Kumpulan Cerita Silat

20/04/2008

Bakti Pendekar Binal (02)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:25 pm

Bakti Pendekar Binal (02)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Hanya Siau-hi-ji yang diam-diam menggeleng kepala, pikirnya, “Ya, tertawalah kalian, tertawalah sepuasnya, tapi waktunya kalian menangis juga selekasnya akan tiba ….”

Begitulah Toan Hap-pui dan Samkohnio lantas digusur masuk ke ruangan belakang, ayah beranak itu tertawan secara begini saja dan dengan sendirinya tidak terhindar dari siksaan.

Tio Hiang-leng lantas mengadakan pesta besar untuk menghormati kedua Lo bersaudara, ia angkat cawan dan mengucapkan terima kasih kepada bantuan mereka.

“Ah, hanya urusan kecil ini, kenapa mesti dibicarakan lagi,” ujar Lo Sam dengan tertawa. “Cuma – entah bagaimana keputusan Cengcu sekarang?”

“Urusan sudah telanjur begini, yang kuharapkan adalah urusan besar dapat dikecilkan dan urusan kecil dapat dihapuskan,” kata Tio Hiang-leng dengan gegetun. “Nanti kalau Kang Piat-ho datang bolehlah kita menjelaskan duduknya perkara, asalkan ia mau terima keterangan kita dan tidak mengusut lebih lanjut persoalan ini, maka Cayhe bersedia membebaskan Toan Hap-pui.”

“Hm, urusan sudah telanjur begini dan Cengcu masih mengharapkan urusan besar berubah menjadi urusan kecil segala?” tiba-tiba Lo Kiu mendengus.

Tertampak air muka Tio Hoang-leng rada berubah, “Memangnya…memangnya tidak ….”

“Urusan sudah kadung begini, kedua pihak sudah jelas bermusuhan, biarpun Cengcu menegaskan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini juga takkan dipercaya oleh Kang Piat-ho,” jengek Lo Kiu.

“Jika…jika begini kan berarti kalian telah membikin susah diriku?” kata Tio Hiang-leng dengan ketakutan.

“Kami bersaudara telah berusaha dengan mati-matian dan akhirnya cuma mendapatkan hadiah ucapan Tio Cengcu ini?” jengek Lo Sam.

Cepat Tio Hiang-leng minta maaf, “O, apabila ucapanku menyinggung perasaan kalian hendaklah sudi dimaafkan. Soalnya Cayhe benar-benar merasa bingung dan tak tahu bagaimana baiknya, untuk ini diharapkan kalian suka memberi petunjuk lagi.”

Lo Kiu tertawa, katanya, “Kalau tidak dapat berdamai, jalan lain hanya bertempur!”

“Bertempur?!” Tio Hiang-leng menegas.

“Ya, bertempur!” jawab Lo Kiu.

“Tapi…tapi Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat itu teramat lihai, Cayhe tidak…tidak ….”

“Meski ilmu silat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat memang lihai, tapi Cengcu juga tidak perlu takut,” kata Lo Kiu dengan tersenyum.

“Tidakkah Cengcu tahu, kalau tidak dapat melawan dengan kekuatan, kalahkan saja dengan akal,” sambung Lo Sam.

“Dengan akal apa?” tanya Tio Hiang-leng.

“Toan Hap-pui dan anak buahnya sudah berada di genggaman kita, untuk ini Kang Piat-ho harus berpikir dua kali sebelum bertindak, andaikan dia datang kemari juga tidak berani sembarangan turun tangan. Maka sekarang juga silakan Cengcu menyembunyikan Toan Hap-pui berdua.”

“Lalu bagaimana?” tanya Tio Hiang-leng.

Lo Kiu memandang para centing, lalu berkata dengan suara tertahan, “Para saudara di Te-leng-ceng sini juga bukan kaum lemah, Cengcu boleh mengadakan perangkap di sekeliling ruangan ini, siapkan busur panah yang kuat dan ….”

“Dan bila Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat itu masuk ke sini, biarpun mereka berkepala tiga dan bertangan enam juga sukar keluar dengan hidup,” sambung Lo Sam dengan tersenyum. Agaknya dia tidak pantang apa-apa, suara ucapannya sengaja diperkeras.

Dari jauh Siau-hi-ji dapat mendengar semua itu dengan jelas, diam-diam ia memaki, “Usul kentut macam apa ini? Masa Kang Piat-ho mau terjebak dengan begitu saja? Kalau Tio Hiang-leng menuruti saran ini sama saja dia telah menambahi dosa sendiri, dengan demikian sekalipun Kang Piat-ho membunuhmu juga tiada orang Kangouw yang berani buka suara membelamu lagi.”

Tapi Tio Hiang-leng agaknya tertarik oleh usul itu, ia tanya, “Apakah akal kalian ini dapat dilaksanakan dengan baik?”

“Sudah tentu dapat,” kata Lo Kiu.

Segera pula Lo Sam menyambung, “Setelah akal ini berhasil, maka nama Thian-hiang-tong Te-leng-ceng pasti akan mengguncangkan dunia, tatkala mana jangan-jangan kami akan diusir malah oleh Tio-cengcu.”

“Ah, mana Cayhe berani melupakan kalian berdua ….” tanpa terasa Tio Hiang-leng tertawa senang, Tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung pula dengan ragu-ragu, “Cuma…cuma cara demikian, bilamana gagal, bukankah akan ….”

“Urusan sudah begini, masa Tio-cengcu masih ada pandangan lain?” kata Lo Kiu dengan ketus.

Tio Hiang-leng merenung sejenak, katanya kemudian dengan menyengir, “Ya, urusan sudah begini, rasanya tiada pilihan lagi, terpaksa kita harus menghadapi mereka sebisanya.”

“Itulah dia, ucapan Tio-cengcu ini barulah sikap ksatria sejati,” ucap Lo Kiu dengan tertawa.

“Baiklah, sekarang kita harus lekas-lekas bersiap, sebab kalau Kang Piat-ho mengetahui Toan Hap-pui dan putrinya diculik, tentu mereka akan segera menyusul kemari,” sambung Lo Sam.

Segera Tio Hiang-leng memerintahkan centingnya menyiapkan barisan panah dan bersembunyi di sekeliling ruangan, apabila cawan arak dibanting, itu tandanya harus turun tangan.

Setelah mengatur perangkap, kemudian Lo Kiu dan Lo Sam minta tuan rumah mengundang keluar pula Thi Bu-siang. Nyata tipu muslihat yang diatur Kang Piat-ho berlangsung dengan sangat lancar, bukan saja Tio Hiang-leng setindak demi setindak melangkah masuk perangkapnya, bahkan Thi Bu-siang juga terseret dan ikut kejeblos. Dengan demikian Kang Piat-ho akan dapat menumpas pengaruh Thi Bu-siang dengan mudah sehingga kekuatan orang-orang Kangouw yang anti Kang Piat-ho juga semakin berkurang.

Begitulah, secara tak jelas Thi Bu-siang telah dijadikan kambing hitam sebagai orang yang merampok harta kiriman Toan Hap-pui itu, kini setiap orang Kangouw malahan tidak ragu-ragu lagi terhadap persoalan ini.

Jaring sudah mulai ditarik dan semakin kencang, ikan tak dapat lolos lagi ….

Siau-hi-ji sedang merenungkan semua kejadian ini, ia bergumam sendiri, “Apakah tipu muslihat keji Kang Piat-ho kini benar-benar tiada lubang kelemahannya yang dapat digempur?”

Petangnya, Thi Bu-siang sudah duduk di ruangan tamu yang luas itu, meski tubuhnya duduk tegak, tapi kelihatan lesu, sorot matanya pun kehilangan cahaya seperti biasanya.

Sebaliknya Lo Kiu dan Lo Sam tampak penuh semangat, Tio Hiang-leng juga kelihatan giat mengatur ini dan itu, di sekeliling ruangan sudah bersembunyi puluhan pemanah kuat, di halaman sana juga siap berpuluh kelompok centing yang lain dengan senjata lengkap, Siau-hi-ji juga berbaur di antara mereka.

Suasana semakin mencekam, setiap orang merasa tegang. Tiba-tiba di luar perkampungan ada suara derapan kaki kuda yang ramai, serentak semua orang siap siaga.

Mendadak suara kaki kuda itu berhenti, lalu masuklah tujuh pemuda dengan dandanan ringkas berpedang. Langsung ketujuh pemuda itu masuk ke ruangan tamu dan menyembah di depan Thi Bu-siang.

Kiranya ketujuh pemuda ini adalah jago pilihan di antara kedelapan belas murid kesayangan Thi Bu-siang. Tentu saja jago tua itu merasa terhibur oleh datangnya anak murid ini, malahan Tio Hiang-leng juga kegirangan.

Terbeliak juga mata Siau-hi-ji demi melihat ketujuh anak muda ini, sebab satu di antaranya yang menjadi kepala itu bukan lain daripada si pemuda baju ungu bermuka pucat yang diam-diam bersekongkol dengan Kang Giok-long itu.

Terdengar pemuda itu berkata dengan sangat hormat, “Tecu datang terlambat, mohon Suhu memberi maaf ….”

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Tidak, kau tidak terlambat, kedatanganmu tepat pada waktunya, memang sudah kutunggu kedatanganmu.”

Rasa girang tampak pada wajah Thi Bu-siang, tapi segera timbul pula rasa sedihnya, ia menghela napas panjang dan menjawab, “Meski kalian sudah datang, kurasa juga tiada berguna bagi persoalan ruwet ini…Urusan ini tidak dapat lagi diselesaikan dengan kekerasan, maka sebentar kalian jangan sembarangan turun tangan agar tidak ….”

Belum lenyap suaranya tiba-tiba terdengar seorang menjerit kaget.

“Bluk”, tahu-tahu sesosok tubuh melayang masuk dari luar jendela di belakang ruangan tamu dan terbanting di lantai, tubuh itu kaku dan tak bergerak lagi, berpakaian hitam ringkas, busur masih terpegang di tangannya, malahan satu kantong anak panah juga masih tersandang di punggungnya. Jelas dia salah seorang pemanah yang disembunyikan Tio Hiang-leng di sekitar ruangan ini.

Seketika muka Tio Hiang-leng berubah pucat, Thi Bu-siang juga bersuara kaget.

Menyusul terdengar jeritan pula, kembali seorang terlempar masuk…Hanya sekejap saja terdengarlah jerit ngeri berbangkit berulang-ulang, di tengah ruangan sekarang telah bertumpuk belasan tubuh orang, semuanya sudah kaku menjadi mayat.

“He, ba…bagaimana terjadinya?” seru Tio Hiang-leng bingung.

“Ini…ini ….” Thi Bu-siang juga kehilangan akal.

“Ini namanya mau untung menjadi buntung akibat perbuatanmu sendiri,” jengek seorang di luar.

Dua bayangan orang lantas melayang masuk, siapa lagi kalau bukan Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

“Bluk”, Tio Hiang-leng jatuh terduduk lemas di kursinya dan tidak sanggup berdiri lagi.

Kang Piat-ho berdiri dengan pongahnya di tengah ruangan, jengeknya, “Barangkali Thi-loenghiong mengira dengan menyembunyikan barisan pemanah ini akan dapat menjebak orang she Kang? Hehehe, teramat rendah sekali kalian menilai diriku.”

Dengan suara keras Thi Bu-siang menjawab, “Sesungguhnya apa yang terjadi ini sama sekali Lohu tidak tahu-menahu.”

“Tapi kalau tidak disetujui Thi-loenghiong rasanya Tio-cengcu juga tidak berani bertindak demikian,” jengek Kang Piat-ho.

Segera Thi Bu-siang berpaling kepada tuan rumah dan membentak dengan gusar, “Tio Hiang-leng, coba katakan, siapa yang suruh menggunakan cara rendah dan kotor ini?”

“Ini…ini ….” Tio Hiang-leng gelagapan dan menunduk.

Sekonyong-konyong Lo Kiu berdiri dan berseru, “Kami bersaudara mengira Thi-locianpwe dan Tio-cengcu adalah ksatria sejati, makanya jauh-jauh kami datang ke sini, tak tahunya sekarang kalian menggunakan cara kotor begini ….”

Dengan suara keras Lo Sam lantas menyambung, “Jelek-jelek kami bersaudara juga tidak sudi bergaul dengan manusia rendah begini. Mulai saat ini apa pun yang terjadi atas Te-leng-ceng sama sekali tiada sangkut-paut dengan kami bersaudara.”

“He, mengapa kalian berkata demikian, bukankah semua ini atas prakarsa kalian?” teriak Tio Hiang-leng.

“Hm, orang she Tio, setelah kepepet, kau berani menumplekkan semua persoalan kepada kami bersaudara?” jengek Lo Kiu.

“Biarpun kau menyangkal dengan cara apa pun juga tiada orang mau percaya,” sambung Lo Sam.

“Bagus, kau…bagus ….” Tio Hiang-leng meraung dengan murka.

“Aku tidak ingin membela pihak mana pun, tapi urusan sudah jelas begini, apa pula yang dapat kalian katakan?” demikian Hoa Bu-koat membuka suara dengan tenang.

“Lohu…Ai, sungguh bikin gusar Lohu!” seru Thi Bu-siang dengan menggereget, mendadak darah tersembur dari mulutnya. Saking gemasnya orang tua ini jadi pingsan.

Anak muridnya menjadi kaget dan gusar pula, ada yang memburu maju untuk menolong sang guru, ada yang melolos pedang siap tempur. Pemuda baju ungu itu lantas berseru, “Sabar dulu, sebelum persoalan menjadi jelas, kita jangan sembarangan bertindak!”

Dengan sikap kereng Kang Piat-ho berkata, “Betul, kalau sang guru tidak berbudi, anak murid tidak perlu lagi taat padanya. Kalian harus dapat membedakan antara yang benar dan salah, dengan demikian kalian pasti akan dihormati setiap orang persilatan.”

“Tapi urusan ini sesungguhnya bagaimana, kami ….” pemuda baju ungu tampak ragu-ragu.

“Urusan ini sudah jelas, bukti dan saksi sudah nyata, memangnya kalian masih tidak percaya?” kata Kang Piat-ho dengan tegas.

Mendadak pemuda baju ungu menghela napas sedih, katanya, “O, Suhu, janganlah engkau menyesali tindakan murid yang tak setia ini, soalnya engkau sendiri melakukan perbuatan yang tidak baik, demi kebenaran terpaksa Tecu ….” dia merandek, setelah menggentak kaki, tiba-tiba ia menanggalkan pedangnya dan dilemparkan ke lantai.

Perbuatan pemuda baju ungu ini sungguh amat lihai, kalau setiap orang Kangouw sudah mengetahui anak murid Thi Bu-siang sendiri juga mengakui kesalahan gurunya, lalu orang lain mau bilang apa lagi?

Keenam murid Thi Bu-siang yang lain hanya taat kepada sang pimpinan, melihat tindakan pemuda baju ungu itu, tiga orang lainnya segera ikut membuang pedang, sebagian pedang yang tadinya terhunus siap tempur itu pun diturunkan ke bawah.

Dengan suara lantang Kang Piat-ho lantas berseru, “Kecuali Thi Bu-siang dan Tio Hiang-leng, urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan orang lain, asalkan kalian tidak ikut-ikutan, maka pihak kami juga takkan membikin susah orang yang tak berdosa.”

Tio Hiang-leng ketakutan hingga giginya gemertuk, katanya dengan suara parau, “Sesungguhnya ada permusuhan apa antara kau dan aku, mengapa kau bikin susah diriku cara begini?”

“Meski Cayhe tiada permusuhan apa-apa dengan kau, tapi demi kebenaran dan keadilan tak dapat kuampunimu.”

Mendadak Tio Hiang-leng menjadi nekat, teriaknya dengan menyeringai, “Baik, kutahu kau bela Toan Hap-pui dan bertekad hendak melenyapkan diriku, tapi kau pun jangan menyalahkan aku, sebab saat ini Toan Hap-pui sudah berada dalam genggamanku, kalau aku mati dia juga takkan hidup.”

“Apa betul?” jengek Kang Piat-ho. Dia memberi tanda, segera dua joli digotong keluar dari ruangan belakang, pemikul joli bagian depan jelas adalah si tukang pikul yang pintar omong dan pandai berdebat itu.

“Siapa yang berada di dalam joli, apakah kau ingin tahu?” tanya Kang Piat-ho kepada Tio Hiang-leng.

Waktu “tukang pikul joli” itu menyingkap tirai joli, tertampak seorang gemuk duduk di dalam dengan tertawa, siapa lagi kalau bukan Toan Hap-pui.

Sampai di sini Tio Hiang-leng benar-benar sudah kalah habis-habisan, dengan pedih ia memandang sekelilingnya, mendadak ia meraung sekali, seperti orang gila terus berlari keluar.

Kang Piat-ho juga tidak mencegahnya, jengeknya, “Hm, memangnya kau masih ingin kabur?!”

Baru saja Tio Hiang-leng lari keluar ruangan tamu itu, dari samping yang gelap tiba-tiba sebuah tangan menariknya, lalu membisiki beberapa patah kata di telinganya.

Setelah mendengar bisikan itu, Tio Hiang-leng seperti habis minum obat mujarab, seketika semangatnya terbangkit.

*****

Sementara itu Thi Bu-siang sudah siuman.

Dengan tenang Hoa Bu-koat berkata, “Mengingat namanya diperoleh dengan susah payah, biarlah dia membereskan dirinya sendiri saka.”

Walaupun menghadapi sesuatu keputusan besar, tapi sikap Hoa Bu-koat tetap tenang-tenang dan sabar, seakan-akan segala urusan tidak begitu penting baginya.

Segera Kang Piat-ho menjemput pedang yang dibuang si pemuda baju ungu tadi, perlahan-lahan ia sodorkan kepada Thi Bu-siang dengan pandangan tajam tanpa berucap. Dia memang tidak perlu lagi membuka suara.

Thi Bu-siang lantas menghela napas panjang sambil menengadah, serunya dengan suara parau, “O, Tuhan, betapa pun matiku tidak rela.” Sorot matanya yang penuh rasa pedih dan bengis itu menyapu pandang setiap anak muridnya, sampai-sampai pemuda baju ungu juga tidak berani menatapnya dan lekas menunduk.

Mendadak Thi Bu-siang berteriak dengan suara kereng, “Ini Thi Bu-siang berdiri di sini, jika di antara kalian ada yang anggap aku berdosa dan ingin mencabut nyawaku, ayolah maju sekarang juga! Kuyakin Tuhan takkan mengampuni orang yang berdosa!”

Di bawah cahaya lilin yang gemerlap tertampak sorot matanya tajam berapi, rambut jenggotnya seakan-akan berjengat, sikapnya yang murka penuh rasa duka itu membuat keder orang yang memandangnya.

Tanpa terasa Kang Piat-ho mundur satu tindak. Tapi si “tukang pikul joli” itu malah terus melompat maju sambil membentak, “Manusia yang tidak berbudi setiap orang boleh membunuhnya, kalau orang lain tidak tega turun tangan, biar aku saja yang membereskan kau.”

Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar seorang membentak, “Kang Giok-long, kau benar-benar berani turun tangan?!”

“Tukang pikul” itu tergetar, cepat ia membalik tubuh, terlihat Tio Hiang-leng masuk kembali dengan langkah lebar, meski wajahnya tetap pucat pasi, tapi dadanya sudah terbusung, bicaranya juga lantang, tidak lagi takut seperti tadi.

Setelah Tio Hiang-leng sampai di tengah ruangan barulah semua orang melihat di belakangnya masih ikut satu orang lagi. Orang ini berjubah hijau dan berkaos kaki putih, kepalanya memakai sebuah kalo bambu untuk menutupi mukanya, jalannya bergoyang-goyang sehingga mirip “arwah halus” yang menempel di tubuh Tio Hiang-leng seperti lakon yang biasa dimainkan di atas panggung, seram tampaknya sehingga membuat orang bergidik.

Tapi hanya sekejap saja “tukang pikul” itu terkejut, segera dia dapat tenangkan diri, dengan tertawa ia lantas menjawab, “Haha, apakah kau maksudkan diriku ini Kang Giok-long, Kang Siauhiap? Masakah pendekar muda kita yang termasyhur itu sudi menjadi tukang pikul joli seperti diriku, apa matamu tidak buta?”

“Kang Giok-long,” teriak Tio Hiang-leng, “Orang lain mungkin dapat dikelabui olehmu, tapi jangan harap dapat mengelabui aku. Kau telah merampas harta kiriman keluarga Toan, lalu cepat-cepat pulang ke sini untuk menyamar sebagai tukang pikul joli, tujuanmu sudah tentu hendak membunuh Thi-locianpwe, dengan caramu ini tentu setiap orang Kangouw akan menganggap Thi-locianpwe tewas di tangan seorang kuli tukang pikul, andaikan kelak ada orang yang ingin menuntut balas juga tidak perlu mencari ayah beranak ‘Kang-lam-tayhiap’ yang munafik dan palsu itu…Wahai, Kang Giok-long, tindak tanduk kalian ayah beranak memang harus diakui teramat rapi sehingga setitik lubang saja tidak kentara sama sekali.”

“Tukang pikul” itu tergelak-gelak, katanya, “Nah, hadirin sudah dengar semua, keparat ini ternyata berani menuduh Kang-siauhiap sebagai perampok harta kiriman keluarga Toan…Hehe, coba Toan-loyacu, tidakkah keparat ini orang gila sembarangan mengoceh?”

Mata Toan Hap-pui yang menyipit itu sekilas gemerdep memancarkan cahaya yang licik, dengan tersenyum ia pandang Tio Hiang-leng, katanya dengan perlahan, “Mengapa kau berkata demikian? Padahal Kang-siauhiap sendiri yang merampaskan kembali harta kirimanku yang dirampok orang itu, jika dia yang merampok, kenapa pula dia merampasnya kembali?”

“Waktu pertama kali harta kirimanmu itu dirampok adalah kerja sama antara Siang-say-piaukiok dengan Kang Giok-long, jika Kang Giok-long tidak pura-pura merampas kembali harta kirimanmu itu tentu Siang-say-piaukiok yang wajib memberi ganti rugi padamu,” tutur Tio Hiang-leng.

“Untuk apa mereka membuat begitu?” tanya Toan Hap-pui.

“Dengan berbuat begitu, tentu nama Kang Giok-long akan tambah tersohor dan terhormat di dunia Kangouw, apalagi ….” Sampai di sini Tio Hiang-leng sengaja merandek.

Toan Hap-pui menjadi tidak sabar dan mendesak, “Apalagi bagaimana?”

“Apalagi kalau terjadi harta kiriman dirampok untuk yang kedua kalinya, tentu orang lain takkan curiga atas diri Kang Giok-long,” dengan perlahan Tio Hiang-leng menjelaskan.

“Kalau begitu, lalu orang-orang Siang-say-piaukiok mengapa terbunuh pula?”

“Untuk rapinya muslihat keji ini, dengan sendirinya orang-orang Siang-say-piaukiok harus dikorbankan,” sambung Tio Hiang-leng. “Dengan sendirinya Kang Giok-long harus membunuh mereka untuk melenyapkan saksi. Apalagi kalau orang-orang Siang-say-piaukiok sudah mati semua, dengan sendirinya mereka tidak perlu ganti rugi lagi dan harta kiriman yang berjumlah besar itu akan jatuh ke tangan Kang-lam-tayhiap kita dengan aman sentosa.”

Kang Piat-ho mengernyitkan dahi dan melirik sekejap ke arah si “tukang pikul joli” tadi.

Dengan gusar “tukang pikul joli” itu lantas membentak, “Dasar maling berteriak maling, sudah kepepet malah kau menggigit orang, betapa pun takkan kuampuni kau!” Di tengah bentakannya ia terus menubruk ke arah Tio Hiang-leng dengan cepat luar biasa.

Tentu saja Tio Hiang-leng kaget dan tampak tidak sempat mengelak, pada saat itulah sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Hoa Bu-koat sudah mengadang di depan si “tukang pikul”.

Pukulan “tukang pikul” itu sudah telanjur dilontarkan dari sukar dikendalikan, tampaknya tubuh Hoa Bu-koat akan terpukul, tapi mendadak ia menggeser tubuh, tangan lain menepuk tangan yang lagi menghantam itu, dengan demikian tubuhnya lantas berputar dan pukulan juga menceng ke samping.

Gerakan yang gesit dan cekatan ini sungguh luar biasa, kalau tidak memiliki ilmu silat tingkat tinggi tidak mungkin bertindak demikian, dan ini dapat dilakukan oleh seorang “tukang pikul joli”.

Tentu saja hati semua orang tergerak, sedang dahi Kang Piat-ho berkerut semakin rapat. Hoa Bu-koat juga berkata dengan tersenyum, “Ilmu silat bagus! Gerak tubuh yang hebat ….”

“Tukang pikul joli” itu memandangnya dengan terkesiap, tanyanya dengan tergagap, “Mengapa Hoa-kongcu ber ….”

“Siapa pun yang ingin bicara harus kita terima dan dengarkan pendapatnya,” kata Hoa Bu-koat dengan tersenyum, “Sekalipun kita tidak percaya ucapannya juga harus memberi kebebasan bicara padanya. Betul tidak?”

Terpaksa “tukang pikul” itu mengiakan sambil menunduk.

Hoa Bu-koat lantas berpaling kepada Tio Hiang-leng, tanyanya, “Kau berani bicara begitu, memangnya kau mempunyai buktinya?”

Tio Hiang-leng termenung-menung sejenak, tapi segera ia berseru pula, “Bahwa orang-orang Siang-say-piaukiok terbunuh begitu saja tanpa melawan sama sekali, padahal kepandaian kedua ekor singa itu tidaklah lemah. Nah, sekarang Cayhe ingin tanya, seumpama orang berkepandaian tinggi seperti Hoa-kongcu, kalau sekaligus hendak membinasakan orang-orang itu, dapatkah engkau laksanakan tanpa mendapat perlawanan sama sekali dari mereka?”

Hanya setelah termenung sejenak lalu ia dapat bicara dengan lancar dan tajam seakan-akan mendadak diberi petunjuk oleh seseorang. Dengan sendirinya hal ini menimbulkan curiga Kang Piat-ho, sorot matanya yang tajam segera menyapu ke arah “badan halus” yang berada di belakang Tio Hiang-leng itu.

Dengan perlahan Hoa Bu-koat lantas menjawab, “Betul, seumpama orang berkepandaian lebih kuat daripadaku juga pasti akan mendapat perlawanan sekalipun dia dapat membinasakan mereka dengan mudah akhirnya.”

“Dan di dunia ini apakah masih ada orang yang berkepandaian lebih tinggi daripada Hoa-kongcu?”

“Andai kata ada juga tidak banyak jumlahnya,” jawab Hoa Bu-koat dengan tersenyum.

“Bagus, makanya persoalan ini hanya ada satu jawabannya,” kata Tio Hiang-leng.

“Bagaimana jawabannya?” tanya Bu-koat.

“Yang membunuh mereka itu pastilah orang yang sangat karib dengan kedua ekor singa she Li itu, karena mereka tidak menyangka orang itu bakal turun tangan keji padanya, maka mereka tidak berjaga-jaga dan karena itu pula tidak sempat melawan ….” Tio Hiang-leng menyeringai, lalu menyambung pula, “Dan tidak perlu ditanyakan pula bahwa orang itu dengan sendirinya ialah Kang Giok-long.”

“Tapi menurut saksi hidup si tukang kuda itu, katanya yang turun tangan keji itu adalah seorang kakek,” kata Bu-koat.

“Ilmu mengubah rupa di dunia Kangouw sekarang sudah bukan rahasia lagi, kalau dia dapat menyamar sebagai tukang pikul joli, mengapa dia tidak dapat menyamar sebagai seorang kakek ….” dia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “dia sengaja membiarkan si tukang kuda tetap hidup agar dari mulut tukang kuda itu bisa tersiar apa yang dilihatnya, kalau tidak dengan kepandaiannya masakah tukang kuda itu dapat mengelabui mata telinganya sungguhpun dia bersembunyi. Kecuali itu, setelah tukang kuda itu dapat menyelamatkan diri segera dia menyiarkan kejadian itu secara jelas dengan dibumbu-bumbui pula, coba pikir seorang yang terkejut mengalami kejadian ngeri itu masih dapat bicara sejelas itu, maka…maka tukang kuda itu pasti juga sekomplotan dengan dia dan sebelumnya telah diberi petunjuk cara bagaimana dia harus menyiarkan peristiwa itu ….”

Pada bagian-bagian ucapannya selalu dia berhenti sejenak seakan-akan sedang memperhatikan apa yang dibisikkan oleh si “badan halus” yang berada di belakangnya itu.

Dengan tatapan tajam Kang Piat-ho lantas mengejek, “Dan apa yang kau uraikan ini atas petunjuk siapa pula?”

“Ini…ini…adalah hasil pemikiranku sendiri, aku ….” sampai di sini kembali Tio Hiang-leng merandek pula, lalu menyambung dengan suara keras, “Oya, tadi aku keliru, bisa jadi si tukang kuda itu adalah samaran si ‘tukang pikul joli’ sekarang ini, ialah Kang Giok-long, sedangkan yang turun tangan keji itu ialah Kang Piat-ho.”

Mendadak Kang Piat-ho terbahak-bahak sambil menengadah, katanya, “Sebelumnya aku tidak peduli akan jalan pikiranmu, tapi lantaran kau mengoceh sembarangan, terpaksa tak bisa kuampuni kau.”

Ucapannya ini ternyata tidak ditujukan kepada Tio Hiang-leng, matanya juga tidak memandang tuan rumah itu, tapi sorot matanya yang tajam justru menatap ke arah si “badan halus” yang berada di belakang Tio Hiang-leng.

Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan perlahan, entah sejak kapan si “tukang pikul joli” itu sudah berada di belakang “badan halus”, menyusul ia terus menubruk maju, secepat kilat telapak tangannya terus menghantam.

Perhatian semua orang sama tertarik oleh ucapan Kang Piat-ho tadi sehingga tiada yang memperhatikan tindakan “tukang pikul joli” itu, tahu-tahu dia menyerang secara tiba-tiba dan tampaknya pasti akan mengenai sasarannya.

Tak terduga “badan halus” itu seperti sudah memperhitungkan cara bagaimana dan dari arah mana akan diserang, tanpa menoleh sebelah tangannya lantas menampar ke belakang.

Gerakan yang kelihatannya sepele itu ternyata menuju ke titik lemah serangan si “tukang pikul joli” itu sehingga memaksa dia harus menyelamatkan diri lebih dulu sebelum sempat melukai lawan. Sebisanya ia menutul kedua kakinya dan melompat mundur, dengan terbelalak ia pandang “badan halus” ini dengan sangat ketakutan seperti melihat setan.

Padahal semua orang sudah menyaksikan betapa lihai ilmu silatnya ketika menyerang Thi Bu-siang tadi, kini dia dapat digempur mundur oleh gerakan sepele seorang yang tak menarik, tentu saja semua orang sama terkejut. Sudah tentu si “tukang pikul” sendiri lebih-lebih tidak menduga bahwa serangannya yang pasti akan berhasil itu bisa berubah menjadi seperti permainan anak kecil saja bagi lawan.

Dilihatnya “badan halus” itu membalik tubuh perlahan, dengan terkekeh-kekeh menegurnya, “Apakah kau kenal aku?”

“Sia…siapa kau?” tanya si ‘tukang pikul’ dengan suara parau.

“Kau tidak kenal aku, tapi kukenal kau…mati pun takkan kulupakan dirimu,” suaranya melengking tajam dan kedengaran rada-rada seram.

Tanpa terasa “tukang pikul” itu bergidik, katanya pula, “Sesungguhnya kau ini sia…siapa?”

“Sudah kukatakan sejak tadi, aku ini bukan manusia, tapi setan!” sambil bicara selangkah demi selangkah ia terus mendekati orang dan tanpa terasa “tukang pikul” itu pun mundur selangkah demi selangkah.

Entah mengapa, suasana di tengah ruangan yang terang benderang itu mendadak berubah menjadi seram.

Walaupun air muka “tukang pikul” itu tidak kelihatan berubah, namun sinar matanya jelas menampilkan rasa takut luar biasa, wajah yang kaku tanpa perasaan itu disertai sorot mata yang ketakutan itu semakin menambah seram orang yang melihatnya.

Hoa Bu-koat ternyata diam saja dan tiada tanda-tanda hendak turun tangan. Kang Piat-ho tampak mengedip, seperti memberi isyarat, habis itu lantas terdengar si pemuda baju ungu berteriak, “Wah, celaka! O, Suhu…Suhu…O, Suhu bunuh diri!”

Karena teriakan ini, seketika pandangan semua orang beralih dari si “badan halus” ke arah Thi Bu-siang, setelah melihat apa yang terjadi, semua orang ikut menjerit kaget.

Thi Bu-siang kelihatan masih duduk tegak di kursinya, tapi pedang tadi kini telah menancap di lehernya, bajunya berlumuran darah. Karena lehernya tertembus pedang sehingga tak dapat berteriak, kedua tangannya tampak memegangi batang pedang, seperti hendak menusukkannya lebih dalam, tapi juga seperti ingin mencabutnya, namun tidak kuat.

Kedua mata jago tua itu tampak melotot gusar, sorot mata sebelum ajalnya menampilkan rasa kaget, gusar dan penuh dendam, setelah mengembuskan napas terakhir, pandangannya yang masih penuh rasa benci dan dendam itu seakan-akan tetap menatap si pemuda baju ungu.

“Thi Bu-siang tidak malu sebagai seorang ksatria,” demikian Kang Piat-ho berkata dengan menghela napas menyesal. “Dia berani mengaku salah dan berani bertanggung jawab, dengan kematiannya ini, segala dosa dan nama busuk di waktu hidupnya boleh dikatakan sudah tercuci bersih.”

Mendadak “badan halus” itu berteriak, “Kentut busuk! Thi Bu-siang sekali-kali bukan membunuh diri!”

“Kalau Thi-locianpwe tidak bunuh diri, memangnya aku orang she Kang yang membunuhnya?” damprat Kang Piat-ho dengan gusar. Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula, “Seumpama aku mau membunuh dia tentu sudah kulakukan sejak tadi, untuk apa menunggu sampai sekarang?”

Tapi “badan halus” itu pun mengejek, “Hm, kalau Thi Bu-siang mau membunuh diri tentu sudah lama dia lakukan, tidak nanti dia menunggu sampai sekarang. Kalau tadi dia tidak sudi mati penasaran, sekarang duduknya perkara sudah terang, lebih-lebih tidak mungkin dia membunuh diri.”

“Jika Thi-locianpwe bukan membunuh diri, lalu siapa lagi yang mampu membunuhnya tanpa mendapat perlawanan? Kematian Thi-locianpwe ini justru mati dengan putih bersih, memangnya kau ingin dia mendapat nama busuk setelah mati?” bentak Kang Piat-ho dengan bengis.

Dengan suara tidak kalah bengisnya “badan halus” itu menjawab, “Kalau bertempur berhadapan, sudah tentu tiada seorang pun yang dapat membunuh Thi-locianpwe tanpa mendapat perlawanannya, tapi kalau membunuhnya secara gelap ….”

“Memangnya aku Kang Piat-ho dapat membunuhnya secara menggelap?” teriak Kang Piat-ho murka.

“Sekali ini dengan sendirinya bukan perbuatanmu, kau sendiri tahu Thi Bu-siang sudah berjaga-jaga terhadap kecuranganmu, sekalipun kau hendak menyergapnya juga sukar berhasil,” jengek pula ‘badan halus’ itu.

“Kalau bukan aku, habis apakah Hoa-kongcu?” dengus Kang Piat-ho.

“Kan sudah kukatakan, yang turun tangan pastilah orang yang paling karib dengan Thi Bu-siang, karena tidak tersangka orang ini akan menyerangnya secara gelap, maka dengan mudah dapat berhasil.”

“Siapa yang membunuh guruku, biar aku adu jiwa dengan dia!” mendadak pemuda baju ungu berteriak.

“Yang membunuh gurumu ialah kau sendiri!” jengek ‘badan halus’ itu.

Tergetar badan pemuda itu, teriaknya dengan gusar, “Kentut busuk, betapa berbudi guruku terhadapku, mana bisa aku membunuh guruku sendiri, apa kau…sudah…sudah gila!”

“Kau sendiri yang sudah gila!” jengek orang itu. “Jika kau merasa utang budi kepada guru, seharusnya kau membalas kebaikannya itu, tapi kau justru membalas air susu dengan air tuba, diam-diam kau bersekongkol dengan orang she Kang. Tatkala perbuatanmu yang khianat ini akan terbongkar diam-diam kau menikam leher gurumu. Kau kira setelah gurumu mati tentu tiada saksi hidup lagi untuk membongkar perbuatanmu yang terkutuk ini, tapi kau lupa bahwa di sini masih ada aku!”

“Kau ini siapa? Berani sembarang memfitnah orang?” teriak pemuda baju ungu dengan parau.

“Memangnya kau mau bukti?”

“Mana buktinya? Coba perlihatkan!”

“Orang lain tidak punya bukti, tapi bukti lengkap berada padaku. Aku sendiri yang menyaksikan kau yang menaruh racun di dalam arak waktu kalian hendak meracun Tio Coan-hay tempo hari.”

Tubuh pemuda baju ungu kembali bergetar, tapi ia membentak pula, “Kentut busuk! Guruku yang mengundang Tio-congpiauthau untuk didamaikan dengan Sam-siang-piaukiok, untuk apa aku meracuni Tio-congpiauthau malah?”

“Soalnya kau telah bersekongkol dan diperintah berbuat begitu oleh Kang Giok-long agar perdamaian itu gagal dan sekaligus merusak nama baik gurumu, itu artinya sekali bertindak tiga korban, sungguh muslihat keji.”

“Kentut busuk! Siapa…siapa yang mau percaya ocehanmu ini?”

“Kau berani menyangkal lagi? Justru aku menyaksikan sendiri kau berunding dengan Kang Giok-long tentang muslihat keji itu di dapur restoran Su-hay-jun tempo hari.”

“Mana bisa kau menyaksikan sendiri? Kau…kau sembarangan memfitnah orang, biar ku…ku mampuskan kau!” teriak pemuda baju ungu sambil menubruk maju.

Tapi baru saja ia bergerak, mendadak “badan halus” itu membuka kalo bambu yang menutupi mukanya itu dan menyeringai, “Coba pandanglah dengan jelas siapakah diriku ini?”

Di bawah cahaya lampu tertampak wajahnya yang kotor, rambut semrawut sehingga seperti setan gentayangan.

Seketika pemuda baju ungu tergetar mundur, serunya dengan suara gemetar “Kau…kau ….”

“Supaya tahu, aku adalah arwah halus orang yang kau bunuh bersama Kang Giok-long itu, kalian hendak menghilangkan saksi hidup dan membunuhku, aku mati penasaran, jadi setan juga akan kubongkar muslihat keji kalian, akan kutagih nyawa padamu.”

Belum habis ucapannya, seperti kesurupan pemuda baju ungu itu lantas menjerit, “Setan…setan…ada setan!” Berbareng ia terus mundur-mundur dan akhirnya lari terbirit-birit seperti orang gila.

Tapi belum beberapa jauh ia lari, sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, belum pemuda itu mencapai pintu sudah lantas jatuh tersungkur, sebilah pedang telah menembus tengkuknya hingga dia terpantek di tanah.

Pemuda baju ungu itu tidak sempat menjerit dan tahu-tahu sudah mati terkapar. Tapi sekali ini semua orang menyaksikan dengan jelas, pedang itu tersambit dari tangan Kang Piat-ho.

Tenang-tenang saja Kang Piat-ho, katanya dengan perlahan, “Orang ini menjadi tidak waras, kalau membiarkan dia pergi mungkin akan mengganggu ketenteraman umum, terpaksa aku membunuhnya.”

Tiba-tiba “badan halus” tadi membentak, “Kang Piat-ho, kau membunuhnya untuk menghilangkan saksi hidup, tapi malah bicara muluk-muluk, terkutuklah kau!”

“Huh, kau main sembunyi-sembunyi dan tidak berani memperlihatkan wajah aslimu, siapa yang mau percaya ocehanmu?!” jawab Kang Piat-ho tersenyum.

Ucapan ini dengan jitu mengenai titik kelemahan si “badan halus”.

Tidak perlu dijelaskan lagi, “badan halus” ini dengan sendirinya ialah Siau-hi-ji, di depan Hoa Bu-koat, dengan sendirinya ia tidak berani memperlihatkan muka aslinya.

Perlahan Kang Piat-ho berkata pula, “Seorang lelaki sejati harus berani bicara dan berani bertanggung jawab, jika apa yang kau katakan tadi menyangkut persoalan sepenting ini, seharusnya kau berani memperlihatkan muka aslimu di depan orang banyak.”

Tertegun juga Siau-hi-ji, akhirnya ia berteriak, “Asalkan apa yang kukatakan adalah betul, apa sangkut-pautnya dengan wajah asliku segala?”

“Nah, coba pikir, hadirin sekalian,” segera Kang Piat-ho menambahkan, “jika perkataan orang ini memang betul, mengapa dia tidak berani menghadapi orang dengan muka aslinya.”

Waktu Siau-hi-ji memandang sekelilingnya, tertampak sorot mata setiap orang sama menatap wajahnya dengan rasa sangsi.

Dengan tenang Kang Piat-ho lantas berkata pula, “Orang ini sengaja main sembunyi-sembunyi, sembunyi kepala memperlihatkan ekor, mengoceh semaunya untuk menakut-nakuti orang lain, maksud tujuannya jelas tidak baik ….”

Sembari bicara ia pun senantiasa memperhatikan sikap hadirin, sampai di sini tiba-tiba ia berkata kepada Hoa Bu-koat dengan sekata demi sekata, “Hoa-kongcu adalah orang bijaksana, apakah engkau tidak ingin tahu asal usul mereka?”

“Mereka?” Hoa Bu-koat menegas.

“Ya, selain bocah ini tentu masih ada pula si ‘tukang pikul’ itu, Cayhe juga ingin tahu apakah dia memang anakku yang tak becus Giok-long sebagaimana dituduhkan orang ini.”

Ucapan Kang Piat-ho ini kedengaran adil dan tidak memihak. Maklumlah dalam waktu sesingkat ini suasana di ruangan ini sesungguhnya telah berubah terlalu banyak dan terlalu cepat.

Di tengah kegaduhan tadi banyak orang sudah melupakan urusan si “tukang pikul joli” itu. Kini setelah disebut oleh Kang Piat-ho, dengan sendirinya pandangan semua orang lantas mencari ke arah orang yang disebut, tapi bayangan “tukang pikul” itu ternyata tidak nampak lagi, bahkan para tukang joli yang ikut serta Toan Hap-pui dan Samkohnio dengan kedua jolinya juga sudah menghilang entah sejak kapan.

Tanpa terasa Siau-hi-ji menggentak kaki, meski dia pintar dan cerdik, tapi pengalaman masih cetek sehingga kurang rapi pengawasannya dan akibatnya terjadilah kelengahan yang fatal ini.

Kang Piat-ho tampaknya menjadi gusar dan berteriak, “He, mengapa ‘tukang pikul’ itu menghilang? Bilakah perginya?”

Lo Kiu yang sejak tadi hanya menjadi penonton itu tiba-tiba menanggapi, “Badan Toan-loyacu kurang sehat, dia terlalu tegang dan tidak tahan melihat semua kejadian ini, maka sejak tadi dia suruh mereka menggotongnya pulang.”

“Orang kalau terlalu gemuk memang tidak boleh merasa tegang, jika sering tegang bisa kena angin duduk, kami bersaudara juga mempunyai penyakit begitu,” demikian sambung Lo Sam dengan tertawa.

Kang Piat-ho berlagak menyesali Lo Kiu, katanya, “Jika kalian melihat kepergian mereka, seharusnya ‘tukang pikul’ itu ditahan di sini, kalau persoalan ini tidak dibikin terang, betapa pun Cayhe merasa tidak enak.”

“Huh, kau musang berbulu ayam ini, kalau bicara hal pura-pura dan berlagak, kau memang terhitung nomor satu di dunia,” damprat Siau-hi-ji saking gemasnya.

Kang Piat-ho balas mendengus, “Hm, bukan mustahil ‘tukang pikul’ itu sekomplotan denganmu dan sengaja hendak memfitnah diriku, kalau tidak mengapa kau membiarkan dia kabur begitu saja?”

Ternyata menghilangnya “tukang pikul” itu berbalik digunakannya untuk menghantam Siau-hi-ji dan cara bicaranya juga cukup beralasan, kini meski tidak semua orang percaya kepada ucapannya, sedikitnya sudah mulai meragukan tuduhan Siau-hi-ji tadi.

Tentu saja Siau-hi-ji geregetan dan kelabakan, baru sekarang ia tahu Kang Piat-ho memang benar-benar bukan tokoh yang mudah dilayani, hanya beberapa patah kata saja suasana yang tidak menguntungkannya telah dapat diputar balik olehnya. Tanpa menggerakkan satu jari pun kini Siau-hi-ji telah didesaknya ke jalan buntu.

Ruangan tamu ini sangat luas, banyak pintu dan jendelanya, kalau mau, dengan mudah sekali Siau-hi-ji dapat menerobos keluar. Tapi sekarang Siau-hi-ji tidak dapat pergi, sebab mata Hoa Bu-koat sekarang sedang menatap tajam padanya.

Dengan tenang didengarnya Kang Piat-ho berkata pula, “Meski tukang pikul itu sudah kabur, tapi saudara mungkin tidak dapat lolos lagi, saudara ternyata tetap tidak sudi memperlihatkan wajah aslimu, jangan-jangan disebabkan kau telah berbuat sesuatu yang tidak boleh dilihat orang?”

Benak Siau-hi-ji terus bekerja, tapi tidak mendapatkan sesuatu akal yang baik.

Tiba-tiba Hoa Bu-koat membuka suara, “Jika sahabat tidak sudi turun tangan sendiri, rasanya Cayhe perlu melakukannya bagimu.”

“Hoa Bu-koat,” damprat Siau-hi-ji, “sebenarnya kuanggap kau ini orang pintar, siapa tahu kau ternyata sudi diperalat orang lain seperti boneka, sungguh aku merasa malu bagimu.”

Sama sekali Hoa Bu-koat tidak marah, ia malah tersenyum dan berkata, “Jika engkau bermaksud memancing kemarahanku, maka usahamu ini cuma sia-sia belaka.”

“Orang yang tidak bisa marah adalah orang yang tak berguna, memangnya ada harganya untuk dibuat bangga dan pamer?”

“Bukannya aku tidak pernah marah, soalnya orang seperti kau ini belum ada harganya untuk kumarahi.”

Dengan tertawa Kang Piat-ho menukas, “Biarpun masih muda, tapi kesabaran Hoa-kongcu sungguh sangat terpuji, untuk bisa memancing kemarahannya kau harus ….”

“Untuk memancing kemarahannya kau harus merebut Thi Sim-lan dari pelukannya, begitu bukan?” teriak Siau-hi-ji.

Air muka Hoa Bu-koat benar-benar rada berubah demi mendengar perkataan ini, dengan suara berat ia menjawab, “Urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan dia, sebaiknya saudara jangan menyinggung namanya.”

“Thi Sim-lan kan bukan milikmu, dengan hak apa kau larang orang lain menyebut namanya?” teriak Siau-hi-ji dengan tertawa.

Entah mengapa, bicara tentang Thi Sim-lan, seketika darah seakan-akan bergolak di sekujur badan anak muda itu, segala apa tidak membuatnya gentar lagi, yang dituju hanya memancing kemarahan Hoa Bu-koat saja, supaya Hoa Bu-koat malu pula, biarpun menyadari dirinya sekali-kali bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi dia justru ingin mengadu jiwa dengan Hoa Bu-koat agar perasaannya yang bergolak itu terlampiaskan.

Seorang yang biasanya dapat menguasai perasaan dan dapat berpikir dengan tenang kini mendadak terangsang oleh emosi yang tak terkendalikan, perubahan ini nampaknya sangat luar biasa dan tidak masuk akal, tapi kalau dipikir lebih jauh, hal ini tidak perlu diherankan.

Maklumlah, selama beberapa tahun terakhir ini Siau-hi-ji selalu berusaha mengekang diri, lebih-lebih terhadap Hoa Bu-koat. Semua ini disebabkan karena Siau-hi-ji memang benar-benar seorang yang mahapintar, bukan saja dia sangat memahami orang lain tapi juga memahami dirinya sendiri, ia tahu dirinya sesungguhnya tidak dapat membandingi Hoa Bu-koat, makanya dia harus bersabar dan menahan diri. Kalau saja tiada tekanan lain, kalau tiada sumbu penyebab, bisa jadi dia akan terus bersabar dan menahan perasaannya ini sehingga tiba saatnya dia dapat mengalahkan Hoa Bu-koat.

Tapi sekarang dia benar-benar kepepet, dia terdesak hingga tak dapat bernapas, sedangkan nama Thi Sim-lan justru adalah sumbu penyebabnya, pergolakan darah yang telah dikekang sebisanya akhirnya meledak.

Dengan tertawa ngakak Siau-hi-ji berteriak pula, “Hoa Bu-koat, bicara terus terang, sejak lama Thi Sim-lan sudah mempunyai kekasih, hatinya sudah lama menjadi milik orang itu, betapa pun kau tidak dapat merebutnya, andaikan kau dapat memperistrikan dia, tapi kau tidak dapat memiliki hatinya.”

Di tengah tertawa keras itu mendadak tubuh Siau-hi-ji melambung tinggi ke atas. Pada saat itu juga tangan Hoa Bu-koat sudah terayun ke depan, kalau saja Siau-hi-ji terlambat setengah jengkal mungkin dadanya sudah hancur terhantam.

Belandar ruangan besar itu sedikitnya lima meter tingginya, tapi sekali loncat Siau-hi-ji meraih belandar itu, tubuhnya bergelantungan laksana anak main ayunan dan seakan-akan setiap saat bisa jatuh. Tapi Kang Piat-ho dapat melihatnya bahwa gerak tubuh Siau-hi-ji adalah Ginkang yang paling tinggi, tampaknya tubuh bergoyang-goyang hendak jatuh, padahal setiap gerakan itu tersembunyi serangan maut.

Apalagi dengan bergelantungan di atas berarti menduduki tempat yang lebih menguntungkan, dalam keadaan demikian, siapa pun kalau meloncat ke atas dan menyerangnya mungkin akan mengalami nasib malang lebih dulu.

Namun Hoa Bu-koat tiada bermaksud menyerang ke atas, bahkan memandang sekejap saja tidak, dia tetap berdiri tenang di tempatnya, ia malah menatap ke ujung kakinya sendiri laksana seorang paderi tua yang sedang bersemadi, apa yang terjadi di sekelilingnya seperti tak digubrisnya lagi.

Sudah tentu semua orang menjadi heran melihat sikap Hoa Bu-koat yang aneh itu, yang lebih mengherankan adalah Siau-hi-ji, kesempatan baik itu ternyata tidak digunakan untuk kabur.

Namun Siau-hi-ji tahu bahwa saat ini Hoa Bu-koat justru sedang memusatkan pancaindera, tampaknya dia tidak melihat dan tidak mendengar segala apa pun, padahal setiap gerak-gerik siapa pun juga tak terhindar dari mata telinganya.

Karena Siau-hi-ji menduduki tempat yang lebih menguntungkan, mungkin Hoa Bu-koat tidak mau sembarangan turun tangan, tapi kalau Siau-hi-ji bertindak sedikit, seketika dia akan kehilangan inisiatif dan mungkin akan mengalami serangan fatal dari Hoa Bu-koat.

Sebab itulah Siau-hi-ji tidak berani kabur, dia memang tidak dapat pergi.

Begitulah yang satu bergelantungan di atas dan yang lain berdiri diam di bawah, keduanya lantas saling bertahan dalam posisi demikian.

Orang lain tidak tahu ketergantungan apa yang terkandung di antara kedua seteru itu, tapi aneh, suasana yang tadinya rada kacau itu kini berubah menjadi sunyi senyap. Semakin lama suasana tegang semakin terasa mencekam.

Siau-hi-ji masih terus bergelantungan, tapi semua orang tidak merasakan lagi dia akan jatuh ke bawah, bahkan terasakan ayunan yang tak menentu itu membuat kepala mereka pusing dan mata berkunang-kunang. Akhirnya mereka tidak berani memandang ke atas lagi, tapi cahaya lilin di ruangan seakan-akan ikut bergoyang-goyang oleh gerak ayunan Siau-hi-ji itu, sampai akhirnya seluruh ruangan seperti juga ikut bergoyang. Semua orang merasa seperti terombang-ambing di sebuah sampan dan terasa mabuk laut.

Hanya Kang Piat-ho saja, dia menatap Hoa Bu-koat dengan tajam dan sikapnya tetap tenang.

Hoa Bu-koat masih berdiri tegak seakan-akan sebuah tombak di tengah damparan ombak samudera, berdirinya tegak kuat sehingga membawa rasa aman juga bagi orang lain. Tapi selain Kang Piat-ho tiada orang lain lagi yang berani memandangnya, rasanya dari tubuhnya yang tegak itu terpancar semacam hawa membunuh yang menyesakkan napas

Yang satu bergerak dan yang lain berdiam, sungguh perbandingan yang sangat kontras. Jarak kedua pemuda itu ada beberapa meter jauhnya, namun di tengah-tengah mereka sudah tidak boleh terselip sesuatu benda apa pun.

Satu bergerak dan satu lagi berdiam, keadaan ini terus bertahan, namun lama-lama yang bergerak dengan sendirinya tidak sekuat yang berdiam. Sudah tentu Kang Piat-ho memahami hal ini, tanpa terasa tersembul senyum senang di ujung mulutnya.

Malam sudah larut, sudah mulai terasa dingin, meski tidak keras hawa dingin di malam musim panas, namun semua orang yang berada di situ sudah mulai menggigil.

Sekonyong-konyong seekor burung seriti menerobos masuk dari jendela, itulah burung walet yang kesasar dan kebetulan menerobos ke tempat yang ada cahayanya, tujuannya mungkin untuk mencari selamat. Burung itu langsung terbang ke tengah-tengah antara Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat yang sedang saling bertahan itu.

Tiada seorang pun yang melihat sesuatu gerakan dari Siau-hi-ji maupun Hoa Bu-koat, tapi entah mengapa, tahu-tahu burung seriti tidak mampu menerobos hawa pembunuhan yang tak berwujud itu, langsung burung itu jatuh ke bawah dan menyerempet muka Hoa Bu-koat.

Pada saat itu juga tubuh Siau-hi-ji mendadak anjlok ke bawah dengan berputar seperti gangsingan, dipandang dari jauh tangan dan kaki anak muda itu seperti sedang menari-nari menyilaukan mata, seakan-akan malaikat bertangan seribu yang mendadak turun dari langit.

Namun Hoa Bu-koat tetap tenang-tenang saja dan tidak menengadah sama sekali.

Tiba-tiba Siau-hi-ji membentak selagi masih terapung di udara, bersamaan ia melancarkan delapan kali tendangan dan enam belas kali pukulan.

Betapa cepat serangannya sungguh sukar diukur, tampaknya tubuhnya seakan-akan tumbuh delapan tangan dan enam belas kaki sekaligus serta menyerang secara serentak, seluruhnya mengarah Hoa Bu-koat.

Pandangan semua orang terasa berkunang-kunang, jika mereka yang menghadapi serangan yang demikian, jangankan hendak menangkis, mengelak mungkin juga tidak tahu caranya.

Mendadak Hoa Bu-koat mendongak, di bawah cahaya lampu yang bergoyang-goyang itu sorot matanya gemerlap laksana bintang berkelip, wajahnya senyum tak senyum, telapak tangan terayun, dengan perlahan ia menarik dan ditolak pula ke samping, tampaknya bukan gerak serangan tapi juga bukan pertahanan. Tapi aneh, hanya gerakan yang sepele ini tahu-tahu serangan Siau-hi-ji yang lihai itu telah dapat dipatahkan.

Segera terdengar suara “plak-plak” beberapa kali, tangan kiri Siau-hi-ji memukul pada tangan kanan sendiri, kaki kanan juga menendang kaki kiri sendiri, serangan Siau-hi-ji yang lihai itu ternyata mengenai tubuhnya sendiri sehingga terlempar mundur dan jatuh tersungkur.

Senang sekali hati Kang Piat-ho melihat kejadian itu, katanya sambil tertawa, “Hebat, sungguh jurus ‘Ih-hoa-ciap-giok’ yang bagus!”

Tertampak kedua telapak tangan Siau-hi-ji merah bengkak, napas terengah-engah dan tidak sanggup merangkak bangun lagi.

Sambil memandangi Siau-hi-ji, dengan tersenyum Hoa Bu-koat berkata, “Ilmu silatmu terhitung juga tokoh kelas satu, kekuatan tenaga dalammu juga di luar dugaanku, cuma sayang, semakin kuat tenagamu, semakin berat pula lukamu.” Sembari bicara ia pun mendekati Siau-hi-ji dengan perlahan.

Pada saat itu juga sekonyong-konyong suara mendesing memenuhi seluruh ruangan tamu, cahaya lampu mendadak padam, bahkan berpuluh senjata rahasia dengan suara mendesing keras menyambar ke arah Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

Bahwa sekaligus senjata-senjata rahasia itu dapat memadamkan lampu dan berbareng menyerang lawan pula, betapa hebat cara menyambitnya dan betapa kuat tenaganya boleh dikatakan jarang ada bandingannya di dunia Kangouw.

Namun hujan senjata rahasia itu tetap tidak dapat melukai Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat, hanya sedikit melompat saja dapatlah mereka mengelaknya.

Selagi suasana kacau-balau, terdengar Lo Kiu membentak, “Harap semua orang berdiri tenang di tempat masing-masing dan jangan sembarang bergerak!”

“Ya, jangan sampai keparat itu kabur di tengah kekalutan ini!” Lo Sam juga berteriak.

Ucapan itu memang cocok dengan pikiran Kang Piat-ho, diam-diam ia memuji, “Kedua Lo bersaudara itu ternyata jagoan juga.”

Dalam pada itu terdengar suara Lo Kiu berseru pula, “Biar kujaga di luar agar dia tidak dapat kabur dan lekas menyalakan lampu!”

“Baiklah, kau boleh keluar!” jawab Lo Sam. Menyusul cahaya api lantas menyala. Waktu semua orang memandang si “badan halus” yang jatuh tadi, ternyata betul sudah menghilang.

Berubah air muka Kang Piat-ho, cepat ia melompat ke tepi jendela, namun di luar tetap gelap gulita dan tiada bayangan seorang pun.

“Cepat benar kaburnya keparat tadi, lekas kita mengejarnya!” kata Lo Sam sambil menghentak lantai.

“Banyak sekali jalan lolos di sini, mungkin percuma saja mengejarnya,” ujar Hoa Bu-koat.

“Apakah membiarkan dia kabur begitu saja?” kata Kang Piat-ho penasaran.

“Dengan tenaga pukulannya tadi setelah kugeser balik sehingga dia melukai kaki tangan sendiri, kuyakin dia tidak sanggup kabur begitu saja,” kata Hoa Bu-koat.

“Kalau begitu jelas orang yang menghamburkan senjata rahasia dan memadamkan lampu itulah yang membawa lari dia,” ucap Kang Piat-ho dengan gemas.

“Tapi saudaraku mungkin telah mengejarnya, entah dapat menyusulnya atau tidak?” kata Lo Sam.

“Kukira kakakmu tidak dapat menyusulnya,” ujar Hoa Bu-koat. “Kalau orang itu mampu membawa lari pecundangku di depan mataku dengan sendirinya dia memiliki kepandaian lain daripada yang lain, apalagi kita sudah terhalang sejenak oleh senjata rahasia yang dihamburkan tadi, hendak mengejarnya juga sia-sia belaka.”

“Betul, kalau orang itu mampu menolong keparat itu di depan Hoa-kongcu, dengan sendirinya saudaraku juga tidak mampu menyusulnya,” kata Lo Sam dengan gegetun.

“Kukira kakakmu akan lebih baik tidak berhasil menyusulnya, kalau tidak dalam keadaan sendirian tentu dia akan menghadapi bahaya, inilah yang membuat hatiku tidak tenteram,” ujar Kang Piat-ho dengan tertawa.

“Keparat itu berani sembarangan mengoceh dan merusak nama baik Kang-tayhiap, dengan sendirinya dia harus dibekuk untuk bisa mencuci bersih nama Kang-tayhiap yang tercemar. Sekarang dia telah kabur, betapa penting soal ini. Namun Kang-tayhiap ternyata tidak ambil pusing dan malah memikirkan keselamatan saudaraku, sungguh budi luhur Kang-tayhiap sukar dibandingi orang lain,” demikian Lo Sam mengumpak.

“Ah, benar atau salah tentu orang Kangouw dapat membedakannya, orang macam apa diriku Kang Piat-ho ini tentu juga sudah cukup diketahui oleh kawan-kawan Kangouw, bagiku cukup asalkan merasa tidak berbuat sesuatu yang memalukan, pada hakikatnya aku tidak pedulikan fitnah dan nista orang lain,” seru Kang Piat-ho dengan lantang.

“Benar,” kata Lo Sam pula dengan tertawa, “orang yang terkenal tentu tidak luput dari desas-desus jahat, nama Kang-tayhiap segemilang sang surya di tengah cakrawala, hanya sedikit fitnah yang tidak masuk akal itu mana dapat menggoyahkan nama baik Kang-tayhiap di mata orang Kangouw?”

“Sebab itu juga kuyakin orang itu pasti takkan pergi begitu saja,” ucap Kang Piat-ho dengan tersenyum. “Kalau dia bertekad hendak menjatuhkan namaku, tentu dia akan datang kembali ….”

“Jika dia datang lagi, tentu engkau takkan membiarkan dia lolos lagi, begitu bukan?” sela Hoa Bu-koat dengan mengulum senyum.

“Bilamana dia datang lagi, Cayhe hanya ingin tahu sesungguhnya dia itu orang macam apa?” ucap Kang Piat-ho sekata demi sekata.

*****

Tadi, begitu lampu padam dan terdengar suara mendesing ramai, segera Siau-hi-ji tahu telah kedatangan bintang penolong. Selagi dia hendak merangkak bangun, tahu-tahu seorang telah merangkulnya terus dibawa lari menerobos keluar jendela.

Ginkang orang itu tergolong tokoh kelas satu, hanya beberapa kali gerakan saja sudah berada beberapa puluh tombak jauhnya. Pada saat itulah Siau-hi-ji masih sempat mendengar suara Lo Kiu lagi berseru di dalam ruangan agar semua orang jangan sembarang bergerak dan tetap berdiri di tempat masing-masing.

Habis itu ia tidak dengar lagi apa yang terjadi di sana, sejenak kemudian ia sudah dibawa kabur meninggalkan perkampungan yang kacau itu.

Terasa angin malam meniup sejuk, tangan dan kaki Siau-hi-ji masih terasa sakit akibat saling genjot sendiri tadi, diam-diam ia terkejut juga teringat kepada ilmu silat Hoa Bu-koat yang ajaib dan lihai itu.

Sekejap tadi sesungguhnya sangat berbahaya bagi keselamatan Siau-hi-ji kalau saja tiada orang menolongnya tentu dia tak dapat lolos.

Dan siapakah penolongnya ini?

Selama hidup Siau-hi-ji boleh dikatakan cuma ada musuh dan tiada kawan, lalu siapakah yang sudi turun tangan menyelamatkannya dan untuk apakah menolongnya?

Karena ingin tahu, Siau-hi-ji lantas tanya, “Sungguh sangat berterima kasih atas pertolongan saudara ini.”

“Ehm!” terdengar orang itu bersuara singkat sambil tetap lari. Karena terkempit olehnya, maka Siau-hi-ji tidak dapat melihat wajah orang.

Selang sejenak, kembali Siau-hi-ji bertanya, “Apakah kau tahu bahwa diriku ini bukanlah orang yang baik, mengapa engkau menolong aku?”

“Tapi kau pun tidak busuk,” ucap orang itu dengan tertawa.

“Jika demikian, jadi kau kenal aku?”

“Ehm,” kembali orang itu cuma mendengus.

“Namun aku tidak kenal engkau, siapakah engkau?”

“Coba tebak!”

“Dengan sendirinya engkau seorang lelaki.”

“Betul!”

“Dari suaramu kukira usiamu belum tua.”

“Tapi juga tidak muda lagi.”

“Dengan sendirinya pula engkau bukan Sin-sik Totiang,” kata Siau-hi-ji pula.

“O,” kembali orang itu bersuara singkat.

“Jika engkau Sin-sik Totiang tentu aku takkan disuruh menerka, orang beragama pasti tidak suka main sembunyi seperti maling takut ketahuan.”

Dasar anak dugal, orang menolongnya, dia malah memaki orang. Soalnya dia sengaja hendak memancingnya supaya orang bicara lebih banyak, dengan demikian ia berharap dapat mengenali dari suaranya.

Tak disangka orang itu pun tidak marah, sebaliknya menjawab dengan tertawa, “Betul juga ucapanmu.”

Karena tidak dapat menerka siapa penolongnya ini, tiba-tiba Siau-hi-ji berkata, “He, jangan-jangan engkau ini Han-wan Sam-kong?”

“Aku tidak kenal setan judi itu,” jawab orang itu dengan tertawa.

“Habis siapa? Sesungguhnya engkau ini setan atau manusia?”

“Selamanya kau takkan mampu menerka siapa diriku ini.”

“Kalau tidak kau katakan, awas akan kumaki kau!”

“Makilah, tak pernah kutakut dimaki orang.”

“Hm, jangan kau kira kaki tanganku tak dapat bergerak, jika kau tak mau mengaku, segera kututuk Hiat-tomu, lalu meringkusmu dan akan kulihat kau ini siapa sebenarnya,” sembari bicara tangan Siau-hi-ji benar-benar mulai menggerayangi pinggang orang.

“Tapi jangan kau lupa aku adalah tuan penolongmu.”

“Aku tidak sudi menerima budimu ini!” ucap Siau-hi-ji. “Ada sementara orang sengaja menolong orang dengan harapan mendapatkan imbalan, kau menolong aku, bukan mustahil kau pun ingin peralat diriku, bisa jadi kau handak mencelakakan aku dengan lebih kejam.”

“Kau ternyata sukar dilayani, tidak sedikit orang yang kukenal, tapi belum pernah kulihat orang macam kau ….” sambil berkata orang itu mendadak melayang masuk jendela sebuah rumah, lalu Siau-hi-ji diturunkan.

Daun jendela rumah itu ternyata terbuka sepanjang malam, di dalam rumah malahan lampu masih menyala. Di bawah cahaya lampu akhirnya Siau-hi-ji dapat melihat wajah penolongnya.

Orang ini bukan lain daripada Lo Kiu yang penuh rahasia itu!

Dengan tersenyum-senyum Lo Kiu memandang Siau-hi-ji, katanya kemudian, “Aku, tak tersangka olehmu bukan?”

“Kau…mengapa bisa kau?” gumam Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Kutahu selamanya kau takkan mampu menerka,” Lo Kiu tertawa.

“Tapi…tapi jelas kudengar kau berseru di ruangan tadi.”

“Itu suara saudaraku Lo Sam, dia sengaja bersuara dua orang dan orang lain tentu menyangka aku masih berada di sana, dengan sendirinya takkan terpikir bahwa akulah yang menolongmu.”

“Aha, benar-benar akal bagus, sampai aku pun tertipu, apalagi orang-orang itu.”

“Untuk mengelabui mata rase tua macam Kang Piat-ho itu bukanlah permainan yang mudah.”

“Betul, hendak menipu Kang Piat-ho memang bukan pekerjaan mudah,” kata Siau-hi-ji dengan sorot mata tajam. “Tapi engkau toh berhasil menipu Kang Piat-ho, sesungguhnya engkau ini siapa?”

“Cayhe she Lo bernama Kiu, bukankah sejak tadi kau sudah tahu?”

“Kau dapat mengelabui orang lain tapi jangan harap dapat mengelabui aku. Kutahu kau ini pasti bukan sembarangan orang, tapi sengaja berlagak bodoh dan pura-pura dungu, kau sengaja menyembunyikan nama aslimu serta mengubah tingkah lakumu, kau pasti mempunyai muslihat tertentu.”

“Kau sendiri menyembunyikan wajah aslimu, memangnya kau pun mempunyai muslihat tertentu?” balas Lo Kiu dengan tertawa.

Siau-hi-ji melengak, akhirnya ia tertawa, katanya, “Baiklah, anggap kau memang pintar bicara, aku pun takkan tanya dirimu lagi, tak peduli siapa kau dan muslihat apa yang terkandung di balik tindakanmu ini, akhirnya toh pasti akan kuketahui kelak.”

“Akhirnya pasti akan kau ketahui bahwa Cayhe sama sekali tidak mempunyai tipu muslihat apa-apa,” kata Lo Kiu.

“Jika begitu, coba jawab pertanyaan ini, pertama kita bukan sanak bukan kadang, kedua selamanya kita belum kenal. Nah, untuk apa kau menolong aku?”

“Cayhe cuma kagum dan bersimpatik padamu, tidak tega melihat engkau terdesak begitu, makanya turun tangan menyelamatkanmu.”

“Hm, mungkin karena kau lihat aku mempunyai kemampuan sejurus-dua, makanya ingin memperalat diriku ….”

“Haha, ucapan saudara ini terasa berlebihan, maksud baikku malah kau terima dengan pengertian keliru.”

“Jika kau ini orang baik, maka di dunia ini pasti tiada orang busuk,” ujar Siau-hi-ji, “Ada lebih baik kau bicara terus terang, apa maksud tujuanmu menolong aku dengan menyerempet bahaya tadi?”

“Tentang ini ….”

“Di antara manusia dan manusia memang kebanyakan saling memperalat, kau ingin memperalat diriku, siapa tahu aku pun ingin memperalatmu. Maka, bila kau menginginkan sesuatu, katakan saja terus terang, sekali-kali aku takkan menyalahkan kau.”

“Haha, saudara benar-benar seorang yang suka bicara blak-blakan, sungguh Cayhe sangat kagum,” Lo Kiu bergelak tertawa, mendadak ia berhenti tertawa dan menatap Siau-hi-ji, lalu menyambung dengan suara berat, “Soalnya Cayhe melihat tindakan saudara berniat membongkar kedok Kang Piat-ho yang munafik itu, padahal Cayhe juga sudah lama berniat demikian, sebab itulah ….”

“Sebab itulah kau menyelamatkan aku, begitu?”

“Jika saudara mau bekerja sama dengan kami bersaudara, betapa pun licinnya Kang Piat-ho sekali ini mungkin sukar mempertahankan diri.”

Dia menatap Siau-hi-ji, tapi anak muda itu pun menatapnya, katanya dengan perlahan, “Sudah jelas kau berada di pihak Thi Bu-siang dan Tio Hiang-leng, tapi diam-diam kau bersekongkol pula dengan Kang Piat-ho, sudah terang kau berkomplot dengan Kang Piat-ho, tapi diam-diam ingin bersekongkol pula dengan diriku, sesungguhnya apa sebabnya?”

Lo Kiu meraba-raba dagunya yang gemuk itu, jawabnya dengan tertawa, “Tujuanku berkawan denganmu benar-benar timbul dari lubuk hati yang murni, masa saudara tidak percaya padaku?”

“Baik, tak peduli apa maksud tujuanmu, asalkan kau mau benar-benar membongkar kedok Kang Piat-ho, maka aku bersedia berserikat denganmu, dalam hal ini aku pasti menyokongmu sampai detik terakhir.”

“Bagus, sekali janji pasti jadi!” seru Lo Kiu girang.

“Mestinya aku hendak bertepuk tangan denganmu sebagai janji seorang lelaki, cuma sayang tanganku bengkak kesakitan karena terpukul tanganku sendiri tadi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tempat mereka berada ini ternyata sebuah loteng kecil, namun terpajang cukup indah, permadani tebal dengan bunga sulaman menarik, berjalan di atas permadani tebal ini sedikit pun tidak menerbitkan suara.

Baru sekarang Siau-hi-ji sempat mengawasi sekelilingnya, tertampak di atas meja terpajang barang-barang antik yang bernilai tinggi, di dinding banyak hiasan indah, ada benda-benda kecil sebangsa golok dan pedang terbuat dari emas murni, ada pula kuda-kudaan dan orang-orangan ukiran batu kemala, ada pula boneka siluman iblis yang bermuka buruk serta bidadari yang cantik. seluruh ruangan penuh suasana gaib laksana dunia khayalan dalam dongeng kanak-kanak.

“Bagaimana rumah ini menurut pandangan saudara?” tanya Lo Kiu dengan tertawa.

“Sebenarnya rumah ini milik siapa? Mengapa kau sembarangan menerobos kemari?” tanya Siau-hi-ji.

“Inilah tempat tinggalku,” jawab Lo Kiu.

“Ini rumahmu?” Siau-hi-ji menegas dengan terkejut. “Memangnya kau tidak takut Kang Piat-ho mencari ke sini?”

“Saudara tidak perlu khawatir, tempat tinggalku tidak diketahui oleh siapa pun.”

“Tampaknya kau dapat berpikir panjang dan pintar mengatur sehingga dapat merancang suatu tempat tinggal begini di sini ….” Siau-hi-ji memandang pula sekitarnya, lalu menyambung dengan tertawa, “Tapi aku benar-benar tidak mengerti bahwa kalian berdua orang gede dapat mengatur tempat tinggal sebagus ini.”

“Meski tempat tinggal ini milik kami bersaudara, tapi bukan kami sendiri yang mengaturnya?” jawab Lo Kiu.

“O, jadi ada orang lain yang mengaturnya?”

“Ya, orang yang mengatur tempat ini tentu sangat menarik perhatian saudara bilamana kau melihatnya.”

“Memangnya sebab apa,” tanya Siau-hi-ji.

“Sebab dia adalah wanita yang mahacantik.”

“Wanita cantik? Hahaha!” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Justru kepalaku jadi pusing bila melihat wanita cantik.”

“Biarpun saudara tidak bakal terpikat oleh wanita cantik, tapi dia…dia benar-benar lain daripada yang lain. Bukan saja cantik, bahkan membawa semacam perasaan yang misterius, kukira pasti mencocoki seleramu.”

“Caramu propaganda ini rada menarik juga, aku menjadi ingin melihatnya,” ucap Siau-hi-ji.

Segera Lo Kiu menarik tali keleningan, katanya dengan tertawa, “Segera saudara dapat melihatnya.”

“Orang yang dapat mengatur tempat seindah ini tentu rada-rada lain daripada yang lain ….” belum lanjut ucapannya, tiba-tiba Siau-hi-ji membelokkan pokok percakapan, katanya, “He, apakah Kang Piat-ho masih tinggal di tempat yang bobrok itu?”

“Meski masih di sana, tapi rumah itu sudah tidak bobrok lagi,” jawab Lo Kiu tertawa.

“Bukankah dia lebih suka tinggal di rumah rusak dan tidak ingin diperbaiki, mengapa sekarang dia berubah pikiran?” tanya Siau-hi-ji.

“Soalnya Hoa Bu-koat yang memperbaiki rumahnya itu dan Hoa Bu-koat juga berdiam di sana.”

“Tak tersangka bahwa Hoa Bu-koat bisa bergaul dengan manusia munafik begitu, sungguh aku merasa sayang baginya.”

“Lahirnya Kang Piat-ho berlagak seperti orang berbudi luhur, orang yang tidak tahu kemunafikannya tentu suka bersahabat dengan dia. Ilmu silat Hoa Bu-koat sangat hebat, namun dia masih muda belia dan kurang berpengalaman ….”

“Hoa Bu-koat justru pintar luar dalam, cuma dia dapat menyembunyikan semuanya ini, jika kau anggap dia masih muda dan hijau, maka kau sendirilah yang kurang pengetahuan.”

“Jangan-jangan saudara dan Hoa Bu-koat kenalan lama?” sinar mata Lo Kiu tampak gemerlap.

Siau-hi-ji tersenyum, jawabnya “Apakah kau tahu pemeo yang mengatakan ‘siapa yang paling mendalam, memahami pribadi seseorang, seringkali dia adalah musuhnya yang paling besar’.”

Sekonyong-konyong ia merasakan sesuatu di belakangnya, cepat ia berpaling, benar saja tahu-tahu. seorang telah berdiri di situ, cahaya lampu dengan jelas menyinari wajahnya.

Ternyata sebuah wajah yang mahacantik, alis yang lentik, mata yang besar dengan pandangan yang rawan.

Tampaknya dia memandang Siau-hi-ji, tapi justru seperti tidak tahu Siau-hi-ji berada di situ, dia tetap berdiri tegak seperti orang linglung.

Dia ternyata bukan lain daripada Buyung Kiu adanya, itu nona kesembilan dari keluarga Buyung yang termasyhur.

Seketika Siau-hi-ji juga melenggong.

Lo Kiu seperti tidak memperhatikan perubahan sikap Siau-hi-ji itu, dia malah berkata dengan tertawa, “Nona linglung inilah yang mengatur ruangan ini.”

“Nona linglung?” Siau-hi-ji menegas.

“Ya, waktu kutemukan dia, keadaannya justru begitu, berlari kian kemari seperti orang linglung. Kutanya dia apakah mau ikut aku pulang, dengan tertawa dia mengangguk. Kutanya siapa namanya, dia tetap tertawa dan mengangguk…Ai, hari-hari dia seperti orang suka berjalan di waktu tidur, maka kusebut dia nona linglung atau nona mimpi.”

Siau-hi-ji tahu, semakin pintar seseorang, semakin banyak memeras otak, semakin tidak tahan oleh suatu pukulan batin, kalau mengalami guncangan batin yang keras, pasti jiwanya akan terganggu dan jadi abnormal.

Sudah tentu Siau-hi-ji tahu Buyung Kiu mengalami pukulan batin apa dan mengapa berubah menjadi begini, namun dia tidak mau menerangkannya, dia hanya menghela napas dan berkata, “Nona linglung, nona mimpi, ehm, baik juga nama ini.”

Lo Kiu mengawasi Siau-hi-ji sejenak, tiba-tiba ia tanya, “Jangan-jangan saudara kenal dia?”

“Apakah kelihatan dia kenal aku?” jawab Siau-hi-ji.

Sinar mata Buyung Kiu tampak buram seakan-akan tidak mengenal siapa pun juga.

“Tentunya saudara tidak kenal dia, tapi…tapi bagaimana pandanganmu terhadap dia?” tanya Lo Kiu.

Tergerak pikiran Siau-hi-ji, jawabnya, “Biarpun kubilang bagus juga tiada gunanya, masa kau rela memberikan dia padaku?”

“Kalau saudara sudah berserikat denganku, maka apa yang menjadi milikku tentu juga milikmu, apalagi diriku ini sudah tua, malas lagi gemuk. Tentunya saudara tahu, tua, gemuk dan malas adalah tiga kelemahan besar bagi urusan perempuan.”

“Haha, jika engkau begini murah hati, aku menjadi tidak enak untuk menolak,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan seorang melompat masuk dari jendela, kiranya Lo Sam adanya.

“He, mengapa kau pun pulang kemari? Apakah Kang Piat-ho telah mencurigai diriku?” tanya Lo Kiu.

“Sudah tentu mimpi pun dia takkan mencurigai dirimu,” tutur Lo Sam dengan tertawa. “Saat ini Thi Bu-siang sudah mati, Tio Hiang-leng sudah ketakutan setengah mati dan tunduk munduk-munduk menuruti segala perintahnya, semua ini tentu telah membuat Kang Piat-ho kegirangan.”

“Betul, tindak tanduknya selamanya bersih, tidak pernah meninggalkan bekas, kini satu-satunya saksi hidup juga sudah terbunuh olehnya, dengan sendirinya dia mengira telah aman sentosa, saking senangnya dia mungkin bisa keblinger.”

“Yang sudah mati itu bukanlah saksi hidup satu-satunya,” tiba-tiba Siau-hi-ji menimbrung.

Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu tanya berbareng, “Masih ada siapa lagi?”

“Masa kalian sudah lupa, kan masih ada putranya, yaitu Kang Giok-long,” ucap Siau-hi-ji.

“Tapi Kang Giok-long mana bisa membongkar rahasia muslihat bapaknya sendiri?” ujar Lo Kiu.

Siau-hi-ji tersenyum penuh arti, ucapnya, “Mungkin aku mempunyai akal yang baik.” Dia mengulet dan menguap, lalu tubuhnya memberosot dari kursi dan berbaring di atas permadani yang tebal dan empuk itu, gumamnya, “Ehmm, sinar matahari yang hangat, padang rumput yang luas…permadani ini sungguh mirip rumput lebat di padang rumput sana, lunak, ringan dan lebat pula, kalau saja aku dapat tidur selama tiga hari tiga malam di atas permadani ini sungguh hatiku akan senang sekali.”

“Silakan tidur saja saudara, di sini pasti takkan diganggu oleh siapa pun juga,” kata Lo Kiu.

Seseorang kalau saja dapat tidur nyenyak dalam keadaan apa pun juga, maka orang itu boleh dikatakan berbahagia. Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa dalam hal ini Siau-hi-ji memang berbahagia.

Entah sudah berapa lama dia tertidur, waktu mendusin, api lilin sudah padam, tampaknya hari sudah siang, namun tirai jendela cukup tebal sehingga cahaya matahari menembus remang-remang. Tapi di tengah keremangan itulah sepasang mata gemerlap sedang mengawasi Siau-hi-ji.

Meski sorot mata itu cukup cemerlang, tapi juga penuh rasa bingung, walaupun sepasang mata itu sedang mengawasinya dengan tajam, tapi kelihatannya seperti sedang menerawang ke tempat yang amat jauh sana.

Siau-hi-ji tetap berbaring di tempatnya tanpa bergerak. Dilihatnya Buyung Kiu duduk di atas permadani tepat di sebelahnya, seperti baru saja duduk, tapi juga seperti sejak semalam sudah duduk di situ.

Dengan mata terbelalak Siau-hi-ji juga mengawasi nona itu, dilihatnya wajah yang pucat, tangan yang halus dan kaki yang telanjang dan mulus. Sungguh kecantikannya bukan lagi cantiknya manusia biasa, tapi cantiknya sudah bersemu gaib, tanpa terasa Siau-hi-ji terkesima.

Siau-hi-ji tidak bersuara, dengan sendirinya ia pun tidak mengharapkan si nona bicara. Tak terduga mendadak Buyung Kiu berkata, “Aku merasa seperti pernah melihatmu entah di mana, rasanya kukenal kau.”

Berdebar hati Siau-hi-ji, jawabnya, “Kau kenal aku?”

“Ehm,” Buyung Kiu manggut-manggut.

“Apakah kau masih ingat pernah melihatku di mana?”

“Aku…aku tidak ingat lagi, aku cuma…cuma mempunyai perasaan demikian.”

Siau-hi-ji tertawa, tiba-tiba ia tanya, “Apakah kau ingat pada dirimu sendiri?”

Sekonyong-konyong Buyung Kiu mendekap kepalanya sendiri dan berseru, “Tidak, aku tidak ingat lagi, aku tak dapat berpikir, sekali berpikir segera kepalaku menjadi pusing.”

“Jika begitu janganlah berpikir, paling baik memang tidak berpikir supaya kepalamu tidak sakit.”

“Jangan-jangan kau mengetahui siapakah…siapakah diriku ini?” tanya Buyung Kiu.

“Aku pun tidak ingat,” sahut Siau-hi-ji tertawa. “Aku cuma tahu keadaanmu sekarang jauh lebih baik daripada dahulu.”

Suasana di dalam ruangan yang tidak luas ini terasa sumpek sehingga membuat orang kegerahan, meski tiada angin, namun terendus juga hawa udara yang berbau harum.

Setelah kenyang tidur, kini sekujur badan Siau-hi-ji penuh gairah, bahkan kelebihan tenaga, sambil memandangi betis yang putih mulus itu, ia jadi teringat kepada Buyung Kiu yang telanjang bulat di gudang es dahulu…di dalam ruangan yang remang-remang dan berhawa panas ini tiba-tiba timbul semacam perasaan yang jahat dan sesat.

Tiba-tiba Siau-hi-ji berkata pula, “Betapa pun juga kau tetap ingin tahu bagaimana keadaan dirimu di masa dahulu, begitu bukan?”

“Jika dapat ingat kembali kejadian masa lalu, andaikan segera mati juga aku rela,” kata Buyung Kiu.

“Kau benar-benar bersedia mengorbankan segalanya?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya,” jawab Buyung Kiu.

“Baik, jika begitu bukalah pakaianmu hingga telanjang, biar kucarikan akal bagimu.”

Mata Buyung Kiu terbelalak lebar dan menegas dengan suara gemetar, “Buk…buka pakaian dan…dan telanjang bulat?”

“Tentunya kau pernah lihat sesuatu yang sangat menakutkan sehingga kau berubah jadi begini, soalnya kejadian yang seram itu kini masih mengeram di dalam tubuhmu seperti setan iblis jahat.”

“Ehm, Buyung Kiu mengangguk.

“Oleh karena itu, apabila kau ingin teringat kembali pada kejadian masa lalu, lebih dulu kau harus mengusir semua setan iblis yang hinggap di tubuhmu. Untuk bisa mengusir setan iblis ini lebih dulu kau harus membebaskan segala ikatan yang berada di tubuhmu.”

Buyung Kiu mendengarkan dengan termangu-mangu sambil mengangguk terus-menerus.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menambahkan pula, “Dan pakaian adalah ikatan paling besar bagi manusia, jika kau sudah buka pakaian, akan kubantu mengusir setan iblisnya, soal ini sangat sederhana, tentunya kau paham bukan?”

“Tapi…tapi ….”

“Turutlah ucapanku, pasti takkan salah ….” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, tangannya sudah mulai meraba betis si nona.

Tapi mendadak Buyung Kiu melonjak bangun, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebilah belati yang bersinar kemilauan dan langsung mengancam tenggorokan Siau-hi-ji.

“He, apa-apaan kau ini? Bukankah aku hendak membantu kau?” seru anak muda itu.

Dengan perlahan Buyung Kiu menjawab, “Ada orang yang menganjurkan padaku agar belati ini kugunakan menghadapi dia barang siapa berani menyentuh tubuhku.”

Siau-hi-ji menyengir, gumamnya, “Pantas kedua Lo bersaudara tidak berani menyentuhmu dan – dan pantas pula mereka menyerahkan dirimu padaku.”

“Apa katamu?” Buyung Kiu menegas.

“Kutahu orang yang menganjurkan padamu itu hendak membikin susah padamu, sebab dia tidak ingin kau ingat kembali pada kejadian masa lampau.”

Perlahan-lahan tangan Buyung Kiu di turunkan ke bawah, katanya, “Mengapa dia membikin susah padaku?”

“Apakah kau kenal dia?” tanya Siau-hi-ji.

“Rasanya tidak,” jawab Buyung Kiu.

“Tapi kau kenal aku, mengapa kau tidak percaya padaku dan sebaliknya lebih percaya padanya?”

Buyung Kiu menunduk dan berpikir, tanpa terasa belatinya jatuh ke permadani.

Siau-hi-ji terus menarik si nona serta menindih di atas tubuhnya, sama sekali Buyung Kiu tidak melawan, tangan Siau-hi-ji mulai membuka leher baju nona itu sambil bergumam sendiri, “Bilamana seseorang hampir membunuhmu, apa pun yang kau lakukan terhadapnya kiranya bukan suatu dosa.”

Mulutnya bicara, tangan pun bekerja.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang membentaknya, “Jangan!”

Siau-hi-ji terkejut. Berbareng itu dari balik tirai jendela telah melayang masuk seutas benang perak dan melilit tangan Siau-hi-ji. Dengan ilmu silat Siau-hi-ji sekarang ternyata tidak mampu menghindar dan juga tak dapat melepaskan diri. Meski benang perak yang lembut dan panjang itu kena ditariknya hingga lurus, tapi tak dapat terbetot putus.

Menyusul sesosok tubuh kurus kecil seperti hantu saja lantas menyelinap masuk dan menubruk ke arah Siau-hi-ji. Cepat Siau-hi-ji berguling ke samping.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji sudah dapat melihat jelas bayangan kurus kecil itu. Tubuh kurus kecil itu terbungkus oleh pakaian hitam ketat, wajahnya juga tertutup oleh topeng hitam, hanya kedua matanya yang kelihatan gemerlap di balik topengnya sehingga tertampak seperti mata setan yang seram dan gaib.

“Hei, Oh-ti-tu!” seru Siau-hi-ji.

Orang kurus kecil itu memang betul Oh-ti-tu, si labah-labah hitam adanya, dia sudah hampir melayang pergi pula, ketika namanya disebut, mendadak ia tancapkan kakinya ke lantai dan menjengek, “Siapa kau? Dari mana kau kenal aku?”

“Haha, Oh-laute, masa kau tidak kenal aku lagi?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sorot mata Oh-ti-tu menjadi terang, katanya, “He, kiranya kau?! Mengapa kau berubah menjadi begini?”

“Kau sendiri tidak suka memperlihatkan wajah aslimu kepada orang lain, memangnya aku tidak boleh meniru caramu ini?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sinar mata Oh-ti-tu tampak gemerlap, katanya, “Seorang sedang melakukan perbuatan kotor dan kena kupergoki, tapi sekarang masih sanggup bicara dengan cengar-cengir padaku, manusia demikian selain kau rasanya di dunia ini tiada orang kedua lagi.”

“Apa yang kulakukan masa dapat dianggap perbuatan kotor?” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Setiap lelaki yang berusia muda dan penuh gairah pasti dapat melakukan perbuatan demikian.”

“Tapi mengapa kau lakukan terhadap seorang yang sama sekali tidak dapat melawan?” seru Oh-ti-tu.

“Maksudku tidak ingin mencelakai dia, sebaliknya aku bertindak baik padanya. Coba pikir, bilamana dia benci pada orang itu, sudikah dia berbuat demikian padanya?”

Oh-ti-tu memandangi anak muda itu dengan mata melotot, tampaknya dia terheran-heran. Seorang telah berbuat rendah begitu, tapi masih dapat bicara seakan-akan dia telah melakukan sesuatu yang baik dan benar.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menyambung pula, “Apalagi perbuatan demikian sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa, hanya manusia yang berpikiran kotor yang menganggapnya perbuatan rendah, bagiku hal ini justru perbuatan suci, bila melakukannya takkan merasa berdosa, tidak berbuat juga tidak menjadi soal.”

Tiba-tiba Oh-ti-tu tertawa, katanya, “Ocehanmu yang ngelantur ini, ternyata tidak menjijikkan sedikit pun, sungguh aku tidak tahu apa sebabnya.”

“Sebabnya aku ini memang bukan orang yang menjijikkan,” kata Siau-hi-ji

Oh-ti-tu menghela napas, katanya, “Sesungguhnya kau ini orang busuk atau orang baik, apakah kau sendiri dapat membedakannya dengan jelas?”

“Dengan sendirinya aku tidak terhitung orang busuk, sedikitnya aku tidak pernah berniat melakukan kejahatan, kau ….”

Belum selesai ucapan Siau-hi-ji, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang dari luar, cepat Oh-ti-tu menyelinap ke balik tirai jendela, benang perak tadi juga menyusut balik ke tangannya.

Siau-hi-ji tetap berdiri di situ dan berlagak mengeluarkan suara ngorok. Agaknya orang itu pasang kuping sejenak di luar pintu, habis itu lantas melangkah pergi.

Waktu Siau-hi-ji menarik kain tirai, bayangan Oh-ti-tu ternyata tidak kelihatan lagi.

Di luar kelihatan masih terang, sang surya sudah hampir terbenam, Siau-hi-ji bergumam, “Siang, masih siang, tapi di tengah siang hari bolong Oh-ti-tu dapat melayang pergi datang seperti terbang dengan bebasnya, pantas orang Kangouw menganggapnya makhluk ajaib.”

Buyung Kiu tampak berdiri termangu-mangu di sana, tiba-tiba ia bertanya dengan perlahan, “Kau pun anggap dia orang aneh?”

Siau-hi-ji berpaling dan menatap si nona, katanya kemudian, “Belatimu itu pemberian dia?”

“Ehm,” Buyung Kiu mengangguk.

“Dia sering kemari menjenguk dirimu?”

“Ehm,” kembali Buyung Kiu mengangguk.

“Memangnya dia tidak khawatir kepergok orang?”

Buyung Kiu menggigit bibir dan berpikir agak lama, kemudian berkata dengan perlahan, “Meski mereka pun curiga ada orang sering kali muncul di sekitar sini, tapi usaha mereka mencari jejaknya sia-sia belaka, jika dia kemari, senantiasa pada waktu aku berada sendirian.”

Siau-hi-ji mengernyit dahi, katanya, “Dia sering datang menjengukmu, dia selalu berada di sekitar sini…jangan-jangan dia telah menaruh curiga terhadap kedua Lo bersaudara ini? Begitu besar kedua Lo bersaudara ini menarik perhatiannya, sesungguhnya orang macam apakah mereka ini?”

Dia mondar-mandir dengan tertunduk, waktu dia angkat kepalanya mendadak, tiba-tiba terlihat Buyung Kiu telah membuka pakaian sendiri dan telanjang bulat berdiri di situ.

Dalam keadaan remang-remang tubuhnya yang mulus itu laksana sutera yang bercahaya, kedua kakinya yang panjang dan kencang itu terkempit rapat, dadanya yang montok menegak…Buyung Kiu yang berbaju kelihatan lemah gemulai, tapi Buyung Kiu yang tanpa busana ternyata penuh daya tarik, setiap senti bagian tubuhnya seakan-akan penuh daya pikat.

Untuk kedua kalinya ini Siau-hi-ji melihat badan Buyung Kiu yang telanjang bulat, pertama kali terjadi di gudang es yang penuh rahasia itu dan sekarang ….

Dahi Siau-hi-ji sudah berkeringat, ia menelan ludah, kerongkongan serasa parau, ia berseru, “Kau…kau ini kenapa?”

Dengan pandangan linglung Buyung Kiu mendekati anak muda itu, katanya, “Katamu harus kuminta kau bantu mengusirkan hantu yang mengeram di tubuhku.”

“Di tubuhmu tiada hantu iblis segala, aku sengaja menipumu,” teriak Siau-hi-ji.

“Ada, kutahu ada,” ucap Buyung Kiu. “Ah, kurasakan ‘dia’ sudah mulai bergerak dalam tubuhku, ya, tidak salah lagi, dapat kurasakan.”

Dia melangkah maju lagi dengan tertawa linglung, gigi yang putih menyeringai seperti binatang buas, mukanya yang pucat kini berubah merah, sorot matanya juga memancarkan sinar yang aneh.

Tanpa terasa Siau-hi-ji menyurut mundur, teriaknya, “Ngacau! Ayo lekas pakai bajumu, kalau tidak ….”

“Tidak, aku tak mau pakai baju, kuminta engkau membantuku ….” mendadak Buyung Kiu menubruk ke atas tubuh Siau-hi-ji, kedua tangan dan kedua kakinya terus merangkul erat tubuh anak muda itu, maka keduanya lantas jatuh terguling.

Tubuh Buyung Kiu yang dingin itu mendadak berubah menjadi panas laksana gunung berapi, bibirnya menempel rapat di pipi Siau-hi-ji, dadanya berombak dengan napas tersengal-sengal, katanya dengan suara gemetar, “Hantu…hantu itu telah bekerja…aku…aku tidak tahan…mengapa kau tidak mau membantuku.”

Dengan perlahan Siau-hi-ji merabai punggung Buyung Kiu yang halus licin itu, jawabnya, “Ya, betul, dalam tubuhmu memang mengeram satu setan iblis, dia sudah sembunyi belasan tahun di tubuhmu dan kini dia sudah mulai bergerak…setiap perempuan pasti dihinggapi iblis jahat begini, setiap lelaki juga…cuma aku…aku ….”

Mendadak ia jambak rambut Buyung Kiu terus diputar balik ke bawah, tubuh Siau-hi-ji kini berbalik menindih di atas Buyung Kiu, cepat ia meraih sebuah selimut terus ditutup ke tubuh si nona, dengan erat ia bungkus tubuh Buyung Kiu.

Sinar mata Buyung Kiu tampak penuh rasa terkejut, teriaknya dengan parau, “Ken…kenapa kau bertindak begini?”

Siau-hi-ji, lantas berdiri dan menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Setiap orang tentu mempunyai hantunya sendiri dan hanya dia sendiri yang dapat mengusirnya, orang lain tidak mungkin membantumu ….”

“Aku…aku tidak paham ucapanmu, bebaskan aku…bebaskan aku!” teriak Buyung Kiu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji memandang nona yang cuma kelihatan bagian kepala itu, lalu ia pegang pakaian si nona yang ditanggalkan itu dan dipandangnya sejenak, kemudian ia ambil poci teh di atas meja dan perlahan-lahan air teh itu disiramkan ke atas kepala Buyung Kiu.

“Nah, ingat, anak perempuan tidak boleh sembarangan, sedikitnya dia harus menunggu anak lelaki yang membukanya,” kata Siau-hi-ii dengan tertawa. “Ingat, kalau kau berbuat begini lagi pasti akan kupukul pantatmu.”

Buyung Kiu megap-megap karena disiram air teh, teriaknya gusar, “Kau keparat, jahat, bebaskan aku ….”

Siau-hi-ji tidak menggubrisnya lagi, ia bungkus poci yang sudah tak berisi itu dengan baju Buyung Kiu dan ditaruh di atas dada si nona, lalu membuka pintu dan turun ke bawah loteng.

Setelah putar keliling di bawah loteng, dilihatnya dua pelayan yang bermuka lumayan walaupun kelihatan ketolol-tololan, kedua Lo bersaudara tidak diketemukan di situ.

Mendadak Siau-hi-ji tarik salah satu pelayan itu dan digigit pipinya dengan geregetan, lalu berkata dengan tertawa, “Perempuan, dasar perempuan, kalau kau berbuat busuk padanya dia malah anggap kau ini orang baik, sebaliknya kalau kau berbuat baik padanya, dia malah memaki kau bangsat keparat, dan inilah perempuan ….”

Dengan kasar Siau-hi-ji memutar tubuh pelayan itu dan menggablok keras-keras pantatnya yang besar dan keras itu, lalu melangkah pergi.

Keruan pelayan itu melongo kaget, setelah Siau-hi-ji pergi barulah ia menjerit.

Siau-hi-ji masuk ke dapur, ia cuci muka, dengan sisa bahan rias kemarin ia mengubah wajah dalam bentuk lain pula, habis itu barulah ia meninggalkan tempat itu.

Rumah ini ternyata terletak di tengah-tengah pasar yang ramai, Siau-hi-ji membeli seperangkat baju baru di sebuah toko konveksi dan langsung dipakai, lalu ia makan sekenyangnya di sebuah restoran, setelah memandang cuaca yang sudah dekat petang ia bergumam dengan tertawa, “Hari sudah hampir gelap, sudah tiba pula waktunya bagiku untuk beraksi ….”

Terhadap perbuatannya tadi ia merasa puas, kini seluruh badan terasa segar, penuh gairah, kalau nanti tidak beraksi sebaik-baiknya rasanya berdosa terhadap dirinya sendiri.

Menjelang magrib, Siau-hi-ji menuju ke toko obat di mana dia bekerja itu, ia pura-pura membeli satu tahil likiam (asinan) dan ternyata tiada seorang pun yang mengenalnya.

Maksud Siau-hi-ji cuma ingin tahu apakah terjadi sesuatu di toko obat itu, tapi suasana toko itu tenang-tenang saja, agaknya pergolakan dunia persilatan tidak sampai mempengaruhi perdagangan sehari-hari toko obat itu.

Siau-hi-ji lantas menuju ke luar kota, sebenarnya ia ingin mendatangi rumah Toan Hap-pui, tapi mendadak berubah pikiran, soalnya dia melihat tidak sedikit orang persilatan sama menuju luar kota, mungkin sekali hendak pergi ke Thian-hiang-tong.

Maklumlah, nama Ay-cay-ji-beng Thi Bu-siang cukup gemilang di dunia Kangouw, selama berpuluh tahun ini tidak sedikit kaum muda yang mendapat bimbingannya dan menerima kebaikannya, tidak sedikit orang yang telah utang budi padanya. Kini jago tua itu meninggal dengan terhina, namun kematian Thi Bu-siang benar-benar kejadian besar di dunia Kangouw sehingga banyak orang datang melayat, paling tidak juga ingin melihat keramaian.

Dari jauh Siau-hi-ji sudah melihat suasana ramai di Thian-hiang-tong, cahaya lampu terang benderang, bayangan orang berseliweran, halaman yang luas itu penuh sesak dengan pengunjung.

Di luar perkampungan juga penuh berparkir macam-macam kereta kuda. Dengan langkah cepat Siau-hi-ji maju ke sana, tapi mendadak ia berhenti di antara kawanan kuda penarik kereta. Ia dengar suara ringkik kuda yang nyaring, ia merasa kenal ringkik kuda itu, yakni “Yan-ci-be” (kuda gincu), kuda merah milik Siau-sian-li.

Ia menjadi heran, jangan-jangan “Siau-sian-li” Thio Cing juga datang kemari?!

Tersembul senyuman geli bilamana Siau-hi-ji teringat kepada nona garang itu. Pikirnya, “Entah bagaimana dia selama dua tahun ini? Apakah masih serupa dahulu selalu mengenakan baju merah membara dan berkeliaran kian kemari dengan kuda merahnya dan menghajar orang dengan cambuknya?”

Ia benar-benar ingin melihat nona cilik mungil yang cantik tapi juga galak itu, selama dua tahun ini tentunya sudah tumbuh lebih besar, bisa jadi sudah bertambah alim pula.

Akan tetapi orang-orang di halaman depan itu terlalu banyak, Siau-hi-ji coba melongok sana-sini dan tetap tidak nampak bayangan nona itu. Padahal nona seperti Siau-sian-li Thio Cing biarpun bercampur baur di tengah orang yang berjumlah ribuan juga akan ditemukan dengan sekali pandang saja.

Soalnya Siau-sian-li benar-benar laksana seonggok bara, cuma onggok bara ini mengapa sekarang tidak mencolok mata? Jangan-jangan dia tidak datang, kudanya itu dipinjamkan kepada orang lain?

Begitulah Siau-hi-ji menjadi ragu-ragu dan rada kecewa.

Layon Thi Bu-siang ditaruh di tengah ruangan depan, Tio Hiang-leng berdiri di samping peti mati dengan wajah murung, ternyata dia yang “wajib dinas” sebagai Haulam (putra yang mati).

Orang-orang yang melayat sama berjubel di halaman depan secara bergerombol-gerombol dan sedang berbisik-bisik entah apa yang diperbincangkan.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba suasana di luar rada gempar, terdengar seruan beberapa orang. “Ah, Kang-tayhiap juga datang!”, “Selamanya Kang-tayhiap berbudi luhur, sebelumnya sudah kuduga beliau pasti akan datang melayat.”

Serentak orang yang berjubel di halaman itu menyiah ke kanan kiri untuk memberi jalan, hampir semuanya sama munduk-munduk memberi hormat, malahan ada di antaranya kalau bisa ingin menyembah.

Beberapa lelaki kekar tampak melangkah masuk mengiringi Kang Piat-ho. Wajah “pendekar besar” kita ini tampak murung, langsung dia menuju ke depan layon Thi Bu-siang dan menjura dengan khidmat serta berdoa, “Thi-locianpwe, waktu hidupmu engkau bermusuhan denganku, tapi itu pun disebabkan rasa setia kawan di dunia Kangouw, di alam baka engkau tentu tahu maksud tujuanku, selanjutnya mohon arwahmu sudi memberi bantuan padaku untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia persilatan. Pada masa-masa tertentu atas nama para kawan Bu-lim pasti juga kami akan berziarah ke makan Thi-locianpwe dan berdoa semoga arwahmu beristirahat tenang di alam baka.”

Ucapan Kang Piat-ho ini kedengarannya sangat bijaksana dan berbudi luhur, kebanyakan pendengarnya tentu akan memuji jiwa ksatria Kang Piat-ho. Akan tetapi bagi Siau-hi-ji, ucapan Kang Piat-ho itu membuatnya mual, diam-diam ia menjengek, “Hm, ini benar-benar kucing menangisi kematian tikus ….”

Belum lagi lenyap pikirannya itu, tiba-tiba terdengar seorang mendengus dengan suara keras, “Huh, ini namanya kucing menangisi tikus, sudah membunuh, pura-pura berduka bagi sang korban.”

Suaranya nyaring lantang, ternyata suara kaum wanita.

Semua orang terkesiap dan memandang ke arah datangnya suara itu, benar juga yang bicara adalah seorang perempuan berbaju hitam, memakai topi bertepi lebar sehingga mata alisnya hampir tidak kelihatan, meski di musim panas, tapi memakai mantel hitam yang panjang, walau dipelototi orang sebanyak itu, sama sekali ia tidak keder, sebaliknya ia pun balas mendelik dengan sorot mata yang bercahaya tajam.

Di sebelah perempuan baju hitam ini berdiri pula seorang pemuda berpakaian perlente dan berperawakan jangkung, namun sikapnya malu-malu seperti gadis pingitan.

Sekali pandang saja Siau-hi-ji lantas tahu siapa kedua orang itu, diam-diam ia terkejut dan bergirang pula, pikirnya, “Dia benar-benar datang, tabiatnya yang keras dan ingin menang sendiri sedikit pun belum berubah.”

Dalam pada itu di antara hadirin sudah ada beberapa orang menerjang ke sana dan membentak sambil menuding si nona baju hitam, “Kau ini perempuan dari mana? Berani bersikap kasar terhadap Kang-tayhiap?”

“Hm, aku ingin omong apa boleh sesukaku, peduli kau?” jengek si nona.

“Apakah kau tahu tempat apa di sini? Berani sembarangan bicara!?”

“Memangnya kau mau apa?” dengus si nona.

“Kang-tayhiap berhati mulia, terpaksa aku mewakilkan Kang-tayhiap memberi hajaran setimpal padamu!” bentak salah seorang lelaki berewok, berbareng dengan telapak tangannya yang lebar terus mencengkeram.

Si nona baju hitam hanya mendengus saja tanpa bergerak. Tapi pemuda yang berdiri di sebelahnya mendadak menangkis. Sungguh aneh, lelaki yang berewok tinggi besar itu mendadak terpental hanya kena ditangkis dengan perlahan oleh pemuda yang lebih mirip gadis pingitan itu. Keruan banyak yang menjerit kaget, beberapa orang segera hendak menubruk maju.

Pemuda itu menarik kembali daya pukulannya dan pasang kuda-kuda dengan kuat. Di waktu diam dia mirip gadis pingitan, tapi sekali bergerak ternyata tangkas dan berwibawa.

“Pukul dan hajar saja mereka, kalau ada apa-apa biar tanggung jawabku,” kata si nona baju hitam.

Tampaknya pemuda itu memang penurut, kaki kiri maju setengah langkah, kepalan tangan secepat kilat menjotos, kontan lelaki yang paling depan kena digenjot hingga terpental.

“Nanti dulu, berhenti!” tiba-tiba terdengar suara orang membentak.

Dengan tersenyum Kang Piat-ho telah mengadang di depan pemuda itu, katanya sambil memberi hormat, “Hebat benar kepandaian saudara, jangan-jangan ahli waris ‘Koh-keh-sin-kun’ (pukulan sakti dari keluarga Koh) dari Kang-lam?”

Muka pemuda itu kembali menjadi merah, tangannya melurus ke bawah dan melangkah mundur, jawabnya singkat, “Ya.”

“Jika Cayhe tidak keliru, mungkin saudara inilah Giok-bin-sin-kun (si pukulan sakti berwajah cakap) Koh Jin-giok, Koh-jikongcu.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengakui ketajaman mata Kang Piat-ho yang lihai itu.

Sebelum Koh Jin-giok menjawab, si nona baju hitam sudah menariknya sambil mendengus, “Huh, tak perlu bicara dengan dia, ayolah kita pergi!”

Begitu kata terakhir itu terucap, serentak dua sosok bayangan telah melayang keluar melampaui kepala orang banyak, mantel hitam yang berkibar tertiup angin itu tersingkap sehingga kelihatan pakaian bagian dalam yang merah membara.

“Jangan-jangan dia itulah Siau-sian-li!” seorang berseru di tengah hadirin.

“Harap kalian tinggal dulu di sini agar Cayhe dapat memberi pelayanan sekadarnya,” seru Kang Piat-ho.

Namun kedua orang itu sudah melayang keluar pintu, sekali bersuit, terdengar derapan kaki kuda, seekor kuda merah segera lari tiba dan membawa kedua orang itu terus kabur secepat terbang.

Kang Piat-ho mengelus jenggot menyaksikan kepergian kedua orang itu, katanya dengan gegetun, “Anak murid dari keluarga ternama memang lain daripada yang lain.”

“Biarpun anak murid keluarga ternama juga tidak boleh congkak begitu,” demikian seru seorang di tengah hadirin. “Memangnya di kalangan Kangouw siapa yang tidak menghormati Kang-tayhiap, berdasarkan apa mereka berani bersikap kasar begitu?”

“Anak muda berkepandaian tinggi, sedikit banyak tentu rada angkuh, lumrah dan tidak perlu menyalahkan mereka,” ujar Kang Piat-ho dengan tersenyum, berbareng ia rangkap kedua tangannya memberi hormat kepada hadirin sehingga semua orang terlebih menghormat dan memujinya.

Selagi Siau-hi-ji hendak mulai beraksi, tiba-tiba nampak seorang gelandangan berlari masuk dengan membawa sebuah galah bambu. Pada galah itu bergantung sehelai kain putih bertulis, yaitu “wan-lian” atau kain bertuliskan sanjak tanda berdukacita bagi orang mati. Tulisan yang terdapat pada kain putih itu berbunyi: “Waktu hidupmu, aku susah; Setelah kau mati, aku duka!”

Tulisan itu tampak tandas dan kuat seperti buah tangan seniman ternama tapi kalimatnya lucu dan tidak layak.

Semua orang menjadi heran dan tertawa geli pula, tapi setelah membaca lagi bagian atas dan bawah, yaitu nama yang dituju dan nama si pengirim, seketika air muka mereka berubah dan tiada seorang pun berani tertawa.

Kiranya bagian depan sajak itu tertulis, “Kepada bapak mertua” dan bagian bawah sebagai pengirimnya tercantum “Dari menantumu Li Toa-jui”.

“Li Toa-jui”, satu di antara ke-10 top penjahat penghuni Ok-jin-kok, tentu saja nama ini cukup menggemparkan hadirin, bahkan Siau-hi-ji juga melongo heran. Ia coba mengamati lebih teliti dan rasanya gaya tulisan itu memang mirip tulisan tangan Li Toa-jui, ia menjadi heran apakah betul Li Toa-jui telah meninggalkan Ok-jin-kok? Bilakah dia keluar dari lembah pusatnya top penjahat itu dan kini dia berada di mana?

Dalam pada itu Kang Piat-ho telah mengadang di depan gelandangan itu dan membentaknya, “Siapa yang suruh kau membawa kain tanda dukacita ini?”

Orang itu berkedip-kedip bingung, jawabnya, “Aku pun tidak jelas siapa dia, maklumlah malam gelap, cuma kelihatan perawakannya tinggi besar dan garang, tampangnya rada-rada mirip patung beringas yang dipuja di kelenteng.”

“Ha itu dia, memang begitulah bentuk Li Toa-jui,” demikian beberapa orang yang berusia agak lanjut lantas berseru.

“Selain disuruh mengantarkan Wan-lian ini, apalagi yang dikatakannya” tanya Kang Piat-ho.

Orang itu tergagap-gagap, akhirnya dia menutur, “Dia bil…bilang, meski bapak mertuanya pernah ingin membunuhnya, tapi dia tetap sakit hati terhadap orang yang membunuh bapak mertuanya, maka dia mengharapkan orang yang membunuh mertuanya supaya mandi sebersih-bersihnya. Aku menjadi heran dan bertanya untuk apa dia mengharapkan orang mandi bersih-bersih, dia tidak menjawab melainkan cuma tertawa lebar, lalu melangkah pergi.”

Seketika air muka Kang Piat-ho berubah, dia tidak bertanya pula terus melangkah pergi.

Hadirin menjadi panik demi mendengar penuturan orang tadi, banyak yang memperbincangkan munculnya Li Toa-jui, kata seorang, “Cap-toa-ok-jin itu sudah menghilang sekian tahun, kini Li Toa-jui telah muncul kembali, bukan mustahil kawan-kawannya juga akan membanjiri dunia Kangouw pula.”

“Selain Li Toa-jui, ada lagi seorang Ok-tu-kui yang sudah muncul di muka umum, melulu kedua orang ini sudah cukup membikin kepala pusing,” demikian kata yang lain.

Di tengah suara berisik dan ramai ocehan orang banyak itu, diam-diam si gelandangan tadi sudah mengeluyur keluar, hanya Siau-hi-ji saja terus mengintil di belakangnya.

Secara beriring-iringan mereka berjalan sekian jauhnya, sekonyong-konyong orang itu membalik tubuh dan menegur Siau-hi-ji dengan tertawa, “Aku baru saja mendapat persen tiga tahil perak, masa jumlah ini cukup menarik perhatianmu dan kau hendak membegal diriku?”

Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Sesungguhnya kau ini siapa? Apa maksudmu mengantarkan Wan-lian itu dengan memalsukan nama Li Toa-jui?”

Air muka orang itu tampak berubah, matanya memancarkan sinar yang tajam, sinar mata yang lebih licin daripada Kang Piat-ho dan lebih bengis daripada Ok-tu-kui.

Tapi hanya sekejap saja ia telah mengatupkan kelopak matanya dan berkata dengan tertawa, “Aku diberi persen tiga tahil perak dan segera kulakukan apa yang dia minta, urusan lain aku tidak perlu ambil pusing.”

“Tapi dari mana kau tahu aku mengintil di belakangmu?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa. “Jelas kau memiliki ilmu silat yang tinggi, mengapa ingin mengelabui diriku?”

Orang itu terbahak-bahak, katanya, “Jika aku mahir ilmu silat, tentu aku sudah menjadi bandit, untuk apa menjadi pengangguran begini?”

“Kau tidak mau mengaku? Segera akan kubikin kau mengaku!” teriak Siau-hi-ji, berbareng ia terus menubruk maju dan menghantam.

Siapa tahu orang itu ternyata benar tidak mahir ilmu silat, sekali digenjot Siau-hi-ji, kontan dia roboh terjungkal.

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak percaya, ia pikir orang cuma pura-pura saja. Tapi setelah ditunggu sekian lama orang itu tetap menggeletak tak bergerak, waktu ia meraba dadanya, napasnya ternyata sudah berhenti dan kaki tangan sudah mulai dingin rupanya telah mati terpukul olehnya.

Tak tersangka oleh Siau-hi-ji bahwa orang itu ternyata tidak tahan sekali pukul, diam-diam ia pun menyesal telah memukul mati orang tanpa sebab. Setelah tertegun sejenak, kemudian ia menghela napas dan berkata, “Jangan kau salahkan aku, kau sendiri yang tidak tahan pukul, biarlah kukubur kau dengan baik-baik.”

Dengan rasa menyesal segera ia panggul mayat orang itu dan memutar balik ke kota. Tapi belum beberapa jauh, tiba-tiba kuduknya terasa basah-basah hangat, bahkan berbau pesing.

“Buset! Orang mati masa bisa ngompol?!” omel Siau-hi-ji terkejut, segera ia bermaksud mengusap bagian yang basah itu.

Tapi karena tangannya terangkat, mayat itu lantas memberosot ke bawah, waktu Siau-hi-ji mendepak, mendadak “mayat” itu mencelat ke sana dengan gelak tertawa dan berkata, “Hari ini kusuguh kau dengan air kencing, lain hari akan kusuguh kau makan najis!”

Di tengah suara tertawanya itu mendadak ia berjumpalitan jauh ke sana, sekali berkelebat lagi lantas menghilang.

Ginkang orang ini ternyata tidak di bawah Kang Piat-ho, ketika Siau-hi-ji hendak mengejarnya, bayangan orang sudah tak tertampak pula.

Sejak kecil hingga besar ini belum pernah Siau-hi-ji dikerjai orang seperti sekarang ini, sungguh dadanya hampir meledak saking gemasnya. Lebih konyol lagi adalah siapa orang itu bahkan sama sekali tidak diketahuinya.

Ginkang orang itu sudah jelas mahatinggi, yang lebih hebat adalah caranya berlagak mati. Untuk bisa pura-pura mati sebaik itu harus memiliki Lwekang yang sempurna.

Setelah tertegun sejenak, tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa sendiri, gumamnya, “Untung dia cuma menggoda diriku saja, kalau tadi dia mau membunuhku, mustahil aku dapat hidup sampai sekarang. Jadi seharusnya aku bergembira, memangnya apa yang kusesalkan?”

Begitulah dengan tertawa dia melanjutkan perjalanan, sedikit pun tidak uring-uringan pula. Terhadap segala sesuatu yang tak dapat diatasinya dia dapat menerima menurut kenyataanya, Siau-hi-ji memang dapat berlapang dada terhadap segala persoalan, kalau tidak demikian tentu dia bukanlah Siau-hi-ji.

Sementara itu cahaya lampu sudah memenuhi pula jalanan di kota, tiba pula waktunya pasar malam yang paling ramai. Siau-hi-ji membeli pula seperangkat pakaian untuk salin, dia keluyuran ke sana sini untuk membuang waktu.

Selagi dia tengak-tengok kian kemari itulah, tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari cepat lewat di sebelahnya dan hampir menyerempetnya. Kereta itu mendadak berhenti di depan sebuah hotel yang besar, selang sejenak, beberapa orang centing yang berpakaian mentereng keluar dari hotel itu, lalu membuka pintu kereta dan berdiri tegak di samping dengan menahan napas.

Tidak lama kemudian, dari hotel itu keluar pula dua orang dengan iringan serombongan orang yang bersikap munduk-munduk dan ada beberapa orang yang membawa lentera.

Di bawah cahaya lampu itu kelihatan orang di sebelah kiri berwajah pucat, badan kurus lemah, tampaknya tidak tahan angin, namun sikapnya simpatik, meski warna bajunya sederhana dan potongan biasa, tapi semuanya serasi, dari kepala hingga kaki tiada suatu cacat.

Orang sebelah kanan bertubuh lebih tinggi besar, sikapnya gagah, sorot matanya berwibawa. Pakaiannya juga sederhana, tapi pakaian sederhana menjadi tidak sederhana lagi setelah dikenakan olehnya.

Kedua orang itu berturut-turut naik ke atas kereta, tidak bergaya dan juga tidak berlagak, tapi nampaknya memang rada berbeda dengan orang lain, seakan-akan sejak lahirnya sudah harus dilayani orang dan menumpang kereta sebagus itu, kalau orang mengumpak dan menjilatnya juga pantas dan adil.

Sampai kereta itu sudah berangkat Siau-hi-ji masih berdiri termenung di situ, ia heran siapakah kedua orang yang memiliki gaya luar biasa itu? Maklumlah, gaya anggun begitu memang sukar ditiru dan juga tidak mungkin dibuat-buat.

Di kota Ankhing sekarang ternyata banyak muncul kaum ksatria dan pendekar, dalam dua hari saja Siau-hi-ji telah berturut-turut memergoki tokoh-tokoh yang lain daripada yang lain. Yang membuatnya tidak paham adalah untuk apakah tokoh-tokoh ini datang ke Ankhing dan siapakah mereka? Yang jelas, wilayah ini selanjutnya pasti akan menjadi ramai.

Begitulah setelah berputar kayun setengah malaman, tanpa terasa Siau-hi-ji berada kembali di rumah Lo Kiu itu.

Meski pasar malam sudah mulai sepi, namun masih terlalu dini waktunya bagi beraksinya Ya-heng-jin (orang pejalan malam), setelah berpikir sejenak akhirnya ia masuk juga ke rumah itu.

Dia tidak naik ke loteng, dia duduk sekian lamanya di bawah, kedua pelayan yang ketolol-tololan itu berdiri jauh di sana, seperti takut pada setan saja, mereka tidak berani mendekati Siau-hi-ji.

Akhirnya malam pun larut, baru saja Siau-hi-ji berbangkit hendak berangkat, mendadak terdengar jeritan kaget di atas loteng, menyusul Lo Sam dan Lo Kiu tampak berlari turun.

“Kalian juga bisa terkejut, sungguh sukar untuk dipercaya?!” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Lo Iuu dan Lo Sam juga terkejut melihat Siau-hi-ji berada di situ, mereka menyurut mundur, sambil menatap anak muda itu, akhirnya Lo Kiu tertawa dan berkata, “Hebat benar kepandaian menyamar saudara, tampaknya sukar ada bandingannya dalam hal ini.”

“Jika saudara tidak buka suara, sungguh kami tidak mengenalimu lagi,” sambung Lo Sam tertawa.

“Kalian ke mana semalam hingga baru sekarang kalian pulang ke sini,” dengan tertawa Siau-hi-ji menanggapi.

“Soalnya hari ini ada tamu agung, Kang Piat-ho menjamunya dan kami bersaudara juga diundang, maka pulang agak terlambat,” tutur Lo Kiu.

“Maaf beribu maaf jika saudara menunggu terlalu lama,” sambung Lo Sam.

Ternyata kedua Lo bersaudara itu sama sekali tidak menyinggung apa-apa yang dilihatnya di atas loteng yang membuat mereka menjerit kaget tadi.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak suka menyinggungnya, dengan tertawa ia bertanya, “Tamu agung? Siapa dia?”

“Cukup ternama juga kedua tamu itu,” tutur Lo Kiu. “Mereka adalah menantu kesayangan keluarga Buyung, yang seorang adalah ahli waris keluarga bangsawan Lamkiong, yaitu Lamkiong Liu, seorang lagi adalah cendekia dunia Kangouw dan juga menjabat ketua serikat Bu-lim propinsi Kwitang dan Kwisay, yaitu Cin Kiam.”

“Anak muda bangsawan begitu biasanya merupakan suatu lingkungan kecil tersendiri di dunia Kangouw dan suka meremehkan orang lain, tapi hari ini mereka sudi menyambangi Kang Piat-ho, tentu saja Kang Piat-ho menjamu mereka sehormat-hormatnya,” tutur Lo Sam pula.

“Jadi mereka anak menantu keluarga Buyung?” tukas Siau-hi-ji dengan mata terbelalak. “Aha, bagus, bagus sekali.”

“Dari ucapan saudara ini, jangan-jangan engkau kenal mereka?” tanya Lo Kiu.

“Meski aku tidak kenal mereka, tapi tadi aku telah melihat wajah mereka, yang satu pucat dan yang lain gagah, semuanya berpakaian sederhana tapi sangat serasi dipandang, betul tidak?”

“Betul, memang mereka itulah,” sahut Lo Kiu.

“Bukan saja kedua orang tersebut, konon keenam anak menantu keluarga Buyung yang lain juga akan segera menyusul kemari dalam waktu dua hari ini,” sambung Lo Sam. “Selain itu ada lagi seorang bakal menantu Giok-bin-sin-kun Koh Jin-giok

“O, jadi Koh Jin-giok juga datang bersama mereka?” Siau-hi-ji menegas.

“Betul,” jawab Lo Kiu.

“Orang-orang ini sama meluruk ke sini, apakah kalian tahu apa sebabnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Konon salah seorang nona keluarga Buyung telah hilang dan kabarnya nona ini pernah terlihat berada bersama Hoa Bu-koat, makanya mereka sama menyusul ke sini untuk mencari kabar,” tutur Lo Sam.

“Tepatlah jika begitu, memang sudah kuduga kedatangan mereka pasti menyangkut persoalan ini,” ucap Siau-hi-ji sambil keplok.

“Apakah saudara juga kenal nona yang hilang itu?” tanya Lo Kiu.

Siau-hi-ji berlagak mengingat-ingat sejenak, lalu menjawab, “Rasanya seperti pernah melihatnya.”

“Jangan-jangan saudara tahu jejak nona itu?” tanya Lo Kiu pula sambil menatap anak muda itu.

Sama sekali Siau-hi-ji tidak memandang ke arah loteng, ia sengaja menarik muka dan menjawab, “Dari mana kutahu, memangnya aku menyembunyikan gadis orang?”

“Mana berani kumaksudkan begitu,” ucap Lo Kiu dengan tertawa, “cuma ….”

“Cuma nona yang sudah berusia 18-19 tahun masa bisa menghilang begitu saja?” sambung Lo Sam. “Mana mungkin pula disembunyikan orang? Apalagi setiap nona keluarga Buyung terkenal serba mahir ilmu silat maupun ilmu surat, kukira di balik persoalan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres.”

“Bisa jadi nona itu minggat bersama pacarnya, bisa juga dia terpengaruh oleh obat bius orang -.” Siau-hi-ji berlagak berpikir, mendadak ia terbahak-bahak dan berkata pula, “Haha, sungguh menarik persoalan ini, sungguh sangat menarik.”

Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu berkata, “Tapi kami bersaudara tidak melihat adanya sesuatu yang menarik dalam persoalan ini.”

Lo Kiu tertawa ngakak sambil memandang sekejap ke arah loteng, lalu berkata, “Selama setengah hari ini saudara pergi ke mana?”

“Selama setengah hari aku pun banyak melihat kejadian yang menarik dan juga melihat beberapa orang yang menarik, yang paling menarik di antaranya ialah ….” meski dia telah dikencingi orang, tapi sedikit pun ia tidak merasa malu, ia malah menceritakan pengalamannya itu dengan jelas, sembari menutur sambil tertawa sehingga mirip orang yang sedang bercerita kejadian yang lucu.

Setelah mendengar cerita anak muda itu, Lo Sam dan Lo Kiu juga tertawa, tapi tertawa di kulit dan tidak tertawa masuk ke daging, malahan air muka mereka menjadi rada pucat. Kedua orang saling mengedip, lalu Lo Kiu bertanya, “Entah bagaimana bentuk orang yang saudara lihat itu?”

“Orang itu berpotongan seratus persen mirip kaum gelandangan atau pencoleng pasar, di tempat ramai di mana pun kau dapat melihat orang begitu, namun tiada seorang pun yang mau memperhatikan orang semacam dia, maka di sinilah letak kelihaiannya. Bahwasanya orang yang tidak menarik perhatian dengan sendirinya akan jauh lebih mudah bilamana dia mau berbuat sesuatu yang busuk.”

Kembali Lo Kiu dan Lo Sam saling memberi isyarat, mendadak Lo Kiu berbangkit dan masuk ke kamar.

Siau-hi-ji mendengar suara membuka laci di dalam kamar, menyusul terdengar suara keresak-keresek gulungan kertas, habis itu Lo Kiu keluar pula dengan membawa segulung kertas yang sudah lusuh dan menguning.

Gulungan kertas itu sudah tua sehingga warnanya telah luntur, bahkan robek, namun Lo Kiu memandangnya seperti benda pusaka yang berharga, ia memegangnya dengan hati-hati dan prihatin serta ditaruh di atas meja di depan Siau-hi-ji, anehnya setengah badannya sengaja mengalingi Siau-hi-ji seakan-akan khawatir anak muda itu melihat benda mustikanya itu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Kertas begini dibanting juga takkan hancur, jatuh juga takkan rusak, orang pun takkan tertarik untuk merampasnya, tapi kau memandangnya seperti benda pusaka saja.”

“Meski kertas ini sudah tua lagi rusak, tapi bagi sementara orang Bu-lim memang terpandang sebagai pusaka yang sukar dinilai, jika saudara mengira tiada orang yang ingin merebutnya, maka salah besarlah engkau,” kata Lo Kiu.

“He, jika begitu, barangkali kertas ini juga sebangsa peta harta karun? Jika betul demikian, ha, memandangnya saja aku tidak sudi.”

“Di dunia Kangouw memang tidak sedikit beredar ‘peta harta karun’ yang menipu orang, di antara sekian ribu helai peta begituan mungkin tiada satu pun yang tulen,” kata Lo Sam dengan tertawa. “Dari ucapan saudara tadi, jangan-jangan engkau juga pernah tertipu oleh peta begitu?”

“Akan tetapi peta kita ini bukanlah peta begituan ….” sambung Lo Kiu.

“Kau mengeluarkan kertas ini, mestinya hendak diperlihatkan padaku, mengapa kau mengalingi pula pandanganku?” tanya Siau-hi-ji.

“Biasanya kami memandang peta ini sebagai pusaka yang berharga, namun saudara kini bukan lagi orang luar, sebab itulah Cayhe mau mengeluarkannya,” tutur Lo Kiu. “Cuma…cuma saudara harus berjanji, setelah melihat gambar ini, betapa pun kau harus menjaga rahasia.”

Mau tak mau Siau-hi-ji jadi tertarik juga dan ingin tahu, tapi dia sengaja berbangkit dan menyingkir ke sana, katanya dengan tertawa, “Jika kalian tidak percaya padaku, lebih baik aku tidak melihatnya.”

Dengan tertawa cepat Lo Sam menanggapi, “Ah, kalau kami tidak percaya pada saudara mau percaya pada siapa lagi?”

“Jika begitu, coba katakan dulu gambar apa yang terlukis di situ dan akan kupertimbangkan mau melihatnya atau tidak,” kata Siau-hi-ji.

“Yang terlukis di gambar ini adalah wajah asli Cap-toa-ok-jin,” jawab Lo Kiu dengan suara berat.

Terbelalak mata Siau-hi-ji, tapi dia sengaja berkata acuh tak acuh, “Meski aku belum pernah melihat Cap-toa-ok-jin, tapi dari nama mereka dapat kubayangkan wajah mereka pasti buruk seperti siluman, memangnya apa perlunya memandang wajah mereka yang buruk itu dan untuk apa pula orang ingin merebut gambar ini?”

“Saudara tahu bahwa Cap-toa-ok-jin ini rata-rata memiliki kepandaian tinggi, semuanya suka berbuat jahat, entah berapa banyak orang Kangouw yang pernah dicelakai mereka ….” sampai di sini penuturan Lo Kiu, segera Lo Sam menyambungnya, “Tapi jejak kesepuluh orang ini justru tidak menentu, semua pandai menyamar pula, maka banyak orang yang dikerjai mereka, tapi bagaimana wajah musuh itu tidak pernah dilihatnya, karena itu pula sukarlah untuk menuntut balas dan dendam tetap tak terlampiaskan.”

“Ah, tahulah aku sekarang,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Kiranya orang ingin merampas gambar ini, tujuannya agar dapat mengenali wajah asli kesepuluh wajah top penjahat ini supaya bisa mencari mereka untuk menuntut balas.”

“Ya, memang begitulah,” seru Lo Sam.

“Tapi mereka tiada permusuhan apa pun dengan aku, untuk apa kalian suruh aku melihat potret mereka?” tanya Siau-hi-ji.

Lo Kiu tersenyum misterius, katanya, “Apa betul saudara tidak bermusuhan dengan mereka?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji ingat sesuatu, jawabnya, “Jangan-jangan kalian maksudkan gelandangan yang berlagak mampus itu pun salah satu dari Cap-toa-ok-jin?”

Lo Kiu tidak menjawabnya melainkan menyingkir ke samping, lalu ia tunjuk salah seorang yang terlukis di gambarnya dan berkata, “Boleh saudara melihatnya sendiri, bukankah dia inilah pencoleng yang mengerjaimu itu?”

Di atas kertas yang sudah menguning itu memang benar terlukis sepuluh orang, akan tetapi kalau dihitung dengan teliti, sebenarnya yang terlukis bukan hanya sepuluh orang melainkan ada sebelas orang. Semuanya terlukis dengan goresan yang hidup. Seorang di antaranya berbaju putih mulus, mukanya pucat, jelas dia ini “Hiat-jiu” Toh Sat, si tangan berdarah.

Di sebelah Toh Sat terlukis seorang yang sedang menengadah dan tertawa, dengan sendirinya ialah Si Budha tertawa Ha-ha-ji dengan filsafat hidupnya yang terkenal, yaitu “tertawa sambil menikam”.

Sebelahnya lagi adalah seorang perempuan cantik dan genit, terang dia ini Siau Mi-mi, si tukang pikat tanpa ganti nyawa. Dan di sampingnya adalah Li Toa-jui yang memegang sebuah kepala manusia dengan wajah murung, si tukang makan daging manusia ini terkenal dengan julukan “Put-sip-jin-thau” atau tidak makan kepala manusia.

Lalu seorang terlukis berdiri remang-remang di tengah kabut, tak perlu diterangkan lagi dia adalah Im Kiu-yu, si setengah manusia setengah setan. Dan orang yang berada di sebelah Im Kiu-yu terlukis berkepala dua, bagian kepala sebelah kiri berwajah nona cantik, bagian kepala sebelah kanan terlukis wajah pemuda cakap, terang dia inilah To Kiau-kiau, si banci.

Orang-orang ini entah sudah berapa ribu kali dilihat oleh Siau-hi-ji, ia merasa lukisan ini memang sangat hidup, sampai-sampai sikap dan mimik wajah setiap orang yang dilukis itu pun mirip benar.

Diam-diam Siau-hi-ji memuji pelukisnya yang mahir itu, ia menjadi heran siapakah pelukisnya itu? Kalau bukan orang yang sangat karib dengan ke-10 top penjahat itu mana bisa melukisnya sedemikian hidup?

Lalu Siau-hi-ji melihat pula Han-wan Sam-kong, si setan judi yang bertubuh gagah itu, di sebelahnya adalah seorang berewok dan berwajah beringas, matanya melotot seperti harimau hendak menerkam mangsanya, tangan memegang golok besar berlumuran darah.

“Wajah orang ini sungguh menakutkan, entah siapa dia?” demikian Siau-hi-ji sengaja bertanya.

“Dia inilah Ong-say Thi Cian, si singa gila,” tutur Lo Kiu.

“Meski bentuk orang ini tampaknya buas menakutkan, padahal dia dapat dikatakan orang yang paling alim di antara Cap-toa-ok-jin, asalkan orang lain tidak merecoki dia, maka dia juga tidak mengganggu orang,” sambung Lo Sam dengan tertawa.

“Tapi kalau orang mengganggu dia, lalu bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Wah, kalau dia diganggu, maka celakalah tujuh turunan orang itu,” tutur Lo Sam. “Singa Gila itu pasti akan mengamuk dan membunuh habis-habisan segenap makhluk berjiwa di rumah musuhnya.”

“Haha, kalau orang begitu dianggap alim, maka aku boleh dianggap sebagai nabi,” ucap Siau-hi-ji. Meski bicara mengenai orang lain, tiba-tiba teringat olehnya akan diri Thi Sim-lan, terbayang senyuman si nona yang menggiurkan serta sorot matanya yang sayu itu, seketika hatinya merasa pedih, cepat ia berseru pula, “Dan siapa lagi yang dua orang ini?”

Dua orang yang ditanyakan ini jelas adalah saudara kembar, keduanya sama-sama kurus kering, tulang pipi menonjol, yang satu membawa Swipoa, yang lain membawa buku utang piutang, dandanan mereka mirip saudagar besar yang kaya raya, tapi potongan tubuh dan sikap mereka lebih mirip setan kelaparan yang kabur dari neraka.

Dengan tertawa Lo Kiu menjawab, “Kedua orang ini adalah saudara kembar sekandung, keduanya senantiasa berada bersama, A tidak meninggalkan B dan B juga tidak pernah berpisah dengan A. Meski Cap-toa-ok-jin resminya disebut Cap (sepuluh), padahal sesungguhnya berjumlah sebelas orang, hanya saja orang Kangouw menganggap kedua saudara kembar ini sebagai satu orang.”

“Kedua saudara kembar ini she Suma,” sambung Lo Sam, “Yang satu berjuluk ‘adu jiwa juga ingin untung’ dan yang lain berjuluk ‘mati pun tidak mau rugi’, Dari julukan mereka ini tentu saudara dapat membayangkan mereka ini manusia macam apa?!”

Segera Lo Kiu menyambung pula, “Meski nama Cap-toa-ok-jin sangat terkenal, tapi rata-rata mereka adalah orang miskin, hanya kedua saudara kembar inilah yang kaya raya, hartawan besar.”

“Pantas saja,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, “Yang satu mati-matian cari untung dan yang lain tidak mau rugi, kalau mereka tidak kaya kan mustahil. Pantas mereka senantiasa membawa Swipoa serta buku, mungkin khawatir harta kekayaan mereka akan dikerjai orang lain.”

“Betul, memang begitulah,” kata Lo Kiu.

Lalu Lo Sam menunjuk orang terakhir pada lukisan itu, katanya, “Tapi watak orang ini justru sama sekali terbalik daripada kedua saudara kembar ini, selama hidup orang ini paling suka membikin susah orang, menipu dan menjebak orang, soal apakah dia sendiri mendapatkan untung atau tidak, sama sekali tak terpikir olehnya.”

“Dia sendiri tidak mendapatkan untung, malahan terkadang dia harus tombok, namun baginya bukan soal, asalkan dia melihat orang yang dikerjainya itu kelabakan setengah mati dan mau menangis, maka hal ini dianggapnya kejadian yang paling menyenangkan baginya,” demikian tukas Lo Kiu.

“Hah, orang demikian sungguh jarang ada, dia -.” mendadak Siau-hi-ji berseru, “He, betul, itulah dia, yaitu orang yang berlagak mati dan mengencingi diriku itu.”

Orang-orang yang terlukis itu ada yang duduk dan ada yang berdiri, hanya yang terakhir inilah yang terlukis sedang berjongkok di pojok bawah, tangan yang satu lagi korek-korek celah jari kaki, sehingga mengingatkan orang akan penyakit eksim yang gatal itu, sedang tangan yang lain terangkat di depan hidung seperti lagi mengendus-endus baunya.

Kalau orang yang terlukis itu rata-rata juga bersikap menonjol sebagaimana umumnya orang yang ada nama, hanya orang terakhir inilah yang kelihatan munduk-munduk, takut-takut, cengar-cengir persis seorang pencoleng kecil-kecilan.

“Nah, saudara sudah melihat jelas?” demikian Lo Kiu menegas.

“Betul, sedikit pun tidak salah, memang betul dia ini,” seru Siau-hi-ji pula. “Meski wajahnya sudah tersamar, tapi lagak lagunya, cengar-cengirnya yang khas ini sekali-kali tidak bisa keliru.”

“Ya, makanya begitu Cayhe mendengar cerita saudara tentang tindak tanduk pencoleng itu segera kuduga pasti dia ini orangnya,” kata Lo Kiu.

“Siapa nama orang ini?” tanya Siau-hi-ji.

“Orang ini she Pek, ia sendiri mengaku bernama Khay-sim,” jawab Lo Kiu.

“Tapi orang-orang Kangouw menambahkan pula sebuah julukan baginya, yaitu ‘bikin rugi orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri’, dengan demikian lengkaplah dia terkenal sebagai Pek Kay-sim (gembira percuma), setelah bikin rugi orang lain tanpa menarik keuntungan apa-apa.”

“Haha, namanya benar-benar cocok dengan perbuatannya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa geli. “Dia memalsukan nama orang lain untuk mengirim Wan-lian berduka cita, berlagak mati untuk menipu orang, semua ini memang merugikan orang lain tapi tidak menguntungkan dia sendiri. Malahan dia harus tombok membeli kain putih dan membuang tenaga percuma.”

“Di dunia Kangouw terdapat macam-macam penjahat, tapi orang yang khusus berbuat merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri hanya dia saja seorang, makanya kami bersaudara -”

Belum selesai ucapan Lo Kiu, mendadak Siau-hi-ji memotong, “Makanya kalian lantas ingat akan dia begitu mendengar ceritaku tadi, jangan-jangan kalian memang kenal baik padanya.”

Lo Kiu meraba-raba dagunya yang gemuk itu, jawabnya dengan tertawa, “Jelek-jelek kami bersaudara tidak sampai bergaul dengan manusia begitu.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula sambil menatap Lo Kiu, “Kukira kalian kenal benar dengan dia, bahkan kenal baik Cap-toa-ok-jin, kalau tidak masakah kalian sedemikian jelas terhadap tingkah laku setiap pribadi Cap-toa-ok-jin ini dan mengapa lukisan ini berada pula padamu.”

Air muka Lo Kiu tampak berubah, tapi Lo Sam lantas menyela, “Bicara terus terang, sesungguhnya Cap-toa-ok-jin adalah musuh besar kami, soalnya ayah ibu kami justru terbunuh oleh mereka.”

Keterangan ini rada di luar dugaan Siau-hi-ji, katanya, “O, bet…betulkah demikian?”

“Untuk menuntut balas, kami telah berdaya upaya dengan segala jalan dan akhirnya mendapatkan lukisan ini,” tutur Lo Kiu. “Dengan macam-macam usaha lain kami berhasil menyelidiki dan mendapat keterangan sejelas-jelasnya mengenai tindak-tanduk mereka.”

“Jika begitu, mengapa kalian tidak memperlihatkan lukisan ini kepada umum agar orang lain juga mencari perkara kepada mereka, tapi apa sebabnya kalian malah merahasiakan mereka?”

Lo Kiu menyeringai, jawabnya, “Jika kalian menghadapi kejadian yang menyenangkan, apakah kau mau merasakannya bersama orang lain?”

“Masa ini termasuk urusan yang menyenangkan?” ujar Siau-hi-ji.

“Kami sudah berusaha dengan macam-macam daya upaya, dengan susah payah akhirnya kami akan dapat menuntut balas, bilamana kami membayangkan betapa senangnya nanti kalau kami membunuh musuh dengan tangan sendiri, apakah kami dapat membiarkan mereka mati di tangan orang lain?” kata Lo Kiu dengan gemas.

Siau-hi-ji mengangguk, katanya, “Ya, beralasan juga dan masuk akal.”

Dengan hati-hati, Lo Kiu menggulung pula lukisan tua itu, katanya kemudian, “Sebab itulah bila nanti saudara bertemu pula dengan Pek Khay-sim itu, hendaklah engkau suka memperhatikannya bagi kami.”

“Jika saudara dapat menyelidiki di mana jejaknya, tentu kami akan lebih-lebih berterima kasih,” sambung Lo Sam.

Sinar mata Siau-hi-ji gemerlap, katanya, “Baik, Pek Khay-sim bagianmu, tapi Kang Giok-long bagianku, betapa pun kalian harus menahannya bagiku, paling baik apabila orang lain tidak menyentuhnya sama sekali.”

“Sudah tentu,” seru Lo Kiu dengan tertawa.

“Eh, bapaknya menjamu tamu, tentu putranya juga hadir, jadi tadi kalian telah bertemu dengan. dia,” tanya Siau-hi-ji.

“Di sinilah keanehannya,” tutur Lo Kiu, “Bahwa Kang Piat-ho menjamu tamu, tapi Kang Giok-long tidak ikut hadir.”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Masa bangsat cilik itu tidak berani menongol lagi di depan umum? Padahal menghadapi tokoh pujaan semacam Lamkiong Liu dan Cin Kiam itu mustahil ayahnya tidak menyuruh dia mendekati mereka?”

“Bisa jadi bangsat cilik itu sudah pecah nyalinya menghadapi saudara,” ujar Lo Kiu.

Siau-hi-ji melirik sekejap ke loteng, lalu berkata dengan tertawa, “Ya, melihat seorang yang pernah dipukul mati olehnya tahu-tahu hidup kembali di depannya, tak peduli siapa pun pasti juga akan ketakutan hingga kehilangan ingatan sehat dan tidak berani lagi menemui orang.”

Ucapan ini dengan sendirinya mengandung arti lain, hanya saja kedua Lo bersaudara itu tidak pernah menyangka kalau Siau-hi-ji ada sangkut-pautnya dengan anak perempuan yang linglung dan sembunyi di atas loteng itu, malahan mereka lebih-lebih tidak menyangka bahwa anak perempuan yang kehilangan ingatan itu justru adalah Buyung Kiu.

Karena melihat Siau-hi-ji melirik ke arah loteng, kedua Lo bersaudara lantas berbangkit sambil tertawa, kata mereka, “Sudah larut malam mungkin saudara perlu istirahat.”

“Betul, memang aku perlu istirahat,” ucap Siau-hi-ji tertawa sambil berdiri dan lantas melangkah keluar.

Keruan kedua Lo bersaudara melengak, Lo Kiu menuding ke atas loteng, katanya, “Apakah malam ini saudara tidak tidur saja di atas sana?”

Siau-hi-ji sudah melangkah keluar pintu, ia menjawab sambil menoleh, “Di atas sana banyak sarang labah-labah, aku tak dapat tidur, biarlah kudatang lagi besok pagi…jika ada kabar beritanya Kang Giok-long, jangan lupa, harap kalian suka menyampaikan keterangan padaku.”

Melihat kepergian Siau-hi-ji itu Lo Kiu bergumam, “Sarang labah-labah, labah-labah apa?…. Eh, kaukira bocah ini waras atau tidak?”

“Tidak waras apa persetan dengan dia,” jawah Lo Sam. “Dia cuma pura-pura bodoh dan berlagak sinting saja, sebaiknya kita harus waspada, jangan sampai kapal terbalik di selokan, tidak berhasil memperalat dia, sebaliknya malah diperalat olehnya.”

Lo Kiu terkekeh-kekeh, katanya, “Biarpun isi perut anak ini penuh akal busuk, tapi seberapa hebat kalau dibandingkan kita?”

“Hehe, betapa pun banyak orang busuk di dunia ini, tapi siapa yang dapat membandingi kita?” sambung Lo Sam.

Malam sudah larut, tempat kediaman Lo bersaudara itu sudah sepi, Siau-hi-ji berputar melintasi dua jalanan di sekitar situ. Dilihatnya perumahan sekitarnya rata-rata rumah biasa, selain rumah berloteng kecil tempat Lo Kiu itu, hanya tidak jauh di sebelah timur sana ada sebuah gedung berloteng yang jauh lebih tinggi daripada rumah sekelilingnya.

Perlahan Siau-hi-ji menuju ke sana, setelah memutar ke ujung tembok sana dan berputar pula sekeliling, setelah cahaya lampu di gedung itu sudah padam, dengan enteng ia lantas melompat ke atas rumah, ia mendekam dibalik wuwungan yang gelap.

Bulan terang dan bintang jarang-jarang, suasana sunyi senyap, dipandang dari jauh jendela loteng kecil itu telah terbuka dengan sinar lampu yang remang-remang, tampak Buyung Kiu bertopang dagu menghadapi lampu, agaknya sedang melamun.

Sekonyong-konyong terdengar angin berkesiur, sesosok bayangan hitam bagai hantu saja melayang ke atas wuwungan, lalu mendekam juga di situ serta memandang jauh ke loteng kecil sana.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya “Ternyata cocok dengan dugaanku, dia benar-benar datang.”

Di sebelah sana Buyung Kiu tampak termangu-mangu sehingga tidak mengetahui bahwa di sebelahnya masih mendekam seorang. Hanya sepasang biji matanya tampak gemerlap dalam kegelapan, sekujur badannya seakan-akan tenggelam juga di tengah kegelapan.

Bayangan hitam ini bukan lain daripada Oh-ti-tu, si labah-labah hitam. Sinar mata yang biasanya tajam itu kini seperti buram dan memandang jauh ke sana dengan kesima tanpa peduli bajunya sudah basah oleh embun.

Mendadak Siau-hi-ji mengikik tawa dan berkata, “Malam sunyi senyap, termenung-menung untuk siapa gerangan?”

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Oh-ti-tu sudah berada di depannya sambil membentak tertahan, “Siapa?”

“Selain aku siapa lagi?” sahut Siau-hi-ji.

Sinar mata Oh-ti-tu gemerdep seperti cahaya kilat, tapi akhirnya tidak jadi mengumbar marah, katanya pula, “Kau lagi?”

“Jarak dari sini ke sana kan tidak jauh, mengapa kau tidak melayang ke sana saja?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Memangnya kudatang untuk…untuk dia?!” jawab Oh-ti-tu, meski wajahnya tidak kelihatan, namun suaranya terdengar rada-rada kikuk.

Namun Siau-hi-ji tidak berolok-olok lagi, ia tanya, “Bukan untuk dia, habis untuk siapa?”

“Dengan sendirinya kedua Lo bersaudara itulah sasaranku.”

“O, begitukah?” Siau-hi-ji tertawa.

“Asal-usul kedua orang itu penuh tanda tanya, tindak tanduknya mencurigakan, sudah dua-tiga bulan kuintai mereka dengan tujuan membongkar rahasia mereka itulah.”

“Dan apa pula hubungannya dengan dirimu?”

“Siapa gerangan di dunia ini yang tidak tahu diriku Oh-ti-tu ini paling suka ikut campur urusan orang lain?”

“Tapi urusan kedua Lo bersaudara ini apakah berharga untuk kau ikut mengurusnya?”

“Betapa pun besar ambisi kedua orang ini, kalau kukatakan mungkin kau pun akan kaget.”

“O, ya?!” Siau-hi-ji heran.

“Kutahu rencana keji mereka, biar orang baik maupun jahat, baik golongan hitam atau kalangan putih, semuanya adalah sasaran mereka. Tampaknya mereka sengaja hendak memecah belah dan mengadu domba agar setiap orang persilatan saling gontok-gontokan, saling bunuh membunuh, dengan demikian mereka yang akan menarik keuntungannya. Sampai sekarang entah berapa banyak korban telah jatuh akibat muslihat mereka itu. Tahukah kau gontokan antara Put-hay-pang dan Ui-hay-pang yang terjadi dua bulan yang lalu serta pertarungan sengit antara Lo-san-pang dan Gway-to-bun sebulan yang lampau? Banjir darah yang terjadi itu justru akibat hasutan kedua Lo bersaudara ini.”

“Jika kau tahu sejelas itu, mengapa kau tidak tampil ke muka?” tanya Siau-hi-ji.

“Pertama aku belum memegang buktinya, kedua orang-orang yang menjadi sasaran mereka itu pun bukan manusia baik-baik. Ketiga, aku ingin membongkar seluk-beluk perbuatan keji mereka baru akhirnya kulabrak mereka.”

“Menurut dugaanmu, siapakah mereka?”

“Semula kusangka mereka adalah anggota Cap-toa-ok-jin, tapi kemudian ….”

“Kemudian bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Setelah kuselidiki baru diketahui bahwa di antara Cap-toa-ok-jin itu tiada terdapat dua orang seperti mereka ini.”

“Bisa jadi tidak ada, tapi ….” Siau-hi-ji tertawa, lalu menyambung, “Jadi tujuanmu bukan untuk nona itu?”

Oh-ti-tu terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Memang juga ada.”

“Tahukah kau siapa dia?”

“Aku cuma tahu dia adalah anak perempuan yang harus dikasihani dan malang terjatuh ke dalam cengkeraman orang jahat ini.”

“Makanya kau ingin melindungi dia?”

“Ya, setiap orang yang harus dikasihani di dunia tentu akan kulindungi.”

“Jika begitu, mengapa kau tidak menyelamatkan dia dan membawanya pergi?”

Sinar mata Oh-ti-tu yang gemerlap itu mendadak berubah buram, namun di mulut justru tertawa dan berkata, “Jika sudah kutolong dia, lalu apakah dia harus mengikuti aku?”

“Apa jeleknya ikut kau?”

“Tapi apakah kau tahu bagaimana kehidupanku?” kata Oh-ti-tu dengan suara bengis. “Sepanjang tahun hdupku terlunta-lunta tiada menentu, makan pagi belum tentu makan siang, malamnya masih hidup belum pasti besoknya apakah masih hidup. Hidupku tidak punya rumah, kalau mati juga tidak tahu mati di mana?!”

“Dengan kepandaianmu, sebenarnya kau kan dapat hidup enak?”

“Tapi aku sudah memilih kehidupan begini, terpaksa harus tetap berlangsung terus, ingin mengubahnya juga sukar lagi. Seumpama aku sendiri tidak ingin hidup cara begini, mungkin orang lain pun takkan mengizinkan ….” Oh-ti-tu mengepal, lalu berseru dengan suara serak, “Kehidupan begini jelas tak mungkin diikuti oleh dia.”

“Asal kau suka padanya dan dia juga suka padarnu, kehidupan yang pahit bagaimana pun juga akan membuatnya bahagia,” ujar Siau-hi-ji.

Mendadak sinar mata Oh-ti-tu memancarkan sinar kepedihan, ucapnya dengan tersenyum getir, “Siapa bilang aku menyukai dia?! Orang seperti diriku ini tidak pantas menyukai siapa pun juga dan juga tidak boleh ….”

“Jadi seumpama kau suka padanya, terpaksa perasaan demikian kau simpan di dalam hati saja, begitu?”

“Ah, omong-kosong!” mendadak Oh-ti-tu melengos.

“Tadinya kusangka kau ini berdarah dingin, tapi sekarang…sekarang dapat kuketahui bahwa kau sesunggguhnya juga seorang yang berperasaan halus,” kata Siau-hi-ji dengan gegetun.

Mendadak Oh-ti-tu berbangkit dan mengomel, “Ah, anak muda serupa kau ini tahu apa? Sudahlah, jangan bicara urusan ini lagi.”

“Haha, kalau isi hatinya kena diketahui orang kan tidak perlu bersikap segalak ini, dong!”

Oh-ti-tu memandangnya sejenak. Mendadak ia bergelak tertawa, ia pegang tangan Siau-hi-ji, katanya, “Akhir-akhir ini aku mendapatkan seorang sahabat pula, hari ini dia telah membeli dua poci arak dan memasak satu kuali daging, marilah aku pun mengundangmu ikut hadir dan ikut makan.”

“Baiklah,” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Orang yang dapat diterima menjadi sahabatmu tentulah orang yang cukup menarik.”

Begitulah mereka terus berlari ke sana, Siau-hi-ji selalu mengintil rapat di belakang Oh-ti-tu. “Tampaknya Ginkangmu telah maju pesat,” ucap Oh-ti-tu sambil menoleh.

“Terima kasih,” jawab Siau-hi-ji tertawa.

“Sahabatku yang baru itu pun serba pintar silat maupun surat, setelah kau kenal dia tentu kau pun akan suka padanya.”

“O, siapakah namanya?” tanya Siau-hi-ji.

“Orang berbakat tidak perlu harus punya nama. Dia sendiri mengaku she Koh bernama Goat-gian, meski namanya tidak terkenal, tapi jauh lebih unggul daripada tokoh-tokoh yang termasyhur.”

Tengah bicara mereka sudah berada di luar kota, terlihat hutan membentang di depan, samar-samar seperti ada berkelipnya sinar api, setelah dekat, tertampak sebuah “sutheng”, yakni rumah abu leluhur keluarga, yang sudah bobrok.

Rumah bobrok demikian inilah kediaman kaum gelandangan dan cahaya api itu pun keluar dari tempat ini. Sampai di sini sudah tercium bau sedapnya daging rebus.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berseloroh, “Tampaknya sahabatmu ini bukan cuma serba pandai silat dan surat saja, bahkan juga koki kelas satu.”

“Memangnya hidup kaum gelandangan hanya suka makan besar sekali tempo, masakah ada kenikmatan lainnya lagi?” ucap Oh-ti-tu.

Segera mereka melayang masuk ke rumah pemujaan yang bobrok itu, terlihat di tengah halaman ada api unggun dan di atasnya bergantungan sebuah kuali besar, dari situlah bau sedap daging rebus tercium. Di samping kuali sudah tersedia mangkuk dan sumpit, di dalam mangkuk malah sudah penuh tertuang arak, cuma tiada tertampak seorang pun di situ.

Oh-ti-tu celingukan ke sana sini sambil berseru, “Koh-laute…Koh-laute, kuberikan seorang teman lagi, lekas keluar berkenalan.”

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli akan watak Oh-ti-tu yang tidak berubah itu, yakni suka menjadi Toako dan orang lain dianggapnya sebagai adik.

Meski Oh-ti-tu sudah berkaok-kaok beberapa kali, tetap tiada jawaban, dia keluar untuk mencari dan tetap tidak diketemukan, akhirnya ia terus duduk dan berkata, “Koh-laute ini memang aneh, mungkin pantatnya lancip, tidak betah duduk dengan tenang, kini entah lari ke mana, biarlah, kita tak perlu menunggunya, makan dulu, urusan belakang.”

“Cocok dengan pikiranku,” sambut Siau-hi-ji dengan gembira, sumpit segera dipegangnya.

Akan tetapi baru saja sepotong daging ia masukkan ke mulut, lalu sumpit ditaruh kembali, mulut pun tidak mengunyah, agaknya daging dalam mulut itu sukar tertelan. Padahal mulut Oh-ti-tu sudah bekerja seperti mesin pabrik, tujuh-delapan potong daging sudah masuk perutnya.

Oh-ti-tu hanya menyingkap sedikit kedoknya, yakni bagian mulut ditarik ke atas hidung sehingga kelihatan mulutnya yang lebar dengan bibir tipis itu, cara makannya yang rakus itu sungguh mirip orang kelaparan.

Setelah belasan potong daging dilansir ke perut, lalu Oh-ti-tu mendorongnya dengan semangkuk arak, habis itu barulah dia pandang Siau-hi-ji sambil menyengir, “Empuk dan lezat daging rebus ini, kenapa kau tidak percepat sumpitmu”

Tapi Siau-hi-ji malah menumpahkan daging di mulutnya itu ke tanah, katanya, “Daging ini tidak boleh dimakan.”

Oh-ti-tu jadi melengak, tanyanya, “Mengapa tidak boleh dimakan? Daging ini kan bukan barang curian?”

“Apakah kau tahu daging apa ini?” tanya Siau-hi-ji mendadak sambil tertawa.

“Daging apa, memangnya daging manusia!”

“Betul, memang daging manusia!”

Oh-ti-tu menjerit kaget, sepotong daging yang sudah masuk ke mulut seketika tersembur keluar, teriaknya “Apa katamu?”

“Kubilang ini daging manusia, tidak mungkin keliru.”

“Dari… dari mana kau tahu?” tanya Oh-ti-tu.

“Sejak umur tiga tahun aku sudah pernah merasakan daging manusia, rasanya belum pernah kulupakan hingga sekarang.”

“Sejak umur tiga tahun kau sudah pernah makan daging manusia?” Oh-ti-tu menegas dengan melotot.

“Bicara terus terang, sejak kecil aku ini dibesarkan di Ok-jin-kok, kalau daging ini bukan diiris dari tubuh manusia yang mati, biarlah kumakan hidungku sendiri nanti.”

Habis berkata begitu Siau-hi-ji ingin menyaksikan Oh-ti-tu menumpahkan daging yang telah masuk perutnya itu, di luar dugaan Oh-ti-tu malah bergelak tertawa, katanya, “Jika demikian, yang memasak daging ini jangan-jangan Li Toa-jui adanya?”

“Bisa jadi memang dia,” kata Siau-hi-ji.

“Ehm, betul juga, Koh Goat-gian, gabungan tiga huruf ini sama artinya dengan ‘omong kosong’,” kata Oh-ti-tu. “Ha, jadi sejak mula dia bilang padaku dia sengaja omong kosong, tapi aku percaya saja padanya.”

“Dan kau tidak ingin tumpah?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau sudah masuk perut, tumpah juga tidak ada gunanya,” sahut Oh-ti-tu dengan tertawa.

“Dan kau masih dapat tertawa?”

“Kenapa aku tidak boleh tertawa? Jika dapat bersahabat dengan orang macam Li Toa-jui kan juga kejadian yang menarik, tak peduli dia orang baik atau busuk, jelek-jelek dia tokoh terkenal dan peran penting, orang seperti dia itu tidaklah banyak di dunia Kangouw.”

Diam-diam Siau-hi-ji memuji kebesaran jiwa Oh-ti-tu ini, suka bicara blak-blakan, tidak pura-pura, tidak munafik. Namun di mulut ia hanya berkata, “Tapi tuan ‘omong kosong’ itu pun belum pasti Li Toa-jui adanya.”

“Habis siapa kalau bukan Li Toa-jui?” ujar Oh-ti-tu.

“Kutahu ada seorang lagi yang sengaja menyamar sebagai Li Toa-jui dan mungkin sengaja menyuruh kau makan daging manusia, habis itu supaya kau akan tumpah habis-habisan, dan karena kau terjebak olehnya, maka dia lantas gembira ….” sampai di sini mendadak dia tahan suaranya dan berbisik, “Mungkin tujuannya tidak cuma membuatmu tumpah-tumpah saja, tapi besar kemungkinan ada intrik lain.”

Mendadak Oh-ti-tu merapikan kedoknya, lalu menjengek, “Sahabat di luar itu, kalau sudah datang mengapa tidak masuk saja sekalian?”

Waktu menahan suaranya tadi Siau-hi-ji memang sudah mendengar sesuatu, ternyata telinga Oh-ti-tu juga tidak kalah tajamnya.

Belum lenyap suara Oh-ti-tu, serentak sesosok bayangan orang melayang masuk ke “sutheng” itu.

Di tengah gemerlapnya cahaya api terlihat potongan tubuh pendatang yang ramping ini dengan baju yang merah membara, sorot matanya yang bercahaya itu penuh rasa gusar.

Ternyata pendatang ini adalah Siau-sian-li. Bahwasanya tengah malam buta Siau-sian-li bisa muncul di sutheng ini, biarpun hal ini membuat Siau-hi-ji rada terkejut, tapi dia tetap tenang-tenang saja duduk di tempatnya.

Agaknya Oh-ti-tu juga tidak menyangka orang yang menerobos masuk itu adalah seorang perempuan cantik, tampaknya ia pun melenggong. Bagi Siau-sian-li tentu saja tidak dipandang sebelah mata kedua orang yang tak menarik itu. Begitu ayun pedangnya, seketika kuali besi tercungkit oleh ujung pedangnya terus dilemparkan sehingga daging rebus sekuali penuh berserakan di lantai. Tertampak gemerdepnya sinar emas, di dalam kuali ternyata ada sebuah tusuk konde emas.

Seketika Siau-sian-li menjerit kaget, segera seorang melompat masuk pula dari luar, ternyata Koh Jin-giok adanya. Siau-sian-li terus menubruk ke bahu anak muda itu sambil berseru parau, “Tusuk kundai…tusuk kundai Wan-ji ternyata betul berada di dalam kuali.”

Dengan mata melotot Koh Jin-giok membentak Siau-hi-ji, “Apakah kau ini…kau ini termasuk manusia?”

Siau-hi-ji tahu mereka tidak mengenali dirinya, dengan tertawa ia menjawab, “Aku kan serupa denganmu, mengapa bukan manusia?”

“Coba…coba katakan, apa isi kuali ini?” bentak pula Koh Jin-giok.

Belum pernah Siau-hi-ji melihat pemuda yang mirip gadis pingitan itu bersikap segarang ini, ia tahu orang telah benar-benar marah, ia pun tahu orang yang dagingnya digodok di dalam kuali itu pasti ada hubungannya dengan mereka. Yang tidak bisa dimengerti olehnya adalah cara bagaimana mereka dapat mencari ke sutheng bobrok ini dan dari mana pula mereka mendapat tahu di dalam kuali ada tusuk kundainya?

Walaupun heran dan curiga, tapi dia sengaja tertawa dan berkata, “Coba katakan, apa isi kuali itu menurut pendapatmu?”

Muka Koh Jin-giok menjadi merah padam dan tidak sanggup bicara pula.

Pada saat itulah terdengar seorang berkata dengan perlahan-lahan, “Di dunia ini tidak kekurangan daging, kalian berdua mengapa lebih suka makan daging manusia? Makan daging sejenis sendiri, masa kalian lebih rendah daripada binatang?”

Walaupun lagi mendamprat orang, tapi satu kata pun orang ini tidak menggunakan istilah kotor, bahkan nada ucapannya tetap ramah-tamah sehingga lebih mirip orang lagi mengobrol iseng.

Bersama dengan suaranya itu, dua orang telah melangkah masuk, meski sorot mata mereka pun nampak gusar, tapi tetap bersikap tenang. Mereka adalah Lamkiong Liu dan Cin Kiam.

Siau-hi-ji tetap tertawa saja, jawabnya, “Kau bilang kami sedang makan daging manusia, tapi cara bagaimana kalian mendapat tahu? Jangan-jangan ada orang menyampaikan laporan rahasia kepadamu?”

Belum lagi Cin Kiam menjawab, mendadak Siau-sian-li melangkah maju dan mendamprat, “Sudah tentu ada orang yang memberi laporan, perbuatan kalian yang terkutuk ini siapa pun tidak bisa membenarkannya.”

“Ya, Wan-ji yang pintar dan menyenangkan itu seharusnya disayang dan dikasih, tapi kalian malah menyembelihnya dan memakan dagingnya, tindakan kalian ini sungguh tidak lumrah dan sangat tercela,” kata Lamkiong Liu dengan perlahan. Sampai sekarang cara bicaranya masih tetap tenang-tenang dan sopan santun.

Siau-sian-li menjadi gusar, omelnya, “Untuk apa banyak bicara dengan orang-orang begini ….”

“Setelah urusan menjadi begini, apalagi yang hendak kalian katakan?” dengan perlahan-lahan Lamkiong Liu berucap pula.

Siau-hi-ji menjawab dengan tertawa, “Urusan sudah begini, berkata apa pun tidak menjadi soal lagi.”

Tiba-tiba Oh-ti-tu berbangkit dan berseru, “Cayhe ingin bicara juga.”

“Jangan-jangan saudara inilah Oh-ti-tu yang terkenal di dunia Kangouw itu?” tanya Cin Kiam.

“Betul,” jawab Oh-ti-tu.

“Tampaknya desas-desus di dunia Kangouw tidak boleh dipercaya penuh, tak terduga Oh-ti-tu adalah orang semacam kau ini,” ucap Cin Kiam sambil mengernyitkan dahi.

“Desas-desus Kangouw tidak boleh dipercaya, laporan palsu lebih-lebih tidak boleh dipercaya,” teriak Oh-ti-tu. “Coba jawab, kalau bukan orang yang memotong dan memasak daging ini, cara bagaimana pula dia mendapat tahu bahwa di dalam kuali ini ada tusuk kundainya?”

Cin Kiam dan Lamkiong Liu saling pandang sekejap, dengan perlahan Lamkiong Liu berucap, “Jadi maksud saudara hendak mengatakan bahwa urusan ini diperbuat oleh orang lain yang sengaja hendak menimpakan dosa ini kepadamu?”

“Memang begitu,” jawab Oh-ti-tu.

“Ehm, masuk di akal juga,” Lamkiong Liu manggut-manggut perlahan.

“Jiko, betapa pun aku tak dapat melepaskan mereka biarpun hendak kau lepaskan mereka,” seru Siau-sian-li. “Bukan mustahil pelapor itu secara diam-diam menyaksikan perbuatan mereka yang terkutuk ini lalu kita diberitahu.”

“Ya, mungkin juga begitu,” kata Lamkiong Liu.

“Kalau Wan-ji jelas telah mereka sembelih dan dimakan, dengan sendirinya Kiu-moay juga…juga ….” mendadak nada Siau-sian-li tersendat-sendat dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Cin Kiam menatap Siau-hi-ji dan Oh-ti-tu dengan sorot mata tajam, katanya dengan suara berat, “Meski persoalan ini masih meragukan, tapi kalau kalian tidak mampu memperlihatkan bukti bahwa kalian sesungguhnya tidak bersalah, terpaksa sekarang juga kalian harus kami bawa pulang.”

“Hm, ramah juga ucapan saudara,” jengek Oh-ti-tu, “Bukan soal bila kami harus ikut kalian, cuma saudara harus juga memperlihatkan bukti nyata berdasarkan apa kalian hendak membawa pulang kami ini?”

“Apakah tusuk kundai ini bukan bukti nyata? Kau masih berani menyangkal?” bentak Siau-sian-li.

Oh-ti-tu mendelik, tapi sebelum dia bicara Siau-hi-ji telah mendahului dengan mengikik tawa, “Bilakah kami menyangkal?”

Pedang Siau-sian-li sudah siap untuk menyerang, ia menjadi tercengang mendengar jawaban Siau-hi-ji, tanyanya, “Jadi kau sudah mengaku?”

“Makan daging manusia kan juga bukan sesuatu yang luar biasa,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Keruan Oh-ti-tu kaget seperti kena dicambuk satu kali, serunya, “He, apa katamu?”

Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia berbalik bicara pula kepada Siau-sian-li dengan tertawa, “Kiu-moay yang kau maksudkan itu apakah seorang nona yang bermata besar dan bermuka pucat, berusia antara 18-19 tahun dan suka memakai baju hijau muda?”

“Ahh, kau…kau telah apakan dia?” tanya Siau-sian-li dengan suara gemetar.

“Telah kuapakan dia, memangnya perlu kukatakan pula?” jawah Siau-hi-ji dengan tergelak.

Oh-ti-tu menjadi kelabakan, serunya, “He, apakah kau sudah gila, ngaco-belo tak keruan?”

“Memangnya ada apa dengan soal itu, kenapa kau takut?” ucap Siau-hi-ji tertawa.

Betapa pun sabarnya Cin Kiam dan Lamkiong Liu, tidak urung air muka pun berubah kini.

Siau-sian-li juga lantas berjingkrak gusar, teriaknya, “Coba dengarkan, dia…dia sendiri sudah mengaku.” Berbareng itu pedang terus menusuk secepat kilat.

Koh Jin-giok juga tidak tinggal diam, matanya tampak merah, sambil menggerung sekaligus dia melancarkan tiga kali pukulan dahsyat.

Dengan sendirinya tusukan pedang dan pukulan-pukulan itu terarah ke tempat mematikan di tubuh Siau-hi-ji, pedang berkelebat secepat kilat, pukulan sedahsyat geledek, serangan dari kanan kiri ini sungguh lihai luar biasa.

Jika ini terjadi dua tahun yang lalu, maka jelas Siau-hi-ji akan mati di bawah pukulan kalau tidak binasa oleh tusukan pedang. Tapi Siau-hi-ji sekarang bukan lagi Siau-hi-ji yang ingusan. Begitu tangan kirinya bergerak tahu-tahu batang pedang Siau-sian-li terasa diusap perlahan, pandangannya menjadi kabur, pedang terasa di tarik oleh arus tenaga yang mahakuat, ujung pedang yang mengarah Siau-hi-ji tahu-tahu menusuk Koh Jin-giok, keruan anak muda itu terkejut dan bergeser, “bret”, lengan bajunya toh sempat tertusuk robek.

Gerakan “meraih dan mendorong” Siau-hi-ji yang sepele ini telah dapat dilakukannya dengan sangat ajaib sehingga mempunyai daya guna yang sama lihainya dengan gerakan “Ih-hoa-ciap-giok” yang terkenal dari Ih-hoa-kiong itu, tentu saja kedua lawannya melongo kaget.

“He, apakah engkau ini anak murid Ih-hoa-kiong?” seru Cin Kiam.

Siau-hi-ji tidak menjawab, sebaliknya ia tertawa dan sembunyi di belakang Oh-ti-tu, katanya, “Meski aku pun makan daging rebus tadi, tapi biang keladinya bukan diriku, mengapa kalian terus mengincar aku saja?”

Koh Jin-giok dan Siau-sian-li merasa heran, sudah terang Siau-hi-ji mendapat kesempatan untuk menyerang pula, tapi hal ini tidak dilakukannya, sebaliknya malah terus sembunyi, saking gusarnya kedua orang itu pun tidak peduli, segera mereka menerjang maju lagi. Sekali ini gerak serangan mereka tambah keji, tapi cara menyerangnya lebih hati-hati, namun yang kena diterjang lebih dulu bukan lagi Siau-hi-ji melainkan Oh-ti-tu.

Kejut dan dongkol pula Oh-ti-tu, namun dalam keadaan demikian ia pun tidak sempat memberi penjelasan lebih lanjut, sebab kalau dia mau bicara, sebelum berucap mungkin tubuhnya sudah kena dilubangi oleh pedang lawan. Dan kalau tidak bicara, terpaksa ia harus bertempur.

Begitulah di tengah gemerdepnya sinar pedang serta menderunya angin pukulan, sekaligus Koh Jin-giok dan Siau-sian-li telah melancarkan belasan jurus serangan, selama itu pun Oh-ti-tu telah balas menyerang tiga kali.

Sudah tentu di bawah serangan gencar pukulan Koh Jin-giok dan tusukan pedang Siau-sian-li itu sama sekali Oh-ti-tu tidak sempat membuka mulut, sebaliknya Siau-hi-ji yang sembunyi di belakang malah berseloroh, “Bagus, memang seharusnya begini, labrak saja mereka, takut apa?”

Oh-ti-tu berkaok-kaok gusar, sedapatnya dia hendak melepaskan diri dari godaan Siau-hi-ji, tapi anak muda itu laksana bayangan saja yang melekat pada tubuhnya, sukar ditinggal dan tidak mungkin berpisah. Malahan anak muda itu berkeplok tertawa dan berseru, “Bagus, tusukan pedang yang hebat…Aha, pukulan sakti keluarga Koh memang luar biasa!…Ai, Oh-ti-tu, tampaknya kau tak sanggup melawan mereka!”

Dalam gusarnya tadi Siau-sian-li dan Ko Jin-giok melancarkan serangan, makanya mereka kena didahului oleh Siau-hi-ji, tapi kini setelah pikiran mereka tenang kembali, gerak serangan mereka menjadi mantap, apalagi pengalaman tempur Siau-sian-li sangat luas, pedangnya menyerang dengan cepat lagi keji, sedangkan Koh Jin-giok melancarkan pukulan dahsyat dengan teratur, keduanya dapat bekerja sama dengan rapi sekali.

Oh-ti-tu juga tokoh ternama, tapi bukan termasyhur karena ilmu silatnya melainkan Ginkangnya, dengan sendirinya dia rada kewalahan menghadapi kerubutan dua jago yang lihai itu, apa lagi di belakangnya ada lagi Siau-hi-ji, tampaknya saja anak muda itu membelanya, tapi sesungguhnya mengacau baginya.

Setelah beberapa kali Oh-ti-tu menghadapi serangan maut, Siau-hi-ji sengaja menghela napas dan berkata, “Wah celaka! Oh-ti-tu kita yang termasyhur ini tampaknya sekarang harus keok di tangan dua anak ingusan.”

Padahal Siau-sian-li dan Koh Jin-giok juga tokoh terkenal di dunia Kangouw dan sama sekali bukan anak ingusan, dengan ucapan ini Siau-hi-ji sengaja hendak memancing kemarahan Oh-ti-tu.

Meski watak Oh-ti-tu memang keras, tapi juga cerdik, walaupun tahu maksud tujuan Siau-hi-ji, tidak urung ia pun terpancing murka, ia meraung gusar, “Sebenarnya apa kehendakmu, orang gila!”

“Jangan bingung dan jangan khawatir!” ucap Siau-hi-ji dengan suara tertahan. “Kalau tidak sanggup melawan, memangnya kau tak dapat lari?”

“Kentut!” Oh-ti-tu tambah murka. “Memangnya aku si hitam ini suka mencawat ekor?”

“Oh-ti-tu termasyhur di seluruh dunia karena gerak tubuhnya yang cepat dan ajaib, sekarang kau justru menyampingkan kemahiran sendiri dan bertempur keras lawan keras, caramu ini bukankah terlalu bodoh?” kata Siau-hi-ji.

Oh-ti-tu masih terus mengomel, tapi dalam hati ia pun mengakui kebenaran ucapan Siau-hi-ji. Sedikit meleng lantaran bicara dengan Siau-hi-ji, hampir saja iganya tertusuk pedang musuh.

“Kalau sekarang kau dapat mengundurkan diri dengan selamat dan dapat sekaligus membawa serta diriku, bila kejadian ini tersiar di Kangouw, kuyakin pasti tiada seorang pun yang berani berolok-olok, bahkan semua akan kagum padamu,” kata Siau-hi-ji pula dengan tenang.

Dengan mendongkol akhirnya Oh-ti-tu berkata, “Baik!”

Baru saja “baik” terucapkan sekonyong-konyong Siau-hi-ji menyelinap maju ke depan, dengan gerakan “Toan-giok-hun-kim”, potong kemala patah emas, kedua tangannya memukul ke kanan kiri sekaligus.

Karena tidak terduga-duga, kontan Koh Jin-giok dan Siau-sian-li dipaksa melompat mundur.

Pada saat itulah dari lengan baju Oh-ti-tu telah menyambar keluar seutas benang perak terus melayang keluar pintu dan tepat mengait di atas pohon cemara di luar sutheng bobrok itu, menyusul Oh-ti-tu lantas “terbang” ke luar.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga sudah pegang ujung baju Oh-ti-tu dan ikut terbang keluar, tubuhnya enteng seperti burung, biarpun menggandul pada gerakan Oh-ti-tu, tapi sama sekali Oh-ti-tu tidak merasakan beban apa-apa.

Seperti layang-layang saja tubuh Oh-ti-tu ditarik oleh benang itu dan melayang ke atas pohon cemara di luar, begitu kakinya menutul batang pohon, segera orangnya terbang pula ke depan sana dan hinggap di pohon kedua, menyusul benang perak lantas menyambar ke sana dan mengait pada pohon ketiga, dari sini Oh-ti-tu melompat lagi ke atas pohon keempat dan begitu seterusnya.

Waktu Cin Kiam dan lain-lain mengejar keluar, bayangan Oh-ti-tu berdua sudah berada berpuluh tombak jauhnya, sekali kelebat lantas menghilang dalam kegelapan, terdengar pesannya berkumandang dari jauh, “Jika kalian tidak terima, besok tengah malam boleh kalian datang lagi ke sini!”

Oh-ti-tu terus melayang dan terbang tanpa berhenti, setiba di pinggir kota barulah dia berhenti di tempat gelap.

“Oh-ti-tu yang hebat, benar-benar pergi datang seperti kilat, ilmu benang perak labah-labah terbang ini benar-benar tiada bandingannya di dunia Kangouw,” puji Siau-hi-ji sambil berkeplok tertawa.

“Hm, apa gunanya biarpun kau menjilat pantatku,” jengek Oh-ti-tu.

“Kutahu kau pasti sangat mendongkol, maksudku hanya sekadar menghilangkan rasa dongkolmu saja,” jawab Siau-hi-ji.

“Coba jawab, sudah jelas bukan perbuatanmu, mengapa kau sengaja melibatkan diri dalam urusan ini, bahkan aku ikut dijebloskan dan kau sengaja bersembunyi di balakangku sehingga aku yang menanggung susah?” demikian Oh-ti-tu menjadi gusar dan berteriak. “Ini masih mendingan, yang menggemaskan, sudah jelas kau dapat melabrak mereka secara terang-terangan, tapi kau sengaja lari malah sehingga aku pun menanggung malu, coba jawab, apa sebabnya semua ini?”

“Sudah tentu aku mempunyai alasannya,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sambil menjambret dada anak muda itu Oh-ti-tu membentak, “Kalau tidak kau jelaskan, segera kucekik mampus kau.”

“Masa masih perlu penjelasan pula? Dengan sendirinya karena ingin kubikin susah padamu.”

“Membikin susah padaku?” Oh-ti-tu menegas.

“Setelah kita kabur begini, aku sendiri dapat pergi tanpa embel-embel apa pun, sebaliknya kau Oh-ti-tu punya nama terkenal, kalau tersiar kelak, katanya Oh-ti-tu dan Li Toa-jui sama-sama suka makan manusia, lalu dapatkah kau berkecimpung pula di dunia Kangouw?”

“Mengapa kau berbuat demikian dan membikin susah diriku?” damprat Oh-ti-tu dengan gusar.

“Sebabnya aku ingin menjerumuskan engkau ke dalam lumpur, dengan demikian barulah kau mau bekerja bagiku,” dengan tertawa Siau-hi-ji menjelaskan pula, “Tapi kau pun jangan marah, justru kupandang engkau ini cukup berharga, makanya aku mau membikin susah padamu. Ada sementara orang memohon dengan sangat dan bahkan hendak membayar padaku agar aku membikin susah dia, malahan kutolak.”

“Setelah kau membikin susah padaku, mestinya kucekik mati kau, mana kumau bekerja lagi bagimu,” bentak Oh-ti-tu dengan bengis.

“Jika orang lain, setelah kubikin susah dia, tentu dia akan bikin perhitungan dengan aku, tapi engkau Oh-ti-tu lain dari pada yang lain, watakmu ini cukup kukenal dengan baik.”

Oh-ti-tu melototi anak muda itu sekian lamanya, mendadak ia lepaskan pegangannya dan tertawa, katanya, “Bagus, kau bocah ini ternyata kenal betul watakku si hitam. Menghadapi persoalan yang aneh ini, biarpun sudah tahu tertipu juga takkan kulepaskan begitu saja.”

“Kalau tidak begini namamu bukan Oh-ti-tu lagi,” ucap Siau-hi-ji.

“Caramu menyeret aku masuk lumpur ini masa tiada maksud tujuan lain?”

“Sudah tentu ada,” jawab Siau-hi-ji. “Soalnya kulihat Lamkiong Liu dan Cin Kiam itu sok meremehkan orang lain, dalam keadaan biasa jika aku mengundang mereka keluar, memangnya mereka mau? Tapi sekarang, biarpun tengah malam buta kusuruh mereka datang ke sini juga mereka pasti akan hadir, satu detik pun tak berani terlambat.”

“Baik, kini aku sudah telanjur terjerumus, ekor mereka pun sudah kupegang, lalu cara bagaimana melangsungkan permainan sandiwara ini, coba jelaskan.”

“Kau tahu ‘tuan omong kosong’ itu sengaja menyembelih orang dan diam-diam kau disuruh makan dagingnya, tapi diam-diam pula dia menyampaikan laporan rahasia kepada keluarga Buyung untuk menangkapmu, cara licik demikian ini disebut apa?”

“Cara keji ini dapat dikatakan ‘lempar batu sembunyi tangan’,” jawab Oh-ti-tu dengan gemas.

“Perbuatan keji begini, cara bagaimana harus kita layani menurut pendapatmu?”

“Bila berjumpa lagi dengan dia, mustahil kalau tidak kucekik mampus dia,” ucap Oh-ti-tu dengan geregetan.

“Tahukah kau bahwa manusia jahat begitu kecuali si tuan ‘omong kosong’ masih banyak di dunia ini, bahkan tindak tanduk mereka sesungguhnya lebih menggemaskan daripada si tuan omong kosong itu. Lalu cara bagaimana harus kita hadapi mereka!”

“Akan kubekuk satu per satu dan kucekik mampus mereka,” ucap Oh-ti-tu.

“Masih untung bagi mereka jika cuma kau cekik mati saja, apalagi juga tidak gampang biarpun hendak cekik mati mereka.”

“Memangnya siapa yang kau maksudkan?”

“Kang Piat-ho!” jawab Siau-hi-ji sekata demi sekata.

Hampir saja Oh-ti-tu melonjak kaget, serunya, “Apa katamu? Masa Kang-lam-tayhiap dapat berbuat demikian?”

“Kau tidak percaya padaku?” Siau-hi-ji menatap tajam si labah-labah hitam.

Oh-ti-tu juga menatap Siau-hi-ji, katanya pula, “Kau ini selalu main sembunyi kepala perlihatkan ekor, tindak tandukmu juga aneh-aneh dan macam-macam, di dunia ini siapa yang mau percaya padamu?” Dia menghela napas, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Tapi aku Oh-ti-tu justru dapat mempercayaimu.”

“Plak”, dengan keras Siau-hi-ji tepuk pundak Oh-ti-tu, serunya dengan tergelak, “Haha, kau memang seorang kawan, sudah lama kutahu kau ini seorang kawan baik.”

“Kupercaya padamu, soalnya kau ini meski anak busuk, tapi bukan lelaki munafik!” kata Oh-ti-tu dengan tertawa.

“Betul, manusia yang paling menggemaskan adalah kaum munafik,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun. “Dan kaum munafik di dunia ini justru sangat banyak. Satu di antaranya yang paling jahat adalah Kang Piat-ho.”

“Dan cara bagaimana hendak kau hadapi dia?”

“Dengan caranya untuk digunakan terhadap dia sendiri,” kata Siau-hi-ji. “Mereka suka ‘lempar batu sembunyi tangan’, aku juga akan membayarnya dengan cara yang sama, ini namanya ‘senjata makan tuan’.”

“Cara bagaimana akan kau bayar dia? Coba jelaskan!”

“Apakah kau tahu siapakah gerangan nona yang berada di loteng kecil itu?”

Mendadak Oh-ti-tu melengos, katanya, “Kan sudah kukatakan aku tidak tahu.”

“Biarlah sekarang kuberitahukan padamu, dia adalah nona Kiu dari keluarga Buyung.”

“Dia itu Buyung Kiu katamu?” Oh-ti-tu menegas dengan terbelalak.

“Betul, dia itulah yang kini sedang dicari ubek-ubekan oleh Cin Kiam, Lamkiong Liu, Siau-sian-li dan Koh Jin-giok. Apabila mereka tahu nona linglung itu disembunyikan orang, pasti mereka akan mencari dan melabrak orang itu.”

Bercahaya mata Oh-ti-tu, katanya, “Makanya, kau ingin menimpakan kejadian ini atas diri Kang Piat-ho?”

“Ya, ingin kubikin dia juga merasakan betapa enaknya dikerjai orang,” Siau-hi-ji berkeplok tertawa.

“Tapi Kang Piat-ho sangat licin lagi cerdik, masa dia akan masuk perangkapmu?”

“Biarpun Kang Piat-ho selicin belut, asalkan kau membantu, tentu dapat kujebak dia.”

“Sekarang aku sudah ikut terjerumus, seandainya tidak mau membantu juga sukar bagiku”.

“Bagus, jika kau ingin mencuci bersih namamu yang sudah tercemar, maka kau harus bertindak menurut rencanaku. Tapi kau pun jangan khawatir, setelah mengerjakan urusan ini, tentu kau akan merasa tenteram dan pasti takkan menyesal,” habis berkata segera Siau-hi-ji melompat bangun sambil menarik Oh-ti-tu, katanya, “Ayolah, sudah tiba waktunya kita harus bekerja.”

Dengan cepat mereka lantas melayang masuk ke kota.

Sepanjang jalan Oh-ti-tu masih terus menggerundel, “Sampai saat ini aku tetap tidak paham, si tuan ‘omong kosong’ itu sengaja menyembelih orang keluarga Buyung dan bikin susah pula padaku, tapi apa manfaatnya bagi dia?”

Sekarang ia pun dapat menduga bahwa Wan-ji yang disembelih itu pasti ada hubungan erat dengan keluarga Buyung, besar kemungkinan adalah pelayan pribadi nona Buyung.

“Tuan ‘omong kosong’ yang kau maksudkan itu bukanlah Li Toa-jui melainkan Pek Khay-sim,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, “dia mempunyai julukan ‘merugikan orang lain tanpa menguntungkan dirinya sendiri’, tujuannya asalkan membikin orang lain tertipu dan meringis, maka dia sendiri pun merasa puas dan gembira.”

“Masa di dunia ini ada orang macam begitu?” ucap Oh-ti-tu.

“Kau bilang tidak ada, buktinya memang ada,” kata Siau-hi-ji. “Dia tahu para anak menantu keluarga Buyung pasti akan mencari Buyung Kiu, maka dia sengaja menyembelih pelayan yang bernama Wan-ji itu agar para anak menantu keluarga Buyung menyangka Buyung Kiu juga telah disembelih serta menjadi isi perut orang. Umpama mereka tak dapat menemukan nona yang dicarinya itu dan merasa berduka serta kelabakan, maka Pek Khay-sim akan merasa ‘Khay-sim’ (senang).”

“Tapi aku kan ….”

“Sebenarnya dia sendiri hendak menyamar sebagai Li Toa-jui yang gemar makan daging manusia itu, tapi lantaran ada orang sialan macam kau dapat ditonjolkan olehnya, dengan sendirinya sangat kebetulan baginya,” demikian Siau-hi-ji memotong sebelum Oh-ti-tu bicara. “Dengan demikian dia berhasil mencelakai orang keluarga Buyung dan kau pun terkecoh, rencana kerjanya yang rapi dan bagus ini sungguh tidak malu sebagai salah seorang Cap-toa-ok-jin yang termasyhur itu.”

“Aneh juga bahwa kau malah memuji dia,” omel Oh-ti-tu.

“Jika bukan akalnya yang rapi ini, mana bisa kubonceng tipu muslihatnya, dan bila di dunia ini tidak ada manusia seperti Pek Khay-sim, maka sandiwara ini jelas tak dapat dipentaskan.”

“Di dunia ini ada manusia macam Pek Khay-sim dan ditambah lagi orang seperti kau, kalian saling menjebak dan saling mengecoh, yang konyol adalah aku si hitam ini.”

“Jika tidak ada diriku malam ini kau pasti lebih konyol lagi. Kau tertangkap tangan dengan bukti nyata sedang makan daging manusia, biarpun kau bermulut seribu juga tidak dapat menyangkalnya.”

“Betapa pun juga seharusnya kau jangan mengaku ….”

“Bilakah aku mengaku? Bilakah kubilang Buyung Kiu telah kau makan? Aku kan cuma berkata, ‘Telah kuapakan dia, memangnya perlu kukatakan pula?’ Memangnya kenapa dengan persoalan ini? Kenapa kau takut? ….”

Oh-ti-tu berpikir sejenak, ia menjadi tertawa geli sendiri, katanya, “Ya, betul, memang begitulah ucapanmu ketika itu, cuma saja seperti tidak terucap apa-apa ….”

“Di situlah letak kehebatannya,” kata Siau-hi-ji dengan memicingkan mata. Sembari bicara ternyata dia telah membawa Oh-ti-tu ke loteng kecil itu.

Sekitar sudah sunyi senyap, hanya sinar lampu masih kelihatan bercahaya di loteng itu. Buyung Kiu mendekap di atas meja, mungkin terlalu lelah melamun sehingga akhirnya tertidur di situ.

“Nona ini paling menurut pada ucapanmu,” kata Siau-hi-ji, “Kau suruh dia membawa belati, maka belati itu pun selalu dibawanya, kau suruh dia membunuh, segera dia akan membunuh, sekarang aku cuma minta kau suruh dia menulis secarik surat saja.”

“Dalam keadaan demikian untuk apa mendadak menulis surat segala?” tanya Oh-ti-tu.

“Ayolah suruh dia menulis: Jika ingin menebus nyawaku, harap bawa 80 laksa tahil perak ke tempat yang telah ditentukan mereka. Mohon diusahakan sedapatnya, kalau tidak adik pasti akan menjadi isi perut mereka.”

“80 laksa tahil perak, katamu?!” Oh-ti-tu menegas dengan melongo.

“Ya, meski angka 80 laksa tidaklah sedikit, tapi Lamkiong Liu dan Cin Kiam pasti tidak kaget mendengar jumlah sekian mengingat kekayaan mereka yang sukar diukur, orang lain tidak sanggup mengumpulkan jumlah sekian dalam waktu sehari, mereka pasti dapat.”

“Memangnya mereka kau kira mau?”

“Kenapa tidak? Di waktu biasa mungkin mereka tidak mau, tapi setelah kejadian semalam, mereka tentu mengira Wan-ji yang telah disembelih orang itu sengaja kita jadikan sebagai bukti untuk menakuti mereka, jadi tanpa sengaja kita telah mencapai sasarannya dengan tepat, tentu mereka takkan curiga lagi,” setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Apalagi surat ini jelas ditulis sendiri oleh Buyung Kiu, maka persoalannya sekarang adalah kau, harus kau katakan kepada mereka bahwa 80 laksa tahil perak itu semuanya harus kontan dalam bentuk perak murni, emas atau batu manikam takkan kita terima.”

“Harus kukatakan begitu kepada mereka?” Oh-ti-tu menegas.

“Ya, dengan sendirinya harus kau bicara dengan mereka dan surat ini pun harus kau sendiri yang mengantarkannya, Oh-ti-tu biasanya pergi datang tanpa meninggalkan bekas, di dunia ini rasanya tiada kurir pengirim surat yang lebih mahir daripada kau ini.”

Oh-ti-tu termenung sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Baiklah…aku hanya tidak paham, mengapa harus bentuk kontan uang perak.”

“Keajaiban urusan ini akan kau ketahui bila sudah tiba saatnya nanti,” kata Siau-hi-ji.

“Dan setelah surat ini kukirim, lalu bagaimana?” tanya Oh-ti-tu.

“Setelah mengirim surat, boleh kau tunggu dan menyaksikan tontonan menarik saja.”

“Sampai waktunya nanti apakah betul-betul kau sendiri akan menerima 80 laksa tahil perak itu?”

“Pada waktunya nanti yang akan menerima perak itu adalah calon setan yang akan kukirim ke sana.”

“Jika begitu…bila Cin Kiam dan Lamkiong Liu melihat yang datang itu bukan kau melainkan orang lain, bukankah mereka akan curiga juga?”

“Memangnya Cin Kiam dan Lamkiong Liu mengetahui siapa diriku ini? Yang mereka lihat semalam adalah wajahku yang kuning pucat serta gerakan Ih-hoa-ciap-giok yang kumainkan, mereka pasti mengira diriku ini samaran anak murid Ih-hoa-kiong, padahal saat ini anak murid Ih-hoa-kiong tulen justru lagi berada bersama Kang Piat-ho”.

Oh-ti-tu termenung sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Ai, kiranya setiap gerak-gerikmu selalu mempunyai tujuan tertentu. Di dunia ini kalau bertambah lagi beberapa orang macam dirimu ini tentu suasana akan kacau balau.”

Siau-hi-ji tertawa, katanya, “Jangan khawatir, manusia seperti diriku ini tiada duanya lagi di dunia ini.”

Pagi-pagi sekali, itu kasir Ging-ih-tong yang masih tidur nyenyak di kolong ranjangnya telah diseret bangun oleh Siau-hi-ji dan disuruh menyampaikan sepucuk surat kepada Samkohnio.

Advertisements

1 Comment »

  1. SERU BANGET GAN,
    SIAU HI AKAL NYA SMART

    Comment by Firman — 22/02/2013 @ 12:13 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: