Kumpulan Cerita Silat

11/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (23)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 11:16 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (23)
Oleh Gu Long

Pesan yang tidak begitu panjang, walau mengandung perasaan tawar dan hambar terhadap kehidupan nan fana ini. Tapi dari rangkaian kita itu justru terlukis ikatan asmara nan murni, dambaan terhadap kekasih.

Pui-Po-giok menghela napas panjang, “Ciang-Jio-bin, wahai Ciang-Jio-bin, begitu besar kasih sayang dan perhatianmu terhadap kekasih yang menantimu kembali, kenapa begitu tega kau permainkan jiwa sendiri. kau mati dengan tekad yang besar, mati tanpa menyesal, tapi pujaan hati yang menanti di atas loteng, betapa merana dia akan menghabiskan masa remajanya nanti.”

Kalau sudah begini, sukar dibedakan apa artinya cinta. Ia yakin Ciang-Jio-bin sendiri pun tidak bisa membedakan.

Sampul surat itu tertutup rapat, di mana tertulis, “Harap disampaikan langsung kepada majikan pondok bintang kecil di Jin-hong-san-ceng”

Po-giok menggumam lagi, “Di manakah Jin-hong-san-ceng” itu? Siapa pula pemilik pondok bintang kecil itu? …. Tapi legakanlah hatimu Ciang-Jio-bin, apa pun yang akan terjadi pada diriku aku berjanji akan menyampaikan surat ini kepada orang yang harus menerimanya.”

Secara sederhana di tempat itu juga dia mengubur jenazah Ciang-Jio-bin, sudah tentu pedang panjang itu juga disertakan masuk liang kubur, supaya menemani majikannya berangkat ke alam baka.

Mentari mulai doyong ke barat. Meski tahu di depan masih banyak aral merintang tengah menantinya, tapi Po-giok melangkah dengan membusungkan dada.

Di tepi jalan di luar hutan berkerumun banyak orang persilatan. Thi-wah tengah bicara dengan cengar-cengir. Kuda yang tadi kesandung jatuh kini sudah menggeletak tak bernyawa lagi di pinggir jalan.

Kuda itu mati dipukul oleh Siau-kong-cu, saat itu ia tengah duduk menggelendot di samping mayat kuda, rona merah menghias wajahnya, ujung mulutnya masih mengulum senyum, seperti bilang, “Sekarang kamu takkan bisa membantingku jatuh lagi.”

Melihat kuda kekar yang mati di pinggir jalan itu, mendadak terbayang oleh Po-giok kejadian tujuh tahun yang lalu. sekuntum bunga segar yang diinjak hancur oleh Siau-kong-cu di kapal layar pancawarna itu.

Tiba-tiba rasa dingin merambati sanubarinya, gumamnya dalam hati, “Nona ini masih membawa adatnya yang nyentrik, sesuatu yang sudah tidak disenangi harus dimusnahkan, entah senang atau benci, seolah-olah tiada garis pemisah dalam benaknya. Bukankah watak dan jiwanya mirip pandangan hidup Ciang-Jio-bin? Dan terhadapku … mungkin juga demikian? ….”

Melihat Po-giok keluar dari hutan, Thi-wah segera menyongsong dengan langkah lebar.

“Toa-ko,” serunya gembira, “coba lihat, orang-orang ini begitu kagum dan segan terhadapmu, sepanjang jalan mungkin Toa-ko tidak akan kekurangan apa pun.”

Po-giok tertawa kaku, ” Ah, … semoga demikian!”

******

Ping-im adalah sebuah kota yang ramai, pusat penyebrangan di hulu sungai Kuning, ramai dan makmur, padat penduduknya. Hotel “Ping-an” didirikan di tepi sungai, bila berada di loteng, membuka jendela, orang akan melihat pemandangan permai, gelombang sungai tampak mengalun lembut, mengalir jauh ribuan li.

Malam ini keadaan amat ramai di luar kota Ping-an, warung makan atau restoran menambah persediaan untuk melayani para pengunjung. Sebagian besar tamu yang hadir adalah orang-orang gagah yang baru pulang dari Thai-san.

Berbeda dengan hotel atau restoran yang lain, hotel Ping-an justru sepi dan tentram, soalnya orang-orang gagah itu sudah tahu Po-giok menginap di hotel ini, siapa pun tiada yang berani mengganggu ketenangannya.

Malam sudah larut, bulan purnama, cahayanya yang memutih perak menerangi jagat raya.

Seorang diri Po-giok berdiri di ambang jendela, matanya lepas memandang ke arah sungai, hati pepat, pikiran timbul tenggelam seperti gelombang sungai yang bergulung’-gulung tidak pernah tenang.

Sekonyong-konyong dilihatnya sebuah sampan melaju memotong gelombang ombak, meluncur secepat panah, pengendali sampan ini jelas seorang ahli yang sudah lama hidup di perairan, dan tenaga kedua lengannya itu justru luar biasa sekali.

Padahal tidak sedikit jumlah kapal atau perahu yang berlayar di tengah sungai, tapi sampan yang satu ini memang amat menyolok. Pui-Po-giok yang lagi melamun juga tertarik oleh ulah sampan yang luar biasa ini.

Di luar hotel, di pinggir kali terdapat sebuah panggung pendaratan yang menjorok cukup panjang ke tengah sungai, di mana dibuatkan undakan batu yang tidak banyak jumlahnya dan dianggap sebagai dermaga kecilan untuk pendaratan perahu atau kapal. Sampan kecil yang laju melawan ombak itu ternyata langsung menuju ke dermaga kecil ini.

Tengah Po-giok merasa heran, tertampak sebuah tali laso dilemparkan dari sampan itu dan persis menjerat sebuah tonggak di tepi sungai, cepat sekali sampan itu menepi dan melompatlah ke daratan seorang laki-laki besar.

Sinar bulan cukup benderang, gerak-gerik laki-laki ini cukup gesit dan cekatan, matanya bercahaya, sekilas ia memandang sekitarnya lalu mendongak ke atas, melihat cahaya lampu di kamar Po-giok, segera ia lari menghampiri.

Kini Po-giok yakin kedatangan laki-Iaki ini tentu ada hubungan dengan dirinya, namun ia berlaku sabar dan menahan gejolak perasaannya, menunggu dengan tenang apa maksud tujuan laki-laki ini.

Laki-laki itu lari ke dekat jendela, melihat Po-giok segera menghentikan langkah, sesaat ia mengawasi, lalu dari jauh menjura dan membungkuk, katanya dengan suara tertahan, “Apakah tuan Pui-tai-hiap?”

“Ya, benar, ada keperluan apa?” tanya Po-giok.

Laki-laki itu tidak menjawab tapi menghampiri jendela, ia mengeluarkan sepucuk surat, sedikit menekuk lutut ia lompat masuk ke kamar Po-giok, katanya sambil membungkuk hormat, “Hamba disuruh menyampaikan surat ini.”

Po-giok terima surat itu dan sekilas membaca tulisan pada sampul surat. Laki-laki itu membungkuk tubuh pula dan berkata, “Hamba mohon diri.”

Lalu mundur tiga langkah dan hendak membalik badan.

“Tunggu sebentar,” kata Po-giok.

“Entah Pui-tai-hiap ada pesan apa?” tanya laki-laki itu.

Berpikir sebentar Po-giok berkata, ‘Tunggulah sebentar, mungkin perlu kuberi jawaban.”

Sembari bicara ia menyobek sampul dan mengeluarkan surat lalu dibaca.

Surat itu pendek saja dan berbunyi, “Kentongan keempat menyeberang sungai kuning, kapal lampu merah datang menyambut.”

Po-giok berkerut kening, katanya, “Kenapa majikanmu tidak menunjuk alamatnya supaya aku langsung pergi ke mana. Dengan cara begini apa tidak repot?”

Lelaki itu menjura, sahutnya, “Hamba hanya disuruh menyampaikan surat, urusan lain tidak tahu apa-apa.”

“Dia berbuat demikian, apakah di balik persoalan ini ada sesuatu yang perlu dirahasiakan?” tanya Po-giok.

“Hamba tidak tahu,” sahut orang itu.

Po-giok menghela napas, “Baiklah … kamu boleh pergi.”

Laki-laki itu mengiakan, lalu melompat turun dan lari ke dermaga, setelah melepas tali, ia lompat ke atas sampan, sekali tangannya menggerakkan pengayuh, sampan itu meluncur dengan pesat menerjang gelombang.

Po-giok mengawasi sampan itu meluncur makin jauh, sambil berpikir ia berkata sendiri “Kenapa sepak terjang Hwe-mo-sin begini misterius? Di balik kejadian ini adakah muslihat nya?…”

Di tengah sungai besar itu mendadak muncul sebuah kapal layar yang melaju dihembus angin buritan, betapa pesat dan kencang laju kapal layar ini sungguh mengejutkan.

Di atas kapal layar itu tampak berdiri berjajar tiga orang, walau cahaya rembulan juga menerangi, tapi jarak cukup jauh, sukar terlihat tampang ketiga orang ini.

Laju kapal layar ini laksana anak panah langsung menerjang ke arah sampan itu.

Kelihatannya laki-laki di atas sampan itu kaget dan gugup, sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan luncuran sampannya supaya tidak ditabrak, mulut pun membentak gusar, “Hei, gila kalian lekas putar haluan …. ”

Belum selesai laki-laki itu membentak, dari kapal layar itu mendadak menjulur keluar dua batang galah panjang, ujung kedua galah itu dipasang cantolan besi, dengan cepat sampan itu terkait.

Laki-laki itu membuang pengayuh dan siap terjun ke dalam air, siapa tahu ketiga orang yang berdiri berjajar di atas kapal itu mendadak melemparkan tiga utas tambang dan menjerat tubuhnya.

Laki-laki itu sempat menjerit minta tolong, “Pui-tai-hiap … tolong!”

Sebelum laki-laki itu berteriak, sebenarnya Po-giok sudah melesat keluar. Tapi laki-laki itu sudah terjerat dan tertarik ke atas kapal layar itu, sementara layar berkembang dan angin mengembus kencang, kapal itu terus laju mengikuti arus, hanya sekejap sudah meluncur jauh.

Dua galah panjang itu masih tertinggal di tengah sungai menahan sampan yang berputar dimainkan ombak, tapi tak lama kemudian galah dan sampan itu juga hanyut terbawa arus.

Perubahan kejadian ini hanya berlangsung sekejap saja.

Po-giok berdiri di tepi sungai, betapa kaget, heran dan ngeri hatinya, sungguh sukar dilukiskan

Siapakah ketiga laki-laki di atas kapal layar itu? Mereka menculik laki-laki pengirim surat ini apa maksud tujuannya?

Sepak terjang Hwe-mo-sin begitu misterius apakah untuk menghindari pengintaian orang-orang itu? Kalau betul demikian, kenapa tidak langsung menjelaskan alamat sebenarnya, bukankah menghemat tenaga dan bebas dari banyak kesulitan.

Yang mudah tidak ditempuh, yang sukar malah dilakukan, apa pula tujuannya? Berbagai pertanyaan berputar dalam benak Po-giok, namun sukar memperoleh jawaban.

Mendadak ia menoleh, dilihatnya Siau-kong-cu sudah berdiri di belakangnya, berdiri di tengah halimun.

Angin malam mengembus, pakaiannya melambai laksana gelombang ombak dipermukaan sungai yang timbul tenggelam. Rambutnya yang terurai mayang juga tertiup kabur dan semrawut menutupi wajahnya nan cantik.

Siau-kong-cu berdiri tanpa aksi, tidak berbicara hanya cahaya matanya berkilauan, seperti kaget dan ngeri, tapi juga seperti menghina dan mencemooh.

“Sejak kapan engkau berada di sini?” akhirnya Po-giok menegurnya.

“Baru saja,” sahut Siau-kong-cu.

“Sudah kau saksikan?” tanya Po-giok pula.

“Ehm,” Siau-kong-cu bersuara dalam mulut.

“Jadi engkau sudah tahu?” desak Po-giok.

Baru sekarang Siau-kong-cu mengerling sekejap arah Po-giok, katanya perlahan, “Tahu apa?”

“Kenapa Hwe-mo-sin berbuat demikian? Siapa ketiga orang itu? Apakah mereka musuh Hwe-mo-sin? Untuk apa mereka mencegat dan menculik laki-laki pengirim surat itu?”

Siau-kong-cu tertawa tawar, perlahan ia menoleh ke sana, tidak menghiraukan pertanyaannya.

Po-giok memburu ke depannya, serunya keras., “Kurasa kau tahu semua persoalan ini, kenapa tidak kau jelaskan padaku? … kau … kenapa tidak bicara?”

Walau keras suaranya, tapi Siau-kong-cu seperti tidak mendengar, pandangannya lengang mengawasi alunan ombak yang kemilau di tengah cahaya bulan.

Seolah-olah banyak yang ia ketahui, tapi juga seperti tidak tahu apa-apa.

Po-giok menatapnya lekat, lama kelamaan ia menunduk kepala, katanya dengan menghela napas, “Kita harus berangkat pada kentongan keempat nanti, pergilah bebenah.”

Siau-kong-cu berkata hambar, “Kentongan keempat … kentongan keempat …. ”

Ia menoleh. sambil tersenyum ia memandang Po-giok, lalu berputar masuk rumah.

Po-giok, Siau-kong-cu dan Thi-wah sudah tidak sabar lagi menunggu di tepi sungai.

Rembulan masih memancarkan cahayanya nan cemerlang. Tak jauh di tepi sungai sana berlabuh beberapa perahu, tidak tampak kapal berlayar lagi di tengah sungai, alam semesta terasa hening.

Mata Thi-wah merem melek, masih ngantuk, maka ia mengomel panjang pendek, “Keparat Hwe-mo-sin itu memang pandai menyiksa orang, pada kentongan keempat sudah suruh kami menempuh perjalanan, kalau begini terus, sebelum tiba di tempat tujuan kita sudah mati kelelahan.”

Omongan Thi-wah membuat perasaan Po-giok tertusuk, “Ah, benar! Apakah Hwe-mo-sin sengaja hendak mempersulit diriku? Supaya tenaga dan pikiranku habis terkuras sehingga tidak mampu berduel dengan Pek-ih-jin?”

Di samping merasa heran dan takut, timbul kewaspadaan Po-giok.

Di tengah Hembusan angin sayup-sayup terdengar suara kentongan empat kali di kejauhan.

“Ah, sudah kentongan keempat,” ucap Siau-kong-cu resah.

Keadaan tetap sepi, tiada kapal tak ada lampu merah di sungai.

Po-giok berkerut alis, katanya, “Aneh benar, kenapa…”

“He, apa itu?” mendadak Thi-wah berteriak.

Po-giok segera berpaling, tertampak dari tepi sungai yang belukar sana, perlahan bergerak dua bayangan orang mendatangi, orang di kanan menjinjing sebuah keranjang rotan, yang di kiri membawa sebuah lampion warna merah.

Lampion merah itu kontal-kantil ditiup angin malam, sinarnya yang redup cukup menyolok di antara pakaian kedua orang itu yang serba hitam. Terbayang wajah nan kaku dan sorot mata jelalatan seperti maling yang takut konangan orang. Gerak-gerik mereka menunjukan bahwa mereka takut dan ngeri seolah-olah mendapat firasat bahwa elmaut tengah mengancam jiwa mereka.

“Eh, apakah mereka?” tanya Thi-wah.

“Lampu merah memang benar, tapi tiada kapal …. ” Po-giok ragu-ragu.

Kedua orang itu langsung menghampiri, mereka berhenti sekejap mengawasi dengan kaku, tanpa bicara langsung menuju ke tepi sungai. Di mana tertambat beberapa perahu, tanpa menoleh mereka lompat ke atas perahu yang terdekat, langsung masuk ke dalam kabin, sesaat kemudian seorang tampak keluar menggantung lampion di atas kabin.

“Ya, betul mereka.” Po-giok berkata tegas.

Serempak mereka memburu ke arah perahu.

Orang itu bersuara, “Apakah Pui-tai-hiap adanya?”

“Ya, benar.” sahut Po-giok.

“Silakan naik kemari!” kata orang itu. Sembari bicara lampion merah diturunkan serta meniupnya padam.

Kabin perahu cukup bersih dan rapi. Tapi di pojok sana menggeletak tiga laki-laki telanjang dada dan telanjang kaki, berpakaian tukang perahu, jelas hiat-to mereka tertutuk.

Orang yang di luar segera bekerja dengan galah panjang sedang yang berada dalam kabin menyalakan lampu minyak.

Melihat keadaan ketiga orang di pojok itu, Po-giok berkata, “Kalian yang mengerjai mereka?”

“Benar,” sahut orang itu.

“Perahu ini milik mereka?” desak Po-giok pula.

“Betul,” orang itu mengiakan pula.

Po-giok menghela napas, “Kalian tidak mempersiapkan perahu, tapi meminjam perahu orang secara paksa, kutahu supaya perbuatan kalian terasa misterius dan orang tidak mudah mengejar jejak kalian.”

“Ya, memang demikian,” orang itu mengangguk.

“Untuk apa kalian berbuat demikian, menghindari siapa?” desak Po-giok.

Orang itu tidak menjawab, tapi mengangkat keranjang rotan. dan menghampiri Siau-kong-cu serta menaruh di hadapannya.

“Ini apa?” tanya Siau-kong-cu.

Dengan laku hormat orang itu menjawab “Dalam keranjang ini ada makanan kesukaan nona.”

Siau-kong-cu berseri girang, “Ah, apa benar?”

Langsung ia menyingkap tutup keranjang, tertampak di dalamnya berisi tiga mangkuk porselin warna hijau pupus, sepasang sumpit yang terbuat dari gading. Baru tutupnya tersingkap, bau harum sedap makanan merangsang hidung.

Saking senang Siau-kong-cu berkeplok, “Wah, bagus sekali, memang benar kesukaanku … syukur kalian masih memikirkan diriku. Terus terang selama ini aku hampir mati kelaparan.”

Sekilas ia melirik Po-giok, lalu berkata pula, “Coba lihat betapa baik orang lain terhadapku. Dan kau , hanya suruh aku makan mi kuah saja, bosan!”

Habis bicara ia jemput sumpit lain menyikat hidangan dalam keranjang itu tanpa peduli pada Po-giok.

Po-giok sedang membatin, “Kiriman hidangan Hwe-mo-sin jelas untuk pamer padanya, tapi secara langsung juga ingin pamer padaku, supaya aku tahu bahwa segala gerak-gerikku tidak lepas dari pengintaiannya … Ai, sungguh tidak nyana, demikian teliti dan cermat cara kerja orang ini.”

Melihat Siau-kong-cu makan dengan lahap, tak tertahan Thi-wah melongok keranjang rotan itu. Akhirnya ia menelan ludah dan mengomel, “Hm, makanan begitu apanya yang enak!”

Siau-kong-cu tertawa cekikikan, katanya, “Makanan tidak termakan tentu tidak enak. Tapi kalau tahu rasanya kamu takkan bilang hidangan ini tidak enak.”

Bersinar mata Thi-wah, katanya tertawa, “Baiklah, biar kurasakan satu senduk, nanti akan aku nilai enak tidak hidangan ini.”

Siau-kong-cu tertawa geli, “Kukira kamu ini orang dogol, ternyata pandai juga memancing hidanganku dengan obrolanmu itu. Baiklah, kalau ingin mencicipi, akan kuberi sesuap saja.”

Merah juga muka Thi-wah, sekilas ia lirik Po-giok, melihat Po-giok tidak memperhatikan dirinya, ia menjilat bibir, lalu berkata dengan muka merah, “Hanya memberi sesuap saja.”

Siau-kong-cu angsurkan sumpitnya, tapi mendadak ditarik lagi, “Ah jangan, mi kuah kan lebih enak. Hidangan yang tidak enak ini lebih baik jangan kau cicipi.”

Merah muka Thi-wah. Siau-kong-cu terpingkal-pingkal.

Setelah puas tertawa ia ulurkan lagi sumpitnya, katanya sambil menahan geli, “Silakan, ini kamu boleh mencicipinya,”

Thi-wah melengos, katanya keki, “Aku tidak mau.”

Tapi segera ia menoleh dan menambahkan, “Ini …. masakan apakah?”

“Bicara tentang masakan ini, jangankan pernah makan, namanya saja belum pernah kau dengar. Baiklah aku jelaskan, yang satu ini adalah goreng jamur dengan lidah betet, yang satu lagi adalah tahu yang dibuat dari otak ikan …”

“Wah, untuk menggoreng masakan seperti itu diperlukan berapa ekor burung betet?”

“Kurang lebih seratus ekor,” sahut Siau-kong-cu.

Berubah air muka Thi-wah, gumamnya, “kau … kenapa kau suka makan …”

“Lidah burung betet amat lincah, maka dagingnya juga enak sekali,” demikian ujar Siau-kong-cu tertawa, “tidak percaya, boleh kau cicipinya, tanggung seumur hidup takkan kau lupakan.”

Mendadak Thi-wah berjingkrak gusar, “Sungguh kejam kau ! Untuk menikmati hidangan harus memotong lidah seratus ekor burung betet, lalu bagaimana kalau lidahmu dipotong? Hidangan menjijikan begini, mati pun Thi-wah emoh makan.”

Siau-kong-cu tertawa, “Orang segede dirimu, hatinya ternyata sekecil kelinci. Burung betet itu sudah mati, apa salahnya dipotong lidahnya?”

“Sudah … mati? Dari mana dapat burung betet sebanyak itu?”

“Yang pasti koki yang menggorok leher burung-burung itu.”

Thi-wah melengong, “Kamu … kamu iblis betina.”

“Ah, anak bodoh! Memangnya baru sekarang kau tahu?”

Sikapnya wajar dan gembira, dengan berseri ia menyumpit beberapa kerat lidah betet lalu dikunyah dengan nikmat. Hampir saja Thi-wah lari keluar dan muntah.

Untung perahu itu sudah menepi, lekas Thi-wah mendahului lompat ke darat. Setelah menarik napas ia mendongak melihat cuaca, rembulan sudah turun ke barat, tak lama lagi fajar akan menyingsing.

Po-giok dan Siau-kong-cu beruntun naik ke darat. Kedua orang itu juga mendarat. Dengan galah panjang mereka dorong perahu ke tengah sungai, membiarkan hanyut di bawa arus.

Berkerut alis Po-giok, tanyanya, “Sudah kau buka tutukan hiat-to mereka?”

Orang itu menjawab, “Pui-tai-hiap tidak usah kuatir, mereka tidak bakal mati.”

Po-giok mendengus, dilihatnya orang itu mengeluarkan sepucuk surat dan dipersembahkan kepadanya. Tanpa bicara kedua orang ini lantas lari kencang seperti dikejar setan.

Po-giok menghela napas, ujarnya, “Mereka ketakutan, entah apa yang membuat mereka begitu takut.”

Po-giok tahu omongannya takkan ada menjawab maka ia buka sampul surat.

Isi surat itu merupakan pesan yang pendek, “Tang-yang di luar kota barat ada lampu merah di hutan jati.”

Sesaat Po-giok terpukau mengawasi kertas di tangannya, akhirnya ia menghela napas, “Ayo berangkat.”

Belum jauh mereka berjalan, mendadak terdengar jeritan kaget di kejauhan.

Po-giok berhenti, air muka Siau-kong-cu juga berubah.

Sayup-sayup jeritan orang itu terbawa angin “tai-hiap … tolong …. ”

Tersirap darah Po-giok, katanya, “Akhirnya kedua orang itu tidak dapat lolos juga.”

Thi-wah berkata, “Kenapa mereka lari? Siapa yang mengejar mereka?”

Belum habis bicara, Po-giok dan Siau-kong-cu sudah melesat ke arah suara, hanya sekejap bayangan mereka sudah meluncur puluhan tombak jauhnya.

Thi-wah mengomel, “Toa-ko ini bagaimana, tahu aku tidak mahir gin-kang, justru aku ditinggalkan …. ”

Walau mulut mengomel terpaksa kaki melangkah lebar mengejar dengan kencang.

Walau langkahnya lebar dan cepat, mana bisa mengejar Po-giok, hanya sebentar, bayangan Po-giok dan Siau-kong-cu tidak terlihat lagi.

Cuaca masih gelap, ke mana harus mengejar hakikatnya ia tidak tahu, setelah lari sana dan putar sini sekian lamanya, terpaksa ia pentang mulut hendak berteriak, “Toa …. ”

Sebelum ia mengucap “ko”, mendadak didengarnya seorang memanggilnya di belakang, “Gui Thi-wah!”

Suaranya perlahan, kedengarannya tidak bermaksud jahat.

Tapi Thi-wah benar-benar terkejut dibuatnya sigap sekali ia membalik tubuh, keadaan belakang kosong, bayangan setan pun tidak terlihat, thi-wah membesarkan nyali, serunya, “Siapa … siapa yang memanggil aku?”

“Aku!” suara itu menyahut.

Thi-wah mengepal tinju, “Kamu siapa? Di mana kamu?”

“Aku ada di sini!” suara itu menjawab pula.

Setelah mendengarkan dengan cermat baru Thi-wah tahu suara itu berkumandang dari belakang rumpun bambu yang gelap sana, matanya terbelalak,tinju terkepal, selangkah demi selangkah ia menghampiri.

“Gu Thi-wah,” mendadak suara itu membentak, “jangan kau maju selangkah lagi.”

“Kenapa aku harus turut perintahmu? Aku justru ingin maju.”

“Tadi aku lihat kamu kesepian dan kebingungan di sini, maka ingin kuajak kamu mengobrol, kalau kamu mendekat lagi, segera aku pergi dan tak mau bicara, bukankah berarti kamu menolak maksud baikku?”

Gu Thi-wah benar-benar menghentikan langkah katanya dengan tertawa lebar, “O, jadi kamu ingin mengobrol denganku, kamu bermaksud baik terhadapku, baiklah aku menurut saja.”

“Nah, kan begitu!” suara itu kedengarannya juga tertawa.

Terbelalak mata Thi-wah, serunya, “He, siapa kamu sebenarnya? Dari mana kau tahu namaku?”

“Bukan saja kutahu namamu, aku juga tahu banyak urusan yang lain. Di kolong langit ini jarang ada urusan yang tidak kuketahui.”

“O, apa benar? Betul kau tahu segalanya?”

“Sudah tentu betul, boleh coba kau tanya padaku.”

“Baik, ingin kutanya … siapakah Toa-ko ku?”

“Pui-Po-giok.”

“Wah, tepat tebakanmu. Baiklah, akan kutanya lagi …” dengan miring kepala ia berpikir sesaat, lalu bersuara pula, “Siapakah guruku?”

“Gurumu Ciu Hong.”

“Aku … siapakah orang yang paling aku rindukan?”

“Sudah tentu adikmu Gu-Thi-lan? atau Kiau-hong”

Membulat bola mata Thi-wah, sekian lama berdiri tertegun. Dasar orang jujur dan polos selamanya tidak pernah menyimpan rahasia dalam hati. Rahasia terbesar dalam hatinya hanya beberapa pertanyaan yang diajukan itu. Kini rahasia sudah dibongkar orang, betapa hatinya takkan kaget? Setelah melengong sekian saat baru menghela napas panjang, “Anak bagus, ternyata memang pintar, segala urusan kamu tahu.”

Suara itu tertawa bingar, “Lalu siapa aku, apa kau tahu?”

“Tidak tahu,” sahut Thi-wah geleng kepala.

“Siapa Toa-ko dan guruku?”

“Aku tidak tahu.”

“Siapakah orang yang paling aku rindukan?”

“Mana kutahu?”

“Haha, serba tidak tahu. Agaknya kamu ini kerbau dungu.”

Merah muka Thi-wah, “Tapi aku … aku tahu beberapa persoalan yang lain.”

“Bah, kamu ini tahu apa. Umpama saja surat yang tadi dibaca Toa-ko mu, apa isi surat itu, tentu tidak kamu baca.”

Thi-wah tertawa senang, “Salah, salah, kali ini dugaanmu salah. Surat yang dibaca Toa-ko ku tadi juga kubaca, hanya beberapa suku kata saja.”

“Ah, tidak percaya.”

“Tidak percaya? Baiklah aku jelaskan, isi surat itu begini bunyinya: Di luar kota Tang-yang sebelah barat, ada lampu merah di …. di hutan bambu.”

“Bagus, kiranya tidak bodoh. Tapi kamu telah mengobrol denganku di sini, kalau persoalan sepele begini juga kau ceritakan kepada Toa-ko mu, tentu Toa-ko mu akan bilang kamu ini kerbau dogol.”

“Aku tahu. Tapi umpama Toa-ko mengatakan aku bodoh juga tidak jadi soal, hanya … hanya Siau-kong-cu itu, aku tidak mau dikata-katai olehnya.”

Tiada suara sahutan dari tempat gelap.

Sesaat lagi Thi-wah tidak tahan, “Hei, kamu dengar suaraku? … Hei, katamu ingin mengobrol, kenapa diam saja, memangnya kamu menjadi bisu?”

Keadaan hening, tiada jawaban dari rumpun gelap sana.

“Kalau tidak mau bicara, aku mau pergi saja.”

Setelah ditunggu beberapa kejap lagi, Thi-wah habis sabar, segera ia terjang ke rumpun gelap itu, kedua tinjunya laksana godam menyibak rumpun pohon di depannya, mana ada bayangan orang di situ?

Thi-wah mengomel, “Anak keparat, bicara belum selesai sudah sembunyi, memangnya kau kira aku tidak bisa menemukanmu …. ”

Sambil menggerutu dengan langkah lebar ia mengobrak-abrik tempat itu.

Setelah ubek-ubekan sekian lama, dilihatnya di bawah pohon sana duduk satu orang.

Thi-wah tertawa, “Nah, ketemu sekarang, mau sembunyi ke mana lagi?”

Dengan langkah lebar ia memburu ke sana. Tapi setelah dekat mendadak ia menjerit kaget sambil menyurut mundur tiga langkah, lalu berdiri menjublek.

Cuaca masih gelap, namun cahaya bulan menjelang terbenam masih cukup jelas menyinari wajah orang ini. Kulit mukanya berkerut merut, panca indranya berubah bentuk, bola matanya hampir mencolot keluar.

Walau Thi-wah bernyali besar, tapi di semak belukar yang gelap lagi sepi ini, mendadak melihat tampang yang begitu mengerikan, pecah juga nyalinya.

Sesaat kemudian, setelah hatinya tenang baru dapat bersuara lagi. Katanya keras, “He, kamu siapa? Setan atau manusia? Masih hidup atau sudah mati?”

Tampang yang mengerikan itu diam kaku, tidak menjawab.

Tiba-tiba seorang menjawab di belakang Thi-wah, “Thi-wah, dengan siapa kau bicara?”

Seperti burung yang takut melihat ketapel, sambil menjerit Thi-wah melompat ke sana dan segera membalik. Tampak dua orang berdiri berjajar di belakangnya, siapa lagi kalau bukan Po-giok dan Siau-kong-cu.

“Toa-ko,” teriaknya girang, “kiranya engkau , syukur engkau kembali, kalau tidak Thi-wah bisa gila.”

“Apa kau lihat sesuatu?” tanya Po-giok heran.

“Coba Toa-ko lihat apa yang ada di bawah pohon itu.”

Begitu Po-giok menoleh ia pun terkejut, namun hatinya tabah, perlahan ia menghampiri, Thi-wah mendampinginya, tanyanya, “Orang ini sudah mati atau masih hidup?

Siau-kong-cu berkata, “Mungkin sudah mampus!”

Mendadak Po-giok berkata dengan suara tertahan, “Coba lihat siapa orang ini?”

“Apa Toa-ko mengenalnya?”

Siau-kong-cu menjerit kaget, “He, mereka di sini, kita mencarinya ubek-ubekan, ternyata sudah … siapakah yang membunuh mereka?

Thi-wah mendekat serta memperhatikan, akhirnya ia pun berseru kaget, “O, mereka adalah laki-laki yang membawa lampu merah tadi.”

Po-giok dan Siau-kong-cu dengan seksama memeriksa keadaan kedua mayat itu. Bukan saja raut mukanya sudah berubah bentuk, kaki tangan patah tulangnya.

Siau-kong-cu mendesis geram, “Kejam benar cara yang digunakan.”

Po-giok masih berjongkok dan memeriksa lebih teliti, gumamnya, “Aneh, aneh sekali. Bukankah yang digunakan ini Hun-kin-joh-kut-jiu?”

Siau-kong-cu menyeringai, “Hm, baru sekarang kau tahu bahwa yang digunakan itu Hun-kin-joh-kut-jiu?”

“Sejak mula sudah kuketahui, tapi aku tidak percaya. Hun-kin-joh-kut-jiu adalah ajaran tingkat tinggi aliran baik, menurut apa yang kuketahui, di dunia kang-ouw sekarang hanya Bu-tong, Siau-lim dan
Go-bi serta beberapa orang dari aliran lwe-keh yang masih meyakinkan kungfu ini, lalu siapa yang turun tangan sekeji ini? Kenyataan ini sukar dipercaya kebenarannya.”

Siau-kong-cu menjengek, “Memangnya anak murid aliran lwe-keh tiada yang berhati kejam? Semoga mereka belum mati, kita harus tanya siapakah pembunuh kejam ini?”

perlahan Siau-kong-cu menegakkan badan laki-laki itu, secepat kilat jarinya bekerja menutuk puluhan hiat-to di tubuhnya, seketika tubuh laki-laki itu gemetar, kaki tangan mendadak kejang. Di tengah rintih kesakitan, orang ini tersadar dari pingsannya. Sadar karena dirangsang oleh rasa sakit luar biasa.

Thi-wah merinding melihat keadaan orang ini Po-giok juga merasa tidak tega, namun sikap dan tindakan Siau-kong-cu tidak berubah, ia cengkeram dada orang itu serta menatapnya tajam, “Bangun buka matamu!”

Begitu membuka mata dan melihat Siau-kong-cu, bukan merasa senang laki-laki itu malah gugur dan takut desisnya gemetar, “Aku tidak bilang apa pun aku tidak bilang ….

Tergerak hati Po-giok tanyanya, “Orang itu suruh kau bilang apa?”

“Aku tidak bilang … aku tidak mau bicara orang itu mengigau.

Po-giok belum putus asa, tanyanya, “Siapa yang melukaimu?”

“Aku tidak tahu, apa pun aku tidak tahu,” serak suara orang itu.

Siau-kong-cu tersenyum lebar, ujarnya, “Baiklah boleh kau berangkat saja.”

Telapak tangannya bergerak perlahan menepuk batok kepalanya.

“Terima …. ” belum sempat orang itu mengucap “kasih”, mendadak tubuhnya mengejang, napas pun putus.

“Hei. kau … kau …” Thi-wah membentak gusar.

Lembut suara Siau-kong-cu, “Jiwanya tidak tertolong lagi daripada menderita, lebih baik biar mangkat lebih cepat. Aku kan membantu dia, memangnya kamu tidak tahu.”

Thi-wah melongo, saking gusar ia gelagapan bisa bicara.

“Seharusnya sudah aku duga, sebagai tokoh kosen aliran lwe-keh, tapi tidak segan menggunakan cara sekeji ini, mungkin dia ingin mengorek keterangan yang amat penting artinya,” kata Po-giok.

“Kalau demikian, lalu kenapa?” tanya Siau-kong-cu.

“Kini aku yakin bukan saja kau tahu urusan apa yang ingin ditanya orang itu, siapa pembunuh itu mungkin kau pun tahu.”

“Ah, apa ya?” ucap Siau-kong-cu.

“Siapa dia?” hardik Po-giok beringas, “soal apa yang ingin dia ketahui?”

Siau-kong-cu menjengek, “Huh, main bentak segala, memangnya kalau kau bentak lantas aku jelaskan?”

Po-giok mencengkeram pergelangan tangannya, “Katakan tidak?”

“Aku justru tidak mau menjelaskan, kau mau apa?” bantah Siau-kong-cu.

Po-giok mendelik, Siau-kong-cu juga melotot mereka saling tatap, sesaat kemudian akhirnya Po-giok menarik napas serta melepas tangan, “Meski tidak kau jelaskan, suatu hari aku akan tahu sendiri.”

“Boleh kamu menunggunya dengan sabar.”

Mendadak Thi-wah menjerit di sana, “He, cepat kemari, ada seorang lagi di sini.”

Secepat terbang Po-giok melesat ke sana, di tengah semak rumput dilihatnya seorang laki-laki yang lain kaki tangan sudah kaku dingin, pun sudah putus cukup lama.

Thi-wah membalik jenazah itu, seketika menjerit kaget. Darah hitam meleleh dari tujuh lubang panca indra orang ini, Mungkin sebelum dikompes dan disiksa, ia bunuh diri dengan menelan racun.

Po-giok membatin, “Murid didik Hwe-mo-sin memang patuh pada aturan perguruan yang keras, mati pun orang ini tetap mempertahankan rahasia. Maka dapat dibayangkan bahwa besar sekali arti rahasia itu.”

Sambil mengawasi mayat itu, mulut Thi-wah mengoceh, “Kalian memang sial, setelah bertemu dengan kami, jiwa lantas melayang.”

Tersirap darah Po-giok, serunya, “Aha, betul!”

Thi-wah berjingkrak kaget, “Toa-ko, apa yang betul”

“Sebelum bertemu dengan kita kedua orang ini tidak begitu ketakutan. Tapi setelah berpisah dengan kita mereka lantas lari lintang pukang, seperti tahu bahwa jiwa mereka terancam bahaya.”

“Betul, tapi … kenapa begitu?” Thi-wah garuk-garuk kepala.

“Karena musuh mereka tidak tahu siapa adalah murid Hwe-mo-sin, padahal mereka tahu bahwa murid Hwe-mo-sin akan mengadakan kontak dengan aku, maka secara diam-diam mengawasi kita, begitu mereka bertemu denganku lantas ketahuan siapa dia sebenarnya, hanya beberapa kejap saja mereka mengalami musibah.”

Lalu siapa … siapa orang yang bekerja di belakang layar ini?” tanya Thi-wah.

“Terhadap mereka aku tidak tahu apa-apa, tapi orang-orang itu tentu tahu banyak tentang diriku, kalau tidak mana mungkin mereka tahu bahwa orang yang mengadakan kontak dengan aku adalah murid Hwe-mo-sin.”

“Ya, tapi …”

Po-giok menukas, “Masih ada satu hal, orang-orang itu baru turun tangan setelah murid Hwe-mo-sin bertemu dan berpisah denganku, dari sini dapat disimpulkan bahwa orang-orang itu sedikit banyak merasa segan terhadapku.”

“Aku tahu, orang-orang itu tentu takut menghadapi kungfu Toa-ko.”

Po-giok tertawa getir, “Urusan tidak semudah itu …”

Akhirnya Po-giok menarik kesimpulan, bukan saja orang-orang yang bergerak di belakang layar ini ada sangkut paut dengan dirinya, malah keterangan yang ingin mereka ketahui juga erat hubungannya dengan dirinya.

Tapi sampai sejauh ini, juga hanya sebanyak itu yang mereka ketahui. Siapa orang-orang itu, rahasia apa yang mereka kejar dan ingin membongkarnya, Po-giok belum mendapat jawabnya.

Sesaat lamanya Po-giok tepekur memikirkan soal ini, katanya kemudian setelah menghela napas, “Di luar kota Tang-yang sebelah barat, ada lampu merah dalam hutan jati. Dalam perjalanan ke Tang-yang selanjutnya kita harus lebih waspada, kita harus berusaha mencari tahu siapa yang menguntit kita.”

Namun sudah terlambat kalau sekarang Po-giok menarik kesimpulan itu, karena Thi-wah telah membocorkan rahasia itu, dan orang itu tidak perlu menguntit lagi, mereka boleh langsung datang ke alamat yang mereka tuju. Celakanya orang itu sudah menunggu kedatangan mereka di sana.

Magrib di kota Tang-yang. Dari pintu timur Po-giok masuk kota dan langsung keluar kota melalui pintu barat.

Setelah menyebrangi sungai Kuning, mereka sudah lepas dari penguntitan orang-orang kang-ouw yang mengagumi dia, sepanjang jalan ini Po-giok tidak menemukan orang yang mencurigakan gerak-geriknya.

Tapi Po-giok tidak berani gegabah setelah berada di luar kota, setiap langkah ditempuhnya dengan hati-hati, Kira-kira sepeminum teh kemudian, di bawah cahaya mentari yang hampir terbenam, jauh di depan memang kelihatan adanya sebuah hutan jati.

Po-giok melepas pandang ke empat …penjuru, di tanah tegalan yang luas ini, dalam cuaca mulai remang-remang ia yakin dengan ketajaman matanya tidak melihat seseorang, orang lain juga takkan bisa melihat dirinya. Diam-diam lega hatinya, langsung ia lari ke dalam hutan jati. Tampak asap cerobong mengepul di dalam hutan, suara kokok ayam dan gonggong anjing sayup-sayup terdengar.

Betapa lega hati Po-giok, rasa tegang pun mulai berkurang setelah mendengar kokok ayam dan salak anjing. Hampir Po-giok melupakan dalam hutan jati itulah dirinya ada janji dengan Hwe-mo-sin.

Pada saat itulah ia lihat lampu merah di dalam hutan jati.

“Nah itu dia,” Thi-wah berjingkrak senang, “lampu merah ada di sana.”

Po-giok geleng kepala, “Sungguh aku tidak mengerti kenapa Hwe-mo-sin memilih tempat ini, kenapa merusak kehidupan tentram dan damai dalam hutan jati ini, kenapa orang tidak diberi kesempatan untuk hidup sejahtera.”

Siau-kong-cu berkata pelan, “Ya, kehidupan yang terlalu damai, akan berubah menjadi tawar dan tiada artinya … bukan mustahil kaum tani yang hidup dalam hutan jati itu ingin mencari kejutan dalam perjalanan hidup mereka yang akan datang …”

Dengan tertawa getir Po-giok melangkah masuk hutan, di balik bayang-bayang rimbunnya pohon, tak jauh di depan tampak sebuah pagar bambu mengelilingi tiga buah petak rumah gubuk yang sederhana. Di depan sebuah pintu yang setengah terbuka bergantung sebuah lampu merah.

Seekor anjing berbulu belang menyalak di belakang pagar bambu, tujuh-delapan ekor ayam mondar-mandir di halaman sedang mencari makan.

Asap mengepul dari cerobong yang membumbung tinggi di atas rumah, bau nasi yang wangi teruar dari dalam rumah. Kalau tiada lampu merah yang bergantung di depan pintu hampir Po-giok tidak percaya Hwe-mo-sin menjanjikan dirinya bertemu di tempat ini.

Langkahnya diperlambat, seperti tidak berani mengganggu ketentraman dan kedamaian kehidupan di sini. Dalam hati ia bertekad untuk melestarikan kehidupan damai di hutan jati ini.

Ketika mereka sudah berada di depan pintu anjing belang itu malah tidak berani menyalak lagi dengan mencawat ekor mundur ketakutan ke pojok sana.

Po-giok batuk dua kali, lalu berseru, “Ada orang di dalam?”

Beruntun empat kali Po-giok bertanya tanpa mendapat jawaban, juga tiada reaksi dari dalam rumah.

“Apa mungkin salah alamat?” tanya Thi-wah bimbang.

“Ya, mungkin kebetulan di sini ada sebuah lampu merah,” ucap Po-giok hambar.

“Mana mungkin ada kejadian yang begini kebetulan,” bantah Siau-kong-cu.

Sembari bicara ia dorong pintu yang setengah terbuka itu, lalu melangkah masuk.

Tiga petak gubuk itu yang terdekat adalah sebuah ruang kecilan saja, di tengah aula terdapat sebuah meja pemujaan yang memuja Kwan Im Pou Sat, di pinggir kiri juga ada gambar Koan Kong.”

Di depan altar terdapat sebuah meja segi delapan, di atas meja tertaruh tiga mangkok dan tiga pasang sumpit terdapat pula sebuah keranjang bundar anyaman bambu, di dalamnya tersimpan beberapa cangkir teh.

Pintu yang ada di sebelah kiri menuju ke kamar tidur. Di atas ranjang kayu yang besar dan berat, secara rapi bertumpuk tiga kemul kembang.

Bau nasi liwet teruar dari balik pintu sebelah dalam, bara menyala cukup besar, kayu bakar memercikan lelatu, hawa terasa hangat dalam rumah.

Inilah sekedar gambaran kehidupan keluarga petani yang siap makan malam, siapa pun takkan menemukan sesuatu yang ganjil di rumah ini, namun ke mana keluarga petani ini? Dari depan sampai belakang, tidak kelihatan bayangan orang.

Siau-kong-cu yang biasanya bandel dan banyak ulahnya, kali ini ikut merasa heran dan bingung, Sudah tentu sukar Po-giok membayangkan apa sebetulnya yang di atur Hwe-mo-sin dengan rumah ini. Setelah berputar dua kali memeriksa seluruh pelosok rumah ini, Siau-kong-cu menggumam sendiri, “Mungkinkah mereka belum datang?”

Hanya Thi-wah yang melirik dan memperhatikan mangkok dan keranjang makanan di atas meja itu, apalagi bau nasi yang harum itu membuat perutnya lapar sekali. Akhirnya ia tidak sabar lagi, sekali raih ia buka tutup keranjang bundar itu, mendadak ia menjerit kaget dan menyurut mundur, keranjang bundar itu tersampuk jatuh ke lantai.

“Ada apa?” tanya Po-giok.

“Coba kau periksa, itu-itu lagi,” sahut Thi-wah.

Isi keranjang itu ternyata masakan jamur dan lidah burung betet, hanya kali ini ditambah semacam menu yang lebih besar porsinya, yaitu panggang daging sapi dan dua ekor ayam besar.

Sambil mengawasi Siau-kong-cu Po-giok berkata, “Mereka sudah ke sini.”

“Kalau sudah datang, tentu belum pergi jauh,” kata Siau-kong-cu.

“Api dalam tungku masih menyala, nasi juga belum hangus, mereka pasti belum lama pergi dengan tergesa-gesa, kenapa mereka menyingkir dari sini? Pergi ke mana?”

“Kalau tidak bisa memperoleh jawabnya, boleh tunggu saja di sini dan nanti langsung tanya padanya kalau kembali,” demikian kata Siau-kong-cu.

“Apa, mereka akan kembali?” ujar Po-giok.

Siau-kong-cu tertawa, “Melihat sayur mayur ini perutku menjadi keroncongan, ayolah kita makan dulu … Mereka belum bertemu denganmu. memangnya kau takut mereka tidak akan kembali?”

“Betul,” seru Thi-wah, “makan lebih utama, usulmu memang baik.

Sehabis makan, malam pun tiba.

Po-giok menarik sebuah kursi keluar pintu dan duduk di sana mencari angin, pandangannya jauh menatap bintang-bintang di langit entah soal apa yang sedang direnungkan. Pikirannya memang ruwet, setelah sampai di sini ia tidak tahu bagaimana selanjutnya dirinya harus bergerak.

Siau-kong-cu berdiri di depan altar pemujaan, sambil bertopang dagu melamun mengawasi patung Koan Im, entah apa pula yang sedang dipikirkan.

Thi-wah lagi sibuk mengisi mangkuk dengan nasi dan sisa masakan untuk makan anjing belang itu.

Gonggong anjing yang galak menyentak Po-giok dari lamunannya.

“Si belang yang manis,” terdengar Thi-wah berkata, “nasi daging seenak ini, kenapa tidak mau makan?”

Anjing yang kecil itu sedang mendongak menyalak dengan buas, sikapnya garang seperti ingin menggigit.

Siau-kong-cu menoleh dengan berkerut kening, katanya, “Orang-orang itu barangkali mampus semuanya? Kenapa belum juga kembali, kami sudah menunggu hampir tiga jam,”

“Ya, sudah tiga jam kami menunggu,” ucap Po-giok kesal.

“Kalau tiga jam lagi mereka belum pulang bagaimana selanjutnya?” tanya Siau-kong-cu.

“Sepatutnya aku yang bertanya demikian padamu.”

“Bedebah!” seru Siau-kong-cu sambil mengentak kaki, “memangnya ke mana orang-orang mampus itu?”

Mendadak Thi-wah mengomel dengan tertawa “Hei, si belang, nasi daging tidak kau makan, untuk apa gigit celana bututku, sungguh goblok …. ”

Sembari memaki ia menurut saja ditarik ke dalam kamar oleh si belang.

Siau-kong-cu mengomel, “Orang lain gelisah, anak dungu ini masih enak-enak bermain anjing.”

Po-giok tidak menghiraukan ocehannya, ia berdiri dan mondar mandir di pekarangan, katanya kemudian, “Kurasa ada sesuatu yang tidak beres dalam urusan ini.”

“Ada perubahan maksudmu? Kecuali kau dan aku memangnya siapa yang tahu gubuk petani ini adalah tempat pertemuan kita? Aku kira justru orang-orang mampus itu …”

Tiba-tiba Thi-wah menjerit kaget di dalam kamar, “Haya, mayat! Mayat! Ada orang mati di sini.”

Tanpa janji serentak Po-giok dan Siau-kong-cu memburu ke dalam kamar.

Anjing belang itu tampak berjongkok di pinggir ranjang. Thi-wah berdiri setengah membungkuk, sebelah tangannya menyingkap kelambu, seperti patung ia berdiri tidak bergerak.

“Gembar-gembor mengejutkan orang, apa kerjamu di sini?” demikian omel Siau-kong-cu.

“Di bawah ranjang … bawah ranjang …. ” Thi-wah tergegap sambil menuding kolong ranjang.

Mendadak ia mengangkat tangan, ranjang besar dan berat itu ia angkat dan digeser ke pinggir, Di bawah ranjang memang benar ada dua mayat orang yang telentang.

Po-giok mengira mayat kedua orang ini adalah pemilik gubuk, tapi setelah diperhatikan, kedua orang ini berpakaian hitam, alis tebal mulut lebar, walau sudah mati beberapa jam yang lalu, namun masih terbayang pada wajah mereka waktu hidupnya adalah orang-orang kasar dan kuat, tidak mirip petani yang hidup bersahaja, dari sini dapat disimpulkan bahwa kedua orang ini adalah orang-orang Hwe-mo-sin yang ditugaskan di sini.

Kaki tangan kedua orang ini sudah kaku dingin namun tidak ada luka pada tubuhnya, juga tiada bekas pukulan berat atau getaran tenaga dalam, jelas bukan mati lantaran keracunan. Po-giok berjongkok dan memeriksa lebih teliti, akhirnya ia temukan satu butir batu sebesar telur ayam menempel di dada, tepat di bawah jantung, batu bulat itu menutup luka-luka tusukan pedang yang mematikan.

Sekali pandang Po-giok lantas tahu bahwa kedua orang ini mati karena dadanya ditembus pedang, tapi sebelum darah keluar, pembunuhnya sudah menyumbat bekas tusukan pedang itu dengan sebutir batu.

Tersirap darah Po-giok, katanya memuji, “Hebat sekali ilmu pedangnya, lihai benar kepandaiannya.”

Siau-kong-cu berkata, “Aku heran, tempat ini begitu rahasia, kenapa diketahui orang, musuh mendahului kita dan turun tangan keji di sini. Cara bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini?”

“Aku yakin ada orang yang membocorkan rahasianya,” ujar Po-giok gegetun.

Siau-kong-cu menyeringai, “Mati pun orang-orang Ngo-hing-mo-kiong takkan berani membocorkan rahasia. Apalagi umpama mereka ada maksud membocorkan rahasia ini, tak mungkin bisa tahu alamat yang dijanjikan dalam surat itu.”

Po-giok maklum betapa licin dan misterius cara Hwe-mo-sin bekerja, ia yakin Siau-kong-cu tidak membual.

Mendadak Siau-kong-cu bertanya, “Di mana surat itu?”

“Masih aku simpan …” sahut Po-giok, “setelah kubaca lalu aku simpan dengan baik, tidak mungkin dicuri orang lain.”

“Pernah kau beri tahu isi surat itu kepada orang lain?” tanya Siau-kong-cu.

Po-giok tertawa getir, “kau kira aku…..”

“Lalu apa yang terjadi,” seru Siau-kong-cu mengentak kaki, “tak habis heranku.”

Sejak tadi Thi-wah menunduk, wajahnya merah jengah, dengan suara lirih akhirnya ia mengaku, “Apa yang tertulis dalam surat itu, pernah kukatakan kepada seseorang.”

“kau ?” bentak Siau-kong-cu dengan beringas, “kau bilang … bilang pada siapa?”

“Aku tidak tahu siapa dia.” sahut Thi-wah gugup, “aku …”

Dengan tergagap ia ceritakan kejadian yang dialaminya di hutan gelap itu.

Tangan kiri Siau-kong-cu mengelus rambut, tangan kanan mengusap pipi, dengan terlongong ia awasi Thi-wah, wajahnya tidak menunjukan mimik apa-apa, akhirnya ia menghela napas perlahan “Kamu memang pintar.”

Thi-wah mengira nona ini akan mencaci dirinya, siapa tahu gadis ceriwis ini malah memujinya keruan Thi-wah melengong, serunya, “Ken .. napa engkau tidak mencaciku?”

“Kenapa aku harus memakimu?” Siau-kong-cu balas bertanya.

“Aku … bukankah aku telah berbuat salah?”

Siau-kong-cu tertawa tawar, “Aku hanya memaki orang yang setimpal aku maki, orang seperti dirimu …” perlahan ia geleng kepala lalu melengos ke arah lain.

“O, orang seperti diriku tidak setimpal kau maki, begitu? … Ai, tapi kalau kamu tidak memakiku, hatiku menjadi sedih, tolonglah memaki aku barang dua-tiga patah kata.”

Meski gusar, menghadapi kepolosan Thi-wah, tak kuat Siau-kong-cu menahan geli, sambil tertawa akhirnya ia memaki, “Kerbau dungu …. ”

Po-giok tampak serius, katanya prihatin. “Orang ini adalah jago Hua-kin-joh-kut-jiu yang lihai, ilmu pedangnya juga hebat, namun berbuat licik dan rendah terhadap Thi-wah, apakah orang ini …. ”

Sebelum habis Po-giok bicara, Siau-kong-cu membelalakkan mata dan bertanya, “Siapa yang kau maksud?”

Sambil tersenyum getir Po-giok geleng kepala tanpa bicara.

Dalam keadaan seperti ini pantasnya orang merasa kecewa dan gregetan, tapi ia malah tersenyum dan berdiri. Senyumnya jelas mengandung arti yang dalam, ada sesuatu rahasia di balik senyumannya itu.

Sudah tentu Siau-kong-cu merasa heran, namun ia tahu kalau Po-giok tidak mau menjelaskan, biar ditanya juga takkan memperoleh jawaban yang memuaskan, dengan bersungut ia melengos tidak menghiraukannya lagi.

Bola mata Thi-wah jelalatan, mendadak ia berkata keras, “Aku tidak peduli siapa orang itu, tidak peduli untuk urusan apa dia berbuat demikian, aku hanya ingin tanya pada Toa-ko, sekarang apa yang harus kita lakukan? Ke mana harus pergi?”

“Terpaksa kita harus menunggu di sini,” sahut Po-giok.

“Menunggu? Menunggu sampai kapan?” desak Thi-wah.

“Kenapa gugup?” tanya Po-giok tersenyum, “orang lain yang harus gugup, orang itu yang ingin memperoleh sesuatu dari kita, jadi bukan kita yang ingin menarik keuntungan dari dia. Yang terang kita pergi ke Pek-cui-kiong atau tidak sekarang tidak menjadi soal lagi.”

Mulutnya bicara dengan Thi-wah, namun matanya mengawasi Siau-kong-cu.

Siau-kong-cu seperti tidak melihatnya mulutnya saja yang bicara, “Untuk apa kamu mengawasiku? Mengawasiku juga tidak berguna.”

“Aneh engkau tidak melihatku, dari mana kau tahu aku mengawasimu?”

Siau-kong-cu termenung sebentar, mendadak ia mengentak kaki, katanya manja sambil menoleh, “Gerak-gerikmu selalu aku awasi, jangan kira aku melengos dan sengaja tidak menghiraukan dirimu, padahal tingkah lakumu selalu aku perhatikan, aku suka mengawasi pemuda setampan dan segagah dirimu.”

“Terima kasih, engkau terlalu memuji diriku.”

“Tapi jangan kamu takabur. Bila kau kira aku tahu bagaimana harus bertindak, kau bakal kecelik, terus terang ke mana selanjutnya kita harus pergi aku pun tidak tahu.”

“Apa betul kamu tidak tahu?”

“Di mana letak Ngo-hing-mo-kiong masih merupakan rahasia besar kaum persilatan, hampir tiada kaum Bu-lim tahu di mana letak sebenarnya Ngo-hing-mo-kiong itu. Lalu berapa orang pernah pergi ke Ngo-hing-mo-kiong?”

“Ya … belum pernah aku dengar.”

“Bahwa Hwe-mo-sin tidak tunjuk langsung tujuan yang harus kau capai, bukan dia sengaja main petak dan mencari kesulitan untuk dirinya sendiri, tapi ia kuatir setelah kau tahu tempat ini tanpa sengaja akan membocorkan rahasianya.”

“Betul, hal ini sudah aku duga sejak mula.”

“Tapi kepergianmu ke Ngo-hing-mo-kiong sudah bukan rahasia lagi. kaum Bu-lim sudah memperhitungkan bahwa Hwe-mo-sin akan memberi petunjuk kepadamu cara bagaimana pergi ke Ngo-hing-mo-kiong, maka dengan berbagai daya upaya mereka berusaha mencegah dan menggagalkan kontak kalian. Tujuannya tidak lain adalah memaksa mereka untuk membocorkan letak sebenarnya Ngo-hing-mo-kiong, jadi mungkin juga usaha mereka bukan untuk menghalangi kepergianmu ke sana.”

“Ya, betul.”

“Nah, coba pikir, kenapa orang-orang itu menghalangi mu?”

“Betul … kalau hanya ingin tahu alamat Ngo-hing-mo-kiong, cukup orang itu menguntit jejakku, kenapa harus menguras tenaga dan pikiran kenapa harus mendahului aku mencapai tempat aku mengadakan kontak dengan Hwe-mo-sin.”

Siau-kong-cu mengerling tajam, perlahan ia mengangguk, “Analisamu memang benar … ”

“Aneh, aneh!” mendadak Thi-wah berteriak.

“He, dogol, apanya yang aneh?” bentak Siau-kong-cu.

“Kalian sudah bicara panjang lebar, seolah-olah banyak orang ingin pergi ke Ngo-hing-mo-kiong, apakah Ngo-hing-mo-kiong tempat pesiar atau istana bidadari, kenapa orang ini pergi ke sana?”

Siau-kong-cu menjelaskan, “Ngo-hing-mo-kiong bukan tempat untuk tamasya, umpama ada orang bisa pergi ke sana jangan harap dia akan kembali lagi. Tapi kenyataan orang masih ingin ke sana, apakah …”

Kembali matanya mengerling ke arah Po-giok lalu menambahkan, “Untuk apa sebenarnya? Apa kamu tahu?”

“Pemilik Ceng-bok-kiong di antara Ngo-hing-mo-kiong itu dahulu adalah Beng-cu kaum Lok-lim, harta benda yang menjadi koleksinya selama
bertahun-tahun, nilainya tentu amat mengejutkan…”

“Betul, manusia mati karena harta, burung mati karena makanan, apa yang kamu kemukakan tadi memang salah satu sebab, tapi … kecuali itu masih ada sebab lain, kau tahu tidak?”

Po-giok berpikir sebentar, “Aku ingat pernah aku dengar orang bilang, Ui-kim-mo-li anak buah Kim-ho-ong, semuanya gadis-gadis cantik jelita, malah …. ”

Malah apa Po-giok tidak meneruskan. Soalnya bukan saja cantik jelita, para Ui-kim-mo-li itu pun genit dan jalang, menguasai ilmu sihir lagi, korban yang jatuh di tangan mereka akan tersiksa dibuai kesenangan surga dunia sampai mampus.

Di hadapan Siau-kong-cu, Po-giok rikuh menjelaskan soal-soal porno ini.

Walau Po-giok tidak menjelaskan, namun muka Siau-kong-cu sudah merah jengah, “Belum lama kamu berkecimpung di kang-ouw, tidak sedikit seluk-beluk kaum Bu-lim kau pelajari, kiranya kau … kau pun bukan orang baik.”

“Ah, aku … aku hanya dengar orang bilang dan kau pun bertanya …”

“Sudah, sudah, anggap saja kamu yang benar. Memang ada kaum Bu-lim yang bernyali kecil dalam menghadapi persoalan lain, tapi bicara tentang perempuan nyali mereka menjadi besar, apa masih ada yang lain?”

“Punya harta dan punya bini cantik, memangnya masih kurang?” tanya Po-giok.”

“Biasanya kamu serba tahu, kenapa tidak tahu bahwa ‘harta dan kecantikan’ itu hanya dapat memancing orang-orang kroco kaum Bu-lim, bagi tokoh yang sedikit punya nama dan kedudukan, mana mau memperebutkan harta benda dan tubuh mulus atau surga dunia.”

“Habis apa tujuan mereka?” tanya Po-giok.

Siau-kong-cu menyeringai, “Masa tidak pernah aku dengar, bahwa pemilik Bu-tho-kiong dahulu adalah seorang seniman yang romantis, koleksi gambar lukisan dan benda antik yang tersimpan di Bu-tho-kiong, nilainya tidak bisa diukur dengan uang. Sementara Hwe-mo-sin adalah ahli pembuat bahan peledak, keahliannya di bidang ini tiada bandingan di seluruh dunia. Kedua benda ini membuat orang mengiler, baginda raja pun ingin memilikinya. Sayangnya kawanan bayangkari yang bertugas di istana raja juga pusing tujuh keliling bila bicara tentang Bu-tho-kiong, mana berani mereka mengusik tempat itu.”

Po-giok tertawa, katanya, “Betul, harta dan gadis cantik adalah benda yang mudah diperoleh di dunia fana ini, dibanding koleksi Bu-tho-kiong jelas bukan apa-apa, apalagi dibanding kemahiran Hwe-mo-sin.”

“Tapi tokoh- yang betul-betul kosen di Bu-lim bukan cuma mengincar itu saja.”

“Mengincar apa lagi?”

“Yang mereka incar, adalah ibu mertuamu.”

Po-giok tertegun heran, “Ibu mertuaku … O, maksudmu Cui … Cui …”

Siau-kong-cu tertawa dingin, “Kamu adalah suami cilik Cui-Thian-ki, masa sudah lupa?”

“Aku … aku …. ” Po-giok menyengir.

Thi-wah tertawa lebar, “Betul, betul. Kalau tidak kau katakan hampir saja aku lupa, waktu aku bertemu dengan Toa-ko pertama kali, kalau tidak salah pernah menyinggung soal ini.”

Po-giok mendelik padanya, tapi Thi-wah malah ngakak.

“Agaknya tidak bisa kau lupakan Cu-Thian-ki adalah binimu, pemilik Pek-cui-kiong dengan sendirinya adalah ibu mertuamu,” kata Siau-kong-cu.

“Kalau benar memangnya kenapa?” tanya Po-giok dengan tertawa getir.

“Agaknya kamu ini serupa katak dalam sumur, seluk-beluk ibu mertuanya sendiri pun tidak tahu. Baiklah biar aku jelaskan, ibu mertuamu itu dahulu adalah seorang perempuan tercantik di dunia, entah berapa banyak laki-laki di Bu-lim yang tergila-gila dan bertekuk lutut di depannya, hanya melihat senyum tawanya saja banyak laki-laki yang rela mengorbankan jiwanya.”

“Tapi… tapi sekarang …”

“Maksudmu sekarang dia sudah tua, begitu?” sebelum Po-giok menjawab Siau-kong-cu meneruskan, “kamu keliru, sekarang dia belum kelihatan tua, malah lebih menggiurkan, dibanding sepuluh tahun yang lalu. Apalagi selama belasan tahun ini dia tak pernah muncul di Bu-lim maka orang-orang persilatan menganggap tindak-tanduknya amat misterius tambah kuat daya tariknya ….Entah berapa banyak kaum persilatan yang rela mengadu jiwa hanya untuk bisa bertemu dengan dia.”

Po-giok menghela napas tanpa bicara.

Mendadak Thi-wah menyeletuk, “Baiklah, anggaplah letak Ngo-hing-mo-kiong itu amat tersembunyi, orang lain tiada yang bisa menemukan tempat itu, tapi … apa kau pun tidak tahu?”

“Aku pun tidak tahu,” sahut Siau-kong-cu geleng kepala.

“Ah tidak percaya,” kata Thi-wah, “kamu pernah tinggal di Ngo-hing-mo-kiong, masa tidak tahu?”

Siau-kong-cu diam sejenak, lalu berkata dengan lesu, “Naik kereta empat kuda, kerai rapat berlapis, tertutup tidak melihat jalan.”

Terbelalak mata Thi-wah, “Coba ulangi sekali lagi, aku tidak jelas.”

Po-giok menghela napas, “Dia bilang waktu keluar dari Ngo-hing-mo-kiong sepanjang jalan naik kereta yang tertutup rapat, hakikatnya ia tidak melihat jalan, maka juga tidak tahu di mana sebetulnya letak Ngo-hing-mo-kiong.”

“O … jadi mereka juga merahasiakan terhadapmu,” Thi-wah manggut-manggut.

“Bukan mereka menyimpan rahasia terhadapku, tapi karena kuatir aku lelah, sengaja menyiapkan sebuah kereta besar dan nyaman untukku … kereta semacam itu, ehm … seumur hidupmu pun takkan pernah naik.”

Thi-wah tertawa lebar. “Mulutmu memang bawel, tapi hatimu tahu sendiri. Lahirnya orang bersikap baik terhadapmu, padahal engkau tetap dianggap orang luar, untuk keluar masuk jalannya juga dirahasiakan, lalu untuk apa kau bekerja dan menjual jiwa bagi mereka.”

Apa yang diucapkan Thi-wah biasa saja, perkataan sederhana, perkataan biasa yang mudah dimengerti, namun perkataan pedas dan menusuk perasaan.

Beberapa patah kata yang diucapkan laki-laki gede ini ternyata membuat Siau-kong-cu yang binal, banyak akal dan lincah ini berdiri tertegun dan terkancing mulutnya, ia bingung, entah Thi-wah ini memang bodoh atau pura-pura bodoh?

Thi-wah bergumam, “Kalau benar demikian terpaksa kita harus menunggu di sini, tapi sampai kapan kita harus menunggu? Toa-ko, coba pikirkan, jalan pemecahannya.”

“Wah, susah …” Po-giok kehabisan akal.

Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya suara batuk perlahan, tapi Po-giok, Thi-wah dan Siau-kong-cu mendengarnya dengan jelas.

Sebetulnya suara batuk itu biasa saja, seperti suara batuk manusia umumnya, tapi entah kenapa suara batuk lirih biasa ini ternyata mengandung makna yang tidak biasa, seperti memberi peringatan, atau mungkin juga isyarat tantangan.

Po-giok berhenti bicara, mata Siau-kong-cu juga bercahaya

“Siapa itu yang batuk?” tanya Thi-wah.

Di luar pintu, agak jauh di sana ada orang bertanya, “Apakah Pui-siau-hiap ada di sini?”

“Nah, sudah datang!” seru Thi-wah, “sudah datang, tidak perlu tunggu lagi.”

Lalu ia mendahului memburu keluar. Agak jauh di bawah bayang-bayang pohon di luar pintu pagar sana berdiri sesosok bayangan orang.

Bayangan orang itu berdiri tegak kaku seperti tertanam di bumi, dari kepala sampai kaki tidak bergeming, bayang-bayang pohon seperti membungkus sekujur badannya, tidak kelihatan wajahnya, juga tidak tampak mimik sikapnya.

Tapi siapa saja melihat bayangan orang ini entah mengapa terasakan bayangan samar-samar tidak bergerak itu seperti menyebarkan hawa membunuh.

Thi-wah adalah orang polos melihat bayangan orang ini seketika ia berhenti di ambang pintu napas pun terasa berat.

“Siapa kau ?” Po-giok menegur dengan suara berat.

Terpancar secercah cahaya pada wajah orang itu, cahaya mata. Ternyata baru sekarang ia membuka kedua matanya, tapi badan tidak bergeming, tanpa bicara.

Ternyata si belang yang tadi sembunyi di kamar entah sejak kapan juga memburu keluar. Melihat bayangan orang dan merasakan suasana yang menegangkan ini, mendadak telinganya berdiri, ekornya juga menegak. Sambil mengerang matanya menatap buas, sambil menggonggong mendadak si belang menerjang.

“Hei, belang!” bentak Po-giok kaget, “berhenti …. ”

Tapi belum habis Po-giok bicara, mendadak dilihatnya selarik sinar berkelebat, tahu-tahu si belang roboh binasa dengan tubuh terbelah dua.

Thi-wah berdiri kaku, walau ada maksud mencaci orang, tapi lidahnya terasa kelu, sepatah kata pun tak kuasa diucapkan.

Bayangan orang yang serba hitam itu kini memegang sebatang golok panjang.

Daripada disebut golok panjang lebih tepat gaman orang ini disebut pedang. Dari gagang pedang hingga ujungnya lurus seperti panah, tiada lengkung atau bengkok sedikitpun.

Tapi kenyataan senjata itu adalah golok. Golok bermata satu, hanya pedang yang bermata dua. Po-giok menatap bulat golok panjang itu, lama-lama sorot matanya juga memancarkan cahaya. Setelah lama mengawasi akhirnya ia berseru memuji, “Golok bagus!”

“Ya, golok bagus” orang itu pun bersuara.

Berat suara Po-giok, “Peng-keh-to dari Ngo-hou-toan-bun-to, goloknya agak lebar, Kwi-to-ting dari Thai-hang di San he, badan goloknya agak pendek, kecuali itu badan goloknya sedikit bengkok.”

“Betul,” bayangan itu bersuara pendek.

“Tapi golok ini bukan buatan Tiong-toh,” ucap Po-giok tegas.

“Golok ini memang tidak ada di Tiong-toh,” ujar orang itu.

Berkerut alis Po-giok, hardiknya dengan beringas, “Golok ini dari Tang-ing!”

“Golok ini datang dari Tang-ing,” ucap orang itu tegas.

“Engkau siapa kawan?” tanya Po-giok.

Orang itu terbahak sambil melangkah maju. Di bawah sinar bintang tertampak orang ini berpakaian ketat serba hitam, kepala mengenakan kerudung hitam pula, yang kelihaian hanya kedua biji matanya bola matanya berkilauan padahal matanya belum terbuka lebar.

Po-giok membentak pula, “Siapa kamu sebenarnya?”

Orang itu tertawa panjang, “Bukan teman baru juga bukan kawan lama. Umpama aku jelaskan siapa diriku kau pun tidak akan mengenalku.”

“Lalu untuk keperluan apa kamu kemari?” tanya Po-giok.

Mendadak orang itu berhenti tertawa, katanya tandas, “Seorang sahabat dari Tang-ing titip sebatang golok padaku untuk diserahkan kepadamu.

“Pek-ih-jin maksudmu?” seru Po-giok kaget.

“Betul, memang dia!” sahut si baju hitam.

Menghadapi utusan Pek-ih-jin dengan golok yang mengandung hawa membunuh, sikap Po-giok sedikit pun tidak menampilkan rasa gugup, takut atau ngeri, sorot matanya malah berubah tajam dan jernih, sikap juga kelihatan tenang dan wajar. Matanya menatap golok panjang itu, Thi-wah dan Siau-kong-cu mengawasi dia.

Setelah sekian saat mengawasi Pui-Po-giok, lambat-laun berubah air muka Siau-kong-cu, sikap biasanya yang selalu mencemooh dan meremehkan sinar matanya yang cerdik tapi pongah, kini berubah prihatin, perasaannya seperti tertekan. Prihatin yang mengandung rasa takut tapi hormat, kagum namun juga iri.

Sebetulnya yang dipandang adalah kekasihnya laki-laki pujaan hatinya, tapi ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa pujaannya lebih kuat, lebih unggul dan lebih pintar dari dia.

Dilihatnya Po-giok tertawa tawar. “Bahwa Pek-ih-jin dari Tang-ing menyerahkan sebatang golok kepada tuan, tentu golok itu amat berharga. Namun bagaimana Pek-ih-jin bisa tahu bahwa di dunia ini ada seorang bernama Pui-Po-giok?”

“Pek-ih-jin tidak menunjuk bahwa golok ini harus kubawa untukmu,” demikian kata si baju hitam.

Po-giok tersenyum, “O, jadi tuan sendiri yang bermaksud menghadapiku?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: