Kumpulan Cerita Silat

09/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 12

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 11:12 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 12
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Sementara itu sambil berkata dengan manja, kepalanya sudah di letakkan dipangkuan Nyo Hun-cong. Panggilan yang tadinya ‘Taihiap’ kini pun sudah berubah menjadi Toako atau kakak, dengan setengah gusar dan setengah aleman dia mengucapkan kata-katanya tadi.

Tetapi Nyo Hun-cong menyahut dengan rasa sedih dalam hati, kemudian dengan perlahan ia bangunkan orang.

“Ming-hui, dendam ini tidak bisa dibalas lagi.” Katanya dengan rasa haru.

“Kenapa ?” tanya Ming-hui sambil menarik muka, lalu katanya lebih lanjut, “Oh, mengerti aku, Toako tentu telah mencintai perempuan setan dari padang rumput itu!”

Tiba-tiba Hun-cong memegang kencang kedua pundak orang, matanya menatap tajam.

“Ming-hui apa yang kita bicarakan ini adalah sungguh-sungguh.” Katanya dengan suara berat dan kereng, ” Coba katakan, manusia macam apakah Hui-ang-kin ini dalam pandanganmu ? Apakah ia adalah iblis perempuan ? apakah musuhmu ? Jika dia tidak melukaimu dengan jarum beracunnya, apakah kau juga benci padanya ?”

“Apakah karena ia bermusuhan dengan bangsamu ? Atau karena ayahmu sering menyebut dia setan, iblis dan menyuruhmu membenci dia, bukankah begitu ?” tanya Hun-cong lagi.

Sekaligus Hun-cong telah mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan itu, perasaannya penuh dengan kemengdongkolan tetapi juga terharu, ia menantikan jawaban si gadis.

Akan tetapi Nilan Ming-hui begitu molek, begitu cantik, Nyo Hun-cong yang berdiri disampingnya seperti merasa kehangatan, tetapi karena perkataan orang tadi yang seperti membawa bayangan gelap, membikin ia merasa dingin pula.

Pada waktu itu, hatinya telah ada satu keputusan, jika Ming-hui berdiri di pihak ayahnya dan membenci Hui-ang-kin, karena dia ini adalah pahlawan wanita dari padang rumput, maka gadis ini adalah musuhnya pula dan ia akan membunuhnya, atau sedikitnya tidak akan ia gubris lagi.

Justru keputusan yang tersebut belakangan itulah yang membuat ia terharu, sampai suaranya menjadi gemetar.

Di lain pihak, Nilan Ming-hui memandang Nyo Hun-cong dengan heran, ia tidak mengertahui apa yang terkandung dalam pikiran Nyo Hun-cong, ia hanya merasakan keadaan yang serius, ia paham perkataan Nyo Hun-cong sudah diluar persoalan asmara. Perkataannnya bukan lagi seperti perkataan kepada kekasih lagi, melainkan perkatannya seperti telah dipersembahkan bagi suatu perjuangan yang suci.

Jiwa Hui-ang-kin begitu juga, oleh karena itu persahabatan diantara mereka begitu erat dan tidak bisa putus.

Karena itulah Nilan Ming-hui merasakan kesedihan yang aneh.

“Dengarkanlah omonganku ini.” Katanya kemudiam dengan suara rendah, “Aku benci peperangan, kau juga pernah berkata demikian, bukan ? Ya, walaupun kita benci perang, tetapi justru peranglah yang membawa kita terlibat kedalamnya, kalau ada perkataan nasib, maka ini adalah nasib kita yang sudah ditakdirkan.”

“Aku tidak kenal Hui-ang-kin, tetapi sejak aku datang kepadang rumput ini, aku lantas sering mendengan orang menyebut namanya. Ya, memang tidak salah perkataanmu, ayahku, bangsaku, semua mengatakan dia adalah perempuan setan, setan yang membunuh manusia tanpa berkedip, membunuh orang seperti membabat rumput, terhadap dia aku pun timbul rasa takut.”

“Tetapi aku jgua tak percaya seluruh perkataan ayah, aku mengerti, waktu kami masuk sini pun telah membunuh orang tidak sedikit. Ya, tetapi ini toh adalah peperangan, kami membunuh mereka dan mereka membunuh kami, kami menamakan Hui-ang-kin setan iblis, siapa tahu dia pun menamakan ayah setan iblis.”

“Kadang aku malah berpikir, seorang nona muda seperti Hui-ang-kin, menunggang kuda perang dan berlari kian kemari di padang rumput, ia dihormati bangsanya, tetapi dikutuk oleh orang kami, tidak peduli bagaimanapun ia tetap adalah seorang pahlawan.”

“Terus terang saja, secara diam-diam akupun pernah mengagumi dia.”

“Aku tidak mengenal Hui-ang-kin, tetapi sampai pada waktu aku terluka oleh jarum beracunnya, aku telah menerka, perempuan yang pandai silat itu tentu adalah Hui-ang-kin. Ya, di waktu jarum beracunnya membuat aku kesakitan, maka aku membenci dia, benci karena gerak tangannya begitu keji.”

“Selain itu, aku masih ada persoalan lain yang membuat kubenci dia, sudahlah, Toako, aku tidak akan berkata lagi, aku tahu kau adalah sahabatnya yang paling baik.”

Sehabis berkata begitu, tiba-tiba Nilan Ming-hui menajdi malu dan menundukkan kepala, matanya seperti ada sinar yang menggetarkan hati orang.

Nyo Hun-cong menghela nafas lega, Ia tahu, Nilan Ming-hui masih tetap benci Hui-ang-kin , tetapi benci ini jauh lebih enteng dibanding dengan benci yang ia kuatirkan, bencinya ini tidak serupa dengan benci ayahnya.
Perkataannya ada yang samar, ia memandang posisi perang di antara kedua pihat adalah sama, ‘Ini toh adalah perang, kita membunuh mereka dan mereka juga membunuh kita’, seakan – akan dalam hal ini tidak ada soal putih dan hitam atau benar dan salah, ini adalah tidak betul, tidak betul!

Dalam hati Hun-cong dengan tegas ia ingin mengatakan, ‘tidak betul’. Banyak perkataan yang hendak dia ucapkan kepadanya, agar gadis ini bisa membedakan antara yang salah dan yang benar. Tetapi ia tahu, pengertian ini tidak begitu saja dapat diterima oleh Ming-hui.

Disamping itu, ia merasa di antara orang Boan-ciu terdapat seorang wanita seperti dia sudah merupakan satu keistimewaan, di dalam perasaan mereka juga ada tempat yang sama, ada semacam perasaan yang aneh, aneh sebab dengan anak musuh bisa ada persamaan perasaan.

Tanpa terasa Nyo Hun-cong telah mengusap-usap rambut Nilan Ming-hui.

“Ming-hui, ” katanya kemudian pelan – pelan. “Aku tidak menyalahkan kau lagi, dan kau juga jangan membenci Hui-ang-kin pula, kau terluka oleh jarumnya dan anggap dia terlalu ganas, tetapi apakah kau tahu, akupun terluka oleh panah beracun dan hampir tewas ?”

“Kau suruh aku membalaskan dendammu, tetapi apa pula yang akan kau perbuat untuk membalaskan dendamku?” tnaya Hun-cong pada akhirnya.

Nilan Ming-hui menjadi heran oleh kata-kata ini.

“Memang kepandaianku dibandingkan kau masih terpaut jauh, ” sahutnya demikian, “Tetapi bagaimana kau bisa tahu aku tidak bisa membalaskan dendammu ? Beritahu aku siapa yang melukaimu dengan panah beracun ?”

“Ayahmu!”, sahut Nyo Hun-cong dengan dingin.

Mendengar itu, seketika Muing-hui seperti disambar petir, mukanya sekejap saja berubah menjadi pucat sekali, ia melompat bangun, tetapi segera roboh lagi dengan lemas.

Namun Nyo Hun-cong sudah memegannya, “Kenapa kau ?” tanyanya.

Tetapi Nilan Ming-hui telah memejamkan matanya, ia merasa sedih sekali, “Sekarang kau tentu benci sekali padaku.” Katanya kemudian dengan pilu.

“Mengapa aku benci padamu, kau toh bukan ayahmu.” Sahut Hun-cong.

Tetapi Ming-hui masih belum bisa memahami perasaannya, hatinya laksana gelombang ombak yang bergolak.

Ya, sejak ia bertemu Nyo Hun-cong, ia telah tertarik oleh semangat kepahlawananya, setelah berpisah, dalam hatinya lantas seperti bertambah sesuatu, tetapi juga seperti berkurang sesuatu.

Hanya dalam mimpi mereka beberapa kali bertemu, tak terduga kini si pemuda ini betul – betul telah berada di sampingnya, malahan ia telah rebah di pangkuannya.

Akan tetapi saat itu ia merasakan bahwa jarak antara dia dan Hun-cong begitu dekat, tetapi juga begitu jauh.

“Ia adalah milik Hui-ang-kin dan bukan milikku!” pikiran semacam ini terus bergejolak dal;am hatinya dan seperti jarum yang tajam yang sedang menusuk – nusuk, sakitnya melebihi jarum Hui-ang-kin yang berbisa tadi.

Tiba – tiba Hun-cong melihat Ming-hui seperti bunga yang layu, mukanya pucat dan nafasnya semakin sesak.

Lekas ia pegang nadinya, ia merasakana denyutannya cepat luar biasa, ia lihat kulit mukanya kaku kejang, dalam hati ia menjadi heran, “Aku telah mencabut jarum beracun tadi, tetapi mengapa sakitnya berbalik begini berat dan berbahaya ?”

Seketika timbul firasat pada Nyo Hun-cong seakan-akan merasa ketakutan, ia ambil lagi dua butir pil Pik-ling-tan yang terbuat dari teratai Thian-san itu untuk ditelankan pada Ming-hui.

“Kau boleh beristirahatlah, jangan kau kuatir, akan kubawa kau keluar dari sini!” katanya perlahan.

Semalaman Nilan Ming-hui terus menerus bermimpi buruk, ia terus mengigau, kadang bahkan menangis dan terjaga dari tidurnya, dan berteriak, “Toako, jangan benci diriku!”

Tetapi Nyo Hun-cong juga terus menghibur dia, “Aku tidak benci padamu!”

Namun Ming-hui masih tetap mengigau begitu.

Malam telah lewat , siang hari telah tiba kembali.

Diangkasa gurun penuh dengan gumpalan awan putih yang indah karena sorotan sinar matahari.

Nyo Hun-cong yang berjaga semalaman, badannya terasa letih, tetapi ada orang sakit yang memerlukan penjagaannya, semacam rasa kewajiban menguatkan dirinya, ia harus membawa gadis ini keluar dari bukit ini.

Di lembah yang sunyi ini tidak ada obat-obatan dan juga tiada makanan, kalau tinggal disini terus tentu hanya menantikan kematian belaka.

Jika di bawa keluar, bila bertemu dengn pasukan Boan, ia akan menyerahkan Ming-hui dan ia sendiri bisa lantas melarikan diri, sebaliknya bila bertemu pejuang penggembala,, dengan pengaruhnya ia masih dapat menyelamatkan diri Ming-hui.

Maka setelah Hun-cong memperbaiki kereta rusak itu, ia letakkan Nilan Ming–hui di atasnya, lalu dengan perlahan-lahan ia letakkan Nilan Ming-hui di atasnya, lalu dengan perlahan-lahan ia mendorong kereta itu keluar dari lembah gunung itu.

Di padang rumput dimana-mana hanya terlihat mayat yang bergelimpangan, diudara penuh dengan gerombolan elang – elang lapar yang menyergap ke bawah untuk memakan bangkai manusia.

Ada elang raksasa yang kedua sayapnya bisa di pentang lebarnya beberapa depa, kalau sedang menyambar turun dari atas, membawa angin yang mengeluarkan suara keras, sungguh keadaannya sangat mengerikan.

Waktu itu di padang rumput seorang manusia hiduppun tidak terlihat, yang tertampak hanya beberapa ekor kuda yang tidak bermajikan sedang berlari kian kemari tanpa tujuan.

Nyo Hun-cong bergidik, ia komat kamit berguman sendiri, “Perang!, perang! Bilakah tidak ada perang lagi.”

Kemudian Hun-cong menangkap dua ekor kuda itu dan lantas dipasangnya di keretanya, ia mencari lagi sedikit makanan dan di taruh diatas kereta dan segera dengan keretanya berjalan menuju selatan.

Sepanjang jalan pun hanya mayat belaka, pasukan kedua belah pihak yang bertempur kemaren, kini entah sampai dimana.

Perlahan – lahan, mayat-mayat mulai sedikit, tetapi manusia hidup masih tetap belum bisa dijumpainya.

Sementara itu Nilan Ming-hui makin lama ternyata makin berat, suhu badannya panas dan tidak hentinya mengigau, nafasnya pun semakin lemah.

Padang rumput yang luas seakan – akan tiada ujungnya.

Malam kemarin begitu banyak orang yang berada di padang rumput kini telah lenyap. Nyo Hun-cong mendorong kereta dan berjalan terus di padang luas, ia merasa anehnya kesunyian. Sedang sakit Nilan Ming-hui membuat ia semakin kuatir.

Sang Surya yang terbit dari arah timur lambat-laun sudah hampir terbenam ke barat lagi.

Kedua pipi Nilan Ming-hui merah membara, jantung Hun-cong berdebar meliat wajah yang begitu menggiurkan.

Tetapi kekuatirannya itu hanya “Sinar yang membalik” hanya kemolekan itu sudah di tepi jurang kematian.

Kini Hun-cong tidak kikuk lagi tentang laki perempuan, dengan perlahan ia membuka baju Ming-hui untuk memijit-mijit untuk melancarkan jalan darahya.

Hun-cong pernah mempelajari cara mengobati dengan jarum, tetapi ia tidak membekal jarum, terpaksa dengan jarinya ia memijit diantara urat nadi tempat-tempat yang perlu.

Sebentart kemudian perlahan-lahan Nilan Ming-hui telah mulai sadar kembali.

“Toako,” tiba – tiba ia bertanya, “Aku tahu aku bakal mati, maukah kau katakan kepadaku dengan sesungguhnya, sedikitpun jangan membohongi aku, maukah kau ?”

“Bicaralah, aku pasti akan menjawab dengan sejujurnya!” sahut Hun-cong.

Tetapi muka Nilan Ming-hui lantas menjadi merah jengah sampai di lehernya, ia berbicara dengan suara lirih.

“Toako, ” bisiknya kemudian. “Katakanlah … katakanlah dengan sesungguhnya, apakah kau cinta padaku ?”

Seketika tergoncang hati Nyo Hun-cong, jantungnya berdebar-debar, terhadap orang sakit yang begitu berat, apakah ia harus mengecewakannya, dalam keadaan demikian sesungguhnya tidak bisa menguasai perasaannya sendiri lagi. Ia merangkul Nilan Ming-hui dengan erat dan berbisik di tepi telinganya, “Ya, Ming-hui, dengan sesungguhnya aku cinta padamu.”

Aneh bin ajaib, seumpama bunga yang sudah kering layu dapat tiba-tiba segar dan hidup kembali.

Perkataan Nyo Hun-cong tadi ternyata melebihi kemanjuran Pik-ling-tan. Nilan Ming-hui merasa seperti ada sesuatu yang hangat mengalir di seluruh tubuhnya.

Hun-cong merasa tangannya di pegang Ming-hui, tiba-tiba gadis ini telah bertenaga kembali, perlahan-lahan, ia bisa duduk dan ambruk lagi dipangkuan Nyo Hun-cong, mulutnya merapat dekat dengan muka Nyo Hun-cong. Hati pemudi yang sedang terbakar pun menempel lekat di hati Nyo Hun-cong.

Senja di padang rumput hawa sedikit mulai dingin, tetapi hati Hun-cong sebaliknya terasa panas luar biasa, ya panas sekali.

Tanpa sadar Hun-cong merangkul Ming-hui juga, bermacam perasaan aneh dan kusut seperti kuda liar yang berlari dan juga seperti gelombang ombak yang mendampar lubuk hatinya, ruwet tapi juga mengharukan.

Dalam keadaan demikian, tidak bisa dikatakan bahwa sedikitpun tiada perasaan menyesal pada hati Nyo Hun-cong. Sekilas ia ingat juga pada Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin atau si Selendang merah, hati gadis ini begitu tulus, suara tawanya begitu nyaring sepertibunyi kelenengan unta di padang rumput.

Ia ingat juga kala bersembahyang pada malam itu, bersama Hui-ang-kin mereka berlarian dan bercakap sepanjang malam, gadis ini begitu lincah dan begitu bebas pula.

Malam itu Hui-ang-kin samar-samar pun sudah mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya, tetapi ia seperti menolak perasaan orang, ia tidak membukakan pintu untuknya.

Walaupun sejak pertama kali bertemu dengan Hui-ang-kin ia sudah menganggapnya sebagai keluarga yang paling dekat dan rapat, perasaan hatinya ini boleh dikata jauh di atas perasaannya terhadap Nilan Ming-hui sekarang ini.

Tapi rasa menyesal ini sekejap saja sudah lenyap.

Nyo Hun-cong adalah seorang Enghiong, ksatria, seorang pahlawan, hati pahlawan menyuruh dia tidak boleh menyesal, menepati perkataan sendiri, itu sudah menjadi kebiasaannya, apalagi gadis yang ada di dalam pelukannya sekarang in ibegitu tulus cintanya.

Ia merasa Hui-ang-kin seperti dia, harus kuat menderita segala macam pukulan, termasuk pukulan batin.

Sebaliknya Nilan Ming-hui dalam pandangannya seperti sekuntum bunga yang halus lemah, walaupun ia bisa bersilat, tetapi dia begitu bersih, begitu halus, dan masih kekanak-kanakan yang memerlukan perlindungannya untuk perlahan-lahan menuntun dia menuju pihak sendiri.

Demikianlah dengan mesra Nyo Hun-cong dan Nilan Ning-hui saling rangkul dengan kencang, mereka telah tenggelam dalam suasana yang memabukkan.

Lewar beberapa lama, mereka baru sadar kembali olehnya dari jauh telah datang beberapa puluh penunggang kuda.

Sebentar saja mereka sudah sampai di depannya, salah seorang yang mengepalai lantas tertawa menyindir.

“Hai apaklah kau yang bernama Nyo Hun-cong? ” segera orang itu menegur, “Mengaa kau merampas tawanan kami dan juga sudah membunuh kawan kami ?”

Lekas Hun-cong melepaskan pelukannya atas Nilan Ming-hui dan cepat melompat keluar dari kereta.

“Nyo Hun-cong, pengkhianat, rasakan golokku ini!” segera pula seorang yang berbadan tegap berewok berteriak sambil membacok tanpa menunggu orang buka suara.

Tetapi dengan cepat Nyo Hun-cong menghindarkan bacokannya.

“Nanti dulu, kau ini siapa ?” tanya Nyo Hun-cong dengan mendongkol, “Aku Nyo Hun-cong adalah seorang lelaki sejati, masa mau kaucemarkan dengan perkataanmu yang kotor itu, kapan aku berkhianat, sedikitpun aku tiada salah terhadapmu, jika kau tidak bisa menjelaskan, akupun akan menyeret kau untuk diadukan pada Hui-ang-kin!”

Orang yang tegap berewokan itu mengeluarkan ejekan.

“Hm, Hui-ang-kin, kau hanya tahu menggunakan HUI-ang-kin sebagai jimat pelindungmu! Tetapi aku hendak tanya padamu, mengapa kau membunuh pejuang kami dan melindungi musuh serta merebut tawananku, sekarang kau malah berani berlagak? Apakah hal tersebut tidak bisa disebut sebagai pengkhianat ?”

Mendengar dampratan orang, muka Nyo Hun-cong menjadi merah padam karena gusarnya.

“Kapan aku membunuh pejuangmu dan melindungi musuh ?” ia membentak. “Aku telah bertempur beberapa tahun di daerah utara, kini aku datang pula kedaerah selatan sini dan bertempur di pihak kalian, jika aku hendak berkhianat mengapa harus bersusah payah menyeberangi gurun luas itu?”

“Baik, coba aku tanya padamu,” kata orang itu lagi, “Siapakah orang yang berada di dalam kereta itu ?” Dua orang yang telah kau bunuh di lembah gunung sana itu siapa ? Bukti-bukti telah jelas, apakah aku yang memfitnah kamu ?”

Hun-cong terperanjat mendengarnya, batinnya, “Celaka, kesalahpahaman ini kini sudah makin melas lagi.

Ketika ia hendak menerangkan, orang tadi sidah berkata pula, “Tahukah kau siapakah aku ini? Aku adalah Bing-lok, kepala suku Kedar, dua orang yang telah kau bunuh itu adalah pejuang yang paling kuat dari bawahanku. Nah sekarang orang yang di dalam keretamu itu adalah tawananku!”

Ternyata kedua orang yang terkena pisau di dadanya dan terbunuh oleh Nilan Ming-hui kemarin malam itu, yang seseorang seketika itu masih belum tewas, dalam keadaan yang payah oa masih merasa penasaran, ia ingin menulis nama musuh di atas tanah, tetapi ia tidak mengetahui namanya, dalam keadaan ceroboh dan saatnya terakhir, ia telah menulis dengan darahnya diatas tanah tidak huruf nama Nyo Hun-cong.

Waktu itu maam gelap, Hun-cong juga sedang sibuk merawat luka Nilam Ming-hui, ia tidak memperhatikan bahwa orang yang telah dekat ajalnya itu masih bisa meninggalkan suatu fitnahan kotor.

Kedar adalah suku bangsa yang suka berkelahi dan pemberani, mereka mempunyai suatu adat konu turun menurun, apabila bertempur dengan musuh dan mereka tidak bisa melawan serta terluka, jika kenal siapa musuh itu, sebelum ajalnya tentu menuliskan nama musuhnya dengan darah, harapannya supaya bisa di ketahui oleh bangsanya dan membalaskan sakit hatinya.

Pada waktu terjadi pertempuran yang gaduh sekali di padang rumput itu, pihak suku-suku bangsa selatan Sin-kiang yang unggul, belakangan bala bantuan pasukan Boan telah datang, waktu itu Nyo Hun-cong telah melompat masuk ke cekungan gunung, suku-suku bangsa selatan Sin-kiang berbalik terkepung, mereka dengan mati-matian menerobos kepungan dan mengalami kerugian yang tiak sedikit, itu pula sebabnya mengapa Hun-cong berjalan satu hari masih tidak menemukan manusia hidup satupun.

Pasukan Boan selanjutnya mundur kembali ke kota Ili dan pejuang-pejuang dari suku bangsa itu juga telah terpecah dan terpencar di gurun pasir yang luas itu.

Ketika pertempuran ribut itu terjadi, kepala suku Kedar, Bing-lok dengan pejuang mereka tergencet di suatu sudut, pasukan induk musuh yang mengejar pihak lawan maah tidak sempat menghabiskan mereka dan akhirnya mereka beruntung bisa meloloskan diri.

Mereka mencari anggota sukunya di mana-mana, ketika sampai di lembah gunug itu, mereka telah menenukan mayat kedua orang pejuang suku mereka dan di atas tanah ada tulisan tersebut.

Waktu ini Bing-lok terperanjat sekali, ia tahu nama Nyo Hun-cong yang termasyur di utara, tetapi ia masih belum mengetahui tingkah laku Nyo Hun-cong pribadi, iapun tidak mengetahui nama Hui-ang-kin di daerah selatan. Ia mengira Nyo Hun-cong sama seperti Coh-ciau-lam, hanya seorang “pembantu” saja yang karena ilmu pedangnya yang mengagumkan itu telah membuat namanya tersohor.

Sementara itu, iapun mendengar Nyo Hun-cong adalah suheng Coh Ciau-lam, kala Coh Ciau-lam menggabbungkan diri pada pahlawan tua Danu, nama yang selalu ia agungkan pun pakai nama Nyo Hun-cong.

Iapun mengetahui tentang pengkhianatan Coh Ciau-lam, ia mengira Nyo Hun-cong akan mengikuti jejak Sutenya, Coh Ciau-lam , dan datang keselatan hendak mencelakai dan menipu mereka.

Oleh karena itu, maka ia telah membawa pengikutnya yang berjumlah tiga puluh orang lebih menikuti perjalanan Nyo Hun-cong.

Nyo Hun-cong yang karena harus merawat Nilan Ming-hui dengan baik, ia tidak dapat melarikan keretanya dengan ceat, maka telah terkejar oleh mereka.

Begitulah ketika Nyo Hun-cong merasa serba sulit, tiba-tiba Nilam Ming-hui telah menyingkap kereta dan menongolkan mukanya.

“Kamu jangan memfitnah dia, kedua orang itu akulah yang membunuhnya!” serunya.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: