Kumpulan Cerita Silat

10/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 13

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:50 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 13
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Nilan Ming-hui yang sudah merasakan hangatnya asmara, seperti ikan mendapatkan air, walaupun dalam keadaan sakit, matanya ternyata masih begitu jeli dan air mukanya terang.

Ia memang wanita cantik suku Kijin dari Boan-ciu, ketika tiba-tiba ia menunjukkan dirinya di padang rumput yang luas itu keruan saja seakan-akan pelangi yang menghiasi angkasa dengan aneka warnanya di waktu senja.

Seketika Bing-lok merasa seperti ada cahaya yang menyilaukan, pandangan matanya kabur, ia lekas menenangkan pikirannya.

“Apa, apa yang kau katakan?” ia bertanya pula dengan membentak.

“Kamu masih belum jelas? Kedua orang itu adalah nonamu yang membunuhnya!” Nilan Ming-hui menegaskan.

Pada saat itu pula tiba-tiba Bing-lok telah melihat dua huruf ‘Nilan’ yang tersulam di kerai kereta itu, ia terperanjat dan juga senang.

Semula ia mengira di dalam kereta itu hanya keluarga orang biasa saja dari panglima Boan, kini setelah melihat keadaan yang sebenarnya itu segera ia teringat bahwa ia sudah lama mendengar panglima Boan, Nilan Siu-kiat, jenderal dari kota lli, jenderal itu mempunyai seorang anak gadis yang cantik dan mempunyai kepandaian rangkap yang sempurna, yakni ilmu silat dan ilmu surat, inikah orangnya?

“Baik juga kalau kau yang membunuh, bukan kau yang membunuh pun baik, juga, kau kini hanya tawananku, maka lekas ikut aku kembali ke sana!” kata Bing-lok dengan tertawa sambil mengayunkan cambuknya.

Namun Nilan Ming-hui tertawa mengejek.

“Hm, barangkali kau pun ingin ikut kedua kawanmu itu pergi menemui Giam-lo-ong (raja akhirat)? mereka berdua juga mengatakan hendak menawan aku baru terkena pisau terbangku!” ancamnya.

Tetapi Bing-lok tidak mempedulikan ancaman si gadis, ia memberi tanda pada bawahannya untuk maju menyergap.

“Tidak boleh!” tiba-tiba Nyo Hun-cong berteriak menghadang di depan.

“Mengapa tidak boleh?” bentak Bing-lok dibarengi satu kali pecutan.

Tetapi sekali Nyo Hun-cong menggerakkan tangannya, ia telah merebut cambuk musuh dan segera dibikin patah menjadi dua potong.

“Untuk apa kau bertempur?” bentaknya kemudian.

Melihat kedua mata Nyo Hun-cong mendelik dan kelihatan gagah perkasa, seketika Bing-lok menjadi jeri dan tidak berani maju mendesak.

“Sebenarnya kau bertempur untuk siapa?” ia balik bertanya.

“Aku telah bertempur melawan tentara Boan tidak kurang dari ratusan kali di daerah utara dan selatan, tetapi menggelikan sekali, ternyata kau bertempur untuk siapa masih belum mengetahui!” sahut Hun-cong.

“Nyo Hun-cong, kaukira dengan membantu bertempur bagi kami, kau lantas boleh mengacau semanmu? Kami pun sudah bertempur sekian tahun, siapa yang tidak tahu tujuannya adalah hendak mengusir bandit Boan,” kata seorang bawahan Bing-lok dengan gusar.

“Benar!” seru pula Nyo Hun-cong, “Tetapi apa gunanya hendak mengusir pergi orang Boan? Apakah bukan karena mereka tidak menganggap kita sebagai manusia, merampas peternakan kita, memperkosa wanita kita dan mem-perbudak rakyat kita? Kini kau hendak menangkap wanita ini buat tawananmu, bukankah juga hendak menodai dia dan tidak menganggap dia sebagai manusia, dan hendak mem-perbudaknya? Kamu tidak menginginkan musuh berbuat demikian, kini mengapa kamu sendiri yang hendak berbuat demikian ini?”

Perkataan dan pertanyaan yang beruntun itu ternyata membikin orang-orang Bing-lok menjadi bungkam, mereka tidak bisa menjawab.

“Dia adalah musuh kami, dia telah membunuh dua orang saudara kami, mengapa kami tidak boleh menangkap dia sebagai tawanan?” bentak Bing-lok pula dengan penasaran.

“Yang berperang melawan kalian adalah tentara Boan-ciu dan bukan dia!” sahut Hun-cong lagi, “Di medan pertempuran kami membunuh orang Boan yang bersenjata, makin banyak membunuhnya makin baik, tetapi sekarang di sini kalian hendak mengerubuti seorang gadis yang bertangan kosong, apakah kalian tidak merasa malu? Ia telah membunuh kedua orangmu adalah karena mereka telah mengancam keselamatan dirinya, terpaksa dia harus membela diri. Aku mau berkata, yang salah bukan dia, tetapi adalah pihakmu sendiri!”

Orang-orang Bing-lok semua mengetahui Nyo Hun-cong adalah pahlawan yang menghadapi tentara Boan dengan gagah berani, walaupun Bing-lok mencurigai dia berkhianat dan membawa bawahannya mengejar kemari, tetapi sebelum mereka mendapatkan bukti-bukti yang nyata, bagaimana pun mereka masih mempunyai rasa hormat pada diri Nyo Hun-cong.

Ketika im Nyo Hun-cong dengan spontan telah melontarkan perkataan tadi, tampaknya seperti ada benarnya juga, tetapi soal memperbudak tawanan adalah adat turun temurun di padang rumput sejak ribuan tahun yang lalu, kebiasaan ini sudah meresap di batin tiap orang, maka seperti Nyo Hun-cong, ia hanya bisa berdebat dengan menggunakan akal sehat saja

Sebaliknya Bing-lok adalah orang yang sombong dan tinggi hati, ia pun pernah tertarik pada Hui-ang-kin, hanya Hui-ang-kin yang tidak menggubris padanya.

Waktu pemilihan Beng-cu atau ketua perserikatan ia tidak ikut datang, pertama karena ada ganjalan hati tersebut, kedua karena dia tidak mau tunduk pada Hui-ang-kin.

Begitulah maka sehabis Nyo Hun-cong berkata, lalu ia memandang Nilan Ming-hui pula.

“Nyo Hun-cong,” tiba-tiba Bing-lok membentak pula, “Aku hendak bertanya mengapa kau melindungi dia, kau bilang kau bukan pengkhianat dan adalah pahlawan besar, kenapa pahlawan besar kita ini hendak melindungi dan bertindak sebagai kusir untuk anak gadis musuh kita. Hahaha! Lucu sekali bukan?”

Kegusaran Nyo Hun-cong memuncak karena ejekan ini, sampai tubuhnya gemetar.

“Saudara-saudara,” seru Bing-lok pula, “Lihatlah kalian, inilah jejak sang pahlawan besar Nyo Hun-cong. Tahukah karian siapa perempuan ini? Dia adalah anak gadis Ili Ciangkun Nilan Siu-kiat. Hm, Nyo Hun-cong, kalau kau bukan telah bersekongkol dengan mereka, mengapa mau terus melindungi dirinya, orang lain bertempur mati-matian, tetapi kau malah mengiring kereta anak gadis Nilan Siu-kiat.”

“Saudara-saudara! Tangkap dan ikat mereka berdua!” perintah Bing-lok pada bawahannya.

Perkataan Bing-lok seperti minyak disiramkan di atas api, bawahannya ternyata dapat dihasut dan segera menjadi kalap, golok dan tombak lantas digerakkan dan mengepung maju.

Sementara im Nilan Ming-hui telah siap dengan pisau terbangnya, tapi Nyo Hun-cong telah mencegahnya. “Jangan!” teriaknya.

Namun sudah terlambat, pisau Nilan Ming-hui yang pertama sudah melayang, sinar putih yang gemerlap langsung menuju dada Bing-lok dengan tepat.

Syukur secepat kilat Hun-cong keburu melesat terus menjepit pisau itu dengan jarinya, pisau itu hanya kurang tiga inci di depan dada Bing-lok.

Dalam keadaan gugup, Bing-lok telah membacok juga dengan goloknya, lekas Hun-cong menunduk dan menerobos lewat di bawah tajamnya golok musuh.

“Ming-hui, lekas kau sembunyi di dalam kereta,” seru Hun-cong pada Nilan Ming-hui.

Karena diteriaki begitu oleh Nyo Hun-cong, pisau Nilan Ming-hui tidak dilemparkan lagi, namun dia belum mau masuk ke dalam kereta, ia ingin menonton cara Nyo Hun-cong berkelahi.

Sementara itu, Bing-lok mana mau menerima begitu saja, goloknya telah membacok pula, anak buahnya pun mengembut maju, bahkan telah membagi tujuh.atau delapan

orang pula memburu ke sana untuk menangkap Nilan Ming-hui.

Melihat gelagat sudah runyam, dalam hati Nyo Hun-cong diam-diam mengeluh, “Celaka, urusan ini tidak dapat diselesaikan begitu saja!”

Kemudian ia putar tubuhnya yang gesit dan cepat, ia menerobos kian kemari di bawah sinar tajam golok dan tombak, tangan menutuk dan kaki melayang, dalam sekejap saja lebih dari tiga puluh orang itu semuanya termasuk Bing-lok sendiri telah ditutuk jalan darahnya. Ada yang sedang hendak menubruk ke muka, ada pula yang berlagak mengangkat golok hendak membacok, tetapi semua ternyata tidak bisa bergerak, semuanya seperti terpaku di tempatnya masing-masing.

Nilan Ming-hui yang melihat keadaan begitu menjadi geli, ia tertawa cekikikan di atas keretanya, tetapi Nyo Hun-cong berbalik merasakan kegetiran yang susah diucapkan, ini sungguh kesalah-pahaman yang berat dan kini ditambah pula lebih dalam lagi, ia tidak berani membayangkan bagaimana kesudahannya nanti.

Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar Nilan Ming-hui berseru girang, “Pasukan Boan telah datang!”

Lekas Nyo Hun-cong melompat naik ke atas kereta, betul saja ia melihat dari jauh debu mengepul, lekas ia melompat turun lagi.

“Kalian lekas lari!” serunya pada Bing-lok, “Pasukan Boan dengan kekuatan cukup besar telah datang kemari, biarlah kutinggal di sini untuk mencegah kedatangan mereka!”

Habis berkata begitu, segera ia seperti kupu-kupu yang menari menerobos kian kemari di antara orang-orang itu dan sebentar saja orang-orang itu sudah pulih kembali seperti semula, mereka sudah bisa bergerak lagi.

“Tetapi aku tidak mau menerima budimu!” kata Bing-lok dengan sengit.

Habis ini ia segera melompat ke atas kudanya dan pergi bersama orang-orangnya.

Nyo Hun-cong lantas melolos pedang pendeknya, ia siap begitu pasukan Boan itu datang mendekat, setelah menenangkan diri, ia sendiri segera menerobos pergi mencari Hui-ang-kin buat menerangkan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Selagi ia berpikir, rombongan pasukan Boan itu telah mendekat pula.

Di depan berlari dua orang, semula Nyo Hun-cong masih mengira tentu dua opsir tentara Boan, tetapi setelah ditegasi dari dekat, baru ia tahu, serdadu Boan sedang melepaskan panah di belakangnya, dan kedua orang ini mengayunkan pedangnya membabat datangnya panah itu, kadang-kadang mereka membalikkan badan untuk bertempur sebentar dan kemudian lari lagi.

Pasukan Boan itu semakin dekat, kini Nyo Hun-cong sudah bisa melihat jelas, kedua orang ini adalah laki-laki dan perempuan, yang laki berusia antara tiga puluhan lebih dan berdandan seperti sastrawan, ilmu silatnya tinggi sekali. Sedang yang perempuan antara dua puluhan tahun, gerakannya pun tidak lemah.

Tiba-tiba hati Nyo Hun-cong menjadi girang sekali.

Yang wanita memang dia tidak kenal, tetapi yang lelaki itu adalah sahabat baiknya sendiri.

Lelaki itu adalah jago ternama dari Bu-tong-pay yang bernama Toh It-hang.

Menurut keterangan gurunya, Toh It-hang pun gemas akan keadaan di daerah dataran tengah, maka jauh-jauh telah menyingkir ke tempat yang sepi di daerah perbatasan ini.

Suhunya pun mengatakan bahwa Toh It-hang mempunyai Lwe-kang yang sudah mencapai tingkat sempurna, walaupun umurnya sudah dekat enam puluh tahun, tetapi kalau dilihat masih seperti tiga puluh tahun lebih.

Waktu Hun-cong masih berada di Thian-san, sudah beberapa kali bertemu dengan dia, Toh It-hang tidak menganggap dirinya lebih tua dari Nyo Hun-cong dan berkeras hendak bergaul sebagai saudara saja.

Tentu saja Hun-cong tidak mau menerima. Belakangan baru ia tahu bahwa sebenarnya semula Toh It-hang hendak mengangkat guru pada Hui-bing Siansu. Hui-bing Siansu menganggap orang sejak lama sudah menjadi jago atau ketua dari salah satu cabang tersendiri, yakni Bu-tong-pay, maka tidak mau menerima pengangkatan im.

Karena im juga, hubungan antara Toh It-hang dengan Hui-bing Siansu terbatas di tengah-tengah sahabat dan guru, di lain pihak Toh It-hang dengan Nyo Hun-cong pun terjalin di antara hubungan serupa itu.

Kini demi melihat Toh It-hang dikejar oleh tentara Boan, segera Nyo Hun-cong mengayunkan pedangnya dan maju memapaknya.

Ketika im Toh It-hang pun sudah mengenali Hun-cong.

“Laute (saudaraku), kau bersama dia menandingi empat ‘kelinci’ yang di belakang im, aku sendiri akan membuat kocar-kacir serdadu Boan yang lain,” katanya pada Hun-cong.

Habis itu ia lantas membalik badan dan menerjang ke arah musuh.

Nyo Hun-cong mengangkat kepalanya melihat pasukan Boan di sana, pasukan itu dipimpin oleh empat orang opsir.

Yang mengepalai ternyata adalah orang yang bernama Nikulo, yang dulu bersama Coh Ciau-lam mengerubuti dirinya di gurun pasir itu. Pada saat im tiba-tiba terdengar suara seman dari belakang yang dikenal sebagai suara Nilan Ming-hui, dan lantas terlihat air muka Nikulo ada tanda-tanda curiga.

Nyo Hun-cong tidak sempat bertanya lagi, ia melangkah maju terus melayang ke depan, pedangnya mengikuti gerakan tubuhnya, sinar hijau segera menusuk ke dada Nikulo.

Tetapi Nikulo keburu menangkis dengan senjata Song-bun-co secepat angin, “krek”, suara senjata kawan Nikulo sendiri terbabat putus.

Menyusul ia memberi satu tamparan telapak tangan, segera seorang opsir musuh yang lain terpental pula beberapa depa.

Orang ketiga, kawan Nikulo memakai senjata tombak panjang yang beratnya tujuh puluh dua kati, dengan kuat ia menyongkel dengan tombaknya dan berbareng menusuk pula.

Tetapi Nyo Hun-cong sempat menghindari ujung tombak itu, tangan kirinya diulurkan dan segera membetot tombak musuh.

“Roboh!” teriaknya.

Tidak diduga bahwa opsir Boan im adalah orang kuat ternama dalam pasukan Boan, walaupun ia tergopoh-gopoh karena terbetot oleh Nyo Hun-cong, akan tetapi ia belum jatuh dan masih coba mempertahankan tarikan musuh.

Nikulo yang melihat begitu, cepat mengambil kesempatan yang baik ini, senjata Song-bun-co telah digerakkan mengarah bagian bawah Hun-cong dan berbareng tangan kirinya menghantam pundak sebelah kanan Hun-cong dengan sekuat tenaganya.

Tiba-tiba dengan suara keras Nyo Hun-cong membentak. Tombak panjang yang ia betot tadi mendadak didorong ke depan. Opsir yang masih mempertahankan betotan Hun-cong tidak tahan lagi, ia menjerit dan tangannya berdarah, ia segera terpental pula beberapa depa jauhnya dan pingsan.

Dengan kecepatan yang luar biasa, Nyo Hun-cong membalik tubuh dan senjata Song-bun-co musuh segera terlempar ke udara karena sampukannya.

Sampukan Hun-cong ternyata tidak hanya sampai di situ saja, tapi juga telah mengenai tubuh musuhnya, yaitu Nikulo.

Di daerah Kwan-lwe, Nikulo yang terkenal dengan tangan besinya ini ternyata tidak tahan oleh kekuatan tangan Nyo Hun-cong yang hebat itu, badannya sampai mencelat tinggi beberapa depa ke atas seperti layang-layang putus benangnya.

Beruntung ilmu kepandaiannya sudah mempunyai dasar yang tinggi, ia berjumpalitan satu kali dan turun kembali di antara pasukannya yang kacau itu, segera pula ia angkat langkah seribu alias kabur.

Sementara itu. Toh It-hang dan wanita muda tadi dengan pedang mereka telah mengamuk dan menerjang pasukan Boan, pedang mereka diobat-abitkan ke sana kemari, maka terdengarlah suara jeritan yang mengerikan.

Keadaan dengan cepat kembali sunyi, di sana-sini hanya terdapat mayat-mayat serdadu musuh yang bergelimpangan dan banyak pula yang terluka atau lari. Pasukan musuh dengan cepat telah bubar seperti awan tersapu angin.

“Hun-cong,” sapa Toh It-hang kemudian, “Tidak nyana kepandaianmu telah maju begitu pesat.”

“Tetapi aku masih mengharap petunjuk Susiok,” jawab Nyo Hun-cong.

Toh It-hang kemudian melihat Nilan Ming-hui berada di atas kereta, ia agak terheran-heran.

Nyo Hun-cong kuatir orang akan salah mengerti, maka ia lekas memberi tahu.

“Ia seorang diri telah terpencar dari rombongannya dan terlunta-lunta di padang pasir, aku berpikir hendak mengantarkannya pulang,” katanya.

“Itu adalah pantas,” ujar Toh It-hang, “Sungguh kebetulan sekali, kau mengantar orang, aku pun sedang mengantar orang.”

Setelah berbicara begitu Toh It-hang lantas memperkenalkan wanita muda tadi.

“Dia ini adalah anak gadis Susiokku, namanya Ho Lok-hua,” katanya, “Aku hendak mengantar dia pulang ke pedalaman sana, lain hari jika kau bertemu dia, kuharap kau suka membantu dia.”

Selesai bicara ia berpamitan dan segera berpisah dengan Nyo Hun-cong.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: