Kumpulan Cerita Silat

10/04/2008

Darah Ksatria: Bab 15. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — Tags: — ceritasilat @ 10:43 pm

Darah Ksatria
Bab 15. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Adis-dewira)

Enam puluh tahun yang lalu, di dunia kangouw ada tiga pasang tangan manusia yang terkenal dan dikagumi, yaitu Bu-ceng-thiat-jiu, Sin-tho-biau-jiu dan Ling-long-giok-jiu.

Thiat-jiu-bu-ceng (Tangan Besi Tidak Kenal Ampun), setiap beroperasi tidak ada korban yang hidup meskipun hanya sekejap saja.

Biau-jiu-sin-tho (Maling Sakti Bertangan Lincah), barang apa saja yang tidak mungkin dicuri orang lain, dengan mudah dapat diambilnya.

Giok-jiu-ling-long (Tangan Kumala Ahli Operasi), tidak ada orang tahu, sepasang tangan ini dapat melakukan apa saja yang sebetulnya tidak masuk akal, kenyataannya ia justru dapat menciptakan sesuatu yang aneh dan ganjil, namun nyata. Dalam jangka setengah jam, seseorang bisa dirubah bentuk wajahnya menjadi orang lain oleh keprigelan kedua tangannya itu.

Ilmu tata rias dan ilmu operasi yang dikuasainya sedemikian bagus dan sempurna, kecuali Toa-sin-thong Biau-hoat-thian-ong dari Persia, tiada orang kedua di Tionggoan yang dapat menandinginya.

Sekarang Ma Ji-liong paham, “Ji Ngo mau menyisir rambutnya karena hendak meminta bantuannya memproses diriku menjadi Thio Eng-hoat, begitu?”

“Betul.”

“Kalian memilih tempat ini karena kaum persilatan tiada yang berkeliaran di sini?”

“Betul.”

“Para petugas itu pura-pura bisu, tuli, dan buta karena mereka memerlukan bantuan Ji Ngo, maka mereka memberi kesempatan kepadanya?”

“Betul, memang demikian.”

“Aku difitnah sebagai pembunuh kejam, sudah kepepet, dan tidak bisa mungkir, maka kalian berdaya upaya untuk menyelamatkan diriku?”

“Tidak benar,” tukas Toa-hoan tegas, suaranya berat dan serius. “Ji Ngo percaya kepadamu, prihatin akan nasibmu, aku pun mempercayai dirimu, kami yakin kau difitnah, dijadikan kambing hitam. Kami juga sadar, watakmu angkuh, tidak gampang membujukmu merendahkan diri menjadi majikan sebuah toko serba ada yang tiada artinya.”

Lama Ma Ji-liong menepekur tanpa suara. Darahnya mendidih, tenggorokannya tersumbat, agak lama kemudian dia baru bertanya dengan serak, “Kenapa kau percaya kepadaku?”

“Seseorang pembunuh di kala buron, jiwa sendiri susah diselamatkan, mana mungkin mau menyelamatkan jiwa orang lain yang terpendam di bawah salju, menolong seorang gadis jelek yang hampir mati kaku kedinginan. Maka aku percaya di balik persoalan ini pasti ada lika-liku yang patut diselidiki.”

Ma Ji-liong tidak bicara, perasaannya sukar dilukiskan dengan rangkaian kata.

Toa-hoan berkata pula, “Kau harus percaya, keadilan dan kebenaran masih tegak di dalam dunia, kejahatan harus ditumpas, muslihat keji juga harus dibongkar, akan datang saatnya fitnah atas dirimu akan terungkap, hal ini hanya soal waktu saja.” Perlahan ia menggenggam tangan Ma Ji-liong, lalu menambahkan, “Yang penting kau yakin, demi membongkar kejahatan ini, sudilah kau merendahkan derajatmu sementara.”

Ma Ji-liong masih termenung beberapa kejap, mendadak ia bertanya, “Di mana letak toko serba ada itu?”

“Di sebuah gang sempit di kota sebelah barat, langgananmu adalah penduduk sekitarnya, mereka adalah rakyat jelata dari kalangan sedang dan rendah, semua berhati baik dan sederhana, keluarga-keluarga yang cukup untuk sesuap nasi setiap hari, penduduk di sana jarang mau mencampuri urusan orang lain,” Toa-hoan menjelaskan, kemudian sambungnya lebih lanjut, “Pegawaimu she Thio, orang lain memanggilnya Lo-thio, kadang ia mencuri satu dua cawan arak di kamarnya, tetapi pegawai yang dapat dipercaya penuh.”

“Apakah ia tak curiga bila majikannya ganti orang lain?”

“Mata Thio-lausit sudah lamur, kupingnya juga agak tuli.”

“Umpama Lo-thio tidak mengenal perbedaanku, bagaimana dengan orang lain?”

“Orang lain?” Toa-hoan balas bertanya sambil tertawa geli. “Maksudmu bininya yang sakit-sakitan itu?”

Ji-liong tertawa getir, tanyanya pula, “Orang macam apakah dia?”

Toa-hoan tertawa, katanya, “Sebetulnya kau sudah pernah melihat dan mengenalnya.”

“Aku pernah melihat dan mengenalnya? Kapan aku pernah melihatnya?”

“Barusan bukankah kau sudah melihatnya?”

Ma Ji-liong melenggong, “Jadi gadis yang hampir mati tadi adalah…… adalah……” mendadak Ji-liong sadar salah omong, cepat ia menambahkan, “Apakah gadis tadi akan dijadikan isteri Thio Eng-hoat?”

“Sebetulnya bukan, tapi tak lama lagi akan diproses menjadi isteri Thio Eng-hoat, demikian pula dirimu, nanti setelah dioperasi akan menjadi Thio Eng-hoat tulen.”

“Siapakah dia sebetulnya?”

Toa-hoan terpekur, agaknya sulit memberi penjelasan, sikapnya jelas tak ingin memberi keterangan.

Tapi Ma Ji-liong mendesak, “Orang macam apakah dia? Urusan sudah berlarut sejauh ini, kau masih main rahasia terhadapku?”

Toa-hoan menarik napas panjang, katanya, “Ya, kalau aku masih main rahasia, rasanya memang keterlaluan.”

Ma Ji-liong diam.

“Ia she Cia bernama Giok-lun, lengkapnya Cia Giok-lun,” demikian Toa-hoan menerangkan.

“Ya, aku sudah tahu.”

“Dia seorang perempuan.”

“Memangnya aku tidak bisa membedakan laki-laki atau perempuan?”

Toa-hoan tertawa getir, katanya, “Kau pasti tahu aku sengaja mengulur waktu. Terus terang saja, aku tidak tahu betapa banyak urusan yang harus kuterangkan kepadamu.”

“Ya, berapa banyak yang akan kau beritahu kepadaku?”

Setelah termenung sejenak, Toa-hoan berkeputusan, “Baiklah, biar kujelaskan kepadamu. Tahun ini dia berusia 19 tahun, mungkin belum pernah menyentuh atau disentuh laki-laki.”

“Apa betul berusia 19 tahun?”

“Memangnya kau kira dia sudah nenek-nenek?”

“Kalau betul berusia 19 tahun, padahal ilmu silatnya setinggi itu, tembok ditabraknya ambrol, kekuatan sedahsyat itu, laki-laki berusia 91 tahun juga belum tentu mampu melakukannya!”

“Ilmu silatku tidak asor dibandingkan dia, apa kau kira aku sudah tua?”

Terkancing mulut Ma Ji-liong. Umpama dirinya goblok juga takkan berani mengatakan gadis jelek ini sudah tua.

Toa-hoan berkata, “Ilmu silat tidak diyakinkan secara serampangan, tinggi rendahnya lwekang seorang ahli silat tidak ada sangkut pautnya dengan usia dan besar kecilnya umur.”

“Aku mengerti.”

“Ilmu silatnya memang tinggi, para enghiong dan pendekar yang kau kenal di zaman ini, yakin tidak genap sepuluh orang yang mampu mengalahkan dia. Ia punya seorang guru yang baik, guru jempolan, lihai, sejak keluar dari rahim ibunya sudah belajar dan latihan silat.”

“Siapakah gurunya?” tanya Ma Ji-liong.

“Aku hanya berjanji menjelaskan perihal pribadinya, bukan tentang gurunya.”

“Baiklah, aku tidak tanya gurunya.”

“Tabiat nona itu tidak baik, maklum nona pingitan yang disayang, dalam segala hal ingin menang dan minta diladeni secara berlebihan, jika mendadak ia sadar dan tahu dirinya menjadi bini seorang pemilik toko serba ada yang kecil di kampung jorok di pinggir kota, mungkin dia bisa jadi gila.”

“Celaka kalau gilanya kumat, pemilik toko serba ada itu mungkin bisa digorok lehernya. Hal ini perlu kuperhatikan karena pemilik toko serba ada itu adalah diriku.”

Toa-hoan tertawa manis, katanya lembut, “Tentang hal itu tak perlu kuatir, dia tidak akan menggorok lehermu.”

“Bagaimana kau tahu dia tidak akan berlaku kasar terhadapku?”

“Ingat, dia sedang sakit, makin lama penyakitnya makin parah hingga sepanjang hari rebah di ranjang, berdiri pun tidak bisa.”

Jago silat kosen yang mampu menjebol tembok dengan langkah seenaknya, bagaimana mungkin mendadak jatuh sakit? Ma Ji-liong bukan laki-laki yang suka rewel, tidak suka bertanya, hatinya sudah membayangkan bagaimana datangnya penyakit itu. Kepandaian Toa-hoan cukup mampu membuat seseorang jatuh sakit dan itu bukan pekerjaan yang sukar.

Ma Ji-ling berkata, “Kelihatannya dia tidak mirip bini seorang pemilik toko.”

“Saat ini tidak mirip, sebentar lagi akan persis, kutanggung dia akan berubah persis bentuk aslinya.”

“Apa betul Giok Ling-long punya kemampuan selihai itu?”

“Betapa besar kemahirannya, boleh kau buktikan sendiri.”

Ma Ji-liong menghela napas, katanya, “Sebetulnya aku sih tidak ingin melihatnya.”

“Bila dia sadar nanti, dirinya sudah rebah di ranjang dalam kamar besar yang terletak di belakang toko serba ada itu.”

“Dan aku?”

“Sebagai suami, kau harus merawat dan menjaganya di pinggir ranjang, kalian adalah suami isteri yang hidup rukun belasan tahun lamanya.”

Ji-liong menyengir kecut, katanya, “Wah, bisa geger dan dia mungkin akan mencaci maki diriku.”

“Sudah pasti dia akan ribut, kau harus bersikap lebih sayang dan prihatin karena kesehatan isterimu makin buruk. Binimu itu she Ong bernama Kwi-ci. Sudah 18 tahun kalian menikah, tanpa dikaruniai anak seorang pun. Apa pun yang ia katakan, keributan apa saja yang ia lakukan, kau harus sabar, menjaga, dan meladeninya dengan penuh pengertian.”

“Bila aku membandel, berkata bahwa ia adalah isteriku sejak 18 tahun lalu, ia pasti bingung dan heran, bertanya-tanya dalam hati, siapa dia sebenarnya.”

“Syukur kau sudah mengerti.”

“Masih ada satu hal yang tidak kumengerti.”

“Coba jelaskan.”

“Aku tidak kenal siapa dia, tidak pernah bermusuhan, kenapa dia harus kuperlakukan demikian?”

“Karena kejadian ini amat berguna bagi dirimu, juga bermanfaat untuknya, dua pihak sama-sama mendapatkan keuntungan. Kurasa hanya dengan cara begini kau bisa mencuci bersih fitnah itu, membongkar muslihat keji ini,” sikap Toa-hoan menjadi serius, nada perkataannya tegas dan tulus. “Aku tahu sebagai pemuda jumawa, perbuatan yang merugikan orang lain ini tak sudi kau lakukan, kali ini anggaplah kau bekerja karena aku, demi diriku. Aku percaya padamu, maka paling sedikit kau juga harus percaya kepadaku. Lakukan apa yang telah kami atur dan rencanakan ini.”

Ma Ji-liong tidak bicara lagi, dia memang jumawa, tidak mau berhutang budi kepada orang lain. Tentang perbuatannya ini, setelah kejadian usai, apakah fitnah terhadap dirinya dapat dicuci bersih, hakikatnya tidak terpikir lagi olehnya.

Apa yang dilakukan Ma Ji-liong biasanya memang bukan untuk kepentingan pribadinya. Umpama ada orang bertanya kepadanya, “Orang macam apakah kau ini?” Jawabannya pasti berbeda dengan sebelum Ji-liong mengalami musibah. Setiap orang yang pernah mengalami siksa derita dan gemblengan hidup yang nyata, baru akan mengenal dirinya sendiri, maka ia bertanya, “Sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Kau harus minum. Sekarang akan kusuguh arak kepadamu,” Toa-hoan tertawa lebar. “Ji Ngo di sini, kau juga di sini. Kalau kalian tidak diberi kesempatan minum sepuas-puasnya, bukankah aku ini tidak tahu diri?”

Di belakang kedua deret rumah itu terdapat rumah besar tunggal yang letaknya agak jauh. Wuwungan rumah berbentuk serong, tembok berwarna kelabu gelap. Siapa pun yang berada di tempat ini akan merasa seram dan bergidik.

Dilihat dari luar, dari bentuknya, orang akan membayangkan bahwa rumah besar ini adalah gudang mayat. Di dalam gedung inilah para petugas membedah mayat yang terbunuh, maka orang akan membayangkan di sana terdapat berbagai jenis alat dan perkakas, berbagai jenis pisau, juga ada ganco yang karatan, jarum, benang, dan masih banyak lagi benda-benda yang tak terpikir oleh orang.

Namun bila sudah masuk dan berada di dalam rumah itu, jalan pikiran akan berbalik berubah.

Di luar dugaan, rumah ini amat bersih, luas dan bercahaya, dinding bagian dalam putih bersih, jelas tidak lama baru dikapur. Meja dilembari taplak putih. Di meja ini tersedia enam menu masakan dan enam guci arak ukuran sedang. Empat guci diantaranya tersegel rapat, isinya adalah Sian-yang, dua guci yang lain adalah Li-ji-ang yang beratnya dua puluh kati.

Orang biasa bila melihat arak sebanyak itu, belum minum pun sudah mabuk.

Ma Ji-liong bukan orang biasa, terutama dalam hal minum meminum. Setiap melihat arak hatinya amat getol. Minum dan mabuk-mabukan memang bukan perbuatan baik, tapi berhadapan dengan Ji Ngo, kalau tidak minum, lebih baik menjahit mulut sendiri saja. Kali ini Ma Ji-liong akan membalas meloloh Ji Ngo hingga mabuk, ia sudah berkata dalam hati akan membatasi minum.

Ji Ngo sedang mengawasinya dengan senyum lebar, seolah sudah dapat menerka apa yang terpikir di dalam benaknya.

“Aku tahu kau gemar minum Li-ji-ang, sayang di tempat ini sukar memperoleh Li-ji-ang lebih dari dua guci.”

“Sian-yang juga arak bagus.”

“Mari kita habiskan dulu Li-ji-ang baru dilanjutkan dengan Sian-yang,” Ji Ngo tampak gembira, tawanya lebar. “Satu orang satu guci, setelah habis satu guci, minum arak lain juga akan sama.”

“Satu orang satu guci,” ujar Ma Ji-liong ke arah Toa-hoan, “Dia bagaimana?”

“Hari ini aku tidak minum,” Toa-hoan berkata dengan tertawa, “Giok-toasiocia memberi tahu kepadaku, perempuan kalau minum banyak bukan saja lekas tua, juga mudah ditipu orang.”

Ma Ji-liong menghela napas, ia maklum apa yang dipikir tadi tiada harapan dan tak mungkin terlaksana.

Giok-toasiocia bukan lain adalah Giok Ling-long.

Giok Ling-long berda di rumah besar itu, duduk di depan sebuah meja. Meja besar dan panjang. Di atas meja menggeletak sebuah mainan jade dan sebuah kotak perak, belasan kaleng bundar yang terbuat dari perak murni. Di pinggir meja terdapat sebuah baskom besar yang juga terbuat dari perak.

Dalam baskom berisi air hangat, Giok Ling-long menurunkan tangan ke dalam baskom untuk mengukur suhu panas air, apakah sesuai dengan kebutuhan Toa-siocia yang satu ini. Meski sudah lanjut usia, sudah patut menjadi nenek, tapi gaya dan gerak-geriknya tidak kelihatan tua. Apalagi dipandang dari belakang, gerak kaki maupun tangan, kepala maupun sekujur badannya, demikian pula kerlingan matanya tetap terlihat muda dan manis serta luwes. Bila lebih diperhatikan, maka akan terasa dia belum tua, bukan nenek peyot. Ya, harus maklum karena Giok ling-long tidak pernah merasa dirinya tua.

“Silakan minum sepuasnya, aku akan mulai bekerja,” demikian kata Giok Ling-long dengan tertawa, “Aku tidak pernah minum arak, tapi tidak pernah pula melarang orang minum arak. Aku malah senang melihat orang minum.”

Toa-hoan tertawa, katanya, “Biasanya aku pun demikian, melihat orang minum jauh lebih nikmat daripada aku sendiri yang minum.”

Giok Ling-long sependapat, katanya, “Ada orang mabuk yang mengoceh tidak karuan, membuat ribut dan brengsek, tapi ada juga orang mabuk yang menjadi patung malah, sepatah kata pun tidak mau bicara. Ada juga orang mabuk yang menangis, ada yang tertawa ngakak, aku jadi geli dan senang melihat tingkah lakunya yang lucu.” Mendadak dia bertanya kepada Ma Ji-liong, “Bagaimana keadaanmu setelah mabuk?”

“Aku tidak tahu,” Ma Ji-liong menjawab. Memang tiada orang tahu bagaimana keadaan diri sendiri waktu mabuk. Seseorang bila mabuk pikirannya seperti meninggalkan badan. Setelah sadar akan merasa lidahnya terbakar, tenggorokannya kering, kepala pusing. Persoalan apa pun dilupakan, persoalan yang harus diukir dalam sanubari dilupakan, sebaliknya persoalan yang harus dilupakan justru terukir di dalam sanubarinya.

Giok Ling-long tertawa, katanya, “Sejak muda sampai setua ini usiaku, hanya pernah kulihat dua pria yang betul-betul cakap dan tampan. Kau adalah salah satu diantaranya. Aku percaya umpama sudah mabuk tampangmu msih kelihatan bagus.”

Ji Ngo bergelak tawa, serunya, “Bagaimana keadaannya setelah mabuk, sebentar dapat kau saksikan sendiri.”

Kali ini Ma Ji-liong bertahan lebih lama baru mulai sinting. Setelah habis tiga guci baru betul-betul mabuk. Sambil minum ia memperhatikan gerak-gerik Giok Ling-long.

Setelah merendam sepasang tangannya di air panas dalam baskom, lalu diambilnya handuk kecil untuk mengeringkan telapak tangannya. Dari sebuah kotak perak ia mengeluarkan sebilah pisau lengkung kecil lalu mulai membersihkan kuku jari.

Apa pula isi peti perak itu?

Setelah membersihkan kuku, dari tujuh delapan kaleng yang berbeda-beda di atas meja itu, ia menuang tujuh delapan jenis obat yang berbeda warna. Ada puyer, ada cairan seperti minyak, ada kuning dan kelabu, ada juga yang berbuih biru. Tujuh delapan bahan obat yang berbeda itu ia tuang ke dalam baskom yang lebih kecil lalu diaduk dengan sendok perak.

Ma Ji-liong tahu ramuan obat itu merupakan persiapan pertama untuk mengubah bentuk wajah orang. Melakukan kerja apa pun kalau sebelumnya sudah dipersiapkan secara teliti dan baik, buah karyanya tentu amat bermutu.

Setelah tiga guci arak masuk ke perut Ma Ji-liong, pikirannya mulai kabur, “Giok Ling-long pandai merias wajah orang, yang jelek menjadi cantik, yang tua menjadi muda demikian pula sebaliknya. Kenapa dia tidak merias wajah sendiri? Mengubah dirinya menjadi nona jelita?”

Seperti dapat meraba jalan pikiran Ma Ji-liong saja, Giok Ling-long berkata, “Aku hanya bekerja untuk orang lain, tak pernah bekerja untuk diriku sendiri.” Sembari tertawa ia melanjutkan, “Sebabnya, umpama aku berubah menjadi muda, katakanlah berhasil menipu orang lain, tetap tidak bisa menipu diriku sendiri.” Suaranya menjadi tawar, lalu menyambung dengan suara keras, “Kerja untuk membohongi orang lain bisa kukerjakan, menipu diri sendiri aku emoh melakukannya.”

Sembari bicara tangannya merogoh peti perak. Ia mengeluarkan beberapa jenis alat dan perkakas yang semuanya terbuat dari perak. Ada gunting, pisau, obeng, dan sekop kecil, ada juga gergaji mini.

Untuk apa ia mempersiapkan alat-alat itu?

Kalau Ji-liong belum mabuk, masih segar bugar, melihat perkakas yang dipersiapkan untuk mengoperasi dirinya, mungkin dia akan cepat-cepat kabur alias angkat langkah seribu. Sayang badannya lunglai oleh pengaruh arak yang ada di perutnya. Keadaan Ma Ji-liong sudah hampir mabuk. Satu kejadian yang masih sempat terlintas dalam benaknya adalah jari-jari Giok Ling-long meraba, memijat, dan mengelus wajahnya. Tangan orang terasa halus, dingin, gerakannya lincah lagi lembut.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: