Kumpulan Cerita Silat

11/04/2008

Darah Ksatria: Bab 16. Toko Serba Ada

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:46 pm

Darah Ksatria
Bab 16. Toko Serba Ada
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Bentuk rumah itu terlalu rendah, lelaki bertubuh tinggi kalau mengulurkan tangan pasti bisa menjangkau langit-langit rumah. Kapur dinding juga sudah luntur, di dinding tengah yang menghadap pintu luar tergantung sebuah papan ukiran yang menggambarkan Kwan Kong berduduk sambil membaca buku Jun-jiu. Di pinggirnya tergantung kertas panjang yang memuat tata tertib kehidupan keluarga menurut tradisi kuno yang ditulis Cu-hucu. Di sisi lain adalah tulisan berisi petuah bagi manusia untuk hidup rukun, jujur, dan bajik, serta bertakwa kepada Thian. Gaya tulisannya amat kuat dan indah dengan model kuno lagi, merupakan tulisan yang tinggi nilainya.

Rumah pendek itu hanya ada satu jendela dan satu pintu. Di pintu dipasang kain tirai biru yang sudah luntur warnanya. Sebuah meja segi delapan terbuat dari kayu merah kelihatan sudah tua dan kotor ternyata masih berguna dan diletakkan di seberang pintu.

Di atas meja ditaruh sebuah poci teh yang mulutnya sudah gumpil separuh, tiga cawan kecil berjajar di depan poci. Di sebelah atas bagian belakang meja terdapat sebuah altar pemujaan yang masih kelihatan rapi dan terpelihara-yang dipuja bukan Kwan-te-kun, tetapi Koan-im Hudco yang membopong orok kecil gendut dan mungil.

Di pojok kamar bertumpuk tiga peti kayu. Di pojok lain ada sebuah meja rias yang kelihatannya tidak terpakai karena berdebu, kacanya kotor dan buram, sisir yang terbuat dari kayu juga sudah patah sebagian besar.

Kecuali itu hanya ada sebuah ranjang. Ranjang besar terbuat dari kayu berukir dengan empat batang galah di keempat kakinya sebagai penyangga kelabu. Di atas ranjang tempat tidur terdapat seorang perempuan-tubuhnya ditutup tiga lapis selimut tebal yang terbuat dari kapas.

Rambut perempuan ini kusut masai. Mukanya kuning pucat. Kelihatannya amat kuyu lagi kurus dan lemas. Kalau sedang tidur terdengar mulutnya merintih-rintih.

Udara dalam rumah berbau obat yang beraroma tebal. Di luar ada seorang perempuan bermulut tajam dengan suaranya yang melengking sedang mengomel panjang pendek. Katanya telur yang dijual oleh toko ini kecil-kecil, demikian pula minyak goreng yang dia beli kemarin bercampur air, garam juga lebih mahal dari yang ia beli di pasar.

Waktu Ma Ji-liong terjaga dari pulasnya, ia mendapatkan dirinya berada di tempat itu. Semula ia mengira dirinya sedang bermimpi. Kecuali bermimpi, orang seperti dirinya mana mungkin berada di tempat seperti itu. Untungnya, meski pengaruh arak belum hilang sepenuhnya, kepalanya juga masih pusing, namun pikirannya sudah segar. Lekas sekali ia maklum apa yang terjadi dan di mana sekarang dirinya berada.

Reaksi pertama yang dilakukan Ma Ji-liong setelah sadar adalah melompat berdiri dari kursi malas di mana barusan ia tertidur lelap. Ia bergegas menghampiri meja rias serta membersihkan kaca dengan lengan bajunya. Ji-liong merasakan jari jemarinya dingin dan gemetar.

Bagaimana hasil operasi Giok Ling-long atas mukanya? Lumrah kalau Ji-liong ingin lekas tahu berubah macam apa wajahnya sekarang.

Yang terbayang dalam cermin buram itu bukan lagi wajah aslinya yang dulu, tetapi wajah Thio Eng-hoat seperti yang pernah ia lihat di gambar itu. Ma Ji-liong mengucek-ucek matanya, akhirnya ia yakin bayangan dalam cermin memang betul adalah wajah Thio Eng-hoat-bukan wajah Ma Ji-liong lagi.

Seseorang bercermin di depan kaca, wajah yang terbayang di cermin ternyata wajah orang lain, bagaimanakah perasaan hatinya? Bagi yang belum pernah mengalami kejadian seperti ini, mimpi pun takkan pernah membayangkan apa yang terkandung di dalam hatinya. Dalam hal ini jarang Ma Ji-liong mengagulkan diri, tetapi kenyataannya memang demikian-siapa pun mengakui bahwa Ma Ji-liong adalah seorang pemuda berwajah tampan. Entah mereka yang membenci dirinya atau merasa dengki dan iri karena kalah tampan dan gagah, namun mereka harus bertekuk lutut menghadapi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Dalam keadaan seperti ini mau tidak mau Ji-liong bertanya-tanya dalam hati, “Kelak apakah wajahku bisa dipulihkan seperti semula?”

Sudah tentu Ji-liong tidak bisa menjawab pertanyaan yang membuatnya khawatir. Hatinya gregetan dan gegetun setengah mati karena kenapa sebelum ini tidak bertanya langsung kepada Toa-hoan atau Giok Ling-long.

Suara ribut di luar sudah tak terdengar. Mungkin perempuan cerewet itu sudah pulang. Sementara itu perempuan yang tidur di ranjang masih terlelap dalam mimpi. Besar rasa ingin tahu Ma Ji-liong. Ia ingin melihat wajah perempuan yang tidur di atas ranjang. Begitu berdiri di pinggir ranjang, seketika ia berjingkat mundur saking kagetnya.

Apa betul perempuan bermuka pucat dan kuning, berbadan kurus dan kuyu tanpa cahaya sedikit pun ini, betul adalah gadis cantik rupawan bertubuh montok padat dan semampai yang pernah diintipnya di kamar mayat di balaikota waktu itu?

Ma Ji-liong tahu bahwa dirinya sudah dipermak sedemikian rupa, namun tak urung hatinya masih kaget dan takut.

Kalau perempuan ini bangun nanti, mendadak tahu dirinya tidur di ranjang dan di tempat asing, tahu pula dirinya sudah berubah rupa, entah apa yang akan dilakukannya.

Ma Ji-liong mulai bersimpati terhadapnya.

Kini Thio Eng-hoat yang satu ini sudah bertemu dengan dirinya sendiri, melihat keadaan rumah tinggalnya, dan menyaksikan isterinya yang sakit-sakitan di ranjang.

Toko serba ada macam apa pula toko miliknya ini? Orang macam apa pula Thio-lausit-pegawainya yang jujur dan setia itu? Ji-liong ingin melihat sendiri pembantunya itu.

Dinamakan toko serba ada karena toko ini menjual dan menyediakan bahan sandang-pangan. Di dalam toko penuh berbagai jenis barang, dari keperluan dapur sampai keperluan sehari-hari. Ada minyak, garam, kecap, cuka, beras, gula, telur ayam, telur bebek, telur asin, udang kering, permen, sabun, jarum, benang, pisau, gunting, paku, kertas, alat-alat tulis juga lengkap. Setiap bahan yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarga dapat dibeli di toko serba ada ini. Di atas pintu rumah tergantung sebuah papan merk yang dihiasi empat huruf gaya tegak ‘Thio-ki-jay-hwe’.

Di depan pintu terdapat sebuah gang-jalan kampung yang tidak begitu lebar. Bila angin menghebus kencang, debu dan pasir berterbangan. Bila datang hujan, jalanan menjadi becek. Para tetangga kanan kiri adalah keluarga miskin. Anak-anak ingusan tanpa pakaian ataupun kalau berpakaian juga tidak genah-tidak lengkap, berkeliaran di jalan, berkelahi, menangis, dan ribut. Kotoran ayam, bebek, anjing, dan kucing ada di mana-mana. Di depan setiap rumah sepanjang gang sempit itu bergantungan pakaian orok atau popok bayi dan baju orang tua yang dijemur matahari.

Di tempat seperti itu, dalam lingkungan keluarga yang serba kurang, kecuali menimang anak, boleh dikata tiada kerja lain untuk mengisi waktu dan menghibur kehidupan ini.

Para enghiong atau orang gagah yang berkecimpung di dunia persilatan pasti tak akan sudi datang ke tempat sejorok ini.

Mimpi pun M Ji-liong tak akan menyangka dirinya bakal berubah begini nasibnya-menjadi juragan sebuah toko kecil di sebuah kampung miskin.

Thio-lausit bertubuh pendek kurus. Gerak-geriknya selambat babi hamil yang kurang makan. Wajah bulat dengan sepasang mata yang selalu mengantuk, seperti tidak pernah tidur pulas. Hidungnya menonjol merah seperti terong.

Terhadap tauke atau majikannya, sikap Thio-lausit tidak sopan, tidak mau menggubrisnya, kalau tidak ditanya tidak akan bicara, menjawab juga hanya seperlunya saja, tingkah lakunya kaku, segan bicara karena selalu mengantuk. Sewaktu Ma Ji-liong beranjak keluar, jangankan menyapa, melirik pun ia malas.

Maklum, di toko serba ada yang serba kotor dan jorok begini, memangnya kenapa kalau kau adalah majikan dan aku hanya kuli? Bagaimanakah tata krama sepantasnya? Yang pasti majikan atau kuli sama-sama mencari sesuap nasi. Kalau bisa makan saja sudah cukup, kenapa pula harus banyak peradatan membedakan tinggi rendah segala?

Setelah berputar-putar dalam toko atau jelasnya mengadakan pemeriksaan ala kadarnya, Ma Ji-liong malah merasa puas. Seandainya Thio-lausit itu cerewet, suka menjilat majikan umpamanya, justru dirinya akan kikuk, takkan lama hidup begini.

Ke manakah Thio Eng-hoat dan bininya-pemilik asli toko serba ada ini? Mungkin Ji Ngo sudah mengatur hidup mereka secara rapi dan baik. Hidup mereka pasti akan lebih baik, tenteram, dan bahagia.

Maka Ma Ji-liong bertanya-tanya dalam hati, “Hidup dalam keadaan seperti ini, berapa lama aku bisa bertahan di sini?”

Pembeli datang, ternyata seorang nyonya muda yang bunting tua membeli satu kilo gula merah.

Ma Ji-liong sedang memperhatikan keadaan di luar sambil menggendong tangan ketika mendadak ia berjingkat kaget oleh jeritan yang memilukan. Walaupun suaranya tidak keras, tetapi selama hidup belum pernah Ma Ji-liong mendengar jeritan gugup, panik, dan ketakutan seperti itu.

Ternyata Cia Giok-lun sudah terjaga dari pulasnya. Ia tentu telah melihat perubahan yang terjadi pada dirinya-perubahan yang menakutkan.

Hampir saja Ma Ji-liong tidak berani masuk menengoknya.

Didengarnya nyonya muda yang besar perutnya itu menggerutu sambil menggeleng kepala, “Penyakit Laupan-nio (isteri juragan) kelihatannya makin berat saja.”

Ma Ji-liong hanya tersenyum getir. Lekas ia menyingkap tirai dan menyelinap masuk. Tampak Cia Giok-lun sedang meronta bangun, sorot matanya tampak kaget, gugup, juga ngeri. Sukar bagi Ma Ji-liong melupakan mimik wajahnya waktu itu-gusar, panik, dan takut sehingga suaranya serak.

Begitu Ji-liong masuk, ia melolot dan menatap dengan pandangan curiga, “Siapa kau? Tempat apa ini? Kenapa aku ada di sini?”

“Ini kan rumahmu, sudah delapan belas tahun kau tinggal di sini. Aku kan suamimu, masa suami sendiri sudah tidak dikenal lagi?” Ma Ji-liong sendiri merasa sewaktu bicara dirinya seperti musang mencuri ayam yang ketahuan oleh pemiliknya. Tapi ia harus bicara dan menanggapinya dengan wajar, “Kulihat penyakitmu makin berat, biar aku mencari tabib untuk memeriksa penyakitmu.”

Cia Giok-lun mengawasinya dengan mata terbelalak. Tidak ada orang yang bisa melukiskan bagaimana mimik matanya. Bagaimana perasaannya saat itu.

Nyonya muda yang perutnya besar itu mendadak melongok ke dalam sambil menyingkap tirai. Katanya sambil menghela napas, “Mungkin suhu badan Laupan-nio amat tinggi, maka mengoceh tak keruan. Seduhkan wedang jahe dicampur gula merah dan lekas diminumkan!”

Belum habis ia berbicara, mendadak Cia Giok-lun meraih sebuah mangkok yang terletak di atas meja kecil di pinggir ranjang. Sekuat tenaga ia timpukkan ke sana. Mungkin karena sakitnya berat, tenaga lemah, mangkok sekecil itu tidak kuat ia lemparkan. Keruan saja ia lebih panik-lebih takut, hingga sekujur badannya gemetar. Padahal ia tahu betapa tinggi ilmu silatnya-sampai di mana taraf lwekang yang ia yakini, namun sekarang ke manakah ilmu silat yang dimilikinya selama ini?

Sambil menghela napas dan menggeleng kepala, nyonya muda yang hamil tua itu mengkeret mundur lalu beranjak pulang. Dalam jangka waktu setengah jam, para tetangga sudah tahu dan mendenger berita bahwa sakit bini Thio-laupan (juragan Thio) semakin parah saja-mungkin sudah menjadi gila.

Cia Giok-lun memang hampir gila. Waktu melihat tangannya sendiri, tangan dengan jari-jari putih halus terpelihara itu kini telah berubah menjadi kering, kusut, dan kasar seperti cakar ayam. Bagaimana dengan anggota badannya yang lain?

Perlahan ia masukkan tangan ke dalam selimut. Sejenak ia celingukan, dilihatnya cermin tembaga di atas meja rias. Sekuat tenaga ia meronta miring lalu merangkak ke pinggir ranjang mendekati cermin itu. Begitu melihat wajahnya sendiri di depan cermin, seketika ia menjerit lalu semaput.

Perlahan-lahan Ma Ji-liong berjongkok membersihkan pecahan mangkok yang hancur di lantai-kalau sebagai Ma Ji-liong, ia segan melakukan hal seperti ini. Dia lebih suka menampar muka dan mulutnya sendiri delapan belas kali di hadapan bininya lalu membeberkan persoalan sebenarnya kepada nona Cia yang terpaksa ikut berkorban karena dirinya.

Tapi ia sadar tidak boleh mengingkari kepercayaan Toa-hoan kepada dirinya. Toa-hoan percaya kepadanya, sudah sepantasnya ia juga percaya kepada Toa-hoan. Bahwa Toa-hoan sampai berbuat demikian tentu punya makna yang mendalam, tujuan yang baik, juga berguna untuk semua pihak.

Ma Ji-liong menarik napas panjang. Perlahan ia melangkah ke pintu, melongok keluar lalu memberi pesan kepada pegawainya, “Hari ini kita tutup toko lebih dini.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: