Kumpulan Cerita Silat

13/04/2008

Pendekar Binal (03)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 10:59 pm

Pendekar Binal (03)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Dengan sendirinya Siau-hi-ji menyambut pandangan orang itu dengan tertawa, tapi pemuda itu ternyata tidak mengacuhkannya, bahkan berkedip pun tidak. Siau-hi-ji berkerut-kerut hidung dan melelet-lelet lidah padanya dengan muka badut, tapi pemuda itu lantas berpaling ke sana seakan-akan tidak sudi memandang Siau-hi-ji lagi.

Mendongkol juga hati Siau-hi-ji, ia bergumam, “Hm, lagaknya! Kau tidak sudi gubris diriku, memangnya aku sudi gubris dirimu?!” Ia sengaja melantangkan suaranya agar didengar pemuda itu.

Tapi pemuda itu justru anggap tidak mendengar.

Siau-hi-ji terus menuju ke sana, menghampiri sebuah dasaran pedagang yang terdekat dengan pemuda itu. Banyak perhiasan barang tiruan yang dijajakan di situ, bentuknya indah dan bercahaya, seakan-akan sedang menunggu orang yang mau masuk perangkap.

Siau-hi-ji ambil sebuah perhiasan bunga mutiara, matanya memandang pemuda tadi dan bertanya, “Ini dijual tidak?”

Tapi yang menjawab bukanlah pemuda itu melainkan seorang pendek berkopiah tinggi, dengan cengar-cengir si buntak ini berkata, “Pandangan tuan muda sungguh jitu, mutiara pilihan ini sungguh sukar dicari.” Sambil bicara, matanya terus mengincar pinggang Siau-hi-ji. Rupanya ia sudah menyaksikan cara Siau-hi-ji membeli kuda tadi.

“Berapa harganya?” tanya Siau-hi-ji.

“Empat … lima … tu … tujuh puluh tahil.”

“Tujuh puluh tahil?!” teriak Siau-hi-ji.

Si buntak berjingkat kaget, cepat ia menanggapi, “Ya, tu … tujuh puluh tahil tidaklah mahal.”

“Tapi mutiara ini kan imitasi,” ujar Siau-hi-ji.

“Imitasi? Siapa bilang?” seru si buntak dengan agak penasaran. “Ini … ini sungguh suatu penghinaan bagiku.”

“Haha, sejak umur dua tahun aku sudah bermain mutiara dan menggunakannya sebagai peluru pelinteng, tulen atau palsunya mutiara akan ketahuan bila kucium dengan hidung saja,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Diam-diam perut si buntak hampir meledak saking gemasnya, ia heran mengapa bocah ini mendadak berubah menjadi cerdik. Tapi ia pura-pura berlagak penasaran dan berkata, “Wah, baiklah, kuberi diskon, biarlah kuhitung enam puluh tahil saja ….”

“Ah, kau salah lagi,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Mutiara yang tulen dapat digagapi dengan mudah di lautan, sedangkan mutiara palsu justru harus membuatnya dengan susah payah, bahkan hasilnya sedemikian miripnya, maka harga mutiara palsu harus lebih mahal daripada yang tulen.”

Kembali si buntak melengak, katanya dengan tergagap, “Ini … ini ….”

“Kalau tulen harganya tujuh puluh tahil, maka yang palsu harus seratus empat puluh tahil perak, kira-kira emas murni dua tahil lebih ….” demikian Siau-hi-ji sengaja membual dengan harapan si pemuda baju putih tadi akan tertarik dan memandang atau tertawa padanya.

Siapa tahu pemuda itu ternyata tidak menggubrisnya, bahkan menyingkir pergi.

Lekas-lekas Siau-hi-ji melemparkan emasnya dan berkata, “Nah, ini bobotnya tiga tahil.” Tanpa ambil pusing si buntak yang ternganga bingung itu, cepat ia memburu ke sana. Namun pemuda baju putih entah berada di mana, sudah tidak kelihatan lagi.

Siau-hi-ji rada kecewa, ia termangu-mangu sambil menggigit bibir. Pada saat itulah tiba-tiba sebuah tangan menjulur tiba terus menyeretnya berlari. Tangan itu putih halus, itulah tangan Tho-hoa.

Begitulah dengan tarik-menarik, akhirnya mereka lari masuk ke kemah si Tho-hoa, wajah nona itu tampak merah, napasnya tersengal-sengal, ia mengomel perlahan, “Kau … kau ini sungguh bodoh, ingin membeli barang kenapa tidak cari padaku, tapi lebih suka ditipu orang. Kudamu ini harganya tidak sampai delapan puluh tahil perak, mutiara ini ….”

“Paling tinggi sepuluh tahil,” sambung Siau-hi-ji.

Tho-hoa jadi melengak malah, tanyanya, “Jadi kau … kau pun tahu?”

“Orang pintar seperti diriku ini masakah tidak tahu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Sudah tahu mengapa kau kena tipu?”

“Tertipu terkadang berarti menarik keuntungan,” ujar Siau-hi-ji sambil memicingkan mata.

Tho-hoa memandang Siau-hi-ji dengan mata melotot laksana sedang memandang sesuatu makhluk yang aneh dan ajaib. Sungguh selama hidupnya belum pernah melihat bocah seaneh ini.

Bunga mutiara imitasi yang baru dibelinya itu lantas ditancapkannya pada ikal rambut si Tho-hoa, lalu Siau-hi-ji berkata, “Cici yang baik, jangan marah ya? Lihatlah betapa cantiknya engkau memakai bunga mutiara ini, sungguh mirip seorang putri. Cuma sayang, di sini tidak ada pangeran yang cocok bagi sang putri.”

“Bukankah kau ini sang pangeran bodoh!” demikian Tho-hoa berseloroh.

Siau-hi-ji berkedip-kedip pula, katanya, “Kau bilang aku bodoh, sebentar lagi tentu kau akan tahu bahwa aku tidaklah bodoh. Sebentar lagi orang yang menipu aku tadi pasti akan lebih konyol tertipu olehku.”

“Mereka akan tertipu olehmu?” tanya Tho-hoa heran.

Siau-hi-ji hanya tertawa tanpa menjawab. Ia tepuk leher kuda putih yang baru dibelinya dan berkata, “Kuda yang baik, lekas keluar dan berdiri di sana agar orang-orang itu datang kemari dan masuk perangkapku.”

Kuda itu meringkik perlahan, seperti tahu kehendak tuannya, benar juga lantas menerobos keluar kemah, tapi Siau-hi-ji tetap memegangi ekornya agar tidak jauh meninggalkan perkemahan.

Dengan gegetun Tho-hoa berkata, “Ai, kau benar-benar anak ajaib, apa yang kau katakan selalu tidak dipahami orang dan apa yang kau lakukan tentu sukar ditebak.”

Belum lagi Siau-hi-ji menjawab, tiba-tiba terdengar suara ribut di luar kemah. Seorang bersuara serak sedang berteriak, “He, tuan muda yang membeli kuda tadi apakah berada di dalam kemah?”

Siau-hi-ji berkerut hidung terhadap Tho-hoa, katanya dengan tertawa, “Itu dia orang yang mau masuk perangkapku telah datang sendiri!” Mendadak ia dorong Tho-hoa ke dalam selimut, katanya, “Baik-baik berbaring di sini, sayang, jangan bersuara.”

Tentu saja Tho-hoa merasa bingung dan ingin bicara, namun sebelum membuka mulut, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah menyelubungi kepalanya dengan selimut sambil berseru, “Aku berada di sini, silakan masuk!”

Yang masuk sedikitnya ada belasan orang, dipimpin oleh si jangkung penjual kuda tadi. Belasan orang itu sama membawa bungkusan besar kecil masing-masing, bungkusan yang dibawa si buntak yang menjual bunga mutiara itu adalah terbesar sehingga dia seakan-akan menjadi satu gumpalan bersama bungkusannya itu.

Siau-hi-ji sengaja berkerut kening dan menegur, “He, apa-apaan kalian? Barang sebanyak ini ….”

Si jangkung munduk-munduk dan menjawab dengan menyeringai, “Hehe, kata peribahasa, barang baik harus dijual pada yang mengerti. Ketika kawan-kawan ini mendengar tuan muda adalah seorang ahli membeli barang, berbondong-bondong mereka pun ingin memperlihatkan barang dagangan baik mereka kepadamu.”

“Hihi, kalian tidak menipu aku, bukan?” Siau-hi-ji berolok dengan tertawa.

Cepat si jangkung menanggapi, “Ah, mana bisa jadi, mana bisa jadi …. Ayolah, lekas membuka bungkusan kalian dan perlihatkan kepada tuan muda kita.” Belum habis ucapannya, serentak bungkusan besar kecil itu sudah dijereng di depan Siau-hi-ji.

Barang baik dalam bungkusan-bungkusan ini memang tidak sedikit, ada mutiara mestika, ada perhiasan tulen, ada kulit binatang yang mahal, ada Siahio (bibit wewangian dari kelenjar binatang sebangsa serigala) dan macam-macam lagi, pada hakikatnya barang-barang ini baru saja mereka beli dari orang-orang Tibet tadi.

“Ehm, barang-barang ini tidak jelek, aku ingin beli semuanya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Belasan orang sama tertawa gembira hingga mulut mereka seakan-akan sukar terkatup kembali, serentak mereka berseru, “Alangkah baiknya tuan muda beli seluruhnya.”

“Baik, bungkus saja semuanya,” kata Siau-hi-ji.

Beramai-ramai belasan orang itu lantas meringkasi belasan bungkusan kecil itu menjadi satu sehingga bungkusannya sekarang lebih besar dari pada Siau-hi-ji, mungkin sekali sukar diangkat oleh orang biasa.

Habis itu, belasan orang itu lantas berdiri tegak dan menunggu pembayarannya. Namun Siau-hi-ji seperti tidak ambil pusing, ia bersiul-siul kecil sendirian seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Akhirnya si buntak tidak tahan, katanya, “Tuan muda, harga … harga barang ….”

“O, kau minta pembayaran? Apa susahnya? Berapa, katakan saja sesuka kalian!” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Beramai-ramai belasan orang itu lantas menyebut harga barang bawaannya masing-masing, sudah tentu harga yang mereka sebut sedikitnya tujuh atau delapan kali lipat daripada nilai yang sebenarnya.

Tho-hoa tidak tahan lagi mendengar harga-harga yang disebut itu, dia ingin melompat keluar, tapi kepalanya ditahan oleh tangan Siau-hi-ji sehingga tak dapat berkutik. Didengarnya Siau-hi-ji lagi berkata dengan tertawa, “Dan total jenderal menjadi berapa?”

Rupanya si jangkung memang ahli hitung cepat, dalam sekejap saja ia dapat menjumlah seluruhnya dan berseru, “Total seluruhnya menjadi enam ribu enam ratus tahil perak.”

“Ah, harga ini tidak betul,” tiba-tiba Siau-hi-ji menggeleng.

Si buntak dan si jangkung sudah pernah mendengar kalimat ini, mereka tahu sang juragan muda mempunyai kebiasaan menambah satu kali lipat dari harga yang disebut, sudah barang tentu orang lain juga sudah mendengar akan sifat baik dan kebiasaan baik sang juragan muda kita. Maka mereka sama menjawab dengan mengiring tawa, “Ya, ya, harga tersebut tidak betul, terserah saja kepada juragan muda.”

“Terserah padaku?” Siau-hi-ji menegas. “Tapi jangan-jangan kalian ….”

“Kami pasti setuju,” cepat beberapa orang memotong.

“Jika begitu ….” Siau-hi-ji sambil merogoh bungkusan di pinggangnya, “baiklah, menurut perhitunganku, harga barang-barang kalian total jenderal kubayar ….” pandangan semua orang sama terbelalak mengikuti gerak jari Siau-hi-ji, terlihat dua jarinya menjepit sepotong kecil daun emas, lalu menyambung pula dengan tertawa, “kubayar seluruhnya satu tahil emas kepada kalian.”

Baru sekarang belasan orang itu melenggong, dengan menyeringai dan tergagap-gagap si jangkung berkata, “Tuan … tuan muda janganlah bercanda.”

Tiba-tiba Siau-hi-ji menarik muka, katanya, “Kan pernah kukatakan bahwa emas tidak suka bercanda. Kalian sendiri bilang terserah padaku, bahkan menyatakan pasti setuju. Sekarang sudah terlambat biarpun kalian merasa menyesal.” Ia lemparkan potongan kecil emas itu ke tanah, bungkusan besar tadi terus diangkatnya dan hendak melangkah pergi. Padahal bungkusan itu jauh lebih besar daripada tubuhnya, namun sedikit pun ia tidak buang tenaga untuk mengangkatnya.

Sekarang Tho-hoa baru tertawa geli, diam-diam ia menongolkan kepalanya, dilihatnya belasan orang itu sama terkesima. Tapi segera mereka membentak gusar dan mengudak keluar.

“Penipu kecil, kembalikan barang kami!” demikian orang-orang itu sama berteriak.

Lalu terdengar Siau-hi-ji menjawab, “Siapa penipu? Kalian sendirilah penipu.”

Menyusul lantas terdengar serentetan suara orang menjerit kesakitan dan teriakan minta tolong, berbareng terdengar pula suara gedebukan seperti jatuhnya benda berat.

Tho-hoa bersabar sejenak, akhirnya ia tidak tahan dan segera melompat bangun dan berlari keluar, terlihatlah belasan orang tadi tiada satu pun yang berdiri, semuanya roboh terguling. Belasan laki-laki kekar itu telah dihajar Siau-hi-ji hingga babak-belur, ada yang mukanya bengkak, ada yang hidungnya keluar kecap, ada yang patah tulang kakinya, semuanya menggeletak di tanah dan tidak sanggup bangun.

Mau tak mau Tho-hoa melongo kaget juga, ia tahu kaum musafir yang berani berdagang ke daerah terpencil ini rata-rata bertenaga besar dan mahir beberapa jurus. Sungguh sama sekali tak pernah terpikir olehnya bahwa si anak aneh itu ternyata memiliki kepandaian setinggi itu, belasan lelaki kuat itu dapat dirobohkan sekaligus.

Sekian lamanya Tho-hoa termangu-mangu, ketika kemudian ia berpaling, cahaya sang surya cerlang-cemerlang menyinari padang rumput, namun si anak ajaib dengan kuda putih yang baru dibelinya itu sudah tak kelihatan lagi.

*****

Bungkusan itu terletak di punggung kuda putih, Siau-hi-ji sendiri menuntun kuda itu, sekaligus mereka lari hingga beberapa li jauhnya. Sungguh geli dan ingin tertawa jika Siau-hi-ji ingat tampang belasan orang yang diakalinya itu.

Menjelang lohor, sinar matahari makin panas, Siau-hi-ji belum begitu merasakannya, tapi kuda putih itu sudah rada payah.

Padang rumput yang luas itu tiada kelihatan bayangan orang maupun tempat berteduh. Tiba-tiba pikiran Siau-hi-ji tergerak, ia membuka bungkusan besar itu, diambilnya sepotong tanduk kambing benggala (dapat digunakan sebagai obat), ia pandang benda berharga itu, lalu tertawa dan membuang jauh tanduk itu.

Begitulah sambil berjalan Siau-hi-ji terus membuang, satu bungkus besar barang-barang yang sangat berharga itu telah dilemparkannya dengan tertawa riang tanpa sayang sedikit pun, sama saja seperti orang membuang sampah.

Sampai akhirnya sisa barang tinggal sedikit, tanpa pikir Siau-hi-ji mengemasi bungkusan itu terus dilemparkan jauh ke tengah semak rumput. Habis itu ia berkeplok tangan dan tertawa puas.

Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara nyaring orang memanggilnya, “Siau-hi … Kang Hi … berhenti dulu, tunggu!”

Seekor kuda tampak berlari tiba secepat terbang, penunggangnya berbaju gemerlap, belasan kuncir tampak menari-nari tertiup angin, wajahnya merah menyerupai bunga Tho.

“Aha, hebat sekali kepandaian menunggang kudamu … sungguh indah!” seru Siau-hi-ji memuji.

Setelah dekat, Tho-hoa sudah berdiri di punggung kuda, mendadak ia berjumpalitan di udara. Siau-hi-ji kaget, tapi Tho-hoa sudah berdiri di depannya.

Sambil menggigit bibir, Tho-hoa membanting-banting kaki, matanya mengembang air, seperti habis menangis dan seakan-akan ingin menangis, dengan napas terengah ia mengomel, “Mengapa … kau pergi tanpa … pamit? Kau ….”

“Aku telah menimbulkan onar, kalau tak kabur tentu membikin susah dirimu,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

“Ken … kenapa engkau menipu orang lain?” kata Tho-hoa pula.

“Mereka menipu aku, kenapa aku boleh menipu mereka?” jawab Siau-hi-ji.

Tho-hoa melengak, matanya yang jeli mengerling dan bertanya, “Mana barangnya?”

“Sudah kubuang semua,” tutur Siau-hi-ji.

“Kau buang?” Tho-hoa terkejut. “Ken … kenapa engkau berbuat begitu?”

“Habis tadinya barang-barang itu termuat di punggung kuda, aku sendiri malah harus berjalan kaki di bawah terik sinar matahari, bukankah aku menjadi orang tolol? Makanya kupikir barang-barang itu harus kubuang saja.”

Mata Thoa-hoa terbelalak lebar, katanya, “Ta … tapi barang-barang itu sangat berharga, engkau tidak merasa sayang?”

“Bukan soal bagiku, sudah tentu aku tidak sayang,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Barang-barang berharga di dunia ini kan tidak cuma barang tadi, jika mau setiap saat aku bisa mendapatkannya.”

“Kau … kau sungguh gila,” omel Tho-hoa.

Siau-hi-ji bergelak tertawa, selang sejenak barulah ia berkata pula, “Barang-barang yang kubuang itu tentu akan ditemukan orang, jika penemu itu orang baik-baik, tentu mereka akan kegirangan. Bila kubayangkan wajah mereka yang tertawa gembira itu, rasanya hatiku pun ikut gembira, hal ini sudah cukup bagiku daripada susah payah kubawa sendiri barang-barang itu dalam perjalanan.”

“Tapi kalau penemu itu orang busuk, lalu bagaimana?” tanya Tho-hoa.

“Bila penemu itu orang-orang busuk, maka mereka pasti akan berkelahi karena pembagian rezeki yang tidak rata, malahan kalau ada yang bermaksud mencaplok sendiri rezeki yang ditemukan, bisa jadi kawan sendiri akan dibunuhnya.”

“Begini kau pun senang?” tanya Tho-hoa.

“Mengapa tidak senang? Haha, teramat senang!”

“Kau … kau sungguh telur busuk!” omel Tho-hoa dengan terbelalak.

“Selain itu, bila barang-barang itu ditemukan oleh manusia malas, pasti dia tidak mau bekerja apa-apalagi dan sehari-harian hanya ingin mencari rezeki di tengah semak-semak rumput itu, dia mencari dan mencari terus sampai dia lupa daratan dan mati kelaparan.” Siau-hi-ji terkekek-kekek, lalu menyambung pula, “Coba lihat, aku cuma membuang sedikit barang begitu, tapi jelas akan mengubah betapa banyak kehidupan manusia, bukankah ini permainan yang paling menarik di dunia ini?”

Tho-hoa melongo seperti patung, sekian lamanya barulah dia menghela napas perlahan dan bergumam, “Kau sungguh iblis kecil.”

“Baik, tadi kau memaki aku tolol, memaki aku gila dan iblis kecil, jika begitu, mengapa kau menyusul ke sini?”

Tho-hoa menunduk, jawabnya dengan lirih, “Aku … aku cuma ingin tanya mengapa … mengapa kau pergi tanpa pamit.”

“Apa pun juga aku toh harus berangkat, pamit dan tidak apa gunanya?” ujar Siau-hi-ji. “Jika pamit dapat membuat kau melupakan diriku tentu tidak menjadi soal, cuma sayang kau kan tak dapat melupakan daku?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tho-hoa memandangnya dengan mata melotot, entah mengapa, air matanya lantas bercucuran.

“Apa yang kau tangiskan?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa. “Usiaku masih kecil, kan tidak dapat menjadi suamimu, apalagi kau sangat cantik, tidak perlu khawatir takkan mendapatkan suami.”

“Kau … kau sangat ….” Tho-hoa berteriak dengan suara serak, tapi ia tidak sanggup melanjutkan lagi, sukar baginya untuk memilih istilah yang cocok untuk melukiskan tindak-tanduk makhluk cilik yang binal ini. Mendadak ia membanting kaki terus mencemplak ke atap kudanya, ia pukul pantat kuda sekeras-kerasnya terus dilarikan secepat terbang.

Siau-hi-ji menggeleng-geleng kepala, katanya dengan gegetun, “O, perempuan … kiranya perempuan kebanyakan rada sinting.”

Dia membelai-belai bulu suri kuda putih dan bergumam pula, “Wahai, kudaku sayang, apabila kau pun cerdik seperti aku, maka jangan sekali-kali mendekati perempuan, lebih-lebih jangan mau ditunggangi perempuan, kalau tidak, bisa konyol dan sial kau, sebab bila marah, orang perempuan akan menjadikan kau sebagai sasaran pelampias marahnya …. Ai, kukira pantat kuda itu pasti akan bengkak dipukul si Tho-hoa.”

Ia lantas naik kudanya dan melanjutkan perjalanan ke depan. Tapi belum seberapa jauh, tiba-tiba seorang mengadang di tengah jalan.

Di bawah cahaya matahari terlihat jelas pakaian orang ini seputih salju, matanya bersinar, meski wajahnya tampak mengunjuk marah, sedikit pun tidak menakutkan, bahkan kelihatannya sangat menyenangkan.

Segera Siau-hi-ji dapat mengenalinya, yaitu si pemuda yang angkuh itu. Dengan tertawa ia menyapa, “Eh, kiranya kau berada di sini. Apakah kau sedang berjemur di sini?”

“Menunggu kau!” dengus pemuda itu.

“Menunggu aku?” Siau-hi-ji menegas dengan tertawa. “Tadi kau tidak menggubris diriku, sekarang malah ….”

“Tidak perlu banyak omong, serahkan!” bentak pemuda baju putih.

“Serahkan? Serahkan apa?” tanya Siau-hi-ji heran.

“Barang hasil tipuanmu itu,” kata si pemuda.

Kembali Siau-hi-ji tertawa, jawabnya, “O, kiranya maksudmu barang-barang itu. Jika kutahu kau menginginkan barang-barang itu tentu akan kusimpan untukmu. Tapi sekarang … ai, sekarang sudah kubuang seluruhnya.”

“Kau buang? Hm, memangnya kau ingin mendustai aku?” teriak pemuda baju putih dengan gusar.

“Untuk apa kudusta? Apa gunanya pula barang-barang rongsokan sebanyak itu?” ujar Siau-hi.

Setelah mengikik tawa, lalu ia berkata, “He, apakah kau tahu waktu marah wajahmu yang kemerah-merahan ini menjadi sangat cakap, sungguh mirip … mirip anak perempuan …. Sungguh aku kenal seorang anak perempuan, waktu marah mukanya kemerah-merahan dan sangat cantik, tampaknya dia dan kau adalah suatu pasangan yang setimpal, apakah mau kuperkenalkan kalian? ….”

Muka si pemuda baju putih bertambah merah, dia ingin memperlihatkan sikap yang lebih garang dan bengis, tapi justru tidak bisa, terpaksa ia hanya mendelik saja, katanya dengan suara keras, “Jika benar kau telah membuang barang-barang itu, maka harus kau ganti.”

“Kau minta ganti padaku?” tanya Siau-hi-ji.

“Ya, harus ganti!”

“Kedatanganmu ini benar-benar demi mengejar barang-barang itu?”

“Tentu!”

“Ah, kukira belum tentu,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Mati-hidup orang-orang ini tidak kau pikirkan apalagi cuma sedikit barang yang tertipu, mana lagi semua itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Kukira kau bukan … bukan mengejar barangnya, tapi … tapi mengejar diriku.”

Dengan muka merah si pemuda baju putih membentak, “Benar aku memang mengejarmu. Selagi usiamu masih kecil begini sudah sedemikian busuk perbuatanmu, kalau sudah besar apalagi!”

Siau-hi-ji meraba-raba kepalanya yang tidak gatal, tanyanya kemudian dengan tertawa, “Kau ingin membunuh aku?”

“Bunuh kau juga pantas,” seru si pemuda. “Cuma … cuma usiamu masih kecil, rasanya masih ada obatnya. Kalau kau mau mengangkat aku sebagai guru, setelah kudidik dengan baik, mungkin kau akan menjadi orang baik-baik.”

Siau-hi-ji menatapnya sejenak, habis itu mendadak ia tertawa terpingkal-pingkal, katanya, “Hahahaaah! Kau ingin menerimaku sebagai murid!?”

“Memangnya apa yang perlu ditertawakan?” sahut pemuda itu dengan gusar.

“Sebenarnya mempunyai guru muda secakap dirimu ini juga lumayan, cuma, apa yang dapat kau ajarkan padaku? Dalam hal apa kau lebih kuat daripadaku? Huh, kukira lebih tepat bila kau yang menjadi muridku.”

“Hm, kau ingin belajar silat tidak?” jengek pemuda baju putih.

“Memangnya kau kira ilmu silatmu lebih tinggi daripadaku?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tahukah bahwa aku ini jago nomor satu di wilayah Jwantiong (daerah tengah propinsi Sujwan)?” seru pemuda baju putih dengan gusar.

“Haha, jika benar jagoan kelas tinggi, tentu kau takkan lari ke sini, betul tidak?” ucap Siau-hi-ji dengan tenang. “Kedatanganmu ke sini bukan untuk berdagang dan juga tidak melancong, tapi seorang diri berada di daerah terpencil ini pasti kau ingin menghindari pencarian seseorang, betul tidak?”

Seketika air muka pemuda baju putih berubah, rupanya ucapan Siau-hi-ji itu dengan tepat mengenai lubuk hatinya. Tiba-tiba sorot matanya menjadi buas, bentaknya, “Siapa kau sebenarnya? Kau berasal dari mana?”

“Peduli siapa diriku? Kau pun tidak perlu urus kudatang dari mana,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kalau kau anggap ilmu silatmu cukup tinggi, boleh juga kau coba-coba dengan aku, yang kalah harus menjadi murid.”

“Baik, aku justru ingin tahu dari mana aliran ilmu silatmu,” jengek si pemuda baju putih.

“Ingat, kalah harus menjadi murid yang menang, kau sudah sanggup, tidak boleh mungkir janji ….” belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak tubuhnya mengapung dari punggung kudanya, kedua kakinya sekaligus menendang, yang diarah adalah kedua mata lawan. i

Sama sekali si pemuda baju putih tidak menyangka gerak tubuh Siau-hi-ji bisa sedemikian gesit dan cepat, ia benar-benar terkejut. Tapi ilmu silat pemuda ini memang juga tidak lemah, pengalaman tempurnya juga luas, dalam keadaan terkejut ia tidak menjadi gugup. Sebaliknya ia malah mendesak maju sambil mengegos ke samping, dengan demikian ia sempat memutar ke belakang Siau-hi-ji dan tanpa menoleh lagi sebelah tangannya terus menabok. Serangan ini sangat cepat, gayanya juga indah, Hiat-to yang diarah juga jitu seakan-akan di punggung juga bermata.

Tadinya Siau-hi-ji mengira sekali serang akan dapat mendahului musuh, siapa tahu kesempatan menyerang segera direbut oleh lawan. Cepat kedua kakinya memancal, ia berjumpalitan di udara, lalu turun beberapa depa di sebelah sana. Katanya dengan tertawa, “Eh, tunggu, tunggu dulu!”

“Tunggu apa?” terpaksa si pemuda baju putih menghentikan serangannya.

“Apakah betul kau mampu melihat dari mana asal aliran ilmu silatku?” tanya Siau-hi-ji.

“Pasti, dalam sepuluh jurus cukup,” jengek pemuda baju putih.

“Hah, aku tidak percaya,” Siau-hi-ji menggeleng dengan tertawa, berbareng kedua kepalan lantas menjotos. Meski tertawa, namun pukulannya cukup keras dan ganas, inilah ajaran yang diperolehnya dari Ha-ha-ji, yakni di balik tertawa terus menikam.

Pemuda baju putih ternyata kena dikerjai, walaupun tidak sampai terkena jotosan, tapi kesempatan menyerang dahulu tadi jadi berantakan dan berbalik kena dicecar oleh Siau-hi-ji.

“Hihi, kukira kau lebih baik ….” belum lanjut ucapan Siau-hi-ji, pemuda itu membarengi dengan menghantam dada lawan, ternyata dia menjadi nekat untuk gugur bersama Siau-hi-ji.

Sekali ini yang terkejut adalah Siau-hi-ji, sudah tentu dia tidak ingin merasakan hantaman lawan, cepat ia menangkis sambil tubuh mendoyong ke belakang terus menggeliat dan menerobos ke samping.

Mana si pemuda baju putih mau memberi kelonggaran, ia terus membayangi dan mengejar ke sana, kedua kepalan beruntun menghantam pula tanpa kenal ampun.

Terpaksa Siau-hi-ji melayani serangan lawan dengan sangat tangkasnya, terkadang dia memakai kepalan, mendadak berubah menjadi telapak tangan, gerak serangannya kadang-kadang keji, tiba-tiba cuma pancingan belaka, suatu saat keras, lain kali lunak dan macam-macam variasi lagi.

Begitulah Siau-hi-ji mengeluarkan segenap kemahirannya yang diperoleh dari para paman dan mamak di Ok-jin-kok, yaitu kombinasi kekejian Toh sat, kelicikan Im Kiu-yu, kekerasan Li Toa-jui, kelembutan To Kiau-kiau serta kepalsuan Ha-ha-ji.

Dengan ilmu silatnya itu sebenarnya sudah jarang ada tandingannya di dunia Kangouw, siapa tahu ilmu pukulan pemuda baju putih ini ternyata luar biasa dahsyatnya, serangan membadai dan membikin Siau-hi-ji hampir tak sempat bernapas.

Namun diam-diam pemuda baju putih juga terkejut, sungguh tak tersangka olehnya bahwa ilmu silat anak muda ini dapat berubah sebanyak ini sehingga sama sekali ia tak dapat menerka dari mana asal-usulnya.

“Hei, berhenti!” mendadak Siau-hi-ji berteriak.

“Baik, berhenti!” kata pemuda baju putih, tapi berbareng dengan ucapannya itu sekaligus ia menyerang pula enam kali.

Siau-hi-ji berkelit ke kanan dan mengegos ke kiri, pada kesempatan itu ia pun balas menghantam tiga kali, serunya, “Huh, beginikah caramu berhenti?”

“Hm, sekali ini aku takkan tertipu lagi,” jengek pemuda baju putih.

“Tapi sepuluh jurus yang kau sebut tadi sudah lalu, dapatkah kau lihat asal-usul ilmu silatku? Kalau tidak hendaklah lekas berhenti dan dengarkan keteranganku,” seru Siau-hi-ji sambil berkelahi.

Mau tak mau gerak serangan si pemuda baju putih menjadi rada kendur, kesempatan itu segera digunakan oleh Siau-hi-ji untuk melompat mundur, katanya sembari tertawa, “Coba katakan, dapatkah kau kenali aliran silatku?”

Terpaksa pemuda baju putih menghentikan serangannya, jengeknya, “Hm, dengan sendirinya sukar dikenali, pada hakikatnya ilmu silatmu tidak memakai aturan dan jelas bukan berasal dari sesuatu aliran.”

“Bukannya tidak beraliran, sebaliknya terlalu banyak alirannya sehingga kau sendiri bingung,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Coba katakan, dapatkah kau kenali aliran silatku?”

“Terlalu banyak alirannya? Aliran mana?” tukas pemuda itu.

“Baiklah kuberitahu, ilmu silatku ini berasal dari ajaran lima orang, ilmu silat kelima orang ini pun entah meliputi berapa banyak alirannya, ilmu silat masing-masing juga sangat ruwet, hebat dan juga aneh ….”

“Setiap aliran ilmu silat terkemuka di daerah Tionggoan boleh dikatakan kukenal seluruhnya, tapi tiada satu pun yang mirip dengan gaya ilmu silatmu, kukira kelima gurumu itu adalah sebangsa penjual obat kelilingan dan tukang ngamen di pasar?”

“Penjual obat dan pengamen? Hehe, kalau nama mereka kusebut, mustahil kau takkan berjingkat kaget. Mungkin waktu mereka mengasingkan diri kau sendiri masih menetek, tentu saja kau tidak tahu mereka.”

“Hm, beberapa jurus silat kembangan begitu mana dapat dibandingkan pula dengan ilmu silatku?” seru pemuda itu dengan gusar.

“Ilmu silatmu …. Ehm, boleh juga,” kata Siau-hi-ji. “Tapi kalau melihat potonganmu yang lemah lembut, sungguh sukar dibayangkan bahwa kau mau belajar jurus serangan yang menyerupai orang gila itu.”

“Hm, kau tahu apa?” jengek pemuda baju putih. “Ilmu silatku 108 jurus pukulan gila ini andaikan tidak dapat dikatakan nomor satu, sedikitnya juga terhitung nomor dua daripada berbagai ilmu pukulan di dunia persilatan pada jaman ini.”

“Hahaha, namanya 108 jurus pukulan gila, ternyata benar ilmu silat permainan orang gila,” Siau-hi-ji berkeplok dan tertawa. “Cuma sayang, orang cakap macam dirimu kenapa mesti belajar ilmu silat orang gila begini. Sungguh membikin tidak enak hati orang yang melihatnya.”

“Tidak enak hati dilihat, kalau dimainkan lebih-lebih membikin tidak enak hati orang yang melihatnya,” tukas pemuda itu.

“Tapi aku sendiri tidak merasakan sesuatu, aku pun tidak mau belajar ….” baru saja sampai di sini sekonyong-konyong ia menubruk maju dan menghantam dua kali.

Sekali ini si pemuda baju putih sudah berpengalaman, sebelumnya dia sudah waspada, maka ketika serangan Siau-hi-ji tiba, berbareng ia pun melancarkan serangan untuk membendung pukulan Siau-hi-ji itu.

Siau-hi-ji juga sudah kapok dan tidak berani lagi menghadapinya dengan keras lawan keras, segera ia bergerak memutar ke sana kemari sambil menonjok dan menghantam.

Namun daya tekanan “108 jurus pukulan gila” itu pun sangat mengejutkan, ilmu silat “gila” jenis ini sungguh jauh lebih lihai daripada ilmu silat Toh Sat, Im Kiu-yu dan lain-lain, Siau-hi-ji benar-benar tidak enak menghadapinya.

Setelah melayani belasan jurus pula, mendadak Siau-hi-ji berseru, “Berhenti dulu! Ilmu pukulanmu ini memang lumayan, aku ingin belajar.”

Dengan enteng pemuda baju putih melompat mundur, dadanya berjumbul-jumbul, napasnya rada terengah-engah. Diam-diam ia pun mengakui lawannya bukan lawan empuk.

Siau-hi-ji lantas berkata pula dengan tertawa, “Pantas orang bilang bahwa orang waras jangan sekali-kali berkelahi dengan orang gila, sebab pasti bukan tandingannya. Sekarang aku baru percaya ucapan itu memang tidak salah.”

“Jadi sudah tahu kelihaianku sekarang?” tanya pemuda baju putih.

“Cuma sayang kau bukan orang gila, kalau tidak ilmu pukulan yang kau mainkan itu pasti terlebih lihai,” kata Siau-hi-ji. “Tapi lama-lama jika terlalu sering memainkan ilmu pukulanmu ini, jangan-jangan kau akan menjadi gila sungguhan.”

Pemuda baju putih berkerut kening, katanya, “Jika kau ingin mengangkat guru padaku, kenapa kau bicara secara kurang ajar begini?”

“Aku cuma mengatakan ingin belajar ilmu pukulanmu dan tidak menyatakan hendak mengangkat guru padamu,” ujar Siau-hi-ji. “Padahal guru juga boleh belajar ilmu pukulan pada muridnya, betul tidak?”

“Memangnya kau ingin berkelahi pula?” jengek pemuda itu dengan gusar.

“Tidak, jangan berkelahi lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sekali kau keluarkan tenaga lagi segera kau akan mati dengan tujuh lubang (hidung, mata, telinga, dan mulut = tujuh lubang) keluar darah. Nah, kuberitahukan dengan maksud baik, janganlah kau tidak percaya lagi.”

Saking gusarnya pemuda itu berbalik tertawa, katanya, “Kau setan cilik ini membual seperti setan, kau kira dapat menggertak diriku.”

“Menggertak kau? Tidak, sama sekali aku tidak main gertak, tapi bicara sungguh-sungguh. Apakah kau tahu di dunia persilatan ada semacam ilmu gaib yang disebut ‘pukulan angin berbisa tujuh langkah’. Artinya, barang siapa terkena pukulan ini, kecuali berdiri tak bergerak, bila bergerak, maka tidak lebih jauh dari tujuh langkah orangnya pasti akan roboh dan tamat riwayatnya.”

“Omong kosong, di dunia ini mana ada ilmu pukulan begitu,” jengek si pemuda baju putih. Walaupun di mulut ia tidak percaya, tapi diam-diam ia pun merasa seram, kaki terasa lemas dan tidak berani bergerak lagi.

Sambil menatap orang dengan tajam, Siau-hi-ji berkata lirih, “Ilmu pukulanku ini sudah ratusan tahun kehilangan turunan, dengan sendirinya kau tidak tahu, dan tentu juga tidak percaya. Namun tanpa sengaja kudapatkan ajaran orang sakti dan berhasil meyakinkan ilmu pukulan ini, maka ….”

“Kau telah berhasil memukul aku satu kali, begitu bukan?” sambung pemuda itu dengan mendengus. Walaupun ia sengaja berlagak tak mengacuhkan ucapan Siau-hi-ji tadi, tapi dalam keadaan demikian, siapa pun pasti waswas dan tidak berani sembarangan melangkah. Maklumlah nama ilmu pukulan “tujuh langkah” itu cukup menakutkan.

“Hah, sekali ini ucapanmu memang tepat,” demikian Siau-hi-ji menanggapi, “cuma aku hanya memukul satu kali, bahkan memukul dengan perlahan. Asalkan kau mau mengangkat guru padaku, maka dapatlah kutolongmu.”

“Jika kau kira dengan beberapa patah katamu ini dapat menggertak diriku, maka keliru besar dan salah alamat,” jengek si pemuda baju putih.

“O, jadi kau tidak percaya?” Siau-hi-ji menegas. “Baik, sekarang kau boleh meraba tulang igamu yang nomor tiga di sebelah kiri, coba apakah di situ terasa kemeng atau tidak? Itulah gejalanya kalau terkena pukulan berbisa ‘tujuh langkah’ yang kukatakan tadi.”

“Hm ….” kembali pemuda baju putih mendengus, tanpa kuasa tangannya terus meraba tulang iga yang disebut Siau-hi-ji, tanpa terasa air mukanya lantas berubah juga.

Siau-hi-ji tampak menunduk memandang bayangan sendiri yang membayang di sebelah kaki, katanya, “Bagaimana, terasa sakit dan kemeng bukan?”

Walaupun jarinya rada gemetar, tapi di mulut pemuda itu tetap berteriak, “Sudah tentu sakit, setiap orang pasti mudah merasakan sakit di bagian ini.”

“Tapi itu bukan rasa sakit biasa melainkan rasa sakit khusus, rasanya seperti tertusuk jarum, bagai terbakar, sakit bercampur panas, betul tidak?” sembari bicara sorot mata Siau-hi-ji beralih ke muka lawannya, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Sekarang coba raba lagi … bukan, bukan di situ. Ya, ke kiri sedikit, ya di situ ….”

Begitulah tanpa terasa jari pemuda baju putih bergerak mengikuti komando Siau-hi-ji, mendadak Siau-hi-ji berseru, “Ya, betul di situ tempatnya, tekan jarimu sekuatnya!”

Benar juga, tanpa terasa jari pemuda baju putih menekan bagian tubuh sendiri dengan kuat. Tapi segera tubuhnya terasa kaku kesemutan, “bluk”, ia terguling dan tak dapat bergerak lagi.

“Hahaha!” Siau-hi-ji tertawa gembira, “betapa pun cerdikmu akhirnya kena kukerjai juga. Nah, apakah kau tahu cara bagaimana kau tertipu olehku?”

Walaupun takdapat bergerak, tapi mata pemuda baju putih melotot dengan geregetan, matanya merah membara, tapi mulut sukar berucap.

“Nah, dengarkan, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada pukulan berbisa ‘tujuh langkah’ segala dan dengan sendirinya aku pun tidak menguasai ilmu demikian itu. Namun di dunia ini memang benar ada semacam ilmu gaib yang disebut ‘Tiam-hiat-cat-meh’ (menutuk simpul darah memotong nadi).”

Bicara sampai di sini, Siau-hi-ji berlari ke sana dan menyeret kembali si kuda putih yang menyingkir pergi karena ketakutan tadi. Mata si pemuda baju putih terpentang lebih lebar seperti tidak sabar lagi, ingin mendengar lebih lanjut keterangan Siau-hi-ji.

Dengan perlahan baru Siau-hi-ji berkata pula, “Tiam-hiat yang kumaksudkan lain daripada Tiam-hiat yang dikenal umum. ‘Hiat’ yang kumaksud adalah darah dan bukan Hiat titik urat nadi. Tiam-hiat yang satu itu gayanya mati, sedangkan Tiam-hiat (tutuk darah) yang kumaksud adalah hidup.”

Sembari bicara ia terus tutuk pula dua Hiat-to di tubuh pemuda itu, lalu menyambung, “Dan inilah Tiam-hiat menurut pengertianmu. Hiat-to yang kututuk selalu berada di sini dan takkan berubah dan tak bisa bergeser, makanya kubilang Tiam-hiat adalah mati.”

Habis itu Siau-hi-ji menepuk dua kali pula di bawah iga pemuda itu dan berkata lagi, “Sedangkan menutuk darah adalah memotong nadi darahmu, kalau aliran darah tidak lancar, dengan sendirinya tubuhmu tak dapat bergerak. Karena darahmu senantiasa mengalir tanpa berhenti, maka tutuk darah harus tepat menutuk sedetik sebelum aliran darahmu tiba, dengan demikian barulah bisa tepat memotong jalan darahmu. Lantaran darah senantiasa mengalir, sebab itu Tiam-hiat yang kumaksudkan adalah hidup, sekarang kau paham tidak?”

Pemuda baju putih seperti terkesima mendengarkan kuliah Siau-hi-ji dan tanpa terasa menjawab, “Ya, paham.”

“Tapi Tiam-hiat untuk memotong jalan darah ini tidak boleh berlangsung terlalu lama, kalau lama orang yang tertutuk bisa mati,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sebab itu barusan sudah kubuka jalan darahmu yang terhenti tadi, makanya sekarang kau dapat bicara lagi.”

Walaupun marah, tapi ingin tahu juga pemuda itu, ia bertanya, “Jadi tadi kau memandangi bayangan di tanah adalah untuk menghitung waktu yang tepat mengenai aliran darahku? Lalu kau suruh aku menekan bagian tubuhku dengan sekuatnya.”

“Bagus!” Siau-hi-ji berkeplok. “Diberitahu satu segera paham tiga, kau memang anak cerdik.”

Pemuda itu mendongkol, tapi katanya, “Meski kau mahir sedikit ilmu Tiam-hiat segala, tapi yang kau pahami tidaklah banyak, pada hakikatnya kau tidak mampu menutuk diriku, makanya kau sengaja menipu aku agar menutuk diriku sendiri.”

“Betul, sedikit pun tidak salah,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa. “Soalnya orang yang mengajarkan ilmu Tiam-hiat padaku itu silatnya juga sangat rendah, tapi ilmu pertabibannya sangat tinggi, pengertiannya terhadap setiap bagian tubuh manusia boleh dikatakan sejelas dia memandang telapak tangan sendiri, dia dapat menghitung waktu-waktu tertentu serta garis aliran darah di tubuh manusia, tapi tidak tahu cara bagaimana menutuknya. Makanya aku pun terpaksa minta pertolonganmu.”

“Huh, akal bulus, terhitung apa?” jengek si pemuda baju putih dengan gemas.

“Akal bulus, katamu? Hm, apakah kau tahu untuk bisa menggunakan akal bulus begitu diperlukan betapa besar ilmu pengetahuan? Pertama aku membikin kau selalu waspada terhadap diriku, dengan demikian selalu mengumpulkan tenaga murni pada tangan dan jarimu. Kedua, aku sengaja mengarang nama ‘pukulan berbisa tujuh langkah’ yang menakutkan itu agar kau menjadi bimbang.”

Mau tak mau si pemuda baju putih menghela napas gegetun, katanya, “Cukuplah dengan kedua akalmu itu.”

“Tidak cukup,” seru Siau-hi-ji. “Paling sedikit aku pun harus paham dasar ilmu Tiam-hiat dan harus dapat menghitung dengan tepat saat aliran darahmu berdekatan dengan Hiat-to yang bersangkutan sehingga kau sama sekali tidak berjaga-jaga.”

Sampai di sini Siau-hi-ji lantas membusungkan dada dan berseru, “Nah, kepandaianku ini pada hakikatnya adalah paduan antara ilmu silat dan kecerdasan. Kalau ilmu silatku tidak tinggi, cara bagaimana dapat membuat kau waswas, bila kecerdasanku tidak cukup, mana lagi dapat membuat kau bimbang. Dari semua ini jelas dalam segala hal kau tidak dapat mengungguli aku, kalau kau mengangkat guru padaku rasanya juga tidak penasaran bagimu.”

“Mengangkat guru padamu? Hm, kau … kau mimpi!” bentak pemuda itu dengan gusar.

“Lho, sebelum bergebrak tadi kan sudah ada janji, mengapa kau menjilat ludah sendiri?” tanya Siau-hi-ji.

Wajah pemuda itu menjadi merah, jawabnya, “Kau bunuh aku saja!”

“Untuk apa kubunuh kau? Jika kau sengaja mungkir janji, biarlah kupotong hidungmu, kucungkil biji matamu, kuiris lidahmu dan ….”

“Mati saja aku tidak takut, masakah kutakut hal-hal begitu?” teriak pemuda itu.

“Benar kau tidak takut?” tanya Siau-hi-ji.

“Hm,” jengek pemuda baju putih.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, katanya dengan tertawa, “Baik, karena kau tidak takut, biarlah kuganti cara lain.”

“Cara apa pun tetap aku tidak takut!” teriak si pemuda baju putih.

“Kalau kugantung kau di atas pohon, kucopot celanamu dan kupukul pantatmu, kau takut tidak?” tanya Siau-hi-ji. Ia tahu ada sementara orang yang tidak takut mati, tapi kalau dibilang akan dilepas celana dan memukul pantatnya, maka hal ini akan membuatnya mati kutu.

Benar juga, air muka pemuda baju putih mendadak berubah, sebentar merah sebentar pucat. Kalau merah sampai merah padam, kalau pucat sampai pucat menghijau.

“Haha, akhirnya kau takut juga bukan? Nah, lekas panggil Suhu padaku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sampai gemetar tubuh pemuda itu karena menahan perasaannya yang bergolak, teriaknya dengan serak, “Kau … kau iblis ….”

“He, kau tidak panggil Suhu malah panggil iblis padaku …. Baik,” mendadak Siau-hi-ji berjongkok dan segera hendak menarik celana orang.

Tanpa disuruh lagi mendadak pemuda itu berteriak, “Suhu! Suhu ….”

Baru panggil dua kali, air matanya sudah lantas bercucuran.

Siau-hi-ji mengusapkan air mata orang, lalu berkata dengan suara halus, “Menangisi apa? Mempunyai guru macam aku apakah kurang baik? Apalagi kau sudah memanggil Suhu, menangis juga tidak ada gunanya …. He, kau menangis lagi, apa kau minta dipukul pantatmu?”

Sedapatnya pemuda itu menggigit bibir dan menahan air matanya.

“Nah, mesti begitu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Oya, kau harus memberitahukan padaku, siapa namamu?”

“Thi … Thi Sim-lam!” jawab pemuda itu.

“Lam (lelaki) atau Lan (anggrek)?” tanya Siau-hi-ji sambil memicingkan mata.

“Sudah tentu Lam lelaki.”

“Thi Sim-lam, lelaki berhati baja, bagus, nama yang bagus, hati kaum lelaki seharusnya keras seperti baja, tapi bentukmu serupa anak perempuan, sebaliknya namamu sedemikian keras.”

“Dan engkau?” tiba-tiba pemuda baju putih atau Thi Sim-lam, menatap Siau-hi-ji dan bertanya.

“Meski aku terlebih keras daripadamu, tapi namaku tidak sekeras dirimu, namaku Kang Hi … apakah kau tahu ikan, ikan di sungai itu. Nah, orang bilang ikan sungai sangat enak dimakan, pernahkah kau memakannya?”

“Aku … aku sangat ingin memakannya?” jawab Thi Sim-lam dengan menggereget.

Siau-hi-ji memandangnya dengan tertawa, mendadak ia mengulur sebelah tangannya ke depan mulut Thi Sim-lam dan berkata, “Kau ingin memakannya, nah, silakan!”

“Kau … kau ….” Thi Sim-lam melengak malah.

“Bukankah kau sangat ingin memakan dagingku?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Terus terang, apa pun yang terpikir dalam benakmu tak nanti bisa mengelabui aku, sekali kuterka saja lantas kena.”

Thi Sim-lam menghela napas panjang. Memang, selain menghela napas, apa yang dapat diperbuatnya atas Siau-hi-ji?

“Berapa umurmu tahun ini?” tanya Siau-hi-ji.

“Sedikitnya lebih dua tahun daripadamu.”

“Seumpamanya benar kau lebih tua dua tahun, tapi ilmu tidak membedakan tua atau muda, yang lebih mahir adalah guru, ini ….”

Sampai di sini, tiba-tiba dari kejauhan terdengar teriakan orang, “Siau-hi-ji! Kang Hi! Kau jangan pergi! Tidak boleh pergi!”

Seekor kuda secepat terbang berlari tiba, pakaian penunggangnya masih gemerlap, kuncirnya yang kecil-kecil bergoyang-goyang, sesudah dekat penunggangnya terus memberosot turun dan tidak main jumpalitan lagi. Mukanya kini tidak menyerupai bunga Tho pula, tapi pucat seperti mayat, matanya masih bersinar, namun sinar yang penuh rasa khawatir dan takut. Siapalagi dia kalau bukan si Tho-hoa.

Begitu berhadapan Tho-hoa terus merangkul Siau-hi-ji dan berkata dengan tersendat, “Syukurlah Alhamdulillah …. Dia … dia masih berada di sini.”

“Ada apalagi kau menguber diriku?” tanya Siau-hi-ji.

“Tolong, kumohon, janganlah engkau marah,” ucap Tho-hoa. “Engkau boleh memaki dan memukul diriku, tapi engkau harus … harus ikut kembali ke sana bersamaku.” Habis berkata air matanya pun bercucuran.

“Ai, tambah lagi seorang tukang menangis, sialan!” ucap Siau-hi-ji sambil mengusapkan air mata Tho-hoa dengan lengan bajunya. “Sudahlah, jangan menangis, kalau matamu bendul lantaran menangis jangan-jangan nanti kau harus ganti nama menjadi bunga jambu dan bukan bunga Tho lagi.”

Mendadak Tho-hoa mengikik tawa geli.

“Ya menangis ya tertawa, anak kucing meang-meong ….” Siau hi-ji berseloroh.

Tapi Tho-hoa lantas menangis lagi, lengan baju Siau-hi-ji ditariknya untuk mengusap ingusnya, lalu berkata, “Tadi setelah kutinggalkan pulang, dari tempat kejauhan kulihat perkemahan kami banyak dikerumuni orang, terdengar suara cambuk yang menggelegar disertai suara orang sedang membentak, ‘Ayo, dilarang bergerak, berbaris di sana, awas kusembelih kalian ….’ Aku tidak jadi mendekat dan cepat melompat turun dari kuda, aku merunduk ke dekat kemah di semak rumput yang lebat. Sesudah dekat, kulihat perkemahan kami telah dikelilingi satu gerombolan orang, semuanya bersenjata golok dan cambuk, garang dan buas sekali orang-orang itu seperti kawanan bandit.”

“Aha, ada bandit menarik juga,” kata Siau-hi-ji.

“Kawanan bandit itu telah mengurung saudagar-saudagar Han dan suku bangsa kami, kulihat mereka mencambuki suku bangsaku, sungguh ngeri, dan hancur hatiku menyaksikan kekejaman mereka.”

“O, kiranya bandit di padang rumput sedemikian buas,” kata Siau-hi-ji.

“Meski di padang rumput ini juga ada bandit, tapi bukan orang-orang macam begitu,” tutur Tho-hoa.

“Dari mana kau tahu? Apakah kau kenal kawanan bandit di padang rumput sini?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Walaupun bandit padang rumput juga bangsa Han, tapi supaya leluasa beraksi, mereka suka mengenakan pakaian kaum penggembala, sedangkan dandanan kawanan bandit tadi sekali pandang saja kutahu mereka datang dari Kwanlwe (dalam benteng tembok besar), kuda tunggangan mereka juga bukan kuda Tibet melainkan kuda Sujwan, kaki kuda Tibet panjang, kaki kuda Sujwan pendek, sekali lihat saja dapat membedakannya.”

Siau-hi-ji tak berolok-olok pula, ia mengernyitkan dahi dan berkata, “Jadi orang-orang itu jauh-jauh datang dari Kwanlwe, dengan sendirinya tujuan mereka bukan untuk merampas harta benda kalian, tapi ….”

“Benar, mereka tidak merampas harta benda melainkan mencari orang,” sela Tho-hoa.

“Mencari orang? Mereka hendak menculik? Kau akan diculik?” tanya Siau-hi-ji dengan terbelalak.

“Mereka mencari seorang lelaki bangsa Han, konon orang itu telah diuber hingga lari ke tempat kami ini, ada seorang pengintai mereka menyaksikan orang itu berada di perkemahan kami, sebab itulah mereka memaksa kawan-kawan kami menyerahkan orang yang dicari mereka itu.”

“Dan sudahkah orang itu diserahkan?” tanya Siau-hi-ji.

“Pada hakikatnya kami tidak tahu siapa yang mereka cari, seluruh perkemahan juga sudah mereka obrak-abrik dan tidak menemukannya, mereka menuduh kami menyembunyikan dia dan memberi batas waktu satu jam untuk menyerahkan orangnya, kalau tidak … mereka mengancam akan membunuh dan menodai saudara-saudara perempuan kami,” berkata sampai di sini Tho-hoa lantas menangis sedih. Dia mendekap di tubuh Siau-hi-ji dan berkata pula, “Makanya kususul kemari untuk memohon pertolonganmu, kutahu engkau serba pandai, harimau saja pernah kau bunuh beberapa ekor, betapa pun buasnya orang-orang itu tetap manusia dan tak dapat dibandingkan dengan kebuasan harimau ….”

“Kau salah,” kata Siau-hi-ji, “manusia terkadang lebih buas daripada harimau.”

“Tapi engkau harus kembali ke sana untuk menolong mereka, harus … harus ….”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, lalu bertanya, “Tahukah kau siapa yang dicari mereka?”

“Tadinya kukira yang dicari mereka adalah dirimu, tapi dari percakapan mereka kemudian kutahu yang dicari adalah seorang ‘bocah she Thi’. Apakah … apakah kau tahu siapa dia?”

“She Thi?” Siau-hi-ji menegas sambil mengerling binal, “O, aku … aku tidak tahu ….”

Sejak tadi Thi Sim-lam mengikuti pembicaraan mereka dengan melotot, kini mendadak ia berteriak, “Aku inilah she Thi, aku inilah yang mereka cari!”

Tho-hoa terkejut, ia menatap Thi Sim-lam dengan terbelalak heran.

“Tolol, mengapa kau mengaku,” ujar Siau-hi-ji sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Tapi Thi Sim-lam tidak menggubrisnya, teriaknya pula, “Adakah orang perempuan di antara kawanan bandit itu?”

“Ti … tidak ada,” sahut Tho-hoa ragu-ragu. Sungguh tak terpikir olehnya bahwa orang yang dicari kawanan bandit itu adalah anak muda yang cakap dan lembut ini. Seketika ia melenggong dan tidak menangis lagi.

Segera Thi Sim-lam berteriak pula, “Baik, mereka mencari diriku, biarlah kuikut ke sana!”

“Kau akan ke sana? Ah, jangan, jangan!” kata Tho-hoa.

“Hanya dengan kepergianku ke sana baru dapat menyelamatkan suku bangsamu, mengapa jangan?” kata Thi Sim-lam.

Tho-hoa menunduk, katanya dengan perlahan, “Orang seperti engkau, kalau ke sana kan sama saja seperti domba masuk mulut harimau? Mana kutega membiarkan kau mati konyol? Kukira lebih baik … lebih baik kau lari saja.”

“Hm, memangnya kau kira aku takut pada mereka?” jengek Thi Sim-lam. “Huh, orang-orang geblek macam mereka itu biarpun seratus orang bergabung menjadi satu juga tak dapat menandingi sebuah jariku.”

“Jika kau tidak takut pada mereka, mengapa jauh-jauh kau kabur ke sini?” ujar Tho-hoa.

“Aku … aku ….” Thi Sim-lam jadi gelagapan dan tak dapat menjawab.

“Ah, jangan-jangan yang kau takutkan hanya seorang perempuan, sebab itulah demi mendengar mereka itu lelaki semua, lalu kau tidak takut lagi,” kata Tho-hoa tiba-tiba.

Muka Thi Sim-lam menjadi merah, serunya, “Kau tidak perlu urus!”

“Aha, kiranya kau tidak takut pada lelaki melainkan cuma takut pada perempuan,” seru Siau-hi-ji sambil berkeplok. “Hah, penyakitmu ini ternyata hampir sama dengan diriku, sungguh aku pun kepala pusing bila melihat perempuan.”

“Biarlah aku ke … ke sana!” teriak Thi Sim-lam.

“Eh, kalau kau mati nanti, kan aku pun kehilangan murid,” kata Siau-hi-ji.

“Kutanggung pasti kembali ke sini,” seru Thi Sim-lam.

Dengan memiringkan kepala Siau-hi-ji berlagak berpikir, lalu berkata dengan tertawa, “Coba lihat, ksatria sejati bukan muridku ini, Tho-hoa?”

Tapi Tho-hoa memandang Thi Sim-lam dengan terkesima, katanya kemudian dengan berdoa, “Semoga Allah memberkati engkau.”

“Haha, ksatria menolong si cantik, kisah indah harus kusambut dengan baik. Baiklah, berangkatlah engkau!” habis berkata, Siau-hi-ji menepuk perlahan dua kali di punggung Thi Sim-lam dan segera pemuda itu melompat bangun.

“Dan engkau? ….” tanya Tho-hoa.

“Sudah ada seorang ksatria masakah belum cukup?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Biarlah kutunggu saja di sini.”

“Orang yang tidak suka menolong sesamanya, kelak tentu juga tiada orang yang menolong engkau,” omel Tho-hoa. Tanpa memandang lagi pada Siau-hi-ji, segera ia mencemplak ke atas kuda dan berseru, “Thi … ayolah engkau juga naik kudaku!”

Thi Sim-lam memandang sekejap ke arah Siau-hi-ji dengan ragu, tapi akhirnya ia mencemplak juga terus dilarikan secepat terbang.

Sambil mengikuti kabut debu yang mengepul makin jauh itu, Siau-hi-ji bergumam dengan tertawa, “Nona yang suka pacaran, cintanya pasti tidak teguh. Sekali Thi Sim-lam tergoda olehnya, entah kapan baru dia dapat melepaskan diri.” Perlahan ia tepuk leher kuda putihnya, lalu berkata pula, “Kudaku sayang, marilah kita pun pergi menonton keramaian. Tapi bila melihat kuda betina cantik janganlah kau mendekatinya, usia kita masih kecil, bila tergoda oleh perempuan, maka tenggelamlah selama hidupmu.”

Dalam pada itu Tho-hoa sedang melarikan kudanya secepat terbang, rambutnya yang panjang melambai tertiup angin dan mengusap muka Thi Sim-lam, tapi Thi Sim-lam seperti tidak merasakan sesuatu dan tanpa bergerak.

Tho-hoa merasakan hawa hangat napas Thi Sim-lam mengembus ke kuduknya hingga membuatnya kerih, namun sedapatnya dia pegang tali kendali dengan kencang, katanya sambil melirik ke belakang, “Apakah dudukmu cukup kukuh?”

“Ehm,” sahut Thi Sim-lam.

“Jika dudukmu tidak enak, sebaiknya kau rangkul aku agar tidak terperosot,” kata Tho-hoa pula.

“Ehm,” kembali Thi Sim-lam menjawab singkat dan tanpa rikuh ia benar lantas merangkulnya.

Seluruh badan Tho-hoa merasa lemas semua, mendadak ia berkata, “Asalkan kau dapat menyelamatkan suku bangsaku, apa pun … apa pun akan kuberikan padamu.”

“Ehm,” lagi-lagi Thi Sim-lam hanya mendengus saja.

Tho-hoa mencambuk kudanya lebih keras. Perjalanan ini sebenarnya tidak dekat, tapi Tho-hoa merasa hanya sebentar saja sudah sampai. Mereka sudah dapat melihat tanda warna kuning di kejauhan dan dapat mendengar suara jerit takut orang banyak.

“Apakah kita terjang masuk begini saja?” tanya Tho-hoa sesudah dekat.

Mendadak sesosok bayangan putih melayang dari belakang, Thi Sim-lam yang duduk di belakangnya itu tahu-tahu sudah berdiri di depan sana. Tho-hoa terkejut dan bergirang, cepat ia menahan kudanya.

Segera Thi Sim-lam membentak ke arah perkemahan, “Ini Thi Sim-lam berada di sini! Siapa yang mencari aku?”

Jerit takut dan mencaci maki di dalam kemah seketika sirap. Terdengar suara angin mendesir, baju Thi Sim-lam berkibar terembus angin. Mendadak seorang bergelak tertawa di dalam kemah dan berteriak, “Bagus, bocah she Thi, kau memang pemberani, tidak sia-sia juga saudara keluarga Li kami menunggu di sini.”

“Hm, memang sudah kuduga pasti kalian,” jengek Thi Sim-lam. “Jika yang kalian kehendaki adalah diriku, nah, tunggu apalagi? Ayolah keluar ikut padaku!” Berbareng ia terus putar tubuh dan melangkah ke sana dengan perlahan.

Serentak suara ramai berjangkit dari dalam kemah, belasan ekor kuda menerobos keluar sekaligus, di tengah teriakan seram tercampur gemuruh lari kuda, sungguh membuat hati orang berdebar.

Namun Thi Sim-lam masih tetap berjalan dengan perlahan, bahkan berkedip saja tidak.

Menyaksikan itu dari jauh diam-diam Tho-hoa khawatir dan girang. Girangnya karena pemuda she Thi memang ksatria sejati dan gagah berani. Khawatirnya karena bentuk Thi Sim-lam yang lemah lembut itu mungkin bukan tandingan kawanan bandit itu.

Begitulah belasan penunggang kuda dalam sekejap saja telah mengepung Thi Sim-lam di tengah. Tapi Thi Sim-lam tetap tidak menggubris, walaupun kawanan bandit itu sama bersenjata, namun tiada seorang pun berani turun tangan.

Setelah berjalan agak jauh barulah Thi Sim-lam berhenti, lalu menjengek, “Baiklah, sekarang katakan, untuk apa kalian mencari diriku?”

Seorang lelaki berewok dan bermata satu paling depan segera berteriak dengan bengis, “Kami ingin tanya kau dulu, benda itu berada padamu bukan?”

“Betul, berada padaku,” jengek Thi Sim-lam. “Tapi melulu beberapa orang macam kalian ini tidak sesuai untuk mengincarnya. Jika kalian mengira kedatanganku ke sini adalah untuk menghindari pencarian kalian, maka salahlah kalian.”

“Keparat?” teriak si mata satu dengan murka, mendadak ia tarik tali kendalinya, kudanya berjingkrak, lalu menerjang maju, cambuknya menggeletar terus menyabet laksana lilitan ular.

“Turun!” bentak Thi Sim-lam nyaring, sekali tangannya bergerak, entah cara bagaimana tahu-tahu ujung cambuk sudah dipegangnya terus disendal, kontan tubuh si mata satu yang besar itu mencelat dan jatuh terguling jauh di sana.

Ketika Thi Sim-lam memutar cambuknya, kuda lawan sama meringkik kaget dan berjingkrak mundur. Mendadak sinar golok berkelebat, dua penunggang kuda menyergap dari belakang, golok besar terus menabas kuduk Thi Sim-lam.

Tanpa menoleh Thi Sim-lam sedikit mendak ke bawah, kedua golok musuh menyambar lewat di atas kepalanya, sebelum lawan sempat berbuat lain, cambuk Thi Sim-lam sudah menyambar, ujung cambuk menutul perlahan bagian iga kedua musuh itu dan kontan terguling dari kuda mereka. Seorang bahkan ketambahan disepak oleh kaki kuda sendiri sehingga terpental, golok yang dipegang pun menabas sebagian pipi sendiri sehingga darah bercucuran. Seorang lagi sebelah kakinya masih tersangkut pada injakan pelana dan sukar terlepas, akibatnya dia terseret oleh kudanya yang lari ketakutan.

Begitulah dalam sekejap saja Thi Sim-lam berhasil membereskan tiga lawan dengan mudah, keruan sisa musuhnya menjadi takut.

“Hehe, kiranya cuma begini saja kepandaian keluarga Li, tapi berani mengincar barangku?” jengek Thi Sim-lam.

“Kalau saudara keluarga Li tidak sesuai mengincar barangmu, bagaimana kalau saudara keluarga Mo?” demikian tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, ketus suara itu, perlahan seperti mengambang terbawa angin dan membuat telinga si pendengarnya merasa risi.

Seketika air muka Thi Sim-lam berubah pucat, tanpa terasa ia bergumam, “Tiga utas bulu dari Gobi-san ….”

“Hehe, kiranya kau pun kenal nama kami!” kembali suara seorang menanggapi, suaranya tajam seperti ayam berkotek yang lehernya tercekik.

Perlahan Thi Sim-lam membalik tubuh, terlihatlah seekor kuda tinggi besar berdiri di belakangnya, di atas pelana ukuran besar yang di buat secara khusus duduk berjajar tiga orang.

Orang pertama sekilas pandang mirip anak kecil berumur lima-enam tahun, tapi kalau diteliti barulah jelas kelihatan bahwa “bocah” ini sudah berjenggot. Jenggotnya yang putih halus itu mirip bulu kera.

Bukan saja bagian mulutnya berbulu, bahkan di atas matanya, bagian dahi, kuduknya, telapak tangan …. setiap bagian tubuh yang dapat terlihat, semuanya berbulu.

Anggota badannya tidak cacat atau kurang, cuma tempatnya yang keliru, mata kiri lebih tinggi daripada mata kanan, mulut merot hingga ujung bawah dekat dengan tenggorokan, hidungnya hampir terbalik menjungkit ke atas. Bentuknya itu pada hakikatnya tidak memper manusia, atau manusia yang kurang sempurna karena salah cetak.

Merinding rasanya Thi Sim-lam menyaksikan wajah buruk itu meski di tengah hari bolong.

Orang aneh itu pun sedang memandang Thi Sim-lam, katanya sambil mengekek, “Pernahkah kau dengar nama ‘makan hati kunyah jantung’ Mo Mo-diong? Nah, itulah diriku sendiri. Paling baik jangan kau pandang padaku, jika pandang agak lama mungkin perutmu bisa sakit.”

Memang memuakkan juga orang ini, Thi Sim-lam tidak ingin mendengar ucapannya, tapi justru tak bisa tidak harus mendengarnya, habis mendengar rasanya ingin muntah. Maka cepat ia pandang orang kedua.

Bentuk orang kedua pun tidak lebih “cakap” daripada Mo Mo-diong atau si ulat berbulu, tubuhnya paling tidak lebih besar satu kali lipat, malahan lehernya paling sedikit tiga kali lipat lebih panjang, leher yang kecil panjang itu justru menyangga sebuah kepala yang kecil dan meruncing ke atas, kepala dan leher hampir sama besarnya, rambutnya kaku berdiri laksana landak, tapi mulutnya merongos, dagu bawah menonjol keluar dan hampir dapat dibuat gantungan botol.

Sebisanya Thi Sim-lam menahan perasaannya, tegurnya, “Dan kau inikah Mo Kong-keh (si ayam jantan she Mo)?”

Orang itu tertawa lebar sehingga kelihatan barisan giginya yang mirip gergaji, jawabnya, “Kau jangan menggreget, sudah biasa, barang siapa melihat aku pasti geregetan.”

Sungguh Thi Sim-lam ingin mendekap telinganya, sebab suara orang ini pada hakikatnya bukanlah manusia sedang bicara melainkan lebih mirip ayam berkotek pada waktu akan disembelih.

Kalau bentuk tampang kedua orang ini sedemikian jelek, maka Thi Sim-lam benar-benar tidak ingin memandang lagi orang ketiga. Namun mau tak mau dia memandang juga. Ia pikir orang ketiga ini mungkin lebih enak dipandang, ia tidak percaya ada manusia lain yang lebih buruk rupa daripada kedua orang tadi.

Mendingan jika tidak dilihatnya, sekali pandang, ya Allah! Kalau kedua orang tadi masih ada sedikit bentuk manusia, orang ketiga ini sungguh sedikit pun tiada berbentuk manusia, tapi lebih tepat disebut Kingkong, itu raksasanya orang hutan.

Jika tubuh Mo Kong-keh lebih besar satu kali lipat daripada Mo Mo-diong, maka tubuh si “Kingkong” ini paling sedikit empat kali lipat lebih gede daripada Mo Mo-diong.

Kalau leher Mo Kong-keh panjang dan kecil, si “Kingkong” ini ternyata sama sekali tidak punya leher, buah kepalanya itu pada hakikatnya tumbuh langsung dari pundaknya.

Mo Mo-diong berbulu putih dan halus, adapun bulu si “Kingkong” ini tebal, kasar dan hitam, bahkan mulut dan hidung pun tak kelihatan, hanya sepasang matanya yang bersinar buas.

Di tempat sembunyinya, Siau-hi-ji juga dapat melihat dengan jelas bentuk ketiga orang ini, sungguh ia ingin tertawa geli. Ia tidak habis pikir cara bagaimana ketiga orang itu dicetak dan dilahirkan oleh ibunya. Jika anak-anaknya berbentuk demikian, maka wajah bapak biangnya sungguh sukar untuk dibayangkan.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa ketiga bersaudara she Mo ini adalah tokoh kalangan hitam yang terkenal kejam dan keji selama belasan tahun terakhir ini. Siapa yang kepergok mereka, jangankan tertawa, ingin menangis saja tak dapat menangis.

Sudah sejak tadi Siau-hi-ji mengikuti jejak mereka secara diam-diam, ia lihat beberapa Li bersaudara mengejar Thi Sim-lam, dilihatnya pula Mo bersaudara ini pun mengintil di belakang Li bersaudara. Kuda tunggangan bersama ketiga Mo bersaudara itu sungguh tinggi besar, tapi langkahnya enteng dan cepat sehingga sepanjang jalan tak diketahui oleh Li bersaudara.

Tentu saja sekarang Li bersaudara itu sudah tahu, lelaki kekar yang tadi kelihatan kereng itu kini jadi mengkeret demi nampak ketiga makhluk aneh ini, tanpa terasa tubuh mereka gemetar.

Diam-diam Siau-hi-ji heran. Jelas sasaran ketiga makhluk aneh itu bukankah pihak Li bersaudara, mengapa mereka jadi ketakutan? Apakah ketiga makhluk aneh itu mungkin keji dan suka membunuh siapa pun tanpa kenal ampun.

Dilihatnya badan Li bersaudara itu gemetar dan bermaksud mengeluyur pergi. Belasan saudara keluarga Li itu memang cekatan dalam hal menunggang kuda, tanpa tanda apa pun kuda mereka tampak mundur perlahan.

Tiba-tiba Mo Mo-diong bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha! Sungguh aneh, bocah she Thi ini belum lagi kabur, tapi orang she Li sudah ingin mengeluyur pergi lebih dulu.”

Satu di antara belasan Li bersaudara itu cepat memberi hormat dan menyeringai, “Kami bersaudara tidak berani berebut jasa dengan para Cianpwe, benda yang berada pada orang she Thi ini kami pun tidak ingin menerima bagiannya, sebab itu biarlah kami berangkat lebih dulu.”

Mo Kong-keh tertawa terkekeh, katanya, “Baru melihat kami segera kalian hendak pergi, apakah barangkali kalian merasa jijik melihat rupa kami ini?”

Orang she Li tadi menjadi pucat dan tambah gemetar, jawabnya, “Ah, mana … mana kami … be … berani.”

“Jika tidak berani, mengapa mau mengeluyur pergi?” tanya Mo Kong-keh.

“Ah, inilah engkau yang keliru, saudaraku,” ujar Mo Mo-diong tertawa. “Kaki kuda bukan tumbuh di tubuh mereka, kaki mereka sendiri kan tak bergerak, yang bergerak adalah kaki kuda.”

“O, jika begitu bukanlah salah mereka melainkan kuda mereka yang tidak tahu aturan,” kata Mo Kong-keh.

Cepat orang she Li tadi menyambung, “Ben … benar, ku … kuda kami ….”

“Pantas mampus kuda-kuda itu,” ujar Mo Kong-keh.

Baru habis ucapannya, mendadak Mo Sing-sing, si Kingkong, melompat turun dari kudanya. Meski tubuhnya besar, namun kedua lengannya terlebih panjang dan besar sehingga hampir menyentuh tanah. Tubuh segede itu ternyata tidak mengurangi kegesitan gerak-geriknya. Sekali lompat tahu-tahu sudah berada di depan kuda pertama para Li bersaudara, sekali menjotos, tanpa bersaudara sedikit pun kontan kuda itu roboh terkulai, kepalanya hancur luluh kena jotosan itu.

Mau tak mau Siau-hi-ji terperanjat menyaksikan itu, diam-diam ia mengakui betapa hebat tenaga orang.

Dalam pada itu tiga ekor kuda lain sudah roboh pula, semua kepala terpukul hancur. Kuda lain sama meringkik takut, tapi Mo Sing-sing terus memburu maju, setiap ekor diberi tonjokan satu kali laksana menggepuk semangka saja, dalam sekejap belasan ekor kuda itu sudah roboh binasa tanpa kepala.

Para Li bersaudara itu sama terperosot jatuh, semuanya pucat lesi bagai mayat. Seorang di antaranya mendadak menjerit terus berlari ke sana, tampaknya ia menjadi gila karena ketakutan.

“Eh, ada lagi yang tidak menurut,” kata Mo Kong-keh. Sekonyong-konyong ia melayang ke sana dengan kepala di depan dan kaki di belakang laksana anak panah pesatnya. “Blang” kepalanya yang menyerupai kepala jago itu tepat menumbuk punggung orang yang lari itu.

Orang itu tidak sempat menoleh, tahu-tahu tertumbuk dan tulang punggungnya patah terus terkulai. Tapi sebelum roboh Mo Kong-keh keburu menangkap bahunya terus dilemparkan ke belakang sambil berseru, “Untukmu saudaraku, inilah, santapan kegemaranmu!”

“Haha, ada bakpau masih hangat-hangat,” seru Mo Mo-diong sambil tertawa. Sementara itu tubuh lelaki yang dilemparkan Mo Kong-keh itu telah melayang lewat di atas kepala orang banyak, ketika tepat di atas kepala Mo Mo-diong, mendadak tangannya yang kecil terus merogoh ke dada lelaki itu, ia hanya merogoh secara perlahan saja, tubuh orang itu masih terus melayang ke sana, darah tampak memancur keluar, lalu terbanting jatuh di tanah dengan berlumuran darah, dadanya ternyata sudah berlubang.

Dalam pada itu tangan Mo Mo-diong sudah memegang satu buah hati manusia yang merah berdarah, bahkan jelas kelihatan masih berdenyut.

“Hehe, apakah di antara hadirin ada yang pingin makan bakpau? Masih hangat-hangat, harum dan sedap,” demikian kata Mo Mo-diong dengan tertawa.

Keruan wajah Li bersaudara pucat sebagai mayat. Air muka Thi Sim-lam juga berubah.

“Tampaknya kalian tak berminat makan enak, untung bagiku,” kata Mo Mo-diong pula dengan tertawa. Menyusul hati manusia yang dipegangnya terus digigitnya separo, lalu dikunyahnya dengan berkeriat-keriut seperti orang makan kacang goreng, darah pun merembes keluar dari mulutnya.

Badan para Li bersaudara serasa lemas lunglai dan tak sanggup berdiri lagi, tanpa terasa Thi Sim-lam menutupi mulut sendiri, hampir saja ia muntah. Bahkan Siau-hi-ji juga merasa muak menyaksikan adegan luar biasa itu.

Sudah sering Siau-hi-ji menyaksikan Li Toa-jui makan daging manusia, tapi cara makannya terasa jauh lebih “beradab”, bahkan mengutamakan cara mengolahnya apakah lebih enak dimasak tim kuah, diang-sio atau digoreng, waktu makan juga sopan santun dan tidak menakutkan orang.

Tapi cara makan Mo Mo-diong sekarang ini sungguh tak pernah dilihat Siau-hi-ji, pada hakikatnya menjijikkan, terasa biadab dan rakus, tidak paham cara orang menikmati santapan enak. Seumpama ingin makan manusia, minimal juga harus belajar cara makan seperti Li Toa-jui itu.

Namun besarnya tenaga Mo Sing-sing, kegesitan Mo Kong-keh serta kecepatan tangan Mo Mo-diong ini, semuanya membuat orang terkejut pula. Untuk hal ini Siau-hi-ji harus mengakui kelihaian mereka. Lebih Mo Mo-diong hanya sekali merogoh saja dapat mengorek keluar hati manusia yang menjadi sasarannya, baik kecepatannya, terutama ketepatan tempatnya yang harus dirogoh ternyata tidak meleset sedikit pun, apa pun juga Siau-hi-ji merasa kagum sekali.

Karena itu ia sengaja berdiam diri dan ingin menonton lebih lanjut. Dilihatnya dalam sekejap Mo Mo-diong sudah makan habis hati manusia tadi, bahkan darah yang meleleh di ujung mulutnya juga terjilat bersih, lalu ia menepuk perut sendiri dan berkata dengan tertawa, “Sudah dekat musim rontok, obat kuat harus dimakan tepat pada waktunya. Lihatlah kalian, baru habis makan kan semangatku lantas bertambah!”

Benar juga, seketika Mo Mo-diong tampak bersemangat, bukan saja suaranya tambah lantang, bahkan sorot matanya juga tambah terang, mukanya juga bersemu merah.

“Hm, apakah kalian sengaja pamer kekuatan padaku?” Sim-lam menjengek.

“Eh, jangan lupa, dalam tubuhmu juga terdapat sebuah begini,” ujar Mo Mo-diong dengan tertawa.

“Jika kau sayang bakpaumu kumakan, hendaklah lekas serahkan barang itu agar aku tidak perlu membuang tenaga untuk bergebrak, kalau mengeluarkan tenaga aku lantas kepingin makan bakpau lagi.”

“Hm, jangan kau harap!” bentak Thi Sim-lam, mendadak ia melompat mundur. Rupanya ia pikir jalan paling selamat adalah kabur.

Di luar dugaan, tahu-tahu Mo Sing-sing sudah mengadang di depannya, kedua lengannya yang panjang itu terpentang, betapa pun Thi Sim-lam hendak menerobos pasti akan kena bekuk.

“Haha, kepala yang indah begitu, sayang kalau kuhancurkan,” kata Mo Sing-sing dengan tertawa.

Hanya dua kalimat saja Mo Sing-sing berbicara, lambat lagi ucapannya, tapi sekaligus Thi Sim-lam sudah memberondong lawannya belasan kali pukulan dan tepat mengenai sasarannya, terdengar suara “blak-bluk” berulang-ulang, dada, perut dan bahu Mo Sing-sing benar-benar tergenjot dengan keras.

Tapi Mo Sing-sing menganggapnya seperti tidak kena saja, tubuhnya bergeming, bahkan mulutnya tetap mengeluarkan ucapannya tadi, pukulan itu malah seperti menambahkan semangatnya.

Habis memukul 14 kali muka Thi Sim-lam sampai pucat dan musuh tetap diam saja, ia tidak mampu melontarkan pukulan ke-15 lagi, ia berdiri terkesima.

“Sudah habis?” tanya Mo Sing-sing sambil melonggarkan napas.

“Habis,” jawab Thi Sim-lam dengan menggereget.

“Baik, sekarang giliranku!” kata Mo Sing-sing. “Wuuutt!” mendadak sebelah tangannya menghantam.

Mana bisa Thi Sim-lam menahan pukulan dahsyat itu, cepat ia mendak ke bawah dan menerobos lewat di bawah ketiak orang, berbareng sebelah kakinya menjegal dan ditambahi pula dengan sedikit pukulan.

Thi Sim-lam tidak berani memandang cara jatuh orang yang serba konyol itu, tapi ia terus melompat ke depan. Mendadak di depan menyembul keluar sebuah benda, ternyata sebuah kepala yang menyerupai kepala ayam jantan. Waktu ia menoleh, dilihatnya Mo Sing-sing sudah melejit bangun dan sedang tertawa lebar. Sedangkan dari sebelah kiri tiba-tiba terjulur sebuah tangan kecil berbulu seperti tangan kera dan berkata, “Serahkan barangnya!”

Dari gerakan ketiga orang itu, sejak tadi Siau-hi-ji sudah tahu Thi Sim-lam pasti tidak mampu lolos, berkelahi jelas juga bukan tandingan mereka. Diam ia menghela napas dan membatin, “Tampaknya aku harus ikut campur tangan, walaupun sang guru juga belum tentu mampu menyelamatkan si murid, tapi barang yang dibawa muridnya sekali-kali tidak boleh direbut orang.”

Dilihatnya Thi Sim-lam sudah terkepung di tengah. Sambil menggosok-gosok kepalan segera Siau-hi-ji hendak menerjang keluar. Tapi pada saat itulah tiba-tiba terdengar kumandang suara keleningan kuda dari kejauhan. Menyusul lantas terlihat sesosok bayangan merah, seperti gumpalan api.

Gumpala api itu ternyata terdiri dari seorang bersama kudanya, pakaiannya merah, kudanya juga merah. Semula hanya kelihatan titik merah, tapi dalam sekejap saja sudah dekat.

Waktu terdengar kumandang suara keleningan, hati Li dan Mo bersaudara serta Thi Sim-lam sama terkesiap, ketika nampak munculnya orang bersama kudanya yang merah membara itu, belasan orang seketika terkesima seperti patung.

Terdengar suara nyaring merdu membentak, “Seluruhnya ada 19, siapa pun dilarang bergerak!”

Menyusul cambuk yang juga berwarna merah berputar dan menyabet secepat kilat, dalam sekejap saja para Li bersaudara sama terguling dan meringis kesakitan, cambuk orang menyambar tiba, tapi para Li bersaudara itu tidak berani lari dan juga tidak berani menangkis, ingin menjerit saja tampaknya juga tidak berani, terpaksa mereka hanya menggereget menahan rasa sakit.

Penunggang dan kudanya yang berwarna merah itu terus mengitar satu kali, para Li bersaudara seluruhnya terkapar. Diam-diam Siau-hi-ji bersorak memuji permainan cambuk orang, ia pun bersyukur bahwa Thi Sim-lam mempunyai seorang kawan selihai itu sehingga dirinya tidak perlu lagi turun tangan menolongnya.

Siau-hi-ji tidak tahu bahwa air muka yang berubah paling pucat bukan lain daripada Thi Sim-lam sendiri. Maklumlah, Siau-hi-ji benar-benar terpesona oleh pendatang yang hebat sehingga tidak sempat mengamati orang lain.

Kalau ketiga Mo bersaudara terlalu buruk rupa, maka pendatang ini sungguh teramat cantik, pada hakikatnya serupa bidadari yang baru turun dari kayangan. Bajunya merah laksana bara, wajahnya juga bergincu merah bercahaya, kalau cambuknya serupa ular berbisa dari neraka, maka matanya bersinar laksana bintang di langit. Cambuknya berputar, matanya mengerling.

Diam-diam Siau-hi-ji gegetun, batinnya, “Asalkan dapat memandang sekejap dua saja olehnya, biarpun dicambuk dua-tiga kali juga bukan soal. Namun … namun sabetan cambuknya sungguh teramat keji. Rupanya pemeo yang mengatakan wanita yang kelewat cantik, hatinya juga semakin keji, tampaknya memang tidak salah.”

Sementara itu para Li bersaudara yang terguling dan merangkak di tanah karena cambukan nona baju merah, tadi mereka masih mampu merintih, tapi kemudian merintih saja tidak sanggup, apalagi bergerak. Namun cambuk si nona baju merah tidak pernah berhenti menyabet, matanya mendelik, wajahnya bersungut, dinginnya sungguh menakutkan orang yang berani memandangnya.

Sekonyong-konyong Thi Sim-lam berteriak, “Ada permusuhan apa antara mereka denganmu, mengapa kau menghajar mereka sekeji itu?”

“Hm, setiap orang jahat di dunia ini adalah musuhku yang tak dapat kuampuni,” jengek si nona baju merah.

“Kau ber … berhenti!” seru Thi Sim-lam pula dengan serak.

“Kau minta aku berhenti, aku justru ingin menghajar terus!” jawab si nona baju merah. Berturut-turut ia menyabet lagi belasan kali, habis itu mendadak berhenti. Ia memutar kudanya, dihadapinya ketiga Mo bersaudara, matanya menatap tajam, jengeknya, “Bagus, kalian tidak angkat kaki, cukup cerdik, tapi aku pun tidak melupakan kalian.”

“Nona suruh kami jangan pergi, dengan sendirinya kami menurut,” jawab Mo Mo-diong sambil tertawa.

“Tahukah kau mengapa cambukku belum kugunakan terhadap kalian?” tanya pula si nona baju merah.

“Tidak tahu,” sahut Mo Mo-diong.

“Orang yang merasakan cambukanku boleh hidup, yang tidak merasakan cambukanku harus mati,” kata si nona pula.

“Tapi apakah nona tahu sebab apa kami tidak pergi?” Mo Mo-diong balas tanya.

“Memangnya kau berani pergi?” ujar si nona.

“Hah, sebabnya kami tidak pergi adalah karena orang lain takut padamu, tapi kami bersaudara tidak takut,” kata Mo Mo-diong dengan tertawa aneh.

Seperti sudah janji sebelumnya, ketiga Mo bersaudara itu serentak menubruk maju. Kepala Mo Kong-keh yang runcing itu menumbuk ke pinggang si nona, kepalan Mo Sing-sing juga lantas menjotos kepala kuda, sepasang cakar kera Mo Mo-diong terus mencolok mata lawan secepat kilat.

Melihat serangan cepat lagi berbahaya itu sungguh Siau-hi-ji tidak berani membayangkan cara bagaimana si nona akan menangkisnya. Serangan ketiga orang itu mengarah bagian atas, tengah dan bawah, andaikan si nona dapat menyelamatkan kedua matanya tentu juga tak dapat mengelakkan serangan yang menuju pinggangnya, umpama pinggang juga dapat terhindar, tentu kepala kudanya akan remuk.

Tak tahunya hanya terdengar si nona membentak, “Cari mampus ya!” Berbareng itu ia bersiul perlahan, mendadak kuda merah tunggangannya itu berdiri menegak, kedua kaki depan kuda itu terus menggepruk kepala si Kingkong.

Sekalipun Mo Sing-sing tahan pukul kepalan manusia, ternyata tidak sanggup menahan injakan kaki kuda, sebisanya ia berusaha mengelak, namun tidak urung pundaknya tetap terinjak sehingga jatuh terguling.

Saking kagumnya hampir saja Siau-hi-ji bersorak gembira, walaupun sudah diduganya bahwa ilmu silat si nona baju merah pasti sangat lihai, tapi tak terpikir olehnya bahwa kuda tunggangannya juga lain daripada yang lain.

Waktu ia berpaling ke sana, terlihat Mo Mo-diong dan Mo Kong-keh juga menggeletak semua, kedua tangan Mo Mo-diong patah sebatas pergelangan tangan, sedang kepala Mo Kong-keh pecah terpisah menjadi dua.

Biarpun tajam pandangan Siau-hi-ji, namun ia cuma mempunyai sepasang mata, sempat melihat sebelah sini, sukar lagi memandang sebelah sana pada saat yang sama, sama sekali ia tidak tahu cara bagaimana si nona baju merah membereskan kedua lawan yang lain. Tanpa turun dari kudanya, hanya sekejap saja nona cantik itu sudah membereskan ketiga makhluk aneh itu, sungguh sukar dibayangkan betapa tinggi kepandaiannya.

Namun Thi Sim-lam cukup kenal kepandaian si nona baju merah, rupanya ia pun sudah tahu apa yang bakal menimpa diri ketiga orang aneh itu, makanya sama sekali ia tidak mengunjuk rasa kaget, ia tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.

Si nona baju merah tidak menggubris Thi Sim-lam, dia mengendarai kudanya memutar satu lingkaran, cambuknya tetap menyabet ke sana ke sini, setiap tubuh yang sudah menggeletak itu dicambuknya untuk mengetahui apakah orang masih dapat bergerak atau tidak. Tapi tiada seorang pun dapat bergerak lagi, 19 sosok mayat sudah menggeletak dengan babak belur, ada yang kehilangan kaki atau tangan, ada pula yang kepalanya pecah.

Sementara itu sang surya sudah mulai terbenam di ufuk barat, senja telah tiba, si nona baju merah yang cantik itu perlahan mengelilingi mayat yang bergelimpangan itu. Thi Sim-lam tetap berdiri di sana tanpa ada maksud ingin melarikan diri, ia hanya melotot memandang si nona baju merah, namun air mukanya yang pucat tidak berbeda banyak dengan tubuh-tubuh yang menggeletak di tanah itu.

Akhirnya si nona baju merah memutar kudanya ke depan Thi Sim-lam. Walaupun tempat sembunyi Siau-hi-ji berada di belakang si nona sehingga tidak dapat melihat mukanya, tapi ia menduga si nona tentu sedang tertawa. Tanpa tertawa saja sudah demikian cantiknya, waktu tertawa entah berapa kali terlebih menggiurkan. Diam-diam Siau-hi-ji menyesal tak dapat melihat wajah si nona. Ia menduga si nona mungkin menaruh hati kepada Thi Sim-lam, makanya dia membereskan semua orang yang memusuhi Thi Sim-lam.

Tak terduga lantas terdengar nona cilik itu mendengus, “Hm, bagus Thi Sim-lam, kau memang hebat sehingga mampu lari sampai di sini. Orang yang dapat kabur sejauh ini dari tanganku, selain dirimu tiada keduanya lagi.”

Thi Sim-lam tetap mendelik saja tanpa menanggapi.

Si nona baju merah berkata pula, “Tapi sekarang kau tak mungkin dapat kabur lagi.”

“Sebab itulah aku tidak kabur,” jawab Thi Sim lam tiba-tiba.

“Ehm, sangat cerdik, jauh lebih pintar daripada orang ini,” kata si nona baju merah. “Tapi kalau kau benar cerdik, maka lekas serahkan barangmu itu agar aku tidak perlu buang tenaga lagi.”

Mendengar percakapan mereka itu semakin kaku, baru sekarang Siau-hi-ji tahu bahwa maksud tujuan kedatangan si nona baju merah tenyata tidak untuk menolong Thi Sim-lam melainkan serupa dengan orang yang dibinasakannya itu. Tiba-tiba tergerak hati Siau-hi-ji, ia merogoh keluar semacam benda, lalu merunduk ke sana. Angin meniup santer sehingga rumput panjang berkeresekan oleh desiran angin dan kebetulan dapat menutupi suara gerak-gerik Siau-hi-ji.

“Kau mau menyerahkan atau tidak?” demikian terdengar si nona baju merah mendesak.

“Barang apa? Pada hakikatnya aku tidak tahu apa kehendakmu?” jawab Thi Sim-lam.

Si nona baju merah menjadi gusar, bentaknya, “Selamanya belum pernah kubicara sehalus ini dengan orang, tapi kau malah … malah berlagak pilon.” Mendadak cambuknya berputar, “tarrr”, kontan ia menyabet.

Walaupun tubuh Thi Sim-lam terkena sabetan cambuk, namun sabetan itu tidak terlalu keras, Thi Sim-lam tetap berdiri tegak, katanya dengan hambar, “Biarpun kau bunuh aku juga tidak tahu barang apa yang kau maksud.”

“Baik, kau yang memaksa aku bertindak, kau tentu sudah kenal sifatku,” si nona baju merah mengumbar marahnya dan cambuknya terus menyabet.

Dalam keadaan gusar, nona itu tidak tahu Siau-hi-ji telah merunduk ke belakang kudanya, mendadak tampak lelatu api meletik, ekor kuda lantas tersulut api dan membakar pantat.

Betapa pun tangkas dan pintarnya kuda merah itu tetap binatang juga, mana ada binatang di dunia ini yang tidak takut pada api. Keruan kuda itu meringkik kaget dan membedal ke depan. Belum lagi habis ucapan si nona baju merah tadi, tahu-tahu ia sudah dilarikan kudanya hingga belasan meter jauhnya. Andaikan dia mau melompat turun, betapa pun Siau-hi-ji dan Thi Sim-lam tetap sukar lolos.

Namun si nona teramat sayang pada kudanya, ia merasa berat untuk meninggalkannya dan sedapatnya ingin menjinakkan kuda itu. Hal ini rupanya sudah dalam perhitungan Siau-hi-ji, kalau tidak tentu perbuatan itu tak dilakukannya. Nyatanya api yang membakar ekor dan pantat kuda itu tambah ganas sehingga kuda itu ketakutan dan membedal sejadi-jadinya seperti gila.

“Berhenti! Delima, berhenti, jangan takut! Ber … berhenti, Delima!” demikian si nona baju merah berteriak kaget dan berusaha menjinakkan kudanya yang bernama “Delima” itu.

Namun si Delima ternyata sukar lagi dikendalikan, bahkan kabur secepat terbang ke depan sana, hanya sekejap saja sudah menghilang dari pandangan.

Kesempatan itu dengan sendirinya digunakan Siau-hi-ji untuk menarik Thi Sim-lam dan lari ke jurusan berlawanan. Kuda putih ternyata masih mengenal Siau-hi-ji, ia pun ikut lari dari jauh.

Entah sudah berapa jauhnya mereka berlari tanpa berhenti, wajah kedua anak muda itu sudah lesu dan bermandi keringat.

Cuaca mulai gelap, agaknya cukup jauh mereka berlari. Jangankan Siau-hi-ji, mungkin selama hidup Thi Sim-lam juga tidak pernah lari sejauh itu sekaligus tanpa berhenti.

Lari punya lari, akhirnya tertampak di depan sana ada sebuah rumah gubuk bobrok, tanpa pedulikan rumah itu ada penghuninya atau tidak, terus saja mereka menerjang ke dalam. Dan begitu berada di dalam gubuk itu, kedua orang terus berbaring dengan napas ngos-ngosan seperti kerbau, kepala Siau-hi-ji berbantalkan perut Thi Sim-lam dan terdengar jantungnya berdetak keras seakan-akan meloncat keluar.

Untung gubuk itu tiada penghuninya, terlihat sawang di sana-sini, jelas gubuk ini sudah lama ditinggalkan penghuninya. Maka waktu mereka menerobos ke dalam, dengan sendirinya kepala mereka pun berlepotan sawang labah-labah.

Baru saja Siau-hi-ji bermaksud membersihkan kotoran sawang itu, mendadak Thi Sim-lam mendorongnya dengan keras sehingga dia terguling jauh ke sana.

Keruan Siau-hi-ji melotot, katanya, “Sudah kuselamatkan jiwamu, apakah begini caramu berterima kasih padaku?”

“O, ma … maaf! Ya, terima kasih!” kata Thi Sim-lam dengan tergegap dan wajah merah.

“Terima kasih, minta maaf, kentut, bau ….” belum habis Siau-hi-ji berseloroh, tiba-tiba Sim-lam benar-benar mengentut, keruan Siau-hi-ji geli setengah mati dan tertawa terpingkal-pingkal.

Muka Thi Sim-lam bertambah merah hingga mirip kepiting rebus, saking malunya sungguh ia ingin menyusup ke dalam bumi apabila ada lubang.

“Apa salahnya orang kentut?” ujar Siau-hi-ji sambil berbangkit. “Selagi ketakutan setiap orang bisa terkencing-kencing dan terberak-berak, kentut kan kejadian biasa, mengapa kau jadi seperti anak perempuan, sedikit-sedikit muka berubah merah”

“Aku … aku ….” Thi Sim-lam gelagapan.

“Jangankan kau ketakutan, bahkan aku pun rada takut,” ujar Siau-hi-ji. “Nona cilik itu sungguh lihai, nona secantik itu ternyata begitu keji caranya, sungguh mimpi pun sukar dibayangkan.”

“Mungkin cuma beberapa orang saja yang tidak takut padanya di dunia Kangouw ini,” ujar Thi Sim-lam.

“Aku percaya,” kata Siau-hi-ji. “Orang yang tidak gentar pada langit dan tidak takut pada bumi seperti diriku ini juga jeri padanya, siapa pula yang tidak takut padanya …. Eh, apakah kau tahu siapa namanya?”

“Dia she Thio, orang menjuluki dia Siau-sian-li Thio Cing,” tutur Thi Sim-lam.

“Siau-sian-li Thio Cing?” Siau-hi-ji mengulang nama itu. “He, pernah kudengar nama ini ….” Segera teringat olehnya sebelum meninggalkan Ok-jin-kok tempo hari, di lembah sarang penjahat itu telah datang seorang pelarian yang mengaku bernama “Sat-hou-thayswe” Pah Siok-tong. Orang ini lah pernah menyebut nona cantik yang ditakutinya itu bernama Siau-sian-li Thio Cing. Waktu itu tak pernah terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa nona yang berjuluk “bidadari cilik” dan ditakuti orang Kangouw itu ternyata benar-benar seorang nona cilik yang cantik bagai bidadari.

Terbayang oleh Siau-hi-ji pakaian Thio Cing dengan kudanya yang sama merahnya, nona belia itu telah berkelana di dunia Kangouw dan disegani setiap orang, sungguh luar biasa …. Tanpa terasa Siau-hi-ji terkesima membayangkan wajah Siau-sian-li Thio Cing.

Selang sejenak perlahan Thi Sim-lam berkata, “Kau mampu menyelamatkan diriku dari tangannya, sungguh kejadian yang tidak mudah, tapi dia pasti juga … sangat benci padamu, selanjutnya engkau harus hati-hati.”

“Aku tidak takut,” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Sebab, pada hakikatnya dia tidak melihat diriku, apalagi … apalagi seumpama berkelahi sungguhan aku pun belum tentu kalah.”

“Kukira engkau bukan tandingannya,” ujar Thi Sim-lam. “Entah ajaran siapa, ilmu silatnya sungguh luar biasa lihainya. Baru lebih setahun dia muncul di dunia Kangouw, tapi sedikitnya berpuluh tokoh Bu-lim (dunia persilatan) telah terjungkal di tangannya.”

“Ah, tokoh kodian begitu terhitung apa?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Tapi ada juga satu-dua di antaranya benar-benar memiliki kepandaian sejati, misalnya ….”

Tiba-tiba Siau-hi-ji memotong, “Sudahlah, peduli urusan itu, sekarang coba perlihatkan barangmu itu kepadaku.”

Tergetar tubuh Thi Sim-lam, jawabnya, “Ba … barang apa maksudmu?”

“Yaitu barang yang diperebutkan mereka secara mati-matian itu, begitu pula kau lebih suka terbunuh daripada menyerahkan barang yang diminta, tentunya kau sendiri tahu barang apa itu?”

“Aku … aku tidak tahu,” jawab Thi Sim-lam.

Siau-hi-ji tarik baju orang dan berteriak, “Sudah kuselamatkan jiwamu, tapi memperlihatkan barangmu padaku saja tidak sudi. Hm, di mana letak hati nuranimu? Apalagi aku hanya ingin melihat saja, takkan kurampas barangmu.”

“Lepas … lepaskan, akan kukatakan padamu,” pinta Thi Sim-lam.

“Baik, memangnya kau berani mungkir janji lagi,” kata Siau-hi-ji.

“Cuma rahasia ini tidak boleh kau katakan lagi kepada orang lain.”

“Katakan kepada siapa?” sahut Siau-hi-ji. “Tolol, kau inilah orang yang paling kusukai. Orang lain mengganggumu, dengan mati-matian kutolong dirimu, masakan akan kukatakan kepada orang lain segala?”

Muka Thi Sim-lam merah lagi, tapi ia lantas angkat kepalanya dan berkata dengan perlahan, “Barang yang dimaksud itu tidak kubawa.”

Sampai lama Siau-hi-ji memandang Thi Sim-lam dengan terbelalak, habis itu mendadak ia tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Sim-lam. “Haha, kau anggap diriku ini anak kecil? Kau ingin membohongi aku?”

“Sumpah, aku tidak bohong padamu.”

“Apabila barang itu tidak ada padamu, untuk apa mereka menguber dirimu dan mengapa kau berusaha kabur ketakutan?”

“Sebab barang itu sudah diambil oleh seorang yang paling akrab denganku, kukhawatir dia dicelakai orang lain, maka aku sengaja berlagak masih menyimpan barang itu agar orang lain menjadikan diriku sebagai sasaran dan dapatlah mengamankan dia.”

“O, jadi kau memakai tipu ‘Kim-sian-toat-kak’ (tonggeret emas ngelungsung kulit) dan ‘Tiau-hou-li-san’ (memancing harimau meninggalkan gunung),” kata Siau-hi-ji dengan rada melenggong.

“Ya, begitulah,” sahut Thi Sim-lam.

“Sungguh tidak nyana engkau adalah orang yang suka berkorban bagi orang lain,” ujar Siau-hi-ji dengan gegetun.

“Meski aku bukan orang baik yang suka berkorban bagi orang lain, namun orang itu adalah kakakku sendiri,” tutur Sim-lam.

“O, kiranya begitu, sesungguhnya barang apakah itu, tentunya dapat kau beritahukan padaku.”

Thi Sim-lam menunduk, katanya kemudian, “Yaitu sebuah peta yang menyangkut suatu partai harta karun.”

“Hahaha, kiranya barang begituan,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa “Tahu barang begitu, melihat saja aku tidak sudi. Jika aku suka pada benda mestika, pada hakikatnya dapat kuperoleh, buat apa mesti mencarinya dengan susah payah?” Dia berbangkit dan memeriksa keadaan gubuk itu, dilihatnya di belakang rumah ada bekas tungku, ia mengernyitkan dahi dan berkata pula, “Rumah apakah ini, terletak di tempat terpencil begini?”

“Kita sudah lari cukup jauh, mungkin sudah dekat kota, bisa jadi tempat ini dahulu digunakan pos pengintai prajurit,” ujar Thi Sim-lam.

Siau-hi-ji melongok ke pintu belakang, katanya kemudian dengan tertawa, “Di sini malah ada sumur.”

“Ya, di lemari bobrok ini juga ada beberapa buah mangkuk rusak,” kata Thi Sim-lam. “Biar kutimbakan air untuk minum.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip katanya, “Kau takkan lari ya?”

“Untuk apa aku lari?” jawab Sim-lam.

“Ya, kutahu engkau takkan lari,” kata Siau-hi-ji.

Thi Sim-lam memang tidak perlu lari. Sejenak kemudian dia masuk kembali dengan membawa sebuah ember kayu.

Sikapnya yang angkuh kini sudah lenyap, mendadak ia berubah sangat ramah dan serba lembut, ya menimba air, ya cuci mangkuk, pekerjaan yang biasa ditangani anak perempuan itu telah dikerjakannya dengan baik.

Siau-hi-ji terus memandangi tingkah laku orang dan merasa tertarik. Tiba-tiba terdengar suara derapan kuda lari, kedua orang sama terkejut dan pucat. Syukur dengan segera Siau-hi-ji dapat melihat yang datang itu kiranya adalah seekor kuda putih tanpa penunggang. Rupanya kuda putih yang dibeli Siau-hi-ji itu juga mengikuti perjalanan mereka ke sini.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, segera ia melompat keluar untuk memapak kuda putih itu, katanya sambil membelai bulu suri kuda itu, “O, kudaku sayang, rupanya kau pun tidak mau ketinggalan, besok akan kuberi makan sawi putih. Eya, kau juga diberi nama, biarlah kunamai kau Sawi Putih.

Ia melirik sekejap ke dalam rumah, di dalam cukup gelap. Selang sejenak tampak Thi Sim-lam keluar dengan membawa dua mangkuk air.

“Sudah kucicipi, air ini terasa manis,” kata Sim-lam dengan berseri.

“Kita minum, bagaimana kudanya, dia sudah lelah berlari, biar dia minum semangkuk dulu,” kata Siau-hi-ji.

“Jangan, jangan!” kata Sim-lam cepat. “Hanya … hanya dua mangkuk ini kucuci bersih. Biarkan kuda minum dengan ember saja.” Ia menaruh sebuah mangkuk di tepi sumur dan mangkuk lain diserahkan pada Siau-hi-ji, lalu ia lari masuk lagi ke rumah.

Sungguh cepat lari Thi Sim-lam, ketika dia keluar lagi Siau-hi-ji masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser, Thi Sim-lam berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Ayolah minum, sungguh air itu manis!”

“Jangan, air sumur ini beracun,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ti … tidak mungkin, kalau beracun tentu aku sudah mati keracunan,” kata Thi Sim-lam dengan mengikik. “Tadi aku sudah minum satu mangkuk, sekarang biar kuminum lagi semangkuk.” Segera ia angkat mangkuk yang terletak di tepian sumur tadi terus ditenggaknya hingga habis.

“Kau sudah minum lebih dulu, legalah hatiku,” kata Siau-hi-ji tertawa. Lalu ia pun minum semangkuk air.

Sementara itu malam sudah tiba, bintang bertebaran di langit. Mendadak air muka Siau-hi-ji berubah hebat, serunya dengan terputus-putus, “Wah, cel … celaka! Mengapa … mengapa kepalaku menjadi pusing.”

Thi Sim-lam menatapnya dengan tajam, katanya, “Jangan khawatir, tidak apa-apa, duduklah sebentar tentu baik.”

“Ah, tidak benar ini, tidak beres, mengapa badanku terasa lemas,” kata Siau-hi-ji pula. Baru habis ucapannya, “bluk”, ia benar-benar roboh terguling sambil berteriak, “Racun, di … di dalam air ada racun!”

Mendadak Thi Sim-lam mundur dua tindak, lalu menjengek, “Hm, jangan khawatir, air itu tidak beracun, hanya diberi obat bius saja, silakan tidur semalam di sini, besok pagi kau dapat berjalan lagi.”

Siau-hi-ji mengeluh, katanya dengan tak lancar, “Meng … mengapa kau menaruh … menaruh obat bius di dalam air?”

“Soalnya aku harus pergi ke suatu tempat dan tidak boleh terhalang olehmu,” jawab Thi Sim-lam.

“Kau … kau ….” makin lama makin tak jelas ucapan Siau-hi-ji.

Thi Sim-lam tertawa, katanya, “Kau ini terhitung bocah pintar juga, cuma ….” sembari berkata dia terus melangkah pergi, tapi baru saja berucap sampai di sini, tiba-tiba kakinya terasa lemas dan hampir jatuh tersungkur. Seketika air mukanya berubah pucat, ia melangkah lagi sekuatnya, tapi baru dua tindak ia lantas jatuh benar dan menggeletak di samping ember kayu, bahkan tenaga untuk merangkak saja tidak ada, dengan suara gemetar ia bertanya, “Ba … bagaimana bisa terjadi begini?”

“He, jangan jangan kau pun menaruh obat bius pada mangkukmu sendiri,” ujar Siau-hi-ji.

“Ti … tidak mungkin, jelas … jelas aku ….” Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa terus melompat bangun.

Keruan Thi Sim-lam terperanjat, serunya, “Kau … kau ….”

“Hehe, kamu ini terhitung juga bocah pintar, tapi kalau dibandingkan diriku selisihnya masih terlalu jauh,” ucap Siau-hi-ji dengan keplok tertawa.

“Diam-diam kau menaruh obat di dalam mangkuk, kau kira aku tidak tahu. Terus terang, mataku ini sejak kecil dicuci dengan air obat, sekalipun di tengah malam gelap juga sanggup kutemukan jarum yang jatuh di tanah.”

“Kiranya kau telah … telah menukar mangkukku,” kata Thi Sim-lam dengan muka pucat.

“Betul, mangkukmu telah kutukar dan kau tidak tahu sama sekali,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Terus terang kukatakan, permainan begini sudah kupelajari sejak masih bayi. Orang yang membesarkan diriku itu adalah kakek moyangnya para ahli obat bius di dunia ini.”

Mata Thi Sim-lam serasa melengket dan sukar terpentang lagi, tapi sebisanya ia berteriak, “Engkau … engkau ingin meng … mengapakan diriku?”

“Aku pun tidak bermaksud apa-apa padamu, cuma ucapanmu tak dapat kupercayai, maka akan kugeledah tubuhmu dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepala, ingin kulihat apakah benar kau tidak membawa sesuatu barang.”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, muka Thi Sim-lam yang tadinya pucat seketika berubah merah, katanya dengan gemetar, “O, jang … jangan, kumohon dengan … dengan sangat, jangan … jangan ….” tidak hanya suaranya yang gemetar, kedua tangannya memegang kencang baju sendiri, tampaknya khawatir kalau dibelejeti. Tapi suara rintihan, “Kumohon … jangan … jangan ….” menjadi lemah dan semakin lirih dan akhirnya tak terdengar lagi, tangan pun kendur melepaskan baju yang dipegangnya.

Siau-hi-ji hanya berdiri saja dan memandang orang dengan tertawa. Ia tunggu orang sudah tidak bisa bergerak lagi barulah berjongkok di sampingnya, ia pegang tangan Thi Sim-lam, semakin pemuda itu memohon jangan, Siau-hi-ji semakin berlagak hendak menggeledahnya.

Pada saat itulah tiba-tiba angin meniup santer, sesosok bayangan orang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Siau-hi-ji, datangnya bayangan sedikit pun tidak menimbulkan suara seakan-akan datang terbawa oleh desiran angin tadi. Di bawah cahaya bintang yang remang, samar-samar terlihat pakaian orang itu berwarna merah. Tapi Siau-hi-ji seperti tidak tahu sama sekali.

Dalam keadaan remang-remang potongan tubuh bayangan orang itu tampaknya ramping menggiurkan. Perlahan tangan bayangan orang itu terangkat, gerakannya sedemikian lembut dan indah seperti gaya bidadari yang sedang memberkati kegembiraan dan kebahagiaan bagi manusia di dunia ini.

Akan tetapi sesungguhnya tangan itu tidak membawakan kebahagiaan, tapi mendatangkan kematian. Dalam sekejap saja tangan itu akan merenggut nyawa Siau-hi-ji.

Namun anak muda itu masih tetap tidak tahu apa pun, tiba-tiba ia bergumam malah, “Sungguh aneh orang ini, mengapa tertidur di sini, dipanggil juga tidak mau mendusin. He, hei! Toako (kakak) yang tidur di sini, bangunlah, mengapa tidur di sini, kau bisa masuk angin!”

Tangan yang sudah terangkat dan hampir digablokkan tadi mendadak berhenti tanpa bergerak lagi. Dan Siau-hi-ji bergumam pula, “Wah, bagaimana ini? …. Jika sudah kulihat, betapa pun tidak boleh kutinggalkan pergi. Ah, sialan, maksudku ingin mencari air, siapa tahu kepergok orang tidur seperti babi mampus begini.”

“Kau tidak kenal orang ini?” tiba-tiba bayangan baju merah tadi bertanya.

Seperti pantat dicocok jarum, serentak Siau-hi-ji berjingkat kaget, cepat ia membalik tubuh dan memandang orang dengan melotot, badan pun menggigil ketakutan seperti melihat setan.

Padahal, di bawah cahaya bintang yang remang itu, sisa air setengah ember itu laksana sebuah cermin sejak tadi sudah memberitahukan kepada Siau-hi-ji bahwa pendatang itu ialah Siau-sian-li. Tapi lagak kaget Siau-hi-ji itu sungguh persis sekali, ia melenggong sekian lama barulah berucap dengan tergagap, “Non … nona cilik dari … dari manakah?”

Belum habis ucapannya, kontan Siau-sian-li menamparnya. Siau-hi-ji berlagak hendak mengelak, tapi kelabakan dan tidak mampu menghindar sehingga terkena pukul dan jatuh terguling.

“Hm, setan cilik macam kau juga berani memanggil aku nona cilik?” damprat Siau-sian-li Thio Cing.

Siau-hi-ji memegang pipinya yang bengap dan merangkak bangun dengan setengah mewek, katanya dengan lagak memelas, “Iya … nona … nona besar, aku ….”

Belum habis ucapannya, kembali pipi sebelah lain kena gampar pula, dengan suara bengis Siau-sian-li menghardik, “Nona besar juga bukan panggilanku.”

“Ya, ya, bib … bibi … aku kapok,” ucap Siau-hi-ji dengan gelagapan.

“Hm, mendingan begini,” ujar Siau-sian-li. Walaupun sikapnya tetap kaku, tapi nada bicaranya sudah jauh lebih lunak.

Sungguh ia tidak tahu mengapa dirinya bisa berubah menjadi lunak, entah sebab apa pula hatinya menjadi lemas demi nampak tampang anak muda macam Siau-hi-ji ini.

Sambil berkedip-kedip mendadak Siau-hi-ji berkata pula, “Eh, bibi, engkau jangan marah. Ada seorang pamanku, katanya manusia kalau marah, dagingnya akan berubah kecut, eh keliru, katanya kalau marah, orang akan cepat tua dan buruk rupa. Bibi sedemikian cantik, kalau benar berubah tua dan buruk kan sayang.”

Cara bicara Siau-hi-ji yang mengedipkan matanya yang besar itu ternyata menarik perhatian Siau-sian-li, rasanya suka mendengarkan terus. Sambil memandangi wajahnya, ia merasa anak muda ini sungguh aneh. Tanpa terasa tercetus pertanyaannya, “Apakah benar aku sangat cantik?”

Baru berkata demikian, tiba-tiba ia merasa sikapnya itu terlalu lunak, segera ia menggampar pula sambil mendelik dan membentak, “Seumpama aku memang cantik juga tidak perlu pujianmu.”

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, ia merasa tamparan ini sudah jauh lebih enteng daripada tadi, namun ia pura-pura kesakitan dan berkata dengan bersungut, “Ya, ya, walaupun bibi cantik, terpaksa aku tidak omong lagi.”

“Kau setan cilik ini mengapa datang ke sini?” tanya Siau-sian-li.

“Kuikut beberapa paman berdagang ke sini, tadi paman membeli seekor kuda dan suruh aku menunggangnya berpesiar, tak terduga kuda itu sangat binal, mendadak ia lari kesetanan dan sukar dikendalikan, di luar kehendakku tahu-tahu aku dibawa ke sini, aku pun tidak tahu tempat apakah ini.”

Cara bicara Siau-hi-ji dilontarkan tanpa pikir dan lancar sehingga membuat orang mau tak mau harus percaya pada bualannya itu.

“Ya, betapa pun jinaknya kuda, kalau sudah kesetanan, siapa pun sukar mengendalikannya, apalagi anak kecil macam kau,” kata Siau-sian-li.

Sudah tentu ucapannya itu berdasarkan pengalamannya, makanya dia bersimpatik pada pengalaman si “setan cilik” ini. Ia tidak tahu bahwa yang mengerjai kudanya tadi justru bukan lain daripada “setan cilik” ini.

Keruan Siau-hi-ji geli setengah mati, tapi di mulut ia tetap menjawab, “Betul, aku telah disiksa seharian oleh kuda gila ini, kulihat ada sumur dan baru saja hendak menimba air untuk minum, tiba-tiba kulihat pemalas ini lagi molor di sini.”

Siau-sian-li memandang sekejap ke arah Thi Sim-lam, lalu menjengek, “Hm, apakah kau kira dia sedang tidur?”

“Tidak tidur ? Memangnya sudah mati?!” seru Siau-hi-ji.

“Bukan tidur juga tidak mati,” ucap Siau-sian-li, “dia cuma terkena obat bius orang. Eh, aneh, mengapa dia sampai kena dikerjai orang? Aha, kebetulan juga dapat kugeledah barangnya itu.”

Ia tidak menaruh curiga lagi pada Siau-hi-ji, maka ucapannya itu setengah bergumam sendiri. Diam-diam Siau-hi-ji juga gelisah menyaksikan orang menggerayangi tubuh Thi Sim-lam, tapi tak dapat berbuat apa-apa.

Di luar dugaan, meski Siau-sian-li sudah merabai seluruh badan Thi Sim-lam, ternyata tidak ditemui sesuatu. Siau-hi-ji sangat heran, tak tersangka olehnya bahwa “barang” yang dimaksud itu memang tidak berada pada Thi Sim-lam. Jika begitu, tadi waktu ia mengancam akan menggeledahnya mengapa Thi Sim-lam menjadi khawatir dan kelabakan?

Tiba-tiba terdengar Siau-sian-li berkata, “Wah, celaka, jangan-jangan barang itu telah diambil lebih dahulu oleh orang yang membiusnya itu? Lantas siapakah gerangannya? …. Eh, setan cilik, ambilkan seember air, siram dia supaya mendusin, aku ingin menanyai dia.”

“Baik, baik,” jawab Siau-hi-ji cepat sambil nyengir. “Jangankan satu ember, sepuluh ember juga kusanggup.”

Akan tetapi, ketika menimba air ia berlagak seperti tidak kuat mengangkatnya, akhirnya satu ember penuh dapat ditariknya ke atas dengan napas tersengal. Sambil menjinjing ember air itu dengan langkah terhuyung ia mengomel lagi, “Keparat, mengapa ember ini begini berat, aku ….” Mendadak ia keserimpet dan jatuh terjerembab, ember pun mencelat dan airnya muncrat membasahi badan Siau-sian-li.

Keruan Siau-sian-li marah dan mendamprat, “He, kau babi goblok, kau … kau cari mampus?!”

Muka Siau-hi-ji pucat ketakutan, dengan setengah merangkak ia berdiri dan melepaskan baju, dengan gerakan ketolol-tololan ia berusaha mengusap air yang membasahi tubuh Siau-sian-li itu sambil berkata, “O, maaf, bib … bibi, aku tidak … tidak sengaja, sungguh!”

“Huh, tampangmu saja manusia, tapi ulahmu melebihi babi goblok,” omel Siau-sian-li. “Jika kau tidak membersihkan air di tubuhku ini, mustahil tidak kusembelih kau.”

Sambil mengomel Siau-sian-li terus mengentak kaki dan mengebas baju, sedangkan Siau-hi-ji dengan lagak kelabakan berusaha mengelap air yang membasahi si nona sambil berlutut. Semakin mengomel semakin naik darah Siau-sian-li, sungguh sekali tendang ia ingin enyahkan si “babi goblok” ini.

Tapi belum lagi kakinya terangkat, tiba-tiba “Im-leng-hiat” di bagian dengkulnya terasa kesemutan, seketika setengah badan terasa kaku tak bisa bergerak. Keruan ia terkejut dan membentak, “Setan cilik, kau ….”

“O, maaf, aku tidak sengaja, maaf … maaf ….” mulut Siau-hi-ji tidak hentinya minta maaf, tapi tangan tidak pernah menganggur, sekaligus ia tutuk Hiat-to di kaki orang, tentu saja Siau-sian-li mati kutu dan jatuh terkulai.

Biarpun masih muda belia, namun pengalaman Siau-sian-li cukup luas, tidak sedikit tokoh lihai yang pernah dihadapinya, di antaranya juga ada telur busuk yang terkenal. Tapi mimpi pun tidak menyangka si “setan cilik” atau “babi goblok” ini ternyata jauh lebih busuk daripada yang pernah dihadapinya, karena itulah dia menjadi lengah dan terjebak. Saking gemasnya sekujur tubuhnya sampai gemetar, tapi apa daya?

Begitulah Siau-hi-ji lantas berbangkit dengan tertawa, malahan ia sengaja melotot dan bertanya, “Ai, apakah kau jatuh sakit, masuk angin? Atau kumat penyakit ayanmu? Mengapa kau jatuh mendadak? Ai, sungguh tidak nyana kau begini lemah, baru keciprat sedikit air saja lantas jatuh sakit.”

Saking gemasnya mata Siau-sian-li merah membara, teriaknya dengan tersendat-sendat, “Bagus … bagus, ternyata aku kena dikibuli kau.”

“O, maaf,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sungguh aku tidak sengaja, sebenarnya seember air ini hendak kuberikan minum pada kudamu, soalnya aku telah membakar pantatnya, hatiku merasa tidak enak. Cuma sayang mungkin kau telah mengirim kudamu itu untuk berobat, terpaksa kutitipkan air seember ini melalui kau.”

“Kurang ajar! … jadi kau … kau setan cilik inilah yang membakar ekor si Delima?!” teriak Siau-sian-li dengan suara serak.

“Hehehe, api membakar Delima, air membenam bidadari, babi goblok seperti aku ini tidak terlalu goblok bukan?” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Ingin kunasihatimu, janganlah kau selalu memandang orang lain teramat goblok dan juga jangan selalu ingin menarik keuntungan atas kerugian orang lain, misalnya suruh orang memanggil bibi padamu. Anak kecil jika sok berlagak orang tua dan suka menang-menangan akibatnya pasti akan ketiban sial sendiri.”

Tanpa peduli Siau-sian-li yang murka itu, dengan tertawa Siau-hi-ji lantas mengangkat tubuh Thi Sim-lam dan ditaruh di atas punggung si kuda putih, agaknya terus hendak berangkat.

Sedapatnya Siau-sian-li menahan perasaannya walaupun dengan geregetan, ia cukup cerdik, ia tahu jika tidak mudah menerima penghinaan sekarang, nasibnya pasti akan lebih runyam lagi.

Tapi sebelum dia mengucap sesuatu, mendadak Siau-hi-ji mendekatinya pula dan berkata dengan tertawa, “Ada lagi tadi kau menampar aku tiga kali, utang harus bayar. Tapi mengingat kau adalah orang perempuan, aku tidak menambahi rentenya.”

“Kau … berani?!” teriak Siau-sian-li khawatir.

“O, tidak, tidak berani!” ucap Siau-hi-ji sambil tertawa, berbareng tangannya terus menampar sehingga pipi Siau-sian-li menjadi merah.

Selama hidup Siau-sian-li mana pernah dipukul orang cara demikian, ia berteriak dengan suara parau, “Kau … awas kau, ingat perbuatanmu ini!”

“Jangan khawatir, apa pun selalu kuingat dengan baik,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Tamparanmu yang pertama tadi cukup keras, maka aku pun tidak boleh bayar kurang, cuma pukulan kedua kalinya akan kuringankan sedikit.”

Ketika Siau-hi-ji menampar lagi untuk kedua kalinya, meski Siau-sian-li bertahan sebisanya, tidak urung air matanya lantas menetes. Sejak ia dilahirkan hingga sekarang belum pernah orang mencubitnya, apalagi memukulnya seperti sekarang.

Sambil mencucurkan air mata, ia melototi Siau-hi-ji, katanya, “Baik, selamanya aku takkan melupakan kau. Selamanya, ya, selamanya!”

“Kutahu kau selamanya takkan melupakan diriku, terhadap lelaki pertama yang memukulnya, perempuan itu memang tidak pernah melupakan. nya. Tapi dapat menjadi orang yang selalu kau pikirkan, betapa pun aku merasa bahagia,” lalu Siau-hi-ji menyambung pula dengan tertawa, “Sekarang pukulan ketiga. Tadi tamparanmu yang ketiga kalinya sangat ringan, maka aku pun tidak tega membalas dengan terlalu keras. Bagaimana menurut pendapatmu?”

“Kau … kau mampus saja!” teriak Sian-sian-li dengan murka.

Mata Siau-hi-ji tampak berkedip-kedip, katanya kemudian, “Baiklah, begini saja dan anggap lunas, siapa pun tidak utang siapa-siapalagi.”

Sambil menatap wajah si nona, perlahan ia menundukkan kepalanya.

Jantung Siau-sian-li berdetak keras dan tubuhnya gemetar, serunya dengan terputus-putus, “Kau … kau mau apa?”

“Kau memukul aku dengan tangan, kubalas pukul kau dengan mulut, jadinya kan jauh lebih ringan daripada memukul dengan tangan?” ucap Siau-hi-ji.

“Kau … berani? Kau … bangsat kau ….” Siau-sian-li berteriak khawatir.

Akan tetapi muka Siau-hi-ji sudah dekat, malahan anak muda itu terus mengangkat dagu Siau-sian-li hingga mulut berhadapan dengan mulut, lalu dengan perlahan diciumnya mulut yang mungil itu.

Mendadak Siau-sian-li tidak berteriak, tapi terkesima seperti patung.

Sebaliknya Siau-hi-ji lantas berkata dengan gegetun, “Ai, paling usiamu juga cuma 15-16 tahun, mana bisa kau menjadi bibiku, jadi biniku saja kukira mendingan. Mulutmu yang manis ini biarpun kucium 10 kali sehari juga takkan membosankan.”

Mata Siau-sian-li mendelik, katanya dengan sekata demi sekata, “Jika kau berani mengusik diriku lagi sekali, kupasti akan membunuhmu, pasti!”

“Jangan khawatir, aku takkan mengusik kau lagi,” jawab Siau-hi-ji dengan begelak tertawa. “Perempuan galak macam dirimu ini, diberikan gratis padaku juga aku tidak mau. Kukira lelaki mana kelak yang mengambil macan betina seperti dirimu ini sebagai istri, pasti dia bakal sial dangkalan selama hidup.”

Mendadak Siau-sian-li berteriak dengan suara serak, “Kau bunuh saja aku! Paling baik kau bunuh aku sekarang, kalau tidak, kelak kau yang akan mati di tanganku. Aku akan membuat kau mati dengan perlahan, mati dengan sedikit demi sedikit.”

Siau-hi-ji tidak menanggapi lagi, ia terbahak-bahak, lalu melangkah ke sana dan menuntun kudanya.

“Mengapa kau tidak membunuh aku? Mengapa?” teriak Siau-sian-li pula. “Sekarang kau tidak membunuh aku, pada suatu hari kelak kau pasti akan menyesal. Aku bersumpah, kau pasti akan menyesal kelak.”

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak mempedulikannya lagi, ia terus melangkah pergi tanpa memandangnya pula.

Menyaksikan kepergian Siau-hi-ji itu, akhirnya Siau-sian-li tidak dapat menahan perasaannya lagi, ia menangis tergerung.

Dari kejauhan terdengar suara Siau-hi-ji sedang bersenandung, “Siau-sian-li, sedang sedih, air mata menetes, ingus meleleh, melihat itu, Siau-hi-ji berkeplok gembira ….”

Begitulah sembari berjalan Siau-hi-ji terus bernyanyi secara bebas. Tiba-tiba ia merasa suara sendiri lumayan juga, sedikitnya jauh lebih merdu daripada suara tangisan Siau-sian-li.

Sampai suara tangisan Siau-sian-li sudah tak terdengar lagi, nyanyian tak bersemangat pula, ia meraba-raba pipi sendiri dan menghela napas, lalu meraba mulut, tak tahan lagi ia tertawa.

Macan betina tadi sungguh galak, tamparannya sungguh tidak ringan, sampai sekarang pipinya masih terasa sakit pedas, Tapi mulutnya juga manis, rasa manis ciumannya itu seakan masih terasa pada bibirnya.

Sekonyong-konyong ia bergelak tertawa terus berlari ke depan, lari punya lari, si kuda putih mulai megap-megap lagi. Mendadak Siau-hi-ji berhenti, lalu menjatuhkan diri di bawah udara terbuka, di tengah padang rumput terbuka, di tengah padang rumput yang luas, ia memang sudah teramat lelah, tanpa terasa akhirnya ia terpulas.

Ia bermimpi Siau-sian-li berbaring dalam pelukannya dan berkata padanya, “Setiap hari kau hanya boleh mencium aku 100 kali, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang.”

Selagi ia hendak mulai mencium, mendadak Saiu-sian-li melompat bangun dan menamparnya …. Ah, tidak, memang benar ada orang sedang menampar pipinya. Jangan-jangan Siau-sian-li telah menyusul tiba pula?!

Serentak ia terjaga bangun, tapi yang tertampak adalah Thi Sim-lam, yang memukulnya juga Thi Sim-lam. Rupanya air ember yang tumpah tadi ada sebagian muncrat ke muka si nona sehingga dia dapat siuman lebih dulu.

Di bawah cahaya bintang yang remang wajah Thi Sim-lam kelihatan pucat dan penuh rasa gusar, matanya yang jeli itu sedang melototi Siau-hi-ji.

“Setan cilik, ada kalanya kau tertidur juga dan suatu saat kau pun jatuh dalam cengkeramanku,” demikian ucap Thi Sim-lam dengan menggereget.

Siau-hi-ji ingin melompat bangun, tapi celaka, ternyata tak bisa bergerak sama sekali, rupanya Hiat-to penting telah kena ditutuk orang. Tapi ia pun tidak kaget dan tidak gusar, juga tidak cemas, ia malah tertawa dan berkata, “He, aku sedang mimpi, kau telah mengganggu dan membuat kuterjaga bangun, kau harus memberi ganti rugi. Tadi aku diharuskan mencium orang seratus kali, maka kau harus pula kucium seratus kali.”

Mendadak tubuh Thi Sim-lam tergetar, jeritnya, “Tadi kau telah berbuat apa atas diriku?”

“Haha, tidak berbuat apa-apa,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Aku cuma menggeledahi tubuhmu dari kaki sampai kepala, secara teliti kugeledah dengan merata, satu tempat pun tidak kelewatan.”

Tubuh Sim-lam tambah gemetar, mukanya juga merah padam, tapi dia berdiri mematung tanpa bersuara lagi.

Siau-hi-ji mengedip, katanya dengan gegetun, “Ai, mengapa tidak sejak mula kau beritahu padaku bahwa kau ini perempuan? Jika tahu kan tidak sampai kugeledahi tubuhmu. Tapi, ai, kini urusan sudah kadung demikian. Kau harus maklum, biarpun usiaku masih kecil, betapa pun aku ini kan lelaki, mana aku tahan me … melihat….”

“Tutup mulutmu! Segera kubunuh kau jika berani bicara lagi!” teriak Thi Sim-lam.

“Apa pun juga kan sudah kulakukan, bicara dan tidak apa bedanya?” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sampai berkeriut gigi Thi Sim-lam saking geregetan, air mata pun berlinang-linang.

“Hah, tampaknya tiada jalan lain kecuali kau jadi biniku saja,” ujar Siau-hi-ji pula dengan muka membadut. “Terpaksa aku, pun mengambil istri yang lebih tua daripadaku. Ai, kalau aku berumur 30-an, rasanya kau pun sudah hampir menjadi nenek-nenek.”

Mendadak Thi Sim-lam mencabut belatinya, ancamnya dengan suara terputus-putus, “Kau … kau hendak meninggalkan pesan apalagi, lekas katakan!”

Mata Siau-hi-ji terbelalak lebar, serunya, “He, kau hendak membunuh aku? Seum … seumpama kau ingin kawin dengan orang lain kan bukan soal bagiku, kujamin pasti kusetujui dan mengapa kau mesti membunuhku?”

“Jika tiada pesan apa-apalagi, segera kubunuh kau!” ucap Thi Sim-lam dengan menggereget, tiba-tiba ia berpaling ke arah lain dan menambahkan, dengan suara haru, “Tapi kau pun jangan … jangan khawatir, aku pasti tidak akan kawin lagi dengan orang lain.”

Hampir ngakak geli Siau-hi-ji mendengar ucapan si nona, tapi terasa sukar juga untuk tertawa, bahkan tak dapat tertawa, sebaliknya malah hampir menangis. Ya, Allah, si nona ternyata percaya penuh bualannya tadi.

Ai, dasar perempuan! O, perempuan …. Sebenarnya kau pintar atau bodoh?

Kemudian Siau-hi-ji berkata dengan menyengir, “Kuharap engkau suka kawin lagi dengan orang lain, siapa yang kau sukai boleh kau kawini dan tidak soal bagiku, asalkan tidak mengawini aku saja.”

“Ini .. inikah perkataanmu yang terakhir? Baik ….” ucap Thi Sim-lam dengan suara serak, segera ia angkat belatinya terus menikam ke hulu hati Siau-hi-ji.

“He, nanti dulu, nanti dulu!” teriak Siau-hi-ji. “Masih ada sesuatu ingin kukatakan.”

“Lekas, lekas bicara!” desak Thi Sim-lam.

“Inilah pesanku agar kau sampaikan kepada segenap kaum lelaki di dunia ini agar mereka jangan suka menolong jiwa orang lain, lebih-lebih jangan menolong jiwa orang perempuan,” kata Siau-hi-ji dengan rasa menyesal. “Apabila dia melihat orang hendak membunuh orang perempuan, janganlah sekali-kali membakar pantat kuda orang itu, tapi lebih baik bakar saja pantat kuda sendiri dan menyingkir pergi, makin jauh makin baik, makin cepat makin baik.”

Thi Sim-lam melenggong sejenak, katanya kemudian, “Benar, memang kau yang menyelamatkan jiwaku, tapi … tapi kau ….” mendadak ia duduk mendeprok di atas tanah dan menangis sedih, katanya pula sambil terguguk, “Tapi bagaimana … bagaimana dengan diriku yang malang ini?”

“Supaya kau tidak suara, lebih baik kau bunuh saja diriku,” kata Siau-hi-ji dengan suara halus. “Daripada kau menderita, biarkan aku mati saja. Betapa pun aku akan merasa senang dapat mati di tanganmu.”

Sembari bicara, diam-diam ia melirik si nona. Benar juga, tangis Thi Sim-lam semakin sedih, sebaliknya hati Siau-hi-ji semakin gembira. Pikirnya, “Akhirnya kau tahu juga resep cara menghadapi perempuan. Asalkan kau mampu mengetuk lubuk hatinya, maka dia akan tunduk padamu dan jinak ditunggangi seperti kuda.”

Di luar dugaan, selagi Siau-hi-ji merasa gembira sekonyong-konyong Thi Sim-lam yang sedang menangis sedih itu melompat bangun terus berlari pergi seperti kesetanan, entah ke mana dia pergi.

Baru sekarang Siau-hi-ji terkejut, cepat ia berteriak, “He jangan kau tinggalkan aku! jika nanti ada serigala atau harimau, lalu bagaimana? Bila Siau-sian-li datang, lantas bagaimana? Hei, hei, apakah kau tahu tadi telah kuselamatkan pula?….”

Meski dia berteriak sekeras-kerasnya, namun Thi Sim-lam sudah menghilang di kejauhan dan tidak mendengarnya lagi.

Angin tetap mendesir dengan lembut, bintang juga masih berkelip-kelip di langit nan luas, namun Siau-hi-ji yang menggeletak di bawah udara terbuka itu sedikit pun tidak merasa enak.

Saking mendongkol ia menyesali diri sendiri, gumamnya, “Wahai, Kang Hi, memangnya salah siapa? Kan lebih baik menyalahkan dirimu sendiri, siapa yang suruh kau berkumpul dengan perempuan? Kalau kau dimakan serigala atau datang Siau-sian-li membunuhmu juga setimpal bagimu.”

Tiba-tiba si kuda putih mendekat dan meringkik perlahan di sampingnya.

“O, Sawi Putih, apa yang kukatakan tidak salah bukan?” kata Siau-hi-ji. “Lain kali bila kau melihat orang hendak menjirat leher seekor kuda betina, maka sebaiknya kau bantu dia menarik ganjel kakinya. Jika melihat orang hendak membacok perempuan dengan golok, maka cepat kau bantu dia mengasah golok yang akan dipakainya.”

Kuda putih itu meringkik perlahan pula, habis itu terus berlari menyingkir lagi.

“Ai, Sawi Putih, kiranya kau pun tidak dapat dipercaya dan hendak meninggalkan diriku,” ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. “Ai, agaknya kau pun seekor kuda betina ….” mendadak ia melihat di mana arah lari kuda putih itu, di situ telah berdiri seorang. Di bawah remang cahaya bintang jelas kelihatan pakaian orang yang putih mulus, bahkan lebih putih daripada bulu kuda itu.

Ternyata Thi Sim-lam sudah datang kembali.

Kejut dan girang pula Siau-hi-ji, tapi dia sengaja tidak membuka suara, dilihatnya si kuda putih mendekati si nona dan meringkik perlahan, akhirnya si nona tampak bergeser, selangkah demi selangkah menuju ke tempat Siau-hi-ji.

Pakaian si nona melambai tertiup angin, perawakannya yang ramping dan gaya jalannya yang berlenggak itu sungguh menggiurkan.

Diam-diam Siau-hi-ji gegetun, batinnya, “Aku benar-benar sudah buta, masakah baru sekarang kutahu dia ini perempuan, padahal … padahal ketika pandangan pertama saja seharusnya kutahu bahwa dia ini perempuan, gaya jalan lelaki mana ada yang demikian?”

Sementara itu Thi Sim-lam sudah berada di sampingnya. Tapi Siau-hi-ji sengaja memejamkan mata dan tidak menggubrisnya.

Terdengar Thi Sim-lam berkata dengan suara lembut, “Ternyata kau tidak benar berbuat nakal terhadapku.”

Siau-hi-ji tidak tahan lagi, jawabnya dengan tertawa, “Jadi baru sekarang kau tahu?”

“Tapi … tapi kau tetap nakal padaku, maka … maka kau ….”

“Demi Tuhan, sudilah lekas kau ucapkan apa yang hendak kau katakan,” kata Siau-hi-ji.

Thi Sim-lam menunduk, katanya kemudian, “Apakah kau suka mengiringi diriku ke suatu tempat”

“Tentu saja mau, tapi kau harus membuka Hiat-to yang kau tutuk agar aku bisa berjalan,” ucap Siau-hi-ji. “Memangnya kau akan menggendong aku saja?”

Muka Thi Sim-lam menjadi merah dan tidak dapat menahan gelinya, ia lantas berjongkok dan menepuk perlahan bagian Hiat-to yang tertutuk. Ia seperti tidak tega menepuk dengan keras.

“Tadi kau memukul aku dengan keras, kini caramu membuka Hiat-to justru seringan ini. O, Tuhan, O, perempuan ….” habis berucap demikian Siau-hi-ji lantas melompat bangun.

Thi Sim-lam berpaling ke sana, katanya dengan lirih. “Tadinya aku tidak ingin kau mengikuti aku, tapi sekarang kuminta kau mengiringi aku, soalnya setelah kutimbang, kutahu … kutahu engkau sangat baik terhadapku.”

“Sebelumnya kau tidak tahu?”

“Semula aku tidak ingin mengajakmu sebab … sebab tempat itu sangat dirahasiakan ….”

“O, sebenarnya di mana letak tempat yang akan kau tuju itu?” tanya Siau-hi-ji.

“Tempat itu terletak di pegunungan Kun-lun, yaitu ….”

“He, Ok-jin-kok?” seru Siau-hi-ji. “Apakah Ok-jin-kok yang kau maksudkan?”

Serentak Thi Sim-lam menoleh ke sini dengan mata terbelalak, tanyanya heran, “Dari … dari mana kau tahu?”

Siau-hi-ji ketok-ketok kepalanya sendiri dan bergumam, “O, Tuhan … nona ini sedang menanyai aku dari mana mendapat tahu nama Ok-jin-kok, jika aku tidak tahu Ok-jin-kok, maka di dunia ini mungkin tiada orang lain lagi yang tahu.”

“Sebab apa?” tanya Sim-lam dengan mata terbelalak lebih lebar.

“Jangan kau tanya dulu sebab apa, demi Allah beritahukan lebih dulu untuk apakah kau hendak ke Ok-jin-kok? Melihat bentukmu, tampaknya kau tidak mirip manusia yang sudah kepepet dan terpaksa harus menyingkir ke Ok-jin-kok.”

“Aku … aku cuma ingin mencari … mencari seorang!”

“Siapa yang kau cari?”

“Kukatakan juga engkau tidak tahu.”

“Aku pasti tahu …. Hahaha, segenap penghuni Ok-jin-kok, dari yang tua sampai yang muda, dari yang kecil sampai yang besar, semuanya kukenal.”

Thi Sim-lam tekejut, serunya, “Kau ….”

“Aku ini justru dibesarkan di Ok-jin-kok sana,” teriak Siau-hi-ji.

Berubah air muka Thi Sim-lam, katanya, “Tidak … tidak percaya, sungguh tidak percaya.”

“Kau tidak percaya? Coba jawab, kecuali tempat Ok-jin-kok itu, di mana lagi yang dapat membesarkan manusia macam diriku ini?”

Sampai sekian lama Thi Sim-lam tertegun, akhirnya tersenyum manis dan berkata, “Ya, memang tiada tempat lain lagi yang cocok bagimu, seharusnya sudah kupikirkan sejak tadi.”

“Dan sekarang bolehlah kau beritahukan padaku siapa gerangan yang kau cari?”

Kembali Thi Sim-lam menunduk, setelah terdiam sejenak barulah menjawab dengan suara lirih, “Orang yang kucari itu pun she Thi, seorang yang sangat terkenal.”

“Aha, jangan-jangan yang kau cari adalah salah satu tokoh dari ke-10 top penjahat, yaitu ‘Ong-say’ (si singa gila) Thi Cian?” tanya Siau-hi-ji.

“He, kau kenal dia?” mendadak Thi Sim-lam mengangkat kepalanya. “Jadi betul dia berada di sana?”

“Untung kau bertemu dengan aku, kalau tidak, maka sia-sia belaka perjalananmu ini,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. “Siapakah yang memberitahukan padamu bahwa Ong-say Thi Cian berada di Ok-jin-kok? Kau perlu merangket pantat si pembual itu.”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba tubuh Thi Sim-lam menjadi lemas dan roboh.

*****

Thi Sim-lam menunggang kuda, Siau-hi-ji yang menuntun kuda sambil berjalan. Thi Sim-lam tidak bicara, anak muda itu pun diam saja, si kuda putih tentu saja tak dapat bicara segala.

Malam sudah larut, suasana sunyi senyap, hawa cukup dingin, menoleh ke belakang masih tampak padang rumput raksasa yang luasnya tak kelihatan ujungnya itu lambat laun ditelan kegelapan.

Akhirnya mereka meninggalkan padang rumput, namun padang rumput yang banyak memberi pengalaman bagi Siau-hi-ji itu cukup berkesan dalam benaknya dan takkan terlupakan untuk selamanya.

Namun Siau-hi-ji tidak menoleh lagi, tidak memandang pula ke sana. Yang sudah lalu biarkan berlalu. Terkenang? Tidak, pasti tidak!

Wajah Thi Sim-lam tertampak lebih pucat di bawah cahaya bintang yang remang-remang, dia sesungguhnya sangat cantik daripada perempuan yang lain, malahan juga diketahui bahwa Thi Sim-lam sesungguhnya jauh lebih lemah daripada apa yang pernah terbayang olehnya. Semenjak mendengar berita tentang tiadanya Thi Cian di Ok-jin-kok, sejak itu dia tidak lagi suka bicara, bahkan bergerak pun sungkan, apabila tiada kuda putih ini, pada hakikatnya selangkah pun dia tidak dapat berjalan lagi.

Diam-diam Siau-hi-ji menggeleng dan gegetun, “O, perempuan! Betapa pun perempuan memang tidak tahan pukulan, batin, baik perempuan cantik maupun perempuan buruk rupa tiada berbeda dalam hal demikian.”

Dia menggeleng secara diam-diam dan tidak membuka suara lagi, sungguh ia pun malas untuk bicara lagi. Tapi mendadak Thi Sim-lam mulai membuka mulut. Bulu matanya yang panjang itu mengerling, kerlingan mata yang sayu, tapi tidak tahan memandang Siau-hi-ji melainkan berucap perlahan seperti orang mengigau, “Sudah cukup lama kau tidak berbicara.”

“Kau tidak bicara, untuk apa aku bicara?” jawab Siau-hi-ji.

“Tapi … apakah tiada sesuatu yang hendak kau tanya padaku?”

“Untuk apa kutanya padamu? Tiada sesuatu yang aku tidak tahu.”

“Kau tahu apa?” tanya Sim-lam.

Siau-hi-ji tertawa kemalas-malasan, jawabnya kemudian, “Misalnya karena kepepet, lalu timbul keinginan bernaung pada ayahmu, walaupun sebenarnya kau tidak suka padanya, bahkan sejak kecil kau sudah meninggalkan dia. Malahan sudah sejak kecil kau dibuang olehnya. Tapi dia, betapa pun dia tetap ayahmu.”

“Ayahku? Siapa ayahku?” mendadak Thi Sim-lam melotot.

“Ong-say Thi Cian!” jawab Siau-hi-ji.

“Sia … siapa bilang?” seru Thi Sim-lam.

“Aku!” jawab Siau-hi-ji sambil menguap ngantuk, “O, perempuan! Kutahu watak perempuan, biarpun isi hatinya dengan tepat kena kau katai, namun dia tetap tidak mau mengaku. Sebab itu, tidaklah menjadi soal bagiku apakah kau mau mengaku atau tidak.”

Terbelalak Thi Sim-lam memandangi Siau-hi-ji seolah-olah orang yang baru dikenalnya. Ia merasa anak muda ini pada hakikatnya bukan manusia tapi siluman, atau silumannya manusia.

Setelah termangu-mangu kemudian ia berkata pula, “Apa … apalagi yang kau ketahui?”

“Kutahu pula bahwa namamu bukan Lam lelaki melainkan Lan anggrek, Thi Sim-lan … inilah nama yang sesuai bagimu, betul tidak?”

“Ti … tidak. Ai, memang begitulah, Lan anggrek,” akhirnya mengaku juga si nona yang nama aslinya ialah Thi Sim-lan.

“Kutahu pikiranmu sekarang sedang bingung, entah harus ke mana dan entah harus berbuat apa? Sebab itulah aku sengaja tidak berbicara agar kau dapat berpikir secara tenang.”

“Sebenarnya berapa umurmu?” tanya Thi Sim-lan dengan tertawa getir. “Sungguh terkadang aku merasa takut, entah engkau ini sebenarnya seorang anak atau … atau ….”

“Siluman?” sambung Siau-hi-ji.

Thi Sim-lan menghela napas perlahan, katanya, “Terkadang aku memang benar mengira engkau ini makhluk jadi jadian. Kalau tidak, mengapa engkau selalu dapat menerka isi hati orang lain?”

“Soalnya aku jauh terlebih pintar daripada setiap manusia di dunia ini,” kata Siau-hi-ji dengan sungguh-sungguh.

“Bisa jadi memang begitu ….” ucap Thi Sim-lan dengan lembut.

“Baiklah, sekarang kau dapat ambil keputusan bukan?”

“Ambil keputusan apa?” tanya si nona.

“Ambil keputusan tentang apa yang harus kau lakukan dan harus pergi ke mana?”

“Aku … aku ….” kembali Thi Sim-lan menunduk.

“Kau harus cepat ambil keputusan, aku kan tidak dapat selalu mengiringimu!”

Seketika Thi Sim-lan mengangkat kepalanya, mukanya tampak pucat bagai kertas, serunya tergagap, “Kau … kau tidak dapat ….”

“Ya, dengan sendirinya tidak dapat ….”

“Tapi … tapi engkau ….”

“Betul, tadinya kuingin berkawan denganmu dan mengembara ke mana saja, tapi sekarang diketahui kau adalah anak perempuan, maka rencana terpaksa harus berubah, aku tidak lagi menerima kau sebagai murid.”

“Tapi … tapi engkau … engkau ….”

“Kita bukan sanak kadang, bagaimana jadinya kalau kita lari ke sana kemari? Apalagi masih banyak urusan yang harus kukerjakan, mana boleh kuteralang oleh seorang perempuan.”

Thi Sim-lan merasa seperti kena dicambuk, seketika ia melengak dan gemetar. Entah selang berapa lama, akhirnya ia tersenyum pedih, “Ya, benar, kita bukan sanak bukan saudara, si … silakan kau pergi saja.”

“Dan kau ….”

“Sudah tentu aku mempunyai tempat sendiri, kau tidak perlu tanya,” jengek Thi Sim-lan ketus.

“Baiklah, mungkin saat ini kau belum dapat berjalan, kuda ini kuberikan padamu saja.”

“Terima kasih,” kata Sim-lan sambil menggigit bibir. “Tapi aku pun tidak … tidak memerlukan kuda, aku tidak perlu bantuan apa pun, engkau ….”

Segera ia melompat turun dari kuda dan berpaling ke sana. Maklumlah, betapa pun ia tidak ingin Siau-hi-ji melihat air matanya yang sudah bercucuran.

Siau-hi-ji berlagak tidak tahu, ia menuntun kuda putih itu dan berkata pula dengan tertawa, “Baik juga kalau kuda ini tidak kau perlukan, aku sendiri juga merasa berat berpisah dengan kuda ini, sungguh aku rada sedih jika harus meninggalkan kuda ini.”

“Jadi … jadi aku ….” dengan suara gemetar sebenarnya Sim-lan hendak berkata apakah dirinya tidak lebih berharga daripada kuda itu sehingga anak muda itu tidak merasa berat sedikit pun untuk berpisah dengan dia? Tapi dia tidak jadi mengeluarkan isi hatinya itu walaupun hatinya remuk redam.

“Baiklah, kuberangkat sekarang, semoga engkau menjaga diri baik-baik,” pesan Siau-hi-ji.

Thi Sim-lan berpaling lagi, ia dengar anak muda itu telah mencemplak ke atas kuda serta mulai melarikan kudanya ke sana. Anak muda itu benar-benar pergi begitu saja, akhirnya Thi Sim-lan tidak tahan lagi dan menjerit, “Sudah tentu aku akan menjaga diriku dengan baik, aku tidak memerlukan perhatianmu yang palsu itu, aku lebih suka mati daripada melihat kau lagi.” Akhirnya ia menjatuhkan diri ke tanah dan menangis tergerung-gerung.

Siau-hi-ji tidak mendengar suara tangisan Thi Sim-lan, sedikitnya ia pura-pura tidak mendengar, dia tepuk-tepuk leher si kuda putih dan bergumam, “Sawi Putih, coba lihat aku ini pintar bukan? Semudah inilah kuenyahkan seorang perempuan. Kau harus tahu bahwa umumnya perempuan tidaklah mudah dienyahkan.”

Ia terus melarikan kudanya ke depan. Selang sekian lama, tiba-tiba ia bergumam pula, “Ah, Sawi Putih, coba terka dia akan pergi ke mana? Kau pasti tidak dapat menerkanya. Ketahuilah, aku pun tidak sanggup menerka. Eh, biarlah kita tunggu saja di sini, kita mengawasinya secara diam-diam.”

Dengan sendirinya si Sawi Putih tak dapat menjawab, dia juga belum tentu setuju. Namun Siau-hi-ji sudah lantas melompat turun dan bergumam, “Kalau dapat mengintip rahasia anak perempuan, kukira perbuatan ini pun tidak terhitung busuk. Apalagi … kita juga tiada urusan penting yang harus segera dikerjakan, tak jadi soal bukan jika kita menunggu sebentar di sini?”

Sudah tentu si kuda putih tak dapat mendebatnya bahwa ucapannya itu pada hakikatnya cuma alasan untuk menutupi isi hatinya yang sesungguhnya.

Terkadang kuda bisa lebih menyenangkan daripada manusia, paling sedikit kuda takkan membongkar rahasia orang lain dan tak dapat mengkhianatinya.

Bintang sudah mulai guram dan jarang-jarang, subuh hampir tiba, tapi Thi Sim-lan masih belum juga muncul. Jangan-jangan tidak mengambil arah jalan ini? Namun jalan ini adalah satu-satunya jalan, apakah mungkin nona itu kesasar? Jangan-jangan dia ….

Mendadak Siau-hi-ji mencemplak ke atas kuda putih dan berseru, “Ayo berangkat, Sawi Putih, kita coba melongok lagi ke sana, ingin kulihat apa yang dia lakukan di sana? Ketahuilah bukan karena aku memperhatikan dia, sebab terhadap siapa pun aku tidak pernah menaruh perhatian.”

Belum habis gumamnya si Sawi Putih sudah lantas membedal ke depan, larinya jauh lebih cepat daripada datangnya tadi. Maka hanya sejenak saja mereka sudah sampai di tempat semula. Dari jauh Siau-hi-ji melihat Thi Sim-lan berbaring di atas tanah.

Sesudah dekat, nona itu ternyata tidak menangis lagi dan juga tidak bergerak.

Segera Siau-hi-ji melayang ke sana dari atas kuda sambil berseru, “He, di sini bukan tempatnya untuk tidur!”

Tergetar tubuh Thi Sim-lan, sekuatnya ia meronta bangun dan berteriak, “Pergilah kau, enyah sana! Siapa minta kau kembali, untuk apa kau kembali ke sini?”

Di bawah cuaca subuh yang remang-remang terlihat wajah si nona yang pucat itu bersemu hijau, bibir yang tipis itu tampak gemetar, setiap kata diucapkannya dengan susah payah.

“He, kau sakit?!” seru Siau-hi-ji.

“Sakit juga bukan urusanmu,” jengek Thi Sim-lan. “Kau … kau dan aku bukan sanak bukan kadang, untuk apa kau mengurus diriku?”

Walau ia sudah merangkak bangun, namun berdiri pun sempoyongan.

“Tapi kini aku justru ingin mengurus dirimu!” kata Siau-hi-ji, dengan cepat ia raba dahi si nona dan rasa tangannya seperti dipanggang.

Sekuatnya Thi Sim-lan menyampuk tangan anak muda itu sambil berteriak dengan gemetar, “Kau tidak perlu menyentuh diriku.”

“Aku justru ingin menyentuhmu,” ucap Siau-hi-ji pula dan cepat sekali tubuh si nona dipondongnya.

“Jangan … jangan menyentuh diriku! Lep … lepaskan, lepas! Enyahlah kau!” Sim-lan berteriak-teriak.

Berbareng ia terus meronta-ronta tapi tetap tak dapat melepaskan diri, tenaga untuk berteriak pun tiada lagi. Ia pukul tubuh Siau-hi-ji, namun kepalan pun terasa lemas.

“Sakitmu sudah parah, jika kau tidak menurut, nanti … nanti kucopot celanamu dan kupukul pantatmu, kau percaya tidak?” ancam Siau-hi-ji.

“Kau … kau ….” suara Thi Sim-lan menjadi parau dan tak sanggup melanjutkan pula. Mendadak ia membenamkan kepalanya dalam pelukan Siau-hi-ji dan menangis dengan sedih.

Thi Sim-lan benar-benar jatuh sakit, bahkan sangat berat sakitnya.

Sampai di kota Hay-an, Siau-hi-ji mendapatkan hotel yang paling baik di kota itu. Sebenarnya kamar hotel sudah penuh, namun ia pilih suatu kamar kelas satu, ia keluarkan sepotong emas dan dilemparkan kepada tamu yang menyewa kamar itu dan katanya, “Kau pindah, dan emas ini untukmu?”

Hanya dua kalimat saja ia berucap dan orang itu pun pindah kamar secepat kuda lari. Meski emas tak dapat bicara, tapi jauh lebih berguna daripada orang berputar lidah dua hari.

Cemas, kecewa, derita lahir dan batin yang dialami Thi Sim-lan telah mengakibatkan dia jatuh sakit, padahal biasanya jarang dia sakit, sehari suntuk dia tak sadarkan diri karena suhu panas badannya.

Waktu dia siuman, dilihatnya Siau-hi-ji sedang memasak obat. Ia meronta ingin bangun, tapi segera Siau-hi-ji menahannya berbaring pula, ia hanya dapat merintih, “Kau … kenapa kau ….”

“Dilarang bicara!” seru Siau-hi-ji.

Dilihatnya anak muda itu agak celong, tampaknya sudah sekian malam kurang tidur karena harus merawat dirinya. Thi Sim-lan menjadi terharu dan meneteskan air mata pula.

Sementara itu Siau-hi-ji telah membawakan semangkuk cairan obat yang dimasaknya itu dan berkata, “Dilarang menangis, tapi minum obat saja. Ini adalah obat paling bagus dari resep yang paling jitu. Sesudah minum tentu akan sembuh. Kalau kamu menangis lagi seperti anak kecil, sebentar kupukul lagi pantatmu.”

“Re … resep buatan siapakah itu?” tanya Thi Sim-lan.

“Aku!” jawab Siau-hi-ji singkat.

“Kiranya kau pun mahir mengobati orang sakit, memangnya kau serba bisa?!”

“Dilarang buka mulut dan minumlah obat!”

Thi Sim-lan tersenyum, walaupun dalam keadaan sakit, namun senyumnya tetap menggiurkan. Katanya kemudian, “Kau melarang aku buka mulut, lalu cara bagaimana aku harus minum obat?”

Siau-hi-ji ikut tertawa juga. Tiba-tiba ia merasa anak perempuan terkadang sangat menyenangkan, lebih-lebih pada waktu dia tertawa lembut padamu.

Menjelang magrib, Thi Sim-lan tertidur pula. Siau-hi-ji berdiri iseng di emper kamar, gumamnya sendiri, “Wahai Kang Hi, Kang Siau-hi! Janganlah kau lupa bahwa senyuman perempuan demikian ini juga mungkin bermaksud mencelakaimu, bisa jadi senyuman berbisa, makin ramah sikapnya, semakin berbahaya pula bagimu. Jika kurang waspada, akan tamatlah riwayatmu ini.”

Kuda putih itu tampak sedang makan rumput di kandang sana. Siau-hi-ji mendekatinya, sambil membelai bulu surinya Siau-hi-ji berkata, “Hai, Sawi Putih, kau jangan khawatir, biarpun orang lain mudah terperangkap, namun aku pasti tidak. Setelah dia sembuh dari sakitnya segera aku akan pergi ….”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kuda berhenti di luar hotel. Walaupun kecil hotel ini, namun perlengkapannya cukup komplet, di bagian depan di buka pula sebuah restoran.

Karena suara ramai itu, Siau-hi-ji jadi ingin tahu siapakah pendatang itu. Waktu ia melongok keluar, dilihatnya empat-lima orang lelaki kekar beramai-ramai sudah masuk ke restoran, tanpa bicara mereka duduk mengelilingi sebuah meja. Tanpa banyak cincong pelayan lantas membawakan arak.

Namun orang-orang itu hanya duduk termangu saja tanpa bergerak.

Pakaian mereka cukup mentereng, membawa pedang pula, perbawa mereka tampaknya tidak kecil, namun wajah mereka sama merah bengkak seperti habis ditempeleng orang belasan kali paling sedikit.

Selang tak lama, kembali masuk lagi dua orang. Keadaan kedua orang ini lebih konyol, bukan saja muka mereka bengkak bahkan salah satu daun kuping hilang, kelihatan kain pembalutnya yang berlepotan darah.

Waktu melihat kedua orang ini, kelima orang yang datang lebih dulu sama melotot. Sedang kedua pendatang belakang itu bermaksud mengkeret keluar lagi demi melihat rombongan yang duluan, namun terlambat karena sudah telanjur dilihat orang.

Siau-hi-ji merasa tertarik, ia sengaja mengintip dari luar untuk mengetahui apa yang bakal. terjadi. Ia pikir kedua rombongan ini mungkin adalah musuh dan bukan mustahil segera terjadi pertarungan.

Tak terduga kedua rombongan orang itu ternyata tiada niat saling labrak, mereka hanya saling melotot saja seperti jago aduan.

Di antara kelima orang yang datang duluan itu adalah seorang yang bopeng mukanya, mukanya bengkak hingga lubang-lubang burik di mukanya hampir tak jelas lagi. Mendadak orang ini tertawa dan mengejek “Hehehe, para Piausu besar dari An-se Piaukiok biasanya tidak pernah kehilangan barang, mengapa sekarang daun telinga sendiri juga hilang, sungguh kejadian mahaaneh.”

Karena tertawa, mukanya yang bengkak itu menjadi kesakitan sehingga lucu tampaknya, entah sedang tertawa atau lagi menangis, mungkin lebih tepat dikatakan sedang meringis.

Kedua orang yang datang belakangan itu jadi gusar karena diolok-olok, seorang yang mukanya ada bekas luka lantas balas menyindir, “Huh, kalau muka sudah bengkak ditempeleng orang, sebaiknya jangan tertawa, kalau tertawa kan bisa kesakitan.”

“Kau bilang apa?” bentak si burik tadi sambil gebrak meja.

“Hahaha, kutu busuk tidak perlu mengejek walang sangit, kan sama-sama bau?” jawab si muka codet.

Si burik lantas melompat bangun dan bermaksud ke sana, si muka codet juga siap tempur dengan menyeringai. Diam-diam Siau-hi-ji merasa senang karena kedua orang itu bakal saling labrak.

Tak tahunya sebelum kedua orang itu berbaku hantam, mereka cepat dicegah lebih dulu oleh kawannya masing-masing.

Yang menarik tangan si burik adalah seorang tua berjenggot, usianya mungkin paling tua, namun mukanya paling ringan bengkaknya dibandingkan keempat kawannya. Dengan tertawa ia berusaha melerai, katanya dengan tertawa meringis, “An-se Piaukiok dan Ting-wan Piaukiok sama-sama usaha pengawalan, adalah wajar jika biasanya suka bersaing dan berebut langganan, soalnya kan dagang, layak. Tapi apa pun juga kita sesama orang dari daerah Tionggoan, sebisanya jangan sampai kita bergebrak di sini sehingga mengurangi persaudaraan kita sebagai sesama bangsa.”

Lelaki jangkung yang mencegah kawannya si codet itu juga meringis dan menjawab, “Ucapan Auyang-toako memang tidak salah, kita dikirim oleh kantor pusat ke tempat miskin begini, betapa pun kita sudah sial dan sama-sama kecewa, mengapa kita harus saling ejek dan bertengkar?”

“Apalagi sekarang kita sama-sama terjungkal di tangan orang yang sama pula, seharusnya kita bersatu menghadapi musuh, mana boleh saling sindir, kan dijadikan buah tertawaan orang lain saja?” kata orang she Auyang itu.

“O, jadi kalian juga kena dikerjai dia ….” seru si jangkung melengak.

“Siapalagi kalau bukan dia (perempuan)?” ucap si tua sambil menyengir. “Selain dia, siapalagi yang mampu mengerjai kita secara membingungkan ini? Ai, hari ini kita benar-benar terjungkal habis-habisan.”

Setelah berkata demikian, ketujuh orang itu sama menghela napas, lalu duduk semua.

Karena mukanya bengkak sehingga tidak jelas lagi terlihat bagaimanakah perasaan orang-orang itu, namun mata mereka yang melotot itu penuh mengandung rasa benci dan dendam.

Tiba-tiba si muka burik menggebrak meja pula dan berseru dengan gemas, “Jika ada sebabnya kita rela dianiaya oleh budak itu, konyolnya tanpa sebab musabab budak itu terus melabrak kita.”

“Ai, sudahlah,” ujar si tua she Auyang, “di dunia Kangouw ini memang biasa terjadi kakap makan teri, yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Bukanlah kusengaja memuji orang lain dan merendahkan kita sendiri, sesungguhnya kepandaian kita memang tiada sepersepuluh bagian orang, biarpun teraniaya, terpaksa kita terima nasib.”

“Hehe, melihat bentuk budak itu, tampaknya dia sendiri juga mengalami gangguan orang di tempat lain,” kata si jangkung tiba-tiba dengan tertawa. “Kelihatan matanya merah seperti habis menangis, bahkan kuda kesayangannya pun tidak kelihatan. Ya, kita sendirilah yang sial sehingga kebetulan kepergok dia selagi dia sendiri sedang gusar, maka kita yang dijadikan pelampiasan dongkolnya.”

“Betul juga ucapan Ji-lotoa,” ucap si burik sambil tertawa. “Mungkin budak itu pun kepergok seorang yang lebih lihai daripada dia, boleh jadi ketemukan seorang pemuda cakap, selain kudanya tertipu, mungkin budak itu sendiri termakan.”

Beberapa orang itu lantas terbahak-bahak walaupun tertawanya meringis, karena muka sakit, namun mereka benar-benar tertawa gembira seakan dengan begitu sudah terlampias rasa dendam mereka.

Sampai di sini Siau-hi-ji sudah dapat menebak bahwa “budak” yang dimaksud mereka itu pastilah Siau-sian-li Thio Cing. Keahlian Siau-sian-li dalam hal menempeleng sudah dirasakan sendiri oleh Siau-hi-ji. Akan tetapi caranya Siau-sian-li menghajar orang-orang ini jelas terlebih keras daripada waktu menampar Siau-hi-ji tempo hari. Dapat diduganya si nona pasti menderita semalam suntuk di pinggir sumur itu, maka rasa dongkolnya lantas dilampiaskan seluruhnya terhadap beberapa orang yang sial ini.

Makin dipikir makin geli Siau-hi-ji. Akan tetapi mendadak suara tertawa ketujuh orang itu sama berhenti, yang meringis tetap meringis, yang pentang mulut tetap terpentang, bentuk wajah mereka yang aneh itu seketika membeku seperti terkena ilmu sihir. Sorot mata mereka sama menatap keluar pintu, bahkan butiran keringat lantas timbul di dahi mereka.

Ternyata “Siau-sian-li” Thio Cing sudah berdiri di luar dengan bertolak pinggang, katanya dengan sekata demi sekata, “Kusuruh kalian mencari orang, siapa yang suruh kalian minum arak di sini?”

Jantung Siau-hi-ji serasa mau meloncat keluar dari rongga dadanya, namun sedapatnya ia menenangkan diri sambil mundur selangkah demi selangkah. Sudah tentu ia tahu orang yang hendak dicari Siau-sian-li seperti apa yang dikatakannya itu adalah dia sendiri.

Syukur waktu itu sudah malam, di dalam rumah ada sinar lampu, tapi di luar sangat gelap. Ia terus mundur menyusuri pojok tembok sana sehingga tiba di kandang kuda. Bukan cuma orangnya saja, tidak boleh terlihat oleh Siau-sian-li, bahkan kudanya juga tidak boleh dilihatnya. Celakanya kudanya ini kuda putih, putih mulus mencolok.

Tanah di pinggir kandang itu basah becek, cepat Siau-hi-ji meraup dua genggam lumpur terus dilumurkan pada kuda putih. Kuda itu bermaksud meringkik, cepat ia menjejalkan secomot rumput ke mulutnya sambil menepuk kepalanya dan berkata perlahan, “Sawi Putih, janganlah bersuara. Habis siapakah yang suruh kau dilahirkan seputih ini, hakikatnya jauh lebih putih daripada Thi Sim-lan.”

Sembari berucap tangannya terus, bekerja, hanya sekejap saja kuda putih sudah berubah menjadi kuda belang. Siau-hi-ji merasa geli melihat hasil karyanya itu. Sisa lumpur pada tangannya itu segera digosokkan pada ekor kuda, lalu ia menyelinap kembali ke kamarnya.

Kamarnya belum ada penerangan, namun Thi Sim-lan sudah mendusin, kedua biji matanya terbelalak laksana lentera, begitu nampak Siau-hi-ji masuk, mendadak ia cengkeram pundak anak muda itu dan bertanya dengan suara serak, “Mana sepatuku?”

“Sepatu?” Siau-hi-ji menegas. “Maksudmu sepatu kulit itu?”

“Ya,” jawab Thi Sim-lan dengan tidak sabar.

“Sepatu itu sudah bolong, sudah kubuang ke selokan,” ucap Siau-hi-ji.

Thi Sim-lan tergetar, serunya dengan suara terputus-putus, “Kau … kau membuangnya?”

“Ya, sepatu butut begitu, diberikan kepada pengemis juga belum tentu dia mau, kenapa harus kau sayangi? Jangan khawatir, sudah kubelikan sepasang sepatu baru, sedikitnya sepuluh kali lebih bagus daripada sepatu bututmu itu.”

Thi Sim-lan meronta turun dari tempat tidur dan berseru, “Kau buang ke mana? Ayo lekas kita mencarinya kembali!”

“Sudahlah, buat apa dicarinya lagi?” kata Siau-hi-ji sambil menarik tangan si nona.

“Ai, kau ini sungguh pantas mampus!” teriak Sim-lan dengan membanting kaki. “Tahukah kau di dalam sepatuku itu ter … tersimpan ….”

“Tersimpan apa?” tanya Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

“Ialah barang … barang yang diperebutkan itu …. Jiwaku hampir melayang lantaran mempertahankan barang itu, tapi kau malah membuangnya begitu saja, lebih baik …. O, lebih baik aku mati saja.”

“Barang itu? Bukankah kau bilang barang itu tidak berada padamu?”

“Aku berdusta padamu,” jawab Sim-lan, air matanya tampak berlinang-linang.

“Nah, kenapa kau berdusta? Akibatnya jadi membikin susah dirinya sendiri,” ujar Siau-hi-ji sambil menghela napas gegetun. “Kubuang sepatu itu sembarang tempat, aku pun lupa entah di mana tempatnya.”

Serentak Thi Sim-lan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur dan tak dapat bergerak, hanya mulutnya saja bergumam, “Bagus, bagus sekali … kini segalanya telah tamat!”

“Barang itu kan cuma sehelai kertas bekas saja, juga tiada artinya, kenapa kau mesti kelabakan dan cemas begitu, kalau kau jatuh sakit lagi bisa runyam lagi.”

Belum habis ucapannya, mendadak Thi Sim-lan melompat bangun dan menegas dengan melotot, “Dari … dari mana kau tahu barang itu cuma sehelai kertas saja?”

“Jika yang kau maksud adalah kertas itu, maka sudah kukeluarkan dari sepatu itu, kertasnya sudah kurobek, bahkan berbau, bau ikan asin.”

Serentak Thi Sim-lan menubruk tubuh Siau-hi-ji dan memukuli dada anak muda itu sembari tertawa dan berteriak, “Kau ini memang brengsek, kau sengaja … sengaja membuat kelabakan diriku.”

“Habis kau yang berdusta lebih dulu padaku ….” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Sebenarnya sudah kuduga barang itu pasti kau simpan di dalam sepatumu. Kau sungguh cerdik.”

“Kau lebih cerdik, segala urusan tidak mungkin mengelabuimu,” ujar Sim-lan. “Tadi … tadi kau benar-benar membuatku kaget.”

“Tapi barang itu akhirnya terjatuh di tanganku, kau tidak khawatir?” tanya Siau-hi-ji.

“Sudah berada di tanganmu, apa yang harus kukhawatirkan?” ucap Thi Sim-lan sambil menunduk.

“Kau percaya padaku, tidak takut kubawa lari?”

“Tidak, tidak takut.”

“Baik, aku pun takkan mengembalikannya padamu.”

“Ya, biar kuberikan saja padamu,” kata Sim-lan dengan suara lembut.

“Tapi … tapi kau pernah bilang mati pun barang itu takkan kau berikan kepada orang lain?” tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Kau … kau berbeda dengan orang lain.”

Entah mengapa, tiba-tiba Siau-hi-ji merasa bahagia, sekujur badan terasa bagai terbang dan seperti jatuh ke tengah gundukan kampas bergula atau arumanis.

Tapi segera ia memperingatkan dirinya sendiri, “Awas, Kang Hi, arumanis itu berbisa!”

Segera timbul pula keinginannya untuk mengenyahkan Thi Sim-lan, cuma bagaimana caranya belum diketahuinya.

“Tadi kau ke mana?” tanya Thi Sim-lan kemudian dengan halus.

“Ke luar …. Malahan aku memergoki seseorang. “Kaukenal orang ini … celakanya aku pun kenal dia.”

“Hah, Siau … Siau-sian-li maksudmu?” Thi Sim- lan berjingkat.

“Ya, memang benar dia.”

“Dia berada di mana sekarang?”

“Bila kau membuka jendela, mungkin dapat kau melihatnya.”

Kaki dan tangan Thi Sim-lan menjadi dingin semua, katanya, “Jadi … jadi dia berada di luar, tapi engkau malah enak-enakan bersenda gurau dengan aku?”

“Sekali pun dia berada di sini juga aku tetap bersendau gurau.”

“Ai, kau ini …. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Sim-lan dengan khawatir.

“Sekarang jalan satu-satunya yang paling selamat ialah angkat kaki, kita ….”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara orang membentak bengis di bagian depan sana, “Suruh buka pintu harus cepat kau buka, apa yang hendak kulakukan bukanlah urusanmu!”

Menyusul lantas terdengar suara “blang” yang keras, agaknya daun pintu telah didobrak.

“Sialan, hendak kabur pun tidak keburu lagi!” kata Siau-hi-ji dengan gegetun.

Wajah Thi Sim-lan menjadi pucat, katanya dengan suara gemetar, “Tampaknya Siau-sian-li membawa pembantu dan mulai memeriksa setiap kamar. Mungkin dia sudah mendengar bahwa kita berada di sekitar sini. Tapi sebelum jejak kita ditemukan, mungkin masih keburu jika kita lari melalui jendela.” Segera ia tarik tangan Siau-hi-ji dan mengajaknya melompat keluar jendela.

Tapi Siau-hi-ji menggeleng, katanya, “Tidak bisa jadi, kalau sekarang kita lari melalui jendela, maka mereka pasti dapat menebak bahwa kita inilah orang yang mereka cari, dan kalau Siau-sian-li mengejar, betapa pun kita tak mampu kabur lagi.”

“Habis bagaimana baiknya?” tanya Thi Sim-lan khawatir.

“Jangan takut, aku ada akal,” ujar Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Dalam pada itu dari jauh berkumandang pula suara jeritan perempuan, “Keluar, lekas keluar … kalian kawanan bangsat, kenapa tanpa ketuk pintu terus menerobos masuk ….”

“Haha, mungkin perempuan itu sedang mandi,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, tampaknya sedikit pun dia tidak gelisah, seraya tertawa ia terus mengeluarkan sebuah kantong kain bersulam, warna sulaman itu sudah luntur, suatu tanda kantong itu sudah cukup tua.

“Apa itu?” tanya Sim-lan.

“Ini benda wasiat … kucuri dari seorang she To,” tutur Siau-hi-ji.

Sambil bicara ia sudah mengeluarkan isi kantong yang terdiri dari satu tumpuk barang tipis dan lunak, agak likat, mirip kulit lumpia.

Mata Thi Sim-lan terbelalak, tiba-tiba ia tanya, “Apakah ini yang disebut kedok kulit manusia?”

“Haha, tampaknya kau juga ahli barang?” Siau-hi-ji berseloroh. Lalu ia ambil dua helai dari tumpukan barang tipis tadi, katanya pula, “Lekas tanggalkan baju-luarmu, sembunyilah di bawah kolong ranjang, lalu pakailah mantelku ini setelah dibalik …. sekarang julurkan mukamu ke sini.”

Ketika Thi Sim-lan merasa mukanya nyes dingin dan merinding, waktu membuka mata, tahu-tahu wajah Siau-hi-ji sudah berubah tua kaceknya cuma tidak berjenggot.

“He, kau telah berubah menjadi kakek-kakek,” mau tak mau Thi Sim-lan tertawa geli.

“Dan kau pun berubah menjadi nenek, kakek memang harus berjodohkan nenek,” ujar Siau-hi-ji.

Sementara itu suara orang-orang di luar sudah semakin mendekat. Namun Siau-hi-ji tetap tenang-tenang saja. Lebih dulu ia mengeluarkan secomot kumis dan ditempel di atas bibir sendiri, lalu mengeluarkan pula sebotol kecil bubuk perak dan ditaburkan pada rambutnya sendiri dan rambut Thi Sim-lan, segera rambut kedua orang menjadi ubanan tampaknya. Habis itu Siau-hi-ji mengeluarkan pula beberapa pensil yang berukuran tidak sama, entah tinta apa yang dipakai, segera ia menggores-gores wajah si nona.

Dalam pada itu suara orang-orang di luar sudah makin dekat, tampaknya sudah hampir berada di depan pintu kamar mereka.

Kaki dan tangan Thi Sim-lan sudah dingin seperti es, badan juga gemetar. Namun tangan Siau-hi-ji tetap bekerja dengan tenang, bahkan ia sempat mendesis, “Jangan takut, kepandaianku menyamar ini biarpun belum sempurna, tapi untuk mengelabui mereka rasanya jauh daripada cukup.”

Kini tindakan orang-orang di luar sudah sampai di depan kamar mereka. Secepat kilat Siau-hi-ji meringkasi barangnya, sambil memayang Thi Sim-lan ia berkata pula dengan suara tertahan, “Mari berangkat, melalui pintu depan.”

“Pin … pintu depan?” Sim-lan menegas dengan kaget, saking takutnya suara pun parau.

Namun Siau-hi-ji tetap tenang saja, segera ia membuka pintu. Maka tertampaklah beberapa lelaki yang mukanya bengkak akibat ditempeleng itu tepat sampai di depan kamar, bayangan Siau-sian-li yang berpakaian merah dan berpotongan tubuh ramping tampak ikut di belakang orang-orang itu.

Tanpa mengangkat kepala lagi Siau-hi-ji lantas berteriak, “Wah, celaka! Tanpa sebab kenapa kau kelengar? Hai, tuan-tuan sekalian, tolong memberi jalan, aku harus cepat membawa bini tua ke tabib. Entah salah makan apa, mendadak biniku sakit keras, kalau tidak lekas dibawa ke tabib, mungkin aku harus siap membeli peti mati.”

Suara anak muda itu mendadak berubah serak sehingga mirip benar seorang kakek yang kelabakan. Sedangkan tubuh Thi Sim-lan menggigil ketakutan sehingga mirip pula nenek yang sedang sakit keras.

Karena itulah beberapa lelaki kekar itu cepat memberi jalan dan menyingkir ke sana, agaknya khawatir ketularan penyakit menular, si burik terus menutupi hidungnya dan menggerundel, “Sakit mendadak di musim panas begini, besar kemungkinan kena pes, kalau tidak masakah menggigil begitu?”

Sembari berlagak kesal, Siau-hi-ji berjalan lamban menerobos melewati beberapa orang itu. Thi Sim-lan hampir saja pingsan, kalau bisa sungguh ia ingin terbang saja melarikan diri. Ia pun tidak habis mengerti mengapa Siau-hi-ji dapat berbuat setenang itu.

Dengan susah payah akhirnya mereka lewat di samping Siau-sian-li dan menuju ke halaman depan. Siau-sian-li memandang mereka dengan melotot, tampaknya tidak menaruh curiga apa pun.

Di luar dugaan, baru beberapa tindak mereka lewat di sampingnya, “creng”, mendadak Siau-sian-li melolos sebatang golok yang tergantung di pinggang salah seorang lelaki itu terus membacok belakang kepala Siau-hi-ji sambil membentak, “Memangnya kau dapat menipu aku?”

Sungguh sukma Thi Sim-lan serasa terbang meninggalkan raganya saking kagetnya. Tapi aneh, Siau-hi-ji seperti tidak merasakan apa pun, bahkan ketika golok itu sudah menyambar tiba dan segera akan membuat kepalanya terbelah menjadi dua, tetap dia tidak memberi reaksi apa-apa dan masih terus melangkah ke depan setindak demi setindak. Dan ternyata golok itu lantas terhenti ketika hampir mengenai sasarannya, kira-kira cuma dua-tiga senti saja di atas kepala Siau-hi-ji.

Diam-diam para lelaki kekar tadi menghela napas lega, mereka sama membatin, “Rasa curiga budak ini sungguh amat besar, sampai kakek reyot begitu juga tak terlepaskan dari curiganya.”

Namun Siau-hi-ji tetap berlagak tidak tahu apa-apa, ia langsung menuju ke kandang kuda dan mengeluarkan kudanya yang kini sudah “ganti bulu” itu, gumamnya, “Ai, kudaku sayang, nenekmu sakit, tapi aku pun tidak boleh meninggalkan kau.”

Gelisah hati Thi Sim-lan sungguh sukar dilukiskan, keringat pun membasahi bajunya, tapi Siau-hi-ji ternyata masih memikirkan kudanya, saking dongkolnya sungguh ia ingin menjotos beberapa kali anak muda itu.

Kini mereka sudah berada di jalan raya, selama itu Thi Sim-lan tidak tahu cara bagaimana dirinya bisa melangkah ke luar, ia merasa sedang bermimpi, mimpi buruk dan menakutkan.

Dalam keadaan setengah linglung Sim-lan dinaikkan ke atas kuda oleh Siau-hi-ji, anak muda itu menuntun kuda dan berjalan dengan perlahan. Tentu saja isi nona bertambah kelabakan, katanya, “Demi Tuhan maukah berjalan lebih cepat?”

“Tidak boleh cepat,” kata Siau-hi-ji. “Bisa jadi mereka sedang mengawasi kita, kalau cepat tentu akan ketahuan …. Lihatlah, malam seindah ini, pesiar kota dengan menunggang kuda, sungguh puitis dan romantis.”

Ternyata anak muda itu masih ada pikiran buat menikmati keindahan malam, Thi Sim-lan menghela napas panjang. Sungguh ia bingung apa mesti menangis atau tertawa. Namun akhirnya jalan raya itu pun habis ditelusuri. Kini di hadapan mereka adalah jalan belukar, sinar lampu sudah jauh tertinggal di belakang mereka.

Sekarang Thi Sim-lan baru merasa lega, katanya dengan tersenyum getir, “Ai, kau ini … sungguh aku tidak dapat menebak hatimu terbuat dari apa?”

“Hatiku?” Siau-hi-ji tertawa. “Aku memiliki segalanya, hanya tidak punya hati”

Sim-lan menggigit bibir, katanya dengan tersenyum dan melirik anak muda itu, “Tadi kalau golok itu benar dibacokkan, tentu kepalamu sudah hilang.”

“Sejak mula sudah kuduga bacokan itu hanya untuk menguji diriku saja,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kalau benar dia mengenali diriku dan hendak membunuh, tentunya dia tidak perlu menggunakan senjata orang lain.”

“Ya, memang betul,” Sim-lan gegetun. “Dalam keadaan begitu engkau ternyata masih dapat berpikir sampai hal-hal sekecil itu, sungguh engkau seorang ajaib, apakah selama ini engkau memang tidak kenal apa artinya takut?”

“Hahahaha! Apakah kau kira aku tidak takut?” Siau-hi-ji bergelak tertawa. “Berbicara terus terang, waktu itu aku pun ketakutan setengah mati, di dunia ini hanya sebangsa orang gila yang tidak kenal takut.”

“Dan sekarang kita akan ke mana?”

“Ke mana saja boleh, toh tidak bakal dikenali orang lagi … hanya, penyakitmu ….”

“Karena dibikin kaget tadi, aku keluar keringat dingin dan sekarang terasa sudah sembuh, kaki dan tanganku juga sudah bertenaga. Sungguh aneh bukan?”

“Kau sudah dapat berjalan?” tanya Siau-hi-ji.

“Dapat, kalau tidak percaya boleh kuturun dari kuda dan berjalan saja.”

“Baiklah, coba berjalan … aku … aku pun mau berangkat.”

Tergetar tubuh Thi sim-lan, serunya, “Ap … apa katamu?”

“Bukankah kita sudah pernah berpisah? Cuma lantaran kau jatuh sakit, makanya kurawat kau, sekarang kau sudah sehat, dengan sendirinya kita pun berpisah lagi.”

Tidak kepalang pedih hati Thi Sim-lan, mukanya tambah pucat, tubuhnya mulai gemetar pula dan air mata pun bercucuran, katanya dengan parau, “Engkau … engkau benar … benar ….”

“Sudah tentu benar. Kau telah memberikan barang itu padaku, aku pun telah menolong jiwamu, hitungan kita menjadi lunas, siapa pun tidak utang siapa-siapa.”

Air mata Thi Sim-lan bertambah deras, katanya dengan menggereget, “Apakah benar engkau tidak punya hati? Memangnya hati … hatimu telah dimakan anjing?”

“Sekali ini tepat tebakanmu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau … engkau ….” Sim-lan tak mampu melanjutkan, mendadak tangannya bergerak, dengan geregetan ia tampar anak muda itu.

Sama sekali Siau-hi-ji tidak bergerak, ia pandang nona itu, katanya dengan hambar, “Untung hatiku sudah dimakan anjing, sungguh aku harus berterima kasih pada anjing itu, kalau tidak, bila hati lelaki tergenggam di tangan perempuan, wah, kukira akan lebih baik dimakan anjing saja.”

Thi Sim-lan menangis tergerung-gerung sambil mendeprok di tanah, katanya dengan terputus-putus, “Engkau … engkau bukan manusia … pada hakikatnya engkau bukan manusia.”

“Sudahlah, sampai berjumpa pula ….” kata Siau-hi-ji sambil menarik bangun si nona. “Apakah diriku ini manusia atau bukan, yang penting aku bukanlah si tolol yang dapat dipengaruhi oleh air mata perempuan, aku ….”

“Benar, engkau bukan orang tolol, engkau teramat pintar! Cuma sayang, pintarnya agak kelewatan!” demikian tiba-tiba seorang menanggapi dengan ketus.

Dingin nada suara itu, tapi nyaring merdu, jelas sekali itulah suara Siau-sian-li.

Seketika Thi Sim-lan berhenti menangis, tubuh Siau-hi-ji juga tergetar, tapi sama sekali ia tidak berpaling, mulutnya tetap berkata dengan nada menyesal, “Aih, ibunya anak, apa yang kau tangisi, toh takkan mati. Ayolah lekas kita mencari tabib, kalau terlambat mungkin orang sudah tutup pintu dan tidur.”

“Sudah habis belum ocehanmu?” demikian terdengar Siau-sian-li menjengek. “Memang, penyamaranmu sungguh pandai. Saat ini kau memang harus mencari tabib, cuma sayang segenap tabib di dunia ini sudah tidak mampu menyelamatkan kau lagi.”

Siau-hi-ji berdiri terpaku di tempatnya, Thi Sim-lan juga mendekam di tanah tanpa berani bergerak.

“Apalagi yang hendak kau katakan?” tanya Siau-sian-li pula.

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji berpaling, katanya sambil terbahak-bahak, “Hahaha, bagus, bagus! Akhirnya ketahuan juga. Tapi cara bagaimana kau mengetahui penyamaran kami ini? Bolehkah kau jelaskan?”

“Waktu kubacok dengan golok, begitu keras sehingga samberan anginnya dapat didengar oleh orang tuli sekali pun,” tutur Siau-sian-li sambil mengejek. “Jika kau memang kakek sialan, tentu kau akan ketakutan hingga bergulingan di lantai. dan minta ampun, mana sanggup melangkah seperti tidak pernah terjadi sesuatu.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, akhirnya ia berkata dengan gegetun, “Ya, benar juga. Kiranya kau pun seorang pintar, jauh di luar dugaanku.”

“Baru sekarang kau tahu, apa tidak terlambat?” ujar Siau-sian-li.

“Ah, tidak perlu kau bangga, betapa pun kau juga pernah kutipu, ketika kau menyadari apa yang terjadi kan juga sudah terlambat,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Coba kalau aku tidak membawa beban seorang, entah sudah sejak tadi menghilang ke mana, masakah akan kutunggu kedatanganmu?”

Siau-sian-li ternyata tidak marah, ia menjengek pula, “Jika betul kau mahapintar, kini seharusnya kau mencari akal lagi untuk kabur … jika kau tidak punya akal, ini menandakan kepalamu memang tidak berguna, lebih baik dipotong saja.”

“Untuk apa aku mencari akal?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Apakah kau kira aku benar-benar bukan tandinganmu jika berkelahi sungguhan? Hm, kan cuma sungkan bergebrak dengan kau seperti kata pemeo, ‘lelaki sejati tidak berkelahi dengan perempuan’, maka aku ….”

Belum habis ucapannya, tahu-tahu telapak tangan Siau-sian-li sudah menyambar tiba. Gerak serangan ini biasa-biasa saja, tapi cepat dan aneh, kalau tidak menyaksikan sendiri sungguh sukar untuk dibayangkan bahwa di dunia ini ternyata ada orang menyerang secepat ini.

Padahal waktu bicara, pandangan Siau-hi-ji tidak pernah meninggalkan diri si nona dan selalu waspada kalau mendadak diserang. Namun serangan yang jelas kelihatan ini betapa pun toh sukar dihindarkan, dia hanya sempat mendongak sedikit, tapi tidak urung mukanya terasa panas pedas, pipi tetap terserempet oleh jari si nona sehingga mukanya seketika bertambah tiga jalur merah.

Sementara itu serangan kedua Siau-sian-li sudah menyusul tiba pula, cepat Siau-hi-ji berteriak-teriak, “Berhenti, berhenti dulu! Lelaki tidak berkelahi dengan perempuan, berhenti!”

Siau-hi-ji sudah berusaha mengikuti gaya serangan lawan secara seksama, tapi tidak terlihat sesuatu bagian yang aneh, setiap serangan dengan jelas dapat diikuti dan yakin dapat mematahkannya tapi setiap kali selalu gagal, meski sudah berbagai gerakan ia gunakan untuk mengelak, namun selalu terasa konyol dan tetap tidak mampu balas menyerang satu kali pun. Jadinya dia hanya kebagian ditonjok si nona belaka.

Thi Sim-lan sampai melenggong menyaksikan Siau-hi-ji dihajar Siau-sian-li, pada hakikatnya ia tidak dapat melihat jelas gerakan serangan si nona, yang tertampak hanya bayangan merah beserta kedua tangannya yang putih, benang putih yang menyelinap ke sana-sini itu laksana cambuk, dan Siau-sian-li telah dihajarnya hingga melompat ke sana dan lari ke sini, ke mana pun dia lari selalu diuber oleh cambuk itu.

Thi Sim-lan juga tidak tahu di mana letak kehebatan ilmu pukulan Siau-sian-li itu, cuma cepatnya memang belum pernah dilihatnya. Tangan Siau-sian-li itu seolah-olah tangan siluman, kalau tidak mana bisa secepat itu.

Siau-hi-ji benar-benar kewalahan, ia merasa si nona seperti mempunyai belasan tangan, yang satu terhindar, yang lain tiba pula, sampai bernapas pun tidak sempat. Akhirnya pandangan Siau-hi-ji menjadi kabur, kepala menjadi pusing, mendadak ia berteriak-teriak, “Hei, berhenti, berhenti dulu! Kau sudah terkena racunku, kau ….” Dia bermaksud menggunakan akal lama, tapi Siau-sian-li tidak mau terjebak lagi dan masih terus menyerang.

Thi Sim-lan menjadi cemas, namun apa daya, tubuh sendiri terasa lemah lunglai dan tidak sanggup membantu.

Siau-hi-ji sudah mandi berkeringat, kembali ia berteriak, “He, kau tidak percaya akan racunku? Tahukah kau betapa lihainya racunku ini?”

“Hm, di bawah tanganku boleh dikatakan di dunia ini tiada seorang pun yang sempat menggunakan racun pula, apalagi kau setan cilik ini, memangnya kau ingin menipu aku lagi?! Huh, jangan mimpi!” demikian jengek Siau-sian-li.

“Aku tidak bohong,” teriak Siau-hi-ji pula. “Aku ….”

“Plok,” mendadak ia kena digampar dengan keras sehingga tubuhnya mencelat jatuh ke sana hingga terguling-guling.

“Hi-ji, kau … kau ….” seru Sim-lan khawatir.

Tak terduga, cepat sekali Siau-hi-ji sudah melompat bangun pula, setelah mengusap darah yang merembes dari mulut, dengan tertawa ia berkata, “Jangan khawatir, ia takkan memukul mati diriku. Asalkan dia tak dapat memukul mati aku, maka aku pasti dapat merobohkan dia.”

“Hm, bagus, aku justru ingin tahu betapa kerasnya tulangmu?!” jengek Siau-sian-li. Sembari bicara ia terus menerjang maju pula dan sekaligus melancarkan beberapa kali pukulan.

Sungguh, gaya pukulan Siau-sian-li itu tiada sesuatu yang istimewa dan juga tidak tergolong keji, soalnya cuma teramat cepat, begitu cepat sehingga lawan tidak diberi kesempatan sama sekali. Dan kalau lawan tidak sempat balas a menyerang, lalu cara bagaimana dapat mengalahkan dia?

Siau-hi-ji menggereget, ia menjadi nekat, ia pikir apa pun juga harus balas menghantam dua-tiga kali. Ia incar suatu kesempatan baik dan segera memukul dengan mati-matian.

Tak tahunya baru saja dia melancarkan pukulan, sementara itu tangan Siau-sian-li sudah menutup peluang yang diincar Siau-hi-ji, jadi anak muda itu baru sempat memukul setengah jalan, tahu-tahu perut sendiri sudah kena digenjot lawan malah.

Tidak ringan pukulan ini sehingga Siau-hi-ji terhuyung-huyung mundur dan akhirnya jatuh terjengkang, dan tampaknya tidak sanggup bangkit lagi.

“Jangan berkelahi lagi, berikan saja barang itu!” seru Thi Sim-lan dengan nada memohon.

Tak terduga, setelah berjumpalitan di tanah mendadak Siau-hi-ji melompat bangun pula.

Mukanya tampak matang biru, tapi dia tetap melakukan perlawanan.

“Kecuali dapat mematikan aku, kalau tidak, tetap kulawan,” demikian ucapannya sambil menyeringai.

“Kau kira aku tidak dapat membinasakan kau?!” bentak Siau-sian-li dengan gusar. Habis berkata, kembali beberapa kali pukulan dilontarkan pula.

Sekali ini Siau-hi-ji tidak berpikir lagi akan balas memukul, dia hanya berharap dapat bertahan saja, ia mainkan kedua kepalan dengan cepat sehingga pertahanannya sangat ketat.

Siapa duga, serangan Siau-sian-li justru dapat menembus garis pertahanan Siau-hi-ji itu, pukulan demi pukulan masih terus susul menyusul dan akhirnya pertahanan Siau-hi-ji menjadi bobol.

“Celaka!” jerit Thi Sim-lan khawatir.

Benar saja, di tengah pekik nyaring nona itu, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah terpukul mencelat pula dan terguling-guling di sana.

Advertisements

5 Comments »

  1. WELEH TERNYATA ADA JUGA PENGGEMAR BUKU SILAT….. TAPI SAYANG GA’ ADA YANG INDO ASLI…..:D

    Comment by FAHMIE — 19/01/2009 @ 8:20 am

  2. Iya, mas. Lagi fokus ke luar negeri sekarang. Nanti, yang Indo juga ditampilkan, kok. Tingaal tunggu waktu

    Comment by ceritasilat — 23/01/2009 @ 12:24 am

  3. Thank’s buat kamu. Saya suka sekali

    Comment by Janto S — 16/01/2011 @ 3:03 pm

  4. […] Janto S on Pendekar Binal (03) […]

    Pingback by SILAT ALA WORDPRESS « bacolpasir — 15/02/2011 @ 12:05 pm

  5. MANTAP UDAH SEHARIAN BACA INI SAMPE GAK TIDUR, MAU LANJUT BACA YANG KE EMPAT, YANG CERITA SILAT POHON KERAMAT TAN CIU JUGA SERU, SAMPE TAMAT GW BACANYA, HAHAHA

    Comment by Firman — 21/02/2013 @ 2:40 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: