Kumpulan Cerita Silat

19/04/2008

Bakti Pendekar Binal (01)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:21 pm

Bakti Pendekar Binal (01)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Suatu hari sampailah Siau-hi-ji di tepi sungai, menghadapi gelombang sungai yang besar itu, tanpa terasa ia memperlambat langkahnya, sungguh ia berharap akan dapat melihat pula perahu kaum pengelana yang hidupnya terhina tapi berkepribadian luhur itu. Ia ingin melihat pula sepasang mata yang besar dan cemerlang itu.

Banyak juga perahu yang hilir mudik di tengah sungai, akan tetapi perahu kaum pengelana itu sudah tak nampak lagi bayangannya. Ke mana perginya mereka? Apakah masih tetap mengembara dan terombang-ambing kian kemari?

Sampai lama sekali Siau-hi-ji berdiri termangu-mangu di tepi sungai.

Entah sudah selang beberapa lamanya ketika tiba-tiba terdengar kesiur angin di belakang, lalu seorang menegurnya, “Maafkan jika saudara harus menunggu terlalu lama.”

Meski merasa heran, tapi Siau-hi-ji tidak menoleh dan juga tidak bersuara.

Maka orang itu bertanya pula, “Kenapa saudara hanya sendirian? Di mana dua lagi yang lain?”

Siau-hi-ji tetap diam saja.

Dengan gusar orang itu berkata, “Sesuai kehendak kalian Cayhe sudah datang kemari, mengapa saudara malah tidak menggubris?”

Akhirnya Siau-hi-ji berpaling, katanya dengan tersenyum, “Mungkin kalian salah wesel, aku bukan orang yang hendak kalian cari.”

Ketika ia lihat jelas tiga orang yang berdiri di depannya, tertampak orang yang paling kiri tinggi besar, memakai baju merah, jelas dia inilah si “baju merah golok emas” Li Beng-sing.

Orang yang berada di tengah tampak gagah perkasa, dengan sendirinya dia ayah Li Beng-sing yaitu “Kim-say” Singa Emas, Li Tik. Seorang lagi bermuka kelam dan berjenggot pendek, yakni “Ci-bin-say”, singa muka ungu, Li Ting, yang dahulu bertemu dengan Siau-hi-ji dan Kang Giok-long waktu berlayar itu.

Terkejut juga Siau-hi-ji demi melihat ketiga orang ini, wajahnya yang tersenyum hampir saja berubah menjadi kaku, untung di malam gelap sehingga ketiga orang itu tidak mengenalnya.

Cahaya bintang hanya berkelip-kelip, pula Siau-hi-ji sudah lebih tinggi daripada dulu, mukanya juga kotor, tubuhnya berlepotan minyak goreng, keadaannya lebih mirip seorang jembel.

Si Singa Emas Li Tik berkerut kening, katanya, “Kiranya seorang pengemis kecil.”

“Untuk apa kau berdiri di sini?” bentak Li Beng-sing.

Siau-hi-ji menunduk, jawabnya, “Hamba tiada punya tempat tinggal, terpaksa berada di mana pun.”

“Lekas enyah!” bentak Li Beng-sing. “Apa kau minta di ….”

Belum habis ucapannya tiba-tiba si “Singa Ungu” Li Ting berteriak tertahan, “Itu dia sudah datang!”

Waktu itu dari permukaan sungai sana sedang meluncur tiba sebuah sampan. Penumpangnya adalah tiga orang berseragam hitam.

Siau-hi-ji menyingkir jauh ke tengah semak alang-alang di tepi sungai, di situlah dia berjongkok, dia enggan pergi, sesungguhnya dia terlalu iseng dan ingin melihat keramaian.

Belum lagi sampan itu menepi, serentak ketiga bayangan itu lantas melompat ke daratan, semuanya tangkas dan gesit, Ginkang mereka ternyata tidak lemah.

Orang yang paling depan berperawakan tinggi tegap, orang kedua di belakangnya berbadan pendek tangkas, orang ketiga bertubuh ramping, tampaknya seperti seorang perempuan.

Ketiga orang berseragam hitam dan memakai kedok hitam pula sehingga mata pun hampir tertutup seluruhnya. Tangan masing-masing membawa bungkusan panjang, jelas yang terbungkus itu adalah senjata.

Anehnya mengapa senjata mereka pun dibungkus dengan kain hitam? Masa senjata mereka itu pun mengandung rahasia?

Sementara itu keluarga Li ayah beranak itu sudah menyongsong maju, tapi setelah berhadapan dalam jarak beberapa meter mereka lantas berhenti dan saling tatap dengan penuh waspada.

Kim-say Li Tik lantas berteriak dengan bengis, “Apakah kalian inilah yang mengaku sebagai ‘Jin-gi-sam-hiap’ (tiga pendekar budiman)?”

Si baju hitam yang tinggi besar menjawab dengan dingin, “Betul!”

“Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kereta barang kawalan kami selalu dirampok, apakah semua ini pekerjaan kalian bertiga?”

Kembali si baju hitam menjawab, “Betul!”

Li Tik menjadi gusar, teriaknya, “Ada permusuhan apa antara Siang-say-piaukiok kami dengan kalian? Mengapa kalian sengaja merecoki kami?”

“Tidak besar permusuhan kita, tapi juga tidak kecil,” ucap si baju hitam.

“Hm, setelah beberapa kali pekerjaan kalian berhasil dan pihak kami tak dapat menemukan asal-usul kalian, seharusnya kalian dapat sembunyi dengan aman dan selamat, tapi mengapa sekarang kalian sengaja menyurati kami dan mengundang kami datang ke sini?”

“Setiap orang Kangouw sudah mengetahui bahwa Tio Coan-hay dan Le Hong sama keracunan,” ucap si baju hitam dengan kalem. “Meski kedua orang itu belum mampus, tapi Liang-ho-piau-lian dan Sam-siang-piau-lian sudah banyak kehilangan pamor dan kepercayaan.”

Seketika air muka Li Tik berubah, tapi Li Ting lantas menjengek, “Lantas semua itu ada hubungan apa dengan pihak kami?”

“Sudah tentu besar hubungannya,” ujar si baju hitam. Dia bicara dengan kalem-kalem saja, tidak terburu-buru dan juga tidak alon-alon, tapi nadanya seperti sengaja dibikin-bikin.

Li Tik menjadi tidak sabar, teriaknya, “Hubungan apa coba katakan?”

“Kalau Liang-ho dan Sam-siang kehilangan kepercayaan, kan kesempatan itu dapat digunakan Siang-say-piaukiok untuk menonjolkan diri, barang kawalan Toan Hap-pui itu dengan sendirinya akan jatuh di tangan kalian!” demikian seru si baju hitam.

Sampai di sini, mau tak mau hati Siau-hi-ji jadi tergerak. Begitu pula keluarga Li ayah beranak itu pun terketuk pikirannya.

“Jika begitu, mengapa kau tidak menunggu kesempatan baik nanti untuk merampas lagi barang kawalan kami?” teriak Li Tik.

“Tapi bukan soal kecil barang kawalan Toan Hap-pui itu,” ujar si baju hitam dengan kalem. “Kukira pihak Siang-say-piaukiok sendiri juga tidak berani mengawalnya dengan tangan sendiri dan pasti akan minta bantuan orang luar pula untuk membelanya, sedangkan tenaga kami bertiga terasa pula tidak sanggup mengincarnya.”

“Hehe, kau ternyata cukup tahu diri!” jengek Ci-bin-say Li Ting.

“Makanya sekarang aku pun ingin membikin kalian juga tidak dapat mengawal barang Toan Hap-pui itu,” bentak si baju hitam dengan bengis. “Kalau Sam-siang dan Liang-ho-piau-lian lagi sial, maka kalian pun jangan harap akan mengeduk keuntungan.”

Habis berkata, sekali ia memberi tanda, serentak bungkusan yang dibawa mereka itu terbuka, kain hitam terlempar ke tanah dan terlihatlah tiga batang senjata yang memancarkan cahaya kemilau, senjata mereka itu tampaknya seperti gaetan, tapi ujungnya berbentuk bunga Bwe.

“He, Bwe-hoa-kau (gaetan bunga Bwe)?!” seru Li Tik tanpa sadar.

“Haha, kenal juga kau akan senjata ini,” jengek si baju hitam.

“Hm, kalian ternyata berani memperlihatkan senjata ini, sungguh besar nyali kalian, memangnya kalian tidak takut musuhmu memenggal kepala kalian secara diam-diam,” ejek Li Ting.

“Tiada seorang pun yang akan tahu bahwa Bwe-hoa-kau telah muncul kembali di dunia Kangouw!” ucap si baju hitam.

“Paling tidak aku kan sudah tahu?” seru Li Ting dengan tertawa.

“Tapi kalian takkan mampu bicara lagi,” jengek si baju hitam.

Berbareng itu ketiga orang seragam hitam lantas menubruk maju. Si pendek tangkas itu mendahului menubruk ke arah Li Beng-sing. Gerak tubuh orang ini sangat cekatan, gaya serangannya juga ganas, tampaknya seperti menaruh dendam terhadap Li Beng-sing.

Sedangkan si perempuan baju hitam justru menubruk ke arah Ci-bin-say Li Ting. Gerakannya cepat dan gesit, jurus serangan Bwe-hoa-kau di tangannya ternyata lebih cepat dan ganas dengan macam-macam perubahan.

Ilmu silat Li Ting tergolong lumayan dan sudah berpengalaman, tapi menghadapi serangan senjata yang aneh dan cepat itu, seketika ia menjadi kelabakan tercecar.

Di sebelah sana Li Tik juga sudah bergebrak dengan si baju hitam yang tegap.

Li Tik terkenal sebagai jago ilmu golok, golok emas yang dimainkannya keras lagi kuat, setiap serangannya selalu membawa sambaran angin yang dahsyat. Tapi si baju hitam yang tegap itu pun tidak kalah lihainya, bahkan keuletannya malah di atas Li Tik. Bwe-hoa-kau khusus digunakan mengunci senjata lawan, maka golok Li Tik menjadi macet dan sukar dikembangkan.

Pertempuran ini boleh dikatakan sangat dahsyat, tapi bagi pandangan Siau-hi-ji ternyata sangat cemplang, sama sekali tidak menarik, kecuali permainan Bwe-hoa-kau yang terkadang muncul sejurus dua serangan aneh dan baru, selebihnya hampir tiada harganya untuk ditonton.

Maklumlah dengan hasil renungan Siau-hi-ji sekarang, ilmu silat orang lain baginya hampir tidak ada artinya lagi, pada hakikatnya seperti seorang ahli lukis sedang menyaksikan anak kecil main corat-coret.

Hendaknya diketahui bahwa ilmu silat dalam kitab pusaka yang dipelajarinya itu meliputi intisari ilmu silat yang paling tinggi di dunia ini, dibandingkan ilmu silat Li Tik dan begundalnya itu bedanya sungguh dapat dikatakan seperti langit dan bumi.

Di antara Li Tik bertiga itu yang paling celaka adalah Li Beng-sing, baru belasan jurus goloknya sudah sukar dikembangkan, butiran keringat sudah mulai merembes di dahi dan ujung hidungnya. Sebaliknya si baju hitam yang pendek tangkas itu semakin bertempur semakin gagah perwira, mendadak ia mengelak sambil menerjang maju, sinar hijau berkelebat, tahu-tahu golok Li Beng-sing sudah terkunci oleh gaetannya.

Sungguh tidak kepalang kaget Li Beng-sing, semangat tempurnya juga runtuh seketika. Sebab dalam keadaan demikian bagian dadanya menjadi terbuka dan tidak terjaga, kalau pihak lawan melancarkan suatu pukulan, andaikan tidak mati juga setengah jiwanya akan amblas.

Tak tahunya si baju hitam hanya memberinya suatu tamparan saja sambil membentak tertahan, “Inilah bayar dulu utangmu!”

Kontan Li Beng-sing terhuyung-huyung oleh tamparan itu, waktu dia dapat berdiri tegak, tanpa terasa ia menegas, “Bayar utang apa maksudmu?”

“Anak murid Bwe-hoa-pang cukup jelas membedakan dendam dan budi, setiap utang-piutang harus dibayar lunas,” jengek si baju hitam.

“Tapi…tapi bilakah aku pernah ….”

“Sebelum ajalmu tentu akan kuberitahukan padamu apa utangmu padaku!” bentak si baju hitam, Bwe-hoa-kau kembali bergerak, hanya sekejap cahaya hijau telah mengunci rapat pula sinar golok lawan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa panjang seseorang, sesosok bayangan tahu-tahu menyelinap ke tengah-tengah cahaya gaetan. Menyusul itu lantas terdengar “sarr…serr…serr …” tiga kali, ketiga batang Bwe-hoa-kau kawanan baju hitam mendadak mencelat semua ke udara, dua batang jatuh di tengah sungai.

Keruan ketiga orang berbaju hitam terkejut dan serentak melompat mundur. Mereka hanya merasa pergelangan tangan tergetar dan tahu-tahu senjata terlepas dari cekalan, cara bagaimana pihak lawan turun tangan sama sekali tak diketahui oleh mereka.

Waktu mereka mengawasi, terlihat entah sejak kapan di depan mereka sudah berdiri seorang pemuda bermuka putih. Pemuda yang tampaknya lemah tak tahan tiupan angin ini hanya dalam sekejap saja ternyata mampu membikin senjata mereka terlepas dari tangan, sungguh mimpi pun mereka tak berani membayangkan akan kejadian luar biasa ini.

Melihat pemuda muka putih ini Siau-hi-ji juga rada terkejut. Kang Giok-long, pemuda bermuka putih pucat dengan senyuman seram ini ternyata bukan lain daripada Kang Giok-long.

Tapi mengapa ilmu silat Kang Giok-long bisa maju sepesat ini?

Pertanyaan ini dengan sendirinya dapat dijawab oleh Siau-hi-ji. Soalnya Kang Giok-long juga pernah menghafalkan isi kitab pusaka ilmu silat itu, selama dua tahun ini kalau ilmu silatnya tidak mengalami kemajuan pesat, maka percumalah dia menjadi manusia.

Li Tik bertiga tampak kegirangan melihat datangnya Kang Giok-long, sebaliknya kawanan baju hitam jadi terkejut.

“Huh, kiranya kalian sudah menyembunyikan bala bantuan,” bentak si baju hitam yang tinggi besar itu dengan gusar.

“Haha, bagaimana pendapatmu dengan bala bantuanku ini?” jengek Li Tik dengan tertawa.

Si baju hitam tinggi besar itu menggentak kaki mendongkol, tampaknya ia hendak melangkah pergi, tapi sekali menyelinap Kang Giok-long sudah mengadang di depan mereka dan berkata dengan tertawa, “Eh, kalian jangan terburu-buru pergi, masih ada persoalan yang harus kumintakan penjelasan darimu.”

“Kau ingin tanya apa?” bentak si baju hitam tinggi besar.

“Nona ini pun memakai kedok, apakah disebabkan mukanya terlalu jelek atau terlalu cantik?” kata Giok-long dengan tertawa.

Si baju hitam pendek tangkas menjadi gusar, ia meraung murka terus menerjang maju hendak menyerang.

Ilmu silatnya sesungguhnya tidak lemah terbukti Li Beng-sing sama sekali tidak mampu melawannya, tapi kini berada di depan Kang Giok-long, ilmu silatnya ternyata tiada berguna sedikit pun. Belum lagi dia sempat menjotos, tahu-tahu pergelangan tangannya malah sudah terpegang oleh Kang Giok-long, hanya sedikit digentak, kontan tubuhnya lantas mencelat jauh ke sana dan hampir kecebur ke dalam sungai.

“Karena kalian tidak mau mengaku, terpaksa Cayhe sendiri yang memeriksanya,” ucap Giok-long dengan tertawa. Berbareng itu ia terus melompat maju, ia menyelinap lewat di samping si baju hitam yang tinggi besar itu dan tahu-tahu sudah berada di depan si nona.

Sekaligus kedua tangan si nona baju hitam menghantam, tapi entah cara bagaimana kedua tangannya malah kena ditangkap hanya oleh sebelah tangan Kang Giok-long. Cepat ia hendak menendang, tapi baru saja kaki terangkat, tahu-tahu dengkulnya terasa kaku kesemutan dan tak dapat bergerak lagi.

“Hehe, semoga wajah nona cantik molek, kalau tidak tentu Cayhe akan merasa kecewa,” kata Giok-long dengan tertawa.

“Lep…lepaskan!” teriak si nona baju hitam dengan suara parau.

Dengan sendirinya Giok-long tidak mau melepaskan pegangannya, waktu sebelah tangannya bergerak maju, sebisanya si nona mendongakkan mukanya ke belakang, walaupun begitu akhirnya kain hitam yang menutupi mukanya itu toh tersingkap juga oleh Kang Giok-long.

Di bawah cahaya bintang yang remang-remang tertampaklah wajahnya dan kelihatan pula matanya yang besar itu.

Seketika Siau-hi-ji hampir menjerit.

Hay Ang-cu, nona baju hitam ini ternyata Hay Ang-cu adanya!

“Bagus, bagus! Memang benar seorang nona cantik,” ujar Giok-long dengan tertawa. “He, dia!” tanpa terasa Li Beng-sing berteriak.

“Kau kenal dia?” tanya Giok-long.

“Dia inilah si nona pemain akrobat yang mengakibatkan kematian Pek-toako itu ….” seru Li Beng-sing dengan suara serak. “Rupanya si pendek itulah bocah yang pernah kutempeleng satu kali ini, pantas dia menuntut balas padaku dan hilang hendak menagih utang padaku.”

“Haha, bagus, bagus, anak murid Bwe-hoa-pang sampai-sampai menjadi pemain akrobat kelilingan,” seru Giok-long dengan tertawa. “Demi menghindari musuh kalian ternyata sudi melakukan pekerjaan yang rendah itu, untuk ini betapa pun aku sangat kagum.”

Segera si baju hitam tinggi besar itu pun menarik kedoknya, betul juga, dia memang Hay Si-tia adanya. Dengan menggereget dia berteriak, “Lepaskan tangannya!”

“Tidak sukar untuk melepaskan tangannya,” jawab Giok-long, “tapi aku ingin tanya lebih dulu padamu, siapakah orang yang tempo hari sekali pukul membinasakan Pek-kongcu itu? Saat ini dia berada di mana?”

“Kau ingin mencari dia?” teriak Hay Ang-cu dengan nyaring. “Huh, agaknya kau sedang mimpi!”

“O, mimpi? ….” Giok-long tersenyum sambil mengencangkan genggamannya, kontan Hay Ang-cu meringis kesakitan sehingga air mata pun berlinang-linang.

Tapi sekuatnya ia bertahan, jeritnya dengan menggereget, “Orang macam kau ini kalau dibandingkan dia, huh, mungkin menjadi kacungnya saja tidak sesuai.” Bicara sampai kalimat terakhir, terdengar suaranya menjadi gemetar, jelas dia menahan rasa sakit, namun begitu mati pun dia tak mau tutup mulut.

Dengan murka Hay Si-tia meraung terus menghantam punggung Kang Giok-long dengan kepalan yang kuat.

Sama sekali Kang Giok-long tidak menoleh, tubuhnya tetap tegak seperti tidak bergerak, tapi tahu-tahu tangan Hay Si-tia sudah terjepit di bawah ketiaknya sehingga tak dapat berkutik lagi.

Tampaknya Hay Si-tia membetot-betot tangannya sehingga urat hijau tampak merongkol di dahinya disertai butiran keringat, tangannya mungkin serasa terjepit oleh tanggam seakan-akan patah.

Dahulunya Hay Si-tia juga pernah malang melintang di dunia Kangouw, tapi sekarang menghadapi seorang anak muda begini ternyata tak bisa berkutik sama sekali, ia menjadi putus asa, ia menghela napas panjang dan berkata, “Sudahlah, aku ….”

Belum lanjut ucapannya tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan suara memilukan, “O, betapa sakit Sin-kin-hiatku. Kang Giok-long, ayolah bayar kembali jiwaku!”

Suaranya tajam seram seperti rintihan hantu. Menyusul mana sesosok bayangan lantas melayang tiba dari semak alang-alang tepi sungai.

Di tengah malam remang-remang tertampak rambut orang semrawut tak teratur, sekujur badan berlepotan minyak, keadaannya lebih mirip setan daripada mirip manusia, tubuhnya kelihatan melayang mengambang tidak menempel tanah. Jerit suaranya ngeri memilukan sehingga membuat setiap orang yang melihatnya mustahil takkan berkeringat dingin ketakutan.

Tentu saja Kang Giok-long juga mengkirik, dengan suara bengis ia tanya, “Kau…kau siapa?”

“Bangsat berhati keji,” damprat Siau-hi-ji dengan terkekeh-kekeh. “Selamanya kita tiada permusuhan apa-apa, tapi di dapur restoran Su-hay-jun itu kau tega membinasakan aku, sekarang kau harus ganti nyawaku.”

Pegangan Kang Giok-long pada tangan Hay Ang-cu kini sudah dilepaskan, dia mulai mundur-mundur ke belakang, serunya dengan tergagap, “Kau…kau ….”

Orang seperti Kang Giok-long sebenarnya tidak mungkin percaya tentang setan iblis segala, tapi kini mau tak mau dia harus percaya, soalnya dia yakin dirinya memang pernah menutuk Hiat-to mematikan si koki dan jelas orang itu pasti tewas, padahal kejadian di dapur Su-hay-jun itu tidak dilihat oleh orang lain. Lalu siapa “orang” ini kalau bukan setan?

Begitulah gigi Kang Giok-long sampai gemertuk sehingga tidak sanggup bicara lagi. Melihat jagonya ketakutan sedemikian rupa, tanpa kuasa Li Tik bertiga juga ikut mundur-mundur ke belakang.

“Hehe, kau ingin lari?” jengek Siau-hi-ji dengan suara seram. “Hah, kau takkan mampu lari, tak mungkin, ayolah lekas serahkan jiwamu!”

Sambil menyeringai dia terus mendesak maju setindak demi setindak, jalannya sengaja dibuat goyang ke kanan dan doyong ke kiri seakan-akan roboh tertiup angin.

Sudah tentu munculnya Siau-hi-ji sangat menarik perhatian Hay Ang-cu, ia memandangnya dengan terbelalak, sekonyong-konyong ia berseru, “He kau! Kiranya kau, Siau-ngay?”

Meski lahiriah Siau-hi-ji telah berubah, tapi sepasang matanya, sorot mata yang telah terukir di dalam lubuk hati Hay Ang-cu, kedipan mata yang takkan terlupakan selama hidupnya ini tentu saja segera dikenalinya.

Tapi begitu dia berteriak menegur, segera pula ia menyadari kesalahannya, namun sudah telanjur dan tak dapat diurungkan lagi.

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh urusan pasti akan runyam.

Benar saja, Kang Giok-long yang cerdik itu segera melihat di balik kejadian ini ada sesuatu yang tidak beres, mendadak ia bertindak, cepat sekali ia menubruk maju, dengan enteng dia melancarkan tujuh kali pukulan secara berantai.

Melihat perubahan aneh itu serta menyaksikan pukulan Kang Giok-long yang lihai itu, Hay Si-tia dan kedua anaknya menjadi kaget, bahkan diam-diam Hay Ang-cu berkhawatir bagi si tolol yang dirindukannya.

Tapi Siau-hi-ji ternyata tidak gentar, ia mendengus, “Hm, masih juga kau ingin membunuhku lagi.”

Dengan tenang Siau-hi-ji berdiri di tempat, tubuhnya seperti tidak bergoyang, pada hakikatnya dia tidak menghindar, tapi beberapa kali pukulan Kang Giok-long itu ternyata tidak mengenai sasarannya, bahkan ujung baju saja tidak menyenggol.

Tentu saja semua orang melongo heran, Kang Giok-long sendiri juga cemas dan gentar, mendadak ia meraung, kembali ia melancarkan pukulan tujuh kali, serangan semakin cepat dan tambah ganas.

Namun Siau-hi-ji tetap tidak bergerak sama sekali dan pukulan Kang Giok-long tetap tidak mampu menyentuhnya.

“Betapa pun kau serang juga takkan mampu membunuhku lagi, apakah sekarang kau masih tidak percaya?” jengek Siau-hi-ji.

Tubuh Kang Giok-long tampak gemetar, jidatnya sudah penuh butiran keringat, para penonton yang menyaksikan kejadian luar biasa ini pun ikut terkesima.

Maklumlah, mereka adalah jago silat pilihan semua, mereka tahu ilmu pukulan Kang Giok-long yang hebat dan lihai itu, bahwa seorang dapat berdiri tanpa bergerak dan empat belas pukulan itu dapat dihindarinya, betapa kejadian ini sukar dibayangkan.

Akan tetapi “orang” ini justru sanggup berbuat demikian, belasan kali serangan Kang Giok-long itu benar-benar mengenai tempat kosong, ini disaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, mana bisa tidak percaya? Mana bisa tidak membuat mereka keder?

Dengan sendirinya mereka tidak tahu bahwa ilmu pukulan Kang Giok-long itu berasal dari satu sumber dengan kepandaian Siau-hi-ji, cuma pengetahuan Siau-hi-ji jauh lebih mendalam daripada Kang Giok-long.

Kitab pusaka ilmu silat itu memang telah dibaca bersama oleh kedua orang, namun kecerdasan dan daya ingat Siau-hi-ji jauh lebih baik daripada Kang Giok-long, apalagi selama dua tahun ini Kang Giok-long sudah terkenal sebagai pendekar muda, putra Kang-lam-tayhiap Kang Piat-ho yang termasyhur itu, dengan sendirinya dia jarang berlatih, sebab itulah setiap pukulan Kang Giok-long segera diketahui oleh Siau-hi-ji sebelum serangan tiba. Asalkan Siau-hi-ji memperhitungkan dengan tepat arahnya, maka dengan sedikit mengegos saja pukulan Kang Giok-long lantas luput.

Mata Hay Ang-cu terbelalak lebar dengan air mata berlinang-linang, namun bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata kejut dan girang, air mata gembira.

Dilihatnya Siau-hi-ji mulai mendesak maju setindak demi setindak, Kang Giok-long juga mundur setindak demi setindak, kaki tangan seakan-akan sudah lemas seluruhnya, sedikit pun tiada keberanian untuk balas menyerang.

Dengan sendirinya Li Tik bertiga menyingkir mundur terlebih jauh, mundur punya mundur dan akhirnya lantas lari.

Mendadak Kang Giok-long meloncat setingginya ke atas, dia berjumpalitan sekali di udara, habis itu ia pun lari terlebih cepat daripada Li Tik bertiga.

Siau-hi-ji tidak mengejarnya, ia tertawa sambil memandangi bayangan mereka, gumamnya, “Aku tidak ingin membunuh …, sungguh aku tidak ingin membunuhmu.”

Dalam pada itu Hay Ang-cu telah memburu maju, jeritnya dengan suara gemetar, “Siau-ngay, kutahu kita pasti akan bertemu lagi, kutahu ….”

Siau-hi-ji tergelak-gelak, katanya, “Siau-ngay siapa?…aku ini setan…setan .…” mendadak ia melayang mundur jauh ke belakang, waktu ia berjumpalitan pula di udara, “plung”, tahu-tahu ia jatuh ke tengah sungai.

Hay Ang-cu memburu sampai di tepi sungai, ia menangis sedih dari menjerit, “Siau-ngay…Siau-ngay…kalau engkau tidak sudi bertemu lagi denganku, untuk apa pula datang ke sini? Jika kau berharap menemuiku, mengapa kau pergi lagi setelah bertemu? Kenapa…kenapa? ….”

Hay Si-tia menghela napas panjang, katanya, “Kenapa? Memangnya siapa yang dapat memberi penjelasan berbagai persoalan orang hidup di dunia ini? Anak Ang, sudah sejak mula kukatakan padamu agar sebaiknya kau lupakan dia, kalau tidak kau sendiri pasti akan menderita selamanya ….”

*****

Malam sudah larut, sedapatnya Siau-hi-ji mengendurkan seluruh urat anggota badannya dan membiarkan dirinya terapung di permukaan air. Air sungai yang dingin menyerupai sebuah ranjang baginya. Bintang berkelip-kelip bertaburan di langit, ia merasa sangat nyaman.

Betapa pun ia sudah melihat orang yang ingin dilihatnya, walaupun perubahan mereka membuatnya terkejut dan heran, meski dia hanya melihatnya barang sejenak saja, tapi ini sudah cukup baginya. Ia merasa kalau melihatnya lebih lama mungkin malah akan berubah menjadi bosan.

Persoalan yang membuatnya curiga selama beberapa hari kini pun dapat dipecahkan olehnya. Pemuda baju ungu bermuka pucat itu memang betul bersekongkol dengan Kang Giok-long, sedangkan Kang Giok-long jelas adalah peran utama di belakang layar Siang-say-piaukiok.

Dengan demikian, maka persoalan Tio Coan-hay dan Le Hong yang keracunan itu menjadi tidak perlu diherankan lagi. Arak yang mereka minum itu sudah pasti dituang oleh pemuda muka pucat itu.

Begitulah Siau-hi-ji merenungkan semua kejadian itu dan ketika mendadak terasa ada beberapa batang gala bambu sama meraih tubuhnya.

Semula ia kaget, tapi segera teringat olehnya, “Mungkin mereka mengira aku ini orang yang mati tenggelam, maka berusaha hendak menolongku.” Diam-diam ia merasa geli, maka dia sengaja memejamkan mata sekalian.

Terasa beberapa orang menyeretnya ke atas perahu, seorang meraba dadanya, lalu berseru, “Hah, panjang juga nyawa bocah ini, untung dia ketemu kita, belum sampai mati tenggelam.”

Lalu ada orang mencekoki dia dengan semangkuk kuah hangat, ada pula yang mengurut anggota badannya.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring berkata, “Orang macam apa yang tertolong itu? Coba kulihat.”

Segera Siau-hi-ji merasa tubuhnya digotong orang, tapi ia pun malas membuka mata, tapi terasa cahaya lampu yang menyilaukan, agaknya dia telah diantar masuk ke dalam kabin kapal.

Suara nyaring lantas berkata pula, “Orang itu sudah mati ataukah masih hidup?!”

“Hidup!” mendadak Siau-hi-ji membuka mata sambil berteriak tertawa.

Begitu dia pentang mata segera dilihatnya seorang lelaki tinggi besar dengan dada baju setengah tersingkap, kopiahnya setengah miring, sebelah kaki terangkat tinggi di atas kursi sebelahnya, tangan memegang sebuah Huncwe (pipa tembakau) yang panjang dan besar.

Dengan pipa cangklong itu dia tuding Siau-hi-ji, lalu berseru pula, “Jika orang hidup, mengapa kau pura-pura mati?”

Belum lagi Siau-hi-ji menjawab, tiba-tiba diketahuinya dada “lelaki” ini terjumbul tinggi, pinggangnya ramping, meski alis tebal dan mata besar, tapi wajahnya tidaklah jelek.

“Lelaki” ini ternyata seorang perempuan, bahkan kalau perawakannya diperkecil sedikit, malahan dia tergolong perempuan cantik. Cuma sekarang dia terhitung perempuan gede, kuda teji, kalau boleh diberi poyokan, atau kalau menurut ukuran sepatu jaman kini, sedikitnya dia lebih besar dua nomor daripada ukuran perempuan normal.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas menjawab, “Bilamana kau ini perempuan, mengapa pula kau berdandan sebagai lelaki?”

Seketika nona besar itu mendelik, dampratnya, “Kau tahu tidak siapa diriku?”

“Peduli kau ini lelaki atau perempuan, yang jelas kau ini manusia,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kukira kau sukar mendapatkan jodoh sekalipun kau sudah banting harga, kalau kau bersikap pula segalak ini, wah, siapa lagi yang berani melamarmu?”

Mulut Siau-hi-ji memang usil dan tajam, selama dua tahun terakhir ini sedapatnya dia mengekang diri, tapi setelah muncul kembali toh penyakitnya ini sukar diperbaiki. Apa mau dikatakan lagi kalau memang dasar wataknya begitu.

Si nona gede itu menjadi gusar, bentaknya sambil gebrak meja, “Kau berani bicara demikian padaku?”

Beberapa orang yang menggotong masuk Siau-hi-ji tadi menjadi ketakutan juga melihat sang nona marah-marah, serentak mereka berjaga-jaga di belakang Siau-hi-ji.

Tapi Siau-hi-ji berlagak tidak tahu, ia masih tertawa dan berkata, “Mengapa tidak berani? Asal kau ini manusia, betapa pun aku tidak ….”

Belum habis ucapannya, beberapa orang itu menyela, “Inilah juragan putri kami, putri kesayangan Toan-lothaya, orang Kangouw menyebutnya ‘Li-beng-siang’(Beng-siang wanita), tentu kau pun pernah mendengar namanya, maka cara bicaramu hendaklah hati-hati dan sopan sedikit.”

“O, kiranya kau ini putri Toan Hap-pui,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Bukankah ayahmu hendak mengirim suatu partai keuangan ke Kwan-gwa?”

Nona gede yang berjuluk Li-beng-siang (Beng-siang adalah seorang dermawan di jaman Ciankok) itu berkerut kening, tanyanya, “Dari mana kau tahu?”

Siau-hi-ji berkerut-kerut hidung, lalu bertanya pula, “Muatan bahan obat-obatan ini apakah kau angkut dari Kwan-gwa?”

Mata Li-beng-siang terbelalak lebih lebar, serunya, “Dari mana kau tahu kapal ini memuat bahan-bahan obat-obatan?”

Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “Bukan saja aku tahu kapal ini memuat obat-obatan, bahkan kutahu obat-obat ini adalah Jinsom, Kuibwe, Lokka, Ngokacu ….” sekaligus ia menyebut serentetan nama obat-obatan dan ternyata cocok dengan isi muatan kapal ini, sedikit pun tidak keliru.

Sudah tentu orang lain tidak tahu bahwa Siau hi-ji ini dibesarkan di tengah onggokan obat-obatan, jangankan cuma beberapa macam obat-obatan yang jamak ini, sekalipun seluruh obat-obatan di dunia ini dicampur-aduk menjadi satu juga dapat diendus olehnya. Sekarang dia dapat menerangkan nama semua obat itu, keruan semua orang sama melongo heran.

Sorot mata Li-beng-siang tampak berbinar gembira, dia mengisap tembakaunya dalam-dalam, “berr”, mendadak ia semburkan asapnya ke muka Siau-hi-ji, lalu berkata dengan kalem, “Tak tersangka kau bocah ini ternyata ahli dalam hal obat-obatan.”

Air mata Siau-hi-ji hampir saja merembes karena pedas oleh asap tembakau itu, ia kucek-kucek matanya dan berkata dengan tertawa, “Aku ini bukan saja ahli dalam hal obat-obatan, bahkan kuberani menyatakan jarang ada ahli yang lebih ahli daripadaku. Jika kau ini benar-benar Li-beng-siang, seharusnya kau mengundang aku ke perusahaan obatmu dengan segala kehormatan.”

Li-beng-siang mengisap pula tembakaunya, sekali ini asapnya tidak disemburkan lagi ke muka Siau-hi-ji melainkan cuma diembuskan dengan perlahan, habis asap tembakau terembus barulah mendadak ia bangkit dan melangkah ke dalam sambil berkata kepada anak buahnya, “Berikan dia tukar pakaian dan antar dia ke Ging-ih-tong.”

*****

“Ging-ih-tong” adalah nama rumah obat paling besar di kota Ankhing, bahkan terbesar di wilayah propinsi Anhwi. Oleh Li-beng-siang, putri kesayangan Toan Hap-pui itu, Siau-hi-ji ditempatkan di rumah obat atau apotek menurut istilah sekarang dan dijadikan kepala gudang merangkap sebagai apoteker.

Pekerjaan Siau-hi-ji cukup lengang, dia tidak perlu ke bagian depan, makanya tidak perlu khawatir dikenali orang. Setiap hari dia hanya menimbang obat-obatan yang diperlukan menurut resep dan mencocokkan sisa persediaan, selebihnya dia boleh dikatakan menganggur.

Baru sekarang ia tahu bahwa Toan Hap-pui itu adalah hartawan paling kaya di sekitar lembah Tiangkang, semua perusahaan yang paling banyak mengeduk keuntungan di daerah ini hampir seluruhnya dimonopoli olehnya.

Dan “Li-beng-siang” itu adalah putrinya yang tunggal, konon dia mempunyai dua orang kakak, tapi sudah mati sejak kecil, makanya orang menyebutnya “Samkohnio” atau si nona ketiga.

Samkohnio itu sering datang ke Ging-ih-tong, tapi dia tidak menggubris Siau-hi-ji, maka Siau-hi-ji juga tidak menggubris dia, meski Siau-hi-ji tahu si nona gede itu tampaknya galak, tapi sesungguhnya hatinya tidak jelek.

Anehnya semakin Siau-hi-ji tidak menggubris dia, kedatangan si nona gede ke rumah obatnya juga tambah sering, terkadang satu hari datang dua-tiga kali, tapi sekejap saja dia tetap tidak memandang Siau-hi-ji dan dengan sendirinya Siau-hi-ji juga tidak ambil pusing, hanya diam-diam ia merasa geli saja.

Suatu hari Siau-hi-ji sedang berbaring di kursi malasnya berjemur sinar matahari, sinar matahari di permulaan musim dingin terasa sangat nyaman sehingga saking nikmatnya Siau-hi-ji hampir terpulas.

Tiba-tiba Samkohnio itu mendekati dia, dengan pipa cangklongnya dia ketok sandaran kursi dan berkata, “Hai, bangun!”

Dengan kemalas-malasan Siau-hi-ji membuka matanya dan menjawab, “Kau bicara dengan siapa?”

“Di sini selain kau masakah ada orang lain?” ucap Samkohnio.

“Tapi namaku bukanlah ‘Hei’,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Samkohnio jadi mendelik, tapi ia lantas tergelak-gelak, katanya, “Eh, ingin kutanya kau tentang pengiriman uang ayahku ke Kwan-gwa seperti pernah kau katakan itu, dari mana kau mendapat tahu?”

“Memangnya ada apa dengan pengiriman uang itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Telah dirampok orang di tengah jalan,” tutur Samkohnio dengan dingin.

Seketika mata Siau-hi-ji terbelalak, cepat ia bangun duduk dan berkata, “Telah dirampok orang? Memangnya pengiriman itu tidak dikawal oleh ‘Siang-say-piaukiok’?”

“Justru Siang-say-piaukiok yang mengawalnya,” jawab Samkohnio.

Tanpa terasa Siau-hi-ji meraba hidungnya sambil bergumam, “Aneh! Jika dikawal oleh Siang-say-piaukiok, mengapa kena dirampok orang pula? ….”

“Memangnya barang kawalan Siang-say-piaukiok tidak mungkin dirampok orang?” jengek Samkohnio. “Hm, kulihat kedua orang she Li itu pada hakikatnya adalah kantong nasi belaka, hanya pandai gegares tapi tak bisa bekerja.”

“Meski orang she Li itu kantong nasi,” ujar Siau-hi-ji, “masih ada orang lain bukanlah kantong nasi.”

“Siapa?” tanya Samkohnio.

“Di dalam persoalan ini tentu banyak seluk-beluknya, cuma kau sendiri yang tidak tahu, malahan aku…ai, aku sendiri pun tidak tahu.”

“Kan omong kosong ocehanmu ini,” omel Samkohnio dengan mendelik.

Setelah berpikir sejenak, kemudian Siau-hi-ji bertanya, “Orang macam apakah yang merampok itu, apakah kau tahu?”

“Kiriman itu tiba-tiba hilang di tengah malam, pintu tak terbuka, jendela tak terpentang, penjaga juga tidak melihat apa-apa, bahkan suara kentut pun tidak terdengar dan tahu-tahu barang kiriman itu lantas terbang hilang seperti bersayap.”

“Ini benar-benar peristiwa aneh,” ujar Siau-hi-ji. “Kukira kawanan perampok itu bisa ilmu sihir atau mata telinga orang-orang Siang-say-piaukiok yang mengawal itu memang cacat.”

“Jika begitu, mereka sendiri yang akan rugi,” ucap Samkohnio.

“Memangnya mereka harus mengganti?”

“Tentu, biarpun menggadaikan celana juga harus ganti,” jengek si nona gede.

Siau-hi-ji meraba-raba hidungnya pula dan bergumam, “Sungguh aneh, tadinya kukira pihak Siang-say-piaukiok yang maling teriak maling, tapi kalau mereka harus ganti rugi, lalu apa sebabnya bisa terjadi begini?”

“Sebabnya mereka adalah kantong nasi semua, makanya barang kawalan mereka kena dirampok begitu saja, teori ini kan sangat sederhana?”

“Tampaknya memang sangat sederhana, tapi bisa jadi di balik layar urusannya teramat ruwet.”

“Apa artinya?” tanya Samkohnio.

“Aku pun tidak tahu apa artinya,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Samkohnio terbelalak memandangi anak muda itu, memandangi senyumannya, sampai sekian lama, tiba-tiba ia berteriak, “Sesungguhnya kau ini orang pintar atau orang bodoh?”

Siau-hi-ji menghela napas panjang, ia membalik tubuh dan membenamkan kepalanya ke bawah siku, ucapnya dengan tak acuh, “Jika aku ini orang bodoh, tentu kehidupanku akan terlalui dengan gembira.”

*****

Esoknya, cuaca cukup cerah, sang surya tetap bersinar menghangat. Kembali Siau-hi-ji berbaring di kursinya dan berjemur sinar matahari.

Sekujur badannya terasa kendur seluruhnya seakan-akan tak bertulang, ia berbaring dengan tenang-tenang seperti tidak pernah memikirkan sesuatu. Padahal sesungguhnya benaknya sedang bekerja keras dan tidak sedikit yang dipikirkannya.

Walaupun banyak persoalan yang dipikirkannya, tapi jika diringkas dan diperas kesimpulannya hanya dua kalimat saja, yakni “Mengapa barang kiriman itu kena dirampok? Siapa yang merampoknya?”

Pertanyaan itulah yang belum dapat dipecahkannya.

Dalam pada itu, Samkohnio yang dibikin pergi dengan mendongkol itu ternyata datang pula.

Sambil memicingkan sebelah mata Siau-hi-ji memandang nona itu, terlihat sikapnya sangat gembira, dengan tergesa-gesa ia mendekati Siau-hi-ji dan berseru, “He, kau salah!”

Sebenarnya Siau-hi-ji malas untuk mengubrisnya, tapi demi mendengar seruan itu, mau tak mau ia lantas membuka mata dan bertanya, “Dalam hal apa aku salah?”

“Persoalan itu ternyata semakin sederhana, sedikit pun tidak ruwet,” kata Samkohnio

“O?!” singkat saja suara Siau-hi-ji.

Mata si nona tampak bersinar, katanya pula, “Baru saja kuterima berita, katanya barang kiriman itu sudah dapat dirampas kembali.”

“Dirampas kembali oleh siapa?” tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak.

“Usia orang itu kira-kira sebaya denganmu, tapi kepandaiannya jauh lebih hebat daripadamu,” tutur Samkohnio. “Apabila kau tidak malas begini, bisa jadi kau akan mencapai sepertiganya.”

Serentak Siau-hi-ji melompat bangun, katanya, “Yang kau maksudkan apakah Kang Giok-long?”

Samkohnio melengak, “Dari mana kau tahu?” tanyanya heran.

“Kutahu, tentu saja kutahu…segala apa pun kutahu…Hahaha!” mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa.

Melihat anak muda itu ya tertawa, ya berteriak, ya berjingkrak, Samkohnio jadi terkesima malah. Akhirnya ia tidak tahan dan berkata, “Apakah kau ini orang gila?”

“Jika benar aku gila, tentu ada sementara orang akan hidup lebih gembira,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa. Sekonyong-konyong ia meloncat dan mencium pipi Samkohnio, maklumlah dia jauh lebih pendek dari pada si nona. Habis itu ia lantas berseru pula, “Cuma sayang aku bukan orang gila, makanya hari apes mereka kini pun sudah dekat.”

Sambil berkeplok dan tertawa gembira, Siau-hi-ji terus membalik tubuh dan lari ke dalam gudang obat.

Samkohnio meraba pipinya yang baru di-“ngok” oleh Siau-hi-ji, ia pandang anak muda itu dengan mata terbelalak seperti orang melihat sesuatu makhluk aneh. Sampai lama sekali, mendadak ia menggigit bibir dan tersenyum penuh arti, ia bergumam sendiri, “Si gila cilik…kau benar-benar si gila cilik.”

Siau-hi-ji sudah berada di kamarnya, di dalam kamar telah dinyalakan pelita minyak, karena cuma memakai satu sumbu, maka cahaya pelita itu tidak cukup terang.

Dengan terkesima Siau-h-ji memandangi sumbu api pelita, ia tersenyum dan bergumam, “Kang Giok-long, kau ternyata sangat cerdik, kau pura-pura membuat uang kiriman itu dirampok, habis itu kau sendiri berlagak seperti berhasil merampasnya kembali…Perkara kejahatan yang penuh rahasia itu ternyata dapat kau pecahkan dengan mudah saja, maka siapakah orang Kangouw yang takkan kagum padamu, siapa pula yang tahu bahwa semua ini tidak lebih adalah permainan sandiwara dirimu sendiri.”

Ia menghela napas gegetun, lalu menyambung pula, “Tapi masih ada diriku…Kang Giok-long, semoga jangan kau lupakan bahwa di dunia ini masih ada diriku. Biarpun isi perutmu penuh akal muslihat, tapi tiada suatu pun akalmu yang licin itu mampu mengelabui aku.”

Malam sudah larut, suasana hening, hanya angin mendesir memecah kesunyian.

Tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan suara tertahan, “He, si gila cilik, lekas keluar!”

Cepat Siau-hi-ji membuka daun jendela, dilihatnya Toan-samkohnio berdiri di luar dengan memakai mantel merah.

Ia mengernyit dahi, katanya, “Si gila perempuan, tengah malam buta untuk apa kau bikin ribut? Jika kau ingin dicium lagi, sedikitnya kau harus tunggu sampai besok pagi.”

Muka Samkohnio ternyata menjadi merah juga, namun tidak marah. Ia hanya menggigit bibir, lalu berkata, “Ada…ada urusan penting harus kuberitahukan padamu.”

“Urusan penting apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Persoalan itu ternyata tidak begitu sederhana,” ucap Samkohnio dengan gegetun.

Mata Siau-hi-ji terbeliak, ia menegas, “Kau mendapatkan berita lain pula?”

“Ya, baru saja kuterima kabar lagi bahwa…bahwa barang kiriman itu kembali dirampok orang pula.”

Tanpa memakai sepatu Siau-hi-ji lantas melompat keluar. Sekali ini dia benar-benar terkejut. “Apakah betul kabar yang kau terima ini?” tanyanya.

“Tentu saja betul, sedikit pun tidak bohong,” jawab Samkohnio.

Siau-hi-ji gosok-gosok tangannya dan bergumam, “Barang kiriman kembali dirampok orang, betapa pun hal ini tidak mungkin terjadi. Aku benar-benar tidak dapat mengerti…Eh, kau tahu siapa yang merampoknya?”

Samkohnio menghela napas, jawabnya, “Belum diketahui.”

“Memangnya barang kiriman itu hilang mendadak di tengah malam pula? Apakah para jago pengawal dari Siang-say-piaukiok itu kembali suara kentut pun tidak mendengar dan tahu-tahu barang yang mereka jaga sudah lenyap? Apakah mungkin mereka sedang main sandiwara pula? Tapi bukankah cara demikian ini terlalu bodoh? Orang pintar seperti mereka itu mana bisa melakukan perbuatan sebodoh ini?”

“Tapi sekali ini keadaannya sama sekali berbeda dengan kejadian pertama,” ucap Samkohnio.

“Beda bagaimana? Apakah hilangnya uang kiriman ini mereka tidak perlu memberi ganti rugi lagi?”

“Ya, betul, mereka memang tidak perlu memberi ganti rugi lagi.”

“Sebab apa?” teriak Siau-hi-ji sambil melonjak.

Sorot mata Samkohnio menjadi sayu, katanya, “Sebab segenap jago pengawal Siang-say-piaukiok, dari petugas yang rendah sampai pejabat pimpinan, seluruhnya sembilan puluh delapan orang kini telah mati semua, hanya tersisa seorang saja, yaitu tukang kuda yang biasa memberi makan pada kuda.”

Siau-hi-ji mendekap kepalanya dan termenung sampai sekian lamanya, tiba-tiba ia berseru, “Dan bagaimana dengan Kang Giok-long itu?”

“Kang Giok-long bukan orang perusahaan pengawalan Siang-say-piaukiok.”

“Tapi semula kan dia yang merampas kembali barang kiriman itu, dia…dia tidak ….”

“Setelah berhasil merampas kembali barang kiriman itu dia lantas undurkan diri dengan berjasa, bukankah cara demikian sesuai tingkah laku seorang ksatria sejati, seorang pahlawan tulen?!”

Siau-hi-ji terkekeh-kekeh, jengeknya, “Hm, hebat amat ksatria sejati, pahlawan tulen! Bisa jadi sebelumnya dia sudah tahu barang kiriman bakal dirampok lagi, makanya dia lantas mengeluyur pergi.”

“Maksudmu…perampokan kedua kalinya itu dilakukan oleh bandit yang sama pada perampokan pertama kalinya?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, jawabnya, “Masa tidak mungkin begitu?”

“Tidak mungkin,” kata Samkohnio.

“Sebab apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Orang yang merampok pada pertama kali itu sudah terbunuh semua oleh Kang Giok-long, waktu dia pulang dengan membawa harta kiriman itu diantar bersama dengan kepala bandit itu.”

“Akal bagus! Sungguh akal yang keji!” Siau-hi-ji berkeplok tangan.

Samkohnio menatapnya tajam-tajam, lalu berkata pula dengan perlahan, “Apalagi perampokan kedua kalinya hanya dilakukan oleh seorang saja…sembilan puluh delapan jiwa jago pengawal Siang-say-piaukiok terbinasa seluruhnya di tangan seorang ini.”

“Hanya satu orang?” Siau-hi-ji menegas. “Hanya satu orang dalam semalam saja sekaligus menghabiskan sembilan puluh delapan nyawa? Siapakah gerangan begitu kejam di dunia Kangouw ini yang memiliki pula akal selihai itu?”

“Konon orang itu adalah seorang kakek berewok yang jenggot alisnya sudah beruban ….”

“Siapa yang melihatnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Dengan sendiri si tukang kuda yang lolos dari lubang jarum itu.”

“Jika begitu dia ….”

“Begitu dia mendengar jeritan pertama segera dia sembunyi di balik onggokan rumput makanan kuda,” sela Samkohnio. “Didengarnya suara jeritan susul menyusul terjadi di dalam rumah dan berlangsung dalam waktu singkat ….”

“Cepat amat gerakan goloknya!” seru Siau-hi-ji.

“Ya, meski tidak lama berlangsungnya pembunuhan itu, habis itu dia lantas melihat seorang kakek berewok tinggi besar keluar dari rumah dengan membawa golok sambil terbahak-bahak puas. Kakek itu memakai baju warna muda, tapi kini telah berubah menjadi merah berlepotan darah.”

“Hm, teliti amat cara melihat tukang kuda itu,” jengek Siau-hi-ji.

“Hanya dua-tiga kejap saja dia memandang, lalu tidak berani melihatnya. Dia terus sembunyi di situ hingga pagi baru merangkak keluar, antero pakaiannya juga sudah basah kuyup oleh keringat dinginnya.”

Siau-hi-ji meraba dahi dan berkata pula dengan acuh, “Ceritamu ini seperti ki dalang yang sedang mendongeng, setiap kejadian yang kecil-kecilan juga diuraikan dengan jelas dan menarik…Seorang yang baru lolos dari renggutan maut masih sanggup melukiskan apa yang dilihatnya dengan begitu jelas, tukang kuda itu sungguh hebat dan cermat.”

“Ya, waktu kudengar itu aku pun merasakan dia teramat cermat,” ujar Samkohnio dengan tertawa cerah.

“Bilakah kau mendengar berita itu?”

“Kira-kira setengah jam yang lalu.”

“Bilamana terjadi perampokan kedua itu?”

“Kemarin malam.”

“Masa beritanya bisa datang secepat itu?”

“Berita merpati pos,” tutur Samkohnio. “Di Ankhing sini pusatnya, beberapa ribu li sekeliling sini, di tujuh sembilan kota besar kecil tersebar jaringan merpati pos keluarga kami.”

“Dan begitu kau menerima berita itu segera kau memburu kemari untuk memberitahukan padaku?”

Samkohnio mengiakan.

Mendadak Siau-hi-ji berteriak, “Lalu apa sangkut-pautku dengan urusan ini? Mengapa kau terburu-buru memberitahukan padaku? Apakah kau terlalu iseng, di rumah tidak ada pekerjaan?”

Melengak juga si nona gede, ia tergagap, “Ini … aku ….”

“Memangnya kau sangka aku ada hubungannya dengan kaum perampok itu?” seru Siau-hi-ji dengan melotot.

“Tidak!” jawab Samkohnio sambil membanting kaki. “Bukan begitu maksudku.”

“Habis apa maksudmu?” tanya Siau-hi-ji.

Wajah Samkohnio menjadi merah dan ternyata tidak marah, bahkan dia menunduk, lalu berkata dengan suara lirih, “Soalnya…kau adalah sahabatku, seseorang kalau menemukan kejadian aneh tentu akan diberitahukan kepada sahabat sendiri ….”

“Sahabat?” teriak Siau-hi-ji. “Aku tidak lebih cuma seorang pegawaimu, mengapa kau menganggap aku sebagai sahabatmu?”

Muka Samkohnio bertambah merah dan kepalanya semakin menunduk, jawabnya, “En…entah, aku pun tidak tahu.”

Terbelalak Siau-hi-ji memandangi si nona hingga sekian lama, mendadak ia bergelak tertawa.

“Ap…apa yang kau tertawakan?” tanya Samkohnio sambil menggigit bibir.

“Sejak kukenal kau sampai sekarang, baru detik ini bentukmu menyerupai seorang perempuan!” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sambil tertunduk Samkohnio termangu-mangu di situ, tiba-tiba ia menangis keras-keras, sekujur badannya serasa lemas lunglai, dia terus mendengkap lemari dan menangis dengan sangat sedih.

Siau-hi-ji mengerut kening, tanyanya, “Apa yang kau tangiskan?”

“Sejak kecil hingga kini selamanya tak pernah ada yang memandang diriku sebagai perempuan, sampai-sampai ayahku sendiri juga menganggap diriku sebagai anak lelaki,” tutur Samkohnio dengan menangis. “Sedangkan aku…sudah jelas dan terang aku ini perempuan.”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, “Ya, seorang perempuan kalau senantiasa dipandang orang sebagai anak lelaki, rasanya memang benar-benar sangat tersiksa ….”

Sekonyong-konyong Samkohnio menjatuhkan dirinya di atas tubuh Siau-hi-ji sambil menangis, katanya, “Hanya engkau, hanya engkau yang memandang diriku sebagai perempuan, betul tidak?”

Sungguh lucu kelihatannya, seorang perempuan yang jauh lebih tinggi besar menangis seperti anak kecil menggemblok di atas tubuhnya, tentu saja Siau-hi-ji serba susah.

“Ya, ya, kau memang seorang perempuan, dengan sendirinya kupandang kau sebagai perempuan,” ucap anak muda ini.

Makanya aku…aku menganggapmu sebagai…sebagai sahabatku,” kata Samkohnio. “Karena itu pula aku memberitahukan semua isi hatiku padamu, sebab selain kau di dunia ini tiada orang yang memahami diriku. Mereka mengira aku ini galak dan kepala batu, padahal…padahal aku pun anak perempuan, sama seperti anak perempuan lain-lainnya.”

“Betul, mereka memang betul sangat sulit memahami dirimu,” ujar Siau-hi-ji menghela napas.

Tangis Samkohnio mulai berhenti, ia bersandar pada pundak Siau-hi-ji dan berkata, “Sebenarnya juga tidak soal bagiku, hanya kesepian…kesepian yang mencekam itu terkadang sangat menyiksa diriku dan rasanya akan gila, namun tiada seorang pun dapat menjadi tempat tumpahan isi hatiku.”

“Ya, kau sesungguhnya seorang anak perempuan yang harus dikasihani,” kata Siau-hi-ji gegetun.

“Baru sekarang kudengar ucapan demikian, seumpama segera mati juga aku rela,” keluh Samkohnio.

“Tapi sedikit pun aku tidak bersimpati padamu,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio terhuyung-huyung sambil melotot, katanya dengan gemetar, “Kau…kau ….”

“Kau mengharapkan simpati orang lain padamu, minta dikasihani, begitukah?”

Seperti mau bicara si nona, tapi sukar diucapkan.

“Kau harapkan orang lain memandangmu sebagai anak perempuan, betul kan?”

“Aku memang anak perempuan, dengan sendirinya kuharap orang lain menganggap diriku sebagai anak perempuan.”

“Jika kau ingin orang lain menganggapmu anak perempuan betul-betul, maka kau harus bertingkah sebagai anak perempuan, tapi setiap hari kau memakai baju anak lelaki, mengisap tembakau, sebelah kaki bertumpu di atas meja, kau lebih mirip kusir pedati. Cara demikian mana bisa orang lain memandangmu sebagai perempuan.”

Samkohnio menerjang maju dan bermaksud memukul, tapi tangan terangkat dan tidak dihantamkan, ia terkesima, sejenak kemudian ia menunduk lagi.

“Anak baik, pulanglah sana dan camkan apa yang kukatakan,” kata Siau-hi-ji. “Mengenai barang kiriman itu saat ini aku tidak tahu apa-apa, tapi tidak sampai setengah bulan pasti akan kuberitahukan duduk perkara yang sebenarnya.” Sambil bicara ia terus melompat masuk ke kamar lagi dan menutup daun jendela, ia mencoba mengintip dari sela-sela jendela, dilihatnya si nona masih termangu-mangu di situ, setelah termenung sekian lamanya, akhirnya melangkah pergi juga.

Siau-hi-ji menggeleng kepala, sambil tersenyum getir ia bergumam, “Perempuan, mengapa perempuan selalu bawel begini? Biarpun bangun tubuhnya seperti lelaki, tapi perempuan tetap perempuan.”

*****

Malam ini Siau-hi-ji dapat tidur dengan nyenyak. Dia tidak memikirkan lagi peristiwa perampokan barang kiriman Toan Hap-pui yang mencurigakan itu, sebab terhadap kejadian ini dia sudah dapat menarik kesimpulan yang meyakinkan, soalnya hanya belum dibuktikannya saja.

Tengah ia tidur dengan lelapnya, sekonyong-konyong beberapa orang menerobos ke dalam kamarnya terus menyeretnya bangun, ada yang memakaikan baju, ada pula yang mengenakan sepatu baginya.

Beberapa orang ini termasuk kuasa pertama dan kedua rumah obat ini. Mata Siau-hi-ji masih sepat, dia kucek-kucek matanya yang masih belekan dan bertanya, “Belum tiba hari gajian, untuk apa kalian menculik diriku?”

Sembari merapikan kancing baju Siau-hi-ji si kuasa kedua berkata dengan tertawa, “Sungguh berita baik bagimu, hari ini Tuan Besar kita ternyata ingin bertemu denganmu.”

Si kuasa utama lantas menyambung, “Tuan Besar hampir tidak pernah menemui pegawainya, tapi hari ini begitu sampai di Ankhing segera dia ingin bertemu denganmu? Rupanya kau sedang mujur dan akan dapat rezeki nomplok.”

Dan begitulah, beramai-ramai Siau-hi-ji lantas diusung ke atas kereta, tidak lama kemudian sampailah di depan sebuah rumah gedung yang sangat besar dan megah, beramai-ramai Siau-hi-ji lantas digiring ke dalam.

Rumah ini terdiri dari berlapis-lapis, Siau-hi-ji disongsong oleh seorang kacung dan dibawa masuk ke belakang, cukup lama barulah sampai di taman belakang. Di situlah ada sebuah paviliun indah.

Kacung itu membisiki Siau-hi-ji, “Tuan Besar berada di dalam situ, beliau ingin kau masuk sendiri saja.”

Siau-hi-ji ragu-ragu, ia merandek sejenak di luar pintu, akhirnya ia menyingkap kerai dan melangkah ke dalam. Pandangan pertama segera dilihatnya Samkohnio sudah berada di situ.

Dandanan Samkohnio hari ini sungguh jauh berbeda dari hari biasa. Pakaiannya tidak lagi celana singsat dan baju ringkas, tapi memakai gaun berwiru ditambah baju sutera biru berkembang putih, rambutnya juga sudah digelung.

Mukanya dibedaki dengan pupur tipis, gelung rambutnya dihiasi tusuk kundai dengan mainan burung Hong bermata mutiara, anting-anting juga tidak ketinggalan gemandul di daun telinganya.

Nona itu duduk tertunduk di situ dengan malu-malu kucing. Sekilas pandang Siau-hi-ji hampir tidak mengenali dia sebagai Li-beng-siang Samkohnio.

Sebaliknya sudah jelas melihat Siau-hi-ji masuk ke situ, namun nona gede itu tetap tidak angkat kepalanya, dia hanya melirik sekejap saja sambil menggigit bibir perlahan dan kepalanya tertunduk semakin rendah.

Hampir saja Siau-hi-ji tertawa geli saking tak tahan kalau saja dia tidak melihat di situ masih ada seorang lagi. Orang itu sangat aneh, sedang merangkak-rangkak di lantai.

Lantai dilapisi permadani Persia yang tebal, seorang gemuk dengan jubah yang longgar tampak merangkak di lantai sehingga kalau dipandang sepintas lalu orang akan mengira ada sebuah bola raksasa.

Di depan si gemuk itu ada sebuah kotak jamrud, kotak yang diukir dari sepotong batu jamrud besar, nilainya sukar diperkirakan, tapi kotak semahal itu isinya ternyata dua ekor jangkrik. Kiranya si gemuk lagi asyik mengadu jangkrik.

Siau-hi-ji lantas berjongkok juga di situ, setelah memandang sekian lama, dengan tertawa ia menimbrung, “Si setan hitam mungkin algojo ….”

Si gemuk menoleh dan tertawa sehingga matanya menyipit hampir tidak kelihatan, katanya, “Kau pun paham jangkrik?”

“Selain melahirkan anak, segala urusan aku paham,” sahut Siau-hi-ji.

Si gemuk terbahak-bahak, katanya, “Bagus, bagus sekali…Eh, A Sam, apakah dia ini orang yang kau katakan?”

Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa si gemuk ini dengan sendirinya adalah si hartawan termasyhur Toan Hap-pui.

Samkohnio tampak menunduk malu-malu dan mengiakan dengan suara perlahan.

Toan Hap-pui tergelak-gelak lagi, ucapnya, “Bagus, bagus sekali, pandanganmu memang tidak keliru.”

“Urusan apa ini?” Siau-hi-ji garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau jangan tanya, segala urusan serahkan saja padaku…O, tarik bangun aku dulu, yang kuat…Ahhh, beginilah baru anak baik,” dengan susah payah, dengan bantuan Siau-hi-ji barulah Toan Hap-pui dapat berdiri, tampaknya dia lebih payah daripada orang yang habis berlari sepuluh li jauhnya, napasnya terengah-engah dan mulut megap-megap.

“Bagus, bagus sekali ….” dengan tertawa ia berkata pula pada Siau-hi-ji, “Apa kau gemar makan Ang-sio-bak? Hah, biarpun Hi-sit, Yan-oh, Pauhi atau Him-cio segala, semuanya omong kosong, yang paling lezat hanya Ang-sio-bak.”

Siau-hi-ji merasa bingung, tanyanya, “Sungguh aku tidak tahu ini ….”

Tapi cepat Toan Hap-pui memotongnya, “Kau tidak perlu tahu, segala apa tidak perlu tahu, serahkan saja padaku, tanggung beres. Makanlah di sini, kokiku paling mahir mengolah Ang-sio-bak, boleh dikatakan nomor satu di dunia.”

Maka tanpa bisa menolak dan tidak paham seluk-beluknya Siau-hi-ji lantas makan semangkuk besar Ang-sio-bak yang memang cukup lezat.

Berada di sini mulut Siau-hi-ji seakan-akan tiada gunanya lagi selain makan Ang-sio-bak belaka, sebab pada hakikatnya Toan Hap-pui tidak memberi kesempatan bicara padanya.

Petangnya ia sudah berada kembali di rumah obat dan tetap tidak tahu untuk apa Toan Hap-pui memanggilnya ke rumah tadi. Yang jelas sekarang segenap pegawai Ging-ih-tong telah berubah sikap padanya. Dengan sendirinya berubah lebih ramah dan lebih hormat.

Sehabis mandi, baru saja Siau-hi-ji berbaring di kursi malas, mendadak terdengar ribut-ribut di depan.

Seorang dengan suara yang kasar sedang berteriak, “Kuici, Bakkui, Lengka, Himta ….” serentetan nama obat itu ternyata obat pilihan yang mahal.

Lalu terdengar sang kuasa kedua sedang bertanya dengan perlahan, “Tuan menghendaki berapa banyak obat-obat itu?”

“Berapa banyak persediaan di toko obat ini, semuanya kami ambil, semuanya, setitik pun tidak boleh tersisa,” teriak orang tadi.

Seorang lagi lantas menambahkan, “Ging-ih-tong kalian ini tentu masih ada gudang obat, coba kami dibawa melihat ke sana.” Suara orang ini lebih nyaring dan cepat, agaknya sudah tidak sabar lagi.

Tergerak hati Siau-hi-ji, baru saja ia berdiri, segera dilihatnya sang kuasa kedua itu diseret masuk oleh dua orang lelaki kekar berjubah sulam,

Sang kuasa tidak mampu berkutik seperti anak ayam dicengkeram elang.

Di bawah cahaya pelita kelihatan kedua lelaki itu berwajah bengis, menghadapi orang begini apa yang dapat diperbuat oleh kuasa rumah obat itu?

Siau-hi-ji hanya berdiri menonton saja di samping, pegawai lain lantas membungkus seluruh obat-obatan yang diminta kedua lelaki itu, semuanya diikat menjadi empat bungkus besar.

Diam-diam Siau-hi-ji menyiapkan sebutir batu kecil, begitu bungkusan obat itu diangkat ke atas kereta mereka, perlahan ia menyelentik batu itu dan mengenai ujung bungkusan obat. Karena cahaya pelita hanya remang-remang, gerak tangannya cepat lagi, dengan sendirinya tiada seorang pun yang tahu akan perbuatannya itu.

Habis itu Siau-hi-ji merebahkan diri pula di kursi malasnya, sambil memandangi bintang yang bertaburan di langit ia bergumam, “Tampaknya bakal ada tontonan sandiwara yang menarik lagi ….”

*****

Malam semakin sunyi, semua orang di rumah obat itu sudah tidur, tapi Siau-hi-ji masih duduk di bawah cahaya berkelipnya bintang. Di tengah malam nan terang dan sunyi itu dia justru lagi mengharapkan terjadinya sesuatu yang mengejutkan.

Akan tetapi suasana tetap hening, tenang dan damai, di tengah desir angin yang lembut terkadang diselingi suara jangkrik, lebih dari itu tiada nampak tanda akan terjadinya sesuatu.

Siau-hi-ji memejamkan mata, tampaknya dia sudah ngantuk dan akan pulas.

Pada saat itulah di tengah malam sunyi tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang dilarikan dengan cepat. Seketika mata Siau-hi-ji terbeliak, ia coba pasang telinga sambil bergumam, “Satu, dua, tiga, mengapa cuma tiga ekor kuda?”

Dalam pada itu terdengar suara ringkik kuda, ringkik kuda yang berjingkrak kaget bilamana sedang lari cepat dan mendadak dihentikan. Benar juga, habis itu suara derap kaki kuda lantas lenyap. Jelas kuda-kuda itu sudah berhenti di depan Ging-ih-tong.

Menyusul itu lantas terdengar suara pintu digedor dengan keras, seorang berteriak, “He, buka pintu, lekas buka, kami ingin beli obat, ada orang sakit keras.”

Suaranya yang nyaring keras itu memang penuh rasa cemas dan gelisah.

Dengan sendirinya pegawai yang tidur di bagian depan terjaga bangun, maka suara gerundelan dan suara desakan menjadi bercampur aduk bersama dengan suara berkeriutnya pintu terbuka.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Jika dugaanku tidak salah, obat-obat yang hendak dibeli orang ini pasti Kuici, Bakkui, Lengka, Himta dan sebagainya, sama seperti apa yang diborong orang tadi.”

Dan dugaannya ternyata tidak meleset, segera terdengar suara kasar tadi lagi berteriak, “Kami minta Kuici, Bakkui, Lengka, Himta … masing-masing tiga kati. Lekas, lekas bungkuskan! Penting, orang sakit keras!”

Sudah barang tentu pegawai Ging-ih-tong itu melengak heran, mengapa pembeli obat yang datang berturut-turut ini membeli obat yang sama. Dan dengan sendirinya dijawabnya obat-obat itu tidak ada, sudah habis.

Dengan sendirinya orang yang bersuara kasar tadi bertambah gelisah dan cemas, bahkan terus mengomel, “Rumah obat sebesar ini, masakah obat-obat begitu juga tidak tersedia?”

Perawakan orang ini tinggi besar, sorot matanya tajam, namun merah beringas, tentu saja pegawai toko obat menjadi takut, terpaksa ia memberi penjelasan, “Rumah obat tua dan besar seperti toko kami ini dengan sendirinya mempunyai persediaan obat yang lengkap, cuma sayang dan sangat kebetulan, beberapa macam yang tuan kehendaki ini baru dua-tiga jam yang lalu diborong habis oleh pembeli lain, sebaiknya tuan coba mencari ke rumah obat yang lain saja.”

Diam-diam Siau-hi-ji mendekati dan mengintip dari celah-celah pintu, dilihatnya dahi lelaki kekar itu berkeringat saking gelisahnya, berulang-ulang ia mengomel pula, “Mengapa begini kebetulan. Masa belasan rumah obat di kota ini semuanya kehabisan beberapa macam obat ini?!”

Terlihat pula di luar pintu toko yang setengah terbuka itu menunggu seorang lelaki lain dengan menuntun dua ekor kuda, mulut kuda tampak berbusa, jelas kuda itu baru saja berlari jauh. Ada lagi seorang dengan kudanya berdiri rada jauh di sana.

Di bawah sinar bintang yang remang-remang kelihatan penunggang kuda itu memakai ikat kepala hitam, rambut panjang terurai, kiranya orang ini adalah perempuan.

Sambil membawa lilin, pegawai toko bermaksud mengantar pergi tetamunya, maklumlah dia masih ngantuk dan ingin tidur lagi.

Mendadak cahaya lilin berkelebat, perempuan baju hitam, yang menunggang kuda itu tahu-tahu sudah berada di depan pegawai toko obat itu, sorot matanya setajam sembilu.

Si pegawai terkejut dan mundur sempoyongan, tangannya ketetesan cairan lilin yang panas sehingga dia lepaskan pegangannya, tatakan lilin terus jatuh ke bawah.

Tapi tatakan lilin itu tidak jatuh ke lantai, entah cara bagaimana sudah berada di tangan perempuan baju hitam. Lilin pun tidak padam dan api lilin menyinari wajahnya yang putih pucat itu.

Dengan tajam perempuan itu menatap si pegawai, tanyanya dengan kata demi sekata, “Obat-obatan ini apakah dibeli oleh satu orang saja?”

“Ya, o .. bukan…dibeli dua orang!” jawab si pegawai dengan suara gemetar dan ketakutan.

“Orang macam apa dan siapa mereka?” suaranya semula perlahan, tapi mendadak berubah menjadi melengking cepat penuh rasa, dendam dan benci seakan-akan dengan sekali tikam ia ingin membinasakan orang yang disebut si pegawai itu.

Keruan pegawai toko itu bertambah ketakutan, jawabnya dengan gelagapan, “En…entahlah…kami cuma berdagang, mana berani sembarang tanya asal usul langganan?”

Perempuan baju hitam ini masih menatapnya dengan tajam tanpa berkedip seakan-akan ingin menyelami apa yang dikatakan pegawai itu sebenarnya betul atau bohong.

Padahal di bawah tatapan sinar mata yang tajam begitu siapa pula yang berani berdusta?

Kaki pegawai itu terasa lemas, untunglah perempuan baju hitam itu lantas lari keluar terus mencemplak ke atas kudanya dan dilarikan terlebih cepat daripada datangnya tadi, suara derapan kaki kuda itu pun semakin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi.

Malam, kembali hening pula, angin masih mendesir dan mengaburkan secarik kertas di jalan raya.

Pegawai toko obat itu seperti habis bermimpi saja, waktu dia menunduk, terlihat tatakan Iilin justru tertaruh di depan kakinya, dengan sendirinya ini bukan mimpi, cepat ia berjongkok dan mengangkat lagi tatakan lilin itu…Mendadak api lilin bergoyang, pegawai itu terkejut pula dan tatakan lilin itu tahu-tahu disambar oleh sebuah tangan.

Dengan terkejut pegawai toko obat itu berpaling dan yang terlihat ialah Siau-hi-ji.

Tangan Siau-hi-ji memegang tatakan lilin itu, sedangkan matanya memandang jauh ke sana sambil bergumam, “Tak tersangka…sungguh tak tersangka dia adanya!”

Mata si pegawai toko obat terbelalak lebar, tanyanya, “Kau kenal perempuan tadi?”

“Tentu saja kukenal dia,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Dia…dia siapa?” tanya si pegawai.

“Dia bernama Ho-loh, seorang pelayan Ih-hoa-kiong…meski kuberitahukan semua ini juga kau tidak paham,” ujar Siau-hi-ji. Mendadak ia melompat perlahan, sebelah tangannya meraih kertas yang melayang-layang di udara tertiup angin tadi.

Dilihatnya di atas kertas itu tertulis nama rumah obat.

Pegawai toko obat itu pun melongok ingin tahu apa yang tertulis di kertas itu, segera ia pun bergumam, “Semua rumah obat di dalam dan luar kota ternyata tercantum pada kertas ini.”

“Kertas ini telah dibuang olehnya, jelas karena setiap rumah obat sudah didatanginya dan tetap tidak berhasil membeli obat-obat yang diperlukannya itu,” kata Siau-hi-ji.

“Aneh, mengapa dia terburu-buru ingin membeli beberapa macam obat yang aneh ini?”

“Dengan sendirinya lantaran di rumah mereka ada orang sakit aneh yang memerlukan obat-obat ini.”

“Lalu penyakit apakah itu? Kenapa memerlukan obat-obat yang istimewa ini,” gumam si pegawai. Kemudian ia tanya Siau-hi-ji, “Tak pernah kudengar akan penyakit aneh begini, pernahkah kau mendengarnya?”

Tapi waktu dia menoleh, tatakan lilin sudah tertaruh di lantai dan Siau-hi-ji sudah tidak tampak lagi.

Di tengah malam sunyi, sayup-sayup derapan kaki kuda masih terdengar, setelah berlari cepat melalui beberapa jalan samar-samar Siau-hi-ji dapat melihat ketiga ekor kuda yang dilarikan cepat tadi. Betapa pun cepat lari kuda-kuda itu ternyata tidak lebih cepat daripada Ginkang Siau-hi-ji yang kini telah mencapai taraf yang sukar dilukiskan.

Kuda-kuda itu lari di jalan raya, sedangkan Siau-hi-ji melayang-layang di atas rumah, dari wuwungan satu ke wuwungan rumah yang lain. Diam-diam ia pun bertanya di dalam hati, “Untuk apa Ho-loh terburu-buru membeli beberapa macam obat itu? Jangan-jangan ada orang yang kena racun yang mahapanas atau mahadingin? Masakah racun demikian tak dapat ditawarkan dengan obat mujarab yang dimiliki Ih-hoa-kiong?”

Setelah berpikir lagi, ia menjadi bimbang, batinnya, “Orang yang menaruh racun rupanya sudah tahu mereka pasti akan mencari beberapa macam obat penawar racun ini, makanya lebih dulu beberapa macam obat yang berada di semua rumah obat itu diborongnya hingga habis, ini menandakan bahwa pemberi racun itu bertekad ingin membinasakan sasarannya itu…Sungguh keji pemberi racun itu? Entah siapa dia? Lalu siapa pula yang diracuninya? Apakah Hoa Bu-koat?!”

Begitulah Siau-hi-ji terus berpikir bolak-balik dan entah pula girang atau khawatir perasaannya.

Setelah dilarikan sekian lama, ketiga ekor kuda tadi mendadak berhenti di depan sebuah dinding yang tinggi, dinding itu ada sebuah pintu kecil, rupanya sebuah pintu belakang.

Pintu itu tidak dipalang dari dalam, maka begitu Ho-loh melompat turun dari kudanya segera ia menolak pintu dan masuk ke situ.

Dengan tangkas dan enteng saja Siau-hi-ji melayang ke atas dinding yang tinggi itu terus meluncur ke sana, begitu cepat gerakannya sehingga kedua lelaki di bawah itu sama sekali tidak tahu.

Di balik dinding tinggi itu adalah sebuah halaman luas dengan taman, ada jembatan dan sungai kecil, ada gardu dan loteng megah di sebelah sana, di tengah pepohonan yang rimbun ada sebuah jalanan berbatu terawat bersih.

Ho-loh kelihatan berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri jalan berbatu itu sehingga menerbitkan suara gemertak, kain hitam ikat kepalanya sudah ditanggalkannya sehingga disanggulnya kelihatan sebiji mutiara besar bercahaya kelip-kelip.

Siau-hi-ji terus melayang ke puncak pohon dan mengikuti cahaya kelip-kelip mutiara itu.

Sinar mutiara itu kemudian lenyap di balik semak-semak pohon, di tengah pepohonan itu ada beberapa buah rumah indah.

Tempat sembunyi Siau-hi-ji di balik daun pohon yang lebat sehingga tidak mudah diketahui orang lain. Diam-diam ia mengintai ke bawah, sehingga dilihatnya seraut wajah yang cakap, wajah Hoa Bu-koat.

Wajah yang biasanya cerah dan penuh percaya pada diri sendiri itu tampak gelisah dan cemas, melihat kedatangan Ho-loh, cepat dia menyongsong maju dan kalimat pertama yang ditanyakan adalah, “Mana obatnya?”

“Tak dapat dibeli,” jawab Ho-loh dengan suara perlahan sambil memutar kain hitam ikat kepalanya itu.

Sebelum Ho-loh menjawab sebenarnya Hoa Bu-koat sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan pelayan itu demi melihat air mukanya yang murung. Tiba-tiba ia rebut kain hitam dari tangan Ho-loh dan menegas, “Meng…mengapa tak dapat membelinya?”

Biasanya tingkah laku Ho Bu-koat sangat sopan santun dan ramah tamah, terhadap kaum wanita bahkan sangat halus dan menghormat, tapi kini dia telah kehilangan kepribadiannya yang biasa.

Melihat perubahan sikapnya itu segera Siau-hi-ji dapat menerka hubungannya dengan orang yang sakit itu pasti sangat erat, kalau tidak rasanya tidak mungkin dia berubah bingung begitu.

Namun Hoa Bu-koat yang tampaknya ramah tamah itu sesungguhnya berhati angkuh, biasanya tidak menaruh perhatian sebesar itu terhadap seseorang, lantas siapakah gerangannya?

Begitulah sedang Siau-hi-ji merasa heran dan menerka-nerka, dilihatnya Ho-loh dan Hoa Bu-koat bicara beberapa patah kata lagi dan tidak terdengar olehnya, waktu dia kembali menaruh perhatian, namun kedua orang itu sudah masuk ke rumah.

Cahaya lampu tertampak di balik jendela, samar-samar kelihatan dua sosok bayangan, seorang menunduk dengan kopiahnya yang bergerak seperti orang lagi gemetar saking cemasnya.

Tak perlu dijelaskan lagi orang ini pasti Hoa Bu-koat adanya.

Seorang lagi berkopiah tinggi berjenggot panjang duduk menegak, mungkin sikapnya sangat kereng. Meski sudah diamat-amati, tetap Siau-hi-ji tidak tahu siapa yang seorang ini.

Sementara desiran angin rada mereda, suasana malam semakin sunyi, sampai-sampai suara Hoa Bu-koat yang menghela napas panjang sayup-sayup terdengar. Maka Siau-hi-ji juga menahan napas, tidak berani menerbitkan sesuatu suara.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang bicara dengan suara ramah dan kalem, “Orang baik tentu dikaruniai baik, maka Kongcu juga tidak perlu terlalu sedih…Padahal, bahwa nona Ho-loh akan pulang dengan tangan kosong memang juga sudah kuduga sebelumnya.”

Begitu mendengar suara orang ini, seketika jantung Siau-hi-ji berdetak keras.

Didengarnya Hoa Bu-koat lagi menghela napas dan berkata, “Meski obat-obatan itu tergolong mahal, tapi bukan bahan obat yang sukar dicari, namun kota Ankhing sebesar ini ternyata tak dapat dibeli beberapa macam obat ini, sungguh aku tidak mengerti.”

“Tentunya orang itu sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa racunnya hanya dapat ditawarkan dengan beberapa macam obat ini,” kata suara tadi. “Dengan sendirinya pula dia sudah tahu bahwa Kongcu pasti juga paham pengobatan ini, makanya dia mendahului memborong habis seluruh persediaan di pasaran, kalau tidak kan berarti sia-sia saja dia meracuni orang.”

Apa pun yang dikatakan suara itu seakan-akan selalu dilakukan dengan tenang dan sabar, diucapkan dengan sewajarnya. Maka sampai di sini Siau-hi-ji sudah dapat memastikan pembicara ini jelas Kang Piat-ho adanya.

Teringat kepada kelicinan dan keculasan orang ini, tanpa terasa Siau-hi-ji mengkirik sendiri, Hoa Bu-koat masih mendingan, kalau dirinya kepergok orang ini jangan harap dapat lolos dengan hidup.

Karena itu Siau-hi-ji tambah tak berani bergerak sedikit pun di tempat sembunyinya.

Terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata dengan gemas, “Betul, orang itu tentu sudah memperhitungkan obat mujarab Ih-hoa-kiong kami juga tidak mampu menawarkan racun mahadingin ini, cuma…cuma ada permusuhan apakah antara dia dan dia itu? Mengapa dia sengaja meracuni dia?”

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak tahu siapa yang dimaksud “dia” yang pertama dan siapa pula “dia” yang kedua, maka ia menjadi gelisah juga.

“Mungkin sasarannya bukan ‘dia’ melainkan Kongcu sendiri,” ujar Kang Piat-ho.

“Tapi sejak kukeluar rumah belum pernah bermusuhan dengan siapa pun, untuk apakah orang itu hendak mencelakai diriku? Lantas siapakah gerangan orang ini? Sungguh aku tidak dapat menerkanya.”

“Bila Kongcu ingin tahu siapa dia, kukira tidaklah sulit,” ujar Kang Piat-ho.

Hoa Bu-koat merenung sejenak, katanya kemudian, “Maksudmu ….”

Kang Piat-ho seperti tersenyum, lalu berkata dengan perlahan, “Asalkan Kongcu tidak berkhawatir bagi keadaan nona Thi dan mau ikut keluar bersama Cayhe sebentar, rasanya besar kemungkinan Cayhe akan dapat menemukan orang yang meracuni nona Thi itu!”

Nona Thi?! yang keracunan itu jangan-jangan Thi Sim-lan yang dimaksudkan?

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terkatakan, hampir saja ia terjungkal dari atas pohon. Seketika daun pohon berkeresek-keresekan.

Segera terlihat Hoa Bu-koat berbangkit dan membentak, “Siapa itu yang berada di luar?”

Saking tegangnya jantung Siau-hi-ji serasa akan melompat keluar dari rongga dadanya.

Terdengar Kang Piat-ho berkata, “Suara angin, mana ada orang. Biarlah kita menjenguk dulu keadaan nona Thi saja.” Lalu kedua orang lantas meninggalkan kamar.

Siau-hi-ji merasa lega, pikirnya, “Syukur Thian memberkati, biasanya Kang Piat-ho sangat cerdik, sekali ini ia rupanya lengah ….” Sampai di sini ia terkesiap pula, “Ah, tak mungkin, biasanya Kang Piat-ho sangat hati-hati, tak mungkin ia lena begini, di balik ini tentu ada akal bulusnya.”

Siau-hi-ji memang mahacerdik, jalan pikirannya dapat bekerja cepat, begitu ingat segera ia bermaksud kabur. Walaupun begitu toh tetap terlambat. Di tengah kegelapan dua sosok bayangan telah melayang tiba secepat burung terbang.

Tentu saja Siau-hi-ji terkejut, sekilas lirik segera diketahuinya yang datang memang betul Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat berdua. Baju Hoa Bu-koat melambai-lambai tertiup angin sehingga seperti dewa yang baru turun dari kayangan, sepasang matanya gemerdep dalam kegelapan penuh mengandung rasa benci dan dendam, agaknya ia menyangka orang yang mengintai ini pasti ada sangkut-pautnya dengan peracunan Thi Sim-lan.

Meski tubuh Kang Piat-ho juga terapung, tapi jauh ketinggalan di belakang Hoa Bu-koat, agaknya bukan karena Ginkangnya lebih rendah, tapi mungkin karena sudah ada Hoa Bu-koat di depan, maka dia tidak perlu terburu-buru menyerempet bahaya dan kalau bisa mungkin juga tidak unjuk muka.

Biarpun ilmu silat Siau-hi-ji kini sudah lain daripada dulu, tapi ketemu kedua seteru ini mau tak mau ia rada jeri juga. Namun dia sudah biasa menyerempet bahaya, mati hidup baginya dipandangnya seperti makan sehari-hari, soal rutin, maka biarpun terkejut ia tidak menjadi bingung, sekali ia kerahkan tenaga murni, “krak”, dahan pohon yang didudukinya lantas patah, tubuh lantas anjlok ke bawah.

Harus diketahui bahwa Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho sedang melayang cepat ke depan, kalau Siau-hi-ji melompat turun untuk menghindar betapa pun pasti sukar meloloskan diri dari kejaran kedua tokoh besar ini. Tapi sekarang dia anjlok lurus ke bawah, begitu kaki menyentuh tanah seketika ia menerobos lewat di bawah kaki kedua orang itu.

Karena tubuh Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho terapung di udara, untuk anjlok seketika saja sukar apalagi hendak memutar balik. Maka begitu Siau-hi-ji merasa angin menyambar lewat di atas kepalanya, tanpa ayal ia terus melayang ke depan secepatnya.

Arah kedua pihak kini berlawanan, Siau-hi-ji sudah memperhitungkan bilamana Hoa Bu-koat memutar balik mengejarnya tentu akan ketinggalan sejenak, selisih waktu ini memang cuma sekejap, tapi bagi Ginkang Siau-hi-ji sekarang cukup dengan sekejap itu saja pasti dapat meninggalkan kedua pengejarnya.

Perhitungan Siau-hi-ji ini boleh dikatakan cukup tepat, perubahan tindakannya juga teramat cepat.

Tak terduga, meski Kang Piat-ho tidak dapat berhenti seketika dan tetap melayang lurus ke depan, tapi telapak tangannya sempat mengayun balik ke belakang, ternyata sebelumnya ia sudah menyiapkan senjata rahasia, maka beberapa bintik perak lantas menghambur ke punggung Siau-hi-ji.

Tubuh Hoa Bu-koat yang terapung itu mendadak juga mengayun sebelah kakinya sehingga tepat menjejak pada sebatang pohon, dengan tenaga tolakan ini seluruh tubuhnya lantas berganti arah, kepala dulu dan kaki belakang terus meluncur balik, cepatnya ternyata tidak kalah daripada sambaran senjata rahasia yang dihamburkan Kang Piat-ho.

Kejadian itu sedemikian cepatnya, begitu Siau-hi-ji mendengar suara mendenging, lalu bintik-bintik perak sudah menyambar tiba. Untuk meloncat ke atas terasa tidak keburu lagi, terpaksa dia menjatuhkan diri ke tanah terus berguling-guling, maka terdengar suara denting nyaring, bintik-bintik perak dengan tepat menancap di tanah tempat jatuhnya tadi.

Mati hidupnya sungguh boleh dikatakan cuma selisih sekian detik saja, belum lagi hilang kejut Siau-hi-ji dan belum sempat melompat pula ke depan, baru saja dia angkat kepala, tahu-tahu kesiur angin lengan baju Hoa Bu-koat terasa sudah ada di atas kepalanya.

Dalam keadaan demikian Siau-hi-ji serba susah, mundur tak dapat, menghindar juga sukar. Lebih celaka lagi tubuh Hoa Bu-koat yang terapung di atas itu terus menukik ke bawah dan kedua tangannya menghantam sekaligus.

Tak tahunya pada saat itu juga tujuh bintik perak yang menancap di tanah tadi sekonyong-konyong meluncur ke atas dan cepat menyambar ke muka Hoa Bu-koat. Perubahan cepat dan mendadak ini tampaknya sukar dihindarkan Hoa Bu-koat.

Betapa pun lihainya Kang Piat-ho juga tidak menyangka akan kejadian ini, pihak lawan ternyata dapat memperalat senjata rahasia yang disambitkannya tadi untuk menyelamatkan diri. Mau tak mau ia berseru kaget juga.

Tapi Hoa Bu-koat tidak menjadi gugup, kedua tangan mendadak merapat, ketujuh bintik perak itu pun lenyap seketika, semuanya tertangkap olehnya. Kejadian ini hanya berlangsung sekejap saja, namun telah mengalami gerak perubahan beberapa kali.

Ketika sekali sampuk Siau-hi-ji membikin bintik perak yang menancap di tanah itu terpental ke atas, berbareng itu dengan tenaga pukulannya ia pun melayang ke depan, dalam seribu kerepotannya ia sempat melirik, dilihatnya tenaga dalam Hoa Bu-koat yang luar biasa itu, tanpa terasa ia bersuara memuji, “Bagus!”

Sedangkan Kang Piat-ho juga tercengang oleh gerak perubahan Siau-hi-ji yang aneh dan sukar dibayangkan itu, segera ia berseru, “Hebat benar kepandaian sahabat ini, apa maksud kedatanganmu, mengapa tidak meninggalkan sesuatu pesan?!”

Tanpa menoleh Siau-hi-ji menjawab dengan suara yang dibikin kasar, “Ada urusan apa boleh dibicarakan besok saja, sampai bertemu!”

Belum habis ucapannya, dengan dingin Hoa Bu-koat lantas membentak, “Kepandaian sahabat memang luar biasa, kalau engkau pergi begini saja kan sayang.”

Suaranya serasa berada tepat di belakang Siau-hi-ji, tentu saja Siau-hi-ji tidak berani berpaling, bahkan bersuara menanggapi juga tidak berani, sekuat tenaga ia melayang ke depan.

Dilihatnya berderet-deret rumah telah dilintasinya, tapi ternyata belum juga keluar dari lingkungan perumahan ini. Entah rumah keluarga siapa, ternyata begini luas.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Umur sahabat ini tampaknya belum begitu banyak, bukan saja gerak-geriknya cekatan, bahkan daya pikirnya juga cepat, ada ksatria muda begini di dunia Kangouw, kalau Cayhe tidak mengikat persahabatan denganmu sungguh berdosa rasanya.”

Sembari bicara ia pun terus mengejar dan sedikit pun tidak ketinggalan, nada ucapnya terdengar wajar, seperti seorang bicara dengan seenaknya, agaknya dia yakin Siau-hi-ji pasti takkan lolos dari tangannya.

“Betul, melulu Ginkang yang tinggi ini, biarpun belum terhitung nomor satu di dunia, tapi juga sudah jarang ada bandingannya,” demikian Hoa Bu-koat menambahkan. Diam-diam ia pun heran mengapa sebegitu jauh dirinya tak berhasil menyusul lawan.

Maklumlah, biarpun Ginkangnya memang lebih tinggi setingkat daripada Siau-hi-ji, tapi orang yang lari itu dapat sembunyi ke sana kemari dan mengubah arah sesukanya, dengan sendirinya lebih bebas daripada orang yang mengejarnya.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Bukan saja Ginkangnya tinggi, bahkan tenaga murni orang ini juga sangat kuat. Sekali ia berlari secepat ini, mungkin kita berdua tak dapat menyusulnya lagi.”

Demi mendengar ucapan ini, sekonyong-konyong Siau-hi-ji menyusup ke bawah. Di lingkungan ini memang banyak deretan rumah dengan serambi yang berliku-liku dan pepohonan lebat, sungguh bodoh kalau Siau-hi-ji tidak memanfaatkan keadaan ini.

Sebenarnya maksud Kang Piat-ho berucap begitu adalah untuk membesarkan hati Siau-hi-ji, sebab ia khawatir kalau anak muda itu melompat ke bawah dan menyembunyikan diri. Tak tahunya Siau-hi-ji memang setan cilik yang mahacerdik, sekali mendengar ucapan Kang Piat-ho tadi segera tergerak pikirannya dan cepat memanfaatkan lingkungan yang menguntungkan itu.

Diam-diam Kang Piat-ho mendongkol, namun sudah terlambat, Siau-hi-ji telah berputar ke sana sini, habis itu mendadak ia mendobrak sebuah jendela dan melompat masuk ke situ.

Cahaya lampu di rumah-rumah ini sudah seluruhnya dipadamkan, meski tak diketahuinya di dalam rumah ini ada orang atau tidak, tapi rumah ini sedemikian luas, dapat dibayangkan ruangannya pasti kosong. Dan rumah ini memang betul tiada penghuninya.

Baru saja Siau-hi-ji merasa lega, “serrr”, tahu-tahu Hoa Bu-koat ikut melayang masuk, malahan Kang Piat-ho juga tidak ketinggalan.

Di dalam rumah gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan. Waktu Siau-hi-ji melayang pula ke depan, hampir saja sebuah meja ditumbuknya terguling.

Kang Piat-ho tertawa dan berseru, “Lebih baik keluar saja, sahabat, Cayhe Kang Piat-ho, kujamin dengan nama ‘Kang-lam-tayhiap’, asalkan sahabat dapat menjelaskan asal-usulmu, tanggung engkau takkan dibikin susah.”

Kalau saja ucapan ini ditujukan kepada orang lain bukan mustahil orang itu akan percaya penuh. Tapi Siau-hi-ji cukup tahu orang macam apakah ‘Kang-lam-tayhiap’ ini, apalagi kalau siapa dirinya diketahui, maka mau tak mau pasti akan ‘dibikin susah’ olehnya.

“Jika sahabat tak mau menuruti nasihatku, tentu engkau akan menyesal nanti,” kata Kang Piat-ho pula.

Diam-diam Siau-hi-ji angkat meja yang hampir terguling tadi terus dilemparkan ke arah Kang Piat-ho, di tengah deru angin itu dia terus melompat ke sudut kiri.

Dia memperhitungkan di sudut kiri sana pasti ada daun pintu dan dugaannya tidak meleset, begitu terdengar suara gemuruh jatuhnya meja, berbareng ia pun mendepak terpentang pintu sana dan menerobos keluar.

Rumah di sebelah ini terlebih gelap lagi dan kegelapan selalu bermanfaat baginya. Dia terus sembunyi di dalam kegelapan tanpa bergerak. Selagi menimang cara bagaimana agar dapat lolos, tiba-tiba pandangannya terbeliak, Kang Piat-ho telah menyalakan lampu di ruangan tadi.

Begitu cahaya lampu menyala, serentak Hoa Bu-koat juga melompat masuk. Sekenanya Siau-hi-ji tarik sebuah kursi terus dilemparkan, berbareng ia pun melompat mundur, ‘blang’, sebuah jendela dijebolnya, habis itu ia terus menerjang masuk kamar di seberang.

Setelah terjang sini dan seruduk sana sehingga menerbitkan suara gedobrakan, penghuni rumah-rumah ini juga bukan orang mampus, dengan sendirinya sebagian besar terjaga bangun, seketika suara orang ribut berjangkit dan sama berteriak menanyakan siapa dan ada urusan apa?

Dengan suara lantang Kang Piat-ho lantas menjawab, “Rumah ini kedatangan penjahat, hendaknya semua orang jangan gelisah dan sembarangan keluar agar tidak terkena senjata nyasar. Cukup asalkan menyalakan lampu masing-masing dan penjahat pasti takkan lolos!”

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh dan mengakui kelihaian Kang Piat-ho, apa yang dikatakannya selalu kena sasarannya. Maklumlah, yang diharapkan justru kalau suasana menjadi kacau-balau, dan kesempatan ini akan digunakan untuk kabur dengan mudah. Malahan ia pun berharap lampu jangan dinyalakan, sebab kalau keadaan terang benderang, jangankan hendak kabur, untuk sembunyi saja sulit.

Begitulah dari berbagai tempat lantas terdengar orang berseru, “Itu suara Kang-tayhiap, kita harus turut perkataannya!” Menyusul lampu di segenap pelosok rumah-rumah itu lantas dinyalakan.

Waktu Siau-hi-ji mengawasi, ternyata dirinya sekarang berada di dalam sebuah kamar tulis, kamar ini terpajang dengan indah, di samping meja tulis ada sebuah bangku peranti menyulam.

Ia menjadi heran, mengapa di kamar tulis ada peralatan menyulam kaum wanita?

Dalam pada itu Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat sudah menyusul sampai di luar jendela. Cepat Siau-hi-ji mundur ke arah sebuah pintu.

Pada saat itulah dari belakang pintu tiba-tiba ada seorang menegur, “Siapa itu di luar?” Jelas itulah suara seorang perempuan.

Semula Siau-hi-ji terkejut karena di balik pintu itu ada orangnya, tapi segera pula ia merasa girang, tanpa ragu dan ayal ia terus menolak pintu dan menerobos ke situ.

Menurut perhitungannya, Kang Piat-ho yang munafik itu tentu akan menjaga gengsi dan tidak berani sembarangan menerjang ke kamar wanita, sedangkan Hoa Bu-koat lebih tidak mungkin berlaku keras di depan orang perempuan.

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak pedulikan perempuan atau bukan, begitu dia menerjang masuk sekaligus ia sirapkan lampu, sekilas ia terlihat di pembaringan sana tertidur seorang perempuan, segera ia melompat ke sana, secepat kilat ia dekap mulutnya, tangan lain menahan pundaknya, lalu mengancam dengan suara tertahan, “Jangan bersuara jika kau tidak ingin mampus?”

Karena menerobos ke kamar gadis secara kasar, betapa pun hati Siau-hi-ji merasa tidak enak, maka biarpun mengancam juga tidak terlalu menggunakan tenaga.

Di luar dugaannya tenaga perempuan itu ternyata kuat luar biasa, bahkan gerak tangannya juga teramat cepat, tahu-tahu kedua tangan Siau-hi-ji berbalik kena dicengkeram olehnya.

Sungguh kejadian yang tak pernah terpikir oleh Siau-hi-ji, dalam terkejutnya dia bermaksud meronta, akan tetapi perempuan itu telah menindihnya di atas tempat tidur, sikutnya juga menahan di tenggorokannya. Seketika setengah badan Siau-hi-ji terasa kaku kesemutan, ia benar-benar tak bisa berkutik dikerjai orang.

Diam-diam ia menghela napas, katanya dengan tersenyum getir, “Sudahlah, tamatlah aku sekali ini…Agaknya hidupku ini memang ditakdirkan harus mati di tangan orang perempuan!”

Sementara itu suara Kang Piat-ho sudah berjangkit di luar, benar juga dia tidak berani masuk, hanya bertanya di luar, “Nona, apakah penjahat itu menyusup ke kamarmu?”

Dalam keadaan demikian Siau-hi-ji sudah memejamkan mata dan pasrah nasib, ia tahu apa yang bakal dijawab oleh si nona.

Tak tahunya perempuan itu lantas berseru, “Betul, tadi memang ada seorang menerobos ke sini, tapi segera kabur lagi melalui jendela sebelah, mungkin lari ke taman, lekas Kang-tayhiap memburu ke sana.”

Mimpi pun Siau-hi-ji tidak menyangka akan jawaban perempuan ini, didengarnya Kang Piat-ho mengucapkan terima kasih, lalu buru-buru lari pergi.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, seketika ia jadi terkesima. Perlahan-lahan perempuan itu lantas melepaskan tangannya dan seperti lagi tertawa lirih.

Siau-hi-ji tidak tahan, tanyanya, “Meng…mengapa nona menolong diriku?”

Perempuan itu tidak lantas menjawab, tapi merapatkan pintu lebih dulu.

Di dalam rumah gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan, dengan sendirinya Siau-hi-ji tak dapat melihat bagaimana bentuk perempuan ini, maka ia menjadi rada curiga, segera ia melompat bangun dan bertanya pula dengan suara tertahan, “Selamanya Cayhe tidak kenal nona, tapi nona sudi menolongku, entah apa sebabnya?”

Terhadap perempuan, tak peduli perempuan macam apa pun, Siau-hi-ji tak pernah menaruh kepercayaan sekalipun perempuan ini baru saja telah menyelamatkan jiwanya.

Tapi perempuan ini mendadak tertawa, katanya, “Apakah betul kau dan aku tidak saling kenal?”

“Perempuan yang kenal padaku selalu ingin membunuhku dan tidak mau menolongku,” kata Siau-hi-ji.

Kembali perempuan itu tertawa, katanya, “Haha, mungkin nyalimu sudah pecah saking takutnya sehingga suaraku juga tidak kau kenal lagi.” Bicaranya tadi dengan suara lemah lembut, sekarang dia tertawa keras sehingga bersemangat lelaki.

Seketika Siau-hi-ji dapat mengenalnya, serunya, “He, engkau Samkohnio?”

“Akhirnya kau ingat juga padaku,” kata perempuan itu.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, tanyanya, “He, mengapa engkau berada di sini?”

“Ini rumahku, kalau aku tak berada di sini lalu di mana?” jawab Samkohnio.

Siau-hi-ji melengak, katanya kemudian dengan tertawa, “Ya, benar, aku sudah pikun barangkali, masa tidak tahu perumahan ini adalah tempat kediaman Toan Hap-pui. Sungguh sangat luas, begitu masuk ke sini aku seperti masuk ke lingkaran setan.”

“Jangankan dirimu, aku sendiri terkadang juga kesasar,” kata Samkohnio.

“Tapi mengapa Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat juga berada di sini?”

“Kedatangan mereka justru menyangkut persoalan hilangnya kiriman barang ayahku itu.”

“Wah, sungguh teramat kebetulan, mengapa segala kejadian yang kebetulan di dunia ini selalu kepergok olehku,” kata Siau-hi-ji sambil menghela napas, “Tak pernah kuduga bahwa Kang Piat-ho bisa berada di rumahmu dan kebetulan aku pun menerobos ke rumahmu ini ….”

“Dan mereka pun tak pernah menyangka bahwa aku kenal kau,” sambung Samkohnio dengan tertawa.

“Benar, kalau tidak masakah rase tua itu mau percaya pada keteranganmu tadi,” kata Siau-hi-ji.

Maklumlah, betapa pun Kang Piat-ho tidak menyangka putri kesayangan Toan Hap-pui bisa menolong seorang penjahat, sebab itulah dia percaya kepada keterangan Samkohnio tadi yang mengatakan penjahat itu sudah lari.

Samkohnio lantas tanya pula, “Meng…mengapa kau dan Kang-tayhiap bisa bermu ….”

“Kang-tayhiap apa? Hm, tayhiap sontoloyo, tayhiap persetan!” jengek Siau-hi-ji.

“Aneh, siapa yang tak tahu namanya sebagai Kang-lam-tayhiap?” kata Samkohnio. “Jika dia bukan tayhiap, habis siapa lagi?”

“Kalau dia terhitung tayhiap, maka segala setan belang juga akan menjadi tayhiap,” kata Siau-hi-ji.

“Mungkin kau dibikin dongkol olehnya, maka kau benci padanya,” ujar Samkohnio. “Padahal sebenarnya dia seorang baik, begitu mendengar barang kiriman kami dirampok, segera dia berkunjung kemari untuk membela kami ….”

“Hm, ini namanya musang mengucapkan selamat kepada ayam,” jengek Siau-hi-ji.

“Maksudmu dia tidak berniat baik, tapi apa pula maksud jahatnya?”

“Jalan pikiran manusia begitu selama hidupmu juga takkan paham,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio duduk miring di atas tempat tidur, tepat di samping Siau-hi-ji, hati si nona berdebar-debar dan kepala tertunduk, setelah termenung sekian lama, kemudian ia berkata pula, “Hoa-kongcu itu juga…juga Kang Piat-ho yang mengajaknya kemari. Konon Hoa-kongcu ini tergolong pahlawan nomor satu di Kangouw dan juga lelaki tercakap di dunia, tapi kulihat lagak-lagunya yang kebetina-betinaan itu rasanya tidak cocok.”

Siau-hi-ji merasa senang karena si nona mencaci maki Hoa Bu-koat, ia pegang tangannya dan berkata, “Benar, pandanganmu memang jitu dan ucapanmu juga tepat.”

“Aku…aku ….” dalam kegelapan tangannya dipegang Siau-hi-ji, Samkohnio merasa hatinya berdetak keras, muka merah dan tenggorokan serasa kering sehingga sukar untuk bicara lagi.

Diam-diam ia khawatir kalau-kalau Siau-hi-ji melakukan ‘sesuatu’ padanya, tapi sebenarnya ia pun berharap anak muda itu melakukannya, semakin banyak yang diperbuatnya semakin baik.

Selagi dia merasa kebat-kebit, sekonyong-konyong Siau-hi-ji berbangkit dan menubruk ke atas tubuhnya, seketika wajah Samkohnio menjadi panas seperti dibakar, serasa napas berhenti.

“Ap…apa yang hendak kau lakukan?” tanyanya dengan terputus-putus.

“Sssstt, jangan bersuara!” tiba-tiba Siau-hi-ji membisiki telinganya.

Sekujur badan Samkohnio menjadi lemas seperti tak bertulang lagi, katanya dengan tergagap, “Aku…aku ti…tidak mau ….” Di mulut dia pura-pura tidak mau, tapi badan tidak bergerak sama sekali, bahkan mata pun sudah terpejam.

Kalau anak perempuan sudah memejamkan matanya, itu tandanya sudah terserah apa yang hendak kau lakukan atas dirinya.

Siapa tahu Siau-hi-ji ternyata tidak melakukan sesuatu tindak lanjut lagi, malahan ia terus bangkit berdiri dan menarik napas lega, katanya, “Wah, sungguh berbahaya! Baru saja ada Ya-heng-jin (orang lalu di waktu malam) di atas rumah, apakah kau tidak mendengarnya?”

Buset! Jadi Samkohnio tadi hanya salah wesel dan menghayalkan akan terjadinya “sesuatu”.

Seketika Samkohnio melenggong dalam kegelapan, darah seluruh badannya serasa tersedot habis sekaligus, hatinya terasa kosong blong. Ia termangu-mangu agak lama, dengan hampa kemudian ia berkata, “Aku…aku tidak mendengar apa-apa.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Hoa-kongcu yang kau maksudkan itu bukankah mempunyai seorang teman yang keracunan?”

“Dari mana kau tahu?” tanya Samkohnio.

“Apabila dia memiliki kepandaian setinggi itu, mengapa temannya sampai diracun orang?”

“Petang kemarin,” demikian tutur Samkohnio, “Hoa-kongcu itu bersama Kang…Kang Piat-ho keluar bersama, hanya nona Thi saja yang berada di kamar tamu, pada waktu itulah ada orang mengantarkan sesuatu oleh-oleh untuk Hoa-kongcu dan nona Thi sendiri yang menerimanya, di antara oleh-oleh itu ada makanan kecil, mungkin nona Thi telah mencicipi sedikit makanan itu dan akibatnya keracunan.”

“Siapa yang mengirim oleh-oleh itu?”

“Oleh-oleh itu langsung diterimakan kepada nona Thi, orang lain tidak ada yang tahu.”

“Masakah nona Thi itu tidak menjelaskan?”

“Waktu Hoa-kongcu pulang, nona Thi sudah pingsan keracunan dan tak dapat bicara lagi.”

“Mengapa dia begitu ceroboh dan sembarangan makan barang antaran orang lain?” ucap Siau-hi-ji dengan mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, lalu dia berkata pula, “Ya, mungkin pengirim oleh-oleh itu adalah kenalannya yang dipercayainya, makanya tanpa sangsi dia makan begitu saja. Tapi…orang yang dipercaya mengapa pula meracuni dia?”

Samkohnio menghela napas, katanya, “Nona Thi itu sungguh cantik dan lemah lembut, dia dan Hoa-kongcu benar-benar suatu pasangan yang sangat setimpal. Kalau sampai nona Thi tidak tertolong, sungguh suatu hal yang sangat harus disesalkan.”

“Kau…kau bilang dia dan Hoa…” sedapatnya Siau-hi-ji menggereget menahan perasaannya.

“Mereka sungguh amat kasih sayang dan membuat kagum setiap orang yang melihatnya,” tutur Samkohnio. “Lebih-lebih Hoa-kongcu, boleh dikatakan menuruti segala kehendak nona Thi itu, ya menyanjungnya, ya meladeninya, ya ….”

Mata Siau-hi-ji serasa gelap, dada hampir meledak, tanpa terasa ia berteriak, “Benci aku!”

“Sia…siapa yang kau benci?” tanya Samkohnio.

“O, kumaksudkan…orang yang meracuninya itu,” jawab Siau-hi-ji.

“Sampai saat ini Hoa-kongcu dan Kang Piat-ho belum lagi mengetahui siapa yang meracunnya itu.”

Mendadak Siau-hi-ji tergelak-gelak, “Hahaha, begitu kasih sayang Hoa-kongcu padanya, tapi…tapi dia tak mampu menyelamatkan jiwanya…hahaha…hehe ….”

Melihat cara tertawa Siau-hi-ji rada aneh, dengan heran Samkohnio lantas tanya, “Kenapa kau ini?”

“O, aku tidak apa-apa, aku sangat gembira, belum pernah aku segembira seperti sekarang ini,” jawab Siau-hi-ji.

Samkohnio menunduk, katanya, “Berada bersama…bersamaku kau betul-betul merasa gembira?”

Tampaknya dia salah terima lagi, disangkanya Siau-hi-ji benar-benar naksir padanya.

Sejenak Siau-hi-ji terdiam, mendadak ia tarik tangan Samkohnio pula dan berkata, “Sekarang ingin kumohon sesuatu padamu, apakah engkau dapat menerimanya?”

Muka Samkohnio merah pula, jantungnya berdetak lebih keras, napasnya agak sesak, dengan kepala tertunduk dia menjawab, “Apa pun yang kau minta padaku pasti akan kusanggupi.”

“Kumohon kau suka mengantar aku keluar dari sini dan jangan sampai diketahui orang lain,” ucap Siau-hi-ji dengan girang.

Kembali hati Samkohnio serasa kosong blong, malahan juga seperti kena dicambuk satu kali, seketika ia melenggong kesima.

Entah sudah berapa lamanya, akhirnya ia berkata dengan suara terputus-putus, “Apakah sekarang juga kau hendak…hendak pergi?”

“Ya, makin cepat makin baik,” ucap Siau-hi-ji.

Perlahan Samkohnio berbangkit sambil menghela napas, “Baiklah, akan kuantar kau keluar.”

“Terima kasih banyak-banyak,” Siau-hi-ji tertawa.

Di luar dugaannya mendadak Samkohnio terus berteriak, “Tolong…tolong, di sini ada penjahat.”

Seketika wajah Siau-hi-ji menjadi pucat, ia mencengkeram tangan Samkohnio dan berkata, “Ap…apa maksudmu ini?”

Samkohnio tidak menjawab. Dalam pada itu terdengar suara berkibarnya kain baju, tahu-tahu Kang Piat-ho sudah berada di luar dan sedang bertanya di mana penjahat yang dimaksud? Datangnya sungguh cepat luar biasa. Keruan Siau-hi-ji terkejut, ya gemas, ya dongkol.

“Perempuan, dasar perempuan! Demi untuk menahanku di sini, dia tidak sayang mengorbankan diriku. Sejak mula juga kutahu perempuan adalah bibit penyakit, mengapa aku masih percaya padanya?”

Begitulah Siau-hi-ji berpikir, ia sudah bertekad akan menerjang keluar dengan mati-matian, jika perlu.

Tak tersangka Samkohnio lantas berseru, “Baru saja kulihat bayangan seorang seperti lari ke tempat tinggal nona Thi.”

Belum lenyap suaranya, segera Hoa Bu-koat berteriak, “Wah celaka! jangan-jangan kita tepedaya oleh akal ‘memancing harimau meninggalkan gunung’ bangsat itu. Lekas kita ke sana!” Menyusul mana lantas terdengar angin berkesiur, hanya sekejap saja kedua orang itu sudah pergi jauh.

Siau-hi-ji menghela napas lega, ucapnya dengan meringis, “Sungguh engkau membikin kaget padaku.”

“Jangan khawatir, aku takkan membikin susah padamu,” kata Samkohnio dengan tenang.

“Tapi engkau telah ….”

“Aku sengaja berteriak memancing kepergian mereka agar dapat membantumu keluar dengan leluasa,” Samkohnio terus ambil sebuah mantel dan dilemparkan pada Siau-hi-ji, katanya pula, “Pakai dan kubawa kau keluar.”

Entah bagaimana perasaan Siau-hi-ji, ia hanya bergumam, “Perempuan…sungguh aku pun tidak jelas makhluk apakah sebenarnya perempuan?”

“Kau bilang apa?” tanya Samkohnio.

“O, tidak, kubilang…engkaulah anak perempuan yang paling jujur yang pernah kukenal.”

Samkohnio tertawa, katanya, “Jika benar aku ini jujur tentu aku takkan menggunakan akal ini.”

“Makanya aku merasa anak perempuan itu sangat aneh, anak perempuan yang paling jujur terkadang juga main tipu, anak perempuan yang paling licin terkadang justru sangat bodoh.”

Untung perawakan Samkohnio tinggi besar, mantelnya bagi Siau-hi-ji terasa cocok juga, dengan langkah lebar cepat mereka keluar.

Meski di halaman juga ada peronda, tapi demi melihat Samkohnio mereka lantas menunduk dan memberi hormat, siapa pun tiada yang berani bertanya.

Samkohnio membawa Siau-hi-ji ke pintu samping, ia membuka pintu dan berpaling, di bawah sinar bintang yang redup itu terlihat wajah Siau-hi-ji yang bandel, binal, tapi juga penuh daya tarik itu.

Samkohnio menghela napas perlahan, katanya kemudian, “Apakah kau akan…akan datang menjenguk aku lagi?”

“Ya, aku pasti akan datang lagi, hari ini juga ….” sembari bicara anak muda itu terus lari pergi dengan cepat.

Termangu-mangu Samkohnio memandangi bayangan Siau-hi-ji, timbul semacam perasaan aneh, entah pilu entah girang, semacam perasaan yang belum pernah dirasakannya selama ini.

Kini Samkohnio telah menjadi seorang perempuan yang sempurna. Soalnya apa yang dirasakannya sekarang hanya timbul pada anak perempuan yang sedang rindu. Perempuan yang belum pernah mengalami perasaan demikian pada hakikatnya belum terhitung sebagai perempuan.

Malam sudah larut, waktu yang paling sunyi di tengah kota, jalan raya sepi tiada seorang pun, cepat Siau-hi-ji lari pulang ke rumah obat.

Sampai di jalan itu, samar-samar sudah kelihatan papan merek “Ging-ih-tong”, langkah Siau-hi-ji lantas dilambatkan.

Seperti seekor anjing pelacak, hidung Siau-hi-ji mengendus ke kanan ke kiri, matanya celingukan kian kemari, mendadak ia berjongkok dan mengawasi sesuatu, lalu bergumam, “Ya, ini dia ….”

Dilihatnya di atas jalanan balok batu yang mengkilap itu ada sedikit bubuk obat, beberapa kaki di depan sana terdapat lagi bubuk obat serupa. Dengan menggunakan indera matanya Siau-hi-ji terus melacak sepanjang jalan.

Kiranya semalam dia menyambit dengan batu pada bungkusan obat yang diborong kedua lelaki itu justru berharap obat-obat itu akan bocor keluar, dengan petunjuk obat bocoran itu dengan sendirinya ia pun akan menemukan ke arah mana bungkusan obat-obat diantar.

Meski masih muda belia, namun cara kerja Siau-hi-ji sangat cermat, bukan saja dia sudah menyiapkan jalur petunjuk ini, bahkan ia pun sudah memperhitungkan di malam sunyi begini, di jalanan yang sepi dengan orang berlalu lalang ini bubuk obat yang berserakan pasti tidak akan terinjak hilang.

Begitulah ia terus melacak ke depan, sampai akhirnya ia tidak perlu lagi berjongkok dan memeriksa, cukup dengan bau obat yang terembus angin malam yang sejuk itu dan pasti takkan salah alamat lagi.

Setelah sekian lamanya, jalanan makin lama makin terpencil dan sepi, tertampak di depan ada sebuah kolam, air beriak kemilau, di tepi kolam ada papan kayu yang bertulis, “Kolam ikan keluarga Tio, dilarang keras memancing di sini”.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Kolam sebesar ini ternyata milik pribadi, tampaknya keluarga Tio ini selain kaya tentu juga berpengaruh.”

Tertampak tidak jauh di seberang kolam sana memang ada sebuah perkampungan dengan rumah yang berderet-deret, walaupun tidak semegah perkampungan tempat kediaman Toan Hap-pui, tapi dibangun membelakangi bukit dan menyebelah kolam, kelihatannya menjadi sangat megah.

Dan bungkusan obat-obat itu ternyata diantar ke arah perkampungan ini.

Siau-hi-ji ragu-ragu, ia coba memandang sekelilingnya, di tengah malam sunyi di tengah perkampungan itu ternyata masih ada cahaya lampu, pintu gerbang yang bercat hitam juga ada sebuah papan.

“Thian-hiang-tong, Te-leng-ceng, Tio”, demikian tulisan di papan itu, artinya kolam Thian-hiang, perkampungan Te-leng, keluarga she Tio.

Siau-hi-ji membatin, “Melihat lagaknya, keluarga Tio ini tidak saja kaya dan berpengaruh, bahkan pasti juga tokoh kalangan Kangouw. Di tengah malam buta mereka belum tidur, rasanya bukan sedang berbuat sesuatu yang baik.”

Setelah mengincar baik-baik keadaan sekitarnya, Siau-hi-ji lantas melompat ke dalam perkampungan itu.

Pada dasarnya Siau-hi-ji memang pemberani, akhir-akhir ini ilmu silatnya maju pesat pula, tentu saja ia meremehkan segala sesuatu, langsung ia menuju ke tempat yang bercahaya lampu.

Itulah sebuah ruangan duduk. Siau-hi-ji merunduk maju sampai di bawah emper, dengan air ludah dia membasahi kertas penutup jendela dan membuat sebuah lubang kecil. Tertampak di tengah ruangan sedang duduk empat orang lagi minum arak.

Ruangan duduk ini dengan sendirinya juga teratur sangat indah, hidangan di atas meja juga kelas tinggi, semuanya ini tidak diteliti oleh Siau-hi-ji, pada hakikatnya ia malah tidak menaruh perhatian.

Yang diincarnya justru pada sudut kiri ruangan itu, di pojok sana penuh tertimbun bungkusan obat-obat sejenis Kuici, Lengka, Himta dan sebagainya.

Terdengar seorang di antaranya sedang bicara, “Betapa pun juga saudara bertiga sudah berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi Cayhe, marilah kusuguh pula kalian secawan!”

Orang ini duduk di bagian tuan rumah, tinggi kurus, bermuka lonjong seperti kuda, hidung besar mirip paruh kakak tua, pelipisnya menonjol, sorot matanya tajam, tampaknya berwibawa.

Diam-diam Siau-hi-ji menduga orang ini tentu tuan rumah she Tio.

Segera terdengar seorang menanggapi dengan tertawa, “Ucapan Tio-cengcu ini entah sudah diulang beberapa kali dan arak juga entah disuguh berapa cawan, kalau Tio-cengcu masih sungkan-sungkan begini sungguh kami bersaudara akan merasa tidak tenteram.”

“Padahal kami bersaudara dapat menjadi tetamu Tio-cengcu, inilah yang benar-benar suatu kehormatan bagi kami,” ucap orang ketiga. “Sepantasnya kami yang mesti menyuguh secawan, kepada Tio-cengcu.”

Kedua orang tamu yang bicara ini mempunyai rupa yang sama, sama-sama berwajah bundar dan gemuk. Waktu tertawa matanya menyipit hingga tidak kelihatan biji matanya, cara bicaranya ramah tamah, bentuk mereka seperti pinang dibelah dua.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, “Kedua orang gemuk ini ternyata dicetak dari suatu klise yang sama. Meski banyak juga saudara kembar di dunia ini, tapi bentuknya yang benar-benar serupa seperti kedua orang ini tidaklah banyak.”

Ia tidak kenal ketiga orang tamu Tio-cengcu ini, ia lebih-lebih tidak tahu mengapa mereka meracuni Thi Sim-lan.

Selagi menimang-nimang, mendadak dilihatnya orang keempat itu menoleh. Orang ini rambut dan jenggotnya sudah beruban, sikapnya angker, ternyata bukan lain dari pada Thi Bu-siang yang berjuluk “Ay-cay-ji-beng”.

Melihat orang ini, Siau-hi-ji benar-benar terperanjat. Kiranya yang menaruh racun ialah Thi Bu-siang, sungguh sukar dibayangkan olehnya.

Pantas Thi Sim-lan percaya penuh dan tanpa sangsi makan panganan yang diantarkan padanya itu, “Ay-cay-ji-beng” Thi Bu-siang, dengan sendirinya setiap orang persilatan percaya penuh pada nama tokoh besar ini. Sungguh tidak nyana Thi Bu-siang sama dengan Kang Piat-ho, juga manusia munafik yang lahirnya berbudi tapi hatinya berbisa.

Tapi mengapa dia meracuni Thi Sim-lan?

Sesaat itu pikiran Siau-hi-ji telah bekerja keras, ia terkejut dan curiga, ia benar-benar tidak percaya, tapi bukti tertampang di depan mata.

Dilihatnya Tio-cengcu itu sedang sibuk menuangkan arak, ia angkat cawan dan mengajak minum, katanya dengan tertawa, “Kalian bersaudara dan Thi-loenghiong adalah ksatria jaman ini, apa kepintaran dan kebaikanku Tio Hiang-leng sehingga mendapat perhatian kalian, mari, marilah, biar Cayhe menyuguh pula kalian secawan.”

Kedua saudara kembar gemuk itu lantas angkat cawan masing-masing, tapi Thi Bu-siang tidak bergerak sama sekali.

Si gemuk yang duduk di sebelah kiri segera menanggapi dengan tertawa, “Kami bersaudara adalah angkatan muda dunia Kangouw, tergolong Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco), mana kami berani disejajarkan dengan Thi-locianpwe. Apabila tiada undangan Tio-cengcu, mana kami sesuai ikut minum arak bersama Thi-locianpwe.”

Yang seorang juga lantas menukas, “Betul, jika kawan-kawan Kangouw mendengar bahwa kami Lo Sam dan Lo Kiu dapat duduk bersama Thi-locianpwe dan ikut minum arak, sungguh entah betapa rasa kagum mereka.”

Mendadak Thi Bu-siang bergelak tertawa, katanya sambil angkat cawan, “Ah, kalian terlalu rendah hati, apa pun juga aku bukan orang tuli, pernah kudengar nama kebesaran Lo-si-hengte (persaudaraan Lo) di dunia Kangouw yang konon berbudi luhur, haha…haha, untuk itu biarlah kuhormati kalian bersaudara satu cawan.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, pikirnya, “Thi Bu-siang menganggap dirinya tokoh luar biasa, ternyata juga tidak tahan oleh sepatah dua kata sanjung puji saja. Kedua saudara Lo ini pintar mengumpak dan menjilat, agaknya mereka pun bukan manusia baik-baik.”

Dalam pada itu terdengar Tio Hiang-leng lagi berkata dengan tertawa, “Ah, kalian bertiga tidak perlu rendah hati, bahwasanya Thi-locianpwe jelas dikagumi oleh setiap orang, tapi kedua saudara Lo kan juga ksatria jaman kini.” Lalu dia berpaling dan bicara pada Thi Bu-siang, “Mungkin Thi-locianpwe belum mengetahui bahwa kedua saudara Lo meski baru saja muncul di dunia Kangouw, tapi sekali turun tangan mereka lantas mengalahkan tujuh jagoan di Thay-ouw serta merobohkan lima tokoh di Soatang, lalu di Thay-heng-san mengobrak-abrik delapan belas kawanan bandit, semua ini telah menggemparkan dunia Kangouw.”

“Sungguh aneh, kejadian begitu, mengapa tak kuketahui,” ucap Thi Bu-siang.

“Agaknya Thi-locianpwe tidak paham kedua saudara Lo memang tidak suka menonjolkan diri, apa pun juga yang mereka lakukan sengaja tidak disiarkan, budi luhur begini sungguh jarang ada bandingannya,” demikian tutur Tio Hiang-leng.

“Bagus, bagus, sahabat begini harus kuikat dengan baik,” ucap Thi Bu-siang dengan tertawa. “Cuma…eh, kalian pasti saudara sekandung kembar, mengapa yang seorang berurutan Sam (tiga) dan yang lain Kiu (sembilan) ?”

“O, nama kami hanya memakai angka hitungan, jadi tiada sangkut-pautnya dengan nomor urut tua dan muda,” jawab Lo Sam dengan tertawa.

“Padahal aku adalah saudara tua dan dia saudara muda,” sambung Lo Kiu.

“Haha, sungguh aneh dan lucu,” seru Thi Bu-siang tertawa, “Setiap orang yang tahu nama kalian pasti tidak percaya yang bernama Kiu adalah kakak dan yang bernama Sam malah si adik.” Setelah merandek sejenak, lalu katanya pula, “Kalian begini lihai, entah berasal dari perguruan mana? Dan entah mengapa pula sedemikian lambat kalian tampil di depan umum? Baru tiga tahun yang lalu mulai kudengar nama kalian.”

“Kami gemar ilmu silat sejak kecil,” jawab Lo Kiu, “Makanya suka berlatih beberapa jurus cakar kucing di rumah, jadi tiada perguruan segala. Sampai berumur empat puluh mendiang ibu kami masih hidup, kami bersaudara tidak berani pergi jauh, baru setelah ibu wafat kami berani keluar.”

“Tak nyana kalian selain ksatria juga anak berbakti,” ucap Thi Bu-siang dengan gegetun.

“Ah, mana berani dipuji begitu,” kata Lo Sam.

“Mengingat kalian mampu malang-melintang ke sana sini sejak keluar rumah, jika kalian tidak mendapatkan didikan guru ternama, sungguh sukar dipercaya,” kata Thi Bu-siang pula.

“Di depan Locianpwe masakah kami berani berdusta,” ujar Lo Kiu.

“Jika begitu, kalian boleh dikatakan bakat yang sukar dicari, ilmu silat ciptaan sendiri ternyata lebih hebat, entah kalian sudikah mempertunjukkan sejurus dua bagiku?”

“Mana kami berani pamer di depan tokoh besar seperti Thi-locianpwe,” kata Lo Sam.

“Jika kalian tidak sudi, sungguh aku akan tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.”

“Tapi Wanpwe benar-benar tidak berani,” jawab Lo Kiu dengan tertawa.

“Kalian harus memberi muka kepadaku, memangnya kalian tidak menghargai permintaanku?” kata Thi Bu-siang dengan sungguh-sungguh.

Cepat Thio Hiang-leng menyela, “Thi-locianpwe berjuluk ‘Ai-cay-ji-heng’ dan terkenal menyukai setiap orang muda berbakat, bisa jadi beliau menjadi tertarik oleh bakat kalian bersaudara, maka kalian janganlah mengecewakan keinginan Thi-locianpwe.”

Lo Sam menyengir, jawabnya, “Masakah Tio-cengcu juga ….”

“Bicara terus terang, Cayhe memang juga ingin melihat pertunjukan kalian yang pasti menarik,” ucap Tio Hiang-leng.

“Jika begitu, terpaksa kami harus menurut,” kata Lo Kiu sambil berbangkit.

Meski badan kedua Lo bersaudara ini sangat gemuk, tapi juga sangat tinggi. Mereka terus menyingsing baju dan mulai “main” di ruangan tamu ini.

Maka bukan cuma Tio Hiang-leng dan Thi Bu-siang yang mengikutinya dengan cermat, bahkan Siau-hi-ji yang mengintip di luar jendela juga melotot, ia pun ingin tahu sampai di manakah taraf ilmu silat kedua Lo bersaudara itu dan berasal dari aliran mana.

Terlihat permainan silat kedua Lo bersaudara itu memang sedap dipandang, Lo Kiu memainkan ilmu pukulan Siang-poan-ciang, sedangkan Lo Sam main ilmu pukulan Tay-heng-kun. Tampaknya memang tangkas, kuda-kudanya kuat, namun bagi kaum ahli jelas ilmu silat mereka itu cuma sedap dipandang dan tidak enak dimakan, artinya cuma ilmu silat kembangan belaka, ilmu silat mereka ini pada hakikatnya sangat umum, bahkan kusir dokar atau kuli tepi jalan terkadang juga dapat main.

Thi Bu-siang seperti terkesima mengikuti permainan kedua Lo bersaudara itu, tapi bukannya kesima kagum akan lihainya ilmu silat mereka, sebaliknya heran akan rendahnya kepandaian mereka.

Selesai main, tampaknya muka kedua Lo bersaudara rada merah, mereka memberi hormat dan berkata dengan rendah hati, “Mohon Thi-locianpwe suka memberi petunjuk.”

“Oo…ehm ….” Thi Bu-siang tidak menanggapi dan tiada komentar.

“Ilmu silat kedua saudara Lo sungguh teramat kuat, entah bagaimana pendapat Thi-locianpwe?” Tio Hiang-leng bertanya dengan tertawa.

“Ehm, be…betul, betul,” kata Thi Bu-siang. Walaupun begitu ucapnya, namun tidak dapat menutupi nadanya yang merasa kecewa, dia benar-benar tidak tertarik lagi oleh kedua orang gemuk itu.

Akan tetapi Siau-hi-ji justru sangat tertarik oleh kedua orang itu. Pikirnya, “Kedua orang ini pintar dan cerdik, mahir menyembunyikan sesuatu tanpa kelihatan pada lahirnya, sampai-sampai jago kawakan Kangouw seperti Thi Bu-siang juga kena dikelabui dan tak dapat melihat bahwa ilmu silat mereka sebenarnya tidak terbatas begitu saja. Tindakan mereka itu tidak saja menyembunyikan asal usul ilmu silat sendiri, bahkan juga menghilangkan rasa curiga orang lain sehingga tidak menaruh waswas kepada mereka. Jelas mereka lebih suka dianggap rendah oleh orang lain, sungguh suatu pikiran yang licin, betapa pun aku harus waspada terhadap orang macam begini.

Walaupun Siau-hi-ji sudah dapat menerka sesuatu muslihat tersembunyi di balik kerendahan hati kedua orang gemuk itu, tapi ia pun tak dapat mengetahui dengan pasti akal busuk apa yang mereka atur. Dan dengan sendirinya pula ia tak dapat menerka asal usul mereka.

Tadi ia bermaksud menerjang ke dalam untuk mengambil obat, kini demi melihat kelicinan kedua orang gemuk itu, seketika ia menjadi ragu-ragu.

Terdengar Tio Hiang-leng sedang angkat cawan dan berkata pula, “Malam ini pasti kita tak dapat tidur karena diributkan oleh peristiwa tak terpecahkan itu, namun barusan dapat menyaksikan kehebatan kedua saudara Lo serta dapat mengiringi Thi-locianpwe minum semalam suntuk, sedikitnya terhibur juga rasa kesal semula.”

Diam-diam Siau-hi-ji jadi heran, entah apa “peristiwa tak terpecahkan” yang dimaksud Tio Hiang-leng?

Pada saat itulah di luar perkampungan tiba-tiba berkumandang suara ringkik kuda dan roda kereta. Serentak Thi Bu-siang berbangkit dan berseru, “Jangan-jangan telah datang pula!” Habis berkata, secepat terbang ia terus menerobos keluar.

Di luar perkampungan memang betul telah datang sebuah kereta kuda, waktu pintu gerbang dibuka, kereta itu langsung dilarikan ke dalam, tapi di atas kereta tiada nampak seorang penghela pun.

Tio Hiang-leng lantas memerintahkan centingnya menurunkan muatan kereta itu, begitu bungkusan muatan itu dibuka, serentak terendus bau obat-obatan. Ternyata isi bungkusan-bungkusan itu adalah Kuici, Bakui, Lengka, dan Himta ….

Siau-hi-ji dapat melihatnya dengan jelas, kembali ia terkejut.

Di bawah cahaya lampu kelihatan air muka Tio Hiang-leng dan Thi Bu-siang juga berubah.

“Urusan apa-apaan ini? Semalaman berturut-turut beberapa kali tanpa sebab mengantar obat sebanyak ini ke sini, apakah ada orang sengaja bergurau denganku atau sengaja hendak main gila padaku?” demikian omel Tio Hiang-leng.

“Semua bahan obat-obatan ini berharga mahal, siapa yang mau bergurau dengan menggunakan benda berharga begini?” ujar Thi Bu-siang.

“Bagaimana kalau menurut pendapat Locianpwe?” tanya tuan rumah.

“Di balik urusan ini bukan mustahil ada sesuatu tipu muslihat keji,” kata Thi Bu-siang setelah berpikir sejenak.

“Tapi obat-obatan ini bukanlah racun melainkan obat kuat malah, dengan mengantar obat-obatan ini rasanya juga tiada maksud jahat,” kata Tio Hiang-leng. “Apakah barangkali Lo-heng dapat menerka apa sebabnya?”

“Thi-locianpwe berpengalaman luas dan berpengetahuan tinggi, apa yang diucapkannya pasti beralasan,” ujar Lo Kiu dengan tertawa.

“Betul, kalau tokoh seperti Thi-locianpwe tak dapat menerkanya, apalagi kami bersaudara ini?” dengan tertawa Lo Sam menambahkan.

“Sesungguhnya aku pun merasa bingung,” ucap Thi Bu-siang.

Meski dia merasa bingung, namun Siau-hi-ji sudah tahu jelas duduknya perkara. la membatin, “Bagus sekali, kiranya kalian sengaja mengatur tempat tukang tadahnya, kalian mengantar obat-obatan itu ke sini agar Hoa Bu-koat menyangka yang menaruh racun ialah Thi Bu-siang, rupanya kalian memakai tipu ‘timpuk batu sembunyi tangan’. Cuma sayang persoalan ini kebetulan kepergok olehku, maka apeslah kalian.”

Setelah berpikir dan mendapat akal, diam-diam ia lantas meninggalkan perkampungan keluarga Tio ini.

Mumpung di waktu malam, ia mencari sebuah toko penjual sebangsa pupur bedak dan sebagainya, dia masuk dengan bertangan kosong, keluarnya sudah penuh “muatan”, segala keperluannya dalam bungkusan-bungkusan sudah dibawanya.

Kalau “Thian-hiang-tong, Te-leng-ceng” saja dia dapat masuk keluar dengan leluasa seperti tiada penghuninya, dengan sendirinya toko sekecil ini bukan apa-apa baginya, apa yang dia perlukan tinggal ambil saja.

Maka waktu fajar tiba, seperti ular habis mengelungsungi, Siau-hi-ji juga telah berganti rupa, kini wajahnya putih gemuk, malahan rada-rada tembem, matanya riap-riap seperti orang yang selalu mengantuk dan mulutnya rada monyong sehingga lebih mirip makelar di rumah pelacur.

Kepandaian rias muka yang dipelajarinya dari To Kiau-kiau ternyata tidak sia-sia.

Waktu pagi tempat yang paling ramai di dalam kota dengan sendirinya adalah rumah minum yang juga menjual sarapan pagi, Siau-hi-ji mencari sebuah rumah makan yang paling ramai.

Biasanya, rumah makan yang ramai dikunjungi peminat hanya ada dua kemungkinan. Murah dan enak. Jika bukan harganya murah tentu hidangannya lezat. Itulah daya tarik langganan.

Di rumah makan itulah Siau-hi-ji mengisi perut sekenyangnya, ia habiskan satu piring Sio-moy dan beberapa potong Yucakue disertai satu mangkuk kuah panas. Ia tahu hari ini pasti akan banyak keluarkan tenaga, maka “tangki bensin” juga perlu diisi penuh.

Supaya menghasilkan tenaga besar manusia harus makan kenyang.

Di luar rumah makan itu sudah ramai pasar pagi, orang berlalu lalang berjubel-jubel, seorang lelaki tinggi kurus dengan pelipis bertempelkan koyok dan tangan menjinjing sangkar burung tampak menerobos kian kemari di tengah-tengah khalayak ramai.

Sebelah tangan lelaki jangkung itu membawa sangkar burung, tapi tangan lain juga tidak menganggur, sekali tangan terjulur, seketika isi saku orang lain sudah menjadi miliknya.

Orang inilah yang diincar dan dikuntit Siau-hi-ji, ia mendekatinya dan memegang pundaknya sambil menegur dengan tertawa, “Gesit amat kerja tangan sahabat.”

Pencoleng itu menoleh dan merasa tidak kenal Siau-hi-ji, dengan gusar ia memaki, “Anak jadah, barangkali kau makan kekenyangan dan ingin digebuk?” Berbareng tangannya membalik terus menampar.

Sudah pasti selama hidupnya jangan harap akan dapat memukul Siau-hi-ji. Hanya dengan dua jari saja Siau-hi-ji dapat menjepit pergelangan tangan pencoleng itu, sedikit dipencet dan dipuntir, seketika pencoleng itu meringis dan mengaduh.

“Nah, siapa anak jadah?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa. Keringat dingin membasahi dahi pencoleng itu, jawabnya dengan terputus-putus, “Aku…aku sendiri anak jadah, aku sendiri anak haram. Tuan kecil, kakek kecil, ampun, ampunilah anak haram macamku ini, biarlah kuserahkan seluruh isi bajuku ini padamu.”

“Aku tidak mengincar isi kantongmu,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Asalkan kau menjawab beberapa pertanyaanku secara jujur, malahan aku yang akan menambahkan isi sakumu sehingga penuh. Nah, mau tidak?”

“Su…sudah tentu mau,” jawab pencoleng itu.

Sambil menelikung tangan orang, Siau-hi-ji lantas tanya, “Tahukah tempat seperti Thian-hiang-tong, Te-leng-ceng?”

“Tentu saja tahu, kalau tempat begitu saja tidak tahu, mana hamba dapat cari makan di sini.”

“Orang macam apakah Tio-cengcu itu?”

“Tio-cengcu terkenal kaya raya, tangan terbuka pula, baik kawan kalangan putih maupun kalangan hitam mempunyai hubungan baik dengan dia. Cuma…cuma sejak sayap Toan Hap-pui melebar ke sini, semua usahanya hampir jatuh kalah bersaing dengan Toan Hap-pui, dia bermaksud main kekerasan, tak tahunya Toan Hap-pui juga memiara sekawanan orang Kangouw, bahkan kelasnya lebih tinggi daripada jago-jago kumpulan Tio-cengcu.”

“Betul, jika demikian halnya,” gumam Siau-hi-ji. “Sungguh Tio Hiang-leng mendatangkan Thi Bu-siang ke sini tentunya karena dia ingin menggunakan pengaruh tokoh tua itu untuk menindas Toan Hap-pui, di luar dugaannya usahanya ini justru kena diperalat oleh orang lain.”

Pencoleng itu tidak paham apa yang dikatakan Siau-hi-ji, dengan menyengir ia cuma memohon, “Tuan kecil, Tuan besar, dapatkah engkau melepaskan hamba sekarang?”

“Kerjamu setiap hari putar kayun kian kemari, kau tentu sangat paham keadaan kota ini, kukira Tio-keh-ceng (perkampungan keluarga Tio) tentu juga ada kenalan, asalkan kau mau membawaku menemui temanmu dan membiarkan aku ngendon sehari di sana, untuk itu akan kuberi tiga ratus tahil perak, kau mau tidak?”

Tawaran menarik ini mustahil dia tidak mau? Untuk tiga ratus tahil perak ini sekalipun bininya juga pencoleng itu mau menjualnya.

*****

Tempat seperti Tio-keh-ceng dengan sendirinya terdapat orang bermacam-macam, ada yang baik dan ada yang busuk. Di antara kaum pelayan dan pekerja dengan sendirinya terdapat golongan yang bertujuan ‘cari-cari’ belaka dan orang-orang ini adalah kawan si pencoleng itu.

Dengan sedikit akalnya Siau-hi-ji lantas dapat bergaul dengan mereka, tidak sampai setengah hari orang-orang itu pun sudah pandang Siau-hi-ji sebagai teman sendiri.

Yang tidak terduga oleh Siau-hi-ji adalah pagi-pagi Tio Hiang-leng sudah berada di ruang depan dengan penuh semangat, sedikit pun tiada tanda-tanda kurang tidur karena habis pesta pora semalam suntuk.

Tidak lama kemudian datanglah berturut-turut beberapa kelompok orang, tampaknya adalah kaum pedagang, semuanya bersikap sangat hormat kepada tuan rumah.

Siau-hi-ji berdiri agak jauh, ia coba tanya salah seorang centeng siapakah orang-orang yang pagi-pagi menghadap Tio Hiang-leng itu.

“Mereka adalah pemegang kuasa Cengcu kami yang diserahi mengawasi berbagai perusahaan di luar sana, setiap pagi mereka pasti datang memberi laporan kepada Cengcu mengenai perkembangan perusahaan, selain orang-orang ini biasanya Cengcu kami tidak menerima tamu,” demikian tutur centing itu.

“Ada sementara tamu mungkin mau tak mau harus diterima Cengcu kalian,” ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Sudah tentu centing itu tidak paham maksud yang terkandung di balik ucapan Siau-hi-ji itu, jawabnya dengan tertawa, “Memangnya ada orang yang berani sembarangan menerjang masuk perkampungan kami ini?”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Bagaimana kalau tamu itu Toan Hap-pui adanya?”

“Huh, babi gemuk itu maksudmu?” jengek si centing. “Sudah lama Cengcu kami hendak memotong dagingnya untuk dibuat Ang-sio-bak.”

“O, kiranya Cengcu kalian bermusuhan besar dengan Toan Hap-pui?” tanya Siau-hi-ji.

“Soalnya persaingan, usaha Cengcu kami mestinya maju dan lancar, tapi sejak kedatangan Toan Hap-pui, dengan segala daya upaya dia selalu mengacau dan merusak.”

“Cara bagaimana dia mengacau dan merusak?”

“Misalnya di mana Cengcu kami ada toko, di situ pula dia membuka toko yang serupa, setiap langganan Cengcu kami selalu diserobot olehnya, maka permusuhan Thian-hiang-tong kami dengan Toan Hap-pui boleh dikatakan adalah sedalam lautan.”

“Sungguh tidak nyana bahwa dunia dagang juga seperti medan perang,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tampaknya permusuhan di kalangan dagang akan jauh lebih keras dari pada musuh di medan perang.”

“Orang dagang harus mengutamakan kejujuran, tapi cara kotor dan rendah seperti Toan Hap-pui itu pada hakikatnya bukan cara manusia,” ucap si centing.

Maklumlah, orang dagang pada jaman dahulu umumnya mengutamakan kejujuran, akan tetapi Toan Hap-pui ternyata memiliki otak dagang modern seperti jaman kini, dia menggunakan akal dagang bersaing dan main monopoli seperti sekarang untuk mengalahkan lawannya, dengan sendirinya caranya ini menimbulkan rasa benci pihak lawan.

Dalam pada itu Tio Hiang-leng sudah menyelesaikan urusannya dengan para pegawainya. Ia menghirup teh yang sudah tersedia, lalu memberi perintah agar pelayan mengundang para tamunya ke ruangan tamu ini untuk minum.

Siau-hi-ji putar kayun dulu ke perkampungan ini, sekembalinya ia lihat Thi Bu-siang, Lo Kiu dan Lo Sam sudah berada di ruangan tamu dan asyik membicarakan kejadian aneh semalam.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Jika taksiranku tidak meleset, mungkin sudah saatnya dia akan tiba!” Maka ia lantas duduk di atas batu yang berada di bawah pohon yang rindang.

Benar juga, tidak lama kemudian terdengarlah di pintu luar sana ada suara ramai, seorang berseru, “Antarkan kartu nama ini kepada Cengcu kalian, katakan Cayhe minta bertemu.”

Terdengar penjaga menjawab, “Maaf, sudah menjadi kebiasaan Cengcu kami di waktu pagi men ….” Mendadak ucapannya berhenti sampai di sini, seperti orang yang kaget demi melihat nama yang tertulis pada kartu yang disodorkan.

“Itu dia sudah datang!” demikian Siau-hi-ji bergumam dengan girang dan rada tegang pula demi mendengar suara orang tadi.

Dalam pada itu buru-buru si penjaga menyampaikan kartu nama itu kepada sang majikan. Mula-mula Tio Hiang-leng mengerut kening karena kunjungan tamu di waktu pagi, tapi demi membaca kartu nama itu, seketika ia pun berubah sikap dan berseru, “He, Kang lam-tayhiap Kang Piat-ho datang!”

Serentak Thi Bu-siang berbangkit, belum lagi dia buka suara, di luar ruangan sudah ada orang berseru lantang dengan tertawa, “Kang Piat-ho mohon bertemu, masa Cengcu tidak sudi menemuinya?”

Dua orang tampak melangkahi undak-undakan batu ruangan tamu, orang yang berada di depan gagah angker, itulah dia Kang Piat-ho. Di belakangnya adalah seorang pemuda mahacakep. Lebih belakang lagi ada empat lelaki menggotong sebuah joli indah berkain beludru hijau, pintu joli tertutup tirai, entah siapa yang duduk di dalam joli itu.

Cepat Tio Hiang-leng memburu maju untuk menyambut, sapanya sambil memberi hormat, “Cayhe tidak tahu akan kunjungan Kang-tayhiap sehingga tidak menyambut lebih dulu, harap sudi memberi maaf.”

“Waktu berkunjung kami ini kurang tepat, kamilah yang perlu minta maaf kepada Cengcu,” jawab Kang Piat-ho tertawa.

Setelah mempersilakan duduk tetamunya, dilihatnya air muka si pemuda cakep itu bersungut, ketika sorot mata kedua orang beradu, tanpa terasa Tio Hiang-leng mengkirik, ia menyapa, “Saudara ini entah ….”

“Ini Hoa-kongcu, Hoa Bu-koat,” sela Kang Piat-ho dengan tersenyum.

Dia sengaja memperkenalkan Hoa Bu-koat dengan tawar, tapi bagi Tio Hiang-leng, Thi Bu-siang dan kedua saudara Lo itu menjadi terkesiap demi mendengar nama ini.

Setelah memandang sekejap, Thi Bu-siang berkata dengan tertawa, “Kiranya saudara ini adalah Bu-koat Kongcu yang termasyhur akhir-akhir ini, ternyata memang ksatria muda yang cakap, sungguh beruntung dapat berjumpa.”

“Terima kasih,” ucap Bu-koat dengan dingin-dingin saja.

“Dan inilah Thi-locianpwe,” dengan tertawa Tio Hiang-leng juga memperkenalkan jagonya. “Mungkin kalian sudah lama saling kenal, tapi kedua saudara Lo ini ….” Dengan sendirinya ia pun membumbu-bumbui lebih banyak ketika memperkenalkan kedua orang gemuk ini.

Tapi Hoa Bu-koat seperti tidak mendengarkan uraiannya, yang menarik perhatiannya adalah hidungnya yang sedang mencium-cium sesuatu bau tertentu, mendadak lengan jubahnya mengebas, dengan enteng dia melesat ke sana.

Semua orang cuma merasa ada bayangan berkelebat, tahu-tahu Hoa Bu-koat sudah melayang ke ruang samping, waktu bayangan berkelebat pula, cepat sekali dia sudah melayang balik, tangannya meraup segenggam obat dan air mukanya tampak pucat.

“Ternyata betul terdapat di sini,” demikian ucapannya dengan suara parau.

“Apakah obat-obatan ini milik Hoa-kongcu?” tanya Tio Hiang-leng. “Cayhe lagi bingung karena tidak tahu siapa yang mengirimkannya kemari, semalam ….”

“Apakah Cengcu benar-benar tidak tahu siapa pengirimnya?” tiba-tiba Kang Piat-ho menukas dengan senyum tak senyum.

Tio Hiang-leng memandangnya-sekejap, kemudian memandang Hoa Bu-koat pula, dari air muka pemuda itu ia tahu di balik persoalan ini pasti menyangkut sesuatu urusan gawat Maka dengan menyengir kikuk ia menjawab, “Se…sebenarnya bagaimana duduk perkaranya?”

“Duduk perkara ini sebenarnya juga sangat sederhana,” kata Kang Piat-ho. “Ada orang meracuni bakal istri Hoa-kongcu, tapi sengaja memborong habis semua obat penawar racun di setiap toko obat. Nah, bagaimana duduk perkaranya menurut pendapat Tio-cengcu?”

“Jelas tujuannya hendak menamatkan hidup calon istri Hoa-kongcu,” kata Tio Hiang-leng.

“Betul, dan dengan demikian, orang yang sengaja menguras semua obat penawar di pasaran itu bukankah sama dengan orang yang menaruh racun itu?” tanya Kang Piat-ho.

“Ya, dengan sendirinya,” jawab Tio Hiang-leng.

“Bagus,” ucap Kang Piat-ho dengan tersenyum.

Setelah berpikir, seketika air muka Tio Hiang-leng berubah pucat, serunya, “He, jadi obat…obat penawar yang dimaksud itu kini berada di tempatku ini?”

“Betul,” kata Kang Piat-ho tegas.

“Tapi…tapi Cayhe benar-benar tidak tahu seluk-beluk urusan ini ….” seru Tio Hiang-leng sambil melonjak. “Obat-obatan itu baru kemarin dikirim kemari.”

“Siapa pengirimnya?” tanya Kang Piat-ho.

“Cayhe juga tidak tahu,” jawab Tio Hiang-leng.

“Tidak tahu?” jengek Kang Piat-ho. “Masa ada orang tanpa sebab mau mengirimkan obat-obatan yang bernilai mahal ini secara cuma-cuma kepada orang lain? Tio-cengcu bicara cara begini, memangnya kau anggap diriku ini anak kecil?”

Bahwasanya kejadian ini memang aneh dan sukar dipercaya kalau diceritakan, dengan sendirinya Tio Hiang-leng tidak dapat memberi penjelasan lebih lanjut, hanya keringat dingin saja memenuhi dahinya.

Mendadak Thi Bu-siang berdiri dan berseru, “Lohu bersedia menjamin Tio-cengcu dengan kehormatanku bahwa obat-obatan itu memang betul kiriman orang lain, Tio-cengcu memang betul tidak tahu-menahu siapa pengirimnya.”

Kang Piat-ho meliriknya sekejap, katanya dengan acuh, “Kalau Tio-cengcu tidak tahu, kurasa saudara pasti tahu.”

“Ap…apa maksudmu?” seru Thi Bu-siang dengan, gusar.

Kang Piat-ho hanya mendengus saja dan tidak menanggapinya, bahkan tidak lagi memandang jago tua itu.

Pada saat inilah baru Hoa Bu-koat menarik diri dari dalam joli, kiranya yang berada di dalam joli adalah Thi Sim-lan, Hoa Bu-koat telah menyuapi Thi Sim-lan dengan obat penawar yang diambilnya dari ruangan dalam tadi.

Cara telan obat penawar mentah-mentah begitu meski tidak semanjur kalau minum obat cara biasa, tapi sedikitnya dapat menahan menjalarnya racun, apalagi ditambah bantuan tenaga dalam Hoa Bu-koat yang mahakuat, hanya sebentar saja di dalam joli lantas terdengar suara orang merintih perlahan.

Hoa Bu-koat menghela napas lega, perlahan-lahan ia membalik tubuh, sorot matanya menyapu muka setiap orang, begitu tajam sinar matanya sehingga membuat orang yang ditatap olehnya merasa seram.

“Siapa yang menaruh racunnya?” dengan sekata demi sekata kemudian Hoa Bu-koat bertanya.

“Cayhe…Cayhe benar-benar tidak tahu,” ucap Tio Hiang-leng sambil mengusap keringat di dahinya.

“Ini pasti ada orang sengaja memfitnah!” teriak Thi Bu-siang dengan suara keras.

Kang Piat-ho memandang Lo Sam dan Lo Kiu sekejap, tiba-tiba ia berkata, “Memangnya obat-obatan ini bukan dibeli oleh Thi-loenghiong dan Tio-cengcu?”

Lo Kiu dan Lo Sam saling pandang sekejap, lalu Lo Kiu menjawab dengan perlahan, “Kami bersaudara tidak tahu apa-apa.”

“Secara gamblang kalian mengetahui, semalam juga kalian menyaksikan sendiri, mengapa bilang tidak tahu apa-apa?” bentak Thi Bu-siang gusar.

“Kami bersaudara memang menyaksikan obat-obatan itu diantar sendiri ke sini dan tidak tahu siapa pengirimnya, bisa jadi pengirimnya ialah Ong Ji, atau Li Si, atau mungkin juga ….” Lo Sam memandang Thi Bu-siang sekejap dan tidak meneruskan lagi.

“Atau mungkin juga dilakukan oleh anak murid Thi-loenghiong, begitu bukan?” tanya Kang Piat-ho.

Lo Sam dan Lo Kiu kembali saling pandang dan tidak menjawab seakan-akan mengakui kebenarannya secara diam.

Sorot mata Kang Piat-ho lantas menatap tajam ke arah Thi Bu-siang, lalu bertanya dengan kalem, “Apalagi yang dapat saudara katakan?”

Thi Bu-siang melotot gusar kepada kedua Lo bersaudara, bentaknya bengis, “Mengapa kalian berani bicara begitu?”

“Kami bicara sejujurnya,” ucap Lo Kiu.

“Kalian bersaudara sungguh orang yang terpuji, sungguh Cayhe sangat kagum,” ujar Kang Piat-ho. “Tapi Thi-loenghiong ternyata…Hehe!”

Thi Bu-siang menjadi murka, bentaknya, “Memangnya Lohu kenapa?”

Kang Piat-ho tidak menjawab, ia mendekati joli dan memanggil perlahan, “Nona Thi! Apakah nona Thi sudah siuman?”

Terdengar suara rintihan Thi Sim-lan di dalam joli, “O, aku…aku kedinginan!”

“Apakah nona tahu siapa yang meracuni dirimu?” tanya Kang Piat-ho.

Pertanyaan ini membuat orang merasa tegang, semuanya ingin tahu bagaimana jawabnya.

Terdengar Thi Sim-lan menjawab dengan suara lemah, “Apakah aku…aku keracunan? Aku pun tidak … aku tidak tahu siapa yang menaruh racun ….”

Baru saja Tio Hiang-leng merasa lega terdengar Thi Sim-lan telah menyambung pula, “Yang jelas habis kumakan dua biji kurma antaran Thi Bu-siang, sekujur badan lantas kedinginan hingga menggigil, hanya sebentar saja aku lantas tidak sadarkan diri.”

Keterangan ini membuat air muka semua orang berubah.

“Meng…mengapa kau menista orang?” seru Thi Bu-siang.

“Jika saudara tetap menyangkal, apakah sikap ini terhitung lelaki sejati?” kata Kang Piat-ho.

“Kentut busuk!” teriak Thi Bu-siang gusar. “Selamanya Lohu tidak kenal nona ini dan tiada permusuhan apa-apa, untuk apa kuracuni dia?”

“Bagaimana pendapatmu atas jawaban ini, Hoa-kongcu?” tanya Kang Piat-ho kepada Hoa Bu-koat.

Betapa pun Hoa Bu-koat memang bukan pemuda biasa, dalam keadaan demikian dia masih tetap sabar, walaupun air mukanya tampak bersungut, tapi tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan kalem, “Sebelum kita bertindak harus membuat mereka menyerah lahir batin.”

“Ya, pantasnya memang harus begitu,” ucap Kang Piat-ho dengan tertawa, mendadak ia memanggil salah seorang pemikul joli, “Coba kemari!”

Pemikul joli itu mengiakan dan mendekat, katanya sambil membungkuk tubuh, “Entah ada pesan apa Kang-tayhiap?

Sudah tentu semua orang tidak tahu untuk apakah Kang Piat-ho memanggil seorang kuli tukang pikul joli pada detik yang genting ini. Tertampak Kang Piat-ho menyeringai dan bertanya kepada pemikul joli itu, “Apa yang dikatakan Thi-locianpwe barusan ini sudah kau dengar bukan?”

“Ya, hamba mendengar dengan jelas,” sahut pemikul joli.

“Coba katakan, adakah alasannya mencelakai nona Thi?” tanya Kang Piat-ho pula.

“Tidak ada,” jawab pemikul joli.

Maka hadirin jadi saling pandang dengan bingung, mereka merasa Kang Piat-ho sengaja main teka-teki, ada pula yang merasa Kang Piat-ho ini ingin untung malah menjadi buntung.

Tapi Kang Piat-ho sendiri tidak menjadi marah oleh jawaban si pemikul joli, sebaliknya ia malah tertawa dan bertanya pula, “Jika demikian, jadi bukan Thi-locianpwe yang menaruh racunnya?”

“Justru Thi-locianpwe yang menaruh racun itu,” kata si pemikul joli.

“Lho, mengapa sekarang kau bilang Thi-locianpwe yang menaruh racunnya?” kata Kang Piat-ho.

“Sebabnya, meski beliau tiada maksud mencelakai nona Thi, tapi ada niat membinasakan Hoa-kongcu,” jawab pemikul joli. “Jadi sasaran racunnya sebenarnya Hoa-kongcu, hanya saja nona Thi yang ketiban pulung.”

Kang Piat-ho pura-pura mengernyitkan kening dan bertanya pula, “Selamanya Thi-locianpwe juga tiada permusuhan apa pun dengan Hoa-kongcu, untuk apa beliau meracuni Hoa-kongcu?”

“Ya, tepat, untuk apa Lohu meracun orang yang tak kukenal?” tukas Thi Bu-siang dengan murka.

Tapi pemikul joli itu menjawab dengan tenang, “Maksud tujuan membunuh orang hanya ada beberapa alasan, misalnya iri, dendam, atau mungkin lantaran diri sendiri berbuat sesuatu dosa yang tak boleh diketahui orang lain ….”

Dengan gusar Thi Bu-siang membentak, “Selama hidupku selalu bertindak sesuatu dengan terang-terangan, masa kau budak keparat ini berani menista diriku berbuat sesuatu yang takut diketahui orang?!”

Bentakan Thi Bu-siang ini menggelegar sehingga para centing Te-leng-ceng sama pucat ketakutan. Tapi pemikul joli ini ternyata tidak jeri sedikit pun, dengan tenang ia malah tertawa dan menjawab, “Sekali-kali hamba tidak bilang begitu, Thi-locianpwe sendirilah yang berkata demikian.”

Bukan saja mulutnya tajam, bahkan nyali pemikul joli itu pun besar, malahan nada bicaranya yang terdengar menghormat itu terasa menusuk perasaan pula seakan-akan tidak mau kalah menghadapi Thi Bu-siang.

Semua orang menjadi heran bahwa seorang pemikul joli “Kang-lam-tayhiap” begitu lihai. Akan tetapi Siau-hi-ji sudah dapat melihat bahwa “pemikul joli” ini seperti orang yang sudah sangat dikenalnya.

Dalam pada itu, saking gusarnya Thi Bu-siang menjadi tertawa keras sambil menengadah, teriaknya, “Bagus, bagus, di hadapan kawan sebanyak ini Lohu justru ingin mendengar tuduhan budak keparat macam kau ini mengenai perbuatanku yang takut diketahui orang?”

“Perbuatan yang tidak boleh dilihat orang juga terdiri dari macam-macam,” ucap pemikul joli.

“Umpamanya pencuri ayam atau sambar jemuran, ini terhitung kejahatan kecil, kalau merampok uang kiriman, membunuh orang, ini tergolong kejahatan besar.”

“Mak…maksudmu Lohu pernah merampok uang kiriman siapa?” bentak Thi Bu-siang.

“Umpamanya milik Toan Hap-pui, Toan-loya,” jawab pemikul joli.

“Toan Hap-pui?” teriak Thi Bu-siang dengan parau. “Kau…kau ….”

“Setiap penduduk kota ini tahu bahwa Toan-loyacu adalah saingan keras Tio-cengcu,” kata si pemikul joli. “Kalau harta Toan-loyacu yang disiapkan untuk membeli barang dagangan dirampok sehingga barang dagangannya terlambat datang, bukankah Tio-cengcu akan kehilangan saingan berat sehingga dapat berusaha dengan leluasa, bahkan menaikkan harga dan untung besar.”

“Sekalipun begitu, lalu ada sangkut-paut apa dengan diriku?” teriak Thi Bu-siang gusar.

“Jika Thi-locianpwe berhasil merampas harta kiriman Toan-loyacu, untuk jasa besar ini tentu Tio-cengcu akan memberi imbalan setimpal, bahkan harta rampasan itu pun dapat dinikmati oleh Thi-locianpwe,” ucap si pemikul joli dengan tertawa.

Sungguh hampir meledak dada Thi Bu-siang saking murkanya, teriaknya, “Bagus, bagus, apalagi? ayo teruskan!”

“Tentunya Thi-locianpwe mengira peristiwa ini takkan diketahui setan sekalipun, andaikan ada orang Kangouw yang menyelidiki kejadian ini juga takkan mencurigai Thi-locianpwe,” si pemikul joli tertawa, lalu menyambung pula, “Di luar dugaan, Toan-loyacu ternyata dapat mengundang Hoa-kongcu kemari, dengan sendirinya Thi-locianpwe juga tahu Hoa-kongcu bukan tokoh sembarangan dan tentu khawatir peristiwa ini dibongkar oleh Hoa-kongcu, jika demikian jadinya, maka kelak Thi-locianpwe pasti tiada muka lagi buat berkecimpung di dunia Kangouw, sebab itu pula harus turun tangan lebih dulu, Hoa-kongcu harus dibinasakan sebelum dia bertindak sesuatu.”

Cara bicara pemikul joli makin lama makin mencolok, semula masih pakai istilah ‘umpama’ dan ‘misal’ segala, tapi sekarang cara terang-terangan ia menuduh Thi Bu-siang dengan pasti.

Tentu saja tidak kepalang murka Thi Bu-siang, bentaknya, “Budak keparat, biar kuhancurkan dulu mulutmu ini!” Berbareng itu ia menubruk maju, di mana angin pukulannya menyambar, kontan pipi kanan kiri tukang pikul joli itu hendak ditempelengnya.

Thi Bu-siang adalah tokoh dunia persilatan daerah Sam-siang, dengan sendirinya ilmu silatnya bukan jago pasaran biasa. Sekarang dia melancarkan serangan lihai itu terhadap seorang kuli tukang pikul joli, ibaratnya elang menyambar kelinci, semua orang menyangka serangannya pasti akan berhasil dengan mudah.

Anehnya, Kang Piat-ho berdiri tepat di sebelah tukang pikul joli itu, tapi dia tetap diam saja meski menyaksikan anak buah sendiri hendak ditempeleng orang.

Maka terdengar suara “plak” yang keras disertai suara raungan dan bayangan seorang lantas mencelat. Ternyata secara keras tukang joli itu telah menangkis pukulan Thi Bu-siang, bahkan setelah adu tangan, yang mencelat bukan tukang pikul itu melainkan Thi Bu-siang sendiri malah.

Keruan semua orang menjerit kaget.

Sebenarnya Siau-hi-ji sedang merenungkan siapakah sebenarnya kuli pikul itu, tapi kini setelah melihat gaya pukulannya ternyata ilmu silat golongan murni, seketika tergerak pikirannya, “Ah, kiranya dia!”

Dilihatnya Thi Bu-siang terpental hingga beberapa meter jauhnya, waktu hendak berdiri ternyata masih sempoyongan, untung Tio Hiang-leng memburu maju untuk memayangnya sebelum dia jatuh. Walaupun begitu wajah Thi Bu-siang yang merah itu pun berubah menjadi pucat dan dada berempas-empis, jelas terluka dalam yang tidak ringan.

“Betapa pun Thi-locianpwe sudah tua,” ucap Kang Piat-ho dengan tersenyum.

“Kau…kau ….” gemetar suara Thi Bu-siang hingga tak sanggup melanjutkan.

“Apa yang ingin Cianpwe ucapkan, Cayhe siap mendengarkan,” kata Kang Piat-ho.

“Cayhe ingin tanya pula, coba jelaskan, apabila benar Thi-locianpwe yang menaruh racun, mengapa waktu mengantarkan oleh-oleh itu dia memakai namanya sendiri secara terang-terangan dan mengapa pula obat-obat penawarnya disimpan di sini, memangnya dia sengaja menunggu kedatangan kalian untuk menggerebeknya dengan bukti-bukti nyata?” tanya Tio Hiang-leng.

“Jika manusia biasa tentu takkan bertindak begini,” si tukang joli tadi mendahului bicara, “Tapi Thi-locianpwe sudah berpuluh tahun malang melintang di dunia Kangouw dengan pengalaman yang luas, dia sengaja berbuat begini agar supaya orang lain tidak percaya bahwa dia yang melakukan tindakan keji ini.”

“Tapi…tapi ….” Tio Hiang-leng tergagap-gagap juga. Biasanya ia pintar bicara dan banyak akalnya, tapi sekarang ternyata tak dapat menandingi debatan seorang kuli tukang pikul.

“Urusan sudah kadung begini, bagaimana pendapat Hoa-kongcu?” tiba-tiba Kang Piat-ho berpaling ke arah Hoa Bu-koat.

Perlahan Hoa Bu-koat menyapu pandang semua hadirin, akhirnya dia menatap tajam Thi Bu-siang dan Tio Hiang-leng, lalu berkata, “Saat ini tepat lohor, biarlah kuberi tempo setengah hari lagi bagi kalian berdua, boleh kalian berpikir cara bagaimana menyelesaikan persoalan ini. Petang nanti aku akan datang lagi ke sini.” Habis berkata ia angkat tangan memberi tanda dan melangkah keluar.

“Selama ini Cayhe juga kagum akan nama kebesaran Thi-locianpwe dan ingin sekali berkenalan, tak tahunya…Ai!” setelah menghela napas gegetun, segera Kang Piat-ho juga melangkah pergi bersama kuli joli tadi.

Melihat mereka pergi begitu saja, semua orang jadi melongo, entah bersyukur, entah khawatir.

Diam-diam Siau-hi-ji juga gegetun, pikirnya, “Betapa pun perginya kedua orang ini benar-benar sikap seorang pendekar sejati, cuma perginya Hoa Bu-koat itu timbul dari lubuk hati yang murni sedangkan Kang Piat-ho hanya sengaja berlagak demikian.”

Setelah menyaksikan kepergian Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho, sekonyong-konyong Thi Bu-siang menggerung, “Sungguh bikin gusar Lohu ….” dan mendadak darah segar tersembur dari mulutnya.

Kiranya dia telah terluka dalam yang parah akibat adu pukulan tadi, cuma dia bertahan sekuatnya, makanya sebegitu lama dia tidak ikut bicara, sebab khawatir tumpah darah dan kehilangan muka.

Pedih juga hati Tio Hiang-leng melihat keteguhan hati Thi Bu-siang meski sudah berusia lanjut. Cepat ia berkata, “Silakan Cianpwe istirahat dulu ke ruang belakang untuk merawat lukamu ….”

“Petang nanti juga akan tiba ajal kita, apa gunanya sekalipun luka ini dapat disembuhkan?” ujar Thi Bu-siang dengan senyum pilu.

“Rasanya juga belum…belum tentu akan terjadi, mereka…mereka kan sudah pergi,” kata Tio Hiang-leng.

“Meski mereka sudah pergi, memangnya Lohu dapat melarikan diri?” kata Thi Bu-siang. “Ai, tidak nyana kehormatan selama hidupku ini akhirnya harus mati dengan hina cara begini.”

Tio Hiang-leng menunduk sedih dan tidak tahu apa yang harus dikatakan pula. Ia tahu dengan kedudukan Thi Bu-siang, orang tua itu lebih suka mati daripada melarikan diri.

“Urusan sudah begini, Lohu sudah menghadapi jalan buntu, daripada menantikan tibanya ajal, lebih baik kuhabisi diriku sendiri saja!” ucap Thi Bu-siang pula dengan menengadah, belum habis ucapannya air mata sudah bercucuran. Ksatria yang sudah lanjut usia harus menghadapi jalan buntu, sungguh mengharukan dan menimbulkan rasa simpatik orang.

“Hendaklah Cianpwe jangan bertindak demikian,” kata Tio Hiang-leng khawatir, “mungkin urusan masih bisa berubah ….”

“Dalam keadaan demikian, jelas kita tidak dapat membantah terkecuali kalau dapat menemukan biang keladi yang sesungguhnya ….” ujar Thi Bu-siang. “Tapi dunia seluas ini, ke mana biang keladi itu akan dicari? Apalagi kita hanya diberi waktu setengah hari saja.”

“Setengah hari…sampai petang nanti ….” demikian Tio Hiang-leng bergumam dengan murung. Waktu ia memandang keluar, sang surya sudah tampak mulai bergeser ke barat.

“O, Kang Piat-ho! Wahai Hoa Bu-koat!” seru Thi Bu-siang sambil menengadah. “Lohu juga tidak menyalahkan kalian, urusan sudah sejauh ini…Hkhk, lumrah juga jika kalian bertindak begini…Hk, hk…kalian telah sudi memberi tempo setengah hari bagiku sudah terhitung baik hati dan berbudi luhur. Ya, Lohu…hk-hk-hk…Hk-hk!” begitulah sambil berkata ia pun terbatuk-batuk sehingga pakaiannya penuh berlepotan darah.

Dengan setengah bujuk dan setengah paksa Tio Hiang-leng menyuruh anak buahnya membawa jago tua itu ke ruang belakang, lalu ia pandang Lo Sam dan Lo Kiu, katanya dengan pedih, “Apakah kalian bersaudara juga tidak dapat memberi sesuatu petunjuk bagiku?”

“Thi-locianpwe teramat sedih dan berduka, menurut pendapatku, persoalan ini sebenarnya cukup sederhana,” kata Lo Kiu dengan tersenyum.

Tio Hiang-leng bergirang, cepat ia tanya, “Lekas memberi petunjuk.”

Lo Kiu berlagak berpikir, lalu Tio Hiang-leng dibisikinya, “Asalkan ….” karena suasana di ruangan sedang ribut, maka siapa pun tidak akan mendengar apa yang dibisikinya.

Akan tetapi Siau-hi-ji sempat menyusup masuk di tengah keributan itu, orang lain tak dapat mendengar apa yang dikatakan Lo Kiu itu, namun betapa tajam indera pendengaran anak muda itu ditambah lagi dia melihat jelas gerak bibir orang, maka hampir sebagian besar apa yang dibisikkannya kepada Tio Hiang-leng itu dapat ditangkapnya.

Rupanya Lo Kiu berkata, “Urusan sudah begini, asalkan kita turun tangan lebih dulu, kita tawan dulu Toan Hap-pui dan anak perempuannya agar Kang Piat-ho tidak berani sembarangan bertindak.”

Mendengar usul ini, sungguh Siau-hi-ji ingin, mendekati orang dan memberi beberapa kali gamparan. Usul macam apa ini? Pada hakikatnya hendak menjebloskan orang ke jurang.

Tertampak Tio Hiang-leng berpikir sejenak, lalu berkata, “Wah, cara demikian tidak boleh dilakukan, jika bertindak begini, tentu setiap orang Kangouw akan lebih yakin bahwa orang yang merampok harta kiriman dan menaruh racun adalah pihak kita dan tentu kita lebih-lebih tidak dapat membantah.”

Diam-diam Siau-hi-ji memuji tuan rumah yang bukan orang bodoh ini.

Tapi Lo Kiu lantas membisiki Tio Hiang-leng pula, “Jika Cengcu tidak mau melaksanakan usulku ini, maka untuk menyelamatkan diri malam ini bagi Cengcu mungkin lebih sulit daripada terbang ke langit, suatu dan lain mengingat ilmu silat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat yang mahatinggi itu.”

“Ya, apa boleh buat kalau begitu?!” Tio Hiang-leng tersenyum getir. Setelah termenung sejenak, lalu ia menyambung, “Cuma begundal Toan Hap-pui juga tidak sedikit, kalau kita hendak menawannya dari tempatnya mungkin juga bukan pekerjaan mudah, untuk ini diperlukan orang berkepandaian mahatinggi.”

“Untuk ini Cengcu tidak perlu khawatir,” ucap Lo Kiu dengan tersenyum.

Segera Lo Sam menyambung, “Saat ini Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho pasti tidak menyangka akan tindakan kita ini, dengan sendirinya mereka pun tidak pernah berpikir menjaga Toan Hap-pui dengan ketat. Selain kedua orang ini, rasanya yang lain-lain tidak perlu dikhawatirkan lagi.”

“Memangnya kedua saudara Lo sudi memberi bantuan?” tanya Tio Hiang-leng dengan girang.

“Kami telah mendapat perlakuan baik dari Cengcu, masa untuk persoalan begini saja kami tinggal diam?” ucap Lo Kiu.

“Atas budi kebaikan kalian, sungguh Cayhe tidak tahu cara bagaimana harus membalasnya,” kata Tio Hiang-leng dengan menjura.

Lekas Lo Kiu memegang pundak tuan rumah, katanya “Sudahlah, Cengcu jangan terlalu banyak adat.”

Sudah tentu, semua itu dapat disaksikan Siau-hi-ji dengan jelas, diam-diam ia berpikir, “Keji amat kedua saudara Lo ini, dengan muslihat mereka ini, jelas suasana akan bertambah kacau dan persoalan akan tambah ruwet, dengan demikian kalian pun dapat mengail ikan di air keruh.”

Dalam pada itu terdengar Lo Kiu lagi berkata, “Kalau mau bertindak harus cepat, sekarang juga kami lantas berangkat.”

“Apakah kalian memerlukan sesuatu, silakan bicara saja,” kata Tio Hiang-leng.

“Tidak ada, cukup Cengcu mengirimkan delapan centing dan membawa dua buah joli untuk ikut kami ke sana.”

“Ini mudah ….” segera Tio Hiang-leng memberi perintah, serentak beberapa centing tampil ke muka.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, segera ia pun maju. Dalam keadaan kacau dan bingung, tentu tiada orang lagi yang memperhatikan siapakah Siau-hi-ji ini, apalagi menggotong joli bukan pekerjaan enak, kalau ada orang mendahului, tentu saja yang lain tinggal diam.

Oleh karena itu Siau-hi-ji lantas menjadi tukang pikul joli darurat.

Ketika dua joli sudah disiapkan, segera Lo Kiu mendahului masuk ke salah sebuah joli, katanya dengan tertawa, “Biarkan kami bersaudara menumpang joli ini, nanti giliran Toan Hap-pui dan anak perempuannya yang menjadi penumpang, mungkin mereka berdua tidak lebih ringan daripada kami.”

Setelah duduk anteng di dalam joli dan menutup tirainya, segera ia berseru kepada para centing pemikul, “Apakah kalian tahu jalannya ke perkampungan Toan Hap-pui?”

Salah seorang centing menjawab dengan tertawa, “Sudah tentu tahu, beberapa kali kami berniat ke sana untuk membakar kampungnya.”

“Baik, berangkatlah sekarang,” kata Lo Kiu.

Tujuh orang centing ditambah Siau-hi-ji lantas melarikan dua joli itu ke arah perkampungan Toan Hap-pui.

Tidak terlalu lama, dari jauh tampaklah perkampungan Toan Hap-pui yang megah itu. Terlihat di depan pintu gerbang duduk tujuh atau delapan lelaki kekar, di dalam pintu juga duduk beberapa orang lagi.

“Itulah kandang babi Toan Hap-pui, apa yang harus kami kerjakan sekarang, Lo-ya?” tanya salah seorang centing.

“Masuk saja langsung!” kata Lo Kiu.

Siau-hi-ji sampai terkejut mendengar ucapan ini, pikirnya, “Masa mereka tidak takut kepada Kang Piat-ho.”

Dengan sendirinya centing tadi pun melengak, cepat ia berkata, “Wah, tidak sedikit anjing penjaga pintu Toan Hap-pui, kalau kami kena tergigit kan berabe!?”

“Langsung saja masuk ke sana, kujamin kawanan anjing penjaga itu takkan mampu menggigit kalian,” ucap Lo Kiu.

Mula-mula para centing itu saling pandang dengan ragu-ragu, akhirnya mereka tabahkan hati, sekali berteriak mereka terus menerjang ke depan.

Baru saja kedua joli itu sampai di depan pintu, seketika kawanan centing keluarga Toan memapaknya sambil membentak, “He, siapa kalian, mau apa? Berhenti! Lekas berhenti!” Timbul pula pikiran Siau-hi-ji, segera ia balas membentak, “Kami hendak menggotong babi ke sini, lekas enyah!”

Sudah tentu tujuan Siau-hi-ji adalah mengacau agar Kang Piat-ho dipancing keluar dan usaha Lo Kiu akan gagal berantakan. Mengenai Thi Bu-siang dia sudah merencanakan sesuatu akal untuk menolongnya.

Benar juga, para centing keluarga Toan lantas berteriak-teriak hendak mencegat, “Keparat, Setan alas! Apakah kalian cari mampus? ….”

Karena menggotong joli, dengan sendirinya para centing keluarga Tio tak dapat memberi perlawanan apabila sampai dilabrak musuh. Selagi mereka merasa khawatir, sekonyong-konyong terdengar suara mendesir beberapa kali, beberapa centing keluarga Toan yang memapak tiba itu kontan roboh terjungkal.

Orang lain tidak melihat apa-apa dan tahu-tahu para centing itu sudah terguling. Tapi mata Siau-hi-ji cukup tajam, ia lihat beberapa titik hitam menyambar keluar dari dalam joli, setiap centing itu kena satu dan kontan terguling. Cara turun tangan Lo Kiu ternyata tidak kenal ampun.

Diam-diam Siau-hi-ji terkesiap, sudah tentu para centing keluarga Tio lebih-lebih heran dan melenggong.

“Nah, anjing penjaga pintu tidak menggonggong lagi, kenapa kalian tidak lekas masuk ke sana?!” seru Lo Kiu dengan tertawa.

Serentak para centing mengiakan terus menerjang pula ke depan.

Sementara itu beberapa centing yang duduk di dalam itu pun memburu keluar sambil membentak-bentak, tapi baru saja beberapa langkah, kembali terdengar suara mendesir beberapa kali, beberapa orang itu pun roboh terkapar.

Sisa seorang tidak sampai melangkah keluar, melihat kejadian mengerikan ini, ia menjadi ketakutan, sekali menjerit ia terus lari ke dalam sambil berteriak, “Tolong! Di luar kedatangan setan!”

Siau-hi-ji pikir dengan teriakan centing itu pasti Kang Piat-ho akan terpancing keluar, mustahil kedua Lo bersaudara tidak memikirkan kemungkinan ini?

Tapi kedua Lo bersaudara itu ternyata tidak jeri akan munculnya Kang Piat-ho, malahan mereka sengaja berteriak, “Ayo kawan-kawan, maju terus!”

Kini para centing pemikul joli sudah penuh semangat dan tidak takut-takut lagi, serentak mereka lari secepat terbang.

Setelah menyusuri selapis halaman, di situ sudah siaga belasan orang bersenjata. Tapi begitu suara senjata rahasia mendesing pula, kontan belasan orang di depan roboh terguling lagi.

Seorang berbaju biru di antaranya berteriak jeri, “He, di dalam joli ada pembidik gelap, mundur dulu para kawan!”

Di tengah ramai-ramai itu tampak lima orang melompat keluar, semuanya membawa perisai, salah seorang lantas melemparkan sebuah perisai kepada si baju biru tadi dan berseru, “Robohkan dulu para penggotong joli itu!”

Serentak enam orang lantas menerjang maju. Dari langkah mereka yang enteng dan mantap itu, Siau-hi-ji menduga mereka pasti jago rumah tangga Toan Hap-pui. Kekayaan Toan Hap-pui dapat menandingi negara, dengan sendirinya guru silat yang dia sewa tidak mungkin kaum keroco.

Karena yang diincar adalah mereka, tentu saja para centing pemikul joli menjadi jeri. Tertampak keenam guru silat itu menerjang tiba dengan berlindung di balik perisai masing-masing, sesudah dekat seorang ayun golok terus membacok pemikul joli yang paling depan.

Untunglah pada saat gawat itu seorang telah berseru, “He, tahan dulu!”

Sesosok bayangan lantas melayang keluar dari joli, punggung centing pemikul joli itu ditariknya terus dilemparkan ke belakang joli sana.

Dengan sendirinya bacokan guru silat tadi mengenai tempat kosong, selagi dia melengak, terlihat seorang gemuk dengan muka bulat sudah berdiri di depannya dengan tertawa.

“Masa kalian tidak kenal diriku ini?” demikian si gemuk bertanya dengan tertawa sambil menuding hidung sendiri.

Para guru silat itu sama melenggong dan saling pandang, mereka mengira si gemuk ini mungkin teman sendiri, tapi sebelum mereka mengenalinya, dengan tertawa Lo Kiu sudah menyambung lagi, “Jika kalian tidak kenal diriku, terpaksa aku pun tidak kenal pada kalian!”

Sambil bicara tangannya terus mencengkeram ke depan, “krek”, dengan tepat pergelangan tangan guru silat yang bergolok tadi kena terpegang dan terpuntir patah.

Guru silat itu menjerit ngeri, golok terjatuh ke tanah, orangnya juga roboh kelengar.

Tentu saja kelima kawannya menjadi gusar dan terkejut pula, sebatang tombak, dua pedang dan dua golok serentak menyambar ke tubuh si gemuk alias Lo Kiu.

“Tak tersangka di sini juga ada anak murid Nyo-keh-jiang (tombak keluarga Nyo). Jurus ini tampaknya duga tidak lemah!” kata Lo Kiu dengan tertawa.

Pemain tombak itu memang betul anak murid Nyo-keh-jiang yang terkenal, diam-diam ia terkejut melihat sekali gebrak saja asal usulnya sudah dikenali lawan. Karena itu gerak tombaknya menjadi rada lamban. Di luar dugaan, hanya sedikit merandek itulah tahu-tahu ujung tombaknya sudah terpegang oleh tangan musuh.

Dengan tangan kanan memegang ujung tombak, tubuh Lo Kiu setengah memutar, ia gunakan gagang tombak lawan untuk menangkis pedang yang menyambar tiba dari kanan, berbareng ia menegur penyerang sebelah kiri yang berbaju biru, “Eh, apakah Peng Liam-co, Peng-suhu, baik-baik saja?”

Peng Liam-co yang disebut itu adalah ketua Toan-bun-to yang terkenal permainan goloknya, dan lelaki baju biru ini adalah murid kesayangannya. Ia jadi melengak demi mendengar lawan menyebut nama gurunya, segera ia menjawab, “Apakah kau kenal beliau?”

“Tidak kenal!” kata Lo Kiu dengan tertawa.

Baru habis ucapannya, kontan tangan kirinya menggaplok dada si baju biru sehingga tubuhnya yang besar itu mencelat jauh ke sana.

Pada saat itu juga guru silat yang bertombak itu pun merasakan arus tenaga yang mahakuat membanjir tiba dari gagang tombak, cepat ia hendak melepaskan tombaknya, namun sudah terlambat. “Crat”, gagang tombak menancap masuk dadanya. Ternyata tombaknya sendiri berbalik dijadikan senjata oleh lawan untuk menamatkan jiwanya.

“Sekarang kalian bertiga kenal diriku tidak?” tanya Lo Kiu pula sambil tepuk-tepuk tangannya yang kosong.

Keruan sisa tiga guru silat itu pucat ketakutan, betapa pun mereka tidak berani sembarangan menyerang lagi.

Hanya dalam sekejap saja disertai berseloroh ternyata Lo Kiu dapat membereskan tiga jago silat yang tangguh, betapa tinggi ilmu silatnya rasanya tidak perlu diperbincangkan, hanya mengenai ketajaman pandangannya yang mengenali setiap aliran persilatan serta betapa licinnya waktu bertempur dan betapa kejam caranya turun tangan, semua ini hampir tak pernah dilihat oleh Siau-hi-ji sejak dia meninggalkan Ok-jin-kok. Lo Kiu sekarang dengan Lo Kiu semalam ternyata berbeda seperti langit dan bumi.

Meski sejak semalam Siau-hi-ji sudah menduga orang gemuk ini pasti licik dan licin, tapi tak tersangka akan sedemikian licin dan begini kejam, rasanya tidak kalah daripada kesepuluh top penjahat yang diketahuinya.

Selagi Siau-hi-ji termenung sejenak, ketika guru silat itu tahu-tahu sudah roboh lagi satu, sisa dua orang menjadi gemetar ketakutan.

“Nah, sekarang kalian berdua tentunya kenal diriku bukan?” tanya Lo Kiu pula dengan tertawa.

Tanpa terasa kedua orang itu menjawab dengan suara terputus-putus, “Ya, ken…kenal ….”

“Kalian kenal siapa diriku ini?” tanya Lo Kiu pula.

Kedua orang saling pandang dengan bingung, lalu menjawab, “Engkau…engkau ….”

“Aku she Lo, namaku Lo Kiu.”

“O, ya, betul engkau ini tuan Lo Kiu.”

“Karena kalian kenal diriku, maka kuharap kalian suka membawaku menemui Toan Hap-pui, Toan-loyacu, sekarang juga!”

“Ini…ini ….” kembali kedua orang saling pandang dengan bingung.

“Memangnya urusan sekecil ini saja kalian tidak mau membantu?” tanya Lo Kiu dengan menarik muka.

Kedua orang itu berpikir sejenak, akhirnya mereka menghela napas dan menjawab, “Baiklah, silakan …” belum habis ucapan mereka, tiba-tiba terdengar suara mendesing dua kali, dua titik cahaya menyambar tiba dari belakang dan tepat mengenai punggung mereka, kontan mereka menjerit dan roboh.

Berbareng terdengar seorang tergelak-gelak dan berkata, “Toan-loyacu sudah kuundang keluar, kalian tidak diperlukan lagi!”

Tertampak Lo Sam muncul dengan langkah lebar, tangan kiri menarik Toan Hap-pui, tangan kanan menggandeng Toan-samkohnio.

Rupanya pada waktu Lo Kiu melabrak para guru silat tadi, diam-diam Lo Sam telah menerobos ke ruangan dalam. Meski Toan-samkohnio juga mahir ilmu silat, namun jelas bukan tandingan Lo Sam.

Para centing keluarga Toan ada tiga puluh atau empat puluh orang, dengan gamblang mereka menyaksikan Lo Sam menyeret keluar majikan dan tuan putri mereka, tapi tiada seorang pun yang berani turun tangan lagi.

Kedua Lo bersaudara yang misterius ini ternyata benar dapat menculik Toan Hap-pui dan anak perempuannya dengan mudah sekali, tentu saja Siau-hi-ji merasa heran dan terkesiap pula.

“Kang Piat-ho? Ke mana Kang Piat-ho? Memangnya dia sudah mampus?” demikian Siau-hi-ji tidak habis mengerti karena sejauh itu Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat tidak muncul.

Dilihatnya Toan Hap-pui pucat pasi ketakutan, Lo Sam menyuruhnya berjalan segera ia berjalan, disuruh naik joli, cepat ia masuk ke dalam joli. Samkohnio itu melotot, namun tidak mampu melawan, dengan cengar-cengir Lo Sam mendorong nona gede itu ke dalam joli yang sama dengan ayahnya.

“Nah, kawan-kawan, angkat joli dan berangkatlah!” kata Lo Sam.

“Joli ini tidak kecil, rasanya tidak terlalu sempit diduduki dua orang, hendaklah kawan-kawan bersusah payah sedikit!” sela Lo Kiu dan mereka berdua juga berjubel di dalam joli yang lain.

Sejak tadi kawanan centing keluarga Tio sudah memandang Lo Sam dan Lo Kiu seakan-akan malaikat dewata, betapa pun beratnya joli juga mereka rela menggotongnya, bukan saja tidak menggerundel, bahkan mereka merasa gembira.

Tapi benak Siau-hi-ji mulai bekerja pula. Ia heran mengapa Kang Piat-ho tidak muncul, jangan-jangan tidak berada di dalam. Padahal seharusnya mereka sudah pulang, mengapa tidak kelihatan? Apakah sebelumnya dia sudah tahu bakal tindakan Lo Sam dan Lo Kiu ini dan sengaja menyingkir lebih dulu?

Kalau Kang Piat-ho sengaja membiarkan Toan Hap-pui dan anak perempuannya diculik oleh Lo Sam dan Lo Kiu, maka persoalan akan semakin rumit dan sukar diselesaikan, Thi Bu-siang juga semakin tidak berdaya.

“Tapi dari mana Lo Sam dan Lo Kiu mengetahui Kang Piat-ho tidak berada di tempat Toan Hap-pui ini? Jangan-jangan kedua Lo bersaudara ini diam-diam juga bersekongkol dengan Kang Piat-ho?” demikian pikir Siau-hi-ji.

Diam-diam ia gegetun akan kelihaian Kang Piat-ho, di antara tipu kejinya tersembunyi pula tipu keji yang lain. Di dunia ini selain aku Kang Siau-hi mungkin tiada orang lain yang mampu membongkar tipu muslihatnya ini?

Tengah berpikir itulah, joli yang dipikulnya itu sudah membelok ke jalan yang lain. Tiba-tiba dari depan juga datang sebuah joli, salah seorang penggotongnya adalah si tukang pikul yang pintar bicara dan berkepandaian tinggi mengalahkan Thi Bu-siang itu. Di belakang joli menyusul dua penunggang kuda, yakni Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat.

Kembali Siau-hi-ji terkejut, tiba-tiba timbul akalnya, ia sengaja membentak mendadak, “Hai, lekas menyingkir joli di depan itu! Tahukah kalian siapa yang berada di joli kami ini?” Para centing keluarga Tio sudah kebat-kebit ketika melihat Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat muncul di depan, bentakan Siau-hi-ji semakin membikin mereka ketakutan.

Siapa tahu Kang Piat-ho benar-benar menyuruh joli yang dikawalnya itu memberi jalan.

Tanpa sungkan Siau-hi-ji menerjang maju dengan joli yang dipukulnya, ia sengaja menyerempet si tukang pikul lawan itu sambil membisiknya, “Aku kenal kau, apakah kau kenal aku?”

Tapi “tukang pikul” yang lihai itu berlagak seperti tidak mendengarnya, dengan tunduk kepala ia lewat begitu saja. Hanya Kang Piat-ho tampak melototi Siau-hi-ji sekejap ketika kedua pihak bersimpang jalan.

Setelah joli kedua pihak berlalu, para centing keluarga Tio merasa lega.

“Hm, dugaanku ternyata tidak keliru, Kang Piat-ho memang berkomplot dengan kedua orang she Lo ini, makanya ia pura-pura tidak tahu meski jelas mengetahui siapa yang berada di dalam joli ini,” demikian jengek Siau-hi-ji diam-diam.

Dengan tindakan kedua Lo bersaudara ini jelas Thi Bu-siang telah dijebloskan ke jurang yang lebih dalam, kini biarpun jago tua itu bilang dirinya tiada sangkut-paut dengan perampokan harta kiriman Toan Hap-pui juga tiada seorang pun yang mau percaya lagi padanya.

Bahwasanya Toan Hap-pui berhasil ditawan ke Te-leng-ceng, semangat para penghuni perkampungan itu, baik sang majikan maupun anak buahnya sama terbangkit, semuanya berseri gembira. Rupanya dendam mereka selama bertahun-tahun ini baru sekarang ini terasa terlampias. Meski Tio Hiang-leng merasakan tindakan ini rada-rada kurang enak, tapi terasa puas juga demi nampak musuh besarnya kini telah menjadi tawanannya.

Advertisements

1 Comment »

  1. LANJUT TERUS BACANYA

    Comment by Firman — 22/02/2013 @ 5:33 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: