Kumpulan Cerita Silat

17/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (24)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 12:11 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (24)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

Golok ini memang pemberian Pek-ih-jin, dengan harapan supaya aku dapat menghadapi tokoh paling kosen di Bu-lim. Setahun sudah aku berkelana di kang-ouw, tidak sedikit kaum Bu-lim yang sudah kuhadapi, namun belum seorang pun yang setimpal menyambut golok ini, maka golok ini masih berada di tanganku sampai sekarang.

Po-giok manggut-manggut, “Jadi belum ada tokoh kang-ouw yang pernah menyaksikan jurus golok ini?”

“Bukan hanya kaum Bu-lim di Tiong-toh saja yang belum pernah lihat, di kolong langit ini orang yang mengenal jurus golok ini mungkin aku yakin belum dan tidak akan ada orang ketiga.”

“Jurus golok ciptaan Pek-ih-jin sendiri?” tanya Po-giok.

“Betul,” sahut si baju hitam.

Mendadak berubah serius air muka Po-giok. dengan hormat ia menjura.

Si baju hitam tertawa dingin, “Kenapa tuan mendadak pakai peradatan? Apa ingin kau bawa pulang golok ini?”

Po-giok tertawa lebar, “Dari ribuan li tuan datang kemari, tidak pantas aku membuat tuan bercapek lelah. Hormatku aku tunjukan kepada tuan sebagai seorang ksatria yang tiada bandingan di dunia ini.”

Sampai di sini ia merandek, sebelum orang bicara ia meneruskan lagi, “Bahwa Pek-ih-jin telah menurunkan jurus rahasia yang lihai itu kepada tuan, tentu dia yakin dan percaya penuh kepada tuan, kalau Pek-ih-jin memberi penghargaan setinggi itu kepada tuan, mana berani Po-giok berlaku kasar dan memandang rendah.”

“Bagus orang bilang pupur dihadiahkan pada gadis jelita, pedang sakti diberikan pada ksatria sejati. Bahwa golokku ini dapat aku serahkan kepada tokoh seperti engkau , tidak sia-sia lah perjalananku ini.”

“Terima kasih. Tuan terlalu memuji.”

“Aku juga menghargaimu sebagai ksatria, maka perlu aku beri tahu beberapa patah kata padamu.”

“Silakan bicara!”

“Golok ini tajam tiada bandingan, tapi Pek-ih-jin sendiri juga merasakan jurus ciptaannya ini masih dapat dipecahkan …”

“O, demikian ….”

“Tapi jangan kamu terburu senang, kelemahan jurus ilmu golok ini amat sulit dijajaki, kecepatan permainan golok ini laksana kilat menyambar, begitu sinar golok berkelebat, serangan pun tiba, meski kamu seorang cerdik pandai, belum tentu dapat menyelamatkan diri apalagi memecahkan kelemahan jurus ilmu golok ini dalam waktu secepat samberan kilat itu.”

Dari sampIng-Thi-wah mendadak membantah, “Dari mana kau tahu Toa-ko ku tidak mampu?”

Si baju hitam anggap tidak mendengar ocehannya. “Dan lagi, bila jurus ini dilancarkan, begitu darah muncrat jiwa pasti melayang. Kalau kamu tidak ingin menghadapi jurus golok ini, katakan terus terang sekarang sebelum terlambat”

Po-giok tersenyum ramah, “Aku justru ingin menjajalnya.”

“Bagus!” seru si baju hitam.

“Silakan!” ucap Po-giok dengan hormat.

Tangan Po-giok yang terangkap di depan dada sampai diturunkan, tangan kiri masih berada di bawah Yo-coan-hiat sebelah kiri, sementara tangan kanan terhenti di pinggir Khi-yang-hiat. perlahan gerak tangan Po-giok, tapi pada posisinya itu mendadak berhenti tanpa bergerak lagi, soalnya jurus golok lawan sudah siap dilancarkan, bila dirinya menunjuk sedikit gerakan, akibatnya ia bisa melayang dengan percuma.

Kini jarak antara kedua tangannya kira-kira satu kaki, bagi seorang jago silat yang sudah punya dasar yang kuat, sekali pandang orang akan tahu gaya Po-giok sekarang memperlihatkan banyak segi kelemahan.

Cemas hati Siau-kong-cu, diam-diam ia menghela napas, batinnya, “Pui-Po-giok, wahai Pui-Po-giok, kamu berani gegabah dan takabur. Dengan gayamu sekarang dari atas sampai ke bawah segi kelemahanmu sedikitnya ada tiga-empat puluh tempat, cukup sejurus serangan yang paling awam pun pasti dapat merobohkan dirimu, apalagi.. apalagi jurus golok yang luar biasa ini. agaknya jiwamu sudah ajal hari ini.”

Di samping gemas dan ingin supaya Po-giok segera mampus di bawah serangan golok si baju hitam, namun lubuk hatinya yang paling dalam amat berharap Po-giok menang dan menguatirkan keselamatannya. Ke manakah kiblat isi hati Siau-kong-cu sebenarnya? Dia sendiri pun tidak tahu.

Thi-wah sebaliknya sangat senang dalam hati membatin, “Toa-ko memang tidak malu sebagai Toa-ko ku, hanya dia saja yang dapat menunjukkan gaya yang begitu menakjubkan, dan hanya dia saja yang berani mengunjuk gaya serba aneh, kuyakin di kolong langit tiada orang lain dapat bergaya dengan segi kelemahan sebanyak itu, padahal makin banyak segi kelemahan, lawan menjadi bingung dan tidak tahu dari arah mana serangan harus dilancarkan, bukankah gaya pertahanannya itu berarti amat rapat seolah-olah tiada segi kelemahan malah. Ha, tidak, lebih tepat dikatakan gayanya itu tiada segi kelemahannya, gaya yang sempurna. Hihi, gaya yang paling rapat dan kukuh, haha, sungguh aneh, sungguh bagus sekali.”

Keheningan mencekam perasaan terus berlangsung kira-kira setengah jam lamanya.

Thi-wah merasa kaki tangan linu kesemutan, namun ia tidak berani bergerak. Kalau penonton saja ikut tegang dan tidak berani bergeming, apa lagi Pui-Po-giok.

“Aneh,” demikian batin Siau-kong-cu, “kenapa orang ini belum juga turun tangan! Apa sengaja ingin menyiksa batin Po-giok? Setelah Po-giok menderita lahir batin … atau dia maklum serangan goloknya akan menamatkan jiwa Po-giok sehingga tak tega turun tangan?”

Makin dipikir makin ruwet, padahal persoalan mudah dan sederhana, tapi dalam pemikirannya justru menjadi rumit dan sukar dipecahkan. Itulah buktinya bahwa Siau-kong-cu memang setaraf lebih tinggi dibanding orang lain.

Dari segala keruwetan itu akhirnya lahirlah buah pikirannya.

“O, ya, gaya yang diperlihatkan Po-giok terlalu banyak segi kelemahannya, sehingga lawan kebingungan tak tahu dari posisi mana harus turun tangan, oleh karena itu ia bimbang dan tidak berani bertindak. Hah, jadi yang tersiksa dan menderita justru dirinya sendiri dan bukan Po-giok. Bagus! Sungguh menyenangkan!”

Mendadak sinar golok mulai bergerak. Si baju hitam memegang golok dengan kedua tangan, tubuhnya berputar perlahan, dengan kaki kiri sebagai poros, tubuh mendadak berputar secara aneh dan lamban.

Seiring dengan gerak tubuh yang berputar, golok panjang itu juga menggaris menjadi lingkaran. Begitu indah gerakan berputar, begitu mempesona lingkaran itu, sehingga Thi-wah dan Siau-kong-cu melongo takjub.

Setelah berputar satu lingkar, tubuh si baju hitam dan golok panjang itu seolah-olah manunggal, berubah menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi.

Menyusul secara tiba-tiba sinar golok bergetar entah bagaimana sinar golok itu akhirnya berubah menjadi tabir kemilau, laksana kilat menyerang ke arah Po-giok. Sasaran mana yang diserang pada tubuh Po-giok?

Siapa pun tidak tahu dan tidak bisa melihat. Karena samberan tabir kemilau itu berlangsung dalam waktu sekejap. Tapi sekejap yang hanya sekejap itu justru dapat menentukan mati hidup manusia.

Siau-kong-cu dan Thi-wah hanya melihat bayangan orang sekali berkelebat angin samberan golok, bayangan cahaya, lalu secara ajaib seluruhnya berhenti mendadak.

Kalau tadi berhadapan, kini Po-giok dan si baju hitam pindah tempat, saling membelakangi. Golok panjang di tangan si baju hitam terangkat tinggi di atas, sementara tangan kiri Po-giok melindungi dada, sedang tangan kanan laksana sayap terpentang ke belakang. Seperti dua patung bergaya berdiri mungkur tanpa bergerak.

Siapa yang menang? Mana yang kalah?

Keheningan mencekam terasa mencurigakan, membuat orang tegang menahan napas. Entah beberapa kejap kemudian, seperti singkat tapi juga terasa amat lama.

Akhirnya si baju hitam membuka suara, “Jurus bagus!”

Belum habis mengucap dua patah kata, mendadak tubuhnya ambruk tersungkur.

Po-giok yang menang.

“Toa-ko menang … Toa-ko menang …. ” Thi-wah bersorak kegirangan.

Mendadak Po-giok membalik tubuh melompat ke samping si baju hitam yang rebah di tanah, serunya gugup dan kuatir, “Bagaimana keadaan anda?!”

Si baju hitam tertawa pedih. “Bagaimana?” desisnya lirih, “Sudah kalah … sudah kalah”

Beruntun ia mengucap empat kali “sudah kalah”, suaranya makin lemah dan lirih, makin sedih memilukan, akhirnya pun berhenti.

Sambil mengertak gigi mendadak Po-giok menyobek baju di depan dada si baju hitam, di bawah sinar bintang, tampak oleh Po-giok dada si baju hitam ternyata hitam memar.

Ternyata sejurus waktu kedua orang saling bentrok barusan, Po-giok mengayun balik telapak tangan, kanan dan secara telak menghajar dada si baju hitam, walau pukulan telapak tangan itu tidak meninggalkan bekas telapak tangan di dadanya, tapi seluruh tulang dada si baju hitam terpukul patah dan hancur.

Betapa dahsyat tenaga pukulan yang dilancarkan Po-giok?

Po-giok menunduk sedih, katanya, “Cai-he salah tangan … pukulan ini … terlalu berat … terlalu berat…”

Po-giok bilang “terlalu berat” karena ia maklum dengan luka separah itu si baju hitam tidak mungkin tertolong jiwanya.

“Kejadian ini … tidak boleh menyalahkan engkau ,” desis si baju hitam.

“Akulah yang salah … aku yang harus disalahkan. Aku tidak bermusuhan dan tiada dendam denganmu, tidak pantas … ”

“Ah,” desis si baju hitam, “mana boleh menyalahkanmu, akulah yang memaksamu turun tangan, terpaksa kamu harus membela diri … akulah yang memaksamu melancarkan jurus mematikan ini …. ”

Suara si baju hitam makin lemah, mendadak ia tertawa pedih lagi, “Sebenarnya, bukan aku yang memaksamu, jurus ilmu golok itulah yang memaksamu. Bukankah tadi sudah kubilang, bila jurus itu dilancarkan harus melihat darah dan jiwa pasti melayang!”

Merinding Po-giok, “Jadi … kau tahu jurus itu …”

“Betul.” tukas si baju hitam, “aku sudah tahu sejak mula bila jurus ilmu golok itu aku lancarkan, kalau bukan engkau yang mampus, tentu akulah yang gugur. Dalam hal ini hakikatnya engkau tidak diberi kesempatan untuk memilih.”

“Tapi … kenapa untuk urusan orang lain kau rela mempertaruhkan jiwa sendiri?”

Memilukan tawa si baju hitam, napasnya mulai memburu, “Sebelum Pek-ih-jin menurunkan jurus golok ini padaku dia sudah menjelaskan bahwa di dunia ini tiada orang mampu memecahkan jurus ciptaannya ini, aku akan malang melintang di dunia kang-ouw, sebaliknya bila ada orang tahu dan mampu memecahkan jurus ini, jiwaku yang akan melayang. Cukup lama aku mempertimbangkan hal ini baru menerima ajarannya. Itu berarti aku rela melakukannya, kenapa harus menyalahkan orang lain?”

“Betapa besar arti jiwa raga ini, tapi kau pertaruhkan untuk sejurus pelajaran ilmu golok, apakah … apakah setimpal?”

“kau bilang apa setimpal?” si baju hitam bertanya.

“Betul,” sahut Po-giok setelah menghela napas panjang. “jurus itu memang dapat mengejutkan bumi dan memecahkan nyali setan dan malaikat. Sayangnya hawa membunuh yang terkandung pada jurus itu teramat tebal. Kalau bukan karena hawa membunuhnya teramat tebal, aku takkan dapat memecahkannya.”

Agak lama si baju hitam menelaah dan meresapi kata-kata Po-giok, akhirnya ia mengangguk perlahan, “Tidak salah, tidak salah …. Karena hawa membunuh terlalu tebal, menjadi kehilangan keuletan, meski tajam golok luar biasa, akhirnya terpecahkan juga …. ”

Mendadak ia menarik napas lalu meninggikan suara, “Tapi kecuali engkau Pui-Po-giok, siapa manusia di dunia ini yang dapat memecahkan jurus ini.”

“Kukira tidak demikian.” tiba-tiba Siau-kong-cu menjengek.

“Tidak demikian? kau tahu asal-usul jurus itu?” bentak si baju hitam bengis.

Siau-kong-cu mendongak mengawasi langit, katanya, “Apa kau tahu?”

“Pernahkah kau dengar jurus It-nu-sat-liong-jiu dari ilmu Sam-coat-jiu Siau-lim-pai? Pernah kau dengar jurus Ban-koh-it-ki-kai-thian-te yang oleh Liu-tai-hiap dulu digunakan malang melintang di dunia kang-ouw?”

“Ya, pernah aku dengar bahwa kedua jurus ilmu silat itu merupakan dua jurus yang paling ampuh di Bu-lim masa itu, tapi … apa sangkut-pautnya kedua jurus itu dengan jurus yang kau lancarkan tadi?”

Si baju hitam tidak menghiraukan pertanyaan Siau-kong-cu, tapi berkata sendiri, “Apa kau juga pernah dengar bahwa tiga aliran besar kaum persilatan di Tang-ing, ada satu jurus yang dinamakan Ni-hong-it-to-jan dari It-liu-thai-to?

“Walau aku belum pernah dengar, tapi jurus yang satu ini pasti merupakan jurus yang paling hebat di kalangan Bu-lim di Tang-ing sana, betul tidak?”

“Betul!” desis si baju hitam, “jurus yang aku lancarkan tadi memang salah satu jurus yang diciptakan oleh Pek-ih-jin, jurus itu merupakan kemanunggalan ketiga jurus ilmu silat yang aku sebutkan tadi, maka dapat kau bayangkan betapa hebat wibawa jurus ciptaannya itu.”

Setelah menahan diri untuk bicara sebanyak itu, tenaga terpendam yang masih tersisa di badan si baju hitam agaknya sudah terkuras habis, kini ia harus berhenti dan mengatur napasnya yang empas-empis.

Karena si baju hitam tidak bicara, Po-giok dan Siau-kong-cu juga tidak bicara. Apalagi Thi-wah jelas ia pun tidak punya omongan, tiga orang pentang mata mengawasinya dengan terbelalak.

Po-giok mengawasi dada orang yang ringsek karena pukulannya, sikapnya kelihatan menyesal dan sedih. Siau-kong-cu mengawasinya seperti merasa curiga, seolah-olah ingin menyelidiki sesuatu yang ingin diketahui.

Thi-wah ternyata mengawasi satu benda yang terikat di pinggang orang, sudah sejak tadi ia mengawasi buntalan ini, wajahnya tampak tertarik dan ingin memilikinya.

Bentuk benda itu memang agak aneh, selintas pandang mirip kantung air, tapi kalau kantung air kenapa banyak lubang kecil seperti sarang tawon.

Suasana kebetulan amat hening, dan dalam benda yang bentuknya seperti kantung air itu terdengar suara lirih yang aneh. Benda apa yang berbunyi dalam kantung air yang bolong-bolong ini? Thi-wah menerka-nerka, tapi tidak memperoleh jawabnya.

Mendadak didengarnya Siau-kong-cu menjerit perlahan, katanya, “Ah, betul, pasti dia adanya.” Po-giok bertanya. “Apa kau bilang? Dia siapa?”

Siau-kong-cu tidak menjawab, mendadak ia meraih tutup kepala si baju hitam, maka tampaklah seraut wajah yang pucat pasi.

“He, engkau … bagaimana bisa kamu?” teriak Po-giok kaget.

Si baju hitam ternyata Thi-kim-to adanya yang sudah berpisah sekian tahun dan tidak pernah terdengar kabar beritanya.

Po-giok memang sudah merasa bentuk dan perawakan si baju hitam mirip seseorang yang sudah dikenalnya, tapi sejak berpisah di Gak-yang-lau dahulu hingga sekarang belum pernah bertemu lagi dengan orang ini, sudah tentu sukar mengingatnya kembali.

Kejadian di Gak-yang-lau dulu sudah berselang tujuh tahun. Terbayang oleh Po-giok waktu itu dirinya bersama Siau-kong-cu mencuri lihat di belakang kerai dalam kapal layar pancawarna waktu Ci-ih-hou menerima Boan-jiu-hu-hou-to ini untuk mohon belajar ilmu silat padanya.

Siau-kong-cu berkata sambil mengawasi Thi-kim-to, “Aneh bukan? Bagaimana aku bisa mengenal dirimu?”

Thi-kim-to tertawa kaku, “Ya, aku pun heran … walau kutahu nona adalah putri kesayangan Ci-ih-hou-ya, tapi tidak Aku ingat kapan nona pernah bertemu dengan aku.”

“Biar aku beri tahu padamu,” ucap Siau-kong-cu tertawa, “waktu kak Ling-ji mengajarkan Kian-kun-boh-thian-sek untuk mematahkan Poan-liong-kau itu, aku dan … dia, sudah melihatmu dari balik kerai.”

Thi-kim-to menghela napas, “Sungguh mengagumkan, berselang sekian tahun nona masih mengenal diriku.”

“Sudah tentu masih Aku ingat,” ucap Siau-kong-cu bangga, “setiap orang yang pernah aku lihat sekali saja, meski dia menjadi abu juga masih dapat aku kenali …”

Sengaja ia melirik ke arah Po-giok, lalu melanjutkan dengan suara dingin, “jangankan hanya manusia, sepatah kata yang pernah diucapkan orang pun akan selalu Aku ingat.”

“Sepatah kata apa?” tanya Po-giok tertarik.

Siau-kong-cu mendongak ke atas tidak menghiraukannya, namun dalam hati ia berkata, “Orang bilang aku takkan bisa menandingi dirimu, apa benar hal itu? Cepat atau lambat kau pasti mati di tanganku.”

Karena rasa ingin menang itulah segala sesuatunya selalu berjalan saling bertentangan. Umpama benar dia berhasil membunuh Po-giok, dia juga tidak ingin hidup sendiri, tapi itu urusan lain urusan nanti.

Po-giok menghela napas panjang, matanya masih mengawasi Thi-kim-to, orang yang sudah sekarat ini akan mati di tangannya, perkara lama dan urusan di depan mata, sekaligus bergejolak dalam sanubarinya.

Sekian lama ia kehabisan kata, entah apa yang harus diucapkan, namun akhirnya ia tertawa getir “Selamanya tidak akan aku lupakan. Thi … Thi-tai-hiap dan Poan-liong …”

Thi-kim-to tertawa ewa, katanya lirih, “Perlu Pui-siau-hiap ketahui, persoalanku dengan Poan-liong-kau itu sudah tidak perlu diperpanjang lagi.”

“Oo, kenapa? Permusuhan kalian sudah didamaikan?”

“Bukan,” sahut Thi-kim-to “akhirnya Poan-liong-kau gugur di tanganku.”

“kau … kau …” tergetar perasaan Po-giok.

Thi-kim-to memejamkan mata, sejenak kemudian ia berkata pula, “Dengan jurus tadi aku berhasil membunuhnya. Sungguh tak nyana akhirnya aku juga gugur karena jurus itu, aku memperoleh pelajaran … bukankah ini sangat aneh? Kalau di dunia ini tiada jurus ini, dia tidak akan mati, aku pun tidak mati.”

“Lantaran … ingin mengalahkan Poan-liong-kau , baru kau terima jurus ciptaan Pek-ih-jin ini,” demikian kata Po-giok sedih, perasaannya menjadi dingin.

“Ci-ih-hou sudah wafat, tiada guru yang baik di kang-ouw,” demikian ucap Thi-kim-to, “maka aku berlayar jauh ke Tang-ing, setengah tahun lamanya aku mencari dia, syukur akhirnya aku bertemu dengan Pek-ih-jin, kumohon padanya pelajaran supaya aku bisa menang.”

“Bahwa dia menerima permohonanmu, sungguh di luar dugaan.”

“Semula ia bersikap tak acuh dan sama sekali tiada hasrat menerima diriku, malah tidak jarang aku dihina dan dicaci maki, tapi entah kenapa dalam pertemuan lain mendadak ia berubah pikiran.”

“Mendadak berubah pikiran? Soal apa membuatnya berubah pikiran?” ucap Po-giok sambil tepekur.

Sesaat lamanya keadaan menjadi hening. Sejak tadi perhatian Thi-wah tertuju pada benda di pinggang Thi-kim-to, tanpa peduli orang lain mendadak ia menghampirinya lalu meraih kantung itu.

Berubah hebat air muka Thi-kim-to, teriaknya dengan serak. “Lepas … lepaskan … kembalikan … ”

Thi-wah malah menyingkir jauh, katanya, “Jangan pelit, aku hanya ingin tahu apa isinya, nanti aku kembalikan.”

“Jangan, jangan kau lihat … kantung itu … jangan dibuka!” Thi-kim-to tampak gugup.

“Hanya melihat sebentar, kenapa sih, isinya kan tidak bakal terbang dan hilang?” sembari bicara Thi-wah membuka mulut kantung.

Belum habis ia bicara kantung itu sudah membuka dan “berrr”, isi kantung benar-benar terbang keluar.

Kali ini Thi-wah yang tertegun, ia mendongak mengawasi udara, setitik putih laksana panah melesat tinggi ke angkasa, hanya sekejap lenyap entah ke mana.

Akhirnya Thi-wah menjerit kaget dan heran, “He, burung, seekor burung. Orang ini membawa burung.”

Wajah Thi-kim-to tampak gugup, kuatir dan menyesal, suaranya lirih gemetar, “Itu bukan burung biasa, tapi burung dara.”

“Burung dara sudah terbang tidak perlu dibuat perkara, paling banyak … nanti kuganti seekor yang lebih bagus.” demikian ucap Thi-wah!

Melihat Thi-kim-to gugup dan kuatir hanya lantaran seekor burung dara, Po-giok dan Siau-kong-cu merasa heran. Siau-kong-cu bertanya, “Apakah burung dara itu burung sakti?”

“Tidak … ai, bukan!” kata Thi-kim-to.

“Burung dara itu membawa sesuatu pusaka?” tanya Siau-kong-cu pula.

“Tidak … juga bukan.” serak suara Thi-kim-to.

“Ini tidak, itu bukan, kenapa begini tegang?” tanya Siau-kong-cu.

Mata Thi-kim-to melotot mengawasi arah burung dara, wajah tampak sedih, kuatir dan tobat, gumamnya, “Kalau burung dara itu kembali … Pek-ih-jin akan segera datang.”

“Huh, ucapan apa itu?” jengek Siau-kong-cu.

Meski ia tidak paham apa makna perkataan Thi-kim-to, tapi dari sorot matanya, Siau-kong-cu mendapat firasat adanya sesuatu yang tidak beres, mau tidak mau air mukanya ikut berubah.

“Sebelum aku berangkat pulang,” demikian tutur Thi-kim-to, “Pek-ih-jin menyerahkan burung itu kepadaku, dia berpesan bila ada orang dapat mematahkan jurus ciptaannya itu, burung dara harus kulepas biar pulang, dan bila burung dara itu tiba di tempatnya, ia segera berangkat kemari.”

“Kalau burung dara itu tidak kembali?”.

“Burung dara tidak kembali berarti jurus ciptaannya itu tiada bandingan di Tiong-toh, hanya sejurus ciptaannya yang dia turunkan kepadaku, sudah malang melintang di dunia tanpa tandingan lalu buat apa dia meluruk kemari? Kalau dia tidak datang, bukankah tiada bencana lagi di Bu-lim?”

Tergetar hati Po-giok Siau-kong-cu malah berkata, “Untuk menghindarkan bencana di Bu-lim, meski sudah berjanji dengan Pek-ih-jin, kau putuskan untuk tidak melepaskan burung itu, begitu?”

Thi-kim-to menghela napas panjang, “Dengan berbuat begitu meski ingkar janji terhadap Pek-ih-jin, namun secara langsung aku sudah menolong banyak jiwa kaum persilatan di sini, kurasa cukup setimpal apa yang kulakukan.”

Siau-kong-cu menyeringai, “Kalau benar kamu bermaksud baik, kenapa burung dara itu selalu kau bawa? Seharusnya disembelih dan digoreng saja kan enak.”

“Semula kupikir kalau aku mati, mati-hidup orang lain peduli amat dengan diriku? Biar Pek-ih-jin mencuci Tiong-goan dengan banjir darah, tapi sekarang aku sudah dekat ajal, entah kenapa menjelang ajal pikiranku mendadak berubah.

Siau-kong-cu menatapnya tajam, kemudian ia menghela napas, sambil manggut ia berkata lirih. “Betul, seseorang bisa berubah pikiran menjelang ajalnya, umpama dia seorang durjana yang jahat dan kejam, pada saat mendekati ajalnya, dia pun ingin melakukan sesuatu yang baik untuk bekal perjalanan ke alam baka.”

Sejak tadi Thi-wah berdiri melongo, mendadak ia tampar muka sendiri, air mata pun bercucuran, katanya keras, “Akulah yang salah … aku harus mampus … ”

Mendadak ia berlutut di depan Po-giok serta meratap dengan pilu, “Toa-ko, Thi-wah pantas di-hukum mampus, pukul lah aku sampai mampus!”

Po-giok malah geleng kepala, katanya sambil menghela napas. “Dalam hal ini kau tidak dapat disalahkan.”

“Oo, kenapa aku tidak disalahkan?… Kalau burung dara tidak aku lepaskan, Pek ih-jin tidak ….”

“Umpama kau tidak melepas burung dara itu kembali, cepat atau lambat Pek-ih-jin juga akan datang,” demikian tukas Po-giok.

“Agaknya Pui-siau-hiap masih belum percaya padaku?” ujar Thi-kim-to.

Po-giok menghela napas pula. “Bukan aku tidak mempercayaimu, soalnya aku sudah tahu dan membongkar maksud tujuan Pek-ih-jin dengan muslihatnya ini.”

“Apa maksud tindakanmu ini?” tanya Thi kim-to.

Po-giok termenung mengawasi mega, perlahan berkata, “Setelah dia menciptakan jurus sendiri belum tahu apakah ada kelemahan jurus ciptaannya, juga belum tahu pasti di mana letak kelemahannya, kebetulan engkau mohon belajar padanya, maka kamu dijadikan kelinci percobaan. Di situlah maksud tujuannya menurunkan jurus ciptaannya kepadamu, padahal betapa nyentrik watak dan perbuatannya, mana mungkin mau menurunkan sejurus ciptaannya yang memeras tenaga dan keringatnya itu kepadamu?”

“Betul … memang betul …. ” Thi-kim-to menjadi lunglai, mendadak matanya mendelik serta berteriak, “Ya, tidak salah! Tidak salah!”

“kau ingat apa lagi?” tanya Po-giok.

“Waktu menyerahkan burung dara itu padaku lebih dulu mengikat benang sutera pada kaki burung itu, secara tidak sengaja aku melirik kebetulan dapat aku lihat secarik kertas tipis yang dia gulung dan diikat di kaki burung dara itu bertuliskan dua huruf.”

“Dua huruf apa?” tanya Po-giok.

Thi-kim-to menghela napas, katanya, “Bawah ketiak. Yang ditulis itu adalah ‘bawah ketiak’.”

Lama Po-giok tepekur, lalu menarik napas sambil mendongak, “Ya, memang demikian halnya. Orang ini memang seorang jenius dalam kalangan persilatan, waktu menciptakan jurus ilmu goloknya dia sudah memperhitungkan lubang kelemahan jurus ciptaannya itu ada di bawah ketiak, namun ia sendiri tidak berani memastikan kebenaran dugaannya itu.”

“Ya, setelah burung dara itu kembali, ia yakin bahwa perhitungannya tepat.”

Po-giok tertawa getir, “Betul, itulah tujuannya kenapa dia minta kau lepas burung dara itu pulang setelah kamu gugur. Padahal dia sudah mengirim berita bahwa musim bunga tahun depan akan datang ke Tiong-goan, mana mungkin dia ingkar janji. Umpama burung dara itu kau bunuh juga dia akan meluruk ke Tiong-goan.”

Mendadak Thi-wah tertawa riang, air mata meleleh di pipinya, katanya riang, “Kalau demikian, Thi-wah tidak salah lagi bukan?”

Napas Thi-kim-to tambah berat dan makin sesak, katanya serak, “Kalau dia sudah tahu kelemahan jurus ciptaannya itu ada di bawah ketiak dengan kecerdasannya sebetulnya ia dapat mencari jalan pemecahannya, dan sia-sia aku menjadi umpan percobaannya, aku bukan saja mencelakai awak sendiri, aku juga membunuh orang lain, aku …. kenapa aku berbuat sebodoh ini, mencelakai orang lain juga membunuh diri sendiri … ”

Suaranya makin serak dan lirih, sikapnya juga amat menderita dan duka.

Mendadak kedua tangannya memukul dada seraya berteriak, “Aku mati penasaran … penasaran … ”

“Bluk”, dengan sisa tenaga yang ada ia pukul dada sendiri yang ringsek, seiring dengan bunyi “bluk” itu, jiwanya pun melayang.

Siau-kong-cu mengawasi Po-giok, mendadak ia tanya, “Apa betul hanya di tempat itu saja lubang kelemahan jurus itu?”

Po-giok mengangguk, “Ya, titik kelemahan jurus itu memang di bawah ketiak. Sebetulnya aku tidak mampu memecahkan jurus itu, setelah sinar golok menyamber tiba di depan mata, kutahu jiwaku tak bisa diselamatkan lagi … ”

Setelah tertawa getir, Po-giok melanjutkan, Dalam waktu sekejap itu, aku lihat tabir sinar golok yang putih kelabu, cahaya golok seolah-olah, membalut sekujur tubuhku.”

“Lalu cara bagaimana kamu berhasil memecahkannya?” tanya Siau-kong-cu.

“Dalam sekejap itulah, mendadak kudapatkan di tengah lingkaran cahaya golok yang paling tebal ternyata bercampur dengan warna hijau dan coklat yang samar-samar. Hal ini dapat aku simpulkan bahwa di tengah lingkaran sinar golok yang paling tebal justru ada lubang kelemahannya, lubang itulah yang menimbulkan gambaran samar-samar dari warna hijau dan coklat dari pepohonan di belakangnya. Bahwa titik kelemahan justru berada di tengah lingkaran sinar golok yang tebal, hal ini sebetulnya membuat hatiku bimbang dan heran, namun dalam saat genting itu mana dapat aku pikirkan persoalan ini, terpaksa aku bertindak dengan menyerempet bahaya.”

“Sekali dicoba ternyata berhasil,” sorak Siau-kong-cu senang.

Po-giok menghela napas, “Waktu itu aku betul-betul tidak menduga bahwa percobaanku bakal berhasil. Seperti memejamkan mata saja langsung aku terjang ke tengah lingkaran sinar golok yang paling tebal. Dalam keadaan seperti itu, tindakanku itu, ibarat laron menerjang api.”

“Jurus laron menerjang api yang bagus sekali!” Siau-kong-cu berkeplok memuji. “jurus itu dapat dijajarkan dengan jurus Ju-cian-ci-pok (membikin sawang membelenggu sendiri) ciptaan Jit-biat Su-thai itu cikal bakal Hoa-san-pai yang hebat itu.”

Mendengar dirinya dipuji gadis binal ini, Po-giok tertawa riang, “Waktu itu kurasakan sekujur badanku menjadi dingin, seolah-olah mendadak kejeblos ke dalam air dingin disusul timbul pula perasaan lain yang aneh!”

“Perasaan apa?” tanya Siau-kong-cu.

Po-giok tidak langsung menjawab, setelah menghela napas baru bicara, “Kalau bukan lantaran perasaan aneh itu, umpama aku dapat menyelamatkan diri dari serangan jurus ganas itu tetap tak dapat memecahkannya.”

“Perasaan aneh apa sih?” desak Siau-kong-cu, “coba jelaskan.”

“Dalam keadaan kepepet aku terdesak oleh angin samberan golok yang diliputi hawa membunuh, sekujur badan hampir beku tapi ada satu bagian terasa masih ada hawa hangat. Di tengah lingkaran sinar golok yang dingin itu, dari mana datangnya hawa hangat itu?”

“Aneh, di tengah lingkaran sinar golok yang dingin, dari mana datangnya hawa hangat?” Siau-kong-cu juga bertanya-tanya.

“Hawa hangat itu merembes dari suhu badan Thi-kim-to. Cukup lama dia mengerahkan tenaga dan siap menyerang, dalam keadaan tegang lagi, dengan sendirinya suhu badannya menjadi lebih panas.”

“Ya, benar, mungkin demikian,” ucap Siau-kong-cu.

“Dalam keadaan biasa suhu badan itu jelas takkan terasakan, tapi pada saat sinar golok yang dingin hampir membeku badan, hawa hangat ini justru terasa amat ganjil. Bahwa di tengah lingkaran sinar golok yang dingin merembes hawa hangat, segera kutahu bahwa di tengah lingkaran sinar golok itu pasti ada lubang kelemahannya, dan lubang kelemahan itu pasti berada di arah datangnya hawa hangat itu.”

Bercahaya mata Siau-kong-cu, memantulkan rasa kagum dan memuji, “Ya, pasti demikian.”

Mendadak ia tertawa, “Kalau pukulan telapak tanganmu kau lontarkan ke arah datangnya hawa hangat itu, namakan saja jurus Hwi-ngo-hoa-hwe (laron terbang menubruk api).”

Po-giok mengangguk, katanya, “Maka aku tidak sangsi lagi, tangan kontan membalik dan memukul … ai, dalam keadaan seperti itu, walau aku tiada maksud melukai orang, mau tidak mau aku harus mengerahkan tenaga untuk melancarkan pukulan itu.”

“Oleh karena itu, meski kematian Thi-kim-to tidak dapat menyalahkanmu, malah dia bilang kamu terpaksa melukainya karena dipaksa oleh hawa membunuh yang terlalu tebal pada jurus itu ….”

“Kalau jurus itu tidak mengandung hawa membunuh yang tebal. mana mungkin aku merasakan adanya hawa hangat yang merembes ke dalam lingkaran sinar golok yang dingin itu. Kalau aku tidak merasakan adanya hawa hangat itu, mana mungkin aku berhasil menghancurkan jurus itu.”

Lama Siau-kong-cu termenung, lalu berkata perlahan, “Dan hanya engkau saja yang dapat mematahkan jurus itu. Kecuali dirimu siapa bisa menemukan bayangan hijau samar-samar di tengah lingkaran cahaya golok itu.”

“Menurut apa yang kuketahui, di antara ahli senjata rahasia yang tidak kalah dibanding diriku. aku yakin mereka juga bisa melihat apa yang aku lihat tadi.”

“Ya, umpamakan saja mereka dapat melihat bayangan hijau dan coklat yang samar-samar di tengah cahaya golok tebal itu, tapi kecuali dirimu siapa memiliki nyali sebesar itu, dalam keadaan terdesak berani menerjang ke dalam lingkaran sinar golok yang dahsyat itu.”

“Kurasa tidak demikian halnya. Orang lain aku tidak tahu, katakan saja Kim Put-wi Kim-ji-siok dan adikku Thi-wah dalam keadaan tertentu keberanian mereka juga sukar aku tandingi.”

“Ya, umpama orang lain ada yang punya keberanian seperti dirimu, tapi kecuali dirimu siapa memiliki indra setajam itu, dalam waktu sekejap itu merasakan adanya hawa hangat yang merembes masuk dalam lingkaran yang dingin itu.”

Po-giok tertawa, katanya “Bicara tentang kepekaan perasaan, mana aku mampu menandingi dirimu?”

“Umpama benar ada orang yang memiliki ketajaman melebihi dirimu, tapi kecuali dirimu, siapa dapat memanfaat kesempatan secara tepat, menentukan posisi dengan baik, sekali turun tangan langsung menggempur titik kelemahan itu secara telak.”

“Seorang yang memiliki ketajaman indra, tidak sukar untuk memegang waktu dan menentukan posisi secara tepat, aku pernah menyaksikan kamu bergebrak dengan orang, untuk ini kurasa kamu tidak perlu merendahkan diri.”

Siau-kong-cu tertawa manis, “Baiklah, anggaplah ada orang memiliki ketajaman mata melebihi dirimu, ada pula yang bernyali lebih besar dan berani darimu, dan seorang memiliki ketajaman lebih tinggi dibanding engkau , katakan apa ada orang memiliki kekuatan dalam yang lebih dahsyat dibanding dirimu, tapi kecuali engkau , siapa dapat mencakup semua kelebihan itu pada diri sendiri seperti kamu? Padahal untuk memecahkan jurus itu, tidak boleh kurang dari salah satu kelebihan itu.”

“Betul,” seru Thi-wah, “kecuali Toa-ko orang lain jelas tidak mampu.”

“Tepat, siapa pula orangnya kecuali dirimu?” Po-giok mengawasi Siau-kong-cu dengan tertawa.

“Mendadak engkau memujiku setinggi langit, apa maksudmu sebenarnya?” Siau-kong-cu tertawa. “Hah, agaknya kamu kegirangan.”

“Betul, di samping kaget aku memang senang.” ujar Po-giok tertawa.

Lebih manis tawa Siau-kong-cu, “Aku ingin memujimu karena kutahu kamu tidak akan hidup lebih lama lagi. Mumpung ada kesempatan, kalau tidak sekarang aku puji kamu, kelak mungkin tiada kesempatan lagi.”

“Omong apa kau !” bentak Thi-wah gusar, “omong lagi akan ku … ”

“Biarkan dia bicara,” sela Po-giok tertawa, “aku sudah tahu kalau dia meraba seseorang, maksudnya hanya ingin membersihkan tempat itu, lalu dengan gregetan ia menggigitnya.”

“Betul sekali,” seru Siau-kong-cu cekikikan, “hanya kamu yang tahu tentang diriku. Permen yang kuberikan kepada orang lain, tentu sudah aku campur racun.”

Amarah Thi-wah belum reda, serunya lantang, “kau bilang Toa-ko ku tidak panjang umur, apa alasanmu, coba jelaskan.”

“Jurus ciptaan Pek-ih-jin itu, lubang kelemahannya hanya satu yaitu di bawah ketiak bukan?”

“Betul.”

“Setelah burung dara itu dilepaskan, membuktikan bahwa kelemahan itu sesuai dugaan sebelumnya, maka dia pasti akan berusaha menutup lubang itu, dengan bekal dan kecerdikan otaknya, tidak sulit baginya untuk menanggulangi kesulitan ini bukan?”

“Ya, tidak salah.”

“Kalau dia berhasil menutup lubang kelemahan jurus itu, berarti jurus itu tiada kelemahan lagi betul tidak?”

“Ya,” Po-giok menghela napas, “kalau dia berhasil menutup lubang kelemahan itu, maka tiada orang di dunia ini yang dapat mengalahkan jurus itu.”

“Engkau pun tidak dapat menandinginya?”

“Sudah tentu termasuk aku juga.”

“Makanya, cepat atau lambat kamu akan duel dengan Pek-ih-jin, bila musim bunga tahun depan tiba, engkau akan binasa di tangannya, betul tidak?”

Lama Po-giok terlongong, akhirnya ia menarik napas panjang dan menjawab, “Ya, betul.”

Siau-kong-cu cekikikan, “Musim bunga tahun depan sudah dekat, umpama kau pulang segar bugar dari perjalananmu ke Pek-cui-kiong kali ini, jiwamu pun takkan hidup lebih lama lagi.”

“Toa-ko akan mati, kenapa kau senang malah?” tiba-tiba Thi-wah menghardik gusar.

Siau-kong-cu tidak peduli padanya, matanya masih mengawasi Po-giok dan akan bicara. Siapa tahu mendadak Po-giok meloncat bagai burung terbang meluncur ke pinggir sana. Begitu tubuhnya terapung di udara, mulutnya membentak. “Saudara tunggu sebentar!”

Hanya bicara beberapa patah kata, langsung ia melesat masuk hutan.

Sudah tentu Siau-kong-cu dan Thi-wah mengejar ke dalam hutan.

Dalam hutan memang tampak seorang lagi lari lintang pukang, betapapun lincah dan enteng gerak tubuhnya, mana dapat lolos dari kejaran Pui-Po-giok.

Baru belasan langkah ia lari, baju kuduknya sudah dicengkeram oleh Po-giok, katanya sambil menoleh, “Hampir setengah hari orang ini sembunyi di sini, sungguh menggelikan kita tidak mengetahuinya …. Saudara sudah setengah hari mencuri dengar pembicaraan kami, nah, perlihatkanlah wajah aslimu.”

Po-giok tidak memakai tenaga, tapi orang itu menjatuhkan diri serta menyembah ketakutan, tatapnya gemetar, “Aku tidak mencuri dengar, tidak melihat apa-apa. Toa-ya, ampun, biarlah aku pergi.”

“Siapa she dan namamu? Untuk apa berada di sini?” tanya Po-giok.

Mendadak Siau-kong-cu menyela dengan suara dingin, “Tentu kau tahu jatuh di tangan pendekar kita Pui-Po-giok. Ada persoalan apa, katakan terus terang, jangan pura-pura dan mencari penyakit sendiri.”

“Hamba tidak pura-pura dan tidak berani cari penyakit, hamba adalah pencari kayu bakar …. Toa-ya, Pui-Toa-ya, ampunilah jiwa hamba!”

Dandanan orang ini memang mirip pencari kayu bakar maka Po-giok mengendurkan pegangannya, katanya dengan alis berkerenyit “Apa betul kamu penduduk setempat?”

Sesaat Siau-kong-cu tepekur, mendadak ia tertawa sambil menghampiri, tanpa bicara ia tepuk pundak orang, lain berkata, “Coba berpaling ke mari.”

Orang itu menjawab, “Hamba tidak … tidak berani berpaling.”

“Ayo berpaling,” teriak Thi-wah, “Memangnya dia bakal menelanmu, takut apa?”

Mati pun orang itu tidak mau berpaling, dengan gemetar ia berkata, “Hamba tidak berani. hamba tidak berani … ”

Siau-kong-cu tertawa geli, “Baiklah, jika tidak mau berpaling, biar aku lihat tampangmu dari depan.”

Belum habis Siau-kong-cu bicara, orang itu sudah menutup muka dengan kedua telapak tangannya”

“Oo, seperti gadis yang malu-malu segala, turunkan tanganmu, kalau tidak kau turunkan, biar kutarik tanganmu.”

Begitu Siau-kong-cu mengulur tangan, orang itu menjerit kaget, lalu mendekam di tanah, selebar mukanya didekap kedua tangan mati pun tidak mau angkat kepala.

Melihat orang ini takut berhadapan dengan dirinya, mau tidak mau timbul rasa curiga Po-giok Thi-wah yang jengkel segera mencengkeram kuduk orang terus dijinjingnya ke atas, bentaknya, “Seorang laki-laki kenapa bertingkah serupa perempuan tidak malu!”

Orang itu menjerit kaget lekas ia tutup muka dengan kedua tangan pula, tapi begitu jari Siau-kong-cu menjentik perlahan, orang itu merasakan siku kesemutan dan lunglai seluruh lengannya, kedua tangan tidak mampu bergerak lagi.

Walau tangan tidak bisa bergerak, tapi badan meronta-ronta, Thi-wah menjinjingnya seperti elang mencengkeram anak ayam dan sukar ia melepaskan diri.

Tangan Thi-wah yang lain segera angkat dagu orang katanya dengan tertawa, “Toa-ko, tengoklah dia, mukanya burikan, pantas malu dilihat orang.”

Dua kali Po-giok memperhatikan wajah orang walau cuaca dalam hutan agak gelap, muka orang itu berlepotan pasir dan debu, tapi Po-giok masih mengenalinya, tak urung ia tertawa geli, katanya, “Li-ciang-kun, kenapa berada di sini?”

Laki-laki yang berdandan sebagai pencari kayu bakar ini ternyata bukan lain daripada Pek-ma-ciang-kun Li Bin-sing.

Thi-wah tertegun sebentar lalu menurunkan tubuh orang katanya bergelak, “Li-ciang-kun, Li Bin-sing, kiranya engkau .. Hahaha, kiranya engkau ? Di mana kuda putihmu itu? Kenapa tidak naik kuda supaya dilihat orang banyak?”

Walau Pek-ma-ciang-kun ini setiap waktu berusaha menipu orang, tapi Po-giok dan Thi-wah tidak pernah menaruh dendam atau benci padanya, setiap bertemu mereka selalu geli dan suka menggodanya malah.

Cemberut muka Li Bin-sing, katanya sedih. “Sudah lama kuda putih itu aku jual, nama Pek-ma-ciang-kun juga sudah lama aku buang … Pui-tai-ya, Gu-tai-ya, anggap saja kalian tidak pernah melihat orang seperti diriku ini.”

Po-giok tertawa, “Lho, kenapa kuda putih kau jual? Apa usahamu belakangan ini makin mundur?”

“Usaha menipu orang sudah lama tidak pernah kulakukan lagi, sekarang aku sudah tobat, aku terima menjadi tukang pencari kayu bakar … Pui-tai-ya, Gu-tai-ya, selamat bertemu lain waktu.”

Belum habis bicara, serentak ia hendak lari pergi.

Tapi Thi-wah menariknya, katanya tertawa, “Mau ke mana? Ngobrol dulu di sini.”

“Kalian adalah pangeran di antara jago pedang, seorang lagi adalah tuan putri dalam Bu-lim, aku ini hanya tukang cari kayu belaka, soal apa yang dapat kita bicarakan”

“Eh, dari mana kau tahu tentang diriku?” tanya Siau-kong-cu tiba-tiba.

Li Bin-sing tertegun, air muka pun berubah, “Aku … aku tidak tahu, aku hanya menebak sembarangan.”

Siau-kong-cu mendengus, “Kamu kan sahabat lama mereka, bahwa mereka tidak bermaksud jahat terhadapmu, dan engkau tidak punya dendam dan sakit hati dengan mereka, tapi begitu melihat mereka, kenapa kau lari lintang pukang, apa sebabnya?”

Basah keringat Li Bin-sing, sahutnya gugup, “Aku … aku tidak …. ”

“Tidak apa,” bentak Siau-kong-cu, “soalnya kau dengar sesuatu rahasia dan melihat suatu kejadian, tapi tidak mau menerangkan kepada mereka, karena takut dan bermaksud jahat maka kamu … ”

“O, tidak, tidak …” teriak Li Bin-sing, “aku tidak melihat apa-apa, aku tidak tahu apa-apa.”

Mendadak Siau-kong-cu angkat tangan, beruntun delapan kali ia gampar muka orang, bentaknya, “kau tahu tidak?”

“Aku tidak tahu, aku …” Li Bin-sing membandel.

Sekali jotos Siau-kong-cu menggenjot hidung Li Bin-sing, katanya dengan tertawa, “Apa benar kamu tidak tahu?”

Merah bengkak muka Li Bin-sing, hidungnya juga melepuh seperti terong, air mata dan air liur bercucuran, setelah gentayangan akhirnya ia jatuh terduduk di tanah, tangan mendekap muka seraya berteriak, “Aku sudah tahu.”

Siau-kong-cu tertawa lebar, “Nah, kan begitu kalau sejak mula kau bicara tentu aku tidak akan menghajarmu .. Aduh, sakitkah mukamu?”

“Tidak sakit, tidak sakit …” Li Bin-sing menyengir.

Siau-kong-cu tertawa, “Kalau tidak sakit, biar aku gampar lagi dua kali.”

“Wah, sakit, sakit, kini terasa sakit … ah, malah sakit sekali.”

Po-giok merasa geli, padahal ia tahu Li-Bin-sing memang menyimpan rahasia, bahwa dia hanya berpeluk tangan dan menonton saja, karena ia tahu watak orang she Li ini memang takut digertak, Siau-kong-cu sendiri cukup mengompes keterangan dari mulutnya. Malah Po-giok yakin hanya gadis macam Siau-kong-cu saja yang dapat menundukkan orang seperti Li-Bin-sing.

Thi-wah sebaliknya merasa penasaran akan nasib Li Bin-sing, tapi karena sang Toa-ko tidak memberi komentar, sudah tentu ia tidak berani bicara.

Dilihatnya Siau-kong-cu mendadak menarik muka, katanya, “Beberapa tahun ini, apa benar kau jadi tukang pencari kayu bakar di sini?”

“Betul,” sahut Li Bin-sing, “mana berani aku dusta”

“Bohong!” bentak Siau-kong-cu, “hutan ini hutan jati, kayu apa yang bisa kau tebang untuk bahan bakar.”

“Aku … menebang kayu di tempat lain, tapi aku tinggal di sekitar sini,” sahut Li Bin-sing gelagapan.

“Baiklah, kalau benar kamu tinggal di hutan ini, apa yang terjadi dua hari di sini tentu kau tahu, betul tidak?”

“Tidak … oh, ya, semua aku tahu,” ingin dia menyangkal tapi begitu Siau-kong-cu melotot nyalinya menjadi ciut.

Siau-kong-cu tertawa lebar, katanya senang, “Nah, kalau tahu, lekas jelaskan … jelaskan seluruhnya, tidak boleh ada yang ketinggalan.”

Li Bin-sing mengelus hidung dan menyeka air mata, dengan muka cemberut terpaksa ia bicara. “Aku .. kalau aku ceritakan, kelak mungkin … mungkin aku bisa mampus.”

Siau-kong-cu menyeringai, “Sebaliknya kalau tidak kau jelaskan, sekarang juga jiwamu melayang, tahu!”

Bercucuran keringat Li Bin sing, suaranya gemetar, “Aku … aku …” akhirnya ia menarik napas “Baiklah aku bicara.”

Wajah Siau-kong-cu yang semula dingin, seketika berseri senang seperti bunga mekar, katanya “Kamu memang pintar, nah katakan.”

“Rumah di luar hutan itu, sebetulnya temanku si hidung merah Lo-tan. Malam hari kalau sedang senggang aku sering ke rumahnya untuk mengobrol dan minum barang dua cangkir arak.”

Berkerut alis Po-giok, tanyanya, “Apakah Lo-tan punya anak istri?”

“Seorang istri dua anak perempuan …” sahut Li-Bin-sing. Sekilas ia lirik Po-giok, lalu menambahkan, “tapi yang kucari adalah Lo-tan, bukan anak perempuannya.”

“Sikapmu ini justru seperti maling yang takut konangan, kurasa kamu ke rumah Lo-tan tentu bermaksud tidak baik. Tapi itu aku tidak peduli, lanjutkan keteranganmu,” demikian semprot Siau-kong-cu.

“Kemarin sore,” demikian tutur Li-Bin-sing, “aku berniat makan malam di rumah Lo-tan, siapa tahu sebelum aku tiba di depan rumah, dari dalam rumah aku dengar teriakan orang minta tolong.”

Setelah menghela napas ia melanjutkan, “Kukenal suara itu adalah jeritan Lo-tan, cepat aku sembunyi di belakang pohon, diam-diam aku intip apa yang terjadi di sana?”

Thi-wah gusar, semprotnya, “Temanmu minta tolong, kamu tidak membantu, kenapa sembunyi malah?”

“Aku … mana aku mampu menolongnya, aku … ” Li Bin-sing gelagapan.

“Dasar bedebah!” maki Thi-wah murka, “Baiklah, katakan apa yang kau lihat?”

Setelah menghela napas Li Bin-sing berkata “Jeritan minta tolong itu hanya terdengar sekali lalu berhenti, kejap lain aku lihat Lo-tan dan bininya beserta kedua putrinya digusur keluar oleh beberapa orang.”

“Beberapa orang macam apa?” tanya Po-giok.

“Beberapa orang itu berhidung besar, bermata sipit, wajahnya beringas penuh nafsu membunuh, semua berpakaian seragam hitam, dandanan dan bentuk mereka seperti barang asal satu cetakan.”

Po-giok saling pandang sekejap dengan Siau-kong-cu.

Li Bin-sing bertanya, “Apa kalian kenal mereka?”

“Tugasmu sekarang bercerita, jangan campur urusan kami,” bentak Siau-kong-cu.

“Meski Lo-tan sekeluarga digiring ketakutan, anak bininya menangis kuatir, tapi aku lihat mereka tidak terluka atau disakiti, juga tidak diikat atau dibelenggu, maka legalah hatiku.”

“Ke mana orang-orang seragam hitam ini membawa Lo-tan dan keluarganya?” tanya Po-giok.

“Aku juga tidak tahu. Yang pasti tiga orang laki-laki seragam hitam menggiring mereka pergi. Tapi dua kawan mereka tertinggal dan berjaga di rumah Lo-tan.”

Thi-wah menghela napas, gumamnya, “Sial bagi kedua orang itu … lalu bagaimana?”

“Aku bersembunyi di tempat jauh, bernapas pun aku tahan, hatiku takut tapi juga heran, Lo-tan bukan keluarga kaya, kenapa orang-orang itu menculiknya?”

Setelah menghela napas Li Bin-sing melanjutkan, “Karena heran aku jadi tertarik dan ingin tahu lebih lanjut, maka aku tetap sembunyi di tempatku. Tampak kedua orang baju hitam itu tidak mengerjakan lain kecuali membersihkan meja dan menata mangkuk dan sumpit, ternyata mereka membawa sebuah keranjang besar berisi masakan dan perabot makan. Lebih aneh lagi setelah menata meja makan, mereka sendiri tidak lantas makan seorang mengeluarkan sebuah lampion merah lalu digantung di depan rumah, seorang lagi longak-longok ke arah jauh entah apa yang dilihat atau ditunggunya, tidak jarang kedua orang ini kasak-kusuk, entah apa yang dibicarakan.”

“Apa betul kamu tidak dengar pembicaraan mereka?” tanya Po-giok.

“Mereka bicara lirih aku tidak dengar Aku tidak habis mengerti kenapa mereka bersusah payah meminjam rumah Lo-tan hanya untuk menjamu orang di sana,” demikian tutur Li Bin-sing. “Ya, mana kau dapat menebaknya, lanjutkan ceritamu,” desak Siau-kong-cu.

“Mereka berdiri di luar pintu menunggu tamu, di luar tahunya sang tamu justru datang dari belakang. Aku lihat dengan jelas, ada empat atau lima orang keluar dari dalam, langsung mendekati kedua orang itu, setiba di belakangnya kedua orang itu belum lagi menyadari sama sekali. Jantungku jadi berdebar-debar dibuatnya.”

“Macam apa pula kelima orang ini?” tanya Po-giok.

“Beberapa orang ini juga berseragam hitam, kepalanya juga berkerudung, semula aku kira mereka satu rombongan, tapi aku lihat beberapa orang yang datang belakangan ini semua membawa senjata, sorot matanya bengis penuh nafsu membunuh, satu di antaranya membentak, ‘Menoleh!’ Kedua orang itu terjingkat sambil membalik badan, baru saja tubuh berputar, aku hanya melihat sinar pedang berkelebat sekali, tahu-tahu kedua orang itu sudah terkapar mampus.”

Po-giok berkerut alis, “Mereka tidak mengompes keterangan dari kedua orang itu?”

“Pertanyaan apa pun tidak diajukan, hanya mengangkat tangan sedikit saja … ai, tusukan pedang itu sungguh telak dan secepat kilat.”

Po-giok termenung sejenak, tanyanya, “Menurut pendapatmu ilmu pedangnya itu dari aliran mana?”

Li Bin-sing geleng kepala, “Aku tidak tahu!”

Po-giok termenung lagi, katanya “Menurut penilaianmu, berapa tahun kira-kira latihan ilmu pedang orang itu?”

Li Bin-sing tepekur sesaat lamanya, “Menurut pendapatku, kalau tidak ada latihan selama tiga-lima puluh tahun, jangan harap mampu melancarkan permainan pedang seindah itu … dan yang paling aneh adalah ilmu pedang kedua orang itu satu sama lain tidak lebih unggul atau asor. Dalam keadaan biasa jarang bisa kita temui dua orang memiliki ilmu pedang semahir itu, tapi kenyataan hari itu berbareng muncul dua orang.”

Berkerenyit alis Po-giok, gumamnya, “Tiga-lima puluh tahun? … ”

Thi-wah ikut hanyut oleh cerita itu, tanyanya tidak sabar, “Selanjutnya bagaimana?”

“Setelah membunuh orang, kedua orang itu segera menggeledah badan sang korban,” demikian tutur Li Bin-sing lebih jauh, “diam-diam aku merasa heran pula, memangnya jago sekosen mereka juga menjadi perampok? Tiba-tiba aku dengar seorang di antaranya berteriak, ‘Nah, ada di sini!’.”

Setelah menghela napas Li Bin-sing melanjutkan, “Ternyata mereka membunuh dua orang itu hanya untuk memperoleh secarik kertas saja.”

“Apa yang mereka bicarakan setelah membaca tulisan di kertas itu?” tanya Po-giok cepat.

“aku dengar seorang bertanya, ‘Berapa lama perjalanan ke Tai-bing-hu dari sini?’ Seorang lain menjawab, ‘Tidak jauh lagi.’ Orang itu lantas berkata, ‘Ayo berangkat!’.”

“Tai-bing-hu … ” bergetar hati Po-giok “ternyata ada di Tai-bing-hu!”

“Apakah sehabis bicara mereka lantas berangkat?” tanya Siau-kong-cu.

“Mendingan kalau segera berangkat” ucap Li Bin-sing sambil menghela napas panjang.

“Apakah mereka masih berbincang-bincang?” tanya Po-giok.

Li Bin-sing menjelaskan, “Orang pertama yang turun tangan tadi semula tidak bicara, kini mendadak bicara. ‘Kalian tunggu sebentar, aku akan kencing dulu ke dalam hutan sana’.”

Thi-wah tertawa geli, “Kurasa tidak tepat saatnya dia ingin kencing”

Li Bin-sing tertawa kecut, “Sekarang kau geli, waktu itu hatiku justru gugup setengah mati. Dia beranjak ke arah diriku, jantungku rasanya seperti mau copot, diam-diam aku berdoa semoga dia lekas kencing dan lekas berangkat. Di luar tahuku begitu tiba di depan hutan mendadak ia bergerak selincah kelinci. secepat panah ia menubruk ke tempat sembunyiku.”

“Lantaran ingin kencing orang itu membuatmu susah ya?” demikian olok Thi-wah.

“Kencing apa. Yang benar dia tahu kehadiranku di belakang pohon, katanya saja kencing, maksudnya supaya aku tidak curiga dan melarikan diri aku memang tidak menduga akan disergap.”

“Bukan saja mata dan kupingnya tajam, gerak-gerik orang ini amat lincah, otaknya juga cerdik, banyak perhitungan, siapakah dia? Sukar ditebak asal-usulnya,”

Thi-wah bertanya, “Apa kamu ditangkap olehnya?”

“Sudah tentu kena diringkus,” sahut Li Bin-sing.

“Tapi mereka tidak membunuhmu?” tanya Thi-wah pula.

“Begitu diseret keluar, aku menduga jiwaku takkan selamat lagi, untung mereka tiada yang kenal diriku, aku dianggap orang desa yang tidak tahu urusan.”

Siau-kong-cu tertawa, “Kamu memang pintar main sandiwara.”

“Waktu itu aku berlutut dan meratap mohon ampun, rasanya leherku ini sudah berada di ujung senjata mereka, sekali tusuk saja jiwaku bakal melayang. aku dengar orang bicara, ‘Kelihatannya orang ini bukan kaum persilatan, orang desa yang tidak tahu apa-apa, lepaskan saja!’ Baru saja hatiku merasa senang, aku dengar pula seorang lain berkata, ‘Jangan dilepaskan, terlalu banyak yang ia lihat dan dengar di sini.’ …. ”

Siau-kong-cu tertawa geli, katanya, “Maka kau tuding langit dan tunjuk bumi bersumpah dan mohon ampun kepada mereka, bahwa selama hidup tidak akan membocorkan kejadian ini, mungkin kau pun bilang ibumu sudah berumur 80 dan punya anak yang baru lahir.”

Li Bin-sing tertawa malu, “Dalam keadaan seperti itu, demi cari selamat cara apa pun dapat kulakukan. Tapi orang-orang itu bimbang. yang mengusulkan menutup mulutku, ada yang ingin membebaskan aku … ai, waktu itu rasanya susah aku ceritakan.”

Siau-kong-cu mendengus, “Hm, kurasa mereka terlalu mengagulkan diri sebagai orang kosen dari aliran lurus yang ternama, maka tidak mau main bunuh sembarangan. Kalau aku jadi mereka, memangnya jiwamu bisa tahan sampai sekarang? Pantasnya mereka tahu manusia seperti dirimu tidak dapat dipercaya akan tutup mulut serapat mulut botol.”

Pucat muka Li Bin-sing, tubuhnya juga gemetar dan berkeringat dingin, “Tapi urusan nona sendiri aku bersumpah akan tutup mulut serapat-rapatnya, kalau aku buka mulut biar di … ”

“Sudah,” tukas Siau-kong-cu, “tidak perlu sumpah, lanjutkan keteranganmu.”

Li Bin-sing menghela napas lega, lalu melanjutkan, “Pada saat mereka sukar mengambil keputusan, mendadak dari luar berlari masuk pula seorang berbaju hitam, dengan napas tersengal-sengal ia berkata, ‘Pui-Po-giok dan Siau-kong-cu sudah datang’!”

“Kiranya ada orang mereka yang berjaga di luar,” kata Siau-kong-cu.

“Begitu mendengar nama kalian berdua, bukan kepalang kaget hatiku,” demikian tutur Li Bin-sing, “ternyata mereka lebih gugup lagi, cepat mereka menggotong kedua mayat itu ke dalam kamar.”

“Keadaan memang mendesak sehingga mereka tidak sempat mengebumikan mayat itu,” demikian kata Po-giok.

“Melihat sikap gugup mereka, hatiku amat kuatir, tapi juga senang,” demikian tutur Li Bin-sing lagi, “kecuali kuatir mereka menggorok leherku dalam keadaan mendesak itu, aku mengharap pula mereka tidak sempat membereskan diriku.”

Setelah menyeka keringat di kening, lain melanjutkan, “Maka aku lebih keras meratap dan mohon belas kasihan, syukur jerih payahku tidak sia-sia, seorang di antara mereka akhirnya berkata ‘Lekas enyah! Dan pergi sejauh-jauhnya, selama hidup jangan kembali ke mari lagi.’ Seorang lagi juga berkata, ‘Kejadian hari ini jangan kau ceritakan kepada orang lain … ‘ Aku memperoleh pengampunan, sudah tentu tidak kepalang senang hatiku, tak sempat aku dengar pembicaraan mereka segera aku angkat langkah seribu.”

“Anggaplah belum tiba ajalmu,” jengek Siau-kong-cu.

“Lha, setelah selamat dan lari, kenapa kembali lagi?” tanya Thi-wah.

“Aku … aku kembali untuk menengok keadaan saja,” sahut Li Bin-sing takut-takut.

“Rase tua memang licin dan licik, kembali kamu bohong …” demikian tegur Siau-kong-cu, “Apa benar kau pulang hanya untuk melihat-lihat? Hm, bukankah kamu membawa Thi-kim-to ke sini? Kalau tidak dari mana ia tahu Pui-Po-giok berada di sini?”

Mendadak Li Bin-sing berdiri kaku, mulut melongo dan mata terbelalak, sesaat lamanya baru menarik napas panjang, dan bergumam, “Segala persoalan agaknya tidak bisa mengelabui dirimu … segala persoalan tidak bisa bohong …”

“Sudah tentu tidak bisa,” jengek Siau-kong-cu, “Nah, bicaralah sejujurnya.”

“Aku lari tanpa menentukan arah, entah berapa lama dan berapa jauh aku lari, mendadak aku menabrak tubuh seorang. Ternyata tanpa bersuara orang ini sengaja menghadang di depanku.”

“Wah, kebetulan sekali,” ujar Siau-kong-cu.

“Memang kebetulan begitu melihat dia berpakaian hitam, nyaliku menjadi ciut begitu putar tubuh aku ingin lari lagi, tak nyana sekali raih aku dibekuknya, tanyanya padaku, ‘Tengah malam buta kenapa kau lari lintang pukang?’ Sudah tentu aku tergagap tidak bisa memberi keterangan. Tak tahunya mendadak orang itu berseru kaget. ‘He. kiranya engkau !'”

Siau-kong-cu bertanya, “Thi-Kim-to mengenalmu?”

“Ya, sejak dua puluh tahun yang lalu, kami sudah kenal satu sama lain.”

“O, kiranya kalian sudah bersahabat sejak lama,” jengek Siau-kong-cu.

“Setelah tahu siapa dia lega juga hatiku, kutanya kenapa ia berada di situ. Dia bilang menguntit Pui-Po-giok dan setiba di daerah ini ia kehilangan jejaknya.”

“Lalu kau bawa dia ke sini?” tanya Po-giok.

“Kupikir dia tidak bermaksud jahat terhadapmu, mengingat sudah lama kami bersahabat, terpaksa aku membawanya ke sini. Tak nyana dia suruh aku menunggu di luar hutan, setelah aku lihat ia bergebrak denganmu, hatiku menjadi gugup dan takut, akhirnya aku lihat dia terbunuh olehmu sudah tentu aku tidak berani unjuk diri, ingin lari, tapi … ai, ternyata ketajaman mata kupingmu tidak di bawah orang-orang berbaju hitam itu.”

“Kalau benar demikian, semua persoalan ini tiada sangkut-pautnya denganmu, kenapa tadi kamu tidak mau bicara?” demikian desak Siau-kong-cu.

Li Bin-sing menghela napas, “Aku sudah mengundurkan diri dari kang-ouw, aku emoh berkecimpung dalam Bu-lim, aku mendambakan kehidupan damai dan cari makan dengan halal.”

Habis Li Bin-sing bicara, Po-giok tertunduk diam, Thi-wah hanya manggut-manggut, bola mata Siau-kong-cu yang bening dan jeli justru berputar dan mengerling kian kemari. Akhirnya matanya menatap Thi-wah dan bertanya, “kau percaya apa yang diceritakannya?”

“Dia bercerita sejujurnya, kenapa aku tidak percaya?” ucap Thi-wah.

“Dan kau ?” tanya Siau-kong-cu terhadap Po-giok.

Po-giok tersenyum, “Percaya tapi juga tidak percaya, setengah-setengah.”

“Aku bercerita menurut kejadian sebenarnya, sepatah kata pun tidak bohong,” seru Li Bin-sing.

“Apa yang kau kisahkan, walau dia kurang percaya, aku justru percaya penuh,” kata Siau-kong-cu

Li Bin-sing terbelalak girang, “Kalau begitu, biarlah aku pergi saja.”

“Soal ini … perlu dirundingkan dulu dengan Pui-Po-giok. Thi-wah, jagalah dia di sini,” demikian kata Siau-kong-cu. Lalu menarik tangan Po-giok, dengan tertawa ia seret pemuda ini keluar hutan.

Setiba di luar hutan Siau-kong-cu melepas gandengannya. Po-giok mengawasi wajahnya yang mempesona.

Siau-kong-cu tertawa manis, katanya, “Apa yang kau lihat? Dan apa yang kau pikir?”

Po-giok menghela napas, “Apa yang kupikir, masa tidak tahu?”

Mendadak Siau-kong-cu menunduk, ketika ia angkat kepala lagi, senyum manis yang menghias wajahnya telah sirna, mukanya kaku dingin, suaranya lebih dingin, “Aku tak peduli apa yang pikir. Aku hanya ingin tanya, dari cerita Li Bin-sing tadi, bagian mana kau percaya dan bagian mana yang tidak kau percaya?”

“Kejadian yang dia saksikan kurasa benar. Dia diringkus orang lain dilepas lagi, itu juga benar, dua hal ini kukira dia bicara sejujurnya.”

“Ehm, lalu dalam hal apa dia bohong?”

“Pertama, Li Bin-sing bukan manusia yang sudi merendahkan diri dan mau hidup bersahaja, aku tidak percaya dia mau mengundurkan diri dari kalangan kang-ouw dan mengasingkan diri di hutan.”

“Itu yang pertama, masih ada yang kedua?”

“Kedua, jago kosen seperti Thi-kim-to, tidak mungkin mau bersahabat dengan manusia seperti dia. Dia bilang mengingat persahabatan lama maka dia mau mengantar Thi-kim-to mencari aku, aku tidak percaya.”

“Masih ada yang ketiga?”

“Ada yang kedua, apa mesti harus ada yang ketiga?”

“Baiklah, sekarang kutanya, kenapa dia bohong? Kejadian atau persoalan apa yang dia sembunyikan? Kenapa ia harus merahasiakan duduk persoalan sebenarnya, apa keuntungannya bagi dia?”

“Wah, serumit itu … aku tidak tahu.”

“Orang sepintar engkau , masa ada persoalan yang tidak kau ketahui?”

“Memangnya kau tahu?”

“Kapan kubilang aku ini pintar, orang juga tidak bilang aku pintar, tidak seperti engkau …”

“Apa yang akan kau lakukan terhadapnya?” tukas Po-giok.

Berkedip mata Siau-kong-cu, “Coba tebak apa yang akan kulakukan atas dirinya?”

Dalam hati Po-giok membatin, “Akan kau bebaskan dia lalu menguntitnya secara diam-diam.”

Tapi dengan tertawa ia berkata, “Mana aku bisa menebak isi hatimu.”

Siau-kong-cu berkata, “Akan aku bebaskan lalu aku kuntit dia, aku ingin tahu ke mana dia pergi? Aku ingin tahu lakon apa yang dia perankan dalam sandiwara ini?”

“Bagus, bagus!” puji Po-giok seraya berkeplok, “akal sebagus ini kenapa tidak aku pikirkan.”

Siau-kong-cu tertawa riang, inilah tertawa lebar yang pertama, tertawa riang yang sesungguhnya, katanya, “Buah pikiran seorang linglung, ada kalanya hasilnya lebih bagus dari pemikiran seorang cerdik.”

Mengawasi gadis binal di depannya, Po-giok juga tertawa, tapi tertawa yang aneh.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Siau-kong-cu.

Apakah tertawa pun tidak boleh?” Po-giok balas bertanya.

“Tapi tertawamu aneh, tawa yang menyebalkan.”

“Aku tertawa aneh, aku merasa engkau seorang aneh, maka aku tertawa dengan aneh.”

Siau-kong-cu menarik muka, “Dalam hal apa aku aneh?”

“Bila di hadapan orang lain, ada kalanya engkau bersikap mesra dan aleman terhadapku, tapi bila orang tidak melihat dirimu, maka engkau lantas berubah, mulut cemberut, muka membesi. Dan lagi kamu selalu mempersulit diriku, mencari onar dan mengadu otak denganku. Tapi bila menghadapi persoalan yang menyangkut orang lain, kamu selalu membela dan sepihak denganku … ”

Siau-kong-cu mengentak kaki, serunya keki, “Siapa memihak denganmu. Tak usah ya.”

Habis bicara ia putar tubuh terus lari secepat terbang.

*****

Dengan melotot Thi-wah mengawasi Li Bin-sing tanpa berkedip.

Li Bin-sing tertawa, katanya, “Sekian tahun tidak bertemu, kamu kelihatan tambah gede.”

“Sejak mula aku memang bukan orang kerdil,” sahut Thi-wah.

“Sejak perkenalan pertama dulu, aku sudah tahu kamu orang baik.”

“Betapapun baiknya diriku ini, jangan harap aku mau melepasmu pergi.”

Li Bin-sing menyengir sesaat lamanya ia menjublek, lalu mendadak ia menjerit sambil memeluk perut, “Wah, celaka, perutku mules, aku mau … ”

Thi-wah tertawa, katanya, “Kalau orang lain yang menipu aku, mungkin aku bisa tertipu, tapi engkau … hehe, sebelum Toa-ko kembali, berani kamu bergerak bisa aku gecek batok kepalamu.”

Perut Li Bin-sing tidak sakit lagi, dengan kaku mengawasi orang gede di depannya, sesaat kemudian ia menghela napas, katanya, “Beberapa tahun tidak bertemu, ternyata kamu sudah pintar.”

Tiba-tiba seorang menyeletuk dengan tertawa, “Siapa bilang dia pintar, aku justru bilang dia dungu. Tapi seorang dungu belum tentu setiap orang dapat menipunya, makin pintar seorang makin sukar menipu seorang dungu.”

Di tengah suara tawa riang, tampak Siau-kong-cu datang dengan lincah. Sekilas ia mengerling lalu meneruskan dengan berseri, “Soalnya orang yang pintar selalu curiga dan banyak akalnya, sebaliknya orang dungu berpikir sederhana, kalau kau anggap dirimu pandai menipu orang, umpama kau bicara dengan jujur, orang pun takkan percaya padamu.”

Li Bin-sing tertawa getir, “Ya, memang demikian. Sebenarnya aku sudah bicara apa adanya tapi dia justru tidak percaya, bukankah membuatku repot sendiri.”

Siau-kong-cu menepuk pundaknya. “Tidak perlu penasaran, biarpun dia tidak percaya, tapi penjelasanmu tadi dapat kuterima, aku percaya sepenuhnya.”

“kau …” Li Bin-sing kegirangan, “kalian setuju membebaskan aku?”

“Betul,” ucap Siau-kong-cu, “kalau kau ingin pergi, boleh silakan pergi.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: