Kumpulan Cerita Silat

14/04/2008

Darah Ksatria: Bab 19. Berbuat Pasti Ada Tujuan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:05 am

Darah Ksatria
Bab 19. Berbuat Pasti Ada Tujuan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Pembeli garam duduk di pinggir sambil minum arak, hanya sebotol arak untuk dirinya sendiri. Ia minum seteguk demi seteguk, minum perlahan-lahan, gayanya mirip setan arak yang kikir, mau minum tidak mau merogoh kantong, yang pasti ia gemar minum tapi sayang keluar uang.

Di sini, di dasar sumur ini, tidak bisa tidak harus minum arak, tapi tidak boleh mabuk. Badan harus selalu segar, pikiran harus selalu jernih, karena harus menjaga keselamatan dan merawat kesehatan saudaranya, mengawasi orang yang tidak takut asin dan terus melalap garam seperti kakap mencaplok teri itu.

Dasar sumur ternyata amat lebar dan luas, di situ ada sebuah pembaringan, sebuah meja dan satu kursi.

Lampu minyak kecil terletak di atas meja.

Pemakan garam duduk setengah tiduran di ranjang, pembeli garam duduk di kursi. Duduk diam dan tenang mengawasi Ma Ji-liong yang melorot turun dengan Pia-hou-kang.

Tangan yang memegang botol kelihatan gede dan kasar, kuku jarinya mengkilap, jelas pernah meyakinkan ilmu pukulan sejenis Cu-soa-ciang yang keji. Di pinggir kursi tergeletak sebatang Cu-coat-pian yang berat, ruyung beruas tujuh yang terbuat dari baja murni, selintas pandang bobotnya mungkin ada empat-lima puluh kati. Senjata itu tergeletak di tempatnya, pembeli garam itu juga tetap duduk minum, yang pasti Ma Ji-liong disambut dengan sikap dingin dan pandangan tajam penuh selidik.

Dengan menatap dingin, pembeli garam berkata, “Thio-laupan, kami sudah menduga, cepat atau lambat, kau pasti ke mari, terbukti sekarang kau berada di sini.”

“Kau tahu aku akan ke mari?” tanya Ma Ji-liong tidak mengerti. “Dari mana kau tahu?”

Pembeli garam meneguk araknya sekali, seteguk kecil saja, lalu berkata, “Jika aku membuka toko, tiap hari ada orang yang membeli dua kilo garam, aku pun akan curiga.” Sambil menyeringai dingin, ia melanjutkan, “Tapi seseorang yang betul-betul membuka toko, berusaha mencari nafkah secara jujur, umpama merasa heran dan curiga terhadap langganannya, ia pasti takkan mencampuri urusan orang lain, sayang kau bukan pengusaha toko.”

“Aku bukan apa?”

“Kau bukan pengusaha toko yang baik, pengusaha tulen,” demikian desis si pembeli garam. “Seperti juga aku, tidak pantas membeli garam di tokomu itu.”

“Agaknya kau pandai melihat kenyataan,” ujar Ji-liong.

Pembeli garam berkata, “Kau ingin tahu asal-usulku, bukan? Ketahuilah, aku pun sudah mencari tahu tentang dirimu. Seharusnya kau bernama Thio Eng-hoat, delapan belas tahun membuka toko, kau punya bini yang sakit-sakitan dan seorang pegawai yang jujur setia, selama hidup Thio Eng-hoat tidak suka ikut campur urusan orang lain.” Sampai di sini ia menghela napas, “Sayang kau bukan Thio Eng-hoat yang sesungguhnya, pasti bukan.”

“Dari mana kau tahu aku bukan Thio Eng-hoat?” tanya Ma Ji-liong.

“Kuku jarimu terlalu bersih, rambut pun tersisir rapi, malah setiap hari kau mandi. Aku sudah mencari tahu, Thio Eng-hoat yang asli adalah laki-laki yang jorok dan bau, laki-laki yang pelit lagi kikir, dua tiga hari bisa tidak mandi atau ganti pakaian, tapi teliti menghitung laba rugi dagangannya. Karena rajin kerja itulah maka isterinya selalu mengomel dan menggerutu, sehingga jatuh sakit.”

Ma Ji-liong diam saja, tidak membantah. Ia maklum dirinya sedang berhadapan dengan kawakan Kangouw yang banyak pengalaman. Sebelum Ma Ji-liong menaruh curiga terhadapnya, orang sudah lebih dulu menaruh perhatian terhadap dirinya.

“Kalau kau bukan Thio Eng-hoat, lalu siapa kau? Kenapa kau menyaru sebagai Thio Eng-hoat? Thio Eng-hoat yang asli kau apakan? Di mana dia sekarang?” ujar si pembeli garam. Lebih jauh ia berkata, “Persoalan ini sering kupikirkan, sejak lama kupikirkan.”

“Kau sudah mendapatkan jawabannya?”

“Hanya sedikit, tidak berarti.”

“Sedikit bagaimana?”

“Aku yakin kejadian ini pasti direncanakan secara cermat. Setiap segi, setiap langkah sudah diperhitungkan dengan seksama. Kau bisa menyamar sebagai Thio Eng-hoat, dapat mengelabui isterinya yang sudah menikah dan hidup bersama selama belasan tahun lamanya, demikian pula pegawainya, ini membuktikan bahwa kau berganti rupa dengan tata rias yang luar biasa baiknya,” nadanya tegas dan pasti, lalu sambungnya, “Meski tidak sedikit kaum persilatan yang ahli di bidang tata rias, tapi yang mampu berbuat sebagus ini, di kolong langit ini mutlak hanya satu orang saja.”

Yang dimaksud orang yang satu ini tentu Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long.

Lebih jauh pembeli garam berkata, “Giok-toasiocia pernah bilang, dua puluh tahun beliau tidak mencampuri urusan Kangouw, tapi ada seorang yang dapat menyeretnya keluar untuk mengembangkan keahliannya.”

“Ya, memang hanya satu orang saja,” ucap Ma Ji-liong.

“Mutlak hanya satu orang. Kecuali Kanglam Ji Ngo, tiada orang lain yang bisa mengundang dan meminta bantuannya.”

Ma Ji-liong menyengir kecut. Akhirnya dia paham, di dunia ini tiada rencana betapa pun sempurnanya yang tidak bisa dibongkar, tidak ada titik kelemahannya, juga tidak ada rahasia yang selalu bisa mengelabui orang.

Sayang, sejauh ini Ma Ji-liong belum berhasil membongkar rahasia Khu Hong-seng.

Pembeli garam berkata pula, “Kau sudah diatur sedemikian rapi, memakan banyak waktu dan tenaga, berjerih payah menyamar sebagai pemilik toko serba ada, itu berarti kau sama dengan kami, kau juga seorang buronan, menyingkir dari muka umum dan bersembunyi dari pelacakan musuh. Berbagai hal di atas dapat kami simpulkan, bahwa musuh yang menuntut jiwamu pasti jauh lebih menakutkan dibanding musuh kami.” Dengan tertawa pembeli garam menambahkan, “Sebagai sesama buronan, orang yang dikejar-kejar musuh, buat apa harus menyelidiki rahasiamu? Sebetulnya kau tidak perlu mencari tahu tentang diriku, karena setiap hari aku akan membeli garam di tokomu.”

“Sebetulnya aku tidak punya niat ke mari,” ujar Ma Ji-liong menghela napas.

“Tapi kau sudah berada di sini,” ujar pembeli garam.

“Apa kau hendak membunuhku?” tanya Ma Ji-liong.

“Kanglam Ji Ngo mau membantumu, kalau kau keroco, kuyakin dia takkan bersusah payah, kau pasti punya latar belakang yang meyakinkan. Umpama aku berniat membunuhmu, belum tentu aku berhasil.” Dengan tertawa pembeli garam berkata, “Jika betul kau adalah orang yang kuduga, bila mau turun tangan, mungkin aku yang mati lebih dulu di tanganmu.”

Ma Ji-liong berkata, “Siapakah orang yang kau duga itu?”

“Ma Ji-liong,” sahut si pembeli garam. “Tuan muda Thian-ma-tong, Pek-ma Kongcu Ma Ji-liong.”

Berdebar keras jantung Ma Ji-liong. Kalau wajahnya tidak dipermak oleh Giok-jiu-ling-long, orang pasti melihat betapa jelek perubahan mimik mukanya. Ji-liong balas bertanya, “Berdasarkan apa kau mengira aku Ma Ji-liong?”

“Ya, aku punya alasan.”

Alasannya adalah buronan terbesar yang sedang dikejar-kejar kaum persilatan saat ini adalah Ma Ji-liong. Hanya Ma Ji-liong saja yang mungkin mendapat bantuan Kanglam Ji Ngo.

Pembeli garam berkata lebih jauh, “Dalam kalangan Kangouw, ada tiga marga besar persilatan dan Ngo-toa-bun-pay (Lima Perguruan Besar), mereka berani mengeluarkan hadiah lima laksa tahil emas murni bagi siapa saja yang bisa membekuk atau membunuh Ma Ji-liong. Jago-jago kelas wahid yang dikerahkan untuk mencari jejakmu ada lima-enam puluh orang, hanya murid-murid Kaypang saja yang tidak ikut berlomba memperebutkan hadiah sebesar itu, mereka seperti tutup mata dan menyumbat telinga, seolah-olah segan mencampuri urusan ini.”

Murid Kaypang tersebar luas, jumlahnya juga tidak terhitung banyaknya, kekuasaan mereka berkembang terus makin luas dan besar. Di seluruh pelosok dunia ada orang mereka yang bisa memberi informasi yang tidak mudah diperoleh pihak lain, tidak sedikit ahli-ahli mereka yang pandai melacak jejak orang. Dapat kita bayangkan betapa besar ongkos kehidupan untuk keperluan organisasi besar ini, lima laksa tahil emas bukan nilai yang kecil.

Pembeli garam berkata pula, “Kenapa mereka tak ikut berlomba memperebutkan hadiah besar itu? Bagiku sudah jelas, karena Kanglam Ji Ngo punya hubungan intim dengan Ji-liong.”

Lama Ma Ji-liong terpekur, lalu berkata perlahan, “Sebetulnya tidak perlu kau bicara sepanjang itu.”

“Setelah kubeberkan rahasiamu, kau akan membunuh aku? Kau kira aku ingin lima laksa tahil emas murni itu?”

“Apa kau tidak ingin kaya?” Ma Ji-liong menegas.

“Aku tidak ingin kaya,” sahut pembeli garam.

“Kenapa?” tanya Ma Ji-liong.

Sebelum pembeli garam menjawab, pemakan garam menyeletuk, “Karena aku.”

Laki-laki kurus ini terus mengganyang garam dengan lahap, garam kasar lagi murni, garam yang asin. Sukar dibayangkan ada manusia yang suka makan garam sebanyak itu.

Sudah separoh dari dua kilo garam itu dilalap orang ini. Setelah 10 butir telur ayam masuk ke perutnya, rona wajahnya baru kelihatan merah, baru leluasa ia bicara, katanya, “Selama dua puluh tahun, orang-orang yang ingin menjagal kepalaku, yakin tidak kalah jumlahnya dibanding dengan mereka yang mengejarmu. Bagaimana rasanya orang yang difitnah, aku sudah kenyang merasakannya.” Kelihatan ia lemah lagi kurus, tapi waktu berbicara sikapnya kelihatan berwibawa. “Lima laksa tahil emas memang tidak sedikit, tapi jumlah sebesar itu tidak terpandang dalam mataku.”

“Dari mana kau menduga kalau aku difitnah orang?”

Pemakan garam menjelaskan, “Karena aku percaya kepada Ji Ngo. Kalau bukan terfitnah, maka dialah orang pertama yang akan membunuhmu.”

“Kau siapa?” tanya Ma Ji-liong.

“Seperti kau, aku juga sering difitnah orang, seorang yang kepalanya berharga ribuan tahil, seorang yang terpaksa menyembunyikan diri seperti tikus yang takut dilihat orang. Kami belum ingin mati, kami ingin membersihkan diri, umpama akhirnya mati juga harus mempertahankan nama baik, maka sebelum masuk liang kubur, kami harus membongkar dulu kasus itu, membekuk orang yang memfitnah kami, menangkap biang keladinya.”

Pemakan garam tertawa besar, tawa yang getir lagi memilukan, “Tentang siapa namaku, lebih baik kau tidak tahu.”

Ma Ji-liong menatapnya lekat sekian lama, lalu menoleh ke arah pembeli garam, katanya, “Aku percaya kau tak akan mengkhianati aku.”

“Aku juga percaya padamu,” ujar pemakan garam sambil mengulurkan tangannya.

Seperti juga telapak tangan pembeli garam, jari dan telapak tangan pemakan garam ini pun kasar, besar lagi dingin. Waktu Ji-liong bergenggam tangan dengan orang, timbul rasa hangat di dalam dadanya.

Pemakan garam tertawa lebar, katanya, “Pergilah, aku tidak merintangimu.”

“Kalau kalian memerlukan garam, aku tidak akan banyak usil lagi.”

Pemakan garam mengawasinya, lalu menghela napas, ujarnya, “Sayang baru hari ini kita bertemu, aku terluka dalam separah ini, mungkin aku takkan bisa membersihkan nama baikku, membongkar fitnah keji itu. Kalau bisa bertahan hidup lebih lama lagi, aku ingin bersahabat dengan engkau.”

“Sekarang belum terlambat kau bersahabat denganku, bersahabat dengan kawan tidak harus saling memperalat, tetapi harus saling membantu.”

Pemakan garam bergelak tawa, suaranya serak lagi pendek, ternyata ia tidak bisa tertawa lagi, tapi sikap dan perbawanya kelihatan gagah dan berwibawa, katanya, “Aku tidak perduli apakah kau Ma Ji-liong atau bukan. Perduli siapa kau, aku suka dan senang bersahabat dengan engkau.”

Dengan kencang Ma Ji-liong menggenggam tangan orang, “Aku juga tidak perduli siapa kau, aku pun senang bersahabat dengan kau.”

Saat itu belum terang tanah, cuaca masih gelap, hawa dingin sekali.

Tapi perasaan Ma Ji-liong amat hangat, sekujur badan terasa panas, dadanya seperti dibakar. Hari ini, tepatnya pagi ini, ia bersahabat dengan seorang gagah, laki-laki jantan, kawan setia.

Bersahabat dengan seorang yang tidak dikenal asal-usulnya, tanpa perduli apa akibat dan bagaimana tanggung-jawabnya, tapi mereka benar-benar tahu sama tahu, seia sekata, kawan karib, sahabat sejati. Jika menemukan dan bersahabat dengan kawan seperti itu, maka ia akan dapat menyelami perasaan Ji-liong.

Sayang sekali, jarang ada manusia di dunia ini yang bisa bersahabat seperti jalinan batin pemakan garam dengan Ma Ji-liong.

“Kau bersahabat dengan dia,” Cia Giok-lun belum tidur. Pertanyaan pertama yang diajukan sejak mendengar laporan Ma Ji-liong. “Padahal siapa dia kau tidak tahu, tapi kau mau berkenalan dan bersahabat dengan dia?”

Ma Ji-liong berkata, “Biar seluruh umat manusia di dunia ini menganggap dia sebagai musuh, semua orang ingin mencincang atau mencacah tubuhnya, aku tetap bersahabat dan rela berkorban untuknya.”

“Lho, kenapa?” Cia Giok-lun menegas dengan nada tidak mengerti.

“Tidak kenapa.”

Tidak kenapa. Dua patah kata yang besar maknanya, dua patah kata yang menjalin persahabatan dua insan manusia yang berbeda. Jika ‘karena sesuatu’ kau bersahabat dengan orang, sahabat macam apakah kenalan baikmu itu? Terhitung teman macam apa pula kau ini?

Cahaya sudah tampak memutih di luar jendela. Ma Ji-liong duduk di bawah jendela, Cia Giok-lun mengangkat kepala mengawasinya dengan badan miring. Lama sekali baru ia menghela napas, katanya, “Aku tahu maksudmu, tapi aku tak bisa berbuat seperti itu.”

Seorang gadis muda yang dapat memahami segi-segi kehidupan yang serba ruwet tentang citra rasa dan perasaan memang jarang ada, memang jarang ada orang yang bisa berbuat seperti itu.

Mendadak Cia Giok-lun bertanya, “Tahukah kau kenapa temanmu itu harus makan garam?”

Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak tahu karena tidak bertanya.

“Aku tahu,” ujar Cia Giok-lun. “Karena terkena pukulan Sam-yang-coat-hu-jiu.”

“Sam-yang-coat-hu-jiu,” Ma Ji-liong adalah keturunan keluarga persilatan, namun belum pernah ia mendengar nama ilmu pukulan keji itu.

“Ilmu pukulan yang sudah lama putus turunan, maksudnya sudah lama tidak pernah dipelajari manusia lagi. Orang yang terkena pukulan ini sekujur badannya akan kehilangan kadar air, kulit badan akan mengering dan merekah, lebih celaka lagi sekujur badan pati rasa, keinginannya hanya makan garam melulu. Makin banyak garam yang dimakan, makin banyak air yang ia butuhkan, luka dalamnya juga akan lebih parah. Bila mati, sekujur badan akan pecah, seperti roti kering yang merekah karena dipanggang terlalu lama di perapian yang bersuhu tinggi,” sejenak Cia Giok-lun termenung, lalu melanjutkan, “Makan telur ayam memang lebih baik dibanding minum air, tapi paling lama hanya bisa memperpanjang usianya setengah bulan, akhirnya akan tetap mampus juga.”

“Mutlak tidak bisa ditolong?” tanya Ma Ji-liong.

Tidak menjawab pertanyaan Ma Ji-liong, Cia Giok-lun malah balas bertanya, “Orang macam apakah temanmu itu? Bagaimana tampang dan perawakannya?”

“Kupikir semula dia seorang laki-laki kekar, perawakannya tinggi tegap, kedua pundaknya setengah kaki lebih besar dibanding pundak orang biasa, tangan besar kaki gede, pukulan tenaga luarnya tentu diyakinkan dengan sempurna,” demikian tutur Ma Ji-liong. “Walau dia terluka parah hampir mati, waktu bicara dan gerak-geriknya tetap kelihatan gagah dan berwibawa.”

Sorot mata Cia Giok-lun seperti bercahaya, “Sudah terpikir siapa dia,” katanya.

“Siapa?”

Cia Giok-lun tidak menjawab langsung, “Ilmu pukulan jenis ini jauh lebih keji, lebih dahsyat dibanding Sam-im-coat-hu-jiu dari keluarga Im dan Cui, jauh lebih sukar diyakinkan, karena orang yang meyakinkan ilmu ini selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan.”

Selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan maksudnya adalah tidak pernah kawin, alias tidak punya bini, berapa banyakkah orang-orang Kangouw yang jejaka kecuali Hwesio?

“Menurut apa yang kutahu,” ujar Cia Giok-lun lebih lanjut. “Selama lima puluh tahun ini, yang meyakinkan ilmu ganas dan keji itu hanya seorang.”

“Siapa?” Ma Ji-liong mendesak.

“Coat-taysu,” ucap Cia Giok-lun. “Coat-taysu selalu bertindak tegas dan tuntas dalam perkara. Setiap musuh yang dianggap jahat, tidak pernah diberi ampun, tapi jarang menggunakan ilmu pukulan keji yang amat dirahasiakan itu. Kecuali lawan memang gembong silat yang benar-benar lihai dan menakutkan, itu pun kalau dia kepepet dan kewalahan baru melancarkan ilmu pukulan itu.”

Sudah lazim bahwa tokoh silat kosen di Kangouw menyembunyikan ilmu tunggal yang diyakinkannya. Jika jiwa tak terancam bahaya, tidak akan mengeluarkan ilmu kebanggaannya. Apalagi ilmu pukulan jahat seperti Sam-yang-coat-hu-jiu harus diyakinkan dengan syarat tidak boleh kawin selama hidup.

Bagi kaum persilatan yang punya kedudukan dan nama besar di Bulim, bila selama hidup tidak bergaul dengan perempuan alias tidak kawin, tentu dipandang tidak wajar dan aib, orang akan membayangkannya sebagai laki-laki tidak normal, laki-laki mandul, lelaki impoten, mana ada tokoh silat yang mau dipandang sebagai pendekar impoten.

“Jika tidak terpaksa terdesak oleh keadaan hingga tiada pilihan lain, Coat-taysu takkan melancarkan Sam-yang-coat-hu-jiu,” kata Cia Giok-lun, lalu ia bertanya pada Ma Ji-liong, “Berapa banyak jago silat di Kangouw yang bisa menyudutkan Coat-taysu hingga ia bernasib mengenaskan?”

“Ya, hanya beberapa orang saja,” sahut Ma Ji-liong.

“Pernah dengar nama besar Hoan-thian-hu-te (Membalik Langit Mengaduk Bumi) Thiat Tin-thian?” Cia Giok-lun bertanya. “Dia masuk hitungan tidak?”

Ma Ji-liong tahu dan sadar bahwa air mukanya pasti berubah waktu mendengar nama julukan orang itu. Sebagai insan persilatan, wajar kalau Ji-liong pernah mendengar ketenaran nama Hoan-thian-hu-te Thiat Tin-thian, tokoh legendaris yang sudah malang melintang sejak dua puluh tahun yang lalu, membunuh orang seperti membabat rumput, tak terhitung jumlah korban jiwa di tangannya, perkaranya menumpuk bagai gunung. Betapa banyak kaum persilatan yang ingin memenggal kepalanya, umpama tidak ribuan pasti ada ratusan banyaknya, tokoh besar atau penjahat yang ditakuti orang, tingkat kejahatan yang pernah ia lakukan tak berlebih kalau dijuluki Membalik Langit Mengaduk Bumi.

Jejak Hoan-thian-hu-te bagai mega, orang sukar mengikuti jejaknya, apalagi ilmu silatnya amat tinggi, hati kejam tangan telengas, orang-orang yang kesamplok atau musuh yang menemukan jejaknya juga pasti tergetar bubar sukmanya, kalau kepala tidak pecah tentu badan yang terpukul remuk oleh telapak tangan besinya.

“Coba pikir, mungkin tidak temanmu itu adalah Thiat Tin-thian?” tanya Cia Giok-lun.

Ma Ji-liong menunduk, mulutnya bungkam.

Orang itu jelas adalah Thiat Tin-thian. “Selama dua puluh tahun, betapa banyak orang yang ingin memenggal kepalaku, ratusan lipat lebih banyak dibanding musuh yang menginginkan jiwamu. Lima laksa tahil emas tidak terpandang dalam mataku”. Kecuali Thiat Tin-thian, siapa lagi yang berani mengucapkan kata-kata demikian. Tapi ia pun pernah berkata begini, “Bagaimana rasanya difitnah orang, aku juga sudah mengalaminya.”

Mendadak Ma Ji-liong mengangkat kepala, katanya lantang, “Aku tidak perduli siapa dia, perduli apa yang pernah ia lakukan, kupikir ada latar belakang yang tidak diketahui orang sehingga terpaksa melakukan kejahatan. Situasi mendesak dan memojokkan dirinya, terpaksa ia bertindak lebih ganas, lebih banyak korban jatuh, dipandang dari kaca mata kaum pendekar, ia adalah gembong penjahat yang harus ditumpas.”

“Apakah Coat-taysu juga memfitnah orang baik?” tanya Cia Giok-lun.

Ma Ji-liong tertawa dingin, katanya, “Orang-orang yang ia fitnah bukan hanya Thiat Tin-thian saja.”

Cia Giok-lun menghela napas, katanya, “Kau ini memang orang baik. Bisa berkenalan dengan kau, siapa pun akan merasa beruntung, sayang sekali persahabatan kalian tidak akan bertahan lama.”

“Apa betul luka dalamnya tak bisa ditolong lagi?”

Tawar suara Cia Giok-lun, “Kalau aku adalah Toa-siocia dari keluarga Cia, mungkin aku bisa menolongnya.” Sengaja ia menghela napas, “Sayang, aku hanya bini seorang pemilik toko yang sakit-sakitan, berjalan juga tidak mampu, penyakitku sendiri tak mampu kuobati, bagaimana mungkin mengobati orang lain?”

Ma Ji-liong kehabisan kata. Dia maklum apa yang dimaksud Cia Giok-lun. Kalau ia membeberkan duduk persoalannya, mungkin Cia Giok-lun mau menolong Thiat Tin-thian. Tapi kalau ia berbuat demikian, itu berarti ia ingkar terhadap Toa-hoan, juga mengkhianati Ji Ngo, mereka juga teman baiknya.

Cia Giok-lun membalikkan badan, mungkur ke arah dinding, katanya, “Kau sudah lelah, tidurlah.”

Ma Ji-liong tidak tidur, ia tahu dirinya pasti tak bisa tidur.

Entah pura-pura tidur atau benar-benar sudah lelap, ternyata Cia Giok-lun tidak bergerak, juga tidak mengajak bicara lagi.

Fajar baru saja menyingsing, di luar masih belum terdengar suara orang. Perlahan Ma Ji-liong mendorong pintu, dengan kalem ia melangkah keluar.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: