Kumpulan Cerita Silat

13/04/2008

Darah Ksatria: Bab 18. Orang Yang Makan Garam

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:04 am

Darah Ksatria
Bab 18. Orang Yang Makan Garam
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Seperti biasanya, malam itu Ma Ji-liong menggelar tikar untuk tidur di lantai di pinggir ranjang. Tapi dia tidak bisa tidur.

Agaknya Cia Giok-lun juga tidak bisa tidur, mendadak ia bersuara, “He, kau belum tidur?”

“Hampir saja pulas, tapi belum tidur.”

Orang yang sudah tidur mana mungkin diajak bicara.

“Kenapa kau tak bisa tidur?” Cia Giok-lun bertanya. “Apa kau sedang memikirkan persoalan orang itu?”

“Persoalan apa?” sengaja Ma Ji-liong balas bertanya.

“Bila opas itu pernah meyakinkan ilmu silat, mengapa kau tidak menduga kalau dulu ia seorang begal atau penjahat besar? Orang yang tiap hari membeli garam itu adalah komplotannya, kehadirannya di sini mungkin sedang merencanakan sesuatu?”

“Maksudmu melakukan kejahatan? Apa sangkut-pautnya dengan membeli garam?” bantah Ma Ji-liong. “Apa pula sangkut-pautnya dengan kita?”

“Siapa tahu dia menaksir tokomu dan akan merampoknya habis, membeli garam hanya untuk mencari tahu seluk-beluk tokomu ini.”

Tak tahan Ma Ji-liong bertanya, “Ada barang penting atau berharga apa di toko kita yang harus direbut orang lain?”

“Hanya ada satu.”

“Satu yang mana?”

“Akulah yang mereka incar.”

“Kau kira mereka hendak merebut atau menculik dirimu?” Kali ini Ma Ji-liong tidak bisa tertawa, karena ia maklum rasa kuatir Cia Giok-lun memang beralasan.

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas, katanya, “Mungkin kau memang tidak tahu siapa aku sebenarnya, tapi kau harus percaya, jika aku jatuh ke tangan kawanan penjahat itu……..” Suaranya menjadi lemah, lidah seperti kaku, seolah-olah membayangkan akibat yang mengerikan, sorot matanya tampak panik dan takut. Sesaat lamanya baru ia mendesah pula, “Selama ini aku tidak habis pikir, kenapa kau berbuat begini terhadapku, tapi setelah hidup bersama dalam rumah ini sekian bulan, aku juga sudah melihat dan tahu, kau bukan orang jahat, sukalah kau menolong aku mencari tahu asal-usul orang itu.”

“Bagaimana aku harus mencari tahu asal-usulnya?” tanya Ma Ji-liong.

Mendadak Cia Giok-lun tertawa dingin, katanya, “Kau kira aku tidak tahu bahwa kau juga pandai silat, umpama betul kau adalah pemilik toko serba ada ini, dulu kau pasti pernah berkecimpung di Kangouw, mungkin seorang terkenal di Bulim, aku menilai ilmu silatmu tidak rendah.”

Ji-liong menunduk bungkam. Seorang pesilat kosen yang sudah belasan tahun berlatih ilmu silat, banyak segi dan kondisi yang berbeda dengan orang biasa. Ia percaya apa yang dikatakan Cia Giok-lun memang benar, setiap hari orang selalu memperhatikan gerak-geriknya. Maklum Cia Giok-lun memang benar, setiap hari orang selalu ia perhatikan, tiada buku yang dapat ia baca di rumah ini.

Cia Giok-lun menatapnya sekian lama, lalu katanya, “Kalau kau tidak melaksanakan permintaanku ini, aku akan……..”

“Kau akan apa?”

“Sejak saat ini aku akan mogok makan dan minum, yang pasti aku sudah tidak ingin hidup tersiksa seperti ini.”

Akal bagus dan tepat. Sudah tentu Ma Ji-liong tidak akan membiarkan dia mati kelaparan.

“Bagaimana?” desak Cia Giok-lun.

“Kapan aku harus melakukannya?”

“Sekarang, sekarang juga harus kau lakukan,” sejenak ia berpikir, lalu menambahkan, “Kau harus berganti pakaian hitam, menutup kepala dengan kain hitam pula. Jika jejakmu ketahuan orang dan dia mengejarmu, jangan langsung lari pulang. Aku tahu kau pun tidak suka kalau asal-usulmu diketahui orang, benar tidak?” Ternyata perempuan ini juga paham lika-liku kehidupan kaum persilatan.

Cia Giok-lun berkata lebih lanjut, “Kau harus bekerja menurut petunjukku, aku sendiri belum pernah berbuat seperti apa yang kuanjurkan tadi, tapi ahli Kangouw mengajarkan dan memberi petunjuk kepadaku.” Setelah menghela napas ia menyambung, “Aku rela dan tinggal diam selama ini di atas ranjang yang menyebalkan ini, dengan satu tekad: apa yang terjadi, apa yang kualami ini, akan datang suatu hari nanti seorang pasti datang menjelaskan kejadian sebenarnya, maka jangan kau biarkan orang lain mencariku. Kalau kau abaikan peringatanku, kita berdua bisa mati konyol.”

Ma Ji-liong hanya mendengarkan, hanya tertawa getir. Selama hidup belum pernah ia bertindak sembunyi-sembunyi, tapi kali ini harus bekerja secara diam-diam macam panca-longok saja.

Larut malam.

Keluarga miskin, karena kerja keras di siang hari, umumnya penduduk kampung beristirahat lebih dini. Kecuali menghemat minyak, juga untuk mengejar hiburan, menikmati kesenangan yang bisa dilakukan di dalam rumah gelap, tanpa merogoh kantong. Mungkin juga ada berbagai alasan lain, maka mereka selalu tidur pagi-pagi.

Jalan kampung yang sempit panjang itu gelap gulita tiada lampu, juga tak ada orang lewat. Sesekali hanya terdengar anjing menggonggong dan kucing brengsek yang lagi bermain cinta.

Dengan Ginkang yang tinggi Ma Ji-liong keluar dari toko serba ada, pakaiannya ketat serba hitam, dengan kain penutup kepala hitam pula, yang kelihatan hanya sepasang matanya saja.

Menetap tiga bulan lebih di kampung itu, Ma Ji-liong pernah juga keluyuran ke rumah tetangga, maka ia tahu di mana letak rumah To Po-gi. Rumah To Po-gi dibangun dengan batu bata dan genteng merah, seluruhnya ada lima bangunan rumah, tiga terang dua gelap, namun lampu sudah dipadamkan. Di belakang rumah ada pekarangan yang tidak begitu besar, di sebelah kiri pekarangan ada dapur, ada gudang kayu, di bagian tengah ada sebuah sumur.

Hampir empat bulan lamanya Ma Ji-liong tidak pernah latihan, malam ini ia mengembangkan Ginkangnya yang tinggi, dengan seksama memeriksa dari luar hingga ke belakang rumah To Po-gi. Tapi tiada sesuatu yang ditemukan, tiada yang menarik perhatian, suara apa pun tidak terdengar.

Isteri To Po-gi masih muda, segan ia mengintip kamar tidur orang dari jendela. Setelah yakin tiada sesuatu yang berhasil diselidiki, segera ia pulang ke rumah.

Cia Giok-lun belum tidur, matanya masih terbuka lebar, melotot mengawasi langit-langit rumah yang gelap, ia menunggu dengan penuh kesabaran. Dengan terbelalak ia mendengar laporan Ma Ji-liong, lalu menghela napas, katanya kemudian, “Aku keliru. Tadi aku bilang kau terkenal, sekarang baru aku sadar dugaanku ternyata keliru. Kenyataannya kau masih hijau, tidak paham seluk-beluk dan segi kehidupan kaum persilatan.”

Sebetulnya Cia Giok-lun tidak keliru. Seorang ternama belum tentu kawakan Kangouw, kawakan Kangouw belum tentu terkenal.

Ma Ji-liong tidak ingin berdebat, pokoknya dia sudah pergi melaksanakan tugas, memberi keterangan sesuai kenyataan.

Ternyata Cia Giok-lun tidak puas, ia menganggap Ma Ji-liong belum menunaikan tugasnya dengan baik, maka ia berkata, “Tempat yang tidak perlu diperiksa sudah kau periksa, tempat yang harus kau perhatikan justru kau abaikan.”

“Tempat apa yang harus kuperiksa?” tanya Ma Ji-liong.

“Kau sudah memeriksa dapur?” tanya Cia Giok-lun.

“Tidak,” Ma Ji-liong tidak mengerti. “Di dapur tidak ada orang, kenapa aku harus memeriksa dapur?”

“Kau harus periksa apakah dapur masih digunakan, apakah tungkunya masih hangat.”

Ma Ji-liong bingung, tidak habis mengerti. Dapur digunakan untuk memasak atau tidak, apa sangkut-pautnya dengan persoalan ini?

Cia Giok-lun berkata, “Pernahkah kau memeriksa sumur itu? Apakah sumur itu berair?”

“Kenapa sumur itu harus kuperiksa.”

“Karena dapur yang tidak dipakai, sumur yang tidak ada airnya adalah tempat bagus untuk bersembunyi. Di dalam dapur atau sumur bukan mustahil ada lorong rahasia di bawah tanah.”

Ma Ji-liong menghela napas, katanya, “Ahli silat yang mengajar berbagai segi kehidupan kaum persilatan kepadamu itu, agaknya luas sekali pengalamannya.”

“Betul, apa yang pernah kupelajari, sekarang kuajarkan kepadamu.”

“Maksudmu, aku harus ke sana lagi?”

“Lebih baik kau segera berangkat, periksa lagi dengan teliti.”

Tungku masih hangat, di pinggir tungku ada arang yang masih menyala, di atas tungku juga ada wajan yang berisi air hangat.

Sumur itu memang tidak ada airnya.

Apa betul orang itu bersembunyi di dasar sumur? Dasar sumur amat gelap, Ma Ji-liong tidak melihat apa-apa kecuali kegelapan.

Waktu kecil Ma Ji-liong pernah meyakinkan Pia-hou-kang (Ilmu Cecak Merambat). Untuk memeriksa keadaan dasar sumur tidak sukar, tapi kalau benar ada orang bersembunyi di dasar sumur, bila ia melorot ke bawah, tentu akan mudah disergap dan mungkin terbunuh secara konyol. Kalau betul orang itu buronan, jejaknya tentu pantang diketahui orang, maka jiwanya nanti takkan diampuni.

Dengan bekal kepandaiannya, Ma Ji-liong mungkin mampu mempertahankan diri, mungkin juga mampu balas menyerang. Tapi kenapa harus menyerempet bahaya? Tiada alasan dan tujuan apa pun untuk berkorban secara konyol, ia sudah siap meninggalkan tempat itu, siap mendengarkan omelan Cia Giok-lun pula.

Walau belum pernah menikah, belum menjadi suami, namun Ma Ji-liong sudah maklum, sudah paham, seorang suami kalau selalu diomeli isterinya yang cerewet, bagaimana rasa dan keadaannya.

Sebelum Ma Ji-liong beranjak meninggalkan mulut sumur, mendadak didengarnya suara dingin berkumandang dari dasar sumur, “Thio-laupan, kau sudah datang?” Suaranya serak rendah, betul adalah suara pembeli garam itu, Ji-liong kenal suaranya. Sebelum dirinya melihat persembunyiannya, orang sudah tahu kedatangannya.

Ma Ji-liong tertawa getir, sahutnya, “Ya, aku datang.”

Pembeli garam berkata pula, “Kalau sudah datang, kenapa tidak turun ke mari dan duduk mengobrol sebentar?”

Kalau mau Ma Ji-liong bisa tinggal pergi dengan leluasa, tiada orang yang bisa merintangi, tapi orang di dasar sumur sudah tahu kedatangannya, umpama sekarang pergi, orang akan meluruk ke toko untuk membuat perhitungan dengan dirinya. Seorang buronan tentu harus merahasiakan jejaknya.

Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini, karena ia juga terhitung buronan, sekarang ia juga sedang menyembunyikan diri. “Baik, aku akan turun,” sahutnya kemudian.

Sinar api mendadak menyala di dasar sumur yang semula gelap gulita, setitik sinar lampu kecil.

Di dasar sumur ternyata ada dua orang, seorang adalah pembeli garam, seorang lagi orang yang makan garam. Pemakan garam ini berpundak lebar, kaki panjang, jidat tinggi, tulang pipi menonjol, seharusnya terhitung laki-laki yang bertubuh kekar, namun sekarang sudah menjadi kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, keadaannya tidak menyerupai manusia umumnya, kulit badannya kering.

Anehnya ia terus meneguk air, seteguk air segenggam garam, lalu menelan sebutir telur ayam. Bukan saja tak takut asin, juga tidak mati karena terlalu banyak makan garam, air yang tertelan ke perutnya entah mengalir ke mana. Kulit badannya kelihatan mirip tanah liat yang kering kerontang lalu merekah.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: