Kumpulan Cerita Silat

12/04/2008

Pendekar Binal (02)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 10:58 pm

Pendekar Binal (02)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Meski lereng pegunungan Kun-lun-san sangat curam, tapi jalan yang menuju ke Ok-jin-kok itu ternyata teratur dengan baik menembus ke balik gunung sana dan Ok-jin-kok itu justru terletak di dasar lembah yang diapit gunung-gunung itu. Sebab itulah jalan yang masuk Ok-jin-kok bukan menanjak ke atas, tapi justru semakin menurun, sampai akhirnya Yan Lam-thian tidak perlu lagi menghela keretanya, sebaliknya dia malah seperti didorong oleh keretanya. Hanya jalan pegunungan itu semakin melingkar, cuaca juga tambah gelap sehingga pandangan sukar mencapai jauh.

Sekonyong-konyong pandangan Yan Lam-thian terbeliak, di tengah-tengah lembah yang dilingkari gunung-gemunung itu mendadak timbul lapangan pelita secara aneh dan menakjubkan, begitu banyak titik-titik lampu hingga seperti bintang-bintang bertaburan di langit.

Yan Lam-thian tahu di mana terletak sinar lampu yang tak terhitung jumlahnya itu adalah “Ok-jin-kok”, sarang berkumpulnya penjahat pelarian dari seluruh jagat ini.

Biarpun hatinya sekeras baja, nyalinya sekuat besi, tapi menghadapi Ok-jin-kok, tempat yang paling misterius dan paling berbahaya di dunia ini, mau-tak-mau timbul juga semacam perasaan aneh, serasa darahnya jadi mendidih dan mata berapi. Tanpa ragu kakinya tetap tegap melangkah ke depan sana.

Dalam bayangan Yan Lam-thian tadinya, Ok-jin-kok itu tentunya gelap gulita, seram dan menakutkan, tapi kini, sarang penjahat itu ternyata terang benderang oleh cahaya lampu. Namun cahaya lampu itu sama sekali tidak mengurangi keadaan misterius Ok jin-kok itu, sebaliknya malah menambah kegaibannya yang sukar dilukiskan.

Lantas, bagaimanakah sesungguhnya keadaan di Ok jin-kok?

Yan Lam-thian merasa denyut jantung sendiri pun bertambah keras, teka-teki akan segera terbongkar jawabannya.

Di bawah cahaya lampu terlihat sebuah tugu batu berdiri tegak di tepi jalan dengan tulisan yang bersemboyan: “Masuk dan masuklah lembah ini, selamanya engkau takkan jadi budak”.

Selewatnya tugu itu, jalanan mendadak menjadi datar, halus, di bawah cahaya lampu tampaknya licin laksana cermin. Namun Yan Lam-thian juga menyadari bahwa jalan yang halus licin ini juga jalan yang paling berbahaya di dunia ini. Setiap melangkah satu tindak terasa semakin dekat dengan bahaya dan kematian.

Bukan hutan bukan gunung, Ok jin-kok itu tampaknya lebih mirip sebuah kota kecil pegunungan. Deretan rumah berdiri di kedua sisi jalan, semua rumah dibangun secara indah, di balik pintu dan jendela tampak cahaya lampu sehingga suasana terasa aman tenteram.

Tapi di tengah kota pegunungan yang aman tenteram itu sebenarnya tersembunyi betapa banyak perangkap yang telah mencelakai orang, betapa banyak tangan yang berlumuran darah manusia? Semua ini sukar diterka.

Tangan Yan Lam-thian yang menarik kereta sudah berkeringat, kini ia sudah memasuki Ok-jin-kok, setiap saat mungkin diserang secara keji dan mendatangkan maut baginya.

Tiba-tiba dari depan sana ada orang datang. Seketika Yan Lam-thian waswas, ia tahu dalam sekejap ini mungkin akan terjadi pertarungan maut. Siapa duga kedua orang yang berpapasan dengan dia itu sama sekali tidak memandangnya, pakaian kedua orang itu sangat perlente, namun mereka lewat begitu saja di sebelah Yan Lam-thian.

Dilihatnya orang di jalanan semakin banyak, akan tetapi tiada seorang pun yang memperhatikan dia. Keruan Yan Lam-.thian menjadi ragu, heran dan sangsi. Sebab ia tahu pasti orang yang berlalu-lalang itu semuanya adalah penjahat yang tangannya berlumuran darah. Kalau orang-orang itu serentak melancarkan serangan padanya takkan membuatnya heran, tapi kini gerak-gerik orang-orang itu tiada sesuatu pun yang mencurigakan, inilah yang membuatnya ragu dan tak dapat meraba apa sebenarnya yang akan terjadi. Ok-jin-kok yang dipandang sebagai lembah maut bagi setiap insan persilatan, kini baginya ternyata seperti memasuki sebuah kota yang makmur, aman dan tenteram.

Pikiran Yan Lam-thian menjadi bingung malah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Selama hidupnya entah betapa banyak persoalan pelik dan berbahaya yang telah dihadapinya, tapi belum ada sesuatu yang membuatnya bimbang seperti sekarang.

Dalam kereta yang diseretnya itu terdengar suara tangisan bayi. Yan Lam-thian menghela napas, ia coba tenangkan diri. Dilihatnya di depan sana ada sebuah pintu yang terbuka. Dari dalam rumah itu terasa ada bau sedap makanan.

Tanpa pikir panjang Yan Lam-thian menarik keretanya ke sana. Dengan langkah lebar ia masuk ke rumah itu.

Ruangan yang indah dengan beberapa meja yang indah pula, dua meja di antaranya terdapat beberapa orang sedang minum arak sambil bersenda-gurau. Rumah ini seperti sebuah rumah makan, tapi jelas jauh lebih indah dan mewah daripada rumah makan umumnya.

Dengan membopong bayi Yan Lam-thian memilih salah sebuah meja dan duduk, dilihatnya rumah makan itu tiada sesuatu yang aneh, beberapa orang yang sedang minum arak itu berpakaian perlente dan bicara sewajarnya, sedikit pun tiada tanda-tanda bahwa mereka adalah penjahat yang pernah menghadapi jalan buntu dan terpaksa merat ke lembah terpencil ini, sungguh aneh dan mengherankan Yan Lam-thian.

Ia lupa bahwa manusia yang paling jahat, orang yang paling culas, pada lahirnya justru sukar ditemukan tanda-tanda khas itu. Kalau wajah mereka kelihatan bengis menakutkan sehingga orang yang melihatnya segera waswas akan segala kemungkinan, lalu kejahatan apa yang akan dapat mereka lakukan? Tentu akan gagal bukan? Hal ini sebenarnya sangat sederhana, namun jarang direnungkan oleh manusia dan tidak banyak yang paham.

Tiba-tiba tirai pintu tersingkap dan masuklah seorang. Orang ini pendek gemuk, mukanya berseri-seri, senyum selalu dikulum, itulah tipe seorang pemilik rumah makan yang selalu harus ramah tamah terhadap tamunya.

Sedapatnya Yan Lam-thian bersabar dan duduk di tempatnya. Tapi si gemuk berwajah bulat itu lantas mendekatinya serta menegur dengan memberi salam, “Selamat datang Saudara!”

“Ehm,” Yan Lam-thian hanya mendengus perlahan.

Si gemuk berkata pula dengan tertawa, “Tiga tahun yang lalu sudah tersiar berita bahwa Hengtay (saudara) mengikat permusuhan dengan Joan-tiong-pat-gi, sejak itu kami sudah berharap-harap akan kedatanganmu ke sini. Siapa duga Saudara tidak segera muncul sehingga kami lama menunggu sampai sekarang.”

“O,” Yan Lam-thian bersuara singkat pula. Diam-diam baru ia tahu bahwa orang-orang ini telah salah menyangkanya sebagai “Joan-jong-kiam” Suma Yan sebagaimana para Tosu Kun-lun-pay serta Joan-tiong-sam-gi itu menyangkanya. Namun sedapatnya ia tetap tenang saja tanpa mengunjuk sesuatu.

Ketika si gemuk bermuka bulat itu menggapai, segera datang seorang dengan langkah gemulai, seorang gadis berbaju hijau, cantik dan genit. Matanya jeli dan giginya putih bak biji mentimun. Dengan lirikan yang genit gadis cantik itu mengucapkan salam hormat juga kepada Yan Lam-thian dan dijawab dengan dengusan singkat pula.

Melihat sikap Yan Lam-thian yang kaku dan acuh itu, si gemuk berkata dengan tertawa, “Rupanya baru tiba dari tempat jauh, Suma-siansing tiada hasrat bercengkerama denganmu. Lekas mengambilkan arak saja bagi Suma-siansing, lalu membuatkan tajin kental bagi kawan kecil kita ini.”

“Sungguh anak yang mungil dan manis,” kata gadis itu dengan tertawa genit sambil melirik sekejap kepada Yan Lam-thian, lalu melangkah pergi dengan gaya yang menggiurkan.

Sorot mata Yan Lam-thian menatap si gemuk berwajah bulat itu, diam-diam ia pikir, “Mungkin orang inilah ‘Siau-li-cong-to’, si Budha tertawa kecil, Ha-ha-ji. Kalau melihat wajahnya yang selalu tertawa, terhadap anak kecil juga begini simpatik, lalu siapa yang menyangka bahwa di dalam semalam saja dia telah membunuh seluruh anggota keluarga gurunya. Soalnya cuma lantaran Siausumoay-nya memaki dia dengan istilah ‘babi’ saja.”

Tengah termenung, si gadis genit tadi sudah kembali dengan langkahnya yang meliak-liuk dan membawa satu nampan daharan dan arak. Terendus bau arak yang harum, warna masakannya juga sangat menarik dan membuat orang meneteskan air liur.

“Suma-siansing datang dari jauh, tentu sudah lapar,” kata si gemuk dengan tertawa. “Silakan dahar saja, habis itu baru kita bicara lagi.”

Kembali Yan Lam-thian cuma mendengus saja, tapi tidak menyentuh daharan yang disuguhkan itu.

“Umumnya menyangka kami yang berada di sini pasti hidup susah dan menderita,” kata pula si pendek gemuk dengan tertawa, “mereka tidak tahu bahwa dengan berkumpulnya kaum cerdik pandai sebanyak ini di sini mana bisa kami menderita. Seumpama arak dan masakan ini, sekali pun raja juga sukar menikmatinya, supaya terbukti, silakan Sum-siansing mencicipinya.”

“O,” lagi-lagi Yan Lam-thian bersuara singkat saja.

“Siapakah gerangan koki yang memasak daharan ini, kuyakin sama sekali takkan pernah terpikir oleh Suma-siansing,” ujar si buntak dengan tertawa.

“Siapa?” tanya Yan Lam ;thian.

“Pernahkah Saudara dengar di dalam Kay-pang dahulu ada seorang tokohnya yang berjuluk ‘Thian-sip-sing’ (si tukang gegares)? Hanya di dalam setengah jam saja dia telah meracun mati tujuh tertua dari Pang mereka ….” sampai di sini, mendadak “brak”, si buntak menggebrak meja, lalu menyambung dengan bergelak, “Sungguh seorang ksatria sejati, seorang tokoh besar. Nah, yang membuat daharan ini adalah dia.”

Diam-diam Yan Lam-thian terkejut, tapi tetap berlagak acuh-tak-acuh dan menanggapi dengan suara, “O!” begitu saja.

Mendadak si gemuk buntak itu tertawa pula dan berseru, “Suma-siansing benar-benar adalah tokoh pilihan kaum kita, sebelum persoalan menjadi jelas, sama sekali engkau tidak sudi makan. Padahal sebelum kedatangan Suma-heng ini sebenarnya kami sudah pandang dirimu sebagai saudara sekaum …” sampai di sini, segera ia angkat sumpit, setiap macam daharan dicicipinya dulu satu kali. Lalu menambahkan dengan tertawa, “Nah, apakah sekarang Suma-heng masih sangsi?”

“Jika mereka telah salah sangka diriku sebagai Suma Yan, inilah kesempatan baik bagiku untuk menyelidiki jejak bangsat Kang Khim itu,” demikian pikir Yan Lam-thian. “Kalau sekarang aku berkeras tidak mau makan, tentu akan menimbulkan curiga mereka. Apalagi mereka sudah mengira aku ini Suma Yan, rasanya mereka takkan mencelakai aku dengan racun.”

Maklumlah sekali pun Yan Lam-thian adalah lelaki berdarah panas, tapi kecerdikannya tidak di bawah orang lain, kalau tidak masakah kawanan Piausu itu dapat diakali hingga kelabakan. Kini setelah dia pikir dan timbang lagi, ia merasa lebih baik makan daripada tidak, maka ia lantas angkat sumpit dan berkata, “Baiklah, mari makan!”

Tanpa sungkan-sungkan lagi ia terus makan dan minum.

Beberapa macam santapan itu memang punya cita rasa yang lezat dan sukar dicari bandingannya. Dalam waktu singkat daharan itu sudah disikat bersih oleh Yan Lam-thian. Apalagi kalau mengingat sebentar lagi harus banyak mengeluarkan tenaga, jika perut kenyang tentu akan lebih kuat, maka dia makan dengan lebih cepat.

“Nah, bagaimana kepandaian masak Thian-sip-sing itu?” tanya si gemuk dengan bergelak tertawa.

“Lezat!” sahut Yan Lam-thian sambil mengusap mulutnya dengan lengan baju.

“Sebentar lagi tajin untuk kawan kecil itu tentu juga akan dibawa kemari,” ujar si gemuk pula.

“Ya, makin cepat makin baik,” kata Yan Lam-thian.

“Haha, setelah kawan kecil ini minum tajin, maka Yan-tayhiap juga boleh mulai turun tangan,” demikian ucap si gemuk tiba-tiba.

Keruan air muka Yan Lam-thian berubah seketika, katanya, “Apa … apa yang kau katakan?”

Kembali si gemuk tertawa terbahak-bahak, katanya, “Nama Yan-tayhiap termasyhur di seluruh jagat, tampangmu juga lain daripada yang lain, sekali pun aku Ha-ha-ji bermata buta juga dapat mengenal Yan-tayhiap. Haha, tadi aku pura-pura salah sangka engkau sebagai Suma Yan, tujuanku adalah untuk mengelabui Yan-tayhiap, kalau tidak masakah engkau sudi dahar makanan yang dibuat oleh Thian-sip-sing dengan campuran obat biusnya yang khas itu. Hahaha ….”

“Bangsat keparat!” bentak Yan Lam-thian murka, sebelah kakinya terus mendepak, kontan meja dengan mangkuk piring di atasnya mencelat dan berantakan.

Si pendek itu memang betul “Si Budha Tertawa” Ha-ha-ji alias “Siau-li-cong-to” atau di balik tertawanya tersembunyi pisau. Julukannya ini melukiskan hatinya yang berbisa, tapi lahirnya suka tertawa, setiap ucapan pasti disertai tertawa ngakak, makanya dia bernama Ha-ha-ji atau si tukang Ha-ha.

Ketika meja didepak Yan Lam-thian, dengan gesit ia sudah melompat ke samping, lalu berolok-olok dengan tertawa, “Sebaiknya Yan-tayhiap jangan banyak mengeluarkan tenaga, kalau tidak, obat bius di dalam tubuhmu tentu akan bekerja terlebih cepat dan … Haha … Haha ….”

Yan Lam-thian merasa badannya tiada sesuatu tanda yang mencurigakan, ia pikir mungkin orang sengaja menggertak dan menakut-nakuti. Tapi ketika diam-diam ia coba mengerahkan tenaga dalamnya, benar saja, terasa sukar dikeluarkan. Keruan ia cemas dan gusar pula, segera ia menubruk maju terus menghantam.

Tapi Ha-ha-ji tetap berdiri tegak di tempatnya dengan tertawa tanpa bergerak dan tidak menyerang.

Ternyata sebelum pukulan Yan Lam-thian itu dilontarkan, lebih dulu tubuhnya sudah jatuh terjungkal. Anggota badannya terasa lemas lunglai, tenaga saktinya yang beribu-ribu kati itu entah hilang ke mana?

Lamat-lamat didengarnya suara tertawa senang Ha-ha-ji serta suara tangis anak bayi … suara tertawa dan menangis itu terasa semakin menjauh dan akhirnya … segalanya tak terdengar lagi ….

Entah berselang berapa lama, Yan Lam-thian merasa ada lampu sedang memancarkan sinarnya di depan wajahnya. Perlahan ia membuka mata, terasa lampu itu seperti berputar-putar di depan matanya, ia ingin mendekap matanya tapi kaki dan tangan sedikit pun tak dapat bergerak.

Kepalanya terasa sakit seakan-akan pecah, tenggorokan juga panas seperti terbakar. Sekuatnya ia mengertak gigi dan mendelik untuk memandang lentera itu. Mana ada lampu yang berputar? Segera ia dapat melihat jelas wajah tertawa di belakang lentera itu.

“Bagus, Yan-tayhiap sudah siuman,” terdengar Ha-ha-ji berseru dengan tertawanya yang khas. “Di sini ada beberapa kawan yang sedang menunggu dan ingin menyaksikan betapa gagahnya si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia.”

Segera Yan Lam-thian juga dapat melihat beberapa bayangan orang, ada yang tinggi, ada yang pendek, tapi sinar lentera menusuk pandangannya sehingga bagaimana macam orang-orang itu tidak jelas terlihat.

Terdengar Ha-ha-ji berkata pula dengan tertawa, “Apakah Yan-tayhiap kenal beberapa kawan ini? Haha, biarlah kuperkenalkan mereka padamu, Nah, inilah ‘Hiat-jiu’ Toh Sat.”

Lalu terdengar seorang membuka suara dengan nada dingin, “Dua puluh tahun yang lalu pernah kuberjumpa satu kali dengan Yan-tayhiap, cuma sayang waktu itu Cayhe ada urusan penting sehingga tidak sempat belajar kenal dengan kungfu sakti Yan-tayhiap.”

Yang bicara ini berperawakan tinggi kurus, memakai jubah panjang putih mulus, kedua tangan tersembunyi di dalam lengan bajunya yang panjang dan longgar. Wajahnya tampak pucat pasi, begitu pucat sehingga mirip es batu yang tembus cahaya.

Dengan menahan rasa sakit kepalanya, Yan Lam-thian bergelak tertawa keras dan menjawab, “Ya, dua puluh tahun yang lalu, jika tidak mengingat kamu habis dilukai oleh ‘Lam-thian-tayhiap’ (pendekar di langit selatan) Loh Tiong-to dan aku merasa tidak sudi melabrak seorang yang sudah terluka, kalau tidak, masakah kamu mampu hidup sampai sekarang?”

Air muka Toh Sat sama sekali tidak berubah, dengan dingin ia menjawab, “Nyatanya Cayhe masih hidup sampai sekarang, bahkan akan terus hidup, sebaliknya Yan-tayhiap sendiri selekasnya akan mati.”

“Namun sebelum ajal Yan-tayhiap masih sanggup tertawa, hal ini rada-rada mirip dengan aku si Ha-ha-ji ini,” seru Ha-ha-ji dengan mengakak. “Dan kawan yang ini adalah ‘Put-sip-jin-thau’ Li Toa-jui, apakah Yan-tayhiap pernah kenal atau mendengar namanya?”

Suara seorang yang lantang segera menanggapi lebih dulu, “Sudah lama kudengar Yan-tayhiap memiliki otot kawat tulang besi, kukira dagingnya pasti sama enak dengan dendeng sapi, nanti harus kukunyah dan kutelan dengan pelan-pelan agar dapat menikmati rasanya yang sejati.”

“Haha, dasar, setiap membuka mulut Li Toa-jui tidak pernah lupa pada kegemarannya,” kata Haha ji. “Kuperkenalkan Yan-tayhiap padamu, sepantasnya kau bicara secara ramah-tamah, mengapa sekali pentang mulut lantas menyatakan ingin makan dagingnya?”

“Kukatakan daging Yan-tayhiap pasti lezat, ini kan juga ucapan sanjung pujiku. Kalian yang hanya suka makan daging babi mana tahu artinya?” ujar Li Toa-jui dengan tertawa.

“Bicara makanan, babi adalah binatang kotor dan busuk, memang tidak sebersih daging manusia,” kata Ha-ha-ji dengan tertawa. “Aku menjadi tertarik pada propagandamu dan ingin mencicipi daging Yan-tayhiap ini bagaimana rasanya. Haha, tapi kukuatir daging Yan-tayhiap ini terlalu kasar, jangan-jangan nanti … Hahaha ….”

“Kamu bukan ahli makan, maka tidak paham,” sela Li Toa-jui. “Daging yang seratnya kasar ada rasa kasar tersendiri, daging halus juga ada rasa halus tersendiri pula. Daging Hwesio (biksu) ada rasa daging Hwesio, daging Nikoh (biksuni) juga ada rasa daging Nikoh, satu dan lain tidak sama, masing-masing mempunyai keunggulannya sendiri-sendiri.”

“Apakah daging Hwesio juga pernah kau makan?” tiba-tiba sebuah suara genit bertanya.

“Hah, tidak cuma pernah, bahkan sering,” sahut Li Toa-jui. “Yang paling terkenal adalah Thi-koh Hwesio dari Ngo-tay-san, hampir tiga hari suntuk kumakan dia …. Daging orang terkenal rasanya memang lebih lezat dan sedap.”

“Sudah berapa orang yang kau makan seluruhnya?” tanya suara merdu tadi dengan tertawa genit.

“Wah, sukar dihitung,” jawab Li Toa-jui.

“Daging siapa yang paling lezat?” tanya pula suara genit itu.

“Kalau bicara halusnya dan lezatnya harus diakui daging biniku dahulu itu,” tutur Li Toa-jui. “Dagingnya yang putih halus itu, wah, kalau terkenang sekarang sungguh air liurku bisa menetes.”

“Haha, sudahlah, sudahlah, jangan bicara tentang daging manusia lagi,” seru Ha-ha-ji. “Coba lihat, betapa gusarnya Yan-tayhiap ….”

“Benar, kita jangan membuat marah Yan-tayhiap lagi, orang marah dagingnya akan kecut, ini adalah hasil penelitianku selama ini, kalian perlu tahu,” ujar Li Toa-jui.

Lalu Ha-ha-ji menuding lagi kawannya yang lain dan memperkenalkannya pada Yan Lam-thian, “Dan yang ini adalah ‘Bukan lelaki bukan perempuan’ To Kiau-kiau ….”

“Kan tadi aku yang membawakan arak dan santapan bagi Yan-tayhiap,” sela suara genit tadi. “Jadi Yan-tayhiap sudah kenal diriku, tidak perlu lagi kau perkenalkan.”

Terkesiap juga hati Yan Lam-thian, pikirnya, “Jadi gadis baju hijau tadi adalah samaran ‘si bukan lelaki bukan perempuan’ (alias banci) To Kiau-kiau. Padahal iblis ini sudah terkenal lebih dua puluh tahun yang lalu, namun menyamar gadis berusia enam belas-tujuh belas tahun ternyata juga begitu persis.”

Tangan berdarah Toh Sat, kegemaran Li Toa-jui memakan daging manusia, semua ini belum membuat terkejut pendekar besar ini, tapi kepandaian menyamar To Kiau-kiau yang dapat mengelabui siapa pun juga ini sungguh membuatnya terkesiap.

Tiba-tiba terdengar seorang berseru, “Ha-ha-ji, kenapa cerewet saja sejak tadi, memangnya kamu ingin memperkenalkan segenap penghuni lembah ini padanya? Ada lebih baik lekas kau tanya dia, habis mendapatkan keterangan selekasnya mengirim dia untuk menemani aku di akhirat.”

Suara orang itu seperti mengambang di udara dan terputus-putus, kalimat pertama kedengaran berada di sebelah kiri, kalimat berikutnya terasa di sisi kanan. Cara bicara orang biasa betapa pun anehnya tentu juga bertenaga, cara bicara orang ini ternyata tiada tenaga sama sekali, mirip orang yang sekarat dan seperti orang bersuara dari dalam peti mati.

Tanpa terasa mengkirik juga bulu roma Yan Lam-thian, pikirnya, “Benar-benar cocok dengan julukannya sebagai ‘setengah manusia setengah setan’ Im Kiu-yu ini, bahkan cara bicaranya juga ‘tujuh bagian berbau setan.”

“Hahaha!” demikian terdengar Ha-ha-ji lagi berkata dengan tertawa, “Jadi setan saja Im-lokiu juga tidak mau kesepian. Kalau Yan-tayhiap sudah datang kemari, masakah kau khawatir takkan mendapat teman di akhirat?”

“Aku tidak sabar menunggu lagi!” sahut suara aneh tadi, suara Im Kiu-yu yang berjuluk “setengah manusia setengah setan” itu.

Belum lenyap suara itu, tiba-tiba Yan Lam-thian merasa sebuah tangan meraba kuduknya dari belakang, tangan itu terasa lebih dingin daripada es, seketika Yan Lam-thian juga menggigil karena rabaan itu.

“Im-lokiu, singkirkan tanganmu!” bentak Li-Toa-jui. “Sekali kena diraba tangan setanmu, mana daging itu dapat dimakan lagi?”

Im Kiu-yu terkekeh, katanya, “Kamu yang turun tangan juga boleh, cuma lekasan sedikit.”

“Nanti dulu, aku ingin menanyai dia lagi!” seru Toh Sat mendadak.

“Tanyalah, kan tiada yang merintangimu,” ujar To Kiau-kiau dengan mengikik genit.

“Yan Lam-thian,” segera Toh Sat mulai bertanya, “apakah kedatanganmu ke sini hendak mencari diriku?”

“Kamu belum sesuai bagiku,” jawab Yan Lam-thian.

Toh Sat tidak marah, dengan nada dingin ia bertanya pula, “Aku tidak sesuai bagimu, habis siapa yang sesuai?”

“Kang Khim,” jawab Yan Lam-thian singkat.

“Kang Khim?” Toh Sat mengulang nama itu. “Siapa dia? Pernahkah para kawan mendengar nama itu?”

“Haha, di Ok-jin-kok tiada terdapat Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco) begitu!” kata Ha-ha-ji.

“Meski bangsat itu tak terkenal, tapi busuknya berpuluh kali lipat daripada kalian,” ujar Yan Lam-thian dengan geregetan. “Asalkan kalian mau menyerahkan keparat itu padaku, maka aku berjanji takkan membikin susah kalian.”

“Haha bagus, bagus! Kalian dengar tidak apa yang dikatakan Yan-tayhiap, beliau takkan membikin susah kita. Ayolah kita lekas mengucapkan terima kasih banyak-banyak.”

Belum habis ucapannya, bergemuruhlah “hahahihi-kikik-kekek”, berbagai macam suara tertawa bergelak serentak.

“Memangnya kalian merasa geli?” tawa Yan Lam-thian dengan geram.

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Saat ini kamu terikat oleh tiga belas utas tali, empat Hiat-tomu ditutuk pula oleh Toh-lotoa, mestinya kamu harus minta ampun pada kami, tapi kamu malah bilang takkan membikin susah kami, masakah di dunia ini ada kejadian yang lebih menggelikan daripada ini?”

“Hm, ” Yan Lam-thian hanya menjengek.

“Baiklah, biar kukatakan juga padamu bahwa di Ok jin-kok ini benar-benar tiada terdapat orang bernama Kang Khim,” kata Kiau-kiau. “Pasti kamu telah dikibuli orang, agaknya orang itu sengaja mendorongmu untuk mengantarkan nyawa ke sini.”

“Hahaha! Dan ternyata kau percaya begitu saja pada perkataan orang itu,” seru Ha-ha-ji dengan tertawa. “Haha, sungguh lucu, sudah tua bangka Yan Lam-thian ternyata dapat ditipu seperti anak kecil saja.”

“Bangsat!” sekonyong-konyong Yan Lam-thian membentak, suaranya keras laksana guntur menggelegar dan memekak telinga.

“Celaka!” seru To Kiau-kiau kaget. “Tenaga orang ini tampak kuat, jangan-jangan ilmu Tiam-hiat Toh-lotoa telah dibobolnya secara diam-diam tadi.”

“Hehe, terkaanmu memang tidak salah!” bentak Yan Lam-thian sambil tertawa. Mendadak ia melompat bangun, sekali kedua tangannya terpentang, serentak tiga belas tali kulit yang meringkus badannya itu putus semua.

“Wah, celaka, mayat hidup lagi!” seru Im Kiu-yu. Belum lenyap ucapannya, tahu-tahu orangnya sudah berada belasan meter jauhnya. Orang she Im ini suka membanggakan Ginkangnya nomor satu, ternyata cara larinya memang cepat luar biasa, tentu saja yang konyol adalah kawan-kawannya.

Terdengarlah suara “brak”, sebuah meja ditumbuk roboh oleh Ha-ha-ji, orangnya berguling-guling beberapa kali dan mendadak menghilang. Kiranya telah menyusup ke dalam liang di bawah tanah.

“Ai, perempuan baik-baik takkan berkelahi dengan lelaki,” seru To Kiau-kiau. “Awas, aku akan buka baju!”

Benar saja, mendadak ia menanggalkan pakaiannya terus dilemparkan ke arah Yan Lam-thian. Ketika Yan Lam-thian menyampuk jatuh baju itu, ternyata si banci juga sudah menghilang.

Li Toa-jui tidak sempat kabur, terpaksa ia berdiri di situ, katanya dengan tertawa, “Bagus, Yan Lam-thian, biar orang she Li yang coba-coba mengukur kepandaianmu.”

Sembari bicara, mendadak ia menyelinap ke belakang Toh Sat dan berkata pula, “Namun apa pun juga kepandaian Toh-lotoa lebih hebat daripadaku, adik tak berani bersaing dengan sang kakak. Silakan maju dulu, Toh-lotoa!”

Padahal meski Yan Lam-thian sudah berdiri, namun tenaga murninya belum terhimpun, kalau saja beberapa orang itu mengerubutnya sekaligus, betapa pun dia sukar terhindar dari maut. Tapi Yan Lam-thian memperhitungkan dengan tepat jiwa licik orang-orang ini, berani pada yang lemah, takut pada yang kuat. Mementingkan diri sendiri dan lebih suka merugikan orang lain. Jika mereka disuruh bagi rezeki tentu akan maju sekaligus, sebaliknya jika mereka disuruh mengadu jiwa, jangan harap!

Begitulah maka Im Kiu-yu, To Kiau-kiau, Ha-ha-ji, Li Toa-jui, dalam sekejap saja sama menghilang, hanya tertinggal Toh Sat yang masih berdiri mematung di situ.

Sementara itu tenaga murni Yan Lam-thian sudah terkumpul, sorot matanya memancar tajam, cuma ia belum segera turun tangan, dengan suara bengis ia membentak, “Kenapa kamu tidak lari seperti kawan-kawanmu?”

“Menghadapi lawan, selamanya orang she Toh tak pernah lari!” jawab Toh Sat tegas.

“Jadi kau berani bergebrak dengan aku?” tanya Yan Lam-thian.

“Benar!” belum lenyap suara Toh Sat, serentak ia melompat maju, di tengah berkibarnya pakaian putih laksana gumpalan salju terseling dua buah tangan merah berdarah. Tui-hun-hiat-jiu, tangan berdarah pemburu sukma, ilmu pukulan berbisa andalan Toh Sat.

“Bagus!” sambut Yan Lam-thian dengan tertawa keras. Ia pun angkat kedua tangan dan balas menghantam kedua telapak tangan lawan yang merah itu.

Diam-diam Toh Sat bergirang. Maklumlah, ia disegani karena tangan berbisanya yang merah berdarah itu, sebab dia memakai sarung tangan berduri yang telah direndam dengan cairan beratus macam racun. Asalkan badan kulit orang tergores sedikit saja, maka tidak sampai setengah jam kemudian orang itu pasti akan binasa. Racun itu boleh dikatakan “kena darah lantas tutup napas”, ganasnya luar biasa.

Tapi sekarang Yan Lam-thian berani memapak tangannya yang berbisa itu dengan tangan telanjang, bukankah ini sama dengan mengantarkan nyawa?

Maka terdengarlah suara gertakan berbaur dengan suara jeritan, menyusul lantas berbunyi “krek” satu kali.

Sudah jelas Yan Lam-thian memapak serangan tangan berdarah lawan dengan pukulan pula, tapi sampai di tengah jalan, entah bagaimana mendadak gerak serangannya itu berubah. Sekonyong-konyong Toh Sat merasakan serangannya tak mencapai sasarannya, perasaannya mirip orang berjalan yang mendadak sebelah kaki menginjak tempat kosong. Keruan ia terkejut, gugup dan bingung pula.

Pada saat itulah kedua pergelangan tangannya sudah kena dipegang Yan Lam-thian, baru saja dia menjerit kaget dan cemas, “krek”, pergelangan tangan kanannya telah dipatahkan mentah-mentah oleh lawan.

Sebelum tubuh lawan roboh, Yan Lam-thian sempat mencengkeram pula baju dadanya dan membentak dengan bengis, “Di sini ada orang bernama Kang Khim tidak?”

Rasa sakit Toh Sat tak terkatakan, namun ia mengertak gigi dan bertahan sekuatnya, sahutnya dengan parau, “Kalau memang tidak ada ya tetap tidak ada!”

“Dan di mana anak bayi itu?” bentak Yan Lam-thian pula.

“Ti … tidak tahu! Kau bunuh saja diriku!”

“Mengingat keperkasaanmu, jiwamu kuampuni!” kata Yan Lam-thian, mendadak tangannya mengebas, Toh Sat terlempar jauh.

Hebat juga Toh Sat dan tidak malu sebagai tokoh Bu-lim yang disegani, dalam keadaan demikian dia masih sanggup menguasai diri, dia berjumpalitan satu kali di udara, lalu tancapkan kakinya dengan enteng di atas tanah tanpa sempoyongan dan terjatuh. Jubahnya yang putih mulus sudah berlepotan darah, dengan tangan kiri memegangi tangan kanan sendiri, ia berseru dengan suara serak, “Sekarang kamu mengampuni aku, sebentar lagi kamu takkan kuampuni!”

“Hahaha! Bilakah Yan Lam-thian pernah minta diampuni orang?” jawab Yan Lam-thian sambil tertawa.

“Baik!” kata Toh Sat sambil melangkah pergi.

“Kembalikan anak itu, kalau tidak, lembah ini pasti kuhancurleburkan!” bentak Yan Lam-thian dengan kereng. Suaranya menggelegar, namun segalanya sunyi senyap.

Yan Lam-thian menjadi gusar, “blang”, sebuah meja ditendangnya hingga mencelat. “Brek”, sekali hantam dinding lantas berlubang.

Begitulah ia terus mengamuk, segala isi rumah itu diobrak-abriknya hingga berantakan. Namun penghuni Ok jin-kok seakan-akan sudah mampus seluruhnya, tiada seorang pun berani menongol.

“Baik, ingin kulihat kalian akan sembunyi sampai kapan!” bentak Yan Lam-thian dengan murka sambil mengamuk sepanjang jalan.

Tiba-tiba ia menerjang masuk sebuah rumah, “blang”, ia depak daun pintu rumah itu hingga sempal sebelah, di dalam rumah ada dua orang, mereka menjadi kaget melihat Yan Lam-thian menerjang masuk bagai orang gila, segera mereka hendak kabur.

“Lari ke mana?” bentak Yan Lam-thian.

Seperti kucing menerkam tikus, dengan cepat ia melompat maju, sekali meraih, punggung salah seorang itu kena dicengkeramnya.

Kepandaian orang itu sebenarnya tidak lemah, tapi entah mengapa kini ia tak dapat berkutik sama sekali dan kena diangkat begitu saja seperti elang mencengkeram anak ayam.

Di tengah gertakan Yan Lam-thian, sekali dorong, kontan kepala orang itu pecah berantakan menumbuk dinding.

Keruan orang yang lain ketakutan setengah mati, kaki pun terasa lemas dan tidak sanggup lari lagi. “Bluk”, ia jatuh mendeprok di tanah.

Segera Yan Lam-thian mencomot kuduk orang itu sambil membentak, “Bangsat! Pergilah menyusul kawanmu!”

“Nanti dulu, dengarkan perkataanku!” mendadak orang itu berteriak.

“Apa yang hendak kau katakan?” tanya Yan Lam-thian, ia mengira orang akan memberitahukan di mana beradanya bayi yang hilang, sebab itulah ia menghentikan aksinya.

Tak tahunya orang itu lantas bertanya malah, “Ada permusuhan dan dendam apa antara engkau dan aku, mengapa engkau berbuat sekeji ini?”

“Penghuni Ok jin-kok adalah kawanan bangsat yang mahajahat, biarpun kubunuh habis juga takkan keliru!” bentak Lam-thian gusar.

“Benar!” seru orang itu. “Aku Ban Jun-liu dahulu memang betul orang jahat, tapi sudah lama aku memperbaiki diriku, mengapa kau ingin membunuhku pula? Ber … berdasarkan apa engkau membunuh aku?”

Sejenak Yan Lam-thian melengak, gumamnya kemudian, berdasar apa aku membunuhnya? Mengapa aku tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki kelakuannya dan memperbaharui hidupnya?”

Setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia lepaskan pegangannya dan membentak perlahan, “Pergilah!”

Cepat orang itu meronta bangun, tanpa menoleh lagi terus berlari pergi dengan langkah terhuyung.

Sambil menyaksikan kepergian orang itu, Yan Lam-thian menghela napas panjang dan bergumam pula, “Apa gunanya membunuh orang yang tak bersalah? Wahai, Yan Lam-thian, Kang-jitemu hanya meninggalkan yatim piatu ini, jika kamu tidak bertindak dengan tenang dan menggunakan akal sehat, bisa jadi keturunan saudara angkatmu itu akan lenyap, biarpun kau bunuh habis segenap penghuni Ok-jin-kok ini juga tiada gunanya lagi ….”

Berpikir demikian, seketika api amarahnya padam. Segera ia pun menemukan berbagai keanehan di tempat ini.

Ia lihat rumah ini sangat besar, sebuah ruangan yang penuh tertimbun macam-macam bahan obat-obatan. Selain itu ada belasan anglo dengan apinya yang sedang membara, setiap anglo itu ada perkakas masak sebangsa wajan, ceret serta alat lain yang berbentuk aneh dan tak diketahui namanya. Di dalam setiap perkakas masak itu teruar bau harum obat yang menusuk hidung.

Yan Lam-thian sudah kenyang asam garam dunia Kangouw, pengalamannya banyak, pengetahuannya luas, terhadap ilmu pertabiban dan pengobatan juga tidak asing, pada waktu menganggur dia sering mencari bahan obat-obatan di lereng gunung dan pernah pula membuat beberapa macam obat luka menurut resepnya sendiri.

Tapi sekarang bahan obat-obatan yang tertimbun di rumah ini, baik yang tertumpuk di pojok ruangan maupun yang sedang dimasak, paling-paling Yan Lam-thian hanya kenal dua-tiga jenis di antaranya, selebihnya hampir tak pernah dilihatnya.

Baru sekarang ia terkejut, pikirnya, “Kiranya begini tinggi ilmu pertabiban Ban Jun-liu tadi, syukur aku tidak jadi membunuhnya. Jika dia tidak pernah menyesal pada kejahatannya yang dahulu dan tidak ingin memperbaikinya, tentu dia takkan susah payah mempelajari ilmu pengobatan yang bermanfaat bagi orang lain ini.”

Bau harum obat yang dimasak itu semakin keras hingga akhirnya rumah itu penuh kabut asap dan menambah gaibnya rumah itu.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang berbaju hitam tampak melangkah datang menembus kabut asap itu. Langkah orang itu sedemikian ringan, begitu gesit, sepasang matanya juga mengerling lincah dan terang.

Yan Lam-thian menahan perasaannya dan menatap orang tanpa bicara. Orang berbaju hitam itu langsung mendekati Yan Lam-thian dan berdiri di depannya. Di antara sorot matanya yang licik itu terkulum juga senyuman licin pada mulutnya.

“Selamat, Yan-tayhiap!” tiba-tiba orang itu menyapa dengan tertawa sambil angkat tangan memberi hormat.

“Hm,” Yan Lam-thian hanya mendengus saja.

“Cayhe ‘Joan-jong-kiam’ Suma Yan,” kata pula si baju hitam.

Meski Yan Lam-thian sudah mengambil keputusan akan bersabar dan bersikap tenang, kini tidak urung terguncang juga perasaannya dan berseru tanpa kuasa, “Kiranya kau! Jadi kamu sudah di sini?!”

Suma Yan terkekek licik, katanya, “Sebelum Yan-tayhiap tiba, lebih dulu Cayhe sudah sampai di sini. Pengalaman Yan-tayhiap akhir-akhir ini sudah kudengar, sebab itulah, begitu Yan-tayhiap datang, orang-orang di sini juga lantas tahu.”

Mendelik mata Yan Lam-thian, tapi tetap diam saja.

“Yan-tayhiap tidak perlu melotot padaku, kukira engkau takkan membunuh aku,” ujar Suma Yan, dengan tertawa licik.

“Berdasar apa kau kira aku tak berani membunuhmu? Sungguh aneh, coba katakan!” bentak Yan Lam-thian bengis.

“Sederhana, di antara dua negeri yang berperang, tidak mungkin membunuh duta dari salah satu pihak,” kata Suma Yan dengan tertawa.

“Duta? Kamu ini duta? Duta dari mana?” Yan Lam-thian menegas.

“Cayhe datang atas perintah untuk menanyai sesuatu pada Yan-tayhiap,” jawab Suma Yan.

“Apakah urusan mengenai anak itu?” tergerak juga hati Yan Lam-thian.

“Benar!” jawab Suma Yan dengan tertawa.

Segera Yan Lam-thian mencengkeram baju orang itu, bentaknya dengan suara parau, “Di mana anak itu?”

Suma Yan tidak menjawab, dengan mengulum senyum ia pandang tangan Yan Lam-thian.

Yan Lam-thian menggreget, tapi akhirnya ia kendurkan tangannya.

Dengan tertawa-barulah Suma Yan menjelaskan, “Cayhe disuruh menanyai Yan-tayhiap, apabila mereka menyerahkan kembali anak itu padamu, lalu bagaimana urusannya?”

Tergetar hati Yan Lam-thian, sahutnya, “Untuk ini ….”

“Apakah Yan-tayhiap akan terus berangkat pergi dan untuk selamanya takkan datang lagi ke sini?” Suma Yan menegas.

Kembali Yan Lam-thian menggreget, jawabnya dengan parau, “Demi anak itu, baik kuterima.”

“Sekali sudah berjanji ….”

“Apa yang pernah kukatakan selamanya takkan berubah!” bentak Yan Lam-thian dengan gusar.

“Baik, silakan Yan-tayhiap ikut padaku!” kata Suma Yan dengan tertawa. Berturut-turut mereka lantas keluar dari rumah itu.

Suasana malam yang tenang meliputi Ok-jin-kok, di bawah cahaya bulan yang remang-remang Ok-jin-kok tampaknya bertambah aman dan tenteram.

Suma Yan melangkah di jalanan batu yang licin itu, tindakannya enteng tanpa bersuara sedikit pun, tanpa berhenti ia terus menuju ke sebuah rumah dengan pintu setengah tertutup dan kelihatan cahaya terang menembus keluar.

“Di dalam rumah inilah anak itu berada,” kata Suma Yan setiba di depan pintu. “Diharap setelah Yan-tayhiap memondong anak itu keluar, hendaklah segera mundur kembali ke jalan engkau datang semula. Kereta yang dibawa Yan-tayhiap itu pun sudah siap di mulut lembah sana.”

Yan Lam-thian tidak sabar lagi, tanpa menunggu habis ucapan orang itu, segera ia menerobos ke dalam rumah.

Di tengah rumah kelihatan ada sebuah meja bulat, anak itu memang betul tertaruh di atas meja. Darah Yan Lam-thian bergolak, sekali lompat maju segera ia pondong anak itu sambil berkata dengan pilu, “O, anak yang malang!”

Tapi belum habis ucapannya, mendadak anak itu dibantingnya ke lantai sambil mengerang murka, “Bangsat keparat!”

Anak itu ternyata bukan anak bayi yang diharapkan itu melainkan sebuah boneka belaka. Namun sudah terlambat, seluruh rumah berjangkit suara mendenging, beratus-ratus bintik perak memancar ke arahnya bagai hujan.

Suara mendesing senjata rahasia itu tajam lagi cepat serta kuat pula, jelas beratus-ratus senjata rahasia itu seluruhnya tersambit dari tangan kaum ahli dan bertekad harus membinasakan Yan Lam-thian. Segenap pelosok rumah itu adalah sasaran berbagai macam senjata rahasia sehingga Yan Lam-thian benar-benar tidak diberi peluang untuk berkelit dan menghindar.

Mana tahu mendadak Yan Lam-thian bersuit nyaring, tubuh terus mengapung ke atas, terdengarlah suara gemuruh, ia telah membobol wuwungan rumah dan melayang keluar. Di bawah terdengar suara nyaring riuh ramai, beratus-ratus senjata rahasia berserakan memenuhi lantai.

Di balik bayang-bayang gelap sekeliling rumah segera terdengar jerit kaget berulang-ulang, belasan bayangan orang segera berlari simpang siur.

Kembali Yan Lam-thian bersuit panjang, laksana naga turun dari langit, mendadak ia menubruk dari atas. Terdengarlah suara gedebak-gedebuk disertai jeritan beberapa kali, seorang ditumbuknya hingga mencelat ke tepi jalan, seorang dilemparkannya jauh ke tengah jalan, seorang lagi disodok hingga menerobos genting rumah. Semuanya kepala pecah dan otak berantakan. Namun sisanya masih sempat kabur, hanya sekejap saja lantas lenyap.

Berdiri di tengah jalan raya itu Yan Lam-thian berteriak dengan suara murka, “Main sergap, tapi bisakah kalian menjatuhkan diriku? Kalau ingin jiwa orang she Yan, ayolah keluar bertanding!”

Suara raungan murka Yan Lam-thian itu menggema angkasa dan tak hentinya menimbulkan kumandang dari jauh suara tantangan itu.

Dengan langkahnya yang tegap kuat Yan Lam-thian menyusuri jalan sambil mencaci-maki dan menantang. Namun Ok-jin-kok itu seakan-akan tak berpenghuni lagi, tiada seorang pun yang berani menongol.

Meski seorang diri, namun Yan Lam-thian telah membuat seluruh penjahat yang menghuni Ok-jin-kok itu mengkeret semua, sungguh gagah perkasa dan berwibawa.

Namun sedikit pun hati Yan Lam-thian tidak merasa bangga dan puas, sebaliknya ia merasa cemas, pedih dan murka. Meski langkahnya enteng gesit, namun perasaannya amat berat.

Sekonyong-konyong, entah sejak kapan, seluruh sinar lampu di Ok jin-kok itu padam semua. Walaupun ada cahaya rembulan dan bintang, namun lembah maut itu tetap gelap gulita dan menggetar sukma.

Mendadak selarik sinar mengkilat menyambar dari balik pintu rumah sebelah, sebuah golok membacok sekuatnya. Serangan itu jelas berasal dari seorang jago silat terkenal, baik waktunya yang tepat, arahnya yang jitu, semuanya dilakukan dengan kena benar dan berkeyakinan kepala Yan Lam-thian pasti akan terbelah menjadi dua.

Di luar dugaan, Yan Lam-thian yang tampaknya sama sekali tidak tahu akan serangan itu, entah cara bagaimana, sekonyong-konyong tubuhnya dapat menyurut mundur sehingga golok itu menyambar lewat di depan hidungnya tanpa melukai seujung rambut pun.

“Trang”, saking kerasnya tenaga serangan itu hingga golok membacok tanah dan memercikkan lelatu api.

Secepat kilat tangan Yan Lam-thian terus membalik dan tepat mencengkeram pergelangan tangan penyergap itu sambil membentak bengis, “Keluar! Ingin kutanya padamu.”

Di luar dugaan. mendadak pegangan Yan Lam-thian terasa enteng, meski tangan orang itu kena ditariknya keluar, tapi melulu sebuah tangan berlumuran darah tanpa pemiliknya. Kiranya orang itu telah menabas mentah-mentah lengan kanan sendiri.

Keji amat dan tega benar hati orang itu. Bahkan suara mendengus saja tak terdengar sama sekali.

Kejut, cemas, gusar dan gemas pula Yan Lam-thian, ia ambil goloknya dan buang lengan buntung itu, menyusul golok itu terus membacok, sebuah daun pintu kontan jebol. Namun di balik pintu tiada nampak bayangan seorang pun.

Yan Lam-thian seperti orang gila, ia menerobos setiap rumah, namun tetap tiada seorang pun yang ditemukan. Ia gelisah dan mengamuk, tapi semua itu tiada gunanya. Gigi gemertukan, mata merah membara, ia berteriak dengan suara serak, “Baiklah, kalian boleh sembunyi, ingin kulihat sampai kapan kalian sanggup sembunyi!”

Dia ambil sebuah kursi dan sengaja duduk di tengah-tengah jalan raya itu, cahaya rembulan menyinari tubuhnya yang berlumuran darah itu dan menambah seramnya. Jika yang berada di Ok-jin-kok itu adalah kawanan setan iblis, maka Yan Lam-thian laksana malaikat maut penindas setan.

Sekonyong-konyong terdengar seorang bergelak tertawa dan berkata, “Apa gunanya anak busuk ini, kalau kau mau, ini kukembalikan!”

Yan Lam-thian meraung murka terus menubruk ke sana. Dalam kegelapan tampak bayangan orang berkelebat, sepotong benda terlempar keluar. Tampaknya memang anak terbungkus kain popok, tanpa pikir Yan Lam-thian menangkapnya.

Tapi baru saja jarinya menyentuh benda itu, mendadak ia membentak dengan suara bengis, “Bangsat, ambil kembali ini!” Berbareng benda itu terus di lemparkan ke arah datangnya tadi dan menumbuk dinding, “blang”, terdengar suara letusan keras, rumah itu meledak dan hampir hancur seluruhnya. Ternyata yang terbungkus di dalam popok ini bukanlah bayi melainkan bahan peledak.

Setelah suara gemuruh itu berkumandang jauh, kemudian suasana kembali menjadi sunyi lagi. Yan Lam-thian merasa ngeri membayangkan kejadian tadi, kalau saja dia kurang gesit dan cerdik daya reaksinya ketika merasakan isi bungkusan popok itu mencurigakan, tentu saat ini sudah hancur lebur terledak oleh mesiu itu. Matinya tidak cukup dibuat sayang, tapi anak itu …. Yan Lam-thian mengepal kencang-kencang dan mengeluarkan keringat dingin.

Tipu muslihat keji ternyata tidak kunjung habis di tengah Ok-jin-kok ini. Betapa pun gagah perkasanya, sedikit meleng saja pasti akan binasa di tempat ini.

Meski Yan Lam-thian berhasil lolos dari renggutan maut, tapi dia mampu lolos berapa kali? Betapa pun tenaganya terbatas, mana dia sanggup menghadapi musuh-musuh yang tak kelihatan itu tanpa tidur dan tanpa mengaso?

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa Yan Lam-thian ngeri sendiri. Tapi apa daya, Ok-jin-kok seluas ini dan sedemikian gelap, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Tiba-tiba terkilas sesuatu pikiran dalam benaknya, “Jika mereka dapat memperalat kegelapan ini untuk menyergap diriku, kenapa aku tidak menggunakan keadaan gelap ini untuk menyelidiki dan mencari mereka?”

Berpikir sampai di sini, terbangkit semangat Yan Lam-thian, tanpa ayal lagi ia terus menyelinap ke tempat gelap dan menghilang.

Caranya ini memang resep yang paling jitu, meski seketika belum dapat menemukan anak itu, tapi kawanan durjana itu pun tak dapat menyergapnya lagi dengan seenaknya.

Yan Lam-thian merayap dan merunduk di tengah kegelapan seperti ular, seperti kucing. Seumpama orang lain memiliki telinga setajam kucing juga takkan mendengar suaranya, sekalipun lawan memiliki mata sebagai kucing juga jangan harap akan melihat bayangannya. Terdapat musuh yang setiap saat dapat muncul di sisi mereka, mustahil kawanan durjana takkan gemetar dan ketakutan?

Tapi Yan Lam-thian justru tak dapat menemukan mereka. Setiap rumah itu seakan-akan kosong melompong, penghuninya entah kabur ke mana?

Dengan sabar Yan Lam-thian terus menelusuri rumah-rumah itu sebuah demi sebuah. Baru sekarang ia merasakan-rumah-rumah di Ok-jin-kok ini ternyata tidak sedikit jumlahnya.

Sudah larut malam, suasana sunyi senyap, Ok-jin-kok seolah-olah berubah menjadi sebuah kuburan.

Angin silir semilir sejuk. Tiba-tiba di antara embusan angin malam itu seperti membawa semacam suara yang aneh dan lirih. Berdetak jantung Yan Lam-thian, dengan menahan napas ia merunduk ke sana.

Benarlah, ada suara orang yang lirih tersiar dari sebuah rumah. Terdengar seorang berkata, “Boleh juga To molek kita, anak ini dapat ditimangnya hingga tertidur.”

Meski orang ini tidak tertawa, tapi jelas suara Ha-ha-ji.

“Untung kita mendapatkan sandera anak ini,” demikian kata seorang lagi, “Kalau tidak, wah ….”

Mendadak terdengar suara To Kiau-kiau menegur, “He, Li Toa-jui, apa yang hendak kau lakukan?”

Terdengar Li Toa-jui, si mulut besar she Li, si tukang makan daging manusia, menjawab dengan tertawa, “Ingin kulihat daging halus mayat perempuan ini, nampaknya mirip benar dengan biniku dahulu itu.”

“Mayat itu kan sudah mati beberapa hari yang lalu!?” ujar To Kiau-kiau.

“Tidak soal,” kata Li Toa-jui, “Asalkan tersimpan dengan baik masih dapat dimakan.”

“Hihi, boleh juga kamu memakannya,” To Kiau-kiau berkata dengan mengikik genit, “Perempuan ini mungkin adalah ipar Yan Lam-thian itu, kau makan dia, anggaplah melampiaskan sakit hati Toh-lotoa.”

“Tapi bau wewangian ini harus dilenyapkan dahulu, habis itu ….”

Belum habis ucapan Li Toa-jui, Yan Lam-thian tidak tahan lagi akan rasa murkanya, sambil mengerang kalap ia mendepak daun pintu hingga jebol, menyusul ia terus menerjang masuk rumah.

Tentu saja orang-orang di dalam rumah menjerit kaget dan lari berpencaran.

“Makanlah ini!” bentak Li Toa-jui sambil mengangkat peti mati terus dilemparkan ke arah Yan Lam-thian.

Bahan wewangian di dalam peti mati berserakan, mayat juga jatuh ke lantai.

Dalam kegelapan terdengar Ha-hi-ji bergelak tertawa dan berkata, “Bagus, Yan Lam-thian, kamu memang dapat menemukan kami, asalkan kau berani mengejar, hm, rasakan nanti, Ha-ha, hahaha!”

Sebenarnya Yan Lam-thian sudah hampir menubruk maju lagi, demi mendengar ancaman itu, seketika ia urungkan niatnya dengan lesu, ia merasa murka dan pedih pula, karena ketidaksabarannya tadi, urusan menjadi bertambah runyam.

Cahaya bulan menembus masuk melalui pintu yang sudah jebol itu dan terlihat jelas mayat yang menggeletak di lantai. Itulah mayat ibu si bayi, mukanya yang pucat rada membengkak dengan rambutnya yang semrawut itu kelihatan mengharukan dan seram pula.

“O, maaf, Kang-jite,” gumam Yan Lam-thian dengan sedih, “aku tak dapat … tak dapat menjaga putramu, bahkan jenazah kalian juga … juga tak dapat ….” sampai di sini suaranya menjadi tersendat-sendat dan tak sanggup melanjutkan lagi.

Sebisanya ia tenangkan diri, ia betulkan letak peti mati, lalu mengangkat jenazah itu dan menaruhnya kembali ke dalam peti dengan hati-hati sekali. Air matanya bercucuran, sungguh ia tidak tega memandang lagi jenazah iparnya itu.

Dengan rasa pilu ia pejamkan mata dan bergumam, “Semoga engkau istirahat untuk selamanya dengan tenang.”

Cahaya bulan yang lembut, peti mati yang dingin, kegelapan yang tak bertepi, jenazah si cantik yang menyeramkan, semua itu menambah heningnya suasana.

Mendadak, mayat yang baru ditaruh ke dalam peti mati oleh Yan Lam-thian itu melompat bangun. “Blak-bluk-blak-bluk” empat kali, kedua kaki dan kedua tangan mayat itu bekerja sekaligus, dengan tepat empat Hiat-to penting di tubuh Yan Lam-thian terhantam.

Dalam keadaan demikian, betapa pun gagah perkasa dan cerdiknya Yan Lam-thian juga sama sekali takkan menduga akan perubahan yang luar biasa itu. Belum sempat dia berteriak kaget, tahu-tahu empat tempat Hiat-to penting sudah terkena serangan. Tanpa ampun lagi ksatria besar yang tiada taranya itu roboh terguling.

Sementara itu “mayat” tadi telah berdiri sambil bergelak tertawa dan mengejek, “Aha, Yan Lam-thian, sekarang baru kau kenal kelihaianku!”

Di tengah suara tertawa gembira itu, tiba-tiba “mayat” itu menjambak rambut sendiri sehingga seonggok rambut palsu tertarik lepas, wajahnya tersorot cahaya bulan, siapalagi dia kalau bukan To Kiau-kiau, si bukan lelaki bukan perempuan alias si banci.

Semula Yan Lam-thian yakin To Kiau-kiau yang terkenal pandai menyaru itu pasti tak mampu menjebaknya mengingat kedatangannya hanya sendirian disertai seorang bayi, mustahil To Kiau-kiau mampu menyamar sebagai bayi untuk menjebaknya. Siapa tahu si banci justru menyaru sebagai mayat dan dia tetap kena diakali dan hampir celaka.

Sekonyong-konyong keadaan terang benderang, sinar lampu telah menyala, Ha-hi ji, Li Toa-jui, Im Kiu-yu dan Suma Yan sama memperlihatkan diri. Walau di bawah sinar yang terang, namun bentuk beberapa orang itu tidak bedanya dengan setan iblis yang jahat.

“Hahaha! Yan Lam-thian, tentunya tadi kamu menyangka benar-benar telah menemukan jejak kami bukan?” tanya Ha-ha-ji dengan tertawa. “Haha, padahal apa yang kau lihat tadi tidak lain adalah tipu daya kami memancing kedatanganmu.”

“Yan Lam-thian,” Li Toa-jui juga bicara dengan tertawa ejek, “tadi kamu mengira kami benar-benar takut padamu bukan? Hah, sesungguhnya kami tahu jiwamu toh takkan lolos dari cengkeraman kami, buat apa kami harus bergebrak dan mengadu jiwa denganmu?”

Begitulah beberapa orang itu terus mengejek dengan gembira, suara tertawa mereka pun sambung menyambung. Dongkol dan gemas rasa hati Yan Lam-thian, ia sengaja memejamkan mata, ia menyadari sekali ini dirinya pasti sukar lolos dari tangan keji mereka.

“Nah, apa yang kalian tunggu lagi ?” terdengar Im Kiu-yu berseru. “Memangnya mau menunggu dia membebaskan diri pula.”

“Betul, lekas kita turun tangan!” Li Toa-jui menambahkan.

“Biar aku saja yang membereskan dia, Haha!” seru Ha-ha-ji.

“Nanti dulu!” kata To Kiau-kiau. “Aku paling banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, adalah bagianku pula untuk membunuh dia.”

“Hm, kalau saja sejak tadi turut usulku, tentu saat ini dia sudah mampus dan tak perlu banyak mengeluarkan tenaga pula. Sekarang biar aku saja yang membereskan dia,” ujar Im Kiu-yu dengan suaranya yang mengambang.

“Tidak bisa,” bentak Li Toa ji, “kalian tidak mahir membunuh orang, jika kurang sempurna cara kalian memotong, tentu dagingnya akan kecut dan tidak enak dimakan. Maka lebih baik aku saja yang turun tangan.”

Begitulah beberapa orang itu ribut sendiri dari berebut ingin membunuh Yan Lam-thian. Bisa membinasakan Si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia dengan tangan sendiri, sudah tentu merupakan suatu karya yang dapat dibanggakan dan berjaya.

Ha-ha-ji memandang tubuh Yan Lam-thian yang tergeletak di lantai itu, mendadak ia tertawa dan berkata, “Kalian tidak perlu bertengkar, aku mempunyai suatu usul.”

“Apa usulmu?” tanya To Kiau-kiau.

“Haha, usulku ini selain takkan mengganggu hubungan baik kita, bahkan sangat menarik,” ujar Ha-ha-ji.

“Kamu memang suka bicara secara bertele-tele, lekas katakan saja!” omel Im Kiu-yu.

“Begini,” tutur Ha-ha-ji, “Kalau kita membuat Yan-tayhiap mati dengan enak, rasanya kita terlalu menyia-nyiakan maksud baik kedatangan Yan-tayhiap ini. Maka usulku, kita harus menghormati Yan-tayhiap, biarkan dia merasakan enaknya orang akan mati secara pelan-pelan, dengan demikian juga tidak percumalah kita telah bersahabat dengan Yan-tayhiap selama ini.”

“Hihi, usul bagus juga,” ujar To Kiau-kiau sambil mengikik.

“Sebab itu, kita harus turun tangan secara bergiliran,” kata Ha-ha-ji pula, “cara turun tangan siapa paling keji, dia yang menang. Tapi siapa yang sekali turun tangan membuat Yan-tayhiap tutup usia, maka dia juga harus didenda.”

“Bagus, benar-benar usul bagus,” segera Im Kiu-yu menyatakan setuju. “Aku memang ingin dia merasakan aku punya ‘Im-hong-sau-hun jiu’ (tangan keji penyambar sukma), betapa enak rasanya kutanggung dia takkan lupa sampai penitisannya yang akan datang.”

“Kukira ‘Siau-hun-bi-jin-kang’ (ilmu si cantik merontokkan sukma, milikku ini, rasanya takkan kalah enak dengan kepandaianmu itu,” kata To Kiau-kiau.

“Hah, memangnya kupunya ‘Kwa-kut-to’ (golok pengerik tulang) kurang enak dibandingkan kepandaian kalian?” seru Li Toa-jui.

“Dan kita masih harus mengundang Toh-lotoa, dia punya ‘tangan berdarah pemburu sukma’ dan ilmu ‘kuras sumsum cuci otak’ kepunyaan Ha-ha-ji rasanya sukar dilupakan orang yang pernah menikmatinya,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Hah, jika begitu, lalu siapakah yang turun tangan dahulu?” tanya Ha-ha-ji.

“Kamu yang mengusulkan, boleh kamu yang turun tangan lebih dulu”, kata To Kiau-kiau.

“Baik, hahaha!” seru Ha-ha-ji sambil tertawa gembira, berbareng sebelah tangannya terus meraba perlahan ke belakang kepala Yan Lam-thian.

*****

Antara satu jam kemudian, malam semakin larut, suasana bertambah hening. Yan Lam-thian yang biasanya gagah perkasa dan tangkas kuat itu sudah teraniaya sedemikian rupa, boleh dikatakan sudah dalam keadaan sekarat.

“Haha, sudah enam kali kukerjai dia, kini giliran Li-heng lagi,” seru Ha-ha-ji.

“Sudahlah, aku tidak mau lagi,” kata Li Toa-jui.

“Haha, kamu tidak mau lagi, itu berarti kamu mengaku kalah,” kata Ha-ha-ji.

“Keadaannya sudah payah begini, sekalipun anak kecil kini juga mampu membereskan dia, kenapa kau suruh aku mengerjai dia lagi, menang juga tidak terhormat bagiku,” kata Li Toa-jui dengan marah.

“Ah, juga belum tentu,” ujar Im Kiu-yu.

“Belum tentu bagaimana? Memangnya kau mampu turun tangan lagi padanya tanpa membuatnya mati,” teriak Li Toa-jui.

“Apa sukarnya?” jengek Im Kiu-yu.

“Baik, jika begitu, coba saja,” teriak Li Toa-jui. “Jika giliranku, tentu akan kukerjai dia lagi,” kata Im Kiu-yu.

“Hm, jelas belum sampai giliranmu, makanya kamu ….” Li Toa-jui tambah gusar.

Tapi sebelum lanjut ucapannya, Ha-ha-ji cepat menyela,” Sudahlah, kalian tidak perlu bertengkar, paling betul kita datangkan saja si tabib sakti she Ban itu dan suruh dia memeriksanya serta menentukan apakah Yan Lam-thian ini sudah sekarat atau hampir mampus.”

“Siapa pun yang didatangkan untuk memastikannya juga boleh,” jengek Im Kiu-yiu.

“Baik, aku akan mencari tabib itu,” kata Li Toa-jui.

Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa Ban Jun-liu. Perawakan orang yang berjuluk “Tabib Sakti” itu kurus kering tapi tangkas, sorot matanya tajam, namun mukanya yang kurus kering itu tiada mengunjuk sesuatu perasaan.

Agaknya sebelumnya Li Toa-jui sudah menguraikan maksud mengundangnya, maka setibanya Ban Jun-liu hanya mengangguk saja, lalu duduk di sisi Yan Lam-thian yang napasnya sudah kempas-kempis itu.

Setelah memandang sekian lamanya, dari kepala hingga kaki dipandangnya dengan teliti, mungkin itulah cara praktiknya memeriksa pasien, jarinya yang kecil itu, ternyata sama sekali tidak menyentuh kulit daging Yan Lam-thian.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lia Toa-jui dengan tidak sabar.

Ban Jun-liu termenung sejenak, lalu menjawab, “Payah. Dari semua Keng-meh (urat nadi dan titik-titik saluran darah) yang berada di tubuhnya sudah tujuh-delapan bagian rusak, kalau saja dia masih hidup sampai saat ini boleh dikatakan suatu keajaiban dan kejadian mahaaneh.”

“Nah bagaimana, betul tidak pendapatku tadi?” kata Li Toa-jui dengan tertawa bangga.

“Kukira dia keliru,” ujar Im Kiu-yu.

“Ilmu silatku memang jauh lebih rendah daripadamu, tapi dalam hal ilmu pertabiban aku cukup percaya pada diriku sendiri,” kata Ban Jun-liu.

“Percaya pada dirimu sendiri ? Haha, jika bukan lantaran ilmu pertabibanmu yang mahatinggi itu, masakah dalam sehari semalam saja kota Kay-hong kehilangan sembilan puluh tujuh penduduknya yang mati secara mendadak ?” jengek Im Kiu-yu. “Coba jawab, siapakah yang mencelakai orang-orang itu? Memangnya kamu sudah lupa?”

“Walaupun cukup banyak orang yang kubunuh, namun selama beberapa tahun ini orang yang kuselamatkan juga tidak sedikit,” jawab Ban Jun-liu dengan nada dingin. “Waktu mula-mula kau datang ke sini, jika orang she Ban tidak berada di sini, mungkin engkau pun takkan hidup sampai sekarang.”

Meski mata Im Kiu-yu sudah merah karena gusarnya, tapi mulutnya menjadi bungkam dan tak dapat bicara, soalnya dahulu waktu dia kabur ke Ok-jin-kok sini memang dalam keadaan terluka parah dan berkat Ban Jun-liu jiwanya dapat diselamatkan.

Jadi bagi Ok jin-kok sekarang Ban Jun-liu memang sangat dibutuhkan, betapa pun tidak boleh kehilangan tabib sakti ini.

Maka cepat Ha-ha-ji menyela dengan tertawa, “Jika tabib sakti Ban sudah memastikan demikian, tentu takkan salah lagi. Maka tentang kalah menang kita juga sukar ditentukan, sebaiknya kita beramai-ramai membereskan Yan Lam-thian saja.”

“Nanti dulu,” seru Ban Jun-liu. “Justru kuingin mohon kalian sudi menahan jiwanya.”

“Kau ingin … menolong dia?” tanya Im Kiu-yu dengan gusar.

Ban Jun-liu tenang-tenang saja, katanya perlahan, “Orang terluka separah ini dan tidak mati, sungguh selama hidupku belum pernah kulihat. Orang yang sudah sekarat begini toh tiada gunanya bagi kalian, sebaliknya sangat berguna bagiku.”

“Apa gunanya? Memangnya kau pun ingin makan dia?” tanya Li Toa-jui.

“Luka cacat di tubuh orang ini sedikitnya dua-tiga puluh tempat, akan sangat berguna bagiku untuk mencoba khasiat obat-obatan yang kubuat,” tutur Ban Jun-liu. “Apabila percobaanku nanti berhasil, kukira akan sangat bermanfaat juga bagi kalian.”

“Walaupun berguna bagimu, tapi setelah percobaanmu berhasil, bukankah kau pun akan menyelamatkan jiwa Yan Lam-thian,” jengek Im Kiu-yu. “Dan setelah lukanya sembuh, kukira akan tiba waktunya kamu harus menolong kami.”

Ban Jun-liu menjawabnya dengan hambar saja, “Sekalipun jiwa orang ini dapat tertolong, keadaannya nanti pasti juga akan cacat atau menjadi orang linglung, bila kalian ingin cabut nyawanya setiap saat masih dapat turun tangan, kenapa mesti terburu-buru dilakukan sekarang?”

Im Kiu-yu mendengus sekali, lalu tidak buka suara pula. Sejak tadi Suma Yan juga tidak bicara, dia hanya pandang Ha-ha-ji, sedangkan Ha-ha-ji juga memandang To Kiau-kiau.

Akhirnya si bukan lelaki bukan perempuan itu berkata dengan tertawa, “Baiklah, apa yang dikatakan tabib Ban Jun-liu kita turuti saja.”

“Tidak, aku tidak terima,” teriak Li Toa-jui. “Sudah jelas keparat ini akan menjadi santapanku yang lezat, maka aku tidak ….”

“Orang mati di sini kan sudah cukup banyak, daging mereka juga masih segar, betapa pun sudah cukup untuk memenuhi seleramu, kenapa kamu berkeras ingin makan dia?” kata Ha-ha-ji.

“Sudah kukatakan tadi bahwa daging orang ternama rasanya lebih lezat, sepuluh orang biasa juga tak dapat dibandingkan dengan Yan Lam-thian,” seru Li Toa-jui dengan gusar. “Maka, siapa di antara kalian berani merampasnya, lebih dulu hendaklah melangkahi mayatku.”

Ha-ha-ji hanya angkat pundak dan tidak menanggapinya, ia hanya pandang To Kiau-kiau, tapi To Kiau-kiau juga angkat pundak, katanya dengan tertawa sambil memandang Ban Jun-liu, “Nah, tabib Ban, aku pun tak berdaya, jangan salahkan aku.”

Dengan dingin Ban Jun-liu berkata, “Luka orang ini ada tiga puluhan tempat, maka sedikitnya dapat dibuat percobaan tiga puluh macam obatku, di antara ketiga puluh macam obat itu bisa jadi salah satunya kelak akan dapat menyelamatkan jiwa kalian.”

“Ya, menurut pendapatku, jiwa kita rasanya lebih penting daripada santapan bagi Li-heng,” tiba-tiba Suma Yan membuka mulut.

“Persetan!” bentak Li Toa-jui gusar. “Kamu terhitung kutu nomor berapa, kau berani ikut bicara?”

Suma Yan tidak menjadi marah, dengan tersenyum ia menanggapi, “Menurut pandanganku, kesempatan paling banyak yang memerlukan obat hasil percobaan tabib Ban kelak mungkin adalah Li-heng sendiri.”

Sebenarnya Li Toa-jui hampir mengumbar murkanya, mendadak ia merandek demi mendengar ucapan terakhir Suma Yan itu, setelah mengerling sekeliling, ia merasa sorot mata semua orang sama menatap tajam ke arahnya.

Rasanya tiada seorang pun yang mampu mengumbar marahnya di tengah tatapan tajam kawanan mahadurjana ini, terpaksa Li Toa-jui hanya menghela napas panjang, katanya dengan menyeringai, “Baiklah, kuturut kehendak kalian …. Ai, itik yang sudah di dalam periuk akhirnya terbang!”

“Nah, menunggu apalagi, tabib Ban?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Dari kepala sampai kakinya, Yan Lam-thian kini adalah milikmu seluruhnya.”

Sedikit pun tidak nampak rasa girang dari wajah Ban Jun-liu, katanya dengan hambar, “Terima kasih!” Lalu ia mengeluarkan beberapa biji pil dan dijejalkan ke mulut Yan Lam-thian. Lambat laun ludah Yan Lam-thian dapat meluluhkan beberapa pil itu, kemudian mengalir masuk tenggorokannya dengan perlahan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tangisan anak bayi. Kontan Li Toa-jui berteriak girang, “Aha, betul, masih ada anak itu!”

“Bagaimana?” tanya Ha-ha-ji sambil memandang Im Kiu-yu.

“Bunuh!” ucap si setengah manusia setengah setan itu dengan singkat.

“Tampaknya Li-heng kita sedang menunggu makan enak,” ujar Ha-ha-ji.

“Daging anak bayi juga lumayan, cuma porsinya terlalu kecil, tak bisa kenyang,” seru Li Toa-jui dengan tertawa gembira. Habis itu segera ia hendak lari ke sana.

“Nanti dulu!” mendadak To Kiau-kiau berteriak.

“Ada apalagi?” tanya Li Toa-jui dengan kurang senang.

“Anak itu pun tak boleh dibunuh!” kata To Kiau-kiau.

Li Toa-jui menjadi gusar, teriaknya, “Kamu si banci ini selalu mengacau dan memusuhi aku.”

“Ya, sekali ini kukira To kecil yang salah,” ujar Ha-ha-ji dengan tertawa. “Kalau anak itu dibiarkan hidup, kelak juga akan menjadi bibit bencana bagi kita. Kukira lebih baik dibiarkan menjadi isi perut Li-heng saja sekarang. Babat rumput harus sampai akar-akarnya dan segalanya menjadi beres.”

To Kiau-kiau tidak menanggapinya, sebaliknya ia malah bertanya, “Coba, ingin kudengar dulu jawaban kalian. Kita ini terkenal sebagai top orang jahat di dunia ini, tapi sesungguhnya siapakah orang yang paling keji, paling ganas, paling culas, paling kejam, apakah kalian tahu?”

“Sudah jelas diketahui, tapi sengaja kamu cari-cari dan mengajukan pertanyaan yang tak keruan juntrungannya itu, apa maksudmu sebenarnya?” teriak Li Toa-jui dengan gusar.

“Anggaplah iseng-iseng kutanya dan anggaplah iseng-iseng kalian menjawab,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Kujamin setelah kau jawab pertanyaanku umpamanya, secuil pun daging anak itu takkan berkurang.”

“Hm!” jengek Li Toa-jui, saking mendongkol ia terus menyingkir ke pojok sana.

Segera Ha-ha-ji menanggapi, “Haha, bicara orang yang paling jahat di dunia, dengan sendirinya harus diakui ialah si To kecil kita.”

“Ah, engkau terlalu memuji diriku,” sahut To Kiau-kiau dengan tertawa genit. “Sebenarnya ….”

Belum lanjut ucapannya, dengan gusar Li Toa-jui lantas berteriak, “Huh, dia terhitung apa? Dia cuma mahir beberapa jurus mainan kaum banci, apakah itu dapat dianggap sebagai orang paling jahat di dunia ini? Hm, padahal daging manusia pun dia tidak berani makan!”

“Haha, jika begitu, Li-henglah orang paling jahat di dunia,” ujar Ha-ha-ji dengan ngakak.

“Dia bilang aku bukan orang paling jahat, aku setuju sepenuhnya,” tukas To Kiau-kiau. “Tapi kalau berani makan beberapa kati daging manusia lantas dianggap paling jahat di dunia ini, hah, ini tak dapat kuterima. Dahulu aku pun pernah melihat seorang kusir pedati juga berani makan daging manusia.”

“Habis kalau menurut pendapatmu, siapa orang paling jahat di dunia ini?” teriak Li Toa-jui dengan gusar.

“Hahaha! Tahulah aku sekarang,” sela Ha-ha-ji. “Siapalagi kalau bukan Im-lokiu!”

“Im-lokiu memang cukup keji, cukup kejam dan cukup tega hati,” ujar To Kiau-kiau. “Tapi segala kejahatannya itu sudah terpampang di mukanya, sekali pandang saja setiap orang akan tahu dia adalah orang jahat dan lebih dulu akan waspada terhadapnya.”

“Jika demikian, haha, jadi dia juga belum masuk hitungan,” seru Ha-ha-ji.

“Dengan sendirinya belum masuk hitungan,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Taraf dasar saja dia belum, misalnya kemahiran di balik tertawa tersembunyi belati, di samping memuji dan mengumpak, berbareng terus menikam ….”

“Di balik tertawa tersembunyi belati, hahaha, rupanya To cilik maksudkan diriku!” kata Ha-ha-ji.

“Benar, jawab To Kiau-kiau. “Saudara tukang tertawa kita ini berpotongan seperti Mi-lik-hud (Budha gemuk) sehingga siapa pun takkan menyangka dia adalah orang jahat. Seumpama orang itu dijual olehnya, mungkin orang itu masih belum tahu telah dijual oleh siapa.”

“Hahahaha! Bagus, bagus!” seru Ha-ha-ji dengan tertawa senang. “Jika betul aku ini orang paling kejam dan paling buas di dunia ini, betapa pun harus dibuat girang. Cuma sayang, asalkan nampak Toh-lotoa hatiku lantas takut, maka kukira dia jauh lebih jahat daripadaku.”

“Kecuali mahir membunuh orang, apa pula kemahirannya?” jengek Im Kiu-yu tiba-tiba.

“Memang betul juga,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Lihatlah kita semua berkumpul di sini dengan baik-baik, tapi Toh-lotoa sendiri terluka dan berbaring di sana. Kalau dia orang paling jahat, maka yang terluka tentunya bukan dia melainkan kita ini.”

Ha-ha-ji memandang Suma Yan sekejap, lalu berkata, “Aha, bukankah masih ada Suma-heng. Haha, pedang berbisa penembus usus, korbannya luluh seperti gilasan kacang, pemeo ini sudah lama terkenal di dunia Kangouw.”

“Ah, meski namaku juga terkenal jahat di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan ‘Cap-toa-ok-jin’ (sepuluh top jahat), diriku ini boleh diibaratkan semut berbanding gajah,” jawab Suma Yan dengan tersenyum.

“Oya, di antara ‘Cap-toa-ok-jin’ kita kan masih ada lima orang lagi?” kata To Kiau-kiau.

Suma Yan menanggapi dengan tertawa, “Tetapi menurut pandanganku, kelima Ok-jin yang masih berada di sana belum tentu dapat dibandingkan dengan kelima Ok-jin yang berada di sini. Terutama si ‘Singa Gila’ Thi Cian, kalau mau bicara secara tegas, pada hakikatnya dia belum terhitung satu di antara ‘Cap-toa-ok-jin’.”

“Sekali si Singa Gila sudah gila, dia benar-benar tidak kenal siapa-siapalagi, setiap orang dilabraknya, sampai anaknya sendiri juga dipaksanya berkelahi,” kata To Kiau-kiau. “Tapi orang-orang yang benar-benar pernah dibunuh olehnya setahuku belum ada, apalagi, lebih sering dia dalam keadaan tidak gila.”

“Hahaha, kalau Singa Gila juga tak masuk hitungan, lalu bagaimana dengan Siau-mi-mi, si ‘pemikat orang tak ganti nyawa’. Kukira siapa pun bila terpikat olehnya, mungkin bapak biangnya juga tega dijualnya.”

“Si tukang pikat itu memang mahir memikat, tapi sasarannya yang empuk adalah anak muda belasan sampai likuran tahun, jika bertemu jagoan macam Li Toa-jui, jangankan memikat, mungkin si tukang pikat itu yang akan dicaplok ke dalam perutnya,” ujar To Kiau-kiau.

“Ya, dan manusia bukan lelaki bukan perempuan seperti dirimu sudah tentu takkan terpikat olehnya,” tangkis Li Toa-jui mendongkol.

“Ini tidak, itu bukan, habis siapa sebenarnya orang paling buas dan paling jahat di dunia ini? Apakah barangkali Hwesio tua di biara itu?” omel Ha-ha-ji.

Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata, “Kita ini, bicara tentang kejamnya, buasnya, kejinya, dan segala kejahatannya, boleh dikatakan tidak banyak berselisih, jadi tiada seorang pun lebih unggul daripada yang lain. Sebab itulah dapat dikatakan bahwa sampai saat ini di dunia ini belum ada seorang pun yang dapat dianggap paling jahat.”

“Hm, bicara kian kemari sejak tadi ternyata cuma omong kosong belaka,” jengek Li Toa-jui.

To Kiau-kiau tidak pedulikan omelan itu, ia menyambung pula, “Walaupun saat ini belum ada, tapi selekasnya akan ada.”

Ucapannya ini sangat menarik sehingga setiap orang sama bertanya, “Siapa yang kau maksudkan?”

To Kiau-kiau mengerling genit, jawabnya dengan perlahan, dan sekata demi sekata, “Ialah anak yang sedang menangis itu!”

Ucapan ini kembali membuat semua orang melengak. Akhirnya Li Toa-jui bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, kau bilang anak itu adalah orang paling jahat di dunia ini? … Hahaha, hihihi, hehehe, hohoho … Fui!” Akhirnya ia menyemprot.

Tapi To Kiau-kiau tetap tidak menggubris, sambungnya pula, “Saat ini terang anak itu tidak tahu apa-apa, apa yang kita katakan padanya tentu dia akan menurut. Kalau kita bilang burung gagak itu putih, tentu dia takkan menyangkal bahwa gagak bukan putih melainkan hitam, betul tidak?”

“Hm, kembali omong kosong!” jengek Li Toa-jui.

To Kiau-kiau tetap tidak ambil pusing dan melanjutkan pula, “Sejak kecil dia ikut kita, apa yang dilihatnya adalah apa yang kita kerjakan, apa yang didengarnya adalah apa yang kita bicarakan. Nah, kelak kalau dia sudah besar akan menjadi manusia macam apa?”

“Sudah tentu seorang busuk!” tanpa terasa Li Toa-jui menyambung.

“Ya, bukan saja busuk, bahkan adalah telur busuk paling besar di dunia ini,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Coba pikirkan, bila setiap perbuatan jahat penghuni Ok-jin-kok ini telah dipahami olehnya, lantas siapalagi di dunia ini yang dapat menandingi dia dengan lebih busuk, lebih keji, lebih buas, pendek kata, apa bisa lebih jahat daripada dia?”

“Wah, orang macam begitu mungkin setan pun takut bertemu dengan dia, haha!” ujar Ha-ha-ji tertawa.

“Ya, begitulah,” kata To Kiau-kiau. “Setan saja takut padanya, jika orang demikian itu berkecimpung di dunia Kangouw, lalu apa jadinya?”

“Hahaha, mustahil kalau dunia ini tidak diaduknya hingga kacau-balau,” jawab Ha-ha-ji sambil berkeplok gembira.

“Itulah tujuan kita,” tutur To Kiau-kiau dengan perlahan, “kita justru ingin mengaduk hingga dunia ini kacau-balau. Kita didesak orang hingga terasing ke sini, siapakah di antara kita ini tidak mendongkol dan sakit hati? Dan anak ini dikirim ke sini berkat kemurahan hati Thian, dia disuruh kemari untuk melampiaskan dendam bagi kita.”

Sampai di sini, bahkan si setengah manusia separo setan, Im Kiu-yu, yang biasanya tanpa memperlihatkan perasaan sedikit pun, tanpa terasa tersembul juga sekilas senyum pada wajahnya, ia berkata sambil mengangguk, “Ehm, gagasan yang bagus!”

Ha-ha-ji juga tertawa terpingkal-pingkal, serunya sambil keplok tangan, “Hahaha! Sungguh luar biasa! Selain To kecil kita, siapalagi yang mampu mencetuskan gagasan bagus begini?”

Li Toa-jui merasa penasaran, ia melenggong agak lama, akhirnya ia berkata, “Tidak, gagasan ini kurang baik.”

“Apanya yang kurang baik?” tanya To Kiau-kiau.

“Dengan gagasanmu itu memang cukup membuatnya jahat, tapi masih kurang sempurna, dia harus dibuat aneh juga, untuk itu paling baik sekarang juga kita potong sebelah kakinya agar selama hidupnya nanti takkan bahagia, biarkan dia senantiasa dendam dan marah, dengan demikian dia pasti akan menjadikan orang lain sebagai sasaran pelampiasan dendamnya,” demikian usul Li Toa-jui.

“Haha, boleh juga gagasan ini,” seru Ha-ha-ji.

“Gagasan apa? Gagasan kentut anjing!” To Kiau-kiau menyangga sambil mengikik. “Itu kan cuma alasan Li Toa-jui agar bisa mendapatkan sepotong paha mulus si anak itu untuk memenuhi seleranya.”

Seketika Li Toa-jui berjingkrak murka, dampratnya, “Kamu setan belang bukan lelaki bukan perempuan, kamu memang suka mengolok-olok dan memusuhi aku. Segala macam manusia pernah kumakan, hanya makhluk banci macammu ini belum pernah kurasakan. Pada suatu hari harus kubekuk batang lehermu dan akan kusembelih, sebagian akan kubikin Ang-sio-bak dan sebagian lain akan kumasak kuah bening.”

“Hihi, kau ingin makan diriku? Kamu tidak takut mati keracunan?” sahut To Kiau-kiau dengan tersenyum genit.

*****

Begitulah untuk selanjutnya penghuni Ok-jin-kok lantas bertambah dengan seorang anak kecil itu. Setiap orang memanggilnya “Siau-hi-ji” atau si ikan kecil. Sebab dia memang seekor ikan kecil yang lolos dari jaring, jaring kematian.

Lambat-laun Siau-hi-ji mulai meningkat besar.

Orang-orang yang paling akrab dengan Siau-hi-ji adalah paman Toh, paman Jiau (tertawa), paman Im, paman Li, paman Ban, lalu ada paman, aha, keliru, lebih tepat di sebut bibi, bibi To.

Di tengah-tengah para paman dan “bibi” itulah Siau-hi-ji dibesarkan. Satu bulan dia ikut setiap orang itu secara bergilir, bulan satu ikut paman Toh, bulan dua bersama paman tertawa, bulan tiga ikut paman Im dan begitu seterusnya … dan sampai bulan tujuh dia bertempat tinggal lagi bersama paman Toh.

Di kala ikut paman Toh itulah Siau-hi-ji paling prihatin dan disiplin, paman Toh yang tangannya buntung sebelah itu selamanya bermuka cemberut, hampir tak pernah mengunjuk senyum. Waktu dia mengajarkan ilmu silat kepada Siau-hi-ji, sedikit saja anak itu lena dan malas, kontan pantatnya lantas dirotan, sebab itulah pantat Siau-hi-ji sering bengkak, namun lama-lama pantatnya menjadi kebal dan kapalan sehingga tidak begitu sering bengkak lagi.

Siau-hi-ji paling gembira kalau sedang hidup dengan paman tertawa, soalnya paman tertawa ini tidak cuma dirinya sendiri suka tertawa, Siau-hi-ji juga diharuskan ikut tertawa. Celakanya kalau pantat Siau-hi-ji sedang bengkak dan paman tertawa itu memaksanya ikut tertawa, maka runyam jadinya.

Di waktu ikut paman Im, hati Siau-hi-ji selalu kebat-kebit, takut. Pada tubuh paman Im itu seperti ada mesin pendingin, sekali pun bulan enam adalah musim panas, asalkan Siau-hi-ji berada di samping paman Im itu, maka akan terasalah hawa dingin yang menggigilkan. Tapi karena bulan sebelumnya ia diharuskan tertawa terus-menerus oleh paman tertawa sehingga kulit mukanya terasa kaku, maka waktu ikut paman Im jadi kebetulan bagi Siau-hi-ji untuk istirahat, untuk mengendurkan urat muka dan perutnya.

Paling risi bagi Siau-hi-ji adalah waktu tinggal bersama paman Li. Paman mulut besar itu selalu mengendus-endus, mencium-cium di sekujur badan anak itu sehingga menimbulkan rasa risi yang sukar dilukiskan.

Ketika ikut bibi To adalah paling aneh bagi Siau-hi-ji. Ia bingung karena sang bibi itu terkadang adalah lelaki, tapi mendadak berubah menjadi perempuan. Sungguh dia tidak jelas sesungguhnya orang ini “bibi” atau “paman”?

Paling istimewa adalah waktu ikut paman Ban. Wajah paman Ban ini pun kaku tiada senyum, tapi dibandingkan paman Toh itu tampaknya jauh lebih ramah, cara bicaranya juga wajar. Namun paman Ban ini selalu mencekoki obat pada Siau-hi-ji, bahkan merendamnya di dalam air obat. Inilah yang membuat Siau-hi-ji merasa tidak betah.

Di rumah paman Ban itu terdapat pula seorang paman “kaleng obat”.

Paman “kaleng obat” sangat aneh, kaku seperti patung, selalu duduk saja tanpa bergerak, setiap hari hanya minum obat dan minum obat melulu, minum obat tak terputus-putus. Jadi obat yang diminum paman “kaleng obat” berpuluh kali lebih banyak daripada Siau-hi-ji, hal inilah yang membuat Siau-hi-ji menaruh simpatik padanya, maklumlah, anak ini tahu benar pahitnya orang minum obat.

Namun paman “kaleng obat” ini selamanya tidak pernah mengeluh, malahan pada hakikatnya dia tak pernah bicara, bahkan matanya juga seakan-akan sukar terpentang.

Kecuali para paman yang akrab dengan dia itu, Siau-hi-ji juga dekat dengan seorang paman yang pintar membuatkan boneka baginya. Sebenarnya Siau-hi-ji sangat suka padanya, tapi aneh, pada suatu hari mendadak paman ahli membuat boneka itu menghilang.

Ke sana ke sini Siau-hi-ji mencarinya dan tidak menemukannya, ia coba tanya orang, namun orang lain juga tidak tahu. Ia coba tanya bibi To, serentak bibi To menunjuk perut paman Li dan berkata, “Dia sudah berada di dalam perut Li Toa-jui.”

Aneh, seorang mengapa bisa berada di dalam perut paman Li? Sungguh Siau-hi-ji tidak mengerti.

Padahal paman Li sendiri juga pernah hilang satu kali. Suatu hari paman Li berteriak-teriak, katanya dia tidak sabar lagi, tidak tahan lagi. Habis itu ia pun menghilang.

Tapi setengah bulan kemudian paman itu kembali dari luar lembah sana dengan sekujur badan penuh luka, melihat keadaannya yang parah itu, kacek sedikit saja jiwanya pasti melayang.

“Nah, baru tahu rasa kamu sekarang,” demikian bibi To lantas berolok-olok pada paman Li. “Sudah kukatakan jangan kau pergi, tapi kamu tidak percaya. Bila kita berdiam di sini, betapa pun orang lain tak dapat berbuat apa-apa dan siapa pun tak berani masuk ke sini. Tapi kalau kita keluar dari sini, maka sama saja seperti babi gemuk yang terlepas dari kandang dan pasti akan menjadi mangsa orang belaka.”

*****

Suatu hari, usia Siau-hi-ji belum lagi genap lima tahun, tiba-tiba Toh Sat, paman Toh, membawanya ke suatu rumah. Di dalam rumah itu sudah ada seekor anjing. Di situlah Toh Sat menyerahkan sebilah pisau kecil kepada Siau-hi-ji.

Tentu saja Siau-hi-ji heran, ia tanya, “Un … untuk apa pisau ini?”

“Pisau dapat digunakan membunuh manusia dan juga boleh digunakan membunuh anjing,” kata Toh Sat.

“Dan juga dapat digunakan memotong sayur dan mengiris Ang-sio-bak, betul tidak?” tukas Siau-hi-ji.

“Ini bukan pisau pemotong sayur,” ujar Toh Sat dengan dingin.

“Jika begitu, aku tidak mau pisau ini, kuingin pisau pemotong sayur saja ….”

“Jangan banyak cincong, lekas bunuh anjing itu!” kata Toh Sat.

“Kalau anjing ini bandel, gebuk saja pantatnya kenapa mesti di bunuh?”

“Kubilang bunuh dia, maka kau harus membunuhnya!” bentak Toh Sat gusar.

“Tapi aku … aku … tidak ….” Siau-hi-ji tersendat-sendat ingin menangis.

“Kau tak mau membunuhnya? Baik!” mendadak Toh Sat keluar rumah, “krek”, tahu-tahu pintu digemboknya dari luar.

Keruan Siau-hi-ji kelabakan dan berteriak-teriak, “Paman Toh buka, buka pintu, aku ingin keluar, biarkan kukeluar!”

“Tidak, habis bunuh anjing itu baru boleh keluar,” seru Toh Sat di luar pintu.

“Aku … aku tak sanggup membunuhnya, aku … aku ….” ratap Siau-hi-ji

“Jika kau tidak sanggup membunuh anjing itu, biar kau yang dimakan olehnya!” ujar Toh Sat seenak perutnya.

Maka menangislah Siau-hi-ji di dalam rumah diseling berteriak-teriak pula, sampai bengkak matanya dan kering tenggorokannya, namun tiada orang yang menggubrisnya, bahkan Toh Sat seperti sudah pergi. Akhirnya Siau-hi-ji tidak menangis lagi.

Tanpa pendengar di sampingnya, pada umumnya anak kecil takkan menangis berlama-lama, teori ini sederhana dan jelas, cuma sayang tidak dipahami kebanyakan orang tua yang selalu memanjakan anaknya.

Di dalam rumah Siau-hi-ji hanya mendeliki anjing itu, anjing itu juga sedang melotot padanya. Meski tidak besar anjing itu, tapi moncongnya besar dan tampaknya rada buas, sesungguhnya Siau-hi-ji rada takut. Dia genggam pisaunya dan tidak berani sembarangan bergerak.

Selang lama dan lama sekali, perutnya mulai berkeruyuk, anjing itu pun menggonggong. Baru sekarang ia ingat belum makan malam. Ia lihat anjing itu pun kelaparan, malahan mungkin sudah dua-tiga hari anjing itu tidak makan.

“Anjing kecil sayang, diam, jangan berteriak, kita senasib, aku pun belum makan,” kata Siau-hi-ji.

Tapi anjing itu menggonggong terlebih keras, lidahnya yang merah terjulur, moncongnya sebentar-bentar mengendus-endus ke arah Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji tambah takut, ia genggam kencang pisaunya dan berkata, “Anjing kecil, sahabat baik, aku kelaparan dan takkan makan dirimu, sebaliknya kalau kau lapar juga tidak boleh makan diriku.”

Tapi mendadak “haung”, sambil meraung anjing itu terus menubruk ke arahnya.

“Au, dagingku tidak enak dimakan, tidak enak ….” Siau hi-ji berteriak-teriak.

Toh Sat berdiri di luar pintu sambil berpangku tangan, didengarnya suara gonggong anjing itu semakin keras dan semakin seram, tapi mendadak suara apa pun tak terdengar lagi.

Selang sekian lama, perlahan Toh Sat membuka pintu. Dilihatnya Siau-hi-ji tetap menggenggam pisau kecil dan sedang merangkak di lantai mirip seekor anjing kecil, sekujur badannya berlumuran darah, seluruh badan anjing tadi juga penuh darah, cuma Siau-hi-ji masih hidup dan anjing itu sudah menjadi bangkai.

Toh Sat berjongkok dan membangunkan Siau-hi-ji, tanyanya, “Berapa kali kau menikamnya?”

“Sepuluh … dua puluh kali, mungkin lebih, aku sendiri tidak tahu persis,” jawab Siau-hi-ji.

“Tadi kau tidak ingin membunuh dia bukan?”

“Ya, tapi dia … dia hendak makan diriku, terpaksa aku ….”

“Terpaksa kau membunuhnya, sebab kalau tidak membunuh dia, kau yang akan dimakan olehnya. Dia tidak mati, kau yang mati. Sekarang kau paham tidak aturan ini?”

Siau-hi-ji mengangguk, jawabnya, “Ehm!”

“Bilamana tadi kau turun tangan lebih dulu, tentu kau takkan terluka separah ini,” ujar Toh Sat. “Nah, mana kala kau tidak boleh tidak harus turun tangan, mengapa kau menunggu dia menyerang lebih dulu? Memangnya kau lebih goblok daripada anjing?”

“Ya, lain kali … lain kali aku sudah tahu,” kata Siau-hi-ji.

“Asal tahu saja,” ucap Toh Sat. “Tapi kau perlu ingat pula, setiap manusia di dunia ini sama saja dengan anjing ini, kau mesti turun tangan lebih dulu, jangan sampai didahului orang lain. Nah, paham?”

“Ehm!” kembali Siau-hi-ji mengangguk.

“Kau takkan lupa?” Toh Sat menegas.

“Selamanya takkan lupa,” jawab Siau-hi-ji.

Toh Sat menatap tajam anak ini, tersembul senyuman puas pada ujung mulutnya.

Karena lukanya itu, hampir setengah bulan Siau-hi-ji berbaring di tempat Ban Jun-liu, setelah mendapat perawatan tabib itu, akhirnya ia pun dapat berjalan. Mukanya memang sudah ada codet, bekas luka, kini tubuhnya banyak bertambah lagi bekas luka.

Selang dua hari, kembali Toh Sat membawanya pergi dan mengurungnya di rumah itu. Di dalam rumah ada pula seekor anjing yang jauh lebih besar dari pada anjing sebelumnya.

“Kau membawa pisau itu?” tanya Toh Sat. Siau-hi-ji hanya mengangguk saja, mukanya pucat dan tak sanggup bicara.

“Baik, bunuh pula anjing ini!” kata Toh Sat.

“Tapi … tapi anjing ini ter … teramat besar.”

“Kau takut?” tanya Toh Sat.

“Ya, ta … takut,” berulang-ulang Siau-hi-ji manggut-manggut.

“Hm, percuma!” omel Toh Sat dengan gusar. “Krek”, mendadak ia keluar rumah dan menggembok pintu dari luar.

Beberapa lama kemudian, suara gonggong anjing di dalam rumah semakin keras, tapi selang tak lama suara itu lantas berhenti. Waktu Toh Sat membuka pintu, anjing itu sudah mati dan Siau-hi-ji masih hidup.

Sekali ini meski sekujur badan anak itu pun berlumuran darah, tapi tidak merangkak lagi melainkan sudah mampu berdiri tegak, walaupun matanya mengembeng air mata, namun bibir tergereget dan berseru dengan lantang, “Sudah kubunuh dia, tujuh belas kali tikaman.”

“Kau masih takut tidak?” tanya Toh Sat.

“Anjing sudah mati, sudah tentu aku tidak takut lagi, tapi tadi ….”

“Apa gunanya takut? Kau takut, tetap kusuruh kau bunuh dia, kau takut, dia juga tetap akan mencaplok dirimu. Aturan ini kau paham tidak?”

“Ya, paham,” sahut Siau-hi-ji sambil mengangguk.

“Tahukah mengapa kau terluka?”

Siau-hi-ji menunduk, katanya, “Sebab aku takut, maka tak berani turun tangan lebih dulu.”

“Jika begitu, apakah lain kali kau tetap takut?”

“Tidak, takkan takut lagi,” jawab Siau-hi-ji tegas sambil mengepal.

Kembali tersembul senyuman Toh Sat sambil memandang anak didiknya itu.

Sekali ini luka Siau-hi-ji dapat sembuh dengan cepat, tapi begitu dia sudah sehat, segera pula Toh Sat memasukkannya ke rumah itu. Anjing yang berada di situ juga semakin buas, dan makin lama makin besar. Namun luka yang diderita Siau-hi-ji makin lama justru semakin ringan, sembuhnya juga semakin cepat.

Sampai keenam kalinya, waktu Toh Sat membuka pintu rumah itu, ternyata isinya bukan lagi anjing melainkan seekor serigala kecil.

Karena itu kembali Siau-hi-ji terbaring di rumah tabib Ban, makan obat, tiada hentinya makan obat.

Suatu hari datanglah Ha-ha-ji menengoknya, Siau-hi-ji ingin tertawa tapi tak bisa.

“Ternyata betul Siau-hi-ji berbaring di sini,” kata Ha-ha-ji dengan tertawa, “Haha, rupanya serigala tidak doyan ikan kecil.”

“Paman tertawa, semoga engkau jangan marah ya?” kata Siau-hi-ji.

“Marah apa?” tanya Ha-ha-ji bingung.

“Sesungguhnya aku ingin tertawa, cuma … cuma bila tertawa badanku lantas terasa sakit, terpaksa aku tak dapat tertawa.”

“Hahaha, anak bodoh,” ucap Ha-ha-ji sambil bergelak. “Kuberitahu, pada waktu pamanmu ini tertawa, terkadang badanku juga terasa sakit, tapi semakin sakit rasa badanku, semakin ngakak pula tertawaku.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Sebab apa begitu?”

“Kau harus tahu bahwa tertawa bukan saja obat mujarab, tapi juga senjata … senjata yang paling ampuh, selamanya belum pernah kutemukan senjata lain yang lebih ampuh daripada tertawa.”

“Senjata?” Siau-hi-ji menegas dengan terbelalak. “Memangnya dengan tertawa saja dapat membunuh serigala?”

“Hahaha, bukan saja dapat membunuh serigala, bahkan juga dapat membunuh manusia!” seru Haha-ji.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “Aneh, aku tidak paham.”

“Coba katakan, apakah kau tahu sebab apa setiap kali kau mengalami luka?”

“Aku tidak tahu, padahal aku sudah ti … tidak takut lagi,” jawab Siau-hi-ji. “Mungkin disebabkan kungfuku masih rendah, tak dapat sekali tikam membinasakannya.”

“Sebab apa kau tidak dapat membinasakannya dengan sekali tikam?” tanya Ha-ha-ji pula.

“Yaitu karena kungfuku belum ….”

“Bukan lantaran kungfumu, tapi karena kau tidak tertawa,” ujar Ha-ha-ji dengan bergelak. “Meski binatang itu, anjing maupun serigala, tidak dapat bicara, tapi mereka pun tahu urusan, begitu kau masuk rumah segera mereka tahu kau tak berniat baik pada mereka dan mulai waswas padamu, sebab itulah biarpun kau turun tangan lebih dulu juga tiada gunanya.”

Siau-hi-ji mendengarkan dengan penuh perhatian dan berulang-ulang mengangguk, katanya, “Ya, tepat sekali.”

“Hahaha! Makanya lain kali bila kau masuk ke rumah itu, tak peduli apa yang kau lihat, baik anjing, serigala maupun harimau juga tidak soal, yang penting wajahmu harus selalu tersenyum simpul agar mereka mengira kau tak bermaksud jahat kepada mereka ….”

“Dan sekali tikam dapatlah kubunuh dia,” sambung Siau-hi-ji.

“Tepat!” seru Ha-ha-ji sambil keplok dan tertawa. “Asalkan dia tidak berjaga-jaga dan memandang kau sebagai kawan, maka sekali tikam kau akan dapat membunuhnya. Teori ini meski sederhana, tapi sangat manjur, tanggung ces-pleng!”

“Dan selanjutnya aku pun takkan terluka pula,” tambah Siau-hi-ji.

“Betul, pada umumnya anjing, serigala ataupun manusia, rata-rata takkan membikin susah orang yang tak bermaksud jahat pada mereka, cukup asalkan kau tertawa saja, tiada hentinya tertawa, sampai pisaumu sudah bersarang di tubuh mereka juga tetap tertawa, sehingga mendekat ajal juga mereka tidak waspada padamu, dengan demikian kau pun takkan mengalami cedera apa-apa.”

“Tapi … tapi cara demikian kan kurang ksatria?”

“Hahaha! Anak bodoh, kalau dia toh akan membunuhmu, maka kau harus membunuh dia lebih dulu. Jika toh kau harus membunuh dia, cara bagaimana kau membereskan dia kan sama saja?”

“Aha, benar, pahamlah aku sekarang!” seru Siau-hi-ji dengan tertawa riang.

“Anak baik, hahaha, anak pintar!” Ha-ha-ji tergelak-gelak senang.

*****

Benar juga, selanjutnya Siau-hi-ji tidak lagi terluka. Total jenderal dia sudah membunuh lima ekor anjing, empat ekor serigala, dua ekor kucing kuwuk dan seekor harimau kecil. Bekas luka di tubuhnya kalau dihitung sedikitnya ada tiga puluh garis.

Kini dia baru berumur enam tahun. Selama setahun terakhir ini Ok-jin-kok bertambah lagi empat penghuni. Tapi Siau-hi-ji sama sekali tidak tertarik pada mereka, ia merasa dirinya sekarang sudah jauh lebih kuat (dalam hal berbuat busuk dan jahat) daripada mereka.

Lewat agak lama pula …. Pada suatu hari mendadak ia tanya To Kiau-kiau, “Bibi To, orang lain sama bilang engkau adalah seorang mahapintar, sesungguhnya betul apa tidak?”

“Siapa yang bilang begitu?” To Kiau-kiau tertawa ngikik. “Tapi, apa yang dikatakan orang itu sungguh tepat.”

“Bukankah bibi mempunyai barang-barang yang beraneka macam dan aneh-aneh,” tanya Siau-hi-ji pula.

“Ai, kau setan kecil ini sedang merancang kejailan apa?” omel To Kiau-kiau dengan tertawa.

Mata Siau-hi-ji berkedip, katanya, “Jika kubantu melampiaskan rasa dongkolmu, apakah engkau sudi menghadiahkan sesuatu benda aneh-aneh itu padaku?”

“Melampiaskan rasa dongkolku apa maksudmu?”

“Kulihat engkau sering dibuat dongkol oleh paman Li dan engkau kelihatan tak berdaya padanya ….”

“Hihi, apakah kau setan kecil ini sudah mempunyai cara baik untuk mengerjai dia?” tanya To Kiau-kiau dengan tercengang.

“Ehm!” Siau-hi-ji mengangguk.

“Cara apa yang telah kau reka? Kau minta hadiah apa?”

“Cukup asalkan bibi memberikanku semacam obat saja.”

“Obat? Untuk ini kau harus mencari Ban Jun-liu, mengapa malah minta padaku?”

“Obat demikian ini tidak dipunyai paman Ban, tapi bibi To punya.”

“Ai, setan kecil benar-benar membuat bingung padaku. Baik, obat apa, coba katakan.”

“Obat bau busuk, semakin busuk baunya makin baik,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sampai lama sekali To Kiau-kiau memandangi anak itu dengan heran, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, setan kecil, tahulah aku.”

“Engkau tahu?” Siau-hi-ji menegas dengan mata terbelalak lebar.

“Setan kecil,” omel To Kiau-kiau dengan tertawa, “Orang lain bisa dikelabui masakah kau mampu mengelabui aku? Kutahu kau jemu karena Li Toa-jui selalu mengendusi badanmu, maka kau sengaja hendak menyimpan sebungkus obat bau busuk di tubuhmu agar nanti dicium oleh Li Toa-jui. Tapi kau pun takut padanya, maka kau sengaja berkayun dan melibatkan diriku dalam karyamu ini, dengan begini kau akan mempunyai sandaran, berbareng kau pun ingin dipuji dan dimanjakan olehku.”

Wajah Siau-hi-ji menjadi merah, katanya dengan tertawa, “Bibi To memang pintar sekali.”

“Kau juga tidak bodoh,” ujar Kiau-kiau.

“Tapi kalau dibandingkan Bibi, wah ….”

“Siau-hi,” kata Kiau-kiau dengan tertawa, “Coba bayangkan, saat ini berapa umurmu? Mana kala kau sudah mencapai seusia diriku, wah, tentu luar biasa … Ai, anak sayang, tidak percumalah rasa kasih sayangku padamu selama ini.”

Siau-hi-ji menunduk jengah, katanya kemudian, “Obat itu ….”

“Sudah tentu tersedia obat yang kau inginkan,” kata Kiau-kiau dengan tertawa, “Baunya kutanggung bisa bikin semaput orang.”

*****

Dapat dipastikan selanjutnya Li Toa-jui tak berani lagi mengendus-endus seperti anjing pelacak di tubuh Siau-hi-ji. Sedikitnya ada dua jam dia muntah-muntah, paling tidak sehari semalam dia tak sanggup makan.

Besoknya dia pegang Siau-hi-ji dan ditanyai, “Siau-hi busuk, apakah obat itu pemberian To Kiau-kiau?”

Siau-hi-ji hanya tertawa saja tanpa menjawab.

“Kau tidak takut kumakan dirimu?” damprat Li Toa-jui dengan gemas.

“Daging ikan busuk tidak enak dimakan,” sahut Siau-hi-ji mengikik.

“Baiklah, setan cilik,” omel Li Toa-jui sambil menyengir, “kamu takkan kumakan dan juga takkan kugebuk, tapi kau harus juga mengerjai To Kiau-kiau satu kali, untuk itu akan kuberikan sesuatu benda bagus padamu.”

“Betul?” Siau-hi-ji menegas.

“Tentu saja betul,” jawab Li Toa-jui.

Petangnya, Siau-hi-ji makan malam bersama To Kiau-kiau, di antara lauk-pauk ada semangkuk Ang-sio-bak (daging dimasak Ang-sio atau digoreng dan diberi saus). Dengan bersemangat Siau-hi-ji menyumpitkan Ang-sio-bak itu ke mangkuk To Kiau-kiau dan membujuknya makan lebih banyak.

“Inilah santapan kegemaran Bibi, maka Bibi harus makan sebanyaknya,” kata anak itu dengan tertawa.

“Pintar menjilat juga, setan cilik,” omel To Kiau-kiau dengan tertawa gembira.

“Bibi sangat baik padaku, dengan sendirinya aku pun ingin membalas Bibi dengan kebaikan,” ujar Siau-hi-ji.

Sambil makan dengan bernafsu, To Kiau-kiau bertanya, “Kau sendiri kenapa tidak makan?”

“Sayang bila kumakan, biarlah untuk Bibi saja,” ujar Siau-hi.

“Anak bodoh, kenapa merasa sayang, ini kan bukan santapan istimewa segala,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

Mata Siau-hi berkedip-kedip, katanya, “Tapi Ang-sio-bak ini makanan spesial.”

“Spesial bagaimana?” tanya Kiau-kiau.

“Ang-sio-bak ini khusus kuambil dari tempat paman Li, katanya ….”

Belum selesai Siau-hi berucap, wajah To Kiau-kiau sudah pucat dan bertanya, “Apakah ini … kemarin yang disembelih itu ….”

Riang gembira air muka Siau-hi-ji, jawabnya sambil mengangguk, “Ya, begitulah.”

“Kau … setan cilik ….” belum habis To Kiau-kiau mengomel, serentak isi perutnya lantas berontak, “Uwaaaak”, kontan ia tumpah-tumpah.

Sedikitnya dua jam To Kiau-kiau muntah-muntah dan seharian penuh tiada nafsu makan lagi.

*****

Tempat tinggal Toh Sat terletak di ujung Ok-jin-kok, di belakang rumahnya adalah bukit tandus. Padahal rumahnya itu juga tiada ubahnya seperti bukit tandus, kosong blong, tiada terdapat sesuatu perlengkapan atau pajangan apa-apa, boleh dikatakan rumah yang paling jelek dan paling sederhana di seluruh Ok-jin-kok.

Setiap kali Siau-hi-ji pindah dari rumah To Kiau-kiau ke rumah Toh Sat tentu terasa tidak enak, apalagi di rumah paman Toh itu sedang menunggu pula binatang yang mungkin akan mencaploknya. Namun tidak datang pun tidak boleh bagi Siau-hi-ji.

Hari itu Siau-hi-ji menuju ke rumah Toh Sat pula. Paman Toh itu duduk kaku di pojok rumah dengan jubahnya yang putih itu, dilihat dalam rumah yang gelap dan lembab itu terasa mirip seonggokan salju saja layaknya.

Asalkan datang Siau-hi-ji selalu melihat paman Toh itu duduk dalam posisi begitu, selamanya tak pernah berubah. Setiap kali Siau-hi-ji mendekati juga tidak berani membuka suara.

Dengan pandangan dingin Toh Sat menatap Siau-hi-ji hingga sekian lamanya, kemudian bertanya tiba-tiba, “Kabarnya kau mempunyai sebuah peti kecil.”

“Ya,” sahut Siau-hi-ji sambil menunduk.

“Konon banyak pula isi petimu itu?”

“Ehm!”

“Apa saja isinya, coba sebutkan!”

Siau-hi-ji tidak berani menengadah, katanya dengan tergagap-gagap, “Ada … ada satu bungkus obat bau busuk, sepotong tongkat yang bisa mulur mengkeret dan dapat menyemburkan paku sangat banyak, ada pula sepotong obat yang dapat mencairkan tulang dan daging manusia sehingga menjadi air, lalu ada juga ….”

“Barang-barang itu apakah pemberian To Kiau-kiau dan Li Toa-jui?” sela Toh Sat dengan ketus.

“Emh!” kembali Siau-hi-ji menjawab singkat.

“Konon mereka berdua setelah beberapa kali tertipu olehmu. Dengan barang pemberian To Kiau-kiau kau gunakan untuk mengganggu Li Toa-jui dan barang pemberian Li Toa-jui kau gunakan untuk menggoda To Kiau-kiau, begitu bukan?”

“Ehm!”

“Kau tidak takut mereka marah dan membunuhmu?”

“Sebenarnya takut, tapi … tapi kemudian kudapati semakin aku berbuat busuk, semakin hebat menggoda mereka, maka mereka pun bertambah senang. Lebih-lebih bibi To, terkadang dia seperti sengaja membiarkan dirinya diganggu olehku.”

Kembali Toh Sat menatapnya sekian lama, habis itu mendadak ia berbangkit dan berkata, “Ikut padaku!”

Sebelum dekat dengan rumah yang menakutkan itu, dari jauh Siau-hi-ji sudah mendengar suara raungan keras dan membuat berdiri bulu romanya. “Seekor harimau besar?” tanpa terasa ia berseru.

“Hm!” Toh Sat hanya mendengus saja, lalu dia membuka pintu rumah itu sedikit dan membentak, “Masuk, lekas!”

Terpaksa Siau-hi-ji melolos belatinya dan melangkah masuk, pintu segera ditutup kembali oleh Toh Sat. Dia berdiri berpangku tangan di situ. Dia memang mempunyai semacam keahlian, yakni sanggup berdiri tegap hingga lima-enam jam lamanya tanpa bergerak.

Tapi sekali ini lain dari pada biasanya, tidak lama setelah Siau-hi-ji masuk, suara raungan harimau lantas lenyap.

Selang sejenak pula, terdengar Siau-hi-ji memanggil perlahan, “Paman Toh, buka pintu!”

“Begitu cepat?” tanya Toh Sat heran.

“Ini kan kepandaian ajaran paman Toh,” kata Siau-hi-ji.

“Hm!” Toh Sat mendengus sambil membuka pintu perlahan.

Sungguh mimpi pun Toh Sat tidak pernah menduga bahwa yang keluar itu bukannya Siau-hi-ji melainkan harimau buas itu. Keruan ia terkejut sehingga rada terlambat mengelak, pundaknya kena dicakar oleh kuku harimau hingga terluka dan mengucurkan darah.

Tercium bau anyirnya darah, harimau lapar itu tambah buas, sekali tubruk tidak kena sasaran, segera ia memotong balik, perubahan gerak serangannya itu sungguh lebih cepat dan lebih ganas daripada jago silat kelas wahid. Seketika ruangan itu penuh bayangan loreng harimau dan bau amis.

Namun Toh Sat bukan jagoan pinggiran, biarpun kaget tidak menjadi bingung. Mendadak ia melompat dan mencemplak ke punggung harimau, di tengah seribu kerepotannya itu ia tidak lupa berseru, “Apakah kau terluka, Siau-hi-ji?”

Menurut logika, kalau harimau itu masih hidup, maka yang mati tentunya Siau-hi-ji.

Tak tahunya segera terdengar suara tertawa ngikik anak itu dan jawabnya, “Tidak, Siau-hi-ji tidak terluka, Siau-hi-ji berada di sini.”

Waktu Toh Sat menoleh, dilihatnya di ambang pintu sana duduk seorang anak kecil berkuncir sedang memandangnya dengan tertawa. Bahkan anak itu lagi menggerogoti sebuah apel. Busyet!

Seketika Toh Sat tidak tahu dirinya ini kaget, gusar atau senang. Sedikit meleng, mendadak harimau itu berjingkrak dan melompat sehingga Toh Sat terlempar jatuh ke bawah.

“Awas, paman Toh!” seru Siau-hi-ji perlahan.

Sementara itu harimau loreng sudah membalik terus menubruk pula ke arah Toh Sat. Tubrukan ini sangat cepat lagi jitu, betapa pun Toh Sat sukar lolos dari cakar harimau itu.

Siapa tahu mendadak tubuh Toh Sat menyurut terus menerobos keluar dari bawah perut harimau, tangan kirinya berbareng terangkat ke atas.

Maka terdengarlah raungan seram harimau itu, isi perutnya tumpah berantakan, darah berhamburan bagai hujan. Harimau itu masih terjang sini dan tumbuk sana, lalu mendadak roboh dan tak bergerak lagi.

Dinding sekeliling berlepotan darah, waktu Toh Sat bangkit kembali, tubuh bagian kirinya juga sudah mandi darah.

Kiranya setelah tangan kirinya dipatahkan oleh Yan Lam-thian sebatas pergelangan tangan, sebagai gantinya Toh Sat telah memasang tangannya yang buntung itu dengan sebuah kaitan baja yang berujung tajam. Dengan kaitan tajam itulah tadi dia merobek perut harimau.

Menyaksikan pertarungan dahsyat tadi, buah apel yang dipegang Siau-hi-ji sampai terjatuh, ia raba-raba dada sendiri dan melelet lidah, katanya, “Wah hebat benar, sungguh menakutkan.”

Toh Sat berdiri tegak di situ sambil menatap tajam pada anak itu, tiada tanda-tanda marah atau dongkol, ia hanya berkata, dengan ketus, “Turun!”

Siau-hi-ji lantas berosot turun, katanya dengan tertawa, “Harimau lihai, tapi paman Toh terlebih lihai.”

“Suruh kau membunuh harimau, mengapa tidak kau lakukan?” tanya Toh Sat, sebagian mukanya berlepotan darah, sebagian lainnya pucat pasi seperti mayat, di tengah suasana yang masih bau amis dan berserakan itu, bentuknya menjadi seram tampaknya.

Tapi Siau-hi-ji seperti tidak takut sama sekali, sambil berkedip-kedip ia menjawab, “Paman Toh selalu suruh Siau-hi-ji bunuh harimau, tapi Siau-hi-ji justru ingin melihat kepandaian paman Toh membunuh macan.”

“Kau ingin bikin celaka padaku?” tanya Toh Sat.

“Mana kuberani membikin celaka paman Toh,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Paman yang membawa harimau itu ke sini, mana mungkin paman tidak mampu membunuhnya? Hal ini sudah lama kupahami.”

Toh Sat menatap anak itu dengan dingin, sampai lama sekali tetap tidak bicara. Ya, pada hakikatnya ia tidak dapat membuka suara lagi.

*****

Musim panas, di tengah lembah Kun-lun-san yang kelam dan lembab itu hawa panas itu tidak sangat terasa, namun sinar sang surya yang menyorot terang membuat orang merasa kemalas-malasan.

Hanya di waktu lohor saja sinar matahari dapat menembus masuk ke Ok-jin-kok, untung penghuni lembah itu memang tidak suka kepada sinar matahari, semakin jarang munculnya matahari semakin baik bagi mereka.

Seekor kucing tampak kemalas-malasan sedang berjemur di atap rumah, seekor lalat terbang ogah-ogahan ke sebelah sana … itulah makhluk-makhluk yang masih mau bergerak di Ok-jin-kok pada tengah hari musim panas demikian.

Tapi pada saat itu juga, dari luar lembah sana ada seorang sedang berlari datang dengan cepat. Di belakangnya tiada nampak seorang pun, dia seperti dikejar setan saja, napasnya sudah terengah-engah dan hampir putus, tapi dia tidak berani berhenti sedikit pun dan tetap berlari-lari.

Tidak lemah juga Ginkangnya, cuma tenaganya yang kurang, seperti kelelahan lantaran sudah berlari-lari sekian hari tanpa berhenti dan seperti juga sudah beberapa hari tidak makan.

Tidak jelek pula wajahnya, hanya hidungnya yang besar membetet itu saja yang membuat orang jemu bila melihatnya.

Pakaiannya sebenarnya sangat perlente, bahkan jelas dibuat oleh ahli jahit terkemuka, tapi kini kain bajunya sudah compang-camping, kotor dan bau.

Karena hawa panas, butiran keringat tampak berketes-ketes dari dahinya menurun melalui hidungnya yang membetet itu terus masuk mulutnya. Tapi dia sama sekali tidak ambil pusing.

Baru setelah melihat tulisan “Ok-jin-kok” di tugu perbatasan itulah orang itu tampak menghela napas lega. Namun larinya bertambah cepat dan langsung menelusuri jalan berbatu licin itu.

Genting rumah gemerlapan karena cahaya matahari yang benderang, pintu dan jendela setiap rumah sama tertutup, tidak nampak seorang pun dan tidak terdengar sesuatu suara.

Agaknya orang itu pun merasa heran, dia celingukan ke sana dan ke sini, dengan waswas dan kebat-kebit ia melangkah ke depan, ia tidak lari lagi seperti tadi. Mungkin dia ingin berseru memanggil, tapi tidak berani.

Pada saat itulah, tiba-tiba di bawah emper rumah sebelah kiri sana ada orang menegurnya dengan perlahan, “Hei!”

Meski suara itu tidak keras, tapi cukup membuat orang itu berjingkat kaget, mukanya yang memang pucat menjadi semakin pucat. Ibarat burung yang sudah kapok mendengar suara jepretan, biarpun suara keresek perlahan saja akan membuatnya takut.

Ketika ia berpaling ke sana, terlihatlah di bawah emper yang teduh sana ada sebuah bangku bambu, seorang anak muda berusia tiga belas-empat belas tampak berbaring miring dengan mata setengah terpejam.

Badan bagian atas anak muda itu telanjang, jelas kelihatan tubuhnya penuh bekas luka, goresan bekas luka itu malang melintang entah betapa banyaknya. Sebuah codet yang paling berkesan adalah di mukanya, codet itu menyilang dari ujung mata hingga hampir mencapai ujung mulut.

Rambut anak muda itu pun tidak tersisir, hanya diikat begitu saja bagian atas. Dengan kemalas-malasan dia selonjor di bangku bambu itu seakan-akan dunia ini ambruk juga bukan urusannya.

Anak muda itu seakan-akan loyo bagai kakek-kakek, tapi sorot matanya memancarkan sinar yang bersifat binal, nakal, sehingga tampaknya juga seperti anak kecil saja. Tapi entah mengapa anak muda yang tubuhnya penuh bekas luka, binal dan kemalas-malasan ini ternyata mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Lebih-lebih wajahnya, meski ada codet, tapi codet yang tidak membuatnya kelihatan jelek, sebaliknya malah membuat wajahnya itu menimbulkan daya tarik yang sukar dilukiskan.

Anak muda yang tubuhnya penuh bekas luka, binal kemalas-malasan ini ternyata memberi kesan pertama bagi siapa pun yang melihatnya, yaitu pemuda cakap, kalau tidak mau dikatakan sangat cakap.

Hanya sekejap saja lelaki hidung betet itu memandangnya dan ia pun terkesima. Kalau lelaki saja demikian bila melihatnya, apalagi perempuan, mustahil takkan kesengsem?

Anak muda itu seperti ingin menggapai, tapi tangan pun malas diangkatnya, dia cuma menegur pula dengan tertawa, “Kenapa kau melenggong? Kemarilah sini!”

Tanpa terasa si lelaki hidung betet mendekatinya, ia berdehem perlahan, lalu menyapa dengan mengiring tawa, “Engkau baik-baik, Engkoh cilik?”

“Kau kenal aku?” tanya anak muda itu.

“Ti … tidak,” jawab si hidung betet.

“Kau tidak kenal diriku, mengapa tanya kebaikanku?”

Si hidung betet melengak, jawabnya dengan gelagapan, “Ini … ini ….”

Biasanya ia pun suka bangga pada mulutnya sendiri yang pandai bicara, tapi sekarang ia benar-benar mati kutu dan tidak sanggup menjawab.

“Kuberitahu, namaku Siau-hi-ji,” anak muda tadi bergelak tertawa. “Dan kau siapa?”

Untuk menyebut namanya sendiri, mendadak si hidung betet membusungkan dada, lalu menjawab, “Pah Siok-tong, berjuluk ‘Sat-hou-thayswe’ (si datuk pembunuh harimau).”

“Hihihi, Sat-hou-thayswe …. Ehm, boleh juga sebutan ini,” Siau-hi-ji mengikik geli. “Eh, berapa ekor harimau pernah kau bunuh?”

Kembali si hidung betet alias Pah Siok-tong itu melengak, jawaban dengan tergagap, “Ini … ini ….”

“Hahahaha!” Siau-hi-ji tertawa. “Kupernah membunuh beberapa ekor harimau dan tidak pernah pakai sebutan Sat-hou-thayswe segala. Kau tidak pernah membunuh barang seekor harimau, tapi pakai nama Sat-hou-thayswe, ini kan lucu dan tidak adil?”

Pah Siok-tong melenggong tak bisa bicara, ia benar-benar serba konyol, ya gemas, ya dongkol. Coba kalau tidak berada di Ok-jin-kok, tentu kepala anak muda itu sudah dipenggalnya sejak tadi.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata pula, “Melihat caramu berlari seperti diuber setan tadi, orang yang kau salahi tentu bukan sembarangan dan ilmu silatnya pasti sangat tinggi. Siapakah gerangan dia? Coba ceritakan!”

Sejenak si hidung betet itu termenung, akhirnya berkata, “Orang yang kusalahi tidaklah cuma satu, di antaranya ada ‘Kanglam-siang-kiam’ (sepasang pedang dari Kanglam), yaitu kedua saudara keluarga Ting, lalu ‘Peng-hou’ (harimau sakti) Siang Hong, ‘Kang-pak-it-liong’ (naga tunggal di utara Sungai) Dian Pat dan ….”

“Hahaha, kiranya mereka ini ….” Siau-hi-ji tertawa. “Nama orang-orang ini pun pernah kudengar, rasanya juga tiada sesuatu yang luar biasa ….”

“Kedengarannya nada Engkoh cilik ini tidak kecil,” jengek Pah Siok-tong.

“Dan nada Toako ini ternyata tidak besar,” balas Siau-hi-ji dengan tertawa.

Amat mendongkol hati Pah Siok-tong, dia menyambung pula, “Meski beberapa orang itu tidak terlalu luar biasa, tapi di antaranya ada seorang yang benar-benar membuat setiap orang kepala pusing bila melihatnya.”

“Wah, apakah dia setan kepala besar?” tanya Siau-hi-ji.

Pah Siok-tong tidak menggubrisnya dan melanjutkan, “Bicara tentang orang ini, namanya sungguh terkenal di dunia Kangouw saat ini.”

“Siapa namanya?” tanya Siau-hi-ji.

“Siau-sian-li Thio Cing,” jawab Pah Siok-tong.

“Siau-sian-li?” Siau-hi-ji menegas dengan tertawa. “Wah, dari namanya ini dapat dibayangkan dia tentu seorang cantik. Setiap orang yang melihatnya tentu akan suka, mengapa kau katakan setiap orang akan kepala pusing bila melihatnya?”

Dengan menggreget Pah Siok-tong menjawab, “Budak itu memang cantik, tapi kejinya, ganasnya, biarpun si tangan darah Toh Sat di masa lampau juga belum tentu dapat melebihi dia.”

“Oya, begitu hebat dia?” tanya Siau-hi-ji.

Pah Siok-tong semakin geregetan, katanya, “Enam saudaraku telah dibunuh olehnya dalam waktu semalam saja. ‘Hou-lim-jit-thayswe’ (tujuh datuk dari rimba harimau) kini tersisa aku sendiri.”

“Wah, orang macam begitu sungguh kuingin melihatnya,” ujar Siau-hi-ji sambil tertawa.

“Tapi bila kau melihat dia, tentu kau akan menyesal,” kata Pah Siok-tong.

“Coba ceritakan pula, cara bagaimana kau menyalahi mereka?”

“Mengapa kau tanya sebanyak ini?” jawab Pah Siok-tong mendongkol.

“Ini aturan,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sampai sekian lama Pah Siok-tong mendelik, tapi akhirnya ia tertawa dan berkata, “Baik, akan kuceritakan. Soalnya kami bersaudara telah memperkosa janda dan adik perempuan Sim Gin-hong, Congpiauthau dari Sam-wan-piaukiok yang termasyhur itu.”

“Apakah perbuatan itu terhitung busuk?” tanya Siau-hi-ji sambil memandang sekejap pada si hidung betet. “Huh, kebusukan begitu pada hakikatnya cuma dilakukan oleh orang kasar sebangsa kusir dan kuli saja.”

Pah Siok-tong menjadi gusar, katanya, “Ya, hal itu memang belum seberapa, tapi Sim Gin-hong telah lenyap sejak kehilangan barang kawalannya, maka kawan Kangouw cukup menghormati janda dan adik perempuannya, sebab itu ….”

“Apa katamu, yang pasti kalau cuma berbuat hal busuk semacam itu saja, kau masih belum memenuhi syarat untuk masuk ‘Ok-jin-kok’, kecuali ….”

“Seb … sebab apa?” tanya Pah Siok-tong.

“Ini adalah aturan,” kata Siau-hi-ji.

Sungguh mati, betapa pun Pah Siok-tong tidak berani melanggar aturan “Ok-jin-kok”, terpaksa ia menyambung dengan tertawa, “Kecuali apa?”

“Kecuali kau mengaturkan satu-dua macam benda aneh kepadaku.”

“Kudatang ke sini dengan tergesa-gesa, mana sempat membawa barang aneh atau berharga segala.”

“Kalau tidak punya barang, kau harus memperlihatkan sejurus-dua kepandaianmu.”

Merah padam muka Pah Siok-tong saking dongkolnya, setelah melenggong sejenak, akhirnya ia berkata, “Baik!” waktu tangannya meraih, tahu-tahu dari pinggangnya terlolos sebilah golok lemas. “Sret-sret-sret,” sekaligus ia menyabet tiga kali dengan cara yang menakjubkan. Ini termasuk kepandaian andalannya yang disebut “tiga jurus pembunuh harimau”. Gerakannya ganas, cepat dan tepat pula.

Tapi Siau-hi-ji menggeleng, katanya dengan tertawa, “Masakah permainan begini juga termasuk kepandaian khas? Huh, pada hakikatnya serupa perbuatanmu, sama-sama tidak boleh diperlihatkan pada orang. Kukira kau harus mencari jalan lain jika ingin masuk Ok-jin-kok.”

“Adakah … adakah jalan lain?” tanya Pah Siok-tong.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Ada, asalkan kau menyembah dan memanggil tiga kali ‘Siau-coh-cong’ (kakek cilik) padaku, habis itu dengan hormat kau persembahkan golokmu itu untukku.”

“Apakah ini pun termasuk aturan?”

“Benar, ini pun aturan!”

“Belum … belum pernah kudengar ada aturan demikian di Ok-jin-kok,” teriak Pah Siok-tong dengan suara parau.

“Siapa bilang ini aturan Ok-jin-kok?” ucap Siau-hi-ji.

Kembali Pah Siok-tong melenggong, katanya, “Habis, atu … aturan ….”

“Ini aturanku sendiri!” sambung Siau-hi-ji dengan mengikik.

Saking gemasnya tubuh Pah-Siok-tong sampai gemetar, mendadak ia berteriak, “Baik, terimalah!” Berbareng goloknya terus membacok.

Sungguh sukar dibayangkan, anak muda yang kelihatan malas bergerak tadi, kini licinnya seperti ikan, hanya sedikit bergerak tahu-tahu orangnya sudah memberosot pergi.

Bacokan Pah Siok-tong itu sungguh secepat kilat, tapi tetap mengenai tempat kosong. “Krak”, bangku bambu itu menjadi korban dan terpotong menjadi dua. Keruan si hidung betet terkejut.

Pada saat itulah di belakangnya ada orang tertawa dan berkata, “Hihi, aku berada di sini, apakah kau tidak melihat?”

Mendadak Pah Siok-tong membalik, golok terus menabas. Tapi di belakangnya kosong melompong tiada sesuatu bayangan, sedangkan suara tertawa tadi tahu-tahu berkumandang dari atas emper rumah, katanya dengan haha-hihi, “Jangan tergesa-gesa, kalem saja, aku berada di sini!”

Hampir gila Pah Siok-tong saking gusarnya. Selagi dia hendak menubruk maju pula, tiba-tiba terdengar seorang berseru, “He, apakah di sana itu Pah-jite?!”

Tertampaklah seorang berlari tiba dengan langkah lebar, usia pendatang ini sebaya dengan Pah Siok-tong, empat puluh lebih, lima puluh kurang, tapi gerak tubuhnya jauh lebih lincah dan gesit daripada Pah Siok-tong.

Perawakan orang ini tinggi kurus, ujung mulutnya melengkung ke bawah, wajahnya kelihatan bengis, jahat, tapi lengan baju sebelah kanan tampak kosong dan terselip di ikat pinggang, lengan kanannya ternyata buntung.

Setelah mengawasi sekejap, dengan girang Pah Siok-tong lantas berseru, “He, Bun-lui-to (si golok geledek mejan) Song-samko! Engkau ternyata benar berada di sini, kedatanganku ini justru ingin … ingin mengendon padamu.”

“He, kiranya kalian adalah teman,” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Pah Siok-tong memandang Siau-hi-ji sekejap, katanya dengan gemas, “Song-samko, setan cilik ini ….”

Belum habis ucapannya dia lantas diseret Song Sam ke samping sana, kata Song Sam, “Pah-jite sudah datang, marilah kubawamu menemui ….”

“Nanti dulu, nanti dulu!” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Boleh juga jika kau hendak membawanya pergi, tapi suruh dia ganti rugi dulu bangkuku ini.”

Pah Siok-tong menjadi marah, jawabnya, “Kau ….”

Tapi belum lanjut ucapannya kembali ia dicegah Song Sam sambil berkata, “Tentu, kerusakan bangkumu tentu akan diganti, cuma entah bagaimana caranya memberi ganti rugi?”

“Mengingat jasa baikmu, boleh suruh dia berikan goloknya saja,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kembali Pah Siok-tong gusar, bentaknya, “Bangku bambu rongsokan begini juga minta ganti rugi dengan golok pusakaku ….”

Belum habis perkataannya, tahu-tahu golok yang dipegangnya sudah dirampas oleh Song Sam terus diserahkan kepada Siau-hi-ji. Pah Siok-tong bermaksud bicara lagi, tapi segera Song Sam menyeretnya lari ke sana.

Sesudah jauh meninggalkan Siau-hi-ji barulah Song Sam menghela napas lega dan berkata, “Ai, mengapa baru datang Pah-jite lantas menyalahi iblis kecil itu?”

“He, mengapa Song-samko sedemikian takut padanya?” tanya Pah Siok-tong heran dan kejut.

“Bukan cuma aku saja yang takut padanya, setiap penghuni lembah ini siapa yang tidak gentar padanya?” ujar Song Sam sambil menyeringai. “Selama beberapa tahun si iblis kecil ini benar-benar telah membuat kepala pusing setiap orang di sini, siapa yang menyalahi dia, tidak sampai tiga hari pasti akan celaka.”

“He, masakah setan cilik itu begitu lihai?” Pah Siok-tong menegas dengan melenggong.

“Pah-jite, kukatakan bahwa sedikit pun kau tidak perlu penasaran karena kena dikerjai setan cilik ini. Coba kau pikir, adakah sesuatu yang baik di Ok-jin-kok ini? Bocah seusia dia mampu malang-melintang di sarang penjahat, maka dapat dibayangkan orang macam apa dan betapa lihainya?”

“Sungguh sukar dipercaya … sukar dipercaya ….” gumam Pah Siok-tong. Mendadak ia menyentuh lengan baju Song Sam yang kosong tak berisi, segera ia tanya, “Samko, apakah ini … ini juga

“Walaupun bukan perbuatannya, tapi juga ada sangkut-pautnya dengan dia,” jawab Song Sam sambil menyengir. Ia menghela napas panjang dan memandang lengannya yang buntung itu, lalu menyambung, “Buntungnya tepat pada hari kedatangannya, empat belas tahun yang lalu. Sungguh lihai amat Yan Lam-thian itu, kalau aku tidak bertindak tegas pada saat itu mungkin jiwaku sudah melayang sejak dahulu.”

“Yan Lam-thian?” Pah Siok-tong menegas dengan kaget. “Jadi setan cilik itu ….” belum selesai ucapannya, mendadak ia menjerit ngeri dan roboh terjungkal, punggungnya sudah bertambah suatu lubang dan darah segar mengucur seperti mata air.

Dengan kaget Song Sam berpaling, terlihat seorang sudah berdiri di belakangnya seperti setan iblis, pakaiannya kelabu pucat melambai-lambai tertiup angin, matanya celong dan mukanya kaku menyeramkan. Dengan suara gemetar Song Sam berseru, “Engkau Im … Im ….”

“Hm, barangkali kau lupa bahwa di lembah ini siapa pun dilarang menyinggung urusan Siau-hi-ji dengan orang she Yan itu,” kata Im Kiu-yu dengan menyeringai.

“Ya, belum … belum sempat kukatakan padanya,” jawab Song Sam takut.

“Belum sempat kau katakan, namun dia sudah kubinasakan, kau tidak terima?” tanya Im Kiu-yu.

“Aku … aku ….” Song Sam gelagapan sambil menyurut mundur. Mendadak ia melompat tinggi ke atas, lalu terbanting dengan keras, tubuhnya tiada tanda terluka, namun tak bisa bergerak lagi.

Di tempat berdiri mereka tadi kini sudah bertambah pula seorang nenek bertongkat dan bertubuh rada bungkuk.

“Hihi, mengapa Im-lokiu menjadi berhati welas asih?” kata nenek itu dengan terkikik-kikik. “Ketika keparat ini mengucapkan kalimat pertama tadi seharusnya sudah kau binasakan dia, mengapa sampai saat ini masih dibiarkan saja?”

“Justru kutahan untukmu,” kata Im Kiu-yu.

“Untukku?” nenek itu tertawa. “Sudah lama aku tidak membunuh orang, memangnya kau kira tanganku sudah gatal?”

“Ingin kulihat apakah kau punya Siau-hun-ciang (pukulan penggetar sukma) ada kemajuan atau tidak?”

“Kalau ada kemajuan memangnya kau mau apa? Sukmamu juga ingin tergetar?” kata nenek itu, suaranya yang serak tua itu mendadak berubah menjadi lembut menggiurkan. Jelas itulah suara To Kiau-kiau.

“Kalau kau ingin menggetar sukmaku mestinya kau bersolek lebih cantik,” ujar Im Kiu-yu dengan tersenyum dingin.

“Ah, sudah lanjut usia, betapa pun menyamar juga tak dapat menyerupai lagi nona cilik yang cantik,” kata Kiau-kiau dengan tertawa. “Eh, di mana setan cilik itu, apakah tadi dia mendengar percakapan kedua orang ini?”

“Kau tidak tahu, dari mana kutahu?” jawab Im Kiu-yu.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara Siau-hi-ji sedang berseru di kejauhan, “Hai, guci cuka, hidung kerut, berbini muda, beranak ….”

“Hihi, si guci cuka Lo Say bisa konyol disatroni setan cilik lagi,” ucap Kiau-kiau dengan tertawa.

“Kalau setan cilik berada di sana, tentu percakapan kedua orang tadi tak didengarnya,” ujar Im Kiu-yu.

“Weh, ada dua orang bicara di sini, ada lelaki ada perempuan, ada manusia ada setan, total jenderal menjadi ada empat. Sungguh aneh bin lucu!” demikian tiba-tiba seorang berolok-olok.

Tanpa menoleh juga To Kiau-kiau tahu siapa yang bicara, dengan tertawa ia menanggapi, “Li Toa-jui, di sini ada dua orang mati, apakah tidak cukup untuk menyumbat mulutmu?”

“Orang yang mati di tangan kalian berdua tidak cocok dengan seleraku,” kata Li Toa-jui sambil tertawa.

“Apakah kau pun hendak pergi ke tempat Toh-lotoa?” tanya Im Kiu-yu.

“Ya, mendadak Ha-ha-ji mengumpulkan kita, entah mau apa?”

Begitulah mereka bertiga lantas menuju ke tempat tinggal Toh Sat. Tapi mereka berjalan terpisah agak jauh, satu sama lain tidak mau berdekatan.

Toh Sat tetap duduk di sudut rumahnya tanpa bergerak seperti biasa. Semua orang sudah hadir komplet.

Ha-ha-ji lantas berkata, “Haha, sudah lama kita tidak ramai-ramai berkumpul begini.”

“Aku paling benci keramaian,” ucap Im Kiu-yu. “Kau mengundang aku ke sini, kalau tiada yang perlu dibicarakan, aku ….”

Cepat Ha-ha-ji memotong, “Eh, jangan menakuti aku, nyaliku kecil.”

“Kau mengumpulkan kami, apakah karena Siau-hi-ji?” tanya To Kiau-kiau.

“Haha, betapa pun memang To kecil kita lebih pintar,” seru Ha-ha-ji.

“Karena setan cilik itu?” tukas Im Kiu-yu. “Memangnya mau bicara apa tentang setan cilik itu? Kalian sudah cukup mendidiknya, yang satu mengajar dia mengganggu orang, yang lain mengajar dia menangis dan yang lain lagi mengajar dia tertawa …. Nah, bukankah sekarang dia mahir seluruhnya, makanya kuundang kalian ke sini,” kata Ha-ha-ji.

“Sebab apa?” tanya Li Toa-jui.

“Soalnya aku tidak tahan lagi,” tutur Ha-ha-ji sambil menghela napas.

“Sampai Ha-ha-ji juga menghela napas, tampaknya dia benar-benar tidak tahan lagi,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

“Tuan muda kita ini sekarang pergi datang dengan sesukanya, ingin makan lantas makan, mau minum lantas minum, siapa saja tak berani merecoki dia, jika merecoki dia, maka pasti celaka. Ok-jin-kok benar-benar sudah kenyang merasakan gangguannya, selama beberapa bulan ini setidaknya ada tiga puluh orang yang mengeluh, setiap orang itu sedikitnya mengeluh padaku delapan kali,” demikian tutur Ha-ha-ji.

“Ya, setan cilik itu sungguh makin lama semakin lihai, kalau dia bicara dengan aku sekarang sedikitnya aku harus berpikir setengah jam baru berani menjawabnya, kalau tidak pasti akan terjebak,” Suma Yan ikut bicara.

“Mendingan cuma begitu, pada hakikatnya aku menjadi takut melihat dia,” sambung Li Toa-jui sambil menyengir. “Apabila suatu hari dia tidak mencari aku, maka hari itu adalah hari mujur bagiku, aku dapat tidur nyenyak sepanjang hari, kalau tidak, wah, tidur saja aku mesti waspada terhadap tingkah polahnya.”

“Kita mengganggu orang, sedikit banyak tentu ada tujuan, tapi setan cilik itu mengganggu orang hanya untuk main-main saja, demi hobi,” kata Haha-ji.

“Bukankah kita memang berharap dia berbuat begitu?” ujar Kiau-kiau.

“Tapi yang kita harapkan supaya dia mengganggu orang lain, celakanya setan cilik itu tidak mau tahu kawan atau lawan, keluarga atau bukan, siapa yang dijumpai lantas diganggu olehnya,” ucap Ha-ha-ji. “Dalam hal ini kukira To cilik kita yang paling enak.”

“Aku enak? Enak kentut!” jawab Kiau-kiau. “Beberapa jurus permainanku itu pada hakikatnya sudah dikuras seluruhnya olehnya, malahan dia sudah jauh melebihi aku dan kini aku sendiri pun kepala pusing”.

“Dan bagaimana dengan Toh-lotoa?” tanya Haha-ji.

“Ehm!” dengus Toh Sat.

“Apa artinya ‘ehm’?” tanya Kiau-kiau dengan tertawa.

Toh Sat terdiam sejenak, akhirnya berkata dengan perlahan, “Saat ini kalau aku dikurung di dalam sebuah rumah bersama dia, maka yang bakal keluar dengan hidup pastilah dia.”

“Baiklah kalau begitu,” kata Kiau-kiau. “Jika Ok-jin-kok juga tidak tahan direcoki dia, apalagi orang lain. Maka kini mungkin sudah saatnya kita suruh dia keluar ….”

“Betul, tepat!” cepat Li Toa-jui menyambung. “Sudah cukup dia mengganggu kita, tiba waktunya dia harus mengganggu orang lain. Untuk sekarang kita bergabung masih sanggup mengatasi dia, kalau tidak pada suatu hari kelak bila kita tidak mampu mengendalikan dia, maka bangkrutlah kita.”

“Bila ingin mengantar kepergiannya, makin cepat makin baik,” ujar Im Kiu-yu.

“Betul, hari ini juga!” tukas Toh Sat.

“Aha, kawan-kawan di dunia Kangouw, teman-teman di dunia persilatan, sahabat kalangan mana saja, sudah tiba kini hari-hari naas bagi kalian!” seru Ha-ha-ji.

“Begitu si setan cilik itu pergi, selama sebulan aku puasa tidak makan daging manusia,” kata Li Toa-jui sambil mendekap dahi.

Menjelang maghrib, perlahan-lahan suasana Ok-jin-kok baru mulai hidup.

Pada saat itulah si binal, Siau-hi-ji, mulai beraksi, dia keliling ke sana dan putar kayun ke sini, akhirnya ia mampir ke tempat Ban Jun-liu.

Tabib itu sedang asyik meneliti ramuan obat-obatan, dia sedang memasukkan beberapa macam obat-obatan ke dalam kuali dan sedang digodok, melihat datangnya Siau-hi-ji, ia memandangnya sekejap lalu menunduk mengikuti perubahan cairan obat di dalam kuali, katanya kemudian, “Apa yang kau peroleh hari ini?”

“Sebuah golok, lumayan,” sahut Siau-hi-ji tertawa.

“Mana goloknya?” tanya Ban Jun-liu.

“Sudah kuberikan pada si guci cuka Lo Say,” kata Siau-hi-ji.

Ban Jun-liu mengaduk cairan obatnya dengan sumpit sehingga uap tebal mengepul, wajah tabib itu tampak mengulum senyuman misterius.

“Di manakah petimu itu?” tanya pula si tabib.

“Ah, sudah lama kubuang, isinya sudah kuberikan semua pada orang”.

“Kau dapat dengan susah payah, mengapa diberikan pada orang?”

“Barang-barang itu untuk main-main sih boleh juga, tapi kalau mau menyimpannya, kukira akan banyak makan pikiran, mana khawatir hilang lagi!” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. “Nah, kalau khawatir hilang dan takut dicuri orang, bukankah repot jadinya.”

“Bagus!” puji Ban Jun-liu.

“Tapi kalau kuberikan barang-barang itu kepada orang lain, maka semua kerepotan itu akan menjadi bagian orang itu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Konon di dunia ini tidak sedikit orang yang gemar mengumpulkan harta benda dan barang pusaka, tapi sayang pula tidak digunakan secara wajar. Hah, kukira orang-orang ini tentulah orang tolol.”

“Bila tiada orang-orang tolol begitu, tentu takkan kelihatan kegembiraan kita,” kata Ban Jun-liu. Mendadak ia berbangkit dan berkata, “Bawa kuali obat ini dan ikut padaku.”

Mereka menuju ke belakang rumah besar yang penuh bau obat-obatan itu, di situ ada tiga buah kamar yang tertutup rapat. Inilah “klinik” dan juga “laboratorium” tabib itu.

Selama Ban Jun-liu berada di dalam kliniknya, siapa pun takkan menganggunya, sebab setiap orang di antara mereka itu senantiasa ada kemungkinan akan masuk ke klinik ini.

Di dalam klinik tiada sinar lampu sehingga kelam seperti wajah sang tabib, tampaknya menjadi sangat misterius. Pada sebuah dipan di pojok sana duduk bersimpuh seorang, tanpa bergerak, seperti patung, dia inilah si “kaleng obat” yang dikenal orang itu.

Begitu masuk ke dalam kliniknya, segera Ban Jun-liu menutup kembali pintunya dengan rapat, sehingga klinik itu seketika berpisah dengan dunia luar, seakan-akan tiada sangkut-paut lagi dengan segala persoalan Ok-jin-kok.

Sikap Siau-hi-ji pun segera berubah, ia pegang tangan Ban Jun-liu dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah penyakit paman Yan ada kemajuan?”

Wajah Ban Jun-liu yang tampaknya dingin dan misterius itu tiba-tiba juga mengunjuk rasa khawatir dan prihatin. Dia menghela napas, lalu menjawab dengan menggeleng murung, “Selama lima tahun ini sedikit pun tiada kemajuan. Sudah kucoba dengan segenap ramuan obat yang kubuat, tapi sia-sia saja. Aku … aku pun menjadi lelah.” Lalu dia duduk di kursinya dengan perasaan berat, seakan-akan tidak ingin berdiri lagi.

Siau-hi-ji termangu-mangu lama, tiba-tiba ia berkata, “Tadi kudengar orang menyebut nama paman Yan.”

“O, siapa?” tergerak hati Ban Jun-liu.

“Orang mati, yang omong itu sudah mati,” kata Siau-hi-ji.

Serentak Ban Jun-liu pegang pundak Siau-hi-ji dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah ada orang mengetahui kau mendengar percakapan mereka?”

“Mana bisa,” ujar Siau-hi-ji. “Setelah kudengar ucapannya segera aku mengeluyur ke tempat si guci cuka, di sana aku sengaja menggoda si guci cuka dan memaki dia dengan suara keras, kemudian golok itu kuberikan padanya.”

Perlahan Bun Jun-liu melepaskan pegangannya lalu menunduk diam, gumamnya kemudian, “Tidak mudah, sungguh tidak mudah, meski kecil usiamu, tapi selama lima tahun ini kau dapat menjaga rapat rahasia ini secara ketat, sungguh tidak mudah.” Dia memandang Siau-hi-ji sekejap, lalu berkata pula dengan tertawa getir, “Apabila rahasia ini sampai bocor, maka kita bertiga jangan harap bisa hidup lebih lama dalam satu jam, karena itu kau … kau harus hati-hati, jangan menganggap tolol orang lain.”

“Kutahu,” sahut Siau-hi-ji. “Dengan menanggung bahaya paman Ban telah berusaha menolong paman Yan, untuk ini masakah aku tidak … tidak berterima kasih padamu. Andaikan kepalaku dipenggal juga takkan kubocorkan rahasia ini.” Habis berkata, tiba-tiba matanya menjadi merah basah.

“Bicara sejujurnya, tadinya aku tidak percaya padamu,” kata Ban Jun-liu sambil menghela napas. “Tak tersangka, meski kau hidup di lingkungan demikian ini ternyata tidak kehilangan hati nuranimu, kau tetap anak yang baik.”

“Tapi bila Siau-hi-ji berbuat busuk, maka busuknya tidak kepalang tanggung,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa riang. “Cuma, semua perbuatanku juga bergantung kepada siapa sasarannya, pula sejak kutahu hubunganku dengan paman Yan, aku menjadi banyak lebih … lebih alim.”

Ban Jun-liu tersenyum puas, katanya, “Sungguh kagetku setengah mati ketika pada malam itu mendadak kau datang memberitahukan padaku bahwa kau sudah tahu rahasia siapakah gerangan paman si ‘kaleng obat’. Hah, kejadian itu pun sudah lima tahun yang lalu.”

“O, maaf paman,” kata Siau-hi-ji sambil menunduk.

Setelah termenung sejenak, kemudian Ban Jun-liu berkata pula dengan berkerut kening, “Coba ingat-ingat kembali, siapakah gerangan orang yang memberitahukan rahasia ini padamu itu?”

Siau-hi-ji termenung, katanya kemudian, “Sungguh aku tidak ingat lagi.”

“Coba ceritakan bagaimana wajah dan perawakannya?”

“Aku pun tidak melihat jelas, sungguh!” Setelah berpikir pula sejenak, lalu ia menyambung, “Malam itu kutidur di luar rumah Toh Sat, tengah malam tiba-tiba aku merasakan tubuhku dipondong orang.”

“Kau tidak menjerit waktu itu?”

“Aku tidak mampu menjerit, apalagi waktu itu kukira Toh Sat hendak berbuat sesuatu lagi padaku, pada hakikatnya tak terpikir olehku ada orang lain.”

“Ehm, betul juga,” ujar Ban Jun-liu.

“Di dalam pondongan orang itu, aku merasa seperti terapung di udara, gerak tubuh orang itu cepat luar biasa, hanya sekejap saja sudah jauh meninggalkan lembah ini.”

“Waktu itu kau tidak takut?”

“Harimau saja aku tidak takut, kenapa takut pada manusia?”

Ban Jun-liu bergumam, “Tapi selanjutnya kau akan tahu bahwa manusia terkadang jauh lebih menakutkan daripada harimau.”

“Kemudian orang itu menurunkan aku ke tanah dan tanya aku ini she apa?” tutur Siau-hi-ji lebih lanjut. “Kujawab tidak tahu, orang itu menjadi marah dan memaki aku, katanya aku ini sama seperti binatang, masa she sendiri tidak tahu.”

“Habis itu dia lantas memberitahukan bahwa kau she Kang, begitu?” Ban Jun-liu menegas.

“Ya, malahan dia juga memberitahukan bahwa ayahku bernama Kang Hong, terbinasakan oleh orang ‘Ih-hoa-kiong’, dia berpesan agar aku jangan melupakan dendam kesumat ini, kalau sudah dewasa harus mencari orang Ih-hoa-kiong untuk menuntut balas.”

“Aneh juga,” ujar Ban Jun-liu. “Kedatangan Yan-pepekmu ke Ok-jin-kok ini justru ingin mencari orang yang bernama Kang Khim, tujuannya juga hendak menuntut balas bagi ayahmu.”

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Bisa jadi Kang Khim juga salah seorang musuhku.”

“Ehm ….” Ban Jun-liu tidak memberi komentar lagi.

“Lalu orang itu memberitahukan pula padaku tentang diri Yan-pepek (paman Yan), ingin kutanya sebenarnya siapakah dia, tak tahunya mendadak ia menghilang pergi seperti embusan angin.”

“Ya, kutahu … kutahu ….” kata Ban Jun-liu dengan gegetun.

“Malam itu sangat gelap, aku cuma tahu dia memakai jubah hitam, kepalanya juga memakai cadar hitam, hanya kelihatan kedua matanya yang besar dan bercahaya dan juga menakutkan … sepasang mata bola itu sampai kini pun belum kulupakan.”

“Selanjutnya apakah kau masih mengenali sepasang mata itu?”

“Pasti dapat kukenali lagi,” jawab Siau-hi-ji mantap.

“Sepasang mata itu bukan milik orang di Ok-jin-kok ini?”

“Bukan, pasti bukan,” jawab Siau-hi-ji. “Kukenal semua mata di lembah ini, tiada mata seterang mata orang itu. Mata To Kiau-kiau juga terang, tapi kalau dibandingkan dia boleh dikatakan seperti orang buta melek.”

“Ai, orang itu mampu pergi-datang dengan bebas di Ok-jin-kok ini, malahan juga mengetahui rahasia sebanyak itu, siapakah gerangannya? Sungguh sukar ditebak,” ucap Ban Jun-liu.

“Tentunya dia seorang yang berilmu silat sangat tinggi,” kata Siau-hi-ji.

“Dengan sendirinya,” ujar Ban Jun-liu. “Orang yang mampu pergi-datang sesukanya menerobos Ok-jin-kok ini, selain Yan-pepekmu sungguh aku tidak ingat masih ada berapa orang?”

“Masakah tiada orang lain lagi?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau masih ada, maka mereka adalah kedua Kiongcu (putri) dari Ih-hoa-kiong, tapi jelas orang itu suruh kau menuntut balas pada orang Ih-hoa-kiong, mana mungkin dia adalah salah satu dari kedua Kiongcu itu?”

“Aha, ingatlah aku sekarang!” mendadak Siau-hi-ji berseru sambil keplok.

“Kau ingat apa?” tanya Ban Jun-liu cepat.

“Orang itu adalah perempuan,” jawab Siau-hi-ji.

“Perempuan?” tergerak hati Ban Jun-liu.

“Ehm, meski dia memakai kain selubung kepala, bahkan sengaja membikin kasar suaranya, tapi melihat gerak-geriknya kuyakin dia pasti seorang perempuan.”

“Gerak-gerik bagaimana?” tanya si tabib.

“Umpamanya … meski dia pakai cadar, tapi terkadang secara tidak sengaja ia suka membelai rambutnya. Selain itu ketika dia memondong aku, dia tidak mau menempelkan tubuhku ke dadanya ….”

“Ai, keterangan ini mengapa tidak kau ceritakan sejak dahulu?”

Muka Siau-hi-ji menjadi merah, jawabnya dengan tertawa, “Dahulu aku sama sekali tidak … tidak pernah memperhatikan perbedaan antara lelaki dan perempuan.”

Ban Jun-liu melengak, tapi ia lantas berkata dengan menyengir, “Ya, betul juga, dahulu kau hanya seorang anak kecil, dalam pandangan anak kecil manusia itu hanya ada perbedaan antara orang tua dan anak kecil tanpa ada perbedaan antara lelaki dan perempuan.”

“Apalagi dalam hidupku juga belum pernah melihat bagaimana bentuk potongan perempuan yang sebenarnya, di Ok-jin-kok ini pada hakikatnya hanya terdapat setengah potong perempuan,” kata Siau-hi-ji.

Ban Jun-liu bergumam pula, “Dahulu kukira orang itu mungkin adalah Lam-thian-tayhiap Loh Tiong-tat yang paling suka ikut campur urusan tetek bengek itu. Tapi kau bilang dia seorang perempuan, maka dugaanku itu menjadi meleset.”

“Di dunia Kangouw, masih adakah perempuan lain yang berilmu silat tinggi kecuali kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong, apakah paman Ban tahu?”

“Jarang ada, selain Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu dari Ih-hoa-kiong, sungguh aku tidak ingat lagi perempuan mana yang mampu pergi-datang dengan bebas di Ok-jin-kok.”

“Tapi harus ada seorang yang mampu berbuat begitu,” kata Siau-hi-ji. “Pertama, orang itu kenal ayahku dan juga kenal paman Yan. Kedua, orang ini tahu dengan jelas sebab-musabab kematian ayahku.”

“Kukira begitulah,” tukas Ban Jun-liu.

“Dan ketiga orang ini tidak hanya mengetahui seluk-beluk dendam kesumat keluargaku, bahkan sangat menaruh perhatian. Keempat, ilmu silat orang ini sangat tinggi. Kelima, orang tentu juga tidak suka pada Ih-hoa-kiong. Keenam, mata orang ini besar lagi terang, sama sekali berbeda daripada mata orang umumnya ….”

“Sungguh tidak nyana anak semuda dirimu sudah sedemikian cermat cara memecahkan persoalan,” ujar Ban Jun-liu dengan gegetun.

“Berdasar keenam ciri tersebut, aku pasti dapat menemukan dia,” kata Siau-hi-ji dengan mantap.

“Ya, semoga demikian hendaknya,” tukas Jun-liu.

“Tapi untuk menemukan dia, pertama aku harus … harus keluar dari Ok-jin-kok ini,” kata Siau-hi-ji pula. “Dan bilakah aku baru dapat pergi dari sini? Bilakah mereka mau melepaskan kepergianku?”

“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” ujar Ban Jun-liu. “Semoga ….”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, “Tabib Ban, apakah Siau-hi-ji berada di sini?”

Cepat Ban Jun-liu mendesis kepada Siau-hi-ji, “Itu dia To Kiau-kiau mencarimu, lekas keluar!”

Dan setelah meninggalkan klinik itu, sikap kedua lantas berubah lagi, Ban Jun-liu kembali kepada sikap “tabib sakti” yang dingin dan tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, sedangkan Siau-hi-ji kembali pada si anak binal yang jail itu.

Tertampak To Kiau-kiau sedang bersandar di pintu, katanya dengan tertawa genit, ketika Siau-hi-ji muncul bersama Ban Jun-liu, “He, kalian sedang berbuat apa di situ?”

“Kami sedang berunding cara mengerjaimu,” ucap Siau-hi-ji dengan wajah membadut.

“Ai, setan cilik,” omel Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika kalian lagi berunding tentang cara mengganggu orang, seharusnya kalian berusaha membuat semacam obat paling busuk untuk membikin kapok si Li Toa-jui, masakah aku yang menjadi sasaran gangguanmu?”

“Paman Li teramat mudah terjebak, tiada artinya mengganggu dia lagi” ucap Siau-hi-ji sambil tertawa

“Wah, coba dengar, betapa besar nada perkataanmu ini,” kata Kiau-kiau. “Awas kalau kau dicaplok Li Toa-jui.”

“Apakah kedatanganmu ini hanya untuk bercanda dengan Siau-hi-ji?” tegur Ban Jun-liu dengan ketus.

“Ai, tampaknya tabib kita menjadi marah,” kata Kiau-kiau.

“Ya, sebenarnya ada urusan apa bibi To mencari diriku?” tanya Siau-hi-ji.

“Ingin kusampaikan sesuatu berita baik bagimu,” kata Kiau-kiau sambil tertawa.

“Berita baik apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Paman tertawa telah menyiapkan beberapa jenis santapan lezat, Li Toa-jui mengadakan satu guci arak dan aku … aku memasakkan satu panci Ang-sio-bak, malam ini kami hendak menjamu kau.”

Mata Siau-hi-ji berkedip, tanyanya, “Sebab apa?”

“Setelah makan tentu kau akan tahu,” jawab Kiau-kiau.

Siau-hi-ji menggeleng, katanya dengan tertawa, “Kalau bibi To tidak menjelaskan sebab-musababnya, maka jamuan itu tak berani kumakan, sebab bisa jadi jamuan itu akan membuat perutku mules dan tiga hari tidak sanggup turun dari tempat tidur.”

“Setan cilik, mengapa begitu besar rasa curigamu?” omel Kiau-kiau.

“Ini kan kubelajar dari bibi sendiri,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Baik, kuberitahukan, sebabnya kami menjamu dirimu adalah untuk memberi selamat jalan padamu.”

Siau-hi-ji terperanjat. “Memberi selamat jalan pada padaku?” tanpa terasa ia menegas.

“Hihi, setan cilik, sekali ini tidak pernah terpikir olehmu bukan?”

“Sebab apa memberi selamat … selamat jalan padaku?”

“Sebab malam ini juga kau harus berangkat!”

Mulut Siau-hi-ji ternganga dan mata terbelalak, katanya kemudian, “Malam ini juga aku harus berangkat? Ke … ke mana?”

“Ke luar sana! Dunia luar sana sedemikian luas, masakah kau tidak ingin pergi melihatnya?” ujar Kiau-kiau.

“Aku … aku ….” Siau-hi-ji meraba-raba kepalanya sendiri yang tidak gatal.

“Apalagi usiamu juga sudah cukup, perlu juga kau pergi mencari seorang bini ….” kata Kiau-kiau pula sambil mengikik. “Ai, setan cilik seperti dirimu, di luar sana entah betapa banyak anak perempuan akan tergila-gila padamu,” Ia tarik tangan Siau-hi-ji lalu berucap pula dengan tertawa, “Eh, tabib Ban,” apakah kau takkan ikut memberi selamat jalan pada Siau-hi-ji?”

Ban Jun-liu berdiri mematung dan bungkam sekian lama, akhirnya ia berkata dengan dingin, “Maaf, waktuku yang berharga takkan kubuang untuk urusan tetek-bengek begitu …. Silakan kalian pergi saja.” Lalu ia membalik tubuh dan masuk ke rumah.

“Huh, otak orang ini cuma berkecamuk di dunianya mengenai akar-akaran busuk, lebih dari itu dia tidak mau tahu sama sekali, seumpama bapaknya mau pergi juga dia takkan memberi selamat jalan,” demikian omel Kiau-kiau.

“Jangan pedulikan dia, marilah kita pergi makan minum, sudah lama aku tidak minum arak,” kata Siau-hi-ji.

“Sudah berapa lama?” kata Kiau-kiau.

“Lama sekali, sedikitnya hampir setengah hari,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

Di sana perjamuan memang sudah disiapkan. Dua guci arak dalam waktu singkat sudah habis. Muka Li Toa-jui semakin merah, wajah Toh-Sat bertambah pucat, sedangkan Ha-ha-ji semakin banyak minum semakin lantang suara tertawanya. Adapun To Kiau-kiau semakin banyak minum semakin mirip perempuan.

Hanya Siau-hi-ji saja secawan demi secawan masih terus minum, air mukanya tidak berubah sedikit pun.

“Haha, kekuatan minum arak Siau-hi-ji sungguh hebat, minum arak dianggapnya seperti minum air saja,” kata Ha-ha-ji.

“Kalau minum air aku takkan minum sebanyak ini,” sahut Siau-hi-ji

“Hm, minum arak juga bukan sesuatu yang baik, tiada harganya untuk dipuji,” jengek Im Kiu-yu.

“Setan tentu saja tidak minum arak, tapi manusia, setiap manusia kudu bisa minum satu-dua cawan ….” ujar Kiau-kiau dengan tertawa. “Wahai, Siau-hi-ji, apakah kau tahu, kecuali suatu hal, perbuatan busuk lainnya boleh dikatakan kau sudah paham seluruhnya.”

“Perbuatan busuk apa?!” seru Li Toa-jui gusar. “Lebih tepat dikatakan perbuatan baik! Orang hidup di dunia ini kalau tidak belajar perbuatan-perbuatan baik ini boleh dikatakan hidup secara sia-sia saja.”

Sementara itu Siau-hi-ji lagi berkedip dan berpikir, tanyanya kemudian, “Hal apa yang belum kupahami, bibi To?”

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Hal ini, hihihi …. Selang satu atau setengah tahun lagi, tanpa diajar juga kau akan mahir dengan sendirinya …. Hihi, melihat tampangmu ini, untuk belajar hal ini tentu jauh lebih cepat daripada orang lain.”

“Se … sesungguhnya urusan apakah ini?” tanya Siau-hi-ji.

“Setan cilik, kau benar-benar tidak paham atau pura-pura tidak paham?” tanya Kiau-kiau.

“Pura-pura,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

Li Toa-jui terbahak-bahak, katanya, “Hahaha! Jika kau pura-pura tidak paham, maka kau perlu tahu bahwa hal ini harus dilakukan dua orang bersama, tapi bagi bibi To cukup tutup pintu kamar dan dapatlah dia lakukan sendirian.”

Habis berkata, dengan gembira ia angkat cawan araknya hendak menenggak pula. Mendadak “tring”, cawannya pecah berantakan, Im Kiu-yu mendengus, “Araknya tidak boleh diminum lagi!”

“Sebab apa?” teriak Li Toa-jui dengan gusar. “Berdasarkan apa kau hancurkan cawan arakku?”

“Kalau kita minum lagi, keberangkatan Siau-hi-ji akan gagal,” ujar Im Kiu-yu.

Mata Li Toa-jui mendelik, setelah melotot sekian lamanya, mendadak sebelah kakinya mendepak, kontan sebuah guci kosong mencelat dan jatuh hancur, dengan menggreget ia berkata, “Pada suatu hari kelak pasti akan kucekokimu beberapa guci arak agar kau menjadi setan pemabukan.”

Siau-hi-ji memandang para paman dan mamak itu dengan tertawa, tiba-tiba ia bertanya, “Para paman buru-buru hendak mengusir kupergi, sebenarnya apa sebabnya?”

“Setan cilik, suka curiga, memangnya siapa yang buru-buru ingin mengusirmu?” sahut To Kiau-kiau.

“Ah, kalian tidak omong juga aku tahu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau tahu? Kau tahu apa? Coba katakan,” ucap Kiau-kiau.

“Soalnya Siau-hi-ji makin lama makin menjadi busuk dan binal, sedemikian binal sehingga membikin pusing para paman. Sebab itulah kalian buru-buru ingin memberangkatkan diriku agar aku dapat mencelakai orang lain.”

“Hihi, apa pun juga, yang pasti ucapanmu terakhir itu memang tepat,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

“Baiklah, kalian ingin kupergi, boleh. Kalian ingin kucelakai orang lain juga oke. Tapi semua ini adalah untuk kalian, bagiku apa manfaatnya? Betapa pun kalian juga mesti memberikan sedikit kebaikan padaku.”

“Haha, permintaan yang bagus, permintaan yang tepat!” seru Ha-ha-ji. “Kau sanggup omong begitu, tidak percumalah kami mengajarmu selama ini …. Memang, kalau tiada manfaatnya, biarpun ayahku sendiri menyuruh aku juga takkan kulakukan, apalagi para paman dan mamak.”

“Tepat,” sorak Siau-hi-ji sambil keplok tertawa, “ucapan paman tertawa benar-benar mengenai lubuk hatiku.”

“Jangan khawatir, tentu kami akan memberikan barang-barang baik padamu,” kata Li Toa-jui.

“Barang apa? Perlihatkan dulu padaku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Harus kulihat dulu barangnya baik atau tidak, suka atau tidak. Jika tidak cocok bagiku, betapa pun aku tetap ngendon di sini dan tak mau pergi.”

“Setan cilik, kau memang rewel,” omel Kiau-kiau sambil tertawa genit. “Baiklah, perlihatkan padanya, Toh-lotoa!”

Toh Sat lantas mengeluarkan sebuah ransel, isinya adalah sepotong baju sutera warna hijau, sebuah mantel warna merah, sebuah kopiah bersulam ikan emas dan sepasang sepatu kulit yang halus dan lemas.

Serentak Siau-hi-ji berdandan, sambil menghadapi cermin tembaga, katanya dengan tertawa, “Pakaian ini tidak seberapa hebat, tapi setelah kukenakan lantas berubah cakap luar biasa.”

“Huh, memuji dirinya sendiri, tidak malu?” Kiau-kiau berseloroh.

“Kalau aku tidak menjunjung diriku sendiri, siapalagi yang akan memuji diriku?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Haha, betul juga ucapanmu, masuk akal!” seru Ha-ha-ji.

“Dan apalagi?” tanya Siau-hi-ji.

Ini … lihatlah!” kata Kiau-kiau. Dia membuka suatu bungkusan lain, isinya ternyata satu tumpuk kertas emas. Mungkin tidak seberapa banyak manusia di dunia ini yang pernah melihat emas murni sebanyak ini.

Tapi Siau-hi-ji justru berkerut kening, katanya, “Ah, terhitung benda baik apakah ini? Lapar, tidak dapat dimakan, dahaga, tidak dapat diminum dibawa dalam saku juga berat …. Aku tidak mau barang ini.”

“Anak tolol,” omel Kiau-kiau dengan tertawa. “Benda ini meski tidak menarik, tapi siapa saja yang memilikinya, ingin membeli barang apa pun pasti terkabul. Untuk memilikinya, tidak sedikit manusia di dunia ini saling baku hantam memperebutkannya, tapi kau malah menolaknya!”

“Tidak, aku tidak mau, aku bukan orang tolol macam begitu,” kata Siau-hi-ji.

Sambil mencomot sepotong kecil kertas emas itu, Li Toa-jui berkata dengan tertawa, “Apakah kau tahu bahwa dengan sepotong kecil benda ini sedikitnya dapat membeli tiga perangkat pakaian seperti yang kau pakai sekarang, untuk biaya hidup keluarga biasa sedikitnya cukup untuk dua tahun lamanya.”

“Haha, bukankah kau suka pada kuda?” ujar Ha-ha-ji. “Nah, hanya dengan sepotong kecil benda ini pun cukup untuk membeli seekor kuda Tibet yang paling bagus. Kalau benda ini tidak baik, maka tiada barang lain lagi yang lebih baik di dunia ini.”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Baiklah, sedemikian tinggi kalian menilainya, biarlah kuterima. Tapi selain ini masih ada barang apalagi?”

“Ai, setan cilik, masakah belum cukup?” omel Kiau-kiau. “Selama ini milik kami sudah bersih kau kuras, mana ada sisanya lagi?”

Siau-hi-ji termenung sejenak, kemudian diangkatnya ransel tadi, berbangkit terus bertindak pergi.

“He, he! Kau mau apa?” seru Li Toa-jui.

“Mau apa? … Berangkat kan!” sahut Siau-hi-ji.

“Berangkat dengan begitu saja?”

“Habis mau tunggu apalagi? Arak tidak boleh minum pula, barang juga tidak ada lagi ….”

“Kau hendak pergi ke mana?” tanya Li Toa-jui.

“Sekeluarnya lembah ini, langsung aku menuju ke tenggara sana, sampai ke mana aku pun tidak tahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Apa yang hendak kau lakukan nanti?” tanya Li Toa-jui pula.

“Tidak melakukan apa-apa, jika ketemu yang cocok, aku lantas minum arak bersama dia, kalau tidak cocok, aku lantas menggoda dia agar dia kapok dan serba konyol.”

“Hahaha, bagus, bagus! Jadi manusia harus begitu barulah ada artinya,” seru Ha-ha-ji sambil keplok.

“Dan kau akan … akan pulang lagi ke sini tidak?” tiba-tiba Toh Sat bertanya.

“Kalau orang di luar sana sudah kuganggu seluruhnya, selekasnya aku akan pulang ke sini, sekembalinya nanti akan kuganggu kalian lagi,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Haha, bagus!” seru Ha-ha-ji. “Bila orang-orang di luar sana benar-benar kau ganggu hingga serba konyol, maka kami akan sambut pulangmu dengan gembira dan rela diganggu olehmu.”

“Baiklah, sampai bertemu, selekasnya aku kembali!” seru Siau-hi-ji sambil melambaikan tangan. Dia benar-benar lantas berangkat, berangkat tanpa menoleh lagi.

Toh Sat mengantarnya keluar pintu, katanya dengan perlahan, “Tega benar hati anak ini.”

“Kita justru berharap dia berhati tega, haha, makin keras hatinya makin bagus!” ujar Ha-ha-ji.

“Sudah terlalu lama dunia Kangouw aman tenteram, sudah saatnya kini diaduk oleh orang macam dia ini,” ucap To Kiau-kiau. “Cuma sayang, kita tidak dapat menyaksikan sendiri.”

Begitulah dengan dandanannya yang serba baru sambil memanggul ranselnya, Siau-hi-ji menyusuri jalanan batu itu, sepatu kulitnya yang baru itu menimbulkan suara berkelotak dan terdengar jelas di malam sunyi.

Sembari berjalan Siau-hi-ji sengaja berteriak-teriak, “Wahai, kawan-kawan, Siau-hi-ji akan berangkat sekarang, selanjutnya kalian dapatlah tidur dengan nyenyak dan aman.”

Rumah-rumah di kedua tepi jalan serentak ramai, ada yang membuka jendela, ada yang membuka pintu, tiap-tiap kepala sama menongol keluar mengikuti kepergian Siau-hi-ji.

“He, kulakukan perbuatan sebaik ini, mengapa kalian tidak lekas bersorak dan keplok gembira?” teriak Siau-hi-ji. “Kalau kalian tidak bertepuk tangan, biarlah kubatalkan kepergianku saja.”

Belum habis ucapannya, serentak semua orang sama berkeplok riuh ramai. Maka tertawalah Siau-hi-ji tergelak-gelak. Ketika melalui rumah Ban Jun-liu, tertawanya terhenti sejenak, ia pandang tabib itu sekejap, hanya sekejap saja, tanpa bicara.

Ban Jun-liu juga tidak berucap apa-apa. Banyak hal di dunia ini memang tidak perlu diutarakan dengan berbicara.

Akhirnya Siau-hi-ji meninggalkan Ok-jin-kok.

Bintang bertaburan menghiasi cakrawala nan kelam, meski di malam musim panas, namun di lembah sunyi yang terletak di perbatasan antara propinsi Tibet dan Jinghay itu terasa dingin oleh embusan angin malam yang menusuk tulang.

Siau-hi-ji memakai mantelnya, ia menengadah memandangi langit yang penuh bintang-bintang berkelip itu, ia termangu-mangu sejenak. Langit berbintang demikian selanjutnya masih akan dilihatnya, namun takkan dilihatnya dengan berdiri di sini. Segera dia akan berada di suatu dunia yang asing baginya. Apakah dia takut? Tidak, dia tidak takut! Hanya dalam hatinya terasakan sesuatu yang aneh, entah rasa apa, sukar dikatakan.

Namun dia tetap melangkah ke depan, lurus ke depan, tanpa menoleh.

*****

Menjelang maghrib, cuaca di daerah pegunungan sudah berubah kelam. Kabut lambat-laun menyelimuti lereng gunung, suasana remang-remang meliputi padang rumput yang tak tertampak ujungnya itu.

Angin meniup sepoi-sepoi sejuk, di tengah embusan angin itu terdengar suara mengembik kambing, suara menguak sapi, suara meringkik kuda, bercampur-baur menjadi macam paduan suara yang menawan hati. Kemudian gerombolan biri-biri, sapi dan kuda bagai gugur gunung membanjir tiba. Sapi yang cokelat, kuda yang kuning, biri-biri yang putih, berbondong-bondong lalu di padang rumput yang luas laksana pasukan tentara berbaris panjang menuju medan bakti.

Dari jauh Siau-hi-ji memandangi adegan itu, wajahnya menampilkan cahaya yang bersemangat, sinar matanya juga gemerlap, betapa hebat dan besar pemandangan luar biasa itu, betapa megah dan besarnya alam semesta ini.

Dari maghrib hingga menjelang gelap malam, untuk sekian lamanya Siau-hi-ji berdiri termangu mangu, hati dan pikirannya mendadak seperti terbuka dan banyak bertambah lapang.

Setelah rombongan ternak jauh berlalu, dari kejauhan terdengar kumandang suara nyanyian merdu, tinggi dan nyaring suara nyanyian itu, namun Siau-hi-ji tidak paham apa yang dinyanyikan itu. Ia hanya dengar awal dari lagu yang dinyanyikan itu berbunyi “Allah ….” dan entah apalagi seterusnya.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa arti “Allah” adalah Tuhan menurut kepercayaan kaum muslimin, suku bangsa Hwe di daerah Tibet dan Jinghay.

Siau-hi-ji terus menuju ke arah datangnya suara itu. Entah berapa lama dia berlari-lari, akhirnya tertampak beberapa buah kemah warna putih menghiasi padang rumput nan luas itu. Bintik-bintik sinar lampu tampaknya begitu kecil berbanding kelip cahaya bintang-bintang di langit, namun penuh mengandung puitis.

Langkah Siau-hi-ji bertambah cepat menuju ke sana. Di depan kemah ada api unggun, tampak gadis-gadis suku Tibet sedang bernyanyi dan menari. Pakaian mereka beraneka warna menarik, jubah panjang dengan lengan baju yang longgar, rambut halus mereka dikepang menjadi kuncir-kuncir panjang bergelantungan di pundak.

Perawakan gadis-gadis Tibet itu kecil mungil, badan penuh dihiasi batu manikam warna-warni, kepala mereka pun mengenakan kopiah kecil berwarna mencolok.

Terkesima Siau-hi-ji melihatnya, dengan setengah linglung ia melangkah maju, mendekati mereka.

Melihat kedatangan Siau-hi-ji, gadis-gadis Tibet itu sama berhenti menyanyi serta merubunginya, ada yang tertawa nyekikik, ada yang meraba-raba bajunya, banyak pula yang bicara dalam bahasa yang tidak diketahui apa artinya.

Pada dasarnya gadis Tibet memang kekanak-kanakan, simpatik dan lugu. Tanpa terasa Siau-hi-ji lantas bertanya dengan tersenyum, “Apa yang kalian ucapkan?”

“Kami bicara bahasa Tibet, apakah kau … bangsa Han?” tiba-tiba seorang gadis menanggapinya. Gadis ini berkucir paling panjang, bermata paling besar, tertawanya paling manis.

Mata Siau-hi-ji berkedip, jawabnya, “Mungkin begitulah.”

Para gadis Tibet itu kembali tertawa nyekikik ramai. Gadis bermata jeli tadi berkata pula, “Siapa namamu?”

“Siau-hi-ji … O, bukan, aku she Kang, namaku Hi.”

“Hihi, namamu Hi (ikan)?” gadis mata jeli menegas. “Konon lezat sekali ikan yang hidup di sungai itu, sayang aku tidak pernah merasakannya.” Lalu dengan bahasa setempat ia menguraikan kembali apa yang dikatakannya kepada kawan-kawannya sehingga gadis-gadis itu pun mengikik tawa.

“Selain engkau, apakah mereka tidak dapat bicara?” tanya Siau-hi-ji.

“Bisa,” sahut si mata jeli, “cuma mereka tidak dapat bicara bahasa Han.”

“Mengapa mereka tak bisa dan kau sendiri fasih?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Sebab ayahku juga bangsa Han,” jawab si mata jeli dengan membusungkan dada, sambil tersenyum bangga. “Di sini, akulah paling fasih berbahasa Han. Sebab itulah aku diminta menjadi juru bahasa mereka untuk menghadapi orang-orang Han yang akan datang ke sini untuk berdagang.”

“Selain cantik kau pun sangat cekatan,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

Wajah si mata jeli menjadi merah, tampaknya menjadi lebih cantik di bawah cahaya api unggun, katanya sambil tersenyum, “Ai, adik cilik ini sungguh pintar bicara. Eh, apakah engkau bukan rombongan pedagang-pedagang itu? Mengapa engkau tiba lebih dulu, sedangkan mereka ….”

“Aku datang sendirian,” sela Siau-hi-ji.

Mata si mata jeli semakin terbelalak lebar, serunya, “He, engkau datang sendirian? Engkau … sungguh pemberani.”

Siau-hi-ji hanya tertawa, tanyanya kemudian, “Kau bernama siapa?”

“Namaku menurut artinya dalam bahasa Han adalah Tho-hoa (bunga Tho). Sebab menurut mereka, katanya wajahku … wajahku mirip bunga Tho.”

“Tho-hoa ….” Siau-hi-ji mengulang nama itu. “Ehm, meski tak pernah kulihat bagaimana bentuknya Tho-hoa, tapi kuyakin bunga Tho itu pasti tidak secantik dirimu.”

Tho-hoa terkikik-kikik gembira, jawabnya, “Walaupun belum pernah kumakan ikan yang hidup di sungai, tapi kuyakin ikan itu pasti tidak semanis mulutmu.”

Sementara itu dari dalam kemah telah keluar beberapa lelaki, semuanya terbelalak memandangi Siau-hi-ji. Perawakan mereka tidak tinggi besar, tapi cukup kekar.

“Sudahlah aku hendak berangkat,” kata Siau-hi-ji kemudian.

“Jangan takut, meski mereka tampaknya melotot, tapi tidak bermaksud jahat,” ujar Tho-hoa.

“Aku tidak takut, aku hanya ingin berangkat,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jangan pergi dulu,” mata jeli Tho-hoa mengerling sambil menggigit bibir. “Besok … besok pagi akan datang sejumlah orang Han seperti dirimu, suasana di sini akan menjadi ramai dan menarik.”

“Sejumlah orang Han … padahal sepanjang jalan sama sekali tiada kulihat siapa-siapa.”

“Betul, aku tidak berdusta,” kata Tho-hoa.

“Lantas malam ini ….”

“Malam ini kau boleh tidur di kemahku, akan kutemanimu mengobrol,” kata Tho-hoa dengan menunduk tertawa. Dia sedikit lebih tinggi daripada Siau-hi-ji, kuncirnya tertiup angin sehingga mengusap muka Siau-hi-ji, sinar matanya gemerlap laksana kelip bintang-bintang di langit.

Begitulah malam itu Siau-hi-ji lantas menumpang di kemah si Tho-hoa. Cukup hangat berada di dalam kemah, hangat lagi berbau harum susu biri-biri.

Siau-hi-ji menanggalkan bajunya. Kembali mata Tho-hoa bercahaya. Perlahan dia merabai bekas luka yang memenuhi tubuh Siau-hi-ji itu, katanya dengan suara lembut, “Sungguh kasihan, adik cilik, mengapa engkau terluka sedemikian rupa? Cuma aneh, tubuhmu yang penuh luka ini tampaknya tidak menjadi jelek, sebaliknya malah menyenangkan.”

“Meski aku terluka, tapi serigala dan harimau yang melukai aku itu sudah mati semuanya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau … engkau pernah membunuh harimau?” Tho-hoa terbelalak heran.

“Ya, tidak banyak, cuma empat-lima ekor,” jawab Siau-hi-ji.

Tho-hoa memandangnya dengan terkesima dan tanpa bergerak hingga sekian lamanya.

“Kau tidak percaya?” tanya Siau-hi-ji..

“Percaya! Masakah aku tidak percaya pada ucapanmu?”

“Mengapa kau percaya pada ucapanku?”

Tho-hoa melengak, tapi lantas menjawab dengan tersenyum, “Sebab engkau adalah adikku. Sekali melihatmu, segera kuingin engkau menjadi adikku.”

“Bukanlah sesuatu yang baik memiliki adik seperti diriku ini,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Malam ini Siau-hi-ji tidur dengan sangat nyenyak dan marem. Esoknya ketika dia bangun, Tho-hoa sudah tiada, tapi tertinggal sebotol susu kambing di samping bantalnya.

Setelah minum susu dan mengenakan pakaian, Siau-hi-ji keluar kemah. Segera dilihatnya belasan meter di sebelah sana sudah bertambah sebuah kemah besar dan dikerumuni orang banyak.

Dari jauh Siau-hi-ji melihat Tho-hoa berdiri di tengah serombongan orang Tibet dan orang-orang Han, nona itu sedang tertawa manis dan bicara ke sana ke sini seperti burung berkicau. Kuncirnya yang kecil itu tampak bergerak kian-kemari mengikuti goyangan kepalanya, di bawah sinar matahari wajahnya yang ayu itu semakin menyerupai bunga Tho yang sedang mekar, bahkan mungkin tiada bunga Tho di dunia ini secantik dia.

Setiap kali si Tho-hoa habis berucap, segera seorang Tibet tampil ke depan dan berjabatan tangan dengan seorang Han, jelas itulah tandanya telah menjadi sesuatu jual-beli. Setiap kali terjadi sesuatu perdagangan (dengan barter atau tukar-menukar barang), maka tertawa si mata jeli juga bertambah manis.

Siau-hi-ji mendekat ke sana, ia tidak menyapa si Tho-hoa melainkan putar kayun ke sana ke sini, dilihatnya di depan setiap perkemahan terpajang macam-macam benda mestika yang aneh, banyak pula perhiasan yang indah dan menarik.

Beberapa lelaki dari berbagai ukuran, ada yang tinggi, ada yang pendek, yang gemuk, yang kurus, sama menjagai dasaran barang dagangannya itu. Ada pula beberapa orang Tibet yang juga berbangun tubuh macam-macam ukuran sedang memilih dan membeli barang-barang itu dengan bahasa isyarat tangan.

Siau-hi-ji tertarik dan geli, ia merasa orang-orang ini sungguh bodoh, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, yakni bahwa orang bodoh di dunia ini jauh lebih banyak daripada orang pintar.

Tiba-tiba seorang tinggi kurus muncul dengan menuntun seekor kuda kecil, bulu suri yang putih bagai salju itu bergoyang-goyang terembus angin dan sangat menarik perhatian Siau-hi-ji.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mendekati kuda itu dan meraba-raba punggungnya, tanyanya kemudian, “Apakah kuda ini dijual?”

Si tinggi kurus itu memandang sekejap pada anak muda itu, jawabnya, “Kau ingin beli? Baiklah panggil orang tuamu ke sini.”

“Untuk apa panggil orang tua?” ujar Siau-hi-ji. “Ada duit sama saja dengan orang tua.”

“Kau punya duit?” si jangkung tertawa.

Siau-hi-ji tepuk-tepuk ikat pinggangnya dan menjawab, “Duit tidak punya, emas kubawa tidak sedikit.”

Tertawa si jangkung makin lebar, matanya terus mengincar bungkusan yang terikat di pinggang Siau-hi-ji, sambil mengelus bulu halus kuda yang masih muda itu ia berkata dengan tertawa, “Kuda bagus ini harganya cukup tinggi.”

“Berapa harganya, katakan saja,” ujar Siau-hi-ji.

Mata si jangkung berkedip-kedip, katanya dengan rada samar-samar. “Harganya paling sedikit sera … seratus … seratus sembilan puluh … seratus sembilan puluh tahil perak.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “Kukira harga ini tidak betul.”

Tiba-tiba wajah si jangkung yang berseri-seri tadi berubah menjadi merengut, “Mengapa tidak betul, kau harus tahu, ini kuda wasiat, sedikitnya berharga ….”

“Jika kuda wasiat, maka sedikitnya berharga tiga ratus delapan puluh tahil perak, permintaanmu cuma seratus sembilan puluh tahil perak, terlalu sedikit, sungguh terlalu murah.”

Si jangkung jadi melenggong, mendadak ia berteriak dengan gusar, “He, kau sengaja berkelakar?”

“Emas selamanya tidak pernah berkelakar ….” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Satu tahil emas bernilai enam puluh tahil perak, tiga ratus delapan puluh tahil perak sama dengan emas enam tahil koma tiga tiga-tiga-tiga …. Nah, kertas emas ini kira-kira berbobot tujuh tahil, ambil saja!”

Sekali ini si jangkung benar-benar melenggong dan mengira sedang mimpi, dengan setengah linglung ia terima daun emas itu dan tanpa sadar mengangsurkan tali kendali kudanya. Kalau pegangannya tidak kencang, bisa jadi daun emas itu sudah jatuh ke tanah.

Dengan tertawa gembira Siau-hi-ji lantas pesiar ke sana kemari dengan menuntun kuda putih yang baru dibelinya itu. Segera ia mendapatkan penemuan baru pula, yakni selain orang-orang itu lebih banyak yang bodoh dari pada yang pintar, yang bermuka buruk juga jauh lebih banyak dari pada yang berwajah cakap. Hanya ada seorang pemuda baju putih yang bentuknya sama sekali berbeda dengan orang-orang lain.

Pemuda baju putih itu berdiri jauh menyendiri di sana seakan-akan tidak sudi bercampur-baur dengan orang-orang lain. Baju putih pemuda itu bergerak tertiup angin seperti salju di puncak Kun-lun-san, matanya gemerlap laksana kelip bintang yang dilihatnya semalam.

Tanpa terasa Siau-hi-ji memandang beberapa kejap kepada pemuda itu, ternyata mata si pemuda baju putih yang besar itu pun sedang memandang Siau-hi-ji.

Advertisements

2 Comments »

  1. lanjut baca yg ke 3
    begadang deh gw baca cersil ini

    Comment by Firman — 20/02/2013 @ 10:01 pm

  2. Kelanjutannya donk

    Comment by ruzaizudin — 16/11/2015 @ 5:27 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: