Kumpulan Cerita Silat

16/04/2008

Darah Ksatria: Bab 21. Kesetiaan Yang Teruji

Filed under: Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:06 am

Darah Ksatria
Bab 21. Kesetiaan Yang Teruji
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Manusia kenapa harus mempertahankan hidup? Apakah karena ia ingin melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan? Kalau seorang beranggapan tugas yang mutlak ia kerjakan tak mampu ia lakukan, lalu apa artinya ia bertahan hidup?

Sumur itu terletak di tengah pekarangan. Mentari pagi sudah memancarkan cahayanya yang benderang, hawa sejuk dan nyaman, tampak merah darah. Darah memang berceceran di tanah. Darah orang lain, juga darah dari tubuh Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi.

Waktu Thiat Tin-thian menerjang keluar, sebilah Bian-to menyongsong batok kepalanya. Golok tipis itu membacok lurus dengan jurus lihai, namun sekali raih sambil menundukkan kepala, Thiat Tin-thian berhasil menangkap pergelangan tangan orang terus dipelintirnya ke kiri, berbareng tangan yang lain mencengkeram pundaknya. Di tengah raungan gusarnya, lengan orang ini ia betot hingga putus seperti pengemis menarik paha ayam panggang layaknya. Sayang yang menjadi korban kelihaian permainan telapak tangannya bukan Coat-taysu, juga bukan Pang Tio-hoan, tapi seorang jago silat yang tidak terkenal.

Di luar pintu dapur ditaruh dua kursi, Coat-taysu dan Pang Tio-hoan tampak bercokol dengan kereng tanpa bergerak. Dengan dingin mereka mengawasi buronan yang mirip tikus di tengah jalan raya, terkepung rapat dan tak mampu melarikan diri. Jumlah orang yang berkumpul di sini tidak sedikit, mereka adalah orang-orang yang ingin mengganyang gembong iblis pembunuh saudara atau keluarganya, maka mereka pula yang harus beraksi, berebut pahala. Kecuali menuntut balas, Coat-taysu dan Pang Tio-hoan segan turun tangan, mereka menjaga gengsi, tidak mau menghadapi lawan yang sudah terluka.

Coat-taysu, Pang Tio-hoan dan lain-lain memang tidak menyangka kalau di bawah sumur masih ada orang ketiga. Setiap manusia, siapa pun orangnya, bila menghadapi suatu peristiwa di luar dugaan atau di luar perhitungannya, sedikit banyak tentu akan terkejut. Begitu lena sekejap saja, maka akan mengundang kesalahan yang fatal akibatnya.

Mumpung ada kesempatan, sebetulnya Ma Ji-liong sudah siap memberikan sergapan yang mematikan. Asal seorang di antara dua gembong silat ini berhasil dilumpuhkan, itu berarti ia punya harapan dan peluang untuk merobohkan lagi yang lain.

Sayang sekali perhitungan Ma Ji-liong meleset jauh dari dugaan semula. Begitu ia menerjang keluar, ternyata Coat-taysu dan Pang Tio-hoan jauh beberapa tombak dari mulut sumur. Namun Ma Ji-liong sudah terlanjur bertindak, sudah terlanjur bergerak, maka ia tetap menerjang ke sana. Ia sudah bertekad berbuat sesuai rencana dan keinginan hatinya, tidak memikirkan gagal atau berhasil. Apalagi keadaan segenting ini, ia tidak boleh berhenti atau membatalkan rencana.

Ma Ji-liong masih berpakaian hitam dari kain kasar, kedok kepalanya yang hitam entah sejak kapan sudah ia tanggalkan, mungkin waktu pertama kali ia terjun ke dasar sumur tadi.

Selama berkecimpung di kalangan Kangouw, belum pernah Ma Ji-liong merasa gentar menghadapi persoalan pelik, sekalipun di saat dirinya masih normal, normal dalam arti dirinya adalah Ma Ji-liong tulen, bukan Thio Eng-hoat seperti sekarang. Wajah yang sekarang sudah tentu bukan wajah Ma Ji-liong yang pernah dikenal oleh Coat-taysu, Thio Eng-hoat tidak dikenal atau pernah dilihat oleh orang persilatan di mana pun.

Bahwasanya kepandaian Ma Ji-liong belum terhitung kelas wahid atau jago kosen kalangan Kangouw, tapi sejak ia mulai belajar berjalan, ayah bundanya sudah melatih dirinya hingga umur tujuh tahun mulai dipupuk dasar pelajaran silat. Ilmu silat Ji-liong mungkin tak sejajar dengan ilmu silat Siau-lim dan Bu-tong yang sudah tercatat dalam lembaran sejarah sebagai aliran silat yang ternama, perguruan besar yang disegani dan ditakuti, namun ilmu silat Thian-ma-tong mempunyai ciri khas dan keistimewaan sendiri.

Seseorang bila berhasil dan sukses mengejar karir hingga terkenal, kuat bertahan sampai lama, pasti mempunyai kemampuan yang luar biasa, keistimewaan yang boleh diagulkan, terutama Ginkang dari keluarganya, ilmu ringan tubuh dari Thian-ma-tong.

Sudah puluhan tahun, turun temurun Ginkang Thian-ma-tong malang melintang, bagai kuda terbang yang melesat di udara. Di kala menyergap musuh dari udara, perbawanya memang amat mengejutkan.

Seorang laki-laki baju hitam yang kelihatan kasar, sederhana dengan gerak tubuh secepat kilat mendadak menerjang keluar dari dalam sumur yang semula dikira tidak ada orangnya lagi, langsung menubruk ke arah dirinya, sudah tentu Coat-taysu amat kaget dan heran. Menghadapi kejadian di luar dugaan, siapa pun pasti kaget dan panik, apalagi penyergap ini memiliki Ginkang yang tinggi.

Sigap sekali Thiat Tin-thian melemparkan korbannya ke samping. Dengan raungan keras ia menjejakkan kaki, tubuhnya melesat ke depan mengejar Ma Ji-liong dengan tubrukan katak, kedua tangannya ternyata dapat mulur beberapa senti lebih panjang. Tangkas sekali ia berhasil mencengkeram ikat pinggang Ma Ji-liong, berbareng jari telunjuk dan jari tengahnya menutuk Hiat-to di belakang pinggangnya. Di saat suara raungannya belum sirap, sekuat tenaga ia menarik dan melemparkan Ma Ji-liong ke belakang dari atas kepalanya. Mati pun Thiat Tin-thian tidak rela sahabatnya ini berkorban untuk dirinya, ia harus mencegah perbuatan nekad Ji-liong.

Di saat Ma Ji-liong menyergap dari udara, dilihatnya Coat-taysu sudah berdiri sambil mengulurkan kedua tangannya ke depan. Telapak tangannya dengan jari-jari setengah tertekuk bagai cakar elang sudah berubah dua kali, dari warna hijau pupus menjadi merah maron, demikian pula urat hijau di punggung tangannya juga berubah merah kuning, mirip cahaya matahari di kala tenggelam ke peraduannya, mulai redup tapi gemerdep.

Tidak ada orang lain yang lebih paham kecuali Thiat Tin-thian, betapa mengerikan pukulan Sam-yang-coat-hu-jiu itu. Secara lahir batin Thiat Tin-thian sudah merasakan betapa besar siksa derita orang yang terkena pukulan keji ini, maka ia harus mencegah Ma Ji-liong menyerempet bahaya demi dirinya.

Coat-taysu yang sudah berjingkrak berdiri dan siap menyerang dengan kedua telapak tangannya, kini menurunkan lagi kedua tangannya, lalu duduk pula di tempatnya, tatapan matanya dingin, “Siapa orang ini?” pertanyaannya dingin kaku.

“Seorang kawan,” sahut Thiat Tin-thian.

“Hm, kau juga punya kawan?” jengek Coat-taysu.

Thiat Tin-thian tertawa latah, serunya, “Orang she Thiat membunuh orang tak terhitung banyaknya, musuh tersebar luas di seluruh pelosok dunia, tapi yakin kawanku tidak kalah banyak dibanding kau. Apalagi kawan seperti dia, aku yakin selama hidupmu kau justru tak pernah punya kawan seperti kawanku yang satu ini.”

Lama Coat-taysu menatapnya dengan memicingkan mata, perlahan ia menoleh ke arah Ma Ji-liong yang berdiri tak jauh di pinggir sana. “Apa betul kau kawannya?”

“Betul,” tegas jawaban Ma Ji-liong.

“Apa betul kau rela berkorban untuk kawanmu ini?”

Ma Ji-liong menjawab, “Aku berani berkorban untuk diriku sendiri, jiwaku berani kupertaruhkan.” Ia tidak sengaja merubah suara, tapi suaranya memang berubah.

Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long yang lihai bukan saja merubah bentuk wajahnya, dia juga merubah suaranya.

Sudah tentu Coat-taysu juga tidak kenal suaranya, maka ia bertanya pula, “Tahukah kau, kenapa aku hendak membunuhnya?”

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia memang tidak tahu.

Coat-taysu bertanya pula, “Tahukah kau siapa tiga saudara Nyo yang dijuluki orang ‘teman bak saudara, setia dan adil tiada bandingan’?”

Ma Ji-liong tahu. Meski tidak kenal, ia pernah mendengar kebesaran nama Nyo bersaudara ini. Mereka tinggal di Ho-tiong, keluarga besar persilatan ini sudah turun temurun menjagoi daerah itu dengan kekayaan yang berlimpah-limpah. Meski tiga saudara, namun mereka hidup akur dan rukun, tri-tunggal yang kokoh kuat dan tak tergoyahkan, punya uang, ternama, berkuasa, berjiwa besar, luhur budi, setia kawan, berbakti, suka membela keadilan. Tiga saudara dengan keluarga masing-masing tinggal di dalam satu perkampungan besar, secara bergilir mereka meladeni ayah bundanya yang sudah lanjut usia.

Sikap Coat-taysu tampak prihatin, berat dan sedih, katanya pula, “Nah, dua puluh sembilan orang anggota keluarga marga Nyo itu, besar kecil, tua muda, seluruhnya mati dalam sekejap mata oleh golok Thiat Tin-thian. Tujuh belas perempuan muda yang masih hidup, ia jual ke markas tentara di perbatasan untuk dijadikan babu dan pelampias nafsu tentara yang rakus berahi itu.”

Mendadak Thiat Coan-gi meraung gusar sambil memburu ke depan, “Jangan kau mengoceh demi kebenaranmu sendiri. Tahukah kau kenapa ia berbuat demikian?” Suaranya beringas dan memilukan, “Tahukah kau dengan cara bagaimana ketiga saudara Nyo itu menyiksa dan membunuh ayah bundaku? Menggagahi isteriku dan membantai putra-putriku?”

Coat-taysu menyeringai dingin, jengeknya, “Itulah pembalasan atas perbuatanmu.”

“Betul, juga pembalasan atas perbuatan mereka!” hardik Thiat Tin-thian. “Tiga saudara Nyo dan seluruh keluarganya, akulah yang membunuhnya. Aku yang berbuat, aku yang bertanggung-jawab, tiada sangkut-paut dengan orang lain.” Lalu ia menuding beberapa orang yang tersebar di pekarangan, mereka adalah murid-murid berbagai perguruan yang dibawa Coat-taysu untuk menuntut balas, mereka siap menjagal Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi, “Orang-orang ini tentu sanak-kadang atau teman baik keluarga Nyo, mereka sudah tahu kalau aku telah terluka oleh Sam-yang-coat-hu-jiu. Mereka juga tahu, bila dapat membunuh aku, nama mereka akan terangkat dan boleh menepuk dada di muka umum sebagai penumpas kejahatan. Sebaliknya kau adalah pendekar besar, Coat-taysu yang tersohor, tidak perlu kau ikut rebutan pahala, celaka kalau kau gugur di tanganku.”

Coat-taysu diam saja, hanya sorot matanya tampak gusar dan beringas.

Thiat Tin-thian juga makin beringas, lebih emosi, teriaknya, “Tapi aku belum mampus, kalian ingin merenggut jiwaku, maka kau undang orang-orang bodoh yang gila jasa ini, tapi yakinlah, sebelum aku ajal, aku masih mampu memelintir putus leher beberapa orang, memukul remuk badan mereka.”

Coat-taysu menyeringai, katanya, “Mereka membela keadilan, mengejar kebajikan, mati demi menuntut balas sakit hati teman, tidak perlu dibuat menyesal, aku tidak bisa dan takkan mencegah mereka berjuang demi kemuliaan.”

Thiat Tin-thian berkata, “Baiklah, aku akan menyempurnakan mereka sekuat tenagaku.” Lalu ia menuding Ji-liong, “Apa yang pernah kulakukan sedikit pun tiada sangkut-pautnya dengan orang ini. Asal kau membiarkan dia pergi, terserah siapa yang kau suruh memenggal leherku, aku pasti takkan membalas.”

Lama Coat-taysu mengawasinya dengan mata terpicing, sekilas ia menoleh ke arah Ma Ji-liong, “Sebelum hari ini, aku belum pernah melihat kau, kelihatannya kau bukan orang jahat.”

Ma Ji-liong hanya mendengar, tidak bicara, tidak bertanya, tidak membantah juga tidak memberi komentar.

“Sejak kapan kau berkenalan dengan Thiat Tin-thian?” tanya Coat-taysu.

“Baru saja,” sahut Ma Ji-liong.

“Ya, kapan?” desak Coat-taysu.

Thiat Tin-thian menimbrung, “Belum setengah hari ia kenal denganku.”

Coat-taysu menghela napas, katanya, “Kenal belum setengah hari tapi sudah rela mengadu jiwa untuk orang lain? Memang jarang ada manusia seperti dirimu.” Mendadak ia menoleh ke arah Ma Ji-liong, lalu katanya sambil mengulapkan tangan, “Kau pergi saja.”

Ma Ji-liong tetap berdiri di tempatnya, berdiri tegak tidak bergeming.

Coat-taysu menatapnya lagi sekian lama, kemudian ia bertanya, “Kau tak mau pergi?”

“Aku tidak akan pergi,” sahut Ma Ji-liong tegas. “Pasti takkan pergi.”

That Tin-thian meraung lagi, “Kau harus pergi, lekas pergi.”

“Hanya ada satu cara untuk memaksa aku pergi,” suara Ma Ji-liong lantang tapi tenang dan wajar, tegas lagi berani, “Bunuh aku dan gotong pergi.”

Memicing mata Coat-taysu, jengeknya, “Tidak sukar membunuhmu. Tadi kalau dia tidak menarikmu, sekarang kau sudah digotong pergi, tahu.”

“Aku tahu.”

“Kau ingin digotong pergi?”

“Ya, bila perlu dan terpaksa.”

“Kenapa kau ngotot ingin membela mereka?”

“Tidak kenapa.”

Bahwasanya jawaban ini tidak kena sasaran. Seseorang boleh ‘tidak kenapa’ berkenalan dan bersahabat dengan orang lain yang dianggap cocok, tidak memikirkan untung ruginya, tidak perduli akibatnya, juga tiada maksud dan tujuan tertentu. Tetapi setelah berkenalan dan bersahabat dengan orang itu, apa yang ia lakukan untuk temannya, bukan lagi dinilai dengan dua buah kata ‘tidak kenapa’, tapi lantaran suatu ikatan atau tepatnya karena adanya jalinan persahabatan yang meresap akrab lahir batin, yang pasti jalinan persahabatan itu sukar dijelaskan bentuknya.

Karena suatu tujuan lantas berbuat atau melakukan, demi keadilan berani melakukan, keberanian yang ditunjang kesetiaan, untuk memberikan pertanggungan jawab terhadap nurani dan rohani, supaya dirinya tidak bisa tidur di tengah malam mana kala sedang bermimpi buruk. Supaya dirinya tidak berdosa, menanggung beban batin di kala hidup, biar mati juga lega, mati dengan tenteram.

Kenapa bisa terjadi ‘tidak kenapa’? Kalau sukses bagaimana? Kalau gagal kenapa pula? Kalau hidup kenapa? Kalau mati bagaimana?

Sukses atau gagal, mati atau hidup tetap takkan goyah, terus maju tak mau berpaling, tidak mau menundukkan kepala.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: