Kumpulan Cerita Silat

16/04/2008

Pendekar Binal (06)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:04 pm

Pendekar Binal (06)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Setelah Sim Gin-hong meraba Boan-koan-pit itu, terasa ada ukiran beberapa huruf di gagang pensil baja itu, tiba-tiba ia bergumam, “Ternyata betul Seng-si-boan Tio Kang. Jika begitu, golok bergelang sembilan tadi adalah milik Tang-mo-to Can Lun dan pemilik pedang itu adalah Go-kau-kian …. Ai, agaknya jiwa para pemiliknya pasti sudah melayang. Tokoh-tokoh ini sekaligus mati dalam pertempuran ini, sungguh pertarungan dahsyat yang tak pernah terjadi.”

“Ya, bahkan kematian orang-orang ini seperti terjadi di dalam waktu yang sama, dan orang yang mampu membinasakan tokoh terkemuka sebanyak ini dalam waktu sedemikian singkat pastilah bukan orang sembarangan,” ujar Siau-hi-ji.

“Bukan saja tidak sembarangan, bahkan peristiwa yang sangat mengejutkan dan sukar dibayangkan,” Sim Gin-hong menambahkan.

“Dapatkah kau menerka siapa yang membunuh tokoh-tokoh terkemuka ini?” tanya Siau-hi-ji.

“Walaupun tidak banyak orang yang mampu sekaligus membunuh tokoh terkemuka sebanyak ini, tapi kukira ada juga lima-enam orang dan di antaranya yang paling lihai dan paling keji caranya turun tangan adalah kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong.”

“Jangan khawatir, mereka pasti takkan datang ke tempat seperti neraka ini,” ujar Siau-hi-ji. “Lalu siapa lagi selain mereka?”

“Ada lagi Toh Sat dan Thi Cian yang termasuk di antara ke-10 top penjahat mungkin juga mempunyai kemampuan sehebat ini.”

“Tapi kedua orang ini pun tidak mungkin.”

“Betul, kedua orang ini sudah lama menghilang, konon mereka sudah lama masuk ke Ok-jin-kok.”

“Habis masih ada siapa lagi?’

“Masih ada beberapa orang, tapi lebih baik tidak kusebutkan saja, soalnya mereka adalah pendekar besar yang berbudi, mereka tidak mungkin melakukan tindakan sekeji ini.”

“Siapa umpamanya?” tanya Siau-hi-ji.

“Umpamanya pendekar pedang nomor satu di jaman ini, Yan Lam-thian, Yan-tayhiap. Kalau beliau mau membunuh orang-orang ini boleh dikatakan semudah merogoh isi saku sendiri. Tapi kalau bukan manusia yang tak berbudi dan tak setia beliau sekali-kali tidak sudi turun tangan membunuhnya.”

Siau-hi-ji jadi terharu dan terkenang pula kepada si paman “kaleng obat” yang berada di Ok-jin-kok sana, tanpa terasa air matanya berlinang, syukur dalam kegelapan sehingga Sim Gin-hong berdua tidak dapat melihatnya. Lekas ia berlagak menggagapi senjata yang berserakan di lantai, ia dapat memungut satu kantong senjata rahasia berbisa, ada jarum, pasir, pelor besi dan sebagainya.

“He, keluarga Tong dari Sujwan ada yang gugur di sini,” ucap Sim Gin-hong.

“Tapi senjata rahasia ini sama sekali belum terpakai,” kata Siau-hi-ji.

“Anak murid keluarga Tong terkenal sangat cekatan menggunakan senjata rahasia, tapi sekali ini belum sempat mengeluarkan ilmu kebanggaannya sudah mengalami nasib malang. Sungguh sukar kuterka siapakah gerangan pembunuhnya yang lihai ini?”

“Jika tak dapat menerkanya, biarlah, toh sebentar juga dia akan datang, kita tunggu dan lihat saja nanti,” ujar Siau-hi-ji sambil menguap ngantuk.

Kedua mata Hian-ko-sin-kun yang melotot sejak tadi itu tampak mengunjuk rasa ngeri dan gentar, sekalipun ia tetap yakin kesanggupannya menyergap dari tempat gelap pasti akan berhasil nanti. Namun betapa tinggi kepandaian musuh yang akan muncul sungguh teramat lihai dan membuat rontok nyali orang, apabila sekali sergap gagal, mungkin sukar lagi ada kesempatan kedua kalinya.

Ketika angin meniup lagi, mendadak dari luar gua terjulur masuk pula sebuah tangan. Tangan yang halus dan putih mulus tanpa cacat.

Di gua yang terletak di tengah jurang mendadak muncul sebuah tangan seindah ini, tentu saja terasa lebih misterius sehingga membuat orang sangsi apakah tangan ini tangan manusia atau bukan?

Seketika Sim Gin-hong terbelalak, Hian-ko-sin-kun juga melotot sambil menahan napas. Dilihatnya tangan itu mulai bergerak perlahan, tiba-tiba tangan itu mengetuk pada batu di mulut gua. Kalau tangan dan jarinya dapat bergerak, jelas itulah tangan manusia hidup.

Habis itu tiba-tiba terdengar suara yang merdu nyaring berkumandang di luar gua, “Sepada!”

Dalam keadaan dan saat demikian, suara halus merdu itu ternyata hanya mengucapkan sepatah kata “sepada” (siapa ada di situ) begitu, rasanya seperti nyonya muda tetangga yang iseng sengaja datang hendak mencari teman ngobrol saja.

Mendengar ucapan tadi, tanpa terasa Hian-ko-sin-kun dan Sim Gin-hong sama mengkirik, keduanya saling pandang dengan serba susah dan tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menanggapi suara tadi dengan tertawa, “Ada, ada beberapa di sini!”

“O, kalau ada kan seharusnya membukakan pintu!” kata pula suara manis itu dengan tertawa nyaring.

“Kemarin aku makan bakmi dan belum bayar, maka tak berani kubuka pintu,” kata Siau-hi-ji.

“Wah, kakiku terasa capai, apakah aku boleh mampir duduk-duduk sebentar di situ?” tanya suara tadi sambil mengikik.

“Sudah tentu boleh,” jawab Siau-hi-ji. “Cuma harus hati-hati, tangga pintu agak tinggi, awas gaunmu robek.”

“Terima kasih!” di tengah suara tertawanya tangan putih halus itu pun meraih batu gua dan masuklah orangnya dengan langkah berlenggang-lenggok.

Nyata dia seorang nyonya muda dengan baju sutera tipis dan gaun warna hijau, setangkai bunga mawar menghiasi sanggulnya, langkahnya lemah gemulai dan pinggangnya ramping. Dia melangkah masuk dari luar gua yang berupa jurang itu, tapi mirip menantu tetangga sebelah memasuki rumah sendiri.

Dari tempat gelap segera Hian-ko-sin-kun menubruk maju. Karena tidak berjaga jaga, tampaknya nyonya muda itu pasti akan tergetar terpental keluar. Tapi entah cara bagaimana, hanya nampak pinggangnya meliak-liuk, tahu-tahu dengan gaya genit nyonya muda itu sudah berada di belakang Hian-ko-sin-kun.

Tentu saja si kera terkejut, cepat ia membalik tubuh, tapi sebelum dia menerjang lagi, si nyonya muda gaun hijau telah berkata dengan suara lembut, “Jika kau ingin keluar, biarlah segera kukeluar, buat apa kau marah dan menggunakan tenaga sebesar itu?”

Melihat gaya orang yang genit dan cara bicaranya yang manis, betapa pun tangan Hian-ko-sin-kun tak dapat dipukulkan pula, dengan suara serak ia tanya, “Kau … kau mau apa?”

Si nyonya muda gaun hijau melirik genit, katanya, “Kalau tuan muda ini tidak mengizinkan kumasuk, sebenarnya aku pun tidak berani masuk kemari. Sekarang aku sudah berada di sini, segala urusan terserahlah kepada engkau tuan besar, mana kuberani banyak omong dan membantah.”

“Kau … kau ….” tergagap juga Hian-ko-sin-kun. Meski biasanya dia sangat garang dan jahat, tapi menghadapi perempuan cantik yang lemah lembut demikian, mau tak mau terguncang juga perasaannya, kata kasar pun tak dapat keluar lagi dari mulutnya.

“Dan kalau tuan besar dapat menerima, biarlah kutinggal saja di sini dan bantu menyapu, menanak nasi, menambal baju,” demikian ucap si nyonya muda pula.

Sejak tadi Siau-hi-ji mengawasi tingkah kenes nyonya muda itu, kini mendadak ia menimbrung dengan tertawa, “Kukira lebih baik kau menjadi biniku saja.”

“Jika engkau benar sudi memperistri diriku, wah, pasti aku kegirangan setengah mati,” ucap si nyonya muda dengan tertawa menggiurkan. “Suami secakap dan sepintar engkau ini, sudah sepuluh tahun kucari ke mana-mana dan tidak pernah menemukannya. Cuma sayang ….”

“Sayang apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Sayang usiaku sudah lanjut,” kata nyonya itu dengan suara lembut, “bilamana engkau berumur 30 nanti, sementara itu aku sudah nenek-nenek, tatkala mana pasti engkau tak suka lagi padaku, tapi tidak sampai hati pula untuk membuang diriku, bukankah kau akan serba susah? Dan mana aku tega membikin susah.”

Sudah tentu Siau-hi-ji tahu apa yang dikatakan itu tidak sepatah kata pun sungguh-sungguh hati, tapi aneh, entah mengapa, terasa senang juga oleh ucapan-ucapan itu. Dengan tertawa ia pun menjawab, “Kau tidak bilang usiaku terlalu muda, tapi mengatakan usiamu sendiri sudah lanjut. Dari cara bicaramu ini, biarpun benar kau adalah perempuan bermuka buruk dan suka membunuh orang, aku tetap suka padamu.”

“Tak peduli ucapanmu ini benar atau pura-pura, yang pasti ucapanmu ini pasti akan selalu kuingat di dalam hati,” kata si nyonya muda.

Dalam pada itu Hian-ko-sin-kun sudah tidak sabar lagi, dengan suara serak ia tanya, “Dan bagaimana jika aku tidak suka tinggal lagi di sini?”

“Bila tuan besar merasa di sini terlalu sumpek dan ingin jalan-jalan keluar, maka di luar sudah kusiapkan tangga, setiap saat tuan besar boleh silakan,” kata si nyonya muda.

“Apa betul?” Hian-ko-sin-kun menegas.

“Kalau tuan besar sangsi, silakan naik dulu ke atas, habis itu baru kami menyusul, biarkan tuan muda ini berangkat terakhir dengan membawa peti besi, dengan demikian tuan besar tidak perlu curiga pada kami dan kami pun tidak perlu mencurigai engkau tuan besar.”

Dalam hati Hian-ko-sin-kun seribu kali tidak sudi menuruti kehendak nyonya muda itu, tapi apa yang dikatakannya itu memang beralasan dan masuk akal sehingga mau tak mau ia harus menurut. Begitu pula Sim Gin-hong, meski tahu kena sihir, ia hanya mengangguk setuju saja.

Segera Siau-hi-ji menimbang pula, “Caramu memang sangat bagus. Bila orang lain naik dulu ke atas, saudara kera kita ini pasti khawatir, tapi sekarang si kera disilakan naik dulu dan ia harus menunggu orang terakhir juga naik ke atas dengan membawa peti harta karun, maka sebelum itu dia pasti takkan memotong tali tangga.”

Hian-ko-sin-kun melotot ke arah si nyonya muda bergaun hijau, ia coba menegas pula, “Caramu ini benar-benar …. timbul dari maksud baikmu?”

“Apakah tuan besar mengira aku bermaksud jahat?” jawab si nyonya muda dengan suara lembut. “Ai, mungkin sudah nasibku dilahirkan untuk berbuat baik dan bekerja bakti bagi orang lain, apa mau dikatakan lagi?”

Hian-ko-sin-kun masih ragu-ragu, biji matanya yang kecil mengerling ke sana ke sini, tapi tetap sukar dirabanya di mana letak keburukan nyonya muda itu. Terpaksa ia nekat, katanya sambil membanting kaki, “Baik, apa pun juga, baik atau jahat, paling perlu kunaik dulu ke atas.”

Sesungguhnya dia memang tidak sabar lagi, cahaya matahari yang hangat, embusan angin sejuk dan dunia yang bebas merdeka itu seakan-akan sedang melambai-lambaikan tangan padanya.

Ia coba melongok ke luar gua, benar saja ada seutas tali panjang terjulur dari atas, kalau tali itu putus, maka nyonya muda ini pun akan terkurung sendiri di sini. Asalkan tali ini tidak putus andaikan ada tipu muslihat hendak menjebaknya juga tak perlu dikhawatirkan lagi apabila dirinya sudah berada di atas jurang sana.

Setelah menimbang-nimbang lagi dan merasa lebih banyak untung daripada ruginya, apalagi dia sudah terkurung selama belasan tahun di dalam gua dan sudah merindukan kebebasan, maka tanpa ragu-ragu lagi segera ia pegang tali itu dan merambat ke atas sambil berseru tertawa, “Ayo Sim Gin-hong, kau ikut di belakangku ….”

Belum habis ucapannya sekonyong-konyong tubuhnya terasa kejang lalu terjerumus ke jurang yang tak terkirakan dalamnya, suara tertawanya tadi mendadak berubah menjadi jeritan ngeri.

Keruan Sim Gin-hong terkejut dan berteriak “He, ken … kenapa?”

Air muka si nyonya muda bergaun hijau juga kelihatan pucat, serunya dengan suara gemetar, “Apa … apa yang terjadi?”

Mendadak Sim Gin-hong membalik tubuh dan membentak si nyonya muda, “Kau yang harus menjawab pertanyaan itu?!”

“Jangan-jangan beliau sudah tua, tenaga kurang, maka kurang kencang memegangi tali?” ujar si nyonya muda.

“Katakan terus terang, ada permainan gila apa pada talimu ini?” bentak Sim Gin-hong pula.

Tapi sorot mata nyonya itu sebening kaca, laksana mata anak kecil yang tak berdosa, jawabnya dengan suara lembut, “Tali itu kan baik-baik saja, kan juga tidak putus, bukankah tadi aku pun merosot dari atas dengan tali ini? Kalau tidak percaya boleh engkau menariknya.”

Segera Sim Gin-hong mengulur tangan hendak menarik tali, tapi mendadak Siau-hi-ji berucap dengan tertawa, “Kalau di tali itu terpasang beberapa jarum berbisa, maka tangan yang menarik itu pasti enak rasanya.”

Belum habis ucapannya secepat kilat Sim Gin-hong sudah menarik kembali tangannya, teriaknya bengis, “Betul, di ujung tali ini pasti terpasang beberapa jarum berbisa atau sebangsanya, kalau tidak masakah si kera tadi bisa terjerumus ke jurang, sungguh tidak disangka kau perempuan ini sedemikian keji, baru sekarang mataku benar-benar terbuka.”

Dengan mengembeng air mata seperti perasaannya tersinggung, nyonya muda itu berkata, “Jika begitu tuduhanmu, apa yang bisa kukatakan lagi. Biarlah aku sendiri mencoba tali ini.” Habis berkata, sekali pinggangnya meliuk, benar saja ia lantas merambat ke atas tali.

Terbelalak Sin Gin-hong menyaksikan nyonya muda itu merambat ke atas, gaun hijau yang tertiup angin itu tampaknya semakin mengecil, diam-diam ia merasa cemas dan menyesal pula. Suruh dia ikut merambat ke atas bersama nyonya muda yang tidak diketahui baik atau jahat itu rasanya tidak berani, tapi kalau kesempatan bagus menuju ke dunia bebas yang dirindukan itu tersia-sia begini saja, betapa pun ia juga sedih.

Selagi serba susah, tiba-tiba nyonya muda yang sukar diraba baik atau jahat itu terlihat turun pula dengan perlahan.

“Memang sudah kuduga kau pasti akan turun kembali,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sebenarnya aku tidak mau urus kalian lagi, tapi terasa tidak tega pula,” kata si nyonya muda dengan menghela napas gegetun. “Ai, mengapa hatiku selalu lemah begini, aku sendiri pun tidak tahu apa sebabnya.” Lalu ia menatap Sim Gin-hong dan menambahkan, “Nah, baik buruknya tali ini tentunya sudah kau saksikan bukan?”

Sampai di sini Sim Gin-hong menjadi bingung dan sangsi siapa yang harus dipercaya, ia bahkan mulai meragukan Hian-ko-sin-kun yang kurang erat memegangi tali sehingga terjerumus ke jurang.

“Jika masih kurang percaya, boleh juga kau bungkus saja tanganmu dengan kain,” kata pula si nyonya muda dengan lembut.

Dipandangnya tali itu oleh Sim Gin-hong, ia memandang jauh pula ke sana, ke langit yang cerah, ke alam yang bebas, kemudian dipandangnya pula gua yang sempit dan seram ini, terkenang siksa derita selama 15 tahun. Ia pikir kesempatan baik ini tidak boleh tersia-sia, ia menggereget nekat, akhirnya dipandangnya pula Siau-hi-ji.

Anak muda itu pun berkerut kening, katanya, “Jangan kau pandang aku, sama sekali aku tidak berani memberi saran. Cuma kukira tali ini … tali ini tentu takkan putus, kalau tidak tentunya tadi ia sendiri tak dapat merambat ke atas.”

“Ya, urusan sudah telanjur begini, betapa pun harus kucoba,” kata Sim Gin-hong akhirnya. Segera ia melompat maju, ia pegang tali dan mulai merambat ke atas.

Dengan hati kebat-kebit Siau-hi-ji pandang orang yang merambat ke atas itu, satu kaki, dua kaki … tampaknya sudah belasan kaki Sim Gin-hong merambat ke atas, maka legalah hati Siau-hi-ji, katanya terhadap si nyonya muda, “Kau ini sesungguhnya baik atau jahat, sampai detik ini aku pun belum jelas ….” belum lenyap suaranya tahu-tahu tali itu sudah putus.

Terdengar jerit ngeri Sim Gin-hong, tubuhnya terjerumus langsung ke jurang, hanya sekejap saja lantas menghilang, tertinggal sisa suara jeritan yang berkumandang jauh menggema angkasa lembab pegunungan.

Siau-hi-ji terkesima dan berdiri mematung, gumamnya kemudian, “Kau … kau benar-benar siluman yang menipu mati orang tidak mengganti nyawa!”

“Betulkah begitu?” ucap si nyonya gaun hijau dengan tersenyum manis.

“Dengan jarum yang kau selipkan di tali telah kau binasakan si kera tadi dan sekarang kau potong setengah bulatan tali itu sehingga Sim Gin-hong terjebak. Padahal dengan ilmu silatmu yang tinggi tanpa susah payah kau pun dapat membunuh mereka.”

Nyonya muda itu tertawa, katanya, ‘Turun tangan sendiri membunuh orang terasa tiada artinya. Selama hidupku belum pernah kubunuh orang dengan turun tangan sendiri, semua korbanku sama mati secara suka rela bagiku.”

“Tapi aku pun tidak paham, setelah tali itu putus lalu cara bagaimana kau dapat naik ke atas?” tanya Siau-hi-ji.

“Di sini kan enak dan bahagia, aku tidak ingin naik ke atas lagi,” kata nyonya muda itu.

Siau-hi-ji melengak, ia garuk-garuk kepala yang tidak gatal, katanya dengan tersenyum getir, “Kau inilah anak perempuan pertama yang ucapannya membingungkan diriku selama hidupku ini.”

“Kawanmu telah kubikin mampus, kau tidak menuntut balas?” tanya si nyonya muda dengan tatapan tajam.

“Cara bagaimana aku dapat menuntut balas?” kata Siau-hi-ji. “Untuk berkelahi aku bukan tandinganmu, menipu juga kalah pandai. Apalagi seperti ucapanmu tadi, kau tidak memaksa mereka mati, tapi mereka sendiri yang mengantarkan nyawa secara suka rela.”

“Kau sendiri tidak susah?”

“Kedua orang tadi memang pantas mati sejak dulu-dulu, kini mereka telah menemui ajalnya, apalagi yang perlu kususahkan?”

“Hihi, anak macam dirimu inilah sungguh belum pernah kulihat,” kata si nyonya dan mengikik genit.

“Baiklah sekarang boleh kau mulai menipu aku sampai mati,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Menipu kau sampai mati, wah, kan kesepian aku tinggal di sini?”

“Masakah … masakah kau sendiri pun tidak dapat naik ke atas?”

“Aku kan tidak bersayap, memangnya dapat terbang?”

Siau-hi-ji melenggong sejenak, katanya kemudian dengan menyengir, “Kau benar-benar siluman perempuan.”

“Kalau aku siluman perempuan, maka kau ini siluman cilik.”

“Bagus juga, siluman perempuan dan siluman cilik tinggal bersama di gua neraka ini, bisa jadi akan melahirkan segerombolan siluman pula.”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, nyonya genit itu sudah tertawa terpingkal-pingkal, semprotnya, “Huh, kau setan cilik ini juga paham soal bikin anak segala? Tapi aku bukan induk babi, mana bisa melahirkan anak satu gerombol!?”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menanggapi, “Habis di gua ini apa yang dapat kita kerjakan selain membuat anak? Sebabnya orang miskin justru banyak anak juga lantaran mereka tidak mempunyai pekerjaan lain.”

“Haha, tak kusangka banyak juga pengetahuanmu setan cilik.”

“Masakah kau tidak tahu bahwa aku inilah si mahapintar di dunia ini? Jika benar kau akan hidup selamanya bersamaku, tanggung kau takkan kecewa dan kesepian.”

Si nyonya genit menatapnya dengan tersenyum mesra, katanya, “Tapi kalau benar aku hendak melahirkan anak bersamamu, sedikitnya harus kutunggu tiga tahun lagi.”

“Tidak perlu tunggu, sekarang juga aku sanggup,” ucap Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh. “Tidak percaya boleh uji coba!”

“Buset!” semprot si nyonya genit dengan tertawa, “Kau memang ….”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa berkumandang dari jauh, kata suara itu, “Hai, budak setan she Siau, kau takkan dapat kabur lagi, kecuali selama hidup ini kau takkan naik ke sini.”

Suara itu jelas berkumandang dari puncak atas sana menembus kabut, tapi terdengar seperti orang berteriak di tepi telinga sehingga anak telinga serasa pekak.

Air muka si nyonya gaun hijau berubah pucat seketika.

“Keras juga tenggorokan orang itu,” ujar Siau-hi-ji. “Orang yang berkerongkongan besar di dunia ini rasanya tidak banyak, entah dia lagi bicara dengan siapa. Apakah terhadapmu!”

“Ehm,” jawab si nyonya genit singkat.

“Siapa dia?”

“Dia … dia bukan manusia, pada hakikatnya dia itu siluman tua!”

“Jadi lantaran kau tahu dia sedang menantikan dirimu di atas, makanya kau lebih suka sembunyi selama hidup di sini dan tidak berani naik ke atas, begitu bukan?”

“Ai, rupanya kau tidak tahu betapa lihainya siluman tua bangka ini,” kata si nyonya genit dengan gegetun. “Tidak cuma ilmu silatnya saja yang lihai, bahkan tangannya ganas dan hatinya kejam.”

“Masakah hatinya lebih kejam daripada hatimu dan tangannya lebih ganas daripada tanganmu?” ujar Siau-hi-ji.

“Ai, kau tidak tahu, dia ….”

Belum lanjut ucapan si nyonya genit, tiba-tiba suara tadi berkumandang pula dengan lebih bengis, “Budak she Siau, kukira lebih baik naik saja ke sini, kau takkan betah di situ. Jika kutunggu lebih lama satu hari di sini, maka hukuman yang akan kau terima akan bertambah pula.”

Si nyonya genit menjadi gemetar.

“Apakah kau benar takut padanya?” tanya Siau-hi-ji. “Padahal kukira dia juga rada takut padamu.”

“Takut padaku?” si nyonya genit menegas.

“Kalau dia tidak takut padamu, mengapa dia tidak menguber ke sini,” kata Siau-hi-ji.

“Engkau tidak tahu ….” si nyonya genit menggeleng dan menghela napas. “Setiap tindakannya sukar untuk diterka oleh siapa pun. Saat ini dia tidak turun ke sini, bisa jadi dia sedang merancang sesuatu akal keji.”

“Budak she Siau, kau benar tidak mau naik ke atas?” demikian suara tadi membentak pula.

Nyonya bergaun itu menggigit bibir dan tetap tidak bersuara.

Selang sejenak kembali suara itu berteriak, “Baik, akan kuhitung sampai sepuluh, jika kau tetap tidak naik, sebentar bila kau kutangkap pasti akan kusiksa sepuluh hari sepuluh malam. Nah, dengarkan, aku mulai menghitung …. Satu ….”

Saking takutnya nyonya muda itu sampai lemas terkulai di tanah dan tidak sanggup bergerak lagi, hanya tubuhnya saja yang gemetar.

Sementara itu suara tadi berteriak pula, “Dua ….”

Tiba-tiba teringat sesuatu oleh Siau-hi-ji, katanya, “Orang ini sedemikian jahat, jangan-jangan dia adalah satu di antara Cap-toa-ok-jin (ke-10 top penjahat)?”

“Kalau dibandingkan dia, Cap-toa-ok-jin menjadi seperti anak kecil yang paling alim,” kata si nyonya gaun hijau.

“Hah, dia lebih jahat daripada Cap-toa-ok-jin?” Siau-hi-ji pun terkejut.

“Sedikitnya sepuluh kali lebih jahat,” ucap si nyonya dengan tersenyum pedih.

“Tiga ….” demikian terdengar suara tadi berteriak pula.

Siau-hi-ji melenggong sejenak, tanyanya kemudian, “Siapakah namanya?”

“Engkau takkan kenal namanya,” ujar si nyonya.

“Jika dia memang jauh lebih jahat daripada Cap-toa-ok-jin, maka namanya seharusnya sangat terkenal,” kata Siau-hi-ji.

“Anjing yang suka menggigit orang justru tidak menggonggong, tahu tidak?” ujar si nyonya. “Makanya semakin tidak terkenal semakin lihailah orang itu. Biarpun dia telah berbuat sesuatu kejahatan yang tak terampunkan juga orang lain takkan tahu.”

“Ya, benar juga ….” Siau-hi-ji mengangguk setuju.

“Empat ….” suara tadi membentak pula. “Baik, tampaknya kau memang kepala batu dan benar-benar tidak mau naik ke sini. Apakah kau ingin tahu bagaimana akan kukerjai dirimu apabila kutangkap nanti?”

Agaknya dia menjadi sangat murka terbukti dia lantas meraung pula, “Nah, dengarkan, bila kau kena kubekuk, lebih dulu akan kukorek sebelah matamu, habis itu akan kucekoki kau dengan air garam berturut-turut selama sepuluh hari, maka jadilah kau daging asinan.”

“Wah, keji amat caranya,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Hm, daging manusia begitu, mungkin Li Toa-jui pun tak pernah merasakannya.”

“He, kau kenal Li Toa-jui?” tanya si nyonya muda mendadak.

Siau-hi-ji terdiam sejenak, jawabnya kemudian dengan perlahan, “Orang yang berkecimpung di dunia Kangouw, siapa yang tidak kenal namanya?”

“Lima ….” terdengar suara tadi meraung pula. “Nah, dengar tidak, hitunganku sudah sampai lima. Lima kali lagi akan berarti tamatlah riwayatmu. Jangan kau kira aku tidak mampu menangkap dirimu, salah besar jika kau berpikir demikian.”

Mendadak si nyonya genit itu melompat bangun, katanya dengan menghela napas, “Biarlah sudah!”

“He, kau mau apa?” tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Daripada nanti tertangkap, lebih baik mati saja sekarang,” ucap si nyonya dengan murung.

“Jangan … jangan khawatir. Biarlah kita bertahan saja di sini, toh dia juga tidak berani turun kemari.”

“Kau tidak tahu, apa yang telah dikatakannya pasti akan ditepatinya. Kalau dia menyatakan pasti dapat menangkap diriku, maka dia yakin pasti benar-benar dapat menangkap aku.”

“Memangnya cuma digertak begitu saja lantas kau putus asa dan ingin bunuh diri?”

“Habis apa dayaku, tidak ada jalan lain kecuali mati saja!”

“Kau tidak boleh mati, jika kau mati tentu aku akan kesepian hidup sendirian di sini.”

“Jadi kau masih ingin hidup?” tanya si nyonya dengan tersenyum pedih.

“Mengapa aku tidak ingin hidup? Justru hidupku ini lagi penuh arti.”

Si nyonya menggeleng, katanya dengan menghela napas. “Tidak, kau pun takkan diampuni olehnya ….”

“Enam! Nah, kini sudah enam!” terdengar suara tadi berteriak pula.

“Kau pasti juga akan ditangkap olehnya,” demikian sambung si nyonya, “Bila aku mati, tentu kau yang akan dijadikan alat pelampias dan pasti akan tersiksa habis-habisan.” Sembari bicara ia terus melangkah ke mulut gua.

“Kau hendak terjun ke bawah?” tanya Siau-hi-ji.

“Kukira lebih baik kau pun ikut terjun bersamaku saja,” kata si nyonya.

“Kau minta aku ikut terjun bersamamu?” Siau-hi-ji terperanjat.

Mendadak si nyonya membalik tubuh dan menatap anak muda itu dengan rawan, katanya perlahan, “Aku pun merasa kesepian jika mati sendiri, apakah kau sudi mengiringi aku?”

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala dan bergumam, “Mohon orang mengiringi kematiannya agar tidak kesepian …. Hah, permohonan ini sungguh jarang terjadi.”

“Soalnya aku suka padamu, makanya mohon kau ikut terjun bersamaku, kalau tidak … peduli amat apakah kau akan hidup atau mati.”

“Tujuuuh!” terdengar suara tadi meraung lagi dengan keras.

Dalam pada itu Siau-hi-ji sedang memandang terkesima kepada nyonya genit, itu, katanya kemudian, “Kau suka padaku?”

“Kau orang pintar, masa tidak tahu?”

Kembali Siau-hi-ji memandangnya sekian lama, habis itu mendadak ia berseru, “Baiklah, akan kuiringi kau terjun ke bawah!”

Jawaban ini agak di luar dugaan juga bagi si nyonya gaun hijau, ia menegas, “Sungguh?!”

“Ya, sungguh, tidak saja ikut terjun bersamaku, bahkan terjun dengan memeluk dirimu.”

Nyonya itu memandang pula lekat-lekat anak muda itu, agak lama barulah ia berkata, “Bagus, bagus!”

“Delapan!” terdengar suara tadi berteriak lagi. “Nah, tinggal dua kali saja. Budak busuk, jiwamu sudah dekat ajal, tahu?!”

“Eh, cara bagaimana kau ingin kupeluk?” tanya Siau-hi-ji.

“Sesukamu! Seluruh tubuhku bebas bagimu!” jawab si nyonya genit.

Tanpa banyak omong lagi Siau-hi-ji lantas menubruk maju dan memeluknya erat-erat, muka berhadapan muka, bahkan ia berseloroh pula, “Ehm, alangkah harum baunya!…. Dapat mati sambil memeluk dirimu, betapa pun aku merasa puas.”

“Kau benar-benar anak yang menyenangkan, bisa mati dalam pelukanmu aku pun tidak penasaran!” ujar si nyonya dengan tersenyum.

“Sembilan!” terdengar suara tadi membentak pula. “Budak busuk, kau dengar tidak, hitunganku sudah sampai sembilan!”

Maka berkatalah nyonya gaun hijau kepada Siau-hi-ji. “Peluklah yang kencang, segera aku akan terjun!”

“Silakan saja!” jawab anak muda itu sambil memejamkan mata dan menghela napas, katanya, “Mati entah bagaimana rasanya?”

“Selekasnya kau akan tahu rasanya ….” kata si nyonya, mendadak ia melompat maju dan benar-benar terjun ke jurang yang tak terperikan dalamnya.

Secara sembarangan ikut mati bersama seseorang, bahkan nama orang itu pun tidak dikenalnya, siapakah yang mau berbuat demikian selain Siau-hi-ji?

Dalam pada itu ia merasa angin berkesiur keras di tepi telinganya, tubuh terus terjun ke bawah, dalam keadaan demikian jika dikatakan dia takut ada lebih tepat dibilang dia merasa tertarik dan merasa senang.

Terjun dari ketinggian ratusan meter tingginya, betapa pun jarang ada orang yang pernah mengalaminya.

Mungkin Siau-hi-ji sudah melupakan takut, atau semula dia tak percaya bahwa si nyonya muda itu benar-benar dapat terjun ke jurang. Tapi semua itu kini sudah terjadi, ia merasa tubuhnya meluncur semakin cepat ke bawah. Dalam benaknya kini cuma ada satu pikiran, yakni dia bertanya pada dirinya sendiri, “Sesungguhnya aku ini pintar atau bodoh?”

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara “blung” sekali, tubuhnya serasa tergetar, daya luncur ke bawah seketika menjadi lambat.

Terdengar si nyonya gaun hijau mengikik tawa dan berkata di tepi telinganya, “Bagaimana rasanya mati?”

“Ehm, enak juga ….” sahut Siau-hi-ji. Waktu ia membuka mata dan memandang ke kanan-kiri, pepohonan pada kedua sisi dinding tebing dapat dilihatnya dengan jelas dan semuanya seakan-akan sedang terbang ke atas.

“Tahukah bahwa kau ini terhitung beruntung,” didengarnya si nyonya muda itu berkata pula dengan tertawa genit. “Walaupun sudah mencicipi rasanya orang mati, tapi kau tidak perlu mati sungguh-sungguh.”

“He, apa … apa yang terjadi sesungguhnya?” tanya Siau-hi-ji bingung.

“Coba menengok ke atas,” kata si nyonya.

Waktu Siau-hi-ji mendongak, segera dilihatnya suatu benda aneh. Benda itu seperti payung, tapi jelas bukan payung, ukurannya berpuluh kali lebih besar. Benda ini terpancang dari punggung si nyonya gaun hijau, tampaknya seperti sebuah payung raksasa beraneka warna yang diikat dengan sejumlah tali kecil yang kuat. Karena mekarnya payung raksasa itu tertahan oleh angin, dengan sendirinya daya luncur mereka ke bawah menjadi lambat.

Dapat dibayangkan betapa enak rasanya Siau-hi-ji dibuai oleh payung udara yang meluncur turun dengan perlahan, bahkan dalam pelukan perempuan cantik. Karena senangnya ia tertawa terbahak-bahak dan berseru, “Haha, alangkah senangnya permainan ini, entah cara bagaimana kau dapat merancangnya. Kapan-kapan kita harus mengulangi terjun payung ini.”

Mendadak tubuhnya terguncang keras, rupanya mereka sudah sampai di tanah. Payung raksasa yang masih terbawa angin itu menyeret mereka terguling ke samping.

Cepat si nyonya mengeluarkan sebilah pisau dan memotong tali payung. Lalu katanya dengan tertawa, “Sekarang bolehlah lepaskan pelukanmu, setan cilik!”

Tapi Siau-hi-ji berbalik merangkul lebih kuat, katanya, “Tidak, takkan kulepaskanmu, kau membohongi aku, harus kupeluk lebih lama sebagai ganti rugi.”

“Buset,” omel si nyonya dengan tertawa. “Sesungguhnya kau ini pintar atau bodoh?”

“Hihi, soal ini baru saja kutanyakan pada diriku sendiri, tapi aku pun tak dapat menjawabnya,” ucap Siau-hi-ji dengan cengar-cengir.

“Tampaknya kau ini mutlak si tolol kecil,” kata si nyonya.

Mendadak Siau-hi-ji melompat turun, matanya terbelalak, katanya, “Kau sangka dapat menipu aku begitu saja?”

“Masa kau sendiri masih sangsi?” jawab si nyonya dengan senyuman mesra.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, supaya kau maklum bahwa sejak mula juga kutahu kau takkan mati, makanya aku mau ikut terjun bersamamu. Kulihat orang macam dirimu bukanlah manusia yang suka bunuh diri.”

Mata si nyonya berkedip-kedip dan menegas, “Oya, begitukah?”

Mendadak Siau-hi-ji menepuk dada dan berseru, “Ketahuilah bahwa di dunia ini tiada seorang pun yang dapat menipu aku, Kang Hi, Kang Siau-hi.”

“Hah, baru sekarang kutahu kau bukan lagi seorang anak tanggung, tapi sudah dewasa, seorang lelaki sejati. Selama ini belum pernah kulihat lelaki sejati semacam dirimu,” kata si nyonya dengan tertawa lembut sambil menatapnya penuh rasa kagum dan memuji.

Keruan semakin tinggi Siau-hi-ji membusungkan dadanya, mendadak ia pun merasa dirinya bukan anak-anak lagi, mendadak sudah dewasa.

Si nyonya memandang sekelilingnya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata pula, “Meski tidak jadi mati, tapi setiba di sini aku menjadi tak berdaya lagi. Kini … segalanya kupercayakan padamu, kau … tidak boleh kau tinggalkan diriku.”

Belum pernah Siau-hi-ji merasakan dirinya sekuat sekarang dan sedemikian gagah berani, ia merasa dirinya memang pantas dipuji, kalau tidak masakah si nyonya dapat mempercayainya sepenuh hati. Segera ia berseru, “Ya, boleh kau percayakan dirimu padaku, aku pasti bertanggung jawab.”

“Kau sangat baik, kutahu pilihanku pasti tidak keliru,” ucap si nyonya sambil tersenyum mesra.

“Sudah tentu kau tidak salah pilih, pilihanmu pasti sangat tepat,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Si nyonya menghela napas lega, katanya, “Baiklah, sekarang lekas mencari akal agar kita dapat meninggalkan tempat setan ini.”

“Baik,” jawab Siau-hi-ji. Tapi habis berkata begitu, seketika dia mulai sedih. Soalnya dia juga dapat melihat keadaan sekeliling “tempat setan” ini, pada hakikatnya ia pun tidak tahu cara bagaimana bisa meninggalkan tempat ini dengan aman.

Tempayan, beginilah gambaran keadaan “tempat setan” ini, di atas sempit, dasar jurang melebar, dinding licin mengurung sekelilingnya. Anehnya dasar jurang ini tidak lembab sebagaimana sekelilingnya. Sedikit pun tiada rasa sumpek, sebaliknya bahkan terasa hangat kering, kabut tebal mengapung tinggi jauh di atas sana.

Tanah di bawah kaki juga bukan tanah liat atau pecomberan, tapi adalah tanah rumput yang lunak laksana selimut hijau membentang luas. Cahaya yang terang suasana damai dengan pepohonan rindang dan hawa harum bunga yang mekar di sekitar sana.

Hampir-hampir Siau-hi-ji mengira dirinya mendadak terjerumus ke surgaloka tempat malaikat dewata. Satu-satunya keadaan surgaloka yang menakutkan adalah kesunyian, kesunyian yang tak bertepi. Tidak ada angin, tiada suara. Setiap rumput, setiap daun, semuanya tenang. Tampaknya seperti tiada daya hidup sedikit pun. Sungguh kesunyian yang mencekam, menakutkan dan bisa membuat gila orang.

“Bagaimana, sudah kau dapatkan akal untuk keluar dari sini?” demikian suara lembut si nyonya gaun hijau memecah kesunyian.

Siau-hi-ji tidak dapat tertawa lagi, tapi di mulut ia tetap menjawab, “Tentu ada akal, tentu ada akal!”

“Memang kuyakin kau pasti punya akal, dapatkah kau jelaskan akalmu itu sekarang?”

“Satu-satunya kejelekan perempuan adalah banyak omong, kalau tidak sebenarnya perempuan juga tidak beda dengan lelaki …. Nah, maukah kau tutup mulut untuk sementara biar kupikirkan dulu sebentar.”

“Baik, segala apa kuturut padamu,” dengan mesra ia pandang Siau-hi-ji dan tidak bicara lagi.

Siau-hi-ji lantas mondar-mandir sambil bergendong tangan, mendadak ia berseru, “Aneh, mengapa tempat setan ini sunyi senyap tiada suara sedikit pun. Mengapa kau pun tidak bicara?”

“Bukankah aku kau suruh tutup mulut?”

“O … ya ….” Siau-hi-ji sendiri melenggong. Lalu ia putar-putar lagi kian kemari, tiba-tiba ia berteriak pula, “Salah, salah, tidak betul!”

“Salah apa?” tanya si nyonya.

“Ada kekurangan sesuatu di sini.”

“Kurang sesuatu? Kurang apa?”

“Masa kau tidak tahu?” teriak Siau-hi-ji.

“Memang otakku tidak setajam dirimu,” kata si nyonya dengan tertawa.

“Otakku sebenarnya juga tidak tajam, baru sekarang kuingat,” ucap Siau-hi-ji dengan mengernyitkan alis. “Coba katakan, ke manakah perginya si kera dan Sim Gin-hong berdua? Memangnya mereka terbang ke langit?”

“Bukankah … bukankah mereka sudah terbanting mampus?”

“Betul, terbanting mampus! Tapi, mana mayatnya? Sudah kuperiksa ke segenap sudut, tapi tidak nampak sekerat pun tulang mereka. Umpamanya mereka telah menjadi mangsa harimau, tentunya takkan termakan habis bersih dan secepat ini, apa pula di sini tiada seekor kucing pun, mana lagi ada harimau.”

Air muka si nyonya tampak berubah, serunya, “Kau benar-benar tidak menemukan mayat mereka?”

“Tidak, satu kerat tulang saja tidak ketemu,” kata Siau-hi-ji. Walau begitu katanya, ia berkeliling pula kian kemari. Si nyonya gaun hijau juga ikut mencari.

Dasar jurang itu tidak terlalu luas, dengan cepat mereka sudah berkeliling tiga kali. Mungkin malah lima kali, setiap pelosok, setiap sudut, setiap bidang tanah, semuanya sudah diperiksa.

Tapi tiada sesuatu tanda yang ditemukan, akhirnya Siau-hi-ji jadi ngeri sendiri, katanya, “Benar-benar tempat setan, jangan-jangan memang benar ada setan.”

Si nyonya bergidik dan berseru, “Hah, setan! Mana ada setan?”

“Kalau tidak ada setan, lalu ke mana perginya kedua orang itu? Andaikan mereka tidak terbanting mati, tentunya masih bercokol di sini. Apalagi mereka tidak mungkin mati. Lalu lari ke mana? Mungkinkah terbang ke langit atau menyusup ke dalam bumi? Atau mereka bisa menghilang? Atau mereka dimakan siluman yang menelan mereka bulat-bulat.”

“Sudahlah, jangan omong kosong lagi, aku menjadi gemetar, selamanya tak pernah kulihat kejadian aneh seperti sekarang ini. Ayolah kita lekas pergi saja!”

“Pergi, bagaimana caranya pergi?”

“Bukankah kau punya akal?”

“Aku pun kehabisan akal,” ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas. Mendadak ia berteriak pula, “Tidak, tempat ini sangat mencurigakan, harus kucari sampai ditemukan di mana letak keanehannya.”

Segera ia mencari dan mencari ke pelosok tadi, semuanya diteliti kembali. Tapi pohonnya ya pohon tadi, tanah rumputnya juga tanah rumput tadi, semuanya sama, tiada sesuatu yang baru …. Mendadak ia berseru, “Hah, pasti ada orang lain lagi di sini!”

“Tempat setan ini mana ada orang lain lagi?” ujar si nyonya.

“Lihatlah tanah berumput ini, jika rumput ini tumbuh secara liar tentu tidak serajin dan sebersih ini. Sebab itulah kupikir di sini pasti ditinggali orang, tentu ada orang senantiasa merawat tumbuhan di sini.”

“Ah, jika betul seperti penemuanmu, maka legalah hatiku,” kata si nyonya, tapi mendadak ia mengernyitkan dahi dan menyambung, “Lalu, mana … mana orangnya?”

“Orangnya? …. Orangnya….” Siau-hi-ji menjadi bingung juga, ia coba mencari pula, tapi jangankan manusia, bayangan setan pun tidak diketemukan.

Teka-teki, sungguh teka-teki yang sukar dibayangkan dan dipecahkan.

“Sudahlah, aku tak berani memikirkannya lagi, bisa pecah kepala dan kopyor otakku!”

“Kau tidak perlu pikir, cukup aku saja yang pikir,” kata Siau-hi-ji.

Padahal ia pun menghadapi jalan buntu, kepalanya pusing.

Sementara itu hari sudah mulai gelap, Siau-hi-ji masih terus berkeliling, perut sudah kelaparan. Tapi tempat setan ini hanya ada pohon tanpa buah. Kawanan kera juga tidak dapat turun ke situ, jika selekasnya tidak ditemukan jalan keluarnya, bisa jadi dia akan mati kelaparan di sini.

Sering Siau-hi-ji bersemboyan bahwa baginya di dunia ini tiada sesuatu yang sukar. Tapi sekarang ia merasakan orang yang bicara demikian kalau bukan orang gila tentulah orang tolol.

Ia menjadi malu untuk memandang si nyonya gaun hijau. Nyonya manis itu telah mempercayakan segalanya kepadanya. Nyatanya pilihannya keliru. “Tidurlah, paling penting tidur dulu, jika mungkin biarlah tidur selamanya dan tidak mendusin lagi …”

Pada saat itulah didengarnya si nyonya gaun hijau sedang memanggilnya, “He, lekas kemari, lekas!”

Waktu Siau-hi-ji menoleh, nyonya itu tidak kelihatan lagi. Segera ia pun berseru, “Di mana kau? Apakah kau pun bisa ilmu menghilang.”

“Di sini, aku berada di sini!” seru nyonya itu. Suaranya datang dari balik pohon sana.

Batang pohon itu sangat besar, tinggi dan rindang, daunnya menghijau aneh, sejak mula Siau-hi-ji sudah menaruh curiga di balik pohon ini pasti ada sesuatu yang aneh.

Secepat terbang ia lari ke sana. Dilihatnya nyonya bergaun hijau itu berjongkok di belakang pohon, tanpa bergerak, seperti orang lagi berdoa. Hanya matanya saja tampak melotot.

“He, apa yang kau lakukan di situ? Sembahyang?” tanya Siau-hi-ji.

“Lekas kemari, lihat ini!” seru si nyonya.

Terpaksa Siau-hi-ji berjongkok, katanya setelah mengamati sejenak “Apanya yang dilihat? Kan cuma …. He, benar, ya, ini dia!”

Rupanya tiba-tiba ditemukannya sesuatu keganjilan pada batang pohon itu, kulit pohon bagian bawah ternyata berbeda daripada kulit batang pohon bagian atas. Bagian bawah licin, bagian atas kasar.

“Lihatlah kulit pohon ini seperti sering dijamah tangan,” demikian kata si nyonya. “Untuk apa orang meraba kulit pohon ini, kukira hanya ada satu jawaban, yakni di dalam pohon ini pasti ada sesuatu pesawat rahasia, bisa jadi adalah sebuah pintu.”

“Otakmu ternyata cukup encer, matamu juga cukup jeli,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa gembira.

“Terima kasih!” ucap si nyonya.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, tiba-tiba ia mengetuk batang pohon beberapa kali sambil berseru, “Sepada! Permisi!”

Siau-hi-ji memang suka bercanda, di mana dan kapan saja. Tapi kelakarnya sekarang ini bukannya tiada maksud tujuan, dia ingin tahu batang pohon itu berisi atau kosong. Mimpi pun tak pernah terpikir olehnya akan ada jawaban dari dalam batang pohon.

Betul, memang tiada sesuatu jawaban, akan tetapi kulit pohon yang baru diketuknya itu tiba-tiba menggeser. Batang pohon besar itu mendadak merekah menjadi sebuah pintu.

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terkatakan, cepat ia melompat mundur. Si nyonya gaun hijau tampaknya juga ketakutan sehingga tetap berjongkok di tempatnya tanpa bergerak.

Pohon itu ternyata benar kopong bagian dalamnya. Dengan melotot Siau-hi-ji mengawasi liang pohon yang gelap itu dan membentak, “Siapa yang berada di situ? Setan atau manusia? Semuanya menggelinding keluar!”

Namun tiada sesuatu suara di dalam liang pohon itu, sampai lama sekali tetap tiada sesuatu jawaban.

Siau-hi-ji mendekati pohon itu dengan perlahan sambil menahan napas.

“Jangan mendekat, bi … bisa jadi di situ ada apa-apa,” kata si nyonya dengan suara gemetar.

“Takut apa? Jika benar dia lihai, mengapa dia tidak berani keluar.”

“Kau … kau hendak masuk ke situ?”

Seketika Siau-hi-ji merandek, jawabnya, “Ma … masuk ke situ ….” dia dehem keras sekali, lalu berteriak, “Ya, sudah tentu akan kumasuki, tempat inilah satu-satunya petunjuk, mana boleh tak kuselidiki.”

Pada saat itulah tiba-tiba terendus bau sedap, bau ayam goreng kecap dengan bumbu Ngohiang yang harum.

Hidung Siau-hi-ji bergerak-gerak seperti pelacak. Baginya sekarang bau sedap itu adalah bau yang paling menarik di seluruh dunia ini, ia menelan air liur beberapa kali, lalu berseru, “Di dalam situ pasti ada manusia, setan tidak makan ayam goreng, biarpun siluman juga makan ayam, tapi tidak mungkin digoreng dan sebagainya … jika ada manusianya, maka tidak perlu ditakutkan lagi.”

Sembari berkata ia terus memungut sepotong batu kecil dan dilemparkan ke dalam liang. Terdengar segera suara “tek” satu kali.

“He, liang ini tidak dalam!” seru Siau-hi-ji.

“Kau sungguh orang yang cermat. Hati-hati jika masuk ke situ,” pesan si nyonya dengan suara lembut.

“Jangan khawatir, kau tunggu sebentar di sini,” kata Siau-hi-ji.

“Ti … tidak, tinggal sendirian di luar sini aku bisa ketakutan setengah mati, biar kuikut masuk ke situ saja.”

“O, perempuan ….” ucap Siau-hi-ji sambil berpaling memandang nyonya cantik itu. “Baiklah, mau ikut, ayolah!” Habis berkata sebelah kakinya lantas melangkah ke dalam liang pohon itu.

Memang benar kopong batang pohon itu, meski tidak terlalu dalam, tapi sangat gelap.

Si nyonya gaun hijau menggandul Siau-hi-ji erat-erat dari belakang, katanya dengan suara gemetar, “Aneh, di sini toh tiada orangnya.”

“Ada, pasti ada,” kata Siau-hi-ji.

“Tempat sesempit ini, mana dapat ditinggali orang?” ujar si nyonya.

Memang, luas liang pohon itu paling-paling cuma satu meter persegi, mana mungkin dibuat tempat tinggal orang?

“Ya, memang aneh, padahal bau Ang-sio-keh (ayam goreng saus) tadi teruar dari sini.”

“Bau sedap itu seperti keluar dari bawah ….” belum habis ucapannya mendadak tempat berpijak mereka itu longsor ke bawah. Dengan ketakutan nyonya cantik itu merangkul Siau-hi-ji sambil menjerit tertahan.

“Jangan takut,” ucap Siau-hi-ji dengan mata terbelalak. “Biarlah kita turun ke situ untuk melihat apa sesungguhnya tempat ini?”

Tubuh mereka masih terus menurun ke bawah dan sekeliling mereka tetap gelap, mereka seperti berdiri di tengah-tengah sebuah tabung, sebuah tabung raksasa yang dapat bergerak. Lift atau tangga listrik menurut istilah jaman sekarang.

Dengan erat si nyonya gaun hijau memegangi tangan Siau-hi-ji, tangannya yang putih halus itu kini terasa dingin dan basah, perempuan yang lihai ini kini berubah menjadi begini penakut, sungguh sukar untuk dipahami.

Tapi Siau-hi-ji mempunyai penjelasannya, “Perempuan. Betapa pun ia tetap perempuan.” Akhirnya “tabung bergerak” itu berhenti, pandangan Siau-hi-ji terbeliak, sebuah pintu terbuka, cahaya remang-remang menembus masuk dari luar pintu. Bau Ang-sio-keh tadi pun semakin keras.

Tanpa pikir Siau-hi-ji melompat keluar. Di luar adalah sebuah lorong. Kedua sisinya adalah dinding berukir indah dan bagian-bagian lekukan tertentu terdapat lampu tembaga yang bersinar.

“Sungguh luar biasa, tempat ini ternyata begini mewah dan terawat begini rapi,” demikian Siau-hi-ji bergumam.

Baru saja dia hendak menoleh untuk memanggil keluar si nyonya gaun hijau, mendadak terdengar jeritan ngeri, kiranya pintu tabung baja tadi tiba-tiba menutup pula dan tabung itu bergerak ke bawah lagi. Suara jeritan ngeri si nyonya terus-menerus terdengar, “Tolong … api … tolong, aku bisa mati terbakar … tolong ….”

Siau-hi-ji terkejut dan kelabakan, ia bermaksud menarik, tapi tabung baja itu sangat kuat, mana bisa bergeming. Ia ingin ikut melompat ke bawah mengikuti gerak tabung itu, tapi setelah bagian atas tabung rata dengan lorong ini, lalu tabung itu tidak bergerak turun lagi, hanya suara jerit ngeri minta tolong si nyonya masih terdengar.

Dengan segala daya upaya Siau-hi-ji berusaha membuka atap tabung itu, tabung itu terbuat dari baja, sia-sia saja ia membuang tenaga. Sementara itu suara si nyonya gaun hijau semakin lama semakin lirih, akhirnya suaranya berhenti mendadak, keadaan menjadi sunyi senyap seperti dunia sudah kiamat.

Siau-hi-ji mematung di situ. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa si nyonya cantik itu dapat terbakar hidup-hidup di dalam tabung itu. Biarpun hati perempuan itu keji dan juga tiada sesuatu sangkut-paut dengan dirinya, tapi dengan sepenuh hati perempuan itu telah mempercayakan nasibnya kepadanya, namun akhirnya toh mengalami nasib malang begini.

Ternyata perempuan itu telah salah pilih orang yang dipercayainya, ya, salah pilih ….

Mata Siau-hi-ji menjadi basah dan pedih hatinya. Mendadak ia berteriak, “Wahai, dengarlah! Tak peduli siapa dirimu, yang pasti kau takkan dapat menggertak dan membinasakan diriku, sebaliknya aku pasti akan membunuhmu!”

Namun tiada sesuatu jawaban di lorong itu. Dengan menggereget akhirnya Siau-hi-ji melangkah ke depan.

Lorong bawah tanah itu tidak terlalu panjang, Ujung lorong ada sebuah pintu berukir indah. Tampaknya melulu bangunan lorong bawah tanah ini saja sudah cukup banyak makan biaya dan tenaga, entah makhluk aneh macam apa yang mempunyai bangunan ini.

Lorong itu ternyata tidak dikunci, sekali dorong saja Siau-hi-ji dapat membuka pintu itu. Langsung ia masuk ke situ, ia sendiri tidak tahu dari mana timbulnya keberanian, ia hanya merasa dirinya pasti tak bisa mati. Sebab kalau dia harus mati tentu sudah terbakar di dalam tabung tadi. Ia merasa pemilik lorong ini tak ingin membunuhnya, apa sebabnya ia pun tidak jelas.

Apa yang dipikir Siau-hi-ji tidak banyak, inilah kunci caranya berpikir. Asalkan soal pokoknya sudah tertangkap sedikit, selebihnya tidak perlu dipikirkan lagi, kalau berpikir terlalu banyak akan bertambah ruwet malah.

Dan kini ia tidak perlu menggunakan otak lagi melainkan menggunakan matanya. Ia lihat si balik pintu itu adalah sebuah ruangan. Dengan sendirinya ruangan ini jauh mewah daripada pajangan di lorong tadi. Ada bangunan semegah ini di bawah tanah, sungguh sulit untuk dibayangkan orang.

Selain tak berjendela, tempat ini pada hakikatnya serupa dengan ruangan duduk bangunan megah orang kaya di atas bumi, bahkan pajangan dan tata riasnya jauh lebih indah. Namun di ruangan duduk itu pun tiada seorang pun.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Pemilik tempat ini meski terhitung makhluk aneh, tapi juga tergolong tahu menikmati kehidupan.”

Sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa dan berkata, “Haha, tidak tersangka saudara ini adalah kawan sepaham tuan rumah di sini.”

Meski suara itu bernada lelaki, tapi perlahan dan halus mirip suara perempuan pula.

Cepat Siau-hi-ji berpaling, namun tiada nampak seorang pun, segera ia membentak, “Siapa? Di mana kau?”

“Kau tidak dapat melihat diriku, tapi aku dapat melihat dirimu,” ucap suara itu dengan tertawa.

Meski tidak nampak seorang pun, tapi Siau-hi-ji melihat sebuah pintu lagi, segera ia menerobos ke sana, di balik pintu ternyata sebuah ruang duduk pula. Di tengah ruangan ada sebuah meja, di atas meja tertaruh sebuah mangkuk besar warna biru langit. Bau sedap yang membuat ngiler Siau-hi-ji tadi ternyata teruar dari mangkuk ini.

Memang benar, isi mangkuk itu adalah seekor ayam goreng saus. Keruan mata Siau-hi-ji melotot, seketika dan berulang-ulang menelan air liur.

Terdengar suara tadi bergema pula dari sudut lain, katanya dengan perlahan, “Kang Hi, Ang-sio-keh itu sangat empuk dan lezat, khusus di sediakan untukmu.”

Tergetar tubuh Siau-hi-ji, teriaknya, “He, dari … dari mana kau tahu namaku?”

“Tuan rumah di sini serba tahu segalanya,” ucap suara itu dengan tertawa.

Siau-hi-ji melengak dan menyurut mundur dua langkah, katanya kemudian, “Sesungguhnya-apa yang kalian kehendaki atas diriku?

“Besar sekali nyalimu kau berani menerobos ke sini,” kata suara itu. “Tapi kalau kau benar-benar pemberani, ayolah makan ayam goreng itu, berani?”

Dengan melotot Siau-hi-ji pandang ayam goreng itu, jelas ayam goreng itu sangat menarik, empuk, sedap, sungguh membuatnya meneteskan air liur. Tapi bagaimana akibatnya setelah makan ayam goreng itu? Mati? Atau bisa pingsan? Atau menjadi gila?

Tapi biarpun dia tidak makan ayam goreng itu, lalu bisa apalagi.

Mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Hahaha, kau kira aku tidak berani makan?” Habis itu, tanpa pikir lagi ia terus ambil santapan lezat itu, seekor ayam goreng itu dimakannya habis bersih.

“Bagus, besar nyalimu!” kata suara itu.

Siau-hi-ji gosok-gosok tangannya yang berlepotan saus itu pada celananya, lalu berkata dengan tertawa, “Apa yang kutakuti? Seumpama kalian bukan manusia, semisal ayam goreng ini beracun. Semuanya bukan soal bagiku. Jika kalian setan, kalau kumati keracunan kan juga akan menjadi setan? Apalagi kalau kalian inginkan kematianku aku juga masih banyak jalan lain, buat apa mesti susah payah menyuguh ayam goreng padaku?” Biar di mulut ia bicara seenaknya, tapi di dalam hati sebenarnya juga khawatir. Ia merasa lawan ini sangat menakutkan, soalnya ia tidak jelas siapakah pihak lawan dan juga tidak tahu apa maksud tujuan mereka. Yang lebih aneh adalah mereka tahu nama dirinya.

“Memangnya kau kira ayam goreng itu tidak beracun?” terdengar suara tadi berkata pula.

“Jadi ayam goreng ini beracun?” Siau-hi-ji sengaja tertawa. Tapi baru saja ia tertawa beberapa kali, mendadak ia benar-benar roboh terkulai tak sadarkan diri.

Namun Siau-hi-ji tidak mati, orang macam dia ini tidaklah mudah mati, waktu dia siuman, terasa seluruh tubuh lemas lunglai tanpa tenaga sedikit pun. Keadaan gelap gulita, apa pun tak terlihat dan tak terdengar sesuatu suara.

Dalam kegelapan ia berbaring dengan tenang, apa pun tak dipikirkan lagi. Semua pengalamannya itu toh sukar dipecahkan, kalau dipikirkan kepala bisa pusing malah.

Akhirnya terdengarlah suara dalam kegelapan. Tetap suara yang halus itu dan sedang menegurnya, “Kang Hi, kau sudah mendusin.”

“Ehm,” dengus Siau-hi-ji.

“Tahukah saat ini kau sudah mati atau masih hidup? Tahukah saat ini kau berada di mana dan tahukah cara bagaimana kau akan kami perlakukan?”

“Tidak, tidak tahu, semuanya tidak tahu.”

“Habis apa saja yang kau ketahui? Jadi kau mengaku tidak tahu segalanya? Haha, bagus, bagus! Seorang yang berani mengakui kepicikannya, betapa pun masih terhitung pintar juga.”

Siau-hi-ji tidak menanggapi, memang tiada sesuatu yang dapat dikatakan lagi.

“Sekarang coba pentang matamu lebar-lebar, tunggu dan lihatlah!” baru habis ucapan itu, sekonyong-konyong cahaya terang benderang.

Siau-hi-ji mendapatkan dirinya masih rebah di tempat tadi, tapi di kursi sekitarnya entah sejak kapan sudah duduk tujuh atau delapan orang.

Beberapa orang itu sama memakai jubah panjang yang longgar dan lemas, paling tua usianya baru likuran, semuanya berwajah putih bersih. Meski mereka lelaki semuanya, tapi tampaknya mirip perempuan, setiap orang duduk bermalas-malasan seperti habis kerja keras. Semuanya memandang Siau-hi-ji dengan menyengir.

“Kalian tuan rumah di sini?” tanya Siau-hi-ji.

Serentak beberapa orang itu menggeleng.

“Jadi kalian bukan tuan rumah di sini?”

Kembali orang-orang itu mengangguk bersama.

Orang-orang itu sama-sama lemas tak bertenaga seakan-akan tubuh mereka tak bertulang lagi. Meski masih hidup, tapi tidak berbeda banyak dengan orang mati.

“Siapakah sebenarnya majikan kalian? Mengapa tidak menemuiku? Jika dia bukan lelaki bukan perempuan seperti kalian dan mirip orang hampir mampus, huh, percuma juga aku menemui dia.”

Orang-orang itu tidak marah, mereka masih tetap memandang Siau-hi-ji dengan tertawa. Seorang di antaranya membuka suara, “Jangan kau mengejek kami, tiga bulan kemudian kau juga akan berubah seperti kami ini.”

“Huh, persetan, omong kosong!” dengus Siau-hi-ji.

“Kau tidak percaya? Lihat saja nanti, biarpun kau bertubuh sekuat baja juga takkan sanggup meladeni dia,” kata orang itu dengan tertawa.

“Dia? Dia siapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Dia adalah ratu kami,” jawab orang itu.

“Ratu? Siapa ratu kalian?”

Tiba-tiba suara nyaring merdu genit menukasnya, “Akulah Ratu di sini!”

Suara itu seperti sudah dikenal baik oleh Siau-hi-ji. Cepat ia menoleh, maka tertampaklah orang yang bersuara itu, siapa lagi dia kalau bukan si nyonya muda bergaun hijau yang baru saja “mati terbakar” hidup-hidup itu.

Seketika Siau-hi-ji melongo terkesima, matanya terbelalak sebesar telur.

“Orang paling pintar di dunia ini, benarkah tiada seorang pun yang mampu menipu kau?” demikian nyonya jelita itu berseloroh sambil menatap mesra Siau-hi-ji.

Sejenak pula Siau-hi-ji terkesima memandangi nyonya muda itu, katanya kemudian, “Pantas mayat kedua orang itu lenyap tanpa bekas, pantas kau bisa menemukan jalan masuk lorong bawah tanah itu, kiranya kau sendiri adalah tuan rumah di sini. Kau … kau memang telah berhasil menipu aku.”

“Sekarang kau mengaku kalah?”

“Ya, aku mengaku kalah. Sudah kukatakan bahwa kau adalah siluman perempuan yang menipu mati orang tanpa ganti nyawa, cuma tak terpikir olehku bahwa kau ini siluman yang timbul dari bawah tanah.”

Tubuh nyonya jelita itu berputar gemulai dan meliukkan pinggang, katanya dengan tertawa, “Bagaimana pendapatmu atas istanaku ini?”

“Hebat, sungguh hebat,” jawab Siau-hi-ji.

“Bagaimana pandanganmu atas para selirku ini?” tanya pula si nyonya sambil mengerling genit.

Mata Siau-hi-ji melotot kaget, ia menegas, “Selir? …. Maksudmu … mereka ini selirmu?”

Si nyonya tertawa cekikik-kikik, jawabnya, “Ya, kalau lelaki boleh punya beberapa bini dan satu rombongan gundik, kenapa perempuan tidak boleh?”

“O, ya, boleh, tentu boleh ….” Siau-hi-ji meringis serba runyam. Mendadak ia melotot pula dan berseru, “He, jangan-jangan … jangan-jangan … kau pun akan menjadikan diriku sebagai … sebagai selirmu?”

Si nyonya gaun hijau memandangnya lekat-lekat, jawabnya dengan tersenyum, “Tidak!”

Tentu saja Siau-hi-ji merasa lega. Tapi tiba-tiba si nyonya jelita menyambung pula dengan suara lembut, “Kau akan kujadikan permaisuriku!”

Sampai sekian lama Siau-hi-ji melenggong. Mendadak ia tertawa keras, terpingkal-pingkal hingga perutnya mulas dan hampir tak dapat bernapas. Selama hidupnya belum pernah dia tertawa geli begini.

“Kau sangat gembira?” tanya si nyonya.

“Gembira, ya gembira sekali!” seru Siau-hi-ji. “Urusan gila macam apa pun pernah kubayangkan, tapi mimpi pun tak pernah kupikir bahwa pada suatu hari aku akan menjadi permaisuri.”

“Kau tidak sudi?” tanya si nyonya genit.

“Mengapa aku tidak sudi?” tukas Siau-hi-ji dengan terbelalak. “Berapa lelaki di dunia ini dapat menjadi permaisuri?”

Mendadak ia duduk di atas meja dan berteriak kepada beberapa orang linglung tadi, “Hai, lekas kalian menyembah kepada Yang Mulia Permaisuri baru kalian!”

Beberapa lelaki linglung tadi saling pandang dengan bingung, tapi akhirnya mereka pun mendekati anak muda itu.

“Cukup menjura tiga kali saja, tidak perlu banyak-banyak,” kata Siau-hi-ji.

Para pemuda linglung tadi berpaling ke arah si nyonya gaun hijau, tampak nyonya itu mengangguk dengan tertawa, maka mau tak mau mereka pun menjura dan menyembah.

“Habis menyembah sang permaisuri bolehlah kalian keluar saja,” kata Siau-hi-ji. “Sekarang aku ingin minum arak bersama Sri Baginda Ratu. Nah, lekas keluar …. Para selir jangan sekali-kali bersaing dengan sang permaisuri jika kepala kalian tidak ingin dipenggal.”

Para pemuda linglung tadi memandang Siau-hi-ji dengan terkesima, tampaknya mereka benar-benar ketakutan, mendadak mereka munduk-munduk dan meninggalkan ruangan itu.

“Hebat, sungguh hebat, enak juga rasanya menjadi permaisuri!” ucap Siau-hi-ji sambil berkeplok gembira.

Nyonya bergaun hijau tertawa geli, katanya kemudian, “Sungguh menarik kau setan cilik ini. sudah belasan tahun kutinggal di sini, tapi belum pernah segembira sekarang ini.”

“Mulai sekarang, setiap hari akan kubuat kau bergembira, biarpun kau sendiri berjuluk ‘Bi-si-jin-put-pwe-beng’ (memikat orang sampai mati juga tidak perlu ganti nyawa), aku akan selalu memikat kau sampai mati.”

Mendadak nyonya genit itu tidak tertawa lagi, matanya melotot, ia tanya, “He, dari … dari mana kau tahu julukanku?”

“Bukan saja kutahu julukanmu, bahkan kutahu kau bernama Siau Mi-mi kau pun termasuk satu di antara ke-10 top maha penjahat,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Meski kau kelihatan masih cantik dan genit, tapi sebenarnya usiamu sudah 40-50 tahun. Tapi jangan khawatir, aku takkan mencela kau sudah tua? Tua keladi, makin tua makin mendidih!”

Sekaligus anak muda itu mengucapkan serentetan asal-usul orang, seketika nyonya gaun hijau jadi melenggong.

Segera Siau-hi-ji menambahkan pula, “Ayolah, jangan cuma berdiri melongo saja, waktu adalah emas, lekas kemari bermesraan dengan daku sang permaisuri ini.”

Nyonya itu memandangnya lekat-lekat, katanya kemudian, “Kau hanya keliru mengucapkan satu hal.”

“O, apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Usiaku tahun ini baru 37,” kata si nyonya.

“Bukan soal, seumpama umurmu baru 17 juga boleh, jangan bicara soal umur dengan kaum wanita, semboyan ini sudah kupahami sejak kecil.”

“Salah ucap dalam hal lain tidak menjadi soal, tapi kalau kau salah omong tentang usia perempuan, maka dia pasti takkan mengampuni kau.”

“Hal lain juga takkan salah kuucapkan.”

“Betul, hal lain memang tidak salah kau ucapkan aku inilah Siau Mi-mi,” kata si nyonya genit sambil mendekati Siau-hi-ji, tangannya yang putih halus itu lantas merangkul bahu sang “permaisuri”, lalu bertanya pula dengan tertawa manis, “Tapi dari … dari manakah kau mengetahui akan seluk-beluk diriku?”

Tangan yang halus disertai tawa menggiurkan. Tapi di balik tertawa itu terkandung hasrat membunuh dan tangan yang putih mulus itu pun dapat membinasakan orang dalam waktu sekejap, semua ini pun diketahui Siau-hi-ji. Tapi dia justru pura-pura tidak tahu, dengan tertawa ia menjawab, “Aku sudah tahu siapa kau ini, tapi apakah kau tahu siapa aku?

Siau Mi-mi si ahli pikat, tampak berpikir dengan mengerling genit, katanya, “Kau ? ….”

“Jika Cap-toa-ok-jin juga mempunyai seorang sahabat, maka orang itu ialah diriku, Kang Hi, Kang Siau-hi.”

“Kau … kau berani mengaku sebagai sahabat Cap-toa-ok-jin?”

“Memangnya kau sangka aku ini orang baik?”

“Dengan sendirinya kau ini bukan orang baik-baik, tapi kau masih kecil, masih hijau, mana pantas menjadi Ok-jin (orang jahat). Kukira kau ini mungkin … mungkin utusan siluman tua bangka itu, betul tidak? Kalau tidak, dari mana kau kenal akan diriku?”

“Aku memang kenal beberapa biji Lo-yau-koay (siluman tua),” jawab Siau-hi-ji.

“Berapa biji?” tanya Siau Mi-mi.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Haha, caramu menikam harus sedemikian rupa sehingga pisaumu sudah bersarang di tubuh lawanmu juga masih belum dirasakannya, hahaha …. He, harus hati-hati caramu menyembelihnya, terlalu banyak mengalirkan darah dagingnya akan terasa kecut …. Hm, bunuh saja dan tidak perlu banyak cincong …. Ai, kau manusia banci ini …. Hihi, sudikah engkau padaku ….”

Begitulah Siau-hi-ji menirukan cara bicara Ha-ha-ji, Li Toa-jui, Toh Sat, Im Kiu-yu dan To Kiau-kiau, bukan saja suaranya sama, bahkan lagak lagunya juga persis.

Siau- Mi-mi terbelalak, katanya kemudian dengan tertawa genit, “Kau setan cilik ini benar-benar kenal mereka? Cara bagaimana kau bisa kenal mereka?”

“Sejak kecil aku dibesarkan di Ok-jin-kok.”

Segera Siau Mi-mi menurunkan tangannya, katanya sambil berkeplok tertawa, “Pantas, makanya kau pun berubah menjadi setan cilik, kiranya kau dibesarkan bersama mereka …. Eh, apakah mereka sering membicarakanku?”

“Ya,” jawab Siau-hi-ji. “Bagaimana kata mereka?”

“Mereka berpesan padaku apabila bertemu dengan kau harus hati-hati agar jangan sampai terpikat olehmu. Mereka bilang engkau tidak kenal lawan atau kawan, keluarga atau bukan, asal ketemu orang lantas memikat.”

“Buset! Kau percaya ocehan mereka?” Siau Mi-mi terkikik genit.

Dengan memicingkan mata Siau-hi-ji menjawab, “Dapat berjumpa dengan orang seperti kau, biarpun mati terpikat juga aku rela.”

“Ai, setan cilik, bisa jadi aku yang akan mati terpikat oleh mulutmu yang manis ini.”

“Dan sekarang bolehkah kau mengajak minum arak bersamaku?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Waktu arak disuguhkan, yang melayani ternyata seorang anak.

Anak ini berwajah bersih, tapi rada kurus dan pucat seperti anak kurang normal pertumbuhannya. Melihat lagaknya seperti lebih tua daripada Siau-hi-ji, tapi perawakannya lebih kecil.

Sambil munduk-munduk anak muda itu memegang nampan dengan tangan rada gemetar, tapi sepasang matanya selalu melirik dada Siau Mi-mi yang montok itu.

“He, Siau-sik-kui (setan perempuan cilik), apa yang kau pandang?” tegur Siau Mi-mi.

Muka anak muda itu menjadi merah, ia tertunduk dan menjawab, “O, ti … tidak ….”

“Apakah kau ingin mencium aku?” tanya Siau Mi-mi dengan tersenyum genit.

Tambah merah muka anak muda itu.

“Kemarilah, kalau ingin cium ya cium sajalah, kenapa malu-malu,” kata Siau Mi-mi.

Eh, benar juga, mendadak anak tanggung itu menaruh nampannya terus menubruk ke arah Siau Mi-mi dan merangkulnya.

Tapi mendadak sebelah tangan Siau Mi-mi menampar, “plak”, kontan anak itu tergampar hingga jatuh tersungkur.

“Mulutmu bau, tidak pernah sikat gigi, lekas enyah!” damprat Siau Mi-mi.

Siau-hi-ji geleng-geleng kepala menyaksikan semua itu, tiba-tiba dilihatnya ketika membalik ke sana wajah anak tanggung itu menampilkan rasa dendam dan benci yang tak terperikan, sungguh membuat orang merasa ngeri. Tapi waktu berdiri lagi, kembali anak itu mengunjuk sikap memelas seperti pengemis kecil yang minta dikasihani, lalu melangkah pergi dengan munduk-munduk.

“Apakah anak kecil ini pun selirmu?” tanya Siau-hi-ji.

“Memangnya kau cemburu?” jawab Siau Mi-mi dengan tertawa.

“Ai, kau benar-benar perusak daun muda.”

“Jangan kau sangka dia masih kecil, sesungguhnya dia teramat busuk, lebih-lebih dalam hal ….” mendadak muka Siau Mi-mi merah jengah dan mengomel pula, “Bisa jadi Siau-sik-kui itu jauh lebih busuk daripadamu.”

“Belum tentu,” ujar Siau-hi-ji. “Anak yang lebih busuk daripadaku belum lagi lahir. Kulihat dia sangat merana, mungkin teramat menderita disiksa olehmu.”

“Aku memang sengaja menyiksa dia sampai mati,” kata Siau Mi-mi.

“Sebab apa kau benci padanya? Dia kan cuma seorang anak kecil.”

“Meski dia masih kecil, tapi ayahnya …. Hm, di dunia ini tiada manusia yang terlebih keji dan culas seperti ayahnya.”

“O, apakah ayahnya bisa lebih culas daripada Im Kiu-yu dan lebih keji daripada Li Toa-jui misalnya?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Biarpun Im Kiu-yu dan Li Toa-jui cukup culas dan keji, tapi sekali pandang saja setiap orang akan tahu kebusukan mereka. Sedangkan ayah anak tadi, sekalipun segala kejahatan telah diperbuatnya, tapi khalayak ramai masih menyebutnya sebagai pendekar besar budiman.”

Sejak tadi Siau-hi-ji tidak bertanya nama ayah anak tanggung itu, dan Siau Mi-mi juga tidak menerangkan.

Dalam pada itu anak tanggung tadi telah muncul kembali dengan membawa talam, ada arak, ada makanan.

Tiba-tiba Siau-hi-ji berkata sambil tepuk-tepuk perut sendiri, “Sebelum makan minum, lebih dulu aku harus menguras gudang.”

“Buset!” omel Siau Mi-mi.

“Kalau sang Permaisuri masuk kakus kan harus dilayani salah seorang selir?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Lalu dia tarik tangan anak tanggung itu dan mengajaknya, “Ayo, antarkan aku!”

“Hati-hati jangan sampai kecebur dan makan kenyang di sana, daharan di sini masih menunggu kau,” seru Siau Mi-mi berseloroh.

Anak tanggung itu pun tidak menolak, dengan munduk-munduk ia berjalan di depan. Sambil memandangi punggung anak muda itu, Siau-hi-ji seperti sedang memikirkan sesuatu.

Bangunan istana di bawah tanah ini jelas diatur dengan sangat teliti, hampir setiap jengkal tanah tidak disia-siakan. Letak kakus adalah di pengkolan lorong panjang sana.

Sambil kada hajat, tiba-tiba Siau-hi-ji bertanya, “He, kau she apa?”

“Kang”, jawab anak itu.

“Kau juga she Kang? Sungguh kebetulan,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, sangat kebetulan.”

“Tampaknya kau lebih kecil daripadaku.”

“Ya, lebih kecil.”

“Apakah kau ini burung beo?”

Air muka anak muda itu tetap saja kaku, jawabnya, “Ya, terserah tuan mau bilang aku ini apa.”

“Kau jangan salah paham, tiada maksudku menghinamu.”

“Ya, terima kasih.”

“Siapa namamu?”

“Giok-long.”

Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, matanya mengerling, tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, “Aneh, tempat ini sudah di bawah tanah, dan masih ada jalan tembus lagi?”

“Di bawah ini tiada jalan tembus lagi, hanya ada kuburan,” jawab anak tanggung yang mengaku bernama Kang Giok-long itu.

“Kuburan? Kuburan siapa.?” tanya Siau-hi-ji.

“Konon kuburan para pekerja yang dulu membangun tempat ini.”

Kembali Siau-hi-ji mengerut kening, cepat ia berdiri dan berkata, “Banyak juga yang kau ketahui, tentunya sudah lama kau tinggal di sini.”

“Ehm, setahun.”

“Setahun? …. Cara bagaimana kau datang ke sini?’

“Tuan sendiri cara bagaimana datangnya?”

“Ya, betul, Siau Mi-mi tentu mempunyai cara sendiri untuk membawa kau ke sini …. Tampaknya di sini pasti ada jalan tembus untuk keluar, apakah …. apakah kau tahu?”

“Tidak tahu.”

“Tidak pernah kau selidiki?”

“Tidak pernah.”

“Masa kau tidak berusaha keluar, tidak ingin pulang?”

“Di sini sangat baik, sangat enak.”

Mendadak Siau-hi-ji mencengkeram pundak Kang Giok-long dan membentaknya dengan suara tertahan, “Engkau setan cilik ini jangan coba mengelabui diriku. Kutahu di dalam hati kau sangat dendam dan setiap saat juga berikhtiar untuk keluar. Tidak perlu berdusta, jika kau mau bekerja sama denganku, tentu kita dapat mencari akal untuk keluar.”

Sedikit pun wajah Kang Giok-long tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, katanya dengan hambar, “Jika tuan sudah selesai, silakan tuan kembali ke sana untuk dahar.”

Sekian lamanya Siau-hi-ji menatapnya dengan tajam, akhirnya ia berkata dengan sekata demi sekata, “Ingat baik-baik ucapanku tadi, ingat baik-baik setiap kataku.”

Kang Giok-long tetap jalan terbungkuk-bungkuk di depan. Sambil memandangi bayangan punggung orang Siau-hi-ji juga masih merenungkan sesuatu. Akhirnya mereka berada kembali di ruangan tadi.

Dengan tertawa Siau Mi-mi lantas berkata, “Tampaknya persediaan gudangmu tidaklah sedikit. Kukira kau tenggelam ke dalam kakus.”

Sambil meraba perut, Siau-hi-ji tertawa dan berkata, “Perut ini ….”

“Dia hanya pura-pura berak,” tiba-tiba Kang Giok-long memotong, “Yang benar dia ingin ajak aku membantu dia lolos dari sini, dia ingin mengorek keteranganku tentang jalan keluar dari sini.”

Seketika Siau Mi-mi mendelik, jengeknya, “Hm, Kang Hi, benarkah kau ingin kabur dari sini? Hm, untuk apa kau tanya dia? Tanyakan saja padaku dan akan kuberitahu.”

Siau-hi-ji tenang-tenang saja, bahkan dia malah bergelak tertawa, katanya, “Belasan tahun aku tinggal di Ok-jin-kok, masakah tempat ini terlebih buruk daripada Ok jin-kok? Aku sengaja mencoba hati si setan cilik ini, masa kau percaya pada ocehannya?”

“Padahal, baik sungguhan atau pura-pura toh tiada gunanya kau tanya dia,” ucap Siau Mi-mi acuh. “Jalan keluar dari sini selain aku sendiri tiada seorang pun yang tahu.” Lalu dia tepuk-tepuk kepala Kang Giok-long dan berkata pula, “Jujur juga kau ini.”

Kembali merah muka Kang Giok-long, katanya dengan menunduk, “Asalkan senantiasa berada di sisi Nio-nio (Sri Ratu) sungguh aku tidak ingin pergi ke tempat lain lagi.”

“Sudahlah, Siau-sik-kui, hari ini jangan kau pikirkan hal begituan lagi, pergilah tidur saja,” kata Siau Mi-mi dengan tertawa genit.

“Tapi dia ….” ucap Kang Giok-long sambil memandang Siau-hi-ji, “Apakah Nio-nio ….”

“Kau ingin kubunuh dia?” tanya Siau Mi-mi.

“Dia … dia sesungguhnya ….”

Belum lanjut ucapan Kang Giok-long, perlahan Siau Mi-mi telah menutuk jidatnya sambil mengomel dengan tertawa, “Sudahlah, lekas enyah, memangnya kau berhak cemburu?”

Dengan tunduk kepala terpaksa Kang Giok-long melangkah pergi.

Sama sekali Siau Mi-mi tidak memandang bocah itu lagi, setan cilik itu tidak diperhatikan olehnya, soalnya permainan gila apa pun dari bocah itu takkan lepas dari pengamatannya. Yang dia perhatikan sekarang ialah setan cilik yang satu lagi, yaitu Siau-hi-ji.

“Bocah itu sungguh telur busuk,” kata Siau-hi-ji kemudian dengan tertawa.

“Dia telur busuk, kau pun bukan barang baik,” kata Siau Mi-mi.

“Masa aku tidak lebih baik daripada dia?”

“Apakah kau tahu mengapa aku tidak membunuhmu?” tanya Siau Mi-mi dengan memicingkan mata.

“Sebab kau merasa sayang mematikan aku?”

“Benar, aku memang merasa sayang membunuhmu, aku justru ingin tahu sampai di mana kebaikanmu. Tentunya To Kiau-kiau telah mengajarkan beberapa jurus padamu, aku ingin mengujinya,” sembari bicara Siau Mi-mi lantas membaringkan diri di atas dipan di pojok sana, wajahnya menampilkan rasa kehausan dan penuh harap. Katanya pula dengan lembut, “Ayolah kemari, tunggu apa lagi? Memang perlu kuajari pula?”

Berputar-putar biji mata Siau-hi-ji, jawabnya dengan tertawa, “Perempuan kalau sudah berumur 36 memang sebuas serigala dan segalak harimau.”

“Kau takut?” tanya Siau Mi-mi.

“Anak banteng yang baru lahir tidak gentar pada harimau,” ucap Siau-hi-ji.

“Jika begitu tunggu apalagi?”

“Kukhawatir tidak ….”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak Kang Giok-long menerobos masuk dengan wajah pucat lesi, serunya dengan terputus-putus, “Ce … celaka … celaka ….”

“Kau mau apa?” bentak Siau Mi-mi gusar.

“Mati … mati semuanya,” kata Kang Giok-long.

“Mati …? Siapa yang mati?” tanya Siau Mi-mi.

“Lekas engkau me … melihat ke sana … mereka … mereka ….” belum selesai ucapannya, mendadak Kang Giok-long jatuh pingsan.

Orang mati, memang betul, mayat bergelimpangan di mana-mana, beberapa pemuda linglung tadi kini tiada satu pun yang tertinggal hidup, semua mati. Ada yang mukanya rusak dan sukar dikenali, ada yang lubang hidung, mulut dan telinga berdarah. Sampai orang tabah seperti Siau-hi-ji juga merasa ngeri menyaksikan adegan seram itu.

Siau Mi-mi rada gugup juga, ia berjingkrak gusar, “Ap … apa-apaan ini?”

“Jangan-jangan siluman tua itu diam-diam telah menyusup ke sini?” ujar Siau-hi-ji.

“Tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin,” kata Siau Mi-mi. “Jalan masuk ke sini jelas tiada yang tahu.”

Habis bicara, tahu-tahu orangnya lantas menerobos keluar, tapi baru sampai di ambang pintu, mendadak ia berpaling dan berkata dengan bengis, “Awas, jika kau berani menguntit kemari, bisa benar-benar kubunuh kau.”

“Jangan khawatir, aku masih ingin hidup lebih lama lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tapi begitu Siau-hi-ji sudah keluar dari pintu depan, dengan cepat sekali ia pun sudah berada di pintu belakang. Dia tahu Siau Mi-mi pasti akan memeriksa keadaan jalan keluar yang dirahasiakannya itu, namun ia tidak ingin mengintip rahasia itu, soalnya yang ingin dia intip adalah rahasia seorang lain lagi.

Begitulah ia lantas mendekam di lantai dan mengintip dengan satu mata. Dilihatnya Kang Giok-long yang jatuh pingsan tadi mendadak kepalanya mulai bergerak, lalu dengan satu mata juga dia memandang sekelilingnya. Dengan sendirinya dia tidak melihat Siau-hi-ji yang sembunyi di balik pintu belakang itu.

Siau-hi-ji diam saja dengan menahan napas dan tidak bergerak sedikit pun.

“Kang-kongcu ….” tiba-tiba Kang Giok-long berseru memanggil. “Kang Hi, marilah keluar saja.”

Berdebar juga jantung Siau-hi-ji, disangkanya Kang Giok-long telah mengetahui jejaknya. Tapi dia tetap diam saja.

Kang Giok-long menunggu pula sejenak, habis itu mendadak melompat bangun. Kini gerak tubuhnya tiba-tiba berubah gesit dan cepat sekali, lebih ringan daripada burung walet dan lebih licin daripada belut, hanya sekilas saja dia sudah menyelinap masuk sebuah pintu yang pernah dimasukinya ketika dia membawa Siau-hi-ji ke kakus.

Sebelumnya Siau-hi-ji sudah memperhitungkan arahnya, begitu Kang Giok-long menyelinap keluar pintu kecil itu, dengan cepat Siau-hi-ji juga menyusul ke tepi pintu kamar kecil dan tetap mengintip dengan sebelah matanya.

Dilihatnya tubuh Kang Giok-long bergerak-gerak seperti gangsir, kepalanya menyusup ke lubang kakus, maka secepat burung Siau-hi-ji lantas melayang ke sana. Jelas tertampak sekarang, ternyata Kang Giok-long telah membuka tutup jamban dan sedang menerobos ke dalamnya.

Akan tetapi baru saja setengah badan saja Kang Giok-long menggangsir, tiba-tiba pinggang terasa kesemutan, ikat pinggangnya juga telah dipegang orang terus ditarik mundur.

“Kau ingin kabur sendirian, tidak boleh jadi,” demikian terdengar suara Siau-hi-ji berseloroh.

Muka Kang Giok-long sekali ini benar-benar pucat ketakutan, katanya dengan gemetar, “Jangan … jangan bergurau.”

“Siapa ingin bergurau denganmu?” jengek Siau-hi-ji. “Hm, bicara terus terang saja, apa yang sedang kau lakukan?”

“Hamba … hamba ingin buang air besar,” tutur Kang Giok-long.

“Buang air besar? Buang air besar juga tidak perlu pakai menggangsir liang kakus!?” jengek Siau-hi-ji pula.

“Kuingin … ingin ….”

“Ingin makan tahi?” tukas Siau-hi-ji.

“Konon tahi berkhasiat menawarkan racun, karena … karena aku keracunan, maka … maka ….”

“Huh, kau setan cilik ini memang pintar putar lidah,” jengek Siau-hi-ji. “Tapi jangan kau harap bisa mendustai aku. Kalau tidak bicara terus terang, segera kuseret kau menghadap Siau Mi-mi dan memberitahukan padanya bahwa beberapa selir kesayangannya itu terbunuh olehmu.”

“Aku … aku tidak ….” Kang Giok-long menjadi gemetar.

“Kau sengaja membunuh mereka untuk memancing pergi Siau Mi-mi, habis itu kau lantas sembunyi di suatu tempat rahasia, setelah Siau Mimi tidak dapat menemukan dirimu, lalu kau mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari sini.”

“Kau … dari mana kau ….”

“Huh, hanya sedikit akal busukmu masakan dapat mengelabui aku? Sebelumnya memang sudah kuduga kau pasti akan berbuat sesuatu. Sekarang kalau kau masih ingin hidup, kau harus bekerja sama dengan aku.”

Akhirnya Kang Giok-long menghela napas, katanya, “Baik, aku menyerah. Ucapanmu memang tidak salah, tempat sembunyiku itu justru berada di dalam jamban ini. Selama setahun barulah aku berhasil menggalinya.”

“Sungguh luar biasa, tempat sembunyi dibuat di dalam jamban, masa tidak takut bau?”

“Jika ingin hidup, terpaksa tidak menghiraukan bau busuk lagi.”

“Tidak sedikit orang busuk yang pernah kujumpai, tapi bicara tentang kesabaran, kekerasan hati, betapa pun kau terhitung nomor satu, mau tak mau aku pun harus kagum padamu.”

“Sudahlah, waktu sudah mendesak, lekas lepaskan aku, akan kubawa engkau masuk ke situ.”

“Ya, bersihkan jalannya, supaya aku ….”

Baru saja Siau-hi-ji lepaskan pegangannya dan belum habis bicara, mendadak kedua kaki Kang Giok-long menendang secara berantai, sungguh tendangan keji dan jitu, padahal tampaknya dia tidak memiliki kepandaian setinggi ini.

Namun Siau-hi-ji juga sudah memperhitungkan segala kemungkinan, baru saja kaki lawan bergerak, segera Siau-hi-ji menutuk Hiat-to bagian kaki lawan sehingga setengah tubuh bagian bawah Kang Giok-long tak dapat bergerak lagi.

“Hm, kan sudah kukatakan padamu bahwa kau takkan mampu mengakali aku, ayolah lekas menerobos lagi!” jengek Siau-hi-ji.

“Aku … kakiku tak dapat bergerak lagi,” keluh Kang Giok-long.

“Kaki tak dapat bergerak, merangkak saja dengan tangan,” ucap Siau-hi-ji.

Kang Giok-long tidak berani banyak cincong lagi, ia benar-benar merangkak ke dalam dengan menggunakan tangan.

Liang jamban itu sebenarnya ada sebuah lubang untuk saluran kotoran, tapi sedikit di bawah mulut lubang itu telah digali lagi sebuah lubang kecil oleh Kang Giok-long sehingga tiba cukup untuk disusupi oleh tubuhnya. Jadi dia merangkak ke liang itu seperti gangsir.

Terpaksa Siau-hi-ji menahan napas dan ikut merangkak ke situ. Syukur hanya sebentar saja bau tahi tidak terasa lagi.

Sambil menggeleng dan menyengir Siau-hi-ji berkata, “Orang bilang aku ini siluman kecil, tapi kukira yang tepat disebut siluman kecil ialah dirimu. Hebat juga cara berpikirmu sehingga dapat menggali tempat sembunyi seperti ini.”

Lorong sempit di bawah tanah itu kira-kira dua-tiga meter panjangnya, pada ujung sana adalah sebuah gua, kecil, luasnya kurang lebih cuma dua meter persegi. Tapi di situ sudah disiapkan dua buah kasur dan selimut, ada lagi dua guci air minum dan satu guci arak, satu onggok dendeng, sosis dan wajik. Selain itu ada pula beberapa jilid buku.

Gegetun juga Siau-hi-ji menyaksikan semua itu, katanya, “Sungguh sempurna persediaanmu, tentu tidak sedikit memakan tenaga dan pikiranmu.”

Kang Giok-long tidak menjawabnya, ia sedang meringkuk di pojok sana sambil memandangi Siau-hi-ji dengan sorot matanya yang kemilau laksana mata ular berbisa.

Siau-hi-ji memandang anak muda itu, apakah dia ular atau rase tak dipedulikan. Siau-hi-ji tidak takut pada orang jahat, semakin jahat baginya semakin menarik.

Suasana di bawah tanah terasa sangat sunyi dan membuat orang merasa tidak betah, tapi keadaan itu pun melambangkan aman dan selamat. Gua di bawah tanah itu memang tempat yang aman, Siau-hi-ji yakin tiada orang yang mampu menemukannya di situ.

Dengan enak Siau-hi-ji duduk sambil selonjor di kasur, ia mengambil sepotong sosis, lebih dulu dibumbuinya, lalu digigitnya sebagian, rasa sosis itu ternyata lumayan, cukup sedap terutama bagi orang yang perutnya lagi lapar.

“Bersembunyi di dalam liang jamban, makan sosis di dalam jamban …. Hehe, kau benar-benar seorang jenius, Kang Giok-long,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kang Giok-long memandang ke arah lain dan bergumam, “Jenius! Ya, jenius ….”

“Menggali gua di dalam jamban, sungguh hanya orang yang berbakat istimewa saja yang dapat mempunyai gagasan begini,” kata Siau-hi-ji pula. “Padahal setiap saat kau diawasi dengan ketat oleh Siau Mi-mi, tapi pada waktu kau hendak buang air tentunya dia tak dapat membuntutimu.”

“Benar, ini memang gagasan dari bakat yang kuat, tapi tahukah kau gagasan yang timbul dari jenius ini telah berapa banyak memakan tenaga dan pikiran?”

“Coba uraikan, aku sangat suka mendengar keluhan orang.”

“Engkau hanya tahu sewaktu orang berak sambil menggali lorong di bawah tanah pasti sukar diketahui orang lain, tapi tahukah untuk menggali lorong ini diperlukan buang air berapa kali?”

“Ya, tidak sedikit jerih payahmu, jelas!”

“Dan pernahkah kau pikirkan setiap orang perlu buang air besar berapa kali dalam setahun? Kalau terlalu sering buang air besar apakah tak akan dicurigai orang?”

“Ya, ini … ini memang ….” Siau-hi-ji garuk-garuk kepala.

“Dan pernahkah membayangkan kalau seorang yang sedang buang air besar juga harus bekerja keras untuk menggali lubang di bawah tanah, lalu dibuang ke mana kotorannya? Memangnya ia tidak buang air besar selamanya?”

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala pula, katanya dengan menyengir, “Ehm, ini memang suatu persoalan. Kalau kau benar-benar buang air besar, itu berarti tidak ada waktu untuk menggali tanah. Jika kau menggali berarti tidak ada waktu untuk buang air besar. Ya, lantas bagaimana?”

“Bagaimana?” tukas Kang Giok-long dengan menyeringai. “Hehe, pasti takkan terpikir olehmu. Tuan besar macam dirimu tentu takkan pernah membayangkan betapa orang kecil macam diriku ini sanggup menderita.”

Ia merandek sejenak, sambil mendelik dan menggereget kemudian ia menyambung, “Terpaksa aku berbuat seperti anjing, sembari bekerja sambil buang air besar. Sebab aku tidak boleh membuang-buang waktu sedikit pun. Aku berhasil belajar cara membuka pakaian dalam waktu sesingkatnya, sekali pun kedinginan setengah mati juga harus telanjang bulat, sebab pakaianku tidak boleh dibikin kotor oleh kotoran dan tanah ….” mendadak ia berhenti karena merasa jijik dan ingin muntah.

Tiba-tiba Siau-hi-ji juga merasa mual, ia buang sisa sosis yang dipegangnya itu, ingin bicara sesuatu, tapi sampai lama ia tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Sambil menatap setengah potong sosis yang terbuang di tanah itu Kang Giok-long berkata pula dengan perlahan, “Tahukah apa sebabnya badanku sekurus ini?”

“Ku … kukira kau ….”

“Aku kurus karena kurang makan, setiap hari aku selalu kelaparan, sebab demi mengurangi kotoran isi perut, terpaksa aku makan sedikit, demi menabung ransum di sini, terpaksa aku menderita lapar.”

Kang Giok-long menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, lalu katanya pula, “Itulah kehidupan si jenius selama setahun ini, hidup sebagai anjing selama setahun dengan hasil gua sempit ini. Sedangkan kau tidak bekerja apa-apa, sekarang enak-enak berbaring di sini.”

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala, tiba-tiba ia tertawa dan bertanya, “Apakah kau tahu mengapa bisa begitu?”

“Aku ingin tahu,” jawab Kang Giok-long.

“Nah, dengarkan, sebabnya meski kau ini jenius, tapi aku ini adalah jeniusnya orang jenius, seorang kalau sepintar diriku, maka bebaslah dia dari segala penderitaannya.”

Kang Giok-long memandangnya lekat-lekat hingga lama sekali, akhirnya ia menunduk dan berkata, “Ya betul, aku memang tidak dapat dibandingkan dengan dirimu, aku sangat kagum padamu.”

Itu hanya kata-kata pujian saja, tapi entah mengapa, bagi pendengaran Siau-hi-ji, tiba-tiba timbul semacam rasa seram seakan-akan ucapan itu adalah kutukan yang paling keji.

Memang betul, anak muda pucat dan kurus kecil itu memang tidak sepintar dia, tidak secerdik dia, tapi kalau bicara tentang kekejian dan kelicikan, betapa pun Siau-hi-ji sukar membandingkannya. Lebih-lebih dalam hal menahan perasaan dan bersabar, mungkin selama hidup Siau-hi-ji juga tak dapat menandinginya. Sabar adalah budi pekerti yang terpuji, tapi terkadang menakutkan.

Maka Siau-hi-ji tidak bersuara lagi, ia sedang berpikir, “Jika di dunia ini ada lawanku, maka dia tak-lain-tak-bukan adalah rase cilik ini.”

Tapi belum lagi habis berpikir segera ia tahu pendapatnya itu keliru. Di dunia ini masih ada lawan yang lain, seorang lawan yang lebih menakutkan.

Tiba-tiba terbayang seorang pemuda yang sopan santun dan lemah lembut, cakap dan menggiurkan, sabar dan tidak suka marah. Hoa Bu-koat atau Bu-koat Kongcu, pemuda yang polos, tidak keji dan juga tidak licin, seakan-akan tiada mempunyai sesuatu kehendak yang tersembunyi, hampir tiada sesuatu yang menakutkan kecuali ilmu silatnya saja.

Tapi “hampir tiada sesuatu yang menakutkan”, itu justru yang paling menakutkan, pribadi Hoa-kongcu itu sama halnya samudera raya yang luas dan dalam, sukar dijajaki.

Diam-diam Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, “Bocah ini sungguh sukar diraba, orang yang tak dapat kuraba pribadinya mungkin memang hebat ….”

Kang Giok-long memandang Siau-hi-ji, tampaknya ingin bicara, tapi tidak jadi.

“Maksudku bukan dirimu, tapi lain orang,” kata Siau-hi-ji.

“Oo,” perlahan suara Kang Giok-long.

“Orang itu tampaknya tidak terlalu pintar, tapi betapa pun pintarmu dan betapa pun kau bertingkah, semuanya takkan berguna jika berhadapan dengan dia, sebab dia memang polos dan bersih, dia takkan dirugikan oleh perbuatannya, sebaliknya yang bakal rugi adalah dirimu sendiri.”

“O, belum pernah kulihat orang demikian,” ucap Kang Giok-long dengan tersenyum hambar.

“Asalkan kau tidak mampus, pada suatu hari kau dapat melihatnya,” ujar Siau-hi-ji.

Kang Giok-long bergumam dengan kaku, “Asalkan aku tidak mampus … tidak mampus ….” mendadak air mukanya berubah hebat dan teriaknya, “Wah, celaka!”

Siau-hi-ji tahu jika air muka bocah itu sampai berubah hebat begitu niscaya urusannya bakal celaka, tanpa terasa ia pun ikut khawatir, cepat ia tanya, “Urusan Apa?”

“Waktu kau masuk tadi, apakah … apakah kau rapatkan tutup lubang jamban?”

Seketika Siau-hi-ji terbelalak, jawabnya, “Ya, belum. Aku lupa.”

“Wah, celaka, kalau tidak menemukan kita, Siau Mi-mi pasti akan mencari kemari, jika dia melihat ….”

“Kau pun terlalu hati-hati, masakan dia tahu kita sembunyi di dalam jamban sini?”

“Aku harus hati-hati, sedikit lena, sedikit lengah, tentu akan mendatangkan malapetaka. Apakah kau tahu betapa lihai ilmu silat Siau Mi-mi?”

“Justru lantaran aku tidak tahu betapa lihai ilmu silatnya, maka aku tidak berani melabraknya. Jika dia orang bodoh, betapa pun tinggi ilmu silatnya juga aku tidak takut, tapi dia, dia pada hakikatnya siluman.”

“Ya, betapa tinggi ilmu silatnya mungkin jauh di atas perkiraanmu. Konon selama hidupnya dia mempunyai lebih 700 kekasih, di antaranya termasuk anak murid dari ketujuh aliran besar dunia persilatan, maka dapat dibayangkan kalau setiap kekasihnya mengajarkan sejurus saja padanya.”

“Jika begitu, sebaiknya hati-hati sedikit, biarlah aku menyusup keluar sana untuk merapatkan tutup jamban itu.”

“Nanti dulu,” seru Kang Giok-long sambil menempelkan telinganya ke dinding, setelah mendengarkan sekian lama, tiba-tiba ia berseru pula dengan khawatir, “Wah, dia sudah kembali.”

Siau-hi-ji juga menempelkan telinga ke dinding tanah, didengarnya permukaan tanah di atas memang betul ada kumandang suara, bermacam-macam suara.

Dapat dibayangkan, tentu Siau Mi-mi sedang berjingkrak-jingkrak marah-marah, tentu juga berteriak-teriak dan mencaci-maki.

Setelah mendengarkan sejenak, kemudian Siau-hi-ji berkata, “Tampaknya dia tidak dapat menerka ke mana lari kita.”

“Sudah cukup lama kuperhitungkan bahwa dia pasti takkan menyangka aku bersembunyi di bawah tanah, dia tentu mengira aku sudah lolos keluar, cuma tutup jamban itu ….”

“Kukira karena murkanya tentu dia tidak memperhatikan tutup jamban yang terbuka itu.”

“Ya, semoga begitu hendaknya,” kata Kang Giok-long. Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula, “Asalkan dia tidak menemukan kita, tentu dia takkan tinggal lama lagi di atas, semua orang sudah mati, buat apa dia tinggal lagi di situ.”

“Betul, dia pasti akan pergi.”

“Paling lama kita sembunyi setengah bulan di sini dan dia pasti sudah pergi. Tatkala mana kita boleh keluar dengan sesuka hati dan tidak perlu takut dikejar lagi olehnya.”

“Kau tahu jalan keluar rahasia itu?”

“Di dunia ini tiada sesuatu rahasia yang dapat mengelabui setiap orang.”

“Baiklah, biar kita menunggu setengah bulan di sini. Tinggal setengah bulan di bawah tanah juga sesuatu yang menarik dan tidak dapat dirahasiakan oleh setiap orang,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Lalu ia berbaring pula dan menambahkan dengan mengedip mata, “Hanya saja … maaf, aku belum dapat membuka Hiat-tomu.”

“Meng … mengapa kau buat demikian?”

“Terpaksa, sebab tinggal bersama orang seperti kau ini, betapa pun aku tetap khawatir dan terpaksa harus berjaga segala kemungkinan. Oya, hampir lupa, ingin kuberitahukan padamu bahwa Hiat-to yang kututuk dengan cara khusus itu, kau sendiri tidak mungkin dapat membukanya.”

Gua di bawah tanah ini mirip liang ular, Kang Giok-long juga seperti ular. Tidur bersama ular di liang ular pula, yang dapat pulas kiranya tidaklah banyak. Tapi Siau-hi-ji dapat tidur dengan nyenyak. Sebelumnya ia telah lalap sepotong sosis, beberapa potong wajik dan minum semangkuk arak. Habis itu tidurlah dia, nyenyak benar tidurnya dengan wajah kemerah-merahan.

Dengan sendirinya di dinding ada sebuah lekukan tempat lentera, cahaya lentera menyinari wajah Siau-hi-ji yang kemerahan itu. Mata Kang Giok-long juga sedang menatap muka yang merah itu. Diam-diam ia menghitung gerak napas Siau-hi-ji, sudah lebih empat ribu kali ia menghitung.

Pernapasan Siau-hi-ji ternyata sangat rata, ini menandakan tidurnya benar nyenyak. Kang Giok-long sudah memeriksa Hiat-to kedua kakinya, memang benar seperti ucapan setan cilik itu, entah dengan ilmu Tiam-hiat apa dia menutuknya sehingga sukar dipunahkan. Makanya sekarang pasti dia dapat tidur dengan lelapnya, sebab dia yakin Kang Giok-long pasti tidak berani mengganggunya, apalagi membunuhnya.

Akan tetapi diam-diam Kang Giok-long mengulur juga tangannya. Siau-hi-ji masih tidur lelap, bahkan mulai mendengkur perlahan. Sambil mengawasi seteru itu, tangan Kang Giok-long terus menjulur ke depan dan suara dengkur Siau-hi-ji juga tambah keras.

Mendadak tangan Kang Giok-long yang terjulur itu mengambil sejilid buku, di tengah buku terselip sehelai lipatan kertas. Anak muda itu menghela napas lega dan cepat lipatan kertas itu diambilnya. Lalu perlahan ia menaruh kembali buku itu ke tempatnya semula, dengan hati-hati ia lipat kertas itu lebih kecil, setelah berpikir, semula berniat disusupkan ke dalam sepatu, tapi akhirnya disembunyikan dalam gelung rambutnya.

Mukanya yang pucat tadi kini bercahaya. Kemudian ia menghela napas lega dan memejamkan mata. Tidak lama ia pun terpulas.

Mendadak Siau-hi-ji membuka matanya, terbelalak lebar. Dipandangnya wajah Kang Giok-long yang pucat itu, sorot matanya menampilkan sikap menghina dan mengejek seakan-akan hendak berkata, “Hm, masakan kau dapat mengelabui aku, apa pun yang kau lakukan tak mungkin mengakali aku.”

Napas Kang Giok-long juga sangat rata dan halus. Perlahan Siau-hi-ji berdiri, tangannya bergerak naik-turun belasan kali di depan hidung Kang Giok-long, tapi anak muda itu tetap pulas, sedikit pun tidak merasakan apa-apa. Rupanya rase cilik ini teramat lelah sehingga benar-benar sudah tertidur.

Dengan hati-hati Siau-hi-ji menggunakan dua jarinya hendak mengorek gelung rambut Kang Giok-long, tapi sebelum menyentuh rambut orang, sekonyong-konyong jarinya berganti arah dan menutuk ke Hiat-to “menidurkan” di bagian dahi.

Pada saat itulah tiba-tiba Kang Giok-long yang tertidur itu menghela napas dan berkata, “Kalau mau ambil saja, buat apa mesti menutuk Hiat-toku pula?”

Melengak juga Siau-hi-ji, segera ia tertawa dan berkata, “Haha, kiranya kau pun tidak tidur.”

“Tinggal bersama orang seperti engkau mana aku bisa tidur?” ucap Kang Giok-long dengan menyeringai.

“Tapi kepandaianmu berpura-pura tidur sungguh hebat, sampai aku pun tertipu.”

“Sama-sama, setali tiga uang.”

“Bagus, bagus!” seru Siau-hi-ji sambil tertawa terbahak-bahak. “Eh, barang apakah yang kau selipkan di rambutmu, bolehkah kulihat?”

“Apakah mungkin aku menolak?” dengan terpaksa Kang Giok-long mengeluarkan lipatan kertas yang disembunyikan tadi. Padahal lipatan kertas itu sangat bernilai baginya, tapi kini harus diserahkannya kepada Siau-hi-ji. Menghadapi sesuatu yang tak dapat dilawannya selamanya ia pun tidak suka melakukan perlawanan.

Setelah melemparkan lipatan kertas itu kepada Siau-hi-ji, ia menghela napas sambil menengadah, “Ai, barangkali leluhurku berdosa besar, makanya aku ditakdirkan bertemu dengan dirimu.”

Siau-hi-ji benar-benar sangat tertarik dan ingin tahu kertas itu mengandung rahasia apa, ia percaya kalau Kang Giok-long sedemikian menghargai rahasia itu, maka rahasia itu tentu luar biasa. Karena itu hatinya agak berdebar juga waktu membentang lipatan kertas itu.

Akan tetapi baru memandang sekejap saja … benar-benar cuma pandang sekejap saja, mendadak ia tertawa terpingkal-pingkal.

Keruan mata Kang Giok-long mendelik, katanya, “Kau sangat gembira bukan?”

“Ya, aku sangat gembira,” jawab Siau-hi-ji.

“Kau dapat melihat rahasia ini, pantas kalau kau gembira,” ucap Kang Giok-long dengan geregetan. “Sebab selama hidupmu tidak mungkin dapat melihat sesuatu benda yang lebih berharga daripada kertas ini.”

“Ya, ya, kertas ini memang sangat berharga,” kata Siau-hi-ji, mendadak kertas itu dirobeknya hingga hancur.

Mungkin selama hidup Kang Giok-long tidak pernah terkejut sehebat sekarang ini. Mukanya berubah pucat sekali, katanya dengan gemetar, “Kau … kau … apa-apaan ini?”

“Kukira leluhurmu banyak berbuat bijak sehingga kau ditakdirkan bertemu dengan aku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sebab apa? Tahukah kau betapa nilai kertas ini?” tanya Kang Giok-long dengan suara serak.

“Sudah tentu kutahu,” jawab Siau-hi-ji dengan adem ayem saja.

“Sudah tahu mengapa kau merobeknya? Memangnya kau gila?”

“Haha, bukan saja kutahu, bahkan sudah pernah melihatnya … sebab aku sendiri pun pernah memiliki sehelai.”

Kang Giok-long melengak dan menegas, “Kau … kau sendiri pun pernah memiliki sehelai? Sehelai kertas serupa ini?”

“Ya, bahkan aku sudah pernah mengunjungi tempat harta karun yang dimaksud itu.”

Kiranya kertas lipatan Kang Giok-long tadi serupa dengan kertas pemberian Thi Sim-lan kepada Siau-hi-ji tempo hari, yaitu peta harta karun yang telah banyak makan korban jiwa manusia itu.

Dengan sendirinya Kang Giok-long tidak tahu liku-liku itu, ia melenggong mendengarkan ucapan Siau-hi-ji tadi, ia menegas pula, “Kau … kau pernah mendatangi tempat harta itu? Engkau tidak berdusta?”

“Untuk apa kudusta?”

Tiba-tiba napas Kang Giok-long tersengal-sengal, katanya, “Jadi … jadi harta karun itu sudah jatuh di tanganmu? Kau simpan di mana sekarang?”

Sorot mata Siau-hi-ji gemerlap, jawabnya, “Beritahu dulu padaku dari mana kau mendapatkan peta harta karun itu, sesudah barulah kuceritakan padamu.”

“Setelah kukatakan, engkau benar-benar akan memberitahukan juga padaku?” tanya Giok-long sambil meremas-remas tangan sendiri.

“Ya, jika aku tidak menepati janji, anggaplah aku ini kura-kura,” jawab Siau-hi-ji.

“Peta pusaka ini kucuri dari kamar tulis ayahku.”

“Dari mana pula ayahmu memperoleh peta ini?”

“Entah, aku tidak tahu, sungguh!”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, “Ya, kabarnya ayahmu juga seorang tokoh ternama, bisa jadi peta ini adalah pemberian orang lain. Sungguh tak disangka beliau mempunyai seorang putra baik, sampai barang ayah sendiri juga dicurinya. Putra baik demikian sungguh tidak banyak.”

Sedikit pun muka Kang Giok-long tidak menjadi merah, bahkan ia menambahkan, “Itu belum apa-apa, aku ….”

“Demi harta karun ini, mungkin ayah pun tidak kau akui pula,” tukas Siau-hi-ji. “Lalu kau minggat dari rumah dan pergi hingga sampai di Go-bi-san, tak tahunya kau malah jatuh ke dalam cengkeraman Siau Mi-mi.”

“Ya, agaknya memang nasibku lagi sial hingga kepergok olehnya, kalau tidak ….”

“Untung kepergok dia, kalau tidak saat ini mungkin kau sudah mampus.”

“Sebab apa?” tanya Giok-long.

“Untung juga ayahmu mempunyai anak mestika kesayangan seperti dirimu, kalau tidak beliau pasti juga akan tertipu.”

“Tertipu?” Giok-long menegas dengan heran.

“Bicara terus terang, peta pusaka ini pada hakikatnya palsu belaka, satu peser pun tidak berharga. Orang yang menciptakan peta pusaka ini hanya bertujuan mengadu domba orang-orang yang serakah dan ingin mencari harta karun itu, supaya mereka saling bunuh membunuh.”

Kang Giok-long benar-benar melenggong, sampai lama barulah dia bertanya pula, “Siapakah orang itu?”

“Aku pun tidak tahu siapa dia, tapi aku pasti akan menemukan dia,” ucap Siau-hi-ji dengan gemas. “Tujuanku bukan untuk membela siapa-siapa, soalnya dia juga telah menipuku, maka aku harus membalasnya dengan setimpal.”

“Pantas kau tanya dari mana kuperoleh peta ini, pantas aku ….”

Belum habis ucapannya tiba-tiba terdengar suara seruan orang berkumandang dari lorong sana, itulah suara Siau Mi-mi yang sedang memanggil mereka, “Kang Giok-long … Kang Siau-hi-ji … apakah kalian berdua telur busuk kecil berada di bawah?”

Ketakutan juga Siau-hi-ji dan Kang Giok-long sehingga kaki dan tangan terasa dingin.

“Tiada gunanya kalian tidak bersuara, aku sudah tahu kalian berada di bawah situ!” seru Siau Mi-mi pula sambil mengikik tawa.

“Mungkin … mungkin dia cuma menggertak saja,” ujar Kang Giok-long.

“Tidak, saat ini dia berteriak ke dalam jamban, kalau tidak kita takkan mendengar suaranya.”

“Ai, gara-gara tutup jamban itu …. Sudah kuduga tutup jamban itu pasti akan mendatangkan penyakit.”

“Perempuan itu sungguh lihai ….” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

Dalam pada itu terdengar Siau Mi-mi berseru pula, “Kang Giok-long, sungguh anak berbakat istimewa sehingga mampu timbul pikiran untuk sembunyi di dalam jamban. Memangnya kau tidak takut bau?”

“Dengarkan, ia pun bilang kau berbakat istimewa,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau … engkau masih bisa tertawa?”

“Mengapa aku tidak bisa tertawa?”

“Kau … engkau tidak takut padanya?”

“Biarpun dia sangat lihai, asalkan kita tunggu saja di sini, beranikah dia masuk ke sini? Menurut wataknya, kukira ia pun tak betah berjaga di luar sana.”

“Ya, betul juga. Dia berada di tempat terang dan kita berada di tempat gelap, dia pasti tidak berani mengambil risiko ini. Seumpama dia tunggu di luar, tentu juga tidak betah tunggu terlalu lama, maka kita akan ada kesempatan untuk lolos keluar.”

Sementara itu suara Siau Mi-mi lagi berteriak, “Kedua telur busuk kecil, ayolah lekas keluar!”

“Kau sendiri telur busuk tua, masuklah kemari!” mendadak Siau-hi-ji balas berteriak.

“Kalian tidak mau keluar?”

“Mengapa tidak kau saja yang masuk ke sini?”

Siau Mi-mi terkekeh-kekeh, serunya, “Jadi kalian lebih suka mati oleh bau busuk di bawah situ?”

Siau-hi-ji bergelak tertawa, jawabnya, “Jangan khawatir, kami takkan mati oleh bau busuk, di sini sangat nyaman, ada sosis, ada arak, maukah kau turun kemari untuk minum bersamaku?”

“Kalian tidak takut bau, aku takut,” ujar Siau Mi-mi. Setelah merandek sejenak, lalu ia menambahkan, “Apalagi aku pun tidak berharap kalian akan keluar.”

“Betulkah begitu?” makin keras suara Siau-hi-ji.

“Bila kalian keluar, sekali aku mengamuk, bisa jadi kusembelih kalian, jika demikian kematian kalian menjadi terlalu enak, aku justru akan membuat kalian mati perlahan, sedikit demi sedikit.”

Siau-hi-ji tetap tertawa, teriaknya, “Apakah kau mampu membuat kami ….” Belum habis ucapannya, seketika ia tidak sanggup tertawa lagi.

“Telur busuk kecil, ayolah tertawa lagi, mengapa tidak tertawa?” terdengar suara Siau Mi-mi berolok-olok.

Air muka Kang Giok-long juga berubah pucat, keduanya berteriak berbareng, “Nona Siau … Bibi Siau ….” tapi tiada terdengar sesuatu suara lagi dari lorong sana.

Giok-long saling pandang dengan Siau-hi-ji, keduanya sama-sama pucat. Segera terdengar suara gemuruh, menyusul lantas suara gemertak keras tak henti-hentinya.

“Habis sudah, tamat semuanya!” ucap Kang Giok-long dengan gemetar. Ia tahu lubang jamban sudah rusak dan disumbat oleh Siau Mi-mi.

“Keji, hati perempuan sungguh keji, memang sudah kuduga akan tindakannya ini,” kata Siau -hi-ji.

“Sekarang tidak diperlukan sesuatu tutup lagi ….” ujar Kang Giok-long dengan menyengir.

Tapi mendadak semangat Siau-hi-ji bangkit kembali, serunya, “Meski lubang di atas telah disumbat, kita masih dapat menggali jalan keluar lain?”

“Tidak mungkin,” ucap Giok-long. “Ketika membangun tempat ini dahulu, untuk menjaga kelembapan, seluruh permukaan lantai telah dilandasi dengan balok batu yang tebal.”

Siau-hi-ji termenung sejenak, kemudian ia membuka Hiat-to Kang Giok-long yang ditutuknya itu, katanya dengan tersenyum getir, “Kukira kau toh takkan mengincar diriku lagi.”

“Setengah bulan … hanya setengah bulan saja kita akan mati kelaparan di sini,” kata Kang Giok-long dengan kaku dan murung.

“Semangat sedikit, jangan sedih, paling tidak kita masih dapat hidup setengah bulan. Aku memang sudah pernah mati beberapa kali, waktu setengah bulan ini boleh dikatakan hidup ekstra,” demikian Siau-hi-ji malah menghibur Kang Giok-long dengan menepuk bahunya sambil tergelak tertawa, tapi tertawa yang sumbang.

Mungkin sudah dua-tiga jam Kang Giok-long duduk termenung tanpa bergerak, entah apa yang sedang dipikirkannya, Siau-hi-ji telah membuka guci arak dan sudah sembilan kali memanggilnya, dan dia tetap tidak mendengarnya.

Maka Siau-hi-ji lantas minum arak sendirian. Meneguk sekali tertawa sekali, teguk lagi dan menarik napas panjang, lalu bergumam sendiri, “Seorang kalau tahu ajalnya sudah tiba dan tidak mau minum arak, maka orang itu pasti tolol.”

Kang Giok-long hanya menarik napas tanpa menanggapinya.

“Kau takut mati? Saking takutnya hingga tidak mau bicara lagi?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, benar, aku takut mati,” jawab Kang Giok-long dengan ketus.

Siau-hi-ji meneguk araknya lagi, lalu berkata, “Memangnya kau sangka aku tidak takut mati?” Mendadak ia bergelak tertawa dan menyambung lagi, “Hahaha, aku pun takut mati, orang yang tidak takut mati pasti orang tolol atau mungkin orang gila. Tapi kalau sudah jelas mesti mati, lalu apa dayamu?”

Sambil menenggak araknya semangkuk demi semangkuk, Siau-hi-ji mengoceh pula dengan tertawa, “Kutahu bagaimana perasaanmu sekarang, bagaimana rasanya orang menghadapi ajalnya, sudah beberapa kali kurasakan, akan tetapi aku tidak jadi mati? Aku pernah kelelap, pernah terbakar, pernah keracunan, pernah terjatuh, semuanya tidak jadi mematikan aku, tak terduga aku harus mati kelaparan. Cara mati demikian tidak pernah kubayangkan, kukira pasti sangat menarik, sangat bagus.”

Memandangi Siau-hi-ji yang terus-menerus minum arak itu, muka Kang Giok-long yang pucat jadi kehijau-hijauan saking dongkolnya.

“Satu-satunya penyesalan adalah kita mati terlalu dini, mati terlalu muda,” demikian Siau-hi-ji bergumam pula. “Kini aku benar-benar agak menyesal, tadi mestinya aku main cinta dulu dengan Siau Mi-mi. Ai, pemuda tidak main cinta, sia-sia menjadi manusia ….” Tiba-tiba ia bangkit, dengan langkah sempoyongan ia hendak mengambil sisa sosis pula.

“Kau mabuk,” ucap Giok-long dengan dingin.

“Paling baik kalau mati mabuk, setan mabuk lebih baik daripada setan kelaparan ….”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak Kang Giok-long melompat maju, telapak tangannya terus memotong kuduknya. Gerakannya ringan serangannya cepat, sekaligus ia hendak membinasakan Siau-hi-ji.

Tapi ketika melihat cahaya lentera bergoyang, mendadak Siau-hi-ji membalik tubuh sehingga tepat sempat menangkis serangan Kang Giok-long itu. Kedua orang sama-sama tergetar mundur dan bersandar pada dinding tanah.

“Kau … kau ingin membunuhku?” tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Mengapa aku tidak membunuhmu?” jengek Giok-long.

“Dalam keadaan begini kau masih ingin membunuhku?”

“Betul, sedikit pun tidak salah.”

“Kita toh bakal mati semua, mengapa kau ….”

“Ransum yang tersedia di sini mestinya cukup untuk sebulan, karena ketambahan dirimu, jadinya cuma cukup untuk setengah bulan saja. Setelah kubunuhmu tentu aku dapat hidup lebih lama setengah bulan.”

“Hanya karena alasan ini? Hanya untuk hidup lebih lama setengah bulan?” Siau-hi-ji menegas.

“Memangnya kenapa? Setengah bukan kan cukup lama? Bisa hidup lebih lama satu hari kan juga lebih baik?”

“Demi untuk hidup lebih lama satu hari kau pun akan membunuhku.?”

“Jelas, demi hidup lebih lama satu jam juga dapat kubunuh dirimu.”

Siau-hi-ji tersenyum getir, katanya, “Meski kutahu kau ini orang busuk, tapi sungguh tak terpikir olehku sedemikian kebusukanmu. Kalau bicara tentang kekejian hati, mungkin kau terhitung nomor satu di dunia.”

“Kau sendiri nomor berapa?” tanya Giok-long.

“Dibandingkan dirimu, pada hakikatnya aku tidak masuk hitungan,” belum habis ucapan Siau-hi-ji, secepat kilat sebelah tangannya menyambar ke muka seterunya.

Gua itu sedemikian sempit, tanpa melangkah maju juga tangannya dapat mencapai muka Kang Giok-long, apalagi Siau-hi-ji menggampar dengan cepat, mungkin juga sama sekali Kang Giok-long tidak menyangka akan diserang lawan, maka ia pun sama sekali tidak berkelit. Pendek kata, gamparan Siau-hi-ji itu dengan tepat mengenai sasarannya.

“Plak”, seketika bengap sebelah pipi Kang Giok-long, kontan ia pun roboh terjungkal.

“Hehe, meski kelihatan kurus, tapi daging di pipimu tidaklah sedikit, kalau tidak terlihat jelas pukulanku ini mengenai mukamu, bisa jadi aku akan mengira menghantam pantat orang perempuan,” demikian Siau-hi-ji berolok-olok.

“Kau … kau mau apa?” teriak Kang Giok-long dengan suara serak sambil memegangi pipinya.

“Kalau tanganmu mampir di pipi seorang lelaki, apa kehendakmu? Untuk mencubitnya?” tanya Siau-hi-ji. “Plak”, kembali tangannya membalik dan tepat mengenai muka lawan.

“Apakah … apakah benar kau ….”

“Jika kau ingin membunuhku, masa aku tidak dapat membunuhmu?”

Muka Kang Giok-long yang bengap itu mirip perut ikan mati, merah melembung. Katanya dengan suara gemetar, “Toh kita bakal mati dalam waktu tidak lama lagi, untuk apa … untuk apa kau ….”

“Kan sudah kau ingatkan padaku tadi, bila kubunuhmu, maka aku dapat hidup lebih lama setengah bulan.”

“Ya, aku pantas … pantas mampus ….” ucap Kang Giok-long sambil tertunduk. Tapi mendadak sekujur tubuhnya laksana sepotong balok terus menumbuk perut Siau-hi-ji, biarpun kepalanya tidak keras, tapi paling tidak terlebih keras daripada perut.

Sebelumnya Siau-hi-ji juga sudah waspada terhadap kaki dan tangan lawan licik itu, tapi bicara sejujurnya, sama sekali ia tidak memperhatikan kepala lawan yang kecil itu. Dan sekarang kepala yang kecil itu telah membuatnya meringis kesakitan. Kontan ia terseruduk dan bersandar ke dinding tanah, ia terus berjongkok sambil memegangi perutnya.

“Hm, sekarang tentu kau tahu siapa yang pantas mampus,” jengek Kang Giok-long, berbareng sebelah kakinya menendang dagu Siau-hi-ji.

Saat itu Siau-hi-ji sedang merintih kesakitan seakan-akan tidak sanggup mengangkat kepalanya. Tapi ketika kaki lawan sudah berada di depan hidungnya, sekonyong-konyong tangan yang memegangi perut itu terjulur secepat kilat, laksana penjaga gawang menangkap bola yang akan menembus gawangnya, dengan cepat dan tepat ia pegang kaki Kang Giok-long, berbareng itu terus diputar ke samping.

Tanpa ampun Kang Giok-long menjerit kaget dan kesakitan, seluruh badan membalik ke bawah, “bluk”, ia jatuh terjerembap seperti anjing menubruk najis, kontan hidungnya mengeluarkan darah merah.

Pada detik lain Siau-hi-ji sudah melompat berdiri di atas punggungnya sembari berkata dengan tertawa, “Nah, sekarang kita betul-betul tahu siapa yang bakal mampus.”

Sambil tengkurap di tanah, Kang Giok-long mengeluh, “Sungguh … sungguh aku tidak paham ….”

“Dalam hal apa kau tidak paham?”

“Perutmu keseruduk kepalaku, tapi … tapi kau masih bertenaga penuh.”

“Supaya kau maklum, bahwa kepandaianku memukul orang tidak seberapa tinggi, tapi kepandaianku tahan pukul tidaklah rendah. Jangankan dirimu, biarpun orang yang berpuluh kali lebih kuat daripadamu juga jangan harap dapat merobohkan diriku dengan sekali pukul.”

“Baiklah, aku menyerah, sungguh aku menyerah padamu. Dalam segala hal kau memang lebih hebat daripadaku, tapi kutahu kau takkan membunuhku, sebab kalau kau ingin membunuhku sungguh-sungguh tentu tidak perlu menunggu sampai sekarang.”

Bocah ini ternyata mulai memohon kasihan, mulai menjilat pantat pula. Tapi sedikit pun Siau-hi-ji tidak merasa senang, sebaliknya malah agak merinding. Ia tahu seterunya itu sesungguhnya ingin sekali membinasakan dia, hanya saja sekarang seteru itu sama sekali tak berdaya, senjata tidak punya, apalagi punggungnya terinjak.

Dan di sinilah letak kebinalan Siau-hi-ji, sudah tahu jelas Kang Giok-long ingin membunuhnya, dia justru ingin menciptakan kesempatan itu baginya, ia ingin tahu dengan cara bagaimana seteru itu akan membunuhnya.

Ini sungguh hal yang menarik. Terhadap sesuatu yang menarik selamanya tak pernah disia-siakan oleh Siau-hi-ji, lebih-lebih di kala mengetahui hidupnya sudah tidak lama lagi akan tamat.

Begitulah Siau-hi-ji terus merenungkan hal yang menarik itu sehingga lupa daratan bahwa di bawah kakinya masih ada seorang Kang Giok-long. Pada saat itulah sekonyong-konyong Kang Giok-long mengangkat tubuhnya dengan sekuat-kuatnya sehingga Siau-hi-ji yang berdiri di atas itu ikut terangkat.

Kalau dalam keadaan biasa tentu hal itu tidak menjadi soal, tapi sekarang mereka berada di suatu gua yang sempit, orang jangkung hampir sukar untuk mengangkat kepala jika masuk gua ini. Karena itulah kepala Siau-hi-ji lantas tertumbuk langit-langit gua itu, “bluk”, kontan ia pun roboh terjungkal.

Cukup lama juga Kang Giok-long baru sanggup merangkak bangun, tapi begitu bangun segera ia cekik leher Siau-hi-ji, katanya sambil menyeringai, “Kutahu kau takkan membunuhku dengan sungguh-sungguh hati, tapi aku benar-benar ingin membunuhmu.”

Siau-hi-ji tidak menjawab, rupanya ia jatuh pingsan.

Cekikan Kang Giok-long lantas mengendur, ia tidak ingin membunuh Siau-hi-ji dalam keadaan seteru itu pingsan, ia ingin menyaksikan Siau-hi-ji meronta-ronta dan menemui ajalnya dalam keadaan tak bisa bernapas. Tapi Siau-hi-ji justru belum lagi siuman.

Dengan sebelah tangannya Kang Giok-long angkat guci arak yang jatuh di samping sana, isi arak ia tuang ke atas kepala Siau-hi-ji. Dengan sendirinya isi guci itu tidak sampai tertuang habis, Siau-hi-ji justru menunggu tangan orang sedang dipakai keperluan lain, pada saat itulah mendadak ia balas menonjok tenggorokan orang.

Keruan Kang Giok-long menjerit kesakitan, tapi guci yang dipegangnya itu tidak lupa dipukulkan ke kepala Siau-hi-ji.

Namun Siau-hi-ji sudah memperhitungkan kemungkinan ini, cepat ia menggelinding ke samping, menyusul sebelah kakinya terus menendang selangkang Kang Giok-long, kontan Giok-long menjerit dan guci arak terlempar jatuh dan hancur.

Tubuh Kang Giok-long tampak meringkal udang seperti kering, tangan memegangi bagian vital itu, kaki terimpit kencang-kencang, napas pun terasa sesak.

Tendangan Siau-hi-ji ini sungguh lihai dan membuat “knock-out” seterunya, tapi tendangan ini pun tidak begitu gemilang, pada hakikatnya bukan jurus serangan yang wajar. Ya, sejak awal hingga akhir sesungguhnya mereka belum pernah bergebrak dengan menggunakan jurus serangan yang indah.

Tapi maklum juga, mereka berada dalam gua yang sempit, siapa pun tak dapat mengeluarkan jurus serangan bagus. Untunglah perkelahian mereka tidak untuk dipertontonkan dan memangnya juga tiada yang menonton.

Siau-hi-ji menjilat arak yang membasahi mukanya itu, lalu bergumam “Sayang, sungguh sayang, arak enak ini kau buang begitu saja, kau harus dihukum denda minum air kencing tiga kendi.”

Sementara itu Kang Giok-long masih meringkal di tanah sambil merintih. Segera Siau-hi-ji menyeretnya bangun dan berkata, “Jangan pura-pura mampus, ayolah berdiri dan berkelahi lagi.”

“Kau … kau ingin berkelahi lagi?” tanya Kang Giok-long.

“Di sini selain cuma minum arak dan berkelahi, pekerjaan apalagi yang dapat kau kerjakan? Sekarang arak sudah habis, terpaksa hanya berkelahi saja,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Aku … aku tidak sanggup lagi.”

“Tidak boleh, harus!”

“Urusan apa pun pernah kudengar, tapi memaksa orang lain berkelahi, belum pernah kudengar.”

“Tapi sekarang sudah kau dengar, bukan?”

“Engkau benar … benar-benar ingin berkelahi pula?”

“Betul, sedikit pun tidak salah!”

Kang Giok-long menghela napas, katanya, “Baiklah, biarkan kuistirahat sebentar baru akan kulayanimu.”

“Nah, agak pantas ucapanmu,” kata Siau-hi-ji, lalu ia lepaskan seterunya itu, kedua orang lantas duduk berhadapan.

Muka Kang Giok-long yang putih itu sudah berubah loreng, sambil melototi Siau-hi-ji mendadak ia berkata, “Terkadang aku merasa sangsi kau ini sesungguhnya manusia atau bukan.”

“Memangnya apa kalau bukan manusia?”

“Di dunia mana ada manusia macam dirimu ini?”

“Selain aku memang betul tiada keduanya lagi.”

Kang Giok-long terus mendekap kepala dan tidak bicara pula, sedangkan Siau-hi-ji lantas berbaring, katanya, “Biar kutidur dulu, kalau kau sudah selesai istirahat hendaklah aku diberitahu.”

Habis itu ia benar-benar memejamkan mata dan benar-benar seperti mau tidur. Dari sela-sela jarinya Kang Giok-long dapat mengintip, beberapa kali ia bermaksud menubruk maju untuk menyergap seteru itu secara mendadak, tapi akhirnya urung, sesungguhnya ia tidak berani, sudah kapok.

Walau di dalam hati sangat gusar, dendam dan benci, tapi wajahnya sedikit pun tidak menampilkan sesuatu perasaan, hampir tidak ada orang dapat membaca isi hatinya dari air mukanya.

Cahaya lentera tadi makin lama makin redup, makin guram. Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melompat bangun dan berteriak, “Wah, celaka?!”

“Celaka apa? Keadaan kita sekarang memang sudah cukup celaka, masakah masih ada yang lebih celaka lagi?”

“Selagi tidur saja aku tahu, masa kau malah tidak tahu?”

“Aku tidak tidur, tapi sedang mimpi.”

“Mimpi sekali bacok membinasakan aku, begitu bukan?”

“Mimpi menyembelih sepuluh ekor babi gemuk.”

“Sudahlah, tidak perlu mimpi-mimpi lagi, biarpun betul ada sepuluh ekor babi juga tidak sempat kita makan.”

Kang Giok-long berpikir sejenak, tanyanya kemudian dengan khawatir, “Jadi maksudmu … maksudmu ….”

“Maksudku sebelum kita mati kelaparan lebih dulu kita akan mati pengap.”

Kiranya lorong di bawah tanah itu telah disumbat dari atas oleh Siau Mi-mi, zat asam di dalam gua itu makin lama makin menipis sehingga lentera itu pun hampir padam. Maklumlah, api tak dapat menyala kalau hawa udara kurang zat asam.

Meski Siau-hi-ji sangat pintar, tapi teori zat asam itu tidak dipahaminya. Pada jamannya itu memang belum ada seorang pun yang tahu tentang teori itu, dia hanya merasakan napasnya mulai sesak, kelopak matanya terasa berat seperti orang mengantuk.

“Segalanya sudah kuperhitungkan, hanya hal ini saja tidak terpikir olehku,” kata Kang Giok-long.

“Setengah jam … setengah jam ….” tanpa terasa gigi Kang Giok-long gemertuk.

Siau-hi-ji juga muram durja kehabisan akal, gumamnya, “Mati sesak napas …. Ehm, entah bagaimana rasanya mati pengap.”

“Menurut cerita orang,” tukas Kang Giok-long, “mati sesak napas jauh lebih menderita daripada mati dengan cara lain. Sebelum mati orangnya bisa seperti gila, mungkin muka sendiri juga akan dicakar hingga luluh.”

Dalam keadaan demikian ia masih dapat bercerita, soalnya ia merasa tidak adil kalau dia sendiri yang ketakutan, ia ingin membikin Siau-hi-ji juga ikut merasakan seramnya orang mati begitu.

Siau-hi-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Bagus juga kalau begitu. Aku justru khawatir akan mati terlalu biasa, syukur kalau sekarang bisa mati dengan cara luar biasa. Betapa pun tidak banyak orang di dunia ini yang mati pengap begini.”

Kang Giok-long juga termenung sejenak, katanya kemudian, “Tapi kukira tidak sedikit, bukankah orang-orang yang membangun istana di bawah tanah ini akhirnya juga terbunuh semua, bisa jadi mereka pun mati pengap seluruhnya.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Sampai saat ini, tampaknya kau masih berusaha membuat aku marah. Memangnya begitu hebat bencimu padaku?”

“Hm,” dengus Giok-long tanpa menjawab.

“Kau benci padaku lantaran dalam segala hal aku lebih kuat daripadamu, begitu bukan?”

“Mungkin kita memang dilahirkan sebagai musuh!” ucap Kang Giok-long.

Sama sekali tak disadarinya bahwa apa yang dikatakannya itu memang tidak salah sedikit pun.

Cahaya lentera semakin redup.

Sambil memandangi sumbu lentera yang semakin guram itu, Siau-hi-ji bergumam, “Arak, arak sialan dan kau yang celaka. Mestinya aku dapat minum lagi, dalam keadaan begini masakan ada urusan lain yang lebih baik daripada minum dan mabuk?”

Tanpa sengaja sorot matanya beralih ke tanah. Guci yang pecah berantakan itu masih berserakan di tanah. Arak yang bertumpah itu sudah hampir kering.

Tapi aneh, arak itu ternyata tidak merembes ke dalam tanah, tapi mengalir, sudah tentu tanah di situ tidak rata, jadi arak mengalir ke bagian tanah yang rendah ….

Seketika Siau-hi-ji melompat bangun, ia tuang pula seguci air minum ke tanah dan air itu pun mengalir ke tempat yang rendah.

“Hei, lih … lihatlah!” seru Siau-hi-ji mendadak.

“Lihat … apa yang perlu dilihat?” tak acuh ucap Kang Giok-long.

“Lihatlah air ini, airnya mengalir!”

“Dengan sendirinya air mesti mengalir, dengan sendirinya pula mengalir ke tempat yang rendah.”

“Tapi … lihatlah air mengalir … mengalir semua ke sini dan tidak menggenang di situ,” seru Siau-hi-ji pula sambil menuding sudut sana, karena tegangnya sampai ucapannya tergagap.

Mendadak mata Kang Giok-long juga terbelalak, tukasnya, “He, betul air itu tidak tergenang di situ.”

“Kalau air tidak berhenti di sini berarti air terus mengalir keluar, dan kalau air mengalir keluar berarti di sana ada sebuah lubang, tapi tempat ini sudah berada di bawah tanah, masakan masih ada lubang yang dapat dialiri air?”

Habis itu Siau-hi-ji tidak bicara lagi, ia ambil sepotong pecahan guci dan mulai korek-korek tempat itu. Kang Giok-long menyaksikan dengan terkesima dan tangan rada gemetar. Soalnya napas kedua orang itu sudah semakin sesak.

Mendadak lentera yang redup itu padam, keadaan menjadi gelap gulita hingga jari sendiri pun tidak kelihatan. Kang Giok-long juga tidak tahu bagaimana hasil galian Siau-hi-ji. Hanya terdengar suara napas Siau-hi-ji yang megap-megap, ia sendiri pun terengah-engah.

“Blang”, tiba-tiba terdengar suara keras, seperti suara pecahnya papan kayu.

Menyusul lantas terdengar teriakan Siau-hi-ji, “He, ada lubang, dapat kutemukan lubang di sini … di luar sana ternyata tempat kosong!”

“Kau … engkau tidak salah?” tanya Giok-long dengan terputus-putus.

“Api, mana korek api …. Demi Tuhan, jangan kau bilang tidak punya korek api!”

Tapi apa gunanya korek api? Mungkin Siau-hi-ji linglung ketika berucap begitu.

Akan tetapi korek api benar-benar telah dinyalakan dan Siau-hi-ji tidak nampak lagi, di sudut sana sudah bertambah satu lubang, angin semilir meniup dari situ dengan bau apek.

Napas Kang Giok-long terasa lancar, dengan girang ia lantas berseru, “Kang … Kang-kongcu, Kang-heng.”

“Aku berada di sini, lekas kemari, lekas!” itulah suara Siau-hi-ji di luar sana. Suaranya penuh rasa kejut dan kegirangan.

Seperti tikus saja Kang Giok-long terus menyusup ke sana dengan cepat. Lalu ia pun terkesima di situ.

Ternyata tempat itu adalah sebuah ruangan segi delapan, kedelapan sisi dinding itu terbuat dari logam yang berlainan, ada besi, ada baja, ada batu, bahkan ada satu sisi yang menyerupai emas.

Puji syukur ke hadirat Tuhan, sisi dinding dari mana mereka masuk itu ternyata dinding kayu. Kalau saja dinding itu bukan kayu, mungkin saat ini mereka sudah mati sesak.

Di ruangan segi delapan itu tidak ada meja, tidak ada kursi, sebab di bawah tanah, maka juga tidak ada galagasi atau debu kotoran, entah dari mana pula masuknya hawa udara.

Yang ada di ruangan itu hanya roda bergigi belaka, besar kecil dan berbagai bentuk roda itu, ada yang terbuat dari besi, dengan sendirinya juga ada yang terbuat dari emas.

Kang Giok-long hampir tidak percaya pada matanya sendiri, ia bergumam, “O, Tuhan … tempat apakah ini? Sumpah mampus tak pernah kupikir di sini masih ada ruangan begini, sedangkan tempat ini hanya terpisah oleh papan kayu saja dengan gua yang kugali itu.”

Siau-hi-ji juga putar-putar di ruangan itu, kejut dan heran membuatnya bingung entah apa yang harus dilakukannya sekarang.

Tempat apakah ini? Untuk apakah roda-roda sebanyak itu?

Ia coba mengamat-amati kian kemari, tapi tak diketahuinya di mana letak kegaiban roda-roda itu, yang jelas roda bergigi itu satu sama lain berkaitan, entah berapa banyak biaya dan pikiran yang dikorbankan untuk membuat roda-roda begitu?

“Persetan, siapa yang tahu apa gunanya roda-roda ini,” omel Siau-hi-ji dengan menyeringai.

Mendadak Kang Giok-long melompat ke sana, dengan lengan bajunya ia gosok-gosok dinding sekian lamanya, habis itu ia berteriak, “O, Tuhan, dinding ini terbuat dari emas.”

“Dinding emas tidak mengherankan, yang aneh adalah tempat ini ternyata tembus hawa,” kata Siau-hi-ji. “Kukira orang yang membangun tempat ini kalau bukan orang gila tentu mempunyai maksud tujuan tertentu.”

“Maksud tujuan tentu apa?” tanya Kang Giok-long

“Ya, mungkin inilah rahasia terbesar yang kita temukan selama hidup ini,” ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas panjang, lalu ia pegang sebuah roda.

“Akan kau putar rodanya?” tanya Giok-long.

“Tahankah kau tanpa memutarnya?” kata Siau-hi-ji, ia memicingkan sebelah mata kepada Kang Giok-long, lalu menambahkan pula dengan tertawa, “Bisa jadi inilah pintu neraka, bila lalu roda ini berputar, mungkin kawanan setan akan terlepas semua.”

“Boleh juga leluconmu ini, sungguh menggelikan leluconmu,” ucap Kang Giok-long dengan mendongkol.

“Ciiit … ciittt ….” roda itu mulai berputar, dinding batu itu mendadak bergeser dan terbukalah sebuah pintu.

“Haha, lihatlah pintu neraka benar-benar terbuka,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. Padahal ia pun tahu entah betapa sumbang suara tertawanya.

Cepat Kang Giok-long merangkak balik ke gua tadi untuk mengambil lentera.

Dengan memegang geretan Siau-hi-ji jalan di depan, bau apek terus menyerang, bau busuk yang selama hidup tak pernah terendus oleh Siau-hi-ji.

Nyali kedua anak muda itu terhitung tabah juga. Akhirnya mereka masuk ke sana. Tapi apa yang mereka lihat di situ membuat bulu roma berdiri serentak.

Mayat, di ruangan itu penuh mayat.

Sebenarnya istilah “mayat” juga tidak tepat, di situ hanya penuh jerangkong atau bengkarak yang berpakaian.

Tanpa terasa Siau-hi-ji bersin dan baju jerangkong di depannya lantas berhamburan menjadi bubuk.

Ngeri juga Siau-hi-ji, katanya, “Orang-orang ini mungkin sudah mati berpuluh tahun yang lalu.”

“Mereka … mereka semuanya mati kelaparan,” ucap Kang Giok-long. “Coba lihat bentuk mereka, mungkin mereka jadi hampir gila karena laparnya ketika mendekat ajalnya, lihatlah … lihatlah tangan mereka.”

Teringat dirinya hampir juga bernasib seperti jerangkong itu, Siau-hi-ji jadi mual, akhirnya ia muntah sungguh-sungguh sehingga arak dan sosis yang dimakannya tadi tertumpah keluar.

“Entah siapa orang-orang ini?” gumam Giok-long.

Setelah air kecut terakhir tertumpah keluar, dengan tergopoh-gopoh barulah Siau-hi-ji berkata, “Melihat pakaian mereka yang kasar ini, mungkin mereka adalah tukang kayu dan tukang batu yang membangun tempat ini.”

“Mereka ini tentu serombongan orang tolol,” ujar Giok-long.

“Orang tolol?” tukas Siau-hi-ji.

“Kalau bukan orang tolol, untuk apa mereka mau membangun tempat rahasia ini, kan setelah membangun tempat rahasia ini berarti hidup mereka pun berakhir?”

“Kau tidak menaruh kasihan terhadap orang-orang yang mati ngeri begini?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau aku mati, siapa yang akan merasa kasihan padaku?”

“Bagus, bagus, kau sungguh hebat. Belasan tahun kubelajar di pusatnya orang jahat, tapi tampaknya aku masih kalah dibandingkan dirimu, aku masih harus belajar padamu.”

“Aneh juga, mengapa Siau ….” belum habis ucapan Kang Giok-long, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang di bagian atas, suara tindakan itu terasa perlahan dan berat seperti orang menyeret sesuatu barang berat.

Sekujur badan Siau-hi-ji terasa merinding, biarpun dia adalah orang paling tabah, pada saat demikian mau tak mau ia pun merasa takut.

Tidak terkecuali, Kang Giok-long juga gemetar. Kendati keji hatinya, tapi nyalinya kecil, “trang”, lentera tembaga yang dipegangnya sampai terjatuh.

Suara langkah orang itu berkumandang dari atas dan semakin dekat. Kaki dan tangan Siau-hi-ji serasa lemas, geretan api entah sudah jatuh sejak kapan sehingga keadaan gelap gulita sama sekali.

Suara tindakan orang yang berat itu tiba-tiba berhenti tepat di atas mereka. Mendadak bagian atas itu merekah sebuah lubang, cahaya senja menembus masuk melalui lubang itu.

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long sama menahan napas dan tak berani bergerak sedikit pun. Mereka dapat melihat sepasang kaki. Itulah kaki yang halus dengan sepatu bersulam. Ujung gaun di kaki itu berwarna hijau, bagian lebih atas kaki tidak kelihatan.

Kedua anak muda itu saling pandang sekejap dan hampir berseru berbareng, “Siau Mi-mi!” Jelas itu bukan badan halus atau setan gendruwo, tapi ialah Siau Mi-mi, si tukang pikat mati orang tak ganti nyawa.

Terdengar Siau Mi-mi sedang bergumam, “Silakan kalian istirahat untuk selamanya di sini, tempat ini sangat tenang, cuma rada terlalu berimpitan ….” di tengah suaranya itu, berturut-turut beberapa sosok tubuh lantas jatuh ke bawah.

Siau-hi-ji berdua terkejut, mereka mengira Siau Mi-mi sedang membunuh pula, tapi segera mereka tahu tubuh yang berjatuhan itu hanya mayat belaka, yaitu para pemuda linglung yang diaku sebagai selir Siau Mi-mi itu.

Segera terdengar pula Siau Mi-mi bergumam, “Selamat tinggal para kekasihku! Istirahatlah dengan tenang di sini, bisa jadi terkadang kalian akan terkenang olehku.”

“Blang”, lubang itu lantas tertutup dan suasana kembali menjadi gelap gulita.

Sampai lama sekali Siau-hi-ji dan Kang Giok-long menunggu dalam kegelapan, akhirnya mereka menghela napas lega.

“Kang Giok-long,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, “Mayat-mayat ini adalah orang yang kau bunuh itu, apakah kau tidak takut mereka akan menagih nyawa padamu?”

“Di waktu hidup saja tidak takut pada mereka, apalagi sudah mati,” jawab Kang Giok-long.

Siau-hi-ji berhasil menemukan kembali geretan yang jatuh di samping kakinya, segera api menyala pula sehingga wajah Kang Giok-long kelihatan pucat seperti mayat.

“Katamu tidak takut, mengapa mukamu pucat begini?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tetapi mendadak Kang Giok-long menjemput lentera yang jatuh tadi terus melangkah keluar.

Cepat Siau-hi-ji menyusul keluar, betapa pun ia tidak ingin tertutup di sini oleh Kang Giok-long, sesungguhnya ia pun tidak ingin masuk lagi ke ruangan istimewa itu. Jelas demikian pula jalan pikiran Kang Giok-long, ini terbukti sekeluarnya dari ruangan itu, kontan ia muntah habis-habisan sehingga air kecut dalam perut tertumpah keluar.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Memangnya sudah kuragukan tempat ini pasti bukan dibangun oleh Siau Mi-mi. Perempuan, huh, mana mungkin perempuan mampu mencapai hasil karya sehebat ini, sekarang terbukti keraguanku itu memang tidak keliru.”

“Hm,” Giok-long hanya mendengus saja.

“Mungkin waktu itu Siau Mi-mi sedang mujur hingga dapat ditemukan tempat di atas itu. Tapi ketika dia sampai di sini dan melihat kerangka jerangkong sebanyak ini, dia tidak berani menyelidiki lebih lanjut, ia tidak tahu bahwa apa yang dilihatnya ini hanya sebagian kecil saja dari istana di bawah ini, bahkan bagian yang lebih hebat masih berada di belakang.” Setelah menghela napas panjang, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Namun siapa pula yang membangun tempat ini? Siapakah gerangan yang mampu mencapai hasil karya setinggi ini?”

“Paling tidak pasti bukan dirimu,” jengek Kang Giok-long.

Mendongkol juga Siau-hi-ji melihat sikap orang, ia mencibir dan berkata, “Jangan lupa bahwa ilmu silatku jauh lebih kuat daripada ilmu silatmu dan setiap saat dapat kusembelih kau.”

Mau tak mau Kang Giok-long menjadi jeri, ia menyurut mundur selangkah dan berkata, “Kau … kau ….”

“Namun kau pun jangan khawatir, yang kuhendaki adalah cara bicaramu yang sopan sedikit,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kang Giok-long melenggong sejenak, akhirnya ia menunduk dan menjawab, “Usiaku terlalu muda sehingga tidak tahu sopan santun, bilamana ada yang tidak berkenan di hatimu, hendaklah memaafkan diriku. Betapa pun dalam hatiku selalu menganggap engkau sebagai kakakku.”

“Untung kau bukan adikku sungguh-sungguh,” kata Siau-hi-ji. Dengan api geretannya ia lantas mengitari ruangan segi delapan itu sambil meraba dan mengetuk ke sana-sini, kemudian ia bergumam pula, “Dinding segi delapan ini hanya satu sisi saja terbuat dari bata tanah, tujuh sisi dinding yang lain kecuali dinding batu dan dinding kayu yang sudah diketahui, selebihnya adalah dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah.”

“Mereka membangun dinding segi delapan ini dengan bahan yang berlainan, tentu ada maksud tujuan tertentu,” kata Kang Giok-long.

“Benar, tahukah kau maksud tujuannya?”

“Justru karena aku tidak tahu, maka ingin kuminta petunjuk Toako.”

Siau-hi-ji melotot sejenak, katanya kemudian, “Coba dengarkan, ingin kuberitahukan dua hal padamu.”

“Mohon Toako memberi wejangan,” kata Gioklong.

“Pertama, selanjutnya jangan memanggil Toako (kakak) padaku, merinding rasanya bila mendengar panggilanmu ini,” ucap Siau-hi-ji dengan melotot.

Terkesiap juga Kang Giok-long, segera ia tertunduk pula dan mengiakan.

“Dan kedua, selanjutnya kau pun jangan berlagak pilon. Kutahu kau adalah orang pintar, bahkan sangat pintar, jadi tiada gunanya berlagak bodoh.”

Kembali Kang Giok-long mengiakan dan mengangguk.

“Nah, sekarang coba katakan apa maksud tujuan mereka membangun tempat ini menurut dugaanmu?”

“Entah betul tidak tebakanku ….” ucap Kang Giok-long dengan ragu-ragu, “terutama cara mereka membangun delapan sisi dinding yang berlainan ini, pertama menandakan di balik kedelapan sisi dinding ini tersimpan benda-benda yang berlainan pula.”

“Benar, dan yang kedua?”

“Kedua, jelas ada hubungannya dengan roda-roda putaran ini. Roda batu ini menguasai dinding batu, maka roda emas itu tentu juga menguasai dinding emas.”

“Bagus, coba teruskan!” seru Siau-hi-ji.

“Dinding kayu itu adalah arah kedatangan kita, keadaannya tidak perlu dijelaskan lagi, di balik dinding batu itu adalah kuburan, maka juga tidak perlu diperbincangkan lagi. Mengenai dinding tanah ini, tampaknya memang benar-benar tanah, jadi tiada sesuatu yang menarik. Yang tertinggal kini adalah dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah.”

“Betul, di balik kelima dinding ini pasti ada permainannya,” kata Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip, lalu ia menambahkan, “Menurut pendapatmu, dinding mana yang akan kita coba lebih dulu.”

“Emas,” jawab Giok-long.

“Tepat,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sekali ini kau telah bicara dengan setulus hati, sesungguhnya aku pun telah berpikir akan mencoba dinding emas lebih dulu, padahal manusia mana di dunia ini yang tidak berpikir demikian?”

Ketika roda emas itu berputar, benar saja dinding emas itu mulai bergeser dan terlihatlah sebuah pintu, belum lagi mereka masuk ke sana mata mereka sudah disilaukan oleh cahaya kemilauan.

Di balik dinding emas itu ternyata penuh benda mestika, mutu menikam yang sukar dinilai jumlahnya, siapa pun tak pernah bermimpi akan harta pusaka sebanyak ini.

Seketika Kang Giok-long terkesima, wajahnya yang pucat itu tampak bersemu merah aneh, jarinya juga rada gemetar.

Sedangkan Siau-hi-ji hanya memandang sekejap saja ke arah harta pusaka itu, lalu ditatapnya muka Kang Giok-long yang terangsang itu.

“Kau suka bukan?” tanyanya dengan tersenyum.

“Aku … aku ….” biji leher Kang Giok-long yang baru mulai tumbuh itu bergerak naik-turun, “Kupikir setiap orang di dunia ini pasti menyukai barang beginian.”

“Jika kau suka, anggaplah semua ini milikmu,” kata Siau-hi-ji.

Kang Giok-long meliriknya dengan kejut-kejut girang, tapi cepat ia menunduk pula dan berkata, “Harta pusaka ini ditemukan dulu olehmu, dengan sendirinya adalah milikmu, aku … aku cukup diberi sebagian saja sudah sangat berterima kasih.”

“Aku tidak mau,” kata Siau-hi-ji.

“Engkau tidak mau?” tukas Kang Giok-long dengan kaget, tapi segera ia menunduk pula dan menambahkan, “Jiwaku saja atas hadiahmu, sekali pun kau tidak mau membagi padaku juga aku tidak menyesal.”

“Haha, mungkin kau sangka aku mencoba hatimu dan berdusta padamu?”

“Aku … aku tidak ….”

“Ketahuilah bahwa aku benar-benar tidak mau, sedikit pun tidak mau.”

Mata Kang Giok-long terbelalak, tanyanya, “Seb … sebab apa?”.

“Barang-barang ini tidak ada gunanya bagiku,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Lapar tidak dapat dimakan, haus tidak dapat diminum, kalau dibawa hanya menjadi beban belaka, malahan senantiasa berkhawatir kalau dibegal orang, untuk apa aku memilikinya?”

Kang Giok-long jadi melenggong.

Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia mengitari ruangan itu dan bergumam pula dengan gegetun, “Tempat ini pun buntu, jelas jalan keluarnya tidak terletak di sini.”

Mendadak Kang Giok-long bergelak tertawa, tertawa keras.

“Ada apa? Kau melihat setan?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku pun tidak menginginkan barang ini.”

“O, sungguh aneh. Sebab apa?”

“Sedangkan soal kita dapat keluar dari sini dengan hidup atau tidak juga belum diketahui, untuk apa memikirkan barang begini?”

“Haha, tampaknya kau tidak terlalu bodoh dan masih bisa berpikir,” seru Siau-hi-ji sambil berkeplok tertawa. “Justru banyak orang yang lebih suka mengorbankan jiwa demi barang beginian, sungguh aku menyangsikan otak mereka itu apakah waras?”

Begitulah kemudian Siau-hi-ji memutar lagi roda tembaga, apa yang dilihatnya di dalam ruangan itu adalah berbagai bentuk senjata yang jumlahnya tak terhitung banyaknya, aneka macam senjata berat dan juga senjata rahasia. Banyak senjata yang dikenalnya, tapi lebih banyak senjata yang aneh dan tidak diketahui namanya. Mungkin segala macam senjata pembunuh di dunia ini terdapat di ruangan ini.

Sekenanya Siau-hi-ji melolos sebatang pedang, “trang”, terdengar suara mendering dengan cahaya yang menyilaukan. Tanpa terasa ia berseru memuji, “Pedang bagus!”

“Biarpun pedang ini terhitung senjata tajam, tapi belum apa-apa kalau dibandingkan senjata yang lain,” ujar Giok-long. Lalu ia mengambil semacam senjata dan berkata pula, “apakah kau kenal senjata ini?”

Senjata itu berbentuk kepala naga, ada tanduknya dan mulut terbuka sehingga kelihatan lidahnya.

“Tampaknya seperti Kim-liong-pian (ruyung naga emas)” kata Siau-hi-ji.

“Betul, ini memang Kim-liong-pian, tapi ruyung ini berbeda daripada ruyung umumnya.”

“O, ya?”

“Ruyung ini bernama Kiu-hian-sin-liong-pian (ruyung naga nawa sakti), senjata ini sekaligus mencakup sembilan daya-guna.”

“Wah, sungguh menarik, coba ceritakan!”

“Sepanjang ruyung ini penuh sisik terbalik yang dapat dibuat membetot senjata musuh atau juga buat melengket senjata rahasia lawan, tanduk yang bercabang ini khusus mengatasi segala macam senjata lemas lawan, kalau lidah terjulur dapat digunakan untuk menutuk Hiat-to. Mulut naga yang terbuka itu dapat menggigit senjata musuh, selain itu sepasang naga itu adalah senjata rahasia yang dapat meletus, di mulut naga tersimpan pula tiga belas biji paku berbisa, asal lawan berdarah segera tutup napas. Dalam keadaan kepepet, batang ruyung yang penuh sisik itu pun dapat dihamburkan untuk menyerang musuh.”

“Wah, benar-benar senjata bagus, senjata lihai!”

“Cuma sayang senjata macam begini, di seluruh jagat ini hanya ada dua buah saja. Entah mengapa yang sebuah ini dapat berada di sini.”

“Dan di mana pula yang sebuah?”

“Senjata ini sudah lama menghilang di dunia Kangouw, yang sebuah lagi juga entah lenyap ke mana. Kalau saja yang sebuah itu muncul pula di dunia Kangouw, maka sukar dibayangkan betapa banyak akan mengambil korban.”

“Sungguh tidak menyangka usiamu sebelia ini, tapi sudah sangat hafal terhadap senjata yang hebat itu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tiba-tiba Kang Giok-long mengedip seakan-akan menyadari apa yang diucapkannya itu agak terlalu banyak, cepat ia menjawab, “Ah, aku pun dengar dari orang lain. Kau tahu ayahku sangat luas pergaulannya dan di antara sahabatnya tentu ada satu-dua orang yang serba tahu.”

“Jika demikian, jadi kau dapat menggunakan senjata ini?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa hambar.

“A … alangkah baiknya jika kudapat menggunakan senjata ini,” jawab Giok-long dengan menyeringai. Seperti acuh tak acuh ia taruh kembali ruyung itu, padahal matanya terus mengincar gerak-gerik tangan Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji tertawa-tawa saja seperti menaruh perhatian apa-apa, tapi pandangannya sebenarnya juga tidak pernah meninggalkan ruyung sakti yang dipegang Kang Giok-long.

Meski keduanya masih muda belia, tapi betapa licin jalan pikiran mereka biarpun dua puluh tujuh kakek berumur tujuh puluh tahun bergabung menjadi satu juga tiada melebihi salah satu di antara mereka.

“Kalau begitu, bila salah sebuah senjata yang terdapat di sini dikeluarkan pasti juga akan membikin geger dunia persilatan,” ujar Siau-hi-ji. “Lebih-lebih ruyung sakti ini …. Ai, toh aku tidak mahir menggunakannya, biarlah kau ambil saja.”

Tapi sebelum habis Siau-hi-ji berkata, lebih dulu Kang Giok-long sudah menyingkir ke sana, jawabnya dengan tertawa, “Senjata keji begitu, lebih baik tak kupakai.”

“Padahal senjata adalah benda mati, yang hidup manusianya, asalkan manusianya kuat, senjata apa pun yang dipakainya juga sama saja, senjata begini memang sebaiknya jangan digunakan,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Mendadak ia lolos sebilah pedang yang tajam, ia tabas ruyung beracun itu hingga terkutung menjadi berpuluh bagian.

Dengan sendirinya Kang Giok-long tetap tersenyum simpul dan berulang-ulang menyatakan setuju senjata keji itu dimusnahkan saja. Tapi berbareng ia lantas berpaling ke sana, matanya merah beringas, kalau bisa Siau-hi-ji hendak diganyangnya bulat-bulat.

Perlahan Siau-hi-ji meraba pedangnya, katanya dengan tertawa, “Sungguh pedang bagus, mestinya akan kubawa serta, tapi kupikir lebih baik tetap kutinggalkan di sini saja, bagi orang seperti diriku ini, biarpun bertangan kosong juga ….”

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar Kang Giok-long menjerit, “He, lihat ini ….”

Kiranya di pojok sana tergeletak serangka jerangkong yang bersandar miring pada dinding. Pakaian pada jerangkong yang bersandar miring itu pun sudah hancur, kerangka tulang yang mestinya berwarna putih kelabu kini telah berubah menjadi kehitam-hitaman, di bawah kemilau sinar berbagai senjata itu tampaknya menjadi seram.

“Aneh, mengapa orang ini bisa mati di sini?” Mengapa dia tidak dibuang ke dalam kuburan tadi?” demikian Kang Giok-long bergumam sendiri.

“Orang yang dapat masuk ke kamar ini mungkin adalah tuan rumahnya,” ucap Siau-hi-ji. “Tuan rumah di sini dengan sendirinya mutlak tokoh terkemuka dunia persilatan.”

“Tapi tuan rumah mengapa bisa mati di sini?” demikian ia menambahkan pula dengan berkerut kening. “Siapakah yang membunuhnya? Kalau melihat caranya bersandar di situ jelas tiada tanda-tanda gerakan melawan, terang dia dibinasakan lawannya dengan sekali hantam.”

“Bila melihat warna tulangnya, tampaknya dia mati keracunan,” kata Giok-long.

“Benar,” tukas Siau-hi-ji.

Sejenak kemudian, mendadak kedua orang berseru berbareng, “He, kiranya dia terkena senjata rahasia berbisa.”

Kiranya mereka menemukan di antara ruas tulang jerangkong itu tertancap berpuluh-puluh jarum lembut, jarum perak sekecil itu ternyata dapat menembus kulit daging dan menancap di tulang.

“Lihai amat senjata rahasia ini dan luar biasa kejinya,” kata Siau-hi-ji dengan ngeri.

“Entah sia … siapa yang turun tangan sekeji ini,” ucap Giok-long.

Siau-hi-ji memandangnya sekejap, katanya kemudian, “Tidak perlu kau ganti ucapan, tidak cuma kau yang kenal senjata rahasia ini, aku pun tahu.”

“Ya, Tau-kut-coan-sim-ciam (jarum penembus tulang dan penancap hati) ini memang tidak malu sebagai senjata rahasia nomor satu di dunia,” kata Kang Giok-long dengan menyengir. Mendadak sekilas dilihatnya di rak senjata sana ada sebuah bumbung kecil berwarna kuning kemilau, cepat ia menggunakan tubuhnya untuk mengalingi pandangan Siau-hi-ji, sembari berbatuk-batuk ia terus menggeser ke sana.

“Ah, jika kau terbatuk-batuk terus, aku bisa ketularan olehmu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Habis itu ia benar-benar ikut terbatuk-batuk sehingga berjongkok.

Pada waktu Siau-hi-ji berjongkok itulah, secepat kilat tangan Kang Giok-long terus meraih bumbung kecil tadi. Tak diketahuinya bahwa pada saat yang sama Siau-hi-ji juga telah mengambil sesuatu benda dari tangan jerangkong itu terus disisipkan ke baju.

Yang diambil Siau-hi-ji itu hanya sepotong bambu dan tak diketahui apa gunanya, dia hanya merasakan benda yang tergenggam kencang di tangan orang mati, mustahil kalau benda itu tiada gunanya.

Kang Giok-long sendiri berusaha menahan rasa girangnya, ia pura-pura berkerut kening dan berkata, “Jika orang mati ini pemilik tempat ini, mengapa dia bisa diserang orang mati di sini? Apabila dia bukan tuan rumahnya, tentunya tiada alasan dia mati di sini.”

“Ya, kalau dia bukan tuan rumahnya, pada hakikatnya dia tidak dapat masuk ke sini,” Siau-hi-ji menambahkan. “Tampaknya di sini masih banyak tersimpan rahasia dan teka-teki yang belum tersingkap.”

“Rahasia yang menakutkan,” tukas Giok-long.

“Di dunia ini tidak ada rahasia yang menakutkan, semua rahasia di dunia cukup menarik,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Begitulah mereka lantas keluar dari ruangan yang menakutkan dan juga menarik itu, mereka jalan berjajar sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan mereka yang memegangi lentera untuk membuktikan bahwa mereka tidak mengambil sesuatu benda yang berada di kamar itu.

Waktu mereka memutar lagi roda besi, cahaya lentera lantas menembus ke dalam kamar besi yang berhawa dingin.

Kang Giok-long melangkah masuk lebih dulu, baru saja ia memandang sekejap sekeliling, sekonyong-konyong ia menjerit dan mundur kembali, sikap kagetnya itu mengingatkan orang pada perempuan yang kaget melihat lelaki telanjang.

“Ada apalagi di dalam situ?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan muka pucat Giok-long menjawab, “Pernahkah kau lihat jerangkong berdiri?”

“Jerangkong berdiri? Belum pernah lihat.”

“Segera kau dapat melihatnya.”

“Ehm, jerangkong berdiri, menarik juga!” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa sambil melangkah masuk.

Tapi segera ia tidak jadi tertawa lagi. Ruangan besi sangat luas dan amat tinggi. Sekeliling kosong melompong tiada sesuatu barang pun, seorang kalau berdiri di situ akan merasa seperti berdiri di tengah lapangan yang luas.

Justru di tengah ruangan yang luas dan seram itulah terkontal-kantil berdiri dua kerangka jerangkong. Dua jerangkong yang putih dan saling rangkul dengan erat. Sudah tentu kulit daging kedua orang mati itu sudah hancur dan musnah, tapi kedua kerangka jerangkong itu masih berdiri saling rangkul.

Merinding juga Siau-hi-ji menyaksikan keadaan itu, tapi di mulut ia berkata dengan tertawa, “Mungkin mereka ini lelaki dan perempuan, bahwa menghadapi ajal mereka tetap berpelukan, dapat diduga hubungan mereka pasti sangat istimewa, bisa jadi mereka mati demi cinta.”

“Kalau antara mereka ada hubungan istimewa, tentunya mereka tidak mati berdiri,” kata Giok-long yang telah ikut masuk.

“Ah, hal ini tak terpikir olehku,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Ya, dalam hal ini kau memang lebih berpengalaman daripadaku. Tapi kalau kedua orang ini lelaki semua, sebab apa pula berpelukan?”

Sembari bicara ia pun mendekat ke sana, ia termenung di depan kedua jerangkong itu, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata pula, “Kedua orang ini ternyata lelaki semua.”

“Sudah jelas engkau melihatnya?” tanya Kang Giok-long.

“Ehm,” jawab Siau-hi-ji.

“Hubungan antara lelaki dan lelaki terkadang juga bisa mesra.”

“Tapi hubungan kedua orang ini bukan saja tidak mesra, bahkan sangat buruk.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Giok-long.

“Lihat saja sendiri dan tentu kau akan tahu,” jawab Siau-hi-ji.

Kiranya kedua kerangka jerangkong itu sebenarnya tidak berpelukan, tapi telapak tangan orang sebelah kiri langsung menusuk masuk ke dalam iga orang yang sebelah kanan, dengan tangan telanjang dapat menusuk ke dalam lambung lawannya, betapa hebat ilmu silatnya sungguh sukar dibayangkan. Akan tetapi rusuk sendiri juga patah tujuh atau delapan batang, tulang tenggorokannya juga kena diremas hancur oleh lawannya sehingga kepalanya terkulai di atas pundak lawan.

Jadi kedua orang ini saling melancarkan serangan maut dalam satu duel sengit dan akhirnya gugur bersama.

“Sungguh Eng-jiau-kang (ilmu cakar elang) yang lihai dan tenaga pukulan yang dahsyat,” kata Kang Giok-long dengan kagum. “Tampaknya kedua orang ini adalah tokoh terkemuka dunia persilatan, entah mengapa bisa mati di sini.”

Belum habis ucapannya, terdengarlah suara gemeresak, kedua kerangka jerangkong itu serentak ambruk dan berubah menjadi onggokan tulang.

Siau-hi-ji termenung sejenak, katanya, “Melihat kelihaian ilmu silat mereka, mungkin mereka pun salah satu tuan rumah di sini, mereka mengasingkan diri bersama di tempat rahasia begini, hubungan mereka tentu sangat karib, tapi mengapa mereka saling labrak mati-matian dan berakhir dengan gugur bersama.” Sembari berkata ia menjemput pula dua macam barang dari onggokan tulang itu.

“Yang kuherankan adalah sebab apa tiada yang mengurus kematian kedua orang ini? Bahwa jerangkong mereka sampai tadi masih berdiri, ini menandakan kamar ini sudah berpuluh tahun tidak pernah dimasuki orang,” ujar Kang Giok-long.

“Betul juga,” ucap Siau-hi-ji sambil menyimpan kedua barang yang ditemukannya tadi.

“Lalu, ke mana perginya orang-orang lain yang menghuni istana bawah tanah ini? Memangnya sudah mati semuanya?”

“Bukan saja mati semua, bahkan mati dalam waktu yang sama, kalau tidak, kerangka tulang mereka tentu takkan tertinggal sampai sekarang.”

Baru sekarang mereka menemukan di ruangan longgar dan seram ini masih ada lima buah meja pendek, di atas meja ada alat-alat tulis dan buku.

“Tampaknya ruangan ini adalah kamar tulis, sungguh menarik,” kata Siau-hi-ji.

“Bukan kamar tulis, kamar tulis tidak seluas ini,” ujar Giok-long.

“Orang suka kamar yang besar, peduli apa kau?” kata Siau-hi-ji sambil melangkah ke sana. Ia membalik-balik iseng halaman buku yang terletak di meja itu. Mendadak air mukanya berubah hebat.

Melihat itu, cepat Kang Giok-long juga mendekat ke sana, ia pun membalik-balik halaman buku di meja lainnya. Hanya sebentar saja membaca isinya, seketika air mukanya juga berubah.

Buku-buku itu tersusun dari kain sutera yang halus, yang tercatat di situ ternyata adalah ajaran ilmu silat yang mahatinggi.

Meski ilmu silat Siau-hi-ji dan Kang Giok-long diperoleh dari guru yang ternama, tapi kini mereka pun merasa tercengang ketika mengetahui ilmu silat yang pernah mereka pelajari itu pada hakikatnya tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan ilmu silat yang tercatat dalam buku itu. Buku sutera itu masih terpegang di tangan mereka dan terasa berat untuk dikembalikan ke tempat semula.

Sampai agak lama barulah Siau-hi-ji menarik napas panjang, katanya, “Tahulah aku sekarang.”

“Kau tahu apa?” tanya Giok-long sambil tetap memandangi buku yang dipegangnya itu.

“Di sini tentu ada lima orang top jago silat, mereka berlima berkumpul di ruangan ini untuk berlatih, dari hasil teori dan praktik mereka inilah segera mereka catat di meja pendek itu.”

“Betul juga,” Kata Giok-long. “Makanya ruangan ini sangat luas karena memang tempat latihan ilmu silat.”

“Lima tokoh, yang sudah kita lihat baru tiga,” ujar Siau-hi-ji. “Jika tidak keliru dugaanku, pada dua kamar yang lain pasti ada jenazah kedua orang lagi. Marilah kita pergi.”

Baru sekarang pandangan Kang Giok-long beralih dari buku yang dipegangnya itu dan menegas, “Pergi? Kau … kau bilang pergi?”

“Ada apa? Masa mendadak kau tidak paham perkataanku?”

“Tapi … tapi kitab pusaka ilmu silat ini? ….” tanya Kang Giok-long.

“Taruh saja di situ, toh mereka takkan lari,” ucap Siau-hi-ji.

“Ba … baiklah … aku menurut saja,” belum habis ucapannya, mendadak ia keluarkan bumbung warna emas yang ditemukannya di kamar senjata tadi, lalu menyambung pula dengan menyeringai, “Apakah engkau masih kenal barang ini?”

Siau-hi-ji seperti terkejut, jawabnya, “Tau-kut-coan-sim-ciam ….”

“Benar, tajam benar ingatanmu,” kata Giok-long. “Sebenarnya barang ini baru akan kugunakan terhadapmu bila kita keluar dari sini. Tapi sekarang tak dapat kuampunimu lagi.”

“Kau … kau ingin membunuhku?”

“Kecuali kau mampu menghindari paku penembus tulang ini. Tapi kulihat kau tidak mempunyai kemampuan ini, di dunia ini memang tidak banyak yang memiliki kemampuan demikian.”

“Jika kau bunuh diriku, apakah kau takkan kesepian tinggal sendirian di sini.”

“Ilmu silat mahatinggi dan harta karun maha besar yang terdapat di sini kini sudah menjadi milikku seluruhnya, setelah kutemukan jalan keluarnya segera aku akan menjadi tokoh nomor satu di dunia, ya mahakaya, ya mahalihai, lalu apalagi yang perlu kutakuti?”

“Ah, baiklah jika begitu, silakan kau bunuh saja,” ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas.

“Kau tidak takut?” tanya Giok-long sambil menyeringai.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya, “Kutakut? Hahahaha, apa yang perlu kutakuti? Bumbung jarum berbisa yang kau pegang itu kosong!”

“Kosong?” Giok-long menjadi pucat.

“Masakah tak kau pikirkan, apabila bumbung jarum itu tidak kosong, kenapa orang membuangnya di lantai. Jarum yang tersimpan di dalam bumbung itu sudah digunakan pemiliknya untuk membunuh lawannya, habis itu barulah dia buang bumbung kosong ini. Teori sederhana begini masakan tak terpikirkan olehmu?”

“Kau … kau ….” suara Giok-long menjadi gemetar.

“Tadi kau pura-pura batuk untuk menjemput bumbung ini, jika aku tidak yakin bumbung ini kosong, mana bisa kubiarkan kau mengambilnya,” setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, “Apalagi jarum ini sangat sukar cara pembuatannya, bumbung tanpa jarum sama dengan benda tak berguna.”

Dahi Kang Giok-long tampak berkeringat, katanya dengan tergagap, “Bukan … bukan maksudku hendak membunuhmu sungguh-sungguh, aku hanya … hanya ….” Mendadak “trang” sekali, bumbung yang dipegangnya itu jatuh ke lantai.

“Ya, ya, kutahu engkau hanya bercanda saja denganku,” ucap Siau-hi-ji setengah mengejek.

“Sumpah mati, sejak awal mula kupandang engkau sebagai kakakku,” kata Giok-long pula dengan sikap sungguh-sungguh, sedikit pun tidak malu.

“Memangnya, kau pandang diriku sebagai kakak, mana bisa kau membunuhku.”

“Asalkan Toako tahu saja, maka legalah hati Siaute (adik),” kata Kang Giok-long.

“Dan sekarang, kau mau keluar bukan?”

Giok-long mengiakan dan terpaksa melangkah keluar dengan tertunduk.

Kini yang diputar Siau-hi-ji adalah roda timah. Dengan tertawa ia berkata, “Kamar batu itu adalah kuburan, kamar besi dijadikan ruangan latihan, kamar emas tempat harta pusaka, kamar tembaga tempat senjata, semua itu memang masuk di akal. Dan apa isi kamar timah ini, dapatkah kau menerkanya?”

“Jangan-jangan kamar tidur?” ucap Giok-long sambil berkedip-kedip.

“Persetan! Masa tidur di kamar timah?” kata Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Menurut pendapatmu, apa isi kamar ini?”

“Kukira ….” belum lanjut ucapan Siau-hi-ji, terlihatlah dinding timah telah mulai bergerak dan mendadak dari dalam menerjang keluar seekor singa sehingga Giok-long yang tepat berdiri di depan dinding itu hampir kena terkam. Keruan anak muda itu terkejut dan cepat melompat mundur.

Waktu diteliti, kiranya singa itu sudah tidak bernyawa lagi, bulunya masih utuh, tapi kulit dagingnya sudah tidak ada lagi, hanya tertinggal kerangka tulang berbalut kulit yang menakutkan itu saja.

“Singa itu tentu kelaparan setengah mati dan berusaha keluar, waktu mati dia masih berdiri bersandar pintu sehingga membuat kaget kita pula,” kata Siau-hi-ji.

“Sungguh tak tersangka bahwa tempat ini adalah kandang binatang buas,” ucap Giok-long.

“Mereka memelihara binatang buas di kamar ini, kukira pasti juga mempunyai maksud tujuan ….” sembari berkata begitu ia pun sudah melangkah masuk dan mendadak berseru pula, “Ah, kiranya begitu tujuannya.”

Cepat Kang Giok-long ikut masuk ke situ, dilihatnya ruangan yang berwarna putih kelabu itu penuh bercahaya gemilapan menyilaukan mata. Dipandang dari jauh bisa jadi orang akan menyangka ruangan ini tersimpan harta pusaka pula. Tapi setelah diawasi barulah jelas bahwa harta pusaka yang beraneka warna itu tidak lain daripada berbagai benda jenis botol kecil yang bentuknya aneh dan berbeda-beda.

“Tentunya kau tahu apa isi botol-botol ini?” tanya Siau-hi-ji.

Giok-long menarik napas dingin, katanya, “Racun!”

“Benar, mereka memelihara singa ini untuk menjaga obat racun di sini.”

“Tapi … tapi siapakah yang mampu masuk ke sini? Pada hakikatnya mereka tidak perlu menjaganya.”

“Yang mereka jaga justru kawan sendiri.”

“Kawan sendiri?” Giok-long mengeret dahi.

“Ya, misalnya kau tinggal bersamaku setiap saat aku pun harus waspada kalau-kalau kau meracuni aku. Tapi dengan singa penjaga ini tentu sukar jika ingin masuk ke sini untuk mencuri racun, sebab pasti akan ketahuan kawan yang lain.”

Habis itu, mendadak Siau-hi-ji berjongkok memandang lantai dan berseru, “Ah, jenazah orang keempat ternyata betul berada di sini!”

Giok-long melihat Siau-hi-ji hanya menjemput sekerat tulang dari lantai. Setelah berpikir ia pun berseru, “Hah … jangan-jangan mayatnya telah menjadi isi … isi perut singa?”

“Ya, mungkin sudah nasib bagi orang ini, bukan saja terbunuh di sini, bahkan mayatnya dimakan singa,” ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

Lalu ia jemput pula dua kerat tulang, katanya sambil mengernyit kening, “Tampaknya selain singa di sini masih ada serigala dan harimau.”

“Serigala dan harimau? Di mana?”

“Kakap makan teri, yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Tentunya lebih dulu kawanan binatang buas itu makan manusia, habis itu serigala dimakan harimau dan singa, lalu giliran harimau dimakan singa. Maklumlah, selera makan singa biasanya lahap dan tidak pandang bulu.”

Sekonyong-konyong Kang Giok-long tertawa ngakak.

“Urusan apa membuatmu bergembira?” tanya Siau-hi-ji.

“Coba menoleh!” sahut Kang Giok-long dengan tertawa. Entah sejak kapan dia ternyata sudah memegang sesuatu benda kehitam-hitaman seperti bumbung bambu. Sambil tertawa ia berkata pula, “Sungguh mujur aku sehingga dapat menemukan mestika ini.”

“Apa itu?” tanya Siau-hi-ji sambil berkedip.

“Kau tidak kenal benda ini? Sungguh dangkal pengetahuanmu? Dahulu jago pedang nomor satu di dunia Bu-tim Totiang juga tewas oleh barang-barang ini, supaya kautahu, inilah Ngo-tok-cui (air pancabisa) yang lihai, tubuh siapa saja asalkan kena setitik air ini, dalam waktu setengah jam saja sekujur badan pasti akan membusuk dan mati.”

“Wah, jika begitu, bawalah ke sana agak jauh agar aku tidak kena,” kata Siau-hi-ji.

“Hm, kau berlagak pilon atau memang bodoh dan tidak paham?” jengek Kang Giok-long sambil menyeringai.

“Hah, masakah kau … kau hendak membunuhku?” Siau-hi-ji garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Sekali ini jangan harap kau mampu lolos lagi,” ancam Giok-long. “Air berbisa ini baru saja sudah kucoba, asalkan tanganku sedikit bergerak, maka tamatlah riwayatmu.”

“Apakah kau benar-benar harus membunuh diriku?” tanya Siau-hi-ji sambil tersenyum getir.

“Kalau tadi kau tidak banyak cincong dan membiarkan kubawa serta kitab pusaka ilmu silat itu, bisa jadi kau akan hidup lebih lama, tapi sekarang mau tak mau kau harus mati.”

“Jangan lupa, mestinya aku dapat membunuh dirimu, tapi selama ini tidak kulakukan.”

“Hm, itu kan salahmu sendiri, jangan menyesalkan diriku,” jengek Kang Giok-long.

“Hah, bagus ….” seru Siau-hi-ji gegetun. Habis ini mendadak ia tertawa dan berkata, “Hahaha, coba lihat dulu apa yang kupegang ini.”

Yang dipegangnya ternyata adalah bumbung jarum berbisa yang dibuang Kang Giok-long tadi.

Dengan sendirinya Kang Giok-long tertawa geli, ejeknya, “Hahaha, mungkin kau ketakutan sehingga otakmu miring, masa menggunakan bumbung kosong itu untuk menggertak orang.”

“Kosong? Siapa bilang?” tanya Siau-hi-ji dengan terkikik.

“Kau … kau sendiri tadi ….” Kang Giok-long jadi melenggong malah.

“Ya, memang benar tadi kubilang bumbung ini kosong, tapi itu tipu belaka. Coba pikir, dalam keadaan begitu, kalau aku tidak menipumu, lalu apa jadinya?”

Advertisements

1 Comment »

  1. MANTAP seru bgt,
    nambah pengalaman

    Comment by Firman — 21/02/2013 @ 6:07 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: