Kumpulan Cerita Silat

19/04/2008

Darah Ksatria: Bab 24. Langganan Lama Dan Pemborong

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:12 am

Darah Ksatria
Bab 24. Langganan Lama Dan Pemborong
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Pada umumnya sebelum membuka pintu, toko serba ada perlu mengadakan pemeriksaan pada barang-barang persediaannya, barang apa yang kurang dan perlu ditambah, menata kembali secara rapi dan lain sebagainya, persiapan selalu diperlukan demi memberikan pelayanan yang baik. Sebagai pegawai lama dan sudah berpengalaman, Thio-lausit setiap pagi mengerjakan semua itu dengan rapi dan beres. Apalagi sudah delapan belas tahun sejak toko serba ada ini dibuka Thio-lausit sudah bekerja di sini, ia rajin bekerja, jujur dan setia, pengadaan barang berada dalam tangannya, kalau di dalam toko mendadak kehilangan segentong garam dan sekeranjang telur ayam, tidak mungkin ia tidak tahu.

Tapi Thio-lausit justru diam saja, seperti sudah tahu di mana barang itu berada, maka ia bersikap adem-ayem saja.

Kemarin sore turun hujan lebat, lumpur di jalan kampung itu cukup tebal dan becek. Sepatu Thio-lausit juga kelihatan berlumpur meski sedikit, belum kering juga, ini menandakan bahwa barusan ia berada di jalanan. Apa betul barusan ia keluar? Ke mana? Kenapa tidak berterus terang?

Mendadak Ma Ji-liong sadar, bukan saja pegawainya ini tidak jujur, gerak-geriknya juga misterius, aneh dan patut dicurigai.

Sudah dua kali Ma Ji-liong dihinggapi perasaan seperti ini.

Thio-lausit sudah siap membuka daun pintu.

Tapi baru saja tangan Thio-lausit menurunkan palang pintu, Ma Ji-liong mendadak berkata, “Hari ini kita tutup toko saja.”

Thio-lausit menoleh dengan memiringkan kepala, katanya kemudian, “Apakah hari ini hari besar?”

“Bukan.”

“Hari ini kita merayakan sesuatu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kita tidak membuka toko?”

Sudah tentu Ma Ji-liong tidak bisa memberikan penjelasan, juga tak bisa mengarang cerita untuk mencari alasan. Ji-liong memang bukan pembual. “Toko ini adalah milikku, aku yang berkuasa di sini,” terpaksa Ma Ji-liong mengada-ada. “Kalau aku bilang hari ini tutup, maka toko tidak buka.”

Thio-lausit menundukkan kepala, beberapa kejap ia terpekur. Alasan yang dikemukakan majikannya sebetulnya tidak tepat, tapi sebagai pegawai ia harus tunduk dan patuh pada perintah majikan. Tapi nyonya majikan yang berada di kamar justru menentang.

“Hari ini toko kita tetap buka seperti biasa, apa yang ia katakan jangan dituruti.” Itulah suara Cia Giok-lun. Di mana-mana, omongan juragan perempuan memang jauh lebih manjur, lebih berwibawa dan disegani dibanding juragan sendiri.

Ma Ji-liong memburu masuk, ia mulai naik pitam, “Kenapa omonganku tak boleh dituruti? Kenapa kau mencampuri urusanku?”

“Bukannya aku mencampuri urusanmu, tapi temanmu ini yang meminta aku turut campur,” demikian sahut Cia Giok-lun.

Thiat Tin-thian berkata, “Toko serba ada ini harus dibuka seperti biasa.”

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti.

“Sekarang mereka sudah tahu bahwa pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Setiap saat mereka bisa meluruk ke sini, kenapa aku harus membuka pintu mengundang mereka masuk?”

“Justru mereka sudah tahu kau ada di sini, maka kau harus tetap membuka toko seperti biasa.”

“Kenapa?”

“Kalau toko serba ada ini tutup, mereka pasti meluruk ke mari dan menerjang masuk dengan kekerasan, dengan menjebol pintu,” demikian kata Thiat Tin-thian. “Biar kita buka saja pintu toko seperti biasa. Mereka belum tahu bagaimana keadaan kita di sini, aku berani menjamin mereka takkan berani sembarangan bertindak.”

Dengan suara dingin Cia Giok-lun menimbrung, “Kelihatannya setiap orang yang ada di sini dapat berpikir lebih cermat dibanding engkau.”

Terpaksa Ma Ji-liong mengancing mulut, terpaksa ia harus mengakui apa yang dipikir Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian memang lebih cermat dan teliti, tapi bagaimana dengan Thio-lausit? Apakah pegawai yang belum pernah berkecimpung di Kangouw ini juga memikirkan hal ini?

Empat lembar daun pintu sudah diturunkan dan ditaruh di pinggir, toko serba ada dibuka seperti biasa. Thio-lausit memegang sapu, melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai dan barang-barang dalam toko dibetulkan letaknya, seolah-olah ia sudah menyadari sebentar lagi toko ini akan dibanjiri pembeli yang royal membuang duit, maka ia rajin bekerja sebagai tanda hormat untuk menyambut mereka.

Suasana di jalan kampung ternyata tenang-tenang saja, tidak terdengar suara apa pun.

Waktu Cukat Bu-hou (Cukat Liang) di jaman Sam Kok merancang muslihat kota kosong yang terkenal itu, bukankah ia juga menyuruh tentara-tentara yang lanjut usia dan cacat badan untuk membersihkan jalan dan membuka pintu kota untuk menyambut kedatangan Suma Gi?

Bukankah Suma Gi yang banyak curiga itu tak berani menerjang masuk ke dalam kota setelah melihat keadaan itu?

Demikian pula peristiwa hari ini, bukankah seperti kenyataan dulu, padahal hikayat kuno itu sampai sekarang masih sering dipuji dan diperbincangkan orang banyak, siapa pun mengacungkan jempol memuji kecerdikan Cukat Liang. Pembuat karya cerita ini jelas juga seorang cerdik pandai.

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya, “Orang yang menyapu di luar itu, apakah dia pegawaimu?”

“Ya, pegawai lama.”

“Orang macam apa dia?”

“Orang jujur, pegawai setia,” seolah-olah Ma Ji-liong sedang membohongi diri sendiri. “Ia bernama Thio-lausit.”

Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, katanya, “Aku suka orang jujur.” Omongannya mengandung arti ‘hanya orang jujur yang bisa menipu orang-orang jahat, keji dan banyak curiga’. Ia menyeringai dingin, “Coat-taysu yang terkenal di seluruh jagad sebagai kuncu itu, jelas adalah manusia rendah yang jahat dan banyak curiga.”

Ji-liong meresapi perkataan orang, betapa berang hatinya.

“Ia percaya kalau kau adalah Ma Ji-liong, ia bisa membunuh Thiat Tin-thian lebih dulu baru menjagal Ma Ji-liong. Kalau ia berani berbuat demikian, aku malah kagum dan memujinya,” Thiat Tin-thian tertawa dingin, sambungnya, “Tapi ia tidak berani, di hadapan orang banyak ia tidak akan melakukan perbuatan yang ingkar janji dan menjilat ludah sendiri, ia harus bersikap sedemikian rupa supaya orang tahu bahwa ia betul-betul gembongnya yang membenci kejahatan.” Dengan kencang ia mengepalkan tinju dan mengacungkannya di atas kepala, “Sungguh gemas dan benci, kenapa aku tidak dapat mencacah hancur Kuncu palsu itu, ingin aku memberantas jiwa munafik orang-orang yang berkedok Kuncu.”

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas panjang, katanya, “Sayang sekali kau tidak mampu membunuhnya, tiada seorang pun Kuncu yang pernah kau bunuh, kau sendiri malah yang akan mampus.”

Kenyataan memang demikian, siapa pun tidak akan membantah, kenyataan tak pernah kenal kasihan. Betulkah kenyataan itu kejam?

Cia Giok-lun berkata pula, “Umpama mereka tak tahu keadaan di sini, belum berani sembarangan bergerak, tapi toko serba ada ini tentu diawasi, sudah dikepung, jangan harap kalian bisa meloloskan diri dari tempat ini.” Suaranya mengandung makna yang aneh. Entah merasa kasihan? Sedih atau menyindir? “Kalian dipaksa menunggu di sini, aku pun dipaksa menunggu bersama kalian. Tapi pasti, entah cepat atau lambat mereka akan menyerbu, bukan mustahil sekarang juga sudah mengutus orang untuk menyelidiki keadaan di sini. Tidak sukar untuk mencari tahu keadaan kalian, karena tempat ini adalah toko serba ada, siapa pun boleh ke mari pura-pura membeli ini dan itu.” Dengan suara tawar, Cia Giok-lun melanjutkan, “Bila mereka meluruk datang, mungkin aku harus mampus bersama kalian, aku akan mati konyol dan penasaran.”

Ini pun kenyataan, tidak bisa dibantah. Cia Giok-lun mengawasi Ma Ji-liong, “Aku tidak perduli apa dulu kau pernah melakukan kejahatan. Aku ingin tanya kepadamu.” Pertanyaannya ini terasa seperti pecut, “Kau menyeret aku ke dalam kancah ini, mati secara penasaran, apakah dalam sanubarimu tidak merasa berdosa?”

Begitu pertanyaan itu dilontarkan, pecut seperti menghajar tubuh Ma Ji-liong. Tidak boleh, ia tidak boleh berbuat dosa terhadap gadis yang tidak bersalah, maka Ma Ji-liong berkata, “Aku akan memberitahu kepada mereka bahwa kau tidak bersalah, tidak tahu apa-apa, tiada sangkut-paut dengan kasus ini.” Serak gemetar suaranya, lanjutnya, “Aku bisa mengantar kau keluar lebih dulu.”

Cia Giok-lun menyeringai dingin, “Ke mana kau bisa menyingkirkan aku? Mereka mau percaya bahwa aku tidak terlibat dalam kasus ini? Agaknya kau ingin melihat mereka menyeret diriku seperti mencincang anjing kurap ke tempat jagal? Supaya aku disiksa dan dikompas?”

Ma Ji-liong sudah merasa dirinya seperti disiksa dan dikompas, ia kehabisan akal, “Memangnya apa yang harus dilakukan?”

“Bukan aku ini suka ribut dan bikin gara-gara, aku hanya menuntut beberapa hak milikku saja.”

“Hak milik apa? Apa yang harus kukembalikan?”

“Kembalikan wajah asliku, pulihkan kondisi badan dan ilmu silatku,” mendadak Cia Giok-lun memekik dengan luapan amarah yang tak terbendung. “Entah dengan cara apa kau membuatku begini. Jika kau seorang bajik, masih punya nurani, sekarang juga pulihkan keadaanku.”

Sudah tentu Ma Ji-liong mati kutu, mana mungkin ia mengembalikan apa yang dituntut oleh Cia Giok-lun itu? Karena tak berani beradu pandang, Ji-liong melengos ke arah lain. Ia tahu dirinya mirip maling kesiangan, dalam hati ia berharap gadis yang satu ini memegang cemeti, ia rela dirinya dihajar dan disiksa dengan cara yang paling kejam daripada memikul beban batin yang tak berujung pangkal.

Di tengah keheningan itulah, tiba-tiba Thiat Tin-thian buka suara dengan nada rendah, “Kelihatannya langganan pertama sudah datang untuk berbelanja.”

Setiap pembeli, entah siapa pun dia, mungkin adalah utusan Coat-taysu atau mata-mata yang ditugaskan untuk menyelidiki keadaan di sini.

Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak merongkol keluar, “Coba kau dengar, dia membeli apa? Apa betul membeli barang-barang keperluan yang dibutuhkan? Atau akan membeli jiwa kita?”

Yang datang adalah nyonya muda yang sedang hamil tua itu.

Sebelum keluar Ma Ji-liong sudah mendengar tawa cekikikan nyonya centil itu. Di sekitar kampung ini, nyonya muda ini memang terkenal cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain. Kecuali suka mengobrol, ia juga perempuan yang paling suka tertawa.

Hari ini dia kelihatan riang, senyum lebar selalu menghiasi wajahnya, riang dan senang karena benih-benih kehidupan yang dikandungnya genap sembilan bulan, tak lama lagi bakal lahir dari rahimnya.

Ma Ji-liong tidak keluar, ia berdiri di belakang pintu. Terhadap orang yang satu ini, ia boleh merasa lega. “Dia langganan lama yang tinggal di sebelah, setiap hari dia datang membeli ini itu.”

“Setiap hari datang? Membeli apa?” tanya Thiat Tin-thian.

“Paling sering membeli gula merah,” tutur Ma Ji-liong. “Ia berpendapat gula merah seperti Jin-som, bukan saja dapat menambah kesehatan badan, juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit.”

Orang biasa tidak mampu membeli Jin-som karena mahal harganya, terpaksa mereka membeli gula merah. Jin-som dan gula merah sama-sama adalah kepercayaan hidup manusia, seperti orang yang memuja malaikat dewata, ada pula yang memuja roh suci.

Di luar dugaan, nyonya muda yang hamil tua itu hari ini bukan membeli gula merah. Ma Ji-liong mendengar ia sedang bicara dengan Thio-lausit, “Aku tahu kau pasti heran,” demikian katanya merdu dengan cekikikan, “Karena hari ini aku tak membeli gula merah seperti biasanya.”

“Kau mau beli apa?” Thio-lausit bertanya.

“Beli garam,” sahut nyonya muda itu.

Di toko ini memang ada menjual garam, setiap keluarga setiap harinya membutuhkan garam, maka tidak perlu dibuat heran kalau ada orang yang membeli garam.

“Beli berapa?” tanya Thio-lausit pula.

“Malam nanti aku akan membikin dendeng dan telur asin, makin asin makin enak, rasanya tanggung lezat,” nyonya muda itu sengaja memberi penjelasan. “Aku beli tiga puluh kati garam.”

Setiap hari banyak penduduk kampung yang membeli garam untuk masak atau keperluan lain, namun jarang ada yang sekaligus beli tiga puluh kati. Padahal toko serba ada di mana pun jarang ada yang menyediakan garam lebih dari dua puluh lima kati, persediaan sebanyak itu pun sebulan baru habis terjual.

Suasana menjadi tegang di dalam rumah. Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak lebih besar. “Suruh dia masuk ke mari,” desisnya dengan suara gemetar. “Kalau dia tidak mau masuk, bekuk dan seret dia.”

Ma Ji-liong tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya menggelengkan kepala.

“Kenapa kau tidak keluar?”

“Perutnya besar,” ucap Ma Ji-liong tegas.

Ada sementara persoalan dalam keadaan bagaimana pun tidak boleh dilakukan, tidak mau melakukan. Biar mati tetap tidak akan dilakukan.

Tin-thian menatapnya sekian lama. Mendadak ia menghela napas dengan lesu, ujarnya, “Kau memang orang yang baik, belum pernah aku melihat orang sebaik kau, sayang jarang ada manusia seperti kau di dunia ini, umpama ada jumlahnya juga sangat sedikit.”

Tiba-tiba Cia Giok-lun juga menghela napas gegetun, katanya, “Betul, aku pun tak pernah melihat orang sebaik dia.”

Nyonya muda itu sudah pergi sambil membusungkan perutnya yang besar. Thio-lausit sudah memberitahu kepadanya, “Garam sudah terjual habis, persediaan belum datang, lebih baik nanti sore kau kembali lagi.”

Sebelum pergi nyonya muda itu cekikikan geli. Agaknya ia merasa lucu, toko serba ada sampai kehabisan bahan persediaan, tidak heran kalau ia cekikikan geli.

Thiat Tin-thian berkata, “Kau biarkan dia pergi, berarti kau memberitahu Coat-taysu bahwa aku ada di sini, karena garam yang ada di toko ini diperuntukkan buatku.”

Sudah tentu Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini.

Thiat Tin-thian berkata pula, “Oleh karena itu, aku berani bertaruh, tokomu akan kebanjiran pembeli, daganganmu akan laris.”

Ramalan Thiat Tin-thian memang menjadi kenyataan. Tak lama kemudian, pembeli kedua pun datang. Orang ini adalah pemborong. Dengan lagak seperti cukong, ia melangkah masuk ke dalam toko, katanya dengan suara agak rendah sambil bertolak pinggang, “Aku membutuhkan banyak barang, persediaan barang apa saja yang ada di toko ini, semua kuborong.”

“Setiap barang yang tersedia di sini akan kau beli?” tanya Thio-lausit.

“Ya, semua kubeli,” ucap orang itu. “Semua kuborong.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: