Kumpulan Cerita Silat

12/04/2008

Darah Ksatria: Bab 17. Tidak Ada Yang Tidak Dilakukan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 1:04 am

Darah Ksatria
Bab 17. Tidak Ada Yang Tidak Dilakukan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Malam itu Ma Ji-liong hanya makan nasi dengan lauk ikan goreng lombok, satu macam menu saja, ada satu mangkuk kuah tulang daging babi juga tersedia di meja, semangkuk kuah ini untuk bininya yang sakit.

Bininya digotong ke atas ranjang dan diselimuti, sudah sadar, tapi rebah diam tidak bergerak, matanya melotot mengawasi langit-langit rumah.

Habis makan Ma Ji-liong merasa iseng, ia duduk santai di kursi malas yang terbuat dari rotan di sisi ranjang. Otaknya memikirkan banyak persoalan, mengenang masa lalu, segala kejadian dan perbuatan dirinya di masa lalu yang patut dibanggakan.

Apa betul perbuatannya dulu patut ia lakukan? Pantaskan diagulkan dan membuatnya bangga?

Manusia dengan manusia, kenapa terdapat jurang pemisah sebesar itu? Kenapa ada sementara orang hidup dalam kemelaratan? Kenapa ada juga orang yang hidup berkelebihan?

Ji-liong sadar, jika bisa memperpendek jarak antara manusia dengan manusia itu, barulah patut berbangga diri. Di sinilah letak kemajuan Ma Ji-liong, setelah merasakan, bisa meresapi, jika sekarang ia masih hidup dalam lingkungan lama, pasti tidak pernah Ma Ji-liong berpikir sejauh dan seluas ini.

Dalam mengarungi hidup, jika manusia mengalami proses hidup yang tidak menyenangkan, menderita pukulan lahir batin, bukankah kejadian itu langsung membawa manfaat bagi dirinya?

Toa-hoan berbuat demikian terhadap Cia Giok-lun, apakah lantaran sebab itu juga? Teringat akan hal ini, perasaan Ma Ji-liong menjadi lega malah, gejolak hatinya jauh lebih tenteram.

Ia yakin, meski belum pernah mengenal pribadi gadis ini, Cia Giok-lun pasti seorang gadis yang suka berbangga hati, gadis ini memang mempunyai nilai tinggi untuk membanggakan diri.

Entah sejak kapan Cia Giok-lun mengawasi dirinya, lama menatapnya. “Coba ulangi sekali lagi,” demikian pintanya dengan nada datar.

“Apa yang harus kuulangi?” tanya Ma Ji-liong.

“Katakan, kau siapa dan aku siapa?”

“Aku bernama Thio Eng-hoat, kau bernama Ong Kwi-ci.”

“Kita adalah suami isteri?”

“Ya, suami isteri sejak 18 tahun yang lalu, sejak menikah kita tinggal di sini membuka toko serba ada, dagang kecil-kecilan hingga sebesar ini, lumayan. Para tetangga di kampung ini siapa yang tidak kenal kau dan aku?” Ma Ji-liong menghela napas, lalu berkata pula, “Mungkin kau merasa kehidupan ini serba kekurangan, sudah bosan dan sebal tinggal di rumah bobrok ini, maka ingin melupakan pengalaman hidup masa lampau.” Ma Ji-liong berganti nada, “Sebenarnya kehidupan begini juga ada baiknya, paling sedikit kita hidup tenteram dan berkecukupan meski sederhana, hanya sayang kita tidak punya anak.”

Cia Giok-lun mendengar sambil menatapnya lekat. “Dengarkan,” katanya kemudian dengan nada tegas. “Aku tidak tahu dan tidak kenal kau siapa, juga tidak tahu apa yang telah terjadi atas diriku, tapi aku yakin kejadian ini kau lakukan karena disuap atau diperalat orang lain untuk membuatku celaka begini.”

“Siapa yang membuatmu celaka? Kenapa membuatmu celaka?”

“Apa betul kau tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya?”

Ma Ji-liong memang tidak tahu, tapi dia bertanya, “Kau kira kau ini siapa?”

Cia Giok-lun menyeringai dingin, katanya, “Kalau kau tahu siapa diriku, kau bisa mati saking kagetnya.” Nadanya tinggi mengandung rasa bangga dan jumawa, “Aku putri malaikat, tiada perempuan di dunia ini yang bisa menandingi aku, setiap saat aku bisa membuatmu kaya raya, tapi juga bisa membunuhmu. Oleh karena itu, lekas kau antar aku pulang, kalau tidak akan datang suatu hari aku akan mengiris tubuhmu untuk dimakan anjing.”

Gadis ini memang jumawa, terlalu membanggakan diri, tidak pandang sebelah mata kepada orang lain, jiwa raga orang lain tidak berharga sama sekali, kecuali dirinya, jiwa siapa pun tidak ada nilainya. Perempuan galak dan bawel seperti ini memang pantas dihajar adat, biar merasakan sedikit derita, biar kapok, kejadian ini akan membawa manfaat bagi dirinya.

Ji-liong menghela napas, katanya, “Penyakitmu kumat lagi, lekas tidur saja.” Setelah melontarkan ucapannya, baru Ji-liong sadar, masalah tidur menjadi persoalan bagi dirinya. Di dalam rumah itu hanya ada satu ranjang, di mana ia harus tidur malam ini?

Tentu Cia Giok-lun juga memikirkan hal ini, mendadak ia berteriak, “Awas, berani kau tidur di sini, berani kau menyentuh aku, aku akan…. aku akan…..” Ia tak meneruskan omongannya.

Bahwasanya ia takkan berbuat apa pun terhadap gadis yang berdiri pun tidak kuat, kalau Ma Ji-liong mau berbuat kasar dan main kekerasan, jelas gadis ini takkan mampu melawan.

Untung Ma Ji-liong tidak berbuat apa-apa terhadapnya. Ma Ji-liong memang pemuda yang tulus lagi bijak, tidak sia-sia namanya menjulang tinggi dalam percaturan dunia persilatan, hakikat seorang pendekar memang melekat pada dirinya.

Ma Ji-liong adalah laki-laki sejati, sehat lagi kuat dan normal, pernah melihat wajah dan tubuhnya yang polos semampai, tahu bahwa gadis ini rupawan lagi jelita. Dalam kamar yang remang-remang, di atas ranjang yang tertutup kain mori…… Pandangan sekilas itu terukir dalam relung hatinya, seumur hidup takkan terlupakan. Tapi Ma Ji-liong adalah Ma Ji-liong, pendekar muda, harkat pendekar melekat pada pribadinya, maka Ma Ji-liong tidak berbuat apa-apa, tindakan maupun perkataan.

Walau jalan pikirannya sudah berubah, sekarang Ma Ji-liong sadar dirinya tidak perlu membanggakan diri seperti dulu, tapi ada sementara perbuatan yang tak mungkin mau ia lakukan, umpama memaksa dengan mengancam akan membunuhnya juga pantang ia lakukan. Hal ini saja patut membuat dirinya bangga.

—————————-ooo00ooo————————–

Hidup ini berkembang, berlalu dari hari ke hari, dari minggu menjadi bulan, lambat laun Cia Giok-lun menjadi betah dan tenang, meski tanpa kerja dan hanya berbaring saja di atas ranjang dengan tenteram dan damai, hanya tidak bisa bergerak atau turun dari ranjang. Maklum, bila seorang menghadapi kenyataan apa boleh buat, siapa pun akan menerima nasib secara penuh kesabaran, penuh pengertian. Memangnya mau apa kalau tidak sabar, apa yang bisa dilakukan, umpama menjadi gila, ribut dan bergulingan di tanah, kecuali nekad menumbukkan kepala ke tembok untuk bunuh diri.

Lalu bagaimana dengan Ma Ji-liong selama ini?

Tata kehidupan ini jelas bertolak belakang dibanding kehidupannya sebagai anak hartawan, sebagai pendekar muda yang gagah terkenal, kini hidup terpencil dalam sebuah rumah, setiap hari mendampingi wanita yang tidak bisa berbuat apa-apa, malah harus meladeninya dengan penuh kesabaran, putus hubungan dengan orang-orang yang ia kenal, dengan keluarganya. Orang-orang yang dulu ia pandang rendah dan bodoh serta miskin, sekarang ia temukan gambaran lain di balik kemiskinan mereka yang bijak lagi sederhana itu.

Datang saatnya ia juga merasa risau lagi bebal, bosan dan murung, ingin keluar mencari berita, pergunjingan apa yang telah terjadi di Kangouw selama ini, ingin pergi mencari Toa-hoan dan Ji Ngo. Sayang dalam keadaan dirinya sekarang, meski keinginan teramat besar dan susah dibendung, namun orang lain tidak mengizinkan ia berbuat demikian. Karena ia juga sadar bahwa dirinya sekarang adalah Thio Eng-hoat, walau bukan Thio Eng-hoat tulen.

————————ooo00ooo————————–

Beberapa hari ini, secara beruntun menjelang maghrib, tokonya kedatangan seorang pembeli. Orang yang membuka toko jamak kalau kedatangan pembeli yang membutuhkan sesuatu untuk keperluan hidup sehari-hari. Tapi lain dengan pembeli yang satu ini, pembeli aneh, karena setiap datang selalu membeli dua puluh butir telur ayam, dua kilo kertas merang, dua kilo garam dan sekati arak beras merah.

Adalah lumrah bila orang punya duit setiap hari makan telur, tapi jarang ada orang yang makan dua puluh butir telur setiap hari, untuk apa pula dua kilo kertas merang dan garam, siapa pun pasti akan menaruh perhatian dan prasangka. Kejadian ini memang aneh dan mencurigakan, tapi pembeli itu justru tidak merasa aneh. Telur ayam, kertas merang, garam dan arak adalah barang biasa untuk keperluan sehari-hari. Pembeli itu seorang laki-laki berperawakan tinggi agak kurus dengan muka legam, tak ubahnya lelaki umumnya, hanya sikap dan tindak-tanduknya saja yang kelihatan agak gelisah, gugup dan keletihan.

Hingga pada suatu hari, tepatnya pada hari kedelapan, kebetulan nyonya muda yang hamil tua juga melihatnya di depan toko. Setelah pembeli aneh itu pergi, baru nyonya muda hamil tua itu bertanya dengan setengah berbisik kepada Ma Ji-liong, “Siapakah orang ini? Belum pernah aku melihatnya?” Sejak itu baru Ma Ji-liong menaruh perhatian.

Nyonya muda itu dilahirkan dan dibesarkan di kampung ini, setiap penduduk di kampung ini ia kenal dengan baik. Dasar perempuan yang satu ini memang cerewet, maka ia bertanya lagi dengan nada tegas, “Eh, siapakah dia? Laki-laki ini pasti bukan penduduk asli, dulu pasti tak pernah datang ke mari. Entah kalau penduduk baru yang pindah belum lama ini.”

————————-ooo00ooo————————-

Diam-diam Ma Ji-liong menaruh perhatian terhadap pembeli yang misterius ini, memperhatikan secara seksama. Sebetulnya Ma Ji-liong tidak berpengalaman dan tidak mahir membuat penyelidikan, apalagi mencari tahu asal-usul orang lain. Tuan muda yang dilahirkan dari keluarga besar dan kaya raya seperti dirinya, biasanya jarang dan bukan kegemarannya untuk mencari tahu hal-ihwal orang lain. Kalau memerlukan suatu keterangan, cukup memberi perintah pada orang untuk mencari tahu, kapan pula ia pernah turun tangan sendiri. Tapi dari pengamatan yang cermat, apalagi setelah beberapa bulan hidup prihatin, Ji-liong mendapatkan beberapa titik persoalan yang ganjil pada laki-laki langganannya yang baru ini.

Perawakan laki-laki itu kurus tinggi, tapi tangan dan kakinya luar biasa kasar dan kuat. Waktu mengambil barang dan mengulurkan uang, selalu bergerak ragu-ragu tetapi cepat dan tangkas, seperti ingin menyembunyikan tangannya yang panjang dan besar, maksudnya supaya orang tidak memperhatikan tangannya, tapi justru tingkah-lakunya yang takut-takut ini malah menarik perhatian Ma Ji-liong.

Setiap hari menjelang maghrib, di saat penduduk sekitarnya siap makan malam, saat itu jarang ada penduduk di luar atau berlalu-lalang di jalanan.

Perawakan lelaki ini memang tinggi, satu kepala lebih tinggi dari Ma Ji-liong, kakinya kekar, kasar lagi kuat, lengannya bergerak enteng, setiap datang hampir tidak terdengar langkah kakinya, tahu-tahu orangnya sudah berdiri di depan toko. Sore hari itu kebetulan turun hujan, jalan kampung becek dan licin, tapi sepatu rumput laki-laki ini tidak kelihatan kotor seperti sepatu orang lain yang berjalan di tanah becek.

Musim dingin sudah lewat, musim semi pun menjelang, tapi hawa masih terasa dingin. Orang lain masih memakai baju tebal, tapi laki-laki ini hanya berpakaian tipis saja, namun tidak kelihatan kedinginan.

Betapapun Ma Ji-liong pernah berkecimpung di Kangouw, meski belum lama dan tak banyak pengalaman, namun berdasarkan beberapa kenyataan itu, ia menarik kesimpulan bahwa lelaki ini pasti pernah meyakinkan ilmu silat, malah ilmu silat yang hebat dan lihai, sepasang telapak tangannya kasar, mungkin pernah meyakinkan Thi-soa-ciang, Ilmu Pukulan Pasir Besi, atau sejenisnya.

Seorang jago Bulim setiap hari membeli telur ayam, kertas, garam dan arak untuk keperluan apa? Kalau menyembunyikan diri dari pengejaran musuh yang menuntut balas kepadanya, rasanya tidak perlu setiap hari membeli barang-barang itu.

Jika anak buah Ji Ngo yang diutus ke sini untuk menjaga dan melindungi Ma Ji-liong berdua, rasanya tidak perlu melakukan langkah-langkah yang bisa mengundang perhatian orang.

Mungkinkah Khu Hong-seng, Coat-taysu dan lain-lain sudah tahu adanya gejala-gejala tidak normal di toko serba ada ini, maka mengirimkan anak buah untuk mengawasi gerak-geriknya?

Kalau betul demikian, kan tidak perlu membeli dua puluh butir telur ayam dan dua kilo kertas dan garam setiap harinya?

Beberapa persoalan ini sukar mendapatkan jawabannya. Persoalan yang tidak bisa dimengerti lebih baik tak usah dipikir, tapi Ma Ji-liong mulai tertarik oleh kejadian ini.

Setiap orang pasti menaruh perhatian terhadap sesuatu menurut kesenangannya, demikian pula Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun pun tak terkecuali, lama-kelamaan ia pun tahu adanya pembeli aneh setiap maghrib yang mencurigakan itu, maka suatu petang Cia Giok-lun bertanya, “Orang yang kalian bicarakan itu, apa betul seorang laki-laki?”

“Sudah tentu laki-laki.”

“Mungkinkah samaran perempuan?” tanya Cia Giok-lun.

“Tidak mungkin, pasti lelaki tulen.”

Walaupun bukti sudah di depan mata, Ma Ji-liong sudah berkenalan langsung dengan keajaiban tata rias, tapi ia percaya lelaki pembeli garam itu pasti bukan perempuan yang menyamar.

Dilihatnya Cia Giok-lun memperlihatkan rasa kecewa.

Ma Ji-liong merasa pertanyaan orang agak aneh, maka ia balas bertanya, “Kenapa kau tanya dia laki atau perempuan? Kau mengharap pembeli itu seorang perempuan?”

Lama Cia Giok-lun diam tidak memberi jawaban. Setelah menghela napas, baru dia berkata, “Kalau perempuan, mungkin sekali sedang berusaha menolong aku.”

Mengapa kalau pembeli itu perempuan, maka akan menolong dirinya?

Ma Ji-liong tidak bertanya, ia hanya berkata tawar, “Delapan belas tahun kau menikah dengan aku, selama ini aku baik terhadapmu, kenapa orang lain harus menolongmu dan membawamu pergi?”

Cia Giok-lun melotot gemas setiap membicarakan hal ini, sorot matanya memancarkan derita, dendam dan kebencian. Bila terjadi perubahan pada mimik dan sikap perempuan yang satu ini, Ma Ji-liong lekas menyingkir, tidak tega dan kasihan, tidak berani ia bertatap muka dan beradu pandang dengannya.

————————ooo00ooo—————————-
Suatu malam, belum lama setelah laki-laki misterius itu datang membeli keperluan yang itu-itu juga, nyonya muda yang hamil tua itu datang lagi dengan langkahnya yang gontai seperti bebek, sikapnya kelihatan tegang lagi gugup, tapi juga bangga. “Aku sudah tahu, aku sudah tahu,” napasnya sedikit memburu. “Aku tahu di mana orang itu tinggal.”

Sungguh heran, Thio-lausit yang biasanya tak banyak mulut dan tidak mau mencampuri urusan orang lain, kali ini bertanya, “Dia tinggal di mana?”

“Tinggal di rumah To Po-gi,” nyonya muda itu menerangkan. “Dengan mata kepalaku sendiri kulihat dia masuk ke sana.”

To Po-gi adalah kepala opas di wilayah kampung itu, kabarnya dulu pernah berlatih silat, tapi dia sendiri tidak pernah bilang atau mengagulkan diri, tidak ada orang yang pernah melihat ia berlatih silat. Ia menempati sebuah rumah setengah permanen yang cukup besar menurut ukuran rumah penduduk di sekitarnya, rumahnya bertembok dengan genteng merah.

Seorang kepala opas tentu punya banyak kawan, pergaulan luas. Kalau ada teman yang tinggal di rumahnya, sepatutnya tak perlu dibuat heran. Tapi keluarga To Po-gi hanya terdiri dari suami-isteri saja tanpa anak, ditambah seorang tamu, umpama tiap hari mampu menghabiskan dua puluh butir telur ayam, rasanya tak mungkin makan dua kilo garam. Isteri To Po-gi juga bukan pedagang makanan atau mengerjakan sesuatu yang memerlukan garam sebanyak dua kilo setiap harinya, dua kilo garam cukup membuat tiga orang itu kering menjadi ikan asin.

Nyonya muda itu berkata pula, “Tadi sengaja aku bermain ke rumah To Po-gi dan berbincang-bincang dengan isterinya, dari depan aku berkeliling ke belakang, namun bayangan orang itu tidak kelihatan, padahal jelas aku melihat dia masuk ke rumah itu. Secara bisik-bisik aku bertanya pada bini To Po-gi, untuk apa setiap hari orang itu membeli dua kilo garam? Entah kenapa, dengan suatu alasan yang kurang wajar, To Po-gi mendadak mengajak ribut mulut dengan bininya. Tanpa mendapat jawaban, terpaksa aku mengeluyur pulang.”

Thio-lausit hanya mendengarkan, mendadak dia bertanya pada perempuan itu, “Hari ini kau tidak membeli gula merah?”

“Hari ini aku tidak membeli apa-apa.”

“Juga tidak membeli kecap?”

“Kecapku belum habis.”

Thio-lausit menarik muka, katanya, “Kalau begitu, kenapa tidak lekas kau pulang tidur saja?”

Nyonya muda itu berkedip-kedip matanya, sejenak berdiri melongo, tanpa bicara lagi lekas ia mengeluyur pulang.

Thio-lausit bersiap menutup toko, mulutnya menggerundel, “Mencampuri urusan orang lain tidak baik. Aku paling benci melihat tampang yang suka mencampuri urusan orang lain.”

Ma Ji-liong mengawasinya, mendadak ia menemukan sesuatu yang aneh pada orang jujur ini, untuk pertama kalinya Ma Ji-liong merasakan adanya keanehan pada Thio-lausit yang jujur dan setia ini.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: