sok senang (Khay-sim), malam nanti antara pukul sembilan seorang she Li menanti kedatanganmu di Su-hiang-koan yang terletak di sudut timur kota, mau tak mau kau harus datang”.

Habis menulis, dia menyewa dua-tiga orang gelandangan agar menyebarkan pelakat-pelakat itu ke segenap penjuru kota dan ditempelkan di tempat-tempat yang mencolok mata.

Sudah tentu orang Santung itu terheran-heran memandangi kelakuan Siau-hi-ji yang aneh itu. Namun Siau-hi-ji tidak ambil pusing, dia mendatangi toko rombengan untuk membeli seperangkat pakaian bekas warna hitam, lalu dibelinya di toko kelontong beberapa macam alat rias. Akhirnya ia mendapatkan sebuah hotel yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, ia minta kamar yang ada cerminnya, di situlah ia telanjang bulat dan tidur sepuasnya.

Waktu mendusin hari pun hampir magrib. Menghadapi cermin, seperti anak gadis saja Siau-hi-ji bersolek sekian lamanya, pakaian hitam itu dipakainya, lalu dia beraksi di depan cermin…Hah, mana bisa orang mengenalnya lagi sebagai Kang Siau-hi melainkan mirip Li Toa-jui yang gemar daging manusia itu.

Siau-hi-ji sendiri pun sangat puas akan hasil samarannya ini, dia tertawa dan bergumam, “Haha, walaupun tidak persis seratus persen, tapi mengingat Pek Khay-sim itu sudah puluhan tahun tidak pernah berjumpa dengan Li Toa-jui, apalagi di tengah malam gelap, rasanya sudah bolehlah.”

Perawakan Siau-hi-ji memang juga tidak pendek, setelah mengalami gemblengan selama dua tahun ini tubuhnya telah menjadi kekar, kalau membusungkan dada, bukan saja hampir serupa dengan Li Toa-jui bahkan potongan tubuh dan tegapnya juga hampir sama, kalau tidak di teliti dengan cermat, bahkan orang yang setiap hari bertemu dengan Li Toa-jui juga sukar membedakannya.

Pakaian yang bekas dipakainya itu digulung menjadi satu, lalu dimasukkan ke kolong selimut sehingga kalau dipandang dari luar kelihatan ada orang sedang tidur nyenyak.

Habis itu ia menulis pula dengan peralatan yang ada di situ sepucuk surat untuk Kang Piat-ho, ia menulis dengan tangan kiri sehingga kelihatan reyat-reyot, begini bunyinya: “Kang Piat-ho, putramu dan harta pengawalan yang kalian rampok itu telah jatuh di tangan Tuanmu sekarang, jika kau ingin berunding dengan syarat tertentu, silakan datang tengah malam nanti di sutheng yang berada di luar kota”.

Dia tutup sampul surat itu dan di atasnya ditulis pula, “Kepada Kang Piat-ho pribadi, orang lain dilarang membaca”.

Setelah simpan surat itu di dalam baju, Siau-hi-ji bergumam dengan tertawa, “Kang Giok-long tidak berada di kota, besar kemungkinan sedang mengatur penyimpanan harta rampokannya, asalkan malam ini dia tidak pulang, tentu Kang Piat-ho akan masuk perangkapku, biarpun dia selicin belut, seumpama dia tidak percaya penuh juga pasti akan sangsi dan tengah malam nanti saking tak tahan dia pasti akan datang ke tempat yang kusebut itu.”

Dia tertawa puas, lalu memberosot keluar melalui jendela.

Setiba di rumah makan Su-hiang-koan itu, sementara itu cuaca sudah mulai gelap. Inilah saatnya orang makan malam, tapi Su-hiang-koan itu ternyata tiada pengunjungnya, bahkan orang Santung itu pun tidak kelihatan, hanya seorang tamu tampak sedang minum arak sendirian.

Orang ini memakai baju sutera baru, di atas kopiah yang dipakainya tersunting sebiji mutiara yang bercahaya, dandanannya mirip saudagar kaya, tapi sikapnya ala buaya darat, dia tidak duduk secara beraturan, tapi nongkrong di atas bangku sambil minum arak, sepasang matanya jelilatan seperti maling khawatir konangan.

Ketika Siau-hi-ji masuk rumah makan itu dengan langkah lebar, dengan terbahak langsung ia menegur, “Aha, anak baik, kau ternyata datang benar? Sudah sekian tahun tidak berjumpa, kau keparat ini ternyata belum melupakan kawanmu orang she Li ini dan telah menunggu tepat pada waktunya.”

Sejak kecil Siau-hi-ji berkumpul dengan Li Toa-jui, dengan sendirinya lagak-lagunya mirip benar cara menirukan tokoh Cap-toa-ok-jin yang disegani itu.

Tak terduga orang itu cuma mendelik saja, jawabnya sambil menarik muka, “Memangnya kau ini siapa? Aku tidak kenal.”

“Hah, masa ingin mengelabui aku, meski kau berdandan menyerupai manusia, tapi bentukmu yang lebih mirip monyet ini tetap sukar diubah,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Akhirnya orang itu bergelak tertawa, katanya, “Kau keparat yang suka makan manusia tanpa buang tulang ini, setelah sekian tahun tidak berjumpa, caramu bicara dengan bapakmu masih tetap kasar begini?”

Siau-hi-ji duduk di depannya, di atas meja sudah ada dua pasang sumpit dan dua cawan, tapi masakan Ang-sio-bak hanya satu mangkuk. Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, katanya, “Tampaknya kau maling rudin ini semakin lama semakin bangkrut, lekas panggil si Santung itu, biar kusuguh kau makan sepuasnya.”

“Dia takkan muncul lagi?” jawab orang itu yang bukan lain daripada Pek Khay-sim adanya.

“Mengapa? Di mana dia?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan tertawa Pek Khay-sim menunjuk Ang-sio-bak itu dan berkata, “Dia berada di dalam mangkuk ini.”

Siau-hi-ji tidak terpengaruh oleh keterangan itu, katanya dengan terbahak, “Hahaha, tampaknya kau pintar menjilat pantat, kau masih ingat bapakmu gemar makan apa, maka lebih dulu sudah kau sediakan. Cuma Santung tua itu sudah bertahun-tahun tidak mandi, mungkin dagingnya berbau apek.”

“Jangan khawatir, sebelumnya sudah kucuci bersih dari kepala hingga kakinya, habis itu baru masuk kuali,” ucap Pek Khay-sim dengan nyekikik, segera dia angkat cawan menyuguh Siau-hi-ji satu cawan penuh, lalu menuanginya pula satu cawan.

“Hm, kau benar-benar putra berbakti,” Siau-hi-ji berolok-olok dengan tertawa. Terpaksa dia menyumpit sepotong Ang-sio-bak, tapi baru saja dikunyah dua kali, mendadak ditumpahkannya, lalu berkata dengan melotot, “Huh, ini daging apa? Berani kau palsukannya sebagai daging manusia?”

Mendadak Pek Khay-sim berkeplok gembira, katanya, “Hehe, orang she Li, kau memang hebat, mulutmu yang kotor ini sekali coba lantas tahu daging apa, memangnya tak kau pikirkan apakah aku sudi menyembelih orang hanya untuk memenuhi seleramu?”

Rupanya Pek Khay-sim sengaja menggunakan cara ini untuk menguji apakah yang hadir ini benar-benar Li Toa-jui tulen atau bukan. Sudah tentu Siau-hi-ji merasa geli, ia pun tidak membongkar persoalan ini, dengan mendelik ia berkata, “Habis kalau anak tidak berbakti kepada bapak sendiri mau berbakti kepada siapa? Santung tua itu memang kotor, tapi dagingnya cukup gempal, memang sudah lama aku ingin menyembelihnya untuk diolah menjadi Ang-sio-bak, sekarang kau telah kemanakan dia?”

“Dia telah pulang kampung halamannya, rumah makan ini sudah kubeli. Haha, dia menerima lantakan emas yang kutuang tengahnya dengan timah, malahan dia sangat senang mengira mendapatkan pembeli yang picak dan menyangka aku yang tertipu.”

“Tapi untuk apakah kau membeli rumah makan brengsek ini? Kau memang telah berhasil menipu dia, tapi bapakmu menjadi gagal makan Ang-sio-bak. Ai, sifat malingmu yang suka ‘merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’ itu tampaknya selama hidup takkan berubah.”

“Sifatku tak dapat berubah, tapi sifat malingmu apakah dapat berubah? Anjing tetap makan tahi, sifat ini tidak mungkin berubah…Eh, sudah sekian tahun kau mengkeret di sarang anjingmu, untuk apa mendadak muncul di sini?”

Dengan mata melotot Siau-hi-ji berseru, “Ingin kutanya kau lebih dulu, kau memalsukan namaku serta mengirimkan panji berdukacita atas kematian Thi Bu-siang, lalu memalsukan namaku pula setelah menyembelih pelayan orang, sesungguhnya apa kehendakmu?”

Pek Khay-sim melengak, katanya kemudian, “Jadi kau tahu semuanya?”

“Memangnya urusan apa yang dapat mengelabui mataku?” jawab Siau-hi-ji dengan tergelak.

“Ya, orang-orang itu terlalu iseng, maka aku sengaja mencarikan pekerjaan buat mereka, kumasak daging manusia dan mengundang tamu untuk memakannya, tapi diam-diam aku sendiri menyampaikan laporan rahasia kepada keluarga yang bersangkutan, dengan demikian mereka berdua pihak akan saling labrak habis-habisan dan dengan demikian pula aku menjadi senang…Coba katakan secara jujur, apa yang kulaksanakan itu bagus atau tidak?”

“Herannya kedua bocah she Cin dan Lamkiong itu mau percaya begitu saja kepada laporan orang yang tak dikenal, jika aku yang dapat laporan, tentu akan kubekuk kau lebih dulu untuk ditanyai dari mana kau tahu ada orang sedang makan daging manusia?”

“Untuk menyampaikan laporan itu masa aku tak dapat mengirim surat kaleng saja, buat apa aku pergi ke sana sendiri?”

“Hanya sepucuk surat kaleng saja lantas dipercaya oleh mereka?”

“Biarpun tidak percaya, mau tak mau mereka akan melihatnya ke tempat yang kusebut itu.”

Mendadak Siau-hi-ji menggebrak meja dan berseru, “Tepat, memang kalimat inilah yang ingin kudengar dari mulutmu.”

Pek Khay-sim tampak heran, katanya, “Kau sedang merancang akal setan apalagi untuk menjebak aku?”

“Kau telah memalsu nama, untuk sementara dapat kukesampingkan persoalan ini dan takkan kuhukum, asalkan saja kau menulis lagi sepucuk surat kepada bocah she Cin dan Lamkiong itu. Mereka sudah membuktikan bahwa isi suratmu yang pertama itu memang tidak dusta, maka suratmu yang kedua pasti semakin dipercaya oleh mereka.”

“Lalu surat apa maksudmu?” tanya Pek Khay-sim.

“Dengan sendirinya surat untuk membikin susah orang, kalau bukan surat beginian masakah kau mau menulisnya?”

“Hehehe, jika surat untuk membikin celaka orang memang dapat kulakukan bagimu. Entah siapa yang menjadi sasaran perangkapmu ini?”

“Tentang siapa sasarannya kelak pasti akan kau ketahui. Yang penting harus kau beritahukan kepada mereka agar tengah malam nanti mereka datang ke halaman belakang rumah Toan Hap-pui, di sana mereka pasti akan melihat sesuatu yang sangat menyenangkan mereka. Harus kau tegaskan supaya datang tengah malam tepat, tidak boleh lebih dini dan tidak boleh lebih lambat”.

“Tapi kalau tuanmu tidak mau menulis, lalu bagaimana?” ucap Pek Khay-sim.

“Kutahu kau pasti mau menulis,” bujuk Siau-hi-ji. “Mustahil kau dapat tidur nyenyak jika ada kesempatan mencelakai orang tapi tidak kau lakukan. Apalagi, jika kau tidak mau menulis surat ini tetap aku ada cara lain yang dapat memaksa kau.”

Sampai di sini mendadak ia keluarkan surat yang telah disiapkan untuk Kang Piat-ho itu, berbareng ia padamkan lampu di atas meja.

Seketika air muka Pek Khay-sim berubah dan berseru, “He, apa yang kau lakukan?”

Siau-hi-ji mendesis, “Ssst, jangan bersuara, ada orang datang hendak menangkap kita, lekas bersiap-siap untuk lari.”

Belum lenyap suaranya, benar saja di luar jendela sudah ada sinar golok berkelebat. Lalu seorang telah membentak, “Orang she Li dan orang she Pek, kejahatan kalian sudah kelewat takaran, hari ini kalian jangan harap akan bisa kabur lagi. Ayolah keluar untuk terima kematian!”

Dalam kegelapan tertampak bayangan orang berseliweran di luar, agaknya rumah makan ini sudah terkepung rapat.

Segera terdengar suara orang membentak, “Li Toa-jui, kabarnya kau bermaksud memperbaiki kelakuanmu dan kembali ke jalan yang baik. Jika benar-benar ada niat demikian, lekaslah kau menyerahkan diri saja, akan kujamin jiwamu dengan kehormatan pribadiku.”

Untuk sejenak Pek Khay-sim melenggong, gumamnya kemudian, “Aneh, dari mana orang-orang ini mendapat tahu bahwa kita berada di sini?”

“Orang ini bermulut manis, tentu Kang Piat-ho adanya,” kata Siau-hi-ji.

“Ya, memang dia,” kata Pek Khay-sim.

“Marilah kita menerjang keluar melalui arah ini,” ajak Siau-hi-ji.

“Apa katamu? Menerjang keluar dengan arah yang dijaga orang yang berkepandaian paling kuat? Memangnya kau sudah gila?”

“Jangan khawatir, aku ada akal,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Sementara itu orang di luar itu sedang membentak pula, “Jika kalian tidak memberi jawaban, segera kami menerjang masuk.”

Padahal orang-orang sama jeri terhadap Cap-toa-ok-jin yang termasyhur itu, seketika tiada seorang pun yang berani menerjang ke dalam rumah yang gelap gulita ini.

Mendadak Siau-hi-ji berbangkit sambil membentak, “Ini dia Li Toa-jui, tunggulah kalian.” Berbareng ia angkat sebuah bangku terus dilemparkan keluar jendela sebelah barat.

Nama “Li Toa-jui” agaknya cukup menakutkan, begitu bangku melayang keluar, serentak di sebelah sana terjadi kegaduhan, beberapa senjata sekaligus menyerang dan semuanya mengenai bangku itu.

Waktu Siau-hi-ji melompat keluar jendela kontan ia pun disambut oleh bacokan dua batang golok. Tapi sekali meraung, kaki kiri Siau-hi-ji melayang, salah satu golok itu segera tertendang mencelat.

Menyusul mana Siau-hi-ji lantas melompat lewat di atas kepala orang kedua, sebelah kakinya menginjak ke bawah dan tepat mengenai orang itu, seketika orang itu patah lehernya.

Gerakan kaki menendang dan mendepak Siau-hi-ji ini sebenarnya bukan ilmu silat yang tinggi, tapi setelah diubah sedikit olehnya, seketika-dua jagoan kena dikalahkan.

Maklumlah, kitab pusaka ilmu silat yang ditemukannya di bawah tanah bersama Kang Giok-long tempo hari itu berisi intisari berbagai aliran silat di dunia ini, setelah dia pelajari dan menyelami dengan baik selama dua tahun ini, setiap jurus gerakan yang sederhana bila dimainkannya sudah dapat diubah menjadi tipu serangan yang ajaib tanpa dikenal orang lain akan asal-usul ilmu silatnya ini.

Begitulah maka terdengar seorang menjerit kaget, “Awas, orang she Li ini benar-benar lihai -” belum habis ucapannya, “plak”, menyusul lantas terdengar seorang bergelak tertawa, mungkin yang bicara itu telah kena digampar sekali oleh Pek Khay-sim.

Setelah merobohkan dua orang, menyusul dengan sekali jotos Siau-hi-ji membuat seorang mencelat lagi. Pada saat itulah sekonyong-konyong sinar pedang gemerlap, seorang telah mengadang di depannya.

“Li Toa-jui, meski lihai kepandaianmu, tapi jangan harap bisa lolos hari ini!” demikian jengek orang itu, berbareng pedangnya telah menusuk beberapa kali, semuanya serangan mematikan.

Tanpa memandang juga Siau-hi-ji tahu pengadang ini adalah Kang Piat-ho, berturut-turut ia pun mengegos beberapa kali tanpa balas menyerang, tapi dengan suara tertahan ia berkata, “Apakah kau ingin tahu di mana beradanya putramu beserta harta rampokannya itu?”

Pedang Kang Piat-ho menjadi agak kendur dan bertanya, “Apa katamu?”

Siau-hi-ji mencobloskan surat yang sudah disiapkan itu ke ujung pedang Kang Piat-ho sambil berkata, “Boleh kau membacanya dulu.”

Kang Piat-ho menjadi serba repot dan ragu apakah mesti menarik kembali pedangnya untuk membaca surat itu atau tetap ditusukkan. Pada detik itulah Siau-hi-ji telah menyelinap lewat di sampingnya.

Sekali berteriak aneh, cepat sekali Pek Khay-sim juga melayang ke sana. Ketika beberapa orang mengejar tiba, namun bayangan Siau-hi-ji dan Pek Khay-sim sudah menghilang.

Setelah kabur ke dalam hutan yang gelap barulah mereka berhenti. Sambil memandang Siau-hi-ji, Pek Khay-sim mendengus, “Hm, cara bagaimana mereka mendapat tahu kita berada di sana?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya tertawa, “Ya, dengan sendirinya ada orang menyampaikan laporan gelap.”

“Yang memberikan laporan gelap bukan mustahil kau sendiri,” jengek Pek Khay-sim.

“Jika aku, mengapa aku membantumu melarikan diri pula?”

“Tapi kalau bukan kau, siapa lagi yang tahu.”

“Mereka bukan orang buta, memangnya mereka tidak membaca selebaran yang berhuruf besar itu?”

“Masa orang itu paham akan isi tulisan itu?”

“Dengan sendirinya ada yang paham,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Air muka Pek Khay-sim berubah, tanyanya cepat, “Siapa? Mungkinkah ada di antara sahabat-sahabat lama kita juga datang ke sini?”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biarlah kukatakan terus terang kepadamu, ada dua orang, seorang bernama Lo Kiu dan seorang lagi bernama Lo Sam, mereka berusaha mencari setori pada kita, tampaknya mereka sangat jelas terhadap seluk-beluk urusan kita.”

“Bagaimana bentuk kedua orang itu?” tanya Pek Khay-sim sambil mengernyitkan dahi.

“Gemuk dan tinggi, keduanya serupa seperti pinang dibelah dua, mereka adalah saudara kembar.”

“Yang kukenal adalah kembar dua kurus jangkung, tapi tidak kenal kembar dua yang gemuk.”

“Kau tidak kenal mereka, tapi mereka cukup kenal kau.”

Pek Khay-sim menjadi gusar, dampratnya “Jika sudah kuketahui mereka paham isi surat selebaran itu dan sudah tahu pula mereka akan menyampaikan laporan gelap, mengapa kau justru sengaja bertindak begini?”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Justru aku mengharapkan mereka menyampaikan laporan gelap, justru pula kuminta mereka mengirim orang untuk membekuk kita, dengan demikianlah baru aku dapat menyampaikan surat penting itu langsung kepada Kang Piat-ho. Bilamana kusampaikan surat itu dengan cara lain mungkin takkan mendapat perhatiannya, tapi kini Li Toa-jui sendiri yang menyerahkan surat kepadanya, tentu bobotnya akan lain”.

“Dan dari mana kau tahu Kang Piat-ho pasti akan ikut datang?”

“Dia menganggap dirinya sebagai Tayhiap, kalau tersiar berita bahwa Cap-toa-ok-jin berada di kota ini, memangnya dia dapat tinggal diam? Nah, pasti juga dia takkan membiarkan kita pergi.”

Sejenak Pek Khay-sim termangu, akhirnya ia menghela napas, katanya, “Setiap persoalan telah kau hitung dengan jitu, mungkin Li Toa-jui tulen juga tidak melebihi dirimu.”

Sekali ini Siau-hi-ji yang melengak, ia terkekeh kekeh, katanya, “Li Toa-jui tulen apa, memangnya bapakmu ini palsu?”

Mendadak Pek Khay-sim terbahak-bahak, katanya, “Kau dapat menirukan lagak-lagu Li Toa-jui dengan demikian miripnya, pada hakikatnya aku pun rada kagum padamu. Sungguh aku merasa sayang bila menyaksikan kau mati di depanku. Tapi, ya apa boleh buat, mau tak mau kau harus mati.”

“Harus mati?” Siau-hi-ji menegas heran.

“Ya, arak yang telah kau minum itu telah kuberi ‘Toan jong-san’ (puyer perantas usus),” ucap Pek Khay-sim dengan tertawa aneh. “Sebenarnya kau dapat hidup lebih lama sedikit, tapi lantaran geger-geger tadi, mungkin sebentar lagi jiwamu akan melayang.”

Dengan gusar Siau-hi-ji berteriak, “Bangsat keparat, biar kumampuskan kau lebih dulu!”

Segera dia bangun dan bermaksud menerjang lawan, tapi baru saja tubuhnya terapung, “bluk”, mendadak dia terkulai dengan wajah pucat, ia pegang perutnya sendiri sambil merintih, “Wah, celaka…perutku…aku…aku tidak sanggup lagi -”

Pek Khay-sim terkekeh-kekeh gembira, katanya, “Sekarang baru kau tahu Cap-toa-ok-jin tidak mudah dilayani bukan?”

“Tapi…tapi dari mana kau tahu aku ini Li Toa-jui palsu? Aku tidak percaya kau dapat membedakannya,” seru Siau-hi-ji dengan suara serak.

“Baik, biar kuberitahukan padamu agar kau tidak mati penasaran.”

“Ya, kumohon sudilah kau jelaskan, lekas, kalau tidak takkan kudengar lagi,” rintih Siau-hi-ji.

“Hehe, caramu menirukan gerak-gerik dan lagak-lagu Li Toa-jui memang persis sekali, tentunya kau kenal dia bukan?”

“Ya…ya, ya,” gemetar sekujur badan Siau-hi-ji.

“Pernahkah kau dengar dia membicarakan diriku?” tanya Pek Khay-sim.

“Ti…tidak pernah,” Siau-hi-ji melengak heran.

“Soalnya dia sangat benci padaku, sedemikian bencinya padaku hingga namaku saja dia tidak sudi menyebutnya, maka tidak mungkin dia menganggap aku sebagai sahabat dan mengajak pula makan minum bersamaku,” Pek Khay-sim terbahak-bahak, lalu menyambung pula, “Kau sangka kalau Cap-toa-ok-jin sama-sama Ok-jin (orang jahat), mereka pasti juga kawan baik satu sama lainnya. Kau tidak tahu bahwa di antara Cap-toa-ok-jin juga ada yang bermusuhan dan saling membenci. Perhitunganmu memang jitu, tapi tetap ada satu yang meleset, dan kesalahan ini pun cukup fatal untuk membikin jiwamu melayang.”

Dengan merintih Siau-hi-ji berkata, “Jadi…jadi kau sudah tahu aku bukan Li Toa-jui tulen, tapi mengapa ….”

“Bapakmu ini sengaja berlagak bodoh, maksudku hanya ingin tahu apa tujuanmu yang sesungguhnya” ucap Pek Khay-sim dengan tertawa, selain itu aku pun ingin mempermalukan kau, kini bapakmu merasa cukup menggodamu dan bolehlah kau tunggu ajalmu saja.”

“Meski sekarang kumati di tanganmu, tapi kau pun ada ses…sesuatu ….” mendadak Siau-hi-ji kejang dan jatuh telentang, sekuatnya ia ingin bicara lagi, namun cuma bibirnya saja yang bergerak dan tak terdengar suaranya.

“Ada sesuatu apa mengenai bapakmu, coba katakan?” Pek Khay-sim menegas.

Siau-hi-ji tampak berkeringat dan berteriak-teriak, “Kau…kau ….” tapi suaranya ternyata sangat lemah meski dia berusaha menggembor sekerasnya.

Karena ingin tahu apa yang diucapkan Siau-hi-ji, Pek Khay-sim mendekatinya, tanyanya sambil setengah berjongkok, “Bicaralah yang keras, bapak tidak mendengar.”

Mendadak Siau-hi-ji meraung keras-keras, “Kubilang kau ini orang goblok!”

Berbareng dengan suara raungannya itu secepat kilat ia pun menutuk beberapa Hiat-to di tubuh Pek Khay-sim.

Baru saja Pek Khay-sim berjingkat kaget karena raungan mendadak itu, tahu-tahu ia pun roboh terkapar.

“Biarpun Cap-toa-ok-jin terkenal licin dan licik, tapi kebentur padaku juga pasti akan terperangkap,” seru Siau-hi-ji sambil melompat bangun. “Sekarang kau baru tahu bahwa bapakmu ini bukanlah orang yang mudah dilayani.”

Sambil menggeletak di tanah Pek Khay-sim hanya mampu memandangi anak muda itu dengan terbelalak, sungguh tak terpikir olehnya bahwa di dunia ini masih ada orang terlebih licin daripada Cap-toa-ok-jin.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula, “Meski bapakmu ini tidak tahu persis apakah arakmu itu beracun atau tidak, tapi menghadapi Cap-toa-ok-jin kalian betapa pun aku harus tetap waspada. Kau kira aku telah minum arakmu, haha, padahal bapakmu cuma mengumur arak itu di dalam mulut, lalu kutumpahkan bersama daging manusia palsu itu.”

“Meng…mengapa tak kulihat tindakanmu itu?”

“Haha, kepandaian menipu orang begitu sejak bapakmu ini berumur lima sudah berhasil mempelajarinya. Jangankan cuma secawan arak terkumur di dalam mulut, sekalipun satu biji telur ayam kusembunyikan di dalam mulut juga takkan kau lihat.”

Baru sekarang Pek Khay-sim benar-benar merasa ngeri dan ketakutan menghadapi Siau-hi-ji, tanyanya dengan suara gemetar, “Kau…kau sesungguhnya siapa?”

“Hehe, baru sekarang kau kenal takut ya?” jengek Siau-hi-ji. “Orang macam bapakmu harus ditakuti oleh siapa pun. Jika kau ingin tahu siapa bapakmu ini, maka lebih dulu kau harus bekerja baik-baik bagi bapakmu ini, habis itu mungkin bapak akan memberitahukan padamu.”

Bahwa orang yang lebih lihai dan menakutkan daripada setan ini ternyata tiada bermaksud membunuhnya melainkan cuma menyuruhnya bekerja sesuatu baginya, keruan hal ini membuat Pek Khay-sim kegirangan, cepat ia berseru, “Baik, baik, segera anak akan menuliskan surat itu.”

“Hahaha, sekarang dari bapak kau mau berubah menjadi anak…Hahaha, kau ini memang anak baik. Tapi kalau bapak membebaskan anak seperti kau ini begini saja tetap terasa khawatir,” sembari bicara diam-diam sebelah tangan Siau-hi-ji menggosok-gosok kuduk sendiri sehingga dakinya dapat menjadi satu gelincir kecil, mendadak ia pencet dagu Pek Khay-sim dan gelintiran daki itu terus dijejalkan ke mulutnya.

Seketika Pek Khay-sim merasa satu biji barang yang asin-asin serta berbau sesuatu yang sukar dilukiskan itu meluncur ke dalam kerongkongannya, keruan ia terkejut, serunya khawatir, “Apa…apa ini?”

“Kau kan punya Toan-joan-san (puyer perantas usus), maka aku pun punya Jui-beng-wan (pil pemburu nyawa) yang khas,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Apa? Jui-beng-wan? Meng…mengapa tidak pernah kudengar.”

“Sudah tentu kau tidak pernah dengar nama obat demikian ini, sebab racun ini memang hasil buatanku sendiri belum lama berselang dan tiada obat penawarnya di dunia ini, hanya dalam waktu tujuh jam seluruh tubuhmu akan hitam membengkak, lewat satu jam lagi tubuhmu akan membusuk dan jiwamu segera melayang, yang tertinggal hanya air hitam yang berbau busuk.”

Siau-hi-ji membual semaunya, namun kedengarannya seperti sungguh-sungguh dan betul-betul akan terjadi. Keruan Pek Khay-sim tambah kelabakan, serunya dengan khawatir, “Bu…bukankah engkau hendak menyuruh aku bekerja sesuatu?”

“Ya, sudah tentu aku sendiri mempunyai obat penawarnya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Selamanya kita tiada permusuhan apa pun, kumohon engkau ….”

Siau-hi-ji sengaja mendelik dan membentak, “Jika dalam waktu tujuh jam ini kau dapat menyelesaikan pekerjaan yang kutugaskan padamu secara memuaskan, lalu boleh kau datang dan tunggu aku di sini, tentu akan kutolong jiwamu.”

Habis berkata ia terus membuka Hiat-to yang ditutuknya.

Namun Pek Khay-sim masih terkulai lemas di tanah seakan-akan tenaga untuk berdiri saja sudah lenyap, katanya, “Kuharap jang…janganlah engkau melupakan diriku akan menunggu di sini.”

“Waktu sudah mendesak, ayolah lekas berangkat agar tidak terlambat,” dengus Siau-hi-ji.

Tanpa disuruh lagi segera Pek Khay-sim melompat bangun, seperti kuda liar yang pantatnya mendadak dibacok orang, bagai kesetanan dia terus berlari pergi.

Setelah orang pergi jauh, Siau-hi-ji tertawa geli sendiri, gumamnya, “Hihi, Cap-toa-ok-jin yang sangat ditakuti orang itu ternyata juga mudah dikibuli.”

Menjelang tengah malam, Siau-hi-ji sudah berada di loteng kecil itu. Lo Sam dan Lo Kiu tidak berada di situ, hanya Buyung Kiu saja yang duduk di lantai dan sedang main boneka sambil menyanyikan lagu nina bobok. Dengan tertawa kecil Siau-hi-ji juga ikut bernyanyi kecil.

Tapi Buyung Kiu lantas berhenti menyanyi, ia pandang Siau-hi-ji dengan bingung, sejenak kemudian barulah ia bertanya, “Kau siapa? Aku tidak kenal padamu.”

“Masa sudah lupa?” ucap Siau-hi-ji dengan suara halus. “Bukankah aku kemarin mengajarkanmu cara mengusir momok yang mengeram di dalam hatimu itu.”

“Oya, kiranya kau. Bentukmu tampaknya agak berubah?” kata nona itu.

Siau-hi-ji sengaja mendesis, “Ssst, jangan keras-keras, aku khawatir momok jahat itu akan mencari diriku, makanya aku menyamar jadi begini agar tidak dikenalinya, hendaklah kau jangan katakan kepada siapa-siapa?”

Berulang-ulang Buyung Kiu mengangguk, katanya, “Ya, aku tahu, aku paham, momok itu sangat menakutkan, sedapatnya jangan sampai dia menemukan kau.”

“Kutahu kau pasti paham, kau memang anak perempuan pintar.”

“Apa benar aku anak perempuan pintar?” wajah yang sayu itu menampilkan senyuman sekilas laksana mendung yang mendadak ditembus cahaya matahari dan bunga yang indah mendadak mekar dalam sekejap ini.

Siau-hi-ji memandangnya dengan terkesima, timbul perasaan aneh dalam hatinya, tapi segera ia menyadari tidak boleh memandangnya lebih lama, cepat ia menarik tangannya dan berkata, “Sekarang akan kubawa kau ke suatu tempat, segera kau akan berjumpa dengan orang yang jauh lebih sakti daripada diriku dan dapat membantumu mengusir momok dalam tubuhmu.”

Entah mengapa, Buyung Kiu itu ternyata penurut kepada Siau-hi-ji, segera ia berdiri, tapi baru saja dua-tiga tindak, tiba-tiba ia bertanya sambil berkedip-kedip. “Dan bag…bagaimana dengan engkau?”

“Mungkin selanjutnya kau takkan melihat aku lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika selanjutnya takkan melihatmu lagi, maka aku pun tak mau pergi,” demikian Buyung Kiu lantas urung melangkah lebih lanjut.

Siau-hi-ji tercengang, sukar dikatakan bagaimana perasaannya, cepat ia berseru, “Bilamana momok yang mengeram dalam tubuhmu sudah terusir, kau sendiri pun tidak mau lagi menemui aku, tatkala mana tentu pula banyak orang lain akan mendampingimu setiap hari.”

“Jika begitu biarkan saja momok ini tetap mengeram di dalam hatiku saja,” kata Buyung Kiu setelah berpikir sejenak.

Hati Siau-hi-ji menjadi rada pilu, katanya kemudian dengan tertawa, “Anak bodoh, memangnya kau ingin terus begini selamanya?”

Buyung Kiu menatapnya dengan tak berkedip sambil menggigit bibir, lalu berkata, “Sebenarnya keadaan begini juga tiada jeleknya, apalagi asalkan setiap hari kau datang menemani aku, lama-lama juga dapat mengusir momok itu, betul tidak?”

Siau-hi-ji kucek-kucek hidungnya, tiba-tiba ia menarik muka dan berkata, “Kau tidak mau menurut perkataanku, mana aku mau menemanimu lagi.”

Buyung Kiu menunduk, ucapnya dengan rawan. “Kau mengharuskan aku pergi, segera juga aku akan pergi, namun engkau ….”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Asalkan kau selalu ingat pembicaraan kita hari ini, selanjutnya aku akan tetap menyambangi dikau ….” segera ia mengenakan mantel bagi si nona itu, waktu mereka sampai di pintu belakang taman keluarga Toan, ternyata Samkohnio sudah menunggu di situ.

Malam ini cukup dingin, tapi Samkohnio hanya mengenakan baju sutera tipis warna jambon seakan-akan tidak merasakan hawa yang dingin itu. Demi lelaki yang dicintainya, demi kecantikan, anak gadis terkadang memang berani berkorban, misalnya mengikat kencang tali pinggang dan berpuasa tiga hari tiga malam, apalagi cuma kedinginan, semua ini bukan apa-apa.

Mata Samkohnio bercahaya, hatinya berdebar keras, meski tubuhnya rada menggigil, tapi mukanya terasa panas. Maklumlah, untuk pertama kali inilah dalam hidupnya dia mengadakan pertemuan rahasia dengan lelaki. Bagaimana perasaan anak gadis yang mengadakan pertemuan gelap pertama kali dengan sang kekasih, perasaan ini hanya diketahui oleh mereka sendiri.

Dari jauh dia melihat kedatangan Siau-hi-ji, dengan kegirangan segera ia menyongsong ke sana, tapi setelah berhadapan baru diketahui di belakang Siau-hi-ji mengikut pula seorang. Seketika hati Samkohnio terpukul, dengan menggigit bibir dia menegur, “Kau…kau tidak datang sendirian saja?!”

Entah memang tidak paham ucapan si nona atau sengaja berlagak pilon, dengan perlahan Siau-hi-ji menjawab, “Memangnya aku kan tidak menyatakan hendak datang sendirian?”

Baru sekarang Samkohnio melihat jelas wajah Siau-hi-ji, serunya terkejut, “He, sia…siapakah kau?”

“Aneh, baru saja kau dapat mengenali diriku, mengapa sekarang pangling lagi?”

Memang Samkohnio dapat mengenali suara Siau-hi-ji, tapi masih tetap sangsi, ucapnya ragu-ragu, “Tadi aku cuma merasakan…merasakan kedatanganmu, tapi mukamu ….”

Dengan suara tertahan Siau-hi-ji menukas, “Ada sesuatu urusan rahasia harus kukerjakan dan terpaksa aku harus menyamar begini, hendaklah jangan kau katakan kepada siapa pun juga, urusan ini hanya kau sendiri yang tahu.”

Meski dia sendiri tidak menguraikan apa urusan ini, tapi dia kenal watak anak gadis ini, apalagi cuma dia sendiri yang mengetahui rahasia lelaki yang dicintainya, maka persoalan lain tentu takkan diusut lebih lanjut.

Benar juga, Samkohnio menjadi gembira pula, betapa pun dia merasa Siau-hi-ji masih tetap baik padanya, kalau tidak masakah cuma dia sendiri yang diberitahukan rahasianya. Maka dengan suara tertahan ia pun balas mendesis, “Ya, jangan khawatir, pasti takkan kukatakan pada orang lain.”

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya pula, “Tapi untuk urusan ini aku masih perlu bantuan orang.”

“Dapatkah aku membantumu?” tanya Samkohnio cepat.

“Sebenarnya aku ingin mencari orang lain saja, tapi…tapi kalau engkau suka membantu sudah tentu akan kuterima dengan senang hati,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio bertambah gembira, ucapnya, “Memang sudah kukatakan sejak dulu-dulu, tak peduli apa permintaanmu tentu kusanggupi.”

Bahwa pemuda yang dicintainya tidak mencari bantuan pada orang lain tapi justru mencari bantuan padanya, ini menandakan anak muda itu memang menaruh perhatian kepadanya, keruan Samkohnio kegirangan setengah mati.

Dari air muka si nona, Siau-hi-ji yakin urusan pasti tak menjadi soal lagi, segera ia berkata, “Sesungguhnya urusan ini pun tiada sesuatu kesukaran, asalkan kau bawa orang ini ke rumahmu, tengah malam nanti baru kau taruh dia di suatu tempat.”

“Ah, terlalu mudah, pasti dapat kulaksanakan dengan baik,” ucap si nona gede.

“Tapi kau harus ingat dua hal. Pertama, jangan sekali-kali dia terlihat oleh siapa pun juga. Kedua, harus kau sembunyikan dia tepat pada tengah malam nanti, tidak boleh lebih dari dini hari dan juga tidak boleh terlambat.”

“Baik, jangan khawatir, pasti akan kukerjakan dengan betul,” jawab Samkohnio dengan tertawa. Dan baru sekarang dia sempat memperhatikan Buyung Kiu.

Seluruh badan Buyung Kiu terbungkus oleh mantel hitam sampai kepalanya juga tertutup rapat, dengan sendirinya Samkohnio tidak tahu bagaimana bentuknya, setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia tanya, “Siapakah orang ini?”

“Dia sangat erat hubungannya dengan urusan yang hendak aku kerjakan ini, selanjutnya kau tentu akan tahu,” jawab Siau-hi-ji secara samar-samar.

Ia mendorong Buyung Kiu ke depan Samkohnio, lalu berkata pula, “Nah, lekas kalian pergi sekarang!”

Buyung Kiu menoleh dan seperti ingin bicara sesuatu, tapi Siau-hi-ji telah mendahului pergi.

Samkohnio merasa sangsi melihat sikap mereka itu, tapi akhirnya ia cuma menghela napas dan berkata, “He, ikutlah padaku.”

*****

Sebelum tiba waktunya Siau-hi-ji sudah berada di sutheng yang dijanjikan itu, ia memeriksa sekelilingnya, orang-orang yang diundangnya ternyata belum ada yang hadir. Ia mengatur sekadar di sekitarnya, lalu mencari suatu tempat baik untuk bersembunyi, dari sini ia dapat melihat setiap orang yang berada di dalam sutheng, tapi orang lain pasti tidak melihatnya.

Habis itu ia merenung kembali persoalan ini dari awal hingga akhir. Setelah menerima surat yang ditulis Buyung Kiu itu pasti Cin Kiam dan Lamkiong Liu akan datang. Sesudah membaca suratnya itu, Kang Piat-ho juga pasti akan hadir.

Rombongan Cin Kiam itu tentunya akan membawa 80 laksa tahil perak kontan dan rombongan Kang Piat-ho justru datang hendak mencari harta karun. Bila kedua kelompok ini kepergok di sini mustahil takkan terjadi ramai-ramai.

Meski mereka tidak memakai kedok, tapi di tengah malam gelap pasti tidak jelas terlihat oleh pihak lawan, dalam keadaan sama-sama cemas dan gelisah, sekali tidak cocok bicara mustahil kedua pihak tidak saling labrak, bila Samkohnio telah membawa si Buyung Kiu ke tempat tinggal Kang Piat-ho dan setelah orang-orang keluarga Buyung Kiu menerima laporan gelap Pek Khay-sim, lalu Buyung Kiu dapat ditemukan di sana, mustahil keluarga Buyung takkan mencari perkara kepada Kang Piat-ho? Sungguhpun Kang Piat-ho cukup lihai, tapi keluarga Buyung juga bukan pihak yang boleh diremehkan.

Jadi rencana Siau-hi-ji tidak cuma sekali tepuk dua lalat saja, tapi beberapa lalat akan kena ditepuknya sekaligus.

Pertama, dengan cara Kang Piat-ho sendiri dia dapat membalasnya agar orang she Kang itu pun merasakan bagaimana pahitnya difitnah orang.

Kedua, Lamkiong Liu, Siau-sian-li dan kawan-kawannya semalam telah menuduhnya secara semena-mena, maka ia pun ingin membikin mereka tahu rasa. Sudah diperhitungkan setelah mereka menerima laporan gelap Pek Khay-sim, tentu mereka akan membagi diri dengan dua kelompok, yang satu memeriksa ke taman keluarga Toan, kelompok lain datang ke sutheng ini. Yang datang ini bisa jadi cuma Cin Kiam, Siau-sian-li dan Koh Jin-giok bertiga, sekalipun ketiga orang ini mampu mengatasi Kang Piat-ho, tapi sedikitnya mereka pun akan merasakan kelihaian orang she Kang itu.

Ketiga, akhirnya ia telah mengirim kembali Buyung Kiu kepada keluarga sendiri, kelak andaikan pikirannya tetap tidak waras, tapi berada di tengah keluarga sendiri tentunya tidak perlu khawatir lagi akan dianiaya orang. Untuk ini Siau-hi-ji merasa telah berbuat sesuatu pahala yang melegakan hati.

Keempat, setelah Kang Piat-ho terjebak sekali ini, seumpama tidak mampus, sedikitnya akan dapat menghajar adat padanya dan mengurangi kemunafikannya, Pek Khay-sim dan lain-lainnya mungkin juga tidak berani mencari gara-gara lagi. Dengan demikian dunia Kangouw untuk sementara bisa jadi aman tenteram.

Kelima, harta karun keluarga Toan yang dirampok itu bisa juga ditemukan dan kembali kepada pemiliknya, betapa pun Toan Hap-pui dan Samkohnio selama ini cukup baik padanya dan dengan demikian berarti dia telah membalas budi kebaikan mereka.

Keenam, kematian Thi Bu-siang yang penasaran itu juga dapat terbalas dan nama baiknya dapat dipulihkan kembali.

Begitulah rencana Siau-hi-ji ini ternyata sekali pukul tujuh sasaran, walaupun praktiknya harus menghadapi banyak kesukaran dan keruwetan, tapi rasanya cukup berharga dengan jerih payahnya. Meski rencananya ini akan banyak membikin orang celaka, tapi juga banyak membikin orang menerima manfaatnya.

Apa yang diperbuat Siau-hi-ji memang ada yang baik dan ada yang busuk, tapi kalau ditimbang tetap lebih banyak yang baik daripada yang busuk, apalagi biarpun busuk juga busuknya tidak rendah dan kotor, busuknya busuk menarik. Apa pula orang yang dibikin susah olehnya justru adalah manusia busuk yang berpuluh kali lebih busuk daripada dia.

Begitulah Siau-hi-ji merenungkan kembali rencana yang diaturnya itu, semakin dipikir terasa sempurna rencananya ini, ia yakin biarpun Kang Piat-ho yang pintar dan licin itu juga takkan mampu merancang tipu muslihat sebagus ini.

Kang Piat-ho, Cin Kiam, Lamkiong Liu, Pek Khay-sim, Lo Kiu, Lo Sam…Setiap orang yang bersangkutan dengan rencana ini biarpun semua tergolong tokoh mahalihai, tapi semuanya telah kena diperalat dan diadu domba tanpa sadar, ia tidak percaya bahwa di dunia ini ada orang yang mampu membongkar tipu muslihatnya yang bagus ini.

Semakin dipikir semakin senang hati Siau-hi-ji, tanpa terasa ia tertawa dan bergumam, “Nah, siapa berani bilang aku ini bukan orang pintar nomor satu di dunia ini? Siapa bilang aku bukan jenius?”

*****

“He, ikutlah padaku!” demikian Samkohnio sedang mengulangi ucapannya dengan suara lebih keras. Tapi Buyung Kiu masih termangu-mangu memandangi bayangan Siau-hi-ji yang telah menghilang itu.

Samkohnio berkerut kening, ia memutar ke depan Buyung Kiu, sedikitnya ia satu kepala lebih tinggi, dengan sendirinya ia dapat mengaling-alingi pandangan nona Buyung itu.

“Ke…kenapa kau menutupi pandanganku?” tanya Buyung Kiu.

“Dia sudah pergi, apa yang hendak kau lihat?” jengek Samkohnio.

Buyung Kiu memiringkan kepalanya dan berpikir sejenak, katanya kemudian dengan rada rawan, “Ya, betul ia sudah pergi…Tapi tahukah bahwa selanjutnya dia akan datang pula menjenguk aku.”

“Dia bohong padamu,” teriak Samkohnio dengan dongkol. “Setelah dia ke sini, selanjutnya dia takkan gubris dirimu lagi.”

“Tidak, dia takkan bohong padaku, kutahu,” ucap Buyung Kiu dengan tertawa, dengan penuh keyakinan dia angkat kepalanya sehingga cahaya bulan menyinari wajahnya yang bening penuh rasa bahagia di kemudian hari.

Meski Samkohnio juga perempuan, tanpa terasa ia pun kesima menyaksikan sikap Buyung Kiu itu, katanya dengan suara rada gemetar, “Dari…dari mana kau tahu dia pasti tidak bohong padamu?”

“Sebabnya dia mengirim diriku ke sini hanya bermaksud mengusir momok yang mengeram di dalam hatiku, habis itu dia tentu akan datang mencariku.”

“Ada momok di dalam hatimu?”

“Ya, lantaran momok yang menggoda hatiku ini, makanya aku tidak ingat kejadian masa lampau.”

Sambil memandangi wajah yang linglung tapi cantik itu Samkohnio berkata perlahan, “Kau tidak ingat segalanya?”

“Ehm,” Buyung Kiu mengangguk.

“Tapi kalau bukan lantaran pikiranmu kurang waras, tentunya dia takkan membawamu ke sini begitu?”

“Kutahu dia juga tidak tega berpisah denganku.”

“Jadi setelah…setelah kau sembuh nanti, dia akan…akan datang lagi menjemputmu?” tanya Samkohnio.

Suara bernada cemburu itu rada gemetar, cemburu yang keras cukup mendorong seorang perempuan berbuat apa pun juga.

Akan tetapi Buyung Kiu tidak tahu sama sekali, dengan tersenyum dia menjawab, “Ya, dia pasti akan mencariku lagi nanti.”

“Apa…apalagi yang dia katakan padamu?”

Mata Buyung Kiu yang sayu itu tiba-tiba bercahaya, jawabnya dengan tertawa, “Dia mengatakan juga bahwa aku ini perempuan pintar, asalkan aku menurut perkataannya, maka setiap hari dia akan mendampingiku. Dengan sendirinya aku akan menurut padanya, aku memang harus menurut perkataannya, betul tidak?”

“Tid…tidak, tidak!” mendadak Samkohnio menjerit dengan parau.

Buyung Kiu jadi melengak, ucapnya dengan setengah bergumam, “Kenapa tidak?”

Teriak Samkohnio seperti harimau meraung, “Sebab sama sekali kau tidak pintar, sedikit pun tidak cantik, kau cuma seorang gila yang bermuka buruk, tidak mungkin dia menyukaimu.”

Setelah melengong sejenak, akhirnya air mata Buyung Kiu berlinang-linang, katanya kemudian dengan terputus-putus, “Tidak, kau…kau bohong, kau dusta!”

Sorot mata Samkohnio yang sesungguhnya bijak itu tiba-tiba memancarkan sinar jahat, teriaknya, “Coba pikir, orang baik seperti dia mana bisa menyukai orang gila macam kau?”

Akhirnya Buyung Kiu tidak tahan dan menangis keras-keras, teriaknya sambil mendekap mukanya, “Bukan, aku bukan orang gila…aku bukan orang gila ….”

“Kalau bukan orang gila, coba jawab, tahukah siapa dirimu?”

“Aku…aku ….” sedapatnya Buyung Kiu mengingat-ingat, tapi tetap tidak ingat siapa dirinya, dia merasa kepalanya mendadak sakit seakan-akan pecah, ia pukul kepalanya sendiri dengan keras sambil menjerit, “O, kumohon jangan…janganlah katanya siapa diriku, aku tidak…tidak tahu ….”

“Seorang kalau tidak tahu siapa diri sendiri, lalu apa kau bukan orang gila?” jengek Samkohnio.

Sekonyong-konyong Buyung Kiu berteriak dengan histeris, “Aku orang gila…dia tidak suka padaku…dia tidak suka padaku ….” di tengah teriaknya itu dia terus berlari pergi sambil menangis.

Samkohnio tidak mencegah, dia pandang bayangan nona linglung itu menghilang di kejauhan, habis itu dia menghela napas lega, gumamnya, “Pergilah, pergilah sejauh-jauhnya agar selamanya dia takkan menemukan dirimu….” Tanpa terasa tersembul senyuman kemenangannya yang kejam.

Nona besar yang biasanya berhati baik itu sekarang ternyata tega berbuat sekejam itu, soalnya dia anggap demi untuk mendapatkan lelaki yang dicintainya, apa pun yang diperbuatnya adalah wajar, adil, tidak mungkin orang menyalahkan tindakannya itu.

Nyata, betapa pun sempurna dan rapi rencana yang telah diatur dan telah mulai dilaksanakan Siau-hi-ji itu, akhirnya dia toh melupakan sesuatu. Dia lupa bahwa di dunia ini mutlak tiada perempuan yang tidak cemburu.

Dia lupa bahwa hati perempuan kebanyakan mudah berubah, dia lupa bahwa janji perempuan baru dapat bertahan apabila janji itu masih menguntungkan perempuan itu.

Kalau perempuan dapat mempertahankan janji sendiri tanpa syarat, rasanya inilah baru keajaiban benar-benar.

Seorang lelaki kalau kebetulan melupakan pasal ini, maka biarpun apa yang diperbuatnya tentu takkan berhasil, kecuali dia memang lagi mujur.

*****

Sementara Siau-hi-ji sedang menunggu dengan tenang di tempat yang gelap, tapi selama itu belum terlihat seorang pun, di luar kota yang sepi dengan sendirinya tidak terdengar tanda-tanda waktu, maka ia pun tidak tahu saat itu sudah tiba waktunya atau belum.

Namun Siau-hi-ji masih bisa bersabar, sebab dia yakin orang-orang itu mau tidak mau pasti datang, cuma caranya menunggu tanpa mengetahui waktu memang membuatnya kesal.

Akhirnya terdengarlah ada suara di kejauhan. Siau-hi-ji terbangkit, pikirnya, “Yang datang lebih dulu ini entah siapa? Meski kedua kelompok ini sama-sama gelisahnya, tapi Kang Piat-ho mungkin lebih mampu menahan perasaannya, jadi sepantasnya yang datang lebih dulu adalah Cin Kiam.”

Terdengar di antara suara itu bercampur pula dengan suara kereta serta ringkik keledai.

“Yang datang ini ternyata betul rombongan Cin Kiam, malahan mempergunakan kereta untuk mengangkut 80 laksa tahil perak itu,” demikian Siau-hi-ji membatin.

Tapi setelah direnungkan lagi, tiba-tiba ia merasakan gelagat tidak beres.

Cin Kiam dan Lamkiong Liu itu adalah putra keluarga bangsawan dan hartawan, kalau menggunakan kereta pengangkut tentunya pakai kereta kuda, tidak mungkin kereta keledai yang tidak dapat lari cepat itu.

Supaya maklum, biarpun Siau-hi-ji ini anak dugal, mbeling, tapi menghadapi suatu persoalan dia dapat berlaku hati-hati, cermat, sedikit keganjilan saja tidak dapat mengelabui dia.

Dengan sendirinya semua ini adalah berkat pengaruh lingkungan. Sejak dia dibesarkan di Ok-jin-kok, setiap hari dia bergaul dengan kawanan penjahat yang tidak ada taranya dan paling terkenal di dunia ini, tentu saja menghadapi sesuatu dia harus lebih hati-hati, sebabnya beberapa kali dia lolos dari kematian sesungguhnya juga bukan lantaran nasib mujur melulu.

Maklumlah, orang yang selalu berhati-hati pasti juga akan hidup lebih awet daripada orang lain.

Dalam pada itu kereta sudah dalam jarak pandangnya. Yang datang ternyata bukan kelompok Cin Kiam dan Lamkiong Liu, tapi juga bukan kelompok Kang Piat-ho, akan tetapi yang muncul itu adalah beberapa orang perempuan udik yang berambut semrawut dan berbaju seperti umumnya kalau orang berkabung. Yang termuat di atas kereta itu pun bukan harta benda melainkan peti mati.

Siau-hi-ji melengak, sungguh sukar dimengerti bahwa mendadak bisa muncul pihak yang tak bersangkutan ini, untuk apakah tengah malam buta kawanan perempuan desa ini datang ke sini dengan membawa peti mati?

Terlihat beberapa perempuan itu langsung masuk ke Sutheng, semua lantas berlutut di lantai dan menangis sedih. Salah seorang yang berada paling kiri sana sembari menyembah sambil sesambatan, “O, Kongkong (bapak mertua) yang berada di alam baka, bilamana arwahmu maklum, sudilah engkau memberi keadilan padaku. Aku telah menjanda puluhan tahun bagi keluargamu, dengan susah payah akhirnya putra yatim kubesarkan dengan harapan dia akan berbakti padaku agar hidupku selanjutnya tidak sengsara lagi, siapa tahu putra yatim satu-satunya ini telah dicelakai orang, coba, hidupku selanjutnya lantas bagaimana?”

Perempuan ini tampaknya berusia setengah abad, meski memakai baju berkabung, tapi kelihatan prihatin dan terhormat, hal ini terbukti di sebelahnya seorang perempuan lain sedang mengurut-urut punggungnya sambil membujuk, “Ih-naynay (nyonya muda, sebutan untuk istri muda) janganlah engkau menyusahkan diri sendiri, kalau engkau terlalu berduka dan juga meninggal, maka harta warisanmu seluruhnya akan jatuh ke tangan orang lain, buat apa engkau menyusahkan diri sendiri dan malah membikin senang orang lain.”

Dengan menangisnya perempuan di sebelah sini, agaknya perempuan di sebelah sana juga tidak mau kalah, segera ia pun menangis sedih dan berseru, “O, Kongkong dan Popo yang telah meninggal, apabila arwah kalian mengetahui maka kalian harus membantu menantumu ini untuk merobek mulut perempuan hina itu. Meski anak itu bukan aku yang melahirkan, tapi apa pun juga darah daging keluarga kita dan kalau mau dianggap anak keluarga kita kan juga terhitung anakku pula. Sedang perempuan hina itu datangnya tidak terang, bicaranya tidak jelas, terhitung keluarga apa? Dia memfitnah aku, tujuannya tidak lain hanya ingin mengangkangi harta warisan saja.”

Perempuan sebelah kanan ini lebih tua, mukanya juga lebih jelek, badan kurus, kulit keriput, tapi suaranya ternyata lebih nyaring daripada yang lain.

Segera seorang perempuan yang berusia lebih muda di sampingnya ikut menangis dan membujuk, “Toa-nay-nay (nyonya besar, sebutan istri pertama), janganlah engkau menyiksa badan sendiri, kita semua bermata, betapa pun takkan tinggal diam membiarkan perempuan jahat itu mengangkangi harta warisan.”

Setelah mengikuti tangisan mereka, diam-diam Siau-hi-ji dapat memahami duduknya perkara. Tampaknya kedua perempuan yang sahut menyahut itu masing-masing adalah istri kawin dan istri muda, suami mereka sudah lama mati, hanya mempunyai seorang putra yang dilahirkan istri muda.

Dalam masyarakat kuno yang mementingkan keturunan anak laki-laki, karena istri tua tidak mempunyai anak, istri muda jadi ikut bahagia lantaran dapat melahirkan anak laki-laki bagi keluarganya, bisa jadi kekuasaannya jadi lebih besar daripada istri tua.

Tapi ketika anak itu mendadak mati, rasa mendongkol istri tua segera meledak dan bermaksud mengusir istri muda. Karena itulah lantas istri muda menuduh anaknya dibunuh oleh istri tua dan berbalik hendak memaksa istri tua pergi dari rumah mereka. Masing-masing pihak menganggap benar sendiri, maka tengah malam buta mereka telah datang ke Sutheng atau rumah abu leluhur mereka ini.

Bahwa mereka akan saling labrak di Sutheng ini adalah urusan mereka, celakanya mereka justru datang pada tengah malam buta ini. Sungguh tak pernah terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa kejadian ini bisa sedemikian kebetulan. Diam-diam dia merasa mendongkol tapi juga geli sendiri, sungguh ia ingin menghalau pergi kawanan perempuan itu.

Namun jelek-jelek Sutheng itu adalah rumah abu keluarga mereka sendiri, apalagi Siau-hi-ji juga khawatir bila saja dia unjuk diri sekarang, kalau mendadak Kang Piat-ho dan lain-lain juga muncul, kan bisa runyam?

Selagi Siau-hi-ji mengumpat di dalam hati, sekonyong-konyong dilihatnya beberapa sosok bayangan hitam melayang tiba, semua berpakaian hitam ketat, bahkan juga berkedok hitam.

“Itu dia Kang Piat-ho!” berdebar jantung Siau-hi-ji.

Beberapa perempuan itu masih menangis terus, dan bertengkar sendiri, sama sekali mereka tidak tahu bahwa di dalam Sutheng itu bertambah beberapa orang. Beberapa orang berbaju hitam itu pun berdiri saja di situ tanpa bersuara.

Terlihat Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay itu masih saling mencaci, sekarang mereka tidak lagi bertengkar, tapi saling menuding dan memaki secara langsung.

“Kau perempuan hina dina,” demikian istri tua itu mendamprat sambil tunjuk hidung sang istri muda, “Berkat potonganmu yang mirip siluman kau memikat suamiku sehingga mati, sekarang anakmu juga sudah mati, itu namanya kualat, kenapa kau malah memfitnah dan menyalahkan aku?”

Sudah tentu istri muda itu tidak mau kalah, kontan ia pun balas memaki, “Kau ini siluman tua yang suka minum cuka, lebih baik kau bercermin dulu dengan air kencingmu, tapi kau lebih suka cemburu dan bersaing dengan orang lain. Suamiku justru mati gemas lantaran tingkah polahmu.”

“Memangnya siapa suamimu? Huh, tidak tahu malu, suami orang diaku-akui,” damprat istri tua dengan gusar.

“Kau sendiri tidak tahu malu,” balas istri muda, “sudah ditiduri sekian tahun, jangankan anak, kentut saja tidak keluar. Jika tidak ada aku, huh, yang meneruskan keturunannya saja tidak ada.”

Nyata istri muda ini lebih tajam lidahnya, cara berolok-olok juga lebih kena, keruan istri tua menjadi gemetar saking murkanya, sekonyong-konyong ia menubruk maju, “plak”, kontan ia tampar muka istri muda.

Sudah tentu sang istri muda tidak terima, segera ia memaki, “Bagus, kau berani memukul orang, biar kuadu jiwa denganmu!” Berbareng ia pun balas menjambak rambut sang istri tua, keduanya lantas bergumul.

Beberapa perempuan yang berusia lebih muda di sebelah mereka cepat hendak melerai, tapi akhirnya mereka pun kena digampar sana-sini, yang memisah itu jadinya ikut berkelahi dengan lebih sengit.

Begitulah beberapa perempuan itu lantas saling jambak dan saling betot, beberapa orang bergumul menjadi satu dan akhirnya terguling-guling di lantai, makin berguling makin mendekat ke arah beberapa orang berbaju hitam itu, mereka seperti sudah kalap, jelas di dekat mereka berdiri orang-orang berbaju hitam, tapi seakan tidak melihatnya.

Beberapa orang berbaju hitam itu pun aneh, mereka menyaksikan perkelahian kawanan perempuan itu dengan acuh, dianggapnya seperti tontonan murahan saja.

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar serentetan suara mendesing, berpuluh sinar hitam mendadak menyambar keluar dari onggokan kawanan perempuan yang sedang bergumul itu.

Senjata rahasia sebanyak itu menyambar dengan cepat lagi keji, seketika beberapa orang berbaju hitam itu terkurung di bawah ancaman dan tampaknya tiada satu pun bisa menghindarkan diri.

Sejak tadi Siau-hi-ji memang sudah merasakan gelagat tidak beres. Meski rambut kawanan perempuan itu semrawut tak teratur, kulit muka mereka pun kasar dan keriput, tapi tangan mereka kelihatan putih halus, jari jemari pun lentik terpelihara.

Setelah menemukan titik yang mencurigakan ini, seketika mata Siau-hi-ji terbeliak, pikirnya, “Para nona keluarga Buyung memang lihai, tampaknya Kang Piat-ho pasti akan terjebak sekali ini.” Dan baru saja berpikir, pada saat itulah senjata rahasia tadi lantas dihamburkan. Di luar dugaan, ternyata orang-orang berbaju hitam itu pun sudah memperhitungkan akan kemungkinan ini. Begitu senjata rahasia musuh menyambar tiba, serentak mereka pun mengapung ke atas, “creng”, pedang dan golok segera mereka lolos, dari atas segera mereka menerjang kawanan perempuan itu.

Kawanan perempuan ternyata tiada satu pun yang lemah, serentak mereka menjatuhkan diri ke lantai dan menggelinding ke samping sehingga serangan musuh terelakkan, waktu mereka melompat bangun, tangan masing-masing ternyata sudah bertambah sejenis senjata.

Si baju hitam yang menjadi kepala mendengus, “Hm, perempuan konyol, berani main gila di depanku, memangnya kalian sangka kami mudah dijebak? padahal kami sebelumnya sudah menyelidiki Sutheng ini sudah tidak ada ahli warisnya, keturunannya sudah putus dan mati ludes. Siapa kalian dan untuk apa kalian datang ke sini? Kalau tidak mengaku terus terang, hm, jangan harap kalian dapat pergi dengan hidup.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengakui kelicinan Kang Piat-ho, terhadap sesuatu persoalan, sebelum bertindak tentu diselidikinya dengan teliti.

Maka terdengar Toa-nay-nay tadi menjengek, “Hm, untuk apa kami datang ke sini, masakah tidak tahu?”

Jawaban ini sebenarnya wajar dan sederhana, tapi bagi si baju hitam yang banyak tipu akalnya dan suka berpikir mendalam, ucapan yang sederhana itu baginya menjadi sangat ruwet dan luas artinya, apalagi persoalan ini menyangkut suatu partai harta benda yang bernilai besar serta nyawa Kang Giok-long.

Kedatangannya sendiri dengan menyerempet bahaya justru mengenai kedua persoalan penting itu. Kalau dia datang untuk itu, mana boleh dia menyatakan “tahu”, ini sama saja dia mengakui bahwa harta kiriman itu memang dirampas olehnya. Bilamana lawan sengaja memasang jeratan untuk memancing pengakuannya, maka ini berarti dia telah terjebak pula.

Melihat lawan ragu-ragu tak berani menjawab, mau tak mau para perempuan menjadi curiga, si Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay saling memberi tanda, lalu Ih-nay-nay membuka suara, “Siapa kau sesungguhnya? Memangnya kedatanganmu ini bukan karena surat itu?”

Si baju hitam tidak sangsi lagi kini, jengeknya, “Kalau bukan soal itu masakah aku bisa datang ke sini?”

“Jika begitu, jadi pasti kau menghendaki harta itu?” tanya Ih-nay-nay.

Si baju hitam tambah mantap, jawabnya dengan bengis, “Bukan saja harta itu, bahkan juga orangnya.”

Air muka Toa-nay-nay rada berubah, tukasnya dengan gusar, “Selain harta juga kau tetap menghendaki orangnya.”

“Ya, dua-duanya, satu pun tidak boleh kurang!”

“Berdasarkan apa kau berani bersikap semena-mena begini?” damprat Ih-nay-nay gusar.

“Berdasar pedangku ini?” jengek si baju hitam.

Kini kedua pihak sama-sama yakin pihak lain adalah sasaran yang hendak dihadapinya, mereka tidak tahu bahwa salah paham mereka semakin dalam, bagi si baju hitam “harta rampasan” dan Kang Giok-long memang sama pentingnya dan tidak boleh berkurang satu pun, sebaliknya kawanan perempuan itu mengira pihak lawan selain menghendaki uang tebusan juga tetap hendak menahan Buyung Kiu.

Begitulah percakapan kedua pihak itu semakin menyenangkan Siau-hi-ji, dia berharap agar mereka akan lekas saling labrak, makin sengit makin baik.

Terlihat Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay itu saling mengedip pula, lalu Ih-nay-nay itu berteriak, “Bicara terus terang, harta dan orang jangan kau harapkan, pada hakikatnya kami tidak membawa harta apa pun, tentang orang…jika kau menghendaki orangnya, maka kami menghendaki jiwamu!”

“Kan sudah kukatakan, harta dan orang tidak boleh kurang satu di antaranya, sekarang serahkan dulu hartanya!” jengek si baju hitam itu, diam-diam ia pun memberi tanda kepada kawan-kawan di belakangnya.

Serentak empat orang baju hitam melompat ke sana, kontan keledai penarik kereta itu dibacok terguling. Dua orang di antaranya lantas mengangkat peti mati di atas kereta terus dituang ke bawah, maka terdengar suara gemerencing nyaring, tak terhitung banyaknya potongan perak tertuang dari peti mati itu.

Meski di tengah malam gelap perak-perak itu pun kemilauan menyilaukan mata, beberapa orang berbaju hitam itu sampai melengak kesima, maklumlah selama hidup mereka mana pernah melihat harta sebanyak itu.

“Sudah kukatakan sejak tadi, jangan, kalian coba-coba main gila padaku, memangnya aku mudah ditipu?” seru si baju hitam yang menjadi pemimpin itu dengan bergelak tertawa. Setelah menyaksikan perak-perak ini, nafsu membunuhnya semakin berkobar. Pikir saja, di dunia ini mana ada orang sengaja menyembunyikan harta benda sebanyak itu di dalam peti mati tanpa sebab dan dibawa ke tempat ini. Jelas inilah sebagian daripada harta yang pernah dirampasnya itu.

Dalam pada itu ia telah memberi tanda pula, beberapa orang berbaju hitam segera hendak menerjang kawanan perempuan itu, pada saat itu juga terdengar serentetan suara mendesing, dari dalam peti mendadak menyambar keluar berpuluh jalur sinar ke arah orang berbaju hitam.

Kontan beberapa orang itu menjerit dan roboh terkapar. Hanya si baju hitam yang menjadi pemimpinnya itu berdiri agak jauh, reaksinya juga cepat, sinar pedang segera berputar sehingga senjata rahasia yang menyambar ke arahnya itu disampuk jatuh. Mau tak mau ia pun terkejut dan gusar pula melihat anak buahnya telah menjadi korban seluruhnya.

“Perempuan keji,” dampratnya gusar, “Kau berani ….”

“Hm, terhadap orang keji macam kau ini dengan sendirinya harus juga menggunakan cara keji begini!” jengek si Toa-nay-nay tadi. Bersama kawan-kawannya segera mengepung maju.

“Blang”, mendadak dasar peti mati bergetar mencelat, seorang telah melompat keluar pula dan berdiri di belakang si baju hitam, bentaknya dengan suara bengis, “Apa lagi yang hendak kau katakan?”

Meski terkepung di tengah, namun si baju hitam sedikit pun tidak gentar, sebaliknya ia malah menjengek, “Hm, rapi juga tindak tanduk kalian, agaknya aku teramat menilai rendah kemampuan kalian. Tapi masih agak terlalu pagi kalau sekarang kalian sudah merasa senang.”

Orang yang melompat keluar dari peti mati itu berpakaian ketat, bertubuh ramping, mukanya masih terselubung sehelai sutera tipis, tapi sekali pandang Siau-hi-ji lantas mengenalnya sebagai Siau-sian-li.

Mungkin watak Siau-sian-li terkenal berangasan, juga tidak pintar pura-pura menangis, maka kawan-kawannya menyuruh dia bersembunyi di dalam peti mati agar tindakan mereka tidak diketahui musuh.

Sudah sekian lamanya dia tersekap di dalam peti mati dengan rasa mendongkol yang tak terlampiaskan, kini sudah berhadapan dengan musuh, kontan pedang menusuk ke punggung si baju hitam sambil membentak, “Tidak perlu membacot, serahkan nyawamu.”

Si baju hitam tidak menoleh, pedangnya menangkis ke belakang dan ditarik ke atas, hampir saja pedang Siau-sian-li terlepas dari cekalan.

Setelah tangannya tergetar linu pegal barulah Siau-sian-li tahu si baju hitam ternyata bukan lawan lemah, ia terkejut dan gusar, bentaknya, “Keparat, sudah dekat ajalmu masih berani berlagak.”

Sekali putar pedangnya, si baju hitam mundur ke pojok dinding, lalu menjengek, “Hm, yang dekat ajal itu siapa? Bolehlah kalian lihat saja nanti!”

Tanpa terasa semua orang mengikuti arah sinar mata si baju hitam, tertampak di sekeliling Sutheng itu sudah bertambah sekawanan orang berbaju hitam, semuanya memegang busur dan anak panah siap dibidikkan, bahkan di antara lubang dinding dan celah-celah pintu juga kelihatan ujung anak panah yang gemerlapan.

Keruan kawanan perempuan terkejut, meski ilmu silat mereka tergolong kelas tinggi, tapi menghadapi barisan pemanah demikian, biarpun tokoh dunia persilatan paling terkemuka juga rada-rada gentar.

Segera si baju hitam menjengek, “Di sekitar Sutheng ini sudah siap ratusan pasang busur yang kuat, bilamana kuhitung sampai tiga dan kalian tidak meletakkan senjata serta menyerahkan diri, maka bagaimana akibatnya dapat kalian bayangkan sendiri.”

Barisan pemanah sebanyak itu, jika mereka terbagi dalam dua-tiga regu dan memanah secara sambung menyambung, maka betapa pun sukar untuk ditahan biarpun jago kelas wahid sekalipun. Dengan sendirinya kawanan perempuan itu pun tahu akan hal ini, andaikan ada satu-dua orang dapat meloloskan diri, tapi selebihnya pasti akan terkubur di rumah abu ini.

Maka mereka lantas berkumpul menjadi satu untuk berunding, dari sikap Siau-sian-li dan Ih-nay-nay, tampaknya mereka berpendirian akan melabrak musuh apa pun risikonya, tapi si Toa-nay-nay tampak mencegah mereka.

Si baju hitam mengikuti kasak-kusuk kawanan perempuan itu, tiba-tiba ia mulai menghitung, “Satu -.”

“Bagaimana kalau kami memberikan harta dan orangnya?” tiba-tiba seru si Toa-nay-nay.

Si baju hitam menjawab dengan ketus, “Lebih dulu orangnya di ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar jeritan ramai, beberapa orang baju hitam yang berada di luar Sutheng itu mendadak roboh terjungkal, barisan pemanah yang mengepung dengan ketat seketika kacau balau.

Cepat si Ih-nay-nay berteriak, “Sam-moay, Cing-moay, ayolah turun tangan, tunggu apa lagi!”

Di tengah teriakan itu, sinar pedangnya berkelebat terus menusuk ke arah si baju hitam.

Rupanya Siau-hi-ji tidak tinggal diam, setelah sekian lamanya kedua belah pihak belum lagi saling labrak seperti ada yang diharapkannya, apalagi dilihatnya ada kecenderungan kedua pihak akan berunding, maka ia harus cepat bertindak, kalau tidak pasti muslihatnya akan terbongkar. Berpikir demikian, segera beberapa biji kerikil yang sudah dipersiapkan dihamburkannya.

Betapa kuat tenaga Siau-hi-ji sekarang, biarpun sepotong batu kecil juga sukar ditahan oleh orang-orang itu, serentak belasan orang telah tersambit batu kerikil hingga kepala pecah dan darah bercucuran serta bergelimpangan di tanah, tapi tiada seorang pun yang tahu dari mana datangnya senjata rahasia itu.

Sementara itu pedang Ih-nay-nay tadi dalam sekejap saja sudah melancarkan belasan kali serangan, meski orang perempuan, tapi ilmu pedangnya ternyata sangat ganas dan tidak kalah tangkasnya daripada jago pedang yang pernah malang melintang di dunia Kangouw.

Diam-diam si baju hitam tadi terkejut oleh serangan pedang lawan yang hebat dan tanpa kenal ampun ini, bahkan tampaknya tidak gentar untuk gugur bersama. Apalagi si Toa-nay-nay masih menunggu di samping dengan pedang terhunus, agaknya tiada maksud mengerubutnya.

Padahal perempuan melawan lelaki betapa pun juga kalah tenaga, jika pihak perempuan main keroyok juga takkan dicemoohkan orang Kangouw. Tapi Toa-nay-nay tetap menjaga harga diri dan tidak sudi main kerubut, perempuan yang berwibawa sedemikian sungguh jarang ada di dunia Kangouw.

Makin dilihat makin heran si baju hitam, makin dipikir juga makin terkejut. Yang lebih membuatnya terkesiap adalah kedua perempuan lain yang berdandan sebagai pelayan, cara mereka menyambitkan senjata rahasia ternyata sangat jitu, asalkan tangannya bergerak, seketika satu-dua orang di luar sana menjerit dan roboh.

Siau-hi-ji juga sudah menerjang keluar sejak tadi, ratusan laki-laki berseragam hitam itu kini sudah tersisa empat sampai lima puluh orang saja, untuk menjaga diri saja repot, jangankan hendak melepaskan panah.

Sungguh senang Siau-hi-ji menyaksikan pertarungan seru ini, sudah beberapa kali dikibuli Kang Piat-ho, baru sekarang rasa dendamnya itu sedikit terlampias.

Setelah belasan gebrak lagi, pedang si Ih-nay-nay bertambah cepat dan keji, setiap serangannya tidak pernah meninggalkan tempat mematikan di tubuh si baju hitam, malahan ujung pedangnya selalu mengincar tenggorokan lawan.

Melihat keadaan ini, orang lain tentu menganggap Ih-nay-nay itu sudah berada di atas angin. Tiada yang tahu bahwa si baju hitam justru sangat licin, sambil bertahan dia justru sedang memeras otak memikirkan sebab musabab kejadian ini.

Setelah paham duduk perkaranya, mendadak ia bergelak tertawa, dengan lurus pedangnya terus menabas.

Seketika Ih-nay-nay itu merasakan pedang lawan yang tampaknya mengambang itu membawa daya tekanan yang mahaberat, belum tiba pedangnya suatu arus kekuatan sudah membanjir tiba lebih dulu, untuk menghindar ternyata tidak keburu lagi, terpaksa ia angkat pedang menangkisnya.

Meski ilmu pedangnya cukup ganas, tapi tenaga dalamnya selisih jauh kalau dibandingkan si baju hitam, apalagi tebasan si baju hitam itu menggunakan sepenuh tenaga.

Agaknya tadi Ih-nay-nay rada meremehkan ilmu silat si baju hitam, kini setelah merasakan gelagat jelek, namun sudah terlambat, biarpun menyadari keadaan rada gawat, terpaksa ia harus mengadu tenaga sebisanya.

Toa-nay-nay itu pun dapat melihat gelagat jelek, dengan khawatir cepat ia berseru, “Awas, jangan mengadu tenaga dengan dia!”

Meski dia tidak sudi main keroyok, tapi kini keadaan sangat mendesak, tanpa pikir lagi ia terus menubruk maju, dibarengi bentakan pedangnya terus memapak ke depan.

“Creng”, terdengar suara nyaring disertai percikan lelatu api. Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay berdua melawan satu dan ternyata tenaga mereka tetap kalah kuat, setengah badan mereka sama merasa kaku kesemutan, pedang mereka pun hampir terlepas dari pegangan.

Diam-diam Siau-hi-ji menggerutu, “Kawanan budak ini sungguh konyol, tidak menggunakan kepandaian andalan sendiri, sebaliknya malah mengadu tenaga dengan lawan, kan mencari penyakit namanya?”

Terlihat Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay itu segera melompat ke samping hingga mepet dinding, tapi mereka tidak menjadi gugup, diam-diam sebelah tangan mereka sudah menyiapkan senjata rahasia.

Ginkang dan Am-gi keluarga Buyung sangat terkenal di dunia persilatan, bilamana si baju hitam kemaruk akan kemenangan dan memburu maju, bisa jadi ia akan celaka sendiri oleh serangan Am-gi lawan. Di luar dugaan ia hanya berhenti di tempatnya, serunya dengan tertawa lantang, “Hari ini aku tidak minta apa-apa kepada kalian, baik harta maupun orang, sekarang juga kumohon diri!” Sembari bicara ia terus melangkah mundur.

Tindakan ini sungguh di luar dugaan Siau-hi-ji, Toa-nay-nay dan Ih-nay-nay pun terheran-heran, jelas pihak lawan sudah unggul, mengapa tidak menggempur lebih lanjut, sebaliknya malah mengundurkan diri.

“Tadi kau mendesak orang mati-matian, sekarang malah mau pergi begini saja, sebab apa sebenarnya?” tanya Ih-nay-nay.

“Tadi aku tidak tahu kalian ini siapa, jika kupergi begitu saja tentu kelak tidak mudah mencari kalian, dengan sendirinya tadi aku tak mau pergi secara begini,” jawab si baju hitam dengan tertawa.

“Dan sekarang?” tanya pula si Ih-nay-nay.

“Sekarang keadaan sudah berubah,” jawab si baju hitam. “Para nona keluarga Buyung punya nama dan alamat jelas, biarpun sekarang kugagal mendapatkan barangku, memangnya kelak aku tak dapat berkunjung ke kediaman kalian?”

“Maksud kau telah mengetahui asal-usul kami?” tanya Ih-nay-nay dengan melengak.

“Jikohnio (nona kedua) keluarga Buyung memang terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat, kalau hal ini tak dapat kukenali sama saja aku ini orang buta,” ucap si baju hitam.

Mendadak Ih-nay-nay itu menarik rambutnya dan mengeletek kedoknya, tertampaklah wajah putih nan bersih dengan mata yang melotot gusar, jengeknya, “Biarpun kau kenal aku, tapi aku tidak kenal kau, memangnya kau kira dapat pergi begitu saja?”

“Dia takkan dapat pergi lagi!” sambung seorang tiba-tiba, Siau-sian-li sudah mengadang di belakang si baju hitam.

Si baju hitam terkekeh-kekeh dan berkata, “Kalau aku tak dapat pergi, buat apa aku bicara seperti tadi?”

“Hm, ingin kulihat bagaimana caramu pergi dari sini?!” bentak Buyung Siang, si nona kedua keluarga Buyung, yang menyamar Ih-nay-nay tadi.

Watak nona kedua keluarga Buyung ini memang berangasan, apalagi tadi dia telah kecundang, tapi ia tidak menjadi gentar, segera ia menubruk maju pula. Tapi Toa-nay-nay telah menahan serangannya.

Tentu saja Buyung Siang menjadi gusar, omelnya, “Sam-moay, memangnya kau hendak melepaskan dia dan tidak ingin mencari Kiu-moay lagi?”

“Kalau dia tak dapat pergi, biarlah kita bereskan dia secara perlahan-lahan saja,” ucap nona ketiga keluarga Buyung alias Buyung San.

Di antara kesembilan taci beradik keluarga Buyung, nona ketiga ini terkenal cerdik pandai, biarpun watak si nona kedua biasanya kaku dan keras, tapi terhadap ucapan sang adik ketiga ini biasanya dia suka menurut. Tapi sekarang ia rada mendongkol dan mengomel, “Kenapa mesti perlahan-lahan, memangnya apa yang kau tunggu?”

“Kukira di balik persoalan ini ada sesuatu kejanggalan,” ujar Buyung San.

“Kejanggalan bagaimana?” tanya Buyung Siang.

“Bahwa orang ini telah berjanji menemui kita di sini, seyogianya dia sudah tahu siapa kita ini, tapi baru sekarang dia mengetahui asal-usul kita, bukankah ini rada mengherankan?”

Melengak juga Buyung Siang, tapi ia tetap tak sependapat, katanya, “Kenapa mesti heran, bukan mustahil dia sengaja berlagak pilon.”

“Benar, bekuk saja dia dahulu dan urusan belakang,” sambung Siau-sian-li.

Sejak tadi si baju hitam mengikuti percakapan kakak beradik Buyung itu dengan penuh perhatian, kini mendadak ia berseru, “Nanti dulu, mungkin sekali dalam persoalan ini kita sama-sama terjebak oleh tipu adu domba pihak lain ….”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara gedubrakan, sebuah hiolo (tempat dupa) menggelinding jatuh dari atas belandar dengan menyeret sehelai kain putih. Di atas kain itu tertulis, “Kang Piat-ho, kejahatanmu sudah melebihi takaran, kini biarpun kau hendak menyangkal juga tidak bisa lagi”.

Tulisan di atas kain itu cukup besar sehingga di waktu malam juga kelihatan dengan jelas.

Tentu saja semua orang terkejut, “Jadi kau…kau ini Kang Piat-ho?” seru Buyung Siang.

Sinar mata si baju hitam menampilkan rasa terkejut dan gelisah, dia menyadari sekali ini benar-benar telah masuk perangkap orang, tapi siapa sesungguhnya biang keladi yang mengatur tipu muslihat ini sama sekali tidak diketahuinya. Kalau ada seorang lawan yang diam-diam selalu mengincar setiap gerak-geriknya, maka sekalipun dia dapat meloloskan diri nanti, selanjutnya ia pun tak dapat makan dan tidur dengan tenteram.

Dasar dia memang dapat berpikir banyak dan mendalam, kalau orang lain hanya dapat memikirkan suatu hal, tapi sekaligus dia dapat berpikir sepuluh soal, terkadang hal ini malah membikin susah dia, sebab kalau dia sedang merenungkan sesuatu lalu lupa memberi jawaban.

Segera Buyung Siang menjengek pula, “Hm, Kang-lam-tayhiap yang termasyhur ternyata bisa melakukan perbuatan begini.”

Belum lagi si baju hitam menanggapi, kembali terdengar suara gemeruduk, sebuah tutup hiolo menggelinding jatuh pula dari atas dan menyeret juga sehelai kain putih dengan tulisan, “Kang Piat-ho, orang yang kau sembunyikan itu sudah diketemukan.”

Kain putih bertulisan itu dengan sendirinya telah disiapkan oleh Siau-hi-ji sebelumnya, ujung kain putih itu dipakunya di atas belandar, lalu ujung yang lain diikat pada hiolo dan digandeng pula dengan seutas benang panjang dan halus memutar ke tempat sembunyinya, asalkan benang ditarik, segera hiolo itu menggelinding jatuh ke bawah dan kain putih itu pun dengan sendirinya ikut terbentang ke bawah.

Dia telah mengikuti percakapan Buyung San dengan si baju hitam tadi, makin lama terasa makin kurang enak dan bisa jadi tipu muslihatnya akan terbongkar, maka cepat ia menarik benang untuk memperlihatkan tulisan yang telah disiapkan lebih dulu itu. Harapannya hanya untuk mengulur waktu saja sampai datangnya Cin Kiam dan lain-lain.

Menurut perhitungannya, saat ini Cin Kiam dan kawan-kawannya pasti sudah dapat menemukan Buyung Kiu, maka biarpun Kang Piat-ho mempunyai seratus buah mulut juga tidak sanggup membantah karena bukti sudah terpegang.

Rencana Siau-hi-ji sesungguhnya sangat rapi dan tidak mungkin meleset, sungguh mimpi pun tak tersangka olehnya bahwa karena rasa cemburunya Samkohnio, maka rencana yang telah diaturnya ini menjadi berantakan dan gagal total.

Setelah membaca tulisan pada kedua helai kain putih itu, maka Buyung San yang semula ragu-ragu kini pun tidak sangsi lagi, apalagi Siau-sian-li dan Buyung Siang, mereka bertambah geregetan dan ingin sekali membinasakan Kang Piat-ho.

Tapi orang berbaju hitam itu sebegitu jauh belum mengaku dirinya ialah Kang Piat-ho, sebaliknya juga tidak menyangkal, dia hanya bungkam saja dengan mata melotot memperhatikan senjata lawan.

Jika orang lain, menghadapi persoalan demikian tentu sudah lantas berteriak menyangkal dan berusaha menjelaskan duduknya persoalan. Tapi orang berbaju hitam itu benar-benar lain daripada yang lain, ia tahu dirinya kini telah masuk perangkap lawan, biarpun memberi penjelasan juga takkan dipercaya. Bila dia mengerjai orang juga selalu diatur dengan rapi sehingga orang lain tidak mampu membela diri, makanya menghadapi urusan begini ia sendiri pun lebih paham daripada orang lain.

Keadaan ini memang benar-benar sangat ruwet dan pelik, di seluruh dunia ini, kecuali Siau-hi-ji saja mungkin tiada seorang pun yang tahu jelas persoalannya dan dengan sendirinya juga tidak tahu cara bagaimana menghadapinya.

“Nah, Sam-moay, apa abamu sekarang?” tanya Buyung Siang kepada Buyung San dengan melotot.

Buyung San angkat bahu, jawabnya, “Baiklah, bekuk saja dia lebih dulu!”

Tanpa menunggu perintah lagi, kontan pedang Siau-sian-li lantas mendahului menusuk si baju hitam, Buyung Siang juga tidak tinggal diam, segera ia pun melancarkan serangan yang ganas.

Ilmu pedang Buyung San tidak secepat Siau-sian-li dan tidak seganas Buyung Siang, tapi pikirannya selalu jernih dan pandangannya tajam, setiap serangannya selalu mengarah tempat kelemahan musuh.

Menghadapi kerubutan tiga nona yang dapat bekerja sama dengan sangat rapat itu, betapa pun lihai kepandaian si baju hitam juga merasa kewalahan, setelah menangkis beberapa kali, mendadak gerak pedangnya bertambah cepat dan melancarkan serangan balasan dengan lihai, rupanya dia bermaksud mencari peluang untuk meloloskan diri.

Tak tahunya bahwa pengalaman tempur ketiga nona lawannya juga cukup luas, begitu dia melancarkan serangan balasan secara cepat, segera ketiga nona itu dapat menerka maksud tujuannya. Dan maksudnya hendak kabur itu semakin meyakinkan ketiga nona itu bahwa si baju hitam benar-benar Kang Piat-ho yang menawan Buyung Kiu, maka Siau-sian-li dan Buyung Siang semakin nekat melabraknya dengan mati-matian.

Beberapa dayang keluarga Buyung yang ikut datang itu pun sedang melayani beberapa orang berbaju hitam lainnya, biarpun orang perempuan, tampaknya mereka cukup kuat untuk menghadapi lawan-lawannya.

Sementara itu dahi si baju hitam tadi sudah mulai berkeringat dan membasahi kedoknya, baru sekarang dia mengakui para nona keluarga Buyung yang terkenal di dunia persilatan ini ternyata benar-benar sangat lihai. Ia tidak tahu bahwa ilmu pedang bukanlah kepandaian andalan para nona keluarga Buyung, justru Ginkang dan Am-gi adalah kepandaian khas andalan mereka. Soalnya sekarang mereka khawatir si baju hitam akan mendapat peluang untuk lolos, makanya tidak sempat menggunakan senjata rahasia andalan mereka.

“Sret”, dengan gerak tipu “Hun-hoa-hut-liu” atau menyiah bunga menyisihkan tangkai, pedang Buyung San menusuk dari depan, sinar pedang gemerdep menyilaukan mata, serangan ini entah benar-benar atau cuma pancingan belaka.

Sebenarnya serangan ini tidak bertujuan mencelakai musuh melainkan untuk mengaburkan pandangan lawan saja sehingga kawannya sempat melancarkan serangan telak. Akan tetapi kalau si baju hitam tidak mengelak, maka serangan pancingan ini segera diteruskan menjadi serangan sungguhan.

Tanpa pikir si baju hitam mengegos ke samping sambil memutar pedangnya untuk menangkis, benar saja Siau-sian-li dan Buyung Siang serentak juga menyerang, sinar pedang mereka segera menusuk dari kanan kiri secara menyilang.

Gerak serangan ke tiga nona itu sebenarnya bukan tipu luar biasa, namun cara kerja sama mereka sesungguhnya sangat rapi sehingga daya tekanannya bertambah lipat daripada serangan biasa, seketika jalan mundur musuh tertutup seluruhnya, andaikan dia sempat menghindarkan pedang yang satu tentu juga tidak dapat mengelakkan tusukan pedang yang lain.

Di luar dugaan, begitu serangan Buyung San itu tertangkis, berbareng si baju hitam membuang pedangnya, secepat kilat tangannya membalik dan mencengkeram pergelangan tangan Buyung San.

Perubahan ini sebenarnya sangat berbahaya, tapi juga bagus dan sangat lihai, kalau bukan tokoh semacam dia tentu juga takkan mampu mengeluarkan tipu serangan aneh dan sebagus ini, sampai-sampai Siau-hi-ji juga hampir bersorak memuji menyaksikan tipu serangan hebat itu.

Sudah tentu Buyung San juga tidak pernah menduga pihak lawan akan membuang pedangnya terus memegang tangannya, bagaimanapun sudah terlambat baginya untuk mengelak, tahu-tahu pergelangan tangannya terasa kesemutan, tubuh lawan segera menubruk maju dan merangkulnya, seketika lehernya berada di bawah ancaman tangan lain si baju hitam.

“Kalian menghendaki jiwanya tidak?” bentak si baju hitam.

Meski seluruh tubuhnya kini terbuka di bawah ancaman pedang Siau-sian-li dan Buyung Siang dan setiap saat bisa bertambah beberapa lubang tusukan, namun jiwa Buyung San juga berada di bawah ancamannya dan setiap saat lehernya dapat diremas patah. Dalam keadaan demikian Siau-sian-li berdua menjadi ragu, ujung pedang mereka hanya menempel di punggung si baju hitam dan tidak berani menusuknya. Namun dengan ancaman kedua pedang di punggungnya itu, mau tak mau si baju hitam juga tidak berani sembarangan bertindak.

“Lepaskan, lekas! Kalau tidak, segera kubinasakan kau!” bentak Buyung Siang.

“Jika kalian tidak tarik kembali pedangmu, segera kumampuskan dia!” si baju hitam balas mengancam.

“Kau lepas dahulu dan segera kami tarik pedang,” kata Siau-sian-li.

“Hahaha, lelaki tidak pantas berebut dahulu dengan perempuan, kukira kalian saja lepas tangan dahulu,” kata si baju hitam dengan tertawa.

“Mana kami dapat mempercayai kau?!” damprat si Buyung Siang.

“Tapi aku pun tak dapat mempercayai kalian,” jengek si baju hitam.

Jadi kedua pihak sama-sama tidak berani turun tangan dan juga tidak berani lepas tangan. Kedua pihak saling ngotot sejenak, dasar watak mereka memang tidak sabaran, Siau-sian-li dan Buyung Siang telah mandi keringat karena cemasnya.

Buyung San sendiri malah sama sekali tidak gelisah, katanya dengan tenang, “Kalian jangan mau lepas tangan, Jici, dia pasti tidak berani mencelakai diriku.”

Tapi si baju hitam lantas menjengek, “Hm, biasanya aku dapat bersabar, kalau tetap mau bertahan cara begini juga boleh.”

Saking gemasnya ujung pedang Buyung Siang terus ditekan sedikit ke depan, tapi serentak Buyung San juga tercekik hingga hampir tak dapat bernapas.

“Memangnya kau ingin ngotot sampai kapan?” teriak Siau-sian-li dengan gusar.

“Sampai kalian melepas tangan,” jawab si baju hitam.

Keringat sudah membasahi dahi Siau-sian-li, tapi sama sekali tak berdaya.

Diam-diam Siau-hi-ji menggeleng, pikirnya, “Sungguh budak bodoh, kenapa mesti gelisah, sebentar kan juga datang bala bantuanmu ….”

Benar saja, pada saat itu dari kejauhan tertampak berkelebatnya tiga sosok bayangan orang, hanya sekejap saja sudah mendekat, ternyata memang Lamkiong Liu, Cin Kiam dan Koh Jin-giok yang datang.

Tentu saja Siau-hi-ji dan para nona keluarga Buyung itu kegirangan, tapi si baju hitam juga tidak gentar dan gugup karena dia sudah memegang sanderanya. Kalau Cin Kiam datang, tentu Buyung San lebih-lebih tidak mungkin dikorbankan. Asalkan, nona ketiga keluarga Buyung itu tetap dicengkeramnya pasti dia akan dapat lolos dengan selamat.

Cin Kiam memang terperanjat demi nampak istri tercinta tertawan musuh. Pengalaman Kangouw Koh Jin-giok paling cetek dan hijau, dia jadi melongo melihat keadaan demikian.

“Tolol, kenapa tidak lekas kau memberi bantuan?!” omel Siau-sian-li kepada pemuda yang lebih mirip gadis pingitan itu.

Tapi si baju hitam lantas membentak, “Siapa yang berani maju?!”

“Se…sebenarnya bagaimana persoalannya, sukalah sahabat ini bicara secara baik-baik,” ucap Cin Kiam.

“Persoalan ini pada hakikatnya cuma salah paham belaka, tapi urusan sudah telanjur begini, sekalipun kuberi penjelasan juga kalian takkan percaya,” seru si baju hitam dengan suara keras. “Maka apa pun yang dibicarakan biarlah tunggu kalau aku sudah keluar dulu dari sini.”

“Jangan kita lepaskan dia, orang ini banyak tipu akalnya, jangan kita tertipu olehnya,” seru Buyung Siang.

Kini Lamkiong Liu sudah membaca tulisan yang terpampang di kain putih itu, serunya, “Jangan-jangan saudara ini memang benar Kang-tayhiap adanya?”

Si baju hitam hanya, mendengus saja dan tidak menjawab.

“Tayhiap kentut anjing, orang ini memang benar Kang Piat-ho!” bentak Siau-sian-li.

“Kalian jangan urus diriku, tanyai dia dulu bagaimana dengan Kiu-moay, sudah ditemukan belum?” seru Buyung San dengan suara serak.

Lamkiong Liu menghela napas, ucapnya, “Baru saja kami datang ke tempat Kang-tayhiap ….”

Mendengar sampai di sini hati Siau-hi-ji jadi dingin, kalau rombongan Cin Kiam dapat menemukan Buyung Kiu di tempat Kang Piat-ho, tentunya dia takkan bersikap seramah itu padanya dan menyebutnya “tayhiap”.

Dalam pada itu Buyung San telah bertanya pula dengan cemas, “Apakah Kiu-moay tidak berada di sana?”

Cin Kiam berkata khawatir, “Jangan kau urus Kiu-moay, kau…kau sendiri ….”

“Kiu-moay tidak berada di tempat Kang-tayhiap sana, bisa jadi kita telah dipermainkan orang!” ucap Lamkiong Liu dengan tersenyum getir.

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terperikan, hampir saja ia melompat keluar dari tempat sembunyinya. Mustahil Buyung Kiu tidak berada di sana? Jangan-jangan mereka kesasar ke tempat lain?

“Kami tadi sudah berjumpa dengan Hoa Bu-koat, Hoa-kongcu dan nona Thi Sim-lan di sana, mereka pun menyatakan Kiu-moay yang hilang itu sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan Kang-tayhiap,” demikian tutur Cin Kiam.

Segera Lamkiong Liu menyambung, “Hoa-kongcu itu pun merasakan kejanggalan persoalan ini dan kita diharapkan bertindak hati-hati, kalau saja nona Thi itu tidak sakit tentu Hoa-kongcu akan ikut menjenguk ke sini.”

Buyung Siang jadi melengak dan tanpa terasa pedangnya melambai ke bawah.

Siau-sian-li juga bergumam, “Rasanya Thi Sim-lan takkan membela Kang Piat-ho.”

“Ya, sejak tadi aku pun merasakan urusan ini rada-rada kurang beres,” kata Buyung San. “Coba pikir, kalau Kang-tayhiap bermaksud menghendaki uang tebusan kita, untuk apa dia tampil ke muka sendiri? Sekalipun dia datang sendiri, mustahil ia tidak tahu siapa kita ini? Apalagi kalau dia mau menyembunyikan Kiu-moay kenapa mesti disembunyikan di tempat tinggalnya, tempat lain kan masih banyak?”

Memang urusan ini sangat sederhana bilamana dipecahkan, tapi apabila rombongan Lamkiong Liu itu berhasil menemukan Buyung Kiu di tempat Kang Piat-ho, tentu persoalan akan lain lagi jadinya.

“Jika kau sudah berpikir demikian, mengapa pula kalian bergebrak dengan Kang-tayhiap?” kata Cin Kiam dengan gegetun. Dia melihat sang istri masih dicengkeram musuh, terpaksa ia mengomeli istrinya lebih dulu.

Tapi Buyung Siang tetap tidak terima, katanya, “Hm, dia…Kang-tayhiap sendiri tidak mau bicara apa-apa, dari mana kami bisa tahu?”

“Biarpun tadi kukatakan, apakah mungkin nona mau percaya?” ucap si baju hitam dengan tertawa.

“Tapi…tapi apakah benar-benar saudara ini Kang-tayhiap?” tiba-tiba Buyung San bertanya.

Pertanyaan ini seketika menimbulkan curiga orang banyak pula.

Maka terlihatlah si baju hitam melepaskan Buyung San dengan perlahan, katanya dengan tersenyum, “Karena salah paham sudah dipecahkan, apakah Cayhe ini Kang Piat-ho atau bukan kan sama saja.” Ternyata dia tetap tidak mau memperlihatkan wajah aslinya.

“Kau tidak apa-apa bukan?” tanya Cin Kiam setelah memburu ke samping istrinya.

Buyung San tersenyum sambil menggenggam tangan Cin Kiam, matanya tetap menatap tajam ke arah si baju hitam, katanya, “Kami telah banyak melukai anak buah Kang-tayhiap, untuk ini diharapkan Kang-tayhiap suka memberi maaf.” Dia sengaja menyebut “Kang-tayhiap” dengan tandas, bahkan berulang dua kali.

Tapi si baju hitam tetap tidak mengaku dan juga tidak menyangkal, katanya dengan tertawa, “Bahwa dalam pertarungan sengit dengan sendirinya sukar terhindar daripada saling melukai, mana berani kusalahkan pihak nyonya, kalau ada orang yang salah, maka dia adalah biang keladi yang diam-diam mengatur tipu muslihat untuk menjebak kita itu.”

Bicara sampai di sini, sorot matanya yang tajam mendadak menatap ke tempat sembunyi Siau-hi-ji dan tanpa terasa pandangan semua orang juga ikut terarah ke jurusan sana.

“Betul,” seru Buyung Siang, “Orang itu memang tidak boleh dilepaskan.”

“Kalau dapat kutemukan orang itu, lebih dulu akan kupotong lidahnya, kucungkil matanya, lalu kutanyai mengapa dia mengatur tipu muslihat keji ini untuk membikin susah orang lain,” teriak Siau-sian-li.

“Tanpa nyonya turun tangan juga Cayhe akan bertindak padanya,” jengek si baju hitam.

Sembari bicara, beberapa orang itu sudah lantas mengelilingi tempat sembunyi Siau-hi-ji, bahwa seorang telah terkepung oleh tokoh-tokoh sebanyak ini betapa pun pasti sukar meloloskan diri.

Siau-hi-ji juga berkeringat dingin, ia menyadari bilamana dirinya sampai tertawan, maka sukar dibayangkan bagaimana akibatnya.

Sungguh runyam, ingin untung menjadi buntung. Gagal menjebak orang, ia sendiri yang akan terkena getahnya. Sekejap itu otaknya telah bekerja keras, tapi tetap sukar mendapatkan akal baik untuk meloloskan diri.

Pada saat itulah si baju hitam telah menjengek, “Sampai sekarang masakah saudara masih tetap belum mau unjuk diri?”

Tiba-tiba Buyung Siang menegur dengan gusar, “Jika sejak tadi kau tahu dia berada di sini, mengapa tidak kau katakan?”

“Waktu kulihat senjata rahasia tersambar dari sini dan melukai kawan-kawanku, semula kusangka kawan-kawan nyonya yang telah sengaja disiapkan di sini lebih dulu,” jawab si baju hitam.

“Mulut anjing ini ternyata tajam benar,” gerutu Siau-hi-ji. Ia tahu sekali ini dirinya pasti sukar terhindar dari bahaya, mimpi belaka jika ingin kabur dari kepungan jago sebanyak ini.

Didengarnya si baju hitam lagi menjengek pula, “Sahabat masih tidak mau unjuk diri, memangnya perlu Cayhe memerintahkan lepas panah?”

Sekonyong-konyong Buyung Siang merebut sebuah busur dan berteriak, “Biar kau rasakan kelihaian panah nona Buyung!”

Tempo hari waktu Siau-hi-ji diajak keliling rumahnya oleh Buyung Kiu, di kamar nona Buyung kedua ini sudah dilihatnya ada busur dan panah, maka ia tahu dalam hal panah-memanah tentu nona Buyung kedua ini memiliki kepandaian lain daripada yang lain, betapa pun ia tidak ingin dijadikan sasaran panahan orang.

Dalam keadaan demikian mau tak mau ia harus berusaha menerjang keluar.

Syukurlah pada saat itu terdengar seorang mengekek tawa dan berseru, “Wah, ramai benar di sini, apakah ada tontonan menarik?”

Tanpa terasa semua orang berpaling ke arah suara, tertampaklah seorang perempuan dengan rambut terurai melangkah masuk sambil tertawa linglung seperti orang kurang waras, siapa lagi dia kalau bukan Buyung Kiu.

Sungguh aneh, ke manakah Buyung Kiu tadi dan mengapa sekarang dia muncul di sini?

Saking herannya sampai Siau-hi-ji melongo kesima.

Sudah tentu yang paling kejut dan girang adalah kakak beradik Buyung itu, serentak mereka berseru, “He, Kiu-moay, payah benar kami mencarimu ke mana-mana.” Di tengah seruan itu Buyung San dan Buyung Siang lantas memburu maju untuk menarik tangan Buyung Kiu.

Buyung Kiu memandang mereka sekejap, sorot matanya menampilkan rasa bingung, katanya dengan tertawa, “Siapa kalian? Aku tidak kenal kalian?!”

“Kiu moay ….” sapa Buyung Siang dengan suara gemetar, “Masa kau tidak…tidak kenal lagi pada Jici dan Samcimu?”

Dengan air mata berlinang Buyung San juga berseru. “Kiu-moay, mengapa begini?”

Tapi Buyung Kiu tetap memandangi mereka dengan melongo bingung tanpa bersuara.

Koh Jin-giok tidak tahan, ia mendekati nona linglung itu dan bertanya, “Kiu-moay, kau kenal aku tidak?”

Segera Siau-sian-li menyela, “Pada Jici dan Samcinya saja dia tidak kenal lagi, mana bisa dia mengenalmu?”

Koh Jin-giok menunduk, air mata pun menetes.

Cin Kiam dan Lamkiong Liu tampaknya juga sangat sedih. Dengan menghela napas Lamkiong Liu berkata, “Mungkin Kiu-moay telah mengalami pukulan batin yang luar biasa, makanya berubah menjadi begini. Kita harus membawanya pulang untuk merawatnya agar kesehatannya dapat pulih perlahan-lahan.”

“Siapakah yang membuatnya jadi begini? Siapa?” teriak Buyung Siang dengan gusar.

Mendadak Siau-sian-li menangis dan berkata, “Waktu dia melihat Siau-hi-ji yang disangkanya sudah mati itu mendadak hidup lagi, dia kaget hingga pikirannya berubah jadi begini. Padahal Siau-hi-ji memang tidak mati, dia justru sengaja hendak menakut-nakuti Kiu-moay saja.”

“Siapa itu Siau-hi-ji?” tanya Buyung Siang gusar.

“Siau-hi-ji se…seorang she Kang, masih…masih muda belia, tapi busuknya sudah tidak kepalang tanggung, dia sungguh jahat,” tutur Siau-sian-li.

“Di mana dia sekarang?” teriak Buyung Siang.

“Sekarang mungkin dia sudah mampus,” kata Siau-sian-li.

Buyung Siang melengak, katanya, “Baru saja kau bilang dia tidak mati, sekarang kau katakan pula dia sudah mampus, sesungguhnya dia sudah mati atau belum?”

“Tadinya memang dia tidak mati, tapi kemudian dia mati tergelincir ke dalam jurang,” tutur Siau-sian-li.

Setelah berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Tapi isi perut orang itu penuh akal busuk dan juga memang banyak kepandaiannya, tahu-tahu dia masih tetap hidup, kalau tidak menyaksikan sendiri mayatnya menggeletak di situ, rasanya tiada seorang pun yang berani menyatakan dia benar-benar sudah mati.”

Mendadak si baju hitam berkata, “Dia belum mati.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Siau-sian-li.

“Akhir-akhir ini kulihat dia lagi,” jawab si baju hitam.

“Kau melihat dia? Berada di mana dia sekarang?” teriak Buyung Siang.

“Menurut pandanganku, saat ini mungkin dia berada di ….” si baju hitam seakan-akan sudah dapat menerka yang sembunyi di situ ialah Siau-hi-ji.

Keruan hati Siau-hi-ji kembali terkesiap.

Di luar dugaan, mendadak Buyung Kiu berteriak, “Siau-hi-ji…he, siapa menyebut Siau-hi-ji tadi? Ah…Siau-hi-ji, ingatlah aku!”

Semua orang menjadi cemas-cemas girang, dengan suara parau Buyung Siang bertanya, “Kau…kau ingat tentang apa?”

Buyung Kiu memandang kakaknya itu dengan lekat, katanya kemudian dengan perlahan, “He, engkau ini Jici!”

Buyung Siang menjerit kegirangan terus merangkul sang adik, saking senangnya ia pun mencucurkan air mata.

Buyung San juga kegirangan dan menangis, katanya, “O, Kiu-moay, kasihan, akhirnya kau sembuh!”

“Samci…Samci, aku ternyata dapat bertemu pula dengan kalian? Apakah aku sedang bermimpi?” ucap Buyung Kiu dengan tertawa dan akhirnya ia pun menangis meraung-raung.

Begitulah di antara kakak beradik itu lantas saling merangkul, ya tertawa ya menangis. Menyaksikan itu, diam-diam Siau-hi-ji juga sangat terharu sehingga matanya ikut berkaca-kaca dan tak keruan rasa hatinya.

Sebenarnya Buyung Kiu adalah musuhnya, kini pikirannya telah jernih dan waras kembali, jadi rencananya semula gagal, bahkan selanjutnya ia harus berjaga-jaga menghadapi balas dendam dari kakak beradik Buyung itu, jadi dia seharusnya merasa sial. Akan tetapi, entah mengapa, hatinya sekarang justru merasa gembira. Maklumlah, walaupun terkadang ia pun merasakan dirinya sendiri terlalu busuk, padahal hati nuraninya sebenarnya bajik.

Terdengar si baju hitam lagi menghela napas dan berkata, “Orang bernama Kang Siau-hi itu telah membuat saudaramu merana begini, setiap orang Kangouw tentu takkan mengampuni dia.”

Rupanya sebabnya dia tidak pergi begitu saja karena dia masih ingin menghadapi Siau-hi-ji di sini, ia khawatir persoalan dilupakan oleh kakak beradik Buyung yang sedang kegirangan itu, maka lekas dia mengingatkan pula urusan ini.

Benar juga, segera Buyung Siang berhenti menangis, katanya dengan gemas, “Bilamana kutahu bangsat cilik itu berada di mana sekarang, mustahil kalau tidak kubinasakan dia.”

“Kukira saat ini dia berada di ….”

Belum habis ucapan si baju hitam, mendadak Buyung Ku memotong, “Sebenarnya urusan ini pun tak dapat menyalahkan Siau-hi-ji.”

Keterangan ini membuat semua orang terperanjat, dan yang paling kaget adalah Siau-hi-ji sendiri, berikutnya ialah Siau-sian-li.

Segera Siau-sian-li bertanya, “Tidak boleh menyalahkan dia, habis siapa yang salah? Bukankah kau membencinya sampai merasuk tulang?”

Buyung Kiu tersenyum pedih, jawabnya, “Kulihat dia sudah mati tapi hidup kembali, tatkala itu aku sangat kaget sehingga pikiranku menjadi linglung, tapi tidak lama berselang lambat laun aku lantas sadar kembali.”

“Jika kau sudah sadar kembali, mengapa tadi tidak mengenal kami?” tanya Buyung Siang.

“Hal ini lantaran seorang telah membikin susah lagi diriku,” jawab Buyung Kiu.

“Siapa?” seru Buyung Siang.

“Kang Piat-ho!” jawab Buyung Kiu.

Keterangan ini membuat Siau-hi-ji juga terheran-heran, masakah Kang Piat-ho membikin susah Buyung Kiu, hal ini baru didengarnya sekarang. Kalau Kang Piat-ho mencelakai dia, begitu melihat si nona sudah sadar tentu segera akan mengeluyur pergi, mengapa saat ini dia berada di sini seakan-akan menunggu datangnya Buyung Kiu malah.

Dalam pada itu terdengar Buyung Kiu sedang bertutur pula, “Setelah aku sadar kembali, Kang Piat-ho telah membius pula diriku dengan obat, selagi aku tak sadarkan diri dia bermaksud…bermaksud ‘mengawini’ aku, tujuannya juga ingin menjadi menantu keluarga Buyung untuk membentangkan sayap pengaruhnya. Siang dan malam dia menjaga diriku, baru tadi ketika dia keluar, diam-diam aku lantas lari ke sini!”

Meski tadi semua orang sudah percaya bahwa Kang Piat-ho telah difitnah orang, tapi sekarang Buyung Kiu sendiri yang menuturkan semua kejadiannya, mustahil hal ini cuma omong kosong belaka?

Dengan gusar Buyung Siang lantas membentak, “Keparat Kang Piat-ho, hampir saja kita dikelabui dia!”

“Pantas kami mencari Kiu-moay ubek-ubekan tidak ketemu, rupanya ia sendiri sudah meloloskan diri ke sini,” Lamkiong Liu ikut bicara dengan marah, “Syukur Thian maha pengasih dan Kiu-moay justru lari ke sini, maka terbongkarlah kedok orang she Kang yang dosanya tak terampunkan ini.”

Di tengah bentakan-bentakan orang banyak si baju hitam tadi kembali terkepung pula.

Sungguh kejut dan girang pula Siau-hi-ji setelah mengikuti apa yang telah diuraikan Buyung Kiu itu, tapi ia pun merasa bingung penuh tanda tanya, bahwasanya persoalan ini berubah menjadi begini dan Buyung Kiu bisa bercerita seperti itu, biarpun Siau-hi-ji orang pintar nomor satu di dunia juga tidak habis paham duduk perkaranya.

Terdengar Buyung Siang sedang membentak pula, “Nah, Kang Piat-ho, apa yang hendak kau katakan lagi sekarang?”

Di luar dugaan si baju hitam mendadak tertawa terbahak-bahak, lalu menjawab, “Memangnya siapa bilang aku ini Kang Piat-ho?”

Berbareng itu ia terus menarik kain kedoknya sehingga kelihatan wajahnya yang penuh berewok.

Semua orang sudah pernah melihat Kang Piat-ho dan wajah ini memang bukan wajahnya. Keruan semua orang sama melongo.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Buyung Siang.

“Kalau kau bukan Kang Piat-ho, habis Kang Piat-ho berada di mana?” tanya Buyung San.

“Kang Piat-ho berada di sini!” bentak si baju hitam mendadak sambil menerjang ke tempat sembunyi Siau-hi-ji dan berteriak, “Kang Piat-ho, ayo keluarlah!” Sekaligus telapak tangannya terus menghantam secepat kilat.

Terkejut juga Siau-hi-ji melihat serangan kilat itu terpaksa ia menangkis sambil membentak, “Kau sendiri samaran Kang Piat-ho, memangnya kau dapat membohongi orang?”

“Kau sendiri samaran Kang Piat-ho, memangnya kau dapat membohongi orang?” si baju hitam juga balas membentak dengan ucapan yang sama.

“Siapa kau jika bukan Kang Piat-ho?” bentak Siau-hi-ji pula.

“Siapa kau jika bukan Kang Piat-ho?” si baju hitam menirukan.

Tentu saja Siau-hi-ji sangat mendongkol, tiba-tiba ia mendapat akal, ia terus mencaci maki, “Kang Piat-ho, kau bangsat keparat, kau setan belang, kau anak haram, maknya dirodok!”

Jelas-jelas Kang Piat-ho sudah terkenal sebagai “pendekar besar yang berbudi”, Siau-hi-ji yakin ia pasti tidak mau memaki dirinya sendiri.

Di luar dugaan, si baju hitam ternyata juga menirukan caci makinya, “Kang Piat-ho, kau bangsat keparat, kau ….”

“Hahaha!” Siau-hi-ji bergelak tertawa geli, “Seumpama aku tak dapat mendesakmu kembali pada wajahmu yang asli, tapi dapat mendengar kau mencaci maki dirimu sendiri, betapa pun terlampias juga rasa dongkolku. Hahaha, maki diri sendiri sebagai anak haram, sungguh aneh dan lucu!”

“Hahahaha, seumpama aku tak dapat mendesak ….” begitulah si baju hitam kembali menirukan ucapan Siau-hi-ji, persis satu kata pun tidak berbeda. Siau-hi-ji bergelak tertawa geli, ia pun terbahak-bahak tidak kalah gelinya.

Sambil mencaci maki mereka pun terus bertempur. Tentu saja adegan lucu ini membuat semua orang melongo heran.

Kedua orang ini tiada satu pun yang mirip Kang Piat-ho, tapi rasanya salah satu di antaranya pasti samaran Kang Piat-ho, tapi sesungguhnya yang mana? Inilah siapa pun sukar menerkanya.

“Ilmu silat Kang Piat-ho terkenal sebagai nomor satu di daerah Kang-lam, kiranya kabar ini pasti tidak bohong,” ucap Buyung San tiba-tiba.

“Betul, yang lebih tinggi ilmu silatnya pastilah Kang Piat-ho,” tukas Buyung San.

Mendengar ucapan kedua nona itu, meski Siau-hi-ji ada maksud merendahkan ilmu silatnya, tapi khawatir pula kalau kena dikerjai lawan. Dengan sendirinya si baju hitam juga berpikir sama. Karena itulah seketika ilmu silat mereka sukar dibedakan siapa yang lebih kuat.

Terdengar suara gebrakan ramai, barang apa pun kalau tersampuk angin pukulan mereka tentu terhantam hancur.

Diam-diam semua orang ikut kebat-kebit dan tidak berani sembarangan ikut campur. Tertampak kedua orang itu terus bertempur menuju keluar, dari jarak dekat lambat laun menjauh.

Maklumlah si baju hitam memang tidak suka asal usulnya diketahui orang lain, padahal Siau-hi-ji juga begitu, jadi kedua orang berpikiran sama dan dengan sendirinya cara bertempur mereka pun semakin menjauhi orang banyak sedapat mungkin. Tampaknya saja gerak serangan kedua orang bertambah dahsyat, tapi sesungguhnya keduanya sama-sama tidak ingin terlibat lebih lama.

Sekonyong-konyong kedua orang sama-sama melompat mundur, lalu yang seorang lagi lari ke timur dan yang lain kabur ke barat.

Si baju hitam membentak, “Kang Piat-ho, percuma aku mengadu jiwa dengan kau, biarlah hari ini kuampunimu!”

Siau-hi-ji juga membentak lebih keras, “Kang Piat-ho, yang benar akulah yang mengampuni kau!”

Gerakan kedua orang sama cepatnya, ketika rombongan Buyung Siang memburu tiba namun sudah terlambat, apalagi kedua orang itu kabur ke jurusan berlainan sehingga membuat bingung yang hendak mengejar.

Pada saat itulah tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat keluar dari hutan sana dan mengadang di depan Siau-hi-ji, sambil menuding anak muda itu terdengar ia berteriak sambil tertawa, “Aha, inilah Kang Piat-ho, inilah Kang Piat-ho tulen!”

Di bawah cahaya bintang cukup jelas kelihatan bahwa orang ini ternyata Pek Khay-sim adanya, si “pembuat rugi orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri”.

Keruan Siau-hi-ji terkejut dan gusar pula, bentaknya, “He, apa kau sudah gila.”

“Siapa gila? Kau Kang Piat-ho sendiri yang gila!” jawab Pek Khay-sim dengan terbahak-bahak.

“Memangnya kau tidak ingin obat penawar untuk menyelamatkan jiwamu?” jengek Siau-hi-ji gusar.

“Menyelamatkan jiwa siapa?” jawab Pek Khay-sim dengan terkekeh. “Kau membikin susah aku dan aku tidak boleh membikin susah kau?”

Habis itu ia berjumpalitan dan melompat ke belakang terus menghilang pula ke dalam hutan.

Dalam pada itu kakak beradik Buyung sudah memburu tiba, serentak Siau-hi-ji terkepung di tengah.

“Kang Piat-ho, sekali ini kalau kubiarkan kau lolos lagi, maka aku tak mau she Buyung pula,” teriak Buyung Siang dengan murka.

Keruan Siau-hi-ji berjingkrak, jawabnya, “Siapa Kang Piat-ho? Bangsat keparat dialah Kang Piat-ho?!”

“Kau bukan Kang Piat-ho? Lalu kenapa kau lari?” jengek Buyung San.

Melengak juga Siau-hi-ji, pertanyaan ini benar-benar sukar dijawabnya.

Segera Buyung Siang menyambung dengan bentakan pula, “Ya, jika kau bukan Kang Piat-ho mengapa kau tidak serahkan wajahmu untuk kami periksa.”

Karena sudah tertipu satu kali, sekarang mereka tak mau dikibuli lagi, sambil bicara pedang mereka pun bekerja serentak, serangan-serangan maut dilancarkan tanpa ampun.

“Muka seorang lelaki mana boleh disentuh oleh perempuan, konon muka lelaki berlapis emas, muka perempuan berlapis tahi, mana boleh mukaku ikut kena kotoran,” demikian Siau-hi-ji sengaja mengoceh tak keruan, tujuannya cuma untuk membuat marah pihak lawan, dengan demikian ada kemungkinan mendapatkan peluang untuk menerjang keluar.

Benar juga Buyung Siang menjadi gusar dan mendamprat, “Kentut busuk, mukamu sendiri yang berlapis tahil”

“Hm, sebentar kalau kau tertangkap oleh nonamu baru kau tahu rasa apabila kurendam kau di dalam jamban,” teriak Siau-sian-li.

“Sekali pun direndam di dalam jamban juga tidak sudi dipegang-pegang oleh tangan perempuan,” seru Siau-hi-ji.

Lambat-laun semua orang pun dapat menangkap maksud tujuan Siau-hi-ji yang ingin mengobarkan rasa gusar mereka agar perhatian mereka terpencar. Maka mereka tidak gubris lagi kepada ocehannya dan menyerang terlebih kencang.

Koh Jin-giok berwatak polos, tiba-tiba ia berkata, “Aku bukan perempuan, bagaimana kalau aku yang memeriksa wajahmu?”

“Kiranya kau bukan perempuan? Haha, tadinya kusangka kau ini adik perempuan mereka,” ejek Siau-hi-ji.

Setelah berucap demikian, ia jadi merasa geli sendiri dan hampir tertawa, pada saat itulah, “bret”, baju di bagian dadanya terobek oleh sabetan pedang lawan, untung ilmu silatnya sudah maju pesat, kalau tidak, mungkin perut pun sudah terobek.

Namun Siau-hi-ji tetap tidak gentar dan masih mengoceh panjang pendek, soalnya ia menyadari keadaannya yang berbahaya, untuk bisa lolos dengan selamat lebih dulu harus membuat pihak lawan marah.

Tapi begitu jauh ternyata belum ada peluang baginya, Cin Kiam dan Lamkiong Liu belum ikut lagi menyerangnya melainkan cuma berjaga di samping saja, segera ia berolok-olok pula, “Haha, para menantu keluarga Buyung biasanya dikagumi orang Kangouw karena dapat mempersunting para nona cantik keluarga Buyung, tapi menurut pandanganku sekarang adalah lebih baik mencari istri bermuka burik atau berkaki pincang daripada diperbudak oleh nona-nona cantik tapi galak ini.”

Meski tidak ingin menggubrisnya, tapi Buyung Siang merasa tidak tahan, segera ia mendamprat, “Dasar mulut anjing tak mungkin keluar gadingnya. Memangnya kau anggap kami kakak beradik keluarga Buyung ini perempuan murahan dan kurang baik dibanding orang lain?”

“Biarpun nona-nona keluarga Buyung memang cantik, tapi menjadi menantu keluarga Buyung tetap sial dan konyol,” teriak Siau-hi-ji. “Coba lihat, sang istri lagi berteriak-teriak di sini, tapi sang suami tetap diam saja, bahkan kentut pun tidak berani. Sang istri lagi berkelahi dengan orang, suami malah menonton doang. Haha, apa artinya hidup di dunia ini menjadi suami takut bini begini, jika aku, huh, sejak tadi mungkin aku sudah membunuh diri saja.”

Di mulut dia terus mengoceh dengan riang, tapi pundaknya kembali terluka, meski tidak parah, namun darah sudah lantas mengucur.

Terdengar Cin Kiam menjengek, “Sebenarnya orang she Cin tidak suka main kerubut, tapi mulutmu terlalu kotor, terpaksa aku harus bertindak.” Di tengah ucapan itu sekaligus ia menyerang tiga kali.

Rupanya ocehan Siau-hi-ji itu tidak membawa hasil yang diharapkannya, lawan tidak menjadi marah dan kacau, sebaliknya malah menambah seorang pengeroyok yang tangguh, keruan ia tambah kewalahan.

Walaupun di dalam hati diam-diam ia mengeluh, tapi mulutnya tetap tidak mau kalah, dengan tertawa ia berseru, “Lamkiong Liu, kenapa kau tidak maju saja sekalian, apa barangkali ilmu silatmu tidak ada harganya untuk dipamerkan, hidupmu hanya mengandalkan sang istri saja?”

Air muka Lamkiong Liu rada berubah, mendadak ia berucap dengan suara berat, “Hok-kiat…Hu-ham….”

Begitulah berturut-turut ia menyebut beberapa tempat Hiat-to dan serentak tiga pedang terus menusuk ke tempat yang disebut itu. “Bret”, kembali lengan Siau-hi-ji tergores luka pula.

Supaya maklum bahwa Lamkiong Liu adalah keturunan keluarga bangsawan Lamkiong yang terkenal dengan ilmu silatnya yang khas, Lamkiong Liu sendiri berbadan lemah, ia jarang bertempur dengan orang, tapi sebagai keturunan satu-satunya dari keluarga Lamkiong yang bersejarah itu, dengan sendirinya pengetahuan ilmu silatnya jauh berbeda dengan orang lain.

Kini Lamkiong Liu hanya menonton tenang saja di samping, setiap kali mulutnya menyebut, setiap kali pula Siau-hi-ji kelabakan menghindarnya.

Terdengar Lamkiong Liu menyebut pula, “Leng-pun, Tiong-gu…Seng-hu ….”

“Sret-sret-sret”, setelah dua-tiga kali gebrak, benar juga bagian Hiat-to yang disebutnya di tubuh Siau-hi-ji kembali tertusuk pedang.

Sebenarnya Siau-hi-ji sudah bersiap-siap untuk menghindar ketika Lamkiong Liu menyebutkan tempat Hiat-to yang diserang, tapi begitu serangan tiba ia sendiri justru sukar menghindarnya.

Seperti diketahui, penonton memang lebih tenang daripada pemain, apalagi Lamkiong Liu memang dapat menguasai seluruh permainannya, setiap gerak serangan Siau-hi-ji hampir boleh dikatakan diketahuinya dengan baik, maka petunjuknya tadi dengan sendirinya adalah titik kelemahan Siau-hi-ji.

Terdengar Lamkiong Liu sedang berkata lain, “Yu-bun, Tong-kok…Yang-coan!”

“Yong-coan-hiat” yang disebut itu tepat berada di bawah telapak kaki, tentu saja Siau-hi-ji melengak mendengar Hiat-to yang disebut itu, ia pikir masakah pedang kalian akan dapat menusuk telapak kakiku?

Pada saat itu juga tiba-tiba pedang Buyung San lagi menusuk ke arah Yu-bun dan Tong-koh-hiat, sebenarnya Siau-hi-ji dapat mengelak, tapi pedang lawan lain telah menutup jalan mundurnya, dalam keadaan kepepet tanpa pikir terpaksa dia angkat sebelah kakinya untuk menendang pergelangan tangan Buyung San yang memegang pedang itu.

Walaupun Buyung San terpaksa melompat mundur, tapi pada saat itu juga pedang Buyung Siang lantas menusuk dan tepat mengenai Yong-coan-hiat di telapak kaki Siau-hi-ji. Meski tusukan itu tidak mengenainya karena Siau-hi-ji bersepatu kulit, tapi tidak urung ia pun kaget sehingga berkeringat dingin.

“Siau-hong…Wi-tong…Im-kok ….” terdengar Lamkiong Liu berkata pula dengan perlahan.

Sekali ini Siau-hi-ji menaruh perhatian penuh untuk menjaga Im-kok-hiat, di luar dugaan Hwe-yang-hiat di bagian punggung mendadak sudah tertusuk pedang dan pada saat yang sama pula Lamkiong Liu sedang menyebut “Hwe-yang-hiat”.

Jadi tanpa turun tangan sendiri Lamkiong Liu tidak kalah lihainya dari pada jago kelas wahid yang mana pun juga. Diam-diam Siau-hi-ji menghela napas dan putus asa, gumamnya, “Ya, sudahlah -.”

Tak terduga, pada saat itu juga dari jauh tiba-tiba berkumandang suara jeritan Buyung Kiu, “Tolong…tolong ….? Kau bangsat keparat Kang Piat-ho…Tolong Jici, Samci, tolong ….” terdengar suaranya makin lama makin menjauh.

Buyung San terkejut, keluhnya, “Wah, celaka! Kita telah lupa meninggalkan Kiu-moay di Sutheng sana.”

“Kenapa dia tidak ikut kemari,” ucap Buyung Siang dengan khawatir.

“Jadi Kang Piat-ho berada di sana,” tanya Siau-sian-li.

“Orang ini ternyata bukan Kang Piat-ho,” sambung Koh Jin-giok.

Beramai-ramai mereka lantas berteriak dan membentak terus memburu ke arah Buyung Kiu, hanya Lamkiong Liu yang berangkat terakhir, sebelum melangkah pergi ia memberi hormat dulu kepada Siau-hi-ji dan berkata, “Maaf.”

Dengan tersenyum kecut Siau-hi-ji menjawab, “Orang yang takut bini di seluruh dunia mungkin kau nomor satu, orang macam kau ini memang setimpal memperistrikan wanita macam apa pun juga.”

“Kepandaian saudara sesungguhnya lain daripada yang lain,” ucap Lamkiong Liu dengan tersenyum. “Tampaknya saudara menghimpun intisari berbagai ilmu silat di dunia ini dan menjadi suatu aliran tersendiri, cuma sayang permainanmu belum lagi lancar, tampaknya banyak peluang dan titik kelemahannya, mungkin disebabkan saudara terlalu banyak memikirkan hal tetek bengek dan tak dapat memusatkan perhatian untuk berlatih. Bilamana hal ini dapat saudara perbaiki kelak, sekalipun aku memberi petunjuk di samping seperti kulakukan tadi rasanya mereka pun bukan tandinganmu.”

Siau-hi-ji melengak, tanyanya, “Untuk apa kau bicara demikian padaku?”

“Sesungguhnya saudara memang bukan Kang Piat-ho, sebab permainan Kang Piat-ho pasti tidak kaku begini,” ujar Lamkiong Liu.

“Kau sudah tahu, mengapa tidak kau katakan sejak tadi?” tanya Siau-hi-ji gusar.

“Meski Cayhe sudah tahu hal ini sejak tadi, tapi waktu itu aku memang ingin tahu pula siapakah saudara ini sebenarnya, sebab itulah aku tidak bersuara, tapi sekarang Kiu-moay menghadapi bahaya, dengan sendirinya soalnya menjadi lain.”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Mungkin tadi aku mencemoohkan kau, maka kau sengaja membikin susah padaku.”

“Jika bukannya hatiku rada menyesal, mana Cayhe mau berkata seperti itu padamu,” ucap Lamkiong Liu dengan tersenyum sambil melangkah pergi.

Lamkiong Liu sudah menghilang di kejauhan, tapi Siau-hi-ji masih merenungkan ucapannya tadi, makin dipikir makin tidak tenteram.

“… mungkin saudara terlalu banyak memikirkan urusan tetek-bengek sehingga tak dapat memusatkan perhatian ….” demikian Siau-hi-ji mengulang ucapan Lamkiong Liu tadi, ia merasa kata-kata itu benar-benar kena di lubuk hatinya.

Setelah tertegun sejenak, segera ia melangkah ke depan, ia ingin mencari Pek Khay-sim yang suka merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri itu untuk membikin perhitungan dengan dia.

Sambil berjalan ia pun bergumam sendiri, “Aneh, mengapa mendadak Pek Khay-sim tidak takut mati sehingga obat penawar juga tidak diperlukan lagi? Dan bagaimana pula tentang Buyung Kiu, mengapa dia bisa muncul di sini dan saat ini apakah betul telah ditawan oleh Kang Piat-ho?”

Sungguh Siau-hi-ji tidak habis mengerti mengenai nona kesembilan keluarga Buyung itu, waktu orang mencarinya tidak diketemukan, tahu-tahu dia muncul di sini secara aneh, kemudian diculik lagi oleh Kang Piat-ho, semuanya ini sungguh membuatnya bingung.

Karena tetap tidak paham apa yang terjadi, Siau-hi-ji sungkan untuk memikirkannya lagi, terasa sakit luka-luka di sekujur badannya, ia lantas duduk di bawah pohon untuk istirahat.

Sebenarnya luka itu tiada artinya bagi tubuh Siau-hi-ji yang sudah tergembleng ibarat otot kawat tulang besi itu, walaupun luka itu cukup sakit, tapi sama sekali tak dihiraukannya.

Sementara itu bintang-bintang mulai jarang, ufuk timur sudah mulai remang-remang, fajar telah tiba, kicau burung mulai ramai di tengah hutan, jagat raya ini terasa tenang dan damai.

Siau-hi-ji memejamkan matanya dan bergumam, “Mungkin aku memang terlalu banyak mengurusi hal tetek bengek, tapi orang kan juga harus bekerja dan tidak boleh cuma makan melulu, apalagi kalau urusan sudah menimpa dirimu, ingin menghindar juga sukar.”

Padahal yang benar adalah dia sendiri tidak mampu hidup prihatin, asal menganggur dua hari, sekujur badan terasa pegal linu malah, kalau tidak mencari sesuatu perkara rasanya tidak enak.

Tapi saat ini, pada waktu fajar baru menyingsing di hutan yang damai ini ia benar-benar ingin memejamkan mata untuk menikmati ketenangan yang sukar dicari.

Siapa tahu, pada saat demikian tiba-tiba terdengar seseorang sedang memanggilnya, “Siau-hi-ji…Kang Siau-hi…di mana engkau?”

Siau-hi-ji melonjak bangun, gumamnya sambil menyengir, “Urusan benar-benar datang mencari padaku. Tapi entah siapa yang memanggilku ini? Dari mana pula dia mengetahui aku berada di sini?”

Didengarnya orang itu sedang berseru pula, “Siau-hi-ji, kutahu engkau berada di dalam hutan, lekas keluar, ada urusan penting ingin kukatakan padamu. Ayolah lekas keluar!”

Suara itu terasa mirip suara Buyung Kiu.

Mata Siau-hi-ji terbeliak, ucapnya dengan tertawa, “Jika Buyung Kiu, kedatangannya sungguh kebetulan, memangnya aku ingin mencari dia dan dia telah datang sendiri.”

Ia coba sembunyi di balik pohon dan mengintai ke sana. Terlihat seorang berjubah panjang dengan rambut semampir di pundak dan sedang melangkah datang menyongsong remangnya fajar sehingga tampaknya mirip malaikat pegunungan yang baru turun dari langit. Siapa lagi dia kalau bukan Buyung Kiu.

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melompat ke depan si nona sambil menjerit, “He!”

Buyung Kiu seperti berjingkat kaget, dia meraba dadanya dan mengomel, “Ai, kau ingin membikin aku kaget dan linglung lagi?”

Siau-hi-ji memandangnya dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas, katanya kemudian dengan tertawa, “Wah, setengah hari tidak bertemu tampaknya kau bertambah cantik.”

“Setengah hari tidak berjumpa, tampaknya kau bertambah cakap,” nona itu pun balas menyanjung.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, Buyung Kiu ternyata juga bisa berucap demikian dan juga bisa merayu, sungguh aneh bin ajaib!”

“Semua perempuan dapat merayu, soalnya bergantung pihak lawan berharga untuk dirayu atau tidak?” kata Buyung Kiu.

“Kau tidak benci lagi padaku?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Hati perempuan sering kali berubah dengan cepat, masakah kau tidak paham?” tanya si nona.

Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya, “Benar, cinta perempuan kepada seorang saja tak dapat bertahan lama apalagi membenci seseorang.”

Buyung Kiu berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Hanya orang yang pernah tertipu oleh perempuan yang dapat memahami perempuan sedalam ini. Dari ucapanmu kukira kau pasti pernah mengalami sesuatu.”

“Ya, aku memang pernah tertipu oleh perempuan,” kata Siau-hi-ji.

“Siapa yang pernah menipumu?” tanya Buyung Kiu dengan tertawa. “O, jangan-jangan nona Thi itu?”

Hati Siau-hi-ji terasa sakit, teriaknya mendadak, “Bukan!”

“Habis siapa?” tanya si nona.

“Buyung Kiu!” seru Siau-hi-ji sambil melotot.

“Bilakah pernah kutipu kau?” tanya si nona dengan mengikik.

Mata Siau-hi-ji bersinar, katanya sekata demi sekata, “Kau bukan Buyung Kiu!”

“Aku bukan Buyung Kiu?” si nona menegas dengan tertawa. “Hah, apa kau sinting, kau tidak kenal aku lagi?”

Dengan terbelalak Siau-hi-ji memandangnya sejenak, mendadak ia meloncat tinggi-tinggi, lalu jumpalitan dua kali, waktu berdiri lagi, dia kucek-kucek matanya, akhirnya ia terbahak-bahak, katanya, “Meski kupikir tidak mungkin engkau, tapi rasanya toh pasti engkau adanya.”

“Memangnya kau kira aku ini siapa?”

“Hahahaha!” serentak Siau-hi-ji pegang tangan si nona dan berteriak, “Engkau bibi To, To Kiau-kiau!”

“Buyung Kiu” terbelalak memandangi Siau-hi-ji hingga sekian lamanya, akhirnya ia pun tertawa dan berkata, “Setan cilik, betapa pun kau memang pintar dan dapat kau kenali diriku. Di seluruh dunia ini kecuali kau mungkin tiada seorang pun dapat mengetahui samaranku ini.”

“Bukan kukenalimu, aku cuma berpikir kalau ‘Buyung Kiu’ ini bukan Buyung Kiu, habis di dunia ini siapakah yang dapat menyamar Buyung Kiu semirip ini?”

“Dengan sendirinya hanya bibi To saja, bukan?” tukas To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Betul, cuma…cuma aku masih ragu-ragu apakah betul bibi To dapat datang ke sini? Sungguh mimpi pun aku tidak menyangka engkau dapat meninggalkan Ok-jin-kok.”

Tiba-tiba To Kiau-kiau menghela napas, katanya dengan perlahan, “Banyak urusan di dunia ini sukar diduga orang.”

Terbelalak mata Siau-hi-ji, tanyanya, “Sungguh tak terpikir olehku bahwa bibi To juga bisa menghela napas, juga tak terpikir olehku mengapa engkau dapat meninggalkan Ok-jin-kok, lebih-lebih tak menyangka bahwa engkau ternyata tahu jelas urusanku sehingga menyamar sebagai Buyung Kiu.”

Sesungguhnya memang banyak persoalan yang sukar dipahami Siau-hi-ji, maka sekaligus telah ditanyakan seluruhnya.

“Kau memberondong diriku dengan pertanyaan sebanyak ini, lalu cara bagaimana aku harus menjawab?” ucap To Kiau-kiau.

“Sudah beberapa lama bibi To meninggalkan Ok-jin-kok?”

“Kira-kira sudah…sudah setengah tahun.”

“Selama dua tahun ini pada hakikatnya tidak ada orang tahu aku berada di mana, lalu dari mana bibi To mengetahui urusanku dan mengapa dapat menyaru sebagai Buyung Kiu?”

“Setelah meninggalkan Ok-jin-kok, meski sepanjang jalan telah kudengar sedikit perbuatanmu yang gemilang, tapi benar-benar aku tidak tahu kau berada di mana. Ingin kucari keterangan juga sukar kuperoleh.”

Siau-hi-ji merasa bangga, matanya berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Sudah tentu engkau tak dapat memperoleh keterangan apa-apa, bilamana aku mau sembunyi, setan juga tidak dapat menemukan diriku.”

“Tapi tanpa sengaja beberapa hari yang lalu telah kutemukan kau.”

“Hah, beberapa hari yang lalu engkau menemukan aku!? Mengapa aku tidak tahu?”

“Bukan saja aku menemukan kau, bahkan telah bicara denganmu,” tutur To Kiau-kiau dengan tertawa.

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala yang tidak gatal, katanya dengan menyengir, “Sungguh aneh…engkau telah bicara denganku? ….”

To Kiau-kiau terkekeh-kekeh, katanya, “Waktu itu kau bengis sekali, aku dibentak agar enyah dengan mata melotot, sungguh aku menjadi ketakutan dan lekas-lekas enyah menjauhimu.”

Siau-hi-ji berjingkrak sambil tertawa, “Haha, tahulah aku…engkau adalah ….”

“Aku adalah pelayan bodoh di bawah loteng tempat tinggal Lo bersaudara,” tukas To Kiau-kiau.

“Wah, sungguh aku sangat kagum padamu, mirip benar penyamaranmu itu, mimpi pun tak pernah terpikir olehku bahwa pelayan itulah samaranmu.”

“Sudah tentu tak terpikir olehmu, jika aku mau sembunyi, biar setan juga tak dapat menemukan diriku,” ucap To Kiau-kiau dengan berkedip-kedip dan menirukan lagak-lagu anak muda itu.

Siau-hi-ji berkeplok tertawa, “Bagus, bagus! Untung engkau tidak menyaru sebagai diriku, kalau tidak, bisa jadi aku sendiri pun tidak dapat membedakan antara Kang Siau-hi tulen dan palsu.”

Setelah bergelak tertawa sejenak, tiba-tiba ia bertanya pula, “Tapi sebelum itu engkau tidak pernah melihat aku, bukan?”

“Ya, tidak,” jawab To Kiau-kiau.

“Dengan sendirinya kau pun tak pernah menyangka aku akan datang ke tempat Lo Kiu dan Lo Sam.”

“Aku bukan malaikat dewata, dengan sendirinya tak dapat meramalkan apa yang belum terjadi.”

“Jika begitu mengapa engkau dapat menyaru sebagai pelayan bodoh dan sembunyi di sana untuk menunggu kedatanganku?”

“Tujuanku bukan menunggu kedatanganmu.”

“Habis untuk apa engkau sembunyi di sana?”

Tiba-tiba mata To Kiau-kiau memancarkan sinar yang buas, ucapnya sekata demi sekata, “Tujuanku adalah kedua Lo bersaudara itu.”

“Aha, tahulah aku, mereka bersaudara tentunya ada permusuhan apa-apa denganmu.”

“Rahasia di balik persoalan ini tidaklah kau ketahui!”

“Memangnya ada rahasia apa?”

“Kepergianku dari Ok-jin-kok kali ini, selain mencari dirimu juga ingin mencari lagi dua orang lain.”

“Jadi yang kau cari ialah mereka berdua?”

To Kiau-kiau tidak langsung menjawabnya, dengan perlahan ia menutur, “Dua puluh tahun yang lalu, lima daripada sepuluh Ok-jin telah terpaksa kabur ke Ok-jin-kok, tatkala mana urusannya sangat gawat, mereka kabur dengan sangat terburu-buru sehingga banyak barang penting tidak sempat dibawa.”

“Betul, engkau dan paman Li, paman Toh dan lain-lain sudah berpuluh tahun malang melintang di dunia Kangouw, dengan sendirinya tidak sedikit barang yang terkumpul, dan kalau ada barang yang dapat menarik perhatian kalian tentulah barang yang cukup berharga.”

“Memang, makanya kami pun merasa berat meninggalkan barang-barang itu. Kalau tidak sempat lagi dibawa serta, jalan yang baik adalah menyerahkannya kepada orang lain dan minta dia mengantarkannya ke Ok-jin-kok kelak.”

“Lalu kalian serahkan kepada siapa?”

“Kau tahu, di dunia Kangouw pada hakikatnya kami tidak punya teman, hanya lima orang lagi dari Cap-toa-ok-jin yang sekadarnya masih dapat dikatakan kawan sehaluan.”

“Ya, ya, untuk ini aku cukup paham,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Oleh karena itu kami terpaksa menyerahkan barang-barang itu kepada mereka, cuma Ong-say Thi Cian selalu angin-anginan, kalau lagi kumat penyakit gilanya sering kali dia lupa daratan sehingga jiwa sendiri pun tak terpikir apalagi barang titipan orang lain. Sedangkan Pek-Khay-sim yang sok merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri itu lebih-lebih tak dapat dipercaya, apalagi ia musuh Li Toa-jui.”

“Dan kalau dititipkan kepada Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, khawatir diludeskan pula di meja judi,” sambung Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Memang begitulah,” ucap To Kiau-kiau dengan mengikik geli. “Setan judi itu boleh dikatakan berjudi selama hidup, ia anggap kemahirannya berjudi itu jauh lebih pintar daripada siapa pun juga, akan tetapi dia lebih sering kalah habis-habisan sehingga celana pun digadaikan, kalau dia sudah mulai berjudi, baru akan berhenti bila sudah Thian-kong (langit bersih alias terang tanah atau menjelang pagi), Jin-kong (orang sudah bersih, artinya sudah pulang semua) dan Jian-kong (uang bersih). Dari sinilah dia mendapatkan nama Sam-kong (tiga kali Kong) alias ludes sama sekali.”

“Ada pemeo yang mengatakan, ‘Malaikat juga akan kalah jika judi lama’. Apalagi dia bukan malaikat melainkan setan judi saja. Tentu saja dia lebih sering kalah daripada menangnya,” sambung Siau-hi-ji.

“Nah, maka waktu itu kami bermaksud menitipkan barang itu kepada Siau Mi-mi, tapi si tukang pikat itu justru sukar ditemukan jejaknya, entah sembunyi di mana.”

“Sudah tentu kalian tak dapat menemukan dia karena dia telah sembunyi di istananya yang berada di bawah tanah,” ucapan ini hampir tercetus dari mulut Siau-hi-ji, tapi akhirnya urung, dia hanya membatin saja.

Maka terdengar To Kiau-kiau lagi melanjutkan, “Oleh sebab itu, setelah kami pertimbangkan bolak-balik, akhirnya kami serahkan barang kami kepada kedua Auyang bersaudara.”

“Apakah kedua Auyang bersaudara itu masing-masing berjuluk ‘mengadu jiwa juga ingin untung’ dan ‘mati-matian juga tidak mau rugi’?” tanya Siau-hi-ji.

“Betul, justru karena mereka terlalu kikir dan selalu main Swipoa ‘ting-tong’, makanya nama mereka pun disebut Auyang Ting dan Auyang Tong,” tutur To Kiau-kiau pula. “Kalau kami menitipkan barang kepada mereka tentunya tidak perlu khawatir barang itu akan hilang?”

“Tapi menurut pendapatku, kedua Auyang bersaudara itu justru lebih-lebih tidak dapat dipercaya,” ujar Siau-hi-ji. “Kalau mati pun mereka ingin cari untung, maka sama saja kambing disodorkan ke mulut harimau bilamana barang-barang itu kalian titipkan pada mereka.”

“Waktu itu kami pun mempertimbangkan hal itu, namun ada suatu kelemahan mereka, yakni selama hidup mereka paling takut kepada Toh Sat si tangan berdarah yang selamanya suka membunuh orang itu. Sebab itulah kami yakin mereka pasti tidak berani menggelapkan barang titipan itu. Siapa tahu kedua Lo bersaudara segera main Swipoa, mereka yakin bila Toh Sat sudah kabur ke Ok-jin-kok tentu tak berani muncul lagi ke dunia luar, lalu kenapa harus takut lagi padanya. Dengan demikian barang titipan kami benar-benar telah dimakan oleh mereka.”

“Haha, kedua bersaudara itu sungguh hebat, mereka tidak takut perut akan kembung sehingga barang kalian pun dimakannya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Dengan sendirinya kami menunggu di Ok-jin-kok, tunggu punya tunggu, setelah sekian tahun barang titipan itu tetap belum mereka antar ke sana. Maka kami lantas bersumpah pada suatu hari pasti akan mencari mereka untuk membikin perhitungan.”

“Makanya begitu meninggalkan Ok-jin-kok segera engkau mencari mereka.”

“Betul,” kata To Kiau-kiau.

“Jangan-jangan antara kedua Auyang bersaudara itu ada hubungannya dengan kedua Lo bersaudara?” ucap Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Kedua Auyang bersaudara tak-lain tak-bukan adalah kedua Lo bersaudara!” kata To Kiau-kiau sekata demi sekata.

“Pantas cara mereka begitu keji,” seru Siau-hi-ji. “Aku memang sudah mencurigai asal usul mereka pasti tidak biasa. Cuma setahuku, bentuk kedua Lo bersaudara itu sama sekali berbeda daripada Auyang bersaudara”

“Selama beberapa tahun ini mereka sengaja membikin tubuh mereka menjadi besar dan gemuk sehingga lebih mirip gajah bengkak. Padahal semula mereka kurus seperti cacing, setelah gemuk, wajah mereka pun berubah jauh sehingga sukar lagi dikenali. Kedua orang ini sungguh pintar dan cerdik, entah dari mana mereka mendapatkan resep cara penyamaran yang bagus ini.”

“Ya, menyamar dengan daging yang tumbuh secara wajar di tubuhnya itu sungguh cara yang sukar dipelajari dan benar-benar cara alami yang paling bagus!” tukas Siau-hi-ji.

“Karena tak dapat menemukan kedua Auyang bersaudara, kemudian kudengar beberapa kejadian yang diperbuat kedua Lo bersaudara akhir-akhir ini, sehingga timbul rasa curigaku, makanya aku lantas menguntit ke sini. Tapi waktu pertama kali kulihat mereka rasanya aku sendiri pun tidak percaya mereka adalah kedua Auyang bersaudara yang dulunya sekurus kulit membungkus tulang itu.”

“Tapi engkau tetap curiga dan ingin menyelidiki dengan jelas, maka ….”

“Maka salah satu pelayannya lantas kuseret keluar dan kusembelih, lalu aku menyamar menjadi pelayan itu sendiri dan mereka ternyata tidak dapat mengenaliku.”

“Orang sepintar engkau menyaru sebagai pelayan bodoh, memangnya siapa yang dapat mengetahui?” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Dan akhirnya aku pun dapat melihat titik kepalsuan mereka dan ternyata mereka adalah Auyang bersaudara, tapi kalau kubongkar rahasia mereka pada saat itu juga, kukhawatir mereka akan sempat kabur, andaikan tertangkap juga mungkin mereka tak mau mengaku di mana barang titipan itu disembunyikan mereka.”

“Makanya engkau ingin menyelidiki dulu berada di mana barang titipan itu baru kemudian membekuk mereka,” tukas Siau-hi-ji.

“Ya, bilamana aku tidak sabar dan menunggu hingga kini, memangnya tadi kau kira dapat lolos dengan selamat?”

“Memang betul,” ucap Siau-hi-ji sambil menyengir. “Tidak perlu soal lain, hanya mengenai penyamaranmu sebagai budak bodoh itu, jika tidak setiap hari bergaul langsung dengan Buyung Kiu, cara bagaimana dalam waktu sesingkat itu engkau dapat menyaru sebagai Buyung Kiu dengan semirip ini?”

“Sebenarnya aku tidak tahu gadis linglung itu adalah Buyung Kiu, tapi kernudian aku merasa kelakuannya rada aneh, maka di waktu iseng aku lantas membuat sebuah kedok yang mirip wajah Buyung Kiu. Kalau tidak dalam waktu sesingkat ini mana aku sanggup menyamar dia?”

Biji mata Siau-hi-ji berputar, tiba-tiba ia menjengek, “Hm, kukira kedok yang kau buat ini bukan lantaran waktu iseng belaka.”

To Kiau-kiau tertawa, tanyanya, “Habis apa sebabnya menurut kau?”

“Pasti terpikir olehmu bilamana perlu Buyung Kiu akan kau sembelih. Lalu engkau menyaru dia, dengan demikian kedua Lo bersaudara lebih-lebih tidak akan curiga padamu, dan urusan yang akan kau selidiki menjadi lebih mudah pula.”

“Hihi, kau setan cilik ini memang pintar, hanya kau yang dapat menerka isi hatiku,” ucap To Kiau-kiau sambil mengikik.

“Meski rencanamu itu sangat baik, siapa tahu Buyung Kiu telah kubawa pergi sehingga kedokmu ini tiada gunanya lagi, maka sekaligus lantas kau gunakannya untuk menolong diriku.”

“Huh, kau setan cilik ini benar-benar tidak tahu kebaikan orang. Kuselamatkan kau, memangnya cuma lantaran kedok yang kau kira tak berguna lagi itu?”

Siau-hi-ji hanya tertawa dan tidak menjawab.

“Begitu kulihatmu waktu itu, segera kutahu kau pasti lagi main gila, makanya setiap saat selalu kuperhatikanmu. Pagi tadi, waktu kau dan Oh-ti-tu menyuruh Buyung Kiu menulis surat juga telah kudengar,” To Kiau-kiau tertawa genit, lalu menyambung pula, “Coba, kalau aku tidak berjaga di luar bagi kalian mungkin tadi pagi kalian sudah kepergok oleh Auyang bersaudara.”

Terkejut juga Siau-hi-ji dalam hati, tapi dia sengaja berlagak tenang, katanya dengan tertawa, “Seumpama kepergok juga tidak jadi soal.”

“Haha, rupanya mati pun kau tidak mau terima kebaikan orang,” ucap To Kiau-kiau tertawa.

“Agaknya kau dengar isi surat itulah, makanya kau tahu malamnya kami akan pergi ke Sutheng itu -.”

“Ya, kecuali itu aku pun telah bertemu dengan seorang.”

“Pek Khay-sim?” tukas Siau-hi-ji.

“Hihi, kulihat dengan jelas waktu kau menggelintir pil daki dari kelekmu.”

“Aneh, jadi engkau berada di sekitar situ, mengapa aku tidak mendengar?”

“Dengan kemampuanmu sekarang sebenarnya kau dapat mendengarnya,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Cuma waktu itu Pek Khay-sim duduk menghadap ke arahku, diam-diam aku telah memberi isyarat padanya agar dia berteriak-teriak untuk memencarkan perhatianmu, apa pula waktu itu kau sedang kegirangan, maka tidak memperhatikan hal lain.”

“Tampaknya dalam keadaan bagaimanapun seseorang tidak boleh terlalu gembira dan lupa daratan,” ucap Siau-hi-ji dengan nyengir. Mendadak ia menambahkan pula, “Hah, pantas tadi Pek Khay-sim tidak menanyakan obat penawar lagi padaku, rupanya kau telah memberitahukan padanya bahwa yang dimakannya itu bukan racun melainkan pil dari daki saja, makanya dia ingin mencelakai aku untuk melampiaskan dendamnya.”

“Kejadian ini sesungguhnya sangat kebetulan, kalau tidak mana kau dapat berbuat sesukamu?” ucap To Kiau-kiau dengan tertawa. “Cuma apa pun juga yang konyol adalah Kang Piat-ho itu.”

“Kalau mau membikin susah orang, baru ada artinya bilamana sasarannya orang macam dia itulah,” kata Siau-hi-ji. “Jika orang baik-baik juga diganggu, maka lebih baik tidur di rumah saja.”

To Kiau-kiau termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, ucapanmu juga betul, mengganggu orang busuk memang jauh lebih menarik daripada membikin susah orang baik-baik. Apalagi orang busuk pada umumnya dalam hati sendiri sudah merasa berdosa, jika kau ganggu dia paling-paling dia anggap dirinya yang sial dan tidak berani menyiarkan apa yang terjadi. Lagi pula seumpama orang lain mengetahui apa yang telah kau lakukan terhadap dia, tentunya kau akan dikagumi dan takkan ada yang membela orang busuk itu.”

“Sebab itulah, sebaiknya tirulah aku, hanya mengganggu orang busuk dan tidak mengganggu orang baik-baik, dengan demikian kegemaranmu mengganggu orang akan terpenuhi, sebaliknya kau pun tidak perlu main sembunyi dan selalu takut dicari pihak yang kau ganggu. Dengan demikian, perbuatanmu akan terpuji, terhormat dan memuaskan pula.”

“Tapi semua perbuatan yang memuaskan itu hampir seluruhnya telah dikerjakan oleh kau setan cilik ini,” ucap To Kiau-kiau dengan cekikik.

“Namun sampai saat ini tetap tak kupahami mengapa engkau meninggalkan Ok-jin-kok.”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya kemudian, “Banyak kejadian di dunia ini sama sekali tak terpikir oleh manusia.”

Tergerak pikiran Siau-hi-ji melihat anggota terkemuka Cap-toa-ok-jin bicara dengan menghela napas, cepat ia tanya, “He, jangan-jangan di Ok-jin-kok sana telah terjadi sesuatu perubahan yang tak terduga.”

“Ya, memang begitulah,” jawab To Kiau-kiau.

“Wah, kejadian itu dapat membuat engkau meninggalkan Ok-jin-kok, tentu persoalan yang gawat.”

“Ya, memang sangat gawat.”

“Sesungguhnya urusan apakah? Lekas ceritakan!” desak Siau-hi-ji.

“Apakah kau tahu ….”

Belum habis ucapan To Kiau-kiau, tiba-tiba sesosok bayangan melayang tiba dari atas pohon sana sambil berseru, “He, kiranya kalian berada di sini, payah benar kucari kian kemari.”

Yang muncul ini ternyata Oh-ti-tu adanya.

“Ah, kiranya kau!” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Mengapa baru sekarang datang, keramaian yang terjadi tadi tidak kau lihat?”

Dengan menghela napas panjang Oh-ti-tu menjawab, “Wah, hampir saja aku tak dapat melihat kalian lagi.”

Baru sekarang Siau-hi-ji melihat pakaian Oh-ti-tu yang hitam gelap itu kini berlepotan lumpur, rambutnya juga kusut masai, cepat ia tanya, “He, mengapa kau berubah begini?”

“Apalagi kalau bukan lantaran suratmu yang sialan itu?” jawab Oh-ti-tu.

“Aneh, kenapa dengan surat itu?”

“Waktu kuantar surat itu, di rumah Lamkiong Liu sana tiada terdapat seorang pun, diam-diam aku masuk ke sana dan menaruh surat di atas meja -.”

Belum habis cerita Oh-ti-tu, mendadak Siau-hi-ji menyela dengan membanting kaki, “Wah, runyam, mengapa kau masuk ke sana? Kan cukup kau lemparkan saja surat itu ke dalam rumah? Setelah pelayan pribadi mereka disembelih dan dimakan orang, mustahil kediaman mereka tidak dijaga dengan ketat.”

“Ya, memang akulah yang ceroboh,” tutur Oh-ti-tu sambil tersenyum kecut. “Baru saja kutaruh surat itu di meja, mendadak seutas cambuk panjang menyambar tiba, surat itu dililit ke sana. Aku menyadari gelagat jelek dan bermaksud kabur, namun semua jalan keluar sudah diadang orang.”

“Mereka sengaja mengosongkan rumah itu, tujuannya justru memancing kau masuk perangkap, kalau tidak masakan rumah tinggal Lamkiong Liu dan Buyung Siang dapat dibuat keliaran orang sesukanya?”

“Selama hidupku tak pernah berbuat hal-hal begitu, dari mana kutahu akan tindakan mereka yang licik itu,” ucap Oh-ti-tu dengan gusar.

“Ya, ya, engkau adalah ksatria besar yang tulus jujur, aku yang salah omong,” kata Siau-hi-ji tersenyum.

“Waktu itu aku terkejut dan segera hendak menerjang keluar,” tutur Oh-ti-tu lebih lanjut, “siapa tahu orang-orang itu tiada satu pun yang lemah, semuanya lihai, Am-gi mereka pun sangat ampuh, bukan saja tidak berhasil menerjang keluar, bahkan kupikir pasti akan terluka dan tertawan.”

“Setelah mereka membaca surat itu, dengan sendirinya kau harus mereka tawan, tapi demi mendapatkan pengakuanmu, rasanya mereka pun takkan melukaimu.”

“Aku pun tahu mereka cuma ingin menanyai asal-usulku dan tidak menghendaki jiwaku, sebab itu Am-gi mereka tidak diarahkan ke tubuhku yang mematikan, kalau tidak, jelas aku tak sanggup bertahan lagi.”

“Am-gi keluarga Buyung termasyhur sangat lihai, engkau dapat meloloskan diri di tengah kepungan mereka, ini berarti kau lebih lihai daripada mereka,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi kalau melulu mengandalkan tenagaku sendiri mana kusanggup menerjang keluar?”

“Memangnya ada orang telah membantumu?”

“Ya, pada saat aku merasa kewalahan, tiba-tiba seorang melayang tiba, pukulan sakti Koh Jin-giok terkenal hebat, tapi hanya sekali dikebut oleh lengan baju orang itu, kontan orang she Koh itu terlempar jatuh!”

“Hah, begitu pandai ilmu silat orang itu?” seru Siau-hi-ji kaget.

“Sungguh tinggi sekali ilmu silat orang itu dan benar-benar tak pernah kulihat selama hidup ini,” tutur Oh-ti-tu dengan gegetun. “Pada hakikatnya mimpi pun tak terbayang olehku bahwa di dunia ini ada orang berilmu silat selihai itu.”

“Kalau engkau saja kagum padanya, maka pasti luar biasa,” ucap Siau-hi-ji.

“Orang itu hanya mengebaskan lengan bajunya, kontan seluruh senjata rahasia kena disampuk balik ke sana, bahkan jauh lebih kuat daripada datangnya. Tentu saja mereka kaget dan waktu mereka berkelit itulah aku lantas ditarik kabur oleh penolongku itu,” Oh-ti-tu menyengir dan melanjutkan. “Sungguh konyol, aku telah dikempit di bawah ketiaknya dan tak bisa berkutik sama sekali. Tubuh orang itu hanya melejit enteng dan sekaligus sudah mengapung beberapa tombak tingginya laksana orang meluncur di atas awan saja.”

“Wah, ceritamu ini semakin mendewakan orang itu, masa di dunia ini ada manusia sehebat itu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sekarang kau tidak percaya, malahan aku yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri juga hampir-hampir tidak percaya kepada mataku sendiri,” tutur Oh-ti-tu dengan gegetun. “Namun boleh coba kau pikirkan, kalau ilmu silat orang itu tidak sedemikian tingginya mana dia mampu mengempit diriku di bawah ketiaknya?”

“Betul, orang yang mampu mengempit kau di bawah ketiaknya memang tidak mungkin ada di dunia ini,” ujar Siau-hi-ji.

“Tapi justru ada dan sudah terjadi, bukan?” tukas Oh-ti-tu.

“Dan sekarang tentunya kau sudah tahu siapa gerangannya bukan?”

Sampai di sini To Kiau-kiau lantas ikut bertanya, “Bagaimanakah bentuk orang itu?”

“Perawakan orang itu tidak tinggi besar, tapi memiliki tenaga yang sukar diukur,” jawab Oh-ti-tu. “Hanya sebentar aku terkempit di ketiaknya dan seluruh badanku lantas terasa kaku dan pegal, bergerak saja tidak sanggup.”

“Perawakannya tidak tinggi besar”, keterangan ini membuat To Kiau-kiau merasa lega.

Tapi Siau-hi-ji lantas tanya pula, “Dan bagaimana wajahnya?”

“Dia memakai kedok perunggu hijau yang kelihatan beringas, sepasang matanya melotot laksana hantu, selamanya nyaliku sangat besar, tapi melihat mukanya itu tidak urung aku pun merasa ngeri,” jawab Oh-ti-tu.

Melihat si labah-labah hitam yang misterius itu juga merasa ngeri terhadap wajah orang yang diceritakannya itu, tanpa terasa Siau-hi-ji merinding juga.

“Lalu kau dibawa ke mana dan diapakan?” tanya To Kiau-kiau.

“Aku digondol ke atas bukit, lalu melayang pula ke atas pohon dan ditaruh di atas dahan pohon,” tutur Oh-ti-tu. “Karena badanku kaku dan tak bisa bergerak, pada hakikatnya aku pun tak berani bergerak, khawatir kalau terguling ke bawah pohon.”

“Dan dia bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Dia sendiri duduk di suatu dahan pohon dan memandangi aku dengan dingin tanpa bicara. Ranting kayu itu sangat lemas dan ringkih, diduduki anak kecil saja mungkin patah, tapi cara duduknya ternyata sangat enak.”

“Wah benar-benar orang aneh,” ujar Siau-hi-ji dengan gegetun. “Apa orang yang berilmu silat mahatinggi biasanya memang suka berkelakuan aneh-aneh.”

Tio Kiau-kiau berpendapat sebaliknya, ia berkata, “Mungkin dia lagi menunggu ucapan terima kasihmu atas pertolongannya.”

“Tatkala mana meski aku pun bermaksud mengucapkan terima kasih padanya, tapi selama hidupku tidak pernah menerima kebaikan orang lain, betapa pun kata-kata ‘terima kasih’ sukar tercetus dari mulutku,” jawab Oh-ti-tu dengan menyesal.

“Wah, jika begitu mungkin kau bisa celaka,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Memang betul,” kata Oh-ti-tu. “Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dia menutuk dua tempat Hiat-toku dan aku ditinggalkan begitu saja di atas pohon, dia sendiri lantas melayang pergi entah ke mana.” Sampai di sini mendadak ia seperti ingat sesuatu, katanya sambil memandang To Kiau-kiau dengan terbelalak, “Apakah pikiran nona Buyung ini sudah pulih kembali?”

“Hihi, apakah aku tampak sudah pulih kembali -. Aku kok tidak tahu?” jawab To Kiau-kiau dengan nyekikik, habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang.

“Nanti dulu, nona Buyung!” seru Oh-ti-tu terkejut.

Namun To Kiau-kiau tetap lari tanpa berhenti, hanya sekejap saja sudah menghilang di kejauhan.

Oh-ti-tu bermaksud menyusulnya, tapi Siau-hi-ji sempat menariknya, katanya dengan tertawa, “Biarkan saja dia pergi.”

“Tapi dia…mengapa dia ….”

“Jangan urus dia, coba ceritakan lagi apa yang terjadi setelah kau ditinggalkan di atas pohon?”

Sorot mata Oh-ti-tu menampilkan rasa bingung, ia termangu-mangu sejenak, akhirnya ia menyambung ceritanya, “Waktu itu angin meniup semakin keras sehingga tubuhku ikut bergoyang-goyang dan dahan pohon itu seakan-akan patah, dalam keadaan tak bisa bergerak sama sekali, sungguh aku menjadi khawatir dan kelabakan.”

“Kalau dia mau menyelamatkan jiwamu, mengapa dia perlakukan kau pula secara begitu?” ujar Siau-hi-ji.

“Cara begitu dia menolong aku, sungguh akan lebih baik kalau dia tidak menolong aku saja,” ujar Oh-ti-tu dongkol. “Hatiku gelisah dan cemas serta gusar pula, kalau bisa akan kupegang dia dan kugigit dia dengan geregetan. Tapi bila teringat pada ilmu silatnya yang mahatinggi itu, selama hidup rasanya jangan kuharap akan dapat menuntut balas.”

“Kemudian cara bagaimana kau turun dari pohon itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Selagi kupikir hendak menuntut balas padanya, tiba-tiba orang itu datang lagi, dia seperti tahu akan jalan pikiranku, tiba-tiba ia tanya, ‘Apakah kau pikir hendak menuntut balas padaku?'”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Apa yang kau pikirkan aku pun dapat melihatnya, sebab meski mulutmu tidak bicara, tapi sorot matamu sudah mengatakan segalanya.”

“Karena isi hatiku dengan tepat kena dibongkar, aku tambah dongkol dan melototinya dengan gemas,” tutur Oh-ti-tu pula. “Kupikir biarpun diriku akan ditendang ke bawah pohon juga lebih baik daripada tersiksa di atas pohon. Siapa tahu dia malah tertawa, katanya, ‘Sudah kutolong jiwamu, kau tidak berpikir akan balas budi, tapi malah berpikir akan balas dendam?'”

“Lucu juga pertanyaannya,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, waktu itu pun aku tak bisa menjawabnya. Sakit hati harus kubalas, tapi budi juga harus kubalas, aku si hitam ini mana boleh menjadi manusia yang lupa budi dan ingkar kebaikan. Cuma ilmu silatnya kelihatan tinggi, jelas aku tidak mampu membalas dendam, bahkan ingin membalas budi juga tidak tahu bagaimana jalannya. Untuk membalas budi terkadang ternyata jauh lebih sulit daripada membalas dendam.”

“Isi hatimu ini mungkin diketahuinya pula?” ujar Siau-hi-ji.

“Persis, memang betul telah diketahuinya pula,” tukas Oh-ti-tu dengan gegetun, “Belum lagi kubicara dia sudah mendahului bersuara pula, ‘Kau tidak tahu cara bagaimana harus membalas budi, bukan?’ Aku hanya mendengus saja tanpa menjawab, maka ia berkata pula, ‘Jika kau dapat mengantarkan surat bagi orang lain, kenapa kau tidak boleh mengantarkan surat bagiku?’ Tanpa terasa aku lantas tanya, ‘Setelah kuantarkan surat bagimu, apa itu berarti aku sudah membalas budimu?’ Dia hanya mengangguk dan mengeluarkan sepucuk surat dan menyuruh aku mengantarkan kepada…Eh, coba terka, kepada siapa surat itu harus kuantar?”

“Wah, aku tak dapat menerkanya,” jawab Siau-hi-ji.

“Surat itu ternyata ditujukan kepada Hoa Bu-koat,” kata Oh-ti-tu.

Mata Siau-hi-ji bercahaya, katanya dengan tertawa, “Aha, cerita ini benar-benar semakin menarik. Ada hubungan apakah antara dia dengan Hoa Bu-koat? Mengapa kau yang disuruh mengantarkan surat itu? Bukankah dia sendiri dapat bicara langsung dengan Hoa Bu-koat.”

“Bisa jadi dia tidak ingin bertemu dengan Hoa Bu-koat,” ujar Oh-ti-tu.

“Seumpama dia tidak ingin bertemu dengan Hoa Bu-koat, dengan Ginkangnya yang mahatinggi itu sekalipun surat itu dia taruh di samping bantal Hoa Bu-koat juga takkan diketahui oleh orang she Hoa itu.”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Oh-ti-tu tertawa geli, katanya, “Haha, jelas-jelas suatu urusan yang sangat sederhana, tapi setelah direnungkan olehmu persoalan lantas berubah menjadi ruwet. Tadinya kurasakan sangat gamblang persoalan ini, setelah mendengar ucapanmu aku menjadi bingung sendiri.”

“Tapi persoalan ini sekali-kali tidak sederhana,” kata Siau-hi-ji.

“Mungkin lantaran dia merasa aku tidak sanggup membalas budi kebaikannya, maka aku disuruh menjadi pengantar suratnya,” ujar Oh-ti-tu.

“Mungkin betul demikian, orang aneh seperti dia itu memang bisa timbul pikiran aneh pula,” ucap Siau-hi-ji setelah berpikir sejenak. “Bahwa kau tidak sudi utang budi padanya, mungkin juga dia tidak ingin mempunyai piutang budi pada orang lain.”

“Betul, aku tidak punya utang, dengan sendirinya juga tidak ingin memberi kredit pada orang lain, kedua pihak sama-sama tidak berutang, hidup begini barulah aman tenteram, bilamana kutahu ada orang ingin membalas budi padaku, tentu pula aku sendiri akan merasa kikuk.”

“Jika demikian, jadi tabiat kalian berdua ternyata sama anehnya, pantas kalau dia mau menolongmu. Tapi mengenai isi surat itu, apakah kau membacanya?”

“Buset, memangnya kau kira aku si hitam ini suka mengintip surat orang lain?” omel Oh-ti-tu. “Setelah dia membuka Hiat-toku, segera pula kuantarkan suratnya kepada Hoa Bu-koat, apa pun yang tertulis di sampul suratnya pun tak kupandang sama sekali.”

“Engkau benar-benar seorang lelaki sejati, tapi setelah membaca surat itu tentunya Hoa Bu-koat memberi reaksi?” tanya Siau-hi-ji.

“Justru lantaran habis membaca surat itu dia lalu bicara secara aneh, makanya buru-buru kucari kau.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Siau-hi-ji.

“Dia bilang, meski belum lama kukenal Kang Piat-ho, tapi antara kami sudah cukup ada saling pengertian, mana bisa hanya desas-desus orang lain, lantas kutuduh Kang Piat-ho sebagai orang jahat, Locianpwe ini suka berpikir yang bukan-bukan.”

“He, jika begitu surat orang aneh itu ternyata menyangkut diri Kang Piat-ho, bahkan nadanya seperti minta Hoa Bu-koat mempercayai Kang Piat-ho adalah orang baik-baik,” seru Siau-hi-ji.

“Ya, memang begitulah,” jawab Oh-ti-tu.

“Lantas orang aneh itu pernah apanya Kang Piat-ho? Mengapa dia membela Kang Piat-ho?”

“Sesudah Hoa Bu-koat bicara begitu, selagi hendak kutanya siapakah Locianpwe yang dimaksudkan itu, tiba-tiba ia malah tanya padaku lebih dulu, ‘Kau sungguh beruntung dapat melihat Locianpwe itu, entah bagaimana bentuk beliau, apakah benar-benar selalu memakai topeng perunggu?'”

“O, jadi Hoa Bu-koat sendiri tidak pernah melihat orang aneh itu?”

“Ya, begitulah,” jawab Oh-ti-tu.

“Aneh, jika Hoa Bu-koat tidak pernah melihatnya, memangnya dia mau menurut perkataannya?”

“Aku pun merasa heran, tapi kemudian dapat kuketahui bahwa sebelum Hoa Bu-koat berkelana di dunia Kangouw, dia telah dipesan oleh Ih-hoa-kiongcu agar kelak bila bertemu dengan seorang Tong-siansing (tuan perunggu), maka jangan sekali-kali membangkang perkataannya, apa pun yang dikatakan ‘Tong-siansing’ itu harus diturutnya.”

“Kiranya orang aneh itu bernama ‘Tong-siansing’, sungguh nama sama aneh dengan orangnya!” ucap Siau-hi-ji.

“Konon Ih-hoa-kiongcu memberi pesan pula bahwa Tong-siansing ini adalah tokoh kosen nomor satu di dunia Kangouw dan tiada bandingannya dari dulu kala hingga jaman kini, ilmu silatnya juga sukar diukur, malahan Ih-hoa-kiongcu sendiri mengaku masih berselisih jauh apabila dibandingkan ‘Tong-siansing’ itu.”

“Masa Ih-hoa-kiongcu yang angkuh itu pun bicara demikian?” tergerak juga hati Siau-hi-ji. “Dan kalau Ih-hoa-kiongcu juga demikian tunduk padanya, maka ilmu silat Tong-siansing itu pasti benar-benar sangat menakutkan.”

“Sebab itulah kalau Kang Piat-ho telah mendapatkan bantuan orang kosen seperti Tong-siansing itu, maka tiada setitik harapan pun bagimu untuk mengalahkan Kang Piat-ho.”

Siau-hi-ji mengernyitkan dahi dan berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Tapi menurut pendapatku, tokoh macam Tong-siansing itu pasti takkan turun tangan sendiri, kalau dia mau tampil ke muka tentu dia takkan menulis surat kepada Hoa Bu-koat dan lebih-lebih takkan menyuruhmu mengantarkan suratnya.”

“Namun Hoa Bu-koat jelas sangat tunduk kepada segala kehendak Tong-siansing, maka kelak dia juga pasti akan membela Kang Piat-ho sepenuh tenaga, dengan bantuan tokoh seperti dia, tentu kau akan bertambah kepala pusing menghadapi Kang Piat-ho.”

“Kukira tidak menjadi soal bagiku,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum hambar.

Oh-ti-tu memandang Siau-hi-ji dengan tajam, sejenak kemudian mendadak ia berkata, “Sampai berjumpa kelak!”

“He, hendak ke mana kau?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku sudah membalas budi, tapi belum lagi membalas dendam!”

“Apa katamu? Maksudmu hendak mencari Tong-siansing itu untuk menuntut balas?”

“Ya, memangnya tidak boleh?”

“Tapi…tapi ilmu silatnya ….”

“Kalau ilmu silatnya lebih tinggi daripadaku lantas aku tidak berani menuntut balas padanya? Memangnya aku si hitam ini hanya berani pada yang lemah dan takut pada yang kuat?”

“Tapi sudah jelas kau bukan tandingannya!”

“Bukan tandingannya juga akan kuhantam dia, tidak sanggup melawannya biar aku mengadu jiwa dengan dia. Siapa yang telah menelantarkan aku di atas pohon, betapa pun aku akan membuatnya tidak enak tidur.”

Sambil berteriak segera pula ia lari pergi secepat terbang.

Siau-hi-ji menggeleng kepala, gumamnya, “Tabiat orang ini sungguh aneh dan kepala batu, tapi di sini pula letak sifat menarik orang ini.”

Sekarang dalam benak Siau-hi-ji telah bertambah pula tiga tanda tanya yang belum terjawab.

Pertama, ke manakah perginya Buyung Kiu asli itu?

Kedua, kejadian gawat apa yang timbul di Ok-jin-kok sana?

Ketiga, orang macam apakah ‘Tong-siansing’ itu sebenarnya? Apa pula hubungannya dengan Kang Piat-ho? Mengapa dia berkeras menyatakan Kang Piat-ho adalah orang baik?

Sementara itu hari sudah terang, Siau-hi-ji menanggalkan kedoknya. Di siang hari dia tidak suka menyaru dalam bentuk Li Toa-jui. Sambil garuk-garuk kepala ia meninggalkan hutan itu, beberapa tanda tanya tadi membuatnya kepala pusing. Baru sekarang ia merasa tidak mudah untuk menjadi “orang pintar nomor satu di dunia”.

Ia menggeleng kepala dan menyengir sendiri, gumamnya, “Jika ada orang yang ingin menjadi ‘orang pintar nomor satu di dunia’, bisa jadi ia sendiri justru adalah si tolol nomor satu di dunia.”

Orang berlalu lalang di jalanan sudah mulai banyak, tapi sembilan di antara sepuluh orang itu dari barat menuju ke timur, bahkan tampaknya adalah kawan-kawan Kangouw, ada yang pakai pita hitam di lengan baju, ada yang kelihatan bersemangat dan gembira sambil bercakap sepanjang jalan dan entah apa yang dibicarakan.

Siau-hi-ji tahu orang-orang ini kebanyakan adalah kawan-kawan yang melayat ke Thian-hiang-tong, pita hitam di lengan baju adalah tanda berkabung bagi Thi Bu-siang. Tapi sekarang mereka hendak menuju ke mana? Mengapa rata-rata kelihatan bersemangat dan bergembira, apa pula yang dibicarakan mereka? Inilah yang membuat Siau-hi-ji terheran-heran.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong ada sebuah kereta kuda berbentuk aneh dan terpajang dengan mewah dihalau tiba terus berhenti mendadak di depan Siau-hi-ji. Waktu pintu kereta terbuka, seorang melongok dan berseru, “Lekas naik kemari!”

Cahaya matahari menyinari wajah orang itu, mukanya cantik, tapi kulitnya kasap, kiranya To Kiau-kiau yang telah menyamar sebagai Buyung Kiu itu. Betapa pun mahirnya orang merias kulit badan, setelah menyamar tentu kelihatan rada kasap, cuma kalau tidak diperhatikan dengan cermat memang tiada orang yang tahu.

Tanpa pikir Siau-hi-ji terus melompat ke atas kereta, dilihatnya kamar kereta itu terpajang sangat mentereng, joknya tebal dan empuk serta luas pula, rasanya enak sekali duduk di situ.

“Wah, engkau benar-benar mahasakti, entah dari mana engkau mendapatkan kereta sebagus ini?” tanya Siau-hi-ji.

To Kiau-kiau tidak menjawab, sebaliknya ia balas tanya, “Sudah lama kutunggu kau mengapa baru sekarang keluar dari sana, apa yang kau bicarakan dengan Oh-ti-tu itu?”

“Kami asyik membicarakan seorang yang di sebut ‘Tong-siansing’, apakah pernah kau dengar nama ini?”

Tiba-tiba To Kiau-kiau menegas, “He, jadi orang aneh yang menolongnya itu adalah ‘Tong-siansing’ yang dimaksud?”

“Kau tahu orang aneh itu?” tanya Siau-hi-ji.

To Kiau-kiau seperti tercengang, tapi cepat ia berteriak, “Tidak, aku tidak tahu orang aneh itu, belum pernah kudengar namanya.”

Meski tidak dapat melihat air mukanya yang asli, tapi dari nada ucapannya Siau-hi-ji yakin To Kiau-kiau pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi kalau To Kiau-kiau tidak mau menjelaskan sesuatu urusan, maka siapa pun jangan harap akan mampu memaksanya bicara.

Siau-hi-ji kenal watak orang ini, ia pun tidak tanya lebih lanjut, dilihatnya kereta ini pun dilarikan ke timur, jurusan yang sama seperti kawan-kawan Kangouw itu.

“Orang-orang ini tampaknya tergesa-gesa menuju ke sana, entah ada urusan apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Menonton keramaian,” jawab To Kiau-kiau.

“Wah, aku pun suka menonton keramaian, entah menarik tidak tontonan itu?”

“Kalau anak murid suatu golongan yang berilmu silat paling tinggi di dunia ini bertarung dengan kelompok Kang Piat-ho yang berkedudukan tinggi dan berpengaruh, coba bayangkan, bakal ramai apa tidak?”

“He, jangan-jangan Hoa Bu-koat lawan para menantu keluarga Buyung?” tanya Siau-hi-ji.

“Siapa bilang bukan?” To Kiau-kiau tertawa.

“Jangan-jangan juga lantaran urusan Kang Piat-ho?”

“Kalau bukan urusan ini, habis urusan apa lagi?” To Kiau-kiau tersenyum dan menyambung pula, “Mula-mula Lamkiong Liu dan Cin Kiam mencari Kang Piat-ho untuk membikin perhitungan, tapi Hoa Bu-koat berani menjamin Kang Piat-ho adalah orang baik-baik dan bersih, karena kedua pihak sama-sama ngotot, terpaksa harus diselesaikan dengan adu Kungfu. Manusia di mana-mana sama saja, baik dia orang terhormat atau kuli pikul di tepi jalan, kalau sudah marah dan kalap, maka jalan penyelesaian yang terbaik adalah berkelahi.”

“Menarik juga pertarungan ini,” terbeliak mata Siau-hi-ji, “Cuma persoalan ini baru terjadi pagi tadi, mengapa sudah diketahui orang sebanyak ini?”

“Bisa jadi Kang Piat-ho yang sengaja menyiarkannya,” ujar To Kiau-kiau. “Lantaran yakin pihaknya mendapat dukungan Hoa Bu-koat dan pasti akan menang, dengan sendirinya pertarungan ini harus ditonton orang sebanyak-banyaknya.”

“Ya, meski kuat pihak keluarga Buyung, tapi kalau dibandingkan Hoa Bu-koat tetap masih selisih sedikit…Ai, apakah di dunia ini memang tiada orang lain lagi yang mampu melayani Hoa Bu-koat itu?”

“Ada, hanya kau,” ucap To Kiau-kiau dengan mengulum senyum.

“Aku ….” Siau-hi-ji menyeringai. Sesungguhnya ia tidak ingin membicarakan soal ini, syukur ada suatu hal yang lebih perlu dibicarakannya sekarang, segera ia mengalihkan persoalan dan berkata, “Eh, percakapan kita tadi terganggu oleh kedatangan Oh-ti-tu. Mengenai Ok-jin-kok, sesungguhnya apa yang telah terjadi di sana?”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya kemudian, “Apakah kau masih ingat Ban Jun-liu yang tinggal di sana?”

“Masa lupa?” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Waktu kecilku selalu dia merendam diriku dengan obat sehingga kepalaku pusing dan sesak napas, kini kepandaianku memukul orang memang tidak tinggi, tapi kesanggupan tahan pukul terhitung lumayan dan semua ini adalah berkat gemblengannya.”

“Dan apakah masih ingat di rumah Ban Jun-liu itu ada lagi seorang yang biasa dipanggil sebagai kaleng obat?”

Siau-hi-ji terkejut, tapi lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu, dengan tertawa ia menjawab, “Sudah tentu ingat, obat yang dimakannya jauh lebih banyak daripadaku, apabila Ban Jun-liu menemukan obat baru tentu suruh dia mencicipinya lebih dulu.”

“Sepuluh bulan yang lalu, Ban Jun-liu dan kaleng obat itu telah menghilang!” ucap To Kiau-kiau sekata demi sekata sambil menatap tajam Siau-hi-ji.

Jantung Siau-hi-ji serasa hendak melompat keluar dari rongga dadanya, tapi sekalipun hidung ditempelkan ke wajahnya juga jangan harap akan dapat melihat kernyit kulit mukanya, dia hanya tersenyum tawar saja dan berucap, “Memangnya terhitung gawat kejadian ini, maka kalian menjadi begitu tegang?”

To Kiau-kiau juga tertawa, katanya, “Apakah kau tahu siapa si kaleng obat itu?”

“Memangnya siapa dia?” tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Pernahkah kau dengar di dunia Kangouw dahulu ada seorang jago pedang, sekali pedangnya menabas, dalam jarak beberapa tombak akan terasakan angin pedangnya yang tajam sehingga rambut dan jenggot pun akan tercukur bersih tanpa kau sadari apa yang telah terjadi.”

“Hah, pernah kudengar tokoh itu, kalau tidak salah dia bernama…bernama Yan Lam-thian, betul atau tidak?”

“Selain Yan Lam-thian mana ada lagi jago pedang yang lain?”

“Tapi dia kan sudah mati, kata orang?”

“Dia tidak mati, dia bukan lain adalah si kaleng obat itu!”

Siau-hi-ji berlagak heran, serunya, “He, jadi si kaleng obat itu adalah Yan Lam-thian, si jago pedang nomor satu di dunia? Ai, sungguh tak tersangka sama sekali. Tapi bila ilmu pedang Yan Lam-thian memang setinggi itu, mengapa dia bisa berubah menjadi ‘kaleng obat’ yang lebih menyerupai mayat hidup itu?”

“Justru semua ini karena dirimu inilah,” ucap To Kiau-kiau dengan gegetun. “Demi menyelamatkan kau dari tangannya, maka terpaksa kami telah melukai dia.”

Uraian To Kiau-kiau dilakukan dengan cara sewajarnya dan terdengar sungguh-sungguh, Siau-hi-ji pasti percaya penuh apabila dahulu dia tidak diberitahu rahasia asal-usulnya oleh Ban Jun-liu.

Diam-diam ia gegetun, pikirnya, “Biarpun Yan Lam-thian adalah tuan penolongku dan seorang pendekar besar, tapi antara dia dan aku tidak ada kontak perasaan, sebaliknya meski kalian ini orang jahat, tapi selama belasan tahun kalian telah membesarkan aku dan telah mempunyai ikatan batin dengan diriku, memangnya aku tega menuntut balas kepada kalian demi Yan Lam-thian? Mengapa sampai sekarang kalian tetap mendustai aku?”

Secara garis besar Siau-hi-ji memang tidak terhitung manusia yang sangat baik, tapi dia berdarah panas, penuh perasaan, meski lahirnya keras, tapi batinnya lunak, hatinya lemas. Asalkan dapat mengetuk hatinya, maka biarpun dia disuruh naik ke gunung bergolok atau terjun ke air mendidih juga dia sukarela. Dan asalkan dia sukarela, biarpun untuk itu dia tertipu dan telan pil pahit juga dia tidak penasaran. Sebaliknya kalau dia dibikin marah dan sakit hati, maka apa pun akibatnya juga dia tidak mau tunduk dan pasti akan mengadu jiwa denganmu.

Dia sendiri menganggap dirinya cukup sabar dan tenang, tapi kalau sudah terangsang, maka meledaklah perasaannya bagai gunung api meletus.

Dia pun menganggap dirinya sangat cerdik, tapi kalau sudah berbuat ceroboh, maka tindakannya bisa lebih kasar daripada siapa pun juga.

Justru lantaran tabiatnya inilah telah melahirkan kisah yang beraneka gayanya.

Begitulah Siau-hi-ji merasa gegetun di dalam hati, tapi mukanya tetap tersenyum, katanya, “Demi diriku katamu? Memangnya ada sangkut-paut apa antara diriku dengan ‘kaleng obat’ itu?”

“Kisah ini terlalu panjang kalau diuraikan, biarlah kita bicara lain kali saja, asalkan kau ingat, demi dirimulah kami rela membikin marah Yan Lam-thian, dan karena menghilangnya Yan Lam-thian itu, maka kami pun tidak berani berdiam lagi di Ok-jin-kok.

“Memangnya kenapa?” tanya Siau-hi-ji.

Advertisements

2 Comments »

  1. makasih banyak atas cerita ini…sungguh cerita yg fantastis…

    keep posted

    Comment by Hamba Tuhan — 29/04/2010 @ 11:38 am

  2. BETUL
    CERITANYA SEMUANYA BAGUS

    Comment by Firman — 22/02/2013 @ 7:41 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: