Kumpulan Cerita Silat

11/04/2008

Pendekar Binal (01)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 10:56 pm

Pendekar Binal (01)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Kang Hong, setiap orang yang bertelinga di dunia Kangouw (kelana) niscaya pernah mendengar nama “si mahacakap” ini, begitu pula nama Yan Lam-thian, si jago pedang nomor satu di dunia persilatan.

Setiap insan persilatan yang bermata tentu juga berhasrat melihat wajah Kang Hong yang mahacakap serta ingin menyaksikan ilmu pedang Yan Lam-thian yang tiada bandingannya di kolong langit ini.

Setiap orang pun tahu bahwa tiada seorang gadis di dunia ini yang sanggup menahan senyuman Kang Hong dan juga tiada jago silat yang mampu melawan pedang sakti Yan Lam-thian. Semua orang percaya bahwa pedang Yan Lam-thian sanggup mencabut nyawa seorang panglima di tengah-tengah pasukannya dan dapat membelah seutas rambut menjadi dua, sedangkan senyuman Kang Hong mampu menghancurluluhkan hati setiap orang perempuan.

Akan tetapi pada saat itulah lelaki yang paling cakap di dunia ini justru sedang lari terbirit-birit demi seorang perempuan. Dengan pakaian yang sederhana dan kumal Kang Hong sedang mengendarai sebuah kereta kuda rongsokan dan menyusuri sebuah jalan yang sudah lama telantar dan tidak terinjak kaki manusia. Dalam keadaan demikian, siapa pun takkan percaya bahwa dia inilah Kang Hong, si mahacakap, si rupawan yang romantis dan menggiurkan hati setiap gadis itu.

Panas terik sinar sang surya dalam bulan tujuh menyengat kulit. Waktu itu sudah dekat senja, namun manusia dan kudanya masih kegerahan oleh hawa yang panas itu. Kang Hong ternyata tidak menghiraukan badannya yang sudah basah kuyup air keringat, ia masih terus mencambuki kudanya agar berlari terlebih kencang.

Suasana sunyi senyap, hanya terdengar berdetaknya kuda lari dan gemertuk roda kereta diseling menggeletarnya cambuk. Tiba-tiba suara ayam berkokok memecah kesepian.

Sungguh aneh, dari mana datangnya ayam berkokok di jalan telantar menjelang senja ini?

Berubah air muka Kang Hong, sorot matanya yang tajam memancar jauh ke depan sana, terlihat seekor ayam jantan besar menongkrong di atas dahan pohon reyot di tepi jalan tanpa bergerak sedikit pun.

Jenggernya yang merah indah kereng serta bulunya yang beraneka warna itu tampak berkilau-kilau. Mata ayam jantan itu pun seakan-akan memancarkan sinar yang jahat dan mengerikan.

Muka Kang Hong bertambah pucat, mendadak ia menarik tali kendalinya. Kuda itu meringkik panjang dan kereta pun berhenti.

“Ada apa?” tanya sebuah suara lembut dan manis dari dalam kereta.

Kang Hong ragu-ragu sejenak, jawabnya kemudian dengan menyeringai, “Ah, tidak apa-apa, tampaknya kita kesasar.” Segera ia memutar balik keretanya dan dikaburkan ke arah datangnya tadi. Terdengar ayam jantan berkokok pula seakan-akan lagi mengejeknya.

Dengan gelisah Kang Hong mencambuk kudanya sehingga berlari lebih cepat. Akan tetapi, belum lagi seberapa jauh, sekonyong-konyong ia menghentikan keretanya, sebab di tengah jalan melintang sesosok tubuh gemuk besar. Bukan tubuh manusia melainkan tubuh babi raksasa. Sungguh aneh, dari mana datangnya babi sebesar ini di jalan telantar dan lama tak terinjak manusia ini? Padahal baru saja keretanya lalu di sini tanpa kelihatan secuil daging babi, tapi sekarang seekor babi besar, benar-benar seekor bulat, melintang di situ.

“Engkau kesasar lagi bukan?” terdengar pula suara lembut tadi dari dalam kereta yang jendelanya dan pintunya tertutup rapat itu.

“Aku … aku ….” Kang Hong tergegap dengan butiran keringat memenuhi dahinya.

“Untuk apa kau dustaiku?” ujar suara lembut manis itu dengan menghela napas perlahan. “Sudah sejak tadi kutahu.”

“Kau tahu?” Kang Hong menegas dengan tersipu-sipu.

“Ketika mendengar kokok ayam tadi, sudah kuduga pasti orang ‘Cap-ji-she-shio’ hendak merecoki kita. Supaya aku tidak khawatir, maka kau dustai aku, betul tidak?”

“Sungguh aneh,” kata Kang Hong dengan gegetun. “Padahal perjalanan kita ini sedemikian rahasia, mengapa mereka bisa tahu? … Tapi … tapi engkau jangan khawatir, urusan apa pun akan kuhadapi.”

“Kau salah lagi,” kata orang di dalam kereta dengan suara halus, “sejak hari itu aku sudah … sudah bertekad sehidup semati denganmu, bahaya apa pun yang akan terjadi juga harus kita hadapi bersama.”

“Tapi keadaanmu sekarang ….”

“Tidak menjadi soal, aku merasa baik-baik saja.”

“Baiklah, dapatkah engkau turun dan berjalan? Kedua arah jalan ini sudah diberi tanda peringatan, tampaknya terpaksa kita harus meninggalkan kereta dan menyusuri ladang belukar ….”

“Mengapa kita harus meninggalkan kereta ini?” ujar orang dalam kereta. “Kalau mereka sudah berhasil membayangi kita dan sulit meloloskan diri, biarlah kita tunggu saja di sini. Meski nama Cap-ji-she-shio terkenal kejam, kita juga tidak perlu gentar terhadap mereka.”

“Aku hanya khawatir … khawatirkan engkau ….” Kang Hong ragu-ragu. Ia tahu kemampuan sang kekasih, tapi ia pun tahu siapa “Cap-ji-she-shio”, yakni ke-12 lambang kelahiran yang digunakan sebagai nama julukan oleh 12 gembong penjahat yang akhir-akhir ini terkenal sangat kejam dan ganas di dunia Kangouw.

Dari ke-12 lambang kelahiran itu (tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam jago, anjing dan babi) tampaknya yang baru muncul adalah si ayam jago dan babi.

Begitulah orang dalam kereta berkata pula dengan tertawa, “Jangan khawatir, tidak menjadi soal bagiku.”

Tiba-tiba wajah Kang Hong juga menampilkan senyuman mesra, katanya perlahan, “Dapat bertemu dengan dirimu, sungguh sangat beruntung bagiku.”

“Yang benar-benar beruntung adalah diriku,” ujar orang dalam kereta dengan tertawa merdu. “Kutahu, di dunia Kangouw ini entah betapa banyak anak perempuan yang mengagumi diriku bahkan iri padaku, sebab mereka ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kuda meringkik dan berjingkrak. Angin senja meniup silir-semilir, tapi binatang ini merasakan sesuatu alamat yang tidak enak. Babi yang menggeletak di tengah jalan tadi mendadak membalik tubuh, kokok ayam terdengar pula di kejauhan, cuaca senja berubah menjadi suram seakan-akan tercekam oleh suasana yang sunyi dan rawan.

Air muka Kang Hong berubah pula, katanya, “Tampaknya mereka sudah datang!”

“Hahahaha! Memang benar, kami sudah datang!” mendadak terdengar orang bergelak tertawa di balik kereta sana.

Suara tertawa itu pun seperti ayam berkotek, tajam, bising, menusuk telinga. Selama hidup Kang Hong belum pernah mendengar suara tertawa yang begitu aneh. Dengan terkejut ia berpaling dan membentak tertahan, “Siapa itu?”

Begitu lenyap suara tertawa bagai ayam berkotek itu, dari belakang kereta lantas muncul enam-tujuh orang.

Orang pertama bertubuh kurus kering, tingginya lebih lima kaki, bajunya berwarna merah membara sehingga tampak sangat mencolok, tidak serasi dan agak gaib.

Orang kedua bertubuh jangkung, tingginya lebih dua meter, baju kuning dan kopiah kuning, muka penuh benjolan daging lebih dan tanpa emosi.

Menyusul adalah empat orang dengan dandanan yang lebih aneh, pakaian mereka terbuat dari potongan-potongan kain yang berwarna-warni sehingga mirip baju pengemis kaya di panggung sandiwara. Wajah dan perawakan keempat orang ini tidak sama, tapi tampak bengis dan tangkas, gerak-gerik pun seragam mirip orang berbaris.

Rada jauh di belakang sana mengikut pula seorang gemuk, begitu gemuk sehingga kulit daging bagian pipi dan perut seakan-akan kedodoran bergelantungan, berat badan keenam orang di depannya digabung seluruhnya mungkin juga tidak lebih berat daripada bobot si gemuk. Saking gemuknya sehingga jalannya kepayahan, kakinya seperti tidak sanggup menahan tubuh sendiri yang gede dan tambun itu, setiap langkah membuatnya terengah-engah.

“Wah, panasnya, bisa mampus aku!” demikian tiada hentinya si gemuk mengeluh dengan megap-megap dan bermandi keringat.

Kang Hong melompat turun dari keretanya, sebisanya ia bersikap tenang dan menegur, “Apakah yang datang ini Su-sin-khek (si tamu penjaga subuh) dan Hek-bian-kun (tuan muka hitam) dari Cap-ji-she-shio adanya?”

Si baju merah tadi terkekeh-kekeh, jawabnya, “Tajam juga pandangan Kang-kongcu. Cuma kami ini sesungguhnya hanya seekor ayam dan seekor babi saja, sebutan Su-sin-khek dan Hek-bian-kun yang sedap ini adalah hadiah teman-teman Kangouw, kami sendiri mana berani menerimanya.”

Dengan sorot mata tajam Kang Hong berkata, “O, tentunya saudara ini ialah ….”

“Yang merah adalah jengger, yang kuning adalah dada dan yang belorok adalah ekor,” potong si baju merah dengan tertawa. “Mengenai kawan paling belakang itu, silakan kau menilai sendiri. Bentuknya mirip apa, maka itulah dia.”

“Entah ada petunjuk apakah dari kalian?” tanya Kang Hong.

“Konon Kang-kongcu mendapatkan pacar baru, kami bersaudara jadi ingin tahu macam apakah si dara cantik yang dapat memikat hati pangeran kita mahacakap ini,” jawab si baju merah alias jengger jago. “Selain itu kami bersaudara juga ingin memohon sesuatu benda padamu.”

“Benda apakah yang kalian kehendaki?” tanya Kang Hong.

Si jengger ayam bergelak tertawa, jawabnya, “Benda yang dapat menarik perhatian saudara gemuk kami sehingga dia memburu ke sini tanpa menghiraukan panas terik matahari, kukira pastilah bukan benda sembarang benda.”

Tepat pada saat itu si gemuk tadi alias Hek-bian-kun sudah mendekat dengan napas terengah-engah dan menyambung dengan cengar-cengir, “Benar, kalau bukan benda bagus, kan lebih enak kucari angin dan tidur di rumah saja.”

Diam-diam hati Kang Hong tergetar, tapi sikapnya tetap tenang, katanya dengan suara berat, “Cuma sayang perjalananku ini tergesa-gesa sehingga tidak membawa suatu benda berharga apa pun yang dapat menarik minat para ahli seperti kalian ini.”

“Hehehe!” si jengger terkekeh-kekeh. “Kabarnya mendadak Kang-kongcu telah menjual seluruh harta benda dan meringkaskannya menjadi sekantong mutiara mestika dan batu manikam … hehe, rasanya Kang-kongcu juga tahu kami Cap-ji-she-shio biasanya tidak pernah pulang dengan tangan hampa, maka demi persahabatan, sudilah Kang-kongcu menghadiahkan kami sekantong ratna mutu manikam itu.”

“Haha, bagus, bagus!” Kang Hong juga tertawa. “Ternyata kalian tahu sejelas itu. Ya, aku pun tahu Cap-ji-she-shio biasanya tidak suka sembarangan turun tangan, dan sekali turun tangan tidak pernah pulang dengan tangan hampa, akan tetapi ….”

“Akan tetapi apa?” tukas si jengger merah. “Kau menolak?”

“Hehe, aku sih tidak menolak, hanya ….” belum habis Kang Hong menjengek, tahu-tahu bayangan berkelebat, ia sudah menubruk maju.

Jengger ayam itu pun tidak kalah gesitnya, dalam sekejap itu tangannya sudah memegang semacam senjata berbentuk aneh, mirip paruh ayam dan serupa ganco. Secepat kilat ia menyerang, hanya sekejap saja ia melancarkan tujuh-delapan kali serangan dengan gaya yang aneh seperti ayam jantan mematuk dan menyerang dengan jalu atau taji, semuanya mengincar Hiat-to (titik urat darah) mematikan di tubuh Kang Hong.

Rada repot juga Kang Hong, mendadak ia loncat ke atas sehingga serangan maut itu dapat dielakkan. Tapi pada saat itu empat pasang “taji” ayam sudah menanti pula di bawah.

Nyata, sekali jengger ayam bergerak, serentak keempat orang berbaju warna-warni yang merupakan ekor ayam juga menubruk maju, empat pasang taji ayam juga merupakan senjata yang jarang terlihat di dunia Kangouw, sekali paruh ayam mematuk, serentak taji ayam juga menyerang, kerja sama mereka sangat rapat sehingga mirip seorang dengan bertangan banyak.

Memangnya Kang Hong sudah kewalahan, apalagi menghadapi serangan yang aneh ini, belum lagi si baju kuning yang merupakan dada mentok ayam itu masih mengawasi di samping dan sedang menunggu peluang untuk ikut menyerang.

“Hehehe!” Hek-bian-kun, si babi hitam, terkekeh-kekeh. “Ayolah saudara-saudara, tambah gas sedikit, supaya lebih kencang. Kita bukan perempuan, tidak perlu mendambakan kasih sayang anak cakap ini, Eh, permisi sebentar saudara-saudara, biar kutengok dulu si cantik di dalam kereta itu.”

“Berhenti!” bentak Kang Hong dengan murka. Maksudnya ingin mencegah, akan tetapi tak berdaya sebab ia direpotkan oleh berbagai macam senjata aneh lawan-lawannya.

Sementara itu Hek-bian-kun telah melangkah ke sana dengan gedebak-gedebuk dan segera hendak menarik pintu kereta. Pada saat itulah mendadak jendela kereta terbuka sedikit dan terjulurlah sebuah tangan yang putih halus, di antara jari jemari yang putih mulus tanpa cacat itu terjepit setangkai bunga Bwe (sakura).

Bukan bunga Bwe sembarang bunga Bwe tapi bunga Bwe hitam.

Sungguh aneh bin ajaib ada bunga Bwe mekar di musim panas, apalagi bunga Bwe warna hitam.

Tangan yang putih, bunga Bwe yang hitam, sungguh perbedaan yang mencolok dan keindahan yang gaib dan sukar dilukiskan.

Berbareng dengan terulurnya tangan dengan bunga Bwe hitam itu, terdengar pula ucapan dengan nada yang manis, “Coba kalian lihat, apakah ini?”

Serentak muka Hek-bian-kun berkerut-kerut mengejang, tangannya yang hendak menarik daun pintu kereta itu pun mendadak tak bergerak lagi. Senjata paruh ayam dan taji ayam juga berhenti di tengah udara. Keenam bandit yang terkenal ganas itu mendadak seperti kena sihir, semuanya melongo kaku tak berani bergerak.

“Siu-giok-kok, Ih-hoa-kiong!” hanya kedua kalimat ini tercetus dari mulut Hek-bian-kun dengan tergegap-gegap.

“Eh, tajam juga pandanganmu,” ujar orang di dalam kereta.

“Cayhe … hamba ….” gigi Hek-bian-kun gemertuk sehingga tak sanggup melanjutkan ucapannya.

“Kalian ingin mampus atau tidak?” tanya orang di dalam kereta dengan suara halus.

Dengan gemetar Hek-bian-kun menjawab, “Hamba … hamba tidak ….”

“Kalau tidak ingin mampus, kenapa tidak lekas pergi!”

Baru habis ucapan ini, tanpa pamit lagi si merah, si kuning, si belorok dan si hitam, semuanya kabur secepat terbang. Langkah Hek-bian-kun sekarang tidak lamban lagi, napasnya juga tidak kempas-kempis, meski gemuk luar biasa tubuhnya, tapi kecepatan langkahnya kini melebihi siapa pun. Kalau tidak menyaksikan sendiri tentu tiada yang percaya orang segemuk itu mempunyai gerak langkah sedemikian cepat dan gesit.

Kang Hong lantas mendekati jendela kereta dan bertanya dengan nada khawatir, “Engkau tidak … tidak apa-apa bukan?”

“Ah tidak, aku hanya memberi salam saja kepada mereka,” ujar perempuan di dalam kereta dengan tertawa.

Kang Hong menghela napas lega, katanya pula, “Sungguh tak terduga engkau telah membawa setangkai Hek-giok-bwe-hoa (bunga Bwe kemala hitam) dari istana sana, tidak nyana bandit yang jahat seperti Cap-ji-she-shio juga begitu takut pada mereka.”

“Ya, dari itu dapatlah kau bayangkan betapa lihainya mereka,” kata orang dalam kereta “Maka lekas kita berangkat saja, kalau ….”

Tiba-tiba terdengar angin berkesiur, orang-orang yang kabur tadi kini sudah datang kembali, bahkan datangnya terlebih cepat daripada perginya tadi.

“Hehehe, hampir saja kami tertipu,” demikianlah Hek-bian-kun terkekeh-kekeh.

“Apakah kalian tidak takut mati?” gertak Kang Hong, tapi dalam hati, sebenarnya sangat khawatir.

“Hehehe, jika yang berada di dalam kereta benar-benar orang dari Ih-hoa-kiong, mustahil tadi kami dapat kabur dengan hidup!” kata Hek-bian-kun, “Memangnya pernah kau dengar bahwa Ih-hoa-kiongcu suka mengampuni jiwa orang?”

Tiba-tiba orang di dalam kereta menukas, “Sudah kuampuni kalian, mengapa kalian malah ….”

“Barang tiruan, ayolah keluar sini!” bentak Hek-bian-kun, mendadak ia melompat maju, sekali hantam, pintu kereta ditonjoknya hingga ambrol.

Yang duduk dalam kereta memang seorang perempuan, perempuan muda dengan rambut kusut dan wajah pucat seperti orang sakit, walaupun demikian sama sekali tidak mengurangi cantiknya yang mempesona.

Sebenarnya sepasang mata perempuan ini juga tidak begitu jeli, hidungnya juga tidak terlalu mancung, mulutnya juga tidak sangat mungil, namun gabungan dari mata hidung mulut dengan raut mukanya itu sedemikian serasinya sehingga setiap orang yang memandangnya pasti ingin memandang untuk seterusnya, terutama sorot matanya yang penuh mengandung perasaan, pengertian dan kecerdasan yang sukar diukur.

Di luar dari semua itu, ternyata perut perempuan itu membuncit besar, kiranya sedang hamil tua.

Melihat itu, melengak juga Hek-bian-kun, tapi segera ia tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Hahaha! Kiranya seorang perempuan bunting, berani lagi mengaku orang Ih-hoa-kiong ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong perempuan bunting itu melayang keluar, belum lagi Hek-bian-kun menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu ia sudah kena ditempeleng beberapa kali.

Setelah melayang kembali ke tempat duduknya, perempuan muda itu bertanya dengan tersenyum, “Memangnya kenapa kalau perempuan bunting?”

“Hm, main sergap, terhitung apa?” teriak Hek-bian-kun dengan geram dan penasaran, segera ia menghantam pula. Meski tubuhnya gemuk seperti gajah bengkak, tapi pukulannya ini sungguh cepat, keras lagi ganas.

Namun perempuan muda itu tetap mengulum senyum, tangannya yang halus itu menyampuk perlahan, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu pukulan Hek-bian-kun itu tertolak kembali dan “blang”, dengan tepat menghantam pada pundak sendiri.

Dengan jelas Hek-bian-kun melihat kepalan sendiri menghantam pundak sendiri, tapi ia justru tidak mampu mengerem dan juga tidak dapat menghindar. Betapa hebat tenaga Hek-bian-kun dapat dibayangkan ketika sekali tonjok menghancurkan pintu kereta tadi, maka pukulan yang mengenai pundak sendiri ini membuatnya mengerang kesakitan dan jatuh terkapar.

Kawan-kawannya, yaitu si jengger dan si ekor ayam sebenarnya juga sudah bersiap-siap ingin menerjang maju, tapi mereka jadi melongo menyaksikan kawan gemuk mereka itu terjungkal dan karena itu mereka pun tidak berani bergerak lagi.

“Nah, apakah kalian kenal gerak tangan yang kugunakan ini?” tanya perempuan muda itu dengan tertawa sambil mengerling lawan-lawannya.

Dengan suara gemetar Hek-bian-kun berseru, “Ih-hoa-ciap-giok (mencangkok bunga menyambung kemala), setan malaikat sukar menandinginya ….”

“Jika sudah tahu, tentunya sekarang kalian percaya aku ini bukan barang tiruan,” ucap perempuan muda itu.

“Ya, hamba … hamba pantas mam … mampus … sungguh pantas mampus” segera Hek-bian-kun menampar muka sendiri hingga belasan kali, mukanya yang hitam mirip moncong babi seketika bertambah bengkak.

“Ai, betapa pun aku harus berbuat bajik demi anakku,” kata perempuan muda itu dengan menghela napas. “Baiklah, kalian … kalian boleh pergi.”

Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, lari Hek-bian-kun dan begundalnya itu sekali ini terlebih cepat daripada tadi, hanya sekejap saja bayangan mereka pun sudah menghilang. Tapi di tengah remang-remang cuaca itu bagai setan iblis saja sesosok bayangan orang juga berkelebat di kejauhan, mengejar ke arah rombongan Hek-bian-kun.

Melihat musuh sudah menghilang, legalah hati Kang Hong, ia berpaling dan dengan gegetun berkata, “Untung kau turun tangan dan membuat jera mereka, kalau tidak ….” mendadak ia melihat air muka perempuan itu berubah, seperti menahan rasa sakit, tubuh gemetar dan dahi penuh keringat dingin. Cepat ia bertanya dengan khawatir, “Hei, kenapakah engkau?”

“Pe … perutku sakit, agaknya jabang bayi dalam perut bergerak, mungkin … mungkin akan ….”

Kang Hong menjadi kelabakan. “Wah, bagaimana baiknya ini?” katanya dengan gelisah.

“Lekas bawa keretamu ke tepi jalan, lekas … lekas!” desis si perempuan dengan suara serak.

Dengan tergopoh-gopoh Kang Hong menghalau keretanya ke tengah semak rumput di tepi jalan, kuda meringkik, Kang Hong tiada hentinya mengusap keringat, akhirnya ia pun menyusup ke dalam kereta.

Sejenak kemudian, pintu kereta yang sudah hancur itu tertutup oleh kain baju. Terdengar suara keluhan terputus-putus di dalam kereta. “Kakak Hong, sungguh aku takut … takut sekali.”

“Tidak perlu takut, tabahkan hatimu … sebentar lagi semuanya akan beres.”

“Tapi aku … aku takut, kakak Hong, peganglah … peganglah tanganku, peganglah yang erat …. ”

“Ya, ya … tanganku terasa lemas juga. Tabahlah, sabar … sabar ….”

Suara keluhan yang menahan rasa sakit itu berlangsung sekian lama, tiba-tiba dari dalam kereta tersiar suara tangis jabang bayi yang keras lantang.

Selang sejenak pula, terdengar seruan Kang Hong yang kegirangan, “Hei, anak kembar … kembar dua ….”

Lewat agak lama, dengan mandi keringat dan penuh rasa gembira Kang Hong menerobos keluar kereta. Tetapi ke mana tatapnya sampai, seketika ia melengak kaget.

Ternyata rombongan Hek-bian-kun yang lari sipat kuping tadi kini sudah berdiri pula di depan kereta, dengan sorot mata yang dingin mereka mengawasi Kang Hong tanpa berkedip.

Sebisanya Kang Hong bersikap tenang, tapi tidak urung air mukanya berubah pucat, tanpa terasa ia berucap, “Ka … kalian kembali lagi?!”

“Hehe, Kang-kongcu terkejut ya?” si jengger ayam menyeringai ejek.

“Apakah kalian ingin mampus?!” gertak Kang Hong.

“Hahahaha! Ingin mampus? ….” Hek-bian-kun terbahak-bahak.

“Memangnya kalian belum kapok terhadap kelihaian ilmu Siu-giok-kok, Ih-hoa-kiong?” bentak Kang Hong pula.

“Hehe, orang she Kang, kukira kau tidak perlu berlagak pilon,” jengek Hek-bian-kun. “Kita tahu sama tahu, yang dikehendaki kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong saat ini justru adalah jiwa kalian berdua dan bukanlah kami.”

Keringat meleleh melalui hidung Kang Hong yang mancung itu terus merembes ke mulutnya, namun bibirnya terasa kering, ia menjilat bibir, lalu berkata dengan tertawa, “Haha, kukira kalian sudah gila, masakah kedua Kiongcu Ih-hoa-kiong menginginkan jiwaku? …. aha, apakah kau tahu siapa yang berada di dalam kereta ini?”

“Huh, siapa yang berada di dalam kereta? Memangnya kau sangka aku tidak tahu? Dia tidak lebih adalah budak pelarian dari Ih-hoa-kiong, memangnya kau ingin menggertak kami?” demikian jengek si jengger ayam.

Tergetar hati Kang Hong, walaupun ia berusaha tetap tertawa, namun lebih tepat dikatakan menyengir.

Hek-bian-kun terkekeh-kekeh, katanya, “Kang-kongcu terkejut lagi bukan? Mungkin kau ingin tanya dari mana kami tahu urusan ini? Hehe, inilah rahasia besar, betapa pun kau tak dapat menerka dan juga tidak pernah membayangkannya.”

Ya, memang betul inilah rahasia, rahasia besar. Bahwasanya Kang Hong sengaja kabur meninggalkan rumahnya justru disebabkan ingin menghindari pengejaran kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong.

Rahasia ini boleh dikatakan tidak diketahui oleh siapa pun kecuali dia sendiri dan istrinya, tapi sekarang orang-orang dari Cap-ji-she-shio ini justru mengetahui juga. Dari manakah mereka mendapat tahu?

Sungguh Kang Hong tidak habis mengerti, tapi ia pun tidak mau memikirkannya lagi, wanita yang baru melahirkan itu sedang merintih, si jabang bayi sedang menangis, tapi di sekitar kereta ini berjajar kawanan bandit yang sudah biasa membunuh orang tanpa berkedip.

Secepat kilat Kang Hong menerjang maju, namun sinar golok lantas berkelebat, ia sudah diadang oleh si baju kuning, si dada ayam.

Sepasang golok menyerupai sayap ayam tipis laksana kertas, tapi buatan dari baja murni, tajamnya tidak kepalang, dalam sekejap saja tubuh Kang Hong sudah terkurung di tengah cahaya golok.

Kang Hong tidak gentar, sebaliknya malah menerjang, ia menyelinap kian kemari di tengah jaringan sinar golok lawan, secepat kilat ia samber pergelangan tangan si baju kuning, sekali tarik dan puntir, sebuah golok musuh sudah dirampasnya. Menyusul sebelah kakinya menendang perut si baju kuning, sedangkan golok rampasan menebas ke belakang untuk menangkis serangan si jengger ayam, menyusul mana tubuhnya menerobos ke sana di bawah cakar ayam, sekaligus goloknya terus membacok Hek-bian-kun.

Beberapa gerak serangan itu dilakukannya dengan cepat, ganas, tepat dan berbahaya pula, senjata-senjata musuh hampir semuanya menyerempet lewat bajunya.

Meski Hek-bian-kun sempat mengelakkan bacokan Kang Hong, tidak urung ia pun kaget hingga berkeringat dingin, cepat ia balas menyerang sambil memperingatkan kawan-kawannya, “Awas, bocah ini sudah nekat!”

Apabila seseorang sudah nekat, sepuluh orang pun repot menghadapinya. Hal ini cukup diketahui kawanan bandit itu. Maka mereka tidak berani menghadapi Kang Hong secara berhadapan, mereka terus menggeser kian kemari untuk mengulur waktu.

Serangan Kang Hong semakin kalap, tapi selalu mengenai tempat kosong. Hek-bian-kun terus menerus tertawa mengejek. Si baju kuning meski sudah kehilangan sebuah goloknya, tapi golok yang masih ada itu terkadang juga melancarkan serangan maut. Empat pasang taji ayam juga bekerja sama dengan rapat, serangannya gencar sukar diduga dan membuat Kang Hong mati kutu. Belum lagi si baju merah, si jengger ayam, ia menyelinap kian kemari dan mematuk dengan paruh baja yang lihai.

Rambut Kang Hong sudah semrawut, suaranya serak, demi membela jiwa kekasihnya, si mahacakap ini kini tampaknya sudah menyerupai binatang gila. Percuma dia bertempur mati-matian, singa yang sudah masuk perangkap, sekalipun mengadu jiwa juga sudah tiada gunanya.

Senja semakin remang, suasana semakin tegang. Pertarungan sengit ini sungguh menggetar sukma, juga mengerikan.

Kang Hong sudah mandi darah bercampur keringat, imbalannya adalah tertawa ejek yang menggila dari pihak musuh.

“Kakak Hong, hati-hatilah ….” demikian terdengar rintihan dari dalam kereta. “Asalkan engkau sabar, mereka pasti bukan tandinganmu!”

Mendadak Hek-bian-kun melompat ke sana, sekaligus ia tarik tirai kereta. Untuk sejenak ia melengak, tapi segera ia tertawa menyeringai, “Aha, besar juga rezeki anak keparat ini. Ternyata melahirkan kembar dua!”

“Minggir, bangsat!” teriak Kang Hong dengan suara parau.

Dengan kalap ia menerjang maju, tapi sekali sampuk ia tertolak mundur. Dengan nekat ia menubruk maju pula, kembali didesak mundur dan begitulah hingga terjadi beberapa kali dan tetap tidak berhasil tercapai maksudnya. Mata Kang Hong sudah merah beringas.

Dalam pada itu sebelah kaki Hek-bian-kun sudah naik ke undakan kereta sambil cengar-cengir.

“Bangsat!” teriak si wanita dengan suara serak sambil merangkul kencang kedua anak bayinya. “Kau … kau berani ….”

“Hehehe!” Hek-bian-kun terkekeh-kekeh. “Manisku, jangan khawatir, takkan kuganggu kau. Hehe, nanti kalau kau sudah sehat, malahan aku ingin … ingin … hahaha ….”

“Bangsat,” teriak Kang Hong murka. “Jika kau berani menyentuhnya ….”

Mendadak Hek-bian-kun mencolek pipi perempuan cantik yang baru melahirkan itu dan mendengus, “Hm, ini, sudah kusentuh dia, kau mau apa?”

Kang Hong menggerung kalap dan menerjang pula, tapi karena cemasnya, permainan goloknya menjadi kacau, serentak senjata musuh yang beraneka ragam itu menghujani tubuhnya, pundak, dada, punggung, seketika terluka dan mengucurkan darah.

“Hati-hati, kakak Hong!” Dengan suara gemetar si perempuan berpesan pula.

“Hehe, kakak Hong-mu segera akan berubah menjadi setan?” ejek Hek-bian-kun dengan tertawa.

Dengan berlumuran darah Kang Hong berteriak kalap, “Biarpun menjadi setan takkan kuampuni kalian !”

Suara teriakan kalap bercampur dengan suara gembira dan jeritan ngeri diseling pula tangisan bayi. Suasana yang menyayat hati itu sekalipun manusia berhati baja juga pasti akan luluh.

Darah sudah memenuhi muka dan tubuh Kang Hong, keadaannya sudah payah. Mendadak perempuan dalam kereta berteriak histeris, “Biar kuadu jiwa denganmu!” Mendadak ia meninggalkan bayinya terus menubruk ke arah Hek-bian-kun, sepuluh jarinya terus mencengkeram leher lawan.

Akan tetapi sekali tangkis segera perempuan itu ditolak balik ke dalam kereta. Dengan terkekeh Hek-bian-kun berkata, “Hehehe, manisku, ke mana perginya kelihaianmu tadi?… Hehehe, perempuan, perempuan yang harus dikasihani, sebab apakah kalian harus melahirkan anak ….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong perempuan itu telah merangkulnya dengan nekat, mulutnya terus menggigit tenggorokan lawan.

Keruan Hek-bian-kun mengerang kesakitan dan darah pun mengucur. Itulah darah yang jahat, darah berbau busuk, tapi darah yang berbau anyir itu membuat si perempuan merasa puas, puas karena berhasil membalas sakit hatinya.

Saking sakitnya Hek-bian-kun terus menonjok dengan kepalan dan kontan tubuh perempuan itu mencelat, menumbuk kereta dan jatuh terkapar tak sanggup bangun lagi. Walaupun begitu bagaimana rasa darah musuhnya sudah berhasil dicicipinya.

“Kakak Hong,” dengan suara lemah ia berseru dengan terputus-putus, “Lekas larilah … lekas, jangan … jangan menghiraukan kami. Asalkan aku sudah mati, kedua kakak beradik Kiongcu tentu takkan … takkan membuat susah padamu ….”

“Tidak, engkau takkan mati, adindaku!” teriak Kang Hong.

Ia berusaha menerjang maju lagi, ia tidak ambil pusing akan beraneka macam senjata musuh yang menghujani tubuhnya itu. Tubuhnya sudah terkoyak-koyak, darah daging berhamburan.

Tapi dia masih terus berusaha menerjang maju. Namun sebelum tiba di depan sang istri ia sudah jatuh terguling.

Perempuan muda itu menjerit dan merangkak ke sini, Kang Hong juga berusaha merangkak ke sana. Tiada sesuatu yang mereka harapkan lagi kecuali mati bersama menjadi satu.

Akhirnya tangan mereka saling bergenggam, keduanya tersenyum bahagia. Akan tetapi mendadak sebelah kaki Hek-bian-kun lantas menginjak dengan kuat sehingga dua buah tangan terinjak hancur.

“Kau … kau keji amat!” teriak perempuan itu dengan histeris.

“Hehehe, baru sekarang kau tahu kekejianku!” Hek-bian-kun menyeringai.

“Akan kuberikan se … segalanya padamu,” ucap Kang Hong dengan kalap, “yang kuharap hanya biarkanlah kami mati menjadi satu.”

“Huh, sudah terlambat baru sekarang kau berkata demikian,” ujar Hek-bian-kun dengan tertawa. “Hehe, kalian tentunya sangat gembira ketika tadi kalian menipu dan menempelengku. Sekarang akan kusaksikan kalian mati dengan perlahan, takkan kubiarkan kalian mati menjadi satu.”

“Sebab … sebab apa?” tanya si perempuan. “Kami tiada … tiada permusuhan apa pun dengan kalian.”

“Baiklah kukatakan padamu,” tutur Hek-biankun. “Soalnya aku sudah menyanggupi permintaan seseorang, dia minta aku bertindak jangan sampai membiarkan kalian mati bersama.”

“Siapa … siapakah dia?” tanya Kang Hong.

“Hehehe, boleh kau renungkan sendiri saja,” ujar Hek-bian-kun dengan tertawa.

Pada saat itulah si baju kuning, dan si dada ayam, mendadak melompat maju dengan wajah yang kaku tanpa emosi itu. “Babat rumput harus sampai akar-akarnya, anak haram mereka juga tidak boleh dibiarkan hidup.”

“Ya, benar!” tukas Hek-bian-kun.

Tanpa bicara lagi si baju kuning lantas angkat golok terus membacok jabang bayi yang tertinggal di dalam kereta.

Kang Hong meraung kalap, tapi istrinya hanya melenggong, bersuara pun tidak sanggup. Keduanya sama-sama tak bisa berkutik.

Syukurlah pada detik yang menentukan itu, sewaktu golok itu menyambar ke bawah, tiba-tiba terdengar suara “krek” sekali, tahu-tahu golok itu patah menjadi dua.

Tidak kepalang kaget si baju kuning, cepat ia melompat mundur dan membentak, “Sia … siapa?”

Padahal selain begundalnya serta kedua orang yang sedang sekarat di tanah itu tiada terlihat bayangan seorang pun. Tapi mengapa goloknya yang tergembleng dari baja murni itu bisa patah tanpa sebab?

“Apa-apaan ini?” tanya si jengger dengan penasaran.

“Sialan! Mungkin ada setan!” ujar si baju kuning. Cepat ia melompat maju, golok buntungnya segera membacok si bayi.

Tak terduga kembali terdengar “krek”, golok yang sudah buntung itu patah menjadi dua pula. Padahal disaksikan oleh beberapa pasang mata, namun tiada seorang pun mengetahui cara bagaimana golok itu dipatahkan.

Pucat air muka si baju kuning, katanya dengan suara gemetar, “Setan, benar-benar ada setan!”

Hek-bian-kun berpikir sejenak, tiba-tiba berkata, “Biar kucoba!”

Ia jemput golok yang ditinggalkan Kang Hong tadi dan mendekati kereta, dengan menyeringai terus membacok, bacokan yang keras dan lebih cepat.

Tapi baru saja goloknya bergerak tahu-tahu pergelangan tangannya tergetar, meski goloknya tidak patah, tapi tergumpil dan jatuh.

“Memang benar ada serangan gelap orang!” ujar si jengger dengan waswas.

Kini Hek-biang-kun tidak sanggup tertawa lagi, katanya dengan keder, “Kita tidak dapat melihat senjata rahasianya, bentuknya tentu sangat lembut, orang ini mampu mematahkan golok dengan sambitan senjata rahasia lembut … wah, betapa hebat gerak tangannya dan betapa lihai Lwekangnya.”

“Di dunia ini mana ada orang selihai ini?” ujar si baju kuning “Wah, jangan jangan … jangan-jangan dia ….” tanpa terasa ia bergidik dan tidak sanggup melanjutkan.

Kang Hong yang sedang sekarat pun melongo kaget, gumamnya, “Ah, dia (perempuan) sudah datang … pasti dia yang datang ….”

“Dia? Dia siapa?” tanya Hek-biang-kun. “Apakah … apakah Yan Lam-thian?”

“Yan Lam-thian?” tiba-tiba tukas suara seorang. “Hm, Yan Lam-thian terhitung kutu busuk macam apa?”

Nada suara itu sedemikian merdu, lincah dan kekanak-kanakan pula. Sungguh mengejutkan di tempat sunyi dan jauh dari penduduk ini mendadak terdengar suara demikian.

Tanpa menengadah juga Kang Hong dan istrinya tahu siapa yang datang itu. Seketika air muka mereka berubah pucat. Bahkan Hek-bian-kun dan begundalnya juga kaget dan cepat menoleh. Ternyata di tengah remang-remang senja sunyi itu entah sejak kapan sudah berdiri di situ sesosok bayangan tubuh wanita yang ramping, padahal mereka tergolong jagoan kelas tinggi, namun sama sekali tidak mengetahui bilakah datangnya wanita itu.

Kalau didengar dari suaranya orang tentu menyangka pembicara ini adalah anak dara yang cantik lagi kekanak-kanakan. Tapi yang berhadapan sekarang ternyata adalah seorang wanita yang sedikitnya berusia likuran, pakai baju bersulam model putri istana, gaun panjang menyentuh tanah, rambutnya terurai hingga bahu, senyumnya yang manis dengan kerlingan matanya yang hidup itu penuh mengandung kecerdasan yang sukar dilukiskan dan juga sifat kekanak-kanakannya yang sepantasnya tidak dimiliki wanita seusia dia.

Siapa pun juga, asal memandang sekejap saja padanya akan segera memaklumi dia pasti seorang berwatak yang sangat ruwet sehingga jangan harap akan dapat menyelami jalan pikirannya. Tapi barang siapa yang telah memandangnya sekejap, tentu pula akan terpesona pada kecantikannya yang jarang ada bandingannya serta melahirkan rasa kasihan yang mengibakan.

Ternyata wanita yang mahacantik itu justru dilahirkan dalam keadaan cacat badaniah, cacat jasmani, lengan baju dan gaunnya yang panjang itu tidak dapat menyelubungi cacat pada tangan dan kaki kirinya itu.

Setelah tahu jelas siapa wanita ini, meski tetap mengunjuk rasa jeri dan hormat, tapi rasa kaget dan gelisah Hek-bian-kun tadi sudah banyak berkurang, segera ia memberi hormat dan menyapa, “Apakah Ji-kiongcu (putri kedua) dari Ih-hoa-kiong?”

“O, kau kenal aku?” jawab si cantik berpakaian istana itu.

“Siapa di dunia ini yang tidak kenal akan kebesaran nama Lian-sing Kiongcu,” ujar Hek-bian-kun dengan menyengir.

“Manis juga mulutmu, pintar mengumpak,” kata si cantik alias Lian-sing Kiongcu. “Tampaknya kau toh tidak takut padaku.”

Lekas-lekas Hek-bian-kun munduk-munduk dan menjawab, “Ah, hamba … hamba ….”

Dengan tertawa Lian-sing-Kiongcu berkata, “Sudah sebanyak ini kau berbuat kejahatan dan ternyata tidak takut padaku, sungguh ini suatu hal aneh. Apakah kau tidak tahu bahwa segera akan kucabut nyawa kalian?”

Air muka Hek-bian-kun berubah pucat, tapi sedapatnya ia bersikap tenang dan menanggapi, “Ah, Kiongcu suka bergurau.”

“Bergurau?” Lian-sing Kiongcu terkikik. “Kau telah menganiaya dayangku, kalau kubiarkan kau mati begitu saja sudah murah bagimu, masak kau sangka aku bergurau denganmu?”

Tanpa pikir Hek-bian-kun menjawab, “Tapi, tapi ini atas … atas perintah Kiau-goat Kiongcu ….”

Belum habis ucapannya, “plak-plok”, berturut-turut ia kena ditempeleng beberapa kali, mirip benar seperti dia menempeleng Kang Hong tadi, tapi tempelengan sekarang jauh lebih keras, kontan mulutnya penuh darah dan gigi pun rontok sebagian.

“Hm, masakah nama Ciciku boleh sembarangan kau sebut?” jengek Lian-sing Kiongcu dengan kereng, dia tetap berdiri di tempatnya tadi seperti tak pernah bergeser sedikit pun.

Si jengger ayam dan kawan-kawannya pucat dan ketakutan setengah mati. Dengan suara gemetar si jengger bermaksud memperkuat keterangan kawannya, ia berkata, “Me … memang betul Kiau ….”

Belum lengkap ia menyebut nama Kiau-goat Kiongcu, tahu-tahu ia pun kena ditempeleng belasan kali sehingga tubuhnya yang kecil itu sampai mencelat.

“Aneh,” kata Lian-sing Kiongcu dengan tertawa, “tampaknya kalian tidak percaya jika kuhendak mencabut nyawa kalian? … ah ….” Di tengah keluhan menyesal itu sekonyong-konyong ia mengitari si baju kuning yang bertubuh jangkung itu satu kali, orang hanya melihat bayangan berkelebat dan entah cara bagaimana turun tangannya, tahu-tahu si baju kuning sudah roboh terkapar tanpa bersuara.

Salah seorang ekor ayam berbaju warna-warni belorok coba menjenguk kawannya itu, mendadak ia menjerit kaget, “Dia … dia sudah mati!”

“Nah, sekarang kalian mau percaya tidak?” ujar Lian-sing Kiongcu tertawa.

Si belorok tadi menjerit parau, “Engk … engkau kejam benar!”

“Hm, mati seorang saja kenapa mesti kaget dan heran?” ujar Lian-sing Kiongcu tertawa. “Memangnya orang yang pernah kalian bunuh belum cukup banyak? Kalau kalian mati sekarang kukira cukup setimpal!”

Rupanya mereka pikir daripada mati konyol akan lebih baik melawan sebisanya saja. Mendadak sorot mata si jengger ayam menjadi beringas, ia memberi tanda, bersama tiga pasang cakar ayam serentak menerjang ke arah Lian-sing Kiongcu.

Terdengarlah suara “trang-tring” diselingi jerit mengerikan berturut-turut, di tengah-tengah berkelebatnya bayangan sang putri yang lemah gemulai, tiga orang berbaju belorok sudah roboh dua, sisa seorang lagi cepat melompat mundur dan tangannya sudah kosong, ia berdiri melongo mematung. Cara bagaimana lawan membinasakan kawan-kawannya dan cara bagaimana menghindarkan serangan mereka serta cara bagaimana merampas senjata mereka, semuanya tak diketahuinya sama sekali, dalam sekejap tadi ia seperti baru bermimpi buruk saja tanpa menyadari apa yang terjadi.

Ketika Lian-sing Kiongcu mengebaskan lengan bajunya, terdengarlah suara gemerinting, beberapa celurit bentuk taji tajam ayam itu jatuh berserakan di tanah, hanya sebilah celurit masih dipegangnya. Setelah dipandangnya sekejap ia tertawa dan berkata, “Eh, kiranya inilah cakar ayamnya. Entah bagaimana rasanya?”

“Kletak”, mendadak mulutnya yang mungil itu mengertak celurit itu dan senjata buatan dari baja itu seketika tergigit patah mentah-mentah.

Melihat perempuan yang berusia baru likuran ini memiliki kesaktian sedemikian tinggi, bahkan setiap anggota tubuhnya seakan-akan memiliki kungfu yang sukar dibayangkan, keruan Hek-bian-kun dan Su-sin-khek, si babi dan si ayam jantan dari kawanan bandit Cap-ji-she-shio itu tidak berani berkutik lagi.

“Ai, cakar ayam ini tidak enak!” kata Lian-sing Kiongcu sambil menggeleng, “Brrr”, mendadak ia menyemprot perlahan celurit baja patah yang tergigit oleh mulutnya itu, ke mana sinar perak berkelebat, tahu-tahu si baju belorok yang masih tersisa itu pun menjerit ngeri sambil mendekap mukanya dan terguling-guling di tanah dengan darah merembes keluar dari sela-sela jarinya, habis berkelejetan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi. Tangan yang mendekap mukanya juga terbuka, remang-remang kelihatan mukanya beringas dan berlumuran darah, kiranya setengah potong celurit tadi telah menghancurkan tulang kepalanya.

Serentak Hek-bian-kun berlutut dan menjura, mohonnya dengan suara gemetar, “Ampun Kiongcu! Ampun ….”

Tapi Lian-sing Kiongcu tidak menggubrisnya, sebaliknya ia malah tanya si baju merah alias jengger ayam, “Nah, bagaimana aku punya kungfu?”

“Ter … terlalu hebat, selama … selama hidup hamba tidak pernah me … menyaksikan kungfu selihai ini, bahkan … bahkan mimpi pun hamba tak pernah membayangkan kungfu setinggi ini,” demikian jawab si jengger dengan tergegap-gegap.

“Dan kau takut atau tidak?” tanya sang Putri.

Sungguh mati, selama hidup si jengger ini tidak pernah ditanyai orang seperti anak kecil ini. Akan tetapi sekarang tiada jalan lain baginya kecuali menjawab dengan munduk-munduk, “Ya, takut … takut, takut sekali.”

“Kalau takut, kenapa tidak minta ampun?”

Tanpa disuruh lagi segera si jengger menyembah dan memohon dengan setengah menangis, “Ya, ampun Kiongcu ….”

Lian-sing mengerling hina, katanya kemudian dengan tertawa, “Jika jiwa kalian ingin kuampuni, sederhana juga caranya, asal saja kalian masing-masing memukul aku satu kali.”

“Mana hamba berani,” cepat si jengger menjawab.

“Ya, betapa pun hamba tidak berani,” Hek-bian-kun menambahkan.

“Jadi kalian tidak ingin hidup?” tanya sang Putri dengan mendelik.

Pertanyaan demikian selama ini biasanya diajukan oleh Hek-bian-kun dan Su-sin-khek kepada orang lain, dan bila perlu tanpa mendapat jawaban senjata mereka pun lantas menyambar dan habis perkara. Tapi sekarang justru pertanyaan ini diajukan kepada mereka sendiri. Keruan mereka menyengir serba susah.

Tapi apa daya, mau tak mau mereka terpaksa menjawab, “Ya, hamba ingin hidup.”

“Kalau ingin hidup, nah, lekas pukul seperti kataku tadi!”

Hek-bian-kun saling pandang sekejap dengan Su-sin-khek, akhirnya mereka terpaksa melangkah maju.

“Nah, memangnya kenapa mesti takut, pukul saja sesuka kalian, makin keras makin baik dan pasti takkan kubalas,” demikian Lian-sing Kiongcu tertawa. “Tetapi, kalau pukulan kalian terlalu ringan … hm, awas!”

Sungguh aneh bin heran, untuk mengampuni jiwa orang justru orang-orang itu disuruh memukulnya. Walaupun ragu-ragu, diam-diam si jengger membatin apa salahnya jika dia benar-benar menghantam sekuatnya, kalau sekali gitik dengan paruh ayamnya berhasil membinasakan orang, kan untung malah. Andaikan tidak berhasil juga tidak menjadi soal, bukankah sang putri sendiri yang menyuruhnya menyerang?

Sudah tentu Hek-bian-kun juga timbul pikiran yang sama, ia pikir betapa pun kepandaianmu, asal kau tidak menangkis dan membalas, sekali jotos tubuhmu pasti dapat kubikin peyot.

Begitulah dua orang satu pikiran, serentak mereka mengiakan perintah Lian-sing Kiongcu, akan tetapi lagaknya masih pura-pura sungkan.

“Ayolah, tunggu apalagi?” omel Lian-sing Kiongcu dengan tertawa.

Mendadak Hek-bian-kun menubruk maju, kedua kepalan menghantam sekaligus dengan keras, ditambah lagi bobot tubuhnya yang beratus-ratus kati itu, tentu saja daya pukulannya bukan alang kepalang dahsyatnya. Akan tetapi di antara pukulan dahsyat itu justru membawa gerakan yang lincah dan gesit serta yang sukar diraba, pada detik terakhir barulah jelas arah yang menjadi sasarannya, yaitu hulu hati Lian-sing Kiongcu.

Pukulan ini merupakan intisari ilmu silat yang diyakinkan Hek-bian-kun, jurus ini bernama “Sin-tu-hoa-jio” atau si babi sakti sekuat gajah, dengan jurus pukulannya ini entah betapa banyak tokoh kalangan Kangouw telah dirobohkannya.

Dalam pada itu Su-sin-khek, si jengger ayam, secepat terbang juga melayang maju, senjata paruh ayamnya gemerlap mencocok berbagai Hiat-to di bagian dada Lian-sing Kiongcu.

Dengan sendirinya serangan si jengger ini pun merupakan jurus maut yang jarang digunakannya. Jurus ini bernama “Sih-keh-thi-sing” atau ayam berkokok di waktu subuh. Konon dengan jurus ini saja pernah sekaligus dia membinasakan delapan piausu (jago pengawal) dari perusahaan pengawal “Wi-bu-piaukiok”.

“Eh, boleh juga!” Lian-sing Kiongcu berseloroh.

Di tengah suara tertawa yang merdu, sekali telapak tangan kanannya meraih perlahan bagai kupu-kupu menyelinap di antara hujan gerimis, lalu sekali lagi melingkar balik, tahu-tahu si jengger ayam merasa serangannya yang lihai kehilangan sasaran secara membingungkan, tangan sendiri seperti tidak mau menurut perintah. Maksudnya ingin menyerang ke kanan, tapi justru menyambar ke kiri, ingin dihentikan, justru tetap menyelonong ke depan. Tanpa ampun lagi, terdengarlah suara “crat-cret” dua kali disusul pula dengan dua kali jeritan ngeri.

Lian-sing Kiongcu masih tetap berdiri di tempatnya dengan tertawa tanpa bergerak, sebaliknya Hek-bian-kun sudah terjungkal, sedangkan Su-sin-khek alias si jengger ayam mencelat jauh ke semak-semak rumput sana, merintih sebentar, lalu tak bersuara lagi.

Pada dada Hek-bian-kun tampak menancap paruh baja si jengger ayam, dengan meringis menahan sakit ia cabut paruh baja itu, darah seketika menyembur bagai air mancur, dengan suara gemetar ia berkata, “Kau … kau ….”

“Aku kan tidak melukai kalian,” ujar Lian-sing Kiongcu sambil tertawa. “Kalian sendiri yang saling hantam. Ai, apa sih gunanya?”

Mata Hek-bian-kun melotot gusar menatap sang putri, bibirnya bergerak seperti ingin bicara sesuatu, tapi sepatah kata pun tak sempat terucap dan untuk selamanya takkan terucap lagi.

Lian-sing-Kiongcu bergumam sendiri, “Jika kalian tidak berpikir ingin membinasakan aku dan cara menyerang kalian agak ringan, tentu jiwa kalian takkan melayang, betapa pun aku sudah memberi kesempatan hidup kepada kalian bukan? Salah kalian sendiri!”

Di sebelah sana Kang Hong dan istrinya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi di sebelah sini. Mereka sedang meronta ingin masuk ke dalam kereta untuk memondong jabang bayi yang sedang menangis itu, tangan mereka baru saja sempat meraba gurita si bayi, pada saat itu juga sebuah tangan mendorong jabang bayi itu menjauhi tangan Kang Hong berdua.

Tangan yang menyingkirkan jabang bayi itu tampak putih mulus dengan lengan baju sutera putih pula, namun tangan yang mulus itu ternyata lebih halus daripada kain suteranya.

“Berikan . . . berikan padaku ….” pinta Kang Hong dengan suara parau.

“Ji-kiongcu, kumohon, sudilah … sudilah engkau menyerahkan orok itu kepadaku,” si perempuan yang baru melahirkan itu pun memohon.

“Goat-loh,” jawab Lian-sing Kiongcu dengan tertawa, “Bagus sekali kau, sungguh tidak nyana kau melahirkan anak bagi Kang Hong.”

Meski bicaranya seraya tertawa, namun tertawa yang pedih, hampa, penuh rasa benci dan dendam.

Hoa Goat-loh, perempuan yang baru melahirkan itu berkata, “Kiongcu, hamba … hamba bersalah … bersalah padamu, nam … namun anak ini tidak berdosa, sudilah engkau mengampuni mereka.”

Termangu Lian-sing Kiongcu memandang sepasang anak kembar itu sambil bergumam, “Ehm, anak yang montok, sungguh menyenangkan … alangkah baiknya jika menjadi anakku ….” mendadak matanya menatap Kang Hong, dengan penuh rasa benci dan dendam, menyesal dan juga kecewa. Sejenak kemudian barulah dia berucap dengan perasaan hampa, “Kang Hong, kenapa kau lakukan hal ini? Kenapa?”

“Tidak kenapa-apa, sebab aku cinta padanya,” jawab Kang Hong tegas.

“Kau mencintai dia?” teriak Lian-sing Kiongcu dengan suara serak. “Kau mencintai seorang babu? Dalam hal apa Ciciku tidak melebihi budak ini? Kau dilukai orang, Ciciku membawamu ke rumah dan merawatmu, selama hidupnya tidak pernah berbuat sebaik itu kepada orang lain, tapi … tapi dia justru begitu kesengsem padamu. Sebaliknya … sebaliknya kau malah … malah minggat bersama babunya.”

Dengan ketus Kang Hong menjawab, “Baik, karena kau ingin tahu, biarlah kujelaskan. Cicimu pada hakikatnya bukan manusia, dia cuma segumpal api, sepotong es, sebilah pedang, bahkan boleh dikatakan setan, malaikat, tapi sama sekali bukan manusia. Sedangkan dia ….” sampai di sini ia mengalihkan pandangnya kepada Hoa Goat-loh, istrinya, dengan suara lembut ia menyambung pula, “Dia … dia adalah manusia, manusia sejati, manusia suci bersih. Dia sangat baik padaku, dapat memahami isi hatiku, menyelami jiwaku. Di dunia ini hanya dia seorang yang mencintai hatiku, sukmaku dan bukan cuma kesengsem pada wajah dan ragaku ini.”

“Plak!” mendadak pipi Kang Hong ditampar sekali oleh Lian-sing Kiongcu dan bentaknya, “Ayo katakan … katakan lagi!”

“Inilah isi hatiku yang harus kuucapkan, kenapa tidak boleh kukatakan?” jawab Kang Hong tegas.

“Kau hanya tahu dia sangat baik padamu, akan tetapi apakah kau tahu bagaimana … bagaimana diriku ini padamu?” ucap Lian-sing Kiongcu. “Sekalipun wajahmu ini buruk, biarpun wajahmu jelek bagai setan juga kutetap … tetap ….” sampai di sini suaranya menjadi lemah dan tidak sanggup melanjutkan lagi.

“Jadi … jadi Ji-kiongcu, engkau … engkau juga ….” dengan suara terputus-putus Hoa Goat-loh berkata. Baru sekarang ia paham isi hati bekas junjungannya itu.

“Ya, memangnya aku tidak boleh menaruh hati padanya? Apakah aku tidak boleh mencintai dia?” seru Lian-sing Kiongcu penasaran. “Apakah lantaran badanku cacat, maka aku tidak … tidak berhak mencintai orang yang kucintai? …. Orang cacat kan manusia, juga perempuan?!”

Dalam sekejap itu putri yang agung itu mendadak berubah sama sekali, sejenak sebelumnya dia adalah manusia super yang berkuasa menentukan mati-hidup seseorang secara tak terbantahkan. Tapi kini dia tidak lebih hanya seorang perempuan belaka, seorang perempuan lemah yang bernasib malang dan harus dikasihani. Air mata tampak meleleh di pipinya.

Sukar dipercaya bahwa tokoh ajaib, manusia super yang hampir menyerupai dongeng di dunia Kangouw ini ternyata juga bisa mengucurkan air mata. Seketika Kang Hong dan Hoa Goat-loh melenggong memandangi putri yang agung tapi cacat badan itu.

Selang agak lama, dengan lesu Hoa Goat-loh berkata, “Ji-kiongcu, toh aku tak dapat hidup lagi, selanjutnya … selanjutnya dia (maksudnya Kang Hong) akan menjadi milikmu, maka kumohon sukalah engkau menolongnya, kuyakin hanya engkau saja yang sanggup menyelamatkan dia.”

Tergetar tubuh Lian-sing Kiongcu, “selanjutnya dia akan menjadi milikmu”, kalimat ini seperti anak panah menancap hulu hatinya.

Tapi mendadak Kang Hong bergelak tertawa, tertawa yang rawan, tertawa yang jauh lebih memilukan daripada tangis siapa pun juga. Sorot matanya yang sayu menatap Hoa Goat-loh, katanya dengan pedih, “Menyelamatkan diriku? …. Di dunia ini siapa yang mampu menyelamatkan jiwaku? Jika engkau mati, masakah aku dapat hidup sendirian? …. O, Goat-loh, masakah sampai saat ini engkau masih belum memahami diriku?”

Hoa Goat-loh menahan air matanya yang hampir bercucuran pula, jawabnya dengan suara lembut, “Aku paham, tentu saja kupahami dirimu, tapi kalau engkau mati, siapalagi yang akan mengurus anak-anak kita?”

Suaranya kemudian berubah menjadi rintihan sedih, ia genggam tangan sang suami dan berkata pula dengan air mata berlinang. “Inilah dosa perbuatan kita. Kita tidak berhak meninggalkan dosa akibat perbuatan kita kepada keturunan kita, sekalipun kau … kau pun tidak boleh, tidak berhak mengelakkan kewajiban dengan jalan mencari kematian.”

Kang Hong tidak sanggup tertawa pilu pula, giginya yang tergigit sampai gemertukan.

“Kutahu, mati memang jauh lebih mudah dan hidup akan lebih sukar dan banyak duka derita,” kata Hoa Goat-loh pula dengan suara gemetar. “Tapi … tapi kumohon, sudilah … sudilah engkau bertahan hidup demi anak-anak kita.”

Air mata membasahi wajah Kang Hong, seperti orang dungu saja dia bergumam, “Aku harus hidup? … Benarkah aku harus bertahan hidup ….”

“Ji-kiongcu,” pinta Hoa Goat-loh kepada sang putri, “betapa pun engkau harus menyelamatkan dia. Apabila engkau memang pernah jatuh cinta padanya, maka engkau tidak layak menyaksikan kematiannya di depanmu.”

“Begitukah?” ucap Lian-sing Kiongcu dengan acuh tak acuh.

“Kuyakin engkau pasti dapat menyelamatkan dia … pasti dapat,” seru Hoa Goat-loh dengan parau.

Lian-sing Kiongcu menghela napas panjang, katanya, “Ya, memang aku dapat menyelamatkan jiwanya ….”

Belum habis ucapannya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba berkumandang suara seorang, “Kau keliru, tidak mungkin kau dapat menghidupkan dia, di dunia ini tiada seorang pun mampu menyelamatkan dia.”

Suara orang ini sedemikian ringan mengambang tak menentu, nadanya dingin, tanpa emosi dan mengederkan orang, tapi juga begitu halus, lembut menggetarkan sukma. Rasanya tiada seorang pun yang sanggup melukiskan nada suara yang menarik dan menyeramkan ini, tiada seorang pun di dunia ini yang dapat melupakan nada suara ini bilamana sudah mendengarnya.

Jagat raya ini serasa membeku seketika oleh karena nada suara tadi yang penuh mengandung hawa nafsu membunuh itu, senja yang semakin remang itu seketika pun bertambah suram.

Tubuh Kang Hong gemetar laksana daun tertiup angin. Wajah Lian-sing Kiongcu seketika pun pucat bagai mayat. Tanpa menoleh pun mereka tahu siapa gerangan yang datang.

Begitulah sesosok bayangan putih tahu-tahu melayang tiba, entah melayang dari mana dan datang sejak kapan, tahu-tahu sudah berdiri di depan mereka.

Baju pendatang itu putih laksana salju, rambut terurai dengan gaya indah seperti bidadari yang baru turun dari kayangan, betapa cantik wajahnya sungguh sukar untuk dilukiskan, sebab tiada seorang pun yang berani menengadah untuk memandangnya. Pada tubuhnya seakan-akan berpembawaan semacam daya pengaruh yang tak dapat dilawan sehingga orang pun takut memandangnya.

Kepala Lian-sing Kiongcu juga tertunduk, sambil menggigit bibir ia menyapa, “Cici, engkau … engkau juga datang.”

“Ya, aku pun datang, kau tidak menyangka bukan?” jawab sang kakak, Kiau-goat Kiongcu, putri agung utama dari Ih-hoa-kiong yang termasyhur dan disegani itu.

“Bilakah Cici datang kemari?” jawab Lian-sing Kiongcu pula, kepalanya semakin menunduk.

“Kedatanganku tidak terlalu dini, hanya, hanya sempat mengikuti percakapan orang banyak yang agaknya tidak suka didengar olehku,” ujar Kiau-goat Kiongcu.

Terkilas pikiran dalam benak Kang Hong, dengan suara gemas ia berteriak, “Jadi … jadi sejak tadi kau sudah datang. Kalau begitu si babi dan si ayam dari Cap-ji-she-shio yang tadi sudah kabur lalu datang kembali lagi itu jangan-jangan adalah perintahmu? Jadi semua rahasia itu telah kau katakan kepada mereka?”

“Baru sekarang hal ini terpikir olehmu, bukankah sudah terlambat?” ujar Kiau-goat Kiongcu.

Mata Kang Hong mendelik, dengan beringas ia berteriak, “Mengapa … mengapa kau berbuat demikian? Bertindak sekeji ini?”

“Terhadap orang yang berhati keji, hatiku pasti sepuluh kali lebih keji daripadanya,” jawab Kiau-goat.

“Toa-kiongcu,” jerit Hoa Goat-loh dengan menahan derita, “semuanya adalah salahku, jangan … jangan kau salahkan dia.”

Mendadak nada ucapan Kiau-goat Kiongcu berubah setajam sembilu, katanya sekata demi sekata, “Kau masih berani bicara demikian padaku?”

Hoa Goat-loh ngesot di tanah, katanya dengan terputus-putus, “Hamb … hamba ….”

“Baiklah, kau sudah bertemu denganku, kini … kini bolehlah kau mangkat!” ucap Kiau-goat dengan tenang-tenang. “Mangkat” jelas berarti vonis kematian.

Betapa takutnya Hoa Goat-loh dapat digambarkan bahwa menangis saja dia tidak berani, dia hanya memejamkan mata dan menjawab lemah, “Terima kasih Kiongcu.”

“Dia menghendaki kematianmu, mengapa kau malah berterima kasih padanya?” teriak Kang Hong dengan kalap.

Tersungging senyuman pilu pada ujung mulut Hoa Goat-loh, jawabnya perlahan, “Biarlah kumati lebih dulu sehingga takkan menyaksikan cara bagaimana kematianmu dengan anak-anak kita, dengan demikian dapatlah mengurangi sedikit siksa deritaku. Dan ini adalah … adalah kemurahan hati Kiongcu, kan pantas jika aku berterima kasih kepada beliau.”

Ia membuka matanya, memandang Kang Hong sekejap, lalu memandang pula kedua orok, walau hanya pandangan sekilas saja, namun betapa mendalam kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dalam pandangan sekilas itu sungguh tak terlukiskan.

Hati Kang Hong serasa remuk redam, teriaknya, “Goat-loh, kau tidak boleh mati … tidak boleh mati ….”

“Kakak Hong, biarlah aku mangkat lebih dulu, akan … akan kutunggu engkau di sana ….” lalu terpejamlah matanya dan tidak melek lagi untuk selamanya.

“Tunggu, Goat-loh!” jerit Kang Hong histeris, entah dari mana timbulnya tenaga, mendadak ia menubruk ke atas tubuh sang istri. Tapi baru saja tubuhnya bergerak, kontan ia dihantam roboh lagi oleh angin pukulan yang keras.

“Kukira kau perlu berbaring dengan tenang,” ujar Kiau-goat.

“Selama hidupku tak pernah kumohon sesuatu kepada siapa pun,” kata Kang Hong dengan suara gemetar, “Tapi sekarang … kumohon . . . kumohon engkau sukalah berbuat bajik. Apa pun tidak kuinginkan, yang kuharap hanya dapat mati bersama dengan Goat-loh.”

“Hm, jangan kau harap dapat menyentuh seujung jarinya lagi,” jawab Kiau-goat ketus.

Kang Hong menatapnya dengan sorot mata membara, kalau saja sinar matanya dapat membunuh orang, sejak tadi tentu orang itu sudah dibunuhnya. Umpama api amarahnya juga dapat berkobar, tentu sejak tadi putri itu pun sudah dibakarnya hidup-hidup.

Akan tetapi Kiau-goat Kiongcu masih tetap berdiri tenang saja di situ dengan senyum mengejek. Mendadak Kang Hong mengakak tawa seperti orang gila, tertawa histeris, tertawanya orang putus asa dan penuh benci, penuh dendam.

“Hm, kau malah tertawa? Apa yang kau tertawakan?” tanya Kiau-goat Kiongcu mendongkol.

“Hahahaha!” Kalian anggap diri kalian manusia super, manusia yang lain daripada yang lain? Kalian mengira dengan segala kemampuan kalian dapat menguasai segala kehendakmu. Akan tetapi, hahaha, akan tetapi, bila aku sudah mati, aku akan berkumpul bersama Goat-loh, untuk ini dapatkah kalian merintangi kami?”

Di tengah gelak tertawa kalap itu, mendadak Kang Hong terkapar, suara tertawanya mulai lemah dan akhirnya berhenti untuk selamanya.

Lian-sing Kiongcu menjerit perlahan dan memburu maju, dilihatnya golok kutung tadi telah menancap ke dalam hulu hatinya, tamatlah riwayat sang lelaki mahacakap itu.

Bulan sabit sudah menongol di cakrawala dengan cahayanya yang setengah remang. Lian-sing Kiongcu berlutut mematung, hanya angin meniup mengembus rambutnya yang halus itu, lama dan lama sekali barulah ia bergumam, “Dia … dia sudah mati … akhirnya cita-citanya terkabul juga, tapi … tapi bagaimana dengan engkau? ….” Mendadak ia bangkit dan menghadapi sang kakak, yaitu Kiau-goat Kiongcu dan berteriak, “Ya, bagaimana dengan kita?”

“Tutup mulutmu!” jawab Kiau-goat Kiongcu tak acuh.

“Aku justru ingin bicara!” seru Lian-sing Kiongcu “Apa yang telah kau peroleh dengan tindakanmu ini? … engkau hanya membuat mereka semakin cinta-mencintai, membuat mereka semakin benci padamu!”

“Plak”, belum habis ucapannya pipinya telah ditampar sekali oleh sang kakak.

Lian-sing Kiongcu tergetar mundur dua tindak. “Kau … kau ….” Ia tergegap sambil meraba pipinya.

“Kau hanya tahu mereka benci padaku, tapi apakah kau pun tahu betapa benciku padanya? Kubenci dia hingga darah menetes dari tubuhku ….” Mendadak ia menyingsing lengan bajunya dan berteriak pula, “Lihatlah ini!”

Di bawah sinar bulan yang remang, lengannya yang putih mulus itu ternyata penuh bintik-bintik merah. Lian-sing Kiongcu melengak, tanyanya, “Ini … ini … sebab apa ini?”

Inilah bekas tusukan jarum yang kulakukan sendiri,” teriak Kiau-goat Kiongcu dengan penuh emosi. “Sejak mereka kabur, aku menjadi benci, aku dendam dan menyakiti diriku sendiri dengan tusukan jarum, setiap hari aku menyiksa diriku sendiri untuk mengurangi rasa derita batin. Semuanya ini apakah kau tidak tahu … apakah kau tidak tahu? ….” Sampai akhirnya suaranya menjadi gemetar dan setengah terguguk.

Melihat lengan kakaknya yang penuh bintik merah berdarah itu, semula Lian-sing Kiongcu melenggong, tapi mendadak ia menubruk ke dalam pelukan Kiau-goat Kiongcu dengan air mata bercucuran, katanya dengan suara tersedu, “O, tak kuduga bahwa … bahwa Cici juga menahan penderitaan batin sehebat ini.”

Sambil merangkul pundak adiknya, Kiau-goat menengadah dan berucap dengan rasa hampa, “Ya, betapa pun aku juga manusia, juga perempuan, aku pun berperasaan seperti perempuan lain, aku pun mendambakan cinta, tapi aku pun bisa iri, cemburu, dendam dan benci ….”

Cahaya sang dewi malam yang lembut menyinari rangkulan dua bayangan tubuh menggiurkan. Kini mereka bukan lagi kedua putri agung dari Ih-hoa-kiong yang disegani dan dihormati melainkan dua gadis biasa yang bernasib malang seperti orang kebanyakan yang harus dikasihani.

“O, Cici, baru sekarang … baru sekarang kutahu engkau ….” Lian-sing Kiongcu bergumam pula. Tapi Kiau-goat lantas mendorongnya dan membentak, “Diam!”

Setelah tenangkan diri, Lian-sing Kiongcu berkata pula dengan rasa pedih, “Cici, sudah lebih dua puluh tahun baru sekarang engkau merangkul diriku, biarpun Cici tetap benci padaku, namun … namun hatiku sudah puas.”

Kiau-goat tidak memandangnya lagi barang sekejap, dengusnya, “Lekas turun tangan!”

“Turun … turun tangan? Terhadap … terhadap siapa?”

“Siapalagi? Kedua orok itu!” kata Kiau-goat dengan nada kaku dingin.

“Kedua anak itu?” Lian-sing menegas dengan tergegap. “Tapi mereka baru … baru saja dilahirkan, masakah Cici ….”

“Pokoknya anak mereka tak boleh ditinggalkan!” ujar Kiau-goat. “Jika anak mereka tidak mati, asal teringat olehku mereka ini adalah anak Kang Hong dan budak hina itu, tentu aku akan menderita, aku akan menderita selama hidup. Nah, lekas turun tangan!”

“Aku … aku tidak tega, Cici, tidak tega turun tangan!”

“Baiklah, biar aku sendiri yang melakukannya!” dengan gesit Kiau-goat jemput golok di tanah, sekali sinar golok berkelebat, secepat kilat lantas menyambar ke arah kedua jabang bayi yang tidur nyenyak di dalam kereta.

Mendadak Lian-sing Kiongcu merangkul tangan sang kakak sekuatnya sehingga ujung golok cuma sempat menggores sejalur luka pada wajah salah satu anak itu. Seketika orok itu terjaga bangun dan menangis.

“Kau berani merintangi aku?” bentak Kiau-goat gusar.

“Cici, kupikir … kupikir ….” suara Lian-sing setengah meratap.

“Lepaskan tanganmu! Kau berani merintangi aku? Memangnya kau sendiri ingin mampus?”

“Maksudku bukan merintangi tindakanmu, Cici,” tiba-tiba nada Lian-sing berubah. “Justru mendadak aku mendapatkan suatu gagasan bagus yang jauh lebih bagus daripada kita membunuh kedua anak ini.”

Kiau-goat merandek ragu, akhirnya ia bertanya, “Apa gagasanmu?”

“Bukankah merasuk tulang benci Cici terhadap budak hina itu? Juga benci Cici kepada bocah she Kang itu kukira tidaklah berkurang. Nah, apa faedahnya jika kita membunuh kedua anak yang tidak tahu apa-apa ini? Pada hakikatnya sekarang pun mereka tidak kenal apa artinya menderita.”

“Habis bagaimana jika kita tidak membunuh mereka?”

“Agar benar-benar dapat melampiaskan dendam kita, kedua anak ini harus dibuat menderita dan sengsara selama hidup, dengan demikian, walaupun bocah she Kang dan budak hina itu sudah mampus juga takkan tenteram di akhirat.”

Sorot mata Kiau-goat menatap dingin kepada adiknya, “Mengapa sikapmu berubah terhadap mereka?”

“Tidak, aku tidak berubah, benciku kepada mereka pun merasuk tulang, bahkan … bahkan jauh lebih mendalam daripada Cici.”

“Baik, coba jelaskan cara bagaimana membuat kedua anak ini sengsara dan menderita selama hidup?”

“Sesudah kawanan ayam dan babi dari Cap-ji-she-shio tadi mampus semua, kini di dunia ini tiada seorang lagi yang mengetahui bahwa Kang Hong dan si budak hina itu mempunyai anak kembar, bukan?”

Seketika Kiau-goat belum dapat meraba jalan pikiran adiknya itu, ia hanya mengangguk dan membenarkan.

“Nah, dengan sendirinya kedua bayi ini juga tidak tahu apa-apa, bukan?”

“Hm, tidak perlu bicara bertele-tele,” jengek Kiau-goat Kiongcu.

“Tapi masih ada seorang Yan Lam-thian yang mengaku sebagai jago pedang nomor satu di jagat ini, dia adalah sahabat karib Kang Hong, ia sudah berjanji akan memapak Kang Hong di jalan ini, kalau tidak, tentu Kang Hong takkan mengambil jalan sepi ini ….”

“Tampaknya luas juga sumber beritamu!”

“Tapi yang penting kedatangan Yan Lam-thian ke sini ternyata terlambat.”

“Memangnya bagaimana kalau dia terlambat?” jengek Kiau-goat.

“Jika begitu, akhirnya dia kan pasti akan datang ke sini, bukan?”

Kiau-goat menjadi gusar, teriaknya, “Mengapa bicaramu selalu putar kayun dan bertele-tele, kau kenal watakku tidak?”

“Sabar sejenak, Cici,” ujar Lian-sing dengan tersenyum. “Sekarang kalau kita membawa pergi salah satu anak kembar ini dan tinggalkan satu di sini, bila Yan Lam-thian datang, tentu dia akan membawa pergi anak yang kita tinggalkan ini dan merawat serta membesarkannya, malahan bukan mustahil akan mengajarkan anak itu dengan segenap ilmu silatnya demi untuk menuntut balas sakit hati atas kematian ayah-bunda anak itu, betul tidak?”

“Ehm, anggap saja betul,” dengus Kiau-goat.

“Nah, kalau kita meninggalkan suatu bekas pukulan di tubuh Kang Hong, tentu mereka akan kenal bahwa apa yang terjadi ini adalah perbuatan Ih-hoa-kiongcu dan kelak setelah anak itu dewasa, pasti juga Ih-hoa-kiongcu yang akan menjadi sasarannya untuk menuntut balas, bukan?”

“Ya, betul juga,” jawab Kiau-goat Kiongcu. Sorot matanya gemerlap, tampaknya hatinya mulai goyang.

“Sementara itu anak yang kita bawa tentu juga sudah besar, dan sebagai ahli waris Ih-hoa-kiong, tentunya ia pun menguasai segenap ilmu silat ajaran kita. Sebagai lelaki satu-satunya di Ih-hoa-kiong, apabila kita kedatangan musuh, dengan sendirinya dia akan tampil ke muka untuk menghadapi segala tantangan. Sudah tentu dia takkan mengetahui bahwa musuh yang datang adalah saudara sekandungnya, bahkan saudara kembarnya, di dunia ini juga tiada orang lain yang tahu hubungan sedarah sedaging mereka dan dengan demikian ….”

“Mereka akan berubah menjadi musuh dan akan duel satu sama yang lain, begitu bukan maksudmu?” sela Kiau-goat Kiongcu.

“Tepat,” seru Lian-sing-Kiongcu dengan tertawa. “Tatkala mana si adik bertekad membunuh kakak dan sang kakak juga berkeras ingin membinasakan si adik. Mereka adalah saudara kembar, kepintaran dan kecerdasan mereka tentu seimbang, dengan begitu cara mereka mengadu akal dan tenaga tentu akan berlangsung dengan sangat dahsyat dan entah akan berlangsung berapa lama baru dapat membinasakan pihak lawan.”

“Ehm, rasanya menarik juga peristiwa demikian,” ujar Kiau-goat dengan tersenyum.

“Tentu saja sangat menarik, bukankah jauh lebih menyenangkan daripada kita membunuh mereka sekarang?”

“Benar, kita tidak perlu urus siapa di antara mereka yang akan terbunuh, cukup bagi kita untuk memberitahukan rahasia pribadi mereka ini kepada yang hidup itu, tatkala mana, hehe, air mukanya tentu sangat lucu dan menarik sekali, akan tetapi, kalau … kalau ada orang memberitahukan lebih dulu rahasia ini kepada mereka, maka apa yang bakal terjadi tentunya takkan menarik lagi.”

“Di dunia ini pada hakikatnya tiada orang lain lagi yang tahu persoalan ini selain Cici ….”

“Dan kau !” sambung Kiau-goat dengan dingin.

“Aku? Ya, hanya Cici dan aku. Tapi usul ini datangnya dariku, masakah akan kukatakan kepada orang lain? Apalagi Cici kan kenal watakku, kejadian yang bakal sangat menarik masakah takkan kuikuti dengan seksama?”

Kiau-goat termenung sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, “Ya, benar juga. Di dunia ini mungkin hanya kau yang mempunyai jalan pikiran seaneh ini. Dengan gagasanmu ini, kukira kau pun takkan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun.”

“Gagasan ini selain aneh juga pasti sangat berguna,” ujar Lian-sing Kiongcu dengan tertawa. “Yang paling lucu adalah mereka sebenarnya saudara kembar, tapi kini satu sudah terluka mukanya, kalau sudah besar kelak bentuk wajahnya pasti akan berbeda. Tatkala mana di dunia ini siapa yang menyangka bahwa kedua musuh yang tak terleraikan ini sebenarnya adalah sekandung, bahkan saudara kembar.”

Sementara itu anak yang terluka tadi sudah berhenti menangis, agaknya orok itu pun ketakutan dan ngeri oleh muslihat keji yang timbul dari dendam kesumat dua orang perempuan cantik ini. Kedua matanya yang kecil itu terbelalak cemas seakan-akan sudah dapat membayangkan macam-macam siksa derita yang akan dialaminya pada masa mendatang nanti.

Kiau-goat memandang kedua orok itu sambil bergumam, “Belasan tahun lagi, ya mungkin harus dua puluh tahun lagi, kita harus menunggu … menunggu sekian lamanya ….”

“Walaupun cukup lama harus kita tunggu, tapi untuk balas dendam selain cara ini kiranya tiada jalan lain lagi. Asalkan kita berhasil melampiaskan sakit hati, apalah artinya belasan atau dua puluh tahun?”

Kiau-goat Kiongcu menghela napas panjang penuh menyesal, katanya, “Ya, kecuali dendam kesumat yang merasuk tulang ini, di dunia ini rasanya tiada persoalan lain yang dapat membuatku menunggu sekian lamanya.”

*****

Sebuah jalan batu yang tersapu bersih dengan beberapa rumah yang resik dan sederhana, wajah penghuni rumah-rumah itu pada umumnya tampak ramah dan baik-baik. Inilah sebuah kota kecil, sangat kecil.

Sinar sang surya memancari jalan satu-satunya di kota kecil ini, sebuah panji kain hijau lusuh tampak terpancang pada satu-satunya kedai arak dengan tulisan “Thay-pek-ki” atau kedai Li Thay-pek (penyair termasyhur pada jaman Tang dan terkenal gemar minum arak).

Sudah biasa kedai kecil ini sepi melulu, si pelayan malahan sedang mengantuk dengan mendekap di atas meja. Memang ada juga tamunya, di meja sebelah sana duduk sendirian seorang tamu.

Tapi si pelayan malas melayani tamu demikian ini. Sudah beberapa hari tamu ini selalu datang minum arak, tapi selain minta satu poci arak murahan, nyamikan atau makanan kecil saja tidak mau keluarkan sepeser lebih, apalagi daharan yang lezat-lezat.

Maklumlah, tamu ini sesungguhnya terlalu miskin, begitu miskin sehingga sepatu rumput butut yang dipakainya itu sudah hampir bolong seluruhnya. Namun dia sama sekali tidak merasa rendah harga diri, dia duduk bersandar dinding sambil berlipat kaki dan menikmati araknya, tubuhnya yang kekar itu laksana harimau kumbang yang kemalas-malasan.

Poci arak di depannya sementara itu sudah kosong, tampaknya orang itu pun sudah mabuk, cahaya matahari yang menyorot dari luar jendela itu menyinari wajahnya yang kelihatan kepucat-pucatan dengan jenggot yang pendek, kedua alisnya yang tebal dengan tulang pipinya yang menonjol itu tampak menambah angkernya. Dengan sebelah telapak tangannya yang kurus tapi lebar itu dia menutupi mukanya, tangan yang lain memegang sebatang pedang karatan, akhirnya dia mendengkur, tertidur.

Waktu itu baru lewat lohor, kota kecil yang sunyi itu tiba-tiba menjadi riuh oleh berdetaknya kaki kuda lari, beberapa penunggang kuda tampak datang dan berhenti di depan kedai arak itu. Beberapa lelaki kekar dengan baju sutera serentak melompat turun dan masuk kedai arak itu sehingga kedai sekecil itu seketika seakan-akan menjadi penuh sesak.

Pinggang laki-laki paling depan bergantung pedang, sikapnya berseri-seri seperti orang baru mendapat rezeki sehingga lubang-lubang pada mukanya yang burik pun seakan-akan bercahaya. Begitu dia melangkah masuk kedai, serentak dia bergelak tertawa dan berolok-olok, “Hahaha, kedai butut begini juga pakai nama Thay-pek-ki.”

Lelaki di belakangnya bermuka bulat dengan perut buncit, juga membawa pedang, potongannya lebih mirip saudagar dari pada jago silat. Dengan tertawa ia menanggapi ucapan kawannya tadi, “Lui-lotoa, engkau salah. Meski syair Li Thay-pek bernilai tinggi, tapi dia tetap rudin dan cocok bertempat tinggal di kedai buruk begini.” Lalu ia berteriak-teriak memanggil pelayan, “Hai, pelayan, bawakan arak dan daharan paling lezat, cepat!”

Setelah menenggak arak, senda-gurau beberapa orang itu semakin riuh seakan-akan anggap dunia ini mereka punya dan menyepelekan orang lain. Keruan lelaki kekar yang mengantuk di pojok sana berkerut kening, mendadak ia duduk menegak sambil mengulet kemalas-malasan dan bergumam, “Wah, bau busuk, dari mana datangnya bau busuk ini ….” sekonyong-konyong ia pun menggebrak meja dan berteriak, “Pelayan, tambahkan araknya!”

Suaranya yang menggelegar itu membikin beberapa orang yang baru datang itu berjingkat kaget. Orang yang dipanggil Lui-lotoa tadi tampak aseran dan berdiri hendak mencari perkara, tapi seorang kawannya yang kurus kecil cepat mencegahnya dan membisikkannya, “Sabar dulu, Congpiauthau sudah hampir tiba, buat apa kita mencari gara-gara.”

Lui-lotoa mendengus dan duduk kembali, setelah menenggak araknya, lalu berkata pula, “He, Sun-losam, apakah betul tempat ini yang dimaksud oleh Congpiauthau, kau tidak salah dengar?”

“Tanggung tidak salah, “jawab Sun-losam, si kurus kecil tadi. “Kan Ci-jiko sendiri juga dengar.”

Si lelaki muka bulat menukas, “Ya, benar, memang tempat ini yang dimaksudkan. Konon beliau ingin menemui seorang ksatria besar, maka kita disuruh membawa kadonya menunggu di sini.”

“Apakah kau tahu siapa yang hendak ditemui Congpiauthau kita?” tanya Lui-lotoa.

“Sudah tentu kutahu, “ujar orang yang disebut Ci-jiko tadi, lalu dengan suara tertahan ia menyebut nama seseorang.

“Hah! Jadi dia yang dimaksudkan? Masakah beliau sudi datang ke tempat kecil ini?”

“Jika beliau tidak sudi datang, buat apa Congpiauthau datang ke sini.”

Sikap beberapa orang itu lantas prihatin demi mengetahui siapa yang hendak ditemui pemimpin mereka, walaupun masih tetap berkelakar, tapi suaranya tidak berani lagi keras. Lalu mereka pun bicara mengenai ksatria besar yang dimaksudkan itu, konon pedang sakti ksatria besar itu dapat memotong besi seperti merajang sayur, di malam hari bercahaya seperti sinar lampu.

“Memang, kalau saja tiada pedang sehebat itu mana mungkin hanya sekejap saja kepala kawanan Setan Im-san itu terpenggal seluruhnya?”

“Ya, bukan saja ilmu pedangnya maha sakti, bahkan Ginkangnya juga mahahebat. Nah, bayangkan, betapa tingginya tembok benteng kota Pakkhia, dengan sekali loncat beliau sanggup melintasinya.”

“Masakah benar?” si Lui-lotoa melelet-lelet lidah.

“Mengapa tidak benar?” ujar Ci-loji. “Konon petangnya dia habis minum di kota Pakkhia, tapi sebelum fajar dia sudah berada di Im-san, kawanan Setan Im-san baru melihat berkelebatnya sinar pedang dan kepala mereka pun terpenggal satu per satu …. He, konon sinar pedangnya terlihat hingga ratusan li jauhnya, sungguh luar biasa!”

Lelaki miskin yang duduk di pojok sana juga sedang menggosok-gosok pedangnya yang karatan itu, lalu menenggak araknya, mendadak ia bergelak tertawa dan berseru, “Hahaha! Di dunia ini mana ada orang macam begitu! Mana ada lagi pedang begitu?”

Kembali si Lui-lotoa naik pitam, ia menggebrak meja dan berteriak, “Siapa itu yang bicara? Lekas kemari jika ingin kutonjok kepalamu?”

Lelaki rudin itu seperti tidak memperhatikan ancaman Lui-lotoa, ia masih menggosok pedangnya yang karatan dan menenggak araknya seakan-akan ucapan tadi bukan keluar dari mulutnya.

Lui-lotoa tidak tahan lagi, segera ia hendak memburu ke sana, tapi lagi-lagi ia dicegah Ci-loji. Ia mengedipi Lui-lotoa agar duduk kembali, lalu ia sendiri mendekati lelaki rudin itu dan menyapa, “He, kawan, tampaknya kau pun berlatih pedang, makanya merasa penasaran ketika mendengar kelihaian ilmu pedang orang lain. Tapi apakah engkau tahu siapakah gerangan tokoh yang kami bicarakan itu?”

Dengan kemalas-malasan lelaki rudin itu menengadah, tanyanya sambil menyeringai, “Siapa?”

“Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Si Pedang Sakti,” jawab Ci-loji.

“Haha, jika kawan benar-benar berlatih pedang, tentu kau akan tunduk mendengar nama ini.”

Tak terduga lelaki rudin itu hanya berkedip-kedip saja seperti orang tidak tahu apa-apa, tanyanya dengan menyengir, “Yan Lam-thian?”

“Hahahaha!” Ci-loji tertawa terpingkal-pingkal. “Nama Yan-tayhiap saja tak pernah kau dengar, masakan kau mengaku mahir ilmu pedang?”

“Jika demikian, agaknya kau kenal orang she Yan itu?” tanya si lelaki miskin dengan tertawa.

Ci-loji berbalik melengak, tertawanya pun berhenti, jawabnya, “Ini, hehe, ini … hahaha ….”

“Bagaimana macamnya orang she Yan itu?” tanya pula lelaki itu dengan tertawa, “dan bagaimana dengan pedangnya itu ….”

Agaknya Lui-lotoa tidak tahan lagi, ia memburu maju dan menggebrak meja sambil berteriak, “Biarpun kami tidak kenal dia, tapi kami yakin dia pasti lebih gagah dan tampan daripada macammu ini. Apalagi pedangnya, tentu beribu kali lebih bagus daripada pedang rongsokan milikmu ini.”

“Hahaha!” lelaki itu tertawa, “tampaknya kau ini orang cerdik pandai, mengapa pandanganmu begini picik. Biarpun diriku tidak cakap, namun pedangku ini justru ….”

“Hah, memangnya pedangmu ini juga pedang sakti?” sela Lui-lotoa sambil mengakak geli.

“Pedangku ini justru senjata mahatajam, sanggup memotong besi seperti merajang sayur.”

Belum habis lelaki itu bicara, serentak orang banyak sudah tertawa gemuruh, malahan Lui-lotoa sampai terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang mules, katanya, “Jika pedangmu ini betul dapat memotong besi seperti merajang sayur, maka kami akan traktir kau makan minum sepuasmu, bahkan ….”

“Baik,” tiba-tiba lelaki rudin itu berdiri, “Coba lolos pedangmu!”

Selagi duduk tidaklah menarik perhatian, begitu lelaki itu berdiri, perawakannya yang tinggi besar sungguh mengejutkan. Tubuh Lui-lotoa sudah terhitung tegap, badan Ci-loji juga terhitung gemuk, tapi kalau dibandingkan perawakan orang yang kekar itu rasanya menjadi tak berarti sama sekali.

Dalam pada itu diam-diam kedai arak itu kedatangan seorang pemuda berwajah pucat berbaju hijau dan berkopiah, sambil bersandar di depan meja kasir, ia mengikuti apa yang terjadi dengan tertawa.

Sementara itu Lui-lotoa telah melolos pedangnya, katanya sambil membusungkan dada, “Baik, ayo boleh kita coba!”

“Nah, silakan kau bacok sekuatnya,” kata lelaki miskin itu.

“Baik, awas ya, kalau terluka jangan salahkan aku!” ujar Lui-lotoa sambil menyeringai. Sekali angkat, kontan pedangnya yang terbuat dari baja itu terus menabas dari atas ke bawah.

Tapi lelaki rudin itu tenang-tenang saja, tangan kiri memegang cawan arak dan tangan kanan angkat pedang karatannya menangkis ke atas. Terdengar “trang” sekali, Lui-lotoa tergetar mundur dan pedang sendiri tahu-tahu patah menjadi dua.

Seketika semua orang melenggong kaget dan hampir-hampir tidak percaya pada matanya sendiri.

“Hahahaha! Apa abamu sekarang?” Lelaki rudin itu terbahak-bahak sambil mengelus, pedangnya yang karatan itu.

Tentu saja Lui-lotoa ternganga, katanya dengan tergegap, “Hebat, sungguh … sungguh pedang hebat!”

“Tapi sayang pedang sehebat ini berada di tangan orang rudin macam diriku ini,” ujar lelaki miskin itu dengan gegetun.

Mendadak sorot mata Lui-lotoa menjadi terang, katanya, “He, apakah sahabat mau menjual pedangmu ini?”

“Sebenarnya juga ada maksudku untuk menjualnya, namun belum mendapatkan pembelinya.”

“Eh, bagaimana kalau … kalau dijual padaku saja?” tanya Lui-lotoa dengan bersemangat.

Lelaki itu mengamat-amati sejenak orang she Lui itu, lalu menjawab, “Tampaknya kalian ini juga orang gagah dan cocok memiliki pedangku ini. Cuma … cuma pandanganmu kurang tajam, belum lagi tentang harganya, kira-kira kau berani bayar berapa?”

“Ah, ini mudah … mudah dirundingkan ….” Lui-lotoa kegirangan dan segera mengumpulkan kawan-kawannya untuk berunding, mereka berempat tampak merogoh saku dan coba menghitung-hitung bekal masing-masing.

Lelaki miskin tadi tetap duduk di tempatnya dan minum arak tanpa ambil pusing akan tingkah laku Lui-lotoa dan kawan-kawannya itu.

Selang sejenak barulah Lui-lotoa mendekati lelaki itu dan berkata dengan ragu-ragu, “Sobat, bagai … bagaimana kalau lima ratus tahil ….”

“Berapa?!” orang itu menegas dengan setengah mendelik.

Lekas-lekas Lui-lotoa berganti haluan, jawabnya, “O, bagaimana kalau … kalau seribu tahil perak. Bicara terus terang, kami berempat sudah … sudah menguras seluruh isi saku kami dan cuma dapat terkumpul sekian.”

Lelaki itu tampak termenung sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya pedangku ini adalah pusaka yang sukar dinilai. Cuma kata peribahasa, bedak halus dihadiahkan kepada si cantik dan pedang kudu diberikan kepada ksatria …. Baiklah, jadi, seribu tahil perak kujual padamu.”

Khawatir orang menarik kembali keputusannya, cepat Lui-lotoa mengumpulkan seluruh isi saku teman-temannya, lalu disodorkan ke depan lelaki rudin itu sambil berkata, “Ini, seribu tahil kontan, silakan hitung.”

Tanpa hitung-hitung lelaki itu terus mengemasi seribu tahil perak itu dengan sebuah kantong butut, katanya dengan tertawa, “Sudahlah, tak perlu dihitung, kupercaya penuh padamu. Nah, inilah pedangnya, silakan diterima. Senjata mestika hanya cocok bagi pemiliknya yang bijaksana, selanjutnya kau harus hati-hati menggunakannya, kalau tidak senjata mestika juga akan berubah menjadi besi tua yang tak berguna ….”

Berulang-ulang Lui-lotoa mengiakan sambil menerima penyerahan pedang tadi, girangnya tidak kepalang seperti orang putus lotre.

“Trang”, lelaki itu menjatuhkan sepotong perak di atas meja dan berseru kepada pelayan, “Ini rekening para sahabat ini semuanya diperhitungkan padaku, sisanya buat kau!” Lalu tanpa menoleh lagi ia terus meninggalkan kedai arak itu.

Hanya si pemuda berwajah pucat tadi senantiasa mengikuti gerak-gerik lelaki rudin itu, ia tertawa memandangi Lui-lotoa dan kawan-kawannya, lalu ikut meninggalkan kedai itu.

Tampaknya Lui-lotoa kegirangan hingga lupa daratan karena menganggap berhasil membeli benda pusaka dengan harga murah. Kawannya, yaitu Ci-loji, dengan tertawa mengumpaknya. “Wah, dengan pedang pusaka, selanjutnya Lui-lotoa benar-benar seperti harimau tumbuh sayap dan dapat malang melintang di dunia Kangouw.”

“Haha, Ci-loji memang suka memuji,” ujar Lui-lotoa sambil mengakak senang. “Kukira ini pun berkat doa restu saudara-saudara …. Haha, mungkin ini sudah saatnya bintangku mulai terang, kalau tidak masakah secara kebetulan begini aku mendapatkan benda pusaka ini.”

“Dengan pedang pusaka ini, mungkin Yan Lam-thian juga akan keder terhadap Lui-lotoa kita, bahkan Congpiauthau kita juga pasti akan memberi penghargaan lain,” ujar Ci-loji.

Muka Lui-lotoa yang berseri-seri membuat lubang buriknya seakan-akan tambah mekar. Sambil memegang “pedang pusaka” yang baru dibelinya itu dia mondar-mandir kian kemari, duduk tidak tenang, berdiri pun tidak tenteram.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang menegur, “He, urusan apa yang membuat kalian bergembira ria begini?”

Tertampak seorang pendek kecil dengan jubah bersulam melangkah masuk kedai arak itu. Meski tubuhnya kecil, tapi sorot matanya tajam, gerak-geriknya tangkas dan berwibawa sehingga sekali pandang orang akan segera merasakan bahwa orang itu sehari-harinya pasti biasa memimpin dan memberi perintah.

“Congpiauthau ….” demikian beramai-ramai Ci-loji dan lain-lain memberi hormat kepada orang pendek kecil itu, lalu mereka pun menceritakan apa yang baru saja terjadi tentang jual beli pedang pusaka itu.

“Hah! Betulkah terjadi begitu?” ujar Congpiauthau itu dengan tertawa, “Wah, jika begitu Lui-lotoa harus diberi selamat!”

Dengan tertawa bangga Lui-lotoa menjawab, “O, terima kasih Cong … Sim-heng, ini hanya kejadian secara kebetulan saja,” Dasar manusia rendah, baru sedikit mendapat “angin” lantas kepala besar, sebutan “Congpiauthau” kepada pemimpinnya mendadak berganti jadi sebutan “Sim-heng” (saudara Sim) saja.

Namun Sim-congpiauthau itu agaknya tidak menaruh perhatian atas perubahan sikap Lui-lotoa itu, dengan tertawa dia berkata pula, “Terus terang senjata pusaka setajam itu aku pun belum pernah melihatnya. Kalau tidak keberatan, apakah boleh Lui-heng mendemonstrasikannya untuk menambah pengalamanku.”

“Haha, boleh saja,” Lui-lotoa bergelak tertawa. “Boleh saja Sim-heng mencobanya dan segera akan terbukti.”

“Coba pinjam pedangmu, Ci-heng,” kata Sim-congpiauthau kepada Ci-loji dan setelah menyingsing lengan baju, dengan tersenyum ia berkata, “Awas Lui-heng!” Habis itu pedang pinjamannya terus menabas.

Agaknya Lui-lotoa sengaja berlagak menirukan lelaki miskin tadi, dengan tangan kiri memegang cawan arak dan tangan kanan memegang “pedang pusaka” untuk menangkis secara acuh.

Maka terdengarlah suara “trang, krek, trang, bluk”, benar juga kutungan pedang telah jatuh ke lantai, tapi bukan pedang Sim-congpiauthau yang patah melainkan “pedang pusaka” Lui-lotoa.

Suara-suara “trang-krek-trang-bluk” yang terjadi dimulai dengan beradunya kedua pedang, lalu jatuhnya kutungan pedang, suara ketiga karena pecah berantakannya cawan arak Lui-lotoa dan suara gedebukan terakhir itu adalah karena Lui-lotoa jatuh terduduk saking kagetnya.

Keruan muka Lui-lotoa pucat pasi seperti mayat, bahkan kawan-kawannya juga melongo kesima seperti patung.

“Hm, masakah begini macamnya pedang pusaka?” dengus Sim-congpiauthau sambil melemparkan pedangnya kepada Ci-loji.

“Tapi … tapi tadi jelas … jelas ….” demikian dengan menyengir Lui-lotoa berusaha menerangkan.

“Yang jelas kau telah tertipu,” jengek pula Sim-congpiauthau.

Mendadak Lui-lotoa sadar, serentak ia melompat bangun dan mengumpat, “Maknya dirodok! Mana orang tadi? Kurang ajar ….”

“Hus! Jangan sembrono!” cepat Sim-congpiauthau membentaknya.

Karena itu Lui-lotoa tidak jadi mengumpat lebih lanjut, jawabnya dengan sikap kikuk, “Ada … ada pesan apa, Congpiauthau.”

Kini dia telah menyebut Congpiauthau lagi kepada pimpinannya, namun Sim-congpiauthau tetap anggap tidak tahu saja, ia bertanya dengan dingin, “Bagaimana macamnya orang tadi?”

“Seorang lelaki rudin, mungkin orang gelandangan, cuma perawakannya tinggi besar,” tutur Lui-lotoa.

Sim-congpiauthau termenung sejenak, mendadak air mukanya berubah dan bertanya pula, “Apakah kedua alis orang itu sangat tebal dan tulang pipinya menonjol, matanya setengah terpejam seperti orang selalu mengantuk saja.”

“Ha, betul. Congpiauthau kenal dia?”

Sim-congpiauthau memandang sekejap kepada Lui-lotoa, lalu memandang Ci-loji pula, tiba-tiba ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu berkata, “Sungguh sayang, kalian sudah sekian lama ikut padaku, kalian ternyata bermata tapi tidak bisa melihat alias buta melek.”

Lui-lotoa hanya munduk-munduk saja, sekarang dia tidak berani membantah sepatah kata pun.

“Memangnya apakah kalian tahu siapa gerangan lelaki tadi?” tanya Sim-congpiauthau pula.

Semua terdiam dan saling pandang dengan bingung. Akhirnya mereka tanya berbareng, “Siapa dia?”

Dengan sekata demi sekata Sim-congpiauthau menjawab, “Dia tak lain tak bukan ialah si pedang sakti Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Yaitu orang yang khusus ingin kutemui di sini sekarang.”

Belum habis sang Congpiauthau menjelaskan, “bluk”, kembali Lui-lotoa jatuh terduduk dengan mulut ternganga.

*****

Setelah meninggalkan kedai arak tadi dengan diikuti si pemuda muka pucat, lelaki rudin tadi terus menyusuri jalan batu satu-satunya itu. Setiba di ujung jalan sana, si pemuda cepat menyusulnya dan menyapa dengan suara tertahan, “Yan-toaya, bukan?”

Lelaki itu memang betul Yan Lam-thian adanya. Tanpa menoleh ia menjawab, “Apakah kau ini suruhan Kang-jite?”

“Benar,” jawab pemuda pucat itu, “hamba Kang Khim, kacung pribadi Kang-jiya.”

“Mengapa baru sekarang kau tiba di sini?” mendadak Yan Lam-thian menoleh dan menegur dengan bengis. Sorot matanya yang tajam bagai berkelebatnya kilat di malam gelap itu membuat pemuda yang bernama Kang Khim itu bergidik.

“Hamba … hamba khawatir dikuntit musuh, terpaksa … terpaksa menempuh perjalanan waktu malam,” tutur Kang Khim dengan munduk-munduk. “Apalagi … apalagi kepandaian hamba teramat rendah sehingga tidak mampu berjalan cepat.”

Sikap Yan Lam-thian berubah rada tenang, sorot matanya berubah guram pula, katanya, “Kongcu kalian mengirim berita padaku dan minta kutunggu dia di sini tanpa menjelaskan sebab musababnya. Tapi kuyakin pasti menyangkut satu urusan mahapenting dan gawat, sebenarnya apa persoalannya?”

“Entah sebab apa mendadak Kongcu memulangkan semua kawan hamba, hanya hamba seorang yang disuruh tinggal, kemudian hamba diperintahkan ke sini menemui Yan-toaya untuk memohon Yan-toaya memapak Kongcu kami di jalan lama itu, konon ada urusan penting akan dibicarakan berhadapan nanti. Melihat gelagatnya, agaknya Kongcu kami ingin … ingin menghindari pencarian musuh dan sebagainya.”

“O, masakah benar begitu?” Yan Lam-thian tampak tergerak perasaannya. “Mengapa tidak dia katakan padaku sebelumnya? Ai, tindak-tanduk Kang-jite selalu ceroboh, padahal biarpun musuh tangguh bagaimana pun juga masakah kami bersaudara perlu takut padanya?!”

“Ucapan Yan-toaya memang tepat,” ujar Kang Khim.

“Sudah berapa lama Kongcu kalian berangkat dari rumah?” tanya Yan Lam-thian.

“Jika tiada halangan apa-apa, saat ini seyogianya sudah berada di tengah perjalanan kemari.”

“Ai, mengapa tidak lebih dini kau datang ke sini” ujar Yan Lam-thian dengan membanting kaki. “Apabila terjadi ….”

Pada saat itulah tiba-tiba ada seorang berseru, “Yan-tayhiap … Yan-tayhiap ….” tertampaklah beberapa orang berlari datang, seorang paling depan tampak gesit dan tangkas, itulah dia Sim-congpiauthau yang kecil-kecil cabai rawit itu.

Yan Lam-thian berkerut kening, katanya dengan tak acuh, “Apakah kau ini Sim Gin-hong Congpiauthau (pemimpin umum) dari Wi-wan, Tin-wan dan Leng-wan-piaukiok?”

“Benar, itulah hamba adanya,” jawab Sim Gin-hong sambil memberi hormat. “Maaf, Yan-tayhiap, tadi para kawan kami ternyata buta semua dan tidak mengenali Yan-tayhiap ….”

“Hahaha!” Yan Lam-thian tertawa, “Tadi kudengar mereka bicara tentang penyair Li Thay-pek dan ilmu pedang segala, aku menjadi geli dan dongkol pula. Karena itu aku sengaja mengakali beberapa peser duit mereka agar mereka kapok dan kelak tidak sembarangan membual.”

“Ya, ya, mereka itu memang pantas mampus,” berulang-ulang Sim Gin-hong mengiakan.

Mendadak Yan Lam-thian berhenti tertawa dan bertanya dengan sikap kereng, “Apakah kedatanganmu ingin menemui aku?”

“Benar, kedatangan Wanpwe (hamba yang lebih muda) khusus ingin menemui Yan-tayhiap,” jawab Sim Gin-hong.

“Dari mana kau tahu aku berada di sini?” tanya Yan Lam-thian bengis.

“Sebenarnya Wanpwe sedang menghadapi jalan buntu, syukur mendapat petunjuk seorang Locianpwe (tokoh angkatan tua), katanya dalam dua hari ini Yan-tayhiap pasti akan menunggu seseorang di sini, makanya Wanpwe cepat menyusul ke sini.”

“O, rupanya gara-gara si setan pemabukan itu,” ujar Yan Lam-thian dengan tersenyum. Waktu ia berpaling, ia menjadi geli ketika dilihatnya Lui-lotoa berdiri di sana dengan lesu sambil menjinjing sepotong pedang kutung karatan tadi, dengan tertawa ia lantas menegurnya, “Kukira kau pasti penasaran atas kejadian tadi, bukan?”

“Sesungguhnya Wanpwe … pedang itu kubeli ….”

Belum habis Lui-lotoa menyatakan rasa penyesalannya, segera Sim Gin-hong membentaknya, “Lebih baik tutup mulutmu dan jangan bikin malu. Masakah kau tidak tahu bahwa tanpa memegang pedang juga Yan-tayhiap lebih lihai daripada menggunakan pedang karatan itu. Biarpun besi tua atau benda apa pun, asalkan dipegang Yan-tayhiap pasti juga berubah menjadi senjata yang ampuh dan mahatajam.”

“Haha, sedemikian tinggi kau mengumpak diriku, tentu kau ingin minta tolong sesuatu padaku,” ucap Yan Lam-thian dengan tertawa.

“Harap Yan-tayhiap maklum,” jawab Sim Gin-hong dengan hormat, “apa pun juga Yan-tayhiap pasti tahu. Soalnya Wanpwe baru menerima tawaran suatu partai barang yang sukar dinilai harganya, sebenarnya transaksi ini sangat dirahasiakan dan akan kami kawal secara diam-diam. Tapi entah mengapa, tahu-tahu berita ini dapat didengar oleh kawanan Cap-ji-she-shio. Secara blak-blakan mereka mengirim kartu nama dan menyatakan akan merampas barang kawalan kami itu. Tentu saja kami menjadi khawatir, sebab kami cukup tahu diri dan merasa bukan tandingan kawanan bandit Cap-ji-she-shio itu dan dengan sendirinya pula kami tidak berani melanjutkan pengawalan tersebut ….”

“Jadi maksudmu hendak minta kubantu Piaukiok (perusahaan pengawalan) kalian, begitu?” tanya Yan Lam-thian.

“Ah, mana kuberani,” jawab Sin Gin-hong takut-takut “Hanya saja Wanpwe mendapat tahu bahwa Yan-tayhiap bakal berada di sini, maka sengaja kujanji bertemu dengan kawanan Cap-ji-she-shio di sekitar sini, asalkan Locianpwe sudi tampil sejenak dan memberi pesan beberapa patah kata, maka Wanpwe yakin biarpun Cap-ji-she-shio mempunyai nyali sebesar gajah juga takkan berani mengusik barang kawalan kami itu.”

“Jika kau tidak mampu mengawal barang orang, mengapa kau terima saja tawaran orang?” tanya Yan Lam-thian.

“Ya, Wanpwe memang pantas mampus,” jawab Sim Gin-hong dengan menunduk, “mohon Yan-tayhiap suka ….”

“Kawanan Cap-ji-she-shio sudah lama terkenal jahat, jika jejak mereka tidak tersembunyi tentu sudah lama kutumpas mereka, sebenarnya urusan ini aku tidak ingin ikut campur ….”

“Terima kasih lebih dulu,” tukas Sim Gin-hong.

“Jangan terburu berterima kasih dulu,” ujar Yan Lam-thian. “walaupun aku ingin membantumu, namun saat ini aku sendiri ada urusan penting yang perlu kuselesaikan dan waktu sudah mendesak.” Habis berkata segera ia hendak melangkah pergi.

“Mohon Yan-tayhiap tunggu sejenak,” cepat Sim Gin-hong berseru sambil memberi tanda, segera Ci-loji mengaturkan sebuah peti, ketika peti itu dibuka, isinya ternyata emas murni yang berkemilauan. Dengan hormat Sim Gin-hong lantas menambahkan pula, “Sudah lama Yan-tayhiap terkenal bertangan terbuka, sebab itu kami mengaturkan ….”

“Hahahaha!” Yan Lam-thian terbahak-bahak. Mendadak ia berkata dengan ketus, “Sim Gin-hong, biarpun sekarang kau menumpuk emas murni setinggi gunung di depanku juga takkan menghalangi waktu pertemuanku dengan Kang-jiteku.” Habis ini ia menepuk bahu Kang Khim dan membentak, “Nah, aku berangkat lebih dulu, kau harus segera menyusul ke sana.”

Lenyap suara ucapannya itu, tahu-tahu orangnya juga sudah melayang jauh ke sana. Seketika wajah Sim Gin-hong menjadi pucat karena usahanya gagal.

Ci-loji mengomel sendirian, “Orang ini sungguh aneh, beberapa tahil perak dia sengaja menipu, tapi ketika disodorkan emas murni satu peti penuh dia justru menolak …

*****

Cuaca remang-remang. Di tengah cuaca senja sunyi itu, berkelebatnya bayangan Yan Lam-thian, hampir sukar diikuti oleh pandangan orang awam.

Di jalanan lama yang penuh semak rumput belaka itu sunyi senyap, bulan sabit sudah menongol di ufuk timur, cahaya remang-remang ini semakin menambah suramnya suasana yang lelap ini.

Bayangan Yan Lam-thian masih terus meluncur ke depan dan tiada sesuatu yang dilihatnya, ia bergumam sendiri, “Aneh, Kang-jite sudah dalam perjalanan, mengapa tak terdengar ….”

Pada saat itulah mendadak dua titik hitam berkelebat melayang ke sana, remang-remang kelihatan seekor burung walet sedang dikejar seekor alap-alap. Tampaknya burung walet itu sudah kepayahan, terbangnya rendah dan jelas sukar lolos dari cengkeraman alap-alap itu.

Yan Lam-thian merasa penasaran, bentaknya, “Kurang ajar, kau pun tiada ubahnya seperti manusia jahat yang suka menindas yang kecil ….” serentak tubuhnya terus meleset ke depan laksana anak panah cepatnya dan menyampuk alap-alap ganas itu. Tapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yan Lam-thian menubruk tempat kosong, sebaliknya lantas terdengar suara mencuit si burung walet, nyata walet itu telah tercengkeram oleh cakar alap-alap.

“Kurang ajar! Masakah kau mampu lolos dari tanganku lagi!” bentak Yan Lam-thian dengan gusar sambil menubruk maju pula, sekali hantam dari jauh, kontan burung alap-alap yang sudah mulai melayang ke udara itu terjungkal ke bawah oleh angin pukulan yang dahsyat.

Sekali meraup Yan Lam-thian tangkap tubuh alap-alap yang terjungkal ke bawah itu, ia berhasil menyelamatkan burung walet yang kecil itu dari cengkeraman elang alap-alap. Namun walet itu kecil lagi lemah dan sudah terluka parah sehingga tidak sanggup terbang lagi.

“Walet sayang, kau takkan mati, jangan khawatir,” gumam Yan Lam-thian sambil duduk di tanah rumput, ia memberi obat luka pada burung walet itu. Obat luka dari pendekar besar itu sudah tentu sangat mujarab. Dengan perlahan Yan Lam-thian mengelus-elus walet itu, sejenak kemudian barulah ia lepaskan burung itu dan terbanglah pergi dengan bebas. Sementara itu burung alap-alap tadi sudah diremas mati oleh Yan Lam-thian.

“Hahaha!” Yan Lam-thian tertawa puas. “Beribu tahil emas murni tak dapat menunda waktuku, tapi untuk menolong jiwa seekor walet kecil ternyata dapat menahan perjalananku.”

Setelah tertawa puas, kembali ia melayang ke depan dengan Ginkangnya yang tinggi.

Tidak lama kemudian, sekonyong-konyong terdengar berkumandangnya suara tangisan bayi dari kejauhan.

“He, jangan-jangan Kang-jite sudah mempunyai anak?” gumam Yan Lam-thian dengan girang. Dia melesat terlebih kencang menuju ke arah suara tangisan bayi itu.

Maka tidak lama kemudian dapatlah dia melihat keadaan yang mengerikan, mayat yang bergelimpangan serta jenazah Kang Hong yang berlumuran darah.

Yan Lam-thian menjerit terus menubruk ke sana, ia mendekap mayat Kang Hong dengan perasaan remuk redam.

*****

Seperginya Yan Lam-thian tadi disusul oleh berangkatnya Kang Khim, Sim Gin-hong ternyata, masih berdiri mematung di tempatnya.

Dengan rasa khawatir Ci-loji coba bertanya kepada pemimpinnya itu, “Menurut kartu kawanan Cap-ji-she-shio, bilakah mereka akan menemui Congpiauthau?”

“Senja hari ini,” jawab Sim Gin-hong.

“Jadi petang nanti?” Ci-loji menegas dengan gentar. “Di … di mana?”

“Di jalan depan sana!”

“Berapa … berapa orang di antara mereka yang akan datang?”

“Yang menandatangani kartu mereka adalah Hek-bian, Su-sin, Hian-ko dan Ging-khek.”

“Jadi … jadi si ayam, babi, kera dan anjing akan tampil sekaligus?”

“Wah, Congpiauthau, kukira … kukira lebih baik kita pergi saja, kita hanya beberapa orang ini, mungkin … mungkin ….”

“Hm, jika perlu kalian boleh saja pergi,” dengus Sim Gin-hong.

“Tapi engkau, Congpiauthau ….”

“Pemilik barang telah mempercayakan harta bendanya padaku, mana boleh aku mengelakkan kewajiban, kalian ….” Sim Gin-hong tidak melanjutkan, tanpa menoleh ia terus melangkah ke depan sana.

“Congpiauthau ….” seru Ci-loji sambil memburu, tapi baru dua tiga langkah sudah lantas berhenti.

“Bagaimana? Kau tidak ikut?” tanya Lui-lotoa.

“Lui-lotoa,” jawab Ci-loji dengan suara tertahan. “Biarkan dia berjuang sendiri sesuai tugasnya, buat apa kita ikut mengantarkan nyawa?”

Lui-lotoa menjadi gusar, dampratnya, “Keparat, binatang kau … dasar pengecut, tidak nanti aku Lui Siau-hou juga penakut seperti dirimu!”

“Baik, baik aku memang pengecut, silakan engkau menjadi pahlawan,” ujar Ci-loji sambil menyeringai.

“Keparat, baru sekarang kukenal benar-benar kalian ….” damprat Lui-lotoa atau Lui Siau-hou, sambil memaki ia pun menyusul ke arah sang Congpiauthau, Sim Gin-hong.

Sim Gin-hong sedang melangkah ke depan dengan perlahan, menuju ke ladang belukar yang sunyi di tengah remang maghrib. Langkahnya yang gesit enteng kini berubah menjadi berat seakan-akan kakinya diganduli benda beratus-ratus kati.

Ketika mendengar suara tindakan orang dari belakang, tanpa menoleh ia lantas bertanya, “Apakah ini Lui Siau-hou?”

“Benar, Congpiauthau,” jawab Lui-lotoa.

“Memang sudah kuduga hanya kau seorang saja yang akan menyusul kemari.”

“Dengan ucapan Congpiauthau ini, biarpun mati aku pun rela. Meski Lui-Siau-hou adalah orang bodoh, tapi sekali-kali bukan manusia pengecut dan binatang yang tidak tahu budi. Cuma Congpiauthau engkau … engkau sekali ini ….”

“Apakah kau heran karena aku tidak mengajak sahabat-sahabatku yang lain?”

“Ya, begitulah,” jawab Lui-lotoa.

“Kawanan Cap-ji-she-shio itu masing-masing memiliki ilmu saktinya sendiri-sendiri, jarang di antara kawan-kawan Kangouw kita yang mampu mengalahkan mereka. Jika kuajak teman, sudah tentu mereka akan hadir mengingat jiwa setia kawan mereka, tapi apakah aku tega membuat susah kawan sendiri dan mengorbankan jiwa mereka secara sia-sia.”

“Congpiauthau tetap Congpiauthau, jiwamu yang luhur sungguh membuatku tunduk benar-benar,” ujar Lui-lotoa, “Sekalipun aku Lui Siau-hou memiliki kepandaian setinggi Congpiauthau juga tidak mungkin mampu menjabat pemimpin umum dari gabungan tiga buah Piaukiok besar, aku ….” belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar suara anjing menggonggong.

Ada anjing menggonggong atau lebih tepat mengaum bulan di waktu malam di tengah ladang belukar sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, yang aneh adalah suara auman anjing ini lain daripada yang lain, suara gonggongan anjing ini mengandung rasa yang aneh dan menyeramkan.

Seketika air muka Lui-lotoa berubah, katanya tergegap, “Jangan-jangan … jangan-jangan ….”

Belum habis ucapannya, serentak suara anjing menggonggong berjangkit di kota kecil tadi, sahut menyahut akibat auman anjing pertama tadi. Betapa pun besar nyali Lui-lotoa tidak urung juga rada gemetar, tapi ketika dilihatnya sikap sang Congpiauthau tidak gentar sedikit pun, mau tak mau ia pun menjadi tabah, katanya dengan menyeringai, “Tampaknya kawanan Cap-ji-she-shio ini memang rada-rada aneh ….”

“Gerombolan Cap-ji-she-shio itu memang suka berbuat aneh-aneh dan menggoda untuk membikin jeri lawannya,” kata Sim Gin-hong. “Kalau kita juga kena digertak berarti kita sudah patah semangat lebih dulu.”

“Tidak, aku tidak takut, Congpiauthau,” seru Lui Siau-hou sambil membusungkan dada. “Pengecutlah orang yang takut, anak kura-kura kalau takut.”

Meski di mulut menyatakan tidak takut, namun sesungguhnya hatinya kebat-kebit, suaranya juga rada keder. Di malam sunyi, di tengah ladang belukar auman anjing yang mirip orang menangis dan seperti serigala menyalak memang menggetar sukma.

Segera Sim Gin-hong mengangkat tangan memberi hormat dan berseru lantang, “Silakan Cap-ji-she-shio perlihatkan diri. Sim Gin-hong sudah datang berkunjung!”

Biarpun tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya lantang keras menembus suara gonggongan anjing yang sahut menyahut dengan riuhnya itu.

Di tengah cuaca remang-remang sekonyong-konyong meloncat keluar segulung bayangan hitam yang menyerupai seorang penunggang kuda. Waktu Sim Gin-hong mengamati lebih teliti, kiranya seekor kera besar berbulu kuning menunggang seekor anjing dengan siungnya yang menyeringai seram.

Anjing itu sangat besar, yaitu anjing serigala atau anjing herder (gembala) menurut istilah sekarang. Kera berbulu kuning emas itu pun aneh, matanya merah memancarkan sinar yang menyeramkan. Anjing dan kera itu seakan-akan bukan makhluk di dunia ini, tapi seperti siluman yang datang dari akhirat.

Dengan tegak tak gentar Sim Gin-hong mengikuti datangnya si kera menunggang anjing itu. Sesudah dekat, mendadak kera itu bersuara mencuit sambil menyodorkan sebuah Tho.

Sim Gin-hong menjengek, “Sungguh bagus anjing sakti menyambut tamu dan kera ajaib menyuguh buah. Tapi yang ingin kutemui adalah manusianya dari Cap-ji-she-shio dan bukan kawanan binatang ini.”

Kera bulu emas itu seperti paham ucapan manusia, “ciit”, sambil bersuara mendadak ia berjumpalitan di atas punggung anjing tunggangannya itu, tiba-tiba tangannya sudah membentang sehelai kain putih dengan tulisan, “Jika kau berani makan ini, tentu ada orang yang akan menemuimu”

“Hm, kalau Cap-ji-she-shio hanya kawanan tikus yang cuma pintar menakut-nakuti orang, tentu orang she Sim takkan datang ke sini,” jengek Sim Gin-hong pula, “Apa pun juga Sim Gin-hong percaya penuh pada kalian, biarpun racun juga akan kumakan.”

Baru saja ia hendak menerima buah Tho yang disodorkan si kera tadi, tak terduga mendadak Lui Siau-hou menyerobot maju, buah Tho itu disambernya terus dilalap habis ke dalam perut, katanya, “Makan Tho gratis, kalau tidak mau kan bodoh!”

Serentak terdengarlah seorang tertawa seram dan menanggapi, “Bagus! Pantas Sam-wanpiaukiok dapat berjalan lancar di utara dan selatan Sungai (Yangce), buktinya di dalam perusahaannya memang tidak sedikit laki-laki berani mati ….” berbareng beberapa bayangan orang lantas muncul.

Kalau perawakan Sim Gin-hong sudah terhitung kurus kecil, maka kini orang yang muncul paling depan ternyata jauh lebih kurus kecil daripada Congpiauthau gabungan tiga perusahaan pengawalan itu. Jubah yang dipakai orang kerdil ini berwarna emas mengkilat, mukanya tirus, yakni tulang pipi menonjol dan janggutnya runcing, tapi kedua matanya merah membara, mulutnya lebar, waktu tertawa ujung mulutnya hampir melebar sampai di pangkal telinga. Kalau tiga bagian masih mirip manusia, maka orang ini tujuh bagian lebih menyerupai monyet.

Enam-tujuh pengikutnya lagi berseragam hitam pula, hanya kelihatan mata mereka yang berkedip mirip mata setan.

“Yang datang ini apakah ….”

Belum sempat Sim Gin-hong menegur, si kerdil berjubah emas itu sudah memotong, “Dari bentuk kami, sekali pandang saja tentu kau tahu melambangkan apa kami ini, jadi tidak perlu kujelaskan lagi bukan?”

“Ya, cuma Cayhe (aku yang rendah) heran mengapa di antara kalian tiada terdapat Hek-bian-kun dan Su-sin-khek?” ujar Sim Gin-hong.

“O, kedua kawan kami itu sedang melakukan jual-beli yang lain, memangnya kau anggap tidak cukup kehadiran kami ini?”

“Soalnya orang she Sim sudah sengaja datang dan tidak berpikir untuk pulang dengan hidup, maka kuharap bisa melihat wajah asli dari keduabelas lambang binatang yang termasyhur ini. Kalau sekarang jumlah yang hadir ternyata kurang lengkap, betapa pun aku rada menyesal.”

“Hehe, kutahu nyalimu tidak kecil, tak tahunya mulutmu juga cukup tajam,” ujar si kera dengan menyeringai. “Yang harus disayangkan adalah kedudukanmu sebagai Congpiauthau yang kau capai dengan susah payah ini, jika kau harus mati begitu saja apakah kau tidak penasaran?”

“Kedatanganku ini bukan untuk mengadu lidah denganmu,” bentak Sim Gin-hong ketus.

“Memangnya kau ingin berkelahi?” tanya Kim-goan-sing, si kera emas.

“Benar,” jawab Sim Gin-hong. “Kalau orang she Sim ini menang, kuharap kalian membatalkan niat mengincar barang kawalanku ….”

“Kalau kalah?” sela Kim-goan-sing. “Akan kau serahkan barang kawalanmu?”

“Hahaha!” Sim Gin-hong tertawa. “Partai barang yang kalian incar itu sudah diantar ke tempat tujuan oleh wakilku Song Tek-yang, kedatanganku ini hanya sekadar memenuhi janji saja.”

“O, begitukah?” Kim-goan-sing menegas. Tiba-tiba ia memanggil Hek-kau-sing, si anjing hitam, yang segera menyerahkan sebuah kotak kecil. Waktu kotak itu dibuka, dengan suara dingin Kim-goan-sing berkata, “Silakan Sim-congpiauthau memeriksa apa isi peti ini!”

Waktu Sim Gin-hong melongok sekejap ke dalam peti yang disodorkan itu, seketika ia kaget, mukanya menjadi pucat. Ternyata isi peti itu adalah kepala Song Tek-yang yang disebut sebagai wakilnya tadi.

“Kalian … kalian telah ….” Sim Gin-hong tidak sanggup lagi menyambung ucapannya.

“Hehehe!” Kim-goan-sing terkekek-kekek. “Jika Cap-ji-she-shio mudah ditipu orang, tentu orang Kangouw juga takkan kepala pusing bila terbentur kami. Bicara terus terang, harta benda kawalan kalian itu sudah jatuh di tangan kami. Kedatangan kami ini hanya ingin mencabut nyawamu!” Habis ini ia memberi tanda kepada begundalnya dan berseru, “Maju semua!”

Sekali ia bersuit, mendadak kera bulu emas itu melompat ke udara terus menubruk ke arah Sim Gin-hong, jarinya secepat kilat mencolok kedua mata musuh. Sedangkan anjing gembala yang besar tadi terus mengaum dan menubruk Lui Siau-hou.

Tidak kepalang kaget Lui Siau-hou, cepat ia mengelak. Tak terduga gerakan anjing besar itu sangat gesit, sekali tubruk luput, segera memutar balik dan menerjang lagi. Sekali ini Lui Siau-hou tidak mampu menghindar, ia tertubruk jatuh, dilihatnya sebaris gigi putih tajam menerkam ke tenggorokannya.

Dengan mati-matian Lui Siau-hou menahan dagu anjing, terjadilah pergulatan maut antara manusia dan anjing itu, anjingnya mengaum buas, Lui Siau-hou juga mengerang murka seperti binatang.

Di sebelah lain Sim Gin-hong juga sudah balas menyerang beberapa kali, tapi si kera bulu emas ternyata sangat gesit, jarinya senantiasa mengincar kedua biji mata lawannya.

“Hehehe! Tak kusangka para jago kawal Sam wan-piaukiok juga kewalahan menghadapi dua ekor binatang saja,” jengek Kin-goan-sing.

Belum lenyap suaranya, mendadak terlihat Sim Gin-hong meraba pinggangnya, seutas cambuk panjang terbuat dari untiran perak lantas menyabet, kontan kera bulu emas tadi dipaksa melompat mundur.

“Lari ke mana?!” bentak Sim Gin-hong. Berpuluh-puluh bintik perak seketika berhamburan, sebagian menuju kera bulu emas itu, tapi sebagian besar menyerang anjing gembala tadi untuk menolong Lui-lotoa.

Betapa pun cerdik dan gesitnya, kera tetap binatang, mana mampu menghindari sambitan senjata rahasia maut dari pimpinan besar gabungan tiga Piaukiok termasyhur itu. Kontan kera bulu emas itu menguik dan roboh binasa. Tapi pada saat lain Kim-goan-sing dan Hek-kau-sing, si binatang lambang kera dan lambang anjing hitam beserta anak buahnya juga lantas menubruk tiba. Dalam keadaan demikian biarpun Sim Gin-hong memiliki tiga kepala dan enam tangan juga sukar menahan serbuan tujuh-delapan musuh sekaligus.

Cepat Sim Gin-hong menjatuhkan diri sambil menggelinding ke samping, cambuknya berputar untuk membela diri, namun pihak musuh sudah di atas angin, mana dia mampu lolos lagi.

Di sebelah sana anjing raksasa tadi juga berhasil menggigit tenggorokan Lui Siau-hou yang berdekatan dengan pundak, tapi Lui Siau-hou tetap bertahan mati-matian, ia pun balas menggigit tenggorokan anjing herder yang ganas itu, seketika darah berceceran, satu orang dan seekor anjing sama bergelimang dalam genangan darah.

Pada saat yang gawat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan menggelegar seseorang, begitu keras suara itu laksana bunyi geledek di tengah hari cerah, seorang mendadak melayang tiba laksana malaikat yang turun dari langit.

Serasa rontok nyali semua orang oleh suara gertakan keras itu, seketika Kim-goan-sing dan Hek-kau-sing tertegun. Tertampaklah seorang laki-laki tinggi besar dengan rambut semrawut, sorot matanya tajam beringas dengan penuh rasa sedih dan murka cukup membuat orang merasa ngeri, apalagi sikapnya yang kereng itu. Yang aneh adalah di punggung lelaki kekar itu ternyata menggendong seorang bayi.

Dengan berlumuran darah Sim Gin-hong berteriak kegirangan, “Yan-tayhiap datang!”

“Apakah Yan Lam-thian?!” tanya Kim-goan-sing jeri.

“Cap-ji-she-shio, saat kematian kalian sudah tiba kini!” bentak Yan Lam-thian.

“Selamanya Cap-ji-she-shio tiada permusuhan apa pun denganmu, mengapa engkau ….” belum habis Kim-goan-sing bicara serentak Yan Lam-thian sudah menerjang tiba.

Salah seorang kawanan “anjing hitam”, yaitu yang berseragam hitam ketat tadi yang pertama diterjangnya, sebisanya anjing hitam memapak dengan hantaman kedua tangannya. “Blang-blang” dua kali, dengan tepat hantamannya mengenai dada Yan Lam-thian, tapi sedikit pun Yan Lam-thian bergeming, sebaliknya tulang pergelangan tangan orang itu patah mentah- mentah, belum lagi dia sempat menjerit atau dadanya sudah kena dicengkeram Yan Lam-thian.

Dalam keadaan kepepet sebisanya Hek-kau-sing itu berusaha melawan, sebelah kakinya hendak menendang. Tendangan ini sungguh lihai, sasarannya bagian selangkangan. Namun sekali gentak Yan Lam-thian membuat Hek-kau-sing kehilangan imbangan badan, menyusul kakinya yang terangkat itu terpegang pula terus dibetot. Kontan darah berhamburan, tubuh Hek-kau-sing itu terbeset menjadi dua.

Kawanan “anjing hitam” yang lain menjadi murka dan kaget, berbareng mereka menerjang maju dengan meraung kalap.

Sebenarnya ilmu silat beberapa orang itu masing-masing tidak tinggi, tapi enam orang mengerubut sekaligus menjadi repot juga untuk melayaninya. Namun Yan Lam-thian laksana harimau menerjang di tengah gerombolan domba saja, kedua potong mayat yang dibesetnya tadi digunakan sebagai senjata sehingga terjadilah hujan darah. “Krek, bluk”, kembali tiga orang seragam hitam dirobohkan pula.

Seorang lagi menjadi nekat dan menerjang mati-matian. Tapi sekali sabet, kembali Yan Lam-thian membuat lawannya tergeletak dengan tulang iga remuk seluruhnya. Seorang lain lagi menjadi ketakutan dan berusaha kabur. Namun di tengah gelak tertawanya Yan Lam-thian, setengah mayat yang dipegangnya itu terus disambitkan, “bluk”, dengan tepat punggung orang yang sedang kabur itu tertumbuk, orang itu masih sempat lari beberapa langkah lagi ke depan, habis itu setengah badan atas lantas roboh ke belakang dan kakinya masih melangkah ke depan, kiranya tulang punggung orang itu tertumbuk patah, akhirnya roboh binasa.

Sisa lagi seorang terakhir melihat Yan Lam-thian rada meleng, mendadak ia menubruk ke belakangnya, sasarannya adalah bayi yang digendong Yan Lam-thian, kalau bayi dapat direbut tentu dapat pula digunakan sebagai sandera.

Tak tersangka punggung Yan Lam-thian seperti bermata juga, mendadak ia membentak, “Berdiri!”

Seketika orang itu berdiri mematung karena gertakan itu, sedangkan sisa setengah potong mayat yang dipegang Yan Lam-thian lantas mengepruk kepalanya. Di tengah berhamburnya darah dan daging, orang itu sudah telanjur ketakutan sehingga lupa untuk menghindar, ia terpantek mentah-mentah di tempat berdirinya sehingga tubuhnya seakan-akan mengkeret separo.

Sim Gin-hong sampai merinding menyaksikan semua kejadian itu. Kim-goan-sing yang biasanya membunuh orang tak terhitung lagi banyaknya kini juga melenggong oleh kelihaian Yan Lam-thian.

“Apakah masih perlu kuturun tangan padamu?!” bentak Yan Lam-thian.

“Mengapa … mengapa engkau memusuhi ka ….” Kim-goan-sing ingin penjelasan.

“Mengapa? Hm, apakah kalian tidak tahu hubungan persaudaraan antara diriku dengan Kang Hong?” bentak Yan Lam-thian dengan murka.

“O, jadi kawanku si babi dan ….” Kim-goan-sing tergegap jeri

“Hm, kalau kawan-kawanmu itu sudah mampus, untuk apa kau hidup sendirian? Serahkan nyawamu!” baru habis ucapannya segera pula Yan Lam-thian menubruk maju dan jari tangannya yang keras laksana baja mencengkeram dada lawan.

Kim-goan-sing, si binatang kera emas itu ternyata tidak mengelak dan juga tidak melawan sama sekali. Ketika cengkeraman Yan Lam-thian diperkeras, seketika jari-jarinya menancap ke dalam daging Kim-goan-sing.

Tapi Kim-goan-sing masih tetap berdiri tanpa merintih sedikit pun.

“Hm, tak nyana tubuhmu meski kecil ternyata juga seorang laki-laki,” kata Yan Lam-thian. “Jika dalam keadaan biasa dapatlah kuampuni jiwamu, tapi sekarang … Hm, apa yang akan kau katakan lagi?”

Mendadak Kim-goan-sing menengadah dan tertawa seperti orang gila, lalu berkata, “Walaupun tubuhmu gede, tapi kau pun belum terhitung seorang lelaki sejati.”

Dalam keadaan demikian, andaikan Kim-goan-sing mencaci maki Yan Lam-thian dengan kata-kata kotor dan rendah apa pun juga dapat dimengerti, namun dia justru menista bahwa Yan Lam-thian bukan seorang lelaki sejati, betapa pun makian ini membuat pendekar besar itu melengak.

“Hm, selama hidupku ini, setiap tindakanku rasanya dapat kupertanggungjawabkan kepada dunia dan akhirat, sudah tentu banyak juga orang yang mencaci maki diriku, tapi antara baik dan jahat memang tidak mungkin berdiri bersama, maka makian apa pun yang kau lontarkan padaku tidak menjadi soal bagiku. Namun apa yang kau katakan sekarang perlu juga diketahui apa dasarnya, coba jelaskan.”

“Kalau tidak dapat membedakan antara benar dan salah, tidak tahu memisahkan antara budi dan benci, apakah orang demikian dapat dianggap sebagai lelaki sejati?”

“Hm, memangnya aku ….”

Belum sempat Yan Lam-thian melampiaskan suaranya yang murka itu, dengan suara keras Kim-goan-sing lantas memotongnya, “Jika engkau adalah manusia yang tahu membedakan antara yang benar dan salah, maka engkau tidak layak membunuh diriku?”

“Mengapa tidak layak membunuhmu?” tanya Yan Lam-thian penasaran.

“Coba jelaskan dulu, sebab apa kau ingin membunuhku?” balas Kim-goan-sing bertanya.

Dengan suara bengis Yan Lam-thian berteriak, “Kang-jiteku telah ….”

“Itulah dia,” kembali Kim-goan-sing memotong ucapannya, “kalau engkau membunuh diriku lantaran persoalan lain, maka aku takkan bicara apa-apa. Tapi kalau kau bunuh diriku karena urusan Kang Hong, maka itu berarti engkau tidak tahu antara budi dan benci dan tidak dapat membedakan yang salah dan yang benar.”

“Memangnya gerombolan Cap-ji-she-shio kalian menyangkal tidak pernah menewaskan Kang-jiteku?” bentak Yan Lam-thian dengan murka.

“Tidak. Pihak Cap-ji-she-shio adalah gerombolan bandit, bahwa bandit kerjanya merampok dan membunuh memang bukan rahasia lagi, maka apa yang terjadi bukanlah sesuatu dendam kesumat yang luar biasa. Yang lebih penting adalah peranan lain, yaitu orang yang menghubungi pihak Cap-ji-she-shio agar mengerjai Kang Hong, dia itulah sasaran sesungguhnya bagimu untuk menuntut balas. Dan apakah kau tahu siapa gerangan dia itu? Bukankah lucu, engkau tidak mencari musuh yang sesungguhnya, tapi malah mencari kami. Sekalipun engkau dapat membunuh habis seluruh anggota Cap-ji-she-shio juga tidak berarti engkau telah berhasil menuntut balas bagi kematian Kang Hong.”

Cara bicara Kim-goan-sing yang lancar, tegas serta berani itu membuat Yan Lam-thian yang murka itu jadi melenggong juga. Tiba-tiba terkilas suatu pikiran dalam benaknya, bentaknya mendadak, “Mungkinkah orang yang menghubungi Cap-ji-she-shio kalian adalah si binatang kecil Kang Khim? Ya, tentang perjalanan Kang-jite hanya binatang kecil itu saja yang diberitahu dan dia pula yang disuruh menyampaikan beritanya padaku.”

Air muka Kim-goan-sing tampak rada berubah, jawabnya, “Ya, memang tepat terkaanmu. Tampaknya tidak cuma badanmu saja yang gede, tapi otakmu juga berkembang dengan baik. Kang Hong memang telah dijual oleh kacung kepercayaannya, dijual dengan harga tiga ribu tahil perak, hanya tiga ribu tahil perak.”

“Binatang, bangsat keparat!” teriak Yan Lam-thian dengan suara serak dan beringas.

“Dan apakah kau tahu binatang itu berada di mana?” kata Kim-goan-sing pula dengan menyeringai.

“Sim Gin-hong,” cepat Yan Lam-thian berpaling kepada Congpiauthau itu, “apakah kau melihat ke mana perginya binatang kecil itu?”

Walaupun tahu sikap beringas Yan Lam-thian itu bukan ditujukan kepadanya, tidak urung Sim Gin-hong rada gemetar juga, dengan suara tergegap ia menjawab, “Cayhe … Cayhe tak memperhatikannya.”

Mendadak Yan Lam-thian angkat tubuh Kim-goan-sing yang kecil itu dan berteriak dengan suara parau, “Kau tahu ke mana perginya, bukan? Katakan, lekas!”

“Tahu, sudah tentu kutahu ke mana perginya, kalau tidak tentu aku takkan membicarakan soal ini,” jawab Kim-goan-sing tenang-tenang tanpa gentar.

“Ke mana dia? Lekas katakan!” bentak Yan Lam-thian pula.

Walaupun tubuh Kim-goan-sing diangkat ke atas, tapi sikapnya bahkan lebih tenang daripada berdiri di tanah, ia tersenyum saja dan menjawab, “Umpama tidak kukatakan, bagaimana pendapatmu?”

“Jika kau tidak mau bicara, sungguh aku kagum padamu,” ujar Yan Lam-thian sambil menatap tajam wajah orang.

Jika dia menyatakan akan membunuh, menyembelih, mencincangnya apabila Kim-goan-sing tidak mengaku, maka jelas Kim-goan-sing tak gentar sedikit pun, sebab si binatang kera itu yakin sebelum Yan Lam-thian mengetahui di mana beradanya Kang Khim tidak mungkin membunuhnya. Tapi karena ucapan Yan Lam-thian juga luar biasa itu, mau-tak-mau Kim-goan-sing menjadi bergidik sendiri.

“Dan bagaimana jika kukatakan?” tanya Kim-goan-sing kemudian.

“Kalau kau mau mengaku terus terang, segera kucolok kedua biji matamu,” jawab Yam Lam-thian.

Hampir saja Sim Gin-hong menjerit heran, pikirnya, “Pendekar besar ini mengapa tidak bijaksana begini? Kalau orang mengaku dia malah membutakan matanya. Jika demikian jelas Kim-goan-sing tak mau bicara.”

Di luar dugaan, tiba-tiba Kim-goan-sing menghela napas panjang, katanya, “Meski kehilangan mata, mendingan masih bisa hidup.”

“Nah, katakan!” desak Yan Lam-thian.

“Tapi biarpun kukatakan juga belum tentu kau berani ke sana.”

Yan Lam-thian menjadi gusar, teriaknya, “Di dunia ini tiada tempat yang tak berani didatangi orang she Yan!”

Kedua mata Kim-goan-sing meram-melek, wajahnya senyum-tak-senyum seperti orang mengejek, katanya kemudian dengan perlahan, “Kang Khim itu bukan orang tolol, dia cukup kenal Cap-ji-she-shio bukanlah orang-orang yang mudah diajak berkomplot, ia pun tahu membunuh orang bagi kawanan Cap-ji-she-shio tiada ubahnya seperti memites seekor semut saja. Dan setelah dia terima tiga ribu tahil perak dari Cap-ji-she-shio, hah, masakah dia tidak takut kepalanya bakal berpisah dengan tubuhnya?”

“Coba lanjutkan,” kata Yan Lam-thian.

“Dia begitu berani, soalnya dia sudah mempunyai tempat tujuan untuk sembunyi, tiga ribu tahil perak itu justru akan digunakan sebagai sangu hidup, sedangkan tempat yang ditujunya itu, biarpun keduabelas orang kawanan Cap-ji-she-shio berkumpul sekaligus juga tidak berani mendekat ke sana.”

“Hahaha!” Yan Lam-thian bergelak tertawa, “Apa kau maksudkan Ih-hoa-kiong? Haha, orang she Yan ini justru hendak ke sana.”

“Di dunia ini kan bukan cuma Ih-hoa-kiong saja yang disegani orang persilatan?”

“Habis mana lagi selain Ih-hoa-kiong?” bentak Yan Lam-thian.

“Ok-jin-kok di Kun-lun-san ….”

Begitu mendengar nama tempat itu, serentak air muka Sim Gin-hong berubah pucat dan badan gemetar, serunya, “Yan-tayhiap, engkau … engkau jangan ke sana!”

Tapi Yan Lam-thian tambah beringas, dengan tajam ia membentak pula, “Apakah betul ucapanmu ini?”

“Yang kukatakan ini apa adanya, percaya atau tidak terserah padamu,” jawab Kim-goan-sing.

“Yan-tayhiap, ‘Ok-jin-kok’ (lembah kaum penjahat) adalah tempat berkumpulnya kaum penjahat yang terdesak dan menghadapi jalan buntu, mereka sama mengungsi ke sana,” demikian tutur Sim Gin-hong dengan suara gemetar. “Penjahat yang berada di sana semuanya mahajahat dan kejam, tangan mereka rata-rata pernah berlumuran darah, semuanya adalah sampah masyarakat dunia persilatan, penjahat sebanyak itu berkumpul menjadi satu, sekalipun mereka dibenci dan banyak orang ingin membinasakan mereka, namun siapa yang berani mendekat ke sana? Malahan ‘Kun-lun-jit-kiam’ (tujuh pendekar Kun-lun), ‘Siau-lim-su-sin-ceng’ (empat paderi sakti Siau-lim-si) dan Kang-lam-kiam-khek (pendekar pedang daerah Kang-lam) Hong Siau-uh, semuanya juga tidak berani ke sana ….”

“Demi kebenaran, demi persahabatan, biarpun terjun ke lautan api atau air mendidih juga aku tidak gentar,” teriak Yan Lam-thian.

“Tapi bisa jadi Ok-jin-kok hanya tipu muslihat Kim-goan-sing saja, dia sengaja menjebak engkau, karena dendamnya dia sengaja memancing engkau ke sana agar ….” meski Gin-hong belum melanjutkan ucapannya yang terakhir “agar mengantar nyawa”, namun apa yang akan dikatakannya sudah cukup jelas bagi orang lain.

“Sekalipun Ok-jin-kok adalah gunung bergolok dan lautan api juga belum tentu dapat mencabut nyawaku,” teriak Yan Lam-thian sambil bergelak tertawa keras.

“Tapi … tapi ….”

“Tekadku sudah bulat, tidak perlu lagi kau bicara,” bentak Yan Lam-thian sebelum lanjut ucapan Sim Gin-hong. Terpaksa pemimpin perusahaan pengawalan itu tutup mulut dan menghela napas belaka.

“Bagus!” Kim-goan-sing juga memuji dengan gegetun. “Yan Lam-thian ternyata seorang ksatria sejati, sampai Ok-jin-kok juga berani diterobosnya. Meski kepergianmu ke sana jelas tiada harapan buat pulang kembali lagi, tapi engkau pasti akan dikagumi setiap insan persilatan di dunia ini.”

“Dan apalagi yang hendak kau katakan?” tanya Yan Lam-thian.

“Tidak ada lagi, ambillah biji mataku!” jawab Kim-goan-sing.

Di tengah suara jeritan ngeri, sepasang biji mata Kim-goan-sing si binatang kera dari kawanan Cap-ji-she-shio itu tahu-tahu sudah terkorek keluar, yang tertinggal hanya lubang mata yang berdarah.

Yan Lam-thian lemparkan tubuh Kim-goan-sing ke depan Sim Gin-hong dan berseru, “Kuserahkan orang ini padamu!” Habis berkata segera ia melayang pergi dengan cepat.

Lui Siau-hou masih menggeletak di tengah genangan darah menindihi anjing herder tadi, anjing dan manusianya sama kempas-kempis dan tak sanggup bergerak lagi.

Dengan pandangan haru Sim Gin-hong memandang sekejap pada Lui Siau-hou, lalu sorot matanya beralih kepada Kim-goan-sing, katanya dengan penuh benci, “Betapa pun cerdiknya kau kera ini, nyatanya kau pun dapat berbuat bodoh.”

Meski rasa sakitnya tadi membikin Kim-goan-sing setengah semaput, tapi sekarang ia sudah sadar kembali, seperti didorong oleh kekuatan gaib saja, kini ia dapat menahan penderitaannya dan mengeluarkan sebungkus obat untuk dibubuhkan pada lubang matanya sendiri. Bahkan mulutnya masih sanggup bicara walaupun dengan rada gemetar, “Kau bilang aku berbuat bodoh?”

“Ya, meski Yan-tayhiap tidak mencabut nyawamu tapi kau diserahkan padaku, memangnya aku dapat mengampuni jiwamu?” ujar Sim Gin-hong, “Biarpun lukamu diberi obat, lalu apa gunanya lagi?”

“Sudah tentu besar gunanya,” jawab Kim-goan-sing, “Aku takkan mati. Kau tidak mampu membunuh diriku.”

“Hahahaha!” Sim Gin-hong mengakak keras, “Siapalagi yang dapat menolongmu sekarang?”

“Aku sendiri,” jawab Kim-goan-sing.

Sejenak Sim Gin-hong melengak, tapi segera ia membentak, “Baik, ingin kulihat cara bagaimana kau menolong jiwamu sendiri ….” di tengah bentakannya itu telapak tangannya terus menabok batok kepala Kim-goan-sing.

Mendadak Kim-goan-sing berseru, “Apakah kau tidak lagi ingin menemukan kembali harta benda kawalanmu yang hilang itu?”

Seketika telapak tangan Sim Gin-hong terhenti di udara. Memang benar juga, kalau Kim-goan-sing dibunuh, lalu kepada siapa ia harus mencari keterangan?

“Nah, apa kataku? Memang sudah kuperhitungkan kau takkan berani membunuh diriku,” demikian Kim-goan-sing terkekek-kekek senang.

Beberapa kali Sim Gin-hong akan membinasakan musuh itu saking gemasnya karena ejekan itu, tapi akhirnya tak jadi, ia menghela napas dan menarik kembali tangannya dan berkata, “Baiklah kau yang menang. Sementara ini kau harus ikut padaku.”

Harta benda yang hilang di bawah pengawalannya itu memang menyangkut nasib hidup dan matinya Sam-wan-piaukiok, selamanya Sim Gin-hong tidak pernah mengingkari janji dan senantiasa bertugas dengan baik, kali ini ia pun tidak ingin mengingkari kewajiban atas kepercayaan para pemilik barang kepada Sam-wan-piaukiok itu.

Dengan terkekek-kekek Kim-goan-sing mengejek pula, “Nah, Sim Gin-hong, sekarang kau baru tahu bahwa aku tidak begitu mudah dibunuh oleh siapa pun juga, bukan?!”

*****

Malam sudah larut, pelita di rumah-rumah kota kecil itu pun banyak yang sudah dipadamkan. Di kedai minum “Thay-pek-ki” yang tinggal beberapa tukang mabuk itu pun berturut-turut pergi dengan langkahnya yang sempoyongan.

Ketika pelayan kedai itu kucek-kucek matanya yang sepat mengantuk dan hendak menutup pintu, tiba-tiba terdengar suara gemertaknya roda kereta, sebuah kereta besar tampak muncul dari ujung jalan sana.

Anehnya yang menarik kereta itu bukanlah kuda melainkan manusia, yaitu lelaki kekar yang siangnya baru menipu seribu tahil perak Lui-lotoa dan kawan-kawannya itu.

Setelah dekat, tertampaklah sekujur badan lelaki tegap itu berlumuran darah, wajahnya beringas penuh nafsu membunuh, kelihatan menyeramkan tapi juga kereng.

Setiba di depan pintu kedai, si pelayan rada keder melihat keadaan lelaki yang menakutkan itu. Yang aneh adalah kereta besar yang biasanya harus ditarik dua ekor kuda itu bagi lelaki itu kini hanya seperti benda enteng tanpa arti apa-apa.

Sesudah menyandarkan kereta itu, lelaki tegap itu, Yan Lam-thian, melangkah masuk kedai dengan memondong bayi yang tertidur nyenyak itu.

“Apakah … apakah Toaya ingin minum arak?” dengan tabahkan hati si pelayan bertanya dengan mengiring senyum.

Mendadak Yan Lam-thian membentak tertahan, “Siapa bilang aku ingin minum arak?”

Si pelayan melengak, tanyanya pula dengan gugup, “Bukan arak? Habis … Toaya ingin minum apa?”

“Tajin!” sahut Yan Lam-thian singkat.

Kembali si pelayan melengak, sungguh aneh, lelaki tegap begini bukannya minum arak, sebaliknya ingin minum tajin (kanji, air nasi). Tapi ketika ia melihat bayi di dalam pelukan lelaki itu, segera ia paham untuk apa lelaki itu menginginkan tajin. Dengan tergegap-gegap ia pun menjawab, “Tapi … tapi kami tidak … tidak menjual ….”

“Persetan!” omel Yan Lam-thian sambil mendelik. “Masakkan dulu dua mangkuk tajin yang kental, habis itu baru sediakan arak bagiku.”

Dalam keadaan ketakutan, mana si pelayan berani membantah lagi dan cepat berlari pergi mengerjakan apa yang dipesan.

Sehabis kenyang minum tajin, tidur bayi itu semakin nyenyak. Yan Lam-thian sendiri pun mulai minum arak, sinar matanya yang tajam sungguh menakutkan, sekejap saja si pelayan tak berani menatapnya.

Walau tak berani memandangnya, tapi diam-diam pelayan itu menghitung … satu, dua, tiga, empat … hanya sejenak saja Yan Lam-thian sudah menenggak habis tujuh belas mangkuk besar arak keras. Keruan si pelayan melelet lidah dan hampir saja tak dapat mengkeret kembali.

Mendadak dilihatnya Yan Lam-thian mengeluarkan dua potong perak dan dilemparkan ke atas meja sambil berseru, “Pergi membelikan barang untukku.”

“Toaya ingin … ingin membeli apa?” tanya si pelayan.

“Peti mati! Dua buah peti dari kualitas yang paling bagus!”

Pelayan itu berjingkat saking kagetnya hingga hampir jatuh terjungkal, mulutnya ternganga hingga sekian lama tidak sanggup bersuara, hampir-hampir ia tidak percaya kepada telinganya sendiri.

Tiba-tiba Yan Lam-thian menggebrak meja perlahan sehingga kedua potong perak tadi mencelat, tapi dengan tepat justru mencelat ke dalam saku si pelayan. Lalu bentaknya pula, “Peti mati, kau dengar tidak? Dua buah peti mati dari kualitas yang paling bagus”

“Ya … ya, dengar ….” sahut si pelayan tergopoh-gopoh.

“Kalau sudah dengar, kenapa tidak lekas pergi?!” kata Yan Lam-thian.

Seperti melihat setan saja segera pelayan itu berlari pergi. Setelah Yan Lam-thian menghabiskan araknya yang ketiga puluh dua mangkuk, si pelayan tampak kembali dengan mengangkut dua buah peti mati yang dipesan tadi.

Cekatan dan pintar juga cara kerja si pelayan, ia pun tahu bilakah harus menurut perintah orang dan ke mana harus mengerjakan tugasnya dengan baik, dalam waktu sesingkat itu dia sudah mendatangi perusahaan peti mati yang terbagus.

Dengan mata merah Yan Lam-thian mengeluarkan jenazah Kang Hong dan Hot Goat-loh dari keretanya yang diseret datang tadi, kedua sosok mayat itu dimasukkannya ke dalam peti mati. Semuanya itu dikerjakannya dengan tangan sendiri. Maklumlah, ia tidak ingin orang lain menyentuh lagi seujung rambut saudara angkat bersama kekasihnya itu.

Habis itu, dengan tangan telanjang Yan Lam-thian mulai memantek tutup peti mati.

Pada umumnya paku pemantek peti mati cukup besar, tapi sebuah demi sebuah Yan Lam-thian memantekkan paku itu ke dalam papan peti mati yang tebal itu dengan jari tangannya tanpa susah payah, mirip lidi yang dicobloskan ke dalam tahu saja.

Keruan si pelayan tambah melongo, ia menjadi bingung apakah yang dilihatnya sekarang ini manusia, malaikat atau setan?

Menghadapi peti mati yang sudah selesai dipantek itu, kembali Yan Lam-thian menghabiskan tujuh-delapan mangkuk arak. Dia tidak meneteskan air mata, tapi wajahnya tampak jauh lebih sedih daripada seorang yang menangis.

Sambil memegangi arak mangkuk terakhir, Yan Lam-thian berdiri termangu-mangu hingga lama sekali, terpaksa si pelayan mengiringnya berdiri tanpa berani bersuara.

Akhirnya Yan Lam-thian berkata dengan perlahan, “Jite, kuingin engkau mendampingi aku agar engkau dapat menyaksikan sendiri kubinasakan musuhmu seorang demi seorang!”

*****

“Jian-li-hiang”, itulah tiga huruf emas yang tertatah pada sebuah papan merek di jalan raya kota Thay-goan di propinsi Soasay, cahaya sang surya pada waktu senja masih mencorong dengan gemilangnya sehingga tiga huruf emas merek dagang itu pun memantulkan sinarnya yang gemerlapan.

“Jian-li-hiang” atau harum seribu li, ini adalah benar-benar merek dagang emas, setiap penduduk propinsi Soasay kenal nama perusahaan dagang ini, bahwa bahan wewangian produksi Jian-li-hiang adalah barang tulen, murni, tiada kadar campuran sedikit pun.

Menjelang maghrib, belasan pegawai toko Jian-li-hiang sedang makan malam, orang berlalu lalang di jalan raya, itulah saatnya paling ramai bagi orang berbelanja, berjalan-jalan atau melihat-lihat.

Sekonyong-konyong sebuah kereta besar dilarikan dengan kencang melalui jalan raya paling ramai itu, sekali pengendara kereta itu membentak laksana bunyi guntur menggelegar, langsung kereta itu menerobos masuk ke dalam toko Jian-li-hiang.

Tentu saja pegawai toko wewangian itu kaget dan gusar pula, serentak mereka mengerubut maju. Tapi sekali pengendara kereta itu melompat turun, entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu belasan pegawai toko itu merasa badan kaku kesemutan, lalu tak mampu bergerak lagi. Dengan melongo mereka menyaksikan lelaki kekar pengendara kereta itu mengambil rempah-rempah wewangian seguci demi seguci dan dijejalkan ke dalam kedua peti mati yang berada di atas kereta.

Sejenak kemudian lelaki kekar itu menghalau keretanya keluar dari toko dengan cepat sambil berteriak, “Setengah jam lagi kalian akan pulih seperti biasa, tentang harga wewangian yang kuambil ini, kelak pasti kubayar dengan harga lipat!”

Banyak juga orang ramai menyaksikan kejadian itu, tapi setiap orang sama terpengaruh oleh sikap garang dan kereng lelaki itu sehingga tiada seorang pun berani merintanginya ….

Sore hari, ladang semangka di tepi jalan mengeluarkan bau sedap semangka yang sudah waktunya dipanen. Seorang wanita petani muda tampak duduk kemalas-malasan berteduh di bawah pohon di tepi ladang semangka.

Baju wanita petani muda itu setengah tersingkap sehingga jelas kelihatan buah dadanya yang lebih bernas daripada semangka di ladang. Wanita muda itu sedang menyusui bayi dalam pangkuannya dengan air teteknya yang terlebih manis daripada air semangka.

Angin meniup silir-silir membuat wanita muda itu mengantuk. Dalam keadaan setengah tertidur itu ia seperti merasakan ada sepasang mata yang sedang mengincar dadanya yang montok itu.

Di kampung petani itu juga tidak sedikit pemuda bajul buntung, sehari-harinya dia sudah biasa dipandangi orang. Maklum biarpun wanita petani, dia masih muda, montok, wajahnya juga tidak terlalu jelek. Tapi dia sudah punya anak, dia merasa tiada artinya soal pandang memandang itu. Akan tetapi kini ia merasakan sepasang mata itu lain daripada yang lain.

Tanpa terasa ia buka matanya, terlihatlah di samping pohon sana benar-benar ada seorang lelaki yang sedang melotot ke arah dadanya.

Lelaki itu tidak tampan, pakaiannya juga tidak perlente, wajahnya bahkan kekurus-kurusan, tapi entah mengapa, tampaknya kereng dan berwibawa. Yang aneh adalah lelaki kekar itu justru memondong seorang bayi.

Walaupun merasa heran, tapi wanita petani itu tidak ambil pusing, ia menunduk kembali memandang bayinya sendiri. Mendadak terdengar bayi dalam pondongan lelaki itu menangis, suara tangisnya juga nyaring.

Perempuan muda itu belum lama menjadi ibu, hatinya sedang penuh diliputi kasih sayang seorang ibu, mendengar tangisan bayi itu, tanpa terasa ia angkat kepalanya lagi. Sekali ini dia dapat membedakan bahwa sepasang mata lelaki kekar yang mengincar dadanya itu lain daripada mata pemuda bajul umumnya, tapi penuh mengandung perasaan memohon kasihan.

Tanpa terasa perempuan petani itu tersenyum dan bertanya, “Apakah ibu anak itu tidak berada di sini?”

“Ya, tidak ada,” lelaki itu menggeleng.

Wanita petani itu berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Tampaknya dia lapar.”

“Ya, lapar,” sahut lelaki itu sambil mengangguk.

Setelah memandang sekejap bayi dalam pangkuannya sendiri, mendadak wanita petani itu berkata dengan tertawa, “Coba berikan anakmu itu, biar kususui dia. Mendingan kemarin aku baru lalap dua ekor ayam tim, air tetekku lagi kelebihan, kukira takkan habis diminum anakku ini.”

Seketika wajah lelaki yang kereng itu mengunjuk rasa girang, cepat ia mengucapkan terima kasih dan menyodorkan bayinya.

Terlihat bulu halus bayi itu belum lagi rontok, kulitnya masih kemerah-merahan, jelas baru beberapa hari saja dilahirkan. Tapi mukanya yang berkulit lembut itu ternyata sudah ada segaris bekas luka.

Wanita petani itu berkerut kening, katanya, “Ai, kalau membawa anak perlu hati-hati sedikit. Ibu si bocah ini juga terlalu, masakah diserahkan padamu tanpa khawatir apa-apa.”

“Ibu anak ini sudah meninggal,” kata lelaki itu dengan sedih.

Wanita petani itu melengak, perlahan ia membelai wajah bayi yang halus itu, katanya dengan terharu, “Ai, sungguh kasihan, baru lahir sudah kehilangan ibu.”

Lelaki itu menengadah dan menghela napas panjang, dengan pandangan sayu dia menatap anak bayi itu dengan perasaan pedih dan duka yang tak terlukiskan serta kasih sayang yang tak terkatakan.

Anak itu seakan-akan memang dilahirkan dengan nasib malang. Baru dilahirkan sudah mengalami bunuh membunuh dan kematian, agaknya nasib kehidupannya nanti seakan-akan ditakdirkan penuh malapetaka. Sungguh kasihan, anak sekecil itu sudah tentu tidak tahu apa-apa, kini wajahnya yang kecil mungil itu malahan sedang tersenyum penuh bahagia.

*****

Kun-lun-san, barisan pegunungan terpanjang dan terbesar di Tiongkok, terbagi tiga cabang: utara, tengah dan selatan. Tiga cabang bukit barisan ini berpangkal dari dataran tinggi Pamir di pegunungan Himalaya dan membentang ke timur hingga hampir meratai seluruh negeri Tiongkok.

Kun-lun-San atau pegunungan Kun-lun yang dimaksudkan di sini adalah pegunungan sumber aliran ilmu silat yang termasyhur yang terletak di hulu sungai Yalung, di propinsi Cinghay.

Di antara puncak gunung yang berderet-deret itu berdiri tegak Giok-liong-hong, puncak naga kemala. Meski sekarang masih musim panas, namun di kaki Giok-liong-hong sudah terasa seperti di musim dingin, angin meniup keras dan kabut tebal membungkus pegunungan yang lembab itu.

Akhirnya Yan Lam-thian tiba juga di kaki Giok-liong-hong itu, orangnya kelihatan pucat kurus, kudanya juga kelelahan, bahkan roda keretanya seakan-akan juga sukar menggelinding lagi. Bayangan raksasa pegunungan dengan berat menindihi kereta kuda itu.

Tangan kiri Yan Lam-thian memegang tali kendali dan tangan kanan memondong bayi, bau harum menusuk hidung yang tersiar dari dalam kereta membuatnya hampir muntah.

Tapi bayi itu sedang tidur dengan lelapnya, anak sekecil itu rupanya sudah terbiasa oleh siksa derita dalam pengembaraan.

Dengan penuh kasih sayang tak terbatas Yan Lam-thian memandangi wajah kecil itu, tiba-tiba ia mengulum senyum dan bergumam, “Nak, sepanjang jalan ini tidak sedikit kau meneteki susu orang. Dari Tionggoan sampai di sini kau disusui orang secara berganti-ganti, di dunia ini selain dirimu rasanya tiada anak lain yang ….” sampai di sini mendadak ucapannya terhenti, tubuhnya juga mendadak mengapung ke atas.

Pada detik tubuhnya mengapung ke udara itulah segera terdengar pula suara “tek-tak-tok” belasan kali, belasan jenis senjata rahasia dari berbagai ukuran sama menancap di tempat yang didudukinya tadi.

Sungguh berbahaya. Apabila dia terlambat mengapung sedetik saja, tentu tubuhnya sudah bertambah belasan lubang.

Setelah berjumpalitan di udara, tangan kirinya, meraih pelana kuda, segera orangnya menyusup ke bawah perut kuda, ia tidak takut dirinya sendiri terluka, tapi menguatirkan keselamatan bayi dalam pelukannya itu.

Gerakannya itu sungguh cepat dan gesit luar biasa, mau-tak-mau membuat si penyergap berseru memuji, “Kepandaian hebat!”

“Main sergap, terhitung jago macam apa itu?” bentak Yan Lam-thian.

Belum lenyap suaranya, kembali kuda tadi meringkik kaget dan berdiri menegak, badan kuda segera menyemburkan belasan pancuran darah segar.

Tanpa pikir lagi telapak tangan Yan Lam-thian lantas menghantam, “blang-blang”, kayu kereta yang mengapit kuda patah dan kuda yang terluka itu meloncat ke depan. Menyusul Yan Lam-thian menghantam pula sekerasnya, “blang”, dinding kereta berlubang besar, selagi kuda tadi meringkik panjang, bayi di tangan kirinya itu telah dimasukkan ke dalam kereta melalui lubang yang dibobolnya tadi. Sementara itu berpuluh bintik-bintik perak telah menghujani pula.

Secepat kilat Yan Lam-thian menjulang tinggi lagi ke atas, terdengar suara mendenging menyambar lewat di bawah kakinya. Dalam keadaan gawat begitu, kalau sedikit lena saja, sekalipun Yan-Lam-thian sendiri selamat, bayi dalam pondongannya pasti akan menjadi korban. Andaikan bayinya tidak tewas, tentu kereta itu juga akan ditarik kuda yang terluka itu dan menggilasnya.

Begitulah selagi tubuh Yan Lam-thian masih terapung di udara, tiba-tiba ia sudah dikerubut oleh beberapa jalur sinar pedang. Begitu ketat jaringan pedang itu mengurungnya, tampaknya sukar baginya untuk mengelakkan diri, andaikan dapat menghindarkan serangan pedang ini tentu juga tak terluput oleh tebasan pedang yang lain.

Siapa duga, selagi badan terapung di udara itulah, sekuatnya ia pentang kedua tangan, mendadak tubuhnya mengapung lebih tinggi lagi beberapa meter sehingga semua serangan pedang menyambar lewat di bawah kakinya.

Terdengar suara “trang-tring” yang ramai, serangan beberapa pedang itu tak sempat menahan diri sehingga saling bentur sendiri. Tapi sekali saling gebrak, lalu berhenti, tujuh atau delapan orang sama melompat mundur. Di bawah cuaca remang-remang tertampak si antara mereka itu ada empat orang berdandan sebagai Tojin (pendeta agama To).

Sementara itu Yan Lam-thian sempat menancapkan kakinya di atas kereta, habis itu secepat kilat ia meluncur ke depan, kedua telapak tangan terus menghantam batok kepala seorang Tojin berjubah biru paling depan.

Karena merasa dirinya diserang secara keji, maka serangan balasannya sekarang juga tanpa kenal ampun. Betapa hebat pukulan Yan Lam-thian ini sungguh luar biasa.

Tentu saja si jubah biru terkejut oleh sambaran angin pukulan yang mahadahsyat itu, ia tergetar mundur dan sebisanya pedang terus menabas.

Tojin ini bukan sembarangan Tojin, jurus pedangnya ini hasil latihan berpuluh tahun lamanya, ia yakin seumpama pedangnya tidak dapat melukai musuh, sedikitnya cukup untuk membela diri. Tak terduga, belum habis sama sekali pedangnya ditebaskan, tahu-tahu pergelangan tangannya terasa kencang, pedang sudah berpindah ke tangan lawan.

Sungguh Tojin yang hebat, menghadapi bahaya ia tidak menjadi bingung dan sempat menyelinap lewat di bawah angin pukulan Yan Lam-thian.

Melihat ketangkasan lawan, tanpa terasa Yan Lam-thian juga berseru memuji, “Bagus!” Berbareng dengan seruannya itu, pedang rampasannya lantas menyabet lawan yang berada di sampingnya.

Yan Lam-thian berjuluk “Si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia”, maka dapat dibayangkan betapa lihai serangannya. Di tengah guncangan angin senjata, sayup-sayup membawa serta suara gemuruh.

Orang itu bermaksud menangkis dengan pedang, tapi tiba-tiba pikirannya tergerak, air mukanya berubah pucat, cepat ia mendoyong ke belakang dan tak berani menangkis, sebisanya ia melompat mundur.

Namun sinar pedang Yan Lam-thian seakan-akan tidak terputus-putus dan terus membayangi lawannya. Keruan nyali orang itu serasa rontok, terpaksa ia menangkis sekuatnya dengan pedang.

“Trang”, kedua pedang beradu. Kedua batang pedang itu sebenarnya berasal dari gemblengan pandai besi yang sama ahli, tapi entah mengapa pedang orang itu ternyata kena ditebas menjadi dua.

Untuk menghindari renggutan maut, cepat orang itu menjatuhkan diri dan menggelinding ke sana.

Tiba-tiba Yan Lam-thian bersuit panjang, laksana sinar kilat pedangnya menyambar pula. Betapa lihai serangan ini sungguh menggetar bumi dan mengguncang langit.

Di tengah bertebarnya sinar pedang, sekonyong-konyong terdengar suara, “creng” yang nyaring memekak telinga.

Tertampak tiga Tojin jubah biru dengan sebelah kaki bertekuk-lutut di tanah, pedang mereka bersilang menangkis ke atas untuk menahan serangan pedang Yan Lam-thian yang mahalihai itu. Sedangkan orang tadi hampir saja kelengar saking kagetnya.

Dengan berdiri tegak berwibawa menekan pedangnya ke bawah, Yan Lam-thian bertanya dengan kereng, “Yang menangkis pedangku ini Su-ciu (empat rajawali) atau Sam-eng (tiga elang)?”

“Su-ciu!” sahut salah seorang Tojin itu. “Dari mana kau tahu ….”

“Di jaman ini, kecuali Kun-lun-jit-kiam (tujuh ahli pedang Kun-lun), siapalagi yang mampu menangkis tebasan pedangku ini?” ujar Yan Lam-thian.

“Di dunia ini, selain Yan Lam-thian, Yan-tayhiap, mungkin tiada orang lain lagi mampu membuat kami bertiga terpaksa harus menangkis suatu serangan bersama!” kata Tojin itu.

“Tapi mengapa Kun-lun-jit-kiam melakukan sergapan keji ini kepadaku, sungguh aku tidak mengerti?” bentak Yan Lam-thian.

“Kami sengaja menunggu di sini, sebenarnya yang ingin kami cegat adalah seorang pelarian yang hendak memasuki ‘Ok-jin-kok’,” tutur Tojin itu dengan tersenyum getir. “Sungguh kami tak pernah menduga bahwa Yan-tayhiap juga bisa mendatangi Ok-jin-kok ini.”

“O, apakah kalian menyangka diriku ini orang yang kalian incar itu?” tanya Yan Lam-thian.

“Ya, jika bukan begitu, masakah kami sampai mencari perkara kepada Yan-tayhiap?” kata si Tojin dengan menyesal.

Yan Lam-thian menarik kembali pedangnya, dan baru saja pedangnya diangkat, “trang”, serentak pedang ketiga Tojin itu jatuh ke tanah, tangan mereka serasa tak sanggup diangkat lagi.

“Siapakah orang yang hendak kalian cegat itu?” tanya Yan Lam-thian.

“Suma Yan,” jawab Kun-lun Tojin.

“Apakah Suma Yan yang berjuluk ‘Coan-jong-kiam’ (pedang penembus usus) itu?” tertarik juga Yan Lam-thian oleh nama itu.

“Benar, memang bangsat keparat itulah,” kata Kun-lun Tojin dengan gemas.

“Dari mana kalian mengetahui bangsat itu akan datang kemari?”

“Joan-tiong-pat-gi (delapan pendekar dari Joan-tiong) mengejarnya sepanjang jalan hingga di sini,” tutur Kun-lun Tojin. “Ketiga saudara inilah Nyo Peng, tertua dari Joan-tiong-pat-gi, Hay Tiang-po, pendekar ketiga dan Hay Kim-po, pendekar ketujuh ….”

Nama Joan-tiong-pat-gi cukup tenar juga di dunia Kangouw, ketiga orang yang diperkenalkan itu memang gagah dan berwibawa.

Nyo Peng, tertua Joan-tiong-pat-gi itu lantas memberi hormat dan berkata, “Sudah cukup jauh kami memburu bangsat Suma itu, sampai di lembah sungai Hwang barulah kehilangan jejaknya. Kalau dia sempat memasuki Ok-jin-kok, sungguh Wanpwe merasa penasaran, sebab itulah kami mengundang keempat Totiang untuk membantu berjaga di sini, siapa tahu … siapa tahu bertemu dengan Yan-tayhiap.”

“Pantas cara turun tangan kalian sangat keji,” ujar Yan Lam-thian. “Ya, terhadap kaum penjahat begitu memang perlu tindakan tegas, semakin keji semakin baik, tidak perlu kenal ampun.”

Cong-ek-cu, Tojin yang mengepalai keempat Kun-lun Tojin itu, bertanya, “Dan entah sebab apakah Yan-tayhiap juga datang ke sini?”

“Tempat tujuanku memang Ok-jin-kok!” jawab Yan Lam-thian.

Kun-lun-si-cu (keempat Cu (gelar Tojin) dari Kun-lun) dan Joan-tiong-pat-gi sama melengak, tanya mereka berbareng, “Jadi Yan-tayhiap sengaja hendak pergi ke Ok-jin-kok?”

“Ya,” jawab Yan Lam-thian dengan tertawa. “Tapi kepergianku ke sana bukanlah untuk menghindari pencarian musuh atau mengasingkan diri melainkan justru hendak mencari musuh yang sembunyi di sana.”

“Namun … namun Ok-jin-kok adalah ….”

Belum habis Cong-ek-cu bicara, dengan suara bengis Yan Lam-thian memotong, “Biarpun Ok-jin-kok itu adalah sarang harimau atau kubangan naga juga akan kuterjang!”

“Keperwiraan dan keluhuran budi Yan-tayhiap sudah cukup kami kenal,” ujar Cong-ek-cu. “Cuma … cuma Ok-jin-kok adalah tempat berkumpulnya kaum penjahat, mungkin dalam sejarah belum pernah ada tempat yang dihuni oleh penjahat sebanyak itu, bahkan juga belum pernah terjadi seorang berani menghadapi penjahat sebanyak itu dengan sendirian. Maka sebaiknya Yan Lam-thian suka … suka menimbang kembali maksud tujuanmu.”

Sinar mata Yan Lam-thian menyala bagai obor dan memandang jauh ke lembah yang diselimuti kabut tebal itu, katanya dengan suara mantap, “Seorang lelaki sejati, asalkan dapat berbuat beberapa hal yang tak berani dilakukan orang lain, sekalipun mati juga takkan menyesal.”

Kun-lun-si-cu saling pandang sekejap dengan rasa malu diri.

Nyo Peng berkata pula, “Tapi setahu Cayhe, selama dua puluh tahun ini, di antara kesepuluh gembong iblis yang paling jahat di dunia Kangouw, sedikitnya ada empat orang yang telah memasuki Ok-jin-kok itu.”

“Mungkin lebih daripada empat orang,” ujar Hay Tiang-po. “Yang jelas sudah berada di sana adalah ‘Hiat-jiu’ (si tangan berdarah) Toh Sat, lalu ‘Siau-li-cong-to’ (di balik tertawa tersembunyi sembilu) Ha-ha-ji, ‘Put-lam-put-li’ (bukan lelaki bukan perempuan alias si banci) To Kiau-kiau serta ‘Put-sip-jin-thau’ (tidak makan kepala manusia) Li Toa-jui ….”

“Li Toa-jui?” Yan Lam-thian menegas. “Apakah si iblis yang terkenal gemar makan manusia itu?”

“Ya,” jawab Hay Tiang-po. “Orang memoyoki dia tidak memakan kepala manusia untuk menggambarkan bahwa kecuali kepala manusia, semuanya dimakan olehnya. Dia malah bergelak tertawa mendengar nama poyokan itu, dia bilang sebenarnya kepala manusia juga dimakan olehnya.”

“Bangsat sejahat itu, mana boleh dibiarkan hidup terus,” kata Yan Lam-thian dengan gusar.

“Konon Li Toa-jui ini rada memiliki sifat kejantanan, baik ilmu silatnya maupun ilmu sastranya boleh dikatakan cukup lumayan, selain gemar makan manusia, urusan lain-lain terhitung baik.”

“Hm, masakah makan manusia saja belum cukup jahat?” teriak Yan Lam-thian dengan gusar.

“Sungguh pun begitu, tapi Ketua Perserikatan Bu-lim di daerah tiga propinsi utara, yaitu Thi Bu-siang, Thi-tayhiap, entah sebab apa ternyata menaruh simpatik padanya,” tutur Hay Tiang-po, “dengan tulus hati Thi-tayhiap ingin menarik Li Toa-jui ke jalan yang baik, untuk itu beliau rela menjodohkan putri tunggal kesayangannya kepada orang she Li itu, maksudnya agar putrinya dapat mengawasi tindak-tanduk Li Toa-jui demi memperbaiki perbuatannya yang jahat itu.”

“Thi Bu-siang berjuluk ‘Ay-cay-ji-heng’ (sayang pada orang berbakat melebihi jiwa sendiri), ternyata memang tidak bernama kosong,” ujar Yan Lam-thian dengan gegetun.

“Tapi dasar jahat ya tetap jahat, betapa pun anjing tetap makan najis,” tutur Hay Tiang-po. “Siapa tahu, belum ada tiga hari dinikahkan, kegemaran Li Toa-jui sudah timbul kembali, pengantin perempuan telah disembelihnya dan dimakan mentah-mentah olehnya.”

“Sungguh bangsat keparat!” teriak Yan Lam-thian saking murka.

“Karena itu juga Thi-tayhiap menjadi gusar, bersama belasan anak muridnya ia bersumpah akan mencabut nyawa Li Toa-jui. Namun orang she Li itu cukup cerdik, sebelumnya dia sudah kabur masuk ke Ok-jin-kok.”

Dengan menyesal Nyo Peng lantas menyambung, “Sudah tentu Thi-tayhiap sangat menyesalkan keputusannya yang salah memungut menantu Li Toa-jui, tapi ia pun tidak tega menyiarkan kematian putrinya yang mengerikan itu, dia hanya memberi keterangan bahwa putrinya meninggal karena sakit keras. Kalau saja hubungan kami dengan Thi-tayhiap tidak cukup erat, mungkin urusan ini takkan diketahui sejelas ini oleh orang lain.”

“Pantas orang Kangouw tidak banyak yang mengetahui kejadian ini,” kata Yan Lam-thian dengan gemas.” Tapi … Thi Bu-siang terhitung juga ksatria yang tak gentar terhadap siapa pun juga, masakah dia tinggal diam saja menyaksikan bangsat she Li itu hidup bebas tenteram di Ok-jin-kok?”

“Thi-tayhiap memang bermaksud memburunya ke Ok-jin-kok, namun anak muridnya sama menahannya dengan sangat, Thi-hujin (nyonya Thi) juga berlutut dan mohon sang suami agar jangan pergi ke sarang penjahat itu, mau-tak-mau Thi-tayhiap menjadi ragu untuk bertindak.”

“Baru kehilangan putri kesayangan, pantas kalau Thi-hujin tidak mau membiarkan sang suami menyerempet bahaya pula,” kata Yan Lam-thian sambil menghela napas. “Ai, seorang lelaki sejati tidak perlu harus beristri, rasanya tindakan demikian juga bukan sesuatu yang bodoh.”

“Kecuali keempat iblis tadi,” sambung Hay Tiang-po, “kabarnya Im Kiu-yu, itu iblis yang membanggakan Ginkangnya tiada bandingannya di dunia ini serta suka meracun orang secara diam-diam, katanya juga kabur ke Ok-jin-kok.”

“O, jadi ‘Poan-jin-poan-kui’ (setengah manusia setengah setan) Im Kiu-yu juga berada di sana?” Yan Lam-thian menegas dengan waswas.

“Konon dia berhasil mengerjai murid Siau-lim-pay dari kalangan preman, yaitu Li Tay-goan, tapi kabarnya dia juga sudah dibereskan oleh para tertua Siau-lim-si.”

“Ya, di dunia Kangouw memang tersiar berita demikian,” ujar Hay Tiang-po, “tapi menurut sumber yang mengetahui kejadian di balik layar, katanya para tertua Siau-lim-pay memang sudah berhasil membekuk dan mengurung iblis ‘setengah manusia setengah setan’ itu, namun akhirnya dia berhasil lolos pula. Karena kejadian ini menyangkut kehormatan Siau-lim-pay, maka anak murid Siau-lim-pay sama sekali tidak ada yang mau bercerita.”

“Itulah kelemahan manusia umumnya yang suka menjaga muka,” ujar Yan Lam-thian dengan gegetun. “Sebabnya Siau-lim-pay yang terkenal itu makin hari makin merosot, soalnya karena setiap murid Siau-lim-pay terlalu suka menjaga muka.”

“Ya, memang bukanlah pekerjaan mudah untuk tetap mempertahankan wibawa dan nama baik sesuatu aliran agar tidak merosot,” kata Cong-ek-cu. Sudah tentu ucapannya ini timbul karena ada sebabnya. Bukankah Kun-lun-pay mereka pun kian hari kian lemah?

“Kaum penjahat itu rada-rata adalah orang yang sukar dilayani,” tutur Nyo Peng, “lebih-lebih To Kiau-kiau, si tidak lelaki bukan perempuan itu, bukan saja banyak tipu akalnya, bahkan kepandaiannya menyamar boleh dikatakan tiada bandingannya. Sekalipun orang yang paling karib dengan engkau, bisa jadi mendadak berubah menjadi iblis itu yang menyamarnya. Konon sebabnya orang ini kabur ke Ok-jin-kok bukan karena menghindari pencarian musuh, tapi ada sebab lain.”

“Benar, dengan kepandaiannya menyamar, pada hakikatnya dia tidak perlu kabur ke Ok-jin-kok, sebab orang lain toh tidak tahu persis bentuknya yang asli,” ujar Hay Tiang-po.

“Tak peduli kaburnya ke Ok-jin-kok itu disebabkan apa, tak peduli betapa pintarnya dia mengubah wajahnya, yang pasti kumasuk ke sana sendirian, biarpun dia menyamar menjadi siapa pun juga takkan mengelabui aku,” kata Yan Lam-thian. “Haha, memangnya dia mampu menyamar menjadi bayi yang baru setengah bulan dilahirkan?”

“Benar juga,” kata Nyo Peng dengan tertawa, “sekali ini Yan-tayhiap masuk ke sana dengan sendirian, biarpun dia memiliki kepandaian setinggi langit mungkin juga tiada gunanya lagi. Cuma … cuma ….”

Tanpa menunggu selesai ucapan orang, segera Yan Lam-thian memberi salam perpisahan terus melangkah pergi.

“Yan-tayhiap, engkau ….” serentak semua orang berseru.

Namun Yan Lam-thian tidak menoleh lagi, sambil menyeret keretanya ia terus melangkah ke depan. Dia menarik keretanya dengan sebelah tangan saja, tapi ternyata jauh lebih kuat dan cepat daripada kereta itu dihela kuda.

Semua orang saling pandang dengan melongo dan terdiam sekian lamanya, akhirnya Cong-ek-cu menghela napas dan berkata, “Sering kudengar orang mengatakan ilmu silat Yan-tayhiap mahatinggi dan tiada bandingannya, setelah menyaksikan tadi … Ai ….”

“Tinggi ilmu silatnya memang sangat membuat kagum orang, yang lebih kukagumi adalah jiwa ksatrianya, budi luhurnya, semua ini membuat kaum kita harus malu diri,” ujar Nyo Peng.

Sambil memandangi bayangan Yan Lam-thian yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap, Hay Tiang-po bergumam, “Semoga kepergiannya ke Ok-jin-kok ini masih dapat keluar lagi untuk bertemu dengan kita ….”

Jalan pegunungan semakin berliku dan terjal, tapi Yan Lam-thian tetap melangkah dengan biasa sambil menarik kereta, tampaknya sama sekali tidak makan tenaga.

Di tengah remang maghrib diliputi kabut itu, tiba-tiba timbul setitik sinar pelita di depan sana.

Itulah lampu minyak sejenis sentir yang disebut “Khong-beng-teng”, lampu yang asalnya diciptakan Khong Beng, itu ahli siasat di jaman Sam-kok. Secara tepat dan mengagumkan diselipkan di celah-celah batu cadas yang teraling dari tiupan angin, sinar lampu yang kelap-kelip di lembah pegunungan yang menyeramkan ini tampaknya mirip “api setan” saja di waktu malam.

Di bawah cahaya lampu itu, terlihat dua baris huruf yang terukir pada batu gunung itu berbunyi “Laksana naik ke langit untuk masuk ke lembah ini. Pendatang disilakan jalan di sebelah sini”.

Bagian bawah kedua baris huruf itu ada ukiran ujung panah yang menunjukkan arah yang harus diturut. Sepanjang mata memandang ke sana terlihat lembah yang dikelilingi oleh gunung-gemunung.

“Kurang ajar! Sungguh kaum penjahat yang terlalu berani, secara terang-terangan ternyata berani memberi petunjuk jalan bagi orang yang hendak masuk ke sarang mereka,” demikian omel Yan Lam-thian dengan gemas. “Ya, mungkin kalian mengira di dunia ini tidak ada orang baik yang berani masuk ke lembah maksiat kalian ini.”

Padahal, orang baik-baik yang masuk ke Ok-jin-kok memang Yan Lam-thian sendirilah terhitung orang pertama.

Advertisements

1 Comment »

  1. mantap ceritanya, mau lanjut baca yg ke 2

    Comment by Firman — 20/02/2013 @ 6:37 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: