Kumpulan Cerita Silat

17/04/2008

Darah Ksatria: Bab 22. Bukan Kabut Bukan Halimun

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:07 am

Darah Ksatria
Bab 22. Bukan Kabut Bukan Halimun
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Ma Ji-liong mengangkat kepala, sinar mentari menyorot mukanya. Walau wajahnya bukan lagi muka yang gagah dan tampan, bukan wajah yang bisa mempesona para gadis hingga jatuh cinta padanya, tapi siapa pun yang melihatnya, sikapnya pasti hormat dan serius.

Thiat Tin-thian mengawasinya, “Transaksiku tadi sebetulnya cukup baik, boleh sekarang juga teken kontrak, kenapa kau malah tidak setuju?”

“Karena aku juga akan menawarkan transaksi yang lebih baik untuk mereka, kutanggung bila syaratnya sudah kujelaskan, mereka akan menerima dengan senang hati,” demikian bantah Ji-liong.

“Transaksi apa?” tanya Coat-taysu. “Ada persoalan apa yang lebih baik daripada transaksi yang ia tawarkan tadi?”

“Mereka mempertaruhkan dua jiwa untuk menebus diriku,” demikian ujar Ma Ji-liong tertawa. “Jelas transaksi ini mengundang kerugian, kenapa aku setuju?”

“Lalu bagaimana dengan transaksimu?” tanya Coat-taysu.

“Kebalikannya, yaitu dengan satu jiwa menebus dua jiwa mereka,” sahut Ma Ji-liong.

Coat-taysu menyeringai dingin, “Transaksimu tak bisa diterima.”

“Lho, kenapa?”

“Tidak ada orang yang dapat menebus jiwa kedua orang ini,” sinis nada perkataan Coat-taysu. “Tidak ada jiwa seseorang di dunia ini yang bernilai setinggi itu.”

“Ada, hanya seorang saja,” seru Ji-liong. “Aku tahu ada seorang yang cukup setimpal untuk menebus jiwa mereka berdua.”

“Siapa dia?” tanya Coat-taysu.

“Ma Ji-liong.”

Memicing mata Coat-taysu begitu mendengar nama Ma Ji-liong, dahi pun berkerut.

Ma Ji-liong alias Thio Eng-hoat ini juga memicingkan mata. “Aku tahu orang yang ingin kalian cari bukan Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong adalah buronan kalian yang utama.”

Coat-taysu mengangguk.

“Dengan jiwa Ma Ji-liong, setimpal tidak untuk menebus jiwa mereka?”

“Ya, cukup setimpal,” ujar Coat-taysu, jelas sekali perubahan mimik mukanya berusaha menekan emosi. “Sayang sekali siapa pun tidak bisa menemukan jejak Ma Ji-liong.”

“Ada orang yang bisa menemukan dan menunjukkan di mana sekarang ia berada,” seru Ma Ji-liong lantang. “Paling sedikit ada seorang yang dapat menunjukkannya.”

“Siapa yang bisa menunjukkan jejak Ma Ji-liong?”

“Aku!” teriak Ma Ji-liong lantang, jelas ia pun berusaha mengendalikan diri. “Bila kalian membebaskan kedua orang ini, aku tanggung kalian akan menemukan Ma Ji-liong.”

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Kau memang kawan baik, transaksimu juga bagus sekali, sayang siapa pun takkan mau meneken kontrak yang kau tawarkan itu.” Suaranya serak dan tersendat. “Siapa mau percaya obrolanmu.”

Coat-taysu diam saja, tidak perduli. Ma Ji-liong juga tidak menghiraukan ocehan Thiat Tin-thian. Dua orang ini berhadapan, bertatap muka, saling pandang, meski mata memicing, tapi sorot mata mereka setajam jarum.

Sepatah demi sepatah Ma Ji-liong berkata, “Kau tentu tahu dan yakin, bahwa apa yang kuucapkan bukan obrolan. Aku tidak membual.”

“Ya, aku tahu,” sahut Coat-taysu. “Tapi aku tak bisa dan tidak akan membebaskan mereka lebih dulu sebelum memperoleh jaminan atau bukti.”

“Kau tidak percaya kepadaku?”

“Bila kau serahkan Ma Ji-liong, mereka segera kubebaskan.”

“Aku saksinya,” seru Pang Tio-hoan dari samping.

Ma Ji-liong menyeringai, “Kalian tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepada kalian?”

“Karena aku adalah Pang Tio-hoan dan dia adalah Coat-taysu, sebaliknya kau adalah manusia yang belum dikenal asal-usulnya.” Sebetulnya alasannya kurang tepat, tapi justru merupakan jawaban yang kena sasaran.

“Kalau kau ingin aku teken kontrak, kau harus patuh kepada kami,” demikian Coat-taysu menegaskan. “Kalau tidak, terpaksa kami bunuh Thiat Tin-thian lebih dulu, lalu membunuhmu.” Pernyataan yang tegas, memang Coat-taysu orang yang serba tegas, hatinya kaku, pendiriannya tidak pernah goyah, perasaannya beku, membunuh orang tanpa kenal kasihan.

Ji-liong tersudut, tiada pilihan lain, “Baiklah.” Sambungnya kemudian, “Aku percaya padamu.” Tinjunya mengepal, “Aku adalah orang yang kalian cari.”

“Jadi kaulah Ma Ji-liong.”

“Aku adalah Ma Ji-liong.”

Laki-laki setengah baya pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong menyerahkan diri sendiri, mengkhianati diri sendiri. Kalau ada orang yang bertanya, “Kenapa kau menyerahkan diri?” Ma Ji-liong pasti tak bisa menjawab, karena tidak mungkin ia bilang ‘tidak kenapa’ lagi.

Padahal Ji-liong sendiri tidak sadar, tidak tahu apa yang mendorong ia berbuat demikian. Mungkin karena emosi? Atau karena darah yang mendidih di rongga dada? Karena setia kawan? Atau karena kobaran semangat dan ingin menjebol belenggu keadilan yang tak terpecahkan?

Kenapa orang disebut manusia, karena manusia punya perasaan, punya peri-kemanusiaan. Peri kemanusiaan yang paling diagungkan di dalam kemanusiaan itu sendiri justru sering tak bisa dijelaskan, susah dimengerti.

Ma Ji-liong mengangkat kepalanya, cahaya mentari masih menyinari mukanya, “Kau tidak mengenalku karena wajahku sudah dirias orang,” demikian ucap Ma Ji-liong. “Di sini aku bersembunyi sebagai pemilik toko serba ada, cukup lama orang tidak menemukan jejakku.” Karena tidak bisa memperlihatkan aslinya, terpaksa Ma Ji-liong membuka rahasia sendiri, soalnya Ji-liong tidak mampu mencuci bersih atau merubah wajahnya yang sudah dipermak menjadi wajah Ma Ji-liong yang asli. Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long-nya telah merubah kulit wajahnya dengan operasi yang tak mampu dilakukan orang lain. Namun rahasia ini tak mungkin Ji-liong jelaskan secara terperinci, karena rahasia orang lain pantang ia bocorkan. Tapi dalam perkara yang dihadapinya ini, Ma Ji-liong telah bicara dengan jujur, setiap patah kata adalah kenyataan. Maka ia bertanya, “Sekarang, apakah kalian mau membebaskan mereka?”

Coat-taysu menoleh ke arah Pang Tio-hoan, Pang Tio-hoan juga sedang mengawasinya. Rona muka mereka tidak kelihatan berubah.

“Bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Coat-taysu.

“Bagaimana pendapatmu?” Pang Tio-hoan malah balas bertanya. “Kalau benar dia adalah Ma Ji-liong, apa alasan dia berkorban untuk menolong Thiat Tin-thian?”

“Ya, tiada alasan,” ujar Coat-taysu. “Sedikit pun tidak ada alasannya.”

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Aku tahu kau tidak akan dapat menipu mereka, aku juga tahu siapa pun takkan mau percaya obrolanmu.” Begitu keras ia tertawa sampai napasnya sesak, mulut pun megap-megap.

Ma Ji-liong juga ingin tertawa, tertawa sepuas-puasnya, tapi ia tidak bisa tertawa. Ucapannya bukan bualan, setiap patah kata yang ia ucapkan adalah kenyataan, tetapi tidak ada orang yang percaya kepadanya. Bukankah kejadian ini amat lucu dan menggelikan? Kejadian yang mengundang gelak tawa orang hingga air mata meleleh.

Kalau Ji-liong bisa tertawa, kalau air matanya meleleh, termasuk jenis apakah air matanya?

Thiat Tin-thian masih berloroh-loroh, tampak air matanya sudah meleleh di pipi, termasuk jenis apa pula air matanya?

“Kau adalah keroco yang tidak diketahui asal-usulnya, tapi aku adalah Hoan-thian-hu-te, perampok besar yang kejam, umpama jiwamu rangkap sepuluh juga takkan dapat menukar satu jiwaku, lekas kau pergi saja.”

Ma Ji-liong membandel, dia tidak mau pergi.

Loroh tawa Thiat Tin-thian mendadak berhenti, mendadak ia meraung, “Kontrak dagangmu jelas gagal, kenapa tidak lekas kau enyah dari sini?”

“Karena ia adalah kawanmu, kawanmu adalah sahabat baikmu,” dingin suara Coat-taysu. “Sebagai sahabat baik, ia bertekad untuk mengiringi kematianmu di sini.”

Mendadak Thiat Tin-thian membalikkan tubuh, menatapnya dengan beringas, sorot matanya memancarkan sinar gusar, ngeri dan panik. “Tadi kau bilang suruh dia pergi.”

“Ya, aku pernah bilang, kusuruh dia pergi.”

“Sekarang apakah kau tetap menyuruhnya pergi?”

“Bukan aku yang melarang dia pergi, tapi dia sendiri yang tidak mau pergi,” dingin suara Coat-taysu. “Tidak pernah aku memaksa orang, maka siapa pun kularang memaksa dia pergi. Kalau ada yang berani memaksa dia pergi, biar aku yang membunuhnya lebih dulu.”

Melotot bola mata Thiat Tin-thian, ujung matanya seperti hampir merekah, “Aku mengerti, aku sudah mengerti.” Desis suaranya setengah memekik sedih, “Sekarang aku sudah tahu.”

“Kau tahu apa?” tanya Coat-taysu.

Gemertak gigi Thiat Tin-thian, tinjunya terkepal, desisnya geram, “Jiwamu sempit pikiran cupat, hati kejam tangan gapah. Aku masih menganggap kau sebagai manusia lumrah, tapi kau tidak bisa membedakan atau tidak mau membedakan salah dan benar, main bunuh habis perkara, aku tetap menganggapmu sebagai manusia. Thiat Tin-thian malang melintang seumur hidup, tak terhitung manusia yang terbunuh oleh kedua tanganku, bukan mustahil aku pernah salah membunuh orang yang tidak berdosa, membunuh orang yang terfitnah, lalu apa artinya kalau suatu ketika aku juga difitnah orang, umpama terpenggal batok kepala atau hancur luluh tubuhku juga lumrah.” Dengan nada tinggi dan beringas, ia meraung pula, “Tapi sekarang aku tahu, kenyataan membuktikan bahwa kau bukanlah manusia.”

Coat-taysu mendengarkan sambil memicingkan mata, lalu ia bertanya, “Kau ingin melihat kawanmu mati lebih dulu? Atau ingin membiarkan temanmu melihat kau mampus dengan konyol?”

Mendadak Thiat Tin-thian memekik keras, bagai serigala kelaparan ia menjejakkan kaki terus menubruk dengan kalap ke arah Coat-taysu. Tenaganya sudah hampir habis, tapi tubrukan kalap dengan sisa tenaganya ini seperti singa mengamuk.

Pada saat genting itulah, dari luar pekarangan mendadak berkumandang suara merdu yang melengking tajam, “Semua orang ingin hidup sehat, kenapa di sini ada orang yang ingin mati?”

Di saat nada tinggi merdu itu bergema di udara, dari luar tembok tampak muncul segumpal halimun tebal yang melayang kencang ditiup angin, halimun tebal warna hijau pupus yang melebar secara cepat itu ternyata berbau harum seperti kembang melati.

Bila beberapa patah kata ucapan merdu tadi selesai diucapkan, halimun tebal tadi sudah berubah menjadi kabut hijau yang berkembang luas, setebal asap cerobong tungku besar yang bergulung-gulung ke empat penjuru. Padahal halimun hijau itu bukan kabut, kabut hijau itu bukan halimun.

Tak ada kabut warna hijau di dunia ini, tapi kelihatan bahwa yang tertiup oleh hembusan angin lalu itu adalah kabut. Dalam jarak dekat, orang yang terbungkus dalam kabut tidak bisa melihat orang atau keadaan di sekitarnya.

Seumpama Ma Ji-liong betul adalah Ma Ji-liong, tapi kalau dipandang dan diamat-amati ternyata tidak mirip dan bukan Ma Ji-liong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: