Kumpulan Cerita Silat

18/04/2008

Pendekar Binal (08)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:09 pm

Pendekar Binal (08)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

“Apakah dia ini putramu?” tanya Ok-tu-kui sambil menuding Kang Giok-long.

“Betul, ia putraku yang tak becus,” jawab Kang Piat-ho dengan kesal.

“Ayah ksatria putra tak becus ….” Ok-tu-kui menukas sambil geleng-geleng kepala, mendadak ia menggebrak meja dan membentak, “Jika betul dia ini putramu, jadi kau ini mewakilkan dia untuk bertaruh denganku?”

“Jika Han-wan Siansing berminat, boleh juga Cayhe mengiringi kehendakmu,” jawab Kang Piat-ho.

Ok-tu-kui bergelak tertawa, katanya, “Dapat bertaruh besar-besaran dengan orang macam kau ini, sungguh suatu kesenangan bagiku.”

“Entah taruhan apa yang dikehendaki Han-wan Siansing?” tanya Piat-ho tertawa.

Setelah merenung sejenak, dengan suara keras Ok-tu-kui berkata, “Pertaruhan kita kukira paling sederhana, tak pedulikan siapa yang kalah, ia harus manda diperlakukan apa pun juga oleh pihak lawan.”

Cara pertaruhan ini sungguh membikin semua orang terkesiap. Sebenarnya soal mati atau hidup bagi orang Kangouw bukan sesuatu hal yang luar biasa. Tapi “manda diperlakukan apa pun juga oleh pihak lawan”, betapa pun membuat orang berpikir dua kali. Coba bayangkan, apabila pihak pemenang menyuruh yang kalah melakukan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana atau sesuatu perbuatan yang memalukan, bukanlah hal ini akan jauh lebih susah daripada ‘mati’. Apalagi orang yang berkedudukan seperti Kang Piat-ho, kalau dia kalah, betapa pun juga dia tidak dapat ingkar janji dan terpaksa harus melakukan apa yang dihendaki pihak lawan. Karena itulah semua orang mengira Kang Piat-ho pasti tidak terima syarat pertaruhan gila itu.

Tak terduga dia hanya tersenyum hambar saja dan menjawab, “Boleh juga usul Han-wan Siansing ini. Cuma cara bagaimana bertaruhnya masih perlu penjelasan lagi.”

Melihat Kang Piat-ho menerima usulnya begitu saja, mau tak mau Ok-tu-kui juga merasa di luar dugaan. Ia angkat cawan araknya dan ditenggaknya habis, lalu berkata dengan tertawa, “Bagus, Kang-tayhiap benar-benar berjiwa ksatria sejati. Tentang cara pertaruhannya boleh terserah kehendakmu saja.”

“Ah, tidak perlu Han-wan Siansing rendah hati ….”

“Tidak, taruhannya sudah kutetapkan, cara bertaruhnya harus kau yang menentukan, ini adalah peraturanku,” bentak Ok-tu-kui.

“Jika begitu, terpaksa aku menurut saja,” ucap Kang Piat-ho dengan tertawa, ia lantas memindahkan sebuah meja kecil ke depan, ia ambil pula satu mangkuk “Ang-sio-hi-sit” dan ditaruh di tengah meja.

Han-wan Sam-kong merasa aneh, katanya, “Untuk apakah ini?”

“Begini caranya,” tutur Kang Piat-to, “Kita masing-masing menggebrak meja satu kali, siapa yang membikin tumpah kuah Hi-sit atau merontokkan mangkuk hingga jatuh ke lantai, maka dia dianggap kalah.”

“Itu kan terlalu mudah!” seru Han-wan Sam-kong tertawa, perlahan ia lantas menepuk meja dan dengan sendirinya kuah Hi-sit itu tidak muncrat setetes pun. Seketika Ok-tu-kui berhenti tertawa, lalu berkata pula dengan mata mendelik, “Cara pertaruhan begini biarpun berlangsung hingga tahun baru juga takkan terjadi kalah dan menang. Apakah kau sengaja mempermainkan diriku atau hendak menipu aku?”

Kang Piat-ho tersenyum, jawabnya, “Bukan begitu caranya, harus begini ….” sembari bicara telapak tangannya terus menabok ke permukaan meja.

Tampaknya dia tidak menggunakan tenaga, tapi meja kecil yang terbuat dari papan kayu jambu yang keras itu mendadak berubah seempuk agar-agar, tangan Kang Piat-ho dengan mudah saja menembus permukaan meja dan kuah Hi-sit semangkuk penuh itu tak tercecer setitik pun, bahkan sama sekali tidak bergoyang.

“Nah, cara kita menggebrak meja harus begini, sekaligus harus menembus permukaan meja, seumpama kita sama-sama tidak membikin tumpahnya kuah Hi-sit ini, segera kita pukul meja lagi dan akhirnya permukaan meja tentu akan tersisa bagian tengah yang menyangga mangkuk dan pasti juga akan rontok. Siapa yang terakhir membikin jatuh mangkuk Hi-sit, dia yang kalah.”

Mau tak mau berubah juga air muka Han-wan Sam-kong, ia melengak sejenak, kemudian bergumam, “Cara pertaruhan begini memang belum pernah kulakukan.”

“Barusan sudah kugebrak satu kali, sekarang giliran Han-wan Siansing,” ucap Kang Piat-ho dengan tertawa.

“Hahahaha!” Han-wan menengadah dan terbahak-bahak. “Selama hidupku si Ok-tu-kui sedikitnya sudah beribu kali bertaruh dengan orang dan tak pernah terjadi pertarungan belum berlangsung dan aku sudah mengaku kalah lebih dahulu ….” mendadak ia menatap Kang Piat-ho lekat-lekat, lalu berkata pula, “Namun sekali ini tanpa bertaruh aku rela mengaku kalah … biarpun tenaga tanganku mampu menembus permukaan meja, tapi rasanya aku tidak sanggup membuat kuah Hi-sit tak tercecer setitik pun.”

Seketika terdengar Giok-bin-boan-koan dan begundalnya menghela napas lega dan kegirangan setengah mati.

Siau-hi-ji juga melengak dan berseru, “He, kau … kau benar-benar mengaku kalah?”

“Kalah ya kalah, masa pakai benar atau palsu?” seru Ok-tu-kui dengan bengis. Ia tersenyum getir lalu berkata pula kepada Kang Piat-ho. “Nah, apa yang kau kehendaki dariku, silakan bicara saja.”

Kang Piat-ho berpikir sejenak, lalu ia menuang dua cawan arak, katanya dengan tertawa, “Biarlah Cayhe menghormati Han-wan Siansing satu cawan.”

Tanpa pikir Ok-tu-kui terima suguhan itu dan sekali tenggak isi cawan diminumnya habis. Ia gabrukkan cawan arak ke meja, lalu berseru tegas, “Baik sekarang Han-wan Sam-kong harus mati atau hidup, ke timur atau ke barat, boleh katakan saja.”

“Apa yang kukehendaki bukankah barusan sudah dilakukan oleh Han-wan Siansing?” ujar Kang Piat-ho dengan tersenyum. “Setelah Han-wan Siansing melunaskan pertaruhan, mengapa bicara lagi cara begini?”

Ok-tu-kui jadi melenggong, ia menegas dengan tergagap, “Kau … kau bilang apa?”

“Bahwa yang kalah harus manda melakukan segala kehendak yang menang, maka Cayhe telah menghukum Han-wan Siansing minum satu cawan arak dan hal itu sudah dilakukan olehmu, itu berarti perjanjian sudah terpenuhi dan utang piutang sudah lunas,” ucap Kang Piat-ho dengan tertawa.

Seketika Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong berdiri mematung, gumamnya, “Bila kau membunuhku, entah betapa banyak orang Kangouw akan kagum padamu, jika kau menyuruhku mencari sesuatu, biarpun ratna batu manikam atau benda mestika apa pun juga pasti akan kulaksanakan, tapi sekarang ….” ia menghela napas dan menyambung pula dengan tersenyum getir, “Engkau hanya minta aku minum satu cawan arak saja.”

“Kalau saja aku mampu minum lebih banyak, sedikitnya akan kusuguh tiga cawan lagi padamu,” kata Kang Piat-ho.

Mendadak Han-wan Sam-kong angkat buli-buli araknya dan sekaligus menenggak belasan teguk, ia mengusap mulut dengan lengan baju, lalu menengadah dan bergelak tertawa, “Hahaha! Bagus, sungguh tidak malu kau berjuluk ‘Kang-lam-tayhiap’. Selama hidupku tak pernah takluk kepada siapa pun, tapi sekarang aku benar-benar menyerah padamu, Kang Piat-ho.”

Dia mendekati Siau-hi-ji dan tepuk-tepuk bahunya, katanya, “Adik cilik, urusanmu tidak dapat kubela lagi, tapi Kang-lam-tayhiap berada di sini, kiranya kau pun tidak perlu khawatir dikerubut kawanan tikus itu. Nah, aku akan pergi, sampai berjumpa!”

Begitu lenyap suaranya, tahu-tahu ia sudah melayang keluar jendela dan dalam sekejap saja sudah menghilang dalam kegelapan malam. Angin di luar jendela meniup sepoi-sepoi, bulan sabit tepat menghias di tengah cakrawala.

Kang Piat-ho menyaksikan kepergian Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, dengan gegetun ia bergumam, “Orang ini benar-benar tidak malu sebagai lelaki sejati.”

Dengan tersenyum hormat Giok-bin-boan-koan Siau Cu-jun menanggapi, “Orang ini termasuk salah satu dari Cap-toa-ok-jin, bukankah sayang Kang-heng tidak sekalian bereskan dia tadi?”

“Ksatria semacam ini ada berapa biji di dunia ini? Mana boleh Siau-heng sembarangan bilang membereskan dia?” ujar Kang Piat-ho dengan sungguh-sungguh. “Apalagi selain gemar berjudi, rasanya orang ini pun tidak berbuat sesuatu kejahatan lain.”

“Ya, ya, Siaute yang salah,” ucap Siau Cu jun dengan munduk-munduk.

“Malahan yang diutamakannya cuma taruhan saja, kalah atau menang sama sekali tidak ingkar janji,” kata Kang Piat-ho pula dengan tertawa. “Biarpun kepalanya kalah dalam pertaruhan juga dia tidak menyesal dan rela menyerahkan kepalanya, coba, ada berapa gelintir manusia di jaman ini yang sanggup bertaruh seperti dia?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas dan berkata, “Sungguh sayang Han-wan Sam-kong tidak mendengar ucapanmu ini, kalau mendengar, bukan mustahil dia akan menangis saking terharu dan berterima kasih padamu.”

Kang Piat-ho mengamati Siau-hi-ji, katanya, kemudian dengan tersenyum, “Apakah Engkoh cilik ini sahabat baik anakku yang tak becus itu?”

“Sebutan sahabat baik sih tak berani kuterima,” ujar Siau-hi-ji.

“Anak yang tak becus itu tentu sepanjang jalan telah mendapat bantuan Engkoh cilik,” ucap Kang Piat-ho pula.

Siau-hi-ji menyengir dan menjawab, “Engkoh cilik sih tidak memberi bantuan apa-apa kepada ‘adik gede’, sebaliknya ‘adik gede’ cukup banyak bantu membuat sengsara ‘Engkoh cilik’. Kalau saja nyawa ‘Engkoh cilik’ tidak panjang, saat ini kepalanya mungkin sudah berpisah dengan tuannya.”

Pandangan Kang Piat-ho beralih ke arah Kang Giok-long, katanya dengan menarik muka, “Jangan-jangan kau telah melakukan sesuatu yang tidak pantas.”

“Mana anak berani,” jawab Giok-long dengan tunduk kepala.

“Melihat air mukamu kutahu pasti kau berbuat sesuatu yang salah,” kata Kang Piat-ho pula dengan bengis, “Setelah pulang nanti kau harus tutup pintu dan merenungkan kesalahanmu, berani berbuat harus berani mengaku salah dan minta maaf, begitulah sikap seorang lelaki sejati.”

Giok-long mengiakan dengan kepala menunduk lebih rendah.

Siau-hi-ji berkata pula dengan gegetun, “Bahwa Kang Giok-long mempunyai ayah seperti engkau, sungguh mati sukar dipercaya bagiku. Cuma kalau dia harus tutup pintu dan merenungkan kesalahannya, terpaksa aku pun ikut merenung bersama dia.”

Sekilas Kang Piat-ho memandang “belenggu cinta” di tangan kedua anak muda itu, katanya kemudian dengan tersenyum, “Benda sepele begini kuyakin masih mampu membukanya, pokoknya Engkoh cilik ikut pergi bersamaku saja.”

“Sesungguhnya aku pun berharap ikut bersamamu, namun di sini masih ada orang yang ingin membunuh diriku, lantas bagaimana baiknya?” ucap Siau-hi-ji tertawa.

“O, siapa?” Kang Piat-ho mengernyit dahi.

“Dengan sendirinya para ksatria yang sudah terkenal, beberapa ksatria termasyhur hendak membunuh diriku, seorang anak tanggung, bukankah suatu kebanggaan bagiku?” ucap Siau-hi-ji.

Ketika sinar mata Kang Piat-ho mengerling sekeliling, serentak Giok-bin-boan-koan dan lain-lain sama menunduk dengan wajah merah padam.

Dengan kalem Kang Piat-ho lantas berkata pula, “Kujamin kejadian ini pasti takkan terulang lagi.”

“Selama hidupku juga jarang mengagumi orang, tapi sekarang aku menjadi rada kagum padamu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

*****

Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu takkan percaya bahwa “Kang-lam-tayhiap” yang termasyhur itu berdiam di rumah begini sederhana. Memang, tempat tinggalnya ini juga suatu perkampungan yang cukup luas terletak di kaki bukit Ku-san (bukit kura-kura). Namun perkampungan ini sudah lama telantar, maka Kang Piat-ho menggunakan deretan rumah samping sebagai tempat tinggalnya.

Kira-kira tiga-empat rumah bobrok yang digunakannya, meski terawat cukup bersih, namun perlengkapannya sangat sederhana, bahkan tempat tinggal seorang pegawai tata usaha juga lebih mentereng daripada dia. Dengan sendirinya ia pun tidak memakai budak dan pelayan, hanya ada seorang kakek bisu-tuli yang sudah loyo mengerjakan tetek bengek baginya.

Dua hari perjalanan Siau-hi-ji mengikutinya barulah sampai di tempat kediamannya ini.

Selama dua hari ini Siau-hi-ji bertambah merasakan “Kang-lam-tayhiap” ini memang orang luar biasa. Seorang tokoh dunia persilatan yang termasyhur begini ternyata sedemikian ramah tamah dan rendah hati terhadap orang lain, kecuali Kang Piat-ho mungkin tiada yang sanggup berbuat demikian.

Maka Siau-hi-ji heran pula melihat tempat kediaman sang pendekar besar daerah Kang-lam ini.

“Perkampungan ini adalah bekas milik seorang sahabatku, dia telah pindah jauh ke Soatang, maka perkampungan ini telah dihadiahkan padaku,” demikian tutur Kang Piat-ho. “Cuma sayang aku tidak mampu mempertahankan keindahan perkampungan ini di masa lampau, kalau dipikir sungguh aku malu terhadap sahabatku.”

“Dengan nama dan kedudukanmu seharusnya perkampungan ini dapat dibuat lebih megah daripada sebelumnya,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

“Orang yang suka berkecimpung di dunia Kangouw pada umumnya tidak memikirkan penghasilan dan aku pun tidak terkecuali, kalau aku juga tamak akan harta benda seperti orang lain, rasanya akan mencemarkan nama baik ayah-bunda yang telah melahirkan tubuhku yang suci bersih ini.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya pula, “Tapi para sahabatmu kan bisa ….”

“Memang ada juga di antara sanak kerabat yang hendak berusaha bagiku, namun aku merasa tidak pantas menerima pahala tanpa berjasa, apalagi kehidupan begini juga sudah biasa bagiku, rasanya juga tenteram dan bahagia.”

“Sungguh sukar dipercaya bahwa ‘Kang-lam-tayhiap’ yang namanya termasyhur ini ternyata hidup begini sederhana, mungkin tiada duanya di dunia persilatan selama beratus-ratus tahun ini,” ujar Siau-hi-ji.

“Menurut petuah orang kuno, dari hemat menuju ke pemborosan adalah mudah, tapi kalau sudah boros akan kembali hemat teramat sulit. Petuah ini selamanya tak pernah kulupakan,” kata Kang Piat-ho dengan sungguh-sungguh.

“Engkau benar-benar seorang ksatria sejati,” sanjung Siau-hi-ji gegetun.

Tidak lama kemudian mereka pun bersantap, tenyata daharan yang tersedia juga cuma tiga-empat macam sayur-mayur yang sederhana, malahan yang mengantar sayur dan menyiapkan meja makan juga “Kang-lam-tayhiap” sendiri. Kehidupan yang bersahaja ini sungguh sangat tidak seimbang dengan namanya yang mencolok dan termasyhur itu.

“Pantas setiap orang Kangouw sama menghormati dan segan padamu,” Siau-hi-ji bergumam, “Seorang dapat melakukan sesuatu yang tak dapat ditahan oleh orang lain, adalah jamak kalau dia berhasil dalam hidupnya ini.”

Sorot mata Kang Piat-ho yang berkilauan ini menatap tajam Siau-hi-ji, tiba-tiba ia berkata, “Sungguh aneh, semakin dipandang, rasanya kau menjadi lebih mirip dengan saudaraku yang berbudi almarhum.”

“O, siapakah dia?” tanya Siau-hi-ji.

“Dia adalah modelnya orang Kangouw yang paling sopan dan terpelajar, lelaki yang paling cakap di dunia selama ini,” tutur Kang Piat-ho, “Sebabnya kuberikan nama ‘Giok-long’ (lelaki cakap) kepada putraku itu tiada lain adalah untuk mengenang mendiang saudaraku yang berbudi itu.”

“Haha, masakah engkau mempersamakan diriku dengan lelaki yang paling cakap?” ucap Siau-hi-ji tertawa, “Kalau aku pun dapat disebut ‘sopan dan terpelajar’, maka semua lelaki di dunia ini tiada satu pun yang tidak sopan dan terpelajar.”

“Mungkin kau tidak terlalu sopan dan terpelajar, tapi sesungguhnya kau mempunyai daya tarik yang sukar dilukiskan,” ujar Kang Piat-ho tersenyum. “Lebih-lebih bilamana kau tertawa, kupercaya setiap gadis di dunia ini pasti akan rontok imannya dan sukar melawan kehendakmu.”

“Sungguh aku ingin menjadi lelaki sebagus uraianmu itu juga berharap bisa menjadi putra saudaramu yang berbudi itu, cuma sayang ayahku juga serupa diriku, biarpun beliau juga orang pintar, tapi sekali-kali bukanlah lelaki cakap, apalagi kini beliau masih hidup dengan segar bugar, bisa jadi saat ini beliau sedang duduk di kursi goyang menikmati pipa tembakaunya,” sambil terbahak-bahak Siau-hi-ji lantas berbangkit dan keluar. Terpaksa Kang Giok-long harus mengikuti langkahnya.

“Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan engkau,” ucap Siau-hi-ji sambil menoleh, “Cuma mataku sudah sepat dan ingin tidur, semoga besok engkau dapat mencarikan beberapa tukang kunci untuk membuka ‘belenggu cinta’ sialan ini.”

“Sepanjang jalan sudah hampir seluruh tukang kunci yang paling terkenal kutanyai, tapi ternyata tiada satu pun yang sanggup, sungguh tak terduga bahwa pegas belenggu ini terbuat serumit ini,” Kang Piat-ho tertawa, lalu menambahkan, “Tapi kau pun jangan khawatir, dalam waktu singkat tentu dapat kucarikan sebilah golok atau pedang mestika yang dapat memotong besi seperti memotong sayur. Berada di tempatku ini segala persoalan tidak perlu kau risaukan lagi.”

“Ya, makanya sekarang asalkan kepalaku menempel bantal, seketika aku dapat tidur nyenyak seperti babi mampus,” ucap Siau-hi-ji.

Kini Kang Giok-long mendadak berubah menjadi anak yang paling penurut, pendiam dan paling alim, ke mana pun Siau-hi-ji pergi dia hanya mengikut saja tanpa rewel.

Setelah kedua anak muda itu pergi, perlahan Kang Piat-ho merogoh lengan bajunya dan mengeluarkan sebilah pedang pandak sepanjang satu kaki. Sarung pedang ini hitam gilap kurang menarik, tapi ketika Kang Piat-ho melolos keluar pedangnya, seketika terpancar cahaya yang kemilau.

Si kakek bisu-tuli berdiri jauh di luar pintu sana, melihat cahaya pedang itu mau tak mau ia pun terbelalak heran seakan-akan lagi berkata, “Tanganmu jelas memegang pedang mestika yang dapat menabas besi seperti memotong sayur, tapi mengapa engkau tidak memotong ‘belenggu cinta’ sialan mereka?”

Agaknya Kang Piat-ho dapat melihat sorot mata si kakek bisu-tuli yang heran dan kejut itu, seperti dapat meraba perasaan orang, dengan tersenyum ia berkata, “Saat ini belum dapat kupotong belenggu mereka, anak itu jelas sangat cerdik dan banyak tipu akalnya, siapa pun tak dapat menerka apa yang hendak dilakukannya, terpaksa Giok-long harus kubiarkan senantiasa mendampingi dia dan mengawasinya. Adanya belenggu itu juga membuatnya sukar melarikan diri andaikan dia berniat kabur.”

Sayang, karena sasaran bicaranya itu adalah seorang kakek bisu-tuli, dengan sendirinya apa yang diucapkannya tak terdengar sama sekali oleh kakek itu.

*****

Di serambi yang panjang ada sebuah lampu kerudung kecil, cahayanya yang redup menyinari halaman yang sunyi. Seekor kucing hitam meringkal di pojok sana, hanya tertampak sinar matanya yang gemerlapan dalam kegelapan.

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long menyusuri serambi panjang dan berliku itu, terdengar suara berkeriut lantai yang dilalui mereka diseling suara keresek daun pepohonan yang tertiup angin.

Sambil mengangkat pundak Siau-hi-ji berkata, “Bila ada yang betah tinggal di sini selama sepuluh tahun, mustahil kalau orang itu tidak menjadi gila.”

“Kau jangan khawatir, kau tak perlu berdiam hingga sepuluh tahun,” ujar Kang Giok-long.

“Haha, akhirnya kau buka suara juga,” Siau-hi-ji berolok-olok. “Di depan ayahmu tadi kukira kau telah berubah menjadi bisu.”

“Orang yang berani bicara seperti kau di hadapan ayahku, kukira tidak banyak di dunia ini.”

Memandang ke taman yang gelap gulita di belakang sana. Siau-hi-ji bertanya, “Apakah kau pernah masuk ke taman sana?”

“Pernah satu kali,” jawab Giok-long.

“Tentunya sudah cukup lama kau tinggal di sini, masakah cuma satu kali saja?”

“Orang yang pernah masuk satu kali ke sana, biarpun kau mencambuknya juga dia takkan pergi lagi untuk kedua kalinya.”

“Memangnya di sana ada setannya?”

“Tempat begitu, setan pun tak berani masuk ke sana,” kata Giok-long. Ia lantas membuka sebuah pintu dan menyalakan lampu. Ruangan ini tidaklah besar, ada beberapa batang golok dan pedang, satu tumpuk buku, dengan sendirinya ada pula sebuah tempat tidur.

“Inikah kamar tidurmu?” tanya Siau-hi-ji sambil memandang sekeliling kamar.

Giok-long menghela napas panjang, katanya, “Sudah lebih setahun tidak pulang, kini melihat lagi ranjang ini, rasanya seperti ketemu kesayangan.”

“Mengingat para sahabatmu yang hebat-hebat itu, mampus juga aku tidak percaya kau dapat tidur secara baik-baik di ranjang ini, memangnya kau betah?”

Giok-long tertawa, jawabnya, “Tengah malam sering kali aku mengeluyur keluar.”

“Sudah tentu aku pun tahu putra keluarga tingkat atas kebanyakan mempunyai kebiasaan mengeluyur keluar rumah di tengah malam buta,” ucap Siau-hi-ji. “Tapi ayahmu kan berbeda daripada orang lain, masa kau pun dapat mengelabui mata telinganya?”

Giok-long berkedip-kedip, jawabnya, “Tahukah mengapa aku mau tinggal di sini?”

“Tidak tahu,” sahut Siau-hi-ji.

“Sebab ruangan ini berjarak paling jauh dengan kamar tidur ayahku, pula berjendela sangat banyak. Tempat ini sebenarnya kamar kaum hamba, tapi sengaja kugunakan sebagai kamar tidurku.”

“Sepanjang tahuku, mungkin inilah pilihanmu yang paling cerdik,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

Berada di kamar tidur sendiri, rupanya Kang Giok-long tidak perlu khawatir apa-apa lagi, berbaring di tempat tidurnya, hanya sebentar saja ia benar-benar sudah terpulas. Agaknya ia merasa tidak perlu berjaga-jaga terhadap Siau-hi-ji lagi, sesungguhnya ia pun sudah teramat lelah, lahir dan batin.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji juga merasa letih, tampaknya ia pun tertidur dengan nyenyaknya.

Entah sudah lewat berapa lamanya, terdengar langkah orang yang sangat perlahan mendekati pintu, berhenti sejenak, lalu mengetuk pintu perlahan. Tiada jawaban dari dalam, maka orang di luar mendorong pintu sedikit, setelah mengintip ke dalam sejenak, segera suara tindakan orang itu membalik ke sana, seperti menuju ke taman di belakang yang sunyi dan seram itu.

Siau-hi-ji heran, menurut Kang Giok-long, setan pun tak berani datang ke sana, lalu untuk apakah tengah malam buta orang ini pergi ke situ?

Mendadak Siau-hi-ji membuka mata, dari rambutnya dia menggagap sepotong kawat tembaga yang sangat halus, dengan kawat tembaga inilah dia selusupkan ke lubang kunci “belenggu cinta” itu. Dengan perlahan ia putar kawat kecil itu sambil menempelkan telinganya untuk mendengarkan dengan cermat seolah-olah seorang pendengar musik sedang menikmati suatu lagu yang sangat merdu.

Mendadak terdengar suara “klik” perlahan, “belenggu cinta” yang tak dapat dibuka oleh tukang kunci yang paling ahli itu ternyata dapat dibuka olehnya dengan sepotong kawat tembaga yang lembut saja.

Tanpa terasa wajah Siau-hi-ji menampilkan senyuman puas, ia menggerakkan tangannya yang sudah lama kehilangan kebebasan itu, habis itu ia lantas menutuk Hiat-to tidur Kang Giok-long sehingga anak muda itu bertambah nyenyak tidurnya.

Sambil memandangi Kang Giok-long, Siau-hi-ji berkata dengan tersenyum bangga, “Kau mengira dirimu sangat pintar, sesungguhnya kau orang tolol sehingga selalu menganggap aku benar tidak mampu membuka belenggu sialan ini. Hm, kenapa tidak kau pikirkan aku ini dibesarkan di mana?”

Memang, kalau Ok-jin-kok terdapat bandit yang paling top, dengan sendirinya juga ada pencopet atau pencuri yang paling top, bagi mereka di dunia ini tiada kunci yang tak dapat dibuka.

Sudah sejak umur delapan Siau-hi-ji belajar membuka macam-macam jenis kunci gembok. Membuka dan memereteli induk kunci untuk kemudian dipasang kembali adalah permainan yang paling menarik di waktu kecilnya.

Tapi sebab apakah selama ini dia lebih suka terbelenggu bersama Kang Giok-long dan manda menerima macam-macam nista? Sesungguhnya apa yang menjadi pertimbangannya? Apakah memang sudah diduganya bahwa ayah Kang Giok-long pasti seorang tokoh yang sangat aneh dan penuh rahasia? Jangan-jangan sebelumnya dia sudah mengetahui di tempat ini pasti terdapat hal-hal yang gaib dan mengejutkan?

Sebabnya dia manda terbelenggu bersama Kang Giok-long bukan mustahil karena dia ingin datang ke rumahnya ini, dengan demikian dapat pula membuat orang lain tidak menaruh curiga padanya. Setiap orang pasti menyangka dia takkan dapat terpisah dari Kang Giok-long, kalau setiap jengkal dan setiap detik dia selalu mendampingi Kang Giok-long, dengan sendirinya orang lain pun tidak perlu khawatir padanya.

Tapi sekarang Siau-hi-ji sudah membebaskan diri dan mengeluyur keluar. Dia benar-benar harus berterima kasih kepada Kang Giok-long yang telah memilih ruangan belakang ini sebagai kamar tidur, sebab ruangan ini sama sekali terpisah dari beberapa ruangan di bagian depan sana.

Begitulah Siau-hi-ji lantas melayang ke taman belakang sana, taman yang tak berani didatangi setan sekali pun, menurut Kang Giok-long.

Sementara itu suara langkah orang tadi sudah sekian lamanya masuk ke taman sana. Waktu Siau-hi-ji menyusup ke balik pintu bundar sana, terlihat di kejauhan ada cahaya lampu berkelebat, habis itu keadaan lantas gelap, sinar lampu sudah dipadamkan.

Dalam kegelapan hanya terdengar suara keresek daun pepohonan yang tertiup angin sehingga mirip berbagai hantu iblis yang siap hendak menerkam setiap mangsanya. Meski di atas langit juga ada cahaya bintang yang gemerlapan, tapi sinar bintang itu semakin menambah seram dan gaibnya taman ini.

Angin meniup dingin, tapi telapak tangan Siau-hi-ji justru berkeringat malah. Jika orang lain tentu sudah sejak tadi mundur teratur. Namun Siau-hi-ji bukan “orang lain”, Siau-hi-ji tetap Siau-hi-ji, satu-satunya Siau-hi-ji di dunia ini. Kalau dia takut dan mundur, maka dia bukanlah Siau-hi-ji. Jika dia bertekad maju, maka tiada sesuatu pun di dunia ini yang mampu membuatnya mundur.

Dalam pada itu ia sudah mengincar baik-baik tempat berkelebatnya sinar lampu tadi, ke sanalah ia melayang dengan cepat.

Terasa angin berkesiur dari depan, di tengah taman itu tersebar bau busuk yang menusuk hidung. Seluruh taman itu menjadi mirip sebuah peti mati, di dalam peti mati hanya ada hawa kematian belaka. Dan saat itu Siau-hi-ji seakan-akan sedang melangkah masuk ke depan peti mati ini, dia menahan napas, langkahnya enteng tanpa mengeluarkan suara, sebab ia menyadari bila dirinya bertindak ceroboh sedikit, seketika benar-benar bisa berubah menjadi sesosok mayat.

Namun di dalam taman hanya terdapat pepohonan yang sudah layu serta batu gunung-gunungan dan gardu pemandangan yang reyot, setitik cahaya lampu tadi entah sudah menghilang ke mana.

Maju dan maju terus, mendadak Siau-hi-ji kehilangan arah. Terasa angin tiba-tiba meniup kencang sehingga tanpa terasa Siau-hi-ji menggigil. Tiba-tiba ia merasa dirinya tidak tahu lagi harus pergi ke mana? Apa pula yang harus dicarinya?

Pada saat itulah sekonyong-konyong sebuah bayangan hitam melompat keluar dari tempat gelap. Keruan Siau-hi-ji kaget setengah mati, syukur bayangan itu terus menyelonong ke sana, setelah diawasi lagi, kiranya seekor kucing hitam. Sungguh aneh, mengapa kucing hitam ini masuk ke taman sini dan mendadak melompat keluar pula?

Terpikir sesuatu dalam benak Siau-hi-ji, segera ia mendekam di tanah, tepat di depannya ada seonggok batu kerikil dikelilingi tumbuhan bunga yang sudah layu dan kering.

Baru saja ia mendekam, kira-kira belasan depa di sebelah sana, di balik jendela ada cahaya lampu yang baru dinyalakan. Menyusul sesosok bayangan orang lantas melangkah keluar.

Tangan orang itu memegang lampu, cahaya lampu menyinari mukanya dengan terang, jelas Kang Piat-ho adanya.

Terdengar dia bersuara “meong” sekali, segera kucing hitam tadi melompat ke dalam pelukan Kang Piat-ho. Lalu dia merapatkan pintu dan melangkah ke depan sana sambil membawa kucing hitam.

Siau-hi-ji mendekam mepet tanah, bernapas pun tak berani. Perlahan-lahan cahaya lampu menjauh, suasana dalam taman menjadi gelap gulita pula dan rasanya bertambah dingin.

Setelah menunggu pula sekian lama dan tiada suara lain, perlahan-lahan barulah Siau-hi-ji merangkak bangun, dengan berjinjit-jinjit ia merunduk ke sana, sesudah dekat barulah diketahuinya di situ ada sebuah kamar bunga.

Dahulu, di kamar bunga ini bisa jadi terpelihara berbagai jenis bunga yang sukar dicari. Setiba di sini segera tercium bau harum semerbak.

Tapi bagi penciuman Siau-hi-ji sekarang hanyalah bau busuk yang menyeramkan itu. Sekalipun di dalam kamar ini ada tanaman bunga, mungkin sekali hanya bunga kematian saja.

Pintu ternyata sudah terkunci. Tapi bukan soal bagi Siau-hi-ji, kembali ia pertunjukkan kemahirannya memalsu kunci.

Perlahan ia mendorong pintu, ia menyalakan geretan api yang dicurinya dari meja di kamar Kang Giok-long tadi. Kamar bunga ini penuh sawang, bagian pojok bertumpuk pot bunga yang sudah rusak bercampur dengan daun kering dan kayu rongsokan, selain itu tiada terdapat apa-apa lagi. Sungguh aneh, lalu untuk apakah tengah malam buta Kang Piat-ho datang ke rumah bobrok ini?

Daun jendela berkeriut tertiup angin, dari lubang kertas jendela, angin menembus ke dalam sehingga mirip cakar setan yang dingin sedang merabai kuduk Siau-hi-ji.

Sungguh Siau-hi-ji ingin lari kembali ke kamarnya dan menutup kepalanya dengan selimut. Tempat begini benar-benar setan pun tak mau datang seperti ucapan Kang Giok-long.

Tapi tempat yang tidak sudi didatangi setan sekali pun bukankah justru merupakan tempat sembunyi yang paling rahasia?!

Mata Siau-hi-ji jelalatan kian kemari, sampai sekian lama ia mengamat-amati dan tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar ini. Di mana-mana hanya terdapat debu melulu, jelas kamar ini sudah lama tak pernah didatangi orang.

Akan tetapi jelas sekali Kang Piat-ho baru saja datang ke sini, mengapa debu yang memenuhi lantai kamar ini tidak terdapat bekas kakinya?

Tergerak hati Siau-hi-ji, segera ia berjongkok dan meraba-raba lantai, ternyata debu itu melengket kencang di lantai, kecuali digaruk sekuatnya dengan tangan, kalau tidak, bekas apa pun takkan tertinggal di atasnya.

Hampir saja Siau-hi-ji melonjak kegirangan, ia tahu di dalam kamar ini pasti terdapat lorong di bawah tanah. Ia coba memeriksa lebih teliti, setiap jengkal, setiap pelosok sudah dicarinya, namun tetap tak ditemukan sesuatu pesawat rahasia yang diharapkan.

Hampir saja ia putus harapan, ia menengadah sambil menghela napas. Terlihat sarang labah-labah bergontai ditiup angin, sebagian sawang itu sudah rantas tertiup angin dan kawanan labah-labah lagi sibuk menyambung jaringannya.

Akan tetapi di antara sekian sarang labah-labah itu ada jaringan yang tahan angin, betapa pun angin meniup, tetap tak dapat membuatnya bergoyang.

Hal ini rasanya takkan diperhatikan oleh orang lain. Namun tiada sesuatu di dunia ini yang dapat mengelabui mata Siau-hi-ji. Seketika ia meloncat ke atas. Segera diketahuinya bahwa sarang labah-labah itu memang lain daripada yang lain, jaring sarang labah-labah itu ternyata terbuat dari benang emas yang sangat halus.

Cepat ia meloncat lagi dan menarik jaring labah-labah itu sekuatnya. Terdengarlah suara keriat-keriut, menyusul serentetan suara krek-krek pula, onggokan kayu kering di bawah sarang labah-labah mendadak bergeser perlahan, lalu tertampak sebuah lubang.

Banyak juga Siau-hi-ji melihat pesawat rahasia yang terancang dengan amat bagus, tapi belum pernah dilihatnya ada yang lebih bagus dan rahasia daripada tempat ini.

Yang lebih-lebih tak terduga olehnya ialah di bawah tanah itu adalah sebuah kamar tulis. Kecuali tak berjendela, sungguh kamar tulis ini adalah sebuah kamar tulis yang paling ideal, kamar tulis yang indah dan lengkap.

Dinding kanan-kiri kamar tulis itu adalah rak buku yang penuh berderet berbagai macam kitab. Di tengah-tengah ada sebuah meja tulis marmer yang sangat indah, di atas meja tersedia lengkap peralatan tulis. Selain itu, dengan sendirinya terdapat pula sebuah lampu tembaga kecil.

Siau-hi-ji menyalakan lampu itu, lalu dia duduk di kursi besar itu dengan lagak tuan besar. Ia mulai merenung dengan tenang, “Andaikan aku menjadi Kang Piat-ho, akan kusembunyikan di mana rahasiaku?”

Sudah tentu di dalam sebuah kamar tulis terdapat banyak tempat yang bisa digunakan untuk menyimpan rahasia. Tapi umpamanya rahasianya mengenai sehelai kertas, lalu harus disimpan di tempat paling baik mana? Rasanya tempat paling rapi ialah di dalam lipatan buku. Malahan mesti disembunyikan dalam buku yang paling jarang dibaca orang.

Segera ia mendekati rak buku dan memeriksanya dengan teliti, satu per satu dia memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata banyak kitab kuno yang bernilai dan sukar dicari, sungguh koleksi buku yang mengagumkan. Hampir setiap kitab itu penuh berdebu, suatu tanda jarang dijamah orang.

Tujuan Kang Piat-ho ke kamar ini dengan sendirinya bukan untuk membaca, tentu saja kitab ini banyak debunya, tapi anehnya di sini, ya, di sinilah anehnya, justru di sinilah ada satu buku yang tak berdebu, bahkan sangat bersih.

Kitab ini tidak terhitung tipis, Siau-hi-ji lantas melolosnya dari rak, dilihatnya judul yang tertulis di kulit kitab itu berbunyi, “Bok-cau” (tetumbuhan). Kiranya sebuah kitab mengenai obat-obatan. Dengan sendirinya jarang ada peminat yang mau membaca kitab beginian terkecuali ahli obat-obatan.

Siau-hi-ji tersenyum, ia tahu pasti inilah kitab yang hendak dicarinya. Ia membalik-balik halaman kitab itu, segera diketahuinya bahwa bagian tengah kitab itu telah terkorek, tapi sekelilingnya terlengket dengan kencang, maka jadinya seperti sebuah kotak kardus.

Pada bagian kitab yang terkorek seperti itulah tersimpan beberapa helai kedok kulit manusia yang sangat tipis dan bagus sekali pembuatannya. Selain itu ada pula dua-tiga botol kecil, jelas inilah peralatan merias muka.

Namun Siau-hi-ji tidak menaruh minat terhadap benda-benda ini, ia mencari lagi dan mencari terus, maka dapat ditemukannya pula sebuah “kotak kardus” yang serupa. Di dalam kotak itu pun ada beberapa buah botol kecil, isi botol-botol itu ternyata adalah racun yang sangat sukar dicari dan tinggi nilainya.

Siau-hi-ji menghela napas, ia coba mencari pula dan kembali ditemukan satu lipatan Gin-bio, yaitu surat uang atau yang kini terkenal sebagai cek atau bilyet giro, dalam jumlah besar yang sangat mengejutkan. Bahwa “Kang-lam-tayhiap” Kang Piat-ho yang diketahui hidup sederhana itu ternyata menyimpan bilyet giro berjumlah sedemikian besarnya.

Lalu diketemukan pula sehelai daftar nama yang sangat panjang, Siau-hi-ji malas membaca nama-nama yang tercantum di daftar itu, yang jelas di bawah setiap nama itu diberi bertanda kurung dan di dalam tanda kurung itu tercatat nama “Siau-lim”, “Bu-tong” dan sebagainya. Hampir semua tulisan di dalam tanda kurung itu adalah nama sesuatu aliran besar yang terkenal. Bisa jadi nama yang terdaftar itu adalah mata-mata yang diselundupkan Kang Piat-ho ke dalam golongan dan aliran-aliran terkemuka itu.

Tapi Siau-hi-ji juga enggan mengurusnya lebih lanjut, meski hal ini pun suatu rahasia yang sangat mengejutkan, tapi bukan sasaran yang hendak dicari Siau-hi-ji dan sebegitu jauh ternyata belum diketemukan. Ia merasa kecewa dan duduk pula di kursi depan tadi.

Mendadak ia melihat di samping meja tulis itu ada sebuah meja kecil yang penuh tertaruh kertas dari macam-macam ukuran dan warna. Pandangannya terbeliak, cepat ia comot setumpukan kertas itu. Ternyata semua kertas itu blangko kosong tanpa sesuatu tulisan, tapi justru inilah rahasia yang ingin ditemukannya.

Kertas itu sangat enteng dan tipis, tapi ulet, jenis kertas ini sangat spesial pada jaman itu. Siau-hi-ji sendiri hanya pernah melihat satu kali kertas dari kualitas demikian. Akan tetapi ia justru tahu bagaimana rasanya kertas ini kalau dimakan.

Soalnya Siau-hi-ji memang pernah menelan bulat-bulat sehelai kertas jenis ini.

Kiranya kertas ini serupa dengan kualitas kertas bergambar peta harta karun Yan Lam-thian yang diperolehnya dari Thi Sim-lan dahulu itu, peta itu telah ditelannya mentah-mentah, maka selamanya dia takkan lupa.

Dengan hati-hati ia mengerik secomot debu, lalu diusapkannya dengan perlahan di permukaan kertas itu, maka timbullah garis-garis di atas kertas dan ternyata memang benar menggambarkan peta harta karun itu.

Supaya maklum bahwa agar peta harta karun itu mirip aslinya, maka cara melukisnya adalah dengan arang yang keras (seperti potlot), jika kertas yang atas dibuat melukis, kertas di bawahnya dengan sendirinya meninggalkan bekas-bekas goresan.

Kini Siau-hi-ji mengusap permukaan kertas itu dengan debu, dengan sendirinya bekas goresan itu lantas timbul dan tertampak dengan jelas. Rupanya sewaktu Kang Piat-ho menurun peta yang terakhir kemudian dia tidak pernah mengutik-utik lagi tumpukan kertas ini.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, gumamnya, “Yang membuat peta palsu itu kiranya memang dia. Orang yang sengaja mengadu domba para ksatria di dunia ini agar saling membunuh secara keji, ternyata benar dia inilah biang keladinya.”

Lalu ia menjengek sendiri, “Hm, hebat benar ‘Kang-lam-tayhiap’ yang berbudi dan baik hati?! Hm, sebelum ini memang sudah kuduga kau pasti manusia yang punya ambisi jahat, kalau tidak untuk apa berlagak seperti seorang pendekar sejati? Bukan saja kau bermaksud mengelabui segenap ksatria di jagat ini, bahkan kau hendak menumpas mereka yang tak mau takluk padamu dengan akalmu yang keji, dengan begitu kau akan dapat menjagoi dunia ini.”

Dengan hati-hati ia mengembalikan semua benda yang dipegangnya ke tempat semula, lalu bergumam pula, “Jika kau tidak mengganggu diriku, sebenarnya aku pun malas ikut campur urusanmu. Tapi pernah kau bikin aku tertipu satu kali, kalau aku tidak memberi hajaran setimpal padamu rasanya aku berdosa kepada diriku sendiri.”

Segera ia padamkan lampu dan mengundurkan diri dari kamar rahasia itu. Ia mengembalikan pesawat rahasianya dalam keadaan seperti semula. Ia tahu, seumpama saat ini juga dia bongkar tipu muslihat Kang Piat-ho, tentu orang lain tidak mau percaya, soalnya Kang Piat-ho benar-benar pintar berlagak. Terpaksa ia harus menunggu lagi, ia yakin Kang Piat-ho toh takkan mampu lolos.

Begitulah Siau-hi-ji lantas kembali ke kamar tidur Kang Giok-long itu. Dilihatnya Giok-long masih tidur dengan nyenyak, bahkan masih meringkal miring seperti tadi tanpa berubah sedikit pun, kepalanya setengah terbenam di bantalnya, “belenggu cinta” yang sudah terbuka itu masih mencantol di tangannya.

Dengan diam-diam Siau-hi-ji merebahkan diri, tangannya dimasukkan pula ke dalam belenggu itu, “klik”, kuncinya ditutup pula.

Ia tidak ingin memikirkan apa-apa lagi, ia ingin tidur senyenyak-nyenyaknya, supaya penuh semangat untuk menghadapi persoalan yang akan terjadi besok.

Tapi sebelum dia memejamkan matanya, sekonyong-konyong ada orang menyalakan pelita di dalam rumah.

Keruan Siau-hi-ji terkejut, cepat ia pentang mata lebar-lebar, segera dilihatnya seorang berdiri di depan pembaringannya dengan tersenyum simpul, di bawah cahaya lampu yang gemerlap terlihat wajahnya yang pucat. Jelas dia ini Kang Giok-long adanya.

Padahal jelas-jelas Kang Giok-long tidur di sampingnya, mengapa sekarang bisa berdiri di depan pembaringan?!

Seketika Siau-hi-ji melonjak bangun dan memandang orang di sebelahnya. Ia melenggong, orang di sebelahnya juga sedang memandangnya dengan tertawa, kiranya ialah si kakek bisu-tuli yang loyo itu.

Sampai sekian lama Siau-hi-ji tertegun, tiba-tiba ia bergelak tertawa dan berkata, “Ya, sudah jelas-jelas kutahu Kang Piat-ho seorang tokoh mahalihai, mengapa aku tetap menilai rendah dia?”

“Memangnya itu pun menggelikan?” jengek Kang Giok-long. “Menurut pendapatku, saat ini seharusnya kau menangis.”

“Karena ingin menangis tapi tak dapat menangis, dengan sendirinya aku cuma tertawa saja,” jawab Siau-hi-ji.

Pada saat itu pula terlihat Kang Piat-ho melangkah masuk dengan perlahan, katanya dengan suara halus dan mengulum senyum, “Kau telah menemukan rahasia yang mahapenting itu, seharusnya kau dapat kabur cepat-cepat, tapi kau ternyata tidak mau lari, sebaliknya malah kembali ke sini seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sungguh nyalimu mahabesar dan sangat mengejutkan.”

“Sudah jelas-jelas kau mengetahui rahasiamu telah kuketahui, tetapi tetap kau nantikan kembaliku ke sini seperti tidak pernah terjadi apa-apa dan membiarkan aku membelenggu pula diriku sendiri …. Ai, kau benar-benar tokoh yang mahalihai,” demikian jawab Siau-hi-ji.

“Kau masih muda belia, tapi dapat menipu aku dan ternyata mampu menemukan rahasiaku, sungguh hal ini tak pernah kubayangkan, aku benar-benar kagum padamu,” ucap Kang Piat-ho.

“Kau dapat membuat semua orang percaya penuh padamu sebagai seorang ksatria sejati, seorang pahlawan yang berbudi dan baik hati, setiap orang sama menghormati dan segan padamu, sungguh kau tidak malu disebut sebagai pentolan pada jaman ini,” jawab Siau-hi-ji pula.

Begitulah gayung bersambut dan kata berjawab, kedua orang ternyata sama-sama tajam dan saling menyanjung pihak lain. Jika ada orang awam yang menyaksikan dan mendengar percakapan mereka tentu tiada seorang pun yang dapat menerka apa sebenarnya isi hati mereka.

“Sebenarnya aku sangat sayang pada kecerdasan dan kepintaranmu,” ujar Kang Piat-ho dengan gegetun. “Tapi mengapa kau justru menjadi lawanku? Jika kau sudah mengetahui rahasiaku itu, biarpun aku sayang padamu juga terpaksa harus kukorbankan.”

“Sesungguhnya aku pun sangat sayang kepada kepintaran dan kecerdikanmu, aku suka menyaksikan usahamu dapat berhasil dengan baik, tapi mengapa kau sengaja membuat peta pusaka sialan itu sehingga aku pun tertipu olehmu?”

Mendadak air muka Kang Piat-ho berubah, serunya, “Dari mana kau tahu peta pusaka itu ada sangkut-pautnya dengan diriku?”

“Jika bukan lantaran peta harta pusaka itu, mana bisa aku datang ke sini dan mana bisa pula kuselidiki rahasiamu dengan susah payah? Padahal kalau kau tidak merecoki diriku, tentu aku tidak ambil pusing akan segala macam rahasiamu.”

Kang Piat-ho memandang Giok-long sekejap, lalu bertanya pula kepada Siau-hi-ji, “Sejak kapan kau mengetahui?”

“Waktu kulihat putra kesayanganmu ini membawa sehelai peta wasiat, aku lantas tanya dia peta ini diperoleh dari mana,” tutur Siau-hi-ji. “Menurut ceritanya, katanya dia dapat mencuri peta ini dari kamarmu. Tatkala mana lantas terpikir olehku mengapa peta wasiat yang bernilai dan penting begini sembarangan kau taruh saja di kamar tulis? Sejak itulah aku lantas menaruh curiga.”

“Curigamu memang beralasan,” ujar Kang Piat-ho.

“Kemudian kudengar pula cerita orang lain bahwa ayah dari putra kesayangan ini adalah seorang pendekar besar di jaman ini, maka terpikir pula olehku bahwa seyogianya naga beranak naga dan harimau beranak harimau, mengapa seorang pendekar besar dapat mengeluarkan anak yang begini rendah dan tidak tahu malu?”

“Ehm, makianmu juga cukup beralasan,” kata Kang Piat-ho dengan tersenyum.

“Lalu ketemulah aku dengan kau dan ikut ke sini,” ucap Siau-hi-ji pula. “Kulihat seorang pendekar besar ternyata rela berdiam di tempat beginian bahkan bekerja sendiri dan cuma dibantu seorang kakek reyot bisu-tuli. Aku menarik kesimpulan, kalau orang ini bukan nabi pastilah seorang yang mahajahat dan mahaculas. Sebab di dunia hanya dua macam manusia ini saja yang sanggup berbuat demikian.”

“Dengan sendirinya aku tidak terlalu mirip nabi,” kata Kang Piat-ho dengan tertawa.

“Makanya aku lantas bertekad ingin menyelidiki rahasiamu,” sambung Siau-hi-ji.

“Kau sungguh teramat sangat pintar, tapi sungguh itu pun merupakan kemalanganmu,” kata Kang Piat-ho dengan gegetun.

“Seorang kalau dilahirkan menjadi orang pintar rasanya juga tak dapat menolak dan terpaksa harus terserah pada nasib,” ujar Siau-hi-ji.

“Betul, dalam hal ini aku sependapat denganmu,” Kang Piat-ho mengangguk.

“Bilamana aku lebih tua sedikit, mungkin aku dapat belajar berlagak bodoh.”

“Cuma sayang kau takkan dapat belajar lagi untuk selamanya,” ucap Kang Piat-ho.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “Kukira, mungkin sekarang kau akan turun tangan membunuh diriku.”

Kang Piat-ho tersenyum, jawabnya, “Selamanya aku tidak tega turun tangan membunuh orang.”

“O, jika begitu akan kau pakai cara keji apa pula?” tanya Siau-hi-ji.

Setelah merenung sejenak, lalu Kang Piat-ho berkata dengan tertawa, “Tahukah bahwa semalam bukan cuma kau satu-satunya orang yang hendak mencelakaiku?”

“O, siapa pula yang ingin mencelakaimu?” tanya Siau-hi-ji.

“Semalam sudah ada orang yang berkunjung ke kamarku, lebih dulu dia meniupkan dupa pembius, lalu mendongkel daun jendela, jelas tujuannya hendak membunuhku. Cuma sayang semalam aku tidak tidur di rumah.”

“Betul, semalam kita masih di tengah perjalanan dan bermalam di hotel,” tukas Siau-hi-ji. “Tapi dari mana engkau mengetahui kamarmu pernah dikunjungi orang?”

“Waktu pulang tadi, di dalam kamarku masih ada sisa bau obat bius, di ambang jendela juga ada bekas telapak kaki,” tutur Kang Piat-ho dengan tertawa. “Makanya aku dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang ingin membunuhku semalam itu bukan jagoan yang ulung.”

“Jika dia sudah ulung, tentu malam ini dia takkan datang lagi,” kata Siau-hi-ji.

“Betul, lantaran dia tidak ulung, maka malam nanti dia masih akan datang lagi,” tukas Kang Piat-ho

“Maka kau menghendaki malam nanti kutidur di kamarmu untuk mewakilkanmu dibunuh orang, dengan begitu jiwaku pasti akan amblas, kesempatan mana dapat pula kau gunakan untuk menangkap orang itu, dan bila kau bunuh orang itu dapat kau tonjolkan alasanmu sebagai membalaskan sakit hatiku. Kalau hal ini diketahui orang lain, bisa jadi kau akan dipuji pula sebagai ksatria yang berbudi luhur dan setia kawan.”

“Hahaha, bicara dengan anak pintar seperti kau ini sungguh sangat menyenangkan. Pada hakikatnya aku tidak perlu bicara dan semua isi hatiku sudah kau ketahui.”

“Aku lebih suka tidak mengetahui apa pun,” ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas.

Dan benar juga, Siau-hi-ji lantas digusur ke kamar tidur Kang Piat-ho dan dibaringkan di tempat tidurnya.

Siau-hi-ji sendiri pula yang membuka kunci “belenggu cinta” itu, tapi begitu belenggu terbuka, seketika beberapa Hiat-to penting di tubuhnya ditutuk oleh Kang Piat-ho.

Sekarang anak muda itu sudah telentang di tempat tidur, matanya terbelalak memandangi langit-langit kamar. Saking kesalnya ia sengaja tidak mau memikirkan apa-apa, untuk melupakan segalanya ia sengaja berhitung, menghitung biri-biri, seekor, dua ekor, tiga, empat, lima ….

Dengan berhitung begitu ia berharap dapat tertidur, kalau sudah tidur nyenyak, maka dia tidak perlu merisaukan akan hidup atau mati. Ia terus berhitung dan hitung terus, tapi meski dia sudah hitung sampai biri-biri yang kedelapan ribu enam ratus lima puluh tujuh, matanya ternyata masih terbelalak lebar.

Karena menghitung biri-biri, tanpa terasa dia lantas teringat kepada si Tho Hoa, terkenang olehnya wajah si Tho Hoa yang kemerah-merahan seperti kulit apel itu, karena itu pula segera ia pun teringat pada Thi Sim-lan.

Selama ini dia tidak tahu bahwa daya pikir renteng manusia umumnya ternyata begini aneh, semakin tidak ingin memikirkan seseorang, bayangan orang itu justru timbul dalam benakmu.

“Di manakah Thi Sim-lan saat ini? Mungkin sedang asyik mengobrol dengan Bu-koat Kongcu yang sopan dan cakap itu. Akan tetapi aku sendiri berada di sini lagi menanti ajal.”

Begitulah Siau-hi-ji coba memejamkan mata sebisanya agar tidak memikirkan Thi Sim-lan, tapi bayangan nona itu justru seperti timbul di depan matanya dengan pakaiannya yang putih dan berdiri di bawah cahaya mentari yang gemilang.

Itulah adegan untuk pertama kalinya ia lihat Thi Sim-lan. Jika tiada Thi Sim-lan, tentu ia takkan melihat “peta wasiat” sialan itu, dan kalau bukan lantaran “peta wasiat” itu, mana bisa ia datang ke sini?

Ia berusaha menghitung biri-biri lagi … 8658 … 8659 … tapi kepala biri-biri seluruhnya seolah-olah berubah menjadi wajah Thi Sim-lan yang cantik.

Sekonyong-konyong terdengar suara keresek perlahan di luar jendela, menyusul sayup-sayup lantas terendus bau harum tersebar di dalam kamar.

Segera Siau-hi-ji menahan napas, pikirnya, “Ini dia, akhirnya datang juga. Perhitungan Kang Piat-ho ternyata sangat tepat. Ai, sebuah jariku saja tak dapat bergerak, apa gunanya pula menahan napas?”

Karena berbaring tak bisa berkutik, terpaksa Siau-hi-ji hanya dapat mengintip dengan mata setengah terpejam.

Tertampak daun jendela terbuka dengan perlahan, habis itu sesosok bayangan orang lantas menyelinap masuk.

Orang ini memakai pakaian hitam ketat, tangan memegang sebilah golok tipis gemilapan, gerak-geriknya sangat enteng dan gesit, tampaknya nyalinya juga tidak kecil.

Cahaya golok yang gemerlapan itu sekilas menerangi wajah penyatron itu, kebetulan Siau-hi-ji dapat melihat mukanya, seketika ia melongo kaget.

Penyatron berbaju hitam yang bernyali besar itu ternyata bukan lain daripada Thi Sim-lan.

Siau-hi-ji menjadi ragu-ragu pada matanya sendiri, jangan-jangan pandangannya yang kabur? Di dunia ini mana ada kejadian begini kebetulan?

Akan tetapi penglihatannya jelas tidak salah, penyatron ini memang betul Thi Sim-lan adanya.

Begitu menyelinap masuk kamar, setelah melihat di tempat tidur ada orang berbaring di situ, tanpa memandang lebih cermat lagi segera Thi Sim-lan menubruk maju, golok terangkat terus membacok kepala yang berada di atas bantal.

Karena tak dapat bergerak dan juga tak mampu bersuara, Siau-hi-ji menjadi cemas dan pedih dan entah apa pula rasanya. Sungguh sukar dipercaya bahwa dia harus mati di tangan Thi Sim-lan, apakah bukan takdir sengaja berkelakar dengan dia?

Kang Piat-ho dan Kang Giok-long pada saat itu berada di luar pintu dan sedang mengintip segala kejadian yang sedang berlangsung, asalkan golok si nona sudah dibacokkan, seketika mereka akan menerjang masuk … dan tampaknya bacokan Thi Sim-lan sudah dilakukan dan kepala Siau-hi-ji pasti segera akan berpisah dengan tubuhnya.

Di luar dugaan, pada detik yang menentukan itulah sekonyong-konyong terdengar suara “krek” satu kali, golok yang sudah diangkat tinggi-tinggi oleh Thi Sim-lan dan akan dibacokkan itu mendadak patah menjadi dua secara gaib.

Keruan Kang Piat-ho dan Kang Giok-long sama-sama terkejut, “Siapakah yang memiliki kelihaian sehebat ini?” pikir mereka.

Thi Sim-lan juga tidak kurang kagetnya, wajahnya menjadi pucat, ia menyurut mundur beberapa langkah, tampaknya hendak putar haluan dan melarikan diri.

Pada saat itulah dari luar jendela lantas melayang masuk sesosok bayangan manusia, begitu enteng dan cepat laksana daun tertiup angin saja.

Di bawah kerlipan sinar bintang yang remang-remang tertampak orang ini memakai baju panjang warna putih, wajahnya tersenyum sopan dan ramah, dipandang dalam keadaan remang-remang tampaknya seperti malaikat dewata yang baru turun dari kayangan, begitu memesona daya tarik orang ini sehingga sukar dilukiskan dari mana timbulnya daya tariknya yang luar biasa itu.

Kang Piat-ho juga terpengaruh oleh daya tarik orang yang gagah dan anggun itu, seketika ia tertegun. Tak teringat olehnya di dunia persilatan ada seorang tokoh muda sehebat ini.

Tapi sekali pandang saja Siau-hi-ji lantas mengenali pendatang ini dan hampir saja ia jatuh kelengar.

Dengan sendirinya pemuda ini bukan lain dari pada model manusia yang paling sempurna, yakni Hoa Bu-koat alias Bu-koat Kongcu, sesuai dengan namanya, Bu-koat memang berarti tanpa cacat.

Tanpa terasa Thi Sim-lan menyurut mundur lagi dua tindak, dengan suara serak ia berkata, “Kiranya engkau? Meng … mengapa engkau datang …?”

“Ya, aku,” sahut Bu-koat Kongcu tersenyum. “Sejak kemarin kau mencari ‘Ngo-ko-bi-hun-hiang’ (dupa pembius sampai pagi), aku lantas merasa curiga akan tindak tandukmu. Karena itulah selama dua hari ini senantiasa kukuntit kau secara diam-diam.”

Thi Sim-lan membanting-banting kaki, katanya dengan mendongkol, “Untuk apa engkau menguntit diriku, kenapa kau rintangi aku membunuh dia?”

“Setiap orang Kangouw sama bilang ‘Kang-lam-tayhiap’ adalah seorang ksatria yang berbudi luhur, andaikan kau merasa marah padanya kan juga tidak perlu membunuh dia begini saja?” ujar Bu-koat Kongcu dengan suara halus.

“Tapi … apakah kau tahu bahwa … bahwa ayahku telah … telah dibunuh olehnya?” seru Sim-lan dengan suara gemetar.

Pada saat itulah Kang Piat-ho lantas mendorong pintu dan melangkah masuk dengan wajah penuh rasa kejut dan heran, ia berlagak bingung terhadap apa yang dikatakan Thi Sim-lan itu. Ia memberi hormat, lalu bertanya dengan tertawa, “Siapakah kedua saudara muda ini? Selama hidupku rasanya tidak pernah sembarangan membunuh orang yang tak berdosa, dari mana pula Cayhe dapat dituduh membunuh ayah nona? Barangkali terjadi salah paham nona terhadap diriku?”

Mata Thi Sim-lan menjadi merah basah, teriaknya dengan gusar, “Jelas-jelas ayahku meninggalkan tanda rahasia dan memberitahukan padaku bahwa dia datang ke sini mencari kau. Tapi setiba di sini beliau tak pernah keluar lagi dan itu berarti beliau masih berada di sini, kalau orangnya tidak ada itu berarti telah kau bunuh beliau.”

“Nona ini siapa ….” tanya Kang Piat-ho.

“Aku she Thi, ayahku adalah ‘Ong-say’ Thi Cian,” jawab Sim-lan dengan suara keras.

“O, kiranya nona Thi,” ucap Kang Piat-ho tertawa, “Tapi Cayhe sanggup menjamin dengan nama baikku bahwa Thi-losiansing benar-benar tidak pernah datang ke sini. Coba saja nona pikir dengan seksama, apabila benar Cayhe telah membunuh Thi-losiansing, betapa besar peristiwa luar biasa ini, umpama Cayhe hendak merahasiakannya rasanya juga sukar mengelabui orang Kangouw yang tidak kurang daripada tokoh-tokoh yang berhidung tajam. Apalagi kalau betul kubunuh Thi-losiansing, rasanya Cayhe juga tidak perlu merahasiakannya.”

Apa yang diucapkan Kang Piat-ho ini memang cukup beralasan dan masuk di akal. Harus maklum bahwa “Ong-say” Thi Cian, si Singa gila, adalah satu di antara kesepuluh top penjahat Cap-toa-ok-jin yang terkenal itu.

Bahwa orang-orang Kangouw banyak yang ingin membunuh Thi Cian dan kawanan Cap-toa-ok-jin itu dapatlah dimengerti pula. Maka kalau ada orang berhasil membunuhnya, bukan saja hal ini akan menggemparkan dan menggembirakan dunia Kangouw, bahkan setiap orang Kangouw pasti juga akan memberi pujian. Jadi kalau betul terjadi hal yang menggembirakan orang-orang Kangouw itu, mustahil kalau sengaja dirahasiakannya malah. Maka apa yang diucapkan Kang Piat-ho itu walaupun juga bernada menyindir, tapi juga masuk di akal.

Dasar watak Thi Sim-lan juga seperti ayahnya, yaitu berangasan dan pemberang, meski kedatangannya ini adalah untuk menuntut balas dan bila perlu mengadu jiwa, tapi sesungguhnya apakah ayahnya memang mati terbunuh di sini atau tidak, pada hakikatnya ia sendiri pun tidak tahu dengan pasti.

Begitulah Kang Piat-ho lantas berpaling dan memberi hormat kepada Bu-koat Kongcu, katanya dengan tertawa, “Kongcu benar-benar mutiaranya dunia Kangouw, sudah berpuluh tahun Cayhe berkecimpung di kalangan persilatan, tapi selama itu belum pernah melihat tokoh muda seperti Kongcu ini. Kalau tidak keberatan, bolehkah Cayhe mengetahui nama dan she Kongcu yang terhormat?”

Dengan tersenyum Bu-koat Kongcu menjawab, “Cayhe Hoa Bu-koat dan Tuan ….

“Cayhe Kang Piat-ho adanya,” sahut Kang Piat-ho sambil menghormat pula.

Seketika Thi Sim-lan melonjak kaget, teriaknya, “He, jadi engkau ini Kang Piat-ho, lalu siapa pula yang meringkuk di tempat tidur itu?”

Diam-diam Kang Piat-ho tertawa geli akan watak Thi Sim-lan yang ceroboh itu, tampaknya saja nona ini lemah lembut, tapi tindak tanduknya ternyata keras dan ceroboh, masa sejak tadi baru sekarang ditanyakannya siapa yang meringkuk di tempat tidur itu?

Tiba-tiba timbul suatu pikiran dalam benaknya, segera ia mendekati tempat tidur dan menepuk perlahan bahu Siau-hi-ji, lalu menjawab, “Anak ini adalah putra mendiang sahabatku yang berbudi, ia datang dari tempat jauh, maka Cayhe menyilakan dia tidur di kamarku ini. Eh, keponakan yang baik, lekas bangun dan menemui Hoa-kongcu.”

Berbareng dengan gerakan tangannya, serentak ia membuka Hiat-to di tubuh Siau-hi-ji yang ditutuknya, tapi segera pula tangannya menekan perlahan di bagian Hiat-to mematikan untuk berjaga-jaga bila Siau-hi-ji berani mengucapkan sesuatu yang tidak menguntungkan dia, maka sekali tangannya menyalurkan tenaga segera anak muda itu tak dapat bicara lebih lanjut lagi alias jiwa akan melayang.

“Orang muda memang suka tidur dengan nyenyak, buat apa tuan membangunkan dia,” ujar Bu-koat Kongcu dengan tertawa.

Sebagian kepala Siau-hi-ji terbenam di bantal, mendadak ia berkata, “Aku sudah mendusin sejak tadi, cuma aku malas bicara dengan mereka.”

Kang Piat-ho mengernyitkan kening, omelnya, “He, mana boleh kau bersikap tidak sopan begini?”

“Siapakah gerangannya di dunia Kangouw ini yang tidak kenal engkau orang tua adalah ksatria yang berbudi luhur dan baik hati,” demikian ucap Siau-hi-ji. “Tapi mereka justru menuduh engkau telah sembarangan membunuh orang. Manusia yang tidak bijaksana dan tidak dapat membedakan antara yang salah dan yang benar, untuk apa kubicara dengan dia.”

Semula Kang Piat-ho mengira dalam keadaan terancam, paling-paling Siau-hi-ji hanya akan tegur sapa sekadarnya saja. Siapa tahu anak muda itu berbalik bersuara membelanya, hal ini sungguh-sungguh tak pernah terpikir olehnya.

Dengan sendirinya Kang Piat-ho tidak tahu bahwa saat ini orang yang paling ditakuti Siau-hi-ji bukanlah dia melainkan si Bu-koat Kongcu yang cakap itu.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thi Sim-lan bersuara, “He, kau … kau ….” ia pandang Bu-koat Kongcu sekejap dan mendadak tersenyum, lalu menyambung dengan suara lembut, “O, kalau … kalau engkau memang tidak membunuh ayahku, ya sudahlah, marilah kita pergi saja.”

Kang Piat-ho jadi melengak, ia heran mengapa nona ceroboh ini bisa berubah menjadi begini lembut dalam waktu sesingkat ini.

Sudah tentu baik Kang Piat-ho maupun Bu-koat Kongcu tidak mengetahui bahwa meski Siau-hi-ji berbicara dengan suara yang dibikin serak, tapi Thi Sim-lan adalah nona yang pernah bergaul sekian lama dengan anak muda itu, bahkan nona muda itu sudah jatuh cinta padanya, siang dan malam anak muda itu senantiasa terkenang olehnya. Dengan sendirinya dia dapat mengenali suara Siau-hi-ji biarpun anak muda itu sengaja mengubah suaranya sedemikian rupa.

Karena itulah dengan terkejut dan bergirang ia bersuara hendak menegur, tapi segera teringat olehnya apabila Bu-koat Kongcu mengetahui orang yang meringkuk di tempat tidur itu adalah Siau-hi-ji, maka pasti anak muda itu akan dibunuhnya.

Sebab itulah lekas-lekas ia mengajak Hoa Bu-koat pergi saja.

Hubungan dan sangkut-paut antara beberapa orang ini benar-benar sangat ruwet, betapa pun pintar dan cerdiknya Kang Piat-ho juga seketika tidak dapat memahami seluk-beluknya. Ia hanya tertawa saja dan berkata, “Kebetulan Hoa-kongcu berkunjung kemari, mana boleh pergi lagi secara terburu-buru begini?”

Hoa Bu-koat tertawa, jawabnya, “Cayhe juga sudah lama mengagumi nama Kang-lam-tayhiap dan ingin minta petunjuk, cuma ….”

Diam-diam Siau-hi-ji bersyukur ketika melihat Hoa Bu-koat hendak pergi, tapi sekarang mendadak didengarnya ucapan Bu-koat Kongcu itu bernada tidak jadi berangkat, saking gugupnya ia lantas berseru pula, “Bila kau benar-benar ingin menemui paman Kang, sepantasnya kau tunggu sampai esok pagi baru berkunjung pula ke sini. Sekarang tengah malam buta kau masuk melalui jendela, mana sopan santunmu sebagai seorang ksatria?”

Air muka Hoa Bu-koat berubah merah padam, bentaknya mendadak, “Siapa kau sebenarnya?”

Cepat Thi Sim-lan menarik tangan Hoa Bu-koat dan berseru, “Peduli siapa dia, lekas kita pergi saja.”

Dengan setengah paksa ia seret Hoa Bu-koat keluar jendela, baru saja ia menghela napas lega, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, Hoa Bu-koat sudah menghilang. Waktu ia menoleh, anak muda itu ternyata sudah berada pula di depan pembaringan Siau-hi-ji.

Hampir seluruh kepala Siau-hi-ji dibenamkan ke dalam bantal, diam-diam ia memaki diri sendiri yang goblok.

Melihat Hoa Bu-koat sudah pergi mendadak kembali lagi, tentu saja Kang Piat-ho juga melongo bingung.

Tertampak Hoa Bu-koat menarik muka dengan prihatin, lalu bertanya dengan sekata demi sekata, “Apakah orang ini Kang Hi adanya?”

Kang Piat-ho melengak, jawabnya sambil menyengir, “Hehe, apakah … apakah Hoa-kongcu kenal akan keponakanku yang baik ini?”

Hoa Bu-koat menghela napas panjang, lalu berkata dengan berseri, “Hah, bagus, bagus sekali, kau ternyata tidak mati.”

Melihat anak muda itu sangat gembira, sama sekali tak diduganya bahwa yang digembirakannya adalah lantaran Ho Bu-koat merasa sekarang dapat membunuh Siau-hi-ji dengan tangannya sendiri, ia malahan mengira anak muda itu adalah sahabat karib Siau-hi-ji, maka dengan tertawa ia menjelaskan, “Dengan sendirinya dia tidak mati, andaikan ada orang hendak membunuhnya juga Cayhe takkan mengizinkan.”

“Kau tidak mengizinkan?” Hoa Bu-koat menegas dengan tak acuh.

Melihat sikap orang yang rada aneh itu, diam-diam Kang Piat-ho merasa heran.

Pada saat itulah tahu-tahu Siau-hi-ji telah melompat bangun dan sembunyi di belakang Kang Piat-ho dan mencibir pada Hoa Bu-koat, katanya dengan tertawa, “Nah, kau dengar sendiri, barang siapa ingin membunuh keponakan baik ‘Kang-lam-tayhiap’, maka dia sama saja sedang bermimpi.”

“Selamanya Cayhe sangat kagum dan hormat pada Kang-tayhiap, tapi apa pun juga Cayhe juga harus membunuh orang ini dan tiada pilihan lain,” ucap Hoa Bu-koat dengan tenang.

Kembali Kang Piat-ho melengak, serunya, “Kau … kau ingin membunuhnya?”

“Ya, mau tak mau Cayhe harus membunuhnya,” ucap Hoa Bu-koat dengan menyesal.

Kang Piat-ho memandang Hoa Bu-koat, lalu memandang Siau-hi-ji sekejap, diam-diam ia mengeluh, “Wah, celaka, akhirnya aku tetap tertipu oleh akal licik setan cilik ini.”

Maklumlah, sekali dia sudah bicara, sesuai nama baik dan kedudukannya, betapa pun ia tidak dapat tinggal diam dan membiarkan sang “keponakan” sendiri dibunuh orang lain di depan hidungnya.

Melihat sikap Kang Piat-ho yang serba salah itu, sungguh Siau-hi-ji gembira setengah mati, tapi di mulut dia sengaja bicara dengan menyesal, “Paman Kang, kukira jangan ikut campur dan biarkan dia membunuhku saja. Ilmu silat orang ini sangat tinggi, bagaimanapun engkau juga bukan tandingannya, jika engkau tidak ikut campur, orang Kangouw pasti juga takkan mencemoohkan dirimu.”

Siau-hi-ji sengaja menandaskan kata-kata “mencemoohkan dirimu” dengan suara keras, sebab ia tahu bila Kang Piat-ho tinggal diam saja dan membiarkan Hoa Bo-koat membunuhnya, maka sebutan “Kang-lam-tayhiap” yang diperolehnya dengan susah payah itu seketika akan terhanyut dan tidak laku sepeser pun.

Tentu saja Kang Piat-ho tahu maksud tujuan Siau-hi-ji, sungguh perutnya hampir meledak saking gemasnya, tapi lahirnya dia tetap tenang-tenang saja dan tersenyum, katanya, “Apakah Hoa-kongcu benar-benar hendak bikin susah Cayhe?”

“Sebaiknya engkau menimbang lagi lebih masak,” ucap Hoa Bu-koat dengan suara berat. “Jika begitu terpaksa Cayhe ….”

Belum habis ucapan Kang Piat-Ho, tiba-tiba Kang Giok-long menerobos masuk sambil memegangi perut sendiri, mukanya pucat pasi, tubuh gemetar.

“Arak … arak yang dia bawa itu beracun!” demikian seru Giok-long sambil menuding Siau-hi-ji dengan suara terputus-putus.

Seketika air muka Kang Piat-ho juga berubah, ia berpaling dan melototi Siau-hi-ji, bentaknya dengan bengis, “Kami ayah beranak menerima kau dengan baik, mengapa … mengapa kau hendak mencelakai kami malah? Pantas kau sendiri tidak … tidak minum barang setetes pun, kiranya arakmu itu ber … beracun!”

Perubahan ini bukan saja di luar dugaan Hoa Bu-koat, bahkan Siau-hi-ji juga melenggong.

Tapi segera ia paham duduknya perkara, diam-diam ia memaki di dalam hati, “Keparat, licin dan keji amat muslihatmu ini ….”

Akal bulus Kang Giok-long itu memang lihai, suasana seketika berubah sama sekali, sampai-sampai Kang Piat-ho pun tidak perlu merintangi lagi apa bila Hoa Bu-koat hendak membinasakan Siau-hi-ji, sebab sekarang mereka sudah berdiri dalam satu pihak, sama-sama hendak membunuh Siau-hi-ji.

Begitulah Kang Piat-ho mendadak melolos pedang pusakanya dan mendamprat, “Kuanggap kau seperti anak sendiri, tak tersangka demi mengincar pedang pusaka ini hendak kau racuni aku … kau manusia berhati binatang yang tidak tahu budi kebaikan, jika … jika kau dibiarkan hidup, entah betapa banyak orang yang akan menjadi korban kejahatanmu. Demi kesejahteraan keluarga, demi ketenteraman dunia Kangouw, terpaksa harus kubinasakanmu.” Habis berkata, sekali bergerak, kontan pedangnya terus menusuk ke dada Siau-hi-ji.

Di luar dugaan, baru saja ia melancarkan serangan, tahu-tahu Hoa Bu-koat melompat maju dan memegang tangan Kang Piat-ho dengan perlahan.

Kembali Kang Piat-ho terkejut oleh kegesitan anak muda yang cakap ini di samping juga heran, ia tidak mengerti mengapa Hoa Bu-koat mendadak berbalik merintanginya, bukankah Hoa Bu-koat sendiri juga bertekad hendak membunuh Siau-hi-ji?

“Hoa-Kongcu, ken … kenapa kau ….” tanyanya dengan bingung.

“O, maaf,” sahut Hoa Bu-koat. “Soalnya aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

Mendadak terdengar Kang Giok-long menjerit, berbareng tubuhnya lantas terkulai.

Segera Kang Piat-ho juga memegangi perut dan merintih, katanya dengan tersenyum pedih, “Jika … jika begitu, silakan kau turun tangan, Cayhe ….” belum habis bicara, ia terhuyung-huyung dan “bluk”, ia jatuh tertunduk di kursinya.

Hoa Bu-koat menghela napas, ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan diberikan kepada Kang Piat-ho sambil berkata, “Ini dua jenis obat, Siau-cu-hiang (dupa dewi) dan Soh-li-tan (pil gadis suci), yang satu dibakar dan dicium baunya, yang lain diminum, kedua macam obat ini sekaligus dapat menawarkan segala macam racun di kolong langit ini. Harap engkau memakainya sendiri, maaf, Cayhe tak dapat berdiam lebih lama di sini.”

Meski Hoa Bu-koat sudah bertindak dan sudah bicara dengan orang lain, namun sinar matanya tanpa berkedip selalu mengincar ke arah Siau-hi-ji. Maklumlah, dia sudah pernah diakali dan merasakan kelicikan akal bulus Siau-hi-ji sehingga anak muda itu dapat lolos. Keledai sekali pun takkan terperosot untuk kedua kalinya di tempat yang sama, begitu pula Hoa Bu-Koat tidak ingin mengulangi kejadian tempo hari, tatkala mana Siau-hi-ji dapat kabur, maka sekali ini dia tak berani lengah sedikit pun.

Rupanya Siau-hi-ji juga menyadari sekali ini dirinya jangan harap akan dapat meloloskan diri, maka sekalian ia lantas melipat kaki dan duduk bersila di atas ranjang. Dengan tertawa ia pandang Hoa Bu-koat, katanya, “Bahwa aku tidak jadi mati terbunuh, untuk ini aku harus mengucapkan selamat padamu.”

“Betul, bahwa kau tidak sampai mati dibunuh orang, sungguh beruntung bagiku,” sahut Bu-koat tertawa.

“Bila orang lain mendengar percakapan kita, mungkin mereka akan mengira kau ini biniku yang menyamar sebagai lelaki. Kalau tidak, masa aku tidak jadi mati kok malah mengucapkan selamat padamu.”

Hoa Bu-koat tidak jadi marah, ia tertawa tak acuh, jawabnya, “Nanti kalau kau sudah mati kubunuh, tentu mereka akan tahu bahwa dugaan mereka salah sama sekali.”

Memangnya kau yakin sekali ini pasti dapat membunuh diriku?”

“Sekali ini biarpun kau ingin membunuh diri juga tidak mungkin terjadi.”

“O, begitukah?” Siau-hi-ji menegak alis.

Dengan tenang Hoa Bu-koat menjawab, “Dalam jarak sedekat ini, asalkan tangan seseorang bergerak sedikit saja, seketika aku dapat mendahului menutuk delapan belas tempat Hiat-to di kedua lenganmu.”

Dia bicara dengan acuh tak acuh seakan-akan sedang mengobrol iseng sesuatu hal yang paling mudah dan sederhana, tapi bagi pendengaran Siau-hi-ji, ia percaya apa yang diucapkan seterunya itu sedikit pun bukan bualan.

Pada saat itulah Thi Sim-lan yang berdiri di luar jendela sana mendadak menggetarkan goloknya yang tipis sehingga menimbulkan suara mendenging. Golok itu ada sepasang, tadi sudah patah satu sehingga masih sisa sebuah.

Mendengar suara senjata itu, biji mata Siau-hi-ji berputar, tiba-tiba timbul sesuatu perasaannya, katanya dengan tertawa, “Tidaklah pantas jika kau membunuhku di sini.”

“Di mana pun boleh, tempat bukan soal bagiku,” ucap Bu-koat.

“Apakah kau berani membiarkan aku berjalan keluar sendiri?”

“Memangnya kau kira dapat kabur?” jawab Hoa Bu-koat tersenyum.

“Untuk apa kau pikir sejauh itu? Aku hanya tidak suka dipondong keluar olehmu dan ingin berjalan sendiri.”

Habis berkata ia lantas melompat turun dari tempat tidur, ia pandang sekejap kepada Kang Piat-ho dan Kang Giok-long. Jika orang lain, bukan mustahil saat ini rahasia kemunafikan ayah beranak itu pasti akan dibongkarnya habis-habisan.

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak mau berbuat demikian, ia tahu cara demikian hanya akan sia-sia dan membuang tenaga belaka. Seumpama dia dapat membikin Hoa Bu-koat percaya Kang Piat-ho adalah manusia paling keji dan munafik di dunia ini, toh Hoa Bu-koat juga tetap akan membunuhnya lebih dulu, dengan demikian ia menjadi lebih sukar lagi untuk lolos. Mana lagi apa yang dikatakannya juga belum tentu dipercaya oleh Hoa Bu-koat.

Begitulah Siau-hi-ji lantas melangkah keluar. Rumah ini adalah bangunan model kuno, ambang jendelanya sangat pendek mirip ambang pintu saja. Maka sekali melangkah saja Siau-hi-ji sudah berada di luar. Ia pandang Thi Sim-lan, nona itu juga sedang memandangnya, matanya yang jeli itu entah betapa banyak mengandung perasaan yang ruwet dan kusut, rasanya siapa pun sukar menelaahnya dengan jelas.

Nona itu masih menggetarkan goloknya yang tipis lentik itu sehingga menerbitkan suara mendenging.

Angin malam meniup sepoi-sepoi dingin. Siau-hi-ji terus melangkah ke depan, sama sekali ia tidak menoleh kepada Hoa Bu-koat, tapi ia yakin pemuda itu pasti berada tidak jauh di belakangnya, ia pikir menoleh juga tiada gunanya.

Begitulah dengan berlenggang bebas ia berjalan lewat di samping Thi Sim-lan.

Sekonyong-konyong sinar golok berkelebat, Liu-yap-to, golok sempit tipis laksana daun pohon Liu yang dipegang Thi Sim-lan itu mendadak membacok ke belakang Siau-hi-ji.

Sudah tentu Siau-hi-ji tahu serangan itu ditujukan kepada Hoa Bu-koat. Biarpun kepandaian Hoa Bu-koat setinggi langit juga mesti menghindar dulu serangan ini. Maklumlah, betapa pun ilmu golok Thi Sim-lan juga tergolong kelas tinggi.

Pada saat sinar golok berkelebat itulah Siau-hi-ji lantas melompat ke depan. Didengarnya Thi Sim-lan berseru, “Tangkap ini ….”

Kiranya bacokannya baru mencapai setengah jalan, mendadak arahnya berubah, Liu-yap-to tiba-tiba dilemparkan kepada Siau-hi-ji. Dan bila anak muda itu sampai memegang senjata, maka kisah membunuh diri di Go-bi-san tempo hari itu tentu dapat berulang pula.

Tak tersangka, selagi golok itu melayang di udara, sekonyong-konyong terdengar suara “tring”, sisa Liu-yap-to ini secara ajaib mendadak juga patah menjadi dua dan jatuh ke tanah.

Dalam pada itu Hoa Bu-koat tahu-tahu sudah berada pula di belakang Siau-hi-ji, katanya tenang-tenang seperti tidak terjadi apa-apa, “Apakah kau masih hendak berjalan lebih jauh lagi?”

Kalau orang tidak menyaksikan permusuhan mereka dan cuma mendengar ucapan Hoa Bu-koat saja, pasti orang akan menyangka mereka adalah sahabat karib yang akan pergi melancong. Betapa tidak, Hoa Bu-koat tetap ramah tamah, tetap tersenyum simpul, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu persoalan di antara mereka. Malahan ia pun tidak menoleh, tidak memandang Thi Sim-lan barang sekejap saja.

Ia tahu, bilamana ia memandang Thi Sim-lan, maka nona itu pasti akan malu dan tiada muka lagi buat bertemu dengan dia. Selama hidup Hoa Bu-koat tidak pernah menyinggung perasaan anak perempuan mana pun juga, apalagi anak perempuan ini ialah Thi Sim-lan.

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh, terpaksa ia berjalan terus ke depan.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia berkata dengan gegetun, “Tampaknya kau sangat baik terhadap anak perempuan.”

“Ya, itu sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil,” jawab Bu-koat dengan tertawa, “Kebiasaan kan sukar diubah bukan?”

“Tapi kalau anak perempuan bermuka sangat jelek, lalu bagaimana?”

“Asalkan anak perempuan, mukanya baik atau jelek kukira sama saja.”

“Haha, aku menjadi ingin mencarikan seorang anak perempuan yang bermuka sangat buruk, ya botak, ya kudisan, ya pesek, ya sumbing, ya pincang, ya … ya … ya burik …. Nah, akan kulihat cara bagaimana kau akan bersikap baik padanya?”

“O, sungguh menyesal, mungkin kau tidak mempunyai kesempatan begitu lagi,” kata Hoa Bu-koat.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas dan berkata pula, “Sungguh fantastis dan sukar dibayangkan bahwa selagi kau hendak membunuh seseorang, tapi tanpa gugup tanpa gelisah kau masih dapat mengajak berkelakar dan mengobrol dengan dia, ini benar-benar sukar dibayangkan.”

“Mengobrol dan membunuh adalah ….”

“Adalah dua persoalan yang berlainan, begitu bukan maksudmu?

“Betul, aku sendiri ingin mengobrol denganmu, tapi perintah yang kuterima mengharuskan diriku membunuhmu. Makanya kedua soal ini sama sekali berlainan dan tiada sangkut-pautnya satu sama lain.”

“Sungguh aku tidak paham, cara bagaimana kau dapat memisahkan persoalan ini?”

“Inilah ajaran yang kuperoleh sejak kecil.”

“Ai, kau benar-benar anak yang baik dan penurut.”

Hoa Bu-koat tertawa, katanya kemudian, “Kau hendak berjalan pula ke depan?”

“Ya, sebenarnya aku ingin berjalan terus ke depan, bahkan berjalan semakin jauh,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. “Tapi soalnya kau yang hendak membunuhku dan bukan aku yang ingin membunuhmu, pada hakikatnya kau tidak perlu meminta pendapatku.”

“O, jika begitu … jika begitu boleh berhenti saja di sini,” kata Hoa Bu-koat dengan perlahan dan rikuh.

Siau-hi-ji memandang sekelilingnya, di bawah cahaya bintang yang kelap-kelip redup tertampak bayangan pegunungan Ku-san yang besar di kejauhan, daun pepohonan yang berdekatan tampak sudah mulai layu dan rontok. … Malam di musim rontok sudah jauh larut ….

Siau-hi-ji bergumam, “Sungguh aneh, musim rontok di daerah Kang-lam mengapa begini dini datangnya dan aku Kang Hi, Kang Siau-hi mengapa pula harus mati sedini dan semuda ini? ….”

*****

Setelah Hoa Bu-koat bertiga pergi jauh barulah Kang Giok-long melompat bangun.

Kang Piat-ho berbangkit, dengan tertawa ia pandang putranya itu, katanya, “Tak tersangka caramu mencari akal pada saat gawat ternyata jauh lebih pintar daripadaku.”

Giok-long menunduk, jawabnya, “Ah, mana anak dapat dibandingkan dengan ayah, anak hanya ….”

“Di depan ayahmu sendiri tidak perlu banyak pikir,” ucap Kang Piat-ho. “Seumpama kau memang lebih cerdik dan pintar daripadaku juga aku merasa bersyukur, masakah aku sampai berbuat sesuatu yang tidak pantas padamu?”

Giok-long menunduk dan mengiakan.

Kang Piat-ho meraba-raba botol kecil porselen Hoa Bu-koat itu, katanya kemudian sambil berkerut kening, “Siau-cu-hiang dan Soh-li-tan … sungguh tidak nyana bocah she Hoa itu adalah anak murid Ih-hoa-kiong. Munculnya bocah ini di dunia Kangouw membuatku mau tak mau harus hati-hati.”

“Meski ilmu silatnya amat tinggi, tapi dia sama sekali tidak paham seluk-beluk orang hidup, kenapa mesti dikhawatirkan?” ujar Giok-long.

“Orang ini tampaknya hijau dan bodoh, tapi sesungguhnya mahapintar, mana kau dapat menjajaki pribadinya yang sesungguhnya?” kata Kang Piat-ho gegetun.

“Nona she Thi itu memang betul rada-rada mirip orang pintar yang tampaknya bodoh seperti ucapan ayah,” kata Giok-long dengan tertawa. “Cuma … seperti apa yang dikatakannya tadi, apakah ayahnya benar-benar tidak pernah datang ke sini? Betulkah ayah tidak pernah membunuhnya?”

Kang Piat-ho menjengek, katanya, “Walaupun aku belum pernah melihat Thi Cian si Singa Gila, tapi anak perempuan seperti nona Thi tadi, biasanya apa yang dikatakannya pasti tidak dusta.”

“Jika dia tidak berdusta dan membual, sedangkan engkau orang tua juga tidak pernah melihat datangnya si Singa Gila Thi Cian, lalu, bagaimana duduknya perkara sehingga nona Thi itu mencari ayahnya ke tempat kita ini?” kata Giok-long dengan mengernyit dahi.

“Ya, itu berarti bahwa si singa gila Thi Cian pasti pernah meninggalkan jejak di sini, bisa jadi kedatangannya dalam penyamaran, dan karena kelengahanku sehingga tak dapat kukenali dia.”

“Tapi … tapi nona itu pun menyatakan bahwa setelah ayahnya datang ke tempat kita ini, lalu … lalu tak pernah lagi pergi dari sini,” ujar Kang Giok-long.

“Betul, kukira saat ini dia mungkin masih berada di sini,” ucap Kang Piat-ho dengan tenang-tenang saja.

“Masih berada di sini?” Giok-long menegas dengan rada melengak.

Kang Piat-ho mendengus, lalu berdiri, katanya pula dengan dingin, “Kau jangan lupa bahwa yang berada di sini selain kita ayah beranak, kan masih ada lagi satu orang?!”

“Hah, maksud ayah si bisu-tuli itu?” seru Giok-long.

“Bisu-tuli kenapa? Memangnya orang tak dapat berlagak bisu-tuli?”

“Tapi … tapi ayah pernah mencoba dengan merunduk dari belakang dan mendadak membunyikan gembreng besar di tepi telinganya, waktu itu kupandang dari depan dan jelas dia sama sekali tidak mendengar bunyi gembreng yang keras itu, bahkan berkedip saja tidak.”

“Orang yang memiliki kekuatan batin, biarpun gunung longsor di depan matanya juga takkan membuatnya gugup, apalagi mata berkedip?”

Segera Kang Giok-long berkata pula dengan suara tertahan, “Apakah ayah tahu saat ini dia berada di mana? Bisa jadi sudah kabur lebih dulu.”

Tapi Kang Piat-ho sengaja membesarkan suaranya, katanya dengan bengis, “Dia menyangka aku takkan mencurigai dia, maka saat ini dia pasti berada di sini. Pokoknya bila sebentar kita pergoki dia, seketika juga kita binasakan dia dan jangan memberi kesempatan padanya untuk bicara. Lebih baik kita salah membunuh seratus orang daripada seorang mata-mata terlolos. Nah, camkan dan ingat baik-baik petuahku ini.”

Kalau Kang Giok-long khawatir pembicaraan mereka didengar oleh orang, makanya dia berkata dengan suara tertahan, tak tahunya sang ayah justru sengaja bicara dengan suara keras, tentu saja ia merasa bingung dan heran. Apabila si kakek memang benar tidak bisu dan tuli, bukankah akan segera kabur bila mendengar ucapannya? Tapi setelah dipikir lagi, segera ia pun paham maksud kehendak sang ayah. Pikirnya, “Bisa jadi ayah sudah tahu kakek bisu tuli itu berada di sekitar sini, maka ayah sengaja bicara keras-keras, jika dia melarikan diri ketakutan, ini akan lebih terbukti bahwa dia memang betul si Singa Gila Thi Cian, tatkala mana belum lagi terlambat untuk mengejarnya.”

Dalam pada itu Kang Piat-ho lantas melangkah ke sana, “blang”, mendadak ia menolak daun pintu sekeras-kerasnya.

Di luar sana adalah serambi yang panjang, pada ujung serambi sana ada sebuah rumah kecil, di dalam rumah sana tampak cahaya api, yaitu api tungku yang sedang berkobar, si kakek bisu-tuli itu tampak berjongkok di tepi tungku lagi masak air.

Tanpa bergerak sedikit pun kakek itu berjongkok di situ, tenang dan tenteram dia menantikan mendidihnya air yang dimasaknya.

Selama hidupnya dia sudah biasa “menunggu” dan entah sudah berapa lama dia akan “menunggu” lagi? Terhadap soal “menunggu” sudah tentu dia jauh lebih paham dan lebih bersabar daripada orang muda. Walaupun ia menyadari bahwa manusia yang sebaya dengan usianya sekarang, selain “mati” kiranya tiada sesuatu lagi yang perlu ditunggu dan tentu juga tiada sesuatu yang dapat diharapkan pula.

Dalam pada itu Kang Piat-ho sudah berada tidak jauh di belakang kakek loyo itu, mendadak ia membentak dengan bengis, “Bagus, mirip benar penyamaranmu, tapi betapa pun juga akhirnya toh konangan, sekarang serahkan jiwamu padaku!”

Habis berkata, secepat kilat ia melompat maju, telapak tangannya terus menghantam batok kepala kakek itu.

Tapi seperti tidak tahu apa-apa, kakek itu hanya menengadah saja dan tersenyum kepada sang majikan sambil menuding cerek air yang sedang dimasaknya, sikapnya seakan-akan hendak berkata, “Air sudah mendidih, segera akan kuseduhkan teh bagimu.”

Telapak tangan Kang Piat-ho yang menghantam itu akhirnya jatuh perlahan di atas pundak si kakek. Betapa pun ia menjadi ragu-ragu pada detik terakhir. Apabila si kakek dapat mendengar sepatah katanya saja, mustahil sikap dan senyumnya dapat begitu tenang dan wajar.

Sudah tentu Kang Piat-ho tidak tahu bahwa ada sementara orang terkadang memang dapat tersenyum dengan tenang dan wajar sekalipun menghadapi maut yang akan merenggut jiwanya.

Orang demikian memang jarang-jarang ada, satu di antaranya misalnya Siau-hi-ji ….

*****

Bintang berkelip-kelip dengan cahayanya yang suram menyinari wajah Hoa Bu-koat, wajah yang putih bersih tanpa cacat.

Sang pangeran yang didambakan setiap gadis di dunia ini mesti beginilah bentuknya. Hoa Bu-koat, model pemuda yang paling sempurna di kolong langit ini.

Sambil memandangi seterunya itu, tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Tahukah bahwa namamu ‘Bu-koat’ sungguh sangat bagus dan tepat, memang betul kau tiada sesuatu kekurangan, tiada cacat … kau berasal dari tempat yang diagungkan dunia persilatan, yang namanya paling termasyhur dan disegani. Kau muda dan cakap, segala keperluanmu serba kecukupan, tidak pernah khawatir kekurangan uang. Ilmu silatmu dapat membuat setiap orang Kangouw tunduk dan menghormat padamu. Kecakapanmu, tutur katamu dan sikapmu yang menarik dapat pula membuat setiap gadis di dunia ini tergila-gila padamu. Namun juga suci bersih tanpa cela, bahkan di belakangmu juga orang lain tiada alasan buat menista dirimu.”

Siau-hi-ji menggeleng-geleng, lalu menambahkan dengan tertawa, “Jika di dunia ini ada manusia yang sempurna tanpa cacat, maka orang itu ialah dirimu.”

“Terima kasih banyak-banyak atas pujianmu,” ucap Hoa Bu-koat dengan tersenyum.

“Akan tetapi sekarang tiba-tiba kutemukan sesuatu, sesuatu atas dirimu, bahwa kau ternyata juga ada sesuatu kekurangan,” sambung Siau-hi-ji dengan perlahan.

“O, apa itu?” tanya Hoa Bu-koat, seperti acuh tak acuh.

“Perasaan!” jawab Siau-hi-ji. “Kekuranganmu adalah perasaan, ya, perasaan. Dari ubun-ubun sampai ujung jari kakimu sudah kulihat bahwa kekuranganmu hanyalah perasaan, kau ini manusia sempurna yang minus perasaan. Darah yang mengalir di tubuhmu mungkin adalah darah dingin.”

“O, begitukah?” Hoa Bu-koat hanya tersenyum hambar saja.

“Tentunya kau tidak dapat menerima tuduhanku ini, bukan?” tanya Siau-hi-ji. “Baik, coba jawab, apakah kau benar-benar paham artinya cinta? Tahukah apa itu benci atau dendam? Pernahkah kau rasakan bagaimana rasanya cinta dan bagaimana rasanya benci?”

Ia melangkah terus ke depan sambil menyambung pula, “Kuyakin, bahkan kekesalan dan kerisauan juga tak pernah kau rasakan. Umpamanya sakit, ketuaan, masygul, kemiskinan, kecewa, berduka, malu, gusar … semua ini adalah penderitaan yang tak dapat dihindari oleh manusia umumnya, akan tetapi, kau tidak kenal semua itu, tiada satu pun yang pernah kau rasakan, semua itu tiada terdapat dalam kamus hidupmu …. Coba, seorang yang sama sekali tidak kenal apa artinya siksa derita, cara bagaimana pula dapat mengetahui betapa rasanya bahagia?”

Setelah menghela napas, perlahan-lahan Siau-hi-ji menyambung lagi, “Kalau toh kau tidak pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh dan juga tidak pernah membenci atau dendam pada seseorang, kau tidak memiliki kesukaran, tidak tahu penderitaan dan juga tidak paham kebahagiaan … orang lain mungkin akan kagum padamu, tapi aku justru berpendapat manusia hidup seperti dirimu ini pada hakikatnya tidak ada artinya.”

Hoa Bu-koat termenung sejenak, sikapnya masih tetap tenang-tenang saja tanpa memperlihatkan sesuatu perubahan perasaan, dia cuma tersenyum hambar saja, katanya kemudian, “Mungkin apa yang kau katakan ini memang betul, bisa jadi pengaruh lingkungan yang membuat diriku menjadi begini.”

“Betul,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum getir, “Hanya Ih-hoa-kiong saja yang dapat menciptakan manusia seperti dirimu dan menjadikanmu manusia patung, patung hidup. Meski kau senantiasa ramah tamah dan sopan santun terhadap siapa pun juga, tapi dalam hati pasti tidak pernah menganggap mereka pantas dihormati, biarpun kau selalu bersikap halus kepada setiap anak perempuan, tapi kau pun pasti tidak benar-benar menyukai mereka.”

Lalu ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, “Seumpama kau hendak membunuh orang, dalam hatimu juga belum pasti menganggap orang itu memang harus dibunuh.”

“Ya, semua ini memang harus disesalkan,” ujar Hoa Bu-koat.

“Baiklah, ucapanku sudah habis, silakan mulai turun tangan saja,” kata Siau-hi-ji akhirnya sambil menengadah dan tertawa. “Aku pun ingin tahu sesungguhnya kau dapat membunuhku dalam berapa jurus serangan.”

“Apakah kau ingin memakai senjata?” tanya Bu-koat.

“Aku tidak membawa senjata,” jawab Siau-hi-ji.

“Jika kau ingin memakai senjata dapat kutemani kau pergi ke tempat yang terdapat senjata dan nanti boleh kau pilih sesukamu,” kata Bu-koat.

“Sudah terang kau tahu sekali-kali aku bukan tandinganmu sekali pun aku memakai senjata, sudah jelas kau hendak membunuhku, tapi sikapmu masih begini halus dan begini sopan padaku,” ujar Siau-hi-ji tersenyum getir “Jika dilihat orang lain, tentu kau dianggap keji dan culas. Akan tetapi aku cukup kenal dirimu, aku tahu pasti engkau bukan manusia yang demikian itu, sebab pada hakikatnya kau tidak kenal apa artinya pura-pura, apa artinya munafik, sebab kau memang tidak perlu munafik dan apalagi berpura-pura.”

“Sesungguhnya kau sangat memahami diriku,” ucap Bu-koat.

“Makanya mungkin sangat sulit jika kau ingin mencari lagi seorang yang dapat memahami dirimu seperti aku ini,” kata Siau-hi-ji.

“Ya, memang betul,” tukas Bu-koat dengan gegetun.

Siau-hi-ji mengusap bibirnya yang terasa kering itu, katanya pula, “Rasanya aku tidak perlu menggunakan senjata, silakan saja kau turun tangan sekarang.”

Hoa Bu-koat menengadah memandang angkasa raya yang kelam itu, angin musim rontok meniup berdesir membawa daun kering yang rontok, cahaya bintang semakin redup, jagat raya ini serasa diliputi kesunyian yang mencekam. Dengan rasa hampa ia bergumam, “Hawa begini ….”

“Hawa begini memang sangat cocok untuk membunuh orang,” tukas Siau-hi-ji.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara Thi Sim-lan menyambung, “Hawa begini sungguh membuatku menggigil kedinginan ….” tahu-tahu nona itu telah muncul di antara mereka dalam keadaan luar biasa … dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.

Cahaya bintang yang redup itu dengan halus menyinari sekujur badan Thi Sim-lan.

Tubuh yang putih bersih mulus itu tampaknya seperti ukiran gading karya ahli pahat yang tiada taranya.

Rasanya di dunia ini sukar dicari tubuh gadis telanjang yang semulus, seindah dan secemerlang ini, sungguh membuat orang sesak napas melihat tubuh yang mulus ini.

Seketika napas Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat juga seakan-akan berhenti. Dengan terputus-putus Hoa Bu-koat berkata, “Kau … kenapa kau ….”

Thi Sim-lan berpaling menghadapi Hoa Bu-koat, katanya dengan hampa, “Bagus tidak tubuhku ini?” Dada yang montok itu tampak bergerak naik turun, di bawah cahaya bintang yang redup itu tampaknya sedemikian menggiurkan, mustahil laki-laki di dunia ini takkan menelan air liur bila melihat tubuh yang mulus begitu.

Tanpa terasa Hoa Bu-koat memejamkan matanya, katanya dengan gemetar, “Kau … kau ….”

Mendadak Thi Sim-lan menubruk maju dan merangkul Hoa Bu-koat erat-erat. Seketika anak muda itu merasakan sesosok tubuh yang halus licin dan dingin memeluknya, jantungnya berdebar-debar hebat sehingga tangan pun terasa gemetar dan lemas.

Selama hidup Hoa Bu-koat belum pernah timbul perasaan membara begini, seakan-akan pingsan rasanya dia, jantung seperti mau meledak dan … hakikatnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Orang mampus … ken … kenapa kau masih berdiri di situ?” omel Thi Sim-lan dengan suara gemetar, ucapannya itu tertuju kepada Siau-hi-ji.

Ternyata Siau-hi-ji juga berdiri mematung di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Aku … aku bertindak begini dan kau … kau malah tidak mau lekas pergi?” jerit Thi Sim-lan dengan suara serak.

Tiba-tiba air mata menetes dari mata Siau-hi-ji.

Untuk pertama kalinya selama hidup Siau-hi-ji mencucurkan air mata, ia pun tidak tahu air mata ini air mata terharu, air mata berterima kasih atau air mata berdukacita atau air mata murka atau air mata malu diri?

Pada hakikatnya tangan Hoa Bu-koat tidak berani bergerak, apalagi untuk menyentuh tubuh Thi Sim-lan, karena itu, dengan sendirinya ia tak dapat meronta dan melepaskan diri dari rangkulan si nona. Dahinya sudah berkeringat dan mata masih terpejam, ia hanya dapat berseru berulang-ulang, “Lepaskan … lepaskan ….”

Air mata pun tampak membasahi wajah Thi Sim-lan, dilihatnya Siau-hi-ji masih tetap mematung di situ, dengan dongkol ia berteriak pula, “Jika … jika kau tidak mau pergi, biar kumati di … di hadapanmu saja!”

“Aku … aku. …” sungguh Siau-hi-ji tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Akhirnya dia memandang Thi Sim-lan sekejap, pandangan yang paling berarti … tubuh yang suci bersih dan mulus ini dengan air mata yang membasahi wajah yang cantik itu, semua ini pasti akan tetap terukir di dalam sanubarinya dan takkan dilupakannya selama hidup.

Mendadak Siau-hi-ji meraung keras-keras satu kali, seperti orang gila ia terus membalik tubuh dan berlari pergi laksana orang kesurupan.

*****

Bintang-bintang di langit semakin jarang-jarang, jagat raya ini semakin sunyi.

Seperti seekor binatang yang terluka Siau-hi-ji berlari-lari terus tanpa arah tujuan, sampai sekian lamanya ia lari di tengah malam senyap di ladang belukar, dia tidak tahu sudah berapa jauh berlari-lari dan entah sudah berlari sampai di mana?

Ia tidak menangis lagi, air matanya sudah kering, hatinya kusut, sekusut rambutnya. Selama hidupnya tak pernah dia menderita seperti sekarang ini, belum pernah bingung dan risau seperti ini.

Tertampak petak-petak sawah membentang luas, tanaman padi sudah membutir, batang padi bergoyang-goyang tertiup angin malam laksana gelombang samudera raya.

Tanpa pikir Siau-hi-ji berlari dan menyusup ke tengah-tengah sepetak sawah, di bawah cahaya bintang yang remang-remang ia terus merebahkan diri.

Air lumpur membenam sebagian tubuhnya, sinar bintang yang berkedip-kedip itu tampaknya semakin jauh dipandang dari rumpun batang padi yang lebat, tampaknya semakin kabur dan sukar diraba.

Ia menggigit bibir sendiri, bibir sudah pecah-pecah tergigit, tapi sama sekali tak terasa olehnya, maklumlah, derita batinnya jauh lebih sakit daripada sakit lahiriahnya, berpuluh kali lebih menderita.

Ia coba bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apakah aku dapat dianggap sebagai manusia?”

Kuanggap diriku manusia super, siapa pun tak dapat membandingi diriku, kupandang rendah orang lain, tapi bilamana orang hendak membunuhku, nyatanya sedikit pun aku tak berdaya, tak mampu melawan.

Kupandang rendah perempuan, lebih-lebih Thi Sim-lan, lantaran kutahu dia mencintai diriku, makanya aku sengaja menggoda dia, menyiksa dia, sedapatnya aku berusaha membuatnya menderita, melukai hatinya. Tapi akhirnya, akhirnya aku harus menerima pengorbanannya untuk menyelamatkan diriku!

Selamanya kuanggap diriku ini manusia mahapintar, manusia paling cerdik di dunia ini, tapi sekarang aku seperti seekor anjing budukan yang diusir dan dikejar orang, aku lari seperti anjing mencawat ekor.

Biarpun sekali ini aku dapat kabur dengan selamat, tapi selama hidupku masakah harus berlari-lari seperti ini? Apakah selama hidupku ini harus selalu memohon pertolongan orang untuk menyelamatkan jiwaku?

Memang betul, tipu akal Hoa Bu-koat tidak selihai aku, tapi orang seperti dia itu buat apa mesti memakai tipu akal? Soalnya dia memiliki kepandaian sejati, kepandaian asli.

Sedangkan aku? …. Aku hanya mengandalkan nasib belaka … seseorang kalau cuma pintar saja tanpa memiliki kepandaian sejati, lalu apa gunanya?

“Selalu kuanggap tokoh-tokoh di Ok-jin-kok itu sama takut padaku, makanya aku menjadi sok, kuangggap diriku ini mahahebat, tak tahunya bahwa sebabnya mereka itu takut padaku hanyalah serupa ayah-ibu yang memanjakan anaknya yang binal, kalau benar-benar bergebrak, memangnya aku dapat mengalahkan To Kiau-kiau? Atau Toh Sat, atau ….”

Begitulah Siau-hi-ji berbaring di tengah sawah dan merenungkan kepribadiannya, ia pikir dan menimbang bolak-balik.

Tanpa terasa fajar sudah menyingsing, sang surya sudah mengintip di ufuk timur, tidak jauh di persawahan itu sudah terdengar suara gonggong anjing dan suara orang.

Tapi Siau-hi-ji masih saja berbaring di situ tanpa bergerak, matanya masih terpentang lebar walaupun semalam suntuk dia tak tidur.

Pagi berganti siang dan siang berganti malam, hari sudah gelap pula, angin yang mendesir sayup-sayup itu membawa bau sedap kukus nasi.

Akhirnya Siau-hi-ji merangkak bangun, tubuhnya penuh berlumuran lumpur, mukanya juga berlepot lumpur kotor, tapi ia tak peduli, ia terus melangkah ke depan menyusuri pematang sawah.

Dari kejauhan dilihatnya di depan sana ada kelip bintik-bintik cahaya api, agaknya di depan sana adalah sebuah kota.

Benar juga, memang sebuah kota, kota yang kecil, walaupun sudah malam, tapi jalan kota masih cukup ramai, terdengar suara tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu, ada lampu berkerudung kertas merah yang menyinari tengah kalangan.

Rupanya ada sebuah rombongan pemain akrobat yang sedang mengadakan pertunjukan, pada umumnya rombongan pemain akrobat begini adalah kaum pengembara yang terdapat di mana-mana.

Dalam keadaan limbung Siau-hi-ji terus menerobos ke tengah-tengah kerumunan penonton. Melihat keadaannya yang kotor penuh lumpur itu, tentu saja para penonton yang dijubel oleh Siau-hi-ji sama mengumpat, tapi mau tak mau juga sama menyingkir memberi jalan.

Siau-hi-ji langsung maju ke bagian paling depan, di situlah dia berjongkok menyaksikan permainan akrobat. Dilihatnya seorang anak perempuan berbaju merah dengan rambut berkepang menjadi dua kuncir kecil sedang main berjalan di atas tali. Anak perempuan ini bermata besar dan berwajah lumayan.

Selain anak perempuan yang sedang main berjalan di atas tali itu, ada pula beberapa orang lagi tua dan muda yang sedang main senjata, ada pula yang sedang berjumpalitan, sebagian lagi sibuk menabuh dan memukul bereng-bereng atau bende.

Siau-hi-ji hanya berjongkok saja di situ, pada hakikatnya ia tidak tahu pertunjukan apa yang sedang berlangsung di depannya, dia hanya merasa hampa, merasa sunyi dan ingin melihat wajah orang yang mengulum senyum.

Entah sudah berapa lama ia berjongkok di situ, samar-samar ia merasa ada orang bersorak-sorai, ada orang berkeplok dan berjingkrak, ada pula suara gemerencingnya mata uang yang dilemparkan orang ke tengah kalangan.

Kemudian kerumunan penonton pun bubar, rombongan pemain akrobat itu pun sibuk berbenah dan mengukuti alat perabotnya. Si gadis cilik berbaju merah yang main tali tadi tidak bekerja seperti lain-lainnya, bagai seorang tuan saja ia duduk di samping sana dan sedang minum.

Melihat Siau-hi-ji berjongkok di situ, nona cilik itu memandang sekejap sambil mengernyitkan dahi, matanya yang besar itu tampak gemerlap, mendadak ia merogoh sebuah mata uang terus dilemparkan ke depan Siau-hi-ji, habis itu ia lantas melengos lagi ke sana.

Siau-hi-ji masih dalam keadaan limbung, pada hakikatnya ia tidak tahu apa yang dilemparkan si nona cilik itu, maka ia pun tidak memungutnya.

Kemudian rombongan pemain akrobat itu pun berlalu. Dengan tegak si nona cilik baju merah berjalan lewat di samping Siau-hi-ji, seperti tidak sengaja, dengan kakinya ia menyepak mata uang tadi ke sebelah kaki Siau-hi-ji, maksudnya agar dapat dicapai tangan anak muda itu dan mengambilnya.

Itulah hati nurani manusia sejati, manusia yang pada dasarnya berhati bajik, manusia yang melihat kesukaran dan kemiskinan orang lain lantas melupakan keadaan sendiri.

Rombongan pemain akrobat itu sedang bicara dan tertawa, sedang berunding acara pertunjukan mereka dan menghitung hasil usaha sehari ini cukup makan apa dan dapat membeli berapa kati arak. Mengenai esok, esok adalah urusan esok, mereka tidak perlu merisaukan urusan esok, sekalipun esok akan terjadi sesuatu yang malang, biarpun esok tak dapat makan, biarlah dirisaukan saja esok, yang penting adalah hari kini, asalkan hari kini dapat makan enak dan minum arak dan habis perkara.

Itulah kehidupan praktis manusia yang berhati lapang, apa yang dipikirkan dan diharapkan Siau-hi-ji saat ini justru adalah kehidupan yang cuma ada “hari kini” dan tiada “hari esok” begini.

Segera ia pungut mata uang tadi dan ikut di belakang rombongan pemain akrobat itu. Tidak jauh di depan sana adalah sebuah sungai, di tepi sungai sana tertambat sebuah kapal, di dekat haluan kapal menanti seorang kakek kekar, agaknya kakek itulah pemimpin mereka.

Usianya sudah di atas enam puluh, tapi tubuhnya masih kekar seperti orang muda, biarpun kehidupannya mengembara kian kemari tidak menentu, tapi tidak mengurangi gairah hidupnya yang menyala.

Mendadak Siau-hi-ji memburu maju, dengan sangat hormat dia menjura, katanya, “Loyacu, bolehkah aku ikut ‘Cau-kang-ouw’ (mengembara) bersamamu?”

Kakek itu menoleh dan memandang anak muda itu sekejap, jawabnya sambil menggeleng, “Anak muda, Cau-kang-ouw bukanlah pekerjaan yang enak, untuk itu diperlukan suatu kepandaian, juga harus berani menderita.”

“Aku berani menderita, aku sudah biasa hidup sengsara,” ucap Siau-hi-ji.

“Tapi apakah kau mempunyai sesuatu kepandaian yang dapat dipertontonkan kepada orang?” tanya si kakek.

Siau-hi-ji terdiam sejenak, setelah berpikir barulah ia berkata, “Aku dapat main berjumpalitan.”

“Berjumpalitan?” si kakek tertawa geli. “Haha, berjumpalitan adalah permainan yang paling sederhana, orang bekerja seperti kita ini setiap orang pun bisa. Hai, Gudel, coba pertunjukkan padanya caramu berjumpalitan.”

Seorang anak muda bertubuh kekar kuat, mata besar dan alis tebal lantas tampil ke muka dengan cengar-cengir, mungkin karena tubuhnya yang kekar itulah, maka dia mendapat nama poyokan si “Gudel” (anak kerbau).

Setelah menyingsing lengan baju, tanpa pasang kuda-kuda, sekaligus si Gudel lantas berjumpalitan belasan kali.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian kepada si Gudel, “Paling banyak kau dapat berjumpalitan berapa kali?”

“Mungkin bisa mencapai dua puluh atau tiga puluh kali,” jawab si Gudel tertawa.

“Tapi sekaligus aku sanggup berjumpalitan seratus atau dua ratus kali,” kata Siau-hi-ji.

“Hah, apa betul?” si kakek ragu-ragu. “Dapat sekaligus berjumpalitan delapan puluh kali memang pernah kulihat waktu aku masih jejaka, yaitu Li-lotoa dari Li-keh-pan (rombongan keluarga Li), tapi sejak dia terluka dibacok orang, selama ini belum pernah ada lagi.”

“Kalau delapan puluh kali saja bukan apa-apa bagiku, sekaligus aku sanggup berjumpalitan seratus enam puluh kali,” ujar Siau-hi-ji.

“Jika betul kau dapat berjumpalitan seratus enam puluh kali … tidak, cukup asalkan delapan puluh kali saja, maka selama hidup ini rasanya kau tidak akan kelaparan, meski tidak dapat makan enak, namun daging dan arak kukira pasti ada.”

Belum habis si kakek berucap, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah mulai main akrobat.

Dasar seluruh badan Siau-hi-ji memang sudah tergembleng sehingga menyerupai otot kawat tulang besi, biarpun ilmu silatnya belum setingkat jago terkemuka, dalam hal berjumpalitan boleh dikatakan bukan soal baginya, lebih mudah daripada makan kacang goreng misalnya.

Ketika dia berjumpalitan hingga tiga puluh kali, sementara itu orang banyak sudah berkerumun, tatkala berjumpalitan hingga enam puluh kali, serentak semua orang bersorak memuji.

Waktu dia berjumpalitan sampai delapan puluh kali, semua orang menjadi lupa bersorak melainkan melotot kesima. Dan kalau ada yang bergirang, maka si nona cilik berbaju merah bermata besar itulah yang paling gembira.

Siau-hi-ji terus berjumpalitan hingga lebih seratus kali, lalu ia berhenti, katanya dengan tertawa, “Cukup tidak?”

“Cukup, cukup, sangat cukup ….” ucap si kakek sambil berkeplok tertawa. “Ayo lekas, lekas ikut si Gudel ke atas kapal, cuci muka dulu dan ganti pakaian, sebentar kita makan malam. Mulai sekarang kau adalah anggota Hay-keh-pan (group keluarga Hay) kita.”

Tapi Siau-hi-ji lantas menunduk dan menjawab, “Ayah-bundaku meninggal belum lama berselang, aku masih berkabung, di depan makam mereka aku telah bersumpah akan berkabung selama tiga tahun dan selama tiga tahun ini tidak akan cuci muka.”

“O, anak yang malang,” kata si kakek dengan gegetun, “tak tersangka kau adalah anak yang berbakti. Oya, anak-anak sama memanggilku Si-tia, maka selanjutnya kau pun boleh memanggilku demikian.”

*****

Begitulah Siau-hi-ji lantas mulai kehidupannya ikut Cau-kang-ouw dan main akrobat di rombongan. “Hay-keh-pan” ini. Setiap hari kerjanya cuma akrobat, main berjumpalitan.

Kini dapat diketahuinya bahwa hampir seluruh anggota Hay-keh-pan ini adalah putra-putri Hay Si-tia, kalau bukan putra-putrinya tentu adalah keponakan atau sanak keluarganya, si Gudel adalah putranya yang keenam, anggota pemain yang paling cekatan dan memiliki Kungfu paling bagus.

Si nona cilik baju merah itu adalah bintang panggung rombongan mereka, namanya Hay Ang-cu, si mutiara merah. Dia adalah putri bungsu Hay Si-tia yang dilahirkan pada waktu sang ayah merayakan ulang tahun setengah abad.

Selain itu tidak banyak lagi yang diketahui Siau-hi-ji.

Kecuali main akrobat, urusan apa pun Siau-hi-ji tidak ambil pusing, setiap hari selain makan tidur dan main akrobat, selebihnya adalah duduk termenung, duduk ngelamun.

Sudah tentu tiada seorang pun yang tahu waktu ngelamun itulah sebenarnya Siau-hi-ji sedang merenungkan kunci yang paling penting daripada ilmu silat yang paling tinggi, di dunia ini boleh dikatakan tidak seberapa banyak orang yang menguasai kunci ilmu silat yang paling tinggi itu.

Bu-kang-pit-kip (kitab pusaka ilmu silat) yang telah banyak mengambil korban jiwa manusia dan pernah dimiliki Siau-hi-ji bersama Kang Giok-long itu sudah dibacanya sehingga hafal betul di luar kepala, maka dengan mudah ia dapat mengingatnya kembali segala isi kitab yang telah dibacanya itu.

Bila ada satu bagian berhasil dipecahkannya, malamnya bila orang lain sudah sama tidur, diam-diam ia lantas menuju ke tempat yang sepi di tepi sungai untuk melatihnya. Karena orang lain menganggapnya rada sinting, linglung, meski tindak tanduknya terkadang juga rada aneh, tapi tiada orang yang mau memperhatikannya.

Permainan akrobatnya sangat menarik penonton, pula ia tidak rewel dalam hal bagi rezeki, maka orang lain juga dapat memaafkan dia dan membiarkan tingkah-ulah sesukanya.

Kini Siau-hi-ji bukan lagi orang terpintar nomor satu di dunia.

Sekarang orang lain memanggilnya dengan nama poyokan “Hay Siau-ngay”, di tolol kecil she Hay, sebab dia sudah dianggap satu bagian daripada group keluarga Hay.

Kaum musafir sepanjang tahun selalu dalam pengembaraan dari sungai sini menghilir ke sana, dari timur pindah ke barat dan dari barat mudik lagi ke hulu. Siau-hi-ji sendiri pun tidak tahu jelas tempat mana saja yang pernah dijelajahinya.

Suatu hari, perahu mereka berlabuh pula, Siau-hi-ji lagi duduk di geladak perahu dan sedang cuci kaki. Tiba-tiba dari belakang terjulur sebuah tangan yang putih, tangan yang kecil itu menyodorkan sebuah jeruk padanya.

Tanpa menoleh Siau-hi-ji terima jeruk itu terus dikuliti dan dimakan.

Hay Ang-cu masih berdiri di belakangnya, tunggu punya tunggu, sampai sekian lamanya Siau-hi-ji tetap tidak menoleh. Terpaksa Ang-cu menggeser ke samping dan duduk di sebelahnya, ia pun membuka sepatu dan berendam kaki di air sungai.

Kaki yang putih, kaki yang kecil, sambil mengaduk air, mendadak air disepak dan muncrat membasahi tubuh Siau-hi-ji. Namun anak muda itu tetap tidak bergerak sedikit pun, juga tidak bersuara.

Hay Ang-cu meliriknya sekejap, tiba-tiba ia tertawa ngikik, katanya, “Kau tidak sudi menggubris diriku, mengapa pula kau makan jerukku?”

“Aku tak dapat bicara,” kata Siau-hi-ji.

“Kau tak dapat bicara? Memangnya bisu?” ujar Hay Ang-cu dengan tertawa.

“Aku tidak sesuai untuk bicara denganmu,” jawab Siau-hi-ji dingin.

“Tidak sesuai? Siapa bilang kau tidak sesuai? ….” mata yang jeli itu mengerling lincah, tiba-tiba ia mengikik tawa pula dan menambahkan, “Orang lain sama memanggilmu Siau-ngay, tapi aku tahu kau adalah orang pintar. Bukan saja pintar, bahkan jauh lebih pintar daripada orang lain, betul tidak?”

Risi rasa hati Siau-hi-ji, yang saling ditakutinya sekarang justru adalah pujian orang lain yang menyatakan dia mahapintar.

Maka ia mengernyit dahi dan berdiri, ia membalik tubuh terus hendak melangkah pergi. Tapi mendadak dilihatnya di depan sana ada serombongan orang, seketika ia melengak dan mematung di tempatnya, kedua kakinya terasa terpaku di situ dan tak dapat bergerak lagi.

Kiranya di tepi sungai sana ada satu rombongan orang sedang bersenda-gurau sambil berjalan kemari di atas tanah berumput hijau. Sementara itu sudah musim semi, jagat raya ini penuh diliputi suasana hidup dengan hawa yang harum menyegarkan.

Pakaian orang-orang di rombongan itu tampak beraneka warna, ringan dan halus, wajah mereka sedemikian cerah penuh kegembiraan, angin musim semi sepoi-sepoi mengusap baju halus mereka, cahaya matahari juga sedemikian hangat, serasi benar dengan usia mereka yang masih muda.

Celakanya di antara rombongan muda-mudi yang bergembira ria itu justru terdapat orang-orang yang paling tidak suka dilihat oleh Siau-hi-ji, mereka ialah Hoa Bu-koat, Thi Sim-lan, Buyung Kiu dan Kang Giok-long.

Bahwa Kang Giok-long juga berada di tengah-tengah Hoa Bu-koat dan Thi Sim-lan, hal ini benar-benar luar biasa dan sukar dimengerti.

Tatkala mana beberapa orang yang berpakaian perlente tampak sedang mengerumuni Hoa Bu-koat dengan sikap yang menyanjung puji, tak perlu disangsikan lagi, jelas Hoa Bu-koat adalah pusat perhatian dari seluruh anggota rombongan itu.

Hoa Bu-koat sedang tertawa, tapi tertawanya itu lebih banyak ditujukan kepada kedua gadis jelita yang berada di sebelahnya, yaitu Thi Sim-lan dan Buyung Kiu.

Thi Sim-lan juga sedang tertawa, wajahnya tampak cerah, seperti penuh bercahaya kebahagiaan.

Mereka memang benar beruntung dan bahagia, pantaslah jika mereka tertawa gembira.

Tapi keberuntungan mereka justru semakin menonjolkan kemalangan Siau-hi-ji, kegembiraan mereka justru semakin menunjukkan dukacita Siau-hi-ji.

Hati Siau-hi-ji menjadi panas serasa terbakar.

Untuk pertama kalinya selama hidup ini ia benar-benar tahu rasanya iri, baru sekarang dia merasakan penderitaan yang begini hebat, hatinya seakan-akan hancur luluh.

Dengan terheran-heran Hay Ang-cu memandang Siau-hi-ji, lalu ia pandang pula rombongan muda-mudi itu, seakan-akan ia pun merasakan duka-derita Siau-hi-ji itu, dengan sayu ia berkata, “Kutahu riwayat hidupmu pasti banyak rahasianya, betul tidak?”

Pada hakikatnya Siau-hi-ji tidak mendengar apa yang diucapkan nona itu, ia memandang kesima ke arah rombongan yang asyik beriang gembira itu.

Sekarang ia lihat lagi seorang, seorang pemuda yang berpakaian hijau pupus, itulah Pek Leng-siau.

Pek Leng-siau juga sedang bersenda gurau dengan Hoa Bu-koat, tertawanya sangat gembira seperti dua sahabat kenalan lama.

Sungguh aneh, mengapa Hoa Bu-koat dapat bergaul dengan orang begituan? Tapi, ai, Hoa Bu-koat memang dapat bergaul dengan siapa pun juga, pada hakikatnya dia tidak mengambil pusing kepada orang lain, baginya setiap manusia di dunia ini tidak banyak bedanya, bahkan sama saja, dia tidak perlu gusar dan dendam pada mereka.

Dengan menggigit bibir Hay Ang-cu berkata pula dengan lirih, “Apakah kau kenal dengan mereka? …. Kutahu, asalnya engkau memang satu golongan dengan rombongan mereka itu dan sekali-kali tidak mungkin segolongan dengan kami …. Ya, pada hakikatnya kami ini cuma rombongan manusia yang hina dan patut dikasihani.”

Siau-hi-ji mundur-mundur perlahan dan akhirnya berada di titian emper kapal.

Tiba-tiba ia merasa Thi Sim-lan seperti sedang memandang padanya.

Tapi pandangan itu hanya pandangan sepintas lalu saja, mana mungkin si nona memperhatikan benar-benar seorang pemuda dekil dan hina ini.

Akan tetapi mau tak mau Siau-hi-ji terus mengawasi nona itu, tampaknya Thi Sim-lan sudah meningkat lebih dewasa, laksana sekuntum bunga Bo-tan yang sedang mekar, anggun dan cantik penuh gairah.

Sedangkan Buyung Kiu kelihatan lebih kurus, begitu kurus sehingga mirip setangkai bunga seruni, walaupun tidak secantik bunga Bo-tan, tapi memiliki sejenis bau harum semerbak yang memabukkan orang.

Mata Buyung Kiu juga semakin besar tampaknya, tapi sudah kehilangan sorot mata yang tajam itu, sebagai gantinya adalah sinar mata sayu, sinar mata yang sedih. Apa sih yang membuatnya sedih?

Perlahan Hay Ang-cu mendekati Siau-hi-ji, sorot matanya yang sayu seperti Buyung Kiu, dengan rawan ia pandang Siau-hi-ji, katanya dengan lirih, “Baru sekarang kutahu apa sebabnya kau tidak gubris diriku, soalnya aku tidak sesuai untuk berbicara denganmu, betul tidak? Memangnya aku mana dapat membandingi kedua anak perempuan itu, mereka cantik dan anggun, sedangkan aku ….”

Angin meniup sepoi-sepoi, di bawah titian kapal itu pun rada suram ….

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji menarik Hay Ang-cu terus dirangkulnya erat-erat, bibirnya yang panas itu dengan bernafsu terus melengket di bibir si nona. Darah anak muda itu bergolak, ia memerlukan pelampiasan!

Sesaat itu Hay Ang-cu merasa langit dan bumi ini seperti berputar dan mendadak dunia ini laksana kiamat.

Ia memejamkan matanya, segala apa pun tak terasakan lagi. Ia merasa dirinya seperti terjerumus ke dalam bara yang sedang berkobar, sekujur badannya serasa ikut terbakar, seluruh raganya seakan-akan lumer, sukmanya juga sudah meleleh.

Hanya sedetik itu, seluruh kehidupannya telah berubah.

Akan tetapi bagi pandangan orang lain hal ini seakan-akan soal sepele yang tak ada nilainya untuk diperhatikan, orang-orang yang sedang bersenda gurau tadi sudah mulai pergi menjauh.

Mendadak Siau-hi-ji mendorong minggir Hay Ang-cu terus melompat turun ke bawah geladak kapal.

Hay Ang-cu berdiri termangu-mangu seperti patung, rasanya tak sanggup bergerak lagi untuk selamanya. Angin masih meniup hangat, namun hatinya telah mulai membeku sedikit demi sedikit.

Ia tetap memejamkan mata, ia tidak berani membuka mata, ia khawatir impian yang telah membuatnya mabuk kepayang itu akan hancur di depan matanya sekarang, bulu matanya yang panjang itu mulai mengalir setitik air mata.

*****

Malam sudah tiba, siapa pun tidak tahu bilakah malam telah tiba.

Sudah tentu Hay Ang-cu juga tidak tahu, bahkan apa pun ia tidak tahu.

Lampu berkerudung telah dinyalakan pula, penonton juga sudah berkerumun, Hay Si-tia sebagai pembawa acara pertunjukan telah mulai memberi komentar panjang lebar dengan ucapannya yang menarik.

Betapa pun perubahan yang terjadi atas diri Hay Ang-cu, tapi kehidupan harus berlangsung terus.

Manusia dapat berubah dalam waktu sekejap, tapi hidup tidak mungkin berubah dalam waktu sesingkat itu, manusia yang hina tetap harus melewatkan hari-harinya yang hina, hal ini tak dapat dihindarinya.

Itulah hidup manusia, itulah kehidupan, kehidupan yang tragis.

Maka Hay Ang-cu kembali naik tali lagi, ia mulai bermain jalan di atas tali pula.

Dengan kaku ia berjalan di atas tali. Penonton sedang tertawa dan bertepuk tangan, akan tetapi semua itu dirasakan oleh Hay Ang-cu seperti jauh sekali jaraknya, jauh sekali … sebab hatinya juga telah terbang ke tempat yang amat jauh.

Cahaya gemilang menyinari tempat yang jauh itu, di tempat itu orang akan senantiasa berdampingan dengan kekasih yang dicintainya dan tidak perlu selalu memperlihatkan senyum yang hina.

Siau-hi-ji berjongkok di belakang rak senjata, hatinya juga sudah terbang ke tempat yang jauh, apa yang terjadi di depan matanya pada hakikatnya tidak terlihat olehnya ….

Sekonyong-konyong, di tengah sorak-sorai penonton telah berubah menjadi jeritan kaget. Tahu-tahu Hay Ang-cu terjatuh dari atas tali yang cukup tinggi.

Air muka Hay Si-tia dan si Gudel berubah pucat, tapi mereka tetap memperlihatkan senyum tak acuh dan berseru, “Ah, manusia bisa terpeleset, kuda pun terkadang kesandung, inilah kejadian biasa, bukan soal … nona cilik, lekas bangun dan perlihatkan pula beberapa gayamu yang menarik!”

Akan tetapi suara jerit kaget para penonton tadi telah berubah menjadi tertawa mengejek, ada sementara berteriak, “Menarik apalagi? Tampaknya anak perempuan ini sedang melamun memikirkan lelaki, makanya jatuh terpeleset!”

“He, nona cilik, siapa yang kau pikirkan, apakah diriku?” demikian seorang lagi berseloroh.

Maka tertawa para penonton bertambah riuh, ocehan mereka pun tampak tidak senonoh.

Darah Siau-hi-ji mulai panas dan bergolak lagi.

Tapi pada saat itu, di tengah penonton yang berjubel itu seorang pemuda baju hijau telah melompat maju, segera Siau-hi-ji mengenalnya sebagai Pek Leng-siau.

Dengan sorot mata yang bengis Pek Leng-siau menyapu pandang para penonton, lalu berteriak, “Siapa di antara kalian berani bicara tidak sopan terhadap nona ini, segera lidahnya akan kupotong.”

“Ya, dan matanya pasti akan kukorek!” sambung seorang pula dengan suara galak. Segera pula orang ini melompat ke tengah kalangan, dia adalah si baju merah bergolok emas Li Beng-sing.

Seketika penonton cep-klakep, tiada seorang pun berani bersuara lagi. Orang jahat, memang selalu ditakuti orang.

Hay Si-tia lantas mendekati kedua pemuda itu, ia memberi hormat dan berkata, “Terima kasih banyak-banyak atas pertolongan tuan-tuan.”

“Ah, bukan soal,” Pek Leng-siau dengan lagak seperti di dunia ini dia paling kuasa. Dari sakunya ia lantas mengeluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan ke tanah, lalu berkata pula, “Kulihat pertunjukan kalian malam ini hanya sia-sia belaka tanpa hasil, biarlah kupersen kalian untuk makan dan minum.”

“Sedikitnya cukup untuk beli sepuluh guci arak dan makan lima hari bagi kalian,” sambung Li Beng-sing dengan suara keras. “Nah, apa sebabnya tuan besar mau memberi persen padamu, tentunya kau sudah tahu sendiri.”

Air muka Hay Si-tia tampak berubah serba susah, tapi segera ia pun tertawa dan berseru, “Budak Ang, ayo lekas mengaturkan terima kasih!”

Dengan kepala tertunduk Hay Ang-cu lantas melangkah maju, mukanya merah, katanya dengan perlahan, “Terima kasih tuan-tuan ….”

“Bicara saja seperti bunyi nyamuk, memangnya siapa bisa dengar apa yang kau katakan?” omel Hay Si-tia.

Wajah Pek Leng-siau terunjuk senyuman, katanya, “Ah, tak apa, tak apa, memangnya anak perempuan harus bicara dengan lemah lembut.”

“Haha, memang betul, tuan-tuan justru suka pada cara begitu,” seru Li Beng-sing dengan tertawa. Mendadak ia tarik tangan Hay Ang-cu dan menegurnya dengan memicingkan mata, “Toako kami suka padamu, ayolah menemani dia minum arak.”

Muka Hay Ang-cu menjadi pucat, sekujur badan jadi gemetar.

Dengan menyengir Hay Si-tia lantas menyela, “Anak dara ini masih terlalu kecil, biarlah dua tahun lagi pasti dia akan menemani tuan-tuan minum arak.”

“Persetan! Siapa sabar menunggu dua tahun lagi?” semprot Li Beng-sing dengan kurang senang.

Mendadak si Gudel memburu maju dan berteriak, “Lepaskan dia!”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu tangan Li Beng-sing telah melayang ke mukanya, “plak”, kontan ia ditempeleng hingga sebelah pipinya merah bengap, bahkan orangnya juga lantas terlempar jatuh.

“Apakah kalian tidak ingin diperlakukan halus dan minta dipaksa?” bentak Li Beng-sing dengan bengis.

Pek Leng-siau juga menyeringai dan berkata, “Kukira lebih baik kau ikut saja dengan baik-baik.” Habis ini mendadak ia mencolek pipi Hay Ang-cu.

Keruan nona cilik itu ketakutan dan menangis.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang tampil ke muka dan berkata dengan sekata demi sekata, “Siapa pun dilarang membawanya pergi!”

Seketika mata Hay Ang-cu berbinar, akhirnya Siau-hi-ji tampil ke muka juga. Anak muda ini sudi membelanya, sekali pun mati juga dia rela.

Tentu saja Li Beng-sing sangat murka, alisnya menegak, dampratnya dengan menyeringai, “Hm, kau anak dekil ini, apa kau cari mampus?!” Kontan sebelah tangannya hendak menggampar lagi.

Akan tetapi pukulannya ini selamanya takkan mampu mengenai Siau-hi-ji, sebaliknya entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu tangannya malah sudah terpegang oleh Siau-hi-ji, seketika ia kesakitan setengah mati, rasanya seperti dijepit tanggam, tulang pun serasa hendak patah, saking kesakitan air mata pun bercucuran.

“Enyahlah kau!” bentak Siau-hi-ji. Berbareng tangannya terus mengipat, tubuh Li Beng-sing yang ratusan kati bobotnya itu kontan terlempar pergi dan jatuh beberapa depa jauhnya, sekalipun tidak binasa, sedikitnya juga sekarat.

Serentak para penonton menjerit kaget, air muka Pek Leng-siau berubah pucat, segera ia melolos pedangnya, “creng”, kontan ia menusuk ke dada Siau-hi-ji.

Sedikit mengegos dapatlah Siau-hi-ji mengelakkan serangan itu, bahkan ia terus menyelinap maju, sekali hantam dengan tepat dada Pek Leng-siau kena ditonjoknya.

Pukulan Siau-hi-ji ini sebenarnya belum menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi Pek Leng-siau ternyata tidak tahan, sambil menjerit ngeri, darah terus menyembur dari mulutnya, tubuhnya lantas terkulai. Bajunya yang berwarna hijau pupus itu berlepotan darah sehingga menyerupai lukisan bunga mawar merah.

Seketika para penonton menjadi panik, beramai-ramai mereka menjerit dan berlari serabutan.

Siau-hi-ji sendiri juga melenggong, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ilmu silat sendiri ternyata maju sepesat ini, hanya sekali pukul saja dapat membuat Pek Leng-siau terkapar. Tapi suara jeritan orang ramai telah menyadarkannya.

Ia merasa rahasia dirinya pasti akan terbongkar dengan segera, tempat ini bukan lagi tempat sembunyinya yang baik. Segera ia memutar tubuh terus lari pergi.

Cepat Hay Ang-cu meronta dan berlari-lari menyusulnya sambil berteriak, “Siau-ngay … Siau-ngay … tunggu … tunggu ….”

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak berpaling lagi, hanya sekejap saja sudah menghilang di kejauhan.

Dengan terhuyung-huyung Hay Ang-cu mengejar pula, akhirnya ia jatuh bangun, air mata sudah memenuhi wajahnya, ratapnya sambil menangis, “Dia … dia sudah pergi … kutahu dia takkan … takkan kembali lagi untuk selamanya.”

Hay Si-tia telah menyusul tiba dan membangunkan gadisnya itu. Orang tua itu sudah kenyang asam garamnya kehidupan manusia, wajahnya yang rada keriput itu pun penuh menampilkan perasaan yang ruwet, entah kejut, girang atau dukacita yang sukar dihindari lagi.

Perlahan ia membelai rambut putri kesayangan, katanya dengan setengah bergumam, “Meski dia takkan kembali lagi, tapi apa daya …. Memangnya dia bukan orang segolongan kita, mana dapat kau menahannya di sini ….”

“Tapi … tapi aku tak dapat … tak dapat … kumohon engkau ….” demikian Ang-cu meratap dengan sedihnya.

“Sabarlah, nak,” ucap Hay Si-tia sambil menghela napas panjang. “Orang seperti dia, bukan saja ayahmu tidak mampu menahannya di sini, bahkan di dunia ini mungkin juga … juga tiada seorang pun yang dapat mengikatnya … Mungkin untuk seterusnya kau takkan bertemu pula dengan dia.”

Sekonyong-konyong Hay Ang-cu jatuh pingsan dalam pelukan pangkuan sang ayah. Selamanya tak dapat bertemu lagi dengan orang yang dicintainya, siapa pun tak tahan menghadapi pukulan ini. Apalagi Hay Ang-cu, remaja yang baru meningkat dewasa, bunga yang baru mulai mekar.

Tapi apakah betul selamanya dia tak dapat lagi bertemu dengan Siau-hi-ji?

Rasanya tiada seorang pun yang berani memberi jawaban positif. Urusan di dunia ini tiada yang dapat menduganya dengan pasti.

*****

Sekaligus Siau-hi-ji berlari-lari hingga beberapa li jauhnya, akhirnya ia membaringkan diri di tepi sungai yang sepi.

Malam ini, kembali cakrawala penuh dengan kerlipan bintang-bintang.

Setelah melakukan perbuatan tadi, betapa pun ia merasa lega, tekanan batinnya seperti rada longgar. akan tetapi terasa pula bertambah oleh semacam beban berat yang lain.

Ia tahu, setelah kepergiannya ini, hati Hay Ang-cu pasti remuk redam, sesungguhnya dia tidak sengaja hendak melukai hati anak perempuan yang suci murni itu, akan tetapi ia benar-benar telah melukainya.

Ia menengadah dan tertawa, gumamnya, “Janganlah kau menyalahkan diriku, apa yang kulakukan itu adalah terpaksa … meski aku tinggal pergi, namun jejakku sudah konangan, betapa pun aku tak dapat berdiam lagi di tempatmu itu.”

Bintang bertaburan di langit, bintang-bintang itu seperti mata Hay Ang-cu, setiap biji mata itu seakan sedang menitikkan air mata terhadap Siau-hi-ji, akan tetapi anak muda itu telah memejamkan matanya.

Bagi Siau-hi-ji, apa yang terjadi ini tidak lebih suatu selingan kecil dalam hidupnya, akan tetapi bagi Hay Ang-cu, apa yang diperbuat Siau-hi-ji itu bisa jadi telah mengubah seluruh kehidupannya.

Bukankah hidup manusia ini memang tidak adil?

Waktu fajar tiba, sementara itu Siau-hi-ji sudah jauh meninggalkan tempat semula, ia terus berjalan ke depan tanpa tujuan, tambah miskin, tambah kotor, semuanya tak terpikirkan olehnya.

Suatu hari, sampailah dia di suatu kota yang tidak terlalu kecil. Besar atau kecilnya sesuatu kota sebenarnya juga tidak berkepentingan baginya, pada hakikatnya ia sudah jauh meninggalkan khalayak ramai.

Ia tidak menyusuri jalan raya melainkan menerobos ke jalan-jalan kecil dan gang-gang sempit, gang-gang sempit itu lebih banyak bau sedap yang menariknya, sebab di gang-gang yang sempit itu kebanyakan terletak dapur rumah di bagian depan. Dari jendela setiap dapur itu teruar bau kukus nasi yang sedap.

Tanpa terasa ia berhenti di pintu belakang sebuah dapur, bagi Siau-hi-ji, ini benar-benar suatu ironi. Santapan lezat apa yang tak pernah dirasakannya, segala macam daharan enak juga takkan menggoyahkan hatinya, tapi sekarang bau yang paling sepele, paling biasa, justru telah merangsang seleranya. Mungkin ini pun terhitung semacam drama dalam kehidupan manusia.

Dapur ini sangat besar, bau sedap itu pun paling kental, Siau-hi-ji berdiri termangu-mangu di situ. Entah sudah selang berapa lama, sekonyong-konyong satu baskom air cucian tertuang dari dalam sehingga sekujur badannya basah kuyup.

Siau-hi-ji tidak menjadi marah dan juga tidak bergerak. Kini ia sudah paham urusan apa yang pantas membuatnya marah, kejadian seperti sekarang ini, biarpun kau mohon dia marah juga takkan membuatnya marah lagi.

Dari balik pintu dapur tiba-tiba menongol keluar sebuah wajah bundar dengan pipi yang tembem, katanya dengan tertawa, “Maaf, aku tidak melihat kau berdiri di situ.”

“O, tak apa-apa,” jawab Siau-hi-ji dengan menyengir.

Wajah yang tembem itu tertawa pula, lalu mengkeret ke dalam. Selang tak lama, kembali muka tembem itu melongok keluar, melihat Siau-hi-ji masih tetap berdiri di situ, dengan tertawa ia mengundang, “Di dalam sini masih ada sedikit nasi, jika kau suka boleh masuk sini dan makanlah.”

“Baik, terima kasih,” sahut Siau-hi-ji tertawa.

Ia tidak merasa rikuh dan juga tidak merasa sungkan, segera ia masuk ke dalam sana terus makan apa yang disuguhkan padanya, sekaligus ia menghabiskan delapan mangkuk nasi, habis makan ia lantas berbangkit dan mengucapkan terima kasih dengan tertawa.

Muka yang tembem itu terus mengawasi dari samping seakan-akan merasa anak muda ini sangat menarik.

Ketika Siau-hi-ji memberi hormat dan mau pergi, muka tembem itu tertawa dan berkata, “Di sini masih kurang satu tenaga cuci mangkuk piring, jika kau sudi, rasanya setiap hari takkan kekurangan makan bagimu.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, jawabnya kemudian dengan tertawa, “Tapi takaranku makan sangat banyak.”

“Orang buka rumah makan masakah takut si perut gentong?” ucap si muka tembem.

Tanpa pikir lagi Siau-hi-ji terus meraih ember dan baskom, katanya, “Di mana mangkuk piring yang harus kucuci?”

*****

Esoknya barulah Siau-hi-ji tahu bahwa tempatnya bekerja adalah dapur restoran “Su-hay-jun”, sebuah restoran cukup besar. Si muka tembem adalah kokinya, bernama Thio Tiang-kui.

Maka mulailah Siau-hi-ji bekerja sebagai pencuci mangkuk piring, diketahuinya bahwa setiap orang kalau bersembunyi di dapur sebuah restoran, maka siapa pun sukar menemukannya, apalagi mengenalnya.

Soalnya dapur sesuatu restoran pada hakikatnya ada dunianya tersendiri. Selain Thi Tiang-kui, setiap hari hampir tidak pernah bertemu pula dengan orang lain. Kalau Thio Tiang-kui sudah selesai membuat sesuatu santapan yang dipesan tamu, segera Siau-hi-ji mengantar masakan itu ke mulut sebuah jendela kecil, pelayan yang menunggu di luar akan meneruskan santapan itu kepada tetamu. Bila tiada keperluan khusus, siapa yang mau masuk ke dapur?

Restoran ini tidak begitu laku, tamunya jarang-jarang, maka tidak terlalu malam restoran lantas tutup pintu. Jika sudah menganggur begitu, sering kali Thio Tiang-kui mengajak Siau-hi-ji menemaninya minum arak dan mengobrol iseng.

Meski arak yang diminum tidaklah sedikit, tapi ucapan yang keluar dari mulut Siau-hi-ji pasti tidak lebih dari dua-tiga kalimat alias banyak makan minum dan sedikit bicara.

Pada suatu hari, ketika Thio Tiang-kui bersiap-siap masak, wajan sudah dituangi minyak, tapi mendadak sang koki mules perut, saking tak tahan, cepat ia taruh serok wajan dan lari ke kakus.

Agar tetamu tidak menunggu terlalu lama, tanpa pikir Siau-hi-ji mewakilkan Thio Tiang-kui menggoreng beberapa macam hidangan.

Setelah Thio Tiang-kui kembali dari buang air, ia menjadi rada-rada khawatir kalau menu yang diolah Siau-hi-ji tidak memenuhi selera yang dikehendaki tetamu.

Ia tidak tahu bahwa koki nomor satu di dunia juga berada di Ok-jin-kok, sejak kecil Siau-hi-ji sudah banyak belajar pada koki nomor wahid itu. Anak muda macam Siau-hi-ji, urusan apa tak dapat dipelajarinya?

Tidak lama setelah menu yang diolah Siau-hi-ji dibawa keluar, tiba-tiba pelayan di luar berseru, “Goreng babat dan ayam asam tadi masing-masing tambah satu porsi lagi!”

Dengan sendirinya sekali ini Thio Tiang-kui tidak membiarkan Siau-hi-ji turun tangan lagi, ia sendiri yang mengolah pesanan itu.

Tapi selang sejenak pula, tiba-tiba Pang-lopan, juragan restoran Su-hay-jun itu, masuk ke dapur, katanya dengan melotot, “Siapa yang membuat goreng babat dan ayam asam tadi?!”

Bahwa sang juragan sendiri sampai masuk ke dapur, hal ini sudah membuat hati Thio Tiang-kui kebat-kebit. Terpaksa ia menjawab, “Dengan sendirinya aku yang membuatnya.”

“Tidak, rasanya tidak betul, jelas bukan karya tanganmu,” kata sang juragan.

Terpaksa Thio Tiang-kui bicara terus terang apa yang terjadi.

Pang-lopan mendekati Siau-hi-ji, dipandangnya dari kanan ke kiri dan dari atas ke bawah sampai sekian lamanya, habis itu mendadak ia mengacungkan ibu jari dan berkata dengan tertawa, “Kagum, sungguh kagum, tidak nyana usia semuda kau ini sudah mahir mengolah santapan sehebat itu, sampai Him-loya juga berteriak memuji kelezatannya, maka mulai saat ini silakan kau yang memegang kunci dapur.”

“Ah, mana aku sanggup,” ucap Siau-hi-ji.

Perlahan Pang-lopan menepuk bahu Siau-hi-ji, katanya dengan suara halus, “Harap kau bantu, selanjutnya Su-hay-jun harus mengandalkan dirimu.”

*****

Orang yang punya kemahiran, bekerja apa pun juga tetap menonjol, seperti sebatang obeng berujung runcing yang tersimpan di dalam karung, mau tak mau ujung itu pasti akan membobol dinding karung.

Setelah Siau-hi-ji diangkat menjadi koki, secara ajaib, restoran Su-hay-jun terus berkembang dengan pesat, tamu-tamu yang bertempat tinggal beratus Li jauhnya juga mendengar bahwa di Su-hay-jun terdapat seorang koki yang mahir.

Pang-lopan mulai memperluas usahanya, ruangan di kanan kiri sudah dibelinya, beberapa ruangan “VIP” telah dibangun dan dengan sendirinya di bagian dapur juga telah bertambah tenaga. Kini Siau-hi-ji cukup main serok wajan saja dan segala apa pun beres.

Malahan waktu dia mengolah santapan, pikirannya tetap pada isi kitab pusaka ilmu silat itu, seperti pemuda yang sedang sakit rindu, siang dan malam ia terus peras otak merenungkan ilmu silat yang pernah dibacanya itu.

Kini, orang lain sama memanggilnya Ji-toasuhu, sang guru besar Ji, dengan sendirinya guru besar dalam bidang memasak.

Apa yang diucapkannya adalah peraturan, dia melarang orang yang tak berkepentingan masuk ke dapur, bahkan sang juragan Pang sendiri tidak berani masuk ke situ.

Tapi pada suatu hari sang juragan toh masuk juga ke sana, dengan bersemangat kegirangan ia berkata kepada Siau-hi-ji dengan tertawa sambil gosok-gosok kedua tangannya, “Ji-laute, hari ini kau harus bekerja lebih tekun. Coba terka, siapakah tamu kita hari ini?”

“Siapa?” tanya Siau-hi-ji tak acuh.

“Tokoh utama, ksatria terbesar di daerah Oh-lam dan Oh-pak sini hari ini ternyata sudi berkunjung kemari, ini berarti suatu kehormatan besar bagiku, bahkan suatu kehormatan bagimu, Ji-laute.”

Tergerak hati Siau-hi-ji, segera ia bertanya, “Siapakah beliau?”

Pang-lopan mengacungkan jempolnya dan menjawab, “Thi Bu-siang, Thi-loyacu, orang Kangouw menyebut beliau dengan julukan ‘Ay-cay ji-beng’ (sayang pada orang berbakat laksana sayang pada jiwa sendiri). Setiap orang di daerah kita ini pasti kenal nama beliau.”

“O, begitukah?” ucap Siau-hi-ji, sikapnya tetap acuh tak acuh seakan-akan betapa hebatnya tokoh itu toh tiada sangkut-pautnya dengan dirinya.

Tetapi setelah selesai mengolah makanan, diam-diam ia keluar, untuk pertama kalinya dia keluar dari dapur.

Ketua perserikatan dunia persilatan daerah Oh-lam dan Oh-pak, “Ay-cay-ji-beng” Thi Bu-siang. Nama ini sungguh menarik baginya, dia ingin tahu bagaimana macamnya tokoh yang sayang kepada orang yang berbakat ini hingga orang jahat seperti Li Toa-jui juga dipungutnya menjadi menantu. Bahwa ada seorang tokoh yang berani menyerahkan putri kesayangannya untuk diperistri oleh Li Toa-jui, betapa pun orang begini sangat dikagumi Siau-hi-ji.

Di sebuah ruangan “VIP”, ruangan khusus untuk tokoh penting, yang dipajang indah dan teraling-aling oleh pintu angin, dari sela-sela pintu angin itulah Siau-hi-ji mengintip. Dilihatnya seorang kakek berwajah merah bercahaya, berjenggot putih dan berjubah merah, duduk di kursi utama pada meja perjamuan itu.

Meski tersenyum simpul, tampaknya ramah tamah, tapi sikapnya kereng berwibawa, jelas itulah gaya seorang yang biasa memerintah dan berkuasa, sikap demikian ini sukar ditiru oleh orang biasa.

Hanya memandang sekejap saja Siau-hi-ji lantas yakin orang tua inilah pasti Thi Bu-siang adanya.

Di sebelah kanan Thi Bu-siang duduk seorang lelaki setengah baya, bertulang pipi menonjol dan berhidung besar seperti paruh elang. Sorot matanya yang tajam memang mirip mata elang yang jelalatan.

Dan di sebelah kiri Thi Bu-siang ternyata duduk Tio Coan-hay, itu Congpiauthau dari gabungan tujuh belas Piaukiok atau perusahaan pengawalan yang terkenal dengan “Kepalan besi menggetar Kangouw” itu.

Melihat Tio Coan-hay, Siau-hi-ji jadi teringat kepada peristiwa mencari harta karun di gua belakang Go-bi-san dahulu, waktu itu tokoh besar dunia pengawalan ini munduk-munduk dan menyebut Locianpwe padanya dengan sangat menghormat, sikapnya yang lucu itu sungguh menggelikan bila teringat sekarang.

Selain ketiga orang itu, hadir pula pada perjamuan malam ini delapan atau sembilan lelaki gagah kekar dengan pakaian mentereng, tampaknya juga tokoh terkemuka dunia Kangouw.

Cuma ada juga di antara hadirin itu yang menarik perhatian Siau-hi-ji, yakni dua pemuda baju ungu yang berdiri di belakang Thi Bu-siang, usia kedua pemuda ini baru likuran, sikap mereka sangat menghormat terhadap tokoh-tokoh yang hadir dalam perjamuan ini. Tapi bagi pandangan Siau-hi-ji, sekali lihat saja lantas tahu kedua anak muda ini jauh lebih lihai daripada orang-orang yang dijamu itu.

Pemuda baju ungu yang sebelah kiri beralis tebal dan bermata besar, mukanya kehitam-hitaman sehingga menyerupai seekor harimau kumbang, seluruh badannya penuh kekuatan, sekali turun tangan pasti mengejutkan orang.

Sedangkan pemuda baju ungu sebelah kanan bermuka putih bersih, sopan santun, tampaknya seperti anak pelajar dari keluarga terhormat yang lemah lembut, tapi sekilas melirik, segera kelihatan sorot matanya yang tajam.

Kedua anak muda itu memegang poci arak dan mewakilkan Thi Bu-siang menuangkan arak bagi hadirin, agaknya mereka kalau bukan anak keponakan Thi Bu-siang tentu juga muridnya.

Setelah hadirin menghabiskan tiga cawan arak, mendadak Tio Coan-hay berdiri, ia menjura sekeliling kepada hadirin, ia menegak habis dulu isi cawannya, setelah berdehem, lalu berseru, “Hari ini Cayhe memenuhi undangan Thi-locianpwe, sepantasnya Cayhe makan minum hingga mabuk dan kemudian pulang, tapi sebelum mabuk rasanya mau tak mau Cayhe harus mengutarakan beberapa patah kata isi hatiku.”

Thi Bu-siang mengelus jenggotnya, katanya dengan tertawa, “Katakan saja, kalau tidak bicara, mana dapat minum arak dengan leluasa.”

Lelaki yang bertulang pipi menonjol dan berhidung besar juga berkata, “Tio-congpiauthau ingin bicara sesuatu, sudah tentu Cayhe siap mendengarkan.”

Dengan mata melotot Tio Coan-hay lantas berteriak, “Bahwasanya Toan Hap-pui hendak mengirim satu partai barangnya ke Kwan-gwa, untuk ini kami pihak ‘Liang-ho-piau-lian’ (gabungan perusahaan pengawalan propinsi Holam dan Hopak) telah mengirim utusan untuk berunding dengan Toan Hap-pui, kejadian ini kiranya cukup diketahui oleh kawan-kawan dunia Kangouw.”

“Betul, Cayhe juga pernah mendengar berita ini,” ucap si lelaki hidung besar dengan tersenyum.

“Jika Le-congpiauthau sudah mengetahui urusan ini, sepantasnya tidak lagi mengirim orang menghubungi Toan Hap-pui dan merampas pekerjaan yang telah diserahkan pada kami,” seru Tio Coan-hay dengan bengis. “Sudah lama kudengar ‘Heng-san-eng’ (elang dari gunung Heng) Le Hong adalah ksatria berbudi dan setia kawan, tak tahunya … hm!”

“Prak”, mendadak cawan arak yang digenggamnya teremas hancur.

Heng-san-eng Le Hong si hidung besar, tetap tenang saja, jawabnya dengan tersenyum hambar, “Orang dagang mengutamakan kualitas dan kepercayaan, semua ini tiada sangkut-paut dengan setia kawan dunia Kangouw segala, bahwa Toan Hap-pui lebih suka mendatangi ‘Sam-siang-piau-lian’, betapa pun kami kan tak dapat menolaknya.”

“O, jika begitu, maksudmu ‘Liang-ho-piau-lian’ kami tak dapat membandingi ‘Sam-siang-piau-lian’ kalian?!” tanya Tio Coan-hay dengan gusar.

“Cayhe tidak pernah berkata demikian, untuk ini terserah kepada pandangan masing-masing,” jawab Le Hong.

Dada Tio Coan-hay tampak berombak menahan gusar, katanya dengan menggereget, “Hm, bagus … bagus sekali ….” mendadak ia berpaling ke arah Thi Bu-siang, katanya sambil memberi hormat, “Meski kedatanganku ini atas undangan, tapi Cayhe juga tahu Thi-loyacu mempunyai hubungan erat dengan Sam-siang-piau-lian, karena itu Cayhe tidak bermaksud minta keadilan kepada Thi-loyacu, hanya saja ….” mendadak ia gebrak meja, lalu membentak, “Hanya saja Sam-siang-piau-lian sedemikian menghina Liang-ho-piau-lian, betapa pun kami harus menguji kesanggupannya, terutama orang she Le ….”

“Memangnya orang she Le kenapa?” jengek Le Hong.

“Boleh kita lihat saja,” bentak Tio Coan-hay.

Sekonyong-konyong Thi Bu-siang berbangkit dan terbahak-bahak, katanya sambil angkat cawan, “Tio-laute, marilah kusuguh engkau satu cawan dulu!”

Tanpa pikir Tio Coan-hay angkat cawannya dan menenggaknya hingga kering, katanya, “Maksud Thi-loyacu ….”

“Ucapan Tio-laute memang tidak salah,” potong Thi Bu-sing dengan tertawa, “turun temurun Lohu (aku yang tua) bertempat tinggal di sini, setiap orang persilatan di wilayah Sam-siang boleh dikatakan mempunyai hubungan erat dengan diriku, kalau dihitung Le Hong juga masih murid keponakanku. Jika demikian, kalau sekarang Tio-laute sampai pergi dengan menanggung dendam, kukira percumalah selama berpuluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw.”

Air muka Tio Coan-hay tampak rada berubah, ia menegas, “Jadi maksud Thi-loyacu ….”

“Masakan kau belum paham maksudku?” teriak Thi Bu-siang.

Tanpa terasa Tio Coan-hay meraba goloknya, empat lelaki di sebelahnya juga serentak berbangkit. Sebaliknya Le Hong menyeringai saja, sorot matanya setajam sembilu menatap lawan.

“Apakah maksud Thi-loyacu hendak menahan diriku di sini?” tanya Tio Coan-hay kemudian dengan sekata demi sekata.

Thi Bu-siang tergelak-gelak, katanya, “Betul, memang hendak kutahan kau di sini untuk mendengarkan beberapa patah kataku.” Mendadak ia menarik muka, sorot matanya beralih ke arah Le Hong, lalu berkata dengan suara berat, “Jika aku menghendaki menyerahkan pekerjaanmu itu kepada Liang-ho-piau-lian, lalu bagaimana pikiranmu?”

Seketika air muka Le Hong berubah hebat, jawabnya dengan tergagap, “Ini … ini ….”

“Tidak perlu ini dan itu, aku tidak ingin memaksa kehendakmu,” ucap Thi Bu-siang. “Urusan ini sudah kuselidiki dengan jelas dan memang kesalahan berada pada pihakmu, sekarang kalau kau mau menerima usulku, maka sebagai imbalannya akan kuserahkan kebun teh milikku di Heng-san itu sebagai milik perusahaan Sam-siang-piau-lian. Sebagai sesama orang Kangouw, hendaklah lebih mengutamakan rasa setia kawan, untuk ini harus kau camkan lebih jauh.”

Le Hong terdiam sejenak, kemudian menghela napas, katanya sambil tunduk kepala, “Ucapan Loyacu mana berani Tecu membantahnya, cuma kebun teh itu adalah sisa harta benda Loyacu yang tinggal sedikit itu, Tecu mana berani menerimanya ….”

Thi Bu-siang tertawa, katanya, “Asalkan kau tidak melupakan setia kawan sesama kaum persilatan dan tidak membuat anak murid golongan kita dicaci maki orang, maka sedikit harta milik itu apa artinya bagiku?!”

Tio Coan-hay juga terdiam sekian lamanya, air mukanya tampak merasa malu diri, katanya kemudian sambil menunduk, “Thi-loyacu ternyata berbudi luhur, sebaliknya Tecu … Tecu sungguh merasa malu, biarlah pekerjaan ini tetap diurus saja oleh Sam-siang-piau-lian.”

“Ah, Cayhe mana berani,” ujar Le Hong sambil tertawa. “Pekerjaan ini sudah diterima lebih dulu oleh Liang-ho-piau-lian, dengan sendirinya kami harus mengundurkan diri. Jika Tio-congpiauthau masih merendah diri, tentu kami akan semakin tidak enak hati.”

Kalau tadi dua orang bertengkar dan ngotot memperebutkan rezeki yang bakal diterima, sekarang mereka justru saling mengalah dengan rendah hati.

Diam-diam Siau-hi-ji juga terharu menyaksikan semua itu di luar, pikirnya, “Hebat benar Thi Bu-siang dan tidak malu sebagai tokoh pimpinan dunia persilatan, bukan saja suatu persengketaan sengit dan hampir mengakibatkan adu nyawa itu dapat dibuyarkan, bahkan kedua orang yang saling ngotot itu dapat diakurkan hingga saling mengalah.”

“Jika kalian berdua sama-sama mengalah, maka bolehlah pekerjaan itu dilakukan bersama oleh Liang-ho dan Sam-siang, dengan demikian kedua pihak jadi sama-sama bergembira,” ucapan Thi Bu-siang dengan tertawa.

Serentak semua orang bertepuk tangan menyatakan setuju. Maka suatu persengketaan segera berubah menjadi damai dan Siau-hi-ji pun hendak tinggal pergi.

Tak tahunya pada saat itu juga Tio Coan-hay yang sedang angkat cawan dan mengajak minum bersama Le Hong sebagai tanda berkawan, sekonyong-konyong mukanya berkerut kejang, tangan juga gemetar sehingga arak dalam cawannya muncrat membasahi tubuhnya.

Belum lagi selesai dari berbasa-basi, tiba-tiba kakinya seperti menginjak bara, dia melonjak dan terdengarlah suara gemuruh, mangkuk piring di atas meja sama tersapu jatuh, menyusul Tio Coan-hay sendiri juga lantas roboh terjungkal.

Seketika perjamuan itu menjadi kacau-balau, empat lelaki kekar pengiring Tio Coan-hay itu ada yang menjerit kaget, ada yang memburu maju hendak membangunkan sang pemimpin, tapi segera mereka pun menjerit kaget, “He, celaka, Cong … Congpiauthau keracunan!”

Seketika air muka Thi Bu-siang juga berubah, teriaknya bingung, “Ken … kenapa jadi begini?”

“Kenapa jadi begini? Pertanyaan ini harus diajukan padamu?!” teriak salah seorang pengiring Tio Coan-hay itu.

Le Hong menggebrak meja dengan gusar, teriaknya, “Apa maksudmu? Hidangan dan arak yang dia makan juga sama-sama kami makan, masakah ….”

Belum habis ucapannya, mendadak ia pun kejang seperti Tio Coan-hay tadi, tiba-tiba ia pun melonjak ke atas, lalu jatuh terkapar, rupanya ia pun keracunan serupa Tio Coan-hay.

Keruan semua orang tambah bingung dan ketakutan, setiap orang sama khawatir kalau diri mereka pun ikut keracunan, sebab semuanya juga makan minum hidangan di atas meja itu.

Jika demikian, lalu siapakah yang menaruh racunnya?

Bahwa Le Hong juga keracunan, dengan sendirinya bukan dia yang menaruh racun andaikan dia hendak membinasakan Tio Coan-hay. Thi Bu-siang juga tidak, habis siapakah yang menaruh racun jika bukan kedua pihak yang bersengketa itu?

Biasanya pihak penonton adalah yang paling jelas mengikuti sesuatu, tapi sekarang Siau-hi-ji juga bingung dan tidak tahu mengapa bisa terjadi begitu?

Di tengah keributan itu tiba-tiba Siau-hi-ji melihat si pemuda bermuka pucat berbaju ungu itu diam-diam mengeluyur keluar. Cepat Siau-hi-ji juga menyelinap kembali ke dapur.

Sementara itu orang-orang di bagian dapur juga ikut gempar dan sama keluar ingin tahu apa yang terjadi sehingga tiada orang lain di situ. Baru saja Siau-hi-ji sampai di dapur, tahu-tahu pemuda baju ungu itu pun menyusup ke sana. Padahal di luar sedang terjadi keributan, untuk apa dia masuk ke dapur malah?

Cepat Siau-hi-ji berjongkok pura-pura sedang menambah kayu bakar di tungku.

Pada hakikatnya pemuda baju ungu itu tidak memperhatikan Siau-hi-ji. Maklumlah, tokoh persilatan seperti itu mana bisa menaruh perhatian terhadap seorang koki yang tiada artinya itu.

Dengan tergesa-gesa pemuda baju ungu itu menyusup ke pintu belakang dapur, terdengar dia berseru dengan suara tertahan, “Awan buyar ….”

“Angin meniup!” demikian seorang menyahut di luar pintu.

Sekilas Siau-hi-ji melirik, dilihatnya pemuda muka pucat itu sedang mundur ke dalam dapur, berbareng itu sesosok bayangan menerobos masuk, orang ini berpakaian hitam mulus, pakai kedok hitam pula, dengan suara serak bertanya, “Berhasil tidak?”

“Berhasil!” jawab si pemuda muka pucat.

“Bagus!” kata si baju hitam.

Total jenderal ucapan orang berkedok hanya tiga kalimat saja, tapi kata-katanya cukup menggetarkan hati Siau-hi-ji. Ia merasa sudah kenal betul dengan suara orang ini. Maka dia sengaja menunduk lebih rendah sehingga kepalanya seakan-akan hendak dimasukkan ke lubang tungku.

Namun begitu si baju hitam tetap melihat kehadirannya di situ, dengan suara tertahan ia tanya kawannya, “Siapa dia?”

“Hanya seorang koki,” jawab si pemuda muka pucat.

“Tidak boleh dibiarkan!” kata si baju hitam.

Serentak kedua orang menubruk maju bersama, si baju hitam menutuk Sin-ki-hiat di punggung Siau-hi-ji, Hiat-to ini termasuk salah satu Hiat-to mematikan di tubuh manusia.

Tapi Siau-hi-ji sama sekali tidak menghindar, hanya diam-diam ia mengerahkan tenaga murni, titik Hiat-to itu mendadak ia geser sedikit ke samping, yang digunakan adalah “Ih-hiat-tay-hoat”, ilmu mukjizat memindahkan tempat Hiat-to, ilmu yang paling tinggi dalam ilmu silat. Walaupun belum sempurna dilatihnya, tapi sudah jauh daripada cukup bagi Siau-hi-ji untuk menghadapi keadaan begini.

Dengan tepat tutukan si baju hitam mengenai sasarannya, tertampak jelas Siau-hi-ji roboh tanpa bersuara, ia yakin orang pasti binasa. Maka sambil mendengus ia mengomel, “Siapa suruh kau berdiam di sini, kau sendiri yang cari mampus, bukan salahku!”

“Cara bagaimana matinya saja dia tidak tahu, mana koki tolol ini dapat menyalahkanmu?” ujar si pemuda muka pucat dengan tertawa.

“Jaga dirimu dengan baik agar tidak dikenal orang,” kata si baju hitam dengan suara tertahan.

“Ya, aku tahu,” jawab si pemuda muka pucat.

“Lekas keluar sana, jangan sampai menimbulkan curiga orang,” pesan pula si baju hitam.

Pemuda muka pucat mengiakan. Segera ia lari kembali ke ruangan depan. Sudah tentu mereka tidak menyangka seorang koki ternyata memiliki ilmu silat mukjizat, mereka mengira apa yang telah dilakukannya pasti di luar tahu siapa pun juga, maka “mayat” Siau-hi-ji sama sekali tidak diliriknya mana pula diperhatikan.

Siau-hi-ji masih mendekam di lantai tanpa bergerak dan berlagak mati, tapi pikirannya terus bekerja merenungkan semua peristiwa yang dilihatnya ini.

Yang paling menarik baginya adalah suara si baju hitam tadi, rasanya mirip benar dengan suara Kang Giok-long. Apabila orang itu benar Kang Giok-long adanya, lalu apa hubungannya anak murid Thi Bu-siang dengan Giok-long? Muslihat keji apa pula yang sedang mereka kerjakan?

Segera teringat pula oleh Siau-hi-ji apa yang dilihatnya di kamar rahasia Kang Piat-ho tempo hari, antara lain ditemukannya botol-botol kecil racun yang sukar dicari yang tersimpan dalam “kotak buku” itu.

Walaupun waktu itu cuma melihatnya sepintas lalu saja, tapi setiap malam racun di botol-botol kecil itu tidak pernah terhindar dari pandangannya, sampai kini dia masih ingat dengan jelas racun-racun itu antara, lain terdiri “Siau-hun-san” (puyer penghapus sukma), “Bi-jin-lui” (air mata si cantik), “San-hui-cui” (air pembuyar sukma), “Swat-pek-cing” (air salju pencabut nyawa) dan macam-macam lagi.

“Swat-pek-cing!” seru Siau-hi-ji tanpa terasa sambil melonjak, “Ya, betul, pasti inilah racunnya! Dari keadaan Tio Coan-hay setelah keracunan itu, bukankah kulit dagingnya kejang mirip orang kaku terbeku?”

Segera ia merobek serbet dan menuliskan resep dengan arang di atas serbet itu. Anak yang dibesarkan di Ok-jin-kok memang serba tahu dan banyak pengetahuannya. Sedikitnya ia pasti tahu cara bagaimana menawarkan macam-macam racun di dunia ini.

Racun, benda ini bagi pandangan anak yang dibesarkan di Ok-jin-kok adalah jamak dan sederhana seperti gula pasir saja.

Sementara itu air muka Tio Coan-hay dan Le Hong sudah berubah menjadi warna kelabu aneh, tubuh mereka yang semula gemetar kejang kini sudah tak dapat bergerak lagi.

Tubuh orang lain juga sama gemetar, entah ketakutan kalau-kalau dirinya keracunan, apalagi sukar diketahui bilakah kadar racunnya baru mulai bekerja. Mereka menjadi kebat-kebit seperti orang hukuman yang tunggu keputusan hakim, duduk tidak enak, lari juga tidak berani. Soalnya mereka pun tahu bilamana mereka lari, maka racun akan bekerja terlebih cepat.

Wajah tersenyum simpul Thi Bu-siang tadi kini pun sudah lenyap, dia hanya mondar-mandir kian kemari sambil gosok-gosok tangan, tokoh Kangouw yang pernah malang melintang selama berpuluh tahun kini pun kehilangan akal.

Tiba-tiba Thi Bu-siang menengadah dan menghela napas panjang, gumamnya, “Racun apakah ini? Siapakah gerangan yang menaruh racun?!”

Dalam pada itu pemuda baju ungu bermuka pucat tadi sudah berdiri pula di belakang Thi Bu-siang, tiba-tiba ia berkata, “Jangan-jangan orang di restoran ini? ….”

“Jika dalam hidangan ditaruh racun, justru aku yang paling banyak makan minum, tentu racun akan bekerja lebih cepat dan keras, apalagi restoran sekecil ini mana ada racun selihai ini?” ucap Thi Bu-siang.

“Betul,” tukas si pemuda bermata besar dan alis tebal. “Racun ini tanpa bau tak berwarna, sampai engkau orang tua juga tak dapat melihatnya ….”

“Menurut pendapatku, racun ini pasti bukan berasal dari negeri sini, kalau tidak, mustahil selama berpuluh tahun aku berkecimpung di dunia Kangouw tak dapat mengenalnya? Rasanya kalau tidak salah dugaanku, racun ini mungkin ….”

“Dugaanmu memang tidak salah!” tiba-tiba seseorang menyambung sebelum habis ucapan Thi Bu-siang. “Racun ini memang bukan berasal dari negeri sini melainkan ‘Swat-pek-cing’ dari Thian-san.”

Di tengah suaranya, mendadak seorang melayang lewat pintu angin, ketika tubuh terapung di udara, tahu-tahu sepotong barang dilempar sambil berseru, “Resep yang tertulis di atas kain itu dapat menawarkan racun Swat-pek-cing, lekas dibelikan di toko obat, tentu dapat tertolong.”

Ucapannya sangat cepat, gerak tubuhnya terlebih cepat lagi, baru setengah ucapannya bayangannya sudah tak kelihatan lagi sehingga dua kalimat terakhir itu berkumandang dari kejauhan.

Keruan semua orang menjadi panik, ingin mengejar juga tidak keburu lagi.

“Cepat amat gerak tubuhnya!” puji Thi Bu-siang dan serentak ia pun menangkap benda yang dilemparkan oleh orang itu. Dilihatnya memang betul sepotong serbet yang berlepotan minyak, di atas kain serbet itu memang betul tertulis resep obat yang aneh.

“Swat-pek-cing!” Thi Bu-siang bergumam setelah membaca resep itu. “Kiranya memang betul Swat-pek-cing … masakah aku sendiri tak dapat menerkanya?!”

Seketika semua orang merasa girang dan berseru, “Jika demikian Congpiauthau kan dapat tertolong!”

Si pemuda muka pucat tadi tampaknya rada kikuk, tiba-tiba ia mendengus, “Hm, bukan mustahil ini pun tipu muslihat orang jahat itu.”

Ada seorang di antaranya coba memegang tangan Tio Coan-hay, lalu katanya, “Betul, keparat itu pasti sengaja hendak mencelakai orang lain. Biasanya orang yang terkena Swat-pek-cing akan mati kaku kedinginan, tapi … tapi tubuh orang she Tio ini ternyata panas seperti dibakar.”

Thi Bu-siang menanggapi, “Apakah kau tahu bahwa orang yang mati beku, sebelum ajalnya justru tidak merasa dingin, sebaliknya malah terasa panas seperti dibakar. Perasaan demikian kalau tidak mengalami sendiri tentu sukar dipercaya oleh siapa pun juga.”

“Engkau orang tua dari mana pula mengetahuinya?” tiba-tiba si pemuda baju ungu bermuka pucat bertanya.

“Soalnya aku sendiri juga mengalami dan hampir mati beku,” jawab Thi Bu-siang dengan tenang.

Pemuda baju ungu itu lantas menunduk dan tidak berani bicara lagi. Namun matanya tetap melirik ke arah serbet yang tertulis resep obat itu.

Sementara itu Siau-hi-ji sudah berada, di luar kota. Dengan sendirinya ia menyadari restoran Su-hay-jun itu bukan lagi tempat sembunyinya yang baik, namun ia pun tidak ingin memperlihatkan diri, ia hendak menunggu lagi. Ia ingin menunggu pada saat yang tepat, sekali muncul pasti akan menggemparkan dunia Kangouw. Dengan begitu supaya orang lain akan tahu Kang Hi, Kang Siau-hi-ji sesungguhnya orang macam apa!

Tapi sekarang ia tetap tidak ingin ikut campur urusan orang lain, sekalipun diketahui peristiwa ajaib di Su-hay-jun itu pasti akan menjadi teka-teki yang menggemparkan dunia Kangouw. Sebab ia tahu dengan tenaganya sendiri sekarang belum cukup kuat untuk mengurus kejadian itu, malahan bukan mustahil jiwa sendiri yang akan melayang malah.

Jika demikian, lalu dia harus ke mana sekarang?

Begitulah tanpa tujuan dia terus melangkah ke depan, tetap dalam keadaan dekil dan rudin. Tapi kini, baik pikiran maupun ilmu silatnya sudah jauh berbeda daripada masa sebelumnya.

Pahlawan tiada tara, ksatria sejati, akhirnya akan lahir!

Advertisements

1 Comment »

  1. SERU BANGET,
    KEMANA YA YANG PUNYA BLOG INI?

    Comment by Firman — 22/02/2013 @ 1:04 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: