Kumpulan Cerita Silat

20/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (25)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:39 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (25)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

Bergegas Li Bin-sing berdiri, katanya dengan tersengal, “Aku …boleh pergi?”

“Ya, kapan mau pergi, boleh kau pergi.”

Li Bin-sing terbeliak kegirangan, setelah kucek-kucek mata, ia pandang Siau-kong-cu, lalu menoleh ke arah Pui-Po-giok, melihat mereka tersenyum ramah, tanpa bicara lagi ia putar tubuh terus lari pergi, lari tergesa-gesa seperti takut Siau-kong-cu berubah keputusannya.

Sambil berdiri menggendong tangan, Siau-kong-cu mengawasi bayangan orang dengan tersenyum.

Pui-Po-giok tidak sabar lagi, “Sekarang kita kejar?”

“Kenapa tergesa-gesa?” sahut Siau-kong-cu.

“gin-kang orang ini memang biasa saja, tapi dia licin seperti belut dan licik seperti rase, apalagi malam gelap di tengah hutan belukar, dia kenal keadaan di sini, kalau sampai bersembunyi, bagaimana kau dapat menemukan jejaknya?”

“Jangan kuatir, dia takkan bisa menyembunyikan diri.”

“Kenapa?”

“Meski ia sembunyi ke liang kelinci, tetap dapat aku temukan dia.”

“Agaknya sudah kau atur perangkap untuk menjebaknya?”

“Jangan tergesa-gesa, mari kita kejar. Sebentar tentu kau tahu kenapa dia takkan lolos dari incaranku. Thi-wah, tunggu di sini dan jangan pergi.”

Thi-wah berkerut kening, serunya, “Toa-ko, berdasar apa dia memerintah aku?”

“Untuk kali ini saja, kau turuti saja perintahnya,” ujar Po-giok tertawa.

Mengawasi muda mudi ini pergi makin jauh, Thi-wah bergumam sendiri, “Sungguh membingungkan, susah payah menangkapnya lalu dilepas lagi, kini menguntitnya pula, apakah otaknya tidak beres …”

Dengan mendongkol ia mendeprok di tanah, melamun mengawasi bintang-bintang di langit.

*****

Secercah sinar bintang yang redup cukup bagi Po-giok yang bermata tajam untuk mengikuti, gerak-gerik bayangan orang dari jarak lima tombak di depannya.”

Sementara itu Li Bin-sing sudah lari entah berapa tombak jauhnya. Setelah beberapa jauh mereka berlari-lari, akhirnya Po-giok tidak sabar, tanyanya, “Mana kemampuanmu?”

Siau-kong-cu tertawa, “Tak usah gelisah … Nah, coba lihat, apa itu?”

Po-giok memandang arah yang ditunjuk, tampak di hutan gelap agak jauh di depan sana ada setitik sinar kunang-kunang bergerak naik turun seperti api setan.

“Apa itu?” tanya Po-giok heran.

Tapi sebelum Siau-kong-cu menjelaskan ia sudah mengerti, katanya dengan tawa lebar, “O, ya, jadi ada sesuatu yang kau tinggalkan pada badannya.”

“Betul, waktu aku menepuk pundaknya tadi, sudah kuberi tanda khusus di badannya. Adanya Kut-ling-ting (paku tulang pospor) di badannya, meski ia lari ke ujung langit sekali pun pasti dapat aku kejar.”

Po-giok menghela napas, “Untuk urusan seperti ini, aku memang bukan tandinganmu.”

“Memangnya urusan lain kau pasti lebih unggul daripadaku?”

Po-giok hanya tertawa saja dan tanpa bicara lagi. Siau-kong-cu juga cemberut dan tidak bicara. Dari kejauhan mereka menguntit api pospor yang mirip kunang-kunang itu, tanpa mengeluarkan suara mereka dapat bergerak leluasa di hutan belukar yang gelap.

Gerak-gerik sinar pospor itu tidak begitu cepat, malah sering berhenti dan putar kian kemari. Jelas orang sering berhenti dan putar badan melongok ke belakang, takut dikejar orang, dan sengaja berputar-putar untuk menghilangkan jejak.

“Keparat ini memang licin sekali, dia tahu gin-kang nya bukan tandingan kita, maka ia menempuh perjalanan dengan santai, dengan cara ini memang mempersulit pengejaran kita. Kalau tidak bersamamu, jejak kita tentu sudah konangan olehnya.”

“Aku terhitung apa?” jengek Siau-kong-cu, “Aku bukan tandinganmu.”

“Ah, kau ….” mendadak perkataan Po-giok terputus.

Sinar pospor itu mendadak hilang.

Tanpa sadar mereka sudah berada di ujung hutan, ke depan lagi adalah tanah tegalan yang membukit dengan semak-semak lebat.

Po-giok berkerut kening, “Apa dia tahu dirinya dikuntit?”

Siau-kong-cu tidak menjawab, langsung ia lompat ke atas pohon.

Terpaksa Po-giok ikut lompat ke atas pohon, dari sini ia dapat melihat jelas keadaan di depan tampak sinar pospor itu masih ada di depan. Ternyata Li-Bin-sing bergerak sambil merangkak di tanah, kalau tidak diawasi dari atas, orang sukar melihat sinar pospor di belakang pundaknya.

Po-giok berbisik, “Mendadak dia mendekam di tanah, tentu menemukan sesuatu.”

“Apa bukan tahu dikuntit oleh kita, tampak dia longak-longok ke sana. Kukira di depan ada sesuatu di luar dugaannya, mungkin seseorang telah berjanji untuk bertemu dengan dia di sini, dan orang itu mengalami sesuatu.”

“Ya, mungkin demikian, lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Apa pun yang akan terjadi, kita harus mendekat dan melihat apa yang terjadi.”

“Setuju apa pun harus kita saksikan apa yang akan terjadi.”

Mendadak Siau-kong-cu tertawa, “Sejak kapan kau jadi penurut. Kuyakin kau sendiri sudah dapat menebak persoalannya dan dapat menarik kesimpulan, kenapa masih tanya padaku?”

“Memangnya tanya saja tidak boleh?”

“Aku tahu kamu berusaha mengambil hatiku kau ….” mendadak ia menarik muka, suaranya berubah kaku, “Di depanku kamu selalu ingin unggul, selalu ingin menindas aku, tidak jarang pura-pura pikun … kenapa bersikap demikian? kau anggap aku anak kecil?”

Dengan melongo Po-giok mengawasinya sejenak, akhirnya menghela napas dan berkata perlahan, “Sayang sekali sekarang kamu tidak mirip lagi anak kecil yang suka merangkai bunga itu …Kalau masih anak-anak, alangkah baiknya …alangkah senangnya ….”

Mata Siau-kong-cu mendadak terpejam, jari-jarinya yang runcing tampak gemetar, bibirnya yang tipis merah bak delima merekah tampak bergerak beberapa kali, seperti mau bicara, tapi akhirnya mengertak gigi, lalu melompat jauh ke depan.

Siau-kong-cu bergerak selincah burung di antara dahan pohon diikuti Po-giok secara ketat, begitu lincah dan ringan gerak-gerik mereka, hakikatnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, Li Bin-sing yang mendekam di tanah tidak tahu bahwa ada orang berada di belakangnya.

Umpama Siau-kong-cu kurang hati-hati dan menimbulkan sedikit suara juga tidak akan di dengar olehnya, sebab perhatian seluruhnya lagi tumplek ditujukan pada suatu suara yang berkumandang dari lereng bukit di depan sana.

Angin malam mengembus, dari belakang bukit sayup-sayup berkumandang denting suara senjata beradu disertai bentakan dan caci maki. Lebih aneh lagi di antara suara keributan yang campur-aduk itu terdengar juga cekikik tawa genit gadis-gadis serta tepuk sorak mereka.

Beberapa jenis suara itu sebetulnya tidak mungkin tersiar bersama, tapi kenyataan justru berpadu pada saat dan tempat yang sama, sehingga perpaduan suara itu kedengarannya agak ganjil aneh dan misterius di malam sunyi.

Po-giok saling pandang dengan Siau-kong-cu, mereka tidak habis mengerti apa yang terjadi di balik lereng bukit sana, hawa membunuh yang terkandung dalam suara itu meski menjadi tawar oleh genit tawa jalang itu, namun daya tariknya justru lebih kuat membuat orang tertarik untuk mengetahuinya.

Agaknya Li Bin-sing juga dibuat heran dan melongo, tidak jarang ia garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Ternyata rasa tertarik dan ingin tahunya memerangi rasa takutnya diam-diam ia merangkak maju ke depan.

Dalam semak belukar di tanah tegalan, banyak tempat untuk menyembunyikan diri.

Bila Li Bin-sing menempatkan diri dalam persembunyiannya, Po-giok dan Siau-kong-cu juga sudah mendapatkan tempat untuk sembunyi.

Dari sela-sela daun Siau-kong-cu dan Po-giok mengintip ke sana, mereka menjadi kaget dan heran. Di bawah bukit sana ternyata ada tanah lapang yang cukup luas di sana terdapat sebuah gardu pemandangan, di sekeliling gardu tersebar banyak kursi bundar dari batu, belasan gadis cantik berdandan orang desa duduk berkelompok dua-dua mereka asyik mengikuti pertunjukan sengit di tanah lapang.

Di tanah lapang itu, dua orang sedang bertempur dengan sengit dari gerak-gerik dan permainan senjata mereka terbukti kungfu kedua orang ini tidak lemah.

Kedua orang ini yang satu bersenjata sepasang pedang, sinar pedangnya bergerak melingkar dan beterbangan secara cepat dan ganas, hawa pedang terasa dingin tajam dan menyesakkan napas, Po-giok yang beberapa tombak jauhnya juga merasakan ketajaman samberan angin pedang.

Lawannya bersenjata tongkat panjang, tongkat berputar laksana naga terbang, banyak perubahan dan sukar diraba permainannya, betapapun sengit rangsakan pedang lawan ternyata tidak mampu mendesaknya.

Bayangan tongkat dan sinar pedang boleh dikatakan membungkus kedua orang yang sedang bertarung sengit, namun Po-giok dan Siau-kong-cu masih dapat mengikuti gerak-gerik mereka, malah sudah mengenal dan dapat membedakan bentuk tubuh mereka.

Membulat mata Siau-kong-cu, bisiknya dengan heran, “He, kiranya dia!”

“Ya, sudah tujuh tahun tidak bertemu, ternyata dia berada di sini,” demikian sahut Pui-Po-giok.

“Siapa bilang tidak bertemu tujuh tahun, bukankah di puncak Thai-san juga melihatnya,” bantah Siau-kong-cu.

“Yang kau maksud kan Ban-lo-hu-jin, yang aku maksud adalah orang lain.”

“Orang lain?” tanya Siau-kong-cu heran, “Siapa yang lain? kau kenal dia?”

“Amat panjang untuk menjelaskan asal-usul orang ini. Secara singkat aku hanya bisa memberi tahu, dia bernama Ong-toa-nio, yaitu bini Ong Poan-hiap, urusan lain biar aku jelaskan lain kesempatan.”

Membelalak mata Siau-kong-cu, gumamnya, “Ong Poan-hiap …Ong-toa-nio …kenapa dia bergebrak dengan Ban-lo-hu-jin …kenapa Ban-lo-hu-jin belum juga kembali ke Pek-cui-kiong?”

Giliran Po-giok yang heran, tanyanya tercengang, “Ban-lo-hu-jin? Pek-cui-kiong?”

“Kurasa Ban-lo-hu-jin sudah …sudah dirangkul oleh ibu mertuamu.”

Po-giok diam sesaat, lalu berkata, “Kukira benar, kalau Ban-lo-hu-jin sudah menjadi anak buah pihak Pek-cui-kiong, adalah logis kalau tidak menginginkan aku pergi ke Pek-cui-kiong, orang yang mengadakan janji pertemuan dengan Li Bin-sing di tempat ini kurasa pasti dia.”

“Betul …Hm, kenapa mendadak kamu berubah menjadi pintar?” jengek Siau-kong-cu.

Po-giok menyengir, “Memangnya aku tidak goblok.”

Suara percakapan mereka sudah tentu amat lirih, waktu bicara jarak mereka sudah tentu sangat dekat. Setelah mengucap dua patah kata itu mendadak Siau-kong-cu merasa telinga Po-giok terlalu dekat dengan bibirnya. Giginya menjadi gatal dan gregetan, tanpa pikir segera ia mengigitnya.

Gigitan itu tidak ringan, saking kesakitan hidung Po-giok sampai berkeringat dingin. Tapi dalam keadaan seperti itu, di tempat persembunyian bukan saja tidak boleh bergerak apalagi berteriak, terpaksa ia tahan.

Walau gigitan itu keras dan sakitnya bukan tapi Po-giok tidak marah, karena secara langsung ia meresapi gigitan gregetan itu mengandung cinta yang mendalam, cinta dan gemas.

Setelah tujuh tahun tidak bertemu, kungfu Ong-toa-nio ternyata banyak lebih maju.

Dahulu ia bersenjata Cu-bo-siang-koai, kini pedang yang digunakan ini mencakup ilmu tongkatnya yang ganas, keras dan cepat.

Lambat laun sinar pedang yang beterbangan mulai membendung dan mengurung putaran tongkat panjang lawan.

Kini Ban-lo-hu-jin tidak sempat lagi makan manisan, mulutnya yang bawel biasanya memaki kaum pria, kini sasarannya adalah sesama perempuan, benaknya tidak punya bahan untuk memaki perempuan.

Gadis-gadis yang menonton di luar gelanggang selalu bertepuk dan bersorak, memberi aplaus kepada Ong-toa-nio, ada pula yang nakal melempar kulit buah atau biji buah ke arah Ban-lo-hu-jin.

Celakanya ada pula yang tarik suara, bernyanyi menyindir Ban-lo-hu-jin, tertawa dan berkeplok, yang memaki melempar kulit buah, meski tiada yang mengenal tubuh Ban-lo-hu-jin, tapi perempuan tua ini menjadi marah hampir gila.

Diam-diam Po-giok tertawa geli. Hari ini Ban-lo-hu-jin ketemu batunya, kepalanya tentu pusing tujuh keliling.

Makin sengit serangan Ban-lo-hu-jin makin ngawur, tongkatnya tidak lagi bergerak secara wajar, karena ia kewalahan menghadapi rangsakan pedang lawan, akhirnya mulut ikut mengumpat, “Perempuan busuk, perempuan buntung, aku tidak pernah membunuh bapak ibumu, tidak merebut lakimu permusuhan apa engkau dengan aku, lagakmu seperti ingin adu jiwa denganku.”

“Siapa ingin mengadu jiwa denganmu, aku memang ingin merengut jiwamu,” demikian jengek Ong-toa-nio.

“Memangnya kau tahu siapa nenek tua diriku ini?” teriak Ban-lo-hu-jin.

“Kalau aku tidak tahu siapa kamu, buat apa aku menghendaki jiwamu.”

“Lha, kau kenal aku, ada sakit hati apa antara dirimu dan aku?”

Ong-toa-nio terloroh-loroh, “Boleh kau terka saja.”

Seperti diketahui kedua kaki Ong-toa-nio sudah cacat, dulu waktu bersenjata tongkat, tongkat itulah pengganti kaki, di samping sebagai senjata untuk menyerang musuh, gerak-geriknya lincah dan tangkas, lawan sukar mengikuti gerak perubahan tubuhnya.

Kini pedang yang digunakan jauh lebih ringan dibanding tongkat besinya dulu, bukan saja lincah gerak tubuhnya kelihatan jauh lebih cekatan dan kepandaiannya juga kelihatan beberapa tingkat lebih tinggi.

Ban-lo-hu-jin mengajaknya bicara dengan maksud memecah perhatiannya, supaya dirinya memperoleh kesempatan menyergapnya atau bila perlu melarikan diri. Di luar dugaan lawan tidak menjadi bingung, malah awak sendiri yang kerepotan menghadapi serangan lawan. Maka ia berteriak-teriak, “Tidak bisa terka …aku tidak bisa menerkanya.”

Di tempat sembunyinya Siau-kong-cu berkata lirih, “Sebetulnya ada permusuhan apa antara Ong-toa-nio dengan Ban-lo-hu-jin, apa kau tahu?”

Agaknya nona ini merasa menyesal karena perbuatannya tadi, setelah sekian saat Po-giok tidak bersuara, maka sengaja mengajaknya bicara.

Dalam hati Po-giok tertawa geli, namun mulutnya berkata, “Mungkin lantaran Ban-tai-hiap …”

“Menilai kungfu Ong-toa-nio, sudah berapa kali ia mampu membunuh Ban-lo-hu-jin, tapi sengaja ia tidak turun tangan, apa … apa sebabnya?”

“Tujuannya membekuknya hidup-hidup, bukan membunuhnya,” demikian sahut Po-giok.

“Ya, setelah dia membekuk Ban-lo-hu-jin hidup-hidup, Ban Cu-liang tentu dapat dipancing datang, tetapi …”

Mendadak Ban-lo-hu-jin menjerit kaget, pundak kiri tergores luka berdarah. Lengan dan baju bagian depan seketika basah oleh darah yang mengucur, padahal lukanya tidak begitu parah, namun karena dia terlalu bernafsu balas menyerang dan mengamuk dengan sengit, darah pun mengucur lebih deras.

Siapa pun tahu bahwa luka di pundak itu tidak parah dan tidak mungkin merengut nyawa orang. Tapi begitu melihat darah, muka Ban-lo-hu-jin seketika pucat dan ngeri, badan menjadi lunglai tongkat panjang jatuh berkerontangan.

Orang banyak menjadi heran, mereka tidak tahu bahwa Ban-lo-hu-jin adalah manusia yang suka menindas kaum lemah dan tunduk pada yang kuat, bila berhadapan dengan lawan yang lebih kuat, dia jarang mau bergebrak.

Umpama terpaksa harus turun tangan, dengan kemahirannya bermain secara licik dan licin selalu berhasil meloloskan diri tanpa kurang suatu apa, oleh karena itu, meski tangannya selalu berlepotan darah orang lain darah sendiri justru belum pernah dilihatnya.

Kini dia lemas karena takut melihat darahnya sendiri.

Po-giok merasa geli dan dongkol.

Siau-kong-cu juga gregetan, “Jarang menemukan orang yang takut mati seperti dia.”

Agaknya kejadian ini juga di luar dugaan Ong-toa-nio, sekilas ia melengong, tapi gerak pedangnya memang amat cepat beruntun ujung pedang bergetar, cepat sekali tiga hiat-to di belakang pundak Ban-lo-hu-jin ditutuknya.

Ban-lo-hu-jin mencaci, “Perempuan busuk …”

Belum habis bicara, mendadak tubuh terjengkang roboh.

Tapi begitu menggeletak di tanah, mulutnya justru memaki lebih galak, segala macam caci maki yang busuk dan kotor dilontarkan tanpa tedeng aling-aling.

Di tengah udara Ong-toa-nio bersalto sekali, dengan enteng tubuhnya jatuh di kursi pikulan, seorang gadis lantas menghampiri sambil membawa selembar kemul merah untuk menutup kakinya.

Dua gadis yang lain mengangkat pikulan, yang berdiri di depan bertanya. “Apakah bola daging ini harus disembelih?”

“Jangan tergesa-gesa,” ucap Ong-toa-nio tersenyum, “bawa pulang dulu.”

Mendadak seorang muncul dengan tertawa, siapa lagi kalau bukan Li Bin-sing.

Munculnya Li Bin-sing di luar dugaan Pui-Po-giok, “O, dia bukan berjanji dengan Ban-lo-hu-jin.”

Dilihatnya Ban-lo-hu-jin amat terkejut dan berseru, “kau … bocah ini kiranya sekomplotan dengan perempuan busuk itu.”

Li Bin-sing tertawa lebar, katanya, “Jangan urus apakah aku sekomplotan atau dua komplotan, yang pasti tugas yang kau serahkan padaku sudah aku laksanakan, lalu apa pula yang masih kau gugat padaku?”

Po-giok melongo bingung.

Gadis-gadis cantik yang tadi berkelompok dan tersebar menonton pertarungan segera merubung maju, ada yang mengangkat Ban-lo-hu-jin, lebih banyak lagi memeluk lengan dan mendekap tubuh Li-Bin-sing, kelihatannya mereka sudah sangat akrab.

Terdengar seorang gadis bertanya, “Eh, apa engkau sudah bertemu dengan Pui-Po-giok?”

“Tentu saja sudah,” sahut Li Bin-sing tertawa.

Maka seorang yang lain bertanya juga, “Apa benar dia cakap? Apakah kungfunya benar tinggi?”

“Hehe, buat apa kau tanya tentang dia? Memangnya bocah itu menaksir padamu. Baiklah biar aku jelaskan, anak muda yang cakap ganteng umumnya bukan barang baik, masih hijau plonco. Nah, carilah yang agak tua seperti diriku ini tanggung puas.”

Ramailah gelak tawa para gadis genit dan jalang itu, “Eh, tidak tahu malu, membanggakan diri sendiri. Memangnya kamu ahli … ”

Sambil berkelakar rombongan itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

“Selama beberapa tahun ini ternyata Li Bin-sing berada bersama Ong-toa-nio, dari gerak-gerik nona-nona genit itu dapat aku nilai bahwa hubungan mereka sudah tidak biasa.”

“Tapi dari mana gadis-gadis itu tahu tentang diriku? Ada intrik apa antara Li Bin-sing dengan Ong-toa-nio? Kalau mereka bermaksud mencelakai aku, kenapa pula membebaskan aku begitu saja? Kalau mereka tidak bermaksud mencelakai aku, kenapa bersusah payah menipuku dengan akal busuknya?”

Di sebelahnya Siau-kong-cu tertawa dingin, “Pui-Po-giok, sungguh tak nyana, selain kungfumu terkenal, kecakapanmu ternyata juga amat tenar. Gadis-gadis itu begitu besar hasratnya terhadap dirimu, kamu amat girang bukan?”

“Ehm,” sahut Pui-Po-giok seenaknya tanpa memperhatikan pertanyaan orang.

“Ehm apa? Coba kau bicara!” desak Siau-kong-cu.

Hakikatnya Po-giok tidak mendengar apa yang dibicarakan Siau-kong-cu, mendadak ia berdiri seraya berkata, “Ayo berangkat!”

“Berangkat? Berangkat ke mana? Mengejar mereka?” tanya Siau-kong-cu.

“Benar, mengejar mereka. Kita harus menolong Ban-lo-hu-jin.”

“Menolongnya? Kenapa menolongnya?”

“Pertama karena Ban-tai-hiap, kedua untuk mencari tahu duduk persoalan sebenarnya,” belum habis bicara, tahu-tahu ia meleset jauh ke depan.

Sudah tentu Siau-kong-cu mengikuti langkahnya. Untung jumlah rombongan itu cukup besar, tidak sukar mereka mengejar dan mengikuti dari kejauhan.

“Kenapa kita tidak menyusulnya ke sana?” tanya Siau-kong-cu.

“Tidak, kita lihat dulu ke mana mereka akan pergi?”

Dalam hutan itu, ternyata ada jalan kecil yang berliku-liku. Kalau bukan orang yang sudah apal keadaan bukit ini sukar menemukan jalan kecil ini meski mencarinya lima bulan. Rombongan gadis itu ternyata menyelinap ke dalam semak-semak lewat jalan kecil yang tersembunyi itu.

Kira-kira sepeminum teh kemudian, pemandangan di depan terbuka lebar. Di balik hutan lebat itu ternyata ada dunia lain, di tengah lingkaran bukit yang tidak begitu tinggi ternyata terdapat sebuah lembah yang subur dan indah permai.

Selepas mata memandang, berbagai macam jenis bunga yang tidak diketahui namanya sedang mekar semerbak. Pada musim rontok saat itu, di tempat lain pohon sedang rontok dan layu, tapi di tempat ini bunga justru hidup subur dan berkembang biak.

Di tengah lembah yang ditaburi berbagai jenis bunga itu terdapat sebuah aliran sungai kecil dengan airnya yang jernih, tak jauh di pinggir sungai terdapat satu deret rumah terdiri tiga petak berjajar.

Dengan suara yang bingar rombongan besar itu memasuki rumah-rumah itu.

Kini tinggal Po-giok yang berada di tengah taman bunga dengan hati bimbang. Ia heran di lembah ini terdapat dunia lain yang permai dan mempesona, lebih kaget lagi karena selama beberapa tahun ini bukan saja Ong-toa-nio sudah bangkit kembali, malah hasilnya kelihatan jauh melampaui prestasinya dulu.

Agaknya perempuan setengah baya yang cacat ini tidak boleh dipandang enteng. Oleh karena itu Po-giok tidak berani sembrono.

Siau-kong-cu justru tidak peduli, ia langsung berjalan lurus ke depan.

Lekas Po-giok menyusul dan menahan, “He, tunggu sebentar.”

Tanpa menoleh Siau-kong-cu berkata, “Suhu ada di sini, apa pula yang ditunggu?”

“Tapi…”

“Katanya mau menolong Ban-lo-hu-jin dan menyelidiki duduk persoalannya, sekarang atau nanti juga harus berhadapan dengan mereka, kenapa tidak sekarang langsung kita menemuinya secara terang-terangan?”

Po-giok masih ragu, tapi terpaksa mengikuti di belakang Siau-kong-cu.

Pada saat mereka menelusuri rumpun bunga, dari balik rumpun sana mendadak berkumandang bentakan nyaring, “Ada tamu datang!”

Po-giok terkejut, waktu ia angkat kepala, dilihatnya seekor burung kakak tua terbang keluar dari rumpun bunga sana dan langsung menuju ke arah rumah sambil masih mengoceh, “Ada tamu datang …ada tamu datang ….”

Siau-kong-cu tertawa cekikikan, “Hihi, sungguh tak nyana hanya seekor burung juga membuat Pui-tai-hiap kita terkejut.”

Po-giok tertawa kecut, tampak dari tiga petak rumah itu berlari keluar tiga orang gadis, setelah melewati jembatan berliku di atas sungai, mereka bertanya dengan suara merdu, “Tamunya di mana?”

Mendadak mereka melihat Pui-Po-giok, ketiga gadis itu lantas berhenti, wajah yang semula berseri seketika berubah menyengir dan mengawasi Pui-Po-giok.

Po-giok berdehem, lalu menyapa, “Selamat bertemu nona-nona.”

Seorang gadis yang bermuka bulat mendadak berteriak, “Siapa kau ? Untuk apa datang kemari?”

Walau keras suaranya, tapi ia sengaja bicara dengan nada genit, demikian pula meski pandangannya dilembari rasa kaget, namun mengandung kagum tak terhingga.

Maklum selama ini belum pernah mereka lihat apalagi berhadapan dengan pemuda setampan dan segagah ini.

Po-giok menjadi risi, katanya sambil bersoja, “Aku …”

Dengan dingin mendadak Siau-kong-cu mengejek, “Kamu mau menemui kekasih atau mau cari kesulitan di sini?”

Merah muka Po-giok.

Gadis yang satu lagi lantas tanya, “Mau cari kesulitan apa?”

Terhadap Siau-kong-cu ia bersikap kasar, bertolak pinggang lagi.

Dengan keras Siau-kong-cu berkata, “Inilah dia yang bernama Pui-Po-giok, ia kemari untuk menuntut kebebasan tawanan kalian tadi.”

“Apa Pui-Po-giok!” ketiga gadis itu menjerit kaget.

Tanpa berjanji ketiga gadis ini putar badan dan berlari balik dengan menggoyang pinggul sambil lari, tidak jarang mereka menoleh, seolah-olah merasa berat berpisah dengan Pui-Po-giok.

Kejap lain terdengarlah jerit kaget disusul pekik dan sorak ramai orang banyak dari dalam rumah.

Siau-kong-cu mendorong Pui-Po-giok, desaknya, “Kenapa melamun saja, ayo masuk ke sana!”

Apa boleh buat, terpaksa Po-giok beranjak ke depan dengan langkah lebar.

Suasana di luar rumah rasanya aman dan damai, pemandangan indah permai, tapi Po-giok menduga, rumah ini pasti penuh perangkap dan diliputi hawa membunuh, maka sejak menggerakkan kaki, diam-diam Po-giok sudah waspada, sedikit pun tidak berani lengah.

Sebaliknya Siau-kong-cu bersikap acuh-tak-acuh tidak peduli apa yang akan terjadi, seolah-olah ia tidak pandang sebelah mata kepada Ong-toa-nio, perempuan setengah baya yang cacat itu. Kelihatannya dia tidak waspada atau berjaga-jaga.

Semula penerangan ketiga rumah itu hanya temaram saja. Tapi begitu ketiga gadis itu lari masuk memberitakan kedatangan Po-giok, di tengah suasana ramai, cahaya mendadak benderang di rumah.

Maka berkumandanglah suara nyaring Ong-toa-nio dari dalam rumah, “Selamat datang tamu agung, mohon maaf kami yang bertubuh cacat ini tidak dapat keluar menyambut, dengan penuh hormat kami persilakan masuk dan silakan menikmati suguhan teh kita.”

“Po-giok mengucap terima kasih,” demikian seru Po-giok dengan suara berat.

Makin sungkan Ong-toa-nio bicara, makin ramah dia menyambut tamunya, perasaan Po-giok makin was-was. Maklum Po-giok sudah merasakan secara langsung pisau tajam yang tersembunyi di balik senyum manis orang, ia yakin selanjutnya dirinya tidak mudah ditipu lagi.

Pintu rumah di tengah itu mendadak terbuka lebar, gadis-gadis anak buah Ong-toa-nio berkerumun di belakang pintu dan longak-longok keluar. Entah senjata gelap jenis apa yang tergenggam di tangan mereka?”

Seringan burung walet mendadak Pui-Po-giok melesat masuk ke dalam.

Hawa murni sudah berkembang melindungi sekujur badannya, Po-giok yakin umpama dalam rumah ini ada perangkap atau dirinya akan diberondong dengan senjata rahasia lihai dan berbisa sekali pun, dirinya takkan mudah kecundang atau dilukai.

Di luar dugaan, dirinya sama sekali tidak terperangkap atau dijebak.

Rumah gubuk yang terpajang amat mewah ini ternyata diliputi suasana hangat lagi romantis, tidak terasa ada hawa membunuh di sini.

Di bawah cahaya lilin yang benderang tampak Ong-toa-nio duduk di atas kursi yang besar, empuk lagi hangat. Gadis-gadis yang hadir dalam rumah semua memegang sesuatu, rupanya mereka sedang makan semangka, bukan menggenggam senjata rahasia.

Melihat suasana yang berbeda dengan dugaan Po-giok yang bersikap seperti menghadapi musuh besar dan tangguh menjadi rikuh, setelah batuk dua kali, segera ia menyapa dengan tertawa.”Ong-toa-nio, apa masih kenal Pui-Po-giok?”

Ong-toa-nio tertawa, “Mana mungkin tidak mengenalmu? Kecuali Pui-Po-giok, apa ada di dunia ini pemuda secakap dan seganteng dirimu?”

Bahwa sang majikan memuji orang, maka ramailah sorak dan tepuk tangan gadis-gadis yang ada di rumah itu. Suasana yang tidak terduga ini membuat Po-giok tertegun malah, sesaat ia bingung entah apa yang harus ia lakukan.

Terdengar seorang berkata di belakangnya, “Ong-toa-nio, apa kamu baik-baik saja?”

“Aduh, Siau-kong-cu yang manis,” demikian Ong-toa-nio dengan nada riang, “sudah lama tidak bertemu, makin besar engkau kelihatan lebih cantik. Kalau hari ini Pui-siau-hiap tidak kemari, mungkin sukar aku mengundangmu bertamu di rumahku.”

“Ah, kenapa kau bilang begitu, memangnya siapa tahu kau tinggal di sini,” demikian sahut Siau-kong-cu dengan nada aleman.

“Apa betul tidak tahu?” demikian tanya Ong-nyaring, “aku tidak percaya, Hwe-kiong-cu pernah memberi tahu padamu.”

“Tiada orang memberi tahu padaku, seolah-olah tempatmu ini begitu misterius. Sungguh aku tidak mengerti, dalam hal apa tempat ini dianggap misterius?” demikian kata Siau-kong-cu tertawa.

Po-giok terbelalak kaget, tanyanya, “He, kau … kau kenal dia?”

“Kapan aku pernah bilang tidak mengenalnya?” Siau-kong-cu balas bertanya.

Po-giok melengong, lalu katanya dengan tertawa getir, “Betul, engkau tidak pernah bilang.”

Dalam hati Po-giok sudah menduga, selama beberapa tahun ini Ong-toa-nio tentu melakukan suatu kerja rahasia, bisa jadi memimpin suatu komplotan gelap yang bekerja secara misterius. Maka begitu Hwe-mo-sin terjun ke dunia persilatan lantas berkomplot dengannya.

Tidak heran walau Hwe-mo-sin sudah sekian tahun tidak berkecimpung di kang-ouw, tapi setiap kejadian di dunia persilatan diketahuinya dengan jelas, dapat diperkirakan bahwa dia memperoleh informasi itu dari Ong-toa-nio.

Lalu selama beberapa tahun ini apa kerja Ong-toa-nio?

Siau-kong-cu tertawa, Ong-toa-nio tertawa, gadis-gadis cantik itu pun tertawa ….

Sebaliknya Pui-Po-giok tenggelam dalam renungannya.

Mendadak didengarnya Siau-kong-cu berkata, “Nah, itu Ban-lo-hu-jin sudah keluar.”

Baru Po-giok tersentak dari lamunannya, tampak Ban-lo-hu-jin sudah duduk di pinggir sana keadaannya lesu dan loyo. Li-Bin-sing juga berdiri di sana, mimik wajahnya kelihatan serba runyam.

Akhirnya Po-giok menghela napas, “Aku sudah tahu.”

“kau tahu apa?” tanya Siau-kong-cu.

“Rumah kecil dalam hutan itu, anak buah Ong-toa-nio yang tinggal di sana, maka Hwe-mo-sin mengundangku bertemu di sana, betul tidak?”

“Betul, bukan hanya rumah itu milikku, hutan jati itu juga milikku ….” demikian ucap Ong-toa-nio dengan tertawa lebar, “harap maklum, cewek-cewek muda ini kalau sedang nganggur, ada-ada saja persoalan yang dilakukan.”

“Dari sini dapat pula aku simpulkan, bahwa Lo-tan suami istri dan ke dua anak perempuannya dalam cerita Li Bin-sing pada hakikatnya hanya bualan belaka. Dia bilang mengintip dalam hutan, itu juga bohong, yang benar dia tidak pernah menyaksikan apa-apa.”

Li Bin-sing tertawa getir, katanya, “Bukan aku sengaja bohong padamu, tapi Ong … ”

“Musibah yang terjadi dalam hutan jati itu sebetulnya juga tidak kuketahui,” demikian tukas Ong-toa-nio, “dapat aku bayangkan bahwa cara kerja orang-orang itu amat cekatan, setelah kalian tiba di sana, baru aku tahu dan menyaksikan sendiri. Aku menduga kalian tentu tidak tahu ke mana kalian selanjutnya harus pergi, maka kusuruh Li Bin-sing memberi tahu, soalnya waktu anak buah Hwe-kiong-cu meminjam rumah itu, sudah aku lihat sendiri bahwa pos selanjutnya berada di Tai-bing-hu.”

Mendadak Li Bin-sing berkata lagi, “Tapi apa yang pernah aku ucapkan itu bukan seluruhnya bohong. Soalnya meski aku sendiri tidak menyaksikan kejadian itu, sedikitnya Thi-kim-to menyaksikannya.”

“Dia yang memberitahukan kejadian itu kepadamu?” tanya Po-giok.

“Setelah menyaksikan secara diam-diam, lalu ia mengundurkan diri, tak nyana secara kebetulan bertemu dengan aku, dari mulutku dia tahu bahwa kau pasti akan datang.”

“Apa betul kau sahabatnya?” tanya Po-giok pula.

Li Bin-sing tertawa lebar, “Bukan cuma sahabat dulu kami malah belajar kungfu bersama dalam satu perguruan, jadi dia terhitung Su-heng ku. Hanya saja … ai, dalam latihan kungfu aku terlalu malas kurang semangat maka … maka …”

Maka bagaimana, tanpa dijelaskan orang lain pun maklum.

“Kejadian di dunia ini memang serba aneh, hal itu memang tidak pernah aku duga sebelumnya,” demikian ucap Po-giok setelah menghela napas.

“Kejadian yang kebetulan di dunia ini memang sering terjadi, bila usiamu sudah setua aku, kamu akan tahu sendiri. Kalau tidak, bagaimana mungkin begitu aku keluar lantas kepergok dengan Ban-lo-hu-jin.”

“Ya, Ban-lo-hu-jin memang sudah mengenal dirimu, dia tidak ingin aku pergi ke Pek-cui-kiong maka dia suruh engkau menipu aku, di luar tahunya bahwa engkau adalah … adalah teman Ong-toa-nio.”

Sebelum orang lain bicara pandangan Po-giok tertuju ke arah Siau-kong-cu, “Dan semua kejadian ini, sebetulnya sudah kau ketahui, tapi kau justru berpura-pura, dengan berbagai cara mempermainkan aku supaya aku menjadi orang linglung.”

Tepekur sejenak lalu Siau-kong-cu berkata dengan tandas, “Betul, aku sudah tahu seluruhnya, semua itu sengaja aku permainkan dirimu, kuanggap kamu seorang linglung …”

Mendadak ia melengos dan lari ke ambang pintu, pundaknya tampak bergetar.

Po-giok tertawa dingin, “Sudah menipuku, kenapa harus … ”

“Jangan sembarang memfitnahnya?” tukas Ong-toa-nio, “dia tidak menipumu.”

Po-giok tertegun, “Kenapa aku harus memfitnahnya?”

“Segala kejadian ini dia memang tidak tahu,dia tidak tahu bahwa aku tinggal di sini, juga tidak tahu bahwa Li Bin-sing sekarang sudah ikut aku, sudah tentu dia tidak tahu betul atau tidak cerita Li Bin-sing itu.”

Hambar perasaan Pui-Po-giok, “Aku … mungkinkah aku yang salah.”

“Ya, kau salah, semuanya salah,” mendadak Ban-lo-hu-jin berteriak keras, “bukan saja kau fitnah dia juga membuatku penasaran. kau bocah linglung ini anggap dirimu pintar dan serba tahu, padahal banyak kejadian di dunia ini tidak mungkin kau tebak, selama ini kamu hanya suka mengagulkan diri sok pintar.”

“Dalam hal apa aku membuatmu penasaran?” tanya Pui-Po-giok.

“Tahukah kenapa aku orang tua berada di sini? Hanya kebetulan saja? … Memangnya semua kejadian di dunia begitu kebetulan? Aku bisa di sini karena menguntit seseorang.”

“Siapa? Menguntit siapa?” tanya Po-giok.

“Orang-orang itu kau kenal,” demikian tutur Ban-lo-hu-jin, “sejak dari Thai-san aku menguntit sampai di sini, apa saja yang pernah mereka lakukan sepanjang perjalanan ini, tiada satu pun yang lepas dari pengawasanku.”

“Siapa saja yang kau maksud dengan mereka?” Po-giok menegas.

Ban-lo-hu-jin malah menghela napas, “Aku sudah tua, orang yang lanjut usia amat serakah, kalau mulut nganggur dan perut ketagihan, biasanya aku pun lesu untuk bicara.”

“Wah ….” Po-giok tertawa menyengir.

“Itu mudah,” seru Ong-toa-nio, “Nah, makanan yang ada di sini, boleh kau habiskan.”

Sebelum Ong-toa-nio habis bicara, Po-giok sudah samber sepiring semangka dan dihaturkan ke depan Ban-lo-hu-jin.

“Syukurlah, memang aku sedang dahaga.” ucap Ban-lo-hu-jin.

Cepat Po-giok mengambil cangkir dan poci, memang satu cangkir penuh untuknya. Gadis-gadis di sekelilingnya tertawa geli.

Ong-toa-nio juga tertawa, “Pui-siau-hiap mau meladenimu, sungguh besar rejekimu.”

“Dia bisa mendengar psnjelasanku, rejekinya juga tidak kecil.”

“Nah, sekarang engkau orang tua sudah boleh bicara bukan!” kata Po-giok.

Setelah minum secangkir dan menghabiskan satu buah apel baru Ban-lo-hu-jin bicara dengan kalem, “Aku bisa berada di sini karena menguntit Thi-jan, Ji-gi beberapa kawan-kawannya.”

Bukan hanya Po-giok yang kaget mendengar penjelasan Ban-lo-hu-jin Ong-toa-nio juga berubah hebat air mukanya, Siau-kong-cu juga mendadak menoleh, serunya, “O, jadi mereka adanya!”

Ban-lo-hu-jin bercerita lebih lanjut, “Setelah pertemuan di Thai-san bubar, diam-diam aku juga menyelundup ke Ban-tiok-san-ceng, tapi waktu itu engkau sudah berangkat, semula aku merasa kecewa siapa tahu ….”

“Bagaimana?” tanya Po-giok.

“Secara kebetulan aku lihat Thi-jan, Ji-gi dan beberapa tua bangka itu diam-diam lagi mengatur rencana dan membagi tugas kepada murid-muridnya entah rencana busuk apa yang tengah mereka rancang.”

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Po-giok.

“Seperti panca longok saja mereka mengikuti perjalananmu dari jauh, setiap orang yang kau temui dan bicara satu patah kata saja lantas mereka bekuk orang itu dan mengompes keterangannya.”

Po-giok menghela napas, “Ternyata mereka, pantas ilmu pedangnya begitu lihai dan tak heran digunakan adalah Hun-kin-joh-kut-jiu, sejak kejadian itu seharusnya sudah aku duga atas perbuatan mereka.”

“Aku memang sedang heran, kenapa para tua bangka itu melakukan perbuatan sekeji itu, akhirnya baru kutahu, mereka kuatir engkau mengalami kegagalan dalam perjalananmu ini, takut kelak tiada jago kosen yang mampu menghadapi Pek-ih -jin, maka mereka ingin mendahuluimu tiba di Pek-cui-kiong … Padahal kawanan tua bangka bila tiba di sana juga hanya mengantar nyawa saja.”

Po-giok menunduk diam sebentar, lalu berkata, “Teramat besar perhatian dan kasih sayang para orang tua itu terhadapku … Kasih sayang dan kesetiaan para Cian-pwe dari angkat tua dunia kang-ouw memang patut dijadikan teladan bagi angkatan muda,”

Ban-lo-hu-jin tertawa dingin, jengeknya, “Hm” sebagai seorang ketua suatu aliran, tapi melakukan kejahatan terselubung, apanya yang harus diagulkan. Terutama Thi-jan si hidung kerbau itu, selama wataknya tidak berubah, kukira banyak kejahatan yang dia lakukan.”

Kuatir perempuan tua ini menyerocos dengan kata-kata yang menusuk perasaan, cepat Po-giok mendesak, “Selanjutnya bagaimana?”

“Waktu aku menguntit sampai di sini, aku lihat mereka mendahuluimu. Dan engkau bocah linglung berhenti dan menunggu di sini, karena kasihan maka aku orang tua memberi petunjuk padamu.”

Po-giok heran.”Jadi kau … kau …”

Ban-lo-hu-jin tertawa dingin, “Kamu memang linglung, kau kira aku orang tua ingin mencegahmu pergi ke Pek-cui-kiong? He, kalau benar begitu dugaanmu, bukan hanya salah, bahkan keliru besar. Aku orang tua justru kuatir kamu batal pergi ke Pek-cui-kiong.”

Setelah merandek sejenak lalu melanjutkan, “Tapi kalau orang tua sendiri yang langsung memberi petunjuk padamu, bukan saja mengundang banyak kesulitan, belum tentu kau mau percaya, pada saat aku bimbang, kebetulan aku bertemu dengan keparat orang she Li ini.”

“Apa yang dituturkan itu memang benar,” demikian kata Li Bin-sing, “Dia memaksa aku memberi tahu padamu ke mana selanjutnya kau harus menuju. Di luar tahunya aku memang punya tugas untuk memberitahukan hal ini kepadamu ….walau pun aku bohong padamu, tapi bertujuan baik.”

Ban-lo-hu-jin menjengek, “Aku orang tua justru tidak bertujuan baik, kurasa kalau bocah linglung ingin mengantar jiwa ke Pek-cui-kiong, biarlah dia lekas sampai di sana.”

“Kejadian aneh di dunia ini sungguh sukar diramal oleh manusia biasa …” Po-giok menghela napas panjang.

“Masih ada yang perlu aku beri tahu padamu.” demikian ucap Ban-lo-hu-jin sambil menggeragot buah-buahan, “Cui-nio-nio sudah memperhitungkan dirimu pasti akan pergi ke Pek-cui-kiong, maka dia sudah lama menunggu kedatanganmu.”

Po-giok tepekur, mulutnya bergumam, “Bagus …bagus …”

Keadaannya seperti benar-benar linglung, maklum perubahan kejadian beruntun ini tiada satu pun yang tidak di luar dugaan, tiada satu pun yang dapat ditebak dan diselaminya.

“Pui-Po-giok,” tiba-tiba Siau-kong-cu menyeringai, “ketahuilah, meski kamu tidak sebodoh kepura-puraanmu, tapi kau pun tidak sepintar yang kau rasakan. Memang banyak kejadian di dunia ini yang selamanya tak dapat kau tebak. Karena kamu manusia dan bukan malaikat!”

“Betul, kepandaian seorang memang ada batasnya.”

“Ada tamu datang … ada tamu datang …” mendadak berkumandang suara nyaring dari luar rumah.

Burung kakak tua dengan bulunya yang hijau terbang masuk ke dalam rumah dan terus mengoceh, “Ada tamu datang … ada tamu datang …”

Diiringi tertawa genit yang ramai, gadis-gadis berlari keluar menyambut, sikap mereka biasa, kalau tidak mau dikata wajar, tidak takut heran atau malu-malu.

Tapi Po-giok justru merasa heran, dalam hati ia membatin, “Dilihat dari gerak-gerik mereka, agaknya tempat ini sering dikunjungi orang, padahal tempat ini amat tersembunyi, dari mana datangnya tamu itu?”

Adalah logis kalau Po-giok dan lain-lain juga ingin tahu siapa tamu yang datang.

Tak terduga, dengan tertawa Ong-toa-nio berkata, “Di belakang ada kamar untuk istirahat, entah sudikah Pui-siau-hiap duduk dan istirahat di dalam, biar kami selaku tuan rumah meladeni seadanya.”

Karena dipaksa secara halus, sudah tentu Po-giok tidak dapat menampik.

Maka bersama Siau-kong-cu, Ban-lo-hu-jin, mereka ikut masuk ke belakang.

Ruang kecil di belakang itu memang lebih artistik, pajangan serba mewah dan antik. Dua orang gadis bertugas meladeni mereka.

Letak ruang kecil ini tidak terlalu jauh, maka cekikik tawa gadis-gadis genit di ruang depan masih terdengar jelas dari situ. Di tengah cekikik tawa para gadis itu, mendadak muncul suara keras dan kasar.

“Ong-toa-nio, pasti tidak kau kira hari ini aku datang membawa teman sebanyak ini. Hahaha, biar aku jelaskan padamu, beberapa kawanku ini semuanya bukan kaum kroco.”

Terdengar Ong-toa-nio tertawa riang, katanya, “Oo, coba perkenalkan siapakah tuan-tuan ini?”

Orang bersuara kasar itu berkata, “Ketahuilah, kalau betul kamu berterima kasih kepadaku karena aku meramaikan usaha dagangmu. Bila nama besar kawan-kawanku ini kusebut satu per satu, aku kuatir telingamu bisa terlepas karena kaget.”

Ong-toa-nio tertawa, “Telingaku tidak jadi soal coba perkenalkan.”

Meski suara tawa gadis-gadis jelita itu amat menggiurkan dan merangsang, tapi Po-giok tidak tertarik sedikit pun, justru suara laki-laki kasar itu yang menarik perhatiannya.

Maklum karena suara kasar itu sudah amat dikenalnya.

Pada saat Po-giok mendengar penuh perhatian seorang gadis menarik lengan bajunya, katanya dengan cekikikan, “Buat apa mendengarkan suara di luar dengarkan saja suara nyanyianku yang merdu.”

Entah dari mana ia mengambil alat kelotekan lalu sambil nyanyi kelotekan di tangannya pun berbunyi mengikuti irama.

Sementara itu suara kasar di luar sedang bergelak tawa, “Tuan ini adalah … yang ini orang nomor satu di wilayah Sam-siang …tuan ini terkenal di Kiu-kang … dan dia adalah …”

Po-giok pasang kuping mendengarkan laki-laki kasar itu memperkenalkan temannya satu per satu, sayang sekali suara nyanyi si gadis dengan kelotekannya itu sangat mengganggu sehingga Po-giok tidak mendengar dengan jelas.

Siau-kong-cu mendengus, meski mulutnya diam, tapi sorot matanya seperti mau bilang, “Kalau dia ingin nyanyi, memangnya kau dapat berbuat apa terhadapnya?”

Syukurlah berakhir juga nyanyian gadis itu segera ia tarik gadis yang lain, maksudnya supaya ganti bernyanyi.

Untung mendadak Ban-lo-hu-jin berkata, “Nona cilik, merdu sekali nyanyianmu, maka nenek tua seperti aku merasa perlu memberi persen kepadamu, terimalah buah jeruk ini …”

Dua buah jeruk di tangannya mendadak mencelat kencang, jentikan jarinya amat keras dan tepat, sebelum kedua gadis itu bersuara mulut mereka sudah tersumbat oleh buah jeruk, keruan mereka kaget dan gelagapan, berusaha merogoh keluar buah jeruk dari mulutnya.

Ban-lo-hu-jin menarik muka, ancamnya dengan bengis, “Nona cilik, kalau kalian ingin memberi muka padaku, berani mengeluarkan jeruk itu dari mulut kalian, biar nanti mulut kalian aku sumbat dengan tahi kuda.”

Gertakan Ban-lo-hu-jin mungkin tidak membikin gentar hati orang lain, tapi kedua gadis pingitan yang belum tahu arti kehidupan ini jadi ketakutan bukan saja tidak berani merogoh keluar jeruk di mulutnya, mereka malah minggir ke samping dan tidak berani menangis.

“Nah kan begitu,” puji Ban-lo-hu-jin tertawa, “kalian memang anak penurut. Pui-Po-giok, sekarang boleh kau dengarkan dengan seksama.”

Dengan lagak yang dibuat-buat dia menghampiri meja, lalu duduk dan makan hidangan yang sudah disediakan.

Po-giok tertawa geli dalam hati. Segera ia beranjak ke belakang pintu lalu mendengarkan penuh perhatian.

Didengarnya Ong-toa-nio sedang berkata, *Aduh, semuanya ternyata orang orang gagah, entah angin apa yang mengembus kalian datang ke sini, begitu banyak eng-hiong ternama di daerah masing-masing sekaligus berkumpul di gubukku yang reyot ini.”

Seorang dengan tertawa nyaring melengking berkata, “Sudah lama kami dengar Ong-toa-nio membuat sarang harum di sini, gadis-gadis cantik simpananmu semuanya jempolan, sudah lama aku ingin menghibur diri di sini, sayang sekali kami tidak tahu cara bagaimana masuk kemari.”

Seorang lagi juga berkata dengan tertawa yang keras seperti tambur, “Untung Hi-Toa-ko tahu tempatnya mau menjadi penunjuk jalan kalau tidak mana mungkin kami bisa menemukan surga di dunia fana ini.”

Suara kasar tadi lantas berkata dengan tertawa yang khas, “Sudah beberapa hari aku lihat kalian lesu dan tidak bersemangat, maka dengan maksud baik kuajak kalian ke sini. kau keparat ini berani bilang aku sebagai penunjuk jalan segala.”

Di tengah gelak tawa orang banyak yang gaduh suara seperti tambur itu berkata, “Lu-Toa-ko ayolah pilih kesukaanmu, hari ini kita harus menghibur diri sepuasnya, waktu jangan dibuang percuma.”

Suara seorang pemuda segera menjawab dengan tertawa getir, “Dalam keadaanku ini mana dapat menghibur diri.”

Suara kasar itu berkata, “Lu-lote, dalam hal ini kau lah yang salah, seorang laki-laki berani mengambil juga rela melepaskan. Walau kita terjungkal di tangan orang, tapi kan tidak dirugikan.”

Suara seperti tambur itu juga berkata, “Ya, betul, apalagi urusan ini sudah berlalu, ayolah cari hiburan saja, coba lihat nona ini begini elok, biarlah aku mengalah dan aku serahkan padamu.”

Pemuda itu gelagapan, “Aku … Siau-te …”

“Sudahlah, jangan malu-malu, pilihlah satu … Nah, kalian lihat, diam-diam Lu-lote melirik, itulah dia pilihannya.”

Ong-toa-nio terpingkal-pingkal senang, “Wah, Lu-kong-cu memang tajam pandangannya, sekali pandang lantas menaksir mestika kita. Biasanya mestikaku ini tidak sembarang aku serahkan kepada orang.”

Suara kasar tadi tergelak-gelak, “Memang sudah aku duga pada setiap kesempatan kamu selalu mengambil keuntungan besar. Baiklah, apa keinginanmu, katakan terus terang, Lu-lote bukan seorang yang kikir.”

“Ehm, apa ya … ah biar nona ini saja yang bicara,” demikian Ong-toa-nio berdiplomasi.

Suara kasar itu masih bergelak tawa, tanyanya, “Ayolah mestikaku, kau mau apa?”

Gadis-gadis yang lain tertawa ramai, maka Ong-toa-nio berkata, “Mestikaku ini bilang hadiah apa pun dia tidak mau terima, dia hanya minta Lu-kong-cu sudi mengajarkan Lian-hoan-si-cat-pwe-jio yang menggetarkan kang-ouw itu kepadanya.”

Suara kasar itu berkeplok sekali, “Itu mudah, mudah sekali …”

Mendengar sampai di sini, mulai berubah rona muka Pui-Po-giok.

Siau-kong-cu juga sudah berada di sampingnya, tanyanya lirih, “kau tahu siapa mereka itu?”

Po-giok menghela napas, “Lu-kong-cu itu adalah Po-ma-sin-jio Lu-Hun.”

“Jago muda yang pertama kali duel denganmu di Tong-thing-ouw itu?”

Po-giok manggut, “Betul, Hi-Toa-ko itu adalah To-pit-hiong Hi-Hiong dari Siau-hou-san, disekujur badannya terdapat belasan jenis senjata rahasia lihai kedua tangannya sekaligus dapat menyambit delapan macam senjata rahasia yang berbeda.”

“Lalu suara yang pecah seperti tambur? …” tanya Siau-kong-cu.

“Itulah Poan-thian-hun Tam-Ih-seng dari Kiu-kang!”

“Masih ada …”

“Seorang lagi adalah Sun Giok-liong dari Ma-shin.”

Mendadak Ban-lo-hu-jin menimbrung, “Kalau keempat orang itu sudah berada di sini, maka Kiang-Sin-sing dari Bu-jiang, Ko Kwan-ing dari Lam-jiang, Tio-Kiam-bing dari Ki-bun juga pasti datang.”

“Ya, kukira demikian,” ucap Po-giok sambil menghela napas.

“Bukankah orang-orang itu pernah kau kalahkan?” tanya Siau-kong-cu.

“Orang-orang itu memang pernah bergebrak denganku, tapi entah bagaimana belakangan mereka lenyap bersama, sungguh tak nyana hari ini berbareng muncul di sini, betul-betul di luar dugaanku.”

Berkedip mata Siau-kong-cu, “Mereka bilang mau menghibur hati yang dirundung sedih, maka dapat diduga bahwa beberapa hari ini mereka mengalami sesuatu yang menyebalkan, tapi siapa kiranya yang dapat membuat mereka penasaran apa kamu bisa menebak?”

“Siapa lagi selain Hwe-mo-sin,” dingin suara Pui-Po-giok.

Mendadak Ban-lo-hu-jin menyeletuk lagi dengan tertawa, “Semula aku bingung entah apa usaha Ong-toa-nio selama ini, ternyata di sini dia menjadi mucikari, membuka sarang hiburan bagi laki-laki hidung belang … Sungguh menggelikan, keparat Li-bin-sing itu juga rela menjadi pesuruhnya.”

Siau-kong-cu berkerut kening, tanyanya, “Apa maksudnya mucikari?”

Ban-lo-hu-jin terpingkal-pingkal, “Mucikari adalah orang yang membuka sarang pelacur …”

Merah muka Siau-kong-cu, “Aku sudah tahu tak perlu kau lanjutkan.”

“Terus terang saja, menurut penilaianku,” demikian ucap Ban-lo-hu-jin, “sarang pelacur yang dia buka di sini jauh berbeda dengan sarang pelacur umumnya. Bayaran yang dia tuntut bukan uang atau harta benda, tapi menuntut orang mengajarkan kungfu simpanannya.”

Po-giok menghela napas, “Tak heran kungfu Ong-toa-nio maju berlipat ganda. Selama beberapa tahun ini, tentu sudah kenyang dia mempelajari ilmu silat simpanan orang banyak. Bahwa dia berbuat demikian, tentu ada maksud tujuan yang tidak kecil artinya ”

Siau-kong-cu gegetun, “Dengan kungfu untuk membayar … cuh! Sungguh aneh dan menggelikan, banyak sekali laki-laki pikun sebodoh itu di dunia ini.”

“Apanya yang aneh,” demikian bantah Ban-lo-hu-jin, “kungfu bukan harta benda yang harus dibawa ke mana-mana, tapi dengan ajaran kungfu mereka dapat menikmati kemulusan tubuh gadis-gadis cantik, coba aku orang laki-laki, dengan suka rela akan aku ajarkan ilmu tongkatku.”

“Padahal tempat ini amat tersembunyi …”

“Dalam hal ini kamu memang masih hijau,” demikian tukas Ban-lo-hu-jin, “makin tersembunyi usahanya, orang makin tertarik, makin misterius, orang makin ingin tahu, yang datang pun tentu bukan orang sembarangan. Dalam hal ini Ong-toa-nio boleh diibaratkan seekor rase tua yang licin.”

Sementara itu, kedua gadis tadi sudah mengeluarkan buah jeruk dari mulutnya, tapi dengan muka merah mereka menunduk tidak berani bicara, hanya saja masih sering melirik ke arah Pui-Po-giok.

Po-giok sedang tenggelam dalam renungannya.

“Eh, apa kau juga tertarik?” Siau-kong-cu coba menggodanya, “ingin …”

Belum habis ia bicara, mendadak Pui-Po-giok menerjang keluar.

Suasana ruang besar yang semerbak itu sedang ramai. Duduk setengah tiduran di kursinya yang empuk, tertawa Ong-toa-nio tampak riang gembira.

Dua gadis duduk berhadapan di paha seorang laki-laki gede, laki-laki ini berpakaian sutera dengan warnanya yang indah menyolok, alis tebal mata bundar, lengan yang besar dengan jari-jari tangan yang kasar memeluk pinggang kedua gadis itu.

Orang ini bukan lain adalah To-pit-hiong Hi-Hiong, ahli senjata rahasia dari Hou-san.

Seorang lagi yang duduk di ujung sana juga berperawakan lebih besar dari orang biasa, anehnya batok kepalanya justru lebih kecil dari ukuran tubuhnya, kedua mata yang kecil sipit tengah merem melek mengawasi gadis dalam pelukannya.

Laki-laki yang bertubuh aneh ini bukan lain adalah Poan-than-hun Tam-Ih-seng dari Kiu-kang.

Seorang lagi bertubuh kurus sedang, tapi sorot matanya bercahaya, sedang bisik-bisik dengan gadis di sampingnya, entah apa yang mereka bicarakan, yang terang gadis itu cekikik geli.

Laki-laki bertubuh kurus sedang ini adalah si cerdik pandai Sun Giok-liong dari Ma-shin.

Selain itu, yang berkepala besar dan bertubuh pendek buntak adalah Kian-Sin-sing dari Bujang.

Yang berwajah kuning seperti orang sakit, selalu cemberut adalah Tio-Kiam-bing dari Ki-bun.

Berusia paling muda, berwajah putih cakap mirip anak kecil, dia bukan lain adalah Ko-Kwan-ing dari Lam-jiang.

Dan yang paling cakap dan ganteng adalah orang paling gagah di wilayah Sam-siang, yaitu Po-ma-sin-jio Lu-Hun.

Selain Hi-Thoan-ka, orang-orang yang menghilang secara misterius itu ternyata muncul seluruhnya di sini.

Dengan muka merah Lu-Hun duduk kaku, gadis yang duduk di sampingnya memang cantik molek, menggiurkan lagi genit, namun dia justru tidak berani bergerak.

Gadis itu malah aktif menggodanya, menariknya sambil tertawa manis, “Lu-kong-cu, ayolah masuk ke dalam saja, supaya tidak ditertawakan orang.”

Tapi Lu-Hun telah duduk kaku, seolah-olah biar mati di situ dia juga tidak mau berdiri.

Sikap Lu-Hun yang kaku dan takut justru mengundang gelak tawa dan godaan orang banyak lelaki atau perempuan dengan kata porno pun dilontarkan untuk menggairahkan nafsunya.

Sungguh aneh tokoh ternama kaum persilatan yang menjagoi daerah masing-masing, biasanya mereka sok jaga gengsi dan nama, tapi setelah berada di sini seolah-olah sudah melupakan nama dan kedudukan sendiri, omongan kotor juga diucapkan tanpa tedeng aling-aling.

Di tengah gelak tawa dan cekikikan orang banyak, dari balik kerai yang tersingkap mendadak melangkah keluar seorang. Tubuhnya tidak luar biasa, tapi kehadirannya yang mendadak ini seperti membuat silau para hadirin.

Semua percakapan dan gelak tawa mendadak berhenti. Tapi mulut yang sedang tertawa tiada satu pun yang sempat terkatup, sikap mereka mirip orang yang mendadak dicekik lehernya.

Mata Hi-Hiong melotot, “kau ….”

Keringat tampak bercucuran di jidat Tam-Ih-sing yang kecil mengkilap itu, “Kenapa ….”

“Kenapa engkau berada di sini?” sebuah kalimat pendek saja, terpaksa harus diucapkan tiga orang, cara mengungkapkannya juga seperti menguras tenaga mereka.

Pui-Po-giok tersenyum ramah, sapanya, “Sudah lama tidak bertemu, apa kalian baik saja.”

Tam-Ih-sing sibuk menyeka keringat, “Baik ….baik sekali ….”

“Ya, baik sekali …” tukas Sun-Giok-liong menyengir.

Mendadak To-pit-hiong Hi-Hiong berdiri, serunya dengan menyengir kuda, “Sedikit pun tidak baik.”

Po-ma-sin-jio Lu-Hun segera mendorong gadis di sebelahnya, langsung ia menghampiri Po-giok, katanya dengan muka jengah, “Pui-tai-hiap baikkah engkau ?”

Ong-toa-nio tertawa, serunya, “Di atas Thai-san, dengan kepandaiannya menindas seluruh hadirin, sekali mengayun pedang, namanya menggetar dunia! Kenapa Pui-tai-hiap tidak baik, tentu saja dia baik, baik sekali …” merandek sebentar, lalu menambahkan, “Ternyata kalian sudah kenal sebelumnya, begitu pun baik …ayolah anak-anak kenapa melotot saja, ambilkan kursi, silakan Pui-siau-hiap duduk!”

Dengan tertawa Po-giok menoleh, “Toa-nio tak usah sungkan ….”

Setelah menyapu pandang semua hadirin, akhirnya ia menatap Lu-Hun, katanya, “Ingin aku bicara sebentar dengan Lu-tai-hiap, Lu-heng …”

“Terserah kepada Pui-tai-hiap,” tersipu-sipu Lu-Hun menjawab.

Dengan terbelalak orang banyak mengawasi kedua orang ini melangkah keluar. Ada yang ingin bicara tapi mulut yang sudah terbuka akhirnya batal dan menelan kembali kata-katanya.

Lu-Hun mengikuti Po-giok berjalan di tengah rumpun bunga.

Saat mana bintang-bintang sudah pudar, rembulan juga sudah menghilang, cuaca masih gelap, hampir fajar, bau bunga harum memabukkan.

Po-giok berhenti lalu putar badan, katanya tertawa, “Lu-heng ….”

“Apakah Pui-tai-hiap ingin tahu jejakku selama ini?”

“Kalau Lu-heng tidak ingin menjelaskan, aku pun tidak memaksa.”

Lu-Hun menghela napas, “Terus terang, selama ini pamorku jatuh habis-habisan. Bukan saja ditipu oleh sepucuk surat, akhirnya aku disekap secara halus.”

“Dikurung secara halus?” tanya Po-giok.

“Kami berdelapan semuanya disekap dalam sebuah kamar bawah tanah yang gelap gulita, dengan berbagai daya kami tidak mampu meloloskan diri.”

“Betapa gagah perkasa kalian berdelapan, bagaimana mungkin ….”

“Bagaimana mereka ditawan aku tidak menyaksikan, sedang ….” setelah menghela napas lalu menyambung, “Setelah kuterima surat, langsung memburu ke tempat yang dijanjikan dan bertemu dengan …”

“Hwe-mo-sin?” tukas Po-giok tidak sabar.

“Bukan Hwe-mo-sin,” sahut Lu-Hun, “seorang tua tanpa kaki yang tidak jelas asal-usulnya, kelihatannya tubuhnya tidak bisa bergerak, tapi waktu aku lihat dia lantas terbius ambruk, ketika aku siuman sudah berada di kamar bawah tanah.”

“Orang tua buntung? … Siapakah dia?… Kalau demikian Hi-tai-hiap, Tam-tai-hiap dan pengalaman yang lain juga tidak berbeda dengan Lu-heng?”

“Ya, kira-kira demikian,” sahut Lu-Hun.

“Apakah isi surat itu, sehingga kalian mau memburu ke tempat yang dijanjikan tanpa mencari tahu seluk-beluknya …” melihat wajah Lu-Hun mengunjuk rasa malu dan serba salah, lekas Po-giok berhenti bicara.

Lu-Hun menunduk, katanya tergegap, “Surat itu …”

“Surat itu tidak penting,” Po-giok tertawa, “tidak usah Lu-heng jelaskan.”

“Pui-tai-hiap bisa maklum, sungguh aku berterima kasih, tapi …” mendadak ia angkat kepala, suaranya meninggi, “Tapi justru harus aku jelaskan. Waktu masih muda dulu aku pernah berbuat sesuatu yang memalukan, surat itu mengorek keburukanku dan mengancam supaya segera aku berangkat ke tempat yang ditunjuk.”

“O, jadi …Hi-tai-hiap dan lain-lain kukira juga demikian. Sungguh hebat orang itu, rahasia pribadi kalian berdelapan diketahuinya secara jelas.”

Lu-Hun tepekur sejenak, lalu berkata dengan tawa getir, “Rahasia pribadiku tidak banyak, tapi ada sementara orang …”

Walau perkataannya tidak dilanjutkan, namun Po-Giok maklum, bahwa Tam-Ih-sing dan Sun-Giok-liong serta yang lain punya banyak rahasia pribadi memang tidak sukar untuk diselidiki.

Hening sesaat, mendadak ia tanya, “Macam apa orang tua cacat itu?”

Sejenak Lu-Hun termenung, “Di dalam kamar remang-remang, kelihatannya orang tua itu mirip mayat, walau mukanya dibalut kain putih, namun bagian tubuhnya yang terlihat tampak melepuh seperti terluka bakar dan hangus, tapi juga seperti tersiram air panas, yang tidak sampai hati tentu tidak berani melihatnya dua kali.”

Cukup lama Po-giok tenggelam dalam pemikiran, akhirnya ia tepuk paha sambil berkata “Ya, benar, pasti dia adanya.”

“Siapa?” Lu Han terkesiap, “Pui-tai-hiap dapat menebaknya?”

“Aku duga orang tua ini adalah Cong-Beng-cu kaum Lok-lim dahulu, yaitu pemilik Ceng-bok-kiong, luka disekujur badannya adalah hasil pertarungannya dengan Pek-cui-nio ….Dengan susah payah Bok-long-kun mencari obat untuk ayahnya, tapi tidak berhasil, oleh karena itu walau jiwa orang tua itu dapat dipertahankan, tapi luka di tubuhnya sampai sekarang masih belum sembuh.”

Pucat muka Lu-Hun, “Sungguh kejam dan panas sekali perbuatan Pek-Cui-nio.”

“Betapa kejam dan jahatnya, kuyakin tiada bandingan di dunia.”

Mengingat dirinya harus menghadapi durjana kejam dan jahat yang tiada duanya di dunia ini, ngeri perasaan Po-giok, namun sikapnya lekas berubah wajar, tanyanya dengan tertawa, “Lalu bagaimana dengan Hi-Thoan-ka Hi-tai-hiap, kenapa tidak ikut ke sini?”

“Hi-heng kukuh pendapat, dia langsung pulang, sebetulnya aku tidak mau ikut kemari, tapi …ai, agaknya pendirianku kurang teguh, akhirnya aku ikut mereka.”

Po-giok tertawa, “Anak muda mencari hiburan memang tidak jadi soal, hanya saja kalau Lu-heng mengorbankan Lian-hoan-si-cap-pwe-jio sebagai bayarannya, terus terang saja aku merasa penasaran dan sayang bagimu.”

Lu-Hun menghela napas, “Bukan tidak aku pikirkan hal ini? Tapi aku dipaksa secara halus hingga tidak dapat ingkar janji terhadap kaum hawa!”, mendadak ia tertawa, lalu menyambung, “Untung saja Lian-hoan-si-cap-pwe-jio yang aku yakinkan itu tidak sehebat ilmu pedang kemahiran Pui-tai-hiap, namun untuk mempelajarinya dalam waktu singkat terang tidak mungkin.”

Po-giok hanya tertawa getir, katanya, “Kalau demikian, kuharap Lu-heng …”

Mendadak seorang berteriak lantang, “He, kalian sudah selesai bicara belum?”

Di tengah kumandang suaranya, tampak muncul To-pit-hiong Hi-Hiong dengan langkah lebar.

Lu-Hun mengawasi Pui-Po-giok, “Apakah Pui-tai-hiap masih ada pesan?”

“Kurasa tidak ada,” sahut Po-giok.

Sambil mendekat Hi-Hiong berkata dengan tawa, “Ada beberapa patah kata ingin aku bicarakan dengan Pui-tai-hiap.”

“Kalau demikian, biarlah aku mengundurkan diri,” ujar Lu-Hun, lalu bergegas ia masuk ke rumah.

Po-giok geleng kepala katanya tersenyum, “Agaknya Lu-heng sudah terangsang nafsunya.”

Hi Hiong tertawa lebar, “Begitu lama kita disekap di kamar gelap itu, sebagai laki-laki normal, siapa tidak ingin pelampiasan, Hanya saja saudara Lu ini masih muda dan tipis mukanya, padahal keinginannya sudah menggebu, namun lahirnya masih malu-malu kucing.”

“Entah Hi-heng ada petunjuk apa yang ingin dibicarakan denganku?”

“Ada beberapa persoalan yang aku tidak mengerti, aku ingin penjelasan.”

“Persoalan yang tidak dimengerti oleh Hi-heng belum tentu dapat aku jelaskan.”

“Betapa besar jerih-payah Hwe-mo-sin memancing dan menyekap kita beramai, namun setelah beberapa lama kita dibebaskan tanpa kurang suatu apa. Aku tahu dia tidak gila, tapi kenapa melakukan perbuatan yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan sendiri, berusaha payah tapi tidak ada hasilnya?”

“Tentang hal itu … rasanya aku sudah tahu.”

“Oleh karena itu aku mencarimu dan mohon penjelasan.”

“Waktu itu Hwe-mo-sin sengaja memfitnahku supaya dikutuk orang banyak, supaya kaum persilatan menuduhku sebagai durjana, penipu besar. Tapi kalian pernah bergebrak denganku, dia kuatir kalian tampil sebagai saksi, maka dia perlu menipu kalian dan menyekapnya secara diam-diam. Kini fitnah atas diriku sudah terbongkar, sudah tentu tidak perlu lagi mengurung kalian.”

Hi Hiong tertawa, “Untung orang itu masih punya perasaan, celakalah kalau kita disembelih atau selama hidup tidak dilepaskan.”

“Tadi Hi-heng bilang dia suka melakukan sesuatu yang merugikan orang tanpa menguntungkan diri sendiri. Kalau dia membunuh kalian, jelas tidak mengundang untung, sebaliknya kalau kalian dibebaskan bukan mustahil kalian yang tidak tahu seluk-beluk persoalannya malah berterima kasih kepadanya.”

“Kalau benar dia mengharap kita berterima kasih kepadanya, kukira dia sedang bermimpi. Kukira dia melepas kita karena dia tahu antara kita berdelapan ada yang tidak terima dan masih penasaran terhadapmu, orang-orang ini masih berusaha mencari perkara padamu. Hehe, bila ada orang di dunia ini mencari perkara terhadapmu, hatinya itu senang setengah mati.”

Dengan tersenyum Po-giok berkerut alis, “O? … Apa benar demikian?”

“Memang demikian, aku tahu ada dua keparat yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, mereka beranggapan hanya kebetulan kau dapat mengalahkan mereka, maka selama ini mereka mencari kesempatan untuk berduel lagi denganmu.”

“Terima kasih atas keterangan Hi-heng …”

“Jangan berterima kasih padaku, aku merasa sebal melihat tingkah laku kedua keparat itu, kalau tidak tentu tidak akan aku sampaikan hal ini padamu. Percayalah aku bicara sejujurnya.”

Po-giok tertawa geli.”Hi-heng memang jujur dan suka terus terang.”

“Walau kedua keparat itu kasak kusuk, tapi kungfu mereka tidak boleh dipandang ringan. Terutama selama kita dikurung dalam kamar bawah tanah, kedua orang ini berkumpul di pojokan dan selalu kasak-kusuk, tidak jarang mereka bergelak tertawa, kelihatannya amat senang dan puas. Sebetulnya aku malas mendengar percakapan mereka, tapi secara tidak sengaja justru aku dengar pembicaraan mereka.”

“Soal apa yang mereka bicarakan?” tanya Po-giok tertarik.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: