Kumpulan Cerita Silat

10/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (22)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 11:12 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (22)
Oleh Gu Long

“Kurasa … kurasa belum tentu,” Ban Cu-liang tidak sependapat.

“Melihat keadaan Po-giok, rasanya dia ingin menyerah kalah, tapi namanya baru saja direhabilitir kalau pertandingan ini dia kalah, mungkin sulit dia pertahankan diri.”

Ban Cu-liang tertawa getir, “Ya, kalau aku, mungkin juga hanya begitu saja.”

Pui-Po-giok memang berdiri kaku seperti patung, seperti tidak punya keinginan untuk merebut kemenangan.

Sementara, itu sang surya sudah makin tinggi dan memancarkan sinar yang panas.

Penonton mulai resah dan tidak sabar lagi.

Ciang-Jio-bin juga sedang berbincang-bincang dengan Thian-to Bwe-Kiam, katanya, “Melihat gelagatnya Pui-siau-hiap hendak mengalahkan lawan-lawannya dengan ketenangan. Bila para Ciang-bun itu mulai resah, kesempatan akan digunakan untuk menerjang keluar.”

Bwe-Kiam geleng kepala, “Jangan lupa para Ciang-bun itu sudah berlatih puluhan tahun, Karena bakat berbeda mungkin kungfu mereka tidak setaraf Pui-Po-giok, tapi ketenangan mereka pasti tidak kalah dibanding Pui-Po-giok.”

“Kalau Pui-siau-hiap tidak berusaha merebut kemenangan, bila batas waktu yang ditentukan tiba dia kan harus mengaku kalah? Apa tidak …”

“Pui-Po-giok mana mau mengaku kalah?” demikian tukas Bwe-Kiam dengan tertawa.

Melihat orang bicara penuh keyakinan, Ciang-Jio-bin bertanya, “Kenapa engkau berpendapat demikian?”

“Karena keadaan sekarang sudah berbeda,” Bwe-Kiam menjelaskan, “Kalau Pui-Po-giok berhasil menerjang keluar, para Ciang-bun tidak perlu malu dan nama baik mereka tidak bakal luntur karenanya. Sebaliknya kalau Po-giok tidak mampu menerjang keluar, bukan saja hal ini menurunkan derajat dan nama baiknya, Ciu-lo-cian-pwe juga ikut mendapat malu. Pui-Po-giok adalah pemuda pintar mana mungkin berbuat sebodoh itu?”

“Ucapanmu memang betul. Tapi menurut pendapatku, bahwasanya Pui-Po-giok tiada kesempatan untuk merebut kemenangan, mungkin dia menyadari hal ini, maka sampai sekarang belum berani turun tangan.”

“Tadi hanya rekaanku saja,” demikian Bwe-Kiam menghela napas. “sebetulnya sulit menyelami apa yang akan dilakukan Pui-Po-giok. Umpama dia ingin menerjang keluar, mestinya sudah beraksi sejak tadi memancing reaksi dan mencari kelemahan lawan. Kalau hanya berdiri diam, mana bisa menerjang keluar.”

Di sebelah sana It-bok-Tai-su dan Ting-lo-hu-jin juga sedang bercakap-cakap, “Tai-su, apakah tidak merasa ada sesuatu yang tidak beres pada diri Pui-Po-giok?”

“Ya, memang agak mengherankan, namun kurasa ada satu penjelasan, yaitu diam-diam ia punya perhitungan, tidak bergerak tidak apa-apa, sekali bergerak pasti dapat menerjang keluar, tapi … ”

“Di kolong langit, siapa orangnya yang mampu menerjang keluar dari barisan enam pedang itu? Kalau benar bocah ini punya maksud demikian kurasa dia terlalu tinggi hati,” demikian komentar Ting-lo-hu-jin, lalu menghela napas.

Orang banyak berbisik-bisik, saling debat dan mereka-reka maksud Pui-Po-giok, akhirnya semua berkesimpulan bahwa Pui-Po-giok akan menderita kalah.

Sang waktu berjalan, matahari merayap lebih tinggi, batas waktu yang ditentukan makin dekat.

Beberapa orang yang semula mendukung Pui-Po-giok, kini mulai kecewa, mereka menyangsikan kemampuan Po-giok.

Di luar dugaan, pada saat orang banyak menunggu dengan cemas, mendadak Po-giok bergerak.

Kakinya berkisar melintang, tubuh ikut berputar dengan enteng, kedua telapak tangan menggaris sebuah lingkaran, keenam pedang panjang itu ikut bergerak menutup seluruh jalan mundurnya.

Karena gaya putaran itu bergerak lurus, maka keenam pedang itu tertarik menjadi satu garis melintang, terdengarlah suara gemerincing, keenam ujung pedang beradu dan mengeluarkan suara ramai.

Sang surya menyorot miring dari timur dan kebetulan menyinari ujung keenam pedang yang menjadi satu garis itu, ujung pedang memancarkan sinar pantulan yang berkilauan, berkelebat mengikuti gaya putaran itu.

Sinar yang terpantul dari ujung pedang itu membuat para Ciang-bun silau, dengan sendirinya mereka mengedip mata. Kejadian justru berlangsung dalam sekejap kedipan mata itu, tiada rangkaian kata yang tepat untuk melukiskan kecepatan peristiwa ini. Padahal sinar refleksi itu hanya berkelebat sekilas saja.

Tapi Pui-Po-giok telah memanfaatkan kesempatan sekilas itu, secara gaib tahu-tahu ia lolos keluar barisan. Bila para Ciang-bun itu membuka mata bayangan Po-giok sudah tidak kelihatan lagi.

Hadirin menonton dengan terkesima dan takjub. Mereka menonton dengan melotot, namun tiada yang tahu apa yang terjadi.

Ting-lo-hu-jin menarik napas panjang, “Wah, sesuai apa yang Tai-su lukiskan tadi, tidak bergerak belum apa-apa, sekali bergerak dapat menerjang keluar, tapi … cara bagaimana ia menerjang keluar, dapatkah Tai-su menjelaskan?”

Beberapa saat lamanya It-bok Tai-su tepekur “Kepandaian Pui-si-cu memang amat menakjubkan betapa cepat gerak tubuhnya, lebih mengejutkan lagi ia dapat memanfaatkan refleksi sinar matahari yang terpantul dari ujung pedang dan menyilaukan mata para Ciang-bun Tai-su. Sinar refleksi itu membuat para Ciang-bun lena, dan gangguan yang sekejap ini dimanfaatkan oleh Pui-siau-hiap, dengan tangkas ia melejit keluar kepungan berantai itu.”

Hadirin banyak yang pasang kuping mendengarkan analisa It-bok Tai-su, semua melongo dan tak habis herannya. Kungfu sehebat itu, perhitungan dan ketegasan bertindak, mimpi pun tidak pernah terbayang dalam benak mereka.

Setelah menghela napas It-bok Tai-su berkata pula, “Omitohud! Sian cai! Sian cai! Sungguh tak nyana bahwa Bu-kang-sim-hoat Pui-si-cu sudah mencapai taraf takdir ilahi dan manunggal dengan kekuatan alam. Pada hari tua dapat aku saksikan tunas harapan kaum Bu-lim sehebat ini, betapa senang dan lega hatiku.”

Sementara itu, Pui-Po-giok sudah menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan para Ciang-bun, “Tecu telah berlaku kurang ajar, mohon ampun!”

Keenam Ciang-bun itu saling pandang sekejap, kejut-kejut girang hati mereka. Thi-jan To-tiang mengelus jenggot, katanya dengan tertawa lebar, “Bagus! Bagus! Bocah ini dapat memanfaatkan sinar matahari sebagai senjata untuk mencapai kemenangan, siapa lagi manusia di dunia ini yang dapat menandingi dirimu. Meski kalah kami tidak merasa penasaran.”

Baru sekarang pecah, sorak-sorai dan tepuk tangan penonton. Hampir setengah jam suara memekak telinga dari penonton itu baru mereda.

Tiba-tiba terasa oleh para penonton yang berada di dekat panggung tepuk sorak penonton di belakang berhenti secara mendadak. Beramai mereka menoleh, tertampak bukan saja penonton di belakang menghentikan tepuk soraknya, mereka juga menyingkir ke pinggir memberi sebuah jalan. Delapan orang bertubuh kekar menyibak orang banyak dan melangkah lebar menuju ke panggung.

Delapan laki-laki ini semua bertampang buas, bertubuh kekar tegap, pakaian juga aneh, mengenakan sepatu kulit kerbau yang membungkus setinggi lutut, sementara celana sutera mereka yang longgar lengan corak yang menyolok terikat kencang dalam sepatu bagian bawah, semua bertelanjang dada sabuk tebal dan lebar yang melilit pinggang dihiasi paku-paku tembaga yang mengkilat, menambah gagah langkah mereka yang rapi dan penuh wibawa, di tengah sekian banyak hadirin, rombongan laki-laki ini seumpama burung bangau di tengah gerombolan ayam.

Terutama orang yang berjalan paling depan tampangnya dipenuhi jambang-bauk yang kaku hitam, berjalan sambil membusung dada, sorot matanya tajam bercahaya, gerak-geriknya mirip seekor macan jantan yang jual lagak di antara kawanan hewan liar dalam hutan. Orang-orang gagah yang hadir di puncak Thai-san ini, seolah-olah tidak terpandang olehnya.

Bagi orang yang tajam pandangan akan merasa heran, bahwa kawanan orang gagah yang buas lagi kasar ini, kelihatan mengerut alis dan menggertak gigi, air muka cemberut seperti dirundung susah atau tertimpa musibah yang tidak teratasi oleh mereka.

Bila angin menghembus, orang banyak lantas mencium bau amis dan asin seperti air laut dari badan kedelapan orang ini. Orang banyak mulai kasak-kusuk lagi.

“Perompak, mereka kawanan perompak.”

“Ya, betul. Bukankah pemimpinnya itu Jik-jan-liong Siu-Thian-ce yang menjadi penguasa besar di lautan. Melihat jambang-bauknya yang hitam-hitam ungu itu, aku lantas menduga akan dirinya.”

“Sudah ratusan tahun kaum persilatan sepakat menegakkan peraturan bahwa gerombolan perompak di lautan dilarang beroperasi sejauh seratus li di pedalaman. Kawanan perompak itu juga selalu patuh dan menepati janji, entah kenapa hari ini mereka melanggar aturan, jauh-jauh meluruk ke sini. Memangnya usaha mereka di lautan belakangan ini makin sulit. Maka Jik-jan-liong ingin melebarkan sayap dan mengadu nasib di daratan.”

“Ah, tidak mungkin. Jik-jan-liong bukan orang bodoh, umpama dia ingin cari setori juga harus pilih waktu dan tempat, hanya dengan delapan orang, memangnya mereka mampu melawan jago-jago kita yang ada di atas panggung itu.”

“Lha, untuk apa mereka kemari?”

Di tengah bisik-bisik orang banyak, dengan langkah lebar Jik-jan-liong sudah berada di depan panggung, sekilas memandang sekitarnya lalu berkata dengan ramah, “Bagus!Bagus! Orang-orang kosen seluruh Bu-lim ternyata semua berada di sini.”

Sambil menjura ia berkata lebih lantang, “Siu-Thian-ce dari lautan, unjuk hormat pada hadirin.”

Thi-jan To-tiang dari Bu-tong tampil ke depan serunya, “Orang-orang gagah dari lautan, biasanya jarang datang di Tiong-goan, hari ini jauh-jauh datang kemari, entah ada keperluan apa.”

Siu-Thian-ce berkata, “Sengaja kami kemari untuk menyampaikan kabar.”

“Kabar apa sampai menyusahkan kalian datang kemari?” demikian tanya Thi-jan To-tiang.

Siu-Thian-ce berseru lantang, “Burung gagak terbang seratus li membawa berita duka bukan kabar gembira.”

Bahwa orang paling gagah dan paling disegani di lautan jauh-jauh datang di sini, kejadian ini sudah dianggap luar biasa, kini dia menyatakan membawa kabar duka, maka orang banyak merasakan bahwa berita duka ini cukup penting dan besar artinya.

Thi-jan To-tiang berkata, “Hewan setia menyampaikan berita duka, kawan baik memberi peringatan. Tuan adalah orang simpatik lebih dulu terimalah ucapan terima kasihku, mohon penjelasan lebih lanjut.”

Jik-jan-liong balas menjura, matanya menjelajah hadirin, lalu berkata lantang, “Di hadapan orang-orang baik tidak boleh berbohong. Apa profesi Siu Thian-ce selama ini, kukira hadirin sudah lama tahu.”

Thi-jan To-tiang bicara lagi, “Tuan merampok yang kaya dan menolong golongan miskin, sebagai pendekar lautan ternama, kaum Bu-lim di kolong langit pernah mendengarnya.”

Dua orang ini bicara dengan suara lantang, gema suaranya mirip genta raksasa yang bertalu-talu, nada bicara mereka seperti dua orang yang saling mengagumi dan saling menghargai. Maklum waktu mudanya dulu Thi-jan To-tiang juga seorang rampok budiman, maka sikapnya tidak menganggap remeh atau memandang rendah benggolan yang ditakuti di lautan ini.

Jik-jan-liong terbahak-bahak, serunya, “Orang she Siu sejak lama menjelajah lautan, tidak jarang berlayar jauh ke negeri orang. Belakangan ini kawanan bajak dari Tang-ing sering beroperasi di sepanjang pantai timur, maka orang she Siu menggunakan cara yang mereka gunakan meluruk ke Tang-ing di laut utara. Percayalah bahwa kehidupan orang-orang mereka juga tidak aman dan tentram seperti bangsa kita yang menetap di pantai timur.”

“Bagus!” Thi-jan To-tiang memuji sambil keplok sekali.

Ciang-bun dan perguruan besar yang dijunjung tinggi ini agaknya melupakan kedudukan dan kepribadiannya, wataknya yang berangasan dulu mudah sekali terpancing oleh keadaan sekelilingnya.

Bu-siang Tai-su, Ciang-bun Siau-lim-pai diam-diam mengerut alis, tapi lahirnya dia ikut tersenyum geli.

“Pertengahan bulan tujuh yang lalu, orang she Siu berkunjung ke Kiu-ciu satu minggu lamanya, hasilnya memang cukup untuk membayar ganti rugi penduduk kita yang berada di pantai timur itu. Malam itu kami berpesta-pora untuk menghibur anak-anak yang berjerih payah seminggu lamanya. Di luar dugaan malam itu terjadilah peristiwa aneh di atas kapal kita.”

“Peristiwa aneh apa?” tanya Thi-jan To-tiang kaget.

“Malam itu kita makan minum dan berpesta sampai larut malam, orang she Siu juga mabuk. Kapal kita cukup jauh dari pantai, umpama terjadi penyerbuan musuh, untuk menyingkir pun tidak bakal terlambat, maka penjagaan kita jauh lebih longgar dari biasanya. Pesta-pora terus berlangsung, jelas malam yang aman tentram, siapa nyana menjelang fajar …”

“Menjelang fajar adalah saat paling gelap, banyak peristiwa terjadi pada saat begitu,” tukas Thi-jan To-tiang.

“Ya, memang demikian,” ujar Jik-jan-liong menghela napas, “malam itu sebelum fajar, aku terjaga bangun oleh tusukan yang menyakitkan, begitu aku membuka mata, aku lihat cahaya pedang berputar menari-nari …”

Bercerita sampai di sini, tanpa terasa air mukanya sudah berubah, betapa kaget dan ngeri peristiwa yang dialaminya malam itu, sampai sekarang rasanya masih membuatnya merinding.

Thi-jan To-tiang mendelik, serunya, “Sinar pedang berputar menari? … Lalu orangnya?”

“Malam itu aku hanya melihat cahaya perak berputar naik-turun laksana naga yang menari di angkasa, bervariasi dan banyak perubahannya, namun tidak nampak olehku orang yang memegang pedang itu.”

“Betapa cepat gerak pedang itu…” Thi-jan To-tiang mendesis kagum, “Akhirnya bagaimana?”

“Kemudian aku dengar jeritan demi jeritan anak buahku yang susul menyusul berkepanjangan, jeritan yang satu dengan jeritan yang lain seolah-olah tidak terputus sehingga puluhan jeritan orang itu kedengaran seperti dikeluarkan bersama!” demikian tutur Jik-jan-liong.

“Lalu apa yang kau lakukan waktu itu?” tanya Thi-jan To-tiang.

“Saking kaget aku berdiri kesima dan lemas. Bila aku sadar dan membentak gusar sambil menubruk maju, cahaya pedang itu sudah menerobos jendela, hanya berkelebat sekali dua lantas lenyap tak keruan parannya, “Jik-jan-liong menjelaskan dengan nada ngeri.

“kau … ” Thi-jan To-Tiang mendesak, “apa kamu tidak mengejar keluar.”

“Sudah tentu …”

“Lalu apa yang kamu saksikan?” tukas Thi-jan To-tiang.

Jik-jan-liong menarik napas, “Waktu itu cuaca gelap gulita, bintang kelap kelip di angkasa, menampilkan secercah cahaya redup di permukaan laut, samar-samar aku hanya melihat sesosok bayangan kelabu, laksana malaikat atau dewa lautan yang beranjak di atas gelombang dan lenyap dalam sekejap mata. Aku mengedip dan mengucek mata, waktu aku menegas lagi, hanya sekejap itu bayangan kelabu itu sudah lenyap ditelan halimun … ”

Hadirin terpesona dan saling pandang, semua takjub dan heran.

Jelalatan bola mata Po-giok, hatinya seperti memahami sesuatu, namun tidak diutarakan di depan orang banyak.

Jik-jan-liong bercerita lebih jauh, “Waktu aku membalik badan, di bawah cahaya sinar lilin yang benderang, aku dapati puluhan orang anak buahku yang ada di kabin itu semua tergores luka tepat di tengah kedua alisnya, darah segar masih mengalir keluar.”

Tujuh laki-laki pengikutnya itu serempak angkat tangan meraba bekas luka di tengah kedua alis mereka. Baru sekarang hadirin memperhatikan di tengah kedua alis mereka memang terdapat sebuah codet bekas goresan pedang sepanjang empat senti.

It-bok Tai-su yang mendengarkan sejak tadi mendadak menyeletuk, “Berapa banyak anak buahmu yang berkumpul di kabin waktu itu?”

“Termasuk diriku seluruhnya ada sembilan puluh tujuh orang,” demikian sahut Jik-jan-liong.

Tersirap darah Bu-siang Tai-su, serunya, “Dalam waktu sekejap orang ini mampu melukai sembilan puluh tujuh orang, betapa cepat gerak pedang yang dimainkan, terus terang belum pernah aku dengar atau menyaksikan …”

Thi-jan To-tiang menghela napas panjang suaranya berat, “Untuk membunuh sembilan puluh tujuh orang dalam sekejap kurasa tidak sukar, yang sukar justru dia hanya melukai tengah alis mereka dengan goresan ringan saja. Bahwa letak goresan luka sebanyak sembilan puluh tujuh orang itu semuanya sama, itu menandakan bahwa tenaga yang dikerahkannya seimbang. Jadi ilmu pedang orang ini bukan hanya cepat dan lincah lebih tepat kalau dinilai sudah sempurna dan luar biasa.”

Jik-jan-liong menghela napas pula, “Waktu itu kita berkumpul dalam kabin, ada yang duduk, berdiri, berjongkok dan berbagai gaya yang tidak sama. Tapi ujung pedang orang itu seperti punya mata, hanya sekali berkelebat meninggalkan goresan luka ringan tepat di tengah alis setiap orang, sungguh sukar aku bayangkan cara bagaimana orang memainkan pedangnya.

Baru sekarang Pui-Po-giok tampil bicara “Menurut apa yang Tecu ketahui, hanya seorang di dunia ini yang mempunyai ilmu pedang secepat, secermat dan setepat itu. Dan hanya dia satu-satunya orang yang mampu mengendalikan tenaganya di ujung pedang untuk melukai musuh yang diincarnya.

“Siapa dia?” tanya Thi-jan To-tiang. Tapi sebelum Po-giok menjawab, dia sudah berseru lagi, “Ya, betul hanya dia saja. Siapa lagi kalau bukan Pek-ih-jin dari Tang-ing”

Hadirin menjadi gempar.

Berkerut alis Bu-siang Tai-su, “Untuk apa dia berbuat demikian? Apakah dia sakit hati pada Siu-si-cu?”

Jik-jan-liong tertawa pahit, “Memangnya Cai-he setimpal bermusuhan dengan dia? Umpama betul Cai-he bermusuhan dengan dia, jiwaku tentu sudah amblas sejak malam itu.”

“Tanpa dendam tiada sakit hati, memangnya lantaran apa?” tanya Thi-jan To-tiang.

Jik-jan-liong menjelaskan, “Jiwa kita diampuni untuk menyampaikan berita bagi kalian.”

Berkerut kenIng-Thi-jan To-tiang, “Apa maksudmu?”

Jik-jan-liong menarik napas, “Setelah rasa kejut dan takut kita hilang, akhirnya kita menemukan sepucuk surat di atas meja. Di pinggir surat terdapat pula sebuah kartu undangan bertuliskan delapan huruf.”

“Bagaimana bunyi surat itu?” tanya Thi-jan To-tiang.

“Pada sampul surat bertuliskan ‘Disampaikan kepada kaum Bu-lim di Tiong-toh’. Tidak dijelaskan kepada siapa surat itu harus diserahkan, namun aku duga surat ini tentu ada sangkut-pautnya dengan perjanjian tujuh tahun Pek-ih-jin itu. Bahwa kami dilukai dengan pedang hanya untuk peringatan saja, maka malam itu juga kami berlayar pulang. Kami bimbang kepada siapa surat itu diserahkan, syukur kami dengar adanya pertemuan besar orang gagah di puncak Thai-san, kurasa tepat kalau surat ini kubawa kemari.”

“Di mana surat itu?” tanya Bu-siang Tai-su penuh perhatian.

Jik-jan-liong lantas mengeluarkan sepucuk surat dengan dua tangan ia serahkan kepada Bu-siang Tai-su.

Kertas surat yang putih bersih itu ditulis dengan tinta merah yang menyolok, bunyinya, “Dengan hormat, Ternyata Ci-ih-hou sudah mati, aku ikut sedih dan duka. Dunia memang besar, lawan setanding sukar dicari, setelah orang ini mati, aku jadi lebih kesepian. Baru sekarang aku tahu, ingin menang sukar, mau kalah juga tidak mudah.

Namun perjanjian tujuh tahun, tidak boleh tidak harus ditepati, musim bunga tahun depan aku akan berangkat ke Tiong-toh. Semoga di pesisir Tang-hai, dengan sebilah pedang ada orang dapat memberi kekalahan padaku. Tertanda, Pek-ih dari Tang-ing.”

Gaya tulisan yang kasar dengan rangkaian kata yang sederhana, namun makna dari tulisan yang cekak itu mengandung sifat gagah, berwibawa dan kebesaran jiwa yang mengetuk sanubari orang.

Pui-Po-giok, Ban-Cu-liang, Thi-jan To-tiang dan lain-lain, dengan cermat menelaah kata-kata ‘memberi kekalahan padaku’, terasa betapa berat bobot ketiga huruf itu, darah seperti mendidih di rongga dada, sekian lama sukar mereka menahan gejolak perasaan hati.

Hanya Tiga patah kata yang cekak dan sederhana, namun sudah melimpahkan kebesaran jiwa dan pamor jago pedang tiada bandingan itu, melimpahkan perasaan betapa sepi dan merana hidupnya selama ini.

Po-giok berdiri menjublek, kemudian bergumam, “Kecuali Pek-ih-jin dari Tang-ing, siapa di kolong langit ini yang bisa berkata demikian? … Siapa setimpal berkata demikian?”

Melotot mata Thi-jan To-tiang, jenggotnya bergetar, bentaknya lantang, “kau !”

Betul, hanya Po-giok seorang. Po-giok adalah tumpuan harapan seluruh kaum persilatan, hanya Po-giok seorang di dunia ini yang setimpal menghadapi dan menandingi Pek-ih-jin itu.

*****

Pertemuan besar di puncak Thai-san yang menggemparkan itu sudah usai. Namun tidak sedikit tokoh besar persilatan masih kumpul di Ban-tiok-san-ceng. Mereka masih harus menyelesaikan persoalan pelik yang sukar dibereskan dan menekan perasaan orang banyak.

Bu-siang Tai-su berkata, “Apakah Pui-siau-si-cu sudah mengambil keputusan untuk menepati perjanjianmu dengan Hwe-mo-sin?”

Po-giok menjawab dengan hormat, “Tecu sudah berjanji, mana boleh ingkar janji.”

“Oo …. ” Bu-siang Tai-su tidak bisa banyak bicara, padahal banyak persoalan ingin dia kemukakan terpaksa pandangannya beralih pada Ji-gi Lo-jin.

Ji-gi Lo-jin terbatuk-batuk, katanya tergegap, “Ini … ini …. ”

“Kalau ada petunjuk silakan para Cian-pwe katakan saja, Tecu …” kata Po-giok rikuh.

“Bu-siang To-heng,” ujar Thi-jan To-tiang dengan suara berat, “apa yang ingin dikatakan Ji-gi Suheng adalah isi hatiku pula, hanya saja … soal ini sukar dibicarakan.”

Sesaat Po-giok tepekur, lalu katanya dengan menunduk, “Maksud Cian-pwe supaya Tecu tidak memenuhi janji itu?”

Ji-gi Lo-jin menghela napas, katanya, “kaum pendekar paling mengutamakan janji dan nama baik. Kalau orang tua seperti kita, menganjurkan kamu untuk ingkar janji, memangnya kita sudah pikun dan … ”

Sambil tertawa getir ia menghela napas, lalu melanjutkan, “Tapi persoalan ini menyangkut urusan besar, kita tidak dapat memaksamu ingkar janji, namun kita perlu mendesakmu untuk berpikir dua kali baru mengambil keputusanmu yang terakhir.”

“Tecu sudah pikir bolak-balik, tapi …” Po-giok ragu-ragu.

“Terhadap orang lain, sekali janji harus ditepati,” demikian tukas Ji-gi Lo-jin, “tapi kau … keadaanmu sekarang sudah jauh berbeda dengan orang biasa. Harapan seluruh kaum persilatan seluruhnya berada di atas pundakmu, kita mempertaruhkan dirimu untuk berduel dengan Pek-ih-jin dari Tang-ing …”

“Kalau benar kamu harus menepati janjimu terhadap Hwe-mo-sin,” demikian sambung Thi-jan To-tiang, “bila terjadi sesuatu hingga tak mungkin duel dengan Pek-ih-jin, lalu … lalu bagaimana baiknya?”

“Ini … Te-cu … ” Po-giok gelagapan.

“Setelah pertemuan Thai-san bubar kemarin, banyak orang merasa berat meninggalkan tempat ini, tujuan mereka hanya ingin melihatmu, syukur dapat berjabatan tangan dan bicara sepatah dua denganmu. Rlbuan pasang mata yang hadir semua mengawasimu … Bila kau lihat sorot mata mereka, kan tahu, betapa besar dan luhur harapan yang mereka berikan padamu.”

Po-giok menjawab, “Hal ini … Tecu tahu,”

“Nah, setelah kau tahu harus dapat mempertimbangkan berat-entengnya persoalan ini. Kalau menepati janjimu dengan Hwe-mo-sin lalu mengecewakan harapan seluruh kaum persilatan, bagaimana perasaanmu? Apakah setimpal?” demikian bujuk Thi-jan To-tiang.

Ji-gi Lo-jin menyambung lagi, “Dan jangan kau lupa, Hwe-mo-sin adalah manusia licik yang tidak boleh dipercaya. Umpama kamu mengingkari janjinya, aku berani menjamin tiada orang di kolong langit ini akan mencerca dirimu.”

Po-giok menunduk diam, hatinya resah, bingung dan gugup.

Bu-siang Tai-su berkata, “Bukan Lo-ceng dan kawan-kawan kuatir kamu bakal mengalami musibah. Akan tetapi, menjelang musim bunga tahun depan, kamu harus mempersiapkan diri entah memupuk kekuatan fisik atau memperkukuh ketahanan batin, yang pasti bila tiba saatnya, kau pasti menang … Bahwa Hwe-mo-sin mengikatmu dengan perjanjian itu, jelas Pek-cui-kiong bukan suatu tempat yang baik, umpama kepergianmu tidak bakal cedera, namun semangat dan kekuatan fisikmu pasti tidak sebagaimana yang kita harapkan untuk menghadapi Pek-ih-jin, dari sini dapat aku simpulkan betapa besar pengaruh langsung dari kepergianmu ini terhadap duelmu dengan Pek-ih-jin tahun depan. Celakalah bila kepergianmu itu mengakibatkan … kekalahan fatal, bukan saja amat mengecewakan juga memalukan kaum persilatan di negeri kita.”

Po-giok tetap menunduk, diam tanpa bicara.

Sesaat kemudian, Thi-jan To-tiang tidak sabar menunggu, tanyanya, “Bagaimana sudah kau rubah keputusan?”

Pelan suara Po-giok “Belum … belum ada keputusan.”

“Boleh kau pikir lagi lebih seksama,” demikian ujar Bu-siang Tai-su kalem, “Kita sudah mengutarakan pendapat, tapi keputusan pergi atau batal bergantung pada keputusanmu sendiri … ”

Lalu ia pandang sekelilingnya serta melanjutkan dengan tersenyum. “Kelihatannya malam ini kita terpaksa harus mengganggu Ban-ceng-cu lagi. Besok pagi-pagi setelah memperoleh jawaban Pui-siau-si-cu belum terlambat untuk berangkat pulang.”

Sembari bicara ia mendahului berdiri lalu meninggalkan tempat duduknya.

“Ya, besok pagi, Tecu pasti memberi jawaban,” demikian sahut Po-giok sambil membungkuk badan.

Malam makin larut, Po-giok mondar-mandir dalam kamarnya sambil menggendong tangan, pikirannya masih kalut dan susah mengambil keputusan.

Siau-kong-cu duduk bertopang dagu mengawasi pelita dengan pandangan lebar, mendadak ia cekikik geli dan berkata, “Selangkah pun kamu tidak meninggalkan diriku, memangnya kamu takut aku melarikan diri?”

“Ehm,” Po-giok bersuara dalam mulut.

Siau-kong-cu tertawa, “kau kuatir aku lari, aku justru takut kamu yang minggat. Bahwa aku masih ada di sini lantaran ingin mengawasimu, supaya kamu menepati janji itu, kalau tidak memangnya dengan kemampuanmu kau bisa menahan diriku di sini?”

Po-giok tersenyum lebar, “O, apa ya?”

“Akan tetapi,” ucap Siau-kong-cu, “umpama kamu menepati janji, umpama berhasil dan sukses, aku … aku tidak akan pergi, seumur hidupku akan selalu ikut padamu.”

“Hah, benar?” seru Po-giok gembira.

Senyum menghias ujung mulut Siau-kong-cu, “Selanjutnya aku akan mengganggumu, apa pun yang kau kerjakan aku akan mengacau, supaya gagal … dari pagi hingga malam aku akan menyiksamu. Biar kepalamu pusing, selama hidup tidak akan pernah merasa tentram dan damai, mau lari pun … jangan harap.”

“kau … kenapa engkau berbuat demikian?” tanya Po-giok.

Lembut dan aleman suara Siau-kong-cu, karena aku membencimu … aku membencimu! Membencimu sampai mati … tiada orang bisa menjelaskan betapa benciku terhadapmu?”

Po-giok gelagapan, “kau … ken … kenapa engkau membenciku?”

Siau-kong-cu melengos, tidak peduli lagi padanya.

Po-giok berkata perlahan. “Walau engkau membenciku, aku sendiri tidak membencimu. Walau engkau akan mencelakai aku, justru aku ingin menolongmu …”

Senyum menghias bibir Po-giok, katanya pula “Tidak ada salahnya aku bertaruh denganmu, mari buktikan engkau dapat mencelakai aku atau sebaliknya aku yang berhasil menolongmu!”

Dengan tertawa lebar Siau-kong-cu berkata tandas, “Kamu pasti kalah, dan aku yakin dapat mencelakaimu. Dari kecil sampai yang paling besar, bertaruh apa pun kamu pasti kalah bertaruh denganku …”

Po-giok juga tertawa lebar, “Tapi kali ini aku bersumpah untuk mengalahkanmu!”

Mendadak Siau-kong-cu menoleh dan menatapnya tajam. “Baik, kita tunggu saja. akan datang suatu hari, kamu akan menyesal.”

Wajahnya yang jelita bersemu merah, senyumnya yang manis berselubung maksud jahat dan keji.

Tanpa terasa dingin hati Po-giok. Mendadak ia sadar bahwa dosa telah bersemi dalam sanubarinya. Hanya pada waktu orang lain sengsara, pada saat membuat orang lain celaka, wajah nona cantik ini akan bercahaya dan bersemu merah. Namun lahirnya Po-giok berlaku tenang dan wajar katanya dengan tertawa “Setelah aku mengambil keputusan, tiada sesuatu yang aku sesalkan lagi.”

Berkedip-kedip mata Siau-kong-cu, “Eh, kau mau menepati janji itu atau tidak? Sudah kau ambil keputusan?”

“Ya, sekarang aku sudah mengambil keputusan …”

“Po-ji!” mendadak seorang memanggil lirih di luar jendela.

Po-giok mengiakan dan bertanya, “Apakah Kong-sun-ji-siok?”

Sesaat kemudian seorang mendorong pintu lalu melangkah masuk? Siapa lagi kalau bukan Kong-sun Put-ti.

Siau-kong-cu menjengek, “Tengah malam buta mengganggu orang tidur, beginikah teladan seorang yang lebih tua? Apalagi kau tahu di kamar ini ada seorang perempuan.”

“kau …” berkerut alis Po-giok.

“Aku kenapa?” semprot Siau-kong-cu, “Memangnya aku salah? Hm, kalau kalian tidak suka dengar aku bicara, lekas enyah dari sini, aku ingin tidur.”

Dengan gemulai ia berdiri lalu melangkah ke ranjang sambil mencopot pakaian. Baru saja pundaknya tersingkap, saking kaget Po-giok dan Kong-sun Put-ti cepat lari keluar.

Siau-kong-cu terpingkal-pingkal di kamar, “Pui-Po-giok, wahai Pui-Po-giok, sudah kubilang takkan mampu kau jaga terus menerus, kini terbukti bukan? Kalau aku mau pergi, bukankah dengan mudah aku dapat kabur? Kalian berani menahanku?”

Kong-sun Put-ti geleng-geleng kepala, katanya sambil menghela napas, “Dasar nona binal.”

“Terus terang saja Ji-siok,” ucap Po-giok dengan tertawa getir, “ada kalanya Siau-tit kewalahan menghadapi ulahnya. Tapi apa pun yang terjadi Siau-tit tidak boleh berpeluk tangan dan membiarkan dia begitu saja.”

“Aku melihatmu tumbuh dewasa sedari kecil memangnya aku tidak tahu isi hatimu,” demikian ujar Kong-sun Put-ti, “bahwa kamu berani memikul tanggung jawab ini, beban yang harus kau pikul di atas pundakmu akan bertambah berat.”

Po-giok tersenyum, katanya. “Kedatangan Ji-siok apakah ingin …”

“Aku tidak perlu tanya juga tahu bahwa kamu akan pergi memenuhi janji itu,”

Po-giok menunduk, “Ji-siok maklum akan diriku, mohon dimaafkan.”

Kong-sun Put-ti menghela napas, “Kepergianmu ini memang makan banyak tenaga dan menghadapi kesukaran, namun bermanfaat juga untuk menggembleng diri dan menambah pengalaman, keuntungan ini juga pasti bermanfaat sebagai bekalmu untuk duel kelak. Apalagi kalau kamu ingkar janji, Hwe-mo-sin tentu tidak terima dan akan selalu cari perkara padamu, akibatnya akan lebih fatal lagi. Maka menurut pendapatku lebih baik kau penuhi janji itu daripada ingkar janji.”

“Ji-siok maklum, syukurlah, tapi…”

“Untung rugi persoalan ini tentu akan aku jelaskan kepada guruku dan para Cian-pwe yang lain, umpama malam ini juga kamu harus berangkat, aku tidak akan menahanmu.”

Po-giok tertawa canggung, “Persoalan apa pun ternyata tidak bisa mengelabui Ji-siok, memang ada maksud Siau-tit untuk berangkat malam ini juga, cuma tidak berani berpamitan. Syukur Ji-siok sudi membantu menjelaskan persoalannya, lega lah hati Siau-tit.”

Kong-sun Put-ti manggut-manggut, cukup lama ia mendongak mengawasi bintang-bintang, lalu berkata pelan, “Perkataan Gui … Gui-lo-ngo menjelang ajalnya, apakah sudah kau lupakan?”‘

“Mana berani Siau-tit melupakannya,” sahut Po-giok.

Apa yang dikatakan itu, sungguh mengetuk sanubari orang. Setiap kaum Bu-lim selanjutnya akan saling awas mengawasi dan curiga mencurigai, mustahil lantaran benih-benih ini akan terjadi pertarungan dan jatuh korban.”

“Ya, memang itulah tujuan yang terselubung di balik perkataannya itu,” demikian sahut Po-giok, “tapi menurut pendapat Siau-tit, bukan mustahil dia sengaja mengada-ada, tujuannya jelas hanya mengadu domba dan mencelakai orang lain.”

“Analisamu memang cocok dengan dugaanku. Tapi persoalan ini menyangkut kepentingan orang banyak, pengaruhnya amat besar, lebih baik kita percaya daripada meremehkannya … Oleh karena itu, ada beberapa persoalan perlu aku pesan padamu.”

“Harap Ji-siok memberi petunjuk.”

Kong-sun Put-ti mengeluarkan sepucuk sampul surat, katanya dengan nada prihatin. “Nama orang yang tercatat dalam surat ini adalah hasil pemikiranku secara ketat dan selektif, kuanggap mungkin ada sangkut-pautnya dengan persoalan yang dikatakan Gui-lo-ngo itu. Bila di tengah jalan bertemu dengan orang-orang ini, kamu harus lebih waspada dan memperhatikan, syukur kau dapat menyelidiki asal-usul dan riwayat hidupnya, kalau terasa gerak-geriknya mencurigakan, aku anjurkan untuk membunuhnya saja.”

Mencelos hati Po-giok, namun ia mengiakan. Baru saja ia terima surat itu, mendadak ia membentak perlahan, “Siapa di sana?”

Sejak tadi ia menghadap ke pintu kamar tidak menoleh atau membalik tubuh, namun belakang kepalanya seperti tumbuh mata. Seseorang memang muncul dari hutan bambu tak jauh di belakangnya.

“O, Thi-wah,” kata Kong-sun Put-ti.

Gu Thi-wah menyengir, “Kecuali Thi-wah siapa lagi yang berperawakan segede ini.”

Kong-sun Put-ti menarik muka, “Untuk apa kamu longak-longok dan bersembunyi dalam hutan?”

Thi-wah mengedip mata dengan kikuk, katanya, “Thi-wah kuatir Toa-ko kabur tanpa mengajak Thi-wah, biar semalam suntuk tidak tidur akan aku tunggu di sini. Apakah itu yang dinamakan longak-longok?”

Kong-sun Put-ti merasa haru katanya tertawa geli, “Anak bodoh … tapi kamu juga anak baik. Aku senang Po-giok punya saudara seperti dirimu …. ”

Terbayang pada beberapa saudara seperguruan mendahului itu, perasaannya terguncang, lidahnya menjadi kelu.

Thi-wah menarik tangan Po-giok, katanya, “Toa-ko, ke mana pun kau pergi, jangan meninggalkan Thi-wah.”

“Kamu … kamu tidak ingin pulang menengok keluargamu?”

Lahirnya ia tertawa, padahal hatinya terharu, hangat oleh persahabatan yang murni.

Thi-wah terlongong sejenak, katanya, “Terus terang saja Toa-ko, sudah lama Thi-wah ingin pulang, kangen pada keluarga, hanya … hanya sekarang, apa pun Thi-wah belum mau pulang.”

“Lho, kenapa?” tanya Po-giok.

Keras suara Thi-wah, “Ayah bunda dan saudaraku tentu hidup aman dan tentram. Sebaliknya Toa-ko … sehari pun Toa-ko tidak bisa hidup tenang, mana tega Thi-wah pulang meninggalkan Toa-ko? Toa-ko sebatang kara, kalau ada Thi-wah sebagai teman seperjalanan, entah baik atau buruk, kan bisa saling tolong.”

Perkataan jujur dan terus terang, seperti dikorek dari sanubarinya yang paling dalam, tiba-tiba Po-giok merasa pandangannya menjadi buram tenggorokan tersumbat.

Mengawasi wajah anak muda itu Thi-wah menjadi kuatir malah, “Toa-ko, apakah Thi-wah, … Thi-wah salah omong?”

“Ah, ti … tidak.,” Po-giok meneteskan air mata.

“Kalau Thi-wah tidak salah omong, kenapa Toa-ko begini, apakah … apakah Toa-ko ingin pergi sendiri, tidak mau membawa Thi-wah?”

Po-giok mendongak sambil menarik napas, “Mana bisa Toa-ko tidak mengajakmu … ada saudara seperti dirimu di sampingku, aku lebih senang dibanding mendapat hadiah apa pun … aku lebih senang.”

“Betul?” teriak Thi-wah berjingkrak, “legalah Thi-wah kalau begitu.”

Mendadak Siau-kong-cu memanggil dari dalam “Po-giok, kemari.”

“Ada apa?” tanya Po-giok.

“Suruh kau masuk ya masuk, tanya apa lagi?” Siau-kong-cu mendamprat dengan galak.

Po-giok tertawa sambil mengawasi Kong-sun Put-ti.

Kata Kong-sun Put-ti, “Biarlah aku tunggu di sini saja, masuklah!”

Po-giok mendorong pintu dan melangkah masuk, tampak jendela di belakang sana terbuka, Siau-kong-cu menghadap keluar jendela seperti termenung entah memikirkan apa, menoleh pun tidak.

Setelah menunggu sejenak, terpaksa Po-giok bertanya, “Ada apa?”

“Hm, kusuruh masuk, agaknya kamu keberatan, tapi disuruh orang lain kau lantas masuk … penurut benar terhadapnya.”

“Lha, dia kan pamanku, sedang engkau ?”

“Aku? Aku adalah nenek-moyangmu!” semprot Siau-kong-cu, mendadak ia cekikikan geli sendiri, begitu membalik tubuh matanya mengerling tajam, senyumnya bak kembang baru mekar.

Po-giok kehabisan akal, entah harus marah atau harus tertawa?

“Eh, anak pikun, kemarilah!” kata Siau-kong-cu dengan tertawa.

Tangannya melambai, di antara jari-jarinya yang runcing dan halus terjepit sepucuk surat.

Tergerak hati Po-giok, sekilas ia lirik ke arah jendela yang terbuka, batinnya, “Mungkin Hwe-mo-sin suruh orang memberi kabar?”

“Dikatakan pikun, sebetulnya kau pintar…” demikian Siau-kong-cu berolok-olok, “Nah, ada sepucuk surat untukmu, kalau mau membacanya lekas kemari.”

Terpaksa Po-giok mendekati, “Berikan padaku!”

Mendadak Siau-kong-cu menyembunyikan kedua tangannya ke belakang, katanya dengan tertawa, “Eh, sekarang kamu jadi penurut memangnya ingin lekas membaca surat ini?”

“Lekas serahkan!” seru Po-giok gugup.

kau minta aku menyerahkan, memangnya harus aku serahkan? Kenapa aku harus menuruti kemauanmu …. ” perlahan ia menyingkap rambutnya ke belakang, tersenyum sambil memicingkan mata, “kau ingin membaca surat ini, aku justru tidak akan berikan padamu.”

Sembari bicara kedua tangannya bekerja di belakang tubuhnya, menyobek hancur sampul surat itu.

Begitu tangannya terayun, sobekan kertas ia lempar keluar jendela dan berhamburan tertiup angin.

Po-giok tertegun mendengar suara sobekan kertas, sesaat lamanya ia tak mampu bicara, Siau-kong-cu mengawasinya dengan mengangguk-angguk kepala.

“Bagaimana?” tanyanya dengan senyum lebar, senyum yang mengandung arti jahat.

“kau …” Po-giok mengentak kaki, “Apa-apaan perbuatanmu ini?”

“Tadi kan sudah, kukatakan, untuk membuatmu celaka, perbuatan apa pun akan kulakukan.”

“Tapi perbuatanmu ini bukankah juga mencelakakan Hwe-mo-sin.”

“Peduli amat! Asal bisa membuatmu celaka peduli orang lain mati atau hidup, aku tidak urus. Untuk membuatmu celaka umpama aku ikut menderita juga tidak jadi soal.”

Po-giok menghela napas panjang, “Bagus … bagus …”

Mendadak Siau-kong-cu terpingkel-pingkel, saking geli air matanya sampai meleleh. Sambil menjengking dan memeluk perut ia berkata, “Ketahuilah hei orang pikun. Aku sengaja ingin menggodamu saja, padahal surat itu juga amat berarti bagiku, mana aku sampai hati merobeknya.”

Lalu ia angkat sebelah tangan, dengan masih memegang secarik kertas.

Katanya dengan tertawa bangga, “Inilah suratnya, yang aku sobek tadi hanya sampulnya …. nah, ambillah. Setelah sekian tahun masih seperti bocah cilik yang mudah ditipu.”

Lalu ia sisipkan surat itu ke tangan Po-giok sambil tertawa ia merebahkan diri.

Mendadak didengarnya Po-giok berkata, “Sekarang kau berikan padaku, aku pun tidak perlu membacanya.”

Dengan gregetan ia sobek kertas surat itu dibuang keluar jendela.

Siau-kong-cu melompat bangun teriaknya, “kau … apa yang kau lakukan?”

Po-giok tersenyum, “Bahwasanya aku tidak akan memenuhi janji itu, kan lebih baik aku sobek saja suratnya. Kelak bila Hwe-mo-sin tanya padaku kenapa aku ingkar janji, akan kukatakan suratnya telah kau robek.”

Saking gugup Siau-kong-cu mengentak kaki, serunya, “Kalau … kalau begini, kau bikin celaka aku juga.”

“Haha, sama-sama!” sahut Po-giok tertawa.

Sambil mengertak gigi Siau-kong-cu menjambak rambut sendiri, desisnya geram, “Bagus … bagus … kamu memang bagus …”

“Eh memangnya siapa bilang aku ini jelek,” Po-giok berolok-olok.

Siau-kong-cu menjatuhkan diri di ranjang, kaki lengan mencak-mencak seraya berteriak, “Lalu bagaimana … lalu bagaimana baiknya?”

“Melihat lagakmu begini, aku jadi curiga, apa belum kau baca surat tadi?” tanya Po-giok.

“Keparat, kau kira aku sudah membaca surat itu? … Bedebah, membukanya pun tidak, mana kutahu apa yang tertulis dalam surat itu, aku….”

Mendadak Po-giok bergelak, serunya senang, “Apa yang tertulis pada surat itu sudah kubaca.”

Siau-kong-cu melengong, mendadak ia membalik tubuh dan duduk di pinggir ranjang, matanya melotot mengawasi Po-giok, katanya tergegap, “kau … kau …”

“Ketahuilah, setelah beberapa tahun ini, kini aku sudah tumbuh besar, aku sudah belajar menipu orang, sudah belajar cara bagaimana membuat orang lain gugup. Dengan demikian, bila aku berada bersamamu aku tidak akan selalu dirugikan.”

Siau-kong-cu berjingkrak, dari ranjang langsung menjatuhkan diri dalam pelukan Po-giok, sekuatnya memukul dadanya, menggigit bibir dan membanting kaki, lalu katanya, “Keparat, aku benci padamu … aku membencimu … membencimu sampai mati!”

Isi surat itu amat pendek, hanya beberapa huruf saja, sekali pandang Po-giok dapat membacanya secara lengkap.

Bunyinya begini: “Ke barat kota Ping-im menginap di hotel Ping-an.”

Maka sebelum fajar Po-giok sudah meninggalkan Ban-tiok-san-ceng, langsung berangkat ke barat menuju ke kota Ping-im.

Percakapannya dengan Kong-sun Put-ti sebelum berpisah hanya beberapa kejap saja, jadi tidak menunda perjalanannya. Maklum kedua orang ini sama-sama cerdik pandai, saling menyelami isi hati masing-masing, banyak persoalan hakikatnya tidak perlu dibicarakan, namun satu sama lain sudah sama memakluminya.

Paling akhir Po-giok berkata begini, “Kali ini Siau-tit sengaja tidak pamit pada paman Bok dan para Cian-pwe yang lain, karena Siau-tit bersumpah akan pulang dalam keadaan sehat dan segar bugar.”

Kalau perpisahan ini tidak akan lama dan selekasnya akan bertemu lagi, lalu buat apa banyak bicara dan bertangisan.

Perasaan Po-giok agak hambar, sebaliknya Thi-wah amat gairah, Siau-kong-cu menggigit bibir entah senang atau risau. Di tengah kegelapan ketiga orang ini menempuh perjalanan dengan jalan pikiran yang berbeda-beda.

Tiada kereta, tanpa menunggang kuda. Tapi menjelang lohor mereka sudah berada di jalan raya yang menjurus langsung ke kota Ping-im.

Musim rontok, angin menghembus kencang membawa pasir dan daun pohon yang rontok, tidak jarang debu beterbangan di udara.

Siau-kong-cu mengeluarkan sapu tangan sutera untuk mengikat rambutnya, katanya dengan berkerut alis, “Angin menghembus sekencang ini, apa kita harus melanjutkan perjalanan. Kuda dan keledai yang ada di dunia kan belum mampus semua.”

Po-giok tertawa, “Naik kereta terasa gerah dan sebal, menunggang kuda perut seperti di kocok. Jalan kaki justru nyaman dan bebas, mau berhenti boleh berhenti, ingin cepat jalan silakan percepat langkah, mata pun bisa bebas memandang.”

Siau-kong-cu mengertak gigi, omelnya, “Dasar pelit.”

“Biar pelit asal tidak mencuri, bukan perampok. Pelit juga ada untungnya.”

Siau-kong-cu mencibir lalu melengos tidak menghiraukannya lagi.

Tengah hari, matahari amat terik, badan juga sudah kotor oleh debu, mereka memang perlu istirahat.

Di pinggir jalan Po-giok cari sebuah warung kecil, minta tiga mangkuk mi, tiga puluh bakpao … dua puluh sembilan di antaranya untuk Thi-wah.

Siau-kong-cu sudah angkat sumpit tapi ditaruh lagi, katanya dengan kening berkerenyit, “Pui-Po-giok, sejak kapan kamu jadi hwesio, kalau makan vegetaris? Memangnya kau kira aku ingin jadi ni-koh?”

Po-giok tertawa, katanya, “Baik buruk rasa makanan bergantung selera atau keinginan, kalau perut sudah lapar, makanan tidak enak pun menjadi enak dan dapat mengenyangkan perut. Bila pikiranmu membayangkan makanan enak, rasa mi kuah ini tanggung tidak kalah dibanding sarang burung.

Siau-kong-cu jadi gregetan, “Aku tidak pandai memuas diri seperti caramu.”

Thi-wah menjejal bakpao ke mulutnya, dengan menyengir ia berkata, “Toa-ko tidak punya duit, Thi-wah juga orang miskin. kau mau seperjalanan dengan kami maka jangan suka merengek seperti anak hartawan, apa pun harus pasrah pada nasib.”

“Hm, anggaplah aku yang sial! Sarang burungmu ini aku tak sudi mencicipinya,” sembari bicara ia angkat mangkuk dan membuang mi kuah yang masih mengepul itu di tanah.

Po-giok dan Thi-wah sibuk dengan hidangan masing-masing, makan dengan lahap, tidak peduli tingkah lakunya yang kasar.

Tengah mereka makan, terdengar pemilik warung sedang mengomel, “He, he, warungku ini bukan panggung pertunjukan, untuk apa kalian berkerumun di depan warungku … wah, susah!”

Po-giok berpaling keluar, hatinya menjadi geli. Ternyata di luar warung memang banyak berkerumun orang yang berdesakan di pinggir jalan.

Mereka adalah orang bertubuh tegap dan gagah. Sekali pandang Po-giok lantas tahu bahwa orang-orang ini adalah kaum Bu-lim yang pulang dari Thai-san setelah menghadiri pertemuan besar itu.

Dalam perjalanan pulang mereka lewat kota ini, mungkin akan cari warung atau penginapan entah kenapa berkerumun di pinggir jalan, tiada satu pun yang mau masuk.

Tengah Po-giok terheran-heran dilihatnya orang banyak bersoja dan menjura kepada dirinya sambil tertawa ramah. Ketika Po-giok berdiri dan balas memberi hormat, orang-orang itu segera mundur lebih jauh lagi.

“Nah, lihat,” ucap Thi-wah bangga, “betapa hormat dan segan orang-orang itu terhadap Toa-ko.”

Siau-kong-cu tertawa dingin, “Yang terang orang-orang itu memandang Toa-ko mu seperti momok iblis yang membawa penyakit menular, maka mereka menghormat tapi tidak berani mendekat Kalau tidak, kenapa mereka menonton di luar, tidak mau masuk.”

“Kukira … mungkin mereka tidak punya duit untuk makan di sini,” sahut Thi-wah.

“kau kira orang lain juga rudin seperti dirimu?” jengek Siau-kong-cu.

“Ah, siapa tahu,” sahut Thi-wah, mendadak ia berdiri dan berseru, “Bakmi pangsit yang dihidangkan di sini enak, silakan tuan-tuan masuk ke mari, biarlah aku Gu Thi-wah yang mentraktir kalian.”

Orang-orang itu manggut-manggut seraya mengucap terima kasih, bukan maju mereka malah mundur lebih jauh. Lalu secara berkelompok kasak-kusuk entah apa yang dibicarakan. Thi-wah coba pasang kuping, tapi tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

Thi-wah mengerut kening, omelnya, “Pergi tidak, masuk juga tidak mau, memangnya apa kehendak mereka?”

Siau-kong-cu mengejek, “Kalau semua masuk kemari, memangnya kau mampu bayar rekening mereka. Makan tanpa bayar, kamu bisa dilaporkan dan masuk penjara, pantatmu akan dihajar sampai pecah.”

Thi-wah garuk-garuk kepala tanpa bisa bicara.

Mendadak dua orang laki-laki melangkah masuk ke dalam warung, yang di sebelah kiri berjubah sutera, yang di kanan bermuka burik, tangan membawa sebuah buntalan kain kuning.

Thi-wah kegirangan, serunya, “Wah, untung hanya dua orang saja …. ”

Kedua orang itu langsung menghampiri Po-giok dan menjura. Laki-laki burik itu berbicara “Tuan ini tentu Pui-tai-hiap adanya.”

Po-giok berdiri dan balas menjura, “Ya betul. Entah siapa kalian?”

Laki-laki burik menjura pula, sahutnya,”Cai-he Sun Ce, dia bernama Kim Siong, kami hanya Bu-beng-siau-cut (kaum kroco) kalangan kang-ouw bahwa kami berdua memberanikan diri tampil ke depan, lantaran saudara-saudara di luar itu mengutus kami berdua untuk menyampaikan barang ini kepada Pui-tai-hiap, sudilah Pui-tai-hiap menerimanya.”

Sembari bicara ia sodorkan buntalan kain kuning itu dan taruh di meja.

“Ah, mana berani kuterima. Kenapa kawan-kawan di luar itu tidak masuk?” tanya Po-giok.

“Kawan-kawan kang-ouw merasa banyak berbuat kesalahan terhadap Pui-tai-hiap. Untuk mempersiapkan diri berduel dengan Pek-ih-jin kelak, tentu Pui-tai-hiap harus berjerih payah. Maka kawan-kawan kang-ouw mengharapkan selama beberapa waktu ini Pui-tai-hiap dapat hidup tentram dan sejahtera, semua ini pertanda kami merasa bersalah dan mohon maaf. Karena itu tidak berani kami mengganggu lagi.”

Sebelum Po-giok bicara, kedua orang ini menjura bersama lalu pamit dan keluar.

Orang banyak di luar juga serempak menjura lalu mundur tiga tindak, setelah itu mereka naik kuda serta membedalnya pergi, hanya sekejap keadaan di luar menjadi sepi. Tapi masih ada tiga ekor kuda ditambat di luar pintu.

Sesaat lamanya Po-giok berdiri melengong lalu ia buka buntalan kain kuning itu, isinya ternyata sebungkus kepingan emas dan perak. Keruan Po-giok terkesima dan bingung, gumamnya, “Apa maksudnya ini?”

Siau-kong-cu berkata, “Mereka tahu kalian miskin, tidak mampu beli makanan yang lebih enak, maka uang ini diberikan kepadamu sebagai ongkos jalan. Bila kalian selalu makan enak dan kenyang, tahun depan tentu kamu berani mengadu jiwa.”

“Mereka juga meninggalkan tiga ekor kuda …” Thi-wah berkata.

Siau-kong-cu menukas, “Tiga ekor kuda itu .. jelas mereka kuatir setelah makan kenyang kalian tidak bisa jalan, maka mereka memberi kuda itu. Agaknya mereka amat baik terhadap kalian.”

Walau pedas omongannya, tapi Po-giok seperti tidak mendengar apa yang dikatakan.

Mimpi pun Po-giok tidak menduga bahwa kawan-kawan kang-ouw begitu sayang dan besar perhatiannya terhadap dirinya, begitu mendalam harapan yang mereka tumplek padanya. Saking haru dan terima kasih, perasaan Po-giok bertambah berat dan tertekan.

“Nah, sekarang kamu sudah kaya, ayolah cari makan yang lebih enak,” Siau-kong-cu berolok-olok.

Po-giok diam saja, kemudian ia keluarkan pecahan uang perak, setelah membayar rekening, ia bungkus lagi uang emas dan perak itu, sepeser pun tidak dijamahnya.

“Setan kikir!” omel Siau-kong-cu, mendadak ia lompat keluar dan mencemplak ke punggung kuda, serunya, “aku tidak mampu jalan lagi, terserah pada kalian.”

Lalu ia membedal kuda itu pergi. Terpaksa Po-giok ikut naik kuda dan mengikutinya dari jarak tertentu.

Kasihan Thi-wah, badannya yang gede seperti menara kelihatan lucu bercokol di punggung kuda doyong ke kanan dan miring ke kiri, beberapa kali hampir jatuh, lebih kasihan lagi kuda yang ia tunggangi, punggung tertekan hingga napasnya ngos-ngosan.

Rambut Siau-kong-cu yang panjang hitam terurai lepas, berkibar bersama bajunya, betapa indah dan molek bentuk tubuhnya, sejak kecil ia sudah mahir naik kuda.

Po-giok membedal kencang kudanya, tapi tidak berhasil menyusulnya.

Tidak jarang Siau-kong-cu berpaling, serunya dengan tertawa menggoda, “Lekas … hayo lekas!”

“He, hati-hati,” seru Po-giok dengan tertawa kecut, “jangan ….”

Mendadak dilihatnya orang-orang di pinggir jalan berseru kaget dan tertawa geli memandang ke belakang. Siau-kong-cu juga keplok dan tertawa “Hihi, coba lihat, coba aku lihat apa itu? … Aneh tapi nyata, biasanya orang naik kuda, tapi sekarang kuda naik orang … ”

Belum habis bicara, saking geli dia terpingkel-pingkel di atas kuda.

Po-giok berpaling ke belakang, tampak Gu Thi-wah sedang lari marathon, mengejar dengan kencang, tapi bukan naik kuda melainkan memanggul kuda.

Kuda itu meringkik, tapi Thi-wah pegang kaki kuda, sambil mengejar mulutnya berkaok-kaok, “Jangan cepat-cepat … tunggu aku!”

Po-giok kaget tapi juga geli, serunya. “Thi-wah, apa-apaan ini.”

“Selama hidup Thi-wah belum pernah naik kuda, seumur hidup mungkin kuda ini belum pernah dinaiki orang segede Thi-wah … Dia tidak kuat membawa diriku, terpaksa Thi-wah memanggulnya.”

Siau-kong-cu masih geli, serunya, “Betul, betul … kamu kan … ”

Mendadak ia menjerit, tubuhnya mencelat. Kiranya kuda yang dinaikinya kesandung batu dan jatuh terguling di pinggir jalan.

Saking kaget ada maksud Po-giok akan memberi pertolongan, namun jarak cukup jauh, betapapun cepat gerak tubuhnya pasti tidak keburu lagi.

Untunglah pada saat genting itu dari pinggir jalan melesat sesosok bayangan orang, dengan enteng menangkap tubuh Siau-kong-cu seraya melompat ke pinggir, dengan lompat ke pinggir ia memunahkan daya terjang tubuh Siau-kong-cu, maka dengan enteng ia berdiri tegak.

Tampak orang ini berpakaian perlente, tubuh tinggi kekar, wajah cakap, sikapnya pongah, siapa lagi kalau bukan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin.

Po-giok sudah lompat turun dari punggung kuda, langsung ia mendekati seraya menjura, katanya, “Terima kasih atas bantuan saudara, untung saudara kebetulan ada di sini, kalau tidak ….”

Ciang-Jio-bin tersenyum, katanya, “Bukan kebetulan aku ada di sini, tapi sudah cukup lama menunggu di sini. Nona ini jatuh dari punggung kuda, kejadian ini memang di luar dugaanku.”

“Sesungguhnya juga tidak aku duga … ai, kalau orang sedang gembira seharusnya tidak lupa hati-hati, pelajaran ini ….”

“Plak” mendadak Siau-kong-cu mengayun tangannya, menampar muka Ciang-Jio-bin.

Keruan Ciang-Jio-bin kaget dan mundur selangkah. Siau-kong-cu meronta dan lompat berdiri.

Berubah air muka Po-giok, bentaknya, “kau …. sudah gila! Mana boleh … ”

“Siapa suruh dia memelukku?” semprot Siau-kong-cu marah.

“Tapi … saudara ini hendak menolongmu.”

“Siapa minta dia menolongku?” bantah Siau-kong-cu.

Sambil melengos segera ia membalik tubuh terus beranjak pergi.

Po-giok berdiri melongo, kehabisan akal menghadapi nona binal ini. Waktu ia berpaling lagi Ciang-Jio-bin berdiri menggendong tangan bersikap wajar dan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Po-giok tertawa getir, “Saudara …. ”

Tidak perlu saudara bicarakan soal ini. Yang penting aku sudah bertemu denganmu.”

Po-giok menghela napas, “Tadi saudara bilang sudah lama menungguku di sini.”

“Ya, betul,” sahut Ciang-Jio-bin.

“Entah ada keperluan apa?” tanya Po-giok.

Berkilat mata Ciang-Jio-bin, “Apakah saudara sudi bicara sebentar denganku?”

“Boleh saja,” sahut Po-giok.

Dilihatnya Thi-wah tetap memanggul kuda dan berdiri diam di tepi jalan. Siau-kong-cu sedang menarik kudanya yang jatuh di selokan.

“Thi-wah,” seru Po-giok, “tunggulah aku di sini …. ”

“Thi-wah akan menunggu,” sahut Thi-wah lantang, “Tapi dia? Thi-wah tidak mampu mengawasi dia lho.”

Tanpa menoleh Siau-kong-cu berkata dingin, “Jangan kuatir, kalau mau, sejak tadi aku sudah pergi.”

Po-giok membalik lagi, “Silakan.”

Ciang-Jio-bin mendahului melangkah ke dalam hutan. Dengan langkah lebar Po-giok mengikutinya, puluhan tombak kemudian, Ciang-Jio-bin tetap tidak berpaling juga tidak bersuara. Beberapa kali Po-giok ingin bertanya, namun mendengar langkah Ciang-Jio-bin yang berat dan mantap, Po-giok batalkan niatnya.

Makin jauh langkah Ciang-Jio-bin makin lambat, katanya kalem, “Sekarang saudara sudah menjadi orang nomor satu di Bu-lim, sungguh menggirangkan dan harus dipuji.”

“Sebetulnya aku tidak setimpal,” ujar Po-giok.

“Untuk apa aku tunggu di sini, apakah saudara tahu?” tanya Ciang-Jio-bin.

“Mohon dijelaskan,” kata Po-giok.

“Hanya untuk ….

“Sret”, di tengah suara lirih tapi nyaring, selarik sinar pedang mendadak bergerak bagai lembayung melesat miring dari pinggir dan langsung menusuk muka Po-giok.

Betapa cepat serangan pedang, betapa tepat sasaran yang diincar, dan betapa keji tusukannya kalau tidak menyaksikan sendiri sukar untuk percaya dan dibayangkan.

Begitu melihat sinar pedang berkelebat, secara refleks Po-giok berjungkir ke belakang, betapa cepat dan tangkas gerak tubuhnya hampir sama cepatnya dengan kedipan mata. Namun demikian lengan bajunya toh tergores sobek oleh ujung pedang.

Sejak Po-giok berkecimpung di kang-ouw, baru pertama kali ini dia menghadapi ilmu pedang seganas dan secepat ini, saking kaget ia berseru memuji, “Ilmu pedang bagus!”

Ciang-Jio-bin bergerak setengah lingkar, gaya pedangnya teracung miring ke atas, tusukan pedangnya tadi dilancarkan lewat bawah ketiak. Kini gaya pedang dan posisi badannya belum berubah ia mengejek, “Nui-coan-kian-kun-sat-jiu-kiam (pedang pembunuh memutar balik mayapada). pernah mendengarnya?”

Tersirap darah Po-giok, serunya, “Sudah lama aku dengar bahwa Hai-lam-kiam-hoat ada jurus serangan terbalik yang mematikan, betapa ganasnya tiada bandingan di dunia. Sungguh tak nyana hari ini aku menghadapinya di sini.”

“Orang she Ciang menunggumu di sini untuk mencabut nyawamu dengan jurus pedang ini, tahu?” sambil mendongak, ia menghela napas panjang, lalu menambahkan, “sungguh tak nyana, serangan pedangku juga berhasil kau gagalkan.”

“Aku tidak bermusuhan dan tiada dendam denganmu, kenapa menyerangku sekeji ini?” tanya Po-giok tegas.

Ciang-Jio-bin menatap Pui-Po-giok, katanya “Setiap perguruan atau aliran pedang yang ada di dunia ini pasti memiliki jurus serangan yang ganas dan mematikan. Jurus mematikan itu sering kali dilancarkan dalam keadaan khusus dan baru akan memperlihatkan wibawanya yang ampuh. Dalam duel di atas panggung umpamanya juga takkan sembarang dilancarkan bila tidak benar-benar perlu. Oleh karena itu, meski sudah lama kaum persilatan mendengar namanya, namun hanya sedikit jumlah orang yang pernah menyaksikan … ”

Sambil tertawa dingin. ia melanjutkan dengan suara kalem, “orang yang bisa melihat jurus serangan ganas dan mematikan ini, umumnya takkan bisa hidup lama di dunia.”

Po-giok menghela napas, “Ya, di bawah serangan terbalik seperti yang kau lancarkan tadi, memang jarang ada orang bisa tahan hidup.”

Ciang-Jio-bin tertawa, “Jurus pedang terbalik yang aku lancarkan tadi, meski cukup bagus, namun di kolong langit entah masih berapa banyak ilmu pedang yang lebih ganas dan lebih lihai dibanding ilmu pedangku tadi.”

Po-giok mengangguk, “Ya, betul.”

Mendadak sirna tawa Ciang-Jio-bin, bentaknya beringas, “Jago-jago pedang paling kosen seluruh dunia, dengan bekal jurus pedang yang mematikan di sepanjang jalan ini tengah menunggu dirimu. Kalau kau mampu menyelamatkan diri dari serangan ganas ini, selanjutnya kau pun akan dapat memecahkan serangan lain, kejadian ini amat bermanfaat bagimu bila kelak kamu berduel dengan Pek-ih-jin dari Tang-ing itu.”

Berubah air muka Po-giok, “Dan kalau tidak mampu menyelamatkan diri, lalu bagaimana?”

“Seperti pohon ini,” mendadak Ciang-Jio-bin membentak. Badan membalik dan pedang menebas, di mana sinar pedang berkelebat, sebatang pohon tahu-tahu putus menjadi dua.

Melotot beringas mata Ciang-Jio-bin, “Kalau kamu tidak mampu mengatasi serangan-serangan mematikan itu, tentu kalah bila berduel dengan Pek-ih-jin. Lalu apa gunanya kehadiran Pui-Po-giok di dunia?”

Sesaat lamanya Pui-Po-giok terlongong diam, katanya kemudian, “Jago-jago pedang itu tiada yang bermusuhan denganku, mungkin mereka mengharapkan aku dapat mengalahkan Pek-ih-jin, maka tidak segan-segan menumbuhkan pengalaman memupuk dasar ilmu silatku dengan jurus serangan mematikan simpanan mereka.”

“Ya, memang demikian,” sahut Ciang-Jio-bin.

“Lalu kenapa mereka juga ingin membunuh aku.”

Ciang-Jio-bin terloroh-loroh, serunya, “Pui-Po-giok sekarang kamu adalah jago pedang nomor satu, orang yang membunuhmu akan menggantikan kedudukanmu, namanya akan segera terkenal di dunia. Memangnya siapa jago pedang di dunia ini yang tidak suka terkenal di dunia … Setiap insan persilatan yang meyakinkan ilmu pedang, siapa yang tidak ingin membunuhmu?”

Dingin perasaan Pui-Po-giok, katanya gelisah, Tapi … tapi … ”

“Tapi apa? Benda antik mana di dunia ini yang bisa diperoleh dengan mudah. Orang lain mempertaruhkan jiwa raga untuk merebut kesempatan mengagulkan diri sebagai jago pedang nomor satu, sementara kamu memperoleh jurus pedang rahasia yang tidak diturunkan kepada sembarang orang, apakah barter ini tidak adil. Bagi kaum persilatan seperti kita, mati hidup terhitung apa.”

Lama Po-giok tepekur, akhirnya menghela napas panjang, “Ya, tapi taruhannya terlalu besar.”

“Pui-Po-giok,” bentak Ciang-Jio-bin, “cukup sekian saja omonganku. Duel antara hidup dan mati harus adil. Sejurus seranganku tidak berhasil melukai dirimu, adalah pantas kalau aku mampus di tanganmu. Orang she Ciang juga tidak akan lari dari tanggung jawab.”

Sembari membentak, pedang panjang di tangannya bergerak pula laksana bianglala menerjang ke arah Pui-Po-giok.

“Tahan,” bentak Pui-Po-giok, “kenapa engkau senekat ini?”

Ciang-Jio-bin tidak hiraukan seruannya, sinar pedang memantul seperti ceplok-ceplok bunga terus merangsek dengan ketat. Ilmu pedangnya bukan ilmu yang paling bagus dan terlihai, tapi seperti nama dan pribadinya, pedangnya tidak kenal kasihan.

Setiap jurus pedang yang dilancarkan merupakan serangan mematikan, setiap jurus ganas itu membuat lawan sukar balas menyerang, kecuali lawan juga berusaha membunuhnya.

Sudah tentu Po-giok tidak ingin menamatkan jiwa lawan, terpaksa ia tidak balas menyerang. Maka ia mengembangkan kelincahan gerak tubuhnya berputar dan menari di tengah sambaran sinar pedang, beruntun ia berkelit.

Ilmu pedang Bu-ceng Kong-cu memang Bu-ceng (tidak kenal kasihan), namun jangankan membunuh Po-giok, menyentuh ujung bajunya pun tidak mampu.

Mendadak Ciang-Jio-bin terbahak-bahak, serunya, “Baiklah, Pui-Po-giok, kamu tidak mau membunuhku, lalu apa keinginanmu?”

“kau … pulang saja!” sahut Po-giok kesal.

Ciang-Jio-bin terloroh-loroh, “Pulang? … Memangnya mudah seorang pesilat pulang setelah terlibat dalam pertikaian! Tapi untuk mati tentu amat gampang!”

Sekali pedang terayun, maka darah pun muncrat.

Ternyata Ciang-Jio-bin memutar balik pedang dan menusuk dada sendiri.

“Ciang-heng … ken … kenapa …” Po-giok memekik gugup.

Gagang pedang bergetar di dada Ciang-Jio-bin, ronce pedang yang merah berkibar tertiup angin. Tapi badannya tetap berdiri tegak tanpa bergeming.

Darah segar membasahi pakaian, namun kematian justru menghias rona wajahnya yang pucat. Sepatah demi sepatah ia berkata lirih, “Duel antara hidup dan mati harus adil. Mati atau hidup tidak dapat dipilih lagi …. ”

Mendadak ia kertak gigi, sekuat tenaga ia cabut pedangnya.

Darah segar menyembur, berhamburan di tanah. Badan pun ambruk, tapi kedua matanya tidak terpejam, masih menatap Pui-Po-giok, katanya gemetar, “Pui-Po-giok … kamu pesilat, maka hargailah diriku, ada … ada sebuah permintaanku padamu, benda dalam lengan baju … jangan dilupakan …. ”

Suaranya makin lemah, makin lirih dan samar-samar, akhirnya berhenti.

Hembusan angin merontokan daun pohon, pakaian Po-giok melambai-lambai. Tapi Po-giok berdiri kaku di tempatnya seperti tidak mampu bergerak lagi.

Sebelum ini ia masih beranggapan kawan-kawan Bu-lim mencurahkan seluruh harapan dan kasih sayangnya terhadap dirinya. Kini baru ia sadar bahwa ada sementara kaum persilatan yang menginginkan jiwanya, mau membunuhnya.

Kini ia tahu pula adanya unsur pertentangan pada setiap persoalan kang-ouw, dan pertentangan itu justru begitu gawat dan meruncing. Faktor utama pertentangan yang meruncing ini adalah perbedaan antara mati dan hidup.

Sambil menunduk Po-giok mengawasi jenazah Ciang-Jio-bin, air mata berlinang, mulut bergumam, “kau mati begini saja, apakah pengorbananmu setimpal? … Kecuali mati apa benar tiada jalan lain yang bisa kau tempuh? …. Kenapa begitu aneh pandanganmu terhadap hidup dan mati? …. Apakah setiap insan persilatan punya pandangan yang sama terhadap mati-hidup seperti dirimu? Ada … ada persoalan apa yang ingin kau mohon bantuanku? …”

Tiba-tiba pandangannya tertuju ke lengan baju Ciang-Jio-bin, di mana tampak sebagian dari ujung kertas gulungan.

Yang tersimpan di lengan baju Ciang-Jio-bin, kecuali sebuah pesan pendek, masih terdapat sepucuk surat.

Pesan tulisan itu ditujukan kepada Pui-Po-giok.

“Peduli mati atau hidup, aku ingin berduel denganmu. Hidup aku akan ternama, mati tidak perlu menyesal, kalau tidak ternama berarti gugur. Waktu meninggalkan rumah memang tiada harapan untuk hidup dan kembali. Mengejar baik memperoleh kasih sayang, walau mati hatiku senang.

Selama belasan tahun ini berlalu sekejap mata, selendang sutera merah, tiada yang perlu dirindukan. Hanya kekasih sayang masih menanti di atas loteng, hidup merana seorang diri, semoga tuan dapat menyampaikan berita duka ini padanya.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: