Kumpulan Cerita Silat

09/04/2008

Pendekar Gelandangan (09)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:54 pm

Pendekar Gelandangan (09)
Bab 09. Duel
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Ruangan itu nyaman dan bersih.

Toa-tauke tak pernah menelantarkan atau mencemooh anak buahnya, A-yong pun belum kehilangan nilai keseluruhan dari kepentingannya untuk melaksanakan suatu tugas.

Hanya saja tangannya masih dibalut, apalagi sakitnya setengah mati.

Sewaktu Thi-hou masuk ke dalam ruangan, ia sedang berbaring di atas pembaringan, ia berharap Han toa-nay-nay bisa mencarikan seorang perawan baginya untuk menghilangkan kekesalannya selama ini.

Tapi dia tahu, orang yang masuk ke dalam kamarnya sekarang pastilah Thi-hou.

Selamanya hanya Thi-hou seorang yang berani memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

Kendatipun ia merasa sangat tidak puas terhadap sikapnya ini, namun ketidak puasannya itu tidak pernah diutarakan kepada siapapun.

Ia membutuhkan seorang sahabat macam Thi-hou, terutama dalam keadaan seperti ini, teman semacam itu lebih-lebih lagi dibutuhkan, kendatipun demikian, seandainya Thi-hou mati, diapun tak akan melelehkan setitik air matapun.

Dengan pandangan tajam Thi-hou mengamati tangannya yang dibungkus rapat oleh kain putih itu, kemudian sambil mengernyitkan dahi tegurnya: “Parahkah lukamu itu?”

A-yong hanya bisa tertawa getir.

Tentu saja luka yang dideritanya amat parah, bahkan mungkin lengannya tak bisa dipergunakan lagi selamanya, tapi tentang soal ini, dia harus merahasiakan sebaik-baiknya.

Ia tahu toa-tauke tak akan memelihara seorang manusia tak berguna yang sudah tak ada harapannya dalam suatu jangka waktu yang lama.

“Siapakah yang telah melukaimu?”, Thi-hou mulai membuka pembicaraan.

“Ia mengatakan dirinya bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!”

“Tapi ia telah melukai dirimu, membinasakan Toa-kang!”

A-yong tertawa getir.

“Mungkin ia tak berguna dalam hal lain, tapi ilmu silatnya jelas sangat berguna”

“Dengan benda apakah ia melukai dirimu?”

“Dengan apa lagi? Tentu saja menggunakan tangannya!”

Sebenarnya dia ingin mengatakan dilukai dengan sebuah benda yang terbuat dari besi, tapi ia tak berani berbohong, sebab masih terdapat banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut dengan mata kepalanya sendiri ketika itu.

Sepasang alis mata Thi-hou yang tebal berkernyit semakin kencang.

Ia tahu ilmu silat A-yong terutama dalam hal telapak tangan bajanya mempunyai kesempurnaan yang meyakinkan.

Bukan suatu pekerjaan yang gampang bila seseorang ingin melukai telapak tangan bajanya hanya mempergunakan tangan telanjang.

“Aku tahu kau pasti ingin bertanya kepadaku ilmu slat apakah yang telah ia gunakan?”, kata A-yong.

Thi-hou mengakuinya, sebab ia memang bukan datang untuk menjenguk si sakit.

“Sayang aku sendiripun tidak tahu, ilmu silat dari aliran manakah yang telah ia pergunakan”

Hawa gusar memancar keluar lewat sorot mata Thi-hou, katanya: “Sudah hampir dua-tiga puluh tahun kau melatih ilmu silatmu, tidak sedikit pula manusia yang telah kau bunuh, selama dalam dunia persilatan reputasimu cukup baik, tapi sekarang orang lain telah menghajarmu sedemikian rupa, sebaliknya kau malah tidak tahu dengan ilmu silat apakah orang melukai dirimu”

“Serangannya terlampau cepat, hingga sulit diikuti dengan pandangan mata…..”, keluh A-yong.

Thi-hou tertawa dingin, tiba-tiba ia mencengkeram tangan A-yong yang terluka dan melepaskan kain pembalut tangannya itu.

“Hei, mau apa kau?”, A-yong segera menegur dengan paras muka berubah hebat.

“Aku ingin memeriksanya”

A-yong segera tertawa paksa.

“Sebuah lengan yang sudah rusak, masa ada yang menarik untuk dilihat…..?”, katanya.

“Ada!”

“Menurut tabib dari Ciang-po-thong, mereka telah membalutkan tanganku ini sebaik-baiknya, ia minta kepadaku agar dalam dua hari ini jangan sekali-kali menyentuhnya”

“Aaaahhh…..! Telur busuk maknya!”, damprat Thi-hou.

Terpaksa A-yong menutup kembali mulutnya, sebab kain pembalut yang membalut tangannya kini sudah terlepas semua.

Menyaksikan telapak tangannya itu, paras muka Thi-hou ikut berubah hebat…….

Telapak tangan baja yang pernah dilatih selama hampir dua puluh tahun, kini boleh dibilang sudah hancur remuk dan tak ketolongan lagi….

Tangan itu jelas dihancurkan dengan hanya menggunakan tiga batang jari tangan, sebab pada punggung tangannya masih tertinggal tiga bekas jari tangan yang berwarna semu hitam.

….Ilmu silat apakah yang sesungguhnya dilatih oleh A-kit yang tak berguna?

Tiba-tiba Thi-hou menghela napas panjang, ujarnya: “Bagaimanapun juga, kita masih terhitung bersahabat!”

“Ya, sejak dulu sampai sekarang kita memang bersahabat!”, A-yong menimpali sambil tertawa paksa.

“Sebab itu kau tak usah kuatir, aku tak akan memberitahukan peristiwa ini kepada siapapun”

“Peristiwa apa?”, suara tertawa A-yong kedengaran makin dipaksakan.

“Sejak kini tanganmu sudah cacad seumur hidup dan tak bisa dipakai lagi……..”

Senyuman A-yong segera membeku, kelopak matanya menyusut dan wajah wajahnya berubah menjadi pucat pias.

“Sayangnya, sekalipun aku telah merahasiakan peristiwa ini bagimu, cepat atau lambat toa-tauke pasti akan mengetahuinya juga, sebab itu……….lebih baik susunlah rencana baru untuk menghadapi kehidupanmu di masa mendatang……..!”

A-yong tertunduk lemas, tiba-tiba ia berteriak dengan suara lantang: “Aku masih tetap dapat membunuh orang bagi toa-tauke walaupun hanya mempergunakan tangan sebelah!”

Thi-hou tertawa dingin.

“Membunuh manusia macam apa? Membunuh manusia yang lebih tak berguna daripada dirimu?”

Dari sakunya dia ambil keluar setumpuk uang kertas, lalu tanpa dihitung lagi diangsurkan ke hadapan A-yong, katanya: “Cepat atau lambat uang ini pasti kau butuhkan, baik-baiklah kau simpan dan tak usah digunakan terlalu royal”

Selesai mengucapkan kata-kata itu, tanpa berpaling lagi ia keluar dari ruangan tersebut.

Ketika Tiok Yap-cing masuk ke ruangan, uang kertas itu masih tergeletak di atas pembaringan.

A-yong masih memandang tumpukan uang kertas itu dengan mata mendelong dan wajah termangu.

“Aku datang khusus untuk menengok keadaan penyakitmu”, kata Tiok Yap-cing dengan lembut, “secara kebetulan juga kudengar pembicaraan kalian”

“Kau telah mendengarnya? Itu memang lebih baik!”

“Bagaimanapun juga ia memang masih cukup baik sikapnya kepadamu……”, Tiok Yap-cing menambahkan.

“Ya, ia memang bersikap baik kepadaku, bahkan baik sekali, maka dia suruh aku menyimpan baik-baik tumpukan uangnya itu”

Tiba-tiba ia tertawa tergelak: “Haaaahhhhh……haaaahhhhh…..haahhhh……disimpan untuk apa? Memangnya aku akan pergunakan sedikit uang busuknya itu untuk berdagang kecil-kecilan? Atau membuka sebuah kedai kecil penjual daging sapi?”

Seperti orang gila ia tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba disambarnya uang di pembaringan itu dan dibantingnya keras-keras di atas tanah.

Kemudian ia menjatuhkan diri ke atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.

Tiok Yap-cing cukup memahami perasaannya ketika itu, ia membiarkannya menangis sekian lama, kemudian baru berbisik dengan lembut:

“kau tak usah kuatir, baik-baiklah merawat lukamu, apapun yang bakal terjadi, aku pasti akan carikan akal bagimu untuk menghadapinya”

Toa-tauke memejamkan matanya, ia menerima semangkuk kuah jinsom dari sebuah tangan yang hangat, halus dan lembut.

Pelan-pelan ia menghirup kuah tersebut dua tegukan, lalu bertanya: “Di mana Ki-ling?”

“Sudah pergi ke tempat tinggalnya Yap-sianseng!”

“Apakah Yap sianseng telah melakukan……?”

“Ya, mereka telah mengadakan hubungan satu kali!”

Toa-tauke tersenyum.

Ia percaya Tiok Yap-cing tak akan berani membangkang perintahnya, perintah apapun yang diturunkan Toa-tauke kepada seseorang, belum pernah ada yang berani membangkangnya.

Maka Toa-tauke kembali bertanya: “Di mana Thi-hou?”

“Ia sedang keluar!”

“Tidak bilang mau kemana?”

“Katanya dia akan menengok A-yong, tapi sekarang mungkin ia sedang menuju ke gedungnya Han toa-nay-nay!”

Toa tauke mengerutkan dahinya, tapi dengan cepat ia mengerti maksud dan tujuannya melakukan tindakan tersebut.

Tentu saja ia bukan pergi mencari perempuan.

……..Ketika A-kit muncul dalam kota untuk pertama kalinya, ia muncul di gedung milik Han toa-nay-nay. Untuk menyelidiki asal usul A-kit, tentu saja ia harus mencari Han toa-nay-nay, sebab paling tidak apa yang diketahuinya tentang A-kit akan jauh lebih banyak bila dibandingkan orang lain.

Ia biasa berpikir sampai ke situ, hal ini membuktikan bahwa persiapan yang dilakukan Thi-hou jauh lebih teliti dan sempurna dibandingkan sebelumnya.

Maka tertawa toa-tauke pun jauh lebih cerah, jauh lebih riang……….

Sekarang setiap persoalan telah berada di bawah pengaruhnya, setiap orang telah berada dalam cengkeramannya.

Perduli siapapun yang berani mengganggunya, perduli siapapun berani membohonginya, jangan harap mereka dapat lolos dari hukumannya.

Hukuman yang ia jatuhkan selamanya adil, tapi cukup mengerikan.

Thi-hou duduk di hadapan Han toa-nay-nay sambil menatap matanya tajam-tajam, ketika ia merasa bahwa sinar mabuk yang terpancar keluar dari matanya sudah jauh berkurang, pelan-pelan ia baru berkata: “Kau seharusnya tahu kenapa aku datang kemari?”

Han toa-nay-nay memicingkan sepasang matanya sehingga tinggal satu garis, sahutnya:

“Aku tahu tugas yang kau kerjakan kali ini cukup payah, kebetulan saja aku menerima kiriman barang baru diantaranya ada seorang masih asli dan orisinil!”

“Aku bukan datang untuk mencari perempuan!”

“Oh, jangan-jangan selera Hou-toaya belakangan ini sudah mengalami perubahan dan kau ingin mencari orang lelaki untuk mencicipinya!”

Paras muka Thi-hou berubah membesi, katanya dengan dingin:

“Jika kau masih mabuk, aku mempunyai cara untuk membuatmu menjadi sadar kembali!”

Senyuman yang menghiasi ujung bibir Han toa-nay-nay segera berubah membeku.

“Sekarang apakah kau sudah sadar kembali?”, tegur Thi-hou kemudian.

“Ya!”

“Sekarang tentunya sudah kau ketahui siapakah yang sedang kucari?”

“Orang yang sedang kau cari pastilah A-kit, A-kit yang tak berguna!”

“Konon ia pernah bekerja di sini dan keluar dari tempat ini………..!”

“Ya, ia memang pernah mengendon beberapa waktu di tempatku ini!”

“Ia datang darimana?”

“Siapapun tidak ada yang tahu dari mana dia berasal, ketika sampai di sini ia sudah mabuk hebat, ia mabuk sampai beberapa hari lamanya dan dalam keadaan tidak sadar”

Thi-hou menatapnya tajam, menatap hingga ia merasa bahwa perempuan itu bukan lagi berbohong, pertanyaan baru dilanjutkan: “Secara bagaimana kau telah menerimanya bekerja di sini?”

“Aku menerimanya lantaran ia tak punya uang untuk membayar rekening, dan lagi kelihatannya ia cukup mengibakan hati orang!”

“Ditambah lagi ia masih muda, tampangnya cakep lagi!”, sambung Thi-hou menyindir.

Agak merah jengah selembar wajah Han-toa-nay-nay, serunya dengan cepat: “Sekalipun dia tampan, tapi aku sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya”

“Ya, tentu saja tiada hubungan sebab ia sama sekali tidak tertarik kepadamu!”

Han toa-nay-nay menghela napas panjang.

“Aaaai……jangankan aku, perempuan yang lebih cantik dan bahenolpun tidak merangsang gairahnya, ia sepertinya tidak tertarik sama sekali oleh perempuan macam apapun”

“Selama berada di sini pekerjaan agak istimewa apakah yang pernah ia lakukan?”, kembali Thi-hou bertanya.

Setiap pertanyaan ia ajukan dengan amat cepat, ini menunjukkan bahwa sebelumnya semua pertanyaan tersebut telah disusun olehnya secara cermat dan teliti.

Namun Han-toa-nay-nay mau tidak mau harus memikirkan dahulu sebelum menjawab, karena ia tahu hanya sepatah kata saja salah berbicara maka akibatnya akan mempengaruhi selembar jiwanya sendiri.

“Sesungguhnya ia tidak melakukan suatu pekerjaan istimewa selama berada di sini”, demikian jawabnya kemudian, “apa yang dilakukan tidak lebih hanya mencucikan mangkuk buat kami, mengambilkan air teh…….”

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu pekerjaan yang agak istimewa, segera tambahnya: “Iapun telah mewakiliku untuk menerima beberapa kali tusukan pisau!”

“Siapa yang melakukan tusukan tersebut?”

“Agaknya saudara cilik dari si kusir kereta!”

“A-kit telah membunuh mereka?”

“Tidak, ia sama sekali tidak melancarkan serangan balasan”

Tiba-tiba kelopak mata Thi-hou menyusut menjadi kecil sekali, serunya tertahan: “Masa ia hanya berdiri belaka sambil menerima tusukan-tusukan pisau setan cilik itu?”

“Ya, jangankan membalas, bergerak sedikitpun tidak!”

Biji mata Thi-hou mulai melompat.

Di kala biji matanya sedang melompat, bukan berarti dia hendak membunuh manusia, kadangkala hal ini merupakan pertanda jelek bagi dirinya sendiri.

Ia dibesarkan dari lingkungan yang miskin dan serba kekurangan, semenjak kecil ia sudah berkeliaran di antara kaum berandal dan pencoleng-pencoleng kota, tentu saja ia pernah merasakan tusukan pisau orang.

Sebelum ia merasakan tusukan yang pertama, biji matanya telah melompat pula seperti kali ini.

Karena waktu itu dia telah berani menantang lotoa yang berkuasa di wilayah tersebut, ia tahu bahwa dirinya akan berhadapan dengan seorang musuh tangguh yang sangat menakutkan.

Kini lompatan biji matanya hampir sama seperti lompatan yang pernah dirasakan ketika itu.

…….Sebenarnya manusia macam apakah yang akan dihadapinya kali ini?

…….Dia adalah seorang jago tangguh yang sanggup mengetuk hancur telapak tangan baja A-yong dengan ketiga buah jari tangannya, tapi mengapa dia hanya berdiri di sana saja untuk menerima tusukan-tusukan pisau dari setan-setan cilik itu?

…….Kenapa ia harus merasakan penderitaan, penghinaan serta rasa malu yang sesungguhnya tak usah ia rasakan?

Han toa-nay-nay masih juga menghela napas kembali ujarnya: “Waktu itu mimpipun kami tidak menyangka bahwa dia adalah seorang manusia macam begini!”

“Menurut pendapatmu, manusia macam apakah dia?”

“Sepintas lalu ia seperti seorang manusia yang benar-benar tak berguna, bagaimanapun kau aniaya dan cemooh dirinya, ia seperti tak ambil perduli, iapun tak mau tahu berapa besar penderitaan dan penghinaan yang bakal dihadapinya, pokoknya ia menerima semua yang menimpa dirinya dengan rela dan pasrah”

“Sebenarnya ia boleh saja tak usah menerima penderitaan dan siksaan seperti ini!”

“Ya, akupun mendengar bahwa semalam ia berhasil membinasakan Thi-tau toa-ya!”

“Menurut pendapatmu, apa sebabnya ketika itu dia rela menerima tusukan orang tanpa melancarkan serangan balasan?”

Han-toa-nay-nay termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya: “Mungkin pada waktu itu dia masih tak ingin membiarkan orang lain tahu bahwa ia pandai bersilat, diapun tak ingin membiarkan orang lain mengetahui pengalamannya di masa lampau”

Setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya: “Mungkin saja di masa lampau dia pernah melakukan suatu perbuatan yang memalukan dan tak ingin diketahui orang lain”

“Tidak benar!”, kata Thi-hou.

“Tidak benar?”

“Ia berdiri di sana tanpa bergerak sambil mewakilimu menerima beberapa tusukan pisau, coba bayangkan kebaikan apa yang berhasil ia dapatkan dari perbuatannya itu?”

“Sama sekali tak ada kebaikan apa-apa!”, sahut Han-toa-nay-nay dengan cepat.

“Ya, memang tak ada manfaat apa-apa, sebab sekalipun ia tidak mewakilimu untuk menerima tusukan-tusukan tersebut, kau masih tetap bersikap baik kepadanya!”

“Bagaimanapun aku bersikap kepadanya, ia sama sekali tak ambil perduli…….!”

“Sekarang lantaran Biau-cu kakak beradik ia bersedia adu jiwa dengan toa-tauke, coba pikirkan manfaat apa yang berhasil diperolehnya?”

“Lebih-lebih tak ada lagi!”

“Manusia semacam ini, mungkinkah ia bisa melakukan perbuatan memalukan yang tak ingin diketahui orang lain?”

Han toa-nay-nay tidak berbicara lagi, sebab ia sudah tahu bahwa dugaannya keliru besar.

“Ia bisa berbuat demikian pasti lantaran pernah mendapat pukulan batin yang cukup berat, pukulan batin tersebut membuat pandangannya terhadap segala persoalan menjadi berubah, ia menjadi putus asa dan kecewa, sehingga dengan hati rela menerima semua penderitaan, semua penghinaan serta cemoohan yang dilimpahkan atas dirinya, diapun pasti berbuat demikian lantaran keluarganya atau namanya terlampau termasyhur, sekarang lantaran ia telah berubah menjadi begini, maka ia tak akan membiarkan orang lain mengetahui masa silamnya”

Perkataan tersebut bukan ia ucapkan untuk di dengar Han-toa-nay-nay, sebaliknya tak lain sedang memberi keterangan dan analisa pada diri sendiri tentang manusia yang bernama A-kit.

Kendati begitu Han-toa-nay-nay telah mendengar semua perkataan itu dengan jelas.

Ia selalu menganggap Thi-hou sebagai seorang manusia yang garang, ganas dan berangasan, belum pernah ia jumpai sikapnya setenang hari ini, lebih-lebih tak disangka olehnya kalau ia dapat berpikir secermat dan seteliti sekarang ini.

Sudah banyak tahun ia kenal dengan manusia yang bernama Thi-hou ini, tapi hingga sekarang dia baru merasakan bahwa dia masih mempunyai raut wajah lain.

Kebengisan serta keberangasannya mungkin hanya sejenis tameng, sejenis pelindung yang melindungi watak serta karakter yang sebenarnya, agar orang lain tak dapat mengetahui kecerdasan dan kenekatannya dalam menghadapi setiap persoalan agar orang lain tidak berjaga-jaga terhadap dirinya.

Menyaksikan wajahnya yang tenang serta sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu, tiba-tiba Han toa-nay-nay merasakan suatu kengerian dan keseraman yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Bahkan secara diam-diam ia mulai merasakan kuatir bagi keselamatan jiwa manusia yang bernama A-kit.

Terlepas manusia macam apakah A-kit itu, tapi yang pasti musuh tangguh yang dihadapinya sekarang jelas jauh lebih menakutkan daripada apa yang diduganya semula.

Pertarungan yang bakal berlangsung kali ini mungkin saja merupakan pertarungannya yang terakhir, semua kejayaan, kecemerlangan serta nama besar yang pernah diperolehnya dulu kemungkinan akan segera terkubur untuk selamanya di dalam tanah.

……..Mungkin itulah akibat dari harapan yang selalu mencekam perasaannya selama ini.

……..Orang yang mati di sini tidak lebih hanya A-kit yang tak berguna, nama baik serta kejayaannya di tempat kejauhan masih tetap utuh dan bertahan untuk selamanya.

Han toa-nay-nay menghela napas dalam hatinya, ketika ia menengadah kembali tampak Thi-hou dengan sepasang matanya yang lebih tajam dari sembilu sedang mengawasinya lekat-lekat.

Tiba-tiba Thi-hou berkata: “Padahal kau tak perlu menguatirkan keselamatan jiwanya!”

“Aku……….”

“Begitu turun tangan ia berhasil membinasakan Thi-tau, menghancurkan tangan Thi-ciang, bahkan kepandaian apakah yang dipergunakan juga tidak diketahui orang, ini membuktikan bahwa kepandaian silatnya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan. Setelah aku pikir pulang pergi akhirnya kurasakan bahwa orang yang berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai tingkatan seperti ini tak lebih dari lima orang dan diantara ke lima orang ini, hanya satu orang yang mempunyai usia semuda dia!”

“Siapakah orang itu?”, tanya Han toa-nay-nay tanpa terasa.

“Sebenarnya orang itu sudah mati, tapi aku selalu menganggap dia tak akan mati secepat itu!”

“Kau anggap A-kit adalah orang itu?”

Pelan-pelan Thi-hou mengangguk.

“Seandainya A-kit benar-benar adalah orang itu, dalam pertarungan tersebut akulah yang bakal mati!”

Han toa-nay-nay menghembuskan napas lega dalam hatinya, meski perasaan tersebut tak sampai diperlihatkan pada wajahnya.

Ia adalah seorang perempuan yang cukup berpengalaman, tentu saja ia mengerti pada saat apakah dan cara bagaimanakah dia harus menyatakan kuatir serta simpatiknya kepada orang lain.

Pelan-pelan ia menggenggam tangan Thi-hou, lalu katanya dengan lembut: “Kalau sudah tahu demikian, kenapa kau musti menjual nyawamu demi kepentingan orang lain? Kenapa kau harus pergi mencarinya?”

Thi-hou menundukkan kepalanya memandang tangan Han-toa-nay-nay yang gemuk dan penuh gajih itu, lalu sahutnya lirih: “Aku belum tentu harus pergi ke situ!”

Kali ini Han toa-nay-nay benar-benar dapat menghembuskan napas lega.

Kedengaran Thi-hou berkata lebih jauh: “Meskipun aku tidak pergi, tapi ada seseorang lain yang harus pergi ke sana”

“Siapakah orang itu?”

“Kau!”

Han toa-nay-nay kelihatan amat terkejut.

“Kau suruh aku pergi mencari A-kit?”

“Ya, kau harus membawanya menjumpaiku!”

Han toa-nay-nay ingin tertawa paksa, tapi ia tak mampu tertawa.

“Darimana aku bisa tahu saat ini dia berada di mana?”, katanya dengan jantung berdebar keras.

Seperti mata elang Thi-hou menatapnya dengan dingin dan menyeramkan, sejenak kemudian baru ujarnya lagi:

“Kau pasti mengetahuinya, sebab pada saat ini hanya ada satu tempat yang bisa ia datangi!”

“Tempat manakah itu?”

“Di sini!”

“Kenapa dia pasti dapat datang ke mari?”

“Karena ia telah berjanji dengan toa-tauke bahwa malam ini akan berjumpa di tempat ini, tentu saja dia akan datang lebih dulu ke mari untuk melihat keadaan di sini, dia harus tahu perangkap dan jebakan apakah yang telah disiapkan toa-tauke di sini!”

Menyusul kemudian kembali ujarnya: “Dalam kota ini hanya tempat ini merupakan tempat yang paling dikenal olehnya, aku lihat setiap orangpun menaruh kesan yang cukup baik kepadanya, ia bisa mencari sembarangan tempat untuk menyembunyikan diri, orangnya toa-tauke pasti tak akan menemukannya, sebab kalau aku, mungkin saja akupun dapat berbuat demikian!”

Han-toa-nay-nay menghela napas panjang.

“Aaaaaiii…..sayang dia bukan Hou-toaya, ia tidak secermat dan seteliti Hou-toaya, jadi belum tentu dia akan berbuat demikian!”

Thi-hou tertawa dingin.

“Hou toaya, jika kau tidak percaya, silahkan mengadakan penggeledahan sendiri di seluruh gedungku ini”, kata Han toa-nay-nay.

Ia tertawa paksa, lalu terusnya: “Bukankah Hou-toaya juga hapal sekali dengan gedung ini?”

Thi-hou menatapnya tajam-tajam, selang sesaat kemudian tegurnya: “Ia benar-benar tidak datang kemari?”

“Seandainya ia telah datang, masa aku tidak tahu?”

Sekali lagi Thi-hou menatapnya lama sekali, tiba-tiba ia bangkit berdiri, lalu dengan langkah lebar berlalu dari situ.

Sang surya telah condong ke langit barat.

Han toa-nay-nay duduk seorang diri di situ sambil termangu-mangu, hingga ia merasa yakin kalau Thi-hou sudah jauh meninggalkan tempat itu. Pelan-pelan dia baru bangkit berdiri, menghela napas dan bergumam seorang diri: “A-kit wahai A-kit, sebenarnya siapakah kau? Masih belum cukupkah kesulitan yang kau cari buat dirimu sendiri? Kenapa kau masih mencarikan begini banyak kesulitan bagi orang lain?”

Di belakang dapur terdapat sebuah rumah kayu kecil dan bobrok, dalam rumah kayu itu hanya terdapat sebuah pembaringan, sebuah meja dan sebuah kursi.

Inilah rumah tinggal si koki yang bisu, meskipun kotor dan sempit, baginya sudah merupakan sebuah sorga-loka yang nyaman.

Setelah bekerja keras seharian penuh, di tempat inilah mereka akan berbaring dengan tenang dan tenteram serta melakukan pekerjaan yang mereka inginkan.

Di atas pembaringan itulah mereka telah lewatkan masa penghidupan yang paling manis, paling indah dan paling syahdu.

Sekalipun suaminya jelek dan kasar, sekalipun istrinya ceking dan kecil, akan tetapi mereka dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan bagi lawan jenisnya, sebab mereka tahu hanya dengan berbuat demikianlah mereka baru dapat meraih kebahagiaan yang didambakan.

Apa yang mereka miliki akan mereka nikmati pula sepuas mungkin. Terhadap penghidupan mereka yang serba pas-pasan dan sederhana, merekapun merasa sangat puas.

Sekarang mereka suami isteri berdua duduk di atas pembaringan mereka, sepasang tangannya yang berada di atas meja saling menggenggam dengan kencangnya.

Memandang kemesraan mereka berdua, A-kit menghela napas panjang dalam hatinya, ……….kenapa aku selalu tak dapat merasakan penghidupan yang tenang dan penuh kedamaian seperti yang mereka alami?

Di atas meja tersedia tiga piring hidangan kecil, di situpun tersedia poci berisi arak.

Ketika si bisu menuding poci arak, istrinya lantas menjelaskan: “Arak itu bukan arak baik, tapi benar-benar arak asli, si bisu tahu kalau kau paling suka minum arak!”

A-kit tidak berbicara.

Tenggorokannya seakan-akan telah tersumbat, dia tahu penghidupan yang mereka lewatkan sudah cukup payah dan menderita untuk memperoleh dua poci arak ini, mungkin mereka harus mengorbankan satu stel mantel dingin yang dimilikinya.

Ia sangat berterima kasih atas maksud baik mereka terhadapnya, tapi hari ini ia tak boleh minum arak, setetes arakpun tak boleh membasahi bibirnya.

Ia cukup memahami keadaan sendiri, asal ia mulai minum arak maka tak akan berhenti sebelum ia benar-benar mabuk.

Jika ia mabuk hari ini, maka jiwanya pasti akan melayang di tangan toa-tauke dan ia tak akan lolos dari cengkeramannya dalam keadaan hidup.

Si bisu mengernyitkan alis matanya dan sang istripun menjelaskan: “Kenapa kau tidak minum? Meskipun arak kami bukan arak berkwalitet baik, paling tidak bukan kami peroleh dengan jalan mencuri!”

Bentuk tubuhnya persis seperti sebuah gurdi, apalagi sewaktu berbicara, tajamnya melebihi sebuah gurdi.

A-kit tidak menjadi marah atau tak senang hati, karena di tahu perempuan itu seperti pula suaminya mempunyai sebuah hati yang hangat dan penuh kasih sayang.

Iapun tahu dalam menghadapi manusia macam mereka, ada banyak persoalan yang selamanya tak mungkin dapat dijelaskan.

Oleh sebab itu, terpaksa dia harus minum arak itu.

Selamanya tak dapat menampik kebaikan orang apalagi orang itu adalah manusia macam si bisu.

Menyaksikan ia mengeringkan secawan arak, si bisupun tertawa, cepat ia penuhi kembali cawannya yang kosong itu dengan arak, meskipun banyak perkataan hendak diucapkan keluar, dari tenggorokannya hanya bisa mengeluarkan suara parau yang panjang pendek tak menentu.

Untunglah ia mempunyai seorang isteri yang telah lama mendampinginya, ia dapat memahami perasaan hati suaminya waktu itu.

Maka dengan suara lirih ia menjelaskan: “Si bisu ingin memberitahukan kepadamu, bahwa kau bersedia minum araknya berarti kau telah menghargainya, ia telah menganggapmu sebagai sahabat yang paling karib, saudara yang paling baik!”

Ketika A-kit mendongakkan kepalanya, ia dapat merasakan sorot mata si bisu yang penuh dengan perasaan persahabatan serta keakraban yang hangat.

Ya, dalam keadaan ini mana mungkin arak tersebut tidak ia teguk sampai habis?

Si bisu sendiripun meneguk satu cawan arak, lalu menghela napas dengan puas. Baginya minum arak sudah merupakan suatu perbuatan yang amat sulit untuk tercapai, seperti juga ia begitu mendambakan suatu persahabatan yang akrab dan hangat.

Ia suka minum arak, tapi sangat jarang ada arak yang bisa diminum, ia suka berteman tapi belum pernah ada orang yang bersedia menganggapnya sebagai teman.

Sekarang kedua-duanya telah ia dapatkan, terhadap kehidupan manusia, ia tidak mempunyai keinginan yang lain lagi, dia hanya merasa puas dan amat berterima kasih.

Ya, ia berterima kasih kepada Thian karena telah memenuhi segala sesuatu yang diinginkan.

Menyaksikan mimik wajahnya itu, A-kit merasa tenggorokannya seakan-akan kembali tersumbat. Sumbatan tersebut hanya bisa disingkirkan dengan minum arak sebanyaknya, maka sudah banyak arak yang berpindah ke dalam perutnya.

Dalam keadaan beginilah tiba-tiba Han toa-nay-nay menerobos masuk ke dalam, dengan terkejut dan mata terbelalak ditatapnya cawan kosong di tangannya itu, kemudian tegurnya: “Hei, kau lagi-lagi sedang minum arak?”

“Hanya minum sedikit!”, jawab A-kit.

“Kau sendiri juga tahu bahwa pada hari ini tidak sepantasnya kau minum arak, kenapa kau minum arak juga?”

“Karena si bisu adalah sahabatku!”

Han toa-nay-nay menghela napas panjang.

“Teman, teman, berapa tahilkah harganya seorang teman? Apakah ia jauh lebih berharga daripada selembar jiwamu sendiri?”

A-kit tidak menjawab, diapun tidak perlu menjawab.

Siapapun jua pasti dapat mengetahui, bahwa ia memandang suatu persahabatan jauh lebih berharga daripada selembar nyawa sendiri.

…….Nyawa sebenarnya hanya sesuatu yang kosong, sekalipun kekosongan tersebut dapat diisi dengan pelbagai persoalan yang berharga, tapi kalau di antaranya kekurangan suatu persahabatan, maka berapa banyak lagi yang masih tersisa?

Han toa-nay-nay sendiripun seorang peminum arak, ia cukup memahami bagaimanakah perasaan dari seorang setan arak yang mulai minum arak lagi setelah berpantang banyak waktu?

Dalam suasana menjelang pertarungannya melawan manusia macam toa-tauke dan manusia macam Thi-hou, keadaan semacam itu justru akan menghancurkan semangat dan tenaga seseorang.

Tiba-tiba Han toa-nay-nay mengulurkan tangannya dan menyambar poci arak di meja, diteguknya hingga habis sisa arak yang masih tertinggal dalam poci tersebut.

Arak berkwalitet rendah biasanya merupakan arak keras, sinar matanya segera menunjukkan tanda-tanda mabuk, sambil melotot ke arah A-kit segera tegurnya:

“Tahukah kau barusan ada manusia macam apa yang datang mencari jejakmu…….?”

“Thi-hou maksudmu?”

“Tahukah kau manusia macam apakah itu?”

“Seorang manusia yang sangat lihay!”

Han toa-nay-nay segera tertawa dingin.

“Heeehhh…….heeeeehhh…..heeeeehhh….bukan cuma lihay, bahkan jauh lebih lihay daripada apa yang kau bayangkan semula!”

“Oya?”

“Bukan saja dia mengetahui bahwa kau pasti berada di sini, lagi pula diapun bisa menduga siapakah kau?”

“Siapakah kau?”

“Seorang yang sebenarnya sudah mati!”

Paras muka A-kit sedikitpun tidak berubah, hanya ujarnya dengan kecewa: “Tapi sekarang aku toh masih hidup!”

“Diapun tidak percaya kalau kau telah mati, tapi aku percaya!”

Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang dia lantas berteriak kembali: “Aku percaya, dia pasti dapat membuat kau mati sekali lagi!”

“Kalau aku adalah seorang yang seharusnya sudah mati, apa salahnya kalau mati sekali lagi?”

Han toa-nay-nay tidak dapat berbicara lagi.

Terhadap manusia semacam ini, dia benar-benar merasa kehabisan akal dan daya, terpaksa ujarnya setelah menghela napas panjang.

“Padahal Thi-hou sendiripun mengakui, seandainya kau benar-benar adalah orang itu, maka dia sendiripun bukan tandinganmu, tapi kau……mengapa kau justru menghancurkan dirimu sendiri? Kenapa kau justru minum arak dalam keadaan seperti ini?”

Makin berbicara kobaran hawa amarah dalam dadanya makin memuncak, dibantingkan poci arak itu ke atas tanah keras-keras, kemudian makinya kalang kabut: “Apalagi arak yang diminum adalah arak kwalitet rendah semacam Sau-to-cu yang bisa membuat nyawapun ikut terminum ludas!”

Paras muka A-kit masih tetap dingin tanpa emosi, ia hanya mengucapkan dua patah kata:

“Keluar kau!”

“Apa? Kau tahu aku adalah manusia macam apa di sini? Kau suruh aku keluar dari sini?”, teriak Han toa-nay-nay sambil mencak-mencak kegusaran.

“Aku tidak ambil perduli siapakah kau dan apa jabatanmu di sini, aku hanya tahu tempat ini adalah rumah temanku, entah siapapun yang berani berteriak dan berkaok-kaok dalam rumah sahabatku, aku pasti akan mempersilahkannya keluar dari sini”

“Tahukah kau siapa yang telah memberikan rumah ini kepadanya?”

Pelan-pelan A-kit bangkit berdiri, sambil memandang wajahnya lekat-lekat dia berseru: “Aku hanya tahu aku minta kepadamu untuk keluar dari sini, lebih baik kau segera ke luar dari tempat ini!”

Dengan terperanjat Han toa-nay-nay memandang ke arahnya, lalu selangkah demi selangkah mundur ke belakang.

Dalam sekejap mata itulah dia baru merasakan bahwa A-kit yang tak berguna ini seakan-akan telah berubah menjadi seseorang yang lain, berubah menjadi begitu sadis begitu kejam dan tidak berperasaan.

Setiap perkataan yang ia ucapkan kini telah berubah menjadi perintah, entah siapapun juga orang itu, mereka tak akan berani membangkang perintahnya itu.

Karena pada saat itu, siapapun juga akan merasakan bahwa barang siapa berani membangkang perintahnya, maka dia akan segera merasa menyesal.

Seseorang tak nanti akan mengalami perubahan sedemikian cepatnya, hanya seseorang yang sudah lama terbiasa memberi perintah kepada orang lain yang bisa memiliki kewibawaan sebesar ini.

Hingga mundur sampai di pintu luar, Han toa-nay-nay baru berani mengucapkan kata-kata seperti apa yang ingin dia katakan: “Kau pasti orang itu, kau pasti adalah orang itu!”

“Bukan!”, seseorang menyambung ucapannya secara tiba-tiba dari belakang tubuhnya.

Ketika Han toa-nay-nay memutar tubuhnya, ia telah menyaksikan Thi-hou si harimau baja telah berdiri di situ.

Wajahnya sekaku batu karang yang terkikis oleh hembusan angin, begitu kasar, begitu seram dan begitu mantap.

Wajah Han-toa-nay-nay mulai berkerut dan gemetar keras lantaran ngeri dan takut, bisiknya tergagap:

“Kau……kau bilang dia……..dia bukan?”

“Terlepas siapakah dia dahulunya, sekarang ia telah berubah, sekarang ia telah berubah menjadi seorang setan arak yang sama sekali tak ada gunanya!”

“Dia bukan setan arak, jelas dia bukan setan arak!”, bantah Han-toa-nay-nay.

“Perduli siapakah dia, hanya manusia pengecut, hanya setan arak saja yang berani minum arak menjelang berlangsungnya suatu duel!”

“Tapi akupun tahu bahwa dalam dunia persilatan terdapat tidak sedikit pendekar arak, dia harus minum sampai mabuk lebih dahulu sebelum kepandaian saktinya dapat dipergunakan!”

Thi-hou tertawa dingin.

“Cerita-cerita tentang pendekar arak hanya bisa dipakai untuk membohongi anak kecil!”

“Tapi setiap kali aku sudah minum arak, tanpa terasa nyaliku menjadi bertambah besar!”, bantah Han toa-nay-nay lagi.

“Seorang lelaki yang sejati, tidak akan mempergunakan arak untuk membesarkan nyalinya”

“Setelah minum arak, tenagaku pun terasa bertambah lebih besar dan kuat……..”

“Pertarungan antara dua orang jago lihay, bukan tenaga yang dipertarungkan”

Han toa-nay-nay bukannya seorang perempuan yang tak pernah bergaul dengan masyarakat luas, tentu saja diapun memahami ucapan tersebut.

Sesungguhnya ia sengaja mengajak Thi-hou mengobrol dengan tujuan agar membuyarkan perhatian orang itu serta menciptakan kesempatan baik A-kit.

Entah mau kabur, atau hendak turun tangan, ia dapat membantu A-kit untuk menciptakan kesempatan baik itu.

Akan tetapi A-kit sama sekali tidak berkutik, bergeserpun tidak.

Kembali si harimau baja berkata: “Arak dapat membuat reaksi seseorang menjadi lambat, membuat dugaannya menjadi keliru, dalam pertarungan antara sesama jago lihay, hanya sedikit kesalahan yang dilakukan akan mengakibatkan suatu kegagalan total”

Kata-kata semacam itu sudah tidak ditujukan lagi kepada Han toa-nay-nay, sepasang matanya yang tajam telah menatap wajah A-kit tanpa berkedip, kemudian sepatah demi sepatah kata, dia melanjutkan: “Kalau ada dua orang jago lihay sedang bertarung, bila kalah dalam satu gerakan saja, maka akibatnya adalah kematian yang mengerikan!”

Paras muka A-kit sama sekali tidak memperlihatkan perubahan emosi, hanya tanyanya dengan suara ewa:

“Kau adalah seorang jago lihay?”

“Kalau toh aku sudah mengetahui siapakah kau, seharusnya kau juga telah mengetahui siapakah aku!”

“Aku hanya tahu kau adalah orang yang mengundang aku makan bakmi daging sapi, sayang kau tidak memberi uang untuk membayar rekening tersebut, jadi rekening itu akhirnya aku bayar sendiri”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya lagi dengan suara tawar: “Walaupun aku bukan seorang jago lihay, tapi aku tak pernah makan makanan orang tanpa membayar!”

Thi-hou menatapnya lekat-lekat, sekujur tubuhnya terutama setiap bagian tulang persendiannya tiba-tiba memperdengarkan suara letupan-letupan nyaring bagaikan berondong mercon.

Itulah ilmu tenaga gwakang yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang paling tinggi, orang menyebutnya sebagai ilmu It-cuan-pian (serenteng mercon).

Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya dua orang yang berhasil melatih ilmunya hingga mencapai ke tingkatan setinggi ini.

Mereka adalah Hong-im-lui-hou (Harimau geledek penimbul badai) Lui Ceng-thian, yang belum pernah menjumpai tandingannya selama hidup dan selama ini berkeliaran di wilayah Liau-pak, serta Giok-pah-ong (Raja bengis kemala) Pek Im-shia, seorang pentolan kaum Liok-lim yang selama dua puluh tahun menguasai bukit Ci-lian-san.

Sejak berhasil menguasai sebagian besar dunia persilatan, Giok-pah-ong pun mengundurkan diri dari keramaian dunia, jejaknya sudah jarang sekali ditemukan dalam dunia persilatan.

Jejak si Harimau geledek penimbul badai pada hakekatnya memang misterius dan jarang ditemui orang, apalagi belakangan ini bahkan kabar beritanyapun tak kedengaran lagi.

Ada orang yang mengatakan bahwa dia telah tewas di ujung pedang seorang jago pedang kenamaan, tapi ada pula orang yang mengatakan bahwa ia telah mati bersama si jago pedang itu.

Konon menurut cerita yang tersiar di dalam dunia persilatan, jago pedang yang dimaksudkan itu tak lain adalah Yan Cap-sa, si jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit.

Bahkan ada pula orang yang berkata bahwa Lui Ceng-thian telah menggabungkan diri dengan suatu organisasi rahasia dalam dunia persilatan, ia telah menjadi salah seorang pentolan di antara delapan pentolan yang memimpin organisasi rahasia tersebut.

Menurut cerita, organisasi rahasia itu jauh lebih rahasia lagi bila dibandingkan dengan perkumpulan Cing-liong-hwee (naga hijau) yang termasyhur di masa lampau, bahkan kekuasaannya jauh lebih besar dan luas……..

Setelah berkumandangnya serentetan bunyi mercon tadi, tubuh Thi-hou yang tinggi besar seakan-akan berubah lebih besar dan mengerikan.

Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang sambil membentak keras: “Masihkah kau tidak tahu siapa aku ini?”

A-kit menghela napas panjang.

“Aaaaiiii……hanya satu hal yang masih belum kupahami!”, sahutnya.

“Dalam hal yang mana?”

“Seharusnya kau tewas di ujung pedang Yan Cap-sa, kenapa sekarang kau malah menjadi kaki-tangannya orang lain?”

Thi-hou menatapnya tajam-tajam, mendadak diapun menghela napas panjang.

“Aaaaiiiii…….ternyata memang kau, ternyata memang benar-benar kau, aku tak salah lagi!”

“Kau mempunyai keyakinan?”

“Kecuali kau, siapakah manusia di dunia ini yang begitu berani bersikap kurang ajar kepada aku Lui Ceng-thian?”

“Apakah toa-tauke mu juga tidak berani?”

Thi-hou tidak menjawab, kembali katanya: “Hampir selama tujuh tahun terakhir ini, setiap waktu setiap saat aku selalu mengharapkan bisa memperoleh kesempatan baik untuk berduel denganmu, tapi justru kau juga orang yang paling tidak ingin kutemui, karena aku sama sekali tidak mempunyai keyakinan untuk bisa menangkan dirimu…….”

“Pada hakekatnya kau sama sekali tidak mempunyai kesempatan tersebut!”

“Tapi hari ini kesempatan baikku telah tiba, belakangan ini terlalu banyak arak yang kau minum, kesempatanmu untuk berlatih diri tentu jauh lebih berkurang”

A-kit tak dapat menyangkal kebenaran dari ucapannya itu.

“Sekalipun hari ini aku bakal mati di ujung pedangmu”, demikian Thi-hou melanjutkan, “itupun merupakan apa yang ku idamkan selama ini, jadi matipun tak akan menyesal, cuma saja………”

Tiba-tiba sinar matanya memancarkan hawa pembunuhan yang sangat mengerikan, terusnya: “Cuma dalam pertarungan kita hari ini, baik siapa akan menang dan siapa akan kalah, kita tak boleh membiarkan orang ke tiga yang mengetahui rahasia kita ini menyiarkan rahasia tersebut di luaran”

Paras muka A-kit berubah hebat.

Thi-hou telah memutar badannya secepat kilat sebuah kepalan segera di sodok ke depan, tubuh Han toa-nay-nay seketika itu juga mencelat jauh sekali dari tempat semula.

Ketika tubuhnya tergeletak di tanah, selamanya ia tak dapat menjual belikan tubuh dan masa remaja setiap perempuan di dunia ini lagi, diapun tak akan sanggup untuk membocorkan rahasia dari siapapun juga.

Paras muka A-kit berubah sepucat kertas, namun ia tidak mencegah perbuatannya itu.

Thi-hou menghembuskan napas panjang, tenaga baru kembali pulih, katanya kemudian: “Apakah dua orang yang berada dalam rumah ini adalah sahabatmu?”

“Benar!”

“Aku tidak ingin membinasakan temanmu, tapi dua orang itu bagaimanapun jua harus mati!”

“Kenapa?”

“Di kolong langit dewasa ini ada berapa orang yang mampu mengalahkan Lui Ceng-thian?”, tanya Thi-hou dingin.

“Tidak terlalu banyak”

“Bila kau berhasil menang, tentunya kaupun tidak ingin membiarkan orang lain membocorkan rahasia dari hasil pertarungan ini kepada orang lain, bukan?”

A-kit tak dapat menyangkal perkataan tersebut.

Asal tidak ada orang lain yang membocorkan rahasia mereka, andaikata ia menang, maka yang dikalahkan olehnya tidak lebih hanya seorang budak di bawah pimpinan Toa-tauke, sebaliknya jika dia yang kalah, maka yang mati tidak lebih hanya seorang A-kit yang tak berguna.

Bagaimana jika A-kit tetap hidup? Dan bagaimana pula jika ia mati?

“Mati hidup kita bukan persoalan”, kembali Thi-hou berkata, “tapi rahasia kita tak boleh sekali-kali sampai bocor dan diketahui orang lain”

A-kit membungkam dalam seribu bahasa, wajahnya berubah semakin pucat pasi.

“Kalau memang demikian, mengapa kau masih juga belum turun tangan sendiri?”, tegur Thi-hou.

A-kit termenung lama sekali, akhirnya pelan-pelan ia baru berkata:

“Aku tidak dapat pergi, sebab mereka semua adalah sahabat-sahabatku…….!”

Thi-hou menatapnya lekat-lekat, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaahhhh….. haaaahhhhh….. haaahhhhh…. teringat di kala kau malang melintang dalam dunia persilatan dengan sebilah pedangmu dan tidak menemui tandingan di mana-mana, nyawa siapakah yang pernah kau hargai seperti ini? Demi memperoleh kemenangan perbuatan apapun pernah kau lakukan, tapi sekarang kenapa kau tidak tega turun tangan terhadap dua orang manusia semacam itu?”

Kemudian sambil menengadah kembali ia tertawa tergelak.

“Haaaahhhhh……. .haaaaaahhh…… haaahhhh….aku tahu kau sendiripun pernah berkata, untuk menjadi seorang jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit, maka kau musti tidak berperasaan dan tidak kenal rasa kasihan, tapi sekarang…..? Heeehhhhh……. heeehhhhh…. heeeehhhh…. sekarang kau telah berubah, kau sudah bukan jago pedang yang tiada tandingannya di kolong langit lagi. Dalam pertarungan ini kau sudah pasti akan menderita kekalahan total!”

Tiba-tiba A-kit mengepal sepasang telapak tangannya kencang-kencang, kelopak matapun ikut menyurut.

“Padahal apakah kau hendak membunuh mereka atau tidak, aku sama sekali tidak ambil perduli, sebab asal aku berhasil mengalahkan dirimu, asal aku mampu membinasakan dirimu, apakah mereka bisa pergi dari cengkeramanku dengan begitu saja?”

Kali ini A-kit benar-benar terbungkam, dia benar-benar tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Setelah hening sejenak, Thi-hou si Harimau Baja, kembali berkata lebih jauh: “Sekalipun kau telah mengalami perubahan, tapi kau tetap masih hidup, di manakah pedangmu?”

A-kit tidak menjawab, pelan-pelan ia membungkukkan badan dan memungut sebatang ranting dari atas tanah.

“Itukah pedangmu?”, jengek Thi-hou setelah mengawasi beberapa kejap ranting kayu yang berada dalam genggaman A-kit itu.

A-kit tetap tenang, bahkan suaranya kedengaran agak hambar: “Aku telah banyak mengalami perubahan, demikian pula dengan pedangku, senjata itupun ikut mengalami banyak perubahan!”

“Bagus……..bagus sekali……..!”

Hanya kata-kata itu saja yang sanggup diucapkan, dalam keadaan demikian kecuali beberapa patah kata tadi, apalagi yang sanggup diutarakan keluar?

Tiba-tiba bunyi gemerutukan yang amat nyaring bagaikan bunyi serenteng mercon kembali berkumandang memecahkan kesunyian.

Sekali lagi dia telah menghimpun segenap tenaga dalam kekuatannya untuk bersiap-siap melancarkan serangan.

Tenaga dalam yang paling dia andalkan adalah tenaga gwakang yang telah dilatihnya hingga mencapai puncak kesempurnaan itu, suatu kepandaian sakti yang sukar ditemukan keduanya di dunia ini.

Dan orangnya memang tak lain adalah Lui Ceng-thian, si jago tangguh yang malang melintang dalam dunia persilatan selama ini tanpa berhasil ditemukan tandingannya.

Dalam hatinya penuh diliputi keyakinan serta percaya pada diri sendiri, dan tampaknya ia sudah mempunyai keyakinan serta persiapan yang cukup masak untuk menghadapi pertempuran kali ini.

Advertisements

6 Comments »

  1. ditunggu cersil bulim yang laen yakh

    Comment by 53rd@ — 15/12/2008 @ 1:36 am

  2. sambungannya mana nih,,,lagi seru2 baca kok tdk kelar yah?

    Comment by OKIE — 20/06/2009 @ 12:47 am

  3. Kalau ada waktu, saya lanjutkan. Doakan saja, Mas Okie

    Comment by ceritasilat — 28/06/2009 @ 6:31 am

  4. Saya udah nemu kelanjutan kisahnya, saya bisa ngirim filenya (doc/pdf/lit) biar bisa diupload di blog ini sehingga bisa dinikmati bersama…saya kirim ke mana?

    Comment by agustan — 27/01/2010 @ 3:50 pm

    • tolong kirim kelanjutan kisahnya ke: buat.pokerrr@yahoo.com

      Comment by Anonymous — 17/10/2011 @ 8:50 pm

      • Saya jua mau baca kelanjutannya dari jilid 10 sampai tamat. Mohon bantuannya untuk dapat mengirimkan ke email saya juga di iwa.keswara@gmail.com

        Terima kasih banyak.

        Comment by Iwa Keswara — 18/10/2012 @ 7:48 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: