Kumpulan Cerita Silat

11/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 14

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:51 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 14
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Hun-cong melihat air muka Toh It-hang seperti menunjukkan rasa sedih, apalagi hubungan antara mereka sebenarnya sangat kental, dalam keadaan biasa, tentu tidak berpamitan secara tergesa-gesa begitu, sekalipun dalam keadaan yang kalut juga pasti akan berbincang-bincang mengenai keadaan masing-masing selama ini.

Akan tetapi kini, bahkan nama Suhunya saja tidak ditanya sudah buru-buru berpisah, ini sungguh aneh sekali.

Ia tak mengerti orang pandai seperti Toh It-hang masih mempunyai urusan yang membuat ia begitu kuatir.

Agaknya Hun-cong tidak tahu bahwa sekali ini Toh It-hang tergesa-gesa meneruskan perjalanan adalah karena kuatir Pek-hoat Mo-li akan mencari dia untuk bikin perhitungan.

Begitulah, kemudian setelah Nyo Hun-cong dan Nilan Ming-hui berjalan beberapa hari lagi, mereka telah sampai di luar kota Ili (ibukota Sinkiang). Sementara im, kesehatan Ming-hui sudah pulih, kembali ia menata rambut dan tersenyum pada Nyo Hun-cong.

“Kau tentu kurang enak jika masuk ke kota,” katanya kemudian, “Sebaiknya nanti kalau sudah malam baru kau dan aku kembali ke sana, kereta ini kita buang saja.”

Perasaan Hun-cong kini terasa sangat berat, laksana tertindih barang yang antap, iapun merasa sedih karena harus berpisah. Karenanya ia jadi termangu-mangu, sesudah agak lama baru ia bisa bersuara.

“Biar kau pulang saja ke sana sendiri, aku akan pergi, harap kaujaga dirimu baik-baik,” katanya kemudian.

Akan tetapi Nilan Ming-hui dengan cepat sudah menahannya sambil menggenggam tangan Hun-cong.

“Tidak, kau jangan pergi, aku tidak perkenankan kau pergi,” katanya dengan tertawa, “Kau harus menemani aku pulang, jangan kau takut, istana di mana kami tinggal sangat besar, sehingga kau tidak bisa kepergok ayahku. Aku punya seorang babu tua, ia baik sekali terhadapku, ia tinggal di suatu tempat di sudut timur istana im yang terdiri tiga rumah. Ya, terpaksa harus sedikit merendahkan dirimu, nanti kubawa kau menemui dia, dan minta dia mengaku kau sebagai keponakannya, sementara itu kau jangan sembarangan bergerak, tanggung tiada orang yang bisa mengenalimu.”

Tetapi Nyo Hun-cong telah menggeleng kepalanya.

“Tidak mungkin,” katanya, “Aku akan pergi mencari orang-orang Kazak saja.”

“Dan masih ada lagi, Hui-ang-kin, bukan?” sambung Nilan Ming-hui dengan suara berat.

“Betul,” sahut Nyo Hun-cong dengan serius. “Mengapa aku tidak boleh mencari dia, aku hendak mengetahui keadaan mereka dan suku-suku bangsa di daerah selatan sana setelah habis bertempur?”

Nilan Ming-hui tertawa pula sambil meleletkan lidahnya.

“Haya, Tuanku, hanya satu perkataanku saja lantas membuat kaumarah bukan?” ia menggoda, “Siapa yang bilang kau tidak boleh pergi mencari Hui-ang-kin. Cuma menurut pendapatku, sehabis pertempuran besar im, di gurun pasir yang luas apakah begitu gampang mencarinya? Lebih baik sementara kau tinggal di sini dulu, sumber berita ayahku sangat luas dan cepat, dari semua tempat ada berita yang dikirimkan padanya, tentu ia bisa tahu suku-suku bangsa di daerah selatan im berada di mana, aku nanti akan mencari kabar bagimu, jika kau telah mengetahui di mana Hui-ang-kin berada, baru kau pergi mencari dia, kan belum terlambat!”

Nyo Hun-cong terdiam, ia pikir perkataan Ming-hui memang betul juga, kesempatan ini boleh sekalian aku gunakan buat mencari tahu keadaan musuh.

Malam im betul-betul Nilan Ming-hui telah membawa Hun-cong pulang ke dalam istana ayahnya secara diam-diam. Setelah bertemu dengan babunya, ia menerangkan apa maksudnya, babu itu menjadi ketakutan sekali begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi babu im sangat sayang pada Ming-hui seperti anak kandung sendiri, ia tidak dapat menolak permohonan Nilan Ming-hui, akhirnya ia luluskan juga permintaannya.

Cuma saja babu itu pun minta syarat-syarat, di antaranya adalah Nyo Hun-cong tidak boleh bergerak di luar tiga ruangan rumah im.

Nyo Hun-cong pun menyanggupi syarat im.

Besoknya pagi-pagi sekali, secara diam-diam Nilan Ming-hui telah keluar pula, ke luar kota sana dan pulang dengan membawa keretanya. Setelah ia menemui ayahnya, ia pura-pura berkata bahwa ia telah dapat melarikan diri dari pertempuran im.

Nilan Siu-kiat mengetahui anak gadisnya cukup pandai dalam ilmu silat, maka ia pun tidak curiga apa-apa.

Dengan begitu, sekejap saja telah lewat setengah bulan pula.

Nilan Ming-hui belum mendapat kabar tentang tempat Hui-ang-kin dengan orang-orangnya, satu soal lain yang datangnya mendadak telah menindih perasaannya seperti tertindih gunung.

Tekanan batin yang sangat menyakitkan dan meruwetkan pikirannya itu adalah seperti pada waktu ia sendiri mencurigai Nyo Hun-cong telah mencintai Hui-ang-kin, tekanan batin yang berat ini bagaimana pun tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Dulu yang membuat tekanan batinnya adalah bayangan Hui-ang-kin, tetapi kini adalah seorang tamu yang ada dalam istana ayahnya.

Belasan hari sesudah dia pulang ke rumah, istana jenderal im telah kedatangan seorang tamu dari jauh.

Tamu ini bernama To Tok, usianya tahun ini baru dua puluh lima, tetapi dalam usia semuda im ia sudah menjabat pangkat Ting-wan-ciangkun, pangkatnya ini lebih tinggi daripada ayahnya.

Tidak hanya im saja, ia masih terhitung putra bangsawan dari keluarga kerajaan yang menjadi kesayangan raja, semua ini tidak dapat ditandingi oleh Nilan Siu-kiat.

To Tok yang dapat berpangkat tinggi dalam usia muda, sama sekali bukan karena ayahnya yang bangsawan, tetapi karena ia sendiri memang seorang lelaki yang perkasa di antara orang-orang Kijin dari bangsa Boan, sejak kecil ia suka ilmu silat, memanah, ilmu pedang dan menunggang kuda, dalam kalangan kaum muda setingkatannya, ia terhitung kelas satu di antara tentara Ki-jin.

Tiga tahun yang lalu, ia mengikuti maharaja menjajah ke barat, dan telah mengamankan daerah-daerah di sana, sehingga namanya segera tersebar harum di seluruh negeri, semua pejabat kerajaan siapa yang tidak mengagumi dirinya.

Usianya masih muda dan ia masih belum mengikat diri dengan gadis mana pun, banyak kaum bangsawan dan pejabat tinggi yang hilir mudik datang hendak merangkap jodoh dengan dia, akan tetapi ia mempunyai pandangan dan pilihan yang terlalu tinggi, satu pun belum ia pandang cocok untuk menjadi pasangannya.

Bakal istri idealnya jelas selain harus cantik laksana bidadari, harus pula pandai ilmu silat dan ilmu surat.

Tapi gadis yang sempurna begitu harus dicari di mana?

Sejak To Tok berumur tujuh atau delapan belas tahun sudah banyak yang hendak merundingkan perjodohannya, tetapi sekejap saja tanpa terasa kini ia sudah menginjak usia dua puluh lima tahun.

Di jaman permulaan dinasti Boan, lelaki yang sudah berusia dua puluh lima tahun tetapi masih belum mendapatkan jodoh, yang menjadi orang tua biasanya lantas menjadi kuatir.

Ayahnya, Ok Jin-ong atau pangeran Ok, waktu mendapat tahu bahwa jenderal dari Ili, Nilan Siu-kiat mempunyai seorang anak gadis berparas cantik molek, di antara bangsa Kijin boleh dikata tiada bandingannya. Lebih jauh ia mendapat tahu gadis im baru berumur mendekati dua puluh tahun dan juga masih belum dapat jodoh.

Tadinya karena Nilan Ming-hui masih kecil, sementara im Nilan Siu-kiat sendiri kian kemari menjalankan tugas di daerah perbatasan sana, maka ayah To Tok tidak memperhatikan gadis itu, tapi kini setelah ingat, ia merasa selain gadis ini kiranya tiada yang lebih setimpal pula.

Kemudian setelah ayah-bunda To Tok membicarakannya dengan To Tok sendiri, pangeran ini pun sudah mendengar nama Nilan Ming-hui, bahkan paman seperguruannya, Nikulo, bertugas pula di bawah Nilan Siu-kiat, waktu To Tok masih bertempur di daerah barat sana, Nikulo pernah jauh-jauh datang dari Sinkiang menemui dia dan membicarakan diri Nilan Ming-hui, Nikulo telah memuji setinggi langit gadis itu. Katanya gadis ini tidak hanya cantik laksana bidadari, tetapi soal ilmu silat pun jauh di atas jago-jago bangsa Boan umumnya.

Malahan dengan tertawa ia pernah berkata, “Ciangkun, menurut penglihatanku, bisa jadi ilmu silatnya masih di atasmu!”

Keruan saja hati To Tok tergerak, tetapi karena belum melihat dengan mata kepala sendiri, ia masih belum puas dan percaya penuh.

Karenanya, waktu ayah-bundanya membicarakan dengan dia, ia lantas bilang, “‘Biarlah jangan bicara soal jodoh dulu, tunggu aku pergi ke Sinkiang melihatnya sendiri.”

Kebetulan waktu itu suku-suku bangsa di daerah Sinkiang dengan gigih bangkit melawan pasukan Boan, Nilan Siu-kiat yang mengepalai tentara di kota Ili, walaupun mendapat beberapa kemenangan, tetapi masih tidak berdaya menindas kekuatan perlawanan rakyat gembala dari Sinkiang itu.

To Tok lantas mengajukan dirinya berkeliling ke Sinkiang, sudah tentu kaisar girang sekali dan segera menitahkan dia sebagai utusan raja dan pergi memeriksa situasi militer di Sinkiang, bahkan raja bilang padanya, “Kau adalah seorang ahli militer kelas satu di antara bangsa Boan kita, kau berangkatlah ke sana dan memberi sedikit saran pada Nilan Siu-kiat.”

Ternyata raja tidak mengetahui bahwa kepergian To Tok ke Sinkiang mempunyai maksud tujuan lain.

Setelah To Tok tiba di kota Ili dan tinggal di dalam istana jenderal, selain menjadi tamu agung Nilan Siu-kiat, sementara itu ia pun menjadi atasannya karena To Tok datang sebagai utusan raja.

Keruan saja Nilan Siu-kiat sangat memuji dia.

Nikulo yang mengetahui maksud kedatangan To Tok yang menjadi keponakan seperguruannya, diam-diam ia telah memberitahu pada Nilan Siu-kiat.

“Ciangkun, kuucapkan selamat, pangeran muda kita masih belum mengikat jodoh, dengan Siocia kita mereka sungguh merupakan pasangan yang setimpal,” katanya pada Nilan Siu-kiat.

Mendengar itu hati Nilan Siu-kiat tergoncang keras, ia terkejut dan juga bergirang.

“Bagaimana aku berani mengharapkan,” sahutnya sambil tersenyum.

“Asal Ciangkun setuju saja, soal ini pasti akan jadi, hal lain-lain aku berani tanggung,” kata Nikulo pula, “Walaupun ia adalah orang yang agung, tetapi kalau diurut ia masih keponakan seperguruanku, jika aku yang bicara pasti urusan ini akan beres.”

Sebenarnya Nikulo sudah mengetahui maksud tujuan kedatangan To Tok, tentu saja tiada halangannya ia mendahului menjadi perantaranya.

“Ok Jin-ong jauh-jauh berada di Pakkia (Beijing), masakah kita yang berada di tempat yang sepi terpencil begini mendadak bisa membicarakan soal perjodohan dengan dia?” ujar Nilan Siu-kiat pula.

“Tentu juga tidak perlu begitu tergesa-gesa,” kata Nikulo. “Biarlah mereka saling bertemu muka dulu, aku tanggung keponakanku im begitu tiba kembali di kota raja, pangeran tua tentu segera akan mengutus orangnya ke sini untuk melamar.”

Sementara im Nilan Ming-hui walaupun mengetahui adanya seorang utusan raja yang bernama To Tok telah datang meninjau, tetapi semula ia tidak menaruh sesuatu pikiran dalam hatinya.

Pada suatu hari, ayahnya telah memanggil dan mengajaknya pergi bermain ke taman bunga di belakang istana, ayah anak berdua berjalan sampai di ruangan berlatih silat, tiba-tiba Nilan Siu-kiat dengan tertawa berkata pada gadisnya, “Anakku, mari kita coba berlatih memanah.”

“Wah, kiranya ayah akan menjajal aku,” sahut Ming-hui, “Baiklah, berlomba pun boleh, hanya saja jika aku yang menang, apakah yang ayah akan hadiahkan padaku?”

“Aku akan memberimu hadiah barang yang paling bagus, supaya selama hidupmu terbenam dalam kejayaan dan kebahagiaan,” jawab Nilan Siu-kiat.

“Ayah, kau omong tak keruan, mana ada barang yang begitu bagus, aku tidak mengharapkan,” kata Ming-hui, “Jika aku menang, cukup ayah menghadiahkan aku kulit banteng yang ayah dapatkan dari berburu.”

“Hanya selembar kulit banteng terhitung apa? Baiklah kita berlomba!” kata Nilan Siu-kiat akhirnya.

Lalu ia mementang busur panahnya, tiga anak panah beruntun telah dia bidikan dan segera kena pada tanda merah di depan sana yang berjarak kira-kira seratus tombak, lalu ia memanah dengan membalik mbuhnya, tiga anak panah segera menancap pula di tengah tanda merah, kemudian ia lemparkan busurnya dan tertawa panjang.

“Anakku, lihatlah, ayahmu masih belum begitu tua, bukan?” katanya

“Ayah tentu masih belum tua” sahut Nilan Ming-hui seraya tersenyum, “Ilmu memanah ayah bagus betul, tetapi anakmu kiranya juga tidak memalukan, lihatlah aku!”

Habis berkata begitu, satu anak panahnya telah menyambar ke angkasa menyusul ia bidikan satu anak panah yang lain, anak panah pertama yang baru turun telah terkena persis oleh anak panah kedua dua anak panah yang saling bentur segera naik pula ke atas dan kemudian jatuh semua.

Nilan Ming-hui seakan-akan tidak memanah dengan sungguh-sungguh, tetapi tangannya tidak henti-hentinya bergerak, berturut-turut ia lepaskan enam anak panah, tiap-tiap anak panah membentur anak panah yang lebih dulu dilepaskan.

“Ilmu memanah yang mengagumkan,” tiba-tiba terdengar suara pujian orang menyelingi suara tertawa Nilan Ming-hui, lalu dari belakang semak-semak sana terlihat muncul dua orang lelaki, yang seorang adalah Nikulo sedang yang lain adalah To Tok.

Waktu Nilan Ming-hui melihat Nikulo, mendadak ia teringat tempo hari waktu berada dalam satu kereta bersama Nyo Hun-cong dan telah dipergoki olehnya walaupun tidak mengetahui apakah waktu im orang melihat jelas dirinya atau tidak, tetapi air mukanya lantas berubah.

Nilan Siu-kiat lantas memegang tangan anak gadisnya dan hendak memperkenalkannya pada To Tok, di luar dugaan tiba-tiba Ming-hui meronta melepaskan tangannya dan berlari pergi.

“Sungguh tidak tahu aturan, harap pangeran jangan marah,” kata Nilan Siu-kiat pada To Tok sambil mengomel pada putrinya, “Anak perempuan tidak tahu adat dan memalukan, ia tidak mengetahui kau adalah pangeran, ia memang takut bertemu dengan orang asing.”

Padahal Nilan Ming-hui yang sudah biasa kian kemari di padang rumput luas itu, mana bisa disamakan seperti bangsa Han yang terlalu kokoh dalam adat pergaulan laki-laki dan perempuan, hanya Nilan Siu-kiat sendiri yang sengaja mengolok-olok anak gadisnya seperti Siocia bangsa Han saja.

Sementara itu, demi melihat Nilan Ming-hui, semangat To Tok sudah terbang ke awang-awang, ia tidak menduga di jagad ini betul-betul ada perempuan secantik bidadari, bahkan mempunyai keahlian silat yang begitu tinggi, dalam keadaan kesengsem terpesona pada hakikatnya ia tidak mendengarkan apa yang Nilan Siu-kiat katakan padanya tadi.

Sementara itu setelah Nilan Ming-hui lari balik ke rumah babu inangnya, diam-diam ia telah menceritakan pengalamannya itu kepada Nyo Hun-cong.

“Aku telah bertemu dengan orang yang dipanggil To Tok, dia masih sangat muda seperti dirimu,” demikian tuturnya.

“Hah! Jahanam ini, dengan maksud apa dia datang di daerah Sinkiang sini?” kata Hun-cong dengan gemas, “Apakah ia datang ke sini buat menjagal pula rakyat-rakyat gembala? Hm, aku pasti akan menusuk dia hingga tembus!”

“Aduh! Begitu kejamnya,” kata Nilan Ming-hui dengan meleletkan lidahnya.

Tapi Hun-cong diam saja dengan wajah yang marah.

Karena itu Nilan Ming-hui lantas memeluk tubuhnya dan menggoyang-goyangnya.

“Baiklah tidak usah menyebut dia lagi, kau jangan marah. Ya, berceritalah padaku hal lain saja, maukah?” godanya.

Hun-cong tertawa karena banyolan Nilan Ming-hui.

“Adalah berbahaya sekali kau berada di sini, kau masih banyak tugas lain yang agung, tidaklah menguntungkan jika sekarang kau mengajak To Tok berkelahi, sekalipun sepuluh To Tok juga tidak dapat dibandingkan kau seorang, dengarlah kataku dan jangan kau berbuat hal-hal yang begitu bodoh!” katanya kemudian pada Hun-cong.

Hati Hun-cong menjadi dingin kembali, ia merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang gadis.

Kasih sayang begini ini tidak ia dapatkan dari Hui-ang-kin. Hui-ang-kin masih punya kekurangan dasar kehalusannya sebagai seorang gadis, ia masih belum paham bagaimana harus mengutarakan perasaannya yang halus itu.

Tiba-tiba, semacam perasaan beruntung telah mengalir masuk lubuk hati Nyo Hun-cong bagaikan aliran listrik, ia peluk tubuh Ming-hui dengan kencang, pipinya digosokkan pelahan-lahan ke pipi Ming-hui, napasnya rada memburu tapi sepatah kata pun tak sanggup diucapkannya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: