Kumpulan Cerita Silat

12/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 15

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:52 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 15
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Ia hanya berpikir, “Perkataan Ming-hui memang betul. Aku akan mengumpulkan orang-orang Kazak lagi untuk mengusir tentara Boan, berperang tidak bisa mengandalkan hasil dari pembunuhan satu-dua orang panglima musuh saja lantas segalanya bisa beres!”

Besoknya, hari kedua, seperti biasa Ming-hui pergi memberi selamat pagi pada ayahnya.

Begitu melihat gadisnya ini Nilan Siu-kiat lantas bertanya dengan muka berseri-seri.

“Anakku, berapakah umurmu tahun ini?” demikian tanya orang tua ini.

“Ayah kok begitu pelupa, umur gadisnya sendiri saja tidak ingat lagi, sudah sembilan belas tahun, bukan?” jawab Nilan Ming-hui dengan mendekap mulurnya yang mungil.

Atas jawaban gadisnya ini Nilan Siu-kiat tertawa terbahak-bahak.

“O, ya sudah sembilan belas tahun, ayahmu ini sungguh celaka, mempunyai gadis yang sudah berumur sembilan belas tahun masih belum mencarikan mertua baginya!” katanya lagi.

“Ayah, janganlah kau menggoda diriku,” ucap Ming-hui dengan air muka berubah.

“Ming-hui, kau tak usah malu-malu,” ujar Nilan Siu-kiat lagi sambil mengelus-elus rambut gadisnya “Ayahmu sesungguhnya sudah menemukan jodoh yang setimpal bagimu, sekalipun mimpi kau pasti tak pernah menyangkanya!”

Keruan Ming-hui terperanjat, ia membuka matanya lebar-lebar karena kagetnya tetapi Nilan Siu-kial masih berbicara terus.

“Coba kau terka siapakah dia itu, ia bukan lain adalah To Tok, jika kau menjadi jodohnya, dengan sendirinya kau bakal menjadi permaisurinya!”

Begitulah Nilan Siu-kiat berkata sambil memandang gadisnya dengan tersenyum girang, sebaliknya Nilan Ming-hui tiba-tiba berteriak, “Aku tidak mau kawin!” berbareng air matanya segera turun deras bagaikan hujan.

Nilan Siu-kiat heran dan terperanjat sekali.

“Orang semacam ini tidak kau kawini, lalu siapa lagi yang inemdak kaupilih?” tanyanya dengan suara keras, “Selain prJ*a mahkota yang ada sekarang ini, siapa lagi orang yang bisa membandingi dia? Kau ini, baiknya jangan terus berlaku seperti anak-anak saja!”

Tetapi mendadak Nilan Ming-hui menutup mukanya dan menangis tersedu-sedu.

“Aku tidak mau kawin dan juga tidak kepingin menjadi permaisuri segala,” sahutnya kemudian dengan suara serak.

Sudah tentu Nilan Siu-kiat menjadi marah, ia berjingkrak, berulang-ulang ia membanting kakinya.

Sementara itu, tiba-tiba dari luar kamar sana terdengar suara Nikulo yang melapor hendak bertemu.

Nilan Siu-kiat memberi tanda dengan tangannya dan berkata pada gadisnya “Baiklah, kau kembali ke kamarmu dan berpikir dulu, nanti kusuruh ibumu bicara denganmu.”

Agaknya sedikitpun ia tidak mengerti hubungan Ming-hui dengan Nyo Hun-cong, malahan ia mengira gadisnya sengaja malu-malu kucing.

Dan sejak itulah, beberapa hari beruntun ibu Ming-hui terus mendekati gadisnya omong sana dan bujuk sini, tetapi ternyata Ming-hui masih tetap bandel dan hanya menangis saja.

“Coba kau pikirkan,” kata ibunya. “Aku dan ayahmu hanya mempunyai seorang anak perempuan, di hari tua nanti pun mengharap bisa mendapatkan sandaran! Kau adalah Ki-jin, sedangkan To Tok adalah anak tunggal dari Ok Jin-ong yang dalam usia begitu muda sudah mendapatkan pahala begitu besar, apakah dari kalangan bangsawan bisa kau dapatkan orang kedua seperti dia?”

“Sementara itu, ia pun merupakan atasan ayahmu, jika kau tidak mengawuti dia coba pikirkan, apa ayahmu bisa mendapat kebaikan! Ming-hui, apakah kau hendak bikin susah ayah-bundamu? Kau biasanya begitu berbakti, tetapi mengapa sekali ini kau begini bandel, toh ayah dan ibu semua menginginkan kau bahagia!” kata ibunya mengakhiri.

Ming-hui mendengarkan petuah sang ibu yang panjang lebar ini, ia merasa seperti sambaran petir di atas kepalanya dan dia hanya terpaku hingga lama tak dapat mengeluarkan sepatah kata ibunya hanya menghela napas dan lantas tinggal pergi. Setelah ibunya pergi pikiran Nilan Ming-hui segera tenggelam seperti gelombang ombak di tengah samudera yang tiada hentinya bergolak. Ia sangat mencintai Nyo Hun-cong, tetapi Nyo Hun-cong adalah musuh besar pula dari ayahnya dan juga bangsanya jika ia dan Hun-cong terus saling cinta secara membuta begitu, bagaimanakah akibatnya Mereka sebenarnya tidak mungkin menjadi pasangan, apalagi seperti sekarang ini Nyo Hun-cong sembunyi di dekat dirinya tidak lebih hanya untuk sementara saja sekitarnya penuh musuh yang ingin mencelakainya walaupun Hun-cong mempunyai kepandaian setinggi langit, kalau hanya seorang diri terkurung di antara tentara musuh yang banyak tentunya sangat berbahaya sekali. Jika dirinya ingin mendapat kesudahan yang baik, jalan satu-satunya dirinya ikut pergi bersama Nyo Hun-cong dan ikut memanggul senjata melawan kedua orang tua dan bangsanya.

Akan tetapi, ini adalah tidak mungkin, ia adalah gadis tunggal dari ayah-bundanya melawan orang tua itu sungguh tidak pernah ia bayangkan, ia mencintai Nyo Hun-cong, tapi ia pun mencintai kedua orang tuanya. Ia tidak tahu harus mengorbankan siapa di antara mereka ia terus berpikir selama sehari semalam.

Beruntun hingga beberapa hari Nyo Hun-cong tidak melihat Nilan Ming-hui datang menemui dirinya ia sendiri merasa heran, malam ini ia termenung di dalam kamarnya tiba-tiba Ming-hui muncul. Beberapa hari tidak bertemu, ternyata gadis ini sudah banyak kurus, matanya merah bengkak, keruan Hun-cong menjadi kaget, lekas ia bertanya.

Akan tetapi tanpa menjawab Nilan Ming-hui telah menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Nyo Hun-cong dan menciumnya berulang-ulang dengan mesra ia memeluk dengan sangat erat.

“Ming-hui, soal apakah yang membuat kau begini, katakanlah pada orang yang paling mencintaimu dan jangan terus bungkam,” kata Hun-cong sambil mengelus rambut si gadis dengan suara penuh kasih sayang.

“Sungguhkah kau mencintai aku, mati atau hidup tidak bakal berubah cintamu?” tanya Nilan Ming-hui tiba-tiba.

“Apakah perlu aku rogoh dan menunjukkan hatiku?” sahut Nyo Hun-cong.

Karena jawaban ini, di luar dugaan mendadak Ming-hui berseru, “Jika kau betul-betul mencintai aku, baiklah, kuharap kau segera meninggalkan diriku!”

“Apa katamu?” tanya Hun-cong dengan kaget.

“Ya biarlah aku yang akan menerima segala penderitaan, aku tidak menginginkan kau menghadapi bahaya di sini!” kata Ming-hui dengan menangis.

“Ming-hui, mengapa kau berkata begitu,” ujar Hun-cong, “Aku pasti akan melindungi dirimu sekuat tenagaku, apakah kau mengira aku tak mampu membela dirimu? Kalau tidak, marilah kaupergi denganku, padang rumput yang demikian luas, apakah kau masih kuatir tidak bisa mendapatkan tempat untuk berteduh?”

Tetapi dengan pelahan-lahan Ming-hui melepaskan genggaman tangannya “Kita tidak mungkin menjadi suami-isteri, tidak mungkin!” ratapnya pula.

“Mengapa tidak mungkin?” seru Hun-cong sambil melompat, ia seperti terkena sekali cambukan, hatinya terpukul.

“Sudahlah tak usah kau tanya lagi! Kita telah ditakdirkan tidak bisa berkumpul menjadi satu. Ya siapa yang menyuruh kau adalah bangsa Han?” kata Ming-hui pula.

Mendengar itu, muka Nyo Hun-cong berubah, teringat olehnya dia ini adalah anak gadis musuhnya sekilas hati sanubarinya seperti sedang menegur padanya “Hai! Nyo Hun-cong, sadarlah, bukankah memang begitu. Bagaimana kau bisa terus tergoda oleh gadis musuh.”

Hatinya ternyata tidak dapat memahami perasaan yang lemah dari Nilan Ming-hui. Setelah pemuda ini tahu bahwa Ming-hui tidak bersedia ikut dengan dirinya, hatinya terasa seperti teriris-iris oleh senjata tajam, ia menjadi salah sangka bahwa Ming-hui masih tetap berdiri di pihak ayahnya.

Begitulah, maka selagi Nyo Hun-cong hendak mendorong pergi Nilan Ming-hui, tetapi demi melihat mukanya yang penuh air mata, tangannya lantas dilepas lagi. Saat lain Nilan Ming-hui telah memeluk dirinya pula dengan kencang.

“Sebelum kita berpisah, aku mohon kau jangan gusar dan jangan memarahi diriku,” serunya dengan suara serak.

“Ming-hui, aku selamanya tak akan menyesali dirimu!” kata Hun-cong pasti dengan menghela napas.

“Ya, aku tahu kau mencurigai diriku, tetapi percayalah, untuk menghilangkan kecurigaanmu im, aku bersedia menyerahkan segala milikku padamu, walaupun kita tidak dapat menjadi suami-istri, tetapi aku tetap masih menjadi istrimu,” kata Ming-hui.

“Ming-hui, janganlah kau berkata demikian!” ujar Hun-cong dengan perasaan hancur.

Akan tetapi sesaat im, bibirnya sudah terkancing oleh bibir Nilan Ming-hui yang halus lemas sampai ia hampir tak dapat bernapas.

Pelahan-lahan, ia lupa diri, ia telah merasakan sesuatu kebahagiaan untuk pertama kali dalam kehidupannya, tetapi merupakan pula penderitaan bagi kehidupan selanjutnya.

Sewaktu Hun-cong sadar kembali, Nilan Ming-hui sudah tak terlihat, dalam kamar hanya tinggal keadaan yang kosong dan gelap. Hun-cong menghela napas dan berkata dalam hati, “Aku harus pergi sekarang juga!”

Selagi ia akan bebenah buntalannya untuk berangkat, tiba-tiba jendelanya dibuka orang, menyusul telah melompat masuk seorang lelaki.

“Nyo Hun-cong, kau harus pergi sekarang juga!” bentak orang im yang ternyata bukan lain daripada Nikulo.

Nyo Hun-cong melompat bangun, “Nikulo, apa kaucari mampus!” bentaknya pula.

“Aku bukan tandinganmu, itu aku cukup tahu,” kata Nikulo, “Tetapi jika aku takut dibunuh olehmu tentu tak nanti aku datang kemari. Sudah lama aku mengetahui kau berada di sini, kau telah mencintai Siocia kami, bukan?”

“Kau tak perlu urus!” sahut Hun-cong dengan gusar.

“Hm, kauanggap dirimu seorang pahlawan, tetapi aku melihat dirimu sedikitpun tiada tanda-tanda kepahlawanan!” kata Nikulo menyindir.

Mendengar sindiran im, Nyo Hun-cong mendelik matanya.

“Di manakah letak kesalahanku, coba katakan!” teriaknya sengit.

“Jika kau sungguh-sungguh mencintai Nilan Ming-hui Siocia, mengapa kau tidak memikirkan dirinya,” kata Nikulo, “Tahukah kau bahwa dia sudah mempunyai orang dalam hatinya, jika bukan tahun ini tentu tahun depan ia sudah akan menikah, suaminya beribu kali lipat lebih baik daripada dirimu, mengapa kau masih terus menggoda dia dan membikin dia menderita!”

“Siapa bakal suaminya?” tanya Nyo Hun-cong dengan membentak.

“Taiciangkun To Tok!” jawab Nikulo.

Baru habis perkataannya, mendadak ia menjerit sekali, ternyata ia sudah roboh di atas tanah, Nyo Hun-cong bergerak secepat kilat, ia tutuk ‘Nui-moa-hiat’ Nikulo.

Tempo hari sewaktu Nikulo mengejar Toh It-hang di padang rumput, pernah ia memergoki Nyo Hun-cong berbarengan dengan Nilan Ming-hui, waktu itu meski Nilan Ming-hui dengan cepat telah bersembunyi dalam kereta, akan tetapi dengan jelas Nikulo sudah dapat melihat orangnya, kejadian ini terus ia simpan dalam hati. Beberapa hari ini waktu ia berbincang dengan Nilan Siu-kiat dan mengetahui Nilan Ming-hui tidak mau mengawini To Tok. Nilan Siu-kiat juga berkali-kali menghela napas, walaupun tidak terus terang diceritakan, tetapi Nikulo sudah menduga tentu ada sebab-sebabnya. Setelah ia pikir, ia mendapatkan satu akal, maka malan-malam ia datang menemui Nyo Hun-cong dan hendak membuat pemuda ini pergi dengan perkataannya.

Demikianlah, maka sesudah Nyo Hun-cong menutuk roboh Nikulo, hatinya masih merasa gusar dan juga tertusuk, ia mestinya sudah hendak angkat kaki, tetapi karena omongan orang tadi, pikiran lain segera timbul dalam hatinya, “Coba aku lihat-lihat ke dalam istana sana, toh aku memang hendak menyelidiki keadaan musuh.”

Ia segera melayang keluar jendela, dalam keadaan gusar dan benci, hakikatnya ia sudah tidak memikirkan bahaya bagi jiwanya lagi.

Tidak lama kemudian, di istana jenderal telah kedatangan tetamu yang tak diundang, dengan mendekam di atas atap ruangan tengah dan sedang mengintip ke bawah, orang ini adalah Nyo Hun-cong.

Kebetulan di ruang pendopo itu sedang duduk bercakap-cakap antara Nilan Siu-kiat dan To Tok, Nyo Hun-cong telah siap dan berjaga-jaga, ia memegang kencang pedangnya, ia pikir mereka tentu sedang mempersoalkan perjodohan Nilan Ming-hui, biarlah aku mendengarkan apa yang mereka percakapkan, walaupun aku harus tewas di padang pasir sini, sedikitnya aku akan memberi sekali tusukan lebih dulu pada jahanam To Tok ini.

Tengah ia berpikir, terdengar Nilan Siu-kiat lagi berkata, “Khim-ce-tajin (paduka tuan utusan), biarlah kita giring kedua orang Hwe itu untuk diperiksa, bagaimana?”

Mendengar percakapan ini Hun-cong menjadi heran, “Aneh, ternyata mereka bukan sedang mempersoalkan perjodohan, melainkan sedang merembuk orang Hwe apa yang kurang jelas!”

Ia tak tahu bahwa soal perjodohan Ming-hui harryi berjalan di belakang layar saja, menunggu ayah To Tok yang jauh berada di kota raja, menurut kebiasaan atau adat isi-adat kaum bangsawan, untuk mencari putri pangeran bukan soal sederhana, tentu tidak mungkin diselesaikan begitu saja oleh To Tok sendiri. Kali ini mereka berkumpul, yang diurus justru betul-betul adalah urusan ‘dinas’ dan sedang akan buka sidang memeriksa orang Kazak yang tertawan.

Maka setelah perintah Nilan Siu-kiat dilaksanakan, tidak lama kemudian barisan pengawal menggiring masuk seorang lelaki dan seorang perempuan. Begitu melihat kedua orang ini, darah Nyo Hun-cong seketika membara, ternyata yang lelaki itu adalah adik angkatnya sendiri, Mokhidi.

Sejak terpencar karena serangan angin topan di gurun Taklamakan, Hun-cong tak pernah bertemu pula dengan Mokhidi. Waktu sedang mencari ‘sumber air hitam’, ia telah bertemu dengan adik angkat yang lain, Asta, tetapi Asta pun tidak mengetahui mati hidup Mokhidi, tidak diduga kini malahan bertemu di dalam istana jenderal sini, bahkan di samping Mokhidi masih ada pula seorang nona bangsa Kazak yang cantik.

Mokhidi dan nona itu J;borgol dengan rantai yang besar sementara Nilan Siu-kiat telah membentak menyuruh mereka berlutut, tetapi ternyata mereka berkepala batu, mereka malah melengos dengan angkuh.

“Orang gagah!” puji To Tok dengan mengacungkan jempolnya, “Kau orang-orang Kazak kini berkumpul di mana, bicaralah padaku, aku m ~”ghargai lelaki yang gagah, maka aku berjanji padamu boleh kcn pergi menawarkan penaklukan bagi mereka, sedikitpun aku tidak akan mencelakai bangsamu!”

“Siapa percaya dengan omongan bangsa Boan-ciu!” sahut Mokhidi dengan gusar dan berani.

“Hm, arak suguhan tidak diterima, tetapi minta arak dendaan, baik, seret dia dan segera rangket!” bentak Nilan Siu-kiat dengan gusar.

Akan tetapi belum habis suara perkataannya, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras. Nyo Hun-cong telah melayang turun dari atas genting, pedangnya laksana sambaran kilat, dengan cepat telah menusuk muka To Tok.

Ketika To Tok melihat Nyo Hun-cong mendadak melompat turun dari atas dan sinar pedangnya menyambar menusuk mukanya, ia berteriak sekali dan berbareng angkat sebuah kursi di sampingnya terus ditangkiskan.

Maka terdengarlah suara berantakan, kursi itu telah terbelah menjadi dua, To Tok segera memukul pula dengan kepalannya, akan tetapi Hun-cong tidak gampang terkena, pada saat lain sebelah kakinya telah melayang, seketika mu-suli terjungkal menyusul pedangnya hendak ditusukkan pula.

Akan tetapi tiba-tiba ia melihat Nilan Siu-kiat dengan tidak mempedulikan jiwanya sendiri telah merangkul tubuh To Tok sambil mendelik padanya.

“Tidak kuperkenankan kau mencelakai ayahku!” demikian tiba-tiba perkataan yang pernah diucapkan oleh Nilan Ming-hui mendadak berkumandang di telinganya.

Karena itulah Nyo Hun-cong merandek dan terlambat sedikit, sementara im Nilan Siu-kiat dengan masih merangkul To Tok telah menggelinding pergi sejauh beberapa depa, barisan pengawal pun lantas datang mengurung.

Nyo Hun-cong menjadi gusar sekali, ia membentak dengan suara menggeledek, “Yang merintangi aku mati!” segera pula pedangnya menusuk dan telapak tangannya membelah, sekejap saja ia telah dapat menewaskan lima orang, dengan satu lompatan, pedangnya segera diayun beruntun, rantai yang memborgol diri Mokhidi dan nona im lantas putus menjadi dua.

“Dapatkah kalian naik ke atas rumah?” tanyanya.

Perempuan muda itu memanggut.

“Ayo, pergi!” ajaknya, lalu ia mengadang di belakang dengan pedangnya, ia melindungi kawan-kawannya dan melompat ke atas atap rumah, sementara im anak panah dari bawah telah berhamburan laksana hujan.

Hun-cong melepaskan baju luarnya, ia menggunakan tenaga dalamnya, bajunya dikebutkan naik turun, anak panah yang tersapu oleh baju panjang im lantas berserakan tak keruan, tidak lama mereka bertiga sudah lepas dari bahaya dan telah berada di luar istana.

Sewaktu Nyo Hun-cong mengenakan bajunya kembali, ternyata baju im masih baik-baik saja, satu lubang kecil pun tiada.

“Nyo-taihiap sungguh luar biasa!” Mokhidi memuji.

Hun-cong hanya tersenyum saja, segera ia membawa mereka melalui jalan kecil dan keluar dari kota.

Setelah berada di luar kota, Mokhidi berkata pada perempuan muda tadi, “Inilah orang yang selalu aku bicarakan padamu im, Nyo-toako, Nyo Hun-cong Taihiap!” Maka tanpa ayal wanita muda im segera memberi hormat.

“Ia adalah nona- yang selalu kukatakan padamu itu, namanya Malina,” kata Mokhidi sambil memperkenalkan wanita muda im pada Nyo Hun-cong.

Malina adalah sahabat baik Mokhidi sejak masih kanak-kanak, mereka sering perg, berburu bersama, belakangan ia ikut keluarganya pindah ke aaerah selatan, karena im hubungan mereka pun terputus, tetapi Mokhidi masih selalu merindukan gadis ini. Asta suka menggoda mereka berdua, maka begitu Hun-cong mendengar gadis ini ialah Malina, ia lantas mengerti apa artinya.

Tentang kisah Mokhidi sejak serangan topan itu sederhana saja, pada hari terjadinya angin ribut, akhirnya ia bertemu serombongan saudagar yang akan menuju ke selatan, justru di antara mereka terdapat pula keluarga Malina, maka Mokhidi lantas menggabungkan diri bersama mereka dan telah bertemu kembali dengan Malina.

Waktu itu di perkampungan mereka sedang diadakan perayaan dan permainan ‘domba nakal’, kaum muda menunggang kuda saling berkejaran, ada juga yang mengajak Malina, tetapi ia selalu menolak, sedang ia merasa kesepian, kebetulan Mokhidi telah tiba, keruan gadis im kegirangan dan bersorak. Segera pula Malina memohon pada kakaknya untuk menyediakan seekor kuda bagi Mokhidi, dan tanpa bertanya bagaimana keadaannya sesudah berpisah, mereka bersama pergi bermain ‘domba nakal’. Begitu pemuda-pemuda lain mengetahui bahwa mereka adalah kekasih lama yang bertemu kembali, semuanya ikut bergembira juga.

Begitulah setelah Hun-cong mendengar cerita itu, ia lantas memberi selamat juga pada mereka.

Ketika berbicara tentang tempat berkumpulnya orang Kazak di daerah selatan, ternyata jarak dengan tempat di mana Hui-ang-kin menetap tidak lebih dari tiga ratus li, hanya saja karena di padang rumput yang luas, sedang bangsa gembala yang kian kemari berpindah tiada menentu, maka saling tidak mengetahui. Bangsa Kazak adalah bangsa yang baru berpindah ke daerah selatan, kecuali rombongan keluarga Malina masih ada pula beberapa kelompok lainnya.

Advertisements

1 Comment »

  1. Terima kasih kepada penyedia tempat kumpulan cerita silat ini.yang telah berpayah payah mengumpulkan semua ini sekali lagi ribuan atau miliaran terima kasih.

    Comment by Buyung panyungai — 19/11/2012 @ 3:06 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: