Kumpulan Cerita Silat

14/04/2008

Pendekar Binal (04)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:01 pm

Pendekar Binal (04)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

“Sudahlah kumohon, kau … kau bukan tandingannya, dia teramat cepat!” ucap Sim-lan dengan gemetar.

Tapi Siau-hi-ji sudah berdiri kembali, biarpun meringis kesakitan, dia masih siap tempur, katanya, “Justru dia terlalu cepat, makanya tidak mampu memukul mati aku … pukulannya teramat cepat, kekuatannya menjadi tidak keras, masakah kau tidak paham teori ini?!”

Air muka Siau-sian-li berubah juga, sungguh tak terkira olehnya bahwa si setan cilik ini sedemikian bandel dan masih mampu berdiri pula, padahal ia tahu pukulan sendiri sebenarnya cukup keras. Kalau orang lain, setelah mengalami tiga kali pukulan tadi, andaikan tidak mampus sedikitnya juga sekarat, tapi setan cilik ini bukan saja mampu berdiri kembali, bahkan melakukan serangan balasan lebih dulu.

Siau-sian-li menjadi geregetan akhirnya, katanya, “Baik, tulangmu memang keras, aku justru ingin tahu sampai di mana kerasnya!”

Begitulah serangan Siau-sian-li bertambah gencar dan cepat, sebaliknya perlawanan Siau-hi-ji semakin lamban. Berulang-ulang anak muda itu “knock out”, tapi begitu roboh segera ia merangkak bangun, begitu menggeletak cepat ia bangkit pula.

Air mata Thi Sim-lan sudah meleleh, dengan suara memelas ia memohon, “Siau-sian-li, lepaskan dia! Dia sudah payah!”

“Kentut, siapa bilang aku payah?” teriak Siau-hi-ji mendadak. “Dia memukul aku tujuh kali, aku pun harus balas menghantam dia tujuh kali.”

“Hm, kau mimpi belaka!” jengek Siau-sian-li, dan ketika untuk ketujuh kalinya Siau-hi-ji merangkak bangun, namun robohnya jauh lebih cepat lagi.

Sekuatnya Siau-hi-ji meronta bangun pula, tapi baru bergerak sedikit segera jatuh lagi, namun dia masih terus berusaha untuk bangkit.

Siau-sian-li pandang anak muda itu dengan mimik yang aneh, entah murka, entah benci, atau kasihan, atau tidak tega. Tapi di mulut ia tetap mendengus, “Asalkan kau mengaku kalah, segera kuampuni kau!”

“Kentut! Siapa minta diampuni?” teriak Siau-hi-ji. “Kau yang harus minta ampun padaku …. Pakaianmu akan kubelejeti, akan kugantung kau di atas pohon dan akan kucambukimu ….” sambil berkata ia pun sudah berbangkit walaupun dengan sempoyongan.

Tapi segera Siau-sian-li memburu maju, sekali tendang, kontan Siau-hi-ji terguling-guling pula.

Thi Sim-lan memejamkan mata dan tidak tega menyaksikannya, hatinya remuk, ususnya rantas, ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya sedemikian memperhatikan si setan cilik yang menggemaskan ini.

Dalam pada itu Siau-sian-li sendiri tampaknya juga rada terengah-engah, ini kelihatan dari dadanya yang jumbul-jumbul, tapi ia memaki pula, “Setan cilik, bangsat cilik, dapatkah kau berdiri pula? Dapatkah kau berhantam pula?”

Sambil mencengkeram rumput di tanah, Siau-hi-ji berusaha merangkak bangun perlahan, “Kau sendiri bangsat, kau … malahan bandit!”

“Kau berani memaki aku?” teriak Siau-sian-li gusar, segera ia memburu maju, sekali depak kembali Siau-hi-ji terguling-guling.

“Kau … kau tega benar,” jerit Thi Sim-lan dengan suara parau. “Orang sudah terkapar parah, kau masih tega menyiksanya!”

“Habis dia memaki aku!” kata Siau-sian-li dengan gemas.

“Kumaki dirimu, justru ingin kumaki … kau tamak, kau pembunuh, membunuh manusia seperti membabat rumput, kau … kau setan dan bukan bidadari. Kau gendruwo ….” demikian suara Siau-hi-ji semakin lemah, tapi masih terus mengumpat habis-habisan.

Tidak kepalang gusar Siau-sian-li sehingga tubuhnya gemetar, sebelah kakinya menginjak dada Siau-hi-ji, dampratnya, “Baik, makilah, maki lagi …. Akan kubuat kau tak mampu memaki untuk selamanya. Sebenarnya aku tak berniat membunuhmu, tapi kau sendiri memaksa aku bertindak demikian, aku ….” dengan menggereget segera sebelah tangannya hendak mengepruk batok kepala anak muda itu.

Thi Sim-lan menjerit khawatir, ia pun berusaha merangkak ke sana untuk mencegahnya. Di luar dugaan, pada saat itulah tiba-tiba Siau-hi-ji memeluk kaki Siau-sian-li yang menginjak di atas dadanya itu.

Entah dari mana datangnya tenaga, tahu-tahu Siau-hi-ji dapat mengangkat tubuh Siau-sian-li yang kecil mungil itu sehingga terpelanting, menyusul kakinya terus menendang dan tepat mengenai mata pinggang si nona.

Sungguh mimpi pun Siau-sian-li tidak pernah membayangkan bahwa orang yang sudah sekarat itu masih mampu melancarkan serangan balasan, seketika ia merasa kaki kesemutan, menyusul tubuhnya terangkat dan roboh, kepala terasa pusing dan pinggang kena tertendang pula, habis itu robohlah dia terbanting.

Bahkan Siau-hi-ji terus menubruk dan menindihi tubuh Siau-sian-li, kedua tangannya bekerja tanpa berhenti, setiap Hiat-to yang dapat dicapainya segera ditutuknya tanpa ambil pusing Hiat-to penting atau tidak.

Kejut dan girang pula Thi Sim-lan, dengan suara gemetar ia bertanya, “Hi …. hi-ji, bagai … bagaimana sampai terjadi begini?”

“Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa dia takkan mampu memukul mati aku,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, napasnya terengah-engah, “Tubuhku ini dibesarkan dalam rendaman air obat, waktu orang lain masih menetek, aku sendiri sudah mulai minum obat, jangankan dia, biarpun sepuluh kali lebih keras daripada dia juga tak dapat membuat aku menggeletak tak bisa bangun lagi.”

“Tapi … tapi tadi ….”

“Tadi aku sengaja berlagak begitu untuk menipunya,” tutur Siau-hi-ji dengan tertawa. “Dengan begitu ia akan lengah, lalu kutambahi caci maki pula supaya dia marah, jika marah kepalanya menjadi pusing dan akulah yang tertawa senang.”

Akhirnya Thi Sim-lan mengikik tawa dengan air mata dan ingus masih meleleh di mukanya. Tapi dia masih kurang yakin, ia tanya pula, “Kau benar tidak apa-apa?”

Siau-hi-ji terus berdiri tegak, jawabnya dengan tertawa, “Badanku yang laksana otot kawat tulang besi ini masakan dapat dicelakai oleh dua tangannya yang putih halus itu? Pukulannya tadi pada hakikatnya terasa seperti pijat saja bagiku.”

Namun pijat itu sesungguhnya bukan sembarang pijat, walaupun mulutnya berkata demikian, sekujur badannya terasa sakit jarem, ruas tulang pun terasa lemas semua. Dengan gemas ia pandang Siau-sian-li dengan tertawa. “Sudah kukatakan akan kubalas berapa kali pukulanmu, utang harus bayar, satu kali pun tidak boleh kurang ….” sembari berkata pukulan pertamanya benar-benar dilontarkan. Berturut-turut ia pukul empat kali, pukulannya sungguh tidak ringan.

Siau-sian-li hanya memejamkan mata, sambil menggereget ia bertahan, menjengek pun tidak.

“Asalkan kau minta ampun, akan kuberi rabat beberapa kali pukulan,” kata Siau-hi-ji.

Mendadak Siau-sian-li malah berteriak, “Kau bangsat keparat, kau pukul mati aku saja.”

Kontan Siau-hi-ji menggampar mukanya hingga si nona terpaksa tutup mulut.

Thi Sim-lan tidak sampai hati, katanya, “Sudahlah, boleh kau ampuni dia ….”

“Ampuni dia?” kata Siau-hi-ji. “Mengapa harus mengampuni dia? Tadi kenapa dia tidak mengampuni aku? Sudah kukatakan akan kubelejeti dia dan kugantung dia di atas pohon ….”

“Kau berani!” teriak Siau-sian-li dengan suara parau. “Jika berani kau lakukan begitu, ma … mati pun aku takkan mengampunimu!”

“Hahaha, selagi hidup saja aku tidak takut padamu, apalagi kalau sudah mati,” ujar Siau-hi-ji dengan bergelak-tawa. Segera ia jambak rambut Siau-sian-li dan diangkat berdiri, menyusul ia tampar muka si nona ke kanan dan ke kiri empat kali, katanya pula dengan tertawa, “Nah, kubayar dulu pokoknya, sebentar kutambahi bunga-uangnya.”

“Kau … kau kejam benar ….” muka Siau-sian-li sudah dipenuhi air mata.

“Aku kejam? Memangnya kau sendiri tidak kejam?” jawab Siau-hi-ji. “Kau hanya tahu orang lain kejam, tapi kau lupa caramu menganiaya orang lain bukankah jauh lebih kejam daripada ini?”

Makin omong makin gusar, mendadak ia terus tarik baju Siau-sian-li sehingga robek, maka tertampaklah bahu si nona yang putih mulus itu.

Keruan Siau-sian-li menjerit dan mencaci maki, “Kau anjing gila, iblis jahat ….” begitulah hampir segala kata-kata busuk yang terpikir olehnya terus dikirim ke alamatnya Siau-hi-ji.

Namun anak muda itu mendengarkan dengan tertawa, katanya sambil menggeleng, “Jika caramu memaki ini bernilai seni, menarik bagiku untuk mendengarnya, tapi sesungguhnya kau tidak pandai memaki orang, teknik memaki orang sama sekali kau tidak paham, maka terpaksa silakan kau tutup mulut saja.”

Habis berkata, ia terus mencomot segenggam lumpur dan hendak dijejalkan ke mulut si nona.

Kini Siau-sian-li benar-benar ketakutan, cepat ia memohon dan menangis, “Mohon … mohon kebaikanmu, am …. ampunilah aku, ampunilah aku ….”

“Hahaaaah!” Siau-hi-ji terbahak-bahak senang. “Akhirnya kau mohon ampun padaku, jangan melupakan hal ini.”

Usus Siau-sian-li serasa rantas saking pedihnya, ia menangis terus, betapa pun dia adalah anak perempuan, usianya belia, untuk pertama kali inilah dia mencicipi rasa dianiaya orang. Akhirnya ia menjadi takut.

“Baiklah, kuampuni kau,” kata Siau-hi-ji sambil membanting nona itu ke tanah. Ia tidak pandang lagi padanya, ia membalik tubuh dan membangunkan Thi Sim-lan, ia bersuit dan memanggil, “Sawi Putih… Sawi Putih ….”

Si kuda putih benar-benar ada jodoh dengan Siau-hi-ji, segera kuda itu berlari mendekatinya.

“He, Sawi Putih, sekali ini mesti bikin susah padamu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Ayo bawalah kami, setiba di sana nanti akan kuberi makan enak untukmu.”

Dia memondong Thi Sim-lan ke atas kuda, ia sendiri pun mencemplak ke atasnya, meski kuda itu tidak besar, namun tenaganya tidak kecil, sambil meringkik perlahan terus saja membedal ke depan.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, serunya, “Sampai bertemu lagi, Siau-sian-li …. Ah, kukira lebih baik jangan bertemu lagi.”

Begitulah ia tinggal pergi tanpa menghiraukan Siau-sian-li yang menggeletak tak bisa berkutik itu.

Suara tangisan Siau-sian-li seperti tak didengarnya sama sekali.

Kedua orang berhimpitan di atas kuda. Thi Sim-lan merasa tubuhnya lemas dan enteng laksana bersandar di gumpalan awan, ia tidak bergerak dan juga tidak berusaha.

Suara tangisan Siau-sian-li akhirnya tak terdengar lagi. Thi Sim-lan menghela napas perlahan, katanya, “Kau benar-benar malaikat maut bagi Thio Cing.”

“Kebentur aku, anggap dia yang sial,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

Thi Sim-lan termenung sejenak, katanya kemudian dengan rawan, “Sungguh tak terpikir olehku bahwa waktu berkelahi kau jadi begitu tega, begitu nekat, tidak takut mati ….”

“Aku mungkin telur busuk, tapi sekali-kali bukan pengecut!” ujar Siau-hi-ji. “Mungkin tidak sulit menyuruh aku berbuat apa saja, tapi jangan harap suruh aku minta ampun.”

Si nona tersenyum manis, katanya dengan suara lembut, “Benar, seumpama busuk, tapi busuknya lelaki sejati.”

Cahaya bintang dan bulan cukup terang, sehingga bayangan mereka jelas kelihatan di tanah, bayangan mereka berdua yang berhimpitan itu seakan-akan lengket menjadi satu.

Selang sejenak, tiba-tiba Thi Sim-lan berkata, “Apakah kau tahu sebab apa Siau-sian-li Thio Cing merebut peta pusakaku itu?”

“Apalagi, dengan sendirinya karena kemaruk pada harta karunnya,” ucap Siau-hi-ji.

“Kelirulah dugaanmu,” kata Thi Sim-lan “Biarpun tindakannya keji, tapi dia sama sekali bukan orang busuk.”

“Memangnya dia orang baik?” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Orang baik hendak membunuhmu, orang busuk berbalik menyelamatkan kau. Sungguh kejadian mahaaneh!”

“Kubicara sungguh-sungguh denganmu,” kata Sim-lan. “Dia ingin merebut peta harta karunku adalah karena ibunya mempunyai hubungan erat dengan pemilik harta karun itu.”

“O! …. Sedemikian galaknya dia, bukankah ibunya terlebih-lebih galak? Kukira ibunya pasti lebih menakutkan seperti hantu.”

“Kau salah lagi, ibunya tidak buruk rupa seperti hantu, bahkan di dunia Kangouw dahulu terkenal sebagai wanita mahacantik. Setiap lelaki yang pernah melihatnya pasti akan terpikat olehnya.”

“Hah, orang demikian sungguh aku ingin melihatnya,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi sayang engkau terlambat lahir belasan tahun, kini dia sudah tua, namun setiap orang Kangouw dari angkatan tua bila mendengar ‘Giok-niocu’ (si wanita kemala) Thio Sam-nio, pasti jantungnya akan berdebar-debar.”

“Mengapa tidak kau katakan dia yang terlalu dini dilahirkan belasan tahun, dia tak dapat bertemu dengan aku?” ujar Siau-hi-ji dengan mengedipkan mata. “Dan, tokoh macam apa pula ayah Siau-sian-li itu?”

“Tentang ini, aku … aku tidak jelas,” kata Sim-lan.

“Hahaha! Memang betul. Putra-putri wanita cantik terkenal memang banyak yang tak dapat menemukan ayahnya, soalnya mungkin ayah mereka sukar dihitung.”

Thi Sim-lan ikut tertawa geli, katanya, “Ah, mulutmu memang kotor. Tentang Thio Sam-nio itu walaupun tiada bandingannya, tapi dinginnya juga seperti es, walaupun tidak diketahui betapa banyak lelaki yang menaksir dia, namun yang benar-benar terpandang olehnya cuma ada satu.”

“Wah, siapa yang punya rezeki bagus itu?” tanya Siau-hi-ji sambil berkedip.

“Yaitu si pemilik harta karun tersebut, namanya Yan Lam-thian!”

“Yan Lam-thian?!” Siau-hi-ji menegas dengan hati tergetar.

“Kau pun kenal namanya?” tanya Sim-lan.

“Seperti pernah dengar … tapi sudah tidak jelas lagi.”

“Jika kau pernah dengar nama ini, tidak seharusnya kau lupa. Dia adalah pendekar pedang yang paling terkenal di dunia Kangouw dahulu, ilmu pedangnya sampai sekarang belum pernah ada yang sanggup menandinginya.”

“O!” Siau-hi-ji mendengarkannya dengan terpesona.

“Meski dia tidak cakap, tapi dia adalah lelaki yang paling berjiwa ksatria sejati di dunia Kangouw, sungguh sayang aku pun terlambat lahir belasan tahun dan tidak sempat melihatnya.”

“Eh, apakah kau perlu bantuanku untuk mencarinya?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau tak dapat menemukannya lagi, siapa pun tak dapat menemukannya” ujar Thi Sim-lan. “Menurut kabar yang tersiar di dunia Kangouw, konon belasan tahun yang lalu, entah sebab apa dia menerobos ke Ok-jin-kok dan sejak itu tak pernah muncul pula. Walaupun ilmu pedangnya tiada tandingannya, tapi dikerubut oleh kawanan durjana sebanyak itu mungkin … mungkin sukar meloloskan diri baginya.”

“Ooo!” Siau-hi-ji jadi termangu-mangu mengenang masa lalu.

“Peta harta karunku ini konon adalah tinggalan Yan-tayhiap sebelum pergi ke Ok-jin-kok,” tutur Sim-lan pula. “Agaknya beliau menyadari pasti akan sukar keluar lagi dengan selamat, maka sebelumnya dia telah mengumpulkan segenap benda mestikanya serta kitab ajaran ilmu pedangnya yang tiada tandingannya di seluruh jagat, semuanya itu disembunyikan pada suatu tempat yang dirahasiakan. Untuk bisa menemukannya diperlukan petunjuk menurut peta pusaka ini.”

Siau-hi-ji manggut-manggut, katanya, “Ya, benda mestika tidak cukup menarik, tapi kitab wasiatnya itu sungguh membuat orang mengiler. Siapa yang menemukan kitab pusaka itu, siapa akan menjagoi dunia persilatan, pantas jika petamu diperebutkan orang sebanyak ini.”

“Tapi Siau-sian-li bukan ingin memiliki kitab pusaka ilmu pedang itu, ia hanya ingin menghibur ibunya ….” sampai di sini, sekilas Thi Sim-lan melihat sesuatu di atas tanah, seketika hatinya bergetar dan berseru, “He, li … lihat ini ….”

“Sudah sejak tadi kulihat bahwa bayangan di atas tanah sudah bertambah satu,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Benar juga, bayangan mereka yang berhimpitan itu kini telah bertambah pula sesosok dan tepat berdiri di bokong si kuda putih. Namun kuda putih itu terus berlari ke depan seperti tidak merasakan apa-apa.

Siau-hi-ji masih dapat menenangkan diri, tapi Thi Sim-lan menjadi gugup, ia pegang tangan Siau-hi-ji dan menarik tali kendali sekuatnya, serentak si kuda putih meringkik keras dan menegak sehingga Thi Sim-lan terperosot jatuh.

“Kau takut apa?” jengek seorang tiba-tiba. “Jika hendak mencabut nyawa kalian, sudah sejak tadi kulakukan!”

“Jika kutakut, sejak tadi aku sudah melompat turun,” tukas Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Hehe, benar juga,” orang itu terkekek-kekek. “Kau ini rada-rada aneh, aku jadi ingin berkawan denganmu, makanya aku terus menguntit kemari.”

Suaranya terdengar tajam dan nyaring, tapi seperti kekanak-kanakan.

Dengan kaget Thi Sim-lan merangkak bangun, waktu ia menengadah, terlihat seorang berbaju hitam berperawakan kurus kecil berdiri di atas bokong kuda sehingga mirip orang-orangan atau ondel-ondel yang ditempelkan di situ.

Selain pakaiannya hitam ketat gemerlapan, mukanya ternyata juga memakai topeng hitam, hanya sepasang biji matanya yang jelas kelihatan, matanya tampak berkedip-kedip dalam kegelapan menambah misteriusnya.

Serentak Thi Sim-lan ingat seseorang, serunya, “He, engkau inikah Oh-ti-tu (si labah-labah hitam)?!”

“Hah, benar, kau juga kenal aku?” si baju hitam tertawa aneh.

“Meng … mengapa engkau berada di sini?”

“Sebenarnya kaulah sasaranku,” jawab Oh-ti-tu. “Tapi demi nampak anak muda ini, rasanya jadi tertarik, jauh lebih menarik daripada pusaka yang kau bawa itu. Karena ingin mengikat persahabatan dengan dia, terpaksa kukesampingkan urusan peta pusaka.”

“Hahaha, sungguh tidak nyana ada orang menganggap diriku lebih berharga daripada peta pusaka harta karun, sahabat demikian aku pun ingin kenal,” demikian seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Cuma … Oh-ti-tu nama apaan itu?”

“Nama Oh-ti-tu saja kau tidak kenal, pengetahuanmu sungguh amat dangkal. Di jaman ini, orang yang tidak tahu namaku masakah mampu berkecimpung di dunia Kangouw?” kata Oh-ti-tu.

“Mulai kapan kau menguntit diriku?” tanya Siau-hi-ji.

“Waktu kau melumuri kuda putihmu menjadi kuda belang, perbuatanmu sudah kulihat,” tutur Oh-ti-tu atau si labah-labah hitam.

“Aneh, aku sendiri ternyata tidak tahu,” ujar Siau-hi-ji.

“Hm, jika aku sudah bertekad akan menguntit seseorang, sekalipun kukuntit selama hidupnya juga orang itu takkan tahu,” demikian jengek si labah-labah hitam. “Tapi kalau aku tidak ingin dilihat orang, di dunia ini juga tiada seorang pun yang dapat melihat bayanganku.”

“Usiamu meski kecil, tapi nadamu ternyata tidak kecil,” ujar Siau-hi-ji sambil melompat turun.

“Siapa bilang usiaku kecil?!” kata Oh-ti-tu dengan gusar.

“Dari suaramu masakah aku tak dapat membedakannya?” jawab Siau-hi-ji.

Oh-ti-tu berkedip-kedip dan menatap anak muda itu sekian lama, lalu berkata pula dengan mengekek tawa, “Hehe, walaupun usiaku kecil, sedikitnya cocok untuk menjadi pamanmu, cuma aku ingin bersahabat dengan kau maka bolehlah kau panggil Toako (kakak) saja padaku.”

“Panggil Toako padamu?” Siau-hi-ji menegas. “Perawakanmu lebih kecil daripadaku, kau yang harus panggil Toako padaku.”

Oh-ti-tu melotot, katanya dengan gusar, “Tidak sedikit orang Kangouw kepingin memanggil Toako (kakak) padaku, tapi semuanya kutolak. Kini kusuruh kau memanggil demikian padaku, kau malah tidak mau?”

Sementara itu Thi Sim-lan sudah berbangkit dan terus-menerus memberi isyarat kepada Siau-hi-ji.

Namun Siau-hi-ji anggap tidak tahu saja, ia tetap berolok-olok dengan tertawa, “Baiklah. Eh, Oh-laute (adik hitam), boleh juga kepandaianmu ya?”

“Kau panggil apa padaku?” Oh-ti-tu menjadi gusar.

“Oh-laute, marilah kita pergi minum barang dua cawan, mau?” kata Siau-hi-ji pula.

Oh-ti-tu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Tahukah kau bahwa kau bakal tertimpa bencana maut, selain diriku tiada lagi yang mampu menolong kau. Jika kau mau panggil Toako padaku, entah betapa besar manfaatnya bagimu.”

Thi Sim-lan jadi kelabakan, sungguh kalau bisa dia ingin mencekik leher Siau-hi-ji dan memaksa dia memanggil “Toako”, tapi anak muda itu masih tetap cengar-cengir saja, katanya pula, “Eh, Oh-laute, ada bencana apa yang akan menimpaku, coba katakan.”

Sejenak Oh-ti-tu melototi Siau-hi-ji, mendadak ia menjengek, “Baik, sebenarnya aku ingin membantumu, tapi kau sok berlagak tua di hadapanku, maka aku pun tidak perlu ambil pusing akan urusanmu.”

Habis berkata, mendadak tangannya terangkat, di bawah cahaya bulan tampak sejalur benang perak menyelinap keluar dari lengan bajunya terus menyambar lurus ke depan.

Siau-hi-ji mengamatinya lebih teliti benda apakah itu, tak terduga baru saja dia berkedip, tahu-tahu Oh-ti-tu sudah melayang pula ke sana sepesat anak panah. Habis itu orangnya lantas lenyap, benang tadi pun tidak terlihat lagi.

Mau tak mau Siau-hi-ji terkesiap, katanya, “Pantas suaranya besar, Ginkangnya memang lumayan juga.”

“Masakah hanya lumayan,” ucap Thi Sim-lan dengan gegetun. “Ginkang yang menjadi kepandaiannya yang khas itu disebut ‘Sin-tu-leng-khong’ (si labah-labah melayang di udara), pada hakikatnya di dunia Kangouw tiada orang kedua yang mampu menandinginya.”

“Memangnya di mana letak kehebatan kungfunya?” tanya Siau-hi-ji.

“Yang tersembunyi di lengan bajunya itu konon adalah benang sarang labah-labah berumur ribuan tahun yang ditemukannya di lautan selatan, benang labah-labah itu keras dan ulet, tidak mempan oleh senjata tajam apa pun. Dia mengikal dan menyimpan benang labah-labah itu di dalam bumbung yang berpegas, jika tangannya bergerak, seketika benang labah-labah itu menjulur ke depan, konon panjangnya dapat mencapai puluhan depa, sedangkan jarum perak yang terikat pada ujung benang dapat menancap pada benda apa pun, maka dengan enteng tubuhnya dapat ikut melayang ke mana pun sehingga serupa terbang dan cepat bagai hantu.”

“Selain aneh orangnya kepandaian yang dilatihnya juga aneh dan menarik,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tapi entah umurnya, sudah tua atau masih muda? Mengapa dia sok berlagak tua?”

“Belum ada seorang pun yang tahu umurnya, hanya diketahui dia paling benci pada orang yang bilang dia kecil, siapa yang melanggar pantangannya ini tentu celaka.”

“Mengapa aku tidak celaka?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, sungguh aneh, tampaknya dia memang ada jodoh dengan kau,” ujar Thi Sim-lan dengan tertawa. “Janganlah mengolok-olok dia, seperti panggilanmu sebagai adik padanya tadi, biasanya dia pasti sudah marah dan mungkin lidahmu sudah dipotong olehnya.”

Setelah tertawa, tiba-tiba nona itu menghela napas panjang dan menambahkan pula, “Namun orang itu pun tidak pernah omong kosong, kalau dia bilang kita bakal tertimpa bencana, mungkin … mungkin ada alasannya.”

“Mana ada bencana segala, jangan percaya pada obrolannya,” ujar Siau-hi-ji. Tapi suaranya makin lama makin lirih sehingga kata terakhir hampir tak terdengar, sedangkan matanya menatap tajam ke arah bokong kuda, entah apa yang dilihatnya.

Baru saja Thi Sim-lan mengetahui sikap aneh anak muda itu dan bermaksud memandang ke sana, cepat Siau-hi-ji telah menyeretnya ke atas kuda dan berkata, “Ayolah lekas berangkat!”

“Ap … apa yang kau lihat?” tanya Sim-lan.

“Ah, tidak apa-apa …. Haha, memangnya ada apa?” Siau-hi-ji sengaja ngakak.

Sim-lan menunduk, setelah termenung sejenak, kemudian berkata dengan khawatir, “Kutahu bila engkau tertawa ngakak, maka apa yang kau ucapkan pasti tidak benar.”

Siau-hi-ji melengak, lalu katanya, “Hah, agaknya penyakitku ini ketularan sejak kecil dari seseorang dan hingga kini sukar diperbaiki.”

Sudah tentu Thi Sim-lan tidak tahu orang yang menularkan penyakit ngakak kepada Siau-hi-ji itu adalah si Ha-ha-ji yang selamanya tidak pernah bicara benar. Tapi ia pun tidak ingin tanya, ia berkata pula dengan khawatir, “Jika begitu, sesungguhnya apa yang dilihat olehmu?”

“Ah, toh bukan sesuatu yang luar biasa, kau tidak perlu melihatnya,” ucap Siau-hi-ji.

“Kutahu kau khawatir bila diperlihatkan padaku tentu akan membuatku cemas,” ujar Thi Sim-lan dengan tertawa.

“Tapi kalau aku tidak melihatnya rasanya akan lebih gelisah ….”

“Ai, dasar perempuan …. Baiklah, kau ingin lihat, silakan lihat ini,” kata Siau-hi-ji sambil menggeleng kepala.

Waktu Thi Sim-lan memandang ke tempat yang ditunjuk, ternyata di bokong kuda putih itu entah sejak kapan telah bertambah sebuah cap ular kecil berwarna hijau.

Ular itu distempel dengan fosfor hijau sehingga tampak gemerlapan di bawah cahaya rembulan, ular itu pun seakan-akan lagi bergerak, kepalanya yang segitiga juga seolah-olah siap memagut.

Walaupun tahu ular itu hanya cap belaka, tapi entah mengapa, semakin dipandang semakin mual rasa Siau-hi-ji, sekujur badan terasa merinding.

Thi Sim-lan lantas berseru juga dengan muka pucat, “He, ular, Pek-lin-coa (ular fosfor hijau) … si datuk dari Jinghay, Sip-lok-sin-kun!”

“Apa katamu?” tanya Siau-hi-ji sambil berkedip heran.

“Engkau tidak paham … engkau tidak tahu! ….” ucap Sim-lan dengan muka pucat.

“He, cuma sebuah cap ular saja, kan bukan ular hidup, kenapa kau ketakutan?”

“Ular hidup tidak menakutkan, yang tiruan inilah yang menakutkan!”

“Aneh, tidak takut pada yang tulen, tapi takut pada yang tiruan, mengapa bisa begitu?!”

Thi Sim-lan menarik napas panjang, lalu bertutur, “Pek-lin-coa ini ialah simbul Si Datuk dari Jinghay, Sip-lok-sin-kun (malaikat pemakan rusa). Di mana simbol muncul, di situlah orangnya berada. Kalau orangnya sudah akan datang, maka bencana segera akan tiba pula.”

“Lalu Sip-lok-sin-kun ini permainan apalagi?” tanya Siau-hi-ji.

“Pernahkah kau dengar nama ‘Cap-ji-she-shio’!?” tanya Sim-lan.

“Ehm, seperti pernah tapi juga seperti belum pernah,” jawab Siau-hi-ji sambil berkedip.

“Cap-ji-she-shio ini adalah sekawanan bandit yang paling kejam dan jahat selama tiga puluh tahun terakhir ini. Biasanya mereka jarang turun tangan, tapi kalau mereka sudah mengincar sesuatu, maka orang yang menjadi sasaran mereka itu jangan harap akan dapat lolos. Selama 30 tahun ini konon mereka cuma pernah gagal satu kali.”

“Dan ular hijau tentunya salah satu dari Cap-ji-she-shio itu?”

“Benar,” jawab Sim-lan. “Sip-lok-sin-kun ini adalah salah seorang yang paling culas dan keji di antara Cap-ji-she-shio itu. Sarangnya di Jinghay. Ai, seharusnya sebelumnya sudah kuduga akan dia.”

“Kenapa harus kau duga sebelumnya?” tanya Siau-hi-ji.

“Konon gagalnya usaha Cap-ji-she-shio satu kali itu justru terjungkal di tangan Yan Lam-thian, Yan-tayhiap. Kalau mereka mengetahui Yan-tayhiap meninggalkan harta karun dan kitab pusaka, mustahil mereka mau tinggal diam?”

“Sungguh tidak nyana, sekecil ini usiamu, tapi tidaklah sedikit urusan yang kau ketahui,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sejak kecil aku sudah berkecimpung di dunia Kangouw, dengan sendirinya pengetahuanku tentang dunia Kangouw juga lebih banyak dibandingkan orang lain. Kelak engkau akan tahu sendiri jika sudah banyak bergerak di dunia Kangouw.”

“Semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak pula yang kau takuti,” ujar Siau-hi-ji. “Maka ada lebih baik tidak tahu segalanya, ketemu siapa pun tidak peduli, kalau perlu labrak saja dan urusan belakang.”

“Tapi sekarang kita sudah tahu, lalu bagaimana baiknya?” tanya Thi Sim-lan.

“Kalau kita tak dapat melawannya, paling selamat adalah lari?”

“Lari? … Apakah dapat lolos?” gumam si nona.

Begitulah dua orang bersatu kuda segera dilarikan secepatnya hingga mereka menanggalkan kedok yang dipakainya, sedangkan mulut si kuda putih pun sudah berbusa.

Siau-hi-ji mengusap leher kuda itu, katanya perlahan, “Kau tentu lelah, Sawi Putih, sungguh aku menyesal.”

Thi Sim-lan memandang anak muda itu dengan tertawa geli, katanya, “Sungguh aneh, mengapa kau lebih baik terhadap kuda daripada manusia?”

“Sebab kuda ini pun lebih baik daripada orang lain terhadapku,” jawab Siau-hi-ji.

Sim-lan menghela napas, katanya, “Siapa tidak baik padamu? Aku …..”

“Kau baik padaku? Umpamanya waktu aku tak dapat berjalan, dapatkah kau menggendong aku berlari berpuluh li jauhnya? Bila hatiku masygul, dapatkah kau tutup mulut tanpa bicara? Sebab itulah aku pun tidak lebih baik daripada kuda, jika kau baik terhadap kuda ini, maka dia pun takkan meninggalkan dirimu, lebih-lebih takkan mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hatimu.”

Gemas sekali Thi Sim-lan mendengarkan olok-olok itu, karena geregetannya sungguh kalau bisa ia ingin menggigit anak muda itu sekeras-kerasnya.

Tidak lama kemudian, tertampaklah di depan sana ada sebuah kampung kecil, meski fajar baru mulai menyingsing, namun atap rumah penduduk di kampung itu sudah sama mengepulkan asap dapur. Asap yang hijau kekelabu-kelabuan itu berpencaran di udara yang remang putih laksana sebuah lukisan yang indah.

“Lihatlah betapa permainya ….” ujar Sim-lan dengan tertawa.

“Hitam kotor begitu, apanya yang permai?” jawab Siau-hi-ji. “Satu-satunya kebaikan bagiku itu adalah asap yang mengepul itu menandakan kita bakal dapat makan nasi.”

Daerah in sudah dekat perbatasan Jinghay dan Sujwan, bangsa Han sudah banyak di wilayah ini. Maka tertampaklah seorang kakek dengan pakaian tebal sedang berdiri di depan rumah sambil mengisap tembakau dari cangklong yang panjang, sembari memandang cuaca kakek itu bergumam, “Tampaknya pagi ini kembali cerah, sebentar aku harus menjemur bantal dan selimut.”

Siau-hi-ji melompat turun dari kudanya, ia mendekati si kakek dan memberi hormat, katanya dengan tersenyum, “Apakah Lotiang (bapak) ada tersedia makanan atau minuman, sudilah memberi sedikit kepada kami kakak beradik ini.”

Kakek ini memandangnya sejenak, lalu memandang pula Thi Sim-lan yang berada di atas kuda, kemudian ia tertawa dan berkata, “Haha, tamu cilik, jangan sungkan-sungkan, asalkan kalian sudi pada makanan kasar, silakan masuk, lekas!”

Siau-hi-ji mengucapkan terima kasih dan menurunkan Thi Sim-lan, dengan suara tertahan ia membisiki si nona, “Sungguh tidak nyana orang kampung di sini ternyata sangat simpatik.”

Thi Sim-lan tersenyum manis, dan berendeng mereka lantas masuk ke rumah, terlihat si kakek sudah membersihkan meja dan menyiapkan mangkuk dan sumpit, katanya beriring tawa, “Silakan duduk, coba kutengok apakah bini tua sudah selesai menanak nasi atau belum.”

Sejenak setelah si kakek masuk, lalu terenduslah bau nasi yang baru saja diangkat dari dandang. Perut Siau-hi-ji tambah berkeruyukan, matanya melotot ke arah pintu dapur, terdengar suara klentang-klenting mangkuk bergesek dengan centong.

Akhirnya keluarlah seorang nenek ubanan dengan membawa dua mangkuk nasi yang mengepul, masih hangat-hangat. Malah di atas nasi ada sepotong dendeng dan beberapa iris sayur asin.

Dengan jalan terbungkuk-bungkuk si nenek mengantar nasi itu ke meja, katanya dengan tertawa, “Silakan makan dulu, dua tamu cilik, jangan sungkan, mumpung masih hangat, kalau dingin nasinya tidak enak dimakan.”

“Jika demikian, maaf kalau kami tidak sungkan lagi,” ucap Siau-hi-ji. Tanpa menunggu komando lagi segera ia angkat mangkuk dan pegang sumpit terus hendak mengorek nasi ke mulut.

Tapi mendadak terdengar “trang” sekali, mangkuk yang baru diangkat Thi Sim-lan mendadak ditaruh kembali ke meja, katanya dengan tertawa, “Wah, panas sekali!”

Sekilas pandang mendadak Siau-hi-ji turun tangan secepat kilat, sumpitnya mengetuk perlahan punggung tangan Thi Sim-lan sehingga sumpit si nona terlepas. Tentu saja Sim-lan melotot kaget, tegurnya, “He, apa-apaan engkau?”

Siau-hi-ji tidak menjawab, ia terus menuang nasi yang akan dimakannya itu ke atas meja, sekejap kemudian dari dalam gumpalan nasi itu berkeloget merayap keluar seekor ular kecil warna hijau.

“He, ular …. Cap-ji-she-shio!” jerit Sim-lan kaget.

Siau-hi-ji terus lari ke dapur. Cepat Thi Sim-lan ikut menerjang ke sana. Tertampaklah si kakek tadi telentang di lantai, mukanya hitam membiru. Ada lagi seorang nenek menggeletak di samping tungku, mukanya juga matang biru, tapi rambutnya hitam, jelas bukan si nenek ubanan yang mengantar nasi tadi. Sedangkan nenek ubanan sendiri tidak nampak bayangannya.

“Keji amat dan sungguh berbahaya!” ucap Sim-lan dengan suara gemetar.

Siau-hi-ji menggereget, katanya dengan gemas, “Tampaknya orang-orang ini berpuluh kali lebih busuk daripadaku, sampai-sampai orang tua begini juga dibunuhnya.”

“Memang … memang sudah kuduga kita sukar meloloskan diri,” kata Sim-lan pula.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar kuda meringkik di luar, cepat Siau-hi-ji menerobos keluar, dilihatnya seekor ular kecil sedang merambat ke atas melalui kaki kuda. Dengan sobekan kain lengan baju Siau-hi-ji pegang ular itu dan dibanting terus diinjaknya hingga luluh, katanya sambil membelai bulu suri kuda putih, “Jangan takut, Sawi Putih, orang-orang jahat itu takkan mampu mencelakai kita.”

Lalu ia menarik Thi Sim-lan ke atas kuda dan berangkatlah mereka dengan cepat. Kuda putih itu pun seperti tahu ada bahaya, larinya terlebih kencang, hanya sekejap saja perkampungan itu sudah dilaluinya.

Sim-lan masih bergetar dan bergumam, “Wah, bahaya! Jika kita makan sesuap nasi itu, tentu takkan hidup sampai sekarang.”

“Tapi sekarang kita masih segar bugar!” ucap Siau-hi-ji tertawa.

“Ca … cara bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Waktu kau pegang mangkuk nasi itu, tanganmu kepanasan tak tahan, tapi nenek itu ternyata sanggup membawanya dari dapur tanpa merasakan apa-apa, mustahil kalau nenek itu tidak terlatih sebangsa Tok-soa-cio (tangan pasir beracun) dan sebagainya.”

“Ai, urusan apa pun selalu tak dapat mengelabuimu,” ucap Sim-lan dengan gegetun.

Sekonyong-konyong di tengah jalan di depan sana ada sebidang tanah rumput menghijau seperti lumut, waktu diamati lebih jelas, rumput hijau itu dapat bergerak-gerak, kiranya beratus-ratus ular kecil warna hijau bergerombol di situ.

Sim-lan menjerit kaget, tapi Siau-hi-ji lantas membelokkan kudanya ke suatu jalan simpang di sebelah sana, meski jalan ini lebih sempit, tapi kedua tepi jalan banyak pepohonan yang rindang.

Sepanjang perjalanan ini belum pernah Siau-hi-ji melihat jalan sebersih dan seindah ini. Selagi dia merasa sangsi dan was-was, mendadak seekor ular menggelantung turun dari atas pohon. Ular itu juga warna hijau, tapi tidak kecil, badan ular yang hijau gilap itu sebesar lengan bayi dan bergelantungan di depan mata Thi Sim-lan.

Keruan si nona menjerit kaget, si kuda putih juga meringkik dan berjingkrak. “Jangan takut, urusan tangkap ular atau pukul anjing adalah keahlianku!” seru Siau-hi-ji. Berbareng itu secepat kilat ia pegang leher ular, terus disabetkan ke batang pohon. Gerakan Siau-hi-ji ini sangat cepat lagi jitu, ular kontan dibanting hingga mati.

Legalah hati si Thi Sim-lan, katanya, “Untung kau bukan perempuan, umumnya perempuan takut pada ular.”

Siau-hi-ji tidak menanggapi, katanya, “Mana belatimu?”

Si nona lantas menyodorkan belatinya dan berkata, “Hati-hati, jangan sampai bajumu kena darah ular.”

Siau-hi-ji hanya mendengus saja, dengan wajah membesi ia iris tangan sendiri dengan belati.

Keruan Thi sim-lan kaget, jeritnya, “He … kau ….” Mendadak ia tak sanggup meneruskan lagi, kerongkongannya seperti tercekik ketika menyaksikan darah yang mengalir dari lengan Siau-hi-ji itu berwarna hitam.

“Akhirnya aku tertipu juga!” ucap Siau-hi-ji dengan suara parau dan muka pucat. Perlahan ia membuka telapak tangannya, ternyata di situ juga membeku dua titik darah, dua titik berwarna hitam.

Waktu Sim-lan memandang ular tadi, tubuh ular itu tampak lurus menegak, bagian lehernya samar-samar bersinar, serunya, “He, kiranya ular sudah mati dan di dalam tubuhnya tersembunyi pedang yang berbisa, karena kau pencet leher ular, maka pedang melukai tanganmu.”

“Sungguh pintar kau, sungguh anak jenius,” kata Siau-hi-ji.

“Syukur engkau sudah membuang darah yang keracunan, mungkin … mungkin tak beralangan pula.”

“Tak beralangan? …. Setengah jam lagi, tamatlah segalanya!”

Tubuh si nona bergetar dan terperosot jatuh ke bawah, serunya dengan gemetar, “Engkau … engkau omong kosong!”

“Racun ini tak tertolong, kalau tidak segera kubuang darah, saat ini mungkin aku sudah menuju ke akhirat, walaupun begitu juga tidak tahan setengah jam lagi.”

Sim-lan menubruk ke tubuh Siau-hi-ji, serunya sambil menangis, “Tidak, racun ini pasti dapat ditolong, kau … kau tidak tahu ….”

“Sejak kecil aku sudah bergelimang di rumah ahli racun terkenal, kalau aku tidak tahu, siapa lagi yang tahu di dunia ini?” ternyata anak muda itu masih bisa berbangga dan tertawa malah.

“Jika begitu, seharusnya kau dapat meracik obat penawarnya.”

“Dengan sendirinya aku dapat.”

“Nah, jadi engkau … engkau cuma menakut-nakuti aku saja,” seru Sim-lan kegirangan.

“Tapi untuk meracik obat penawarnya diperlukan waktu tiga bulan!” ucap Siau-hi-ji perlahan.

Si nona jatuh lemas pula, katanya dengan air mata meleleh, “Kau … kau masih dapat berkelakar dalam keadaan dem … demikian. Wah … lantas bagaimana baiknya?” Tangisnya yang masih terguguk itu kemudian berubah menjadi tergerung-gerung, lalu jeritnya sambil memukul bumi, “Kau sungguh bukan manusia, terhadap mati-hidup sendiri juga dibuat bersenda-gurau dan sama sekali tidak pedulikan perasaan orang lain … kubenci …. kubenci!”

Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia mengeluarkan sehelai kertas kulit kambing yang sudah menguning, dikibarkan kertas itu ke udara sambil berseru, “Ini ular busuk, lihatlah! Inilah peta harta karun itu, kau ingin memilikinya tidak?”

Baru saja dia berseru dua kali, benar saja dan pucuk pohon lantas berkumandang suara melengking kecil, basah-basah licin sehingga membuat orang merinding. “Benda itu akhirnya pasti jadi milikku, buat apa terburu-buru,” demikian jengek orang itu.

Waktu Thi Sim-lan menengadah, tertampaklah seorang dengan baju hijau ketat bersembunyi di tengah daun pohon yang rimbun itu sehingga sukar ditemukan. Tubuhnya yang kurus panjang itu seakan-akan melilit pada dahan pohon, sepasang matanya yang kecil itu mirip benar dengan seekor ular, ular berbisa tentunya.

“Apa betul akan menjadi milikmu, kau yakin?” Siau-hi-ji malah bergelak tertawa.

“Jika kau serahkan sekarang dengan hormat, boleh jadi jiwamu akan kuampuni,” kata Pek-coa-sin-kun, si malaikat ular hijau.

“Ya, berikan saja padanya,” ucap Thi Sim-lan dengan takut. “Kita sendiri kan tidak memerlukannya lagi.”

“Tampaknya anak perempuan ini lebih cerdik daripadamu,” kata Pek-coa-sin-kun.

“Hahaha! Benar juga, dia cerdik dan aku teramat goblok!” Siau-hi-ji terbahak-bahak. Mendadak ia jejalkan kertas tadi ke mulut terus dikunyahnya seperti orang lagi makan pisang goreng.

Sekonyong-konyong Pek-coa-sin-kun memberosot turun, sekaligus dia seret Siau-hi-ji dari atas kudanya serta membentaknya dengan suara bengis, “Tumpahkan!”

Dengan mudah Siau-hi-ji diseret, tidak melawan juga tidak menghindar, tapi kesempatan itu telah digunakan olehnya untuk menelan gumpalan kertas itu ke dalam perut. Lalu ia membuka mulut dan berkata dengan tertawa, “Tak dapat tertumpah lagi.”

“Kau cari mampus!” bentak Pek-coa-sin-kun murka.

“Peta ini cuma ada selembar, hanya aku sendiri yang hafal segala isinya, jika kau bunuh aku berarti selama hidupmu takkan menemukan harta karun,” kata Siau-hi-ji dengan mengikik.

Melenggong juga Pek-coa-sin-kun, mau tak mau cengkeramannya dikendurkan.

“Nah, jika aku menjadi dirimu saat ini tentu sudah kukeluarkan obat penawarnya,” ucap Siau-hi-ji pula dengan sikap adem ayem. “Asalkan aku masih hidup, bisa jadi akan kulukiskan kembali peta pusaka tadi. Tangan orang mati tentunya tak dapat bekerja lagi bukan?”

Dengan gemas Pek-coa-sin-kun melototi Siau-hi-ji, mukanya yang tirus bagai kulit membungkus tulang itu tiba-tiba menyeringai kejam, katanya, “Memangnya kau sangka aku dapat diperas oleh setan cilik macam dirimu?”

“Memangnya tidak?” ucap Siau-hi-ji tetap tertawa.

“Kertas itu tipis lagi ulet, biarpun kau telan juga masih utuh di dalam perutmu, asalkan kubedah perutmu masakan takkan kutemukan kembali?” demikian Pek-coa-sin-kun berkata dengan penuh keyakinan.

Walaupun lahirnya masih tetap tertawa, namun dalam batin Siau-hi-ji merasa ngeri juga.

Dengan suara parau Thi Sim-lan lantas berteriak, “Jangan, tidak boleh bert … bertindak begitu, kau ….”

“Siapa bilang tidak boleh, coba kau lihat!” kata Pek-coa-sin-kun. Mendadak ia mengeluarkan sebatang pedang lemas yang tadinya melilit di pinggangnya sebagai sabuk, sekali di sendal, seketika pedang itu mengeras lurus.

Biarpun Siau-hi-ji banyak akalnya, kini ia pun kelabakan dan tak berdaya. Dengan nekat Thi Sim-lan menubruk maju, namun dia habis sakit dan belum sehat benar, hanya sekali tampar saja Pek-coa-sin-kun telah membikin nona itu terguling. Dengan menyeringai ia lantas berkata pula terhadap Siau-hi-ji, “Kau bilang tangkap ular dan gebuk anjing adalah keahlianmu, tapi membedah perut dan membuka dada adalah keahlianku. Namun kau pun jangan khawatir, sekali tikam pedangku takkan mematikan kau.”

Siau-hi-ji sudah mandi keringat, tapi dia tetap tertawa saja dan berkata, “Ya, terima kasih, terima kasih …. Cuma kau harus hati-hati cara kerjamu, pagi tadi aku baru makan seekor ular dan pasti belum tercerna, jangan sampai kau melukai moyangmu itu.”

“Setan alas, dekat ajalmu masih berani mengoceh!” bentak Pek-coa-sin-kun dengan gusar. Pedangnya terus menusuk, tapi mendadak “trang” sekali, pedangnya tergetar balik.

Kiranya diam-diam Siau-hi-ji telah pegang ular tadi, dengan pedang yang terselubung di bangkai ular itulah ia tangkis serangan orang, bahkan ia susulkan suatu tusukan pula.

Cepat Pek-coa-sin-kun berkelit, katanya dengan menyeringai, “Sebaiknya kau jangan sembarangan bergerak supaya racun di dalam tubuhmu tidak cepat bekerja dan mati lebih cepat pula.”

Sembari bicara pedangnya terus menyerang cepat, Siau-hi-ji hanya mampu menangkis empat kali dan sudah terasa lemas, sukar lagi mengangkat bangkai ular berpedang itu. Sementara itu Thi Sim-lan telah jatuh pingsan, hati Siau-hi-ji tambah kacau.

“Nah, setan cilik, kau masih punya permainan apalagi” tanya Pek-coa-sin-kun dengan menyeringai ejek. Ujung pedangnya terus ditempelkan ke dada Siau-hi-ji dan ditekan sedikit demi sedikit.

Dada Siau-hi-ji sudah berdarah, namun dia masih bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha! Bedah perut adalah kesenangan orang hidup, tak tersangka aku Kang Siau-hi tanpa sengaja dapat ….”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar “trang-trang-trang” tiga kali, pedang yang dipegang Pek-coa-sin-kun entah mengapa mendadak patah menjadi empat bagian dan jatuh ke tanah.

Serentak Pek-coa-sin-kun melompat mundur mepet pohon, biji matanya yang kecil itu mengerling tajam sekeliling, tegurnya dengan suara serak, “Siapa itu?”

“Siapa aku masakah kau tidak tahu?” demikian suara seorang perempuan menjawab dengan tertawa merdu. Kedengarannya seperti suara Siau-sian-li.

Siau-hi-ji sangat girang karena dapat lolos dari renggutan maut, tapi demi mendengar suara itu, seketika ia seperti diguyur air dingin. Maklumlah, jatuh di tangan Siau-sian-li belum tentu lebih baik nasibnya daripada jatuh dalam cengkeraman Pek-coa-sin-kun.

Muka Pek-coa-sin-kun tampak pucat, katanya, “Engkau … nona ….”

“Seumpama kau tidak tahu siapa aku, seharusnya kau tahu jalan ini mengarah ke mana?!” ucap suara perempuan tadi dengan perlahan. “Sungguh besar nyalimu, berani main gila di sini.”

Semula Siau-hi-ji menjadi lesu karena mengira Siau-sian-li telah muncul pula. Tapi mendadak ia berkeplok gembira, sebab jelas pendatang ini bukanlah Siau-sian-li Thio Cing. Walaupun suaranya rada-rada mirip, tapi cara bicara Siau-sian-li cepat menerocos, selama ini belum pernah ia dengar cara bicaranya yang perlahan begitu.

Maka tertampaklah seorang gadis baju hijau dengan menenteng keranjang bunga dan memanggul cangkul kecil muncul dari balik pohon sana, potongannya ramping menggiurkan, jalannya enteng semampai seakan-akan tiupan angin pun dapat mengaburkan dia. Alisnya kelihatan lentik menegak, matanya besar sayu, meski wajahnya tidak teramat cantik, tapi sangat menawan hati.

Di belakang nona itu nampak ikut seorang pemuda beralis tebal dan bermata besar, tapi wajahnya masih kekanak-kanakan dan tampak mengintil dengan sangat menghormat di belakang si nona seakan-akan angkat kepala saja tidak berani.

Walaupun kedua muda-mudi ini tampaknya lemah gemulai, tapi demi melihat mereka, seketika kuduk Pek-coa-sin-kun seperti kena dibacok orang, kepalanya terus menunduk dalam-dalam sambil menyapa dengan tertawa yang dibuat-buat, “O, kiranya Kiukohnio (nona kesembilan)!”

“Bagus, kau ternyata belum lupa padaku,” jawab si nona baju hijau dengan acuh tak acuh. “Tapi kau jangan lupa akan tempat apakah ini sehingga kau berani main bedah perut apa segala di sini, nyalimu sungguh teramat kelewat besar.”

Sikapnya sebenarnya tidak terlalu dingin, hanya acuh tak acuh dan meremehkan seperti tidak menaruh perhatian terhadap orang lain, walaupun sebenarnya tiada bermaksud buruk apa-apa. Tokoh besar atau orang penting di dunia ini pun seperti tidak terpandang sama sekali olehnya.

Siau-hi-ji tidak dapat menerka latar belakang pribadi si nona, tampaknya dia adalah putri bangsawan, tapi nyatanya berada di daerah hutan belukar.

Dilihatnya kepala Pek-coa-sin-kun semakin menunduk dan sedang berkata dengan gemetar, “Hamba mengira tempat ini tidak … tidak termasuk daerah terlarang, maka … maka ….”

“Dan sekarang kau sudah tahu bukan?” kata si nona baju hijau.

“Ya, tahu,” jawab Pek-coa-sin-kun takut.

“Jika sudah tahu, tentunya kau juga tahu cara penyelesaiannya,” kata si nona pula.

“Ya, hamba tahu,” ucap Pek-coa-sin-kun dengan tertawa murung, mendadak sinar pedang berkelebat, dia telah menebas tangan kiri sendiri sebatas pergelangan tangan.

Mau tak mau Siau-hi-ji bergetar juga hatinya, tapi si nona baju hijau yang dipanggil “Kiukohnio” itu tetap acuh tak acuh saja, perlahan ia geraki tangan dan berkata, “Baiklah, sekarang kau boleh pergi!”

Belum habis ucapannya, tanpa pamit lagi Pek-coa-sin-kun terus ngacir sipat kuping.

Mendadak Thi Sim-lan berteriak sekuatnya, “Hei, jangan, jangan biarkan dia pergi!” Entah kapan dia telah siuman, kini ia sedang meronta berusaha bangun, tapi terjatuh lagi.

“Sebab apa?” tanya si nona baju hijau sambil melirik Thi Sim-lan sekejap.

“Sebab dia terkena racunnya,” seru Sim-lan sambil menuding Siau-hi-ji. “Hanya Pek-coa-sin-kun saja mempunyai obat penawarnya, kalau tidak, se … sebentar lagi tentu jiwanya akan melayang.”

“Dia akan mati atau hidup, peduli apa dengan aku?” ucap si nona baju hijau dengan tak acuh.

Tubuh Thi Sim-lan tergetar juga dan kembali jatuh tersungkur.

Tiba-tiba si pemuda tadi berkata dengan tertawa, “Kiuci (kakak sembilan), marilah kita menolong mereka.”

“Jika kau ingin menolong mereka, silakan, aku tak urus,” sahut si nona baju hijau. Lalu ia membalik tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh.

Sambil memandangi Thi Sim-lan yang menggeletak di tanah itu, si pemuda berkata dengan lesu, “Maaf ….” lalu dengan langkah lebar ia menyusul ke sana.

“No … nona, su … sudilah engkau ….” demikian Thi Sim-lan berseru memohon pertolongan dengan suara terputus-putus.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya “Haha, marilah kita pun pergi saja, buat apa mohon belas kasihan padanya.”

“Tapi engkau … engkau ….” Sim-lan tak sanggup melanjutkan pula.

“Apakah aku akan mati atau tetap hidup, bukan soal bagiku?” seru Siau-hi-ji tegas. “Dia muda belia, memangnya dia mampu menyelamatkan kita, kalau dia menolong diriku, kan membikin dia serba susah?!”

Segera ia memayang bangun Thi Sim-lan, baru saja melangkah dua-tiga tindak, tiba-tiba terdengar si nona baju hijau tadi berteriak dengan nada ketus, “Berhenti!”

Tersembul senyuman penuh arti pada ujung mulut Siau-hi-ji, tapi mulutnya sengaja berucap dengan keras, “Untuk apa berhenti? Kalau kumati di sini, bukankah akan bikin kotor jalan yang bersih ini.” Dan tanpa menoleh ia masih terus melangkah ke depan.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu si nona baju hijau mengadang di depannya dan mengejek, “Hm, tak mungkin lagi kau mati …. Tapi jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau sengaja memancing diriku, bahwa kujadi menolong kau, soalnya agar supaya kau tahu bahwa di dunia ini tiada sesuatu persoalan yang tak dapat dikerjakan oleh kakak beradik Buyung.”

“Hm, siapa yang memancingmu? Aku pun tidak memohon pertolonganmu,” jengek Siau-hi-ji. “Akan mati atau tetap hidup adalah urusanku, orang lain tidak boleh ikut campur.”

“Tapi aku sudah mau menolongmu, sekarang biar kau ingin mati juga tak dapat lagi,” kata si nona baju hijau dengan hambar.

Siau-hi-ji berkedip, katanya, “Nah, ingat, kau sendiri sukarela ingin menolong diriku, aku tak pernah memohon padamu, seumpama kau dapat menyelamatkan aku juga takkan berterima kasih padamu.”

Si nona baju hijau tidak menjawab, ia terus melangkah ke arah tadi dan berkata, “Ikutlah padaku!”

Pada ujung jalan sana ternyata adalah sebuah gedung yang dibangun membelakangi bukit, tidak begitu luas pekarangannya, juga tidak begitu megah, tapi setiap sudut, setiap kamar dibangun dengan indah, dirancang dengan sempurna.

Bagian depan rumah itu adalah sebuah ruangan duduk dengan halaman kecil, walaupun tidak nampak seorang pelayan, tapi setiap jengkal tampak tersapu dengan bersih, resik tanpa debu sedikit pun.

Sampai di sini napas Siau-hi-ji sudah terengah-engah seakan-akan jatuh, diam-diam si pemuda memayangnya dari belakang.

Siau-hi-ji tersenyum terima kasih, katanya, “Terima kasih, siapa namamu?”

“Koh Jin-giok,” sahut pernuda itu dengan muka merah.

“Engkau tidak she Buyung?” tanya Siau-hi-ji.

“Tidak, aku piaute (adik misan) mereka,” jawab pemuda itu dengan muka jengah.

“Boleh juga kau, cuma agak terlalu tulus sehingga lebih mirip anak perempuan, dikit-dikit muka merah,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Aku … aku ….” Koh Jin-giok tergagap.

Kalau saja tubuhnya tidak tinggi besar, alis tebal dan mata besar, rasanya orang sukar percaya bahwa dia ini anak lelaki, Siau-hi-ji pasti juga akan menyangka dia perempuan menyamar lelaki.

Si nona baju hijau yang dipanggil “Kiukohnio” tadi terus bertindak ke depan, menyusuri ruangan dan serambi. Rumah sebesar itu ternyata tiada terdengar suara manusia, apalagi bayangan.

Akhirnya nona itu sampai di depan sebuah paviliun yang terdiri dari dua-tiga kamar indah di tengah sebuah taman kecil, di sinilah dia berhenti, lalu berkata, “Masuk sana!” Habis berkata ia lantas membalik tubuh dan tinggal pergi.

“Si … silakan masuk, inilah tempat tinggalku,” kata Koh Jin-giok.

Tertawa juga Thi Sim-lan, katanya, “Mungkin di sini hanya rumah ini yang ditinggali lelaki.”

“O, apakah kecuali kau, penghuni di sini semuanya perempuan!” dengan tertawa Siau-hi-ji bertanya.

Koh Jin-giok terbelalak, jawabnya, “Memangnya belum kau dengar nama kesembilan kakak beradik (perempuan) dari keluarga Buyung?”

“He, apakah yang terkenal sebagai ‘sembilan si cantik’ di dunia Kangouw itu?” seru Sim-lan tiba-tiba.

“Be … benar,” sahut Koh Jin-giok dengan muka merah pula.

“Kau juga tahu diri mereka,” kata Siau-hi-ji. “Coba ceritakan apa kelihaian kesembilan kakak beradik?”

Sim-lan menghela napas perlahan, tuturnya kemudian, “Kesembilan kakak beradik ini boleh dikatakan serba pandai, baik Ginkang (ilmu entengkan tubuh) maupun Amgi (senjata rahasia) hampir sukar ditandingi, apalagi mereka rata-rata juga mahir segala macam kepandaian putri, orang lain bisa mereka pun bisa, sebab itulah hampir setiap keluarga bangsawan dan orang ternama di dunia ini sama ingin memungut putri keluarga Buyung sebagai menantu.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Apakah mereka sudah menikah?”

“Konon kecuali adik kesembilan yang terkecil itu, delapan kakak beradik selebihnya menikah dengan keluarga persilatan terkenal atau ksatria muda yang disegani ….”

“Haha, pantas mereka ditakuti orang Kangouw, soalnya mereka mempunyai deking suami yang serba lihai,” kata Siau-hi-ji pula dengan tertawa. Kini air mukanya sudah bersemu biru, kata-katanya juga mulai kurang lancar, tapi dia masih tenang-tenang saja dan berkelakar malah. Malahan dia menepuk pundak Koh Jin-giok dan berseru pula, “Hahaha, kata orang, dekat sungai mudah mengail, asalkan kau mengintil kencang-kencang di belakangnya, mustahil kau takkan berhasil. Caramu ini memang baik dan tepat, hahaha, sungguh cara yang tepat.”

Muka Koh Jin-giok semakin merah, ia menunduk, sekilas ia melirik sekejap ke arah Thi Sim-lan, lalu berkata, “Ini adalah … adalah kehendak ibuku, aku … aku cuma ….”

Di luar dugaan, mendadak Buyung Kiukohnio (nona Buyung kesembilan) melangkah masuk dan menjengeknya, “Hm, bibi katamu, jadi sebenarnya kau tidak sudi ke sini, begitu bukan?”

“Bu … bukan begitu maksudku,” sahut Koh Jingiok tergagap, ia menjadi malu dan ingin menyusup ke dalam bumi andaikan ada lubang.

“Hm, Koh-siauya (tuan muda Koh),” jengek Buyung Kiu pula, “Di sini tidak pernah mengundang dirimu, juga tidak pernah ada orang menahanmu di sini, sekalipun bibi memandangmu sebagai putra mestika, tapi orang lain tiada yang mengistimewakanmu.” Dia tidak pandang Koh Jin-giok lagi, “treng”, ia lemparkan sebuah botol porselen kecil warna hitam ke atas meja di depan Siau-hi-ji sambil berkata dengan nada dingin, “Separo diminum dan separo dibubuhkan bagian luar. Dalam tiga jam jiwamu akan direnggut balik dan boleh pergilah kau.” Habis berkata ia terus tinggal pergi.

Siau-hi-ji mengikik tawa, serunya, “Ingat, aku tidak pernah mohon pertolongan dan juga tidak minta kau menjadi biniku, kau tidak perlu bersikap segarang ini padaku, meski orang lain memandangmu sebagai mestika, tapi aku tidak merasakan sesuatu keistimewaan dirimu.”

Mendadak Buyung Kiu membalik tubuh dan melototi anak muda itu. Namun Siau-hi-ji tidak mengacuhkannya, dia membuka sumbat botol, setengah isi botol itu terus dituang ke dalam mulutnya. Habis itu ia menjilat jilat bibir sambil berkecek-kecek, lalu berkata, “Mengapa obat ini berbau kecut seperti cuka?” Cepat pula obat itu dibubuhkan pada lukanya.

Betapa pun Siau-hi-ji memang cerdik, biarpun di mulut ia berolok-olok, tapi obat itu dimanfaatkan dengan segera.

Buyung Kiu melotot gemas kepada anak muda itu, sorot matanya seakan-akan berapi, setelah mendelik sejenak, lalu berucap dengan sekata demi sekata, “Dengarkan, meski kau sudah kutolong, tapi dapat kubunuh kau sewaktu-waktu.”

“Ah, kuyakin takkan terjadi, tampaknya kau galak, tapi hatimu cukup baik,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa sambil melelet lidah.

Entah mengapa, mendadak wajah Buyung Kiu yang pucat itu lantas bersemu merah, segera ia membentak dengan bengis, “Pergi kau sekarang, pergi, jangan kupergoki lagi untuk selanjutnya, kalau sampai kulihat kau lagi mungkin … mungkin akan kupotong lidahmu dan kucukil matamu, habis itu baru kubunuh dirimu.”

Koh Jin-giok tampak melenggong khawatir, selamanya belum pernah dilihatnya Kiukohnio (nona kesemhilan) yang senantiasa bersikap dingin itu marah-marah begini, lebih-lebih tak pernah terdengar ucapannya segalak itu.

Namun Siau-hi-ji masih tetap tertawa-tawa saja, katanya, “Sudah tentu aku akan pergi, tapi setelah kupergi jangan kau minta aku kembali lagi.”

Sampai gemetar tubuh Buyung Kiu-moay saking gusarnya. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang dari kejauhan, “Buyung Kiu-moay, di manakah dikau? Ini Taci cilik datang menyambangimu!”

Datangnya suara sedemikian cepat, baru habis ucapannya, suara permulaan yang kedengarannya berada di luar rumah sana tahu-tahu suara terakhir sudah sampai di taman belakang rumah.

Sambil menggigit bibir, Buyung Kiu-moay terus melangkah keluar dengan cepat. Siau-hi-ji juga melenggong dan tak dapat tertawa lagi.

Begitu pula air muka Thi Sim-lan juga berubah pucat, katanya, “Apakah … apakah Siau-sian-li Thio Cing!?”

“Be … betul,” jawab Koh Jin-giok. “Dia dan kakak Kiu adalah sahabat baik.”

Mendadak Siau-hi-ji menjatuhkan diri ke atas kursi, gumamnya sambil tersenyum getir, “Ai, mengapa dunia sesempit ini ….”

Dalam pada itu terdengar suara Siau-sian-li sedang tertawa dan berkata di taman, “He, mengapa lagak Kiukohnio kita menjadi melebihi tuan besar, sudah tahu kedatanganku, mengapa tidak melakukan penyambutan?”

“Memangnya siapa tahu setan gentayangan macam dirimu ini akan gentayangan ke mana?!” Demikian terdengar Buyung Kiu menjawab. “Aku tidak mengomel karena sudah sekian lama kau tidak menjenguk diriku, tapi kau malah berani memaki aku.”

“Wah, wah! Kiukohnio kita ini sudah semakin mahir bicara,” ujar Siau-sian-li dengan tertawa. “Melihat mukau yang kemerah-merahan ini sungguh kau menjadi tambah cantik. Eh, coba beritahukan padaku, selama beberapa bulan ini sudah berapa orang lagi yang datang melamarmu?”

“Huh, menjemukan!” omel Buyung Kiu-moay.

“Ah, di mulut kau bilang jemu, tapi dalam hati sebenarnya ingin ….” goda Siau-sian-li.

“Tidak, selama hidupku ini takkan menikah,” jawab Buyung Kiu-moay dengan hambar.

“Benar juga,” kata Siau-sian-li. “Semua lelaki bukan manusia baik-baik, semuanya pantas mampus. Lelaki yang punya tampang bagus dan pandai bicara, lebih-lebih pantas mampus.”

Waktu bicara begitu seakan-akan yang dimaksud adalah Siau-hi-ji, nadanya penuh rasa dendam dan benci.

Tangan Thi Sim-lan menjadi dingin, bisiknya kepada Siau-hi-ji, “Ba … bagaimana kita?”

Siau-hi-ji tetap duduk tenang di kursinya, katanya sambil menghela napas, “Bagaimana lagi? Berkelahi kalah, lari tak dapat, aku pun kehabisan akal.”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba Siau-sian-li menerobos masuk dan berseru terkejut, “Kiranya kau setan cilik ini berada di sini!”

“He, sudah lama tak berjumpa, baik-baikkah engkau?” sapa Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau kenal dia, kakak Cing?” tanya Buyung Kiu-moay.

“Kenal, tentu saja kukenal dia,” jawab Siau-sian-li Thio Cing dengan gemas. “Tapi … tapi mengapa dia berada di sini?”

Dengan tak acuh Buyung Kiu-moay menjawab, “Dia terluka di sana dan aku telah ….”

Mendadak Siau-hi-ji berseru, “Tidak perlu kau tanya lagi, aku tiada sesuatu hubungan apa pun dengan keluarga Buyung, kini aku dalam keadaan terluka, jika kau hendak membunuhku boleh silakan, tidak perlu kau khawatir membikin malu orang lain dan juga tidak perlu khawatir kulawan.”

“Memangnya bagaimana jika kau bisa melawan?” jengek Siau-sian-li.

“Kalau dapat kulawan, tentu kau akan menggeletak tak bisa berkutik lagi!” jawab Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa.

Kontan Siau-sian-li memberi suatu tamparan keras sambil berteriak gusar, “Coba katakan lagi?”

Siau-hi-ji terima tamparan itu tanpa mengelak, ia malah tertawa lebih keras, dan berkata, “Baiklah, takkan kukatakan lagi, untuk apa kukatakan pula? Sudah dua kali kau jatuh di tanganku, salahku sendiri, karena merasa kasihan, maka dua kali kuampunimu. Seumpama sekarang kumati di tanganmu juga salahku sendiri.”

Dia bicara dengan tegas, gagah perwira sebagai seorang ksatria sehingga sangat mengharukan orang, sudah tentu sama sekali dia tidak menyinggung cara bagaimana sampai Siau-sian-li dapat dirobohkan olehnya.

Karena itu Buyung Kiu-moay jadi tertarik, segera ia tanya, “Kakak Cing, apa betul dua kali engkau ….”

Sampai gemetar Siau-sian-li saking marahnya, tapi apa yang dikatakan Siau-hi-ji itu memang betul sehingga dia tidak mampu menyangkalnya.

Melihat sikap Siau-sian-li Thio Cing yang serba susah untuk bicara itu, air muka Buyung Kiu-moay mendadak berubah aneh, seperti keheranan dan seperti tidak percaya.

Sudah tentu sikap kedua nona ini dapat dilihat jelas oleh Siau-hi-ji, ia sengaja berkata, “Nona Buyung, biarkan dia membunuh saja diriku, meski aku terbunuh di rumahmu, tapi aku pun tahu engkau memandang hina padaku, maka takkan kusalahkanmu bila aku dibunuhnya.”

Gusar Siau-sian-li tak tertahan lagi. Saking gemasnya dia jadi tertawa, katanya, “Haha, memangnya kau kira aku tidak berani membunuhmu?!”

“Tentu saja kau berani,” jawab Siau-hi-ji. “Siau-sian-li Thio Cing yang maha termasyhur memangnya pernah takut kepada siapa? Apalagi orang yang sama sekali tidak sanggup melawan ini.”

Dengan murka Siau-sian-li menggertak satu kali, jarinya setajam pedang terus menutuk ke Thay-yang-hiat di pelipis Siau-hi-ji. Pada hakikatnya anak muda itu tidak dapat menghindar, keruan remuk-redam perasaan Thi Sim-lan menyaksikan malapetaka yang akan menimpa Siau-hi-ji itu.

Di luar dugaan, pada detik itu juga berkelebatlah sesosok bayangan, tahu-tahu Buyung Kiu-moay sudah mengadang di depan Siau-hi-ji sehingga jari Siau-sian-li menyentuh tubuh si nona yang putih halus, terpaksa dia tarik kembali mentah-mentah serangannya itu.

“Apakah kau hendak membela orang luar, Kiu-moay?” tanya Siau-sian-li dengan gusar.

“Jika di tempat lain tentu aku takkan ikut campur biarpun engkau membinasakan dia,” demikian ucap Buyung Kiu-moay dengan acuh. “Tapi di sini, betapa pun kakak Cing harus memberi muka kepadaku.”

“Setelah kubunuh dia barulah kuminta maaf padamu,” kata Siau-sian-li.

“Sejak gedung ini dibangun hingga sekarang belum pernah terjadi membunuh orang dan mengalirkan darah di sini. Maka kuharap kakak Cing jangan melanggar kebiasaan ini dan sukalah menunggu sampai dia keluar dari tempat ini barulah engkau ….”

“Aku tidak sabar menunggu lagi!” bentak Siau-sian-li, berbareng ia terus menyelinap ke samping. Tapi beberapa kali ia menerjang maju, selalu dia dirintangi oleh tubuh Buyung Kiu-moay yang lemah gemulai itu.

Padahal kalau Buyung Kiu-moay benar-benar membiarkan Siau-sian-li menyerang Siau-hi-ji, rasanya juga belum tentu si nona membunuh anak muda itu. Tapi kini Buyung Kiu-moay berusaha merintanginya, ia jadi semakin dongkol dan gemas sehingga benar-benar akan membinasakan Siau-hi-ji. Untuk itu terpaksa ia harus menghalau dulu rintangannya, maka beberapa kali ia melancarkan serangan jarinya kepada Buyung Kiu-moay.

Sambil melenggang dengan gerakan enteng, Buyung Kiu-moay berucap, “Kakak Cing, kau yang mulai menyerangku lebih dulu, maka jangan kau salahkan aku.”

Serangan Siau-sian-li tidak pernah berhenti sambil menjengek, “Jika aku ingin berbuat sesuatu, di dunia tiada seorang pun yang mampu merintangi aku, termasuk kau. Nah, bolehlah kau keluarkan jarum atau panah keluarga Buyung kalian yang terkenal itu ….”

“Tidak perlu, lihat seranganku ini!” demikian mendadak seorang membentak di belakangnya sebelum habis ucapan Siau-sian-li. Berbareng serangkum angin pukulan terus menyambar tiba dengan dahsyat.

Cepat Siau-sian-li mendak ke bawah dan melompat mundur ke samping sambil membentak, “Bagus, Koh-siaumoay, kau juga berani menyerang padaku?”

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, kiranya Koh Jin-giok itu berjuluk “Koh-siaumoay” (adik perempuan), rasanya poyokan ini cocok dengan orangnya. Tapi tenaga serangannya tadi tampaknya sangat hebat, biar Siau-sian-li yang lihai itu pun belum tentu dapat melawannya.

Siau-hi-ji tidak tahu bahwa ilmu silat Koh Jin-giok memang tangguh, nama “Giok-bin-sin-kun” (si pukulan sakti berwajah cakap) Koh Jin-giok cukup terkenal di dunia Kangouw.

Begitulah tampak Siau-sian-li mendelik sambil bertolak pinggang, bentaknya pada Buyung Kiu-moay dan Koh Jin-giok, “Ayolah maju semua, kalian sungkan-sungkan apa lagi?”

Dalam hati Siau-hi-ji juga berseru, “Ayolah, memangnya kalian sungkan-sungkan apalagi!”

Tapi Koh Jin-giok ternyata diam saja dan tidak menyerang pula, katanya sambil menunduk, “Asalkan nona Thio tidak menyerang Kiu-ci, dengan sendirinya Siaute tidak berani menganggu nona Thio.”

Siau-sian-li mendengus, “Hm, keturunan pukulan sakti keluarga Koh ternyata tak becus semua, selain mengambil hati Kiu-ci yang kau sukai itu memang kau tidak bisa apa-apa pula?”

Koh Jin-giok diam saja tanpa menjawab sepatah kata pun.

Siau-sian-li menjadi gusar, teriaknya, “Baiklah, Buyung Kiu, majulah, coba saja semua isi ‘Jit-kiau-tay’ (kantong senjata rahasia) kebanggaanmu itu boleh kau gunakan seluruhnya terhadapku!”

“Asalkan kau tidak membunuh orang di sini masakah aku ingin bergebrak denganmu?” jengek Buyung Kiu-moay.

Siau-sian-li menjadi serba susah, ia pandang Koh Jin-giok dan pandang pula Buyung Kiu-moay, kedua orang itu mengadang rapat di depannya tanpa memberi kelonggaran sedikit pun.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berolok-olok, “Apa gunanya kau hanya memandangi mereka? Yang pasti kau takkan mampu menerobos rintangan mereka. Hahaha, Siau-sian-li yang namanya gilang gemilang ada kalanya ternyata juga mati kutu dikerjai orang.”

Mendadak Siau-sian-li juga tertawa, “Haha, rupanya kau berharap mereka bergebrak mati-matian dengan aku dan kau dapat menonton dengan gratis, bahkan menarik keuntungannya nanti, betul tidak?”

“Jika kau tidak berani berkelahi melawan mereka boleh lekas pergi saja, kenapa pakai cari alasan segala?” kata Siau-hi-ji.

“Aku memang mau pergi,” ucap Siau-sian-li. “Apabila kau dapat sembunyi selama hidup di sini barulah aku benar-benar kagum padamu. Kalau tidak, begitu kau melangkah keluar rumah ini, seketika juga kucabut nyawamu.”

Lalu dia berpaling kepada Buyung Kiu-moay, katanya dengan tertawa, “Kecuali kau kawin dengan dia dan menjaga dia selama hidup, kalau tidak betapa pun dia pasti akan mati di tanganku, buat apa sekarang susah payah kuberkelahi denganmu, kalau didengar orang luar mungkin aku akan dianggap mencari perkara padamu.”

Habis berkata, ia melangkah mundur, mendadak tubuhnya melayang miring ke sana, di tengah suara tertawanya yang melengking nyaring itu, sekejap saja bayangannya sudah lenyap di kejauhan. Begitu bilang mau pergi segera nona itu benar-benar pergi, hal ini malah di luar dugaan Siau-hi-ji.

Setelah melenggong sejenak, akhirnya anak muda itu bergumam dengan tersenyum getir, “O, perempuan … perempuan! Sungguh menakutkan perubahan pikiran orang perempuan ….”

“Perubahan pikiran orang ini memang benar sukar diterka oleh siapa pun,” kata Buyung Kiumoay dengan gegetun, “bahkan tabiatnya juga sukar diraba. Ai, di dunia sekarang ini mungkin hanya dia saja yang sesuai menjadi lawanku ….”

Mata Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Jika begitu, jadi pahlawan di dunia ini hanya kau dan dia berdua saja?!”

“Betul,” jawab Buyung Kiu-moay.

“Lalu, siapa pula yang nomor satu di dunia Kangouw, dia atau engkau?” tanya Siau-hi-ji.

“Tindak-tanduknya lincah, cerdik dan aneh, perubahan pikirannya tidak menentu, bahkan aku sendiri tidak dapat meraba apa yang hendak diperbuatnya dan bagaimana tindak berikutnya, sungguh dia terhitung tokoh nomor satu paling lihai di dunia Kangouw sekarang.”

“Dan kau sendiri bagaimana?” tanya Siau-hi-ji.

“Aku belum pernah berkecimpung di dunia Kangouw.”

“Bila engkau berkecimpung di dunia Kangouw, dia akan berubah menjadi tokoh nomor dua, betul tidak?”

“Hm,” Buyung Kiu hanya mendengus saja.

Dengan nada sungguh-sungguh Siau-hi-ji berkata pula, “Ya, engkau memang benar nomor satu di dunia ini ….”

Buyung Kiu tersenyum hambar tanpa menjawab.

Tapi Siau-hi-ji lantas menyambung pula, “Kepandaianmu memuaskan diri sendiri memang benar-benar nomor satu di dunia.”

Seketika berubah pula air muka Buyung Kiu-moay.

Akhirnya Siau-hi-ji tak tahan akan rasa gelinya, ia tertawa hingga terpingkal-pingkal, perutnya sampai terasa mules, katanya kemudian, “Kukira hanya lelaki saja yang bisa memuaskan diri sendiri, tak tahunya cara perempuan memuaskan diri sendiri ternyata jauh lebih hebat daripada lelaki. Haha, mengapa kau tidak keluar ke sana supaya kau tahu entah betapa banyak orang yang jauh lebih hebat daripadamu. Tapi, jika kau lebih suka mengaku nomor satu sambil menutup pintu, ya, aku pun tak berdaya.”

“Kau … kau ….” Buyung Kiu-moay tergagap saking gemasnya.

“Meski dua kali kau menolong jiwaku, tapi itu kau lakukan secara sukarela, aku tidak pernah mohon pertolonganmu. Kalau aku tidak utang budi padamu, dengan sendirinya aku pun tidak perlu mengambil muka padamu dengan kata muluk-muluk.”

“Bagus … bagus sekali,” ucap Buyung Kiu-moay. Meski dia berusaha sebisanya bersikap acuh tak acuh seperti tidak terjadi apa-apa, tapi justru sukar, badan justru gemetar saking gemasnya.

Sesungguhnya dia seorang nona yang berhati dingin dan tidak mudah marah, tapi entah mengapa, hanya dua-tiga patah kata saja Siau-hi-ji telah membuatnya gusar setengah mati.

Koh Jin-giok mendekati Siau-hi-ji, katanya, “Betapa pun Kiu-ci juga telah menolongmu, mengapa kau sengaja membuatnya marah?”

Dengan tertawa Siau-hi-ji memandang Buyung Kiu, katanya, “Aku justru suka membuatnya marah, waktu marah bukankah dia menjadi lebih bagus dipandang daripada sikap biasanya yang dingin kaku itu?”

Tanpa terasa Koh Jin-giok juga memandang Buyung Kiu, wajah yang pucat itu kini tampak bersemu merah sehingga jauh lebih menggiurkan dari pada biasanya. Melenggonglah Koh Jin-giok, sejenak kemudian barulah dia berucap, “Ya, memang betul, memang jadi lebih cakap.”

Seketika Buyung Kiu-moay mendelik, omelnya, “Kau … kau pun berani bilang begitu di hadapanku? Memangnya kau anggap diriku ini apa?”

Koh Jin-giok menjadi ketakutan, cepat ia menunduk dan berkata, “O, tidak … tidak cakap, waktu marah kau menjadi sangat … sangat jelek.”

Meski pikiran Thi Sim-lan penuh diliputi perasaan cemas dan sejak tadi tidak bicara, kini melihat kelakuan Koh Jin-giok itu tanpa tertahan ia jadi mengikik geli, Siau-hi-ji tidak perlu diterangkan lagi, sejak tadi ia sudah tertawa terpingkal-pingkal.

Dalam pada itu dua gadis cilik tampak datang menyusur hutan sana, dari jauh keduanya sudah lantas berseru, “Kiukohnio, Kiukohnio ….”

Memangnya Buyung Kiu lagi mendongkol dan tak terlampiaskan, segera ia mendamprat, “Gembar-gembor apa? Memangnya kau kira aku tuli?”

Keruan kedua gadis cilik itu menunduk ketakutan dan berkata, “Ya, nona ….” mereka melirik sekejap ke arah Siau-hi-ji, lalu menunduk pula dan berkata, “Rumah sudah kami bersihkan, apakah sekarang nona ….”

“Sekarang juga kuperiksa ke sana, setiap hari juga begini, pakai tanya lagi?” omel Buyung Kiu.

Selamanya kedua pelayan itu tak pernah melihat sang nona bicara seketus itu, mereka tidak berani banyak bicara lagi, setelah mengiakan mereka terus berlari pergi.

Dengan dingin Buyung Kiu-moay berkata pula, “Jika Koh-siauya tidak ada urusan, silakan tinggal di sini mengawasi mereka, kalau tidak, bila engkau mau pergi juga boleh.”

“O, tidak, aku tidak … tidak ada urusan, tidak ada urusan,” kata Koh Jin-giok dengan tergagap. Buyung Kiu-moay lantas melangkah pergi tanpa berpaling.

Siau-hi-ji mengedipi Thi Sim-lan, mereka ikut keluar.

Koh Jin-giok mengintil di belakang Buyung Kiu-moay dan memandangi bayangan si nona seperti orang linglung. Thi Sim-lan juga memandang Siau-hi-ji dengan terkesima.

Tanpa terasa Koh Jin-giok menghela napas, tanpa terasa Thi Sim-lan juga menghela napas dan berkata, “Kau sungguh baik sekali terhadap dia, mungkin terlalu baik.” Meski dia bicara mengenai persoalan Koh Jin-giok, tapi yang terpikir olehnya justru adalah urusan Siau-hi-ji, kalau Koh Jin-giok demikian baik terhadap Buyung Kiu, mengapa Siau-hi-ji tidak ….

Begitulah makin dipikir makin luluh perasaannya sehingga dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Koh Jin-giok. Selang sejenak barulah dia berkata pula dengan rasa hampa, “Bukankah engkau sangat menyukai nona Buyung?”

“Aku … aku sendiri tidak tahu,” ucap Jin-giok dengan bingung.

“Kau tidak tahu?” Thi Sim-lan menegas dengan tertawa.

“Ya, orang lain menganggap aku harus suka padanya, aku sendiri pun merasa pantas menyukai dia, tapi … tapi apakah aku memang suka padanya, aku sendiri pun tidak tahu, aku cuma tahu rada-rada takut padanya.”

“Kau sungguh orang yang baik,” ujar Thi Sim-lan dengan tersenyum.

Koh Jin-giok memandangnya sekejap, jawabnya sambil menunduk, “Engkau … engkau pun orang baik.”

Sementara itu Buyung Kiu-moay sudah berjalan sampai di tengah taman, mendadak ia berpaling dan menegur dengan ketus, “Untuk apa kau ikut kemari?”

“Sebenarnya aku tidak ingin ikut ke sini,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa, “Tapi kalau aku tidak ikut dan kesempatan itu digunakan oleh Siau-sian-li untuk membunuhku, soal mati atau hidup bagiku tidak penting, tapi kau yang akan kehilangan muka.”

Buyung Kiu-moay melototinya sejenak, tanpa bicara lalu melangkah pula ke depan sana.

Dengan langkah terhuyung-huyung Siau-hi-ji ikut di belakang si nona dengan napas terengah-engah, akhirnya ia berkata dengan suara lembut, “Aku tidak sanggup berjalan lagi, maukah kau memegangi tanganku?”

Buyung Kiu-moay tidak pedulikan ucapan itu, bahkan melangkah terlebih cepat.

“Baiklah, biar kumati kepayahan saja,” ucap Siau-hi-ji. “Sesudah mati boleh kau serahkan jenazahku kepada Siau-sian-li dan selanjutnya dia pasti takkan merecoki kau lagi.”

Sampai di sini, walau tidak menoleh, namun langkah Buyung Kiu-moay sudah mulai diperlambat.

Siau-hi-ji berkata pula, “Ada sementara anak perempuan yang tampaknya serba lebih hebat daripada lelaki, tapi kalau benar-benar bertemu dengan lelaki lantas kelihatan kelemahannya. He, pernahkah kau lihat lelaki yang tidak berani memegang tangan perempuan?”

Tampaknya Buyung Kiu-moay tidak tahan oleh olok-olok itu, jengeknya, “Hm, memangnya kau kira aku tidak berani? Aku cuma tidak ….”

“Tidak sudi, begitu bukan?” sambung Siau-hi-ji. “Hahaha, di dunia ini mana ada orang yang mau mengaku dirimu tidak berani. Istilah tidak sudi memang alasan yang paling tepat bagi istilah tidak berani.”

Dengan mendongkol mendadak Buyung Kiu-moay membalik tangannya, dia pegang tangan Siau-hi-ji terus diseretnya ke depan dengan terus berlari.

Tanpa kuasa Siau-hi-ji ikut lari bersama si nona, tapi mulutnya masih terus bercanda, “Hah, kecil benar tanganmu, tiada setengahnya tanganku ….” Mulutnya tiada hentinya bicara, matanya juga tiada hentinya berputar, dilihatnya di samping taman sana ada sebuah serambi panjang yang berbelok menurun mengikuti tanah bukit. Di sebelah serambi panjang itu ada sebuah rumah yang indah, setiap ruangan dibangun dengan bentuk yang berbeda-beda, warna setiap pintu dan jendelanya juga berlainan.

Setelah dihitung Siau-hi-ji, jumlah ruangan rumah itu ada sembilan buah, agaknya inilah kamar pribadi kesembilan kakak beradik keluarga Buyung.

Warna daun pintu kamar pertama adalah kuning muda, Buyung Kiu mendorong pintu dan masuk ke situ, ternyata kain jendela, taplak meja, selimut dan sprei, semuanya juga berwarna kuning muda. Meski cuma beberapa macam benda sederhana itu, namun menimbulkan semacam rasa tenang dan indah.

Buyung Kiu memeriksa setiap benda itu dengan teliti, tapi Siau-hi ji justru memandangi si nona, katanya, “Inikah kamar pribadi Tacimu (kakak pertamamu)? Apakah Tacimu segera akan pulang?”

“Kalau tidak pulang apa lantas dibiarkan kotor tak terurus?” jawab Buyung Kiu-moay dengan ketus.

“Betul, biarpun penghuninya tidak pulang juga semua perabotnya harus dirawat sebaik-baiknya,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tampaknya antara kakak beradik kalian mempunyai hubungan yang erat dan penuh kasih sayang.”

Tiba-tiba si anak muda tidak mengucapkan kata-kata yang berolok-olok lagi, seketika Buyung Kiu-moay menjadi bingung karena tidak dapat meraba maksud tujuannya. Maka ia hanya mendengus saja tanpa menanggapi.

Siau-hi-ji lantas berkata pula, “Tacimu tentu seorang perempuan yang cantik dan berbudi halus, suka pada ketenangan dan mendambakan keindahan. Ai, di dunia ini sungguh tidak banyak lagi perempuan yang bersifat demikian, tapi entah bagaimana dengan suaminya, apakah cocok baginya atau tidak?”

Akhirnya Buyung Kiu berpaling dan memandang sekejap pada anak muda itu, katanya, “Di dunia ini dengan sendirinya tiada lelaki yang cocok bagi Taciku kecuali seorang saja, yaitu Toacihu (kakak ipar pertama, suami kakak).”

“Dan bagaimana ilmu silatnya?”

“Tentunya kau tahu nama Bi-giok-kiam-khek (si pendekar pedang berwajah cakap),” jawab si nona dengan dingin.

Sebenarnya dia sudah bertekad tidak sudi bicara lagi dengan “setan cilik” yang menjengkelkan dan menjemukan ini, tapi kini tanpa terasa ia menanggapi ucapannya. Soalnya apa yang diucapkan setan cilik ini adalah persoalan yang paling suka dibicarakannya. Hanya dengan dua-tiga patah kata saja si setan cilik sudah dapat membuat rasa dongkolnya terlampiaskan.

Ruangan kedua berwarna serba merah, merah jambu. Dindingnya, busur yang tergantung di dinding dan sebatang pedang pendek dengan sarungnya, semuanya berwarna merah muda.

Dengan tertawa Siau-hi-ji memberi komentar pula, “Perangai Jicimu (kakak keduamu) tentunya berbeda dengan Tacimu. Dia pasti seorang yang polos dan suka terus terang, meski terkadang tabiatnya agak keras, tapi pada dasarnya dia berhati baik, bahkan suka memikirkan kepentingan orang lain.”

Buyung Kiu terdiam sejenak, akhirnya tak tahan dan bertanya, “Dari mana kau tahu?”

“Kehebatan Amgi (senjata rahasia) keluarga Buyung terkenal di seluruh jagat, namun Jicimu justru tidak mau memakai senjata yang kecil itu, tapi lebih suka menggunakan busur dan panah yang besar, ini menandakan sifatnya pasti gagah dan suka cepat menyelesaikan setiap urusan, dengan sendirinya ia pun tidak suka pada permainan yang kecil-kecil itu.”

“Ehm, apalagi?” tanya Buyung Kiu-moay.

“Pedang panjang kuat, pedang pendek bahaya, pedang yang disukai Jicimu pendek bagai belati, ini menandakan bila ia sedang marah, dia pasti maju terus tak gentar apa pun juga.”

Mau tak mau Buyung Kiu manggut-manggut, katanya, “Ilmu pedang Jiciku memang terkenal keras dan berbahaya, boleh dikatakan nomor satu di daerah selatan sini.”

“Namun ilmu silat Jicihumu justru tidak tinggi, betul tidak?” tiba-tiba Siau-hi-ji menambahkan dengan tertawa.

Melengak juga Buyung Kiu-moay mendengar ucapan itu, ia pandang anak muda itu dengan keheranan, sampai sekian lama barulah ia mengangguk dan berkata, “Ya, Jicihu adalah putra tunggal keluarga bangsawan Lamkiong. Meski ilmu silat keluarga Lamkiong sangat tinggi, namun sejak kecil Jicihu suka sakit-sakitan, oleh karena itu … Ai ….”

“Itulah dia!” ucap Siau-hi-ji sambil keplok dan tertawa.

“Kenapa?” tanya si nona.

“Bahwasanya setelah menikah, Jicimu meninggalkan senjata andalannya di rumah, dengan sendirinya disebabkan dia tidak ingin membikin malu dan rasa tidak enak bagi sang suami lantaran ilmu silatnya lebih tinggi. Dari sini dapat diketahui ilmu silat suaminya pasti di bawahnya, sebab itu pula dapat diketahui hati Jicimu sangat bajik dan suka memikirkan kepentingan orang lain.”

Buyung Kiu memandangi anak muda itu sejenak tanpa menanggapi, lalu ia menuju ke kamar ketiga.

Daun jendela kamar ini ternyata ditempel dengan kertas hitam yang tebal, dengan sendirinya keadaan di dalam kamar menjadi gelap, namun cukup indah pajangan di dalam kamar, di samping meja rias ada meja catur, di atas rak buku juga penuh tertaruh gulungan lukisan, di dinding tergantung sebuah lukisan indah, tentu inilah buah tangan penghuninya sendiri.

Setelah memandang sekeliling kamar itu, dengan tertawa Siau-hi-ji memberi komentar pula, “Kakakmu yang ketiga ini tentunya seorang seniman, hanya saja tabiatnya agak terlalu angkuh dan suka menyendiri, dan juga rada pendiam serta mudah tersinggung. Ya, pada umumnya seniman seniwati dari jaman dahulu hingga sekarang memang rata-rata juga bersifat demikian.”

“Dia memang tidak suka pada sinar matahari, yang paling disukai adalah suara hujan,” tutur Buyung Kiu. “Lukisan yang dihasilkannya di waktu hujan sungguh sedikit pun tidak berbau kehidupan manusia di dunia fana ini. Jika dia memetik kecapi, suaranya terdengar seperti datang dari langit terbawa air hujan. Cuma sayang … sayang, sudah lama tak kudengar lagi suara kecapinya.”

“Dan bagaimana dengan Samcihumu?”

“Dia adalah tokoh berbakat tinggi di dunia persilatan, bukan saja serba mahir mengenai seni lukis, seni tulis, seni catur dan seni musik, bahkan ketika berumur dua puluh sembilan beliau sudah menjadi ketua perserikatan jago-jago silat di daerah Kwitang dan Kwisay.”

“Wah, yang lelaki gagah pintar dan yang perempuan cantik molek, sungguh amat mengagumkan,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Begitulah Siau-hi-ji ikut Buyung Kiu memeriksa setiap kamar itu, habis memeriksa kamar kedelapan, sikap Buyung Kiu-moay sudah lebih ramah, bahkan kerlingan matanya juga tampak lembut. Dia merasa si “setan cilik” sesungguhnya tidak begitu menjengkelkan dan menjemukan, bicara punya bicara, akhirnya mereka sampai di kamar kesembilan.

Warna kamar ini serba hijau pupus, hijau muda, isi kamar sangat mewah dan sangat permai, setiap benda di dalam kamar ini adalah mestika yang jarang terlihat di dunia luar.

Buyung Kiu tidak bicara, ia hanya menatap Siau-hi-ji seakan-akan hendak bertanya, “Apakah kau tahu kamar inilah kamarku? Dapatkah kau mengatakan bagaimana pribadiku ini?”

Siau-hi-ji seperti tahu kehendak orang, ia pandang sekeliling kamar itu sekian lama, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, penghuni kamar ini sama sekali berbeda daripada penghuni kamar bagian depan tadi.”

“Berbeda bagaimana?” tanya Buyung Kiu-moay dengan sikap dingin seakan-akan tidak mempedulikan apa yang hendak diucapkan Siau-hi-ji.

Dengan tertawa Siau-hi-ji lantas berkata, “Kamar ini berwarna hijau, ini menandakan bahwa penghuninya suka memuaskan diri sendiri dan anggap dirinya lain daripada yang lain, benda tetek bengek di sini menandakan sifatnya yang kekanak-kanakan. Suka pada kemewahan, kampungan ….”

Belum habis komentarnya, air muka Buyung Kiu sudah berubah pucat, kehijau-hijauan, tanpa bersuara ia terus lari keluar dan tidak sudi lagi memandang barang sekejap pada si setan cilik ini.

“Hahahaha!” Siau-hi-ji terbahak-bahak geli. “Jika kusalah omong, kenapa kau mesti marah? Bila betul ucapanku, lebih-lebih kau tidak boleh marah.”

Tanpa menoleh Buyung Kiu terus melangkah pergi, Siau-hi-ji ikut di belakangnya. Setelah membelok dua-tiga kali, tiba-tiba mereka sampai di suatu jalan berbatu, pada ujung jalan sana ada sebuah pintu tembaga hijau.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji tidak tahu keadaan di balik pintu sana, tapi dari daun pintunya dapat dirasakannya semacam keajaiban yang sukar diuraikan.

Dilihatnya Buyung Kiu-moay mengeluarkan sebuah anak kunci warna kuning emas terus dimasukkan ke lubang itu, setelah diputar sekali dua kali, daun pintu yang berat itu lantas terpentang tanpa suara. Serentak serangkum hawa dingin mendampar keluar dari dalam.

Segera Siau-hi-ji dapat merasakan kamar ini hampir mirip dengan rumah Ban Jun-liu di Ok-jin-kok itu, sekeliling ruangan juga penuh tertimbun aneka macam obat-obatan. Cuma rumah Ban Jun-liu itu dibangun dengan bata, sedang dinding sekeliling rumah ini terbuat dari balok batu hijau yang besar dan kuat. Hawa di rumah Ban Jun-liu terasa hangat sepanjang musim, sedangkan rumah batu ini terasa dingin menggigilkan orang.

Setelah Buyung Kiu dan Siau-hi-ji masuk ke rumah itu, segera si nona mengunci kembali pintu tembaga tadi. Wajah si nona yang memang pucat kini tambah menghijau.

“Hah, kiranya Kiukohnio kita juga seorang tabib wanita, sungguh boleh dikatakan serba pintar dan serba bisa,” demikian Siau-hi-ji berucap dengan tertawa. “Eh, engkau membawaku ke sini, apakah hendak mengobati lagi penyakitku?”

“Benar,” jawab Buyung Kiu-moay.

“Racunku sudah ditawarkan, masakah masih sakit?” ujar Siau-hi-ji.

“Tubuhmu berlebihan sesuatu barang, jika barang itu dipotong tentu kau akan bertambah sehat,” kata Buyung Kiu-moay.

“O, barang apakah maksudmu?”

“Lidahmu!” dengus si nona.

Siau-hi-ji melelet lidah dan cepat menyingkir ke pojok sana. Dengan tertawa ia berkata, “Ucapanku dapat membuat kau marah, terasa suatu kehormatan juga bagiku.”

Buyung Kiu hanya mendengus saja terus berpaling ke sana, katanya, “Obat-obatan yang berada di sini adalah benda-benda mestika yang sukar dicari, kau dilarang sembarangan menjamahnya.”

“Kau kira aku akan menjamahnya atau tidak?”

“Jika kau ingin menjamahnya juga masa bodoh,” ujar si nona dengan tersenyum hambar. “Hanya ingin kuperingatkan bahwa di antara obat-obatan ini meski banyak terdapat obat mujarab yang dapat menambah tenaga dan membikin panjang umur, tapi juga tidak sedikit obat-obatan beracun yang dapat membikin busuk isi perutmu, kalau kau keracunan terang tiada orang yang dapat menolong kau.”

“Wah, apa betul?” Siau-hi-ji sengaja melelet lidah pula. “Ai, dasar nyaliku kecil, kau sengaja menakut-nakutiku pula, bisa mati kaku aku.”

“Asalkan kau tidak sembarangan bergerak pasti tiada seorang yang mengganggu seujung rambutmu,” kata si nona.

“Ditemani kau, dengan sendirinya tiada seorang pun yang mampu mengganggu diriku,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sekarang adalah waktu latihan kungfuku, aku harus pergi,” kata si nona.

“Engkau … akan ke mana, aku tetap ikut,” kata Siau-hi-ji.

Buyung Kiu menjadi cemas, bentaknya bengis, “Jika kau mengikuti aku lagi, sebelum orang mencelakaimu mungkin akan kubinasakan dirimu lebih dulu.”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Ai, anak perempuan secantik kau, sekali tersenyum saja cukup membuat orang semaput, untuk apalagi berlatih Kungfu segala … setelah berhasil meyakinkan Kungfumu, mungkin kau sudah telanjur tua.”

Buyung Kiu-moay tidak menggubrisnya lagi, ia terus menuju ke suatu pintu tembaga yang lain, ia mengeluarkan anak kunci emas pula dan membuka pintu itu, lalu menoleh dan memperingatkan Siau-hi-ji, “Jika kau berani sembarangan melangkah masuk pintu ini, maka jangan harap kau dapat keluar dengan hidup!”

“Pintunya kau kunci, cara bagaimana aku dapat masuk ke situ?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Memangnya kau dapat masuk?” jengek si nona dan segera menyelinap ke balik pintu terus dirapatkan kembali, “klik”, pintu dikunci pula sehingga Siau-hi-ji tidak sempat melongok barang sekejap pun bagaimana keadaan di dalam sana.

Tapi anak muda itu pun tidak gelisah dan terburu-buru, dengan kemalas-malasan ia mengulet, lalu bergumam, “Perempuan, o, perempuan, penyakit kalian yang terbesar adalah menganggap lelaki di seluruh dunia ini tolol semuanya, kau kira aku tidak dapat membedakan obat mujarab atau obat racun yang terdapat di sini? Huh, ketahuilah bahwa sejak kecil aku dibesarkan di tengah onggokan obat-obatan, jenis obat-obatan yang kukenal jauh lebih banyak daripadamu.”

Begitulah sembari menggrundel sendiri ia terus bongkar sana dan singkap sini, semua obat-obatan itu ditelitinya. Katanya kemudian dengan tertawa, “Pantas dia menakut-nakuti aku, bahkan sudah belasan tahun paman Ban sukar mendapatkannya, tapi di sini tersedia empat-lima obat-obatan mestika itu. Ah, agaknya rezeki perutku tidaklah jelek.”

Benar juga, segera ia memilih beberapa jenis di antara obat-obatan itu terus dilalapnya. Kalau saja Buyung Kiu-moay menyaksikan caranya Siau-hi-ji menghabisi obatnya mungkin dia akan jatuh kelengar saking gemasnya.

Beberapa jenis obat-obatan yang jarang ditemukan itu sebenarnya juga belum pernah dilihat oleh Siau-hi-ji, cuma Ban Jun-liu pernah melukiskannya agar dia kenal bentuknya. Sudah berpuluh tahun Ban Jun-liu berusaha mencari obat-obatan itu dan tidak berhasil, dari sini dapatlah dibayangkan betapa tinggi nilai obat-obatan itu, kalau sudah diracik menjadi obat jadi, satu biji saja mungkin dapat menghidupkan orang yang sudah sekarat.

Tapi cara Siau-hi-ji melalap obat-obatan mestika itu benar-benar seperti orang awam makan kacang goreng, sedikit pun tidak merasakan betapa tinggi nilai daripada benda yang sukar dicari itu, hanya sebentar saja beberapa raup obat-obatan itu sudah dimakannya habis.

Sambil meraba perutnya anak muda itu bergumam pula, “Perutku sayang, hari ini kau sungguh beruntung!”

Tiba-tiba ia celingkukan kian kemari, seleranya seperti belum terpenuhi seluruhnya, otaknya bekerja pula mengincar obat-obat jadi yang berada di bejana itu. Segera ia membuka tutup bejana-bejana itu, isinya diperiksa dan dicium, lalu dicomotnya segenggam terus dimakan dengan lezatnya seperti makan kacang goreng. Malahan sebagian ia jejalkan ke saku bajunya, setelah sakunya penuh, sisa obat jadi itu dicampur aduknya menjadi satu.

Habis itu dia melelet lidah dan mencibir sendiri, katanya dengan tertawa, “Karena kau terlalu iseng, maka sengaja kucarikan pekerjaan untukmu.”

Sudah tentu perbuatannya ini benar-benar membikin susah Buyung Kiu-moay. Betapa tidak? Untuk memilih kembali jenis-jenis obat yang berlainan itu mustahil dapat selesai dalam tiga hari.

Akan tetapi kini Siau-hi-ji sendiri pun merasakan akibatnya, belasan macam obat yang ditelannya itu seperti mulai membakar di dalam perutnya, panasnya bukan main, perutnya serasa akan meledak, bibir sampai pecah dan mulut kering.

Dalam keadaan kelabakan ia masih dapat merenung sejenak, lalu dikeluarkannya sepotong kawat kecil, ia masukkan kawat itu ke lubang kunci pintu tembaga, gumamnya dengan tertawa, “Memangnya kau mengira aku tak mampu masuk ke situ? Hah, aku justru akan masuk ke situ biar kau tahu kesanggupanku.”

Ia mendekatkan telinganya ke lubang kunci dan memutar-mutar kawat kecil tadi, sembari bekerja sambil mendengarkan, sejenak kemudian dia mulai tersenyum dan bergumam pula, “Ini dia, di sini … ya, betul di sini!” Dan terdengarlah “klik” sekali, pintu itu pun dapat dibukanya.

Di dalam kamar itu ternyata jauh lebih dingin daripada di luar, hawa dingin segera menerjang keluar dari sela-sela pintu, tapi bagi Siau-hi-ji justru terasa sangat sejuk, ia menarik napas panjang-panjang dan berkata, “Ehmmm, sungguh segar!”

Sementara itu ia merasa tubuhnya panas seperti terbakar, maka hawa semakin dingin itu baginya terasa semakin sejuk, ia terus membuka pintu itu dan melangkah ke dalam sembari berseru dan tertawa, “Hahaah, Kiukohnio, inilah aku sudah masuk ke sini, silakan kau tetap berlatih, takkan kuganggu dirimu.”

Habis ucapannya ia pun tercengang seketika, dilihatnya di kamar batu ini masih ada sebuah lorong di bawah tanah, di dalam lorong itu penuh tertimbun balok-balok es batu yang terkumpul di musim dingin. Tertampak Buyung Kiu-moay duduk di atas sepotong es batu besar, kedua tangannya merangkul kedua paha terus melingkar ke bagian betis dan akhirnya telunjuknya menggantol di tengah-tengah bawah telapak kaki.

Yang luar biasa adalah sekujur badan nona itu dalam keadaan telanjang bulat tanpa seutas benang pun.

Sebesar ini, yang dilihat Siau-hi-ji sudah cukup banyak, tapi gadis telanjang bulat begini belum pernah dilihatnya. Biasanya dia tidak pernah terkejut melihat apa pun juga, tapi sekarang tidak urung dia berdiri terpaku dan melenggong.

Kedua mata Buyung Kiu-moay terbuka, maka ia pun melihat masuknya anak muda ke situ, sungguh sukar dilukiskan betapa rasa kejut, gusar, cemas dan malu, semua dapat terlihat dari sinar matanya yang mencorong aneh. Tapi tubuhnya ternyata tidak bergerak sedikit pun, agaknya memang tidak dapat bergerak lagi.

Cukup lama Siau-hi-ji berdiri terkesima, habis itu dia membalik tubuh dan berlagak celingukan kian kemari serta berseru, “Kiukohnio, engkau berada di mana? Mengapa tak kulihat dirimu!”

“Setan cilik” ini memang pandai meraba perasaan anak perempuan, apa yang diucapkannya ini sudah tentu dapat diketahui Buyung Kiu-moay sebagai pura-pura saja, tapi sedikitnya hati si nona jadi terhibur.

Sembari berseru Siau-hi-ji terus hendak melangkah keluar, tiba-tiba ia lihat di dinding sebelah tergantung sembilan buah lukisan, ia jadi tertarik dan coba mengamat-amatinya.

Terlihat lukisan pertama itu menggambarkan seorang telanjang bulat dengan berjungkir di atas balok es, di samping gambar ada beberapa huruf kecil yang memberi petunjuk cara berlatih ilmu menurut gambar. Ilmu itu disebut “Hoa-ciok-sinkang”, ilmu sakti pembentuk batu, untuk melatihnya harus berbadan perawan dan memerlukan waktu tiga tahun, apabila ilmu sakti itu sudah berhasil diyakinkan, maka tiada tandingannya di dunia.

Melihat lukisan berlatih ilmu sakti yang aneh itu, Siau-hi-ji menggeleng-geleng kepala, katanya, “Untuk meyakinkan ilmu setan ini, orang harus digembleng hingga seperti mayat hidup, pantas sikap Buyung Kiu-moay menjadi dingin terhadap siapa pun juga setelah meyakinkan ilmu setan ini.”

Ia coba memeriksa pula lukisan kedua, ternyata orang dalam lukisan tidak lagi berjungkir, tapi sudah berdiri normal, di sebelahnya juga ada beberapa huruf sebagai petunjuk caranya berlatih.

Siau-hi-ji malas untuk melihat lukisan-lukisan lainnya, ia pun tidak berminat terhadap ilmu-ilmu begituan, kalau manusia harus berubah menjadi kaku dan dingin seperti batu, lalu apa gunanya biarpun nanti tiada tandingannnya di dunia ini?

Ia lihat gambar yang terlukis pada lukisan ketiga itu serupa dengan sikap yang sedang dilakukan Buyung Kiu-moay sekarang. Anak muda itu menghela napas lega, gumamnya, “Syukur dia baru berlatih sampai tingkat ketiga dan sudah kepergok olehku, kalau tidak, bila ilmu setan ini berhasil dilatihnya, tentu dia juga akan berubah menjadi makhluk yang aneh dan akibatnya selain membikin susah dirinya sendiri juga akan membikin celaka orang lain.”

Dia tidak ingin memeriksa lagi lukisan yang lain, dengan cepat ia tarik lukisan-lukisan itu secara serabutan.

Sudah tentu perbuatan itu disaksikan juga oleh Buyung Kiu-moay, sorot matanya yang semula mengunjuk rasa malu itu berubah menjadi gusar, tapi akhirnya berubah pula menjadi memohon dikasihani.

Siau-hi-ji tidak berpaling ke sana, dia hanya berseru, “Kiukohnio, janganlah kau benci padaku, apa yang kulakukan ini adalah demi kebaikanmu, kau hidup baik-baik dan bahagia, mengapa kau lebih suka menyiksa dirimu sendiri dengan berlatih ilmu konyol begini?”

Kalau saja Buyung Kiu dapat bicara, andaikan tidak mencaci maki tentu juga dia akan memohon dengan sangat agar Siau-hi-ji tidak melakukan pengrusakan, atau kalau dia dapat bergerak, bisa jadi Siau-hi-ji ditelannya bulat-bulat saking dongkolnya. Celakanya dia tidak dapat bicara dan tidak bergerak, terpaksa dia hanya menyaksikan anak muda itu merobek kesembilan lukisan itu tanpa bisa berdaya selain meneteskan air mata belaka.

Siau-hi-ji membawa kesembilan lukisan itu keluar dan dibakar di anglo pemasak obat, lalu dia membuka pintu bagian luar tadi dan melangkah keluar, tanpa menjenguk Thi Sim-lan lagi ia terus meninggalkan perkampungan itu.

Tindak-tanduk Siau-hi-ji seringkali terdorong oleh hasratnya seketika, terkadang tepat tindakannya, seringkali juga berbuat salah. Tapi salah atau benar tidak menjadi soal baginya, yang penting ia merasa puas karena telah berbuat, apa akibat daripada perbuatannya ia pun tidak ambil pusing.

Cuma sekarang badannya sedikit pun tidak enak rasanya, bukan saja panas, bahkan rasanya melembung. Sekaligus ia berlari-lari sekian jauhnya terus menyusup ke dalam hutan, hawa di hutan rimbun itu terasa jauh sejuk daripada di luar sana.

Langkahnya mulai terasa berat, dia tidak mampu bergerak lagi, terpaksa ia merebahkan diri di bawah pohon dengan napas tersengal-sengal, dia berharap dalam keadaan demikian semoga Siau-sian-li tidak muncul, begitu pula Buyung Kiu-moay jangan menyusulnya ke sini.

Semakin panas badannya dan serasa membesar, bahkan terasa gatal dan kering, ia bergumam, “Betapa baiknya jika di sini ada sebuah kolam, yang kuperlukan sekarang adalah air … ya, air ….”

Mendadak seorang menanggapinya dengan mendengus, “Hm, yang kau perlukan sekarang bukan air melainkan peti mati!”

Segera Siau-hi-ji merasa kuduknya nyes dingin, mata pedang telah dipalangkan di atas tengkuknya.

Keruan ia melengak kaget, tapi segera ia berucap dengan menyengir, “Hah, betapa pun memang perempuan lebih lihai, seorang lelaki kalau sudah diincar seorang perempuan, maka selama hidupnya jangan harap akan bisa lolos.”

“Baru sekarang kau tahu, apa tidak terlambat?” jengek pula suara tadi.

“Engkau ini nona Buyung atau Siau-sian-li?”

“Hm, memangnya kau mimpi akan ditolong lagi oleh budak kesembilan itu?” jengek orang itu.

Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa dan berseru, “Hahaha, bagus, bagus, kiranya kau! Dasar nasibku masih mujur!”

Sudah tentu Siau-sian-li tidak tahu bahwa saat ini yang paling ditakuti Siau-hi-ji bukanlah dia melainkan Buyung Kiu-moay. Dia malah menyindirnya, “Benar, nasibmu memang mujur, kau lari ke jurusan ini dan aku justru menantikan kau di sini.”

Siau-hi-ji mengerutkan kuduknya sedikit, tanyanya, “Pedangmu ini cukup tajam tidak?”

“Hm, kukira tidak terlalu tajam,” kata Siau-sianli. “Tapi kalau kepalamu sudah kupenggal, mungkin mulutmu masih dapat bicara.”

“Sedemikian hebat caraku menganiaya kau, apakah dendammu cukup terlampias dengan memenggal kepalaku?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa “Hehe, jika kujadi dirimu tentu takkan kulakukan tindakan semurah ini.”

“Cara bagaimana akan kau terima hukumanmu, coba katakan saja, kujamin kaupasti akan puas dan tidak kecewa,” kata Siau-sian-li.

“Paling sedikit harus dipukuli dulu sepuas-puasnya,” ujar Siau-hi-ji.

“Memangnya kau kira aku tidak berani memukulmu,” jengek si nona.

“Biarpun kau tega membunuh diriku, tapi jelas kau tidak sampai hati memukuli aku,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Belum habis perkataannya, “plak, bluk”, tiba-tiba tengkuknya kena ditonjok sekali dan punggungnya ditendang pula.

“Benar, aku tidak sampai hati memukulmu, tepat sekali ….” begitulah Siau-sian-li berteriak dengan geregetan, sambil bilang “benar”, berbareng ia terus menghantam, katanya “tidak sampai hati”, kontan ia menendang pula.

Keruan Siau-hi-ji terguling-guling di tanah, tapi mulutnya justru berteriak-teriak sambil tertawa, “Hahahaha! Sungguh enak … enak sekali ….”

Dia memang benar-benar merasa enak dan nyaman, jadi bukan berolok-olok belaka, soalnya tubuhnya terasa panas seperti dibakar, terasa melembung seakan-akan meledak, terasa kering dan gatal pula. Maka pukulan dan tendangan Siau-sian-li itu baginya menjadi seperti memijat dan mengurutnya.

Dengan sendirinya Siau-sian-li tidak tahu hal ihwal itu, dia tambah gusar dan mendamprat, “Bagus, kau bilang enak, biar kuhantam lebih keras.” Berbareng itu punggung Siau-hi-ji merasakan pukulan keras satu kali.

“Tidak cukup, masih terlalu enteng … lebih keras lagi!” seru Siau-hi-ji.

Hampir meledak dada Siau-sian-li oleh ucapan anak muda itu, tapi demi melihat air muka Siau-hi-ji memang tidak mengunjuk rasa derita sedikit pun, ia menjadi heran dan sangsi.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa saat itu di dalam perut Siau-hi-ji sedang bekerja khasiat belasan macam obat mujarab yang dimakannya tadi, biarpun tubuhnya dipalu sekarang juga takkan melukai dia.

Begitulah dengan mendongkol Siau-sian-li masih menghujani pukulan dan tendangan, tapi sampai tangan dan kakinya terasa pegal, Siau-hi-ji masih tetap berteriak, “Enak, nyaman! Ayolah lebih keras sedikit ….”

Siau-sian-li jadi teringat kejadian tempo hari ketika anak muda itu diajarnya hingga babak-belur, tapi mendadak dapat melancarkan serangan balasan padanya hingga dirinya tergeletak tak bisa berkutik. Sungguh dia tidak habis paham mengapa anak muda itu sedemikian tahan pukul?

Selagi bimbang karena tidak tahu harus memukul lagi atau berhenti saja, tiba-tiba terdengar seorang berucap dengan nada dingin, “Apakah sudah cukup kau menghajarnya?”

Cepat Siau-sian-li berpaling, dilihatnya Buyung Kiu-moay sudah berdiri di bawah pohon sana. Kelihatan rambutnya awut-awutan, matanya merah dan tangannya rada gemetar.

Sama sekali Siau-sian-li tidak tahu mengapa Buyung Kiu-moay bisa berubah menjadi begitu rupa, dengan suara keras ia pun menjawab, “Belum cukup kuhajar dia, kau mau apa?”

“Baiklah, pukul lagi!” ujar Buyung Kiu.

Siau-sian-li jadi melengak malah, katanya dengan gusar, “Kalau sudah cukup kupukul dia, lalu kau mau apa?”

“Jika sudah cukup kau pukul dia, serahkan dia padaku.”

“Di sini bukan lagi rumahmu, kalau kau merintangi aku lagi, aku pun ….”

“Kau kira kudatang untuk menolong dia?”

Kembali Siau-sian-li melenggong, “Tidak menolong dia? Memangnya kau datang untuk membunuh dia?”

“Benar, ingin kubunuh dia!” kata Buyung Kiu-moay, ia melompat ke samping Siau-hi-ji, belati dilolos dan segera menikam.

Melihat kedua nona itu datang semua, hati Siau-hi-ji menjadi tidak takut malah. Ia pikir, kalau toh harus mati, apa pula yang perlu ditakuti?

Begitulah dengan mata terbelalak ia pandang belati orang. Mendadak sinar perak berkelebat, “tring”, pedang pendek yang dipegang Siau-sian-li telah menangkis belati Buyung Kiu-moay.

“Tadi kau bilang hendak membunuh dia, mengapa sekarang kau malah menolong dia?” tanya Buyung Kiu-moay dengan gusar.

“Tadi kau pun hendak menolong dia, mengapa sekarang kau malah ingin membunuh dia?” Siau-sian-li balas menjengek.

“Kau … kau tidak perlu urus!”

“Aku justru ingin urus!” teriak Siau-sian-li.

Sekali bergerak, secepat kilat Buyung Kiu-moay melancarkan beberapa kali serangan belatinya sambil berkata, “Terserah, siapa pun yang berusaha merintangi aku, pokoknya aku harus membunuh dia sekarang!”

Secepat kilat Siau-sian-li juga putar pedangnya menahan serangan Buyung Kiu-moay itu sambil berkata, “Tadi kau melarang aku membunuh dia, sekarang aku pun melarang kau membunuhnya!”

Mendadak Buyung Kiu melompat mundur, jengeknya, “Hm, baik juga, silakan kau membunuh dia, biar aku menyaksikannya dari sini.”

Kembali Siau-sian-li melengak, pedangnya sudah diangkatnya, tapi lantas diturunkan lagi, jengeknya, “Hm, kau ingin membunuh dia, aku justru tidak jadi membunuhnya.”

“Apa artinya ini?” teriak Buyung Kiu dengan gusar.

“Mengapa aku harus menuruti kehendakmu?” ucap Siau-sian-li.

“Tadi dengan mati-matian kau berusaha membunuh dia, sekarang berbalik menolong dia, jangan-jangan … jangan-jangan kau dan dia ….”

Muka Siau-sian-li menjadi merah, ia pun menjawab dengan suara keras, “Tadi kau pun berusaha menolongnya dengan mati-matian, sekarang kau pun berbalik ingin membunuhnya, jangan-jangan karena … karena dia dan kau ….”

“Kau ngaco-belo!” bentak Buyung Kiu-moay, mukanya yang pucat berubah menjadi merah.

“Kau sendiri yang mengaco-belo!” Siau-sian-li balas membentak.

Serentak kedua orang sama menyerang, “trang” senjata kedua orang kebentur dan tangan keduanya sama-sama terasa kemeng dan tergetar mundur. Tapi mendadak pula kedua orang sama-sama berteriak kaget, Siau-hi-ji sudah tak kelihatan lagi.

“Gara-garamu ….” omel Siau-sian-li dengan membanting kaki.

“Gara-garamu ….” Buyung Kiu-moay juga menyemprot.

Kedua orang buka mulut berbareng dan tutup mulut bersama, yang terucapkan juga sama dan akhirnya wajah keduanya sama-sama merah jengah.

Setelah saling pandang memandang sekejap, kemudian Buyung Kiu-moay menunduk, Siau-sian-li juga menunduk.

“Kukira dia takkan lari jauh!” ucap Siau-sian-li tiba-tiba.

“Benar, ayolah kita kejar dia!” jawab Buyung Kiu.

Begitulah kedua orang saling pandang pula, ingin tertawa, tapi urung.

“Kalau tertangkap, sekali ini kita binasakan dia bersama!” ucap Siau-sian-li sambil menggigit bibir.

Betapa pun Siau-hi-ji menyadari kemampuan sendiri, ia tahu baik mengenai Ginkang maupun soal tenaga jelas tidak mampu lolos dari pencarian kedua nona itu, sebab itulah dia tidak kabur ke mana-mana melainkan terus lari balik malah, lari kembali menuju ke Buyung-san-ceng, perkampungan keluarga Buyung.

Setiba di tempat tujuan, langsung dia menuju ke kamar batu berpintu tembaga itu, ia membuka kunci dengan kawat wasiatnya dan dengan mudah dapatlah ia masuk ke situ. Kemudian dia mengunci kedua pintu itu dari bagian dalam, lalu berbaring di lorong bawah tanah penuh timbunan balok es itu dengan rasa nyaman, teringat kepada kedua nona yang ditinggalkan bertengkar sendiri itu, tanpa terasa ia tertawa geli.

Kedua nona dalam pandangan orang lain adalah pendekar perempuan, gadis cendikia, tapi bagi pandangan Siau-hi-ji mereka tak lebih hanya perempuan biasa, dalam pandangan anak muda itu, lelaki di dunia ini mungkin ada seratus delapan puluh macam, tapi perempuan hanya ada satu macam saja.

Namun tubuhnya terasa semakin panas, mulut kering dan bibir pecah, saking tak tahan ia terus bergulingan di atas balok-balok es itu, ia ketok pula sepotong es batu terus dimamah hingga berkeriat-keriut, setelah mengertak beberapa potongan es, badan terasa lebih segar dan sangat nyaman, segera ia berbaring lagi di atas balok es dan akhirnya tertidur pulas. Dalam keadaan demikian dan di tempat begini dia dapat tidur nyenyak, kepandaian ini sungguh harus dipuji.

Di tengah mimpinya tiba-tiba terdengar suara “krek” sekali, pintu tembaga telah dibuka orang. Jantung Siau-hi-ji juga berdebar keras, ia tidak berani bergerak sedikit pun dan sebisanya menahan napas.

Terdengar suara Siau-sian-li sedang berkata, “Wah, dingin amat!”

Lalu Buyung Kiu-moay lagi menjawab, “Waktu ibu membangun gudang es ini dahulu tujuannya untuk menyimpan es batu agar setiap saat dapat membuat es jeruk peras di musim panas bagi ayahku, siapa tahu kemudian gudang es ini telah dimanfaatkan untuk keperluan lain.”

“Keperluan apa?” tanya Siau-sian-li.

Buyung Kiu tidak menjawab, ia terdiam sejenak, akhirnya berkata perlahan dengan gegetun, “Tapi sekarang tidak diperlukan lagi.” Di dalam ucapannya penuh mengandung rasa duka dan kecewa, juga penuh mengandung dendam dan benci.

Merinding Siau-hi-ji mendengar ucapan itu, ia tahu nona Buyung benar-benar teramat benci padanya, kalau dirinya sampai ditutup di dalam gudang es ini, maka jangan harap dapat lolos.

“Memangnya kau khawatir setan cilik itu lari dan sembunyi di sini?” demikian Siau-sian-li lagi berkata.

“Ehm,” terdengar Buyung Kiu mengiakan.

“Ah, kau terlalu banyak khawatir, masakah setan cilik itu berani lari balik ke sini?” ujar Siau-sian-li dengan tertawa.

“Sungguh aku tidak mengerti ke mana dia telah lari?” kata Buyung Kiu.

“Bangsat cilik itu memang licin seperti setan, banyak pula tipu muslihatnya,” kata Siau-sian-li dengan gegetun. “Maka lain kali bila ketemu dia, tanpa bicara pasti kubunuh dia, ingin kulihat dia mampu main gila apalagi?”

Suara percakapan mereka semakin menjauh dan “klik”, kembali pintu telah terkunci dari luar.

Diam-diam Siau-hi-ji bersyukur karena kedua nona itu telah pergi. Pikirnya dengan geli, “Untung perempuan lebih teliti dalam hal-hal kecil dan teledor dalam hal-hal besar. Ingin memeriksa ruangan ini, tapi toh tidak memeriksanya dengan teliti, kalau tidak pasti celakalah diriku.”

Dengan tenteram ia berbaring hingga lama sekali di situ, akhirnya badan mulai terasa dingin dan barulah ia melompat bangun. Apabila dia terus mengatur pernapasan dan menjalankan tenaga dalam, menghimpun khasiat obat yang dimakannya tadi ke pusat sehingga pasti akan banyak menambahkan kekuatanya, tapi sayang, begitu mendusin segera dia melompat bangun sehingga kesempatan yang bagus itu telah disia-siakannya secara percuma.

Dengan hati-hati dan menahan napas ia mendekati pintu sana, ia coba mengintip keluar melalui lubang kunci, segera dilihatnya Siau-sian-li dan Buyung Kiu masih berada di ruangan bagian luar. Siau-sian-li tampak bersandar pada dinding seperti sedang memikirkan sesuatu, adapun Buyung Kiu-moay tampak berdiri tegak dengan wajah pucat menakutkan.

Thi Sim-lan juga berada di situ, nona itu duduk di depan bejana obat dan sedang menyortir obat, sebiji demi sebiji dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam kaleng obat yang berbeda-beda. Air matanya tampak berlinang-linang, setiap kali memilih satu biji obat, setiap kali pula air mata menetes.

Diam-diam Siau-hi-ji berkerut kening dan tersenyum geli, pikirnya, “Maksudku semula ingin membikin susah Buyung Kiu, tak tahunya yang kena getahnya adalah Sim-lan. Mungkin Buyung Kiu teramat benci padaku, maka Sim-lan dijadikannya sebagai alat pelampias dan dijadikan kuli.”

Dan ke manakah Koh Jin-giok? Mungkin dia sama sekali dilarang masuk ke ruangan ini.

Setelah termangu-mangu sekian lama, mendadak Siau-sian-li mendekati Thi Sim-lan. Karena kaget, secomot pil di tangan Thi Sim-lan sampai jatuh berserakan di lantai.

Terdengar suara Siau-sian-li berkata, “Jangan takut, aku takkan membikin susah padamu. Kita … kita sama-sama menjadi korban penipu setan cilik itu, jadi kita senasib dan harus saling solider.”

Sim-lan menunduk, air matanya bercucuran.

Siau-sian-li tertawa dan berseru, “Marilah lekas kita pungut pil ini, kubantu kau, kalau tidak kerja keras nona Buyung takkan memberi makan pada kita.”

Buyung Kiu memandang mereka dengan dingin tanpa mengunjuk sesuatu perasaan apa pun.

Diam-diam Siau-hi-ji gegetun, pikirnya, “Lahirnya Siau-sian-li kelihatan galak, tapi hatinya sebenarnya tidak jahat … padahal kebanyakan perempuan memang begitu, betapa pun galaknya, cukup beberapa patah kata manis saja sudah dapat membuat mereka bertekuk lutut.”

Selang sejenak tiba-tiba Siau-sian-li berkata pula, “Tentang peta itu … apakah benar ditipu dan diambil setan cilik itu?”

Thi Sim-lan tidak lantas menjawab, ia diam sejenak, kemudian berkata dengan suara lirih, “Dia tidak menipu, aku sendiri yang memberikannya.”

“Diberikan padanya?” Siau-sian-li menegas. “Mengapa kau berikan padanya?”

“Karena … karena aku ….” jawab Sim-lan dengan tergagap dan menunduk.

“Tampaknya kau pun banyak ditipu olehnya,” kata Siau-sian-li, “kau ….”

Mendadak Thi Sim-lan berdiri dan berteriak, “Kusuka berikan pada siapa adalah urusanku, orang lain tidak perlu ikut campur.”

Siau-sian-li melenggong, katanya kemudian dengan tertawa, “He, mengapa kau marah-marah.”

“Meski ilmu silatmu lebih tinggi daripadaku juga tidak perlu mengejek diriku!” teriak Sim-lan dengan ketus.

Siau-sian-li menggeleng-geleng, katanya dengan gegetun, “Tidak ada yang mengejek kau, sungguh tiada yang mengejek kau.”

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya, “Sifat Siau-sian-li keras di luar lunak di dalam, sebaliknya Thi Sim-lan lunak di luar keras di dalam, perangai mereka benar-benar berlawanan, sedangkan Buyung Kiu karena dia meyakinkan ilmu sesat itu sehingga dingin kaku, mungkin batinnya juga dingin sebagai es. Di antara ketiga nona ini paling sukar dilayani adalah Buyung Kiu.”

Selang tak lama, terdengar Siau-sian-li berkata, “Kau masih marah tidak?”

Sim-lan menunduk dan merasa kikuk. Kalau orang lain bersikap garang padanya, maka mati pun dia tidak mau tunduk, sebaliknya kalau orang bersikap ramah padanya, dia menjadi tak berdaya malah.

“Tentunya kau sendiri sudah pernah membaca peta itu?” demikian tanya Siau-sian-li pula.

“Ehm!” Thi Sim-lan mengiakan lirih. “Masihkah kau ingat bentuk peta itu?”

“Aku … aku tidak begitu ingat lagi.”

“Hendaklah maklum bahwa sama sekali bukan tujuanku hendak memperoleh harta karun itu, aku bersumpah pasti takkan menjamahnya. Cuma, cuma kupikir setan cilik itu pasti akan datang ke sana, bilamana kau masih ingat tempatnya, maka dapatlah kita menemukan dia dan pasti akan kubela kau dan memberi hajaran setimpal padanya.”

“Aku benar-benar tidak ingat lagi, aku tidak bohong,” ucap Thi Sim-lan dengan semakin menunduk.

Dari lubang kunci dengan tepat Siau-hi-ji dapat melihat muka Thi Sim-lan, tertampak biji matanya mengerling ke kanan dan ke kiri, diam-diam ia merasa geli, “Dia pasti tahu tempat harta karun itu, tapi tidak mau dikatakan kepada orang lain. Budak ini tampaknya polos, mulutnya tidak berbohong, tapi kalau sudah mau dusta dia benar-benar dapat pegang teguh pendiriannya.”

Tiba-tiba terpikir olehnya, “Dan untuk apa dia berdusta? Apakah … apakah lantaran diriku? Padahal aku sangat busuk terhadap dia, sampai sekarang dia tetap tidak menista diriku barang sepatah kata pun, bahkan dia menjadi marah bila mendengar orang lain menjelek-jelekkan diriku. Apa sebabnya dia bersikap demikian?”

Pikir punya pikir, ia sendiri menjadi terkesima, tapi segera ia mengomel sendiri, “Ah, peduli apa sebabnya? Pokoknya setiap perempuan memang sinting.”

Tiba-tiba tertampak Buyung Kiu melangkah keluar dengan cepat, selagi Siau-hi-ji merasa heran, terlihat nona itu masuk lagi, tangannya membawa sebuah serok tembaga kecil.

“Apa itu?” tanya Siau-sian-li.

“Timah,” jawab Buyung Kiu.

“Timah? Untuk apa?” tanya Siau-sian-li.

Buyung Kiu tidak menjawab pula, serok tembaga itu dipanggangnya sejenak di atas anglo, matanya memancarkan semacam sinar yang kejam dan buas, lalu katanya dengan perlahan, “Ruangan dalam situ sudah tak terpakai lagi, biarlah lubang kunci ini kututup dengan timah, dengan demikian siapa pun jangan harap akan masuk lagi ke situ dan siapa pun jangan harap akan dapat keluar.”

Melihat senyuman aneh si nona Siau-hi-ji sudah merasakan gelagat tidak enak, setelah mendengar ucapan itu, ia tambah ketakutan. Sungguh keji amat hati Buyung Kiu ini, ternyata Siau-hi-ji hendak dikurungnya hidup-hidup di dalam gudang es itu.

Jadi sejak tadi nona itu sudah tahu Siau-hi-ji sembunyi di dalam situ, cuma dia pura-pura tidak tahu, soalnya ia khawatir Siau-sian-li dan Thi Sim-lan akan berusaha menolongnya.

Tentu saja Siau-hi-ji terperanjat dan cepat hendak membuka pintu itu untuk menerjang keluar, namun Buyung Kiu-moay sudah bertindak lebih dulu, sekali seroknya menyiram ke lubang kunci, langsung segala apa pun tidak tertampak lagi, lubang tersumbat oleh cairan timah dan sebentar saja lantas membeku, lalu suara apa pun tidak terdengar lagi, luar dalam kini sudah terpisah. Bahkan di luar mendadak ada orang menggedor pintu dengan keras.

Rupanya Buyung Kiu-moay cukup cerdik, ia khawatir Siau-hi-ji menggedor pintu dari dalam sehingga terdengar oleh Siau-sian-li dan Thi Sim-lan, maka ia lantas mendahului menggedor pintu, andaikan Siau-hi-ji benar-benar menggembrong pintu juga takkan terdengar lagi.

Anak muda itu benar-benar mati kutu, terkejut dan khawatir pula, tapi apa daya, ia hanya dapat mencaci maki sendiri, “Buyung Kiu, kau setan alas, kau perempuan bejat, mengapa kau begini jahat, kan aku tidak membunuh ayah ibumu, juga tidak pernah memperkosa kau, kenapa kau menginginkan kematianku? Huh, kalau saja tadi aku tidak muak melihat barisan tulang igamu yang mirip pagar bambu dan tanah lapang di dadamu mungkin kesempatan tadi telah kugunakan untuk mengerjai kau, dan pasti sekarang kau malah mengharapkan aku hidup seterusnya.”

Begitulah ia mencaci maki habis-habisan, segala kata-kata kotor juga di keluarkan. Anak yang dibesarkan di Ok-jin-kok sudah tentu seninya memaki orang jauh lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Kalau saja caci maki Siau-hi-ji itu didengar langsung oleh Buyung Kiu, mustahil nona itu tidak jatuh semaput. Akan tetapi kini mereka dipisahkan oleh pintu tembaga yang tebal dan rapat, lubang kunci telah tersumbat pula, biarpun Siau-hi-ji mencaci maki sekeras-kerasnya juga tidak terdengar sedikit pun di luar.

Sesudah berteriak-teriak setengah harian dengan macam-macam istilah kotor dan keji, akhirnya Siau-hi-ji merasa kerongkongan menjadi kering, ia tahu kendati dirinya memaki lagi juga tiada gunanya. Ia coba mengelilingi ruangan itu sambil ketok sana dan pukul sini, pikirnya kalau-kalau dapat menemukan sesuatu jalan keluar.

Akan tetapi siapa pun maklum, bangunan gudang es tentu jauh lebih rapat dan kukuh daripada rumah biasa, sedikit pun tidak boleh ada lubang hawa, jadi lorong bawah tanah benar-benar penjara alam, biarpun Siau-hi-ji sudah memeras otak tetap tak dapat menemukan sebuah lubang kecil apa pun.

Diam-diam anak muda itu menyeringai dan bergumam, “Siapa bilang ruangan ini tak berguna? Bukankah sangat baik memenjarakan orang di sini? Tampaknya aku bakal berubah menjadi ikan beku nanti.”

Lambat-laun ia merasa kedinginan, ia mulai menggigil, terpaksa ia duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam, setelah hawa murni berputar, akhirnya badan terasa hangat.

Siau-hi-ji memang bukan anak yang suka belajar, walaupun tahu tadi telah menyia-nyiakan kesempatan bagus, tapi ia pun tidak menyesal. Soalnya ia merasa dirinya adalah manusia paling pintar di dunia ini, ilmu silatnya tinggi atau tidak bukan soal baginya, yang jelas tokoh-tokoh mahalihai macam apa pun juga kewalahan bila kebentur dia, lalu buat apa dia berlatih dengan susah payah?

Akan tetapi dalam keadaan memaksa dia harus giat berlatih dan baru disadarinya betapa hebat khasiat belasan macam obat yang telah dimakannya itu, jika disia-siakan sungguh teramat sayang. Maka dia mulai mengerahkan tenaga dalam lebih teratur, ia sampai lupa akan urusan mati-hidupnya sendiri.

Entah sudah lewat berapa lama, entah berapa jam atau berapa hari, yang jelas kalau merasa lapar ia lantas makan obat yang berada di sakunya itu, dengan begitu hilanglah rasa lapar dan juga tidak kedinginan lagi.

Tapi bila mengingat dirinya tidak mampu keluar, lambat atau cepat akan mati kelaparan terkurung di situ, lalu apa gunanya andaikan berhasil meyakinkan ilmu mahasakti?

Jika teringat hal itu, Siau-hi-ji lantas patah semangat dan masa bodoh. Tapi bila dia tidak berlatih, segera rasa dingin menyerang pula. Bukan soal baginya jika dia harus mati, tapi tersiksa di kala dia masih hidup, betapa pun hal ini tak bisa diterimanya.

Apa pun juga dia bukan malaikat dewata, akhirnya perutnya terasa lapar pula, ransum sudah habis sehingga laparnya tak tertahankan, dengan sendirinya semangat untuk berlatih juga tak ada karena perut kosong, dan karena lapar, rasa dingin semakin menjadi-jadi. Maka tahulah Siau-hi-ji ajalnya sudah tidak jauh lagi.

Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa orang mahapintar seperti dia ini akhirnya bisa mati terkurung di sini, lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa ia mati di tangan orang perempuan. Baru sekarang ia menyadari bahwa sesungguhnya perempuan tidak sederhana dan begitu bodoh sebagaimana anggapannya semula.

Dia mulai menyesal dan memaki dirinya sendiri, tiada hentinya dia bergerundelan dan mengomel. “Ah, tampaknya menjadi orang baik memang sukar, kalau saja kubunuh Siau-sian-li dan Buyung Kiu, tentu takkan terjadi seperti sekarang ini ….” Lalu dia menyesali Ban Jun-liu pula. Kalau tiada bimbingan tabib sakti itu, betapa pun dirinya akan tetap menjadi orang jahat, dan biarpun orang jahat selalu dibenci dan dimaki orang, tapi sedikitnya akan lebih panjang umur, akan hidup lebih lama daripada orang baik.

Begitulah sekujur badan mulai menggigil karena kedinginan, lapar membuatnya kepala pusing dan perut nyeri, ia bergumam sendiri, “Ai, mau mati bolehlah mati, setiap manusia akhirnya toh harus mati, sesudah mati sedikitnya juga ada sesuatu kebaikan, yakni takkan mendengar lagi kejudesan perempuan.”

Mendadak, ia merasa tidak kedinginan lagi. Bukan saja tidak dingin, sebaliknya malah merasa kegerahan. Ia terkejut dan heran pula, ia coba pentang mata lebar-lebar dan segera dilihatnya sesuatu keanehan, balok es yang besar itu sepotong demi sepotong mulai cair. Ia coba meraba dinding, ternyata dinding juga panas sekali.

“He, apa-apaan ini?” Siau-hi-ji melonjak kaget. “Apakah si budak Buyung Kiu itu belum puas membikin aku mati beku dan sekarang hendak memanggang diriku? Tapi … ah, tidak mungkin, beberapa kamar kakaknya itu dirawatnya sebaik itu, mana bisa dia membakarnya malah?”

Ia coba mengelilingi ruangan itu, dinding sekeliling terasa panas, seperti dibakar, hanya bagian yang membelakangi bukit saja masih hangat-hangat.

Tiba-tiba terpikir olehnya, “Ah, tahulah aku, tentunya keluarga Buyung ini kedatangan musuh, selain membunuh, rumah ini juga dibakarnya. Tetapi … sungguh keparat, orang-orang tolol itu tentunya tidak tahu bahwa kalau rumah keluarga Buyung ini dimusnahkan, maka orang paling pintar di dunia ini juga akan ikut menjadi korban!” Sambil mengomel, segera ia mencak-mencak sendiri dan mencaci maki.

Tidak lama kemudian, balok-balok es itu sudah cair semua, Siau-hi-ji sudah terendam di dalam air, hendak mencak-mencak juga tiada tempat berpijak pula.

Air itu mula-mula belum begitu panas sehingga tidak begitu tersiksa terendam di situ, bahkan karena tidak berdaya, Siau-hi-ji sekalian mandi dan berenang sepuasnya.

Dasar sifatnya binal dan bengal, kalau belum melihat peti mati tidak mungkin mengucurkan air mata, sebelum menghadapi jalan buntu sungguh-sungguh tak nanti dia bergelisah atau takut. Tapi kini dia benar-benar sudah menghadapi jalan buntu.

Air sudah mulai panas dan bukan mustahil sebentar lagi akan mendidih. Siau-hi-ji mulai kelabakan di dalam air, mirip seekor ikan yang dilemparkan ke dalam wajan yang berisi air panas, dia mulai menggelepar dan kebingungan.

Yang dia harap semoga api dapat membakar hancur dinding ruangan itu, tapi dinding keparat itu justru kukuh luar biasa, bukan saja tidak rusak, bahkan retak pun tidak.

Sampai akhirnya ia pun kehabisan tenaga dan mulai tenggelam, hidungnya terasa pepet, “krok-krok”, mulutnya tercekok beberapa teguk air.

Siau-hi-ji meringis dan membatin, “Wah, sungguh sayang hanya aku sendiri yang menikmati kuah ikan masak jamur ini ….”

Pada saat itulah tiba-tiba ada suara nyaring orang menggedor pintu tembaga. Seketika semangat Siau-hi-ji terbangkit, pikirnya, “Bagus, bakal ada orang yang akan menemani aku minum kuah ikan ini.”

Sudah terpikir olehnya meski pintu tembaga tak dapat rusak terbakar, tapi timah yang menyumbat lubang kunci tentu akan cair, per kunci tentu juga akan lunak setelah terbakar, maka cukup orang menyongkelnya dari luar dengan alat sebangsa obeng dan sebagainya tentu pintu akan mudah terbuka.

Belum lagi habis terpikir, benar juga pintu itu mendadak terpentang, air bah terus saja membanjir keluar, Siau-hi-ji juga diam saja membiarkan dirinya terhanyut oleh air bah.

Sudah tentu dua orang yang sedang kutak-kutek di luar itu sama sekali tidak menyangka dari balik pintu akan membanjir air sedahsyat itu. Keruan mereka terkejut dan basah kuyup. Bahkan mimpi pun mereka tidak menduga di tengah air banjir itu terdapat pula satu orang.

Cukup jauh juga Siau-hi-ji terhanyut air bah itu, ia terus rebah tak bisa bergerak di lantai, maklumlah, memangnya dia sudah lapar setengah mati dan juga megap-megap karena sekian lamanya terendam. Dengan setengah memicingkan matanya ia coba mencuri lihat keadaan di situ, terlihat api sudah padam, apa yang tertampak di luar rumah sana hanya puing belaka dan sebagian masih mengepulkan asap.

Waktu ia melirik kedua orang itu, yang di depan bertubuh tinggi besar, daging mukanya benjol-benjol dan berewok kaku, meski basah kuyup oleh air bah tadi, tapi masih tampak gagah perkasa.

Melihat manusia begini, hati Siau-hi-ji menjadi lega. Menurut jalan pikirannya, manusia yang anggota badannya berkembang lebih besar daripada orang kebanyakan, otaknya tentu terhimpit oleh daging lebih hingga mengecil, maka dengan sedikit tipu akal saja ia percaya akan dapat mengerjai serta menundukkan orang demikian.

Tapi seorang lagi baginya terasa rada ngeri. Orang ini berbaju putih, bungkuk, muka lebar bagian atas dan sempit bagian bawah, pada dagunya yang kecil itu berjenggot seperti kambing, seumpama dicampurkan dengan anak kambing mungkin juga sukar diketahui dia ini manusia.

Memangnya tubuhnya kurus kecil, ditambah bungkuk lagi, tingginya tiada sebatas dada kawannya yang kekar itu, tampaknya dia berpuluh kali lebih menakutkan daripada kawannya.

Dari bentuk kedua orang itu, segera Siau-hi-ji tahu mereka ini pasti anggota Cap-ji-she-shio, itu kawanan bandit dengan dua belas lambang kelahiran. Kedua orang ini tentulah si kambing dan si sapi.

Sungguh ia merasa anggota Cap-ji-she-shio itu tidak satu pun memper manusia, tapi lebih mirip binatang yang diwakili mereka. Sukar diketahui dari manakah kedua belas orang itu bisa muncul dan bergabung menjadi satu sehingga terbentuk kedua belas lambang kelahiran, yaitu tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam jago, anjing dan babi.

Tentu saja kedua orang itu kaget demi kemudian melihat Siau-hi-ji ikut hanyut keluar oleh air bah, mereka sama melenggong kesima.

“Nah, apa kataku tadi? Jika mau menurut kataku, tentu dapat rezeki,” demikian terdengar si “kambing” berkata.

“Hah, rezeki apa? Basah kuyup begini kau anggap mendapat rezeki?” jengek si sapi. “Kau bilang di dalam sini pasti banyak harta mestika, sekarang coba lihat, mana harta mestika yang kau maksudkan itu?”

“Bocah inilah mestikanya,” kata si kambing sambil memandang Siau-hi-ji.

“Kulit daging bocah ini memang cukup halus, kalau saja Li-toako berada di sini tentu beliau akan membuat Ang-sio-bak dan dahar enak, tapi kau hanya kambing yang suka makan rumput, memangnya akan kau apakan dia?”

Siau-hi-ji sebenarnya lagi sedih melihat kambing putih itu, demi mendengar ucapan si sapi, seketika semangatnya terbangkit dan hilanglah segala rasa khawatirnya. Mendadak ia tertawa dan menyapa, “He, bandot tua dan sapi gede, maukah kalian masuk kemari?”

Tampak si sapi melenggong heran, katanya, “Eh, bocah ini kenal kita.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula, “Di waktu iseng sering kudengar cerita Li-toako, Li Toa-jui, katanya di antara ‘Cap-ji-she-shio’ hanya si sapi paling perkasa dan si kambing paling cerdik, tak terduga sekarang dapat kujumpai kalian di sini.”

“Hahahaha! Terima kasih atas pujianmu ….” kata si sapi dengan terbahak-bahak, tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menegur dengan mata mendelik, “Dar … dari mana kau kenal … kenal Li Toako kita?”

Biji mata Siau-hi-ji berputar dan seperti berpikir sesuatu, katanya, “Menurut kakak Toa-jui, katanya si sapi dari Cap-ji-she-shio adalah angkatan mudanya jika diurut menurut tingkatan keluarga, kini kau menyebutnya sebagai Toako, apakah mungkin kau ini paman atau mamak si sapi dalam Cap-ji-she-shio?”

Muka si sapi tampak merah, jawabnya, “Aku sendiri inilah si sapi.”

“Jika begitu, biarpun di belakang sepantasnya kau menyebut kakak Toa-jui sebagai paman, kau sembarangan memanggilnya, kalau diketahuinya tentu kau akan dimarahi,” kata Siau-hi-ji.

“Ya, ya, ya, aku … caihe ….” si sapi tergagap.

“Huh, kalau saja kau tidak keluar bersama aku, seumpama kau dijagal orang juga tidak tahu siapa penjagalnya,” tiba-tiba si kambing menjengek.

Si sapi mendelik, teriaknya, “Apa artinya ucapanmu?”

“Kau percaya penuh bahwa bocah ini adalah adik cilik Li-locianpwe?” kata si kambing. “Hm, melihat usianya, biarpun dia menjadi putra Li-locianpwe juga masih kurang umur.”

Si sapi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, katanya, “Tapi … tapi apa yang dikatakannya kan betul juga?”

“Tolol,” omel si kambing. “Apa yang diucapkan adalah bersumber pada kata-katamu sendiri. Coba pikir, kalau benar dia saudara Li-locianpwe, mengapa dia berada di Buyung-san-ceng ini?

“Bisa … bisa jadi dia dikurung di sini oleh budak Buyung itu,” ujar si sapi.

“Huh,” jengek si kambing, “untuk apakah kedua ruangan ini, masakah kau tak dapat membedakannya? Budak Buyung itu juga bukan orang gila, mana mungkin dia mengurung orang di kamar rahasianya tempat meracik obat dan tempat menyimpan pusaka. Kalau bocah ini bisa berada di sini, maka di mana tempat penyimpanan benda mestika keluarga Buyung pasti dia tahu, makanya tadi kubilang mestikanya ialah dia ini.”

Kembali si sapi garuk-garuk kepala, katanya sambil memandang Siau-hi-ji, “Buset, tadi aku malah berusaha membela dirimu, tak tahunya kau ini penipu cilik celaka!”

“Hm, goblok!” damprat Siau-hi-ji. “Memangnya tempat ini pasti tempat penyimpan benda mestika? Kalau tidak digunakan sebagai tempat penyimpanan mestika apakah tidak boleh digunakan untuk mengurung orang? Budak Buyung itu kan bukan orang gila, kalau ruangan ini banyak benda mestikanya, kenapa dia rendam dengan air sepenuh ini?”

“Benar, tepat!” seru si sapi sambil berkeplok. “Umpamakan tanganku ini, selain dapat digunakan mencolek pipi si cantik, kan juga dapat digunakan untuk menempeleng orang. Ruangan tempat penyimpan mestika kenapa tidak boleh dipakai untuk mengurung orang?”

“Dan usiamu selisih tak banyak dengan Li Toa-jui, tapi dia adalah angkatan tua kalian, sebaliknya usiaku walaupun selisih rada banyak dengan dia, mengapa aku tidak boleh menjadi saudaranya?” kata Siau-hi-ji pula.

Kembali si sapi menggaruk-garuk kepala, katanya sambil memandang si kambing, “Iya, betul juga ucapannya. Bukankah adik perempuan Liong-toako kita juga baru berumur belasan?!”

“Di dunia ini kalau ada orang tua kena diakali anak kecil, maka orang itu ialah kau ini,” jengek si kambing. “Bagiku, hm, kecuali dia ….”

“Eh, coba kau kemari, ingin kuperlihatkan sesuatu padamu,” tiba-tiba Siau-hi-ji memanggilnya.

Semula si kambing ragu-ragu, tapi akhirya ingin tahu barang apa yang ditawarkan anak muda itu, segera ia melangkah ke sana.

Saat itu Siau-hi-ji masih berbaring di lantai dengan basah kuyup, baru saja si kambing sampai di depannya, mendadak tubuh anak muda itu melejit dan sekaligus melancarkan empat kali pukulan dan tiga kali tendangan.

Empat pukulan dan tiga tendangan itu dilontarkan sekaligus dalam sekejap, di dunia ini hanya Li Toa-jui saja yang mahir gerak serangan aneh itu. Soalnya gerak serangan demikian kedengarannya memang lihai, tapi sebenarnya kurang tepat dan kurang manjur. Bayangkan saja, orang baik-baik mana mungkin berkelahi dengan orang sambil berbaring kecuali dia sengaja pura-pura sakit atau berlagak mati dan harus menyergap lawan secara tiba-tiba.

Tapi di dunia ini selain manusia macam Li Toa-jui yang lahirnya tampak jujur, tapi hatinya jahat dan keji, rasanya orang lain pun tiada yang sudi memeras otak menciptakan jurus serangan yang aneh ini.

Jadi gerak serangan istimewa ini boleh dikatakan ilmu silat khas Li Toa-jui, usaha tunggal, tidak membuka cabang, tulen, tak mungkin ditiru.

Begitulah dalam keadaan terkejut karena diserang secara mendadak, ya pukulan, ya tendangan, seketika si kambing meloncat kaget setengah mati, lebih mirip loncatan kelinci menghindari terkaman anjing liar daripada loncatan kambing takut diterkam harimau. Untung Siau-hi-ji dalam keadaan lemah lunglai, kalau tidak tentu dia sudah menjadi bangkai kambing.

“Nah, sekarang kau percaya tidak?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa sambil bangun duduk.

Si kambing belum sanggup bicara karena napasnya terengah-engah. Tapi si sapi sudah lantas menjura dan berkata, “Ya, ya, paman cilik, betapa pun umurmu, biarpun baru lahir tiga hari, asalkan engkau adalah saudara Li-locianpwe, maka engkau juga paman cilikku.”

“Dan kau bagaimana bandot tua?” tanya Siau-hi-ji kepada si kambing.

Sinar mata si kambing tampak gemerdip, dia mendongak, katanya dengan perlahan, “Apakah baik-baik saja hidup Li-locianpwe di lembah sana?”

“Orang baik tidak panjang umur, tapi beliau jelas takkan mati,” kata Siau-hi-ji.

“Penghuni lembah sana semuanya panjang umur, dengan sendirinya Li-locianpwe lebih suka menikmati kebahagiaan hidup di sana daripada keluar tersiksa di dunia luar,” kata si kambing dengan tersenyum licik.

“Sebenarnya dia memang tidak ingin keluar lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Si kambing melengak dan menukas, “Dan se … sekarang ?”

“Sekarang, bukan saja Li-toako, bahkan, Toh-toako, Im-toako, To-toasoh dan lain-lain …. Hehe, jika mereka tidak keluar, masakah aku berani keluyuran sendirian.”

Seketika air muka kambing berubah, katanya tergagap, “Tapi … tapi mereka ….”

“Mereka sudah sebal mendekam sekian tahun di sana, sudah berhasil pula meyakinkan ilmu silat yang jarang terdapat di dunia Kangouw, jika kau menjadi mereka, kau ingin keluar tidak?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, ya, saudara …. O, Cianpwe, apakah tahu kini mereka berada ….” Meski si kambing bicara dengan tertunduk, tapi sinar matanya tampak berjelilatan, jelas tidak mengandung pikiran baik.

Sudah tentu Siau-hi-ji dapat meraba jalan pikiran orang, dengan tersenyum ia menjawab, “Tingkah laku mereka itu selamanya sukar diterka dan sulit diduga, aku pun tidak tahu di mana jejak mereka sekarang.”

Tampaknya si kambing diam-diam menghela napas lega. Tapi Siau-hi-ji lantas menambahkan, “Akan tetapi, bisa jadi saat ini juga mereka berada di belakangmu di luar tahumu.”

Kembali si kambing terkesiap, ingin menoleh untuk melihat belakang, tapi tidak berani.

Dalam pada itu si sapi lantas berseru dengan tertawa gembira, “Ahaa, bila Li-toasiok benar-benar datang, maka beruntunglah kita, beberapa budak keluarga Buyung itu tidak perlu kita takuti lagi betapa pun lihainya mereka.”

“Jadi mereka telah lolos?” tanya Siau-hi-ji dengan tak acuh.

Si sapi menghela napas, katanya, “Kedatangan kami ini meski atas ajakan si ular hijau, tapi sesungguhnya kami juga sudah lama mengincar Buyung-san-ceng ini.”

“Ya, obat mujarab dan benda mestika keluarga Buyung memang membuat orang mengiler,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Cuma sayang budak Buyung itu benar-benar setan cerdik, entah dari mana dia mengetahui akan kedatangan kami secara besar-besaran, sebelum kami tiba dia sudah kabur lebih dulu,” ucap si sapi dengan menyengir.

“Kabur?” Siau-hi-ji menegas dengan terkejut.

“Bukan saja orangnya kabur, bahkan segala benda yang bernilai juga dibawa seluruhnya, bahkan pintu juga tidak terkunci, hanya tertinggal secarik kertas yang tertempel di depan pintu, bunyinya, ‘Mati bagi yang berani masuk’. Hm, kentut busuk belaka,” demikian ucap si sapi dengan gemas.

“Benar, pada hakikatnya lebih busuk daripada kentut,” tukas Siau-hi-ji. Kini ia sudah dapat menerka apa sebab kepergian Buyung Kiu-moay.

Bahwa Siau-sian-li dan Thi Sim-lan sama mengira Siau-hi-ji sudah kabur, dengan sendirinya mereka buru-buru ingin pergi mencarinya. Buyung Kiu tahu biarpun di mulut kedua nona itu bicara garang terhadap Siau-hi-ji, tapi di dalam hati sebenarnya lunak, maka dengan sendirinya ia tidak mau memberitahukan tentang terkurungnya Siau-hi-ji, bahkan dia sengaja mengiringi Siau-sian-li dan Thi Sim-lan pergi mencari si anak muda ….

Berpikir sampai di sini, dengan mendongkol Siau-hi-ji lantas mencaci maki pula, “Sungguh budak setan lebih busuk daripada kentut, bahkan lebih jahat daripada ular berbisa. Sungguh terpuji kalian telah membakar rumahnya, siapa yang pertama kali membakarnya, aku harus mentraktir dia minum dua cawan besar.”

Dengan tertawa si sapi menanggapi, “Meski yang membakar bukan kami, tapi kita juga boleh …”

“Benar, kita boleh minum barang beberapa cawan. Ah, beberapa ratus cawan juga boleh,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Marilah kita berangkat, sembari berjalan sambil minum, akan kubawa kalian menemui Li Toa-jui, jika terlihat anak dara yang menarik dalam perjalanan, kita dapat pula … hahaha, dapat apa tentunya kau sudah tahu sendiri bukan?”

“Haah, bagus, bagus!” sambut si sapi sambil berkeplok gembira.

“Dan kau bagaimana, bandot tua?” tanya Siau-hi-ji.

“Untuk ini, aku … Cayhe ….” si kambing terbata-bata.

“Tidak soal bila kau tidak mau ikut,” ujar Siau-hi-ji. “Nanti kalau bertemu dengan kakak Toa-jui akan kukatakan bahwa kau ada urusan lain dan tidak ingin menemuinya.”

“Siapa bilang aku tidak mau ikut pergi? Sapi, kaukah yang bilang begitu?” teriak si kambing. Lalu ia dorong si sapi dan menambahkan, “Ayolah berangkat, tunggu apalagi?”

*****

Begitulah mereka bertiga lantas berangkat bersama, sambil berjalan sembari minum arak. Tiba-tiba Siau-hi-ji menemukan dirinya sendiri dalam hal minum arak ternyata juga berbakat, seakan-akan tak pernah mabuk biarpun minum betapa pun banyak.

Terkadang ia pun heran, ke mana larinya arak yang masuk perutnya itu? Padahal ia sudah teliti perutnya sendiri yang berukuran tidak lebih besar daripada perut orang lain.

Si kambing dan si sapi ternyata tunduk munduk-munduk kepada segala kehendak Siau-hi-ji, makan, minum, tidur, sama sekali anak muda itu tidak perlu pusing kepala, semuanya disediakan dan diatur oleh kedua orang itu dengan baik dan lengkap. Mau berhenti atau mau terus berangkat, si kambing dan si sapi juga menurut saja, bahkan sama sekali tidak pernah tanya ke mana anak muda itu hendak pergi. Bahwa dua gembong dari Cap-ji-she-shio yang terkenal buas itu mau tunduk kepada seorang anak kecil sebagai Siau-hi-ji sungguh sama sekali sukar dibayangkan orang.

Dengan sendirinya sepanjang jalan mereka pun sering bertemu dengan tokoh-tokoh Kangouw, kebanyakan memberi hormat dari kejauhan lalu menyingkir pergi dengan cepat, ada juga yang tidak kenal mereka, tapi demi nampak bentuk si kambing dan si sapi yang aneh itu, lekas saja sama menghindar dan tiada yang berani mencari perkara kepada mereka.

Namun sesudah melintasi Kiam-bun-koan (gerbang tembok besar di ujung barat), tiba-tiba Siau-hi-ji merasakan adanya perubahan, ada sebagian orang cepat menyingkir pergi jika kepergok mereka, tapi ada sebagian pula yang diam-diam mengintil di belakang mereka. Ke mana mereka pergi, ke situ pula orang-orang itu mengikut. Sikap setiap orang sangat menghormat, tidak bicara juga tiada tanda-tanda hendak menyatroni mereka.

Siau-hi-ji coba mengawasi si kambing dan si sapi, air muka mereka juga tenang-tenang saja tanpa berubah, seakan-akan tidak pernah melihat sesuatu yang ganjil, maka Siau-hi-ji juga tidak mau bicara. Petangnya mereka sampai di Kiam-kok, mereka mendapatkan sebuah hotel dan bermalam di situ.

“Arak keras berlauk-pauk ayam cabai, walau pasti mandi keringat, namun makin dimakan makin nafsu,” ucap Siau-hi-ji.

“Cocok, arak keras berlauk-pauk ayam cabai, sungguh nikmat,” teriak si sapi sambil tertawa.

Sudah biasa, asalkan Siau-hi-ji buka mulut, maka si kambing dan si sapi segera menyiapkan apa yang dikehendaki anak muda itu. Tapi aneh, sekarang meski kedua orang itu sudah bersorak menyatakan setuju, tapi mereka diam saja tanpa bergerak.

Setelah menunggu sejenak, Siau-hi-ji berkata pula, “Kalau cocok, mengapa tidak lekas kalian sediakan.”

“Mulai sekarang, kami tidak perlu sediakan apa-apalagi,” ucap si sapi dengan tertawa.

“Tidak kalian sediakan, memangnya aku yang harus menyediakan?” kata Siau-hi-ji.

“Masa kami berani membikin repot engkau,” ujar si kambing.

“Habis kalau kita tidak mengambilnya sendiri dan juga tidak pesan pelayan, apakah arak dan ayam goreng itu akan jatuh dari langit atau tumbuh dari bawah bumi?” kata Siau-hi-ji.

“Sabar sebentar, lihat saja nanti,” ucap si sapi dengan tertawa.

Siau-hi-ji tidak berkata pula, ia mondar-mandir di dalam ruangan, sejenak kemudian terdengar pintu diketuk, cepat ia membuka pintu, ternyata tiada bayangan seorang pun, tapi di lantai terdapat sebuah baki besar berisi satu porsi kari ayam, satu porsi daging rebus, satu porsi jerohan babi, satu mangkuk besar kuah ayam, ada pula satu poci arak.

Mata Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian, “He, kiranya kalian ini mahir ilmu gaib menyuruh setan mengantar barang.”

“Ini bukan ilmu gaib suruh setan mengantar barang, tapi suruh anak cucu mengantar santapan,” ujar si sapi dengan tertawa.

“O,” Siau-hi-ji bersuara singkat.

“Apakah engkau sudah melihat orang-orang yang mengintil di belakang kita sepanjang jalan itu?” tanya si kambing.

“Haha, kukira kalian tidak tahu ada pengikut sebanyak itu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Masakah kami tidak tahu,” kata si sapi. “Justru bocah-bocah itulah anak cucu yang taat dan berbakti kepada kami.”

“Kiranya mereka itu adalah anak murid kalian,” kata Siau-hi-ji.

“Anak murid kentut anjing, bahkan kenal saja tidak,” ucap si sapi.

“Aneh, kalau tidak kenal, mengapa mereka mengintil di belakang kalian?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan tertawa si sapi menutur, “Setiap orang Kangouw tahu bila Cap-ji-she-shio berada dalam perjalanan, maka di sana pasti ada jual-beli besar, sedangkan kawanan anak cucu itu tidak berani jual-beli sendiri, mereka selalu mengintil saja di belakang kami, soalnya Cap-ji-she-shio biasanya cuma mengambil benda mestika, emas perak tidak disukai, maka anak cucu yang mengintil di belakang itu sedikit banyak akan kebagian rezeki sampingan.”

“Ya, makanya ke mana perginya Cap-ji-she-shio kami, ke situ pula kami selalu disambut dengan hormat,” sambung si kambing. “Dan kalau ada keperluan apa-apa, segera mereka menyiapkan bagi kami, bila terjadi sesuatu, tanpa kami mencari tahu mereka pun akan memberi laporan.”

“Haha, pantas Cap-ji-she-shio jarang bergerak keluar, tapi kalau sudah bergerak sekali tembak tentu kena, rupanya kalian mempunyai pengikut anak cucu sebanyak itu yang sama sekali tidak diketahui orang luar,” kata Siau-hi-ji dengan kagum.

“Akan tetapi sekali ini mereka telah tertipu,” kata pula si sapi, “Bahkan mereka telah banyak berkorban secara sia-sia, seperti menimpuk anjing dengan daging, umpan hilang hasil nihil, jangankan untung, modal saja takkan kembali.”

“Tapi semua itu mereka lakukan secara sukarela, kami pun menikmatinya tanpa sungkan-sungkan, kan bukan salah kita,” sambung si kambing dengan bergelak.

Perjalanan mereka selanjutnya sudah tentu terlebih senang, tak peduli apa kehendak mereka, asalkan mereka bicara rada keras, hanya sebentar saja segera diantarkan orang.

Setelah melintasi Kiam-bun-koan, Siau-hi-ji tidak mengarah ke timur lagi, tapi malah berbelok ke barat daya, dengan melalui kota-kota Liongcoan, Baysan, tampaknya seperti hendak menuju ke Gobi yang terletak di wilayah Sujwan.

Pemandangan alam daerah Sujwan memang indah permai dan berbeda jauh dengan suasana di daerah terpencil di luar tembok besar sana. Siau-hi-ji sangat gembira, apalagi makanan dan minuman Sujwan sangat mencocoki seleranya sehingga membuatnya tidak habis memuji.

Sampai di Gobi, sedikit si sapi dan si kambing lengah, tahu-tahu Siau-hi-ji telah mengeluyur pergi sendirian, sampai tengah malam buta barulah dia pulang ke tempat pondokan.

Si sapi dan si kambing juga tidak menegurnya ke mana perginya anak muda itu, Siau-hi-ji sendiri juga tidak bicara. Esoknya ia pun tidak menyatakan berangkat, tapi petangnya ia mengeluyur pergi pula.

Begitulah berturut-turut tiga hari telah berlalu, Siau-hi-ji tidak bilang mau berangkat, si kambing dan si sapi juga tidak tanya dan tidak tegur, pada hakikatnya lebih menurut daripada anaknya. Tampaknya meski Li Toa-jui sudah lama mengasingkan diri, tapi dalam hati orang-orang itu masih ditakuti. Nama “Cap-toa-ok-jin” atau sepuluh top penjahat ternyata tidak boleh dibuat main-main.

Lewat lohor hari ketiga, seorang diri Siau-hi-ji putar kayun pula di kota, dilihatnya banyak restoran dan warung makan hampir semuanya ada tamu yang diketahui pasti kaum Kangouw. Tapi mereka hanya duduk-duduk dan minum iseng belaka, sama sekali tidak banyak bicara dan bergurau, pada hakikatnya bicara sepatah kata dua saja tidak.

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak tahu nama mereka, apakah orang-orang itu dari Hek-to (kalangan hitam) atau Pek-to (kalangan putih), tokoh-tokoh yang sudah ternama atau kaum keroco yang tak terkenal? Siau-hi-ji sama sekali juga tidak ambil pusing.

Di jalan raya terkadang juga berlalu lalang kaum Tojin (penganut agama To) yang berjubah merah dan berpedang dengan sikap yang angkuh luar biasa seakan-akan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain. Tapi lebih sering pula kaum tojin itu mengawasi orang lain dengan sorot mata yang tajam. Tojin-tojin itu seperti lagi berjalan-jalan iseng di kota, tapi air muka mereka tampaknya sangat prihatin.

Siau-hi-ji tahu para Tojin itu pasti anak murid Go-bi-pay. Ilmu pedang Go-bi-pay terkenal lihai, pantas kalau anak muridnya juga sok berlagak, apalagi di sini adalah kaki gunung Go-bi-san, tempat pangkal mereka, dengan sendirinya mereka suka pasang aksi seperti sedang mengawasi gerak-gerik setiap pendatang.

Setelah putar kayun, Siau-hi-ji membeli sebuah “Hiang-tay”, yaitu kantongan yang berisi hiosoa (dupa lidi) lilin dan sebagainya untuk sembahyang. Lalu dia membeli pula satu kati Loh-se-bak (daging masak) yang terkenal lezat di kota ini, habis itu barulah dia pulang ke hotel.

Di kamar hotel sudah tersedia satu meja perjamuan, si kambing dan si sapi tampak duduk menunggu, santapan sudah hampir dingin semuanya, tapi kedua orang itu sama sekali tidak berani mengutik-utik santapan itu.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata kepada mereka, “Selama tiga hari ini kalian ternyata lebih alim daripada gadis pingitan, melangkah keluar kamar saja tidak pernah, padahal di luar sangat ramai, masakah kalian tidak pingin melihatnya?”

“Memangnya siapa yang tidak pingin melihat keramaian?” ujar si sapi dengan menyengir. “Cuma bagi kami berdua rasanya tidak leluasa bergerak di kaki gunung Go-bi ini, maka lebih baik minum arak saja di dalam rumah.”

“Hah, masakah kaum Tosu Go-bi-pay itu sedemikian lihai sehingga kalian takut kepada mereka?” ucap Siau-hi-ji.

Si sapi mengangkat cawan arak dan mengajak minum, katanya sambil menghela napas, “Sudahlah, kita tak usah bicara urusan itu, marilah, Siautit (keponakan) menyuguh secawan kepada paman.”

Tapi Siau-hi-ji lebih dulu membuka bungkusan Loh-se-bak yang dibelinya tadi, katanya dengan tertawa, “Konon Loh-se-bak ini dibuat dengan kuah simpanan tahunan sehingga rasanya empuk dan lezat, lain daripada yang lain, silakan kalian mencobanya dahulu.”

“Sudah banyak cucu yang menyediakan santapan sebaik ini, buat apa engkau orang tua mengeluarkan biaya pula?” ucap si sapi.

“Ah, setiap hari makan enak, bosan rasanya, ganti cita rasa kan juga ada baiknya,” ujar Siau-hi-ji.

“Orang tua menyuguh jangan ditolak,” kata si kambing, segera ia mendahului menyumpit sepotong Loh-se-bak terus dilalap sembari tiada hentinya memuji kelezatannya. Setelah dia habis makan sepotong, dalam pada itu si sapi sudah melalap lima potong.

Siau-hi-ji juga habis meneguk dua cawan arak sehingga semakin menambah rasa gembiranya. Katanya kemudian, “Tampaknya ilmu pedang Go-bi-pay memang hebat, setiap kawan Kangouw yang datang ke sini ternyata bicara sedikit keras saja tidak berani, haha, lambat atau cepat aku harus belajar kenal dengan ilmu pedang mereka.”

“Bila engkau orang tua sudah turun tangan, pasti kawanan Tosu Go-bi-pay itu akan lari kalang kabut,” demikian si sapi mengumpak.

Si kambing menatap kantongan Hiosoa yang dibawa Siau-hi-ji itu, tanyanya, “Apakah engkau orang tua akan naik ke Go-bi-san?”

“Sebenarnya aku ingin pergi bersama kalian agar kalian bertambah pengalaman, tapi kalian ternyata tidak berani perlihatkan diri di depan umum, terpaksa aku pergi sendirian.”

“Bilakah engkau akan berangkat?” tanya si sapi.

“Besok pagi-pagi,” jawab Siau-hi-ji.

Tiba-tiba si sapi menghela napas dan berkata, “Cuma sayang rencanamu perlu diubah lagi.”

“Mengapa harus diubah?” tanya Siau-hi-ji sambil mengernyitkan kening.

Si sapi tidak menjawab melainkan tertawa saja, tertawa yang sangat aneh.

Dengan tertawa terkekeh si kambing lantas menukas, “Hah, masakah kau anak jadah ini belum lagi mengetahui?”

Bahwa dari sebutan “engkau orang tua” mendadak berubah menjadi “anak jadah”, betapa pun Siau-hi-ji terkejut juga. “Brak”, anak muda itu lantas menggebrak meja dan berbangkit mendadak sambil mendamprat, “Kau bandot tua, berani kau ….” belum habis ucapannya, dengan lemas ia lantas roboh terkulai.

“Hehe, anak jadah, sekarang tentunya kau tahu persoalan bukan?” kata si kambing.

“A … arak itu beracun!” ucap Siau-hi-ji dengan suara lemah.

“Nah, kau baru nyaho sekarang,” jengek si sapi. “Karena khawatir sukar mengakali kau, kami minum bersamamu dari poci arak yang sama, namun sebelumnya kami sudah minum obat penawar.”

“Meng … mengapa kalian berbuat begini?” tanya Siau-hi-ji.

“Memangnya kau kira kedatangan kami ke Buyung-san-ceng itu lantaran kami mengincar obat mujarab Buyung? Huh, kalau cuma obat buatan budak-budak keluarga Buyung itu kiranya belum perlu bikin repot Cap-ji-she-shio.”

“Bicara terus terang, kedatangan kami ke sana adalah untuk mencari kau,” demikian si sapi menyambung.

“Soalnya di dunia ini mungkin hanya kau saja yang mengetahui tempat penyimpanan harta karun Yan Lam-thian itu,” kata si kambing pula. “Demi berhasil membekuk dirimu, Coa-lolak (si ular nomor enam, maksudnya Pek-coa-sin-kun) kita telah memasang mata-mata di sekeliling Buyung-san-ceng di samping mengirimkan berita merpati kepada kami. Siapa tahu baru saja kami menyusul ke sana, si budak Buyung Kiu itu ternyata sudah kabur tanpa bekas.”

“Tapi jelas kau masih ditinggalkan di dalam perkampungannya,” sambung si sapi pula. “Kami lantas masuk ke situ untuk mencarimu, tapi meski kami sudah mencari ubek-ubekan, bayanganmu sama sekali tak ditemukan. Saking mendongkol kami lantas menyalakan api dan membakar perkampungan Buyung itu.”

“Setelah rumah-rumah itu menjadi puing barulah kami melihat gudang batu itu,” si kambing menyambung pula. “Rupanya kau anak jadah ini berbuat sesuatu sehingga kau dikurung di penjara berair itu.”

“Sebenarnya tidak perlu heran,” ujar si sapi, “Si budak Buyung Kiu memang suka girang dan marah tidak menentu ….”

“Tapi mengapa kemudian tertinggal kalian berdua saja?” tanya Siau-hi-ji.

“Sebelumnya kami sudah tahu kau anak jadah ini banyak tipu muslihat,” jawab si sapi dengan tertawa. “Kalau kami paksa kau mengaku di mana tempat penyimpanan harta karun itu, bukan mustahil kau akan menjebak kami dengan akal setanmu. Selain itu kalau kau sembarangan menunjukkan sesuatu tempat, bukankah kami akan berputar sia-sia bersamamu, belum lagi kalau di tengah jalan kau sempat lolos, bukankah tambah penasaran?”

“Tapi saudara sapi kita sudah memperhitungkan dengan tepat, apabila kau dapat bergerak, maka tempat yang pertama-tama yang kau tuju pasti tempat penyimpanan harta karun Yan Lam-thian itu,” ujar si kambing. “Makanya dia lantas memasang jeratan ini agar kau masuk perangkap.”

“He, jadi kau yang mengatur perangkap ini?” tanya Siau-hi-ji sambil menatap tajam kepada si sapi.

“Tak terduga olehmu bukan?” jawab si sapi.

Karena terkena obat bius yang dicampur di dalam arak, tubuh Siau-hi-ji tak dapat bergerak, terpaksa dia menghela napas dan berkata sambil meringis, “Sungguh orang tidak boleh dinilai berdasarkan bentuknya, sapi goblok sebagai kau ternyata juga mempunyai akal setan, sungguh mimpi pun tak pernah kuduga.”

“Hah, orang Kangouw yang pernah terjebak oleh akal saudara sapi kita jumlahnya sukar dihitung, kau anak jadah ini juga bukan orang pertama, kenapa kau mesti menyesal dan gegetun?” ujar si kambing dengan terkekeh.

“Tapi dari mana kau kenal diriku?” tanya Siau-hi-ji.

“Kau berada bersama putri Ong-say Thi Cian, dengan sendirinya kau ada hubungan erat dengan Cap-toa-ok-jin,” tutur si sapi. “Makanya aku sengaja mengucap salah seorang di antara kesepuluh top penjahat itu dan kau terus percaya penuh dan masuk perangkap sendiri.”

“Ini namanya salah pukul tapi kena dengan tepat, anggaplah kalian lagi mujur,” kata Siau-hi-ji.

“Memangnya aku pun lagi heran Cap-ji-she-shio yang terkenal mahabusuk, mengapa bisa berubah sedemikian penurut. Hah, tak tahunya bagiku juga ada kalanya terjadi ‘kapal terbalik di selokan’.”

“Huh, memangnya kau anak jadah kecil ini menganggap dirimu paling pintar?” jengek si sapi sambil tertawa. “Terus terang kukatakan, untuk dapat berkecimpung di dunia Kangouw, kau masih terlalu jauh dan perlu belajar sepuluh tahun lagi.”

“Kami Cap-ji-she-shio ini tokoh macam apa, kalau saja kami tidak sengaja hendak menipu kau, mana bisa kami bersikap begini padamu?” kata si kambing. “Hm, biarpun Li Toa-jui datang sendiri juga kami menganggapnya sebagai kentut belaka, apalagi cuma anak jadah kecil macam dirimu ini.”

“Sekarang kalau kau mau mengaku di mana letak tempat penyimpanan harta karun itu bisa jadi kami akan mengampunimu,” ucap si sapi dengan menyeringai. “Kau bukan anak bodoh, tentu tahu bagaimana akibatnya jika tetap bandel.”

Dengan mata terbelalak Siau-hi-ji mendengarkan ocehan mereka, setelah ocehan mereka agak kendur, mendadak ia bergelak tertawa dengan gaya sangat gembira.

Si kambing menjadi gusar, dampratnya, “Haram jadah kecil, memangnya kau kira kami tidak mampu membuat kau mengaku terus terang?”

“Haram jadah tua, memangnya kau kira aku benar-benar terjebak oleh perangkap kalian?” Siau-hi-ji balas berolok-olok dengan tertawa.

“Hah, kau masih ada permainan apa, coba katakan,” ucap si sapi.

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, jawabnya, “Ai, untuk berkata sih tidak sulit, yang kukhawatirkan adalah sebelum habis kubicara mungkin jiwa kalian sudah melayang.”

“Apa betul?” kata si sapi tetap dengan tertawa.

Siau-hi-ji juga tertawa, jawabnya, “Tidak betul! Soalnya Loh-se-bak yang kalian makan itu tidak beracun, sedikit pun tiada racunnya.”

Belum habis ucapannya, si sapi dan si kambing sama-sama tidak dapat tertawa lagi. Segera si kambing mencengkeram leher baju Siau-hi-ji dan membentak, “Haram jadah kecil, apa katamu?”

“Kataku kalian jadah tua ini sangat pintar dan aku ini orang tolol,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sebab besok juga aku akan berangkat dan mulai mencari harta karun, meski kalian tidak diperbolehkan ikut, aku tidak sampai hati meracuni kalian, makanya tidak kutaruh racun dalam Loh-se-bak yang kalian makan itu.”

Semakin dia bilang tidak menaruh racun, semakin ketakutanlah si kambing, air mukanya bertambah pucat, dengan suara parau ia membentak pula, “Le … lekas keluarkan obat penawarnya!”

“Ya, ya jangan khawatir, pasti akan kuserahkan obat penawarnya agar nanti kalian dapat membunuhku dengan bebas,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Hahaha, jangan lupa, selama kalian memerlukan diriku untuk menemukan harta karun, selama itu pula takkan meracuni aku. Sebaliknya aku tidak memerlukan kalian, memangnya aku tidak berani meracuni kalian? Haha, jangan lupa pula bahwa obat bius takkan membinasakan orang, sedangkan racun dapat membuat jiwa kalian melayang.”

Tiba-tiba si sapi tertawa, ia menarik tangan si kambing dan berkata, “Benar, memang benar, kita ini tolol dan tidak tahu urusan. Kita dikatakan kena racunnya, maka kita benar-benar menganggap diri kita sudah keracunan.”

“Ya, hendaklah kalian jangan mau percaya,” tukas Siau-hi-ji. “Tapi kalau saat ini kalian mau meraba tulang iga kelima di sisi kiri, yakni di bagian Ling-kin-hiat, kutanggung takkan terdapat sesuatu tanda penyakit apa pun, maka sebaiknya kalian tidak usah merabanya.”

Belum habis dia bilang “tidak usah meraba”, tanpa kuasa tangan si sapi dan si kambing sudah lantas meraba Ling-kin-hiat di bagian iga masing-masing. Celakanya, begitu tempat itu teraba, seketika wajah berubah menjadi pucat, kedua orang saling pandang memandang dengan melongo.

“O, tidak menjadi soal kalau di situ terasa kemeng,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kujamin dalam waktu sejam-dua jam kalian takkan mati, jika perlu kalian masih sempat membunuhku lebih dulu.”

Meski dia suruh mereka membunuhnya, tapi biarpun nyali kedua orang itu ditambah satu kali lipat juga mereka tidak berani turun tangan. Maklumlah, kalau Siau-hi-ji mati, lalu siapa yang akan memberikan obat penawar?

Akhirnya si kambing bertanya, “Kau … kau sesungguhnya mau apa?”

“Apabila kujadi kalian, saat ini aku akan tunduk dan menawarkan dulu obat bius yang diminum olehku, habis itu berusaha menjilat dan mengambil hatiku agar rasa dongkolku terlampiaskan, kemudian bersumpah berat bahwa kalian akan senantiasa tunduk kepada perintahku, sedikit pun tidak berani membangkang ….”

“Tapi kalau sudah kutawarkan obat bius yang kau minum, lalu kau tidak menawarkan racun kami, lantas bagaimana?” ucap si sapi dengan napas tersengal.

“Ya, ya, benar juga, jika kau tidak menawarkan obat biusku, masakah aku mesti menawarkan racunmu?”

Si kambing dan si sapi saling pandang sekejap, habis itu mendadak mereka mendekati Siau-hi-ji.

Namun dengan adem ayem anak muda itu berkata pula, “Racun di dunia ini terkadang tak dapat ditawar dengan obat, apalagi selain yang menaruh racun, orang lain sukar mengetahui sampai di mana kadar racunnya. Tapi kalau kalian tidak percaya, boleh juga silakan kalian mencobanya.”

Serentak si sapi dan si kambing tidak jadi melangkah maju, suruh mereka mencoba dengan barang lain tentu jadi, tapi suruh mereka mencoba dengan jiwa mereka sendiri, betapa pun mereka harus pikir-pikir dulu. Di dalam hati mereka serentak pula timbul pikiran yang sama, “Biarpun kami bersumpah dan setelah minum obat penawar, memangnya kami tidak dapat membinasakan dia? Sumpah bagi kami adalah seperti omong kosong belaka.”

Maka mereka tidak bicara lagi, berbareng mereka berlutut dan mengucapkan sumpah yang paling keras, lalu dengan sangat hormat mereka mengeluarkan obat penawar dan dilolohkan ke mulut Siau-hi-ji.

Selang tak lama, dapatlah Siau-hi-ji berdiri, ia tepuk-tepuk debu di bajunya, lalu berkata dengan tertawa, “Obat bius dan obat penawar Cap ji-she-shio ternyata sama manjur.”

“Hehe, obat penawar engkau orang tua tentu terlebih manjur,” ucap si sapi dengan menyengir.

“Obat penawar apa?” tiba-tiba Siau-hi-ji bertanya.

Seketika perut si sapi dan si kambing seakan-akan ditendang orang, serentak mereka berteriak, “He, kau … kau ….”

“Jangan khawatir, hahaha, aku hanya menggoda kalian saja,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa sambil mengeluarkan sebuah botol kecil, lalu menambahkan, “Sebenarnya obat penawar berada di bajuku, mengapa kalian tadi tidak mau menggeledah badanku? Ai, manusia terkadang memang tidak boleh terlalu percaya kepada ucapan orang lain.”

Sungguh gusar dan geregetan si sapi dan si kambing, kalau bisa mereka ingin mencekik mampus anak muda itu. Tapi menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, tanpa pikir si sapi lantas mendahului menyerobot botol kecil yang dipegang Siau-hi-ji itu dan sebagian besar isi botol itu dituang sekaligus ke dalam mulutnya.

“He, mengapa kau minum se … sebanyak itu?!” bentak si kambing cemas.

Dengan tertawa si sapi menjawab, “Tubuhku lebih gede, adalah pantas kalau mendapat bagian lebih banyak.”

Dengan mendongkol si kambing merampas botol kecil itu dari tangan si sapi, sisa obat lantas diminumnya semua, habis itu mereka memandang Siau-hi-ji, dalam hati mereka berpikir, “Haram jadah kecil, sekarang coba kau akan lari ke mana.”

Siau-hi-ji juga sedang memandang mereka, katanya, “Sekarang coba kalian meraba tempat tadi, apakah masih kemeng atau tidak.”

Tanpa terasa kedua orang lantas meraba iga masing-masing dan benar juga rasa sakit kemeng tadi sudah lenyap.

“Mujarab benar obat penawarmu ini,” ujar si kambing dengan tertawa.

“Dan sekarang coba kau ….”

Belum habis ucapan si sapi, tiba-tiba Siau-hi-ji bergelak tertawa dan berkata pula, “Tadi waktu meraba bagian iga, di situ kebetulan adalah tempat pertemuan aliran darah di tubuh kalian, biarpun diraba perlahan juga akan terasa sakit dan kemeng, kini aliran darah itu sudah lewat ke tempat lain, dengan sendirinya tidak terasa sakit lagi”

Keterangan ini membuat pula si sapi dan si kambing gemas setengah mati sehingga dada mereka seakan-akan meledak.

“Haram jadah kecil, kiranya kau menipu kami,” teriak si kambing dengan suara serak.

“Benar, aku memang sengaja menipu kau si haram jadah tua ini,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Mengapa kalian tidak berpikir, kan Loh-se-bak itu bukan buatanku, cara bagaimana aku dapat menaruh racun di situ? Apalagi kalau kutaruh racun, mengapa kalian tidak mampus keracunan?”

“Hahahaha!” mendadak si sapi bergelak tertawa. “Ya, anggaplah kau memang pintar dan cerdik, tapi kami juga tidak goblok. Ketahuilah bahwa bius itu meski sudah punah, tapi dalam setengah jam kau tetap belum mampu mengerahkan tenaga dan dengan mudah saja dapat kucabut nyawamu.”

“O, betul begitukah?” ucap Siau-hi-ji.

“Tidak betul, masakah kusampai hati menyembelih kau, aku cuma mau memotong hidungmu, sebelah telingamu, sebelah tanganmu, dan sebelah kakimu,” kata si sapi dengan menyeringai.

“Aduh, celaka, aku menjadi ketakutan!” ujar Siau-hi-ji sambil berlagak ngeri.

“Jangan takut, aku bukan Li Toa-jui, takkan makan kau, hanya akan memotong dagingmu untuk umpan anjing,” kata si sapi sembari mendekati anak muda itu.

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak ambil pusing padanya, bahkan memandangnya saja tidak, mulutnya bergumam perlahan, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh ….” Baru saja menghitung sampai tujuh, saat itu tangan si sapi pun menghantam tiba.

Namun Siau-hi-ji tetap diam saja dan sama sekali tidak menggubrisnya.

Aneh juga, entah mengapa, baru saja pukulan si sapi dilontarkan, belum lagi mencapai sasarannya, tahu-tahu tubuh sendiri jadi gemetar, air mukanya berubah, mendadak ia jatuh terjungkal. Tertampak kedua matanya mendelik dan mulut berbusa laksana orang sakit ayan.

“He, ken … kenapa jadi begini?” teriak si kambing kaget.

“Ah, tidak apa-apa, Loh-se-bak yang dimakannya tak beracun, tapi obat penawarnya yang beracun,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Lantaran dia suka main serobot dan ingin makan lebih banyak, dengan sendirinya ia pun roboh terlebih-dahulu dan lebih cepat.”

Advertisements

1 Comment »

  1. LANJUT BACA YANG KE 5
    LICIK BGT si hiji itu

    Comment by Firman — 21/02/2013 @ 12:54 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: